You are on page 1of 14

MAKALAH

ILMU KEPERAWATAN DASAR II (IKD II)

KOMUNIKASI DALAM KONTEKS SOSIAL DAN KEANEKARAGAMAN


SERTA KEYAKINAN

DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
ENCEP IRAWAN
FATH ANDRYANTO
HANIFA HUSNA
HANNUM PRIMA KRISTIANTI
HENI LASTRIANI

PERGURUAN TINGGI MITRA LAMPUNG


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TAHUN AJARAN 2013/2014

KATA PENGANTAR
Puji sykur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karna berkat rahmat dan
hidayahnya kami dapat menyesesaikan tugas makalah tentang KOMUNIKASI DALAM
KONTEKS SOSIAL DAN KEANEKARAGAMAN BUDAYA SERTA KEYAKINAN.
Walaupun tugas makalah ini belomdapat di sajikan secara sempurna, namun kami ingin
menyajikan dengan baik.
Dengan selesainya makalah ini kami harap bisa bermanfaat. Namun kami menyadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Untuk itu kami harap bantuan
untuk menyempurnakan makalah ini.
Dengan demikian segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan kami terima
dengan senang hati. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat .
Daftar isi
Bab I komunikasi sosial
A. Definisi ............................................................................4

B. Fungsi Komunikasi Sosial ............................................................................4

a. Pembentukan konsep diri ............................................................................5

b. Pernyataan eksistensi diri ............................................................................6

c. Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh kebahagiaan


............................................................................6

Bab II Komunikasi budaya


A. Pengertian ............................................................................9

B. Hakikat Komunikasi Antarbudaya ..........................................................................10

a. Enkulturasi ..........................................................................10

b. Akulturasi ..........................................................................10

C. Fungsi-Fungsi Komunikasi Antarbudaya ....................................................................10

a. Fungsi Pribadi ..........................................................................10

b. Fungsi Sosial ..........................................................................11


B Prinsip-Prinsip Komunikasi Antarbudaya....................................................................12

Bab III komunikasi keyakinan


Pengertian ..........................................................................14

Bab IV penutup ................................................15


Daftar pustaka ................................................16

Bab I
Komuunikasi Sosial
A. Definisi
Dalam kehidupannya, manusia senantiasa terlibat dalam aktivitas komunikasi. Manusia
mungkin akan mati, atau setidaknya sengsara manakala dikucilkan sama sekali sehingga ia tidak
bisa melakukan komunikasi dengan dunia sekelilingnya. Oleh sebab itu komunikasi merupakan
tindakan manusia yang lahir dengan penuh kesadaran, bahkan secara aktif manusia sengaja
melahirkannya karena ada maksud atau tujuan tertentu.
Memang apabila manusia dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya seperti hewan, ia
tidak akan hidup sendiri. Seekor anak ayam, walaupun tanpa induk, mampu mencari makan
sendiri. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan
alat-alat fisik yang cukup untuk hidup sendiri.
Dapat dikatakan bahwa didalam kehidupan komunikasi adalah persyaratan yang utama
dalam kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang melepaskan hidupnya untuk berkomuikasi
antar sesama. Dengan seperti itu, komunikasi sosial sangat penting dalam kehidupan manusia
pada umumnya untuk membantunya berinteraksi dengan sesama, karena manusia tercipta
sebagai mahluk sosial.
Karena sifat manusia yang selalu berubah-ubah hingga kini belum dapat diselidiki dan
dianalisis secara tuntas hubungan antara unsur-unsur didalam masyarakat secara lebih mendalam
dan terorganisir
B. Fungsi Komunikasi Sosial
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan tersesat,
karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasi yang
memungkin individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai pantuan
untuk menafsirkan, situasi apapun yang ia hadapi. Komunikasi pula yang memungkinkannya
mempelajari dan menerapkan strategi-strategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi problematik
yang ia masuki. Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimana
makan, minum, berbicar sebagai manusia dan memperlakukan manusi lain secara beradap,
karena cara-cara berprilaku tersebut harus dipelajari lewat pengasuhan kluarga dan pergaulan
dengan orang lain yang intinya adalah komunikasi. Implasif adalah fungsi komunikasi sosial ini
adalah fungsi komunikasi kultural. Para ilmuan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi
itu mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu mata uang. Budaya menjadi
bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan,
memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya.
Fungsi komunikasi sosial bisa terbentuk dengan adanya pembentukan dari dalam: pembentukan
konsep diri, pernyataan eksistenssi diri dan untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan &
memperoleh kebahagiaan.
a. Pembentukan konsep diri
Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita, dan itu hanya bisa kita
peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Manusia yang tidak pernah
berkomunikasi dengan manusia lainnya tidak mungkin mempunyai kesadaran bahwa dirinya
adalah manusia. kita sadar bahwa kita adalah manusia karena orang-orang disekeliling kita
menunjukkan kepada kita lewat perilaku verban dan nonverbal mereka bahwa kita manusia.
Bahkan kita pun tidak akan pernah menyadari nama kita adalah Badu atau si
Mincreung, bahwa kita adalah lelaki, perrempuan, pintar atau menyenangkan, bila tidak ada
orang-orang disekitar kita yang menyebut kita demikian. Melalui komunikasi dengan orang lain
kita belajar bukan saja mengenai siapa kita, namun juga bagaimana kita merasakan siapa kita.
Anda mencintai diri anda bila anda telah dicintai, anda berpikir anda cerdas bila orang-orang
disekitar anda mengaggap anda cerdas, anda merasa anda tampan atau cantik bila orang-orang
disekitar anda juga mengatakan demikian.
Konsep diri kita yang paling dini umumnya dipengaruhi oleh keluarga, dan orang dekat
lainnya disekitar kita, termasuk kerabat. Mereka itulah yang disebut significant others. Orang tua
kita, atau siapapun yang memelihara kita pertama kalinya, mengatakan kepada kita lewat ucapan
dan tindakan mereka bahwa kita baik, bodoh, cerdas nakal, rajin, ganteng, cantik, dan
sebagainya. Merekalah yang mengajari kita kata-kata pertama. Hingga derajad tertentu kita bagai
kertas putih yang dapat mereka tulisi apa saja atau tanah liat yang dapat mereka bentuk
sekehendak mereka. Penddeknya kita adalah ciptaan mereka. Sayangnya tidak semua orang
tua menyadari hal ini.
Seorang ibu, ayah atau kakak boleh jadi mengeluarkan kata-kata kepada anak: Bodoh!,
Dasar anak nakal!, Penakut!, bila hal itu kerap terjadi sungguh itu akan merusak konsep diri
anak yang pada gilirannya akan mereka percayai. Seorang anak mungkin saja cerdas tetapi
karena dianggap bodoh, ia akan surut melakukan apa yang ia ingin lakukan, karena ia
mengaggap dirinya demikian. Pada gilirannya orang lain akan menganggap dirinya bodoh. Ini
lah yang disebut nubuat yang dipenuhi sendiri (self-fulfilling prophecy), yakni ramalan yang
menjadi kenyataan karena, sadar atau tidak, kita percaya dan mengatakan bahwa ramalan itu
akan menyadi kenyataan.
Dalam proses menjadi dewasa, kita menerima pesan dari orang-orang disekitar kita
mengenai siapa diri kita dan harus menjadi apa kita. Menjelang dewasa, kita menemui kesulitan
memisahkan siapa kita dari siapa kita menurut orang lain, dan konsep diri kita memang terkait
rumit dengan definisi yang diberikan orang lain kepada kita. Meskipun kita berupaya berperilaku
sebagaimana yang diharapkanorang lain, kita tidak pernah secara total memenuhi pengharapan
orang lain tersebut. Akan tetapi, ketika kita berupaya berinteraksi dengan mereka, pengharapan,
kesan, dan citra mereka tentang kita sangat mempengaruhi konsep diri kita, perilaku kita, dan
apa yang kita inginkan.
Orang lain itu mencetak kita, dan setidaknya kita pun mengasumsikan apa yang orang
lain asumsikan mengenai kita. Berdasarkan asumsiasumsi itu, kita mulai memainkan peran-
peran tertentu yang diharapkan orang lain. Bila permainan peran ini menjadi kebiasaan, kita pun
menginternalisasikannya. Kita menamakan peran-peran itu kepada diri kita sebagai panduan
untuk berperilaku. Kita menjadikannya bagian dari konsep diri kita. Dengan kata lain, kita
merupakan cermin bagi satu sama lainnya. Bayangkan saya pada cermin dikamar mandi
menunjukkan apakah saya sudah bercukur atau belum.
Saya harus melihat pada anda siapa saya. Proses pembentukan konsep diri itu dapat
digambarkan secara sederhana. Konsep diri kita tidak pernah terisolasi, melainkan bergantung,
pada reaksi dan respon orang lain. Dalam masa pembentukan konsep diri itu, kita sering
mengujinya, baik secara sadar ataupun secara tidak sadar. Kita dapat memperkirakan perbedaan
konsep diri seseorang dengan memperhatikan kata-kata yang orang ucapkan, kita dapat menduga
dari kelas atau golongan mana ia berasal. Sadar akan pentingnya citra diri dimata orang lain,
sebagian orang berbicara dengan menggunakan banyak istilah asing, meskipun tatabahasa atau
ucapannya keliru yang pada kata sebenarnya juga tersedia pada bahasa Indonesia agar dipandang
intelektual dan modern.
b. Pernyataan eksistensi diri
Orang berkomunikasi untuk menunjukan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi
diri atau lebih tepatnya eksistensi diri. Kita dapat memodifikasi frasa filosof Prancis Rene
Descartes (1596-1650) yang terkenal itu Cogito Ergo Sum (saya berpikir, maka saya ada)
menjadi Saya beerbicara, maka saya ada. Bila kita berdiam diri, orang lain akan
memperlakukan kita seolah-olah kita tidak eksis. Namun kita berbicara, kita menyatakan bahwa
sebenarnya kita ada. Fungsi komunikasi sebagai eksistensi diri sering terlihat pada uraian
penanya seminar.
Meskipun penanya sudah di ingatkan moderator untuk berbicara singkat dan langsung
kepokok permasalahan, penanya atau komentator itu sering berbicara panjang lebar, menguliahi
hadirin, dengan argumen-argumen yang tidak relavan.eksistensi diri juga sering dinyatakan oleh
anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam sidang-sidang mereka yang bertele-tele, karena
mereka merasa dirinya paling benar dan paling penting, setiap orang ingin berbicara dan
didengarkan.
Fenomena itu misalnya pernah muncul dalam sidang-sidang selama berlangsungnya
sidang umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bulan Oktober 1999 malalui banjir
interupsi dari begitu banyak peserta sidang, khususnya pada 3 hari pertama. Banyak interupsi
yang asal-asalan, tidak relavan, kekanak-kanakan, kocak, konyol, menjengkelkan, naif, dan
terkadang memuakkan.
c. Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh
kebahagiaan
Sejak lahir, kita tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita perlu dan
harus berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan biologis kita seperti makan
dan minum, dan memenuhi kebutuhan psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan.
Komunikasi, dalam konteks apa pun, adalah bentuk dasar adaptasi terhadap lingkungan. Menurut
Rene Spitz, komunikasi (ujaran) adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam
kepribadian: mulut sebagai rongga utama adalah jembatan antara persepsi dalam dan persepsi
luar, ia adalah tempat lahir semua persepsi luar dan model dasarnya, ia adalah tempat transisi
bagi perkembangan aktivitas internasional, bagi munculnya kemauan dari kepasifan.
Melalui komunikasi pula kita dapat memenuhi kebutuhan emosional kita dan
meningkatkan kesehatan mental kita. Kita belajar makna cinta, kasih sayang, keintiman, simpati,
rasa hormat, rasa bangga, bahkan irihati, dan kebencian. Melalui komunikasi sosial, kita dapat
mengalami berbagai kualitas perasaan itu dan membandingkannya antara perasaan yang satu
dengan perasaan yang lainnya. Karena itu, kita tidak mungkin, kita dapat mengenal cinta bila
kita pun tidak mengenal benci. Kita tidak akan mengenal makna pelecehan bila kita tidak
mengenal makna penghormatan.
Lewat umpan balik dari orang lain kita memperoleh informasi bahwa kita orang yang
berharga. Penegasan orang lain atas diri kita membuat kita merasa nyaman dengan diri sendiri
dan percaya diri. Melalui komunikasi dengan orang lain, kita dapat memenuhi kebutuhan
emosional dan intelektual kita, dengan memupuk hubungan yang hangat dengan orang-orang
disekitar kita. Tanpa pengasuhan dna pendidikan yyang wajar, manusia akkkan mengalami
kemerosotan emosional dan intelektual. Kebutuhan emosional dan intelektual itu kita peroleh
petama-tama dari keluarga kita, lalu dari orang-orang dekat disekeliling kita seperti kerabat dan
kawan-kawan sebaya dan barulah dari masyarakat umumnya.
Orang yang tidak memperoleh kasih sayang dan kehangatan dari orang-orang
disekelilingnya cendrung agresif. Pada gilirannya, agresifitas ini melahirkan kekerasaan terhadap
orang lain. Stewart menunjukkan bahwa orang yang terkucil secara sosial cendrung lebih cepat
mati. Selain itu, kemampuan berkomunikasi yang buruk ternyata mempunyai andil dalam
kematian seseorang. Misalnya, Kaisar Frederick II, penguasa romawi abad ke-13, membuat
percobaan dengan memasukkan sejumlah bayi ke labotarium.
Anak-anak itu dimandikan dan disusui oleh ibu-ibu, namun bayi-bayi itu tidak diajak
berbicara. Ia ingin mengetahui apakah bayi-bayi itu akan berbicara dalam bahasa Hebrew, atau
Yunani, atau Latin, atau Arab, atau bahasa orang yang telah melahirkan mereka. Upaya tersebut
sia-sia karena sebuah bayi itu mati. Mereka tidak dapat hidup dalam belaian, wajah riang, dan
kata-kata sayang dari ibu angkat mereka. Sementara Eric Berne mengembangkan suatu teori
hubungan sosial yang ia sebut Transactional Analysis (1961).
Terinya berdasarkan hasil penelitian mengenai keterlantaran indrawi (sensory
deprivation) yang menunjukan bahwa bayi-bayi yang kekurangan belaian dan hubungan
manusiawi yang normal menunjukan tanda-tanda kemerosotan fisik dan mental yang bisa
berakibat fatal. Ia menyimpulkan bahwa senthan emosional dan indrawi itu penting bagi
kelangsungan hidup manusia. ia menyimpulkan teorinya dengan ungkapan If you are not
stroked, your spinal cord will shrivel up (Jika engkau tidak mendapatkan belaian, urat saraf
tulang belakang mu akan layu). Menutut Berne, dalam arti luas, belaian mengisyaratkan
pengakuan atas kehadiran orang lain. Karena itu, belaian dapat digunakan sebagai unit dasar
tindakan sosial.
Tidak bisa disangkal, berbicara adalah salah satu keahlian manusia yang sudah dilatih
sejak usia balita. Tapi, walaupun terus saja sepanjang hidupnya manusia berbicara, dapat
dibedakan antara orang yang bisa berbicara dan orang yang tidak bisa berbicara. Bisa jadi
suara dan kalimat yang muncul dari mulut kita bukan lah sesuatu yang seharusnya, atau bukan
suatu yang bermakna, atau tidak ada isinya, atau tidak ada manfaatnya, atau tidak bisa digunakan
untuk mengambil manfaat, dan seterusnya. Bahkan peribahasa mengatakan, pedang yang paling
tajam adalah lidah kita.
Larry King adalah seorang pembawa acara di CNN, yang acaranya meraih rating
tertinggi dan merupakan satu-satunya talk show interaktif yang menjangkau dan dipancarkan di
seluruh dunia. Ia sudah berpengalaman dalam profesi pembawa acara, baik di radio, televisi,
seminar, dll, selama lebih dari 40 tahun. Larry King mampu membuat aturan-aturan utama dalam
seni berbicara yang menurutnya dapat menjadi kunci sukses menjadi pembicara yang baik, baik
itu di dalam konteks keseharian, acara formal, maupun sebagai sebuah profesi, seperti pembawa
acara.
Buku Larry King ini disusun dengan format yang menarik, karena tidak melulu bicara
tentang teori bagaimana berbicara dengan baik. Bahkan bisa dikatakan hanya sedikit teori,
selebihnya adalah tip-tip dan cerita tentang pengalaman King berhadapan dengan orang-orang
yang menjadi lawan bicaranya baik di acara-acara talk show maupun pembicaraan tidak
resminya. Judul-judul dari isi buku tersebut sangat membuat penasaran, seperti Percakapan
trendi dan ketepatan bahasa politis, Tamu terbaik dan terburuk saya serta alasannya, dan
masih banyak lagi.
Bagian cerita tentang pengalaman King dalam menghadapi orang lain, yang tersebar
hampir di seluruh penjuru buku, adalah bagian yang paling menarik untuk disimak dan diambil
pelajaran. Nampaknya, King memang sengaja menjadikan cerita-cerita tersebut sebagai alat
untuk mempermudah pembaca memahami maksud King. Dari gaya penulisan tersebut, King
memberikan tip-tip dan pelajaran bukan dengan apa-apa yang dilakukan oleh dirinya, tetapi dari
apa-apa yang dilakukan orang-orang hebat yang ia temui dan berbicara dengan dirinya.
Buku King tentang seni berbicara ini tergolong sebagai buku yang ringkas dan padat,
dituliskan dengan bahasa seadanya. Mungkin saja King lebih pandai berbicara daripada menulis,
sehingga belum semua idenya dapat dituangkan dalam buku ini. Buku ini bukanlah suatu hasil
riset maupun pemikiran mendalam tentang seni berbicara, lebih tepat dikatakan sebagai tip dari
King. Karena buku ini mempunyai sudut pandang yang cukup sempit, yaitu King, dan budaya
Amerika tentunya. Masih banyak nilia-nilai dan tip dalam berbicara yang belum dielaborasi
khususnya yang terkait dengan keragamanan budaya manusia di dunia. Ada baiknya, apabila
buku ini ingin menjadi buku internasional yang lebih mapan, nilai-nilai berbicara dari budaya
mainstream di dunia juga diberi tempat, sebagai contoh seperti bagaimana orang Jepang
berbicara, atau nilai Asia, nilai Afrika, nilai Eropa, dan seterusnya.
Dari banyak sekali pelajaran yang berharga di dalam buku King tersebut, ada beberapa
hal yang saya selalu ingat dalam hal seni berbicara, yaitu antusiasme, bertanya, dan diam.
Semoga tulisan ini bermanfaat.

Bab II
Komunikasi Budaya
A. Pengertian
Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang
memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari
semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs,komunikasi antarbudaya adalah komunikasi
antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan
sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok
orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi
antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu
konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan
berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya
sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse
culture.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah
proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan
membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi
antarbudaya itu dilakukan:

1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang


membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan.
Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks
dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;

2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang


terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses
pemberian makna yang sama;

3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena
mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari
kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.

B. Hakikat Komunikasi Antarbudaya

Enkulturasi

Tarian adalah salah satu bentuk enkulturasi budaya yang ditransmisikan sejak kecil
Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari satu generasi
ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan
melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga
keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi
terjadi melalui mereka.
Akulturasi
Cina dan Inggris yang berakulturasi
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau
pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam
di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan
rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan
rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan
rumah pun ikut berubah.

C. Fungsi-Fungsi Komunikasi Antarbudaya

a. Fungsi Pribadi
Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi
yang bersumber dari seorang individu.
Pendeta Budha Jepang menyatakan identitas melalui baju yang dikenakan

Menyatakan Identitas Sosial

Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu


yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui
tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah
dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku
bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang.

Menyatakan Integrasi Sosial


Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi,
antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap
unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna
yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus
komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan
komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip
utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya
memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan
sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat
meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka.

Menambah Pengetahuan
Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama,
saling mempelajari kebudayaan masing-masing.

Melepaskan Diri atau Jalan Keluar


Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan
keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita namakan
komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan hubungan yang
simetris.
Hubungan komplementer selalu dilakukan oleh dua pihak mempunyai perlaku yang berbeda.
Perilaku seseorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari yang lain.
Dalam hubungan komplementer, perbedaan di antara dua pihak dimaksimumkan. Sebaliknya
hubungan yang simetris dilakukan oleh dua orang yang saling bercermin pada perilaku lainnya.
Perilaku satu orang tercermin pada perilaku yang lainnya.
b. Fungsi Sosial

Pengawasan
Funsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara
komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam
setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan
"perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang
menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun
peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.

Menjembatani
Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua
orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi
menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya
saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.
Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa.
Sosialisasi Nilai
Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai
kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.

Menghibur
Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya
menonton tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depan Honolulu Zaw,
Honolulu, Hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.

D. Prinsip-Prinsip Komunikasi Antarbudaya

(( terdapatnya golongan ningrat sebagai budaya yang tertinggi))


hal ini terlihat dari adanya ketimpangan pemlihan calon gubernur yang
mengharuskan dari keturunan darah biru.

Relativitas Bahasa
Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak
disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun
1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif kita. Dan karena
bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya,
tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda
juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

Bahasa Sebagai Cermin Budaya


Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi
baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan antara
budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi
dilakukan.Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi,
lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah
persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).

Mengurangi Ketidak-pastian
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam
komunikasi. Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga kita
dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena
letidak-pasrtian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya
untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.

Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya


Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para
partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya,
kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal
yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-
hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.

Interaksi Awal dan Perbedaan Antarbudaya

Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur
berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun kita
selalu menghadapi kemungkinan salah persepsi dan salah menilai orang lain,
kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.

Memaksimalkan Hasil Interaksi

Dalam komunikasi antarbudaya - seperti dalam semua komunikasi - kita berusaha


memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank (1989)
mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang
akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif.
Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin menghindarinya. Dengan demikian,
misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan sekelas yang banyak kemiripannya dengan
anda ketimbang orang yang sangat berbeda.
Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan meningkatkan
komunikasi kita. Bila kita memperoleh hasil negatif, kita mulai menarik diri dan mengurangi
komunikasi.
Ketiga, kita mebuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan hasil
positif. dalam komunikasi, anda mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, pilihan topik,
posisisi yang anda ambil, perilaku nonverbal yang anda tunjukkan, dan sebagainya. Anda
kemudian melakukan apa yang menurut anda akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak
melakkan apa yang menurut anda akan memberikan hasil negatif.
Bab III
Komunikasi Keyakinan
Keyakinan agama dan Keyakinan Spiritual adalah bagian integral dari keyakinan budaya
seseorang dan dapat memperngaruhi keyakinan klien mengenai penyebab penyakit,
praktek penyembuhan, dan pilihan tabib atau pemberi perawatan kesehatan.

Keyakian spiritual dan agama dapat menjadi sumber kekuatan dan kenyamanan bagi
klien.

Perawat yang memiliki keyakinan yang sama dengan kliennya cenderung lebih mudah
memahami dan mengambil tindakan untuk menangani kliennya.

Perawat professional harus bisa memahami,mengantisipasi dan mengambil tindakan


yangtepat terhadap klien yang berbeda keyakinanterhadap perawat tersebut.Contoh :
Klien yang menolak memakan dagingdikarenakan oleh keyakinan yang dimiliki
olehagamanya.Perawat harus mengambil tindakan yang tepatbagaimana cara membujuk
pasien tersebut untukmemakan daging tersebut.Misalnya diberikan penjelasan yang
kuatmengenai alasan kenapa pasien tersebut harusmakan daging.

Bab IV
Penutup
KESIMPULAN
Komunikasi sangatlah penting dalam setiapkonteks kehidupan manusia. Sebagai perawat,kita
sudah semestinya mempelajari danmemahami berbagai macam komunikasi dalamkonteks-
konteks yang berbeda sehinggamemudahkan kita dalam melakukan tindakankeperawatan yang
benar dan tepat terhadappasien.Dengan telah mengetahui perankomunikasi secara tidak langsung
melaluipembelajaran ini yaitu konsep komunikasi dalamkonteks sosial,dan budaya, serta
keyakinan.

Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_sosial
Mulyana Deddy, M.A., Ph.D. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
2009
King Larry dan Gilbert Bill. Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Dimana Saja.
Jakarta: gramedia Pustaka Utama. 2000
Jallaludi Rakhmat, Psikologi Komunikasi. Bandung: Remadja Karya, 1985
http://www.slideshare.net/theshizuka11/komunikasi-14456357