BAB II

TINJAUAN TEORITIS
1.1.Pengertian
Cedera kepala adalah suatu gangguan trauma dari otak disertai/tanpa perdarahan intestinal
dalam substansi otak, tanpa diikuti terputusnya kontinuitas dari otak (Nugroho, 2011).
Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak
atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada
kepala (Suriadi dan Yuliani, 2001).
Menurut Brain Injury Assosiation of America (2001), cedera kepala adalah suatu kerusakan
pada kepala, bukan bersifat congenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh
serangan/benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang
mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik
Cedera kepala adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul
maupun trauma tajam. Deficit neorologis terjadi karena robekannya subtansia alba, iskemia,
dan pengaruh massa karena hemorogik, serta edema serebral disekitar jaringan otak
(Batticaca, 2008).
Berdasarkan defenisi cedera kepala diatas maka penulis dapat menarik suatu kesimpulan
bahwa cedera kepala adalah suatu cedera yang disebabkan oleh trauma benda tajam
maupun benda tumpul yang menimbulkan perlukaan pada kulit, tengkorak, dan jaringan
otak yang disertai atau tanpa pendarahan.
Gambar 1. Gambaran Umum Cedera Kepala
1.2.Klasifikasi
Cedera kepala dapat dilasifikasikan sebagai berikut :
1.2.1. Berdasarkan Mekanisme
1. Trauma Tumpul : adalah trauma yang terjadi akibat kecelakaan kendaraan
bermotor,kecelakaan saat olahraga, kecelakaan saat bekerja, jatuh, maupun
cedera akibat kekerasaan (pukulan)
2. Trauma Tembus : adalah trauma yang terjadi karena tembakan maupun tusukan
benda-benda tajam/runcing.
1.2.2. Berdasarkan Beratnya Cidera

3

pasien tampak kebingungan. muntah. Patofisiologi cedera kepala dapat terbagi atas dua proses yaitu cedera kepala primer dan cedera kepala sekunder. misalnya akibat dari hipoksemia. Cedera Kepala Ringan/Minor (Kelompok Risiko Rendah) yaitu. 1. letargi dan stupor).Etiologi Penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas. cedera kepala terbuka sering disebabkan oleh pisau atau peluru (Corwin. jatuh. penurunan derajat kesadaran secara progresif. kerusakan pembuluh darah. kehilangan kesadaran atau amnesia < dari 30 menit. kontusio. Cedera Kepala Sedang (Kelompok Risiko Sedang) yaitu GCS 9-13 (konfusi. kehilangan kesadaran atau amnesia > 24 jam. kecelakaan kerja. tidak terdapat fraktur tengkorak. 1. tidak ada kriteria cedera sedang sampai berat. Cedera Kepala Berat (Kelompok Risiko Berat) yaitu GCS 3-8 (koma). mengantuk. konkusi. 2. cedera olah raga. pasien sadar dan berorientasi.Patofisiologi dan Pathway Adanya cedera kepala dapat menyebabkan kerusakan struktur. tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang. Pada cedera kepala sekunder terjadi akibat dari cedera kepala primer. amnesia paska trauma. cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium. perkelahian. mata rabun. misalnya kerusakan pada parenkim otak. 3. tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda battle. tanda neurologis fokal. GCS 14-15. 4 . dkk.3. cedera kepala primer merupakan suatu proses biomekanik yang terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan dapat memberi dampak kerusakan jaringan otat. klien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing. perubahan permeabilitas vaskuler. edema dan gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosis tripospat. hemotimpanum. hilang kesadaran atau amnesia > 30 menit tetapi < 24 jam. otorhea atau rinorhea cairan serebrospinal). perdarahan. namun masih bisa mengikuti perintah sederhana. 2000). 2000) : 1. iskemia dan perdarahan. hematom .4. The Traumatic Coma Data Bank mengklasifisikan berdasarkan Glasgow Coma Scale ( Mansjoer.

hematoma adalah berkumpulnya darah didalam jaringan cerebral. subdura hematoma akibat berkumpulnya darah pada ruang antara durameter dengan subaraknoid dan intra cerebral. Gambar 2. 2007). ketika terjadi autoregulasi menimbulkan perfusi jaringan cerebral dan berakhir pada iskemia jaringan otak (Tarwoto. Pathway Cedera Kepala 5 .Perdarahan cerebral menimbulkan hematoma misalnya pada epidural hematoma. Kematian pada penderita cedera kepala terjadi karena hipotensi karena gangguan autoregulasi. berkumpulnya antara periosteun tengkorak dengan durameter.

Perdarahan intra cranial 2. urine.1. dan perubahan jaringan otak. Cerebral Angiography: menunjukkan anomali sirkulasi cerebral. papil edema yang disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus. perubahan struktur garis (perdarahan. 3. ABGs : Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernafasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Kejang 3. 8. Kadar Elektrolit:Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial (Musliha.6. Parese saraf cranial 4. analisa gas darah. 5.5.7. seperti perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema.Manifestasi Klinik Manifestasi klinik dari cedera kepala tergantung dari berat ringannya cedera kepala. 4. 1. Peningkatan TIK yang mempunyai trias Klasik seperti: nyeri kepala karena regangan dura dan pembuluh darah. Lumbal Punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.Pemeriksaan Penunjang 1. kimia darah. Meningitis atau abses otak 5. edema). 1.8. Edema cerebri 7. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap.5. Kebocoran cairan serobospinal 1. determinan ventrikuler. 2. yaitu: 1.Komplikasi 1. perdarahan dan trauma.1. fragmen tulang. Perubahan kesadaran adalah merupakan indikator yang paling sensitive yang dapat dilihat dengan penggunaan GCS ( Glascow Coma Scale). 6. 2010). Infeksi 6.5.2. perdarahan. 7. muntah seringkali proyektil. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras: mengidentifikasi luasnya lesi. 1. CSF. Ronsent Tengkorak maupun thorak. X-Ray : mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur).Penatalaksanaan 6 . MRI : digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.

9. makanan diberikan melalui ngt (2500-3000 tktp). ringer dextrose untuk 8 jam kedua dan dextrosa 5% untuk 8 jam ketiga. Dextrosa 5% untuk 8 jam pertama. Pada trauma ringan bila terjadi muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa. Pemberian protein tergantung nilai urea. Stabilisasi vertebrata servikalis pada semua kasus trauma 3. dosis sesuai dengan berat ringannya trauma. 2-3 hari kemudian diberikana makanan lunak. Penatalaksanaan lainnya: 1) Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral. 1.Tindakan terhadap peningktatan TIK yaitu: 1. aminofusin. tidak terlalu banyak cairan. 2) Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Pemantauan TIK dengan ketat 1. Berikan oksigenasi 4. aminofel (18 jam pertama dan terjadinya kecelakaan). Pengatasan nyeri yang adekuat juga direkomendasikan pada pendertia cedera kepala (Turner. Untuk mengurangi vasodilatasi. Kenali tanda-tanda shock akibat hipovelemik atau neurogenik 6. Pada trauma berat.1. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah. Nilai fungsi saluran nafas dan respirasi 2. 3) Pemberian analgetika 4) Pengobatan anti oedema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.2. 5) Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin). 2000). 6) Makanan atau cairan. hanya cairan infus dextrosa 5% . Penatalaksanaan umum adalah: 1. Awasi kemungkinan munculnya kejang. Awasi tekanan darah 5. 2000). Oksigenisasi adekuat 7 .9. Atasi shock 7. hari-hari pertama (2-3 hari). Cedera otak sekunder disebabkan oleh faktor sistemik seperti hipotensi atau hipoksia atau oleh karena kompresi jaringan otak (Tunner.9. Penatalaksanaan medik cedera kepala yang utama adalah mencegah terjadinya cedera otak sekunder.

Pencegahan kejang 3.10. Pemasangan selang nasogastrik (Mansjoer. Selama memeriksa dan memperbaiki jalan nafas. harus diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstensi.9. Bedah neuro. Volume darah dan Curah jantung 8 .3. Pemberian manitol 1. 2000). Dukungan ventilasi 2.4. fraktur larinks atau trachea. .10. 1.9. Ventilasi yang baik meliputi:fungsi yang baik dari paru. fleksi atau rotasi dari leher. Breathing dan ventilation Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik.10.1. Tindakan pendukung lain yaitu: 1. Penggunaan steroid 1.1.2. dkk.2. Konsep Asuhan keperawatan Pengkajian Kegawatdaruratan : 1.10. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh. Dalam hal ini dapat dilakukan “chin lift” atau “jaw thrust”.10. dinding dada dan diafragma 1. Pemeliharaan cairan. 1.1.1. Klorpromazin untuk menenangkan klien 6.10. Meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing. Terapi anti konvulsan 5.9.3. fraktur mandibula atau maksila. 1.9. fraktur tulang wajah.6. Circulation dan hemorrhage control 1. elektrolit dan keseimbangan nutrisi 4.5.Primary Survey 1. Airway dan cervical control Hal pertama yang dinilai adalah kelancaran airway. Peningkatan kepala tempat tidur 1.

bingung. 2.12.4. takikardi. 2. hemiparese. cedera dan mungkin dipersulit oleh cedera tambahan pada organ-organ vital.6. 2.12. 2.10. 1.12.5. Exposure dan Environment control Dilakukan pemeriksaan fisik head toe toe untuk memeriksa jejas.12. kaku.2.4. Suatu keadaan hipotensi harus dianggap disebabkan oleh hipovelemia.1. ukuran dan reaksi pupil. letargi. cara berjalan tidak tegang. Integritas Ego Gejala : Perubahan tingkah laku dan kepribadian.6. gangguan menelan.12. angitasi. warna kulit dan nadi. Fokus assessment 1. lemah.10. 2.3. ataksia.12. Tanda : Perubahan kesadaran. 1. Kaji perdarahan klien. Tanda : muntah.11.11. depresi dan impulsif. Tanda : Cemas.10. hilang keseimbangan. Sirkulasi Gejala : Perubahan tekanan darah (hipertensi) bradikardi. mudah tersinggung. Aktivitas/istirahat Gejala : Merasa lelah. Disability Penilaian neurologis secara cepat yaitu tingkat kesadaran.11. Kontrol Perdarahan 1.12.2. lokasi dan keperahan. Data tergantung pada tipe. Head to toe assessment 1. Pengkajian Data Dasar Pengkajian Klien (Doenges. puandreplegia.5. 1.1. Makanan/cairan Gejala : Mual. Eliminasi Gejala : Inkontinensia. 2000). 2. Secondary Survey 1. 3 observasi yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaan hemodinamik yaitu kesadaran. kandung kemih atau usus atau mengalami gangguan fungsi. muntah dan mengalami perubahan selera. Neurosensori 9 .

Keamanan Gejala : Trauma baru/trauma karena kecelakaan. Nyeri/kenyamanan Gejala : Sakit kepala.1. respon menarik pada rangsangan nyeri yang hebat. pengaruh emosi atau tingkah laku dan memoris.13.5. gangguan rentang gerak. Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma.2. 2. merintih. Pernafasan Tanda : Perubahan pola pernafasan (apnoe yang diselingi oleh hiperventilasi nafas berbunyi) 2.d gangguan/kerusakan pusat pernafasan di medula oblongata/cedera jaringan otak 2. disartria.13.12. 2.d edema serebral. immunosupresif. Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral b. amnesia. Gejala : Kehilangan kesadaran sementara.3. 10 . tonus otot hilang. 2.12. perubahan status mental. vertigo. kehilangan pendengaran. demam.4. Defisit self care b/d kelemahan fisik. Tanda : Wajah menyeringai.7. kerusakan jaringan faktor resiko infeksi 2.10. bicara tanpa arti. gangguan penglihatan. Nyeri akut b.13. konsentrasi.13.13. peningkatan TIK 2. bicara berulang-ulang. gangguan pengecapan dan penciuman. kekuatan secara umum mengalami paralisis. gelisah. penurunan kesadaran.12. Interaksi sosial Tanda : Apasia motorik atau sensorik.9.8. Pola nafas tidak efektif b. 2. tidak bisa istirahat. perubahan penglihatan seperti ketajaman.d agen injuri fisik 2.12.13. Tanda : Fraktur/dislokasi. Diagnosa Keperawatan 2. sinkope. Trauma. gangguan dalam regulasi suhu tubuh. tindakan invasife.

evaluasi tanda-tanda jaringan jam klien menunjukan penurunan perfusi serebral: gangguan cerebral b. involunter) 2. pingsan. Kaji penyebab ketidakefektifan pola tidak efektif asuhan keperawatan …. edema tissue perfusion cerebral penglihatan kabur. Lakukan tindakan bedrest total dengan jelas. gangguan/keru pola nafas yang efektif status mental. 5. membaik dengan KH: gerakan bola mata. Klien mampu bicara 4.d jam klien menunjukan 3. batuk terus mmHg) menerus). 2.d status sirkulasi dan mental. perhatian dan 7. mengedan. Kolaborasi pemberian obat-obatan membaik (GCS 15. Pola nafas Setelah dilakukan 1. Beri posisi head up 35-45 derajat 4. Monitor tanda-tanda TIK motorik cranial utuh 9. Tidak ada tanda 3. Monitor perubahan tingkat kesadaran. Hindari tindakan valsava manufer TIK normal (120/80 (suction lama. Intervensi Keperawatan NO DIAGNOSA NOC NIC KEPERAWAT AN 1. Fungsi sensori 8. Ketidakefektif Setelah dilakukan Monitoring tekanan intrakranium: an perfusi asuhan keperawatan …. dan peningkatan TIK 11 .14. serebral. Batasi gerakan leher dan kepala : kesadaran 10. 1. Posisikan pasien kepala lebih tinggi menunjukkan dari badan (30-40 derajat) konsentrasi. reaksi pupil. Kaji. 6. Kaji status pernafasan klien 2. observasi. TD dalam rentang 2. Monitor Vital Sign serta tingkat orientasi baik kesadaran 4. nafas b. Berikan oksigen sesuai instruksi peningkatan TIK dokter 3. peningkatan 1.2. Minimalkan stimulasi dari luar. nyeri kepala. untuk meningkatkan volume tidak ada gerakan intravaskuler sesuai perintah dokter.

. nyeri presipitasi). durasi. v/s dbn mengatasi nyeri.d Setelah dilakukan Manajemen nyeri : agen injuri Asuhan keperawatan …. Suhu normal ( 36-37 4. 2. f. Nyeri akut b. kerusakan 1. klien dapat istirahat (farmakologis/non farmakologis). Lakukan cuci tangan sebelum dan jaringan faktor infeksi sesudah tindakan keperawatan. Pilih dan lakukan penanganan nyeri 3. Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu 2. karakteristik. 8. Ekspresi wajah ruangan. Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri. teratur oblongata/cede 2. kualitas dan faktor klien meningkat. resiko infeksi 2. Bersihkan lingkungan setelah dipakai invasife. Observasi reaksi nonverbal dari terkontrol dg KH: ketidaknyamanan. pencahayaan. 6. tenang 5. kebisingan. Batasi pengunjung bila perlu. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi. 4. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri nyeri berkurang dg klien sebelumnya. Trauma. scala nyeri 2-3 4. pernafasan otak vesikuler 4. jam infeksi terdeteksi dg pasien lain. masker dan sarung c) tangan sebagai alat pelindung. tindakan pernafasan di 1. Klien melaporkan 3. Kolaborasi untuk pemberian analgetik 9. 1. distraksi dll) untuk 4. suara nafas bersih ra jaringan 3. 5. sakan pusat dengan KH: 5. saturasi O2: ≥ 95% 3. Tdk ada tanda-tanda 3. Kolaborasi dokter untuk terapi. 1. Pernafasan 16- dan pemeriksaan medula 20x/menit. Kurangi faktor presipitasi nyeri. fisik Jam tingkat kenyamanan frekuensi. Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi. Pertahankan lingkungan yang aseptik 12 . dan tidur 7. immunosupresi KH: 2. Beri oksigen sesuai anjuran medic 6. Gunakan baju. Setelah dilakukan Konrol infeksi : tindakan asuhan keperawatan … 1.

Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan. Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. Inspeksi kondisi luka. 5. 5. drainase. Monitor kebutuhan akan personal fisik. Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai hygiene. Bantu klien dalam memenuhi (makan. diri : dengan kritria hygiene. panas. Berikan antibiotik sesuai program. Anjurkan keluarga untuk ikutserta dalam memenuhi ADL klien 13 . berpakaian. drainage. oral kemampuannya higiene) 6. 7. 6. dresing infus dan dan kateter setiap hari. selama pemasangan alat. Monitor kerentanan terhadap infeksi. sehari-hari terpenuhi kemapuan untuk merawat diri 4. kebutuhan klien 3. Monitor hitung granulosit dan WBC. Defisit self Setelah dilakukan askep Bantuan perawatan diri care b/d … jam klien dan 1. Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin 2. 8. insisi bedah. 4. Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri yang mandiri kelemahan keluarga dapat merawat 2. 5. Beri bantuan sampai klien mempunyai kesadaran. mandiri tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya. klien bersih dan 7. jika ada. 2. 3. toileting. kebutuhannya sehari-hari. berhias. Dorong untuk melakukan secara tidak bau. Proteksi terhadap infeksi 1. toileting dan makan. Lakukan perawatan luka. berhias penurunan 1. berpakaian. 6.

Related Interests