PROCEEDING

SEMINAR NASIONAL

“Professional Learning untuk
Indonesia Emas”

Editor:
Sita Ratnaningsih
Takiddin
Fauzan
Asep Ediana Latip

FITK PRESS PRENADA

Professional Learning untuk Indonesia Emas

PROCEEDING SEMINAR NASIONAL PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)

Professional Learning untuk Indonesia Emas

All Right Reserved

Hak Cipta dilndungi oleh Undang-undang

Editor :
Sita Ratnaningsih, Takiddin, Fauzan, Asep Ediana Latip

Layout & Desain Sampul:
Fatkhul Arifin

ISBN : 978-602-70156-7-8

Cetak Pertama, 2015

Diterbitkan oleh:
FITK PRESS
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Tangerang Selatan
Telepon/Faks. (021) 7443328
Email : pgmi.fitk@uinjkt.ac.id

ii

KATA PENGANTAR
Ketua Prodi PGMI FITK UIN Jakarta

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT, atas
Rahmat dan Karunia-NYA Program Studi Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK)
– Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dapat
menyelenggarakan Seminar Nasional dengan Tema “Professional
Learning Untuk Indonesia Emas”, dan Munas Asosiasi Dosen PGMI
seluruh Indonesia. Hal itu dapat terlaksana atas kerjasama berbagai
pihak.
Seminar ini bertujuan untuk membangun persepsi yang sama
tentang Professional Learning yang dapat dilihat dari beberapa
karakteristik yang bisa menggambarkan proses belajar dan
pembelajaran yang berkualitas yaitu melalui the learning process. Dalam
konteks Indonesia emas implementasi profesional learning diharapkan
dapat mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Tujuan Indonesia Emas
2045 adalah kejayaan secara moral dan spiritual, bukan hanya kejayaan
secara ekonomi, yang pencapaian tujuan tersebut dapat didukung
melalui gerakan implementasi professional learning.
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
yang terhormat : Bapak Rektor UIN Sayrif Hidayatullah Jakarta
beserta jajarannya, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta beserta Wakil Dekan I, Wakil Dekan II dan
Wakil Dekan III, jajaran panitia, para penyaji dan peserta seminar,
atas partisipasi, bantuan, serta dukungan yang tak terhingga sehingga
Seminar Nasional ini dapat terlaksana.
Akhir kata semoga Seminar ini dapat mencapai tujuannya,

iii

Professional Learning untuk Indonesia Emas

memberikan ruang serta jalan penyelesaian bagi masalah pendidikan
serta memberikan sumbangan keilmuan yang bermakna dan
bermartabat bagi pendidikan di Tanah Air kita tercinta Indonesia.
Amin

Wassalam,

Ketua Prodi PGMI

iv

KATA PENGANTAR
Dekan FITK UIN Jakarta

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Syukur ke Hadlirat Illahi karena perkenan-NYA kita dapat
melaksanakan Seminar Nasional ini, yang tentunya dapat membawa
pencerahan dan kebaikan bagi kita semua, khususnya bagi dunia
pendidikan di Indonesia. Selamat dan terima kasih kepada Program
Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) – Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, para narasumber dan peserta seminar serta
Asosiasi Dosen PGMI se-Indonesia dari dalam dan luar UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah mensukseskan seminar Nasional ini.
Seminar ini sangat penting untuk dilaksanakan, mengingat
pendidikan yang berkualitas dan bertaraf dunia harus didukung
dengan adanya pembelajaran yang profesional. Apalagi dalam
menyongsong generasi Emas pada tahun 2045 mendatang, maka
berbagai hal harus dipersiapkan. Sehingga generasi bangsa Indonesia
yang akan datang adalah merupakan generasi yang berakhlak mulia,
cerdas, mandiri, kreatif, inovatif, demokratis sehingga mampu
bersaing di era global, secara nasional maupun internasional.
Saya berharap Seminar Nasional yang diadakan Prodi PGMI ini
dapat mencapai tujuannya dan dapat memberikan informasi yang
terkini tentang upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan
cita-cita untuk merealisasikan pendidikan unggul dan generasi Emas
bertaraf dunia. Semoga dengan seminar ini akan menghasilkan ide-
ide dan gagasan yang cemerlang, dan komitmen tinggi untuk semua
peserta untuk mengubah wajah dunia pendidikan kita ke arah yang
lebih baik dan bermakna. Disamping itu juga diharapkan dapat
terbangunnya jejaring akademik di dalam dan di luar kampus UIN

v

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Syarif Hidayatullah Jakarta yang berfokus pada pengajaran, penelitian
dan pengabdian pada masyarakat dalam rangka membangun
komunitas akademik yang profesional dan bermartabat bagi seluruh
bangsa.

Sekian. Terima kasih.

Wassalam,
Dekan FITK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR KETUA PRODI ___________________ iii
KATA PENGANTAR DEKAN ___________________________ v
DAFTAR ISI _________________________________________ vii

ARAH PEMBELAJARAN PROFESSIONAL UNTUK
INDONESIA EMAS PADA ABAD 21 ____________ 1
Implementasi Professional Learning untuk Anak
Usia Emas pada Jenjang MI/SD __________________________ 3
Asep Ediana Latip
Faktor Kesulitan Belajar Kimia pada Mata
Pelajaran Kimia SMA ___________________________________ 16
Nanda Saridewi, Abdurohim

TANTANGAN IMPLEMENTASI PROFESSIONAL
LEARNING __________________________________ 31
Fobia Sekolah pada Anak Sekolah Dasar dan Upaya Guru
untuk Mengatasinya ___________________________________ 33
Sri Wuryastuti
Tantangan dan Revitalisasi Pendidikan Islam
pada Madrasah Di Masa Modern Abad 21 _________________ 46
Syamsul Aripin
Urgensi Gizi dan Kesehatan Peserta Didik
Tingkat SD/MI sebagai Prasyarat Terwujudnya
Generasi Emas ________________________________________ 59
Dina Rahma Fadlilah
Perbedaan Pemikiran Barat dan Islam Memandang
Manusia dan Implikasinya terhadap Pendidikan ___________ 68
Lu`luil Maknun

vii

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Hubungan Antara Kecerdasan Adversity dan Support
System (Dukungan Dosen dan Teman Sebaya) dengan
Tingkat Kecemasan Calon Guru dalam Menghadapi
Praktek Profesi Keguruan Terpadu _______________________ 82
Sujiyo Miranto
Mengatasi Kesulitan Membaca pada Anak Sekolah Dasar
Kelas Rendah _________________________________________ 93
Ryan Dwi Puspita
Adaptasi Kurikulum Pendidikan Inklusif Siswa
dengan Hambatan Sosial Emosional di Sekolah Dasar ______ 107
Suharsiwi
Mengenal School Refusal Mengapa Anak
Menolak Bersekolah? __________________________________ 118
Fatkhul Arifin

PEMBELAJARAN INTEGRATIF BERBASIS SOFT
SKILL DAN HARD SKILL _____________________ 125
Pembelajaran Gotong Royong Inovatif Berbasis Soft Skill
dan Hard Skill untuk Mewujudkan Indonesia Emas ________ 127
Zaenul Slam
Lesson Study sebagai Upaya Meningkatkan Kompetensi
Guru Kelas dalam Pembelajaran Tematik Integratif
(Penelitian Tindakan di MIN 2 Kota Metro Lampung) _____ 140
Siti Annisah
Integrasi Pendidikan Multikutural di Sekolah _____________ 152
Rohmat Nugraha Sasmita

PERKEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN
DARI MASA KE MASA ______________________ 164
Model Pembelajaran yang Dibutuhkan untuk Menuju
Indosia Emas Tahun 2045 ______________________________ 167
Abuddin Nata
Pemanfaatan Sastra sebagai Basis Pembelajaran
Bahasa Indonesia _____________________________________ 180
Dindin Ridwanudin

viii

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Strategi dalam Memperoleh, Menganalisis, Menyajikan,
dan Memanfaatkan Informasi dalam IPS di MI/SD ________ 199
Takiddin
Pengaruh Alat Peraga Menara Hanoi
untuk Meningkatkan Penalaran Matematis Siswa
Mengenai Konsep Pola Bilangan ________________________ 209
Fery Muhamad Firdaus
Perbedaan Hasil Belajar IPS Terpadu
dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Make A-Match
dan Metode Team Quiz di SMP Swasta Se-Kecamatan
Pamulang ___________________________________________ 223
Nurochim
Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kooperatif
Teknik Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Kelas 3 MI Fathan Mubina Kabupaten Bogor pada
Konsep Cuaca ________________________________________ 241
Zulfiani, Nuraeni
Pengajaran Bahasa Inggris di SD/MI: Why Not? ___________ 253
Alek
Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris
dengan Penerapan Pembelajaran Akselerasi ______________ 261
Neneng Sunengsih
Pengaruh Pendekatan Lingkungan sebagai Sumber
Belajar terhadap Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi
Gerak dan Gaya di Kelas IV SDN 14 Pondok Labu Jakarta __ 274
Iwan Permana Suwarna, Siti Riana
Pengaruh Penggunaan Model Komik
dalam Pembelajaran Matematika di Kelas III
Sekolah Dasar Kartika I-10 Padang ______________________ 283
Dedek Kustiawati
Pengaruh Modul Berbasis Mind Map terhadap
Hasil Belajar Siswa pada Konsep Dinamika Rotasi _________ 295
Kinkin Suartini, Fathiah Alatas, Amayani Astuti
Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Gaya
dan Gerak ___________________________________________ 305
Ali Aziz, Meiry Fadilah Noor

ix

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Model Pembelajaran Group Investigation
terhadap Peningkatan Kemampuan Mahasiswa ___________ 321
Tri Harjawati, Chamdun Mahmudi
Profil Penggunaan Media Pembelajaran Fisika
Berbasis Komputer untuk Meningkatkan Pengetahuan
Siswa SMA __________________________________________ 334
Diah Mulhayatiah
Konstruksi Konsep Sains Kimia dengan Bahan Terbatas ____ 344
Murdoyoko
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui
Strategi Pembelajaran Aktif Crossword Puzzle _____________ 350
Dedi Irwandi, Edah Jubaedah, Fauzan
Upaya Penanganan Gangguan Disgrapia pada
Anak Sekolah Dasar Melalui Pendekatan
Teknik Scaffolding _____________________________________ 365
Nandang Kosim
Pembelajaran Integratif Melalui Membatik di Kota Cimahi __ 380
Ramdhan Witarsa
Penggunaan Pembelajaran Berbasis Masalah
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi
Listrik Dinamis _______________________________________ 395
Suhartini
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi
Morfologi Tubuh Hewan dan Tumbuhan
Serta Fungsinya dengan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw ___________________________________________ 406
Nana Suhana, Meiry Fadilah Noor
Model Pembelajaran Inkuiri untuk Peningkatan Hasil
Belajar IPA Siswa pada Konsep Gaya ____________________ 422
Fathiah Alatas, Fauzan, Nur Aliyah Maharani

PROFESSIONAL LEARNING BASED ON
CHARACTER UNTUK INDONESIA ___________ 441
Pendidikan Menghidupkan Nilai
(Living Values Education) melalui Active Learning __________ 443
Bahrissalim

x

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Pendidikan Karakter Menyongsong Indonesia Emas 2045 __ 455
Azkia Muharom Albantani, Ach Wildan Al Faizi

Hubungan Pendidikan Karakter dengan Perilaku Siswa
Kelas IV SDN 4 Klapanunggal Kabupaten Bogor __________ 467
Kusmajid Abdullah
Membangun SDM Berkarakter Melalui Pendekatan
Pendidikan Nilai di Sekolah Dasar ______________________ 476
Nurlaelah
Urgensi Pendidikan Karakter ___________________________ 489
Rika Sa’diyah

STANDAR KEUNGGULAN KOMPETENSI GURU
UNTUK INDONESIA EMAS __________________ 499
Profesionalisme Guru Melalui Program Pendidikan
Profesi Guru (PPG) di Lembaga Pendidik
dan Tenaga Kependidikan _____________________________ 501
Fauzan
Peningkatan Kualitas Madrasah Ibtidaiyah
Melalui Profesionalisme Guru dan Pendidikan
Karakter Siswa _______________________________________ 512
Sita Ratnaningsih
Professional English Teacher: Inspiring EFL Classroom ____ 524
Fahriany
Peningkatan Kemampuan Komunikasi Guru
dalam Rangka Menciptakan Professional Learning __________ 534
Zahruddin
Analisis Kemampuan Literasi Sains Guru Madrasah
Ibtidaiyah Program Dual Mode System dan Sarjana Ke-2 ____ 546
Burhanudin Milama
A Comparative Analysis on Sanguine and Phlegmatic
Students Concerning Their English Speaking Skill _________ 558
Ratna Sari Dewi, Muchamad Yusuf

xi

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Peningkatan Kemampuan Guru Bahasa Inggris
Memanfaatkan Permainan Komunikatif Melalui
Supervisi Klinis di SMPN 2 Batipuh ____________________ 572
Lastrawati

Mengubah Pola Pikir Guru _____________________________ 582
Ahmad Royani
Kompetensi Bahasa Arab untuk Calon Guru MI ___________ 596
Raswan
Guru Profesional Menuju Indonesia Emas ________________ 610
Didi Suprijadi
Peningkatan Mutu Pendidikan dengan Membangun
Komunitas Belajar Melalui Strategi Scafolding _____________ 625
Neli Rahmaniah
Mengembangkan Sikap Asertif Kepala Sekolah sebagai
Upaya Meningkatkan Kinerja Guru _____________________ 638
Nurdelima Waruwu

xii

1
ARAH PEMBELAJARAN
PROFESSIONAL UNTUK
INDONESIA EMAS
PADA ABAD 21

Professional Learning untuk Indonesia Emas 2 .

dan spritualitatif. IMPLEMENTASI PROFESSIONAL LEARNING UNTUK ANAK USIA EMAS PADA JENJANG MI/SD Asep Ediana Latip Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email: asep. maka wajah Indonesia pada tahun 2030 akan diwarnai oleh generasi emas dengan karakteristik produktif. Istilah Indonesia emas juga 3 . menganalisis. dan begitu selanjutnya berlaku untuk anak usia SMP. sehingga jika usia SMA sekarang adalah 18 tahun di tahun 2015 ini. kritis dan kreatif. Belajar profesional dapat dilaksanakan oleh semua tingkatan usia dan semua jenjang pendidikan.ac. kritis dan kreatif Pendahuluan Indonesia emas untuk siapa? Secara demografis Indonesia emas untuk untuk generasi pada usia emas (golden age). membimbing peserta didik untuk mencari. implementasi professional learning pada tinggka usia MI/SD membutuhkan upaya dan arah yang konkrit dari seorang guru. Pembelajaran profesional diimplementasikan untuk dapat memfasilitasi proses belajar profesional. artinya melalui proses pembelajaran profesional. 15 tahun kemudian di tahun 2030 mereka merupakan generasi produktif emas di usia 32 tahun. sintesis. Generasi pada usia emas adalah generasi yang saat ini pada usia preschool/SD/MI/SMP/ SMA. Anak usia MI/SD sebagai generasi pada usia emas merupakan usia yang berada pada jenjang pendidikan dasar yang sejatinya menjadi fondasi proses belajar mandiri. guru memfasilitasi. Profesional learning mengarah pada proses belajar kreatif. menemukan. Namun tentu. kritis yang dilakukan secara mandiri. Kata kunci : professional learning. dan bahkan mengevaluasi sampai pada kreasi yang dilakukan secara mandiri.ediana@uinjkt. Dapat pula disebut Indonesia emas apabila memiliki generasi yang kreatif dalam berpikir. kritis. Sehingga disebut Indonesia emas berarti memiliki generasi yang produktif dalam berkarya. Salah satu upaya untuk mendorong peserta didik belajar profesional tentu saja melalui proses pembelajaran profesional.id Abstrak : Belajar dan pembelajaran sejatinya berlangsung secara professional. SD/MI bahkan anak usia preschool. kreatif. Indonesia emas akan terwujud pada tahun 2030.

Oleh karena itu dalam konteks pembelajaran implementasi professional learning diarahkan untuk mewujudkan peserta didik yang HOT yaitu memikili kemampuan High Oreder Thinking. Indonesia emas tewujud apabila generasinya memiliki value spritualitas yang tinggi atau yang lebih dikenal dengan istilah kecerdasan spritualitas. kritis dan produktif. Sebagai negara yang relegius. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk mendorong peserta didik yang memiliki kemampuan memecahkan masalah secara mandiri. Karena jika tidak responsive terhadap perubahan global yang ada. dan lain sebagainya. Pembelajaran saintifik dikembangkan agar peserta didik mampu berpikir ilmiah. berpikir sistmatis dan berpikir logis. suda dapat dipastikan bahwa Negara ini akan terpuruk jauh tertinggal dari Negara lainnya. Keran globalisasi telah dibuka kompetisinya mengalir melalui program global berupa MEA (Masyarakat Ekonomi Asean/Asean Economic Community). dan olah kinestetik. Mengapa harus Indonesia emas? Kompetisi global sudah tidak dapat dihindari. Visi Indonesia emas merupakan visi yang besar dan langkah besar untuk menjadi bagian kompetitif dalam kancah global tetapi berasas pada value kebangsaan atau dengan kata lain think globally act locally. Implementasi pofesional learning dalam pembelajaran sebagai langkah konkrit untuk mencapai visi Indonesia emas bagi generasi emas dapat dilakukan dengan mengembangkan proses pembelajaran yang memiliki arah pencapain kompentensi yang HOT diantaranya pembelajaran berbasis masalah. bahwa pendidikan dikembangkan untuk memfasilitasi peserta didik merekonstruksi pengetahuannya yang sporadic menjadi sistematis dan berkembang secara kreatif. kritis. atau memiliki nilai-nilai karakater kebangsaan seperti karakter yang lahir dari olah hati. kreatif. Pembelajaran kritis diarahkan untuk mengembangkan daya berpikir kritis peserta didik dalam belajar (critical thinking in learning). pembelajaran kritis. kritis dan produktif. olah pikir. Terminologi professional learning dipersembahkan kepada setiap individu yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Melalui AFTA. Bagaimana mewujudkan Indonesia emas? Dalam konteks pendidikan perwujudan Indonesia emas dapat didorong dengan mengasasi pada filosofi kontruktivisme. kreatif. Pembelajaran kreatif diarahkan agar terwujud generasi yang kreatif dan produktif. Implementasi pendidikan untuk Indonesia emas dapat implementasikan dengan membumikan professional learning dikalangan peserta didik. olah raga. dan produktif. Harapan 4 . pembelajaran kreatif dan pembelajaran saintifik. Professional Learning untuk Indonesia Emas disematkan bagi Indonesia yang generasinya memiliki kemampaun daya kritis tajam dan selektif. tetapi harus dihadapi.

Kemendiknas (Suyanto: 2009) bahwa pilar pendidikan karakter merupakan totalitas proses psikologis dan sosial-kultural yang dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and 5 . salah satunya karakter yang dikembangkan berdasarkan pada design induk pendidikan Karakter. Brunner dan para pakar psikologi perkembangan lainnya meyakini momen emas tersebut ditandai oleh. kerja keras dan cerdas. Pada tahun itu generasinya memiliki sikap positif. komitmen normatif dan kompetensi abilitas. dan genap 100% ketika anak berusia 18 tahun. imitasi modelling. berkembangnya konsep diri. seperti yang diyakini oleh Piaget. Pada tahun 2030 dan selanjutnya Indonesia akan memiliki sejumlah generasi yang kreatif. pola pikir esensial. Dalam sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Osborn. serta berlandasan IESQ (Manullang. dan kritis karena hasil dari proses belajar yang profesional. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 Indonesia emas tersebut dapat dimulai melalui proses pendidikan dan pembelajaran pada jenjang MI/SD. yaitu suatu masa yang sangat berharga untuk keberlangsungan pada tingkat usia yang lebih lanjut. berkembangnya egosentris. rasa ingin tahu yang besar. bereksperimen dengan bahasa. dan bahkan berkembangnya daya kritis. dan kreatif anak. percaya diri. imajinasinya berkembang hebat. Indonesia emas dalam konteks pendidikan merupakan terminologi yang digunakan untuk menggambarkan karakter bangsanya yang mandiri. 80% ketika anak berusia 8 tahun. Anak Usia Emas Anak usia MI/SD merupakan anak yang berada pada usia emas. dan munculnya kontrol internal. dan Bloom pada usia emas tersebut bahwa perkembangan kognitif anak telah mencapai 50% ketika anak berusia 4 tahun. 2013). konsep berpikir. Momentum Indonesia emas yang diwarnai oleh generasi “berkarakter emas” yaitu generasi usia produktif diperdiksi akan terwujud pada tahun 2045. tetapi sangat beralasan faktual karena Indonesia memiliki sejumlah anak emas yang produktif. perasaannya mulai terasah. Sangat disayangkan bahwa momen emas tersebut diabaikan. dan bahkan sangat mengeringkan apabila tidak diberikan scaffolding yang tepat untuk optimalisasi perkembangannya. diperlukan pilar-pilar yang menjadi pijakan pengembangan generasi emas. oleh karena itu mewujudkan generasi emas untuk indonesia emas bukan sekedar mimpi. Ausubel. White. Vygosky. disiplin. Untuk menyongsong Indonesia emas. kritis dan kreatif serta produktif. Karena pada usia ini merupakan usia dengan sejumlah potensi emasnya yang dapat menjadi pondasi bagi pengembangan potensi pada jenjang selanjutnya.

tangguh. ramah. dan berteos kerja. c. 2012) ditegaskan bahwa generasi yang mengisi momentum Indonesia emas sejatinya memiliki karakter sebagai berikut: a. bertanggungjawab. pantang menyerah. kompetitif. kreatif. rela berkorban. Professional Learning untuk Indonesia Emas emotional development). yaitu mewujudkan generasi berkarakter emas dan sumber daya pendidik berkarakter emas demi menyongsong Indonesia emas. kerjsa keras. berdaya tahan. kritis. tertib. kesuksesan mewujudkan Indonesia emas dengan karakteristik generasi yang diharapkannya seperti di atas membutuhkan sumber daya pendidik yang berkarakter. yang profesional serta memiliki karakter kuat dan cerdas merupakan suatu kebutuhan. berempati. Character bugilding di kalangan pendidik sejak beberapa dekade terakhir ini telah menjadi perhatian yang serius berbagai bangsa di dunia. Namun tentu saja. kosmopolit (mendunia). b. produktif. kooperatif. toleran. Karakter yang bersumber dari Olah hati antara lain: beriman dan bertakwa. inilah tantangan internalnya. dinamis. berorientasi Ipteks. Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development). Hanya dengan sumberdaya manusia yang demikianlah tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara dapat berlangsung dengan wajar dan natural. sebagai key actor in the lerning process. Karena melalui pendidik yang memiliki karakter kuat dan cerdas ini akan tercipta sumberdaya manusia yang merupakan pencerminan bangsa yang berkarakter kuat dan cerdas serta bermoral luhur. adil. peduli. taat aturan. karena keberadaan dan kehadiran pendidik. 6 . karena baik pemimpin maupun yang dipimpin memiliki komitmen maupun moral yang baik untuk bersama – sama membangun tatanan kebidupan yang harmonis dan sejahtera demi Indoensia emas. Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara lain: kemanusiaan. bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia. amanah. mengutamakan kepentingan umum. jujur. dan sehat. gotong royong. cinta tanah air (patritis). Karakter yang bersumber dari olah raga/kinestetika antara lain: bersih. inovatif. ceria dan gigih. d. kebersamaan. determinative. nasionalis. Olah Pikir (intellectual development). hormat. andal. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). berani mengambil risiko. ingin tahu. Memperjelas maksud dari pilar-pilar di atas dalam upaya pembangunan karakter bangsa (Mulyasa. tak terkecuali Indonesia menyusul perlunya mewujudkan generasi emas. dan berjiwa patriotic. dan reflektif. sportif. saling menghargai. bersahabat. Karakter yang bersumber dari olah pikir antara lain: cerdas.

Kompetensi pengetahuan dengan karakteristik memiliki pengetahuan faktual dan konseptual berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan. dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu. f. b. kenegaraan. dan budaya dalam wawasan kemanusiaan. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan member 7 . daripembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi. j. Kompentesi sikap dengan karakteristik memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman. berakhlak mulia. dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah. sebagai berikut: a. dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di lingkungan rumah. b. seni. h. c. pengetahuan dan keterampilan dengan karateristik sebagai berikut: a. g. dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi. Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan maka prinsip pembelajaran yang digunakan berdasarkan pada Permendikbud no 65 tahun 2013 tentang Standar Proses. dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. Kompetensi keterampilan dengan karakteristik memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan pesertadidik sebagai pembelajar sepanjang hayat. sekolah. berilmu. i. e. dari peserta didik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu. sekolah. c. teknologi. dan tempat bermain. peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) danketerampilan mental (softskills). dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumberbelajar. dan tempat bermain. dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif. d. percaya diri. kebangsaan. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 Apabila merujuk pada standar kompetensi lulusan pada jenjang MI/SD dapat diketahui bahwa karakter generasi emas sudah mulai disiapkan sejak anak usia MI/SD seperti yang disebutkan dalam permendikbud no 65 tahun 2013 tentang Standar Kompentesi Lulusan bahwa peserta didik sejatinya memiliki kompetensi sikap.

Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi. k. Arus globalisasi akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern seperti dapat terlihat di World Trade Organization (WTO). kemajuan teknologi dan informasi. dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). dan di mana saja adalah kelas. Tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). standar kompetensi lulusan. m. pembelajaranyang berlangsung di rumah. pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru. Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. standar proses. dan standar penilaian pendidikan. membangun kemauan (ing madyo mangun karso). Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani).sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban (Permendikbud no 67 tahun 2013 tentang kerangka dan struktur kurikulum MI/SD). Professional Learning untuk Indonesia Emas keteladanan (ing ngarso sung tulodo). kebangkitan industri kreatif dan budaya. Tantangan eksternal antara lain berdasarkan Permendikbud no 67 tahun 2013 tentang kerangka dan struktur kurikulum MI/SD terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup. Oleh -2. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik. standar pendidik dan tenaga kependidikan. 8 . dan di masyarakat. di sekolah. investasi. standar pembiayaan. standar sarana dan prasarana. pengaruh dan imbas teknosains serta mutu. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). siapa saja adalah siswa. l. Tantangan eksternal juga terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia. dan n. standar pengelolaan. Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community.

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa professional learning untuk menggambarkan individu yang memiliki daya belajar kritis. Dalam pendidikan. Kedua hal tersebut menarik untuk dipelajari dalam konteks sekarang ini. maksud 9 . pembelajaran aktif dan pembelajaran saintifik. pembelajaran berbasis masalah dan kritis. kreatif. educative. Hal ini disebabkan antara lain banyaknya materi uji yang ditanyakan di TIMSS dan PISA tidak terdapat dalam kurikulum Indonesia (Permendikbud no 67 tahun 2013 tentang kerangka dan struktur kurikulum MI/SD). pembelajaran merupakan salah satu komponen penting pendidikan yang bersifat interatif. tentu saja dapat diimplementasikan melalui proses pendidikan. pembelajaran aktif (active learning) dan daya berpikir ilmiah peserta didik (scientific thingking in learning). Untuk mengimplementasikan professional learning dapat dilakukan dengan memfasilitasi proses belajar yang diarahkan untuk mengembangkan daya kritis peserta didik (critical thingking in learning). Namun dalam tulisan ini hanya dibatasi pada penjelasan implementasi profesional learning yang diarahkan untuk mendorong peserta didik khususnya pada anak usi MI/SD dapat mengembangkan potensi daya kritisnya dan kreatifnya. Implementasi Professional Learning Professional learning sebagai bentuk belajar mandiri yang profesional dapat merupakan salah satu domain pendidikan. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 dan transformasi bidang pendidikan. dan transformative oleh karena itu implementasinya dapat dilaksanakan dengan pembelajaran kreatif. aktif dan produktif. Critical Thingking in Learning Arah implementasi professional learning adalah mendorong terwujudnya critical thingking in learning yaitu “Berpikir kritis dalam belajar”. demikian maksdunya. daya pemecahan masalah (problem solving in learning). daya kreatif peserta didik (creative thingking in learning). Berpikir kritis dalam belajar. Keikutsertaan Indonesia di dalam studi International Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia tidak menggembirakan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS dan PISA. karena berbagai upaya formal pendidikan sedang mendorong proses pembelajaran yang diarahkan pada upaya pencapaian hasil belajar peserta didik (student achievment) dengan tingkat kemampuan yang tinggi atau high order thingking skill.

yang Anda pelajari secara tekstual tidak sama sekali akan membawa perubahan apapun pada diri Anda. Bloom. maksudnya bahwa berpikir kritis adalah seni berpikir tentang sesuatu yang direnungkan sehingga lebih lebih baik”  Semua sepakat atas taxonomi Benyamin S. Tetapi dengan pemahaman atas prasa tersebut satu langkah maju untuk dapat berpikir kritis dalam belajar. dan pemecahan masalah (problem solving). mengapa demikian? Karena belajar berlangsung tidak dengan cara kritis. focused on deciding what to believe or do”. Rahmat (2010:1) mengemukakan berpikir kritis (critical thinking) sinonim dengan pengambilan keputusan (decision making). mengevaluasi. tetapi tentu tidak mudah melaksanakannya. Karena dengan daya berpikir kritis yang dimiliki maka kriteria prestasi belajar (learning achievement) di atas akan sangat mudah untuk dicapai.   Juha (2010 :1) mengutip pernyataan “Critical thinking is reasonable. & Elder. perencanaan stratejik (strategic planning). mensintesis.. menganalisis. Senada dengan penyataan tersebut. maka jika demikian cara belajarnya sudah dapat ditebak sangat tidak bermakna dan parah lagi dalam hitungan menit itu sudah lupa lagi. teks yang dipelajari bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat untuk rakyat. bahwa belajar itu tentang perubahan kompetensi. Mari lihat bedanya 10 . R. dan konstruktivistik dalam belajar. reflective thinking. bayangkan Anda belajar tentang demokrasi. (2012: 21) menyatakan “Critical thinking is the art of thinking about thinking while thinking to make thinking better”. menegaskan bahwa belajar itu tentang memberi meaning atas teks dan konteks yang dipelajari secara mendalam. Professional Learning untuk Indonesia Emas dari prasa tersebut sangat mudah dipahami. perubahan kompetensi. proses ilmiah (scientific process). Dan disisi lain. dan bisa berarti juga belajar kontekstual. dan fakta bahkan teks secara bebas unlimited. L. sepakat pula atas teori behavorisme. bahwa belajar itu tentang mengerti. Bahkan konstruktivisme mendefinisikan bahwa belajar itu merekontsruksi fenomena. Berpikir kritis dalam belajar dapat dipahami sebagai belajar yang tidak taken for granted. Maka dari sejumlah teori yang ada. sangat jelas bahwa secara eksplisit arah dari belajar yang dapat dicapai apabila dikembangkan cara berpkiri kritis. Tidak ketinggalan Ausubel. Dapat disederhanakan lagi dengan contoh. jelas tidak akan karena posisi Anda adalah siswa yang sedang belajar mengerti tentang demokrasi. Individu yang belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis akan lepas dari cara belajar passive yang berorientasi pada pelemahan diri untuk menjadi individu yang zero creative. Bisa dibayangkan efek negatif dari daya kritis yang rendah saat belajar kecil probabilitasnya untuk dapat merajut pengetahuan. memahami. Paul. makna.

Ajukan pertanyaan terhadap teks yang sedang dipelajari. Anda mungkin akan terbelalak dan mengatakan ‘awsome’ atas penemuannya berdasarkan pada pertanyaan yang diajukannya. Perhatikan anak-anak pada usia tersebut!. temukan konteksnya atas teks yang sedang dipelajari melalui pertanyaan. data dan fakta. maka Anda akan mengembangkan konsep besar tersebut secara kontekstual dengan cara memotret fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar. dan sampai pada titik kepuasan yang mereka rasakan. tetapi setelah mereka tahu. jika berpikir kritis dalam belajar sudah terjadi pada anak usia MI/SD bahkan pada usia preschool. It’s a simple!. toh kenyataanya pemerintahan terjadi atas kehendak pemerintah dan dari pemerintah untuk pemerintah. Oleh karena itu semua pasti bisa melakukannya. dapat dibayangkan Anda adalah belajar secara professional dengan daya berpikir kritis. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 jika Anda mengembangkan cara berpikir kritis atas hal yang Anda pelajari. serta fakta dengan konsepnya baik berdasarkan kajian literature atau hasil penelitian. Berpikir kritis dalam belajar. yaitu start with the question. apakah demokrasi itu ada? Jika Anda dalam belajar dapat memberikan gambaran real atas fenomena yang terjadi berdasarkan pada konsep yang sedang dipelajari. jika benda itu adalah berupa pesawat. yes correct!. Apakah Anda dapat mengembangkan konsep demokrasi dalam keluarga? Terjadikah demokrasi? Atau dapat membawa imajinasi Anda dilingkungan sekolah. mulai dengan pertanyaan. dan sudah barang tentu temukan jawabanya melalui proses inquiry yang mendalam. mereka dengan lantang dan polos mengajukan pertanyaan atas hal mereka lihat (pelajari). Bahwa Anda belajar tentang demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat untuk rakyat. Pertanyaan adalah gambaran kemanusiaan sebagai insane yang serba penasaran (curiousity man). Setelah itu apa yang terjadi? Perhatikan dengan seksama. setiap bagian dari pesawat dijelaskan secara detail 11 . benda ini disebut apa? Untuk apa? Mengapa bentuknya begitu? Dapat digunakan untuk apa? Dan sejumlah pertanyaan yang diajukannya. apakah konsep demokrasi itu ada atau hanya semacam ilusi teoritis saja. mereka benar tidak tahu. Sangat setuju. dapat dikembangkan dengan cara yang sederhana seperti yang dilakukan oleh para filosof tempo doeloe. seperti memperhatikan korelasinya antara teori dan data. mereka menyusul dengan pertanyaan yang berikutnya. tetapi jika cara berpikir kritis yang Anda kembangkan. sejurus kemudian anak dapat mendeskripsikan menjadi dalam benda lain (barangkali tidak sama sekali mirip pesawat) tetapi bagi mereka itu pesawat dengan detail mereka menjelaskan bahwa pesawat itu untuk mengangkut penumpang.

12 . arahkan peserta didik untuk memecahkan masalah tersebut. ketiga. Bahwa salah satu kemampuan dalam belajar individu adalah berpikir kreatif. tidak terbantahkan bahwa berpikir kritis dalam belajar dapat dijadikan salah satu langkah untuk mencapai mimpi besar dalam mendukung perwujudan Indonesia emas. Professional Learning untuk Indonesia Emas plus dengan fungsinya. Oleh karena itu. kembangkan masalah kontekstual terkait dengan materi yang akan dipelajari. yang memberikan individu menciptakan ide-ide asli/adaptif fungsi kegunaannya secara penuh untuk berkembang. Potensi daya kritis yang dimiliki anak usia MI/SD tersebut apabila dibimbing dan disfasilitasi secara tepat. ajaklah peserta didik untuk berpikir kritis atas problem tersebut dengan cara menghimpun pertanyaan secara brainstorming. meskipun kita membantah bahwa itu bukan pesawat tetapi imajinasinya menegaskan pelepah pisang itu adalah pesawat. Menurut  Widayatun: Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah. keempat buatlah generalisasi atas penyelesaian masalahnya dan kelima ajaklah peserta didik untuk merefleksikan kegiatannya. Berpikir kreatif merupakan salah satu dari cara berpikir HOT. bahwa dalam berpikir terdapat kemampuan berpikir rendah dan berpikir tinggi. Cara belajar orang kreatif menggunakan cara berpikir out of the box atau yang dikenal dengan istilah cara belajar kontekstual. generasinya akan sanggup memfilter secara kritis terhadap fenomena global untuk dijadikan bahan pelajaran yang diramu menjadi temuan yang produktif dan menjadi generasi yang belajar secara professional. orang yang kreatif memiliki kemampuan berpikir yang multidirection dalam menyelesaikan masalah atau dikenal dengan istilah what’s another ways. Amazing! dari sini dapat ditebak bahwa berpikir kritis selalu mengarahkan perubahan untuk berbuat dan membuat sesuatu yang produktif. Tingkat berpikir rendah disebut dengan Lower Order Thinking (LOT). kedua. Oleh karena itu pembelajaran yang dapat memfasilitas peserta didik tersebut dapat dilakukan dengan pertama. sudah dapat dipastikan bahwa kelak diusia yang lebih lanjut anak tersebut akan menjadi anak emas bagi Indonesia dan menjadi individu yang memiliki semangat professional learning yang tinggi. Creative Thingking in Learning Berpikir kreatif dalam belajar (creative thingking in learning). menggambarkan tingkatan dalm berpikir. hal ini disepakati oleh para ahli yang memberikan penjelasan terkait dengan konsep berpikir kreatif sebagai berikut: a. Tingkat berpikir tinggi disebut dengan Higher Order Thingking (HOT).

monoton dan tidak bermakna (Hernowo. Guru yang tak kreatif akan membuat kehidupan ini membosankan. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 b. Hernowo melanjutkan penjelasannya dengan mengutip pendapat 13 . dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif. Hal ini tentu saja semakin membenarkan konsep intelegensi yang digagas oleh Howard Gardner tentang multiple intelegence. Sepakat dengan pendapat Hernowo. dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah tercetak dalam pikiran c. Bayankan jika kehidupan yang mati itu menular ke kehidupan yang lain secara mengglobal! Guru harus kreatif karena guru kreatif akan menjadikan kehidupan ini sangat kaya dan bervariasi. dan keaslian (originality) dalam pemikiran. e. Evans: Kreativitas adalah keterampilan untuk menentukan pertalian baru. Kemampuan berpikirnya yang flexibel. Menurut  Santrock: Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan tentang sesuatu dalam cara yang baru dan tidak biasanya serta untuk mendapatkan solusi-solusi yang unik. seperti rasa ingin tahu. Menurut  Munandar: Kreativitas adalah kemampuan untuk mengkombinasikan. Anak pada usia MI/SD sebagai generasi dengan potensi kreativitas membutuhkan sentuhan pendidikan dan pembelajaran yang kreatif agar peserta didik tumbuh menjadi individu kreatif dan dapat menjalan proses professional learning. dan baru dalam memotret fenomena yang ada semakin menegaskan tentang nilai penting berpikir kreatif dalam belajar. 2007: 8). senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru. original. Menurut  James R. Dari pendapat di atas. Menurut Semiawan: Kreativitas adalah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Orang yang berpikir kreatif tidak pernah menemukan kata “buntu” dalam berpikir selalu saja ditemukan alternatif pemecahan dari setiap persoalan yang dihadapinya. memecahkan atau menjawab masalah. Daya kreatif dalam belajar dalam konteks saat ini merupakan sesutu yang “mewah” keberadaannya sangat menjadi primadona bagi pebelajar. bahwa kreatifitas bermuara pada cara berpikir seseorang atas teks dan konteks objek yang sedang dipelajari melalui proses yang multidirection. melihat subjek perspektif baru. Kreativitas meliputi baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency). Dari potensi multiple intelegence yang dioptimalisasi inilah daya kreatif peserta didik dapat dikembangan secara optimal. keluwesan (flexibility). bahwa seorang guru tidak kreatif kehidupan itu “mati” – tidak ada lagi yang baru dalam kehidupan seorang guru. d. maupun ciri-ciri non aptitude.

kreativitas dapat kembangkan dari peserta didik anak usia MI/SD dengan mendorong kemampuan imajinasinya yang luar biasa menjadi bagian dari pengembangan kreativitasnya. dan apapun dapat dikreasikan termasuk belajar juga dapat dikreasikan. Ya. Penutup Professional learing adalah cara belajar mandiri yang kritis dan kreatif. diantaranya dengan cara melatihkan peserta didik untuk menemukan pemecahan masalah dengan berbagai alternatif. Kreativitas adalah sebuah persoalan pribadi. difasilitas dan dioptimalisasi melalui proses belajar dan pembelajaran yang profesional. karena siapapun bisa kreatif. dan sensasi hingga ke sifat yang paling mendasar bagi kehidupan. bukan di luar diri. pikiran. Proses belajar profesional adalah proses individu 14 . berubah dan bahkan maju adalah hasil dari proses berpkir krearif dalam belajar. Kemampuan berpikir kreatif dalam belajar merupakan buah dari proses belajar yang professional atau professional learing. itu juga yang terdapat dalam kamus Besar Bahasa Indonesia. Untuk belajar mandiri yang kritis membutuhkan pembiasaan dan bimbingan belajar dari guru melalui proses latihan yang berkelanjutan. Oleh karena itu setiap individu dapat menjadi orang kreatif. Professional Learning untuk Indonesia Emas Murray Lois bahwa kreativitas itu dalam dalam setiap diri. Oleh karena itu kreativitas dapat dimulai dengan mengembangkan kemampuan mencipta-cipta atau membayangkan atau berimajinasi. mengajukan pertanyaan terbuka. Berpikir kreatif dalam belajar adalah salah satu penegasan bawah belajar dapat dikreasikan. Anak usia MI/SD tentu saja belum mengerti konsep bepikir kreatif dalam belajar apalagi konsep professional learning oleh karena itu guru sebagai pembimbing dan fasilitator sejatinyanya membimbing dan memfasilitasinya untuk mencapai proses belajar mandiri yang kreatif. dan memfasilitasi peserta didik untuk berlatih brainstorming atas suatu topik yang sedang dibahas secara tekstual atau secara kontekstual. Untuk mendorong terwujudnya belajar mandiri yang arahnya mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam belajar membutuhkan bimbibingan guru yang kreatif. Kreativitas merupakan proses pencarian ke dalam diri sendiri yang penuh tumpukan kenangan. Anak usia MI/SD merupakan masa yang berada pada usia emas (golden age) yang dengan potensi emasnya dapat menjadi pendorong terwujudnya Indonesia emas apabila potensi tersebut didorong. Tampaknya semua yakin bawah kreativitas diartikan sebagai kemampuan mencipta daya cipta atau perihal berkreasi. sehingga objek atau pengetahuan yang sedang dipelajari dapat berkembang.

Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 yang berkeinginan dan berkemauan serta memiliki rasa ingin tahu kuat untuk terus belajar diantaranya secara kritis dan kreatif. 2007.uny.php/jpka/article/download/1283/1067 Hernowo. Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegurugan Suyanto. Bandung: Mizan Learning Center Mulyasa. 2012. I. Ditjen Mendikdasmen: Kementerian Pendidikan Nasional 15 . Pembelajaran profesional adalah proses interaksi edukatif guru dengan siswa yang berlangsung secara kreatif dan mengembangkan rasa ingin tahu siswa menjadi kenyatan dengan proses yang kreatif misalnya dengan pola pembelajaran brainstorming. Urgensi Pendidikan karakter. 2009. Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045 FIK Universitas Negeri Medan journal. 2014. Jakarta: PT. Pembelajaran Kritis di Pesantren.ac. Daftar Pustaka Belferik Manullang.Tarbiya: Journal of education in Muslim Society: Vol. 2. Desember 2014. Manajemen Pendidikan Karakter. Menjadi Guru Yang Mau Dan Mampu Mengajar Secara Kreatif.id/ index. No. Bumi Aksara Sarwenda.

Data yang berupa hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan tes.75% pada aspek C2. FAKTOR KESULITAN BELAJAR KIMIA PADA MATA PELAJARAN KIMIA SMA Nanda Saridewi.56% pada aspek C1. 2014).22% pada aspek C3. Secara umum. Sedangkan hasil yang diperoleh berdasarkan angket menunjukkan bahwa faktor penyebab kesulitan belajar siswa adalah lingkungan masyarakat dengan persentase sebesar 56. kimia Pendahuluan Pembelajaran kimia selama ini tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran sains. Abdurrohim Universitas Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta E-mail: ndasaridewi@gmail. dan 32. faktor yang mempengaruhi rendahnya pencapaian literasi sains siswa Indonesia adalah proses belajar mengajar di sekolah.88% termasuk dalam kriteria cukup berpengaruh. atau dengan kata lain menempati peringkat kedua terbawah dari seluruh negara peserta PISA (Kurnia dkk. respon. 16 .com Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar yang dialami siswa pada mata pelajaran kimia SMA. diketahui bahwa kemampuan literasi sains siswa Indonesia masih rendah. Berdasarkan hasil studi PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2012. Proses mengajar merupakan tugas utama seorang guru sedangkan proses belajar merupakan tugas utama siswa yang keduanya saling berkesinambungan. 33.. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA Reguler SMA Al-Hasra. selain itu proses penemuan konsep menjadi sering terabaikan karena kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Umumnya pembelajaran kimia masih berorientasi pada hafalan. sedangkan data yang berupa respon siswa terhadap pembelajaran Larutan Penyangga menggunakan angket. Kurangnya keterlibatan siswa dalam proses penemuan konsep menyebabkan kemampuan literasi sains siswa rendah. Indonesia menempati peringkat ke-64 dari 65 negara peserta. Analisis data dengan menggunakan tes diperoleh hasil berdasarkan perindikator pembelajaran sebesar 55. Kata kunci: kesulitan belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

2012). 2012). Hal ini dapat disebabkan karena kesulitan yang dialami oleh siswa dalam proses belajar yang biasa disebut sebagai kesulitan belajar. Kesulitan belajar sering terjadi karena siswa tidak mampu mengaitkan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan lamanya sehingga menimbulkan ketidakpahaman atau ketidakjelasan suatu pelajaran (Caryono dan Suhartono. 2011). struktur materi. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan proses belajar adalah prestasi belajar yang umumnya ditunjukkan dalam bentuk nilai kognitif siswa (Caryono dan Suhartono. Pembahasan Data yang diperoleh selama penelitian berupa hasil pemberian tes tertulis dan angket yang meliputi tanggapan atau respon siswa mengenai materi larutan penyangga dan faktor-faktor penyebab kesulitan siswa dalam memahami konsep larutan penyangga. Hasil Tes Tertulis Aspek kesulitan siswa dalam memahami konsep larutan 17 . Data- data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang dialami siswa yang dapat dilihat pada perolehan tes tertulis dan angket. Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah. Salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengakibatkian kesulitan belajar bagi siswa adalah Kimia. Kesulitan belajar adalah suatu keadaan yang dialami oleh siswa ditandai dengan adanya hambatan tertentu sehingga mengakibatkan tidak tercapainya tujuan belajar. Larutan penyangga merupakan salah satu meteri kimia yang termasuk sulit untuk dipahami. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 Proses belajar tidak semuanya dapat berhasil. Siswa yang memiliki nilai rendah dapat dikatakan belum berhasil sepenuhnya dalam proses belajar.. Konsep yang kompleks dan abstrak dalan ilmu kimia mengakibatkan siswa berasumsi bahwa pelajaran kimia adalah pelajaran yang sulit (Marsita dkk. tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor- faktor non-intelegensi (Faika dan Side. 2010). Kimia yang merupakan salah satu cabang dari ilmu pengetahuan alam mempelajari tentang sifat materi. Kesulitan siswa dalam memahami konsep larutan penyangga perlu dianalisis untuk mengetahui penyebab kesulitan tersebut. perubahan materi serta energi yang menyertai reaksi kimia (Faika dan Side. 2011). sehingga nantinya dapat dicari pemecahannya.

75% dengan kriteria rendah.5% tan penyangga 33. Professional Learning untuk Indonesia Emas penyangga pada tahap pemberian tes dapat dilihat dari hasil jawaban siswa berdasarkan indikator pembelajaran sebagai berikut: Tabel 3. dapat dideskripsikan bahwa hasil yang diperoleh siswa pada tiap-tiap aspek yang diukur yaitu berupa pengetahuan (C1) sebesar 55.22% asam dan basa 11 27 67. Persentase belajaran soal rata mi kesulitan 1 32 80% 8 6 15% 10 16 40% Mengidentifikasi 12 40 100% komponen dan 13 11 27.5% 4 4 10% 5 14 35% Menghitung pH 6 10 25% larutan penyangga 9 9 22.5% 32.56% dengan kriteria sedang.Nomor Rata- yang mengala.5% 17 36 90% 19 20 50% Membedakan komponen laru.75% asam dan larutan penyangga basa 7 12 30% (C2) 3 7 17. Kemudian pada aspek penerapan (C3) sebesar 32. Kemudian pada aspek pemahaman (C2) sebesar 33.5% (C3) 16 12 30% 18 4 10% 20 29 72.5% sifat larutan pe- 14 28 70% 55.56% nyangga (C1) 15 11 27.5% Berdasarkan Tabel 3. Data Kesulitan Belajar Perindikator Pembelajaran Jumlah siswa Indikator Pem.22% dengan kriteria 18 . 2 15 37.

diperoleh data berupa gambaran kesulitan belajar siswa yang terbagi ke dalam 4 indikator sebagai berikut: a. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa semua siswa mengalami kesulitan. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 rendah. asam kuat. serta Fisiologi. dimana 40 siswa tidak dapat menjawab dengan benar. Sehingga pada soal nomor 12 ini tergolong sulit bagi siswa. Diri Sendiri Indikator diri sendiri terdiri dari beberapa sub indikator yaitu Minat. Motivasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Dari Tabel 3 terlihat bahwa siswa mengalami kesulitan belajar pada soal nomor 12 yaitu “menentukan campuran larutan penyangga berdasarkan komponen-komponen larutan penyangga”. dan garam. Hasil Angket Pengumpulan data didapatkan dari pengisian angket kesulitan belajar oleh siswa. Masing-masing sub indikator disajikan dalam tabel persentase indikator diri sendiri untuk setiap butir pernyataan sebagai berikut: 19 . basa lemah. mendapatkan nilai persentase 100%. basa kuat. Kesiapan dan Perhatian. Hal ini dapat terjadi karena hampir semua siswa belum memahami contoh-contoh senyawa asam lemah.

Menurut saya pembahasan larutan penyang- ga lebih sulit Cukup 8 dibandingkan 51. 75 pengaruh ran kimia. 80 pengaruh ga selama proses Motivasi pembelajaran.88 konsep larutan pengaruh penyangga. Professional Learning untuk Indonesia Emas Tabel 4.88 soal pada saat pengaruh pembelajaran disekolah.88 pengaruh diberikan oleh guru. Persentase Pernyataan Indikator Diri Sendiri Sub In. saya selalu menger- jakan sendiri Minat Tidak Ber- 11 tugas/PR yang 71. terutama pada materi laru- tan penyangga. Untuk melatih kemampuan. Nomor Persentase Pernyataan Kriteria dikator Pernyataan (%) Saya tertarik den- Tidak Ber- 5 gan mata pelaja. ruh hasan yang lain dalam pembelaja- ran kimia.88 Berpenga- dengan pemba. Saya selalu mencatat materi Tidak Ber- 9 larutan penyang. Saya selalu mengerjakan sendiri latihan Tidak Ber- 10 71. 20 . Saya yakin dapat memahami Tidak Ber- 20 76.

21 . 6 khusus untuk 74. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 Saya bisa berkon- sentrasi dengan Tidak Ber- 3 baik/fokus sela. tian Saya selalu mem- persiapkan materi atau bahan pela. Saya selalu men- gumpulkan tugas Tidak Ber- 4 yang diberikan 80 pengaruh oleh guru dengan tepat waktu. Saya tidak men- dengar materi Tidak Ber- 1 yang disampai.38 pengaruh pan dan mata pelajaran Perha.88 pengaruh ma pembelajaran berlangsung. 71. 73. Cukup 12 jaran yang akan 57.75 pengaruh kan oleh guru dengan jelas. Fisiologi Saya tidak me- lihat apa yang Tidak Ber- 2 ditulis/digam. Saya mempun- yai buku catatan Tidak Ber- Kesia. kimia.75 pengaruh barkan oleh guru dengan jelas. 68. Saya mempunyai alat tulis lengkap yang dibutuhkan Tidak Ber- 13 77.5 Berpenga- dibahas sebelum ruh materi tersebut diajarkan.5 saat pembelajaran pengaruh larutan penyang- ga.

88%.5 Berpen- sehingga saya menghen. sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualifikasi cukup berpengaruh. Dibawah ini disajikan tabel persentase indikator lingkungan keluarga untuk setiap butir pernyataan sebagai berikut: Tabel 5. Pada pernyataan nomor 12 yakni “Saya selalu mempersiapkan materi atau bahan pelajaran yang akan dibahas sebelum materi tersebut diajarkan” memiliki nilai persentase 57. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa kurang mempersiapkan materi atau bahan pelajaran yang akan dibahas sebelum materi tersebut diajarkan. 57. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa pembahasan larutan penyangga lebih sulit dibandingkan dengan pembahasan yang lain dalam pembelajaran kimia. sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualifikasi cukup berpengaruh. Lingkungan Keluarga Indikator lingkungan keluarga terdiri dari sub indikator perhatian dan dukungan orang tua. b. pada pernyataan nomor 8 yakni “Menurut saya pembahasan larutan penyangga lebih sulit dibandingkan dengan pembahasan yang lain dalam pembelajaran kimia” memiliki nilai persentase 51. 22 . Professional Learning untuk Indonesia Emas Berdasarkan Tabel diatas. Pernyataan Kriteria kator (%) nyataan Orangtua Saya sering Tidak menyuruh saya menger- 16 61. garuh tikan kegiatan belajar. Cukup 17 trasi saya ketika belajar. dapat dideskripsikan bahwa secara umum masing-masing dari sub indikator memiliki persentase yang termasuk dalam kualifikasi tidak berpengaruh. Persentase Per. Persentase Pernyataan Indikator Lingkungan Nomor Keluarga Sub Indi.88 Berpen- jakan tugas rumah ke- Perhatian garuh tika Saya sedang belajar. dan Du- kungan Saudara Saya sering orang tua mengalihkan konsen.5%. Namun.

Berdasarkan Tabel 5. sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualifikasi cukup berpengaruh. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 Orang tua saya selalu Tidak 18 memberi perhatian keti. ruh Menurut saya alat-alat Sarana dan dan bahan untuk prak- Prasarana tikum kimia terutama Tidak 14 pada materi larutan 63. Dibawah ini disajikan tabel persentase indikator lingkungan sekolah untuk setiap butir pernyataan sebagai berikut: Tabel 6. Persentase Pernyataan Indikator Lingkungan Sekolah Nomor Sub Indi. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa lingkungan keluarga dapat mengganggu konsentrasi mereka saat belajar. Namun. 23 . ruh ratorium IPA cukup lengkap. Persentase Pernyata.63 Berpen- ka saya belajar dirumah. c. Lingkungan Sekolah Indikator lingkungan sekolah terdiri dari sub indikator sarana dan prasarana. 80. Pernyataan Kriteria kator (%) an Saya memilik buku Tidak 7 cetak/LKS kimia SMA 80 Berpenga- kelas XI. dapat dideskripsikan bahwa secara umum memiliki persentase yang termasuk dalam kualifikasi tidak berpengaruh.13 Berpenga- penyangga dilabo. pada pernyataan nomor 17 yakni “Saudara Saya sering mengalihkan konsentrasi saya ketika belajar.75 Berpen- tuk mengulang pelaja- garuh ran dirumah. sehingga saya menghentikan kegiatan belajar” memiliki nilai persentase 57. garuh Orang tua saya selalu Tidak mengingatkan saya un- 19 73.5%.

Lingkungan Masyarakat Indikator lingkungan masyarakat terdiri dari sub indikator wilayah tempat tinggal.88 Berpen- tinggal rumah saya ketika garuh belajar. sehingga dapat dikatakan pada pernyataan ini termasuk dalam kualifikasi cukup berpengaruh. artinya bahwa siswa memiliki bahan ajar yang dapat menunjang pembelajaran kimia dan siswa merasa alat-alat yang digunakan di laboratorium cukup lengkap. Professional Learning untuk Indonesia Emas Berdasarkan Tabel 6. Berdasarkan Tabel 7. Pernyataan Kriteria kator tase (%) an Saya sering terganggu Wilayah dengan suara bising Cukup tempat 15 yang ada disekitar 56. d. Dibawah ini disajikan tabel persentase indikator lingkungan sekolah untuk setiap butir pernyataan sebagai berikut: Tabel 7. Nilai persentase ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa merasa sering terganggu dengan suara bising yang ada disekitar rumah mereka ketika belajar. Persen- Pernyata. kemudian ditentukan persentase rata-rata untuk mendapatkan kriteria tiap indikator yang kemudian disajikan dalam tabel berikut: 24 . dapat dideskripsikan bahwa secara umum memiliki persentase yang termasuk dalam kualifikasi tidak berpengaruh. Persentase Pernyataan Indikator Lingkungan Masyarakat Nomor Sub Indi. Berdasarkan penjelasan dari tiap pernyataan di masing-masing sub indikator. pada pernyataan nomor 15 yakni “Saya sering terganggu dengan suara bising yang ada disekitar rumah saya ketika belajar” memiliki nilai persentase 56.88%.

Hal ini menunjukkan bahwa indikator diri sendiri termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh. Dari 40 siswa yang mengikuti tes. Persentase Rata-Rata Tiap Indikator Persentase No Indikator Kriteria Rata-Rata (%) 1. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 Tabel 8. jika mayoritas 25 .88%. c.56%.4%. Lingkungan Sekolah 71. hanya 12 siswa yang dapat memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan 28 siswa lainnya belum dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Lingkungan Keluarga 68. Penutup Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada kelas XI MIA Reguler SMA Al-Hasra. Diri Sendiri Pada indikator diri sendiri persentase rata-rata yang didapatkan yakni 72. Diri Sendiri 72. Lingkungan Masyarakat Pada indikator lingkungan masyarakat persentase rata-rata yang didapatkan yakni 56. 56. b. Hal ini menunjukkan bahwa indikator lingkungan keluarga termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh. maka dapat disimpulkan bahwa terdapat kesulitan pada materi larutan penyangga yang telah dilaksanakan dengan pemberian tes berupa soal pilihan ganda dengan jumlah 20 soal kepada siswa.44 Tidak Berpengaruh 3. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria indikator lingkungan masyarakat termasuk dalam kriteria cukup berpengaruh.88 Cukup Berpengaruh kat Dari Tabel 8.4 Tidak Berpengaruh 2. Lingkungan Sekolah Pada indikator lingkungan sekolah persentase rata-rata yang didapatkan yakni 71. didapatkan persentase rata-rata pada setiap indikator sebagai berikut: a. Hal ini menunjukkan bahwa indikator lingkungan sekolah termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh. Lingkungan Keluarga Pada indikator lingkungan keluarga persentase rata-rata yang didapatkan yakni 68. Menurut Abin Syamsuddin (2005).56 Tidak Berpengaruh Lingkungan Masyara- 4.44%. d.

Menurut Suwarto (2013). Prasyarat tersebut perlu diketahui dan dipahami siswa agar tidak mengalami kesulitan dalam aspek ini. Suatu mata pelajaran yang bersifat hierarki. Selain sebagai model yang dijadikan dasar dalam rangka menyesuaikan program pembelajaran 26 . kesulitan karena mata pelajaran mungkin berkenaan dengan keabstrakan konsep. Pada aspek penerapan (C3) sebesar 32. yaitu dimulai dari yang paling mudah hingga yang paling sukar akan memerlukan pemahaman yang berkesinambungan. Kesulitan belajar sering terjadi karena siswa tidak mampu mengaitkan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan lamanya sehingga menimbulkan ketidakpahaman atau ketidakjelasan suatu pelajaran. Berdasarkan Tabel 3. kita dapat menyimpulkan bahwa kelas yang bersangkutan patut diduga sebagai kasus yang mengalami kesulitan belajar. Pada hakikatnya pembelajaran yang sesuai untuk kelompok siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah dengan mendapatkan perlakuan analisis kesulitan belajar dan pelayanan remedial. Kemudian. Berdasarkan pendapat ini. persentase kesulitan tertinggi yaitu pada aspek pengetahuan (C1) yakni mengidentifikasi komponen dan sifat larutan penyangga. diperoleh hasil bahwa dari 40 siswa ternyata secara keseluruhan siswa memperoleh nilai rata-rata sebesar 57. Analisis kesulitan belajar siswa merupakan salah satu tugas guru dalam mengajar. siswa sebelumnya harus mengetahui pengertian larutan penyangga. senyawa asam lemah. berdasarkan perhitungan hasil yang diperoleh siswa pada tiap-tiap aspek yang diukur yaitu berupa pengetahuan (C1) sebesar 55.13. kesulitan belajar adalah kekurangmampuan siswa dalam menguasai materi. Namun kenyataannya analisis kesulitan belajar dan pelayanan remedial ini tidak dilakukan oleh guru. pemahaman (C2) dan penerapan (C3). Professional Learning untuk Indonesia Emas siswa nilai prestasinya tidak dapat mencapai batas lulus (minimum acceptable performance).56% dengan kriteria sedang.22% dengan kriteria rendah. Berdasarkan jawaban siswa.75% dengan kriteria rendah. Dalam memahami konsep larutan penyangga. Menurut Caryono dan Suhartono (2012). basa lemah. maka akan menimbulkan kesulitan untuk memahami konsep yang berikutnya. Pada aspek pemahaman (C2) sebesar 33. Apabila kesulitan di suatu konsep yang mendasar tidak diatasi. Tes yang diberikan ke siswa terdiri dari 3 tingkat kognitif yang berupa pengetahuan (C1). asam kuat dan basa kuat.

88%. memperoleh persentase sebesar 57. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator lingkungan sekolah tidak berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa. kesulitan belajar siswa dapat dilihat berdasarkan hasil pemberian angket tentang faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa berdasarkan beberapa indikator. memperoleh persentase sebesar 57. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator lingkungan keluarga tidak berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa. Selain pemberian tes. Indikator Lingkungan masyarakat Indikator lingkungan masyarakat memperoleh persentase sebesar 56. Indikator Lingkungan Keluarga Indikator lingkungan keluarga memperoleh persentase sebesar 68.44% dengan kriteria tidak berpengaruh.88% dengan kriteria cukup berpengaruh. diantaranya: 1. 2011). Namun berdasarkan sub indikator Kesiapan dan Perhatian serta sub indikator Minat dalam indikator diri sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator lingkungan masyarakat berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa. tapi beberapa siswa merasa bahwa indikator lingkungan keluarga berpengaruh dalam kesulitan belajar. Indikator Lingkungan Sekolah Indikator lingkungan sekolah memperoleh persentase sebesar 71. Indikator Diri Sendiri Indikator diri sendiri memperoleh persentase sebesar 72. Namun berdasarkan sub indikator Perhatian dan Dukungan Orang tua dalam indikator lingkungan keluarga. juga untuk menemukan anak yang memerlukan analisis yang lebih rinci tentang kesulitan belajar mereka (Djamarah.5%.5% dan 51. Berdasarkan pembahasan dari hasil tes dan angket dapat dihubungkan bahwa rendahnya nilai siswa disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat. 4. 3. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 yang didasarkan atas individualitas siswa.4% dengan kriteria tidak berpengaruh.56% dengan kriteria tidak berpengaruh. tapi beberapa siswa merasa bahwa indikator diri sendiri berpengaruh dalam kesulitan belajar. sehingga menyebabkan 70% siswa 27 . Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indikator diri sendiri tidak berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa. 2.

maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa adalah lingkungan masyarakat. 28 . Diri Sendiri dengan persentase 72. latar belakang sosial yang tidak menunjang. kebiasaan belajar yang kurang baik.4% termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh.” Oleh sebab itu. kurangnya motivasi dalam belajar. gangguan-gangguan perasaan atau emosi. terganggunya alat indera. Hal ini dapat terlihat dari persentase tiap-tiap indikator faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa yang meliputi : 1. 2. terdapat beberapa faktor yang dapat menyababkan kesulitan belajar bagi siswa. ataupun gangguan dalam belajar.56% termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh. 4. 3. dapat dikatakan siswa kelas XI MIA Reguler SMA Al-Hasra cenderung mengalami kesulitan belajar karena mendapatkan gangguan dari lingkungan masyarakat yang tidak kondusif. Lingkungan Masyarakat dengan persentase 56. Professional Learning untuk Indonesia Emas mendapatkan nilai di bawah KKM.88% termasuk dalam kriteria cukup berpengaruh. kurangnya kematangan untuk belajar.44% termasuk dalam kriteria tidak berpengaruh. Lingkungan Sekolah dengan persentase 71. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan masyarakat saat ini dapat memberikan dampak buruk terhadap prestasi belajar siswa. proses belajar mengajar yang tidak sesuai. disebabkan adanya ancaman. Menurut Sabri (2007). Lingkungan Keluarga dengan persentase 68. hambatan. kemampuan mengingat yang lemah atau rendah. dan tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar. yaitu: rendahnya kemampuan intelektual atau kecerdasan anak. Menurut pendapat lain yaitu Djamarah (2011) menyatakan bahwa: “Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar.

Resti A. Jakarta: Rineka Cipta. Siti dan Devi. “Analisis Kesulitan Belajar Siswa dalam Memahami Konsep Biologi pada Konsep Monera”. Irvan. Psikologi Pendidikan. Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal Chemica Vol. Feni. Apit.1. Sumiati. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Arah Pembelajaran Professional untuk Indonesia Emas pada Abad 21 Daftar Pustaka Caryono. Universitas Sriwijaya. Ersanghono. Rineka Cipta. Psikologi Belajar.1 No. Marsita. (2011). Siti. Alisuf. Faika. 29 . (2010). (2009). Priatmoko. (2010). Sigit dan Kusuma. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FMIPA UNY. Departemen Pendidikan Nasional. Zulherman dan Fathurohman. Analisis Bahan Ajar Fisika SMA Kelas XI di Kecamatan Indralaya Utara Berdasarkan Kategori Literasi Sains. (2010). Salmeto. (2011). Permana.1. Syaiful Bahri. (2012). Suhas dan Suhartono. 4. Poppy K. Memahami Kimia SMA/MA Kelas XI Semester 1 dan 2 Program Ilmu Pengetahuan Alam. Analisis Deskriptif Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Mata Pelajaran Matematika di SMA Negeri 8 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013. ISSN : 2355-7109. Jakarta: Pusat Perbukuan. Analisis Kesulitan Mahasiswa dalam Perkuliahan Kimia Dasar di Jurusan Kimia. Sapuroh. Makalah di Presentasikan dalam seminar nasional matematika dengan tema “Kontribusi Pendidikan Matematika dan Matematika dalam Membangun Karakter Guru dan Siswa” pada tanggal 10 november 2012 di jurusan pendidikan matematika FMIPA UNY. Departemen Pendidikan Nasional. (2014). Analisis Kesulitan belajar Kimia Siswa SMA dalam Memahami Materi Larutan Penyangga dengan menggunakan Two- Tier Multiple Choice Diagnostic Instrument. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol. Kurnia. Kalsum. (2009). Djamarah. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Siti dan Side. Jurnal Inovasi dan Pembelajaran Fisika Vol. Jakarta: PT. KIMIA 2 SMA dan MA Kelas XI. Sabri. Jakarta: Pusat Perbukuan. 2 Nomor 2. (2007). No.

Strategi Pembelajaran Sains. Psikologi Pendidikan. Penelitian Tindakan Kelas. (2013). Syamsudin. Professional Learning untuk Indonesia Emas Somadoyo. Zulfiani. Samsu. 30 . Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Yogyakarta: Graha Ilmu. (2011). Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta. (2005). Remaja Rosda Karya. Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran (Penduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik). Syah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. (2013). Pengantar Statistik Pendidikan. Sudijono. Bandung: PT. (2010). Anas. Suwarto. Jakarta: Rajawali Pers. (2009). Muhibbin. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Abin.

2 TANTANGAN IMPLEMENTASI PROFESSIONAL LEARNING .

Professional Learning untuk Indonesia Emas 32 .

karena ada beberapa anak yang mengalami kekhawatiran atau ketakutan untuk ke sekolah. Namun pada beberapa anak. Anak yang memiliki kemampuan berhubungan dengan teman sebaya cenderung lebih mudah untuk bergaul. Ketakutan pada anak untuk bersekolah sebenarnya merupakan suatu hal yang biasa terjadi. ketakutan tersebut dapat menjadi suatu hal yang irrasional dan berdampak sangat besar pada keinginan untuk tidak sekolah. Rasa takut anak pada umumnya sebagai tanggapan untuk melindungi diri dari suatu hal. Kata kunci: Fobia Sekolah. Sebaliknya anak yang tidak memiliki kemampuan untuk berhubungan sosial cenderung mengalami kesulitan berhubungan secara sosial dengan teman sebayanya. bermain dan menyesuaikan diri. Anak usia sekolah dianggap lebih dewasa secara fisik dan psikologis dan dalam hal kematanagan emosi. Hal itu merupakan harapan dari orang tua dan guru. seharusnya hal itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena anak akan melihat dan mengalami hal-hal yang baru. Sehingga ketika saat pertama masuk ke sekolah. guru baru serta lingkungan yang baru. teman-teman baru. Hal irrasional seperti inilah yang dinamakan fobia sekolah. tas serta peralatan sekolah yang baru. Upaya Guru 33 .FOBIA SEKOLAH PADA ANAK SEKOLAH DASAR DAN UPAYA GURU UNTUK MENGATASINYA Sri Wuryastuti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Abstrak: Anak yang mengalami fobia sekolah akan cenderung mengalami kesulitan dalam berhubungan secara sosial. Harapan orang tua atau guru tersebut tidak selalu menjadi kenyataan. Misalnya anak akan memakai seragam.

2) Takut situasi dimana orang tersebut merasa dinilai. rasa takut dan malu yang berlebihan dalam interaksi sehari-hari. 7) Menghindari situasi dimana yang bersangkutan menjadi pusat perhatian. Menurut Soemanto (2012:188). Sedangkan menurut Stravynski (2007) orang yang mengalami fobia sosial mempunyai gejala-gejala yaitu detak jantung lebih cepat. Anak yang mengalami gejala fobia sosial. keadaan tersebut dapat menyebabkan berbagai kesulitan belajar. Bila tidak diobati akan cepat menimbulkan berbagai keterbatasan dalam kehidupan sosial. kesulitan berperilaku dan kesulitan bersosialisasi. anak yang mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) juga dapat mengalami kesulitan berperilaku dan kesulitan bersosialisasi. Professional Learning untuk Indonesia Emas Pendahuluan Selain masalah konflik sosial. pernafasan lebih cepat. Sedangkan menurut Ayub. aktifitas profesional. Selain masalah konflik sosial. dan ingin buang air kecil. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Kosasih (2012: 7) bahwa ADHD memberikan gambaran tentang suatu kondisi medis yang mencakup disfungsi otak. Hal ini juga dapat menyebabkan gejala fisik yang signifikan. 6) Menghindari melakukan sesuatu atau berbicara dengan orang karena takut malu. otot tegang. kemampuan mencari nafkah dan berkontribusi pada masyatakat luas. ganngguan kecemasan sosial mempengaruhi emosi dan perilaku. masalah perkembangan sosial lainnya yang terjadi pada anak-anak adalah gejala fobia sosial (social auxiety disorder). Jika terjadi pada seorang anak. merasakan kecemasan sosial yang irrasional. sekolah atau pekerjaan lain. 3) Takut memalukan diri sendiri 4) Takut bahwa orang lain akan melihat bahwa dirinya cemas 5) Kecemasan yang mengganggu rutinitas. Anak yang mengalami fobia sekolah akan cenderung mengalami 34 . Tanda-tanda gejala emosi dan perilaku kecemasan sosial termasuk: 1) Takut secara berlebihan ketika berinteraksi dengan orang lain. 8) Kesulitan membuat kontak mata. fobia sosial merupakan gangguan yang biasanya mulai timbul sejak dini dan bersifat kronik. 9) Kesulitan berbicara. kecemasan- kecemasn tersebut yang menggambarkan keadaan emosional peserta didik dapat meyebabkan anak menolak untuk pergi ke sekolah atau fobia sekolah. Menurut Tirtojiwo (2002).

2007). Sehingga ketika saat pertama masuk ke sekolah. ketakutan tersebut dapat menjadi suatu hal yang irrasional dan berdampak sangat besar pada keinginan untuk tidak sekolah. Sedangkan menurut Hurlock (1996). Misalnya anak akan memakai seragam. tidak ada perbedaan sosial ekonomi yang memengaruhi fobia sekolah ( Fremont dalam Handayanti dkk. presentase kejadian sama. Kondisi yang dikemukakan Ahman dari hasil penelitiannya tersebut menurut penulis dapat menimbulkan terjadinya konflik sosial yang terjadi diantara teman sebaya. 7. tas serta peralatan sekolah yang baru. antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Dari konflik sosial akan menyebabkan terjadinya bulying dan dampak selanjutnya adalah fobia sekolah. Namun pada beberapa anak. Tantangan Implementasi Professional Learning kesulitan dalam berhubungan secara sosial. awal tahun ajaran atau masuk sekolah baru (TK/ SD). Ketakutan pada anak untuk bersekolah sebenarnya merupakan suatu hal yang biasa terjadi. bermain dan menyesuaikan diri. Menurut Tridhonanto (2014) fobia sekolah biasanya terjadi pada masa transisi seperti menjelang kenanikan kelas. belum memiliki kemampuan untuk bersaing dengan teman sebaya secara sportif dan kurang setia kawan. guru baru serta lingkungan yang baru. Hal irrasional seperti inilah yang dinamakan fobia sekolah. Hal itu merupakan harapan dari orang tua dan guru. teman-teman baru. Berdasarkan penelitian Ahman (Afianti. Harapan orang tua atau guru tersebut tidak selalu menjadi kenyataan. 6. karena ada beberapa anak yang mengalami kekhawatiran atau ketakutan untuk ke sekolah. 2014) diketahui bahwa siswa sekolah dasar cenderung lemah dalam kemampuan menghargai teman sebaya. 10 dan 11 tahun. seharusnya hal itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena anak akan melihat dan mengalami hal-hal yang baru. Anak yang memiliki kemampuan berhubungan dengan teman sebaya cenderung lebih mudah untuk bergaul. walauppun fobia sekolah terjadi pada semua umur sekolah tetapi hanya terjadi pada usia 5. 8. Rasa takut anak pada umumnya sebagai tanggapan untuk melindungi diri dari suatu hal. Padahal disisi lain anak memiliki keinginginan untuk diperhitungkan dan mendapatkan mendapatkan tempat dalam kelompok sebayanya. Anak usia sekolah dianggap lebih dewasa secara fisik dan psikologis dan dalam hal kematanagan emosi. Sebaliknya anak yang tidak memiliki kemampuan untuk berhubungan sosial cenderung mengalami kesulitan berhubungan secara sosial dengan teman sebayanya. 9. anak perempuan biasanya 35 . Epidemiologi fobia sekolah terjadi antara 1% sampai 5% terjadi pada hampir semua sekolah.

dan bersifat maladaptif. tidak ingin makan. Mereka merasa tegang dan sakit secara fisik setiap saat masuk sekolah. Anak itu mungkin pergi kesekolah lalu mengeluh tentang masalah somatik seperti sakit perut atau sakit kepala. Hal ini jauh lebih kompleks dan melibatkan gangguan termasuk “separation anxiety”. anak fobia sekolah takut meniggalkan rumah yang aman. meskipun kecemasan ini berpusat disekitar lingkungan sekolah. Barret dan Hamped (Rini. sensitif dan seringkali tidak tahu bagaimana harus menghadapi emosi yang mereka rasakan. adanya serangkaian peristiwa yang sangat buruk. Sedangkan Kelly (2005) berpendapat bahwa school phobia berkenaan dengan rasa keengganan yang luar biasa dari anak untuk pergi ke sekolah yang merupakan dampak dari kecemasan yang hebat dan rasa takut yang tidak wajar. Semakin ekstrim intensitas peristiwanya. Pengertian Fobia Sekolah Secara lebih detil Miller. Hal ini terjadi karena anak perempuan biasanya lebih memperlihatkan rasa takutnya akan sekolah dibandingkan anak laki-laki. Harlock (1993) mendeskripsikan fobia sekolah sebagai keengganan bersekolah secara total atau sebagian dan dinyatakan dengan gejala fisik misalnya rasa mual. Proses Terjadinya Fobia Sekolah Menurut Mahendratto dalam Armaliani (2008). Kebanyakan fobia terjadi pada masa 36 . Anak merasakan tidak aman. Professional Learning untuk Indonesia Emas lebih banyak mengalami fobia sekolah. semakin kuat potensi fobianya. Sedangkan menurut C’soti (2013) fobia sekolah bukanlah “fobia” sebenarnya. “agora phobia” dan fobia sosial. berkisar sekitar 75% dibandingkan anak laki-laki yang hanya 25%. fobia sekolah dapat terbentuk oleh sugesti negatif yang terjadi di sekolah. Hal ini disertai dengan gejala somatik yang selalu digunakan sebagai alasan untuk tetap dirumah dan sering hilang setelah anak tersebut yakin bahwa dia tidak harus bersekolah. bertahan dalam periode waktu yang lama. Berikut ini pengertian fobia sekolah oleh beberapa pakar. 2013: 4. tidak dapat dikontrol secara disengaja. menakutkan ataupun menyakitkan di masa lalu. Sedangkan menurut Davidson (1960) kemungkinan terjadinya fobia sekolah pada anak laki-laki dan perempuan adalah sama. dan sedikit demam.11) mendefinisikan fobia sebagai jenis tertentu dari ketakutan yang tidak proporsional terhadap realitas dari situasi. menyebabkan individu menghindari situasi yang di takuti. Pada kenyataannya. Jadi fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah.

upaya peredaan ketegangan biasanya dilakukan manusia secara tanpa sadar melalui mekanisme pertahanan diri dengan cara penekanan (repression) gangguan tersebut ke bawah sadar. timbul ketegangan luar biasa. Sedangkan Delwyin Tattum (Brendan Bryne. Dampak lain yang dirasakan oleh korban bullying adalah: 37 . Erling Rolland (Brendan Bryne. dilakukan secara sengaja dan sifatnya tekanan fisik ataupun psikologis. fobia dianggap tidak penting ataupun mengganggu dirinya. intimidasi dan kekerasan. secara fisik atau psikologi yang dikondisikan secara individu atau kelompok yang tidak dapat membela dirinya sendiri dalam situasi yang nyata. Di kemudian hari jika terdapat stimulan yang sama atau mirip. Bullying merupakan kekerasan yang terjadi secara kontinum dan dilakakukan secara sadar dan disengaja. Pada kebanyakan orang. tetapi tanpa dasar yang jelas dan cenderung panik. Tantangan Implementasi Professional Learning kanak-kanak walaupun dapat juga terjadi saat dewasa. Jika seseorang tidak mampu mengatasi peristiwa traumatis tersebut. Sebagai korban bullying. kesempatan dan kehidupan sosial). Karena tubuh manusia tidak mungkin terus menerus tegang. Pada peristiwa fiksasi tersebut. Saat seseorang mengalami serangkaian peristiwa buruk (traumatis) ataupun ekstrim.1994:13) berpendapat bahwa bullying adalah kekerasan yang terjadi dalam waktu lama. maka pola respon yang akan dipakai adalah pola respon yang terakhir dikenal atau biasa disebut regresi. Sesungguhnya fobia sangat merugikan pertumbuhan normal mental seseorang dan biasanya kerugian tersebut baru disadari saat semuanya sudah sangat terlambat (kehilangan waktu.1994:12) menyatakan bahwa bullying mencakup tindakan anti sosial seperti serangan. Ciri-ciri psikis antara lain muncul rasa cemas atau takut. secara psikologis akan merasa cemas dan takut. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci yang disebabkan oleh ketidak mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Faktor-faktor penyebab terjadinya fobia sekolah 1) Bullying Bullying mengarah pada tindakan yang menggagu orang lain. praktis pertumbuhan normal mentalnya mengalami penurunan (degradasi) ataupun terhenti (fiksasi). Agar lebih lengkap pemahaman tentang bullying penulis kemukakan tentang bullying dari beberapa pakar. Ciri fisik antara lain gemetar. nafas menjadi cepat dan jantung berdebar debar. pemerasan. mental kita membentuk konfigurasi tertentu dan relatif permanen.

menerima. terpikir atau mencoba untuk bunuh diri. merasa terisolasi dalam pergaulan. hangat dan terbuka kepada peserta didik. Jika guru tidak bersikap demikian berarti guru tersebut tidak bertanggung jawab dan membiarkan peserta didik malas ke sekolah. Jadi bullying yang terjadi di sekolah menyebabkan anak korban bullying mengalami fobia sekolah. rendahnya kepercayaan diri atau minder. 3) Tidak bisa lepas dari ibu Hal ini terjadi pada anak-anak yang memppunyai ibu yang tinggal di rumah. Guru harus mengubah perilaku tersebut. 2) Tidak suka pada guru Terdapat beberapa anak yang tidak menyukai perilaku guru terutama guru yang galak. kerena masa ketakutan dan kecemasan yang sangat mendalam kepada pelaku bullying. degradasi. atau kekerasan seksual dimana hal ini biasanya dilakukan oleh para orang tua atau pihak lain yang seharusnya merawat dan melindungi anak-anak itu (Suyanto. Seperti yang diungkapkan oleh Mulyasa (2005: 172) bahwa guru harus bersikap positif dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan di sekolah dan melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran. maka ia seringkali kalah melawan kemauan anaknya yang selalu ingin dekat dengan anaknya. melalui desakan hasrat. pemalu dan penyendiri. Dalam hal ini guru harus mengintropeksi diri. maka anak akan butuh waktu yang lebih lama 38 . Child abuse adalah tindakan melukai yang berulang-ulang baik secara fisik maupun emosinal kepada anak yang harusnya dilindungi. guru harus bersikap empatik. ada kekerasan lain yang terjadi pada anak yang dinamakan Child abuse. Seandainya ibu sering di rumah. Dalam hal ini ibu tidak berhasil meyakinkan anak bahwa pergi ke sekolah adalah suatu yang menyenangkan. Sebagai bentuk rasa ketidaksukaannya pada guru maka ia menjadi malas ke sekolah. Penderita mental yang dirasakan menyebabkan anak korban bullying mempunyai kenginan untuk terus menerus tinggal di rumah dan mogok ke sekolah. anak sudah terbiasa dan menyadari bahwa mereka harus ditinggal untuk bekerja. 4) Merasa tak mampu Karena kemampuan kognitif yang tidak mempu untuk menerima pelajaran dari guru. 2013:90). Selain bullying. Berbeda dengan anak yang mempunyai ibu yang bekerja. merosotnya prestasi akademik. hukuman badan yang tak terkendali. Professional Learning untuk Indonesia Emas depresi. dan cemoohan yang permanen.

Anak yang 39 . Suinn (1970) bahwa perilaku menyimpang seperti fobia sekolah dilakukan oleh anak-anak dan diperkuat oleh orang lain yang masih terkait. Hal ini ikut menyumbang perilaku anak yang menolak pergi ke sekolah. Hal ini didukung oleh pernyataan Inger Olsen dan H. Namun perlu diketahui oleh orang tua agar jangan samapai kekawatiran itu terlalu berlebihan sehingga anak juga merasa cemas dan tidak tahu harus berbuat apa menghadapi masalah tersebut. rasa kurang percaya diri dan kekawatiran yang berlebihan (Meilina. Tantangan Implementasi Professional Learning dalam menangkap apa-apa yang diberikan guru. Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan). Selain hal-hal tersebut diatas menurut Nunik (2007) dari hasil penelitiannya. seperti masalah penculikan atau penganiayaan anak. Akibatnya anak tidak mandiri dan tergantung pada orang tua. tugas pekerjaan rumah dan adanya pengganggu. misalnya anak sering mengaku pusing/ tidak enak badan menjelang sekolah serta “sejuta” alasan lain agar tidak sekolah pada hari itu. Coleman (1964) bahwa fobia sekolah yang terjadi pada anak-anak biasanya disebabkan oleh kecemasan untuk berpisah dan ketergantungan antara orang tua dan anak (terutama ibu). Hubungan anak dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial sekolah anak. Fobia sekolah dapat disebabkan dari faktor orang tua yang selalu memanjakan atau sangat menyayangi anaknya. ada hubungan negatif antara harga diri dengan kecenderungan fobia sekolah pada anak sekolah dasar. Manifestasinya bisa bermacam- macam. 6) Pola asuh orang tua. Saat ini memang kejahatan terhadap anak semakin marak. Sejumlah ahli mempercayai bahwa kasih sayang orang tua merupakan kunci utama perkembangan sosial anak (Desmita. 2010). 2012: 144). Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Diana Patter (2008) bahwa kecemasan pada anak yang menimbulkan fobia sekolah disebabkan oleh tuntutan sekolah seperti tes. dalam Har (2008) akibat beban kurikulum yang terlalu berat tidak mengherankan bila sebagian anak saat ini mengidap fobia sekolah. 5) Beban sekolah yang terlalu berat Menurut Seto Mulyadi. Hal senada diperkuat oleh pendapat Richard M. Akibatnya ia menolak semua tugas yang diberikan pedanya dan jika kondisi ini tidak teratasi maka ia tidak segan untuk mogok sekolah.

Seperti yang diungkapkan oleh Antono (2012) yaitu fenomena yang ada pada anak MTs Al Uswah Kabupaten Semarang. Sebelum membahas tentang penanganan fobia sekolah pada anak sekolah dasar. kasus fobia sekolah sudah sangat meresahkan bagi orang tua dan guru. agar anak dapat melewati masa sekolah dengan nyaman tanpa kekerasan sehingga dapat menjadi anak yang mandiri. Hal ini tidak hanya terjadi pada anak usia sekolah dasar saja tetapi juga terjadi pada anak yang usianya lebih dewasa. Kasus tersebut dapat memicu terjadinya fobia sekolah pada anak. menurut Al Tridhonanto (2014) sebagai berikut : 1) Teman baru Memberitahukan kepada anak bahwa nanti di sekolah baru mereka akan bertemu dengan banyak teman sehingga anak akan 40 . dilingkungan sekolah anak akan mengalami berbagai peristiwa baik positif atau negatif. Penanganan Fobia Sekolah Pada Anak Sekolah Dasar Setiap individu dalam kehidupannya pasti mengalami tantangan kesulitan ataupun masalah dan tidak ada seseorang yang hidup di dunia tanpa suatu masalah ataupun kesulitan terutama di zaman global ini. guru yang galak dan tugas sekolah yang memberatkan. 2012). Jika peserta didik yang mendapat tantangan yang besifat negatif dan pulih kembali dari pengalaman tersebut serta meneruskan hidup dengan normal bahkan mampu meningkatkan kompetensinya. dari beberapa kasus yang menimpa pada anak. guru dan teman yang baik. antara lain masih banyak anak yang terlambat masuk sekolah karena takut belum mengerjakann pekerjaan rumah (PR). Sedangkan peristiwa yang negatif seperti teman yang bandel. Professional Learning untuk Indonesia Emas memiliki harga diri tinggi akan memilki kecenderungan fobia sekolah yang rendah. Demikian juga dengan anak. Untuk itu perlu penanganan yang serius. berdasarkan hasil penelitian. baik itu kekerasan fisik maupun psikologis atau beban tugas yang terlalu berat dapat mengakibatkan anak trauma untuk pergi ke sekolah. Peristiwa positif seperti kegiatan yang menyenangkan. Seperti sudah penulis paparkan di atas bahwa. Secara kuantitas. penulis perlu membahas dulu tentang persiapan mental pada anak untuk masuk ke jenjang sekolah dasar. itulah yang diharapkan oleh orang tua dan guru. berkualitas dan berkarakter. dan sebagainya. Tekanan akibat peristiwa hidup sehari-hari ketika terakumulasi akan menjadi sumber gangguan dalam diri seseorang (Mountheit dan Gilboe dalam Ariyani.

Tantangan Implementasi Professional Learning merasa dia tidak sendirian. berikut ini adalah beberapa tindakan sekolah terutama guru. 6) Motivasi Orang tua sebaiknya selalu memberi pujian sebagai motivasi bagi anak setiap kali mau ke sekolah dan setiap kali ia pulang dari sekolah. Mereka akan bertemu dengan teman sebayanya sehingga rasa takut bertemu dengan orang asing. 4) Hari pertama sekolah Jangan membiarkan anak sendirian di hari pertama sekolahnya. dan guru-guru serta lingkungan baru bisa sedikit dikurangi. Hal ini bertujuan untuk melatih kemadirian siswa karena seperti yang dikemukakan oleh Adawiyah (2012) bahwa kemandirian yang dimiliki oleh siswa diwujudkan melalui kemampuannya dalam mengambil keputusan sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Sehingga anak akan merasa canggung dengan lingkungan barunya meskipun ada juga sebagian anak yang sudah berani ditinggalkan orang tuanya. 2) Baju sekolah baru Biasanya jika anak dibelikan baju baru untuk sekolah maka ia akan termotivasi untuk segera berangkat ke sekolah dengan semangat dan rasa ingin tahu yang lebih. 3) Lingkungan sekolah Pastikan anak sudah menganal daerah dan lingkungan sekolahnya sebelum sekolah dimulai. Hal ini dilakukan agar anak tidak merasa asing dan merasa sudah mengenal sekolahnya jauh lebih dulu dari teman-temannya dan ini bisa membangkitkan rasa percaya diri pada anak. 5) Mandiri Sebelum anak masuk sekolah sebaiknya orang tua sudah mengajarkan konsep kemandirian semenjak di rumah. ketika ada kasus peserta didik yang mengalami fobia sekolah: 1) Berusaha mendapat kejelasan tentang penyebabnya dan meyakinkan bahwa hal tersebut bukan kesalahan anak. Orang tua bisa perlahan meninggalkan sekolah jika sudah memasuki hari kedua atau ketiga. Latihan ini dilakukan agar anak bisa melakukan sendiri tanpa bantuan orang tua. Selanjutnya. 2) Membantu peserta didik mengurangi ketidaknyamanan yang ia rasakan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah 41 . dan memasang baju dan celana sendiri. Orang tua bisa mulai mengajarkan memasang sepatu sendiri.

3) Meminta bantuan pihak ketiga yaitu konselor untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal jika dirasakan perlu. Guru perlu mewaspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan peserta didik di rumah dan di sekolah. kesempatan memperoleh pendidikan. Merupakan hal sangat penting apabila guru menerima masukan dari pihak konselor atau guru bimbingan dan konseling karena seperti yang di kemukakan oleh Ruff dalam Bau Ratu (2012) bahwa Asosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA) mendeskripsikan peran konselor adalah menyediakan pelayanan bagi pendidik. Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan yang tidak bisa dilepaskan dari kecerdasan intrapersonal. siswa. 80% dari waktu profesi konselor secara langsung berhubungan dengan pelayanan siswa. Menurut Erham Wildan (2014) bahwa kecerdasan interpersonal bukanlah tumbuh dengan sendirinya. Peserta didik yang sudah merasa nyaman dengan dirinya sendiri akan membuat dia nyaman berhubugan dengan orang lain. Dari penjelasan diatas maka sangat wajar apabila dibutuhkan hubungan yang harmonis antara guru dan siswa. Karena itu guru 42 . Demikian juga apabila dia merasa terlindungi dalam situasi sosial dia akan mampu bertindak dengan cara yang tepat tanpa merasa terancam. seperti yang dikemukakan oleh Nana Syaodih (2013) bahwa hasil dan kemajuan belajar siswa ditentukan juga oleh bentuk hubungan antara guru dan siswa. Hal ini berkaitan erat dengan kecerdasan interpersonal. 5) Membina kedekatan dengan peserta didik dan mau mendengarkan cerita mereka. bukan hanya dalam hubungan sebagai pembimbing dan yang dibimbing tetapi juga sebagai mitra belajar. dan tujuan utama dari konselor adalah memaksimalkan prestasi siswa melalui peningkatan keadilan bagi siswa. dan menjamin keamanan dan kesehatan lingkungan belajar. Hubungan guru dan siswa menjadi syarat mutlak. Professional Learning untuk Indonesia Emas dimengerti. Untuk itu guru harus bisa menerima masukan dari pihak ketiga. 4) Dengan bekerja sama dengan pihak keluarga. tetapi merupakan kecakapan yang dipelajari yang memungkinkan orang berhubungan dengan orang lain dengan cara yang saling menguntungkan. mengamati perilaku dan emosi peserta didik. karena anak yang bisa berhubungan secara baik dengan dirinya sendiri akan mampu memiliki kebutuhan pribadinya sehingga nyaman secara psikologis. dan komunitas pendidikan untuk membentuk sekolah yang efektif.

Berkaitan dengan metode pembelajaran kolaboratif . Makin lama dia diizinkan tidak masuk sekolah. Penutup Dari uraian dan pembahasan diatas penulis akan memaparkan kesimpulan sebagai berikut: Pertama. 7) Tetap menekankan pentingnya sekolah Menurut para ahli terapi yang paling tepat untuk mengatasi anak yang mengalami fobia sekolah adalah mengajurkan untuk tetap kembali kesekolah. peserta didik akan merasa dibutuhkan oleh teman-teman sehingga dia akan merindukan lingkungan sekolah. 8) Dalam proses pembelajaran sebaiknya guru menerapkan metode kolaboratif yang memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik yang harmonis antara siswa sehingga kebutuhan sosial siswa terpenuhi. Davidson & Whorson (Wahidin. Dalam metode pembelajaran kolaboratif. (Sadulloh.2007: 192). karena lambat laun keluhannya akan makin berkurang. 2001: 25) yang sangat memperhatikan masalah bagaimana bahasa mempengaruhi pembelajaran dan bagaimana pembelajaran ditingkatkan melalui interaksi sosial. Pendapat yang sama didukung oleh Vygotsky (Florence Beetlestone. guru harus dapat menciptakan situasi yang menimbulkan kerjasama dalam belajar antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.2006:143) berpendapat bahwa pembelajaran ini dilakukan dengan cara mengelompokkan siswa dengan tujuan untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang efektif atau mengintegrasikan ketramplilan sosial yang bermuatan akademik. Tantangan Implementasi Professional Learning harus memahami siswa yang dibimbingnya dan sebaliknya siswa harus mengakui kewibawaan pembimbingnya. Dari situ akan timbul keinginan untuk kembali ke sekolah. Hal ini yang diungkapkan oleh Melvin (2009:30) yaitu menempatkan siswa dalam kelompok dan memberi mereka tugas yang menuntut mereka bergantung satu sama lain dalam mengerjakannya merupakan cara yang bagus untuk memanfaatkan kebutuhan sosial siswa. akan makin sulit mengembalikan lagi ke sekolah dan bahkan keluhannya akan makin meningkat. Selain itu semakin lama dia absen akan semakin ketinggalan pelajaran dan makin sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya. pengertian fobia sekolah adalah ketakutan dan kecemasan yang irrasonal seorang anak untuk pergi kesekolah dengan gejal- 43 . 6) Melakukan home visit dengan membawa teman sebaya. Dengan cara ini.

14-20. Psikologi Perkembangan. (2012). (2003). Armaliani. melakukan dan menekankan anak untuk kembali ke sekolah. Jurnal Bimbingan Konseling . beban tugas yang terlalu berat dari sekolah. sakit perut. 44 . Kempat. (2008). pola asuh orang tua. Panic Attacks and Auxciety in Children . proses terjadinya fobia sekolah yaitu : pertama-tama muncul sugesti negatif yang terjadi di sekolah sehingga terjadi ketegangan yang luar biasa.). M. dan chronic school refusal behavior. Daftar Pustaka Adawiyah. Jakarta: Universitas Gunadarma. membina kedekatan pesrta didik.d. Kemudian apabila ketegangan itu terus menerus terjadi maka untuk meredakan ketegangan tersebut anak akan melakukan represi melalui alam bawah sadar. faktor-faktor terjadinya fobia sekolah antara lain adalah : bullying. School Phobia . Ketiga . Fobia Sekolah pada Anak Sekolah Dasar. Professional Learning untuk Indonesia Emas gelaja demam. sakit kepala. (2012). The Journal of School Nursing. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jenis-jenis fobia sekolah mulai dari yang ringan sampai yang berat adalah: initial school refusal behavior. gatal-gatal. Remaja Rosda Karya. ketidaksukaan pada guru. School Phobia. (2005). Ariyani. Pengembangan Model Konseling Behavior dengan Teknik Modelling untuk Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa SMP N 4 Wanasari Brebes. (2012). R. R. Jurnal Bimbingan Konseling . Depdikbud. 21-26. Kelly. A. London and New York : Jessica Kingsly Publisher. Desmita. mengamati perilaku dan emosi peserta didik. membantu anak home visit untuk mengatasi ketidaknyamanan. Sehingga pertumbuhan normal mentalnya mengalami penurunan (degradasi) ataupun terhenti (fiksasi). acute school refusal behavior. meminta bantuan konselor. cara penanganan kapada anak yang mengalami fobia sekolah antara lain adalah: mencarai informasi yang jelas tentang penyebabnya. Kedua. M. Model Bimbingan Kelompok Berdasarkan Pendekatan Sistem untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa . J. substantial school refusal behavior. dan sebagainya. Eugene W. (n. Bandung : PT. C’soti. berkeringat dan sebagainya.

(1990 ). Alih bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih. Bandung : Yrama Widya. I. (2014). Beban Kurikulum Terlalu Berat. Jurnar Psikologi Volum 34.d. Jakarta : Rineka Cipta. (1996). Perkembangan Anak.). Phobias in children Who Claim to Remember Previous Lives . 45 . 55-75. (2012). E. (2007). The Nature and Treatment of Social Phobia. Kosasih. S. A. E. (n. Sharp. Jurnal of Scientific Exploration . Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Yani.).d. Mengapa Anak Mogok Sekolah . Struktur Kepribadian. Psikologi anak jilid 2. P. (2008). K. Elex Media Komputindo. Cambridge: Cambridge University Press. W. Hubungan Antara Harga Diri dengan Kecenderungan Fobia Sekolah pada Anak Sekolah Dasar. (1994). A. Menjadi Guru Profesional. ( 1993). Har. Bandung : PT. Soemanto. Gemari Edisi 91/Tahun IX. London: Routledge. Hurlock. Straviynski. School Bullying. Stevenson. Insights and Perspectives . 243-254. Jakarta : PT. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional . Memahami Anak dan Remaja dengan Kasus Mogok Sekolah : Penyebab. Tantangan Implementasi Professional Learning 147-151. Mulyasa. Jogjakarta: Universitas Islam Indonesia. Profil Keluarga dan Keberhasilan Penanganan. E. (2007). (2005). terjemahan Med Meitasari Tjandrasa &Muslichah Zarkasih. (2012). Anak Idap Fobia Sekolah. (n. Jakarta: Erlangga. Hurlock. d. Tridhonanto. Nunik N. A. Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus . Jakarta: Erlangga. Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan . Remaja Rosdakarya .

Pendidikan Islam. ajaran vs sekulerisasi serta spiritual vs material. Masa pertumbuhannya di Indonesia. sehingga biasa disebut madrasah diniyah. Upaya merekonsiliasi ajaran agama dan era modern terus dilakukan kaum muslimin di madrasah hal ini untuk menunjukkan bahwa Islam sesuai dan tidak bertentangan dengan era modern.com Abstrak: Modernisasi yang terjadi pada abad 19 hingga saat ini telah membawa perubahan terhadap berbagai aspek bidang kehidupan termasuk pendidikan Islam di Madrasah. jam pembelajaran di madrasah umumnya dilaksanakan sore hari. Kata kunci : Tantangan. Di era modern pendidikan Islam di madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya dituntut profesional. TANTANGAN DAN REVITALISASI PENDIDIKAN ISLAM PADA MADRASAH DI MASA MODERN ABAD 21 Syamsul Aripin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : syamsul_aripin1981@yahoo. Era Modern Pendahuluan Madrasahsebagai bentuk lain dari Pendidikan Islam yang menggunakan sistem kelas dan pembelajaran klasikal (Nata. Untuk itu pendidikan Islam pada madrasah juga harus meningkatkan peranannya sebagai lembaga pendidikan Islam untuk merespon kemajuan modernisasi saat ini. Revitalisasi. Madrasah. 2004). Sejak awal berdirinya dikenal dominan mengajarkan muatan keagamaan. Sebab di era modern kehidupan manusia akan ditandai oleh dua kecenderungan yang saling bertentangan/berlawanan dengan Islam yakni IPTEK vs IMTAQ. sebab masyarakat telah mengalami perubahan dengan mengedepankan rasionalitas. misalnya dengan merevitalisasi sistem pendidikannya yang pro perubahan sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Di era 70-an madrasah dipandang setara dengan sekolah umum dengan konsekwensi kurikulumnya harus memuat seluruh 46 . mempersiapkan lulusan madrasah yang handal sehingga dapat mengimbangi arus modernisasi yang ada dan tidak ketinggalan zaman dengan tidak meninggalkan program pendidikan madrasah yang sudah ada sejak dahulu dan compatible dengan era modern abad 21 ini.

sarana pendidikan (facility) dan pengelolaan (governance) sehingga perlu revitalisasi. pemerataan (equity). bahkan merupakan tuntutan. Modernisasi dan Pendidikan Modernisasi yang terjadi sekarang ini telah merambah berbagai bidang kehidupan umat manusia dan memberikan perubahan terhadap dunia pendidikan sehingga pendidikan mengalami modernisasi. mutu (quality).547 8. kurikulum (curriculum). Data Kuantitatif Madrasah No Jenjang Status Negeri Status Swasta Jumlah 1 Ibtidaiyah 1.600 3 Aliyah 57 2. Pendidikan Islam madrasah telah ada pada awal-awal kemerdekaan yang didalam kurikulum pembelajarannya. baik pengelolaannya maupun proses pembelajaran serta materi pelajaran yang bukan saja belajar agama tetapi juga belajar ilmu-ilmu umum.625 24. Jumlahnya diketahui sebagai berikut : Tabel 1.701 2.025 23.650 2 Tsanawiyah 853 7. di samping memberikan mata pelajaran agama juga mata pelajaran umum. Hal itu disebabkan bahwa munculnya model pendidikan madrasah karena adanya persentuhan atau kontak langsung dengan model pendidikan Barat melalui Kyai dan Ulama yang pernah belajar di Timur Tengah. Meski Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam modern. Tantangan Implementasi Professional Learning mata pelajaran yang ada di sekolah umum. kandungan pendidikan madrasah terutama pada masa awal perkembangannya mengacu pada ilmu-ilmu ke-islaman. Tuntutan perubahan ini bukan saja berasal dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) 47 . sebab pendidikan Islam madrasah merupakan pendidikan yang sudah menyerap sistem pendidikan modern.758 Madrasah merupakan bentuk lembaga pendidikan Islam modern. Berikut pembahasannya. Meskipun secara kelembagaan sekolah. Modernisasi semacam ini memang tidak bisa dihindarkan. Sedang Madrasah di Indonesia merupakan fenomena modern yang tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari proses pembaharuan pendidikan Islam di negeri ini. Di Indonesia eksistensi madrasah cukup banyak. Namun dalam kenyataannya menghadapi era modern Madrasah masih menghadapi beberapa persoalan antara lain masalah kesetaraan (equality).

2001). modernisasi pendidikan yang terjadi di Indonesia tidak bersumber dari kalangan Muslim sendiri tetapi justru diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Modernisasi pendidikan yang terjadi di dunia Islam tidak lebih dari respon positif para modernis Muslim terhadap ketertinggalan umat Islam dari kemajuan Barat modern. konstitusi. konsep-konsep baru tentang nilai-nilai egalitarian dan sebagainya. pemikiran dan kelembagaan Islam termasuk pendidikan Islam Madrasah harus diperbaharui agar sesuai dengan kerangka kemodernan dalam rangka memberdayakan masyarakat 48 . melainkan tuntutan masyarakat (Depag RI : Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Harun Ashrohah (2001) mengatakan bahwa pada permulaan abad ke-20 masyarakat Islam Indonesia telah mengalami beberapa perubahan baik dalam bentuk kebangkitan agama. ataupun tuntutan pembangunan nasional. Sehingga menurut Muhammad Khalid Masud (2001) ketika lembaga pendidikan melakukan modernisasi dengan mengambil elemen-elemen modern Barat. Untuk terwujudnya hal tersebut masyarakat Muslim harus belajar dan mengadopsi kemajuan-kemajuan yang dicapai masyarakat Barat (Esposito. sains. Modernisasi sendiri merupakan sebuah gerakan Islam yang mencakup gerakan-gerakan “pembaruan Islam” (Esposito. termasuk mengajarkan sains modern. 1995). maka para pelajar tersebut melakukan modernisasi di Indonesia dengan pembentukan lembaga-lembaga pendidikan modern yang diadopsi dari sistem pendidikan Belanda dengan mengambil elemen-elemen modern Barat. Sebab tidak mungkin bangsa Indonesia harus mempertahankan segala aktivitas dengan cara tradisional untuk melawan kekuatan-kekuatan kolonialisme Belanda. untuk modernisasi pendidikan di Indonesia. Menurutnya. Professional Learning untuk Indonesia Emas serta globalisasi. maka kesadaran akan identitas Islam-lebih sempit lagi dan ideologi keagamaan Islam yang mereka anut menjadi agenda yang mengemuka. Sebaliknya Azyumardi Azra (1996) berpendapat bahwa modernisasi di Indonesia berasal dari para pelajar Indonesia yang pulang dari Mekkah yang berhasil melakukan intensifikasi Islam. Salah satu karakter penting gerakan modernisasi Islam menurut Charles Kurzman (2002) adalah muncul dan menguatnya kesadaran untuk mengadopsi nilai-nilai modern dikalangan kaum Muslim dimana Nilai-nilai modern yang dimaksud disini antara lain rasionalitas. Menurut Nurcholish Madjid (1997). 1995). Menurut Fazlur Rahman modernisasi di dunia Islam terjadi pada abad ke sembilan belas yang digerakkan oleh elit penguasa (birokrat) dengan tujuan menciptakan keseimbangan (equilibrium) antara masyarakat Barat dan Islam . Sebaliknya. perubahan. maupun pencerahan yang diakibatkan adalah dorongan untuk melawan penjajah bangsa Belanda.

Di era modern pendidikan agama Islam dan lembaga pendidikan seperti madrasah menurut Suparman Ibrahim Abdullah dituntut untuk dapat memberikan jawaban atas berbagai problema yang kini dihadapi seluruh umat manusia. dan lain- lain (Azra. Menurut Nurcholis Madjid (1987:141-142) modernisasi sering dipahami sebagai suatu proses perubahan sosial. perkembangan 49 . Sebagian kalangan tertentu merasa bahwa modernisasi merupakan ancamam bagi eksistensi kebudayaan lokal tertentu. 1998:90). Haji Rasul. Muhammadiyah. yaitu perubahan susunan kemasyarakatan dari satu sistem sosial praindustrial (misal agraris) ke sistem sosial industrial. Syeh Muhammad Djamil Djambek. 1980:5). akan mewujudkan siswa yang berwawasan ilmu pengetahuan dengan dasar-dasar keagamaan yang kuat sehingga siswa siap menghadapi tantangan dunia global dengan tetap menjaga nilai-nilai religinya. Tantangan Implementasi Professional Learning Muslim menghadapi kemajuan dan tantangan dunia modern. Kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan fasilitas kehidupan dan sekaligus sistem nilai baru yang menjanjikan. Sedangkan tokoh-tokoh modernisasi di Indonesia antara lain Syekh Ahmad Khatib. Hal inilah yang menurut Nurcholis Madjid perlu diwaspadai dalam rangka melestarikan (mempertahankan) keberagamaan manusia. Kadang-kadang juga disejajarkan dengan perubahan dari masyarakat pramodern ke masyarakat modern. al-Irsyad. dan Abdullah Ahmad (Noer. Syekh Taher Jalaluddin. Pola pemikiran dan kelembagaan madrasah yang modern dengan aktivitas keagamaan. kehidupan masyarakat yang terus berubah dan berkembang berdampak pada pola penganutan keagamaan yang lebih rasional dan fungsional. mengingat modernisasi meniscayakan proses globalisasi yang menganggap bahwa dunia sebagai one world-one globe sehingga menghancurkan sekat-sekat pembeda yang ada di dunia ini. Sehingga dalam konteks keagamaan menurutnya kehidupan industrial (yang menjadi ciri modern) dapat menimbulkan efek negatif dan sekaligus menyimpan kandungan makna yang positif. Dalam waktu yang bersamaan. Otoritas ulama dalam bidang keagamaan berhadapan dengan aneka keahlian masyarakat dalam bidang-bidang lain yang lebih pragmatis. Pendidikan Islam dan Modernisasi Diskursus mengenai modernisasi sebagaimana yang sedang penulis bahas ini menimbulkan tanggapan yang berbeda-beda. Tuntutan masyarakat akan profesionalisme semakin berkembang dalam berbagai sektor kehidupan. Pemrakarsa pertama modernisasi pendidikan di Indonesia dalam hal ini menurut Deliar Noer adalah organisasi-organisasi modernis Islam seperti Jami’at al-Khair.

Professional Learning untuk Indonesia Emas telah memudahkan pengetahuan akses masyarakat termasuk ilmu- ilmu keagamaan. Hal senada dikemukakan Abdurrahman Wahid (1985:47) yang mengatakan bahwa antara modernisasi dan agama adalah menyatu. Akibatnya umat Islam sebagai bagian dari komunitas sosial justru turut terpengaruh oleh berbagai perubahan tersebut. Upaya ini bisa dilakukan sebab menurut Leonard Binder (1988:221) pendidikan agama Islam di madrasah dan era modern bisa sesuai sebab nilai-nilai Islam sehingga tidak sedikitpun bertentangan dengan peradaban modern. 2008). sehingga kehadiran agama terasa manfaatnya oleh penganut agama. yang luas dan beragama. Modernisasi dan perkembangan zaman telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dengan berbagai dampak positif sekaligus negatif. Upaya merekonsiliasikan ajaran-ajaran agama di madrasah dengan nilai-nilai pragmatis yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi agenda utama kaum Muslimin sejak awal abad 20. menurutnya andaikata modernisasi dilepaskan dari agama maka modernisasi akan tumbuh secara bebas nilai (free of value) dan kalau ini terjadi. Sebab saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat serta disaat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan dan saat perdagangan bebas dunia sudah berjalan. Hal ini menurut Suadi Putro (1998:46) telah memunculkan berbagai problema-problema kompleks yang pada 50 . Bentuk Tantangan Pendidikan Islam Pada Madrasah di Masa Modern Arus modernisasi yang telah bergerak begitu cepat dan pesat telah membawa perubahan di berbagai bidang kehidupan manusia. Nilai positif dari modernisasi dapat terlihat dari apa yang dianggap gaib dan tidak mungkin di masa silam menjadi nyata dan fakta dimasa kini. maka posisi dan keberadaan pendidikan agama di madrasah tampak makin dibutuhkan (Rahardjo. Bahkan di masa modern agama diharapkan dapat memberikan arahan dan perspektif baru. Oleh karena itu. Sedangkan ekses negatifnya terlihat ketika ilmu pengetahuan dan teknologi diper-Tuhan-kan. umat Islam yang ada dilingkungan madrasah tanpa harus meninggalkan keyakinannya terhadap ajaran Islam dapat memasuki kemajuan yang telah diperoleh peradaban modern. Tujuan pokok dari usaha ini adalah menunjukkan kompitibilitas ajaran Islam yang ada di madrasah terhadap perubahan peradaban modern di satu sisi diupayakan penyegaran dan pembaharuan pemahaman ajaran agama sejalan dengan perkembangan aktual. maka akan meruntuhkan nilai-nilai agama yang sudah ditetapkan agama. dan di sisi lain dilakukan langkah spiritualisasi masyarakat modern agar tidak mengalami kehampaan moral dan mental secara terus menerus.

Dimana Harun Nasution (1995:9) mengatakan bahwa revolusi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) itu membawa problem-problem yang sulit dapat dicari pemecahannya dewasa ini. Menurutnya kehidupan manusia di era modern akan ditandai oleh dua kecendrungan yang saling bertentangan/ berlawanan dengan Islam. Bahkan Nurcholish Madjid menambahkan bahwa di era modern bentuk hubungan dinamis antara religiusitas dan modernisasi merupakan suatu persoalan yang banyak menimbulkan kontroversi yang menurutnya akan terjadi proses yang sifatnya saling menggusur antara proses modernisasi dengan agama. misalnya saja budaya berpakaian (fashion). Tantangan Implementasi Professional Learning hakekatnya merupakan suatu tantangan besar yang harus dihadapi dan ditanggulangi secara efektif dan efesien. Semua hasil temuan iptek di satu sisi harus diakui telah secara nyata mempengaruhi bahkan memperbaiki taraf dan mutu hidup manusia namun disisi lain. masalah yang perlu segera mendapat jawaban. Untuk lebih jelasnya berikut ini penulis kemukakan beberapa bentuk tantangan era modern yang dihadapi pendidikan agama Islam di Madrasah. Iptek Vs Imtak Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menurut Muhaimin (2004:86) pada dasarnya suatu kebanggaan yang dicita-citakan oleh setiap orang. terutama dari pendidikan Islam di madrasah adalah mampukah kegiatan pendidikan Islam di madrasah berdialog dan berinteraksi dengan perkembangan zaman modern yang ditandai 51 . Dalam masyarakat modern Nurcholish Madjid mengatakan. masyarakat sering rentan terhadap depersonalisasi dan dehumanisasi. sikap. dan dampaknya terasa bagi kehidupan seluruh umat manusia. Temuan iptek telah menyebarkan hasil yang membawa kemajuan. Karena itu. Akibatnya ia tidak lagi mengenali dirinya sendiri dan makna hidupnya atau alienasi. ketergantungan kepada sains dan teknologi (IPTEK) yang berlebihan tersebut akan dapat menjadikan destruksi lingkungan dan politik totaliter. Mastuhu (1999:xi) mengungkapkan keberhasilan suatu pembangunan termasuk bidang pendidikan selalu disertai dengan tantangan-tantangan baru sekaligus dampak negatifnya. tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan saja. Menurut Eti Rochaety (2006:64) kemajuan teknologi yang tidak dapat dibendung lagi. atau tingkah laku kehidupan individu dan masyarakat yang akan mengakibatkan sebagian manusia modern terjauh dari nilai-nilai Islam dan juga nilai-nilai kemanusiaan sehingga akan mengalami krisis nilai-nilai spiritualitas. melainkan juga merambah pada nilai-nilai budaya dimasyarakat. Produk temuan dan kemajuan iptek telah mempengaruhi bangunan kebudayaan dan gaya hidup manusia sehingga akan mempengaruhi nilai.

sosial. sehingga menurut M. Menurut Fazlur Rahman (1982:43)hal ini diakibatkan semakin kuatnya pengaruh Eropa terhadap dunia Islam melalui kolonialisme dan imprialisme sehingga sekulerisasi juga mulai tertanam dan tumbuh di dunia Islam. Dalam kalimat yang padat Muhammad Abdul Karim Khayyal mengatakan : “Islam adalah aturan yang lengkap meliputi seluruh aspek kehidupan. ekonomi. 52 . jihad dan dakwah. Sekulerisasi merupakan faham yang ingin memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat. dan mampukah mengatasi dampak negatif dari kemajuan tersebut. Umar Chapra (1999:1) hal ini menyebabkan orang modern berpandangan sekuler. Adapun ciri sekulerisasi menurut Dale F Eickelman dan J Piscatori adalah adanya pandangan bahwa masalah agama adalah masalah tersendiri terlepas dari aspek lain yang bersifat keduniaan (Suhudi. Islam adalah negara dan bangsa atau pemerintahan dan masyarakat juga moral dan kekuasaan. politik. Ajaran Islam Vs Sekulerisasi Ajaran Islam yang selama ini mengatur seluruh kehidupan manusia di dunia ini di era modern menghadapi tantangan yang cukup berat yakni sekulerisasi. Demikian juga pandangan yang memisahkan agama dari politik.” Di Indonesia pengaruh sekulerisasi menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1979:11) sangat mencolok apabila dibandingkan dengan negara Islam lainnya di dunia. Sekulerisasi mengajarkan semua urusan kehidupan di dunia ini terlepas dari ajaran agama sebab agama dan kehidupan berbeda. peradaban dan undang-undang. budaya. Professional Learning untuk Indonesia Emas dengan kemajuan iptek dan informasi. agama. seni dan lain-lain. Islam bukan hanya sebatas agama yang memuat masalah hubungan manusia terhadap tuhannya saja melainkan Islam juga mengajarkan bahkan mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. kerja dan harta. Sebab ajaran Islam itu holistik (kaffah) mencakup seluruh aspek kehidupan. 1998:60). kekuatan senjata dan konsep. Penyebab sekulerisasi sendiri menurut Fazlur Rahman adalah kemandegan pemikiran Islam yang mendorong masyarakat Muslim untuk mengambil pemikiran yang berkembang di Barat tanpa mengikuti penjelasan filosofis yang berada dibelakangnya. ilmu pengetahuan dan hukum. kekayaan materi. Islam adalah rahmat dan keadilan. ekonomi dan budaya adalah merupakan bagian dari sekulerisasi dimana masing-masing terpisah dan berdiri sendiri. Sebaliknya Mohammad Arkun berpendapat sekulerisasi telah ada dan diajarkan dalam Al-Qur’an dan kehidupan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Hal ini bertolak belakang dengan prinsip ajaran Islam yang selama ini menjadi rahmat bagi seluruh alam. sosial.

Menurut Tarmidzi Tahir (2008) modernisasi yang sedang berlangsung ini telah tumbuh dan berkembang dan merubah pendapatan masyarakat menengah menuju masyarakat industri. sedangkan rohani hanya pemunculan (margentisme) dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. namun sebaliknya juga menyeret perubahan pada norma dan nilai sekarang ini yang dikemas dalam slogan indah seperti demokratisasi. maka menurut Nasichah (2003:4) hal ini seringkali mengagungkan nilai-nilai yang bersifat materi dan anti rohani. sebagaimana terlihat pada gejala umum masyarakat modern. Akibatnya. Benturan kedua nilai tersebut. secara langsung memberikan gambaran bagi sikap hidup suatu komunitas pada zaman tertentu. Material sendiri berasal dari kata “materi” yaitu benda. sama halnya dengan persoalan tradisi dan modernitas. keterbukaan. Kebudayaan modern yang berintikan liberalisasi. Revitalisasi Model Pendidikan Madrasah di Masa Modern Hal yang dapat dilakukan oleh pihak madrasah untuk mempersiapkan siswanya di masa modern adalah dengan merevitalisasi sistem pendidikannya yang tidak pro perubahan 53 . benturan-benturan antara nilai-nilai materi dan unsur- unsur rohani dalam alam modern. dan mengabaikan nilai- nilai spiritual. sehingga memunculkan juga kesenjangan dan kekerasan sosial. rasionalisasi efesiensi menurut Azyumardi Azra perubahan ini secara konsisten terus melakukan proses pendangkalan kehidupan spiritual. Kehidupan rohani di era modern semakin kering dan dangkal. agama yang sarat dengan nilai-nilai sakral dan spiritual perlahan tapi pasti tergusur dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Liberalisasi yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan tak lain adalah proses desakralisasi dan de-spiritualisasi tata nilai kehidupan. dan hak asasi manusia. Noor Syam (1988:340) dewasa ini budaya modern telah mengalami krisis. Perubahan yang terjadi terbukti tidak hanya bersifat material semata. Terkadang agama dipandang tidak relevan dan signifikan lagi dalam kehidupan. Dalam proses modernisasi yang sedang terjadi di madrasah ini. Salah satu ciri kehidupan sebagian masyarakat modern dewasa ini menurut Hasan Bakti Nasution (2001:179)adalah berkembangnya kecendrungan pola sikap hidup material. Kondisi ini menurut Husni Rahim (2001:129) telah membuka dampak krisis spiritual dan kepribadian. Tantangan Implementasi Professional Learning Spiritual Vs Material Menurut M. sedangkan aliran yang menganut paham ini disebut “materialisme” yang dianut oleh aliran materialisme ini diantaranya adalah anggapan bahwa perubahan kebudayaan dan kehidupan manusia terjadi disebabkan oleh keadaan sosial. Dalam proses semacam itu.

Dalam mata pelajaran yang diberikan ke siswa. baik ilmu- ilmu sosial maupun ilmu alam. serta tidak memiliki kepedulian terhadap perkembangan ilmu-ilmu umum. Sebab selama ini materi pendidikan di pandang belum membangun sikap kritis. toleransi dan kemanusiaan. perdamaian. Idealnya. masih terbatas pada masalah keagamaan. Ilmu-ilmu yang sudah terintegratif itu akan semakin memperkuat keyakinan mereka tentang tauhid atau keesaan Allah. dan evaluating (penilaian) serta suvervising (perbaikan) dalam kegiatan pendidikannya. Semua ini tentu saja memerlukan manajemen civitas Madrasah atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dengan berpedoman pada Fungsi-fungsi manajemen seperti planning (perencanaan). juga memiliki sarana dan prasarana untuk meningkatkan skill siswa baik dalam bidang perbengkelan. Juga penguasaan skill tertentu yang dibutuhkan dunia kerja. Padahal Rosenblith dan Bailey (2007) mengatakan bahwa pendidikan agama yang dilakukan dengan pendekatan komprehensif di sekolah umum mampu memberikan pandangan dan pemahaman baru terhadap siswa tentang perbedaan dan keharmonisan hidup dalam masyarakat plural. actuating (pelaksanaan). Untuk mengembangkan hal itu perlu pula madrasah melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan atau lembaga teknis lainnya. baik bahasa Arab maupun Inggris. penguasaan bahasa bagi pencari kerja era ini menjadi syarat mutlak. Sedang masalah penting revitalisasi pendidikan madrasah yaitu dalam kurikulumnya diperlukan penyatuan antara ilmu agama dan ilmu umum. Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang lebih modern dari sudut metodologi dan kurikulum pengajarannya. Maka untuk itu Madrasah sebagai institusi pendidikan Islam yang 54 . Qomar juga berpendapat berbeda dengan pesantren. setiap madrasah memiliki laboratorium bahasa. Untuk pengembangan materi lebih dalam. Oleh sebab itu Madrasah dituntut melakukan perubahan-perubahan strategis dalam bidang manajemen. jahit- menjahit. orgnising (pengorganisasian). Upaya ini menurut Indra Hasbi dapat dilakukan pengelola madrasah dengan memperhatikan dan meningkatkan kemampuannya siswa dalam bidang bahasa. Professional Learning untuk Indonesia Emas kemudian mengganti atau mengakomodasi sistem pendidikannya yang sejalan dengan tuntutan perubahan. Siswa madrasah dapat pula dipersiapkan wawasan dan mentalnya agar memiliki mental kewirausahaan melalui pembinaan perkoperasian atau bentuk lainnya. mereka dianjurkan mendalami berbagai literatur lainnya. dan juga dapat mempengaruhi moralitas siswa dalam bentuk pengalaman sehari-hari di sekolah dan di rumah. Senada dengan Indra Hasbi. Pendidikan ini bertujuan untuk mengenalkan berbagai ajaran agama tentang penghormatan. controlling (pengawasan). materi ilmu agama sudah terintegrasi dalam ilmu umum.

Iptek vs Imtaq. joyfull learning. Konsep pendidikan integrated learning. memiliki keterampilan pedagogis. pendidikan Islam di madrasah dan lembaga pendidikan Islam justru dituntut lebih profesional dan bukan dikelola sekedar asal-asalan. Usaha ini penting dilakukan sebab di era modern ini kehidupan manusia akan ditandai oleh dua kecendrungan yang saling bertentangan/berlawanan dengan Islam yakni. Islami. maksimalisasi manajemen berbasis sekolah sangat diperlukan (Indra. dan cooperatif learning kiranya perlu diterapkan dalam manajemen pengajaran di Madrasah dengan guru yang professional sebab Slavin (dalam Allyn and Bacon. Kemudian perlunya mendirikan Madrasah berbasis standar (Nasional/Internasional) mengingat madrasah banyak memiliki kekurangan dalam berbagai aspek. Hal ini untuk menunjukkan citra Islam sesuai dan tidak bertentangan dengan era modern sebagaimana Barat tuduhkan. ajaran vs sekulerisasi serta spiritual vs material. MIN Malang. sebab masyarakat dewasa ini telah mengalami perubahan orientasi dengan mengedepankan rasionalitas. perlu mempersiapkan siswanya bukan saja dengan ilmu agama tetapi juga ilmu umum. Untuk mengatasi hal itu lembaga pendidikan Madrasah 55 . Untuk mencapai hal itu. yang dalam pembelajarannya telah dilakukan secara pendekatan yang digunakan harus bersifat integralistik yang menyangkut semua dimensi dan ranah pembelajaran sehingga waktu yang ada dapat digunakan secara efisien dan mendapatkan hasil yang optimal. Di era modern. menyenangkan dan perhatian dalam tugasnya. berkualitas. memutuskan persoalan dengan menggunakan psikologi pendidikan. Meski demikian dewasa ini umat Islam telah memiliki madrasah yang berprestasi dan bereputasi baik semisal Insan Cendikia di Serpong Banten. yang selalu mengajar secara efektif dengan penuh semangat. Selain itu Madrasah perlu juga membekali siswanya suatu kompetensi atau keahlian guna sebagai bekal baginya setelah lulus. Untuk itu upaya merekonsiliasi ajaran agama dan era modern perlu dilakukan kaum Muslimin khususnya di Madrasah. Kemudian Madrasah pembangunan UIN Jakarta yang siap bersaing di era modern. Tantangan Implementasi Professional Learning mencerdaskan dan mempribadikan anak didik. 2005:202-210). Penutup Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam pada Madrasah mengalami tantangan modernisasi. 1994:24) mengatakan guru yang baik adalah yang menguasai materi pelajaran. Modernisasi yang terjadi terjadi pada abad 19 hingga saat ini telah membawa perubahan yang cukup kompleks terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan Islam di Madrasah. Visi Madrasah juga mesti diperbaharui dengan menggunakan slogal populis. serta mandiri.

Islam and Seculerisme. 1997. Esposito. M. Professional Learning untuk Indonesia Emas harus meningkatkan peranannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang handal yang dapat merespon dan mengantisipasi dampak negatif dari kemajuan modern saat ini. (ed). 1987. Khalid. Ashrohah. Kuala Lumpur : Muslim Youth Movement of Malaysia. 1999. Islamic Liberalism. Muhammad. 1998. Azyumardi. 56 . Masud. 2002. Iskandariâh. Jakarta : Paramadina. Syarh wâ Tahlîl Ushûl al-Isyrîn. Sejarah Pendidikan Islam. (ed). Chicago : The Universirty of Chicago Press. Yogyakarta : RDI Indonesia. A Source Book. Muhammad“Religius Identity and Mass Education”. tt. Daftar Pustaka Abdullah. Cet. Cet. Oxford: Oxford University Press. Charles. Harun. Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan. Abdul. Kemodernan dan keindonesiaan. Logos Wacana Ilmu. Cet. Islam in the Era Globalization. Binder. misalnya dengan merevitalisasi sistem pendidikannya sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Chapra. dalam Johan H. 1995. John L. Cairo. 1979. Khayyal. Kurzman. Naquib. Ke-1. Al-Attas. Surabaya : Risalah Gusti. Suparman. London : Oxford University Press. Profil Pendidikan Tinggi Pondok Pesantren di Indonesia. Syed. 1988. 2001. Muhammad. Leonard. Jakarta : PT. Cet. Esei-esei Intelektual Islam. Ke-1. Madjid. Ibrahim. The Oxford Encyclopedia of the Modern World. Meuleman (ed). Ke-2. 2. Karîm. Vol. Jakarta : PT. Dâr al-Dakwah. Azra. kemudian mempersiapkan lulusan madrasah yang handal dan siap pakai sehingga dapat menyeimbangi arus modern yang ada dan tidak ketinggalan zaman dengan tidak meninggalkan program pendidikan madrasah yang menjadi kekhasan/keunggulan institusi pendidikan Islam yang sudah ada sejak dahulu. Modernist Islam 1840-1940. Masyarakat Religius dan Dinamika Industrialisasi dalam Islam. Logos Wacana Ilmu. Bandung : Mizan. Nurcholish. Ke-1. Umar Islam dan Tantangan Ekonomi Islamisasi Ekonomi Kontemporer. _________________. Ma’had Aly.

Mastuhu. Putro. Transformation of an Intellectual Tradition Chicago: The University of Chicago Press. 1988. Filsafat Umum. Jakarta : Gaya Media Pratama. Tentang Islam dan Modernitas.al. Jakarta : Konsorsium Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum. Jakarta.. Harun. Hasan. Eti. Pontjorini Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. Noor. Suadi. Jakarta : LPE3S. 2006. Islam and Modernity. Peraturan Pembinaan Madrasah dalam Rangka Otonomi Daerah. Jakarta : INIS. Nasution. Surabaya : Usaha Nasional. Husni. Gusti. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1990-1942. Rahman. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. Cet. et. Nasution. 57 . M. Jurnal Nasichah. Depag RI : Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Bandung : PT. 1998. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pancasila. Cet. Ke-11. 2001. Perlunya Menghidupkan Kembali Pendidikan Moral. Jakarta : Eralngga. 2004. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. 1982. Remaja Rosdakarya. tt. Noer. Tim Perumus Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta. Rahim. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. Prima. Memberdayakan Pendidikan Islam. 2001. Ke-1. 2001. Bakti. Da’wah Pada Masyarakat Modern Problem Kehampaan Spiritual. Desember 2003. Al-Islam dan IPTEK. 1995. Rahayuningsih Yanti. Syam. DIKTI Depdikbud. Jakarta : Bumi Aksara. Muhaimin. Tantangan Implementasi Professional Learning Muslim Attitudes Towards Modernity and Identity. Deliar. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Qomar. Pesantren dan Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Muhammad Arkoun. 1999. Vol. Jakarta : Paramadina. Universitas Muhammadiyah Jakarta. Mujamil. 1998. X No 2. Rochaety. Jakarta : Da’wah : Jurnal Kajian Da’wah dan Budaya. 1980. 2001. Fazlur.

31 Agustus 1996. Bea. Website Rosenblith. (Center For Moderate Muslim Indonesia).hwwilsonweb. com/hww/result/getResult. 9-111. Makalah Seminar Azra. Azyumardi. dalam majalah Komunikasi Ekaprasetia Pancakarsa. Umat Islam dan Tantangan Dunia Modern. Professional Learning untuk Indonesia Emas Majalah Wahid. 40/tahun VI/1985. “Comprehensive Religious Studies in Public Education : Educating for a Religiously Literate Society. 58 . 47. Tarmidzi. Modernisasi Pendidikan Islam dan Epistemologi Ilmu. No. Suzanne dan Bailey. Makalah pada peringatan 70 tahun Pondok Modern Gontor. http://vnweb. Diakses Lewat Internet Pada Tanggal 23 Juli 2008.” Jurnal Educational Studies (American Educational Studies Association) 42 No 2 (2007).jhtml/_DARG= Tahir. Agama dan Modernisasi adalah Satu”. Abdurrahman.

Pengelolaan melalui pendidikan dari jenjang pendidikan dasar (SD/MI) dapat menghasilkan SDM yang berkualitas dan menjadi generasi emas karena memiliki karakter berlandaskan kecerdasan spiritual. berkarakter tanpa kesehatan tidak ada artinya. Selain genapnya usia tersebut. Harapan tersebut tidak mungkin terwujud tanpa upaya yang sungguh-sungguh terutama dalam membangun dan mengembangkan 59 . Generasi emas ini diharapkan dapat membawa Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang lebih baik dan maju di berbagai bidang sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang adil berkemakmuran dan makmur yang berkeadilan. mengutip dari sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2012. diperkirakan pada saat itu Bangsa Indonesia diisi oleh generasi emas.com Abstrak: Dalam 100 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2045. Namun. yaitu generasi yang mayoritas berusia produktif. mereka memiliki karakter yang baik dan kuat. yang sekarang berusia 0-19 tahun dan menjadi peserta didik SD. yang karena proses dan hasil pendidikan. Indonesia memperoleh bonus demografi berupa potensi kekayaan sumber daya manusia (SDM) usia produktif. SMP. SMA bahkan perguruan tinggi. intelektual dan sosial sejak dini yang dapat diteruskan hingga dewasa. emosional. Generasi Emas Pendahuluan Bangsa Indonesia akan genap berusia 100 tahun kemerdekaan pada tahun 2045. Kata kunci: Gizi dan Kesehatan. URGENSI GIZI DAN KESEHATAN PESERTA DIDIK TINGKAT SD/MI SEBAGAI PRASYARAT TERWUJUDNYA GENERASI EMAS Dina Rahma Fadlilah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email: drahma89@gmail. Pembahasan ini bertujuan untuk mengungkapkan pentingnya pemberian pendidikan gizi guna menciptakan generasi emas yang bukan hanya berkarakter. Hal ini menjadi sangat berharga jika dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sedari dini. karena tanpa kesehatan produktivitas menurun. namun juga sehat. SD/MI.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masalah gizi buruk sering terjadi pada anak usia sekolah dasar (6-14 tahun). Upaya yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan SDM yang berkualitas adalah pendidikan. Ciri-Ciri Generasi Emas: Memiliki 18 Karakter Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan. Masalah gizi buruk ini dapat diatasi salah satunya dengan memberikan pendidikan gizi untuk peserta didik SD/MI. Hal ini menjadi bonus demografi (demographic dividend) dari Tuhan YME yang sangat berharga bila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. dan insan yang kompetitif (Wibowo. Selain itu. yaitu dari jenjang pendidikan dasar (SD/MI). Generasi Emas Generasi emas pertama kali digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada sambutan Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2012. upaya ini sebaiknya dilakukan sedari dini. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. emosional. sehingga nilai- nilai yang telah ditanamkan dari SD/MI dapat dilanjutkan ke tingkat selanjutnya. Maka dapat dikatakan bahwa generasi emas adalah generasi usia produktif yang sangat berharga dan bernilai yang dikelola serta dimanfaatkan dengan baik agar berkualitas menjadi insan yang berkarakter. insan yang cerdas. Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia berupa populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa. namun juga sehat. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang 60 . intelektual dan sosial. Gizi buruk di Indonesia merupakan masalah kesehatan yang sulit diatasi oleh Bangsa Indonesia dan merupakan hambatan dalam membentuk SDM yang berkualitas. kesehatan adalah faktor yang patut diperhatikan dalam membentuk SDM yang berkualitas. Pada tahun 2010-2035. Dengan pemberian pendidikan gizi pada peserta didik SD/MI. diharapkan kesehatan pun akan meningkat dan dapat menghasilkan generasi emas yang tidak hanya berkarakter. SDM yang berkualitas tidak akan berarti karena kesehatan mempengaruhi produktivitas. 2013). Bardasarkan hal tersebut. SDM berkualitas adalah sumber daya manusia yang memiliki karakter berlandaskan kecerdasan spiritual. Tanpa kesehatan. Professional Learning untuk Indonesia Emas sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam proses pembelajaran pun kesehatan merupakan faktor internal yang harus terpenuhi oleh peserta didik.

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut. 5. mandiri. pendapat. 6. dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Tabel 1. dan pekerjaan. budaya dan tujuan pendidikan nasional (Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Berdasarkan keempat sumber nilai itu. tindakan. Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya. toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain. 61 . berakhlak mulia. etnis. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama. yaitu agama. berilmu. Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. serta menyelesaikan tugas dengan sebaik- baiknya. pancasila. Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa No Nilai Deskripsi 1. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan. 2010). dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Berdasarkan hal tersebut. pendidikan dapat dijadikan sarana yang strategis untuk membentuk generasi emas. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. 2. kreatif. sikap. 3. cakap. sehat. 4. Tantangan Implementasi Professional Learning Maha Esa. suku. teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

bersikap. bersikap. Cinta Damai Sikap. sosial. ekonomi. bertindak. Bersahabat/ Tindakan yang memperlihatkan rasa Komunikatif senang berbicara. Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya. 10. dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 13. dilihat. dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. 12. 8. dan bekerja sama dengan orang lain. dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan. 11. dan berwawasan Kebangsaan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Cinta Tanah Air Cara berfikir. Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya. Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. Demokratis Cara berfikir. 62 . 9. dan didengar. dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan amanatas kehadiran dirinya. dan mengakui. 14. bergaul. S e m a n g a t Cara berpikir. dan politik bangsa. Menghargai Sikap dan tindakan yang mendorong Prestasi dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. budaya. 15. kepedulian. lingkungan fisik. perkataan. serta menghormati keberhasilan orang lain. 16. Professional Learning untuk Indonesia Emas 7.

baik secara fisik. karakter juga memerlukan kesehatan jiwa dan raga (Manullang. sosial dan budaya). Apabila makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan. (Syafiq. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. bila makanan tidak dipilih dengan baik. Namun. spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. 2013). Karakter adalah hal yang utama dari manusia berkualitas. generasi yang merupakan hasil tempaan proses pendidikan adalah generasi yang memiliki 18 karakter di atas. 18. Sementara itu. Kesehatan juga adalah hak asasi manusia yang harus dipenuhi sebelum hak-hak asasi lainnya dapat dipenuhi. Pentingnya Kesehatan. terhadap diri sendiri. negaradan Tuhan Yang Maha Esa. Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Adisasmito (2007) menyatakan bahwa SDM yang berkualitas dicirikan dengan fisik yang tangguh. yang seharusnya dia lakukan. mental. dan keadaan ini 63 . tidak akan ada SDM yang intelektual dan produktif. 2007). Kesehatan tubuh sangat berhubungan dengan gizi. 2009). Sedangkan Syafiq (2007) berpendapat bahwa tanpa kesehatan. mental. Tanggung-jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sebaliknya. kesehatan yang prima dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi. masyarakat. Tantangan Implementasi Professional Learning 17. ciri-ciri generasi emas. tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. yaitu keadaan sehat. serta produktif secara ekonomi dan sosial. lingkungan (alam. 36 tahun 2009 tentang kesehatan juga menjelaskan tentang definisi kesehatan. Sumber: Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum (2010) Oleh karena itu. Zat gizi esensial adalah zat-zat gizi yang harus didatangkan dari makanan (Almatsier. Gizi dan Makanan Bagi Tubuh WHO dalam Syafiq (2007) mendefinisikan kesehatan sebagai: “Keadaan sempurna baik fisik. dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat.” Sedangkan UU No.

cerdas. (2) protein. salah satunya adalah pendidikan (Atmarita. 2004). Manusia memerlukan zat gizi untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari. yaitu (1) karbohidrat. (5) mineral dan (6) air (Suhardjo dan Kusharto. Mewujudkan Manusia Sadar Kesehatan Melalui Pendidikan Gizi Tantangan utama dalam pembangunan suatu bangsa adalah membangun sumber daya manusia yang bekualitas yang sehat. Status gizi dan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sejalan dengan Azwar (2004). 2004). 2008 dalam Pamularsih. Pada dasarnya program pendidikan gizi bertujuan merubah perilaku yang kurang sehat menjadi perilaku yang lebih sehat terutama perilaku makan (Sahyoun dkk. akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak sehingga tidak mampu berfungsi dengan normal (Anwar. Kelebihan energi yang dikonsumsi disimpan di dalam jaringan dalam bentuk lemak. struktur dan fungsi otak dan perilaku. Berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh digolongkan ke dalam enam macam. pertahanan tubuh. Kegemukan merupakan salah satu faktor risiko dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif. 2004). seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi. penyakit-penyakit diabetes. Pencapaian pembangunan manusia yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) belum menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam tiga dasawarsa terakhir. Pada tahun 2003. (4) vitamin. produksi tenaga. Adisasmito (2007) juga menerangkan bahwa strategi sebuah bangsa dalam menciptakan SDM yang sehat sangat terkait dengan penanganan gizi buruk. (3) lemak. Professional Learning untuk Indonesia Emas berlangsung lama. Tubuh yang kekurangan gizi akan berakibat buruk pada tubuh. hati dan kantung empedu (Almatsier. Tubuh yang kelebihan gizi pun tidak baik bagi tubuh. untuk memelihara proses tubuh dan untuk tumbuh dan berkembang khususnya bagi yang masih dalam pertumbuhan. yaitu: pertumbuhan. Pendidikan gizi harus menjadi bagian integral dari pendidikan formal pada sekolah dasar. Akibat kurang gizi terhadap proses tubuh bergantung pada zat- zat gizi apa yang kurang. IPM Indonesia masih rendah. 1988). Rendahnya IPM ini sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan status kesehatan penduduk (Azwar. Gizi lebih dapat menyebabkan obesitas. serta ditingkat akademi dan universitas (Suhardjo. 2009). dan produktif. 2006). 2009). sekolah menengah. Pendidikan gizi bisa diterapkan di sekolah dasar melalui program-program yang sudah ada misalnya dipadukan dengan program PMTAS maupun kegiatan rutin yang 64 . Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kuantitas dan kualitas) menyebabkan gangguan pada beberapa proses. jantung koroner.

2007) 65 . Gambar 1. Bagan penyebab kurang gizi. Dengan penerapan pendidikan gizi di sekolah. Kurang pendidikan merupakan salah satu faktor kurang gizi (Adisasmito. diantaranya peningkatan pendidikan sampai jenjang SLTP pada laki-laki dan peningkatan pendidikan sampai jenjang SLTP pada perempuan (Atmarita. 2009). sesuai dengan Zulaekah (2009) yang mengungkapkan bahwa dengan adanya pendidikan gizi yang dipadukan dengan suplementasi zat besi di sekolah masalah anemia di Indonesia dapat teratasi. 2004). status gizi dan kesehatan dapat berubah secara signifikan. Oleh sebab itu. Atmarita (2004) menambahkan bahwa. jika upaya peningkatan pendidikan pada masyarakat dilakukan. Tantangan Implementasi Professional Learning dilakukan sekolah (Zulaekah. khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. penyakit yang terjadi karena kekurangan gizi dapat diatasi. Perubahan status gizi sangat signifikan terjadi jika dilakukan upaya sebagai berikut.

penyampaian pendidikan gizi di sekolah formal membutuhkan kajian ulang pada berapa hal. Pertemuan Advokasi Program Perbaikan Gizi Menuju Keluarga Sadar Gizi: 1-16. Almatsier. Sistem Kesehatan. Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Wiku. 3) kesiapan majemen sekolah dalam memberikan proses pembelajaran yang kondusif. olahraga. Wawasan tersebut dapat menjadi bekal untuk peserta didik dalam memilih asupan makanan yang baik bagi tubuhnya sehingga kesehatannya terjaga. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Penutup Untuk terciptanya generasi emas (SDM yang berkualitas). Manullang. 2013. Nutrition Education: It Has Never Been an Easy Case for Indonesia. dimana gizi adalah sebuah komponen. Gramedia Pustaka Utama. Kecenderungan Masalah Gizi dan Tantangan di Masa Datang. 26(2): S267-S274. Daftar Pustaka Adisasmito. Azwar. Makalah Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII: 1-37. Azrul.D.. 4) koordinasi antara departemen kesehatan dan departemen pendidikan. 2) orang yang menyampaikan materi. J. Jakarta: PT. Professional Learning untuk Indonesia Emas Februhartanty (2005) memaparkan. 2010. Februhartanty. seperti biologi. RajaGrafindo Persada. 5) komitmen pemerintah Indonesia dalam memantapkan promosi kesehatan melalui sekolah di Indonesia. Bahan Pelatihan: Penguatan Metode Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Atmarita. Sunita. penyampaian pendidikan gizi di sekolah dilakukan tidak cukup dengan cara memasukkan materi tentang gizi ke dalam beberapa mata pelajaran. yaitu 1) topik dan mata pelajaran sekolah. 2009. yaitu jenjang pendidikan dasar (SD/MI). Belferik. Tatang S. 2005. 2004. Prinsip Dasar Imu Gizi.. Menurutnya. 2007.. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki wawasan mengenai gizi. ilmu kesehatan dan ekonomi keluarga. Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi 66 . F. berkarakter dan sehat diperlukan pendidikan gizi sedari dini. Ph. Jakarta: PT. 2004. Food and Nutrition Bulletin.

NR. Jurnal Pendidikan Karakter. Tantangan Implementasi Professional Learning Emas 2045. A. 1989. 2009. PAU-IPB: Bogor. Jurnal Kesehatan. Sahyoun. Sains. Diet Assoc. 104(1):58-69. Siti. Lingkungan dan Pembelajarannya.. Mungin E. Syafiq. Evaluation of Nutrition Education Intervensions for Older Adults: a Proposed Framework. Am. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Suharjo. 3(1): 1-14. Wibowo. Ahmad. Peran Pendidikan Gizi Komprehensif untuk Mengatasi Masalah Anemia di Indonesia. 2007.. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Menyiapkan Bangkitnya Generasi Emas Indonesia. Petunjuk Laboratorium Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. 2009. Arni. Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar Negeri 2 Selo Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Bogor: Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor. CA. 1988. Pratt. Anderson. Suhardjo & Clara M Kusharto. Pamularsih. J.. 2013.. Prosiding Seminar Nasional X Biologi. 2(2): 169-178. 2004. Tinjauan atas Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Surakarta: Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Zulaekah. Makalah pada Diskusi Peningkatan Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini. 67 .

then the physical activities performed in order to guide his spirit toward nature. whereas the most important thing in Islam is the soul . Is Islamic scientists also use the animals as a model ? Furthermore darwintheory . Sedangkan pemikiran Islam di sini adalah suatu pemahaman yang merujuk pada Al-Qur`an yang memaparkan secara lengkap dari 68 . Which in turn also has implications for models of learning . so that all activities are maximized to optimize brain function. western. melainkan adalah hasil evolusi primata raksasa selama jutaan tahun. which says that the origin of man is great primates evolved . An experiment on the stimulus for example .com Abstract : There are differences between the western and Islamic thought concerning human understanding and its development theory. Keyword : human. Islamic. curriculum materials and other learning tools .PERBEDAAN PEMIKIRAN BARAT DAN ISLAM MEMANDANG MANUSIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN Lu`luil Maknun Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : luluemaknun@gmail. Teori ini mengemukakan bahwa manusia tidak diciptakan. manusia disebut sebagai ‘human’ (diambil dari kata homo sapiens). Berangkat dari teori evolusi Charles Darwin. And the experimental results are used as reference the academic world . titik simpulan ini menyatakan bahwa bagian tubuh terpenting adalah otak. But the most crucial difference from the western and Islamic thought is . western thought using the dog as an experimental model . dan segala metode yang dikembangkan melalui titik ini adalah tentang pemaksimalan fungsi otak demi ketercapaian tujuan-tujuan hidup manusia. This will have a big impact on how people articulate education . While Islam says that man was created first Adam. adalah para ahli dari Eropa. western thought argues that the most important body part is the brain of the human being . educational Pendahuluan Pemikiran Barat di sini –sudah tentu dimaklumi bersama. so the first educational training to fit the nature of the soul . Yang membedakan nenek moyang dengan kita sekarang adalah otak dan penalaran.

Tantangan Implementasi Professional Learning mulai proses manusia diciptakan. ‘insan’. serta fakta- fakta lainnya yang serupa. dapat sampai pada kesimpulan bahwa spesies-spesies tidaklah diciptakan sendiri-sendiri. melainkan diturunkan sebagai varietas dari spesies-spesies lain. Darwin menulis sebagai berikut: Darwin . Manusia adalah primata besar yang berevolusi. penyebaran georgrafi. perkembangan 69 . dalam mempertimbangkan asal-usul spesies. a culture-bearing primate that is anatomically similar and related to the other great apes but is distinguished by a more highly developed brain and a resultant capacity for articulate speech and abstract reasoning. sangat mungkin bawa seorang peneliti alam. Sesuatu yang terpenting dalam tubuh manusia menurut Islam adalah ruh. akan tetapi memiliki otak yang lebih berkembang. yaitu perkembangan fisiologis. tujuan hidup manusia. Kesimpulan ini kemudian menjadi dasar pada teori perkembangan hidup manusia. Maka Al-qur`an menggunakan beberapa terminologi seperti. Melalui pernyataaan ini. jika kemudian kita cari definisi manusia melalui kamus yang dijadikan rujukan oleh dunia barat. Ruh adalah sesuatu yang akan kembali pada penciptanya. kemampuan berbicara dan pemikiran yang lebih abstrak Intinya. dan perjalan hidupnya setelah tutup usia. dengan bercermin pada saling-kesamaan jasad-jasad organik pada hubungan embriologis. Teori Perkembangan Manusia Perkembangan manusia dapat dibagi ke dalam beberapa aspek. melainkan hasil evolusi dari primata yang dulunya berbentuk kera. ‘basyar’. pemikiran Barat menyimpulkan bahwa manusia tidak diciptakan langsung sebagai manusia. bukan fisik semata. termasuk pendidikan. Jika Barat menyebut manusia sebagai ‘human’. perkembangan kognitif. Pandangan Barat Tentang Manusia Dan Teori Perkembangannya Seorang ahli Zoologi bernama Charles Darwin. sedangkan fisik adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. dan berimplikasi pula pada persfektif hidup lainnya.‘the origin of spesies’. suksesi geologis. maka yang akan ditemui adalah kata-kata sebagai berikut : Human being (Homo sapiens). dan ‘bani Adam’. melakukan penelitian dan ekspedisi kemudian merangkum hasil penelitiannya dalam sebuah buku fenomenal yang berjudul .

(3) menggunakan kata Bani Adam dan zuriyat Adam. nas atau unas. Perkembangan fisiologis berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada tubuh manusia. fase sensomotor (0-2 tahun). yaitu(1) fase trust VS mistrust 0-12 -18 bulan. Jean Piaget. perkembangan gross motor (otot kasar) fine motor (otot halus). 70 . Papalia dan Olds seperti yang dikemukakan oleh Jamaris (2005:8-9) menjelaskan perkembangan tubuh merupakan perkembangan yang berlangsung sesuai dengan prinsip yang disebut dengan cepholocaudal. Kata insan terambil dari kata uns yang berarti jinak. jiwa dan raga. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ini terambil dari kata nasiya (lupa) atau nasa yanusu (berguncang). Pandangan Islam Tentang Manusia Mencari pengertian manusia menurut Islam. lahir kata basyarah yang berarti kulit. (7) fase generativity vs stagnation 40-65 tahun.perkembangan psikososial terbagi ke dalam delapan fase perkembangan. Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah.Dari akar kata yang sama. Sedikitnya ada tiga kata yang digunakan Al-qur`an dalam mendefinisikan manusia. Menurut erikson. prinsip perkembangan yang dimulai dari atas yaitu kepala dan berlanjut secara teratur ke bagian bawah tubuh. dan koordinasi gerakan visual motorik. nun dan sin semacam insan. (3) fase initiative vs guilt 3 – 6 tahun. (4) fase industry vs inferiority 6-12 tahun. (8) fase integrity vs despair 65 tahun ke atas. fase praoperasional (2-7 tahun). perkembangan tubuh. (6) fase intimacy vs isolation 18- 40 tahun. perkembangan bahasa dan komunikasi. berarti mencari makna manusia dalam kitab sucinya. Professional Learning untuk Indonesia Emas psikososial. fase operasional kongrit (7-11 tahun) dan fase operasi formal (11 tahun – sampai usia dewasa). Kata insan digunakan Al-qur`an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. (2) menggunakan kata basyar. ins. (1) menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif. (2) fase autonomy vs shame and doubt 18 bulan – 3 tahun. seperti menjadi lebih tinggi atau menjadi lebih besar. harmonis dan tampak. koordinasi gerakan motorik kasar dan motorik halus. membagi perkembangan kognitif ke dalam empat tahap perkembangan yaitu. Perkembangan fisiologis sejalan dengan perkembangan otak dan susunan saraf pusat. (5) fase identity vs role confusion 12-18 tahun.

al-Baqarah: 30-34. al-mu`min : 67) 2) “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air”. ada jiwa/ruh yang juga harus dikembangkan sebagai bentuk kesempurnaan manusia. lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. al-Jaatsiyah: 12-13. Ibrahim: 32-34). al- An`aam:165. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). at-taghaabun:2). agama 71 . Proses penciptaan manusia yang termaktub dalam Al-qur`an: Al-qur`an sebagai pedoman hidup ummat muslim juga memaparkan proses penciptaan manusia dan tujuan penciptaannya. ar-ruum : 20. Faathir: 39. al-Ahzaab: 72. 5) Status dan fungsi manusia di atas adalah sebagai khalifah untuk melaksanakan segala yang diridhai Allah SWT di atas bumi Allah ini. al-israa’ : 70). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah. an-Nahl: 12-14. untuk mengulturkan natur dan pada waktu yang sama untuk meng-Islam-kan kultur (al-baqarah:21. an-Nisaa`:58. manusia dilengkapi Allah dengan pelbagai macam hidayah (insting. makna Basyar mungkin merujuk pada manusia secara biologis. berikut catatan penulis yang tentang ayat-ayat Al-qur`an yang menyinggung tentang penciptaan manusia. dan semulia-mulianya makhluk (al-Israa’ : 70). 4) Manusia diciptakan Tuhan dengan struktur yang terbaik. maka implikasinya nanti adalah perkembangan manusia secara biologis. baik rohani maupun jasmani (at-Tiin : 4. 122: al-Jaatsiyah: 16 . 1) Manusia pertama kali diciptakan Tuhan dari tanah (al-hajj : 5. 6) Sebagai khalifah Allah di atas bumi. (al- furqaan : 54) 3) “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Faathir : 11. lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. Makna kata ‘lupa’ dan ‘berguncang’ juga mencerminkan bahwa manusia harus senantiasa menjaga fokus perkembangan ruhiyahnya agar mencapai tujuan hidupnya. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. manusia tidak hanya terdiri dari jasad (bagian-bagian tubuh). indra. Tapi makna Insan merupakan gabungan dari fisik dan metafisik (nyawa). melebihi dan mengatasi makhluk-makhluk Allah lainnya (al-Baqarah : 47. al- A`raaf: 31. akal. Maka mahasuci Allah pencipta yang paling baik (Al-mu`minun : 12-14). dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Tantangan Implementasi Professional Learning Inti dari pengertian di atas adalah.

al-Faatihah: 4. diciptakan berevolusi dari materi. menjaga kelestarian alam. dari sebuah pelatihan tentang pendidikan. dengan konsekuensi tanggung jawab (al-Israa`:71. tidak sebagai khalifah di muka bumi diciptakan atau bukanlah pen- sekaligus sebagai hamba Allah datang asing di muka bumi 72 . memasuki alam kubur dan pada akhirnya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya selama di dunia melalui pengadilan akhirat. maka ruhnya akan kembali kepada Allah. 8) Di samping kedudukan sebagai khalifah. menjadi hamba Allah. al-Muddatstsir:38. Perbedaan Krusial Antara Pemikiran Barat Dan Islam Memandang Manusia Menurut Islam. pada waktu yang sama manusia juga sebagai abdullah (hamba atau pengabdi Allah) dengan tugas melaksanakan ibadah (pengabdian) dalam arti yang seluas-luaanya kepada Allah (adz-Dzaariyat: 56. dapat disarikan perbedaan pandangan Islam dan Barat memandang manusia sebagai berikut: Islam Barat Manusia diciptakan Allah. Sehingga belum cukup menggali ilmu jika hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama di dunia. jika seseorang meninggal dunia. Pendidikan terus berlanjut sampai bisa menggiring seseorang beramal soleh sebagai bekal perjalanannya ke alam baka. al-bayyinah :5. al-An`aam. Faham barat tidak akan menerima kebenaran ini. dan memaksimalkan potensi yang ada untuk beramal soleh. 7) Manusia dianugerahkan Tuhan beberapa kebebasan memiliki (limited free-will) (al-Lail:4-11). terdiri Manusia adalah materi yang dari ruh dan jasad. Professional Learning untuk Indonesia Emas dan hidayat taufiq). ath-Thuur:21. Baik yang berbuat kebajikan maupun yang berbuat kejahatan niscaya akan ditampakkan (meskipun kecil) (az-zalzalah: 7-8). tapi juga tujuan diciptakannya manusia oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi. 102) Al-qur`an memaparkan bukan hanya proses penciptaan manusia mulai dari embrio sampai berbentuk daging dan memiliki tulang. an-Nuur:54) yang ditanggung secara individual pada hari akhirat (al-baqarah:48). sehingga perjalanan hidup manusia dibebankan pada tanggung jawab yang sangat berat. di mana segala indra dan alat badani lainnya dijadikan sebagai saksi (an-Nuur:24). al-baqarah : 21. al-Kahfi: 110.

dsb Fiqih Pandangan Barat Tentang Pendidikan Dan Teori Pembelajaran Setelah membahas tentang pengertian manusia menurut Barat dan Islam serta menemukan perbedaan krusial dari keduanya. and habits of a group of people are transferred from one generation to the next through teaching. pendidikan yang diejawantahkan dalam sebuah proses pembelajaran bukan lagi mentransfer ilmu pengetahuan. feels.Setiap tahap memiliki konsekue- nusia memiliki konsekuensi hu. sunnah dan adat. Definisi pendidikan yang telah digaris bawahi sebetulnya telah bergeser. training. Tantangan Implementasi Professional Learning Mempercayai eksistensi ruh. Education frequently takes place under the guidance of others. or acts may be considered educational. Any experience that has a formative effect on the way one thinks. dalam Al-qur`an.ensi hukum tersendiri yang di- kum tersendiri yang dijelaskan dasarkan pada hukum positif. Pendidikan dalam arti umum adalah bentuk pembelajaran di mana pengetahuan. university or apprenticeship. riset. maka terlebih dahulu kita bahas pengertian-pengertian pendidikan dan beberapa teori pembelajaran yang berasal dari Barat dan Islam. karena siswa sekarang sudah tidak dianggap lagi sebagi bejana kosong yang harus diisi. Education is commonly divided into stages such as preschool. Menolak metafisika (termasuk meyakini kemusnahan jasad ruh) mengimani keabadian ma- teri Mengimani kebangkitan setelah Menolak kebangkitan kembali mati dan penciptaan jasad kedua setelah mati di akhirat Ruh menjadi pusat dan poror Otak menjadi pusat dan poros pendidikan pendidikan Setiap tahap perkembangan ma. melainkan telah memiliki pengetahuan awal untuk kemudian dapat dieksplor lebih jauh lagi dalam rangka memenuhi kompetensi yang ingin dicapai. primary school. secondary school and then college. keterampilan. dan kebiasaan dari sekelompok 73 . but may also be autodidactic. maka untuk mendapatkan gambaran implikasi apa yang kemudian terjadi dari dua pandangan tersebut terhadap pendidikan. sains. Berikut adalah pengertian pendidikan secara umum: Education in its general sense is a form of learning in which the knowledge. or research. skills.

lagi- lagi kita sebagai pendidik yang berorientasi pada agama Islam harus bisa mengintegrasikan segala aspek kehidupan –terutama pendidikan. Belajar berarti menghasilkan perubahan perilaku maupun pemikiran. Professional Learning untuk Indonesia Emas orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran. yaitu teori pengkondisian klasik. bukan kemanusiawian semata. bangsanya dan negaranya. Pengondisian operantadalah jenis pengkondisian di mana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. baik itu menggunakan rasio. penegasan akan memperkuat sebuah perilaku dan meningkatkan 74 . Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir. Intinya. Teori ini tumbuh berdasarkan eksperimen untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang berdering. 2007:69-79). Kecenderungan untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi- konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku. sekolah dasar. atau penelitian. Dengan demikian. masyarakatnya. universitas atau magang. kepada tujuan ke-ilahian. Ada tiga teori yang dapat menjelaskan proses di mana seseorang memperoleh pola perilaku. pendidikan adalah pembelajaran melalui pengalaman. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah. dan pembelajaran sosial (Stephen. Pengondisian klasik adalah jenis pengkondisian di mana individu merespon beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru. sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi. merasa. Ini adalah definisi pendidikan secara umum. bertanggung jawab terhadap segala resiko dari sesuatu yang telah menjadi pilihannya. tetapi juga mungkin otodidak. Selanjutnya. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain. pengkondisian operan. Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dalam rangka membimbing dan mengarahkan perkembangan anak ke arah dewasa. keluarganya. Teori Pembelajaran Menurut Barat Belajar adalah perubahan. pelatihan. atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan kemudian dikemas dalam sebuah lembaga yang pada akhirnya mengeluarkan sebentuk ijazah dan gelar sebagai penahbisan bahwa orang tersebut telah mengenyam sebuah pendidikan. perasaan ataupun tindakan. dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang ahli fisolog Rusia bernama Ivan Pavlov. Dewasa artinya bertanggung jawab terhadap dirinya.

berarti bahwa pendidikan dimulai sejak anak masih dalam buaian. Dasar kata rabb. Skinner. kata al-Rabb bisa berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan dengan bertahap atau membuat sesuatu untuk mencapai kesempurnaan secara bertahap. yakni tarbiyah. Meskipun teori pembelajaran sosial adalah perluasan dari pengkondisian operan. Ini semua agak berbeda dengan teori pembelajaran menurut Islam. oleh psikolog Harvard. dikemukakan bahwa setiap manusia dapat belajar dari pengamatan dan pengalaman langsung. berkembang. merawat. Teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran. ta’lim dan ta’dib. Tantangan Implementasi Professional Learning kemungkinan perilaku tersebut diulangi. pengalaman berkesan melahirkan metode-metode pembelajaran having fun. Tarbiyah. memelihara. Sementara itu. Pada pengondisian klasik. Pandangan Islam Tentang Pendidikan Secara umum. dilakukan pengkondisian operan. Pembelajaran sosial adalah pandangan bahwa orang-orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Pendidikan lewat term ini juga berarti menyiapkan peserta didik memaksimalkan segala potensinya dengan penuh kasih sayang. menurut al-Afsahany. ada tiga terminologi yang digunakan Al-qur`an dan hadits berkaitan dengan konsep dasar pendidikan dalam Islam. Pengertian seperti ini juga diberikan oleh al-Qurthuby yang menyatakan bahwa pengertian dasar kata rabb menunjukkan makna tumbuh. karena pendidikan di sini memiliki arti memelihara. 75 . eksperimen liur anjing mungkin awalnya adalah penelitian yang tidak disengaja. Skinner mengemukakan bahwa menciptakan konsekuensi yang menyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku tertentu akan meningkatkan frekuensi perilaku tersebut. aktivitas menyenangkan kemudian diadaptasi dalam dunia pendidikan. F. Term tarbiyah berasal dari kata rabb yang menurut Anis bermakna tumbuh dan berkembang. Pada pengondisian operan. Dan terakhir. namun pada akhirnya menelurkan sebuah teori motivasi yang digunakan oleh dunia pendidikan. Kata-kata yang digaris bawahi (seharusnya) menjadi perhatian penting bagi kita dalam menyempurnakan makna pendidikan secara umum. B.Apa yang dilakukan Pavlov untuk pengkondisian klasik. teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah sebuah fungsi dari konsekuensi. merawat. mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya. pada pembelajaran sosial. mengatur dan mengarahkan secara bertahap sejak masih kanak-kanak hingga mencapai usia dimana ia memikul tanggung jawab sebagai individu.

sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya. yang digaris bawahi di sini adalah penanaman amanah. sehingga terjadi penyucian (tazkiyah) atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah  serta mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. Pada gilirannya. Professional Learning untuk Indonesia Emas Ta’lim . Perbedaan-perbedaan dan implikasinya tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini : 76 . Ta‘dib . pengertian. adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur- angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa. keluarga dan harta sebagai amanah. Pada aplikasinya makna ta`dib lebih ditekankan pada proses penanaman karakter. Yang menjadi kesulitan dalam memahami makna pendidikan dari islam adalah kurangnya dukungan dari praktisi pendidikan islam itu sendiri. pemahaman. bahkan materi pendidikan. anggota tubuh.Abdul Fatah Jalal (1977:17) mengemukakan bahwa  Ta’lim  adalah proses pemberian pengetahuan. di mana setiap manusia dibekali rohani dan jasmani. Perbedaan Pemikiran Barat Dan Islam Tentang Pendidikan dan Implikasinya Ada perbedaan cara pandang pemikiran Barat dan Islam mendefinisikan manusia sebagai objek pendidikan. metode. Makna ta`lim adalah proses pengajaran kepada peserta didik. dan penanaman amanah. yang pada akhirnya juga berimplikasi pada definisi pendidikan itu sendiri. sopan santun dan kehambaan pada Tuhannya. proses pendidikan yang dikembangkan melalui terminologi-terminologi yang disajikan akan berpengaruh pada teori. Tugas kita memberi pemahaman bagi peserta didik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan berikut amanah apa yang harus diemban sebagai mahluk. tanggung jawab.

“Individu merespon beberapa Percobaan yang dilakukan pada stimulus yang tidak biasa dan hewan belum tentu cocok untuk menghasilkan respons baru”. “Menciptakan konsekuensi Metode pembelajaran dilaku- yang menyenangkan untuk kan dengan memperhatikan mi- mengikuti bentuk perilaku nat dan motivasi peserta didik. demokrasi dan HAM Catatan : liberalisme adalah faham barat yang mendewakan kebebasan. afektif dan tindakan dapat dianggap pen. atau kan aspek kognitif. Membangun persepsi peserta si dari konsekuensi dan pent. “Perilaku adalah sebuah fung. “Dewasa artinya bertanggung Merebaknya model dan ma- jawab terhadap dirinya. ke. merasa. lajaran”. dijadikan teori pada manusia Catatan : jika guru gagal memberi stimulus maka nilai-nilai yang in- gin diberikan tidak sampai menjadi karakter peserta didik. Catatan : Jika pembangunan per- sepsi gagal. Pendidikan Menurut Barat Implikasinya 1. “Setiap pengalaman yang me. didikan”. 5. tiga aspek di atas hanya mewakili kebutuhan jasmani (intellegence dan emotional ques- tion) . nilai. 3. Pendidikan menjadi sebuah us- miliki efek formatif pada cara aha sadar dalam mengembang- orang berpikir. Tantangan Implementasi Professional Learning No. 2. tertentu akan meningkatkan Catatan : kewajiban taklifi bukan frekuensi perilaku tersebut”. masyarakatnya. dilakukan atas dasar kesenangan. teri pembelajaran seputar citi- luarganya. erti liberalisme. didik akan pentingnya sebuah ingnya persepsi dalam pembe. efek negatifnya adalah dekadensi moral. 4. Belum cukup tanpa adanya spiritual question. Catatan : manusia terdiri dari ro- hani dan jasmani. maka nilai-nilai pent- ing dari sebuah tema akan sulit ter- install 77 . psikomotorik. zenshipdan isu-isu global sep- bangsanya dan negaranya”.

78 . tapi bagaimana agar pengetahuan tersebut menjadi pemahaman kemudian menjadi karakter sehingga setiap individu menjadi manusia yang bertang- gung jawab.Penanaman karakter islami huan. Catatan : Pendidikan tidak ber- henti pada pentransferan ilmu pengetahuan. merawat. Pendidikan mencakup segala aspek rohani dan jasmani serta pengembangan kompetensi dan keterampilan hidup. men. Pendidikan Menurut Islam Implikasinya 1. pemahaman. Catatan : Pendidikan memiliki gatur dan menjaga kelestarianarti yang sangat luas karena di- atau eksistensinya”. “proses pemberian pengeta. sejak usia kanak-kanak memelihara. bukan hanya teori tapi juga ap- tanggung jawab. Penanaman amanah mengindikasikan bahwa ada Tu- han di setiap gerak-geriknya. Pendidikan dilakukan bertahap sehingga men- gantarkan seorang anak sampai pada usia di mana ia bisa memikul amanah sebagai khalifah. lakukan sejak dalam buaian ibu. “dasar kata rabb menunjukkan Pendidikan islam dilakukan makna tumbuh. dan penana. Professional Learning untuk Indonesia Emas No. 2.likasi man amanah”. berkembang. pengertian.

or research. rukun iman nalan dan pengakuan kekua. metode dan strategi pembelajaran bo- leh digunakan selama ada etika dalam menuntut ilmu. Menurut Barat Manusia: Human being (Homo sapiens). Kemampuan nalar manusia terba- tas. 4. primary school. bang. Tantangan Implementasi Professional Learning 3. feels. maka pendidikan bukan hanya bertujuan untuk kebahagiaan di dunia. university or apprenticeship. a culture-bearing primate that is anatomically similar and related to the other great apes but is distinguished by a more highly developed brain and a resultant capacity for articulate speech and abstract reasoning. ada hal-hal yang tidak dapat diketahui seperti masa lalu dan masa depan. Pendididkan : Education in its general sense is a form of learning in which the knowledge. 79 . Catatan : Ada kekuatan besar yang menjadi poros dan tujuan hidup. untuk mendapatkan ilmu penge- tahuan harus dengan keridhoan Allah. and habits of a group of people are transferred from one generation to the next through teaching. “membimbing ke arah penge. secondary school and then college. beradaannya”. but may also be autodidactic. Setelah kehidupan dunia ada kehidupan yang kekal. Pelajaran tauhid. skills. dan rukun islam diajarkan saan dan keagungan Tuhan di sejak kecil dan terus berkem- dalam tatanan wujud dan ke. kebahagiaan di akhirat. Education frequently takes place under the guidance of others. tapi melampaui jauh ke de- pan. Ilmu pen- getahuan bersumber dari Allah. Any experience that has a formative effect on the way one thinks. Education is commonly divided into stages such as preschool. “penyucian  (tazkiyah)  atau Niat dan adab dalam sebuah pembersihan diri manusia pendidikan merupakan point yang memungkinkan untuk penting menerima al-hikmah”. or acts may be considered educational.  Catatan : segala model. training.

menurut al-Afsahany. harmonis dan tampak. memelihara. Pengertian seperti ini juga diberikan oleh al-Qurthuby yang menyatakan bahwa pengertian dasar kata rabb menunjukkan makna tumbuh. dan penanaman amanah. hingga ia dapat mencapai tujuan hidupnya. Term tarbiyah berasal dari kata rabb yang menurut Anis bermakna tumbuh dan berkembang. Sementara itu. mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya. pemahaman. Professional Learning untuk Indonesia Emas Menurut Islam Manusia: Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. lahir kata basyarah yang berarti kulit. sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya. pengertian. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ini terambil dari kata nasiya (lupa) atau nasa yanusu (berguncang). Ta‘dib . Pendidikan menurut Barat adalah proses belajar yang menghasilkan perubahan yang dapat membawa seseorang pada ketercapaian tujuan-tujuan hidup di dunia. tanggung jawab. merawat. yakni kembali pada Tuhannya. Kata insan terambil dari kata uns yang berarti jinak. Pendidikan :Tarbiyah . 80 . sehingga terjadi penyucian  (tazkiyah)  atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah  serta mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. jiwa dan raga. Perbedaannya Fungsi utama manusia menurut Barat adalah otak dan jaringanya. stimulus dan motivasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari fungsi neuron (otak). Kata insan digunakan Al-qur`an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur- angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa. Ta’lim . Fungsi utama manusia adalah ruh dan hidayah Allah adalah sesuatu yang sangat penting dalam rangka mengantarkan manusia kembali pada penciptanya. Pendidikan menurut Islam adalah proses merawat. Dari akar kata yang sama. memelihara. berkembang. kata al-Rabb bisa berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan dengan bertahap atau membuat sesuatu untuk mencapai kesempurnaan secara bertahap. Abdul Fatah Jalal mengemukakan bahwa Ta’lim  adalah proses pemberian pengetahuan. menanamkan tanggung jawab manusia.

Tantangan Implementasi Professional Learning Daftar Pustaka Endang Saifuddin Anshari Wawasan Islam : pokok-pokok pikiran tentang paradigma dan sistem Islam. jakarta.com/EBchecked/topic/275376/human- being Charles darwin . Perilaku Organisasi Buku 1. NJ: Prentice Hall. Mu`jam Mufradat Alfadz al-Qur`an (Bairut : Dar al-Fikr t. 2003 Leakey Richard. Mizan Pustaka JamarisMartini. Bandung: Mizan. the origin of species-asal-usul spesies. Jakarta: Salemba Empat Pavlov. jakarta. Stephen P. B. Contingencies of Reinforcement. 2003 Martini jamaris.britannica. yayasan obor indonesia. P. Tafsir al-Qurthubi (Kairo: dar al-Sya’bi. (Inggris)Social Learning Theory. Yayaan Penamas Murni. London: Charles Griffin.  Mesir:  Dar al-Kutub al-Mushriyyah. A. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. jakarta. 1992 81 . Muhammad Naquib.Quraish Shihab. (Inggris)The Work of the Digestive Glands. 1977 Ibrahim Anis. 2010 M. Jakarta. Upper Saddle River. 1977 Al-Attas. tt) Al-Raghib al-Asfahany.Asal-usul manusia. I. “Membumikan” Al-Qur`an: Fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat. East Norwalk.t) Abd al-Fatah Jalal. KPG (Kepustakaan Gramedia Populer). 2007. F._________ http://www. 1972) Ibn ‘Abdullah Muhammad Ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi. al-Mu`jam al-wasith (Mesir: Dar al-Ma’arif. 1902 Skinner. Bandura. ___________ al-rasyidin Falsafah pendidikan Islam. yayasan penamas murni.  Konsep Pendidikan dalam Islam. orientasi baru dalam psikologi pendidikan. 1971. CT: Appleton. Min al-Ushul al-Tarbawiyyah fi al-Islam. 2010 Robbins.

Kesimpulan penelitian Pertama Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan mahasiswa dalam menghadapi perkuliahan PPKT dengan nilai r = -0.com Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecerdasan adversity dan support system (dosen dan teman sebaya) dengan tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi perkuliahan Praktek Profesi Keguruan Terpadu (PPKT) pada tahun akademik 2014-2015. Kata Kunci: kecemasan.605 dan Ketiga Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan adversity dan support system secara bersama-sama dengan kecemasan mahasiswa dalam menghadapi perkuliahan PPKT dengan niali R = -0. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi korelasional dengan menggunakan pendekatan analisis kualitatif dan kuantitatif.867. Subjek penelitian ini adalah 60 mahasiswa peserta mata kuliah Pengajaran Mikro pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.86. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. kecerdasan adversity dan support system 82 . Kedua Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara support system dengan kecemasan mahasiswa dalam menghadapi perkuliahan PPKT dengan nilai r = -0. HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN ADVERSITY DAN SUPPORT SYSTEM (DUKUNGAN DOSEN DAN TEMAN SEBAYA) DENGAN TINGKAT KECEMASAN CALON GURU DALAM MENGHADAPI PRAKTEK PROFESI KEGURUAN TERPADU Sujiyo Miranto Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Email : sujiyoubjmiranto@rocketmail.

(3) jumlah kunjungan dosen yang kurang ke sekolah tempat PPKT dilaksanakan. Hal ini karena kondisi lingkungan sekolah tersebut belum tentu menyenangkan. Sulitnya untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan baru dan kemungkinan adanya ketidaksukaan dengan kehadiran mahasiswa praktikan ini dapat menyebabkan kecemasan bagi mahasiswa. Tantangan Implementasi Professional Learning Pendahuluan Sudah sejak tahun 2005 (14 tahun) FITK sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mencetak calon guru menerapkan mata kuliah PPKT.00 WIB yang sesuai dengan kehadiran guru-guru lainya yang sudah tetap. 1997) mengemukakan bahwa kecemasan adalah sesuatu kondisi kurang menyenangkan yang di alami oleh individu yang dapat mempengaruhi keadaan fisiknya. Kondisi lingkungan sekolah yang baru dan memilki banyak perbedaan dengan kondisi lingkungan kampus dapat menganggu kestabilan emosi mahasiswa. khawatir. serta pengeluaran untuk biaya penutupan PPKT. Crow dan Crow (dalam Hartanti. rasa tegang. tetapi ada kalanya muncul situasi yang membawa kecemasan. membeli peralatan dan bahan-bahan lainnya untuk persiapan pembelajaran dan membuat media. (2) keluhan mahasiswa pada dosen pamong terutama kesulitan dalam beradaptasi. sehingga menyebabkan mahasiswa merasa berjuang sendiri.30 WIB sampai dengan 15. tidak suka yang sifatnya subjektif dan timbul karena adanya perasaan tidak aman terhadap bahaya yang diduga akan terjadi. bingung. membeli pakaian yang harus sesuai dengan tuntutan sekolah.30 WIB yang berbeda dengan waktu kuliah 7. (8) adanya perasaan tidak nyaman selama disekolah akibat lingkungan sekolah yang baru. (7) kewajiban datang pagi hari 6.30 WIB membuat mahasiswa peserta PPKT harus ekstra keras bangun pagi hari dan memilih jalan yang tidak macet agar dapat hadir tepat waktu. 83 . (4) waktu kegiatan PPKT selama 4 bulan yang dirasakan cukup lama. (5) waktu keberadaan di sekolah yang cukup lama dari mulai jam 6. Sedangkan Nawangsari (2000) menyatakan kecemasan adalah suatu kondisi yang tidak menyenangkan meliputi rasa takut. Kegiatan yang dilakukan adalah menempatkan mahasiswa semester 7 atau 8 di sekolah-sekolah sekitar wilayah Jakarta dan Tangerang. (6) dibutuhkannya biaya yang cukup banyak diantaranya untuk acara pembukaan. Dengan program ini mahasiswa diharapkan dapat mengetahui permasalahan-permasalahan yang nantinya dijumpai pada saat menjadi guru yang sesungguhnya sekaligus dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Jika dirinci permasalahan yang umum dijumpai oleh mahasiswa peserta PPKT adalah: (1) kekhawatiran mendapatkan nilai kurang maksimal.

menjerit. sering terjadi kecelakaan. kesadaran meningkat. perasaan tidak berdaya. ketakutan. tremor. motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai dengan situasi. marah dan menangis. mudah terganggu. 3) Kecemasan Berat Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan perhatian pada sesuatu yang terinci dan spesifik serta tidak dapat berfikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk memusatkan pada suatu area yang lain. sistem integumen. Tingkat kecemasan yang dikemukakan oleh Townsend (2005) ada empat tingkat yaitu. sistem respiratori. pelupa. Professional Learning untuk Indonesia Emas Respon kecemasan menurut Stuart & Sundeen (1998) dapat terjadi berbagai perubahan yang meliputi: 1) respon fisiologis yang meliputi: Sistem kardiovaskuler. berfokus pada dirinya sendiri. iritabel. mampu untuk belajar namun tidak terfokus pada rangsang yang tidak menambah kecemasan. dilatasi pupil. teror karena mengalami kehilangan kendali. berteriak-teriak. tidak mau belajar secara efektif. diaphoresis. selalu salah dalam mengambil keputusan. 4) respon afektif: gelisah. sakit kepala. bicara cepat. Panik 84 . 2) respon perilaku kelelahan. pembicaraan inkoheren. tidak dapat tidur (insomnia). 3) respon kognitif: gangguan perhatian. 2) Kecemasan Sedang yang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. bingung dan disorientasi. ketakutan. tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana. mudah tersinggung. ketegangan fisik. mampu untuk belajar. takut mati. diare. koordinasi kurang. yang berhubungan dengan terperangah. sistem neuromuskuler. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. objektifitas kurang. sistem gastrointestinal. tegang. mudah tersinggung. tidak sabar. penurunan kreatifitas. penurunan lapang pandang. menarik diri. 4) Panik. palpitasi. penurunan produktifitas. pucat. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan. palpitasi. kebingungan. sering kencing. ketegangan otot meningkat. bicara cepat dengan volume tinggi. reaksi tibatiba. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. denyut jantung dan pernapasan meningkat. mual. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing. 1) Kecemasan Ringan: yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernafas. tidak sabar. konsentrasi berkurang. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat. mengalami halusinasi dan delusi. mudah lupa. sistem urinaria. blocking.

pengalaman dan sebagainya. Reach. yaitu CO2RE (Control. hambatan akibat malas dan sebagainya. Surekha (2001) menyatakan bahwa Adversity adalah kemampuan berpikir. b. Hal yang terpenting dari dimensi ini adalah sejauh mana individu dapat merasakan bahwa kendali tersebut berperan dalam peristiwa yang menimbulkan kesulitan seperti mampu mengendalikan situasi tertentu dan sebagainya.Vembriarto (1993: 55) adalah: 1) kelompok sebaya adalah kelompok primer yang hubungan diantara 85 . Endurance). Control (C) Dimensi ini ditunjukan untuk mengetahui seberapa banyak kendali yang dapat kita rasakan terhadap suatu peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Reach (R) Dimensi ini merupakan bagian dari kecerdasan adversity yang mengajukan pertanyaan sejauh mana kesulitan yang dihadapi akan menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan individu seperti hambatan akibat panik. kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan sebagainya. Origin Ownership. d. Tantangan Implementasi Professional Learning dapat mengakibatkan peningkatan motorik. Endurance (E) Dimensi keempat ini dapat diartikan ketahanan yaitu dimensi yang mempertanyakan dua hal yang berkaitan dengan berapa lama penyebab kesulitan itu akan terus berlangsung dan tanggapan indivuduterhadap waktu dalam menyelesaikan masalah seperti waktu bukan masalah. tekanan vena sistemik dapat mengakibatkan edema perifer umum dan perubahan berat badan. Menurut Stoltz (2000). a. c. kecerdasan dalam menghadapi rintangan individu memiliki empat dimensi. penurunan kemampuan berhubungan dengan orang lain dan tidak mampu berfikir rasional. Origin dan Ownership (O2) Dimensi ini mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan dan sejauh mana seseorang menganggap dirinya mempengaruhi dirinya sebagai penyebab dan asal usul kesulitan seperti penyesalan. Pengertian teman sebaya menurut St. mengelola dan mengarahkan tindakan yang membentuk suatu pola–pola tanggapan kognitif dan prilaku atas stimulus peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang merupakan tantangan atau kesulitan.

tersenyum. saran. percakapan umum. Interaksi mahasiswa dalam kelompoknya merupakan hubungan timbal balik antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. dimana diantara individu saling mempengaruhi. Fungsi kelompok teman sebaya (peer group) tersebut dapat dijelaskan sebagai berkut: 1) memberi perhatian yang positif dan saran dengan cara mengunjungi. sebaliknya mahasiswa yang mempunyai kelompok teman sebaya yang tidak baik akan memberikan dampak yang negatif bagi diri mahasiswa tersebut bahkan sering melakukan tindakan yang menyimpang. Kelompok yang memberikan pengaruh baik akan memberikan motivasi pada siswa untuk disiplin dalam belajar. sedangkan kelompok yang memberikan pengaruh yang negatif adalah kelompok yang memberikan contoh yang tidak baik bahkan sering melakukan tindakan yang menyimpang. menawarkan bantuan. sharing. Kebutuhan akan adanya penyesuaian diri remaja dalam kelompok teman sebaya muncul akibat adanya keinginan bergaul remaja dengan teman sebaya mereka. Interaksi ini merupakan interaksi yang intensif baik secara kualitas maupun kuantitas. 2) anggota kelompok teman sebaya terdiri atas sejumlah individu-individu yang mempunyai persamaan usia dan status atau posisi sosial. berkompromi. 2) memberikan sikap dan penerimaan pribadi: secara fisik dan lisan. Remaja sering dihadapkan pada persoalan penerimaan atau penolakan kehadiran teman sebaya. mengikuti anak lain yang bermain. Remaja dalam kelompok sebaya merasa mendapatkan dukungan dari teman-temannya. meniru. bertindak dan beretika. 3) istilah kelompok dapat menunjuk kelompok anak-anak. Professional Learning untuk Indonesia Emas anggota intim. Peranan kelompok teman sebaya (peer group) merupakan hubungan sosial antara individu satu dengan individu lain dalam kelompok yang memiliki persamaan usia dan status sosial yang memberikan pengaruh dalam pergaulan. Perkembangan teman sebaya dengan pengaruh yang cukup kuat merupakan hal penting dalam masa-masa remaja. 3) sikap tunduk: penerimaan pasif. kelompok remaja. mengubah untuk memenuhi kebutuhan. menerima ide orang lain. Interaksi antara teman sebaya sangat diperlukan dalam kehidupan. Mahasiswa yang memiliki kelompok teman sebaya (peer group) yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi mahasiswa tersebut dalam penanaman kedisiplinan. mengikuti teman yang lain meminta dengan keenagan dan kerjasama (kooperatif). Kelompok teman sebaya (peer group) akan mempengaruhi kedisiplinan belajar. membentuk seseorang dari anak lain yang membutuhkan. Interaksi yang baik antara sesama mahasiswa sangat 86 . memberikan kejutan/hadiah. karena interaksi yang baik dapat membentuk kerjasama antar teman sebaya tersebut.

Tantangan Implementasi Professional Learning diperlukan dalam mencegah tingkat stress anggota kelompok tersebut karena dapat membentuk kerjasama antara sesama mahasiswa anggota kelompok.65 % berjenis kelamin pria. Alasan mengapa prodi pendidikan banyak diminati oleh wanita. Kondisi ini hampir sama dengan kondisi prodi-prodi Pendidikan lainnya dimana jurusan pendidikan lebih banyak diminati oleh wanita. Hasil Uji Reliabilitas Setiap Variabel Pembahasan Jika dilihat dari komposisi jenis kelamin. Deskripsi Data Kecerdasan Adversity Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian 87 . karena dalam pelaksanaanya dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan responden wanita lebih banyak dibanding responden pria. dimungkinkan peranan kelompok teman sebaya dan interaksi sesama mahasiswa secara bersama-sama terjadi hubungan dengan stress mahasiswa tersebut dalam menghadapi sesuatu yang baru misalnya menghadapi kegiatan PPKT. Tabel 2. Tabel 1. Oleh karena itu. dapat diketahui bahwa sebagaian besar responden atau 82. Sedangkan sisanya 17.5 % responden memiliki jenis wanita. yaitu saat mengajar tidak diperlukan kegiatan fisik yang banyak dan lebih mementingkan aspek psikis dan manajemen. Untuk pekerjaan seperti itu wanita dirasa paling sesuai. sehingga tujuan yang ingin dicapai akan terwujud.

03. 88 . Data yang melenceng kekiri jika tidak terlalu jauh dari nilai mediannya dapat dikatakan bahwa data tersebut masih termasuk katagori data yang berdistribusi normal. Deskripsi Data Support Sistem Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian Dari data yang tersaji pada tabel 3 tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata data support sistem sebesar 25.02. Selisih antara median dengan rata-rata yang tidak terlalu besar tersebut dapat dikatakan bahwa data tersebut memiliki sebaran normal. Bila dibuat kurva normal data ini lebih cenderung condong ke arah kiri atau lebih kecil dari nilai mediannya.97. 08. 92. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa data tersebut jika disusun dalam kurva normal lebih cenderung melenceng ke arah sebelah kiri. Professional Learning untuk Indonesia Emas Dari data tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata kecerdasan adversity sebesar 25. Jika nilai median dibandingkan dengan nilai rata-ratanya memliki selisih sebesar 1. Nilai ini lebih rendah dari nilai median (27). Nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan nilai modus memiliki selisih yang sebesar 4. Tabel 3. Selisih median dengan rata rata sebesar 0.

Sedangkan hasil perhitungan korelasi parsial (r) antara variabel suport system dengan kecemasan mahasiswa adalah sebesar -0.97) dan data support sistem (25.92) maka nilai rata-rata kecemasan mahasiswa adalah yang paling rendah. 605. diperoleh nilai korelasi parsial (r) antara variabel kecerdasan adversity dengan kecemasan mahasiswa sebesar -0. Deskripsi Data Kecemasan Mahasiswa Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian Dari hasil penelitian tentang kecemasan mahasiswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 24. dan signifikansi Sementara itu perhitungan korelasi ganda antara variabel kecerdasan adversity dan support system secara 89 .866 dan signifikansi.25. Hubungan Natara Variabel Penelitian Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian Dari hasil perhitungan menggunakan SPSS versi 17 seperti tersaji pada tabel 5 di atas. Tantangan Implementasi Professional Learning Tabel 4. Jika dibandingkan dengan data kecerdasan adversity (25. Tabel 5.

Nilai korelasi ganda (R) antara antara variabel kecerdasan adversity dan support system secara bersama-sama dengan kecemasan mahasiswa ini menunjukkan hubungan yang sangat signifikan. Tabel 6. melalui kemampuan berpikir. Oleh sebab itu dengan memiliki kecerdasan adversity yang baik seorang mahasiswa mampu mengatasi bahkah mengelola hambatan yang dialami selama PPKT tersebut menjadi sebuah peluang. Professional Learning untuk Indonesia Emas simultan dengan kecemasan mahasiswa diperoleh nilai R= -0. Dengan demikian mahasiswa yang memiliki kecerdasan adversity yang tinggi akan berhasil mengatasi tingkat kecemasannya sehingga akan berhasil 90 . Hasil uji signifikansi hubungan antara masing-masing variabel penelitian tersaji dalam tabel di bawah ini. mengelola dan mengarahkan tindakan yang membentuk suatu pola– pola tanggapan kognitif dan prilaku atas stimulus peristiwa–peristiwa dalam kehidupan yang merupakan tantangan atau kesulitan. Hasil Uji Signifikansi Hubungan Antara Variabel Penelitian Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan mahasiswa dalam kegiatan PPKT selain faktor fisik juga faktor kesiapan psikologis mahasiswa tersebut. Oleh sebab itu persiapan kegiatan PPKT perlu penanganan secara baik dan komprehensip.867. Kecerdasan dalam menghadapi rintangan adalah suatu kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi suatu peluang keberhasilan mencapai tujuan.

2013. Daftar Pustaka Buku Pedoman Praktek Profesi Keguruan Terpadu (PPKT). 1997. Bimo Walgito. penasehat akademik maupun dosen pembimbing PPKT mempunyai fungsi yang sangat kuat pengaruhnya terhadap pendewasaan mahasiswa. Pengantar Psikologi Umum. New York: Simon and Schuster. Kelompok teman sebaya merupakan tempat untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan dan pengetahuan seseorang. Ketiga. The Emotional Brain. sehingga mahasiswa bisa bersikap positif atau negatif. Lingkungan pergaulan remaja tidak lepas dari kelompok. Tantangan Implementasi Professional Learning dalam mengikuti kegiatan PPKT. Penutup Pertama. karena selalu memberikan motivasi dan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan pribadinya. Kedua Terdapat hubungan negatif antara support system dengan kecemasan mahasiswa dalam mengijuti kegiatan PPKT. 91 . Mereka tersebut mempunyai peran yang besar dalam pembentukan pola kepribadian mahasiswa. Terdapat hubungan negatif antara kecerdasan adversity dan support system secara bersama-sama dengan kecemasan mahasiswa dalam mengikuti kegiatan PPKT. LeDoux Joseph. Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terdapat hubungan negatif antara kecerdasan adversity dengan kecemasan mahasiswa dalam mengijuti kegiatan PPKT. 1996. 2013. sehingga jika mahasiswa tersebut menghdapi kendala dia dapat meminta saran kepada teman sebaya tersebut. Pengaruh dosen baik yang bersifat langsung ataupun tidak langsung sangat diperlukan mahasiswa selama menjalankan kegiatan ini. Dengan teman bergaul yang baik maka akan dapat memberikan pengaruh yang positif pada mahasiswa. Dosen pembimbing termasuk ketua program ptudi. Adanya ikatan emosional yang kuat antara mahasiswa dengan dosen akan lebih mudah dalam memberikan pengaruh tentang berbagai hal kepada mahasiswa termasuk dalam pelaksanaan kegiatan PPKT. Yogyakarta: Andi Offset. Rasa solidaritas dan kebersamaan akan tumbuh apabila mahasiswa mempunyai teman bergaul yang baik.

et all. Jakarta: Gramedia. 1997. 1990. Daniel. Goleman. F. Slamet Santoso. Jakarta: Bumi Aksara. B. Yogyakarta: Rake Sarasin Goleman. Peter and D. Ltd. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional (terjemahan). 1999.. L. Erlangga Salovey. Jakarta: PT. B. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Gramedia Pustaka Utama. Teori Kepribadian Sigmund Freud. John. Sosiologi Pendidikan. Terjemahan Isti Widayanti dan Soejarwo Jakarta: PT. Prismasophie : Yogyakarta. Paul and Hunt. Emotional Development and Emotional Intelegence. Psikologi Perkembangan. Sulyster. 2000. 1996. Jakarta: UI-Press Suharsimi Arikunto. Dinamika Kelompok Sosial. Daniel. Zaviera. Terjemahan Aminuddin Ram dan Tita Sobari. 2007. 1993.J. 2000. Introduction to Research Methods. Sosiologi. Pengantar Metode Penelitian. London: Sage Publication. Terjemahan Alimuddin Tuwu . Crow and Crow. Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama. Elizabet. Erlangga Hurlock. 92 . Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Pengantar Ilmu Pendidikan.. 2000. 1993. Robert. 1998. Gottman. Chester. Emitional Intelligence (terjemahan). Horton. Sevilla. Professional Learning untuk Indonesia Emas Burns. B. Consuelo G. New York: Basic Books. 1999. Yogyakarta: Rineka Cipta. 2001. Vembriarto. Jakarta : PT.

kemampuan untuk membaca membuka dunia baru dan peluang. One of the efforts to overcome students’ reading difficulty is a specific intervention on reading. Belajar membaca merupakan tujuan pendidikan yang sangat penting. many students in the first and the second grade had reading difficulty. The surroundings give the facts for the writer. especially after having an observation in rural area and town elementary schools. Keywords : reading difficulty. targeting on phonemic awareness training. Tentu saja. Hal ini memungkinkan anak untuk mendapatkan pengetahuan baru. menikmati sastra. Catherin (1998) menggambarkan “keprihatinan dengan sejumlah besar anak-anak di Amerika yang karier pendidikannya terancam karena mereka tidak memiliki keterampilan membaca yang cukup baik untuk memastikan pemahaman dan untuk memenuhi tuntutan dari perekonomian yang semakin kompetitif”. sebagian besar anak-anak belajar membaca dengan cukup baik. MENGATASI KESULITAN MEMBACA PADA ANAK SEKOLAH DASAR KELAS RENDAH Ryan Dwi Puspita STKIP Sebelas April Sumedang Abstract: Parents and teachers can assist children by spending a lot of time to help them learn to read. and practice method. This opinion the same as Bachrudin (2014) thought who said about the emergence of literacy sphere for children literacy development. Kemampuan membaca sangat dihargai dan penting bagi kemajuan sosial dan ekonomi. guiding literacy awareness by parents and teachers. Untuk anak-anak dan orang dewasa. by mean to build the concept or to create specific mental schemes. According to the problem above. dan melakukan hal sehari-hari 93 . the writer would like to focus on overcoming early elementary students reading difficulty. traditional flashcard drill. low grade primary school children Pendahuluan Membaca merupakan hal penting untuk keberhasilan dalam masyarakat kita.

Development in one domain influences and is influenced by development in other domains. mengubah sikap dan motivasi anak- anak untuk membaca (Oka & Paris. maka dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan membaca pada anak sangat dipengaruhi oleh aspek perkembangan yang lain dan anak harus diberi kesempatan mengembangkannya. dan mereka hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berlatih membaca. Perkembangan anak itu bervariasi. masing-masing dengan profil perkembangan yang berbeda mewujudkan dari perbedaan tidak hanya dalam hasil. as well as when they experience a challenge just beyond the level of their present mastery” (Gestwicki.hlm. dan mengarah ke kehilangan kesempatan untuk mengembangkan strategi pemahaman (Brown.emotional and cognitive-are closely related.2012. Orang tua dan guru dapat membantu anak dengan menghabiskan lebih banyak waktu untuk membantu anak belajar membaca. 1986).social. Beberapa negara juga menggunakan Phonological Awareness Literacy Screening Tests (PALS) sebagai alternatif.Development advances when children have opportunities to practice newly acquired skills. 1986). Togersen.8). Mengingat kurangnya konsensus mengenai langkah-langkah yang paling tepat untuk mengidentifikasi kemajuan membaca permulaan pada anak Taman Kanak-kanak sampai SD kelas 3. Lebih dari 40 negara telah melakukan penelitian untuk mendeteksi kemampuan membaca permulaan pada anak usia Taman Kanak- kanak sampai anak SD kelas 1 dan 2. Jika dikaitkan dengan kesulitan membaca pada anak. hlm. baik dalam arti umum 94 . Dan hasilnya menunjukkan bahwa anak dengan kesulitan membaca mungkin sebenarnya terdiri dari berbagai sub-kelompok atau subtipe. 2006. yaitu : “Domains of childern’s development-psysical. & Purcell. Palincsar. Jika anak-anak berada dalam situasi seperti ini maka akan terhambat perkembangan keterampilan membaca awal. Dalam konteks pemahaman kita banyak alasan yang menyebabkan anak-anak merasa sulit untuk belajar membaca. melalui keterampilan literasi yaitu Dynamic Indicators of Basic Early Literacy Skills (DIBELS). Professional Learning untuk Indonesia Emas yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan. dan kesulitan membaca potensial pada anak kelas 3 SD. tetapi juga mungkin dalam etiologi. Penundaan pengembangan keterampilan membaca mempengaruhi pertumbuhan kosakata Cunningham & Stanovich (dalam Joseph K. hal ini senada dengan penjelasan dalam basic principles of development.12).

Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat. dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Sebagian dari orang tua dan guru ada yang berusaha untuk menciptakan kebiasaan praktek literasi bagi anak-anak mereka. menciptakan konsekuensi yang lebih pedih bagi mereka yang gagal. maka pesan yang tersurat dan yang  tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami. Definisi operasional kesulitan membaca dalam tulisan ini 95 . anak menghabiskan banyak waktu untuk membaca agar mendapatkan informasi (Ogmebudia. Kalau hal ini tidak terpenuhi. tuntutan untuk melek huruf yang lebih tinggi semakin meningkat. Makna bacaan tidak terletak pada halaman tertulis tetapi berada pada pikiran pembaca. Dari berbagai rujukan di atas.2014). Kemampuan untuk membaca sangat penting dalam kehidupan seorang anak sekolah karena bentuk fondasi yang kuat untuk prestasi akademik di masa depan. yakni memahami makna yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis.1998:3). Untuk lebih memahami pembahasan ini maka penulis akan mulai mengupas permasalahan ini sebagai berikut : Definisi Kesulitan Membaca Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa “Membaca  adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Bachrudin (2014) menyatakan bahwa tentang pentingnya lingkungan yang literat bagi perkembangan literasi anak. Demikianlah makna itu akan berubah. karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut. Tantangan Implementasi Professional Learning bangunan konsep dan arti spesifik untuk menciptakan skema mental. Sebagai tahun awal di sekolah dasar. untuk menjelaskan hal itu banyak pengalaman yang berkontribusi untuk perkembangan membaca ( Snow. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan sekilas. Analisis dan Pembahasan Dalam masyarakat teknologi. dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik. penulis merasa tertarik untuk mengupas masalah kesulitan membaca pada anak Sekolah Dasar kelas rendah dan bagaimana cara mengatasinya. Membaca yang efektif dibangun di atas fondasi yang mengakui bahwa kemampuan membaca ditentukan oleh beberapa faktor yang berhubungan dengan kesulitan membaca.

Dalam penelitian Boscardin. beberapa anak menjadi puas. Professional Learning untuk Indonesia Emas adalah anak tidak mampu memenuhi instruksi prasyarat membaca permulaan yang mengharuskan anak mampu membaca untuk memperoleh makna dari buku teks. belajar tentang sifat dari sistem penulisan abjad. dan memahami struktur kata-kata yang diucapkan. Masalah konseptual dan prosedural serius yang berhubungan dengan metode diagnostik saat ini merupakan pendekatan alternatif untuk menilai dan mendiagnosa anak dengan masalah membaca. keterampilan bahasa lisan untuk membaca dan untuk memperoleh strategi baru yang mungkin secara khusus dibutuhkan untuk membaca. Sangat penting bahwa langkah-langkah harus diambil untuk memastikan bahwa anak-anak mengatasi hambatan tersebut. dan keterampilan penamaan yang cepat.2001:1). 96 .dkk. motivasi sangat penting. pada akhir tingkat dasar dan sesudahnya. Identifikasi Kesulitan Membaca pada Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah Identifikasi awal kesulitan membaca menggunakan Heterogeneous Developmental Trajectories (Boscardin. dkk. memahami hubungan antara ejaan dengan suara. meskipun kebanyakan anak-anak mulai sekolah dengan sikap dan harapan positif untuk sukses. Dalam setiap domain pembelajaran. pengenalan kata. Mayoritas masalah membaca yang dihadapi oleh anak SD kelas rendah saat ini adalah hasil dari masalah yang mungkin telah dihindari atau diselesaikan pada awal tahun masa kanak-kanak mereka. 411 anak- anak di TK sampai kelas 2 Sekolah Dasar diberikan ukuran kesadaran fonologi. dkk. sulit untuk memahami teks terhubung jika pengenalan kata tidak akurat atau melelahkan. kesulitan memahami dan menggunakan prinsip-ide abjad bahwa ejaan yang ditulis secara sistematis merupakan kata yang diucapkan sekarang. Ciri kedua adalah kegagalan untuk mentransfer pemahaman tersebut. Ciri-Ciri Kesulitan Membaca pada Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah Snow. menyajikan model analitik baru untuk meningkatkan klasifikasi dan prediksi membaca anak-anak pada kelas awal. Ciri yang ketiga adalah kesulitan membaca akan memperbesar ciri pertama dan kedua yaitu tidak adanya atau hilangnya motivasi awal untuk membaca atau kegagalan untuk mengembangkan apresiasi dari manfaat membaca. (2014) menjelaskan bahwa ada tiga ciri-ciri yang diketahui anak-anak tidak terampil membaca yaitu ciri pertama kesulitan muncul pada awal akuisisi membaca.

banyak Sekolah Dasar sekarang sedang menggunakan DIBELS untuk anak kelas 3 yang mengalami kesulitan membaca potensial. Beberapa negara juga menggunakan Phonological Awareness Literacy Screening Tests (PALS) sebagai alat alternatif (Boscardin. 1994.2002:24). Anak yang diidentifikasi memiliki kesulitan memperoleh kesadaran fonologi dalam usia dini diprediksi memiliki pola lambat dalam perkembangan dalam keterampilan pengenalan kata untuk pembelajaran berikutnya. mengalami kesulitan yang signifikan dalam belajar membaca. Faktor-Faktor Penyebab Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah Mengalami Kesulitan dalam Membaca Sejumlah besar anak-anak usia Sekolah Dasar. termasuk anak-anak dari semua kelas sosial. Selaras dengan pendapat Musthafa (2014) menyatakan tentang pentingnya lingkungan yang literat bagi perkembangan literasi anak. Namun ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil dalam memberikan dukungan literasi bagi anak-anak mereka. Hasil menunjukkan bahwa keterampilan membaca prekursor seperti kesadaran fonologi dan penamaan yang cepat adalah sangat prediktif untuk membangun keterampilan membaca pada anak dan profil perkembangan yang dibentuk pada pembelajaran di TK secara langsung berhubungan dengan perkembangan anak di kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar. Dynamic Indicators of Basic Early Literacy Skills (DIBELS) digunakan untuk memantau kemajuan membaca. hasil dari studi ini mendukung gagasan bahwa kesulitan membaca dicirikan oleh defisit dalam keterampilan prasyarat yang menyebabkan defisit dalam perkembangan membaca. 2002).dkk. dkk. Temuan ini menggaris bawahi perlunya untuk identifikasi awal dan intervensi khusus menargetkan defisit keterampilan. Re-konseptualisasi identifikasi kesulitan membaca menggunakan langkah-langkah yang merangsang pertanyaan lebih lanjut mengenai implikasi dari praktek penilaian awal. Sebagian dari orang tua ada yang berusaha untuk menciptakan kebiasaan praktek literasi bagi anak-anak mereka. Baik dalam bentuk praktek 97 . Identifikasi sekelompok anak dengan defisit terus-menerus selama periode tiga tahun atau kelas awal menunjukkan bahwa mereka akan terus tertinggal di belakang. pada pelajaran membaca permulaan. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan (Francis et al.. Tantangan Implementasi Professional Learning Kehadiran pola perkembangan yang heterogen dan bertugas untuk mengetahui satu kelompok anak dengan pola perkembangan yang berbeda yang paling berisiko untuk kesulitan membaca. lebih dari 40 negara. Faktor yang paling utama penyebab anak Sekolah Dasar kelas rendah mengalami kesulitan membaca adalah faktor literasi atau pemerolehan bahasa dari rumah. Boscardin.

2014: 5) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat kemampuan (dan pendidikan) literasi orang tua dan tingkat apresiasi mereka terhadap lingkungan literasi. dan anak-anak yang orang tuanya mengalami kesulitan belajar membaca sangat beresiko dengan kelemahan di daerah ini. tidak cukup bukti untuk menilai kesulitan membaca yang sebenarnya. Dengan demikian. berbasis pada kebutuhan sehari-hari. anak-anak dengan gangguan bahasa prasekolah. anak didorong menjelajah dunia mereka dan mengungkapkan perasaannya menggunakan semua cara yang tersedia bagi mereka. Pada lingkungan ini. Dalam hal ini dijelaskan bahwa perkembangan literasi dini merupakan proses belajar membaca dan menulis secara informal dalam keluarga yang umumnya bercirikan seperti demonstrasi baca- tulis. Idealnya. anak-anak dengan keterbatasan kemahiran dalam bahasa. yaitu ada anak yang datang dari lingkungan rumah yang kaya literasi dan mereka yang datang dari keluarga yang tidak beruntung. 98 . Anak-anak dari lingkungan miskin. (3) Lingkungan sekolah dan komunitas dimana anak tinggal (Snow. anak-anak dengan gangguan pendengaran. 1998). terutama kemampuan verbal. 2014:2) menyatakan bahwa lingkungan literat sangat mempengaruhi proses belajar anak karena dalam lingkungan literat anak dilibatkan secara langsung dalam literasi. Kesenjangan literasi diantara anak-anak dikarenakan keragaman latar belakang literasi dari rumah. Professional Learning untuk Indonesia Emas literasi kongkret atau penyediaan artefak dan suasana yang mendukung.dkk. yaitu : (1) Faktor intrinsik individu. kita ingin tahu mana anak-anak atau kelompok anak-anak akan memiliki masalah belajar untuk membaca ketika mereka berada di sekolah dan instruksi membaca yang diberikan. Brashear (dalam Musthafa. Anak-anak yang sangat mungkin mengalami kesulitan membaca di kelas- kelas dasar adalah mereka yang mulai sekolah dengan kurang pengetahuan sebelumnya dan keterampilan yang relevan. Dalam sebuah studi pada pencegahan kesulitan membaca. ada kebutuhan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan anak mengalami kesulitan belajar membaca. Fitgerald dkk (dalam Musthafa. (2) Lingkungan keluarga. dan dengan cara pengajaran yang minimal tetapi langsung. kemampuanuntukmemahami suarabahasayangberbedadenganmaknanya. kerjasama interaktif antara orang tua dan anak.

tapi beberapa tidak. Kesadaran fonologi. Kita tahu bahwa tuntutan keaksaraan bersifat berbeda untuk anak-anak. Snow. Adapun pembahasannya sebagai berikut : (1) Pelatihan pada kesadaran fonologi. tengah. dan mereka diharapkan untuk menggunakan teks untuk tujuan pemikiran dan penalaran. Penguasaan keterampilan ini adalah prediktor kuat untuk 99 . Dalam semua kasus. 1998) mereka diharapkan untuk menggunakan teks secara mandiri. Tantangan Implementasi Professional Learning Upaya untuk Mengatasi Kesulitan Membaca pada Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah Banyak anak-anak belajar membaca dengan instruksi yang baik. menargetkan pelatihan kesadaran fonologis (phonemic awareness). dan metode traditional flashcard drill and practice. 1990. segmentasi. Tujuan memberikan waktu pembelajaran tambahan untuk membantu anak-anak mencapai tingkat keaksaraan yang akan memungkinkan mereka untuk menjadi sukses melalui karir sekolah mereka dan seterusnya. Upaya yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kesulitan membaca pada anak Sekolah Dasar kelas rendah adalah intervensi yang spesifik untuk membaca. Prinsip (gagasan bahwa huruf biasanya mewakili suara dalam segmen kecil yang disebut fonem). reguler untuk membantu. Kegiatan ini melibatkan identifikasi awal. Manfaat dari pelatihan kesadaran fonologi untuk anak-anak yang belum belajar dengan instruksi membaca secara formal. Hal ini tidak hanya untuk meningkatkan prestasi literasi awal. apresiasi suara tanpa memperhatikan maknanya. Ada kemungkinan bahwa anak-anak yang telah memiliki intervensi di tingkat dasar perlu pengalaman pelengkap tambahan di kelas-kelas atas juga. bimbingan literasi oleh guru di sekolah dan orang tua. Dan banyak anak memiliki masalah belajar membaca karena instruksi yang buruk. dan mengkategorikan suara. dan berakhir dengan suara (membaca) serta blending. Di sini kita bisa memeriksa bukti efektivitas pelatihan untuk dua kelompok anak-anak: yang pertama anak yang beresiko untuk kesulitan membaca dan yang kedua anak-anak sekolah dengan kesulitan membaca yaitu memiliki prestasi yang sangat rendah. sangat penting untuk menemukan abjad tersebut. mereka diharapkan untuk belajar mengetahui informasi dari teks yang mungkin mereka miliki dari beberapa pengalaman di kelas-kelas utama (Fisher dan Hiebert. pertanyaannya adalah apa jenis instruksi tambahan (biasanya disebut “Intervensi” karena ini bukan bagian dari instruksi bacaan sekolah).

Simmons. Sebuah persegi panjang digambar di papan. 1993.Laurice. itu membuat fan. 1991. Bryne & Fielding-Barnsley. Segmentasi keterampilan fonem dapat di scaffolding menggunakan kotak suara atau apa yang biasa disebut sebagai Kotak Elkonin kotak (Elkonin. selembar kertas. atau kardus. siswa mungkin diminta untuk berulang-ulang menggerakkan jari hanya di bawah kotak terhubung dan suara berbaur bersama-sama dan anak mengartikulasikan setiap suara pada 100 . Token atau benda kecil lainnya yang dapat dengan mudah meluncur ke dalam kotak yang ditempatkan di bagian bawah dibagi dari persegi panjang atau kotak yang terhubung. (b) Kotak suara. Laughon.. Bentin & Leshem. Torgesen. Laurice M. Mereka dapat segmen suara dari kata yang diucapkan oleh bertepuk tangan karena mereka mengartikulasikan setiap suara dalam kata atau sesuai setiap suku kata dalam kata. 1993. Berbagai kegiatan manipulasi suara atau permainan membantu anak-anak mengembangkan keterampilan kesadaran fonemik (Wagner. dan ketika mereka disatukan.. Pelatihan kesadaran fonologi ini dapat menggunakan teknik- teknik sebagai berikut : (a) Sound manipulation activities yaitu sejumlah kegiatan manipulasi suara yang mendorong anak-anak untuk beroperasi pada elemen suara yang diucapkan..Joseph. Misalnya. Serangkaian kotak terhubung diciptakan oleh menggambar garis vertikal di dalam persegi panjang sehingga dibagi sesuai dengan jumlah kata dan suara yang terdengar. Guru dapat mengajarkan blending suara dengan mengatakan kata dimulai dengan / f / dan diakhiri dengan / an /. Laurice M. Anak-anak dapat diajarkan untuk beroperasi pada suara dan struktur bahasa lisan dalam berbagai cara. dan anak-anak diperintahkan untuk menempatkan token di bagian masing-masing dari persegi panjang karena setiap suara dalam kata perlahan diartikulasikan. Instruktur secara lisan menyajikan kata.2005). 1973. & Raschotte.2005). kata panci disajikan secara lisan kepada anak dan anak akan menempatkan token pertama kotak pertama saat ia sekaligus mengartikulasikan / p /.dan menempatkan tanda lain dalam kotak terakhir karena ia mengatakan / n /.Joseph. Yopp & Yopp.2005). tempat tanda di kotak tengah karena ia mengartikulasikan / a /. Professional Learning untuk Indonesia Emas membaca dasar (Ball & Blachman. 1991. 2000. Setelah token ditempatkan di kotak. M.

(e) pemasangan kembali kalimat anak yang tidak dipotong menjadi kata-kata individu.dkk. apabila diperlukan. penulis menggambarkan intervensi tambahan yang mengambil bentuk les. (2) Bimbingan literasi oleh guru di sekolah Pada bagian ini. 1998). Maslanka &Yusuf. (c) latihan identifikasi huruf. Dukungan guru diberikan selama kegiatan tersebut dan dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman anak yaitu. 1994. Pinnel et al. 101 . (d) menulis dan membaca menggunakan kalimat sendiri. Laurice M. dan (g) mendukung membaca buku baru. pemantauan efektivitas melalui teks. Untuk 10 hari pertama partisipasi anak dalam reading recovery ini.dkk.. (f) buku pengantar baru .2005).Snow.Snow. Seperti studi pelatihan kesadaran fonologi. Teknik ini telah terbukti efektif untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan kesadaran fonemik (Ball & Blachman. guru mengumpulkan informasi tentang keterampilan keaksaraan dan pengetahuan anak saat itu. kegiatan ini dilakukan 30 menit per sesi selama 12 periode atau 16 minggu ( DeFord et al. 1988 . Dan kegiatannya dilakukan dengan reading recovery (pemulihan membaca). anak-anak diberikan waktu tambahan dalam belajar membaca dengan les anak-anak secara individual. 1991. Reading discovery ini membutuhkan pelatihan yang ekstensif dari guru. rendering itu cukup mahal.. 1983. 2002. 1995.1998). Setelah anak telah mencapai tingkat yang sesuai dengan standar kompetensi yang diharapkan. disebut sebagai “roaming known”. Setelah periode ini. Program ini dirancang oleh Marie untuk tujuan intervensi anak-anak di Selandia Baru yang diidentifikasi memiliki masalah membaca (Clay. dipilih karena banyak yang memberikan review dan menarik perhatian guru-guru di Amerika Serikat. Pinnell et al. setiap pelajaran meliputi (a) anak terlibat dalam kegiatan pra membaca (b) membaca buku secara independen (guru mengambil catatan berjalan untuk menilai kefasihan). Kegiatan ini dilaksanakan selama 30 menit setiap hari. Hohn & Ehri. 1987. anak-anak didorong untuk menggunakan berbagai sumber informasi saat membaca dan untuk terlibat dalam kegiatan keaksaraan dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Tantangan Implementasi Professional Learning kata dengan cepat dan mudah.1985 dan Pinnell et al. serta instruksi intensif satu-satu atau secara individu dengan anak-anak. Buku teks yang digunakan oleh anak-anak telah diurutkan berdasarkan tingkat kesulitan. Reading recovery. Program ini memiliki kerangka tertentu untuk memberikan instruksi ke anak.

Prosedur ini dapat terjadi sampai anak mencapai penguasaan dalam membaca. (d) mendemonstrasikan interaksi dan libatkan anak-anak didalamnya. yaitu : (a) menyediakan beragam artefak literasi untuk anak. Prosedur ini telah dinyatakan efektif untuk membantu anak-anak mendapatkan pemahaman kata-kata (Tan & Nicholson. anak didorong menjelajah dunia mereka dan mengungkapkan perasaannya menggunakan semua cara yang tersedia bagi mereka. Dan guru Sekolah Dasar kelas rendah berperan untuk mengintervensi pembelajaran membaca anak di sekolah dengan menggunakan berbagai metode dan media yang tepat. Teknik ini yang digunakan untuk mengajar anak-anak untuk membaca kata-kata secara akurat dan cepat. Dalam poin literasi dini. Dari penjelasan di atas penulis menarik kesimpulan bahwa banyak pihak yang harus ikut terlibat dalam mengaplikasikan upaya mengatasi kesulitan membaca pada anak Sekolah Dasar kelas rendah. Tetapi literasi di Taman Kanak-kanak pun menentukan keterampilan membaca anak ketika ia mulai memasuki kelas 1 Sekolah Dasar. Musthafa (2014) menjelaskan berbagai cara untuk melibatkan anak dalam literasi. guru dapat meminta anak untuk membacanya. Model instruktur membaca kata dicetak pada flashcard dan meminta anak untuk membaca kata diikuti dengan umpan balik. Temuan bahkan lebih menarik adalah bahwa prosedur flashcard tradisional lebih efisien untuk membantu anak-anak membaca dan mengeja kata-kata. hal ini harus ditindak lanjuti oleh orang tua di rumah. Jadi harus ada kerjasama dalam membimbing anak belajar membaca misalnya setelah anak belajar membaca di sekolah. Mungkin ada 10 atau lebih flashcards dengan kata-kata yang dicetak. (c) mendemonstrasikan beragam peristiwa literasi dan melibatkan anak didalamnya. Faktor utama dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan anak Sekolah Dasar kelas rendah dalam belajar membaca adalah pemerolehan bahasa (literacy) dari rumah. Dan orang tua harus meluangkan waktunya untuk membimbing anak. Pada lingkungan ini. disini yang paling berperan adalah orang tua. (4)Teknik traditional flashcard drill and practice. 102 . Professional Learning untuk Indonesia Emas (3) Bimbingan literasi oleh orang tua di rumah Lingkungan literat sangat mempengaruhi proses belajar anak karena dalam lingkungan literat anak dilibatkan secara langsung dalam literasi. 1997). (b) mendemonstrasikan beragam kegiatan literasi dan anak ikut dilibatkan. Kerjasama yang perlu yang perlu dibangun dalam menangani masalah ini terutama dari pihak guru dengan orang tua anak. Setelah setiap kata telah dimodelkan.

Upaya yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kesulitan membaca pada anak Sekolah Dasar kelas rendah adalah intervensi yang spesifik untuk membaca. Beberapa negara juga menggunakan Phonological Awareness Literacy Screening Tests (PALS) sebagai alat alternatif. Ciri-ciri kesulitan membaca pada anak Sekolah Dasar kelas rendah adalah ciri pertama kesulitan muncul pada awal akuisisi membaca. Identifikasi awal kesulitan membaca bisa menggunakan Heterogeneous Developmental Trajectories. Ciri kedua adalah kegagalan untuk mentransfer pemahaman tersebut. Anak yang diidentifikasi memiliki kesulitan membaca dan kesulitan memperoleh kesadaran fonologi dalam usia dini diprediksi memiliki pola lambat dalam perkembangan dalam keterampilan pengenalan kata untuk pembelajaran berikutnya. menargetkan pelatihan kesadaran fonologis (phonemic awareness). Faktor yang paling utama penyebab anak Sekolah Dasar kelas rendah mengalami kesulitan membaca adalah faktor literasi atau pemerolehan bahasa dari rumah. dan 103 . Tantangan Implementasi Professional Learning Penutup Definisi operasional kesulitan membaca dalam tulisan ini adalah anak tidak mampu memenuhi instruksi prasyarat membaca permulaan yang mengharuskan anak mampu membaca untuk memperoleh makna dari buku teks. kesulitan memahami dan menggunakan prinsip-ide abjad bahwa ejaan yang ditulis secara sistematis merupakan kata yang diucapkan sekarang. dan memahami struktur kata-kata yang diucapkan. keterampilan bahasa lisan untuk membaca dan untuk memperoleh strategi baru yang mungkin secara khusus dibutuhkan untuk membaca. terutama kemampuan verbal. banyak Sekolah Dasar sekarang sedang menggunakan DIBELS untuk anak kelas 3 yang mengalami kesulitan membaca potensial. lebih dari 40 negara pada pelajaran membaca permulaan. Ciri yang ketiga adalah kesulitan membaca akan memperbesar ciri pertama dan kedua yaitu tidak adanya atau hilangnya motivasi awal untuk membaca atau kegagalan untuk mengembangkan apresiasi dari manfaat membaca. memahami hubungan antara ejaan dengan suara. bimbingan literasi oleh guru di sekolah dan orang tua. sulit untuk memahami teks terhubung jika pengenalan kata tidak akurat atau melelahkan. kemampuan untuk memahami suara bahasa yang berbeda dengan maknanya. belajar tentang sifat dari sistem penulisan abjad. dan Dynamic Indicators of Basic Early Literacy Skills (DIBELS) digunakan untuk memantau kemajuan membaca. Anak-anak yang sangat mungkin mengalami kesulitan membaca di kelas-kelas dasar adalah mereka yang mulai sekolah dengan kurang pengetahuan sebelumnya dan keterampilan yang relevan.

The school achievement of minority children: New perspectives (pp. Elga.DC: National Association for the Education of Young Children. Clark. Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Programs Serving Children from Birth Through Age 8.. Washington. Bryne. Reading Research Quarterly. NJ: Erlbaum. P. Professional Learning untuk Indonesia Emas metode traditional flashcard drill and practice. A. one minute. 104 .. Calhoon. Psychology and Language. R. or one year from the perspective of rauding theory. Carol M.. In U.20. Neisser (Ed. Sue. & Underwood. Conor. Bredekamp. (1977). 451–455. R. Problema Anak Usia Dini Berbasis Gender. (1997). And Bengt O..Early Identification of reading Difficulties. Eve V. Brown. Los Angeles: University of California. (l986). A. Poor readers: Teach. M.54–66.). 424–433. L. (2014). 38. Effects of a peer-mediated phonological skill and reading comprehension program on reading skill acquisition for middle school students with reading disabilities. 3–43.dkk. Muthen. G. B. don’t label. Improving Reading Outcomes for Students with or at Risk for Reading Disabilities: A Synthesis of the Contributions from the Institute of Education Sciences Research Centers. Carver. Evaluation of a program to teach phonemic awareness to young children. B. Briggs. R. Palincsar. Boscardin. (1991). Austin. 105–143). & Fielding-Barnsley. Clark. (1984). Scientific Studies of Reading.hlm 1-78. 83. Daftar Pustaka Andriana. Jadi harus ada kerjasama dalam membimbing anak belajar membaca. Journal of Educational Psychology. 1. S.Christy K.Tanpa tahun. & Purcell. Journal of Learning Disabilities. New York : Harcourt Brace Jovanovich. (1987). Phonological coding in good and poor readers. Reading for one second. A. Hillsdale.. (2005). Kerjasama yang perlu yang perlu dibangun dalam menangani masalah kesulitan membaca pada anak Sekolah Dasar kelas rendah adalah dari pihak guru dengan orang tua. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. L. Dan Herbert H.

. Phonological processing skills and the reading recovery program. Elizabeth B.. Sri M. (2005). Developmentally Appropriate Practice Curriculum and Development in early Education. 31. doi:10. B. Boston : Mc Graw Hill. Hatcher. E. (2004). 85.. Iversen. British Journal of Educational Psychology (73). 105 .2008). S.S. Jakarta : Depdikbud Dehart. W. 112–126. 351–367.1348/000709905X39170. 126-141. P. Bobbi dkk.126 History: Received September 22. Child Development its Nature and Course. M. The simple view of reading. (1991). P. & Peterson. doi:10. (. Tantangan Implementasi Professional Learning Crain. Jakarta : UT Dzaldov. Speech. 1999 Gestwicki. S. Gunarti. Denton. W... Dhieni. Ganie B. Reading Difficulty Levels of Selected Articles in the Journal of Research in Music Education and Journal of Historical Research in Music Education. The Efficacy of Phonological Awareness Intervention for Children With Spoken Language Impairment April 2000. Gilon. & Tunmer. A. (2006a).dkk. S. (1990).(2012). USA: Pearson..(2008). B. (2011).dkk. Jakarta : PT. Permasalah anak TK. Bandung : Kaifa. & Smith. Quantum Learning. Nurbiana. Australia : Thomson. Hoover. & Gough. Hulme. The Reading Teacher. (1999). Snowling. Humphreys. (1993).. Carol.dkk. Journal of Educational Psychology. Perkembangan Anak Jilid 1. Carolyn A. Goetz.. Metode Pengembangan dan Kemampuan Dasar AUD. Hurlock. William.Language. (2007). C. 1999. J. Accepted December 17. K..2. Reading and Writing. 127–160.. Vol. Erlangga. 59. Book leveling and readers. Deliana. Gail T. Evidence for the effectiveness of the Early Literacy Support Programme.(2013). Winda.3102. Gibbs. and Hearing Services in Schools.Metode Pengembangan Bahasa. Theories of Development Concepts and Application. Children’s Learning Institute University of Texas Health Science Center Houston : RTI For Reading Difficulties in the Primary Grades : Some Answers ang Lingering Question.. 222–229. 45(3): 232–243.1044/0161-1461. G. Alexandra H. Jakarta: UT. J. Volume 6. DePorter.

Torgesen.Rosalie Davis. The Prevention of Reading Difficulties.Suzanne Carreker. Rita Eka. Effective Teaching of Inference Skills for ReadingLiterature Review. Jakarta : Depdiknas.Phyllis Meisel.Anne. T. D.(2010). TX: PRO- ED. J. 1. “Learning to be Learning Disabled:” Marie 106 . Louisa.scholastic. N. K. Henri G. 161–171. International encyclopedia of the social & behavioral sciences (pp.com/guidedreading.Louise Spear‐Swerling. Departement of Early Chilhood Education. __________ (2013). A basic guide to understanding. Margaret J. P. Vellutino.. (2009). 12800-12805). Oxford: Pergamon. Smelser & P.. Bachrudin. Frank R. Bandung : CREST. 35.(2008). Journal of Experimental Child Psychology. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa. Professional Learning untuk Indonesia Emas Izzaty. 40. G. Austin. Strengs and Weakness of Screening Reading Difficulty. B. Baltes (Eds.Joseph K. and teaching phonological awareness. & Mathes. Professional Standards and Practices Committee. Pinnell. Kispal. 7–26. (2005). J. pp. (1983). Encoding and contextual components of word recognition in good and poor readers. (2010). John W. (2000). Vol.). National Foundation for Educational Research. (2001). Committee Chair. (2008). Sotiria. Greece. Santrock.. No. Irene C. Bandung : Angkasa.Barbara Wilson. Musthafa. International Dyslexia Association. Tzinivikou. B. Fountas. Moats. British Journal of Educational Psychology (2011). Research Base for Guided Reading as an Instructional Approach. and Charles Hulme. Perkembangan Anak Jilid 1 dan 2. Torgesen. Journal of School Psychology. Lorsbach. Jakarta : Penerbit Erlangga. Membaca. assessing. Dari Literasi Dini ke Literasi Teknologi. (2010). Snowling. 1–23 Tarigan. Gay Su. (2007). Knowledge and Practice Standards forTeachers of Reading.(2002). Evidence-based interventions for reading and language difficulties: Creating a virtuous circle. (2002). Mengenali Permasalahan Perkembangan Anak Usia Dini. & Whitehouse. www. Simpson. 81. Bandung : Penerbit Angkasa.

practice. that will be developed. so hopefully they can acquire a variety of skills to interact with the surrounding environment. most of the other time was in grade LSD. Handling children with special needs done in Learning Support départemant (LSD). communicating and independence. ADAPTASI KURIKULUM PENDIDIKAN INKLUSIF SISWA DENGAN HAMBATAN SOSIAL EMOSIONAL DI SEKOLAH DASAR Suharsiwi Universitas Muhammadiyah Jakarta Email: suharsiwisoeratman@gmail. Keywords: Adaptation of curriculum. Children with emotional social disruption there. with a focus on the difficulties faced by children. and counting for their preparation in the regular classroom. a unit that supports children with special needs in play. have an IQ below average. and what efforts were made to overcome the problems of teachers in learning.com Abstrack: Title this paper is curculum adaption in Inclusive Education for children with Emotional Social disorder in elementary school. how to make the curriculum adaptation. They were in the average grade is in regular classes between 50% s /d 75%. studying individually or about 3-4 children. the teacher does not force a child to do so. even though these capabilities are still limited. 107 . writing. Children who are not yet able to adapt in the regular classroom. the program is intended for them is to develop the social aspects and debriefing of reading. is the result of description qualitative research in elementary SD Semut-semut Depok. As seen from the curriculum adaptations of existing capabilities in children. difficulty interacting. While other abilities are not developed. The aim of research is to see how the efforts of primary teachers to adapt the curriculum. Learning Support départemant (LSD). and interact with friends in SD Semut- semut.

2 tahun 1989 pasal 5 dijelaskan bahwa 108 . tetapi pada kenyataannya tidak semua ABK bisa mendapatkan sekolah yang memudahkan mereka melakukan penyesuaian sosial yang dapat mencegah ABK dari perasaan rendah diri. terutama bagi mereka yang mengalami masalah perilaku dan sosial emosional seperti anak autis. sekolah inklusif yang ideal masih jauh dari harapan. Pada UUD 1945 pasal 31 (1) yaitu Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Pada tahun 1980 Asosiasi Psikiater Amerika Serikat menyarankan penggunaan terminology ADD sebagai pengganti MOD (Minimal Brain Dysfunction). UU No. Bagi orangtua yang ingin ABK-nya dapat mandiri. Kenyataan tersebut membuat sebagian Orang tua ABK menjadi malu dan merasa rendah diri karena merasa ditolak oleh lingkungannya.Deficit Disorder). Professional Learning untuk Indonesia Emas Pendahuluan Upaya pemenuhan hak azasi anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk mengenyam pendidikan oleh berbagai pihak dirasakan masih mengalami kendala. pelaksanaannya masih belum sepenuh hati. sehingga ada juga yang cenderung menyembunyikan/ tidak mempedulikan pendidikan buah hatinya. Hal tersebut terlihat dari keberadaan ABK yang masih terbatas penerimaannya di sekolah umum. Slogan yang selalu dikedepankan adalah sekolah untuk semua berarti semua seharusnya bisa sekolah. sekolah inklusif memungkinkan mereka dapat berimitasi dengan lingkungannya. akan tetapi seting sekolah inklusif ini merupakan hal yang ideal bagi ABK untuk melakukan pengembangan program individual. terminology yang digunakan adalah brain injured ini selanjutnya dibagi menjadi dua tipe yaitu ADHD (Attention-Dificit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder Without Hyperactivity) Dikemukakan oleh Task Force on DSM-IV tahun 1991 yang dikutip oleh Azwandi (2005:14). terlebih bagi orangtua yang kondisi ekonominya miskin dan kurang mampu membiayai sekolah anaknya. kalaupun ada. demikian juga belum banyak masyarakat yang bisa menerima dengan baik keberadaan ABK bersekolah bersama-sama anak-anak normal lainnya. Kita masih mendengar bahwa sebagian ABK masih memperoleh pendidikan yang diskriminatif dan pengabaian. Sebelumnya. masih cukup sulit mendapatkan sekolah yang tidak diskriminatif seperti sekolah inklusif. ADD dan gangguan perilaku lainnya. padahal ide pendidikan inklusif sudah lama dilontarkan oleh berbagai pihak dan pakar pendidikan. Anak ADHD dan ADD adalahAnak dengan gangguan pemusatan perhatian dalam dunia kedokteran dikenal dengan terminologi ADD (Attention . ADHD.

sehingga menyebabkan munculnya segmentasi lembaga pendidikan yang berdasar pada perbedaan kemampuan baik fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. (UUD 1945) Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. Tantangan Implementasi Professional Learning setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk mernperoleh pendidikan. 109 . (UU RI No 20 tahun 2003) Berdasarkan hal itu negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel) yang disahkan pada Maret 2007 (Convention on the Rights of Person with Disabilities and Optional Protocol. Adapun salah satu tujuannya adalah untuk mendorong terwujudnya partisipasi penuh difabel dalam kehidupan masyarakat. kesehatan jasmani dan rohani. Pada pasal 24 adalah salah satu kesepakatan Internasional yang mendorong terwujudnya sistem pendidikan inklusif dalam konvensi ini disebutkan bahwa setiap negara berkewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan inklusif di setiap tingkatan pendidikan. Akibatnya dalam interaksi sosial di masyarakat kelompok difabel menjadi komunitas yang teralienasi (terasingkan) dari dinamika sosial di masyarakat. Selama ini anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). 2012) Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. (Convention on the Rights of Person with Disabilities and Optional Protocol. 2012). Tembok eksklusifisme tersebut selama ini tidak disadari telah menghambat proses saling mengenal antara anak-anak difabel dengan anak-anak non-difabel. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dampaknya segmentasi lembaga pendidikan ini telah menghambat para siswa untuk dapat belajar menghormati realitas keberagaman dalam masyarakat. dalam upaya mewujudkan tujuan Nasional.Sistem pendidikan SLB telah membangun tembok eksklusifisme bagi anak- anak berkebutuhan khusus. Tetapi sistem pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keberagaman. 20 tahun 2003 bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis perbedaan kemampuannya yang disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia.

berlatih. belajar dan berinteraksi dengan teman-teman lainnya yang ada di lingkungan Sekolah Semut-semut maupun lingkungan tempat tinggalnya. Sementara kelompok difabel sendiri merasa keberadaannya bukan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. sistem pendidikan yang mencampurkan ABK dengan anak normal adalah sistem pendidikan inklusif yang harus menerapkan kurikulum adaptif. Adapun yang menjadi fokus penelitian kami adalah anak dengan hambatan sosial emosional seperti anak ADD/ ADHD dan ASD. tuna grahita atau mental retarded. dengan memperhatikan kebutuhan individual masing-masing anak sesuai kemampuannya. kesulitan belajar. termasuk bagi mereka yang memiliki hambatan belajar atau berkebutuhan khusus. Learning Support Departemant adalah satu unit yang mendukung anak-anak istimewa di Sekolah Semut-semut untuk bermain. Berdasarkan data yang diperoleh oleh peneliti. speech delayed. Lerning Support Departemant adalah unit yang mendukung anak-anak berkebutuhan khusus dalam bermain. Hal ini juga yang menandakan bahwa pendidikan tersebut menganut sistem berkeadilan sosial yang berprinsip pada keseimbangan dan pemerataan hak serta kewajiban bagi setiap warga Negara. Professional Learning untuk Indonesia Emas Masyarakat menjadi tidak akrab dengan kehidupan kelompok difabel. Slogan sekolah untuk semua yang sering didengungkan pakar pendidikan. kesulitan belajar. tuna grahita atau mental retarded. berarti semua bisa sekolah termasuk ABK bisa sekolah bercampur dengan anak-anak normal. berlatih. Penanganan anak berkebutuhan khusus demikian pula dengan anak yang mengalami gangguan emosi dan sosial ditangani oleh Learning Support Departemant. Pembahasan Hasil Penelitian SD Semut-semut adalah sekolah inklusif yang memberikan kepedulian pada anak-anak berkebutuhan khusus. speech delayed. Pemerataan tersebut berlaku untuk semua warga negara. Jumlah anak berkebutuhan khusus di sana berjumlah sekitar 28 anak dengan berbagai hambatan seperti tuna rungu. 110 . bahwa anak-anak dengan gangguang seosial emosional berjumlah 6 anak. selebihnya adalah tuna rungu. sehingga diharapkan mereka dapat memperoleh berbagai keterampilan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. SD Semut-semut adalah sekolah dengan setting pendidikan inklusif. dan anak-anak dengan hambatan sosial emosional seperti anak dengan kasus ADD/ ADHD dan ASD. dan berinteraksi dengan teman-temannya di SD Semut- semut.

Melakukan Assesmen. Informasi pembuatan program IEP juga dari guru kelas dan kepala sekola yang memahami kurikulum TK dan SD sesuai jenjangnya. namun dapat juga dari informasi yang didapat dari guru setelah anak masuk dan bersekolah ternyata baru terlihat memiliki masalah- masalah dalam perkembangannya. Khusus untuk anak-anak yang memiliki masalah perilaku dan gangguan emosional. maka program yang dilakukan adalah mengembangkan kemampuan sosial dan interaksinya dengan lingkungan. Informasi yang didapat biasanya melalui orangtua dan observasi awal. b. Pengidentifikasian. masuk dalam kegiatan 111 . berkomunikasi dan masalah-masalah lain yang tidak dapat ditangani hanya dalam kelas biasa. anak-anak berkebutuhan khusus termasuk anak- anak dengan gangguan perilaku dan emosi. dan psikolog. Program IEP kemudian dilaksanakan oleh guru pendamping dibantu oleh guru kelas. d. Program IEP dibuat oleh guru pendamping dengan mendapat arahan dari guru koordinator. Hasil assesmen menjadi informasi yang berharga bagi guru koordinator untuk membuat program untuk anak-anak. guru kelas. Kegiatan kelas. Tujuannya bukan prestasi akademik melainkan kompetensi lain yang bernilai yang dapat dibanggakan. yaitu kegiatan menemukenali anak-anak yang terindikasi mengalami masalah dalam berinteraksi. namun harus melakukan kegiatan penanganan di LSD. Kegiatan assesmen melibatkan Guru koordinator. membuat program dan melakukan kegiatan terapi buat anak-anak berkebutuan khusus. LSD memiliki 2 (dua) koordinator yang memimpin guru-guru pendamping di sekolah. adalah program individual agar siswa mendapatkan perlakuan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Mekanisme penanganan anak dilakukan dalam beberapa hal yaitu: a. kegiatan assesmen dilakukan untuk melihat lebih rinci kemampuan dan masalah yang dihadapi anak berkaitan dengan perilaku dan kemampuan awal anak. Dua koordinator terdiri dari ketua dan wakilnya yang memiliki background pendidikan S1 Psikologi dan terapi okupasi. Target atau tujuan disesuaikan dengan masalah yang dihadapi anak-anak. Program IEP. mengenal konsep. c. tanpa harus berupa kemampuan akademik. Mereka berdua memiliki pengalaman menangani anak-anak di sekolah inklusif. menerima pelajaran. Anak dilatih untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Tantangan Implementasi Professional Learning LSD memiliki 11 guru pendamping yang melakukan pendampingan di kelas ataupun di ruang LSD.

mudah frustasi. Kadang mereka juga merajuk atau menangis karena sebab tertentu atau marah. berbicara sendiri tanpa tujuan. rata-rata mereka sehat dan cukup asupan gizinya. bersepeda. tersenyum sendiri. Kegiatan pengembangan. computer. tingkat kesulitan dan cara mengajarkannya. seperti anak autis. berteriak dan acuh saja pada orang yang menegur atau berdiri di dekatnya. 112 . wiraga(menari). Meski mereka sering memperlihatkan perilaku yang menarik diri dari lingkungan dan asyik dengan dirinya. berenang. dikarenakan adanya gangguan autisme. namun rata-rata mereka jarang melakukan tindakan agresif yang dapat melukai orang lain. Beberapa mereka dapat mengikuti pelajaran tertentu. kurang dapat mengendalikan emosinya saat frustasi. Ada juga berupa kegiatan kesenian. melamun. Anak dengan gangguan sosial emosional. seperti seni Musik vokal. namun beberapa pelajaran tidak dapat diterimanya dan membutuhkan modifikasi dalam kurikulumnya. Masih fokus pada diri sendiri. seperti keluasan materi. gardening. Secara fisik mereka tidak memiliki masalah. ADHD. Selain masalah interaksi dan keterampilan sosial lainnya. Anak-anak yang mengalami gangguan sosial emosional. serta kegiatan life skill yaitu AKS. Setiap hari mereka membawa snack dan makan siang sendiri. Professional Learning untuk Indonesia Emas kelas seperti anak-anak lainnya dan juga melakukan kegiatan sebagian waktunya di LSD. perkusi. ADD dan ada yang dikarenakan masalah pola asuh. juga mengalami masalah penerimaan dalam pelajarannya. angklung. walau ada juga beberapa yang menggunakan fasilitas catering dari sekolah. namun masih bisa dikendalikan oleh guru kelas. yaitu kegiatan buat anak-anak yang tujuannya mengembangkan potensi anak yang lain bukan pada kejaran prestasi akademik. biola dan kegiatan Seni Rupa berupa Art. anak- anak dengan gangguan sosial emosional. ataupun guru pendampingnya. melakukan kebiasaan-kebiasaan a sosial seperti mengambil makanan orang lain tanpa izin. secara umum mengalami masalah kurang dapat berinteraksi dengan teman dan guru. Kegiatan tersebut berupa kegiatan olah tubuh seperti senam. e. Bagaimana bentuk kesulitan anak gangguan sosial-emosional? Anak-anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SD Semut- semut rata-rata mengalami masalah hambatan intelektual dengan IQ di bawah rata-rata yaitu antara 80 – 40. Citra rasa kuliner.

Sementara kemampuan-kemampuan lain yang belum berkembang. sebagian waktu lainnya adalah di kelas LSD. Mereka membutuhkan arahan dan bimbingan agar dapat bersikap yang diterima oleh teman-temannya. juga sering melakukan hhal-hal yang tidak perleu. meski kemampuan tersebut masih terbatas. pensil. Anak berkebutuhan khusus di semut-semut rata-rata berada di kelas reguler antara 50% s/d 75 % . bermain crayon. mereka juga mengalami masalah sehingga kurang memahami apa yang dibicarakan oleh teman-temannya. guru tidak memaksakan anak untuk melakukannya. Adapun contoh program individual adalah sebagai berikut : 113 . maka program yang diperuntukkan untuk mereka adalah mengembangkan aspek-aspek sosial dan pembekalan calistung untuk persiapan mereka di kelas reguler. berjalan mondar-mandir. Tantangan Implementasi Professional Learning Dalam hal komunikasi. Kebanyakan mereka belum dapat bermain bersama teman-teman di kelasnya. belajar secara individual atau sekitar 3 – 4 anak. seperti memukul-mukul pensil ke meja. Anak-anak yang memang belum dapat beradaptasi di kelas reguler. menggambar atau hal lain di luar kegiatan yang diminta. itulah yang akan dikembangkan. Adapun adaptasi kurikulum dilihat dari kemampuan yang ada pada anak. Bagaimana model adaptasi kurikulum yang diterapkan? Model adaptasi kurikulum yang diterapkan masih belum sepenuhnya menggunakan model pendidikan inklusif. Konsentrasi mereka juga sering tidak fokus dan mudah terganggu. terbatas pada teman-teman yang ada di LSD.

demikian juga anak berkebutuhan khusus. Mengingat peminat siswa ke sekolah semut-semut cukup banyak. maka siswa baru dikenakan waiting list. dapat ikut dalam kegiatan di LSD. riang. namun ada yang melakukannya di luar sekolah dan setelah mereka pulang sekolah. namun ada juga siswa di luar Sekolah semut-semut yang mengikuti program terapi dan biasanya mereka lakukan sebagai persiapan untuk masuk ke sekolah semut-semut. Lesti perlu banyak berlatih untuk dapat fokus dengan pekerjaannya. kakak kelas. Juga ramah dan sopan terhadap teman. Professional Learning untuk Indonesia Emas Program Pembelajaran Individual Periode Januari– Maret 2014 Identitas Siswa Nama : CP (Inisial) Kelas : 5 Jenis Kelamin : Perempuan Gambaran Umum : Dalam kesehariannya Lesti terlihat ceria. Program terapi di 114 . Rata-rata mereka memang masih mengikuti terapi. Waktu terapi dilakukan setelah anak selesai jam sekolahnya. Lesti masih perlu diberikan pemahaman dan juga contoh ten- tang bagaimana cara bersikap agar dapat disukai oleh teman- temannya yang lain. Perlu intruksi berulang. tidak terlalu banyak melakukan hal-hal lain yang tidak perlu. Ia sering berbagi makanan dengan teman lain. masih perlu penguatan untuk bisa fokus dan memperhatikan. sibuk menggambar. Anak-anak berkebutuhan khusus yang belum dapat masuk. Program IEP. Program KBI Kecil dan KBI Besar. ataupun hal lain di luar materi pelajaran. Lesti merupakan anak yang murah hati. seperti bermain pensil. Program Remedial. dan berseman- gat. Kepercayaan diri Lesti perlu di mo- tivasi. Membaca merupakan Bagaimana pelaksanaan program kegiatan pembelajaran ABK di sekolah inklusif? Adapun program kegiatan LSD adalah sebagai berikut : Program Terapi. Program terapi tidak diwajibkan oleh semua anak dan merupakan pilihan bagi orangtua. mau- pun guru. Tak jarang berbagi pula dengan guru di kelasnya. dan Program Pengembangan.

Kelas persiapan masuk ke kelas reguler bukan berdasarkan kematangan secara akademis. IEP adalah kepanjangan dari Individual Educational Program. adalah program pembelajaran yang bersifat pengulangan dan diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan pengulangan materi dan tidak cukup dengan apa yang disampaikan di kelas regulernya. wali kelas dan guru pendamping. Program terapi dijalankan oleh 2 koordinator LSD. disesuaikan dengan materi apa yang diperlukan siswa untuk dilakukan remedial. sesuai dengan kompetensi siswa • Mampu latih: teman-teman yang tidak dapat mengikuti materi pelajaran dikelas reguler • Teman kecil istimewa dapat dikatakan mampu didik atau mampu latih berdasarkan : 115 . dan dilakukan oleh guru pendampingnya. Program remedial. atau dimaksudkan sebagai program pendidikan individual. dan Terapi Wicara. dilaksanakan oleh LSD dengan melibatkan koordinator. baik berkaitan dengan kemampuannya maupun gaya belajarnya dan juga disesuaikan dengan karakteristik kebutuhannya yang istimewa. Program KBI Kecil dan KBI Besar. KBI besar merupakan program yang dilakukan pada akhir semester 1 atau semester 2 dan diperuntukan untuk melatih kemampuan beradaftasi terhadap orang dewasa baru dan teman-teman kecil kelas reguler untuk mendapatkan tauladan yang lebih baik. Kegiatan remedia dilakukan di ruang LSD. Program persiapan disesuaikan dengan kebutuhan anak sebagai bentuk bekal mereka masuk ke kelas regulernya. Prioritas utama bukan nilai atau hasil akhir. SI. AKS. Program Pengembangan dibagi dalam berbagai kategori yaitu : • Mampu didik: teman-teman yang dapat mengikuti materi pelajaran dikelas reguler. mengingat ada ketentuan dan pertimbangan lain di dalan satu kelas reguler ada berapa anak berkebutuhan khusus. Behavior. Tantangan Implementasi Professional Learning LSD adalah Terapi Okupasi. Sehingga masing- masing anak akan berbeda dan bersifat individual. namun dilihat umur dan quota di kelas regulernya. Program IEP. Motorik Halus. Program Remedial. Program tersebut terdiri dari KBI Kecil yaitu program persiapan dimana siswa berada di kelas LSD yang mempersiapkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk masuk di kelas reguler bersama anak-anak lainnya. adalah singkatan dari Program kelas Bintang Indonesia. melainkan proses dimana teman-teman KBI dapat mengembangkan atau terstimulasi perkembangan mereka dari berbagai macam aspek. IEP adalah program yang dirancang untuk memfasilitasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus mengingat kemampuan mereka tidak bisa disamakan dengan usia kronologisnya.

orangtua. Adaptasi kurikulum yang dilakukan di sekolah. bagaimana pelaksanaan ujian nasional dan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan lainnya. Penutup Maraknya kepedulian sekolah untuk menerima anak berkebutuhan khusus memang harus dibarengi dengan semangat untuk memberi bantuan kepada mereka dengan cara yang tepat Banyak model yang dilakukan sekolah dalam melakukan modifikasi kurikulum untuk tiap anak dengan memperhatikan kebutuhan. 116 . keunikan dan kekuatannya. Professional Learning untuk Indonesia Emas Kategori ini dilihat dari hasil evaluasi belajar yang sudah berjalan dan juga hasil Tes IQ anak. yang tidak bisa di generalisasi. Program pengembangan yaitu kegiatan Olah tubuh : Olah raga. angklung. Seni Musik : vokal. masyarakat sangat penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang ramah untuk semua. namun ke depan diharapkan dapat menjadi awal untuk penelitian lebih lanjut seperti riset pengembangan model atau eksperimen. sebagai pembuat kebijakan. berenang. Mengingat ini adalah sebuah penelitian kualitatif. Citra rasa kuliner. biola . telah menjadi sistem yang cukup signifikan dalam mengembangkan kemampuan individu anak dengan gangguan sosial emosional di SD Semut-semut. wiraga(menari). gardening. dapat berkontribusi baik moril dan meteriil. untuk bagaimenjadikan adaptasi kurikulum sebagai sebuah model yang dapat di lakukan di Sekolah-sekolah dasar di Indonesia baik Negeri maupun Swasta. bersepeda. Pemerintah. juga mengembangkan system pendidikan yang dapat memberi jalan keluar bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus dimanapun berada. dan pro pada peningkatan pendidikan anak- anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Keterlibatan pemerintah. perkusi. Membuat kebijakan pada sistem kurikulum anak berkebutuhan khusus dalam setting inklusif. Seni Rupa: Art dan Life Skill : AKS. computer. Adaptasi kurikulum yang dilakukan di SD Semut-semut dapat menjadi salah satu model penanganan anak berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar.

2000. Baltimoe: Paul H. & Jones. Grayson. Muhajir. S. Robert C.Model Pembelajaran Yang Ramah Bagi Semua Anak Dalam Seting Inklusif. 2007. 1990. Principles of Instructional Design.Support networks for inclusive schooling: Interdependent integrated education. Inklusif. George A. New York : Holt. & Stainback. Hall. Yogyakarta: Rake Sarasin. New York: Rinehort and Winston.E. Hidayat. W. 2004 Denis & Ny. 1975 Spradley. The Exceptional child : a functional approach. Engineering Education. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 78. Lexy J. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2000. Rinehart and Windson. An Introduction to Theory and Methods..M. Inc. Metodologi Penelitian Kualitatif. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif.. Bogdan. 1988.L. London: Prentice Hall. Englewood Cliffs.AdaptingEarly Childhood Curricula For Children in Inclusive Setting. NJ: Prentice-Hall.Klein. 1992. Purwokerto: Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02 Purwokerto. Robert M. Cook. Noeng. Enrica. 1980. G. On a Methodolog for Curriculum Design. 1976. Curriculum Theory. James HAL. New Jersey:Pearson Merril Prentice. Lawrence.. R. H. & Harlen. 1990 117 . New York: McGraw-Hill. Smith dkk. Stainback. Qualitative Research for Education. Daley. 2003. Competency-based education: A process for the improvement of education. Hallahan & Kauffman... Willmette. 2006 Gagne.. Illionis: The KAAG Press. Brookes. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.. 1968. Jakarta: Visi Media. 1978. UUD1945. Exceptional Children (Introduction to Special Education). 2009 Katalog Dalam Terbitan (KDT).Tesser. Tantangan Implementasi Professional Learning Daftar Pustaka Beauchamp. Boston: Allyn and Bacond. Participant Obsevation.

Kata kunci : school refusal. menakjubkan. kesulitan beradaptasi tersebut dapat diatasi dengan cepat. Keterlibatan orang tua dan guru merupakan faktor dalam penanganan masalah school refusal. menakutkan. yang disebabkan karena kecemasan berpisah dari orang terdekat. Sekolah dasar adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. anak Pendahuluan Sekolah merupakan sarana pendidikan yang bertujuan untuk menyempurnakan perkembangan jasmani dan rohani anak. Siswa tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke SLTP dan SLTA tanpa menyelesaikan pendidikan dijenjang Sekolah Dasar. Peristiwa ini dapat menjadi suatu peristiwa yang menegangkan. pengalaman tidak menyenangkan. MENGAPA ANAK MENOLAK BERSEKOLAH? Fatkhul Arifin Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Email: ikayiep@gmail.com Abstrak: Seorang anak yang telah mencapai usia sekolah. Pertama kali anak mungkin menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan orang-orang yang ada di sekolah. Masuk sekolah pertama kali bagi anak merupakan sebuah langkah maju dalam kehidupannya. kehidupan 118 . menyenangkan atau menimbulkan rasa asing bagi anak (Sukadji. School refusal adalah masalah emosional yang dimanifestasikan dengan ketidakinginan anak untuk menghadiri sekolah dengan menunjukkan simptom fisik. 2000). karena pengalaman negatif di sekolah atau karena punya masalah dalam keluarga. Selain itu Sekolah Dasar merupakan jenjang pendidikan yang paling penting keberadaannya karena proses dimulainya seseorang dalam menempuh dunia pendidikan diawali dari jenjang sekolah dasar. tetapi jika ditangani oleh para pendidik yang baik. Saat seorang anak yang telah mencapai usia sekolah. MENGENAL SCHOOL REFUSAL. kehidupan rumah yang ia jalani digantikan dengan kehidupan sekolah.

W (Setzer. Menurut Nicole Setzer Ph. John & Ann. pengertian School Refusal adalah masalah emosional yang serius yang dihubungkan dengan akibat jangka pendek dan akibat jangka panjang yang signifikan (Fremont. mencuri atau merusak properti. Pembahasan Pengertian School Refusal School refusal atau penolakan sekolah mengacu pada gangguan emosional yang dialami anak dalam hal kehadiran di sekolah.S. yaitu: 1) Initial school refusal behaviour. 2006). 2001) ada beberapa tingkatan school refusal dari yang tingkatan yang ringan sampai yang berat. Seorang anak dikatakan mengalami school refusal jika anak tersebut tidak mau pergi ke sekolah atau mengalami distres yang berat berkaitan dengan kehadiran di sekolah. karena pengalaman negatif di sekolah atau karena punya masalah dalam keluarga. 119 . 2001). Anak- anak yang menolak sekolah biasanya tidak terlibat dalam perilaku antisosial yang berhubungan dengan pembolosan. maka akan menimbulkan beberapa tingkah laku yang tidak normal. Selain itu. Sebagian besar anak-anak kadang- kadang enggan untuk pergi ke sekolah atau memiliki beberapa kecemasan tentang kegiatan sekolah. C. Beban-beban emosional tertentu yang dirasakan anak ketika menginjakkan kaki pertama kali di lingkungan sekolah seperti rasa cemas atau takut akan berpotensi menghalangi anak untuk berangkat ke sekolah dan bila dibiarkan.D dan Amanda Salzhauer. yang salah satunya adalah school refusal. Pendapat lain mengemukakan bahwa school refusal adalah masalah emosional yang dimanifestasikan dengan ketidakinginan anak untuk menghadiri sekolah dengan menunjukkan symptom fisik. tetapi jika ditangani oleh para pendidik yang baik. kesulitan beradaptasi tersebut dapat diatasi dengan cepat (Mahfuzh. Anak yang mengalami school refusal merasa tidak nyaman karena perasaan cemas terhadap sesuatu yang berkaitan dengan sekolah sehingga mereka dapat kehilangan kemampuan untuk menguasai tugas-tugas perkembangan pada berbagai tahap pada masa perkembangan mereka (Davison. Tantangan Implementasi Professional Learning rumah yang ia jalani digantikan dengan kehidupan sekolah. Pertama kali anak mungkin menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan orang-orang yang ada di sekolah. 2003). yang disebabkan karena kecemasan berpisah dari orang terdekat. seperti berbohong.

yaitu tipe ringan (tak masuk sekolah dalam kurun waktu beberapa hari). Karakteristik Siswa yang Mengalami Masalah School Refusal Beberapa karakteristik umum siswa yang mengalami masalah School Refusal karena alasan emosional bervariasi. tipe sedang (tak masuk sekolah dalam waktu satu minggu). Umumnya anak-anak mengeluh pada saat pergi ke sekolah dan terlibat perdebatan dipagi hari sebelum berangkat sekolah.5% dan anak laki-laki 17. keluar sekolah di kemudian hari. dan tipe berat (hampir setiap hari tak sekolah dalam kurun waktu tiga minggu). Anak yang mengalami Acute school refusal behavior (sikap penolakan sekolah yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun. masalah emosional dan sosial. hal ini biasanya dilakukan anak dengan menangis. Ketika seorang anak absen yang berkepanjangan berarti bahwa anak-anak kehilangan bagian penting dari kurikulum. yang merugikan pembelajaran dan perkembangan mereka. Sedangkan menurut Arjana (2006) penolakan untk bersekolah dapat dibedakan dalam beberapa jenis. Professional Learning untuk Indonesia Emas 2) Substantial school refusal behavior. anak-anak yang ingin memasuki usia sekolah lebih banyak mengalami substantial school refusal behavior (sikap penolakan sekolah yang berlangsung selama minimal 2 minggu) yang berkisar sekitar 65% (anak perempuan 40% dan anak laki-laki 25%). dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah) berkisar sekitar 35% (anak perempuan 17. 3) Acute school refusal behavior dan 4) Chronic school refusal behavior. diantaranya meliputi: 1) Kecemasan Berpisah (Separation anxiety) Anak yang menolak sekolah karena kecemasan berpisah khawatir tentang keselamatan dan takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada siswa. Anak- anak yang bolos sekolah sebagai akibat dari penolakan mungkin juga menghadapi masalah jangka panjang. Penolakan sekolah adalah masalah serius yang memerlukan penanganan dari awal. 120 . Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa penolakan sekolah dapat memberikan kontribusi untuk masalah kesehatan mental. Pada hasil penelitian Rini (2006) di tiga sekolah dasar yang berada di Surakarta.5%). School refusal behavior adalah perilaku penolakan sekolah yang terjadi pada anak saat waktu sekolah tiba.

Secara fisik mereka merasa terancam. atau ditinggalkan oleh anak-anak lain. kesulitan tidur. pada saat mereka tidak bisa melakukan hal yang tidak mampu dilakukan. 5) Depresi (Depression). Hal ini menimbulkan anak menjadi malas ke sekolah karena takut ditunjuk oleh gurunya untuk melakukan hal yang ditugaskan tersebut. menendang. Selain itu. 4) Kecemasan umum (Generalized anxiety). Beberapa siswa memiliki keluhan fisik. Dokter dan perawat sekolah dapat 121 . kurangnya minat dalam kegiatan. Beberapa siswa memiliki kecenderungan untuk melihat lingkungan luar sebagai ancaman dan memiliki kekhawatiran umum tentang sesuatu yang buruk terjadi. merasa tidak berharga. Tantangan Implementasi Professional Learning berteriak. 3) Kecemasan sosial (Social anxiety). 2) Kecemasan kinerja (Performance anxiety). Gejala yang sangat serius dari depresi adalah bunuh diri. Beberapa siswa mungkin merasa kecemasan sosial atau khawatir tentang interaksi sosial dengan teman sebaya dan / atau guru. Mereka tidak nyaman dalam situasi sosial dan mungkin takut bersosialisasi dengan teman di sekitarnya. perasaan lelah. termasuk gejala kesedihan. tertindas. perasaan bersalah. Seorang anak yang mempunyai gejala depresi yang serius harus segera dikonsultasikan dengan pihak yang terkait. 7) Masalah kesehatan (Health-related concerns). teman sekolah akan memberikan cibiran negative. 6) Intimidasi (Bullying). Beberapa siswa takut ditindas oleh temannya. atau melarikan diri. Biasanya anak yang mengalami kecemasan ini dikarenakan karena mereka memiliki masalah ketidak mampuan anak dalam melakukan sesuatu yang ditugaskan oleh gurunya. dan mudah tersinggung. Anak yang mengalami hal tersebut ingin menghindari sekolah karena mereka merasa situasi di sekitar mereka sudah tidak nyaman. ini yang menimbulkan anak merasa minder dan tidak percaya diri. Beberapa siswa mengalami depresi dan kecemasan atau keduanya. Mungkin anak tersebut juga memiliki ketakutan tertentu terhadap bencana seperti tornado atau perang. karena dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

tidak ingin pisah dari figure attachment-nya (orang terdekat). Dalam suber lain. dan (2) adanya peristiwa-peristiwa 122 . dari tingkah laku menyendiri. Adakalanya anak tidak dapat memenuhi tuntutan yang dikenakan kepada mereka atau berkaitan dengan kegiatan belajar. b) Hadir di sekolah tapi kemudian meninggalkannya sebelum jam sekolah usai. Professional Learning untuk Indonesia Emas membantu orang tua dan staf sekolah dalam menentukan apakah seorang anak memiliki fisik yang baik atau masalah jika terkait dengan kecemasan. tidak kooperatif sampai temper tantrum (rewel dan mengamuk). Pada umumnya school refusal disebabkan oleh dua hal mendasar. tidak mau pergi ke sekolah. Disamping itu mereka sering pula mengungkapkan keluhan sehubungan dengan keadaan-keadaan di sekolah yang dirasa tidak nyaman bagi mereka dan membuat mereka menolak ke sekoIah. teman-teman yang tidak menyenangkan. tugas-tugas terlalu sukar atau terlalu mudah. c) Hadir di sekolah tapi menunjukkan tingkah laku yang tidak diharapkan. tingkah laku school refusal dapat dilihat dari satu atau kombinasi dari beberapa karakteristik (Kearney. orang tua maupun teman.. Misalnya: sakit kepala. dan lain-lain. dan sebagainya. Misalnya: guru yang galak. yaitu : a) Absen dari sekolah. Perilaku tersebut juga digolongkan sebagai School Phobia atau School Refusal. sakit tenggorokan. Standar tingkah laku tersebut dipandang sesuai dengan tuntutan guru/ sekolah. agresif. yaitu (1) pola asuh orang tua yang menimbulkan kecemasan berpisah (separation anxiety) pada anak. antara lain menghindari atau menolak pergi ke sekolah. terutama dalam hal prestasi akademik. muntah. menolak pergi ke sekolah. diare. sakit perut. Keadaan ini menimbulkan tekanan pada anak dan dapat menjadi pemicu timbulnya masalah dalam kegiatan belajar dan proses belajar anak. Anak yang mengalami School Refusal menunjukkan penolakan untuk hadir di sekolah dengan cara mengungkapkan berbagai keluhan fisik dalam upaya menyakinkan orang tua agar dirinya diijinkan tetap tinggal di rumah. dan d) Mengemukakan keluhan fisik dan keluhan lain (di luar keluhan fisik) dengan tujuan agar tidak pergi ke sekolah. anak mulai dituntut dan kadangkala menuntut dirinya agar selalu berbuat sebaik mungkin dan menyesuaikan dirinya dengan standar tingkah laku tertentu. Ketika anak memasuki dunia sekolah. 2001).

No. konsultasikan masalah kesehatan anak pada dokter. Tantangan Implementasi Professional Learning pencetus yang dapat menimbulkan kecemasan anak untuk berada di sekolah ataupun berada terpisah dari orang tua. Anak yang mengalami school refusal masih bisa terus sekolah asalkan orangtua dan guru mau bekerjasama untuk mengetahui penyebabnya dan membantu anak yang mengalami school refusal untuk dapat mengatasi masalahnya. Penanganan yang efektif sebaiknya segera dilakukan untuk mencegah permasalahan-permasalahan yang akan timbul di kemudian hari. Penyebab terjadinya school refusal bervariasi. April 2012 berjudul School Refusal Pada Anak Sekolah Dasar yang ditulis oleh Nazwa Manurung. pendekatan. (3) untuk mencari perhatian dari significant others di luar sekolah. dan mungkin juga dengan cara farmakoterapi. 11.1. bekerjasama dengan guru kelas atau asisten lain di sekolah. Penanganan Bagi Anak yang Mengalami Masalah School Refusal Berdasarkan Jurnal Psikologi Undip Vol. yaitu dengan menjalin komunikasi untuk mengetahui perkembangan anak baik di sekolah 123 . lepaskan anak secara bertahap. (2) untuk menghindar dari situasi yang mendatangkan rasa tidak nyaman baik dalam interaksi dengan sebaya atau dalam kegiatan akademik. dan (4) untuk mengejar kesenangan di luar sekolah. 2003). Dalam Fremont (2003 ) disebutkan bahwa pilihan tritmen antara lain meliputi edukasi dan konsultasi. sehingga school phobia harus ditangani sedini mungkin (Hogan. Personil yang ada di sekolah sebaiknya merupakan orang pertama yang dilibatkan dalam menangani permasalahan. Selain itu keterlibatan orang tua dan guru merupakan faktor yang membantu untuk mencapai tritmen yang efektif. yaitu menekankan pentingnya bersekolah. berusaha untuk tidak menuruti keinginan anak untuk tidak sekolah. 1996). intervensi yang melibatkan keluarga. dan konsultasi pada psikolog atau konselor jika masalah terjadi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua terhadap anak yang memiliki masalah school refusal. luangkan waktu untuk berdiskusi atau berbicara dengan anak. perilaku. penanganan pada anak-anak yang mengalami school refusal harus ditujukan untuk mengembalikan mereka ke sekolah seawal mungkin (Fremont. Setzer & Salzhauer (2006) menyebutkan empat alasan untuk menghindari sekolah yaitu: (1) untuk menghindari objek –objek atau situasi yang berhubungan dengan sekolah yang mendatangkan distress.

Penutup Masalah school refusal sering muncul ketika anak pertama kali memasuki sekolah. khususnya school refusal dapat segera diketahui dan dapat pula dengan segera diatasi bersama.1. kesulitan beradaptasi tersebut dapat diatasi dengan cepat. G. John. Manurung. Seorang anak yang telah mencapai usia sekolah. S M J. Nazwa. N. C. A. tetapi jika ditangani oleh para pendidik yang baik.(2000).P3.. Kearney.P.org/families/schoolrefusal. 11. Psikologi Anak dan Remaja Muslim. No. Professional Learning untuk Indonesia Emas maupun di rumah. (2001). C. (2001). Jakarta :Pustaka Al-Kautsar Sukadji. April 2012 berjudul School Refusal Pada Anak Sekolah Dasar yang ditulis oleh Nazwa Manurung http://www. April 2012. School Refusal pada Anak Sekolah Dasar.Psikologi abnormal (Edisi ke-9). (2006). kehidupan rumah yang ia jalani digantikan dengan kehidupan sekolah.nasponline. M.pdf 124 . No.S. sehingga masalah yang dihadapi anak. DC: American Psychological Association. Raja GrafindoPersada.) Fakultas Psikolog Universitas Indonesia. Jakarta: PT.1. Jurnal Psikologi Undip Vol.S. M. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikolog (L. Mahfuzh. K.School Refusal Behavior In Youth A Functional Approach To Assessment And Treatment Washington. Pertama kali anak mungkin menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan orang-orang yang ada di sekolah. Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. 11. Jurnal Psikologi Undip Vol. & Ann. Daftar Pustaka Davison..

3 PEMBELAJARAN INTEGRATIF BERBASIS SOFT SKILL DAN HARD SKILL .

Professional Learning untuk Indonesia Emas 126 .

soft skill. spiritual and economic for all nation dimension The keyword : inovation of cooperative learning. So. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran. kreatif. 127 . Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. dan logis. hard skill and soft skill can be developed by the innovation of cooperative learning for the vision of Indonesian Gold 2045. serta kurang mengembangkan hard skill dan soft skill dalam pembelajaran secara terpadu sebagai hasil belajar. hard skill. Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered).PEMBELAJARAN GOTONG ROYONG INOVATIF BERBASIS SOFT SKILL DAN HARD SKILL UNTUK MEWUJUDKAN INDONESIA EMAS Zaenul Slam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : zaenul_slam@yahoo. (2) hard skill and soft skill are as the result of the instructional effect and nurturant effect from innovation of cooperative learning.com Abstract: This study is based on the fact that the implementation of the teaching for all subjects is less on student centre and it has not developed hard skill and soft skill yet. The main of this study are (1) inovation of cooperative learning based on hard skill and soft skill to aim the Indonesian Gold. Indonesian Gold Pendahuluan Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan dalam berbagai seminar dan pertemuan ilmiah adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) dan kemampuan mengelola diri termasuk karakter dan orang lain (soft skill). objektif. This learning can enhance the result of students’learn and students’ social skill. belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran. the glory of moral. untuk mengembangkan potensi-potensi peserta didik memiliki kemampuan berpikir holistik (menyeluruh).

Sejalan dengan pendapat tersebut. Budaya dan mentalitas peserta didik seperti ini berkorelasi dengan low outcome learning quality. Untuk bisa berhasil dalam sistem ini. dan mentaati segala peraturan gurunya yang mengakibatkan mereka tidak memiliki keberanian mengemukakan pendapat. mau menerima seluruh informasi. Ketiga. dan rendahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan paradigma pembelajaran seperti ini. Selain menggunakan metode ‘gaya menabung’ sepertinya para guru sering pula menggunakan metode pembelajaran dengan sistem persaingan. Tujuan mengalahkan lawan dan memperoleh kemenangan untuk sendiri merusak suasana. peserta didik yang kalah dalam persaingan menderita rasa kegagalan (sence of failure) prustasi dan rendah diri. yaitu peraturan lalu lintas. Budaya dan mentalitas persaingan seperti ini juga setidaknya berkorelasi dengan sering munculnya konflik antar berbagai golongan dalam masyarakat. misalnya dalam mengerjakan soal-soal Lembar Kerja Siswa (LKS). dan mulai kehilangan niat untuk mematuhi hukum seperti mentaati peraturan yang paling sederhana. Dampak negatifnya timbul gejala- gejala superioritas padanya. Kerapuhan karakter peserta didik seperti ini tentunya berdampak pada bergesernya nilai etika dalam 128 . seorang peserta didik harus mengalahkan teman-teman sekelasnya. Nasution (2004: 147-148) mengemukakan beberapa keburukan pembelajaran dengan sistem persaingan. Sifat ini merusak pribadi anak itu sendiri. peserta didik melakukan persaingan dengan tujuan memperoleh angka atau pujian perorangan. yang menang dalam persaingan merasa dirinya terpandai dan menganggap orang lain bodoh. sebagian besar suasana pembelajaran di kelas yang digunakan para guru masih analog dengan “menabung”. yaitu: Pertama. Professional Learning untuk Indonesia Emas Seperti dinyatakan oleh Indrajati (2001: 27). Keempat. Sering peserta didik yang berhasil nilai tinggi dimusuhi karena dianggap menaikan rata- rata kelas dan menjatuhkan teman. yaitu budaya dan mentalitas masyarakat secara luas yang belum bisa mandiri. tidak mandiri apalagi untuk berpikir inovatif dan problem solving. tidak kreatif. Seperti tawuran antarpelajar dan antarmahasiswa di beberapa kota besar menjadi tradisi dan membentuk pola yang tetap sehingga diantara mereka membentuk musuh bubuyutan”. peserta didik hanya disiapkan untuk mendengarkan. persaingan dapat menimbulkan perselisihan dan pertengkaran dalam kelas yang memburukkan hubungan antara peserta didik. Lie (2007: 24) menjelaskan bahwa ”model pembelajaran persaingan menciptakan suasana permusuhan di kelas”. Mereka belajar semata-mata didorong oleh motivasi ekstrinsik dan kepentingan perseorangan saja. Kedua. Mereka merasa lebih dan orang lain lemah.

Perilaku mereka makin menonjolkan kepentingan individu. Karena itu. Apabila hal ini dibiarkan tentunya Kita akan kehilangan cita-cita bersama (in group feeling) sebagai bangsa. yaitu jujur. kerjasama. asal untuk kepentingan bersama. di samping kerjasama. Menurut Suryadi dan Budimanstah (2009: 316) tidak ada lagi ”Indonesia dream” yang mengikat bersama yang lebih menonjol adalah cita-cita individu atau golongan untuk mengalahkan golongan lain. 2008: 4-5) Merujuk dari apa yang disampaikan oleh para ahli tersebut setidaknya kita mendapatkan hal penting untuk dapat memahami dampak pembelajaran kooperatif (cooperative learning effect) dan dampak pengiringnya (nurturant effect) bahwa pembelajaran kooperatif tidak hanya memberi kontribusi terhadap peningkatan pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) akan tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan mengelola diri yang di dalamnya termasuk karakter dan orang lain (soft skill). Pembelajaran Gotong Royong Inovatif berbasis soft skill dan hard skill adalah salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk mewujudkan visi Indonesia Emas. Sekalipun banyak keburukan dari pada kebaikannya. yakni dapat menghubungkan antar kelompok. adil. Karena itu. menunjukkan banyaknya kendala learning process yang secara umum belum mendukung visi Indonesia Emas tahun 2045. disiplin. yakni cita-cita yang akan kita wujudkan bersama di mana pada tahun 2045 bangsa Indonesia sudah terlepas dari krisis moral dan seluruh komponen bangsa telah berhati emas dan mengaplikasikan tujuh nilai dasar. 2010: 215). daerah. Apa itu Pembelajaran Gotong Royong Inovatif? Bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen (Rusman. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi yang kita tuju dalam Indonesia Emas 2045 adalah kejayaan secara moral dan 129 . dan peduli. Nampaknya kita kehilangan rasa keIndonesiaan kita. Akan tetapi pembelajaran sistem persaingan ada pula beberapa kebaikan. pengembangan pembelajaran kooperatif berbasis hard skill dan soft skill diharapkan dapat menyokong terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. visioner. tanggung jawab. persaingan tetap perlu. dan golongan. sebab persaingan juga memperbesar motivasi peserta didik untuk mencapai tujuan belajar. Berbagai persoalan kurikuler seperti tersebut di atas. dan meningkatkan rasa harga diri (Slavin. penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah. Peserta didik yang bekerjasama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap satu timnya mampu membuat diri mereka belajar sama baiknya dan juga dampak positif lainnya.

Pembelajaran Gotong Royong Inovatif mengembangkan peserta didik dapat bekerjasama dan saling tolong menolong mengatasi tugas yang dihadapinya Lickona (2012: 276-278) menyatakan enam keuntungan kalau metode ini mampu dipraktikan secara baik. bukan hanya kejayaan secara ekonomi. Misalnya. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban pembangunan. Ini berarti bahwa pada tahun 2020-2035 sumber daya manusia (SDM) Indonesia usia produktif akan melimpah. (3) melalui proses belajar kooperatif. dan penyikapan terhadap sekolah. Pertama bagaimana mengelola Sumber Daya Manusia usia produktif agar menjadi bonus demografi sebagai modal pembangunan. peserta didik akan diajarkan bagaimana karakter-karakter kerjasama. (4) melalui proses belajar kooperatif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). yaitu : (1) melalui proses Pembelajaran Gotong Royong Inovatif. Tentang perlunya Pembelajaran Gotong Royong Inovatif berbasis hard skill dan soft skill untuk mendukung SDM Indonesia Emas tahun 2045 sebagai modal pembangunan perlu saya kuatkan dengan beberapa pendapat ahli dan atau hasil penelitian. Seperti dinyatakan oleh Isjoni (2007: 13) Pembelajaran Gotong Royong Inovatif dapat memotivasi peserta didik berani mengemukakan pendapatnya. dan saling memberikan pendapat (sharing ideas). peserta didik dibantu untuk saling mengenal dengan cara membangun komunikasi di dalam kelas. 2012: 8). Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. SDM yang melimpah ini apabila memiliki kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70% (Kemdikbud. Professional Learning untuk Indonesia Emas spiritual. Untuk terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 (seratus tahun kemerdekaan Republik Indonesia) tersebut kita mendapatkan beragam tantangan khususnya tantangan internal. peserta didik akan diarahkan untuk memperbaiki pencapaian akademik. (5) melalui belajar kooperatif. Selain itu. menghargai pendapat teman. peserta didik diajari keterampilan dasar kehidupan dengan tujuan mampu mendengarkan pandangan-pandangan orang lain dan berkomunikasi secara efektif. rasa percaya diri. peserta didik diberikan tawaran-tawaran 130 . (2) melalui proses belajar kooperatif.

dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. ing madia mangun karsa. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. menegakkan kelima pilar belajar. yakni tidak ada pembeda antara sikaya dan simiskin atau si pandai atau si bodoh. di depan memberikan contoh dan teladan). dan hangat. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill alternatif dalam pencatatan. mereka akan belajar bekerjasama serta memperdulikan orang lain. sosial. akrab. Keempat. sumber belajar dan teknologi yang memadai. melalui proses pembelajaran yang aktif. terbuka. dan (6) melalui belajar kooperatif. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. Pembelajaran Gotong Royong Inovatif juga sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi yang menyatakan bahwa pembelajaran perlu dilaksanakan sebagai berikut : Pertama. pembelajaran dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. Berangkat dari pemikiran-pemikiran tersebut di atas. Kedua. di tengah membangun semangat dan prakarsa. dan menyenangkan. Ketiga. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. pembelajaran dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. contoh dan teladan). efektif. dengan prinsip tut wuri handayani. yaitu ketika para peserta didik melakukannya di luar kelas pada jam-jam latihan. Keenam keuntungan pembelajaran kooperatif tidak saja di dalam kelas. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. tetapi kelihatan pengaruhnya yang sangat signifikan. pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. peserta didik akan memiliki potensi untuk mengontrol efek negatif dan persaingan. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. tergelar. maka dipandang urgen dan rasional apabila penulis tertarik untuk mengkaji masalah tentang pembelajaran kooperatif berbasis hard skill dan soft skill untuk mewujudkan Indonesia Emas? Pembelajaran Kooperatif berbasis Hard Skill dan Soft Skill Pembelajaran Gotong Royong Inovatif (PGRI) Pembelajaran Gotong Royong Inovatif (PGRI) adalah pembelajaran dengan memanfaatkan kelompok kecil dalam pengajaran yang 131 . kreatif.

2010: 76). sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam 132 . et al. Menurut Slavin (2008: 10) Pembelajaran Gotong Royong Inovatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. menumbuhkan aktivitas dan kreativitas. (b) terjaadi interaksi langsung di antara peserta didik. Oleh karena itu. Dengan pembelajaran kooperatif akan menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerjasama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu membuat diri mereka belajar sama baiknya. dalam Triyanto at al 2010). Di dalam Pembelajaran Gotong Royong Inovatif kelompok peserta didik akan memperoleh pengetahuan baru yang bermakna dengan mutu yang lebih baik. dan saling menghargai (Felder & Brent dalam Triyanto et al. 2007: 30). Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam sesuai dengan falsafah kontruktivisme. (d) guru membantu mengembangkan keterampilan- keterampilan interpersonal kelompok. yaitu suatu pandangan bahwa siswa membina sendiri pengetahuan atau konsep secara aktif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada (Isjoni. Anita Lie (dalam Slam. yaitu (a) setiap anggota memiliki peran. dan membangkitkan potensi peserta didik. Teori yang melandasi Pembelajaran Gotong Royong Inovatif adalah teori kontruktivisme. dan (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan. Professional Learning untuk Indonesia Emas memungkinkan peserta didik bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johnson. teguh pada pendiriannya tetapi tetap dalam kerangka kerjasama. Atas inspirasi tersebut penulis menyebut dengan istilah Pembelajaran Gotong Royong Inovatif. (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya. pendidikan hendaknya mampu mengkondisikan dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan. bersifat kontekstual yang relevan bila dibandingkan dengan pembelajaran individual atau independen. Sementara itu pada saat yang sama. setiap anggota kelompok dalam pembelajaran kooperatif menunjukkan sikap positif. 2009: 61) menyebut pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong. Lebih jauh Beliau mengatakan bahwa Pembelajaran Gotong Royong Inovatif hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang didalamnya peserta didik bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-6 orang saja. Slam (2009: 62) menyatakan ciri dari pembelajaran kooperatif. yaitu: sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan peserta didik lain dengan tugas-tugas terstruktur”.

2007: 20). konflik sosio-kognitif akan berlaku dan akan mewujudkan ketidakseimbangan kognitif dan seterusnya menciptakan perkembangan kognitif. Teori perlakuan menekankan peranan penting ganjaran dalam Pembelajaran Gotong Royong Inovatif. penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah. Pembelajaran Gotong Royong Inovatif digunakan untuk menanamkan unsur-unsur antara lain “saling ketergantungan positif” Misalnya. menyelesaikan masalah. dan meningkatkan rasa harga diri. Johnson & Johnson (dalam Isjoni. dan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan sarana yang sangat baik untuk mencapai hal-hal semacam itu. Memang selang beberapa waktu konflik rasialis berhasil dikurangi secara drastis dan prestasi akademik pun meningkat (Lie. Siswa-siswa ini diajar untuk bisa dibalik kuatnya rasa individualis mereka berinteraksi secara positif dengan siswa- siswa lain dengan latar belakang berbeda dalam kegiatan akademis. Alasan lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para peserta didik perlu belajar untuk berfikir. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill proses pembelajaran. Pembelajaran Gotong Royong Inovatif dikembangkan dari teori belajar kontruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky yang dikenal sebagai “Piaget Kontruktivisme Kognitif” dan “Vygotsky Kontruktivism Sosial. Teori Vygotsky pula berdasarkan kepada premis bahwa pengetahuan terbina daripada interaksi kumpulan dalam penyelesaian masalah. komunikasi. Keberhasilan orang-orang Amerika di berbagai bidang kehidupan sudah mendapat pengakuan di seluruh dunia. Ternyata orang Amerika mulai menyadari bahwa individualisme saja tidaklah cukup. interaksi sebuah kebutuhan esensial dalam kehidupan pribadi. 133 . dan dalam pergaulan internasional. Salah satunya adalah untuk meningkatkan pencapain prestasi para siswa. Karena itu. teknik jigsaw dalam metode Pembelajaran Gotong Royong Inovatif pada mulanya diperkenalkan di sekolah-sekolah di Amerika Serikat dimana ada ketegangan rasialis antara siswa keturunan Eropa. bernegara. namun patut dipertanyakan apakah artinya keberhasilan pribadi jika tidak bisa ditindak lanjuti dan diterapkan dalam masyarakat. Slavin (2008: 4-5) menyatakan ada banyak alasan yang membuat Pembelajaran Gotong Royong Inovatif memasuki jalur utama praktik pendidikan. dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka. dan juga akibat-akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok. apabila individu bekerjasama atas persekitarnya. 2007: 30) menyatakan teori Piaget berdasarkan kepada premis. kerjasama. bermasyarakat. Afrika dan Hispanik. berbangsa.

Banyak guru hanya membagi peserta didik dalam kelompok lalu memberi tugas untuk menyelesaikan sesuatu tanpa pedoman mengenai pembagian tugas. keluarga. metode Pembelajaran Gotong Royong Inovatif didesain sebagai pola pembelajaran yang dibangun oleh lima 134 . Professional Learning untuk Indonesia Emas Lie (2007:28) menegaskan bahwa: “bekerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup”. merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus bekerja sama menyelesaikan tugas tersebut. Sebenarnya. Banyak peserta didik juga tidak senang disuruh bekerjasama dengan yang lain. Selain itu. Metode Pembelajaran Gotong Royong Inovatif terstruktur tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. pembagian kerja yang kurang adil tidak perlu terjadi dalam keria kelompok jika guru benar-benar menerapkan prosedur metode PGRI. agama. Akibatnya. Dengan demikian. Tanpa bekerjasama. tidak akan ada individu. Peserta didik yang tekun merasa harus bekerja melebihi peserta didik yang lain. Kesan negatif dari Pembelajaran Gotong Royong Inovatif ini juga bisa timbul karena ada perasaan waswas dan anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. organisasi. model pembelajaran bekerjasama belum banyak diterapkan dalam pembelajaran di sekolah walaupun orang Indonesia: a) sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. b) sering munculnya komplik antar suku. Ironisnya. yaitu “saling ketergantungan positif. 2007: 18) menyatakan yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok. tanggung jawab individual. Alasan yang utama adalah kekhawatian bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan peserta didik tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam kelompok. banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai bekerjasama atau belajar dalam kelompok. ras. peserta didik merasa ditinggal sendiri dan karena mereka belum berpengalaman. Kekacauan dan kegaduhanlah yang teriadi. Peserta didik yang tekun juga merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang saja pada hasil jerih payah mereka. interaksi personal. Kebanyakan guru enggan menerapkan sistem bekerjasama di dalam kelas karena beberapa alasan. dan antargolongan. atau sekolah”. dan proses kelompok”. Johnson & Johnson (Lie. keahlian bekerjasama. Itulah unsur-unsur dasar pembelajaran bekerjasama yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal- asalan. Pelaksanaan prosedur metode PGRI terstruktur dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. sedangkan peserta didik yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam satu kelompok dengan peserta didik yang lebih pandai.

keliling kelompok. bertukar pasangan. dan menyediakan sarana untuk merayakan keberhasilan kelompok. sehingga kontribusi siswa harus adil. sebagai berikut: Pertama. komunikasi. tari bamboo. membangun kepercayaan. Misalnya.) artinya  asumsi bahwa siswa akan secara aktif mendengarkan.   saling ketergantungan secara positif   (positive interdependence).  proses kerja kelompok  (group processing). Guru bisa menuliskan di papan tulis dan menanyakan apa yang peserta didik ketahui mengenai topik tersebut. dan bercerita berpasangan. yaitu :” mencari pasangan. jigsaw. menjadi hormat dan perhatian. artinya proses kerja kelompok memberikan umpan balik kepada anggota kelompok tentang partisipasi mereka. artinya tujuan belajar bersama adalah untuk menguatkan kemampuan akademis siswa. Kelima. keterampilan interpersonal dan kelompok kecil (interpersonal  & small-group Skills. pengambilan keputusan. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata peserta didik agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. lingkaran kecil lingkaran besar. berkomunikasi secara efektif. dan dorongan di antara individu-individu sehinga mereka termotivasi untuk terus bekerja pada tugas yang dihadapi. yaitu setiap anggota tim saling membutuhkan untuk sukses. keterampilan manajemen konflik. kancing gemerincing. Menurut Lie (2007: 55-72) terdapat beragam teknik Pembelajaran Gotong Royong Inovatif. dua tinggal dua tamu. membantu untuk mempertahankan hubungan kerja yang baik antara anggota. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill elemen penting sebagai prasyarat. metode pembelajaran kooperatif. memberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran kolaboratif anggota.Untuk suksesnya Pembelajaran Gotong Royong Inovatif. berpikir berpasangan berempat.  interaksi langsung  (face-to-face interaction). Peserta didik dibagi dalam kelompok berempat atau berlima.  tanggung jawab individu dan kelompok (individual & group accountability). guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam pelajaran untuk hari itu. memberikan umpan balik yang diperlukan antar anggota untuk semua individu. Kempat. artinya memberikan kesempatan kepada peserta didik secara individual untuk saling membantu dalam memecahkan masalah. guru perlu megajarkan keterampilan sosial seperti kepemimpinan. Ketiga. Kedua. 135 . dan dapat dipercaya. keliling kelas. kepala bernomor terstruktur. perhatian. Sebelum bahan pelajaran diberikan. Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi empat bagian. dan mewujudkan rasa hormat. kepala bernomor. berkirim salam dan soal.

menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain. Seperti Slavin (dalam Rusman. Penelitian ini mengungkapkan bahwa hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. yaitu peserta didik dapat dibina “keterampilan sosial (social skills) antara lain: “kepemimpinan (leadership). Professional Learning untuk Indonesia Emas Bagian pertama bahan diberikan kepada peserta didik yang pertama. kemudian guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing peserta didik. mengelola komplik (comflict management skill). komunikasi (communication). Dengan alasan tersebut metode pembelajaran tersebut diharapkan mampu mengembangkan hard skill dan soft skill untuk mewujudkan Indonesia Emas. dalam Lie.Setelah selesai. pengambilan keputusan (decision making). Khusus untuk kegiatan membaca. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil 136 . 2011: 79) di Harvard university Amerika Serikat yang memaparkan bahwa kesuksesan hidup seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) yang diperoleh lewat pendidikan. Sedangkan peserta didik yang kedua menerima yang kedua. Dalam kegiatan ini peserta didik bisa saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lain. peserta didik disuruh membaca/ mengerjakan bagian mereka masing-masing. membangun kepercayaan diri (trust building). Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Slam (2009: 18) menyatakan bahwa metode Pembelajaran Gotong Royong Inovatif memberikan dampak pengiring (nurturant effect). Kemudian. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas (Aronson et al. tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri yang didalamnya termasuk karakter dan orang lain (soft skill). memecahkan masalah. 2010: 218) mengemukakan bahwa (1) penggunaan metode Pembelajaran Gotong Royong Inovatif dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial. Peserta didik membaca bagian tersebut. 2007: 69) Metode Pembelajaran Gotong Royong Inovatif merupakan metode mengajar yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh ahli pendidikan. peserta didik saling berbagi mengenai bagian-bagian yang dibaca/dikerjakan masing- masing. (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan peserta didik akan berfikir kritis. demikian seterusnya. mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman. Hard Skill dan Soft Skill Sebagai Hasil Belajar Istilah hard skill dan soft skill pertama kali penulis ketahui dari hasil penelitian Ibrahim (dalam Adisusilo.

2012: 86). bahwa pembelajaran perlu mengintegrasikan hard skill dan soft skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran gotong royong inovatif yang berbasis hard skill dan soft skill sangat penting untuk dikembangkan. (7) kemampuan memecahkan masalah antar pribadi. Tidak seperti hard skill yang berubah hanya sedikit setelah melewati usia remaja. Pertama. (10) keramahan. Dalam sebuah survey nasional terhadap apa yang diinginkan oleh pemberi kerja baru. yaitu: (1) empati. (8) ketekunan. Berdasar rujukan tersebut. tetapi mengungkapkan kebenaran yang selama ini dihindari. Tingkat Soft skill tidak terikat dengan factor genetis. 2012: 86). dalam Aunurrahman. keterampilan- keterampilan teknik khusus (hard skill) tidak seberapa penting dibanding soft skill untuk belajar dalam pekerjaan yang bersangkutan (Goleman dalam Aunurrahman. Beberapa bentuk kualitas soft skill yang dinilai penting bagi keberhasilan. (3) mengendalikan amarah. tidak juga hanya dapat berkembang pada masa kanak-kanak. (5) kemampuan menyesuaikan diri. (1) mendengarkan dan komunikasi 137 . (9) kesetiakawanan. pengarang buku Emotional Intelligence pada bagian buku yang diberi judul working with Emotional Intelligence mencoba menjelaskan beberapa konsep keliru yang paling lazim terjadi dan harus diluruskan. Daniel Goleman. (4) kemandirian. kecerdasan emosi bukan berarti memberikan kebebasan kepada perasaan untuk berkuasa “memanjakan perasaan-perasaan. Penulis mencoba memaknai soft skill dengan istilah kecerdasan emosional yang dilontarkan pertama kali tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovery dari Harvard University dan John Meyer dari University of New Hampshire (Shapire. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa soft skill akan mampu membuat anak-anak bersemangat tinggi dalam belajar. dan (11) sikap hormat. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill dari pada hard skill. (6) disukai. (2) mengungkapkan dan memahami perasaan. dan juga akan membantunya dua puluh tahun kemudian ketika ia telah masuk dunia kerja atau ketika sudah berkeluarga. atau untuk disukai teman-temannya di tempat-tempat bermain. Selain itu keterampilan- keterampilan lainnya adalah. soft skill lebih banyak diperoleh melalui belajar dari pengalaman sendiri sehingga kecakapan-kecakapan itu dalam hal ini dapat terus tumbuh (Goleman dalam Aunurrahman. melainkan mengelola perasaan- perasaan sedemikian rupa sehingga terekpersikan secara tepat dan efektif yang memungkinkan orang bekerja sama dengan lancer menuju sasaran bersama. Kedua. 2013: 85). mungkin sikap tegas yang barangkali memang tidak menyenangkan. kecerdasan emosi tidak hanya berarti ‘bersikap ramah’ melainkan.

berempati. Dengan demikian maka soft skill lebih merupakan hasil dari aktivitas individu dalam melatih fungsi-fungsi emosional diri sendiri atau oleh orang lain sehingga lebih merupakan hasil belajar. tanggung jawab (responsibility). sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan para guru untuk melanjutkan apa yang telah disediakan oleh alam agar anak mempunyai peluang lebih besar untuk meraih kesuksesan. dan bangga dengan prestasi yang dicapai. di antaranya terlepas dari krisis moral dan seluruh komponen bangsa telah berhati emas dan mengaplikasikan tujuh nilai dasar. dan berdo’a. potensi-potensi kepemimpinan. bahwa hard skill dan soft skill sebagai dampak pembelajaran (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dapat disokong dengan pembelajaran gotong royong inovatif untuk mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas. Pendapat keduanya memberi isyarat bahwa keterampilan soft skill bukanlah lawan dari hard skill atau keterampilan kognitif. Professional Learning untuk Indonesia Emas lisan. kepercayaan diri. kerjasama dalam kelompok. (2) adaptabilitas dan tanggapan kreatif terhadap kegagalan dan halangan. Perbedaan yang paling mendasar antara hard skill (IQ) dan soft skill (EQ) adalah soft skill tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan. memilah-milah semuanya. (3) manajemen pribadi. bukan hanya kejayaan ekonomi bagi seluruh 138 . yaitu kejujuran (honesty). 2012: 87) mendefinisikan soft skill sebagai bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.(4) kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar bebas stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir. visioner. (5) efektivitas dalam perusahaan. 2012: 89) menggambarkan beberapa ciri soft skill yang terdapat pada diri seseoarang berupa: (1) kemampuan memotivasi diri sendiri. dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Goleman (Aunurrahman. (2) ketahanan menghadapi prustasi. kerjasama (cooperation). baik pada tingkatan konseptual maupun pada maupun empiric. keterampilan merundingkan pendapat-pendapat. Idelanya seseorang dapat dapat menguasai hard skill (keterampilan kognitif) sekaligus soft skill (keterampilan sosialemosional). namun keduanya berinteraksi secara dinamis. keinginan mengembangkan karir. Jadi yang kita tuju dalam Indonesia Emas 2045 adalah kejayaan secara moral dan spiritual. adil (fairness) dan peduli (caring). (4) efektifitas kelompok dan antar pribadi. (3) kemampuan mengendalikan dorongan hati. disiplin.. Solovey dan Meyer (dalam Aunurrahman. dan tidak melebih lebihkan kesenangan. keinginan member kontribusi. memotivasi untuk bekerja meraih sasaran.

Bandung: Alfabeta Budimansyah. Slavin. Model-Model pembelajaran. Cooperative learning. Bandung: Alfabeta Lickona. Indradjati.mengelola komplik (comflict management skill). Anita. 2002. 2007. SPs. mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman. Jakarta. Sutarjo. yakni kejayaan secara moral dan spiritual dan sekaligus kejayaan ekonomi bagi seluruh komponen bangsa. Pembelajaran Nilai karakter. Bandung: Nusa Media Triyanto et al. 2008. UPI. Jakarta: PT Bumi Lie. Belajar dan Pembelajaran. Paradigma Pembangunan Pendidikan nasional. membangun kepercayaan diri (trust building). 2010. Jakarta: Logos Wacana Ilmu Slam. (3) meningkatkan “keterampilan sosial (social skills).Pengaruh Pembelajaran PKn Melalui Penerapan Cooperative Terhadap Peningkatan Kompetensi kewarganegaraan Peserta Didik (Tesis). Ace. Educating For Character. Zaenul. 2010. Daftar Pustaka Adisusilo. 2012. Cooperative learning. 2008. Menuju Masyarakat Belajar. komunikasi (communication). memecahkan masalah. Inovasi Pembelajaran Pancasila Di Perguruan Tinggi. Perwujudan visi Indonesia Emas dapat disokong melalui gerakan implementasi Pembelajaran Gotong Royong Inovatif. pengambilan keputusan (decision making). PT Gramedia Rusman. yakni kepemimpinan (leadership). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Aunurrahman. Dasim dan Suryadi. 139 . menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain (2) memenuhi kebutuhan peserta didik akan berfikir kritis. 2001. Penutup Pembelajaran Gotong Royong Inovatif dapat: (1) meningkatkan prestasi belajar peserta didik dan sekaligus meningkatkan hubungan sosial. 2007. Cooperative learning. 2011. Hard skill dan soft skill sebagai hasil belajar peserta didik dapat disokong dengan pembelajaran gotong royong inovatif untuk mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Terjemahan Wamaungo. How aour School Can teach Respect and Responsibility. 2009. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill komponen bangsa. Bandung: Mulia mandiri Press Sidi. Bandung: Widya Aksara Press Isjoni.

and developed jointly so that all potentials can be empowered and produce a higher quality learning activities from previous activities. LESSON STUDY SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU KELAS DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF (Penelitian Tindakan di MIN 2 Kota Metro Lampung) Siti Annisah STAIN Metro Lampung. personality. and personality) before and during the implementation of Lesson Study. the lesson study is a way of improving the quality of education that never ends (continuous improvement). the usual activities of the teachers studied. social. Stages of the Lesson Study includes plan. one of the activities that can be done is the Lesson Study. interest and commitment to innovate and improve the quality of education. and students. do. social. analyzed.id Abstract: The purpose of this research is to improve the competence of teachers in integrative thematic learning through Lesson Study in MIN 2 Metro Lampung. The determination of the group members was based on a desire.co. This research was initiated on the issue of readiness of teachers in implementing the thematic integrative learning. Email: sitiannisah_80@yahoo. This can be seen from the increasing competence of teachers (pedagogical. Lesson Study group consists of educators (teachers). In Lesson Study. Key Word: Lesson Study. documented. Some training has been followed. lecturers. professional. and see. there should be assistance activities implementation of thematic integrative learning. and professional. In other words. but in practice there are still many problems so few are applied in the classroom and training results only become knowledge. Teacher Competence 140 . evaluated. Therefore. From the observation and reflection can be explained that the implementation of Lesson Study can improve the competence of teachers in teaching thematic integrative curriculum in 2013. Readiness of teachers with regard to competencies required are pedagogical.

dan kompetensi profesional. Pencapaian kompetensi terpadu tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah sudah siapkah guru-guru di lapangan melaksanakan pembelajaran tematik integratif pada kelas I – VI di SD/MI? Guru (mutu guru) menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam keberhasilan pelaksanaan pembelajaran tematik integratif pada kurikulum 2013. evaluasi pembelajaran. kompetensi profesional. yaitu mempelajari semua mata pelajaran secara terpadu melalui tema-tema kehidupan yang dijumpai peserta didik sehari-hari. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill Pendahuluan Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu kemajuan suatu bangsa. Mutu guru berkaitan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang /pendidik. melaksanakan pembelajaran tematik integratif dengan mengaitkan beberapa matapelajaran dalam sebuah tema. berilmu. pengetahuan. 141 . mengevaluasi pembelajaran secara mendalam atau dengan penilaian outentik. Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang dirancang untuk mengantisipasi kebutuhan kompetensi Abad 21. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban Bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan Bangsa. cakap kreatif. dan keterampilan pada Kurikulum 2013 merupakan hasil akhir yang harus dicapai dan dimiliki oleh peserta didik secara komprehensif. adalah kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik. Karena salah satu fungsi pendidikan adalah mengembangkan pengetahuan untuk mencerdaskan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. menuntut pendekatan pembelajaran tematik terpadu atau integratif. sehat. Dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif dibutuhkan kemampuan guru yang tidak biasa. artinya guru harus benar-benar memiliki kemampuan untuk merencanakan pembelajaran tematik. sikap sosial. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. Kompetensi yang dimaksud tersebut adalah kompetensi pedagogik. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan diantaranya adalah menyempurnakan kurikulum tingkat satuan pendidikan menjadi kurikulum 2013. merumuskan tema yang dapat mengikat beberapa matapelajaran sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan. Kompetensi pedagogik. kompetensi sosial. Kompetensi sikap spiritual.

tenaga kependidikan. Guru/pendidik harus dapat menjadi teladan bagi peserta didik. dan sebagainya. adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik. dan pengetahuan siswa secara komprehensif. dan berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. berperilaku layaknya bukan seorang pendidik. Kompetensi kepribadian adalah memiliki kepribadian yang mantap. guru harus mampu membuat perencanaan pembelajaran yang jelas. psikomotor. kompetensi ini merupakan syarat mutlak dimiliki oleh pendidik. Professional Learning untuk Indonesia Emas pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif. pengetahuan guru secara luas dan mendalam mutlak diperlukan. Kompetensi profesional. stabil. merumuskan tema yang mengaitkan beberapa mata pelajaran. Untuk dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik. menyiapkan instrument evaluasi yang dapat mengukur aspek sikap. karena guru harus mampu mengaitkan beberapa matapelajaran dalam sebuah tema sehingga kompetensi terpadu yang diharapkan dapat tercapai. pertama materi pelatihan tidak berbasis pada masalah di kelas. menyiapkan media dan alat yang digunakan dalam pembelajaran. sesama pendidik. serta melaksanakan pembelajaran tematik integratif sesuai dengan yang telah direncanakan. dan belum melakukan evaluasi yang mendalam. Materi pelatihan yang sama diberikan pada semua guru tanpa mengenal daerah asal padahal kondisi suatu daerah 142 . masih banyak guru belum memiliki penguasaan materi secara mendalam pada bidang masing-masing. ada dua hal penting mengapa pendidikan dan pelatihan guru kurang efektif. arif. Dalam penerapan pembelajaran tematik integratif. Setelah dilakukan pengkajian dan analisis. Namun usaha ini kurang berdampak terhadap peningkatan mutu guru. dan masyarakat sekitar. ditambah lagi harus menguasai materi secara terpadu. dewasa. orang tua/wali. Kenyataan di lapangan. Permasalahan di lapangan menggambarkan bahwa masih banyak guru dalam melaksanakan pembelajaran tanpa membuat perencanaan dengan matang sehingga pelaksanaan pembelajarannya kurang maksimal. Pertanyaan di atas dijawab oleh pemerintah baik melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kementerian Agama dengan melakukan berbagai pelatihan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran tematik integratif. Kenyataan di lapangan menjelaskan bahwa masih banyak guru yang sering berkata kasar/ tidak pantas kepada siswa.

dan see atau merefleksi (Sumar Hendayana: 2006:10). Lesson Study (LS) yang dimaksud pada penelitian ini adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sumar Hendayana: 2006:10). namun terlebih lagi para observer (guru lain/mitra. hasil pelatihan hanya menjadi pengetahuan saja. dosen dan pihak-pihak lain) yang hadir pada saat pembelajaran. Sebagai upaya untuk menjawab semua kekurangan dari fakta- fakta di atas dibutuhkan suatu kegiatan pendampingan pelaksanaan pembelajaran tematik integratif. lesson study sesungguhnya merupakan forum belajar bersama untuk saling belajar dari pengalaman guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan kata lain lesson study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tidak pernah berakhir (continous improvement). Adapun tahapan pelaksanaan Lesson Study adalah plan atau merencanakan. Kedua. mahasiswa. do atau melaksanakan. sedikit yang diterapkan di kelas karena tidak ada monitoring setelah pelatihan. Berikut ini merupakan skema kegiatan lesson study. Dalam lesson study bukan hanya guru yang melaksanakan pembelajaran saja yang dapat memetik manfaat. Oleh karena itu.. Kegiatan pendampingan tersebut adalah lesson study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill belum tentu sama. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru kelas dalam pembelajaran tematik integratif melalui pelaksanaan Lesson Study di MIN 2 Kota Metro Lampung. Dengan mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan seorang guru. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research) dalam bentuk Lesson Study (LS). Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu variabel bebasnya adalah Lesson Study dan variabel terikatnya adalah kompetensi guru kelas. observer didorong untuk merefleksikan pembelajaran yang dilaksanakannya dan bagaimana meningkatkan kualitasnya. 143 .

Selanjutnya. akhirnya mengerucut pada kemampuan guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif pada implementasi kurikulum 2013 yang akan diberlakukan pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015 di lingkungan Kementerian Agama.Pd. M. S. Siti Fauziyah. catatan lapangan. dosen mahasiswa yaitu MS. M. dosen. Langkah kedua adalah menfokuskan lesson study. minat dan komitmen untuk melakukan inovasi dan memperbaiki kualitas pendidikan. dan kompetensi profesional (sesuai permendiknas no 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru). Pengumpulan data penelitian menggunakan lembar observasi dan wawancara. Adapun anggota kelompok LS meliputi pendidik.. Muslikah. Siti Annisah.Pd. S. Yunita Wildaniati. Langkah pertama adalah membentuk kelompok Lesson Study. 2014/2015. Adapun variabel terikat pada penelitian ini adalah kompetensi guru kelas yang meliputi kompetensi pedagogik. Siti Yulaikah. dan proses pembelajaran tematik integratif. kompetensi kepribadian. Nur Asih Puji Astuti.Pd. Mustofa. terlebih dahulu dilakukan kegiatan pra lesson yaitu membentuk kelompok lesson study dan menfokuskan lesson study. dan dokumentasi. Penentuan anggota kelompok didasarkan pada kemauan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2014 atau pada semester ganjil TP. Sebelum melakukan lesson study dengan tahapan di atas. Nasip Sukardi. Nurul Afifah. wawancara 144 .Pd. Dewi Indah Syah.I. setiap anggota kelompok Lesson Study harus memiliki komitmen untuk menyediakan waktu khusus untuk mewujudkan atau mengimplementasikan Lesson Study. Professional Learning untuk Indonesia Emas Gambar 1. Dari sekian banyak permasalahan. M.I. Lembar observasi digunakan untuk untuk mendapatkan data tentang kompetensi guru. Hal yang menjadi topik adalah kesiapan dan kemampuan guru kelas dalam menerapkan pembelajaran tematik integratif yang tentunya sangat berbeda dengan pembelajaran sebelumnya.Ag.. Dara Wahyu Kusuma Sari. kompetensi sosial. kegiatan siswa belajar.

wawancara. 145 . Mustofa. (6) pembagian tugas. Kegiatan perencanaan (plan) ini dilakukan oleh guru dan peneliti sebelum dilaksanakannya pembelajaran tematik integratif yaitu (1) menentukan waktu pelaksanaan lesson study terutama kegiatan do dan see. lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran tematik integratif. M. lembar observasi pembelajaran tematik integratif. Muslikhah. pembelajaran tematik integratif dilaksanakan sesuai dengan desain dan perencanaan yang sudah dibuat yaitu mengikuti silabus dan RPP kelas IV yang telah disiapkan. Kemudian data hasil observasi.Pd.I. CD lagu dengan judul lagu “Yamko Rambe Yamko”. Dewi Indah Syah. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill digunakan untuk untuk mendapatkan data tentang pendapat guru. Sementara yang menjadi pengamat adalah Siti Annisah. M. dan beberapa mahasiswa prodi PGMI STAIN Jurai Siwo Metro yaitu Nasip Sukardi. Hasil Penelitian Pelaksanaan lesson study dalam pembelajaran tematik integratif ini dilakukan melalui beberapa tahapan. yaitu: a. catatan lapangan digunakan untuk mencatat hal-hal penting selama proses pembelajaran berlangsung. lagu “kring-kring ada sepeda”.Ag dan bu Siti Fauziah. dan lagu “Jayalah Madrasah Ibtidaiyah”. yaitu lembar observasi kompetensi guru kelas. Nurul Afifah.Pd.Pd. M. pengeras suara. LCD proyektor. sikap guru. Siti Zulaikha. Dara Wahyu Kusuma Sari. yaitu sebagai guru model adalah guru kelas IV MIN 2 Metro yaitu bapak Ms. b. dan catatan anekdot. (5) menyusun beberapa instrument untuk mengetahui dan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tematik integratif.Pd.I dan Yunita Wildaniati. (4) menyiapkan bahan ajar yang digunakan yaitu buku guru dan buku siswa dengan tema “selalu berhemat energi” dengan sub tema “gerak dan gaya”. dan Nur Asih Puji A. Perencanaan pembelajaran (plan) Dalam kegiatan perencanaan pembelajaran (plan) menyusun perangkat pembelajaran dan menyiapkan alat-alat atau media yang digunakan dalam pembelajaran tematik integratif tepatnya pada siswa di kelas IV MIN 2 Metro. lembar wawancara. kendala-kendala yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif. S. Pelaksanaan pembelajaran (do) Pada tahap ini. (2) Skenario pembelajaran pada RPP mengikuti apa yang telah ditetapkan pada kurikulum 2013 yaitu pembelajaran tematik integratif dengan menggunakan pendekatan saintifik. S. catatan lapangan dianalisis secara kualitatif. (3) menyiapkan alat atau media pembelajaran yang akan digunakan yaitu laptop.

guru lain. serta mengkomunikasikan gagasan. yaitu diskusi antara peneliti. sedangkan anggota yang lain bertugas sebagai pengamat. kamera. Adapun hasil diskusi dan analisis yang telah dilakukan adalah sebagai berikut: Kesan-kesan yang disampaikan pendidik setelah melaksanakan pembelajaran. Professional Learning untuk Indonesia Emas Pendidik yang menjadi guru model melaksanakan tugasnya yaitu melaksanakan pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan saintifik. artinya pendidik melaksanakan semua kegiatan yang telah direncanakan seperti mengkondisikan siswa untuk melakukan kehiatan mengamati. terutama dalam kegiatan saintifiknya. guru. Kegiatan ini dilaksanakan dengan santai. dan seterusnya. c. Untuk mendokumentasikan research lesson. Selanjutnya observer menyampaikan hasil observasinya selama proses pembelajaran. dan aktvitas mental siswa 2) Pendidik harus menyiapkan sebelumnya semua media atau alat yang akan digunakan dalam pembelajaran. karya siswa. terbuka. Refleksi (see) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan do atau pelaksanaan pembelajaran tematik integratif. Guru dan observer (peneliti. dan catatan observasi naratif. guru menyampaikan kesan setelah melaksanakan pembelajaran. perilaku. dan mahasiswa yang terlibat pada kegiatan lesson study. Pada kegiatan ini membahas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pembelajaran berlangsung. para pengamat menggunakan lembar observasi. Beberapa kritik dan saran disampaikan para pengamat sebagai berikut: 1) Pembelajaran tematik integratif dilaksanakan dengan baik. 3) Performance pendidik yang selalu mengajak siswa untuk 146 . dan sharing pelaksanaan pembelajaran tematik yang telah dilaksanakan. handycam. dan mahasiswa) terlibat dalam kegiatan lesson learnt untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. 1) Pendidik merasa kesulitan dalam melaksanakan penilaian autentik terutama yang berkaitan dengan sikap. 2) Kegiatan siswa dalam pembelajaran tematik integratif sangat aktif. memberi kesempatan kepada siswa untuk berani bertanya menfasilitasi siswa dalam kegiatan menalar. Pertama.

Secara umum hasil refleksi (see) pembelajaran pembelajaran tematik integratif sebagai berikut: 1) Kegiatan Lesson Study mulai plan. psikomotorik. yaitu: 1) Masih ada siswa yang sibuk sendiri seperti menggambar sendiri di luar konteks materi. bertanggungjawab. 2) Pendidik belum maksimal dalam melayani/memfasilitasi semua siswa dalam pembelajaran. 3) Kegiatan Lesson Study ini sangat membantu mengembangkan pengetahuan dan wawasan pendidik tentang mata pelajaran serta pengetahuan tentang belajar dan perkembangan siswa. bekerja keras. Namun demikian terdapat beberapa kritik dan saran yang disampaikan. semangat dan tidak cepat putus asa. berbesar hati atas keberhasilan orang lain. 4) Pendidik sudah dapat membuat kemajuan terhadap tujuan Lesson Study secara menyeluruh 5) Semua anggota kelompok sudah merasa terlibat dan berguna Peningkatan Kompetensi Guru Berdasarkan hasil observasi dan refleksi tentang kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif dapat digambarkan melalui grafik berikut ini: 147 . namun belum maksimal. dosen. dan see yang dilakukan bersama-sama dirasakan sangat bernilai atau berguna bagi pendidik. saling membantu. 2) Dengan kegiatan ini membuat pendidik dapat menyiapkan diri dengan lebih matang dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif. dan kognitif) 4) Pendidik dapat melaksanakan pembelajaran sekaligus mengamati kegiatan seluruh siswa. sehingga akan membentuk karakter yang diinginkan. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill saling menghargai sesama teman. dan mengganggu teman. do. disiplin. 3) Pendidik hanya punya waktu terbatas dalam melakukan penilaian 3 aspek (afektif. dan mahasiswa. jujur.

maupun kompetensi kepribadian. kompetensi profesional. Antusiasme siswa dalam manjawab pertanyaan mengapa sepeda 148 . Pembahasan Pada hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan lesson study dapat meningkatkan kompetensi guru kelas dalam pembelajaran tematik integratif.08 (baik) menjadi 3. serta mendorong dan menarik kursi. baik kompetensi pedagogik. Peningkatan kompetensi pedagogik diantaranya terlihat dari kemampuan guru dalam menfokuskan perhatian siswa untuk menemukan konsep “gaya” yaitu dengan menampilkan video dan gambar orang naik sepeda.70 (baik atau mendekati sangat baik). namun demikian secara keseluruhan meningkat menjadi lebih baik pada kegitan lesson study..20 (baik) menjadi 3. dan komitmen yang tinggi dari guru dan para pengamat pada kegiatan lesson study mengakibatkan meningkatnya kompetensi terutama kompetensi guru yang bertugas melaksanakan pembelajaran tematik integratif yang menyenangkan. kompetensi sosial.30 (baik).20 (baik) menjadi 3.60 (baik atau mendekati sangat baik). kompetensi profesional meningkat dari 3. Adanya kegiatan diskusi. refleksi. sharing. kompetensi sosial meningkat dari 3.30 (baik) menjadi 3. Kompetensi Guru kelas pada pembelajaran Tematik Integratif di kelas IV Pada Grafik 1 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata kompetensi pedagogik meningkat dari 3.50 (baik atau mendekati sangat baik). Meskipun peningkatan kompetensi guru di atas masih pada kategori baik. kompetensi kepribadian meningkat dari 3. melibatkan siswa dalam melakukan percobaan sederhana yaitu membuka dan menutup pintu. Professional Learning untuk Indonesia Emas Grafik 1.

motor. yaitu perencanaan dan persiapan pembelajaran (plan). Namun demikian ada hal lain yang tidak biasa dilakukan oleh guru yaitu bekerja secara kolaboratif untuk melakukan itu semua. dan menyanyikan lagu “Kring-kring ada sepeda” dengan gerak tangan dan badan sesuai dengan tinggi rendah nada serta kemampuan guru dalam meluruskan dan menguatkan pemahaman siswa menunjukkan bahwa guru tersebut menguasai materi. Peningkatan kompetensi profesional dapat dilihat pada performan guru dalam menjelaskan materi atau tema gerak dan gaya. sepeda. mengapa kursi bisa bergeser (pada kegiatan percobaan menarik dan mendorong kursi). Dengan kata lain. Selanjutnya peningkatan kompetensi kepribadian diantaranya dapat dilihat sebagai pribadi guru yang stabil.” Peningkatan kompetensi guru di atas. Kemampuan guru menggiring siswa untuk menemukan konsep gaya. dan berwibawa. Kekuatan dari kegiatan lesson study adalah 149 . karena kita semua adalah ciptaan Allah SWT. konsep KPK. arif. serta dapat menjadi teladan bagi siswanya. Kita tidak boleh saling menghina. mengapa pintu bisa dibuka dan ditutup (ketika melakukan percobaan membuka dan menutup pintu). Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill bisa bergerak (pada kegiatan mengamati gambar dan video orang naik sepeda). juga sekalian berolah raga. kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang mendidik juga semakin meningkat. Misalnya ketika menegur siswa yang menghina temannya karena diantar ke sekeloh dengan menggunakan sepeda ontel. Tahapan-tahapan kegiatan dalam lesson study merupakan kegiatan yang biasa guru lakukan sehari-hari. dewasa. tidak bisa dilepaskan dari kegiatan lesson study. berhasil melatih siswa untuk berani menjawab dan menjelaskan apa yang telah mereka amati dan coba. dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu dan dapat mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif. Untuk siswa yang ke sekolahnya naik sepeda. dan refleksi pembelajaran (see). Guru selalu menggunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami oleh siswa baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. menunjukkan bahwa guru berhasil membuat rasa`ingin tahu siswa semakin tinggi. implementasi pembelajaran yang dilakukan dalam bentuk open lesson (do). Peningkatan kompetensi sosial diantaranya dapat dilihat dari kemampuan guru berkomunikasi dengan siswa. maupun dengan jalan kaki. dengan bahasa yang santun yaitu “kita harus bersyukur atas apa yang kita punya baik yang sekolahnya diantar pakai mobil. struktur konsep.

Meskipun keberhasilan dari kegiatan ini belum diukur berdasarkan tes hasil belajar siswa. akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. dosen. sosial. Keberhasilan pembelajaran tematik integratif di atas merupakan pencapaian hasil dari suatu proses kolaborasi banyak pihak terutama antar sesama guru. Suatu kegiatan pembelajaran yang direncanakan dan disiapkan dengan baik dan matang. Selanjutnya terdapat beberapa kendala yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif diantaranya adalah (1) kesulitan dalam melaksanakan penilaian autentik. hasil penelitian menunjukkan bahwa lesson study merupakan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan kompetensi guru. Penutup Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Lesson Study dapat meningkatkan 150 . pengetahuan. ada keterbukaan. Berdasarkan evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan. keikhlasan untuk dikoreksi dan mengoreksi. (2) guru merasa kesulitan melaksanakan pembelajaran tematik integratif sekaligus harus mengamati proses pembelajaran siswa. berdasarkan hasil observasi dan refleksi pembelajaran. profesional. ada kejujuran dan dengan komitmen yang tinggi untuk melakukan suatu perubahan yang lebih baik. dan pihak lain yang memiliki kepentingan yang sama dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang dilakukan secara berkesinambungan. dan dikembangkan sehingga semua potensi yang dimiliki dapat diberdayakan secara sinergis sehingga menghasilkan suatu kegiatan pembelajaran yang lebih berkualitas dari kegitan sebelumnya. yang meliputi penilaian sikap. kepala sekolah. baik kompetensi pedagogik. Professional Learning untuk Indonesia Emas bagaimana kegiatan yang biasa dilakukan guru itu dikaji. Hal ini juga dapat diketahui dari hasil observasi menunjukkan bahwa kompetensi guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif meningkat lebih baik ketika kegiatan Lesson Study berlangsung. perilaku. dan kepribadian dalam pelaksanaan pembelajaran tematik integratif di kelas IV MIN 2 Metro. komunikasi. kebulatan tekad. keterbukaan. mahasiswa. secara proses kualitas proses kegiatan pembelajaran lebih baik dari kegiatan-kegiatan sebelum kegiatan ini dilakukan. dievaluasi. Kemauan untuk menjadi lebih baik. dan komitmen dari semua pihak yang berkolaborasi inilah yang akan menentukan kegiatan lesson study. pelaksanaannya diobservasi dan dievaluasi serta direfleksi dengan hati yang ikhlas. (3) membutuhkan banyak media pembelajaran yang bervariasi.

dievaluasi.edu/sotl/lsp/index2. dianalisis. online: http ://www. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi revisi). Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill kompetensi guru kelas dalam pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013. dan kepribadian) sebelum dan pada saat pelaksanaan pembelajaran tematik integratif melalui kegiatan Lesson Study. Cerbin. profesional. 2001. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project. S. dan dikembangkan secara bersama-sama sehingga semua potensi yang dimiliki dapat diberdayakan secara sinergis dan menghasilkan suatu kegiatan pembelajaran yang lebih berkualitas dari kegiatan sebelumnya. dielaborasi.htm 151 . Bill. Jakarta: Bumi Aksara. sosial. Daftar Pustaka Arikunto.uwlax. Dengan kualitas proses pembelajaran yang lebih baik akan berimplikasi pada peningkatan hasil belajar siswa. Dalam Lesson Study kegiatan yang biasa dilakukan guru itu dikaji. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan kompetensi guru (pedagogik.

inclusive. learners are given the understanding that humans are social beings who need each other so as to realize harmony in life. meaning that school institutions should play a role in instilling awareness of living in a multicultural society and develop an attitude of tolerance and tolerance to realize the needs and ability to cooperate with all the differences that exist. as well as the always opinionated society as a whole will be better. 152 . through a multicultural approach given by the teacher deliver the lesson. Multiculturalism Education. the realization of serenity and tranquility in society is educational success. Lessons need to provide opportunities for students to learn how a community culture can play a role in improving the prosperity and welfare for its citizens. Education is a way to shape the personality of the students in the application of social values ​​in society will be useful for the provision of the students in the future. the practice of multicultural education in Indonesia can be flexible with emphasis on the basic principles of multicultural education. Multicultural education is very important to be applied in order to help people understand themselves from the eyes of another culture. when anyone citizens to contribute according to their ability and opportunity owned for society as a whole. Multicultural education is very important to be applied in order to minimize and prevent conflict.INTEGRASI PENDIDIKAN MULTIKUTURAL DI SEKOLAH Rohmat Nugraha Sasmita Abstract: The failure of people’s understanding of cultural diversity is educational failure and vice versa. Multicultural education can be used as an instrument of social engineering through formal education. and has a soul of equality in social life. Multicultural education can also be applied as a tool to make citizens more have a tolerant. Multicultural treated as an approach to promote education completely and thoroughly. Keyword: Integration. This in turn will eliminate social prejudice.

kegagalan pemahaman masyarakat terhadap keragaman budaya adalah kegagalan pendidikan dan sebaliknya. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill Pendahuluan Banyaknya konflik yang bernuansa SARA pada beberapa daerah di Indonesia. Juni. dalam mengatasi segala problematika masyarakat sebaiknya dimulai dari penataan secara sistematis dan metodologis dalam pendidikan. Banks “Child. Konflik yang terjadi dalam era pluralitas tidak akan bisa dimusnahkan selama masih ada perbedaan. Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melibatkan kaum elite agama serta melalui pendekatan multidimensional yang menjadi agenda pendidikan 153 . Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik. Dalam konteks pendidikan. Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna membantu individu memahami diri sendiri dari kaca mata budaya lain. James A. peserta didik diberi pemahaman bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain sehingga mampu mewujudkan keselarasan dalam hidup. Implementasi Pendidikan Multikultural Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia. 2012 hal. salah satu penyebabnya konflik tersebut adalah akibat dari lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Sedangkan Ruslan Ibrahim menyatakan bahwa masalah yang paling sering terjadi dalam kehidupan era pluralitas agama adalah maraknya konflik yang terjadi di masyarakat. school. yaitu dengan menggunakan pembelajaran berbasis multikultural. Hal tersebut pada giliranya akan menghapuskan prasangka sosial. Misalnya. community: Socialization and support” dalam Tatang M. Artinya. Vol 1. Amirin. melalui pendekatan multikultural yang diberikan oleh guru dalam menyampaiakan pelajaran. Dengan demikian. Multikultural dapat dibentuk melalui proses pembelajaran. Salah satu komponen dalam pendidikan adalah proses belajar mengajar (pembelajaran). Yaitu proses pembelajaran yang mampu mengakomodir segala perbedaan. family. bahwa semua persoalan dalam masyarakat akan dapat diperbaiki melalui proses pendidikan. 3) Terobosan baru untuk mengatasi terjadinya konflik dengan pendidikan multikultural atau topik pendidikan multikultural ini ternyata sudah dibahas oleh beberapa ahli dalam penelitiannya. No 1. terwujudnya ketenangan dan ketenteraman dalam masyarakat adalah keberhasilan pendidikan. (Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi. Pendidikan adalah suatu cara untuk membentuk kepribadian siswa dalam penerapan nilai-nilai sosial pada masyarakat yang natinya akan berguna bagi bekal siswa di masa yang akan datang.

b.dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur. ekonomi. Hal ini beralasan karena. status sosial. kesempatan pendidikan dari individu. buka sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialami. pengalaman sosial. multikulturalisme sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan atau pluralisme budaya dari masyarakat. seksualitas. multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah pusat yang dirancang sedemikian rupa agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian kebudayaan dari semua kelompok etnik atau suku bangsa. Professional Learning untuk Indonesia Emas multikultural sebagai jalan alternative untuk mengurangi pememicu konflik. Pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif untuk mengubah pendidikan secara holistik dengan mengkritik dan memusatkan perhatian kepada kelemahan. Kondisi ini diasumsikan dapat membentuk sikap toleransi. dan merefleksikan pentingnya budaya. Pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografi dan kultural lingkungan masyarakat tertentu bahkan dunia secara keseluruhan (global). gender. ras. agama. identitas pribadi. Hilda Hernandez pendidikan multikultural sebagai prespektif yang mengakui realitas politik. etnisitas. Paulo Freire. Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian mutikulturalisme: 1. dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan. bagaimanapun juga. pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah tuhan atau sunatullah). sosial. James Banks (1993:3) pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya. pendidikan bukan merupakan “menara gading“ yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. kegagalan dan praktek deskriminatif di dalam pendidikan. Pendidikan menurutnya harus mamapu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan. Multikulturalisme adalah konsep yang menjelaskan dua perbedaan dengan makna yang saling berkaitan. Pengertian Pendidikan Multikultural Bank (2002): suatu rangkaian kepercayaan (set of beliefs) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup. semua kelompok etnik atau suku 154 . kelompok maupun negara. a.

Akibatnya. Artinya. agama. Multikulturalisme sebagai ideologi dapat dikatakan sebagai gagasan bertukar pengetahuan dan keyakinan yang dilakukan melalui pertukaran kebudayaan atau perilaku budaya setiap hari. dan pola-pola pembelajarannya.  asumsi. daripada kita hidup dalam “tempurung” kebudayaan sendiri. 4. 2. termasuk kesetaraan bahasa. 1990). lingkungan sekolah. sekurang-kurangnya dari sekolah sebagai lembaga pendidikan. justifikasi. keseimbangan. Multikulturalisme merupakan konsep sosial yang diintroduksi ke dalam pemerintahan agar pemerintah dapat menjadikannya sebagai kebijakan pemerintah. Pendidikan multikultural (multicultural education). 3. karena hanya pemerintah yang dianggap sangat representatif ditempatkan di atas kepentingan maupun praktik budaya dari semua kelompok etnik dari suatu bangsa. perbedaan budaya. dapat terbentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan. maka sebaiknya kita mempelajari kebudayaan orang lain. kita semua diajak untuk menerima standar umum kebudayaan yang dapat membimbing kehidupan kita dalam sebuah masyarakat yang majemuk (Sleeter. multikulturalisme merupakan strategi pendidikan yang memanfaatka keragaman latar belakang kebudayaan dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. dan tindakan) dan berhubungan baik nilai-nilai intrinsik (ends) maupun nilai instrumental (means) Pendidikan Multikultural. Tujuan Pendidikan Multikultural dapat mencakup tiga aspek belajar  (kognitif. Melalui ideologi multikulturalisme itulah. prinsip kesetaraan antara pelbagai kelompok etnik. siswa. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill dan bangsa telah memberi kontribusi bagi pembentukan dan pembangunan suatu bangsa. dan demokrasi dalam artian luas. Ini sama dengan kita belajar tentang multikultural.  Ada banyak variasi tujuan khusus dan   tujuan umum Pendidikan Multikultural yang digunakan oleh sekolah sesuai dengan faktor kontekstual seperti visi dan misi belakang sekolah. toleransi. setiap kebijakan pemerintah diharapkan mampu mendorong lahirnya sikap apresiatif. 155 . Strategi ini sangat bermanfaat. afektif. maupun praktik budaya lainnya. Rasionalisasi masuknya multikulturalisme dalam perumusan kebijakan pemerintahan. dan perspektif. Tujuan Pendidikan Multikultural Hasil yang diharapkan Pendidikan Multikultural terlihat pada definisi.

dan kebanggaan pada identitas pribadinya. Kemampuan Ketrampilan Dasar Tujuan utama pendidikan multikultural adalah untuk memfasilitasi  pembelajaran untuk melatih kemampuan keterampilan dasar dari siswa yang berbeda secara etnis. Maksudnya adalah mengajari generasi muda untuk menghargai dan menerima pluralisme etnis. dan untuk  mengakui bahwa keragaman merupakan bagian integral dari kondisi manusia. bahasa. pengambilan perspektif. peristiwa kritis. sumbangan. menyadarkan bahwa perbedaan budaya tidak sama dengan kekurangan atau rendah diri. kebebasan. dan perilaku. persamaan. Pengembangan Literasi Etnis dan Budaya Pendidikan Multikultural adalah mempelajari tentang latar belakang sejarah. karakteristik budaya.  dan demokrasi. sikap. Penekanan bidang ini merupakan bagian dari tujuan Pendidikan Multikultural yang berkontribusi pada perkembangan pribadi siswa. akademis. individu yang berpengaruh. dan kondisi sosial. keadilan. analisis kontekstual. dan ekonomi dari berbagai kelompok 2. Professional Learning untuk Indonesia Emas Tujuan Pendidikan Multikultural mencakup: 1. dan menganalisa bagaimana kondisi budaya mempengaruhi nilai. Untuk mencapai tujuan ini anak dapat diberi pengalaman belajar dengan memberi berbagai kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan kompetensi budaya dan berinteraksi dengan orang. pengalaman. hubungan antar pribadi. Perkembangan Pribadi Dasar psikologis Pendidikan Multikultural menekankan pada pengembangan pemahaman diri yang lebih besar. 4. Kompetensi Multikultural Pendidikan multikultural dapat meredakan ketegangan ini dengan mengajarkan ketrampilan dalam komunikasi lintas budaya. konsep diri yang positif. yang berisi pemahaman yang lebih baik tentang diri yang pada akhirnya berkontribusi terhadapat keseluruhan prestasi intelektual. dan sosial siswa. Pendidikan multikultural dapat membantu siswa mempelajari bagaimana memahami perbedaan budaya  tanpa membuat pertimbangan nilai yang semena-mena tentang nilai intrinsiknya. 156 . harapan. dan situasi yang berbeda. 3. pemahaman sudut pandang dan kerangka berpikir alternatif. Klarifikasi Nilai dan Sikap Pendidikan Multikultural mengangkat nilai-nilai inti yang berasal dari prinsip martabat manusia (human dignity). politik. 5.

pendidik harus memahami secara keseluruhan bagaimana budaya membentuk gaya belajar. Mahasiswa diajak berpikir  secara internasional dengan mengajak mereka untuk tetap peduli dengan situasi yang  ada di 157 . kebiasaan dan ketrampilan siswa sehingga mereka menjadi agen perubahan sosial (social change agents) yang memiliki komitmen yang tinggi dengan reformasi masyarakat untuk memberantas perbedaan (disparities) etnis dan rasial dalam  kesempatan dan kemauan untuk bertindak berdasarkan komitmen ini. ketrampilan tindakan sosial. dan pemecahan konflik dengan memberi  materi dan teknik yang lebih bermakna untuk kehidupan dan kerangka berpikir dari siswa yang berbeda secara etnis. Tujuan ini akan melengkapi penanaman sikap. Untuk melakukan  itu. dan ketrampilan proses  intelektual seperti pemecahan masalah. Dengan mengetahui kekayaan budaya bangsa itu akan tumbuh rasa kebangsaan yang kuat. prasangka. mereka perlu memperbaiki pengetahuan mereka tentang isu etnis  di samping mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan. Hal ini berarti individu dituntut memiliki wawasan sebagai warga dunia (world citizen). namun lebih luas  dan lebih filosofis. kemampuan kepemimpinan. dan komitmen moral atas harkat dan  persamaan. Untuk itu Pendidikan  multikultural perlu menambahkan materi. menulis dan ketrampilan matematika. program dan pembelajaran yang memperkuat rasa kebangsaan dan  kenegaraan dengan menghilangkan etnosentrisme. Rasa kebangsaan itu akan tumbuh dan berkembang dalam wadah negara Indonesia yang kokoh.  berpikir kritis. harus diajak berpikir tentang apa yang ada di sekitar lokalnya. 6. 8. Untuk menentukan sumbangan komparatif terhadap kesempatan belajar. Persamaan dan Keunggulan Pendidikan Tujuan persamaan multikultural berkaitan erat dengan tujuan penguasaan  ketrampilan dasar. 9. nilai. 7. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill Pendidikan multikultural  dapat memperbaiki penguasaan membaca. materi pelajaran. dan keputusan pendidikan. diskriminasi dan stereotip. Memiliki wawasan hidup yang lintas budaya dan lintas bangsa sebagai warga dunia. Namun siswa harus tetap  dikenalkan dengan  budaya lokal. Memperkuat Pribadi untuk Reformasi Sosial Tujuan terakhir dari pendidikan multikultural adalah memulai proses perubahan di sekolah yang pada akhirnya  akan meluas ke masyarakat. perilaku mengajar. Memiliki wawasan kebangsaan / kenegaraan yang kokoh.

3. Kemudian diwujudkan dalam tata tutur dan tata prilakunya di lingkungan sekolah dan berlanjut hingga masyarakat. Jalan diatas dapat dirinci menjadi 3 (tiga) butir perubahan yaitu: 1. Zamroni (2011) menawarkan paradigma pendidikan multikultural adalah sebagai berikut : a. 2001) mengajukan sejumlah fungsi yang menunjukkan pentingnya keberadaan dari Pendidikan Multikultural. Mengenal keberagaman dalam penggunaan bahasa. Membantu mengembangkan pembuatan keputusan (decision making). Selain itu pendidikan multikultural memberikan tekanan bahwa sekolah pada dasarnya berfungsi mendasari perubahan masyarakat dan meniadakan penindasan dan ketidakadilan. seiring dengan terjadinya perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah. 4. dengan menjunjung tinggi nilai kemanusian. Professional Learning untuk Indonesia Emas sekitarnya – act locally and think globally. Perubahan masyarakat Perubahan diri dimaknai sebagai perubahan yang dimulai dari diri siswa sendiri yang lebih menghargai orang lain agar bisa hidup damai dengan sekelilingnya. dengan menghargai persamaan akan tumbuh sikap toleran terhadap kelompok lain dan pada gilirannya dapat hidup berdampingan secara damai. Perubahan diri 2. Fungsi Pendidikan Multikultural Menurut The National Council for Social Studies (Gorski. Hidup berdampingan secara damai. partisipasi sosial dan ketrampilan kewarganegaraan (citizenship skills). 10. Karena sekolah merupakan agen perubahan maka diharapkan ada perubahan yang dapat terjadi di masyarakat. Dengan melihat perbedaan sebagai sebuah  keniscayaan. Ketiga perubahan tersebut sangat berkaitan agar siswa nantinya dapat tumbuh menjadi manusia yang mampu menghadapi berbagai pluralisme budaya. Pendidikan multikultural adalah jantung untuk menciptakan 158 . Membantu memahami pengalaman kelompok etnis dan budaya ditinjau dari sejarahnya. Memberi konsep diri yang jelas. Membantu memahami bahwa konflik antara ideal dan realitas itu memang ada pada setiap masyarakat. Fungsi tersebut adalah : 1. 2. Perubahan sekolah dan persekolahan 3. 5.

pedagogi. Oleh karenanya praktek pendidikan multikultural di Indonesia dapat dilaksanakan secara fleksibel dengan mengutamakan prinsip- prinsip dasar multikultural. Pendidikan Multikultural juga disarankan oleh Gay (2002) harus memiliki prinsip fleksibilitas sebagaimana dikutip Zamroni (2011 : 150). Pendidikan multikultural juga dapat diberlakukan sebagai alat bantu 159 . Pendidikan multikultural bertujuan untuk berbuat sesuatu. dikatakan bahwa amat keliru kalau melaksanakan pendidikan multikultural harus dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah atau monolitik. b. Menghubungkan kurikulum dengan karakter guru. walaupun ditinjau dari keragaman budaya memang banyak kemiripan. daerah. yaitu membangun jembatan antara kurikulum dan karakter guru. mestinya tidak dapat lepas dari tujuan umum pendidikan multikultural. perorangan maupun kelompok. Pendidikan multikultural bukan sekedar perubahan kurikulum atau perubahan metode pembelajaran. Di Indonesia Praktek pendidikan multikultural memang masih sebatas wacana nampaknya tidak dapat dilaksanakan seratus persen ideal seperti di Amerika Serikat. yaitu : a. d. dan kultur sekolah guna membangun visi sekolah yang menjunjung kesetaraan. Pendidikan multikultural mentransformasi kesadaran yang memberikan arah kemana transformasi praktik pendidikan harus menuju. iklim kelas. Pendidikan multikultural diperlakukan sebagai pendekatan untuk memajukan pendidikan secara utuh dan menyeluruh. Pengalaman menunjukan bahwa upaya mempersempit kesenjangan pendidikan salah arah yang justru menciptakan ketimpangan semakin membesar. e. Hal itu disebabkan oleh perjalanan panjang histori penyelenggaraan pendidikan yang banyak dilatarbelakangi oleh primordialisme. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill kesetaraan pendidikan bagi seluruh warga masyarakat. budaya sekolah dan konteks lingkungan sekolah guna membangun suatu visi “lingkungan sekolah yang setara” (Akhmad Hidayatullah Al Arifin:2012). Mengembangkan pemahaman yang mendasar tentang proses menciptakan sistem dan menyediakan pelayan pendidikan yang setara. iklim kelas. Apapun dan bagaimanapun bentuk dan model pendidikan multikultural. b. pedagogi. Misalnya pendirian lembaga pendidikan berdasar latar belakang agama. c.

b. kebutuhan vokasi dan karier. Pada level masyarakat. termasuk kebutuhan personal dan sosial. setiap siswa memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda- beda. apa yang ada di masyarakat harus ada pula di sekolah. kebutuhan akademik. maka proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan individu secara utuh yang mencakup intelektual. kebutuhan psikologis. Professional Learning untuk Indonesia Emas untuk menjadikan warga masyarakat lebih memiliki toleran. sosial. dan moral spiritual. c. dan d. c. serta senantiasa berpendirian suatu masyarakat secara keseluruhan akan lebih baik. Sekolah harus dipandang sebagai suatu masyarakat. kebutuhan kebersamaan. Tekanan dan dorongan siswa 160 . yang perlu dipenuhi kebutuhannya adalah mencakup : a. masyarakat kecil. artinya institusi sekolah harus berperan dalam menanamkan kesadaran hidup dalam masyarakat multikultural dan mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi untuk mewujudkan kebutuhan serta kemampuan bekerjasama dengan segala perbedaan yang ada (Zamroni : 2011). maka sekolah harus memperhatikan : a. Perspektif sekolah sebagai suatu masyarakat kecil ini memiliki implikasi bahwa siswa dipandang sebagai suatu individu yang memiliki karakteristik yang terwujud dalam bakat dan minat serta aspirasi yang menjadi hak siswa. Pembelajaran perlu memberi kesempatan bagi siswa untuk mempelajari bagaiman suatu kultur masyarakat bisa berperan dalam upaya peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya. bersifat inklusif. dengan adanya berbagai perbedaan yang dimiliki masing-masing individu. memiliki suasana kekerabatan dan juga terdapat semangat saling dukung mendukung. Berkaitan dengan itu. Pendidikan multikultural dapat dijadikan instrument rekayasa sosial lewat pendidikan formal. Sekolah harus dapat dijadikan tempat yang aman. manakala siapa saja warga masyarakat memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki bagi masyarakat sebagai keutuhan. dan memiliki jiwa kesetaraan dalam hidup bermasyarakat. artinya. b. Pada level sekolah. kebutuhan rasa aman. kebutuhan psikologi dan perkembangan moral spiritual. Pendidikan harus dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

sikap dan perilaku yang memungkinkan seseorang memahami dan berinteraksi secara efisien dengan orang yang memiliki perbedaan kultur. critical thingking. Kompetensi kultural merupakan hasil dari kesadaran atas pengetahuan dan “bias kultural” yang dimilikinya atau sebagai faktor yang mempengaruhi perbedaan kultur 3. kemampuan mengembangkan sesuatu. Yakni. daya kritis. Pendidikan multikultural juga sangat relevan dengan pendidikan demokrasi di masyarakat plural seperti Indonesia. menghormati dan membangun kerjasamadengan siapapun juga yang memiliki perbedaan-perbedaan dari dirinya. kompetensi kultural mencakup berbagai hal sebagi berikut : 1. pendidikan multikultural memiliki tiga sasaran yang dikembangkan pada diri setiap siswa diantaranya a. ketrampilan. Secara detail. c. Kompetensi invidu untuk menerima. pengembangan identitas kultural Yakni. Proses pengembangan komptensi kultural memerlukan pengembangan pengetahuan. kompetensi untuk melakukan hubungan dengan kelompok etnis lain. Kompetensi ini mencakup pengetahuan. suatu kemampuan untuk mengembangkan secara terus menerus apa yang dimiliki berkaitan dengan kehidupan multikultural. membentuk kompetensi kultural. Berkaitan dengan kompetensi kultural dan bagaimana kompetensi tersebut dibentuk. serta menjauhi sifat syakwasangka dan stereotip. dengan senatiasa mendasarkan pada persamaan dan kesetaraan. Dari perspektif hasil pembelajaran. yang menekankan 161 . pemahaman dan kesadaran akan kelompok etnis dan menimbulkan kebanggaan serta percaya diri sebagai warga kelompok etnis tertentu. Yakni. Keempat faktor tersebut tidak statis melainkan dinamis terus bergerak. Papadopoulos & Lee (2003) mengajukan model pengembangan kompetensi kultural sebagai berikut : Kompetensi kultural dibentuk oleh berbagai faktor: penguasaan pengetahuan. memberdayakan diri sendiri. dan kemampuan praktis. bahkan lebih dari itu harus ditekankan pada penggunaan instrinsik motivation. 2. b. merupakan kompetensi yang dimiliki siswa untuk mengidentifikasi dirinya dengan suatu etnis tertentu. hubungan interpersonal. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill untuk bekerja keras tidak hanya bersifat ekstrinsik.

kesetaraan dan masyarakat yang demoktratis. dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa : 1. Professional Learning untuk Indonesia Emas pada pemahaman akan multi etnis. Pendidikan multikultural juga sangat relevan dengan pendidikan demokrasi di masyarakat plural seperti Indonesia. Pendidikan multikultural juga dapat dijadikan instrumen strategis untuk mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya. Nomor 1. 162 . Banks. Oleh karenanya praktek pendidikan multikultural di Indonesia dapat dilaksanakan secara fleksibel dengan mengutamakan prinsip-prinsip dasar multikultural. Teaching strategies forethnic studies. Akhmad (2012) Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Praksis Pendidikan Di Indonesia. kesetaraan dan masyarakat yang demoktratis. Pendidikan multikultural merupakan wujud kesadaran tentang keanekaragaman kultural. Dalam menghadapi pluralisme budaya. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan INSANIA Vol. 2. Juni. James A. Iis (2007) Urgensi Implementasin Pendidikan Multikultural di Sekolah. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi. Volume 1. Pendidikan multikultural di Indonesia masih menjadi wacana baru yang perlu direspon untuk menjaga keutuhan bangsa yang kaya akan multikultur. multi ras. Boston: Allyn and Bacon Inc. 3. 2|P3M STAIN Purwokerto. 1993. multi ras. 12|No. dan multikultur yang memerlukan konstruksi baru atas keadilan. dan multikultur yang memerlukan konstruksi baru atas keadilan. yang menekankan pada pemahaman akan multi etnis. 2012 Arifudin. Penutup Dari paparan di atas. hak-hak asasi manusia serta pengurangan atau penghapusan jenis prasangka atau prejudice untuk suatu kehidupan masyarakat yang adil dan maju. yaitu perlunya dilaksanakan pendidikan multicultural. diperlukan paradigma baru yang lebih toleran dan elegan untuk mencegah dan memecahkan masalah benturan-benturan budaya tersebut. Daftar Pustaka Hidayatullah Al Arifin. 5. 4.

com/2014/04/konsep- pendidikan-multikulturalisme. Yogyakarta: Gavin Kalam Utama 163 . (2011). An introduction to Multicultural Education. 2002. wordpress.com/13-3-2015 Konsep Pendidikan Multikulturalisme (2014) diunduh dari http:// manusiapinggiran. Firda (2013) Pendidikan Multikultural diunduh dari https://fhierda.html / 13-3-2015 Tatang M.blogspot. Nomor 1.com/2013/03/11/pendidikan-multikultural/ 13- 3-2015 Irfani Reza (2012) Pendidikan Multikultural diunduh dari http:// pendidikanmultikulturalindonesia. 2012 Zamroni. Amirin (2012) Implementasi Pendekatan Pendidikan Multikultural Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal Di Indonesia Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Volume 1. Boston- London: Allyn and Bacon Press.blogspot. Juni. James A. Pembelajaran Integratif Berbasis Soft Skill dan Hard Skill Banks. Pendidikan Demokrasi pada Masyarakat Multikultural.

Professional Learning untuk Indonesia Emas 164 .

4 PERKEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN DARI MASA KE MASA .

Professional Learning untuk Indonesia Emas 166 .

dan makmur yang ditandai dengan pendapatan perkapita sekitar 15.000. bahwa yang dimaksud dengan negara maju adalah negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya positif dan tingkat inflasinya menurun. Sebagai negara maju. yang hanya menekankan aspek ekonomi. bahwa pada tahun 2015 Indonesia telah menjadi negara mandiri. 562. Kemerdekaan Indonesia akan berusia 100 tahun..000. maju.-/per-bulan.000. dicangankan. maka kemajuan. pada tahun emas itu. Dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menteri Kordinator Perekonomian. dan berbeda dengan kemajuan. dengan beberapa alasan.-/per-bulan. Yaitu suatu masyarakat yang makin berbudaya dan beradap yang didasarkan pada nilai-nilai agama. adanya pencanangan Indonesia emas ini akan menjadi pemicu lahirnya 167 .000. dalam dokumen MP3EI disebutkan. akan memiliki jati diri dan karakter yang Indonesia. bangsa Indonesia diharapkan menjadi bangsa yang sudah maju.000. maka Indonesia sebagai negara makmur dan modern akan dapat dicapai. adil. Adanya keinginan mewujudkan Indonesia emas di tahun 2045 itu patut disambut dengan baik. atau sekitar Rp. Namun demikian. kemakmuran dan kemodernan yang dicapai bangsa Indonesia ini. falsafat. Lebih lanjut pada tahun 2045. Indonesia bukan hanya menjadi negara yang maju. Dengan pendapatan in com per- kapita yang demikian itu. makmur. 180. Ketika telah genap mencapai usia 100 tahun itu. nilai-nilai luhur.co. jati diri dan budaya Indonesia. Indonesia diproyeksikan menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi di dunia dengan pendapat perkapita sekitar 47.id Pendahuluan Pada tahun 2045.000 dollar AS atau setara dengan Rp. Indonesia diharapkan sudah menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia.1. kemakmuran dan kemodern sebagaimana yang dicapai Barat.(satu juta enam ratus ribu rupiah) perhari. MODEL PEMBELAJARAN YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENUJU INDOSIA EMAS TAHUN 2045 Abuddin Nata Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : abu_nata@yahoo. Pada saat itu.000 dollar atau sekitar Rp. Inilah yang selanjutnya dikenal sebagai tahun generasi emas. makmur dan modern secara ekonomi. atau sekitar 47.600. modern dan madani. namun juga menjadi masyarakat madani. (Seratus delapan puluh juta rupiah) per-tahun atau sekitar 15.(Lima ratus enam puluh dua juta) per- tahun. Dengan ciri madani ini.000.. Pertama.

Pendidikan selama ini diposisikan sebagai sarana yang paling strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia agar siap dalam mewujudkan Indonesia emas yang akan datang. Di antara komponen pendidikan yang paling berpengaruh dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang demikian itu adalah proses pembelajaran (learning process). keamanan. serta faktor-faktor yang diperkirakan dapat mendukung perwujudan Indonesia emas. Pada saat itu. pendidikan. minuman. Hampir seluruh kerajaan Islam tunduk. Kendala Yang Menghambat Indonesia Emas 2045 Di antara kendala yang dapat menghambat Indonesia emas tahun 2045 adalah hal-hal sebagai berikut. adanya Indonesia emas mengingatkan kita agar menjadi bangsa yang besar sebagaimana yang pernah dicapai generasi terdahulu. dan 60% di antaranya adalah berada dalam usia muda. Seberapa besar pun usaha di bidang makanan. tempat tinggal. tidak dapat berkembang. Pertanyaannya adalah model pembelajaran yang bagaimanakah yang dapat menyiapkan manusia memasuki era keemasan tersebut? Makalah ini akan menjawab masalah tersebut dengan terlebih dahulu mengemukakan beberapa kendala yang perlu dipecahkan dalam mewujudkan Indonesia emas. Sejarah mencatat. pekerjaan. Professional Learning untuk Indonesia Emas motivasi dan komitmen yang kuat dari generasi sekarang untuk benar-benar berusaha mewujudkannya. Mereka hanya sebatas menjadi buruh. yaitu Candi Borobudur. Selanjutnya pada milenium kedua. Hal ini disebabkan. Demikian pula masuknya Jepang yang menjajah negara Indonesia dengan kekerasan dan tidak mengenal belas kasihan. Mereka menjadi tuan di tanah Nusantara. kesehatan. Seluruh rakyat Indonesia dipaksa harus patuh dan tunduk pada keinginan penjajah. agar segala aktivitas yang dilakukan terarah pada cita-cita yang luhur itu. pakaian. Jumlah penduduk yang demikian besar ini jika tidak diberikan pendidikan yang unggul akan menjadi beban negara. Mereka membutuhkan makanan. dan sebagainya. Ketiga. bangsa kita berhasil membangun sebuah Candi yang sekarang menjadi Candi terbesar dan terindah di dunia. Pada milinium pertama. adanya pencanangan Indonesia emas ini akan menjadi fokus perhatian. Pada tahun 2045 yang akan datang penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai sekitar 400 juta jiwa manusia. rakyat Indonesia di bawah naungan Kerajaan Majapahit berhasil menguasai dan menjadi pelaku penting dalam percaturan dunia. ledakan penduduk yang tidak terkendali. karena dunia pendidikanlah yang secara langsung berhadapan dengan tugas mempersiapkan manusia yang demikian itu. hiburan. bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami dua milenium. Kedua. Pertama. bangsa Indonesia menjadi terbelakang. minuman 168 . dan tidak dapat melawan. sampai akhirnya Belanda datang menjajah dan menguasai bangsa ini sampai 350 tahun lamanya.

perikanan. masih terdapat sejumlah kendala yang menyebabkan 169 . Ketika ingin memperoleh berbagai kebutuhan tersebut. bahwa selama ini kebutuhan pokok rakyat Indonesia. pengembangan ekonomi yang setara. Kebijakan ekonomi makro yang bergantung pada impor untuk jangka pendek nampak seperti mensejahterakan dan memakmurkan rakyat. melainkan para konglomerat. kawasan ekonomi yang kompetitif. pasar tunggal dan basis produksi. mempermudah ijin usaha. Diketahui. Dan jika hal ini terus berlanjut akan sulit mewujudkan Indonesia yang maju. Kelima. pengusaha dan konglomerat. Rakyat Indonesia tetap tidak berdaya. Namun untuk jangka panjang menyebabkan rakyat semakin tidak berdaya. jagung. buah-buahan bahkan hingga garam masih mengandalkan impor dari negara lain. masyarakat ekonomi ASEAN 2015. Saat sekarang saja sudah sangat nampak betap sulitnya masyarakat untuk mendapatkan berbagai kebutuhannya itu. 2015) dan lain sebagainya. Oleh karena itu sungguhpun pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai di atas 4% namun yang dintungkan bukan rakyat kecil. Akibat dari keadaan demikian. akan tetap saja tidak akan mewujudkan kemakmuran. seperti beras. memberikan kemudahan dalam menjadikan masing-masing negara sebagai pasar untuk menjual produk barang dan jasa dari masing-masing negara. peteranakan dan lainnya akan tetap tidak mampu bersaing menghadapi barang-barang produk impor yang lebih murah. mempermudah kesempatan tenaga kerja untuk bekerja di masing- masing negara. susu. Ketiga. Sebagaimana diketahui. maka rupiah harus ditukar dengan dollar. Adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini jika tidak dihadapi dengan serius dan sungguh-sungguh akan merupakan ancaman yang berbahaya bagi kelangsungan ekonomi Indonesia. berada dalam kemiskinan. Indonesia harus membelinya dengan menggunakan dollar. Caranya antara lain dengan menyusun tarip bersama. Kebijakan ekonomi makro harus diubah dengan kebijakan ekonomi mikro yang dapat menggarakan sektir reel pengusaha kecil. daging. lebih mengejar tujuan jangka pendek daripada jangka panjang.(Arif Perbawa. cepat. dan dalam keadaan demikian nilai tukar rupiah akan semakin terpuruk. Sektor usaha industri kecil. memperoleh kemudahan dalam menggunakan jasa perbank-an. kacang kedelai. Kedua. Keempat. makmur dan sejahtera. bahwa Indonesia sudah ikut menanda tangani kesepakatan terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN Tahun 2015 yang pada intinya adalah sebuah kesepakatan di antara negara-negara di kawasan ASEAN untuk saling mempersilakan. Kebijakan impor ini terjadi karena kebijakan ekonomi yang berorientasi makro yang menguntungkan kaum importir. kebutuhan pokok yang mengandalkan impor. dan integrasi ke dalam ekonomi global. jika jumlah penduduk tidak dikendalikan. dan praktis. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dan lainnya dilakukan. pertanian.

karena Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak memungkinkan Indonesia melarang impor. Ketiga. pajak yang tinggi. sedikitnya karya ilmiah yang dapat dipublikasi pada jurnal ilmiah internasional terakreditasi. tenaga kerja yang kurang terlatih. Namun. Thailand. dan sebagainya. dan bukan hanya pencari kerja. Philipina. pelabuhan udara. yaitu berusaha memperjuangkan nasib bangsa sendiri. selama lulusan pendidikannya tidak berani membuka lapangan kerja. seperti World Bank. bahwa bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia hanya 2% yang terjun ke dunia usaha. Pertama. Rendahnya mutu pendidikan ini ini dapat dilihat dari sedikitnya HKI (Hak Cipta Intelektual). Yakni bahwa cinta tanah air dan semangat memajukan negara ini harus diterjemahkan ke dalam bentuk lebih menyukai dan menghargai produk sendiri. bahwa dari sekitar 147 negara di dunia. dengan cara membatasi impor. pendidikan harus menanamkan semangat nasionalisme dan patriotisne dalam arti yang seluas-luasnya. Keenam. dan memberikan peluang kepada mereka untuk berusaha dan bekerja di negaranya sendiri. pelabuhan laut. pendidikan harus mendorong lulusannya agar berani terjun ke dunia bisnis atau membuka usaha. seperti jalur transfortasi. Unesco dan lain-lain. Hal ini perlu dilakukan. hak paten. Professional Learning untuk Indonesia Emas Indonesia kurang siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 Kendala tersebut antara lain terkait dengan terbatas dan lemahnya infra struktur. bahkan Vetnam. masih rendahnya mutu pendidikan. Hasil survey lembaga dunia. Keadaan ini hingga sekarang cenderung makin parah dan belum ada tanda-tanda perbaikan yang siginifikan. Hongkong. etos kerja yang rendah. Kedua. birokrasi yang panjang. membangun kerjasama yang harmonis dan saling menguntungkan antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia usaha 170 . maka caranya adalah dengan meningkatkan kualitas produk barang dan jasa milik kita dan mendorong masyarakat agar mencintai produk dan jasa milik bangsa sendiri. Semangat nasionalisme ini harus dilanjutkan dengan semangat patriotisme. maka dana pendidikan tersebut tidak akan memiliki korela yang signifikan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selama ini data menunjukkan. Malaysia. karena walaupun anggaran pendidikan sudah dinaikan menjadi20%. Peran Pendidikan Jika dunia pendidikan ingin berjasa dalam mewujudkan Indonesia emas tahun 2045 maka terdapat sejumlah langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut. posisi Indonesia dalam bidang pendidikan masih menempati rangking 112 jauh di bawah Singapura. sehingga akan meninggalkan ketergantungan pada impor tegara lain. dengan cara memberdayakan mereka agar dapat mandiri. Hal ini masih jauh jika dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi di Singapura yang terjun ke dunia usaha sekitar 11%. dan masih banyak lagi.

kebebasan. sebagai bagian dari semangat nasionalisme dan patriotisme. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dengan membentuk visi Corporate University. melainkan muncul dari keinginan yang kuat dari dalam diri sendiri. atau seperti lilin di atas meja yang dapat dibuat apa saja (tabularasa). Yaitu masyarakat yang menunjunjung nilai demokrasi. mengembangkan model pembelajaran yang mendorong peserta didik mampu berfantasi. Namun demikian. bereksperimen. Pertama. dan berinovasi dengan menggunakan model pembelajaran active learning yang berbasis pada student centred dengan menggunakan scientific approach sebagaimana diamanatkan dalam kurikulum tahun 2013 atau juga kurikulum tahun 2004 (KBK) dan kurikulum tahun 2006 (KTSP). memasuki visi Indonesia emas tahun 2045 yang maju. atau seperti gelas kosong yang dapat diisi air atau benda apa saja. membudayakan karakter masyarakat Madani. kejujuran. keadilan. Model pembelajaran ini diakui berhasil dalam memompakan ilmu pengetahuan. demokrasi. menghargai dan mencintai milik sendiri. berorientasi pada kebenaran. Pavlop. berimajinasi. agar masyarakat yang dapat diwujudkan. tujuan. dan semangat untuk memajukan bangsa sendiri. Sikap mental yang merasa bangga dan lebih berkelas ketika menggunakan produk barang dan jasa dari luar negeri. Skinner. makmur dan madani harus dimasukan ke dalam visi. perdamaian. Sebagaimana diketahui. modern. Dengan kata lain. mestinya diganti dengan sikap dan merasa bangga jika menggunakan produk dan jasa miliki sendiri. multikultural. bahwa sikap mental enterpreuneur dan kewirausahaan yang dibangun adalah enterpreneur dan kewirausahaan yang berbasis pada falsafat dan nilai budaya bangsa sendiri. Kedua. Dia merasa bahwa produk barang dan jasa milik bangsa sendiri jauh lebih sesuai dengan filosofi dan budaya bangsa sendiri. Misalnya sikap mental wiraswasta. Keempat. dan nilai-nilai luhur lainnya. bukan hanya yang sejahtera dan makmur dari segi fisik Model Pembelajaran Alternatif Untuk menghasilkan lulusan pendidikan yang siap mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045 harus dimulai langkah-langkah strategis sebagai berikut. dan Wattson yang menempatkan peserta didik seperti kertas putih yang dapat ditulis apa saja. Thorndike. nilai dan sebagainya. egaliter. humanisme. Hal ini penting dilakukan. bahwa model pembelajaran yang selama ini berlangsung adalah model pembelajaran yang berbasis pada psikologi behaviorisme dan empirisme yang bertumpu pada pemikiran John Locke. ini tidak berarti hanya sebatas emosional atau serimonial belaka. bahan ajar dan standar kompetensi para lulusan. namun kurang memberikan pengalaman dan penghayatan yang memadai kepada peserta didik tentang pengamalan atau praktek dari ilmu pengetahuan dan nilai 171 . misi. Yaitu universitas yang berbasis pada kebutuhan dunia usaha.

Professional Learning untuk Indonesia Emas

tersebut. Akibatnya peserta didik menjadi pasif, hanya menunggu,
tidak kreatif, dan tidak inovatif, serta imajinasi, fantasi dan daya
khayalnya tidak bergembang sebagaimana mestinya. Lulusan
pendidikan yang demikian, sudah tidak sejalan lagi dengan tuntutan
generasi Indonesia Emas tahun 2045 yang maju, makmur, dan madani.
Ketiga, memberikan wawasan pembelajaran yang mengintertain,
menginspire, dan mencerahkan, sebagaimana yang dijumpai pada
model pelatihan atau training yang lebih terukur. Dalam kaitan ini,
maka seorang guru harus memiliki 8 etos keguruan sebagai berikut: (1)
Keguruan adalah rahmat:Aku mengajar dengan ikhlas penuh syukur;
(2)Keguruan adalah amanah:Aku mengajar dengan benar dan penuh
tanggung jawab; (3)Keguruan adalah panggilan:Aku mengajar tuntas
penuh integritas; (4)Keguruan adalah aktualisasi diri:Aku mengajar
dengan serius penuh semangat; (5)Keguruan adalah ibadah:Aku
mengajar dengan cinta penuh dedikasi; (6)Keguruan adalah seni:Aku
mengajar dengan cerdas penuh kreativitas; (7)Keguruan adalah
kehormatan:Aku mengajar dengan tekun penuh keunggulan; dan
(8)Keguruan adalah pelayanan:Aku mengajar sebaik-baiknya penuh
kerendahan hati.
Keempat, memberikan penekanan pada upaya pembelajaran yang
berbasis pada learning by doing, magang, workshop, dan sebagainya.
Hal ini dilakukan dengan cara membangun kerjasama yang harmonis
dengan dunia usaha dan industri. Hal ini sejalan dengan pandangan
pendidikan yang progressif dan John Dewey. Menurutnya, bahwa
antara masyarakat dan dunia pendidikan harus disatukan; apa yang
akan diberikan kepada murid di dalam kelas harus dilihat lebih
dahulu relevansinya dengan kebutuhan di masyarakat. Demikian
pula apa yang ada di masyarakat harus dapat diakses dan digunakan
untuk kegiatan pendidikan. Pandangan ini sejalan dengan paradigma
baru tentang pendidikan yang berbasis masyarakat. Untuk itu model
pembelajaran yang berbasis masyarakat ini harus terus diupayakan.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), Model
Pembelajaran yang sesuai dengan konteks permasalahan yang terhadi
di masyarakat (Contextual Teaching Learning), Model Pembelajaran
Scientifif Approach dengan langkah-langkahnya:mengamati,
menanya, melakukan, menganalisa, menyimpulkan dan menciptakan
sebagaimana digagas dalam kurikulum 2013 perlu dilaksanakan.
Model pembelajaran yang demikian itu disertai pula dengan model
penilaian dan evaluasi hasil belajarnya yang bersifat kualitatif,
dalam bentuk diskripsi yang otentik tentang sesuatu yang dikerjakan
oleh siswa, perilaku yang ditunjukan oleh siswa, serta sikap dan
penghayatan yang dijumpai sehari-hari melalui sebuah pengamatan
yang berkelanjutan (continous observation).
Kelima, karena Indonesia Emas tahun 2045 juga mengharuskan
adanya masyarakat yang bukan hanya maju, makmur dan modern dari
segi materi, melainkan juga harus berkarakter masyarakat madani,

172

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

maka proses pembelajarannya juga harus berwawasan madani. Yaitu
proses belajar mengajar yang dilandasi oleh sikap saling menghormati,
menghargai, tolong menolong, saling mencintai, menyayangi, dan
membantu dalam suasana kekeluargaan dan persaudaraan yang
Islam. Cara-cara pembelajaran yang curang, nyontek, mengganggu
teman, membocorkan soal ujian, kekerasan dan sebagainya harus
dihindari. Dengan cara demikian, proses pembelajaran dapat dinilai
sebagai sebuah kesempatan atau kegiatan yang mempraktekan nilai-
nilai masyarakat madani yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan,
persaudaraan, persatuan, musyawarah, keadilan, dan kesederajatan.
Guna mewujudkan pembelajaran yang diperlukan, maka diperlukan
karakter guru yang sejalan dengan nilai-nilai tersebut. Khusus untuk
guru PGMI diperlukan persyaratan yang khas dibandingkan dengan
guru lainnya. Dalam kaitan ini menarik sekali apa yang dikatakan Ibn
Khaldun. Menurutnya, bahwa bagi seorang guru muslim hendaknya
melakukan komunukasi dan hubungan yang akrab dengan sesama
guru dan para pekerja pendidikan. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara: (1)membentuk kelompok debat dan diskusi antara guru dan
murid; (2)memilihkan satu bidang ilmu yang cocok bagi seorang
murid; (3)membantu murid untuk mencapai tujuan pendidikannya
dengan jelas; dan (3)memelihara kesanggupan peserta didik dan
menolongnya agar memahami pelajaran.. (Amir Syam, 1984) Hal
tersebut juga sejalan dengan pendapat Mohd.Athiyah al-Abrasyi
menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang guru pendidikan
agama Islam adalah: (1)zuhud, yakni tidak mengutamakan materi
dan mengajar karena mencari keridhaan Allah SWT semata; (2)
senantiasa membersihkan diri, yakni bersih tubuhnya, jauh dari
dosa dan kesalahan, bersih jiwa, terhindar dari dosa besar, sifat ria
(mencari nama), dengki, permusuhan, perselisihan dan lain-lain
sifat tercela; (3)Ikhlas dalam pekerjaan, termasuk pula serang yang
sesuai kata dengan perbuatan, melalukan apa yang ia ucapkan, dan
tidak malu-malu mengatakan: “Aku tidak tahu,” bila ada yang tidak
diketahuinya; (4)suka pema’af. Yakni suka memaafkan muridnya,
sangguh menahan diri, menahan amarah, lapang hati, banyak sabar
dan jangan marah karena sebab-sebab yang kecil; (5)seorang guru
merupakan seorang bapak sebelum ia seorang guru. Yakni seorang
guru harus mencintai murid-muridnya seperti cintanya terhadap
anak-anaknya sendiri, dan memikirkan keadan mereka seperti ia
memikirkan keadaan anak-anaknya sendiri; (6)harus mengetahui
tabi’at murid, yakni mengetahui tabiat pembawaan, adat kebiasaan,
rasa dan pemikiran murid agar ia tidak kesasar di dalam mendidik
anak-anaknya., serta (7)harus menguasai mata pelajaran.(Athiyah,
1974). Dari ketuju sifat tersebut sebagian besar berkaitan dengan
kompetensi kepribadian. Sedangkan yang lainnya, yakni menguasai
mata pelajaran termasuk kompetensi profesional, dan kompetensi
pedagogik, yakni harus mengetahui tabi’at murid, agar dapat

173

Professional Learning untuk Indonesia Emas

menyampaikan mata pelajaran sesuai dengan tabiat murid tersebut.
Sementara itu, Ib Taimiyah berpendapat, bahwa seorang guru agama
agar memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1)Senantiasa berpegang teguh
kepada ajaran Rasulullah SAW dalam segala bidang, dari berbagai
aspek kehidupannya, perjalanan hidup dan akhlaknya, karena itu
wajib baginya agar senantiasa tolong-menolong dalam kebaikan
dan ketakwaan. Hal yang demikian sejalan dengan kedudukannya
sebagai pewaris para nabi; (2)senantiasa menjadi contoh teladan yang
baik bagi para muridnya dalam hal berkata yang benar (al-shidq),
memegang teguh akhlak yang mulia dan melaksanakan syari’at Islam;
(3)menyebar-luaskan ilmunya tanpa malas atau lalai, karena lalai
dalam menyebarkan ilmu sama hanya dengan lalai daam berjihad,
Allah SWT akan menghukum orang yang menyembunyikan ilmu
atau mengabdikannya untuk memperoleh kemewahan dunia, dan
dipandang makruh orang yang menyembunyikan sedikit dari ilmu
sehingga ia tidak dapat dipergunakan dalam berdebat. Seorang guru
yang shalih adalah mereka yang mengajarkannya kepada orang lain;
(4)senantiasa memelihara dan mengembangkan ilmunya dengan cara
menghafal dan menambahnya dan tidak melupakannya. Demikian
pula seorang ahli ilmu yang menghafalkannya kepada umat berupa
al-Qur’an, al-Sunnah, baik dalam bentuk atau maknanya, disertai
pandangan, bahwa menghafal ilmu itu farlu kifayah bagi umat pada
umumnya. (Majid, 1974).
Dengan adanya sifat-sifat yang melekat pada seorang guru yang
demikian itu, maka adalah wajar jika seorang guru mendapatkan
penghormatan yang berbeda engan penghormatan yang diterima
profesi lainnya. Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, bahwa profesi
guru merupakan pekerjaan yang paling mulia di antara seluruh
pekerjaan yang dilakukan manusia di muka bumi. Ia berargumen
dengan cara menganalogikan kedudukan profesi dengan objek yang
dikerjakan. Seorang tukang emas lebih terhormat dibandingkan dengan
tukang kulit, karena nilai emas melebihi nilai kulit. Barang yang wujud
di permukaan bumi yang paling mulia adalah manusia, dan bagian
yang paling mulia dari manusia adalah akal dan jiwanya. Sedangkan
tugas seorang guru mengembangkan dan menyempurnakan akal dan
jiwanya, menghiasi, menyucikan dan membimbingnya untuk dapat
mendekati Allah Yang Maha agung dan Mahamulia. (Fuad, 1974).
Senada dengan itu, Ibn Khaldun berpendapat, bahwa guru harus
menjadi sosok yang pantas digugu dan ditiru. Ia mengutip pendapat
Amr bin Utbah dalam sebuah pesan kepada salah seorang guru yang
mengajar puteranya, dengan mengatakan:”Mulailah dalam upayamu
memperbaiki anakku, dengan lebih dahulu memperbaiki sikap dan
perilakumu sendiri. Sebab pandangan anak-anak itu terikat pada
pandanganmu, maka apa yang engkau lakukan akan dianggap baik
bagi mereka, dan apa yang engkau tinggalkan akan dianggap jelek

174

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

bagi mereka. (Amir Syam, 1984).
Dengan demikian, seorang guru adalah seorang yang pada
dirinya terdapat sejumlah sifat, kepribadian, kecakapan, dan
keutamaan lainnya yang dengannya ia dapat menolong, membantu,
dan meningkatkan harkat dan martabat manusia dengan cara
menumbuhkan, menggali, membina, dan mengembangkan berbagai
potensi peserta didik agar tumbuh dan nampak serta terbina dengan
sempurna serta dapat menolong dirinya, keluarga, masyarakat,
bangsa, negara dan agamanya. Seorang guru juga adalah mereka yang
memelihara, meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan,
pengalaman dan keterampilannya untuk diberikan kepada para
siswanya dan masyarakat pada umumnya. Semua peran dan fungsi
ini dilaksanakan sebagai amanah, tanggung jawab, panggilan jiwa,
dan ibadah semata-mata karena Allah SWT. Dengan demikian, sosok
seorang guru itu adalah sosok yang khas, tidak dapat dimiliki oleh
orang lain, serta menempati kedudukan yang terhormat, karena ia
terkait langsung dengan upaya membina harkat dan martabat manusia
sebagai makhluk yang dimuliakan Allah SWT.
Sejalan dengan itu, Augusto Cury mendorong agar seorang
guru bukan hanya berpredikat baik, melainkan juga mengagumkan,
dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1)Guru yang baik pandai bicara,
sedangkan gurtu yang mengagumkan tahu cara kerja pikiran; (2)
Guru yang baik mempunyai metodologi, sedangkan guru yang
mengagumkan mempunyai kepekanaan; (3)Guru yang baik mendidik
kecerdasan logika, sedangkan guru yang mengagumkan mendidik
emosi; (4)Guru yang baik menggunakan memori sebagai penyimpan
informasi, sedangkan guru yang mengagumkan menggunakannya
sebagai pendukung seni berfikir; (5)Guru yang baik adalah pemimpin
sementara, sedangkan guru yang mengagumkan adalah pemimpin tak
terlupakan; (6)Guru yang baik memperbaiki perilaku, sedangkan guru
yang mengagumkan menyelesaikan konflik dalam ruang kelas; dan (7)
Guru yang baik mengajar karena itu adalah pekerjaannya, sedangkan
guru yang mengagumkan mengajar karena itulah tujuan hidupnya.
(Augusto, 2007). Selain itu seorang guru juga jangan melakukan tujuh
dosa besar, yaitu (1)menegur di depan umum; (2)memperlihatkan
otoritas secara agresif; (3)mengkritik secara berlebihan:menghambat
masa kanak-kanak; (4)menghukum ketika Anda marah dan membuat
batasan tanpa penjelasan; (5)menjadi tidak sabar dan putus asa
dalam mendidik; (6)tidak menepati kata-kata, dan (7)menghancurkan
harapan dan impian. (Cury, 2005). Kriteria guru yang baik (pandai
bicara, mempunyai metodologi, kecerdasan logika, menyimpan
informasi, pemimpin sementara, memperbaiki perilaku, mengajar
karena pekerjaannya), dan guru yang mengagumkan (tahu cara kerja
pikiran, mendidik emosi, mempunyai kepekaan, pendukung seni
berfikir, pemimpin tak terlupakan, menyelesaikan konflik dalam kelas
dan mengajar sebagai tujuan hidupnya) adalah sesuatu yang baik dan

175

Professional Learning untuk Indonesia Emas

bermanfaat, dan karenanya merupakan sesuatu yang diperintahkan
agama. Sebaliknya hal-hal yang dipandang sebagai dosa besar bagi
guru, adalah sesuatu yang pada pokoknya merupakan hal-hal yang
buruk, dan dilarang pula oleh agama.

Penutup
Berdasarkan uraian dan analisa sebagaimana tersebut di atas,
dapat dikemukakan catatan penutup sebagai berikut.
Pertama, bahwa yang dimaksud dengan Indonesia emas tahun
2045 adalah sebuah keadaan di mana usia kemerdekaan Indonesia
sudah berusia selama 100 tahun. Pada masa itu, diharapkan Indonesia
sudah menjadi negara yang maju, makmur, modern dan madani.
Kemajuan dan kemakmuran dan kemodernan tersebut bukan hanya
dalam bidang fisik dan material, melainkan juga bersifat intelektual,
moral, kebudayaan dan peradaban yang dijiwai nilai-nilai ajaran
Islam.
Kedua, bahwa untuk mewujudkan Indonesia emas yang maju,
makmur, modern dan madani di tahun 2045, Indonesia masih
menghadapi berbagai kendala yang cukup fundamental, antara
lain ledakan penduduk yang tidak terkendali yang membutuhkan
sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan lain
sebagainya; ketergantungan kebutuhan pokok hidup pada negara
lain yang menyebabkan terpuruknya nilai rupiah atas mata uang lain,
terutama dollar; terbatasnya infrastruktur, rendahnya etos kerja, dan
kurang profesional.
Ketiga, bahwa untuk dapat mengatasi berbagai kendala tersebut
untuk tujuan jangka panjang adalah pendidikan. Hal yang demikian,
karena melalui pendidikanlah berbagai potensi fusik, intelektual
dan spiritual manusia dapat dibina dengan sebaik-baiknya dan
terencana. Lulusan pendidikan yang dibutuhkan adalah lulusan
pendidikan yang kreatif, inovatif, berjiwa interpreneur, percaya diri,
imajinatif, berani mengambil resiko yang diperhitungkan, religius,
berwawasan nusantara, berjiwa Pancasila, memahami, menghayati
dan mengamalkan nilai-nilai budaya bangsa, berjiwa nasionalisme
dan patriotisme.
Keempat, untuk menghasilkan lulusan pendidikan sebagaimana
tersebut pada butir tiga di atas, diperlukan adanya model pembelajaran
yang berbasis pada aktivitas peserta didik (student centris), seperti
model pembelajaran yang berbasis pemecahan masalah (problem
based learning), berbasis pada situasi dan kontek permasalahan yang
real yang dihadapi dalam kehidupan (contextual teaching learning),
cooperative, inter-active learning, scientific approaches, melalui kegiatan
mengamati, menanya, melakukan, menganalisa, menyimpulkan dan
menciptakan. Dengan cara demikian, setiap peserta didik diberikan
pengalaman dalam memahami, menghayati dan melakukan sebuah

176

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

pekerjaan.
Kelima, bahwa model pembelajaran yang dibutuhkan untuk
menghasilkan lulusan yang dapat mewujudkan Indonesia emas
tahun 2045 adalah model pembelajaran yang menghasilkan lulusan
yang kreatif, inovatif, progressive, percaya diri, berani mengambil
resiko yang diperhitungkan yang dijiwai nilai-nilai ajaran Islam,
falsafat Pancasila, berjiwa nasionalisme dan patriotisme yang
kuat, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai budaya dan tradisi
lokal yang tumbuh berkembang di Indonesia, seperti kekerabatan,
kekeluargaan, gotong royong, sopan, santun, saling menghargai, dan
lain sebagainya. Dengan cara demikian, selain akan menjadi bangsa
yang maju, makmur dan modern, namun juga berjiwa madani.

Daftar Pustaka
Al-Abrasyi, Mohd. Athiyah, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (terj.)
Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, dari judul asli al-Tarbiyah
al-Islamiyah, (Jakarta:Bulan Bintang, 1974), cet. II.
Abu al-Ainain, Ali Khalil, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah di al-Qur’an
al-Karim, (Beirut: Dar al-Fikr al-Araby, 1980), cet. I.
Al-Ahwany, Ahmad Fu’ad, al-Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-
Ma’arif, tp.th.).
Cury, Augusto, Briliant Parents Fascinating Teachers Kiat Membentuk
Generasi Muda yang Cerdas dan Bahagia, (Jakarta:Gramadia
Pustaka Utama,, 2007).
Bafadal, Ibrahim, “Pendidikan Berkualitas untuk Generasi Emas,”
diunduh dari Goegle, pada hari Senin, 11 Mei 2015.
Buchori, Mochtar, Ilmu Pendidikan & Praktek Pendidikan dalam Renungan,
(Jakarta:IKIP Muhammadiyah Jakarta Press, 1994),
Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif
Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, (Jakarta:Rineka Cipta, 2005),
cet. III.
Fadjar, A.Malik, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta:Fadjar Dunia,
1999), cet. I.
Falah, Saiful, Guru adalah Ustadz adalah Guru, Catatan Seorang Pendidikan
dengan Lebih dari 10.000 Anak Didik, (Jakarta:Republika, 2012),
cet. I.
Mahmud, Ali Abd al-Halim, al-Tarbiyah al-Islamiyah di al-Madrasah,
(Mesir:Dar al-Tauzi’ wa al-Nasyr al-Islamiyah, 1425 H./2004
M.), cet. I.
-----------, al-Tarbiyah al-Islamiyah fi Surah al-Azhaab, ((Mesir:Dar al-
Tauzi’ wa al-Nasyr al-Islamiyah, 1996) 1425 H./2004 M.), cet. I.
------------, al-Tarbiyah al-Islamiyah fi Surah al-Anfaal, (Mesir:Dar al-Tauzi’

177

Professional Learning untuk Indonesia Emas

wa al-Nasyr al-Islamiyah, 1996) 1425 H./2004 M.), cet. I.
------------, al-Tarbiyah al-Diniyah (al-Ghaibah), (Mesir:Dar al-Tauzi’ wa
al-Nasyr al-Islamiyah,1421 H./2000 M.), cet. I.
------------, al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Mujtama’, ( Mesir:Dar al-Tauzi’
wa al-Nasyr al-Islamiyah, 1426 H./2005 M.), cet. I.
------------, al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Bait, ( Mesir:Dar al-Tauzi’ wa al-
Nasyr al-Islamiyah, 1426 H./2005 M.), cet. I.
Muthahhari, Ayatullah Murtadha, Dasar-dasar Epistimlogi Pendidikan
Islam, (Jakarta:Sadra International Institut, 2011), cet. I

Al-Naqib, Abd al-Rahman Abd al-Rahman, Kaifa Nu’allimu Auladana
al-Islam bi Thariqah Shahihah, (Mesir:Dar al-Salam lith-Thaba’ah
wa al-Nasyr wa al-Tauzi’ wa al-Tarjamah, 1428 H./ 2007 M.),
cet. II.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang
Guru, (Jakarta:Novinco Pustaka Mandiri, 2009), cet. I.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 200 9 tentang
Dosen, (Jakarta:Novinco Pustaka Mandiri, 2009), cet. I.
Kailany, Majid Irsan, al-Fikr al-Tarbawiy in Ibn Taimiyah, (al-Madinah
al-Munawwarah: Maktabah Dar al-Turats, tp.th.).
Khayyat, Muhammad Jamil, al-Nadzariyat al-Tarbawy fi al-Islam Dirasah
Tahililiyah, (Makkah al-Mukarramah:Jami Umm al-Qura, 1986).
Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta:Pustaka Al-
Husna, 1987), cet. I.
Rooijakkers, AD. Mengajar dengan Sukses Petunjuk untu Merencanakan
dan Menyampaikan Pengajaran, (Jakarta:Grasindo, 1991).
Saleh, M.Nurul Ikhsan, Peace Education, Kajian Sejarah, Konsep, &
Relevansinya dengan Pendidikan Islam, (Jakarta:AR-RUZZ
MEDIA, 2012), cet. I.
Sembiring, Taman Hidayat, “Pancasila sebagai Pedoman Hidup
Menuju Indonesia Emas 2045,” diunduh dari Goegle pada hari
Senin, 11 Mei 2015.
Sinamo, Jansen, 8 Etos Keguruan, (Bogor: Institut Darma Mahardika,
2010), cet. I.
Syams al-Din, Abd al-Amir, al-Fir al-Tarbawiy ind Ibn Khaldun wa Ibn
al-Azraq, (Libanon: Dar Iqra, 1404 H./1984 M.) cet. I.
Sucipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta:Rineka Cipta,
2002), cet. I.
Susanta, Agustinus, Merancang Outbond Training Profesional,
(Yogyakarta:Andi Yogyakarta, 2008), cet. I.
Tafsir, Ahmad, (ed.), Epistimologi untuk Ilmu Pendidikan Islam,

178

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

(Bandung:Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Jati, 1995).
Yudho, Winarno, (ed.), Sosok Guru Ilmuwan Yang Kritis dan Konsisten,
(Jakarta:ELSAM, HUMA dan WALHI, 2002), cet. I.
Undang-undang Nomor 20 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan
Nasional),(Bandung:Fokusmedia, 2010), cet. I.
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
(Jakarta:Novindo Pustaka Mandiri, 2009), cet. I.
Usman, Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, (Bandung:Remaja
Rosdakarya, 1997), cet. VIII.
Utomo, Pristiadi, “Menuju Indonesia Emas 2045,” Diunduh dari
Goegle pada hari Senin, 11 Mei 2015.

179

PEMANFAATAN SASTRA SEBAGAI BASIS
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Dindin Ridwanudin
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Email: dindin_ridwanudin@yahoo.com

Abstrak: Competence Standard of Bahasa Indonesia in the Con-
tent Standard of Curriculum states that through learning of Ba-
hasa Indonesia students are expected to be able to develop their
potential which is appropriate to their ability, need, interest, and
cause to emerge the appreciation to literature work and intellec-
tual work of their nation. Literature is an important part of learn-
ing that can not be separated from Bahasa Indonesia because
it is very important for developing students’ language skills.
Moreover, through literature learning and appreciation students
trained to have inner sensitivity and character softness that can
lead them appreciate others literary work and rightfully proud
of their nation multiple literature diversity.

Kata kunci : Sastra, Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pendahuluan
Sastra adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam pembela-
jaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Dalam
Standar Isi kurikulum nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia, sas-
tra diperkenalkan dan diajarkan kepada siswa SD/MI sejak mereka
di bangku kelas satu sampai dengan kelas enam. Salah satu alasan
dari kepentingan pengajaran sastra sejak dini adalah bahwa banyak
manfaat yang bisa diperoleh siswa, yang antara lain, melalui sastra
siswa dilatih kepekaan batin, kehalusan budi, tenggang rasa, simpati,
empati, penghargaan kepada setiap karya orang lain, dan banyak lagi
manfaat lainnya.
Namun, hasil observasi dan wawancara penulis kepada guru-
guru dan siswa-siswa memberikan gambaran betapa pengajaran sas-
tra tidaklah menggembirakan. Terungkap dari hasil observasi dan
wawancara tersebut jika akar masalahnya adalah ketidakpahaman
guru sendiri terhadap sastra. Ketika Standar Kompetensi menuntut
guru untuk mengajarkan “puisi”, maka yang mereka ajarkan bukan
bagaimana siswa berpuisi (mengapresiasi dan membuat puisi), tetapi

180

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

lebih kepada pengajaran konsep dan teori puisi. Alhasil, dalam pem-
belajaran puisi, siswa menghapalkan konsep-konsep tentang puisi.
Contohnya, siswa menghapalkan pengertian puisi, menyebutkan na-
ma-nama pembuat puisi, menyebutkan tokoh-tokoh pujangga lama,
baru, dan kontemporer. Dengan demikian, pembelajaran puisi lebih
menekankan pada aspek kognitif saja. Padahal, pembelajaran sastra
seharusnya lebih menekankan pada ranah afektif dan psikomotor.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang
pengertian sastra, ciri-ciri karya sastra, aspek-aspek karya sastra, jenis-
jenis karya sastra, penggolongan karya sastra, tujuan dan fungsi pem-
belajaran sastra, sampai dengan cara mendesain pembelajaran sastra.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan sumbangsih pengeta-
huan kepada guru tentang kepentingan dari pengajaran sastra sejak
dini.

Pengertian Sastra
Sastra berasal dari bahasa Sansekerta yang dibentuk dari akar kata
‘sas’ yang artinya mengajarkan, mengarahkan, atau memberi petun-
juk. Kata ‘sas’ kemudian ditambah dengan kata -tra yang berarti alat
atau sarana (Tarigan, 2005:10.3). Bila diartikan secara bebas, maka kata
sastra berarti alat atau sarana untuk memberi petunjuk.
Secara harfiah kata sastra berarti huruf, tulisan, atau karangan. Se-
gala tulisan atau karangan biasanya berbentuk buku, maka kata sas-
tra juga dapat diartikan buku. Oleh karena itu dalam kesustraan lama
semua buku dianggap sebagai hasil sastra, baik buku itu berisi tentang
dongeng, pelajaran agama, sejarah, ekonomi, seni, undang-undang
dan sebagainya.
Sedangkan menurut pengertian lainnya sastra adalah satu bentuk
karya seni yang mempergunakan bahasa sebagai alatnya. Oleh karena
itu pengamatan sastra haruslah merupakan penelitian terhadap se-
buah karya seni yang otonom, yang sekurang-kurangnya mengand-
ung tiga fakta penting, yaitu 1) konvensi sastra, 2) konvensi budaya, 3)
konvensi bahasa (Risalah Kongres Bahasa Indonesia, 1998:353).
Ciri-ciri Karya Sastra
Selain keindahan dan pesan yang mengandung pendidikan moral
yang menjadi ciri khas karya sastra, terdapat ciri-ciri yang dapat dia-
mati dalam sebuah karya sastra, terutama dalam penggunaan bahasa.
Ciri-ciri tersebut antara lain:
a. Ragam bahasa yang digunakan dalam karya sastra tidak sepenuh-
nya bahasa baku. Hal ini disebabkan sastra sangat mementingkan
pesan atau ide dan keindahan.
b. Ragam bahasa atau pilihan katanya sering kali bermakna konota-

181

Professional Learning untuk Indonesia Emas

tif atau ambiguitas (memiliki banyak makna).
c. Kosakata yang digunakan dalam karya sastra disesuaikan dengan
bahasa dengan latar atau lingkungan dalam cerita yang berupa
dialeg atau sosioleg suatu kelompok masyarakat.
d. Dalam karya sastra tergambar pengalaman hidup pengarang
(Tarigan, 2005:10.4).

Aspek-aspek Karya Sastra
a. Aspek semantik, adalah isi cerita.
b. Aspek sintaktis, adalah kombinasi berbagai unit struktural.
c. Aspek verbal, adalah permainan kata-kata dan frasa tertentu yang
membentuk suatu cerita (Risalah Kongres Bahasan Indonesia,
1998:353).

Jenis-jenis Karya Sastra
Jenis-jenis sastra disebut jenre (genre) sastra. Sastra dikelompok-
kan menjadi dua kelompok besar yaitu sastra imajinatif dan sastra non
imajinatif (Tarigan, 2005:10.7).

a. Sastra Imajinatif
Imajinasi berasal dari kata imagination yang berarti angan-angan
atau khayal. Jadi karya sastra imajinatif adalah karya sastra yang di-
tulis dengan menggunakan sifat khayalik pengarang, sehingga cerita
dalam karya sastra imajinatif bukanlah suatu kejadian sebenarnya.
Karya sastra imajinatif terdiri atas tiga jenis: prosa, puisi, dan drama.
Secara singkat akan dijelaskan perbedaan antara ketiga jenis karya sas-
tra tersebut (Tarigan, 2005:10.7).
1) Prosa
Prosa adalah karya sastra yang ditulis dengan menggunakan kali-
mat-kalimat yang disusun susul menyusul. Kalimat-kalimat yang
disusun membentuk kesatuan pikiran menjadi paragraf, paragraf
menjadi bab atau bagian-bagian, dan seterusnya.
2) Puisi
Kata puisi bersal dari bahasa Yunani “poiesis” yang berarti pen-
ciptaan. Akan tetapi, arti yang semula ini lama kelamaan semakin
dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra yang ka-
ta-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan meng-
gunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata-kata kiasan” (Gun-
tur, 2011:3).
Hakikat Puisi terdiri atas :
a) Tema Makna (sense)
b) Rasa (feeling)

182

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

c) Nada (tone)
d) Amanat, tujuan, maksud (intention)
3) Drama
Drama berasal dari bahasa Yunani “dran” yang artinya berbuat,
“to act” atau “to do”. Sedangkan secara etimologi drama meru-
pakan merupakan perbuatan, gerak, yang merupakan inti hakikat
setiap karangan yang bersifat drama (Guntur, 2011:3).

Unsur-unsur drama
Adapun unsur-unsur yang ada dalam drama adalah sebagai beri-
kut (Guntur, 2011:75-79):
a) Alur
b) Penokohan
c) Dialog
(1) Dialog haruslah dapat mempertinggi nilai gerak.
(2) Dialog haruslah baik dan bernilai tinggi.

Aneka sarana kesastraan dan kedramaan.
a) Perulangan: kontras dan paralel
b) Gaya dan atmosfer
c) Simbolisme
d) Empati dan jarak estetika

Jenis-jenis drama
Adapun jenis drama, yaitu (Guntur, 2011:83-89):
a) Tragedi (menganggap subyek yang serius, pelaku utama ha-
rus herois, segala insiden harus wajar,emosi utama: rasa kasi-
han, sedih atau takut.)
b) Komedi (subyek: cerah, kelucuan yang serius, kejadian mun-
cul dari tokoh, kejadian mungkin dan seakan-akan terjadi)
c) Melodrama (subyek serius dan kurang otentik, ada peruba-
han terjadi, rasa kasihan bersifat sentimentalitas, tokoh utama
biasanya menang.)
d) Farce yang dimaksudkan di sini adalah melodrama bagi
tragedi, adalah farce bagi komedi. ciri-cirinya seperti: ke-
mungkinan terjadi tidak begitu besar, kelucuan seenakanya
saja, bersifat episodik, kejadian muncul dari situasi.

b. Sastra Non Imajinatif
Sedangkan sastra non-imajinatif merupakan kebalikan karya sas-
tra imajinatif, Sebagian ahli berpendapat bahwa sastra non-imajinatif
bukanlah karya sastra (Tarigan, 2005:10.7).

183

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Penggolongan Karya Sastra
Selain jenis-jenis karya sastra imajinatif dan non-imajinatif,
adapun penggolongan karya sastra berdasarkan karya sastra orang
dewasa dan karya sastra anak-anak. Karya sastra anak-anak memang
berbeda dengan karya sastra orang dewasa, baik dari segi bahasa yang
digunakan maupun pesan yang disampaikan (Tarigan, 2005:10.8).

Kriteria Sastra Anak-Anak (Tarigan, 2005:10.9)
a. Kriteria Pemilihan Bahasa
Karya sastra anak-anak memiliki kekhasan atau perbedaan dengan
karya sastra orang dewasa, yaitu dalam penggunaan bahasa dan isi
cerita.

b. Kriteria Keterbacaan
Keterbacaan adalah mudah tidaknya suatu bacaan utuk diterima,
dihayati, dipahami, dan dinikmati oleh pembaca. Berdasarkan kri-
teria tersebut, maka karya sastra anak-anak hendaknya memenuhi
persayaratan sebagai berikut (Tarigan, 2005:10.9).
1) Kejelasan Bahasa
Dalam hal ini karya sastra anak-anak harus menggunakan ba-
hasa yang sederhana. Kalimat-kalimatnya tidak panjang-pan-
jang dan tidak rumit, kata yang digunakan adalah kata yang
bermakna lugas artinya mudah dipahami.
2) Kejelasan Tema
Tema pada karya sastra anak-anak hendaknya terbuka, artinya
tema itu bisa langsung ditemukan oleh pembaca (anak-anak).
Dengan kata lain, pada karya sastra anak-anak, tema tidak disa-
jikan secara terselubung.
3) Kesederhanaan Plot
Karya sastra anak-anak yang dipilih hendaknya karya sastra
yang memiliki plot (jalan cerita) maju. Hal ini terdapat pada
karya sastra prosa dan drama.
4) Kejelaan Perwatakan
Karya sastra anak-anak yang baik untuk dipilih adalah karya
sastra yang perwatakannya digambarkan secara sederhana.
Hal ini dimaksudkan agar anak-anak dapat dengan mudah
menangkap sosok tokoh-tokoh cerita (prosa atau drama).
5) Kesederhanaan Latar
Latar dalam karya sastra anak-anak tidak jauh berbeda dengan
lingkungan tempat tinggal anak. Hal ini mempermudah pema-
haman terhadap cerita. Suasana yang akrab dengan lingkungan
anak akan menjembatani imajinasi anak, walupun tidak berarti

184

Fungsi reaktif. Pencipataan karya sastra merupakan keterampilan dan kecer- dasan intelektual dan imajinatif. Sesuai dengan tingkat perkembangan tersebut maka terdapat ma- cam-macam tema cerita anak-anak yang harus Anda perhatikan dan Anda sesuaikan dengan tingkat usia siswa dalam memilih tema. serta kematangan emosional dan sosial. Fungsi Karya Sastra Fungsi sastra bagi hidup dan kehidupan manusia adalah: a. c. gembira. Bila hal ini ter- dapat dalam karya sastra anak-anak (prosa dan drama) akan menimbulkan kesulitan pada anak-anak dalam mengikuti jalan cerita. dan menghibur. Fungsi moralitas. 6) Kejelasan Pusat Pengisahan Karya sastra anak-anak memiliki pusat pengisahan yang jelas. yaitu fungsi atau manfaat yang dapat memberikan keindahan bagi pembaca karena bahasanya yang indah. dimanfaatkan un- tuk mengembangkan wawasan kehidupan. Fungsi didaktif. serta meningkatkan pen- getahuan dan kemampuan berbahasa. 2) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai kha- zanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Kesesuaian Dari segi isi. yaitu fungsi atau manfaat mengarahkan dan men- didik pembaca karena mengandung nilai-nilai moral. c. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Sastra Tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga tujuan khusus yaitu: a. Sastra adalah sistem  tanda karya seni yang bermediakan ba- hasa. c. 1) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan. yaitu fungsi atau manfaat yang dapat membeda- kan moral yang baik dan tidak baik bagi pembacanya karena sastra 185 . memperhalus budi pekerti. b. d. Karya sastra hadir untuk dibaca  dan dinikmati. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual. yaitu fungsi atau manfaat memberikan rasa senang. b. Pengajaran sastra membawa siswa pada ranah produktif dan apre- siatif. artinya cerita tidak terlalu sering berganti fokus. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa tidak boleh memperkenalkan latar yang berbada. karya sastra anak-anak memperhatiakan kesesuaian dengan perkembangan psikologi atau jiwa dan moral anak-anak. Fungsi estetika.

siswa- siswi harus diundang untuk berpartisipasi di dalamnya. 186 . Masing-masing jenjang memiliki karakter pembelajaran yang berbeda-beda. Professional Learning untuk Indonesia Emas yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi. dia telah dapat menya- dur sebuah cerita. Dengan demikian. bukan hanya memandang dari luar saja (Rizanur Gani: 1988) Langkah-langkah Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Prosa Langkah 1 Pertama kita ambil salah satu pokok bahasan prosa dalam silabus. dan telah mengenal genre sastra walaupun dalam bentuk sederhana dan dalam tahap perkenalan. Tujuan utama pengajaran sastra adalah agar siswa-siswi memperoleh pengalaman dan memperoleh pengetahuan bersastra. Setiap guru mempunyai cara. Tema : Penghargaan Terhadap Bahasa dan Sastra Indo- nesia. Untuk kelas rendah (kelas I dan II) Anda dapat mencarinya sesuai dengan kelas tersebut. Guru adalah seorang seniman yang mampu menjalin hubungan yang luwes dan menyenangkan. kelas V. Merancang Pembelajaran Sastra Imajinatif Prosa Langkah awal yang harus Anda lakukan sebelum merancang pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis prosa adalah memilih pokok bahasan prosa dalam silabus. dia telah mendapatkan ide bacaan. e. Menghadapi kondisi yang demikian tidak mudah. Sastra adalah pengalaman bukan informasi.ajaran agama yang harus diteladani oleh pembaca. mempunyai strategi dalam mengajar yang sesuai dengan kondisi yang dihadapinya. Kondisi siswa kelas VI jauh berbeda dengan kelas I. Sub Tema : Prosa Uraian Materi : Membaca cerita pendek tentang keberanian ses- eorang. kemudian menjawab pertanyaan. Fungsi religiusitas. Usaha ke arah kemampuan siswa-siswi merespon sastra. Misalnya unit 3. Demikian halnya juga dengan kelas tinggi (kelas III sampai dengan kelas VI). yaitu fungsi atau manfaat yang mengandung ajaran. tentulah diperlukan rang- sangan-rangsangan yang diciptakan guru dalam proses pembelajaran. Siswa kelas VI telah mahir membaca. semester 2.

mangga. Guru dapat membuat cerita sendiri untuk bahan pembelajaran ini. 187 . Pak Guru punya ide. yang laki- laki membawa cangkulnya sekalian. bagaimana kalau di sekitar sekolah kita yang gersang ini kita hijaukan kembali. anak-anak. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa K o m p e t e n s i : Siswa-siswi mampu mengenal. be- sok Senin. Langkah II Guru menentukan cerita pendek yang harus dibaca siswa-siswi. kau hebat Anita”. Maka secara otomatis sumber air itu akan mengering. maka guru dapat mencari cerita yang sesuai dengan uraian di dalam silabus. kami usul. rambutan. agar sumber air itu tidak kering dan sekolah kita menjadi sejuk dan asri pak!” pinta Arman dengan seman- gat. Contoh : Melestarikan Sumber Air Dua minggu yang lalu pak Iskak guru kelas III SD Mangkujayan 1 memberikan penjelasan mengenai kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah di tanah air. memahami dan Dasar dapat menghargai bahasa dan sastra indonesia yang berbentuk prosa khususnya cerita pendek serta dapat menyatakan secara lisan maupun tulisan. jangan hanya bisa menanam. dan yang perempuan menyiapkan pupuknya. dan yang lebih penting lagi kalian harus merawat setiap hari. mengapa daerah-daerah itu mengalami kekerin- gan?” “Karena pohon-pohon besar itu sudah ditebangi pak!” jawab Anita. “Wah itu ide yang bagus. misalnya pohon belimbing. Pak Iskak mejelaskan bahwa akibat lahan hutan yang mulai gundul. kalian harus membawa satu pohon buah. kedondong. maka guru tinggal menggunakan bahan ajar tersebut. Akan tetapi seandainya di dalam buku paket Bahasa Indonesia sudah terdapat di dalamnya. baiklah anak-anak. siswa-siswi di- harapkan dapat 1. Indikator : Setelah membaca cerita pendek. Karena apa? Ternyata akar pohon yang besar itu bertugas menyimpan air di dalam bumi. dan sebagainya. Menjawab pertanyaan tentang cerpen yang dibacanya. kemudian tidak mau merawatnya. Kalau terpaksa tidak ada. “Jadi. “Pak guru!. Menceritakan kembali isi cerpen yang telah dibacanya. “Iya betul sekali. 2.

Langkah VIII Kegiatan Penutup Guru menegaskan kembali isi cerita pendek di atas. Langkah IV Mendiskusikan kata-kata sulit. nah 188 . Sambil membaca mereka disuruh menandai kata-kata yang dianggap- nya penting. Langkah VII Mengubah bentuk cerpen menjadi sebuah naskah drama. Hal ini dapat dilakukan dengan secara lisan mau- pun tertulis. Akhirnya pada hari yang telah ditentukan. Kami bekerja dengan gembira. Contoh (1) Mengapa terjadi kekeringan? (2) Mengapa Arman usul agar siswa siswi di kelasnya menanam po- hon? (3) Apa tugas siswa siswi kelas 3 SD Mangkujayan setelah menanam? (4) Apa yang kalian lakukan jika di sekitar rumah kalian gersang? Langkah VI Siswa-siswi ditugasi menceritakan kembali isi cerpen di atas dengan bahasanya sendiri. selayaknya didiskusikan dahulu maknanya. Setiap hari kami merawatnya. Kegiatan ini berlangsung 10 menit saja. Pertanyaan yang diajukan harus berkisar pada materi cerita. dalam bentuk informasi dan pengembangan daya nalar. Pak Iskak menyum- bang makanan kecil dan teh hangat. Langkah III Siswa-siswi membaca di dalam hati teks cerpen yang telah disediakan. sehingga tidak mengganggu pemahaman siswa-siswi ten- tang cerita. kami bersama-sama teman satu kelas menanam pohon buah di sekitar kelas. Misalnya. Langkah V Memancing respons siswa-siswi dengan berbagai pertanyaan. Seandainya terdapat kata-kata sulit. yang akan dimainkan oleh kelompoknya. Professional Learning untuk Indonesia Emas maka sia-sialah kalian membuat penghijauan” jelas Pak Iskak meng- ingatkan.

kemampuan berbahasa hanya ditekankan pada kemampuan berbicara dan menyimak. Puisi Norton mengungkapkan bagaimana kriteria puisi yang ideal un- tuk anak-anak. Cara pembelajaran puisi untuk kelas 1. menafsirkan dan memungut sesuatu dari puisi. 2) Puisi anak-anak seharusnya mengutamakan bunyi bahasa dan membangkitkan bermain bahasa. 5) Puisi anak bukan ditulis dengan dugaan rendah kepada anak- anak. menggelitik egonya. puisi disajikan dengan ketidaksempurnaan yang memungkinkan anak untuk menggubah. dan 6) Bermain sajak berantai/bermain kata. Materin- ya adalah menyanyikan lagu kanak-kanak dan mendeklamasikannya. 4) Puisi untuk anak seharusnya mencerikan cerita sederhana dan memperkenalkan tindakan yang dilakukan. semester 1. Mari kita hijaukan halaman kita. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa anak-anak. menyampaikan sesuatu pada anak-anak. 2) Membaca nyaring bersama. menginginkan pengalaman yang bahagia. hutan kita dan selu- ruh negeri ini. 6) Puisi untuk anak dibuat dengan memberikan ruang kreasi baru dari anak-anak. untuk itu langkah yang 189 . 3) Puisi untuk anak-anak seharusnya memperbaiki ketajaman ima- jinasi visual dan kesegaran kata yang digunakan dalam ragam novel untuk memperluas imajinasi mereka dan melihat atau men- dengar kata-kata dalam cara baru. 5) Membaca nyaring dengan dramatisasi. 7) Tema harus menyenangkan anak-anak. betapa pentingnya sebuah hutan dan tanaman besar yang ada di sekitar kita. 3) Membaca nyaring dengan iringan musik atau tepuk tangan. untuk itu kalian jangan membiarkan adanya keru- sakan hutan ini. unit 1. Kriteria puisi yang telah disebutkan di atas dapat dijadikan pem- belajaran yang bervariasi. 8) Puisi harusnya cukup baik untuk dibaca ulang. agar terbebas dari bencana alam. 4) Membaca dengan menyanyi atau bersenandung. Jadi. yaitu: 1) Puisi untuk anak-anak adalah puisi yang berisi kegembiraan dan rima. Bagi kelas permulaain ini. umpamanya: 1) Membaca nyaring tunggal.

Siswa-siswi mampu melafalkan larik lagu kanak-kanak dengan tepat. Kompe- tensi dasarnya adalah siswa-siswi mengenal. sedangkan indikatornya adalah: 1. 3. Professional Learning untuk Indonesia Emas harus dilakuakn guru adalah: Langkah-langkah Pembelajaran Puisi Langkah I Menentukan kompetensi pembelajaran yang akan dicapai. Siswa-siswi mampu menyanyikan lagu kanak-kanak dengan ira- ma yang tepat. 2. 190 . Pada waktu siswa-siswi benyanyi. guru mengajak seluruh siswa-siswi me- nyanyikan lagu kanak-kanak yang telah dipilih secara perorangan. memahami. Contoh : Dua mata saya Dua mata saya Yang kiri dan kanan Satu mulut saya Tidak berhenti makan Dua telinga saya Hidung saya satu Dua kaki saya Pakai sepatu baru Langkah III Mengajak anak-anak bernyanyi bersama-sama. dan dapat menghargai bahasa dan sastra Indonesia yang berbentuk lagu kanak- kanak khususnya tentang diri siswa-siswi dapat menyatakan dengan lisan maupun tulisan. berkelompok dan perorangan setelah guru menentukan lagu yang akan digunakan se- bagai sarana pembelajaran. Siswa-siswi mampu mendeklamasikan larik lagu dengan gaya yang tepat. kelompok atau besama-sama. Pada kesempa- tan ini guru dapat memanfaatkan untuk membenahi kekurangan pada diri siswa-siswi. Langkah II Menentukan lagu yang akan digunakan sebagai materi puisi. pilihlah lagu kanak-kanak yang sedehana yang bisa digunakan untuk pembelajaran puisi. Cari lagu-lagu yang mengandung irama dan rima pada akhir larik. guru dapat memperhatikan ketepatan ucap dan irama lagu.

rumah- rumahan. senilai dengan bermain kelereng. siapa yang tidak pernah berhenti makan dan sebagainya. Langkah VI Mendeklamasikan larik lagu menjadi puisi. Hamzah (1985: 145) menyatakan bahwa kegiatan drama bagi anak-anak harus merupakan langkah rekreasi. kegiatan ini bisa di- lakukan oleh perorangan. Dalam hal ini guru boleh bertanya kepada siswa- siswi misalnya siapa yang telinganya lebih dari dua. siapa yang sepatu baru. dan bermain boneka. sekolah-sekolahan. Kegiatan ini dilakuakan secara besama-sama. Permainan drama di sekolah dasar dapat dilakukan dalam ben- tuk: (a) pantomim. Pembelajaran drama di SD berbeda dengan orang dewasa. Bentuk Permainan Drama di Sekolah 1) Pantomim Hamzah (1985: 51-52) menguraikan pengertian pantomim. (b) sosiodrama sederhana. Langkah VII Menceritakan kembali isi puisi dengan kata-kata sendiri. (c) berekspresi dengan topeng. berkelompok dan perorangan . 191 . Langkah V Bertanya kepada siswa-siswi tentang isi lagu dan dikaitkan den- gan diri siswa-siswi. Mereka kita ajak bermain sebagai peran sekal- igus melatih dasar-dasar bermain drama. Drama Merancang Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Drama Ma- teri pembelajaran drama di sekolah dasar harus sesuai dengan kara- kteristik usia anak. layang-layang. Pada ke- sempatan ini guru dapat melihat dan mengamati kelancaran berbaha- sa pada siswa-siswi dalam menangkap isi lagu sebagai sebuah cerita. anak-anak diajak untuk mengucapkan larik-larik lagu tanpa diiringi irama nada lagu. Dengan cara demikian maka diharapkan siswa dapat merasakan bersamaan bunyi pada akh- ir larik dan memahami isi lagu tersebut. kelompok maupun bersama-sama. Setelah selesai bernyanyi. dan (d) bermain boneka. yaitu: a) Pantomim ialah seni yang menyatakan bermacam ide tanpa media kata. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Langkah IV Mengucapkan larik-larik lagu tanpa diiringi notasi lagu.

c) Pantomim ialah suatu cerita. Kemudian mereka kita tampilkan di depan kelas. dan sebagainya. men- arik tali. Terus siapa yang bisa memperagakan se- bagai pembelinya? Siswa-siswi : Saya Bu!. 2) Sosiodrama Sosiodrama adalah peragaan mirip drama yang berisi peragaan gerak dan bicara. saya Bu! (anak-anak ada yang berebut). Di sekolah dasar pantomim dapat diberikan dengan cara meniru pantomim orang lain dan meniru perbuatan nyata. dalam waktu yang singkat itu. Guru : Ayo siapa yang bisa memperagakan pedagang sate saat melayani pembelinya? Siswa-siswi : Saya Bu!. menanak nasi. Anak-anak dikelompokkan dalam sebuah kelompok diskusi beranggotakan tiga atau empat anak. Anak-anak diberikan waktu beberapa menit untuk merenungkan akan menirukan apa. Professional Learning untuk Indonesia Emas b) Pantomim adalah suatu pertunjukan yang para pemainnya mengekspresikan dirinya melalui isyarat. tetapi Anda bisa memperagakan seseorang yang sedang mencangkul. a) Meniru pantomim orang lain Anda sebagai guru yang profesional bisa menunjukkan atau mempertontonkan adegan pantomim melalui media visual atau memanggil orang lain yang telah menguasai pantomim. pernahkah kalian melihat pedagang sate? Siswa-siswi : Iya Bu! Guru : Bagaimana abang sate membakar satenya? Siswa-siswi : Satenya dibakar di atas tungku. suatu tema yang diceritakan atau dikembangkan melalui gerak tubuh dan wajah ekspresif. selanjutnya berilah tugas agar menulis cerita dalam adegan yang diperagakan pemain pantomim tersebut. Guru : Iya bagus. 192 . kemudian diberi bumbu dan dikipas-kipas. (sebagian siswa-siswi ada yang menert- awakan). Anda bisa membuat skenario seperti ini: Guru : Anak-anak. mengayuh sepeda. b) Meniru perbuatan nyata Pembelajaran pantomim meniru orang lain tidak perlu meng- hadirkan orang lain. menimba air.

d) Guru memanggil beberapa anak untuk memperagakan ekspre- si topeng. maka langkahn- ya dapat dilakukan dengan cara: Langkah I Ambillah salah satu pokok bahasan apresiasi bahasa dan sastra dari silabus. anak-anak kita ajak bermain boneka. 3) Berekspresi dengan Topeng. ta- kut. Hayo sekarang. Mereka kita minta untuk mengamati boneka-boneka yang kita siapkan. kemudian melakukan dialog sesuai dengan lakon yang diberikan. Anda pasti bisa membuat yang lain. Hari ini kita akan memper- agakan pedagang dan pembeli sate. 193 . Selamat mencoba!. Kelas/Semester : V/ 2 Kompetensi Dasar : Drama Materi Pokok : Membaca dialog fragmen drama kanak-kanak Waktu : 2x 45 menit Standar Kompetensi : Siswa-siswi mengenal. Langkah-langkah Pembelajaran Drama Apabila Anda ingin merancang pembelajarannya. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Guru : Iya bagus anak-anak. mamahami dan dapat menghargai bahasa dan sastra Indonesia yang berbentuk drama. gembira. kemudian mintalah mereka melakukan dialog sesuai dengan karakter dalam lakon cerita yang Anda berikan. Hamzah. Tugas kalian yang lain ialah mengamati dan memberikan komen- tar. Dari pengalamannya bermain boneka. b) Anak-anak diminta membayangkan dialog topeng-topeng yang sedang diperhatikan. tertawa. Pembelajaran dengan topeng dapat dilakukan dengan cara: a) Guru memperlihatkan beberapa topeng dan karakternya. Begitulah contoh pembelajaran sosiodrama di sekolah dasar. c) Guru memberikan contoh ekspresi sedih. misalnya sub pokok bahasan drama. Ani. khususnya dialog sederhana serta dapat menyatakan secara lisan dan tulisan. 4) Bermain Boneka Anda sebagai guru ataupun calon guru pasti sudah paham den- gan kebiasaan anak-anak bermain boneka ketika di rumah. dan sebagainya.

tanaman pun bisa dibentuk dan diatur sangat indah dan menawan. waah jadinya luar biasa. jadi anaknya ge- muk-gemuk. kini harganya jutaan rupiah. Perhatikan contoh naskah drama ini. Professional Learning untuk Indonesia Emas Indikator : 1. Belajar menanam bunga dengan teknik stek. tetanggaku itu hobinya men- gukir akar-akar jati. Di sepanjang jalan menuju halaman rumah Pak Hamid. Mereka berempat nampak gembira. (Teman-te- man mereka menertawakan). Siswa-siswi dapat mendramatisasikan frag- men drama di muka kelas. 194 . Pak Hamid nampak tersenyum. Keempatnya tiba-tiba melihat Pak Hamid datang sambil membawa bunga adenium yang nampak bunganya beraneka warna. Siswa-siswi dapat membaca dialog dengan irama yang tepat. Aku sama adikku enggak pernah berhenti makan. mereka menyanyikan lagu. Langkah II Mencari contoh drama yang cocok dengan siswa-siswi kelas V SD. 2. 3. “Lihat kebunku Penuh dengan bunga Ada yang putih Dan ada yang merah Setiap hari kusiram semua Mawar melati Semuanya indah” Andi : Lihatlah Nina. Siti : Kalau ibuku hobinya memasak. Siswa-siswi dapat menetukan tema drama yang dibacanya. Empat orang siswa-siswi SD Flamboyan 1 tengah berjalan menuju rumah Pak Hamid. Nurdin : Memang betul Nin. Kayu- kayu yang tadinya teronggok bagaikan sampah. habis masakannya enak. sih. kebun Pak Hamid bagus sekali ya? Nina : Yaaa. seorang ahli budidaya kembang di Desa Taman Indah. begitulah yang namanya orang itu kalau su- dah menjadi hobi.

kemudian bacalah dengan cermat. bagus sekali Pak!. pasti ibuku senang memasaknya. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Nurdin : Assalamu’alaikum Pak Hamid?. salah-salah kalau kamu yang makan badanmu jadi kurus. Bapak dari tadi sudah lama menunggu kalian lho. (sambil meme- gang tangkai bunga) Nurdin : Kok saya jadi tertarik Pak. nak Andi dan nak Siti. (te- man-teman tertawa) Pak Hamid : Sudah. Kok bisa ya. Soalnya kalau melihat gambar itu kurang jelas. Pak Hamid : Bagaimana anak-anak. nak Nina. Nah ini contoh bunga yang telah bapak sambung dengan beraneka ragam bunga. ayo nak Nurdin. Pak Hamid : Waah. sudah. mana ada orang yang mau. Bagaimana ini caranya? Siti : Wah. Andi : Kebetulan Pak. padahal bunganya kan berbeda-beda Pak. apakah kalian mengalami kesulitan? Nurdin+Siti : Iya Pak. ini hanya bercanda lho. Bapak senang lho akhirnya kalian datang. Pak Hamid : Wa’alaikumsalam. mari…mari…masuk di beran- da. kalau dia sakit malah langsing. soalnya kamu akan sakit keracunan. Kalau ada hal-hal yang kurang bisa kalian pahami. jadi kalau Pak Hamid mau memperagakan langsung kepada kami. mungkin kami akan cepat memahaminya. 195 . Andi lebih dulu meraih buku itu. nanti bapak akan menjelaskan secara men- dalam. Keempat siswa-siswi itu segera berhamburan mendatangi meja yang ada di beranda Pak Hamid. kemu- dian yang lain ikut menyimaknya. kalau bunga ini daunnya pahit sekali. malah ibu sudah menyiapkan kue-kue untuk kalian. kalau daunnya bisa dimasak. bagus kan? (keem- patnya segera mendekat dan mengamati bunga) Nina : Waaahh. Sekarang coba kalian lihat dulu buku yang telah bapak siap- kan di atas meja itu.

agar tidak banyak terjadi penguapan dan sim- pan di tempat yang teduh. lihat di meja itu. ternyata mudah dan sangat sederhana ya Pak? Pak Hamid : Betul!. Nurdin : Mau tanya Pak? Pak Hamid : Oh iya. kalian perhatikan ya. mau tanya apa nak Nurdin? Nurdin : Apakah semua jenis bunga kamboja dapat kita sambung dengan kamboja jenis ini Pak? Pak Hamid : Ohh. 196 . yang penting hari ini kalian sudah bisa menyambung bunga adenium. kemudian ma- sukkan batang sambungan ini dan ikat dengan tali plastik. belahlah tangkai batang induknya. luma- yan kan bisa dilakukan di rumah kalian nantinya. ke- mudian meletakkan di atas meja). mudah bu- kan? Anak-anak kemudian mempraktekkan seperti yang dilakukan Pak Hamid. Nah. Karena jenis kayu dan getahn- ya berbeda. bapak akan praktek menyam- bung. Ayoo. Ibu sudah menyiapkan kue untuk kalian. Pak Hamid : Ada kesulitan Nina? Nina : Waaah. bapak tadi sudah menyiapkan bunga-bunga yang akan kita sambung hari ini. setelahujungnya kita potong membentuk huruf V. Sudahlah. Yang jelas selama ini bapak belum bisa menyambung dengan tanaman yang kalian maksud. Nah anak-anak.sekarang kita istirahat dulu. nanti satu persatu ikut mempraktekkan sep- erti bapak ya!. Perhatikan baik-baik. Professional Learning untuk Indonesia Emas Pak Hamid : Baiklah anak-anak. Langkah III Membaca di dalam hati teks drama yang telah tersedia. nanti pasti kalian berhasil. Siswa-siswi membaca teks drama yang telah tersedia dengan memperhatikan isi cerita dan tokoh yang memainkan peran. tidak bisa nak. yang penting kalian ada kemauan. Bagaimana. Kemudian tutup dengan kantong plastik ini. (Pak Hamid menunjukkan bunga di dalam pot. bapak akan memotong tangkai yang akan disambung.

memperhalus budi pekerti. dan menghibur. Langkah V Berlatih menjiwai peran yang disandang. a. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemam- puan  intelektual. yaitu sastra imajinatif yang meliputi puisi. Langkah VII Guru memberikan penguatan terhadap penampilan siswa-siswi. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memper- luas wawasan. gaya/sikap. 2. gembira. (Siswa-siswi menghafal naskah dan berlatih menjiwai peran yang dimainkan). Tugas siswa siswi di sini bisa melaksanakan dialog tanpa teks/ naskah. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Langkah IV Membuat kelompok siswa-siswi yang akan bermain peran. prosa fiksi dan drama. Sastra adalah sistem  tanda karya seni yang bermediakan bahasa. prosa fiksi. gerak-gerik. Penutup Sastra adalah bagian yang tidak terlepaskan dari pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar sejak siswa duduk di kelas satu sampai dengan kelas enam. Fungsi sastra bagi hidup dan kehidupan manusia adalah: 1. mimik dan men- tal. serta kematangan emosional dan sosial. Sastra sendiri terbagi menjadi dua bagian. Tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga tujuan khusus. Fungsi reaktif. serta meningkat- kan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. dan drama. yaitu: 1. Pengajaran sastra membawa siswa pada ranah produktif dan apre- siatif. baik dari ketepatan ucapan. Langkah VI Memerankan drama dengan membaca teks. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Karya sastra hadir untuk dibaca  dan dinikmati. 197 . dimanfaatkan un- tuk mengembangkan wawasan kehidupan. serta sastra non-imajinatif yang meliputi prosa non-fiksi. 3. b. Pencipataan karya sastra merupakan keterampilan dan kecerdasan intelektual dan imajinatif. Mengajarkan sastra imajinatif berarti mengajarkan puisi. yaitu fungsi atau manfaat memberikan rasa senang.

(2009). Kemampuan berbahasa di SD. (2007). 4. Bahasa dan Sastra Dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: Angkasa Bandung Resmini. yaitu fungsi atau manfaat yang mengandung ajaran. dkk. Edisi Per- tama. Yus. Fungsi religiusitas. Diponegoro.. Fungsi moralitas. yaitu fungsi atau manfaat mengarahkan dan mendidik pembaca karena mengandung nilai-nilai moral. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Djago. 5. Bandung: CV. yaitu fungsi atau manfaat yang dapat memberi- kan keindahan bagi pembaca karena bahasanya yang indah. Bahasa Indonesia Menjelang Ta- hun 2000. (1984). Novi. Pembelajaran Bahasa Indonesia. Surabaya: Aprint. Jakarta: Uni- versitas Terbuka. Bandung: UPI Press. Fungsi didaktif. Jauharoti. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. 198 . (2008). Daftar Pustaka Alfin.ajaran agama yang harus diteladani oleh pembaca. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Ba- hasa. 3. Tarigan. Rusyana. Henry Guntur. Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Cahyani. Professional Learning untuk Indonesia Emas 2. (2007). (2005). Bandung: UPI Press Risalah Kongres Bahasa Indonesia IV. Isah. dkk. yaitu fungsi atau manfaat yang dapat membe- dakan moral yang baik dan tidak baik bagi pembacanya karena sastra yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi. Tarigan. Fungsi estetika.

menyajikan dan memanfaatkan informasi dengan baik. Informasi Pendahuluan Pembelajaran IPS di Madrasah Ibtidaiyah dan Dekolah Dasar se- lama ini masih dirasakan oleh sebagian orang sebagai pembelajaran yang kurang menarik dan kurang menantang. menganalisis. dan meman- faatkan Informasi.com Abstrak: Salah satu keterampilan yang sangat penting untuk dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran IPS MI/SD adalah ket- erampilan memperoleh. MENYAJIKAN. Persepsi itu memang tidak salah. sangat penting mengajarkan siswa untuk memiliki kemampuan yang memadai dalam memperoleh. menyajikan. maka sebenarnya masih terdapat beberapa hal penting yang belum tergali dan belum difahami secara utuh oleh seba- gian besar guru-guru yang mengajar IPS. menganalisis. Mulai dari yang penting sampai ke yang biasa-biasa saja. Salah satu ke- mampuan yang sangat penting untuk dikuasai oleh siswa adalah ket- 199 . STRATEGI DALAM MEMPEROLEH. pembelajaran yang ma- sih sarat dengan kegiatan menghafal fakta. konsep. Kata kunci: IPS MI/SD. Keterampilan ini penting karena dewasa ini seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. dan generalisasi. Informasi yang tersebut sangat beragam ben- tuknya. Mulai dari yang mudah sampai ke yang sulit. Informasi- informasi yang datang tersebut sangat penting dalam pembela- jaran IPS di MI/SD. maka informasi sangat mudah tersebar dan sangat mudah diperoleh. Idealnya guru IPS di MI/SD juga memperhatikan dan menguasai keterampilan-keterampilan dasar dalam IPS MI/SD. MENGA- NALISIS. Mulai dari infor- masi yang positif sampai ke informasi yang negatif. akan tetapi jika pembelajaran IPS difahami secara utuh. DAN MEMANFAAT- KAN INFORMASI DALAM IPS DI MI/SD Takiddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email: takiddin@gmail. Oleh karena itu. Namun tidak semua informasi yang datang itu positif dan diperlukan oleh siswa.

dan memanfaat- kan Informasi. Namun. sangat penting bagi siswa untuk bijkasana dalam memanfaat- kan informasi sehingga informasi yang diperoleh menjadi informasi yang bermanfaat. IPS dalam kepustakaan as- ing lebih dikenal dengan istilah Social Studies. menyajikan. maka penulis memandang perlu untuk memberikan pemikiran mengenai tips-tips dalam mengo- lah informasi agar menjadi informasi yang bermanfaat dengan judul strategi pengajaran dalam memperoleh. Mulai dari informasi yang positif sampai ke informasi yang negatif. maka informasi sangat mudah menyebar dan sangat mudah diper- oleh. Mulai dari yang mudah sampai ke yang sulit. Berdasarkan pada paparan di atas. definisi IPS yang paling lengkap adalah definisi yang dirumuskan oleh The National 200 . dan Studies of Society and Environment (Sapriya. Pendidikan IPS MI/SD Ilmu Pengetahuan Sosial yang disingkat IPS di Indonesia mulai dikenal sejak tahun 1970-an sebagai hasil kesepakatan komunitas aka- demik dan secara formal mulai digunakan dalam sistem pendidikan nasional dalam kurikulum 1975. menganalisis. 2008:6). maka akan menimbulkan fitnah dan cenderung menyesatkan. Informasi yang tersebut sangat beragam bentuknya. Mulai dari yang penting sampai ke yang biasa-biasa saja. menyajikan dan memanfaatkan informasi dalam pembelajaran IPS MI/SD. Jika siswa tidak bisa menyeleksi berbagai informasi dengan baik. Citizenship Education. Social Science Education. Namun tidak semua informasi yang datang itu positif dan diperlukan oleh siswa. menganalisis. Oleh karena itu. menyajikan dan memanfaatkan informasi. seperti jika informasi yang diterima tersebut me- nyangkut nama baik seseorang. Social Studies Education. menganalisis. sangat penting mengajarkan siswa untuk memiliki kemampuan memperoleh. Keterampilan ini penting karena pada hari ini seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. bukan malah sebaliknya menjadi sesuatu yang akan mencelakakan siswa itu sendiri. Informasi-informasi yang datang tersebut sangat penting dalam pembelajaran IPS di MI/SD. Professional Learning untuk Indonesia Emas erampilan memperoleh. maka dikhawatirkan siswa akan mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan. maka sangat berpotensi menimbul- kan permusuhan. Dalam dokumen kurikulum tersebut IPS merupakan salah satu nama mata pelajaran yang diberikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. walaupun banyak ahli yang memberikan definisi terha- dap IPS atau Social Studies dalam istilah asingnya. Sehingga siswa akan terlatih menyeleksi berbagai informasi yang mereka teri- ma. Social Education. Oleh karena itu. Jika informasi itu tidak sesuai dengan fakta.

democratic society in an interdependent world (NCSS. geography. philosophy. religion and sosiology. serta kegiatan dasar pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan. ekonomi. psychology. baik untuk isi Pendidikan IPS 201 . hukum. political science. archeology. Pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu so- sial dan humaniora. serta ilmu-ilmu kemanu- siaan. pengertian IPS untuk konteks Indonesia dapat dik- etahui dari rumusan IPS yang dirumuskan oleh Muhammad Numan Somantri yang menyatakan bahwa: Menurut versi pendidikan dasar dan menengah. Kunci perbedaan antara kedua versi pengertian Pendidikan IPS tersebut ialah kata penyederhanaan dan seleksi dari disiplin ilmu. sejarah. Pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan (Numan. history. so- cial studies provide coordinated systematic study drawing upon such diciplines as anthropology. 1994:3). law. menurut versi FPIPS dan Jurusan Pendidikan IPS. arkeologi. dan seterusnya. as well as appropriate content from humanities. Tujuan utama IPS ialah mem- bantu generasi muda mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan yang informatif dan rasional bagi kebaikan masyarakat se- bagai warga negara dari masyarakat yang berbudaya majemuk dan demokratis dalam dunia yang saling memiliki ketergantungan. matematika dan ilmu-ilmu alam. Dari rumusan NCSS ini. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Council for the Social Studies (NCSS) yang menyatakan bahwa: Social studies is the integrated study of the social sciences and hu- manities to promote civic competence. Kata “penyederhanaan” untuk pendidikan dasar dan menengah menunjukkan bahwa tingkat kesukaran bahan harus ses- uai dengan tingkat kecerdasan dan minat peserta didik. psikologi. agama dan sosiologi. Sementara itu. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decision for the pub- lic good as citizens of a culturally diverse. ilmu politik. 2001:6). mathematics. and natural sciences. Within the school program. economics. Sedangkan tingkat kesukaran pendidikan IPS untuk FPIPS adalah sama dengan tingkat kesukaran perguruan tinggi. geografi. filsafat. dapat diketahui bahwa IPS dirumuskan sebagai suatu kajian terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kemanusiaan untuk meningkatkan kemampuaan kewarganegaraan (civic competence). IPS menyediakan kajian ter- koordinasi dan sistematis dengan mengambil dari disiplin-disiplin antropologi. Pada tingkat sekolah. Sementara itu.

Sedangkan materi digali dan diseleksi dari sejarah dan ilmu-ilmu sosial serta dalam banyak hal termasuk humaniora dan sains. values and skill is one of mutual support” (NCSS. It is essential that these major goals be viewed and equally important. Memperoleh Informasi Melalui Buku Teks Memperoleh informasi melalui membaca buku teks atau buku sumber memerlukan kemampuan yang cukup tinggi. radio. adapun tujuan dari IPS (social studies) diantaranya dapat diketahui dari rumusan yang dirumuskan oleh NCSS sebagai organisasi keanggotaan pertama para pendidik IPS di Amerika seb- agai berikut: Social Studies programs have a responsibility to prepare young peo- ple to identify. understands and work to solve problems that face our increasingly diverse nation and interdependence world. dan melalui lingkungan masyarakat yang ada di sekitar manusia (Sapriya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat dinyatakan bah- wa pendidikan IPS untuk tingkat sekolah dasar merupakan materi pelajaran yang disederhanakan dari ilmu-ilmu sosial (social sciences) dan ilmu-ilmu kemanusiaan untuk meningkatkan kemampuaan ke- warganegaraan (civic competence). through social partici- pation present and ideal balance in social studies. diantaranya dengan membaca buku teks atau buku sumber. Keterampilan Memperoleh Informasi dalam Pembelajaran IPS MI/ SD Banyak cara yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi. democratic value and skill. Tidak jarang se- seorang membaca buku teks atau sumber merasa sulit menangkap apa 202 . the profesional consensus has been that such programs ought to include goals in the broad areas of knowledge. 1994:251 Bahwa IPS sebagai mata pelajaran yang disampaikan pada jenjang persekolahan bertujuan untuk mengembangkan siswa menjadi warga negara yang baik. surat kabar. Professional Learning untuk Indonesia Emas maupun dalam metode ilmiahnya. The relationship among knowledge. Program that combine that acquisition of knowledge and skill with the application of democratic values to life. majalah. Kemudian. melalui media massa seperti televisi. 2009:56). Over the past several decades. bertujuan untuk membantu generasi muda mengembangkan kemampuan membuat keputusan yang infor- matif dan rasional bagi kebaikan masyarakat sebagai warga negara dari masyarakat yang berbudaya majemuk dan demokratis dalam du- nia yang saling memiliki ketergantungan.

ada beberapa yang perlu di- perhatikan: 1) Pahamilah terlebih dahulu tema atau judul yang akan dibaca 2) Bacalah dengan teliti dan fahami makna alinea atau paragraf yang telah dibaca 3) Catat kata-kata kunci dalam bacaan yang sedang dibaca 4) Catat kata-kata sulit yang tidak dimengerti maknanya dan cari dalam kamus atau ensiklopedia 5) Tarik kesimpulan sementara setiap bab atau bagian yang telah di- baca. 2009:57). Melalui media massa kita dapat memperoleh informasi aktual dan terkini. sehingga sulit pula menarik suatu kesimpulan tentang apa yang telah dibacanya. diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam mener- 203 . sehingga informasinya dapat dengan cepat ke masyarakat. Ada beberapa keuntungan memperoleh informasi melalui media massa. dan internasional. yaitu: 1) Informasi dapat dengan cepat sampai kepada si penerima infor- masi 2) Informasi yang diterima lebih aktual dan terkini 3) Informasi yang diperoleh akan lebih percaya karena dilengkapi dengan tayangan-tayangan gambar atau foto-foto 4) Lebih menarik dan mudah dicerna oleh penerima informasi (Sapriya. baik di tingkat lokal. terutama media elektronika sehingga orang yang sibuk tidak akan punya waktu cukup untuk menonton televisi. mendengar radio. dan membaca majalah serta surat kabar 3) Belum semua pelosok tanah air telah dimasuki aliran listrik. nasional. jadi cukup menyulitkan menggunakan media elektronik 4) Tidak semua masyarakat mampu membeli televisi. Agar dapat membaca dengan baik. 2009:57). maupun media elektronik seperti radio dan televisi. Memperoleh Informasi Melalui Media Massa Sumber lain untuk memperoleh informasi adalah media massa. Sementara kelemahan penggunaan informasi media massa adalah: 1) Tidak semua orang memiliki alat atau sarana media komunikasi yang dibutuhkan 2) Memerlukan waktu khusus untuk menyimak informasi. berlangganan surat kabar dan majalah (Sapriya. Media massa apapun yang dimanfaatkan untuk untuk mem- peroleh informasi. baik media cetak seperti surat kabar dan majalah. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa makna atau inti permasalahan yang sedang dibaca.

seseorang akan merasakan kecocokan sehingga memutuskan untuk menuangkan perhatian berlebih pada rekan chatnya. maupun perorangan. video. mengun- duh. serta memperdagangkan pornografi. pemerintahan. Internet menyediakan ak- ses untuk layanan telekomunikasi dan sumber daya informasi untuk jutaan pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. 2009:58). baik berupa gambar. Hubungan melalui internet biasanya berawal dari chat. melakukan kegiatan jual beli saham lewat internet yang meng- ganggu pekerjaan serta mengakibatkan kerugian yang menggir- ing orang bersangkutan pada cengkraman utang. Layanan internet meliputi komunikasi langsung (email. remote login dan lalu lintas file (Telnet. sumber daya informasi yang terdistribusi (World Wide Web. 2003). Go- pher). Sumber Informasi dari Media Internet Internet (Inter-Network) adalah sebutan untuk sekumpulan jarin- gan komputer yang menghubungkan situs akademik. Bahkan. Berikut beberapa dampak negatif penggunaan internet (Rofiyanti. chat). internet juga memiliki sisi positif dan negatif. Professional Learning untuk Indonesia Emas ima informasi tersebut. 2015): 1) Pornografi Tidaklah salah jika internet dikaitkan dengan hal-hal berbau por- nografi. diskusi (Usenet News. organisasi. Bahkan. 3) Perjudian Perjudian melalui internet ini dikenal dengan istilah net gaming.  2) kecanduan hubungan maya Hal ini merupakan dampak yang melibatkan seseorang secara berlebihan untuk menjalin hubungan maya. bermain game. Misalnya. 204 . Internet membawa perubahan yang luar biasa ke dalam kehidu- pan manusia. maupun tulisan. Dalam kaitannya dengan pembelajaran IPS. Net gaming merupakan sebuah keadaan yang sejenis dengan kecanduan judi. Media inter- net memberikan peluang bagi seseorang untuk melihat. milis). yang memiliki kepentin- gan tertentu (Sapriya. seseorang bisa melupakan dunia nyata gara-gara kecanduan chat. Namun. dan aneka layanan lainnya (Ramadhani. email. sumber belajar IPS tidak hanya berasal dari interaksi guru dan siswa di dalam kelas. karena sering terjadi intervensi dari peliput berita. materi yang disam- paikan kepada siswa tidak semata-mata bersumber dari buku teks. FTP). akan tetapi juga berasal dari luar kelas. Oleh karena itu. melainkan tidak jarang berasal dari lingkungan masyarakat sekitar siswa. komersial. Melalui chat. Kadang-kadang informasi yang diterima me- lalui media massa tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. berbelanja.

Kitalah yang harus pandai menyaring. Apalagi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghindari masalah tersebut. Hal yang sebaiknya dilakukan adalah mengabaikan informasi tertentu yang dianggap memiliki unsur penipuan. Hal inilah yang membuat seseorang rela menghabiskan waktu ber- jam-jam untuk mengetahui berbagai informasi yang tersedia. Oleh se- bab itu. janganlah terlalu berlebihan menempatkan diri dalam media informasi bernama internet ini. namun hal itu tidak menunjukkan hasil maksimal. Internet menjadi salah satu sasaran para penipu untuk melancarkan aksinya. Hal-hal bersifat tabu memang menjadi salah satu cara yang bisa menaikkan pamor situs tersebut. In- formasi tersebut dikumpulkan serta diorganisasi sedemikian rupa hingga “melebihi” kapasitas daya tampung otak. seperti Tetris dan Solitaire yang terkenal pada era 1980-an. Internet memang mampu menghadirkan kerugian yang tidak terduga. usahakan agar tidak mem- percayai seseorang yang dikenal lewat maya. ada di internet. penipuan adalah dampak negatif yang mengintai dalam segala hal. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa 4) informasi berlebih Internet merupakan media yang menyediakan berbagai informasi secara lengkap. 205 . 5) kecanduan komputer Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa beberapa organisasi mengalami dampak negatif akibat kecanduan games offline. jika menga- jak bertemu. Apapun yang kita inginkan. Berbagai usaha yang dilakukan pemerintah maupun pihak berkaitan untuk meminimal- isasi dampak negatif internet tidak akan berguna tanpa kesadaran tiap individu pengguna internet. yang sudah diinstall dalam perangkat tiap komputer. Untuk mengantisipasi hal ini. 7) Penipuan Tidak hanya dalam media internet. 6) kekejaman dan kesadisan Kekompleksan informasi di internet membuat beberapa situs me- nampilkan segala bentuk kekejaman dan kesadisan untuk menjual situs bersangkutan. Itulah beberapa dampak negatif internet yang tampak sangat kom- pleks. 8) Penculikan Banyak kasus pelaporan orang tua yang menyatakan bahwa anaknya diculik oleh seseorang yang dikenal melalui jejaring sos- ial. Setiap media memiliki dampak baik dan buruk yang selalu berir- ingan.

kantor desa. dalam hal ini metode penelitian 3) Analisa data dilakukan berdasarkan informasi yang dikumpulkan secara objektif dan faktual 4) Sebelum analisa data dilakukan perlu adanya pemilahan data informasi berdasarkan permasalahan penelitian yang sedang di- lakukan (Sapriya. agar siswa memiliki minat dan perhatian yang tinggi serta antusias dalam proses pembelajaran. namun karena penyajian- nya kurang sistematis dan menarik perhatian orang lain (pemerhati). Keterampilan Menyajikan Informasi dalam Pembelajaran IPS MI/ SD Sekumpulan data dan informasi yang diperoleh perlu diolah. alasan atau sebab dari suatu ke- jadian 2) Mempertimbangkan atau menganalisis informasi-informasi agar diperoleh kesimpulan dan generalisasi berdasarkan informasi tersebut 3) Menganalisis suatu kesimpulan atau generalisasi untuk menemu- kan kejadian-kejadian yang dapat mendukung atau menolak kes- impulan atau alasan itu. sehingga mudah diteri- ma dan dicerna oleh orang lain. maka data atau informasi itu kurang bermakna dan sulit untuk difa- hami oleh pemerhati. seperti melakukan ob- servasi di pasar. 2009:59) Dalam pembelajaran IPS guru diharapkan telah dapat malatih siswa untuk melakukan penelitian sederhana. Sementara itu. Salah satu cara 206 . yaitu: 1) Penganalisis data atau informasi hendaklah memiliki ilmu yang memadai sebagai peneliti 2) Alat untuk menganalisis data harus sesuai dengan tujuan dan teo- ri penelitian. Dalam pembelajaran IPS di MI/SD. dan disimpulkan. untuk menganalisis data atau informasi ada beber- apa hal yang perlu diperhatikan. Selengkap apapun informasi yang telah terkumpul dan diolah dengan baik. lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Professional Learning untuk Indonesia Emas Keterampilan Menganalisis Informasi dalam Pembelajaran IPS MI/ SD Kegiatan selanjutnya yang perlu dilakukan siswa dalam mengo- lah informasi dalam pembelajaran IPS adalah menganalisis informasi. guru hendaknya menjadi pe- nyaji yang baik dan menarik. Data yang diperoleh akan bermanfaat bagi pihak lain jika disajikan dengan sistematis. Adapun tujuan yang ingin dicapai dengan menganalisis informasi adalah: 1) Untuk mengidentifikasi motif. dia- nalisis.

media massa. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi. maupun dari hasil laporan penelitian. diantaranya adalah dengan membaca buku teks atau buku sum- ber. maka guru lebih baik meng- gunakan bagan grafik dan gambar-gambar. surat kabar. Pada saat mengajar pada dasarnya guru menyampaikan informasi yang telah dimilikinya. melalui media massa seperti televisi. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa yang digunakan guru dalam menyajikan materi pembelajaran adalah dengan menggunakan media dan alat peraga pengajaran. Setiap informasi yang dimiliki seseorang baru dianggap bermanfaat bila ia dapat menggunakan dan memanfaatkan informasi-informasi dalam pekerjaannya sehari-hari. Seorang guru apabila akan menyajikan informasi secara efektif hendaknya memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1) Penyaji informasi hendaklah berpribadi menarik dan pandai ber- bicara di depan murid dan khalayak 2) Informasi yang hendak disajikan hendaklah dikemas secara apik dan menarik sehingga informasi yang disampaikan dipercaya oleh si penerima informasi 3) Materi informasi yang hendak disajikan memiliki keterkaitan den- gan kepentingan si penerima informasi 4) Informasi yang disampaikan dapat digunakan sebagai dasar pe- nyusunan rencana pembangunan dan perbaikan di masa men- datang (Sapriya. 2009:63). Apabila ma- teri pembelajaran berupa data dan angka. Dengan cara seperti ini akan membantu siswa untuk mempermudah memahami materi pem- belajaran. baik diperoleh dari buku sumber. Dalam memanfaatkan informasi. ada beberapa hal yang perlu di- perhatikan tentang data atau informasi yang diperoleh. radio. maka dapat disumpulkan bahwa 1. Penutup Berdasarkan pada pembahasan di atas. ma- 207 . 2009:62). Keterampilan Memanfaatkan Informasi dalam Pembelajaran IPS MI/SD Sebagai seorang guru sebenarnya setiap hari mengadakan pene- litian dengan siswa walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. antara lain: 1) Informasi hendaklah benar-benar diperoleh dari sumber yang ter- percaya 2) Pengolahan dan analisis data menggunakan teori-teori yang aku- rat supaya dapat menarik kesimpulan yang lebih objektif 3) Informasi yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian sehing- ga hasil penelitiannya menjadi lebih akurat dan dapat dipercaya (Sapriya.

Sapriya. Somantri. Daftar Pustaka Graifhan Ramadhani. agar siswa memiliki minat dan perhatian yang tinggi serta antusias dalam proses pembelajaran sehingga kelak siswa akan mencontoh apa yang telah dilakukan guru. pengolahan dan analisis data menggunakan teori-teori yang akurat supaya dapat menarik kesimpulan yang lebih objektif. Dilla. Konsep Dasar IPS. Sapriya. Bandung: Laboratorium UPI. Diakses pada Jumat. (2009). antara lain informasi hendaklah benar-benar diperoleh dari sumber yang terpercaya. Professional Learning untuk Indonesia Emas jalah. Pendidikan IPS. Dampak Negatif Penggunaan Internet. sebelum analisa data dilakukan perlu adanya pemilahan data in- formasi berdasarkan permasalahan yang diteliti. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang data atau informasi yang diperoleh. 2.id/tik/pengenalan_ internet. (2003). (2001).wordpress. internet dan melalui lingkungan masyarakat yang ada di sekitar manusia. Bandung: Kerjasama PPs UPI dengan PT.com/dampak- negatif-penggunaan-internet-3/. Rosda Karya. Dalam pembelajaran IPS di MI/SD. 4. 208 . [Online]: (Tersedia) https://dillarofiyanti. (1994). Rofiyanti. Washington DC. Dalam memanfaatkan informasi. Untuk menganalisis data atau informasi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 3. Numan M. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. 15 Mei 2015. Laboratorium PKn: Universitas Pendi- dikan Indonesia Bandung. [online]: (Tersedia): http://directory. NCSS. (2008).pdf. analisa data dilakukan ber- dasarkan informasi yang dikumpulkan secara objektif dan faktual. yaitu penganalisis data atau informasi hen- daklah memiliki ilmu yang memadai sebagai peneliti. dalam hal ini metode penelitian. Curriculum Standars for Social Studies.umm. guru hendaknya menjadi penyaji yang baik dan menarik.ac. Modul Pengenalan Internet. alat untuk menganalisis data harus sesuai dengan tujuan dan teori peneli- tian.

dan di Sekolah Dasar Negeri Cipaku 04 sebagai kelompok kontrol. sedangkan kelompok kontrol diberikan pembelajaran dengan menggunakan media gambar. Selama proses penelitian. Hal ini juga menemukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan alat peraga menara hanoi lebih efektif dalam meningkatkan penalaran matematis siswa dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan media gambar. Analisis data dilakukan dengan uji-t. Pendidikan Matematika.PENGARUH ALAT PERAGA MENARA HANOI UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN MATEMATIS SISWA MENGENAI KONSEP POLA BILANGAN (Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas III SDN Cipaku 03 dan SDN Cipaku 04 Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung) Fery Muhamad Firdaus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh alat peraga menara hanoi dalam meningkatkan penalaran matematis siswa. 209 . Pola Bilangan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara skor penalaran matematis siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Tingkat signifikansi 0. Penelitian dilakukan pada tahun akademik 2014-2015 di Sekolah Dasar Negeri Cipaku 03 sebagai kelompok eksperimen. Penalaran Matematis. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen kuasi desain nonequivalent groups pretest-posttests.05. Sampel penelitian yaitu 20 siswa dari masing-masing kelompok. Kelas III. Sekolah Dasar. kelompok eksperimen diberikan pembelajaran dengan menggunakan media hanoi. Kata Kunci: Menara Hanoi. sehingga alat peraga menara hanoi dapat menjadi alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan penalaran matematis siswa.

sehingga diharapkan siswa sekolah dasar mampu menguasai konsep-konsep terkait mengenai pola bilangan. 2010). (2) Menemukan barisan bilangan dengan cara bermain. Professional Learning untuk Indonesia Emas Pendahuluan Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang wajib dibelajarkan sejak pendidikan usia dini sampai pendidikan menegah. permasalahan yang muncul di kelas yaitu sulitnya siswa menentukan rumus pola bilangan tersebut. mulai dari unsur yang tidak terdefinisikan. Akan tetapi. 2011). ilmu tentang pola keteraturan. 210 . Pendidikan matematika di sekolah dasar merupakan ilmu dasar yang sangat penting untuk dipelajari siswa usia sekolah dasar. ke unsur yang didefinisikan. kurang didukung oleh guru sebagai pelaksana pendidikan di sekolah. dimana menara hanoi ini merupakan salah satu diantara berbagai teka-teki dalam matematika. ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif. kualitas pendidikan dan pembelajaran matematika haruslah ditingkatkan dalam sistem sekolah di Indonesia supaya siswa lebih memahami makna dan pentingnya matematika untuk kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut yaitu penggunaan alat peraga menara hanoi. dan (3) Menemukan rumus pola bilangan (Tim Unit Media Alat Peraga Matematika. Pendidikan matematika di Indonesia kurang baiknya. Ruseffendi (1991) mengemukakan bahwa matematika adalah bahasa simbol. Pentingnya pendidikan matematika di sekolah dasar. Hal itu disebabkan karena guru merasa bahwa tidak adanya cukup waktu untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreasi dan target kurikulum yang begitu ketat untuk segera menghadapi tes standar atau ujian nasional (Turmudi. termasuk di sekolah dasar. sehingga guru masih mendominasi sebagai subyek belajar sehingga siswa hanya mendapat sedikit peran dalam pembelajaran atau hanya sebagai obyek saja. Alat peraga menara hanoi dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran untuk: (1) Melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (problem solving). dan struktur yang terorganisasi. ke aksioma atau postulat. sedangkan rerata skala TIMSS yang ditetapkan adalah 500. hal ini terbukti dari hasil laporan The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2007 bahwa Indonesia menempati ranking ke 36 dari 49 negara yang berpartisipasi dengan skor 397. dan akhirnya ke dalil. Permasalahan ini haruslah diselesaikan supaya penalaran matematis siswa mengenai pola bilangan dapat meningkat secara optimal. Pola bilangan merupakan salah satu konsep yang dibelajarkan di sekolah dasar. banyak kita temukan bahwa guru masih melaksanakan proses pembelajaran matematika dengan metode ekspositori.

mulai dari unsur yang tidak terdefinisikan. dan akhirnya ke dalil. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pembelajaran Matematika Konsep Pola Bilangan Kusumoputro dan Sidiarto (2008: 11) mengemukakan bahwa kemampuan matematika juga merupakan fungsi otak yang kompleks. Sehingga pembelajaran matematika di sekolah dasar haruslah melibatkan lingkungan yang kaya konsep dan keterampilan. 2008: 134) telah dijelaskan bahwa metematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. ilmu tentang pola keteraturan. and there are some things that are logically learned before others. et. (1983: 5) juga mengungkapkan pendapatnya bahwa. Dimana Ruseffendi (Heruman 2010: 1) mengemukakan bahwa matematika adalah bahasa simbol. mengelola. Ashlock. and sequence curriculum content as we plan to teach. Yet we cannot teach everything at once. analitis. and when considered against the background of varied experiences and learning styles that there is not just one sequence or even a single best sequence for learning. spasial dan perseptual. dan kompetitif. tidak pasti. Dalam peraturan menteri pendidikan nasional (Depdiknas. ke aksioma atau postulat. kritis dan kreatif. The mathematics of the elementary school involves a rich mileau of concepts and skill. Pembelajaran matematika ini sangat perlu diberikan kepada seluruh peserta didik dari mulai sekolah dasar. ke unsur yang didefinisikan. dan 211 . In summary. dan struktur yang terorganisasi. Pembelajaran matematika di sekolah dasar merupakan suatu proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang membelajarkan konsep-konsep matematika pada tingkat dasar. serta kemampuan bekerjasama. ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif. relate. Dimana kompetensi-kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh. Selain itu. Kalau matematika harus dihafalkan maka itu adalah upaya langsung merangsang belahan otak kiri dan biasanya kurang berhasil. Dimana proses perolehannya memerlukan kerjasama yang rapi antara belahan otak kanan dan kiri. karena matematika bukan kemampuan belahan otak kiri semata. Matematika adalah pengetahuan yang menggunakan belahan otak kanan mencakup masalah pemahaman visual. sistematis. we have to select. hal ini dimaksudkan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis. mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. al.

deduksi hubungan atau membuat prediksi dan hipotesis. dimana hal itu merupakan kegiatan mencari pola dan urutan. 2009: 110) mengungkapkan bahwa matematika yang dipelajari di SD merupakan serangkaian materi pengetahuan yang memiliki objek dasar yang abstrak yang berlandaskan kebenaran dan konsistensi. Jadi. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah dasar. kritis. 212 . deducing relationships or making predictions and hypotheses. Ini melibatkan hitungan dan menghitung. dan ada beberapa hal yang secara logika dipelajari sebelum orang lain. dan konten urutan kurikulum ketika berencana untuk mengajar.. dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah. telah dijelaskan bahwa mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis. sistematis. mengelola. analitis. It involves counting and calculating. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh. tidak hanya satu urutan atau bahkan urutan terbaik tunggal untuk belajar. recording and measuring. dimana Womack (1988: 24) mengungkapkan bahwa. pencatatan dan pengukuran. analitis. tidak pasti. al. Namun kita tidak bisa mengajarkan semuanya sekaligus. generalisasi dan penalaran. menghubungkan. dan kreatif. Berpikir matematis yang dapat dikembangkan pada proses pembelajaran matematika yang sesuai dengan tujuan pendidikan matematika di sekolah dasar yaitu berpikir logis. pembelajaran matematika di SD diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam berhitung melalui kegiatan praktis yang dilakukan sendiri oleh siswa. Singkatnya. sistematis. berpikir matematis itu menyiratkan lebih dari penanganan bahan dan memanipulasi nomor. kita harus memilih. sangat diperlukan sekali keahlian atau keterampilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan berpikir matematis siswa tersebut. Sedangkan Priatna (Sudirjo. serta kemampuan bekerjasama. Oleh karena itu. Professional Learning untuk Indonesia Emas ketika dianggap bertentangan dengan latar belakang pengalaman bervariasi dan gaya belajar yang ada. Dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan sekali proses berpikir siswa untuk memahami materi pembelajaran matematika yang harus dicapai siswa. Thinking mathematically implies more than handling materials and manipulating numbers: it is looking for pattern and order. generalising and reasoning. et. kritis dan kreatif.

Contohnya: “do. menerjemahkan. secara luwes. . 5. yaitu memiliki rasa ingin tahu. diagram. menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma. mi. menyusun bukti.. akurat.” merupakan pola bernyanyi sederhana. serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas: 2006). 3. 2. dan tepat. Dimana Walle (2008) mengungkapkan beberapa tahanpan dalam pembelajaran pola bilangan. Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah. 4. Memahami konsep matematika. efisien. dalam pemecahan masalah. Konsep dari pola berulang dan bagaimana suatu pola diperluas atau dilanjutkan bisa diperkenalkan kepada kelas dalam beberapa cara. jadi inti dari pola selalu berulang dan tidak pernah diulang sebagian. menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. topik yang bagus untuk memulai adalah ekspolari pola-pola berulang. tahapan tersebut yaitu sebagai berikut: 1) Pola-pola berulang Belajar untuk menemukan pola dan bagaimana menjelaskan. mi. Salah satu konsep yang dikembangkan di sekolah dasar yaitu mengenai konsep pola bilangan. melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi. merancang model matematika. tabel.. atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. mi. 2) Bagan dan Pola Bilangan Lain a) Pola dan bagan ratusan Bagan ratusan merupakan suatu ladang yang sangat kaya 213 . atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol. Inti dari pola yang berulang adalah baris yang terpendek dari unsur yang berulang. Pola lisan bisa diikuti oleh semua anak. perhatian. dan minat dalam mempelajari matematika. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat. do. Satu kemungkinannya adalah dengan menggambar pola bentuk sederhana dan menjelaskannya dalam diskusi. Langkah matematis yang signifikan adalah dengan melihat bahwa dua pola yang dibuat dari material yang berbeda sebenarnya memiliki pola yang sama. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dan kompetitif. dan memperluas pola merupakan bagian dari pengerjakan matematika dan berpikir aljabar. Pada tingkat PAUD sampai SD kelas 3. mi. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.

214 . pada bagan dengan lebar 9. Suatu tabel bisa dibuat untuk setiap pola berkembang. Pola yang berkembang ini juga menunjukkan konsep dari fungsi dan bisa digunakan sebagai pengenalan pada bidang matematika yang sangat penting ini. 1. yaitu jumlah objek pada setiap langkah.. 1. tiga-tiga akan membentuk kolom sedangkan dua-dua akan membentuk diagonal. suatu pola berkembang sangat cepat dan memerlukan begitu banyak blok atau ruangan untuk menggambarnya sehingga tidak hanya perlu menggambar atau membuat lima atau enam langkah pertama saja. 2. Pola yang berkembang memiliki komponen numeris.. Misalnya. Pola-pola tersebut terdiri dari rangkaian langkah berbeda. .. Seperti pada “Prediksi Sepanjang Baris”. Pola 1. siswa tidak hanya mengembangkan pola tetapi juga mencari generalisasi atau hubungan aljabar yang akan memberikan gambaran tentang bilangan kesekian. b) Pola-pola bilangan Banyak pola bermanfaat bisa diawasi cukup dengan bilangan. Pada umunya. Satu baris dari tabel atau bagan selalu merupakan jumlah langkah. Professional Learning untuk Indonesia Emas untuk mengakplorasi hubungan bilangan dan tidak hanya sebagai suatu alat untuk mengajarkan penomoran bilangan. 1. 2. pola membentuk kolom hanya jika hitung- lompat dengan faktor atau kelipatan lebar bagan. bahkan anak yang sangat kecilpun bisa menggunakan bilangan dengan pola seperti ini. Beberapa pola berkembang yang dibuat dari berbagai material atau gambar. 4. Dalam istilah teknis. Tantangan di pola-pola atau urutan bilangan ini tidak hanya menemukan dan memperluas pola tetapi juga menciptakan generalisasi.”. minta siswa memprediksi bilangan ketigabelas atau keseratus. Dengan pola- pola ini. Seringkali. setiap langkah baru terkait dengan langkah sebelumnya menurut suatu aturan. 1. Siswa akan menemukan bahwa pola yang sama ada di atas pola yang lain seperti pada bagan biasa. . 3) Pola yang berkembang Siswa bisa memperdalam pola-pola yang mengandung progresi dari satu langkah ke langkah lainnya. dan yang lain untuk mencatat berapa banyak objek pada langkah tersebut. 2. 3. seperti “1. Siswa dapat mewarnai perhitungan lompat pada bagan ratusan dan mencari pola. ini disebut dengan urutan. 5. pola numeris juga mencakup beberapa bentuk progresi.. kita cukup menyebutnya pola yang berkembang. Namun. merupakan contoh sederhana yang bisa ditemukan oleh anak kecil. Ini bisa merupakan pola berulang sederhana.

diperlukan pula alat peraga untuk menunjang keberhasilan pembelajaran matematika yang dilaksanakan. Permainan ini terdiri dari tiga tiang yang terdiri dari tiang asal. dimana menara hanoi ini merupakan sebuah alat peraga yang digunakan dalam permainan matematis atau teka-teki. dan tiang tujuan. dimana alat peraga dalam pembelajaran matematika yaitu seperangkat benda kongkret yang dirancang. Salah satu alat peraga yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran matematika konsep pola bilangan yaitu menara hanoi. Dalam alat peraga ini. tiang bantu. 2003:1). Oleh karena itu. Alat peraga digunakan untuk membantu ketercapaian pembelajaran yang optimal. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Alat Peraga Menara Hanoi Dalam proses pembelajaran matematika di sekolah dasar. terdapat pula sejumlah cakram dengan ukuran berbeda-beda yang bisa dimasukkan ke tiang mana saja. sehingga membentuk kerucut. Permainan dimulai dengan cakram-cakram yang tertumpuk rapi berurutan berdasarkan ukurannya dalam tiang asal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 1 Menara Hanoi 3 Piringan 215 . cakram terkecil diletakkan teratas. guru harus mampu memilah dan memilih alat peraga yang dapat menarik perhatian siswa untuk belajar dan membantu siswa dalam melaksanakan proses belajar di kelas. dibuat atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika (Iswadji. dimana alat peraga dipilih sesuai dengan kompetensi yang ingin dikuasai siswa atau tujuan pembelajaran yang diharapkan.

tetapi juga untuk melakukan inferensi dalam suatu sistem kecerdasan buatan (artifical intelligence/AI) (Suksmono. Dewa Brahma menciptakan tiga tiang pada candi tersebut. makin ke atas makin kecil. Para pendeta mendapat tugas untuk memindahkan cakram emas itu ke tiang yang lain sesuai dengan suatu aturan. Professional Learning untuk Indonesia Emas Teka-teki menara hanoi ini ditemukan Edouard Lucas yaitu seorang ahli matematika Perancis di tahun 1883. di atas cakram lain yang mungkin sudah ada di tiang tersebut. Tim Unit Media Alat Peraga Matematika Alat (2011) memaparkan bahwa peraga menara hanoi dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran untuk: a. Penalaran matematika tidak hanya penting untuk melakukan pembuktian (proof) atau pemeriksaan program (program verification). Tujuan dari teka-teki ini adalah untuk memindahkan seluruh tumpukan ke tiang yang lain. c. 2011). Menemukan barisan bilangan dengan cara bermain c. Hanya satu cakram yang boleh dipindahkan dalam satu waktu. dengan urutan keping yang terbesar terletak di bawah. atau inspirasi dari Lucas sendiri.). Konon. Menemukan rumus pola bilangan. Teka-teki ini berdasarkan pada sebuah cerita legenda tentang candi Indian atau menara Benares di India yang memiliki tiga tiang dan salah satu tiangnya terdapat 64 tumpukan cakram emas. 2012). 2009: 3. b. Melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah (problem solving) b. Tidak boleh meletakkan cakram di atas cakram lain yang lebih kecil (Dewi. Tidak jelas apakah ini benar-benar legenda. Dalam legenda itu dikatakan bahwa dunia akan berakhir jika para pendeta tersebut selesai memindahkan ke 64 cakram tersebut (Tim Unit Media Alat Peraga Matematika. Setiap perpindahan berupa pengambilan cakram teratas dari satu tiang dan memasukkannya ke tiang lain. Pada salah satu tiang terdapat tumpukan cakram emas sebanyak 64 keping. Shadiq (Karim. mengikuti aturan berikut: a. Penalaran Matematis Penalaran matematika (mathematical reasoning) diperlukan untuk menentukan apakah sebuah argumen matematika benar atau salah dan juga untuk membangun suatu argumen matematika. Selanjutnya Dewa Brahma memerintahkan para pendeta untuk memindahkan keping- keping emas itu dengan aturan : setiap perpindahan hanya boleh memindah 1 cakram dan cakram yang besar tidak boleh diletakkan di atas cakram yang lebih kecil.1. 2010) juga berpendapat bahwa seni bernalar sangat 216 .

(2) memberikan penjelasan dengan menggunakan model. Setelah terbukti kebenarannya barulah aturan tersebut dinyatakan sah dan dapat diterapkan pada persoalan-persoalan yang istimewa sekalipun. al. (7) mengikuti aturan inferensi. observasi/pengamatan. Di mana penalaran induktif adalah penarikan kesimpulan yang didasarkan kepada sejumlah terbatas contoh. 2006: 3-8). (3) memperkirakan jawaban dan proses solusi. memeriksa validitas argumen. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dibutuhkan di setiap segi dan setiap sisi kehidupan ini agar setiap warga bangsa dapat menunjukkan dan menganalisis setiap masalah yang muncul secara jernih. penalaran dapat diklasifikasi ke dalam dua katagori yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. 2009: 37). Winarni dan Harmini (2011: 4) berpendapat bahwa penalaran induktif secara matematis tidak selalu benar. atau pernyataan-pernyataan yang dianggap benar. (4) menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematik.. serta dapat mengemukakan pendapat maupun idenya secara runtut dan logis. fakta. sifat- sifat. dapat menilai sesuatu secara kritis dan objektif. (9) menyusun pembuktian langsung. (8) menyusun argumen yang valid. Cara berpikir dengan cara tersebut adalah cara berpikir yang mengakui kebenaran secara umum berlaku pada hal-hal khusus. (6) merumuskan lawan contoh. dan hubungan. Dilihat dari proses penarikan kesimpulannya. atau pernyataan- pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan (Windayana. tidak langsung dan menggunakan induksi matematika (Sari. et. Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan dari sejumlah data atau keterangan yang tersedia. Adapun penjelasan mengenai indikator penelaran tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: 217 . Penalaran matematis meliputi: (1) menarik kesimpulan logis. di mana dengan penalaran deduktif aturan-aturan dalam matematika dicoba dibuktikan kebenarannya sebelum ditetapkan sebagai aturan umum. (5) menyusun dan menguji konjektur. atau eksperimen (percobaan). untuk mendapat kebenaran perlu pembuktian secara deduktif. dapat memecahkan masalah dengan tepat. Sedangkan penalaran deduktif adalah proses penarikan kesimpulan berdasarkan pernyataan-pernyataan benar.

konjektur. membuat hubungan antara ide matematis yang berkaitan dengan objek tertentu. Mengkombinasikan atau mengintegrasikan prosedur-prosedur matematis untuk memperoleh Sintesis hasil yang diinginkan. dan membuat spesifikasi Konjektur tentang suatu hasil (outcome) yang di dapat dari suatu operasi atau percobaan. membuat hubungan antara elemen-elemen pengetahuan berbeda dengan Koneksi representasi yang berkaitan. 218 . mengajukan model. Menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah ada. Professional Learning untuk Indonesia Emas Tabel 1. Memperluas domain sehingga hasil pemikiran matematis atau pemecahan masalah dapat diterapkan Generalisasi secara lebih umum atau lebih luas. melakukan dekomposisi gambar geometri untuk Analisis menyederhanakan proses penyelesaian masalah. mendiskusi ide matematis. menysusun inferensi sahih dari informasi yang diberikan. atau pembuktian secara kritis. Menentukan dan membicarakan atau menggunakan hubungan-hubungan antar variabel atau objek dalam situasi matematis. Mendiskusikan dan mengevaluasi suatu ide matematis. Menyelesaikan masalah dalam konteks matematis agar kehidupan sehari-hari dengan tujuan agar siswa Pemecahan terbiasa mengahadapi masalah seupa. Deskripsi Indikator Penalaran Matematis Indikator Deskripsi Penalaran Mengajukan konjektur atau dugaan pada saat meneliti pola. Evaluasi metode. menerapkan masalah suatu prosedur matematis dalam konteks yang baru tidak rutin dihadapi. strategi pemecahan masalah. menganalisis data statistik. mengkombinasikan beberapa hasil untuk memperoleh hasil lebih jauh. menggambar jaringan dari suatu bangun ruang yang tidak lazim. menguji kumpulan data.

Instrumen Instrumen penelitian yang digunakan yaitu pedoman observasi dan lembar tes evaluasi penalaran matematis siswa pada konsep volume kubus dan balok. taraf signifikansi 0. hal ini dikarenakan penelitian dilaksanakan dengan maksud untuk mempelajari sesuatu dengan mengubah suatu kondisi dan mengamati pengaruhnya terhadap hal lain. 2008: 34-35) Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen kuasi. Dengan kata lain. di mana teknik ini dilaksanakan dengan menggunakan uji t. Populasi dan Sampel Yang menjadi populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SDN Cipaku 03 dan SDN Cipaku 04 Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung. yaitu sebanyak 20 siswa.05 maka H0 diterima. Setiap masing-masing kelas diambil jumlah siswa yang sama sebagai sampel.05. Hasil Penelitian Hasil uji-t penalaran matematis pada saat pretes yaitu bahwa nilai signifikansi (P-value) untuk faktor pembelajaran sebesar 0. tidak terdapat perbedaan rerata 219 . Penempatan sampel pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random atau acak. Analisis Data Analisis data hasil tes dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh alat peraga menara hanoi dalam meningkatkan penalaran matematis siswa kelas III sekolah dasar mengenai konsep pola bilangan. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu teknik statistik inferensial parameter. Penelitian eksperimen kuasi yang akan dilaksanakan yaitu dengan bentuk nonequivalent groups pretest-posttets design yang mengacu kepada pendapat Fraenkel dan Wallen (2007:278).756 > 0. atau mengembangkan argumen matematis untuk pembuktian membuktikan atau menyangkal suatu pernyataan. Sumber : (Sukirwan. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Menyajikan bukti validasi suatu aksi atau kebenaran suatu pernyataan dengan berpedoman pada Jastifikasi hasil atau sifat-sifat matematis yang diketahui. tetapi dilaksanakan secara non random.

000 Ditolak Kontrol 7. 8.756 Diterima Kontrol Eksperimen. rata-rata skor pretes kemampuan penalaran matematis siswa kelompok eksperimen dan kontrol masing- masing adalah adalah 5.15 dan 5.05 maka H0 ditolak.23. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal penalaran matematika siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sama.000 < 0. dan kenaikan rerata skor posttes dari skor pretes kelompok kontrol hanya 1. Rerata skor pretes siswa kelompok eksperimen (5. Namun rerata skor posttes siswa kelompok eksperimen (8. Dengan memperhatikan rata-rata skor posttes antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat disimpulkan bahwa kemampuan penalaran matematis kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol secara signifikan.28 dan kelompok kontrol adalah 7. Dengan kata lain.23 0.024 0. Berdasarkan hasil uji perbedaan rata-rata diperoleh bahwa rata-rata kedua kelompok tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan. terdapat perbedaan rerata skor posttes penalaran matematis siswa antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen.313 38 2.28 > Posttes -6.95.28) dan kelompok kontrol (7.08. Akan tetapi.18. hasil uji perbedaan rerata posttes penalaran matematis siswa yaitu bahwa nilai signifikansi (P-value) untuk faktor pembelajaran sebesar 0. Hal tersebut memberikan asumsi bahwa kualitas peningkatan penalaran matematis siswa kelompok eksperimen lebih baik. Adapun hasil perhitungan uji perbedaan rerata dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini. H0 Eksperimen- Pretes 5. maka diperoleh rata-rata skor postes kelompok eksperimen adalah 8.15 < 5. Kenaikan rerata skor posttes dari skor pretes kelompok eksperimen 3. Hal tersebut ditunjukkan oleh perbedaan rerata yang hanya 0.13.024 0. Professional Learning untuk Indonesia Emas skor pretes penalaran matematis siswa antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berdasarkan faktor pembelajaran. Untuk 220 . Tabel Hasil Pengujian Perbedaan Penalaran Matematis Siswa Tes Pembelajaran Perbedaan Thitung Df ttabel Sig.10.18) berbeda sebesar 1. Setelah dilakukan treatment (perlakuan) terhadap kelompok eksperimen dengan menggunakan alat peraga menara hanoi dan kelompok kontrol dengan menggunakan pembelajaran dengan menggunakan media gambar sebanyak tujuh treatment pada masing- masing kelas.18 Jika dilihat dari tabel 5 di atas. Tabel 5.15) dan kelompok kontrol (5.308 38 2.23) relatif sama.

maka dapat diambil kesimpulan bahwa alat peraga menara hanoi lebih efektif dalam meningkatkan penalaran matematis siswa dibandingkan pembelajaran dengan menggunakan media gambar. sehingga dapat diketahui bahwa alat peraga menara hanoi lebih berpengaruh secara signifikan daripada pembelajaran dengan menggunakan media gambar dalam meningkatkan kemampuan penalaran siswa sekolah dasar. 9 8 7 6 5 Pretes 4 Posttes 3 2 1 0 Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Diagram 1.05 secara meyakinkan terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata skor postes kelompok eksperimen dengan rerata skor posttes kelompok kontrol. Perbedaan Penalaran Matematis Kelompok eksperimen dan Kelompok kontrol Hasil Uji signifikansi terhadap perbedaan rerata skor postes kelompok eksperimen dengan rerata skor postes kelompok kontrol diperoleh bahwa. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa lebih jelasnya. hal ini ditandai dengan terdapatnya perbedaan rerata skor posttes penalaran matematis siswa antara kelompok eksperimen yang menggunakan alat peraga menara hanoi dengan kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran dengan menggunakan media gambar. berikut diagram yang menunjukkan perbandingan penalaran matematis kedua kelompok dilihat dari rata-rata hasil pretes-posttes. studi ini memperoleh kesimpulan yang berkenaan dengan hasil studi empirik tentang eksperimen pembelajaran dengan menggunakan alat peraga menara hanoi dalam meningkatkan penalaran matematis siswa kelas III sekolah dasar. Penutup Sejalan dengan rumusan masalah dan pertanyaan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh. dalam tingkat keberartian α = 0. Kemampuan 221 . Peningkatan rerata hasil kemampuan penalaran siswa kelas ekperimen lebih besar daripada rerata hasil kemampuan penalaran siswa kelompok kontrol.

(2009). Ohio: Bell & Howell. Fraenkel. E. Guiding Each Child’s Learning of Mathematics. N. Sari. A. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Model Reciprocal Teaching. Peraturan Dirjen Dikdasmen No. al. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. S. A. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Makalah tidak dipublikasikan. Heruman. Daftar Pustaka Ashlock. 222 . Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas. Bandung: Rosda. Menuju Pendidikan Dasar Bermutu. siswa pada kelompok eksperimen memberikan respon yang baik dan merasa senang terhadap pembelajaran dengan menggunakan menara hanoi. L. Depdiknas. Iswadji. Karim. Jakarta: UI-Press. al. Depdiknas. Professional Learning untuk Indonesia Emas penalaran matematis siswa yang memperoleh pembelajaran yang menggunakan alat peraga menara hanoi lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran yang menggunakan media gambar. J. Sudirjo. (2008). B. et. D. (2009). Kusumoputro. (2003). Belajar & Pola Pikir Berbasis Mekanisme Otak (Whole-Brain Thinking). 506/C/PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang Penilaian Perkembangan Anak Didik Sekolah Menengah (SMP). Selain itu. (2010). (2006). (2007). R. D. (2008). R. E. Bandung: Rizqi Press. Tesis Magister SPS UPI Bandung: tidak diterbitkan. et. Tesis Magister pada Pendidikan Dasar UPI Bandung: tidak diterbitkan. dan Sidiarto. Pengembangan Media/Alat Peraga Pembelajaran Matematika di SLTP. How to Design and Evaluate Research in Education. Pemberdayaan Benda Manipulatif dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Siswa Sekolah Dasar. (1983). Jakarta: Depdiknas. Depdiknas (2004). (2010). Sehingga alat peraga menara hanoi dapat dijadikan alternatif yang efektif dalam meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa sekolah dasar. dan Wallen. New York: Mcgraw hill. Jakarta: Depdiknas.

Matematika Diskrit dan Aplikasina.moe. TIMSS. B. Developing Matchematical and Scientific Thinking in Young Children. Rank Positions and Average Scores of Education Systems in TIMSS 2007.sg/ media/press/ files/2008/12/tims-annex-a. M. Landasan Filsafat dan Teori Pembelajaran Matematika (Berparadigma Eksploratif dan Investigatif). (2008). [Online]. London: Cassell. [Online]. Bandung: Institut Teknologi Bandung.pdf [2 Juni 2012] Turmudi. [9 Februari 2013] Tim Unit Media Alat Peraga Matematika. Kapita Selekta Kependidikan SD. S. Tersedia: http://p4tkmatematika. S. Tesis Magister pada Pendidikan Dasar UPI Bandung: tidak diterbitkan. E. dkk. (2010). Windayana. al. Surya. (2009). A. D. Walle. H. Konsep Dasar Matematika. Winarni. Kegiatan Pembelajaran Eksploratif untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Koneksi Matematis Siswa Sekolah Dasar.pdf. Womack. 223 . Alar Peraga Menara Hanoi untuk Pembelajaran Pola Bilangan. Matematika untuk PGSD. A. (1988). Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Sukirwan.gov. (2006). Jakarta: Leuser Citra Pustaka. Pengembangan Pengajaran Matematika Sekolah Dasar dan Menengah. J.org/2011/03/alat-peraga-menara- hanoi-untuk-pembelajaran-pola-bilangan. Tersedia: http://www. Bandung: Rosda. Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka. (2011). Bandung: UPI Kampus Cibiru. (2008). et. Suksmono. V. (2006). Jakarta: Erlangga. dan Harmini. (2008). (2011). D.

com Abstract: The objective of this research is to examine the defference of student’s learning achievement at social science education between whom learned with Make A-Match learning method and whom learned with Team Quiz learning method. The research about Make A-Match and Team Quiz learning technique that applied for other matter or lessons should be held to resolved its function to increases student’s learning achivement and motivates them. The result show that at signifficant 5% with mean gain Make A-Match 0. Analyze data with t-test at signification α 5%. and to know student’s response with cooperative learning applied. Data were collected from test (30 items). using experiment design. to compare the student’s learning achievement by Make A-Match learning method and Team Quiz learning method. PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN MAKE A-MATCH DAN METODE TEAM QUIZ DI SMP SWASTA SE-KECAMATAN PAMULANG Nurochim Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email: nur_lucky@yahoo. The research is held 85 students from Class VII of Private Junior High School that device to two group of experiment and control with the number of experiment group is 45 students and the number of control group is 40 students.The results of this research: There is nothing the defference between student’s learning achievement at social science education with Make A-Match learning method and student’s learning achievement at social science education with Team Quiz learning method and obtained value and . Student and observer give a positive response with this cooperative learning applied. 224 . and observation to know learning method process.According to the result of this research the author recommended: The teachers should had a knowledge and enough abbility to choose the right learning methods and suitable with the matter learned by student so the students learning achievement could be increased.63 hence can be said that cooperative learning Team Quiz method is better than cooperative learning Make A-Match method.53 and mean gain Team Quiz 0.

pemahaman. cakap. Atas dasar hal tersebut pihak pemerintah Indonesia melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan. memiliki kesopanan dan kesusilaan. Dalam rumusan tujuan pendidikan dalam undang-undang tersebut melalui pendidikan dapat terbentuk warga negara yang memiliki tanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional adalah sebagaimana dirumuskan dalam Undang-Undang No. berilmu. Peningkatan kualitas ilmu pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilakukan pada semua kelompok mata pelajaran yang tertuang dalam Standar Isi. Pendidikan adalah salah satu cara yang digunakan untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kualitas. kreatif. mandiri. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Keyword: Learning Method. nilai dan sikap. dan global. Para peserta didik yang sudah mengikuti proses pembelajaran diharapkan mengalami perubahan baik dalam bidang pengetahuan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. dan perbaikan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan zaman.). dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Learning result Pendahuluan Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Diantaranya adalah kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu (IPS Terpadu). nasional. Defference. serta menjadi warga negara yang demokratis. Terkait dengan mutu pendidikan khususnya pendidikan pada 225 . Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh proses pembelajaran. peningkatan kualitas pendidik. Make A-Match. ketrampilan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan dilakukan melalui berbagai perbaikan seperti perbaikan kebijakan pendidikan. Salah satu standar mutu pendidikan di suatu sekolah adalah hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik di sekolah tersebut. Maka hasil belajar peserta didik pada suatu mata pelajaran tertentu merupakan salah satu indikator kualitas pendidikan di suatu sekolah. sehat. Team Quiz. meskipun hasilnya tidak dengan seketika dapat terlihat. melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. berakhlak mulia. yang menjadi mata pelajaran wajib pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs. Melalui pendidikan diharapkan peserta didik memiliki kecakapan dan keterampilan sehingga dapat melaksanakan perannya sebagai warga lokal.

memperoleh hasil belajar yang rendah. memahami bagaimana manusia berusaha menyesuaikan dan menggunakan sumber lingkungan. dan kebudayaan. tempat. memahami perubahan masyarakat. peserta didik harus mampu terlibat dalam perubahan sosial dan kebudayaan di dalam masyarakat. ilmu pengetahuan sosial merupakan studi sosial yang pada hakekatnya merupakan kajian mengenai manusia dengan segala aspeknya dalam sistem hidup bermasyarakat. IPS perlu difokuskan kepada upaya untuk menyediakan pengalaman belajar yang dapat membantu peserta didik dalam hal memahami bahwa lingkungan fisik menentukan bagaimana manusia hidup. inkuiri. berdasarkan nilai-nilai kemasyarakatan yang berlaku dan perlu dikembangkan (Sukardi. pembelajaran IPS kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar dalam mata pelajaran IPS para peserta didik di sekolah. memecahkan masalah. sehingga relevan dan 226 . Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi yang pertama manusia. 2006:5). 2007:19). dan keterampilan dalam kehidupan sosial. Berdasarkan hasil pengamatan.) hingga saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Bahan-bahan pembelajaran IPS diambil dari ilmu-ilmu sosial yang bertujuan untuk kepentingan kewarganegaraan. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menurut Sapriya adalah merupakan suatu mata pelajaran yang mengkaji serangkaian peristiwa. agama. dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaraan (Sapriya. Professional Learning untuk Indonesia Emas jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs. dan memahami serta menghargai persamaan semua ras. pada mata pelajaran IPS Terpadu. dan kurang memiliki motivasi dalam belajar. peserta didik kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Menurut Barr. keberlanjutan. konsep. yang ke empat adalah perilaku ekonomi dan kesejahteraan. Kajian tersebut dilakukan dalam bentuk pembelajaran IPS di sekolah untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang baik. memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. di tingkat lokal. memiliki kemampuan berkomunikasi. dan global. dan perubahan. Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. yang ke dua waktu. Banyak para peserta didik SMP atau MTs. Para peserta didik mengeluhkan jika pelajaran IPS hanya pelajaran yang sifatnya menghapal dengan cara yang membosankan. Materi dipilih secara selektif. yang ketiga sistem sosial dan budaya. nasional. memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis. dan lingkungan. fakta. memahami dampak dari perkembangan saling ketergantungan antar manusia. rasa ingin tahu. bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk.

hasil kerja (performance). Guru dituntut untuk menerapkan berbagai metode pembelajaran. portofolio. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada mata pelajaran IPS. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku. penugasan (proyek). pengetahuan. atau jika mempelajari tentang sebab akibat tentang suatu peristiwa. kelompok sosial. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil tes (formatif. dalam proses pembelajaran harus menggunakan metode yang menarik sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar. Jika peserta didik mempelajari pengetahuan tentang konsep. maka perubahan tingkah lakunya adalah kemampuan menganalisis tentang sebab akibat suatu peristiwa. Ekonomi. baik yang terjadi pada masa lalu. memberikan informasi yang terbaru dan bermanfaat khususnya yang terkait dengan mata pelajaran IPS. maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Diperlukan metode pembelajaran interaktif yang dilakukan dengan. Sosiologi. dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. subsumatif dan sumatif). dan evaluasi atau penilaian yang berkelanjutan. dan konflik serta terciptanya integrasi sosial. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut berdasarkan pada hal-hal yang dipelajari oleh para peserta didik. dan guru mengutamakan proses daripada hasil. maupun masa datang. struktur sosial lembaga sosial. perubahan sosial. komprehensif. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa mampu membantu peserta didik memahami banyak manusia dan berbagai hal yang berkaitan dengan interrelasinya. dan Sejarah. dan ketrampilan yang diperoleh oleh peserta didik setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. baik penilaian proses maupun hasilnya. masa kini. sikap serta penilaian diri. yang terdiri atas beberapa bagian disiplin ilmu seperti Geografi. Untuk meningkatkan hasil belajar IPS. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis. Guru merancang proses belajar mengajar yang 227 . melakukan langka-langkah. dan keterampilan dasar yang berguna bagi peserta didik untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: sosialisasi. Mata Pelajaran IPS dalam kurikulum 2006 merupakan IPS Terpadu yang merupakan gabungan antara berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hal ini memberikan dampak terhadap guru yang mengajar di kelas. sikap. hasil kerja (produk). maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan. guru lebih banyak memberikan peran kepada peserta didik sebagai subjek belajar. Hasil belajar IPS adalah yang dicapai peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran IPS berupa seperangkat pengetahuan. menggunakan media yang relevan.

atau mengisi daftar hadir guru. mengerjakan tugas mata pelajaran lain. para peserta didik hanya mendengarkan. Hal tersebut antara lain disebabkan karena interaksi guru dan peserta didik kurang. Dampaknya dari proses pembelajaran IPS Terpadu yang kurang kondusif adalah motivasi para peserta didik dalam mengikuti mata pelajaran IPS rendah. Peningkatan hasil belajar IPS Terpadu peserta didik dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan. Beberapa masalah yang terdapat dalam proses pembelajaran IPS Terpadu antara lain proses pembelajaran mata pelajaran IPS kurang kondusif. ditambah lagi dengan metode mengajar yang digunakan oleh guru kurang menarik. atau mengantuk di dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan motivasi yang rendah. khususnya hasil belajar IPS. Seharusnya guru harus menciptakan suasana kelas yang dapat membuat peserta didik mendapat kesempatan untuk saling berinteraksi aktif dengan seluruh komponen kelas. Proses pembelajaran yang dilakukan hanya bersifat satu arah. maka akan semakin 228 . tanpa peduli apakah materi yang dibahas diikuti dengan baik oleh para peserta didiknya atau tidak. sedangkan guru menerangkan dari awal pembelajaran hingga bel tanda jam pelajaran selesai. afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar yang sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditentukan. Berdasarkan masalah-masalah yang diungkapkan tersebut harus dicari penyelesaiannya untuk mencapai peningkatan hasil belajar. dan metode pembelajaran. penglihatan. salah satunya adalah metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru. ditambah lagi dengan guru tidak menggunakan media yang relevan. pendengaran. strategi. banyak peserta didik yang sering melakukan hal-hal yang bukan aktivitas belajar pada saat pembelajaran IPS. Agar hasil belajar IPS meningkat diperlukan situasi. Professional Learning untuk Indonesia Emas melibatkan peserta didik secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif. para peserta didik tidak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki. cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan peserta didik secara aktif baik pikiran. Dalam hal ini guru hanya sekedar memenuhi kewajibannya memenuhi tugas mengajar sebagai tukang ajar. seperti berbicara dengan peserta didik yang lain. Semakin tepat penggunaan model. dan psikomotor dalam proses belajar mengajar. kadang-kadang guru hanya duduk depan kelas sambil menerangkan. inilah situasi yang membosankan bagi para peserta didik. pendekatan. Hal ini disebabkan tepat tidaknya pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran merupakan pencipta suasana pembelajaran. perubahan dan pembaharuan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan hasil belajar. dan hasil belajar para peserta didik dalam mata pelajaran IPS Terpadu rendah.

Menurut Retno Parminingsih dalam pelaksanaan metode pembelajaran Team Quiz ini. metode Team Quiz merupakan salah satu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar. suasana kelas yang menyenangkan sehingga peserta didik tidak merasa terpaksa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. pada tahun 1994 (Sugiyanto. Metode pembelajaran menjadi motivasi bagi para peserta didik untuk belajar di kelas. salah satunya adalah metode Make A-Match. dan metode pembelajaran IPS Terpadu yang melibatkan peserta didik secara lebih aktif. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa kondusif dan efektif dalam mewujudkan tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran di kelas. baik dalam ranah kognitif. Dalam kegiatan-kegiatan ilmiah. Menurut Sugiyanto. guru diharuskan untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi. namun dapat mencapai kompetensi dasar. Metode berasal dari Bahasa Yunani Methodos yang artinya adalah cara atau jalan yang ditempuh. memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada peserta didik. Metode Make A-Match dikembangkan oleh Lorna Curran. ranah afektif maupun psikomotorik peserta didik. strategi. dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Menurut Oemar Hamalik fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan (Hamalik. melalui metode ini siswa dilatih untuk bekerja sama (Parminingsih. 2010:3). 2009:49). pendekatan. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada peserta didik (Focus on Learners) atau dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa (Students Center Approach). Selain itu metode Make A-Match. siswa dibentuk dalam kelompok- kelompok kecil dan masing-masing anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama atas keberhasilan kelompoknya dalam memahami materi dan menjawab soal. Perlu dicari dan digunakan model. 2010:147). Menurut Wina Sanjaya metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (Sanjaya. Dalam pengertian ini metode merupakan 229 . indikator. 2008:3). Strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan penciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPS Terpadu. metode berkaitan dengan masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.

maka dalam hal ini peran metode pembelajaran sangat penting. Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan di atas. 2007:55). yang berfungsi sebagai pedoman guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. 2010:3). Hakekat Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and learning) menurut Al Jabaly adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa 230 . menyiasati perbedaan individual anak didik. Menurut Indrawati dan Wawan metode pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar (Indrawati dan Setiawan. atau kegiatan belajar masal (Basleman dan Mappa. direalisasikan dengan penerapan metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berbagai metode pembelajaran dikelompokkan berdasarkan model-model yang merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Djamarah metode pembelajaran memiliki kedudukan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. Peserta didik yang memiliki karakter yang berbeda-beda. kegiatan belajar kelompok. Professional Learning untuk Indonesia Emas penerapan suatu rencana. seperti kegiatan belajar individual. metode pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik dalam mengkoordinasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Basleman dan Mappa metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang berkait dengan pengorganisasian kegiatan belajar bagi warga belajar. tujuan yang berbeda. Model pembelajaran ini berusaha untuk mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menghubungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat. 2011:2). mengelola lingkungan pembelajaran dan mengelola kelas. 2011: 158). untuk mencapai tujuan pembelajaran (Djamarah. Menurut Syaiful B. Dengan konsep ini diharapkan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Rencana dalam proses pembelajaran yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Model pembelajaran kontekstual menurut Wahyudi adalah konsep pembelajaran yang mengharuskan guru untuk menghubungkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik (Wahyuti. tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. sedangkan tuntutannya sama yakni memahami materi pelajaran.

Inovatif. menemukan (Inquiri). Model pembelajaran IPS terpadu dalam mata perlajaran IPS pada dasarnya adalah model pembelajaran tematik. menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. menyusun bahan pengajaran yang sesuai. Model pembelajaran PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif. 2009: X). Tahap-tahap pelaksanaan model pembelajaran tematik adalah penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam indikator. Quantum Teaching ini juga menerapkan percepatan belajar dengan menghilangkankan hambatan-hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan menggunakan musik. Yang dimaksud dengan aktif menurut A. Kreatif adalah pembelajaran seharusnya dapat mengembangkan pemikiran kritis kemampuan berpikir tentang hal-hal yang baru dan menghasilkan 231 . memperkaya perbendaharaan pengetahuan peserta didik dan membuat pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna. Interaksi-interaksi ini membangun landasan dan kerangka untuk belajar yang dapat mengubah kemampuan dan bakat siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi peserta didik. 2007:311). Efektif dan Menyenangkan. bertanya (Questioning). 2010:3). 2011:3). Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari- hari. pemetodean (Metodeing). Kreatif. Sedangkan menurut Kunandar tema merupakan alat atau wadah untuk mengedepankan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh (Kunandar. dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Di dalam pembelajaran. cara penyajian yang efektif.Tarmidzi Ramadhan adalah suasana kelas yang peserta didiknya aktif bertanya dan mengungkapkan gagasan (Ramadhan. Menurut Agus Suprijono inovatif dalam hal ini adalah “proses pembelajaran yang dapat memberikan fasilitas kepada peserta didik untuk menemukan sesuatu melalui aktivitas belajar (Suprijono. sebelum pelaksanaan pembelajaran guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. 2011:3). menentukan tema. Pengertian tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. masyarakat belajar (Learning Community). yakni: konstruktivisme (Constructivism). tema diberikan untuk menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh. Rachmad Widodo menyatakan quantum teaching adalah berbagai macam interaksi yang terjadi di dalam dan di sekitar peristiwa belajar (Widodo. dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) (Al-Jabaly. dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. mewarnai lingkungan sekeliling.

multi-media. Menurut Bustamam Ismail ada empat prinsip utama dalam proses pembelajaran PAIKEM Pertama. Keempat. dialog atau melalui simulasi role-play. referensi. 3) Pertanggungjawaban individu. yaitu: 1) Saling ketergantungan positif. penyelidikan dan wawancara (Ismail. rekan siswa. Dalam pembelajaran ini setiap peserta didik harus merasa bahwa dirinya bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab untuk menguasai bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Model pembelajaran kolaboratif menurut Ted Panitz pembelajaran kolaboratif adalah filsafat interaksi dan gaya hidup yang menjadikan kerjasama sebagai suatu struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa guna memudahkan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama Panitz. proses Eksplorasi siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan. 5) Keefektifan proses kelompok. Hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antar anggota kelompok yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi. proses Interaksi dalam hal ini adalah siswa berinteraksi secara aktif dengan guru. Menyenangkan dalam hal ini adalah pembelajaran diciptakan sebagai kondisi yang peserta didik dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan ikhlas tanpa ada beban dalam diri peserta didik tersebut. siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari. sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Efektif adalah memudahkan peserta didik untuk belajar sesuatu yang bermanfaat. percobaan. proses Komunikasi siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita. setiap anggota dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. mendukung dan membantu satu sama lain. Ketiga. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok. Menurut Johnsons terdapat lima unsur dasar agar dalam suatu kelompok terjadi pembelajaran kolaboratif. 2) Interaksi langsung antar peserta didik. Keterampilan sosial peserta didik sangat penting dalam pembelajaran. proses Refleksi. Peserta didik memproses keefektifan 232 . dan apa yang mereka telah lakukan. Agar dalam suatu kelompok dapat menyumbang. 4) Keterampilan berkolaborasi. dan lingkungan. 2011:4). Kedua. 2011:3). Professional Learning untuk Indonesia Emas penyelesaian tentang suatu masalah. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar.

Misalnya pemegang kartu soal yang bertuliskan “ Apa yang dimaksud dengan manusia sebagai makhluk sosial” harus dipasangkan dengan kartu jawaban yang berisi “manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. termasuk bentuk-bentuk yang lebih dibimbing oleh guru atau diarahkan oleh guru. Pembelajaran dengan menggunakan metode Make A-Match adalah suatu proses belajar mengajar di dalam kelas yang dilakukan dengan cara peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok. Model belajar kooperatif (cooperative learning) adalah konsep yang lebih luas. Setiap kelompok memasangkan kartu jawaban dan kartu soal. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Setiap kelompok mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal dan jawaban. Tiap anggota kelompok memikirkan jawaban dan soal dari kartu yang di miliki oleh masing- masing anggota kelompok. Secara umum. Guru bersama-sama dengan peserta didik membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. para siswa berbagi tugas dan tanggung jawab dengan sesame anggota kelompok. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah (Johnsons. 2009:191). interaksi tatap muka. Dalam model pembelajaran kooperatif para siswa memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang sesuai untuk sesi review. Berbagai jenis model belajar kooperatif yang bisa diterapkan diantaranya adalah metode Make A-match dan Team Quiz. evaluasi dan penghargaan dilakukan secara berkelompok. ketrampilan menjalin hubungan antarpribadi (Wena. Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif menurut Made Wena adalah saling ketergantungan positif.” Setiap kelompok yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Pelaksanaan model pembelajaran ini adalah siswa dikelompokkan dalam kelompok- 233 . 2011:2). dalam hal ini guru menetapkan tugas dan pertanyaannya serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu murid dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Metode Team Quiz salah satu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas. yang meliputi semua jenis kerja kelompok. belajar kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru. tanggung jawab individu untuk mencapai keberhasilan kelompok.

metode yang digunakan adalah metode kuantitatif komparatif. Mulyana. Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi dan situasi yang menyenangkan sehingga peserta didik akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar. Professional Learning untuk Indonesia Emas kelompok kecil dan masing-masing anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama atas keberhasilan kelompoknya. 2003:45). Dalam hal ini pembelajaran dengan metode Make A-Match sebagai salah satu bagian dari pembelajaran kooperatif learning dan metode Team Quiz. sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator (Mulyana. dalam proses pembelajaran guru menerapkan metode Make A-Match kemudian para peserta didik tersebut di tes secara tertulis tentang materi yang telah dipelajari. kemudian guru memberikan pertanyaan untuk Quiz. yaitu data yang berbentuk angka. Dalam penelitian ini penerapannya adalah peserta didik kelas VII-A. yang dibandingkan. Guru bersama-sama dengan peserta didik membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. Adapun desain penelitian tersebut adalah sebagai berikut: 234 . kedua kelompok eksperimen diberikan pretes dan postes. pembelajaran aktif dilakukan dengan menciptakan suatu kondisi supaya peserta didik dapat berperan aktif. maka penelitian ini dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran dengan metode “Make A-Match dan Team Quiz ” dalam meningkatkan hasil belajar dalam mata pelajaran IPS Terpadu. Untuk mengetahui hasil penelitian. dalam hal ini peserta didik dilatih untuk bekerja sama dengan sesama anggota kelompoknya. Masing- masing kelompok diberi tugas untuk memahami materi. Sedangkan kelas VII-B guru menerapkan metode pembelajaran Team Quiz. Menurut E. metode ini dilakukan dengan memberikan perlakuan kepada subjek penelitian kemudian memberikan tes pada subjek penelitan. merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS Terpadu tingkat SMP dan MTs. Pembelajaran aktif harus diterapkan oleh pendidik supaya suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen. Metode Penelitian Dalam penelitian ini. Berdasarkan uraian di atas.

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Tabel 1. Desain Penelitian Two Group Pretest posttest
design
Kelompok Pretes Perlakuan Postes

Pembahasan
Hasil analisis data menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar IPS
siswa kelas VII-A yang menggunakan metode Make A-Match adalah
70,17 dan nilai rata-rata hasil belajar belajar IPS siswa kelas VII-B yang
diberikan pembelajaran dengan metode Team Quiz adalah 70,12 dengan
nilai dan nilai
hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan
hasil belajar IPS siswa antara yang diberikan pembelajaran melalui
metode Make A-Match dengan metode Team Quiz. Selain itu terjadi
peningkatan rata-rata nilai dari kedua kelompok tersebut, yang pada
awalnya (pree test) rata-rata nilainya adalah 51,91 dan 54, dan hasil tes
akhir (post test) pada akhir pembelajaran rata-ratanya menjadi 70,17
dan 70, 12. Hal ini dimungkinkan karena pendekatan kedua metode
tersebut lebih banyak menekankan kepada tanggung jawab pribadi
sebagai kelompok yang harus memahami materi dan menyelesaikan
suatu tugas secara bersama-sama. Sebagaimana dipaparkan dalam
teori, bahwa kedua metode pembelajaran kooperatif tersebut dapat
memotivasi siswa untuk terlibat secara aktif untuk bekerjasama,
berdiskusi dan saling membantu antar anggota kelompok dalam
belajar sehingga mereka dapat membangun sendiri pemahaman secara
bersama-sama. Walaupun, masih terdapat siswa yang masih enggan
terlibat aktif dalam pembelajaran karena kedua metode ini masih baru
bagi siswa.
Dalam penerapan metode Make A-Match ini siswa terlibat
langsung dalam mempelajari dan memahami suatu materi secara
bersama-sama melalui pencarian dan mencocokkan kartu soal dan
kartu jawaban. Pelaksanaan metode Make A-Match diawali dengan,
guru mempersiapkan dua kelompok kartu, yakni kartu soal dan
kartu jawaban. Kemudian siswa dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu kelompok pemegang kartu soal, pemegang kartu jawaban,
dan kelompok penilai. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa,
sebelum pelaksanaan metode ini guru memberikan pretest.
Tahap pertama penerapan metode Make A-Match adalah penjelasan
materi Memahami Kegiatan Ekonomi Masyarakat di kelas VII-A.
Tahap kedua, siswa di bagi ke dalam tiga kelompok yang masing-
masing berjumlah 15 orang. Tahap ketiga guru mengatur posisi

235

Professional Learning untuk Indonesia Emas

kelas seperti huruf U, kelompok pembawa kartu soal dan pembawa
kartu jawaban posisinya saling berhadapan. Setelah masing-masing
kelompok berada pada posisi yang sesuai, guru memberikan aba-
aba, sebagai tanda agar kelompok pembawa kartu soal dan pembawa
kartu jawaban mencari pasangan pertanyaan dan jawaban yang cocok.
Kemudian guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
berdiskusi untuk mencocokkan kartu soal dan kartu jawaban.
Pasangan kartu soal dan kartu jawaban yang sudah ditemukan,
ditunjukkan kepada kelompok penilai, kelompok ini menilai apakah
pasangan kartu soal dan jawaban tersebut merupakan pasangan
kartu yang cocok. Setelah penilaian dilakukan, guru mengatur
kembali agar kelompok pembawa soal dan pembawa kartu jawaban
menjadi satu kelompok, dan berperan sebagai kelompok penilai,
sedangkan kelompok penilai pada sesi yang pertama, dibagi menjadi
dua kelompok menjadi kelompok pembawa kartu soal dan kartu
jawaban, pada sesi ini guru melaksanakan tahapan yang sama seperti
tahap sebelumnya. Tahap terakhir dari metode Make A-Match adalah,
guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bertanya,
kemudian guru menyimpulkan materi bersama-sama dengan siswa.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa, setelah pelaksanaan metode
Make A-Match, guru memberikan posttest.
Penerapan metode Make A-Match pada pertemuan pertama
berdasarkan pengamatan (observasi) suasana kelas terlihat kurang
kondusif, hal ini terlihat dari suasana kelas yang gaduh dalam
mencocokkan kartu soal dan kartu jawaban dan tidak saling
menghargai sesama teman. Pada penerapan metode Make A-match
pertemuan selanjutnya, suasana kelas dalam keadaan lebih kondusif
dari pertemuan sebelumnya, hal ini terlihat dari suasana gaduh
berkurang karena ada kesepakatan sebelumnya bahwa dalam
pelaksanaan pembelajaran harus dilakukan dengan tenang dan
saling menghargai sesama teman. Peserta didik lebih senang dan
berkonsentrasi mengikuti proses pembelajaran dengan metode ini.
Pada penerapan metode Make A-Match, diperoleh beberapa temuan
bahwa metode Make A-Match dapat meningkatkan kerja sama siswa
dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang
ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak
sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran,
dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan
kartunya masing-masing.
Dalam penerapan metode Team Quiz ini siswa terlibat langsung
dalam mempelajari dan memahami suatu materi secara bersama-
sama melalui pelaksanaan kegiatan berquiz. Dalam metode Team
Quiz diawali dengan guru membagi materi untuk disampaikan dalam
tiga bagian. Kemudian ini siswa dibagi kelompok-kelompok, yaitu

236

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

kelompok A, B, dan C. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa,
sebelum pelaksanaan metode ini guru memberikan pretest.
Tahap pertama penerapan metode Team Quiz guru memberi
penjelasan tentang materi Memahami Kegiatan Ekonomi Masyarakat
di kelas VII-B. Tahap kedua, siswa di bagi ke dalam kelompok yang
masing-masing berjumlah 13 orang. Tahap ketiga guru menyampaikan
kepada siswa alur pembelajaran yang akan dilaksanakan, kemudian
guru mulai presentasi. Tahap selanjutnya setelah presentasi, guru
meminta kelompok A untuk menyiapkan pertanyaan-pertanyaan
berkaitan dengan materi yang telah disampaikan oleh guru. Kelompok
B, dan C menggunakan waktu ini untuk melihat lagi catatan yang
dimiliki. Guru menunjuk kelompok A sebagai pemimpin quiz memberi
pertanyaan kepada kelompok B, jika kelompok B tidak bisa menjawab
pertanyaan, pertanyaan tersebut diajukan kepada kelompok C.
Kemudian Kelompok A memberi pertanyaan kepada kelompok C, jika
kelompok C tidak bisa menjawab, maka pertanyaan tersebut diajukan
kepada kelompok B.
Setelah tanya jawab sesi pertama selesai, dilanjutkan dengan
pembelajaran sesi kedua. Pada sesi kedua kelompok B untuk menjadi
pemimpin quiz. Setelah kelompok B selesai dengan pertanyaanya,
dilanjutkan pembelajaran sesi ketiga, dan kemudian guru menunjuk
kelompok C sebagai pemimpin quiz. Tahap terakhir dari metode
Team Quiz adalah guru bersama dengan siswa menyimpulkan, dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi
yang belum dipahami. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, setelah
pelaksanaan metode Team Quiz, guru memberikan posttest.
Penerapan metode Team Quiz ini, berdasarkan pengamatan
(observasi) suasana kelas terlihat kurang kondusif, hal ini terlihat dari
suasana kelas yang gaduh karena siswa belum memahami peran-peran
dalam pelaksanaan metode Team Quiz ini. Pada penerapan metode
Team Quiz pertemuan selanjutnya, suasana kelas dalam keadaan lebih
kondusif dari pertemuan sebelumnya, hal ini terlihat dari suasana
gaduh berkurang karena siswa sudah lebih memahami metode
pelaksanaan Team Quiz, dan anggota kelompok harus melaksanakan
perannya masing-masing yakni sebagai pembaca soal, pencatat skor,
atau sebagai penilai jawaban.
Pada penerapan metode Team Quiz, diperoleh beberapa temuan
bahwa metode ini dapat meningkatkan tanggung jawab individu
sebagai anggota kelompok dalam menjawab pertanyaan yang diajukan
oleh kelompok pemimpin quiz untuk mendapatkan skor yang lebih
tinggi dari pada kelompok lain, proses pembelajaran lebih menarik
dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses
pembelajaran, dan keaktifan siswa terlihat ketika berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan quiz.

237

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Melalui kedua metode pembelajaran tersebut, siswa yang
biasanya belajar secara individu, tanpa kompetisi dan penghargaan
dicoba dikondisikan dengan adanya kompetisi dan penghargaan yang
menjadi motivasi bagi keberhasilan belajar mereka, serta suasana
pembelajaran dapat menjadi lebih menarik dan bervariasi. Kedua
pembelajaran ini juga dapat menciptakan suasana kegiatan belajar
mengajar yang baik, karena siswa tidak cepat merasa bosan dalam
belajar dan dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa karena siswa
dilatih untuk berpendapat, menghargai perbedaan dan termotivasi
untuk meningkatkan prestasinya karena adanya persaingan dan
penghargaan yang diberikan.

Penutup
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan
bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan
antara siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif
(Cooperative Learning) metode Make A-Match dengan siswa yang diajar
dengan pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) metode Team
Quiz dalam pelajaran IPS dengan diperoleh nilai
yaitu Model
pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) metode Make A-Match
dan metode Team Quiz merupakan metode pembelajaran yang dapat
meningkatkan rasa ingin tahu, keberanian dan sifat menghargai serta
tanggung jawab siswa.
Imlplikasi dari penelitian ini adalah, jika akan meningkatkan hasil
belajar IPS terpadu maka perlu menerapkan metode-metode yang
dapat mengaktifkan, memotivasi peserta didik untuk belajar metode
yang dapat diterapkan adalah make a-match dan team quiz

Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka
Setia.
Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara,
Baharuddin Dan Esa Nur Wahyuni. 2007. Teori Belajar Dan Pembelajaran.
Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.
Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Fathurrohman, Pupuh Dan Sutikno, M. Sobry. 2007. Strategi Belajar

238

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Mengajar-Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui
Pemahaman Konsep Umum&Konsep Islami. Bandung: Retika
Aditama.
Indrawati dan Setiawan, Wanwan. 2009. Pembelajaran Aktif , Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan Untuk Guru SD. Bandung: PPPPTK
IPA.
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru.
Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Makmun, Abin Syamsuddin. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung:
PT Remaja Rosyda Karya.
Mulyana, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteistik
dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Penyelenggara
Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar.
Nurkancana, Wayan dan Sunartana, P.P.N. 1982. Evaluasi Pendidikan.
Surabaya: Usana Offset Printing.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006, tentang
Standar Isi.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007, tentang
Standar Proses
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007, tentang
Standar Penilaian Pendidikan
Salam, Syamsir dan Aripin, Jaenal. 2006. Metodologi Penelitian Sosial.
Jakarta: UIN Jakarta Press.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Sapriya, dkk. 2006. Konsep Dasar IPS. Bandung: UPI Press.
Sarimaya, Farida. 2008. Sertifikasi Guru, Apa, Mengapa, dan Bagaimana.
Bandung: Yrama Widya.
Siberman, Melvin L. 2006. 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta:
Pustaka Insan Madani.
Slameto. 1998. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Bina Aksara.
Sofyan, Ahmad dkk. 2006. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi.
Jakarta:UIN Press.
Solihatin, Etin dan Raharjo. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: Bumi
Aksara.

239

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Sugiyanto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma
Presindo, 2009.
Sugiyono. 2000. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV ALFABETA.
Sukardi, Tanto. “Menggagas Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Yang
Kontruktivis.” Kajian Ilmu Sosial, Vol. 1 No. 2 (Oktober 2007).
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
Suryabrata, Sumadi. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Syah, Muhibin. 2009. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru.
Bandung: PT. Remaja Rosydakarya.
Soemanto,Wasty. 1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Tim Pembina Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik. 2007.
Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi.
Umar, Husaini dan Akbar, Purnomo Setiady. 2009. Metodologi Penelitian
Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta:
Bumi Aksara.
Zaini, Hisyam dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta:
Pustaka Insan Madani.

240

PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TEKNIK JIGSAW UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS 3 MI FATHAN MUBINA KAB. BOGOR
PADA KONSEP CUACA
Zulfiani, Nuraeni
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Guru Madrasah Ibtidaiyah Fathan Mubina, Kabupaten Bogor
Email : zulfiani@uinjkt.ac.id

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan
hasil belajar siswa pada konsep cuaca dengan pendekatan
pembelajaran kooperatif teknik jigsaw. Subjek penelitian ini
adalah kelas tiga MI tahun ajaran 2013-2014 dengan jumlah
30 siswa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah
metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari II
siklus. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah
tes dan observasi. Pengamatan terhadap aktivitas siswa dan
guru di setiap pertemuan menggunakan lembar observasi.
Berdasarkan data yang diperoleh di setiap siklus mengalami
peningkatan. Rata-rata persentase hasil belajar siswa pada siklus
I sebesar 50%, pada siklus II rata-rata persentase sebesar 86%.
Pada siklus II ini penelitian dihentikan karena telah mencapai
indikator keberhasilan yakni peningkatan kriteria ketuntasan
minimal (KKM) belajar siswa.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif teknik Jigsaw, Konsep
Cuaca, Hasil Belajar

Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu usaha agar manusia dapat
mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu berperan serta
dalam mentransformasi nilai dan gagasan-gagasan melalui proses
pembelajaran. Pendidikan menjadi salah satu hak dasar yang harus
dinikmati setiap warga negara, sebagaimana terkandung dalam
amanat undang-undang dasar 1945 no 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab VIII pasal 34 ayat 3 yang berbunyi “Wajib
belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh
lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat”

241

Professional Learning untuk Indonesia Emas

(Kemendiknas, 2008).
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, semua komponen
harus saling mendukung dan berperan sebagai sebuah sistem dalam
proses pembelajaran. Komponen-komponen tersebut antara lain
program kegiatan, guru, siswa, sarana prasarana, biaya, lingkungan
masyarakat dan kepemimpinan kepala sekolah. Kegiatan di sekolah
harus banyak menekankan pada interaksi langsung antara siswa, guru
dan lingkungan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Madrasah Ibtidaiyah Fathan Mubina memiliki jumlah siswa
335 orang dengan rombel sebanyak 9 (sembilan) ruang, rata-rata
jumlah siswa setiap kelas 37 orang dan ditangani oleh satu orang
guru kelas. Jika mengacu kepada peraturan pemerintah pasal 17 no.
7 tahun 2008 bahwa perbandingan ideal rasio guru dengan siswa
adalah 1:20 orang (Kemendiknas, 2010), maka di MI Fathan Mubina
terjadi ketidaksesuaian perbandingan antara guru dengan siswa.
Oleh karena itu besarnya jumlah siswa dalam kelas menuntut guru
agar mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan pembelajaran yang merangsang siswa lebih aktif dan
memanfaatkan berbagai teknik serta metode mengajar yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Guru harus mampu mendayagunakan
potensi siswa sebanyak mungkin agar siswa dapat belajar secara
maksimal sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Hal ini
sesuai dengan Undang-Undang no.20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab V tentang peserta didik pasal 12 ayat
1 menyatakan “Setiap peserta didik pada setiap satuan berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuannya”.
Berdasarkan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di dalam
kelas didapat informasi bahwa siswa kelas III MI Fathan Mubina
merasa jenuh dan kurang tertarik dalam kegiatan pembelajaran
IPA sehingga hasil belajar mereka turun, selain itu selama proses
pembelajaran teknik yang digunakan dalam pembelajaran belum
maksimal, ketersediaan alat-alat dan kemampuan guru yang kurang
terampil menjadi alasan utama sehingga guru tetap melaksanakan
proses pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered
approach), guru mendominasi kegiatan pembelajaran (Nuraini, 2014).
Data lain menunjukkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang
telah ditetapkan 70 di sekolah MI Fathan Mubina pada mata Pelajaran
IPA belum tuntas masih banyak siswa yang hasil belajarnya dibawah
KKM, hal ini dibuktikan dengan data hasil ulangan harian yang
mencapai kriteria ketuntasan minimal hanya 13 orang dan 17 orang
lainnya belum mencapai target, atau persentasi tingkat pencapaian

242

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

KKM kelas hanya sekitar 43% idealnya 75% dari jumlah siswa.
Rendahnya hasil belajar siswa dapat ditinjau dari dua sisi yaitu
dari sisi latar belakang siswa itu sendiri dan sisi proses pengajaran yang
dilaksanakan guru. Dari sisi siswa dapat berupa bakat, minat, motivasi
belajar baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, kemampuan sosial
ekonomi yang berhubungan dengan fasilitas belajarnya serta keadaan
lingkungan yang tidak mendukung proses pembelajaran. Sedangkan
dari sisi guru masih banyak guru yang tidak atau belum menggunakan
pendekatan dan teknik pembelajaran yang tepat padahal itu sangat
membantu mempermudah guru dan siswa untuk memahami konsep
pelajaran secara luas dan menyeluruh. Guru harus menciptakan
kegiatan pembelajaran yang mengaktifkan siswa, melatih kerjasama,
dan keterampilan kooperatif, diantaranya dapat menggunakan
pendekatan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif
merupakan pendekatan belajar dimana siswa belajar dengan kelompok
kecil dengan keahlian berbeda dan dalam kelompok tersebut siswa
saling belajar dan bekerjasama untuk sampai pada pengalaman belajar
yang optimal baik pengalaman individu atau kelompok (Supriyono,
2009). Jigsaw sebagai salah satu teknik pembelajaran kooperatif dapat
digunakan untuk merealisasikan rancangan pembelajaran yang
telah ditetapkan (Mel Silberman, 2009). Dengan teknik ini mendidik
siswa untuk bergerak aktif secara berkelompok, mereka saling
membantu dalam menguasai materi untuk memperoleh pengetahuan
yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Berdasarkan permasalahan
yang telah dikemukakan diatas penulis berupaya untuk menjawab
permasalahan mengenai rendahnya hasil belajar siswa pada konsep
cuaca kelas 3 semester II dengan menerapkan pendekatan kooperatif
teknik jigsaw.

Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil Siklus I dan Siklus II

Siklus I
Perencanaan
Tahap perencanaan pada siklus I dimulai dengan mengidentifikasi
permasalahan yang terdapat di sekolah. Dari penelitian pendahuluan
didapat bahwa pada sekolah yang akan diteliti mengalami
permasalahan pada rendahnya hasil belajar IPA, siswa merasa bosan
dan kurang aktif saat pembelajaran berlangsung. Dari permasalahan
tersebut, peneliti merancang desain pembelajaran yang dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
Desain pembelajaran yang disiapkan meliputi rencana pembelajaran

243

Professional Learning untuk Indonesia Emas

yang menerapkan penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif
teknik jigsaw, lembar observasi dan catatan lapangan, instrumen tes
soal pilihan ganda serta membentuk kelompok belajar siswa.
Pembelajaran siklus I dilakukan dalam dua kali pertemuan yang
berlangsung 2 x 35 menit kegiatan pembelajaran diawali dengan
pembagian materi dan pengelompokan siswa, semua rangkaiannya
tersusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pada
pertemuan tersebut dilaksanakan seluruhnya di dalam ruang kelas.
Indikator pembelajaran dari konsep cuaca yang ditetapkan pada
siklus I pertemuan pertama yaitu menjelaskan arti cuaca, menyebutkan
contoh-contoh cuaca, menjelaskan hal yang mempengaruhi keadaan cuaca
dan menjelaskan konsep awal terjadinya cuaca. Peserta didik yang hadir
pada pertemuan 1 sebanyak 30 dan pertemuan 2 ada 29 orang yang
dapat dilihat pada daftar hadir siswa. Kegiatan pertemuan 2 tergambar
dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Didalamnya
terdapat indikator mengidentifikasi macam-macam awan, menghubungkan
keadaan awan dengan cuaca, menjelaskan terjadinya petir dan pelangi serta
membedakan simbol-simbol cuaca. Peserta didik yang hadir pada siklus
ini terdaftar dalam daftar hadir siswa.

Tindakan
Pada tahap tindakan, guru berusaha menerapkan kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran
kooperatif teknik jigsaw yang telah disusun dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yaitu:

Pertemuan I
1. Mengajak peserta didik untuk berdoa sebelum belajar.
2. Mengecek kehadiran peserta didik dan mendoakan peserta didik
yang sakit.
3. Menjelaskan tujuan pembelajararan hari ini dan prosedur
pendekatan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw.
4. Melakukan apersepsi dengan menggali pengetahuan awal siswa
mengenai materi yang akan diberikan dengan pertanyaan-
pertanyaan eksplorasi
5. Meminta peserta didik untuk membentuk kelompok diskusi
dengan cara berhitung 1 sampai 5, siswa yang mendapatkan
nomor yang sama bergabung dengan temannya membentuk
kelompok asal.
6. Guru membagikan lembaran materi dan secara singkat menjelaskan
materi: arti cuaca, contoh cuaca, hal yang mempengaruhi keadaan
cuaca dan konsep awal terjadinya cuaca.

244

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

7. Guru meminta peserta didik membentuk kelompok ahli sesuai
materi yang mereka dapatkan.
8. Guru menugaskan setiap tim ahli untuk berdiskusi.
9. Peserta didik kembali ke kelompok semula/asal dan setiap orang
harus menjelaskan materi yang mereka diskusikan di kelompok
tim ahli.
10. Masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi
di depan kelas.
11. Guru memberikan soal-soal kuis dan skor nilai pada tiap
kelompok.
12. Guru membuat kesimpulan bersama-sama peserta didik.
13. Pembelajaran diakhiri dengan memberikan soal latihan dalam
bentuk pilihan ganda.

Pertemuan II
1. Mengucapkan salam dan mengajak peserta didik untuk berdoa
sebelum belajar.
2. Mengecek kehadiran peserta didik dan memberikan motivasi.
3. Menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini dan mengingatkan
kembali prosedur pendekatan pembelajaran kooperatif teknik
jigsaw.
4. Mengulas kembali materi pada pertemuan sebelumnya dengan
memberikan beberapa pertanyaan.
5. Guru meminta peserta didik untuk membentuk kelompok diskusi
dengan cara berhitung 1 sampai 5, siswa yang mendapatkan nomor
yang sama bergabung dengan temannya membentuk kelompok
asal.
6. Guru membagikan lembaran materi dan secara singkat menjelaskan
materi: macam-macam awan, hubungan awan dengan cuaca,
terjadinya petir dan pelangi, simbol-simbol cuaca.
7. Peserta didik membentuk kelompok ahli sesuai materi yang
mereka dapatkan dan setiap tim ahli melakukan diskusi.
8. Peserta didik kembali ke kelompok semula/asal dan setiap orang
harus menjelaskan materi yang mereka diskusikan di kelompok
tim ahli
9. Masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi
di depan kelas.
10. Guru memberikan soal-soal kuis dan memberikan skor nilai pada
tiap kelompok.
11. Guru membuat kesimpulan bersama-sama peserta didik dan
memberikan soal post-test.
12. Guru memberikan lembar evaluasi diakhir pembelajaran

245

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Pengamatan
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan
tindakan dengan menggunakan lembar observasi kegiatan siswa
(LOKS) dan guru (LOKG), kegiatan observasi dilakukan dua kali yaitu
pada pertemuan 1 (Rabu, 07 Mei 2014) dan pertemuan 2 (Jumat, 09 Mei
2014).

Tabel 1. Lembar Observasi Kegiatan Siswa (LOKS) dan Guru
(LOKG)
Instrumen Persentase (%)
(Indikator yang teramati) I II
LOKS 64 65%
(Keaktifan Siswa, Perhatian Siswa, Kedisiplinan
Penugasan / Resitasi)
LOKG (Kegiatan awal,inti, penutup) 70.8% 73.2%

Tabel 2 Hasil Belajar Siswa siklus I
Data Hasil Tes Post-test Ketuntasan
Nilai Maksimal 100 15 (50%) KKM 70
Nilai Minimal 53
Rata-rata 74.83
Indikator Keberhasilan : 75% mencapai KKM

Refleksi
1. Dari dua pertemuan yang dilakukan secara keseluruhan, peserta
didik telah berperan aktif selama proses pembelajaran, namun ada
beberapa orang yang masih pasif.
2. Peserta didik masih mengalami kesulitan dan belum memahami
materi konsep cuaca.
3. Peserta didik masih asing dan belum mengenal teknik pembelajaran
jigsaw
4. Masih banyak siswa yang bersikap santai ketika melakukan
diskusi
5. Peserta didik sudah berperan cukup aktif dalam kegiatan
pembelajaran namun kurang antusias ketika diminta
mempresentasikan hasil diskusi kelompok.
6. Waktu yang tersedia untuk pembelajaran dan diskusi kelompok
kurang mencukupi
7. Hasil observasi kegiatan siswa pada siklus I menunjukkan hasil

246

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

pertemuan pertama 64% dan pertemuan kedua 65% terkategori
baik namun belum mencakapai hasil yang lebih maksimal.
8. Hasil observasi Kegiatan guru pada siklus I menunjukkan
hasil pertemuan pertama 70,80% dan pertemuan kedua 73,20%
terkategori baik namun bisa ditingkatkan menjadi lebih maksimal.
9. Hasil nilai tes pada siklus I ini menunjukkan siswa yang mencapai
KKM adalah 50% dan siswa yang belum mencapai KKM adalah
50%. Persentase siswa yang mencapai KKM belum memenuhi
target yaitu 75% dari keseluruhan siswa.

Keputusan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar peserta didik pada konsep cuaca belum memenuhi
indikator yang peneliti harapkan. Indikator yang ditetapkan peneliti
yaitu 75% peserta didik memiliki nilai di atas KKM, sekolah yang
menetapkan KKM mata pelajaran IPA semester II sebesar 70. Sehingga
peneliti memutuskan untuk melanjutkan ke siklus II.
Adapun perbaikan-perbaikan pada siklus II antara lain:
1. Menyiapkan dan memperhatikan kondisi belajar yang kondusif
dan menyenangkan bagi siswa dengan melibatkan siswa secara
langsung dalam proses pembelajaran.
2. Guru lebih maksimal merealisasikan langkah-langkah kegiatan
pembelajaran sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
3. Guru harus lebih aktif dan detail menjelaskan dan mengoptimalkan
desain pembelajaran kooperatif teknik jigsaw dalam pembelajaran
4. Guru harus lebih maksimal memotivasi siswa agar lebih semangat
dan antusias dalam kegiatan pembelajaran, siswa di berikan
rangsangan agar aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

Siklus II
Perencanaan
Tahap perencanaan pada siklus II merupakan tahap perbaikan dari
siklus I, perbaikan dimulai dengan menyiapkan rencana pembelajaran
yang menggunakan pendekatan pembelajaran yang sama yaitu
pendekatan kooperatif teknik jigsaw namun lebih dioptimalkan lagi
selain itu menyiapkan alat atau media yang sesuai dan lebih bervariatif.
Pembelajaran siklus II dilakukan dalam dua kali pertemuan yang
berlangsung selama 2 x 35 menit rangkaian kegiatannya tersusun dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pertemuan pertama dengan
indikator meramalkan cuaca dan proses terjadinya hujan sedangkan
Pada rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP) pertemuan dua indikator
yang ditetapkan adalah kegiatan manusia yang dipengaruhi cuaca

247

Menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini dan mengulang penjelasan model pembelajaran teknik jigsaw 4. Tindakan Pada tahap ini. Mengajak siswa untuk membaca doa sebelum pembelajaran dimulai 2. Meminta siswa untuk membentuk kelompok dengan cara berhitung 1 sampai 5. Meminta kelompok lain untuk menanggapinya 10. Pertemuan I 1. Guru melibatkan peseta didik mendemonstrasikan proses terjadinya hujan 7. Membuat kesimpulan bersama siswa 12. Guru membagikan materi bahan diskusi kelompok dan meminta siswa membentuk tim ahli 6. Guru menugaskan kelompok asal untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas 9. Menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini dan mengulang penjelasan model pembelajaran teknik jigsaw 248 . Mengecek kehadiran siswa dan mendoakan siswa yang sedang sakit 3. guru berusaha menerapkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif teknik jigsaw dan media gambar yang telah disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Memberikan soal-soal kuis dan memberikan penghargaan bagi kelompok yang skornya tinggi 11. Langkah-langkah tindakan kegiatan pembelajaran sebagai berikut. Pada pertemuan ini pembelajaran dilakukan di dalam dan di luar ruang kelas. Siswa yang hadir pada pertemuan 1 dan 2 ada 30 orang. siswa yang mendapat nomor yang sama bergabung dengan temannya 5. Professional Learning untuk Indonesia Emas termasuk pakaian yang yang dikenakan sesuai dengan keadaan cuaca. Mengajak siswa untuk membaca doa sebelum pembelajaran dimulai 2. Memberikan soal latihan berbentuk pilihan ganda Pertemuan II 1. Guru meminta tim ahli kembali ke kelompok asal dan mendiskusikan materi 8. Mengecek kehadiran siswa dan mendoakan siswa yang sedang sakit 3.

Guru membagikan materi bahan diskusi kelompok dan meminta siswa membentuk tim ahli 6. penutup) 76. Memberikan soal post-test 13. Meminta siswa untuk membentuk kelompok dengan cara berhitung 1 sampai 5. Tabel 3. 28 Mei 2014) dan pertemuan 2 (Jumat. Memberikan soal latihan berbentuk pilihan ganda Pengamatan Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi kegiatan siswa dan guru.60 Indikator Keberhasilan : 75% mencapai KKM (70) 249 . Lembar Observasi Kegiatan Siswa (LOKS) dan Guru (LOKG) Instrumen Persentase (%) (Indikator yang teramati) I II LOKS 76. siswa yang mendapat nomor yang sama bergabung dengan temannya 5. Guru melibatkan siswa mendemonstrasikan bahan dan warna pakaian yang cocok pada cuaca panas dan hujan 7. Guru meminta kelompok lain untuk menanggapinya 10. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa 4. Hasil Belajar Siswa Siklus II Data Hasil Tes Post-test Ketuntasan Nilai Maksimal 100 26 (86.2 78. Membuat kesimpulan bersama siswa 12. Kedisiplinan Penugasan / Resitasi) LOKG (Kegiatan awal.inti.6%) Nilai Minimal 60 KKM 70 Rata-rata 85.6 Tabel 4. kegiatan observasi dilakukan dua kali yaitu pada pertemuan 1 (Rabu. Perhatian Siswa.1 77. 30 Mei 2014). Guru meminta tim ahli kembali ke kelompok asal dan mendiskusikan materi 8. Memberikan soal-soal kuis dan memberikan penghargaan bagi kelompok yang skornya tinggi 11. Guru menugaskan kelompok asal untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas 9.2 (Keaktifan Siswa.

Keputusan Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II terlihat hasil belajar siswa pada konsep cuaca memenuhi indikator yang peneliti harapkan yakni sebesar 86% lebih dari yang ditargetkan pada indikator ketercapaian sebesar 75%.20% dan pertemuan kedua 77. 250 . Pada saat diskusi kelas. Waktu yang tersedia untuk pembelajaran dan diskusi sudah mencukupi 7. Persentase siswa yang mencapai KKM sudah melampaui target yaitu 75% dari keseluruhan siswa. peserta didik telah berperan aktif selama proses pembelajaran. hanya terlihat beberapa orang saja yang masih pasif 2. Data observasi kegiatan siswa pada siklus II menunjukkan hasil yang lebih meningkat dengan persentase pertemuan kesatu 76. Data observasi kegiatan guru pada siklus II menunjukkan hasil yang lebih maksimal dengan persentase pertemuan kesatu 76. Selain itu faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah kurangnya pemahaman terhadap konsep cuaca karena cara belajar siswa yang lebih dominan bersifat hafalan. Hasil nilai tes pada siklus II ini menunjukkan jumlah siswa yang mencapai KKM adalah 86%.80% berkategori sangat baik 8. Pembelajaran kooperatif teknik jigsaw sangat membantu siswa dalam memahami konsep cuaca 4. Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk menghentikan pemberian tindakan berupa pembelajaran yang menggunakan pendekatan kooperatif teknik jigsaw pada konsep cuaca dan dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan terhadap hasil belajar siswa pada konsep cuaca dengan menggunakan pendekatan kooperatif teknik jigsaw pada nilai post-test disetiap siklusnya. Professional Learning untuk Indonesia Emas Refleksi 1.10% dan pertemuan kedua 77. Hampir seluruh siswa berperan aktif dalam seluruh kegiatan pembelajaran dan terlihat sangat antusias 5. Pembahasan Sebelum dilakukan tindakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif teknik jigsaw. Peserta didik menjadi paham dan mengerti terhadap materi pembelajaran pada konsep cuaca 3. siswa sudah berperan aktif dalam menjawab pertanyaan dan memberikan pernyataan 6. proses pembelajaran IPA lebih didominasi oleh guru sehingga siswa kurang aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Dari pertemuan yang dilakukan secara keseluruhan.60% berkategori sangat baik 9.

pada siklus II meningkat menjadi 86%. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Setelah dilakukan penelitian tindakan kelas yaitu dengan menerapkan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw pada konsep cuaca. Pada proses pembelajaran ini. Pada proses pembelajaran ini. Pencapaian hasil belajar siswa dipengaruhi oleh sumber belajar. Adapun siswa yang belum mencapai KKM ini disebabkan belum memahami konsep yang diajarkandengan baik. siswa dituntut untuk dapat berinteraksi dengan siswa lainnya. Pembelajaran pun menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Jumlah siswa yang mencapai nilai di atas KKM pada siklus I yaitu 50% dari ketetapan KKM 75%. Guru dapat memfasilitasi siswa pada saat diskusi. Pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif teknik jigsaw siswa melakukan kegiatan identifikasi dan diskusi. Hasil siklus satu menunjukkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM belum memenuhi indikator. siswa dituntut untuk dapat berinteraksi dengan siswa lainnya. Kreatifitas seseorang tidak mungkin muncul secara instan tetapi memerlukan suatu rangsangan yang berkelanjutan untuk melatihnya. sehingga penilaian harus dilanjutkan ke siklus II. Penggunaan pendekatan kooperatif teknik jigsaw secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran menunjukkan peningkatan pada setiap aspeknya. Dari data pengamatan. media dan strategi pembelajaran yang diterapkan selama pembelajaran. guru dan sumber belajar. Kegiatan guru telah sesuai dalam menerapkan RPP selama proses pembelajaran. menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw 251 . guru dan media belajar. pencapaian hasil belajar siswa dipengaruhi oleh sumber belajar dan metode pembelajaran yang diterapkan selama pembelajaran. Siswa merasa senang dan lebih mudah memahami konsep cuaca dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian tindakan dengan penggunaan pendekatan kooperatif teknik jigsaw memberikan kepada siswa untuk terlibat langsung dan memahami proses terjadinya cuaca. Dari penjelasan-penjelasan di atas. Pada penggunaan pendekatan kooperatif teknik jigsaw siswa melakukan pembelajaran dengan antusias dan aktif dalam mengidentifikasi dan berdiskusi. sebagian besar siswa telah berperan aktif selama pembelajaran dan hanya beberapa siswa yang masih terlihat santai ketika berdiskusi. Selain itu siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran yang diterapkan karena siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran. Kegiatan siswa pada siklus I telah menunjukkan rata-rata indikator keterlaksanaan dengan kategori baik.

Kemendiknas. Agus. Professional Learning untuk Indonesia Emas dengan metode yang bervariasi memberikan peluang besar kepada siswa untuk terlibat langsung atau aktif selama pembelajaran. Daftar Pustaka Arifin. Tidak dipublikasikan. 7 tahun 2008. Suprijono. sehingga pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan atau efektif dan meningkatkan hasil belajar siswa.2009.2009. 20 Tahun 2003. Bandung: Remaja Rosdakarya.I No. Sanjaya. Penelitian Pendahuluan : Pembelajaran Kooperatif di MI Mubina Kabupaten Bogor. Jakarta: PT. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Arikunto. Penelitian ini dihentikan sampai siklus II karena telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian. 2014. Silberman. 2010. Wina. 2009. Penutup Penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw yang dirancang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Nuraini. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional R. Akibat adanya pembelajaran aktif dan kooperatif menumbuhkan kreatifitas siswa dan proses pembelajaran menjadi menyenangkan.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. 2006. Jakarta: Sinar Grafika.Activ Learning. Zainal.Cooperative Learning. Zainal. Pada siklus I hasil belajar siswa diperoleh persentase angka sebesar 50% dan pada siklus II diperoleh hasil belajar siswa dengan persentase sebesar 86%. Rineka Cipta Cet. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Peraturan pemerintah pasal 17 no.Yogjakarta: Pustaka Insan Madani. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. 14. Jakarta Fokusmedia 252 . Mel. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2008 Kemendiknas.

seorang pengajar atau guru memerlukan pengetahuan dan pemahaman yang baik dan benar mengenai metode dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi siswa atau pembelajar muda agar tujuan dan pengajaran bahasa Inggris tercapai. dan objektif.com Abstrak: Bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu pengetahuan juga sebagai alat berkomunikasi antarnegara (linguafranca). Hal yang sangat baik diperoleh melalui pemahaman bahasa Inggris bagi siswa SD/MI adalah mereka diajar untuk belajar terbuka. maksudnya siswa diperkenalkan 253 . 2000). 1999). akan memberikan hasil yang lebih baik. Dengan memiliki kompetensi dan keterampilan menggunakan bahasa Inggris. dan aktivitas yang digunakan (Rixon. siswa juga akan memiliki pengetahuan awal (schemata) sebagai bekal untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Melalui pengenalan dan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar dan sederajat. sesorang akan lebih memiliki peluang untuk mengakses dunia informasi dan teknologi.PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DI SD/MI: WHY NOT? Alek Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email: alek_uinjkt@yahoo. teknik. lamanya pembelajaran. Bahasa Inggris merupakan satu di antara bahasa asing yang memiliki peran sentral di dunia internasional terutama di era global dan teknologi dewasa ini. tentunya sesuai dengan tingkat dan level serta kematangan dirinya. seperti tipe program dan kurikulum. Manfaat lain melalui pengenalan dan pengajaran bahasa Inggrsi bagi pembelajar pemula adalah siswa lebih memiliki kesiapan diri secara sikologis yang lebih baik daripada siswa yang belum belajar bahasa Inggris di tingkat SD- nya. Di samping itu. Banyak di antara pakar pendidikan bahasa berpendapat bahwa pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing dimulai pada usia dini sebelum anak mencapai masa usia 12—13 tahun. Dalam konteks pengajaran bahasa Inggris. meskipun sampai sekarang belum ada bukti empiris yang memperkuat pendapat tersebut (Nunan. maka siswa akan mengenal dan mengetahui bahasa Inggris lebih awal walaupun dalam konteks yang serba terbatas. Tingkat kemahiran berbahasa seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia tapi juga faktor-faktor lainnya. realistis.

bahasa Inggris di antaranya sebagai modal menghadapi kondisi riil dan kemajuan ilmu pengetahuan dewasa ini. Sebagai puncak dari polemik tentang penghapusan pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah tingkat dasar disepakati hanya sebagai kegiatan ekskul atau sebagian yang lain menyebutnya sebagai program muatan lokal. dan yang terakhir ada yang meneliti tentang penggunaan metode/strategi serta perangkat yang digunakan dalam mengajarkannya. asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. ada juga pihak meneliti dan mengkaji dari aspek teori. termasuk dapat menghilangkan rasa nasionalisme calon generasi penerus bangsa atau putra-putri tunas negeri tercinta ini. Mencermati kegiatan penelitian ilmiah berkaitan dengan topik ini tidaklah sedikit bermunculan. yang mana di era global dan teknologi saat ini orang berlomba-lomba mengejar ilmu dan pengetahuan. Bab VIII. Alasan penghapusan bahasa Inggris dari kurikulum SD didasari kekhawatiran akan membebani siswa dan memprioritaskan daripada penguasaan bahasa Indonesia atau bahkan dapat mengancam penguasaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 0487/4/1992. matapelajaran bahasa Inggris di SD/MI sebenarnya telah diajarkan selama kurang lebih satu dasawarsa. masing-masing pihak memiliki alasan dan argumentasi tersendiri dalam mendukung sikap dan pendapatnya. sementara pihak yang lainnya meneliti dari aspek kenyataan di lapangan. Pembahasan Sebelum pro dan kontra begitu mengemuka tentang bisa tidaknya pengajaran bahasa Inggrisi di SD/MI. Bahasa Inggris Pendahuluan Banyak pro dan kontra mengenai pengajaran bahasa Inggris di sekolah. Ada sebagian pihak melakukan penelitian tentang impelemntasi kebijakan dan dasar pemikiran tentang pengajaran bahasa Inggris kepada tingkat sekolah dasar. Pada awal mula rujukan tentang pelaksanaan pengajaran bahasa Inggris di SD/MI adalah Kepmen Depdikbud RI No. terutama sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Di samping 254 . di lain pihak ada yang meneliti dan meninjau dari aspek kualitas guru yang mengajarnya. Professional Learning untuk Indonesia Emas tentang kondisi kekinian yang sungguh berbeda dengan era- era sebelumnya. Kata Kunci : Pengajaran. menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah matapelajaran dalam kurikulumnya.

Membaca dan mencermati kedua keputusan sebagai landasan operasional kebijakan diajarkannya bahasa Inggris di SD/ MI direspon positif oleh masyarakat luas di Indonesia. diperkuat oleh dikeluarkannya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. dan berkelanjutan. khususnya materi bacaan dalam buku bahasa Inggrisnya sangat panjang (kurang lebih tiga halaman). Pengajaran bahasa Inggris telah menjadi sebuah ikon dan menu khusus bagi sekolah- sekolah yang berkategori maju dan karena telah menjadi sesuatu yang sangat umum. lalu buaian dan bahkan berlanjut hingga akhir hayat (lifelong learning/education). kebtulan anak saya sedang belajar di kelas tersebut. dan dapat dimulai pada kelas 4 SD (Kasihani. sebab konsep belajar dalam agama. terutama dalam agama Islam dianjurkan sejak di dalam kandungan sang Ibu. yaitu oleh sekolah-sekolah dasar baik negeri maupun swasta yang merasa penting dan perlu untuk diajarkan bahasa Inggris. maka tidak heran lembaga-lembaga kursus bahkan dalam bentuk pengajaran secara pribadi (private course) menjamur di mana-mana. Sebagai sebuah misal. Jika dikaitkan dengan tingkat dan level tersebut sangat todak sesuai dan cocok. Di samping itu. dalam pidato pengukuhan profesor di UM). Dalam praktik dan perkembangnannya seiring kemajuan dan tuntutan zaman hingga di era teknologi dan terlebih lagi dalam menyongsopng era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) dewasa ini. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris di sebagai mata pelajaran muatan lokal SD. mendalam. Di satu sisi animo dan hasrat masyarakat untuk mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional di SD/MI sejatinya tidak melanggar-melanggar amat baik ketentuan dan undang-undang yang berlaku di negara Reepublik tercinta ini atau bahkan ditinjau dari aspek religius tidak bertentangan dengan kondrat kemanusiaan. komprehensif. Kesiapan bahan atau materi ajar yang sesuai dan cocok dengan tingkat dan kematangan pembelajar atau murid seringkali menjadi satu domain yang masih memerlukan pengkajian dan peninjauan kembali secara lebih kritis. buku pelajaran bahasa Inggris yang digunakan untuk mengajar bahasa Inggris di MP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kelas 4. Hal selanjutnya mengenai pengajaran bahasa inggris di tingkat sekolah dasar adalah ditinjau dari kesiapan materi ajar. Khusus di lembaga pendidikan baik di tingkat sekolah dasar bahkan di tingkat taman bermain (pre- school/play group) atau dalam bahasa Inggris sendiri menyebutnya pengajaran bahasa Inggris untuk “Pembelajar Bahasa Inggris Pemula (English for Young Learners). masih banyak lagi 255 . kebijakan tersebut di atas. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa itu.

struktur bahasa. masih ditemui banyak kekekliruan. menulis pola dan tata bahasa yang rumit dan kompleks yang justeru membuat semangat dan animo belajar siswa menurun dan menjadi kuang bahkan menghilang. yang terjadi di banyak sekolah masih sangat banyak dijumpai pengajaran bahasa Inggris di SD/MI diberi tugas yang banyak dan tidak sesuai. dan penyusunan tujuan pembelajaran yang terlalu utopis dan mengawang. Hal ini terjadi karena sekolah terpaksa harus mengajarkan bahasa Inggris pada siswanya karena permintaan masyarakat atau perintah atasan. Secara teoretis. keterbacaan. seksama. dan tingkat kekritisan serta kreativitasnya. Professional Learning untuk Indonesia Emas aspek-aspek lain yang menjadi problematika dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah tingkat dasar (SD/MI). Kemudian. apa yang perlu dan seharusnya dilakukan berkaitan dengan bolehnya pengajaran bahasa Inggris di tingkat SD/MI? menjawab pertanyaan ini perlu memahami dan mendalami berbagai konsep yang dikemukakan oleh banyak pakar pendidikan dan lebih khusus pakar pendidikan bahasa agar kita tidak salah arah dan langkah dalam mengajarkan bahasa atau tujuan pengajaran bahasa benar-benar sesuai dengan tujuan pengajaran dan pembelajarannya. dan kritis mengenai kurikulum bahasa Inggris sebagai muatan lokal yang teranyar masih menyisakan banyak unsur kelemahannya. menggambar. seperti meminta untuk menerjemahkan kalimat-kalimat yang sulit. tingkat kesulitan kosakata. Ada lagi hal yang sungguh menghambat pelaksanaan dan ketercapaian tujuan pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SD/MI adalah penunjukkan guru/pengajar bahasa Inggris oleh kepala sekolah padahal yang bersangkutan tidak memiliki latar belakang pendidikan bahasa Inggris (tidak memenuhi syarat). di antaranya: terdapat ketidaksesuaian materi ajar dengan perkembangan usia murid. Mencermati lebih dalam. pemilihan topik. pemilihan metode dan pendekatan. menyanyi. dan berceritera atau ekspresi diri. dan kebutuhannya melalui pola mengajar dan belajar yang menyenangkan. Akan tetapi. konteks. yang seharusnya siswa diajarkan kosakata dan kalimat yang sangat sederhana sesuai dunia. sambil bermain. Kondisi pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia. 256 . pengajaran dan pembelajaran bahasa asing (baca: bahasa Inggris) di SD sebenarnya bertujuan memperkenalkan kepada murid/siswa secara lebih dini bahwa terdapat bahasa lain selain bahasa ibu (mother tongue) dan bahasa Indonesia (national language) yang perlu dipelajari untuk mengembangkan wawasan dan keilmuan di masa mendatang (future time).

(Moeslichatoen. Para pengajar sekaligus pendidik memiliki peran yang sangat besar dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia muda/SD/MI. (3)    spasial (ruang atau posisi orang/benda). dan psiko-motor. (5) karya wisata. ruang lingkup pembelajaran. Sementara aspek ruang lingkup pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia keterampilan mendengar. sosiologis. jumlah. (7) projek. (2) bercakap- cakap. lingkungan belajar. bentuk. (2) dimotivasi. sama dengan cara mereka belajar bahasa ibu. (5)  emosional (perasaan). psikolgis anak. 1999) berkenaan dengan metode-metode pembelajaran bahasa Inggris untuk pembelajar muda. pelafalan dan struktur bahasa. misalnya warna. meliputi: karakteristik anak. (2) klasifikasi (pengelompokan. Senada dengan Ashworth dan Wakefield di atas. (4) dengan menirukan guru: (5)  dengan berinteraksi dengan orang lain. di antaranya adalah: (1) Bermain (dan bernyanyi). Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Walaupun sebenarnya sekolah yang bersangkutan tidak/belum mampu melaksanakan karena tidak ada tenaga pengajar yang tersedia dan termasuk ketersediaan kurikulum yang terencana secara sistematis dan dievaluasi secara berkelanjutan. fungsi. (3) dengan mendengar dan mengulang- ulang. tujuan pembelajaran bahasa. (6)  dengan menerjemahkan (Moon. realia dan gerakan-gerakan serta kombinasi bahasa lisan dengan 257 . (4)   temporal (waktu). 2000). 2005 adalah: (1)    identifikasi (mengenal orang/benda yang ada di sekitar anak-anak). dan menulis serta komponen kosa kata. dan (7) pemberian tugas. Selanjtnya mengenai prosedur pembelajaran bahasa asin (Inggris) untuk pembelajar muda. Selanjutnya (Shin. (6)  familial (keluarga). Melengkapi aktivitas pembelajaran dengan media visual. Sementara berkenaan dengan konsep-konsep yang perlu dikuasai anak-anak dalam berbahasa menurut Ashworth dan Wakefield. jenis. adalah sebagai berikut: (1)  secara alami. di antarana adalah: 1. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan. berbicara. membaca. (4) demonstrasi. (7)  ordering (menyusun): (8) ekuivalensi (perbandingan. Di samping memahami metode dan pendekatan. guru perlu memiliki pemahaman yang mendasar tentang perkembangan diri anak. 2006) beberapa hal yang diperhatikan diperhatikan dalam melakukan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris untuk pembelajar pemula (SD/MI) agar tujuan pembelajaran tercapai sesuai harapan. dsb.). (3) bercerita. Semuanya ini harus senanatiasa disesuaikan dengan kemampuan anak yang diajar. ukuran. terutama dalam hubungannya dengan proses pembelajaran bahasa Inggris agar tujuan pembelajarannya tercapai sesuai yang diprogramkan.

pembimbingan. Gunakan bahasa ibu/pertama jika diperlukan 6. Mengajar berdasarkan tema dan menstimulasi imajinasi dan kreativitas siswa. Sedangkan sesudahnya akan makin berkurang dan pencapaiannya pun tidak maksimal. otak anak masih elastis dan lentur. perlu didukung oleh pengajar/ pendidik yang memahami kebutuhan anak (kompeten) melalui perencanaan. sehingga. Melibatkan siswa di dalam pembuatan media visual atau realia. bisa kita simpulkan bahwa: (1) Semakin dini anak belajar bahasa asing. dsb. Alasannya. tetapi sangat ditentukan oleh motif atau kebutuhan dan tujuan yang didukung oleh lingkungannya. (4) Pembelajaran bahasa Inggris pada usia SD/MI bersifat dinamis dan senantisa mengalami kemajuan yang lebih cepat. daya pikir (otak) anak lebih lentur. Menggunakan cerita dan konteks yang sudah dikenal oleh siswa 8. Mengundang masyarakat sekitar (orangtua. mahasiswa. McLaughlin dan Genesee menyatakan bahwa anak-anak lebih cepat memperoleh bahasa tanpa banyak kesukaran dibandingkan dengan orang dewasa. semakin mudah anak menguasai bahasa itu. Membangun rutinitas di dalam kelas dengan menggunakan bahasa Inggris 5. Berkolaborasi dengan guru lainnya di sekolah Anda 10. tidak tergantung pada kemampuan intelektual atau kecakapan bawaan berbahasa. Professional Learning untuk Indonesia Emas ‘bahasa tubuh’ atau ‘demonstrasi’. ia lebih mudah belajar bahasa. Penutup Dari uraian singkat di atas. dan penyediaan sarana penunjang yang memadai. sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus serta daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis. 258 . (2) sebelum masa pubertas. Namun demikian. 7. Berpindah dari aktivitas yang satu ke aktivitas lainnya dengan cepat 4. (3) Pangajaran Bahasa Inggris di SD merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). 2. Berkomunikasi dengan guru atau pengajar di luar sekolah/ lembaga Anda. 3.) yang bisa berbahasa Inggris untuk berceita di dalam kelas 9. dan terakhir (5) Keberhasilan seseorang dalam belajar bahasa asing.

84—88. (2001). Mohammad and Azadeh Amoozegar. Retrieved from www. Richards. Retrieved from www. dan kenyataan.sciencedirect. Iran Kang. 1991). E.sciencedirect. Lynne.).com. Oral presentation. Curriculum Development in Language Teaching. Teaching English to Children: From Practice to Principle.) Techniques in Teaching English to Children. Jayne. Islamic Azad University. Jayne Moon.C. Nissani.com. Procedia- Social and Behavioral Sciences 136 (2014) 84—88. Mohammad and Azadeh Amoozegar. Children Learning English. implementasi. Cambridge: Cambridge University Press. Behroozi. (2000). (2014). 259 . ( 1999). (2014). Brumfit. Helen. Procedia- Social and Behavioral Sciences 136 (2014). ( 2001). 2000. scribd. Azam. (2000).sciencedirect. Teaching Language to Young Learners. (2008. Oxford: Macmillan Publishers Limited Hashemi. Harlow: Pearson Education Ltd. com. Toyserkan Branch.retrieved from www. Challenges to English language teachers of secondary schools in Iran. Oxford: Macmillan Publishers Limited. Challenges to English language teachers of secondary schools in Iran. J. Jayne. New York: Oxford University Press. Kasihani. Young Learners of English: Some Research Perspectives. Larsen. Rixon.com/doc/56032770/Pidato-Guru-Besar-Prof-Kasihani- E-Suyanto-M-a-Ph#scribd. Moon. Ghane. Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar: kebijakan. Cameron. Retrieved from www. (2013) Are Young Learner’s Better Learners Of Foreign Language Learning Or Adults? Procedia-Social and Behavioral Sciences 136 ( 2014 ) 84 – 88. London: Harper Collins Publishers. Suyanto. Shelagh (ed. Moon. 1993. Technique and Principles in Language Teaching Second Edition. London: Cambridge University Press. Masoud. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Daftar Pustaka Behroozi. Christopher. Diane and Freeman. & Ray Tongue (eds). Early Childhood Programs for Language Minority Students.. Children Learning English.

Teaching problematic consonants in English to young learners. (2010). (2006). Scoot. USA: Cambridge University Press. Motivational Patterns in Iranian EFL learners: The Orientation and Age Difference. New York: Longman. 260 . Volume 44. Shin. Procedia Social and Behavioral Sciences 2 (2010) 943–947.Social and Behavioral Sciences. Professional Learning untuk Indonesia Emas Saricoban. Wendy and Viv Lambert. (1992). 4 July 2013. Pages 678-682. Volume 83. (2006). Superfine. Mighty Movers Pupil’s Book: An Activity-based Course for Young Learners (Delta Young Learners English). Number 2: 2—7. sciencedirect. and Lisbeth H. Taghi.com. Superfine. Ytreberg. Super Starters Activity Book: An Activity-based Course for Young Learners (Delta Young Learners English). Retrieved from www. USA: Cambridge University Press. Ten Helpful Ideas for Teaching English to Young Learners. Wendi A.sciencedirect.com. (2013). Arif and Albina Kuç. Seyyed Yaghoub. Procedia . English Teaching Forum. (2007). Teaching English to Children. Joan Kang. Wendy and Judy West. Retrieved from www.

berkomunikasi dengan orang asing. Siswa malu untuk berbicara bahasa Inggris dan takut berbuat kesalahan baik kesalahan mengucapkan kata-kata. Banyak tawaran beasiswa yang berasal dari negara-negara luar yang dapat diambil oleh siswa Indonesia yang ingin melanjutkan sekolah atau kuliah di luar negeri. kosa kata. Oleh karena itu. KBBI ini sangat diperlukan bagi siswa setelah menyelesaikan studinya antara lain untuk menghadapi ujian wawancara memasuki dunia kerja. penguasaan siswa terhadap keterampilan berbicara bahasa Inggris khususnya di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta masih rendah. Tentu saja bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa lisan. tatabahasa. Hal ini dibuktikan dari jarangnya siswa menggunakan bahasa Inggris saat pelajaran bahasa Inggris berlangsung. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan guru bahasa Inggris menunjukkan bahwa siswa kurang termotivasi berbicara bahasa Inggris. PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INGGRIS DENGAN PENERAPAN PEMBELAJARAN AKSELERASI (Penelitian Tindakan di Kelas 7 pada Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Neneng Sunengsih Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : sunengsihneneng@yahoo. baru siswa terdorong untuk berbicara. pemahaman. atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang kurang tepat. Demikian juga halnya ketika guru bahasa Inggris berkomunikasi dengan para siswa. sudah berbagai usaha dilakukan antara lain: guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mendengarkan guru berbicara terlebih dahulu. melakukan negosiasi bisnis atau bila siswa akan melanjutkan di perguruan tinggi dalam dan luar negeri. membaca dan menulis. sejak dini siswa harus dibekali keterampilan berbicara bahasa Inggris. Untuk mengatasi masalah tersebut. masih banyak kesalahan siswa dalam merespon guru berbicara bahasa Inggris baik pengucapan. guru memotivasi siswa dengan cara mencatat bagi 261 . tata bahasa.com Pendahuluan Penguasaan keterampilan berbicara bahasa Inggris (KBBI) bagi siswa Madrasah Tsanawiyah merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai disamping keterampilan menyimak. Namun pada kenyataannya. dan kefasihan. pilihan kata.

Oleh karena itu yang dituju Pembelajaran Akselerasi (PA) adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para peserta didik. dan (6) merefleksikan bagaimana anda belajar. (2) tahap penyampaian. Professional Learning untuk Indonesia Emas yang mau berbicara bahasa Inggris. (3) menyelidiki makna. dan diilhami metodologi pelatihan bahasa orisinil sugestopedia. dan (7) Otak citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis. pihak sekolah melakukan kegiatan ekstra kurikuler melalui student company dengan membentuk English Club. teori kecerdasan berganda. (4) memicu memori. workshop. teori belajar. (2) rancangan disesuaikan dengan semua gaya belajar. (6) mengikuti aturan 30/70. Meier membagi tahap pembelajaran akselerasi menjadi 4 yakni (1) tahap persiapan. 262 . (4) Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan. (6) Emosi positif sangat membantu pembelajaran. Rancangan pembelajaran akselerasi memiliki 7 prinsip : (1) merancang dengan siklus belajar 4 tahap. bukan mengkonsumsi. Di samping itu. (Meier: 2000). dan (4) tahap penampilan hasil. (2) Belajar adalah berkreasi. (5) Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik). (5) memamerkan apa yang anda ketahui. (3) rancangan berdasar aktivitas. dan (7) menciptakan rancangan yang luwes dan bertujuan terbuka (Meier: 2000). untuk mencatat siswa yang mau berbicara bahasa Inggris. kompetensi dan keberhasilan mereka sebagai manusia. (3) Kerjasama membantu proses belajar. kecerdasan. (4) menciptakan komunitas belajar. pelatihan tentang pembelajaran bahasa Inggris. Prinsip Dasar Pembelajaran Akselerasi Pembelajaran akselerasi didasarkan pada teori otak. Prosedur pembelajaran akselerasi dikemukakan beberapa ahli antara lain oleh Rose & Nicholl (2002) yang menyatakan enam langkah dasar pembelajaran akselerasi yakni : (1) memotivasi pikiran. dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan. membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka. Pembelajaran Akselerasi secara umum memiliki tujuh prinsip dasar antara lain : (1) Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh. guru menentukan wasit yakni siswa secara bergantian ditugaskan mengontrol siswa lain yang mau berbicara dalam bahasa Inggris. (2) memperoleh informasi. (3) tahap pelatihan. Namun usaha-usaha yang dilakukan oleh guru maupun pihak sekolah belum dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam berbicara bahasa Inggris. (5) bergantian menerapkan aktivitas belajar fisik aktif dan aktivitas belajar fisik pasif. Pihak sekolah juga mengirimkan para guru untuk mengikuti seminar.

pengamatan.09. 3). Pertama. tata bahasa. mencatat segala proses kegiatan yang terjadi di dalam kelas. Pelaksanaan tindakan mengikuti alur rencana tindakan yang telah disusun sebagai berikut : 1). kosa kata. siklus kedua. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pembahasan Data penelitian ini mencakup data pra-observasi. Kegiatan pembelajaran direncanakan dalam 3 tahap yakni (1) persiapan. Kelas ditata dengan cara menyusun kursi siswa dalam bentuk U-shape. Jika dibanding dengan penguasaan 85 % atau siswa memiliki rata-rata skore 85 maka penguasaan keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa masih tergolong kategori rendah. dan refleksi. Hasil pengamatan ini didiskusikan bersama sebagai masukan bagi pelaksanaan yang kemudian akan direfleksikan kembali. Tindakan direncanakan dengan melibatkan satu guru mitra dan satu guru bantu sebagai kolaborator yang bersama-sama dengan peneliti bertindak sebagai pengamat di dalam kelas. Guru mitra melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan melalui tahapan persiapan. Dilihat dari hasil tes awal keterampilan berbicara bahasa Inggris yang meliputi kemahiran lafal. 3). siswa memperoleh rata-rata sebesar 34. Kursi dalam ruang kelas disusun berbentuk U-shape. Pada tahap pra-observasi ini juga dilakukan tes awal. (2) penyajian. serta review dan elaborasi dengan perincian pelaksanaannya. 263 . hasil siklus pertama. penyajian. kosa kata. kelancaran dan pemahaman. dan siklus ketiga. Penataan kelas ini bertujuan agar siswa mudah memusatkan perhatian saat dilakukan drama tentang dialog yang dipelajari. (3) review dan elaborasi. 2). Pra-observasi Pada tahap pra-observasi. 1. melaksanakan tindakan. keterampilan berbicara bahasa Inggeris siswa masih mengalami kesalahan dalam hal kemahiran lafal. sedangkan guru bantu dan peneliti bertindak sebagai pengamat. 2). tata bahasa. guru mitra. Guru mitra bertugas melaksanakan kegiatan pembelajaran sedangkan kolaborator dan peneliti melakukan pengamatan. kolaborator dan peneliti masuk ke kelas. 2. kelancaran maupun pemahaman. Siklus Pertama Setelah dilaksanakan pra-observasi maka dilaksanakan siklus pertama yang terdiri dari kegiatan merencanakan tindakan. Perencanaan tindakan terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 1).

Berdasarkan catatan lapangan dan hasil diskusi guru mitra. Tindakan-tindakan yang direncanakan pada siklus kedua adalah : (1) Memberi lagu senam otak supaya lebih menyenangkan siswa. kolaborator dan peneliti maka penelitian ini perlu dilanjutkan pada siklus kedua sebagai tahap lanjutan dari siklus pertama. kosa kata. Selama proses tindakan. peneliti dan kolaborator mengamati reaksi yang muncul ketika proses kegiatan tesebut berlangsung. pada silklus pertama ini masih ditemui adanya beberapa kendala yaitu (1) Keterbatasan waktu dalam melaksanakan pembelajaran akseleratif. antara lain : (1) Siswa antusias belajar bahasa Inggris. tata bahasa. (4) Ketika mendengar dialog. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada awal kegiatan siswa belum terbiasa dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas pembelajaran akseleratif. (5) Guru mitra belum intensif membantu siswa dalam mempraktekkan dialog pada kelompok kecil tetapi sebagian besar kelompok berusaha sendiri untuk menghafal dialog sehingga penguasaan keterampilan berbicara siswa belum merata. Berdasarkan kendala yang ditemui pada siklus pertama dan hasil diskusi guru mitra. dan peneliti terdapat 18 orang siswa dari 35 orang siswa atau 51 % terampil berbicara bahasa Inggris. (2) Guru mitra belum terbiasa menggunakan pendekatan pembelajaran akseleratif. Namun demikian. Urutan-urutan pelaksanaan prosedur pembelajaran terkadang lupa sehingga guru mitra sesekali melihat catatan urutan pembelajaran yang ada di atas mejanya. Professional Learning untuk Indonesia Emas Peneliti dan kolaborator melaksanakan pengamatan terhadap proses pelaksanaan tindakan selama berlangsung siklus pertama. kolaborator. (3) Kesalahan lafal. siswa cenderung mengingat ungkapan dialog tidak berdasarkan cerita yang gambar. Pengamatan dibatasi pada fokus penelitian yakni bagaimana meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa melalui pembelajaran akseleratif dan apakah pembelajaran akselerasi dapat meningkatkan keterampilan bahasa Inggris. kelancaran dan pemahaman sudah mulai berkurang. Oleh karena itu belum mencapai target ideal sehingga tindakan perlu dilanjutkan pada siklus kedua. (2) Siswa mau berbicara dalam bahasa Inggris. (2) Guru mitra menekankan siswa untuk menghubungkan 264 . Demikian juga dengan pencapaian ketuntasan belajar pada siklus pertama belum tercapai sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu 85 % secara keseluruhan. Guru mitra terkesan masih kaku dalam melaksanakan langkah-langkah pembelajaran akseleratif karena ia belum hafal betul prosesnya. Refleksi dilakukan berdasarkan pengamatan bahwa pembelajaran akselerasi yang telah diterapkan guru mitra mampu meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris. Hal tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut. (3) Siswa belum begitu hafal melaksanakan senam otak.

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dialog dengan gambar. pikiran siswa akan lebih segar dan siap untuk menerima pelajaran karena otak reptil dan otak limbiknya sebagai pusat emosi dapat dirangsang sehingga pelajaran mudah masuk ke memori jangka panjang. Data yang terkumpul dan berdasarkan hasil evaluasi yang 265 . Siklus Kedua Kegiatan pembelajaran siklus kedua lebih ditekankan pada aktivitas memahami dialog dengan menghubungkan proses dialog dengan gambar. siswa mudah mengingat urutan kejadian dalam dialog dan pada saat yang bersamaan siswa lebih mudah pula mengekspresikan ungkapan-ungkapan yang ada dalam dialog dengan bantuan gambar situasi atau konteks dialog. (4) Praktek percakapan dalam kelompok kecil sudah dilakukan guru mitra secara intensif sehingga penguasaan dialog sudah lebih merata. Pada siklus kedua ini pula siswa mulai berpraktek mendramakan dialog yang sedang dan telah dipelajari karena dialog pertama dan kedua berkelanjutan. (3) Praktek dalam kelompok kecil harus dipantau betul oleh guru mitra akan penguasaan dialog dapat lebih merata. Dengan memahami gambar. Ungkapan-ungkapan bahasa Inggris diingat manakala disertai gambar. (4) Siswa terampil mendramakan dialog yang sedang dipelajari dengan dialog yang telah diajarkan pada siklus pertama. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa : (1) pelaksanaan pembelajaran pada siklus kedua ini secara umum siswa sudah mulai terbiasa dengan tindakan-tindakan yang dilakukan guru mitra dalam kegiatan pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran akseleratif. Dengan demikian. (2) Siswa lebih gembira melaksanakan senam otak dengan iringan lagu. Selain itu. 3. guru mitra memberi lagu untuk mengiringi senam otak dengan irama lagu menanam jagung agar siswa lebih rileks dan senang dalam belajar. (3) Menghubungkan dialog dengan gambar telah diupayakan guru mitra namun belum intensif. Perbedaan ini akan terasa ringan untuk diingat dan diproduksi dalam bentuk ujaran apabila siswa mengingat gambar bersamaan dengan mengingat ungkapan-ungkapan. walaupun untuk mengingat dialog pertama diperlukan waktu beberapa saat. Gambar bertujuan mengaktifkan fungsi otak kanan agar siswa belajar lebih menyenangkan sehingga belajar berbicara terasa lebih mudah. (5) Membuat games yang lebih bervariasi. (4) Menghubungkan dialog kedua dengan dialog pertama yang telah dipelajari sebelumnya. siswa ingat ungkapan dialog yang telah didengarnya melalui aktivitas menyimak dialog dengan diiringi musik aktif dan musik pasif pada aktivitas menyimak kedua. Apalagi ada beberapa ungkapan yang pola kalimatnya berbeda-beda. Dengan lagu. pada siklus kedua ini.

Namun bila dicermati secara menyeluruh bahwa keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa mencapai target ideal yang ingin dicapai melalui penelitian ini yakni 85 % dari keseluruhan siswa. ia betul-betul bertingkah laku sebagai seorang ibu. Kedua. Oleh karena belum mencapai target ideal yang diharapkan peneliti maka perlu diadakan tindakan siklus ketiga. mengintensifkan aktivitas drama dengan menyiapkan realia atau alat peraga serta menentukan lokasi percakapan sesuai dengan dialog dan memperbaiki tingkah laku peran. Ketuntasan belajar pada siklus kedua ini belum memenuhi kriteria yang ditetapkan sebelumnya yakni 85 % siswa di kelasnya telah meningkat keterampilan berbicara bahasa Inggrisnya. Dengan demikian perlu dilanjutkan ke siklus ketiga. Keempat. guru mitra membuat tema dialog bebas pada tahap kedua siklus ketiga yang bertujuan untuk melihat apakah siswa sudah mampu berbicara bahasa Inggris tanpa panduan dan guna mengarahkan siswa untuk tidak menghafal mati (remote memory) tetapi siswa dapat kreatif berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan ungkapan yang bervariasi. Guru mitra menekankan dan menegaskan ungkapan mana yang termasuk dalam masing-masing gambar agar siswa sadar betul bahwa setiap gambar mewakili ungkapan dialog sehingga siswa mudah mengingat setiap ungkapan dalam dialog. (4) Ungkapan percakapan sudah mulai bervariasi. 4. (3) Siswa sudah dapat berbicara bebas tidak terikat dengan dialog walaupun masih terdapat kesalahan tata bahasa. guru mitra harus lebih menegaskan pasangan ungkapan-ungkapan dalam dialog dengan gambarnya. Hal-hal yang perlu diperbaiki untuk siklus ketiga yang direncanakan guru mitra. Berdasarkan catatan lapangan dan hasil diskusi guru mitra. pada tahap kedua siklus ketiga. kolaborator dan peneliti terdapat 29 orang siswa dari 35 orang siswa atau 83 % telah meningkat keterampilan berbicara bahasa Inggrisnya. kolaborator dan peneliti adalah : Pertama. Ketiga. Professional Learning untuk Indonesia Emas dilakukan kolaborator dan peneliti menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa semakin meningkat bila dibandingkan dengan siklus pertama. Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris itu ditandai dengan : (1) Penguasaan keterampilan berbicara sudah hampir merata. Jika peran siswa sebagai seorang ibu. Siklus Ketiga Pembelajaran pada siklus ketiga ini secara umum dapat dilihat bahwa siswa sudah terbiasa dengan tindakan-tindakan yang dilakukan 266 . (2) Sebagian besar siswa sudah berani berbicara bahasa Inggris. guru mitra menjelaskan semua tata bahasa dan kosa kata dalam dialog yang sedang dipelajari yang tidak dimengerti siswa serta memberi pola yang sama dan mendrilkannya kepada siswa.

Pre-test dilaksanakan sebelum tindakan siklus pertama dilakukan sedangkan post-test dilaksanakan setelah tindakan selesai pada siklus ketiga. dapat mengoptimalkan kedua jenis medium keterampilan berbicara bahasa Inggris. mampu mengaktifkan otak verbal dan visual.94 % dari 35 orang siswa secara keseluruhan. dan postur tubuh. kolaborator dan peneliti maka dapat dinyatakan bahwa penelitian ini telah mencapai target ideal yakni 85 % di mana terdapat 33 siswa atau 0. Wilayah Wernicke merupakan pusat pemrosesan hubungan bunyi dengan makna serta berperan sebagai pengirim bunyi menjadi tuturan. dan fisik secara simultan. mampu merangsang berbagai kecerdasan. dapat mengadakan hubungan dengan wilayah visualisasi bahasa. Pembelajaran akseleratif juga mampu menciptakan suatu proses belajar sadar dan ambang sadar (dual plane behavior). emosi. mampu menciptakan lingkungan positif. Selain itu. tata bahasa. mendorong mahasiswa untuk melakukan kolaborasi dalam belajar. dan hubungannya dengan wilayah Wernicke. Tingkah laku nonverbal ini sangat penting dalam mengoptimalkan aktivitas komunikasi dan khususnya persuasi. Dalam penelitian ini juga dilakukan pengukuran dengan menerapkan model pre-test dan post-test. kosa kata. Artinya siswa telah memiliki tingkat keterampilan berbicara bahasa Inggris yang tinggi sehingga dengan demikian tindakan sudah selesai dan tidak perlu lagi dilanjutkan pada siklus berikutnya. Harga t hitung untuk keterampilan berbicara siswa sebesar 12. 04 dan harga t tabel sebesar 1. kelancaran dan pemahaman. Menurut Walsh dan Diller. serta mampu memaksimalkan kemampuan inkuiri. Pembelajaran akseleratif mampu melibatkan informasi visual. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa guru mitra dalam kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Inggris. kontak mata. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek kemahiran keterampilan berbicara antara lain dari segi lafal. Berdasarkan catatan lapangan dan hasil diskusi dengan guru mitra.69. pembelajaran akseleratif mampu mengaktifkan mekanisme pada wilayah Broca yang berfungsi sebagai alat memproduksi bahasa di mana siswa dapat memiliki kemampuan yang sangat baik dalam pengucapan. Pengujian perbedaan nilai dilakukan terhadap rata-rata atau mean nilai pre-test dengan post-test untuk keterampilan berbicara bahasa Inggris. Keterampilan berbicara siswa mengalami peningkatan dari siklus kedua. Penguasaan kedua jenis tingkah laku ini tidak 267 . Pembelajaran akseleratif yang memiliki karakteristik memadukan fungsi otak. mimik. Proses belajar sadar diujudkan dalam bentuk tingkah laku verbal dan proses belajar ambang sadar dinyatakan dalam tingkah laku nonverbal. Tingkah laku nonverbal bisa dalam bentuk fenomena paralinguistik seperti gerak tubuh.

Dengan kombinasi sugesti dan musik maka dapat diciptakan suasana siga rileks yang disebut Lozanov sebagai concentrative psychorelaxation di mana suatu suasana tidak hanya menyenangkan tetapi juga dapat mempercepat belajar. sikap terhadap belajar dan keefektifan belajarnya. dan senam relaksasi yang dilakukan dalam 268 . maupun otak belajar (neo-cortex) yang terdiri dari otak kanan dan otak kiri. pembelajaran akseleratif memberi senam relaksasi. Siswa didorong untuk memfungsikan otak. Dengan kata lain. Sugesti dimaksudkan untuk mempengaruhi keyakinan dan minat siswa terhadap sifat dan kesulitan tugas. Jadi. senam pernapasan. Intervensi sugestif dilakukan terhadap potensi siswa pada tingkat psikologis dan intelektual yang bertujuan untuk memperbaiki konsep diri. lingkungan belajar mengajar secara keseluruhan difahami sebagai sesuatu yang positif. Untuk menciptakan suasana ini. verbal tidak langsung. Pembelajaran akseleratif juga dapat mengoptimalkan potensi siswa melalui intervensi sugestif. pembelajaran akseleratif mengintegrasikan sejumlah sugesti (verbal langsung. pembelajaran akseleratif menekankan pengajaran komunikatif dan pengajaran bahasa yang humanistik. Fenomena paralinguistik juga dilakukan pada saat mendengarkan dialog diiringi musik aktif dan musik pasif serta pada saat melakukan drama dan permainan di mana bahasa verbal diiringi dengan bahasa tubuh. dan emosi guna mencapai tingkat potensi akademik yang tertinggi. tubuh. otak limbik. Professional Learning untuk Indonesia Emas dapat dicapai melalui latihan (practice) yang hanya merupakan teknik tiruan. pembelajaran akseleratif dapat membuat belajar menjadi menyenangkan dan tanpa tekanan. senam pernapasan dan senam otak kepada siswa karena bila siswa dalam keadaan rileks maka mereka akan mudah mengingat dan menghafal pelajaran. Dengan cara ini siswa memahami bahasa secara simultan baik pada tingkat sadar maupun ambang sadar. Di samping itu. akan tetapi dapat dicapai melalui kesungguhan atau keikhlasan. Untuk menghindari tekanan. Pembelajaran akseleratif mampu mengaktifkan seluruh fungsi otak dalam belajar (whole brain learning) baik fungsi otak reptil. nonvebal langsung dan nonverbal tidak langsung) secara sadar bukan hanya proses pembelajaran tetapi juga ke dalam tingkah laku mahasiswa. bersifat mendukung (supportive) dan kreatif (inspiring). Hal ini sering terjadi pada keterampilan berbicara di mana karakteristik kepribadian berperan penting. Fungsi otak reptil diaktifkan melalui kegiatan senam otak. Dalam hal ini. Tujuan ini berguna untuk mengatasi hambatan belajar karena siswa yang mempelajari bahasa sering memiliki pandangan negatif terhadap potensi belajarnya yang kemungkinan dapat terefleksi dalam tampilannya. pembelajaran akseleratif menekankan kerja sama secara kolaboratif dalam mempelajari materi perkuliahan dan tidak menekankan kompetisi.

pusat otak tengah mamalia dapat diaktifkan di mana ingatan jangka panjang diproses sehingga materi yang dipelajari dapat tersimpan lama dan memungkinkan untuk diproduksi kembali dalam bentuk keterampilan berbicara. Kecerdasan sosial dibangun melalui belajar bersama dan saling membantu dalam kelompok kecil. Selain mampu merespons gaya belajar siswa. kecerdasan sosial. pembelajaran akseleratif memfungsikan kecerdasan berganda yang dimiliki siswa seperti kecerdasan intelektual. relevan dengan kebutuhan siswa dan dengan cara yang menarik serta melibatkan emosi dan menimbulkan rasa senang siswa dalam belajar. 1996:49). Kecerdasan intelektual dirangsang melalui penguasaan materi yang disajikan secara berkesinambungan antara dialog pertama sampai dialog ke sepuluh. pembelajaran akselerasi juga mengharuskan siswa melihat kata-kata dalam dialog utuh yang berkesinambungan sekaligus dengan melihat gambar yang lucu sesuai proses dialog. Semakin tinggi keterlibatan mental siswa dalam belajar keterampilan berbicara bahasa Inggris maka semakin baik keterampilan berbicara bahasa Inggrisnya. dan kecerdasan spiritual. Menurut dual code theory. Pembelajaran akseleratif juga mampu merespon gaya belajar visual dan auditoris mahasiswa sekaligus karena pendekatan pembelajaran akseleratif mampu merespons dua jenis kode informasi yaitu visual dan verbal. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa pembelajaran. Fungsi otak limbik diberdayakan melalui penyajian materi pelajaran dengan penuh makna. pendekatan pembelajaran yang mampu merespons dua kode informasi yang dimiliki pebelajar yakni auditoris (verbal) dan visual maka retensi dalam belajar akan meningkat dibanding dengan pendekatan pembelajaran yang hanya merespons satu kode informasi saja (Stevick. kecerdasan musik. Kegiatan merespons kedua jenis kode informasi tersebut dapat dilihat pada saat siswa mendengar sambil melihat gambar tentang dialog yang dipelajari. Pembelajaran akseleratif juga mampu melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Kecerdasan spiritual dikembangkan melalui pemberian tugas kepada siswa untuk membaca dialog di rumah sebelum tidur malam. kecerdasan emosional. Kecerdasan musik dirangsang lewat penyajian musik aktif dan musik pasif untuk mengingat dialog yang dipelajari. Dengan adanya keterlibatan emosi ini. Di samping mendengar dialog sebanyak dua kali yakni dengan mata terbuka dan mata tertutup yang diiringi musik aktif dan musik pasif. Kecerdasan emosional disentuh melalui penyajian materi yang menyenangkan siswa dan melibatkan emosional siswa secara optimal melalui kegiatan drama dan bermain peran serta melakukan permainan. Hal ini dapat diterima karena siswa yang melibatkan diri secara mental dengan maksimal dapat memunculkan keasyikan belajar sehingga informasi 269 .

keberanian untuk berbicara dalam bahasa Inggris bisa tumbuh. dan mampu mengaktifkan seluruh fungsi otak dalam belajar (whole brain learning) baik fungsi otak reptil. Dengan demikian. dan peneliti diperoleh data dari 35 orang siswa terdapat 18 siswa atau 51 % yang menunjukkan peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris dengan kriteria meningkatnya skor di bidang lafal. kelancaran serta pemahaman siswa sudah mulai berkurang. Penutup Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran akseleratif dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris. Pada siklus ketiga menurut catatan lapangan dan hasil diskusi guru mitra. Pada siklus pertama berdasarkan catatan lapangan dan hasil diskusi guru mitra. dapat mengoptimalkan potensi siswa melalui intervensi sugestif. Hal tersebut dapat terlihat dari ciri-ciri sebagai berikut. Hal ini dapat terjadi karena dalam pembelajaran akselerasi dapat mengaktifkan dua jenis media yang dimiliki manusia sekaligus yakni mengaktifkan medium aural atau abstrak dan medium visual atau konkrit. kolaborator dan peneliti diperoleh data dari 35 orang siswa terdapat 29 siswa atau 83 % yang menunjukkan keterampilan berbicara bahasa Inggrisnya telah meningkat. kosakata. tatabahasa. maupun otak belajar (neo-cortex) yang terdiri dari otak kanan dan otak kiri. kolaborator. 270 . kosa kata. tata bahasa. Peningkatan keterampilan berbicara siswa sangat signifikan dilihat dari hasil pengukuran harga t hitung pada pre tes dan pos tes yang diambil dari awal tindakan sampai dengan siklus akhir. mampu menciptakan suatu proses belajar sadar dan ambang sadar (dual plane behavior). dan (c) kesalahan pada lafal. otak limbik. kelancaran dan pemahaman. kolaborator dan peneliti diperoleh data dari 35 orang anak terdapat 33 siswa atau 94 % yang menunjukkan tingkat keterampilan berbicara bahasa Inggrisnya meningkat. Pada siklus kedua berdasarkan catatan lapangan dan hasil diskusi guru mitra. (b) siswa tidak ragu-ragu berbicara dalam bahasa Inggris. antara lain: (a) Siswa sangat antusias dalam menghadapi pelajaran bahasa Inggris. Professional Learning untuk Indonesia Emas yang diserap lebih besar dan keinginan untuk mempraktekkan secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dapat muncul.

Dialihbahasakan oleh Alexander Sindoro.htm). New York: Prentice Hall 271 . Cambridge: Cambridge University Press. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Daftar Pustaka Accelerated Learning Network.answers. Exploring the Theory of Multiple Intelligences. 2004 ----------------. Action Research.html). 2001. 2006 (http://www. Principles. Master Your Memory. Teaching & Researching Speaking. Christopher. Julian. Buzan. Yogyakarta: Ikon Teralitera. Language Acquisition and Language Education: Extensions and Applications.2006 Freeman. Use Your Perfect Memory: Teknik Optimalisasi Daya Ingat. 2003 Agustian. Language. 2003 Gregory. Robecca. Australia: Heinle. Robert J. USA: Jalmar Press. USA:TESOL. Jakarta: Arga. Taufik. Eric Digest. 2002 Krashen.org/pre- 923/speaking. Brainware Management : Generasi Kelima Manajemen Manusia.umich. Cambridge: Cambridge University Press. Jeremy. (http://www. England: Pearson Education Limited.com/ topic/language) Baharudin. Diana Larsen. Communicative Methodology in Language Teaching: The role of Fluency and Accuracy. The Practice of English Language Teaching. 1994 Edge. 2002 Dryden. Boston: Allyn and Bacon. (http: www. Teaching Language: From Grammar to Grammaring. 2001 Alandear.. Batam:Interaksara. 1984 Burns. Jakarta : PT Elex Media Komputindo. Inc.edu/~alandear/ glossary/ s. (http://www personal.2006 Answers Com. Oral Communication. Psychological Testing: History. 2001 Hughes. 1994. 2004 Brumfit. Stephen D. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ): Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Skills. Accelerated-Learning. Gordon & Jeannette. The Learning Revolution: A long Life Learning Program for the World Finest Computer: Your Amazing Brain!. 2000 Harmer. Collaborative Action Research for English Language Teachers.ericdigests. Dialihbahasakan oleh Basuki Hernowo. htm). London: Longman. net/multiple. and Applications. Anne. Tony. Ary Ginanjar.

Carlos J. 1957 Nggermanto. Bandung: Kaifa. London: Harcourt Brace Jovanovich.EQ dan SQ yang Harmonis. Cambridge: Cambridge University Press. New York: Heinle & Heinle Publishers.1992 Porter. Tesis. 1977 Lubis.org/glossary. 2004 McCarthy. Developing Communicative Proficiency in the English as a Foreign Language Class. J. (ed. 1999 Nunan.html) Mulgrave. Training: Research and Practice. & Donald A. 2000 Mills. Spoken Language and Applied Linguistics.). Moor. Dialihbahasakan oleh Alwiyah Abdurrahman. Skills. Jakarta: Depdikbud. 1988 Luoma. 2006 Patrick. Bobbi De & Mike Hernacki. 2001 Nora.. et. Dave. 1999 -------------. Bilingual and ESL Classrooms: Teaching in Multicultural Contexts. Inc. More Effective Training Programs. Agus. David.accelerated- learning. Ltd. Inc. The Accelerated Learning Handbook : A Creative Guide to Designing and Delivering Faster.html) Ovando. 2003 Meier. New York: McGraw-Hill. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada. Bandung: Penerbit Nuansa. R. 1989 Lindsay. Learning Styles in the ESL/EFL Classroom. dialihbahasakan oleh Ary Nilandari. Boston: McGraw Hill. Elvi Novia. Joy M. Professional Learning untuk Indonesia Emas international. Accelerated Learning.”Hubungan antara Minat Terhadap Mata pelajaran Bahasa Inggris dan Intelegensi dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Siswa SMU Negeri 8 Pekanbaru”. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas.com/forlang. Mark Reardon.1979. Speech: A Handbook of Voice Training Diction and Public Speaking. Norman. 2001 Reid. Cambridge: Cambridge University Press. Bridley. 2006 ( http://www. New York: Barnes and Noble. Yusnaini. Peter H. Teaching and Training: A Handbook for Instructors. Bandung: Kaifa. Human Information Processing: An Introduction to Psychology. New York: Academic Press. Publishers. 1995 272 . Designing Tasks for the Communicative Classroom.ntatt. Sari. Dorothy. Quantum Quotient: Cara Praktis Melejitkan IQ. London: Macmillan Press. dan Sarah Singer-Nourie. Assessing Speaking. H. Michael. Cambridge: Cambridge University Press. 2003 (http://www.al. 1993 Organization.

Malang: Program Pascasarjana IKIP Malang. Nicholl. Cambridge : Cambridge University Press. 2002 Spolsky. Milly R. 2002 Rose. Cambridge: Cambridge University Press.thefreedictionary.com/ skill)®. 2002 Sabardi. Jack C. 2001 -------------------. 1999 The American Heritage Skill. & Theodore S. 1978 Zohar.G. Danah dan Ian Marshall. (http://www. Bandung: Kaifa. Renandya (ed). Ahmad Nadjib Burhani.& Willy A. Oxford: Oxford University Press. 1994 Sonneman. Amsterdam: Elsever. Methodology in Language Teaching : An Anthology of Current Practice. H. 2003 Widdowson.”Penyimpangan dan Perbaikan Komunikasi Verbal Mahasiswa di dalam Kelas Percakapan Bahasa Inggris”. Accelerated Learning for the 21st Century: Cara Belajar cepat abad XX. Dialihbahasakan oleh Rahmani Astuti.-------------------------. Dialihbahasakan oleh Budi Juliman. Bandung:Mizan. Concise Encyclopedia of Educational Linguistics. Rodgers. Approaches and Methods in Language Teaching. 2001 273 . Bandung: Penerbit Nuansa. diterjemahkan oleh Dedy Ahimsa. Mahir Berbicara Visual. Tesis. New Jersey: Prentice Hall. Bernard (ed). dan Ahmad Baiquni. 1998 Richard. Understanding Learning Styles in the Second Language Classroom. Colin & Malcolm J. Teaching Language as Communication. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan.

id.suwarna@uinjkt.00). Siti Riana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : iwan.ac. hasil belajar. Namun hal tersebut tidak dapat dijumpai dalam kenyataanya. PENGARUH PENDEKATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI GERAK DAN GAYA DI KELAS IV SDN 14 PONDOK LABU JAKARTA Iwan Permana Suwarna. dan aplikasi. pemahaman. sumber belajar. yaitu kelompok eksperimen yang belajar dengan menggunakan pendekatan lingkungan dan kelompok kontrol tanpa menggunakan pendekatan lingkungan. Sampel penelitian berjumlah 34 peserta didik yang terbagi kedalam dua kelompok. Kata Kunci: pendekatan lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Selama ini pembelajaran IPA yang diterima oleh peserta didik cenderung verbalistik sehingga kurang bermakna dan menjenuhkan. Pada aspek ingatan. Instrumen hasil belajar berupa tes objektif (pilihan ganda) sebanyak 25 soal. Pendekatan lingkungan sebagai sumber belajar berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Hal ini sejalan dengan hasil observasi di SD Negeri 14 Pagi Pondok Labu. Berdasarkan analisis data dengan uji-t yang dilakukan pada taraf kepercayaan 95% diperoleh hasil thitung > ttabel (9. Fakta dan gejala alam adalah bahan kajian dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA harus menyajikan materi secara real juga faktual. IPA merupakan ilmu yang bersifat empirik membahas fakta serta gejala alam.permana. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pendekatan lingkungan sebagai sumber belajar terhadap hasil belajar peserta didik kelas IV pada materi gaya dan gerak di SDN 14 Pondok Labu Jakarta. pembelajaran IPA Pendahuluan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah dasar. dimana sebagian besar guru  274 .26 > 2.

terutama pada materi gerak dan gaya di kelas IV SDN 14 Pondok Labu Jakarta tahun pelajaran 2013/2014. peserta didik cendung lebih banyak di dalam kelompok menerima informasi yang lebih bersifat abstrak. Penentuan kelompok ditentukan secara acak. kelompok eksperimen/uji coba dan kelompok pembanding/kontrol. Guru tidak menghadapkan peserta didik pada keaadaan situasi yang sebenarnya. Guru sebenarnya dapat menggunakan pendekatan pembelajaran lingkungan dengan melibatkan peserta didik secara penuh sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar dari lingkungan. Desain penelitian yang digunakan adalah two group pretes postest design. Guru lebih senang menampilkan informasi yang real menjadi abstrak dengan alasan kepraktisan. memahami (C2). dan menerapkan (C3). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data emperis dan dapat digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan pendekatan lingkungan sebagai sumber belajar terhadap hasil belajar IPA peserta didik pada materi Gaya dan Gerak di kelas IV SDN 14 Pondok Labu Jakarta tahun pelajaran 2013/2014. Untuk itulah peneliti ingin mencoba merubah pandangan dan kebiasaan para guru dalam menggunakan pendekatan dalam mengajarkan IPA. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang menggunakan pendekatan lingkungan. Penggunaan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran diharapkan dapat mendorong terciptanya suasana belajar yang menyenangkan serta meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar. faktual dan sistematis dalam rangka melatih kemampuan berpikir logis dan sistematis peserta didik tentang bagaimana cara produk sains ditemukan. serta peserta didik terlihat kurang termotivasi dalam belajar. Suasana pembelajaran monoton dan membosankan. Penelitian dilakukan terhadap 34 orang peserta didik yang terbagi kedalam dua kelompok penelitian. Kalau hal ini dibiarkan terus berlanjut. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment). Biologi. Kelompok 275 . Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa hanya mentransfer ilmu pengetahuan secara text book. tidak salah kalau ada anggapan pelajaran IPA (Fisika. dan Kimia) di tingkat lanjut menjadi tidak menarik dan dianggap sulit bagi para peserta didik. Pada penelitian ini definisi hasil belajar dibatasi pada ranah kognitif aspek mengingat (C1). Guru seharusnya menciptakan suasana pembelajaran IPA yang empirik. Diharapkan akan tumbuh kedewasaan dan kemandirian peserta didik setelah belajar dari lingkungan kehidupannya.

Rerata kelompok kontrol lebih tinggi dari kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah kelompok yang tergolong kelompok unggulan atau kelompok yang selalu mendapat nilai yang baik. Kelas yang sengaja di buat dengan mengelompokan peserta didik berdasarkan kemampuan akademik yang lebih tinggi dibanding kelas lainnya (Suyanto dalam Supriyono. Nilai terendah maupun nilai tertinggi kelompok kontrol lebih tinggi dibanding kelompok eksperimen.14) lebih rendah dari kelompok kontrol (48. 276 . Metode ini dipilih karena tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari suatu perlakuan (treatment). 2009).28 83 65.14 Median 44. Professional Learning untuk Indonesia Emas kontrol adalah kelompok yang tidak menggunakan pendekatan lingkungan.35 Modus 34 43.14 48.38 Standar De- viasi 12.58).12 Hasil pretest menunjukkan rerata kelompok eksperimen (45. Kedua kelompok dianggap tidak memiliki perbedaan kemampuan awal secara signifikan.58 82.91 7. Secara statistik perbedaan rerata skor pretes tersebut dianggap tidak menunjukkan perbedaan.61 6. Pembahasan Hasil penelitian terhadap kelompok eksperimen dan kontrol pada saat pretest sebelum pemberina perlakuan berupa pendekatan lingkungan dan posttest setelah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang tidak menggunakan pendekatan lingkungan.91 61.78 10. hasinya diperoleh sebagai berikut: Tabel 1 Rekapitulasi Data Hasil Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Distribusi Pretest Posttest Frekuensi Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Nilai Teren- dah 24 32 68 48 Nilai Ter- tinggi 64 72 92 76 Mean 45.5 46.17 88.22 65.

1519 Kesimpulan Normal Normal Normal Normal Berdasarkan tabel tersebut keempat data (pretes.91 Fhitung 1. postes pada kelompok eksperimen maupun kontrol) berdistribusi normal. menggunakan uji Liliefors terlihat seperti pada tabel berikut: Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Pretest. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap homogenitasnya. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis terhadap data pretes dan postes antara kelompok eksperimen terhadap kelomok 277 .1163 0.1519 0. maka dilakukan uji hipotesis terhadap perlakuan.29 48.88 49.34 7. Kriteria pengujian yang digunakan: Homogen apabila Fhitung < Ftabel. 2010).1519 0.18 Ftabel 1. hasil uji homogenitas kedua kelompok sampel penelitian dapat dilihat seperti pada tabel 3 berikut ini: Tabel 3.5 58.58 81.1519 0.06 Lo 0.1403 0.70 S 12.Posttest Pretest Posttest Statistik Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol S2 152. Hasil Uji Normalitas Pretest-Posttest Eksperimen Kontrol Statistik Pretest Posttest Pretest Posttest N 34 34 34 34 44.1427 Ltabel 0.79 Kesimpulan Homogen Homogen Berdasarkan tabel tersebut keempat data bersifat homogen pada taraf signifikan 95%.1405 0.45 1.79 1. Hasil uji normalitas terhadap data pretes dan postes kelompok eksperimen dan kontrol.37 104.47 64. Dalam penelitian ini homogenitas ditentukan melalui uji fisher. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Untuk memastikan meningkatkanya hasil belajar peserta didik diakibatkan oleh adanya perlakuan.67 10.22 7. Sebelum hal tersebut dilakukan terlebih dahulu data penelitian yang diperoleh dilakukan uji prasyarat diantaranya: uji normalitas dan homogenitas (Suharsimi.

00 Kontrol 34 64.375 9. C2 (pemahaman) dari pada kelompok kontrol. Pada aspek C3 (penerapan) kelompok eksperimen lebih 278 . Dengan menggunakan uji-t dan kriteria pengujian : jika thitung< ttabel maka H0 diterima.05.00 Kontrol 34 48.26 2. terlihat pada gambar berikut : Gambar 1 Diagram Persentase hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif pada saat Pretest Keterangan: C1 = Jenjang kognitif tingkat pengetahuan C2 = Jenjang kognitif tingkat pemahaman C3 = Jenjang kognitif tingkat penerapan Kelompok eksperimen memiliki kemampuan lebih rendah pada aspek C1 (pengetahuan). Hasil posttest¸ rerata hasil belajar peserta didik kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol.29 thitung >ttabel H0 di- Posttest 7. dan signifikan pada taraf α = 0.47 diterima Eksperimen 34 81. Hal ini lebih disebabkan kelompok kontrol sebagai kelas unggulan. Professional Learning untuk Indonesia Emas kontrol. Ha ditolak. dinyatakan terdapat perbedaan rerata antara kelompok eksperimen terhadap kelompok kontrol.59 thitung < ttabel H0 Pretest 71.22 2.71 tolak Gambaran kemampuan hasil berlajar peserta didik pada ranah kongitif berdasarkan aspeknya. Rekapitulasi perhitungan data terlihat pada tabel 4 berikut: Tabel 4 Hasil Perhitungan Uji Hipotesis Statistik Data Kes- Sampel (n) Mean thitung ttabel imp- ulan Eksperimen 34 44. Hasil pengujian hipotesis: Ho ditolak.28 -0.

yaitu 37. Rerata hasil postes lebih tinggi dibanding saat pretes pada kedua kelompok. dengan nilai lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Perubahan terbesar terjadi pada kelompok eksperimen. 279 . C2 (pemahaman). Artinya terdapat kenaikan nilai rerata setelah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen.56. Gambaran kemampuan kognitif peserta didik berdasarkan jenjang kognitif setelah diberikan perlakuan ditunjukan pada gambar diagram berikut: Gambar 2 Diagram Persentase hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif pada saat Pretest Keterangan: C1 = Jenjang kognitif tingkat pengetahuan C2 = Jenjang kognitif tingkat pemahaman C3 = Jenjang kognitif tingkat penerapan Gambar di atas menunjukkan persentase postest kelompok eksperimen lebih tinggi pada aspek C1 (pengetahuan). kalau pemhaman tinggi maka kemampuan mengaplikasi juga akan mengikuti.08 sedangkan kelompok kontrol hanya 16. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa tinggi dibanding kelompok kontrol. Kemampuan mengaplikasi akan didasarkan pada kemampuan pemahaman. Tetapi berbeda dengan kelompok kontrol kemampuan pemahamann konsepnya rendah tapi kemampuan mengaplikasinya tinggi. Hal ini lebih disebabkan oleh adanya faktor lucky guess keberuntungan pada saat menjawabSetelah diberikan perlakuan pada dua kelompok: eksperimen (pendekatan lingkungan) dan kontrol (tidak menggunakan pendekatan lingkungan/konvensional) menunjukkan perubahan hasil belajar.

Professional Learning untuk Indonesia Emas C3 (penerapan) dibanding kelompok kontrol.H. M. dengan kata lain pengetahuan peserta didik bisa terbentuk dan dibentuk. Peserta didik yang pasif selama proses pembelajaran reguler. menjadi lebih 280 . Peserta didik ditingkat SD berada pada tahap operasional konkrit. Kelompok eksperimen yang menggunakan media real dari alam bukan tiruan atau model. Menurut Cole. akan memberikan kualitas yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol yang tidak menggunakan pendekatan lingkungan. jadi pemberian stimulus berupa objek yang konkrit sangatlah membantu. banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar diantara faktor yang berasal dari luar peserta didik yaitu lingkungan. Salah satu contoh sumber belajar yang sangat baik untuk digunakan adalah lingkungan. Kelompok eksperimen yang diberi perlakuan pendekatan lingkungan memperoleh hasil postest yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberi perlakuan dengan metode konvensional. Menurut Suryabrata (2005). (2005). hal ini dikarenakan kemudahan peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pada kelompok eksperimen suasana belajar peserta didik lebih aktif. Para peserta didik mengalami langsung kejadiannya sehingga hal ini lah yang membuat daya ingat peserta didik mampu bertahan lama dan lebih cepat diterima. Kemampuan mengamati objek / fenomena peserta didik secara langsung berdampak pada terbentuknya pengalaman belajar peserta didik menjadi lebih cepat terkait materi. M. Pendekatan lingkungan sekitar dapat memperagakan secara langsung (real) objek yang diamati sesuai dengan sifat-sifat keaslian dari objeknya. fakta/kenyataan yang ada dilingkungan seseorang kemudian melalui benda tiruan. Meningkatknya aspek pengetahuan (C1) peserta didik kelompok eksperimen lebih disebabkan penerapan pendekatan lingkungan. Penggunaan pendekatan lingkungan dalam meningkatkan pengetahuan peserta didik selaras dengean teori yang dikemukakan Dale tahun 1970 bahwa: hasil belajar seseorang dapat diperoleh melalui pengalaman langsung (kongkrit). lingkungan yang dapat dikendalikan maupun tidak. Tumbuhnya interaksi belajar pada para peserta didik dalam proses pembelajaran memberikan kontribusi positif pada proses pembelajaran. sampai ke lambang verbal (abstrak) Johnson. et al (2005). lingkungan mana pun bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Pengalaman yang dimiliki peserta didik menurutnya sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangannya.

Meningkatnya pemahaman peserta didik pada aspek C2 dan C3 disebabkan peserta didik dilatih dalam mengamati fenomena atau kejadian dapat menambah pemahaman peserta didik terhadap konsep atau materi yang sedang dibahas dalam kegiatan belajar. guru memberikan pemahaman kepada para peserta didik hal tersebut bisa terjadi disebabkan oleh adanya gaya gravitasi. Dampak positif penerapan pendekatan lingkungan bagi peserta didik adalah dapat terpacunya sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkunganya.J. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa terlibat dalam pembelajaran saat terjun ke lingkungan. air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. memahami. Penutup Pembelajaran IPA berbasis lingkungan sebagai sumber belajar berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik pada materi gerak dan gaya di kelas IV SDN 14 Pondok Labu Jakarta tahun pelajaran 2013/2014. Peserta didik menjadi tidak hanya duduk-duduk di kelas dan belajar seperti biasa. kritis dan sistematis dalam menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep pada pembelajaran IPA. seperti: Gaya yang dihasilkan kerja otot manusia. dan mengaplikasikan. Deimikian juga yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pada masa lampau. serta dapat menerapkannya dalam 281 . dan bola yang dilempar ke atas akan kembali jatuh ke tanah. Tetapi sebenarnya tidak hanya otot manusia yang dapat menghasilkan gaya. alam sekitar. Hal ini efektif untuk mengatasi kebosanan belajar peserta didik di kelas. J. Peserta didik diajak mengamati buah yang jatuh dari pohonnya.Rousseau dengan teorinya “Kembali ke Alam” menunjukkan betapa pentingnya pengaruh alam terhadap perkembangan anak didik. Peneliti sangat menyarankan pada para guru-guru di tingkat sekolah dasar untuk menanamkan sikap logis. Dengan demikian IPA dapat menjadi wahana untuk mempelajari diri sendiri. Pendekatan ini dapat meningkatkan kemampuan mengingat. Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar peserta didik dengan mudah dikuasai peserta didik melalui pengamatan pada situasi yang konkret. seperti tarikan dan dorongan yang kita lakukan saat membuka dan menutup pintu disebut gaya otot. Contoh lainnya : mengamati gaya yang dilakukan oleh orang-orang yang ada sekitar sekolah. yang berpandangan bahwa faktor lingkungan sangat bermakna dan dijadikan sebagai landasan dalam mengembangankan konsep pendidikan dan pengajaran.

Suharsimi. Psikologi Pendidikan. Cet. Kelas Unggulan dan Akselerasi. Edgar Dale: Professional.H. disarankan untuk terus melanjutkan penerapan pendekatan lingkungan dikarenakan tingkat kepedulian peserta didik kelas atas terhadap lingkungannya semakin berkurang karena sejak dari awal tidak di tanamkan kedekatan belajar melalui lingkungan atau kecintaan terhadap lingkungan sejak dini.http://www. 2005 Wagner. New York: Worth Publishers. M.htm.. org/pss/1475566. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 9. Sebuah Tragedi.com/harian/0207/02/ kha2. Penggunaan dan pemanfaatan lingkungan dalam pembelajaran merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah. Daftar Pustaka Arikunto. 2.suaramerdeka. Suara Merdeka. L. Tersedia : http://www. Ke-14Jakarta: Rineka Cipta.1970 282 . 2010 Barlia. Oxford : Blacwell publishing. Professional Learning untuk Indonesia Emas kehidupan sehari-hari. Penyelenggaraan kelas unggulan di SMA Negeri 2 Ngawi (Doctoral dissertation. M. perlu latihan-latihan. et al. 1970). Theory into Practice. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 89-95 . Banyak hal yang harus dipelajari dalam pemanfaatan dan penggunaan agar  dapat berhasil. 2006 Cole. Mengajar dengan Pendekatan Lingkungan Alam Sekitar. pp. Robert W. 2002 Supriyono. Jakarta : Raja Grafindo Persada. A. Developmental cognitive neuroscience. No.jstor. The Development of Children.Jakarta. Vol. Bagi para guru di kelas yang lebih tinggi. Edgar Dale (Apr. 2005 Johnson. 2nd ed. S. Universitas Sebelas Maret). 2005 Sawali. 2009 Suryabrata.

2) there is no difference between male and female students’ mathematics achievement. 2) the difference of male and female student’s achievement. The result of data analysis are: 1) The students who use comic model in learning have higher achievement than the student who use conventional learning. and the lacks of students’ activities.com Abstract: The cause of student’low-achievements in mathematics the Haid graders 3 at SD Kartika I-10 are the monotonous and uninteresting instructional methods. PENGARUH PENGGUNAAN MODEL KOMIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS III SEKOLAH DASAR KARTIKA I-10 PADANG Dedek Kustiawati Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : meza_rakaputrabed@yahoo. 3) there is interaction between the use of comic model and gender in improving students’ mathematics achievement Kata Kunci: Penggunaan Model Komik. The comic model was used in experimental group. Pembelajaran Matematika Pendahuluan Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam menunjang berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). 3) the existence of interaction between the use of comic model and gender in affecting student’s mathematics achievements. The method is quasi experiment with treatment by 2x2 blocks design. mulai 283 . The objectives of this research are to see. 1) the difference of student’s mathematics achievements beetwen students that use comic model in learning and students in conventional learning. The students are passive in activity and only listening. while the control group used conventional learning. The research was conducted at grade 3 in SD Kartika I-10 Padang in second semester of academic year 2009/2010. Pentingnya peranan matematika menjadikan matematika dipelajari di setiap jenjang pendidikan. The overcome this problem is by using comic model in mathematical learning.

31 5. (d) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol.29 5. Besar harapan pemerintah terhadap pembelajaran matematika yang diajarkan di SD. melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi. tabel diagram atau media lain untuk memperjelaskan keadaan atau masalah. mempunyai tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan. secara luwes. (c) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah. Professional Learning untuk Indonesia Emas dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. 2006:22). seperti yang dikemukakan pada Tabel 1 berikut ini. Pembelajaran matematika di pendidikan dasar. tujuan tersebut belum dapat dicapai secara maksimal.24 5. menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma. atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.40 284 . Namun kenyataan yang ditemui di lapangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang mengajar pada kelas III SD Kartika I-10 Padang diperoleh informasi bahwa siswa kurang menyukai pembelajaran matematika.31 3. mengganggu teman lain dan menggambar sewaktu jam pelajaran berlangsung. karena matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. tidak menarik dan kurang disenangi. (a) memahami konsep matematika. (e) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu. menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. terutama bila dihadapkan dengan soal-soal matematika dalam bentuk soal cerita. menyusun bukti. efisien dan tepat. III A 34 5. akurat. III B 34 5. III C 37 5. merancang model matematika. perhatian dan minat dalam mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah (Mendiknas. Bahkan ada siswa yang tidak mau mengerjakan soal-soal dalam bentuk soal cerita karena soalnya yang terlalu panjang dan kurang menarik perhatian siswa. Tabel 1: Nilai Rata-rata Ulangan Harian Matematika Siswa Kelas III SD Kartika I-10 Padang Semester II Tahun Pelajaran 2009 / 2010 Nilai Rata-rata No Kelas Jumlah Siswa UH 1 UH 2 1. Siswa sering mengalihkan aktivitasnya kepada hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan pembelajaran seperti aktivitas bermain. Hal ini menyebabkan hasil belajar siswa juga rendah. Selain itu siswa cenderung jenuh dan merasa bosan dalam pembelajaran.30 2. (b) menggunakan penalaran pada pola dan sifat.

Pengenalan konsep-konsep yang dilakukan sambil bermain. seperti komik. di mana aktivitas siswa hanya sebatas mendengar. Siswa diposisikan sebagai objek yang belum tahu sama sekali. merupakan kegiatan yang sesuai dengan dunianya. Pada tahapan ini siswa masih banyak berpikir tentang dunianya. duduk. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa 4. mendengar ceramah guru dan mengerjakan segala yang diperintahkan oleh guru. Siswa diberi berbagai informasi dan aturan yang harus digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah. siswa lebih banyak diam. Untuk itu proses pembelajaran yang dialami siswa sebaiknya menyentuh dunianya. sehingga pembelajaran lebih terpusat pada guru dan siswa menerima dengan pasif. Masalah di atas disebabkan oleh beberapa faktor yang salah satu di antaranya adalah karena penggunaan strategi metode mengajar yang monoton dan tidak menarik serta belum merangsang aktivitas siswa.40 Sumber: Guru kelas III SD Kartika I-10 Padang Kemampuan belajar yang dimiliki siswa di SD merupakan bekal pokok yang akan dibawa ke jenjang yang lebih tinggi.32 5. Komik merupakan sarana bermain yang banyak menarik 285 .35 5. mendengarkan penjelasan guru tanpa menunjukkan aktivitas dalam pembelajaran. Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan Suparno (2004:30) bahwa pembelajaran di Indonesia masih banyak yang menganut Banking system. Seperti penuturan salah seorang guru kelas III SD Kartika I-10 Padang berikut ini :”Terkadang saya menemukan siswa yang membaca komik dalam jam pelajaran. Siswa pada umumnya lebih menyukai membaca buku-buku yang menggunakan gambar. “pendidik pada SD harus mendampingi siswa dalam memperoleh pengetahuan pokok. Sehingga komiknya terpaksa disita. Winkel (1991:23) menyatakan. Tak jarang ditemukan siswa yang membawa dan membaca komik di sekolah. pemahaman dasar dan kecekatan intelektual yang merupakan landasan bagi siswa untuk jenjang pendidikan selanjutnya”. Hal ini senada dengan pendapat Hurlock (2005:3) bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang berharga bagi siswa dan juga sebagai sarana penting untuk bersosialisasi. Bahkan ada siswa yang malah membaca komik di saat jam pembelajaran berlangsung. Dengan mengikuti kegiatan bermain tanpa disadari siswa sudah banyak belajar. karena mengganggu proses pembelajaran”. karena peran siswa terbatas pada keinginan datang di kelas. yaitu bermain dan masih terbatas pada benda-benda konkrit yang terkait dengan kesehariannya.25 5. III D 34 5. Apalagi siswa kelas III SD yang masih berada pada tahap operasi konkrit. III E 35 5.

Dalam penelitian digunakan dua kelas yang menjadi sampel. Sekali waktu siswa didik harus melihat ke papan tulis. siswa laki-laki sering memperdebatkan materi cerita yang baru didapatnya dengan teman laki-laki yang lain. mengamati gambar. Kedua kelas dibedakan atas dua kelompok yaitu kelompok eksperimen 286 . Siswa laki-laki lebih sering mengajak atau menuntut pada orang tuanya untuk menonton suatu pertunjukan. mengamati tulisan di buku dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh guru. memperhatikan guru. Metode Jenis penelitian ini merupakan eksperimen semu (quasi eksperimen). Setelah mendengar suatu cerita. Untuk itu siswa harus diberikan rangsangan yang dapat mempengaruhi kelakuannya agar terus memperhatikan pelajaran. Djamarah (2002) mengemukakan bahwa perhatian penting dalam proses pembelajaran. senang kalau kegiatan pembelajaran yang dilaluinya disajikan dalam bentuk bermain. serta dapat mengikuti kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Salah satu diantaranya adalah melalui membaca komik. Professional Learning untuk Indonesia Emas perhatian siswa usia sekolah. Keinginan siswa laki-laki untuk mendengar suatu cerita atau menonton suatu film juga lebih besar dari siswa perempuan. Pada umumnya siswa-siswa suka pada gambar-gambar dalam cerita komik karena menarik perhatian mereka. sedangkan siswa perempuan lebih sering menurut apa yang diinginkan orang tuanya. siswa laki-laki terlihat lebih menonjol jika dibandingkan dengan siswa perempuan. Dengan membaca komik siswa mudah berinteraksi. Dari uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa siswa kelas III SD yang berada pada tahap operasi konkrit. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Meier yang diungkapkan Muliyardi (2006:7) diketahui lebih 90% siswa-siswa usia sekolah adalah pembaca komik. Moh Nazir (1985:85) mengemukakan bahwa penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek dan adanya kontrol”. yaitu kelompok yang tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel itu. Selanjutnya Nasution S (1996:30) mengemukakan: Dalam penelitian eksperimental terdapat kelompok yang disebut kelompok eksperimen. sedangkan siswa perempuan lebih cenderung pasif. Dalam mendengar suatu cerita. Adanya kelompok kontrol dimaksud sebagai pembanding hingga manakah terjadi perubahan akibat variabel-variabel eksperimen itu. dapat melakukan aktivitas belajar dan bermain. yaitu kelompok yang sengaja dipengaruhi oleh variabel-variabel tertentu dan kelompok kontrol. mengamati guru. dan mengamati atau melihat adalah aktivitas yang menjurus ke arah perhatian.

Kelompok siswa laki-laki b. Pada penelitian masing-masing kelas eksperimen dan kelas kontrol dibedakan atas dua kelompok yaitu : a. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret 2010 sebanyak 8 kali pertemuan efektif termasuk pelaksanaan tes akhir. keterbatasan waktu dan kondisi sekolah yang sudah peneliti kenal. yaitu untuk satu kali pertemuan mengalokasikan waktu 2 × 35 menit. Penetapan jadwal disesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh sekolah. Rancangan Penelitian Kelompok Jenis Kelamin (B) Jumlah Laki-laki (B1) Perempuan (B2) Perlakuan Eksperimen (A1) A1B1 A1B2 A1B1+ A1B2 Kontrol (A2) A2B1 A2B2 A2B1+ A2B2 Jumlah A1B1+ A2B1 A1B2+ A2B2 Keterangan : A1B1 = Kelompok siswa laki-laki yang pembelajarannya meng- gunakan model komik A1B2 = Kelompok siswa perempuan yang pembelajarannya menggunakan Komik A2B1 = Kelompok siswa laki-laki dengan pembelajaran kon- vensional 287 . rancangan eksperimen yang digunakan adalah treatment by blocks 2 × 2 seperti terlihat pada Tabel 1 : Tabel 1. Adapun variabel bebas penelitian ini adalah penggunaan model komik dalam pembelajaran matematika siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SD Kartika I-10 Padang terhadap siswa kelas III yang terdaftar pada tahun pelajaran 2009/2010. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa (kelas yang diberi pembelajaran menggunakan komik) dan kelompok kontrol (kelas yang pembelajarannya secara konvensional). Kelompok siswa perempuan Pada periode penelitian ini. dilihat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang telah dicapai kedua kelompok kelas sebagai akibat dari dua perlakuan yang berbeda dengan guru dan materi yang sama melalui tes akhir yang sama pula. variabel terikat adalah hasil belajar dan variabel moderator adalah jenis kelamin. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan peneliti. Berdasarkan variabel di atas.

Langkah selanjutnya mengambil secara acak kedua kelompok sampel untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan cara tes mata uang logam sebanyak dua kali lemparan. Penomoran kelas hanyalah untuk mengelompokkan siswa setiap kelas. Perangkat pembelajaran yang dimaksud terdiri atas rencana 288 . artinya kelas III B tidaklah merupakan kelas yang terbaik di antara kelas lain dan begitu sebaliknya. III B 34 3. karena tidak ada perbedaan di antara kelas yang ada. fasilitas yang tersedia. seperti terlihat pada Tabel 2 : Tabel 2. Tahap Persiapan a. Keempat kelas tersebut memiliki kriteria yang sama antara lain kegiatan proses belajar mengajar. Kelas-kelas yang ada di SD Kartika I-10 diklasifikasi sama. Hasil pengacakan diperoleh dua kelas di SD Kartika I-10 Padang dengan rincian satu kelas untuk eksperimen dan satu kelas untuk kelas kontrol. Menentukan jadwal penelitian Penentuan jadwal penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapan waktu yang tepat melakukan penelitian. jumlah siswa perkelas. Setelah pengundian diperoleh kelas III B sebagai kelompok eksperimen dan kelas III D sebagai kelompok kontrol. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : 1. Mempersiapkan perangkat pembelajaran. Professional Learning untuk Indonesia Emas A2B2 = Kelompok siswa perempuan dengan pembelajaran konvensional Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Kartika I-10 Padang tahun 2009/2010 yang terdiri dari empat kelas dengan jumlah 119. dan kualifikasi guru yang mengajar di kelas tersebut. Jumlah Siswa kelas III SD Kartika I-10 Padang Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kelas Jumlah Siswa 1. III D 34 Sumber : Tata Usaha SD Kartika I-10 Padang Sampel dipilih dengan cara simple random sampling. III A 34 2. III C 37 4.

b. Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut : a. Melaksanakan model pembelajaran matematika dengan menggunakan komik pada kelas eksperimen. 2. Rincian data hasil belajar matematika siswa dapat dilihat pada Tabel 3 berikut. b. Dari hasil perhitungan dapat disusun tabel rangkuman ANAVA sebagai berikut: 289 . Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa pembelajaran. Mempersiapkan Instrumen pengumpulan data Instrumen yang dipersiapkan dalam penelitian ini adalah bahan ajar dan tes hasil belajar matematika. Tabel 3 : Hasil Belajar Matematika Berdasarkan Kelompok Selanjutnya untuk menguji hipotesis dilakukan perhitungan dengan ANAVA dua arah. Di samping itu juga dipersiapkan bahan ajar yang di dalamnya berisi lembar kerja siswa. Hasil Penelitian Berikut disajikan data hasil belajar matematika sebagai hasil perlakuan penggunaan model komik di eksperimen dan konvensional di kelas kontrol dalam pembelajaran matematika di kelas III Sekolah Dasar Kartika I-10 Padang. Pada kelas kontrol dilaksanakan pembelajaran secara konvensional.

komik merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk menanamkan konsep dalam menjelaskan materi pelajaran kepada siswa SD. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Muliyardi (2005:52). Penggunaan komik dalam pembelajaran matematika membuat siswa dekat dengan gurunya. Model Pembelajaran menggunakan komik adalah suatu model pembelajaran matematika yang penyajian pembelajarannya dalam bentuk komik dan pendekatannya terpusat pada siswa.0085 4. Sedangkan untuk hipotesis kedua disimpulkan “ Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa laki-laki dan siswa perempuan”. ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji F yang mengungkapkan Fhitung < Ftabel.02 0.79 4.54 Total 8758. karena Fhitung > Ftabel. Untuk hipotesis ketiga dapat disimpulkan ” Terdapat interaksi antara penggunaan model komik dalam pembelajaran matematika dengan perbedaan gender dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa”.02 Terima H0 Interaksi 527. Pembahasan Hasil belajar matematika siswa pembelajarannya menggunakan model komik lebih baik dari pembelajaran konvensional.02 Tolak H0 Galat 6629. Komik juga dapat menancapkan pengalaman belajar tertentu kepada anak. Siswa tidak merasa takut menampilkan hasil pekerjaannya di depan kelas. Professional Learning untuk Indonesia Emas Tabel 4: Tabel Anava Untuk Hipotesis Sumber JK db KT Fh Fa Ket Keragaman Perlakuan 1600.02 1 1.35 1 1600. Fhitung > Ftabel. ini berarti hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan model komik lebih tinggi dari hasil belajar matematika siswa yang diajar secara konvensional.35 13.46 55 120.1. Biasanya setiap cerita memberikan suatu kesan kepada anak. Anak biasanya dapat mengambil kesimpulan dari cerita yang baru saja mereka dengar.55) Berdasarkan Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa untuk hipotesis satu. penataan nalar tidak harus dilakukan 290 .02 Tolak H0 Kelompok 1. Sesuai dengan perkembangan kognitif anak.62 58 F(0.79 1 527.38 4.28 4. Komik dapat memberi anak pengalaman berhadapan dengan masalah-masalah dan menganggapnya sebagai tantangan yang mengairahkan.05.

Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Muliyardi (2005:52). Komik yang disajikan pada kelas eksperimen tidak dikhususkan untuk salah satu jenis kelamin. b). Dalam pembelajaran juga tidak dibedakan perlakukan terhadap siswa laki-laki dan siswa perempuan. Komik dapat membantu guru dalam membuat penyajian materi pelajaran matematika menjadi lebih menarik. Komik dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran .180- 181) mengemukakan bahwa siswa laki-laki mempunyai intelektual yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa perempuan. sedangkan perempuan lebih bersifat heterogen dan sosial. diharapkan guru dan siswa dapat bercengkrama dan bersenda gurau membagi kebahagian. namun pada kenyataannya hal ini bertentangan dengan hipotesis yang dikemukakan. Selama proses pembelajaran berlangsung. Laki- laki lebih tertarik kepada pekerjaan yang membutuhkan pikiran yang lebih objektif. c). Jadi dapat disimpulkan bahwa hal-hal di atas merupakan penyebab terjadinya perbedaan hasil belajar matematika antara siswa kelas eksperimen yang diajar dengan model komik dengan hasil belajar siswa yang diajar secara konvensional. Sehingga sewaktu diskusi tidak terdapat perbedaan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Jenis kelamin seperti yang diduga termasuk salah satu faktor yang ikut mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan komik. tetapi secara umum saja. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa laki-laki dan siswa perempuan. d). yaitu terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Komik dapat membangkitkan dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dalam suasana yang serius. penulis mengamati bahwa aktivitas dan motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara siswa laki- 291 . Komik dapat menghubungkan dan mengakrabkan antara guru dengan siswa. Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan dalam proses pembelajaran selama penelitian berlangsung. Secara umum dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan komik dalam pembelajaran matematika diperoleh beberapa manfaat antara lain. aktivitas yang muncul tidak berbeda antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. a). Kartini Kartono (1977. baik dikelas eksperimen maupun di kelas kontrol.

Terdapat interaksi antara penggunaan model komik dalam pembelajaran matematika dengan perbedaan jenis kelamin dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan model komik dalam pembelajaran matematika dengan perbedaan jenis kelamin dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa atau hipotesis yang dikemukakan di tolak. Mereka terlihat sering berlomba untuk menunjukkan kemampuannya dalam menguasai materi pelajaran. Kesimpulan yang diambil berlaku bagi siswa kelas III SD Kartika I-10 Padang Tahun Pelajaran 2009/2010 Kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut: Hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan model komik lebih tinggi dari hasil belajar matematika siswa dengan pembelajaran konvensional. Artinya hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model komik dan yang diajar secara konvensional terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. begitu juga dengan komik yang disajikan pada kelas eksperimen tidak dibedakan antara komik untuk siswa laki-laki dengan siswa perempuan. Dalam proses pembelajaran selama penelitian berlangsung. penulis tidak membedakan perlakuan siswa laki-laki dan siswa perempuan. seperti menjawab pertanyan guru maupun untuk menyelesaikan soal di depan kelas. 292 . Professional Learning untuk Indonesia Emas laki dan siswa permpuan. Terdapat interaksi antara model komik dalam pembelajaran matematika dengan jenis kelamin dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa. Siswa laki-laki terlihat lebih aktif dikelas eksperimen maupun di kelas kontrol. karena tidak memberikan perbedaan hasil belajar antara kedua kelompok pembelajaran. Model komik dan konvensional tidak merupakan model pembelajaran yang dikhususkan untuk siswa laki-laki ataupun perempuan dalam pembelajaran matematika di SD. maka dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini. Akan tetapi selama proses pembelajaran berlangsung. Penutup Berdasarkan analisis data yang telah dikemukakan. Hal ini menunjukan bahwa faktor jenis kelamin salah satunya tergantung pada metode pembelajaran yang diberikan atau sebaliknya. terlihat perbedaan yang cukup jelas antara aktifitas siswa laki-laki dan siswa perempuan.

Bandung: Bumi Aksara. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.R. Strategi Belajar Mengajar. Comics: A Multi-dimensional Teaching Aid in Integrated-Skill Classes. 2005. Penggunaan Komik Untuk Menyajikan Soal Cerita Dalam Pembelajaran Matematika di Kelas I Sekolah Dasar. Bandung: Bumi Aksara. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Dalam Bentuk Komik Pada Sekolah Dasar di Kota Padang. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. 1992.com/research/comics. Jakarta : Rineka Cipta Erman Suherman.B. Buku Panduan Membuat Tesis. Jakarta : Rajawali Pers. 2004. Nasution S. Alih Bahasa: Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih. 2003. 2002. Suarabaya: IKIP. Tuntutan Penyusunan Karya Ilmiah.html-12k-] (diakses 14 Juni 2010) Dimyati dan Mudjiono. Colombus Florida International University Muhibbin Syah. Surabaya: UNS.1999. Mulyono Abdurrahman. Jakarta: Erlangga. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. E. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Daftar Pustaka Davis. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar. S. 2000. Jakarta : Grasindo. Skripsi. Sardiman A. Yogyakarta Paul Suparno. Bandung :Sinar Baru Alesindo. 1997. Muliyardi Ahmad dan Syafwan. Nana Sudjana. Jakarta: PT Bumi Aksara Paul Suparno. 2000. Oemar Hamalik. M. Muliyardi. Jakarta. Gay. Bandung : Tarsito. 2002. Education Research. Jakarta: rineka Cipta. Perkembangan Anak. Hurlock.esl-lab. 1997. Psikologi Belajar. [http://www. Gulo dan Suryobroto. Japan: Nagoyama City University. 2006. Grafindo L. 2004. 2001. R. dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. 1996. 1999. dan M. Belajar dan Pembelajaran. Nasution S. Disertasi dan Makalah. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Menggunakan Komik di Kelas I Sekolah Dasar. Bandung : UPI. 2007. Thomas 2004. Makalah disajikan pada seminar hasil penelitian hibah bersaing tahun ajaran 2005-2006 Muliyardi. Proses Belajar Mengajar. 293 . Nana Sudjana. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Guru Demokratis di Era Reformasi. Metode Statistika.1996.

Hasan. [http:// www. Psikologi Belajar. 2003. 1991. Bandung : Tarsito. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Metode Penemuan Untuk Bidang Studi Matematika.0 for Windows Winarno Surrachmad. Kiat Pendidikan Matematika Indonesia (Konstansi Keadaan Masa Kini Harapan Menuju Masa Depan). Proceedings of the International Conference. Jakarta : Rineka Cipta. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Sekolah. Wina Sanjaya. 1990. Jakarta: Kencana Prenada Media Group 294 . C. Landasan Konseptual Media Pembelajaran. 2000. 2003. The comic of Clamat’: the use of a comic assta linguistic mediator. Jakarta: Ichran baru-Van Hoeve Sortino. Thesis.unipa.it/~grim/21_project/21_brno03_sortino. dan Disertasi. Makalah Disajikan dalam Workshop Media Pembelajaran bagi Guru- Guru SMA Negeri Banjar Angkan Pada tanggal 10 Januari 2007 di Banjar Angkan Klungkung Shadely. Metodologi Penelitian. 2002. Ensiklopedia Nasional Indonesia. The Mathematics Education into the 21 Century Project. Jakarta:Bumi Aksara. Professional Learning untuk Indonesia Emas Suharsimi Arikunto. 1981. Skripsi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : P3G Depdikbud Santyasa I Wayan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas. Suharsimi Arikunto. 2006. Jakarta : Raja Grafindo. Jakarta: Rineka Cipta.math. Paper. 1980. Pratiknyo Prawiro Negoro. 2002. Soedjadi. pdf] (diakses 14 Juni 2010) Software SPSS 13. Syaful Bahri Djamarah. Sumadi Suryabrata.

Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes berupa soal-soal pilihan ganda dan instrumen nontes berupa lembar observasi aktivitas siswa dan angket respon siswa.com Abstrak : Pengaruh Modul Berbasis Mind Map Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Dinamika Rotasi. hasil belajar 295 . penerapan modul berbasis mind map berada pada kategori baik dengan persentase 73%. Hasilnya adalah nilai thitung = 3. dan menganalisis (C4).edu@gmail. Hal tersebut didasarkan pada hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji t. sehingga H0 ditolak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh modul berbasis mind map terhadap hasil belajar siswa pada konsep dinamika rotasi. Fathiah Alatas.09 sedangkan ttabel = 2. Selanjutnya berdasarkan analisis data nontes berupa lembar observasi aktivitas siswa.00. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design dan teknik pengampilan sampel dengan purpossive sampling. Terlihat bahwa nilai thitung > ttabel. memahami (C2). Penelitian ini berlangsung pada bulan Februari 2014. pembelajaran menggunakan modul berbasis mind map terbukti lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan mengingat (C1). diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh modul berbasis mind map terhadap hasil belajar siswa pada konsep dinamika rotasi. Kata kunci : modul Mind Map. dinamika rotasi. Hasil analisis angket respon siswa juga menunjukan bahwa modul berbasis mind map berada pada kategori baik dengan persentase 79%.PENGARUH MODUL BERBASIS MIND MAP TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP DINAMIKA ROTASI Kinkin Suartini. menerapkan (C3). Selain itu. Amayani Astuti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : kinesa. Berdasarkan analisis data tes. Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 SMA Negeri 12 Kota Tangerang Selatan.

karena ketepatan bentuk penyajian bahan ajar akan membantu dalam meningkatkan hasil belajar siswa (Rolly R. 296 . Seharusnya mengembangkan bahan ajar idelanya telah dikuasai guru secara baik. Penyajian materi dalam sumber belajar tersebut juga harus dibuat lebih menarik. sehingga akan menumbuhkan kemandirian siswa dalam belajar. Professional Learning untuk Indonesia Emas Pendahuluan Pendidikan merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas kehidupan manusia. sehingga dapat mengembangkan pemahaman dan kreatifitas siswa. Merubah peran guru menjadi fasilitator akan membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran. 2011: 3). guru harus menyediakan bahan ajar yang dapat digunakan sebagai sumber belajar utama siswa serta dapat membantu siswa dalam menumbuhkan kemandiriannya dalam belajar. Pada umumnya media pembelajaran yang dijadikan sumber belajar utama siswa di sekolah. karena pengembangan bahan ajar merupakan salah satu kompetensi yang perlu dimiliki seorang guru dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu. salah satunya dapat mengubah peran guru dari pengajar menjadi fasilitator sehingga dapat meningkatkan pembelajaran yang efektif dan efisisen. Pembaharuan dalam pendidikan harus selalu dilakukan untukmeningkatkan kualitas pendidikan. Terdapat empat tahap dalam proses belajar. yaitu buku pelajaran. Menurut Rolly R. Proses belajar mengajar yang lengkap dapat dipenuhi salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran. Kualitas pendidikan tersebut sangatbergantung pada proses belajar mengajar dikelas. umpan balik. sehingga guru dapat menyajikan materi dan soal-soal yang sesuai dengan kebutuhan siswanya dalam bahan ajar yang dibuat. Berdasarkan survai dengan penyebaran angket dan wawancara. Oroh. Namun berdasarkan hasil wawancara dengan guru fisika menyebutkan bahwa sumber belajar utama siswa yang digunakan di sekolah tidak ada yang dibuat oleh gurunya. Guru juga lebih memahami kemampuan siswanya dalam memahami materi. latihan. penulis mendapatkan informasi tentang kekurangan sumber belajar yang digunakan siswa di sekolah. dan tindak lanjut (Rolly R. yaitu orientasi. Roh dalam proses belajar mengajar di kelas perlu diperhatikan penggunaan bahan ajar yang dijadikan sebagai sumber belajar utama bagi siswa dalam proses pembelajaran. 2011:2). Artinya masih banyak sekolah yang memanfaatkan buku pelajaran sebagai sumber belajar utama siswanya. Oroh. Ketepatan penggunaan bahan ajar dalam pembelajaran memiliki peran penting. Menurut siswa sumber belajar yang mereka gunakan menyajikan materi dengan bahasa yang tidak mudah dipahami dan dengan tampilan yang tidak menarik.

Oroh. Mind map juga merupakan cara paling mudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi keluar dari otak. karena penerapan modul dapat mengkondisikan kegiatan belajar yang lebih terencana. Senada seperti yang diungkapkan Sungkono bahwa sumber belajar utama siswa yang dikembangkan oleh guru dapat menciptakan pembelajaran yang tidak melenceng dari kompetensi yang ingin dicapai (Sungkono. Terdapat berbagai macam inovasi baru yang dapat diterapkan dalam penulisan modul. Salah satu syarat dari pendekatan kompetensi adalah penggunaan modul dalam pelaksanaan pembelajaran. Salah satu bentuk bahan ajar yang dapat dibuat oleh guru dan dapat dijadikan sumber belajar utama siswa adalah modul. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Hal tersebut dapat menyebabkan siswa yang tidak dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan konsekuensi diterapkannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) berbasis kompetensi. Penyajian materi dalam modul dapat dikembangkan dengan membuat penulisan yang lebih menarik. Mind map merupakan cara mencatat berteknik tinggi yang dapat mengembangkan potensi diri dan membantu menghafal kalimatkalimat yang panjang menjadi menyenangkan (Doni Swadarma. Terdapat beberapa keuntungan positif dari modul. saat ini pengembangan bahan ajar dalam bentuk modul menjadi kebutuhan yang mendesak. antara lain siswa menjadi lebih fokus dalam belajar. dan berbeda. 297 . berwarna. Pada akhirnya siswa akan merasa kesulitan dalam memahami materi fisika dan akan berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah. modul merupakan suatu paket belajar yang berkenaan dengan satu unit bahan pelajaran (Sungkono. siswa juga lebih termotivasi untuk belajar karena penyajian materi yang lebih menarik. tuntas dan dengan hasil yang jelas (Daryanto. Sebagai salah satu bahan ajar cetak. Berdasarkan masalah tersebut dibutuhkan upaya guru untuk membuat sumber belajar utama siswa yang menarik. Menurut Daryanto. 2011: 2-3). 2013: 5). sehingga motivasi dan kemandirian siswa dalam belajar fisika masih rendah. serta dapat mengembangkan sikap kemandirian dan pemahaman siswa (Rolly R. 2009:52). sehingga dapat menumbuhkan motivasi dan kemandirian siswa dalam belajar. namun satu yang berbeda yaitu mind map. 2013:5). Penyajian materi yang tidak menarik juga dapat menyebabkan siswa malas untuk belajar fisika. 2009:49). mandiri.

Dilihat juga dari nilai rata-rata (mean) siswa kelompok eksperimen yang menggunakan modul berbasis mind map lebih tinggi dibandingkan siswa pada kelompok kontrol yang menggunakan buku pelajaran fisika.09 ttabel 2. pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan analisis tes statistik parametrik.19 thitung 0.09 dan ttabel = 2. Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data.00 Keputusan diterima dan ditolak ditolak dan diterima Keadaan ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan modul berbasis mind map pada konsep dinamika rotasi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menggunakan buku pelajaran fisika dalam pembelajaran.99 11. Hal tersebut didasarkan pada hasil uji hipotesis posttest melalaui uji t dengan nilai thitung = 3. Professional Learning untuk Indonesia Emas Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh modul berbasis mind map terhadap hasil belajar siswa pada konsep dinamika rotasi.00.58. Oleh karena itu.28 Standar Deviasi 10.07 31. sehingga H1 dapat diterima karena nilai thitung > ttabel. diketahui bahwa data kedua kelompok pada penelitian ini berdistribusi normal dan kemampuan siswa pada kedua kelompok homogen.35 70. Hasil Analisis Lembar Observasi Aktivitas Siswa No. Hasil Uji Hipotesis Pretest Postest Statistik Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol N 38 39 38 38 29.91 3.12 10.08 11. Hal ini didukung oleh hasil observasi akivitas siswa kelompok eksperimen yang menyatakan bahwa rata-rata aktivitas siswa sudah baik.86 63. Selisih nilai rata-rata kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebesar 7. Adapun hasil analisis data observasi aktivitas siswa dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini: Tabel 2. Hasil perhitugan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut: Tabel 1. Indikator Lembar Observasi Persentase Kesimpulan 298 .00 2.

70% Baik menggunakan modul Implementasi modul berbasis 2. 82% Baik sekali map Mind map yang terdapat dalam 4. Jadi dapat dinyatakan bahwa penerapan modul berbasis mind map pada konsep dinamika rotasi diterima dengan baik oleh siswa. Motivasi siswa dalam belajar 62% Baik Melaksanakan diskusi kelom- 4. Sebagian besar siswa merespon positif terhadap pembelajaran dengan menggunakan modul berbasis mind map pada konsep dinamika rotasi. Hasil Analisis Data Angket Respon Siswa No. 70% Baik dalam menggunakan modul 3. 80% Baik modul Rata-rata 79% Baik Perbandingan Hasil Belajar Siswa Kelompok Eksperimen dan Kontrol Jika dilihat lebih rinci. 73% Baik pok Rata- 73% Baik rata Selain data observasi. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Kemandirian siswa dalam bela- 1. modul berbasis mind map lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa. 87% Baik sekali jar menggunakan modul Efektifitas waktu belajar siswa 2. hasil angket respon siswa pun menyatakan bahwa secara keseluruhan respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan modul berbasis mind map memperoleh persentase 79% (baik). 82% Baik sekali ka Komponen modul berbasis mind 3. Indikator Angket Persentase Kesimpulan Pembelajaran fisika sebelum 1. mind map pada pembelajaran fisi. Tabel 3. Hal tersebut dapat terlihat dari grafik perbandingan kemampuan kognitif siswa di bawah ini: 299 .

dikarenakan belajar dengan menggunakan mind map dapat mengubah kebiasaan siswa dalam belajar. Biasanya dalam kegiatan belajar siswa dituntut menggunakan otak kiri ketika menerima pelajaran yang mengubah dalam bentuk ingatan. Professional Learning untuk Indonesia Emas Gambar 1 Perbandingan Jenjang Kognitif Kelompok Eksperimen dan Kontrol Adapun peningkatan hasil belajar fisika siswa pada konsep dinamika rotasi dalam setiap jenjang kognitif dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini: Gambar 2 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Setiap Jenjang Kognitif Meningkatnya kemampuan C1 (mengingat) siswa. Terkadang siswa tidak dapat mempertahankan 300 .

sehingga menjadi mudah untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi (Doni Swadarma. Menurut ahli materi mind map yang terdapat dalam modul sesuai dengan konsep dinamika rotasi dan mudah dipahami siswa. Mind Map dalam modul juga mampu meningkatkan kemampuan memahami (C2) siswa. memahami. Hal lain yang berpengaruh yaitu setiap pertemuan setelah membaca modul siswa didorong untuk menerapkan pengetahuan yang dimilikinya untuk menjawab soal latihan dalam modul. Modul yang digunakan dalam pembelajaran juga mempengaruhi tingkat pemahaman siswa. dimana kemandirian siswa dalam mengerjakan soal latihan memperoleh persentase 87% (baik sekali). mengingat. Pernyataan di atas sejalan penelitian Jaka Santosa dalam jurnalnya yang berjudul “Optimalisasi Penggunaan Modul untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Integral Bagi Siswa Kelas XII IPA-3 SMA Negeri 301 . Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan modul dapat meningkatkan pemahaman siswa (Adriana Gandasari. modul mampu meningkatkan kemandirian siswa untuk mengerjakan soal latihan yang terdapat dalam modul sehingga dapat dikatakan bahwa siswa telah menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Tony Buzan. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa ingatan tersebut dalam jangka waktu yang lama. Kemampuan menerapkan (C3) juga dapat ditingkatkan dengan menggunakan modul berbasis mind map. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Adriana Gandasari dalam jurnalnya yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Menggunakan Modul Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan Pendekatan Teori Multiple Intelligences (MI) di SMP Nusantara Indah Sintang”. dan memanggil kembali informasi yang telah didapatkan (Muhammad Chomsi Imaduddin dan Unggul Haryanto Nur Utomo. 2010:12). Hal tersebut terlihat hasil observasi. dikarenakan tidak adanya keseimbangan antara kedua belahan otak (Muhamad Naim. 2007:5). 2012:72). 2013:7). Hasil angket respon siswa juga mendukung bahwa mind map yang disajikan membantu siswa dalam memahami materi dinamika rotasi dengan baik. 2009:99). Menurut Alamsyah belajar yang sesuai dengan kerja alami otak akan lebih mudah dalam menerima. Doni Swadarma menyatakan bahwa belajar dengan menggunakan mind map akan memadukan dan mengembangkan potensi kerja dua belahan otak. Artinya. yang menyatakan mind map merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan karena melibatkan cara kerja alami otak (Tony Buzan.

93. 302 . Respon siswa terhadap pembelajaran modul berbasis mind map berada pada kategori baik. Modul berbasis mind map juga mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis (C4). Modul berbasis mind map memiliki karakteristik pada penyajian materi yang lebih menarik. 2. maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh modul berbasis mind map terhadap hasil belajar siswa pada konsep dinamika rotasi. Hasil postest kelas eksperimen dan kelas kontrol lebih besar dibandingkan hasil pretest. Mind map selalu disajikan dalam setiap awal pembelajaran.79. sehingga H1 dapat diterima karena nilai thitung > ttabel. Melalui penyelesaian soal dengan menggunakan mind map kemampuan analisis siswa akan terlatih.09 dan ttabel = 2. berwarna. yang menyatakan bahwa langkah-langkah yang teratur dalam modul dapat mempengaruhi siswa untuk berusaha dengan giat dalam mencapai kesuksesan pembelajaran modul (Jaka Santosa. karena mind map mampu memfokuskan perhatian siswa pada inti persoalan dan mampu menyelidiki kemungkinan yang terbuka dalam menyelesaikan masalah. dan berbeda karena adanya mind map di dalam modul. Hal tersebut didasarkan pada hasil hipotesis posttest melalaui uji t dengan nilai thitung = 3. Jadi dapat dinyatakan peningkatan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan modul berbasis mind map lebih besar dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan buku pelajaran. 2009:79). 3. Pada kelas eksperimen hasil belajar meningkat sebesar 41. namun terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Professional Learning untuk Indonesia Emas 1 Surakarta pada Semester Gasal Tahun Pelajaran 2007-2008”. Penutup Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. Khalifah Mustami. 2009:17).00. sedangkan kelas kontrol sebesar 31. Secara operasional pertanyaan penelitian dapat dijawab sebagai berikut: 1. serta memberikan kebebasan intelektual yang tidak terbatas (Muh. Mind map juga digunakan untuk menyelesaikan soal dalam modul.

2009. Muhammad Chomsi dan Unggul Haryanto Nur Utomo. 2001... Khalifah. The Development and Evaluation of The Qualities of Buzan Mind Mapping Module... Jakarta: Bumi Aksara.. 2010. 2011. 2009. Muh.. Gramedia Pustaka Utama.. 2013. Bumi Aksara. Adriana. Bandung: Erlangga... Muslich. Mustami. 6. Buzan. Bandung: Esis.. Dahar. Cet.. Jakarta: Erlangga.. Gandasari. Fitriana Lestari. Jurnal Pendidikan Biologi. Jakarta: PT. Efektifitas Metode Mind Mapping untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Fisika pada Siswa Kelas VIII.. Cet. Ratna Wilis. Bandung: Kaifa. Fisika untuk SMA Kelas XI Semester 2. Daryanto. dkk. 2011.. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Daftar Pustaka Abdullah.. Yogyakarta: Gava Media. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. “Pengaruh Pembelajaran Menggunakan Model Peta Pikiran (Mind Mapping) Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa ”. Masnur. 2011. IX. Douglas C. Marthen. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. XXIX. Kanginan. 2002. 2009. Pengaruh Synectics Dipadu Mind Maps Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif. Jurnal Humanitas. Tee Tze. Cet.. 2002... Menyusun Modul: Bahan Ajar untuk Persiapan Guru dalam Mengajar. Giancoli.. Mikrajuddin.. Selection. dipbulikasikan. Imaduddin. Muhamad. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.9. 2007. Buku Pintar Mind Map.. . Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.. 2012.. Penerapan Metode Quantum Learning dengan Teknik Peta Pikiran (Mind Mapping) dalam Pembelajaran 303 . Teori-teori Belajar dan Pembelajaran.. Tony.. dan Penguasaan Materi Biologi. 1.. 1.. Bobbi dan Mike Hernacki. DePorter.. Skripsi pada Universitas Pendidikan Indonesia Bandung: 2012. Jurnal VOX Edukasi. Jakarta: PT. Fisika Jilid 1 Edisi Kelima. Naim.. Suharsimi. Rineka Cipta. Fisika 2B SMA dan MA Kelas XI Semester 2. Sikap Kreatif. 2006. Jakarta: Erlangga. Jakarta: PT.. Kionga. Cet. Penerapan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Menggunakan Modul Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan Pendekatan Teori Multiple Intelligences (MI) di SMP Nusantara Indah Siantang. Arikunto. Elsevier Ltd. 12.

1. Cet. Bandung: PT. 1995. Cet. 2008. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Phibeta. 2008. dan R&D. Bina Aksara. Sugiyono. Purnomo S. Jaka. Sungkono. 2010. Supiyanto. Tabrani Rusyan. and Victor J. Doni. Jurnal Ilmiah Kreatif. 6. Rolly R. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. 2009. Husaini dan R. 5. Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran. Tucker. Gary R. Wena. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. 304 . Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Professional Learning untuk Indonesia Emas Fisika. Jakarta: Bumi Aksara. Sahertian. Jakarta: PT. Optimalisasi Penggunaan Modul untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Integral Bagi Siswa Kelas XII IPA-3 SMA Negeri 1 Surakarta pada Semester Gasal Tahun Pelajaran 2007- 2008.. 5. Journal of Instructional Pedagogies. Jurnal Pendidikan. Oroh. Santosa. 2011. 2006. Remaja Rosdakarya. Sukmadinata. 2011. Jakarta: PT. 12. Usman. Vembriarto. Bandung: Alfabeta. Fisika untuk SMA Kelas XI. Armstrong. Jakarta: Kompas Gramedia. Bandung: PT. 2. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar & Mengajar. Pengantar Statistik Cet. Made. Swadarma. VI. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Cet. 2011. Massad. dan A. Kualitatif. Mengoptimalkan Daya Kerja Otak dengan Berpikir Holistik & Kreatif. Profiling a Mind Map User : a Descriptive Appraisal. Jakarta: Bumi Aksara. Djadja Djadjuri. Nasution. S. Nana. Pengantar Pengajaran Modul. Cet. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan. Gramedia Pustaka Utama. Majalah Ilmiah Pembelajaran. Penerapan Mind Mapping dalam Kurikulum Pembelajaran. 2009. I.. Iwan. Remaja Rosdakarya. Suryosubroto. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Penggunaan Modul Ajar. 2013. 1983. Jakarta: Bumi Akasara. Wijaya. 2008. Pengembangan dan Pemanfaatan Bahan Ajar Modul dalam Proses Pembelajaran. Cet. 1992. Joanne M. 14. Yogyakarta: Yayasan Pendidikan Paramita. Sistem Pengajaran dengan Modul. 2010. 1975. Metode Penelitian Pendidikan. Piet A. Sudjana. Nana Syaodih. 2. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. 2010. Sugiarto. Cece.

MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GAYA DAN GERAK Ali Aziz. Bab I pasal I ayat (1) dikemukakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terncana untuk mewujudkan 305 . Hasil dan aktifitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Meiry Fadilah Noor Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal Jakarta Barat. Hasil belajar siswa. Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas (PTK).60 %). Penggunaan Model Pembelajaran CTL. ternyata dapat meningkatkan hasil dan juga aktifitas belajar siswa. pada siklus II siswa yang mencapai KKM meningkat menjadi 26 orang (78.9 %) dari siklus I. dan refleksi. pelaksanaan. maka penerapan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada pelajaran IPA khususnya dalam materi gaya dan gerak di kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal Jakarta Barat.fadilah@uinjkt.78 %) atau naik sebanyak 6 orang (62. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap hasil belajar siswa kelas IV C Semester Ganjil pada mata pelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal Jakarta Barat. Indikator yang diukur pada penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis data. pengamatan. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email: meiry. Hasil yang diperoleh pada setiap siklus adalah pada siklus I banyak siswa yang mencapai KKM hanya mencapai 20 orang (60. Pendahuluan Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. hasil penelitian dan hasil refleksi dengan observer.ac.id Abstrak: Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas atau classroom action research yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar pada Mata Pelajaran IPA. Penelitian tindakan kelas dilakukan melalui tahapan perencanaan.

Agar pelaksanaan kurikulum Kurikulum 2013 dapat berjalan secara maksimal. Kurikulum 2013 dikembangkan satuan pendidikan dengan menggunakan acuan standar isi dan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan secara nasional. dan negara. Di dalam proses belajar mengajar itu terjadi interaksi antara siswa dengan guru dan antara siswa dengan siswa untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang sudah ditentukan dalam indikator-indikator. sehingga peserta didik termotivasi untuk aktif dalam proses kegiatan belajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi hasil belajar seperti yang di harapkan. sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. Dalam menjelaskan hakikat fisika. Guru dituntut memiliki kepandaian dalam mengelola kelas dengan menggunakan strategi dan pendekatan-pendekatan serta metode- metode yang tepat. bangsa. 2010). pikiran maupun perasaan dan hasil belajar yang diharapkan berupa perubahan perilaku siswa baik aspek pengetahuannya. pengendalian diri. akhlak mulia. fisika. masyarakat. baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati. Selain itu guru harus memahami bahwa belajar pada hakekatnya merupakan suatu proses atau aktifitas baik secara fisik. kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (Rozak. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. sikapnya. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau sains yang meliputi tiga bidang ilmu dasar yaitu biologi. maupun keterampilannya. kepribadian. Di dalam kelas terjadi proses belajar mengajar antara siswa dengan guru. maka ada beberapa perubahan yang harus dilakukan sekolah antara lain mengubah paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pemelajaran berpusat pada siswa. Professional Learning untuk Indonesia Emas suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Namun pencapaian kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai siswa sangat ditentukan oleh peran guru di kelas. pemberdayaan tenaga kependidikan untuk meningkatkan mutu hasil belajar. dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah yang mengacu pada visi dan misi sekolah. Sedangkan pada pasal I ayat 2 dikemukakan bahwa pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang berakar pada nilai- nilai agama. mengembangkan perangkat kurikulum seperti silabus. IPA juga mempelajari tentang ilmu kealaman yaitu ilmu tentang dunia zat. pengertian 306 . melaksanakan penilaian yang lebih efektif. kecerdasan. Guru harus menciptakan suasana yang menarik. dan kimia.

2010). baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati (Trianto. Ini berarti kurang dari 75%. IPA atau ilmu kealaman adalah ilmu tentang dunia zat. Oleh karena itu. keterampilan. dan afektif. terbuka. Pada Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) digunakan pada Kompetensi Dasar 3. optimal bahkan maksimal maka proses belajar mengajar berikutnya dapat membahas pokok bahasan baru.4 dan 4. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa IPA difahami terlebih dahulu. Kenyataan tersebut maka diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang mencakup kognitif.5%). Keberhasilan belajar yang diharapkan adalah sebanyak 75% dari jumlah siswa mendapat nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal. maka jumlah siswa 37 orang berarti yang sudah tuntas atau mencapai KKM hanya 22 orang (59. psikomotorik. Namun hasil studi dokumen pendahuluan melalui observasi dan wawancara dengan guru bidang studi IPA di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal didapatkan data bahwa hasil belajar siswa pada materi gaya dan gerak pada kelas IV A semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014 dalam ulangan IPA yang belum mencapai KKM ada 15 orang (40. lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu. agar tujuan pembelajaran mencapai hasil yang diharapakan guru harus mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran. bahwa perencanaan adalah menyusun langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Penerapan IPA secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Dengan kemampuan itu diharapkan lulusan menjadi anggota 307 . Menurut Hadari Nawawi dalam Majid (2007).5%) dari jumlah 37 orang. yang memperoleh nilai kurang dari 68 yaitu KKM yang diharapkan. Menurut Djamarah & Aswan (2009) apabila 75% dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar atau mencapai tarap keberhasilan minimal. Berdasarkan hasil observasi kegiatan mengajar guru ditemukan bahwa guru belum maksimal dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dalam mengajar tujuannya belum mencapai hasil yang maksimal. dan sikap yang dapat menunjang terbentuknya kepribadian yang mandiri. 4 membuat suatu karya/model misalnya mobil-mobilan dari bahan sederhana (kulit jeruk Bali.botol bekas minuman) dengan menerapkan Konsep gaya dan gerak di kelas IV C semester 1 merupakan pendekatan yang mengaitkan setiap materi dengan kehidupan nyata. kardus bekas. Pendekatan CTL adalah salah satu inovasi dalam memperbaiki kualitas proses belajar mengajar yang bertujuan untuk membantu peserta didik agar bisa belajar mandiri dan kreatif sehingga ia dapat memperoleh pengetahuan. jujur dan sebagainya.

Observasi dilakukan oleh guru bidang studi IPA. 308 . serta catatan lapangan. Dalam penelitian ini peneliti dibantu oleh rekan sejawat yang berperan sebagai observer yaitu mencatat segala aktifitas yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pembelajaran pendekatan kontekstual (CTL). dan refleksi (reflecting). Kelas ini ditentukan berdasarkan permasalahan terhadap hasil belajar yang telah diobservasi sebelumnya. Oleh karena itu penulis memilih judul penelitian ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV C Pada Materi Gaya dan Gerak dengan Pendekatan Model Pembelajaran Contexstual Teaching and Learning. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV C Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal yang berjumlah 33 siswa yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.2008). Professional Learning untuk Indonesia Emas masyarakat yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang dicita-citakan. pelaksanaan (acting). Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Fokus masalah dalam penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya dan gerak dengan memberikan tindakan berupa penggunaan pembelajaran pendekatan kontekstual (CTL). Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas melalui tindakan tertentu dalam suatu siklus serta mampu memberi solusi pada masalah baik secara perorangan maupun keseluruhan. Selain itu pendekatan CTL bertujuan meningkatkan pembelajaran bermakna dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa. wawancara dengan siswa. Data untuk analisis terhadap proses pembelajaran diambil dari laporan hasil belajar siswa. pengamatan (observing). Data dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh baik dari siswa maupun guru bidang studi IPA. Hubungan antara keempat tahapan tersebut menunjukkan sebuah siklus atau kegiatan berkelanjutan yang berulang. Penelitian ini di sekolah dengan pembelajaran dilakukan oleh peneliti. yaitu suatu penelitian untuk membantu seseorang mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu mencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama(Kunandar. Data saat proses pembelajaran berlangsung diambil dari lembar observasi. Peran dan posisi peneliti dalam penelitian ini adalah bertindak sebagai guru sekaligus peneliti. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa siklus dan setiap siklus meliputi tahap perencanaan (planning).

pertemuan pertama tentang pengaruh gaya terhadap benda. Dari permasalah tersebut peneliti merancang desain pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar gaya dan gerak dengan model pembelajaran CTL. Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus 1 dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan yang terdapat di sekolah. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Sedangkan sumber data hasil belajar diperoleh dari hasil test siswa yang diberikan setiap akhir siklus. Keberhasilan belajar yang diharapkan adalah lebih dari 75% dari jumlah siswa mendapat nilai di atas Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 68. Seperti halnya penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan pada Bulan September s/d Bulan Oktober tahun 2014 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal yang mencoba menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL). serta membentuk kelompok belajar siswa. secara garis besar penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan 2 siklus. Pada siklus I dilakukan dalam 2 kali pertemuan. lembar obsevasi guru dan siswa. Dalam pembelajaran siswa aktif secara mental menemukan pengetahuan berupa konsep. pertemuan kedua tentang gaya gesek. yaitu gambar mendorong dan menarik 309 . Hasil intervensi tindakan yang diharapkan pada penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada materi gaya dan gerak pada aspek kognitif mengalami peningkatan setelah proses pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. mempunyai efek transfer yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. instrument tes soal pilihan ganda. Lembar Kerja Siswa (LKS). Desain pembelajaran yang disiapkan meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menerapkan pendekatan kontekstual (CTL) dengan memakai metode diskusi dan unjuk kerja. Siklus Pertama a. prinsip maupun keterampilan yang menjadikan pengetahuan yang mereka dapatkan akan bertahan lama. Pada pertemuan pertama telah dilakukan pengamatan oleh siswa terhadap gambar-gambar. Hasil dan Pembahasan Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan warga Negara. Dari penelitian pendahuluan didapatkan bahwa pada sekolah yang akan diteliti mengalami permasalahan pada rendahnya hasil belajar gaya dan gerak.

Begitu pula pada pertemuan ke 2. 5) Menyebutkan contoh manfaat dan kerugian gaya gesek dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan Pada tahap ini. telah dilakukan hal sebagimana halnya pada siklus 1 dengan pengembangan materi yang berbeda telah dilakukan pengamatan terhadap gambar-gambar. Langkah-langkah tindakan pada siklus I dapat disajikan pertemuan 1 dan 2. b. bermain bola. 3) Menjelaskan tentang hubungan antara gaya dan gerak dalam kehidupan sehari-hari. menghapus papan tulis. Kegiatan guru berlangsung untuk membantu. dan mengarahkan siswa dalam belajar. 4) Menyebutkan contoh manfaat gaya gesek dalam kehidupan sehari-hari. Professional Learning untuk Indonesia Emas meja. orang bermain layang-layang. Catatan Lapangan Siklus 1 No Indikator Uraian Guru berperan aktif sebagai fasilitator dalam kegiatan diskusi dengan cara berkeliling kelas selama pembelajaran 1. Kegiatan siswa kurang memahami dalam menjelaskan pesepsi tentang suatu masalah. Pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung dimuat dalam catatan lapangan. Dilakukan diskusi dari gambar-gambar yang telah diamati. Indikator pembelajaran dari konsep gaya dan gerak adalah : 1) menyebutkan macam-macam gaya yang dapat menggerakkan benda. namun masih 2. kemudian dilaporkan hasil pengamatan dan diskusi kelompoknya. 6) Menjelaskan cara memperbesar dan memperkecil gaya gesek. dan lain-lain. Sebagian siswa sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran. 310 . membimbing. bermain lompat tali (skiping). dan lain-lain. Hasil dari catatan lapangan pada siklus I tertampil pada Tabel 1. guru berusaha menerapkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang telah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). bermain perosotan. 2) Menyebutkan penyebab perubahan benda akibat adanya pengaruh gaya. menggunting kertas. Tabel 1. dilakukan percobaan (demontrasi) yang berhubungan dengan materi pelajaran seperti membuka dan menutup pintu menarik dan mendorong meja.

LKS. interaksi guru dengan siswa belum oftimal. Peran guru pada saat pembelajaran tidak mendonegeriasi kelas. Pada tahap pendahuluan dalam hal menggali ide awal siswa. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pada saat berdiskusi secara kelompok Interaksi antar masih ada siswa yang kurang aktif 3. selanjutnya diujikan dengan pemberian tes. Sumber belajar Guru. 311 . dan sumber belajar didapatkan hasil yang cukup baik dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh model pembelajaran kontektual (CTL). diperoleh data bahwa ada kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tetapi siswa belum terbiasa dengan pembelajran model pendekatan kontekstual (CTL). siswa sehingga kurang terlihat interaksi antar siswa. dan Buku Tematik Bupena. c. pada tahap proses pembelajran guru berinteraksi dengan baik dan memfasilitasi siswa dalam melakukan diskusi. Hasil obsevasi yang dilaksanakan selama tindakan pembelajaran gaya dan gerak dengan menerapkan model pendekatan kontekstual (CTL). interaksi antar siswa. Pengamatan Selama proses dilakukannya tindakan pembelajaran dengan CTL telah dilakukan observasi. Pada bagian penutup guru membantu siswa dalam menyimpulkan materi yang dipelajarinya. didapatkan hasil yang kurang maksimal. dengan guru dengan perasaan antusias. Interaksi siswa Siswa menjawab pertanyaan guru 4. tetapi memberikan banyak waktu untuk siswa terlibat langsung. Adapun hasil tes belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 2. Sedangkan pada indikator kegiatan guru. Hal ini terjadi karena siswa merasa baru mengenal model pembelajaran CTL. Berdasarkan catatan lapangan pada indikator kegiatan siswa. Observasi ini bertujuan untuk menggali kegiatan mengajar guru dan aktifitas belajar siswa. Modul kerja tematik. Buku Siswa. Pembelajaran yang telah teramati. Sumber belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah Buku 5.

75 Modus 69.00 68.05 14. Persentase Peningkatan Hasil Belajar (N-gain) Frekuensi No.00 68. Pesentase hasil perhitungan N-gain dapat dilihat pada Tabel 4. Refleksi Pada siklus I terdiri dari dua pertemuan yang dilakukan secara keseluruhan siswa telah berperan aktif selama proses pembelajaran. Professional Learning untuk Indonesia Emas Tabel 2. 312 . Kategori Jumlah Siswa Persentase (%) Tinggi 1 3. Akan tetapi ada sedikit siswa yang kelihatan pasif khususnya pada saat berdiskusi dalam proses menemukan konsep berkaitan dengan membuat kesimpulan materi gaya dan gerak.67 N-gain Kelas 0.75 Standar Deviasi 13.58 64.30 Rendah 23 66. Sehingga perlu dilakukan perbaikan.39.58 menjadi 64.47 Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa setelah dilakukan proses pembelajaran nilai rata-rata meningkat dari 60.21 e.39 Nilai Tertinggi 81 100 Nilai Terendah 38 38 Median 63.21. Nilai Hasil Belajar Siklus 1 Data Statistik Pretest Postest Nilai rata-rata kelas 60.03 Sedang 9 30. Data perhitungan N-gain pada siklus I rata-rata keseluruhan hasil perhitungan dengan jumlah responden 33 orang adalah 0. Adapun kekurangan dan perbaikan yang terdapat pada siklus I dapat diuraikan pada Tabel 3. Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada materi gaya dan gerak masih terdapat kekurangan. namun belum mencapai sesuai harapan yaitu ketuntasannya masih di bawah 75%. Tabel 3.

Guru hasil karya dan gerak. Tindakan Kekurangan Perbaikan 1. Selalu proses pembelajaran. siswa yang k o n s e p langkah diskusi pada mengalami kesulitan pengetahuan LKS. M e m b i m b i n g Siswa merasa kesulitan Guru membimbing m e n e m u k a n memahami langkah. memotivasi siswa Rendahnya tingkat untuk berfikir dengan berfikir kritis berbagai pertanyaan. untuk bisa belajar Siswa belum terbiasa dengan menemukan belajar mandiri dengan sendiri konsep belajar menemukan pengetahuannya konsep sendiri 2. sikap percaya diri mengungkapkan dalam bertanya dan pendapatnya dalam berpendapat. Siswa mengalami dalam memahami kesulitan dalam langkah-langkah membuat kesimpulan diskusi. Mengorganisasi Masih sangat Memotivasi siswa siswa untuk sedikit siswa yang agar terbentuk belajar berani bertanya. Kurangnya harus lebih menggali tingkat kreativitas siswa lagi pengetahuan dalam menemukan siswa dengan idea tau kemampuan berbagai sumber merancang sesuatu informasi agar siswa yang baru lebih kreatif dan inovatif 313 . Perbaikan Hasil Belajar Siklus 1 No. 3. Orientasi siswa Terkadang terlihat ada Guru harus lebih aktif pada materi beberapa siswa yang memantau siswa agar tidak serius dalam tidak ada kesempatan pembelajaran (bercanda siswa untuk dan ngobrol) ketika beraktivitas lain proses pembelajaran selama proses belajar berlangsung sehingga Mengarahkan dan siswa tidak fokus dalam membimbing siswa menangkap pelajaran. Membimbing Mengembangkan dari diskusi kelompok siswa untuk membuat dan menyajikan mengenai materi gaya kesimpulan. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Tabel 4.

Pada siklus 2 ini siswa melakukan kegiatan sebagimana halnya pada siklus 1. Perencanaan pada siklus II ini dimulai dengan menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam hal ini perlu dilakukan tindak lanjut proses pembelajaran untuk perbaikan tindakan dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian tindakan kelas ini ke siklus II dengan adanya perbaikan- perbaikan dari siklus I hasil refleksi. Professional Learning untuk Indonesia Emas 5. Proses perbaikan akan dilaksanakan pada siklus II guna mengoptimalkan kegiatan siswa pada setiap komponen CTL. Hal ini menunjukkan kegiatan siswa pada siklus I ini kurang optimal dalam melaksanakan komponen-komponen CTL. Pembelajaran pada siklus II dilakukan dalam dua kali pertemuan. Menganalisis dan Kurangnya waktu Guru harus berusaha mengevaluasi yang tersedia dalam mengatur waktu yang p r o s e s menerapkan model tersedia sehingga pembuatan hasil pendekatan CTL efektif selama proses karya pembelajaran Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa dalam komponen CTL masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki . Siklus Kedua a. 3) Menyusun laporan dari percobaan tentang pemanfaatan gaya 314 . setiap pertemuan berlangsung selama 2x35 menit. lembar observasi. Perencanaan Perencanaan yang akan dilaksanaka pada siklus II berdasarkan refleksi dari siklus I yang akan merubah desain pembelajaran lebih baik lagi. Pertemua pertama tentang gaya otot dan pertemuan kedua tentang gaya grafitasi. bahwa hasil belajar siswa pada materi gaya dan gerak belum memenuhi indikator yang peneliti harapkan. dan tes pilihan ganda. 2) Menjelaskan contoh pemanfaatan gaya otot dalam kehidupan sehari- hari. Indikator yang ditetapkan oleh peneliti yaitu sebesar 75% siswa memiliki nilai diatas KKM sekolah. Indikator-indikator pembelajaran dari materi gaya dan gerak adalah: 1) Mengidentifikasi hubungan dan pemanfaatan gaya otot dan gerak dalam kehidupan sehari-hari. tetapi pada siklus I ini siswa yang sudah mencapai KKM hanya mencapai 61% (20 orang dari 33 orang siswa) dan yang belum mencapai KKM 39% (13 orang) . Keputusan Pada pelaksanaan siklus I berdasarkan tes hasil belajar siswa yang telah dilaksanakan selama proses pembelajaran pada siklus I. f.

Berdasarkan catatan lapangan ada peningkatan pada indikator 315 . Penyusunan tindakan kegiatan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus II dilihat pada petemuan 3 dan 4. Setiap individu sudah mulai mampu menjelaskan materi yang 3. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa otot. Sumber belajar adalah Buku Guru. Tabel 5. Sumber belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran 5. Tindakan Pada tahap ini guru berusaha menerapkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL). guru dengan perasaan antusias. Sedangkan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung dimuat dalam catatan lapangan (Tabel 5). Interaksi siswa dengan Siswa menjawab pertanyaan guru 4. 6) Menjelaskan pengaruh besar kecilnya gaya grafitasi. Siswa sudah aktif dalam belajar dan sudah mulai berani 2. b. Kegiatan siswa mempresentasikan hasil kerja kepada kelompoknya. LKS. Buku Siswa. Catatan Lapangan Siklus 2 No Indikator Uraian Guru telah berusaha membimbing dan mengarahkan serta memberikan motivasi dan melatih 1. 4) Mengidentifikasi tentang gaya grafitasi dalam aktifitas sehari- hari. Modul kerja tematik. dan Buku Tematik Bupena. Interaksi antar siswa sudah dimengerti kepada anggota kelompoknya. Kegiatan guru siswa untuk selalu berfikir kritis dalam menghadapi masalah dan berani mengkritisi hasil karya orang lain. 5) Menyebutkan contoh gaya grafitasi dalam kehidupan sehari- hari.

Pesentase hasil perhitungan N-gain dapat dilihat pada tabel berikut. Professional Learning untuk Indonesia Emas kegiatan siswa di kelas IV C Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal dalam menerima dan melaksanakan model pembelajaran Contektual Teaching and Learning (CTL).00 69.33 Nilai Tertinggi 81 88 Nilai Terendah 38 44 Median 69. Data perhitungan N-gain pada siklus II rata-rata keseluruhan hasil perhitungan dengan jumlah responden 33 orang adalah 0.96. dan sudah sesuai harapan yang diinginkan yaitu ketuntasannya di atas 75%. Tabel 10.61 316 . Kategori Jumlah Siswa Persentase (%) Tinggi 0 0 Sedang 13 39.09 11. Tabel 9. Hasil Belajar Pengukuran peningkatan hasil belajar siswa dari aspek kognitif pada siklus II dilakukan tes hasil belajar.00 Modus 69.33. Hasil observasi kegiatan guru dan siswa menunjukkan kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan siswa sudah mulai memahami pembelajaran dengan pendekatan konteksrual (CTL). Adapun hasil tes belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 9. c. Persentase Peningkatan Hasil Belajar (N-gain) Prekuensi No.00 69.39 Rendah 20 60.79 70.44 Tabel 9 menunjukkan bahwa setelah dilakukan proses pembelajaran nilai rata-rata meningkat dari 63. Nilai Hasil Belajar Siklus 2 Data Statistik Pre Test Pos Test Nilai rata-rata kelas 63. d. Pengamatan Kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran diamati dengan menggunakan lembar observasi.79 menjadi 70.00 Standar Deviasi 13.

Uraian kekurangan dan perbaikan dari komponen CTL pada siklus II adalah sebagai berikut : Tabel 11.96 e. lebih kondusif. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa N-gain Kelas 0. Refleksi Berdasarkan proses pembelajaran pada siklus II ini tampak siswa mampu belajar mandiri. Tidak ada Tidak ada pada materi Mengorganisasi Tidak ada Tidak ada 2. Walaupun banyak sekali peningkatan dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan CTL dari siklus I ke siklus II akan tetapi masih ada sedikit kekurangan yang ada pada komponen kontekstual (Contextual Teaching And Learning). Tindakan Kekurangan Perbaikan Orientasi siswa 1. dan turut aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang sulit mengembangkan kemampuan berfikirnya dalam memehami konsep materi mulai dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Perbaikan Hasil Belajar Siklus 2 No. siswa untuk bertanya Guru harus lebih keras lagi Siswa masih Membimbing membimbing 3 kurang mampu siswa siswa yang dalam membuat menemukan mengalami kesimpulan dari konsep kesulitan dalam diskusi kelompok pengetahuan -membimbing mengenai materi siswa untuk gaya dan gerak membuat kesimpulan 317 . Pada siklus II sudah bisa dikatakan efektif hal tersebut dapat terlihat dari siswa yang sudah mulai terbiasa belajar secara individual maupun kelompok dengan menerapkan pendekatan kontekstual (CTL).

Oleh karena itu dapat diambil keputusan bahwa siklus sudah dapat dihentikan. Professional Learning untuk Indonesia Emas Guru harus lebih Masih kurangnya menggali lagi tingkat kreativitas pengetahuan Mengembangkan siswa dalam siswa dengan 4. Hal tersebut dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan nilai mencapai KKM (68) sebanyak 79% (26 orang siswa dari 33 orang) dan yang belum mencapai KKM sebanyak 21% (7 orang).60%) dan yang belum memenuhi indikator KKM sebanyak 13 siswa (39. kreatif dan membentuk konsep yang baik pada pengetahuannya. Hal ini mungkin disebabkan siswa masih belum mengerti bagaimana konsep- konsep CTL yang baru mereka dapatkan. Hasil belajar siswa dan dari aktifitas belajar siswa sudah ada peningkatan yaitu mencapai indikator keberhasilan diatas 75 %. proses Tidak ada Tidak ada pembuatan hasil karya Tabel 11 terlihat bahwa peran guru terhadap pembelajaran siklus II benar-benar tidak mendoNegeriasi kelas tetapi memberikan banyak waktu unutk siswa terlibat langsung selama pembelajaran sehingga siswa bisa aktif . Pada siklus I hasil belajar siswa memperoleh rata-rata 64 yang sudah memenuhi indikator KKM (68) sebanyak 20 siswa (60.. selama proses pembelajaran guru bidang studinya belum pernah menerapkan pendekatan seperti 318 . nilai tersebut lebih baik dari siklus I. f. dan menyajikan menemukan ide berbagai sumber hasil karya atau kemampuan informasi agar merancang sesuatu siswa lebih kreatif yang baru dan inovatif Menganalisis dan mengevaluasi 5. Siswa tampak lebih bersemangat dengan kegiatan pembelajaran karena termotivasi dengan kehidupan nyata yang berhubungan dengan materi gaya dan gerak.39%) . Pembahasan Setelah dilakukan penelitian tindakan kelas yaitu dengan menerapkan pendekatan Contextual teaching and Learning (CTL) pada materi gaya dan gerak hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Keputusan Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh nilai rata-rata untuk tes hasil belajar siswa adalah 72.

55 % setealh dilakukan siklus II meningkat menjadi 75. Hal ini sesuai Wasis (2006). Sehingga pembelajaran mencapai tujuan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. kreatif dan berfikir kritis selama pembelajaran serta pembentukan suatu konsep yang riil dan sistematis. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung. buku guru dan buku siswa Kurikulum 2013. siswa yang mencapai nilai KKM(68) sebanyak 26 siswa (78. dkk. Hal ini sesuai dengan hasil N-gain silus I = 0. yaitu menyediakan berbagi fitur sehingga konten dalam perangkat dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata. Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat ditemukan bahwa pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) 319 .28%). Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa ini. Penerapan pendekatan kontekstual (CTL) yang berkelanjutan dalam dua siklus telah menunjukkan peningkatan pada tiap komponen CTL.96. Dengan demikian model pembelajaran CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV C Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kamal pada tahun pelajaran 2014/2015 pada konsep gaya dan gerak. Pada siklus II nilai rata-rata adalah 70. aktif. Pencapaian hasil belajar siswa dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang diterapkan selama proses pembelajaran menggunakan pendekatan CTL.78%) dan siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 7 siswa (21.27 % (Hajir dkk.21 dan N-gain siklus II = 0. Begitu pula pembelajaran yang diterapkan oleh Hajir R. 2013). Sumber belajar yang digunakan pada pembelajaran berupa LKS. sehingga siswa merasa mendapatkan model pembelajaran yang baru dan agak sulit untuk beradaptasi dengan model pembelajaran baru tersebut. Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan adalah penerapan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan pemahaman IPA pada siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Wonosari Sadang dengan prosentase pemahaman belajar siswa pada siklus I adalah 63. Bila dianalisis tiap komponennya maka tiap-tiap komponen telah menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hal ini berarti siswa telah mengalami perubahan dalam belajar dan memahami suatu konsep dengan baik pula. mandiri. yang menyatakan bahwa perangkat pembelajaran kontektual memiliki ciri khusus.. serta memberikan berbagai pilihan aktifitas siswa dengan berbagi gaya belajar dan tingkat kemampuan. dapat melakukan hands-on activities dan mind-on activities sesuai dengan lingkungan belajarnya.

Rozak Abdul. 136) Syaiful Djamarah Bahri. Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). Jakarta: PT.80% (26 siswa) yang belum tuntas 21. 2010. e) Pemodelan (Modeling). Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2010. PT. Remaja Rosdakarya. Jakarta. Trianto. h. c) Bertanya (Questioning).1 No. Pada siklus II rata-rata hasil belajar meningkat hingga 72 dengan ketuntasan belajar siswa 78. Penilaian hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran CTL pada materi gaya dan gerak pada siklus II meningkat dibanding siklus I. f) Refleksi (Reflection). Abdul.20% (7 siswa). Kompilasi Undang-Undang dan Peraturan Pendidikan. 2009. Professional Learning untuk Indonesia Emas dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya dan gerak. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas: Sebagai Pengembangan Profesi Guru. 2007. Penerapan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan Pemahaman IPA Siswa Kelas IV SD Negeri Wonosari Sadang. Penerapan pembelajaran CTL dengan menggunakan tujuh komponen utama yaitu. Raja Grafindo Persada Majid. Contextual Teaching And Learning (CTL) dalam Pembelajaran Sains-Fisika SMP. dimana siklus I nilai rata-rata postest adalah 64 dengan ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 60. 2010. a) konstruktivisme (Contructivism). dkk. Aswan Zain. Model Pembelajaran Terpadu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya dan gerak. b) Inkuiri (Inquiry). 2013.2006. Bandung: PT. Dimana pada pada komponen kedua yaitu inkuiri dapat melatih siswa untuk menemukan sendiri konsep pengetahuan kognitifnya dengan peranan guru yang selalu membimbing dan mengarahkan proses penemuannya dengan baik.40% (13 siswa). (Jakarta. Vol. Daftar Pustaka Hajir R dkk. No. Kunandar.1 320 . Bumi Aksara.60% (20 siswa) dan yang belum tuntas 39. Strategi Belajar Mengajar. Jurnal Radiasi. 1. Jurnal Cakrawala Pendidikan. Perencanaan Pembelajaran. d) Masyarakat belajar (Learning Communiti). PT Rineka Cipta Wasis.

dengan uji prasyarat analisis yaitu Uji Normalitas. Tujuan penelitian ini yaitu sebagai daya dukung efektifitas pembelajaran. Model Group Investigation memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang penyusunan laporan keuangan suatu perusahaan berdasarkan pada data empiris yang diperoleh dari lapangan. melalui desain penelitian postest only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Pamulang dan Mahasiswa UIN Syarif hidayatullah Jakarta. Hal ini ditunjukkan dengan 321 . sehingga mahasiswa akan memberikan respon yang positif terhadap peningkatan kemampuan mahasiswa dalam penyusunan laporan keuangan suatu perusahaan. MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MAHASISWA Tri Harjawati. yaitu mahasiswa Universitas Pamulang sebagai kelas kontrol sedangkan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai kelas eksperimen.com Abstrak: Penelitian ini dirancang sebagai langkah untuk menemukan model pembelajaran akuntansi khususnya mata kuliah pengantar akuntansi. Analisis data yang digunakan adalah rata-rata uji beda melalui uji – t. Chamdun Mahmudi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : dtri_1808@yahoo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi eksperimen. Sampel penelitiannya adalah mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Pamulang dan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengambil mata kuliah pengantar akuntansi tahun ajaran 2012- 2013 (Unpam) dan 2013-2014 (UIN) masing-masing sebanyak dua kelas. Hasil data menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman mahasiswa tentang penyusunan laporan keuangan pada mata kuliah pengantar akuntansi setelah pembelajaran dengan menggunakan group investigation dibandingkan dengan yang tidak menggunakan metode. dan Uji Homogenitas. sehingga bisa mengetahui perbedaan antara kemampuan mahasiswa yang menggunakan Model Group Investigation dengan mahasiswa yang pembelajarannya menggunakan teknik konvensional.

tingkat kesulitan berasal dari pemahaman tentang akun yang muncul dari transaksi.31 untuk nilai UTS dan 9. Dengan informasi seperti itu. maka diperlukan tahapan-tahapan proses pencatatan melalui siklus akuntansi mulai dari mengumpulkan bukti transaksi yang selanjutnya di catat dalam jurnal umum yang kemudian diposting dalam buku besar kemudian disusun neraca saldo. peningkatan kemampuan mahasiswa. maka bisa membantu pihak manajemen untuk menentukan kebijakan yang terbaik berkenaan dengan aktivitas tersebut apakah akan dilakukan ekpansi. bahkan kejadian dari transaksi yang terjadi saja mahasiswa masih bingung pada saat dicatat dalam jurnal sampai pada tahapan penyusunan laporan keuangan. pengantar akuntansi Pendahuluan Peranan Akuntansi di perusahaan merupakan suatu hal yang penting dilakukan. laporan perubahan modal. Berdasarkan pengalaman penulis sebagai pengajar mata kuliah pengantar akuntansi selama 5 tahun.05). Professional Learning untuk Indonesia Emas perbedaan hasil rata-rata UTS dan UAS yaitu 12. Mereka 322 . Semua tahapan proses akuntansi pertama kali akan ditemukan atau dipelajari melalui mata kuliah pengantar akuntansi. pemahaman konsep pengantar akuntansi mahasiswa yang pembelajarannya dengan menggunakan model group investigation lebih tinggi daripada pemahaman konsep pengantar akuntansi mahasiswa yang proses pembelajarannya menggunakan cara konvensional yaitu ceramah. Neraca. Namun. lalu dibuat ayat jurnal penyesuaian yang kemudian diposting kembali ke buku besar atau bisa dilakukan dengan bantuan worksheet atau lembar kerja kemudian disusun dalam neraca saldo setelah penyesuaian baru dibuat laporan keuangan yang terdiri dari laporan laba rugi. Kata Kunci: model pembelajaran.834 dengan nilai sig (2-tailed) 0.000 < α (0. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji t sebesar 3. dan laporan arus kas. karena melalui Peranan Akuntansi maka perusahaan akan mampu menilai kinerja perusahaan melalui pencatatan aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.71 untuk nilai UAS. secara umum mahasiswa merasa kesulitan tatkala dihadapkan pada penyelesaian soal tentang penyusunan laporan keuangan. Selain itu. group investigasi. tambahan modal. sehingga bisa disimpulkan bahwa H0 ditolak artinya Model Group Investigation berpengaruh terhadap tingkat pemahaman mahasiswa. Untuk menghasilkan informasi akhir dari proses akuntansi ini. atau bahkan merumahkan karyawan (memecat karyawan). latihan dan tugas.

Manajemen Pendidikan. teori yang disajikan kurang paham apalagi jarang yang mengaplikasikan langsung dengan realita dilapangan. SMK Sekretaris. Manajemen. Hal ini tercermin dari Model pembelajaran yang selama ini di lakukan dengan cara memberikan penjelasan (metode ceramah) yang di dalamnya aktivitas dosen lebih mendominasi kelas sehingga mahasiswa hanya menerima saja apa yang disampaikan dosen. sehingga peran tersebut berkenaan dengan kemampuan meneliti apa hakikat dan fokus masalah pengelolaan kelas. Ditambah lagi karakteristik dari mahasiswa yang ada adalah heterogen. dan pemaknaan perseorangan. dan masih banyak lagi kebingungan-kebingungan mahasiswa berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan pada mata kuliah pengantar akuntansi baik perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. SMK Penjualan. Pemaknaan perseorangan berkenaan dengan inferensi yang diorganisasi oleh kelompok dan bagaimana membedakan kemampuan perseorangan. Dengan demikian interaksi diantara keduanya dilandasi oleh kesepakatan. Dosen dan mahasiswa memiliki status yang sama yaitu menghadapi masalah. Pengelolaan ditampilkan berkenaan dengan kiat menentukan informasi yang diperlukan dan pengorganisasian kelompok untuk memperoleh informasi tersebut. Akuntansi. sehingga mahasiswa menjadi pasif dalam belajar. baik yang berasal dari lingkungan Universitas Pamulang maupun dari universitas lain. dan Sekretaris. atau bahkan pada saat penyusunan laporan keuangan kenapa hanya akun pendapatan dan beban saja yang ada di laporan laba rugi kenapa modal tidak dimasukkan dalam penghitungan laba rugi. konsultan. Berdasarkan hasil wawancara penulis secara langsung dengan beberapa mahasiswa baik jurusan Pendidikan IPS. SMK Teknik. Selain itu mahasiswa kurang diberikan kesempatan untuk berdiskusi satu sama lain baik dalam pembelajaran maupun dalam mengerjakan soal latihan. sehingga tidak semua berasal dari jurusan SMK Akuntansi yang sebelumnya pernah belajar Akuntansi. Kebanyakan dari mereka adalah jurusan IPA. sumber kritik yang konstruktif. begitupun aktivitas mahasiswa untuk menyampaikan pendapat sangat kurang karena mahasiswa hanya bertanya berkaitan dengan materi yang kurang dipahami. dan Lulusan Pesantren yang sama sekali belum mengenal 323 . Para dosen tersebut hanya menjelaskan dalam gambaran soal yang harus diselesaikan dan diberikan latihan serta tugas baik dikerjakan secara individu maupun berkelompok. Sedangkan. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa bingung kenapa kas di debet dan modal di kredit. mereka menyebutkan bahwa cara dosen menjelaskan terlalu cepat. Padahal pembelajaran secara demokratis. Dosen lebih berperan sebagai konselor. Dari penjelasan diatas terlihat bahwa sistem sosial yang berkembang adalah minimnya arahan dosen.

Pengaruh adanya perlakuan (treatment) adalah Y. Berikut rancangan desain penelitiannya : Tabel 1. dengan menggunakan desain penelitian quasi eksperimen melalui postes only control group design. Sejalan dengan penyelesaian permasalahan yang terjadi. Tipe ini dapat melatih mahasiswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Group Investigation merupakan model pembelajaran yang kompleks karena memadukan antara prinsip kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis kontruktivisme dan prinsip demokrasi. Dalam desain penelitian ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random. Bahkan yang jurusan SMK Akuntansi serta SMA IPS. Professional Learning untuk Indonesia Emas yang namanya Akuntansi. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Berdasarkan uraian diatas. maka perlu dilakukan penelitian lebih jauh tentang efektifitas penggunaan metode Group Investigation dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa pada mata kuliah pengantar akuntansi melalui judul Model Pembelajaran Group Investigation Terhadap Peningkatan Kemampuan Mahasiswa Pada Mata Kuliah Pengantar Akuntansi. Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. maka salah satu model yang mungkin bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu melalui model pembelajaran Group Investigation. Y Keterangan: X : Pembelajarannya dengan Model Group Investigation Y : Post-test kelompok eksperimen dan kontrol 324 . Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Keterlibatan mahasiswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran akan memberi peluang kepada mahasiswa untuk lebih mempertajam gagasan dan dosen akan mengetahui kemungkinan gagasan mahasiswa yang salah sehingga dapat diperbaiki. Rancangan Desain Penelitian Kelompok Variabel Terikat Postest Eksperimen X Y Kontrol . mereka hanya mempelajari Akuntansi dengan target dapat menyelesaikan soal-soal UN sehingga pemahaman konsep dan praktek bagaimana menyusun laporan keuangan yang benar kurang dipahami.

validitas isi suatu tes tidak memiliki besaran tertentu yang dihitung secara statistika. Alasan penulis mengambil data tersebut yaitu karena penulis mengampu mata kuliah pengantar akuntansi pada tahun tersebut. penentuan proporsi tersebut sudah didasarkan beberapa pendapat (judgement) para ahli dalam bidang yang bersangkutan. yaitu 48 orang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Manajemen Pendidikan sebagai kelas eksperimen dan 48 orang mahasiswa Universitas Pamulang sebagai kelas kontrol. Kriteria untuk menentukan proporsi masing-masing pokok atau sub pokok bahasan yang tercakup dalam tes ialah berdasarkan banyaknya isi (materi) masing-masing pokok atau sub-pokok bahasan seperti tercantum dalam Silabus dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP). uji homogenitas (Fisher). dan Tes. Sehingga. Observasi. Data yang digunakan berjumlah 96 orang secara random. Teknik analisis data dalam penelitian ini dibagi ke dalam beberapa tahap yaitu Uji Prasyarat analisis data melalui uji normalitas (Kolmogrov-Smirnov). tetapi dipahami bahwa tes itu sudah valid berdasarkan telaah kisi-kisi tes. Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini penulis menggunakan data hasil ujian UTS dan UAS sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswa tentang mata kuliah pengantar akuntansi. Dokumentasi data. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Populasi dalam penelitian ini adalah UIN Syarif hidayatullah Jakarta dan Universitas Pamulang. Yaitu melalui menelaah kisi-kisi tes untuk memastikan bahwa soal-soal tes sudah mewakili atau mencerminkan keseluruhan konten atau materi yang seharusnya dikuasai secara proporsional. Untuk kelas eksperimen penulis menggunakan data pada tahun ajaran 2013/ 2014 semester ganjil. Sehingga tes memiliki validitas isi yang 325 . dan uji hipotesis melaui uji-t (t-test). penulis menggunakan Validitas isi (content validity). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu Studi Literatur. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah test (post test ) dan non test (Lembar observasi dan Kuisioner). Sampel yang digunakan menggunakan purposive sampling yaitu pemilihan sampel didasarkan pada kebutuhan. yaitu mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang dan Mahasiswa Program Manajemen Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah yang mengambil mata kuliah pengantar akuntansi tahun ajaran 2012/2013 dan 2013/2014 masing-masing sebanyak dua kelas. Dalam penelitian ini. yaitu dua kelas pertama adalah mahasiswa Universitas Pamulang sebagai kelas kontrol sedangkan dua kelas kedua adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai kelas eksperimen. Sedangkan kelas kontrol penulis menggunakan data pada tahun ajaran 2012/2013 semester genap. Selain itu.

diperoleh bahwa jenis soal terkategorikan sedang yaitu berada dalam indeks 0. Perbandingan Mean Hasil Belajar Kelas Kontrol dan Eksperimen Kelas Kontrol Eksperimen Perbedaan Hasil UTS 69. struktur sama. Sehingga soal yang dikerjakan oleh mahasiswa bisa merangsang mahasiswa untuk mempertinggi kemampuannya. Hasil Penelitian Instrumen Tes 1.70.625 81. Sedangkan tingkat reliabilitas yang digunakan menggunakan bentuk Ekivalensi.31 326 . mempunyai tingkat kesulitan dan mempunyai petunjuk.30 sampai 0. yaitu dibuat identik dengan tes yang mempunyai karakteristik yang sama yaitu variabel yang sama.9375 12. jumlah item sama. Perbedaan Mean Hasil Belajar Kelas Kontrol dan Eksperimen Tabel 2. dan interpretasi yang sama (Sukardi 2008). Berdasarkan uji taraf kesukaran. Sedangkan berdasarkan analisis pembeda diperoleh data bahwa soal-soal yang diujikan terkategorikan Baik (good) sehingga sanggup melihat soal yang bisa dikerjakan oleh mahasiswa yang tergolong tinggi dengan mahasiswa yang tergolong kurang prestasinya. Hasil postest UTS dan postest UAS siswa kelas kontrol dan eksperimen 2. Professional Learning untuk Indonesia Emas baik yang mewakili semua materi yang hendak diukur. Soal dapat dikatakan sebagai soal yang baik karena cirinya soal yang baik adalah tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah. cara penskoran.

000 Normal Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Posttest UAS Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. t df Sig.200* .074 96 .151 Berdistribusi Normal 2.000 9. Hasil Uji Normalitas Postest UTS Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kolmogorov.148 . Keterangan UAS .70833 2. Hasil perhitungan uji Mann- 327 .53197 4.487 3. Keterangan Tdk Berdistribusi UTS .000 9. Hasil Uji Homogenitas Posttest UAS Levene’s Test t-test for Equality of Means for Equality of Variances F Sig.73562 assumed UAS Equal variances 3.71 Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis 1.9583 9.68105 14. Mean Std. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa UAS 69.834 94 . Statistic df Sig. Uji Normalitas Hasil Postest UTS dan UAS kelas eksperimen dan kelas kontrol Tabel 3.68045 14.53197 4.70833 2.098 96 . Shapiro-Wilk Smirnova Statistic df Sig.834 93.980 96 .486 .025 . Uji Hipotesis Posttest UTS Berdasarkan uji normalitas diperoleh bahwa Data UTS tidak berdistribusi normal dengan demikian analisis berikutnya dengan menggunakan uji Mann-Whitney.910 96 .2500 78. Error 95% Confidence (2-tailed) Difference Difference Interval of the Difference Lower Upper Equal variances . Statistic df Sig. Uji Homogenitas Tabel 5.73622 not assumed Keputusan Data Homogen 3.

5000 20.000 13.05144 assumed UTS Equal variances 4.03614 2. t df Sig.07372 not assumed Posttest UAS Berdasarkan uji normalitas.33108 6. Professional Learning untuk Indonesia Emas Whitney adalah : Tabel 6.43750 3.82356 20.89197 Tabel 8. data nilai UAS berdistribusi normal dan homogen. (2-tailed) .000. Hasil Uji Independent Samples Test Levene’s Test t-test for Equality of Means for Equality of Variances F Sig. Hasil UJI Mann-Whitney U UTS Mann-Whitney U 664.80128 20.000 Hasil perhitungan uji Mann-Whitney adalah -0.9583 11.70262 UAS Kontrol 48 69. Sig.004 4. Tabel 7.580 dan diperoleh nilai Asymp sig (2-tailed) data UTS = 0. Mean Std.45278 1.580 Asymp.729 . Error Deviation Mean Ekspmn 48 78.000 Wilcoxon W 1840. Std. Error 95% Confidence (2-tailed) Difference Difference Interval of the Difference Lower Upper Equal variances 8. Group Statistik Postest UTS Kelas N Mean Std.750 .2500 12. Std.9375 11. Group Statistik Kelas N Mean Std.034 74. Error Deviation Mean Ekspmn 48 81.87402 328 .33108 6.034 94 .79607 1. maka H0 ditolak artinya rata-rata pemahaman konsep akuntansi mahahasiswa pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari rata-rata pemahaman konsep akuntansi mahahasiswa pada kelompok kontrol.000 13.43750 3. maka langkah selanjutnya adalah menghitung Uji t.98362 1. Tabel 9.65307 UTS Kontrol 48 68.000 Z -3.

70833 2. Kemudian mencari data aktual berdasarkan materi dari 329 . bengkel.487 3.68045 14. Penyusunan Silabus. Pembahasan Secara garis besar tahapan penelitian dikelompokkan menjadi tiga tahap. Nilai t hitung besar dan nilai Sig (2-tailed) 0. Langkah-langkah tahap pelaksanaan. Jadi kedua kelompok memiliki varian yang sama.05). Penyusunan SAP. Lembar Investigasi Mahasiswa. Penyusunan Instrumen tes tengah semester.73562 assumed UAS Equal variances 3. wash car.834 94 . Uji selanjutnya memakai nilai pada baris yang atas (Equal variances assumed) yaitu 3. Penyusunan Instrumen tes akhir semester.73622 not assumed Dari data diatas diperoleh nilai Sig 0. dan evaluasi.53197 4.000 < (0. Hasil Uji Independent Samples Test Levene’s t-test for Equality of Means Test for Equality of Variances F Sig. Mean Std. langkah-langkah yang dilakukan pada tahap perencanaan antara lain: Penentuan Sampel Penelitian (kelas eksperimen dan kelas kontrol). laundry. dll.68105 14.53197 4. 2. maka Ho diterima. Tahap pelaksanaan.487 > (0. dan Memberikan tes. pelaksanan. maka Ho ditolak artinya Model Group Investigation berpengaruh terhadap tingkat pemahaman mahasiswa.834.05).000 9. meliputi: Melakukan proses perkuliahan (model group investigation untuk kelas eksperimen dan model konvensional untuk kelas kontrol).000 9.486 .70833 2. Masing-masing kelompok mencari salah satu perusahaan jasa dan dagang dengan aktivitas yang berbeda. Error 95% Confidence (2-tailed) Difference Difference Interval of the Difference Lower Upper Equal variances . Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Tabel 10. Tahap perencanaan. misalnya perusahaan jasa dengan aktivitas salon. t df Sig.148 . Mahasiswa ditugaskan secara langsung ke perusahaan baik perusahaan jasa maupun perusahaan dagang dengan membentuk kelompok kecil yaitu 4-5 orang. Berikut perincian kegiatannya : 1. yaitu perencanaan.834 93. Untuk kelas eksperimen.

Untuk memantapkan kemampuan mahasiswa. yang akhirnya menyimpulkan materi dari setiap pertemuan. Tahap penyelesaian. diharapkan mahasiswa mampu menyusun laporan keuangan perusahaan jasa dan dagang didasarkan pada latihan-latihan serta tugas yang dikerjakan baik secara individu maupun secara berkelompok. mahasiswa diberikan kesempatan untuk bertanya berkaitan dengan materi yang disampaikan. mahasiswa mampu menyusun laporan keuangan suatu perusahaan didasarkan pada pengalaman dan pemahaman penyusunan laporan keuangan meskipun aktivitas perusahaan tersebut berbeda tetapi masih dalam satu jenis perusahaan yang sama baik perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. Langkah-langkah tahap penyelesaian. Untuk kelas kontrol. 3. Untuk memperkuat pemahaman mahasiswa. Analisis Data. meliputi: Pengumpulan dan penyusunan data nilai pemahaman konsep akuntansi mahasiswa (UTS dan UAS). Setiap pertemuan membahas materi yang berbeda. Kemudian dosen dan mahasiswa membahas bersama latihan yang dikerjakan tadi. dosen memberikan beberapa contoh soal yang ada di beberapa buku sumber dengan tipe soal yang berbeda. yang kemudian dipresentasikan hasil temuan disandingkan dengan teoritis yang dipelajari dikelas. pengumpulan Laporan hasil Investigasi Mahasiswa tentang laporan keuangan. Sehingga akhir pembelajaran.9375 330 . Dosen menjelaskan materi berdasarkan pada rujukan beberapa buku sumber. diseminasi atau seminar terbatas dengan tim dosen dan teakhir adalah laporan penelitian. Dari hasil proses pembelajaran seperti itu. Professional Learning untuk Indonesia Emas masing-masing pertemuan. Setelah itu. Nilai rata-rata posttest nilai UTS kelas eksperimen sebesar 81. dosen memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa di rumah. maka dosen memberikan latihan soal yang berkaitan dengan soal yang diperoleh dari temuan di lapangan (perusahaan) yang dikerjakan dikelas. Kemudian dibahas bersama dan disimpulkan. Baru diberikan latihan soal berkenaan dengan materi yang ada dalam buku sumber tersebut. Sesion tanya jawab dilakukan setiap kelompok dan diluruskan jawabannya oleh dosen. Jika mahasiswa sudah paham tentang teori yang dipresentasikan tadi. Berdasarkan data hasil posttest diketahui bahwa nilai UTS tidak berdistribusi normal dan nilai UAS berdistribusi normal dan homogen.

Berdasarkan hasil obervasi.25. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai rata-rata baik nilai UTS maupun nilai UAS kelas eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol yaitu sebesar 81. disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan modul group investigation lebih memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep dalam akuntansi dengan begitu siswa tidak merasa bosan selama proses pembelajaran berlangsung.91 dan pada kelas kontrol 7.625. Lina.05% yaitu 2.25 (UAS kelas ekperimen) > 78. diketahui bahwa nilai t pada kelas eksperimen sebesar 19. Berdasarkan perhitungan pengujian hipotesis dengan uji perbedaan (Uji-t). Lailadan Umar.9375 (UTS kelas ekperimen) > 69.75 nilai ini lebih tinggi dari ttabel pada taraf signifikan 0. Diah.9583 sedangkan kelas kontrol sebesar 69. Hal ini diperkuat melalui data observasi yang dilakukan pada kelas eksperimen.31 untuk nilai UTS dan 9.026. Sementara berdasarkan hasil analisis angket. Mahasiswa menjadi lebih aktif dan percaya diri dalam mengungkapkan temuan-temuan mereka selama observasi dalam ruang diskusi. karena mereka dapat menggali teori dalam aplikasi dilapangan secara langsung. Yuliani. dan 69. Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis sejalan dengan hasil penelitian yang telah dikemukakan oleh beberapa peneliti yang memiliki keterkaitan tentang group investigation yaitu penelitian yang dilakukan oleh Syamsuri. Dwi. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis penelitian (H1) diterima. respon mahasiswa setelah belajar dengan menggunakan model group investigation adalah sangat baik.9583 (UTS kelas kontrol). dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman mahasiswa tentang penyusunan laporan keuangan pada mata kuliah pengantar akuntansi setelah pembelajaran dengan menggunakan group investigation dibandingkan dengan yang tidak menggunakan metode. Hal ini menunjukkan bahwa kelas eksperimen dengan menggunakan model group investigation lebih baik dari kelas kontrol yang hanya menggunakan metode konvensional. Perbedaan hasilnya yaitu 12.71 331 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model group investigation secara efektif dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang mata kuliah pengantar akuntansi.625 (UTS kelas kontrol). Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data di Bab IV. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan penguasaan konsep mahasiswa yang dapat dilihat dari hasil belajar akuntansi dan keaktifan mahasiswa di kelas pada saat proses pembelajaran baik dalam hal menjawab pertanyaan. Istikomah. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa sedangkan kelas kontrol sebesar 69. Dan Nilai rata-rata posttest nilai UAS kelas eksperimen sebesar 78.

Accounting 332 . Learning. Donald E. and Stephanie. sehingga bisa disimpulkan bahwa H0 ditolak artinya Model Group Investigation berpengaruh terhadap tingkat pemahaman mahasiswa. Perencanaan Pembelajaran. 2009 Horngren. 2002. Kimmel. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Heather Fry. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji t sebesar 3. Effective Teaching in higher education. Strategi Belajar Mengajar. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.pdf. 2006 I Wayan Santyasa. 2009. 2009 Ikatan Akuntansi Indonesia. tanggal 29 Juni s. Suharsimi. New York and London : Routledger.05). Weygandt. Salemba Empat. Tanggal 3 Maret 2015. Artikel Disajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida. London and New York : Methuen & Co. third Edition. pemahaman konsep pengantar akuntansi mahasiswa yang pembelajarannya dengan menggunakan model group investigation lebih tinggi daripada pemahaman konsep pengantar akuntansi mahasiswa yang proses pembelajarannya menggunakan cara konvensional yaitu ceramah. 2007 Hakim. Selain itu. British : Learning Matters Ltd. Daftar Pustaka Anne Campbell & Lin Norton. Bandung: CV. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Edisi terbaru. Wacana Prima. Steve. Emzir. Kieso and Paul D. Bandung: Refika Aditama. Jakarta : Erlangga.d 1 Juli 2007. Jerry J._PEND. 2006.000 < α (0. George & Madeleine. http://file.edu/Direktori/FIP/ JUR._LUAR_SEKOLAH/194704171973032-MULIATI_ PURWASASMITA/MODEL_MODEL_PEMBELAJARAN. Professional Learning untuk Indonesia Emas untuk nilai UAS. Teaching and Assessing in Higher Education Developing Reflective Practice. 2008. Standar Akuntansi Keuangan.834 dengan nilai sig (2-tailed) 0. Fathurrohman. Jakarta: Rineka Cipta. Pupuh.upi. 2007 Arikunto. Model-model Pembelajaran Inovatif. Akuntansi. Lukmanul.Ltd. Harrison. Teaching ang Learning in higher education enhancing academic practice. Jilid Satu Edisi ketujuh. latihan dan tugas.

2012 Suwardjono. cet ke 5. 2008 Slavin. Riset. Bandung: Alfabeta. Akuntansi Pengantar 1. Duchac. Siklus Akuntansi. Bandung : Alfabeta. Warren. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Principle. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. dan Praktik. 2011 Susan Irawati. New York. 6 th Edition. 2001 Rudianto. Jakarta : Salemba Empat. Metode Penelitian Kuantitatif. 2003 Sony & Irene. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta. Subana dan Sudrajat. M. 2010 333 . 2008. Pengantar Akuntansi. Cooperative Learning Teori. Jakarta: Rose Mata Sampurna. Kualitatif. dan R & D.. 2010 Lena Nuryanti. Akuntansi Dasar 1 & 2.. Reeve. John Wiley & Sons. Jakarta : Erlangga. Statistika untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Sugiyono. 2005. Buku 1. Bandung : Balai Pustaka. Yogyakarta : AB Publisher. 2003 Kadir. 99 Model Pembelajaran. 2009 Rita Eni & Indah N. 2008. Yogyakarta : Kanisius. Bandung: Pustaka Setia. Pengantar Akuntansi. Inc. Akuntansi Pengantar. Bandung: Nusa Media. Adaptasi IFRS.

Kata Kunci: Media Pembelajaran Fisika Berbasis Komputer. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan media pembelajaran ini mampu meningkatkan hasil pengetahuan siswa secara signifikan dengan nilai rata-rata kemampuan siswa berada pada kriteria sedang dan tinggi dan memiliki kesinkronan dengan respon siswa yang secara rata- rata menyukai pembelajaran fisika karena menggunakan media yang berbasis pada komputer. Hasil pengetahuan siswa yang diukur adalah kemampuan belajar siswa yang diukur melalui tes. zooming presentation dan media pembelaran berbasis web. Mengacu pada uraian tersebut. PROFIL PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN SISWA SMA Diah Mulhayatiah Program Studi Pendidikan Fisika FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pemahaman konsep yang dimiliki siswa dapat dijadikan kunci untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan dasar untuk pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya. Respon siswa terhadap media pembelajaran adalah dengan menggunakan angket. Metode penelitiannya adalah dengan kuasi eksperimen Penelitian ini dilaksanakan dengan populasi siswa SMA di Jawa Barat dan Banten. Indonesia Email : diahmfis@gmail.com Abstrak :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan hasil kemampuan pengetahuan dengan respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komputer. pembelajaran yang dilakukan hendaknya merupakan 334 . Media pembelajaran yang diterapkan adalah berupa virtual laboratory. Kemampuan Pengetahuan Pendahuluan Keterampilan yang dimiliki siswa sangat diperlukan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan dunia nyata khususnya dalam pembelajaran fisika.

materinya terlalu banyak. Media pembelajaran yang digunakan adalah virtual lab. 335 . dan sikappercaya diri. Dari sekian faktor penunjang keberhasilan proses pembelajaran. sebagian siswa tidak menyukai pelajaran fisika karena menurut mereka fisika itu konsepnya sangat sulit dipahami. selain mudah diakses blog juga dapat memotivasi siswa dalam belajar. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa proses belajar yang dibangun oleh guru untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi fisika. baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika. dari proses belajar dan pembelajaran juga diharapkan siswa mampu mengaplikasikan konsep yang telah diterima ke dalam kehidupannya. serta dapat mengembangkan pengetahuan. dan media pembelajaran berbasis blog (weblog). Media merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan pembelajaran. sistem pendidikan yang semakin maju serta didukung oleh perkembangan teknologi sangat memberi kontribusi pada proses pembelajaran dalam beberapa tahun terakhir ini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses pembelajaran. salah satunya yaitu pemanfaatan perkembangan teknologi sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran berbasis blog (weblog) banyak digunakan oleh beberapa peneliti diantaranya Kristiyanti (2011: 44) yang menyimpulkan bahwa blog sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan dapat menjadi alternatif media pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada siswa. Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Demi tercapainya suatu peningkatan pada pemahaman konsep siswa. Jika anggapan tersebut sudah melekat pada diri siswa maka akan timbul sikap malas untuk belajar fisika yang nantinya akan mengakibatkan tingkat pemahaman konsep siswa tersebut semakin rendah. Sehingga timbul anggapan bahwa fisika itu tidak menarik dan cenderung membosankan. Dengan adanya media yang menarik dan menyenangkan akan merangsang minat dan motivasi siswa untuk belajar. Selain itu. zooming presentation. keterampilan. Akan tetapi proses belajar yang seakan monoton dan kurang kreatifnya para pendidik dalam menggunakan media belajar membuat peserta didik kesulitan dalam memahami materi fisika. sehingga menyebabkan kurang termotivasinya mereka dalam mempelajari pelajaran fisika sehingga pemahaman konsepnya pun rendah serta hasil belajarnya pun ikut rendah. terlalu banyak rumus yang bersifat kompleks.

slide (gambar bingkai). Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Prezi juga memiliki keistimewaan pada zooming in dan out. Selain untuk presentasi. video recorder. yang memungkinkan pengguna prezi untuk memperbesar dan memperkecil tampilan media presentasi. Hal ini dapat memberikan kesan yang mendalam pada penerima pesan. yaitu alat bantu pembelajaran (instructional aids) dan media pembelajaran (instructional media). foto. Pengertian lain diungkapkan oleh Babateen (2011) bahwa virtual laboratory didefinisikan sebagai belajar virtual dan belajar lingkungan yang 336 . televisi. Prezi adalah sebuah perangkat lunak untuk presentasi berbasis internet. Gagne’ dan Briggs secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan interaksi adalah terjadinya suatu proses belajar pada diri siswa pada saat menggunakan atau memanfaatkan media. grafik. yang dioperasikan dengan komputer dan dapat mensimulasikan kegiatan di laboratorium seakan-akan pengguna berada pada laboratorium sebenarnya (Arifin 2012). Kata media berasal dari bahasa latin. yang dapat digunakan dalam memperlihatkan sajian secara detail. yang terdiri dari antara lain buku. Anderson membagi media dalam dua kategori. Media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara karya seseorang pengembang mata pelajaran (guru) dengan siswa. Menurut Aryanto (2008) virtual laboratory dimaknakan sebagai sesuatu yang abstrak yang diwakili oleh sebuah model visual untuk membantu si pemakai (user) dalam memperoleh data secara simulasi sampai pada membuat suatu hipotesis. video camera. Kata medium dalam American Heritage Electronic Dictionary (1991) diartikan sebagai alat untuk mendistribusikan dan mempresentasikan informasi.yaitu medium yang berarti perantara atau sesuatu yang dipakai untuk menghantarkan. film. prezi juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi dan berbagi ide di atas kanvas virtual. menyampaikan atau membawa sesuatu. Laboratorium virtual atau bisa disebut dengan istilah virtual labs adalah serangkaian alat-alat laboratorium yang berbentuk perangkat lunak (software) komputer berbasis multimedia interaktif.Prezi menjadi unggul karena program ini menggunakan Zooming User Interface (ZUI). kaset. Prezi pada awalnya dikembangkan oleh arsitek Hungaria bernama Adam Somlai Fischer sebagai alat visualisasi arsitektur. dan komputer . gambar. tape recorder. Professional Learning untuk Indonesia Emas Virtual Laboratory Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa).

Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan. 2013: 2) Perkembangan lain dari blog yaitu ketika kemudian blog bahkan tidak lagi memuat link-link tapi hanya berupa tulisan tentang apa yang seorang blogger pikirkan. baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional. Topik-topik apa yang dia sukai dan tidak dia sukai. rumusan tujuan pendidikan. dan mengacu langsung kepada sasaran- merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah. Satu-satunya hal yang membedakan blog dari diary atau jurnal yang biasa kita miliki adalah bahwa blog dibuat untuk dibaca orang lain. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa merangsang real laboratory. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek. Roger Yim. 4) Menganalisis (C4) . yaitu: 1) Mengingat (C1) . dan kemampuan keterampilan yang dimiliki siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang diberikan guru sehingga siswa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Sedang Scott Rosenbreg dalam kolomnya di majalah online Salon pada May 1999 menyimpulkan bahwa blog berada pada batasan website yang lebih bernyawa daripada sekedar kumpulan link tapi kurang instrospektif dari sekedar sebuah diary yang disimpan di internet (Panjaitan. rasakan. mengumpulkan berbagai kemungkinan. bertambahnya pengetahuan. Halpen dalam Achmad (2007) menyatakan bahwa berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Hasil belajar adalah perubahan perilaku. yakni ranah kognitif. dan ranah psikomotorik. menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar terbagi menjadi tiga ranah. ranah afektif. 2) Memahami (C2) . Dalam sistem pendidikan nasional. Menurut Mustaji (2012) pengertian berpikir kritis ialah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. seorang kolumnis menulis bahwa sebuah blog adalah persilangan antara diary seseorang dan daftar link di internet. dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. mempertimbangkan. apa tanggapannya pada suatu isu. Blog adalah cara mudah untuk mengenal kepribadian seorang blogger. 6) Menghasilkan karya atau mencipta (C6) . Blog juga kemudaian menjadi diary online yang berada di internet. Seluruhnya biasanya tergambar jelas dali blognya. apa yang dia pikirkan terhadap link-link yang dia pilih. Para blogger dengan sengaja mendesain blognya dan isinya untuk dinikmati orang lain. Karena itu blog bersifat sangat personal. merumuskan kesimpulan. hingga apa yang dia lakukan sehari-hari. 5) Mengevaluasi (C5) . 3) Mengaplikasikan atau Menerapkan (C3) . Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi- 337 .

Kelas Kelas No. Pada saat pretest kemampuan kelas eksperimen dalam mengingat (C1) 27%. Menganalisis 19% 25% 72% 67% (C4) Tabel di atas. menerapkan (C3) 76%. Dari data tersebut terlihat peningkatan jenjang kognitif antara pretest dan posttest. menerapkan (C3) 26%. Eksperi- Kontrol Kontrol men men 1. menunjukkan perentase pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan jenjang kognitif. Sedangkan pada kelas kontrol. memahami (C2) 38%. Hasil Pretest dan Posttest Berdasarkan Jenjang Kognitif Pretest Posttest Jenjang Kog. memahami (C2) 27%. dan menganalisis (C4) 25%. menerapkan (C3) 64%. memahami (C2) 82%. Hasil pretest dan posttest tujuh aspek pemahaman konsep siswa dengan menggunakan pembelajaran dengan berbasis weblog dapat dilihat sebagai berikut: 338 . menerapkan (C3) 29%. Professional Learning untuk Indonesia Emas mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. berdasarkan jenjang kognitif dalam mengingat (C1) sebesar 65%. Menerapkan 26% 29% 76% 64% (C3) 4. Pada saat posttest kemampuan kelas eksperimen dalam mengingat (C1) adalah 69%. dan menganalisis (C4) 67%. Memahami (C2) 38% 27% 82% 79% 3. Kelas Kelas nitif Eksperi. Pembahasan Berdasarkan pembelajaran dengan menggunakan media zooming presentation diperoleh rekapitulasi data sebagai berikut Tabel 1. dan menganalisis (C4) 72%. Mengingat (C1) 27% 51% 69% 65% 2. memahami (C2) 79%. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking. menganalisis (C4) 19%. sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju. sedangkan pada kelas kontrol kemampuan mengingat (C1) 51%.

.90 Tinggi 2 Menafsirkan 1. Sedangkan hasil pemahaman konsep dengan mengunakan media virtual laboratorium adalah sebagai berikut Tabel 3.53 Baik 339 .96 3.83 Cukup 4 Merangkum 80.82 Tinggi 6 Menyimpulkan 0.74 Tinggi 5 Membandingkan 0. Faktor siswa yang kurang mengetahui kejadian sehari-hari atau peristiwa yang terjadi di sekitar yang berhubungan dengan materi gerak lurus beraturan menjadi penyebab indikator pemahaman konsep mencontohkan berkategori sedang. Nilai Rata-Rata Siswa Tiap Indikator Pemahaman Konsep No Indikator Pemahaman Konsep Rata-Rata Kategori 1 Menafsirkan 98.33 Sangat Baik 2 Mencontohkan 76.90 dengan interpretasi Tinggi.83 Sangat Baik Rata- rata 77.44 0.78 Tinggi Rata-rata 31. Peningkatan Pemahaman Konsep Aspek Skor Rata-Rata No Interpretasi Pemahaman Konsep Pretest Posttest N-Gain 1 Menjelaskan 1.33 0.63 0.59 3.74 3.22 3.22 0. dan peningkatan pemahaman yang terendah terjadi pada indikator mencontohkan dengan N-Gain 0.67 Kurang 6 Membandingkan 66.04 3.46 82.67 3. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Tabel 2.51 dengan interpretasi sedang.44 0.22 2.74 Tinggi Berdasarkan Tabel di atas dapat dilihat bahwa peningkatan yang paling signifikan terjadi pada indikator menjelaskan dengan N-Gain 0.67 Baik 3 Mengklasifikasi 60.78 0.44 0.76 Tinggi 3 Mencontohkan 1.67 Cukup 7 Menjelaskan 95.51 Sedang 4 Mengklasifikasikan 1.83 Baik 5 Menyimpulkan 56.74 Tinggi 7 Merangkum 0.15 0.

kemampuan memberikan penjelasan mengenai istilah.00 Cukup sehari-hari yang berhubungan dengan perubahan wujud zat Menyimpulkan. kemam- puan mempertimbangkan alternatif 5 60. visualisasi.83 Kurang pemecahan masalah dalam proses peruba- han suhu Rata- rata 77.83 Baik dasarkan fenomena sehari-hari Membangun keterampilan dasar.83 hasil deduksi melalui percobaan Baik Memberi penjelasan lanjut.83 Cukup atau pemecahan masalah dalam proses pemuaian Mengatur strategi dan taktik 2. Keseluruhan hasil yang diperoleh dari paparan di atas memperlihatkan peningkatan kemampuan siswa dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komputer Hal ini sesuai dengan Arsyad (2002) media pembelajaran dengan komputer dapat menampilkan dengan baik berbagai simulasi. dan multimedia yang dapat diakses user (siswa) sesuai 340 . kemam- puan mempertimbangkan alternatif atau 6 55. 80.33 istilah yang ada dalam perubahan wujud Baik zat Mengatur strategi dan taktik 1. kemam- 1 puan menjelaskan konsep pemuaian ber. Sangat 4 98.87 Baik Berdasarkan table di atas nilai rata-rata untuk keterampilan berpikir kritis siswa berada pada kategori baik. konsep- konsep. Interpretasi dari hasil kemampuan siswa pada setiap indikator keterampilan berpikir kritis terangkum dalam tabel di bawah ini: Tabel 4. Nilai Rata-Rata Siswa Tiap Indikator Keterampilan Berpikir Kritis No Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Rata-Rata Kategori Memberi penjelasan sederhana. Professional Learning untuk Indonesia Emas Deskripsi yang menunjukkan gambaran keterampilan berpikir kritis siswa didapatkan berdasarkan hasil posttest di atas dengan rata- rata perolehan nilai dalam kateori baik. kemam- puan memberikan alasan pada fenomena 2 75. kemampuan membuat Sangat 3 95.

Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika menggunakan me- 70% Baik dia pembelajaran zooming presenta- tion 2. Tampilan media pembelajaran 82% Baik Sekali zooming presentation Rata-rata 76% Baik Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa secara keseluruhan penggunaan media pembelajaran zooming presentation dalam pembelajaran fisika konsep suhu dan kalor memperoleh hasil yang baik. Senada dengan paparan di atas Sudjana & Rivai (2005: 2) menyebutkan bahwa media pembelajaran sangat membantu diantaranya adalah: 1) agar pembelajaran lebih menarik perhatian sehingga menumbuhkan motivasi belajar siswa. Artinya penerapan media pembelajaran zooming presentation dapat diterima oleh para siswa. Hasil Angket Penggunaan Media Pembelajaran Zooming Presentation Kelas Eksperimen No. 2) materi pembelajaran akan lebih mudah dipahami oleh siswa. Penjelasan konsep suhu dan kalor pada media pembelajaran zooming 76% Baik presentation 3. Indikator Angket Persentase Kesimpulan 1. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dengan yang diinginkan sehingga visualisasi yang bersifat abstrak dapat ditampilkan secara konkret dan dipahami secara mendalam (Rahmasari & Rismiati. 2013: 77). 4) siswa lebih aktif dalam melakukan kegiatan belajar Hasil data angket siswa terkait penggunaan media zooming presentation adalah sebagai berikut Tabel 5. 3) metode mengajar lebih variatif sehingga dapat mengurangi kebosanan belajar. Pemanfaatan zoom in dan zoom out- pada media pembelajaran zooming 76% Baik presentation 4. Hasil data angket siswa terkait penggunaan media berbasis weblog adalah sebagai berikut 341 .

15 Baik fisika lebih mudah dipahami Tampilan Desain blog (weblog) menarik untuk 81 108 75. ini berarti bahwa pembelajaran menggunakan media blog mendapatkan respon positif dari siswa. sehingga media ini direkomendasikan untuk digunakan pada pembelajaran fisika materi gerak lurus beraturan dengan sedikit perbaikan pada metode pembelajarannya agar pembelajaran semakin efektif. Respon yang diberikan oleh siswa terkait dengan pembelajaran dengan menggunakan media komputer memberikan respon yang positif. Professional Learning untuk Indonesia Emas Tabel 6.00 Baik dilihat Tulisan dalam blog (weblog) dapat 85 108 78. 2.31 Baik Hasil respon siswa pada angket skala sikap terhadap penggunaan media pembelajaran berbasis blog pada materi gerak lurus beraturan mencapai 77.63 Baik menjelaskan konsep GLB lebih jelas Blog (weblog) fisika lebih menarik 79 108 73.15 Baik dari media yang lainnya Jumlah 501 648 77. Terdapat peningkatan hasil belajar. Rekapitulasi Penilaian Siswa terhadap Media Blog (Weblog) Aspek dan Indikator Skor Maks (%) Interpretasi Kemudahan Penggunaan Blog (weblog) fisika mudah diakses 91 108 84.70 Baik dibaca dengan jelas Fitur gambar blog (weblog) Gambar dalam blog (weblog) dapat 86 108 79.31 %.26 Sangat Baik dan digunakan Konsep GLB dalam blog (weblog) 79 108 73. 342 . pemahaman konsep. dan keterampilan berpikir kritis siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis blog (weblog). Penutup Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data tentang penggunaan media pembelajaran berbasis komputer diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1.

Semarang : Universitas AKI Munir. dan Pemanfaatannya. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Daftar Pustaka Anderson. 2010. Yogyakarta: Graha Ilmu Tuysuz. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran. dan Asesmen. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia. Kanada: Wiley Publishing. Media Pendidikan: Pengertian. Diamond. 2010. Jakarta: Rajawali Pers. Jakarta: Rineka Cipta. Lorin W dan David R. 2010. Aprianto. Jurnal Nasional. Sutirman. Sadiman. 2013. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif. 2011. Stephanie. Azhar. Mariana. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. 2008. Multimedia Konsep dan Aplikasi Dalam Pendidika. Arsyad. Achmad. Agung Prihantoro. Pengaplikasian Virtual Laboratory sebagai Media Pembelajaran Jarak Jauh. Bandung: Alfabeta. Rai. 2010. Pemanfaatan Blog Sebagai Media Alternatif Pembelajaran Matematika Bagi Siswa SMP. Nizar. Blog Sebagai Alternatif Media Pembelajaran. Media Pembelajaran. Kristiyanti. 2013. Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif. International Online Journal of Educational Sciences. Pengembangan Modul Fisika Kontekstual Interaktif Berbasis Web untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Hasil Belajar Fisika Siswa Sma Di Singaraja. Kualitatif. Sujanem. 1986. terj. dkk.. 2012. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Pengajaran. dan R&D. Bandung: ALFABETA. 38 343 . Cengis. Krathwohl. 2012. Pengembagan. Sugiyono. Jurnal Nasional. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Arief S. cet. Slameto. The effect of the Virtual Labooratory on Student’s Achievement and Attitude in Chemistry. Prezi for Dummies. 18. 2012.

Dikarenakan banyaknya konsep yang harus difasilitasi dan kecenderungan bahan-bahan kimia yang relatif mahal maka kesan yang diperoleh adalah ‘’mahal’’ nya pelajaran kimia. cara berpikir. Konsep kimia diperoleh dari teori-teori kecil dan telah berkali-kali diuji sehingga diperoleh teori yang lebih besar lagi. Apabila di sekolah tersedia fasilitas yang terbatas maka dia harus dapat menciptakan sesuatu yang terbatas tersebut menjadi tak terba- tas. Dikarenakan banyaknya teori-teori kecil yang menyusun suatu konsep maka permasalahan yang timbul dalam pembe- lajaran kimia adalah bagaimana seorang siswa memahami kon- sep kimia dan bagi guru adalah bagaimana cara memfasilitasi pencapaian konsep tersebut. pengetahuan. motivasi dan lingkungannya. Dikarenakan banyaknya teori-teori kecil yang menyusun suatu konsep maka permasalahan yang timbul dalam 344 . Seorang guru harus kreatif dalam menghadapi segala keadaan di sekolah. Menghadapi ini semua diperlukan kreati- fitas seorang guru untuk memodifikasi segala sesuatu yang ada untuk mencapai konsep yang ada. Kata kunci: Konsep sains kimia.id Abstrak Berawal dari kenyataan bahwa konsep-konsep sains kimia di- peroleh secara induktif yang merupakan generalisasi dari fakta- fakta empiris. Kreativitas seseorang meru- pakan interaksi dari kecerdasan. kepribadian.co. bahan terbatas. prinsip kon- struksi PENDAHULUAN Konsep-konsep sains kimia diperoleh secara induktif yang meru- pakan generalisasi dari fakta-fakta empiris. KONSTRUKSI KONSEP SAINS KIMIA DENGAN BAHAN TERBATAS Murdoyoko SMA Negeri 28 kabupaten Tangerang Email : syifanaufal@yahoo. Konsep kimia diperoleh dari teori-teori kecil dan telah berkali-kali diuji sehingga diperoleh teori yang lebih besar lagi.

Memperkenalkan dengan kegiatan yang layak Kegiatan yang layak adalah kegiatan yang tidak asing bagi siswa 345 . Memperlakukan alat dan bahan tersebut sebagai berikut : - mereaksikan benda atau bahan yang ada - menunjukkan efek-efek dari perlakuan di atas - menyadarkan siswa terjadinya efek tersebut . Keterbatasan alat dan bahan dalam belajar bukan menjadi masalah jika seorang guru dapat mengeluarkan daya kreatifitasnya. 2. perubahan warna. maka siswa harus melihat secara langsung kasus – kasus dalam kimia misalnya ter- jadinya gas. Untuk mengurangi keabstrakan konsep kimia. menjelaskan secara rinci konsep yang akan dicapai 3. Berbagai alasan disampaikan oleh seorang guru kimia’’ sekolah kami tidak ada labo- ratorium’’ peralatan di laboratoroum kami tidak lengkap’’ dan ber- bagai alasan yang lain. perubahan suhu dan lain- lain. Hal inilah yang akh- irnya banyak menjadi alasan beberapa guru kimia untuk mengajar dengan cara-cara konvensional tanpa adanya inovasi. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan siswa. Tentu tidak. endapan. seb- agai seorang guru harus berinovasi dalam mengajar. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa pembelajaran kimia adalah bagaimana seorang siswa memahami kon- sep kimia dan bagi guru adalah bagaimana cara memfasilitasi penca- paian konsep tersebut. Mahalnya pembelajaran kimia adalah dalam prak- tikum disamping alat-alatnya yang mempunyai spesifikasi tersendiri ataupun bahan-bahan yang sekali pakai habis. Seorang guru harus dapat menggunakan sesuatu yang terbatas ( limited) untuk menghasilkan suatu pengusaan konsep yang tak terbatas ( unlimited). Banyaknya teori pendukung menyebabkan fasilitas yang diper- lukan menjadi banyak dan menjadikan pembelajaran kimia menjadi relatif ‘’mahal’’. Tapi permasalahannya apakah akan berhenti sampai di sini pembelajaran kimia? Apakah tidak ada cara lain untuk mewujudkan kompetensi kimia yang diharapkan?. Dari latar belakang yang diuraikan di atas maka permasalahannya adalah : Bagaimana cara menggunakana alat dan bahan yang terbatas ( limited) sehingga menghasilkan penguasaan konsep yang tak terbatas ( unlimited)? PEMBAHASAN Prisip konstruksi konsep kimia Konsep-konsep kimia yang cenderung abstrak akan dapat tersu- sun dalam diri siswa maka dalam mengajar kimia diharapkan melalui beberapa prinsip sebagai berikut: 1.

Mengajak siswa untuk saling berinteraksi baik dengan alat. siswa harus melaksanakan kegiatan sendiri se- hingga segala bentuk efek yang terjadi akan terpatri pada benak siswa. Professional Learning untuk Indonesia Emas baik dari segi alat. bahan ataupun kegiatannya. kepribadian. 8. guru ataupun sesama siswa. thinking style. motivasi dan lingkungannya. Efek-efek dari perlakuan yang zat-zat diharapkan akan membuat siswa ‘’takjub’’ sehingga menimbulkan rasa ingin bertanya yang besar. Ketika dalam pengajaran seorang guru dihadapkan pada suatu keterbatasan maka dengan kecerdasan. (Ratna Wilis Dahar. Dalam suatu percobaan sebenarnya banyak sekali konsep yang dapat diambil sehingga apabila suatu konsep berhubungan den- gan materi pembelajaran yang berbeda maka percobaan itu dapat diulang kembali. Menekankan untuk timbulnya pertanyaan dari perlakuan yang di- laksanakan. mo- tivasi dan kepribadiannya dia akan berpikir inovatif menggunakan lingkungan yang ada untuk menghasilkan suatu yang maksimal. 7. Respon siswa terhadap efek dalam kegiatan berbeda tapi kita ha- rus menampung semua. pen- getahuan. 4. Kegiatan yang di- laksanakan hendaknya familiar dengan kehidupan siswa. Melaksanakan dengan sederhana tanpa istilah yang membebani pikiran. 1989) Guru Kreatif ‘’Creativity of an individual is an interactive result of his/her intelli- gence. 6. Hal ini dapat diuraikan bahwa seseorang akan dikatakan kreatif jika dapat menggunakan segala potensi yang ada pada dirinya maupun lingkungannya. personality. bahan. motivation and environment’’ ( Tan Ai Girl. Se- hingga yang dinamakan dengan limited is unlimited adalah bagaimana seorang guru mengunakan alat dan bahan yang terbatas ( baik secara 346 . Siswa diajak berpikir dengan cara mereka sendiri. cara berpikir. Membuat istilah dalam kegiatan dengan istilah yang ringan se- hingga siswa tidak terbebani dengan hal-hal yang membingung- kan. 2004) Kreativitas seseorang merupakan interaksi dari kecerdasan. knowledge. Mengulang kegiatan diwaktu yang akan datang. pengetahuan. Dalam melakukan sesuatu maka seorang guru hanya bertindak sebagai fasilitator. 5.

Amati apa yang terjadi dengan korek api. Perkirakan gas apa yang terjadi? Percobaan di atas menggunakan alat dan bahan yang sudah terba- tas kegunaannya : tabung film biasanya dibuang ketika filmnya dipak- 347 . Mengapa balon dapat mengembang? 2. Alat dan bahan yang terbatas secara jumlah adalah alat dan bahan yang jumlahnya sedikit sehingga tidak mencukupi untuk kes- eluruhan siswa. 5. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa jumlah maupun kegunaannya) untuk menghasilkan sesuatu yang tak terbatas. Soda kue sisa 5. Alat dan bahan: 1. Setelah balon-balon mengembang maksimal. 7. Apa yang terjadi dengan korek api? 3. Siapkan tabung bekas dan masukan cuka kedalamnya. Ketika balon mengembang siswa diharuskan menyanyi. 2. Pertanyaan tentang percobaan 1. Masukkan soda kue kedalam tabung tersebut. Dengan cepat tutup tabung dengan balon. 6. Tabung 2. Korek api 4. Diamkan beberapa menit dam amati yang terjadi. Asam cuka sisa Langkah kerja 1. 4. Rencana Pembelajaran dengan prinsip Limited is unlimited Rencana pembelajaran berikut disusun untuk sekolah dengan latar belakang tidak mempunyai laboratorium kimia sehingga diran- cang sebagai berikut: MENIUP BALON SAMBIL BERNYANYI Kompetensi dasar : Siswa mengetahui efek yang menyertai reaksi kimia. Balon 3. Indikator : Siswa dapat mengetahui timbulnya gas pada reaksi kimia. buka tabung ke- mudian dekatkan korek api yang menyala. dan alat dan bahan yang terbatas secara kegunaannya adalah menggunakan alat dan bahan dari modifikasi ataupun bahan yang sudah mempunyai kegunaan terbatas ( barang bekas atau bahan sisa). 3.

348 . Apabila di sekolah tersedia fasilitas yang terbatas maka dia harus dapat menciptakan sesuatu yang terbatas tersebut menjadi tak terbatas. Tapi dari alat dan bahan yang sudah terbatas dapat dihasilkan ses- uatu yang dapat mendukung pencapaian konsep kimia yaitu : 1. KESIMPULAN Seorang guru harus kreatif dalam menghadapi segala keadaan di sekolah. Ketika siswa mencampurkan cuka dan soda kue maka akan ter- bentuk gelembung gas. alat bahan dan se- gala fasilitasnya tapi proses kreativitasnya tidak ada maka yang terjadi adalah Unlimited is limited. ketika seorang ibu membuat kue kadang sisa soda kue dibiarkan begitu saja. begitupun dengan cuka di warung kadang terbuang secara sia-sia. 2. Yang diperlukan dalam proses ini adalah kreativitas seorang guru dalam menghadapi segala keadaan. Setelah siswa dapat melaksanakan proses tersebut dengan baik maka tindak lanjut guru adalah memberikan penjelasan yang lebih lengkap tentang konsep yang diharapkan. Soda kue ataupun cuka juga dapat diambil dari bahan-bahan sisa. Masih banyak konsep kimia yang dapat digunakan untuk men- genalkan konsep kimia pada siswa. dan untuk membuktikannya siswa mema- sang balon pada tabung sehingga balon itu mengembang. Professional Learning untuk Indonesia Emas ai sehingga dalam hal ini tabung reaksi sebagai modifikasi tabung reaksi diperoleh dari bahan yang kegunaannya sudah terbatas. Gas yang mempunyai sifat dapat mematikan pembakaran adalah karbondioksida yang merupakan kebalikan dari gas oksi- gen yang merupakan gas yang fungsinya untuk pembakaran. Konsep yang dapat diberikan kepada siswa adalah salah satu efek yang timbul pada suatu reaksi kimi adalah terjadinya gas. Tapi akan menjadi memprihatinkan jika seorang guru yang diharapkan pada sekolah dengan fasilitas yang tak terbatas : labaratorium. Ketika siswa menguji gas tersebut dengan nyala api teryata apinya mati. Ini adalah salah satu contoh penggunaan alat dan bahan yang ter- batas. Apabila seorang guru dapat berkreasi dengan sesuatu yang terbatas maka jika dihadapkan dengan keadaan sekolah yang segala sesuatu- nya tersedia maka dia akan lebih dapat berkreasi yang besar lagi. Se- hingga yang terjadi adalah unlimited is unlimited.

Portsmouth.2004 . 1992 Mortiner. Teori-teori belajar. Boston : Heinemann.2006 349 . Nederland : Van Nostrand Company. Jakarta :Erlangga. Constructing Knowledge Together. Creativity for teachers. 1989 Tan Ai. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Daftar Pustaka Gordon Wells. Silabus pembelajaran Sains Kimia Untuk SMP. Philadelphia : Marshall Cavendish Aca- demic. 1993 Ratna Wilis Dahar. Introducing Chemistry. Jakarta : Dep- diknas.

58%) yang mencapai KKM dan meningkat pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa menjadi 84. Kata kunci : Strategi Crossword Puzzle . pengajaran. Hal ini terlihat dari presentase aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 68.ac. Melalui proses tersebut dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. dan latihan yang berlangsung disekolah dan di luar sekolah sepanjang 350 . Fauzan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email: fauzan@uinjkt. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dua siklus melalui empat tahapan. dan pemerintahan melalui kegiatan bimbingan. masyarakat. “Edgar Dalle menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga.5 dengan persentase (87. Siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai 79. Edah Jubaedah. Hasil penelitian mengungkapkan.id Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa terhadap pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle. bahwa penerapan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya hasil belajar tiap siklusnya. Selain itu penerapan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle juga meningkatkan aktivitas belajar siswa terhadap pembelajaran IPA.37% menjadi 83. UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF CROSSWORD PUZZLE (Penelitian Tindakan Kelas V SDN Tugu 2 Depok) Dedi Irwandi. Hasil Belajar IPA Pendahuluan Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pematangan kuliatas hidup.94 dengan persentase (70.75% pada siklus II.5%) siswa yang mecapai KKM.

Dimana metode ini tidak begitu banyak mengembangkan keaktifan siswa serta kemampuan berpikir siswa terutama dalam memecahkan suatu permasalahan. 2011: 45). Interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa. atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Aspek perubahan ini mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom. Sistem pembelajaran pendidikan pada umumnya pada saat ini masih didominasi oleh metode ceramah yang bersifat monoton. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa hayat untuk mempersipakan peserta didik agar dapat memainkan perananan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan dating”(Dedi Mulyasana. tetapi jasa sekolah hendaknya sampai pengembangan kepribadian siswa yang mencakup pula pembentukan konatif (kehendak) dan pembentukan afektif (yang berpuncak pada pengalaman nilai hidup yang luhur). Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pembelajaran langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. :43-47). namun pada kenyataannya pelajaran ini dianggap oleh sebagian anak didik (siswa) sebagai mata pelajaran yang relatife sulit. pengajaran bukan hanya berperan (menyambung) dalam pembinaan intelektual (penambahan pengetahuan serta melatih kerja akal) dan bukan hanya mementingkan nilai praktis (pragmatis) yang berupa pelatihan keterampilan kerja. Salah satu cara untuk mengaktifkan belajar siswa dalam proses belajar mengajar yaitu guru harus menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi. Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah laku. dan Mudjiono. konsep-konsep.2011:4). yang bertujuan meningkatkan perkembangan mental sehingga menjadi mandiri dan utuh ( Dimyati. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. Oleh karena itu seorang guru perlu mengetahui kemampuan siswanya setelah terjadi proses pembelajaran dengan cara mengadakan tes. afektif dan psikomotorik (Purwanto. Tes hasil belajar adalah tes yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan guru kepada murid-muridnya (Ngalim purwanto. Dari hasil observasi penulis di SDN TUGU 2 pada tanggal 09 Juli 2013 pada kelas V pada mata pelajaran IPA menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan secara 351 . oleh sebab itu sangat dianjurkan agar guru menggunakan kombinasi metode atau strategi pembelajaran setiap kali mengajar. Simpson dan Harrow mencakup aspek kognitif. sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta. Pengajaran di sekolah yang ditujukan kepada siswa harus bersifat mendidik (membangun siswa seutuhnya). 2006 : 7).

(3) Metode atau Strategi yang kurang bervariasi sehingga membuat siswa merasa jenuh dan bosan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini tampak pada proses pembelajaran terdapat beberapa kelemahan. Berdasarkan dari beberapa masalah yang ada pada hasil observasi sebelumnya.85 masih di bawah KKM.( Hisyam Zaini. Professional Learning untuk Indonesia Emas optimal. melaksanakan. tetapi Crossword Puzzle juga melibatkan semua siswa untuk berpikir dalam pembelajaran ketika mengisi Teka-Teki Silang. Bukan hanya dalam keaktifan siswa saja. karena dengan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle dapat melibatkan siswa secara aktif sejak awal dan menyenangkan. (4) Banyaknya siswa yang melamun dan mengantuk saat pembelajaran berlangsung. peneliti hanya mengambil satu masalah saja yaitu. Active Learning merupakan suatu strategi ataupun teknik yang dikembangkan untuk siswa agar lebih aktif belajar. Crossword Puzzle adalah salah satu strategi pembelajaran aktif bagi siswa yang dapat digunakan sebagai alat pembelajaran yang baik tanpa kehilangan esensi belajar yang sedang berlangsung. Crossword Puzzle juga sebagai salah satu metode pengajaran permainan kelas yang digunakan untuk meningkatkan persaingan siswa dengan kelompok. dengan kesan yang didapat siswa pada materi yang sedang dipelajari lebih kuat sehingga dapat menigkatkan hasil belajar siswa. peneliti menggunakan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle. dan menilai proses pembelajaran serta hasil pembelajaran. Dalam metode ini dapat melibatkan semua siswa untuk berpikir dalam pembelajaran pada waktu mengisi Teka-Teki Silang (Crossword Puzzle) dan semua siswa antusias dalam mengikuti pelajaran. 2008 : 71). (5) dimana hasil belajar IPA kelas SDN Tugu 2 dari 36 siswa masih di bawah rata-rata KKM. Dengan kesan yang 352 . Untuk mengatasi permasalahan tersebut. Perlunya Active Learning dalam pembelajaran untuk mengoptimalkan kadar keaktifan siswa dalam belajar merencanakan. tentang hasil belajar IPA siswa yang masih rendah. (2) Keaktifan dalam proses pembelajaran masih kurang baik dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan yang diberikan guru. berdasarkan hasil nilai ulangan harian IPA kelas 5 SDN Tugu 2 tahun 2012/2013 pada konsep Tumbuhan Hijau rata-rata siswa memperoleh 62. Bahkan metode ini melibatkan siswa secara aktif sejak awal. yaitu (1) Sebagian siswa kurang termotivasi dan kurang tertarik belajar karena kurang meyukai materi dan kurang tertarik dengan penyampain guru. Crossword Puzzle dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran yang baik dan menyenangkan sehingga pembelajaran akan lebih efektif. Salah satu strategi dalam Active Learning adalah Crossword Puzzle atau Teka-Teki Silang (TTS).

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa didapat siswa tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari lebih kuat. 2006:256). Pelaksanaan terdiri dari dua siklus. pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembahasan Tahapan penelitian diawali dengan obeservasi pendahuluan. observasi dan refleksi (Suharsimi Arikunto. kemudian peneliti menjelaskan prosedur kerja dengan menggunakan Teka-teki silang (TTS) lalu memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS). diawali dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). serta wawancara dengan beberapa siswa yang diambil secara acak. Tahapan ini dilaksanakan pada tanggal 06 s/d 10 Juli 2013. pada tahapan ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan. Bahkan interaksi ini lebih didominasi oleh interaksi siswa dengan siswa sedangan guru hanya bersifat sebagai moderator saja. Selama proses berlangsung peneliti dan guru berkeliling kepada setiap kelompok untuk memberikan bimbingan. mengamati proses pembelajaran di kelas. kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan. yang terdiri dari tahap perencanaan. Masing-masing kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan soal yang ada di LKS. dorongan dan menilai kemampuan berpikir 353 . Dan pelaksanaan dari siklus I ke siklus II terdiri dari delapan kali pertemuan. mengetahui hambatan apa yang terjadi selama proses pembelajaran. Tahap pada pelaksanaan siklus I dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali pertemuan dengan alokasi waktu 2x35 menit untuk setiap pertemuan. setiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Crossword Puzzle dapat diselesaikan secara individu atau secara tim/kelompok (Melvin L. menentukan konsep bahasan. Dimana subjek penelitian ini adalah siswa kelas V dengan jumlah siswa 36 orang. Metode Crossword Puzzle sangat efektif karena mampu meningkatkan aktivitas dan kreativitas dalam bentuk interaksi baik antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa lainya. Dalam kegiatan ini meliputi wawancara guru kelas. Setelah materi sudah dijelaskan peneliti membagi kelompok menjadi 6 (enam) kelompok dan siswa pun membuat kelompok berdasarkan yang telah ditentukan oleh peneliti. aktivitas dan respon siswa saat proses pembelajaran. Pada tahap perencanaan siklus I. dan di tambah 1(satu) kali pertemuan untuk tes.Silberman. Penelitian pendahuluan dimulai dengan observasi ke SDN Tugu 2 hal ini dilakukan sebagai langkah awal penelitian tindakan kelas. Kemudian peneliti mempersiapkan instrumen-instrumen penelitian. 2006 : 3). Pada siklus I. serta untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa. pelaksanaan.

354 . d) Pada saat mengerjakan LKS masih ada beberapa siswa yang bercanda dan ngobrol. Serta ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang di LKS sehingga sempat menyontek ke kelompok lain karena malu bertanya dan ada beberapa kelompok salah penulisan dalam menjawab. sehingga pembelajaran belum berjalan kondusif. Professional Learning untuk Indonesia Emas dan diskusi. b) Pertemuan selanjutnya peneliti dan siswa belum bisa menyesuaikan diri dalam proses pembelajaran. Berikut ini tabel hasil observasi guru selama tindakan pertama. h) Kurang termotivasinya siswa dalam pembelajaran. e) Ada beberapa siswa yang kesulitan menjawab sehingga menyontek ke kelompok lain. pengamatan dilakukan oleh observer (wali kelas) yang mencatat seluruh aktivitas guru selama proses pembelajaran. guru memberikan reward (penghargaan) pada setiap kelompok yang dapat mngerjakan LKS TTS dengan baik dan benar sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Adapun temuan-temuan tersebut antara lain: a) Pada pertemuan pertama guru belum bisa sepenuhnya menguasai siswa. Pada siklus I. Peneliti memberikan batas waktu untuk menyelesaikan LKS tersebut. Pelaksanaan siklus I sudah berlangsung dengan baik. maka setiap kelompok untuk mengumpulkannya. Dan siswa pun masih terbilang pasif c) Siswa masih gaduh pada saat pembentukkan kelompok. Setelah batas waktu yang ditentukan telah habis. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran. Pada saat pengerjaan berkumpul dengan kelompoknya suasana kelas sangat gaduh karena siswa belum terbiasa untuk belajar kelompok dan pada saat pengerjaan LKS beberapa siswa masih ada yang bercanda dan ngobrol. g) Masih malu-malu ketika mempresentasikan hasil kerjanya. namun ada beberapa temuan pada aktivitas guru maupun aktivitas siswa. f) Pada saat mengerjakan LKS ada beberapa kelompok yang tidak tepat waktu sesuai waktu yang telah ditentukan. Hasil observasi yang dilaksanakan pada saat pembelajaran berlangsung.

33 61.67 68. guru mengikuti setiap aspek yang diamati dalam lembar observasi dan melakukan 355 . Guru memberikan motivasi 40 60 60 53 positif pada saat pembelajaran. 5. Guru mengkondisikan kesiapan 60 80 80 73 pelaksanaan pembelajaran 2. 11. 12. Guru menjelaskan 5 prosedur 40 60 60 53 pembuatan TTS 9. Guru memberikan refleksi pada 60 60 60 60 materi yang telah disampaikan dan memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. 10. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Hasil Observasi Guru Siklus I No Aspek yang diamati P.58 Keterangan Baik Berdasarkan tabel diatas terkait kegiatan guru. Guru menyampaikan 2 tujuan 40 60 80 60 pembelajaran yang hendak dicapai 4.33 62. Guru membuat kelompok 60 60 80 73 belajar siswa 8. Guru menggunakan media 60 60 80 73 pembelajaran sesuai materi 7. Guru mengajukan pertanyaan/ 60 60 60 60 apersepsi 3. Guru bekerja sama dan 60 60 60 60 bertanggung jawab pada proses pembelajaran dengan membimbing dan mengarahkan siswa.2 P.1 P.3 Rata-rata (%) (%) (%) (%) 1. 6. Guru menutup pembelajaran 60 60 80 73 dengan mengucap hamdallah dan do’a Jumlah 53. Guru memberikan kesempatan 40 60 60 53 siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Guru memberikan penjelasan 60 60 60 60 materi pelajaran.

356 . Pretest dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan pendahuluan penelitian untuk mengetahui data awal siswa dalam pembelajaran.25 Keterangan Baik Berdasarkan tabel di atas hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan bahwa rata-rata persentase aktivitas belajar siswa pada saat pembelajaran IPA dengan menerapkan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle sebesar 53.25%. Siswa mempresentasikan hasil 60 60 60 60 kerja kelompok 7. Sesuai data yang diperoleh ada peningkatan hasil observasi guru pada setiap pertemuannya dari 53. Siswa menutup pembelajaran 60 80 80 73 dengan berdo’a atau mengucap hamdallah Jumlah 50 62. Dapart dilihat pada tabel berikut: Hasil Observasi Siswa Siklus I No Aspek yang diamati P.5 70 53. terlihat dari beberapa siswa yang masih pasif dalam melakukan diskusi dengan kelompoknya. Siswa mengerjakan LKS TTS 60 60 80 67 6. Professional Learning untuk Indonesia Emas setiap langkah yang berada di RPP.3 Rata-rata (%) (%) (%) (%) 1. kedua dan ketiga. Siswa aktif bertanya pada guru 40 60 60 53 8. khususnya terhadap materi yang akan menjadi pokok bahasan dalam tindakan penelitian. 5.1 P.33% s/d 68. Hal ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa masih belum sempurna. Siswa menjawab pertanyaan/ 40 60 60 53 apersepsi 3.2 P.33%. Siswa menjawab absensi 60 60 80 67 2. perkelompok 6 orang.58% dengan keterangan baik. Siswa mendengarkan 2 tujuan 40 60 60 53 pembelajaran 4. jadi hasil rata-rata kegiatan guru pada siklus 1 adalah 62. Siswa Membentuk kelompok 40 60 80 60 belajar . Jika semua aspek ini diamati menunjukkan bahwa siswa belum terbiasa belajar dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle. Sedangakan untuk hasil observasi terhadap siswa siklus I pada pertemuan pertama.

6 40 7 S.11 60 12 S.28 20 29 S.23 53 24 S.19 67 No Nama Nilai 20 S.5 80 6 S.26 60 27 S.13 60 14 S.22 20 23 S.21 67 22 S.20 60 21 S.29 40 30 S.3 33 4 S.24 73 25 S.31 53 357 .30 40 31 S.27 27 28 S.18 27 19 S.8 53 9 S.16 47 17 S.4 47 5 S.15 73 16 S.10 53 11 S.14 67 15 S.25 47 26 S.12 47 13 S.Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Nilai Pretest pada siklus I No Nama Nilai 1 S.17 53 18 S.1 40 2 S.9 67 10 S.2 60 3 S.7 33 8 S.

26 73 8 S.27 67 9 S.24 93 6 S.6 93 25 S.17 60   kelas 79.1 93 20 S.29 67 11 S.11 67 30 S.31 60 13 S.7 67 26 S.2 87 21 S.30 93 12 S.18 93   %Ketuntasan 70.21 73 3 S.16 67   ∑ 2718 %Rata-rata 17 S.Tes ini dimaksudkan untuk mengukur tingkat pencapaian kemampuan serta ketuntasan belajar siswa terhadap pokok bahasan pada materi yang ingin disampaikan pada saat tindakan penelitian. 72 % pencapain KKM 9.32 60 14 S.33 40 Rata-rata Nilai 50. Nilai Post test Siklus Pada Siklus I No Nama Nilai No Nama Nilai 1 S.14 80 33 S.10 80 29 S. pada setiap akhir siklus dilakukan tes hasil belajar yang dinamakan dengan tes akhir siklus.58 19 S.32 67 33 S.23 93 5 S.19 80 Pada pembuatan perencanaan siklus II tidak jauh berbeda dengan tahap siklus I.33 93 15 S.4 93 23 S.13 87 32 S.12 93 31 S. Yaitu perencanaan tindakan dimulai dengan menyiapkan 358 .9 73 28 S.22 73 4 S.20 93 2 S.8 93 27 S.34 80 16 S.15 87 34 S. Professional Learning untuk Indonesia Emas 32 S.3 93 22 S.09   ∑ 1774 Untuk mengukur hasil belajar siswa.25 67 7 S.5 87 24 S.94 18 S.28 60 10 S.

7 Rata-rata (%) (%) (%) (%) 1. Hasil Observasi Guru Siklus II No Aspek yang diamati P. target yang ingin dicapai adalah hasil belajar siswa dapat meningkat dari hasil belajar siklus I dan aktivitas siswa untuk memenuhi indikator keberhasilan penelitian. Berikut ini tabel hasil observasi guru selama tindakan siklus II. Dalam mengerjakan LKS TTS pada siklus II ini. Guru 2 menyampaikan tujuan 80 80 80 80 pembelajaran yang hendak dicapai 4.7.6 P. Tabel 4. Guru memberikan kesempatan 60 80 80 73 siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Guru memberikan motivasi positif 60 80 100 80 pada saat pembelajaran. Selain itu. Guru memberikan penjelasan 80 80 80 80 materi pelajaran 6. Pada siklus II ini. dengan menetukan konsep bahasan. guru juga sudah memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam siklus I. dan sebelum waktu yang telah di tentukan habis maka setiap kelompok sudah mengumpulkan LKS kepada peneliti. Guru menjelaskan 5 prosedur 60 80 80 73 pembuatan TTS 9. sehingga pada pelaksanaan siklus II kekurangan-kekurangan tersebut tidak muncul kembali. Sedangkan materi yang akan diajarkan pada siklus II adalah ketergantungan manusia dan hewan pada tumbuhan hijau sebagai sumber makanan. 5. siswa sudah dapat berkerjasama lebih baik dengan kelompoknya. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru menggunakan media 80 80 100 87 pembelajaran sesuai materi 7. Guru mengajukan pertanyaan/ 60 80 80 73 apersepsi 3. 359 .5 P. Guru membuat kelompok belajar 80 80 80 80 siswa 8. selanjutnya RPP yang telah dibuat didiskusikan oleh kolabolator serta sehubungan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru mengkondisikan kesiapan 80 80 80 80 pelaksanaan pembelajaran 2. Dan tingkat kepercayaan diri mereka meningkat dan tidak malu-malu lagi dalam berdiskusi dan mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas serta pada saat mengerjakan LKS setiap kelompok siswa berlomba-lomba untuk cepat menyelesaikan LKS tersebut.

7 dalam lembar observasi kegiatan guru pada siklus II adalah 78. Siswa mengerjakan LKS TTS 60 80 80 73 6.25% dengan keterangan cukup baik sedangkan rata-rata persentase pada siklus II sebesar 80. Professional Learning untuk Indonesia Emas 10. Siswa menjawab absensi 80 80 80 80 2.75% dengan keterangan baik. Guru memberikan refleksi pada 60 80 80 73 materi yang telah disampaikan dan memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya.58%.75 Keterangan Sangat baik Berdasarkan tabel 4. perkelompok 6 orang. 12. Siswa mendengarkan 2 tujuan 80 80 80 80 pembelajaran 4. 11.8 hasil observasi aktivitas siswa terlihat bahwa aspek-aspek yang terendah pada siklus I hanya mencapai 60% mengalami peningkatan pada siklus II hingga mencapai 80%.67 85 78.6 P. Siswa aktif bertanya pada guru 60 80 80 73 8. 5. Guru bekerja sama dan bertanggung 60 80 80 73 jawab pada proses pembelajaran dengan membimbing dan mengarahkan siswa. Siswa mempresentasikan hasil 80 80 100 87 kerja kelompok.5 80.75% 360 .5 87. 7. Rata- rata persentase pada siklus I sebesar 53. dibanding hasil rata- rata kegiatan guru pada siklus I adalah 62. Hasil Observasi Siswa No Aspek yang diamati P. Siswa Membentuk kelompok 80 80 100 87 belajar .5 P. Siswa menutup pembelajaran 80 100 100 93 dengan berdo’a atau mengucap hamdallah Jumlah 72.5 82. Guru menutup pembelajaran 80 100 100 93 dengan mengucap hamdallah dan do’a Jumlah 70 81. Siswa menjawab pertanyaan/ 60 80 80 73 apersepsi 3.75 Keterangan Baik Berdasarkan tabel 4.7 Rata-rata (%) (%) (%) (%) 1.

Nilai Post test Siklus Pada Siklus II No Nama Nilai No Nama Nilai 1 S. pada siklus II ini secara keseluruhan mengalamai peningkatan mulai dari hasil belajar siswa meningkat hingga 16% jika dibandingkan dengan ketuntasan hasil belajar pada siklus I.33 73 15 S.22 93 4 S.12 80 33 S. Adapun Rekapitulasi data hasil tes siklus II dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 4. Namun secara umum.28 73 10 S.17 73 ∑ 2706 18 S.10 93 31 S.19 80 %Ketuntasan 87.27 60 9 S. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi tindakan yang diharapkan telah tercapai. hasil akhir siklus menunjukkan kenaikan dari siklus sebelumnya dan skor yang didapatkan siswa lebih tinggi jika dibandingkan dengan siklus-siklus sebelumnya.6 60 27 S.14 87 35 S. 361 .13 80 34 S.30 100 12 S.4 Izin 25 S.5 93 26 S.29 67 11 S.7 93 28 S.20 87 2 S.5 20 S20 87 Berdasarkan pada tabel di atas.21 73 3 S.15 93 36 S.25 87 7 S.26 100 8 S.3 87 24 S.8 53 29 S.9 100 30 S.31 Sakit 13 S. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dengan keterangan baik.34 Sakit 16 S. Hal tersebut dapat dilihat pula pada gambar di bawah ini.18 Sakit %Rata-rata kelas 84.2 87 23 S.23 87 5 S.1 93 22 S.56 19 S.32 87 14 S.11.11 87 32 S.24 100 6 S.16 93 17 S.

Hal ini menunjukkan bahwa intervensi tindakan yang diharapkan telah tercapai. 362 . Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan kegiatan guru pada siklus I dan siklus II. Diagram di atas memperlihatkan hasil persentase.58% dan pada siklus II mencapai 87.5%. Professional Learning untuk Indonesia Emas Berdasarkan Diagram diatas memperlihatkan bahwa hasil belajar pada siklus I mencapai 70. setelah diterapkanya strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle.

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Berdasarkan data yang telah diuraikan diatas. sedangkan ketuntasan belajarnya 70. yaitu > 75% siswa telah mencapai telah mencapai ketuntasan hasil belajar.58% pada siklus I interventasi masih belum tercapai. Hal ini menunjukkan bahwa pada sekilus II mengalami peningkatan hasil belajar siswa.5%. Penutup Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa pada materi tumbuhan hijau. telah terbukti secara ilmiah atau hipotesis diterima. Atas dasar hasil tersebut maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini bahwa “Terdapat peningkatan hasil belajar IPA dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle siswa kelas V SD Negeri Tugu 2 kota depok”. Pada siklus II nilai rata-rata kelas 84. 363 .94. dan rata-rata keaktifan siswa dalam pelajaran IPA termasuk kategori baik dan rata- rata kegiatan guru dalam menggunakan strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle termasuk kategori baik.5 untuk ketuntasan belajar siswa sebesar 87. Sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran aktif Crossword Puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh sebab itu peneliti mengambil keputusan bahwa kegiatan penelitian dihentikan. Perolehan hasil belajar atau posttest pada siklus I nilai rata-rata kelas mencapai 79. maka target yang telah ditetapkan dalam penelitian ini tercapai. sesuai dengan intervensi tindakan yang diharapkan yaitu tujuh puluh lima persen (75%) siswa kelas V SDN Tugu2 kota Depok mengalami ketuntasan belajar individual sebesar ≥ 70 dalam pembelajaran IPA pada materi tumbuhan hijau.

Strategi Pembelajaran Aktif. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Diakases 27 januari 2009 Siberman. Pembelajaraan Aktif (Active Learning) (online). 2008. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT.com. Tersedia: www. Ngalim. 2006 Dimyati. Rieneka Cipta. 2011. 2006. 2011. Bumi Aksara. Professional Learning untuk Indonesia Emas Daftar Pustaka Arinto. Remaja Samadhi. Ari. Bandung: PT. Teaching Improvement Worksop. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Pendidikan Bermutu dan Berdaya saing.M. Hisyam Zaini. Rosdakarya. Jakarta: PT. Mel. 2006. jurnalskripsi. Jakarta: PT. Evaluasi Hasil Belajar. Purwanto. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani. 364 . Purwanto. Ngalim. Suharsimi. 2008 Mulyasana. Remaja Rosdakarya.T. Penelitian Tindakan Kelas. dan Mudjiono. Yogyakarta:Pustaka Insan Mardani. Dedi. Engineering Education Develoment Project APD Loan No 1432-INO.

Dysgraphia is a learning disability that affects writing. UPAYA PENANGANAN GANGGUAN DISGRAPIA PADA ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI PENDEKATAN TEKNIK SCAFFOLDING Nandang Kosim STAI Syekh Manshur Pandeglang Email: kndangs@yahoo. Scaffolding is learning activities which connect the real experience of the children to the teaching and learning process to reach the aim of the study. It is by using a simple language and showing some pictures in cooperative learning. Teknik Scaffolding Pendahuluan Sebagai mana kita ketahui bahawa setiap individu mempunyai tugas-tugas perkembangan untuk memenuhinya. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. which requires a complex set of motor and information processing skills. Dysgraphia makes the act of writing difficult. But in fact. Oleh karena itu. it are: 1) using simple language. There are many steps that should the teachers apply in scaffolding technique. 2) fulfilling an incomplete sentence or paragraph by choosing an available answer. Kata kunci : Gangguan Disgrapia.com Abstract: Children in Elementary Education have their development tasks that must be fulfilled by the teachers. poor handwriting and putting thoughts on paper. many children have learning process difficulty and disability such as dysgraphia. Karakteristik perkembangan anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang  berada pada rentangan usia dini. and 3) using some pictures to give an information. pada masa ini seluruh potensi yang 365 . The right process of teaching and learning by the teachers is the key to fulfill those tasks. Anak Sekolah Dasar. Demikian pula pada anak usia Sekolah Dasar memerlukan kemampuan untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya. An effort to handle dysgraphia problem is the application of scaffolding technique in the process of learning of writing. It can lead to problems with spelling.

diskriminasi visual. Padahal kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa. Meskipun selalu ditulis paling akhir. 2008). senang berbicara. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. memahami sebab akibat dan berkembangnya  pemahaman terhadap ruang dan waktu (Yusran. bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pendidikan anak. mengelompokkan obyek. 2014). berminat terhadap angka dan tulisan. Keterampilan dasar kesiapan menulis harus dikembangkan sebelum anak memulai belajar menulis. Gangguan disgrafia mengacu kepada anak yang mengalamai hambatan dalam menulis. sehingga penulis harus mampu memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan tata tulis. koordinasi mata dan tangan. bila tidak dideteksi secara dini dan tidak dilakukan terapi secara benar. Professional Learning untuk Indonesia Emas dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. meskipun intelegensianya normal (bahkan ada yang di atas rata-rata) dan dia tidak mengalami gangguan dalam motorik maupun visual. Dalam pembagian kemampuan berbahasa. berbicara. Menulis memerlukan keterampilan pengendalian otot. menulis selalu diletakkan paling akhir setelah kemampuan menyimak. dan membaca. yang meliputi hambatan fisik. Menurut  Ira sebagaimana dikutip dari Hasani (2005) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Gangguan ini juga bukan diakibatkan oleh masalah ekonomi dan sosial tetapi merupakan hambatan neurologis dalam kemampuan menulis. dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan. meningkatnya  perbendaharaan kata. 366 . Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi. mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya (Sofa. bukan berarti menulis merupakan kemampuan yang tidak penting. Kesulitan belajar pada anak. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu. Anak dengan gangguan disgrafia mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka. Salah satu masalah yang banyak ditemukan di Sekolah Dasar adalah mengenai gangguan disgrafia (lebih lanjut penulis katakan kesulitan menulis). struktur bahasa dan kosa kata. Dalam menulis semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh agar mendapat hasil yang benar-benar baik. seperti: tidak dapat memegang pensil dengan benar atau tulisannya jelek.

serta cara penulisan huruf itu sendiri (Yusuf. kondisi tersebut menunjukkan berfungsinya sel-sel otak yang perlu dirangsang supaya berkembang secara optimal. dan mampu memperkaya pengalamannya. 2005). perbedaan individu pula yang menyebabkan perbedaan tingkah laku anak. di mana anak dapat menyampaikan ide. Gangguan Disgrafia pada anak bila tidak dideteksi secara dini dan tidak dilakukan terapi yang benar. menggambar dengan ujung jari. tapi mempunyai kesulitan dalam  menulis (Disgrafia). Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya. Yakni kesulitan khusus di mana anak- anak tidak bisa menuliskan atau mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. pikiran dan perasaannya melalui untaian kata-kata yang bermakna. karena anak yang mengalami kesulitan menulis ini tidak bisa menuangkan dan mengemukakan ide dengan baik. Kesulitan menulis akan menjadi hambatan dalam proses pembelajaran anak. misalnya memotong dengan gunting. itulah yang disebut dengan Disgrafia. karena mereka tidak bisa menyuruh atau menyusun kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Kesulitan ini tidak tergantung kemampuan lainnya. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pengendalian otot dapat dikembangkan melalui aktivitas manipulatif. Kegiatan menulis dasar sudah dapat dimulai saat anak menunjukkan perilaku seperti mencoret-coret buku atau dinding. menelusuri dan mewarnai. anak yang tidak mampu menulis sebagaimana mestinya. Kemampuan menulis berhubungan dengan kemampuan motorik yakni motorik halus karena menekankan pada kordinasi otot tangan dan jari atau kelenturan tangan yang bersifat keterampilan. karena setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda. Koordinasi mata dan tangan dapat dilatih melalui kegiatan menggambar lingkaran dan bentuk geometri lain. Menulis merupakan kegiatan kebahasaan yang memegang peran penting dalam dinamika peradaban manusia. Pada anak-anak umumnya kesulitan ini terjadi pada saat anak mulai belajar menulis. Disgrafia seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan 367 . mengemukakan gagasan baik dari dalam maupun luar dirinya. Semua keterampilan dasar sangat diperlukan untuk mengenal berbagai bentuk huruf. Dengan menulis orang dapat melakukan komunikasi. Sehingga harus ditempuh upaya penyelesaian untuk mengatasi permasalahan disgrafia ini. Aktivitas belajar menulis bagi setiap anak tidak selamanya berangsur secara wajar. bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pendidikan anak. Menulis merupakan salah satu media untuk berkomunikasi. makna.

Pengertian Disgrafia Disgrafia berasal dari bahasa Yunani berarti kesulitan khusus yang membuat anak sulit untuk menulis atau mengekspresikan pikirannya ke dalam bentuk suatu tulisan dan menyusun huruf-huruf. struktur kalimat yang kacau atau tidak lengkap. tidak mengikuti alur garis yang 368 . kita harus mengenal terlebih dahulu beberapa ciri khususnya. Saat menulis. hanya saja ia memiliki hambatan. anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Kesulitan menulis dapat muncul dalam bentuk penggunaan kata yang tidak tepat. Mulyono (2003) mengemukakan bahwa disgrafia adalah kesulitan belajar dalam hal menulis. kesalahan penggunaan ejaan. Sulit memegang pensil dengan mantap. g. Orang dengan disgrafia sering berjuang dengan menulis bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Ciri-ciri Gangguan Disgrafia Untuk mengetahui tentang sejauhmana anak Sekolah Dasar yang mengalami gangguan Disgrafia. b. Professional Learning untuk Indonesia Emas oleh orang tua dan guru. Caranya memegang alat tulis seringkali terlalu dekat. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang  menulis. Anak tampak harus berusaha keras dalam mengkomunikasikan suatu ide. Adapun beberapa ciri khusus anak yang mengalami gangguan disgrafia antaranya adalah: a. Disgrafia adalah ketidakmampuan dalam menulis. penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur. Hal ini juga bisa disertai dengan gangguan motorik halus. Cara menulis tidak konsisten. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional. terlepas dari kemampuan untuk membaca. bahkan menempel pada kertas. Menurut Djaja (2010) Disgrafia adalah kesulitan belajar yang berkaitan dengan masalah menulis. c. e. f. atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis. serta sistematika penulisan yang tidak teratur. Akibatnya. pengetahuan atau pemahamannya lewat tulisan. penggunaan tanda baca dan huruf kapital yang kacau. Kelainan ini diketahui secara mendasar dari perbedaan nilai antara nilai anak yang tinggi pada tes inteligensi dan nilai yang rendah pada nilai tes yang diperoleh dari menulis. d. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.

e. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada (http://klinikautisindonesia. f. (2) Mengekspresikan pikiran atau perasaan seperti mengarang. Writing via invented spelling. Morrow (1993) juga membagi kemampuan menulis anak menjadi enam tahapan sebagai berikut : a. yaitu menulis dengan cara membuat bentuk seperti huruf. di mana anak dapat menyampaikan makna. Writing via making letter-like forms. Keterampilan menulis sejalan dengan membaca. menulis memiliki batasan sebagai berikut : (1) Membuat huruf. Writing via scribbling yaitu menulis dengan cara menggores. Anak menulis huruf-huruf dengan mencontoh misalnya mencoba untuk menulis namanya. d. yaitu menulis dengan cara menghasilkan huruf-huruf atau unit yang sudah baik. ide. Menurut Poerwadarminta (1982). kapur dan sebagainya. h. yaitu menulis dengan cara mengeja langsung. Konsep Keterampilan Menulis Menulis merupakan salah satu media untuk berkomunikasi. c. Dalam tahap ini anak telah dapat mengeja secara benar baik dari segi susunan maupun ejaannya. 369 . yaitu menulis dengan mencoba mengeja satu persatu. dan lainnya dengan tulisan. Writing via conventional spelling. Dalam tahap ini anak mencoba mengeja dengan cara coba-salah (trial and error). pikiran dan perasaannya melalui kata-kata yang bermakna. kata maupun kalimat. Writing via reproducing well-learned unit or letter stings. potlot. Dengan demikian menulis bukanlah sekedar membuat huruf- huruf ataupun angka pada selembar kertas dengan menggunakan berbagai alternatif media. Pada anak usia SD sudah mencapai kematangan dalam hal aktivitas fisik/tangan.com). wordpress. Senada dengan pernyataan tersebut Badudu (1982) mengemukakan bahwa menulis adalah menggunakan pena. Anak tidak hanya membuat goresan tetapi sudah melibatkan unsur kreasinya. membuat surat. Karena menulis memerlukan kebiasaan penggunaan aktivitas fisik/tangan. kain ataupun papan yang menghasilkan huruf. ball point di atas kertas. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa tepat dan proporsional. Writing via drawing yaitu menulis dengan cara menggambar b. melainkan merupakan upaya untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran yang ada pada diri individu. angka dan lainnya dengan pena. bahwa penguasaan menulis dipengaruhi oleh frekuensi anak melakukan/ belajar menulis.

Seperti halnya disleksia. Penyebab disgrafia disebabkan karena faktor neurologis. tetapi diduga karena adanya kejadian traumatik yang mengganggu perkembangan si anak. 2006). dan tidak mau belajar (Delphie. Professional Learning untuk Indonesia Emas Sedangkan Feldman (1991) memberikan batasan tentang tahapan kemampuan menulis pada anak sebagai berikut : (a) Scribble on the page. Kelainan neurologis ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik. disgrafia juga disebabkan faktor neurologis. namun apabila disgrafia terjadi secara tiba-tiba pada anak maupun orang yang telah dewasa maka diduga disgrafia disebabkan oleh trauma kepala entah karena kecelakaan. Kesulitan ini tak terkait dengan masalah kemampuan intelektual. penyakit. kemalasan. dan seterusnya. Anak mengalami kesuitan dalam harmonisasi secara otomatis antara kemampuan mengingat dan menguasai gerakan otot menulis huruf dan angka. asal-asalan menulis. Memori anak yang sulit mengingat kembali yang hal-hal yang didengar dan dilihat juga menjadi unsur yang penting yang harus diperhatikan. (Maura. Di samping itu para ahli juga menemukan bahwa anak dengan gejala disgrafia terkadang mempunyai anggota keluarga yang memiliki gejala serupa. yaitu belajar mengeja. yaitu mencontoh huruf. dan (c) Invented spelling. yaitu membuat goresan pada kertas. Penyebab disgrafia belum diketahui penyebabnya . terdapat defisit sensorik penyimpanan laterisasi yang ada di otak. Penyebab Terjadinya Gangguan Disgrafia Secara spesifik penyebab disgrafia tidak diketahui secara pasti. Demikian ada kemungkinan faktor herediter ikut berperan dalam disgrafia. Anak mulai tertarik untuk mencontoh huruf-huruf seperti kata mama. Pada tahap ini anak membuat gambar ataupun huruf-huruf yang terpisah. Motorik halus yang lemah dalam hal gerak tangan yang lemah dalam menekan pensil akan meyulitkan anak dalam mengembangkan kemampuan menulis. Pengaruh keturunan juga ikut andil dalam penyebab disgrafia. papa dan sebagainya. Perilaku anak yang kurang memperhatikan dan konsentrasi akan menghambat anak untuk menulis. yaitu faktor gangguan pada otak kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan menulisnya. Hal yang menyulitkan menulis adalah persepsinya yang sulit dalam mendengar dan membedakan huruf-huruf. seperti tidak 370 . Dalam tahap ini anak mulai menemukan cara mengeja dan menuliskan huruf sesuai dengan bunyinya. Penyebab lainnya yaitu masalah neurologis. (b) Copy word. 2012). yakni adanya gangguan pada otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis.

misalnya: memecah tugas menjadi lebih kecil. (2) merangsang kreativitas siswa. melaksanakan pembelajaran kooperatif. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Veeramuthu (2011) mengemukakan tujuan dan pengertian pembelajaran scaffolding tersebut antara lain : (1) memacu perkembangan siswa. kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. tingkat perkembangan kemampuan anak itu berada dalam dua tingkatan/level. Scaffolding memungkinkan peserta didik untuk mendapat bantuan melalui keterampilan baru atau di luar kemampuannya. melakukan tanya jawab. khususnya terkait dengan ide tentang Zona Proximal Development. Ragam bantuan yang diberikan tergantung pada tingkat kesulitan yang dialami siswa. strategi. memberi petunjuk konkret. (3) 371 . melakukan dialog dalam kelompok kecil. siswa memerlukan tangga atau jembatan untuk mencapainya. mengajak berpikir ulang. atau melakukan pemodelan. membahasakan proses berpikir jika tugasnya kompleks. Scaffolding atau mediated learning adalah teori yang dikemukakan oleh Vigotsky. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka. Di samping itu. aturan atau saran) pembelajar memberikan peserta didik dalam situasi belajar. Zona antara tingkat kemampuan aktual dan potensial itu disebut zona proximal development. Sebagai syarat untuk mencapai tingkat kemampuan potensial itu. Bantuan itu diberikan agar siswa tidak frustasi karena mengerjakan tugas atau suatu keterampilan yang sulit dicapai/dilaksanakan. dan prosedur-prosedur kunci untuk melaksanakan tugas atau memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran. Salah satu tangga itu adalah bantuan dari seorang guru yang berupa penggunaan dukungan atau bantuan tahap demi tahap dalam belajar dan pemecahan masalah. Menurut Vigotsky (1978). Pendekatan Teknik Scaffolding Pengertian Teknik Scaffolding Scaffolding adalah bantuan (parameter. bila diperlukan bantuan dapat berupa: mengaktifkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki siswa. mengatur bagian-bagian. yaitu tingkat kemampuan aktual (yang dimiliki anak) dan tingkat kemampuan potensial (yang bisa dikuasai oleh siswa). memberikan kartu-kartu kunci. memberikan tips-tips atau kiat- kiat.

telah menunjukkan kegagalannya dalam menghasilkan lulusan pendidikan yang ideal. mengklarifiksi dan memverifikasi pemahaman siswa. (5) memberi perhatian dan bimbingan pada siswa. menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Dari model yang ditampilkan itu. mengapa bisa begitu. meningkatkan kemampuan berpikir secara sistematis dan terorganisasi sehingga menghasilkan karya yang terbaik. yaitu: pemodelan sesuai dengan perilaku yang diharapkan. yaitu model yang diberikan melalui proses berpikir. guru dapat memberikan 372 . siswa memberikan penjelasan terkait dengan model yang ditampilkan. Pada tahap awal. Di samping itu. Langkah-langkah Teknik Scaffolding Lange (2002) menyebutkan adanya lima langkah pembelajaran dengan menerapkan teknik scaffolding. Professional Learning untuk Indonesia Emas meningkatkan dan memperbaiki proses pengajaran. dari latihan itu. siswa diminta menjelaskan apa yang telah dipelajari dari model tersebut. Paradigma pembelajaran constructivistic telah disuarakan dengan lantang oleh Degeng (2002) sebagai hal yang wajib untuk merevolusi pembelajaran di Indonesia apabila kita ingin menghasilkan sumber daya manusia yang ideal (dalam Latief. (6) merangsang refleksi siswa. Keunggulan tersebut tercermin pada tingginya kreativitas siswa. yang wujudnya dalam proses pembelajaran berupa transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Langkah pertama dalam teknik scaffolding versi Lange (2002) adalah pemodelan. dan (7) membantu dan meluruskan tujuan pembelajaran. Setelah siswa memahami konsep terkait dengan model tersebut. Lange yang merujuk pendapat Hogan and Pressley (1997) menyatakan bahwa pemodelan adalah mengajarkan perilaku yang mencerminkan bagaimana seseorang merasa. 2002). penjelasan rinci dan diulang-ulang agar pemahaman siswa mendalam dan mudah mengingatnya. mengajak siswa berpartisipasi. dan model melalui perbuatan atau performansi. Lebih lanjut Klausmeier (1977) menegaskan bahwa scaffolding adalah salah satu pemikiran penting konstruktivis modern. model yang diverbalkan lewat kata-kata. siswa mencoba berlatih melakukan kegiatan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. berpikir. metode pembelajaran scaffolding memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh metode pembelajaran konvensional. dan mengajak siswa menemukan kata kunci atau inti pembelajaran. Ada tiga tipe model. dan bagaimana bisa seperti itu. Paradigma behavioristik yang dipegang guru selama ini. (4) membantu pengembangan konsep diri siswa. atau bertindak sesuai dengan situasi yang diberikan.

3) pemodelan terkait dengan perilaku yang diharapkan. Mengevaluasi pekerjaan anak. k. 2) dibutuhkan cukup personel untuk dapat menerapkan teknik ini dengan baik. dan guru memberikan penguatan. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut. 2) penentuan fokus bantuan yang diperlukan siswa. dapat disimpulkan aspek-aspek esensial dari tahapan teknik scaffolding. Pada kegiatan akhir. Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut. Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka. Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/ guru. a. c. i. Ada beberapa tantangan yang perlu diminimalkan bila ingin menerapkan teknik scaffolding. j. h. Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak. Tantangan tersebut adalah sebagai berikut: 1) membutuhkan banyak waktu. f. Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan. d. siswa diajak untuk menemukan sendiri apa yang sudah dan belum dikuasai. Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan. namun tetap merupakan satu kesatuan untuk mencapai kompetensi yang utuh. Dari beberapa skenario atau tahapan dalam penerapan teori scaffolding tersebut. b. yaitu 1) pemilahan aspek yang kompleks menjadi tahapan-tahapan. g. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa klarifikasi dan verifikasi terkait dengan pemahaman siswa melalui pemberian respons balik terhadap perilaku siswa. Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak. dan 6) pemantapan pemahaman siswa. Pelatihan tersebut diulang-ulang pada tiap-tiap kesalahan disgrafia yang dialami anak hingga terdapat perubahan. 5) pemberian umpan balik melalui teknik kolaborasi. Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak. Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru. Penulis telah meneliti bagaimana upaya untuk melatih anak dengan gangguan disgrafia melalui metode menulis dengan menghubungkan 373 . e. dan 4) siswa dapat menjelaskan aspek penting dari pemodelan. Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. 3) pemodelan yang diberikan bisa tidak memadai apabila guru tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang kebutuhan individual para siswanya.

tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional. Professional Learning untuk Indonesia Emas titik-titik pada kertas berpetak. Contoh lembar kerja latihan menulis dengan menghubungkan titik-titik pada kertas: Penulis sertakan tabel cara melatih anak disgrafia agar dapat menulis dengan baik dan benar seperti di bawah ini. yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah disgrafia yang salah satu ciri khususnya yaitu ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional dan cara menulis tidak konsisten. Faktor Masalah Penyebabnya Remedial Bentuk Huruf terla.Posisi kertas Betulkan posisi kertas lu miring yang miring sehingga tegak lurus dengan badan. 374 .

Tingkat kemam. tuk melingkar. tegak menyalin tannya dan melengkung di ker- atau saat tas berpetak dikte Selanjutnya ada beberapa langkah lain sebagai pelengkap yang bisa dilakukan orang tua dan guru untuk membantu anak dengan gangguan menulis (disgrafia).Masalah pada Perbaikilah cara- garis bal atau tekanan tulisan cara memegang alat menekan tulis. ·     Spasi antar.memahami garis tentang konsep ukuran lalu tebal tulisan dan perjelas garis tulisan. Sebaiknya pihak guru dan orang tua. perbaiki juga ger- terlalu tipis akan tangan. Pahami keadaan anak. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Ukuran Terlalu be. Latih menarik garis lu- tika dalam puan menulis rus dengan cepat serta menulis tidak sebanding latihan membuat ben- yaitu ketika dengan kecepa. serta bei- kan latihan menulis di atas kertas tipis dan kertas kasar Kecepatan Lambat ke. Kaji kembali kon- huruf terlalu Kurang mema. Gerakan tangan salah satu caranya den- yang kaku gan latihan membuat lingkaran atau bentuk lengkung Spasi H u r u f K u r a n g Ajarkan kembali kon- dalam satu m e m a h a m i sep spasi antar-kata kata seperti konsep spasi menumpuk.K u r a n g ·   Ajarkan kembali sar dan ter. diantaranya: 1. atau pendamping memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak 375 . Latih gerakan tangan. sep bentuk ukuran dan lebar hami bentuk dan huruf ukuran K u a l i t a s Terlalu te.

berikan tugas-tugas menulis yang singkat saja. Atau bisa juga orang tua meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan. Dengan menggunakan komputer. pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Menyajikan tulisan cetak. lengan atas serta bawah. a. Aktivitas yang mendukung kontrol muskular antara lain: menggunting. mewarnai gambar. Jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi. Jika memungkinkan. dan diskriminasi visual. finger painting. Kesabaran orang tua dan guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya. dan tracing. Berikan pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya. 2. Kegiatan yang memberikan kerja aktif dari pergerakan otot bahu. Libatkan anak secara bertahap. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya. 3. bukan tulisan. 4. koordinasi mata tangan.  Aktivitas lain yang mendukung. dan detailnya. baik guru dan orang tua maupun anak merasa frustrasi dan stres. Adapun penanganan secara terstruktur dapat dilakukan melalui beberapa hal berikut: 1. Membangun rasa percaya diri anak. Menulis membutuhkan kontrol maskular. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan konkret. menulis pesan untuk orang tua. 376 . Sikap itu hanya akan membuat kedua belah pihak. Berikan kesempatan dan kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan komputer atau mesin tik. seperti menulis surat untuk teman. Professional Learning untuk Indonesia Emas lainnya. ukuran. sehingga anak menyadari bagaimana cara menulis suatu huruf. Sementara itu. 2. Ajari dia untuk menggunakan alat- alat agar dapat mengatasi hambatannya. pengembangan diskriminasi visual dapat dilakukan dengan kegiatan membedakan bentuk.  Faktor kesiapan menulis. Latih anak untuk terus menulis. dan jari. dan sebagainya. Kegiatan koordinasi mata-tangan antara lain: membuat lingkaran dan menyalin bentuk geometri. menulis pada selembar kartu pos.

5. d. Ucapkan dengan jelas nama huruf dan arah garis untuk membuat huruf itu. e. Anak menelusuri garis tersebut dengan pensilnya. b. Menulis huruf transisi. a. Ada beberapa faktor penyebab yang mempengaruhi 377 . karena ketidakmampuan dalam mengkoordinasikan tangan dan jarinya untuk menulis. Perlihatkan sebuah huruf yang akan ditulis. Membuat garis miring secara vertikal. b. c. e. 2012). 3. Jika cara ini sudah dikuasai. c. Membedakan bentuk huruf yang mirip bentuknya dan huruf yang hampir sama bunyinya. Adapun langkah-langkah pengajarannya sebagai berikut: a.  Menulis huruf sambung. (Maura. c.  Menulis huruf lepas/cetak. Penutup 1. Anak menelusuri huruf dan sambungannya sehingga menjadi bentuk huruf sambung.  2. i. f. Membuat garis vertikal dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. f. Disgrafia adalah kesulitan khusus di mana anak tidak bisa menuliskan atau mengekspresikan pikirannya kedalam bentuk tulisan. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa b. Membuat garis horizontal dari kiri ke kanan. mintalah anak menyambungkan titik yang dibentuk menjadi huruf tertentu. Huruf transisi adalah huruf yang digunakan untuk melatih siswa sebelum menguasai huruf sambung. 4. Mengajarkan huruf sambung dapat menggunakan langkah-langkah huruf lepas dan transisi. Tahap selanjutnya adalah menulis kata dan kalimat. Kata atau huruf ditulis dalam bentuk lepas atau cetak. Menyalin bentuk-bentuk sederhana. Membuat bentuk-bentuk lingkaran dan kurva. Menelusuri bentuk geometri dan barisan titik. Anak menelusuri huruf itu dengan jarinya sambil mengucapkan dengan jelas arah garis untuk membuat huruf itu. g. Huruf yang satu dan yang lain disambungkan dengan titik-titik dengan meggunakan warna yang berbeda. d. Anak menyalin contoh huruf itu di kertas/bukunya. Menyambungkan titik. sampai akhirnya anak mampu membuat huruf dengan baik tanpa dibantu. h.

diakses tanggal 8 November 2014) Cahyono.com/2013/08/29/kenali-gangguan-belajar- disgrafia-gangguan-menulis-pada-anak/ http://rumahkonsultasianak. koheren. (online). utuh. html http://growupclinic.wordpress.edu/Yusran Prakoso. (http://blog.com. Implikasi Perkemban dan Anak Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan. 3. B. dan meminimalkan rasa frustasi pada diri siswa. Ansori. (dianzansori.2010. menumbuhkan motivasi belajar siswa. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Teknologi Pembelajaran (Volume 3 Tahun 2013). http://disgrafia. dan pemahaman instruktur.wordpress. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (dalam Setting Pendidikan Inklusi). 2000. (2006).com/2012/11/03/ penanganan-terkini gangguan -belajar-disgrafia-gangguan- menulis-pada-anak/ (Diakses pada tanggal 14 November 2014). Daftar Pustaka Abdurrahman.id/adinegara/2010/03/04/vygotskian- perspective-proses-scaffolding. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global.com/2013/06/pengertian-disgrafia. 2010.terapicalistung. persepsi. Professional Learning untuk Indonesia Emas ketidakmampuan menulis (disgrafia). Manfaat nyata yang dapat dipetik dari penggunaan teknik scaffolding adalah siswa dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dilatihkan. (diakses tanggal 8 November 2014). (online). untuk-mencapai-zone-of- proximal-development-zpd/. Jakarta : Rineka Cipta Abdullah. 378 . 2003. Bandung: PT. C. Alwasilah. Refika Aditama. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Vygotskian Perspective: Proses Scaffolding untuk mencapai Zone of Proximal Development (ZPD). memori.academia.ac. Di antaranya motorik. http://klinikautisindonesia.unnes.com/2010/03/16/disgrafia- dysgraphia/ http://untan. lengkap. A. dan penggunaan ejaan dan tanda bacanya juga tepat. Mulyono. perilaku.wordpress. Teknik scaffolding terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis secara baik. Bandung: Andira. Adi Nur. Dian. diakses 14 November 2014) Delphie.

http: // www.  Yusuf.com.doc. (online). 2004. saturnet. 379 . Syamsu. 1977. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Lange. 2007from http://condor. Cambridge. ( http://www. (2002). L.M.2008. co. Mind in Society. Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Retrieved on September 25. (2001).ilmukami.cc.admin-. Pengaruh Metode Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Sacffolding Terhadap Keterampilan Menulis Berbahasa Inggris Ditinjau dari Krativitas Siswa SMK Negeri 1 Singaraja. Educational experience and cognitive development . (diakses tanggal 13 November 2014) Pharyuna. Bandung: Remaja Rosdakarya. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Klausmeier. Educational Psychologist.J.S. MA: Harvard University Press. V. Karakteristik Anak Usia SD. Vygotsky. Sofa. L. Persentase Siswa Kesulitan Belajar. H. Tesis (tidak diterbitkan). No. 12 (2).edu/~group4/ Cano/Cano% 20 Paper. Instructional scaffolding. (1978).cuny.ccny. diakses tanggal 8 November 2014). Lyon. 2010. A.

The nature of the latter is amarah. during. compassion. and others. love. Keywords : ethical development. as well as also with batik made in Cimahi. and after the batik that begins with preparation equipment. and aluamah. sufiyah. The fourth characteristic is illustrated in batik in Cimahi. not only for teenagers but also adults. Behind the making of batik as an art form are the values ​​of the high philosophy of the Java community. There are aspects of philosophy in batik in Cimahi. Aspect of making batik is very attracted me to discuss. beauty.utama@yahoo.com Absract: Batik is one type of clothing that is famous in the world and is known as one of the cultural heritage owned by the Indo- nesian people. In Java philosophy. the process of batik. I focus my writing this assess- ment to the process of batik on before. the process of batik itself and the second aspect is reversed motif. and after the ba- tik. amarah. Sufiyah is a desire to do something good wishes and justice. Other properties is how emotions affect the teenagers to do something based on the affection. Other properties are sufiyah. Javanese philosophy. nyoga. humanity. either before. These properties are reflected aluamah with forms of justice. make batik and batik on cloth is all of the process of batik on fabric is described as a process mbironi. Batik containing high val- ues philosophy in the process.PEMBELAJARAN INTEGRATIF MELALUI MEMBATIK DI KOTA CIMAHI Ramdhan Witarsa Universitas Muhammadiyah Purwokerto Email: kampiun. First. The nature of this amarah should be avoided by all men because of amarah will lead to the greedy nature. These aspects are muthmainah. muthmainah implies how well we are doing some- thing naturally that is implemented in all the activities of life were performed consistently and continuously. 380 . during. ngerok.

Kota Cimahi saat ini dikenal sebagai kota yang kreatif. sedangkan untuk dua motif lagi yaitu motif curug cimahi dan pusdik sedang dalam tahap modifikasi. dengan begitu motif yang dimiliki oleh Indo- nesia tentu saja sangat beragam. nilai. seirama dengan selera minat daerah masing-masing sehingga banyak beberapa daerah penghasil batik. Untuk tiga motif utama Kota Cimahi yaitu motif anyaman bambu. dan daerah. Batik khas Kota Cimahi telah didaftarkan ke Provinsi Jawa Barat sebanyak lima buah motif. pada saat itu tercetuslah sebuah ide untuk mengem- bangkan batik Cimahi yang didasari karena keprihatinan beberapa seniman Cimahi yang peduli terhadap perkembangan budaya tradis- ional di Kota Cimahi. batik yang kita tahu merupakan warisan budaya Bangsa Indonesia. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pendahuluan Tanggal dua oktober merupakan “Hari Batik Nasional”. Namun yang menjadi objek atau fokus ka- jian penulis adalah proses membatiknya itu sendiri yang mempunyai makna. lereng kujang. Apa- bila UNESCO sudah mengakui. Seni batik tumbuh dan berkembang dengan pesat. Batik sendiri merupakan hasil budaya yang bisa dikatakan hampir semua wilayah nusantara ada. 381 . Setiap daerah me- miliki ciri khas serta keunikan batik dalam ragam hias maupun tata warna. Atty Suharti Toch- ija. United National Education Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pun telah mengakui bahwa batik merupakan budaya asli Indonesia. Pada saat itu lomba diadakan untuk umum. dan pendidikan dalam menghasilkan batik yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi. Untuk sejarahnya adalah dengan diawali terbentuknya pada bulan Juli 2009. Menurut Yudoseputro (2000 : 98). Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. dan untuk batik yang menang akan dipatenkan sehingga tidak dapat ditiru oleh daerah lain. batik berarti gambar yang ditulis pada kain dengan mempergunak- an malam sebagai media sekaligus penutup kain batik. Kota Ci- mahi merupakan salah satu kota yang memiliki ciri khas pada ragam batiknya. Batik Cimahi pertama kali dibuat melalui suatu kompetisi yang diadakan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Cimahi yang diketuai oleh Ny. Proses membatik yang seperti apa yang menghasilkan batik den- gan corak/motif yang bernilai seni dan bernilai jual tinggilah yang menjadi hal yang membuat penulis penasaran untuk mengetahui dan mencari makna-makna apa saja yang terkandung dalam proses mem- batik. berarti harusnya negara lain tidak bisa merebutnya dan mengakuinya. provinsi. dan daun singkong. apalagi Indonesia yang memiliki banyak kepulauan.

Dokumentasi tersebut dapat berupa berbagai ma- cam hasil karya masyarakat Jawa. dan daerah. seirama dengan selera daerah masing-masing sehingga banyak beberapa daerah yang men- jadi penghasil batik. Namun yang sangat disayangkan masyarakat Jawa sendiri ada yang tidak memahami makna. penulis memandang perlu pengka- jian yang lebih mendalam agar generasi muda kita saat ini tidak ke- hilangan ruh akan makna. nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam proses membatik baik itu sebelum membatik. Kajian ini sangat penting untuk melestarikan makna dan nilai-nilai dalam proses membatik sehingga generasi muda akan me- mahami dan memaknai apa yang dimaksud dengan membatik? Sep- erti apa bentuk membatik? Dan bagaimana kegiatan membatik? Membatik Cimahi Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Dengan begitu mo- tif batik yang dimiliki oleh Indonesia tentu saja sangat beragam. Latar belakang tersebut dapat dili- hat melalui dokumentasi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa yang ada di Kota Cimahi. Satu dari sekian banyak dokumen- tasi tersebut adalah dokumentasi tentang hasil seni budaya masyara- kat Jawa yang disebut batik. Begitupun dengan batik khas Kota Cimahi. Seni batik tumbuh dan berkembang dengan pesat. Batik berarti gambar yang ditulis pada kain dengan mem- pergunakan malam sebagai media sekaligus penutup kain batik. Dimanapun masyarakat Jawa berada. provinsi. Dengan didirikannya Lembur Batik yang ada di jalan Pesantren Kota Cimahi dengan maksud dan tujuan agar karya budaya pewarisan nenek moyangnya dapat dilakukan terus menerus dan berenkulturasi dengan masyarakat Sunda. Ba- tik sendiri merupakan hasil budaya yang bisa dikatakan dimiliki oleh hampir semua wilayah nusantara. Setiap daerah memiliki ciri serta keunikan khas tersendiri dalam ragam hias maupun tata warna batik. Oleh sebab itu. Kain batik yang dikenal sebagai karya seni masyarakat Jawa selama ratusan tahun tidak hanya dipergunakan se- bagai karya seni biasa tetapi juga digunakan sebagai pakaian. Sehingga pemaknaan akan proses membatik menjadi sangat dangkal. Professional Learning untuk Indonesia Emas Fokus Kajian Masyarakat jawa dikenal sebagai masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang sangat kuat. nilai-nilai yang terkandung dalam proses membatik. mereka mendokumentasikan hasil budaya masyarakatnya untuk ke- pentingan kelanjutan generasi berikutnya. dan sesu- dah membatik. Batik khas Kota Ci- mahi yang telah didaftarkan ke Provinsi Jawa Barat sebanyak lima 382 . pada saat membatik. Hal ini dikarenakan Indonesia me- miliki banyak kepulauan.

Format Membatik Cimahi Batik Cimahi Motif Cirendeu Motif Cirendeu yang dibuat oleh Dadang lebih mewakili masyara- kat adat Kampung Cirendeu yang terletak di wilayah Leuwigajah. Gambar 1. Batik Cimahi Motif Cirendeu (Sumber: http://kicaucimahi. Dokumentasi Penulis) Batik Cimahi Motif Kuncup Terdapat juga motif lainnya yaitu motif kuncup.com. pada motif Cirendeu ini. sedangkan untuk dua motif lagi yaitu motif curug cimahi dan pusdik sedang dalam tahap modifikasi. motif daun singkong dan ketela lebih mendominasi. Gambar 2. Jadi. Ci- mahi Selatan. Batik Cimahi Motif Kuncup (Sumber: http://kicaucimahi. Singkong atau sampeu yang merupakan makanan pokok pengganti nasi bagi masyarakat sekitar selama 80 tahun telah menjadi inspirasi untuk menciptakan motif batik. karena kata kuncup diam- bil dari bunga yang sedang kuncup.blogspot. Dokumentasi Penulis) 383 . lereng kujang. dan daun singkong.blogspot. motif ini dipilih sebagai salah satu tema batik khas Cimahi. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa buah motif. untuk tiga motif utama Kota Cimahi yaitu motif anya- man bambu.com.

Batik Cimahi Motif Kujang (Sumber: http://cimahijugapunyabatikloh. Dokumentasi Penulis) 384 . Batik Cimahi Motif Kujang Cakra (Sumber: http://balareabatikjabar. Ada dua jenis motif Kujang yang ada pada batik Cimahi.com. Dokumen- tasi Penulis) Gambar 4.blogspot. yaitu motif Rereng Kujang dan kujang Cakra. Professional Learning untuk Indonesia Emas Batik Cimahi Motif Kujang Motif Kujang merupakan senjata tradisional khas Jawa Barat. Motif Kujang ini dibuat oleh Muhammad Yaser.org. Gambar 3 .

Meskipun tergolong kota kecil. terlukis berbagai aktivitas pendidikan militer seperti latihan perang. Batik Cimahi Motif Rereng Kujang (Sumber: http://balareabatikjabar. Pada motif Pusdik. Gambar 6.org. dan lain-lain. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Gambar 5.com.blogspot. namun Pusdik ini mencapai angka belasan sehingga membedakan kota Cima- hi dengan kota-kota lain yang ada di Jawa Barat. Dokumen- tasi Penulis) Batik Cimahi Motif Curug Cimahi Motif Curug Cimahi adalah nama air terjun kebanggaan warga Cimahi yang terletak di kawasan Cisarua. namun nama Curug Cimahi sudah sedemikian melekatnya dengan warga Cimahi 385 . Batik Cimahi Motif Pusdik (Sumber: http://cimahijugapunyabatikloh. Dokumentasi Penulis) Batik Cimahi Motif Pusdik Motif Pusdik terinspirasi dari banyaknya Pusat Pendidikan (Pus- dik) militer di kota Cimahi. Meskipun kawasan tersebut kini sudah termasuk wilayah Kabupaten Bandung Barat. motif Kawah Candradimuka yang merupakan simbol pendidikan mi- liter.

Professional Learning untuk Indonesia Emas

sehingga menjadi salah satu inspirasi pembuatan motif batik.

Gambar 7. Batik Cimahi Motif Curug Cimahi
(Sumber: http://ridwann13.blogspot.com; Dokumentasi Penulis)

Batik Cimahi Motif Ciawitali
Motif Ciawitali yang diciptakan oleh Didi Sahadi didominasi oleh
lukisan bambu dan anyamannya. Inspirasinya datang dari seorang
warga Cimahi yang merupakan penggagas Asosiasi Bambu Sedunia.
Ciawitali sendiri merupakan nama suatu kampung di Kecamatan Ci-
mahi Tengah yang banyak ditumbuhi rumpun bambu.

Gambar 8. Batik Cimahi Motif Ciawitali
(Sumber: http://balareabatikjabar.org; Dokumentasi Penulis)

386

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Gambar 9 . Batik Cimahi Motif Anyaman Bambu
(Sumber: http://balareabatikjabar.org; Dokumentasi Penulis)

Aktivitas Membatik Cimahi
Persiapan Membatik
Sebelum membatik, ada beberapa alat dan perlengkapan yang
perlu dipersiapkan sebagai berikut:
Keren atau anglo, atau bisa juga menggunakan kompor kecil be-
serta wajan yang sudah diisi dengan malam. Malam dicairkan di dalam
wajan di atas anglo. Pencairan harus sempurna, sehingga malam ber-
warna tua. Hal ini dimaksudkan agar malam bisa lancar keluar me-
lalui  cucuk  canting dan malam dapat meresap dengan sempurna ke
dalam mori. Api dalam anglo harus dijaga agar tetap membara, namun
jangan sampai menyala karena bisa menjilat malam yang berada di
dalam wajan.

Canting
Canting digunakan untuk menutupi kain dengan lapisan malam.
Tujuannya agar pada saat pewarnaan kain yang tertutup lapisan
malam ini tidak terkena warna. Ada berbagai macam canting yang
diperlukan dalam proses mencanting. Ada canting “klowongan”, cant-

387

Professional Learning untuk Indonesia Emas

ing “isen”, canting “cecekan”, canting “tembokan”, dsb. Dalam mengop-
erasikannya, perlu diperhatikan cara memegangnya. Cara memegang
canting berbeda dengan cara memegang pensil atau alat tulis lainnya.
Perbedaan itu disebabkan karena ujung cucuk canting bentuknya me-
lengkung dan berpipa besar, sementara pensil atau alat tulis lurus.
Dengan canting ini, malam mendidih yang berada di dalam wajan
diciduk dan dibatikkan di atas mori. Sebelum dibatikkan, sebaiknya
mori ditiup terlebih dahulu dengan maksud untuk menghilangkan
cairan malam yang membasahi cucuk canting. Cucuk canting yang ber-
lumuran cairan malam akan mengurangi baiknya goresan, terutama
ketika permukaan canting diproseskan pada mori.

Mori

Mordanting
Sebelum dibatik, mori perlu melewati proses “mordanting”. Mori
direndam dulu dengan cairan mordan. Tujuannya adalah untuk meng-
hilangkan kanji serta lemak-lemak yang menempel pada kain. Setelah
selesai direndam, mori dijemur sampai kering. Kemudian mori diletak-
kan di atas gawangan dekat anglo. Pembatik duduk di antara gawangan
dan keren atau anglo. Biasanya, gawangan ditempatkan di sebelah kiri,
sementara anglo ditempatkan di sebelah kanan pembatik.

Tahapan Mencanting
Dalam menghasilkan kain batik, sepotong mori dikerjakan tahap
demi tahap. Tiap tahap dapat dikerjakan oleh orang yang berbeda, na-
mun tidak dapat dikerjakan beberapa orang dalam waktu yang bersa-
maan.

388

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Membuat pola

Pola dibuat dengan pensil. Pola bisa berupa gambar-gambar yang
langsung bisa dicanting, namun bisa juga berupa garis geometris (mis-
alnya untuk motif kawung, maka yang dibuat hanya garis-garis kotak-
kotaknya saja). Dalam membuat pola, gambar bisa langsung digam-
barkan pada kain atau di-blad (menggambar dari pola yang ada di
sebalik kain).

Membatik Kerangka
Dari pola yang sudah dibuat dengan pensil tadi, pembatik mem-
buat kerangka dengan menggunakan malam cair. Canting yang di-
pergunakan adalah canting cucuk sedang atau canting klowongan. Mori
yang sudah dibatik seluruhnya akan memunculkan gambar berupa
kerangka, disebut juga sebagai “klowongan”.

Ngisen-iseni
“Ngisen-iseni” berasal dari kata “isi”, yaitu memberi isi atau
mengisi “klowongan” tadi. Ngisen-iseni dengan mempergunakan cant-
ing cucuk kecil yang disebut sebagai canting isen. Aktivitas selanjutnya
adalah “nyeceki”. “Nyeceki” mempergunakan canting cecekan, hasilnya
bernama “cecekan”. Batikan yang lengkap dengan isen-isen disebut
sebagai “reng-rengan”. Karena namanya “reng-rengan”, maka aktivi-

389

Professional Learning untuk Indonesia Emas

tas membatik dalam memberikan isen-isen sejak awal hingga akhir
disebut sebagai “ngengreng”. Setelah “ngengreng” selesai, keseluruhan
motif yang dikehendaki bisa terlihat. Hal ini merupakan penyelesaian
yang pertama.
Nerusi
“Nerusi” berasal dari kata meneruskan. Fungsinya untuk mem-
pertebal dan memperjelas tembusan batikan pertama. Aktivitas ini
merupakan penyelesaian yang kedua. Batikan berupa “ngengrengan”
dibalik permukaannya. Permukaan di sebaliknya kain ini kemudian
dicanting. Sebenarnya aktivitas ini tidak berbeda dengan “membatik
kerangka”, hanya saja dilakukan di sebaliknya kain yang sudah dicant-
ing. Canting-canting yang dipergunakan sama dengan canting untuk
ngengreng.

Nembok
Sebuah batikan tidak seluruhnya diberi warna, atau akan diberi
warna yang bermacam-macam pada waktu penyelesaian menjadi
kain. Karena itu, bagian-bagian yang tidak akan diberi warna (atau
akan diberi warna sesudah bagian yang lain) harus ditutup dengan
malam. Cara menutupnya seperti cara membatik bagian lain dengan
mempergunakan canting tembokan. Canting tembokan bercucuk besar.
Orang yang mengerjakannya disebut “nembok” atau “nemboki”dan
hasilnya disebut “nembokan”.

Bliriki
Bliriki adalah nerusi tembokan agar bagian-bagian itu tertutup sung-
guh-sungguh. Bliriki mempergunakan canting tembokan dan caranya
seperti nemboki. Apabila tahap terakhir ini sudah selesai, berarti proses
membatik selesai juga. Hasil bliriki disebut “blirikan” atau “tembokan”.
Kadang-kadang batikan tidak perlu ditembok. Apabila pilihannya sep-
erti ini maka batikan sudah selesai sebelum ditembok dan dibliriki. Se-
lanjutnya, bisa dilanjutkan dengan proses pewarnaan.

390

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Kain-kain yang Sudah Selesai Dicanting
Proses Pewarnaan
Dalam proses ini, kain yang sudah dibatik diberi warna. Bagian
yang tertutup malam nantinya akan tetap berwarna seperti semula
(putih) dan yang tidak tertutup malam akan terwarnai. Ada dua je-
nis zat warna yang bisa dipilih dalam proses pewarnaan ini, yaitu zat
warna alam dan zat warna sintetis. Proses pewarnaan terbagi dalam
beberapa tahap dan harus dikerjakan secara urut.

Perendaman dengan Cairan Naptol
Sebelum diberi warna, kain perlu direndam dulu dengan cairan
naptol agar warna bisa menempel dengan sempurna.

Pemberian warna
Kain dimasukkan dalam zat warna (alam/sintetis) sambil dibo-
lak-balik supaya rata, kemudian didiamkan selama 15 menit. Setelah
itu kain diangkat, diangin-anginkan dengan cara kain dibentang pada
tali/tambang di tempat yang teduh dan dijepit. Pada pewarnaan ala-
mi, setelah kain kering pencelupan diulang minimal tiga kali.

391

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Proses Penguncian (Fiksasi)
Dalam proses ini, warna akan dikunci. Ada tiga pilihan bahan un-
tuk proses penguncian ini, yaitu air kapur (warna akan cenderung lebih
tua), tawas (warna akan cenderung lebih muda), dan tunjung (warna
akan cenderung lebih tua/pekat). Bahan-bahan tersebut memberikan
efek warna yang berbeda-beda meskipun zat warna yang digunakan
sama. Cara mengunci: kain yang sudah diberi warna direndam dalam
cairan dari salah satu bahan tersebut selama 10 menit, kemudian di-
cuci bersih dan dikeringkan dengan cara diangin-angin.

Nglorod
Menghilangkan lilin secara keseluruhan pada akhir proses pem-
buatan batik disebut mbabar,  ngebyok, atau nglorod. Caranya,  kain
yang sudah dibatik direndam terlebih dahulu kemudian dimasukkan
dalam air mendidih yang sudah diberi obat pembantu berupa water-
glass atau soda abu. Setelah itu, kain batik dikeringkan dengan cara
diangin-angin.

392

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Nglorod
Proses-proses di atas hanya untuk penggunaan satu warna saja.
Kebanyakan kain batik memakai lebih dari satu warna. Untuk se-
tiap pewarnaan, perlu diulang prosesnya dari mencanting (mulai dari
“membatik kerangka”, namun bagian yang ditutup dengan cairan
malam berbeda tergantung bagian mana yang diinginkan tidak ter-
kena warna itu) sampai “nglorod”.

Kain-kain Batik yang Sudah Selesai Diproses

Penutup
Dalam proses membatik terdapat teks yang merupakan karya sas-
tra yang menyertai pembuatan awal batik. Sebenarnya teks ini meru-
pakan mantra yang harus diniatkan di dalam hati sebelum seseorang
melakukan proses membatik. Teks ini sudah diubah sedemikian rupa
sehingga terlihat seperti karya sastra. Seiring dengan perkembangan
jaman, batik tidak lagi dibuat secara perorangan melainkan sudah
dapat dibuat secara masal, maka teks ini sudah tidak dikenal lagi. Hal
tersebut itulah yang membuat proses membatik pada saat awal pem-
buatannya kehilangan ruhnya. Kemajuan teknologi sudah membuat
sudut pandang masyarakat bergeser. Masyarakat yang tadinya sangat
menghargai karya perorangan sekarang sudah lebih memilih karya
masal yang sifatnya sangat ekonomis. Melihat kondisi yang demikian,
maka semua proses kegiatan membatik dari awal, pada saat, dan sesu-
dah membatik perlu diimplementasikan dalam bentuk lain sehingga
nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi batik tidak tergerus dengan
perubahan waktu dan zaman.

393

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Daftar Pustaka

Hamzuri. 1985. Batik Klasik. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Hitchcock, M. 1991. Indonesian Textiles. London: Published by British
Museum Press 46, Bloomburry Street.
Jamhuri, S. 2001. Memahami Warisan Budaya Masyarakat Tradisional.
Surabaya: PT Aneka Tanda.
Kerlogue, F. 2004. Batik, Ontwerp, Stijl En Gecchiedenis. Singapore: Edi-
tions Didier Miller.
Sudjadi, H. 2003. Karya Sastra Tradisional Jawa dalam Macapat. Jogjakar-
ta: Penerbit Budi Asih.
Sugiarti, H. 1998. Pengaruh Islam dalam Naskah Tradisional. Bandung:
CV Buana Raya.
Sutarman, D. 2005. Pesantren dan Naskah Tradisional. Magelang: Balai
Penerbit Kusumatjitra.
S.K. Sewanto. 1973. Seni Kerajinan Batik Indonesia. Balai Penelitian Batik
dan Kerajinan, Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri,
Departemen Perindustrian RI.
Tim KUBe Sekar Kedhaton, Giriloyo dan Laboratorium Pengemban-
gan Ekonomi Manajemen UPN “Veteran”. (2012). Modul Prak-
tek Membatik untuk Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan UPN
“Veteran”. Yogyakarta: Mentranslasikan Cinta Budaya melalui
Belajar Batik
Wawancara dengan Pembatik Lembur Batik Jalan Pesantren Kota Ci-
mahi

394

PENGGUNAAN PEMBELAJARAN BERBASIS
MASALAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATERI
LISTRIK DINAMIS
(Penelitian Tindakan Kelas IX SMP Negeri I Tanjungsari
Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang)

Suhartini
Guru Sekolah Dasar Negeri Kabupaten Sumedang
Email: rdea85@gmail.com

Abstrak: Berdasarkan hasil pengamatan awal di kelas IX
SMP Negeri 1 Tanjungsari pada pembelajaran listrik dinamis,
permasalahannya adalah hasil belajar dan keaktifan siswa.
Data awal 37,5% dari 32 siswa kelas IX A yang tuntas. Oleh
karena itu, penulis mengambil alternatif pemecahan masalah
dengan menggunakan PBM dalam kegiatan pembelajaran
untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam
pembelajaran fisika kelas IX A di SMP Negeri 1 Tanjungsari.
Penelitian ini dirancang dan dilaksanakan dengan menggunakan
metode penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif,
yang mengikuti desain penelitian Kemmis dan Mc. Tagart.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah format
observasi, format wawancara, dan tes hasil belajar. Berdasarkan
hasil tes siklus I mengalami peningkatan ketuntasan belajar 75%.
Sedangkan, aktifitas siswa selama pembelajaran memperoleh
nilai rata-rata keaktifan 7,68. Kinerja guru 88,9 %. Pada siklus
II mengalami peningkatan ketuntasan belajar menjadi 84,3%.
Sedangkan, aktifitas siswa selama pembelajaran siklus II
memperoleh nilai rata-rata 8,31 dan kinerja guru menjadi 91,6
%. Maka dari itu pelaksanaan siklus dihentikan. Dari hasil
pelaksanaan siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa
Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan hasil belajar
siswa pada materi listrik dinamis di SMP Negeri I Tanjungsari.

Kata kunci : Listrik dinamis, Pembelajaran Berbasis Masalah,
fisika.

395

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Pendahuluan
Mata pelajaran IPA Fisika adalah salah satu mata pelajaran eksakta
yang untuk mempelajarinya dibutuhkan percobaan, pengamatan serta
pembuktian dengan pasti berupa data kualitatif dan data kuantitatif .
Untuk sebagian siswa mata pelajaran ini sulit dan ditakuti, sehingga
hasil belajar yang diperoleh kurang memuaskan. Guru menggunakan
berbagai metoda dan media dengan harapan menarik perhatian
dan minat siswa, sehingga mereka dapat terlibat dalam proses dan
menemukan atau membuktikan suatu konsep.
Media pembelajaran memungkinkan anak berinteraksi dan
melakukan tindakan fisik yang dapat mengembangkan aktivitas
dan proses berpikir, sehingga mampu mentransfernya dalam bentuk
gagasan atau ide. Dari kegiatan meraba, memegang, berkembang
menjadi kegiatan berbicara, membaca, dan menghitung (Depdiknas,
2004).
Kenyataan di lapangan penggunaan media dalam bentuk alat,
membuat anak merasa senang pada saat belajar, aktif dan dapat
melakukan praktek sesuai prosedur. Tetapi ketika mengerjakan soal-
soal tes, hanya sebagian kecil siswa yang menjawab dengan benar.
Hal ini membuktikan bahwa penggunaan media dalam pembelajaran
belum maksimal untuk “menggiring” siswa memahami suatu konsep.
Salah satu contohnya adalah dalam pembelajaran Fisika konsep Listrik
Dinamis. Sekilas pembelajaran ini sangat sederhana dan mudah,
namun dari hasil tes di kelas IXA yang berjumlah 32 siswa hanya 12
orang (37,5%) yang mendapatkan nilai ≥ KKM (7,5).
Masalah di atas menjadi dorongan bagi penulis untuk melakukan
penelitian tindakan kelas di kelas IX A SMPN 1 Tanjungsari dengan
menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan
metode praktikum. Model pembelajaran tersebut bertujuan membantu
siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah,
dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa
melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi;
dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Depdiknas, 2004).
Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) menurut Tan
(Rusman, 2010:229) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena
dalam PBM kemampuan berpikir siswa betul-betul diotimalisasikan
melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa
dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan
kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.
Selain pengertian di atas, Tan juga mengemukakan pendapat yang
lain mengenai pengertian PBM adalah sebagai penggunaan berbagai
macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi
terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi
segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada (Rusman, 2010).

396

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Karakteristik pembelajaran berbasis masalah (Rusman, 2010: 232)
adalah sebagai berikut:
a. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar;
b. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada
di dunia nyata yang tidak terstruktur;
c. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda;
d. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh
siswa, sikap dan kompetensi yang kemudian membutuhkan
identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar;
e. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama;
f. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam,
penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan
proses yang essensial dalam PBM;
g. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi dan kooperatif;
h. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah
sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk
mencari solusi dari sebuah permasalahan;
i. Keterbukaan proses dalam PBM meliputi sintesis dan integrasi
dari sebuah proses belajar; dan
j. PBM melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan
proses belajar.

Akar Desain Masalah
Akar desain masalah adalah masalah yang berupa kenyataan
hidup, tidak dibuat-buat dan memang kontekstual dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam PBM (Rusman,2010) sebuah masalah yang
dikemukakan kepada siswa harus dapat membangkitkan pemahaman
siswa terhadap masalah, sebuah kesadaran akan adanya kesenjangan,
pengetahuan, keinginan memecahkan masalah dan adanya persepsi
bahwa mereka mampu memecahkan masalah tersebut.

Menentukan Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah
Tujuan PBM adalah penugasan isi belajar dari disiplin heuristic
dan pengembangan dalam keterampilan pemecahan masalah. Selain
itu, PBM berhubungan dengan belajar tentang kehidupan yang lebih
luas, keterampilan memaknai informasi, kolaboratif dan belajar tim,
dan keterampilan berpikir reflektif dan evaluatif.

Peran Guru dalam Pembelajaran Berbasis Masalah
Guru dalam PBM terus berpikir tentang beberapa hal, yaitu: a)
Bagaimana dapat merancang dan menggunakan permasalahan yang
ada di dunia nyata, sehingga siswa dapat menguasai hasil belajar?
b) Bagaimana bisa menjadi pelatih siswa dalam proses pemecahan
masalah, pengarahan diri, dan belajar dengan teman sebaya? c) Dan

397

Professional Learning untuk Indonesia Emas

bagaimana siswa memandang diri mereka sendiri sebagai pemecah
masalah yang aktif? Selain itu, guru dalam PBM juga memusatkan
perhatiannya pada memfasilitasi proses belajar PBM, mengubah
cara berpikir, mengembangkan keterampilan inquiry, menggunakan
pembelajaran kooperatif, melatih siswa tentang strategi pemecahan
masalah, pemberian alasan yang mendalam, metakognisi, berpikir
kritis, dan berpikir secara sistem. Dan menjadi perantara proses
penugasan informasi, meneliti lingkungan informasi, mengakses
sumber informasi yang beragam, dan mengadakan koneksi.
Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang dilaksanakan terhadap
pembelajaran awal, diketahui bahwa siswa kurang memahami materi
dan hasil belajar siswa masih rendah. Dari dua masalah yang muncul
tersebut, maka penulis dapat merumuskan masalahnya adalah apakah
model PBM dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa kelas
IX SMPN 1 Tanjungsari Kabupaten Sumedang pada materi listrik
dinamis ?

Pelaksanaan dan Pembahasan
Paparan Data Siklus I
Perencanaan Tindakan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) meliputi Standar
Kompetensi 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi Dasar 3.2. Menganalisis
percobaan listrik dinamis dalam suatu rangkaian serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari. Materi pokok Listrik Dinamis.
Indikator pembelajarannya ”Melakukan pengukuran kuat arus
listrik dan beda potensial dalam suatu rangkaian sederhana dengan
teliti dan jujur”. Indikator tersebut dijabarkan menjadi 3 tujuan
pembelajaran, yaitu:
1. Dapat merakit rangkaian listrik sederhana.
2. Dapat mengukur kuat arus listrik.
3. Dapat mengukur beda potensial.

Untuk menunjang ketercapaian tujuan, direncanakan
menggunakan metoda pembelajaran demonstrasi dan eksperimen.
Demonstrasi dilakukan guru dengan memodelkan cara menggunakan
basic meter untuk mengukur kuat arus listrik dan beda potensial.
Peserta didik melakukan eksperimen secara berkelompok sesuai LKS.
Peserta didik dibagi menjadi 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari
4 orang yang heterogen baik secara gender juga tingkat prestasinya.
Data ini diperoleh guru dari pertemuan-pertemuan sebelumnya
dengan bantuan teman sejawat sebagai observer.

398

Proses pembelajaran dilaksanakan di laboratorium fisika SMPN 1 Tanjungsari. guru juga kurang menumbuhkan partisipasi dalam merefleksi definisi masalah saat analisi dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Peserta didik terdiri dari 15 orang laki-laki dan 17 orang perempuan. Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil pengamatan proses pembelajaran dengan bantuan 2 (dua) orang observer. dan mempersilahkan semua kelompok melanjutkan kegiatan-kegiatan berikutnya sesuai LKS. LKS dikumpulkan sebagai data hasil belajar berupa data kuantitatif. Nilai kelompok diperoleh dari nilai LKS. Pembelajaran dimulai jam 08. Motivasi dilakukan guru dengan dengan memperlihatkan alat-alat. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pelaksanaan Tindakan Siklus I dilaksanakan hari kamis tanggal 6 September 2012 jam ke-3 dan ke-4 pada kelas IXA SMP Negeri 1 Tanjungsari. diperoleh data 24 (75 %) dari 32 peserta didik telah memperoleh nilai unjuk kerja lebih dari atau sama dengan KKM. sedangkan data kualitatif diperoleh dari rubrik penilaian unjuk kerja. 399 . dengan bantuan 2 orang observer. Kelemahan guru terletak pada kurang persiapannya alat penilaian dalam perencanaan. guru memusatkan perhatian semua peserta didik supaya memperhatikan pemodelan cara menggunakan basicmeter untuk mengukur kuat arus dan beda potensial yang dilakukan oleh guru. Pada saat orientasi siswa kepada masalah. Berikut nilai aktifitas siswa yang disajikan dalam bentuk tabel. Nilai tersebut diperoleh dari 50% nilai unjuk kerja individu + 50% nilai kelompok. Guru memastikan semua kelompok dapat mengoperasikan basicmeter. Dari tabel di bawah ini dapat dilihat bahwa kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran baru mencapai 88. Guru membuka pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan untuk mengingatkan kembali pengertian listrik dinamis dan syarat-syarat terjadinya arus listrik. lalu mengajukan pertanyaan: “Dapatkah kalian merangkai alat-alat listrik ini sehingga terjadi arus listrik?” Pada kegiatan inti peserta didik sudah duduk dalam kelompoknya. guru tidak menyampaikan masalah sesuai dengan hierarki belajar. guru tidak melakukan evaluasi karena mengambil nilai unjuk kerja dan nilai LKS siswa. Pada tahap pelaksanaan observer mengamati kinerja guru dan mengamati aktivitas siswa. Dan pada evaluasi hasil belajar.9%.30. Setelah semua kelompok selesai melakukan kegiatan LKS nomor 1 (satu) dan nomor 2 (dua). setiap kelompok menerima 2 (dua) LKS dan seperangkat alat-alat listrik. Di akhir kegiatan inti.

00 9.50 8.50 8.00 6.90 7.90 8.25 7.50 6.31 Tuntas V S 8.50 9.00 Tuntas C1 8.88 Belum tuntas I 10.70 Tuntas Nilai 10.50 8.50 7.40 7.50 8.13 8.75 8.50 7.25 Tuntas L 5.63 9.50 7.00 8.40 7.00 7.82 Belum tuntas D 6.25 8.50 7.50 8.00 8.45 Tuntas N 9.70 Tuntas VIII D2 6.82 Tuntas P 6.50 7.90 8.50 Tuntas J 6.50 8.50 7.25 8. Professional Learning untuk Indonesia Emas Tabel 1 Hasil Aktivitas Siswa Siklus 1 Kel.31 Tuntas U 10.63 tuntas III K 7.75 7.75 Belum tuntas VII A1 10.00 9.70 Tuntas Y 6.40 8.50 9.00 7.00 8.38 Belum tuntas D3 6.13 7.63 Tuntas D1 6.50 6.75 Nilai rata-rata 7.00 7.63 Tuntas T 8.25 7.31 Belum tuntas M 9.38 Tuntas B 5.63 8.50 6.50 8.50 8.90 8.50 8.95 Tuntas R 8.12 Belum tuntas E 8.50 8.75 8.25 9.50 7.12 Tuntas II G 7.00 8.00 6.50 8.82 Belum tuntas I C 5. Nama Nilai Unjuk Nilai Dari Jumlah Keterangan Siswa Kerja(50%) LKS (50%) A 8.00 9.00 8.13 8.25 Tuntas V 7.00 Tuntas VI W 7.50 8.50 7.50 7.82 Tuntas F 8.50 9.50 Tuntas H 6.63 8.00 Tuntas X 6.50 Tertinggi Nilai terendah 5.13 7.75 8.50 7.70 Tuntas X 5.20 Belum tuntas Q 9.50 8.00 9.64 8.00 7.95 Jumlah Tuntas = 24 orang Belum tuntas = 8 orang 400 .50 8.90 8.45 Tuntas IV O 8.25 Tuntas B1 7.

Refleksi Proses pembelajaran siklus 1 (satu) model PBM dengan menciptakan kondisi belajar yang aktif untuk 90% kelompok. yaitu: a. Melalui tes guru memperoleh data sejauh mana kualitas pembelajarannya. Hasil belajar yang diperoleh pada siklus hanya dari unjuk kerja dalam kelompok. Materi pokok Listrik Dinamis. Nilai pada tabel di atas terdiri dari nilai unjuk kerja siswa dan nilai LKS siswa. VII. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Indikator pembelajaran “Melakukan pengukuran kuat arus listrik dan beda potensial dalam suatu rangkaian listrik sederhana dengan teliti dan jujur”. juga kemajuan belajar terukur untuk setiap individu. Kelompok I (satu) terlihat kesulitan. Kedua nilai tersebut dijadikan acuan sebagai nilai hasil belajar siswa. Kelompok II. b. Untuk siklus ke-2 sebaiknya guru memberikan tes awal dan tes akhir. Melalui percobaan peserta didik dapat menuliskan persamaan hubungan antara arus listrik.2. Kompetensi Dasar 3. Melalui percobaan peserta didik dapat menemukan hubungan antara kuat arus listrik dengan beda potensial. dan hambatan 401 . siswa dapat membagi pendapat dan bersama-sama untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. sedangkan pemahaman konsep untuk setiap individu tidak terukur karena guru tidak melakukan tes. sehingga diperoleh data kuantitatif yang menggambarkan sejauh mana pemahaman konsep peserta didik. dan VIII merangkai listrik dalam waktu 10 menit. kelompok IV. Terdapat 24 siswa yang telah tuntas dan 8 (delapan) siswa yang belum tuntas. III. Indikator tersebut dijabarkan menjadi 3. Menganalisis percobaan listrik dinamis dalam suatu rangkaian serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. V. siswa diberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengungkapkan ide dan gagasannya dalam pembelajaran materi listrik dinamis. Deskripsi Siklus 2 Perencanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus 2 meliputi Standar Kompetensi 3. ini disebabkan Rini sebagai reader sibuk sendiri sedangkan yang lainnya hanya melihat. dan VI dapat merangkai listrik dalam waktu kurang dari 5 menit. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dalam aktivitas siswa pada siklus I (satu) sudah terlihat dari kegiatan siswa yang berkelompok dan berdiskusi dalam pemecahaman masalah yang diberikan oleh guru. beda potensial. Selain itu. sedangkan kelompok I (satu) mendapat kesulitan sehingga membutuhkan waktu merangkai sekitar 15 menit.

Peserta didik terdiri dari 15 orang laki-laki dan 17 orang perempuan. guru kurang bisa memberikan apersepsi pada tahap awal pembelajaran. Pada kegiatan inti peserta didik sudah duduk dalam kelompoknya. Peserta didik melakukan kegiatan sesuai LKS sehingga menemukan hubungan antara kuat arus dengan beda potensial dan hambatan pada rangkaian listrik sederhana. Peserta didik dapat mengoperasikan persamaan hukum Ohm secara Mandiri. Guru membimbing membuat kesimpulan dari hasil observasi yang dilakukan peserta didik. Proses pembelajaran diawali dengan tes awal yang dilakukan di kelas. Guru membantu mengingatkan kembali cara menggunakan basicmeter untuk mengukur kuat arus dan untuk mengukur beda potensial. Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil pengamatan proses pembelajaran dengan bantuan 2 orang observer. diperoleh data 27 (84. Professional Learning untuk Indonesia Emas dengan benar. sedangkan kelompok lain menanggapinya. Presentasi dilakukan dengan menampilkan beberapa kelompok untuk menyampaikan hasil kerjanya. Pelaksanaan Tindakan Siklus II dilaksanakan hari kamis tanggal 13 September 2012 jam ke-3 dan ke-4 pada kelas IXA SMP Negeri 1 Tanjungsari. 402 . baik jumlah kelompok maupun anggota kelompoknya.3%) dari 32 peserta didik telah memperoleh nilai unjuk kerja lebih dari atau sama dengan KKM. Berikut ini adalah diagram perubahan aktivitas siswa. Evaluasi hasil belajar masih kurang dalam hal prosedur penilaian. siklus I dan siklus II. Masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Nilai kelompok diperoleh dari nilai LKS. setiap kelompok menerima 2 LKS dan seperangkat alat-alat listrik. Selain itu guru juga masih kurang dapat mengorientasikan masalah kepada siswa. Kondisi kelas di siklus II masih seperti pada siklus I. keaktifan siswa dalam berdiskusi dan unjuk kerja mengalami peningkatan. Berikut ini akan disajikan tabel mengenai kinerja guru pada siklus II. Adanya peningkatan jumlah ketuntasan hasil belajar siswa yang menjadi 27 orang dari sikulus I. Kegiatan inti dilakukan di laboratorium fisika SMP Negeri 1 Tanjungsari. nilai LKS dan hasil belajar siswa dari data awal. Selain itu. c. Nilai tersebut diperoleh dari 50% nilai unjuk kerja individu + 50% nilai kelompok.

Siklus I dan Siklus II 30 27 25 24 20 20 Nilai Rata-rata 15 12 tuntas belum tuntas 10 8 5 5 0 data awal siklus I siklus II Siklus Grafik 1.40 dari siklus I ke silus II. siklus I dan Siklus II.73. melakukan eksperimen dengan baik. Berikut ini adalah diagram mengenai ketuntasan belajar siswa dari data awal. Untuk nilai rata-rata LKS siklus I adalah 8.00 pada hasil belajar siklus I. Nilai LKS dan Hasil Belajar Siswa Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa perubahan yang terjadi dari data awal. Peningkatan Aktifitas siswa. Peningkatan Data awal.25 sedangkan nilai rata-rata LKS siklus II adalah 8. Dari grafik. Maka peningkatan yang terjadi dari siklus I pada nilai rata-rata LKS sebesar 0. terjadi peningkatan rata-rata sebesar 1.13. memasuki siklus I kemudian siklus II.64. Untuk aktivitas siswa pada siklus I siswa rata- rata sudah mampu menjawab pertanyaan dengan tepat. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Peningkatan Data awal. Ketuntasan Hasil Belajar Siklus Siswa 403 . nilai rata- rata aktivitas siswa yaitu 7. dan mempresentasikan hasil dengan cukup baik. 31 maka terjadi peningkatan dari siklus I sebesar 0.38. sedangkan pada siklus II nilai rat-rata aktivitas siswa adalah 8. sedangkan 0. Siklus I dan Siklus II 30 27 25 24 20 20 Nilai Rata-rata 15 12 tuntas belum tuntas 10 8 5 5 0 data awal siklus I siklus II Grafik 2. kerjasama dalam kelompok sudah baik.

Pembelajaran Berbasis Masalah bisa dijadikan alternatif dalam pendekatan pembelajaran siswa 404 . Evaluasi setiap akhir pelaksanaan tindakan mengalami peningkatan setiap siklus. Nilai proses belajar dalam bentuk unjuk kerja diperoleh data 27 (84. Kinerja guru dari hasil observasi mendapat persentase sebesar 88. Kegiatan evaluasi proses yang dilakukan oleh guru adalah mengamati aktivitas siswa pada saat terjadi pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Bagi peneliti yang akan meningkatkan hasil belajar siswa. Dari hasil pelaksanaan siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi listrik dinamis di SMP Negeri I Tanjungsari kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang. aktivitas siswa selama pembelajaran siklus II memperoleh nilai rata-rata keaktifan 8. 25% peserta didik belum mencapai KKM. Pertimbangan lain yang menjadikan siklus terhenti adalah dalam pengalokasian waktu yang telah dirancang dalam silabus pembelajaran. Berdasarkan hasil tes pada penerapan PBM pada siklus I mengalami peningkatan ketuntasan belajar menjadi 24 orang siswa (75%). 75% peserta didik telah mencapai KKM. Sedangkan.31 dan kinerja guru dari hasil observasi mendapat persentase sebesar 91.3%) dari 32 peserta didik sudah mencapai KKM. Meliputi pengamatan terhadap aktivitas siswa dan kinerja guru dengan lembar observasi. Penutup Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilaksanakan dalam dua siklus tentang Penggunaan PBM untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi listrik dinamis di kelas IX SMP Negeri I Tanjungsari Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Hal ini terjadi karena peserta didik sudah memiliki kemampuan merangkai alat pada pertemuan sebelumnya di siklus ke-1. Sedangkan. aktivitas siswa selama pembelajaran memperoleh nilai rata-rata keaktifan 7. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Berdasarkan pada data hasil pelaksanaan. proses pembelajaran dengan menggunakan PBM. Pada umumnya semua kelompok tidak mengalami kesulitan yang berarti.6.9. siklus akan dihentikan setelah 75% (24 peserta didik) dari 32 peserta didik telah mencapai KKM.68. Pada siklus II mengalami peningkatan ketuntasan belajar menjadi 27 orang siswa (84. Professional Learning untuk Indonesia Emas Refleksi Proses pembelajaran pada siklus ke-2 memperlihatkan peningkatan kemampuan melakukan percobaan sesuai prosedur. Berdasarkan rencana awal Penelitian Tindakan Kelas.3%). Dari hasil tes akhir yang dilakukan pada akhir pembelajaran.

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Daftar Pustaka

Arikunto, S., dkk (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi
Aksara.
Kasbolah, K.E.S. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Depdikbud.
Rusman (2010). Model-model Pembelajaran. Jakarta : Rajagrafindo
Persada.
Sugiyono (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Wariyono, Sukis & Muharomah, Y. (2008). Mari Belajar Ilmu Alam
Sekitar. Jakarta : Pusat Perbukuan Depdiknas
Wiriaatmadja, R. (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

405

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATERI MORFOLOGI
TUBUH HEWAN DAN TUMBUHAN SERTA
FUNGSINYA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE JIGSAW

Nana Suhana, Meiry Fadilah Noor
Madrasah Ibtidaiyah Negeri 19 Jakarta,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Email : meiry.fadilah@uinjkt.ac.id

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan
hasil belajar IPA siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 19 Jakarta.
Metode penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus
meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah:
Lembar tes hasil belajar, soal-soal latihan, lembar observasi guru
dan siswa, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan catatan lapangan.
Penskoran ketercapaian penelitian didasari pada KKM siswa
yang mencapai 75% dari jumlah siswa.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar
siswa pada setiap siklus. Ditunjukkan dari hasil proses belajar
nilai LKS dan evaluasi mengalami peningkatan. Rata-rata N-gain
juga mengalami peningkatan dari 0,32 (siklus I) menjadi 0,46
(siklus II). Ketercapaian indikator penelitian pada siklus I sebesar
67,5% menjadi 85% pada siklus II. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran IPA pada materi morfologi tubuh hewan
dan tumbuhan serta fungsinya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri
19 Jakarta.

Kata kunci : hasil belajar siswa, model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw, IPA

406

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Bab I pasal I ayat (1) mendefinisikan Pendidikan sebagai
usaha sadar yang terencana dalam mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran untuk mengembangkan potensi diri
pesertadidik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Jenderal
Pendidikan Nasional, 2006). Usaha tersebut terjadi proses belajar
mengajar antara siswa dengan guru dengan adanya interaksi. Hal
ini agar tercapai tujuan nasional dalam mengembangkan potensi
peserta didik selain berilmu salah satunya menjadi warga negara yang
bertanggung jawab (Rozak, 2010).
Peranan guru di kelas sebagai pengelola kelas sangat menentukan
pencapaian pembelajaran (Arend, 1997), Guru dapat mengelola kelas
dengan model- model pembelajaran, strategi, dan metode-metode
serta media yang tepat, sesuai dengan materi dan karakteristik
siswa. Siswa yang berilmu juga harus memiliki potensi berupa rasa
tanggung jawab yang dapat dikembangkan dengan pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran ini melibatkan siswa dalam berpartisipasi
dan berinteraksi pada kelompoknya untuk belajar bekerja sama
dengan anggota lainnya bertanggung jawab untuk diri dan anggota
kelompok dalam pencapaian belajar (Rusman, 2013).
Pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 19 Jakarta khususnya
pada kelas IV belum memaksimalkan interaksi serta partisipasi antar
siswa maupun guru. Metode pembelajaran yang digunakan seperti
ceramah, tanya jawab, tugas, dan sesekali menggunakan metode
diskusi. Sehingga hasil observasi menunjukkan aktivitas belajar yang
kurang aktif mengajukan pertanyaan, dan hanya beberapa siswa yang
dapat menjawab pertanyaan guru. Keberanian dalam mengemukakan
pendapat ketika diberikan kesempatan tidak termunculkan. Bahkan
interaksi antar siswa saat proses pembelajaran terlihat pasif. Hal ini
berdampak pada hasil belajar di dua angkatan kelas empat tahun ajar
2013/2014 dan 2012/2013 belum sesuai harapan yaitu sekitar 41,6 %
dan 33,7 % di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal 70.
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diduga dapat
menjadi pemecahan dalam permasalahan MIN 19, karena salah
satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif
dan saling membantu dalam menguasai materi untuk mencapai
prestasi yang maksimal (Zulfiani dkk., 2009). Pemberian model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw akan memberikan kesempatan
untuk siswa dalam mengemukakan pendapat dan mengolah

407

Professional Learning untuk Indonesia Emas

informasi serta meningkatkan keterampilan dalam berkomunikasi.
Pembelajaran jigsaw akan menyeimbangkan hubungan antara guru
dan siswa (Soimin, 2014). Dengan demikian,suasana belajar menjadi
menyenangkan, tujuan pembelajaran tercapai dengan pencapaian
tersebut terindikasikan darihasil belajar yang meningkat.
Materi Morfologi Hewan dan Tumbuhan di Madrasah Ibtidaiyah
19 kelas empat membahas mengenai karakteristik morfologi berbagai
macam hewan. Irene (2014) menyebutkan materi tersebut dalam
hal morfologi tubuh hewan diantaranya hewan ikan, kucing, katak,
dan ayam, perbedaan serangga dan laba-laba. Buku kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (2013) membahas mengenai hewan jenis
burung, perbedaan serangga dan laba-laba. Didukung pula dengan
buku Sains Sesuai Kurikulum 2013 Valerina (2014) yang menjabarkan
materi morfologi tubuh hewan meliputi beberapa hewan, kucing,
ikan , burung, dan serangga. Sedangkan materi morfologi tumbuhan
membahas pada organ akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji
(Haryanto, 2004). Karakteristik morfologi hewan dan tumbuhan
tersebut akan mudah dipahami dan diingat bila dikerjakan secara
bersama-sama. Dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tujuan
pembelajaran akan tercapai bersama-sama dan hasil belajar menjadi
meningkat. Dengan demikian, perlunya upaya perbaikan proses
pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam
meningkatkan hasil belajar,khususnya pada materi Morfologi Tubuh
Hewan dan Tumbuhan serta Fungsinya dengan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw”.

Hasil dan Pembahasan
Subjek penelitian ini adalah siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri
19 Jakarta kelas IV sebanyak 40 orang. Berdasarkan hasil pengamatan
langsung peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran IPA di Madrasah
Ibtidaiyah Negeri 19 Jakarta selama ini cenderung lebih banyak
mengembangkan kemampuan menghapal materi pembelajaran. Siswa
belum dibiasakan untuk memahami materi pembelajaran dengan cara
kelompok. Pembelajaran IPA masih berpusat pada guru yang lebih
sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan.
Guru juga jarang mengajak siswa untuk mempergunakan fasilitas
penunjang seperti labolatorium dan alat peraga dalam pembelajaran
IPA. Selain itu kurang adanya interaksi antarsiswa dalam proses
pembelajaran.
Berdasarkan hal-hal tersebut peneliti mencoba menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang sangat jarang diterapkan
dalam pembelajaran IPA. Objek dari penelitian tindakan ini adalah

408

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan hasil belajar siswa.
Penelitian dilakukan sebanyak dua siklus, masing-masing siklus terdiri
dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi atau pengamatan,
dan refleksi.

Siklus pertama
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti yang juga sebagai guru
IPA, mengembangkan rencana tindakan berdasarkan penelitian
pendahuluan terhadap proses pembelajaran IPA dan hasil belajar IPA.
Dari penelitian pendahuluan didapatkan bahwa pada sekolah yang
akan diteliti mengalami permasalahan pada rendahnya hasil belajar
IPA. Guru dalam memberikan materi pembelajaran masih terbatas
pada metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Siswa kurang
aktif dalam memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan, siswa
kurang berani mengemukakan pendapat, serta kurang terjadinya
interaksi antarsiswa dalam proses pembelajaran.
Peneliti merancang desain pembelajaran yang dapat mengatasi
masalah yang dihadapi. Desain pembelajaran yang disiapkan meliputi
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, LKS (Lembar Kerja Siswa),
lembar observasi guru dan siswa, instrument tes soal pilihan ganda
untuk pretest dan postest dan membentuk kelompok belajar siswa.
Pembelajaran pada siklus I dilakukan dalam dua kali pertemuan.
Pada pertemuan pertama dan kedua pembelajaran dilaksanakan di
dalam kelas dan siswa melakukan pengamatan dan diskusi kelompok.
Indikator pembelajaran dari materi morfologi tubuh hewan dan
fungsinya yaitu menjelaskan morfologi tubuh ikan dan fungsinya,
menjelaskan morfologi tubuh kucing dan fungsinya, menjelaskan
morfologi tubuh merpati dan fungsinya serta menjelaskan morfologi
tubuh katak dan fungsinya pada pertemuan pertama. Pada pertemuan
kedua indikatornya yaitu membedakan serangga dan laba-laba,
membedakan merpati dan kelelawar, membedakan cicak dan bunglon,
dan membedakan ikan dan katak.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Pada
tahap pelaksanaan guru berusaha menerapkan kegiatan pembelajaran
dengan menerapkan model pembelajaran koopertif tipe jigsaw yang
telah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada
pertemuan pertama proses pembelajaran diawali dengan berdoa dan
mengecek daftar hadir siswa, dan melaksanakan pretest sebanyak

409

Professional Learning untuk Indonesia Emas

26 soal pilihan ganda yang dilaksanakan pada hari senin tanggal 27
Oktober 2014, tujuannya adalah untuk mengukur seberapa jauh siswa
memiliki kemampuan mengenai materi yang akan dipelajari. Proses
pembelajaran dilanjutkan dengan penjelasan guru mengenai tujuan
pembelajaran hari ini. Kemudian guru menunjukkan ikonik ikan,
katak, merpati, ayam, dan menempelkan gambar ikan, katak, kucing,
dan merpati, setelah itu guru meminta siswa untuk mengamati ikonik
dan gambar tersebut dan menanyakan bagian-bagian tubuh hewan
tersebut serta fungsinya. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam
10 kelompok asal, membagikan LKS dengan materi yang berbeda
tiap anggota kelompok, dan membimbing siswa berbagi tugas dan
berdiskusi dalam kelompok ahli. Setelah berdiskusi, guru meminta
siswa untuk kembali ke kelompok asal dan menunjuk perwakilan
kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan
kelas. Guru juga memberikan latihan soal atau tugas kepada masing-
masing siswa yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari
dengan bentuk soal isian. Guru juga memberikan reward kepada
kelompok yang terbaik. Setelah menyelesaikan tugas siswa dibimbing
untuk membuat kesimpulan materi yang telah dipelajari secara umum,
selanjutnya guru meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa
bersama.
Pada pertemuan kedua pembelajaran diawali dengan berdoa,
mengecek daftar hadir siswa, dan penjelasan tujuan pembelajaran
pada hari ini. Guru menunjukkan gambar serangga, laba-laba,
kelelawar, cicak, bunglon, ikan, dan katak, setelah itu guru meminta
siswa untuk mengamati gambar tersebut dan menanyakan perbedaan
hewan tersebut dengan menyebutkan ciri-cirinya. Selanjutnya guru
membagi siswa ke dalam 10 kelompok asal, membagikan LKS dengan
materi yang berbeda tiap anggota kelompok, membimbing siswa
berbagi tugas dan berdiskusi dalam kelompok ahli. Setelah berdiskusi,
guru meminta siswa untuk kembali ke kelompok asal dan menunjuk
perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya
di depan kelas dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Pada
pertemuan kedua siswa yang menjadi perwakilan kelompok adalah
siswa yang belum pernah menjadi perwakilan kelompok pada
pertemuan pertama. Guru juga memberikan latihan soal atau tugas
kepada masing-masing siswa yang berkaitan dengan materi yang telah
dipelajari dengan bentuk soal uraian singkat. Setelah menyelesaikan
tugas siswa dibimbing untuk membuat kesimpulan materi yang telah
dipelajari secara umum. Proses pembelajaran siklus I pertemuan
kedua diakhiri dengan diadakannya postest . Tujuan tes ini untuk
mengetahui hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran.

410

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

c. Pengamatan
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dari aspek
kognitif pada siklus I dilakukan tes hasil belajar. Adapun hasil tes
belajar siswa adalah sebagai berikut pada siklus I setelah dilakukan
tindakan nilai rata-rata siswa hanya mencapai 79,5. Siswa yang belum
memenuhi KKM (70) mencapai 32,5% (13 siswa) dan siswa yang sudah
memenuhi KKM 67,5% (27 siswa), sedangkan tingkat keberhasilan
memenuhi indikator yaitu 75%. Adapun hasil tes kemampuan siswa
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Belajar pada Siklus 1
Keterangan Nilai
Rata-Rata 79,5
Nilai Maksimal 100
Nilai Minimal 54
Median 77
Modus 69
Siswa yang Tuntas (%) 67,5
Siswa yang Belum Tuntas (%) 32,5

Setelah mengalami pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw hasil belajar mengalami
peningkatan. Nilai rata-rata skor 79,5, nilai terendah 54, nilai tertinggi
mencapai 100, nilai tengah 77, nilai yang banyak diperoleh siswa
(modus) adalah 69, dan standar deviasi adalah 12,20. Namun pada tes
siklus I hanya 27 siswa yang mencapai nilai KKM dengan persentase
keberhasilan sebanyak 67,5 %.
Proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siklus I untuk tiap
pertemuannya dilengkapi dengan penggunaan Lembar Kerja Siswa
(LKS). LKS diberikan kepada masing-masing kelompok yang telah
dibentuk. Hasil penilaian LKS untuk tiap kelompok menunjukkan
penilaian Lembar Kerja Siswa pada pertemuan pertama sudah baik
karena sudah semua kelompok mencapai nilai KKM (ada dua kelompok
mendapatkan nilai sama dengan nilai KKM), dengan nilai tertinggi
100 dan nilai terendah 70. Rata-rata perolehan nilai LKS adalah 84.
Begitu pula penilaian LKS pada pertemuan kedua semua kelompok
sudah mencapai nilai KKM. Dengan demikian, proses pembelajaran
terlaksana sesuai dengan harapan adanya interaksi dalam kelompok
untuk pencapaian belajar bersama-sama berbantu LKS.
Pada tahap evaluasi masing-masing siswa diberikan tes individu
berupa latihan soal. Pada pertemuan pertama siklus I siswa diberikan
soal isian singkat sebanyak 5 soal, sedangkan pada pertemuan

411

Professional Learning untuk Indonesia Emas

kedua diberikan soal uraian singkat sebanyak 5 soal juga. Pemberian
latihan soal ini bertujuan untuk memberikan hasil evaluasi dari hasil
pembelajaran yang telah dilaksanakan, sehingga dapat diketahui
kemampuan penguasaan materi anak. Hasil evaluasi latihan soal yang
diberikan kepada setiap siswa pada siklus I diperolehan latihan soal
pada pertemuan pertama rata-ratanya 91,3 sedangkan pada pertemuan
kedua rata-ratanya mencapai 92. Sehingga dapat dikatakan bahwa
hasil perolehan nilai pada pertemuan kedua mengalami peningkatan.
Hasil pengamatan proses belajar dengan observasi yang
dilaksanakan selama proses pembelajaran dengan mengggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siklus I pertemuan
pertama ditemukan beberapa kekurangan dalam pelaksanaannya. Ada
beberapa siswa yang dalam kelompoknya masih kurang serius dan
bermain-main saat diskusi kelompok. Ada kesesuaian cara mengajar
guru dalam menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
tetapi siswa belum terbiasa dengan pembelajaran model kooperatif
tipe jigsaw. Siswa masih terpaku pada buku saat melakukan presentasi
dan masih malu-malu dalam melakukan presentasi bahkan enggan
dalam memberikan tanggapan terhadap kelompok yang berpresentasi.
Pada pertemuan kedua sudah mulai ada peningkatan di mana siswa
sudah mulai memahami model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Siswa sudah lebih tertib dalam berdiskusi kelompok, berani dalam
memberikan presentasi dan memberikan tanggapan. Walupun
ini hanya beberapa siswa saja. Dapat disimpulkan pembelajaran
pada siklus I siswa telah mengikuti proses pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran koooperatif tipe jigsaw.
Begitu pula hasil observasi yang dilaksanakan selama proses
pembelajaran dengan mengggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw pada siklus I pertemuan pertama ditemukan bahwa
secara umum proses yang dilakukan guru sudah baik. Guru sudah
memfasilitasi interaksi antarsiswa, memotivasi siswa untuk bertanya
dan memberikan respon terhadap pertanyaan siswa. Guru juga sudah
menggunakan media pembelajaran.

d. Refleksi
Pada siklus I terdiri dari dua pertemuan yang dilakukan secara
keseluruhan siswa telah berperan aktif selama proses pembelajaran.
Akan tetapi ada sedikit siswa yang kelihatan pasif khususnya pada
saat berdiskusi. Pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif
tipe jigsaw pada materi morfologi tubuh hewan dan fungsinya masih
terdapat kekurangan. Sehingga perlu dilakukan perbaikan. Adapun
kekurangan dan perbaikan yang terdapat pada siklus I dapat diuraikan

412

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

pada Tabel 2.

Tabel 2. Kekurangan dan Perbaikan Siklus I
No. Tindakan Kekurangan Perbaikan
Terkadang terlihat ada
beberapa siswa yang
Guru harus lebih aktif
tidak serius dalam
memantau siswa agar
Pemahaman pembelajaran ketika
tidak ada kesempatan
1. siswa terhadap proses pembelajaran
siswa untuk beraktivitas
materi berlangsung sehingga
lain selain proses belajar
siswa tidak fokus dalam
menangkap materi
pelajaran.
Hanya beberapa siswa
Memotivasi siswa
yang berani bertanya,
agar terbentuk
mengungkapkan
2. Kegiatan siswa sikap percaya diri
pendapatnya dalam
dalam bertanya dan
proses pembelajaran dan
berpendapat
diskusi
Kurangnya waktu Guru harus berusaha
yang tersedia dalam mengatur waktu yang
Waktu
5. menerapkan model tersedia dengan baik
pelaksanaan
pembelajaran kooperatif sehingga efektif selama
tipe jigsaw proses pembelajaran

e. Keputusan
Pada pelaksanaan siklus I berdasarkan tes hasil belajar siswa
yang telah dilaksanakan selama proses pembelajaran siklus I bahwa
hasil belajar siswa pada materi morfologi tubuh hewan dan fungsinya
belum memenuhi indikator yang peneliti harapkan. Indikator yang
ditetapkan oleh peneliti yaitu sebesar 75% siswa memiliki nilai di atas
KKM yaitu 70, tetapi dari hasil tes pada siklus I persentase siswa yang
sudah mencapai KKM hanya mencapai 67,5% (27 0rang). Nilai N-gain
pada siklus I adalah 0,32 dengan kategori sedang. Dalam hal ini perlu
dilakukan tindak lanjut proses pembelajaran untuk perbaikan tindakan
dan hasil belajar siswa sesuai dengan refleksi siklus I (tabel 4.7).
Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian
tindakan kelas ini ke siklus II.

Siklus Kedua
a. Perencanaan
Perencanaan yang akan dilaksanakan pada siklus II berdasarkan
refleksi dari siklus I yang akan merubah desain pembelajaran lebih
baik lagi. Perencanaan pada siklus II ini dimulai dengan menyiapkan

413

Professional Learning untuk Indonesia Emas

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi,
dan tes. Pembelajaran pada siklus II dilakukan dalam tiga kali
pertemuan. Diharapkan setelah proses pembelajaran siswa mencapai
indikator yang telah ditentukan. Indikator pembelajaran dari materi
morfologi tumbuhan dan fungsinya yaitu menulis hasil pengamatan
tentang morfologi tumbuhan pepaya dan fungsinya. Menulis hasil
pengamatan tentang morfologi tumbuhan jagung dan fungsinya.
Menulis hasil pengamatan tentang morfologi tumbuhan mangga dan
fungsinya. Menulis hasil pengamatan tentang morfologi tumbuhan
sirih dan fungsinya. Pada pertemuan kedua indikatornya yaitu
menggali informasi tentang bunga dan bagiannya berdasarkan teks.
Menggali informasi tentang fungsi bunga berdasarkan teks. Menggali
informasi tentang daun dan bentuknya berdasarkan teks. Menggali
informasi tentang fungsi daun berdasarkan teks. Sedangkan pada
pertemuan ketiga indikatornya yaitu menggali informasi tentang
batang berdasarkan teks. Menggali informasi tentang fungsi batang
berdasarkan teks. Menggali informasi tentang akar berdasarkan teks.
Menggali informasi tentang fungsi akar berdasarkan teks.

b. Pelaksanaan
Pada tahapan ini, guru berusaha menerapkan kegiatan
pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw yang telah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP). Pada pertemuan pertama siklus II guru membuka pelajaran
dengan salam dan berdoa, guru membagikan soal pretest kepada siswa
dan mengawasi siswa dalam mengerjakan soal tersebut. Sebelum
pembelajaran dilanjutkan dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
akan dilaksanakan. Pada tahap awal guru mengajukan pertanyaan
yang berkaitan dengan morfologi tumbuhan. Sebelum membagikan
LKS kepada masing-masing kelompok guru menjelaskan kepada
siswa cara berinteraksi dengan teman sekelas ataupun teman
sekelompok, agar terjalin kerjasama antar kelompok maupun antar
siswa secara umum. Kegiatan dilanjutkan dengan guru mencontohkan
gambar tumbuhan pepaya, jagung, mangga, dan sirih. Tiap kelompok
juga diberikan tanaman asli dan gambar tumbuhan tersebut. Siswa
disuruh mengamati tanaman tersebut dan menyelesaikan LKS. Guru
memberikan bimbingan dan pengawasan lebih kepada masing-
masing kelompok agar menyelesaikan LKS dengan teliti. Pengawasan
dilakukan pada kelompok asal dan ahli. Selanjutnya guru meminta
perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasilnya di depan
kelas. Perwakilan kelompok yang presentasi adalah siswa yang

414

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

berbeda dengan perwakilan kelompok pada pertemuan pertama
dan kedua pada siklus I, agar setiap siswa memiliki kesempatan
untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Guru dan siswa
memberikan tepukan tangan kepada perwakilan kelompok yang
akan presentasi. Guru juga memberikan penghargaan berupa pujian
kepada kelompok lain yang bertanya atau memberikan tanggapan.
Selanjutnya guru memberikan evaluasi berupa laporan hasil
pengamatan terhadap morfologi tumbuhan. Sebelum pembelajaran
berakhir guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan
pembelajaran pada hari ini.
Pada pertemuan kedua siklus II guru memulai pembelajaran
dengan salam dan berdoa, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan
bertanya jawab tentang materi yang akan dipelajari. Guru memberikan
penjelasan tentang bunga dan daun. Selanjutnya guru membentuk
kelompok seperti pada siklus I pertemuan pertama, meminta
siswa untuk membaca teks yang berkaitan dengan materi. Guru
memberikan LKS untuk dikejakan secara berkelompok baik dalam
kelompok asal maupun ahli. Guru membimbing dan mengawasi kerja
siswa dalam kelompok agar masing-masing kelompok bekerja sama
dengan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugasnya. Setelah
masing-masing kelompok menyelesaikan tugasnya guru meminta
perwakilan tiap kelompok untuk mempresentasikan di depan
kelas, siswa yang presentasi diusahakan siswa yang belum pernah
presentasi pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Guru dan siswa
memberikan penghargaan berupa tepukan tangan kepada perwakilan
kelopok sebelum dan sesudah presentasi. Bagi perwakilan kelompok
yang bertanya atau menanggapi juga diberikan penghargaan.
Setelah masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya guru
memberikan evaluasi berupa soal isian. Sebelum pembelajaran
berakhir guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan
pembelajaran pada hari ini.
Pertemuan ketiga siklus II, setelah guru membuka pembelajaran
dengan salam dan doa, guru mengajak siswa untuk menyanyikan
lagu Naik-Naik ke Puncak Gunung dan dengan senang siswa
menyanyikannya. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan
pembelajaran pada hari ini, meminta siswa untuk berkelompok seperti
pada pertemuan pertama siklus I. Pada pertemuan ketiga siklus II ini
siswa sudah tampak terbiasa dengan kerja kelompok tipe jigsaw. Guru
menunjukkan gambar beberapa batang dan akar tanaman dan meminta
siswa untuk mengamatinya. Guru menjelaskan materi pembelajaran
dan meminta siswa untuk membaca teks tentang materi pembelajaran
tersebut. Selanjutnya guru memberikan LKS untuk didiskusikan pada

415

Professional Learning untuk Indonesia Emas

masing-masing kelompok.
Pada saat siswa berdiskusi guru memberikan pelayanan yang
lebih dengan memantau dan membimbing diskusi masing-masing
kelompok dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
apabila ada hal-hal yang tidak dimengerti. Siswa terlibat aktif dan
antusiasme dalam mengikuti pembelajaran. Setelah siswa selesai
berdiskusi dalam kelompok ahli siswa diminta kembali ke kelompok
asal dan kembali berdiskusi. Selesai siswa berdiskusi dalam kelompok
asal maka meminta perwakilan kelompok untuk presentasi di depan
kelas dan kelompok lain diminta memberikan tanggapan atau
bertanya. Bagi kelompok yang presentasi dan memberikan tanggapan
diberikan reward berupa tepukan semangat dan pujian.
Langkah selanjutnya yaitu pemberian latihan soal isian singkat
sebanyak 5 soal untuk mengetahui hasil yang telah dicapai terhadap
tahap pembelajaran sebelumnya. Pada tahap ini guru memaksimalkan
perhatiannya kepada siswa seluruh siswa agar mengerjakan soal
denga tertib dan disiplin. Kemudian guru membimbing siswa untuk
membuat kesimpulan pada hari ini. Pada akhir pembelajaran ketiga
siklus II, guru memberikan soal postest kepada seluruh siswa dan
mengawasi siswa selama proses penyelesaiannya agar tidak terjadi
kecurangan dan ketidakdisiplinan.

c. Pengamatan
Peningkatan hasil belajar siswa dari aspek kognitif pada siklus
II dilakukan tes hasil belajar. Adapun hasil tes belajar siswa adalah
sebagai berikut pada siklus II setelah dilakukan tindakan nilai rata-
rata siswa telah mencapai 85. Siswa yang belum memenuhi KKM (70)
mencapai 15% (6 siswa) dan siswa yang sudah memenuhi KKM 85%
(34 siswa) dan tingkat keberhasilan sudah memenuhi indikator yaitu
75%. Adapun hasil tes kemampuan siswa dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Belajar pada Siklus II
Keterangan Nilai
Rata-Rata 85
Nilai Maksimal 100
Nilai Minimal 62
Median 88
Modus 92
Siswa yang Tuntas (%) 85
Siswa yang Belum Tuntas (%) 15

416

Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa

Setelah mengalami pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw hasil belajar siswa meningkat,
dengan nilai rata-rata 85. Nilai terendah 62, nilai tertinggi 100, nilai
tengah (median) 88, nilai yang paling banyak diperoleh siswa (modus)
92, dan standar deviasi 10,93. Pada tes siklus II sebanyak 34 siswa telah
mencapai nilai KKM (70) dengan persentase keberhasilan sebanyak
85 %.
Proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siklus II untuk
tiap pertemuannya dilengkapi dengan penggunaan Lembar Kerja
Siswa (LKS). LKS diberikan kepada masing-masing kelompok yang
telah dibentuk. Hasil penilaian LKS pada pertemuan pertama sudah
baik karena sudah semua kelompok mencapai nilai KKM (ada satu
kelompok mendapatkan nilai sama dengan nilai KKM), dengan nilai
tertinggi 90 dan nilai terendah 70. Rata-rata perolehan nilai LKS
adalah 84. Nilai LKS pada pertemuan kedua mengalami peningkatan,
pada pertemuan kedua rata-rata nilai LKS mencapai rat-rata 86.
Semua kelompok sudah mencapai nilai KKM (ada satu kelompok
mendapatkan nilai sama dengan nilai KKM). Nilai LKS pada pertemuan
ketiga mengalami peningkatan, pada pertemuan ketiga rata-rata nilai
LKS mencapai 87. Semua kelompok sudah mencapai nilai KKM (ada
satu kelompok mendapatkan nilai sama dengan nilai KKM).
Pada tahap evaluasi masing-masing siswa diberikan tes individu
berupa latihan soal. Pada pertemuan pertama siklus I siswa diberikan
tugas 2 soal, pada pertemuan kedua diberikan soal isian singkat
sebanyak 5 soal, pada pertemuan kedua diberikan soal uraian
singkat sebanyak 5 soal juga. Pemberian latihan soal ini bertujuan
untuk memberikan hasil evaluasi dari hasil pembelajaran yang telah
dilaksanakan, sehingga dapat diketahui kemampuan penguasaan
materi anak. Hasil evaluasi latihan soal yang diberikan kepada setiap
siswa pada siklus II pada pertemuan pertama rata-rata mencapai
90, pertemuan kedua rata-rata mencapai 93, dan pada pertemuan
ketiga rata-rata mencapai 94. Sehingga dapat dikatakan bahwa
hasil perolehan nilai pada pertemuan kedua dan ketiga mengalami
peningkatan dibandingkan dengan pertemuan pertama.
Sedangkan observasi yang dilaksanakan selama proses
pembelajaran dengan mengggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw pada siklus II guru sudah memperbaiki kesalahan dan
kekurangan yang terjadi pada siklus I, hal ini bertujuan untuk
mendapatkan hasil proses pembelajaran yang lebih baik dari pada
siklus sebelumnya. Kegiatan siswa mengalami perbaikan dari kegiatan
pada siklus I, siswa sudah aktif dan berani dalam mengemukakan
pendapat, siswa sudah berani presentasi di depan kelas. Secara

417

tanggung jawab terhadap tugas bersama-sama. Maka peneliti memutuskan untuk mengakhiri penelitian tindakan kelas ini di siklus II karena sudah mencapai target yang diharapkan.46. Penggunaan media menghasilkan pesan menarik dan siswa terlibat dalam pemanfaatannya. dan latihan soal. Penggunaan media pembelajaran hanya sebatas papan tulis dan gambar-gambar saja. Guru sudah mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok dan menumbuhkan sikap partisipasi aktif siswa dengan baik. proses pembelajaran IPA biasanya menggunakan metode ceramah. N-gain kelas pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I dari 0. Professional Learning untuk Indonesia Emas keseluruhan kegiatan pembelajaran pada siklus II jauh lebih aktif karena sudah terjadi interaksi antarsiswa yang baik. aktivitas siswa pada siklus II dikategorikan baik. dan pada siklus II ini persentase siswa yang sudah mencapai KKM adalah 85% . dan penugasan. LKS. Begitu pula observasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran dengan mengggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siklus II guru sudah memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Indikator utama yang ditetapkan oleh peneliti sebesar 75 % siswa memiliki nilai di atas KKM yaitu 70. nilai yang diperoleh mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Refleksi Pada siklus II. kerjasama. Pada siklus II secara umum proses pembelajaran yang dilakukan guru sudah baik. tanya jawab. Hal ini menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa terutama pada materi morfologi tubuh hewan dan tumbuhan serta fungsinya. berdasarkan hasil pengamatan diperoleh temuan- temuan yaitu: Rata-rata hasil tes pada siklus II mencapai 85. Sebelum dilakukannya tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil proses pembelajaran yang lebih baik dari pada siklus sebelumnya. Guru juga sudah melakukan pemantauan kerja setiap kelompok dengan optimal. e. Keputusan Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa perolehan nilai dari hasil belajar.32 menjadi 0. d. lebih berani bertanya dan mengungkapkan pendapat serta presentasi dibandingkan pada siklus I. dan sangat jarang menggunakan labolatorium dan alat-alat peraga untuk paktikum. N-gain kelas. tingkat keberhasilan. Siswa berpartisipasi aktif. Tingkat ketuntasan atau persentase keberhasilan pada siklus II meningkat menjadi 85% (34 orang). Dalam pembelajaran IPA sebaharusnya 418 .

Hasil rata-rata dari pengerjaan LKS siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Penerapan model pembelajara kooperatif tipe jigsaw yang berkelanjutan dalam dua siklus telah menunjukkan peningkatan pada tiap komponen jigsaw. dan keberanian mengemukakan pendapat. Bila dianalisis tiap komponennya maka tiap- tiap komponen telah menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Dengan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Yulaika. Peran guru juga kurang maksimal dalam mengawasi persiapan dan pelaksanaan proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Bahkan pada pertemuan ke tiga siklus II rata-ratanya mencapai 87. Pada pertemuan pertama siklus I. kerjasama antarsiswa. Pencapaian ini dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang diterapkan selama proses pembelajaran menggunakan pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Setelah dilakukannya penelitian tindakan kelas yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi morfologi tubuh hewan dan fungsinya. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terjadi perubahan dalam proses pembelajaran yang meliputi peningkatan keterampilan sosial. Hal ini berarti siswa telah mengalami perubahan dalam belajar dan memahami suatu konsep baik pula. perolehan rata-rata hasil LKS mencapai 84 walaupun ini termasuk bagus karena di atas KKM. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa lebih banyak menggunakan media dan praktek langsung sehingga pembelajaran akan lebih bermakna pada diri siswa. selama proses pembelajaran guru bidang studinya belum pernah menerapkan pendekatan seperti ini. Pada siklus II nilai rata-rata LKS mengalami peningkatan. tetapi pada pertemuan ini siswa masih belum mengerti bagaimana konsep-konsep jigsaw yang baru saja mereka dapatkan. yang menyatakan bahwa melalui proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu menciptakan 419 . dkk. Siswa belum terbiasa dengan proses pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktivan siswa. 2012). di mana proses pembelajaran difasilitasi dengan serangkaian kegiatan yang membangkitkan aktivitas siswa dan memberikan pengalaman langsung pada setiap tahap pembelajarannya. Peneliti berusaha meningkatkan keaktivan siswa dengan menggunakan LKS yang dikerjakan secara kelompok. sehingga siswa merasa kebingungan dan sulit untuk beradaptasi dengan proses pembelajaran baru. interaksi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Desak Nyoman Purwati.

Rata-rata N-gain pada siklus I yaitu 0. Professional Learning untuk Indonesia Emas suasana menyenangkan. aktif. sehingga mampu menyelesaikan tugas kelompoknya dengan lebih baik. Banyak riset dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatif dengan dasar jigsaw.32 dan terjadi peningkatan pada siklus II menjadi 0. bekerjasama. Riset tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa siswa yang terlibat di dalam pembelajaran kooperatif model jigsaw ini memperoleh prestasi yang lebih baik.46. 2013). kreatif dan berfikir kritis selama pembelajaran. siswa merasa dihargai pendapatnya sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. aktif. Menurut Deli Wartaty Hasibuan. Peningkatan ini dikarenakan adanya perbaikan pada proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang menuntun siswa untuk berinteraksi. mengaktifkan siswa. berani mengemukakan pendapat. melibatkan siswa dalam belajar kelompoknya. menarik. serta saling menghargai perbedaan dan pendapat orang lain (Rusman. 420 . mandiri. dengan dilakukannya model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw membuat siswa kelas IV SD menjadi berani mengemukakan pendapatnya dalam kelompok dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV SD (Purwati. Hal ini ditunjukkan dengan siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada siklus I mencapai 67. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung. Sehingga pembelajaran mencapai tujuan dan meningkatkan hasil belajar siswa. dan bertanggung jawab terhadap tugas secara bersama-sama. Kesimpulan Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi morfologi tubuh hewan dan tumbuhan serta fungsinya. 2013). berani bertanya. Siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan memiliki motivasi belajar tinggi akan memiliki kemampuan untuk belajar yang lebih kompetitif dan menantang yang memungkinkan mereka memperoleh masukan secara langsung untuk mencapai target yang ditetapkannya. mempunyai sikap yang lebih baik dan lebih positif terhadap pembelajaran. Sedangkan Lie menyatakan bahwa jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang fleksibel.5 % (27 orang) meningkat pada siklus II menjadi 85 % (34 orang) yang telah mencapai KKM. Model pembelajaran kooperatif jigsaw siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Jurusan Pendidikan Dasar. Haryanto. Volume 6. Kompilasi Undang-Undang dan Peraturan Pendidikan. Jakarta: Yudistira. 2013. 2014. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Daftar Pustaka Departemen Pendidikan Nasional. 2014. Zulfiani. dan Kinkin Suartini. Jakarta: Raja Grafind Persada Shoimin Aris. Strategi. Jakarta: Lazuardi GIS. Sains untuk Sekolah Dasar Kelas IV. Yulaikha Mei. Yogyakarta: Ar Ruzz Media. Aswan Zain. Irene dkk. 2012. Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tonih Feronika. Jakarta: Erlangga. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Valerina Dian Oky. dkk. Purwati Desak Nyoman. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Sekretariat Jenderal Pendidikan Nasional. dan Implementasinya dalam KTSP. Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya. 3. 2010. 2013. Model Pembelajaran Terpadu Konsep. Strategi Belajar Mengajar. Trianto. 2013. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta Press. Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: Rineka Cipta. Bupena Buku Penilaian Autentik Tema Peduli Terhadap Makhluk Hidup untuk Sekolah Dasar Kelas 4 Semester 1. Jakarta: Erlangga. 421 . Rozak Abdul. 2012. Djamarah Syaiful Bahri. Universitas Pendidikan Ganesha. 2004. Sains Sesuai Kurikulum 2013 Kelas 4. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Bumi Aksara. 2014. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Terhadap Hasil Belajar Ditinjau dari Motivasi Belajar pada Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SD Saraswati Tabanan. Penerapan Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. 2006. Rusman. 2009. 2013. Volume. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Buku Guru Peduli Terhadap Makhluk Hidup.

dan 5) Merumuskan Kesimpulan.Tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. perhitungan rata-rata hasil belajar siswa siklus I dan II. tindakan.74.42 dan siswa yang mencapai KKM ≥ 70 berjumlah 22 orang (81. Kata kunci: Model Pembelajaran Inkuiri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan. pengamatan. Fauzan. Rata-rata skor hasil belajar siswa kelas IVA pada siklus I sebesar 71. rata-rata N-gain sebesar 0.48%). sedangkan siklus kedua menggunakan sub konsep gaya dapat mempengaruhi bentuk benda.63. Hasil Belajar IPA 422 . dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah lembar observasi.Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif. catatan lapangan. MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA PADA KONSEP GAYA Fathiah Alatas. Dengan demikian hasil belajar IPA siswa pada konsep gaya dapat meningkat melalui model pembelajaran inkuiri yang memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) Rumusan Masalah.85%) sedangkan pada siklus II sebesar 80. siklus pertama menggunakan sub konsep gaya dapat mempengaruhi gerak benda. Penelitian ini dilakukan di SDN Kebon Manggis 11 Pagi Matraman- Jakarta Timur kelas IVA yang berjumlah 27 siswa tahun ajaran 2013/2014. 3) Mengumpulkan Data. 4) Menguji Hipotesis. 2) Merumuskan Hipotesis. dan tes pilihan ganda. rata-rata N-gain sebesar 0. Taj Nur Aliyah Maharani Penelitian Tindakan Kelas IV di SDN Kebon Manggis 11 Pagi Matraman) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA siswa pada konsep gaya melalui model pembelajaran inkuiri.27 dan siswa yang mencapai KKM ≥ 70 berjumlah 14 orang (51.

Muhibbin Syah (2010) dalam buku Psikologi Pendidikan suatu pendekatan baru mendefinisikan. 2010). dan mengaitkan gagasan dengan informasi baru yang diterima. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pendahuluan Undang-Undang No. Sedangkan Tasker dalam Muhibbin Syah (2010) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme yaitu peran aktif siswa dalam pembelajaran yang bermakna. model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkaidaripenerapansuatupendekatan. pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. kepribadian.Dengan kata lain.Inovasi ini sangat penting manakala guru mengajarkan mata pelajaran yang banyak mengandung konsep- 423 . bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. pengendalian diri. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana dalam mewujudkan suasana belajar mengajar secara aktif agar siswa memiliki kekuatan spiritual keagamaan.Selain itu pembelajaran IPA juga bertujuan untuk menjelaskan gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. pelajaran IPA sangat perlu diajarkan di SD dengan menekankan pada pemberian pengalaman langsung melalui keterampilan proses dan sikap ilmiah yang tentunya harus didukung dengan berbagai sarana dan prasarana serta model pembelajaran yang bervariasi. pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran. Salah satu pengajaran IPA khususnya di SD adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. dan negara (Wina. akhlak mulia. Model pembelajaran pada dasarnya adalah bentuk pembelajaran yang tergambar sejak awal sampai akhir dan disajikan secara khas oleh guru. Oleh karena itu. Artinya. pentingnya membuat gagasan dalam pembelajaran yang bermakna. bangsa.Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar siswa untuk mencapai tujuan belajar tertentu. masyarakat. Maka dapat dinyatakan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh siswa sehingga didapat pembelajaran yang bermakna. 2006). metode dan teknik pembelajaran (Iif. Menurut teori belajar konstruktivisme. kecerdasan.

cenderung bersikap pasif. Oleh karena itu tugas guru adalah secara berkelanjutan melakukan inovasi atas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaandan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya diarahkan secara ilmiah untuk menumbuhkan berpikir. bersikap santai. berdiskusi. agar terjadi belajar bermakna bagi siswa guru harus selalu berusaha 424 . Banyak materi yang mereka masih anggap sulit dimengerti.  guru  tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengelola pemikirannya sendiri dalam mengkaji fenomena-fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.Dengan demikian. sehingga tidak muncul interaksi. Pada konsepgaya siswa masih menganggap sulit saat mengaitkannya pada kehidupan sehari-hari.Kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk pelajaran IPA yaitu 70. Sesuai dengan hasil wawancara langsung terhadap guru dan siswa kelas IV di SDN Kebon Manggis 11 Pagi bahwa mata pelajaran IPA pada materi Gaya dianggap sulit bagi siswa. Di kelas siswa tidak terbiasa bertanya.sumber pengetahuan pada saat proses pembelajaran dikelas masih didominasi oleh guru. khususnya dalam memahami materi IPA. Guru dalam proses pembelajarannya masih cenderung hafalan.Pencapaian hasil belajar siswa yang masih rendah yaitu terlihat dari rata-rata kelas pada hasil ulangan harian materi gaya sebesar 63. dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup (IsrianiHardini. Siswa hanya sebagai pendengar dan pencatat apa yang disampaikan oleh guru sehingga mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan. dimana siswa tidak dilibatkan secara langsung untuk mengamati objek tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya. bekerja.3. karena siswa tidak pernah melakukan percobaan atau eksperimen. dkk: 2012).Inspirasi utama dalam menginovasi pembelajaran adalah melakukan migrasi dari pembelajaran yang semata-mata hanya berpusat kepada guru kepada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Namun pada nyataanya dalam pembelajaran IPA. bahkan ketika mengalami kesulitan belajar mereka tidak berusaha untuk memecahkan kesulitan belajar tersebut. siswa jarang berperan aktif dalam proses pembelajaran. SDN Kebon Manggis 11 Pagi khususnya kelas IV. terlihat mereka lebih asik mengobrol dengan teman sebangkunya. Professional Learning untuk Indonesia Emas konsep yang bersifat abstrak bagi siswa seperti pelajaran IPA. Karena pada proses pembelajaran IPA guru hanya ceramah saja tanpa melibatkan siswa.

Pada pertemuan kedua dilakukan pembelajaran dikelas dengan melaksanakan praktikum dan menjawab soal posttest.Pembagian kelompok yang dibagi menjadi 4 kelompok dengan tiap-tiap kelompok terdiri dari 6 atau 7 orang. Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus I dimulai dengan mempersiapkan semua rancangan pembelajaran yang akan diterapkan pada penelitian ini. media/alat dan bahan dalam pembelajaran.Pada pertemuan pertama pembelajaran dilakukan dengan pemberian soal pretest dan dilanjutkan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri.Berdasarkan uraian di atas. persiapan tersebut meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menerapkan model pembelajaran inkuiri.Maka untuk mempermudah siswa dalam memahami pelajaran dengan pengalaman siswa yaitu dapat dilakukan model pembelajaran inkuiri. diharapkan siswa dapat lebih aktif karena pembelajaran inkuiri ini difokuskan untuk konsep-konsep IPA dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Hasil Penelitian 1. Lembar Kerja Siswa (LKS). Pada siklus I dilakukan 2 kali pertemuan dan berlangsung selama 2x35 menit untuk setiap pertemuan. Hasil pembelajaran diupayakan agar siswa memperoleh nilai di atas KKM yaitu 70 dengan indikator keberhasilan 75% dari jumlah siswa. untuk mengadakan penelitian tindakan kelas yang berkaitan dengan apakah model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa pada konsep gaya?”. catatan lapangan. Instrumen pretest digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan awal siswa sebelum dilakukan pembelajaran sedangkan instrumen posttest digunakan untuk mengetahui hasil siswa setelah pembelajaran berlangsung. Tujuan penelitian yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa dengan menerapkanmodel pembelajaran inkuiri pada konsep gaya. Indikator 425 . Dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri (inquiry) ini. lembar observasi. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukan pengetahuan secara harmonis konsep- konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa maka pengetahuan baru tersebut cenderung akan mudah dipahami. melalui proses pengalaman belajar secara langsung sehingga siswa dapat semangat dalam mengikuti proses pembelajaran dan juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada konsep gaya. dan instrumen tes soal pilihan ganda. Siklus I a.

guru berusaha menerapkan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri sesuai dengan RPP. Professional Learning untuk Indonesia Emas pembelajaran dari konsep gaya yang ditetapkan pada siklus pertama ini diantaranya: (1) Menjelaskan pengertian gaya (2) Menyelidiki pengaruh gaya terhadap gerak suatu benda (3) Menyebutkan contoh- contoh gaya mengerakkan suatu benda dalam kehidupan sehari- hari (4) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi gerak benda. Setelah itu peneliti pun menjelaskan materi. Terbukti beberapa siswa merespon pertanyaan dengan memberikan jawaban dari mereka. Materi sudah dijelaskan peneliti membagi kelompok menjadi empat kelompok dalam jumlah 6-7 orang tiap kelompoknya dan siswa pun membuat kelompok berdasarkan yang telah ditentukan oleh peneliti. kemudian sebelum memulai proses belajar mengajar guru memperkenalkan diri terlebih dahulu. 21 Januari 2014) Pertemuan pertama diawali dengan membuka pelajaran dengan memberi salam dan mengucap basmallah (berdoa bersama). dan mengabsen kehadiran siswa untuk mengenal siswa satu persatu serta mengkondisikan siswa dikelas. Masing-masing kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan soal yang ada di LKS sesuai fase inkuiri. misalnya jatuh bebas akibat gravitasi.Fase kedua merumuskan hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa untuk merumuskan hipotesis (membuat hipotesis) berdasarkan rumusan masalah yang 426 .Siswa pun menjawabnya dengan beragam jawaban. Fase pertama rumusan masalah yaitu siswa dihadapkan oleh permasalahan yang diberikan oleh guru.Walau hanya beberapa siswa saja yang menjawab. Kemudian dilanjutkan dengan guru melakukan apersepsi berupa memberikan pertanyaan kepada siswa “apa yang dimaksud dengan gerak?sebutkan macam-macam gerak benda yang kalian ketahui?” pada awal pembelajaran serta menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa. gerak di lantai yang datar karena dorongan b. Setelah selesai mengkondisikan kelas guru memberikan pretest kepada siswa sebelum masuk dalam proses pembelajaran. Tindakan Pada tahap ini. kemudian guru memberikan LKS kepada masing- masing kelompok dan menjelaskan prosedur kerja dengan menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri. Uraian proses pembelajaran pada siklus I sebagai berikut: 1) Pertemuan Pertama (Selasa.

siswa yang lain pun memperhatikannya. Fase pertama rumusan masalah yaitu siswa dihadapkan oleh permasalahan yang diberikan oleh guru. Pembelajaran diawali dengan apersepsi memberikan pertanyaan “sebutkan macam kegiatan tarikan dan dorongan dalam kehidupan sehari-hari?” siswa pun menjawabnya dengan beragam jawaban. 2) Pertemuan Kedua (Senin. Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti atau guru berkeliling kepada setiap kelompok untuk memberikan bimbingan serta penilaian kepada masing-masing kelompok.Setelah batas waktu yang ditentukan telah habis. kemudian peneliti menjelaskan prosedur kerja dengan menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri lalu memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS). Kemudian peneliti melakukan evaluasi berupa berupa tanya jawab seputar materi yang diajarkan dan peneliti menugaskan siswa untuk mempelajari materi berikutnya. dan mengabsen kehadiran siswa satu persatu serta mengkondisikan siswa dikelas. Setelah itu peneliti pun menjelaskan materi. Fase keempat menguji hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa dalam menganalisis data (menentukan jawaban) berdasarkan pengumpulan data yang telah diperoleh dalam percobaan atau eksperimen.Fase ketiga mengumpulkan data yaitu peneliti membimbing siswa dalam melakukan eksperimen (percobaan).Fase kelima merumuskan kesimpulan yaitu peneliti membimbing siswa dalam menyimpulkan data hasil percobaan yang telah didapatnya. Peneliti memberikan batas waktu untuk menyelesaikan LKS tersebut. Hasil LKS yang telah dikerjakan dan didiskusikan oleh kelompoknya yang sudah dikumpulkan maka peneliti meminta 1 perwakilan setiap kelompok untuk maju mempersentasikan hasilnya. maka setiap kelompok mengumpulkan hasil kerjanya. Materi sudah dijelaskan peneliti memerintahkan siswa berkumpul dengan kelompoknya sesuai kelompok pada pertemuan pertama. 27 Januari 2014) Pada pertemuan kedua sama halnya pada pertemuan pertama diawali dengan membuka pelajaran dengan memberi salam dan mengucap basmallah (berdoa bersama). Peneliti dan siswa menyimpulkan bersama-sama. Masing-masing kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan soal yang ada di LKS sesuai fase inkuiri.Fase kedua merumuskan 427 . Pembelajaran ditutup dengan mengucaphamdallah dan diiringi dengan salam penutup. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa dibuat oleh guru. Setelah selesai mengkondisikan kelas guru mereview kembali materi sebelumnya.

b. Kemudian peneliti melakukan evaluasi berupa tanya jawab seputar materi yang diajarkan dan peneliti menugaskan siswa untuk mempelajari materi berikutnya. Professional Learning untuk Indonesia Emas hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa untuk merumuskan hipotesis (membuat hipotesis) berdasarkan rumusan masalah yang dibuat oleh guru. Sebelum pembelajaran ditutup peneliti memberikan soal posttest kepada siswa. Pengamatan 1) Hasil Pretest dan Posttest Berdasarkan hasil tes (pretest dan posttest) yang diperoleh pada siklus I.Fase kelima merumuskan kesimpulan yaitu peneliti membimbing siswa dalam menyimpulkan data hasil percobaan yang telah didapatnya. Data statistik pretest dan posttest dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini: 428 . mengenai sub konsep gaya dapat mempengaruhi gerak suatu benda dengan jumlah siswa sebanyak 27 orang dalam satu kelas dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Fase keempat menguji hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa dalam menganalisis data (menentukan jawaban) berdasarkan pengumpulan data yang telah diperolehnya dalam percobaan atau eksperimen. maka setiap kelompok mengumpulkan hasil kerjanya. Pembelajaran ditutup dengan mengucaphamdallah dan diiringi dengan salam penutup.Setelah batas waktu yang ditentukan telah habis. siswa yang lain pun memperhatikannya. Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti atau guru berkeliling kepada setiap kelompok untuk memberikan bimbingan serta penilaian kepada masing-masing kelompok. Data nilai pretest diperoleh dari hasil tes sebelum siswa mempelajari materi tersebut dan belum diterapkannya model pembelajaran inkuiri. Peneliti dan siswa menyimpulkan bersama- sama. serta nilai posttest diperoleh dari hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri.Fase ketiga mengumpulkan data yaitu peneliti membimbing siswa dalam melakukan eksperimen (percobaan). dimana soal posttest digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri. Peneliti memberikan batas waktu untuk menyelesaikan LKS tersebut. Hasil LKS yang telah dikerjakan dan di diskusikan oleh kelompoknya yang sudah dikumpulkan maka peneliti meminta 1 perwakilan setiap kelompok untuk maju mempersentasikan hasilnya.

44 6. Siswa yang mencapai KKM 55. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Tabel 1 Data Statistik Prettest dan Posttest Siklus I Data Statistik Pretest Posttest Nilai Minimum 27 47 Nilai Maximum 87 93 Rata-rata 61. Siswa yang belum mencapai KKM adalah 44. N-gain terkategori tinggi 0 2.26 4.27 dengan demikian nilai N-gain kelas masih tergolong ke dalam kategori rendah. N-Gain terkategori sedang 40.27 5. N-gain terkategori tinggi pada siklus I sebanyak 0%. Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sudah baik.63 Modus 60 73 Median 60 87 Varians 239.37 2) Data Perhitungan N-Gain Data siklus I rata-rata keseluruhan hasil perhitungan N-gain dengan jumlah responden sebanyak 27 siswa dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. 3) Hasil Observasi Kegiatan Siswa dan Guru Siklus I Hasil observasi yang dilihat dari lembar aktivitas guru dan siswa.74 3.78 Standar Deviasi 15.74% (11 orang) dan N-gain terkategori rendah sebanyak 59. Siswa yang belum mencapai KKM 44. Pada siklus I siswa dibagi menjadi4kelompok masing- 429 .22 71.56 Berdasarkan Tabel 2 di atas.56% (15 orang).44% (12 orang) dan siswa yang mencapai KKM adalah 55. Rata-rata N-Gain 0. dapat dilihat bahwa hasil belajar pada siklus I.03 178. artinya apa yang ada dalam tahapan aktivitas guru sudah terpenuhi. N-gain terkategori sedang sebanyak 40.26% (16 orang). Tabel 2 Persentase Peningkatan Hasil Belajar (N-Gain) Siklus I No Kategori Frekuensi persentase (%) 1. N-gain terkategori rendah 59. Nilai rata-rata keseluruhan N-gain kelas mencapai 0.46 13.

Siswa yang mencapai KKM ≥ 70 sebesar 55.Hasil observasi yang dilakukan pada siklus I ini pada pertemuan pertama dan kedua masih ada kelompok yang mendapat nilai rendah. di samping itu siswa masih bersifat mengandalkan teman dan kurang bekerjasama dalam mengerjakan LKS.5%) dalam hal membimbing siswa untuk membuat hipotesis dan membimbing siswa melakukan percobaan menggunakan alat dan bahan dengan panduan LKS pada indikator 4 dan 5. 6. beberapa siswa juga tidak mengerti tugas dan peranannya dalam kelompok. karena banyak siswa yang tidak paham cara membuat hipotesis.22% dengan kategori baik. Hasil observasi aktivitas guru diperoleh kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berkategori sangat baik (87. c. 6 dan 7. Indikator yang ditetapkan oleh peneliti 430 . 4. Pada tahap orientasi. 2. Berkategori baik (75. Keputusan Siklus I Keputusan hasil refleksi pada siklus I dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada konsep gaya belum memenuhi indikator yang peneliti harapkan. guru juga belum maksimal menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari. Sedangkan berkategori cukup (62. Persentase siklus I pada aktivitas guru mencapai 76.27% dengan kategori rendah.56% (15 orang). Hasil observasi pertemuan pertama dan kedua tiap-tiap kelompok pada siklus I. Rata-rata N-Gain pada siklus I sebesar 0. Hasil catatan lapangan pada proses pembelajaran masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki. 5. selain itu pada tahap pembentukan kelompok guru masih belum bisa mengkondisikan siswa dengan baik sehingga kelas gaduh. Professional Learning untuk Indonesia Emas masing kelompok terdiri dari 6 atau 7 orang. 2.5%) pada tahap membimbing siswa untuk mengumpulkan data.78% dengan kategori baik. dan 7.0%) pada indikator 1. Sedangkan siswa pada tahap orientasi tidak ingat pada pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya ketika ditanya guru. d. guru belum maksimal mengaitkan pelajaran yang akan dipelajari dengan pelajaran sebelumnya. rata-rata indikator dengan kategori cukup yaitu pada indikator nomor 3 dan 8 sedangkan indikator pada kategori baik ada di nomor 1. Rata-rata persentase siklus sebesar 74. Dalam tahap merumuskan hipotesis guru sudah baik dalam membimbing siswa. Refleksi Siklus I Berdasarkanpengamatan pada proses pembelajaran diperoleh temuan pada siklus I yaitu hasil belajar siswa belum mencapai kriteria ketuntasan yang telah ditetapkan oleh peneliti sebesar 75%.

serta pemberian reward (penghargaan) agar siswa berani bertanya dan mengungkapkan pendapat- nya pada proses pembelaja- ran. Siswa tidak memperhatikan Guru harus menyampaikan penjelasan guru. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa siswa harus memiliki nilai diatas kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 70 sebanyak 75%. agar siswa fokus memperhatikan materi yang dijelaskan guru. sehingga perlu dilakukan tindak lanjut proses pembelajaran untuk perbaikan hasil belajar siswa.mengulang pembelajaran ga siswa kurang aktif dalam yang sudah dipelajari dan menjawab pertanyaan guru mengaitkan pembelajaran yang akan dipelajari dengan pelajaran sebelumnya. tetapi pada siklus I ini mencapai ketuntasan sebesar 55. banyak melakukan pendapat. materi dengan semenarik mungkin. Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian tindakan kelas ini ke siklus II. 431 . 4 Siswa masih pasif dalam Lebih interaktif dengan bertanya dan mengajukan siswa. 5. tanya jawab. 3. Siswa merasa kesulitan dalam Guru harus lebih bisa menga- membentuk kelompok se. Sebagian siswa tidak ingat Guru lebih interaktif dengan dengan pelajaran yang sudah siswa.56%. 2. menanyakan dan dipelajari sebelumnya sehing. Hasil tes belajar siswa masih Lebih disesuaikan lagi cara rendah penyampaian materi agar siswa bisa memahami materi tersebut. Adapun perbaikan-perbaikan pada siklus II yang dianggap perlu oleh peneliti antara lain: Tabel 3Tindakan Siklus I yang Akan Diperbaharui No Kekurangan Pada Siklus I Perbaikan Untuk Siklus II 1. tur siswa ke dalam kelompok hingga kelas gaduh belajar serta mengkondisikan siswa sehingga tidak terjadi kegaduhan.

28 Januari 2014) Pertemuan pertama diawali dengan membuka pelajaran dengan memberi salam dan mengucap basmallah. Uraian proses pembelajaran pada siklus I sebagai berikut: 1) Pertemuan Ketiga (Selasa. dan instrumen tes. b. Setelah selesai mengkondisikan kelas guru memberikan pretest kepada siswa sebelum masuk dalam proses pembelajaran. Pretest diberikan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang materi yang akan dipelajari. Lembar Kerja Siswa (LKS). Kemudian dilanjutkan dengan guru melakukan apersepsi berupa memberikan pertanyaan kepada siswa “siapa yang pernah memecahkan piring atau gelas di rumah?” mengapa piring mudah pecah?Terbuat dari bahan apakah piring?” pada awal pembelajaran serta menyampaikan tujuan pembelajaran 432 . perbaikan dimulai dengan RPP yang menerapkan model pembelajaran yang lebih mengoptimalkan peran guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Instrumen tes yang digunakan pada siklus II ini sama halnya dengan yang ada pada siklus I yaitu soal pilihan ganda yang masing-masing 15 soal untuk pretest dan posttsest. Selanjutnya peneliti menyiapkan media/alat dan bahan dalam pembelajaran. catatan lapangan. Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus II ini merupakan tahap perbaikan dari pelaksanaan pembelajararan yang telah dilaksanakan pada siklus I. lembar observasi. guru berusaha menerapkan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri sesuai dengan RPP. Pembagian kelompok berdasarkan kelompok pada siklus I. Indikator pembelajaran dari konsep gaya yang ditetapkan pada siklus kedua ini diantaranya: (1) Menyelidiki pengaruh gaya terhadap bentuk benda (2) Menyebutkan contoh dalam kehidupan sehari-hari bahwa bentuk benda berubah akibat gaya (3) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi benda dapat tenggelam dalam air(4) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi benda dapat mengapung dalam air. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas siswa sehingga dapat berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Pada pelaksanaan di siklus II. dan mengabsen kehadiran siswa untuk mengenal siswa satu persatu serta mengkondisikan siswa dikelas. Tindakan Pada tahap ini. Professional Learning untuk Indonesia Emas Siklus II a. (berdoa bersama) kemudian sebelum memulai proses belajar mengajar guru memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Peneliti dan siswa menyimpulkan bersama- sama.Setelah itu peneliti pun menjelaskan materi. dorongan dan menilai kemampuan berpikir dan diskusi. Masing-masing kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan soal yang ada di LKS sesuai fase inkuiri. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa kepada siswa. Fase pertama rumusan masalah yaitu siswa dihadapkan oleh permasalahan yang diberikan oleh guru.Setelah batas waktu yang ditentukan telah habis. maka setiap kelompok untuk mengumpulkannya. 2) Pertemuan Keempat (Sabtu. 1 Februari 2014) Pada pertemuan keempat sama halnya pada pertemuan sebelumnya diawali dengan membuka pelajaran dengan memberi salam dan mengucap basmallah(berdoa bersama).Walau hanya beberapa siswa saja yang menjawab.Kemudian peneliti melakukan evaluasi seputar materi yang diajarkan dan peniliti menugaskan siswa untuk mempelajari materi berikutnya. Peneliti memberikan batas waktu untuk menyelesaikan LKS tersebut. Fase keempat menguji hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa dalam menganalisis data (menentukan jawaban) berdasarkan pengumpulan data yang telah diperolehnya dalam percobaan atau eksperimen. Selama proses berlangsung peneliti dan guru berkeliling kepada setiap kelompok untuk memberikan bimbingan. Pembelajaran ditutup dengan mengucaphamdallah dan diiringi dengan salam penutup. Setelah materi sudah dijelaskan peneliti membagi kelompok menjadi empat kelompok dan siswa pun membuat kelompok berdasarkan yang telah ditentukan oleh peneliti.Hasil LKS yang telah dikerjakan dan di diskusikan oleh kelompoknya yang sudah dikumpulkan maka peneliti meminta 1 perwakilan setiap kelompok untuk maju mempersentasikan hasilnya. Dan siswa yang lain pun memperhatikannya. dan mengabsen 433 . kemudian guru memberikan LKS kepada masing-masing kelompok dan menjelaskan prosedur kerja dengan menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri.Fase kelima merumuskan kesimpulan yaitu peneliti membimbing siswa dalam menyimpulkan data hasil percobaan yang telah didapatnya.Siswa pun menjawabnya dengan beragam jawaban.Beberapa siswa merespon pertanyaan dengan memberikan jawaban dari mereka.Fase kedua merumuskan hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa untuk merumuskan hipotesis (membuat hipotesis) berdasarkan rumusan masalah yang dibuat oleh guru.Fase ketiga mengumpulkan data yaitu peneliti membimbing siswa dalam melakukan eksperimen (percobaan).

Professional Learning untuk Indonesia Emas kehadiran siswa satu persatu serta mengkondisikan siswa dikelas. dorongan dan menilai kemampuan berpikir dan diskusi.Fase kedua merumuskan hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa untuk merumuskan hipotesis (membuat hipotesis) berdasarkan rumusan masalah yang dibuat oleh guru. maka setiap kelompok untuk mengumpulkannya. Peneliti dan siswa menyimpulkan bersama- sama.Pembelajaran diawali dengan apersepsi memberikan pertanyaan “siapa yang pernah melihat batang kayu hanyut di sungai?atau kalian pernah melihat daun kering yang jatuh ke kolam?” bagaimana keadaan daun atau batang kayu tersebut?siswa pun menjawabnya dengan beragam jawaban. Peneliti memberikan batas waktu untuk menyelesaikan LKS tersebut. Fase pertama rumusan masalah yaitu siswa dihadapkan oleh permasalahan yang diberikan oleh guru.Fase ketiga mengumpulkan data yaitu peneliti membimbing siswa dalam melakukan eksperimen (percobaan). Dan siswa yang lain pun memperhatikannya. Selama proses berlangsung peneliti dan guru berkeliling kepada setiap kelompok untuk memberikan bimbingan. Sebelum pembelajaran ditutup peneliti memberikan soal posttest kepada siswa. Fase keempat menguji hipotesis yaitu peneliti membimbing siswa dalam menganalisis data (menentukan jawaban) berdasarkan pengumpulan data yang telah diperolehnya dalam percobaan atau eksperimen. Masing- masing kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan soal yang ada di LKS sesuai fase inkuiri.Fase kelima merumuskan kesimpulan yaitu peneliti membimbing siswa dalam menyimpulkan data hasil percobaan yang telah didapatnya. dimana soal posttest digunakan 434 . kemudian peneliti menjelaskan prosedur kerja dengan menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur lalu memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS).Hasil LKS yang telah dikerjakan dan di diskusikan oleh kelompoknya yang sudah dikumpulkan maka peneliti meminta 1 perwakilan setiap kelompok untuk maju mempersentasikan hasilnya. Setelah selesai mengkondisikan kelas guru mereview kembali materi sebelumnya.Setelah batas waktu yang ditentukan telah habis.Kemudian peneliti memberikan evaluasi seputar materi yang diajarkan dan peniliti menugaskan siswa untuk mempelajari materi berikutnya. Setelah itu peneliti pun menjelaskan materi. Setelah materi sudah dijelaskan peneliti memerintahkan siswa berkumpul dengan kelompoknya sesuai kelompok pada pertemuan sebelumnya.

mengenai sub konsep gaya dapat mempengaruhi bentuk suatu benda dengan jumlah siswa sebanyak 27 orang dalam satu kelas dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Rata-rata N-Gain 0.74 Standar Deviasi 22.67 80.48% 435 . Pembelajaran ditutup dengan mengucaphamdallah dan diiringi dengan salam penutup.52% 2.74 2) Data Perhitungan N-Gain Data siklus II rata-rata keseluruhan hasil perhitungan N-gain dengan jumlah responden sebanyak 27 siswa dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini. N-gain terkategori tinggi 18. Data nilai pretest diperoleh dari hasil tes sebelum siswa mempelajari materi tersebut dan belum diterapkannya model pembelajaran inkuiri. Siswa yang mencapai KKM 81.15% 3. Data statistik pretest dan posttest dapat dilihat pada Tabel 4di bawah ini: Tabel 4 Data Statistik Prettest dan Posttest Siklus II Data Statistik Pretest Posttest Nilai Minimum 13 47 Nilai Maximum 93 100 Rata-rata 65. Tabel 5 Persentase Peningkatan Hasil Belajar (N-Gain) No Kategori Frekuensi persentase (%) 1. Siswa yang belum mencapai KKM 18. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa untuk mengetahui kemampuan siswa setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri.31 188.42 % 5.74 Median 67 87 Modus 87 87 Varians 489. Pengamatan 1) Hasil Pretest dan Posttest Berdasarkan hasil tes (pretest dan posttest) yang diperoleh pada siklus II.12 13. c. serta nilai posttest diperoleh dari hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri.33% 4.52% 6. N-gain terkategori rendah 33. N-Gain terkategori sedang 48.

Pada tahap inti. dan mengerjakan tugas yang harus dikerjakan bersama kelompok.15%. Keputusan Siklus II Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh dari hasil belajar dan aktivitas belajar siswa. Rata-rata nilai N-Gain meningkat sebesar 0. maka penelitian ini dapat dihentikan pada siklus II.Oleh karena itu tidak perlu dilanjutkan lagi ke tindakan pembelajaran siklus III.untuk lembar observasi siswa Tabel 4.27% (berkategori rendah) sedangkan pada siklus II mencapai 0. rata- rata tiap kelompok dengan indikator sangat baik. Siswa juga sudah aktif bertanya dan berpendapat dalam pembelajaran dan diskusi kelompok sehingga siswa yang sebelumnya mengandalkan temannya mengerjakan LKS pada siklus II ini siswa membagi tugas kelompok secara bergantian untuk menyelesaikan LKS bersama. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang mencapai KKM ≥ 70 sebanyak 22 orang (81.15 di atas menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada pertemuan ketiga dan keempat sudah meningkat dengan kategori sangat baik dan rata- rata persentase setiap indikator sudah meningkat dengan kategori sangat baik. juga respon siswa yang positif tentang model pembelajaran inkuiri. 436 . hal ini terlihat pada persentase siklus II yang berkategori sangat baik d.48%) sudah memenuhi kriteria ketuntasan yang ditetapkan peneliti.42% (berkategori sedang). hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa dalam konsep gaya sudah mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang diharapkan. Refleksi Siklus II Tahapan refleksi pada siklus II ini bahwa kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar. siswa sudah tidak lagi gaduh dalam pembentukan kelompok karena pembetukan kelompok sama seperti kelompok pada siklus I sehingga berjalan dengan tertib. e. Dari hasil observasi aktivitas siswa sudah ada peningkatan dan aktivitas guru sudah sangat baik. Aktivitas guru dalam proses belajar mengajar sudah sesuai. pada siklus I rata-rata N-Gain hanya mencapai 0. begitu pun dengan aktivitas guru dengan kategori sangat baik. Berdasarkan catatan lapangan pada siklus II ini secara umum dapat dikatakan sudah sangat baik. Professional Learning untuk Indonesia Emas 3) Hasil Observasi Siklus II Hasil observasi dapat dilihat dari lembar observasi aktivitas siswa dan guru.Hasil observasi tiap kelompok pada pertemuan ketiga dan keempat mengalami peningkatan.

guru memberikan pertanyaan sebelum siswa melakukan eksperimen. Pada tahap merumuskan kesimpulan. proses pembelajaran IPA lebih didominasi oleh guru sehingga siswa kurang aktif selama proses pembelajaran berlangsung. dimana siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Pada tahap merumuskan hipotesis. guru menyampaikan materi pelajaran tidak menggunakan metode ataupun model pembelajaran yang melibatkan siswa aktif. siswa dapat menemukan sendiri dari apa yang mereka lakukan dan pelajari. Selain itu. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terstruktur ini membantu siswa dalam melakukan eksperimen. pada tahap ini siswa diminta untuk menyimpulkan hasil eksperimen yang telah dilakukan dan mempresentasikannya hasil eksperimennya di depan kelas. Model pembelajaran ini terdidri dari lima tahapan atau fase- fase. pengumpulan data/verifikasi. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa Pembahasan Sebelum dilakukan tindakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Selain itu siswa merasa senang karena mereka bisa melakukan eksperimen dan siswa yakin kalau 437 . dan siswa kurang termotivasi ketika mengikuti pembelajaran. tetapi hipotesis ditentukan oleh siswa sendiri. Pada tahap pengumpulan data/verifikasi. Pembelajaran yang digunakan pada siswa kelas IVA SDN Kebon Manggis 11 Pagi Matraman-Jakarta Timur adalah model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuiri adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. hal itu terlihat dari rendahnya hasil belajar IPA siswa. Adapun model inkuiri yang digunakan dalam pembelajaran adalah model pembelajaran inkuiri terstruktur. siswa membuat pernyataan atau kebenaran dari permasalahan (hipotesis) yang diberikan oleh guru. siswa menetukan jawaban (menganalisis data) berdasarkan pengumpulan data yang telah diperolehnya dalam percobaan atau eksperimen. mengamati dan mengumpulkan data untuk mengisi LKS. Dengan model pembelajaran inkuiri terstruktur ini dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran dimana siswa menjadi aktif dan pembelajaran menjadi student center. dan merumuskan kesimpulan. siswa melakukan eksperimen. yaitu rumusan masalah. menganalisis data maupun dalam mengerjakan LKS. merumuskan hipotesis. Pada tahap berhadapan dengan masalah (rumusan masalah). Model pembelajaran terstruktur adalah model pembelajaran dimana alat dan bahan eksperimen telah disediakan oleh guru dan guru juga yang menjadi fasilitator dalam membimbing siswa dalam melakukan eksperimen. Pada tahap menguji hipotesis. menguji hipotesis.

Dari hasil tes yang diperoleh.22% dengan kategori baik. Selain itu tabel aktivitas siswa pada siklus 1 masi ada rata-rata indikator dengan kategori cukup yaitu pada indikator nomor 3 dan 8 sedangkan indicator pada kategori baik ada di nomor 1. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan sebesar 40.74% (11 orang) dan N-gain terkategori rendah sebesar 59. pada siklus I 46. evaluasi yang dilaksanakan pada siklus I dilakukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap pelajaran IPA pada konsep gaya dengan sub konsep gaya dapat mempengaruhi gerak suatu benda. dan masih mengandalkan siswa yang pintar untuk mengerjakan tugas. 4. maka pada akhir pembelajaran siklus II pada kosep gaya dengan sub 438 . dan siswa yang mencapai KKM adalah 55. Berdasarkan hasil tes yang dilaksanakan pada siklus 1 diperoleh rata-rata N-gain terkategori tinggi sebesar 0%. diketahui bahwa ketuntasan siswa belum mencapai hasil yang maksimal. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Sunarti. Pada siklus 1. berdasarkan penelitiannya menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan mengunakan pembelajaran inkuiri mengalami peningkatan sebesar 27%. 6. 2.87% dan pada siklus II 87. Sedangkan hasil catatan lapangan dan observasi siklus I aktivitas siswa belum memuaskan.27%.44% (12 orang). Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I. siswa yang belum mencapai KKM sebesar 44.56 atau 89 %. dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas IV SD Karya Putra Surabaya. 2013). N-gain terkategori sedang sebesar 40. masih ada yang tidak ikut dalam diskusi kelompok pada saat mengerjakan LKS. Rata-rata persentase siklus sebesar 74. Rata-rata N-Gain 0.Dengan melakukan eksperimen siswa termotivasi dalam belajar karena mereka bisa belajar berkelompok atau bekerjasama dengan temannya dalam mengerjakan tugas yang guru berikan. 5. Sedangkan aktivitas cara mengajar guru dalam menerapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada siklus satu sudah sesuai dengan kategori baik (76.77%. Peran guru pada saat pembelajaran tidak mendominasi kelas tetapi memberikan banyak waktu untuk siswa terlibat langsung selama pembelajaran. pada siklus I aktivitas siswa rata-rata mencapai 2.56% (15 orang).Hal ini terlihat dari masih adanya siswa yang belum serius dalam mengikuti pembelajaran. dan 7.26% (16 orang).5% (Sunarti. Professional Learning untuk Indonesia Emas pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri terstruktur ini dapat meningkatkan hasil belajar IPA mereka.47 atau 62 % dan pada siklus II aktivitas siswa rata-rata mencapai 3.78%).

Berdasarkan hasil tersebut. yaitu lebih dari 80% mencapai ketuntasan belajar IPA pada konsep gaya.15% 13 orang). dan kategori rendah sebesar 33. Dengan persentase jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus I sebesar 60% dan siklus II sebesar 97. dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Benda dan Sifatnya di MIN Ciputat Tangerang. selain itu. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Umi Atiyah. Pada siklus I pemahaman siswa baru pada pengertian gaya. maka indikator ketercapaian telah memenuhi yaitu jumlah siswa yang tuntas belajar IPA mencapai lebih dari 80%.51 dengan persentase 81.33% (9 orang) dengan rata-rata N-Gain 0.5% (Umi Atiyah.Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa.pengaruh gaya 439 . berdasarkan hasil penelitiannya bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terstruktur pada konsep benda dan sifatnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif.42% dengan kategori sedang.75 dan siklus II sebesar 84.52% (5 orang). kategori sedang sebesar 48. perbaikan tersebut berakibat pada peningkatan aktivitas pembelajaran siswa pada pelajaran IPA dan akhirnya mengakibatkan pada pencapaian hasil belajar yang memuaskan. dapat dikatakan bahwa jalannya pembelajaran pada siklus II telah berhasil memperbaiki berbagai kelemahan yang ada pada siklus I.48% (22 orang) dan siswa yang belum mencapai KKM sebesar 18. Hal ini dapat terlihat dari persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 55. Perkembangan Model Pembelajaran dari Masa ke Masa konsep gaya dapat mempengaruhi bentuk benda membuktikan bahwa kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri ini dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar. siswa juga merasa senang karena mereka bisa melakukan eksperimen sehingga materi yang diajarkan membuat mereka lebih mengerti. Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi. Penutup Berdasarkan analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa pada konsep gaya. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 80. Hal ini dapat dilihat darinilai N-gain dengan kategori tinggi sebesar 18.5. 2013). peningkatan hasil belajar ini terlihat dari hasil belajar siswa dengan rata-rata nilai posttest pada siklus I sebebsar 66. dengan adanya diskusi kelompok membuat siswa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan LKS.48%.52% (5 orang).56% dan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II sebesar 81.

dan faktor-faktor yang mempengaruhi benda dapat tenggelam serta mengapung di dalam air. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas IV SD Karya Putra Surabaya. vol 1 (1) 440 . Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Benda dan Sifatnya di Min Ciputat Tangerang. PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Jakarta: Prestasi Pustaka Atiyah. Jakarta: Prestasi Pustakarya Syah. 2010. 2013. 2011.Umi. dkk. perubahan bentuk benda akibat gaya. Psikologi Pendidikan. Daftar Pustaka Ahmadi. 2013.Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP. Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Sanjaya Wina. Jakarta: Kencana Prenada Media Trianto. 2006. Muhibbin. Iif Khoiru. 2011. Professional Learning untuk Indonesia Emas terhadap geraksuatu benda serta faktor-faktor yang mempengaruhi gerak benda sedangkan pada siklus II pemahaman siswa sudah mencapai pengaruh gaya terhadap bentuk benda. Sunarti. Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) Teori& Praktik.

5 PROFESSIONAL LEARNING BASED ON CHARACTER UNTUK INDONESIA .

Professional Learning untuk Indonesia Emas 442 .

Educators are facilitators. believing that education is a purposeful activity designed to help humanity flourish.com Abstract : Living Values Education (LVE) is a way of conceptualizing education that promotes the development of values-based learning communities and places the search for meaning and purpose at the heart of education.Active learning is learning that emphasizes active student to have his own. In fostering quality education. LVE supports the overall development of the individual and a culture of positive values in each society and throughout the world. tidak akan menuju ke arah belajar yang sebenarnya dan tahan lama. Pada saat kegiatan belajar itu 443 . active learning Pendahuluan Belajar merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi ke dalam kepala peserta didik. democratic classroom atmosphere. LVE emphasizes the worth and integrity of each person involved in the provision of education. the position of educators are mentors and giving directions. mutual respect with an equal footing between friends. emotional and skills they learn and practice. learners are at once subject and object together they are complementary activities. not taught. Penjelasan dan peragaan. This active learning is very appropriate to apply living values education in school. Here it takes active participation in class. active learning and creative. and academic independence. in the home. Belajar Membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan peserta didik itu sendiri. school and community. PENDIDIKAN MENGHIDUPKAN NILAI (LIVING VALUES EDUCATION) MELALUI ACTIVE LEARNING Bahrissalim Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Email : bahris68@gmail. to practice so well with the intellect. because values are caught. oleh mereka sendiri. work hard and be able to appreciate it. Keywords: living values education. democratic atmosphere.

Living Values Education Living Values Education (LVE) adalah “a way of conceptualising education that promotes the development of values-based learning communities and places the search for meaning and purpose at the heart of education. sehingga sistem belajar tuntas terabaikan dan secara tidak langsung seorang guru tidak menghargai dan memahami kondisi masing-masing siswa dalam proses pembelajaran. memecahkan masalah sendiri. dan mendiskusikannya dengan yang lain. memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain dan memiliki berbagai cara belajar (Mel Silberman:1996). melihatnya. menemukan contoh-contoh. sekolah maupun di komunitas. membantu untuk mendengarkannya. Yang paling penting peserta didik perlu ”melakukannya”. dan melakukan tugas-tugas yang tergantung pada pengetahuan yang telah mereka miliki atau yang harus mereka capai. LVE lebih menekankan kelayakan dan integritas setiap orang yang terlibat di dalam proses pendidikan. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Adapun yang menjadi tujuan dari LVE adalah untuk meningkatkan standar dengan mengembangkan ethos sekolah yang 444 . Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut. mempelajari gagasan-gagasan. peserta didik melakukan sebagian besar yang harus dilakukan. Mereka menggunakan otak mereka. memecahkan berbagai masalah. sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu. Urgensi kegiatan belajar aktif adalah untuk mempelajari sesuatu dengan baik. Professional Learning untuk Indonesia Emas aktif. Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru. Peserta didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain. LVE lebih menekankan pada pencarian makna dan hakikat dari pendidikan itu sendiri. mencoba ketrampilan-ketrampilan. dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. mengajukan pertanyaan tentang pelajaran tertentu. dan menerapkan apa yang mereka pelajarai. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran.” (Christopher Drake: 1999) Dengan pengertian ini. baik di rumah. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar. yaitu menggali dan menghidupkan nilai. akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran.

emosi. kerendahhatian (humility). LVE menekankan pada pengembangan potensi individu secara menyeluruh dan membudayakan nilai-nilai positif di tiap masyarakat dan seluruh dunia. yayasan. dengan cara memberikan fasilitasi terhadap pertumbuhan. ada empat tujuan pokok dari LVE. lembaga. penghargaan (respect). cinta (love). sosial. kelompok masyarakat dan para individu lain yang mempunyai komitmen dalam pengembangan karakter. (Tillman: 2000) Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy) Pendekatan belajar siswa aktif sebenarnya sudah sejak lama dikembangkan. dan persatuan (unity). kebahagiaan (happiness). tanggung jawab (responsibility). perkembangan dan pilihan secara menyeluruh sehingga mereka bisa mengintegrasikan diri ke dalam komunitas dengan penuh penghargaan dan kepercayaan. baik komunitas maupun dunia pada umumnya. motivasi dan tanggung jawab untuk membuat pilihan pribadi dan sosial yang positif. kerjasama (cooperation). dilihat dari aspek tujuan. kebebasan (freedom). moral dan spiritualnya dan sadar tentang metode praktis untuk mengembangkan dan memperdalamnya. Pengembangan nilai-nilai universal tersebut dikoordinasikan oleh Association for Living Values Education International. LVE ini didukung oleh UNESCO dan beberapa organisasi. yaitu: [1] membantu para individu untuk berpikir dan melakukan refleksi tentang nilai-nilai yang berbeda dan berbagai implikasi praktis untuk mengungkapkan nilai tersebut dikaitkan dengan orang lain. dan [4] mendorong para pendidik dan orangtua untuk melihat pendidikan sebagai alat untuk memberikan filosofi tentang kehidupan kepada para peserta didik. [3] menginspirasi individu memilih nilai personal. Nilai-nilai yang dimaksud adalah kedamaian (peace).(Tillman: 200) Maksud dari LVE adalah memberikan prinsip-prinsip pokok dan alat untuk mengembangkan orang secara menyeluruh. LVE meyakini bahwa pendidikan merupakan sebuah kegiatan yang didesain untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. yaitu mengakui bahwa individu terdiri dari dimensi fisik. intelektual. Sementara itu. [2] memperdalam pemahaman. yaitu sebuah asosiasi guru nirlaba dari seluruh dunia. Untuk menghasilkan pendidikan berkualitas. toleransi (tolerance). Konsep ini didasari pada keyakinan bahwa 445 . Professional Learning Based on Caracter untuk Indonesia didasari oleh nilai-nilai dasar yang mendukung perkembangan anak sepenuhnya sebagai seorang pelajar yang kritis dan teliti. kejujuran (honesty). kesederhanaan (simplicity).  LVE mengeksplorasi dan mengembangkan nilai-nilai universal untuk mewujudkan sebuah dunia yang lebih baik. dan spiritual.

Hal tersebut dikarenakan setiap orang memberikan pengertian yang berbeda-beda. mencoba keterampilan. 2003). harus mendengar. oleh si pembelajar. mencontohkan. Dengan demikian siswalah yang harus aktif untuk mencari informasi. penuh semangat. maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakekat belajar (Sediono. Aktif dari sisi guru antara lain dengan: memantau kegiatan belajar siswa. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si siswa dalam membangun pengetahuannya. PAKEM dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya. Professional Learning untuk Indonesia Emas hakekat belajar adalah proses membangun makna/pemahaman. Dan menurut Joel Wein (1997). memberi umpan balik. Semua itu diperlukan oleh siswa untuk melakukan kegiatan – menggambarkannya sendiri. terhadap pengalaman dan informasi yang disaring dengan persepsi. memecahkan permasalahan. mempertanyakan. dan melaksanakan tugas sesuai dengan pengetahuan yang telah mereka miliki. Active Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa untuk menjadi guru bagi mereka sendiri. dan mengemukakan gagasan. dan menyimpulkannya untuk kemudian diterapkan/ dipraktikkan) dengan menyediakan lingkungan belajar yang membuat siswa tidak tertekan dan senang melaksanakan kegiatan belajar. PAK