LAPORAN KERJA PRAKTEK

APLIKASI SENTRAL 5ESS AT&T PADA JARINGAN IN ( Intelligent Network) PT. TELKOM INDONESIA

Disusun Oleh :

Ajeng Paramitha Aniska

2006-042-051 2006-042-095

PEMINATAN TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIKA ATMA JAYA JAKARTA

2009 LEMBAR PENGESAHAN I

APLIKASI SENTRAL 5ESS AT&T PADA JARINGAN IN ( Intelligent Network) PT. TELKOM

LAPORAN KERJA PRAKTEK Diketahui dan disetujui oleh pihak PT. TELKOM

Pembimbing Kerja Praktek

MAN ARNET JATINEGARA

ASMAN SENTRAL

2

LEMBAR PENGESAHAN II LAPORAN KERJA PRAKTEK

APLIKASI SENTRAL 5ESS AT&T PADA JARINGAN IN ( Intelligent Network) PT. TELKOM

Laporan Kerja Praktek ini telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Jurusan Teknik Elektro Disusun Oleh :

Jakarta, 5 Agustus 2009

Menyetujui,

Ir. Melisa Mulyadi, MT. Kajur Teknik Elektro

Ir. Tajuddin Nur, MT. Pembimbing Kerja Praktek 3

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kerja praktek ini dengan baik. Laporan kerja praktek yang berjudul “APLIKASI SENTRAL 5ESS AT&T PADA JARINGAN IN ( Intellegent Network) PT. TELKOM “disusun untuk melengkapi mata kuliah Kerja Praktek (TKE 400) yang merupakan persyaratan kurikulum sarjana strata satu (S1) jurusan Teknik Elktro Fakultas Teknik Universitas Katolik Atma Jaya Laporan ini dapat diselesaikan atas bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Orang tua dan keluarga penulis yang telah memberikan motivasi, dukungan dan dorongan, baik moral maupun material 2. Ibu Mellisa Mulyadi, selaku Kepala Jurusan Teknik Elektro Unika Atma Jaya 3. Bapak Tajuddin Nur, selaku dosen pembimbing kerja praktek 4. Ibu Sandra Octaviani, Ibu Theresia Ghozali, dan Bapak Joseph Sedyono, selaku dosen telekomunikasi Unika Atma Jaya 5. Bapak Syarifuddin Saharong, selaku Asisten Manager Transmisi PT. Telekomunikasi Tbk. Arnet Jatinegara 6. Bapak Rudi, Bapak Icham, Bapak Taju, Bapak Zainal, Bapak Mur, Bapak Machmudin yang telah memberikan pengetahuan tentang transmisi 7. Bapak Trismanto, selaku Asisten Manager Sentral PT. Telekomunikasi Tbk. Arnet Jatinegara 8. Bapak Dakir yang telah memberikan pengetahuan tentang sentral 5ESS 9. Bapak Didin yang telah memberikan pengetahuan tentang jaringan IN (Intelligent Network) 4

10. Seluruh karyawan PT. Telekomunikasi Tbk. Arnet Jatinegara 11. Reyner, selaku teman kelompok kerja praktek 12. Seluruh teman-teman elektro 2006 yang memberikan dukungan, semangat, dan keceriaan Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan kerja praktek. Oleh karena itu penulis bersedia menerima saran dan kritik yang ada relevansinya dalam menyempurnakan laporan kerja praktek ini dari semua pihak. Akhir kata penulis berharap semoga laporan kerja praktek ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya Universitas Katolik Atma Jaya.

Jakarta, 5 Agustus 2009

Penulis

5

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN I LEMBAR PENGESAHAN II KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 BAB II Latar Belakang Tujuan Kerja Praktek Batasan Masalah Metode Kerja Praktek Sistematika Penulisan Laporan

i ii iii iv vi

1 1 2 2 3

PROFIL PERUSAHAAN 2.1 2.2 Sejarah PT. Telkom Company Profile 2.2.1 Peran Telekomunikasi 2.2.2 Visi PT. Telkom 2.2.3 Misi PT. Telkom 2.2.4 Logo PT. Telkom 2.2.5 Kredo PT. Telkom 2.2.6 Maskot PT. Telkom 4 7 7 7 7 8 8 9 6

2.2.7 Budaya Perusahaan 2.3 Struktur Organisasi 2.3.1 Diagram Organisasi PT.Telkom 2.4 2.5 BAB III Produk Telkom PT. Telkom Area Network Jatinegara

10 11 11 16 20

LANDASAN TEORI 3.1 Definisi dan Model Referensi PSTN 3.1.1 Hirarki Sentral/Jaringan 3.2 Sentral Digital 3.2.1 Jenis-jenis sentral 3.3 Jaringan Penyambungan (Switching Network) 3.3.1 Jaringan Mata Jala (Mashed Network) 3.3.2 Jaringan Bintang (Star Network) 3.3.3 Jaringan Kombinasi Mata Jala dan Bintang 3.4 Berbagai Konsep Penyambungan 3.4.1 Jenis Sentral Telepon 3.4.2 Elemen-elemen Switching 3.5 Routing 22 25 28 29 31 31 31 32 33 33 35 37

BAB IV

STDI 5ESS 4.1 4.2 4.3 Sentral 5ESS Karakteristik dan Aplikasi Sentral 5ESS Arsitektur Hardware Sentral 5ESS 4.3.1 Switching Module (SM) 4.3.2 Communication Module (CM) 39 40 41 42 53 7

4.3.3 Administrative Module (AM) 4.4 Software Sentral Telepon 5ESS 4.4.1 Umum 4.4.2 Arsitektur Software 5ESS 4.4.3 Subsystem Software 5ESS 4.4.4 Operating System Software 4.4.5 Call Processing Software 4.4.6 Administration Software 4.4.7 Database Management Software 4.4.8 Maintenance Software BAB V INTELLEGENT NETWORK (IN) 5.1 5.2 Asal Mula IN Produk IN 5.2.1 FreeCall 5.2.2 PremiumCall 5.2.3 UniCall 5.2.4 VoteCall 5.3 5.4 Arsitektur Jaringan IN pada Divre II Sentral IN Pada ARNET JATINEGARA 5.4.1 Operasi dan Pemeliharaan BAB VI PENUTUP 6.1 6.2 BAB VII Kesimpulan Saran

60 65 65 66 66 67 68 68 69 69

71 72 72 73 74 75 76 76 77

DAFTAR PUSTAKA 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja praktek merupakan salah satu mata kuliah dengan bobot 2 sks yang harus dilaksanakan guna memenuhi syarat kelulusan mahasiswa Teknik Elektro UNIKA Atma Jaya. Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai mahasiswa Teknik Elektro peminatan telekomunikasi, kerja praktek dilaksanakan di PT. Telekomunikasi Indonesia (PT. TELKOM) selama kurang lebih 1 bulan lamanya. Perkembangan dunia komunikasi dewasa ini begitu pesat dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia di dunia. Setiap negara terus berusaha mengembangkan sistem komunikasinya untuk mencapai sistem yang terbaik. Demikian halnya Indonesia yang tak ketinggalan juga ikut bersaing dengan negara-negara lain untuk terus mengembangkan sistem komunikasinya. Sesuai dengan perkembangan teknologi, maka pada dasawarsa terakhir ini kemajuan dari perkembangan sarana telekomunikasi serta jasa telekomunikasi sangat pesat, terlebih lagi setelah adanya perkembangan dibidang teknologi digital. Di Indonesia semua sentral telepon yang ada telah menggunakan teknologi digital. Fungsi kerja terpenting dari sentral adalah membentuk suatu proses hubungan atau panggilan. Menjadi hal yang menarik untuk mencoba menyelami teknologi telekomunikasi tersebut. Selama kerja praktek, mahasiswa berkesempatan mengenal dan mengetahui arsitektur hardware pada sentral 5ESS. Serta aplikasi central 5ESS pada Jaringan Intellegent Network (IN).

1.2 Tujuan Kerja Praktek Kerja praktek adalah salah satu mata kuliah yang wajib dilaksanakan bagi mahasiswa Teknik 9

Elektro Universitas Atma Jaya Jakarta. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kerja praktek ini adalah : a. Memperoleh nilai mata kuliah Kerja Praktek yang berbobot 2 sks. b. Dalam rangka memenuhi persyaratan akademik guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro Strata Satu Universitas Atma Jaya Jakarta. c. Menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi dalam bidang

telekomunikasi dan mengetahui proses serta penerapannya. d. Untuk membandingkan teori yang diterima dalam perkuliahan dengan praktek di lapangan pekerjaan. e. Langkah awal untuk mencari pengalaman kerja.

1.3 Batasan Masalah Masalah yang akan dibahas pada laporan kerja praktek ini adalah mengenai Jaringan Intellegent Network (IN) sebagai aplikasi Sentral 5ESS lisensi dari AT&T Amerika.

1.4 Metode Kerja Praktek Dalam pelaksanaan kerja praktek di PT. TELKOM, metode yang digunakan ada 3 macam, yaitu: 13. Studi Referensi yaitu metode penulisan yang dilakukan dengan mencari sumber informasi dari buku acuan dan literature-literatur yang berkaitan dengan pokok pembahasan. 14. Wawancara yaitu metoda pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dengan pihak-pihak yang terkait terutama dengan pembimbing. 15. Pengamatan yaitu mengamati hal-hal yang terjadi disekeliling yang berkaitan dengan 10

objek penulisan sehingga dapat mengetahui situasi dan kondisi di lapangan yang sebenarnya.

1.5 Sistematika Penulisan Laporan Sistematika penulisan yang penulis gunakan dalam penyusunan laporan kerja praktek adalah : Bab I : Pendahuluan Meliputi latar belakang, tujuan kerja praktek, batasan masalah, metode kerja praktek dan sistematika penulisan laporan. Bab II : Profil Perusahaan Berisi profil PT. TELKOM yang merupaka Badan Usaha Milik Negara. Bab III : Landasan Teori Berisikan tentang pembahasan mengenai teori-teori dasar yang mendukung dimana meliputi sistem penyambungan (switching). Bab IV : Sistem STDI 5ESS Berisikan tentang pembahasan karakteristik dan aplikasi STDI 5ESS, arsitektur hardware dan proses pembentukan hubungan secara hardware. BAB V : Intellegent Network (IN) sebagai aplikasi Sentral 5ESS Berisikan tentang pembahasan aplikasi Intellegent Network (IN) beserta arsitektur jaringannya. Bab VI : Kesimpulan Berisikan tentang kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan pada bab sebelumnya serta proses pelaksanaan kerja praktek. Bab VII : Daftar Pustaka 11

Berisikan tentang referensi-referensi dari buku acuan dan literatur-literatur yang dipakai selama proses kerja praktek dilakukan sampai pada proses pengerjaan laporan.

12

BAB II PROFIL PT. TELKOM

2.1 Sejarah PT. Telkom Pada tahun 1884, pemerintah Kolonial Belanda mendirikan perusahaan Swasta yang bergerak dibidang ekspedisi surat menyurat untuk domestik dan jasa layanan telegraph Internasional. PT. TELKOM merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan jasa telekomunikasi pada awalnya bernama Post En Telegrafdiens, dengan staatsblad No. 52. Kemudian pada tahun 1906, nama Post En Telegrafdiens kemudian diubah menjadi Post Telegraaf En Telefoondienst (PTT) dengan staatsblad No. 395. Sejak itu disebut dengan PPT Dienst. Pada tahun 1960, Pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 19 Tahun 1960 yang berisi tentang persyaratan sebuah PN, dan hal ini dipenuhi oleh PTT Dienst sehingga statusnya tetap sebagai PN. Pada tahun 1961, berdasarkan PERPU No. 240 Tahun 1961 namanya diubah menjadi Perusahaan Negara dan Pos Telekomunikasi. Pada tahun ini jasa pos dan telekomunikasi baru berdiri dengan bentuk perusahaan pemerintah pertama untuk menjaga jasa pos dan telekomunikasi di wilayah Sumatera, dimana mulai terbentuk pada tahun 1970 secara Nasional. Dan Pada tahun 1970, berdasarkan SK menteri Perhubungan No. 29/U/1970 PN Telekomunikasi diubah menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (PERUMTEL). Pada tahun 1980, Bisnis telekomunikasi Internasional dipindahkan dari Perumtel ke Indosat. Pemerintah mengambil kebijakan untuk membeli seluruh saham milik PT. Indosat (sebuah perusahaan swasta yang didirikan dengan Penanaman Modal Asing yang kemudian diubah statusnya menjadi suatu BUMN berbentuk Persero). Penyertaan modal Negara Republik Indonesia dalam saham PT. Indosat tersebut dituangkan dalam PP No. 52 Tahun 1980. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan pelayanan 13

jasa telekomunikasi untuk umum, maka dengan PP No. 53 Tahun 1980 diadakan perubahan atas PP No.22 Tahun 1974, yakni menetapkan PERUMTEL sebagai badan usaha yang diberi wewenang sebagai penyelenggara telekomunikasi dalam negeri dan PT. Indosat diberi wewenang sebagai penyelenggara telekomunikasi luar negeri. PP No. 36 Tahun 1974 tentang PERUMTEL juga diubah dan dituangkan dalam PP No. 54 Tahun 1980. Sehubungan dengan undang-undang PP No. 3 Tahun 1983 Tentang tata cara pembinaan dan pengawasan PERJAN, PERUM dan PERSERO sebagai ganti PP No. 21 Tahun 1984 tentang PERUMTEL sebagai pengganti PP No.36 Tahun 1970. Satu hal yang sangat menggembirakan dalam perundang-undangan ini adalah ditetapkannya UU No. 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi yang memberikan angin segar dalam pengembangan dan pembangunan pertelekomunikasian di Indonesia. Pada tahun 1991, melalui PP No. 25 Tahun 1991 pemerintah menetapkan pengalihan bentuk Perum Telekomunikasi menjadi perusahaan Terbatas (Persero), PT. Telekomunikasi. Pemerintah mengubah Perumtel dari "Perusahaan Umum" menjadi perusahaan negara dengan layanan untuk masyarakat umum sebagai tujuan utama perusahaan, yaitu "Persero", Perusahaan Negara mempunyai keterbatasan kewajiban untuk tujuan komersial, dan berubah nama menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Telekomunikasi Indonesia. Peralihan bentuk ini ditandai dengan penandatanganan Akte Pendirian Perusahaan Perseroan PT. Telekomunikasi Indonesia oleh Notaris Imas Fatimah SH bersamasama dengan Menparpostel Soesilo Soedirman yang bertindak selaku kuasa dari menteri keuangan sebagai pemegang saham. Penandatanganan ini terjadi pada hari Selasa, 24 September 1991 Pukul 09.30 WIB di Gedung Depparpostel Jl. Kebon Sirih No. 36 Jakarta Pusat. Pada tahun 1996, tepatnya 1 Januari 1996 Kerja Sama Operasi (KSO) mulai

diimplementasikan. Pemetaan terangkum dari lokasi wilayah Divisi-divisi I, III, IV, VI dan VII beroperasi dengan unit KSO dengan mewakili nama TELKOM dan untuk dan bagi TELKOM dan Investor KSO. Di wilayah Divisi Regional I Sumatra – dengan mitra PT. Pramindo Ikat Nusantara; 14

Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten – dengan mitra PT. Aria West International; Divisi Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta – dengan mitra PT. Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTL); Divisi Regional VI Kalimantan – dengan mitra PT. Dayamitra Telekomunikasi; dan Divisi Regional VII Kawasan Timur Indonesia – dengan mitra PT. Bukaka Singtel. Pada tahun 2001, TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT. Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM juga membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM. Pada tahun 2002, TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yakni 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisanya 55% pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual saham 12,27% kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2003 terjadi duapoli penyelenggara telekomunikasi lokal.

2. 2 Company Profile 2.2.1 Peran Telekomunikasi • Memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa • Memperlancar kegiatan pemerintahan dan mendukung tercapainya tujuan pembangunan • Mendorong upaya mencerdaskan bangsa • Memperlancar pertumbuhan ekonomi nasional • Memperkuat hubungan antar bangsa

15

2.2.2 Visi PT.Telkom Visi TELKOM "To Become a Leading InfoCom Player in the Region", menunjukkan suatu tekad bahwa TELKOM untuk menjadi penyelenggara jasa Informasi dan Komunikasi yang handal di level Regional.

2.2.3 Misi PT. Telkom Memberikan layanan "One Stop Infocom" dengan kualitas yang prima dan harga kompetitif, mengelola usaha dengan cara yang terbaik dengan mengoptimalkan SDM yang unggul, dengan teknologi yang kompetitif dan dengan Business Partner yang sinergi.

2.2.4 Logo PT. Telkom

Gambar 2-1.Logo PT.Telkom Indonesia

Bentuk bulatan dari logo melambangkan : Keutuhan Wawasan Nusantara; Ruang gerak TELKOM secara nasional dan internasional.

 

TELKOM yang mantap, modern, luwes, dan sederhana. Warna biru tua dan biru muda bergradasi melambangkan teknologi telekomunikasi tinggi/canggih yang terus berkembang dalam suasana masa depan yang gemilang.

16

Garis-garis tebal dan tipis yang mengesankan gerak pertemuan yang beraturan menggambarkan sifat komunikasi dan kerjasama yang selaras secara berkesinambungan dan dinamis.

Tulisan INDONESIA dengan huruf Futura Bold Italic, menggambarkan kedudukan perusahaan;TELKOM sebagai Pandu Bendera Telekomunikasi Indonesia (Indonesian Telecommunication Flag Carrier)

2.2.5 Kredo PT. Telkom

Gambar 2-2. Kredo PT. Telkom

 Kami selalu fokus kepada pelanggan  Kami selalu memberikan pelayanan yang prima dan mutu produk yang tinggi serta harga yg kompetitif  Kami selalu melaksanakan segala sesuatu melalui cara-cara yang terbaik (Best Practices)  Kami selalu menghargai karyawan yang proaktif dan inovatif, dalam peningkatan produktivitas dan kontribusi kerja  Kami selalu berusaha menjadi yang terbaik

2.2.6 Maskot PT. Telkom

17

Gambar 2-3. Maskot PT.Telkom Indonesia

 Maskot Be Bee, artinya :      Antena Lebah Sensitif terhadap segala keadaan dan perubahan Mahkota Kemenangan Mata yang Tajam dan Cerdas Sayap Lincah dan Praktis Tangan Kuning Memberikan Karya Yang Terbaik

Lebah tergolong makhluk sosial yang senang bekerja sama, pekerja keras mempunyai kesisteman berupa pembagian peran operasional dan fungsional menghasilkan yang terbaik berupa madu yang bermanfaat bagi berbagai pihak. Di habitatnya lebah mempunyai dengung sebagai tanda keberadaannya dan loyal terhadap kelompok berupa perlindungan bagi koloninya, maka akan menyerang bersama bila diganggu. Lebah memiliki potensi diri yang baik berupa tubuh yang sehat, liar dan kuat sehingga bisa bergerak cepat, gesit dan efektif dalam menghadapi tantangan alam. Lebah berpandangan jauh ke depan dengan merancang bangun sarang yang kuat dan efisien, berproduksi, berkembang biak dan menyiapkan persediaan makanan bagi kelangsungan hidup koloninya. Lebah berwarna biru merupakan penggambaran insan TELKOM Indonesia.

2.2.7 Budaya Perusahaan THE TELKOM WAY 135 sebagai budaya korporasi yang dikembangkan TELKOM merupakan 18

bagian terpenting dari upaya perusahaan untuk meneguhkan hati, merajut pikiran, dan menyerasikan langkah semua Insan TELKOM dalam menghadapi persaingan bisnis InfoCom. terkandung beberapa unsur, yang secara integral harus menjiwai insan TELKOM, yakni : 1. 1 (satu) asumsi dasar yang disebut 2. 3 (tiga) nilai inti, mencakup :    Customer Value Excellent Service Competent People Di dalamnya

3. 5 (lima) langkah perilaku untuk memenangkan persaingan, yang terdiri dari :      Stretch The Goals Simplify Involve Everyone Quality is My Job Reward the Winners

THE TELKOM WAY 135 adalah hasil penggalian dari perjalanan TELKOM dalam mengarungi lingkungan yang terus berubah, dan dikristalisasi serta dirumuskan dengan dirangsang oleh berbagai inspirasi dari perusahaan lain dan berbagai tantangan dari luar. Dengan akar yang kuat pada kesadaran kolektif organisasi, diharapkan THE TELKOM WAY 135 dapat cepat tertanam dalam jiwa insan TELKOM.

2.3

Struktur Organisasi

2.3.1 Diagram Organisasi PT. TELKOM

19

DEWAN KOMISARIS

KANTOR PERUSAHAAN
DIREKSI
CORPORATE TRANSFORMATION GROUP CORPORATE PLANNING GROUP INTERNAL AUDITOR GROUP CORPORATE SECRETARY CORPORATE COMPLIANCE GROUP

DIREKTUR BISNIS JARINGAN

DIREKTUR BISNIS JASA

DIREKTUR KEUANGAN / CEO

DIREKTUR SDM DAN BISNIS PENDUKUNG / CIO

Group of Assistants
Supervisi & Pengembangan Unit Bisnis Jaringan. Kebijakan Jaringan. Kebijakan Interkoneksi & Tarif Bisnis Jaringan. Sekretariat.

Group of Assistants
Supervisi & Bang Ubis, CC & FO Jastel. Supervisi & Bang Ubis PCAKS Organisasi Akses. Kebijakan Taris Jastel. Marketing. Sekretariat.

Group of Assistants
Pembinaan Ferosial & Asosiasi. Inventaris & Pendanaan. Akuntansi. Pembendaharaan. Anggaran. Sekretariat.

Group of Assistants
Supervisi & Bang Ubis Pendukung. Kebijakan SDM. Pengembangan Eksekutif. Hubungan Industrial. Kebijakan Logistik. Kebijakan Bang TI. Sekretariat.

Unit Bisnis Divisi Long Distance. Carrier & Interconnection Service Center. Probis (Temporer) Unit Bisnis lainnya yang akan dibentuk kemudian.

Unit Bisnis Divisi Regional. Divisi Enterprice Service. Divisi Multimedia. Divisi Free Wireless. Unit Bisnis lainnya yang akan dibentuk kemudian

UNIT BISNIS

Unit Bisnis PT. TELKOMSEL PT. Infomedia Nusantara. PT. Infonusa Telemedia. PT. Primatel Inti. PT. Pro Infocom. PT. PIN. PT. Daya Mitra Tel PT. Ana West Inti. Perusahaan Asosiasi Lainnya.

Unit Bisnis Training Center. Center Development Support Center. Management Consulting Center. Contruction Center. PS Center. R&D Center. SAVE Development Center. Maintenance Service Center. Yayasan-yayasan. Unit bisnis lainnya yang akan dibentuk kemudian.

20

Gambar 2-4. Struktur Organisasi PT.Telkom Indonesia

Dalam pengelolaan organisasinya, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. memiliki sebuah Dewan Komisaris yang terdiri dari 1 (satu) Komisaris Utama dan 2 (dua) Komisaris Independen, dan 2 (dua) Komisaris Anggota serta sebuah Dewan Direksi yang beranggotakan 1 (satu) orang Direktur Utama atau CEO

(Chief Executive Officer) dan 1 (satu) orang Wakil Direktur Utama atau COO (Chief Operations Officer) serta 5 (lima) orang anggota Dewan Direksi lainnya yang memiliki fungsi dan tanggung jawab yang berbeda seperti Direktur Sumber Daya Manusia, Direktur Konsumer, Direktur Enterprise & Wholesale, Direktur Network & Solution, dan Direktur Keuangan/CFO. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. memiliki beberapa buah anak perusahaan terafiliasi seperti PT. Telekomunikasi Selular Indonesia yang bergerak sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi bergerak selular, PT. Indonusa Telemedia yang menangani bisnis Pay TV dengan nama produk TELKOMVision dan PT. Infomedia Nusantara yang mengelola Buku Petunjuk Telepon (Yellow Pages) dan Call Center. Selain anak perusahaan tadi, dalam menjalankan operasi perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. telah mengelompokan unit-unit yang ada dalam organisasi ke dalam bentuk Divisi, Center dan Yayasan. Unit-unit Bisnis TELKOM terdiri dari Divisi, Centre, Yayasan dan Anak perusahaan, sebagai berikut :  Divisi dan Centre 1. Divisi Long Distance Sub divisi satelit 2. Carrier & Interconnection Service Center 21

3. Divisi Multimedia 4. Divisi Fixed Wireless 5. Enterprise Service Center 6. Divisi Regional I - Sumatera 7. Divisi Regional II - Jakarta (Jadebotabek & Sekapur) 8. Divisi Regional III - Jawa Barat 9. Divisi Regional IV - Jawa Tengah dan Yogyakarta 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.
Divisi Regional V - Jawa Timur

Divisi Regional VI - Kalimantan
Divisi Regional VII - Kawasan Timur Indonesia Maintenance Service Center Training Center Carrier Development Support Center Management Consulting Center Construction Center

I/S Center
R&D Center Community Development Center(CDC)

 Yayasan-Yayasan : 1.
Dana Pensiun (Dapentel)

2. Yayasan Pendidikan 3. Yayasan Kesehatan 4.
Yayasan Sandhykara Putra Telkom (YSPT)

 Anak Perusahaan : 22

 1. 2.

Kepemilikan > 50%
PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel)

: Telekomunikasi (Selular GSM)

PT. Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra) : Telekomunikasi (KSO-VI

Kalimantan) 3. 4. 5. 6. 7.  1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
PT. Infomedia Nusantara (Infomedia)

: Layanan Informasi

PT. Telekomunikasi Selular Raya (Telesera) :Telekomunikasi (Selular AMPS) PT. Pro Infokom Indonesia (PII) : B2B (e-Government)
PT. Indonusa Telemedia (Indonusa)

: TV Cable

PT. Graha Sarana Duta (GSD) : Properti, Konstruksi dan Jasa

Kepemilikan 20% - 50% PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) : Transponder Satelit dan Komunikasi PT. Multimedia Nusantara (Metra) : Multimedia PT. Citra Sari Makmur (CSM) : VSAT PT. Menara Jakarta : Multimedia PT. Metro Selular Indonesia ( Metrosel) : Telekomunikasi (Selular AMPS) PT. Mobile Selular Indonesia (Mobisel) : Telekomunikasi (Selular NMT-450) PT. Napsindo Primatel Internasional (Napsindo) : Network Access Point PT. Patra Telekomunikasi Indonesia (Patrakom) : Layanan Satelit Komunikasi

Industri Perminyakan 9.  1. PT. Pramindo Ikat Nusantara : Telekomunikasi (KSO-1 Sumatera) Kepemilikan < 20% PT. Batam Bintan Telekomunikasi (Babintel) : Telekomunikasi (Pulau di Batam

& Bintan)

23

2.

PT. Komunikasi Selular Indonesia (Komselindo) : Telekomunikasi (Selular

AMPS) 3. 4. PT. Medianusa PTE, Ltd : Agen Penjualan Buku Petunjuk Telepon (BPT) PT. Pembangunan Telekomunikasi Indonesia (Bangtelindo) : Konstruksi &

Konsultasi Fas.Tel. 5.

2.4 Produk Telkom
Produk Telkom adalah sebagai berikut : a. Instan Save Kartu Instan Save adalah kartu akses internet prepaid (pra-bayar) dari Telkom yang dapat digunakan untuk melakukan koneksi dial up internet dari pesawat telepon pelanggan di seluruh Indonesia. b. Speedy Speedy adalah layanan akses internet dengan kecepatan tinggi menggunakan teknologi ADSL (Asymetric Digital Subcriber Line). Dengan layanan ini, jaringan akses telepon pelanggan ditingkatkan kemampuannya menjadi jaringan digital berkecepatan tinggi. Maka, selain mendapatkan fasilitas telepon (voice), pelanggan juga dapat melakukan akses internet (dedicated) dengan kecepatan (downstream) yang tinggi (s/d 512 Kbps). c. Telkomnet Instan PT. Telkom telah menghadirkan layanan Telkomnet Instan bagi pengguna internet Indonesia. Layanan ini memberikan banyak kemudahan, yaitu :  Mudah/praktis : Tidak perlu mendaftar. Setiap daerah yang telah terjangkau layanan Telkomnet Instan dapat mengakses internet langsung tanpa mendaftar.

24

 Ekonomis : Tidak perlu mengeluarkan biaya pendaftaran dan biaya bulanan. Pelanggan hanya dikenakan tagihan internet jika menggunakannya.  Cepat : Didukung oleh akses 56 Kbps protokol V.90, backbone Telkomnet dan Gateway Asimetrik yang sangat sesuai dengan sifat internet di Indonesia.  Lengkap : Disediakan e-mail nasional gratis, berbasis Web 10 Mbytes serta berbasis POP3 3 Mbytes.  Menarik : Didukung oleh situs-situs menarik. Bahkan, pelanggan dapat mendengar siaran radio (langsung) maupun siaran tunda acara TV.  Terbuka : Telkom menyediakan ruang ngobrol dalam Webforum.  Waktu download tercepat : Bandwidth Telkomnet Instan mampu melewatkan trafik internet baik dalam negeri maupun luar negeri. d. Dina Access (Dedicated Intelligent Network Access) Dina Access adalah sarana komunikasi akses dedicated dengan kecepatan sesuai permintaan pelanggan, berkecepatan 64 s/d 2048 Kbps atau n x 64 Kbps. Dina Access digunakan untuk interkoneksi antar LAN serta memberikan jaminan keamanan data, reliability layanan dengan pengendalian NMS (Network Management System) secara terpusat. e. Astinet (Access Service Dedicated To Internet) Astinet adalah layanan akses internet dan multimedia Telkomnet untuk akses internet menuju global internet. Layanan ini menyediakan fasilitas koneksi akses ke internet yang disediakan pada port router Telkomnet. Fasilitas ini dapat digunakan untuk akses internet secara dedicated dengan menggunakan beragam fasilitas saluran akses, misalnya akses Leased Line, akses DSL (HSMA), dedicated VSAT, akses radio, dan sebagainya. f. Infonet Adalah layanan Telkomnet yang terhubung dengan teknologi frame relay dan intranet 25

multinasional ke sekitar 68 negara dan berpusat di El Segundo, Los Angeles, USA. Network Infonet dapat diakses lebih dari 180 negara. g. Telkom Free Telkom Free adalah salah satu layanan berbasis Intelligent Network yang memberikan sistem manajement komunikasi telepon dengan kemampuan Intelligent sehingga mampu memberikan kemudahan pada pelanggan. Nomor panggil Telkom Free adalah 0-800-1xxxxxx. h. Telkom Vision Telkom Vision adalah salah satu grup perusahaan dari PT. Telkom yang dikhususkan bergerak di bidang Pay TV (Multimedia View). Telkom Vision adalah brand name baru dari PT. Indonusa Telemedia. Saat ini, layanan ini memberikan layanan TV Kabel, Satelite TV dan Fast Internet melalui Infrastructure TV Cable. i. Telkom Memo Telkom Memo adalah salah satu layanan voice mail yang diberikan untuk pelanggan agar dapat menerima pesan (call) walaupun telepon sedang digunakan. Panggilan telepon lain yang masuk akan diterima dan disimpan oleh Telkom Memo.Layanan Telkom Memo hanya dapat diakses oleh pelanggan Telkom Divisi Regional II yang mencakup wilayah Jabotabek, Serang, Karawang dan Purwakarta. j. Telkomnet Premium Telkomnet Premium adalah pengembangan dari Telkomnet Instan. Dengan menggunakan Telkomnet Premium, memungkinkan pelanggan melakukan browsing 10 kali lebih cepat dari kecepatan normal (56 Kbps). k. Flexi  Flexi Combo 26

Flexi Combo adalah pengembangan layanan Flexi Pra-Bayar atau Pasca Bayar yang memungkinkan pelanggan memiliki 2 atau 3 nomor dalam satu kartu. Nomor-nomor ini dapat berbeda areanya. Jenis ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang memiliki rutinitas roaming ke kota-kota tertentu atau pelanggan dengan mobilitas antar kota secara rutin. Layanan tambahan yang diberikan dalam kartu ini : SMS, PDN, dan Call Forwarding.  Flexi Home Flexi Home merupakan produk terbaru dari Flexi yang menggunakan Fixed Wireless Terminal (FWT) berbasis ESN (Non Sim Card) sebagai terminal di rumah.  Flexi Trendy Flexi Trendy merupakan kartu Pra Bayar Isi Ulang dari Flexi yang menawarkan kenyamanan dan kecepatan akses komunikasi. Produk ini memberikan berbagai fasilitas serta pilihan nominal pulsa sesuai yang diinginkan. Sistem penomoran mengacu pada sistem penomoran telepon fixed (telepon rumah).  Flexi Classy Flexi Classy merupakan kartu Pasca Bayar dari Flexi yang menawarkan kenyamanan dan kecepatan akses komunikasi. Produk ini memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan bagi para pengguna layanan Flexi yang tidak ingin direpotkan oleh rutinitas isi ulang. Sistem penomoran mengacu pada sistem penomoran telepon fixed (telepon rumah).

27

BAB III LANDASAN TEORI

Jaringan telekomunikasi adalah segenap perangkat telekomunikasi yang dapat menghubungkan pemakainya (umumnya manusia) dengan pemakai lain, sehingga kedua pemakai tersebut dapat saling bertukar informasi (dengan cara bicara, menulis, menggambar atau mengetik) pada saat itu juga.

3.1

Definisi dan Model Referensi PSTN PSTN (Public Switched Telephone Network) awalnya hanya digunakan sebagai jaringan

pembawa (bearer network) untuk layanan suara dan fax. Dalam perkembangannya PSTN digunakan 28

sebagai layanan pembawa untuk data kecepatan rendah (X.25-9.6 Kbps) dan data narrow band (max 64 Kbps). PSTN juga diperkaya dengan adanya Supplementary Services seperti Call Waiting, Call Forwarding, Three Party dan Value Added Services (VAS) serta layanan Intelligent Network (Free Call, Premium Call, Unicall). PSTN kemudian berevolusi menjadi ISDN (Integrated Services Digital Network) dan ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) yang dapat dilihat sekarang adalah produk Speedy. Karakteristik utama PSTN: - Akses kanal analog: 300-3400 KHz - Hubungan sirkit switched duplex - Band switch 64 Kbps atau analog 300-3400 KHz

ACCESS

x x x

TRANSPORT

ACCESS

Network Management
FAX

FAX
Gambar 3.1. Model Referensi PSTN

29

HYBRID MDF

SWTCHING

Terminal Pelanggan

Sentral Telepon
Gambar 3.2. Konfigurasi Sistem PSTN

Apabila hanya ada dua pihak yang berhubungan dengan telepon: - Hanya diperlukan satu saluran yang secara tetap menghubungkan kedua pihak (dedicated). - Tanda pemanggilan (misalnya bel) langsung tersambung dari pemanggil ke yang dipanggil. - Percakapan langsung terjadi.

Gambar 3.3. Percakapan Langsung

30

Sentral

Gambar 3.4. Topologi Sentral Kemampuan dasar yang dimiliki sentral telepon: - Menghubungkan dua diantara pemakai yang ingin berhubungan (switching). - Memberikan informasi adanya panggilan, terjadinya percakapan, berakhirnya percakapan, dll (signaling). - Memberikan identitas kepada tiap pemakai (numbering).

31

Terminal

Sentral

Sentral

Saluran lokal

Sentral

Transmisi

Sentral

Gambar 3.5. Komponen Jaringan Telepon Komponen jaringan telepon terdiri dari: - Terminal - Sentral (switching) - Transmisi/saluran/jaringan akses

3.1.1 Hirarki Sentral/Jaringan Hubungan telepon dilakukan dalam lingkup lokal, regional, nasional, internasional. Dalam struktur/topologi jaringan telepon diperlukan tingkatan-tingkatan yang disebut Hirarki Sentral/Jaringan Telepon.

32

Network Configuration

Versi FTP Telkom Versi Amerika Gate way : Sentral Gerbang Internasional Tertiary Center : Sentral Trunk / Transit Nasional Class 1

Class 2

Secondary Center : Sentral trunk / Transit Regional Primary Center : Sentral Trunk/Tandem STO : Sentral Lokal atau End office Subscriber
Gambar 3.6. Konfigurasi Jaringan a. Hubungan Lokal

Class 3

Class 4

Class 5

LE

LE

LOCAL EXCHANGE
Gambar 3.7. Hubungan Lokal b. Hubungan Interlokal (Jarak Jauh)

LOCAL EXCHANGE

33

TRANSMISI

LE

TE

TE

LE

LOCAL EXCHANGE

TRUNK EXCHANGE

LOCAL EXCHANGE

Gambar 3.8. Hubungan Interlokal c. Private Branch Exchange (PBX)

LE

Regular Phone

PSTN

LE

PBX PBX
SALURAN INDUK

Gambar 3.9. Jaringan PBX

34

a Are

l oka nL a na Lay

Dari / Ke Sentral SLJJ lainnya

Legend :
Sentral SLJJ SentraL Tandem Sentral Lokal RSU Pelanggan

Gambar 3.10. Topologi Jaringan Sentral

3.2

Sentral Digital Sentral merupakan : - Suatu tempat pemrosesan data (informasi) untuk disalurkan dari penelpon (subscriber) kepada subscriber lain yang dituju. - Suatu tempat pemrosesan data yang dikirim untuk disalurkan ke tujuan dengan dilengkapi fitur-fitur yang telah disediakanoleh sentral itu sendiri. - Suatu otak dari sistem telekomunikasi. - Sebuah pusat atau induk dari sistem telekomunikasi yang dapat menyalurkan semua proses komunikasi. - Titik bertemunya suatu data informasi saat proses komunikasi sedang atau akan berlangsung. 35

- Suatu alat atau sebuah sistem yang digunakan untuk penyambung proses komunikasi. Fungsi dasar dari sentral adalah: Menyelenggarakan fungsi switching (penyambungan). Menyelenggarakan fungsi kontrol. Menyelenggarakan fungsi signaling internal. Menyelenggarakan fungsi operasi dan pemeliharaan. Menyediakan interface transmisi dan signaling.

Fungsi tambahan dari sentral: 1. Pentarifan 2. Fitur-fitur 3.2.1 divert trimitra nada sela hot line/andara sandi nada/speed dial

Jenis-jenis Sentral Sentral dibagi menjadi beberapa jenis yang telah ber-revolusi karena perkembangan jaman, yaitu : a. Sentral analog Sistem yang memakai tenaga manusia untuk mengkoneksikan dua orang yang akan berkomunikasi. Menggunakan switchboard untuk mengkoneksikan dua orang yang akan berkomunikasi.

36

Gambar 3.11. Sentral Analog b. Sentral digital Sistem yang tidak lagi memakai tenaga manusia dan switch board untuk melakukan proses komunikasi karena semua pekerjaan ini telah diambil alih oleh mesin dan komputer.

37

3.3

Jaringan Penyambungan (Switching Network)

3.3.1 Jaringan Mata Jala (Mashed Network) Sifat-sifat jaringan mata jala: 16. Tiap sentral mempunyai derajat yang sama. 17. Hubungan langsung (tanpa sentral transit) jadi hubungan itu bisa cepat. 18. Dengan adanya hubungan langsung tersebut maka peralatan switching lebih sederhana. 19. Jumlah saluran (n) meningkat kwadratis dengan penambahan jumlah sentral. Bila jumlah saluran (n) dan jumlah sentral (x) maka rumusnya: n=1/2 (x-1) 20. Konsentrasi (kemampuan sentral didalam menangani operasional pelanggan dalam waktu bersamaan (%)) agak berkurang dan efisiensi saluran rendah. 21. Jaringan mata jala yang satu dengan mata jala lainnya sulit digabungkan. Ini tentu saja karena setiap saluran harus digabungkan.

MESH

Gambar 3.12. Topologi Mashed Network

3.3.2 Jaringan Bintang (Star Network) Sifat-sifat jaringan bintang: Ada satu sentral yang berderajat lebih tinggi dibanding sentral lainnya. 38

Hubungan langsung antara sentral yang bukan sentral utama tidak bisa dilangsungkan, harus melalui sentral utama. Alat switching lebih sulit daripada sentral biasa. Jumlah saluran (n) linier terhadap junlah sentral (x), dimana n=(x-1). Konsentrasi saluran besar, efisiensi tinggi. Penggabungan satu jaringan bintang ke jaringan bintang lain relatif murah, penggabungan dilakukan dengan menghubungkan sentral utama saja.

STAR

Gambar 3.13. Topologi Star Network

3.3.3 Jaringan Kombinasi Mata Jala dan Bintang Bentuk ini kadang-kadang sengaja dipakai dengan tujuan mengambil sifat-sifat yang baik dari dua jenis jaringan yang ada. Keuntungan dari jaringan kombinasi adalah: 1. Penggunaan saluran lebih efisien. 2. Trafik rendah dipakai jaringan bintang sehingga efisiensi saluran tetap tinggi. 3. Kemungkinan menggunakan over flow teknik juga ada, ini akan mempertinggi efisiensi. Kerugian dari jaringan kombinasi adalah: 1. Alat switching menjadi mahal, terutama bila menggunakan over flow teknik. 39

2. Kalau sistemnya manual masih memerlukan banyak operator. 3.4 Berbagai Konsep Penyambungan Secara umum arti switching adalah melakukan proses hubungan antara dua pelanggan telepon sehingga keduanya dapat berbicara satu sama lain. 3.4.1 Jenis sentral telepon Jenis sentral telepon dapat dibagi menjadi beberapa jenis tergantung dari cara membaginya. a. Berdasarkan proses penyambungan
− −

Manual (sistem sambung tangan) Otomatis (sistem sambung otomatis)

b. Berdasarkan cara pengontrolan
− −

Direct controlled system (sistem pengontrolan langsung) Indirect controlled system (sistem pengontrolan tidak langsung)

c. Berdasarkan jenis komponen utama
− −

Elektronik Semi elektronik

d. Berdasarkan program pengontrolan
− −

Wire Logic (non SPC) Stored Programmed Controller (SPC) Keuntungan SPC: - Pengadministrasian saluran dan sross-connect cukup dengan melalui table data pada computer - Physical line numbers (keadaan secara fisik) yang independen dengan logical line numbers (direktori) - Kemampuan computer untuk menyimpan data histories 40

- Kemampuan pemrograman - Pekerjaan administrasi dan pemeliharaan sistem lebih mudah - Mampu menangani sentral dengan kapasitas lebih besar - Perubahan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat - Automated record keeping, trafiic statistics, automated call tracing, accounting/billing - Customized features: abbreviated dialing, call forwarding, call waiting, three-way calling, dll e. Berdasarkan jenis sinyal informasi pada peralatan penyambungan
− −

Analog Digital

f. Berdasarkan sistem transmisi lokal
− −

Fixed Telephone (kabel) Mobile Telephone (radio)

g. Berdasarkan kebutuhan pribadi
− −

Private Branch Exchange (PBX) Exchange (biasa)

h. Berdasarkan jenis sistem pengontrolan
− − −

SXS (step by step) Marker system Komputer

i. Berdasarkan jenis alat penyambungan
− − −

Switch board (manual) Selektor Cross bar switch 41

− −

Cross point (relay) switch Memory (digital) switch

j. Berdasarkan band/kanal yang bisa dilayani
− − − −

Sentral telegraf (50 band/kanal) Sentral telepon (4 Khz/kanal) Sentral ISDN-Narrow band (64 Kbps/kanal) Sntral ISDN-Broad band (>64 Kbps/kanal)

3.4.2 Elemen-elemen Switching

Crosspoint matrix

Signaling

Control

Signaling

Gambar 3.14. Hubungan Switching a. Signaling Proseds pertukaran informasi di antara komponen-komponen dalam sistem telekomunikasi 42

untuk membangun, memonitor dan memutuskan hubungan, serta pengontrolan operasi jaringan dan sistem yang terkait. Signaling menerima permintaan dari pemanggil dan mengecek status yang dipanggil (idle/sibuk). Jenis signaling: - In-channel signaling Sinyal untuk pengontrolan dan sinyal informasi (voice) melalui kanal yang sama, tidak ada fasilitas transmisi tambahan untuk signaling. Dua macam in-channel signaling: In-band signaling: sinyal pengontrolan dan sinyal informasi menduduki band frekuensi yang sama Out-band signaling: Sinyal pengontrolan dan sinyal informasi menduduki band frekuensi yang berbeda - Common-channel signaling Semua sinyal pengontrolan dari satu kelompok trunk menggunakan kanal tersendiri yang terpisah dari sinyal informasi.
signaling

A

signaling signaling

B

A
Proc

B
Proc

signaling In-channel signaling Common-channel signaling

Gambar 3.15. Macam-macam Signaling Fungsi-fungsi signaling: - Memberikan dial tone (nada panggil), ringing (panggilan), nada sibuk, dll - Mengirim nomor yang dipanggil ke sentral - Pengiriman informasi antar sentral yang menyatakan panggilan tidak dapat dilakukan, 43

atau percakapan sudah selesai (hubungan sudah bisa diputuskan). - Mengirim sinyal untuk membunyikan bel panggilan - Pwngiriman informasi billing - Pengiriman informasi untuk keperluan routing dan pemeliharaan(status perangkat atau trunk) b. Control: Menentukan saluran yang harus dihubungkan. c. Crosspoint: Membangun hubungan (melakukan penyambungan antara pemanggil dengan yang dipanggil).

3.5

Routing Adalah proses pencarian jalan yang dilakukan dalam upaya pembentukan sambungan/hubungan

jarak jauh dari pelanggan yang memanggil ke pelanggan yang dipanggil dalam suatu jaringan SLJJ. Jadi routing merupakan proses yang berjalan dari sentral awal sampai dengan sentral akhir. Dalam routing, jalan yang ditempuh dikatakan baik jika: a. Jalan yang ditempuh sependek mungkin. b. Alat penyambungan dan saluran yang dipergunakan sedikit mungkin. Untuk itu proses routing harus: a. Dapat menerima dan mengenal informasi berupa sinyal-sinyal kode atau berupa pulsa-pulsa dial yang dikenal dari pesawat pelanggan atau dari sentral sebelumnya. b. Mengetahui jalan/rute yang dimaksud oleh informasi tersebut. c. Dapat memilih rute dengan cepat dan tepat. Rute yang dipilih haruslah yang terbaik, bila ada beberapa yang dapat dipilih sebagai alternatif maka jalan yang terbaik sajalah yang dipilih. d. Dapat mengatur pelaksanaan penyambungan sejauh mungkin, sampai sentral ujung tempat pelanggan yang dipilih berada. 44

Klasifikasi rute menurut urutan pilihan:

Direct route/rute pilihan pertama Yang terpilih adalah jalan terpendek, dalam arti langsung menghubungkan sentral (interlokal) awal dan tujuan. Jalan ini dites pertama kali (rute pilihan pertama) biasanya menghubungkan sentralsentral setingkat.

Alternatif route Rute yang terpilih apabila direct route sudah tidak mungkin lagi dipakai/penuh.

Last Choice route/rute pilihan terakhir Merupakan penampungan lalu lintas harapan yang sudah tidak mungkin tertampung oleh jalan yang lebih pendek, disebut juga “Prefik Route”.

rute memutar Sentral setingkat tetapi bukan direct route, hanya untuk tingkat sentral yang tinggi. Alasannya: Dari sentral tersebut tidak mungkin memakai prefik route. Bentuk jaringan yang memanjang (geografisnya). Bila tingkat rendah terlalu banyak, maka penambahan alat-alat (jumlah sentral banyak dan tak sering digunakan).

45

BAB 4 STDI 5ESS

4.1 Sentral 5ESS Sentral 5ESS (AT&T) pertama kali dioperasikan pada tahun 1982 di Amerika Serikat dan mulai dipakai secara umum di luar Amerika Serikat pada tahun 1985. Sampai saat ini sudah lebih 30 juta pelanggan dicatu dari sentral 5ESS di lebih dari 13 negara di dunia. Sentral 5ESS dapat memenuhi 1.200.000 BHCA. Saluran pelanggan dan sirkit trunk diterminasikan di sentral ke Switching Module (SM). Dalam suatu host, maximum bisa terpasang 192 SM, dimana 2 diantaranya berupa Remote Switching Module (RSM). Setiap SM dapat diterminasikan untuk maximum 5.120 pelanggan analog, atau 1.984 pelanggan digital, atau 512 trunk analog, atau 480 trunk digital atau kombinasi dari beberapa konfigurasi diatas. AT & T telah menciptakan sentral 5ESS, sebagai sentral digital yang universal sehingga dapat memenuhi kebutuhan pemakai sentral 5ESS. Sentral 5ESS dipakai sebagai sentral local, tandem, combined, tunk maupun sentral gerbang internasional. Arsitektur software yang bersifat modular, penggunaan mikroprosesor, dan pemakaian teknologi serat optic, merupakan kelebihan sentral 5ESS. Sentral 5ESS dapat dipakai dengan standar 46

CCIT untuk PCM 30 kanal maupun 24 kanal. Sentral ini mempunyai beberapa type sentral remote yang dinamakan Remote Switching Module (RSM), Remote Integrated Services Line Unit (RISLU) dan Transmisionless Remote Module (RTM).

4.2 Karakteristik dan Aplikasi Sentral 5ESS Beberapa karakteristik dari sentral 5ESS diantaranya: a. Keandalan system dengan adanya duplikasi untuk seluruh perangkat yang bersifat “critical”. Keandalan ini didukung dengan adanya pendeteksian kesalahan software, konfigurasi secara otomatis apabila terjadi gangguan dengan mengisolasikan perangkat yang terdeteksi rusak, serta adanya pencetakan laporan perangkat/ modul yang terdeteksi rusak. b. Arsitektur Software yang modular memudahkan integrasi apabila ada penambahan hardware. c. Bahasa “C” adalah bahasa pemrograman yang dipakai sebagai salah satu program bahasa yang konsisten dan bersifat ekonomis, sehingga memudahkan apabila adanya evolusi software. d. Kemampuan Common Channel Signaling (CCS) adalah salah satu fasilitas yang ada pada sentral ini, termasuk didalamnya CCITT System No. 6 No. 7. e. ISDN Service adalah satu jenis pelayanan yang dapat dilakukan oleh sentral ini. f. Network Control and Timing (NCT) links yang berupa fiber optic dipakai sebagai penghubung/ junction antara SM dan CM. Panjang Maksimum adalah 300 meter. g. Inteligent Network (IN) Service dimana didalamnya termasuk fasilitas, Advance Freephone, Calling Card, Televoting, Personal Number, Flexible Charging dan lainnya.

47

h. Kemampuan sebagai Signalling Transfer Point yang berbasis dasar CCIT No. 7 dipakai dalam menghandel Signalling Data Link. AT & T sebagai produsen sentral 5ESS, telah memodifikasi dan membuat sedemikian rupa sehingga apabila ada perubahan atau penambahan hardware maupun modifikasi software, tidak akan berpengaruh terhadap call processing. Perubahan ini termasuk apabila hendak menambahkan RISLU pada suatu RSM, menambah RSM pada suatu MMRSM serta menambahkan MMRSM pada suatu sentral Host.

4.3 Arsitektur Hardware Sentral 5ESS Arsitektur Sentral 5ESS dibuat sangat flexible dan dibuat dengan sistem modular, sehingga dapat menyesuaikan dengan mudah apabila ada penambahan kapasitas line, penambahan system interface, penambahan kapasitas call processing dll. Arsitektur 5ESS meliputi Switching Module (SM) yang terhubung dengan Communication Module (CM) dan berinteraksi dengan Administrative Modul (AM). Unit SM, CM, dan AM masingmasing mempunyai mikroprosesor tersendiri yang sangat membantu dalam mengoptimalkan fungsi call prosesing. Secara diagram, arsitektur hardware 5ESS dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

48

gambar 4.1. arsitektur hardware 5ESS 4.3.1 Switching Module (SM) a. Tipe – tipe SM - HSM (Host Switching Module) yang dalam satu lokasi dengan processor dengan CM. SM ini merupakan interface antara SM yang diremote dengan prosesor dan CM. - LSM (Lokal Switching Module) tempat terminal langsung untuk pelanggan (ISLU) dan trunk (DLTU). - RSM (Remote Switching Module) yang ditempatkan jauh dari host dengan jarak 150 km. Hubungan ke host menggunakan trunk yang dinamakan “umbilical” dan diterminasikan ke SM di host sebelum terhubung ke CM. - PSM (Position Switching Module) SM khusus tempat terminalnya OSPS (Operator Service Position System). - MMRSM (Multi Mode Remote Switching Module) sekumpulan RSM yang terdiri dari 2 sampai 4 RSM yang membentuk suatu cluster. - OIRSM (Optically Integrated Remote Switching Module) single RSM yang terhubung ke CM dengan fiber optic. - TRM (Transmissionlss Switching module) remote modul yang terhubung ke host melalui extended NCT-link.

b. Fungsi Switching module (SM) - Menerima sinyal analog dan digital dari pelanggan dan trunk, dan menjadi sinyal digital. - Melaksanakan fungsi call processing dalam sentral, antara lain untuk menghandel suatu panggilan dan penerima digit dari pelanggan dan trunk. - Membantu proses panggilan intra module (dalam satu SM) dan inter module (antar SM) yang 49

melibatkan AM. - Memberikan pelayanan ringsing generator, tone generator, tone decoder, conference circuit dan fasilitas untuk pengetesan.

c. Komponen Utama Switching Module (SM) - SM Control Unit Terdiri dari sub-sub unit: a) Circuit Switching yang dilaksanakan oleh TSI (Time Slot Interface), DI (Data Interface), dan DLI (Data Line Interface) b) Modul Prosesor dengan komponen SMP (Switching Module Processor), CI (Control Interface), dan SP (Signal Processor) c) Paket Switching untuk menangani data paket dan juga dipasang pada PSM untuk Operator Service. - SM Peripheral Unit Terdiri dari sub-sub unit: a) Peripheral Interface Unit, tempat terminasinya saluran pelanggan dan sirkit trunk dimana line akan terhubung ke LU (Line Unit) untuk pelanggan analog, ISLU (Integrated Service Line Unit) untuk pelanggan analog dan digital. DLTU (Digital Trunk Unit) untuk trunk digital dan ATU (Analog Trunk Unit) untuk trunk analog. b) Peripheral Service Unit, unit yang termasuk didalamnya adalah GDSU (Global Digital Service Unit), PPMU (Periodik pulse Metering Unit) dan MMSU (Modular Metallic Unit) d. Rack Layout SM Setiap bagian/ unit dari SM terletak didalam kabinet. Dimana untuk switching module terdiri dari 2 tipe kabinet yaitu; 50

- SMC (Switching Module Controller) cabinet SMC terdiri dari 2 bagian besar yaitu : MCTU/ MCTSI (Module Control Time Slot Interchange Unit) dan LDSU (Local Digital Service Unit) - LTP (Line Trunk Peripheral) cabinet Terdiri dari unit interface pendukung dan unit untuk pelayanan internal SM. Layout dari rack SM dapat dlihat seperti gambar dibawah ini:

gambar 4.2. layout SM e. Switching Module Growth Suatu perangkat keras yang bersifat modular, sangat memudahkan apabila terjadi penambahan features, penambahan perangkat keras baru, perubahan yang diperlukan. Gambar blok diagram dengan konfigurasi modular, terlihat pada blok diagram berikut ini:

51

gambar 4.3. SM Growth

f. ISLU (Integrated Service Line Unit) Merupakan peripheral interface switching module dan sebagai tempat terminasinya pelanggan analog dan digital dalam sentral 5ESS. ISLU terletak pada rak LTP dari kabinet SM. Fungsi ISLU sama dengan fungsi RISLU yaitu: Sebgai line konsentrator, dimana ISLU akan memultiplex data dari line board ke time slot PIDB. Sebagai originating scanning, dimana ISLU akan mendeteksi pelanggan yang angkat hand set dan melaporkannya ke switching module processor. Sebagai Battery Reversal. 52

g. DLTU (Digital Line Trunk Unit) DLTU berfungsi sebagai unit interface dari suatu hubungan yang menggunakan sinyal digital, antara lain: Hubungan antar sentral ke sentral lain (sirkuit trunk). Komunikasi hubungan antara Host dengan RSM. Komunikasi hubungan antara Host dengan RISLU.

Ada 2 tipe RSLU yaitu: DLTU yang dipakai untuk trunk dan hubungan antara Host dengan RSM. DLTU-R yang dipakai untuk komunikasi ke RISLU baik dari RSM maupun Host.

DLTU merupakan interface untuk 2 megabyte/sekon PCM carriers (32 time slot). PCM carrier terhubung ke DFI (Digital Fasility Interface). Dalam suatu DLTU dapat dipasang sebanyak 16 DFI atau dalam 1 SM hanya dapat dipasang 1 buah DLTU atau dalam 1 SM maximum 16 x 30 = 480 trunk digital. Tiap kabinet DLTU maximum bias menampung 16 DFI untuk PCM 32.

h. GDSU (Global Digital Service Unit) Fungsi GDSU: Sebagai perangkat pengetesan transmisi. Menyediakan sirkuit untuk pembicaraan bersama.

Komponen utama: Transmission Test Function (TTF). Universal Conference Circuit (UCONF).

i. DSU-2 RF (Digital Service Unit- 2 RAF) 53

Fungsinya antara lain: Pemberian layanan dengan recording announcement (RAF). Loop back testing untuk trunk digital. Transmission test untuk trunk digital.

Unit-unit fungsional DSU-2 dibagi atas beberapa jenis yaitu: Digital Service Unit (DSU) DSC melakukan seluruh fungsi dari DSU-2 RAF dan merupakan link dari sirkuit. Announcement Storage Circuit (ACS) Elemen utama dari ACS adalah memory announcement (EPROM) dengan kapasitas 2 megabyte. Selain itu terdapat juga EPI (Expansion Port Interface) untuk pembacaan memory announcement. DSU-2 RAF dapat melayani 32 kanal announcement.

j. MMSU (Modular Metalic Service Unit) Fungsi MMSU: Melayani pengetesan dan pengukuran pada pelanggan analog/ digital dan trunk. Memonitor dan mengontrol internal dan eksternal yang dihubungakan ke sentral dengan “Scan and Distributed Point”. MMSU dihubungkan dengan SMP melalui PICB untuk setiap service group. MMSU terdiri dari beberapa komponen antara lain: Common control Metallic Access Matrix Slim Test Equipment Scan and Distributed Point

Common Control menyediakan interface antara PICB dan bagian dari MMSU. Salah satu komponen 54

Common Control adalah protocol circuit. Sebelum terhubung dengan circuit test, protocol circuit akan mengetes adanya tegangan lain, hubungan singkat, kondisi-kondisi yang bias menimbulkan problem terhadap perangkat test.

k. RSM (Remote Switching Module) Sentral 5ESS dapat dikembangkan untuk melayani daerah terpencil (small communites) dengan cara menempatkan satu atau lebih switching module. Pelanggan daerah tersebut dapat dilayani sebagaimana pelanggan daerah biasa (yang tersambung dengan host), tanpa harus memasang AM dan CM. Fungsi RSM: Sebagaimana terminal dari pelanggan analog dan digital Memberikan service dan feature yang sama seperti pada Host exchange. Mengirim data atas administrasi (data billing, laporan trafik, performasi sistem, dll) ke AM Host. Memberikan timing signal untuk sinkronisasi data. Melakukan self-maintenance.

l. Module Central Time Slot Interchange (MCTSI) MTCSI/MCTU terpasang duplikat (slide 0 dan slide 1) terdiri dari switching module processor (SMIP) dan Time Slot Interchange (TSI). SMP mengontrol seluruh hardware di SMP sedangkan TSI menghubungkan peripheral interface pada Switching Network dengan menggunakan Time Division Switching. Fungsi dari MCTU antara lain: Merupakan interface dengan Network Control danTiming (NCT) link. 55

-

Merupakan interface dengan unit yang lain didalam SM dalam mengirimkan informasi control dari SM.

-

Merupakan interface dengan unit-unit yang terkait untuk PCM data. Ikut membangun call processing, call supervision, dan fungsi-fungsi pemeliharaan. Memproses time devision processing dibawah pengawasan dari SMP. Merupakan interface antara SMP dan message Time Slot dari NCT links. Menerima dan mengelola time control bite.

Antara MCTU dan TMS (pada SM), dihubungkan oleh 4 pair NCT links yang berfungsi sebagai sumber timing bagi SM. Timing information ini diterima oleh MCTU dan dipakai sebagai acuan untuk bersinkronisasi dengan sistem setelah memilih salah satu sumber yang dilewatkan NCT link sebagai reference clock sentral.

m. Switching Module Processor (SMP-20) Sebagai control component, MCTU terdiri dari SMP CI (Control Interface) dan SP (Signaling Processor). SMP adalah pusat control dari SM yang terdiri dari hardware dan software yang mengontrol call processing dan fungsi-fungsi pemeliharaan, serta berkomunikasi dengan unit-unit yang lain dalam sentral. SMP berkomunikasi dengan processor SM lain dengan menggunakan control time slot yang diterima di NCT link melalui DLI (Digital Link Interface). Fungsi SMP-20: Mengontrol unit-unit dalam MCTU dengan menggunakan SIB (Sub Unit Interface Bus). Mengontrol peripheral unit dengan menggunakan PICB (Peripheral Interface Control Bus)

Control Interface (CI) adalah komunikasi antara SMP dengan interface unit dan service unit harus memiliki CI dengan menggunakan SIB. Selanjutnya dari CI hubungan dengan peripheral unit menggunakan PICB, dimana setiap CI hanya bisa diterminasikan PICB maximum 23 56

buah. Signaling Processor (SP), SP berhubungan langsung dengan TSI dengan menggunakan SIB yang terdiri dari 512 time slot, yang secara kontan dikirim dan diterima oleh SP. Dari 512 time slot diatas, SP hanya mengirim dan menerima sinyal bitnya saja yang merupakan bagian dari PIDE timeslot. PIDB time-slot yang mempunyai 16 bit, terdiri dari 8 speech bit (0-7), 4 signaling (A-D), 3 control bit (E-G), dan 1 parity bit yang berfungsi mendeteksi adanya gangguan. Signaling processor menjalankan 2 fungsi pada signaling bit, yaitu: Mendeteksi perubahan signaling bit dari peripheral unit. Mengirim signaling bit pada peripheral unit. Perubahan signaling

n. Time Slot Interchanger ( TSI ) - Fungsi TSI Fungsi utama dari TSI adalah melakukan time switching, yaitu menghubungkan beberapa time slot di antara beberapa unit dari SM, seperti terlihat sesuai nomer pada gambar dibawah ini :

Gambar 4.4. Time Slot Interchanger ( TSI )

Keterangan gambar sekaligus sebagai fungsi dari TSI: 57

a. Dalam Intermodule Call, TSI membuat jalan antara 512 time slot dari NCT. b. Dalam Intermodule Call, TSI membuat jalan satu peripheral time-slot dengan peripheral time slot yang lainnya. c. Dalam TMS loop-back testing, TMS mengadakan test continouitas NCT link antara SM dan TMS pada CM. d. Dalam tone decoding dan tone generating, TSI membuat jalan antara 512 time slot pada peripheral dengan 64 time slot pada LDSU. e. Dalam “tone generation to other”, TSI membuat jalan antara 64 time slot LDSU dan 512 time slot pada NCT link yang dipakai dalam mengirim ringing tone ke orginating call.

- Fungsi Data Interface ( DI ). Data Interface merupakan interface antara TSI dan peripheral unit, yang berfungsi sebagai multiplexer untuk time slot dari PIDB ke TSI dan sebagai demultiplexer untuk time slot dari TSI ke PIDB. Data Interface terdiri dari 2 bagian yaitu DI o dan DI 1, dimana terdapat maximum 16 PIDB yang dapat dihubungkan pada setiap side. Setiap satu side terhubung pada 8 PIDB, sehingga satu DI dapat mengirimkan 8 x 32 time slot pada TSI. Time slot data dari DI 0 masuk pada lokasi memory yang ganjil pada TSI sedangkan DI 1 pada lokasi genap.

- Fungsi Dual Link Interface ( DLI ) DLI merupakan interface antara TSI ( SM ) dengan TMS ( CM ) yang terhubung dengan menggunakan fiber optik. Setiap DLI tediri dari dua side yaitu 0 dan 1 dimana setiap side 58

terhubung pada TMS 0 dan TMS 1 pada Cm. Jadi hubungan dengan DLI pada SM dengan TMS pada CM memakai 4 buah fiber yang disebut Network Control Timing ( NCT ) link, dengan 2 buah NCT setiap side. DLI berfungsi merubah data dari TSI ke bentuk cahaya sebelumnya dipancarkan pada NCT link. Begitu juga sebaliknya, cahaya yang diterima dari NCT dirubah kembali menjadi pulsa elektris sebelum dikirim pada TSI. Selain itu, DLI ,merupajan sumber clock bagi SM yang dipakai sebagai “main timing” pengirim data. Informasi dari timing ini didistribusikan oleh TSI pada saluran unit SM. Clock ini harus sinkron dengan network clock pada CM sebagai sumber utama clock seluruh sentral dan proses sinkronisasinya dilewatkan melalui data bit pada NVT link. Secara sistem, DLI merupakan dari SM, tetapi secara prinsip kerja seolah-olah merupakan bagian dari CM karena kondisi active atau stand by dari DLI sangat tergantung pada ONTC (Office Network Timing-Complex) dan CLK (Comunication Link) bukan dari kondisi SM processor. Jadi bisa saja terjadi SMP 0active tetapi DLI 0 stand by dan sebaliknya SMP 1 stand by sedangkan DLI 1 active.

4.3.2 Communication Module (CM) a. Fungsi Communication Module (CM) Communication Module (CM) merupakan suatu unit dari sentral 5ESS yang mempunyai fungsifungsi sebagai berikut: - Call Space Switching. Melaksanakan fungsi space switch dalam unit TMS (Time Multiplexer) untuk hubungan antar SM. Dalam sistem sentral 5ESS terjadi time-space-time switch TSI di SM berfungsi melakukan time-switching, sedangkan TMSU di CM berfungsi melakukan space switching. 59

- Network Timing. Membangkitkan timing signal dan mendistribusikannya ke setiap SM untuk dipakai sebagai sinkronisasi antara module masalah timing sangat berpengaruh dalam sistem 5ESS dipakai dalam komunikasi pengiriman data antar module. Dan diperlukan dalam sinkronisasi kecepatan transmisi antara sentral 5ESS (CM), SM RSM, kecuali AM harus sinkron dalam timing karena CM adalah pusat switching dari 5ESS maka baik NCLK maupun perangkat untuk pendistribusian timing signal terletak pada unit ini. NCLK dapat dibangkitkan dengan 2 cara, yaitu dari imteral dengan menggunakan medium/high stability clock generator atau dari external dengan menggunakan clock reference dari digital carrier yang tersambung pada sentral.

- Message Switching. Dilaksanakan oleh MSGS yang melaksanakan komunikasi inter module, yaitu antar SM dan antar SM dengan AM. Selain itu, Cm berperan dalam proses routing ( oleh MSGS ) dan didalam proses switching ( oleh TMS ).

b. Komponen Utama Communication Module ( CM ). Unit-unit dari CM dan letaknya dalam cabinet adalah seperti gambar berikut ini :

60

Gambar 4.5. Unit-unit CM

Communication Module ( CM ) dibagi dalam 2 unit fungsional yaitu : • • MSGS ( Message Switch ) TMS ( Time Multiplexed Switch )

Dimana setiap fungsional mempunyai sub unit seperti : - MSGS sub-unit : • • • MSPU ( Message Switch Peripheral Unit ) MSCU ( Message Switch Control Unit ) CMCU ( Communication Module Control Unit )

- TMS sub-unit : 61

• • •

TMSU ( Time Multiplexed Switch Unit ) CMCU ( Communication Module Control Unit ) E-Bus ( Emiter Caupled Logic ) bus unit.

Unit ini tidak terlihat pada gambar diatas, karena E-Bus hanya terdapat pada cabinet tambahan bila CM diperluas.

c. Message Switch Control Unit ( MSCU-2 ) - Fungsi MSCU-2 MSCU hanya terdapat kofigurasi dasar dari CM ( CM05 dan CM06 ), artinya MSCU tidak perlu ditambah bila ada penambahan SM. Fungsi – fungsi MSCU antara lain : a. Sebagai interface ke AM ( Administrative Module ) b. Pengontrol aktivitas MSCU. c. Menjalankan fungsi Fast-Pump dalam pentransferran data dari AM ke SM saat inisialisasi SM. .- Fungsi PPC, FPC dan MSC Ada 3 buah sub-unit dalam MSCU yaitu : 1. Pump peripheral controller ( PPC ) Berfungsi pada saat inisialisasi dari memori SM, dimana digunakan seluruh time-slot dari 32 time-slot yang ada untuk melewatkan informasi dari AM ke SM. Pada kondisi normal dan hanya digunakan satu buah time-slot untuk call processing.

62

2. Foundation peripheral controller ( FPC ) Berfungsi dalam mendistribusikan control message ke AM dari unit-unit CMCU yaitu TMS, DMI dan NCLK. Pengirim massage ini menggunakan CDAL ( Controller and Diagnostik Acces Link ).

3. Massage Switch Controller ( MSC ) Berfungsi sebagai pengontrol jalannya massage dari dank e AM, melewatkan perintah-perintah dari AM ke FPC dan PPC, dan mengontrol kegiatan MSPU.

d. Massage Switch peripheral Unit ( MSPU ) - Fungsi MSPU MSPU merupakan unit dari CM yang menjalankan fungsinya sebagai control dalam switching antar CTS. Setiap MSPU mempunyai 4 buah MMP ( Module Massage processor ) yang disebut MMP community. - Fungsi Module Massage Processor ( MMP ) Fungsi MMP adalah sebagai mengirim control time slot, sebagai menerima control time-slot dan sebagai internal control. Konfigurasi minimum dari suatu MMP adalah 2 buah MMP community (side 0 dan side 1) Untuk konfigurasi maximum MMP diperlukan 12 community. MMP dan MSPU berfungsi sebagai buffer, di mana ia menerima, menyimpan sementara semua massage di RAM sampai 63

massage itu dapat diroutingkan ke CTS yang dituju. Kecepatan transfer dari CTS adalah 48 kb/s. satu MMP dapat melayani 8 control time-slot, sehingga satu TMSU dapat melayani 8 x 4 = 32 CTS. Apabila diperlukan untuk mensuplai sebanyak 190 SM + RSM, maka diperlukan 6 MSPU disetiap side CM dengan hasil 6 x 32 = 192 ( CM ). Untuk sistem yang mempunyai kurang dari 96 control time-slot ganjil dipasang pada sisi 0 dan time-slot genap dipasang pada sisi 1.

e. Communication Module Control Unit ( CMCU ) Ada 4 buah sub-unit dalam CMCU, yaitu TMC ( Time Multiplexed Switch Control ), DMI ( Dual Massage Interface ), NCLK ( Network Clock ) dan E-Bus ( Emitter-Coupled logic Bus ). Fungsi CMCU yaitu menyediakan timing ( clock ) sentral 5ESS dan mengontrol

aktivitas switching dari TMSU. CMCU merupakan unit dari CM yang berfungsi memberikan timing untuk sistem dan mengontrol operasi TMSU ( Time Multiplex Switch Unit ) Fungsi Time Multiplex Controller ( TMC )

TMC merupakan bagian dari Cm yang berfungsi mengontrol TMSU. Dengan menggunakan informasi yang diterima dari AM, TMC membangun switching path. TMS juga memonitor gangguan/interrupt pada timeslot dan melaporkannya pada AM. Fungsi lain dari TMC adalah melakukan pemeliharaan, seperti membangkitkan data test.
-

Fungsi Dual Massage Interface ( DMI ) 64

DMI merupakan interface untuk melewatkan control information antara TMSU dan MSPU. Selaku interface, fungsi-fungsi DMI antara lain : 1. Interface control time-slot antara AM-Sm, SM-SM, dan SM ke AM. 2. Interface Network Clock dan TMC dengan MSCU (Message Swith Control Unit). 3. Interface dalam inialisasi “fast pump” , dimana data dikirim dari AM ke SM dengan melalui MIB. Dalam menjalankan fungsi-fungsi di atas, DMI di control oleh AM mengirimkan perintahnya melalui CDAL. Fungsi Network Clock ( NCLK )

Berfungsi dalam mensupali high stability clock untuk sinkronasi system. NCLK terdiri dari beberapa card yang tipenya bergantung dari jenis sentral.

f. Time Multiplexed Switch Unit ( TMSU ) Fungsi TMSU berisi Network space-devision switching. TMSU berfungsi dalam

menghubungkan control time-slot dari AM ke SM dan dari SM ke SM. Selain itu juga TMSU berfungsi menghubungkan data time-slot antar SM dalam satu pembicaran telepon. Konfigurasi dalam hubungan SM dan CM dapat kita lihat pada gambar dibawah ini :

65

Gambar 4.6. Konfigurasi TMSU Dari gambar terlihat dua buah NCT links yang berfungsi sebagai interface yang terhubung pada setiap DLI ( Dual Link Interface ) di SM serta pada setiap LI ( Link Interface ) di TMSU. NCT link bersifat duplikat tapi tidak terhubung secara cross-connected pada setiap side TMSU, akan tetapi time-slot yang dikirim dan diterima TMSU yang “stand by” akan sama datadatanya dengan time-slot yang dikirim dan diterima di TMSU yang “aktif”. Setiap NCT mambawa 256 time-slot, dimana satu diantaranya dipakai sebagai control time-slot diroutngkan lewat DLI menuju SMP ( Switching Module Prosecessor ), semetara data timeslot dihubungkan pada TSI.

4.3.3 Administrative Module ( AM ) - Fungsi Administrative Module Administrative module merupakan perangkat utama yang terdiri dari prosesor yang barfungsi mengontrol Cm dan berkomunikasi dengan seluruh SM melalui Cm, Blok diagram AM dapat kita lihat seperti dibawah ini :

66

Gambar 4.7. Blok Diagram AM - Fungsi utama dari Am adalah sebagai berikut : .> Fungsi Call Processing Route selection SM dapat melayani pemrosesan panggilan dan penyelesaian routing untuk intraexchabge call, proses ini harus melibatkan AM untuk intra-exchange call yang menggunakan perangkat khusus seperti conference call, dan untuk inter-exchange call. Penyediaan time-slot AM memonitor dan menyediakan time-slot yang akan dipakai dalam pembangunan hubungan. . > Fungsi Non-call Processing Pemeliharaan sistem AM bertanggung jawab dalam pemeliharaan system pada AM sendiri maupun pada CM. Pemeliharaan ini tidak berlaku pada SM, karena SM mepunyai process sor sendiri dalam 67

menjalankan pemeliharaan. Yang termasuk system pemeliharaan adalah fungsi-fungsi diagnostic, rekonfigurasi dan inisialisasi. Pemeliharaan Sentral AM memelihara dan memonitor kondisi sentral dengan mengeluarkan output hasil monitornya pada MCC, ROP dan terminal-terminal lain yang terhubung. Penyimpanan Informasi billing AM meproses informasi billing yang diterima dari seluruh SM dan disimpan dalam disk atau tape Administrasi database, timing dan testing Am menjalankan fungsi-fungsi lain dalam administrasi antara lain : - Pengaturan penyimpanan pada disk atau tape untuk administrasi database baik hardware atau software. - Pengaturan waktu diagnostic dan rekonfigurasi testing untuk seluruh hardware.

a. Komponen Utama AM AM processor ( CU, MAS dan IOP ) AM processor terdiri dari CU ( Central Unit ), main store ( MAS ) dan input /output peripheral ( IOP ). AM peripheral Perangkat keras AM terdiri dari rangkaian computer 3B2OD yang dimasukkan dalam 3 buah cabinet yaitu : 1. Cabinet PCCA 0 ( Processor Control Cabinet A 0 ) yang terdiri dari AM processor 0, DFC dan portswitch. 2. Cabinet PCCA 1 ( Processor Cabinet A 1 ) yang terdiri dari AM processor 1, DFC 1 dan IOP 1. 3. Cabinet tape/disk yang terdiri dari 1 tape unit dan 4 buah disk unit. 68

Seluruh perangkat yang ada pada cabinet PCC 0 dan PCC 1 saling duplikasi dengan kondisi active/standby. Port switch hanya terdapat pada PCC 0.

b. Input output Processor Pada IOP terdapat DSCH dari DMA, IOC ( IOP Control ) dan peripheral controller serta peripheral device. - Fungsi IOP IOP menghubungkan CU dengan peripheral device termasuk diantaranya : a. MCC terminal dan ROP. b. Data links pada remote terminal. c. Terminal dan printer. d. Tape unit. e. OAF ( Office Alarm Unit ). Setiap IOP terdiri dari satuinput output controller ( IOC ) dan 4 peripheral controller ( PC ). Setiap terminal atau printer terhubung langsung pada PC, begitu pula pada alarm indicator, tape unitdan lain-lainnya. IOP duplikasi terhubung pada MMC harus selalu bisa berhubungan dengan sistem walaupun sistem dalam keadaan emergency.

c. Control Unit dan Main Control - Fungsi Control Unit Fungsi-fungsi dari control unit pada 6 buah yaitu : - Mengirim dan menerima control massage ke dan dari SM dengan melalui CM. - Membaca dan menulis data dari dan ke hard disk melalui DFC. - Membaca dan menulis dari tape dan peripheral yang lain melalui IOP. 69

- Updating stand-by CU melalui MASUB ( Main Store Update Bus ). - Diagnosa dan pemeliharaan untuk stand-by CU melalui MCH ( Maintenance Chanel ). Mengeluarkan dan siap melayani EA ( Emergency Acces ) apabila system dalam kondisi inisialisasi. - Unit-unit CU Control unit terdiri dari bebrapa sub-unit antara lain : i. Central Control ( CC ) Tugas CC adalah mempersiapkan pelaksanaan instruksi program dan menjadi tempat penyimpanan intruksi data yang disebut change stroge. ii. Change Store Unit ( CSU ) CSU menyediakan tempat penyimpanan sementara yang berisi addres MAS yang sering dibaca/digunakan oleh sistem dan dialokasikan dalam CU. iii. Main Store ( MAS ) Menyimpan intruksi progam yang siap dieksekusi dan data yang dipakai CC dalam mengontrol kondisi sentral. Data-data tersebut dapat segera dipanggil dan di keluarkan dari MAS apabila diperlukan. Isi MAS di-backup didalam disk. iv. Main store Update ( MASU ) Dipakai dalam komunikasi antar MAS, selain itu MASU akan mengontrol kondisi CC yang stand-by dengan menggunakan MASU Bus. v. Direct Memory Acces ( DMA ) merupakan interface antar MAS dan peripheral unit. CC memakai DMA pada saat pentransferan data dimana CC tidak akan mengontrol seluruh pentransferan data dari awal sampai akhir karena diambil ahli dari DMA. Jadi apabila CC sudah memberikan instruksi pentransferan data pada DMA, CC dapat menjalankan fungsi yang lain tanpa harus menunggu 70

prose situ berakhir. Hubungan antara DMA dengan peripheral unit adalah menggunakan DSCH ( Dual Serial Chanel ). DMA berkomunikasi dengan peripheral unit subsyestem antara lain CM, DFC,disk dan IOP.

d. Peripheral Controller Peripheral controller mempunyai internal microprocessor yang mengontrol hubungan dengan perangkat yang tersambung padanya. Peripheral controller disambungkan dalam satu community dimana satu community maximum mempunyai 4 buah PC.

Community 0 dan 1 ada pada konfigurasi awal IOP sedangkan Community 2 dan 3 terdapat pada konfigurasi extention dari IOP.

e. MCC, TLWS dan ROP - Fungsi Master Control Center MCC adalah alat komunikasi antar sentral 5ESS dan proposional operasi dan pemeliharaan. Perangkat MCC memungkinkan operasional pemeliharaan untuk monitor status sisterm, unjuk kerja dan tampilan kondisi operasi dan pemeliharaan. Sebagian besar pekerjaan pemeliharaan umumnya menggunakan MCC.

4.4. Software Sentral Telepon 5ESS 4.4.1. Umum Arsitektur software 5ESS bersifat modular dan distribusi pada prosesor di SM, CM, dan AM. Dengan konsep ini. Sistem mempunyai banyak prosesor yang terdistribusi pada unit-unitnya akan tetapi masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda dalam fungsi utamanya 71

menyelenggakan Call Processing. Dalam pemahaman software 5ESS terdapat istilah yang penting untuk dipahami yaitu :
-

Firmware

Adalah sekumpulan intruksi atau imformasi yang disimpan dalam ship memory yang permanen dan tidak dapat diubah. Chip penyimpan tersebut dinamakan ROM ( Read Only Memory ) yang memungkinkan user untuk menyisipkan atau mengubah isi chip dengan bantuan ROM reader/programmer. Memory

Adalah penyimpanan hasil kerja prosesor. Program dan data dari disk atau tape ke memory. Memory utama ( Primary Memory ) dari sentral 5ESS berupa RAM. Ukuran memory untuk AM sebesar 64 Mbyte. Dan memori SM sebesar 32 Mbyte. CM hanya mempunyai ukuran memori yang terbatas yang berfungsi sebagai area kerja, bukan sebagai tempat penyimpanan program. Disk adalah memori sekunder ( Secondary Memory ) Karena dapat menyimpan semua program dan dapat diakses secara otomatis. AM memindahkan memori dari disk ke memori utama.

4.4.2. Arsitektur Software 5ESS Arsitektur software sentral 5ESS didasarkan pada konsep “distributed processing” dengan berdasarkan konsep ini. System 5ESS menggunakan prosesor yang tersebar pada unut-unit sentral yang menangani fungsi khusus. Metoda pemrosessan pada arsitektur distributed berbeda dengan konsep “Centralised Processing” dimana terdapat pemrosessan terpusat yang mengerjakan semua proses. Prosesor-prosesor di sentral 5ESS terletak di AM, CM, dan tiap-tiap SM. Tiap prosesor mengerjakan program software nya dan bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing. Konfigurasi “distributed processing” meringankan beban kerja suatu prosesor. 72

4.4.3. Subsystem Software 5ESS Software sentral telepon 5ESS menjadi 5 subsystem dengan fungsi yang berbeda-beda. Setiap subsistem terdapat baik di SM prosesor maupun di AM prosesor. Konsep distribusi arsitektur softwere ini akan sangat memudahkan apabila ada penambahan SM (extension). Diagram arsitektur softwere 5ESS dapat dilihat di bawah ini :

Gambar 4.8. Diagram Arsitektur Software 5ESS Dari gambar di atas , terlihat bahwa ada 5 buah subsistem dari softwere sentral telepon 5ESS yaitu :
-

Operating system software Call processing software Administrative service software Maintenance software

4.4.4. Operating system software Operating system adalah program paling awal yang dicopykan ke memory dari disk atau tape ketika sentral dihidupkan. Operating system sentral telepon 5ESS dapat menjalankan banyak proses pada waktu yang sama, mengintruksi proses atau menjalankan proses yang lain. Tiap proses 73

mempunyai “Prioritas” dan proses yang mempunyai prioritas yang tinggi akan dieksekusi lebih dahulu. Metode ini disebut operasi “Real time” . 4.4.5. Call processing software Software Call processing terdistribusi pada SM prosesor dan AM prosesor. Software terbagi lagi menjadi 3 subsystem dan mempunyai fungsi masing-masing yaitu : Feature control (FC)

Fungsinya adalah mengumpulkan digit, menterjemahkan sinyal dari pelanggan. Dan mengalokasikan terminal dari routing. Routing and terminal Allocation (RTA)

Fungsinya adalah menyediakan part bicara antara SM, mendeteksi status hardware. Dan mengimformasikan kondisi overload (kelebihan beban). Peripheral Control (PC)

Fungsinya adalah mengontrol dan memonitor terminal.

4.4.6. Administration software Seperti halnya dengan softwere call processing, software ini didistribusikan baik pada AM maupun SM. Fungsinya mengumpulkan informasi yang diberikan softwere call processing di SM. Menganalisa data, dan mengeluarkan data. Tugas dari subsystem ini antara lain : Mengumpulkan data billing dalam Sm, dalam bentuk call record assembler yaitu data

informasi percakapan. Mengukur tasif. Network management. 74

4.4.7. Database management software Berfungsi untuk mengontrol database untuk call processing sehingga sering disebut “Database management System” (DEMS). Pada sentral telepon %ESS data-data yang dipakai disimpan dalam “Database Relational” Data yang disimpan dapat diakses dengan 2 cara yaitu : 1. Menggunakan TLA (Tupple Level Acces) pada saat call processing.
2. Menggunakan VLA (View Level Acces) melalui personel pemeliharaan.

Subsistem software database management bertanggung jawab mengendalikan pengaksesan ke database yang memiliki TLA atau VLA.

4.4.8. Maintenance software Subsistem softwere yang terbesar adalah maintenance software yang bertanggung jawab untuk menjaga reabilytas system, rengkofigurasi, diagnostic, Monitoring, dan komonikasi human/machine interface. Maintenance software merupakan unit yang bertanggung jawab penuh terhadap jalanya operasional sentral. Fungsi-fungsi yang dilaksanakan software ini adalah : 1. Komunikasi antar manusia (operator) dengan mesin.
2. Memelihara system sesuai konfigurasi serta menjaga dan mengoperasikan perangkat sesuai

database yang dibuat software lain. 3. Melaksanakan fungsi pemeliharaan untuk pelanggan dan trunk dalam kondisi operasional dan mendeteksi bila ada kesalahan. 4. Menjaga intergritas system yang dikarenakan adanya kesalahan dengan adanya audit, overload control dll.

75

5. Pembaharuan program, sebagai contoh pentranferan file. Verifikasi partisi harddisk, inisialisasi dll. Maintenance software berisi 6 subsistem utama yaitu :
-

Switch maintenance software Terminal maintenance software Human/machine interface software Utilities software Diagnostic supervisory software System integrity software

76

BAB V JARINGAN IN (Intellegent Network)

5.1 Asal Mula IN Intellegent Networks (IN) adalah suatu arsitektur jaringan di atas jaringan (transport) telekomunikasi yang merupakan platform untuk manajemen servis secara terpusat baik untuk servis eksisting maupun servis baru. IN terletak pada salah satu layer di CSS7. CSS7 adalah protokol untuk sinyal telepon yang digunakan untuk public switched pada jaringan telepon. Intelligent Network (IN) terletak di core, di antara fungsi switching dan pengaturan Logic.Operator menggunakan elemen IN untuk mendefinisikan setiap logika pengaturan dari sebuah service. IN juga mempermudah operator untuk mengubah suatu logic service. Kecerdasan tersebut tidak terdapat di setiap sentral tapi berada pada sistem jaringan yaitu pada sebuah komputer, selanjutnya akan didistribusikan ke seluruh network, sehingga akan mempercepat penyebaran service ke seluruh network dan akan langsung memenuhi kebutuhan pelanggan.

5.2 Produk IN 5.2.1 FreeCall

77

Suatu nomor khusus yang dapat dialokasikan bagi pelanggan, beban atas semua panggilan ke nomor ini dibayar oleh panggilan tersebut dan bukan ke pemanggil.
Cabang Bandun g Service Manage ment 0800-1888888 Caban g Meda n

Kanto r Pusat Jakart a

Cabang Suraba ya

Bil l

PSTN/ISDN

IN

Orig in

Wak tu 08-17

17-08 Jkt Jkt Jkt Jkt

Jakarta Jakarta Bandung Bandung Surabaya Surabaya Medan Medan

Bil l

0800-188888

Gambar 5.1. FreeCall

5.2.2 PremiumCall Pemanggil dapat memperoleh berbagai informasi yg disediakan oleh banyak penyedia informasi. Pelanggan harus membayar premium rate untuk percakapannya. Penyedia informasi akan menerima sebagian premium rate tanpa menagih ke pemakai.

78

Konsulta n Ahli
Charging tambahan

Info computer (Voice mailbox)

INFO BOX

Sara n

IN
PSTN/ISDN

Numbering plan 0809 1234567 214142 0809 111111 895421

022 021

Informa si

Gambar 5.2. PremiumCall

5.2.3 UniCall Memberi satu nomor yg sama untuk beberapa lokasi perusahaan dimanapun berada.

79

Kanto r Pusat Jakart a

Cabang Bandun g Service Manage ment 0807-111111 Caban g Meda n

Stati stic Bil l

PSTN/ISDN

IN

Wak 08-17 Orig tu in Jakarta Pusat

17-08 Pusat Pusat Pusat Pusat

Bandung Bandung Medan 50% Md 50% Jkt

Bil l Jakart a Bandun g

0807-111111 Meda n

Gambar 5.3. UniCall

5.2.4 VoteCall Memungkinkan bagi pelanggan untuk melakukan pemungutan suara melalui pesawat telepon. 80

Studio TV Sinetron Sinetron A : Favorit 080615555-1 Sinetron B : 080615555-2 Sinetron C : 080615555-3 Present er

Sinetron Favorit A 25% B 48% C 27%

0806-155555

Counter

Call Forwarding
setiap hit ke 1000 diinformasikan ke penyiar TV (021-1234567)

55555-1 : 253 55555-2 : 476 PSTN/ISDN 55555-3 : 269 Total : 1000

IN

Gambar 5.4. VoteCall

5.3 Arsitektur Jaringan IN pada ARNET Jatinegara

81

Area Code 021 : JKT SCP SCP JKT JKSP SSP JK3 T T D JTIN

Area Code non 021 : BGR

JTIN

JTT D

E1 DID (utk akses dari 021)

LE INDUK

LE dial 140XY

LE dial 140XY

E1 DID (utk akses dari non-021)

Call Center Provider

Gambar 5.5. Arsitektur IN

5.4 Sentral IN Pada ARNET JATINEGARA Sesuai penjelasan yang telah dibahas pada sebelumnya, sentral tersebut tidak memiliki pelanggan. Fungsi dari sentral tersebut hanya sebagai meroutingkan (sama dengan fungsi sentral trunk/ tandem). Pada dasarnya operasi dan maintenance sentral tersebut sama dengan sentral AT&T lainnya, mempunyai operasi dan pemeliharaan (OM).

5.4.1 Operasi dan Pemeliharaan a. Preventif

82

Pada ARNET Jatinegara pemeliharaan preventif dilaksanakan dengan Infrastruktur Check & Recheck (C&R). Pemeliharaan C&R dilaksanakan pemeliharaan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, tiap 6 bulan sekali, dan tiap setahun sekali. Contoh:

Gambar 5.6. Gambar Pemeliharaan IN

83

Gambar 5.7. Check Status Harian AM

Gambar 5.8. Check Status Harian SM

84

Gambar 5.9. Check Status Harian CM

Gambar 5.10. Check Harian Status Link Set

85

Gambar 5.11. Check Mingguan AM/SM

Gambar 5.12. Check Bulanan ODD b. Korektif (Perbaikan) 86

Perbaikan modul menggunakan aplikasi dengan SmarTerm. Contoh 1:

Gambar 5.13. Gangguan IN Pada layar pada bagian CM terlihat CKT LIM (Circuit Limit). Dan pada JK4T terdapat gangguan yang berupa AIS. Cara menyelesaikannya yaitu dengan mengkoordinasi dengan petugas sentral lawan (JK4T). Dalam kasus ini gangguan ada di sentral lawan. 87

Contoh 2:

Gambar 5.14. Penanganan CM Pada layar bagian CM menyala, maksudnya ada suatu gangguan pada salah satu modul CM. Untuk melihat lebih dalam lagi dimana gangguan berada, cukup tekan digit yang menyala (pada contoh 1210). Setelah ditekan digit 1210 tersebut, command yang keluar adalah sebagai berikut:

88

Gambar 5.15. Penanganan CM (2) Setelah keluar command tersebut, terdapat petunjuk ”SEE PAGE 1211”. Untuk melihat lebih dalam lagi dimana gangguan berada, cukup tekan digit yang menyala (1211). Setelah ditekan digit 1211 tersebut, command yang keluar adalah sebagai berikut:

89

Gambar 5.16. Penanganan CM (3) Pada page ini terlihat dimana gangguan berada. Pada rak modul terdapat 8 line, line 1 berstatus OOS (Out Of Service). Pada sisi kiri layer terdapat command-command yang dapat dipakai untuk membantu maintenance. Jika ingin di restore, cukup tekan 30X dimana pada contoh diatas adalah 301. Maka pada line tersebut akan di restore.

90

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful