You are on page 1of 14

PENDAHULUAN

PENGANTAR Seiring dengan pekembangan waktu, dunia jurnalisme global terus-menerus mengalami perubahan. Salah satu masalah yang penting untuk ditelaah adalah dilema penurunan kualitas berita di media massa, diakibatkan tekanan dari pengiklan (commercial pressure) (van Zoonen, 1998). Penurunan mutu tersebut dilakukan organisasi media, demi meraih sebanyak-banyaknya pemirsa berita melalui penjajakan rating, Hal tersebut berujung pada persaingan dalam mendapatkan investor iklan dalam slot berita. Penurunan kualitas produk organisasi berita, menurut Michelle Crowley, terjadi setelah organisasi berita mengubah perannya dari seharusnya menginformasikan pesan kepada masyarakat, menjadi menempatkan diri dalam ranah hiburan, semata-mata demi rating dan oplah. Bentuk pelaksanaannya misalnya dengan bulletin berita televisi yang lebih banyak menayangkan soft news, atau surat kabar menampilkan berita yang sifatnya harusnya masuk ranah hiburan pada kolom khusus hard news (yang kadang malah menjadi halaman depan). Beberapa stasiun TV kadang malah membuang berita penting, dari daftar berita yang akan ditayangkan. Alasannya karena produser-berita mengerti bahwa berita yang dibuang tersebut tidak menarik bagi permirsa, sebagaimana disampaikan Bernard Goldberg dalam babnya di buku The Most Important Story You Never Saw on TV.1 Kunda Dixit (1997) menamainya menuggets, berita tanpa tulang. Berita seperti ini dibuat dengan konsep sederhana: bahwa berita harus dapat dijual. Menuggets mengacu pada sistem produksi layaknya waralaba hamburger. Berita diproses dan dikemas dalam konsep penyiaran global untuk konsumsi denominator terendah berdasarkan survei pasar. Keadaan demikian memang selalu dipicu volume khalayak berita yang sebelumnya cenderung datar, bahkan menurun jumlah pemirsanya. Keadaan tersebut berlangsung sebagaimana yang

1

Crowley, Michelle (2005, October 14 ). This Business of Entertainment (Journalism), diambil 24 Mei 2008 dari http://128.122.253.148/pubzone/pressethic/node/329

th

Page | 1

disampaikan Mario Vargas Llosa, bahwa kini permirsa lebih senang mencari hiburan daripada informasi sesungguhnya2. Hal tersebut juga tak pelak terjadi pada dunia media penyiaran televisi. Berita yang sekarang disajikan di layar kaca lebih menekankan pada penyajian berita yang “apapun yang bisa menghibur dan membuat penonton tertarik, agar menjadi khalayak setia”. Hasilnya adalah berita-berita yang muncul di TV lebih mengedepankan konflik dan drama atas sebuah peristiwa yang sering terlalu dilebih-lebihkan (dalam beberapa kasus malah terangterangan dibuat-dibuat). Selain itu, kualitas penyajian berita di TV seringkali lebih hanya menitikberatkan pada gambar, sementara unsur pelaporannya tidak kuat. Yang lebih mengerikan adalah efek pembodohan khalayak, yang tentunya dihasilkan media ini, sehingga ditakutkan masyarakat malah akan terbiasa dengan jenis jurnalisme yang hanya akan memuaskan mereka, namun tidak mendidik dan membangun kesadaran mereka. Dalam makalah ini, saya akan mengambil satu contoh terhadap sebuah produk jurnalisme televisi, yaitu acara berita kriminal SERGAP di stasiun televisi swasta RCTI. Berita kriminal menjadi menarik karena tayangan Berita kriminal merupakan produk televisi yang rating dan share market-nya cukup besar, (TV Rating: 1.5, Share: 15),3 dan jumlah tayang keseluruhan berita kriminal di seluruh televisi swasta nasional, bila digabungkan dapat mencapai 540,6 menit per hari.4 SERGAP sejatinya merupakan produk jurnalisme murni yang membawakan berita seputar kriminalitas yang berada di lingkup nasional, meskipun lingkupnya lebih terbatas banyak berada di Pulau Jawa. Namun SERGAP di kemudian hari beralih fungsi (atau bisa kita katakan memdeteriorasi –penulis) menjadi sebuah bentuk penayangan yang lebih condong menampilkan bentuk tabloidisasi serta condong menayangkan inovasi yang condong kepada “apa yang khalayak suka” dengan acapkali melanggar beberapa kaidah jurnalistik, dibandingkan menonjolkan kekuatan berita jurnalistik itu sendiri.
2

Vargas Llosa, Mario (2007). World Editors Forum in Cape Town, diambil dari http://www.editorsweblog.org/editors_forum//2007/06/cape_town_conference_mario_vargas_llosa.php 3 Diakses 25 Mei 2008, dari http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=525.1260 4 Diakses 24 Mei 2008, dari http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/18/opi4.htm

Page | 2

KONSEP-KONSEP MENGENAI JURNALISME HIBURAN

APAKAH ITU JURNALISME HIBURAN? Jurnalisme “Hiburan” (‘entertainment’ journalism) atau bisa juga disebut “Jurnalisme yang menghibur” (entertaining journalism) memiliki arti “pemberitaan yang dengan sengaja disampaikan secara provokatif atau dimanipulasi untuk “memukau” atau menarik perhatian pemirsa”. Dengan kata lain, Jurnalisme hiburan merupakan sebuah istilah sarkas untuk menggambarkan jurnalisme yang tidak bertanggung jawab (irresponsible journalism). Produkproduk yang dikategorikan “jurnalisme hiburan” biasa mengambil pendekatan menulis berita seperti Tabloid. Pendekatan Tabloid menekankan pada pemancingan reaksi emosi pemirsa, tanpa peduli apakah berita tersebut pantas ataukah tidak pantas diberitakan. Pemancingan reaksi emosi demikian melibatkan berita yang dipertunjukkan secara heboh (sensational), seringkali terlalu dibesar-besarkan, serta hanya menulis berita dengan pemberitaan yang akan menyenangkan dan diinginkan pemirsa. Dalam beberapa kasus, masalah penulisannya terlampau parah dengan kadang hanya menampilkan berita yang digali berdasarkan prasangka atau dugaan semata (tipikal infotainment -penulis), memberikan sebutan atau sebutan kepada seorang yang sifatnya tidak senonoh, serta kadang malah menjiplak terang-terangan berita dari sumber pelaporan berita lain.5 PERBEDAAN JURNALISME DAN JURNALISME “HIBURAN” Jurnalisme ”Hiburan” tidak sama dengan jurnalisme hiburan ala Infotainment. Jurnalisme ”hiburan” menurut saya lebih kepada sebuah karya jurnalisme yang pada awal dan konsepnya adalah otentik, namun pada perkembangannya dimanipulasi konsep dan kemasannya menjadi bergaya hiburan dan meninggalkan nilai-nilai murni jurnalistik. Infotainment hanya terfokus pada apa-apa yang menarik perhatian pemirsa dan pendengar, sementara Jurnalisme sejati meliput kepentingan masyarakat, tapi isinya bisa menghibur,
5

Seperti yang diterjemahkan dan dirangkum dari http://www.planetcrap.com/topics/6/ , diakses 23 Mei 2008

Page | 3

namun bisa juga tidak.6 Nenurut Rassch, berita sesungguhnya tidak sama dengan hiburan, karena tujuan utama Jurnalisme adalah melayani masyarakat dengan tetap memberi asupan berita yang penting bukan hanya sebatas apa yang mereka mau tahu, tapi juga apa yang mereka butuhkan dan harus tahu.7 Jurnalisme ”hiburan” lebih mengutamakan tingkat menarik-tidaknya berita dibanding isi dan informasi analisis itu sendiri (Tony Harcup 2004: 90). CONTOH PRODUK MEDIA JURNALISME HIBURAN Van Zoonen menyebutkan salah satu contoh produk Jurnalisme televise yang telah berubah bentuk menjadi gaya hiburan adalah “Jurnalis Helikopter” atau jurnalis yang menayangkan siaran langsung pengejaran mobil buronan pencurian mobil melalui helicopter (Van Zoonen, 1998). Kunci berita dengan gaya hiburan ini terletak pada betapa hidup & bergeraknya keadaan, betapa nyatanya peristiwa (liveness), serta hebohnya (excitement) sebuah peristiwa dibentuk menjadi “informasi” dan “berita”. Contoh lainnya menurut Zoonen adalah seperti bagaimana sekarang berita TV condong menyuguhkan sepasang pria dan wanita dalam satu tim pembaca berita yang harus berpenampilan menarik. Keduanya ditampilkan menggunakan perbincangan yang bahasanya terlampau ringan, dengan tujuan mempermudah pemirsa memahaminya (humanizing the news).8 Dalam praktiknya, jurnalisme “hiburan” biasa mengedepankan hal-hal berikut ini: 9 Sex – kasus berita yang berhubungan dengan seks dinilai sangat menghibur oleh pemirsa

6 7

Diambil 24 Mei 2008 dari http://www.pantau.or.id/lihatreferensi.php?id=Sembilan%20Elemen%20Jurnalisme Raasch, Chuck (2005, October 13th). Don't mistake journalism for entertainment. NewPolitics, diambil Jumat, 23 Mei 2008, dari http://www.usatoday.com/news/opinion/columnist/raasch/2005-10-13-raasch_x.htm 8 de Burgh, Hugo (2000). Investigative Journalism: Context and Practice. Oxon, UK: Routledge. 9 Harcup, Tony (2004). Journalism: Principles and Practice. SAGE PUBLISHING, INC. hal.89-90

Page | 4

Binatang – beritatentang binatang biasanya berkaitan dengan perilaku binatang yang tidak biasa (misalnya kontes binatang, binatang yang mampu melakukan atraksi, dan sebagainya penulis). Berita Kriminal – berita kriminal selalu menarik pemirsa dan menaikkan penjualan. Kadang kemasannya dibungkus agar sedemikian rupa menarik dan itu lebih diutamakan sebelum informasi dan analisa kasus. Media biasa “membungkusnya” dengan gambar yang sangat detil dari sudut pandang polisi untuk menjelaskan. Dalam “bungkusan” ini juga, media menambahkan drama seperti tangisan atau pingsannya kerabat dan sanak saudara yang ditinggalkan korban, serta potret sang pelaku yang dikerangkakan seolah jahat dengan nyinyir yang seperti tidak mengekspresikan rasa bersalah. TABLOIDISASI BERITA DAN EFEK “DUMBING-DOWN” Tabloidization atau tabloidisasi memiliki dua cakupan, yakni pada cakupan kecil (micro) dan cakupan besar (makro). Pada cakupan kecil, tabloidisasi mengacu pada fenomena perilaku media yang mengubah format media berita menjadi dibuat tergantung sasaran khalayak dan keinginan pengiklan. Sementara pada cakupan besar, tabloidisasi media bisa dilihat sebagai sebuah fenomena sosial yang menghasut serta menggambarkan perubahan sosial besar dalam lembaga masyarakat (misalnya, gambaran berita di TV membawa perubahan bahwa masyarakat akan lambat laun terbentuk untuk terbiasa pada berita yang hanya menyenangkan rasa ingin tahu pribadi saja tanpa nilai berita (newsworthiness) yang tinggi, yang dalam “pembiasaaan” dikemudian hari akan mengasingkan khalayak dari bentuk berita yang bernilai penting sesungguhnya yang mendidik).10 Dumbing-down atau “pembodohan” dimulai ketika berita diubah menjadi “newzak” atau berita yang dirancang dan diproses sedemikian rupa untuk pasar tertentu dan disampaikan dengan cara yang homogen dan hanya memenuhi kebutuhan sederhana khalayak (Franklin 1997: 5). Hal ini dapat diartikan berita kini diubahbentuk menjadi hiburan (Franklin 1997: 5). Tekanan

Lazariou, George News Coverage & Market Driven Tendencies Towards Trivializations and Tabloidizations. Denbridge Press, diakses 24 Mei 2008, dari http://www.denbridgepress.com/emfm_pdf/173.pdf

10

Page | 5

demikian diperoleh dari pemilik media kepada jurnalis agar mereka mampu menghibur khalayak dengan hanya mencari berita yang akan menyenangkan pemirsa, dibanding untuk menginformasikan dan mendidik (Frost 2002: 5). Hal demikian menciptakan jurnalis yang: • • • • • Hanya menyorot sebuah polemik dari pertentangan semata, bukan perdebatannya Mengutubkan masalah dengan remeh, tidak mengemukakan pendapat yang berbeda dari pendapat umu atau kebanyakan khalayak Menyorot konflik hanya sebatas melihat perselisahan antar pihak, tapi tidak mempelihatkan dengan jelas argumen mengapa kedua pihak tersebut berselisih Lebih hanya memperlihatkan alasan-alasan berkelit dalam diskusi politik dibanding membahas isi kebijakan. Jarang memperlihatkan duduk persoalan mengapa suatu permasalahan terjadi secara substansial (Bourdieu 1998: 3-7). Salah satu contoh pembodohan adalah ketika news bulletin mengabaikan pemberitaan yang pentign dan serius, dan malah menggantinya dengan berita-berita tentang gaya hidup dan hiburan.11 Bentuk tabloidisasi yang menghasilkan efek dumbing-down pada tayangan berita media misalnya dengan sengaja menggunakan pendekatan penyampaian yang menghindari penggunaan ilmu pengetahuan khalayak (atau lebih mudahnya “biar gampang ngerti” – penulis). Istilah “pembodohan” lekat dengan kritik terhadap acara berita di TV yang berusaha memperoleh khalayak yang lebih luas dengan berbagai macam gimmick penyajian, atau dibuatbuat. Dalam tabloidisasi yang membodohi ini, penyajian acara berita kemudian mengedepankan halhal yang remeh temen (trivial), menampilkan suatu kasus secara vulgar (voyeurism), dan heboh (sensasional) layaknya sebuah tabloid cetak umunya yang biasanya berisi gosip dan hal remeh

11

Harcup, op. cit., hal.86-87

Page | 6

temeh lainnya yang mengerangkakan (framing) perhatian khalayak kepada masalah yang sebenarnya tidak penting, namun diterpakan terus menerus sehingga menjadi penting. Konsep demikian memiliki pembelaan bahwa penyajian berita yang demikian mampu membawa khalayak agar lebih mudah mengerti apa yang diberitakan. Padahal hal demikian tanpa disadari membuat mundur kreatifitas dan inovasi-inovasi yang lebih cerdas, dan yang lebih parahnya, membuat ukuran baku budaya dan pendidikan menjadi lebih rendah sehingga membuat masyarakat tidak berkembang pemikirannya.12 Pembodohan akibat tabloidisasi ini membuat media jauh dari peran utamanya memberi tahu khalayak permasalahan apa saja yang harus mereka tahu, yakni, bukan demi memuaskan kepuasan pribadi semata, tetapi juga untuk membuat khalayak mengetahui kondisi masyarakat. Selain itu, Pembodohan mengelakkan khalayak dari pengetahuan dan masalah yang penting dan mampu mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

12

Dumbing Down: Or The Banalisation of Culture. Dumbing Down, diakses Sabtu, 24 Mei 2008, dari http://nomuzak.co.uk/dumbing_down.html

Page | 7

GAMBARAN KASUS

PROGRAM BERITA KRIMINAL “SERGAP” Sergap (kependekan dari kata “serbu" dan “tangkap”) adalah sebuah program berita yang ditayangkan di stasiun televise RCTI di Indonesia. Program berita berformat Majalah Udara (airmagazine) ini diluncurkan pada tahun 2001 dan menyiarkan berita-berita kriminal ang terjadi setiap hari. Tayangan berita Sergap berdurasi kurang lebih 30 menit dan disiarkan pada pagi dan siang hari. Sergap memiliki empat segmen, yakni:
• •

Ungkap - Segmen ini berisi berita kriminal dan hukum terkini Bidik - Segmen ini mengupas lebih dalam tentang sebuah berita yang materinya dianggap kuat

• •

Justisia - Dialog interaktif seputar masalah kriminal Galeri - Feature atau kisah petugas kepolisian & penegak hukum

Untuk mendapatkan keragaman materi, baik dari Jakarta maupun daerah lainnya, Sergap mengerahkan lebih dari 30 koresponden daerah yang dilatih untuk memiliki standar liputan sesuai kode etik jurnalistik dan norma hukum serta sosial yang seragam Untuk memberikan nuansa lain, Sergap juga memiliki segmen yang khas, yaitu segmen Bang Napi yang diperankan oleh Arie Broto (terkadang diperankan oleh Siswanto). Di segmen ini, Bang Napi menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan berita yang sudah disampaikan. Bang Napi biasanya menyampaikan sebuah kredo dipenghujung pesannya, yang berbunyi "Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena niat pelakunya, tapi juga kesempatan. Waspadalah, waspadalah!".

PENYIAR
• •

Ira Syarief Ledy Simarmata

Page | 8

• • • •

Zaldy Noer (Penyiar Sergap Pagi) Andi Iskandar Trini Agustini Crisanty Suwarso13 14

Sergap. Sergap (acara TV). Dari Wikipedia [Web]. Diambil 24 Mei 2008, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sergap Dirangkum dari Rusmitantri, Telni (10 November 2001). Sergap, Program Baru Berita Hukum dan Kriminal RCTI. Koran Tempo Online, 4, diakses 24 May 2008, dari situs http://www.korantempo.com/news/2001/10/10/Budaya/4.html
14

13

Page | 9

ANALISA KASUS

KASUS SERGAP, sebagaimana acara penyajian berita criminal di televisi swasta lainnya seperti Patroli, Buser, dan lain lain, merupakan berita kriminal yang sejatinya merupakan produk jurnalisme sejati yang mengedepankan penyajian berita kriminalitas kepada masyarakat. Tujuan jurnalistik pada dasarnya agar masyarakat sadar dan mengenali bahaya yang mungkin terjadi di lingkungan sekitarnya. Namun penunjukan animo masyarakat melalui rating yang lumayan tinggi serta bermunculannya program sejenis membuat stasiun TV swasta berlomba-lomba menjadi pilihan masyarakat agar menarik perhatian pengiklan. Hal demikianlah yang membuat kemasan SERGAP dikemudian hari condong menjadi apa yang dinamakan jurnalisme hiburan. MENGAPA SERGAP DIKATEGORIKAN SEBAGAI JURNALISME HIBURAN? RANGKUMAN SINGKAT KONSEP JURNALISME HIBURAN • Jurnalisme “Hiburan” melibatkan elemen berita asli yang dikemas dengan cara-cara yang mampu memancing dan memukau perhatian pemirsa dengan pendekatan tabloid.

Jurnalisme ”hiburan” lebih mengutamakan tingkat menarik-tidaknya berita dibanding isi dan informasi analisis itu sendiri.

Contoh: Jurnalisme Helikopter – berita digambarkan seolah langsung, menekankan sangat nyatanya peristiwa (liveness), serta hebohnya (excitement) sebuah peristiwa untuk dibentuk menjadi “informasi” dan “berita”.

Contoh: penggunaan bahasa ringan sebagai usaha mempermudah pemahaman (humanizing the news).

Page | 10

Berita Kriminal dalam Jurnalisme “hiburan” – berita kriminal selalu menarik pemirsa dan menaikkan penjualan. Kadang kemasannya dibungkus agar sedemikian rupa menarik dan itu lebih diutamakan sebelum informasi dan analisa kasus. Media biasa “membungkusnya” dengan a. gambar yang sangat detil dari sudut pandang polisi untuk menjelaskan. b. drama - seperti tangisan atau pingsannya kerabat dan sanak saudara yang ditinggalkan korban, serta potret sang pelaku yang dikerangkakan seolah jahat dengan nyinyir yang seperti tidak mengekspresikan rasa bersalah.

Pendekatan tabloid - memancing reaksi emosi pemirsa, dengan gaya heboh (sensational), dan terlalu dibesar-besarkan. Dalam penyajian gaya tabloid ini, berita jurnalistik hiburan terkadang memberikan nama sebutan yang tidak pantas ke suatu subyek tertentu, menampilkan berita yang jadi berita hanya karena suatu prasangka, serta menjiplak berita dari sumber lain secara terang-terangan.

Tabloidisasi mengedepankan hal-hal yang remeh temen (trivial), menampilkan suatu kasus secara vulgar (voyeurism), dan heboh (sensasional) layaknya sebuah tabloid cetak umunya yang biasanya berisi gosip dan hal remeh temeh lainnya yang mengerangkakan (framing) perhatian khalayak kepada masalah yang sebenarnya tidak penting, namun diterpakan terus menerus sehingga menjadi penting.

Dumbing down - news bulletin mengabaikan pemberitaan yang penting dan serius, serta malah menggantinya dengan berita-berita tentang gaya hidup dan hiburan. mengelakkan khalayak dari pengetahuan dan masalah yang penting dan mampu mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

Page | 11

TELAAH KASUS DAN KECOCOKANNYA TERHADAP KONSEP SERGAP, sebagaimana acara berita kriminal lainnya (seperti Buser (SCTV), Patroli (Indosiar), Sidik (TPI), Kriminal (Trans TV), Tajuk Kriminal (TV7), atau Sidik Jari (ANTV), menampilkan drama dalam liputannya terhadap suatu berita kriminal tertentu, yang melibatkan “pengejaran” polisi terhadap tersangka yang kabur (lihat konsep contoh: Jurnalisme “Helikopter”). Dramatisasi suasana tersebut yang dibentuk, sepintas tidak berbeda dengan film. Kita bisa menyaksikan adegan (unsur gambar, drama) kejar-kejaran aparat kepolisian dan tersangka pelaku kejahatan (unsur liveness), kepanikan tersangka dengan klimaks letusan pistol dan robohnya tersangka (unsur excitement & drama). Efek drama demikian semakin ditunjang oleh close-up wajah tersangka yang meringis melawan sakit (unsur excitement), interogasi aparat yang seringkali menunjukkan gambaran siksaan tidak manusiawi kepada tersangka (unsur excitement), serta bercak-bercak darah di lubang bekas terjangan peluru di tubuh tersangka. Hal demikian terkesan sangat dibuat-buat agar unsur sadisnya diterima sebagai hiburan tanpa mengindahkan tersangka adalah manusia juga. (lihat konsep tabloidisasi dengan unsur excitement & vulgar).

SERGAP melibatkan pembawa acara yang dalam beberapa kesempatan menggunakan kata-kata informal yang dimanipulasi nada dan alur bicara agar menimbulkan kesan heboh (nada mengesankan, “eh, tau ngga sih… ada kejadian…”, kadang-kadang pembawa berita mengutuk tersangka, meskipun mungkin bukan perkataan yang terlampau kasar, namun masih terasa tidak pantas untuk disajikan oleh sebauh program berita. Contoh ucapan “ufh”: "Seorang Tamu Ngebakar Bapak dan Bayinya". Hal ini sepintas terlihat digunakan untuk “menghibur” penonton. Pembacaan berita-berita kejahatan seperti pembunuhan dan poemerkosaan dibawakan seolah-olah infotainment yang tidak menyedihkan dan biasa terjadi dimana-mana. (lihat konsep pendekatan tabloid, humanizing the news & dumbing-down) .

SERGAP sering menampilkan gambar-gambar peristiwa kriminalitas yang sensasional, dalam arti mengerikan. Misalnya, kondisi korban yang dibunuh dengan cara yang tidak biasa (terpotongpotong), sorotan terhadap bekas darah korban yang diulang-ulang, potongan tubuh manusia, luka korban yang menganga. (lihat konsep voyeurism ala pendekatan tabloid).
Page | 12

SERGAP menampilkan investigasi, dengan reka ulang dan ilustrasi detil dari kepolisian, dengan adegan yang memang dibentuk agar sama persis, kadang dengan darah buatan dan perilaku actor peraga tersangka yang –parahnya- benar-benar melakukan perilaku pembunuhan tersebut sekalipun menggunakan alat peraga (misalnya, mencekik leher, mencelupkan bayi kedalam kamar mandi). (lihat konsep tabloidisasi - voyeurism, excitement, Berita Kriminal dalam Jurnalisme “hiburan).

Dari setiap kejadian pembunuhan atau pemerkosaan, SERGAP hampir selalu menampilkan korban yang sedang diwawancara (eksploitasi korban!), sengaja menyorot anggota keluarga dari korban yang meninggal yang menangis-nangis dan pingsan (lihat konsep tabloidisasi, gambar menggugah emosi). PENUTUP & KESIMPULAN
Dengan analisa kecocokan antara kasus dengan konsep diatas, maka bisa kita simpulkan bahwa SERGAP merupakan salah satu contoh bentuk Jurnalisme “Hiburan”, atau dengan kata lain, Jurnalisme yang Tidak Bertanggung Jawab (Irresponsible Journalism). Produk Jurnalisme “Hiburan” seperti SERGAP seharusnya diperbaiki dan diberi sangsi keras oleh Komisi Penyiaran Indonesia karena besarnya efek pembodohan terhadap bangsa, juga menghilangkan prinsip jurnalisme yang baik dan mendidik, serta melanggar Keputusan Komisi Penyiaran Indonesia No. 009 / SK / 8 / 2004 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program siaran pasal 32-38, khususnya mengenai larangan program dan tayangan terkait kekerasan.

Produk Berita kriminal seperti ini harusnya dipertanyakan tanggung jawab dari setiap kontributor, koresponden, wartawan, dan pengelola televisi karena memiliki kecenderungan menyebabkan orang melakukan tindak kejahatan karena terinspirasi dari berita kriminal di televisi. Akibat program berita kriminal pula, masyarakat bisa terbiasa untuk menanggapi sebuah tindakan kejahatan sebagai hal yang lumrah, karena sering nya tayangan berita kriminal di televisi. Oleh karena itu, penting bagi kita memperbaiki tayangan sejenis, demi pembangunan dan pencerdasan bangsa dan generasi selanjutnya.

Page | 13

DAFTAR PUSAKA • • Crowley, Michelle (2005, October 14th). This Business of Entertainment (Journalism), diambil 24 Mei 2008 dari http://128.122.253.148/pubzone/pressethic/node/329 Vargas Llosa, Mario (2007). World Editors Forum in Cape Town, diambil 24 Mei 2008 dari http://www.editorsweblog.org/editors_forum//2007/06/cape_town_conference_mario_va rgas_llosa.php • • • • • http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=525.1260 , Diakses 24 Mei 2008 http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/18/opi4.htm, Diakses 24 Mei 2008 http://www.planetcrap.com/topics/6/ , diakses 23 Mei 2008 http://www.pantau.or.id/lihatreferensi.php?id=Sembilan%20Elemen%20Jurnalisme , Diakses 24 Mei 2008 Raasch, Chuck (2005, October 13th). Don't mistake journalism for entertainment. NewPolitics, diambil Jumat, 23 Mei 2008, dari http://www.usatoday.com/news/opinion/columnist/raasch/2005-10-13-raasch_x.htm • • • de Burgh, Hugo (2000). Investigative Journalism: Context and Practice. Oxon, UK: Routledge. Harcup, Tony (2004). Journalism: Principles and Practice. SAGE PUBLISHING, INC. hal.89-90 Lazariou, George. News Coverage & Market Driven Tendencies Towards Trivializations and Tabloidizations. Denbridge Press, diakses 24 Mei 2008, dari http://www.denbridgepress.com/emfm_pdf/173.pdf • • • • Harcup, op. cit., hal.86-87 Dumbing Down: Or The Banalisation of Culture. Dumbing Down, diakses Sabtu, 24 Mei 2008, dari http://nomuzak.co.uk/dumbing_down.html Sergap. Sergap (acara TV). Dari Wikipedia [Web]. Diambil 24 Mei 2008, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sergap Telni (10 November 2001). Sergap, Program Baru Berita Hukum dan Kriminal RCTI. Koran Tempo Online, 4, diambil 24 May 2008, dari http://www.korantempo.com/news/2001/10/10/Budaya/4.html

Page | 14