You are on page 1of 18

PETUNJUK PRAKTIKUM

PENGELOLAAN AIR UNTUK


PERTANIAN

ED
Oleh:
SO
N
Laboratorium Agronomi dan Hortikultura
U
TA
R
PE
FA

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
ACARA 1

KUALITAS AIR

Air irigasi yang baik adalah air yang dapat memenuhi segala fungsi air (6 hal),
tanpa menimbulkan eferk samping yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman
dan merusak struktur serta kesuburan tanah. Kualitas air untuk irigasi pertanian dapat
dilihat dari berbagai parameter kualitas air diantaranya adalah :

1. Salinitas : kandungan garam dalam air yang dapat mempengaruhi potensial


osmotis dan pertumbuhan tanaman. Salinitas air irigasi dinyatakan dalam
jumlah kandungan garam terlarut (tingkat salinitas air irigasi berbeda-beda,

ED
ada yang rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi)
2. Sodivitas : kandungan sodium dalam air yang dapat menimbulkan efek
berracun bagi tanaman.
SO
3. Toksisitas : kandungan ion yang spesifik yang dapat menimbulkan gangguan
N
pada tanaman selain cadmium (boron, Chlor dan beberapa logam berat).
U

Selain itu, kualitas air untuk irigasi dapat ditentukan berdasarkan pada:
TA

1. Warna: jernih dan tidak berwarna


R

2. Tingkat kekeruhan: air yang baik tidak keruh


PE

3. Bau: yang baik tidak berbau


4. Temperatur pada suhu 200C
FA

5. DHL (Daya Hantar Listrik)


6. Kandungan Na, Mg, Cl, SO42-

Disamping itu air yang digunakan untuk tanaman harus mempunyai komposisi
kimia antara lain:

1. Total konsentrasi bahan terlarut


2. Kandungan ion dalam air
3. Boron
4. pH ( yang baik 6-8)
5. SAR ( Sodium adsorption ratio)

Tujuan praktikum

Setelah praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat memahami dan


mengetahui kualitas air untuk irigasi pertanian serta mampu mengukur dan
menentukan parameter-parameter kualitas air untuk irigasi.

Alat dan bahan

1. Ember
2. Erlenmeyer
3. Gelas ukur

ED
4. Corong
5. pH paper
6. TDS meter
7. DO meter
SO
N
8. EC meter
U

9. Turbidimeter
TA

10. Kertas Saring


11. Aquades
R

12. Air irigasi


PE

Prosedur Kerja
FA

1. Persiapan Contoh

Contoh air irigasi diambil dari lapangan sebelum dianalisis terlebih dahulu
diperiksa label dan nomor. Diulang sebanyak 3 kali dan masing-masing disiapkan
untuk dianalisis menggunakan DO meter, EC meter, Turbidimeter, TDS meter, dan
pH paper.

2. Penetapan Kadar Lumpur


Peralatan yang dibutuhkan antara lain erlenmeyer, gelas ukur, kertas saring
berlipat, corong berdiameter 15 cm, erlemeyer, dan oven. Pereaksi yang dibutuhkan
adalah aquades.

Cara kerja :

Kertas saring berlipat yang sudah diketahui bobotnya (A mg) disimpan diatas
corong yang beralas erlenmeyer. Gelas ukur yang berisi air irigasi sebanyak 250 ml
disaring diatas kertas saring sampai habis. Kemudian kertas saring dipanaskan pada
suhu 105 0C selama 1-3 jam. Selanjutnya, kertas saring yang berisi lumpur ditimbang
(B mg). Kadar lumpur ditetapkan dengan rumus berikut ini :

Kadar lumpur (mg/l) = (B A) x 1000 ml / (ml contoh) yang disaring.

ED
Dimana :
A
B
= berat kertas saring kosong (mg)
= berat kertas saring+lumpur kering SO
N
1000 = faktor dari ml ke l.
U

3. Penetapan daya hantar listrik


TA

Peralatan yang dibutuhkan antara lain EC meter, erlemeyer 100 ml, tissue.
Pereaksi yang digunakan antara lain aquades.
R

Cara Kerja :
PE

Alat EC meter dinyalakan, elektrode dicuci dengan aquades lalu keringkan dengan
FA

tisue. Alat dikalibrasi dengan memasukkan elektrode ke dalam larutan baku NaCL.
Tepatkan pembacaan alat menjadi 1.413 S cm-1. Setelah kalibrasi selesai elektroda
dikeringkan. Masukkan elektrode ke dalam contoh yang akan diukur (kira-kira 50 ml)
dan baca setelah angka mantap. Setiap akan mengukur contoh elektrode dicuci dan
dikeringkan dengan tisu. Setelah selesai elektrode dicuci dengan aquades dan dilap
sampai kering. Alat dimatikan.

4. Penetapan kandungan terlarut


Peralatan yang dibutuhkan antara lain TDS meter, erlemeyer 100 ml, tissue.
Pereaksi yang digunakan antara lain aquades.
Cara Kerja :
Alat TDS meter dinyalakan, elektrode dicuci dengan aquades lalu keringkan dengan
tisue. Masukkan elektrode ke dalam contoh yang akan diukur (kira-kira 50 ml) dan
baca setelah angka mantap. Setiap akan mengukur contoh elektrode dicuci dan
dikeringkan dengan tisu. Setelah selesai elektrode dicuci dengan aquades dan dilap
sampai kering. Alat dimatikan.
5. Penetapan kadar oksigen
Peralatan yang dibutuhkan antara lain DO meter, erlemeyer 100 ml, tissue.
Pereaksi yang digunakan antara lain aquades.

ED
Cara Kerja :
Alat DO meter dinyalakan, elektrode dicuci dengan aquades lalu keringkan dengan

SO
tisue. Masukkan elektrode ke dalam contoh yang akan diukur (kira-kira 50 ml) dan
baca setelah angka mantap. Setiap akan mengukur contoh elektrode dicuci dan
N
dikeringkan dengan tisu. Setelah selesai elektrode dicuci dengan aquades dan dilap
U

sampai kering. Alat dimatikan.


TA

6. Penetapan tingkat kejenuhan air


Peralatan yang dibutuhkan antara lain Turbidimeter, erlenmeyer 100 ml,
R

tissue. Pereaksi yang digunakan antara lain aquades.


PE

Cara Kerja :
Contoh air dimasukkan dalam tabung turbidi. Kemudian alat dinyalakan. Tunggu
FA

ready berkedip 10 kali kemudian dicatat nilai yang keluar. Alat dimatikan.Setelah
selesai tabung turbidi dicuci dengan aquades dan dilap sampai kering.
ACARA II
PENGELOLAAN AIR PADA LAHAN SAWAH

Kedalaman air pada petakan sawah sangat menentukan pertumbuhan dan


produksi tanaman padi sawah. Oleh karena itu, dalam budidaya padi sawah perlu
diatur kedalaman air irigasi pada petakan sawah dengan tepat dan sesuai dengan
stadia pertumbuhan tanaman padi.

Pemberian air pada tanaman padi sawah dilakukan dengan cara penggenangan
secara terus menerus yaitu tanaman padi diberi air dan dibiarkan tergenang mulai
beberapa hari setelah tanam sampai beberapa hari sebelum panen. Penggenangan

ED
dapat dilakukan pada kedalaman air 2,5 5 cm (dangkal), 5-7,5cm (sedang), 7,5-
15cm (dalam).

SO
Penggenangan pada petakan sawah dilakukan dengan beberapa pertimbangan:
N
1. Penggenangan secara terus menerus dan diselingi penyusutan pada
U

waktu pemupukan akan memberikan hasil yang baik.


TA

2. Menghemat tenaga untuk pengolahan tanah


3. Dapat menekan pertumbuhan gulma
R
PE

Keadaan air pada petakan sawah ini sangat menetukan pertumbuhan dan tingkat
produksi bukan cara pemberiannya. Dalam atau dangkalnya penggenangan air pada
FA

petakan sawah sangat menentukan tingkat produksi. Adapun cara mengatur


kedalaman air pada petakan sawah dilakukan dengan mengatur lubang pemaasukan
air dan pengeluaran air

Tujuan praktikum

Setelah praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengatur


kondisi air dalam petakan sawah yang tepat sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman
padi.
Alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi penggaris dan alat
tulis, pancong, dan petakan sawah dengan tanaman padi ada berbagai stadia
pertumbuhan tanaman.

Prosedur kerja

1. Pertanaman padi sawah ditentukan berdasarkan stadia pertumbuhannya, yaitu


stadia anakan aktif, vegetatif maksimum, berbunga, pengisian gabah, dan
menjelang panen.
2. Kedalaman air pada petakan sawah diukur pada beberapa titik pengamatan.

ED
SO
N
U
TA
R
PE
FA
ACARA III
DEBIT AIR SALURAN IRIGASI

Debit air merupakan jumlah air yang mengalir pada sungai atau saluran per
satuan waktu (m3/dt atau l/dt). Pengukuran debit air sangat penting untuk dasar
perhitungan dalam perencanaan dimensi dan kekuatan waduk, kekuatan jaringan
irigasi (bangunan dan saluran), serta bangunan pengendali banjir.
Sungai merupakan sumber air utama untuk kepentingan pertanian. Oleh
karena itu sebelum dikembangkan menjadi sumber air irigasi harus dilakukan
penyelidikan terlebih dahulu guna memperoleh data tentang kuantitas dalam

ED
penyediaan air serta kualitas airnya. Pada umumnya debit air sungai sangat
tergantung pada musim dan lokasinya.

SO
Kenyataannya untuk mendapatkan data debit aliran sungai pada banyak
daerah aliran sugai datanya sering tidak lengkap. Ketersediaan data debit aliran
N
sungai jangka panjang dilokasi bangunan pengambilan sangat diperlukan untuk
U

keperluan perencanaan pengembangan air irigasi. Dikarenakan fungsi bangunan


pengambilan air tersebut untuk mensuplai kebutuhan air sepanjang musim, sehingga
TA

untuk mendapatkan kesinambungan persediaan air sesuai perencanaan diperlukan


R

perhitungan debit andalan untuk mengetahui besarnya debit yang tersedia sepanjang
PE

tahun baik musim kemarau maupun penghujan.


Berkaitan dengan hal tersebut, dalam penyaluran air dari pintu pengambilan
FA

sampai ke petak sawah perlu dierhitungkan debit air yang dialirkan sesuai dengan
kebutuhan dan stadia pertumbuhan tanaman. Berbagai macam cara perhitungan debit
sudah dikembang baik yang sederhana maupun dengan menggunakan sekat
pengukur.

Tujuan Praktikum

Setelah praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengukur


debit air pada jaringan irigasi
Alat dan Bahan

Peralatan yang dibutuhkan dalam praktikum ini antara lain rollmeter,


stopwatch, pelampung, sekat ukur jenis romijn dan sorong serta alat tulis

Prosedur Kerja

1. Pengukuran debit dengan pelampung.

Pengukuran dengan pelampung, didasarkan pada :

=c.V.A

Dimana : Debit air ( m3/s atau l/s )

ED
c : Koefisien pelampung (0,6)
V : Kecepatan aliran air rata-rata ( m/s )
A : Luas penampang ( m2 )
SO
N
U
TA

a. Pengkuran kecepatan aliran


R

Cara perhitungan dengan pelampung sangat sederhana dan memberikan hasil


PE

pengukuran yang kurang teliti. Metode ini berdasarkan dari pencatatan waktu dengan
menggunakan pelampung untuk menempuh jarak tertentu (D) kemudian kecepatan
FA

aliran (V) dihitung berdasarkan rumus :

V=

Cara pengukuran :

Menentukan lokasi pengukuran yaitu :

- Memiliki aliran yang seragam, kedua tebing sisinya lurus sepanjang 50 100
m atau minimal 10 kali lebar sungai/saluran
- Daerah pengukuran terlindung dari angin
- Memasang tada batas pengukuran
- Dilakukan berulang-ulang
- Melepaskan pelampung
- Faktor koreksi 0.8 0.9

b. Pengukuran luas penampang basah

Pada saluran irigasi bentuk penampang antara lain dasar lancip, dasar
parabola, dan dasar trapesium. Untuk luas penampang dihitung dengan rumus
berikut : A=cxBxh

ED
Dimana A : luas penampang
B : lebar sungai
h : kedalaman sungai SO
N
c : koefisien penampang
U

Lebar sungai dibagi dalam beberapa bagian


d1, d2, d3, d4 dst.
TA

Kedalaman diukur pada beberapa bagian sungai


R

h1, h2, h3, h4 dst


PE

Luas penampang
A1 = d1 x h1
FA

Q1 = A1 x V1
Kemudian dirata-ratakan

2.Pengukuran Debit dengan Sekat Ukur.

a. Sekat Ukur Tipe Cipoletti

Alat ini berambang tajam dengan bentuk trapesium dengan kemiringan sisinya
1:4
FA
PE
R
TA
U
N
SO
ED
Debit air duhitung dengan rumus :

0.0186bh3 / 2
Q =

dimana Q : debit (m3/dt)


b : lebar bibir ambang (cm)
h : tinggi muka air
Dalam praktek cukup menggunakan tabel yang disusun berdasar rumus, bila lebar
bibir ambang (b) diketahui dan tinggi muka air (h) dapat dibaca pada sekat di lapang

b. Sekat ukur Romijn

Alat ini bekerja berdasarkan pengaliran air lewat ambang yang dapat

ED
digerakkan naik-turun sehingga punya fungsi sebagai alat pengukur debit dan
alat penutup (pintu).

SO
N
U
TA
R
PE
FA

Debit air diukur dengan rumus :


3/ 2
Q : 1.71bh

Dimana Q : debit saluran (l/dt)


b : lebar ambang (m)
h : tinggi muka air (cm)

ED
SO
N
U
TA
R
PE
FA
ACARA IV
KAPASITAS LENGAS LAPANG

Kapasitas lengas lapang adalah jumlah air maksimum yang tertinggal setelah
air permukaan dan air bebas pada pori makro yang hilang dari tanah akibat gaya
berat. Berarti kapasitas lapang memperhatikan kondisi fisik dari tanah dan
mempunyai arti penting dalam pertanian. Oleh karena itu tanaman yang ditanam pada
tanah kondisi kapasitas lapang akan memberikan hasil yang baik.
Jumlah air yang bermanfaat bagi tanaman mempunyai kisaran batas tertentu.
Pada tanah yang kelebihan air atau kekurangan air merupakan salah satu faktor
pembatas bagi pertumbuhan tanaman, bahkan kekurangan udara pada tanah yang

ED
tergenang dapat menyebabkan kerusakan tanaman.
Kandungan air dari tanah dapat pula dinyatakan dengan ketersediaan air bagi

SO
tanaman. Jumlah total air tanah yang ada tidaklah sepenting ketersediaannya bagi
tanaman. Air tersedia pada kebanyakan tanaman budidaya adalah tingkatan air yang
N
berada antara titik layu permanen dan kapasitas lapang. Air ini disebut air kapiler.
U

Kondisi kapasitas lapang dapat diukur berdasarkan kadar airnya. Kadar air
TA

tanah adalah jumlah air yang terdapat dalam massa tanah dan dinyatakan dalam
persen terhadap tanah kering. Kadar air tanah juga dapat dinyatakan dalam persen
R

volume yaitu persentase volume air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai
PE

keuntungan karena dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan air bagi


tanaman pada volume tanah tertentu. Kadar air pada kondisi kapasitas lapang untuk
FA

setiap jenis tanaman berbeda tergantung dari jenis tanamannya.

Tujuan Praktikum
Setelah praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengukur
kapasitas lengas lapang beberapa jenis tanah.
Alat dan Bahan
- Media tanam (ada beberapa jenis)
- Polibag
- Oven
- Timbangan elektrik
- Cawan
- Solet
-
Prosedur Kerja
Contoh tanah kering udara yang diambil dari lapisan olah (kedalaman 20 cm),
ditimbang dan diperoleh bobot tanah kering udara (BKU) kira-kira sebanyak 10
gram. Contoh tanah tersebut selanjutnya dioven pada suhu 105C selama 24 jam, lalu
ditimbang kembali sehingga diperoleh bobot tanah kering oven (BKO). Selisih bobot
tanah kering udara dengan bobot tanah kering oven adalah bobot air pada contoh

ED
tanah kering udara.
Sejumlah contoh tanah tersebut dimasukkan dalam pot, lalu disiram dengan

SO
air (150 ml) agar kadar lengas sekitar kapasitas lapangan yaitu dengan dibiarkan
selam 48 jam. Pot ditutup dengan plastik agar air tidak menguap, tetapi sedikit diberi
N
lubang agar air meresap ke bawah oleh pengaruh gravitasi seperti keadaan di
U

lapangan. Setelah 48 jam, contoh tanah diambil dari pot lalu ditimbang dan diperoleh
TA

bobot tanah kapasitas lapangna (BKL). Contoh tanah tersebut selanjutnya dioven
pada suhu 105C selam 24 jam, lalu ditimbang kembeli sehingga diperoleh bobot
R

tanah kering oven (BKO).


PE

Nilai-nilai BKU, BKL dan BKO yang sudah diketahui selanjutnya dapat
untuk menghitung nilai kapasitas lengas lapangan dan jumlah air yang harus
FA

ditambahkan dalam pot agar kondisinya sekitar kapasitas lapangan.


Perhitungan kapasitas lengas lapangan sebagai berikut.
BKU : bobot tanah kering udara (g)
BKL : bobot tanah kapasitas lapangan (g)
BKO : bobot tanah kering oven (g)
Rasio BKU/BKO = A, Rasio BKL/BKO = B dan Rasio BKL/BKU = C
Kapasitas lengas lapangan = BKL/BKU = B x 1/A = C
Dengan mengetahui besarnya nilai C, maka jumlah air yang harus
ditambahkan dapat dihitung. Misalnya bobot tanah per pot (BKU) = 8 kg (8000 g),
bobot pot = 50 g, bobot segar tanaman 50 g nilai C tanah tersebut = 1,2 maka
kapasitas lapang diperoleh dengan menambahkan air ke dalam pot sampai bobot
keseluruhan: (1,2 x 8000 g) + (50 + 50) g = 9700 g. Jumlah air yang harus
ditambahkan = 9700-8000-(50 + 50) = 1600 g. Jumlah air yang harus ditambahkan
pada perlakuan air tersedia 75% dan 50% kapasitas lapangan, berturut-turut sebanyak
1200 g dan 800 g, maka penambahan air ke dalam pot sampai bobot keseluruhan
masing-masing 9300 g dan 8900 g.

ED
SO
N
U
TA
R
PE
FA
ACARA V
EVAPORASI DAN TRANSPIRASI

Air merupakan bagian dari semua sel, jumlahnya bervariasi tergantung dari
jaringannya (tersebar dan terbagi 20 sampai 95 persen). Air merupakan sistem pelarut
dari sel dan memberikan suatu medium dari sel dan juga sebagai media pelarut unsur-
unsur hara dalam tanah. Air dapat mempertahankan turgor sel yang sangat penting
dalam peristiwa transpirasi dan pertumbuhan tanaman. Disamping itu, air diperlukan
sebagai untuk pembentukan persenyawaan baru.
Air bagi tanaman berada dalam suatu keadaan yang sinambung. Kehilangan
air dapat menyebabkan terhentinya pertumbuhan dan defisiensi secara terus-menerus

ED
menyebabkan perubahan-perubahan dalam tanaman yang bersifat tidak dapat balik
dan mengakibatkan kematian. Hal ini, dapat terjadi sangat cepat dalam keadaan panas

SO
dan sering bagi tanaman-tanaman yang karakternya tidak dapat untuk mencegah
kehilangan air.
N
Sebaliknya air berlebihan umumnya berupa air bebas yang berada pada
U

kelembaban tanah lebih dari kapasitas lapang. Air ini tidak berguna bagi tumbuhan
TA

karena berpengaruh buruk antara lain mengakibatkan keadaan aerasi buruk bagi
pertumbuhan, pengendapan hara ke lapisan tanah yang lebih dalam dan
R

mengakibatkan kematian tanaman karena kekurangan udara di dalam tanah.


PE

Kebutuhan air bagi tanaman adalah hilangnya air pada tanah akibat evaporasi,
transpirasi dan perkolasi. Kebutuhan air bagi tanaman dinyatakan sebagai jumlah
FA

satuan air yang diisap per satuan berat kering tanaman, 50 persennya untuk
pembentukan bahan kering dan kebutuhannya berbeda untuk setiap jenis tanaman.
Transpirasi merupakan kehilangan air berupa uap air yang keluar tubuh
tanaman, sedangkan evaporasi adalah kehilangan air berbentuk gas yang keluar dari
permukaan tanah. Oleh karena itu transpirasi adalah peristiwa evaporasi dari
permukaan tumbuhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi evaporasi juga berpengaruh
terhadap transpirasi. Kenyataan di lapang kedua proses tersebut terjadi secara
bersama-sama dan disebut sebagai evapotranspirasi.
Manfaat Transpirasi yaitu :
1. Pengangkutan mineral-mineral dan air melalui xylem dan larutan bergerak
melalui jaringan phloem dari organ pengasimilasi ke organ pengguna.
2. Meningkatkan turgor optimum sel.
3. Meningkatkan proses penyerapan air dan hara serta pertukaran energi.

Tujuan Praktikum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang evaporasi dan
transpirasi.

Alat dan Bahan

ED
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain polibag,
timbangan, media tanam, benih jagung, air.

Prosedur kerja
SO
N
1. Siapkan polibag yang berisi media dengan media antara lain media pasir saja,
U

media tanah saja, media tanah+bahan organik, media tanah+pasir.


TA

2. Tanam benih tanaman jagung pada setiap polibag.


3. Setelah tanaman berumur tiga minggu lakukan penimbangan (sebelumnya
R

disiram dulu dengan air sampai kapsitas lapang) pada pot/polibag tersebut.
PE

4. Letakkan seluruh polibag pada kondisi lingkungan yang terbuka dan


mendapat panas langsung dari matahari.
FA

5. Setelah 24 jam lakukan penimbangan terhadap semua polibag tersebut, selisih


antara penimbangan I dengan penimbangan II merupakan banyaknya air yang
hilang karena proses evapotranspirasi.
6. Untuk mengetahui banyaknya air yang hilang karena proses transpirasi
bandingkan dengan polibag yang tidak ditanami.
7. Lakukan pembahasan dengan membandingkan transpirasi yang dilakukan
tanaman pada berbagai jenis tanah.