REFLEKSI TINDAKAN

Nama Mahasiswa : Ria Arianti
Nim : C12113503
Tindakan Keperawatan Yang Dilakukan : Pemasangan kateter urine
A. Nama klien: An. Maishara Melani
B. Diagnosa Medis: Trauma capitis
C. Tanggal Dilakukan: 5 April 2017
D. Diagnosa Keperawatan: defisit perawatan diri: eliminasi berhubungan
dengan gangguan neuromuskular dan hambatan mobilitas (domain
4:aktivitas/istirahat, kelas 5:perawatan diri)
E. Tujuan tindakan:
1. Mengosongkan kandung kemih agar pasien merasa nyaman
2. Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan eliminasi
3. Mencegah timbulnya gangguan pada sistem urinarius
F. Prinsip dan rasional tindakan:
1. Teknik steril
Rasional: untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial
2. Pastikan balon fiksasi sudah berada di kandung kemih sebelum diisi
air
Rasional: untuk menghindari atau mencegah terjadinya ruptur uretra
3. Jangan memaksakan masuknya kateter jika ada tahanan saat akan
memasukkannya.
Rasional: untuk menghindari terjadinya trauma atau kerusakan pada uretra
Adapun rasional tindakan dalam pemasangan kateter urin khususnya pada
pasien perempuan menurut Urinary Catheter Care Guidlines tahun 2017
sebagai berikut.
1) Jelaskan dan diskusikan prosedur dengan pasien serta meminta
persetujuan pasien (pastikan persetujuan tersebut didokumentasikan).
Pastikan bahwa apakah pernah dipasangi kateter urin sebelumnya, jika
pernah tanyakan apakah ada masalah pada pemasangan kateter
sebelumnya, misalnya terdapat alergi pada lateks atau jelly Lidocaine
(gel anestesi). Rasional: untuk memastikan bahwa pasien mengerti
dengan prosedur yang akan dilakukan dan pasien memberikan
persetujuan yang sah atau valid.
2) Membantu pasien untuk merubah posisi menjadi terlentang/supine
dengan lutut dan pinggul ditekuk serta kedua kaki diregangkan sekitar
60 cm atau posisi dorsal recumbent. Jangan mengekspos bagian privasi
pasien selama prosedur. Rasional: untuk memungkinkan akses yang
aman ke daerah genital pasien selama prosedur serta untuk menjaga
martabat pasien dan memberikan kenyamanan.
3) Pastikan bahwa pencahayaan yang baik tersedia. Rasional: untuk
memastikan area genital terlihat jelas selama prosedur.
4) Mencuci tangan dengan air dan sabun atau alkohol menggunakan
prinsip mencuci tangan yang baik dan benar. Rasional: untuk
mengurangi resiko infeksi silang
5) menggunakan celemek sekali pakai/dispossible. Rasional: untuk
mengurangi resiko infeksi silang dari mikroorganisme pada pakaian.
6) Siapkan peralatan di dekat tempat tidur pasien. Pastikan pilihan kateter
benar dan cek kadaluarsa alat. Pastikan permukaan kerja (meja/troli)
yang digunakan untuk menempatkan peralatan yang dibutuhkan selama
prosedur telah bersih dan bebas dari mikroorganisme. Rasional: untuk
meminimalkan kontaminasi udara. Untuk memastikan kateter yang
digunakan benar. Untuk dekontaminasi permukaan kerja sehingga
mengurangi risiko infeksi.
7) Menggunakan teknik aseptik. Rasional: untuk memastikan item tetap
steril.
8) Dekontaminasi tangan menggunakan sabun dan air atau menggunakan
alkohol pembersih tangan. Rasional: tangan mungkin saja bisa
terkontaminasi oleh peralatan yang tidak steril, dan lain-lain.
9) Menggunakan sarung tangan atau handglove steril. Rasional: untuk
mengurangi resiko infeksi silang.
10) Lepaskan penutup (baju/celana) yang menjaga privasi pasien. Pasang
perlak/pengalas sekali pakai di bawah bokong pasien. Rasional:
pastikan area yang dibuka tadi tidak terpajan terlalu lama untuk
menjaga agar pasien tetap merasa privasinya aman. Untuk memastikan
urin tidak bocor ke seprai.
11) Gunakan penyeka untuk memisahkan labia minora sehingga meatus
uretra terlihat. Gunakan satu tangan untuk mempertahankan pemisahan
labial sampai kateterisasi selesai. Rasional: agar akses ke lubang uretra
lebih baik dan jelas.
12) Bersihkan uretra dengan Nacl 0,9% dari arah depan ke belakang.
Rasional: untuk mengurangi resiko infeksi silang.
13) Ganti saring tangan atau handglove dan bersihkan tangan dengan air
dan sabun atau alkohol. Rasional: untuk mengurangi resiko infeksi
silang.
14) Kenakan sarung tangan steril. Rasional: untuk mengurangi resiko
infeksi silang.
15) Berikan jelly anestesi sebagai pelumas ke dalam uretra. Biarkan 5 menit
untuk efek anestesi. Rasional: pelumasan membantu untuk mencegah
trauma uretra dan infeksi, serta meminimalkan ketidaknyamanan
pasien.
16) Sambungkan selang kateter dengan kantong drainase urin. Rasional:
untuk menampung drainase urin setelah kateter dimasukkan.
17) Masukkan ujung kateter ke dalam lubang uretra dengan arah ke atas
dan ke belakang. Rasional: arah penyisipan dan panjang kateter yang
dimasukkan harus sesuai dengan struktur anatomi pada lokasi tersebut.
18) Inflasi balon atau kembangkan balon setelah memastikan bahwa kateter
telah berada pada kandung kemih. Minta pasien untuk melaporkan rasa
tidak nyaman. Menarik sedikit kateter keluar. Rasional: mencegah
agar balon tidak terjebak dalam uretra. Inflasi yang tidak disengaja pada
balon yang berada dalam uretra dapat menyebabkan trauma uretra.
19) Tutup kembali daerah genital pasien. Pastikan bahwa area genital
dibiarkan kering dan bersih. Rasional: untuk menjaga martabat dan
kenyamanan pasien. Jika daerah yang tersisa basah atau lembab, infeksi
sekunder dan iritasi kulit dapat terjadi.
20) Pastikan urin mengalir ke kantong urin/urinal bag. Mengukur jumlah
urin yang digunakan. Rasional: untuk memantau fungsi ginjal dan
keseimbangan cairan.
21) Buang celemek yang digunakan, mencuci tangan atau menggunakan gel
alkohol. Rasional: untuk mencegah dekontaminasi lingkungan.
22) Dokumentasi (mencakup persetujuan yang diberikan, alasan untuk
kateterisasi, tanggal dan waktu kateterisasi, jenis kateter,panjang dan
ukuran, nomor batch, jumlah air yang ditanamkan ke dalam balon,
produsen & nomor batch gel anestesi yang digunakan, dan masalah
yang dinegosiasikan selama prosedur. Rasional: sebagai dasar atau
perbandingan pada tindakan berikutnya.
G. Analisa tindakan yang dilakukan: Pemasangan kateter pada umumnya
bertujuan untuk mengosongkan kandung kemih yang dilakukan pada pasien-
pasien dengan gangguan ataupun hambatan dalam memenuhi kebutuhan
eliminasi. Pasien pada tindakan ini mengalami trauma kapitis, pasien-pasien
dengan trauma kepala (head injury) pada umumnya akan mengalami
penurunan kesadaran oleh karena terganggunya suplai nutrien dalam bentuk
glukosa dan oksigen ke otak sehingga akan menyebabkan iskemia pada area
tertentu didalam otak yang turut mempengaruhi kesadaran seseorang. Untuk
itu agar kebutuhan eliminasi pasien dapat tetap terpenuhi meskipun terdapat
hambatan pada fisik berupa terjadinya penurunan kesadaran maka
dilakukanlah pemasangan kateter urine. Sebagai perawat hal penting yang
harus diperhatikan pada prosedur ini adalah memastikan bahwa tehnik steril
selama prosedur dilakukan tetap terjaga agar tidak menimbulkan infeksi
sekunder pada pasien dan fiksasi balon tepat sehingga mencegah timbulnya
cedera pada uretra atau sistem urinari pasien.
H. Kesenjangan: berdasarkan pada Standar Operasional Prosedur (SOP) pada
saat dilakukan tindakan pemasangan kateter ini maka sebaiknya digunakan
pengalas/perlak dibawah bokong pasien untuk menghindari seprei tempat tidur
pasien basah dan menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien, namun pada
saat praktik dilapangan setiap kali tindakan ini dilakukan hal tersebut sama
sekali tidak menjadi perhatian, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh
keterbatasan alat/perlak di ruangan jika dibandingkan dengan jumlah pasien
yang harus dilakukan pemasangan kateter pada waktu yang bersamaan.
Kemudian, pengecekan terhadap balon fiksasi sebelum dimasukkan ke dalam
kandung kemih juga tidak dilakukan, sehingga bisa memungkinkan terjadinya
hal yang tidak diharapkan seperti kebocoran balon fiksasi ketika sudah
dimasukkan ke dalam kandung kemih, hal tersebut tentunya sangat merugikan
bagi pasien dan keluarga. Selain itu, pada saat selang kateter akan dimasukkan
sebaiknya pasien diminta untuk menarik napas dalam untuk mengurangi rasa
nyeri, namun demikian anjuran untuk melakukan hal tersebut kepada pasien
saat pemasangan kateter sangat jarang dilakukan sehingga akan menambah
ketidaknyamanan pada pasien yang pada dasarnya kondisi fisiknya sudah tidak
nyaman akibat kondisi penyakit yang diderita.
Referensi:
Feneley, R. C., Hopley, I. B., & Wells, P. N. (2015). Urinary catheters: history,
current status, adverse events and research. Journal of Medical
Engineering and Technology, vol. 39(8), 459-470.

Houghton, M. (2017). Urinary catheter care guidlines. Nursing Health
Professional, 26-28.

Tim Keperawatan Dasar. (2017). Target kompetensi skill praktik profesi
keperawatan dasar. Makassar: PSIK FK UNHAS.