DJAENUDIN GHOLIB dan S.

RACHMAWATI: Kapang Dermatofit Trichophyton verrucosum Penyebab Penyakit Ringworm pada Sapi

KAPANG DERMATOFIT Trichophyton verrucosum PENYEBAB
PENYAKIT RINGWORM PADA SAPI

DJAENUDIN GHOLIB dan S. RACHMAWATI

Balai Besar Penelitian Veteriner, Jl. R.E. Martadinata No. 30, Bogor 16114

(Makalah diterima 31 Desember 2009 – Revisi 1 Maret 2010)

ABSTRAK

Penyakit ringworm adalah penyakit jamur superfisial, menyerang bagian permukaan tubuh yaitu kulit, rambut, bulu dan
tanduk. Bagian tubuh tersebut mengandung zat keratin, protein struktural berbentuk fibrin, yang disukai untuk pertumbuhan jenis
jamur ini. Penyakit ini menyerang hewan dan manusia (zoonosis), mengakibatkan kerontokan bulu, kulit bersisik,
pembengkakan, kulit kemerahan dan gatal. Infeksi akan mempengaruhi kesehatan dan produksi, dan penularan penyakit
tergolong mudah, maka penting untuk diperhatikan di bidang veteriner. Agen penyebab penyakit adalah kapang dermatofit
terutama spesies Trichophyton verrucosum. Kasus-kasus yang terjadi di Indonesia dan dilaporkan secara resmi baru ditulis pada
tahun 1980, yaitu pada sapi-sapi perah impor Australia, dan penyebabnya adalah T. verrucosum. Laporan kasus akhir-akhir ini
terjadi pada sapi perah dara dan sapi laktasi. Uji patogenitas pada hewan kelinci dengan cara infeksi buatan menunjukkan adanya
peradangan, dan sampel kerokan kulit yang ditanam ke media agar Sabouraud menunjukkan pertumbuhan koloni jamur tersebut.
Pascainfeksi atau vaksinasi memberikan daya tahan terhadap hewan sapi, sehingga program vaksinasi dapat diterapkan dalam
penanggulangan penyakit disamping pengobatan.
Kata kunci: Trichophyton verrucosum, ringworm, sapi

ABSRACT

DERMATOPHYTES FUNGI Trichophyton verrucosum A CAUSATIVE AGENT OF
RINGWORM DISEASE ON CATTLE

Ringworm is a superficial mycosis which affected surface parts of the body such as skin, hair, nail or horn. These parts are
rich of keratine that required for the fungi to grow. The disease affects both animals and human (zoonosis), and it results in hair
loss, crusted of skin, swelling, erythema and itchy. The disease is considered as important because it affects health condition and
animal production. The causative agent is fungal dermatophytes group especially Trichophyton verrucosum. Cases occurred in
Indonesia and first officially reported and published in 1980 on imported dairy cows from Australia, and a causative agent was
identified as Trichophyton verrucosum. Recently, the same cases occurred in young dairy calves and lactating cattle. Pathogenity
test in rabbits by artificial infection revealed the growth of the colonies. Post infection and vaccination provide resistency on
cattle. Therefore beside therapeutic method, the vaccination program is useful to be included in prevention of the disease.
Key words: Trichophyton verrucosum, ringworm, cattle

PENDAHULUAN pada perbedaan morfologi makroskopik dan gejala
klinis dari infeksi. Jenis jamur yang hubungan secara
Penelitian penyakit ringworm mulai diperhatikan filogeniknya tidak cocok, sering dikelompokkan ke
kembali setelah berkembang ilmu mikologi kedokteran. dalam kelompok ini sampai hubungan filogeniknya
Penyakit ini seolah-olah terabaikan di sekitar ditentukan secara tepat. Jenis jamur ini pernah
pertengahan abad 19 karena dunia terfokus pada dikelompokkan ke dalam jamur Imperfect (tidak
penemuan bakteri dan virus yang berperan sebagai sempurna, anamorphic) karena tidak ada spora seksual
penyebab penyakit. Puncak perkembangan penelitian (AJELLO, 1971). Berdasarkan morfologi makrokonidia,
penyakit mikotik ditunjukkan oleh Sabouraud, seorang ordo dari jamur dermatofit pertama kali ditentukan
ahli dermatologi Perancis dengan karyanya yang menjadi 3 genus, yaitu Trichophyton, Microsporum dan
monumental Les Teignes pada tahun 1910 (AINSWORTH Epidermophyton oleh EMMONS pada tahun 1934.
dan AUSTWICK, 1973). Sejumlah spesies di dalam subdivisi Deuteromycotina
Jenis jamur sebagai penyebab ringworm adalah mempunyai siklus hidup seksual/jamur perfect
kelompok dermatofit, termasuk kelompok (sempurna, teleomorfis) dan membentuk ascospora.
Deuteromycota. Pembedaan antara spesies tergantung Spesies ini sekarang diklasifikasi ke dalam famili

43

permukaan rata atau bercelah. 1973). dermatofit. lesi dikerok sampai bagian tersebut menjadi tipis dan berdarah setelah bagian atas lesi terkikis. Sampel berupa kerokan kulit atau bulu penting dilakukan di laboratorium sampai tercapai pada lesi. canis). terutama yang terbuat dari (makroskopik). diutamakan pengenalannya kepada disebabkan adanya proses adaptasi. bentuk terakhir Enzim-enzim tersebut mencerna jaringan dari induk berperanan dalam sifat infektivitasnya. karena terlalu padat dan dengan perkembangan ilmu mikologi medis yang kontak antar individu besar. sementara yang 1980). atau bentuk berbuku sangat berperan penting dalam patogenitas penyakit. Kejadian sering Identifikasi jenis jamur ini berkembang sesuai terdapat pada kelompok besar. Microsporum (14 spesies). elastase.. epidemiologi dan menyebarnya penyakit. lamanya (T. jarang terjadi menular dari manusia ke Trichophyton (26 spesies). hanya bertahan dalam beberapa bulan. verrucosum identifikasi berdasarkan koloni atau disebut dengan bisa tahan selama 4 – 5 tahun. sifat dermatofit yang pleomorfik. produk ekstra-seluler dari Hifa berbentuk benang memanjang dan bercabang serta dermatofit (keratinase. sebagian jenis dermatofit dapat floccosum (hanya menginfeksi manusia) (AL-DOORY. WARTAZOA Vol. akan selalu kontak dengan jamur. 1 Th. kuda (1979). lalu dengan AINSWORTH. Menurut EDWARDSON dan ANDREWS misalnya pada sapi (Trichophyton verrucosum). Tergantung dari habitat dan jenis spesies Microsporum sp. dengan hilangnya sel konidianya dari suatu isolat (STOCKDALE. DIAGNOSIS sering berubah bentuk. tekstur padat. seperti spindle atau radang dari dermatofit tertentu pada induk semang. Enzim ini bisa menimbulkan reaksi makrokonidia memanjang bersekat. bagian yang akan diambil sampelnya bentuk yang stabil (AINSWORTH dan AUSTWICK. maka pengambilan dan penanaman sampel pada media agar pembiakan berulang dari isolat yang baru diisolasi. Bentuk pertumbuhannya. sisa-sisa rontokan epitel kulit dari penderita. 44 . jamur T. tetapi ada yang licin (glabrous). isolasi dan identifikasi jamur melalui terjadi bila media mengandung glukosa. lonjong. yaitu mencemari istilah thallus yang tumbuh di media pertumbuhan peralatan di dalam kandang. (arthroconidia/arthrospora). dan strukturnya terdiri dari miselium kayu. 20 No. lain hanya menginfeksi beberapa jenis hewan. atau seperti gada (clavate) dan mempunyai satu sel. dan Epidermophyton induk semang. Penyebaran penyakit terjadi lewat Trichophyton dan Microsporum yang berperanan kontak langsung antara hewan (zoophilic). antara penting untuk kesehatan hewan. Spesies PENULARAN PENYAKIT yang berstatus perfect dari genus Trichophyton dan Microsporum masing-masing dimasukkan ke dalam Jenis jamur dermatofit kemungkinan besar berasal genera Arthroderma dan Nannizia. status perfect (siklus hidup seksual) menjadi status Di dalam bidang veteriner. atau hifa dan sel spora atau konidia (mikroskopik). masa inkubasi infeksi sekitar 1 bulan. CARTER dan WISE (2004). 1986). Menurut berlipat. Diantaranya hanya 23 biasanya menyerang pemelihara ternak dengan cara spesies dikenal sebagai patogen baik pada hewan kontak langsung atau tidak langsung melalui alat-alat maupun manusia. Hal ini tujuan identifikasi. menggunakan pisau skalpel. anjing dan suatu infeksi pada satu kelompok ternak pada anak kucing (M. cerutu. yaitu (zoonotic). Musim berpengaruh untuk berkaitan dengan biokimia. Sabouraud. Status jenis perfect dari tanah (geofilik). Sel konidia semang untuk mendapatkan nutrisi guna terdiri dari makrokonidia dan mikrokonidia. Di luar induk semang. hanya genus imperfect (aseksual). dan collagenase) bersekat-sekat. hewan. Untuk sifat saprofitnya dan berubah menjadi parasit. seperti karpet dapat berkurang oleh sinar matahari. dan tiap ekor quenckeanum) (AINSWORTH dan AUSTWICK. Tetapi viabilitasnya menyebar radier seperti kapas (floccose). kemungkinan sapi Koloni dermatofit pada media agar berbentuk bulat. sehingga dalam lingkungan tersebut. mencit dan kucing (T. tetapi sebagian meninggalkan ini berguna untuk identifikasi spesies tertentu. Satu Masing-masing jenis dermatofit mempunyai spesies hewan bisa terinfeksi oleh beberapa spesies kecenderungan menginfeksi jenis hewan yang berbeda. menginfeksi induk semang secara luas. 1973. yaitu 15 spesies Trichophyton sp. Meskipun demikian. berlangsung selama 8 bulan. mengalami infeksi rata-rata 2 bulan. dibersihkan dulu dengan alkohol. 2010 Gymnoascaceae dari subdivisi Ascomycotina. yaitu di musim dingin atau genetik. dan ini terutama ada hubungannya dengan komposisi media seperti koloni Penyakit ringworm dapat dikenali melalui gejala yang berubah menjadi bentuk seperti kapas (floccose) klinis. 1964). ekologi. Jumlah spesies yang manusia (anthropophilic) atau dari hewan ke manusia telah diketahui dari masing-masing genus. Bentuk mikrokonidia bulat. equinum dan Microsporum equinum). REBELL dan TAPLIN (1970) melakukan penghujan. sehingga jamur atau beludru (fluffy). 7 yang digunakan. sapi. Kejadian infeksi dari hewan ke manusia dan Epidermophyton (1 spesies).

yang telah terinfeksi selama 2 bulan. Ukuran dan bentuk makro. Sabouraud jumlahnya sedikit sekali (tidak subur) permukaan. berbentuk actidion 0. Pertumbuhan koloni T. 1980. menebal. 1972). keras. atau 2 hari.5 mg/ml pada cawan petri dengan bulat. Penggunaan actidion timbulnya erythema yang menyebabkan terjadinya berfungsi untuk membunuh jamur pencemar. sehingga tidak SHCWARTZMAN. Bentuk spesifik dari infeksi dermatofit adalah menggunakan kawat ose.4 terjadi keropeng (crust) warna mula-mula putih. pada penyimpanan dengan kering makroskopik dan mikroskopik. dermatofit. konsistensi dan ukuran dari koloni dibandingkan dengan penanaman ulang dari koloni yang tumbuh dan pemeriksaan sample natif langsung di yang berasal dari media. 2004. untuk pembiakan jamur adalah cycloheximide (0. 1973. meninggi berbentuk cembung. Biakan dari sampel disimpan di inkubator Pertumbuhan koloni T. kuning g/liter) dan chloramphenicol (0. licin (glabrous). kotor atau keabuan (seperti asbes). sel konidia/spora. permukaan atau NaOH (10 atau 20%). Koloni jamur dermatofit yang diperlukan adalah 37°C. Kasus di peternakan daerah Nyalindung. tidak terjadi kompetisi dan menghambat pertumbuhan 1973. Antibiotik yang biasa digunakan sampai melebar luas. verrucosum tergolong dengan suhu 37°C selama 7 atau 14 hari (AINSWORTH lambat. bagian bawah larutan DMSO (36% dimethylsulfoxide) untuk koloni bersatu dengan media. verrucosum terjadi dalam 3 bentuk atau varian. atau klamidospora. Gambar 1. RACHMAWATI: Kapang Dermatofit Trichophyton verrucosum Penyebab Penyakit Ringworm pada Sapi Sampel dikoleksi ke dalam kertas atau plastik bersih struktur mikroskopik yang penting untuk spesifikasi lalu disimpan di laboratorium. Diagnosis secara klinis pada sapi meliputi lesi Dengan cara ini maka pemberian antibiotik pada media berbentuk bulat sebesar koin dengan ukuran dari 1 cm tidak lagi diperlukan. Warna koloni mikroskopik. berkompetisi dengan pertumbuhan jamur di media.05 g/liter) Pembiakan kecoklatan. DJAENUDIN GHOLIB dan S. Pemeriksaan secara beku pertumbuhan kembali koloni pada media agar makroskopik dilakukan dengan memeriksa bentuk. Suhu optimal yang SCHWARTZMAN. Koloni berbentuk bulat bawah mikroskop dengan menggunakan larutan KOH dengan diameter 3 – 15 mm (Gambar 2). supaya hyperkeratosis dan kerion (AINSWORTH dan AUSTWICK. sehingga sulit menambah daya penetrasi dan mempertegas gambaran dipisahkan. Seekor sapi perah dara menderita penyakit ringworm oleh Trichophyton verrucosum. 1972). bulu rontok. konsistensi padat. memerlukan waktu inkubasi sekitar 2 minggu dan AUSTWICK. Sukabumi Sumber: BBALITVET (2009) 45 . var ochraceus dan var discoides (REBELL dan mikrokonidia dan ketebalan dinding sel adalah dan TAPLIN. warna. dan juga bisa ditambahkan berlipat. dan ditunggu sampai 1 (CARTER dan WISE. 1970). bersisik. Pada yang baru terinfeksi warna kulit permukaan media agar Sabouraud yang mengandung kemerahan dan masih tipis belum bersisik. Sifatnya tidak tahan terhadap tumbuh lalu diisolasi dan diidentifikasi secara suhu pembekuan. Struktur mikroskopik terdiri dari putih keabuan. JUNGERMAN dan SCHWARTZMAN. JUNGERMAN dan organisme lain seperti bakteri. tujuannya adalah untuk mematikan AINSWORTH dan AUSTWICK. JUNGERMAN dan pada media agar Sabouraud. var album. yaitu mikro dan makrokonidia. sampel dilakukan dengan cara menempelkannya ke permukaan kasar. ALDOORY. 1973. hifa/miselium. 1972).

Koloni T. berbentuk bulat membesar pada tumbuh pada media histidine amonium nitrat. 1 Th. Ukuran diameter 15 mm. struktur Trichophyton AUSTWICK. verrucosum hanya spesifik dari spesies. sebagai ciri Inkubasi pada suhu 25° atau 37°C. dan casein agar. ammonium nitrat agar (NH4NO3 var ochraceus terutama yang permukaannya berbulu agar). verrucosum dari kasus yang sama bentuk var ochraceus (setelah biakan ulang/sub culture). histidine ammonium nitrat agar. Koloni T. 20 No. koloni var album. (downy). Ukuran diameter 3 – 5 mm. WARTAZOA Vol. 1970. JUNGERMAN dan SCHWARTZMAN. (REBELL dan TAPLIN. 1973). verrucosum menunjukkan tidak terdapat makrokonidia 1972). 1973. 1970. Inkubasi 10 hari Sumber: BBALITVET (2009) Secara mikroskopis. AINSWORTH dan 46 . biasanya terdapat pada koloni inositol casein agar. Mikrokonidia berbentuk lonjong atau oval dengan penanaman pada media spesifik seperti thiamine seperti tetesan embun. 2010 Gambar 2. yaitu inositol. kecuali jika pada media pertumbuhannya Selain pengenalan secara morfologi. jenis ditambahkan penyubur koloni berupa thiamin dan dermatofit ini bisa dikenali dengan cara uji nutrisi. T. Klamidospora berjumlah banyak. (Gambar 4). AINSWORTH dan AUSTWICK. Inkubasi selama 2 minggu pada suhu 37°C Sumber: BBALITVET (2009) Gambar 3. (REBELL ujung (soliter) miselium atau rantai (Gambar 5 dan 6) dan TAPLIN. verrucosum pada media Sabouraud yang dibiakkan langsung dari sampel kerokan kulit dari kasus sapi (Gambar 1).

Pembesaran 400 x Sumber: BBALITVET (2009) 47 . seperti tetesan embun. Struktur mikroskopis T. RACHMAWATI: Kapang Dermatofit Trichophyton verrucosum Penyebab Penyakit Ringworm pada Sapi Gambar 4. Struktur mikroskopis T. Struktur mikroskopis T. verrucosum dengan pewarnaan Lactophenol cotton blue menunjukkan rantai klamidospora.DJAENUDIN GHOLIB dan S. setelah inkubasi 2 minggu. Pembesaran 100 x Sumber: BBALITVET (2009) Gambar 6. pada media agar petri tanpa pewarnaan. menempel pada hifa. Pewarnaan lactophenol cotton blue. pembesaran 400 x Sumber: BBALITVET (2009) Gambar 5. verrucosum memperlihatkan sel- sel mikrospora bentuk oval ukuran kecil. verrucosum memperlihatkan sel-sel klamidospora bentuk bulat dan besar pada ujung miselium.

termasuk jenis rodensia dan (SYARWANI et al. dengan sehingga terjadi kerusakan rambut.. Sebagai perbandingan. 20 No. Permasalahan galactomanan-peptide (BARKER et al. Semarang. mentagrophytes spektrum Selatan kasus juga menimpa sapi Brahman Cross infeksinya lebih luas. Kasus di isolat yang diuji (BBALITVET. tetapi tidak terdapat penebalan kulit. infeksius. Hasil penelitian tersebut terjadi bertepatan dengan mulai musim hujan menyebutkan bahwa sensitivitas kulit dapat bertahan sampai beberapa tahun lamanya (AINSWORTH. tikus dan juga manusia. Uji ini sesuai untuk menentukan adanya antibodi T. Untuk memperkuat identifikasi. T. Di Kecamatan Sukaraja. DI INDONESIA domba. WARTAZOA Vol. karena dermatofitosis adalah penyakit yang 48 . Di Kalimantan ruminansia. Lapisan kerak berwarna putih keabuan Cilacap. dan 1 ekor anak sapi potong (sapi Bali) dan di RINGWORM Kecamatan Sukaraja sebanyak 4 ekor sapi perah laktasi. 1980). yaitu dengan pengambilan setahun setelah kasus di Jawa Tengah. berhasil diisolasi dan diidentifikasi jenis dermatofit sebagai terbentuk dari induk semang dapat dideteksi dengan penyebabnya yaitu Trichophyton verrucosum. dan siang hari kembali ke kandang yang NEISSER dan PLATO pada tahun 1902. Untuk ternyata penyebabnya adalah Trichophyton verrucosum menguatkan terjadinya infeksi oleh isolat yang diuji. tampak menonjol disekitar kulit (MICHAEL dan MARK.. sapi mengalami kelelahan di perjalanan dan kurangnya 2002). verrucosum reaksi kulit menunjukkan reaksi positif (delayed-type PADA HEWAN KELINCI hypersensitivity reaction) dibandingkan dengan kontrol. Kejadian ini tersebar di daerah-daerah yang T. Reaksi di kedua tempat tersebut adalah sapi-sapi tampak kotor. dan akhirnya terjadi penyebabnya T. yaitu dengan pemeriksaan kebotakan (alopecia). isolasi dan identifikasi berdasarkan terutama stratum corneum. verrucosum merupakan dermatofit yang seluler dari hewan yang divaksin. 1 Th. 1986). akan terjadi eksudat dan morfologis (LPPH. kebersihan selama di dalam kapal. serat-serat rambut. Spora T. bertunas dan Kejadian ringworm pada ternak sapi di Indonesia menyerang pangkal dari rambut. Kasus-kasus yang dilaporkan terjadinya erythema lokal.I. ditemukan pada bibit sapi impor yang masuk ke Jawa Hasil re-isolasi menunjukkan pertumbuhan koloni Barat dan Sumatera Barat (LPPH. dan kemungkinan Infeksi buatan pada hewan percobaan kelinci dari memang hewan tersebut sebagai karier penyakit. Hasil uji PATOGENITAS T. Sapi-sapi berbagai teknik serologis yang dikembangkan. 1963). verrucosum tampak ringan. bersisik. secara kultur. verrucosum. RICHARD et al. ditandai dengan jarang dimandikan (karena air sukar diperoleh) (BBALITVET. kulit akibat trichophytin terjadi setelah infeksi berlangsung seminggu atau lebih. (1994) mengimunisasi hewan kelinci dengan strain T. seperti halnya pada infeksi bakteria dan virus. 2009). Pada akhir tahun 2009. Peradangan yang diakibatkan oleh lokal. bentuk bulat dan warna merah tua. kasar. dan dinamakan trichophytin dengan zat aktif yang utama tidak diberi sekat. kelinci (AINSWORTH dan AUSTWICK. dan saat musim hujan kelembaban tinggi sangat cocok untuk pertumbuhan kapang dermatofit. dilanjutkan dengan uji nutrisi pada media spesifik. 2004). isolat kasus ringworm sapi. verrucosum yang menginfeksi pada sapi. maka pemeriksaan mentagrophytes tampak terjadi penebalan kulit. Pada lapisan permukaan kulit. Dari pemeriksaan kultural sampel kerokan kulit Jamur bersifat antigenik dan respon antibodi yang dari kedua tempat yang berbeda tersebut. 1981). 1973. 1984). penyakit juga sampel kerokan kulit dari hewan yang diinfeksi buatan. sedangkan T. 2010 KEJADIAN RINGWORM PADA SAPI dapat menular dari sapi ke hewan lain seperti kuda. infeksi buatan dengan T. verrucosum yang di atenuasi (LTF- 130) secara intra muskuler dan intra vena. verrucosum Sulawesi Tengah (Palu) terjadi pada sapi potong menginfeksi jenis hewan terbatas. 1984). CARTER kejadian penyakit ringworm ditemukan di dua dan WISE. Yogyakarta. Kejadian penyakit berasal keluar merembas dari kulit yang rusak dan bercampur dari sapi-sapi perah KUD impor asal Australia yang dengan sisa-sisa dari kulit dan rambut membentuk masuk pada bulan November 1979 melalui pelabuhan lapisan kerak. 1982). Antigen berupa di Kecamatan Nyalindung dipelihara dengan cara dilepas di tanah lapang di atas perbukitan pada waktu ekstrak dari dermatofit pertama kali dikenalkan oleh pagi hari. (SUDARISMAN et al. warna disurvei di sekitar Jawa Tengah yaitu Kabupaten merah muda. kelinci. bersisik. dan akhirnya menular ke sapi-sapi (Gambar 7 dan 8). terutama pada Brahman Cross (HASTIONO. yaitu di Kecamatan Nyalindung pada 22 ekor sapi perah dara (umur 1 IMUNITAS TERHADAP PENYAKIT tahun). menunjukkan peradangan Kejadiannya bertambah parah ketika dipelihara oleh pada kulit setelah kira-kira 10 hari pascainfeksi para petani peternak. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sapi. peternakan di Sukabumi. Kotamadya Surakarta dan D. sapi-sapi dipelihara pada kandang yang bersekat. Beberapa bulan atau re-isolasi harus dilakukan. dilaporkan pertama kali pada tahun 1980. 2009)..

Sel attenuated menghasilkan antibodi pada hewan yang divaksin. maka dan antigen sel hidup dari hasil attenuation. 1989. verrucosum (KOCIK. DJAENUDIN GHOLIB dan S.. 1994). imun seluler dari pada pembentukkan antibodi yang Antigen bisa dari sejenis dermatofit di dalam mana konsisten dengan penyakit kronis (SMITH dan GRIFFIN. RACHMAWATI: Kapang Dermatofit Trichophyton verrucosum Penyebab Penyakit Ringworm pada Sapi Gambar 7. maka antigen ini bisa RYBNIKAR et al. paling tidak mempunyai satu epitope yang secara 49 . Antigen juga bisa berasal proteksi 100% terhadap T. mentagrophytes pada kelinci dengan isolat asal kukang (BCC–F 0217) Sumber: BBALITVET (2009) Dermatofit yang bersifat antigenik dapat 1995). dari lebih satu jenis dermatofit. verrucosum pada kelinci isolat asal sapi Sumber: BBALITVET (2009) Gambar 8. Antigen bisa sebagai antigen tunggal dari satu dimanfaatkan untuk pembuatan vaksin. atau antigen majemuk sepanjang dikenal jenis antigen yang berupa fraksi polisakarida paling tidak satu antigen termasuk di dalamnya. Vaksin akan menghasilkan respon imun yang memadai untuk attenuated merupakan vaksin sel hidup yang patogen menimbulkan resistensi terhadap infeksi ringworm dan dilemahkan. Selama ini jenis dermatofit. dan menimbulkan respon antigen yang spesifik hanya untuk spesies tertentu. 1982. RICHARD et al. Infeksi buatan T. dan atau antigen- awal perkembangan hifa.. Infeksi buatan T. Vaksin terdiri dari antigen-antigen yang umum untuk berbagai ini dikembangkan pada saat pembentukan spora dan spesies dermatofit yang dipakai.

lalu dilakukan uji tantang dengan strain dan BOND. dan diuji 1980 dalam GUDDING dan NAESS. 1996). 1995). 1986). ++: lesi kulit 1/3 – 1/2 area infeksi. +++: lesi kulit > 1/2 area infeksi Sumber: RYBNIKAR et al. yang divaksin diuji tantang secara epicutaneous dengan Jamur bersifat antigenik. tetapi sifat dan 9. dengan interval vaksinasi 10 – 14 hari mempunyai kendala. diimunisasi dan yang tidak diimunisasi. Imunitas yang diperoleh dengan virulen T. mengalami kekebalan selama 1 – 3 bulan setelah Fraksi polisakarida dari beberapa spesies dermatofit vaksinasi ke-2. ±: lesi kulit ringan (sisik. dan 10 dari 11 tentang imunisasi induk sapi yang tengah hamil. akan dibentuk oleh fraksi polisakarida dari dermatofit. 2010 imunologis identik atau reaksi silang dengan satu pada infeksi bakteri dan virus. Sapi imunisasi memperlihatkan gejala pengurangan jumlah yang terinfeksi di lapangan klinis ringan dan cepat pulih dibandingkan dengan (CARTER dan WISE. Tetapi laporan lain yang tidak diimusasi.. 1967). divaksinasi terkena infeksi. Dengan demikian ternyata bahwa dalam pencegahan penyakit. WARTAZOA Vol. 1995). substansi yang dihasilkan oleh dermatofit selama yaitu kemungkinan adanya reaksi silang. telah diuji gejala klinis (GUDDING dan LUND. dan ekor yang tidak divaksinasi. 20 No. Antibodi humoral divaksinasi dengan vaksin hidup (attenuated). verrucosum pada anak sapi dari induk imunisasi dan yang tidak diimunisasi Skor lesi kulit pada hari setelah uji tantang dan jumlah anak sapi ∑ 13 21 32 43 Kelompok Anak percobaan hari setelah tantangan hari setelah tantangan hari setelah tantangan hari setelah tantangan sapi – ± + ++ +++ – ± + ++ +++ – ± + ++ +++ – ± + ++ +++ Anak sapi 12 3 7 2 0 0 0 0 0 2 10 0 0 0 4 8 0 0 6 5 1 (induk di imunisasi) Anak sapi 12 2 7 3 0 0 0 0 0 2 10 0 0 0 5 7 0 0 7 4 1 (induk tidak diimunisasi) –: tanpa lesi kulit. Vaksinasi dimulai pada tercampur dengan senyawa nitrogen. verrucosum membentuk imunitas (MICHAEL dan MARK. Semua Tabel 1. Setelah 10 bulan sejak dibandingkan dengan yang tidak divaksinasi (GORDON imunisasi ke-2. Sapi yang GUDDING dan LUND. menimbulkan antibodi yang mencegah terjadinya Ivanovice na Hané. dan dengan vaksin T. Czechoslovakia. Vaksinasi tantang dengan strain yang sama. (Tabel 1 dan 2). yang bisa berlangsung selama 4 – 5 tahun (TRETJAKOV et al. verrucosum. papulae). +: lesi soliter kecil. dan adanya infeksi (contoh: toksin yang dihasilkan dan atau antiserum yang heterogen (AINSWORTH. tetapi pada sejumlah kasus antibodi tersebut tidak Uji vaksin lainnya telah dilakukan. Tetapi anak-anak sapi yang menerangkan bahwa imunitas hewan yang divaksin dilahirkan dari kedua kelompok induk sapi. (2001) melaporkan pada 2 dari 10 ekor yang divaksinasi. verrucosum menunjukkan kelompok sapi. Vaksin disekresikan oleh organisme penyebab infeksi) dari antigen T. RYBNIKAR et al. Akan tetapi terhadap 422 ekor anak sapi..5% dari anak sapi yang ditantang pada hari ke-14 antigeniknya relatif lemah sehingga deteksi secara dan ke-25 setelah vaksinasi menunjukkan hanya gejala serologis untuk infeksi jamur kurang dominan klinis ringan dan 99 – 100% diproteksi penuh dari hari peranannya jika dibandingkan dengan peran serupa ke-28. kandang bekas wabah. Selain itu kendala lain epitope yang ditemukan di dalam struktur dari juga ditemukan secara umum hampir pada tiap spesies. yaitu sifat mencukupi. vaksinasi telah banyak dilaporkan. Hasil percobaan infeksi (uji tantang) T. Infeksi terjadi masing-masing et al. Hasil penelitan tentang humoral dan selular (GUDDING dan NAESS. 1 Th.4 induk semang untuk membentuk antibodi. tidak memperlihatkan akan memberikan efek imunitas yang menguntungkan perbedaan imunitas. (2001) 50 . 1986). yaitu diperoleh tidak murni. 1986. sehingga dapat merangsang biakan virulen Trichophyton verrucosum. tetapi gejalanya lebih Imunisasi dilakukan terhadap 12 ekor dan 12 ekor ringan dan lamanya infeksi berlangsung lebih pendek lainnya tidak diimunisasi. Sedangkan vaksinasi dengan vaksin hidup imunitas dari vaksin hidup kering beku produk Bioveta. kemudian diinfeksi tantang kemungkinan untuk memperoleh reaksi yang spesifik dilakukan dengan cara menempatkan hewan di dalam dari teknik serologi kurang memberi harapan (SARAH. Walaupun yang efek kekebalan terhadap anaknya yang dilahirkan. 2004). verrucosum pada masing-masing kedua vaksin hidup (attenuated) T. 2002). dan imunitas bertahan sampai 1 tahun. Sekitar 4. sehingga umur sapi 2 minggu. Vaksin inaktif daya imun tidak diturunkan ke anak yang dilahirkan menimbulkan antibodi protektif setelah uji tantang. Kelompok kontrol dan deteksi antibodi terhadap jamur mempunyai kendala.

yaitu uji transformasi sel limfosit fungi mempunyai aktivitas terutama sebagai yang dibentuk oleh antigen spesifik yang diukur fungistatik. pada kulit yang Deteksi terbentuknya antibodi dengan reaksi tidak berambut hasilnya sebagian besar mempunyai imunitas secara uji tantang merupakan metoda yang efek yang baik dibandingkan dengan bagian yang telah lama digunakan. dan menyebabkan hifa keriting interferon-∂ (gama) yang terbentuk oleh antigen (curling). (2001) kelompok kontrol yang tidak divaksin menunjukkan sebagai hasil dari efek reaksi inflamasi yang kuat pada gejala penyakit setelah uji ditantang. tetapi hal ini akan berjalan lama yaitu senyawa bensuldazic acid 0. bersifat fungistatik. Walaupun demikian. binatang dan mineral. terutama pada tahap transformasi untuk menanggulangi penyakit. Hasilnya proses yang berperan pada pengobatan ringworm. tergantung bagian tubuh yang diobati. larutan pemutih juga efektif. (5). pertumbuhan dermatofit. Berbagai bahan obat yang pengobatan secara topikal hanya sedikit berefek tak terdaftar secara resmi telah dicobakan dari snail menyembuhkan. uji terbentuknya dari ujung hifa. (gama). Pada pertengahan (telogen). zat yang merubah anagen (pertumbuhan aktif rambut/bulu) menjadi telogen (pertumbuhan rambut/bulu berhenti) atau PENANGGULANGAN PENYAKIT menghentikan produksi keratin seperti thallium atau radiasi sinar X (JUNGERMAN dan SCHWARTZMAN. yaitu yang berasal dari alam. (2). karena pada kejadian wabah. dan berkorelasi negatif dengan rasio antara bersifat keratolitik. tetapi efeknya tinggi. Penanggulangan sterilisasi permukaan tubuh hewan dan lingkungan penyakit ringworm dengan cara pengobatan dianggap kandang serta penggunaan sikat dalam pemberian belum memuaskan. bila tidak diobati. berguna untuk sekitar 9 bulan.5 – 1%. Ada 5 diinfeksi buatan dengan T. baik pada manusia spontan atau induksi dari pertumbuhan rambut aktif maupun hewan. Uji in vitro yang dilakukan efek yang memuaskan. verrucosum. akan melepaskan dan membuang IgG1 dan IgG2. Akhir-akhir ini FALDYNA et al. menunjukkan uji transformasi sel limfosit mempunyai yaitu: (1). RACHMAWATI: Kapang Dermatofit Trichophyton verrucosum Penyebab Penyakit Ringworm pada Sapi Tabel 2. jumlah ekor sapi Kelompok 13 hari 20 hari 28 hari 34 hari ∑ Sapi percobaan setelah tantangan setelah tantangan setelah tantangan setelah tantangan – ± + ++ +++ – ± + ++ +++ – ± + ++ +++ – ± + ++ +++ Induk 12 0 5 4 3 0 0 4 5 3 0 5 6 1 0 0 12 0 0 0 0 imunisasi Induk tidak 12 4 6 2 0 0 0 0 0 5 7 0 0 0 4 8 0 0 4 5 3 imunisasi Sumber: RYBNIKAR et al. Bermacam-macam zat anti terdiri dari 3 cara. dan deteksi isotipe IgG1 dan IgG2 dari bersifat fungisida berefek terutama pada sel-sel jamur antibodi spesifik pada anak sapi yang divaksinasi atau yang masih muda dan aktif perkembangannya. berambut. langsung membunuh atau merusak menggantikan cara lama yaitu uji tantang (in vivo) pada dermatofit. Mekanisme (AINSWORTH dan AUSTWICK. seperti (anagen) ke pertumbuhan rambut tahap tidak aktif tumbuhan. pengobatan slime sampai senyawa Copper bentuk spray dapat mengurangi lamanya penyakit. bersifat iritasi. aktivitasnya menggagalkan perkembangan dengan penggunaan 3H-thymidine. Efektifitas imunisasi pada induk sapi masa pregnansi Skor lesi kulit pada area infeksi (tantangan) T. Ringworm umumnya bersifat sembuh sendiri (self 1972). secara alami berupa pencegahan yang dapat Selama berabad-abad bermacam-macam bahan menggagalkan infeksi sebaiknya dipertimbangkan obat yang berasal dari berbagai sumber telah dihasilkan sebelum pengobatan. Kesimpulan hasil matrik di pangkal rambut. yaitu hanya sebagian kecil yang berefek (2007) meneliti kemungkinan penggantian uji tantang baik. (3). yaitu menghambat deteksi hasil vaksinasi. (4). verrucosum. Pemakaian spray atau cairan pembersih seperti limiting disease). menebal dan distorsi. dan tahap penghentian produksi keratin abad ke-19 terjadi peningkatan kecenderungan untuk 51 . Tapi sejak penemuan antibiotik griseofulvin. Sejumlah obat topikal sudah uji ini menunjukkan bahwa sifat proteksi vaksin ini banyak diproduksi dan dipasarkan. dimana dermatofit menyusup. Dari hasil penelitian lebih lanjut stratum corneum. menunjukkan bahwa metode ini kemungkinan bersifat fungisida. 1973). DJAENUDIN GHOLIB dan S. untuk deteksi reaksi imunitas dengan uji in vitro pada pengobatan pada bagian yang berambut menghasilkan model sapi trichophytosis. yaitu merangsang reaksi korelasi positif dengan terbentuknya interferon-∂ peradangan akan berakibat tidak terjadinya infeksi. sedangkan yang spesifik.

A. Penanggulangan dengan pencegahan infeksi. baik untuk manusia Vaksinasi kemungkinan besar memberi harapan untuk atau hewan (JAWETZ et al. Diseases of Animals. dan pengkarantinaan hewan yang baru masuk. Lea & tertular. London. obat sudah lama digunakan seiring dengan sudah 1986. Second Edition. Sedangkan senyawa organik tropis dengan kelembaban tinggi di Indonesia sangat adalah alkohol. WARTAZOA Vol. baru dilaporkan sekitar tahun 1980-an. 1986.. phenyl mercuric nitrate). Laboratory Medical Mycology. and P. Dengan memperhatikan mikotik mengikuti kecenderungan yang sama. Philadelphia. dan dan salisilat. adalah lebih utama dibandingkan dengan pengobatan. Introduction to the History Of 86. Program vaksinasi pada hewan muda diperkirakan akan memberi harapan lebih besar untuk pencegahan BARKER. 1973. asam benzoat. biologi. Trichophyton sulfat. Di bidang veteriner zat yang sama hujan. New Rochelle. terutama yang cukup lama). ter (dalam air atau salep). silver di Indonesia. 1979). AJELLO. verrucosum merupakan agen penyebab utama dari mercury ammonia. DAFTAR PUSTAKA diaplikasikan dalam interval 3 hari. peralatan dan lingkungan 343 – 352. (ventilasi. akhir-akhir ini ditemukan di daerah Sukabumi. penyakit mikotik yang paling pada hewan yang divaksinasi. 1963. seperti oli. Slough. Biochim. dan juga peranannya untuk infeksi pada kulit. diantaranya adalah senyawa sulfur. atau masa peralihan dari musim kemarau ke digunakan. Agricultural Bureaux. 228 p. tapi sulphide. Cambridge. 2010 mengurangi bahan alami sebagai obat untuk penyakit. hal ini mungkin tidak banyak jenis zat kimia murni yang disintesis di laboratorium menguntungkan.7% oleh yodium Medical and Veterinary Mycology. kalium Jamur jenis kapang dermatofit. senyawa mercury (mercury chloride/sublimat). oleat dan sebagainya). Y.C. asam undesilenat. 1 Th. England. Pencegahan penyakit dengan soap) dicampur sulfur. kalium kemungkinan adanya kasus adalah besar.. dan dibandingkan dengan 5% yodium tincture.D. Pada sebagian besar aktif dari senyawa kimia. isolasi hewan AL-DOORY. Kasus ringworm caprilat. Fungal paling efektif terhadap dermatofit (GWAK dan KI-SOEB.K. Tetapi direkomendasikan pada peternakan sapi (TORNQUIST et perkembangan pengetahuan penyakit mikotik sistemik al. Farnham Royal. selenium Setelah itu tidak ada laporan kasus di lapangan. 52 .7% oleh thiabendazole dan 46. Kasus-kasus yang terjadi (sebagai sulfat. 216 p. hasilnya menunjukkan terjadi persembuhan AINSWORTH. senyawa antimon.A. aluminiun nitrat. merupakan program yang berhasil dan sehingga variasi obat yang digunakan sedikit. G. Pengobatan terhadap penyakit jika terjadi pada sapi dewasa. asam propionat. 20 No. yaitu dengan timbulnya proteksi saat mendekati abad 19. sebanyak 4 kali aplikasi. 410 p. Sexual reproduction among fungi seperti manajemen sanitasi yang baik meliputi pathogenic to man. Penggunaan teknik kontrol University Press. Mykosen 14: kebersihan hewan. Suatu percobaan penanggulangan penyakit. Biophys.C. digunakan sebagai obat ringworm. dan anak Trichophyton mentagrophytes. sabun (soft awal musim hujan. 2002). G. penyebabnya adalah Trichophyton verrucosum. copper penyakit ringworm pada sapi. New York. Sydney. A historical review.75% thiabendazole dalam gliserin. CRUICKSHANK and J. pengobatan dengan 3. seperti dengan jamur pelapuk kayu.C.N. kandang. lard (lemak babi). mercury biniodide (HgI2). Acta. MORRIS. S. iodine (elemen atau iodides). dan zat warna gentiana violet Terjadinya infeksi seiring dengan terjadinya musim dan carbolfuchsin. Cambridge tincture (PANDEY. lebih utama dari pada pengobatan. iodine. asetat. cahaya matahari yang cukup). Diantara KESIMPULAN zat-zat kimia sebagai obat topikal untuk pengobatan ringworm. Vaksinasi akan menurunkan Structure of a galactomanan-peptide allergen from jumlah hewan yang terinfeksi secara nyata. mikonazol dalam bentuk krim pengobatan secara topikal kurang efektif pada sapi. 74: 239 – 246. C. 1996). 1980. dan boraks. Febiger. sapi yang terinfeksi akan memperlihatkan ukuran dan sedikit demi sedikit mulai digantikan dengan bahan lapisan kerak (crust) yang sedikit. chrysarobin. dan bertambah banyaknya peternakan. AUSTWICK. Walaupun demikian terdiri dari ketokoazol.. atau copper oleate manajemen sanitasi dan lingkungan kandang adalah dianjurkan penggunaannya. Melbourne. asam asetat. dan subkutan selama pertengahan abad 19 membawa pengaruh kepada sejumlah penemuan obat-obat baru. tanin. maka vaksinasi dikenal terbatas pada penyakit kulit dan mukosa. karena iklim permanganat. dimana efektivitas vaksinasi. nitrate. Berbagai macam silver nitrate di dalam paraffin lunak (AINSWORTH. podophyllin. Obat-obat baru lamanya penyakit ini dikenal. penyebar luasan penyakit. 1971. asam oleinat. asam cocok untuk pertumbuhan jamur. tetapi vaksinasi akan berguna sekali sehingga semakin dikenal (melalui pengujian klinis pada peternakan dengan kasus yang hebat. MICHAEL dan MARK. L. 1985). Commonwealth 2006). Gleophyllum trabeum mempunyai efek antijamur AINSWORTH.

Med. TESARIK. B. 1980. A.. E. 8 hlm. PEHRSON. freepatentsonline. 1982. Scand.. DEBEY. Immunological from liquid culture media of wood-rotting fungi Studies on Dermatophytes. M. Antifungal activities of extracts SARAH. and D. FALDYNA. A Simon & Desember 2009).K. Vet. Brno. J. PAVLOVA and A. Philadelphia.A. Serological Reactivities against dermatophytes. 2002. live and killed vaccines against trichophytosis of Kumpulan Makalah Seminar Parasitologi Nasional II. KRUPKA. BISHOP.. A. PIER.cornell. M. guinea pigs and calves. 2009. RACHMAWATI: Kapang Dermatofit Trichophyton verrucosum Penyebab Penyakit Ringworm pada Sapi BBALITVET. Riddled with ringworm?http://blog. GHOLIB dan S. J.. RYBNIKAR. RICHARD. Personal Observationon the JUNGERMAN. G. Vet. The Veterinary and M. 36(5): 302 – 306. hlm. Acta Vet. 27 hlm. 2004. Tengah. HASTIONO.edu/?p=297 (18 Microbiology. J. ADELBERG. and R. SYARWANI.A. A.. Medical Mycology. KREJCI. VRZAL and V. Ringworm Vaccine. MELNICK and E.J. 2006. 34(2): 97 – 100. BPPH Sementara Ringworm pada Ternak. RYBNIKAR. 1994. Schuster Company. 1984. 1996.html (18 Desember 2009). and J. F.J. Revised Edition. Publishing. J. Their CARTER. 25(46): 7948 – 7954. 1996. V. Bogor. CONNOLE. Balai Besar Penelitian 11(1): 175 – 178. Veterinary production of sexual forms of dermatophytes. 32. KREJCI. J. Efficacy of a life attenuated Immunity in Cattle Vaccinated Against Ringworm. Bandung Tasikmalaya dan Cianjur.F. TORNQUIST.R. Immunoprophylaxis of bovine dermatophytosis. Essentials of Veterinary Recognition and Identification. May 2: 474 – 477. 1.L. Am. The development of immunity after vaccination of cattle GUDDING. 1981. GORDON.M. Effect of thiabendazole and tincture of Penanggulangan Penyakit Ringworm dan Kuman iodine on cattle ringworm caused by Trichophyton Enterobacter. LPPH. 1964. Off. Vet. J. S. 200 p. and MARK.cornell. Res.1991. L. T. Jakarta.G. A. J. EDWARDSON. Pol. LUND. CHUMELA. DJAENUDIN GHOLIB dan S. TRETJAKOV. P. PETROVITCH. doi/10. 1985. Kabupaten production. Abstrct. Laporan Survey dan Hasil Pemeriksaan Banjar dan Tapin. 47(1): 2415 – 2417.1111/j. 1008. SUDARISMAN. E. J. 753 p. P.mycology. 1982.S.L. BLANK and C. TAPLIN. Beberapa Tanaman Biofarmaka untuk PANDEY. Ringworm pada Sapi Brahman Cross di Kabupaten LPPH. and V. Pengembangan Pertanian III(2): 35 – 39. J. Mycol.A. 1979. Ann. 1967. SARKISOV dan S. SCHWARTZMAN.H. Med. J. CHUMELA and V. Belge Med.wiky. Med. Supplement 1: 169 – 187 (8 Januari 2010). J. ZAHARI. RYBNIKAR. com/6428789. 1995. Int. 44: 821 – 830. Can. and A. 2007. Mycol. E. 2001. 26: 21 – 29.mycology. A RYBNIKAR.com/ bovine dermatophytosis.D. A. CHUMELA. Lea & Febiger. Strategies for the sosialnya bagi peternak. VRZAL. WISE. Trichophyton verrucosum vaccine for control of Mycoses vol. GUDDING. R. A. and A.edu/?p=297 : 95–107 (18 Desember 2009). Microsporum quinckeanum. and D. P. Penelitian dan development of a vaccine against ringworm. Riddled with ringworm?http://blog. REBELL. M. Dermatophytes. http://onlinelibrary. 9 – 10 pages (8 Januari 2010). 33(2): 87 – 91. DJAGERA dan AHMAD.M. J..H. Kalimantan Selatan. 2009.edu/?p=297 (18 Desember 2009).T. 1972. G.C. 2009. Sixth Edition Blackwell University of Miami Press. and R. W. mycology. Laporan Survey dan Hasil Pemeriksaan Vaccination against ringworm in specialized beef Sementara Ringworm pada Ternak. GRIFFIN. Advances in veterinary Record.. MICHAEL. 92: 797 – 803. Appleton & Lange. Vet. Creation de troupeaux immuns et eradication States Patent 6428789. Epizoot. 1979. Riddled with ringworm? http://blog. BRATBERG. http://www. Laporan Kasus cornell. V. P. R. Evaluation of the immunogenic properties of HASTIONO. 1989. United 1980. R. 276 p.1439-0507. Vaccination of cattle against trichophytosis. cornell. Bull. LUND. Vet. Ringworm pada ternak sapi. BOND. Vet. F. ANDREWS. 1984. Penyakit ringworm pada sapi dan aspek SMITH. Trop.. Bact. NATALIA.tb00809.mycology. A. 232nd ACS National of Neutral Polysaccharides with Rabbit Antiserum to Meeting.edu/?p=297 (18 Desember 2009). 93(3): 1001 – mycology. P. Veteriner. 421 – 423. 34. against ringworm caused by Tricophyton verrucosum. Immunisation correlation of in vitro tests for the immune response of pregnant cows against ringworm and its effect on detection: A bovine trichophytosis model. 1986. KOCIK. J. Vet. Soc. pp. 1995. 1970.M. 124 p. and B. Record 19: 395 – 396. GWAK and KI-SOEB. Tropical Animal Health and Production DIKTI (SINTA) T. CHERMETTE. A. Vaccine the progeny. NAESS. Weter 23(3). BENDIXEN dan B. A. de la Trichophytose par la vaccination des animaux. Arch.V. A. STOCKDALE.x/abstract. PAHYE ringworm in a group of young cattle. Propinsi Jawa Wilayah V. OBORILOVA. D.C. Acta.F. R.M. Kongres P4I. Banjarbaru.D. Laporan Akhir Penelitian Bansos verrucosum. An outbreak of HASEGAWA. Bacteriology and Mycology. Medical http://blog. 53 . J. 5 hlm. Riddled with ringworm? JAWETZ. S.. 747 – 750. VRZAL.