You are on page 1of 18

MOUTH ULCER

A. Definisi dan Etiologi

Ulkus diartikan sebagai defek lokal atau ekskavasasi permukaan jaringan atau organ,yang lebih dalam

dari jaringan epitel. Hal ini penting mengingat penyakit-penyakit yangmanifestasinya berupa ulkus seringkali

salah didiagnosis dengan penyakit bermanifestasi erosi.Penyebab timbulnya ulkus di mukosa mulut antara

lain karena berbagai infeksi atau gangguansistemik lainnya, terutama kelainan darah, saluran pencernaan, atau

kulit. Neoplasma ganas biasanya mulai sebagai pembengkakan atau benjolan, tetapi dapat bermanifestasi

sebagai bisul. Ulkus sering juga disebabkan oleh trauma atau luka bakar, aphtha, terkadang disebabkan pula

karena obat-obatan.

Etiologi ulkus pada mukosa mulut :


B. Prinsip Anamnesis

Dalam menegakkan diagnosis ulkus di mukosa mulut, anamnesis dan pemeriksaan fisik tetap menjadi

modalitas utama, disamping pemeriksaan penunjang. Sebagai lini pertama,anamnesis mengenai riwayat

penyakit saat ini maupun yang terdahulu perlu dilakukan secaracermat untuk mendapatkan data yang

dibutuhkan dalam upaya menegakkan diagnosis tersebut.Apabila pasien datang dengan keluhan adanya ulkus

pada mulutnya, yang perlu ditanyakan adalah:

- Sejak kapan ulkus tersebut muncul (onset) ?

- Apakah ulkus tunggal atau multiple (jumlah)?

- Dimanakah lokasi ulkus tersebut? (Pada ulkus akibat trauma, umumnya pada laterallidah, mukosa

bibir, atau pipi pada daerah oklusal)

- Berapa lama durasi dari ulkus tersebut? (Pada ulkus dengan kausa lokal, durasinya lebih singkat,

sekitar 7-14 hari).

- Apakah ulkus tersebut setelah diobati dapat muncul kembali (rekuren atau tidak)?

- Apakah terdapat rasa nyeri pada ulkus tersebut?

- Apakah terdapat gejala-gejala lain seperti demam, malaise, nyeri kepala, anorexia,penurunan berat

badan, diare, dan sebagainya?

Kemudian, untuk mengetahui penyebab dari ulkus tersebut perlu ditanyakan riwayat pasiensebelum

dan selama timbulnya ulkus, sebagai berikut:

- Riwayat trauma: Tergigit secara tidak sengajaPada pasien yang mengalami trauma kronis, ulkus

yang terbentuk berbatas tegas dengan whitish keratotic halo, kekerasan dan paparan dengan

benda panas (makanan atau cairan panas), bahan kimia (menahan obat kumur di dalam mulut dalam

waktu yang lama), dan radiasi.

- Penggunaan obat-obatan, baik topikal maupun sistemik.


- Kebiasaan membersihkan mulut secara benar atau tidak.

- Penggunaan aplikasi orthodontis, paling sering gigi palsu terutama yang baru.

- Riwayat merokok.

- Sensitifitas terhadap suatu jenis makanan tertentu.

- Riwayat penyakit saluran pencernaan.

- Riwayat penyakit sistemik (seperti diabetes mellitus dan hipertensi).

- Riwayat penyakit immunocompromised atau penggunaan obat-obatan imunosupresan.

- Riwayat keganasan:

- Riwayat masalah psikologis.

- Apakah ditemukan pada bagian tubuh yang lain seperti kulit atau genital?

1. Ulkus Akibat Reaksi Obat (Stomatitis Medikamentosa)

Berbagai macam obat dapat menyebabkan timbulnya ulkus di mukosa mulut. Perlu ditanyakan

kepada pasien apakah pasien menkonsumsi obat-obatan yang dapat menjadi penyebab ulkus tersebut,

antara lain: Antiangina (nicorandil), antibiotik (metronidazol, penicillin, eritromisin, tetrasiklin),

antikonvulsan (klonazepam, hidantoin, lamotrigine), antidepresan (imipramin, fluoxetine),a ntihipertensi

(captopril, enalapril, propranolol),agen anti-inflammasi seperti NSAID (aspirin, ibuprofen, indometacin,

naproxen),a ntimalaria (klorokuin), antimitotik yang digunakan dalam kemoterapi (cisplatin,

ciclosporin, doxorubicin, methotrexate, vincristine),antiretrovirals (ritonavir, saquinavir, zidovudine), dan

kokain.

2. Aphtha

Aphtha merupakan ulkus kecil berbentuk oval atau bulat, yang dilapisi eksudat abu-abudan dikelilingi

halo berwarna merah, yang merupakan karakteristik dari stomatitis aftosarekuren. Anamnesis yang dapat

membantu menegakkan diagnosis aphtha yaitu: (1) Diawali dengan sensasi kesemutan atau terbakar
pada lokasi yang nantinya timbul ulkus, (2) Pertama kali timbul saat masa kanak-kanak, (3)Terdapat

riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga, (4) Dapat timbul akibat adanya stress, trauma,

paparan terhadap jenis makanan tertentu(kacang, coklat, keripik kentang), dan penghentian merokok ,

(5) Riwayat penyakit anemia defisiensi besi atau defisiensi vitamin B (asam folat dan B 12).

Minor aphtha ( Mikuliczs aphtha )

- Durasi 7 hingga 10 hari.

- Cenderung tidak terlihat pada gingiva, palatum, atau dorsum lidah-

- Ulkus multipel dengan jumlah 2 hingga 10 buah dalam satu episode.

Major aphtha (Suttons ulcers)

- Dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

- Ulkus multipel dengan jumlah kurang dari 6 buah.

- Paling sering ditemukan pada palatum, tenggorokan, dan bibir. Dapat ditemukan pulapada dorsum

lidah.

Ulkus herpetiformis

- Diawali dengan aphtha multipel dengan ukuran pin point yang nantinya membesardengan bentuk

irregular.

- Terutama terdapat pada lidah bagian ventral.

- Terdapat manifestasi ekstraoral

Aphthous-like Ulcer (ALU)

- Timbul pertama kali saat usia remaja.

- Disertai dengan gejala lain seperti demam.

- Terdapat riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

- Tidak membaik seiring dengan bertambahnya usia


- Terdapat penyakit sistemik

3. Sindroma Behets

Anamnesis yang dapat menuntun ditengakkannya Sindroma Bechets antara lain: (1) Terdapat

riwayat ulkus oral berulang. (2) Dapat disertai dengan mialgia, nyeri menelan, nyeri otot yang menjalar,

malaise,anorexia, penurunan berat badan, kelemahan, nyeri kepala, berkeringat, limfadenopati,arthralgia

pada sendi besar, dan nyeri pada substernal dan regio temporal. (3) Terdapat ulkus ekstraoral yaitu pada

genital (penis dan skrotum pada laki-laki, vulvapada wanita), mata, kulit, saraf, dan vascular.

4. Eritema Multiformis

Anamnesis yang dapat menuntun ditegakkannya diagnosis eritema multiformis yaitu: (1) Riwayat ulkus

berulang pada bibir yang diawali dengan makula eritematosa berisi cairanyang saat pecah bentuknya

ireguler, meluas, dan nyeri dengan adanya cairan eksudatserosanguinosa yang nantinya menjadi krusta.

(2) Berlangsung 10 hingga 14 hari, satu hingga dua kali dalam satu tahun. (3) Terdapat gejala pada kulit,

mata, faring, laring, esophagus, dan genital.

C. Ulkus Tunggal dan Multipel

Beberapa faktor yang dapat membantu tegaknya diagnosis penyakit dengan manifestasiulkus adalah

jumlah ulkus, bentuk, ukuran, tempat, dasar, batas, dan ada atau tidaknya nyeri.Sebuah ulkus tunggal,

terutama jika bertahan selama tiga minggu atau lebih biasanya merupakanindikasi kronis dan sering ditemui

pada penyakit ganas atau infeksi serius (misalnya tuberkulosisatau infeksi jamur). Apabila jumlah ulkus telah

diidentifikasi, apakah berjumlah satu atau lebih,maka diagnosis dapat mengikuti algoritma seperti di bawah

ini.
D. Ulkus akut dan kronis

Klasifikasi lesi ulkus di mukosa mulut:

1. Lesi Multipel Akuta.

- Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)

Suatu gingivitis yang dikaitkan dengan sejumlah besar organisme Fusosipirochaeta.Penyakit

ini dimulai dari satu reaksi akut dimana keadaannya didominasi oleh lesiulseratif

yang sangat sakit, nekrotik, dan lesi membranosa sampai infeksi kronis dengan

sedikitgejala. Sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Penyakit ANUG biasa dijumpai

padaoral higiene yang buruk, namun dapat juga terjadi pada oral higiene yang relatif baik.

Faktor predisposisi penyakit ini antara lain:

(1) Faktor Sistemik (Nutrisi yang tidak memadai, penyakit hematologi, istirahat yang tidak cukup,

kebiasaan merokok

(2) Faktor Lokal :

a. Perikoronitis

b. Margin restorasi yang berlebihan

c. Gingivitis marginalis

Manifestasi Klinik ANUG (Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis) yaitu:

- Timbul tiba-tiba, rasa sakit, sensitifitas tinggi, hipersalivasi, perdarahan spontan dari jaringan gusi,

kadang timbul kegoyangan gigi. Tanda-tanda yang sering terjadi adalah perdarahan gusidan

tumpulnya papilla interdental.

- Lesi yang khas terdiri dari: ulserasi yang dangkal dan nekrotik, paling sering

timbul padapapila interdental dan margin gusi. Dapat terjadi pula pada bibir, pipi, dan lidah dimana

jaringanini berkontak dengan lesi gingival atau setelah terjadinya trauma.


- Lesi ulseratif dapat berkembang dan melibatkan prosesus alveolar disertai dengan sekuestrasidari gigi

dan tulang. Bila perdarahan gusi merupakan gejala yang paling menonjol maka gigi dapat terwarnai

superfisial dengan warna coklat disertai bau mulut.

- Nodus limfe regional biasanya sedikit membesar, kadang ditemukan limfadenopati yangmencolok,

terutama pada anak-anak.

- Demam merupakan manifestasi sistemik yang dapat menyertainya.

- Eritema Multiformisc

Merupakam suatu penyakit akut dari kulit dan membrane mukosa yang dapat menyebabkan

beberapa jenis lesi kulit. Gambaran khas terdapat lesi pada mulut, vesikel khas yang pecah dan

terdapat bula. Dapat terjadi sekali atau rekuren.

Etiologi: (1) Deposisi imun kompleks pada mikrovaskular superfisial dikulit dan mukosa (2)

Deposisi IgM dan C3 di pembuluh darah superfisialis. (3) Infeksi jamur, bakteri, dan virus. (4.)

Dikaitkan dengan leiomyoma dari lambung dan uterus fibroma dari ovarium.(5). Penyakit

Crohn dari usus besar, penyakit addison, sarkoides, dan karsinoma berhubunganpula dengan eritema

multiformis. (6.) Faktor stress dan emosional serta idiopatik.

Manifestasi Klinik: (1) Sering ditemukan pada anak kecil dan orang dewasa muda.(2) Penyakit

ini memiliki suatu serangan akut atau eksplosif. Seorang pasien mungkin saja tidak bergejala dan

dalam waktu kurang dari 24 jam akan memperlihatkan lesi yang eksplosif di kulitdan mukosa.(3)

Bentuk paling ringan adalah makula serta papula dengan diameter 0,5 - 2 cm. Bentuk vesikobulosa

muncul pada penyakit yang lebih berat dapat menyebabkan pengelupasan yang ekstensif dari kulit

dan menyebabkan ketidakmampuan yang hebat atau kematian akibat infeksi sekunderatau

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.(4) Daerah di kulit yang paling sering terserang adalah tangan,

kaki, dan permukaan ekstensordari siku serta lutut.(5) Lesi eritema multiformis dapat mengambil
banyak bentuk, tetapi target patognomonik harusdicari dalam penyakit ini. Lesi ini terdiri dari sebuah

bula sentral atau daerah yang pucatdilelilingi oleh edema dan pinggiran kemerahan. Kadang-kadang

lesi ini mengandung beberapapinggiran merah yang konsentris.(6.)Lesi dalam mulut biasanya muncul

bersama lesi kulit. Bila lesi mulut ini dominan sekali dantidak terdapat lesi target di kulit maka harus

dapat dibedakan dengan infeksi herpes simpleksprimer.(7) Gambaran histologik dari eritema

multiformis di mulut tidak dianggap spesifik, akan tetapiadanya infiltrat limfositik perivaskular dan

edema epitilial serta hiperplasia dianggap cukupuntuk mencurigai adanya suatu eritema multiformis.

(8) Serangan lesi cepat dimulai, diawali bula dengan dasar kemerahan, mudah pecah

menjadiulkus yang tidak teratur. Lesi eritema multiformis lebih sering terjadi pada bibir dan jarang

mengenai gingival.

- Stomatitis Alergika

Dapat disebabkan oleh berbagai substansi yang meliputi gigi tiruan daribahan krom, kobalt,

restorasi inlay, bahan soft lining gigi tiruan, permen karet, tambalanamalgam, gigi tiruan dari

akrilik, jembatan cekat sementara, pasta gigi, dan elastik orthodontis.Alergi kontak terhadap amalgam

biasanya disebabkan oleh merkuri yang dibebaskan selamaproses kondensasi. Alergi kontak dengan

pasta gigi jarang ditemui tetapi bisa terjadi. Alergi inididuga disebabkan oleh minyak kayu manis

(cinnamon Oil) yang terdapat dalam pasta gigi.

Gambaran kliniknya meliputi pembengkakan, pecah-pecah, dan fisura di bibir,deskuamasi

perioral serta edema, cheilitis angular, pembengkakan dari gusi, dan ulkus di mulut.Biasanya semua

lesi menghilang dalam 1 minggu setelah penghentian pemakaian pasta gigi.Alergi terhadap akrilik

biasanya akibat monomer bebas yang lazim dijumpai pada dokter gigidan teknisi gigi.

Gambaran klinisnya sulit dibedakan dari trauma, eritema, edema, dan kasus-kasus

berat.Tetapi, tanda khas dari penyakit ini adalah ulserasi di lokasi kontak. Keluhan yang khas
yangterjadi pada kulit adalah gatal-gatal. Sedangkan pada mukosa mulut keluhan yang biasadirasakan

adalah rasa terbakar.

- Stomatitis Viral Akute.

Terdiri dari: Infeksi virus herpes simpleks primerb. Infeksi virus coxsackiec. Infeksi virus varicella

zoster

- Ulkus oral karena kemoterapi kanker.

Obat-obat kemoterapi sering digunakan untuk mencapai remisi pada tumor-tumor yang solid

maupun keganasan hematologi. Empat jenis obat anti kanker utama yaitu: alkilating agen,

antimetabolit, antibiotik, dan alkaloid. Salah satu dari efek samping yang biasa terjadi adalah ulserasi

mulut multipel, baik secara langsung maupun tidak langsung. Obat yang

menyebabkanstomatitis secara tidak langsung akan mendepresi sumsum tulang dan respon

imun yangmenyebabkan suatu infeksi invasif pada mulut. Jenis obat lainnya seperti

methotrexatemenyebabkan ulserasi mulut melalui efek langsung pada replikasi dan pertumbuhan dari

sel-selepitel mulut dengan menghambat sintesa protein dan asam nukleat sehingga mengakibatkan

penipisan serta ulkus pada mukosa mulut.

Ulkus di mulut mungkin merupakan tanda dini dari toksisitas obat dan dalam beberapakasus

dapat memaksa dilakukannya reduksi atas dosis obat-obat tersebut atau penghentian totaldari

terapinya. Lesi di mulut sebagai akibat tidak langsung dari obat kemoterapi tersebut ditandaidengan

ulkus nekrotik yang besar dan dalam yang sangat khas, tanpa disertai kerusakan jaringan,dasarnya

mengalami peradangan minimal yang dapat menyerang semua permukaan mukosa.Lesi-lesi

tersebut dapat dibedakan secara klinis dari jenis yang lain, suatu ulkus multipel yangakut dengan

riwayat baru mendapatkan kemoterapi dan melalui gambaran klinis dari lesi-lesinya.
Semua ulkus harus dikultur karena ulkus tersebut sering terinfeksi dengan basilusgravidarum

dan dapat menyebakan septikemia yang fatal. Ulkus harus dibiopsi bila dicurigaitelah terjadi infeksi

jamur yang kronis. Untuk meningkatkan kenyamanan pasien, kumur-kumurdengan anestesi topikal

seperti dyclonina atau diphenhidramine hydrochloride.

2. Ulkus Oral Rekuren.

- Recurrent Aphtous Stomatitis (RAS)

Merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan ulkus yang rekuren dan terbatas padamukosa

mulut. RAS diklasifikasikan dalam 3 kelompok menurut ukurannya yaitu: (1) aphtae minor

berdiameter kurang dari 1 cm dan sembuh tanpa disertai pembentukan jaringan parut. (2) Aphtae

mayor berdiameter lebih dari 1 cm dan membentuk jaringan parut jika sembuh. (3) ulkus herpetik

formis bermanifestasi sebagai suatu kumpulan ulkus kecil rekuren yangbanyak yang timbul di

seluruh mulut.Etiologinya tidak diketahui, tetapi dicurigai disebabkan oleh faktor psikologis,

herediter,defisiensi nutrisi.

Manifestasi klinis RAS paling sering dimulai saat dekade kedua dari kehidupanseseorang.

Lesinya terbatas pada mukosa mulut, dimulai dengan gejala prodormal, dan rasaterbakar setiap

waktu mulai dari 2 - 48 jam sebelum munculnya ulkus. Setelah itu diikuti sakithebat selama beberapa

hari.

Diagnosis RAS didapat dari riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis yang teliti, yang tidak

meliputi lesi di kulit, konjungtiva, genetalia, atau rektum. Tes laboratorium perlu dilakukan jika

dicurigai terdapat kelainan darah.

- Sindrom Behcets

Penyakit ini digambarkan sebagai suatu trias gejala yang meliputi: ulkus mulut rekuren,ulkus

genital rekuren, dan lesi di mata. Etiologinya diperkirakan karena kompleks imun yang bersirkulasi
menyebabkan vaskulitis pembuluh darah yang berukuran kecil dan medium,kompleks imun tersebut

telah berhasil dideteksi di bagian penyakit yang aktif. Penyelidikanmengenai abnormalitas imun

yang dikaitkan dengan penyakit ini meliputi sama dengan padapasien RAS. Selain itu penyakit ini

dicurigai berhubungan dengan polusi lingkungan.

Manifestasi lokasi yang paling sering terserang adalah lokasi di dalam mulut. Lesi initidak dapat

dibedakan dari RAS. Daerah genital merupakan tempat kedua yang paling seringterserang. Terdapat

lesi pada skrotum dan penis pada pria dan ulkus labium pada wanita. Lesi dimata terdiri dari

vaskulitis retina, atrofi optik, konjungtivitis, dan keratitis. Kriteria diagnosis meliputi : (1)

Lesi mulut rekuren, ulkus genital rekuren, lesi di mata, dan kulit. (2) Kiteria diagnosis tambahan

meliputi lesi gastrointestinal, vaskuler, kardiovaskuler, arthritis gangguan pada SSP, dan riwayat

keluarga yang positip.

Terapi ulkus di mulut pada Sindroma behcets sama seperti aphthae. Manifestasi

sistemik membutuhkan terapi imunosupresi seperti kortikosteroid, talidomide,

colchicines.

- Infeksi virus herpes simpleks rekuren

Infeksi pada mulut terjadi pada pasien yang memiliki riwayat infeksi herpes simpleksyang

memiliki proteksi serum antibodi terhadap infeksi primer eksogenus lainnya. Pada individuyang

sehat infeksi ini terbatas pada suatu bagian dari kulit atau membran mukosa. Herpes
simpleks rekuren cenderung membentuk kelompok vesikel berulserasi. Vesikel tersebut

berkembang dengan cepat pada daerah yang sama mengikuti penyebaran dari saraf yang terinfeksi.

Kekambuhan pada tepi vermilion bibir secara klinis lebih jelas daripada kekambuhan intraoral.

Manifestasi klinik berupa: Herpes Labialis Rekuren (RHL), Common Cold Sore (Fever

Blister ) dapat dicetuskan oleh keadaan umum, menstruasi, sinar ultra violet, danemosional stress.

Lesi ini didahului dengan suatu periode prodormal dan akan timbul gejalaterbakar dan perih. Gejala

ini disertai dengan edema di tempat lesi, disusul dengan pembentukankelompok vesikel kecil. Lesi

herpes intraoral rekuren memiliki kemiripan dengan lesi herpeslabialis rekuren, akan tetapi

vesikelnya cepat pecah dan membentuk ulkus. Lesi ini khas,merupakan kelompok dari vesikel kecil-

kecil pada satu bagian mukosa yang berkeratinisasi tebaldari gingival palatum dan alveolar ridge.

3. Lesi Multipel Kronik

- Pemphigus Vulgaris

- Pemphigus Vegetan

- Pemphigoid Bulosa

- Pemphigoid Sikatrik

- Lichen Planus Bulosa Erosif

4. Ulkus Tunggal.

- Histoplamosis

Disebabkan oleh jamur histoplasma capsulatum. Infeksi terjadi akibat terhirupnya

debu yang telah terkontaminasi oleh tinja terutama dari burung atau kelelawar yang

terinfeksi. Serangan di mulut biasanya merupakan akibat tidak langsung dari serangan

pada pulmonal yang terjadi pada pasien dengan histoplasmosis yang menyebar. Lesi

mukosa mulut dapat terlihat sebagai suatu papula, nodul, ulkus, atau vegetasi. Jika
dibiarkan tanpa dirawat maka lesi ini akan berkembang dari suatu papula yang keras

menjadi sebuah nodul, yang akan mengalami ulserasi dan membesar dengan perlahan.

Nodus limfe bagian servikal membesar dan keras.

- Blastomikosis

Merupakan suatu infeksi jamur yang disebakan oleh Blastomyces dermatitidis. Lesi

mulut jarang yang menjadi tempat primer dari infeksi ini. Bila lesi mulut dilaporkan

sebagai tanda pertama dari blastomikosis maka lesi yang paling lazim berbentuk

suatu ulkus yang verukosa, tidak sakit, dan tidak spesifik dengan tepi-tepi yang

mengeras pada rongga mulut. Lesi-lesi mulut lainnya yang pernah dilaporkan

meliputi nodul dan lesi radiolusen di rahang.dapat terjadi pada pasien dengan gejala

paru yang ringan. Sebagian besar dari kasus yang menyerang mulut akan

menunjukkan suatu lesi paru- paru secara bersamaan pada rontgen dada.

- Mucormikosis

Disebut juga phycomycosis. Disebabkan oleh suatu infeksi dengan jamur saprofitik

yang biasanya terjadi di dalam tanah dan sebagai suatu jamur pada makanan yang

sudah basi. Tanda dalam rongga mulut yang paling sering adalah ulserasi pada

palatum yang terjadi akibat nekrosis oleh invasi jamur ke pembuluh darah palatal.

Lesi besar dan dalam serta dapat menyebabkan denudasi dari tulang dibawahnya.

Ulkus juga dapat terjadi pada gingival, bibir dan alveolaris.

- Infeksi virus herpes simplex kronis.

Dibagi menjadi bentuk primer dan rekuren. Pasien imunosupresi dapat menderita

bentuk kronis dari infeksi herpes. Bentuk kronis ini merupakan variasi dari infeksi

virus herpes simpleks rekuren. Lesi-lesi dari herpes kronis dapat terjadi di bibir dan
mukosa intraoral. Lesi mulut biasanya menyerupai lesi yang kecil, bulat, dan simetris.

Dapat juga berupa sebuah lesi yang dalam dan besar. Lesi ini bertahan mulai dari

beberapa minggu sampai beberapa bulan dan bisa mencapai diameter beberapa

sentimeter. Jika lesi tidak terdiagnosis atau dirawat secara tidak benar dapat

mengakibatkan suatu penyebaran penyakit yang fatal.8

5. Ulkus karena trauma

Ulkus karena trauma (traumatic ulcer) biasanya terjadi karena adanya tekanan dari

dasar atau sayap gigi tiruan yang tidak pas atau dari kerangka gigi tiruan sebagian.

Bentuk ulkus sesuai dengan penyebabnya, yaitu memanjang, biasanya soliter dan

ukurannya bervariasi. Permukaannya biasanya tertutup selaput putih kekuningan dan

dikelilingi tepi yang lebih tinggi dan keras pada perabaan. 15 Prevalensi traumatic ulcer

karena peranti ortodonti cekat sebesar 15 dari 26 pasien pemakai peranti orthodontis

cekat, komponen bracket merupakan komponen peranti ortodonti cekat yang paling

banyak menyebabkan traumatic ulcer. Mukosa labial kanan merupakan regio terbanyak

terjadinya traumatik ulcer karena peranti ortodonti cekat.


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim.Study on 10,000 people suffering from mouth ulcers .[online]. Maret 2010.[diunduh 11
Agustus 2011].http://www.aftazen.co.uk/discover-our-study-on-mouth-ulcers

2. Barnard NA dkk.Common Non-systemic Causes of Oral Ulcers. Orofacial Disease-Update for


Dental Clinical Team 2002: 2, 11-21.15.

3. Casigli, Jeffrey dkk.Oral Manifestations of Systemic Diseases

4. Dorland, W.A. Newman. Kamus Kedokteran Dorland. Andy Setiawan dkk., penerjemah;Hemi
Koesoemawati, penyunting. Ed ke-29. Jakarta: EGC; 2002. Terjemahan dari Dorlands Illustrated
Medical Dictionary.

5. Emedecine. [online]. 1Agustus 2011. [diunduh 11 Agustus 2011].


http://emedicine.medscape.com/article/ 1081029-overview#showall.

6. Eisen, Drore, dan Denis P Lynch.The Mouth, diagnosis, and treatment.United States of America:
Mosby; 2008.13.

7. Gandolfo, Sergio dkk.Oral Medicine.Ed ke-2. Churchill Livingstone: Elsevier; 2006: 1,26-29.8.

8. J.M. Casiglia, G.W. Mirowski, dan C.L. Nebesio. "Aphthous stomatitis". Emedecine.
[online]. Oktober 2006 [diunduh 11 Agustus 2011]. http://en.wikipedia.org/wiki/Aphthae

9. M.A. Lynch, Vernon J. Brightman, dan Martin S. Greenberg.Burket: Ilmu penyakit mulut . Ed ke-
8. Jakarta: Binarupa Aksara; 2004.9.

10. Nanan Nuraeny. Lupus Eritematosus. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran:Bandung;
2008.11.

11. North East Valley Division of General Practice. Mouth Ulcers. [online]. 18 Juni 2006.[diunduh 12
Agustus 2011] .http://www.disability.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/ pages/Mouth_ulcers?open.

12. Pindborg, J.J Atlas Penyakit mukosa mulut. Kartika Wangsaraharja, penyunting. Ed ke 4.
Jakarta : Bina rupa aksara; 2004.10

13. Scully, Felix.Oral medicine: Update for the dental practitioner Aphthous and other common
ulcers.British Dental Journal 2005: 199, 259-264.14.

14. Shelly Mayvira. Prevalensi dan Distribusi Lesi-Lesi Mukosa Mulut pada Manusia
Lanjut Usia di Panti Jompo Abdi Darma Asih Binjai.Sumatera Utara: Departemen
IlmuPenyakit Mulut FKG USU; 2009.
15. T. Axll, V. Henricsson.The occurrence of recurrent aphthous ulcers in an adult Swedish
population. [online]. 2005. [diunduh 12 Agustus 2011].http://www.mendeley.com/research/the-
occurrence-of-recurrent-aphthous-ulcers-in-adult-swedish-population/