You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ELIMINASI URINE

Oleh :

Nia Hidayati.R
201510461011005

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016
A. ELIMINASI URIN
1. Defenisi Eliminasi Urin
Eliminasi urin normalnya adalah pengeluaran cairan sebagai hasil
filtrasi dari plasma darah di glomerulus. Dari 180 liter darah yang
masuk ke ginjal untuk difiltrasi, hanya 1-2 liter saja yang dapat
berupa urin. Sebagian besar hasil filtrasi akan diserap kembali di
tubulus ginjal untuk dimanfaatkan oleh tubuh (Tarwoto & Wartonah,
2010).
2. Organ Tubuh yang Berperan Dalam Eliminasi Urin
a. Ginjal
Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang
buncis, berwarna coklat agak kemerahan, yang terdapat di
kedua sisi kolumna vertebral posterior terhadap peritoneum dan
terletak pada otot punggung bagian dalam. Ginjal terbentang
dari vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan terletak lebih rendah
dari ginjal kiri karena posisi hati yang berada diatasnya (Potter &
Perry, 2005).
Ginjal menyaring zat sisa metabolisme yang terkumpul dalam
darah. Darah mencapai ginjal melalui arteri renalis yang
merupakan cabang aorta abdominalis. Sekitar 20% sampai 25%
curah jantung bersirkulasi setiap hari melalui ginjal. Setiap
ginjal berisi 1 juta nefron. Nefron, yang merupakan unit
fungsional ginjal, membentuk urin (Potter & Perry, 2010).

Darah masuk
ke nefron
melalui arteriola
aferen.
Sekelompok pembuluh darah ini membentuk jaringan kapiler
glomerulus, yang merupakan tempat pertama filtrasi darah dan
tempat awal pembentukan urin. Tidak semua filtrat glomerulus
akan dibuang sebagai urin. Sekitar 90% filtrat diabsorpsi kembali
kedalam plasma, dan 1% sisanya dieksresikan sebagai urin
(Potter & Perry, 2005).
b. Ureter
Ureter meninggalkan tubulus dan memasuki duktus
pengumpul yang akan mentranspor urin ke pelvis renalis.
Sebuah ureter bergabung dengan setiap pelvis renalis sebagai
rute keluar pertama pembuangan urin. Ureter merupakan
struktur tubular yang memiliki panjang 25-30 cm dan
berdiameter 1,25 cm pada orang dewasa. Ureter membentang
pada posisi retroperitoneum untuk memasuki kandung kemih di
dalam rongga panggul (pelvis) pada sambungan
ureterovesikalis. Urin keluar dari ureter ke kandung kemih
umumnya steril (Potter & Perry, 2005).
Gerakan peristaltik menyebabkan urin masuk ke dalam
kandung kemih dalam bentuk semburan, bukan dalam bentuk
aliran yang tetap. Ureter masuk ke dalam dinding posterior
kandung kemih dengan posisi miring. Pengaturan ini dalam
kondisi normal mencegah refluks urin dari kandung kemih ke
dalam ureter selama mikturisi (proses berkemih) dengan
menekan ureter pada sambungan ureterovesikalis (sambungan
ureter dengan kandung kemih) (Potter & Perry, 2005).
c. Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan suatu organ cekung yang dapat
berdistensi, tersusun atas jaringan otot serta merupakan wadah
tempat urin dan merupakan organ eksresi. Apabila kosong,
kandung kemih berada di dalam rongga panggul di belakang
simfisis pubis (Potter & Perry, 2005). Bentuk kandung kemih
berubah saat ia terisi dengan urin. Tekanan di dalam kandung
kemih biasanya rendah walaupun sedang terisi sebagian,
sehingga hal ini melindungi dari bahaya infeksi (Potter & Perry,
2005).
Dalam keadaan penuh, kandung kemih membesar dan
membentang sampai ke atas simfisis pubis. Kandung kemih
yang mengalami distensi maksimal dapat mencapai umbilikus.
Pada waktu hamil, janin mendorong kandung kemih sehingga
menimbulkan perasaan penuh dan mengurangi daya tampung
kandung kemih. Hal ini dapat terjadi baik pada trimester
pertama maupun trimester ketiga (Potter & Perry, 2005).
d. Uretra
Urin keluar dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari
tubuh melalui meatus uretra. Dalam kondisi normal, aliran urin
yang mengalami turbulansi membuat urin bebas dari bakteri.
Membran mukosa melapisi uretra, dan kelenjar uretra
mensekresi lendir ke dalam saluran uretra. Lendir dianggap
bersifat bakteriostatis dan membentuk plak mukosa untuk
mencegah masuknya bakteri. Lapisan otot polos yang tebal
mengelilingi uretra (Potter & Perry, 2005).
Uretra pada wanita memiliki panjang sekitar 4-6,5 cm.
Sfingter uretra eksterna yang terletak di sekitar setengah bagian
bawah uretra, memungkinkan aliran volunter urin. Panjang
uretra yang pendek pada wanita menjadi faktor predisposisi
untuk mengalami infeksi. Bakteri dapat dengan mudah masuk ke
dalam uretra dari daerah perineum. Pada wanita meatus uretra
urinarius (lubang) terletak di antara labia minora, diatas vagina
dan dibawah klitoris (Potter & Perry, 2005).

3. Miksi (Berkemih)
Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung
kemih terisi. Proses ini terdiri dari dua langkah utama:
1. Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di
dindingnya meningkat di atas nilai ambang batas.
2. Timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih)
yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini
gagal, setidak tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan
untuk berkemih.
4. Anatomi Fisiologi Dan Hubungan Saraf Pada Kandung Kemih

Kandung kemih adalah ruangan berdinding otot polos yang


terdiri dari dua bagian besar; (1) badan (korpus), merupakan bagian
utama kandung kemih dimana urin terkumpul, dan (2) leher
(kollum), merupakan lanjutan dari badan yang berbentuk corong,
berjalan secara inferior dan anterior ke dalam daerah segitiga
urogenital dan berhubungan dengan uretra. Bagian yang lebih
rendah dari leher kandung kemih disebut uretra posterior karena
hubungannya dengan uretra.
Otot polos kandung kemih disebut otot destrusor. Serat-serat
ototnya meluas ke segala arah dan bila berkontraksi dapat
meningkatkan tekanan dalam kandung kemih. Dengan demikian,
kontraksi otot detrusor adalah langkah terpenting untuk
mengosongkan kandung kemih. Sel-sel otot polos dari otot
destrusor terangkai satu sama lain sehingga timbul aliran listrik
berhambatan rendah dari satu sel otot ke sel otot lain. Oleh karena
itu, potensial aksi dapat menyebar ke seluruh otot destrusor, dari
satu sel otot ke sel otot berikutnya sehingga terjadi kontraksi
seluruh kandung kemih dengan segera. Pada dinding posterior
kandung kemih, tepat di atas bagian leher dari kandung kemih
terdapat daerah segitiga kecil yang disebut trigonum. Bagian
terendah dari apeks trigonum adalah bagian kandung kemih yang
membuka menuju leher masuk kedalam uretra posterior, dan kedua
ureter memasuki kandung kemih dengan sudut tertinggi di
trigonum. Trigonum dapat dikenali dengan melihat mukosanya
(lapisan dalam dari kandung kemih) yang berlipa-lipat membentuk
rugae. Masing-masing ureter pada saat memasuki kandung kemih,
melewati 1-2 cm di bawah mukosa kandung kemih berjalan secara
oblik melalui otot destrusor sebelum mengosongkan diri ke dalam
kandung kemih.
Leher kandung kemih (uretra posterior) panjangnya 2-3 cm, dan
dindingnya terdiri dari otot destrusor yang bersilangan dengan
sejumlah besar jaringan elastik. Otot pada daerah ini disebut
sfingter internal. Sifat tonusnya secara normal mempertahankan
leher kandung kemih dan uretra posterior agar kosong dari urin
dan, oleh karena itu, mencegah pengosongan kandung kemih
sampai tekanan pada daerah utama kandung kemih meningkat
diambang kritis. Setelah uretra posterior, uretra berjalan melewati
diafragma urogenital, yang mengandung lapisan otot yang disebut
sfingter eksterna kandung kemih. Otot ini merupakan otot lurik
yang berbeda dengan otot pada badan dan leher kandung kemih,
yang hanya terdiri dari otot polos. Otot sfingter eksterna bekerja
dibawah sistem saraf volunter dan dapat digunakan secara sadar
untuk menahan miksi bahkan bila kendali involunter berusaha
untuk mengosongkan kandung kemih.

5. Persyarafan Kandung Kemih


Persyarafan
utama kandung
kemih ialah
nervus pelvikus,
yang
berhubungan
dengan medula
spinalis melalui
pleksus sakralis,
terutama
berhubungan
dengan medula
spinalis segmen
S-2 dan S-3. Berjalan melalui nervus pelvikus ini adalah serat saraf
sensorik dan saraf motorik. Serat sensorik mendeteksi derajat
regangan pada dinding kandung kemih. Tanda-tanda regangan dari
uretra posterior sangat kuat dan terutama bertanggung jawab
untuk mencetuskan refleks yang menyebabkan pengosongan
kandung kemih.
Saraf motorik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah serat
parasimpatis. Serat ini berakhir pada sel gangglion yang terletak
dalam dinding kandung kemih. Saraf post ganglion pendek
kemudian mempersarafi otot detrusor. Selain nervus pelvikus,
terdapat dua tipe persarafan lain yang penting untuk fungsi
kandung kemih yang terpenting adalah serat otot lurik yang
berjalan melalui nervus pupendal menuju sfingter eksternus
kandung kemih. Ini adalah serat saraf somatik yang mempersarafi
dan mengontrol otot lurik pada sfingter. Juga, kandung kemih
menerima saraf simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus
hipogastrikus, terutama berhubungan dengan segmen L-2 media
spinlais. Serat simpatis ini mungkin terutama merangsang
pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung
kemih. Beberapa serat saraf sensorik juga berjalan melalui saraf
simpatis dan mungkin penting dalam menimbulkan sensasi rasa
penuh dan pada beberapa keadaan rasa nyeri.

6. Transpor Urin Dari Ginjal Melalui Ureter Dan Masuk Ke


Dalam

a. Kandung Kemih
Urin yang

keluar

dari

kandung kemih
mempunyai komposisi
utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus
kolingentes; tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi
urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter
sampai kandung kemih. Urin mengalir dari duktus kolingentes
masuk ke kaliks renalis, meregangkan kaliks renalis dan
meningkatkan aktivitas pacemakernya, yang kemudian
mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis
renalis dan kemudian turun sepanjang ureter, dengan demikian
mendorong urin dari pelvis renalis ke arah kandung kemih.
Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf
simpatis dan parasimpatis seperti juga neuron-neuron pada
pleksus intramural dan serat saraf yang meluas di seluruh
panjang ureter. Seperti halnya otot polos pada organ viscera
yang lain, kontraksi peristaltik pada ureter ditingkatkan oleh
perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan
simpatis.
Ureter memasuki kandung kemih menembus otot destrusor di
daerah trigonum kandung kemih. Normalnya, ureter berjalan
secara oblik sepanjang beberapa sentimeter menembus dinding
kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor pada dinding
kandung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian
mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di
kandung kemih meningkat selama berkemih atau sewaktu
terjadi kompresi kandung kemih. Setiap gelombang peristaltik
yang terjadi di sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan
dalam ureter sehingga bagian yang menembus dinding kandung
kemih membuka dan memberi kesempatan urin mengalir ke
dalam kandung kemih.

7. Refleks Berkemih
Selama kandung kemih
terisi, banyak yang
menyertai kontraksi
berkemih mulai tampak.
Keadaan ini disebabkan
oleh refleks peregangan
yang dimulai oleh reseptor
regang sensorik pada
dinding kandung kemih,
khususnya oleh reseptor
pada uretra posterior
ketika daerah ini mulai
terisi urin pada tekanan
kandung kemih yang lebih
tinggi. Sinyal sensorik dari
reseptor regang kandung
kemih dihantarkan ke
segmen sakral medula spinalis melalui nervus pelvikus dan
kemudian secara refleks kembali lagi ke kandung kemih melalui
serat saraf parasimpatis melalui saraf yang sama ini (Clevo, 2013).
Ketika kandung kemih hanya terisi sebagain, kontraksi berkemih ini
biasanya secara spontan berelaksasi setelah beberapa detik, otot
detrusor berhenti berkontraksi dan tekanan turun kembali ke garis
basal. Karena kandung kemih terus terisi, refleks berkemih menjadi
bertambah sering dan menyebabkan kontraksi otot destrusor lebih
kuat (Clevo, 2013).
Sekali refleks berkemih mulai timbul, refleks ini akan menghilang
sendiri. Artinya kontraksi awal kandung kemih selanjutnya akan
mengaktifkan reseptor regang untuk menyebabkan peningkatan
selanjutnya pada impuls sensorik ke kandung kemih dan
uretra posterior yang menimbulkan peningkatan refleks
kontraksi kandung kemih lebih lanjut. Jadi siklus ini terus berulang
sampai kandung kemih mencapai kontraksi yang kuat. Kemudian
lebih dari semenit, refleks yang menghilang sendiri ini mulai
melemah dan siklus regeneratif dari refleks miksi ini berhenti
sehingga menyebabkan kandung kemih berelaksasi (Clevo, 2013).
8. Volume Urin Normal
Pada orang dewasa, volume urin normal per hari adalah 1500-6000
ml (minimum 30 ml per jam). Proses penyakit dapat
mempengaruhinya, misalnya penyakit ginjal-oliguria, diabetes
melitus/ insipidus-poliuria (Johnson & Taylor, 2004). Pada ibu yang
selesai melahirkan harus berkemih dengan spontan dalam 6 sampai
8 jam post partum. Dengan urin yang dikeluarkan dari beberapa
perkemihan pertama harus diukur untuk mengetahui apakah
pengosongan kandung kemih adekuat. Diharapkan setiap kali
berkemih, urin yang keluar adalah 150 ml (Ganong, 2000)

B. RETENSI URIN
1. Pengertian
Retensi urin adalah kesulitan miksi (berkemih) karena kegagalan
mengeluarkan urin dari vesika urinaria (Kapita Selekta
Kedokteran, 2000). Retensi urin adalah disfungsi pengosongan
kandung kemih termasuk untuk memulai buang air kecil,
pancaran lemah, pelan atau aliran terputusputus, perasaan tidak
tuntas berkemih dan perlu usaha keras atau dengan penekanan
pada suprapubik untuk mengosongkannya (Purnomo, 2011).

2. Etiologi
Retensi urin dapat dibagi menurut lokasi kerusakan syaraf:
a. Supravesikal
Berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinalis
sakralis S2S4 setinggi Th1- L1. Kerusakan terjadi pada saraf
simpatis dan parasimpatis baik sebagian atau seluruhnya.
b. Vesikal
Berupa kelemahan otot destrusor karena lama teregang,
berhubungan dengan masa kehamilan dan proses persalinan
(trauma obstetrik).
c. Infravesikal (distal kandung kemih)
Berupa kekakuan leher vesika, fimosis, stenosis meatus uretra,
trauma uretra, batu uretra, sklerosis leher kandung kemih
(bladder neck sclerosis) (Kapita Selekta Kedokteran, 2000).
3. Klasifikasi
a. Retensi urin akut
Pada retensi urin akut penderita seakan-seakan tidak dapat
berkemih (miksi). Kandung kemih perut disertai rasa sakit
yang hebat didaerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang
hebat disertai mengejan. Sering kali urin keluar menetes atau
sedikit-sedikit (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Pada kasus
akut, bila penyebabnya tidak segera ditemukan maka
kerusakan lebih berat yang sifatnya permanen dapat
terjadi, karena otot detrusor atau ganglia parasimpatik pada
dinding kandung kemih menjadi tidak dapat berkompromi
(Pribakti, 2011).
b. Retensi urin kronis
Penderita secara perlahan dalam waktu yang lama tidak dapat
berkemih (miksi), merasakan nyeri di daerah suprapubik
hanya sedikit atau tidak sama sekali walaupun kandung kemih
penuh (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Pada retensi urin
kronik, terdapat masalah khusus akibat peningkatan tekanan
intravesikal yang menyebabkan refluks uretra, infeksi saluran
kemih atas dan penurunan fungsi ginjal (Pribakti, 2011).
Retensi urin juga dapat terjadi sebagian atau total :
a. Retensi urin sebagian yaitu penderita masih bisa
mengeluarkan urin tetapi terdapat sisa urin yang cukup
banyak di dalam kandung kemih.
b. Retensi urin total yaitu penderita sama sekali tidak dapat
mengeluarkan urin.

4. Gambaran klinis
a. Ketidaknyamanan daerah pubis
b. Distensi vesika urinaria
c. Ketidaksanggupan berkemih
d. Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urin (25-50
ml)
e. Ketidakseimbangan jumlah urin yang dikeluarkan dengan
asupannya
f. Meningkat keresahan dan keinginan berkemih
g. Adanya urin sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.
(Uliyah & Hidayat, 2006).
5. Pemeriksaan retensi urin
a. Pemeriksaan subjektif
Pemeriksaan subjektif dengan mencermati keluhan yang
disampaikan oleh pasien dan yang digali melalui anamnesis
yang sistematik.
b. Pemeriksaan objektif
Pemeriksaan objektif yaitu dengan melakukan pemeriksaan
fisik terhadap pasien untuk mencari data-data yang objektif
mengenai keadaan pasien.
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan mampu memilih
berbagai pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis,
diantaranya adalah pemeriksaan laboratorium, pencitraan
(imaging). Pada beberapa keadaan mungkin diperlukan
pemeriksaan penunjang yang lebih bersifat spesialistik, yakni
urolometri atau urodinamika, elektromiografi, endourologi,
dan laparoskopi (Purnomo, 2011).

6. Penatalaksanaan
a. Retensi urin akut
Pada pasien dengan retensi akut, terapi segera perlu
dilakukan adalah mendrainase kandung kemih. Karena resiko
pendarahan kandung kemih, hipotensi, atau drainase pasca
obstruktif, dekompresi kandung kemih secara cepat biasanya
dihindari. Pada banyak kasus, drainase terusmenerus dengan
kateter folley atau kateter intermitten, perlu dilakukan sampai
fungsi kandung kemih kembali normal, biasanya 48-72 jam.
Pemberian antibiotik juga perlu dipertimbangkan dalam
penanganan retensi urin ini (Pribakti, 2011).
b. Retensi urin kronik
Pada kasus ini perlu adanya intervensi medis jangka panjang
secara langsung mencegah kerusakan ginjal dan mengkoreksi
penyebab yang mendasari terjadinya retensi urin. Beberapa
intervensi terapi spesifik yang dapat dilakukan diantaranya
terapi farmakologik, katerisasi, neuromodulasi radiks saraf,
dan bahkan intervensi bedah (Pribakti, 2011).
C. ASUHAN KEPERAWATAN ELIMINASI
Pengkajian Eliminasi Urine
a. Frekuensi
Frekuensi untuk berkemih tergantung kebiasaan dan kesempatan.
Banyak orang-orang berkemih kira-kira 70 % dari urine setiap hari
pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk
berkemih pada malam hari. Orang-orang biasanya berkemih :
pertama kali pada waktu bangun tidur, sebelum tidur dan berkisar
waktu makan.
b. Volume
Volume urine yang dikeluarkan sangat bervariasi.
Usia Jumlah / hari
1. Hari pertama & kedua dari kehidupan 15 60 ml
2. Hari ketiga kesepuluh dari kehidupan 100 300 ml
3. Hari kesepuluh 2 bulan kehidupan 250 400 ml
4. Dua bulan 1 tahun kehidupan 400 500 ml
5. 1 3 tahun 500 600 ml
6. 3 5 tahun 600 700 ml
7. 5 8 tahun 700 1000 ml
8. 8 14 tahun 800 1400 ml
9. 14 tahun dewasa 1500 ml
10. Dewasa tua 1500 ml / kurang
Jika volume dibawah 500 ml atau diatas 300 ml dalam periode
24 jam pada orang dewasa, maka perlu lapor.
c. Pola berkemih
d. Gejala dari perubahan berkemih
e. Faktor yang memengaruhi berkemih
f. Pemeriksaan fisik
- Abdomen
Pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena, distensi bladder, pembesaran
ginjal, nyeri tekan, tenderness, bising usus.
- Genetalia wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus, keadaan atropi jaringan vagina.
- Genetalia laki-laki
Kebersihan, adanya lesi, tenderness, adanya pembesaran skrotum.
g. Intake dan output cairan
- Kaji intake dan ouput cairan dalam sehari (24 jam)
- Kebiasaan minum dirumah
- Intake : cairan infus, oral, makanan, NGT
- Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan.
- Output urine dari urinal, cateter bag, drainage ureterostomy, sistostomi.
- Karakteristik urine : warna, kejernihan, bau, kepekatan.
h. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan urine (urinalisis)
- Warna : (N : jernih)
- Penampilan : (N : jernih)
- Bau (N : beraroma)
- pH : (N : 4,5-8,0)
- Berat jenis (N : 1,005 1,030)
- Glukosa (N : negatif)
- Keton (N : negatif)
Kultur urine (N: kuman patogen negatif)

D. Diagnosa Keperawatan
Gangguan pola eliminasi urine : inkontinensia
Definisi : kondisi di mana seseorang tidak mampu mengendalikan pengeluaran urine.
Kemungkinan berhubungan dengan :
a. Gangguan neuromuskuler
b. Spasme bladder
c. Trauma pelvic
d. Infeksi saluran kemih
e. Trauma medulla spinalis
Kemungkinan data yang ditemukan :
a. Inkontinensia
b. Keinginan berkemih yang segera
c. Sering ke toilet
d. Menghindari minum
e. Spasme bladder
f. Setiap berkemih kurang gizi dari 100 ml atau lebih dari 550 ml.
\ Tujuan yang diharapkan :
a. Klien dapat mengontrol pengeluaran urine setiap 4 jam.
b. Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urine.
c. Klien berkemih dalam keadaan rileks.

Intervensi
Intervensi Rasional
1. Monitor keadaan bladder setiap 2 jam Rasional : membantu mencegah distensi atau
komplikasi
2. Tingkatkan aktivitas dengan kolaborasi Rasional : meningkatkan kekuatan otot ginjal
dokter/fisioterapi dan fungsi bladder.
3. Kolaborasi dalam bladder training Rasional : menguatkan otot dasar pelvis
4. Hindari faktor pencetus inkontinensia Rasional : mengurangi / menghindari
urine seperti cemas inkontinensia.
5. Kolaborasi dengan dokter dalam Rasional : mengatasi faktor penyebab
pengobatan dan kateterisasi
6. Jelaskan tentang : Rasional : meningkatkan pengetahuan dan
Pengobatan diharapkan pasien lebih kooperatif.

Kateter
Penyebab
Tindakan lainnya

Retensi urine
Definisi : kondisi di mana seseorang tidak mampu mengosongkan bladder secara tuntas.
Kemungkinan berhubungan dengan :
a. Obstruksi mekanik
b. Pembesaran prostat
c. Trauma
d. Pembedahan
e. Kehamilan
Kemungkinan data yang ditemukan :
a. Tidak tuntasnya pengeluaran urine
b. Distensi bladder
c. Hipertropi prostat
d. Kanker
e. Infeksi saluran kemih
f. Pembedahan besar abdomen
Tujuan yang diharapkan :
a. Pasien dapat mengontrol pengeluaran bladder setiap 4 jam
b. Tanda dan gejala retensi urine tidak ada

Intervensi
Intervensi Rasional
1. Monitor keadaan bladder setiap 2 jam Rasional : Menentukan masalah
2. Ukur intake dan output cairan setiap 4 Rasional : memonitor keseimbangan
jam cairan
3. Berikan cairan 2.000 ml/hari dengan Rasional : menjaga defisit cairan
kolaborasi
4. Kurangi minum setelah jam 6 malam Rasional : mencegah nokturia

5. Kaji dan monitor analisis urine elektrolit Rasional : membantu memonitor


dan berat badan keseimbangan cairan
6. Lakukan latihan pergerakan Rasional : meningkatkan fungsi ginjal
dan bladder
7. Lakukan relaksasi ketika duduk Rasional : relaksasi pikiran dapat
berkemih meningkatkan kemampuan berkemih.
8. Ajarkan teknik latihan dengan Rasional : menguatkan otot pelvis
kolaborasi dokter/fisioterapi
9. Kolaborasi dalam pemasangan kateter Rasional : mengeluarkan urine

DAFTAR PUSTAKA

Potter, P.A, Perry, A.G.Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,


Proses, dan Praktik.Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata
Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.2005
Pranoto & Pangastuti,2011. Kapita Selekta uroginekologi edisi pertama,
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM/RS
Dr.Sardjito: Yogyakarta.
Pribakti, 2011. Dasar-dasar uroginekologi. Sagung Seto : Jakarta
Rendy.Clevo.2013.Buku Saku Keterampilan Dasar
Keperawatan.Yogyakarta.Nuha Medika.