SARINAH

1. BAGAIMANA TAHAPAN PEMERIKSAAN DAN PERAWATAN DR TRAUMA?
a. Anamnesis SGD 1/ 31101400459

Tujuh kriteria anamnesis yang harus dipenuhi,
antara lain adalah:
1. Lokasi
2. Kualitas
3. Kuantitas dan keparahannya
4. Waktu
5. Keadaan yang memicu terjadinya keluhan
6. Faktor lain yang memperberat atau memperingan gejala
7. Gejala lain yang menyertai keluhan utama
Mengenai riwayat medis dapat ditanyakan beberapa hal berikut ini (Welbury, 2005):
1. Penyakit jantung kongenital, riwayat demam rhematoid atau kondisi immunosupresan yang parah. Kondisi ini
kontraindikasi untuk dilakukan perawatan endodontik dengan nekrosis yang persisten.
2. Gangguan perdarahan
3. Alergi terhadap medikasi obat
4. Status imunisasi tetanus terakhir
5. Kehilangan kesadaran saat cedera
Jika terdapat kelainan sistemik pada pasien segera hubungi dokter anak untuk pertimbangan perawatan dan
premedikasi agar komplikasi dapat dihindari selama perawatan dental.
b. Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis adalah informasi objektif yang diperoleh melalui pemeriksaan oleh dokter gigi dengan melihat
temuan klinis pada pasien. Pemeriksaan secara klinis terbagi menjadi 3 bagian, yakni pemeriksaan fisik,
pemeriksaan ektra oral, dan pemeriksaan intra oral.
1) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk menilai sejauh mana cedera yang terjadi. Informasi penting
harus dikumpulkan untuk setiap pasien termasuk: tanda tanda vital, review dari semua bagian kepala, sistem
dan pemeriksaan leher. Hal ini penting untuk mengurangi cedera kepala, kerusakan mata, cedera tulang
belakang, dan leher. Sebuah evaluasi dari ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya dapat menetapkan adanya
cedera kepala. Hal penting yang harus diperhatikan ketika terjadi cedera yang cukup berat adalah tanda-tanda
syok, seperti muka yang pucat, suhu badan dingin, nadi yang tidak beraturan, dan hipotensi (Welbury,
2005).
- Tes kesadaran pasien
Pemeriksaan GCS
Teknik penilaian dengan ini terdiri dari tiga penilaian terhadap respon yang ditunjukkan oleh pasien
setelah diberi stimulus tertentu, yakni respon buka mata, respon motorik terbaik, dan respon verbal.
Setiap penilaian mencakup poin-poin, di mana total poin tertinggi bernilai 15.
Jenis Pemeriksaan Nilai
Respon buka mata (Eye Opening, E)
· Respon spontan (tanpa stimulus/rangsang) 4
· Respon terhadap suara (suruh buka mata) 3
· Respon terhadap nyeri (dicubit) 2
· Tida ada respon (meski dicubit) 1
Respon verbal (V)
· Berorientasi baik 5
· Berbicara mengacau (bingung) 4
· Kata-kata tidak teratur (kata-kata jelas dengan substansi tidak jelas dan non-kalimat, misalnya, 3
“aduh… bapak..”)
· Suara tidak jelas (tanpa arti, mengerang) 2
· Tidak ada suara 1
Respon motorik terbaik (M)
· Ikut perintah 6
· Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri) 5
· Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang) 4
· Fleksi abnormal (dekortikasi: tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat 3
diberi rangsang nyeri)
· Ekstensi abnormal (deserebrasi: tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari 2
mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
· Tidak ada (flasid) 1

Tidak busa digunakan untuk beban kunyah yang besar .Fraktur mengenai bagian proksimal hingga ke incisal Kelebihan .1 (restorasi kelas IV dan mahkota jaket) dan gigi 2. pemeriksaan radiografi Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis kelainan akibat trauma dengan tepat dan benar. ekstraksi. perawatan tumpatan kelas IV (kekurangan dan kelebihan) .Mudah pecah . bridge) Indikasi dr restorasi fraktur kelas II = a. Durasi antara trauma dan perawatan 3. APA SAJA INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI DARI PERAWATAN SKNEARIO? Gigi 1. Kegoyangan gigi 2. nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4 V5 M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1 V1 M1. sirkulasi darah termasuk penanganan syok (circulaation). penaganan luka jaringan lunak dan imobilisasi sementara serta evaluasi terhadap kemungkinan cedera otak. 1) Ada atau tidaknya fraktur akar 2) Tingkat ekstrusi atau intrusi 3) Ada atau tidaknya kelainan periodontal 4) Tingkat pertumbuhan akar 5) Ukuran kamar pulpa dan kanal akar 6) Ada atau tidaknya fraktur rahang 7) Fragmen gigi atau benda asing yang masuk ke jaringan lunak d. dan rencana perawatan. tulang. fiksasi fragmen fraktur dan imobilisasi..Perawatan darurat Prinsip penanganan fraktur mandibula pada langkah awal bersifat kedaruratan seperti jalan nafas (airway). pasak. Tes vitalitas pulpa c. 3) Pemeriksaan Intra Oral Berikut adalah pemeriksaan intra oral yang harus dilakukan dokter gigi pada pasien fraktur dentoalveolar: 1. 2) Pemerikasaan Ekstra Oral Pemeriksaan ekstra oral adalah mengevaluasi kondisi sekitar mulut yang berhubungan dengan cedera yang dialami pasien fraktur gigi. et. Lokasi atau tingkat cedera 4. Cedera pada gigi sulung atau gigi permanen 5. prognosis. Usia dan tingkat kooperatif pasien 2. Kesehatan periodontal dari gigi yang tersisa 2. Temuan klinis pada ektra oral harus dicatat untuk melengkapi penegakkan diagnosis. Interpretasi atau hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…Selanutnya nilai tiap-tiap pemeriksaan dijumlahkan. roburansia (vitamin). Pemeriksaan radiografi dapat menunjukkan kondisi yang tidak dapat terlihat secara klinis. Warna gigi 4. Mengurangi rasa sakit dr area fraktur = diberikan analgesik. antibiotik. Ada atau tidaknya fraktur tulang pendukung 7. Tahap perkembangan akar 6. sehingga fragmen tulang yang telah dikembalikan tidak bergerak sampai fase penyambungan dan penyembuhan tulang selesai. mahkota jaket. Tindakan ini dapat dilakukan ketika kondisi umum pasien sudah baik. pasien dengan nilai GCS dibawah 5 ialah pasien emergensi yang sulit dipertahankan keselamatannya.Menggunakan desain chamfer stainstrip dan desain bevel . pernafasan (breathing). Reaksi terhadap tes sensitifitas 5. dan gingiva seperti semula. obat kumur . Reaksi pada perkusi 3.1 (pulpektomi. Faktor yang harus dipertimbangkan pada perawatan definitif trauma dentoalveolar adalah sebagai berikut (Blakey.Estetik baik Kekurangan . Biasanya. implant.al. rencana perawatan peawatan dibagi menjadi 2 : . 1997): 1.Perawatan definitif Perawatan definitif bertujuan mengembalikan anatomi dan fungsi gigi. Tahap kedua adalah penanganan fraktur secara definitif yaitu reduksi/reposisi fragmen fraktur (secara tertutup (close reduction) dan secara terbuka (open reduction)).

 Tidak terdapat proses peradangan periapikal (apical pathosis. tidak akan efektif. karies sirkuler. antara lain: 1. Ketebalan struktur jar keras gigi kurang / tipis pada labio lingual 4.  Jaringan pendukung sehat. Restorasi yang selesai dapat dipengaruhi dan diubah dengan memilih warna yang berbeda dari agen luting. meskipun permukaan lingual membutuhkan pengurangan tambahan untuk kekuatan.  Sebagal abutment GTC.  Pengisian akar lenkap sampai ujung akar dan harus hermitis. Karena kurangnya kekuatan oleh substruktur logam. d. Porselen yang getas. Mahkota jaket. Abutment gigi tiruan cekat Kontra indikasi mahkota jaket. yaitu : Keuntungan Keuntungan dari mahkota all porselen yaitu estetik superior. meski demikian masih ada jaringan vital disekeliling gigi seperti gusi. mis: karies rampant. akan tetapi porselein memiliki keuntungan dan kerugian. Diskonfigurasi yang berasal dari kombinasi restorasi yang terdiskolorisasi dan gigi tetangganya yang rotasi 3. Amelogenesis imperfekta dimana email mengalami hipokalsifikasi atau perubahan warna lain yang terjadi pada gigi (misalnya: flourosis atau hipoplasi email) 4. mis: rotasi.  Penderita dgn bad habit. karies proksimal M-D 2. Gigi anomali bentuk. bila dikombinasikan dengan substruktur reinforce. sehingga akar tidak goyah. SYARAT:  Pada gigi antenor pasca perawatan saluran akar (PSA) dengan pengisian Saluran akar secara sectional pada 1/3 apikal dengan balk.  Gigi berakar pendek dan tipis. . Namun. rudimenter 8.  Sebagal single restoration utk memperbaiki posisi gigi yang terlalu Ekstrem. linguo / labio versi. Rekuren karies yang luas pada restorasi yang besar atau gigi dengan karies yang luas. membutuhkan penggabungan dukungan sirkumferensial dengan bahu. Gigi yang telah dirawat akan tetap bisa digunakan berfungsi dan dijaga kebersihannya seperti gigi gigi vital lainnya c. mesio / disto versi. perkusi (-). translusensi yang sangat baik (mirip dengan struktur gigi alami). dengan perbandingan.diastema 7. gigi menjadi non vital ( tanpa saluran pulpa). Pasien yang memiliki kebiasaan bruxism 5. mulbery teeth . seperti pada sistem inti alumina slip cast (InCeram *). Alergi terhadap bahan yang akan digunakan Mahkota all porselen Mahkota all porselen merukan mahkota paling estetik yang dapat digunakan pada gigi yang mengalami fraktur. KONTRA INDIKASI:  Posisi gigi dgn. Pasak = caranya dan keuntungan dan kerugian INDIKASI MAHKOTA PASAK:  Mahkota gigi yang sudah rusak dan tidak dapat direstorasi dengan intel.jaringan penyangga gigi dan tulang. pengurangan proksimal dan lingual kurang konservatif dibandingkan yang dibutuhkan untuk mahkota metal- porselen. mis: peg-teeth . Karena kebutuhan margin tipe bahu sirkumferensial. Mahkota ¾. Fraktur gigi dimana pulpa belum terbuka 5. dan respon jaringan umumnya baik. tidak ada resobsi tulang. penggunaan atau indikasi mahkota jaket pada kasus sebagai berikut: 1. Koreksi malposisi. Jadi. Gigitan tertutup (close bite ) atau edge to edge bite 3. dan Periostitis). Mahkota jaket (keuntungan dan kerugian) Menurut Jones dan Grudy (1992).  Kesehatan umum penderita tidak balk. periodontitis.b. mengubah warna semen di bawah restorasi yang mengandalkan inti opaque untuk kekuatan.dokter gigi akan mempertahankan gigi dengan melakukan perawatan saluran akar. sehingga tidak dapat ditumpat secara konvensional / Black. Gigitan tertutup. Perawatan saluran akar Keuntungan perawatan saluran akar Apabila kerusakan sudah mencapai jaringan pulpa maka daripada harus dilakukan pencabutan . Desain preparasi tidak didukung jaringan gigi yang kuat 6. membolehkan sedikit pengurangan yang lebih konservatif dari permukaan fasial dibandingkan pada mahkota metal-porselen. Sesudah perawatan. Kerugian Kerugian dari mahkota porselen penuh termasuk mengurangi kekuatan restorasi karena tidak adanya substruktur logam reinforce. Abrasi dan erosi gigi 6. pengurangan gigi yang signifikan diperlukan pada aspek proksimal dan lingual. Gigi terlalu pendek / tidak mempunyai cingul retensi kurang 2.

estetik dan fonetik. kelainan susunan gigi yang menyebabkan trauma jaringan lunak pada pipi 8. 7. Kelebihan dan Kekurangan Beberapa kelebihan dari perawatan dental implant adalah:  Merupakan perawatan yang dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada gigi tetangga ataupun gigi penyangga. overcrowding dari gigi pada dental arch.  Memerlukan tindakan pembedahan. Ekstraksi Berikut ini adalah indikasi ekstraksi gigi permanen: 1.  Pasien yang mempunyai oral higiene yang jelek. Gigi dengan sisa akar. leukemia. padat. dimana sisa akar akan menjadi patologis karena hilangnya pembuluh darah dan jaringan ikat. dan terjadi resorpsi tulang. rencana untuk radiasi atau terapi bifosfonat intravena. sehingga kondisi ini membuat akar gigi tidak vital. dimana membutuhkan perawatan saluran akar (PSA) dibutuhkan namun pasien tidak dapat memenuhinya (atau dimana terapi endodontik gagal) 3. gigi yang segaris dengan fraktur sehingga menganggu reposisi 13.  Pasien yang menjalani terapi radiasi. Implant gigi Beberapa kontraindikasi dari perawatan dental implant adalah:  Pasien dengan riwayat penyakit diabetes yang tidak terkontrol.  Jaringan akar masih kuat. Gigi yang goyang (mobile) dengan penyakit periodontal. cracked teeth karena trauma 9. dinding saluran akar cukup tebal.  Meningkatkan stabilitas gigitiruan pasien. atau abses periapikal. f. necrosis pulpa.  Resorpsi tulang yang dikarenakan kehilangan gigi berkurang secara signifikan. Gigi yang tidak bisa lagi dipertahankan atau diperbaiki (Contoh: karena karies berat yang menyebabkan gangrene radiks) 2. Gigi yang merupakan fokus infeksi. sehingga osseointegrasi sulit terjadi. hemofilia. mempunyai lebar dan tinggi tulang alveolar yang cukup. ekstraksi yang dilakukan sifatnya profilaktif 12.  Pasien dengan kebiasaan merokok. anemia. Beberapa kekurangan dari perawatan dental implant adalah:  Biaya perawatan yang tinggi. dan osteoporosis.  Meningkatkan kenyamanan pasien karena tidak mempunyai plat palatal. supernumerary teeth atau gigi berlebih 10. baik secara klinis maupun laboratoris.  Posisi gigi antagonis tempat bagi inti dan mahkota tiruan. keras. gigi bersebelahan dengan lesi patologis yang harus dieksisi 11.  Perawatan dental implant tidak memerlukan preparasi gigi tetangga seperti yang diperlukan pada perawatan gigitiruan jembatan. masalah ekonomi (contoh: gigi dengan perawatan yang mahal dan pasien tidak mampu memenuhinya) . dan hasil perawatan terlihat dalam waktu 6-9 bulan.  Pasien dengan kelainan parafungsional seperti kebiasaan bruksism. yang menyebabkan deformitas ortodontik 4. dimana keberadaan gigi yang tidak sehat dapat merupakan sumber infeksi bagi tubuh 6.  Meningkatkan rasa percaya diri karena peningkatan fungsi pengunyahan. Gigi impaksi 5. Bridge Keuntungan dari Dental Bridge  Mengembalikan bentuk fisik gigi seperti semula  Memberikan senyuman yang lebih menawan  Mengembalikan kemampuan untuk berbicara dan mengunyah  Mempertahankan bentuk wajar dari wajah  Mendistribusikan tekanan pada saat mengunyah untuk menghindari masalah rahang  Melindungi gigi yang tersisa agar tidak bergeser dari posisi aslinya g.  Kehamilan dan menopause juga mempengaruhi keberhasilan perawatan. masalah estetika (contoh: gigi bernoda) 14.  Bertahan dalam jangka waktu yang lama dengan hasil yang memuaskan.  Pasien harus mempunyai kualitas tulang yang baik. dimana saat masa kehamilan respon inflamasi tinggi sedangkan pada saat menopause osteoporosis mulai terjadi. e.

al. Sebaiknya penderita nefritis berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum melakukan ekstraksi gigi. 3. c. Kontraindikasi 1. Pasien dengan penyakit hati dapat mengalami gangguan pembekuan darah oleh karena defisiensi faktor-faktor pembekuan yang dibentuk oleh hati. yang apabila dilakukan ekstraksi gigi akan menyebabkan kanker cepat menyebar dan makin ganas. Tindakan lain yang harus dilakukan adalah evaluasi kondisi pulpa selama 1 tahun. sehingga mudah terjadi infeksi sehingga penyembuhan luka terhambat. 2005). 2005). Faktor Lokal a. Sifilis. Penyakit kardiovaskuler. Adanya suspek keganasan. et. darah dapat tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan pasca ekstraksi. Tindakan reposisi ini dilanjutkan dengan pemasangan alat stabilisasi selama 4 minggu oleh alat stabilisasi semi-rigid atau alat stabilisasi fungsional (Welbury.pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan darah meningkat. Posisi setelah tindakan tersebut harus dievaluasi dengan pemeriksaan radiografi untuk mengetahui penyembuhan di jaringan kerasnya. Oleh karenanya pasien dengan penyakit hati dapat menyebabkan ³prolonged hemorrahage´ yaitu perdarahan yang terjadi berlangsung lama sehingga bila penderita akan menerima pencabutan gigi sebaiknya dikirimkan dulu kepada dokter ahli yang merawatnya atau sebelum pencabutan dilakukan premediksi dahulu dengan vit K. d. 2. sehingga terjadi perdarahan.. Apabila kita menggunakan anestesi lokal yang tidak mengandung vasokonstriktor. g. terutama bagian pulpa. BAGAIMANA PERAWATAN JIKA FRAKTURNYA SUDAH MENCAPAI AKAR (1/3 APIKAL DAN 1/3 KORONAL)? Penanganan pada gigi permanen dapat dilihat dari lokasi frakturnya. f. . b. karena tidak ada hubungan antara kehamilan dengan pembekuan darah. Hipertensi bila anestesi lokal yang kita gunakan mengandung vasokonstriktor. Bukan kontraindikasi mutlak. Kehamilan bukan kontraindikasi terhadap pembersihan kalkulus ataupun ekstraksi gigi. 2007). Faktor sistemik pasien dengan kontra indikasi yang bersifat sistemik memerlukan pertimbangan khusus untuk dilakukan ekstraksi gigi. Jaundice/Hepatitis. jika fraktur berada di sepertiga apikal dan tidak ada kegoyangan prognosisnya baik dan membutuhkan penanganan minimal (Fonseca. Nefritis. pembuluh darah kecil akan pecah. a. Diabetes mellitus. dapat berakibat keadaan nefritis bertambah buruk. b. Pada penderita sifilis. c. e. Misalnya gigi dengan kondisi abses yang menyulitkan anestesi. Ekstraksi gigi yang meliputi beberapa gigi pada penderita nefritis. jika terdapat nekrosis maka perlu dilakukan perawatan saluran akar (Flores. Sinusitis maksilaris akut. Fraktur akar yang menyebabkan perubahan posisi di fragmen koronal dapat dilakukan reposisi sesegera mungkin dengan manipulasi digital. daya tahan tubuhnya rendah. Kontraindikasi ekstraksi gigi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di sekitar gigi. Perdarahan pada gusi mungkin merupakan manifestasi dari gingivitis kehamilan/ epulis yang disebabkan pergolakan hormon selama kehamilan.