You are on page 1of 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


II.1.1 Larutan Elektrolit
Larutan berair dari sejumlah senyawa merupakan konduktor arus
listrik yang baik karena senyawa senyawa ini memiliki ion positif dan ion
negatif. Senyawa-senyawa seperti ini disebut elektrolit, sedangkan
senyawa yang larutan berairnya tidak menghantarkan listrik disebut non
elektrolit. Natrium klorida, NaCl, terurai sempurna menjadi ion Na + dan
Cl- dalam larutan encer sehingga tergolong sebagai elektrolit , Etilena
glikol, CH2OH- CH2OH, senyawa antibeku yang sering dijumpai, tidak
terurai dalam larutan berair sehingga tergolong non elektrolit. Sebagian
besar senyawa ionik terurai sempurna dalam air dan oleh karenanya
disebut elektrolit kuat. Kebanyakan senyawa kovalen sedikit terurai
dalam air sehingga disebut elektrolit lemah (Day & Underwood, 2002).
Menurut Day & Underwood (2002), berikut ini adalah tabel asam
dan basa kuat serta lemah dalam larutan air:
Tabel II.1 Tabel asam dan Basa Kuat serta lemah dalam larutan air
Basa
Asam

Kuat Lemah Kuat Lemah

HCl HOAC NaOH NH3

HNO3 HF KOH CH3NH2

C6H5NH2
HCLO4 H2CO3 Ba(OH)2
(anilin)

H2SO4 H2S (CH3)4NOH

Garam adalah produk lain diluar air yang terbentuk ketika sebuah
asam bereaksi dengan sebuah basa . Sebagai contoh, ketika asam
klorida dan natrium hidroksida bereaksi, produknya adalah garam
(natrium klorida) dan air. Larutan garam dalam air (Misalnya natrium
klorida dalam air) merupakan larutan elektrolit, yaitu larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik (Day & Underwood, 2002).

II.1.2 Pengertian Konduktometri


Konduktometri adalah metode analisis kimia berdasarkan daya
hantar listrik suatu larutan. Daya hantar listrik (G)suatu larutan
bergantung pada jenis dan konsetrasi ion didalam larutan. Daya hantar

II - 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

listrik berhubungan dengan pergerakan suau ion didalam larutan ion


yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar. Selain
itu percobaan konduktometri ini menggunakan alat yang bernama
konduktometer yang dihubungkan dengan dua elektroda sejenis,
biasanya logam Pt. Dalam metode ini dikenal titrasi konduktometri,
kurvanya berupa hubungan antara daya hantar listrik dengan volume
pereaksi (Hendayana, 1994 ).

Gambar II.1 Kurva Hubungan antara daya hantar listrik dengan volume
pereaksi yang diperoleh dari pengukuran

II.1.3 Daya Hantar Listrik


Daya hantar listrik merupakan kebalikan dari tahan (R ), sehingga
daya hantar listrik mempunyai satuan ohm -1. Bila arus listrik dialirkan ke
dalam suatu larutan melalui dua elektroda , maka daya hantar listrik
(G ) berbanding lurus dengan luas permukaan elektroda (A) dan
berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda (l).
l
..................................(1)
G= R
Jadi, dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm-1 cm-1.
Selain itu daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis
dan konsentrasi ion dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan
dengan pergerakan suatu ion didalam larutan ion yang mudah bergerak
mempunyai daya hantar listrik yang besar (Hendayana,1994)
Konduktivitas atau daya hantar listrik (DHL) merupakan ukuran dari
kemampuan larutan untuk menghantarkan arus listrik. Semakin banyak
garam-garam terlarut yang dapat terionisasi, semakin tinggi pula nilai
DHL. Selain itu, bilangan valensi dan konsentrasi ion-ion terlarut sangat
berpengaruh terhadap nilai DHL. Asam, basa dan garam merupakan
penghantar listrik yang baik, sedangkan bahan organik (sukrosa dan
benzene) yang tidak dapat mengalami disosiasi merupakan penghantar
listrik yang jelek (Nicola, 2015).

II.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Hantar Listrik

Laboratorium Analisa Instrumen II - 2


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Konduktivitas larutan elektrolit tergantung pada tiga faktor:


jumlah muatan, mobilitas, dan konsentrasi ion. Ion dengan dua muatan
misalnya A2- akan mampu menghantarkan dua kali muatan listrik yang
dapat dihantarkan ion A-1. Mobilitas ion adalah kecepatan bergerak ion
dalam larutan. Mobilitas ion dipengaruhi olah sifat- sifat solven, beda
tegangan listrik, dan ukuran ion (yakni semakin besar ion akan semakin
kurang mobilitasnya). Mobilitas ion juga dipengaruhi oleh suhu dan
viskositas dari solven. Untuk ion, solven, dan suhu tertentu, konduktansi
ditentukan oleh konsentrasi ion. Oleh karena itu, konsentrasi ion dapat
ditentukan berdasar nilai konduktansi larutan. Konsentrasi merupakan
variabel yang penting dalam larutan elektrolit maka biasanya
konduktivitas larutan elektrolit dihubungkan dengan konsentrasi melalui
besaran konduktivitas ekivalen(Petrus, 2014). Berikut ini penjelasan
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi daya hantar listrik meliputi :
II.1.4.1 Jumlah Ion yang Ada
Daya hantar listrik larutan elektrolit dipengaruhi oleh banyaknya
ion-ion yang terdapat didalam larutan tersebut. Jumlah ion yang ada
tergantung dari jenis elektrolit (kuat/lemah) dan konsentrasi selanjutnya
pengenceran baik untuk elektrolit lemah/kuat memperbesar daya
hantar dan mencapai harga maksimum pada pengenceran tak
berhingga. Semakin banyak jumlah ion yang ada dalam larutan maka
semakin besar daya hantar listriknya dan sebaliknya (Sopyan, 2014).
Penghantar logam disebut penghantar kelas utama, dalam
penghantar ini listrik mengalir sebagai elektron. Tekanan dari
penghantar ini bertambah dengan naiknya temperatur. Larutan
elektrolit juga dapat menghantarkan listrik, penghantar ini disebut
penghantar kedua. Pembawa muatan dapat berupa elektron seperti
logam, dapat pula berwujud ion positif dan ion negatif seperti dalam
larutan elektrolit dan lelehan garam. Pembawa muatan yang berwujud
logam disebut elektrolit atau metalik, sedangkan pembawa muatan
yang berupa larutan disebut ionik atau elektrolit (Sopyan, 2014).
Pengukuran daya hantar listrik mempunyai arti penting dalam
proses-proses kimia. Pada pembuatan aquades, efisiensi dari penghilang
zat terlarut yang berupa garam-garam dapat diikuti dengan mudah
dengan cara mengukur daya hantar larutan. Derajat ionisasi elektrolit
lemah dapat ditentukan dengan pengukuran daya hantarnya. Seperti
diketahui, daya hantar berbanding lurus dengan jumlah ion yang ada
dalam larutan (Sopyan, 2014).
Tabel II.2 Jumlah ion dan m dalam pelarut air
Jumlah ion Range m
2 118-131

3 235-273

4 408-435
Laboratorium Analisa Instrumen II - 3
Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5 >560

Dalam pengukuran konduktivitas spesifik larutan dipilih harga


yang paling konstan karena harga konduktivitas cenderung berubah
setiap saat sehingga harga yang paling konstan merupakan harga yang
mendekati harga sebenarnya. Setiap pergantian larutan, alat cuci
dengan akuades. Pengukuran disertai dengan pengukuran akuades
(pelarut) karena harga konduktivitas spesifik merupakan koreksi dari
konduktivitas larutan dengan konduktivitas pelarut (Sopyan, 2014).
k= klarutan kpelarut
.......................................(2)

Dari konduktivitas spesifik, dicari harga antara molarnya


sehingga dapat ditentukan jumlah ion yang ada dalam sampel.
Tabel II.3 Jumlah ion dan m dalam pelarut DMF
Jumlah ion Range m
1:1 65-90
2:1 130-170

3:1 200-240
4:1 >300
Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin
tinggi nilai konduktivitasnya. Jumlah muatan dalam larutan sebanding
dengan nilai hantar molar larutan dimana hantaran molar juga sebading
dengan konduktivitas larutan. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan
besarnya konduktivitas molar (m). Konduktivitas molar adalah
konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi larutan sebesar satu
molar, sehingga secara matematis dirumuskan :

m = k/C
..

.(3)

Jika satuan volume yang digunakan adalah cm3 maka persamaan


yang menjadi dimana :
k : Konduktivitas spesifik (Scm-1)
C : Konsentrasi larutan (mol/L)
m : Hantaran molar (Scm2mol-1)
II.1.4.2 Kecepatan Ion pada Beda Potensial antara Kedua Elektroda yang
Ada

Laboratorium Analisa Instrumen II - 4


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perpindahan muatan listrik dapat terjadi bila terdapat beda


potensial antara satu tempat terhadap yang lain, dan arus listrik akan
mengalir dari tempat yang meiliki potensial tinggi ke tempat potensial
rendah. Didalam suatu larutan, terjadinya arus listrik dikarenakan
adanya ion yang bergerak.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan ion adalah:
1.Berat dan muatan ion
2.Adanya hidrasi
3.Orientasi atmosfer pelarut
4.Gaya tarik antar ion
5.Temperatur
6.Viskositas
Jika larutan diencerkan maka untuk elektrolit lemah -nya
semakin besar dan untuk elektrolit kuat gaya tarik antar ion semakin
kecil. Pada pengenceran tidak terhingga, daya hantar ekivalent elektrolit
hanya tergantung pada jenis ionnya. Masing-masing ion mempunyai
daya hantar ekivalent yang berbeda (Sopyan, 2014).
Dalam penghantar ini disebabkan oleh gerakan dari ion-ion kutub
satu ke kutub lainnya. Berbeda dengan penghantar logam, penghantar
elektrolit tahanannya berkurang bila temperatur naik (Sopyan, 2014).
II.1.4.3 Konsentrasi Larutan
Pada larutan encer, ion-ion dalam larutan tersebut mudah
bergerak sehingga daya hantarnya semakin besar. Pada larutan yang
pekat, pergerakan ion lebih sulit sehingga daya hantarnya menjadi lebih
rendah (Sopyan, 2014).
Daya hantar ekuivalen didefinisikan sebagai daya hantar satu
gram ekuivalen suatu zat terlarut diantara 2 elektroda dengan jarak
kedua elektroda 1 cm. Daya hantar ekuivalen pada larutan encer diberi
symbol 0 yang harganya tertentu untuk setiap ion (Hendayana, 1994 ).
Tabel II.4 Pengaruh konsentrasi pada daya hantar ekuivalen
Konsentrasi NaCl 0
0,1 106,7
0,01 118,5
0,001 123,7
~ 126,4

II.1.5 Titrasi Asam Basa


Metode konduktumetri dapat digunakan untuk menentukan titik
ekivalen suatu titrasi. Beberapa contoh titrasi konduktometri:
II.1.5.1 Titrasi Asam Kuat Basa Kuat
Sebagai contoh, larutan HCL dititrasi oleh NaOH. Kedua larutan ini
adalah penghantar listrik yang baik. Kurva titrasinya ditunjukkan pada
gambar II.2.

Laboratorium Analisa Instrumen II - 5


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar II.2 Kurva Titrasi Asam kuat-Basa Kuat


Daya hantar H+ turun sampai titik ekivalen tercapai, dalam hal ini
jumlah H+ makin berkurang di dalam larutan, sedangkan daya hantar
OH- di dalam larutan bertambah. Jumlah Ion Cl - di dalam larutan tida
berubah karena itru daya hantarnya konstan dengan penambahan
NaOH. Daya hantar ion Na+ bertambah secara perlahan lahan sesuai
dengan jumlah ion Na+(Hendayana, 1994 ).

II.1.5.2 Kurva Titrasi Konduktometri lainnya


Menurut Hendayana (1994), bentuk kurva titrasi konduktometri
ini bergantung pada daya hantar listrik ion-ionnya.

Gambar II.3 Titrasi asam lemah-basa


kuat
Gambar II.4 Titrasi Basa lemah-Asam Kuat

Laboratorium Analisa Instrumen II - 6


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar II.4 Titrasi ba

Gambar 2.4 Sel

Gambar II.5 Titrasi asam lemah-basa lemah

Laboratorium Analisa Instrumen II - 7


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar II.6 Titrasi campuran asam Basa Kuat

Gambar II.7 Titrasi ion Cl- oleh AgNO3

II.1.6 Prinsip Kerja Alat Konduktometer


Pengukuran nilai konduktivitas dapat diukur menggunakan
konduktometer. Konduktometer adalah alat yang digunakan untuk
menentukan daya hantar suatu larutan. Prinsip kerja konduktometer
adalah elektroda diberi gaya listrik yang akan menggerakan ion-ion
dalam larutan, ion-ion akan bergerak dari potensial tinggi ke potensial
rendah. Dari pergerakan ion tersebut akan menghasilkan arus listrik.
Semakin banyak ion yang bergerak maka arus listrik semakin besar
sehingga nilai konduktivitas yang terbaca oleh konduktometer juga
semakin besar (Nicola, 2015).
Karena masing-masing ion adalah bermuatan listrik, maka dalam
larutan akan
terjadi interaksi elektrostatik (saling tolak atau saling tarik) diantara ion-
ion tersebut. Interaksi ini akan semakin besar dengan semakin tinggi
konsentrasi. Maka hanya dalam keadaan sangat encer (infinite
solution) sajalah larutan elektrolit akan berkelakuan ideal. Maka
biasanya pengukuran dilakukan konsentrasi larutan elektrolit dengan

Laboratorium Analisa Instrumen II - 8


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

prinsip konduktometri harus dilakukan dengan pengenceran atau untuk


larutan yang sangat encer(Petrus, 2014)).

Gambar II.8 Prinsip Penghantaran Listrik Berdasarkan Wheatstone


Menurut Petrus (2014), konduktometer pada dasarnya adalah alat
pengukur konduktansi yang biasanya berupa sebuah jembatan
Wheatstone dan cell konduktivitas seperti yang secara skematik terlihat
dalam Gambar 1. Tahanan A adalah sebuah cell yang berisi sampel yang
ditinjau. Tahanan B adalah tahanan variabel sedangkan tahanan D dan E
sudah tertentu harganya. Tahanan B dan kapasitor C dapat diatur hingga
titik setimbang dapat tercapai. Dalam keadaan ini berlaku persamaan:
RA
RB = ............................................
.......... (4)
Dengan mengetahui harga tahanan B, D, dan E, maka tahanan
(dan juga konduktansi)dari cell dapat ditentukan.

II.1.7 Titik Ekivalen Konduktometri


Titrasi konduktometri merupakan salah satu dari sekian banyak
macam-macam titrasi. Didalam titrasi konduktometri ini tidak terlalu
berbeda jauh dari titrasi-titrasi yang lainya, yang membedakan biasanya
hanya terdapat bagaimana cara untuk mengetahui titik ekivalen dari
larutan itu. Titrasi konduktometri ini lebih mudah jika dibandingkan
dengan titrasi lainya, walaupun ada kelemahan tetapi juga ada
kelebihanya. Titik ekivalen dapat kita ketahui dari daya hantar dari
larutan yang kita ukur, jika daya hantar sudah konstan berarti titrasi
sudah mencapai ekivalen. Titrasi ini juga tidak perlu menggunakan
indikator (Sopyan,2014).
Titik ekuivalen dapat ditentukan dengan menggambarkan grafik
daya hantar atau 1/R terhadap ml. Selain itu, mula-mula daya hantar
naik dengan lambat karena penggantian asam asetat menjadi Na-
asetat. Setelah titik ekuivalen, daya hantar naik dengan cepat. Dan
perpotongan ke dua garis ini adalah titik ekuivalen (Sukardjo, 2002).
Laboratorium Analisa Instrumen II - 9
Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1.8 Kelebihan dan Kekurangan Metode Konduktometri


Kelebihan metode konduktometri yaitu titrasi metode ini dapat
dengan mudah dilakukan terhadap titrasi asam lemah oleh basa lemah.
Selain itu titrasi konduktometri ini sangat berguna bila hantaran
sebelum dan sesudah reaksi cukup banyak berbeda. Tidak hanya itu
saja, metode konduktometri ini juga memiliki kelebihan yaitu reaksi-
reaksi pengendapan dan penggantian seperti reaksi NH 4Cl + NaOH
dapat dengan mudah menggunakan metode konduktometri ini (S.M
Khopkar., 2003) .
Kekurangan metode konduktometri yaitu metode konduktansi ini
dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika hanya perbedaan
antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan
reagen. Serta tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran
yang berturut-turut jalan elektroda harus tetap. Hantaran sebanding
dengan konsentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran
akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear lagi
dengan konsentrasi. Selain itu metode ini kurang bermanfaat untuk
larutan dengan konsentrasi ionik terlalu tinggi, misalkan titrasi Fe 3+
dengan KMnO4, dimana perubahan hantaran sebelum dan sesudah titik
ekivalen terlalu kecil dibandingkan besarnya konduktansi total (S.M
Khopkar.,2003).
II.2 Aplikasi Industri
Karakteristik Permukaan Bahan Isolator Karet Silikon terhadap Kemempuan
Menolak Air
Anton,Tuti Angraini
Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Padang

Pada umumnya, isolator secara signifikan dipengaruhi oleh jenis kondisi


lingkungan apakah jenis isolator keramik, porselin, polimeri ataukah konvensional.
Silicone Rubber (SIR) merupakan salah satu bahan polimer yang cocok digunakan
dibandingkan dengan isolator dari jenis porselin/keramik karena sifat hidrofobik yang
dimilikinya,ringan bobotnya, pembentukannya mudah. Kepopuleran bahan SIR
dibandingkan karamik/porselin dan jenis polimer lain karena memiliki sifat tolak air yang
tinggi bahkan mampu memulihkan (recovery). Pembuatan bahan SIR dapat dilakukan
dengan vulkanisasi PDMS yaitu pematangsan(curing) untukmerubah molekul panjang agar
saling berkaitan melalui proses kondensasi. Selainitu, bahan utama yang digunakan ialah
Polydimethylesilocsan, Hydrogenperoxide,serta NaCl dan Kaolin sebagai bahan polutan.
Dalam proses pembentukan ini, tidak menggunakan bahan lain karena hanya fokus pada
kemampuan karakteristik elektrisnya dan sifat hidrofobiknya yang mampu menolak
air.Selainitu, jumlahabsorbsidankecepatan proses difusi air
kedalampolimertergantungbeberapakeadaan di dalampolimeritusendirimaupunkeadaan di
sekitar.
Alat dan bahan yang digunakan yaitu1 buah unit pembangkit tegangan tinggi AC
220V/100Kv, 1 oliskop digital, 1 multimeter , sela jarum dan pembagi tegangan resistor
Laboratorium Analisa Instrumen II - 10
Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dan 1 lemari uji yang terbuat dari kaca. Kemudian carauntuk kalibrasi alat ukur
konduktometer yaitudengan cara membersihkan pengukur konduktometer yang berbentuk
silinder dengan menggunakan destilasi, dengan cara menyemprotkan pada lubang yang
tersedia. Setelah itu, persiapkan thermometer dan atur suhu larutan dari larutan standard
solution HI7030. Kemudian memasukkan pengukur konduktivitas yang berbentuk silinder
kedalam larutan standar solution HI7030, sesuaikan suhu konduktometer dengan suhu
thermometer. Kemudian menekan tombol COND, untuk mendapatkan nilai konduktifitas
larutan. Lalu sesuaikan nilai konduktivitas dengan suhu dengan mencocokan pada tabel
standart solution. Apabila nilainya tidak sesuai, atur nilai konduktivitas dengan
mengunakan obeng kecil, dengan cara memutar lubang pada sisi kanan konduktometer.
Lalu, specimen dimasukkan ke lemari uji, lalu diapit diantara 2 buah elektroda batang,
pada elektroda ke 2 dipasang sela jarum dan rangkaian pembatas
arus.Pengujianarusbocordapatdilakukandengancaramenaikkanteganganpengujiansecaraperl
ahanpadakecepatan 1,5 Kv/detik.
Berdasarkan data pengukuran didapatkanbahwa semakin besar kandungan NaCl
maka semakin besar nilai ESDD, peningkatan ESDD berarti semakin kasar permukaan
spesimen yang , mengakibatkan sudut kontak semakin tinggi. Campuran antara kaolin
tetap dengan NaCl yang divariasikan semakin besar melibatkan kenaikan ESDD. Selain itu
jugasemakin besar nilai ESDD maka permukaan spesimen semakin kasar, sehingga
meningkatkan sudut kontak yang melibakan semakin tinggi kemampuanuntuk menolak air.
Kemampuan menolak air yang besar dapat mengakibatkan air tidakdapat membasahi
permukaan secara signifikan, akibatnya arus bocor tetap kecil ini dibandingkan dengan
hasil pengukuran.

Laboratorium Analisa Instrumen II - 11


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember