Pembuatan daftar periksa (cheklist) analisa risiko

Daftar periksa dibuat untuk membantu mengidentifikasi berbagai kemungkinan atau bahaya
yang ada ditempat kerja. Untuk membuat daftar periksa harus dengan perencanaan yang
menyeluruh dan dibuat oleh orang yang mengerti tentang kondisi yang menyeluruh dari
proses produksi berdasar pedoman atau standar yang harus dipenuhi.
Contoh daftar periksa: 80 SUMBER BAHAYA RISIKO YANG MUNGKIN
NO TERJADI
misalnya gergaji, gerinda, Mesin, alat mekanik atau Tergencet, terpotong,
bor yang tidak dilindungi peralatan tangan, tergores,
bagian-bagian berbahayanya. terjerat, terjepit, tertusuk, terkena
gerakan mesin, tertimpa
2 Bahan Kimia yang mudah Dermatitis, asma, terbakar,
terbakar,mudah meledak
dan beracun: tinner, bensin, solar, keracunan, kebakaran, peledakan
pelarut, spritus,
alcohol, dll yang berada dalam tidak terkendali.
Debu, asap, uap bahan kimia padat, cair, dll
3 Dataran kerja yang tidak Terjatuh, tersandung,
rapi: lantai terbuka, licin, terjepit,
ceceran oli, sisa-sisa bahan berserakan tertusuk, terantuk, terpeleset
4 Jaringan kabel listrik yang Kesetrum, terbakar,
terbuka, steker yang kebakaran,
berlebihan, penggunaan peralatan listrik peledakan
yang tidak
standar
5 Lalu lalang kendaraan: Tertabrak, terlindas,
forklift, truk, mobil yang terjepit dll
tidak teratur
6 Mesin atau proses yang Tuli sementara, tuli
mengeluarkan: kebisingan permanen,
tinggi, getaran yang tinggi, radiasi panas kesemutan, pingsan, gatal-gatal,
yang
berlebihan stroke panas

5. Pengukuran risiko bahaya dapat dilakukan dengan:

a. Pengukuran lingkungan kerja
Pengukuran lingkungan kerja dilakukan pada saat kita mencurigai suatu proses yang dirasa
sudah memberikan pengaruh terhadap ketidak nyamanan dalam bekerja. Misalnya adanya
kebisingan yang sudah mengganggu proses komunikasi, debu yang sudah mengganggu
pernapasan, gas yang sudah mengganggu konsentrasi kerja dan lain-lain.
b. Pemeriksaan peralatan proses produksi

Pemeriksaan peralatan proses produksi dilakukan pada saat awal pemakaian dan secara
berkala. Peralatan yang sudah dicurigai kelayakan kerjanya harus diuji oleh petugas yang
kompeten dan tersertifikasi terutama peralatan produksi dan alat-alat berat.
c. Investigasi Kecelakaan

Bila terjadi kecelakaan maka investigasi kecelakaan harus dilakukan dengan cara:
1) Mengidentifikasi korban dan kondisi kecelakaan (what, who, where, when, why dan how)

sedang. dokter perusahaan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).2) Pemeriksaan khusus terhadap kecelakaan yang dilakukan oleh Ahli K3. 81 . 3) Menentukan frekuensi dan tingkat keparahan kecelakaan (berat.

ringan) 82 .

penerapan Kesehatan Kerja di perusahaan dilakukan dalam kegiatan: . Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan maupun tenaga kerja. ahli toksikologi. Adapun tugas dokter untuk kesehatan tenaga kerja adalah 1.berkala.4) Mengetahui sumber dan faktor bahaya yang menyebabkan terjadinya kecelakaan (penyebab langsung) 5) Memeriksa penyebab lain (faktor pendukung) yang mungkin meningkatkan risiko kecelakaan. 2. Sejalan dengan tujuan kesehatan kerja yang lebih mengutamakan kegiatan pencegahan. dokter perusahaan melakukan tugas medisnya terhadap tenaga kerja. Dari hal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa tugas tersebut terkait akan fungsi perlindungan. Tugas dalam bidang teknis lingkungan Sebagaimana Undang-undang No. serta pencatatan serta pelaporan. atau dengan kata lain ada kewajiban pemeriksaan awal. Tugas bidang medis Mencegah adalah lebih baik dari mengobati. kimia. telah diamanahkan bahwa setiap tempat kerja harus memenuhi syarat keselamatan dalam pasal Dokter perusahaan punya peran besar terutama kepada pemenuhan syarat yang menyangkut kesehatan yang mana terdapat faktor fisik. Kelima tahapan ini untuk mengetahui akar permasalahan yang mengakibatkan kecelakaan. dan khusus dimana yang diperiksa tidak atau merasa tidak sakit. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 3. Sebagai tenaga medis. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. dan lainnya. Tugas terkait fungsi administratif Pencacatan dan pelaporan adalah tugas yang harus dijalankan sebagai wujud dari hubungan dengan berbagai unit di lingkungan internal maupun dengan institusi eksternal dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja.Identifikasi dan monitoring faktor bahaya di lingkungan kerja dan tindakan pengendaliannya . Pemeriksaan 226 kesehatan yang dilakukan tidak selalu bagi tenaga kerja yang sedang sakit. Pengukuran atau pengujian lingkungan kerja adalah bagian tugas yang dilaksanakan dan bisa bekerjasama dengan ahli terkait yang ada di perusahaan seperti ahli K3 Kimia. psikososial dan ergonomi yang harus dikendalikan karena punya pengaruh bagi kesehatan tenaga kerja. biologi. bisa saja pada pemeriksaan itu ditemukan kelainan atau penyakit. pelayanan kesehatan. dan sebagainya atau bisa juga menjalin kerjasama dengan eksternal dalam hal ini Perusahaan Jasa K3 (PJK3).

. terutama yang berkaitan dengan kerja yang sehat dan selamat. biologik dan ergonomik.Paket B: Pemeriksaan kesehatan untuk yang terpapar bahan kimia berbahaya . sehat dan selamat. serta biological monitoring (bila diperlukan) Kegiatan ini ditujukan terutama untuk mendapatkan tenaga kerja yang sehat. peningkatan kebugaran. gaya hidup masyarakat Indonesia yang sedang berubah (transisi demografi).Pelayanan kesehatan kerja Kegiatan ini bersifat komprehensif dan lebih mengutamakan tindakan pencegahan (promotif dan preventif).Konsultasi dan komunikasi Dilaksanakan dengan berbagai institusi yang berhubungan dengan kesehatan kerja seperti dokter spesialis kedokteran okupasi. sanitasi dan lain sebagainya.Penanganan. Contoh kategori kelompok risiko dapat dibagi dalam paket parameter uji yang berbeda sebagai berikut: . .Pengendalian lingkungan 252 Pengendalian ini tidak hanya terhadap faktor bahaya saja tetapi juga cara/ sistem kerja dan dilaksanakan dengan keahlian disiplin ilmu lainnya misal ahli higiene perusahaan. B. Parameter Uji Kesehatan Parameter uji kesehatan ditetapkan berdasarkan risiko kesehatan (health hazards) yang bersumber dari lingkungan hidup seperti sanitasi lingkungan dan pencemaran.Pelatihan-pelatihan Dilakukan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan tenaga kerja. Apabila ada kelainan dapat diketahui secara dini dan cepat dilakukan tindakan koreksi. .Paket A: Pemeriksaan kesehatan untuk administrasi kantor . berkala dan khusus. pencegahan dan penanggulangan kedaruratan dalam industri . fisik.Pemeriksaan kesehatan awal. melakukan pengendalian terhadap faktor bahaya tersebut sehingga didapatkan kondisi lingkungan kerja yang aman. bukan semata-mata hanya mengobati keluhan dan gejala saja. gerakan hidup sehat. dan memelihara agar tetap sehat.Kegiatan terutama ditujukan untuk mengenali faktor bahaya yang ada di lingkungan kerja. Kegiatan lainnya dapat ditambahkan dalam pelaksanaan program kesehatan kerja seperti pemberian makanan tambahan (extra fooding). . berbagai organisasi profesi lainnya . maupun risiko khusus yang ada dalam pekerjaan sehari- hari di perusahaan secara kimiawi. termasuk juga pelaksanaan program Keluarga Berencana.

Riwayat penyakit terdahulu . > 40 tahun.Perilaku hidup (merokok. alamat..Riwayat penyakit keluarga . tanggal pemberian booster) . Setiap calon tenaga kerja atau tenaga kerja yang akan diperiksa kesehatannya diminta mengisi kuesioner dan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara umum.Pemeriksaan gigi .Paket F: Pemeriksaan kesehatan untuk tenaga kerja yang bekerja di ketinggian .Paket G: Pemeriksaan kesehatan untuk tenaga kerja yang terpapar bising Selain contoh paket tersebut dapat pula dibuat jenis pemeriksaan dengan memperhatikan range usia. Evaluasi kesehatan umum minimal mencakup hal-hal berikut: a.Paket C: Pemeriksaan kesehatan untuk tenaga kerja yang terpapar panas melewati nilai ambang batas . Pemeriksaan klinis (pemeriksaan fisik oleh dokter) .Paket D : Pemeriksaan kesehatan untuk supir . misalnya < 30 tahun.Ketajaman penglihatan. aktivitas fisik dan olahraga.Riwayat pekerjaan .Riwayat alergi .Tinggi dan berat badan (indeks massa tubuh) .Keluhan medis saat ini 260 .Riwayat imunisasi (jenis. 30-40 tahun.Tekanan darah . Informasi administratif (nama.Paket E: Pemeriksaan kesehatan untuk tenaga kerja dengan aspek ergonomik (pekerjaan repetitif pada tangan dan jari dan manual handling) .Nadi . Informasi medis (wawancara oleh dokter) . buta warna .Penggunaan obat-obatan saat ini . konsumsi alkohol. departemen/ bagian yang dituju) b. pola makan) c. tanggal lahir.

Klinik Dokter.EKG .Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Kesehatan Diagnosis kerja ditegakkan setelah memperhatikan seluruh hasil pemeriksaan.4. d.Foto toraks . Mengelola pembuangan limbah medis sesuai peraturan. pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain. spirometri/ tes fungsi paru (bagi tenaga kerja yang menggunakan aparatus pernafasan). c. seperti: laboratorium. antibodi hepatitis B surface antigen (bagi tenaga kerja kesehatan). SDM untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja di klinik perusahaan minimal sebagai berikut: a. sesuai dengan tingkatannya (Klinik Laboratorium.Analisis darah rutin Pemeriksaan spesifik sebagai tambahan harus dilakukan berdasarkan risiko pekerjaan. pemeriksaan mikroskopik atau kultur feses (bagi pengelola makanan). Pemenuhan peraturan pemerintah mengenai legalitas pemeriksaan kesehatan adalah sebagai berikut: a. pemeriksaan fisik.d. Pemeriksaan penunjang . misalnya audiometri (bagi tenaga kerja yang terpapar bising). . b. Mempunyai izin dan Dokter Pemeriksa Kesehatan Kerja yang diberikan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi khusus untuk Klinik/ Laboratorium Klinik/ Rumah Sakit. darah. sedimen) . Izin operasional pelayanan medis. radiologi yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat. Paramedis perusahaan 15. Rumah Sakit) yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat.9. Dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja atau dokter perusahaan b. mulai dari anamnesis. e. Mempunyai Surat Penunjukkan Jasa Pemeriksa Kesehatan Kerja dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (bagi perusahaan yang menggunakan jasa penyedia dari luar perusahaan). glukosa. Izin operasional fasilitas medis.Analisis urin (protein.

ia hanya memberi masukan kepada manajemen tentang kesesuaian status kesehatan seseorang dikaitkan dengan pekerjaannya. dokter perusahaan wajib melakukan tindak lanjut sesuai indikasi yang diperlukan secara profesional sesuai standar pelayanan medis dan didasarkan pada peraturan perusahaan yang berlaku. bukan untuk pengobatan. maka hal tersebut masuk ke dalam jaminan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh perusahaan (bukan bagian dari tahapan pemeriksaan kesehatan . analisa statistik untuk 10 kasus terbanyak per bagian/ seksi/ jenis pekerjaan. Tenaga kerja yang menderita sakit harus dilakukan pengobatan sesuai prosedur yang ada dan diberlakukan kembali bekerja dengan memperhatikan Prosedur Kembali Bekerja (return to work) sesuai tingkat kesehatan saat itu yang berhubungan dengan faktor bahaya lingkungan kerja dan jenis pekerjaan. Pembukaan rahasia medis tidak dibenarkan kecuali dilakukan oleh yang bersangkutan. Tindak lanjut hasil pemeriksaan kesehatan hanya untuk menegakkan pemeriksaan tambahan untuk diagnosis. Dokter perusahaan tidak dalam posisi untuk menolak atau menerima calon tenaga kerja (kecuali di departemennya). maka dokter perusahaan akan memberikan konsultasi.262 Dari hasil pemeriksaan kesehatan akan dihasilkan tingkat derajat kesehatan tenaga kerja sesuai dengan jenis pekerjaannya (fit atau unfit to work) yang disimpulkan oleh dokter perusahaan atau dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja dan selanjutnya disampaikan pada pihak manajemen. yang dapat berupa: . Untuk berbagai kelainan medis yang didapatkan dari pemeriksan kesehatan.Memberi softcopy dalam bentuk laporan yang telah dianalisa. . Bagi tenaga kerja yang mempunyai hasil pemeriksaan kesehatan kurang atau tidak sehat. Bila ada saran untuk yang berhubungan dengan pengobatan. Penyedia pemeriksaan kesehatan memberikan hasil pemeriksaan dalam bentuk laporan. Penyedia pemeriksaan kesehatan harus memberi kesempatan untuk konsultasi bagi tenaga kerja yang ingin berkonsultasi tentang hasil pemeriksaan. .Hasil kolektif seluruh tenaga kerja yang diperiksa.Hasil perorangan hardcopy sebanyak 2 buah (untuk tenaga kerja dan perusahaan). Hasil pemeriksaan kesehatan merupakan rahasia medis dan harus disimpan secara rahasia sesuai peraturan/ prosedur perusahaan sebagai data dasar kesehatan tenaga kerja.

Related Interests