You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

Letak lintang merupakan keadaan dimana sumbu panjang janin kira-kira tegak lurus

terhadap sumbu panjang tubuh ibu. Letak lintang merupakan keadaan beresiko bagi bayi dan

ibu. Letak lintang dapat meningkatkan resiko tali pusat menumbung antara 7-14%. Angka

bayi lahir mati lebih tinggi dua sampai tiga kali untuk letak lintang.1

Pada letak lintang tejadi pada satu dari 332 kelahiran tunggal (0,3%) baik di Mayo

Clinic maupun di University of Iowa Hospital 1Di Parkland Hospital, dijumpai letak lintang

pada 1 dari 335 janin tunggal yang lahir selama lebih dari 4 tahun. Beberapa rumah sakit di

Indonesia melaporkan angka kejadian letak lintang, antara lain: RSU dr. Pringgadi Medan

0,6%; RS Hasan Sadikin Bandung 1,9%; RSUP dr. Cipto Mangunkusumo selama 5 tahun

0,1%; sedangkan Greenhill menyebut 0,3% dan Holland 0,5-0,6%.3,7 Insiden pada wanita

dengan paritas tinggi mempunyai kemungkinan 10 kali lebih besar dari nullipara. 1

Secara epidemiologis pada kehamilan tunggal didapatkan letak lintang sekitar 0,3%.

Angka kejadian letak lintang sebesar 1 dalam 300 persalinan. Hal ini dapat terjadi karena

penegakan diagnosis letak lintang dapat dilihat pada kehamilan muda menggunakan USG. 1

Dengan ditemukannya letak lintang pada pemeriksaan antenatal, sebaiknya

diusahakan mengubah menjadi presentasi kepala dengan versi luar. Persalinan letak lintang

memberikan prognosis yang jelek baik terhadap ibu maupun janinnya. Faktor-faktor yang

mempengaruhi kematian janin pada letak lintang disamping kemungkinan terjadinya letak

lintang kasep dan ruptur uteri, juga sering akibat adanya tali pusat menumbung serta trauma

akibat versi ekstraksi untuk melahirkan janin.

1
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Letak lintang terjadi apabila sumbu panjang janin kira-kira tegak lurus terhadap

sumbu panjang tubuh ibu. Bila sumbu panjang tersebut membentuk sudut lancip, hasilnya

adalah letak lintang oblik. Letak lintang oblik biasanya hanya terjadi sementara karena

kemudian akan berubah menjadi posisi longitudinal atau letak lintang saat persalinan.1

Letak lintang, biasanya bahu berada di atas pintu atas panggul sedangkan kepala

terletak di salah satu fossa iliaka yang lain. Pada keadaan yang disebut sebagai presentasi

bahu ini arah akromion yang menghadap sisi tubuh ibu menentukan jenis letaknya yaitu letak

akromion kiri atau kanan. Lebih lanjut, karena pada kedua posisi tersebut, punggung dapat

mengarah ke anterior atau posterior, ke superior atau ke inferior, biasanya jenis letak lintang

ini dapat dibedakan lagi menjadi letak lintang dorsoanterior dan dorsoposterior.1,9

Gambar 1.1 Letak Lintang


2
KLASIFIKASI9

A. Menurut letak kepala terbagi atas:


- Lli I: kepala di kiri
- Lli II: kepala di kanan
B. Menurut posisi punggung terbagi atas:
a. Dorso anterior (di depan)
b. Dorso posterior (di belakang)
c. Dorso superior (di atas)
d. Dorso inferior (di bawah)

PREVALENSI

Angka kejadian letak lintang berkisar antara 0,5%-2%. Dari beberapa rumah sakit

pendidikan di Indonesia dilaporkan: Medan 0,6%, Jakarta 0,1% (1948), Bandung 1,9%.

Greenhill melaporkan 0,3%.7 Terjadi pada 0.3% primipara dan 10% multipara, biasanya pada

para 3 ataupun lebih. 3,6

ETIOLOGI

Penyebab utama letak lintang adalah: 1,3,9

1. Relaksasi berlebihan dinding abdomen akibat multiparitas tinggi


2. Janin prematur
3. Plasenta previa
4. Bentuk uterus abnormal (contoh: uterus arkuatus)
5. Mioma uteri
6. Cairan amnion berlebih
7. Panggul sempit
8. Kehamilan ganda
Wanita dengan paritas 4 atau lebih memiliki insiden letak lintang 10 kali lipat dibanding

wanita nullipara. Relaksasi dinding abdomen pada perut gantung menyebabkan uterus jatuh

ke depan, sehingga menimbulkan defleksi sumbu panjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir,

yang menyebabkan posisinya oblik atau melintang. Plasenta previa dan panggul sempit

menyebabkan keadaan serupa. 1,3 Letak lintang atau letak oblik kadang-kadang terjadi dalam

persalinan dari posisi awal longitudinal. 1


PATOFISIOLOGI

3
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan

dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif

lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian

janin dapat menempatkan diri dalam letak lintang atau pun presentasi kepala, letak

sungsang.2,4 Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air

ketuban relatif berkurang. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan

belum cukup bulan, frekuensi letak selain memanjang lebih tinggi, sedangkan pada

kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam memanjang dengan presentasi

kepala. Sayangnya, beberapa fetus tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berada dalam letak

lintang. 5,8

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Dilakukan jika masih ada keragu-raguan dari pemeriksaan luar dan

dalam, sehingga harus di pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografik atau

MRI (Magnetic Resonance Imaging ). Pemeriksaan ultrasonografik diperlukan untuk

konfirmasi letak janin, bila pemeriksaan fisik belum jelas, menentukan letak plasenta,

menemukan kemungkinan cacat bawaan. Pada foto rontgen (bila perlu) untuk menentukan

posisi tungkai bawah, konfirmasi letak janin serta fleksi kepala, menentukan adanya

kelainan bawaan anak 6

DIAGNOSIS

Diagnosis letak lintang biasanya mudah ditegakkan, bahkan sering hanya dengan

inspeksi saja. Abdomen biasanya melebar dan fundus uteri membentang hinga sedikit diatas

umbilikus. Tidak ditemukan bagian bayi di fundus, dan balotemen kepala terasa pada salah

satu fossa iliaka yang lain. Pada saat yang sama posisi punggung mudah diketahui. Bila

punggungnya terletak di anterior, suatu dataran yang keras membentang di bagian depan

4
perut ibu; bila punggungnya di posterior, teraba nodulasi ireguler yang menggambarkan

bagian-bagian kecil janin dapat ditemukan pada tempat yang sama. 1,4,7

Pada pemeriksaan dalam, pada tahap awal persalinan, bagian dada bayi, jika dapat
1,9
diraba, dapat dikenali dengan adanya rasa bergerigi dari tulang rusuk. Bila dilatasi

bertambah, skapula dan klavikula pada sisi toraks yang lain akan dapat dibedakan. Posisi

aksila menunjukkan sisi tubuh ibu tempat bahu bayi menghadap. Pada tahap lanjut

persalinan, bahu akan terjepit erat di rongga panggul dan salah satu tangan atau lengan sering

mengalami prolaps ke vagina dan melewati vulva. 1,3,9

Gambar 1.2 Leopold


Letak Lintang

MEKANISME PERSALINAN
Kelahiran bayi spontan normal yang sudah berkembang sempurna jelas tidak mungkin

terjadi pada letak lintang persisten. Setelah ketuban pecah, jika persalinan berlanjut, bahu

janin akan dipaksa masuk ke dalam panggul dan tangan yang sesuai sering menumbung.

Setelah terjadi sedikit penurunan, bahu tertahan oleh tepi pintu atas panggul, dengan kepala

di salah satu fossa iliaka dan bokong pada fossa iliaka yang lain. 1,4,5 Bila proses persalinan

berlanjut, bahu akan terjepit kuat di bagian atas panggul. Uterus kemudian berkontraksi

dengan kuat dalam upayanya yang sia-sia untuk mengatasi halangan tersebut. Setelah

5
beberapa saat, akan terbentuk cincin retraksi yang semakin lama semakin meninggi dan

semakin nyata. Keadaan ini disebut letak lintang kasep. 1,3,8,9 Jika tidak cepat ditangani dengan

benar, uterus akhirnya akan mengalami ruptur dan baik ibu maupun bayi dapat meninggal. 3
Pita otot tebal yang membentuk cincin retraksi patologis yang terjadi tepat di segmen

bawah uterus yang sangat tipis. Tenaga yang dihasilkan selama kontraksi uterus mengarah

secara sentripetal pada atau diatas cincin tersebut. Keadaan ini akan mengakibatkan segmen

bawah uterus yang sangat tipis tersebut meregang lebih lanjut sehingga dapat mengalami

ruptur di bawah cincin retraksi (P.R.R = cincin retraksi patologis). 1

Gambar 1.3 Letak


Lintang Kasep dengan
Cincin Retraksi Patologis
Bila janin amat kecil (biasanya kurang dari 800 g), dan panggul sangat lebar,

persalinan spontan dapat terjadi meskipun kelainan letak tersebut menetap. Janin akan

tertekan dengan terdorong ke abdomen. Bagian dinding dada di bawah bahu kemudian

menjadi bagian yang paling bergantung dan tampak di vulva. Kepala dan dada kemudian

melewati rongga panggul secara bersamaan, dan bayi dapat dikeluarkan dalam keadaan

terlipat (conduplicatio corpore). 1,2,3,6,9

6
Gambar 1.4 Letak Gambar 1.5
Lintang Kasep dengan Conduplicatio Corpore
Lengan Menumbung

Ada kalanya anak yang pada permulaan persalinan dalam letak lintang, berputar

sendiri menjadi letak memanjang atau versio spontanea yang hanya mungkin jika ketuban

masih utuh. Kalau janin kecil, sudah mati dan menjadi lembek, kadang-kadang persalinan
7
dapat berlangsung spontan. Jalan lahir dalam keadaan terlipat melalui jalan lahir

(konduplikasio korpore) atau lahir dengan evolusio spontanea menurut cara Denman atau

Douglas.

Terdapat 2 variasi pada evolutio spontanea3,8,9 :

1. Mekanisme dari Douglas: Terjadi laterofleksi ke bawah dan paha tulang pinggang

bagian atas, bahu masuk ke dalam rongga panggul maka setelah bahu lahir, lahirlah

sisi toraks, perut, bokong, dan akhirnya kepala


2. Mekanisme dari Denman: Bahu tertahan pada simfisis dan denga fleksi kuat di bagian

bawah tulang belakang, badan bagian bawah, bokong dan kaki turun di rongga

panggul dan lahir, kemudian disusul badan bagian atas dan kepala. Disini terjadi

7
laterofleksi ke atas dan pada tulang pinggang bagian bawah maka setelah bahu lahir,

lahirlah bokong baru kemudian dada dan kepala.

Dua cara tersebut merupakan variasi suatu mekanisme lahirnya janin dalam letak

lintang, akibat fleksi lateral yang maksimal dari tubuh janin.

Gambar 1.6 Cara


Gambar 1.7 Cara
Denman
Douglas

PENATALAKSANAAN

Dalam Kehamilan 9
Pada saat hamil, pada usia kehamilan 34-36 minggu dapat dianjurkan untuk dilakukan

knee chest position sampai usia kehamilan > 36 minggu. Setelah itu, jika masih dalam letak

lintang maka dapat dilakukan versi luar jika syarat memenuhi.


Dalam Persalinan 8,9

Secara umum, dimulainya persalinan aktif pada wanita letak lintang sudah merupakan

indikasi seksio sesarea. Setelah proses persalinan berjalan baik, percobaan untuk mengubah

posisi menjadi letak longitudinal dengan manipulasi abdomen tidak mungkin berhasil.

Sebelum persalinan atau pada awal persalinan, dengan ketuban yang masih utuh, upaya versi

luar layak dicoba bila tidak ada komplikasi obstetrik lain yang merupakan indikasi

8
dilakukannya seksio sesarea. Dalam suatu penelitian, Phelan dan rekan (1986),

merekomendasikan upaya tersebut dilakukan hanya setelah kehamilan berusia 39 minggu

karena tingginya (83%) frekuensi perubahan spontan menjadi letak longitudinal. Jika selama

awal persalinan, kepala bayi dapat diputar dengan manipulasi abdomen hingga masuk ke

panggul, posisi kepala tersebut harus dipertahankan dalam panggul selama beberapa

kontraksi berikutnya untuk mencoba memfiksasi kepala bayi di dalam panggul. Bila tindakan

ini gagal, tindakan seksio sesarea harus segera dilakukan. 10

Sectio sesaria merupakan metode pilihan untuk melahirkan bayi pada letak lintang

dengan dua pengecualian yaitu pada fetus yang imatur kurang dari 500 gram dan pada fetus

maserasi diatas 1050 gram keduanya dapat dilahirkan pervaginam. Kenyataannya pada

presentasi bahu dengan kematian fetus dan korioamnionitis sectio sesaria merupakan

tindakan yang dianjurkan. Dengan insisi transversal yang rendah cukup adekuat untuk letak

lintang, dengan syarat mengetahui pasti mengenai posisi kepala janin dan ekstremitas. Ketika

insisi uterus sudah dilakukan, operator harus dapat menemukan kepala dan segera menarik ke

arah rongga panggul. Jika hal ini tidak memungkinkan, operator dapat menarik bagian kaki

dan melahirkan bayi dalam presentasi Breech. Terkadang sulit untuk melahirkan bayi dengan

letak lintang melalui insisi transversal rendah, khususnya jika bagian punggung janin diatas

rongga panggul sehingga dilakukan insisi T untuk melahirkan bayi. 1,4,10

Karena baik kaki maupun kepala bayi tidak menempati segmen bawah uterus, insisi

melintang rendah pada uterus mungkin akan menyulitkan ekstraksi bayi, yang terjebak dalam

korpus uteri diatas garis insisi. Karena itu, insisi vertikal umumnya lebih disukai. Bila pada

letak lintang kasep baik multi ataupun primi persalinan harus diakhiri dengan SC bila janin

hidup dan embriotomi bila janin mati. 1,3,4,6,9

Versi Luar3

9
Versi adalah prosedur untuk melakukan perubahan presentasi janin melalui

manipulasi fisik dari satu kutub ke kutub lain yang lebih menguntungkan bagi

berlangsungnya proses persalinan pervaginam dengan baik.

Klasifikasi:

a. Berdasarkan arah pemutaran


Versi sepalik: merubah bagian terendah janin menjadi presentasi kepala
Versi podalik: merubah bagian terendah janin menjadi presentasi bokong
b. Berdasarkan cara pemutaran
Versi luar (external version) proses pemutaran kutub tubuh janin dimana

proses manipulasi seluruhnya dilakukan diluar kavum uteri


Indikasi: letak bokong, letak lintang, letak kepala
Syarat :
- Janin dapat lahir pervaginam atau diperkenankan untuk lahir pervaginam

( tidak ada kontraindikasi)


- Bagian terendah janin masih dapat dikeluarkan dari pintu atas panggul

(belum engage)
- Dinding perut ibu cukup tipis dan lentur sehingga bagian-bagian tubuh

janin dapat dikenali (terutama kepala) dan daoat dirasakan dari luar dengan

baik
- Selaput ketuban utuh
- Pada parturien yang sudah inpartu: dilatasi serviks kurang dari 4 cm dengan

selaput ketuban yang masih utuh


- Pada ibu yang belum inpartu: pada primigravida usia kehamilan 34-36

minggu ; pada multi gravida usia kehamilan lebih dari 38 minggu.


Kontra Indikasi:
- Perdarahan antepartum pada plasenta previa atau plasenta letak

rendah, usaha memutar janin dikhawatirkan akan menyebabkan

plasenta lepas dari insersionya sehingga akan menambah perdarahan


- Hipertensi pada penderita hipertensi pada umumnya sudah terjadi

perubahan pembuluh arteriole plasenta sehingga manipulasi eksternal

dapat semakin merusak pembuluh darah tersebut

10
- Cacat uterus jaringan parut akibat sectio sesaria atau miomektomi

pada mioma intramural merupakan locus minoris resistancea yang

mudah mengalami ruptura uteri


- Kehamilan kembar
- Primi tua nilai sosial anak yang tinggi atau riwayat infertilitas ;

insufisiensi plasenta atau gawat janin


Faktor yang menentukan keberhasilan tindakan versi luar:
- Paritas
- Presentasi janin
- Jumlah air ketuban
Faktor yang mempengaruhi terjadinya kegagalan tindakan versi luar:
- Bagian terendah janin sudah engage
- Bagian janin sulit diidentifikasi (terutama kepala)
- Kontraksi uterus yang sangat sering terjadi
- Hidramnion
- Tali pusat pendek
- Kaki janin dalam keadaan ekstensi (frank breech)
Teknik:
1. Versi luar harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas tindakan SC

emergensi dan dilakukan atas persetujuan penderita setelah mendapatkan

informasi yang memadai dari dokter


2. Sebelum melakukan tindakan VL, lakukan pemeriksaan ultrasonografi

untuk:
- Memastikan jenis presentasi
- Jumlah cairan amnion
- Kelainan kongenital
- Lokasi plasenta
- Ada atau tidaknya lilitan tali pusat
3. Sebelum melakukan tindakan VL, harus dilakukan pemeriksaan

kardiotokografi (non-stress test) untuk memantau keadaan janin


4. Pasang iv line sambil dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan

darah lengkan (persiapan bilamana harus segera dilakukan tindakan sectio

sesaria)
5. Pasien diminta untuk mengosongkan kandung kemih
6. Berikan terbutaline 0.25 mg subcutan sebagai tokolitik atau salbutamol 0.5

mg i.v pelan pelan selama 5 menit


Tahap mobilisasi: mengeluarkan bagian terendah janin dari panggul
- Ibu berbaring terlenjang atau posisi Trendelenburg ringan dengan

posisi tungkai dalam keadaan fleksi pada sendi paha dan lutut

11
- Perut ibu diberi bedak atau jelly
- Penolong berdiri disamping kanan dan menghadap ke arah kaki ibu
- Dengan kedua telapak tangan diatas simfisis menghadap ke bagian

kepala
Tahap eksenterasi: membawa bagian terendah ke fossa illiaca
- Setelah diluar panggul, bokong ditempatkan pada salah satu dari fossa

iliaca agar radius putaran tidak terlalu jauh.


Tahap rotasi: memutar janin ke kutub yang dikehendaki
- Pada waktu akan melakukan rotasi penolong menghadap ke arah muka

ibu
- Satu tangan memegang bokong (bagian terendah) dan tangan lain

memegang kepala; dengan gerakan bersamaan dilakukan rotas

sehingga janin berada presentasi yang dikehendaki


Tahap fiksasi: mempertahankan presentasi janin agar tidak kembali presentasi

semula (pemasangan gurita)


Kriteria versi luar dianggap gagal
- Ibu mengeluh nyeri saat dilakukan pemutaran
- Terjad gawat janin atau hasil NST memperlihatkan adanya gangguan

terhadap kondisi janin


- Bagian janin tidak dapat diidentifikasi dengan baik oleh karena sering

terjadi kontraksi uterus saat dilakukan palpasi


- Terasa hambatan yang kuat saat versi
Komplikasi versi luar:
- Solutio plasenta
- Ruptura uteri
- Emboli air ketuban
- Hemorrhagia fetomaternal
- Isoimunisasi
- Persalinan preterm
- Gawat janin dan IUFD
Versi internal (internal version): manuver berupa versi podalik pada kala II

melalui manipulasi intrauterin (biasanya diikuti dengan tindakan ekstraksi kaki

sehingga lazim disebut tindakan versi ekstraksi). Manuver ini sangat

berbahaya dan hanya dilakukan pada gemelli anak kedua yang ukuran

tubuhnya tidak terlalu besar.


Versi bipolar (Braxton Hicks version)

12
Gambar 1.8 Versi luar

Gambar 1.9 Versi Gambar 1.10 Versi


Dalam Braxton Hicks

13
Bagan I : (a) Alur Tatalaksana Letak Lintang dalam Persalinan

LETAK LINTANG DALAM

Belum Kasep
kasep

Selaput Ketuban Selaput Ketuban Janin Mati Janin Mati


(+) (-)

Pembukaan SC Embrioto SC
mi

<4 >4
cm cm

VL Janin mati Janin


hidup

Tunggu
primi multi
lengkap

Riwayat
Embriotom
obstetri
i
baik jelek

Tunggu
lengka
p

VE

SECTIO CESAREA
FAKTOR PREDISPOSISI
Grandemultipara
Plasenta previa
Distosia jaringan lunak
Fundus uteri lebih rendah dari usia kehamilan
Uterus pendek, lebar
Disfungsi persalinan
Umur kehamilan
CURIGA LETAK LINTANG
Bagan I : (b) Alur Tatalaksana Letak Lintang dalam Persalinan
PROGNOSIS
nin di fosa iliaka terpalpasi dan teridentifkasi adanya ekstremitas
danya bagian terbawah janin dalam panggul
Letak lintang merupakan letak yang tidak mungkin lahir spontan dan berbahaya untuk
asi malpresentasi
ibu maupun anak. Biarpun bisa lahir spontan anaknya akan lahir mati.

Dalam keadaan tertentu, di RSHS bila umur kehamilan < 30 minggu dan atau berat anak

< 1400 gram boleh dicoba persalinan pervaginam. Periksa kesejahteraan janin
Perkiraan umur kehamilan

Persalinan dengan presentasi bahu meningkatkan risiko maternal dan sangat menambah

ancaman kematian pada bayi. Kebanyakan kematian ibu akibat komplikasi kasus kasep

Janin
terjadi hidup
karena Janin mati
ruptur uteri spontan atau traumatik Janin
akibat tindakan versi dan hidup yang
ekstraksi
Aterm atau terlambat.
keliru serta preterm Selain itu, sering diketahui Fungsi
terjadi infeksi karena partus lama. paru
Meskiimmatur
dengan
pasti
penanganan sebaik mungkin, morbiditas tetap meningkat karena seringnya disertai plasenta

previa, peningkatan kemungkinan terjadinya prolaps tali pusat, dan keharusan


Upayakanuntuk
Pertimbangan versi
menghentikan
melakukan tindakan operasi besar.
luar
Persalinan prematur

Penyebab kematian bayi adalah prolapsus funikuli dan asfiksia karena kontraksi rahim

terlalu kuat. Juga


Singkirkan tekukan leher yang kuat dapatTokolitik
adanya menyebabkan
gagalkematian.
atau Tokolitik
kontraindikasi tidak bisa dikerjakan berhasil
Prognosis
Persyaratan bayi sangat bergantung pada saat pecahnya ketuban. Selama ketuban masih
pokok
terpenuhi, USG
utuh, bahaya janin
Monitoring bagi anak dan ibu relatif kecil. Oleh karena itu kita harus berusaha supaya
Follow up
dengan
ketuban selama mungkin utuh, misalnya:
seksama

1. Melarang pasien mengejan


Versi2.luar tak biasa
Pasien dengan anak yang melintang tidak dibenarkan berjalan-jalan
Versi luar
3. Tidak diberi obat augmentasi hisberhasil
Dikerjakan atau
4. Pemeriksaan dalam dilakukan harus hati-hati jangan sampai memecahkan ketuban
gagal
bahkan di luar rumah sakit sedapat-dapatnya jangan dilakukan pemeriksaan dalam
Setelah ketuban pecah, bahayanya bertambah karena:
1. Dapat terjadi letak lintang kasipPertimbangan
jika pembukaankemungkinan
sudah lengkap dilakukan
2. Anak dapat mengalami asfiksia karena gangguan sirkulasi
persalinan uteroplasenta
pervaginam
3. Tali pusat dapat menumbung

sectio pervaginam
4. Bahaya infeksi bertambah
KESIMPULAN

Letak lintang merupakan keadaan dimana sumbu panjang janin kira-kira tegak lurus

terhadap sumbu panjang tubuh ibu.

A. Menurut letak kepala terbagi atas:


- Lli I: kepala di kiri
- Lli II: kepala di kanan
B. Menurut posisi punggung terbagi atas:
- Dorso anterior (di depan)
- Dorso posterior (di belakang)
- Dorso superior (di atas)
- Dorso inferior (di bawah)
Tidak ditemukan bagian bayi di fundus, dan balotemen kepala terasa pada salah satu

fossa iliaka yang lain. Punggungnya terletak di anterior, suatu dataran yang keras

membentang di bagian depan perut ibu; bila punggungnya di posterior, teraba nodulasi

ireguler yang menggambarkan bagian-bagian kecil janin dapat ditemukan pada tempat yang

sama.
Pada pemeriksaan dalam, bagian dada bayi, jika dapat diraba, adanya rasa bergerigi

dari tulang rusuk. Bila dilatasi bertambah, skapula dan klavikula pada sisi toraks yang lain

akan dapat dibedakan. Menentukan presentasi bahu dan arah kepala Posisi aksila

menunjukkan sisi tubuh ibu tempat bahu bayi menghadap.

Sectio sesaria merupakan metode pilihan untuk melahirkan bayi pada letak lintang .

Dimulainya persalinan aktif pada wanita letak lintang sudah merupakan indikasi seksio

sesarea. Saat hamil, pada usia kehamilan 34-36 minggu dapat dianjurkan untuk dilakukan

knee chest position sampai usia kehamilan > 36 minggu. Setelah itu, jika masih dalam letak

lintang maka dapat dilakukan versi luar jika syarat memenuhi.

Persalinan dengan presentasi bahu meningkatkan risiko maternal dan sangat

menambah ancaman kematian pada bayi. Kebanyakan kematian ibu akibat komplikasi kasus

kasep terjadi karena ruptur uteri spontan atau traumatik akibat tindakan versi dan ekstraksi

yang keliru serta terlambat.


DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham, F.G dkk. 2005. Letak Lintang dalam: Williams Obstetrics.edisi 22. New

York: Mc Graw Hill Medical Publising Division,


2. Martohoesodo, S dan Hariadi, R. 2009. Distosia karena Kelainan Letak serta Bentuk

Janin dalam Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo.

Jakarta3.Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL. Malpresentation. In: Obstetrics

normaland problem pregnancies. 3rd ed. New York: Churchill Livingstone. Ltd.
3. Winkjosastro, Hanifa, dkk. 2006. Letak Lintang, dalam Ilmu kebidanan,edisi keenam.

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


4. Winkjosastro, Hanifa, dkk. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan edisi pertama,cetakan

kelima. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


5. Wiknjosastro H. 2002. Patologi Persalinan dan Penanganannya dalam Ilmu

Kebidanan, edisi ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.


6. Jeremy Oats and Suzanne Abraham. 2005. Llewellyn-Jones Fundamentals

of Obstetrics and Gynaecology 8th Edition. Elsevier Mosby, Edinburgh


7. Mochtar, D. 1998. Letak Lintang (Transverse Lie) dalam Sinopsis Obstetri : Obstetri

Fisiologi, Obstetri Patologi 2ndeds. EGC. Jakarta.


8. Llweilyn. Jones, D. 2001. Kelainan Presentasi Janin dalam Dasar dasar Obsteri &

Ginekologi. Hipokrates. Jakarta.


9. Sastrawinata, Sulaiman, 2012, Distosia dalam Persalinan dan Kelainan Letak dalam

Obstetri Patologi, Bandung : EGC.


10. Arias, Fernando. 2008.Practical Guide to High Risk Pregnancy and Delivery. 2nd

edition. Mosby Year Book.