You are on page 1of 26

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN ANKLE FRACTURE

Oleh :

NAMA : NI LUH GEDE DEVI WULANDARI

NIM : P07120014030

PRODI : D III KEPERAWATAN

SEMESTER : VI

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
DENPASAR
2017
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN ANKLE FRACTURE

A. KONSEP DASAR TEORI

1. Definisi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya disertai dengan luka
sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon, kerusakan pembuluh darah, dan luka
organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadinya fraktur jika tulang
dikenai stress yang besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer, 2012).
Ankle fracture atau fraktur pergelangan kaki secara klasik didefinisikan sebagai adanya
fraktur pada distal fibula atau lateral malleolus, distal medial tibia atau medial malleolus, dan
posterior distal tibia atau posterior malleolus (Bariteau, 2013)

2. Anatomi dan Biomekanik

Sendi pergelangan kaki (ankle joint) atau articulatio talocrural merupakan sendi engsel
sinovial yang terletak antara ujung distal dari tibia dan fibula dan bagian superior dari talus
(Gambar 1) (Moore KL, 2006). Ujung distal dari tibia dan fibula membentuk malleolar
mortise (membentuk rongga yang dalam) dimana bagian trochlear dari talus dapat masuk
kedalamnya. Trochlea merupakan bagian talus yang berbentuk bulat, terletak di superior, dan
merupakan permukaan sendi dari talus. Bagian permukaan medial dari malleolus lateralis
berartikulasi dengan permukaan lateral dari talus. Tibia berartikulasi dengan talus pada dua
tempat, antara lain bagian permukaan inferiornya menjadi atap dari malleolar
mortise (menghantarkan berat badan ke talus) dan bagian medial malleolus berartikulasi
dengan permukaan medial talus (Gambar 1). Kedua malleolus memegang talus sangat kuat
seperti batu dalam mortise ketika pergerakan dari pergelangan kaki. Kekuatan pegangan
malleoli pada trochlear paling kuat ketika dorsifleksi dari kaki karena bagian paling lebar dari
trochlea masuk ke artikulasi tibia dan fibula), sedangkan pada saat plantar fleksi terjadi
sebaliknya (pada keadaan plantarfleksi sendi ini paling tidak stabil karena alasan tersebut)
(Hoagland TM, 2015).
Gambar 1. Sendi Pergelangan kaki atau articulation talocruralis (Ankle Joint)
Gambar dikutip dari: Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Chapter 5. Lower Limbs. In: Moore
KL, Agur AMR, Dalley AF. Essential Clinical Anatomy. 4th edition. Lippincott Williams &
Wilkins. p.317-405

Stabilitas sendi pergelangan kaki ditentukan sepenuhnya oleh struktur tulang dan
ligament (Moore KL, 2006). Terdapat 3 kelompok ligamen (Gambar 2) yang menyokong
articulatio talokruralis, antara lain ligamen syndesmosis, ligamen kolateral lateral yang
terdiri dari anterior talofibular ligament (ATFL), posterior talofibular ligament (PTFL),
dan calcaneofibular ligament (CFL), dan ligamen kolateral medial oleh deltoid ligamen yang
menempel antara medial malleolus dan ke-empat lokasi, antara lain talus, calcaneus, dan
navicular (bagian tibionavicular, tibiocalcaneal, anterior dan posterior tibiotalar) (Marsh JL,
2006). Secara umum ligamen-ligamen lateral berfungsi untuk menahan stres inversi dan rotasi
interna, sedangkan ligamen deltoid berfungsi untuk melawan stres eversi dan rotasi eksterna
(lebih jarang cedera). Kekuatan ligamen lateral tidak sekuat ligamen medial, oleh karena itu
daerah lateral merupakan daerah cedera yang paling umum terjadi (Hoagland, 2015).
Gambar 2. Sendi Pergelangan kaki atau articulation talocruralis (Ankle Joint) dan
ligamennya
Gambar dikutip dari: Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. Chapter 5. Lower Limbs. In: Moore
KL, Agur AMR, Dalley AF. Essential Clinical Anatomy. 4th edition. Lippincott Williams &
Wilkins. p.317-405

Syndesmosis dari ankle merujuk pada selaput atau membran yang menghubungkan
tibia dan fibula (Moore KL, 2006). Terdapat 3 jenis ligamen yang termasuk dalam
syndesmosis (Gambar 3), antara lain anterior (anteroinferior) tibiofibular ligament
(AITFL) yang paling umum terjadi cedera, posterior (posteroinferior) tibiofibular ligament
(PITFL )yang terbagi menjadi dua bagian yaitu deep portion (inferior tranverse ligament
(ITL) dan superficial portion, dan interosseous tibiofibular ligament (IOL). Syndesmosis ini
berpengaruh terhadap kestabilan sendi pergelangan kaki, salah satu contoh adalah saat terjadi
pelebaran jarak antara lateral dan medial malleolus yang terjadi dari plantarfleksi penuh ke
dorsifleksi penuh (sekitar 1,5mm) dan rotasi tibia pada talus sebesar 6 o terjadi ketika
seseorang berjalan. Secara biomekanik AITFL berkontribusi sebesar 35%, IOL 22%, dan
PITFL deep sebesar 33% dan superficial 9% terhadap stabilitas sendi pergelangan kaki
(Marsh JL, 2006).

Gambar 3. Syndesmosis dari ankle joint


Gambar dikutip dari: Marsh JL, Saltzman CL. Chapter 53. Ankle Fracture. In: Rockwood &
Greens Fracture in Adults. 6th Edition. Lippincott Williams & Wilkins, 2006. p. 2148-247

Anterior talofibular ligament (ATFL) menahan inversi ketika plantar fleksi dan CFL
ketika dorsifleksi (Pada saat dorsifleksi ATFL tegang dan CFL renggang, sedangkan
plantarfleksi terjadi sebaliknya) (Moore KL, 2006). Calcaneofibular ligament (CFL) lebih
tebal secara struktur, lebih kuat dibandingkan ATFL, dan berfungsi pula untuk mencegah
adduksi pada posisi netral dan posisi dorsifleksi. Kekuatan CFL secara kasar 2-3,5 kali lipat
dibandingkan ATFL (Attarian DE, 1985). Selain itu, karena CFL terbentang dari lateral ankle
joint sampai subtalar joint, ligamen ini berkontribusi terhadap stabilitas untuk sendi ankle dan
subtalar. Posterior talofibular ligament (PTFL) merupakan ligamen yang paling kuat diantara
ketiga ligamen di lateral. Ligamen ini mengalami tekanan paling kuat ketika dorsifleksi dan
berfungsi membatasi posterior talar displacement dalam mortise dan rotasi eksterna dari talus.
Apabila terdapat disrupsi pada ATFL dan CFL, PTFL berfungsi membatasi rotasi interna dan
aduksi pergelangan kaki ketika dorsifleksi (Hoagland TM, 2015).
3. Mekanisme Cedera

Mekanisme cedera pada fraktur malleolus pada pergelangan kaki umumnya meliputi
gerakan rotasi atau memutar pada sendi, termasuk low-energy akibat terjatuh karena
tersandung dengan gaya memutar atau high-energy akibat kecelakaan lalu lintas atau terjatuh
dari ketinggian (Bowyer G, 2010). Pola fraktur ditentukan oleh dua hal, antara lain posisi dari
kaki dan arah gaya pada saat terjadi cedera (deforming force). Beberapa gerakan dari sendi
pergelangan kaki yang harus diketahui sebelum mempelajari mekanisme cedera, antara lain
dorsifleksi dan plantarfleksi, abduksi (bagian distal menjauhi plana medial) dan adduksi
(bagian distal mendekati plana medial), inversi (bagian hindfoot menghadap ke medial) dan
eversi (bagian hindfoot menghadap ke lateral), terakhir supinasi (kombinasi dari plantarfleksi,
inversi, dan adduksi) dan pronasi (kombinasi dorsifleksi, eversi, dan abduksi) (Germain BC,
2007). Posisi kaki dapat berupa supinasi atau pronasi (posisi supinasi menyebabkan ligamen
kolateral lateral tegang dan sebaliknya posisi pronasi mengakibatkan ligamen kolateral medial
tegang), sedangkan arah gaya berupa transversal yaitu adduksi dan abduksi, atau rotasi lateral
(Young CC, 2005).

4. Klasifikasi

Ankle fracture dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah malleolus yang mengalami


fraktur (monomalleolar, bimalleolar atau trimalleolar), berdasarkan mekanisme cedera yaitu
klasifikasi Lauge-Hansen, dan berdasarkan lokasi fraktur fibula yaitu klasifikasi Danis-Weber
(AO/Orthopaedic Trauma Association system). Klasifikasi Lauge-Hansen (1950) berfungsi
sebagai pedoman untuk metode reduksi dan memberikan petunjuk adanya cedera ligamen
yang terkait, namun beberapa dokter ortopedi merasa bahwa klasifikasi tersebut terlalu
kompleks untuk digunakan. Klasifikasi Danis-Weber (1991) merupakan klasifikasi yang
sangat sederhana, paling popular, dan lebih banyak digunakan karena kemudahannya (Whittle
AP, 1996).
Klasifikasi Danis-Weber mengklasifikasikan fraktur ankle menjadi tipe A, B, dan C
berdasarkan level dari fraktur fibula yang terjadi (Gambar 4). Termasuk tipe A bila fraktur
fibula terjadi dibawah tingkat sindesmosis tibia-fibula distal, tipe B pada tingkat sindesmosis,
dan level C bila diatasnya. Klasifikasi ini sederhana dan berguna memberikan pedoman bagi
tatalaksana. Tipe A umumnya tidak membutuhkan pendekatan pembedahan, tipe B
membutuhkan stabilisasi dari malleolus lateral, dan tipe C membutuhkan penanganan seperti
tipe B ditambah dengan fiksasi dari sindesmosis (Marsh JL 2006).
Gambar 4. Klasifikasi Danis-Weber
Gambar dikutip dari: Whittle AP. Chapter 51. Fractures of the Lower Extremity. In: Canale
ST, Beaty JH. Campbells Operative Orthopaedics. Eleventh Edition. Volume 3. Mosby, El
Sevier. p.3085-237.

Klasifikasi lainnya adalah klasifikasi fraktur pergelangan kaki stabil dan tidak stabil.
Klasifikasi yang sangat sederhana ini memiliki fungsi klinis yang sangat penting karena akan
menentukan tatalaksana selanjutnya. Fraktur yang stabil memiliki prognosis yang baik dengan
penanganan konservatif yang sederhana, sedangkan yang tidak stabil umumnya membutuhkan
reduksi dan fiksasi. Fraktur yang stabil umumnya didefinisikan sebagai adanya kombinasi
antara tidak adanya displacement fraktur yang mengganggu fungsi jangka panjang dan
kemampuan pergelangan kaki yang mengalami cedera untuk tidak
mengalami displacement lebih lanjut akibat gaya rutin fisiologis sehari-hari, sedangkan
fraktur yang tidak memenuhi kriteria tersebut digolongkan tidak stabil. Foto X-ray awal
umumnya dapat membedakan kedua klasifikasi tersebut, apabila terdapat dislokasi atau
pergerakan (subluksasi) talus maka fraktur digolongkan tidak stabil. Fraktur stabil tidak
mengalami (atau hanya sedikit) cedera pada sisi medial (fraktur malleolus medial atau ruptur
ligamen deltoid) (Marsh JL 2006).

5. Manifestasi Klinis

Adanya riwayat terjatuh dengan gaya memutar (rotasional) pada daerah pergelangan kaki
baik karena tersandung pada aktivitas sehari-hari maupun pada atlit-atlit olahraga, atau
adanya kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan cedera pada daerah pergelangan kaki
disertai adanya nyeri hebat dan ketidakmampuan untuk menumpu dengan kaki tersebut harus
mengarahkan klinisi terhadap kemungkinan terjadinya ankle fracture. Pada pemeriksaan
harus dilihat apakah terdapat ekimosis (hematom), deformitas (displacement ke lateral,
medial, atau posterior), pembengkakan, luka terbuka (kemungkinan terjadinya fraktur terbuka
atau minimal dapat memberikan gambaran daerah kemungkinan terjadinya fraktur), nyeri
tekan tulang pada malleolus medial atau lateral (pada daerah distal tibia dan fibula), dan
pemeriksaan neurovaskular distal (palpasi arteri dorsalis pedis, tibialis posterior, dan capillary
refill time serta pemeriksaan motorik) untuk menentukan ada-tidaknya cedera neurovaskular
yang terasosiasi dengan fraktur tersebut (Bugler KE, 2012).
Ottawa Ankle Rules (OARS) merupakan kriteria-kriteria klinis yang mengarahkan
kemungkinan terjadinya ankle fracture antara lain usia 55 tahun keatas, ketidakmampuan
untuk menumpu beban tubuh (weightbearing), atau adanya nyeri tekan tulang pada malleolus
medial atau lateral. Adanya satu atau lebih dari kondisi klinis tersebut mengindikasikan
dilakukannya pemeriksaan roentgen (x-ray) pada daerah ankle. Pemeriksaan radiologi standar
pada daerah pergelangan kaki, antara lain menggunakan x-ray ankle anteroposterior, lateral,
dan mortise (internal rotasi sekitar 15o agar dapat melihat ankle mortise dengan lebih jelas).
Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan alignment dan menyimpulkan tingkat stabilitas
dari cedera yang terjadi. Beberapa aspek yang harus dinilai untuk
menentukan alignment, antara lain subchondral bone line (menentukan ada-tidaknya
pemendekan, rotasi, atau displacement dari fibula), talocrural angle (sekitar 83o) untuk
menentukan adanya pemendekan dari fibula, medial clear space menentukan adanya lateral
shift dari talus, dan syndesmotic widening (<6 mm). Pemeriksaan lain seperti CT-scan dan
MRI merupakan pemeriksaan lebih lanjut apabila pemeriksaan X-ray memberikan hasil yang
abu-abu. Pemeriksaan MRI jauh lebih superior daripada X-ray dan CT-scan karena dapat
memperlihatkan adanya kerusakan tidak hanya pada tulang, tetapi juga ligamen, tendon,
dan soft tissue lainnya (Marsh JL, 2006).
6. Tatalaksana

Tatalaksana dari ankle fracture sangat tergantung dari tingkat kestabilannya. Secara umum
fraktur tanpa dislokasi (dan subluksasi) dan stabil dapat ditangani secara konservatif
sedangkan yang tidak stabil membutuhkan penanganan operatif. Hal penting yang perlu
diingat adalah ankle fracture umumnya tidak stabil. Pada bagian tatalaksana ini, akan
dijelaskan tipe penanganan berdasarkan ada-tidaknya displacement pada ankle fracture dan
berdasarkan klasifikasi Danis-Weber (Hlezna Z., 2012).
1. Fraktur Danis-Weber Tipe A
Fraktur undisplaced Weber tipe A adalah fraktur yang stabil dan hanya
membutuhkan splinting yang minimal (menggunakan perband elastik) sampai fraktur
sembuh (terapi konservatif). Walking boot dapat digunakan untuk mengurangi nyeri
selama mobilisasi. Penggunaan ankle support seperti walking boot dan brace dapat
digunakan selama 4-6 minggu dan weight bearing dapat dimulai setelah gejala membaik.
Apabila ditemukan adanya fraktur pada malleolus medial, umumnya cedera tidak stabil,
dan membutuhkan open reduction internal fixation. Penggunaan fiksasi interna pada
malleolus medial dengan satu atau dua screw hampir parallel dengan sendi pergelangan
kaki direkomendasikan, sedangkan fraktur malleolus lateral difiksasi
dengan plate and screw atau tension-band wiring.
2. Fraktur Danis-Weber Tipe B
Fraktur Danis-Weber Tipe B yang undisplaced memiliki potensi tidak stabil apabila
terdapat robekan dari tibiofibular ligamen atau adanya cedera pada daerah medial (fraktur
malleolus medial atau robekan ligamen deltoid). Apabila stabil, dapat dilakukan terapi
konservatif dengan penggunaan gips selama 6-8 minggu. Pola fraktur Danis-Weber Tipe B
yang displaced umumnya yaitu fraktur spiral fibula disertai fraktur oblik dari malleolus
medial yang disebabkan oleh supinasi-eksternal rotasi (SER). Walaupun
penggunaan closed reduction dengan penggunaan gips dapat dilakukan, namun cedera ini
lebih umum ditangani dengan open reduction internal fixation. Tindakan operatif secara
umum diindikasikan bila terdapat fraktur bimalleolar, fraktur trimalleolar, fraktur
malleolus lateral dengan pergerakan talus, dan fraktur-dislokasi. Fiksasi interna dapat
menggunakan screw saja, atau plate and screw. Apabila terdapat cedera sindesmosis,
maka tindakan yang dilakukan adalah menggunakan screw yang dimasukan dari fibula ke
tibia pada level 2-4cm diatas sendi pergelangan kaki dan mengarah 30o secara anterior.
3. Fraktur Danis-Weber Tipe C
Fraktur Danis-Weber Tipe C yang undisplaced seringkali menipu dan ternyata diikuti
dengan adanya disrupsi pada struktur medial dari sendi, sindesmosis tibiofibular,
dan interosseous membrane. Hampir seluruh fraktur Danis-Weber tipe C tidak stabil, oleh
karena itu fraktur ini umumnya ditangani dengan open reduction internal fixation.
Langkah awal adalah mereduksi fibula dan distabilisasi dengan plate and screw, kemudian
(apabila terdapat fraktur malleolus medial) malleolus medial juga difiksasi dengan screw.
Sindesmosis diperiksa dengan cara menggunakan hook untuk menarik fibula ke arah
lateral, apabila terjadi robekan ligamen maka sendi ankle akan membuka. Sindesmosis
distabilisasi dengan menggunakan screw seperti dijelaskan sebelumnya (dengan keadaan
dorsifleksi 10o ketika screw dimasukan).

7. Komplikasi

Komplikasi pada ankle fracture dikelompokkan menjadi dua, antara lain komplikasi dini
(early complications) dan komplikasi lanjut (late complications). Komplikasi dini, mencakup
cedera vaskular, infeksi, ruptur tendon Achilles dan compartment syndrome sedangkan
komplikasi lanjut berupa malunion, non-union, joint stiffness, algodystrophy, osteoarthritis
sekunder (Bowyer G, 2010).

8. Patofisiologi

Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke dalam
jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan.
Reaksi peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mast
berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan
pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur)
dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang
dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel
tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati (Price, Sylvia A., 2006).
Berikut tahapan penyembuhan tulang secara umum :
1) Hematom :
a. Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan hematom
b. Setelah 24 jam suplay darah ke ujung fraktur meningkat
c. Hematom ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi selama penyembuhan tapi
berubah dan berkembang menjadi granulasi.
2) Proliferasi sel :
a. Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur
b. Sel ini menjadi prekusor dari osteoblast, osteogenesis berlangsung terus, lapisan
fibrosa periosteum melebihi tulang.
c. Beberapa hari di periosteum meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di
ujung fraktur.
3) Pembentukan callus :
a. Dalam 6-10 hari setelah fraktur, jaringan granulasi berubah dan terbentuk callus.
b. Terbentuk kartilago dan matrik tulang berasal dari pembentukan callus.
c. Callus menganyam massa tulang dan kartilago sehingga diameter tulang melebihi
normal.
d. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan, sementara itu
terus meluas melebihi garis fraktur.
4) Ossification
a. Callus yang menetap menjadi tulang kaku karena adanya penumpukan garam
kalsium dan bersatu di ujung tulang.
b. Proses ossifikasi dimulai dari callus bagian luar, kemudian bagian dalam dan
berakhir pada bagian tengah
c. Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.
5) Consolidasi dan Remodelling
a. Terbentuk tulang yang berasal dari callus dibentuk dari aktivitas osteoblast dan
osteoklast.
9. Pathway

Trauma langsung Trauma tdk langsung Kondisi patologis

Fraktur

Diskontinuitas tulang Pergeseran fragmen tlg Nyeri Akut

Perubahan jaringan sekitar Kerusakan fragmen tlg

Pergeseran fragmen tulang Spasme otot


Tekanan sumsum tulang lbh tinggi dari kapile

Deformitas Peningkatan tek kapiler


Melepaskan katekolamin

Ggn fungsi ekstermitas Pelepasan histamin Metabolisme asam lemak

Hambatan Mobilitas Fisik Protein plasma hilang Bergabung dg trombosit

Laserasi kulit Edema Emboli

Penekanan pembuluh darahMenyumbat pembuluh darah

Kena jaringan kutis, sub kutisKerusakan Integritas


Ketidakefektifan
Kulit Perfusi Jaringan Perife

Perdarahan
Resiko Infeksi
Kehilangan volume cairan

Resiko Syok (hipovolemik)

Resiko Jatuh
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

a. Data Subjektif
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu
diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah pasien sehingga dapat
memberikan arah terhadap tindakan keperawatan (Nuratif, A.H.,Kusuma,H., 2015). Tahap
ini terbagi atas :
1) Pengumpulan Data
a) Anamnesa
1. Identitas Pasien
2. Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri
tersebut bisa akut atau kronik. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap
tentang rasa nyeri pasien digunakan :
a. Provoking Incident: faktor presipitasi nyeri.
b. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan
c. Region : dimana rasa sakit terjadi.
d. Severity (Scale) of Pain: skala yang menggambarkan seberapa rasa nyeri
tersebut mengganggu.
e. Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
4. Riwayat Penyakit Dahulu
5. Riwayat Penyakit Keluarga
6. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus
menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan
tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup pasien.
b. Pola Nutrisi
Pada pasien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan
sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vitamin C dan lainnya
untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola
nutrisi pasien bisa membantu menentukan penyebab masalah
muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak
adekuat.
c. Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi
walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau
feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi urin dikaji
frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga
dikaji ada kesulitan atau tidak.
d. Pola Tidur dan Istirahat
Semua pasien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal
ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur pasien. Selain itu juga,
pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
e. Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan
pasien menjadi berkurang dan kebutuhan pasien perlu banyak dibantu oleh
orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas pasien
terutama pekerjaan pasien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko
untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain.
f. Pola Hubungan dan Peran
Pasien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat
karena pasien harus menjalani rawat inap.
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada pasien fraktur yaitu timbul ketidakadekuatan
akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan body image).
h. Pola Sensori dan Kognitif
Pada pasien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal
fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga
pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa
nyeri akibat fraktur
i. Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada pasien fraktur yaitu, pasien tidak bisa melakukan hubungan
seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta
rasa nyeri yang dialami pasien. Selain itu juga, perlu dikaji status
perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya
j. Pola Penanggulangan Stress
Pada pasien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu
ketakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme
koping yang ditempuh pasien bisa tidak efektif.
k. Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk pasien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah
dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan
karena nyeri dan keterbatasan gerak pasien.
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum : baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti :
1. Kesadaran penderita : apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada
keadaan pasien.
2. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus
fraktur biasanya akut.
3. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
b) Pemeriksaan head-to-toe :
1. Kepala : Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada benjolan,
tidak ada nyeri kepala
2. Mata : Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi
perdarahan).
3. Hidung : Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
4. Telinga : Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau
nyeri tekan.
5. Mulut dan Gigi : Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan,
mukosa mulut tidak pucat.
6. Leher : Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan
ada.
7. Thoraks : Tidak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
8. Paru :
a. Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit
pasien yang berhubungan dengan paru.
b. Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus teraba sama.
c. Perkusi
Suara ketok sonor, tidak ada redup atau suara tambahan lainnya.
d. Auskultasi
Suara nafas normal, tidak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti
stridor dan ronchi.
9. Jantung :
a. Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
b. Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
c. Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada mur-mur.
10. Abdomen
a. Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
b. Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
c. Perkusi
Suara thympani
d. Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
11. Inguinal-Genetalia-Anus : Tidak ada hernia, tidak ada pembesaran lymphe, tidak
ada kesulitan BAB.
12. Kulit
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri
tekan.
13. Ekstermitas
Kekuatan otot, adanya oedema atau tidak, suhu akral, dan ROM.

2. Diagnosa Keperawatan

1) Nyeri akut berhubungan dengan trauma


2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal
3) Risiko infeksi dibuktikan dengan kerusakan integritas kulit.
4) Risiko syok hipovolemik.
5) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan nyeri ekstremitas.
6) Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan faktor mekanis
7) Risiko jatuh dibuktikan dengan penggunaan alat bantu berjalan dan kekuatan otot
menurun (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016)

3. Perencanaan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


. Keperawatan
1. Nyeri akut NOC : NIC:
Pain level Pain management
berhubungan
Pain control a. Lakukan pengkajian nyeri secara
dengan trauma Comfort level
komprehensif termasuk lokasi,
Kriteria Hasil
a. Mampu mengontrol nyeri karakteristik, durasi, frekuensi,
(tahu penyebab nyeri, kualitas dan faktor presipitasi
b. Observasi reaksi nonverbal dari
mampu menggunakan
ketidaknyamanan
tehnik nonfarmakologi
c. Kontrol lingkungan yang dapat
untuk mengurangi nyeri,
mempengaruhi nyeri seperti suhu
mencari bantuan)
ruangan, pencahayaan dan
b. Melaporkan bahwa nyeri
kebisingan
berkurang dengan
d. Kurangi faktor presipitasi nyeri
menggunakan e. Ajarkan tentang teknik
managemen nyeri nonfarmakologi
c. Mampu mengenali nyeri f. Berikan analgetik untuk
(skala, intensitas, mengurangi nyeri
Analgesic administration
frekuensi dan tanda nyeri)
a. Tentukan lokasi, karakter,
d. Menyatakan rasa nyaman kualitas, dan derajat nyeri
setelah nyeri berkurang sebelum pemberian obat
b. Cek intruksi dokter tentang jenis
obat, dosi, rute pemberian dan
frekuensi
c. Cek riwayat alergi
2. NOC: NIC
Gangguan Joint movement : ankle Exercise therapy : joint mobility
mobilitas fisik Kriteria hasil: a. Pertahankan pembatasan gerak
a. Mampu mempertahankan
berhubungan pada sendi
posisi pasif pada sendi b. Kolaborasi dengan fisioterapi
dengan gangguan
yang cidera dalam pemilihan program latihan
muskuloskeletal b. Mampu memperagakan c. Berikan motivasi pada pasien
penggunaan alat bantu untuk pemeliharaan dan
untuk mobilisasi pemugaran pergerakan sendi
c. Mampu melakukan d. Jelaskan pada pasien dan
pemeliharaan terhadap keluarga tentang tujuan dan
cast yang terpasang pada rencana untuk latihan pergerakan
daerah yang cidera sendi
e. Monitor lokasi dan
ketidaknyamanan atau rasa sakit
selama beraktivitas
f. Anjurkan pasien menggunakan
pakaian yang tidak mengganggu
daerah yang cidera
g. Lindungi pasien dari trauma saat
melakukan latihan
h. Bantu pasien memperoleh posisi
yang nyaman untuk mengurangi
pergerakan sendi
Cast care : maintenance

a. Monitor adanya kerusakan cast


yang berdampak pada fungsi
sirkulasi dan syaraf (msl, sakit,
tekanan, pucat, tidak ada nadi)
b. Monitor fungsi sirkulasi dan
syaraf pada daerah yang
terpasang cast
c. Instruksikan pasien agar tidak
menggaruk daerah di bawah cast
dengan benda asing
d. Ajarkan pasien dan keluarga
tentang pemeliharaan cast
e. Gunakan es pada 24-36 jam
pertama untuk mengurangi
pembengkakan atau peradangan
f. Tinggikan daerah cidera diatas
posisi jantung untuk mengurangi
pembengkakan atau peradangan
Self Care Assistance : transfer

a. Pilihlah teknik berpindah yang


tepat untuk pasien
b. Ajarkan pasien dalam
menggunakan alat bantu berjalan
(msl, tongkat, kursi roda, dll)
c. Pastikan alat bantu jalan dalam
keadaan baik dan aman sebelum
digunakan
3. NOC NIC
Risiko infeksi Immune status Infection Control
dibuktikan dengan Knowledge : infection control a. Pertahankan teknik isolasi
Risk control b. Gunakan sabun antimikroba
kerusakan Kriteria hasil
untuk cuci tangan
integritas kulit. a. Pasien bebas dari tanda
c. Cuci tangan setiap sebelum dan
dan gejala infeksi
sesudah tindakan keperawatan
b. Mendeskripsikan proses
d. Gunakan sarung tangan steril
penularann penyakit,
dengan tepat
factor yang e. Lakukan teknik perawatan luka
mempengaruhi penularan steril
f. Berikan antibiotik sesuai resep
serta penatalaksanaannya
c. Menunjukkan dokter
Infection protection
kemampuan untuk
a. Monitor tanda dan gejala infeksi
mencegah timbulnya
sistemik dan local
infeksi b. Monitor kerentanan terhadap
d. Menunjukkan perilaku
infeksi
hidup sehat c. Pertahankan teknik asepsis pada
pasien yang beresiko
d. Pertahankan teknik isolasi
dengan tepat
e. Inspeksi kulit dan membrane
mukosa
f. Inspeksi kondisi luka/insisi bedah
g. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
h. Ajarkan cara menghindari infeksi
4. Resiko syok NOC NIC
Syok prevention Syok prevention
hipovolemik
Syok management a. Monitor status sirkulasi BP,
Kriteria hasil
warna kulit, suhu kulit, denyut
a. Nadi dalam batas yang
jantung, HR, dan ritme, nadi
diharapkan
b. Irama jantung dalam batas perifer, dan kapiler refill
b. Monitor tanda inadekuat
yang diharapkan
c. Frekunsi napas dalam oksigenasi jaringan
c. Monitor suhu dan pernafasan
batas yang diharapkan
d. Monitor input dan output
d. Irama pernapasan dalam
e. Pantau nilai labor:
batas yang diharapkan HB, HT, AGD, dan elektrolit
e. Natrium serum dbn f. Tempatkan pasien pada posisi
f. Kalium serum dbn
supine, kaki elevasi untuk
g. Klorida serum dbn
h. Kalsium serum dbn peningkatan preload dengan tepat
i. Magnesium serum dbn g. Berikan cairan IV dan atau oral
j. PH darah serum dbn
yang tepat
Hidrasi
h. Berikan vasodilator yang tepat
Indicator
i. Ajarkan keluarga dan pasien
a. Mata cekung tidak
tentang tanda dan gejala
ditemukan
b. Demam tidak ditemukan datangnya syok
c. TD dbn j. Ajarkan keluarga dan pasien
d. Hematokrit dbn
tentang langkah untuk mengatasi
gejala syok
Syok management
a. Monitor fungsi renal (e.g BUN
dand Cr Lavel)
b. Monitor pulse oximetry
c. Catat gas darah arteri dan oksigen
di jaringan
d. Monitor ECG as appropriate
e. Memantau tren dalam parameter
hemodinamik (misalnya CPV,
MAP, tekanan kapiler
pulmonal/arteri)
5. Ketidakefektifan NOC NIC
perfusi jaringan Circulation status Peripheral sensation management
Tissue perfusion : cerebral a. Monitor adanya daerah tertentu
perifer
Kriteria hasil
yang hanya peka terhadap
berhubungan Mendemonstrasikan status
panas/dingin/tajam/tumpul
dengan nyeri sirkulasi yang ditandai
b. Monitor adanya paretese
ekstermitas dengan: c. Instruksikan keluarga untuk
a. Tekanan systole dan
mengobservasi kulit jika ada lesi
diastole dalam rentang
atau laserasi
yang diharapkan d. Batasi gerakan pada kepala,
b. Tidak ada ortostatik
leher, dan punggung
hipertensi e. Monitor adanya tromboplebitis
c. Tidak ada tanda-tanda f. Diskusikan mengenai penyebab
peningkatan tekanan perubahan sensasi
intracranial (tidak lebih
dari 15 mmHg)
Mendemonstrasikan
kemampuan kognitif yang
ditandai dengan:
a. Berkomuniakasi dengan
jelas adn sesuai dengan
kemampuan
b. Menunjukkan perhatian,
konsentrasi dan orientasi
c. Memproses informasi
d. Membuat keputusan
dengan benar
e. Menunjukkan fungsi
sensori motori cranial
yang utuh : tingkat
kesadaran membaik, tidak
ada gerakan-gerakan
involunter
6. Gangguan NOC NIC
Tissue integrity : skin and Skin Surveillance
integritas
a. Perhatikan adanya kemerahan,
mucous membranes
kulit/jaringan
Kriteria hasil panas, edema, atau cairan pada
berhubungan a. Integritas kulit yang baik
kulit atau membrane mukosa
dengan faktor bisa dipertahankan
yang terluka
mekanis (sensasi, elastisitas, b. Perhatikan adanya sumber
temperature, hidrasi, tekanan dan gesekan pada area
pigmentasi) luka
b. Perfusi jaringan baik c. Perhatikan penggunaan balutan
c. Menunjukkan pemahaman
yang terlalu ketat
dalam proses perbaikan Wound Care
a. Bebaskan pasien dari pakaian
kulit dan mencegah
yang menutupi area luka
terjadinya cedera berulang
b. Monitor karakteristik luka
d. Mampu melindungi kulit
termasuk cairan yang keluar,
dan mempertahankan
warna, ukuran dan bau
kelembaban kulit
c. Bersihkan luka menggunakan
perawatan alami
normal saline dengan tepat
d. Berikan salep antibiotik pada area
luka
e. Berikan balutan pada luka sesui
jenis luka yang dialami
f. Pertahankan teknik perawatan
luka yang steril
g. Ganti balutan luka berdasarkan
jumlah eksudat atau cairan atau
balutan kotor
h. Bantu pasien dan keluarga
mendapatkan persediaan alat
untuk rawat luka
7 Risiko jatuh NOC NIC
Fall Prevention Behavior : Fall Prevention
dibuktikan dengan
a. Identifikasi karakteristik
Uses assistive devices
penggunaan alat
lingkungan yang mungkin dapat
correctly
bantu berjalan dan
Kriteria hasil meningkatkan risiko potensial
kekuatan otot a. Mampu menggunakan
untuk terjatuh (msl. lantai licin
menurun. alat bantu berjalan dengan
dan tangga yang tidak memiliki
baik dan benar dalam
pegangan)
mobilisasi. b. Sediakan alat bantu berjalan (msl.
b. Mampu mengidentifikasi
tongkat berjalan)
karakteristik lingkungan c. Dukung pasien untuk
yang aman dalam menggunakan alat bantu berjalan
menggunakan alat bantu dengan benar
d. Pastikan kelayakan alat bantu
berjalan
berjalan sebelum digunakan.
e. Ajarkan dan latih pasien tentang
cara penggunaan alat bantu jalan
dengan tepat
4. Implementasi Keperawatan

Implementasi disesuaikan dengan perencanaan untuk mencapai hasil yang maksimal

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi disesuaikan dengan tujuan dan outcome


DAFTAR PUSTAKA

Attarian DE, McCrackin HJ, DeVito DP, McElhaney JH, Garrett WE Jr. 1985. Biomechanical
Characteristics Of Human Ankle Ligaments, Foot Ankle. Oct 1985;6(2):54-8.
Bowyer G. 2010. Chapter 31. Injuries of the Ankle and Foot. In: Solomon L, Warwick D,
Nayagam S. Apleys System of Orthopaedics and Fractures. 9 th Hodder Arnold,
London. p. 907-34.
Bugler KE, White TO, Thordarson DB. 2012. Focus on Ankle Fracture. J Bone Joint Surg
Br 2012;1:1-4.
Germain BC. 2007. Chapter 7. The Ankle & Foot. In: Germain BC. Anatomy of Movement.
Revised Edition. Eastland Press, Seattle. p. 257-98.
Gloria, Howard, Joanne, Cheryl. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) Sixth
Edition. Missouri: Elsevier.
Hafiz et al. 2011. Ankle Fractures: The Operative Outcome. Malaysian Orthopaedic
Journal 2011;5(1):40-3.
Hlezna Z. 2012. Current Concepts Review: Ankle Fractures. Acta Chirurgiae
Orthopaedicae 2012;79:473-83.
Hoagland TM, Gest TR. 2015. Ankle Joint Anatomy. EmedicineMedscape Accessed.
http://emedicine.medscape.com/article/1946201-overview.
Hsu RY, Bariteau J. 2013. Management of Ankle Fracture. R I Med J 2013; 96(5):23-7.
Marsh JL, Saltzman CL. 2006. Chapter 53 Ankle Fracture. In: Rockwood & Greens Fracture
in Adults. 6th Lippincott Williams & Wilkins. p. 2148-247.
Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. 2006. Chapter 5 Lower Limbs. In: Moore KL, Agur AMR,
Dalley AF. Essential Clinical Anatomy. 4th Lippincott Williams & Wilkins. p.317-
405.
Morhead, Johnson, L. Maas, Swanson. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth
Edition. Missouri: Elsevier.
Nanda International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi. 2012-2014.
Jakarrta:EGC.
Nuratif, A.H.,Kusuma,H. 2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
& NANDA NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 2. Jogjakarta: Mediaction Publishing.
Price, Sylvia A. Dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6
Volume 1. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanna C. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Brunner dan Suddarth
Edisi 8 Volume 2.Jakarta : EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta :
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Whittle AP. 1996. Chapter 51. Fractures of the Lower Extremity. In: Canale ST, Beaty JH.
Campbells Operative Orthopaedics. Eleventh Edition. Volume 3. Mosby, El Sevier.
3085-237.
Young CC, Niedfeldt MW, Morris GA, Eerkes KJ. 2005. Clinical Examination of the Foot
and Ankle. Prim Care Clin Office Pract 2005;32:105-32.
LEMBAR PENGESAHAN

Tabanan, 26 April 2017

Clinical Instructure
Mahasiswa

I Wayan Juliartha

Ni Luh Gede Devi Wulandari


NIM. P07120014030

Clinical Teacher Clinical Teacher

Ns. I Wayan Suardana, M. Kep I Gusti Ayu Harini, SKM., M.Kes


NIP. 197201091996031001 NIP. 196412311985032011