SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

Teknik spektroskopi adalah salah satu teknik analisis fisika-kimia
yang mengamati tentang interaksi antara atom atau molekul dengan radiasi
elektromagnetik (REM). Radiasi elektromagnetik panjang gelombang 380
nm-780 nm merupakan radiasi yang dapat diterima oleh panca indera mata
manusia, sehingga dikenal sebagai cahaya tampak (visibel). Diluar rentang
panjang gelombang cahaya tampak, REM sudah tidak dapat ditangkap oleh
panca indera mata manusia (Setiyowati, 2009).
Perkembangan ilmu pengetahuan juga sejalan dengan perkembangan
teknologi. Berbagai alat dengan kecanggihan semakin meningkat. Hal ini
juga termasuk perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kimia dan
farmasi. Berbagai kecanggihan di bidang kimia dan farmasi berkembang
pesat, sehingga sangat membantu banyak orang dalam melakukan riset dan
penelitian terkini. Dan diantara perkembangan tersebut adalah
perkembangan dalam analisis farmasi yang erat kaitannya dengan interaksi
cahaya dengan materi, yakni analisis terkait ilmu spektroskopi atau
spektrofotometri.
Para ahli kimia sudah lama menggunakan warna sebagai suatu
pembantu dalam mengidentifikasi zat kimia. Dimana, serapan atom telah
dikenal bertahun-tahun yang lalu. Dewasa ini penggunaan istilah
spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi.
Cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang
tertentu. perpanjangan spektrofotometri serapan atom ke unsur-unsur lain
semula merupakan akibat perkembangan spektroskopi pancaran nyala. Bila
disinari dengan benar, kadang-kadang dapat terlihat tetes-tetes sampel yang
belum menguap dari puncak nyala, dan gas-gas itu terencerkan oleh udara
yang menyerobot masuk sebagai akibat tekanan rendah yang diciptakan oleh
kecepatan tinggi, lagi pula sistem optis itu tidak memeriksa seluruh nyala,
melainkan hanya mengurusi suatu daerah dengan jarak tertentu di atas titik
puncak pembakar (Sudjadi, 2007).

1
Selain dengan metode serapan atom unsur-unsur dengan energy
eksitasi rendah dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala, tetapi untuk
unsur-unsur dengan energy eksitasi tinggi hanya dapat dilakukan dengan
spektrometri serapan atom. untuk analisis dengan garis spektrum resonansi
antara 400-800 nm, fotometri nyala sangat berguna, sedangkan antara 200-
300 nm, metode AAS lebih baik dari fotometri nyala. Untuk analisis
kualitatif, metode fotometri nyala lebih disukai dari AAS , karena AAS
memerlukan lampu katoda spesifik (hallow cathode). Kemonokromatisan
dalam AAS merupakan syarat utama. Suatu perubahan temperature nyala
akan mengganggu proses eksitasi sehingga analisis dari fotometri nyala
berfilter. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan AAS
merupakan komplementer satu sama lainnya(Watson, 2005).

A. PROFIL SSA
Metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA) mendasarkan pada
prinsip absopsi cahaya oleh atom. Atom-atom akan menyerap cahaya pada
panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Cahaya pada
panjang gelombang ini mempunyai cukup energi untuk mengubah tingkat
elektronik suatu atom yang mana transisi elektronik suatu atom bersifat
spesifik. Dengan menyerap suatu energi, maka atom akan memperoleh
energi sehingga suatu atom pada keadaan dasar dapat ditingkatkan
energinya ke tingkat eksitasi (Gandjar dan Rohman, 2007).
Prinsip SSA yaitu atom-atom suatu logam diuapkan ke dalam suatu
nyala dan serapannya pada suatu pita radiasi sempit yang dihasilkan oleh
suatu lampu katoda rongga, dilapisi dengan logam tertentu yang sedang
ditentukan, kemudian diukur. Kelebihan SSA yaitu: (1) lebih peka
dibanding SEA, (2) suatu metode analisis yang sangat spesifik yang
bermanfaat dalam beberapa aspek pengendalian mutu. Adapun
kekurangannya yaitu: (1) hanya dapat diterapkan pada unsur-unsur logam,
(2) masing-masing unsur memerlukan lampu katoda rongga yang berbeda
untuk penentuannya (Watson, 2010).

2
Keberhasilan analisis dengan SSA ini tergantung pada proses esitasi
dan cara memperoleh garis resonansi yang tepat. Temperatur nyala harus
sangat tinggi. Jumlah atom yang tereksitasi dari keadaan azas (3s) ke
keadaan tereksitasi 3p adalah kecil (misal pada suhu 2500oK). Hal ini dapat
diterangkan menggunakan persamaan Bolztman :
= exp (- )
dimana:
k : tetapan Boltzman (1,38 x 10-16 energi/derajat Kelvin)
T : suhu dalam derajat (K)
Ej : selisih energi (erg) antara keadaan tereksitasi dengan keadaan azas
Nj : jumlah atom dalam keadaan tereksitasi
No : jumlah atom dalam keadaan azas
Pj : jumlah keadaan kuatum dengan energi yang sama pada keadaan
tereksitasi
Po : jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama dalam keadaan
azas (Gandjar dan Rohman, 2007).
Metode analisis berdasarkan serapan atom berpotensi sangat spesifik
karena garis serapan atom yang sangat sempit (0,002 sampai 0,005 nm) dan
karena energi transisi elektronik yang unik untuk setiap elemen. Di sisi lain,
lebar garis tertentu menciptakan masalah tidak biasanya ditemui dalam
spektroskopi serapan molekul. Ada hubungan linear antara sinyal analitik
(absorbansi) dan konsentrasi. Hukum beer harus ditaati dan sumber
cahaya harus relatif sempit dengan puncak penyerapan lebar (Skoog et al,
1998).

B. JENIS-JENIS SSA
Berbagai teknik yang mencakup spektrometri atom, antara
lain Flame atomic absorption spectroscopy (FAAS), graphite furnace
atomic absorption spectroscopy(GFAAS), inductively coupled plasma-
atomic emission spectroscopy (ICP- AES) daninductively coupled plasma–
mass spectrometry (ICP-MS) telah digunakan selama bertahun-tahun untuk
analisis logam dan metaloid dalam berbagai jenis sampel, termasuk

3
komponen farmasetik. Baik tehnik FAAS dan GFAAS, yang didasarkan
berdasarkan hukum Lambert-Beer, telah digunakan lebih lama untuk
analisis logam dan/atau metalod dalam obat-obatan dibandingkan ICP-AES
atau ICP-MS. FAAS kurang sensitif dibandingkan GFAAS, dengan FAAS
umumnya memiliki kepekaan bagian per juta (ppm, w/w), dan GFAAS
mampu bagian per miliar (ppb, w/w). Baik FAAS dan GFAAS memerlukan
penggunaan hollow katoda (HCL) atau electrodeless discharge lamp (EDL)
untuk setiap analit yang bersangkutan (Lewen, 2011).
Dalam FAAS, sampel cair dialirkan ke dalam nyala melalui
nebulizer. Dalam nebulizer, sampel diubah menjadi kabut, dan tetesan kabut
yang mudah terbakar dalam api, yang berperan sebagai sel sampel. Nyala
menyediakan sumber atom atau molekul netral atau untuk menyerap energi,
dan bertindak untuk mendesolvasi dan atomisasi sampel. Nyala api yang
paling umum digunakan adalah udara/asetilen api, yang membakar dalam
kisaran suhu 2120-2400◦C, sementara api nitrous oxide, yang dapat
membantu untuk menghancurkan oksida yang bisa terbentuk, membakar
dalam kisaran suhu 260-28000C. Sebagai sumber cahaya digunakan hollow
katoda (HCL) atau electrodeless discharge lamp (EDL), yang memancarkan
garis spektrum yang sesuai dengan energi yang dibutuhkan untuk
memperoleh transisi elektronik dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi
dalam sampel. Penyerapan radiasi dari sumber cahaya eksternal sebanding
dengan populasi spesies / konsentrasi analit yang disemprotkan ke nyala
(Lewen, 2011).
Volpe et al (2012) mengaplikasikan tehnik Flame atomic absorption
spectroscopy (FAAS) dan dalam evaluasi kandungan timbal pada
eyeshadow dari Cina, Italia, dan Amerika Serikat. Nikel merupakan
penyebab dermatitis, produk kosmetik harus mengandung nikel kurang dari
5mg/g dan sebaiknya berada dibawah 1mg/g-1 untuk meminimalkan risiko
reaksi alergi atau eczema kelopak mata.
Pada analisis tersebut digunakan bahan bakar: udara, 13,50L/menit;
asetilena, 2,00L/menit yang digunakan. Absorbansi dibaca pada 217 nm.
Kurva kalibrasi diperoleh dengan menggunakan tiga larutan standar dengan

4
konsentrasi berbeda, yang diperoleh dari larutan standar
Pb(NO3)2 diencerkan dalam HNO3 1% yang juga digunakan untuk
melarutkan sampel. Produk yang dianalisis selain sampel dari China
memiliki konsentrasi nikel di bawah batas tersebut.
Dalam GFAAS, sampel (biasanya cairan) dimasukkan melalui celah
kecil ke dalam tabung grafit yang dipanaskan, yang dikenal sebagai mini-
Massmann furnace. Di dalam tungku, yang berfungsi sebagai sel sampel,
atom atau molekul netral tereksitasi dari keadaan dasar ketika tabung
dipanaskan. Sampel dapat disimpan secara langsung ke dinding tungku
grafit, atau ke platform grafit kecil, yang dikenal sebagai L’vov platform,
yang berada dalam tungku grafit (Lewen, 2011).
Serangkaian langkah-langkah pemanasan dijalankan, dengan
langkah-langkah utama termasuk pengeringan, charring atau ashing,
atomisasi dan clean-out. Langkah pemanasan lain dapat digunakan,
tergantung pada sifat sampel. Pada tahap atomisasi, tungku dipanaskan
dengan cepat sampai suhu tinggi (biasanya sampai berpijar), biasanya di
kisaran 2500-27000C. Penyerapan signal yang dipancarkan oleh sampel di
dalam tabung terjadi pada analit yang teratomisasi dan kemudian diukur
(Lewen, 2011).
Contado & Antonella (2012) menggunakan tehnik Graphite furnace
atomic absorption spectroscopy (GFAAS) untuk mengevaluasi kandungan
logam dalam serbuk eyeshadow. Unsur logam yang dianalisis antara lain Cr,
Co and Ni. Sampel yang dianalisis adalah 9 produk ayeshadow padat yang
harganya sangat murah yang dijual di italia. Produk tersebut ditujukan untuk
anak-anak dan orang dewasa. Pada analisis terssebut diperoleh kesimpulan
bahwa tidak ada sampel yang mengandung kadar Nikel, Kobalt dan
Kromium diatas 1 ppm atau 5 ppm, yang merupakan batasan kadar logam-
logam tersebut untuk tidak menimbulkan reaksi alergi kulit.

C. INSTRUMENTASI SSA
Secara umum, instrumen harus mampu memberikan lebar pita yang
cukup sempit untuk mengisolasi garis yang dipilih untuk pengukuran dari

5
jalur lain yang dapat mengganggu atau menguragi sensivitas
analisis. Sebuah kaca filter sudah cukup untuk beberapa logam
alkali, yang hanya memiliki garis resonansi beberapa banyak spasi di daerah
tampak. Sebuah alat yang dilengkapi dengan filter gangguan mudah
dipertukarkan tersedia secara komersial. Sebuah sumber cahaya yang
terpisah digunakan untuk setiap unsur. Sehingga diperoleh hasil yang
memuaskan untuk analisis tiap logam (Skoog et al, 1998).
Suatu spektrofotometer serapan atom terdiri atas komponen-
komponen berikut ini:
a. Sumber cahaya. Sumber yang paling umum untuk pengukuran
serapan atom adalah lampu katoda berongga. Jenis lampu ini terdiri
dari anoda tungsten dan katoda clyndrical dibungkus dalam
sebuah tabung gelas yang disi dengan neon atau argon pada
tekanandari 1-5 torr. Katoda terbuat dari logam yang spektrum yang
diinginkan atau berfungsi untuk lapisan supporta logam itu
b. Nyala. Nyala biasanya berupa udara/asetilen, menghasilkan suhu
±2500oC. Dinitrogen oksida/asetilen dapat digunakan untuk
menghasilkan suhu sampai 3000oC, yang diperlukan untuk
menguapkan garam-garam dari unsur-unsur seperti alumunium atau
kalsium.
a. Monokromator. Monokromator digunakan untuk
menyempitkan lebar pita radiasi yang sedang diperiksa
sehingga diatur untuk memantau panjang gelombang yang
sedang dipancarkan oleh lampu katode rongga. Ini
menghilangkan interferensi oleh radiasi yang dipancarkan
dari nyala tersebut, dan gas pengisi didalam lampu katode
rongga, dan dari unsur-unsur lain di dalam sampel tersebut.
b. Detektor. Detektor digunakan untuk mengukur intensitas
cahaya yang melalui tempat pengatoman. Detektor berupa sel
fotosensitif
c. Readout . Merupakan suatu alat penunjuk atau sistem
pencatatan hasil. Pencatatan hasil dilakukan oleh suatu alat

6
yang telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau
absorbsi (Watson, 2010).

Gambar Instrumentasi SSA (Sudunagunta et al, 2012)
Instrumen serapan atom sebagian menggunakan tabung pengganda
foto sebagai transduser. Seperti disebutkan sebelumnya, sistem elektronik
mampu membedakan antara sinyal termodulasi dari sumber dan sinyal
kontinyu dari nyala api yang diperlukan. Kebanyakan instrumen saat ini di
pasaran dilengkapi dengan sistem komputer mikro yang digunakan untuk
mengontrol parameter instrumen dan untuk mengontrol dan memanipulasi
data (Skoog et al, 1998).

Gambar 1. Bagan Spektrometer Serapan Atom

Gambar 2 Skema Spektrometer Serapan Atom

7
Keterangan :

A. Sumber Radiasi
B. Burner
C. Monokromator
D. Detektor
E. Amplifier
F. Display (Readout)

D. CARA PENGGUNAAN SSA
Untuk keperluan analisis kuantitatif dengan SSA, maka sampel harus
dalam bentuk larutan. Untuk menyiapkan larutan, sampel harus
diperlakukan sedemikian rupa yang pelaksanaannya tergantung dari macam
dan jenis sampel. Yang penting untuk diingat adalah bahwa larutan yang
akan dianalisis haruslah sangat encer. Ada beberapa cara untuk melarutkan
sampel, yaitu:
 Larutan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.
 Sampel dilarutkan dalam suatu asam.
 Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dilebur dahulu dengan basa
 kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.
Metode pelarutan apapun yang akan dipilih untuk dilakukan analisis
dengan SSA, yang terpenting adalah bahwa larutan yang dihasilkan harus
jernih, stabil dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis
(Gandjar dan Rohman, 2007).

E. Metode Analisis
Ada tiga teknik yang biasa dipakai dalam analisis secara spektrometri.
Ketiga teknik tersebut adalah:

8
1. Metode Standar Tunggal
Metode ini sangat praktis karena hanya menggunakan satu larutan
standar yang telah diketahui konsentrasinya (Cstd). Selanjutnya
absorbsi larutan standar (Asta) dan absorbsi larutan sampel (Asmp)
diukur dengan spektrometri. Dari hukum Beer diperoleh:
Sehingga,
Astd/Cstd = Csmp/Asmp -> Csmp = (Asmp/Astd) x Cstd
Dengan mengukur absorbansi larutan sampel dan standar,
konsentrasi larutan sampel dapat dihitung.
2. Metode kurva kalibrasi
Dalam metode ini dibuat suatu seri larutan standar dengan berbagai
konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur dengan AAS.
Langkah selanjutnya adalah membuat grafik antara konsentrasi(C)
dengan absorbansi (A) yang merupakan garis lurus yang melewati
titik nol dengan slobe = atau = a.b. konsentrasi larutan sampel dapat
dicari setelah absorbansi larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke
dalam kurva kalibrasi atau dimasukkan ke dalam persamaan garis
lurus yang diperoleh dengan menggunakan program regresi linewar
pada kurvakalibrasi.
3. Metode adisi standar
Metode ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan
kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan
(matriks) sampel dan standar. Dalam metode ini dua atau lebih
sejumlah volume tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam labu
takar. Satu larutan diencerkan sampai volume tertentu kemudiaan
larutan yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah terlebih
dahulu dengan sejumlah larutan standar tertentu dan diencerkan
seperti pada larutan yang pertama.
Menurut hukum Beer akan berlaku hal-hal berikut:
Ax = k.Ck AT = k(Cs+Cx)
Dimana,
Cx = konsentrasi zat sampel

9
Cs = konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
Ax = absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
AT = absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua rumus digabung maka akan diperoleh Cx = Cs +
{Ax/(AT-Ax)}
Konsentrasi zat dalam sampel (Cx) dapat dihitung dengan mengukur
Ax dan AT dengan spektrometri. Jika dibuat suatu seri penambahan
zat standar dapat pula dibuat grafik antara AT lawan Cs garis lurus
yang diperoleh dari ekstrapolasi ke AT = 0, sehingga diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(0-Ax)} ; Cx = Cs x (Ax/-Ax)
Cx = Cs x (-1) atau Cx = -Cs
Salah satu penggunaan dari alat spektrofotometri serapan atom
adalah untuk metode pengambilan sampel dan analisis kandungan
logam Pb di udara. Secara umum pertikulat yang terdapat diudara
adalah sebuah sistem fase multi kompleks padatan dan partikel-
partikel cair dengan tekanan uap rendah dengan ukuran partikel
antara 0,01 – 100 μm.(Sudjadi, 2007).

Cara menggunakan spektrofotometer serapan atom :
1. Pertama-tama gas di buka terlebih dahulu, kemudian
kompresor, lalu ducting, main unit, dan komputer secara
berurutan.
2. Di buka program SAA (Spectrum Analyse Specialist),
kemudian muncul perintah ”apakah ingin mengganti lampu
katoda, jika ingin mengganti klik Yes dan jika tidak No.
3. Dipilih yes untuk masuk ke menu individual command,
dimasukkan nomor lampu katoda yang dipasang ke dalam
kotak dialog, kemudian diklik setup, kemudian soket lampu
katoda akan berputar menuju posisi paling atas supaya lampu
katoda yang baru dapat diganti atau ditambahkan dengan
mudah.
4. Dipilih No jika tidak ingin mengganti lampu katoda yang baru.

10
5. Pada program SAS 3.0, dipilih menu select element and
working mode.Dipilih unsur yang akan dianalisis dengan
mengklik langsung pada symbol unsur yang diinginkan
6. Jika telah selesai klik ok, kemudian muncul tampilan condition
settings. Diatur parameter yang dianalisis dengan mensetting
fuel flow :1,2 ; measurement; concentration ; number of sample:
2 ; unit concentration : ppm ; number of standard : 3 ; standard
list : 1 ppm, 3 ppm, 9 ppm.
7. Diklik ok and setup, ditunggu hingga selesai warming up.
8. Diklik icon bergambar burner/ pembakar, setelah pembakar dan
lampu menyala alat siap digunakan untuk mengukur logam.
9. Pada menu measurements pilih measure sample.
10. Dimasukkan blanko, didiamkan hingga garis lurus terbentuk,
kemudian dipindahkan ke standar 1 ppm hingga data keluar.
11. Dimasukkan blanko untuk meluruskan kurva, diukur dengan
tahapan yang sama untuk standar 3 ppm dan 9 ppm.
12. Jika data kurang baik akan ada perintah untuk pengukuran
ulang, dilakukan pengukuran blanko, hingga kurva yang
dihasilkan turun dan lurus.
13. Dimasukkan ke sampel 1 hingga kurva naik dan belok baru
dilakukan pengukuran.
14. Dimasukkan blanko kembali dan dilakukan pengukuran sampel
ke 2.
15. Setelah pengukuran selesai, data dapat diperoleh dengan
mengklikicon print atau pada baris menu dengan mengklik file
lalu print.
16. Apabila pengukuran telah selesai, aspirasikan air deionisasi
untuk membilas burner selama 10 menit, api dan lampu burner
dimatikan, program pada komputer dimatikan, lalu main unit
AAS, kemudian kompresor, setelah itu ducting dan terakhir gas
(Hendayana, 1994).

11
METODE KERJA

Alat dan Bahan

 Alat- alat

─ Pipet tetes

─ Corong kaca

─ Botol semprot

─ Labu Erlenmeyer

─ Kuvet

─ Rak kuvet

─ Labu takar

─ Gelas ukur

─ Pipet ukur

─ Pipet gondok

─ Spektrofotmetri serapan atom

 Bahan-bahan

─ Air sungai Mahakam

─ Air sungai Karang Mumus

─ Tisu gulung

─ Aquadest

─ Larutan induk Fe 100 ppm

─ Kertas saring

12
 Prosedur percobaan

Pembuatan larutan standar

1. Disiapkan bahan serta peralatan yang akan dipakai pada praktikum.

2. Disaring sampel air sungai mahakam dan air sungai karang mumus
menggunakan kertas saring.

3. Dibuat 5 seri larutan Fe dengan konsentrasi berturut-turut 0, 1,2, 3, 4
ppm. Masing-masing sebanyak 0 mL Fe, 0,5 mL Fe, 1 mL Fe, 1,5
mL Fe, 2 mL Fe, ke dalam masing-masing labu takar 50 mL dan
diencerkan dengan aquades hingga tanda batas, dihomogenkan.

4. Dituangkan masing-masing larutan ke dalam masing – masing cuvet
hingga tanda terra.

5. Diberi kertas label dan diletakkan di rak cuvet.

Pembuatan larutan pembanding

1. Dituangkan sampel air sungai Karang Mumus dan air sungai
Mahakam ke dalam masing-masing gelas ukur menggunakan corong
kaca yang telah dilapisi kertas saring.

2. Ditungkan masing-masing sampel ke dalam cuvet berbeda hingga
tanda terra.

3. Di beri kertas label dan letakkan di rak tabung cuvet.

Pengukuran serapan atom

1. Diletakkan semua sampel dalam cuvet ke alat yang bernama asc.

2. Diberi jarak antara larutan pembanding dnegan larutan standar.

13
3. Dibuka kran gas asitilena sedikit, ditutup.

4. Dibuka kran pembuka gas.

5. Dinyalakan komputer.

6. Dinyalakan instrumen AAS.

7. Di klik (Connect) pada kotak dialog yang muncul dan tunggu hingga
instalasi selesai yang ditandai dengan semua item berwarna hijau
kemudian tekan (Ok).

8. Dipilih (Next) pada kotak dialog yang muncul.

9. Diisi kotak kosong dengan elemen yang akan dianalisis.

10. Dipilih ( Next ) dan program akan berjalan.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan:
1. Prinsip SSA yaitu atom-atom suatu logam diuapkan ke dalam suatu
nyala dan serapannya pada suatu pita radiasi sempit yang dihasilkan
oleh suatu lampu katoda rongga, dilapisi dengan logam tertentu yang
sedang ditetukan, kemudian diukur.
2. Kelebihan SSA yaitu: (1) lebih peka dibanding SEA, (2) suatu metode
analisis yang sangat spesifik yang bermanfaat dalam beberapa aspek
pengendalian mutu. Adapun kekurangannya yaitu: (1) hanya dapat
diterapkan pada unsur-unsur logam, (2) masing-masing unsur
memerlukan lampu katoda rongga yang berbeda untuk penentuannya.
3. Jenis-jenis SSA antara lain Flame atomic absorption
spectroscopy (FAAS), graphite furnace atomic absorption
spectroscopy (GFAAS), inductively coupled plasma-atomic emission
spectroscopy (ICP- AES) dan inductively coupled plasma–mass
spectrometry(ICP-MS)

14
4. Instrumen SSA terdiri dari sumber cahaya, nyala, monokromator,
detector dan readout.
5. Penggunaan SSA untuk keperluan analisis kuantitatif dengan
SSA, sampel harus dalam bentuk larutan
6. SSA sering diaplikasikan dalam bidang farmasi untuk membantu
mengkarakterisasi sepenuhnya dari produk farmasi karena spektrometri
atom memungkinkan penentuan obat dengan sensitivitas yang lebih
tinggi dan akurasi

15
DAFTAR PUSTAKA

Contado, Catia & Antonella Pagnoni. 2012. A new strategy for pressed powder eye
shadow analysis: Allergenic metal ion content and particle size
distribution. Science of the Total Environment. 483: 173–179

Gandjar, IG dan Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.

Hendayana, dkk, 1994, Kimia AnalitikInstrumen, IKIP Semarang.

Lewen, N. 2011. The use of atomic spectroscopy in the pharmaceutical industry for
the determination of trace elements in pharmaceuticals. Journal of
Pharmaceutical and Biomedical Analysis. 55: 653–661

Setiyowati. 2009. Validasi dan Pengembangan Penetapan Kadar Tablet Besi Sulfat
dengan Spektrofotometri Visibel dan Serimetri sebagai Pembanding.
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.

Skoog, Holler, Nieman. 1998. Principles of Instrumental Analysis, 5th ed. Saunders
College Publishing. USA.

Volpe, M.G., M. Nazzaro, R. Coppola, F. Rapuano & R.P. Aquino. 2012.
Determination and assessments of selected heavy metals in eye shadow
cosmetics from China, Italy, and USA. Microchemical Journal. 101: 65-69
Watson, DG. 2010. Analisis Farmasi. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

16