GREEN FIELD

I. FORMULASI
A. FORMULA STANDART
1. Acidi Benzoici Salicylici Unguentum
Salep Asam Benzoat Salisilat
Salep Whitefield
(FORNAS hal 9)
Komposisi :
Tiap 10 gram mengandung
Acidum Benzoicum 500 mg
Acidum Salicylicum 500 mg
Lanolin 4,5 gram
Vaselin Flavum ad 10 gram

2. Prednisoloni Unguentum
Salep Prednisolon
(FORNAS hal 252)
Komposisi :
Tiap 10 gram mengandung
Prednisolonum 50 mg
Paraffin liq 1 gram
Vaselin flavum ad 10 gram

3. Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25% berarti :
Adeps Lanae 75%
Aqua 25%

B. FORMULA PENGEMBANGAN
Greenfield
Salep whitefield sec fornas
Adde tiap gram :
Prednisolonum 5 mg
Oleum Rosae qs

II. PERHITUNGAN JUMLAH BAHAN
Acidum Benzoicum = 500 mg
Acidum Salicylicum = 500 mg
Lanolin = 4,5 gram
(karena di laborat sudah ada sediaan lanolin jadi tidak perlu membuat lanolin
sendiri)
Prednisolonum = 10 x 5 mg = 50 mg
(yang di laborat tersedia prednison tablet, sehingga yang diambil prednison tablet
sebanyak 10 teblet @ 5 mg)

Vaselin flavum = 10 gram – (0,5 + 0,5 + 4,5 + 0,05) gram
= 10 gram – 5,55 gram
= 4,45 gram
Paraffin liq = 30 tetes
Etanol 96% = 3 tetes
Oleum Rosae = 2 tetes

III. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Timbangan digital
2. Kertas timbang
3. Sendok tanduk
4. Mortier dan stamper
5. Pipet tetes
6. Pot salep

Bahan :
1. Acidum Banzoicum
2. Acidum Salicylicun
3. Prednison tablet @ 5 mg
4. Paraffin cair
5. Lanolin
6. Vaselin flavum
7. Etanol 96%
8. Oleum rosae

IV. CARA KERJA
Ditimbang Acidum Benzoicum 500 mg

Ditimbang Acidum Salicylicum 500 mg

Ditambahkan Etanol 96% 3 tetes aduk homogen dan larutkan

Ditimbang lanolin 4,5 gram

Ditimbang vaselin flavum 4,45 gram, campur dan aduk homogen

Diambil prednison 10 tablet , larutkan dengan 30 tetes paraffin liq

Masukkan Salep whitefield yang sudah jadi sedikit demi sedikit, aduk homogen

Ditambahkan 2 tetes Oleum rosae

Masukkan pot dengan bersih dan rapi

Dikemas dan diberi brosur

V. HASIL
Sediaan semi padat (salep) berwarna hijau yang homogen bertekstur lembut
berbau wangi

VI. PEMBAHASAN
Pada pembuatan salep whitefield sebagai salep dasar pertama-tama ditimbang
asam benzoat dan asam salisilat dilarutkan dalam etanol 96% (karena kelarutan
pada kedua asam tersebut adalah dalam 3-4 bagian etanol 96%). Ditambahkan
lanolin, diaduk homogen. Masukkan vaselin flavum sedikit demi sedikit, diaduk
homogen. Dalam mortier berbeda dilarutkan prednisolonum (prednison tablet)
dalam paraffin cair. Setelah larut, ditambahkan salep whitefield yang sudah jadi
sedikit demi sedikit aduk homogen. Terakhir tetesi dengan Oleum Rosae untuk
menambah aroma harum. Dalam pembuatan salep whitefield digunakan peraturan
salep nomor 3, tetapi disini zat aktifnya tidak diayak dengan ayakan B40
melainkan dilarutkan dalam etanol 96% karena kelarutan kedua zat tersebut dalam
atenol 96%, baru ditambahkan basis. Asam benzoat dan asam salisilat merupakan
zat aktif yang digunakan sebagai anti jamur yang bersifat asam lemah. Pada
lambung yang bersifat asam, akan terdapat dalam bentuk tidak terionisasi
sehinggan mudah larut dalam lemak mudah menembus dinding membran
lambung.
Adsorbsi obat melalui kulit, untuk memperoleh efek lokal (setempat) sehingga
sangat tergantung pada kelarutan obat dalam lemak, karena epidermis kulit juga
berfungsi sebagai membran lemak biologis.
Efek farmakologinya, asam ini dan ester hidroksinya dalam konsentrasi 0,1%
berkhasiat sebagai fungistatis dan bakteriostatik lemah. Biasanya kedua asam ini
juga digunakan sebagai pengawet. Daya pengawet hanya efektif pada pH dibawah
5.
Penambahan prednison tablet selain untuk menambah efektivitas kerja asam
benzoat dan asam salisilat yaitu sebagai kortikosteroid (anti inflamasi),dan anti
alergi, prednison disini juga berfungsi sebagai corigen coloris untuk memberikan
warna hijau pada salep sehingga penampilan salep lebih menarik. Paraffin disini
selain digunakan sebagai pelarut prednison, juga digunakan untuk menghaluskan
basis salep, dan lebih melekat pada kulit sehingga memberikan efek yang
maksimal. Oleum Rosae digunakan untuk menambah aroma dari salep sehingga
dapat memberikan daya tarik tersendiri dan memberikan nilai plus dalam sediaan
salep ini.

VII. KESIMPULAN
Salep Greenfield hasil modifikasi salep Whitefield merupakan salep hijau yang
bertekstur lembut dan homogen, yang berbau wangi Oleum Rosae digunakan
sebagai antifungi

DASAR TEORI

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III: Salep adalah sediaan setengah padat
berupa massa lunak yang mudah dioleskan dan digunaka untuk pemakaian luar.

Menurut farmakope edisi IV: Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk
pemakaian topical pada kulit atau selaput lendir.

Menurut Formularium Nasional salep adalah sedian berupa masa lembek, mudah
dioleskan, umumnya lembek dan mengandung obat, digunakan sebagai obat luar
untuk melindungi atau melemaskan kulit, tidak berbau tengik. Salep tidak boleh
berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang
mengandung obat keras atau narkotik adalah 10%.

Persyaratan salep menurut FI ed III :

1. Pemerian tidak boleh berbau tengik.
2. Kadar, kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras atau
narkotik, kaaadar bahan obat adalah 10 %.
3. Dasar salep
4. Homogenitas, Jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain
yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
5. Penandaan,pada etiket harus tertera “obat luar”
6.
Peraturan-peraturan pembuatan salep:

1. Peraturan salep pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran-campuran lemak,
dilarutkan ke dalamnya, jika perlu dengan pemanasan.

2. Peraturan salep kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada
peraturan-peraturan lain,dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang
dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep : jumlah air yang dipakai
dikurangi dari basis

3. Peraturan salep ketiga Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian yang dapat
larut dalam lemak dan air harus diserbuk lebih dahulu, kemudian diayak dengan no.
B40

4. Peraturan salep keempat Salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan,
campurannya harus digerus sampai dingin (Soetopo,2002)

Macam-macam dasar salep antara lain :

1. Dasar salep hidrokarbon

Dasar salep hidrokarbon (dasar bersifat lemak) bebas air, preparat yang berair
mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja, bila lebih minyak sukar
bercampur. Dasar hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien. Dasar salep
tersebut bertahan pada kulit untuk waktu yang lama dan tidak memungkinkan larinya
lembab ke udara dan sukar dicuci. Kerjanya sebagai bahan penutup saja. Tidak
mengering atau tidak ada perubahan dengan berjalannya waktu.

2. Dasar salep serap

Dasar salep ini dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas
dasar yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (Paraffin
hidrofilik dan Lanolin anhidrat) dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam
minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (Lanolin).

3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep hidrofilik dan lebih
tepatnya disebut krim. dasar salep ini mudah dicuci dari kulit atau dilap basah,
sehingga lebih dapat diterima untuk bahan dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat
menjadi lebih efektif dengan menggunakan dasar salep ini. Keuntungan lain adalah
dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap air pada kelainan dermatologik.

4. Dasar salep larut dalam air

Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut
air. Sama halnya dengan dasar salep yang dapat dicucidengan air dasar salep ini
banyak memiliki keuntungan. (Ansel, 1989)

Pemilihan dasar salep tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :

1. Laju pelepasan (liberasi) yang diinginkan dari bahan obat oleh dasar salep
2. Keinginan peningkatan absorbsi perkutan dari bahan obat oleh dasar salep
3. Dapat melindungi kelembaban kulit
4. Obat stabil dalam dasar salep
5. Pengaruh obat (kalau ada) terhadap kekentalan
6. Tujuan pemakaian dari sediaan salep
(Ansel, 1989)

Kelarutan dan Penggunaan bahan aktif salep greenfield

Asam benzoat (Farmakope Indonesia edisi III hal 49)
Kelarutan : larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih kurang 3 bagian
etanol (95%) P, dalam 5 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P
Penggunaan :
 Antiseptikum ekstern (mencegah keadaan septis / menghambat pertumbuhan
mikroorganisme)
 Anti jamur (untuk membunuh atau membasmi jamur

Asam salisilat (Farmakope Indonesia edisi III hal 56)
Kelarutan : larut dalam 550 bagian air, dan dalam 4 bagian etanol (95%) p dan
mudah larut dalam kloroform dan dalam eter p, larut dalam larutan ammonium asetata
p, dinatrium hydrogen fosfat p, kalium sitrat dan natrium sitrat
Penggunaan :
 Keratolitikum (obat yang digunakan pada kulit atau keratin atau epitel tanduk,
menimbulkan dehidrasi atau pelunakan. Mengembang dan dekswamasi dari
lapisan tanduk dan epidermis
 Antijamur (untuk membunuh dan membasmi jamur)

Prednisolonum
Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, larut dalam mentanol dan dalam dioksan,
agak sukar larut dalam aseton dan dalam etanol, sukar larut salam kloroform (Ditjen
POM,2014)
Penggunaan :
 Anti inflamasi
 Anti alergi

EVALUASI SALEP GREENFIELD

I. ALAT DAN BAHAN
Alat :

1. Cawan petri
2. Kertas saring
3. Pipet tetes
4. Mortir dan stamper
5. Objekglass
6. Timbangan digital
7. Stopwatch
8. Anak timbangan 50 mg
9. Kertas lakmus
Bahan :
1. Salep Greenfiled
2. Larutan KOH
3. Paraffin cair

II. CARA KERJA
1. Uji organoleptis (dilakukan 2x = hari saat pembuatan dan setelah 7 hari
kemudian)

Diamati organoleptis dari salep meeliputi bentuk, warna, bau dan tekstur

Dicatat dalam data pengamatan

2. Uji homogenitas

Diamati homogenitas dari salep yang dioleskan pada onjek glass

Dicatat dalam data pengamatan

3. Uji daya sebar
Diambil 0,5 g salep diletakkan pada tengah cawan petri

Ditimpakan pada basis salep cawan petri lain yang telah ditimbang

Diamati diameter salep yang menyebar setelah didiamkan selama 1 menit

Ditambah beban sebanyak 50 g

Diamati diameter salep yang menyebar setelah didiamkan selama 1 menit

Diulangi prosedur tersebut sebanyak 3 kali

4. Uji daya proteksi
Disiapkan kertas saring bersih dan dibasahi indikator PP

Diolesi dengan salep

Disiapkan kertas saring lain yang telah dibatasi dengan parafin padat yang
dicairkan

Ditutup kertas saring bersalep dengan kertas saring berparafin

Bagian kertas saring berparafin ditetesi dengan KOH 0,1 N

Diamati lama waktu kertas bersalep berwarna merah

5. Uji Ph (dilakukan 2 kali = saat pembuatan salep greenfield dan 7 hari setelah
pembuatan)
Disiapkan kertas pH

Ditempelkan pada basis salep

Diamati pH yang diukur dengan kertas lakmus

III. DATA HASIL PERCOBAAN
1. Uji organoleptis

Organoleptis Saat pembuatan 7 hari setelah pembuatan
Bentuk Setengah padat Setengah padat
Warna Hijau Hijau
Bau Wangi (rosae) Wangi (rosae)
Tekstur Lembut Lembut

2. Uji homogenitas

Homogenitas Salep greenfield
Homogen V

Keterangan :
V : homogen
X : tidak homogen

3. Uji daya sebar

Beban Diameter
Cawan petri ( 37,73 gram) 2,97 cm
+ 50 gram 3,2 cm
+ 100 gram 3,31 cm
+150 gram 3,52 cm
+ 200 gram 3,71 cm

4. Uji daya proteksi

Basis Waktu Keterangan
Salep Lebih dari 5 menit Baik

5. Uji pH

pH saat Keterangan pH setelah 7 Keterangan
pembuatan hari
pH 5 Bersifat asam pH 5 Bersifat asam

IV. PEMBAHASAN
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III: Salep adalah sediaan setengah padat
berupa massa lunak yang mudah dioleskan dan digunaka untuk pemakaian luar.
Menurut farmakope edisi IV: Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan
untuk pemakaian topical pada kulit atau selaput lendir.
Menurut Formularium Nasional salep adalah sedian berupa masa lembek,
mudah dioleskan, umumnya lembek dan mengandung obat, digunakan sebagai
obat luar untuk melindungi atau melemaskan kulit, tidak berbau tengik. Salep
tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep
yang mengandung obat keras atau narkotik adalah 10%.

Evaluasi terhadap sifat fisik pada sediaan topikal perlu dilakukan. Hal ini untuk
menjamin bahwa sediaan memiliki efek farmakologis yang baik dan tidak mengiritasi
kulit ketika digunakan. Sifat fisik sediaan mempengaruhi tercapainya efek
farmakologis sesuai yang diharapkan. Parameter pengujian sifat fisik krim antara lain
uji organoleptis, uji homogenitas, uji daya sebar, uji daya proteksi, dan uji pH.
Pengamatan organoleptis dari sediaan dilakukan dengan mengamati bentuk,
warna, bau dan tekstur sediaan. Formulasi salep di atas memiliki organoleptis yang
dapat diterima yaitu berbentuk setengah padat, berwarna hijau, berbau harum dan
bertekstur lembut. Didalam salep greenfield terdapat asam benzoat selain berfungsi
sebagai antifungi juga berfungsi sebagai pengawet sehingga pengamatan organoleptis
pada salep greenfield dilakukan 2 kali untuk mengetahui kestabilan dari salep tersebut
dan hasil kedua sama berarti salep greenfield stabil.
Pemeriksaan homogenitas dilakukan dengan kaca objek. Pengujian dilakukan
dengan cara mengoleskan sejumlah salep pada permukaan objek glass kemudian
ditutup dengan objek glass lain. Suatu sediaan harus menunjukkan susunan yang
homogen dan tidak terlihat butiran kasar. Salep pada percobaan kali ini memenuhi
syarat karena homogen dan tidak ditemukan partikel kasar.
Pengujian sifat fisik selanjutnya adalah pengujian pH. Pengujian pH dilakukan
untuk melihat pH salep apakah berada pada rentang pH normal kulit yaitu 4,5 – 7.
Jika pH terlalu basa dapat mengakibatkan kulit kering, sedangkan jika pH kulit terlalu
asam dapat memicu terjadinya iritasi kulit. Didalam salep greenfield terdapat asam
benzoat selain berfungsi sebagai antifungi juga berfungsi sebagai pengawet sehingga
dilakukan 2x uji pH dan hasil yang diperoleh pH 5. Dari hasil uji formulasi bersifat
asam.
Uji daya sebar pada salep dilakukan untuk melihat kemampuan sediaan menyebar
pada kulit, dimana suatu basis krim sebaiknya memiliki daya sebar yang baik untuk
menjamin pemberian bahan obat yang baik. Hasil uji menunjukkan bahwa
peningkatan beban akan memperluas daya sebar sehingga luas area penyebaran krim
meningkat.
Pengujian Daya Proteksi salep dilakukan untuk mengetahui kemampuan salep
untuk melindungi kulit dari pengaruh luar seperti asam, basa, debu, polusi dan sinar
matahari. Pengujian daya proteksi krim dilakukan dengan KOH 0,1 N. Pada pengujian
daya proteksi menggunakan KOH 0,1 N yang bersifat basa kuat dimana KOH 0,1 N
mewakili zat yang dapat mempengaruhi efektivitas kerja krim terhadap kulit KOH 0,1
N akan bereaksi dengan phenoftalein yang akan membentuk warna merah muda, yang
berarti salep tidak mampu memberikan proteksi terhadap pengaruh luar, sediaan salep
yang baik seharusnya mampu memberikan proteksi terhadap semua pengaruh luar
yang ditandai dengan tidak munculnya noda merah pada kertas saring yang ditetesi
dengan KOH 0,1 N dapat mempengaruhi efektifitas salep tersebut terhadap kulit. Dari
hasil percobaan perlindungan dari Formula salep di atas lebih dari 5 menit maka dapat
disimpulkan salep memiliki daya proteksi yang baik. Efek proteksi dari salep terjadi
karena terbentuknya lapisan tipis ketika krim mengering.

V. KESIMPULAN

1. Evaluasi terhadap sifat fisik pada sediaan topikal perlu dilakukan. Hal ini
untuk menjamin bahwa sediaan salep memiliki efek farmakologis yang baik.

2. Parameter pengujian sifat fisik salep antara lain uji homogenitas, uji
organoleptis, uji pH, uji daya sebar, dan uji daya proteksi .

3. Formula salep memiliki organoleptis yang dapat diterima yaitu berbentuk
berbentuk setengah padat, berwarna hijau, berbau harum dan bertekstur lembut .

4. Formula salepl memiliki homogenitas yang memenuhi syarat.

5. pH salep yang diukur bersifat asam.

6. Formulasi salep daya sebarnya cukup luas dengan daya sebar terbesar dengan
beban cawan dan anak timbang 200 g adalah 3,71 cm.

7. Perlindungan dari salep bersifat baik yaitu lebih dari 5 menit

DAFTAR PUSTAKA

1. Ansel , C.H.,1990, Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System, 5th
edition, Lea and Febiger,Pensylvania,USA.
2. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI,1979,Farmakope Indonesia,
jilid III,Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
3. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI,1995,Farmakope Indonesia,
jilid IV,Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
4. Anonim, 2000, fornas, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
GREENFIELD SALEP

KOMPOSISI
Tiap 10 g mengandung
Asam salisilat..........................................................500 mg
Asam benzoat......................................................... 500 mg
Prenisolonum............................................................50 mg

Greenfield salep merupakan obat luar yang
diformulasikan
untuk mengobati penyakit kulit seperti panu, jamur, kadas,
kudis, kutu air dan gatal-gatal yang disebabkan jamur.
Asam salisilat mempunyai sifat sebagai kerotolitik dan
fungisida lemah
Asam benzoat mempunyai sifat sebagai antiseptikum
ekstern dan fungisida lemah
Prednisolonum mempunyai sifat sebagai anti inflamasi
dan anti alergi

INDIKASI

Mengobati penyakit kulit seperti panu, kadas, kudis, kutu
air, dan gatal-gatal yang disebabkan oleh jamur

KOTRAINDIKASI
Penderita yang hypersensitif terhadap asam salisilat, asam
benzoat dan prednisolonum

PERINGATAN DAN PERHATIAN

 Hindarkan kontak dengan mata, mulut dan
membran mukosa
 Hentikan pemakaian jika terjadi iritasi
 Hanya untuk pemkaian obat luar
 Jauhkan dari jangkauan anak-anak
 Jangan digunakan pada luka terbuka

CARA PEMAKAIAN
Oleskan 3 x sehari pada bagian yang sakit setelah
dibersihkan

KEMASAN : Pot, isi bersih 10 g
NO. REGISTRASI : DBL 9600701730A1

SIMPAN DI TEMPAT YANG SEJUK (15-25)0C