Perancangan Sist.

Transmisi Vespa Super 150 ’66

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemudahan dan kelancaran kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan ini.
Laporan ini berisikan tentang perencanaan roda gigi transmisi Vespa Super
150 keluaran tahun 1966, yang penulis susun untuk memenuhi nilai Praktikum
Elemen Mesin III .
Dalam penyusunan laporan ini, penulis mendapat banyak bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan itu penulis mengucapkan rasa
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ir. Syahril Sayuti , MT , selaku dosen pembimbing praktikum Elemen Mesin III
atas kesabarannya dalam membimbing penulis.
2. Ir. Suwadi Suparlan , MME , selaku dosen matakuliah Elemen Mesin III.
3. Indra G. atas peminjaman bukunya kepada penulis.
4. Semua rekan-rekan yang telah mendukung dan menghibur penulis ketika sedang
jenuh .
Akhirnya penulis berharap , semoga laporan ini dapat berguna khususnya bagi
penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca. Penulis menyadari bahwa laporan ini
jauh dari sempurna maka dari itu penulis menerima kritikan dan saran yang
membangun yang penulis harapkan datang dari pembaca.

Bandung , 3 Desember 2000
Penulis

Perancangan Sist.Transmisi Vespa Super 150 ’66

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah
1.2 Ruang Lingkup Kajian
1.3 Tujuan Perancangan
1.4 Sistematika Penyajian
Bab II DASAR TEORI
2.1 Perkembangan Roda gigi
2.2 Prinsip Kerja Roda Gigi Transmisi
2.2.1 Tingkat Kecepatan Satu
2.2.2 Tingkat Kecepatan Dua
2.2.3 Tingkat Kecepatan Tiga
2.2.4 Tingkat Kecepatan Empat
2.3 Klasifikasi Roda Gigi
2.4 Nama-nama Bagian Roda Gigi
2.5 Perbandingan Putaran dan Perbandingan Roda Gigi
2.6 Perhitungan Yang Akan Dilaksanakan
Bab III PERHITUNGAN PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI VESPA
SUPER 150
3.1 Data Spesifikasi
3.2 Daya Rencana
3.3 Diameter Jarak Bagi
3.4 Putaran Poros Output (n2)
3.5 Diameter Kepala dan Diameter Kaki (dh & df)
3.6 Kecepatan Keliling (v)
3.7 Gaya Tangensial (Ft)
3.8 Faktor Dinamis (fv)
3.9 Faktor Bentuk Gigi (Y)
3.10 Pemilihan Bahan Roda Gigi
3.11 Tegangan Lentur Yang Diizinkan Per Satuan Lebar (F’b)
3.12 Tegangan Permukaan Yang Diizinkan Per Satuan Lebar (F’H)

Perancangan Sist.Transmisi Vespa Super 150 ’66

3.13 Besar Lebar Sisi (b)
3.14 Tegangan Lentur Yang Terjadi (b)
3.15 Beban Yang Terjadi Pada Poros Input
3.15.1 Momen Puntir
3.15.2 Momen Lentur
3.15.3 Tegangan Geser Yang Diizinkan
3.15.4 Menghitung Dimensi Poros
3.16 Beban Yang Terjadi Pada Poros Output
3.16.1 Momen Puntir
3.16.2 Momen Lentur
3.16.3 Tegangan Geser Yang Diizinkan
3.16.4 Menghitung Dimensi Poros
3.17 Bantalan

itulah keunikan dari transmisi vespa super 150 ini. roda gigi yang digunakan adalah roda gigi lurus dan transmisi ini mempunyai empat tingkat kecepatan dan sering disebut dengan istilah “transmisi geser”. transmisi kendaraan bermotor. Poros yang kedua (yang digerakkan ) kebanyakan akan memperoleh jumlah perputaran yang lain dari pada poros pertama (yang menggerakkan). Pada vespa super 150 tahun 66 ini . Dalam hal ini gerakan yang dipindahkan adalah gerakan putar poros terhadap yang lain. Perancangan Sist. Jika dilihat dan fungsinya maka transmisi roda gigi ini berfungsi sebagai suatu mekanisme yang dipergunakan untuk memindahkan gerakan elemen-mesin satu ke elemen mesin yang kedua. Pemilihan dan perhitungan umur bantalan 1.3 Tujuan Perancangan Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini adalah untuk dapat mengerti mekanisme suatu transmisi roda gigi pada sebuah kendaraan dan bagaimana merancangnya. misalnya transmisi mesin perkakas. Dalam perancangan ini kita tidak dapat menentukan langsung dimensi-dimensi roda gigi kecuali beberapa dimensi yang dapat ditentukan sebagai . Perhitungan roda gigi 3. dan lain-lain sampai pada roda gigi reduksi pada turbin besar yang berdaya puluhan mega watt.Transmisi Vespa Super 150 ’66 BAB I PENDAHULUAN 1. Disebut begitu karena tidak mempunyai sychronizer.1 Latar Belakang Permasalahan Roda gigi adalah komponen yang banyak digunakan dalam berbagai pentransmisian daya dan putaran.2 Ruang Lingkup Kajian Adapun ruang lingkup kajian yang penulis paparkan dalam laporan ini adalah: 1. Prinsip kerja transmisi roda gigi 2. Perhitungan poros 4. 1. Dalam laporan ini topik permasalahannya adalah transmisi pada kendaraan roda dua (vespa super 150).

4 Sistematika Penulisan Dalam penyajian laporan perencanaan transmisi roda gigi ini .Transmisi Vespa Super 150 ’66 acuan untuk menentukan dimensi lainnya. penulis membagi dalam 4 Bab bahasan . Perancangan Sist. 1. yaitu : Bab 1 : Pendahuluan Bab 2 : Teori roda gigi dan Prinsip Kerja Bab 3 : Perhitungan Bab 4 : Kesimpulan Pada akhir laporan dilampirkan tabel-tabel yang digunakan serta rujukan dari perancangan ini. . tapi itupun tidak terlepas dari data-data yang didapat dari spesifikasi kendaraan tersebut.

maka dilakukan pengembangan sehingga akhirnya tercipta sistem roda gigi seperti yang kita kenal sekarang ini.1 Tingkat Kecepatan Satu Poros Input Poros output . Roda gigi sekarang ini banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari. Sistem transmisi yang digunakan pada vespa super 150 ini adalah suatu transmisi dengan 4 tingkat kecepatan.2. yaitu dengan jalan mereduksi kecepatan sudut pada tingkatan-tingkatan tertentu.Transmisi Vespa Super 150 ’66 BAB II DASAR TEORI 2. Untuk mengatasi hal diatas. Hal ini disebabkan karena adanya sliding (slip) diantara kedua permukaan roda gesek.2 Prinsip Kerja Roda Gigi Transmisi Fungsi sistem transmisi adalah meneruskan daya dari poros yang satu ke poros yang lainnya degan menggunakan roda gigi yang saling berkaitan. mulai dari roda gigi kecil dan halus seperti pada jam tangan sampai roda gigi untuk menggerakkan turbin berdaya puluhan mega watt pada pembangkit tenaga listrik. 2. 2. dimana setiap kecepatan mempunyai kemampuan meneruskan daya yang berbeda pada putaran poros input yang tetap dan tergantung pada perbandingan jumlah gigi input dan output. Prinsip seperti ini mengembangkan suatu alat penerus daya yang disebut dengan roda gesek. maka dengan memutar roda yang satu. roda yang lain akan ikut terputar. Tetapi kemudian diketahui bahwa roda gesek ini hanya baik untuk meneruskan daya yang kecil dan putaran yang rendah (tidak terlalu tinggi). Karena pembebanan dapat bervariasi maka daya yang ditransmisikan harus bervariasi pula. dan juga tidak dapat meneruskan putaran dengan ketelitian yang baik.1 Perkembangan Roda Gigi Roda gigi berkembang dari suatu ide bahwa jika dua buah roda yang berbentuk silinder atau kerucut saling bersinggungan. Perancangan Sist.

2. Perancangan Sist. lalu menuju roda gigi enam. dari roda gigi empat ke poros output dengan perantaraan gigi kris. .2. lalu menuju roda gigi empat. 2. dari roda gigi enam ke poros output dengan perantaraan gigi kris. lalu menuju roda gigi dua. Dimana aliran daya dari poros input ke roda gigi lima .3 Tingkat Kecepatan Tiga Poros Input Poros output Pada tingkat kecepatan tiga. perbandingan transmisi yang digunakan adalah pasangan roda gigi satu dan dua. perbandingan transmisi yang digunakan adalah pasangan roda gigi lima dan enam.2. transmisi yang digunakan adalah pasangan roda gigi tiga dan empat.2 Tingkat Kecepatan Dua Poros Input Poros output Pada tingkat kecepatan dua . dari roda gigi dua ke poros output dengan perantaraan gigi kris.Transmisi Vespa Super 150 ’66 Pada tingkat kecepatan satu. Dimana aliran daya dari poros input ke roda gigi tiga . Dimana aliran daya dari poros input ke roda gigi satu .

sehinga roda gigi jenis ini memerlukan bantalan aksial. Roda gigi dengan poros sejajar adalah roda gigi dimana giginya berjajar pada dua bidang silinder. dari roda gigi delapan ke poros output dengan perantaraan gigi kris. Perbandingan kontaknya lebih besar daripada roda gigi lurus.2. perbandingan transmisi yang digunakan adalah pasangan roda gigi tujuh dan delapan. 2. a) Roda Gigi Lurus. lalu menuju roda gigi delapan. Adapun klasifikasi roda gigi adalah sebagai berikut : 1. Merupakan roda gigi paling dasar dengan jalur gigi yang sejajar dengan poros. . dengan kata lain salah satu pasangan akan melepaskan pasangannya sementara pasangan lainnya telah saling berpasangan. karena jumlah gigi yang bersinggungan akan lebih banyak. Roda Gigi dengan Poros Sejajar. dimana gaya ini akan mendorong roda gigi searah dengan sumbu poros.Transmisi Vespa Super 150 ’66 2. Dimana aliran daya dari poros input ke roda gigi tujuh . Perancangan Sist. Sifat seperti ini baik untuk meneruskan daya yang besar dibanding dengan roda gigi lurus dengan tebal roda gigi yang sama. Kelemahan pada sistem roda gigi ini adalah akan timbul gaya aksial. dimana sumbu kedua poros tetap sejajar. Kedua bidang silinder tersebut bersinggungan dan silinder yang satu menggelinding pada silinder yang lainnya.3 Klasifikasi Roda Gigi Roda gigi diklasifikasikan menurut arah putaran. letak poros dan bentuk alur gigi.4 Tingkat Kecepatan Empat Poros Input Poros output Pada tingkat kecepatan empat. b) Roda Gigi Miring Jalur gigi berbentuk ulir pada silinder jarak bagi.

Keuntungan lain dari roda gigi jenis ini akan lebih besar lagi meneruskan daya. b) Roda Gigi Kerucut Spiral c) Roda Gigi Permukaan d) Roda Gigi Miring Silang e) Roda Gigi Cacing Silindris Dapat meneruskan daya dan putaran dengan perbandingan kontak yang besar. 2. Perpindahan gaya pada permukaan gigi berlangsung secara meluncur dan menggelinding.Transmisi Vespa Super 150 ’66 c) Roda Gigi Miring Ganda Roda gigi jenis ini untuk meniadakan gaya aksial pada roda gigi miring. Perancangan Sist. Roda gigi hipoid banyak digunakan untuk roda gigi differensial mobil. d) Roda Gigi Dalam Digunakan bila diinginkan alat transmisi berukuran kecil dengan perbandingan reduksi yang besar. Macam-macam roda gigi . e) Pinion dan Batang Gigi Digunakan untuk merubah gerakan translasi menjadi rotasi atau sebaliknya. Roda gigi ini mempunyai alur yang berbentuk huruf V. f) Roda Gigi Hipoid Mempunyai jalur gigi spiral pada bidang kerucut dengan sumbu bersilang. Roda Gigi Dengan Poros Menyilang a) Roda Gigi Kerucut Lurus Banyak digunakan untuk diferensial gear. Namun kekurangan jenis roda gigi ini adalah dalam proses pembuatan yang lebih sulit dan harus lebih teliti. Dimana konstruksi roda gigi ini dirancang untuk saling meniadakan gaya aksial.

yaitu lingkaran khayal yang menggelinding tanpa slip. Adapun ukurannya dinyatakan dengan diameter jarak bagi. Nama-nama bagian utama roda gigi diperlihatkan pada gambar dibawah ini. Disamping itu terdapat pula roda gigi yang perbandingan kecepatan sudutnya berbeda . diambil suatu ukuran yang disebut modul. maka pemakainnya sebagai ukuran gigi dirasakan kurang praktis. Namun karena jarak bagi lingkar selalu mengandung unsur . 2. dimana . Untuk mengatasi hal ini. maka jarak bagi lingkar t (mm) dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut . Dengan demikian ukuran gigi dapat ditentukan dari besarnya jarak bagi lingkaran tersebut. dengan lambang ‘m’ . Perancangan Sist.Transmisi Vespa Super 150 ’66 Roda gigi yang tersebut diatas mempunyai perbandingan kecepatan sudut yang tetap diantara kedua porosnya. d m z .4 Nama-nama Bagian Roda Gigi dan Ukurannya Dalam laporan ini penulis akan menititk beratkan pada perhitungan roda gigi lurus yang digunakan pada sistem transmisi vespa super 150 ’60. Ukuran gigi dinyatakan dengan “jarak bagi lingkar” . dan jumlah gigi dinyatakan dengan z . seperti pada roda gigi exentris.  d t z Jadi jarak bagi lingkar adalah keliling lingkaran jarak bagi dibagi dengan jumlah gigi. roda gigi bukan lingkaran. yaitu jarak sepanjang lingkaran jarak bagi antara profil dua gigi yang berdekatan. Nama-nama bagian roda gigi Jika lingkaran jarak bagi dinyatakan dengan d (mm) . roda gigi lonjong dan sebagainya.

m dapat ditentukan sebagai bilangan bulat atau bilangan pecahan 0.6 Perhitungan Kekuatan Gigi Dengan Metoda Lenturan Beban yang diterima gigi pada kenyataannya tidak selalu dikenakan pada satu gigi saja. Demi keamanan.5 dan 0. maka perbandingan putaran gigi antara roda gigi penggerak dengan roda gigi yang digerakkan ‘i'’adalah : n2 d1 m  z1 z1 1 u     n1 d 2 m  z 2 z 2 i z2 i z1 Dengan demikian i merupakan perbandingan antara jumlah gigi pada roda gigi dan pada pinyon. maka dapat dinyatakan :  d1  d 2  a  m z1  z 2  2 2a d1  1  i  2ai d2  1  i  2. tetapi didistribusikan untuk beberapa gigi yang berada dalam keadaan kontak atau berpasangan. dan jumlah gigi z1 dan z2 . Juga karena . beban yang diterima gigi dianggap sebagai beban yang diterima oleh masing-masing gigi. Jika jarak antara kedua sumbu poros adalah a (mm) . Sedangkan pada roda gigi miring dan roda gigi miring ganda. . Perbandingan ini dapat sebesar 4 sampai 5 pada roda gigi lurus standar. yang disebut perbandingan roda gigi atau perbandingan transmisi. maka dalam melakukan perhitungan.Transmisi Vespa Super 150 ’66 Dengan cara ini . Perancangan Sist. dan dapat diperbesar sampai 7 dengan perubahan kepala.5 Perbandingan Putaran dan Perbandingan Roda Gigi Jika putaran roda gigi yang berpasangan dinyatakan dengan n 1 (rpm) pada poros penggerak dan n2 (rpm) pada poros yang digerakkan. diameter lingkaran jarak bagi d1 dan d2 . perbandingan ini bisa sampai 10.  m  t Maka modul dapat menjadi ukuran gigi. 2.25 yang lebih praktis.

dapat dianjurkan pemakaian faktor koreksi f c pada daya reta-rata demi keamanan. Bila daya yang ditransmisikan merupakan daya nominal. Dalam hal ini daya yang dipergunakan adalah daya rencana. maka : Pd  f c  P Ft  Pd Pd  102 102  Pd Ft  v . beban tangensial dan beban radial masing-masing dinyatakan dengan Ft dan Fr . maka : Ft  Fn cos  Fr  Fn sin  dimana  menyatakan sudut kontak antara dua roda gigi yang berpasangan.Transmisi Vespa Super 150 ’66 sketsa beban pada gigi Jika tekanan normal dinyatakan dengan Fn . maka kecepatan sudut pada lingkaran jarak bagi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :   d jb  n v [m/s] 1000  60 Hubungan antara daya yang ditransmisikan P (kW). Jika lingkaran diameter jarak bagi dinyatakan dengan d jb (mm). jika P menyatakan daya rata-rata maka perlu ditaksir besarnya daya pada beban puncak dan waktu start. Dalam perencanaan. Perancangan Sist. maka dapat dipilih fc=1. beban tangensial Ft (kg) dan kecepatan keliling v (m/s) dapat dinyatakan dengan persamaan sbb: Ft  v P 102 Demi keamanan digunakan pemakaian faktor koreksi daya. Gaya tangensial Ft bekerja dalam arah putaran roda gigi pada titik lingkaran jarak bagi.

BC = h (mm) . Besaran ini mempunyai dimensi panjang. faktor bentuk gigi Y dari roda gigi standar dengan sudut tekan 20o. sedangkan besarnya beban lentur dapat dihitung dari modul m. jumlah gigi z. h2/6l = m . dengan gaya tangensial Ft pada puncak balo. sebagai berikut : F 'b   b  m  Y  f v Maka lebar sisi gigi dapat diperoleh dari : Ft b F 'b Bila menggunakan tegangn permukaan .Transmisi Vespa Super 150 ’66 gigi dipandang sebagai balok kantilever Jika b (mm) adalah lebar sisi. maka . dan faktor dinamis fv. Y Y = h2/6lm Kemudian substitusikan dengan rimus Ft (gaya tangensial) didapat : Ft   b  b  m  Y Karena adanya pengaruh kecepatan yang terjadi pada kecepatan keliling roda gigi. . maka diberikan faktor koreksi yang tergantung pada kecepatan keliling dan ketelitian dalam bentuk faktor dinamis fv . Perancangan Sist. dan AE = l (mm) . besarnya tergantung pada macam bahan dan perlakuan panas. maka : Ft   b  b  m  Y  f v Tegangn lentur yang diizinkan a (kg/mm2). maka tegangan lentur b (kg/mm2) pada titik B dan C (dimana ukuran penampangnya adalah bxh). Jika dinyatakan dengan perkalian antara Y (faktor bentuk gigi) dan m (modul). dapat ditulis sebagai : Ft  l b  bh 2 6   bh 2 Ft  b 6l Besarnya h2/6l ditentukan dari ukuran dan bentuk gigi.

dan untuk daya besar antara (10-16)m [mm].7 Perhitungan Yang Akan Dilakukan Perhitungan yang akan dilakukan pada laporan ini ada tiga bagian . poros yang menumpu roda gigi tersebut kemudian bantalan. 00oBAB III PERHITUNGAN .Transmisi Vespa Super 150 ’66 2z2 F ' H  f v  k H  d 01 z1  z 2 Maka lebar sisi gigi dapat diperoleh dari : Ft b F 'H Pada umumnya harga b ditetapkan antara (6-10)m [mm] . Perancangan Sist. 2. yaitu roda gigi yang terdiri dari empat tingkat kecepatan dengan cara yang sama untuk tiap kecepatan.

Putaran yang dialami oleh roda gigi primer telah mengalami reduksi dengan roda gigi pada rumah kopeling dan roda gigi pada roda gigi primer. Z1 = 22 Z2 = 67 n2 Z 1 dari soelarso hal 216 .04 Pdesain = Pd = fc * P = 1.Transmisi Vespa Super 150 ’66 PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI 3. maka dari Soelarso hal 7 .3 Diameter Lingkaran Jarak Bagi (db) Perbandingan reduksi i untuk setiap kecepatan adalah sbb: .2 Daya Rencana (Pd) P = 9 dk .1 Data Spesifikasi Daya : 9 dk pada 8500 rpm Jarak sumbu poros : 73 mm Volume silinder : 150cc Tingkat kecepatan :4 Sudut tekan : 20o Berat kendaraan : 85 kg Jenis mesin : 2 langkah Untuk putaran 8500 rpm adalah putaran pada poros engkol / rumah kopeling / gigi reduksi 1. diambil fc = 1. Perancangan Sist.04 * 6714 = 7000 kW 3.  n1 Z 2 n2 22  8500 67 n2 = 2791 rpm (putaran pada roda gigi primer) 3. 1dk = 746 W P = 9 * 746 = 6714 W Daya 9 dk disini diasumsikan sedah termasuk kelebihan daya.

Perancangan Sist. 2*a d1  utk roda gigi primer 1  i  2* a *i d2  utk roda gigi sekunder 1  i  2 * 73 Untuk roda gigi primer 1 .08 Z1    14.2  117 . d bs Z m d bs1 28.6 jarak sumbu poros :73 mm Diameter jarak bagi sementara dari soelarso hal 216 . kecepatan perb. d bs1   28.04mm m 2 Untuk kecepatan 1: d 117 .08mm 1  4. pada perancangan kali ini dipilih modul m = 2 mm .96mm m 2 Z1 : Z2 = 14.1 18 55 2 36 110 3 1:2.92mm Dari tabel pemilihan modul pada buku Soelarso hal.1 kecepatan 3: 1 : 2. 216 tabel 62.Transmisi Vespa Super 150 ’66 kecepatan 1: 1 : 4.2 Untuk roda gigi sekunder 1 .2 23 50 2 46 100 4 1:1.04 : 58.6 28 45 2 56 90 .2 kecepatan 4: 1 : 1. (i) Zin Zout m [mm] dbin [mm] dbout [mm] 1 1:4.2 14 59 2 28 118 2 1:3. d bs 2  1  4.2 kecepatan 2: 1 : 3.2 2 * 73 * 4.96 Z1 : Z2 = 14 : 59 Jadi Z1 = 14 & Z2 = 59 Dan diameter jarak bagi yang sesungguhnya : db  m * Z db1 = 2 * 14 = 28 mm db2 = 2 * 59 = 118 mm Untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah .92 Z 2  bs 2   58. banyaknya gigi .

5 Diameter Kepala dan Diameter Kaki Dari Soelarso hal 219. putaran poros output untuk tingkat kecepatan lainnya .5 (utk sluruh gigi) untuk Z1 = 14 df1 = (14 .4 Putaran Poros Output (n2) n1 Z 2 Dari buku Soelarso hal.5 = 23 mm untuk Z2 = 59 df2 = (59 – 2)*2 – 2*0.6 Kecepatan Keliling (v)  * db * n Dari buku Soelarso hal 238 didapat : v  [m/s] 1000 * 60 . 216 . pada umumnya digunakan : c k  0.25 * 2 = 0. kecepatan putaran input (n1) Zin Zout putaran output (n2) 1 2791 14 59 662.25 * m ck = 0.4 3 2791 23 50 1283.9 4 2791 28 45 1736.3rpm Dengan cara yang sama seperti diatas. persamaan diameter kepala : d k   Z  2  * m untuk Z1 =14 dk1 = (14+2)*2 = 32 mm untuk Z2 = 59 dk2 = (59+2)*2 = 122 mm Dari Soelarso hal 219. i  n2 Z 1 2791 59  untuk tingkat kecepatan 1: n2 14 n 2  662. Perancangan Sist. persamaan diameter kaki : d f   Z  2 * m   2 * c k  dimana ck adalah kelonggaran puncak.5 = 113 mm dengan cara yang sama. untuk tingkat kecepatan lainnya adalah : kecepatan Z1 Z1 m dk in[mm] dk out[mm] df in[mm] df out[mm] 1 14 59 2 32 122 23 113 2 18 55 2 40 114 31 105 3 23 50 2 50 104 41 95 4 28 45 2 60 94 50 85 3.3 2 2791 18 55 913.6 3.2)*2 – 2*0.Transmisi Vespa Super 150 ’66 3.

9 Faktor Bentuk Gigi (Y) Faktor bentuk gigi didapat dari Soelarso tabel 6.1  174.594 untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah. 3.594 2 5. gaya tangensial yang terjadi adalah . v   4. f v  6  4.472 4 8.7 106.2 87.3 134. karena kecepatan tangensial dibawah 10 m/s maka persamaan 6 faktor dinamis adalah : fv  6v 6 untuk kecepatan 1 .10 Pemilihan Bahan Pada perancangan ini dipilih Baja Paduan dengan pengerasan kulit atau disebut S 15 CK.276 untuk Z2 = 59 Y2 = 0.7 0.Transmisi Vespa Super 150 ’66  * 28 * 2791 untuk kecepatan 1 .1 0. Perancangan Sist.419 untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah.422 3.7 Gaya Tangensial (Ft) Dari Soelarso hal 238 .1  0.8 Faktor Dinamis (fv) Dari Soelarso hal 240.531 3 6.5 hal 240: untuk Z1 = 14 Y1 = 0.pada roda gigi.1 174. 3.1kg untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah. 102 * Pd Ft  [kg] v 102 * 7 untuk kecepatan 1 : Ft  4.1 0. Dari tabel 6.1 m s 1000 * 60 untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah.7 Soelarso jal 241 didapat : Kekuatan tarik b [kg/mm2] : 50 kg/mm2 Kekerasan Brinell (Hb) : 400 . kecepatan kec. 3.6 0.tangens [m/s] gaya tangens [m/s] faktor dinamis (fv) 1 4.

12 Tegangan Permukaan Yang Diizinkan Per Satuan Lebar (F’H) Dari Soelarso hal 244 terdapat persamaan : 2Z 1 F ' H  f v * k H * d b1 * [kg] Z1  Z 2 2 * 59 untuk kecepatan 1: F ' H  0.594 = 14. 3.311 * 28 *  8.13 Besar Lebar Sisi (b) Ft Dari Soelarso hal 244 terdapat persamaan : b  [mm] F 'H 174.594 * 0.594 .1 untuk kecepatan 1: b  20.82  21mm 8.594 = 9. Perancangan Sist.276 * 0. 3.14 Tegangan Lentur Yang Terjadi (b) Ft Dari Soelarso hal 240 didapat persamaan :  b  [kg/mm2] b * m *Y * fv 174.419 * 0.84 kg F’b2 = 30 * 2 * 0. 3.8 Soelarso hal 243 didapat faktor tegangan kontak .11 Tegangan Lentur Yang Diizinkan Per Satuan Lebar (F’b) Dari Soelarso hal 240 terdapat persamaan : F 'b   a * m * Y * f v untuk kecepatan 1: F’b1 = 30 * 2 * 0. Untuk Hb = 400 kH = 0. Lentur Izin I [kg/mm2] : 30 kg/mm2 Dari tabel 6.3 kg mm 2 21 * 2 * 0.36 untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah.9 kg untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah.Transmisi Vespa Super 150 ’66 Teg.276 * 0.311 kg/mm2 3.1 untuk Z1  b1   25.36kg 14  59 untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah.

Transmisi Vespa Super 150 ’66 174.5 2 49.333 0.399 F’b 9.7 27.67 kg jarak dari kiri : 13+3+10+3+12+3+15+3+(21/2)=72.06 b 21 15 12 10 b 25. Perancangan Sist.594 Tegangan lentur yang terjadi adalah lebih kecil dari pada tegangan lentur yang diizinkan (30 kg/mm2) maka bahan yang dipilih beserta ukurannya sudah dapat memenuhi perancangan.81 13.96 9.419 0.7 kg mm 2 21 * 2 * 0.276 0.15 Beban Yang Terjadi Pada Poros Utama 3.36 13+3+10+3+12+3+15+3+(21/2)=72.36 8.308 0.9 kgcm 3.15.1 untuk Z2  b2   16.43 11.358 0.3 23.84 14.07 10.03 13+3+10+3+12+3+(15/2)=51.5 51.1 FH 8.9 3.3 16.5 mm kecepatan Fr [kg] jarak dari sisi kiri poros [x] 1 63.25 9.1 28.5 20.8 25.2 Momen Lentur Asumsi: panjang poros input : 21+15+12+10+13+14+(4*3) = 97 mm beban berada x mm dari sisi kiri poros .1 Momen Puntir N Persamaannya adalah : T  71620 [kgcm] n T = 71620*9/2791 = 230.414 0.4 28.79 13+3+10+3+(12/2)=35 4 31. variabel kecepatan 1 kecepatan 2 kecepatan 3 kecepatan 4 in out in out in out in out Y 0. Untuk kecepatan lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah.70 13+3+(10/2)=21 Fr4 Fr3 Fr2 Fr1 A B 72.56 9. Hubungan antara F tangensial dengan F radial : Fr  Ft * tan  untuk kecepatan 1: Fr = 174.15.419 * 0.19 9.408 0.5 35 21 97 .5 3 38.1 * tan 20o = 63.93 9.

7 – v3 = 0 v3 = 56.63 kg Untuk 21  x < 35 Fr4 A v M3 RA x  Mx = 0: (88.7 + 94. 88. (88.Transmisi Vespa Super 150 ’66 Ma = 0.247 = 0 RA = 88.63*x)-(31.7*(x-21))-M3=0 x = 21.63 – v4 = 0 v4 = 88. 88.34 kgmm  Fy = 0 .5 Fr4 Fr3 A v M2 RA x  Mx = 0. Perancangan Sist.28 kgmm x = 35.24737 kg  Fy = 0.5)+(Fr3*35)+(Fr4*21) = 0 97RB = 9141.995 RB = 94. M4 = 0 RA x x = 21.28 kgmm Fy = 0.63*x)-(31. M4 = 1816. (88.63 – 31. M3 = 1861.8*(x-35))-M2 = 0 .93 kg Untuk 35  x < 51. M3 = 2658.79 –31.6 – 49. -(RB*97)+(Fr1*72.63*x)-M4=0 A v M4 x = 0.7*(x-21))-(38.03 – 38.6326 kg Untuk 0  x < 21 Mx = 0. RA – Fr1 – Fr2 – Fr3 – Fr4 + RB = 0 RA – 63.5)+(Fr2*51.

M = 2308.79 – v2 = 0 v2 = 18.53 kgmm x = 72. M2 = 2957.8*(x-35))-(49.7*(x-21))-(38.5  x < 97 Fr4 Fr3 Fr2 Fr1 A v M RA x  Mx = 0 .5.7 – 38.63 – 31.5 Fr4 Fr3 Fr2 A v M1 RA x  Mx = 0. 88.03 – v1 = 0 v1 = .14 kg Untuk 51.69 kgmm x = 97.36* (x-72.79 – 49. (88.68 kgmm  Fy = 0 88.34 kgmm x = 51. Perancangan Sist.36 –v = 0 v = .5))-(63.63 – 31.03*(x-51. M=0  Fy = 0 88.30.79 – 49.25 kg Diagram Momen 3.5.53 kgmm  Fy = 0.5))-M1=0 x = 51.63*x)-(31.3 Tegangan Geser Yang Diijinkan 3500 3000 2500 momen 2000 1500 1000 500 0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 jarak .03 – 63.7 – 38.Transmisi Vespa Super 150 ’66 x = 35.63*x)-(31.8*(x-35))-(49.5. M1 = 2308.5.15.5  x < 72. M1 = 2957.7*(x-21))-(38. (88.94. M2 = 2658.7 – 38.03*(x-51.89 kg Untuk 72.63 – 31.5)) = 0 x = 72.

2 kgcm = 9732 kgmm untuk kecepatan lainnya : kecepatan T [kgmm] 1 9732 2 7056 3 6020 4 3711 3. Tegangan geser yang diizinkan (soelarso hal 8 ) . 3. 10+3+12+3+15+3+21+155+43=254 mm Beban berada x mm dari sisi kiri poros . Perancangan Sist.3 3  79  untuk kecepatan lainnya : kecepatan diameter poros output [mm] 1 6.4 Menghitung Dimensi Poros Dari Soelarso hal 12 didapat persamaan untuk poros dengan beban lentur saja (karena poros ini tidak berputar) .2  6.3 = 973. .2 Momen Lentur Asumsi panjang poros output .16 Beban Yang Terjadi Pada Poros Output 3.6 kg mm 2 6*2 3.5 mm (menurut ukuran aslinya).6 – 6.0 sf2 = safety factor berdasarkan bentuk poros = 1. diambil bahan S 35 C dengan kekuatan tarik yang diijinkan 79 kg/mm2. 1 3 102  d  M i  1 10.1 Momen Puntir Untuk kecepatan 1 : T = 71620*9/662. i i  sf1  sf 2 dimana : sf1 = safety factor berdasarkan komposisi bahan = 5.32  6.16.15.16.5mm 1 untuk kecepatan 1: 1861.2  3 d   240.3 – 3.5 4 7 Pada perancangan digunakan diameter 11.Transmisi Vespa Super 150 ’66 Dalam perancangan.5 2 7 3 7.0 79 i   6.

152=0 RA=54.7278937 kg Untuk 0  x < 149 Mx = 0. (54.5)+(RB*254)=0 -(31.79-49.7 – v3 = 0 .03 144+10+3+12+3+(15/2)=179.7 144+(10/2)=149 Fr4 Fr3 Fr2 Fr1 A B 149 163 179.79 144+10+3+(12/2)=163 4 31.79*163)-(49.72*x)-M4=0 A v M4 x = 0.7-38.5)=-254RB RB = 128.72 kg Untuk 149  x < 163 Fr4 A v M3 RA x  Mx = 0: (54.5)-(Fr1*200. Perancangan Sist.36*200.72*x)-(31.72 – v4 = 0 v4 = 54. M3 = 8475. -(Fr4*149)-(Fr3*163)-(Fr2*179. RA-Fr4-Fr3-Fr2-Fr1+RB=0 RA-31.28 kgmm Fy = 0. M4 = 0 RA x x = 149.5 2 49.56 kgmm  Fy = 0 .5)-(63.28 kgmm x = 163. 54.M4 = 8453.5 254 MA = 0.36 144+10+3+12+3+15+3+(21/2)=200.72 – 31.03-63.5 200.03*179.7*149)-(38.5 3 38.7*(x-149))-M3=0 x = 149.1521063 kg Fy = 0. M3 = 8153. 54.Transmisi Vespa Super 150 ’66 kecepatan Fr [kg] jarak dati sisi kiri poros [mm] 1 63.36+128.

02 kg Untuk 163  x < 179.77 kg Untuk 179. M=0 .58 kgmm x = 200.8*(x-163))-(49.7 – 38. (54.58 kgmm  Fy = 0. (54.Transmisi Vespa Super 150 ’66 v3 = 23.56 kgmm  Fy = 0 54.79 – v2 = 0 v2 = -15.03 – v1 = 0 v1 = . M = 6854.72*x)-(31.7 – 38.79 – 49.64.7*(x-149))-(38.72 – 31.5  x < 254 Fr4 Fr3 Fr2 Fr1 A v M RA x  Mx = 0 . M1 = 6854. 54. M1 = 8134. Perancangan Sist. M2 = 8475.72 – 31.72*x)-(31.5 Fr4 Fr3 A v M2 RA x  Mx = 0.36* (x-200.7*(x-149))-(38.8*(x-163))-(49.5  x < 200.5.5 Fr4 Fr3 Fr2 A v M1 RA x  Mx = 0.5)) = 0 x = 200.8 kg Untuk 200.8*(x-163))-M2 = 0 x = 163. M2 = 8134.7*(x-149))-(38.56 kgmm x = 179.03*(x-179.56 kgmm x = 254.5.5))-M1=0 x = 179.5.5))-(63.03*(x-179.72*x)-(31. (54.5.

36 –v = 0 v = .4 Menghitung Dimensi Poros Dari Soelarso hal 18 didapat persamaan untuk poros dengan beban lentur dan puntir 1  3    1 (kombinasi) .1 Kt = 1. d   5.128.16.Transmisi Vespa Super 150 ’66  Fy = 0 54.6   d = 24.1  25 mm Untuk kecepatan lainnya .1    Km * M  2   Kt * T  2 2      i   dimana Km dan Kt adalah fator keamanan dari Momen dan Torsi (Soelarso hal 8) Km = 1.16 kg Diagram Momen 10000 8000 momen 6000 4000 2000 0 0 50 100 150 200 250 300 jarak 3. d   5.1* 9732  2 2   6.79 – 49.72 – 31.1 1     1 3 Untuk kecepatan 1 .1   1.7 – 38.1 * 8153.28 2 1.03 – 63.6 kg mm 2 6*2 3.16. . Perancangan Sist.3 Tegangan Geser Yang Diijinkan Dalam perancangan diambil bahan S 35 C dengan kekuatan tarik yang diijinkan adalah 79 kg/mm2 79 i   6.

Jenis bearing : bantalan bola radial Nomor bearing : 6205 VV d = 25 mm B = 15 mm D = 52 mm C = 1100 kg Jenis bearing : bantalan bola radial Nomor bearing : 6006 ZZ d = 30 mm B = 13 mm D = 55 mm C = 740 kg Faktor kecepatan untuk bantalan bola radial dari Soelarso hal.3  3 fn     n  1  33.9 hal 135 Soelarso didapat . .2*Fr = 76.158  8500  Beban ekivalen dinamis dari Soelarso hal 135 : Pr  x * v * Fr  Y * Fa dari tabel 4. Pada poros input. Perancangan Sist. Fa = 0 Maka : Pada input .2 & x = 1 Untuk output : v = 1 & x = 1 Tidak terdapat beban aksial .17 Bantalan Pada transmisi ini terdapat 3 buah bantalan .03 kg Pada output .Transmisi Vespa Super 150 ’66 kecepatan diamter poros output [mm] 1 25 2 23 3 22 4 21 Pada perancangan digunakan diameter 25 mm 3.3  3 fn    0. Pr = Fr = 63. Jenis bearing : bantalan bola radial Nomor bearing : 6302 d = 15 mm B = 13 mm D = 42 mm C = 895 kg Pada poros output. Untuk input : v = 1. Pr = 1.36 kg Dari soelarso hal 136 terdapat persamaan untuk faktor umur . 136 1  33.

2 tahun out 1: 7. 500*2.8593 = 3212. 500*2.03) = 1.158*(1100/63. Perancangan Sist.7433 = 10319.859 out 1 .1 tahun out 2: 5. 3 Lh  500 * f h input . 500*1. maka : umur bantalan input: 2.49 jam Jika ditentukan bahwa satu hari pemakaian adalah 4 jam .7 tahun .743 out 2 .24 jam out 1 .5683 = 8467.Transmisi Vespa Super 150 ’66  c  fh  fn *   Pr  Input . 0.36) = 2. 0.36) = 2.158*(1030/63. 0.23 jam out 2 .158*(895/76.568 Dari Soelarso hal 136 terdapat persamaan untuk umur bantalan [jam] .

4 40 114 31 105 3 2791 1283.Transmisi Vespa Super 150 ’66 BAB IV KESIMPULAN Dari hasil perhitungan pada bab sebelumnya.tangens [m/s] gaya tangens [m/s] faktor dinamis (fv) 1 4. (i) Zin Zout m [mm] dbin [mm] dbout [mm] 1 1:4. input (n1) put.6 28 45 2 56 90 kecepatan put.3 32 122 23 113 2 2791 913.1 0.1 174.2 14 59 2 28 118 2 1:3.7 0.531 3 6.1 0. perancang dapat menyimpulkan beberapa hal .9 50 104 41 95 4 2791 1736.594 2 5.472 4 8.2 87.2 23 50 2 46 100 4 1:1. Perancangan Sist. output (n2) dk in[mm] dk out[mm] df in[mm] df out[mm] 1 2791 662.1 18 55 2 36 110 3 1:2.6 0.3 134.422 .6 60 94 50 85 kecepatan kec. kecepatan perb.7 106.

06 b 21 15 12 10 b 25.408 0.7 144+(10/2)=149 21 .96 9.5 25 2 7056 49.4 28.43 11.308 0. poros output [mm] 1 9732 63.36 8.36 144+10+3+12+3+15+3+(21/2)=200.3 23.414 0.9 Untuk Poros Input kecepatan Fr [kg] jarak dari sisi kiri poros [x] dia.1 28.93 9.79 144+10+3+(12/2)=163 22 4 3711 31.419 0.358 0.25 9.7 27.1 FH 8.5 7 3 38.276 0.5 20.36 13+3+10+3+12+3+15+3+(21/2)=72.5 4 31.3 16.19 9. Perancangan Sist.81 13.5 6.70 13+3+(10/2)=21 7 Untuk Poros Output kecepatan T [kgmm] Fr [kg] jarak dari sisi kiri poros [mm] dia.79 13+3+10+3+(12/2)=35 7.5 23 3 6020 38.07 10.56 9.Transmisi Vespa Super 150 ’66 variabel kecepatan 1 kecepatan 2 kecepatan 3 kecepatan 4 in out in out in out in out Y 0.84 14.8 25.03 13+3+10+3+12+3+(15/2)=51.399 F’b 9.03 144+10+3+12+3+(15/2)=179. poros output [mm] 1 63.5 2 49.333 0.