You are on page 1of 7

PENGARUH KONDISI PSIKOLOGIS IBU TERHADAP JANIN

Para pakar telah mengungkap secara hati-hati kenyataan apakah kondisi psikologi ibu
dapat memengaruhi embrio dalam kandungannya. Beberapa pakar berkata bahwa bila seorang
ibu dalam kondisi ketakutan dan gelisah, janin akan terpengaruh dan besar kemungkinan kelak
tumbuh menjadi anak yang minder. Sementara itu, kecenderungan cemburu dan watak dengki
ibu juga akan mengimbas pada anak. Sebaliknya, bila sang ibu memiliki watak baik,
berperikemanusiaan, jujur, berani, dan penuh kasih sayang, maka itu juga akan berpengaruh pada
anaknya.

Para pakar tersebut juga berpendapat bahwa anak dalam kandungan pada dasarnya merupakan
bagian dari diri sang ibu. Oleh karena itu, ia akan terpengaruh oleh pikiran dan kondisi
psikologis ibunya. Namun, beberapa pakar genetika dan psikologi anak menolak teori ini.
Mereka merasa bahwa pikiran dan kondisi psikologi ibu tak akan mempengaruhi pikiran anak
secara permanen.

Dr. Jalali menulis:

Tak ada hubungan langsung antara ibu dan janin, selain melalui tali pusar yang tak memiliki
rasa (atau indra); dan tali pusaryang tertutup itumemiliki urat syaraf yang membawa darah.
Oleh karena itu, pendapat awal yang menyatakan bahwa kondisi kejiwaan ibu berpengaruh pada
pikiran anak boleh jadi tidak benar.[52]

Namun demikian, tidak benar bila dikatakan bahwa pikiran ibu sama sekali tak
berpengaruh langsung pada anak. Pandangan ini terilustrasikan pada argumen-argumen berikut.

1. Pikiran dan jiwa manusia saling terhubung satu sama lain. Kondisi sakit atau sehat,
kekuatan syaraf dan daya tahan fisik atau kelemahan, dan bahkan munculnya atau kurangnya
nafsu makan akan berpengaruh pada pikiran dan kepribadian seseorang. Kepribadian individu
dan wataknya akan berpengaruh pada perkembangan otaknya. Karenanya, bisa saja kekurangan
pada makanan atau tiadanya makanan akan meningkatkan kegelisahan dan pikiran buruk dalam
otak.

2. Embrio memerlukan makan, yang masuk dan menjangkaunya dalam rahim ibu. Selama
janin berada dalam rahim, ia bergantung pada ibunya untuk makan. Oleh karena itu, kebiasaan-
makan ibu berpengaruh langsung pada perkembangan fisik dan mental anak. Dr. Jalali menulis,
Apa yang bermanfaat bagi ibu pasti juga bermanfaat bagi janin. Bila makanan ibu kekurangan
kalsium, maka hal itu akan berpengaruh pada perkembangan tulang dan gigi anak.[53]

3. Sebagaimana diketahui, gangguan dan kegelisahan berlebihan pada seseorang akan


menyebabkan ketidaksanggupan dalam mencerna, sembelit, dan memengaruhi tubuhnya.
Sedangkan kesedihan atau ketakutan berlebihan akan menurunkan nafsu makan seseorang dan
sistem pencernaannya akan terganggu. Kelenjar pencernaan juga tidak akan berfungsi normal.
Dari ketiga keterangan di atas dapat dikatakan bahwa meskipun kondisi pikiran dan batin ibu
tidak secara langsung berpindah ke otak dan syaraf anak, namun kondisi itu dapat memengaruhi
fungsi pencernaan ibu yang akhirnya berpengaruh pada pembentukan fisik dan batin anak.

Perasaan ibu yang sedang marah atau gelisah akan mempengaruhi karakternya secara umum dan
mengganggu sistem pencernaannya. Kondisi ini akan merusak tubuh sang ibu termasuk pula
janinnya. Mungkin saja anak dalam kandungan ibu semacam itu akan terjangkit penyakit
tersebut, yang akan muncul dengan sendirinya pada tahap berikutnya.

Dr. Jalali menulis:

Kegelisahan berlebihan yang dialami ibu hamil dan kejadian tak menyenangkan di
lingkungannya akan berbahaya bagi perkembangan dan watak anak. Kondisi-kondisi semacam
itu akan menciptakan masalah dan menumbuhkan kelenjar-kelenjar yang tak diinginkan. Akibat
lainnya, sistem pencernaan tak mampu berfungsi normal. Mungkin inilah alasan mengapa
beberapa anak mengidap kegelisahan. Kondisi ini boleh jadi pula menjadi penyebab
keguguran.[54]

Seorang wanita hamil yang merasa nyaman secara fisik dan mental akan memperoleh janin yang
sehat. Lingkungan damai seperti itu tentulah ideal bagi perkembangan sempurna anak dalam
rahim ibu. Sebaliknya, janin dari seorang ibu yang pencemburu, dengki, mudah tersinggung,
penakut, dan bermental buruk tidak akan terasuh dengan baik dan dapat terjangkiti penyakit pada
pikiran dan tubuhnya. Sekaitan dengan ini, perlu disimak penjelasan berikut:

Para pakar psikologi telah membuktikan bahwa 26 persen dari penyakit psikologis anak
merupakan warisan dari kondisi ibu mereka. Oleh karena itu, bila sang ibu dalam kondisi sehat
walafiat, maka anaknya pun akan memiliki kondisi fisik yang baik. Bila seorang ibu peduli
terhadap kesehatan anaknya, maka hendaknya ia memperhatikan kondisi fisik dan mentalnya
sendiri selama masa kehamilan. Dan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak selalu
nyata.

[52] Rowan Shinashi Kudak, hal.188.


[53] ibid., hal.188.
[54] ibid., hal.222.

http://www.ibrahimamini.com/id/node/1979
Pengaruh Stres Ibu Hamil Terhadap Perkembangan Otak Janin 12 Maret 2014 03:02:52
Diperbarui: 24 Juni 2015 01:02:50 Dibaca : 25,897 Komentar : 4 Nilai : 0 Stres bagi ibu hamil
akan memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
kandungannya. Lebih-lebih perkembangan otak janin. Oleh karena itu, bagi setiap ibu yang
sedang mengandung sangat penting menjaga kesehatan kehamilannya, baik kesehatan fisik
maupun kesehatan mental. Stress adalah merupakan suatu kondisi ketegangan yang
mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi diri seseorang. Kondisi psikologis ibu hamil
memang lebih labil dibandingkan pada keadaan sebelum hamil. Wanita yang sedang hamil
cenderung sekali emosi yang berkelanjutan karena kondisi kehamilan mereka, hormon, dan
kondisi kehidupan mereka ketika menjalani masa kehamilannya selama 9 bulan tersebut. Banyak
hal yang dirasakan ibu hamil, misalnya kehamilan dapat membuat seorang ibu akan merasa
bersemangat, gembira, tertekan, khawatir, cemas, marah, bangga, ceria. Berikut beberapa hal
yang bisa diakibatkan stres ibu hamil terhadap janinnya yaitu : 1. Meningkatkan risiko bayi
mengalami alergi kelak. 2. Meningkatkan resiko keguguran. 3. Sistem kekebalan tubuh bayi akan
berkurang. Hal ini didukung dengan pendapat Dr. Rosalind Wright dari Harvard Medical School
di Boston, beliau mengemukakan bahwa stres pada ibu, baik karena masalah finansial atau
hubungan dapat berpengaruh pada pembangunan sistem kekebalan anak. Anak yang ibunya
mengalami stres selama hamil, akan mudah terkena alergi dan asma. Banyakjuga kasus
persalinan prematur dan bayi dengan berat badan kurang, disebabkan oleh tingkat stres tinggi
yang dialami ibunya. Stres juga bisa memicu gangguan otak janin, sebab saat stres tubuh ibu
mengeluarkan hormon kortisol yang bila terlalu banyak diproduksi akan sulit dikendalikan
tubuh, bisa menembus plasenta dan mengganggu perkembangan otak janin. Oleh karena itu, bagi
ibu hamil disarankan dapat mengelola suasana hatinya agar tidak berkembang menjadi stres.
Beberapa gejala fisik yang menunjukkan ibu hamil stres adalah meningkatnya detak jantung,
pernapasan, tekanan darah, kelelahan, sakit kepala, otot tegang di bagian leher, pundak dan
punggung atas, gangguan tidur, tidak selera makan, kaki dingin dan tangan berkeringat.
Sementara gejala emosional yang tampak dari luar; ibu marah, khawatir, ketakutan, merasa tidak
aman, mudah menangis dan tidak bisa mengatasi masalah.Keluarga dan orang terdekatlah yang
dapat memberikan dukungan pada kondisi seperti ini. Berikut gambar perkembangan janin dan
otak janin: Perkembangan Janin Perkembangan Otak

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/nengila/pengaruh-stres-ibu-hamil-terhadap-
perkembangan-otak-janin_54f8280ca33311845e8b467d
Pengaruh Kondisi Psikologis Ibu pada Perkembangan Janin
April 20, 2013 by bisniscantiknankemilau
Kondisi psikologis tak hanya membuat mood menjadi jelek. Kesehatan tubuh secara total pun
bisa terpengaruh. Ya, Anda bisa menjadi kurang fit, tidak sehat, dan bahkan sakit jika kondisi
psikologis Anda terganggu. Bahkan penyakit kanker, salah satu pemicunya bisa diakibatkan oleh
stres alias kondisi psikologis yang terganggu berat.

Hal di atas bisa terjadi pada orang yang normal. Lalu, bagaimanakah pengaruh kondisi
psikologis ibu pada perkembangan janin?

Para ahli yang concern dengan perkembangan janin bayi selama masa kehamilan di dalam rahim
ibunya melakukan berbagai macam penelitian. Di awal penelitian, mereka berhipotesis
(menduga) bahwa pengaruh kondisi psikologis ibu pada perkembangan janin itu saling
berhubungan. Di sini, kondisi psikologis yang baik (positive thinking) selama masa kehamilan
bisa membentuk bayi dengan fisik yang sempurna dan juga mental yang sehat.

Dr Thomas Verny di dalam Buku yang diterbitkan Association for Prenatal and Perinatal
Psychology and Health (APPPAH) dan juga Journal of Prenatal and Perinatal Psychology and
Health mengatakan bahwa pikiran wanita hamil itu berhubungan erat dengan bayi yang
dikandungnya. Menurutnya, segala hal yang dirasakan dan dipikirkan ibu hamil itu
dikomunikasikan kepada bayinya melalui neurohormon (hormon saraf), seperti halnya nikotin
dan alkohol atau obat-obatan yang dikonsumsi ibu hamil.

Tak hanya menurut Dr. Verny saja, di dalam jurnal ensiklopedia


kesehatan disebutkan bahwa emosi, mental, dan juga kondisi fisik ibu hamil itu dipengaruhi
hormon dan molekul-molekul yang sangat tergantung dengan emosi. Ada pun emosi pada ibu
hamil sendiri, menurut Deepak Chopra, M.D, terbentuk dari bagaimana dia memandang
kehamilannya, perencanaan kehamilannya, pernikahannya, pekerjaannya, kesehatannya, bahkan
hingga lingkungan di sekitarnya. Masih menurut dia, pikiran ibu hamil adalah penentu dari
emosinya. Dan emosi menjadi penentu bagi neurohormon. Persis seperti ucapan yang dikatakan
Dr.Verny.

Dr. Deepak Chopra menjelaskan penelitiannya. Ketika seorang ibu hamil merasa takut, stres, dan
khawatir, hormon-hormon stres yang ada di dalam tubuhnya akan ke luar dan masuk ke seluruh
pembuluh darah. Termasuk pembuluh darah yang menghubungkannya ke tubuh bayi yang
sedang dikandungnya melalui plasenta. Dan ini jelas membuat darah di dalam tubuh bayi pun
menjadi tinggi kadar hormon stresnya.
Hormon stres yang tinggi di dalam darah bayi yang ada di dalam rahim bisa mengaktivasi sistem
endokrin. Dan sistem endokrin berpengaruh kuat terhadap perkembangan otak bayi yang ada di
dalam rahim tersebut. Dari penelitian yang dilakukan terhadap bayi yang lahir tidak sesuai yang
diharapkan (seperti prematur, kurang berat badannya, hperaktif, mudah teriritasi, hingga mudah
sakit) didapatkan hasil bahwa selama kehamilan ibu mereka mengalami kondisi psikologis yang
tidak baik/stres. Sebaliknya, bayi-bayi yang sehat dan pintar adalah bayi-bayi yang dilahirkan
dari ibu-ibu yang selama masa kehamilannya dipenuhi dengan hal-hal positif. Seperti bahagia,
keadaan lingkungan yang mendukung, tenang, nyaman, dan jauh dari stres.

Nah, seperti itulah gambaran yang dihasilkan dari penelitian mengenai pengaruh kondisi
psikologis ibu pada perkembangan janin. Untuk itulah, jika Anda sedang hamil jauhkan diri
Anda dari stres. Pastikan kondisi psikologis Anda selalu dalam keadaan yang positif. Semoga
bermanfaat.

http://artikelduniawanita.com/pengaruh-kondisi-psikologis-ibu-pada-perkembangan-
janin.html
11. PENGARUH KONDISI PSIKOLOGIS IBU TERHADAP JANIN

Para pakar telah mengungkap secara hati-hati kenyataan apakah kondisi psikologi ibu dapat
memengaruhi embrio dalam kandungannya. Beberapa pakar berkata bahwa bila seorang ibu
dalam kondisi ketakutan dan gelisah, janin akan terpengaruh dan besar kemungkinan kelak
tumbuh menjadi anak yang minder.

Sementara itu, kecenderungan cemburu dan watak dengki ibu juga akan mengimbas pada anak.
Sebaliknya, bila sang ibu memiliki watak baik, berperikemanusiaan, jujur, berani, dan penuh
kasih sayang, maka itu juga akan berpengaruh pada anaknya.

Para pakar tersebut juga berpendapat bahwa anak dalam kandungan pada dasarnya merupakan
bagian dari diri sang ibu. Oleh karena itu, ia akan terpengaruh oleh pikiran dan kondisi
psikologis ibunya. Namun, beberapa pakar genetika dan psikologi anak menolak teori ini.
Mereka merasa bahwa pikiran dan kondisi psikologi ibu tak akan mempengaruhi pikiran anak
secara permanen.

Dr. Jalali menulis:

"Tak ada hubungan langsung antara ibu dan janin, selain melalui tali pusar yang tak memiliki
rasa (atau indra); dan tali pusar-yang tertutup itu-memiliki urat syaraf yang membawa darah.
Oleh karena itu, pendapat awal yang menyatakan bahwa kondisi kejiwaan ibu berpengaruh pada
pikiran anak boleh jadi tidak benar."[24]

Namun demikian, tidak benar bila dikatakan bahwa pikiran ibu sama sekali tak
berpengaruh langsung pada anak. Pandangan ini terilustrasikan pada argumen-argumen
berikut:

1. Pikiran dan jiwa manusia saling terhubung satu sama lain. Kondisi sakit atau sehat, kekuatan
syaraf dan daya tahan fisik atau kelemahan, dan bahkan munculnya atau kurangnya nafsu makan
akan berpengaruh pada pikiran dan kepribadian seseorang. Kepribadian individu dan wataknya
akan berpengaruh pada perkembangan otaknya. Karenanya, bisa saja kekurangan pada makanan
atau tiadanya makanan akan meningkatkan kegelisahan dan pikiran buruk dalam otak.

2. Embrio memerlukan makan, yang masuk dan menjangkaunya dalam rahim ibu. Selama janin
berada dalam rahim, ia bergantung pada ibunya untuk makan. Oleh karena itu, kebiasaan-makan
ibu berpengaruh langsung pada perkembangan fisik dan mental anak. Dr. Jalali menulis, "Apa
yang bermanfaat bagi ibu pasti juga bermanfaat bagi janin. Bila makanan ibu kekurangan
kalsium, maka hal itu akan berpengaruh pada perkembangan tulang dan gigi anak."[25]

3. Sebagaimana diketahui, gangguan dan kegelisahan berlebihan pada seseorang akan


menyebabkan ketidaksanggupan dalam mencerna, sembelit, dan memengaruhi tubuhnya.
Sedangkan kesedihan atau ketakutan berlebihan akan menurunkan nafsu makan seseorang dan
sistem pencernaannya akan terganggu. Kelenjar pencernaan juga tidak akan berfungsi normal.
Dari ketiga keterangan di atas dapat dikatakan bahwa meskipun kondisi pikiran dan batin ibu
tidak secara langsung berpindah ke otak dan syaraf anak, namun kondisi itu dapat memengaruhi
fungsi pencernaan ibu yang akhirnya berpengaruh pada pembentukan fisik dan batin anak.

Perasaan ibu yang sedang marah atau gelisah akan mempengaruhi karakternya secara umum dan
mengganggu sistem pencernaannya. Kondisi ini akan merusak tubuh sang ibu termasuk pula
janinnya. Mungkin saja anak dalam kandungan ibu semacam itu akan terjangkit penyakit
tersebut, yang akan muncul dengan sendirinya pada tahap berikutnya.

Dr. Jalali menulis:

"Kegelisahan berlebihan yang dialami ibu hamil dan kejadian tak menyenangkan di
lingkungannya akan berbahaya bagi perkembangan dan watak anak. Kondisi-kondisi semacam
itu akan menciptakan masalah dan menumbuhkan kelenjar-kelenjar yang tak diinginkan. Akibat
lainnya, sistem pencernaan tak mampu berfungsi normal. Mungkin inilah alasan mengapa
beberapa anak mengidap kegelisahan. Kondisi ini boleh jadi pula menjadi penyebab
keguguran."[26]

Seorang wanita hamil yang merasa nyaman secara fisik dan mental akan memperoleh janin yang
sehat. Lingkungan damai seperti itu tentulah ideal bagi perkembangan sempurna anak dalam
rahim ibu. Sebaliknya, janin dari seorang ibu yang pencemburu, dengki, mudah tersinggung,
penakut, dan bermental buruk tidak akan terasuh dengan baik dan dapat terjangkiti penyakit pada
pikiran dan tubuhnya. Sekaitan dengan ini, perlu disimak penjelasan berikut:

"Para pakar psikologi telah membuktikan bahwa 26 persen dari penyakit psikologis anak
merupakan warisan dari kondisi ibu mereka. Oleh karena itu, bila sang ibu dalam kondisi sehat
walafiat, maka anaknya pun akan memiliki kondisi fisik yang baik. Bila seorang ibu peduli
terhadap kesehatan anaknya, maka hendaknya ia memperhatikan kondisi fisik dan mentalnya
sendiri selama masa kehamilan. Dan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak selalu
nyata."

http://www.alhassanain.com/indonesian/book/book/family_and_community_library/fa
mily_and_child/anakmu_amanatnya/009.html