You are on page 1of 11

NAMA : DESY SETYONINGSIH

NIM : 145130100111023

KELAS: A
HAKIKAT MANUSIA

A. Beberapa Pandangan Manusia


1) Manusia itu adalah makhluk berpikir (homo sapiens), biasanya berpikirnya manusia itu
adalah kalau dihadapkan pada masalah-masalah terutama masalah yang menyangkut
kehidupan sehari-hari, dari masalah yang sederhana sampai kepada masalah yang rumit,
kemudian ia berpikir juga tentang gajala-gejala alam yang diamayinya, ai terundang
untuk menyelidiki, ia menyelidiki terus dan sampai menemikan jawaban.
2) Manusia juga adalah makhluk yang suka berbuat, suka menciptakan dan menghasilkan
sesuatu (homo faber), memiliki kreatifitas yang tinggi dan rajin bekerja. Dari dahulu
hingga sekarang setelah banyak yang dikerjakan dan dibuat manusia. Berburu, mengolah
tanah menjadi lahan pertanian, ada kayu yang dibuat peralatan, dan yang lain-lainya.
3) Manusia juga disebut dengan animal educandum, makhluk yang dapat didik, karena ia
mampu berkata-kata dan berbahasa, mampu berkomunikasi dan menerima pesan-pesan
mempunyai potensi untuk mengerti, memahami, mengingat dan berpikir.
4) Manusia adalah makhluk yang suka berkawan, butuh mempunyai teman sehingga
dikatakan manusia itu adalah suka berkelompok mengadakan hubungan social (zoon
politicon).

B. Sifat Hakikat Manusia


Sifat hakikat manusia menjadi bidang kajian filsafat, khususnya filsafat antropologi.
Hal ini menjadi keharusan oleh karena pendidikan bukanlah sekedar soal praktek melainkan
praktek yang berlandaskan dan bertujuan. Sedangkan landasan dan tujuan pendidikan itu
sendiri sifatnya filosofis formatif. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang
kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan universal tentang ciri
hakiki manusia. Bersifat normative karena pendidikan mempunyai tugas untuk
menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur,
dan hal itu menjadi keharusan. Uraian selanjutnya akan membahas pengertian sifat hakikat
manusia dan wujud sifat hakikat manusia. Gambaran yang jelas dan benar tentang manusia
itulah yang member arah tepat pendidik ke mana peserta didiknya harus dibawa.

1. Pengertian Sifat Hakikat Manusia


Sifat hakikat manusia diartikan sebagai cirri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil
(jadi bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Meskipun antara manusia
dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya.
Bentuknya(misalnya orang utan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan
menggunakan kedua kakinya, melahirkan dan menyusui anaknya, pemakan segala, dan
adanya persamaan metabolism dengan manusia. Bahkan beberapa filosof seperti Socrates
menamakan manusia itu Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller
menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) (Drijarkara, 1992:
138) yang selalu gelisah dan bermasalah.
2. Wujud Sifat hakikat Manusia
Wujud sifat hakikat manusia (yang tidak dimiliki hewan) yang dikemukakan oleh
paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep
pendidikan yaitu:
a) Kemampuan menyadari diri
Kaum rasionalis menunjuk kunci perbedaan manusia dengan hewan pada adanya
kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia. Berkat adanya kemampuan
menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya (akunya)
memiliki cirri khas atau karakteristik diri,. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan
dirinya dengan aku-aku yang lain (ia, mereka) den dengan non-aku (lingkungan fisik) di
sekitarnya. Bahkan bukan hanya membedakan, lebih dari itu manusia dapat membuat jarak
9distansi) dengan lingkungannya baik yang berupa pribadi maupun nonpribadi/benda. Orang
lain merupakan pribadi-pribadi disekitar, adapun pohon, batu, cuaca dan sebagainya
merupakan lingkungan nonpribadi.
b) Kemampuan bereksistensi
Dengan keluar dari dirinya, dan dengan membuat jarak antara aku dengan dirinya
sebagai objek, lalu melihat objek itu sebagai sesuatu, berarti manusia itu dapat menembus
atau menerobos dan mengatasi batas-batas membelenggu dirinya. Kemampuan menerobos ini
bukan saja dalam kaitannya dengan soal ruang, melainkan juga dengan waktu. Dengan
demikian manusia tidak terbelenggu oleh tempat atau ruang ini (disini) dan waktu ini
(sekarang), tapi dapat menembus ke sana dan ke masa depan ataupun masa lampau.
Kemampuan menempatkan diri dan menerobos inilah yang disebut kemampuan bereksistensi.
Justru karena manusia memiliki kemampuan bereksistensi inilah maka pada manusia terdapat
unsur kebebasan. Dengan kata lain, jika seandainya pada diri manusia tidak terdapat
kebebasan atau kemampuan bereksistensi, maka manusia itu tidak lebih dari hanya sekedar
esensi belaka, artinya ada hanya sekedar ber-ada dan tidak pernah meng-ada atau ber-
eksistensi.
c) Pemilikan kata hati
Kata hati atau conscience of man juga sering disebut dengan istilah hati nurani, lubuk
hati, suara hati, pelita hati dan sebagainya. Conscience ialah pengertian yang ikut serta atau
pengertian yang mengikuti perbuatan. Manusia memiliki pengertian yang menyertai
tentang apa yang akan, yang sedang, dan yang telah dibuatnya, bahkan mengerti juga
akibatnya (baik atau buruk) bagi manusia sebagai manusia.
d) Moral
Jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan, maka
yang dimaksud dengan moral (yang sering juga disebut etika) adalah perbuatan itu sendiri. Di
sini tampak bahwa masih ada jarak antara kata hati dengan moral. Artinya seseorang yang
telah memiliki kata hati yang tajam belum otomatis perbuatannya merupakan realisasi dari
kata hatinya itu. Untuk menjabatani jarak yang mengantarai keduanya masih ada aspek yang
diperlukan yaitu kemauan. Bukankah banyak orang yang memiliki kecerdasan akal tetapi
tidak cukup memiliki moral (keberanian berbuat).
e) Kemampuan bertanggungjawab
Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab,
merupakan pertanda dari sifat orang yang bertanggungjawab. Wujud bertanggungjawab
bermacam-macam. Ada tanggungjawab terhadap Tuhan. Tanggung jawab terhadap diri
sendiri berarti menanggung tuntutan kata hati, misalnya dalam bentuk penyesalan yang
mendalam. Bertanggung jawab kepada masyarakat berarti menanggung tuntutan norma-
norma social. Bentuk tuntutannya berupa sanksi-sanksi social seperti cemohan masyarakat,
hukuman penjara, dan lain-lain. Bertanggungjawab kepada Tuhan berarti menanggung
tuntutan norma-norma agama, misalnya perasaan berdosa, dan terkutuk.
f) Rasa kebebasan (Kemerdekaan)
Merdeka adalah rasa bebas (tidak merasa terikat oleh sesuatu), tetapi sesuai dengan
tuntutan kodrat manusia. Dalam pernyataan ini ada duaa hal yang kelihatannya saling
bertentangan yaitu rasa bebas dan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia yang berarti
ada ikatan.
g) Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang timbul sebagai manifestasi dari
manusia sebagai makhluk social. Yang satu ada hanya oleh karena adanya yang lain. Tak ada
hak tanpa kewajiban. Jika seseorang mempunyai hak untuk menuntut sesuatu maka tentu ada
pihak lain yang berkewajiban untuk memenuhi hak tersebut (yang pada saat itu belum
dipenuhi). Sebaliknya kewajiban ada oleh karena ada pihak lin yang harus dipenuhi haknya.
Pada dasarnya, hak itu adalah sesuatu yang masih kosong. Artinya meskipun hak tentang
sesuatu itu ada, belum tentu seseorang mengetahuinya (misalnya hak memperoleh
perlindungan hokum).
h) Kemampuan menghayati kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah suatu istilah yang lahir dari kehidupan manusia. Penghayatan
hidup hanya disebut kebahagiaan ini meskipun tidak mudah untuk dujabarkan tetapi tidak
sulit untuk dirasakan. Sebagian orang menganggap bahwa rasa senang hanya merupakan
aspek dari kebahagiaan, sebab kebahagiaan sifatnya lebih permanen dari pada perasaan
senang yang sifatnya lebih temporer.

C. Aspek manusia
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa nanusia itu terdiri dari dua aspek yang
esensial, yakni tubuh dan jiwa. Melihat peran dan fungsi dari kedua aspek yang saling
berhubungan maka dapat dipersoalkan mana yang lebih penting, tubuh atau jiwa? Timbullah
beberapa aliran, yaitu sebagai berikut:
Aliran Materialisme
Aliran materialism berpendapat bahwa yang penting adalah tubuh manusia. Jiwa
dalam tubuh merupakan masalah yang kurang penting karena jiwa hanya membonceng saja
dalam tubuh. Salah seorang tokohnya ialah Ludwig Feuerbach, yang berpendapat bahwa
dibalik manusia tidak ada makhluk lain yang misterius yang disebut jiwa, seperti tidak
adanya Tuhan dibalik ala mini. Selanjutnya ia berpendapat bahwa sesuatu itu disebut nyata
apabila dapat dirasakan oleh panca indera. Manusia merupakan makhluk jasmani yang
dinamis. Jiwa adalah gejala sampingan sebagai kesan subjektif yang timbul karena secara
pribadi menghayati eksistensi kita sendiri. Jiwa sesuatu yang abstrak, hanya tubuh yangf
merupakan sesuatu yang nyata dan benar, dan bersifat objektif. Filsafat yang dikemukakan
oleh Feuerbach tersebut secara filosifi bersifat materialis, secara religious bersifat ateis, dan
secara social- ekonomi bersifat sosialis- komunis. Filsafat tersebuut dalam abad XIX sangat
berpengaruh atas pemikiran Karl Marx dan Friederich Engels.
Aliran Spiritualisme
Aliran spritualisme berpendapat bahwa yang terpenting pada diri manusia adalah
jiwa(psyche). Tokohnya antara lain Plato, berpendapat bahwa jiwa lebih agung daripada
badan, jiwa telah ada di alam atas sebelum masuk ke dalam badan, jiwa itu terjatuh ke dalam
hidup duniawi, lalu terikat kepada badan dan lahirlah manusia yang fana. Dalam
kerukunannya, jiwa dan badan tidak berdiri berdiri berdampingan secara setingkat, melainkan
jiwa adalah sesuatu yang keadaannya bergerak sehingga mempunyai taraf realitas yang lain
jenis. Jiwa merupakan tawanan, dia terkurung dalam badan demi hawa nafsu yang
pembebasannya dapat dilakukan dengan menjauhkan diri dari segala kegiatan indrawi badan
dan mencari kebenarasn tidak melampaui penyerapan. Jiwa harus lepas dari
pembusukan(kontaminasi) badan demi kemurniannya sehingga badan merupakan rintangan
atau kontaminasi terhadap jiwa. Jiwa lebih asli daripada kenyataan duniawi dan mempunyai
pertalian dengan nilai- nilai yang abadi. Dunia yang indrawi merupakan bayangan dari dunia
itu sehingga tugas filsafat adalah melatih diri dalam menanggalkan hubungan yang mengikat
jiwa dam merupakan persiapan untuk mati. Paham dari Plato yang spiritual itu bersifat ethis-
religious.
Aliran Dualisme
Aliran dualism berpendapat bahwa tubuh dan jiwa sama pentingnya. Tokohnya antara
lain Rene Descartes, yang mengatakan bahwa jiwa adalah substansi yang berpikir, sedangkan
badan sebagai substansi yang berkeluasaan. Hubungan jiwa dan badan bukanlah sesuatu yang
ditambahkan, melainkan sesuatu yang hakiki sehingga tanpa salah satu unsure itu bukan
merupakan insane. Jiwa dan tubuh merupakan substansi yang tersendiri dan lengkap sebagai
insane. Pandangan dualism ini dapat dibedakan atas paralelisme dan monism. Dalam
paralelisme antara tubuh dan jiwa terdapat kesejajaran (paralel), keduanya sederajat. Adapun
dalam monism antara tubuh dan jiwa telah terjadi perpaduan sehingga menunggal. Manusia
disebut manusia dalam arti sebenarnya bila tubuh dan jiwa merupakan kesatuan yang tidak
terpisahkan.

1. Manusia Animal Rationale dan Animal Simbolicum


Dahulu manusia dianggap sebagai seekor hewan ditambah sesuatu yang ekstra (roh,
akal budi). Manusia didefenisikan Animal Rationale (Aristoteles), seeekor hewan yang
dilengkapi dengan akal budi. Gambaran itu kini sangat berubah. Di satu pihak manusia lebih
dekat pada hewan- hewan, dengan suatu cara yang diliputi kabut rahasia ia muncul dari alam
hewani dengan meninggalkan sifat- sifat seekor hewan. Dilain sudut, selaku makhluk hidup
sebagai subuah organism jasmaniah, ia berbeda dengan hewan- hewan.
Ernest Cassirer mengatakan bahwa biarpun reaksinya diperlambat, manusia tidak vital
memberikan reaksi terhadap dunia luar. Reaksi itu diperlambat karena diselingi suatu tahapan
peralihan, yaitu refleksi, namun penundaan itu mengandung suatu fungsi simbolis bagi
manusia. Manusia tidak pernah hidup ditengah- tengah suatu dunia yang fisis dan factual
semata- mata. Akan tatapi data- data yang diterma diolah lewat lambing- lambing, seperti
misalnya konsep- konsep bahasa, agama, ilmu, dan kesenian. Manusia merupakan animal
symbolicum, dunia manusia merupakan dunia yang ditafsirkan. Manusia dilukiskan
berdasarkan data- data biologis, melainkan perbuatan kebudayaannya. Manusia tidak menjadi
manusia Karena sebuah factor di dalamnya, seperti naluri atau akal budi melainkan fungsi
kehidupan yaitu pekerjaannya, dan kebudayaannya.

2. Manusia Mono Pluralis


Notonagoro dalam mengupas hakikat manusia dengan menggunakan metode abstraksi
metafisis, berpendapat bahwa manusia itu hakikatnya bisa dilihat dari tiga dimensi, yaitu
sebagai berikut
a. Dilihat dari susunan kodrat, manusia itu terdiri dari jiwa dan raga. Jiwa unsurnya ada
cipta, rasa dan karsa. Raga unsurnya ada zat benda mati, hewani dan tumbuh- tumbuhan.
b. Dilihat dari sifat kodrat , manusia itu terdiri dari sifat individu dan sifat social
c. Dilihat dari kedudukan kodrat, manusia adalah makhluk individu dan makhluk Tuhan.
(Surajiyo; 2005)

D. Eksistensi Manusia
Pendidikan merupakan kegiatan khas manusiawi. Hanya manusialah yang secara
sadar melakukan pendidikan untuk sesamanya. Pendidikan merupakan kegiatan antar
manusia, oleh manusia, dan untuk manusia.oleh karena itu, pembicaraan tentang pendidikan
tidak bermakna apa- apa tanpa membicarakan manusia. Menurut Alsyaibany, pembicaraan
tentang wujud manusia amat penting dalam konteks filsafat umum dan filsafat pendidikan.
Pembicaraan tentang manusia, siapa manusia, dari mana asal manusia, untuk apa manusia
hidup, dan bagaimana fungsi manusia dalam hidup ini, serta mau kemana manusia adalah
merupakan suatu pembahasan yang sangat mendasar dalam filsafat pendidikan.
Manusia sebagai Makhluk Individu
Manusia pada hakikatnya sebagai makhluk hidup yang unik., berbeda antara yang
satu dengan yang lainnya. Tidak ada manusia yang persis sama diciptakan Tuhan di jagat raya
ini, walaupun pada manusia kembar sekalipun. Secara fisik mungkin manusia akan memiliki
banyak persamaan, namun secara psikologis rohaniah akan banyak menunjukkan perbebaan.
Kesadaran manusia akan diri sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia.
Kesadaran diri sendiri yang dimulai dengan adanya kesadaran pribadi diantara segala yang
ada, merupakan pangkal segala kesadaran terhadap segala sesuatu. Inilah manusia inilah
manusia sadar akan eksistensi dirinya. Eksistensi diri mendcakup pengertian yang luar
termasuk percaya diri, harga diri, egoisme, martabat kepribadian, persamaan dan perbedaan
dengan pribadi lain, dan yang sangat mendasar bagi realisasi dan aktualisasi diri.
Manusia secara individu ingin memenuhi kebutuhan dan kehendaknya masing-
masing, ingin merealisasikan dan mengaktualisasikan dirinya. Dalam arti ia memiliki
kemampuan untuk mengembangkan potensi- potensi yang dimilikinya. Setiap individu akan
berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan jati dirinya yang berbeda dengan yang
lainnya. Tidak ada manusia yang betul- betul ingin menjadi orang lain, dia tetap ingin
menjadi dirinya sendiri, sehingga ia selalu sadar akan keindividualitasannya.
Menurut zantio Arbi dan Syahrun, setiap orang bertanggungjawab atas dirinya, atas
pikiran, perasaan, pilihan, dan perilakunya. Orang yang betul0 betul manusia adalah orang
yang bertanggung jawab penuh. Tidak ada orang lain yang dapat mengambil alih
tanggungjawab dalam hidupnya. Kata hatinya adalah kata hatinya sendiri.
Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Manusia lahir ke dunia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa- apa,
ia lahir dalam keadaan tidak berdaya. Namun bersamaan dengan itu, ia lahir memiliki potensi
kemanusiaan berupa kekuatan pendengan, kekuatan penglihatan, dan budi nurani. Potensi
kemanusiaan tersebut merupakan model dasar bagi manusia untuk berkembang menjadi
dirinya sendiri.
Dalam proses pengembangan potensi kemanusiaan yang dimilikinya, tidak akan
berlangsung secara alamiah dengan sendirinya, tetapi ia membutuhkan bimbingan dan
bantuan manusia lain diluar dirinya. Sejak mulai lahir anak manusia akan berinteraksi dengan
ibunya, dengan ayahnya, dengan saudara- saudaranya, dengan masyarakat disekelilingnya.
Anak hanya hanya akan menjadi manusia kalau ia hidup bersama- sama dengan manusia lain
diluar dirinya. Semua ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosiual. Anak
tumbuh dan berkembang dalam lingkungan manusia, dari dank e dalam masyarakat
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama tampak dalam kenyataan bahwa tidak
pernah ada manusia yang mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa manusia hidup dalam kondisi saling ketergantungan, saling
membutuhkan antar pribadi. Esensi manusia sebagai makhluk sosial ialah adanya kesadaran
manusia tentang status dan potensi dirinya dalam kehidupan bersama dan bagaimana
tanggungjawab serta kewajibannya di dalam kebersamaan tersebut.
Menurut Kilpatrick, bahwa untuk hidup dalam artian yang benar- benar manusiawi,
setiap orang harus hidup bersamaan dengan orang- orang lain. Dalam setiap kehidupan yang
berhasil, masing- masing dapat keuntungan dari apa yang diperolehnya dari orang lain. Setiap
kehidupan yang sepenuhnya manusiawi mencakup bagian yang esensial dari dirinya. Banyak
unsur yang harus datang dari orang- orang lain. Keakuan manusia betul- betul banyak
bertentangan pada kontribusi- kontribusi esensial dari orang- orang lain. Bagi
pertumbuhannya yang baik, manusia memerlukan hasil- hasil pengalaman manusia
sebelumnya.
Kehidupan sosial merupakan suatu realitas dimana individu tidak menonjolkan
identitasnya, melainkan berada dalam kebersamaan, dan yang tampak adalah identitas
sosialnya, dengan karakteristik keanekaragaman. Walaupun demikian, kehidupan individu
dalam antar hubungan sosial tidak harus kehilangan identitasnya, karena kehidupan sosial
merupakan suatu realitas yang sama, seperti kehidupan individu itu sendiri. Realitas
kebersamaan sosial tidak hanya terbentuk oleh individu- individu, bahkan sebaliknya apabila
hak- hak individu dalam kebersamaan sosial diperkosa, maka integritas sosial akan
terganggu.
Manusia Sebagai Makhluk Susila
Manusia yang lahir dilengkapi dengan kata hati atau hati nurani, yang memungkinkan
ia memiliki potensi untuk dapat membedakan perbuatan baik dan buruk, sehingga ia dapat
memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan itu. Manusia sebagai makhluk susila mampu
memikirkan dan menciptakan norma- norma untuk mengatur kehidupannya, baik kehoidupan
individunya maupun kehidupan sosialnya. Manusia merupakan makhluk yang mampu
memahami nilai- nilai susila, dan mampu mengambil keputusan susila serta sekaligus ia
memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya terhadap perbuatan susila dalam
perilakunya.
Manusia bukan hanya organisme yang hanya mengetahui melainkan juga suatu
organisme yang mampu menilai perbuatan susila. Ia dapat memberikanpenilaian terhadap
perbuatannya sendiri dan perbutan orang lain sesamanya. Manusia susila adalah manusia
yang memiliki, menghayati, dan melakukan nilai- nilai kemanusiaan. Manusia mampu
mengkritilisasi dan mengintegrasikan nilai- nilai yang tumbuh semarak dalam pengalaman
kehidupannya, menyatu dengan penghayatan nilai pribadinya, menjadi suatu pandanngan
hidup yang tersusun secara sistematis dalam suatu sistem nilai.
Pandangan manusia sebagai makhluk susila didasari oleh kepercayaan bahwa budi
nurani manusia memiliki potensi dasar nilai. Kedaran manusia akan nilai tidak dapat
dipisahkan dengan realitas sosial, karena berfungsinya nilai- nilai atau efektifnya nilai- nilai
hanya berada dalam kehidupan sosial. Jadi, kesusilaan atau moralitas merupakan fungsi
sosial, sehingga setiap hubungan sosial, mengandung fungsi susila atau hubungan moral.
Noor Syam mengemukakan bahwa: tiada hubungan sosial tanpa hubungan susila dan
hubungan susila tanpa hubungan sosial.
Manusia Sebagai Makhluk Ber-Tuhan
Manusia merupakan makhluk yang memiliki potensi dan mampu mengadakan
komunikasi dengan Tuhan sebaggai pencipta alam semesta. Manusia adalah makhluk yang
sadar akan dirinya sendiri, sadar akan fungsi nilai susila dalam kehidupan pribadi maupun
kehidupan sosial, sadar akan fungsi nilai susila dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan
sosial. Labih meningkat lagi manusia adalah makhluk yang sadar akan adanya suatu kekuatan
yang berada diluar dirinya, yang menguasai jagat raya ini, yang mengatur kehidupan jagat
raya ini, Tuhan Yang Mahakuasa.
Dengan sadar akan adanya Tuhan dalam hidupnya, manusia akan selalu
mempertimbangkan segala bentuk hubungan vertikal dengan-Nya. Manusia sadar bahwa
Tuhan yang menganugerahkan ajaran- ajaran-Nya kepada umat manusia untuk dijadikan
pedoman dalam memperoleh keselamatan hidup manusia itu sendiri, sehingga lengkaplah
manusia. Selain menyadari pula akan adanya nilai- nilai susila vertikel yang bersumber dari
Tuhan tersebut. Nilai- nilai vertikel yang bersumber dari Tuhan dimanifestasikan dalam
aturan- aturan atau ajaran- ajaran agama.

E. Pengembangan Dimensi- Dimensi Manusia Dalam Proses Pendidikan


Pengembangan Manusia sebagai Makhluk Individu
Anak memiliki potensi untuk berkembang yang ingin menjadi seorang pribadi, ingin
menjadi pribadinya sendiri. Anak dalam perkembangannya akan memperoleh pengaruh dari
luar, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, tetapi anak mengambil jarak terhadap
pengaruh- pengaruh tersebut. Dia akan memilihnya sendiri. Pengaruh tersebut akan dia olah
secara pribadi, sehingga apa yang ia terima akan merupakan bagian dari dirinya sendiri.
Inilah yang disebut internalisasi diri, sehingga akan menjadi seorang individu yang unik,
yang berbeda dan tidak sama dengan yang lainnya. Implikasi bagi pendidik berkaitan dengan
pandangan diatas, pendidik harus sadar bahwa ia bukan satu- satunya manusia yang berhak
untuk mendidik anak tersebut. Pendidik tidak boleh memaksa anak untuk mengikuti atau
menuruti segala kehendaknya, karena dalam diri anak ada suatu prinsip pembentukan dan
pengembangan yang ditentukan oleh dirinya sendiri. Pendidikan hendaknya menghormati
keindividualitasan anak, karakteristik individu anak, kepribadian anak, keunikan, dan
martabatnya.
Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial tentu memerlukan pendidikan, karena pendidikan
pada hakikatnnya berlangsung dalam suatu interaksi antar dua manusia atau lebih. Salah satu
fungsi pendidikan adalah membantu perkembangan sosial anak, agar ia dapat menyesuaikan
diri, serta mampu berperan sebagai anggota masyarakat yang konstruktif dan kreatif. Sebagai
makhluk sosial, manusia dapat dipengaruhi oleh manusia lainnya. Selain memerlukan dan
harus memperoleh pendidikan, manusia juga merupakan makhluk yang dapat menerima
pendidikan karena ia dapat dipengaruhi oleh orang lain.
Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Susila
Pendidikan akan mencakup pengajaran dan pelaksanaan nilai- nilai. Isi atau materi
pendidikan adalah tindakan yang akan membawa peserta didik mengalami dan menghayati
nilai- nilai kemanusiaan, menghargai, dan meyakini, sehingga peserta didik membangun
nilai- nilai kemanusiaan tersebut ke dalam kepribadiannya. Pendidikan merupakan upaya
membantu dan membimbing peserta didik dalam mengembangkan dan memperkuat hati
nuraninya, sehingga bagaimanapun pendidikan merupakan suatu peristiwa normatif.
Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Ber-Tuhan
Nilai- nillai yang bersumber dari Tuhan yang dimanifestasikan dalam ajaran agama,
harus memayungi segala bentuk kehidupan manusia sebagai individu maupun sosial,
termasuk di dalamnya pendidikan itu sendiri. Nilai- nilai agama bukan hanya sekedar
dipelajari, namun lebih jauh harus dihayati, dan pada akhirnya diinternalisasikan menjadi
milik pribadinya, sehingga manusia dalam segala perbutannya tidak akan terlepas dari nilai-
nilai agama yang bersumber dari Tuhan yang sangat agung dan mulia.(Uyoh Sadulloh;2010)

DAFTAR PUSTAKA
Sadulloh, Uyoh. 2010. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung. Alfabeta
Soetriono dan Hanafie, Rita.2007. Filsafat Umum dan metodologi penelitian. Yogyakarta:
Andi
Surajiyo. 2005.Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara
Tim Pengajar Filsafat Pendidikan. 2011. Diktat Filsafat Pendidikan. Medan: Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Medan