FIKIH JINAYAH

(HUKUM PIDANA ISLAM)

A. Pengertian jinayah
Jinayah merupakan bentuk verbal noun (masdar) dari kata jana secara etimologi jana berarti
berbuat dosa atau salah, sedangkan jinayah diartikan perbuatn dosa atau perbuatan salah. Kata
jinayah dalam istilah hukum sering disebut dengan delik atau tindak pidana. Secara terminologi
kata jinayah mempunyai beberapan pengertian, seperti yang diungkap oleh Abd al-Qadir Awdah:
(perbuatan yang dilarang oleh syara’ baik perbuatan itu mengenai jiwa, harta benda, atau
lainnya).
Jadi jinayah merupakan suatu tindakan yang dilarang oleh syara’ karena dapat menimbulkan
bahaya bagi jiwa, harta, keturunan, dan akal (intelegensi).
Dalam Undang-Undang Hukum Pidana Republik Persatuan Arab (KUHP RPA) terdapat tiga
tindak pidana yang didasarkan pada berat-ringannya hukuman, yaitu jinayah (jinayah yang
disebutkan dalam konstitusi dan merupakan tindakan yang paling berbahaya. Konsekuensinya,
pelaku tindak pidana diancam dengan hukuman berat, seperti hukuman mati, kerja keras, atau
penjara seumur hidup, dalam Pasal 10 KUHP RPA). janbah,(perbuatan yang diancam dengan
hukuman lebih dari satu minggu tetapi tidak sampai kepada penjatuhan hukuman mati atau
hukuman seumur hidup, dalam pasal 11 KUHP RPA). Mukhalafah. (jenis pelanggaran ringan
yang yang ancaman hukumannya tidak lebih dari satu minggu, dalam Pasal 12 KUHP RPA).

B. Unsur Jarimah
Secara singkat dapat dijelaskan, bahwa suatu perbuatan dianggap delik (delik) bila terpenuhi dua
syarat dan rukun. Adapun rukun jarimah dapat di kategorikan menjadi dua: pertama, rukun
umum, artiya unsur-unsur yang harus terpenuhi pada setiap jarimah. Kedua, unsur khusus yaitu
unsur-unsur yang harus terpenuhi pada jenis jarimah tertentu
Adapun yang termasuk dalam unsur-unsur umum jarimah adalah:
a) Unsur formil (adanya undang-undang atau nas). Artinya setiap perbuatan tidak dianggap
melawan hukum dan pelakunya tidak dapat di pidana kecuali adanya nas atau undang-undang
yang mengaturnya. Dalam hukum positif masalah ini dikenal dengan istilah asas legalitas.
b) Unsur Materiil (sifat melawan hukum). Artinya adanya tingkuh laku seseorang yang
membentuk jarimah, baik dengan sikap berbuat maupun sikap tidak berbuat. Unsur ini dalam
hukum pidana islam disebut dengan ar-rukn al-madi.
c) Unsur moril (pelakunya mukalaf). Artinya, pelaku jarimah adalah orang yang dapat
dimintai pertanggungjawaban pidana terhadap jariamah yang dilakukannya. Dalam syariat islam
moril dikenal dengan ar-rukn al-adabi.

C. Macam-macam Jariamah
Ulama figh membagi jarimah dilihat dari berbagai segi:
1. Jarimah bila dilihat dari berat ringannya hukuman ada tiga jenis, yang pertama adalah
hudud (perbuatan melanggar hukum yang jenis dan ancaman hukumannya ditentukan oleh nas,
yaitu hukuman had atau hak Allah. Hukuman yang dimaksud tidak mempunyai batas terendah
dan tertinggi dan tidak bisa dihapuskan oleh perorangan (sikorban atau walinya) atau masyarakat

. Jarimah Menurut Niat si Pelaku Jarimah menurut niat si pelaku dibagi menjadi dua macam yaitu: jarimah maqsudah (tindak pidana yang ada ungsur sengaja). qazf (menuduh zina). jarimah maqsudah (tindak pidana yang tidak disengaja). 5. yaitu: jarimah masyarakat (jarimah yang memberlakukan sanksinya untuk menjaga atau melindungi kepentingan umum). 2. yaitu: jarimah adiyyah (biasa). 3. Urgensi ditinjau dari segi kekuasaan hakim b.dan kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang rasul.. atau dari kata jadian legalis yang berati sah atau sesuai dengan undang-undang. Adapun istilah asas legalitas dalam syariat islam tidak ditentukan secara jelas sebagaimana yang terdapat dalam KUHP pidana. minum-minuman keras. pemberotakan (al- baqhy). jarimah siyasah (politik). Secara historis asas legalisis pertama kali digagas oleh Anselm van voirbacht dan penerapannyandi indonesia dapat dilihat pada pasal 1 ayat (1) KUHP. dan riddah (murtad).. Asas legalitas Kata asas berasal dari bahasa arab yaitu asasun berarti dasar atau prinsip. sedangkan kata legalitas berasal dari bahasa latin lex (kata benda) yang berarti undang-undang. BAB II ASAS-ASAS UMUM DALAM FIKIH JINAYAH A.. Pembagian tindak pidana dalam hudud. pencurian. Jarimah didasarkan pada ketertiban umum Jarimah ini juga dibagi menjadi dua macam.. Urgensi ditinjau dari segi pengaruh lingkungan d... Yang kedua Qisas diyat (perbuatan yang diancam denga hukuman qisas dan diyat). perampokan. jarimah perorangan (jarimah yang hukuman diterapkan kepada sipelaku untuk melindungi kepentingan perorangan). qisas diyat. Para ulama sepakat bahwa yang termasuk dalam kategori ini ada tujuh macam yaitu: zina. Urgensi ditinjau dari segi alat bukti. Urgensi ditinjau dari segi ampunan c. Yang berbunyi “suatu perbuatan tidak dapat dipidana kecuali berdasarkan kekuatan peraturan perundang-undangan pidana”.. Allah tidak akan menjatuhkan hukuman bagi umat manusia dan tidak akan meminta pertanggung jawaban manusia sebelum adanya penjelasan dan pemberitahuan melalui Rasul-rasulnya-Nya.yang mewakili (ulil amri)).َ‫ث َرسسوولل‬ َ ‫وَماَّ سكنتاَّ سمَعذذ ببويَن َحتتىَّ نَوبَع‬ . . Jarimah dilahat dari siapa yang menjadi korban Jarimah ini di bagi menjadi dua macam. dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan tentang legalitas salah satunya Al-Qur’an Surat al-Isra ayat 15 . dan ta’zir. Terbukti adanya beberapa ayat yang menunjukan beberapa asas legalitas tersebut. Sumber Hukum Asas legalitas Asas legalitas secara jelas di anut dalam hukum islam. B. Jarimah Berdasarkan Sikap Berbuat atau Tidak Berbuat Jarimah ini dibagi menjadi dua macam yaitu: jarimah ijabiyyah (jarimah positif) jarimah salabiyyah (jarimah negatif) 4. sebagai berikut: a. Yang ketiga ta’zir (memberi pelajaran).

Syarat yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf. 2. Syarat yang berkaitan dengan sifat mukallaf. Jarimah Hirabah. Fase pemikiran dan perancanaan (marhalah at-tafkir wa at-tashim) . hal ini sesuai dengan kaidah la raj’iyyah fi at tasyri’al-jina’i tidak berlaku surut pada hukum pidana islam. pembuat dapat dituntut dari segi kepidanaan. B. (b).Berdasarkan ayat Al-Qur’an ada dua dua syarat yang harus terpenuhi bagi seseorang maupun pelaku sehingga dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana. Hal ini tidak berarti bahwa mereka tidak membicarakan isi teori tentang “percobaan” sebagai mana yang terlihat nanti. 1. Alasa diterapkan pengecualian berlaku surut karena pada jarimah yang berat sangat berbahaya apabila tidak diterapkan maka akan menimbulkan kekacauan dan kehebohan dikalangan kaum muslimin. Fase-fase dalam Tindak Pidana Tiap-tiap jarimah mengalami fase-fase tertentu terwujud hasilnya. Masalah Pencurian D. 1. Asas Tidak Berlaku Surut Hukum pidana islam (jinayah) pada prinsip tidak berlaku surut. Perbuatan ini tidak dapat diketahui dengan sempurna oleh orang yang berakal atau mukallaf. Hukum pidana islam tidak berkonsentrasi membahas delik percobaan. Jarimah Qazf (menuduh zina) 2. Beristrikan bekas ibu tiri 2. artinya sebelum adanya nas yang melarang perbuatan. Penerapan asas legalitas Penerapan hukum pidana islam yang menunjukan tidak berlaku misalnya 1. Namun dalam praktiknya ada beberapa jarimah yang diterepkan berlaku surut. Jarimah-jarimah yang diberlakukan surut antara lain: 1. C. Hukum Riba 3. BAB III PERCOBAAN MELAKUKAN JARIMAH A. Pembagian fase-fase ini ini sangat diperlukan sebab hanya pada salah satu fase saja. sedang pada fase-fase lainya tidak dituntut. maka tindakan mukalaf tidak bisa dianggap sebagai suatu jarimah. Pengertian Percobaan Tindak Pidana Dan Pendapat Fuqaha Percobaan tindak pidana adalah tidak selesainya perbuatan pidana karena adanya faktor eksternal. tetapi lebih menekankan pada jarimah yang telah selesai dan belum selesai. Dalam hal ini ada unsur yang harus terpenuhi yaitu: (a). artinya perbuatan itu dianggap jarimah walaupun belum ada nas yang melarangnya. namun sipelaku ada niat da adanya permulaan perbuatan pidana. Perbuatan ini mungkin sanggup untuk dikerjakan atau ditinggalkan. yaitu sanggup memahami nas syara’ yang berisi taklif baik yang berbentuk tuntutan maupun larangan dan pantas dimintai pertanggungjawaban pidana dan dapat dijatuhi hukuman.

Memberi bantuan Dalam KUHP di indonesia pasal 55. Pengertian dan Bentuk Penyertaan Suatu jarimah ada kalanya diperbuat oleh seorang diri dan dapat diperbuat oleh beberapa orang pula maka bentuk kerja sama diantara mereka dapat dirumuskan sebagai berikut 1. Pandangan Fuqaha Tentang Turut Serta Berbuat Jarimah Para fuqaha hanya membicarakan hukum “turut berbuat langsung” (isytirak mubasyir). C. Boleh jadi hal ini disebabkan karena menurut aturan syariat islam. Pembuat melakukan jarimah bersama-sama orang lain 2. Turut Berbuat Secara Langsung Pada dasarnya turut berbuat langsung baru terdapat apabila orang-orang yang berbuat jarimah dengan nyata lebih dari seorang atau biasa disebut dikalangan sarjana-sarjana hukum positif dengan nama “berbilangnya pembuat asli” (mededaders). kita dapati bentuk-bentuk kerjasasama dalam melaksanakan jarimah ini B. bukan atas orang yang turut berbuat tidak langsung dan aturan tersebut diterapkan dengan teliti sekali oleh imam Abu Hanifah. BAB IV TURUT SERTA BEBRBUAT JARIMAH (al-istirak fi al-jarimah) A.2. sedang hukum “turut berbuat tidak langsung” (isytirak ghairu mubasyir) boleh dikata tidak disinggung- singgung. Persepakatan 2. Akan tetapi dikalangan sarjana-sarjana hukum positif terdapat perbedaan pendapat tentang saat di mana pembuat dianggap telah mulai melaksanakan jarimahnya itu. Pembuat mengadakan kesepakatan 3. Pendirian Hukum Positif Pendirian hukum positif sama dengan syara. baik pada fase-fase pemikiran perencanaan dan persiapan. hukuman yang telah ditentukan hanya dijatuhkan atas orang yang turut berbuat dengan langsung. Fase pelaksanaan (marhalah tanfidiyah) C. Menghasut orang lain untuk berbuat jarimah 4. Memberi bantuan (i’anah) Syari’at islam telah menentukan hukuman had dan qisas dijatuhkan atas perbuatan langsung. Turut Berbuat Tidak Langsung Turut berbuat tidak langsung bisa terjadi dengan berbagai cara seperti 1. D. bukan atas kawan berbuatnya (pembuat tidak langsung). bahwa permulaan tindsk pidana tidak dapat dihukum. BAB V PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA . Fase persiapan (marhalah at-tahdzir) 3. Menyuruh (menghasut: tahridl) 3.

. Adanya ketakutan yang luar biasa dari orang yang dipaksa baik orang yang yang dipaksa hadir secara langsung atau lewat suruhanya c. Kedaan Terpaksa Menurut ulama Hanafiyah syarat untuk dapat dikatakan keadaan terpaksa apabila: a. Dengan demikian maksud melawan hukum juga bertigkat-tingkat seperti: 1. 4.. Macam-macam Maksud Melawan Hukum Perbuatan melawan hukum adakalanya disengaja (direncanakan). ketentuan ini diberlakukan karena hukuman dalam islam dianggap sebagai ihktiyat bahkan hakim dalam islam harus menegakkan dua prinsip: . Unsur Pemaaf BAB VI ‘UQUBAH (HUKUMAN) Hukuman dalam istilah Arab sering disebut ‘uqubah.A. Maksud melawan hukum tertentu dan tidak tertentu 3. yaitu bentuk balasan bagi seseorang yang atas perbuatannya melanggar ketentuan syara’ yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya untuk kemaslahatan manusia. Menjalankan ketentuan Syariat 2. Maksud melawan hukum umum dan khusus 2... Adanya kemampuan yang lebih dari orang yang memaksanya atas apa yang diancamkan baik bersifat kekuasaan atau kejahatannya b. Tidak ada jalan lain dalam pembelaan diri kecuali harus menyerang d.. Tujuan dari hukuman dalam syariat islam merupakan realisasi dari tujuan hukum islam itu sendiri yakni hukuman yang bersifat umum maupun khusus. artinya: jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan allah kecuali ada alasan yang hak B. Pengertian dan dasar hukum Pertanggung jawaban pidana diartikan sebagai bentuk pembebanan pada seseorang akibat perbuatan sesuatu yang dilarang. sehingga harus melakukan perbuatan yang tidak ada kerelaan darinya. Penyerangan harus terjadi seketika c. Kemudian dasar hukum perbuatan ini sudah sangat jelas dalam Al-Qur’an namun bersifat pengecualian (terkecuali dengan hak) seperti dalam firman allah ‫ول تقلوا النقس التىَّ حرم ا ال باَّ لحق‬... ada kalanya keliru... Pembelaan Diri Adapun syarat-syarat pembelaan diri adalah sebagai berikut: a. Subhat 6.. Karena Perintah Jabatan 3. Adanya serangan atau tindakan melawan hukum b.. Dalam pembelaan digunakan alat seperlunya tidak berlebih-lebihan 5. Maksud langsung dan tidak langsung C. Hal-hal yang Dapat Mempengaruhi Hukum 1. Orang yang dipaksa mempertahankan jiwa anggota badannya.. Bagi orang yang terpaksa hatus menentang perbuatan sebelumnya d.

hal ini dapat diperinci sebagai berikut: 1. riddah (murtad). Adapun prinsip dasar untuk mencapai tujuan oleh ulama fiqh diberi bebarapa kriteria: 1. hirabah (perampokan) dan baghy (pemberontakan). seseorang yang telah menyebabkan kerasukan dan malapetaka pada orang lain 2. Simanglipu. Hukuman dari segi obyeknya. Penghapusan dosa (ekspiation) 3. Dalam hukum pidana islam yang termasuk dalam jarimah qishash diyat ini adalah (1) pembunuhan dengan sengaja. Menjarakan (detern) 4. Seluruh bentuk hukuman yang dapat menjamin dan mencapai kemslahatan pribadi dan masyarakat 4. Hukuman itu bersifat universal 2. Hukuman dalam islam bukan hal balas dendam Hukuman dalam islam dapat dikelompokan dalam beberapa jenis. (2) . tujuan penjatuhan pidana dapat dihimpun dalam empat bagian. sariqah (pencurian). Kejahatan huhud adalah kejahatan yang paling serius dan berat dalam hukum pidana islam. BAB VIII JARIMAH QISHASH DIYAT Qishash diyat adalah suatu kejahatan terhadap jiwa (menghilangkan nyawa) dan anggota badan (pelukan) yang diancam dengan hukuman qishash (serupa/ semisal) atau hukuman diyat (ganti rugi dari sipelaku atau ahlinya kepada sikorban atau walinya). Memperbaiki sipelaku tindak kejahatan (rehabilitation of the criminal) BAB VII JARIMAH HUDUD Jarimah hudud sering diartikan sebagai tindak pidana yang macam dan sanksinya ditetapkan secara mutlak oleh Allah. qadzaf (tuduhan palsu zina). al-baqhy (pemberontakan). jumhur ulama merumuskan jarimah hudud menjadi tujuh macam yaitu zina. hukuman penganti. hukuman pokok. sepanjang perjalanan sejarah. Penerapan materi hukuman itu sejalan dengan kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat 3. sariqah (pencurian).1. Hindari hukuman hadd dalam perkara yang mengandung hukum subhad 2. qadzaf (tuduhan palsu zina). yakni: 1. dan hukuman pelengkap. Hukuman dilihat dari kewenangan hakim dalam memutuskan perkara 3. Sementara mazhab malikiyah hanya memasukkan jarimah hudud dalam lima kategori yaitu zina. Ia adalah kejahatan terhadap kepentingan publik. Seorang imam atau hakim lebih baik slah memaafkan dari pada salah menjatuhkan hukuman. Menurut Andi Hamzah dan A. Pembalasan (revenge). sehingga manusia tidak berhak untuk menetapkan hukuman lain selain hukuman hukuman yang ditetapkan berdasarkan kitap Allah. 2. dan syurb al-khamr (meminum khamr). Dalam hukum pidana islam tujuan dibentuknya hukuman tak lain adalah untuk menciptakan ketentraman individu dan masyarakat serta mencegah perbuatan-perbuatan yang bisa menimbulkan kerugian terhadap anggota masyarakat. hukuman tambahan. hirabah (perampokan). ada 4 jenis yaitu. Hukuman dilihat dari pertalian hukuman yang satu dengan hukuman yang lain.

Mazhab maliki membagi pembunuhan menjadi dua macam. 2. Di samping itu. Sementara Wahbah Zuhaili memberikan definisi yang mirip dengan definisi Al-Mawardi: َ‫صيَةة أَوو بجنَاَّيَةة َلَحذد فبويهَاَّ َو َل َكفتاَّ َرة‬ ‫ السعقسوو بَةس اولَموشسرووَعةس َعَلىَّ َموع ب‬: َّ‫َوهسَو َشورلعا‬ Ta’zir menurut syara’ adalah hukuman yang ditetapkan atas perbuatan maksiat atau jinayah yang tidak dikarenakan had dan tidak pula kafarat Ta’zir dibagi menjadi tiga bagian. Syafi’iyah dan Hambali membagi pembunuhan menjadi tiga macam. BAB IX JARIMAH TA’ZIR Menurut bahasa. Jarimah ta’zir yang menyinggung hak perorangan (individu). yaitu: 1. dan pengertian ta’dib (mendidik). yaitu 1. yaitu (1) pembunuhan sengaja (qatl al-‘amd) yaitu suatu perbuatan menganiaya seseorang dengan maksud menghilangkan nyawa.pembunuhan semi sengaja. Menegagkan nilai-nilai keadilan demi tegaknya supremasi hukum. Menurut syarbini al-khatib ayat al- . Ta’zir karena melakukan pelanggaran (mukhalafah). sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Mawardi bahwa yang dimaksud dengan ta’zir adalah: ta’zir adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa (maksiat) yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara. Perlindungan bagi sikorban atau walinya secara langsung. Pengertian ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah dan Wahbah Zuhaili. sebagaimana dijelaskan oleh al-Jurjawi adalah keberlangsungan hidup manusia didunia. Ayat Al-qur’an yang berkaitan dengan tindak pidana pembunuhan antara lain disebutkan dalam surah Al. karena itu islam menghukum orang yang membunuh orang lain. Pada jarimah ta’zir sumber hukumnya tidak dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an dan Al- Hadis baik dari segi bentuk jarimah maupun hukumannya. dilihat dari segi hak yang dilanggarnya. Pembunuhan diartikan oleh para ulama sebagai perbuatan manusia yang menyebabkan hilangnya nyawa. Ta’zir karena melakukan maksiat. Ta’zir karena melakukan perbuatan yang membahayakan kepentingan umum. 2. Hikmah adanya hukuman qisas diyat. Dari berbagai pengertian makna ta’zir yang paling relavan adalah al-man’u wa radda (mencegah atau menolak). 3. Jarimah ta’zir yang menyinggung hak Allah.Baqarah ayat 178-179. (4) penganiayaan dengan sengaja. tetapi mengakibatkan kematian. 2. jarimah ta’zir dibagi menjadi dua bagian. 3. Hukuman qisas diyat merupakan bentuk koreksi terhadap hukuman pada masa jahiliyah yang diskrimatif. (3) menyebabkan matinya orang karena kealpaan atau kesalahan. Sedangkan ulama Hanifiah. (2) pembunuhan semi sengaja (qatl syibb al-‘amd) yaitu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya. dan kelalaian. salah dalam maksud. dan (3) pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata’) yaitu pembunuhan yang disebabkan salah dalam perbuatan. dalam surah ini merupakan dasar pemberian sanksi dalam hukum pidana islam terkandung nilai-nilai humanisme sebagai berikut: 1. Ta’zir dapat berarti addaba (mendidik) atau azhamu wa waqra yang artinya mengagungkan dan menghormati. yakni pembunuhan sengaja danpembunuhan tidak sengaja. lafaz ta’zir berasal dari kata: azzara yang berarti man’u wa radda (mencegah dan menolak). Menurut istilah. dan (5) menyebabkan orang luka karena kealpaan atau kesalahan.

jarimah hudud merupakan jarimah yang hukumanya telah ditentukan secara definitif oleh syara’ baik jenis jarimah maupun sanksinya sedangkan jarimah ta’zir adalah jarimah yang hukumannya belum ditentukan oleh syara’ dan diserahkan kepada pemerintah (ulil amri) untuk menetapkannya. 3. seperti riba. yaitu: 1. yaitu: hukuman penjara yang terbatas waktunya dan tidak terbatas. Antara jarimah ta’zir dan jarimah Hudud mempunyai perbadaan yakni. Jarimah ta. Disamping itu alasan lain untuk dibolehkannya hukuman penjara sebagai ta’zir adalah tindakan Nabi saw. dan jarimah pemberontakan. Jarimah ta’zir yang berkaitan dengan keamanan individu. Sedangkan Aziz Amir membagi jarimah Ta’zir secara rinci kedalam beberapa bagian. seddangkan dalam hadis ada bebearapa hadis yang menjadi landasan salah satunya hadis nabi yang diriwayatkan oleh Bahz ibn Hakim. yang pernah memenjarakan beberapa orang dimadinah dalam tuntutan pembunuhan. Merampas Harta. Jarimah ta. Jarimah ta’zir yang berkaitan dengan pelukan. hadis yang diriwatkan oleh Abi Burdah. dalam bahasa arab ada dua istilah untuk hukuman penjara. Jarimah ta’zir yang jenisnya disebutkan dalam nas syara’ tetapi hukumannya belum ditetapkan. 6. 4. Hukuman penjara dalam syariat islam dibagi kedalam dua bagian. zina muhshan. dan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah. Jarimah ta’zir yang berkaitan dengan pembunuhan. 5. para ulama berbeda pendapat tentang dibolehkannya hukuman ta’zir dengan cara mengambil harta. 2. pertama al- habsu (mencegah atau menahan pelaku ditempat yang sempit). namun secara garis besar dapat diperinci sebagai berikut: 1. dan yang kedua as-sijn. Dasar hukum untuk dibolehkannya hukuman penjara ini terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 15. Juga tindakan Khalifah Utsman yang pernah memenjarakan Dhabi’ Ibn al-Harits.zir yang berkaitan dengan harta. dan mengurangi takaran dalam timbangan. Kemudian dalam menentukan hukuman dalam jarimah ta’zir ini jenisnya sangat beragam. Kalau di Indonesia dipilih dengan mengunakan rotan. Jarimah ta’zir yang baik jenis maupun sanksinya belum ditentukan oleh syara’. 2. riddah. 4. Hukuman pengasingan.zir yang berkaitan dengan kejahatan terhadap kehormatan atau kerusakan akhlak. Hukuman cambuk (dera) adalah memukul dengan cambuk atau semacamnya. hukuman ini dijatuhkan kepada pelaku jarimah yang dikhawatirkan berpengaruh kepada orang lain sehingga pelakunya harus dibuang (diasingkan) untuk menghindarkan pengaruh-pengaruh tersebut. Adapun pembagian jarimah ta’zir menurut Abdul Qadir Awdah membaginya kedalam tiga macam: 1. Sedangkan dasar hukum cambuk adalah al-Qur’an surat an-Nisa ayat 34. 5. atau oleh keluarga sendiri 2. hukuman ta’zir dengan cara mengambil harta tidak dibolehkan. tetapi syarat-syaratnya tidak terpenuhi atau ada syubhat seperti pencurian yang tidak mencapai nisab. salah satu pencuri dari bani Tamim sampai ia mati dipenjara. Jarimah ta’zir yang berkaitan dengan kemaslahatan individu. Jarimah ta’zir yang berasal dari jarimah-jarimah hudud atau qishash. 3. 3. . Hukuman mati atau qishash untuk pembunuhan sengaja dan sebagai hukuman had untuk jariyah hirabah.Qur’an yang menjadi landasan adanya jarimah ta’zir al-qur’an dalam surat al-Fath ayat 8-9. suap. Hukuman penjara.

Mirarah ibn Rabi’ah Al-Amiri.. hukuman nasihat ini didasarkan kepada Firman Allah dalam surah An-Nisa’ ayat 34: (34 : ‫)النساَّء‬. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka. dasar hukuman untuk celaan sebagai hukuman ta’zir adalah hadis Nabi saw. sehingga mirip dengan pohon. Diriwayatkan bahwa Abu Dzar pernah menghina seseorang dengan menghina ibunya. 7. yaitu Imam Abu Yusuf membolehkannya apabila dipandang membawa maslahat. (QS.‫والتبتىَّ تََخاَّسفوَن نسسشووَز هستن فَبعظسوو هستن‬ . Hukuman ta’zir berupa pemberhentian dari pekerjaan atau jabatan ini diterapkan terhadap seorang pegawai yang melakukan jarimah. adapun hukuman ta’zir yang berupa mengubah harta pelaku antara lain seperti mengubah patung yang disembah oleh orang muslim dengan cara memotong bagian kepalanya. hukuman yang bisa merupakan hukuman pokok yang berdiri sendiri dan dapat pula dapat pula digabungkan dengan hukuman pokok lainnya. tetapi muridnya yang lain. Mengubah bentuk barang.... Pengucilan.. An- Nisaa’ :34) 10. Selain dalam Al-Qur’an hukuman pengucilan juga terdapat dalam sunnah Rasullah dan para sahabat pernah melakukan pengucilan terhadap tiga orang yang ikut perang tabuk.. Dasar hukum untuk hukuman pengucilan ini adalah al-Qur’an dalam surah An-Nisa ayat 34. Hukuman Denda.. sambil diumumkan kepada masyarakat bahwa ia adalah seorang saksi palsu. baik yang berhubungan dengan pekerjaannya atau jabatannyab maupun dengan hal-hal lainnya. 13. Celaan (Taubikh). Peringakatan Keras 9. Hukuman Berupa Nasihat. dasar hukum untuk hukuman berupa pengumuman kesalahan atau kejahatan pelaku secara terbuka adalah tindakan Khalifah Umar terhadap seorang saksi palsu yang sesudah dijatuhi hukuman jilid lalu ia diarak keliling kota. adalah melarang seseorang dari pekerjaannya dan diberhentikan dari pekerjaan itu. . yaitu Kaab ibn Malik.. 6... 8.. dan hilal ibn Umayyah Al-Waqify.. yaitu Muhammad Ibn Hasan.... 11. 12..Pendapat ini diikuti oleh muridnya. yang dimaksud dengan pengucilan adalah melarang pelaku untuk berhubungan dengan orang lain dan sebaliknya melarang masyarakat untuk berhubungan dengan pelaku. Pemecatan (Al-‘Azl). Publikasi (At-Tasyhir).