You are on page 1of 12

Resume Bab 13 Behavioural Research in Accounting

Learning Objectives

1. Riset Akuntansi Perilaku: Definisi dan Ruang Lingkup;


2. Kontribusi pemahaman kita terkait peran informasi akuntansi dari dalam dan
luar entitas akuntansi yang disediakan dengan mempelajari perilaku;
3. Pengaruh informasi akuntansi pada perilaku dan pada proses pengambilan
keputusan.
4. Fakta yang menyatakan bahwa organisasi merupakan lingkungan yang
kompleks dan pengungkapan akuntansi merupakan trade-off antara
persaingan sudut pandang dan kepentingan;
5. Batasan yang melekat dari Penelitian Perilaku;
6. Isu untuk Auditor.

Dalam bab ini bertujuan untuk memperkenalkan lingkungan penelitian akuntansi


perilaku dengan menjelaskan beberapa pertanyaan penting yang menginvestigasi
dan beberapa alat utama penelitian yang digunakan oleh para peneliti. Semakin ke
dalam, bab ini akan mengindikasi beberapa penemuan penting sampai sekarang
oleh penelitian ini, secara khusus dalam area akuntansi keuangan. Seperti
kumpulan pasar modal dan teori keagenan penelitian, akuntansi perilaku juga
mempunyai batasan dan hal ini akan disebutkan melalui bab ini di mana akan
sangat relevan.

Learning Objectives 1: Penelitian Akuntansi Perilaku: Definisi dan Ruang Lingkup

`Riset akuntansi perilaku telah didefinisikan sebagai:

Studi terkait perilaku akuntan atau perilaku nonakuntan terkait bagaimana mereka
dipengaruhi oleh fungsi akuntansi dan pelaporan.

Riset akuntansi perilaku, riset pasar modal, dan riset teori keagenan dapat disebut
juga riset positif dalam pengertian bahwa riset tersebut sama-sama fokus dalam
hal menemukan fakta: riset capital market mempertanyakan bagaimana pasar
modal bereaksi terhadap informasi akuntansi; teori keagenan mempertanyakan
apa saja insentif ekonomi yang menentukan pemilihan metode akuntansi?; dan
riset perilaku mempertanyakan bagaimana sebenarnya orang menggunakan dan
memproses informasi akuntansi?: Akan tetapi, mereka juga sangat berbeda dalam
banyak hal. Seumpamanya, riset pasar modal memandang pada tingkat makro dari
pasar sekuritas secara keseluruhan, sebagaimana teori keagenan dan akuntansi
perilaku fokus pada tingkat mikro pada manajer secara individu dan perusahaan.
Riset pasar modal dan teori keagenan keduanya merupakan turunan dari disiplin
ilmu ekonomi dan terlepas dari motivasi sebenarnya orang-orang pada umumnya
dengan mengasumsikan bahwa setiap orang merupakan pribadi yang rasional yang
mempunyai tujuan memaksimalkan kekayaan. Akuntansi perilaku, di lain pihak,
merupakan turunan dari disiplin ilmu lainnya seperti psikologi, sosiologi, dan teori
organisasi, dan secara umum tanpa adanya asumsi terkait bagaimana orang
berperilaku; daripada, tujuannya untuk menemukan mengapa orang berperilaku
sebagaimana mereka berperilaku. Maka dari itu, setiap dari disiplin ilmu riset
akuntansi tersebut dibuat untuk menjawab jenis pertanyaan yang berbeda terkait
praktik akuntansi.

Learning Objectives 2: Mengapa Riset Akuntansi Perilaku itu Penting?

Terdapat sejumlah alasan yang baik yang menyatakan bahwa riset akuntansi
perilaku merupakan hal yang penting untuk praktisi akuntansi dan lainnya:

a. Untuk mengisi kekosongan terkait mencari jawaban bagaimana orang


menggunakan dan memproses informasi akuntansi, sehingga diperlukan penelitian
yang secara spesifik menjelaskan aktivitas pembuatan keputusan bagi para penyaji,
pengguna, dan auditor terkait informasi akuntansi.

b. Riset dapat menyediakan gagasan yang berharga dalam berbagai jenis keputusa
yang dihasilkan oleh pembuat keputusan dalam menghasilkan, memproses, dan
bereaksi terhadap atribut-atribut informasi akuntansi dan metode komunikasi. Dari
gagasan tersebut, dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan
keputusan dalam berbagai cara sebagaimana dijelaskan nanti dalam bab ini pada
bahasan pengambilan keputusan Brunswik Lens Model.

c. Riset akuntansi perilaku dapat secara potensial menyediakan informasi akuntansi


untuk para regulator akuntansi seperti Australian Accounting Standards Board
(AASB). Sebagaimana tujuan utama daripada akuntansi adalah untuk menyediakan
informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan, anggota dari AASB secara
terus-menerus memegang masalah yang mana metode akuntansi dan tipe
pengungkapan seperti apa yang akan membuktikan kebermanfaatan terhadap
pengguna laporan keuangan. Peneliti akuntansi perilaku dapat secara langsung
mempelajari pilihan akuntansi secara spesifik dan pelaporan untuk penyusun
standar yang mana pada metode dan pengungkapan yang secara langsung
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan oleh pengguna.

d. Penemuan riset akuntansi perilaku juga dapat mengarahkan pada keefisienan


dalam praktik kerja akuntan dan para professional lainnya. Sebagai contoh, senior
ahli dan anggota yang berpengalaman akuntansi dari perusahaan dapat dicatat dan
dimanfaatkan oleh metode riset akuntansi perilaku untuk mengembangkan
komputerisasi ahli sistem untuk berbagai konteks pembuatan keputusan. Kegiatan
rutin ini yang akan sebaliknya mengikat berharganya waktu pengalaman dari staf.
Perkembangan Riset Akuntansi Perilaku

Maksud dari BAR pertama kali muncul dalam literatur pada 1967, akan tetapi riset
HJT mempunyai pondasi yang tersendiri dalam literatur psikologi dengan
perkembangan togas oleh Ward Edwards dalam 1954. Penerapan riset untuk
akuntansi dan audit dapat tidak berlaku sampai dengan 1974 ketika Ashton
mempublikasikan studi percobaan penilaian pengendalian internal yang dibuat oleh
auditor.

Pada 30 tahun terakhir telah terlihat gebrakan dari BAR secara umum dan riset HJT
secara khusus, terutama dalam audit, di mana pentingnya penilaian terhadap
proses audit merupakan hal yang terpenting. Untuk lebih luasnya, perkembangan
riset perilaku dalam area akuntansi keuangan telah mengalami kemunduran oleh
dominasi dari teori kontrak sejak tahun 1980an. Meskipun, gagasan penting dalam
hubungan antara informasi akuntansi dan perilaku manusia telah akan datang.

Sekilas terkait Pendekatan untuk Memahami Memrosesan Informasi

Tujuan utama riset HJT merupakan untuk menjelaskan cara yang mana orang
menggunakan dan memroses bagian-bagian informasi (dan lainnya) akuntansi
dalam konteks pendekatan khusus pengambilan keputusan. Dalam buku ini
mendeskripsikan proses pengambilan keputusan orang sebagai sebuah model.
Sehingga, untuk contohnya, kita mungkin menggunakan teknik riset HJT untuk
model (atau mewakili) cara yang mana petugas peminjaman bank memroses
berbagai bagian informasi ( atau isyarat sebagaimana mereka disebut) seperti
keuntungan dan bentuk aliran kas untuk membuat keputusan terkait apakah akan
menyetujui penerapan pinjaman dari sebuah perusahaan. Meskipun model lensa
Brunswik menjadi metode yang dominan terkait model pengembangan pembuatan
keputusan, terdapat juga dua pendekatan riset utama. Satu dari hal tersebut
proses penjejakan, yang mana merupakan usaha untuk membentuk struktuk
keputusan yang mewakili dari keputusan seseorang, dan yang lainnya dikenal
sebagai paradigma Kemungkinan Penilaian yang mana proses pembuatan
keputusan disajikan sebagai pernyataan kemungkinan berdasarkan teorema Bayes.
Setiap dari tiga pendekatan tersebut untuk menjelaskan model
pembuatan/pengambilan keputusan.

Model Lensa Brunswik

Sejak pertengahan tahun 1970-an, model lensa Brunswik telah digunakan sebagai
sebuah kerangka analitis dan dasar untuk kebanyakan pembelajaran keputusan
yang berkaitan dengan prediksi (semisal: kebangkrutan) dan/atau evaluasi (misal:
pengendalian internal). Peneliti menggunakan model lensa untuk menyelidiki
hubungan antara insyarat berganda (atau pecahan dari informasi) dan keputusan,
penilaian atau prediksi, dengan mencari kebiasaan dalam merespon isyarat
tersebut. Pengambil keputusan (misal: petugas pinjaman bank) dipandang sebagai
melihat melalui isyarat lensa (misal: rasio keuangan) yang mana kemungkinannya
berhubungan dengan kejadian, dalam rangka untuk mencapai sebuah kesimpulan
terkait kejadian tersebut (misalnya: kemungkinan kegagalan/ketidakgagalan
pinjaman.

Metode Process Tracing

Sebagaimana dijelaskan nanti dalam bab ini, model pengambilan keputusan


diturunkan dari penggunaan model lensa Brunswik yang biasanya ditemukan untuk
memiliki kekuatan memprediksi yang baik. Tentu saja, sebuah perbandingan
terhadap prediksi dari persamaan model lensa dan keputusan yang diambil oleh
manusia sebagai pembuat keputusan biasanya menunjukkan bahwa model lensa
merupakan sebuah alat prediksi yang lebih baik terkait ketertarikan kejadian
daripada individu dari yang mana model diturunkan. Satu dari berbagai alasan
untuk hal ini adalah bahwa model lensa statistika menghapus kesalahan yang
terjadinya tidak menentu lebih banyak yang bergerak masuk memengaruhi
penilaian manusia yang berhutang terhadap semacam kejengahan, kesakitan atau
kekurangan konsentrasi. Aka tetapi, satu batasan yang paling penting dari
pendekatan lensa Brunswik merupakan bahwa hal ini bukanlah penjelas yang baik
terkait bagaimana sebenarnya orang-orang membuat keputusan . Penggunaan
bentuk persamaan secara implisit mengasumsikan bahwa pembuat keputusan
mempunyai kemampuan secara simultan untuk memroses semua bagian informasi,
akan tetapi mayoritas pengambil keputusan melaporkan bahwa mereka
menganalisis permasalahan dalam sebuah proses yang terdiri dari tahap-tahap,
melihat pada satu bagian informasi pertama kalinya, menilai informasi tersebut,
berlanjut pada bagian informasi selanjjutnya, dan seterusnya sampai pada
keputusan itu dibuat.

Kemungkinan Penilaian

Model kemungkinan penilaian berguna untuk melihat berbagai situasi dalam


akuntansi di mana kepercayaan pertama kali tentang prediksi atau evaluasi perlu
untuk direvisi setidaknya sekali sejauh bukti menjadi tersedia. Revisi dari investor
terkait keputusan investasi dalam keterangan bukti baru yang memusatkan pada
outcome dari sebuah perkara hukum melawan perusahaan merupakan contoh
situasi semacam ini.

Model ini berpendapat bahwa normatifnya cara yang paling tepat untuk merevisi
kepercayaan pertama kalinya, dinyatakan sebagai kemungkinan subjektif, adalah
dengan menerapkan teorema Bayes, sebuah dasar prinsip teori kemungkinan
bersayarat. Teorema Bayes menyatakan bahwa kemungkinan yang direvisi (yang
kemudian) dalam keterangan bukti tambahan setara dengan kepercayaan aslinya
berganda (berdasarkan tingkat) dengan jumlah yang mana perkiraan utamanya
harus direvisi, yang mana, oleh keinformasian atau percobaan data baru.

Bukti Studi Model Lensa

Banyak studi telah menggunakan kerangka model lensa untuk menguji tingkat
akurasi prediksi dari manusia terkait kegagalan bisnis. Kegiatan ini merupakan
penting dan realistis untuk orang-orang semacam investor, petugas pinjaman bank,
pemberi pinjaman, dan auditor. Hal ini umumnya telah dilakukan penelitian dengan
menyediakan subjek dengan sejumlah isyarat numerical persis kasus yang
berulang terhadap sukses atau gagalnya bisnis sebenarnya, diambil dari arsip data.
Oleh karena itu, dalam penugasan ini (sebagai perlawananan terhadap yang lainnya
akan dijelaskan nanti), tersedia solusi yang tepat sebagai sebuah tolak ukur
terhadap yang mana untuk membandingkan kinerja manusia.

Menggunakan model lensa sebagai alat riset dalam cara ini memungkinkan analisis
terkait konsistensi penilaian, apakah model perilaku manusia dapat memprediksi
lebih akurat dibandingkan dengan seorang manusia. Ha ini juga memungkinkan
analisis kemampuan dari isyarat untuk memprediksi kejadian dalam permasalahan
(peramalan lingkungan menggunakan pemberat isyarat yang ideal). Sebagai
tambahan, hal ini dapat memberikan gagasan berkenaan dengan derajat
kesepakatan antara pengambil keputusan.

Model perilaku manusia dikembangkan menggunakan representasi matematis dari


rumus penggunaan masing-masing individu. Model ini kemudian diterapkan untuk
kasus dalam permasalahan ini. Bukti secara konsisten menunjukkan bahwa manusia
cakap dalam mengembangkan prinsip atau model untuk menyelesaikan
kesuksesan/kegagalan penugasan menggunakan rasio keuangan, namun demikian
hal tersebut tidak berjalan dengan baik ketika mereka menggunakan model mereka
sendiri (diduga dari rumus penggunaan isyarat) diterapkan secara matematis untuk
dua alasan: mereka salah mengukur isyarat dan secara tidak konsisten menerapkan
aturan pengambilan keputusan mereka karena faktor-faktor seperti kelelahan dan
kejengahan. Penerapan rumus matematika apakah model lingkungan
(menggunakan pengungkit isyarat yang ideal) atau model perilaku manusia
merupakan secara sempurna konsisten dari waktu ke waktu, menghilangkan
kesalahan yang tidak diperhitungkan.

Kepercayaan diri dalam penilaian literatur telah secara konsisten ditemukan oleh
baik para ahli dan subjek nonahli yang terlalu percaya diri terhadap kemampuan
mereka dalam penugasan penilaian spesifik. Sindrom terlalu percaya diri ini
nampaknya berakar dari tiga faktor:

a. Kecenderungan bagi manusia untuk mencari dan terlalu berlebihan dalam


menilai positive feedback;
b. Batasan sifat feedback dalam berbagai hal (semisal dalam kegagalan atau
berbahayanya prediksi ketepatan dari sebuah keputusan untuk tidak meminjamkan
adalah sangat jarang dievaluasi);

c. Ketergantungan dari aksi dan manfaat hasil (misalnya: perilaku meminjamkan/


tidak meminjamkan itu sendiri memengaruhi kesuksesan atau kegagalan).

Bukti Studi Proses Penjejakan

Studi model lensa Brunswik dan model proses penjejakan merupakan teknologi
yang berbeda dengan tujuan yang sama dalam proses pembuatan keputusan
selengkap mungkin. Mention telah membuat perbedaan utama antara kedua model
tersebut. Model lensa brunswik secara implisit memperlakukan struktu proses
pengambilan keputusan diturunkan dari proses penjejakan yang mengakui secara
tahap ke tahap sifat pengambilan keputusan, yang mana informasi berisi satu
bagian data yang berinteraksi dengan bagian informasi data lainnya. Mayoritas
studi yang mana telah menyelidiki persamaan penilaian pembuat keputusan
menyimpulkan bahwa asumsi dari kombinasi sederhana garis isyarat informasi
merupakan justifikasi, akan tetapi beberapa studi dalam konteks bisnis telah
menemukan bukti statistik interaksi yang signifikan antara bagian informasi yang
disarankan yang metode proses penjejakan merupakan teknik model yang
menguntungkan untuk mewakili pengambilan keputusan dalam beberapa konteks.

Bentuk dan Penyajian Laporan Keuangan

Pada tahun 1976, Libby mengamati bahwa terdapat tiga pilihan dasar yang ada
untuk meningkatkan pengambilan keputusan:

a. Perubahan penyajian dan jumlah informasi;

b. Mengedukasi pembuat keputusan;

c. Menggantikan pembuat keputusan apakah dengan model mereka sendiri atau


degan model isyarat ideal yang tertimbang.

Memberikan pentingnya dari saran yang utama untuk akuntan, auditor, pembuat
aturan, dan penyusun standar, mengejutkannya riset kecil telah dikelola dalam
memastikan bentuk penyajian ideal akuntansi. Studi yang tentu ada telah
cenderung untuk menguji perubahan besar-besaran untuk penyajian laporan
keuangan dalam bentuk grafik multidimensional. Akan tetapi, dalam menjawab
untuk memanggil literature, peneliti telah kembali pada isu terkait penyajian ideal
terhadap bentuk tabel yang lebih tradisional.
Literatur yang memuat informasi juga bersangkutan dengan pertanyaan
meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan oleh pengguna terhadap
laporan keuangan.

Model lenasa berguna dalam menjelaskan permasalahan penyajian laporan


keuangan sebagaimana dalam analisis penilaian yang prediktif. Hal ini
memungkinkan analisis tingkat akurasi penilaian manusia dalam hal menentukan
perluasan yang mana masing-masing individu mendeteksi kepemilikan yang utama
terhadap penugasan penilaian dan secara konsisten menerapkan kebijakan
penilaian. Jika perubahan format laporan keuangan terhadap hasil informasi dalam
meningkatkan apakah karakteristik di atas, tingkat akurasi penilaian manusia
seharusnya meningkat. Tujuan kebermanfaatan keputusan, diadopsi dalam
kerangka konseptual, tergantung sebagian pada kemampuan pengguna untuk
menginterpretasikan data untuk investasi yang ada atau keputusan kredit. Dampak
perubahan dalam format laporan keuangan pada subjek kemampuan untuk
mendeteksi adanya perubahan dalam status keuangan perusahaan bisa jadi mirip
penjelasan dalam kerangka model lensa.

Bukti - Studi Kemungkinan Penilaian

Dalam banyak konteks akuntansi dan terutama dalam audit, tidak terdapat
solusi yang tepat dengan yang mana penilaian dapat dibandingkan dengan
maksud untuk menilai tingkat akurasi penilaian tersebut. Satu cara
mengatasi dengan kekurangan terkait kriteria tolak ukur terhadap yang
mana untuk menilai kinerja merupakan untuk menjelaskan tingkat
kesepakatan berkenaan dengan keputusan yang khusus melintasi sejumlah
pembuat keputusan. Cara lainnya adalah dengan menggunakan model
matematika atau statistika. Sebagaimana telah didiskusikan dalam sesi
sebelumnya, riset kemungkinan penilaian berdasarkan pada analisis apakah
manusia merevisi kepercayaan mereka sejalan dengan Teorema Bayes ketika
bukti baru menjadi tersedia. Penelitian HJT dalam model ini telah secara
konsisten mendemonstrasikan bahwa manusia memiliki tingkat kemampuan
yang berbeda dan mengamati lebih dari berbagai penugasan, mengubah
kemungkinan utama mereka menjadi sedikit luas dari pedoman teorema
Bayes. Kekakuan ini telah diatribukan untuk penggunaan aturan tanda setuju
dan bias yang mana diadopsi sebagai maksud dari penyederhanaan
penilaian yang kompleks dengan maksud bagi manusia untuk mengatasinya.

Tiga aturan utama yang didefinisikan dalam literatur adalah sebagai berikut:

a. Keterwakilan. Dalam aturan utama ini menyatakan bahwa ketika menilai


kemungkinan bahwa bagian khusus berasal dari bagian populasi tertentu,
penilaian orang akan ditentukan oleh perluasan yang mana untuk bagian
yang merupakan bagian yang mewakili populasi. Item atau kejadian
sebagaimana memiliki kemungkinan tinggi keterjadiannya daripada item
yang lebih sedikit mewakili.

b. Ketersediaan. Ketersediaan aturan utama merujuk pada penilaian


kemungkinan kejadian berdasarkan ketentraman dengan yang mana semilal
kejadian yang melintasi pikiran. Akibatnya penggunaan peran utama ini yang
memungkinkan berkaitan dengan kejadian menggemparkan mungkin akan
dianggap terlalu tinggi.

c. Melabuhkan dan menyesuaikan. Aturan utama ini merujuk pada proses


penilaian pada umumnya yang mana utamanya diciptakan atau memberikan
respon berperan sebagai sebuah jangkar, dan informasi lainnya digunakan
untuk menyesuaikan respon tersebut. Konsekuensi dari aturan ini adalah
kemungkinan penyesuaian yang tidak sesuai dengan keterangan keadaan
perubahan.

Learning Objective 3: Keterwakilan: Pembuktian

Kahneman dan Tversky pertama kali melaporkan keberadaan keterwakilan


dan kecenderungan untuk mengabaikan dasar tingkat. Sejak saat itu,
penelitian baik pada lingkungan psikologi maupun akuntansi telah
menyelidiki berbagai fenomena. Hal ini menjadi bukti yang tidak meyakinkan
dalam yang mana hakl ini menunjukkan informasi dasar-tingkat terkadang
diabaikan dan terkadang digunakan dengan wajar dalam menilai
kemungkinan suatu kejadian. Penggunaan informasi dasar-tingkat
nampaknya cukup sensitive untuk berbagai penugasan dan konteks, dan hal
ini telah mengarahkan pada hipotesis bahwa penalaran kemungkinan
berkaitan dengan kebergantungan pemrosesan.

Joyce dan Biddle menggunakan adaptasi akuntansi terhadap contoh


karyawan pencuri/lie detector sebagaimana telah diberikan sebelumnya
dalam bab ini untuk mengilustrasikan penerapan teorema Bayes. Dalam
contoh ini berhubungan dengan kecurangan manajemen, lagi tingkat basis
yang sangat rendah digunakan. Hal ini telah diperkirakan bahwa,
sebagaimana dalam contoh sebelumnya, subjek akan memberikan perhatian
yang cukup terhadap tingkat basis rendah, dam oleh karena itu, mempunyai
harapan yang terlalu tinggi terkait aktivitas yang curang.
Ketersediaan: Bukti

Dasar dari aturan utama yang mungkin menilai berdasarkan pencarian keterangan
dari ingatan perumpamaan yang relevan atau struktur scenario yang logis. Semakin
kejadian itu timbul, atau semakin besar ketentraman dengan yang mana satu dapat
terjadi kejadian atau menciptakan kelogisan penjelasan terhadap suatu kejadian,
akan semakin tinggi kemungkinan penilaian keterjadian sebuah kejadian. Akan
tetapi, hal ini memerlukan contoh kemungkinan yang besar untuk meningkatkan
keakuratan prediksi.

Moser menyelidiki ketersediaan aturan utama dalam kaitan dengan penilaian masa
depan investor. Moser mempertanyakan setengan dari 58 subjeknya untuk
menuliskan alasan target laba perusahaan akan meningkat dan kemudian alasan
laba perusahaan mungkin menurun. Subjek yang lainnya menuliskan alasan yang
berlawanan dengan urutan. Moser menemukan bahwa grup subjek yang pertama
membuat prediksi kemungkinan tinggi berkenaan dengan peningkatan dalam laba
untuk perusahaan, meskipun tidak terdapat tujuan dasar untuk optimisme mereka.

Keterlabuhan dan Penyesuaian: Pembuktian

Joyce dan Biddle menggunakan lagi praktik auditor sebagai subjek dalam
menyelidiki pengaruh perubahan dalam sistem pengendalian internal pada
pencarian yang luas terhadap pengujian substantif (pengujian audit dibuat untuk
mencari keberadaan kesalahan mata uang dalam laporan keuangan). Hal ini telah
diperkirakan bahwa subjek akan menyesuaikan untuk perubahan dalam
pengendalian internal dengan menyesuaikan ruang lingkup audit, namun demikian
penyesuaian tersebut akan menjadi tidak cukup sebagai perlabuhan pada
pengendalian internal yang utama akan terjadi. Tidak ada bukti melabuhkan dan
penyesuaian dalam reviu analytical (analisis rasio) dan pengujian kepatuhan
penugasan (pengujian audit dari pengendalian internal).

Expert Judgement dan Rules of Thumb

Penelitian yang berkaitan dengan expert judgement berfokus dengan menjelaskan


proses pemikiran para ahli dan penentu perusahaan. Newell dan Simon
menyediakan kerangka analitis dengan teori mereka yang terikat dengan
rasionalitas. Mereka menyarankan bahwa manusia memiliki ingatan jangka pendek
dengan kapasitas yang terbatas (4-7 bongkah) dan secara virtual ingatan jangka
panjang yang tidak terbatas. Struktur ingatan ini dan karakteristik penugasan ini
menggabungkan untuk menentukan cara jenis yang berbeda terkait permasalahan
yang direpresentasikan dalam ingatan (representasi kognitif) yang mana dalam
kebalikannya menentukan cara permasalahan diselesaikan.
Kebanyakan pekerjaan awal pada ingatan para ahli berkaitan dengan praktisi
kesehatan dan ahli catur. Kemampuan ahli untuk secara efektif memperluas
kapasitas ingatan mereka dalam situasi yang berhubungan dengan keahlian telah
secara konsisten ditemukan dalam literature. Hal ini Nampak bahwa sekumpulan
kecil nilai isyarat membawa pada pemikiran sekumpulan isyarat yang besar yang
terasosiasi dengan sebuah prototype. Penjelasan terdapat dalam penggunaan
keterwakilan untuk mengakui rumus yang mirip dan membawa prototype ke dalam
ingatan jangka pendek keluar dari ingatan jangka panjang.

Berbagai studi dalam audit telah mengkonfirmasi bahwa ahli audit mempunyai daya
ingat yang lebih baik, kemampuan integrative dan kemampuan mempelajari
frekuensi kesalahan daripada pemula. Ahli audit mempertunjukkan bukti dari tiga
aturan utama dan hal ini jelas bahwa hasil yang cukup penting ini dalam kualitas
yang minim dalam pembuatan keputusan. Sifat pencatatan berganda terkait
bookkeeping berarti bahwa audit menguji sering melampaui dan adanya
mekanisme (misal: telaahan sejawat) yang mana mencoba untuk meyakinkan
kualitas. Metode proses penjejakan mungkin menjadi cara yang terbaik
memperlajari lebih tentang perbedaan antara proses pembuatan keputusan oleh
ahli dan pemula. Pengetahuan ini akan sangat berharga untuk tujuan pelatihan.

Learning Objective 4: Akuntansi dan Perilaku

Akuntansi muncul sebagai fungsi langsung dari aktivitas individu atau kelompok
individu (didefinisikan sebagai entitas akuntansi). Terdapat perbedaan sudut
pandang akuntansi, indikasi bahwa terdapat sejumlah kemungkinan sudut pandang
akuntansi. Bahkan dalam periode regulasi pemerintahan terpusat terkait penyajian
akuntansi oleh perusahaan, terdapat ribuan pilihan dan asumsi yang dibutuhkan
antara alternative teknik akuntansi dalam penyiapan laporan keuangan untuk
entitas perusahaan. Bahkan di bawah regulasi yang lebih keras pada legislasi
perpajakan Australia, Terdapat diskresi yang dipertimbangkan dalam teknik yang
dapat diterapkan untuk penghitungan pendapat yang dikenakan pajak. Persoalan
utama adalah bahwa teknik yang diadopsi, interpretasi informasi yang dilaporkan,
merupakan permasalahan sudut pandang. Terdapat banyak persaingan kepentingan
melintasi berbagai orang yang menginterpretasi informasi laporan keuangan oleh
organisasi. Dasarnya, pengguna informasi akuntansi mewakili berbagai sudut
pandang dan tujuan, menjangkau dari kelompok karyawan (serikat kerja),
pemegang saham individu, dan grup investor kepada manajemen dari sebuah
organisasi. Penyusun standar akuntansi telah sering menghabiskan waktu mereka
memperdebatkan validitas teknis yang khusus yang mereka ajukan. Akan tetapi,
bahkan validitas teknis merupakan permasalahan sudut pandang.

Tujuan dari bagian ini adalah untuk mendukung kembali tema yang penting melalui
ini dan sejumlah bab lainnya dalam teks ini: bahwa akuntansi bertindak sebagai
fungsi dari perilaku manusia dan aktivitas. Semacam, informasi akuntansi akan
memengaruhi perilaku, baik dalam metode yang diadopsi untuk mengukur dan
melaporkan informasi, dan dalam menjawab informasi yang diungkapkan. Jawaban
untuk informasi merupakan fungsi dari sudut pandang manusia dan oleh karena
itutidak dapat dipisahkan dari tujuan pribadi dan kepentingan pengguna, apakah
bertindak sebagai individu atau sebagai kelompok yang memiliki kesamaan
kepentingan. Akibatnya, akuntansi beroperasi dalam lingkungan yang kompleks.
Akuntan seharusnya sadar akan lingkungan ini dan menghargai dampak informasi
pada perilaku.

Learning Objective 5: Kelemahan Riset Akuntansi Perilaku

Gambaran umum terkait riset akuntansi perilaku telah menunjukkan bahwa kita
telah mempelajari pentingnya terkait bagaimana bedanya pembuat keputusan
menggunakan informasi akuntansi. Akan tetapi, hal ini juga membuktikan bahwa
terdapat banyak hal signifikan yang dapat kita pelajari di area ini. Acap kali (dan
mengecewakan) kontradiksi antara penemuan studi yang serupa secara sederhana
berarti bahwa manusia memroses informasi jah lebih kompleks daripada
perkembangan teori dan metode penelitian saat ini.

Maines telah berargumentasi:

Sayangnya, tiga tingkat kritikan terhadap penelitian ini telah membatasi


dampaknya. Pertama, studi pada topik yang sama telah menghasilkan hasil yang
bertentangan, mencegah pedoman meyakinkan untuk keputusan kebijakan.
Kemudian, subjek percobaan dan penyusunan digunakan dalam studi ini sering
membedakan dari penemuan dalam penyusunan keputusan sebenarnya. Terakhir,
Peneliti akuntansi mempertanyakan apakah kebijakan seharusnya dipengaruhi oleh
penelitian pada masing pembuat keputusan secara individu.

Learning Objective 6: Hal-Hal Penting Untuk Auditor

Sebagaimana riset akuntansi perilaku dapat menjawab pertanyaan terkait


bagaimana orang menggunakan dan memroses informasi akuntansi, riset perilaku
audit dapat menyelidiki bagaimana auditor melakukan penugasan audit mereka dan
membuat penilaian mereka. Studi arsip terkait pilihan audit, dijelaskan pada awal
bab, sering memperlakukan proses audit sebagai sebuah blackbox . Hasil yang
besar atau auditor specialis terasosiasi dengan tinggi pendapatan audit dan
rendahnya biaya pembiayaan modal yang diinterpretasikan sebagai bukti yang
auditor ini memiliki kualitas tinggi, akan tetapi hal ini bukanlah bukti langsung
bahwa kinerja audit lebih baik. Riset perilaku berusahaan untuk masuk ke dalam
blackbox untuk menyelidiki karakteristik terhadap kinerja audit yang lebih baik dan
menginvestigasi faktor yang dapat memengaruhi kinerja auditor.

Mulanya riset dimulai dengan pertanyaan yang sangat ketara. Semisal, apakah
pengalaman audit yang lebih banyak meningkatkan kualitas audit penilaian?
Meskipun penyederhanaan pertanyaan ini, peneliti segera menemukan bahwa
jawabannya kurang meyakinkan. Kinerja auditor sangat bervariasi antara
penyusunan dalam berbagai cara yang mana disarankan bahwa auditor telah
memiliki kedua pengetahuan umum, yang mana sangat umum bagi auditor,
pengetahuan spesialis yang bertambah melalui praktik dan umpan balik dalam
domain dan konteks yang khusus.