ARTIKEL PENELITIAN

Analisis Pengelolaan Obat Substitusi Narkotika Subuxone Di Rumah Sakit
Jiwa Prof.dr.V.L.Ratumbuysang Manado

Management Analysis of Substitution Narcotic Drugs Subuxone Regional
Hospital Ratumbuysang Manado

Reinne G. Wowiling 1) J. Posangi 2) Ch. R. Tilaar 1)
1)
Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado
2)
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Abstrak Petugas Balai POM, Petugas Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dan
Obat substitusi narkotika Subuxone Petugas PBF Kimia Farma. Data primer
adalah obat yang diawasi oleh pemerintah diambil dengan cara wawancara langsung
dalam penggunaannya dan diatur dalam dan data sekunder diambil dengan
Undang-undang No.35 tahun 2009 serta observasi dokumen, data dianalisis dengan
Permenkes No.58 tahun 2014 dan masih metode analisis isi yaitu membandingkan
banyak lagi peraturan pemerintah hasil penelitian dengan teori-teori yang
menyangkut narkotika. Apabila proses ada. (Saryono dan mekar 2013)
pengelolaan obat substitusi narkotika Hasil penelitian menunjukkan obat
Subuxone ini yang dimulai dari proses substitusi narkotika Subuxone adalah satu-
pemilihan, perencanaan, pengadaan, satunya obat untuk substitusi narkotika
penerimaan, penyimpanan, namun belum ada SOP dalam pengelolaan
pendistribusian, pemusnahan, obat substitusi narkotika ini. Hal ini
pengendalian, dan administrasi pencatatan disebabkan karena tidak berjalannya tugas
serta pelaporan (Anonimous 2014) tidak dan fungsi Tim Farmasi dan Terapi.
dilaksanakan secara optimal dan tidak Perencanaan obat dilakukan berdasarkan
sesuai dengan Standard Operational metode konsumtif namun tidak ada buffer
Procedure (SOP) akan berdampak negatif stock di apotik rumah sakit untuk obat
baik secara medik, sosial, ekonomi substitusi narkotika ini. Obat substitusi
maupun dapat terkait dalam proses hukum. narkotika Subuxone ini dibeli langsung
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis oleh apoteker dengan melampirkan surat
proses pengelolaan obat substitusi pesanan narkotika dan diterima oleh
narkotika Subuxone di RSJ Prof. dr. V. L. apoteker berdasarkan faktur pembelian.
Ratumbuysang. Setelah obat diterima, obat-obat tersebut
Penelitian ini menggunakan metode disimpan di gudang farmasi, akan tetapi
penelitian kualitatif yang bertujuan untuk tempat penyimpansn untuk obat narkotika
mendapatkan informasi yang lebih ini belum sesuai standar karena disimpan
mendalam tentang pengelolaan obat dalam lemari kayu yang sudah tua dan
substitusi narkotika Subuxone di RSJ hanya dikunci dengan 1 anak kunci.
Prof.dr.V.L.Ratumbuysang. Informan Distribusi obat substitusi narkotika bukan
yang dipilih dalam penelitian ini oleh apoteker tapi petugas klinik napza
berdasarkan pada prinsip kesesuaian dan yang tidak ada latar belakang pendidikan
kecukupan. Informan penelitian ini yaitu farmasi dikarenakan faktor keamanan.
Direktur Rumah Sakit, Kepala Instalasi Pemusnahan untuk obat substitusi
Farmasi, Apoteker, Petugas Klinik Napza, narkotika Subuxone tidak pernah
dilakukan namun evaluasi penggunaan

533

obat maupun pemusnahan obat masih economically and can be implicated to belum sesuai dengan standar. Hal ini.dr. Ratumbuysang. the Chief of Pharmacy narkotika. L. If the Subuxone narcotic has not accordance with the standard yet drug substitution management process that because it was stored in a wooden old started from the process of selection. Kefarmasian di Rumah Sakit yang Informants were selected in this study ditetapkan dalam Peraturan Menteri based on the principle of suitability and Kesehatan Nomor 58 Tahun 2014 serta adequacy. This study aims to dalam hal pencatatan dan pelaporan belum analyze the management process of berjalan dengan optimal. L. Kata Kunci : Pengelolaan. regulation of After the invoice was received. Terapi serta membuat SOP. control. Saran yang dapat diajukan yaitu Installation. dan PBF Kimia Farma serta Subuxone narcotic drug substitution was membuat laporan setiap bulannya dan the only medicine for drug substitution but dilaporkan kepada pimpinan rumah sakit. dr. V. The distribution of this destruction. Administrasi legal proceedings. the Pharmacists. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara. distribution. asylum. melakukan koordinasi dengan results of research with existing theories. The results showed that Balai POM. Farma. membuat the Officer of health bureau of North tempat penyimpanan obat narkotika yang Sulawesi. menambah tenaga sekuriti dan were taken by observing the document. Ratumbuysang insane evaluasi dari manajemen rumah sakit. dan Dinas Kesehatan Provinsi no SOP yet. socially.Ratumbuysang belum berjalan of Subuxone narcotic drug substitution at sesuai dengan Standar Pelayanan RSJ Prof. Dari penelitian ini dapat This study used a qualitative disimpulkan bahwa pengelolaan obat research method that aims to get more in- substitusi narkotika Subuxone di RSJ depth information about the management Prof. plan.V. The bekerjasama dengan pihak kepolisian dan data were analyzed by comparing the BNNP. the Officer of POM bureau.V. Primary data were collected by memperbaiki fasilitas yang ada di klinik direct interviewing and secondary data napza. safety factor. storage cabinet and only locked with a supply. Narkotika The medicine planning had done according to the method of consumptive Abstract but no buffer stock of this narcotic drug substitution at the hospital pharmacy.L.35 tahun 2009 tentang insane asylum. It was because of the Sulawesi Utara. storage. the law number 35 of 2009. They were the Director of the Undang-undang No. the Clinical perlu diaktifkan kembali Tim Farmasi dan Drug Officer. more government regulations concerning however the storeroom for narcotic drugs with narcotics. administration of substitution drug had not done by recording and report not in optimal pharmacists but by narcotics officer clinic implementation and out of Standard who has no pharmaceutical educational Operating Procedure ( SOP ) will give background because of considering the negative affect medically. and the officer of PBF Kimia sesuai dengan undang-undang. terjadi Subuxone narcotic drug substitution in karena kurangnya pengontrolan dan Prof. ineffectiveness duties and functions between pharmacy and therapeutics team. receipt. The Subuxone narcotic drug pharmacist had purchased it directly by substitution is a drug that is controlled by attaching narcotic letter of order and the government in its use and regulated in received based on invoice of purchasing. regarding with its management there had Balai POM. piece of key. The destruction of Subuxone 534 .dr. the drugs Minister of Health number 58 of 2014 and had stored in pharmacy storeroom.

Kasus penggunaan mewujudkan derajat kesehatan yang narkotika dan permasalahan yang timbul optimal bagi masyarakat. penerimaan. 5. Pengelolaan obat di rumah accordance with the law. Hal These happened because of lack of control tersebut diperjelas dalam Peraturan and evaluation by the hospital Menteri Kesehatan No. the suggestion is that needs to be sepenuhnya pada pengelolaan semua aspek reactivated of the Pharmacy and yang berkaitan dengan obat/perbekalan Therapeutics team and make the SOP.dr. Pendahuluan Pecandu narkotika pada dasarnya Upaya kesehatan adalah setiap merupakan korban penyalahgunaan tindak kegiatan untuk memelihara dan pidana narkotika yang melanggar meningkatkan kesehatan. Regarding with merupakan salah satu kegiatan dirumah recording and reporting of the sakit yang menunjang pelayanan kesehatan administration was not running optimally. POM bureau. antara masing-masing tahap akan mengakibatkan tidak efisiennya sistem suplai yang ada. Ketidakterkaitan Keyword: Management. report each month as well as reported to yang saling terkait satu dengan yang the hospital management. dan berkesinambungan. Suplemen Vol. pengendalian. Berdasarkan pendekatan pemeliharaan. lainnya sehingga harus terkoordinasi and Health Office of North Sulawesi. kesehatan yang beredar dan digunakan di making storage of narcotic drugs in rumah sakit. yang From this study it can be menyebutkan bahwa pelayanan farmasi concluded that the management of rumah sakit adalah suatu pelayanan Subuxone narcotic drug substitution at langsung dan bertanggung jawab kepada RSJ Prof. 58 tahun 2014 management. improve the drug sakit meliputi pemilihan. pencegahan penyakit Puslitkes UI Tahun 2011 tentang Survei /preventif. Narkoba di Indonesia didapatkan bahwa yang dilaksanakan secara menyeluruh. bertujuan untuk peraturan pemerintah. (Anonimous 2009) Konsep kesatuan upaya prevalensi penyalah guna narkotika yaitu kesehatan ini menjadi pedoman dan 535 . Narcotics. administrasi dan pelaporan of North Sulawesi. Nasional Perkembangan Penyalahgunaan dan pemulihan kesehatan/rehabilitatif.Ratumbuysang had not pasien yang berkaitan dengan sediaan run in accordance with the Standards of farmasi dengan maksud mencapai hasil Pharmaceutical Services in Hospital yet as yang pasti untuk meningkatkan mutu being regulated in the regulation of kehidupan pasien. No. cooperate with police and pendistribusian. secara menyeluruh dan terpadu. prevalensi penyalah guna narkotika terpadu. clinic existing facilities. meningkat tiap tahunnya. Upaya dari pemakaian narkotika semakin meluas kesehatan diselenggarakan dengan dan meningkat setiap tahun. add the security pengadaan. personnel.V. 2 April 2015 narcotic drug substitution had never done pegangan bagi semua fasilitas kesehatan di but both evaluation to the use and the Indonesia termasuk rumah sakit destruction of drugs still not in accordance Pelayanan farmasi rumah sakit with the standards. POM bureau. yang bertugas dan bertanggung jawab Thus. and making a regular kegiatan pelayanan (Anonimous 2014). dengan baik agar masing-masing dapat berfungsi secara optimal. tentang Standar Pelayanan Farmasi. BNNP. penyembuhan penyakit/kuratif. and coordinate with Health Office penghapusan. perencanaan.JIKMU.L.Pada tahun 2008. penyimpanan. and PBF serta evaluasi yang diperlukan bagi Kimia Farma. Instalasi farmasi rumah Minister of Health number 58 of 2014 and sakit adalah salah satu unit di rumah sakit law number 35 of 2009 about narcotics. peningkatan hasil penelitian BNN bekerjasama dengan kesehatan/promotif.

Dari Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) total pecandu yang ada. rawat inap dan klinik napza.dr. Prof. apoteker yang ada yaitu 5 orang dan serta memperbaiki fungsi sosial pasien. seluruh keperluan obat baik dari poli rawat Dalam pasal 54 Undang-undang Narkotika jalan.56% pada rumatan atau subtitusi.420/Menkes/SK/III/2010) 2015 akan meningkat menjadi 2. (KMK RI tahun 2013 serta diprediksikan pada tahun No. beberapa negara satu-satunya Institusi Penerima Wajib didunia telah menerapkan penanganan Lapor (IPWL) yang aktif dari 9 Institusi masalah narkoba melalui pendekatan Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang keseimbangan supply dan demand dengan terdaftar di Provinsi Sulawesi Utara.35 tahun 2009 disebutkan bahwa termasuk didalamnya obat substitusi pecandu narkotika wajib menjalani narkotika Subuxone. V. narkotika yang dilayani di rumah sakit dari Salah satu bentuk rehabilitasi medis yaitu data awal yang penulis dapatkan. Undang-Undang Narkotika No.Ratumbuysang sebanyak infeksi (HIV/AIDS dan Hepatitis) 41 orang dengan rincian 40 orang Laki- memperbaiki kesehatan fisik dan laki dan 1 orang perempuan.99% dan meningkat menjadi 2.Ratumbuysang merupakan permasalahan tersebut. Sedangkan penyalahguna narkotika.dr. 420/ Menkes/ SK/ (setara dengan ± 5. Obat substitusi rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. sehingga klien disebabkan karena faktor keamanan diarahkan untukmenggunakan terapi petugas. VIII/2013 tentang daftar Institusi Penerima (Anonimous.6 juta jiwa) dari Kesehatan Nomor 293/ MENKES/ SK/ pengguna adalah pecandu berat.L.L.dr.6.V. selain cara pemberantasan peredaran gelap dan itu juga Rumah Sakit Jiwa penyalahgunaan narkotika.V.6 juta jiwa dari III/ 2010 disebutkan bahwa rumah sakit populasi penduduk Indonesia) dan untuk mempunyai kewajiban untuk memberikan Sulawesi Utara sendiri terdapat 38. 2011) Wajib Lapor.V.1 . Rumah Sakit Jiwa Sebagai upaya penanganan Prof. setelah melayani terapi substitusi Subuxone proses detoksifikasi pada klien dianggap bukanlah dokter atau apoteker tapi petugas tidak cukup membantu atau tidakmungkin yang diberikan wewenang oleh dokter. asisten apoteker 15 orang.dr.Ratumbuysang juga memiliki layanan rehabilitasi bagi pecandu dan klinik napza yang berhubungan dengan korban penyalahgunaan narkotika.L. tidak dalam hal melayani terapi Substitusi memungkinkan untuk selalu diberikan Subuxone.35 tahun 2009 pasal 43 menerangkan bahwa 536 . dapat juga diberikan layanan Prof.80% KMK RI No. L. Rumah Sakit Jiwa menurut data UNODC tahun 2012.Ratumbuysang melayani rehabilitasi dalam bentuk rawat jalan. Ratumbuysang merupakan diperkirakan antara 153 – 300 juta jiwa salah satu rumah sakit pemerintah tipe B atau sebesar 3.1. di mana hampir 12% (15.V.5 juta Apoteker. tiga mengkonsumsi Narkoba sekali dalam apoteker pendamping dan 13 Asisten setahun. No. pelayanan rawat inap.370 layanan terapi dan rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba.6% penyalahguna yang memiliki instalasi Farmasi yang narkotika dunia usia 15 – 64 tahun pernah dipimpin oleh satu apoteker pengelola.L. narkotika yang mendapatkan terapi Terapi Substitusi Narkoba bertujuan substitusi Subuxone di klinik napza untuk mengurangi risiko terkait penyakit RSJ. Lampiran Keputusan Menteri jiwa sampai dengan 38. Selain layanan rawat Instalasi farmasi Rumah Sakit Jiwa inap. namunpetugas Terapi subtitusi dijalankan apabila yang bertugas di klinik napza untuk kebutuhan terapi rehabilitasi. pecandu dengan terapi substitusi. ini diterapkan untuk klien.5. mengurangi perilaku kriminal.4% . Jumlah psikologis. dan pemberian Prof.Prof. dr.

dr.V.JIKMU. artinya dimaksud dalam penelitian ini ialah jumlah dokumen tentang proses pengelolaan sampel tidak menjadi faktor penentu obat substitusi narkotika subuxone utama. akan tetapi kelengkapan data yang tidak lengkap dipentingkan. kesehatan masyarakat.dr. Suplemen Vol. Pemilihan Pengelolaan Obat Narkotika Subuxone di Rumah Sakit Jiwa Pemilihan adalah kegiatan untuk Prof.Ratumbuysang. dinas kesehatan. 2 (Dua) tempat termasuk dalam Substitusi Narkotika Subuxone diRumah kategori cukup. Kesesuaian ialah kurang lengkap sampel dipilih berdasarkan pengetahuan yang dimiliki yang berkaitan dengan topik c. 2(Dua) tempat termasuk dalam penelitian. dalam penelitian ini adalah dengan Selain itu juga pelayanan obat Narkotika menggunakan pedoman wawancara Subuxone yang tidak diambil langsung mendalam dan observasi dokumen.L. mendalam. (6)petugas klinik Napza.Ratumbuysang. 2 April 2015 penyerahan narkotika hanya dapat bagian pengadaan.V. (4)Apoteker yang dilakukan oleh apotek.L. Selanjutnya data tersebut dianalisis dengan metode analisis isi (content analysis). Waktu cukup lengkap pelaksanaan mulai bulan Desember 2014 b. No. Data oleh penyalahguna narkotika tapi harus primer diperoleh dari wawancara diambil oleh petugas klinik napza. rumah sakit. Prinsip kecukupan yang kategori sangat kurang. (Saryono. Data Substitusi Subuxone serta pencatatan dan yang telah dikumpulkan melalui pelaporan narkotika baik itu ke rumah wawancara mendalam diolah dengan sakit. Pemilihan kategori kurang.V. balai POM dan membuat transkrip hasil pembicaraan BNNP yang belum berjalan dengan baik. tentang proses pengelolaan obat Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit substitusi narkotika subuxone sebagian Jiwa Prof. pusat bertugas pada bagian penyimpanan. (3)Apoteker yang bertugas pada formularium dan standar pengobatan/ 537 . Pemilihan obat berdasarkan apotek. Yang menjadi informan adalah yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan sasaran 1.Ratumbuysang yaitu menetapkan jenis obat sesuai dengan (1)Direktur .L. dengan 1 anak Teknik pengumpulan data yang digunakan kunci dan pemegang kunci hanya 1 orang. Dari hasil observasi dan Napza. penyimpanan obat (7)Petugas PBF Kimia Farma. 1(Satu) tempat termasuk dalam sampai dengan April 2015. artinya dokumen Sakit Jiwa Prof.dr. kayu yang sudah lama. 2013) Metode Hasil dan Pembahasan Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk Dari beberapa kriteria observasi tersebut mendapatkan informasi yang lebih didapatkan hasil sebagai berikut : mendalam tentang Pengelolaan Obat a. tersebut. 5. sedangkan data sekunder penyalahgunaan cara pemakaian obat diperoleh dari observasi dokumen. artinya dokumen sampel pada penelitian ini berdasarkan tentang proses pengelolaan obat prinsip kesesuaian (appropriatness) dan substitusi narkotika subuxone masih kecukupan (adequacy). wawancara awal. (8)BPOM narkotika Subuxone disimpan di lemari dan (10)Dinas Kesehatan Kota Manado. (2)Apoteker pengelola kebutuhan. balai pengobatan (5)Dokter Penanggungjawab Klinik dan dokter.

obat dengan menggunakan metode yang Karena apabila Tim Farmasi dan Terapi dapat dipertanggungjawabkan dan dasar- rumah sakit berjalan dengan baik maka dasar perencanaan yang telah ditentukan mereka dapat menetapkan pemilihan obat antara lain konsumtif. dan Nita penilaian jenis obat adalah untuk memilih 2008) obat-obatan yang secara nyata dibutuhkan dalam pelayanan kepada pasien. disimpulkan bahwa obat substitusi narkotika Subuxone adalah satu-satunya Dari hasil wawancara dikatakan bahwa pilihan obat substitusi narkotika yang ada formularium rumah sakit memang sudah di Sulawesi Utara dan rumah sakit yang ada namun SOP untuk pengelolaan obat di melaksanakan fungsi substitusi narkotika rumah sakit belum semuanya ada begitu subuxone adalah RSJ pula dengan SOP untuk pengelolaan obat Prof. yang telah ditetapkan. harga. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin dengan cara Berdasarkan hasil wawancara dapat menghindari duplikasi dan kesamaan jenis. Bahwa obat yang dipilih efektifitas dan keamanan. yang baik dan sesuai dengan kebutuhan kombinasi metode konsumtif dan pasien yang ada di rumah sakit. pengobatan memberikan efek terapi jauh lebih baik berbasis bukti. epidemiologi.Prof. Dari hasil tersedianya obat metadone serta observasi dokumen didapatkan semua administrasinya belum berjalan dengan instansi yang terkait dengan pengelolaan baik sehingga dikhawatirkan oleh petugas obat narkotika tidak mempunyai SOP apabila obat ini tidak tersedia setiap tentang pengelolaan obat narkotika. Perencanaan sudah terbentuk namun dalam pelaksanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan tugasnya belum berjalan dengan baik.Ratumbuysang yang adalah narkotika yang seharusnya ada karena obat satu-satunya rumah sakit jiwa yang ada di narkotika adalah obat dengan pengawasan Sulawesi Utara yang memiliki fasilitas yang ketat dan diatur dalam Undang- klinik Napza yang walaupun klinik ini Undang Narkotika No.V.dr. Anshari epidemiologi dan disesuaikan dengan (2009). menyatakan bahwa fungsi anggaran yang tersedia. dengan segala keterbatasan sarana dan dimana dalam pasal 4 Undang-Undang prasarana yang ada merupakan satu. Apoteker 538 . statistik. Hal ini Semua informan menjawab bahwa bisa dilihat dari tingkat konsumsi dan yang merencanakan obat substitusi prevalensi penyakit dasar seleksi tiap item subuxone adalah apoteker.35 tahun 2009 .L. pola penyakit. Perencanaan adalah cara atau langkah- langkah yang harus dilalui atau proses Tim Farmasi dan Terapi di dalam membuat suatu rencana untuk RSJ.dr. ketersediaan dibandingkan resiko efek samping yang di pasaran.pedoman diagnosa dan terapi. medik. mutu. Ratumbuysang memang mencapai tujuan tertentu. Perencanaan akan tercapai dosis yang diharapkan dan dampak yang tidak diinginkan bagi pasien. standar obat obat adalah berdasarkan seleksi ilmiah. (Seto s. (Permenkes No.58 tahun 2014) akan ditimbulkan.L. Narkotika bertujuan untuk : satunya tempat yang cocok untuk Tim Farmasi dan Terapi rumah sakit pelayanan substitusi narkotika subuxone dalam melaksanakan tugas dan tanggung terhadap penyalahguna narkotika jenis jawabnya apabila dilaksanakan dengan opioid.V. bulannya maka penyalahguna narkotika tidak bisa mendapatkan obat secara teratur setiap bulannya dapat mengakibatkan tidak 2. Menurut beberapa informan baik maka pengelolaan obat di suatu memang ada pilihan obat substitusi yang rumah sakit beserta dengan lain yaitu Program Terapi Rumatan administrasinya pasti akan berjalan baik Metadone (PTRM) namun dalam hal dan sesuai dengan prosedur.

58 thn 2014) WHO instalasi farmasi rumah sakit yang apabila menyebutkan bahwa ada 4 (empat) strategi tidak bisa mengambil obat tersebut dapat dalam pengadaan obat yang baik yaitu: memberikan surat kuasa kepada apoteker a. instalasi farmasi rumah sakit dan harus ada jumlah. Anif (1997) anggaran yang tersedia yang dasar-dasar perencanaan yaitu sebagai berkesinambungan. Namun apoteker.JIKMU. Dan mahal dengan jumlah yang tepat syarat ini sudah dilakukan dalam pengadaan obat substitusi narkotika 539 . Pengadaan yang (SP2) dan harus ditandatangani oleh kepala efektif harus menjamin ketersediaan. Pengadaan subuxone maka itu dianggap obat yang ilegal. ini sesuai dengan hasil untuk obat substitusi narkotika subuxone wawancara kepada semua informan. dari hasil konsumtif dengan melihat dari stok wawancara dengan informan ini terakhir.(Permenkes No. Tetapi PBF Kimia Farma diserahkan kembali kepada apoteker di sebagai pihak penyedia selalu apotik untuk nantinya dibeli lagi sesuai menyediakan buffer stock 10-20% sesuai dengan dosis setiap pasien. Sejalan dengan dengan prosedur yang ada. Adapun syarat pengadaan obat Pengadaan merupakan kegiatan yang substitusi narkotika subuxone yaitu harus dimaksudkan untuk merealisasikan disertai dengan surat pesanan narkotika perencanaan kebutuhan.03660 tentang pengaturan kekosongan obat pada waktu-waktu khusus penyaluran dan penyerahan tertentu. 2 April 2015 merupakan orang yang paling tahu b. jumlah dana yang tersedia subuxone untuk setiap bulannya dapat disesuaikan antara kebutuhan dang terpenuhi. Dan instalasi farmasi rumah sakit tidak metode yang digunakan yaitu metode menyediakan buffer stock. No. dan waktu yang tepat dengan cap rumah sakit. Menurut Moh.PO. Obat substitusi narkotika subuxone di dan menyusun daftar untuk bagian Indonesia hanya disediakan oleh PBF pembelian. untuk dipercaya dengan produk yang obat substitusi subuxone direncanakan berkualitas oleh kepala instalasi farmasi dan apoteker c. jumlah pemakaian dan alokasi disebabkan karena penyalahguna narkoba anggaran. Suplemen Vol. pengadaan yang baik jika ketersediaan obat substitusi narkotika sumber dana. buprenorfin sebagai salah satu pemenuhan syarat.31. Dampak yang dapat terjadi jika Kimia Farma sejak tahun 2010 lewat Surat rumah sakit tidak dapat merencanakan Keputusan Kepala BPOM kebutuhan obat maka akan terjadi NO. Seleksi terhadap supplier yang dapat penggunaan obat di rumah sakit. Jadi cara pengadaan obat kerapkali membongkar gudang substitusi narkotika subuxone dapat penyimpanan instalasi farmasi rumah sakit digambarkan bahwa pasien membeli obat khususnya tempat penyimpanan obat kepada petugas klinik napza dan dana itu narkotika.01. Pastikan ketepatan waktu pengiriman yang ditugaskan di bagian depo farmasi. menghitung bahan-bahan yang dibutuhkan. Obat substitusi narkotika harga yang terjangkau dan sesuai standar subuxone ini harus diambil oleh kepala mutu. Pengadaan obat-obat dengan harga yang ditugaskan di atas meterai. sehingga quick dkk. obat Adapun metode yang digunakan untuk d. Mencapai kemungkinan termurah dari perencanaan obat substitusi narkotika harga total subuxone adalah metode konsumtif yang Yang melakukan pengadaan obat dilihat dari jumlah stok akhir dan alokasi substitusi narkotika subuxone adalah anggaran serta jumlah pemakaian. Sehingga apabila ada pedagang besar farmasi yang mengeluarkan obat 3. ramalan tahunan/ bulanan dari pemasaran. 5.

bulannya yang walaupun tidak terdapat buffer stock untuk obat substitusi narkotika Dan yang menjadi syarat untuk ini di RSJ.dr . Ratumbuysang.dr.Ratumbuysang.L. Beberapa Keputusan Kepala BPOM NO.L. informan beserta dengan informan level 03660 tentang pengaturan khusus atas menjamin akan ketersediaan obat penyaluran dan penyerahan buprenorfin substitusi narkotika subuxone setiap sebagai salah satu pemenuhan syarat. karena apabila standard operational Hal ini.3 1. dahulu kesesuaian akan jenis. expired date. disimpulkan bahwa sesuai dengan procedur tidak ada maka sangat mudah standar yang ada sudah berjalan dengan bagi seseorang untuk menyalahgunakan baik. Selain itu juga pihak rumah sakit terbuka untuk bekerjasama dengan petugas baik itu dari pihak kepolisian. rumah sakit dan harus diambil oleh apoteker dan itu sudah dilakukan di RSJ Pengadaan obat substitusi narkotika Prof.dr.V. pengadaan obat substitusi narkotika namun pihak rumah sakit sudah subuxone yaitu harus ada surat pesanan bekerjasama dengan PBF Kimia Farma narkotika yang ditandatangani oleh kepala agar supaya obat subuxone ini selalu instalasi farmasi rumah sakit dengan cap tersedia setiap bulannya. penegelolaan obat substitusi narkotika subuxone.V. dan diawasi batch sehingga apabila didapatkan obat dengan undang-undang. dan untuk subuxone yang ilegal sebagian informan menghindari pengadaan obat yang ilegal mengatakan tidak mungkin terjadi karena pada setiap tablet subuxone ditaruh nomor ketatnya cara pengadaan. Tetapi ada informan yang menjawab sangat mungkin terjadi pengadaan obat ilegal di rumah sakit karena faktor 4. PO. Penerimaan individual. selain itu juga ada subuxone yang ilegal maka bisa dilihat syarat-syarat khusus untuk pengadaan obat nomor pada nomor batch dan bisa narkotika dan harus ditandatangani oleh diketahui obat subuxone ini berasal dari apoteker penanggung jawab serta yang daerah ataupun PBF Kimia farma yang bertugas mengambil obat harus apoteker. mana. farmasi dan apoteker penerimaan barang. 01. walaupun sistem yang ada sudah ketat namun dengan banyaknya Hasil wawancara dan observasi kegiatan pelayanan kesehatan yang bisa langsung yang didapat menunjukkan memunculkan sifat individual seseorang bahawa obat substitusi subuxone setelah menjadi tidak terkontrol dan berlindung di dibeli di PBF Kimia Farma maka akan bawah rumah sakit dan menjadikan rumah diterima oleh apoteker di bagian sakit sebagai perlindungan untuk tidak penyimpanan dengan diperiksa terlebih dapat tersentuh dengan hukum. serta faktur yang ada yang Solusi yang diberikan oleh para menjadi dokumen pegangan oleh instalasi informan antara lain SOP harus dibuat. Selain itu juga penulis Obat substitusi narkotika subuxone ini melakukan wawancara khusus dengan PBF diambil setiap 2 minggu sekali oleh Kimia Farma dalam hal pengadaan obat apoteker yang selanjutnya akan disimpan substitusi narkotika subuxone dan dalam gudang penyimpanan narkotika dan didapatkan hasil bahwa satu-satunya nantinya akan didistribusikan ke klinik penyedia obat substitusi narkotika napza untuk diberikan kepada pasien subuxone di Indonesia hanya oleh PBF narkotika yang mengikuti program Kimia Farma sejak tahun 2010 lewat Surat substitusi narkotika subuxone. wewenang. 5.Prof. untuk bersama-sama dalam hal mengawasi Ratumbuysang.V . jumlah.subuxone di RSJ Prof . Dinas Kesehatan dan Balai POM 540 .L. Penyimpanan BNN.

dr.Ratumbuysang yaitu apoteker.dr. No. alat kesehatan. stabilitas. dan ketepatan waktu. Hasil wawancara dengan informan level atas memang mengakui tempat Menurut Undang-Undang Narkotka penyimpanan obat narkotika yang sampai No. narkotika mereka sesuai dengan standar Setelah obat substitusi subuxone diterima Permenkes No. dkk narkotika yang tidak memenuhi standar 1997)Setelah obat disimpan di gudang akan belum ada realisasi sampai saat ini.Ratumbuysang tidak jenis.V.JIKMU. penyimpanan selanjutnya akan biasanya ketika ada pemeriksaan dari Balai didistribusikan ke klinik napza.V.L. yang dapat menjamin terlaksananya Beberapa informan mengatakan mereka pengawasan dan pengendalian sediaan selalu mengusulkan kepada pimpinan farmasi. dari hasil POM maka pasti ada temuan mengenai wawancara beberapa informan menyatakan tempat penyimpanan obat narkotika yang bahwa obat subuxone di ambil oleh asisten tidak memenuhi standar dan hasil temuan apoteker di apotik yang selanjutnya selalu diteruskan kepada pimpinan rumah diberikan kepada pasien di klinik napza sakit.58 tahun 2014 yang disertai di instalasi farmasi perlu dilakukan dengan pengecekan kartu stok dan penyimpanan sebelum dilakukan pengecekan obat setiap 2 minggu sekali pendistribusian. Penyimpanan harus dapat yang disesuaikan dengan program aplikasi menjamin kualitas dan keamanan sediaan yang ada sehingga keamanan serta farmasi. alat kesehatan. penulis juga persyaratan yang ditetapkan disertai melakukan wawancara dengan PBF Kimia dengan sistem informasi yang selalu Farma dan Balai POM yang menjamin ketersediaan perbekalan farmasi menggambarkan tempat penyimpanan obat sesuai kebutuhan. 2 April 2015 Penyimpanan adalah suatu kegiatan contoh tentang tempat penyimpanan obat pengaturan perbekalan farmasi menurut narkotika yang baik. akan tetapi administrasi untuk perubahan kedepan selanjutnya dikatakan informan yang lain yang lebih baik. Rumah memenuhi standar dan ini sudah sakit harus menentukan sistem distribusi berlangsung selama bertahun-tahun. Dan untuk mendapatkan bahwa yang mendistribusikan obat 541 . habis pakai sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Prof.L. memberikannya kepada pasien di klnik napza. alat kesehatan. dan bahan medis Dari hasil wawancara dengan informan habis pakai dari tempat penyimpanan disimpulkan bahwa gudang penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien obat khususnya obat narkotika di RSJ dengan tetap menjamin mutu. (Quick. Untuk penyimpanan obat 6. Menurut beberapa informan belum namun hal ini tidak sependapat dengan terealisasinya tempat penyimpanan yang informan yang lain bahwa yang memenuhi standar disebabkan juga karena mengambil obat adalah petugas klinik pimpinan rumah sakit yang sering napza yang tidak memiliki pendidikan berganti-ganti sehingga kebijakan yang medis yang selanjutnya dia akan ada pun sering berubah. Suplemen Vol. akan memberikan obat narkotika adalah tetapi rumah sakit sementara dalam apoteker atau asisten apoteker yang perbaikan baik itu secara fisik dan didampingi oleh apoteker. dan bahan medis tentang tempat penyimpanan obat habis pakai di unit pelayanan. dan bahan medis ketersediaan obat selalu terjaga.35 tahun 2009 yang berhak saat ini belum memenuhi standar. farmasi. 5. jumlah.(Henni Febriawati 2013). Pendistribusian substitusi Subuxone harus oleh apoteker dan dari hasil wawancara disebutkan Distribusi merupakan suatu rangkaian bahwa yang menyimpan obat substitusi kegiatan dalam rangka narkotika subuxone di RSJ menyalurkan/menyerahkan sediaan Prof.

dr. rumah sakit mempunyai 5 apoteker dan 15 Hasil wawancara dengan informan asisten apoteker akan tetapi karena prilaku yang lain mengatakan bahwa alasan bukan dari pasien yang tidak baik maka tugas. Beliau juga menakut-nakuti petugas dengan jarum menyampaikan bahwa untuk mengatasi suntik bekas. Hal inilah yang masalah ini rumah sakit akan bekerjasama menyebabkan proses distribusi dari apotik dengan pihak kepolisian dan Badan ke klinik napza dan pemberian obat kepada Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi pasien tidak sesuai dengan prosedur yang Utara untuk bersama-sama menanggulangi ada. Pemusnahan disuntikkan dapat menyebabkan Hepatitis B atau C. RI. dengan cara disuntik intravena. Jumlah pakai yang benar. Akan sebagian tidak mendengarkan tetapi karena obat narkotika diawasi ketat penyampaian petugas dan menggunakan dan diatur dalam undang-undang. efek samping bila Apoteker 5 orang dan asisten apoteker disalahgunakan dan harus sesuai dosis sebanyak 15 orang. akan tetapi sehingga membuat tidak adanya waktu pasien substitusi narkotika subuxone untuk bisa bertugas di klinik napza. manajemen rumah sakit harus mampu Informan level atas juga mendelegasikan kepada kepala instalasi menyampaikan bahwa umtuk proses farmasi rumah sakit untuk dapat membagi pendistribusian belum sesuai prosedur tugas kepada semua apoteker yang ada karena petugas klinik napza yang tidak sehingga semua tugas. pokok dan fungsi mempunyai latar belakang farmasi masing-masing apoteker dapat terlaksana ditugaskan di klinik napza sedangkan dengan baik.Ratumbuysang dan dari bila: hasil wawancara hampir semua informan a.dr. Hal ini sejalan dengan ( Kemenkes masalah ini. suka klinik napza untuk tidak menyediakan mengancam baik dengan senjata tajam tempat duduk bagi pasien substitusi bahkan dengan senjata api dan selalu subuxone agar supaya setelah menginginkan dosis yang tidak sesuai mendapatkan obat mereka segera pulang. Produk tidak memenuhi persyaratan mengetahui terjadi penyalahgunaan cara mutu 542 . Beberapa informan apoteker ini disebabkan karena kurangnya berkata sebelum memberikan obat kepada tenaga apoteker di RSJ pasien mereka sudah menjelaskan cara Prof.V.L.L. apoteker yang langsung memberikan obat pokok dan fungsi apoteker tidak berjalan substitusi narkotika subuxone kepada dengan baik dan untuk mengatasi masalah pasien disebabkan karena pasien yang itu sudah diinstruksikan kepada petugas mempunyai sikap pemarah. 2014 pemusnahan dan penarikan obat yang Pemakaian obat substitusi narkotika tidak dapat digunakan harus dilaksanakan subuxone dengan cara sublingual oleh dengan cara yang sesuai dengan ketentuan penyalahguna disalahgunakan dengan cara peraturan perundang-undangan yang disuntik intravena terjadi di klinik napza berlaku.V.substitusi narkotika subuxone bukan pakai obat tersebut. dan Infeksi darah . mempunyai tugas yang diberikan oleh dokter dan masing-masing serta adanya tugas malam disampaikan berulangkali. Pemusnahan dilakukan untuk obat RSJ Prof. Endokarditis Dalam Permenkes Nomor 58 Tahun (Infeksi jantung). dengan nasehat dokter. Infeksi HIV/AIDS.Ratumbuysang. Selain itu juga Akan tetapi pasien substitusi subuxone pasien yang mengikuti program substitusi sering datang bergerombol dan subuxone ini juga sudah terpapar dengan menggunakan obat substitusi subuxone virus HIV dan Hepatitis B dan sering secara bersama-sama.2006) bahwa Komplikasi medik akibat penggunaan Heroin dengan cara 7.

Suplemen Vol. pelaksanaan BPOM sering melakukan monitoring dan pemusnahan disaksikan oleh Kepala evaluasi di RSJ. atau Kabupaten. dan bahan medis habis pakai hasil observasi dokumen pencatatan dan dapat dilakukan oleh instalasi farmasi pelaporan di apotik dan klinik napza sudah harus bersama dengan Tim Farmasi dan lengkap.Prof. namun untuk pengelolaan obat substitusi narkotika subuxone khususnya belum Sehingga dalam hal pemusnahan obat pernah dilakukan. Kadaluwarsa obat substitusi subuxone hanyalah apoteker rumah sakit sehingga tidak c. bahan alat kesehatan habis.L. pelaksanaan pemusnahan Hasil wawancara dengan BPOM dan disaksikan oleh Balai POM setempat. Hal tersebut mengingat bahwa berita acara untuk pemusnahan obat lebih dari 90% pelayanan kesehatan di narkotika yang diatur dalam surat edaran rumah sakit menggunakan perbekalan Direktur Pengawasan Obat dan Makanan farmasi (obat-obatan.V. alat berugas di bidang depo farmasi dan dari kesehatan. Ini sejalan dengan Suciati dan ada yang kadaluarsa ini disebabkan karena Adisasmito (2006). propinsi.dr. Dinas Kesehatan Provinsi SULUT 2. Pengendalian rumah sakit dicatat oleh apoteker yang penggunaan sediaan farmasi. Akan tetapi dari dan sekaligus merupakan revenue center hasil observasi dokumen tidak ditemukan utama. 2 April 2015 b. bahan No. Bagi apotek yang berada di tingkat dari pengelolaan perbekalan farmasi. 8.Ratumbuysang Dinas Kesehatan Tingkat II.010/E/SE/1981 tanggal 8 Mei 1981 radiologi.JIKMU. Bagi apotek yang berada di Kotamadya mengenai monitoring dan evaluasi. (Permenkes substitusi narkotika subuxone menurut No. dan 50% dari yang dimaksud adalah: seluruh pemasukan rumah sakit berasal 1. Tidak memenuhi syarat untuk memenuhi standar kefarmasian. Dengan dipergunakan dalam pelayanan tidak berjalannya tugas dan fungsi Tim kesehatan atau kepentingan ilmu Farmasi dan Terapi sehingga banyak sekali pengetahuan kekurangan dan tidak optimalnya dalam d. Begitu pun dengan dinas substitusi subuxone belum memenuhi kesehatan provinsi SULUT belum pernah standar farmasi. dan bahan Pencatatan obat substitusi subuxone di medis habis pakai. alat kesehatan. bahan kimia. alat tentang pelaksanaan pemusnahan narkotika kedokteran. Dicabut izin edarnya pengelolaan obat substitusi narkotika Dari hasil wawancara didapatkan subuxone bahkan pengelolaan obat secara bahwa tidak pernah dilakukan pemusnahan umum di rumah sakit yang dapat obat narkotika di rumah sakit dan obat menyebabkan penurunan pendapatan dan substitusi narkotika subuxone tidak pernah kerugian. dan gas medik). Pengendalian Pengendalian dilakukan terhadap jenis 9. 5. melakukan monitoring dan evaluasi karena keterbatasan dana yang ada.58 tahun 2014) beberapa informan dari apotik rumah sakit sudah dilaporkan ke pimpinan rumah sakit Dari hasil wawancara dengan informan dan sudah dilaporkan ke Balai POM dan Tim Farmasi dan Terapi di rumah sakit Dinas Kesehatan Provinsi SULUT tetapi sudah terbentuk namun belum berjalan hal ini tidak sejalan dengan informan dari dengan baik sehingga yang mengendalikan Balai POM dan Dinas Kesehatan yang 543 . bahwa Pelayanan obat subuxone di apotik tidak ada buffer farmasi merupakan pelayanan penunjang stock dan selalu habis. namun dalam hal pelaporan obat Terapi (TFT) di Rumah Sakit. Pencatatan dan pelaporan dan jumlah persediaan dan penggunaan sediaan farmasi. No.

pemusnahan mungkin terjadi pengadaan obat ilegal dan penarikan obat. apoteker penyimpan dengan memperlihatkan faktur dan surat Pencatatan dilakukan untuk 1) pesanan narkotika persyaratan Kementerian Kesehatan/ BPOM 2) dasar akreditasi Rumah Sakit 3) 5. bulan karena PBF Kimia Farma selalu penerimaan.L.V. yang komprehensif mengenai kegiatan di 6. Obat menyebabkan kekurangn informasi dari substitusi narkotika subuxone adalah berbagai pihak dan dapat memunculkan satu-satunya pilihan obat substitusi saat masalah seperti yang dikatakan oleh ini di RSJ Prof. Pelaporan dibuat karena setiap obat subuxone selalu secara periodik yang dilakukan Instalasi disertai dengan nomor batch di setiap Farmasi dalam periode waktu tertentu tabletnya. Pengadaan obat substitusi narkotika dan pelaporan di RSJ subuxone stiap 2 minggu sekali. pendistribusian. karena subuxone oleh apoteker dan Permenkes Nomor 58 Tahun 2014 mempunyai syarat khusus untuk menyatakan bahwa administrasi harus pengadaan obat yaitu harus ada surat dilakukan secara tertib dan pesanan narkotika yang ditandatangani berkesinambungan untuk memudahkan oleh kepala instalasi farmasi rumah penelusuran kegiatan yang sudah berlalu. terjadi dan bagaimana mengatasi masalah. Anshari (2009) bahwa dengan kurangnya Tim farmasi dan terapi yang sudah kontrol dan evaluasi maka sulit terbentuk namun belum optimal dalam mengidentifikasi masalah apa yang sedang melaksanakan tugas dan fungsinya. triwulanan. pengendalian ada buffer stock 10-2-%. konsumtif tanpa buffer stock di apotik Hal ini dapat disimpulkan bahwa rumah sakit.Ratumbuysang dan inilah yang substitusi narkotika subuxone. Kegiatan administrasi terdiri dari surat kuasa dari kepala instakasi Pencatatan dan Pelaporan terhadap farmasi rumah sakit dan harus diambil kegiatan pengelolaan obat yang meliputi oleh apoteker.dr. Pendistribusian obat substitusi instalasi farmasi dan 3) laporan tahunan.58 tahun 2014 sebagai 1) komunikasi antara level dan tempat penyimpanan obat di rumah manajemen 2) penyiapan laporan tahunan sakit belum sesuai standar.V. 2.L. Belum adanya SOP Pengelolaan obat Prof. Dan tidak persediaan. semester atau pertahun).mengatakan bahwa mereka tidak pernah menerima laporan dari RSJ 1. pengelolaan administrasi baik pencatatan 3. Ketersediaan obat setiap perencanaan kebutuhan. sakit disertai dengan cap rumah sakit.dr.L. Jenis-jenis pelaporan yang 4.L.dr.Ratumbuysang adalah narkotika subuxone belum pernah apoteker dan menggunakan metode dilaporkan kepada pimpinan rumah sakit. (bulanan.Ratumbuysang. Penyimpanan obat narkotika harus dasar audit Rumah Sakit dan 4) apoteker dan syaratnya harus sesuai dokumentasi farmasi.V.Ratumbuysang belum sesuai Pengadaan obat substitusi narkotika dengan standar kefarmasian. Perencanaan obat substitusi narkotika Hal ini juga ditegaskan oleh informan level subuxone di RSJ atas bahwa pelaporan obat substitusi Prof. Pelaporan dilakukan dengan permenkes no. Penerimaan obat substitusi narkotika dibuat menyesuaikan dengan peraturan subuxone oleh apoteker kepada yang berlaku.V. pengembalian. narkotika subuxone bukan diambil oleh apoteker di apotik dan yang menyerahkan obat substitusi narkotika Kesimpulan subuxone kepada pasien di klinik 544 . pengadaan. Prof.dr.

substitusi narkotika subuxone 8. Membuat SOP tentang obat hal ketersediaan obat substitusi substitusi narkotika subuxone narkotika subuxone agar supaya selalu tersedia b. evaluasi pemusnahan obat narkotika yang diatur dan pengawasan terhadap obat dalam peraturan pemerintah. 2006. Pemusnahan obat substitusi narkotika Dinas Kesehatan Kota Manado subuxone belum pernah dilakukan ataupun Provinsi SULUT serta akan tetapi belum adanya berita acara BNNP untuk monitoring. Memperbaiki fasilitas yang ada di mengancam petugas atau faktor klinik napza keamanan petugas.Ratumbuysang Koordinasi dengan rumah sakit dalam a. No. Balai POM. Provinsi Sulawesi Utara 2. Mengaktifkan kembali Tim Farmasi dan Terapi dalam menjalankan fungsinya yang sangat penting dalam penelolaan obat rumah sakit KEPUSTAKAAN c. Bagi dinas Kesehatan provinsi Provinsi Sulawesi Utara sulawesi Utara Dapat melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan obat substitusi narkotika subuxone Saran 4. Membuat tempat penyimpanan obat narkotika yang sesuai dengan Adisasmito dan suciati.dr. Bagi PBF Kimia Farma 1. Belum pernah laporan kepada Balai POM.L. Bagi Balai POM 9. Dinas dilakukan monitoring dan evaluasi baik Kesehatan Provinsi SULUT. Kekurangan tenaga pengamanan di rumah sakit. dengan tugas. Pengendalian obat substitusi narkotika h. 2 April 2015 napza bukan apoteker atau asisten sesuai dengan latar belakang apoteker dikarenakan pasien yang pendidikan memiliki sikap pemarah.JIKMU. dan e. Pencatatan obat substitusi narkotika Dapat melakukan monitoring dan subuxone oleh apoteker rumah sakit evaluasi terhadap pengelolaan obat sudah baik akan tetapi tidak pernah ada substitusi narkotika subuxone laporan ke pimpinan rumah sakit . BNNP dari pihak rumah sakit maupun dari ataupun PBF Kimia Farma setiap Balai POM dan dinas Kesehatan bulannya.V. Suplemen Vol. Balai POM dan Dinas Kesehatan 3. Membuat laporan dan dilaporkan subuxone oleh apoteker bukan tim kepada pimpinan rumah sakit serta farmasi dan terapi karen belum mengirimkan atau membawa berjalan dengan optimal. Terjadi f. Melakukan rapat koordinasi dengan terhadap hal itu PBF Kimia Farma. pokok dan fungsi dan 545 . 5. 7. Menambah tenaga sekuriti atau penyalahgunaan cara pakai obat kerjasama dengan pihak kepolisian substitusi narkotika subuxone oleh dan BNNP pasien dan belum adanya solusi g. Analisis undang-undang Perencanaan Obat Berdasarkan ABC d. Bagi RSJ Prof. Pembagian tugas yang jelas sesuai indeks kritis di Instalasi Rumah Sakit.

199/MenKes/SK/X/1996 tentang penunjukan pedagang besar farmasi dalam hal pengadaan obat Narkotika Subuxone Surat edaran Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM No.Jurnal Manajemen Kesehatan.420/Menkes/SK/III/2010 tentang pedoman layanan terapi dan rehabilitasi komprehensif pada gangguan penggunaan Napza berbasis rumah sakit KMK No. 2013. D. Anonimous. Jakarta. 2014.A. Survey BNN dan Puslitkes UI Tahun 2011 tentang Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Anonimous. Undang-Undang No. KMK No. 2010. 2009. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58. Jakarta. Vol 09/No. Departeman Kesehatan Republik Indonesia. tentang Pedoman layanan terapi dengan Rehabilitasi Komperehensif pada Gangguan Penggunaan Napza berbasis rumah sakit.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Bidang Kesehatan. Anonimous.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 2009. Undang-Undang No. Yogyakarta 546 . 336/E/SE/1997) Saryono dan Mekar. Jakarta. 420/Menkes/SK/III/2010.01 Anonimous. 2011. KMK RI No. Anonimous. Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit.