You are on page 1of 12

BAB II

PEMBAHASAN

Perbandingan ANOVA Satu Arah dan Dua Arah

Analisis disini merupakan penyempurna ANOVA satu arah. Sebenarnya


analisis ANOVA satu arah dapat dipakai untuk menghadapi kasus variabel bebas
lebih dari satu. Hanya saja terpaksa analisisnya dilakukan satu per satu, sehingga
akan menghadapi banyak kasus (N semakin banyak). Pada kasus dua variabel
bebas (dalam contoh diatas), apabila setiap kelompok berisi 20 sampel maka
jumlah sampel keseluruhan adalah 20 x 6 = 120. Jika dilakukan analisis of
variance satu arah, maka sampel yang dianalisis akan sebanyak 240. Untuk
memahani konsep ini marilah kita laukan analisis satu per satu yang didasarkan
pada variabel bebas. Perincian analisis sebagai berikut:

1. ANOVA khusus untuk variabel bebas: metode mengajar, kita akam


menghadapi sampel sebanyal 120 yang terdiri dari:

METODE MENGAJAR

A B C

Sampel laki-laki 20 Sampel laki-laki 20 Sampel laki-laki 20

Sampel perempuan 20 Sampel perempuan 20 Sampel perempuan 20

Jadi N: 40 Jadi N: 40 Jadi N: 40

2. ANOVA yang berkaitan dengan variabel jenis kelamin akan melibatkan


sampel sabanyak 120 yang terdari dari:

JENIS KELAMIN

Laki-laki Perempuan

Sampel yang diajar dengan metode Sampel yang diajar dengan metode

A = 20 A = 20

B = 20 B = 20
C = 20 C = 20

Jadi N =60 Jadi N =60

Untuk analisis kita akan berhadapan dengan 120 kasus, sehingga dua kali
analisis kita akan menghadapi 240 kasus. Apabila analisis dilakukan
serentak (dengan ANOVA dua arah, maka kasus yang dihadapi hanya
sebanyak 120 kasus). Hal ini disebabkan karena saat kita menganalisis
perbedaan efek metode mengajar terhadap hasil belajar tercakup pula
analisis perpedaan pengaruh jenis kelamin terhadap asil belajar. Dengan
demikaian maka analisis yang sifatnya mengulang denagn data yang sama
dapat dihindari.

Dengan melakukan analisis of variance dua arah akan digindari juga


terjadinya noise (suatu kemungkinan yang menyatakan terdapat suatu efek karena
bercampurnya suatu analisis data). Noise ini dapat dihindari pada analisis of
variance dua arah karena analisis disini melibatkan kontrolterhadap perbedaan
veriabl bebas. Pada kasus diatas, jika dilakukan analisis terpisah (satu arah), disaat
kita menganalisis perbedaan hasil belajar antara kelompok yang diajar denan
metode A dengan B maupun C, kita dapat mempedulikan perbedaan pengaruh
jenis kelamin terhadap hasil belajar. Dengan demikaian, maka ada tidaknya
perbedaan efek metode mengajar terhadap hasil belajar tidak murni, karena masih
ada pengaruh/ efek variabel lain yang tidak diperhitungkan, yaitu perbedan jenis
kelamin. Kalau tidak dipertimbangkan perbedaan jenis kelamin, maka ada
kemungkinan sampel yang ada dikelompok eksperimen dengam metode A
didominasi oleh perempuan, maupun sebaliknya.sehingga penyebaran skor yan
ada pada kelompok A tidak merupakan wakil siswa keseluruhan yang terdiri dari
laki-laki dan perempuan. Situasi kelamin memang tidak mempunyai pengaruh
terhadap hasil belajar. Di samping itu, analisis of variance dua aah dapat
menyajikan bagaimana kondisi interaksi antara variabel bebas yang lainnya.

Interaksi yang merupakan suatu kebersanaan antara faktor dalam


mempengaruhi variabe bebas, dengan sendirinya pengaruh faktir-faktor secara
mandiri telah dihilangkan. Jika terdapat interaksi berartiefek faktor saru terhadap
variabel terikat akan mempunyai garis yang tidak sejajar dengan efek faktor lain
terhadap variabel terikat sejajar (salinng berpotonga), maka antara faktor tidak
mempunyai interaksi.

Hipotesis

Hopotesis dalam anova dua arah (dua variabel bebas) terdiri dari (untuk
ilustrasi diatas):

1. Yang berkaitan dengan pengaruh fator pertama (A), atau efek baris
H 0 : A1 = A2
Ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara
laki-laki dan perempuan.
H 0 : A1 A 2
Ini berarti bahwa terdapat perbedaan anatara hasil belajar laki-laki dan
perempuan
2. Yang berkaitan dengan pengaruh faktor kedua (B), atau efek kolom.
H 0 : B 1 = B 2 = B 3
Ini berarti bahwa tidak ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajar
dengan metode A, B, dan C
1
H 1 : paling sedikit salah satu
4 tidak sama dngan yang lainnya.
Ini berarti bahwa paling tidak salah satu rata-rata hasil belajar siswa
yang dididik dengan metode A, B, dan C tiak sama.
3. Interaksi A X B
H 0 : efek faktor A tidak tergantung pada faktor B, dan efek faktor B

juga tidak tergantung pada faktor A. Ini berarti bahasa masing-masing


faktorr (jenis kelamin siswa dan metode mengajar) tidak saling
tergantung atau independent antara satu dengan yang lainnya dalam
mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan kata lain, sesudah rata-rata
hasil belajar yang dipengaruhi hasil oleh jenis kelamin siswa dan
metode mengajar secara mandiri dihilangkan, tidak terdapat perbedaan
hasil belajar pada suatu kombinasi kategori jenis kelamin dan metode
mngajar satu dengan suatu kombinasi kategori jenis kelamin dan
metode mengajar yang lainnya.
H i : efek aktor yang satu tergantung pada faktor yang lainnya. Ini

berarti bahwa masing-masing faktor (jenis kelamin siswa dan metode


mengajar) saling tergantung satu sama lainnya dalam mempengaruhi
hasil belajar siswa. Sehingga masing-masing kombinasi kategori pada
faktor jenis kelamin siswa dan metode mengajar mempunyai
perbedaan rata hasil belajar secara signifikan.

Seperti halnya pada ANOVA satu arah, ANOVA dua arah menggunakan

f ratio dimana:

1. Variance antara kelompok diasumsikan disebabkan oleh:


a. Efek perlakuan, dimana berkemungkinan hanya faktor A, atau
faktor B, atau interaksi A X B yang berpengaruh.
b. Perbedaan individual.
c. Error eksperimental.
2. Varience dalam kelompok diasumsikan disebabkan oleh:
a. Perbedaan individual.
b. Error eksperimental.

Untuk mempermudah pehamana perhitungan F ratio perlu kesepakatan


untuk menggunakan simbol yang sama sebagai berikut:

G adalah jumlah skor keseluruhan (nilai total pengukuran variabel terikat


untuk seluruh sampel)

N adalah banyaknya sampel keseluruhan (merupakan penjumlahan banyak


sampel pada masing-masing sel).

A adalah jumlah skor masing-masing baris (jumlah skor masing-masing


baris pada faktor A)

B adalah jumlah skor masing-masing baris (jumlah skor masing-masing


baris pada faktor B)

p adalah banyaknya kelompok pada faktor A

q adalah banyaknya kelompok pada faktor B.

n adalah banyaknya sampel masing-masing sel.


Perhitungan disini tidak jauh berbeda dengan yang sudah kita pelajari
dimuka, sebelum perhitungan kita sampai pada F, terlebih dahulu kita harus
menghitung SSt, yaitu:

G2
SSt X 2
N

Derajat kebebasannya adala N-1

Sedangkan SSb dapat dihitung dengan rumus:

AB 2 G 2
SSb = n N

Perubahan rumus SSb disebabkan: karena jumla setiap sel adala AB


bukannya T seperti ANOVA pada satu arah. Sedangkan derajat kebebasnnya
berkaitan dengan banyaknya sel sehinggaa besarnya adalah pq-1.

SSw merupakan jumlah dari masing-masing SS atau merupakan selisih


antara SSt dengan SSb dengan derajat kebebasan sebesar: (n-1) atau N-pq.

Dalam ANOVA dua arah mengandung asumsi yang agak berbeda dengan
ANOVA satu arah sehingga SSb terdiri dari 3 macam SS, yaitu:

1. SS A merupakan besarnya sumbangan faktor A terhadap keseluruhan


efek perlakuan.
2. SS B merupakan besarnya sumbangan faktor B terhadap keseluruhan
efek perlakuan.
3. SS AB merupakan besarnya sumbangan kedua faktor secara bersama
terhadap keseluruhan efek perlakuan.
1.Sum of squares diatas dapat dihitung dengan rumus-rumus sebagai
berikut:
A2 G 2
SS A =
qn N
B2 G2
SS B = qn N
2. SS B SSb SS A SS B
3. Dengan derajat kebebasan untuk masing-masing dar SS diatas
adalah:
dkSS A = p 1

dkSSB = q 1

dkSS AB = dk SSb dk SS A dk SSB

atau = dk SS A x dk SSB

atau = (p 1)(q 1)

Mean Squares dalam ANOVA dua arah terdiri dari tiga macam disamping
MSw, karena pada ANOVA dua arah akan menguji tiga hipotesis.

Mean squares faktor A dihitung dengan rumus

SS A
MS A
dkSS A

Meab squares faktor B dihitung dengan rumus

SSB
MS B
dkSSB

Sedangkan sum squares untuk interaksi dihitung dengan rumus

SS AB
MS AB
dkSS AB

F ratio terdiri dari tiga macam yang dapat dihitung dengan rumus

MS A
FA =
MSW

MS AB
FB =
MSW

MS AB
FAB =
MSW
Langkah selanjutnya adalah membandingkan F tabel dengan F hitung,
apabila F tabel lebi besar daripada F hitung maka kita kan menerima Hipotesis
nol, demikian sebaliknya, jika F tabel lebih kecil dari pada F hitung maka
hipotesis nol akan ditolak.

Contoh: suatu eksperimen metode mengajar yang terdiri dari tiga macam
metode (A, B dan C) diterapkan untuk siswa SLTA denga memperhatikan
kemampuan siswa (intelegensi siswa) tinggi dan rendah. Dari hasil tes setelah
eksperimen selesai penyebaran skornya sebagai berikut:

Metode Mengajar
A (B1) B (B2) C (B3)
I 40 60 60
30 70 75
N Rendah 50 70 75
T 70 65 85
( A1 ) 50 50 90
E
A1B1 A 2 B2 A 3 B3
L =240 =315 =385
50 47 55
E 60 75 80
G 75 80 90
65 90 95
E Tinggi 60 70 80
N
( A2 )
S
A 2 B1 A 2 B2 A 2 B3
=310 =360 =400
I

4. Yang ingi diketahui penelitian adalah:

1. Apakah intelegensi (tinggi rendah) mempunyai efek terhadap hasil belajar


yang berbeda?
2. Apakah metode mengajar (A, B dan C) mempunyai efek terhadap hasil
belajar yang berbeda?
3. Apakah intelegensi (tinggi rendah) berinteraksi dengan metode mengajar
(A, B dan C)?

Penyelesaian:
1. Perumusan hipotesis
H :
a. Pengaruh
0 A1 faktor
A2 intelegensi
H 0 : A1 A2
b. Pengaruh faktor metode mangajar
H 0 : B1 = B 2 = B 3
H1 =paling sedikit salah satu u tidak sama.

c. Interaksi intelegensi an metode mengajar


H 0 : efek faktor intelegensi tidak tergantung pada faktor metode

mengajar atau efek faktor metode mengajar tidak tergantung pada


faktor intelegensi terhadap hasil belajar.
H1 : efek intelegensi tergantung pada faktor metode mengajar atau efek

metode mengajar tergantung pada faktor intelegensi terhadap asil


belajar.
2. Inventarisasi yang diketahui:
A1 = 940 A2 = 1070
B1 = 550 B2 = 675 B3 = 785
G = 2010
X 2 = 142250
p=2
q=3
n=5
N = 30 dkSS A p q
2 1kebebasan
3. penghitungan derajat
dkSSt 30N 11 1
29 B q 1
dkSS
dkSSb (2
pqx3)
1=3-1
1
SS w SS t5 SSb=2
dkSS N
30
= w7580
dkSS pq
dkSS
3480
(2 x 3) A x dkSS B
AB
G2
SSt = 242 N
XAB
4100
2
G1 2x 2
SSb A2 G N2 2
2
n 2010
SS A =142250
240qn
4. perhitungan 2 2
B sum
310
G N30
squares
22
3132 3602 3852 4002 20102
SSB 2 2 2
= 7580
940
5 pn 1070 5N 52010 5 5 5 30
=
= 138150
3550
5. perhitungan 2 675
x 5 mean3134670
x squares
5 785
2 30 2010
2 2
=
2 x 5 2 x5134670
= 135233,33
=3480 2x5 30
= 563,333
= 137435 134670
= 2765
SS B
MS B
dkSS B
= 2765 : 2
SS AB = 1382,5
SSb SS A SSB
=3480 563,33 2765
SS AB
MS AB
dkSS AB
= 151,67
= 151,67
6. perhitungan mean: 2squares
= 75,835
MS A
FA
7. Perhitungan MSFw ratio
MS B : 170,833
= 563,33
FA tingkatan
a. Faktor intelegensi (faktor A)
MS
= 3,2975w = 3,30
MSAB4.26
= 1382,5
F0,05(1.24) : 170,833
FAB
MS w
= 8,092698717 = 8,09
b. Faktor metode mengajar (faktor B)
F0,05(2.24)
= 75,835 3, :40
170,833
= 0,443913061 = 0,4439
c. Interaksi faktor intelegensi dan metode mengajar (interaksi A x B)
F0,05(2.24) 3, 40

8. Tabel ANOVA

Sumber variance dk SS MS F

Baris (A) 1 563,33 563,33 3,2975

Baris (B) 2 2765 1382,5 8,0927

Interaksi (AB) 1 151,67 75.835 0,4439

Dalam sel 24 4100 170,833

29 7580

9. Pengambilan Keputusan
a. Untuk faktor A, kita menerima hipotesis nol: tidak terdapat perbedaan
hasil belajar antara siswa yang mempunyai intelegensi tinggi dan
rendah. Ini berarti bahwa intelegensi tidak mempunyai perana yang
cukup signifikan terhadap hasil belajar sehingga perbedaan hasil
belajar siswa yang berintelegensi tinggi tidak berbeda dengan hasil
belajar siswa yang berintelegensi rendah.
b. Untuk faktor B, kita menolak hipotesis nol: paling tidak salah satu
rata-rata hasil belajar siswa yang diajarkan dengan metode berbeda,
akan berbeda dengan yang lainnya. Ini berarti dari ketiga metode
mengajar paling tidak salah satu mempunyai efek yang berbeda
dengan yang lainnya. Tetapi, sampai saat ini kita belum memperole
informasi yang jelas tentang metode mana yang benar-benar
mempunyai efek berbeda dengan yang lainnya. Dalam hal ini kita
masih menghadapi beberapa kemungkinan, yaitu:
1. B1 B 2 B3
2. B1 B 2 B3
3. B 2 B1 B3
4. B1 B 2 B3

Untuk mengetahui secara pasti rata-rata mana yang berbeda dengan


yang lainnya perlu perhitungan pasca ANOVA.

Jika interaksi kedua faktor ternyata tidak sigmifikan (menerima hipotesis


nol), maka tidak perlu melakukan tindakan (analisis) lebih lanjut. Teapi, jika
interaksi kedua faktor ternyata signifikan (menolak hipotesis nol), maka kita
masih perlu melakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui kombinasi mana
yang sebenarnya berbeda dengan yang lainnya. Untuk analisis lanjutan ini kita
harus mengamati jumlah masing-masing sel. Langkah selanjutnya adalah
menghitung rata-rata baris dan kolom, serta rata-rata total. Sesudah semua rata-
rata diperoleh, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis elementer rata-rata,
dan akhirnya melakukan interpretasi.

Asumsi dalam ANOVA Dua Arah

Ada beberapa asumsi yang dipakai dalam ANOVA dua arah:

1. Setiap skor dalam sel harus berdistribusi normal. Asumsi ini dapat sedikit
diabaikan jika sampel setiap sel cuku banyak.
2. Variasi skor pada setiap sel hendanya homogi atau sama.
3. Skor yang ada bebas dari pengaruh variabel yang tida diteliti. Hal ini bisa
dicapai dengan mengambil sampel acak daro populasi yang sudah
diklasifikasikan sesuai dengan sel yang ada. Disamping itu perlu
dilakukan kontrol atas terjadinya perembesan pengaru faktor lai maupun
antar kelompok itu sendiri.
Seperti halnya ANOVA satu arah, ANOVA dua arah pun bisa dilakukan untuk
jumlah sampel yang tidak sama antara sel yang satu dengan sel yang lain. Teapi
ANOVA dua arah denga jumlah sel yang berbeda, agak berbeda dengan uraian
diatas. Dalam kasus tersebut rata-rata hendaknya ditimbang, sehingga pengaruh
perbedaan jumlah sampel tidak mempengaruhi hasil analisis, hal ini juga akan
dibahas pada pembahasan selanjutnya.

BAB III

PENUTUP

ANOVA dua arah digunakan peneliti untuk mengatasi perbedaan nilia variabel
terikat yang dikategorikan berdasarkan variasi bebas yang banyak dan masing-
masing variabel terdiri dari beberapa kelompok. ANOVA dua arah merupakan
penyempurna ANOVA satu arah.

ANOVA dua ara lebih efisien dari pada ANOVA satu arah, karena:

Kasus yang dihadapi lebih sedikit yaitu sejumlah sampel.


Noise dapat dihilangkan
Dapat diketahui unsur kebersamaan variabel bebas dalam mempengaruhi
variabel terikat.

Hipotesis ANOVA dua arah terdiri dari:

Perbedaan yang dipengaruhi oleh variabel bebas(yang jumlahnya


tergantung jumalah variabel bebas).
Interaksi antar variabel bebas.

Langkah anova dua arah sama dengan langkah anova satu arah dan sigmifikasi
perbedaan diuji dengan F tes. Jika interaksi ternyata signifikan, maka penelitian
perlu melakukan analisis lanjutan dengan analisis elementer rata-rata digunakan
untuk mengetahui kombinasi mana yang sebenarnya berbeda dengan yang
lainnya.

Asumsi ANOVA dua arah:

Setiap skor dalam sel berdistribusi normal.


Variasi skor setiap sel homogen.
Skor bebas dari pengaruh variabel yang tidak diteliti.

DAFTAR PUSTAKA

5.