BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi merupakan salah cabang ilmu kedokteran yang tidak
berorientasi pada organ atau umur, tetapi pada fungsi. Dengan demikian maka
hubungan dengan cabang-cabang ilmu kedokteran (klinik) yang lain cukup
banyak, bahkan seringkali di ruang lingkup anestesi merupakan titik temu
persilangan ilmu medik dan bedah.
Anak-anak mempunyai kondisi berbeda dengan orang dewasa pada saat pra
bedah sebelum masuk ke kamar operasi. Salah satu kondisi tersebut berupa
kecemasan. Kecemasan merupakan salah satu faktor stres emosional anak yang
perlu diperhatikan sebelum masuk ke kamar operasi akibat pisah dengan orang
tua.
Keadaan sebelum masuk ke kamar operasi dapat memberikan
ketidaknyamanan dan rasa cemas pada anak-anak yang berpengaruh terhadap
mental anak. Hal ini akan berpengaruh terhadap respon tubuh untuk melepaskan
katekolamin sehingga dapat mengakibatkan peningkatan laju jantung, kontraksi
otot jantung, vasokonstriksi arteri, peningkatan kadar gula darah dan lain-lain;
keadaan tersebut dapat memperberat kondisi anak sebelum masuk ke kamar
operasi.
Penatalaksanaan anestesi pada pediatrik sedikit berbeda bila dibandingkan
dengan dewasa. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan mendasar antara
anak dan dewasa meliputi perbedaan anatomi, fisiologi, respon farmakologi dan
psikologi disamping prosedur pembedahan yang berbeda pada anak. Walaupun
terdapat perbedaan yang mendasar, tetapi prinsip utama anestesi yaitu :
kewaspadaan, keamanan, kenyamanan, dan perhatian yang seksama baik pada
anak maupun dewasa adalah sama.
Beberapa tahapan anastesi pediatrik seperti tahapan evaluasi, persiapan pra
bedah, dan tahapan premedikasi-induksi merupakan tahapan yang paling
menentukan keberhasilan dari tindakan anastesia yang akan kita lakukan.
Berjalannya setiap tahap dengan baik akan menentukan untuk tahap selanjutnya.

1

Sehingga laporan kasus ini bertujuan untuk membahas mengenai anestesi pada anak dengan laparotomi. dua kali lipat dari orang dewasa. Salah satu perbedaan paling penting antara pasien anak dan dewasa adalah konsumsi oksigen yang pada bayi dapat melebihi 6ml/kg/min. 2 . Adaptasi fisiologis dalam sistem jantung dan pernafasan anak-anak untuk memenuhi peningkatan permintaan merupakan hal fisiologis yang harus diperhatikan. Perbedan-perbedaan inilah yang mengakibatkan tindakan anastesi pada neonatus dan anak adalah istimewa.

Allergies : Batuk (+) . Auskultasi : Suara napas bronchovesiculer. Last Meal : 8 jam sebelum operasi .1 Anamnesis Pre Operasi Autoanamnesa .2 Persiapan Pre Operasi (12 November 2016) 2. RR 24x/m. Past Medical History : DM (-) HT (-) .2.1 Identitas Pasien Nama : An. wheezing (-/-) 3 . rhonki (-/-). buka mulut 3 jari. R Usia : 6 Tahun Jenis kelamin : Laki-laki Berat badan : 19 kg Tanggal MRS : 9 November 2016 Tanggal Anastesi : 12 November 2016 Lama Anastesi : 07. Events : Pasien mengeluh sakit pada bagian perut dan perut teraba keras 2.2.45 – 12.25 Diagnosa prabedah : Tumor Abdomen Jenis Pembedahan : Laparatomi Jenis Anestesi : General Anesthesia 2. BAB II LAPORAN KASUS 2. simetris. reguler.2 Pemeriksaan Fisik Pre Operasi B1 ( Breath) : Airway paten. snorig (-). Medications :- . stridor (-). pernapasan cuping hidung (-). Mallampati score class II. nafas spontan.

refleks cahaya +/+ B4 (Bladder) : BAK (+) spontan B5 (Bowel) : Distensi (+). ekstremitas deformitas (-) 2.000) Hematokrit : 36.000 – 424.0 – 42.4 – 15. S1-S2 reguler.0 g/dl.9 % (N : 38.3) Trombosit : 423. RR: 24 x/m.0 – 5.000/µl (N : 142.7) Eritrosit : 4. ictus cordis teraba di SIC 6. murmur (-) gallop (-) B3 ( Brain) : Compes mentis. leukosit: 9. Tax: 36. nadi reguler kuat angkat 100x/m. CRT 2”.0) Leukosit : 9. B2 (Blood) : Akra hangat.0) Foto Polos Abdomen Kesan: Susp.53 106/µl (N : 4.3 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Lab Darah Lengkap (11 November 2016) Hb : 12. peristaltik (+).7oC - Hb: 12. nyeri tekan (+). Ileus Obstruktif 2.3 Laporan Anestesi Pre-Operatif (12 November 2016)  Assessment: ASA 2  Diagnosa prabedah : Tumor Abdomen  Keadaan prabedah - BB: 19 kg. - N: 100x/menit.10 103/µl 4 . GCS 15.2. krepitasi (-) morbilitas (-).0 gr/dl (N : 11.7 – 11. massa (+) B6 (Bone) : Nyeri (-).10 103/µl (N : 4.

Introducer (stylet) . Oral dan nasal airway . ETT . efedrin.Operatif (12 November 2016) 2.4.00 - IV line : 1 (tangan kiri kristaloid) - Jenis tindakan : Laparotomi 2. surat persetujuan tindakan anestesi (+) Puasa: (+) 8 jam preop Persiapan WB 2 labu (diambil jika perlu) IVFD RL 20 tpm selama puasa 2. lidokain. Suction . adrenalin.  Peralatan resusitasi dan obat-obatan emergensi : sulfas atrofin. 5 . laringoskop  Tubes → ETT (cuffed) size 5  Airway → orotracheal airway  Tape → plester untuk fiksasi  Introducer → untuk memandu agar pipa ETT mudah dimasukkan  Connector → penyambung antara pipa dan ventilator  Suction → memastikan tidak ada kerusakan pada alat suction  Peralatan monitor : tekanan darah.2 Di Kamar Operasi  Persiapan dasar Intubasi .1 Di Ruangan Surat persetujuan operasi (+). dan EKG.4.4 Persiapan Pre. Laringoskop . nadi. oksimetri berdenyut. - Terakhir makan nasi dan minum tanggal 11 November 2016 pukul 00. Assistant yang terlatih  Scope → stetoskop.

Dexametasone 2. Inj Atracurium besilate 2. Inj.5 % Anti fibrinolitik 1.Petidin 10 mg Obat induksi : 1. Asam tranexamat 200 mg 6 . Inh.4 liter per menit 2. Inj.45 – 12.25 (4 jam 40 menit) Lama operasi : 08. O2 2. Inj Sedacum 2 mg 2.2.5 Durante Operatif (12 November 2016) 2.15 (4 jam 15 menit) Posisi : Supine Infus : 2 line di tangan kanan dan kiri pre medikasi 1. Inh. Propofol 40 mg Obat relaksasi otot 1.2 mg 4.00 – 12.5 mg Obat maintenance anestesi : 1. Sevofluran 1 % sampai dengan 2.5.1 Laporan Anestsi Durante Operatif Jenis anestesi : General Anestesi Intubasi oral sleep non apneu ETT diameter 5 Lama anestesi : 07. Inj Sulfat Atrofin 0. Inj.5 mg 3.

48-11.10-09.46-10.08.40 Darah= 315 cc RL=100 cc 11.47-09.41-08.2.15-10.45 Nacl= 10 cc JAM II 08.35 RL= 400 cc JAM III 09.45 Darah = 247 cc 09.10 Darah= 28 cc RL= 100 cc 10.14 Nacl= 10 cc 10.2 Pemasukan dan pengeluaran cairan INPUT Infus Tangan kiri Infus tangan kanan JAM I 07.45 Darah= 171 cc JAM IV 10.41-12.5.45.11-10.40 RL = 300 cc 08.00 Nacl =65 cc Jumlah RL = 900 cc Nacl = 85 cc Darah= 761 cc TOTAL INPUT 1746 OUTPUT Perdarahan ± 1100 cc Urine ± 150 cc TOTAL OUTPUT ± 1250 cc TOTAL INPUT-TOTAL OUTPUT = 1746-1250 = + 496 CC 7 .

terpasang kateter.  Muntah. cyanosis (-). muntah (-). krepitasi (-). anemis (-).CRT < 2’’. stidor (-). gigi palsu (-) Spontan 28 x/m.2 Monitoring  Awasi tanda-tanda vital seperti tensi. S1-S2 tunggal murmur (-) Gallop (-) conjunctiva anemis (+/+). reflek cahaya +/+ B4 : produksi urine (+). nadi.2. urin ± 150 cc B5 : Nyeri tekan (+) B6 : nyeri (-).6.leher pendek(-. gargling (- ). GCS 456. suara bronchovesikuler simetris. dan suhu setiap 15 menit. wh (-/-). ikterik (-) 2.1 Laporan Post Operatif . mobilitas (+). rh (-/-). SaO2 98% dengan udara ruangan B2 : akral hangat. anemis (-). inisiasi makan/minum ditangani sesuai instruksi pasca anestesi  ACC pindah ruangan ICU 8 .6 Post Operati (12 November 2016) 2. retraksi (-). snoring (-). nyeri. pusing (-) Pemeriksaan fisik: B1 : pernafasan cuping hidung (-). krepitasi (-).Dilakukan perawatan di ICU - Keluhan pasien : mual (+).Ekstubasi dilakukan dalam keadaan sadar . B3 : compos mentis. ictus palpable at MCL S ICS 5. ekstremitas lain deformitas (-). nadi radialis kuat angkat 105 x/m. pernafasan.6.

Inj. Setelah dilakukan pemeriksaan tentang keadaan umum pasien tergolong dalam status fisik ASA 2 dan diputuskan untuk dilakukan anestesi umum dengan intubasi. zat kimia. sifat sedatif hipnotik obat ini sangat kuat sehingga dapat dipakai sebagai obat premedikasi. mendapatkan sedasi. Pertama dilakukan premedikasi. pasien adalah laki-laki usia 5 tahun dengan diagnosis tumor Abdomen. pemeriksaan fisik. Berdasarkan autoanamnesa.Petidin 10 mg. 9 . Tujuan premedikasi adalah untuk menghilangkan kecemasan. sifat anterograde amnesia bermanfaat untuk menghilangkan memori pada anak-anak di ruang premedikasi saat induksi. Sedacum 2 mg. Pemberian sedacum pada kasus telah sesuai teori.2 mg bertujuan untuk mengurangi sekresi lendir jalan napas sehingga mengurangi resiko aspirasi pada saat pemulihan dan obat ini termasuk obat premedikasi yang diberikan sebelum anestesi. mendapatkan analgesi. Keuntungan obat ini adalah memudahkan induksi. Dexametasone sebagai efek anti-inflamasi .2 mg. Inj. Pemberian sedacum 2 mg bertujuan untuk menghilangkan rasa cemas.5 mg. infeksi. mendapatkan amnesi. petidin merupakan narkotik yang paling sering digunakan untuk premedikasi. Dexametasone 2. Selanjutnya Dexametasone merupakan obat golongan kortikosteroid yang bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. pemeriksaan penunjang untuk menentukan status (ASA) serta ditentukan rencana jenis anestesi yang akan dilakukan yaitu general anestesi dengan intubasi. Kemudian Pemberian sulfat atrofin 0. Premedikasi diberikan Inj. Pada pasien ini diberikan dexametasone 2. dengan rencana dilakukan tindakan pembedahan laparotomi. Selanjutnya pemberian inj. mekanik atau alergen. Inj Sulfat Atrofin 0. petidin 10 mg. BAB III PEMBAHASAN Pada kasus kali ini.5 mg hal ini telah sesuai teori untuk dosis pada anak-anak sebagai anti-inflamasi 2.5-5 mg/hari dalam dosis terbagi setiap 6 – 12 jam. Sedacum merupakan golongan dari Benzodiazepin. kortisol dan analog sintetiknya dapat mencegah atau menekan timbulnya gejala inflamasi akibat radiasi.

Tahap selanjutnya induksi dilakukan dengan propofol serta sevofluran. bermanfaat untuk induksi inhalasi. Maka hal ini sudah sesuai dengan teori yang ada. Sevofluran tidak bersifat irritatif dan memiliki onset yang lebih cepat dan durasi yang lebih pendek namun dapat menyebabkan delirium pada saat pasien sadar. Halothane memiliki bau yang manis sehingga mudah dihirup dan bila ditambah dengan N2O dapat mempercepat induksi serta durasi obat yang lebih lama namun dapat menimbulkan arritmia sehingga penggunaanya sudah mulai ditinggalkan. Hal ini telah sesuai dengan kasus pasien. Sebelum dilakukan intubasi diberikan obat relaksasi Inj Atracurium besilate. Pemasangan ini bertujuan untuk mempermudah pemberian anestesi. 10 . Pada kasus ini obat anestesi inhalasi yang digunakan adalah sevofluran. mempertahankan jalan napas agar tetap bebas serta mempertahankan kelancaran pernapasan. memudahkan melakukan pemberian pernapasan buatan. dan mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi lambung. untuk mempertahankan paralisis selama anestesi dan tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna. Ukuran ETT pada anak-anak dapat menggunakan rumus Modified Cole formula dan Khine Formula: [(Usia/4) + (4. bila tanpa cuff jadinya ditambah 3)]. Teknik induksi yang sering digunakan pada anak-anak <10 tahun adalah induksi inhalasi. dilakukan pemasangan intubasi. Obat-obatan inhalasi anestesi yang paling sering diberikan adalah halothane dan sevoflurane. Propofol menimbulkan depresi sistem saraf pusat dalam waktu 20-40 menit dari injeksi. ETT yang digunakan pada pasien ini berukuran 5 mm. Pemberian propofol bertujuan sebagai obat induksi. terutama pada anak-anak. Setelah memasukan obatan obatan premedikasi. menghasilkan analgesia pra dan pasca bedah.mengurangi kebutuhan obat anestesi. Atracurium besilate merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi dengan beberapa keunggulan diantaranya : untuk mempermudah intubasi. pemulihan berlangsung cepat dan terdapat efek “mabuk” yang minimal bahkan pada masa pasca anestesi dini. induksi dan relaksasi. Sevofluran merupakan obat anestesi umum yang lebih baru dan mempunyai bau yang manis.

keringat dan insensible losses dari kulit dan paru. adanya perdarahan dan oleh sebab-sebab lain misalnya adanya cairan lambung. Setelah ETT terfiksasi dilaksanankan pembedahan yang diikuti dengan pemberian cairan parenteral yaitu kristaloid untuk mensubtitusi. sedangkan cairan kristaloid dengan cepat didistribusikan keseluruh ruang cairan extracellular. Banyaknya cairan yang harus diberikan per infus disesuaikan dengan banyaknya cairan yang hilang. Berdasarkan penggunaannya Cairan pengganti yang sering digunakan pada anak-anak adalah cairan kristaloid contohnya Ringer laktat. 1. Cairan koloid menjaga tekanan oncotic plasma dan sebagian besar ada di intravascular. atau suatu kombinasi kedua-duanya. Pada pasien digunakan cairan ringer laktat sebanyak 900cc. cairan fistula dan lain-lainnya. sekresi gastrointestinal. Terapi cairan intravena terdiri dari cairan kristaloid. Kebutuhan cairan maintenance Pada waktu intake oral tidak ada. sedangkan cairan koloid berisi ion dengan berat molekul tinggi seperti protein atau glukosa. pada waktu pembedahan (translokasi). koloid. Terapi cairan dimaksudkan untuk maintenence. defisit cairan dan elektrolit dapat terjadi dengan cepat karena adanya pembentukan urin yang terus berlangsung. darah dan cairan yang keluar selama pembedahan.1 tabel estimasi kebutuhan cairan pemeliharaan Pada kasus didapatkan anak dengan berat badan 19 kg sehingga kebutuhan cairan pemeliharaannya 40 + 18 = 58 ml/jam 11 . kebutuhan pemeliharaan normal dapat diestimasi dari tabel berikut: berat badan kebutuhan 10 kg pertama 4 ml/kg/jam 10-20 kg kedua 2 ml/kg/jam masing-masing kg > 20 kg 1 ml/kg/jam 3. Larutan kristaloid adalah larutan mengandung ion dengan berat molekul rendah (garam) dengan atau tanpa glukosa. mengganti cairan yang hilang pada waktu puasa.

dan selama ini anak telah mengonsumsi makananan padat. Cairan pengganti puasa Pasien yang akan dioperasi setelah semalam puasa tanpa intake cairan akan menyebabkan defisit cairan sebanding dengan lamanya puasa. 6 jam 8 jam Tabel 3. Cairan yang seharusnya masuk karena puasa juga harus diganti. maka puasa yang di anjurkan adalah 8 jam. Dimana teori mengatakan bahwa puasa yang dianjurkan pada pediatri adalah sebagai berikut : Usia Air bening ASI Susu Formula Makanan Padat Neonatus – 6 2 jam 4 jam 4 jam - bulan 6 – 36 bulan 2 jam 4 jam 6 jam 6 jam >36 bulan 2 jam .2. 3. Pada pasien ini dianjurkan untuk puasa selama 8 jam. Defisit ini dapat diperkirakan dengan mengalikan normal maintenance dengan lamanya puasa. Puasa Pre operatif pada pasien anak Dalam kasus ini anak berusia 5 tahun atau lebih dari 36 bulan. sebagaimana rumus yang bisa kita gunakan adalah : 12 . Cairan pengganti Operasi Pada kasus ini dilakukan pembedahan jenis laparatomi. Hal ini sudah sesuai dengan teori.2. dimana operasi laparotomi ini merupakan operasi yang besar. sehingga perlu juga kita mengetahui cairan yang hilang berdasarkan jenis operasinya. Penggantian cairan selama puasa menggunakan rumus (maintainance x lamanya puasa) sehingga didapatkan (58 ml/jam x 8 jam) = 464 ml/jam.

TERAPI CAIRAN pada An. terapi cairan maintanance. Cairan tersebut bertujuan untuk menggantikan cairan yang hilang saat pasien puasa selama 8 jam. 13 . 5 thn. pada pasien ini didapatkan 4-8 ml/kg = (4-8 ml) x 19 kg = 76 sampai 152 ml.Sehingga. RL) dengan perhitungan perbandingan 3:1.3. Sedangkan untuk kebutuhan cairan selama berlangsungnya operasi sebesar 1304 ml dalam kurun waktu 4 jam. cairan yang harus diberikan kepada pasien pada saat pre operatif sebesar 464 ml. pre operatif. BB = 19 kg Maintanance 10 kg pertama x 4 ml (M) 10 kg kedua x 2 ml 40+18 58 ml 10 kg berikutnya x 1 ml Pre Operatif Lama puasa (jam) x 8 x 58 464 ml (pengganti Maintanance puasa/ P) 1 jam pertama M+½P+O 58 + 232 + O(jenis oper) 152 = 442 ml Intra Operatif 1 jam kedua M + ¼ P + O 58 + 116 + 152 1304 = 326 ml ml 1 jam ketiga M + ¼ P + O 58 + 116 + 152 = 326 ml 1 jam keempat M+O 58 + 152 = 210 Tabel 3. Cairan yang dapat digunakan sebagai cairan maintenance adalah cairan kristaloid (asering. dan intraoperatif Berdasarkan perhitungan diatas. sedangkan cairan maintenance yang kedua adalah koloid dengan perbandingan 1:1.

5 cc EBL = 513 cc – 427.4. Pengganti Perdarahan Tabel 3.5 cc = 86 cc = 86cc x 3 = 257 cc 14 .4 Volume darah Pada pasien ini anak umur 5 tahun dengan ht Ht pre op : 36 %/dl Hb pre op : 12 g/dl EBV (Estimate Blood Volume) pada pasien : EBV = 75 ml/kg x BB kg = 75ml/kg x 19 kg = 1425 ml EBL = EBV – Hct preop = 1425 x 36 % = 513 cc EBV – Hct standar = 1425 x 30% = 427.

Ada juga yang mendefinisikan transfusi darah masif pada pediatri adalah transfusi komponen darah setara dengan satu atau lebih volume darah dalam 24 jam atau separuh volume darah dalam 12 jam. Transfusi WB berfungsi untuk menjaga oksigensasi jaringan yang adekuat karena memiliki kapasitas pembawa oksigen paling besar. dan albumin. Komponen darah dalam sediaan transfusi antara lain sel darah merah. koloid ataupun transfusi darah. dan ini termasuk kedalam perdarahan kelas II. cyroprecipitate. Transfusi darah masif adalah transfusi darah sebanyak 1. 15 . faktor koagulasi. Pada kasus ini pasien mendapatkan transfusi darah. Tabel 3. Sediaan darah untuk transfusi ada bermacam-macam sesuai dengan kandungan komponen darahnya. karena hal tersebut dapat menentukan seberapa banyak cairan yang kita berikan baik berupa kristaloid. trombosit/platelet. Selain itu WB dapat menaikkan kadar Hb resipien sebesar 1gr%. Pada kasus digunakan whole blood (WB) dan pasien mendapatkan transfusi sebanyak 761 cc selama operasi berlangsung. Pasien telah kehilangan darah ± 1100 cc.5 kali volume darah penderita atau pemberian 0.5 Klasifikasi Perdarahan Menentukan jumlah perdarahan yang hilang ketika operasi sangat penting. Komponen darah biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan pasien pediatri memiliki keperluan komponen darah yang unik dan berbeda dari pasien dewasa.5 dari jumlah darah penderita dalam waktu kurang dari 1 jam. produk plasma.

Oleh karena itu. 16 . asam traneksamat dapat membantu mengatasi perdarahan berat akibat fibrinolisis yang berlebihan. Obat ini merupakan penghambat bersaing dari aktivator plasminogen dan penghambat plasmin. Plasmin sendiri berperan menghancurkan fibrinogen. fibrin dan faktor pembekuan darah lain. Maka kasus ini pemeberian asan traneksamat sudah sesuai dengan teori yang ada. Pada kasus pasien juga diberikan Asam traneksamat 200mg secara IV.

5. Cairan pengganti perdarahan pada kasus digunakan whole blood (WB) 17 . yaitu cairan pemeliharaan (maintenance). Kebutuhan cairan pemeliharaannya pada kasus 58 ml/jam 4. sehingga dapat disimpulkan : 1. Cairan pengganti operasi adalah 1304 ml dalam kurun waktu 4 jam 6. cairan pengganti puasa. cairan pengganti operasi dan pengganti perdarahan. 3. Cairan pengganti puasa adalah 464 ml/jam. Berdasarkan penggunaannya cairan dibagi atas beberapa golongan. BAB IV KESIMPULAN Berdasarkan laporan kasus yang telah dibahas.

4. DAFTAR PUSTAKA 1. Instant Access. Mikhail MS. Morgan GE. 4th edition. Clinical Anesthesia. Jasa Z. Miller’s Anesthesia. 6. Churchill Livingstone. Vacanti. Uman. Farmakologi dan terapi. Clinical anesethesiology. Badan penerbit FKUI. Segal. Barash PG. Ascobat P. 3. 2014. Suherman S. Miller. Sikka. 6th ed. 18 . 2006 5. 7th ed. Stock MC. Binarupa Aksara publisher. Stoelting RK. Murray MJ. 2009. 2011. 2009. [Ebook] Lippincott William and Wilkins. Jakarta. Cahalan KM. Essential Clinical Anesthesia. [Ebook]. Dershwiz. Edisi 5. Cambridge University Press. 2. New York: McGraw Hill. 2011. Cullen BF.

Related Interests