BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada
kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas
(Mansjoer, 2007). Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya dan lebih dari
700.000 mengalami cedera cukup berat yang memerlukan perawatan dirumah sakit, dua
pertiga berusia dibawah 30 tahun dengan jumlah laki-laki lebih banyak dibandingkan
jumlah wanita, lebih dari setengah semua pasien cedera kepala mempunyai signifikasi
terhadap cedera bagian tubuh lainya (Smeltzer and Bare, 2002 ).
Ada beberapa jenis cedera kepala antara lain adalah cedera kepala ringan, cedera kepala
sedang dan cedera kepala berat. Asuhan keperawatan cedera kepala atau askep cidera
kepala baik cedera kepala ringan, cedera kepala sedang dan cedera kepala berat harus
ditangani secara serius. Cedera pada otak dapat mengakibatkan gangguan pada sistem
syaraf pusat sehingga dapat terjadi penurunan kesadaran. Berbagai pemeriksaan perlu
dilakukan untuk mendeteksi adanya trauma dari fungsi otak yang diakibatkan dari
cedera kepala.
Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah
sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan
penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya. Tindakan resusitasi, anamnesis dan
pemeriksaan fisik umum serta neurologis harus dilakukan secara serentak. Pendekatan
yang sistematis dapat mengurangi kemungkinan terlewatinya evaluasi unsur vital.
Tingkat keparahan cedera kepala, menjadi ringan segera ditentukan saat pasien tiba di
rumah sakit (Sjahrir, 2004).
Maka dari itu, penulis tertarik untuk mengambil kasus kelolaan kelompok dengan judul
“Asuhan Keperawatan Pada Tn.A.R. dengan Cedera Kepala Sedang di Ruang Neorolgi
Rumah Sakit Daerah Abdul moeloek Provinsi lampung.
1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1. Umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan cedera
kepala sedang.
1.2.2. Tujuan Khusus

1

1.2.2.1. Mahasiswa mampu meningkatkan pengertian mengenai masalah yang
berhubungan dengan cedera kepala ringan berat.
1.2.2.2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data pada klien dengan
cedera kepala berat.
1.2.2.3. Mahasiswa mampu menganalisa data hasil pengkajian pada klien
dengan cedera kepala berat.
1.2.2.4. Mahasiswa mampu melakukan rencana tindakan pada klien dengan
cedera kepala berat.
1.2.2.5. Mahasiswa mampu melakukan tindakan keperawatan pada klien
dengan cedera kepala berat.
1.2.2.6. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil tindakan yang dilakukan pada
klien dengan cedera kepala berat.
1.3. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan
penjabaran masalah-masalah yang ada dan menggunakan studi kepustakaan dari literatur
yang ada, baik di buku, jurnal maupun di internet.
1.4. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari empat bab yang disusun dengan sistematika penulisan sebagai
berikut :
BAB I : Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan,
dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan teoritis terdiri dari : pengertian, anatomi fisiologis, klasifikasi,
etiologi, patofisiologi dan pathway, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi dan
pemeriksaan penunjang.
BAB III : Laporan kasus terdiri dari : pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi
dan evaluasi.
BAB IV : Penutup terdiri dari : kesimpulan dan saran.

2

BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

2.1.Pengertian
Cedera kepala adalah suatu gangguan trauma dari otak disertai/tanpa perdarahan intestinal
dalam substansi otak, tanpa diikuti terputusnya kontinuitas dari otak (Nugroho, 2011).
Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak
atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada
kepala (Suriadi dan Yuliani, 2001).
Menurut Brain Injury Assosiation of America (2001), cedera kepala adalah suatu
kerusakan pada kepala, bukan bersifat congenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan
oleh serangan/benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran
yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik
Cedera kepala adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul
maupun trauma tajam. Deficit neorologis terjadi karena robekannya subtansia alba,
iskemia, dan pengaruh massa karena hemorogik, serta edema serebral disekitar jaringan
otak (Batticaca, 2008).
Berdasarkan defenisi cedera kepala diatas maka penulis dapat menarik suatu kesimpulan
bahwa cedera kepala adalah suatu cedera yang disebabkan oleh trauma benda tajam
maupun benda tumpul yang menimbulkan perlukaan pada kulit, tengkorak, dan jaringan
otak yang disertai atau tanpa pendarahan.
Menurut Tarwoto 2007, “Cidera kepala adalah suatu gangguan traumatic dari fungsi otak
yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam subtansi otak tanpa diikuti
terputusnya kontituitas otak”.
Menurut Widagdo 2008, “Cidera kepala adalah trauma yang mengenai otak disebabkan
oleh kekuatan eksternal yang menimbulkan tingkat perubahan kesadaran dan perubahan
kemampuan kognitf, fungsi fisik, fungsi tingkah laku dan emosional”.
Menurut Muttaqin 2008, “Cidera kepala atau cidera otak merupakan suatu gangguan
traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan intertill dalam
subtansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak”.
Menurut Nanda 2013, “Cidera kepala merupakan cidera yang meliputi trauma kulit
kepala, tengkorak, dan otak”.

3

Menurut smeltzer & bare 2005, “Cidera kepala adalah sebagian besar diklasifikasikan
oleh cidera kulit kepala, tengkorak atau otak. Luka berat pada otak adalah bentuk yang
paling serius dari cidera kepala”.

Head injury is a broad clasification that includes injury to the scalp, scull or brain.
Traumatic brain injury is the most serios from head injury. Primary brain injuries
include lacerations or contusios of the brainsubtance and direct disruption of brain tissue
by shearing of axons and disruftion of blood vessels (Wong 2000).

Berdasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa cidera kepala adalah
trauma yang trjadi pada kulit kepala, tegkorak, dan otak yang sebagian besar terjadi
akibat kecelakaan lalu lintas. Dapat berupa trauma primer dan trauma sekunder yang
menimbulkan perubahan fungsi normal otak (penurunan kesadaran), kecacatan permanen
dan bahaya kematian pada manusia.

2.2.Anatomi Fisiologi Otak
2.2.1. Struktur Tulang Otak
Menurut Tarwoto, et al 2009, “Otak merupakan organ yang terletak tertutup oleh
cranium, tulang-tulang penyusun cranium disebut tengkorak yang berfungsi
melindungi organ-organ vital otak”. Ada sembilan tulang yang membentuk
cranium yaitu: tulang frontal, oksifitalis, sphenoid, etmoit, temporal 2 buah.
Tulang-tulang tengkorak di hubungkan oleh satura.
Menurut Rosjidi dan Nurhidayat, 2009, “Otak dilindungi dari cidera kepala oleh
rambut, kulit dan tulang kemudian meninges juga cairan serebrospinalis. Tanpa
perlindungan ini otak akan sangat mudah mengalami iritasi, goncangan, dan
cidera. Sekali neuron rusak, maka tidak dapat diperbaiki lagi”.
Menurut Muttaqin, 2008, “Jaringan otak dan medulla spinalis dilindungi oleh
tulang tengkorak dan tulang belakang, serta tiga lapisan jaringan penyambung
atau meningen, yaitu piameter, arakhnoid, dan dura meter”.
Batticaca 2008, menjelaskan bahwa tulang tengkorak melindungi otak dari
cidera, yang terdiri dari empat bagian tulang yang saling berhubungan yaitu
tulang frontal, parietal, temporal, dan oksipital.
Gambar 1: Tulang-tulang tengkorak

4

2.2.2. Tulang cranial tersusun atas tulang cranial dan wajah
2.2.2.1.Tulang cranial tersebut meliputi:
2.2.2.1.1. Tulang frontal
Tulang frontal merupakan tulang kranial yang berada disisi
anterior, berdasarkan dengan tulang frontal melalui sutura
koronalis. Pada tulang frontal ini terdapat suatu sinus (rongga)
yang disebut sinus frontalis yang terhubung dengan rongga
hidung.
2.2.2.1.2. Tulang temporal
Terdapat dua tulang temporal disetiap sisi lateral tengkorak.
Antara tulang temporal dan tulang parietal dibatasi oleh sutura
skuamosa. Persambungan antara tulang temporal dan tulang
zigomatikum disebut sebagai proses zigomatikum. Selain itu
terdapat prosesus mastoid (suatu penonjolan di belakang
saluran telinga) dan meatus akustikus ekstimus (liang telinga).
2.2.2.1.3. Tulang parietal
Terdapat dua tulang parietal, yang di pisahkan satu sama lain
melalui sutura sagitalis. Sedangkan sutura skuamosa
memisahkan tulang parietal dan tulang temporal.
2.2.2.1.4. Tulang oksipitalis
Tulang oksipital merupakan tulang yang terletak disisi
belakang tengkorak. Antara tulang oksipitalis dan tulang
parietal dipisahkan oleh sutura lambdoid.
2.2.2.1.5. Tulang sphenoid
Tulang sphenoid merupakan tulang yang membentang dari sisi
fronta-parieto-temporal yang satu kesisi yang lain.
2.2.2.1.6. Tulang ethmoid
Tulang ethmoid merupakan tulang yang berada dibelakang
tulang nasal dan lakrimal. Beberapa bagian dari tulang ethmoid
adalah crista galli (proyeksi superior untuk perlengkatan
meningens).

5

Durameter adalah lapisan yang liat.2. Antara lapisan satu dengan lapisan lainnya terdapat ruang meningeal yaitu ruang epidural merupakan ruang antara tengkorak dan lapisan luar durameter.2. dan pia meter.2. merupakan membran vaskuler yang membungkus seluruh permukaan otak. ruang subdural yaitu ruang antara lapisan durameter dengan membran arachnoid. Meningen Meningen adalah merupakan jaringan membran penghubung yang melapisi otak dan medulla spinalis ada 3 lapisan meningen yaitu: Durameter. 2.2.2. Tulang zigomatikum Tulang zigomatikum merupakan tulang pipi. 2. Tulang mandibula Mandibula merupakan tulang rahang bawah. Arachnoid adalah membran bagian tengah. 2. 2007)..1. Sedangkan piameter adalah lapisan paling dalam. Maksila meliputi antara lain prosesus pelatin yang membentuk bagian anterior palatum dan prosesus alveolar yang memegang gigi bagian atas. kasar dan mempunyai dua lapisan membran. (Tarwono et al . temporal dan maksila.2. yang berartikulasi dengan tulang frontal. yang berartikulasi dengan tulang temporal melalui prosesus kondilar.2. tipis.Tulang wajah meliputi 2.2. ruang subarachnoid yaitu ruang antara arachnoid dengan piameter pada ruang subarachnoid ini terdapat cairan serebrospinalis (CSF).2.2.2.3.2.4.2.3. 2.2. Tulang nasal Tulang nasal merupakan tulang yang membentuk jembatan pada hidung dan berbatasan dengan tulang maksila. Tulang lakrimal Tulang lakrimal merupakan tulang yang berbatasan dengan tulang ethmoid dan tulang maksila.2.2.5.2.2. berhubungan duktus nasolakrimal sebagai saluran air mata.2. 2. arachnoid. tipis dan berbentuk seperti laba-laba. Tulang maksila Tulang maksila merupakan tulang rahang atas. 2. 6 .2.

Bagian pada otak 2. temporal lobe). sensasi posisi. 2.5. serebllum dan batang otak (medulla oblongata.Epitalamus Epitalamus berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan juga mengatur reflek-reflek primitif yang menginformasikan untuk mendapat makanan. occipital lobe.2. perietal lobe.4. 2.2.2.1. fungsi intelektual.3.Talamus Talamus memproses rangsan dan meneruskan rangsan menuju kortek serebral.4. kontrol tonus otot. Hipotalamus juga mengatur sekresi kelenjar pituitary dan bertanggung jawab terhadap bagian dari silkus kewaspadaan tidur.4. Juga bertanggung jawab akan kesadaran nyeri. Saraf ini juga mengontrol otot mengunyah dan reflek komea) dan VII 7 . Gambar 2.2. Lubos temporal mendukung area auditorius. emosi dan fungsi fisik. otak terbagi menjadi cerebrum (Frontal lobe. tempat tujuan sensori yang datang dari telinga dan berfungsi sebagi infut perasa.4. merupakan postur dan keseimbangan. pendengaran.2. berfungsi sebagai proses infut sensori. Lobus parietal terdapat sensori priper dari korteks.4. 2. mengatur aktivitas viscelar dan ekpresi fisik dan emosi. metabolisme air.Hipotalamus Berfungsi mengontrol temperatur. sensasi raba. penciuman serta proses memori. Organ Otak Secara umum.Pons Terletak antara otak tengah dengan medulla oblongata dimana mengandung inti saraf cranial V (saraf tregriminal saraf ini menerima sensasi nyeri. Serebellum berfungsi untuk koordinasi aktivitas muscular.Serebellum Fungsinya mengkoordinasikan keseimbangan pergerakan aktivitas kelompok otot. 2.4. dan pons).2. temperatur dan sentuhan dari muka nasal dan rongga mulut.2. Batang otak berfungsi sebagai pengaturan reflex untuk vital tubuh. mesencephalon. mengontrol lapar.4. tekan dan peribahan suhu ringan.2. juga mengontrol pergerakan halus. Frontal lobe berfungsi sebagai aktifitas motorik. pemgecap.

6. kehilangan kesadaran atau amnesia Kurang dari 30 menit. pasien sadar dan berorientasi. 2. 2. jatuh. klien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing. (saraf fasial mempengaruhi otot ekspresi muka.kecelakaan saat olahraga.3.1.Cidera kepala ringan yaitu. maupun cedera akibat kekerasaan (pukulan) 2.3.2. (2007) Penilaian derajat beratnya cidera kepala dapat dilakukan dengan menggunakan Glasgow Coma Scale. letargi dan stupor). kontusio.Trauma Tumpul : adalah trauma yang terjadi akibat kecelakaan kendaraan bermotor.Medulla oblongata Medulla oblongata lanjut dari medulla spinalis berhubungan dengan pons dan serebellum dimana terdapat inti saraf cranial VIII (saraf akustik mempunyai dua cabang yaitu cabang koklear responsive untuk pendengaran dan cabang vestibuler untuk keseimbangan) dan XII (saraf hipoglosal mengatur pergerakan lidah yang diperlukan untuk berbicara dan menelan. kecelakaan saat bekerja. hilang kesadaran atau amnesia > 30 menit tetapi < 24 jam.1.3. reaksi berbicara (verbal respons).3.2.Trauma Tembus : adalah trauma yang terjadi karena tembakan maupun tusukan benda-benda tajam/runcing.3. tidak terdapat fraktur tengkorak..1. 2. pasien tampak kebingungan.2. hematom .3. Berdasarkan Mekanisme 2. amnesia 8 . yaitu suatu skala untuk menilai secara kuantatif tingkat kesadaran seseorang dan kelainan neurologis yang terjadi. 2.2. yaitu reaksi membuka mata (eye opening). Berdasarkan Beratnya Cidera Menurut tarworo et al. Juga tanggap dengan ekspresi rasa (pengecap) pada 2/3 lidah bagian anterior). GCS 14-15. mengantuk.3.Cedera Kepala Sedang (Kelompok Risiko Sedang) yaitu GCS 9-13 (konfusi. dan reaksi gerakan lengan serta tungkai (motor respons).Klasifikasi dan Tipe Cidera Kepala Cedera kepala dapat dilasifikasikan sebagai berikut : 2.4. tidak ada kriteria cedera sedang sampai berat. 2. Ada tiga aspek yang dinilai. tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang. namun masih bisa mengikuti perintah sederhana.1. konkusi.2.2.1.

tanda neurologis fokal. mual.1.. nyeri kepala. Fraktur tengkorak (trauma kepala terbuka) dan macam-macam fraktur 2.4. laserasi.2.Cedera Kepala Berat (Kelompok Risiko Berat) yaitu GCS 3-8 (koma). paska trauma.1.1.3.3. terjadi kehilangan kesadaran kurang dari 10 menit atau tanpa disertai amnesia.2. 2. Adapun macam-macam dari fraktur tenfkorak adalah: 2.4. 2.3. muntah.3.3.3.4. 2.3. Tipe cidera kepala menurut wahyu widagdo et al. cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium Juga meliputi kontusio serebral. mata rabun. hilangnya kesadaran lebih dari 10 menit. 2. muntah.4.1.1.Linear fraktur adalah robek biasa pada hubungan tulang dan tidak berubah hubungan dari kedua fragmen.1.kontusio serebri (memar) adalah gangguan fungsi neurologik disertai kerusakan jaringan otak tetapi kotuinitas otak masih utuh. kehilangan kesadaran atau amnesia > 24 jam.Comminuted fraktur adalah patah tulang dengan fraktur yang multi linear. dan apa juga merobek durameter yang mengakibatkan perembesan cairan sebrospinal.3. hemotimpanum.1. (2008) 2.1. 2.2.4. 2. atau hematoma intracranial. tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda battle.4.1.3. damana dapat membuka suatu jalan untuk terjadinya infeksi intra cranial.3.3.3. 9 .3.3.Fraktur tengkorak kepala Fraktur tengkorak kepala dapat melukai jaringan pembuluh darah dan sraf-saraf dari otak.komosio serebri (gegar otak) adalah gangguan fungsi neurologik ringan tanpa adanya kerusakan struktur otak.3. 2.1. 2.3.3.1.Defresed fraktur adalah fragmen tulang melekuk kedalam.Laserasio serebri adalah gangguan fungsi neurologic disertai kerusakan otak yang berat dangan fraktur tengkorak terbuka masa otak terkelupas keluar dari rongga intra cranial.3. penurunan derajat kesadaran secara progresif. otorhea atau rinorhea cairan serebrospinal).

4. membrane timpani. 2.3. Hematoma efidural adalah perdarahan menuju keruang antar tengkorak dan durameter.4.2.3. Gejala-gejala meliputi : sakit kepala.3.4. Gambaran klinik klasik yang terlihat : hilangnya tingkat kesadaran dengan cepat menurun sampai dengan koma jika tidak akan menyebabkan kematian.4. khususnya pada fossa anterior dan tengah. 2. Tanda 10 . 2. Setelah komosio akan timbul sindroma berupa sakit kepala.3. pusing.3. Komosio serebra adalah suatu kerusakan sementara fungsi neurologi yang disebabkan oleh benturan pada kepala.1. bingung dan dilatasi fiksasi pupil ipsilateral. 2.4.6.3. 2.1. Kontosio serebri adalah benturan yang dapat menyebabkan perubahan dari sruktur permukaan otak mengakibatkan perdarahan dan kematian jaringan dengan atau tanpa edema.Compoun fraktur adalah fraktur tengkorak yang meliputi laserasi dari kulit kepala.2. telinga.4.1. Hematoma subdural dapat timbul dalam waktu 48 jam.1. 2.2. menurunnya kesadaran.Cidera serebral (trauma kepala tertutup) 2.3. ketidak mampuan untuk konsentrasi beberapa minggu setelah kejadian.3. mata. meskipun pembentukan hematoma jarang. membrane mukosa.2. 2. Hematoma sudural adalah perdarahan arteri atau vena durameter dan araknoid. mual dan muntah.3.2. dengan gejala akut kepala mengetuk. lesu. pupil ipsilateral.3.4. Gejala tergantung pada luasnya kerusakan. Biasanya dapat kembali pada fungsi yang normal.4. Biasanya tidak merusak struktur tetapi menyebabkan hilangnya ingatan sebelum dan sesudah cidera.5.2.2.5.4. Hematoma intracerebral adalah perdarahan menuju jaringan serebral biasanya terjadi akibat cidera langsung dan sering di dapat pada lobus frontal dan temporal. Hematoma subarachnoid adalah hematoma yang terjadi akibat trauma.Fraktur dasar tengkorak adalah fraktur yang terjadi pada dasar tengkorak.4.4.1.2. 2. sinus pranasal.

2.4. sakit kepala. cedera olah raga. serta perubahan permiabilitas vaskuler. Otak dapat berfungsi dengan baik apabila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. cedera kepala terbuka sering disebabkan oleh pisau atau peluru (Corwin. menurunnya tingkat kesadaran. kecelakaan kerja. kerusakan pembuluh darah. 2. Kematian cidera kepala banyak disebabkan karena hipotensi karena gangguan autoregulasi ketika terjadi gangguan autoregulasi akan menimbulkan hipoferfusi jaringan serebral dan akhirnya pada iskemia jaringan otak karena otak sangat sensitive terhadap oksigen dan glukosa. perdarahan. Pada cidera kepala sekunder akibat cidera primer misalnya adanya hipoksia iskemia. perkelahian.Etiologi Penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas. gejala meliputi : kaku duduk. 2000). Cidera kepala otak primer merupakan suatu proses biomekanik yang dapat terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan memberi dampak cidera jaringan otak. jadi kekurangan aliran darah dan oksigen ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi otak. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen. jatuh. hemiparesis dan ipsilateral dilatasi pupil. 11 . Patofisiologi cidera kepala dapat digolongkan menjadi 2 proses yaitu cidera kepala otak primer dan cidera kepala sekunder.5. adanya cidera kepala dapat mengakibatkan gangguan atau kerusakan pada perenkim otak.Patofisiologi dan pathways Menurut tarwoto (2007). edema dn gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosine tripospat dalam mikondria.

12 .

2.1.2. ingatan sementara hilang. denyut nadi menurun dengan aritmia. 2. 2. sakit kepala. lemah.Prognosis Prognosis setelah cidera kepala sering mendapat perhatian besar.1. terutama pada klien penderita cidera kepala berat.7. kesulitan berbicara. perubahan pupil (tidak berespon terhadap cahaya.1.6.6. demam diatas 37oC.5.1. otot wajah melemah. melemahnya tungkai pada salah satu sisi tubuh.Muntah bersifat proyektif 2. bradikardi 2. 2008).6.Komosio serebri: muntah tanpa nausea.6.7. Sindrom pasca konkusi berhubungan dengan sindrom kronis nyeri kepala.6.3. sakit kepala.2.6. (Arif mansjoer.2. hilangnya kesadaran dalam waktu singkat sampai beberapa jam.6. perasaan mengantuk.Hematoma epidural: luka benturan.Tanda dan Gejala 2. 2.Jika pasien sadar mengeluh sakit kepala berat 2.Tekanan darah menurun. leher kaku. pusing dan mata berkunang-kunang.2.2. nyeri pada lokasi cidera kepala.2.6.1. hemiparalisis). mudah marah hilang energi. keletihan.Hematoma subdural: berubah-ubah hilangnya kesadaran.6. 2.2. Skor GCS waktu masuk RS memiliki nilai prognostik yang besar.8. 2.1.Kontosio serebri: perubahan tingkat kesadaran.6.Kesadaran makin menurun 2.Perubahan tipe pernafasan 2.6. gangguan kesadaran leher kaku.6.Komplikasi 13 .Suhu tubuh sulit dikendalikan 2. Manifestasi klinis dari trauma otak 2.3.2.1. Gejala trauma kepala menurut Widagdo (2008) 2.2. menunjukan adanya hematom epidural. Skor klien dengan GCS 3-4 memiliki kemungkinan 85%. lemah dan paralisis tungkai. dan perubahan kepribadian yang berkurang banyak pada klien setelah terjadi cidera kepala. sedangkan pada klien dengan GCS 12 kemungkinan meninggal hanya 5-10%. pernafasan menurun dengan pola yang tidak teratur.6. pusing. tekanan darah meningkat.2.4.Anisokor 2.6.6. ketidakmampuan berkonsentrasi. kontriksi.4. gamgguan mental.

8. Inkontensia bladder dan bowel 2. sentrikuler.5.8.10. Meningitis atau abses otak 2.7.16.8. Serebral Angiografi Menunjukkan anomaly sirkulasi serebral seperti perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema. perdarahan.8.9.8. Serial EEG Dapat melihat perkembangan gelombang patologis. Intraventrikuler 2. Subdural 2.8.16.16.2.9. Fistual cairan cerebrospinal 2. jaringan otak. 2.8.8.1. Edema cerebri 2.8.Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan diagnostik menurut Muttaqin.8.8.9.3.2.11. Pembengkakan otak 2. Sinar-X 14 . Pneumonia 2. Parese saraf cranial 2.4.1. (2008) 2. MRI Sama dengan CT scan dengan/tanpa kontras radioaktif.13.1.8. Kebocoran cairan serebrospinal 2.15. Sub archnoid 2.8. Infeksi 2. 2. Sindrom pasca trauma Tindakan : 2. Menurut tarwoto (2007). komplikasi yang dapat terjadi pada pasien cidera kepala adalah: 2.8.14.8.3. determinan.8. 2. Defisit neorologi fokal 2. Epidural 2.8.3.16.9. Perdarahan ulang 2. Malformasi faskuler 2.9.9.8. Perubahan intracranial 2.2.9.5.16.4. Kerusakan control repirasi 2. 2.8.4.6. CT scan (degan/tanpa kontras) Mengidentifikasi luasnya lesi.12. dan trauma.8.8. Kejang 2. perdarahan.

maka faktor yang harus diperhitungkan pula adalah mengurangi iskemia serebri yang terjadi. 2. Sekalipun tidak jarang memerlukan tindakan oprasi. Selain itu perlu pula kontrol kemungkinan tekanan intracranial yang meninggi disebabkan oleh edema serebri. Prinsip ABC dan ventilasi yang teratur dapat mencegah peningkatan tekanan intrakranial. Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur). BEAR (Brain Auditory Evoked Respon) Mengoreksi batas fungsi korteks dan otak kecil.11. hiperventilasi. 2. fragmen tulang. Kadar elektrolit Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai peningkatan tekanan intrakranial.9.9. 2. exposure). Adapun untuk menurunkan PaCO2 ini yakni dengan intubasi endotrakeal. Toraksentesis menyatakan darah/cairan.10.9. perubahan struktur garis (perdarahan/edema).9. 2. CSS Lubal fungsi dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.10. Analisa Gas Darah (AGD/Astrup). 2.9. 2.9. Intubasi dilakukan sedini mungkin kepada klien-klien yang koma untuk mencegah terjadinya PaCO2 yang meninggi. 2.12.6. Circulation) dan menilai status neurologis (disability. Status respirasi yang dapat digambarkan melalui pemeriksaan AGD ini adalah status oksigenasi dan status asam basa.10. Keadaan ini dapat dibantu dengan pemberian oksigen dan glukosa. 2.9.1. Analisa Gas Darah (AGD/Astrup) adalah salah stau tes diagnostik untuk menetukan status respirasi.7.8. tetapi usaha untuk menurunkan tekanan intrakranial ini dapat dilakukan dengan cara menurunkan PaCO2 dengan hiperventilasi yang mengurangi asidosis intraserebral dan menambah metabolisme intraserebral. Breathing. 2. Rontgen thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral) Rontgen thoraks menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural.9. PET (Pasitron Emission Tomagraphy) Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak. Penatalaksanaan konservatif meliputi: 15 . Penatalaksanaan medis Mutaqin (2008) menjelaskan bahwa penatalaksanaan medis pada klien cidera kepala adalah saat awal trauma pada cidera kepala selain dari faktor mempertahankan fungsi ABC (Airway.

Keseimbangan cairan dan elektrolit. Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberi apa-apa.1. monitor keadaan ventilasi.10. Penatalaksanaan menurut Tarwoto (2009) pada klien dengan cidera kepala adalah: 2.10.1.1.2. 2. 2. 2-3 hari kemudian di berikan makanan lunak. prosedur sunting pada hidrosepalus.10. 2.Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi. periksa AGD. 2.3.2. dosis sesuai dengan berat ringannya trauma. Atasi syok ada.1. Monitor tekanan intracranial (TIK). Penatalaksanaan umum: 2. kranioplasti.4.2.10.10.2.5.5. berikan oksigen jika perlu. 2.10.10. debridement luka. Pemberian protein tergantung dari nilai urenitrogennya.2. Pengobatan 2. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah maka makanan diberikan melalui nasogatric tube (2500-3000 TKTP).Dexsamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral.4.5.1.10.10. 2. 2.2.1.10. yaitu manitol 20%. dan dextrosa 5% 8 jam ketiga. Bedrest total 2.1.10.10. 2.2.1. Operasi Dilakukan untuk mengeluarkan darah pada intraserebral.1. Monitor respirasi: Bebas jalan nafas. Kontrol tanda vital. Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesdaran) 2.1.Pengobatan anti-edema dengan larutan hipertosis. Diuretik: untuk mengurangi edem serebral misalnya manitol 20% furosemid (lasik).3.10.1. Pemberian obat-obatan: 2. ringer dextros 8 jam kedua.3. Karena hari-hari pertama didapat klien mengalami penurunan kesadaran dan cendrung terjadi retensi natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama. 2. 16 .2. aminofusin.3.10. Makanan atau cairan. Pada trauma berat.1. 2.1. 2.2. kraniotomi.1.4.2.1. 2.10. aminofil (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan).1.3.10. atau glukosa 40% gliserol 10%. hanya cairan infus dextrose 5%.10.1.10.2.

1. Integritas ego Gejala: perubahan tingkah laku atau kepribadian (perubahan status mental). 2. Neurosensori Gejala: kehilangan kesadaran sementara. Tanda: Peningkatan asam lambung dan kesulitan menelan. aritmia). 2. 2. kesulitan dalam pemahaman.1.1. 2.4. sianosis. kelemahan. Sirkulasi Gejala: perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi). Tanda: prilaku lambat dan sangat hati-hati.11. Pengkajian Pengkajian klien dengan cidera kepala menurut muttaqin (2008). perubahan frekuensi jantung (bradikardi.2.3. Tanda: perubahan kesadaran.11. 2. Eliminasi Gejala: Inkontinesia urine atau mengalami gangguan fungsi. takikardia. kehilanagan pendengaran. 2. 17 .10.2. perubahan dalam penglihatan seperti ketajamannya. Aktivitas dan istirahat Gejala: klien mudah lelah. rendahnya kadar hemoglobin atau syok dan pucat. ranitidine. masalah dalam keseimbangan. kehilangan sensori seperti kesulitan dalam menginterprestasikan stimuli visul.1. Kortokosteroid: untuk menghambat pembentukan edem misalnya dengan dexsametason.3.11.11. Makanan dan Cairan Gejala: Mual.1. Antagonis histamine: mencegah terjadinya iritasi lambung karena hipersekresi akibat efek trauma kepala misalnya dengan cemitidin. 2. Antibiotik jika terjadi luka yang besar. valium. Anti kunvulsan: untuk menghentikan kejang misalnya dengan dilantin.3.11.10.6.11. adanya penurunan darah portal akibat penggunaan PRC dalam jangka lama. afasia dan mudah frustasi.4.3.11. dan kehilanagan sensori/paralisis. 2. 2.1. 2. tegretol.3.1.3. Muntah dan penurunan nafsu makan. 2.11.1.5.10. mudah lupa.5. Tinjauan Teoritis Keperaawatan Cidera Kepala 2.10.

11.11. 2. 2.11.1. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala: Penggunaan Alkohol/obat lain.11. kehilangan sensasi sebagian tubuh. gangguan dalam regulasi suhu tubuh. Tanda: perubahan kesadaran biasa sampai koma. kewaspadaan. ronkhi. 18 . 2.2. Nyeri/Kenyamanan Gejala: Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda. Keamanan Gejala: trauma baru/trauma karena kecelakaan. pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). Interaksi social Tanda: Afasia motorik atau sensorik. hemiparase. Tanda: Fraktur dislokasi. zat kimia. Diagnosa Keperawatan.11. gangguan penglihatan. laserasi pada kulit. konsentrasi.8. tersedak. perhatian. kehilangan penginderaan. merintih.1.1.2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera (misalnya biologis. perubahan status mental(orientasi. stridor.11. psikologis). Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan trauma kepala.2. perubahan pupil (respon terhadap cahaya. 2.11. 2.1. Tanda: Wajah menyeringai.3. Perencanaan. gelisah tidak bisa beristrirahat. respon menarik terhadap rangsangan nyeri yang hebat. fisik. 2.11. Nanda(2011). atau bicara berulang-ulang. ketidakmampuan mengikuti. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan disfungsi neuromuscular.2. Pernafasan Tanda: perubahan pola nafas (apnea yang diselingi oleh hiperventilasi). gangguan rentang gerak. Diagnosa yang muncul menurut Nanda (2009-2011) dan Muttaqin (2008: 162- 164) diagnosa keperawatan yang muncul pada klien cidera kepala dan intervensi adalah: 2. Nanda(2011). nafas berbunyi.11. 2.1. deviasi pada mata.7. biasanya lama. 2. Nanda (2012).10.11. dan Evaluasi.2. simetri). bicara tanpa arti.9.1. pemecahan masalah.

subdural hematoma. Muttaqin (2008). 287). kesamaan antara kiri dan kanan. Munttaqin(2008 hal. 19 . 2. perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.2. 3) Kaji respon motorik terhadap perintah yang sederhana.11. 288). Intervensi : 1) Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK.2. 4) Evaluasi keadaan pupil. Rasional : Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensi peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi. 2. Intervensi Keperawatan Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan trauma kepala. dan ketidakmampuan batuk efektif sekunder akibat nyeri dan kelelahan.2. Rasional : Menentukan pilihan intervensi 2) Pantau/catat status neurologis secara teratur dan dibandingkan dengan nilai standar. dan epidural hematoma. Resiko tinggi peningkatan TIK yang berhubungan dengan desak ruang sekunder dari kompresi korteks serebri dari adanya perdarahan baik bersifat intra serebral hematoma. peningkatan sekresi secret. catat ukuran. Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang berhubungan dengan gangguan alat bantu nafas (respirator). 2. 2. peningkatan kebutuhan metabolisme. Muttaqin(2008 hal.285). Tidak efektif bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya jalan nafas buatan pada trakea. Muttaqin (2008 hal.3. 2.11. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan mencerna makanan.11.5. Rasional : Petunjuk untuk mengetahui kesadaran pasien yang matanya tertutup sebagai akibat dari trauma atau pasien yang afasia.6.4.11. ketajaman.11. dan reaksi terhadap cahaya.7. Rasional : reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (111) dan berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik.2.

5) Kolaborasi pembatasn pemberian cairan sesuai indikasi. Steroid menurunkan inflamasi. Intervensi : 20 . posisi miring sesuai indikasi. Analgetik dapat di indikasikan untuk menghilangkan nyeri. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan disfungsi neuromucular. Rasional : Pembatasan cairan mungkin diperlukan untuk menurunkan edema serebral. irama. berikan cairan melalui IV dengan alat kontral. 5) Kolaborasi pemberian tindakan nebulezer ultrasonic atau oksigen sesuai program institusi. meminimalkan fluktuasi aliran vaskular. Rasional : Diuretik dapat digunakan fase akut untuk menurunkan air dari sel otak. Rasional :Mencegah/menurunkan atelektatis. seperti sedative. Intervensi : 1) Pantau frekuensi. fisik. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera (misalnya biologis. 4) Pantau pengguanaan dari obat-obatan deprensen pernafasan. steroid. kedalaman pernafasan. Rasional : Untuk memudahkan eksvansi paru/ventilasi paru dan menurunkan adanya kemungkinan lidah jatuh kebelakang yang menyumbat jalan nafas. Rasional : Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal. menurunkan edema otak dan TIK. 2) Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya. psiologis). tekanan darah (TD) dan TIK. 3) Anjurkan klien untuk melakukan nafas dalam yang efektif jika pasien sadar. zat kimia. 6) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi (diuretik. Rasional : Memaksimalkan oksigen pada arteri dan tanda-tanda komplikasi yang berkembang. anagetik). antikonvulsan. Rasional : Dapat meningkatkan gangguan/komplikasi pernafasan. Antikonvulsan adalah obat pilihan untuk mengatasi dan mencegah terjadinya kejang.

21 . 3) Observasi relaksasi nonverbal dan ketidaknyamanan. Intervensi : 1) Kaji dalam nafas Rasional : Obstruksi mungkin dapat disebabkan oleh akumulasi secret. dan faktor presipitasi. Rasional : Penghisapan lendir tidak selamanya dilakukan terus-menerus. 2) Ajarkan relaksasi : Teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga meningkatkan relaksasi masase. karakteristik. 2) Lakukan penghisapan lendir jika diperlukan. 5) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.1) Lakukan pengkajian secara komprehensif termasuk lokasi. durasi. 6) Kolaborasi dengan dokter. mengurangi resiko ateletaksis. Rasional : Mengatur pengeluaran secret dan ventilasi segmen paru-paru. dan/atau posisi dari endotracheal/ tracheastomy tube yang berubah. 3) Atur/rubah posisi klien secara teratur(tiap 2 jam). mempermudah pengeluaran secret. peningkatan sekresi secret. dan durasinya pun dapat dikurangi untuk mencegah bahaya hipoksia. Tidak efektif bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya jalan nafas buatan pada trakea. sisa cairan mucus. dan ketidakmampuan batuk efektif sekunder akibat nyeri dan kelemahan. Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri. bronkhospasme. sehingga akan berkurang. belakangnya di pasang bantal kecil. Rasional : Istirahat akan merelaksasikan semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. frekuensi. Rasional : Membantu mengencerkan secret. perdarahan. pemberian analgetik. batasi durasi penghisapan dengan 15 detik atau lebih. 4) Berikan kesempatan waktu istirahat bila rasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman misalnya ketika tidur. 4) Berikan minuman hangat jika keadaan memungkinkan.

Rasional : Adanya ronkhi basan. Rasional : Untuk mencegah mengidentifikasi secara dini terjadi kelebihan cairan. vokal fremitus menandakan adanya edema paru-paru. 3) Kaji dan observasi suara nafas. 2) Timbang berat badan tiap hari Rasional : Peningkatan berat badan merupakan indikasi berkembangnya dan bertambahnya edema sebagai manifestasi dari kelebihan cairan.5) Kolaborasi dengan dokter pemberian ekspektoran. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan kemampuan mencerna makanan. 4) Hitunglah jumlah cairan yang masuk dan keluar. hasil foto thoraks. Rasional : Menunjukan indikasi kekurangan energi otot dan mengurangi fungsi otot-otot pernafasan. Intervensi : 1) Evaluasi kemampuan makan klien. Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penggunaan alat bantu nafas(respirator). peningkatan kebutuhan metabolisme. 5) Kolaborasi pemberian cairan melalui infus jika di indikasikan. Intevensi : 1) Pertahankan secara ketat inteke dan ouput. fisioterapi dada dan konsul foto thoraks. vocal fremitus. 2) Monitor keadaan otot yang menurun dan kehilangan lemak subkutan. antibiotik. Rasional : Mempertahankan volume sirkulasi dan tekanan osmotik. 3) Berikan makanan kecil dan lunak. Rasional : memberikan informasi tentang keadaan cairan tubuh secara umum untuk mempertahankannya tetap seimbang. Rasional : Ekspektoran untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan mengevaluasi perbaikan kondisi atas pengembangan parunya. Rasional : Klien dengan tracheastomy tube mungkin sulit untuk makan. 22 . tetapi klien dengan endotracheal tube dapat menggunakan mag slang atau makan parentak.

Rasional : Perubahan kepala pada situasi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial. 3) Evaluasi pupil. usahakan dengan sedikit bantal. subdural hematoma. dan epidural hematoma. mangkaji status neurologis/tanda-tanda kegagalan untuk menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan. Rasional : Mencegah terjadinya kelemahan. catat terjadi perubahan pergerakan usus misalnya diare. konstipasi. Rasional : Fungsi sistem gastrointerstinal sangat penting untuk memasukan makanan. Ventilator dpat menyebabkan kembung dan perdarah lambung. Hindari penggunaan bantal yang tinggi pada kepala. amati ukuran. Rasional : Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama tidak sadar dan mencegah terjadinya konstipasi. Rasional : reaksi pupil dan pergerakan bola mata merupakan tanda dari gangguan saraf jika batang otak terkuyak. 4) Kajilah fungsi sistem gastrointerstinal yang meliputi suara bising usus. 5) Anjurkan pemberian cairan 2500 cc/hari selama tidak terjadi gangguan jantung. 23 . memudahkan masuknya makanan dan mencegah gangguan pada lambung. penurunan dari autoregulator kebanyakan merupakan tanda penurunan difusi lokal vaskularisasi darah serebral. Resiko tinggi peningkatan TIK yang berhubungan dengan desak ruang sekunder dari kompresi korteks serebri dari adanya perdarahan baik besifat intraserebral hematoma. ketahaman dan reaksi terhadap cahaya. Intervensi : 1) Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan individu/penyebab koma/penurunan perfusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan TIK. Rasional : Deteksi dini untuk meperioritaskan intervensi. 4) Pertahankan kepala dan leher pada posisi yang netral. 2) Monitor TTV tiap 4 jam. Rasional : Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebaral terplihara dengan baik atau fluktuasi ditandai dengan tekanan darah sistenik.

1.2.12.6. Tidak ada lagi secret di saluran pernafasan 2. Mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. Bunyi nafas terdengar bersih 2. Status pernafasan : ventilasi tidak terganggu 2. Klien menunjukan tekanan darah.4.12.4. Kriteria evaluasi Diagnosa 1 : 2. 2. Evaluasi 2. kognisi dan fungsi motorik/sensori. Tracheal tube bebas sumbatan 2.2.12.3.4. steroid.12. Antikonvulsan adalah obat pilihan untuk mengatasi dan mencegah terjadinya kejang. 2.1.5.4. Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri.12. Mendemontrasikan tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK.12. 2.2.4.1. Ronkhi tidak terdengar 2. Analgetik dapat diindikasikan untuk menghilangkan nyeri. Kreteria evaluasi Diagnosa 4 : 2.12.3.5.1.12.3. Tidak ada bunyi nafas tambahan 2.3.6.12. 24 . 5) Kolaborasi pemberian obat osmosis diuretik.12.12. Intake dan output dalam batas normal.2.4.12.1.5. analgesik dan antiperetik.1.2. 2. Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan. Tidak ada penggunaan obat bantu 2.4.12.2.12.12. 2.12.5. Kreteria evaluasi Diagnosa 5 : 2.12.12.12. Menunjukan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan.12. 2.2.1. Kreteria evaluasi Diagnosa 3 : 2. Menujukkan pola nafas efektif. Kreteria evaluasi Diagnosa 6 : 2.2.4.4.12. Rasional : Diuretik dapat digunakan pada fase akut untuk menurunkan air inflamasi.12. 2. nadi dalam batas normal.1. Kreteria evaluasi Diagnosa 2 : 2.12. 2. Menunjukan batuk yang efektif 2.2. berat badan.

4. mual-mual dan muntah 2. Memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan pemeriksaan laboratorium.12.12.12. Klien tidak gelisah 2.M6 2.3.V5.7. Tidak terjadi papil edema 2.7.12.7.7.1.7.7.2. 2. TTV dalam batas normal 25 .2.12. Klien tidak mengeluh nyeri lepala.12.12.6. GCS E4. Kreteria evaluasi Diagnosa 7 : 2.5. 2.

16 Penanggung jawab Nama : Tn. deformitas tangan kiri.kepala belakang dan lecet ditelapak kaki kanan.83. Klien datang dengan kondisi tidak sadarkan diri.A.1. korban dibawa oleh penolong ke IGD RSUD Abdul Moeloek.gigi atas depan patah .luka robek lidah depan . Tekanan darah : 110/80.Lam-Sel Hubungan dengan klien : Ayah 3. Identitas klien Nama : Tn. terdapat luka robek pada bibir atas dan bawah .00 terjadi kecelakaan sepeda motor.00 wib Tanggal pengkajian : 14 Oktober 2016 jam 07.kec Ketibung.R Umur : 18 tahun Alamat : Pasir Putih Rangai. terdapat bula tangan kanan. 26 . Riwayat penyakit sekarang Pada tanggal 13 oktober 2016 jam 04. Keluhan utama Penurunan kesadaran tingkat kesadaran 3.Lam-Sel Status perkawinan : Belum Kawin Agama : Islam Pendidikan : SMP Pekerjaan : Belum bekerja Diagnosa medis : Cedera kepala sedang Tanggal masuk RS : 13 Oktober 2016 jam 04. A Umur : 53 tahun Jenis kelamin : laki-laki Pekerjaan : swasta Alamat : Pasir Putih Rangai.kec Ketibung.2.30 WIB No RM : 00.luka robek alis kanan lecet pada leher .3. BAB 3 HASIL ASUHAN KEPERAWATAN CIDERA KEPALA SEDANG 3. hematom ± 12 cm dahi kanan.47.hematom pada mata kanan.

fungsi penciuman klien baik. terdapat lebam dan bengkak pada kepala sebalah kanan. 3.6.2.2. Hipertensi. Klien tidak pernah menderita penyakit yang serius seperti Diabetes Melitus. semua luka tampak sudah kering. Nadi : 60x/i.6.3. TB paru dan Hepatitis.Pada saat pengkajian tanggal 14 oktober 2016 klien tampak gelisah dengan kesadaran somnolent dengan GCS : E3. dulor. Pendengaran dan telinga 27 .M5. TB paru dan Hepatitis 3. warna kulit klien sawo matang. tidak ada kelainan bentuk kuku normal 3.4.1. 3. Mata dan penglihatan Keadaan mata cukup bersih hanya pada mata kanan klien terlihat bengkak dan biru akibat benturan. Pada CT scan yang di lakukan terhadap klien terdapat perdarahan pada otak sebelah kanan. Kepala dan leher Keadaan kepala cukup bersih. Hidung dan penciuman Keadaan hidung cukup bersih. RR : 22 x/i.4 °C. Keterangan: 3: Terhadap perintah 3: Kata-kata yang tak beraturan 5: Melokalisasi nyeri 3.1.5 (3: Respon membuka mata terhadap perintah.2. Riwayat penyakit keluarga Keluarga klien tidak ada yang mengalami penyakit menular lainnya seperti : Diabetes Militus.5. dan fungsio laesa). adanya luka lecet pada bagian kepala sebelah kanan. Dari IGD klien dipindahkan ke ruang I jam .V3.5. 3: Kata-kata yang tidak teratur. 5: Respon menarik melokalisasi nyeri). tidak terjadi tanda infeksi (rubor.6. Hipertensi. hanya sedikit ada sekret bekas perdarahan yang keluar saat kecelakaan. respirasi 19 x/menit dan suhu tubuh 36. pada leher klien tidak terlihat peningktan vena jugularis ataupun pembesaran kelenjar tiroid.2.4.6.2. 3. S : 36.00 guna mendapatkan perawatan.1 oC. Pengkajian 3. klien tidak menggunakan O2 dan NGT. klien hanya dapat membuka mata dengan rangsangan nyeri.6. terdapat luka lecet pada kulit klien. turgor kulit baik (jika di cibit kembali dalam waktu < 2 detik). Keadaan umum Hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2016 di dapatkan data. Riwayat penyakit dahulu Klien belum pernah masuk rumah sakit sebelumnya.3. Nadi 74 x/menit.6. kesadaran klien somnolent dengan GCS: 3. 3. kalor. Pemeriksaan head to toe 3.6. tidak ada edem. 3.2. struktur hidung simetris. Kulit dan kuku Keadaan kulit klien cukup bersih.2.6. Tekanan darah 120/90 mmHg.

8.7. jenis minuman tergantung apa yang dikehendaki.2. Mulut dan gigi Keadaan mulut dan gigi kotor dan haematoma.10. Dada. klien jarang tidur siang kerena sibuk di sekolah untuk mengajar. tidak ada keluhan dalam tidur klien. pernafasan dan sirkulasi Bentuk dada klien simetris.6.1. Genetalia dan reproduksi Klien berjenis kelamin laki-laki. Pada ekstermitas atas terpasang infus RL 20 tpm. dengan menu bervariasi. Abdomen Keadaan abdomen cukup bersih.2. 3. klien tidak menggunakan gigi palsu. minum klien cukup. Dalam memenuhi aktivitas sehari-hari klien dibantu oleh keluarganya. pola nafas klien normal. keluarga klien mengatakan klien hanya minum air putih dan susu sedikit. Skala otot: 3333 3333 3333 3333 Keterangan: Skala otot 3 ( Gerakan normal menetang gravitasi) 3. tidak terdapat fraktur pada ekstermitas atas dan bawah. 3.9. hanya sedikit ada bekas darah akibat muntah.7. Klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Kebutuhan fisik psikologi sosial dan spiritual 3.6. Keadaan struktur telinga kiri dan kanan simetris. 3.6. frekuensi nafas 19x/menit. Ekstermitas atas dan bawah Struktur ekstermitas atas dan bawah antara kaki kiri dan kanan tampak simetris. mukosa bibir tampak odema. klien mendengar ketika dipanggil. tidak ada trauma dada. sayur.2.8.8.6. tidak ada pembesaran hati. klien mampu melakukan aktivitas secara mandiri. 3.6. Kebutuhan nutrisi di rumah: frekuensi makan klien tiga kali sehari. Aktivitas dan istirahat Aktivitas klien sebagai guru.2. Di rumah sakit. Tidak terdapat bunyi nafas tambahan seperti whezing atau ronkhi.8. dan ada peradangan pada mulut dan gusi klien. CRT kembali < 2 detik.6. 3. tidur malam sekitar 6-7 jam. saat diperkusi terdengar timpani bising usus 8x/menit. klien hanya menghabiskan waktu di atas tempat tidur saja. 3. keadaan gigi bagian atas patah pada gigi depan atas. fungsi pendengaran baik. semua 28 . terdapat ada sekret bakas perdarahan. Skala aktivitas 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan) keluarga klien mengatakan klien tidur malam sedikit gelisah.1. Nafsu makan baik. dan klien tidak menggunakan alat bantu pernafasan. klien tidak menggunakan kateter. dengan porsi satu piring setiap kali makan. terdiri dari nasi. karna kesadaran klien yang kurang. 3. Di rumah sakit. kebersihan kurang. saat pengkajian. tidak ada edem atau asites. Bunyi jantung normal S1 S2 tunggal dan irama jantung reguler.2.7. lauk. klien tinggal bersama Ayah dan Ibu. Nutrisi 3.2.

Spiritual Klien beragama Islam. di lakukan pemeriksaan CT Scan terhadap klien.9. klien di bantu keluarga dengan menggunakan sendok untuk memberi minum klien. 3.1. Seksualitas Klien tidak mengalami gangguan seksualitas. kleluarga klien mengatakan BAB hanya satu kali dengan konsistensi lembek. gosok gigi du kali sehari.11.13.2.1. ptong kuku jika panjang. 3. BAK klien menggunakan kateter menetap dangan jumlah urine 200cc sejak pagi. Di rumah sakit.12. 3. BAK tergantung banyak atau tidaknya minum.14. klien belum pernah menikah. Pemeriksaan penunjang 3. 3. klien tidak menggunakan pampres. Dirumah: klien BAB ± satu kali sehari. Personal hygine 3. 3. 3. warna urin kuning jernih. keramas setiap kali mandi. Pemeriksaan CT Scan Pada tanggal 15 Oktober 2016.9.10.1. Di rumah sakit. aktivitas klien di bantu oleh keluarganya. Hasil pemeriksaan dan kesimpulan yang diambil dari pemeriksaan CT Scan tersebut adalah CKS dan adanya pendarahan pada otak sebelah kanan. ganti baju bila kotor.2.14. dan keluarga klien selalu berdo’a untuk kesembuhan klien. klien diseka keluarganya dua kali sehari dengan menggunakan waslap/handuk yang telah di basahi terlebih dahulu. Personal hygine di rumah: klien mandi dua kali dalam sehari. Psikologis Kebutuhan psikplogis: klien tidak sadar dan klien hanya bereaksi ketika dengan rasa nyeri.9. 3. klien berumur 25 tahun.10. Pemeriksaan Darah Laboratorium pada tanggal 14 Oktober 2016 dapat dilihat pada tabel dibawah ini: 29 .2. keluarga klien mengatakan klien hanya diseka dan di bersihkan mulut dan giginya.14. 3.10. Eliminasi (BAK dan BAB) 3. 3.

Tabel 1.2 32.5 ribu/ul Eritrosit 4.7 ribu/ul KIMIA GULA DARAH Gula darah sewaktu HATI 227 < 200 mg/dl SGOT 56 0-45 u/l SGPT 26 0-45 u/l GINJAL Ureum 21 10-50 mg/dl Creatinin 1.3 11. Ranitidin 2x1gr IV 10:00 22:00 & 10-00 3. 01:00 & Inj.00-52.0 1.0 pg MCHC 32. Ceftriaxone 2x1 gr IV 22.3 4.0 % MID% 5.2 0.0-97.0-11.0 % Limposit% 10. Data Fokus 30 .16.9 80.00 ribu/ul Limposit# 3.5 50.F INFUS D5 NS 30 tpm IV 24 jam Inj.8 27.00 Inj.5-14.50-7.8 14.60 2.0 % HITUNG JENIS Gran% 84.0 ribu/ul MID# 1.15.MCH.0-38.00-18.6 mmol/i 135-146 3.0-32.00 juta/ul Hematokrit 41. Hasil Laboratorium Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Satuan Hematologi Hemoglobin 13.5 42.0 % Gran# 25.00 g/dl Leukosit 30.0-10.0 fi MCH 28.25-4.0-40.78 4.0-70.4 150-450 ribu/ul RDW-CV 14.00.50-6.7 % MCV.5 4.MCHC MCV 86. Terapi Farmakologi Nama klien Nama obat Dosis Cara Waktu Dok Tn.00 vol% Trombosit 22. Terapi obat Tabel 2. Ketorolac 2x1 gr IV 17.0 25.7-14 mg/dl ELEKTROLIT Natrium 141.00 & 10.

9.16. Klien tampak menggunakan infus pada ekstermitas atas kanan 3.2.16.1.16. Terdapat bekas darah pada telinga dan hidung klien 3. Aktivitas klien tampak di bantu keluarga 3.2. Suhu tubuh klien 36.16.6.1.2.11.2.7.16.2.2. Kebersihan klien terlihat kurang terjaga 3.2. Keluarga klien mengatakan klien tampak gelisah 3. Keluarga klien mengatakan klien hanya bisa minum air putih dan susu sedikit.1.16.16. Klien tampak tidak memakan makanan yang di sediakan rumah sakit 3.1. Klien tampak tidak bisa makan 3.16.16. Klien tampak gelisah 3.2.2.2.4.2.16.16.5 Keterangan: 3: Respon membuka mata terhadap perintah 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 31 .4.3. Skala aktivitas klien 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan) 3.10.3. Klien tampak minum sedikit 3. Kesadaran klien somnolent dengan GCS: 3.2.16.16.2.16.2.2.14. Terdapat lebam dan bengkak pada kepala sebelah kanan 3. Terdapat luka lecet pada kepala sebelah kanan 3.16. Keluarga klien mengatakan terdapat luka lecet pada kepala sebelah kanan 3. 3. Data Objektif 3. Keluarga klien mengatakan aktivitas klien di bantu oleh keluarga 3. 3.8.16. klien belum bisa makan 3. Skala otot klien: 3333 3333 3333 3333 Keterangan: Skala otot 3 ( Gerakan normal menetang gravitasi) 3.16.16.17.3.16.13. Data Subjektif 3. Klien tidak tampak menggunakan kateter.2.16.1.2.1 oC 3.5.1.16.2.12.15.2.3. Klien tampak lemah 3. Leukosit klien ….16.1.16.16.2.

M5 Keterangan: 3: Respon membuka mata terhadap perintah 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 32 . DS Resiko Trauma kepala 1.17.V3. Terdapat bekas darah pada telingga klien 4. Klien selalu beralih-alih posisi kekiri dan kekanan 3.2013 hal:90) bengkak pada kepala sebalah kanan DO 1. Terdapat luka lecet pada kepala sebelah kanan 2. Data Masalah Etiologi 1.A. Analisa Data No. Keluarga klien mengatakan terjadinya (Nanda. Terdapat lebam dan bengkak pada kepala sebelah kanan 3. DS Resiko cidera Penurunan tingkat 1.M5 Keterangan: 3: Respon membuka mata terhadap perintah 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 2. Klien tampak gelisah 2. Kesadaran klien somnolent dengan GCS: E3.3.R.V3. di dapatkan data sebagai berikut: Tabel 3. gelisah gelisah (Nanda.2013 hal: 90) kesadaran. Keluarga klien mengatakan klien tampak (Nanda. Kesadaran klien somnolent dengan GCS: E3. 2013 hal: DO 90) 1. Analisa Data Dari hasil pengkajian pada klien Tn. Keluarga klien mengtakan terdapat luka lecet ketidakefektifan pada kepala sebelah kanan perfusi jaringan otak 2.

Aktivitas klien tampak di bantu keluarga 2. DS Nutrisi kurang dari Ketidakmampuan Keluarga klien mengatakan klien hanya bisa kebutuhan tubuh untuk minum air putih dan susu sedikit.2013 hal: 90) (Nanda. DS Hambatan mobilitas Kerusakan 1. Skala otot 3333 3333 3333 3333 keterangan: Skala otot 3 5.V3. DO 90) 1.M5 Keterangan: 3: Respon membuka mata terhadap perintah 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 4. Klien tampak minum sedikit 3.3. ( Gerakan normal menetang gravitasi) 6. Klien tampak tidak memakan makanan yang di sediakan rumah sakit 4. Keluarga klien mengatakan aktivitas klien di fisik persepsi/kognetif bantu oleh keluarga (Nanda.2013 hal: 2. Edisi 1.V3. Skala aktivitas 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan) 4. Klien tampak lemah 3. klien belum bisa (NIC-NOC.M5 Keterangan: 3: Respon membuka mata terhadap perintah 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 33 . Edisi 7 menelan/mebcerna makan hal: 319) makanan DO (NIC-NOC. Klien tampak tidak bisa makan 7 hal: 319) 2. Kesadaran klien somnolent dengan GCS: E3. Kesadaran klien somnolent dengan GCS: E3.

Tampak tidak terjadi (rubor. Skala aktivitas 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan) 3.18. Resiko Infeksi 34 . Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Kerusakan persepsi/kognitif 1.2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Ketidakmampuan untuk menelan makanan 1. Faktor Resiko Resiko Infeksi 1.18. Kesadaran klien somnolent dengan GCS: E3. DS Difisit perawatan diri Kelemahan Kleluarga klien mengatakan klien tidak ada mandi (mandi/hiygine) (NIC-NOC. Resiko ketidak efektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan trauma kepala 1.Prioritas Masalah 1.6. 5. dan fungsio laesa) 4. Suhu tubuh 36. dulor. gelisah 1.18. klien hanya di seka (NIC-NOC.5. kalor.18.M5 Keterangan: 3: Respon membuka mata terhadap perintah 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 6. Terdapat bekas luka pada kepala sebelah (Nanda.2013 hal: 90) kanan 2.18. Kebersihan klien terlihat kurang terjaga 2. Edisi selama di rumah sakit. Leukosit 5. Edisi 7 hal 7 hal: 421) DO 421) 1.1.18. Defisit perawatan diri berhubungan dengan Kelemahan 1.3.18. Resiko Cidera berhubungan dengan Penurunan tingkat kesadaran. Tampak luka lecet pada kepala sekir 3 cm 3.4.1 oC 3.V3.

Untuk mendeteksi secara dengan kriterial hasil: 2. Resiko Masalah resiko 1. Untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam pemberian dosis 2. Menghindari 2. Resiko cidera b. Untuk menentukan asupan dan 5. Batasi gerakan perfusi serebral dan atau meningkatkan pada kepala. Menyedikan aman kemungkinan klien tempat tidur 35 . Sediakan 1. Tinggikan 1.d Masalah resiko cidera 1. Klien dan keluarga 2. Lingkungan yang dapat mejelaskan lingkungan aman mencegah faktor apa saja yang yang berbahaya terjadinya cidera dapat (misalnya mengakibatkan memindahkan cidera perabotan) 2. Memasang dapat pagar tempat mempertahankan 3.Intervensi Setelah di temukan masalah pada klien maka di lakukan intervensi seagai berikut: Tabel 4.19. Untuk mengurangi penurunan tingkat teratasi dalam 1 hari lingkungan kemungkinan cidera kesadaran perawatan dengan yang aman kriterial hasil: untuk klien 1. Monitor halangan sehingga dapat 3. Kaji tanda-tanda dini tanda-tanda 1. Pemasangan pagar tidur lingkungan yang mencegah 4. Keluarga klien 3. Pasien vital klien penurunan tekanan mempertahankan 3.d trauma teratasi/berkurang pasien head up kepala dalam 1 hari dinas 30 derajat 2. Untuk mencegah ketidakefektifan ketidakefektifan perfusi bagian kepala peningkatan tekanan perfusi jaringan jaringan tempat tidur intraserebral otak b. Kolaborasi intervensi selanjutnya haluaran pemberian analgetik 5. Pasien dapat punggung aliran karotis tanpa melakukan aktivitas 4. peningkatan TIK kesadaran leher dan 3.3. Untuk mempertahankan 2. Pasien dapat kemampuan mempasilitasi perfusi mempertahankan BAB 4. Intervensi N Diagnosa Perencanaan o keperawatan Tujuan Intervensi Rasional 1.

Hambatan Masalah Hambatan 1. Memudahkan mobilitas fisik b. Kaji skala otot kriterial hasil: 2. 2. Klien merupakan syarat untuk mempertahankan beraktivitas 3. Evaluasi tingkat perasaan dalam aktivitas yang meningkatkan dan dapat di lakukan kemampuan klien berpindah 5. Dengan tindakan ini pengunjung klien dan anggota adanya keluarga dapat perubahan mengubah lingkungan status kesehatan dalam mencapai dan penyebab tingkat kebersihan penyakit yang optimal 3. yang nyaman jatuh dan bersih 4. Memudahkan klien pemenuhan 1. Kekuatan otot yang baik 1. Bantu klien kekuatan otot dan ROM dalam sendi 3. minum dalam beraktivitas kebersihan diri. Mengerti dalam berpakaian dan tujuan peningkatan pemenuhan mobilitas nutrisi) 3.d mobilitas fisik dpat derajat/skala menentukan intervensi Kerusakan berkurang/teratasi dalam aktivitas klien selanjutnya perspsi/kognetif 1 hari perawatan dengan 2. Tempat yang nyaman 5. Memperbalisasikan 4. Klien tidak memenuhi kebutuhan aktivitas memperlihatkan fisiknya dan menghindari sederhana adanya kesulitan terjadinya nyeri (makan. Mencegah terjadinya 36 . Kaji 1. Mengetahui sejauhmana berbring atau aktivitas yang sudah dapat duduk dalam di lakukan oleh klien posisi yang sama dalam waktu yang lama 5. Berikan dan bersih dapat penjelasan pada membantu klien klien dan merasa nyaman keluarga atau 5. Hindari 4.

Klien mampu 3. Menjaga kebersihan klien klien 5. Agar kulit klien tidak 37 . Untuk merrencanakan sediakan rumah informasi intervensi selanjutnya sakit tentang 4. Berikan 3. Ganti pakaian dan lembab klien jika kotor 4. Karena berat badan menelan/mencern dengan kriterial hasil: klien dapat meningkat a makanan 1. Klien tampak segar personal hygine dan wangi (menyeka klien) 3. Nutrisi kurang Masalah nutrisi kurang 1. Klien terbebas dari 2. Mencegah kekakuan sendi 4. Mencegah terjadinya dari kebutuhan dari kebutuhan tubuh alergi makanan komplikasi/alergi pada tubuh b. Klien makan secara kebutuhan cukup dapat mandiri tanpa di nutrisi pada mempercepat dorong keluarga pemulihan 3. Monitor mual sebagai akibat dari menghabiskan dan muntah retensi cairan makanan yang di 4. Monitor 1. Agar klien terlihat lebih bau badan perawtan bersih 2. Mengetahui intervensi diri perawatan diri dapat kemampuan selanjutnya (mandi/hygine) teratasi dalam 1 hari klien untuk b.d kelemahan perawatan dengan perawatan diri kriterial hasil: dengan mandiri 1. Defisit perawatan Masalah difisit 1. Berikan bedak pada tubuh 3.d dapat teratasi/berkurang 2. Pemberian nutrisi yang 2. Kaji adanya 1. Kulit klien bersih 3. Bantu dsn komplikasi akibat ajarkan klien penekanan yang terlalu ROM aktif lama maupun pasif 6. Berikan 2. Ajarkan klien atau keluarga 4. Pantau asupan klien ketidakmampuan dalam 1 hari perawatan dan haluaran 2. 6. Klien menunjukan nafsu makan yang bertambah 5.

Melindungi kontaminasi timbulnya infeksi 4. Bersihkan 1. Risiko Infeksi Masalah resiko infeksi 1. Observasi penjularan serta keadaan luka penatalaksanaann 5. dan keperawatan fungsio laesa) 3. Kalor. Dulor. Mencegah terjadinya kemampuan untuk aseptik selama infeksi mencegah pemasangan alat 5. penyakit. dan Fungsio laesa Tumor. Klien terbebas dari setiap sebelum 2. Membantu aktivitas yang untuk tidak bisa di lakukan klien memberikan bantuan hanya jika klien tidak mampu untuk melakukannya 6. Dulor. Kalor. Jumlah leukosit dalam batas normal 38 . dan yang Fungsio laesa) mempengaruhi 4. dulor. Mencegah terjadinya dapat berkurang atau lingkungan infeksi lain teratasi dalam 1 hari setelah di pakai perawatan dengan pasien lain kriterial hasil: 2. Pertahankan 3. proses penularan 3. Mendeskripsikan infeksi (Rubor. Kaji tanda-tanda 2. Mencuci tangan 1. Menunjukan lingkungan 4. 5. Rubor. Mencegah terjadinya tanda dan gejala dan sesudah kontaminasi kuman dari infeksi (rubor. faktor Tumor. klien untuk lengket mendorong kemandirian. tindakan tangan kalor.

15 okt 2016 aktivitas klien (Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau 08. Tanda-tanda vital: 09.00 III 1.00 T: 36. Pasien selama di rumah 17. Memberikan penjelasan bersih dan nyaman 16. Membatasi gerakan pada 13.15 okt 2016 kepala tempat tidur pasien di tingikan sesuai dengan head up 30 derajat anjuran perawat 08. Memonitor kemampuan sakit tidak ada BAB BAB 5. Mengkaji derajat/skala 1. Jumat 14 08. Mengkaji tanda-tanda 2. Ketorolac 5. Tempat tidur klien tampak 14.00 4. Memasang pagar tempat klien 10.45 2. Keluarga klien mengerti 17.00 4. Menyediakan lingkungan 1. Tempat tidur klien tampak 08. Tanggal DX f 1. Jumat 14 08.00 5.00 pada klien dan keluarga 5.30 N: 74x/menit 10.00 I 1.00 yang nyaman dan bersih 4.00 II 1. Meninggikan bagian 1.45 yang berbahaya (misalnya tampak aman tidak terdapat 09. Menghindari lingkungan 2.00 3.1oC 3.45 berpartisipasi dalam 39 . Klien tampak berbaring di 14.Implementsai Setelah dilakukannya intervensi maka di lanjutkan dengan implementasi tindakan tersebut dapat di lihat tabel berikut: Tabel 5.00 tidur 3. Lingkungan dekat klien 08. Klien tampak aman di atas 08.15 okt 2016 yang aman untuk klien tempat tidur 2.00 4.30 3. Skla aktivitas klien 4 08. Jumat 14 08.00 kepala.00 atau pengunjung adanya penjelasan perawat perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit 3.00 vital klien TD: 120/90mmHg 09.00 memindahkan perabotan) benda yang membahayakan 09. Pagar tempat tidur klien 11.00 R: 19x/menit 11. leher dan atas tempat tidur punggung 16. Implementasi N Hari/ Pukul No Implementasi Evaluasi Tindakan Para o.3. Berkolaborasi pemberian 2x1 gr analgetik 2. Pemberian Inj.19. Menyedikan tempat tidur tampak terpasang 13.

15 okt 2016 makanan klien tidak ada alergi terhadap makanan 08.30 Keterangan: 2. Menyeka klien dan tampak segar 09.00 3. Klien terlihat lebih bersih 09. Keluarga klien mengerti 14. Keluarga klien mengatakan 08.00 3.00 mual dan muntah muntah 13.00 pengeluaran klien makanan yang di sediakan 09.00 3333 3333 normal 13.00 4. Memonitor terjadinya 3. Skala kekuatan otot 09. Agar terlihat lebih segar 11.00 3. Memonitor kemampuan 1. Keluarga mendengarkan lakukan klien dan mengerti penjelasan 4. Jumat 14 08. Jumat 14 08.00 16. Mengkaji adanya alergi 1.00 5. Klien tidak mengalami 11. perawatan) 09.00 4.00 IV 1. Klien tidak dapat 08.00 2. Menganti pakaian klien 3. Mengevaluasi tingkat oleh keluarga aktivitas yang dapat di 4.00 40 .30 rumah sakit 10. Memantau asupan dan 2.00 klien 13.15 okt 2016 klien untuk perawatan melakukan dengan sendiri yang mandiri 2.00 3=Gerakan 11. Tampak aktivitas dibantu 3. Memberikan informasi 4.45 2.00 V 1.00 14. Menganjurkan keluarga perawat klien agar klien 5. Klien tampak lebih bersih 08.00 tentang kebutuhan nutrisi tentang penjelasan perawat 16. Klien tidak dapat memakan 09. Mengkaji skala otot 3333 3333 10.00 menetang gravitasi 14. Memberikan bedak pada 4.45 2. Bantu dan ajarkan klien ROM aktif maupun 4.00 pada keluarga 17. Klien tidak dapat menghindari berbring melakukan perintah atau duduk dalam posisi perawat yang sama dalam waktu yang lam 5.30 setelah diganti pakaian 10.

Mempertahankan posisi klien 4.Terdapat lebam dan bengkak pada kepala sebelah kanan 11.15 okt 2016 kanan -Keluarga klien mengatakan terjadinya bengkak pada kepala sebalah 08.00 luka sekitar 3 cm 09. Sabtu.6. 3.15 okt 2016 (rubor. Mempertahankan tekhnik 3. Kaji tanda-tanda vital 2.00 -Kesadaran klien Apatis dengan GCS: 3. Suhu tubuh klien 36.15 41 . 17.00 17.15 08.00 . dulor.00 O: 09. Kasa/perban setiap hari 10.3.45 2. Memantau keadaan suhu 4.00 I S: -Keluarga klien mengtakan terdapat luka lecet pada kepala sebelah 08.00 16.00 14. Hari/ Pukul NO Evaluasi Hasil Tanggal DX 1.00 3: Respon membuka mata terhadap perintah 17. tumor tidak ada tanda infeksi dan fungsio laesa) 2. Mengkaji tanda infeksi 1. Jumat 14 08. kalor.00 II S: Keluarga klien mengatakan klien tampak gelisah 08.30 3.00 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri A: Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan 1.30 -Terdapat luka lecet pada kepala sebelah kanan 10.00 -Terdapat bekas darah pada telingga klien 13.00 aseptik selalu di ganti 11. Evaluasi No.00 4.00 6.00 VI 1.5 14. Tampak pada luka di kepala 08. Evaluasi Setelah dilakukannya implementasi maka dapat di evaluasi sebagaimana tabel berikut: Tabel 6. Tampak luka lecet pada 08. Mengobservasi keadaan kepala sebelah kanan 09. Sabtu.00 Keterangan: 16.15 08.1oC 13. Membatasi gerak klien 3. Kolaborasi dalam pemberian analgetik 2.45 kanan 09.

Kaji derajat/skala aktivitas klien 2. okt 2016 O: -Klien tampak gelisah 08.Bantu klien dalam pemenuhan aktivitas 4.30 Keterangan: 10.00 1.Evaluasi tingkat aktivitas yang dapat di lakukan klien 5.Sediakan lingkungan yang aman untuk klien 2.3.00 -Kesadaran klien Apatis dengan GCS: 3. Sabtu.00 P: Intervensi di lanjutkan 17.00 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 14.Sedikan tempat tidur yang nyaman dan bersih 3.00 A: Resiko cidera teratasi sebagian 16.Hindari berbring atau duduk dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama 42 .00 3: Kata-kata yang tidak teratur 13.00 3: Respon membuka mata terhadap perintah 11.Kaji skala otot 3.5 09.45 -Klien selalu beralih-alih posisi kekiri dan kekanan 09.3.5 Keterangan: 3: Respon membuka mata terhadap perintah 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri A: Masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasai P: Intervensi di lanjutkan 1.Hindari lingkungan yang berbahaya 3.pasang pagar tempat tidur 4.15 III S: Keluarga klien mengatakan aktivitas klien di bantu oleh keluarga okt 2016 O: -Aktivitas klien tampak di bantu keluarga -Klien tampak lemah -Klien tamak berbaring di atas tempat tidur -Skala aktivitas 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan) -Skala otot 3333 3333 3333 3333 keterangan: -Skala otot 3 ( Gerakan normal menetang gravitasi) -Kesadaran klien Apatis dengan GCS: 3.

.45 -Kebersihan klien terlihat kurang terjaga 09.00 A: Masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan 1.45 43 .00 IV S: Keluarga klien mengatakan klien hanya bisa minum air putih dan 08.Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi pada keluarga 5.Monitor mual dan muntah 4.00 -Klien tampak minum sedikit 09.30 berpartisipasi dalam perawatan) 10.Berikan bedak pada tubuh klien 5. Sabtu.00 3: Kata-kata yang tidak teratur 16.15 okt 2016 sakit.15 okt 2016 -Keluarga klien mengatakan tidak ada kemerahan pada bekat luka klien -Keluarga klien mengatakan luka klien bersih 08.00 3: Kata-kata yang tidak teratur 16.15 okt 2016 susu sedikit.45 -Klien tampak tidak bisa makan 09.00 -Skala aktivitas 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau 09.00 3: Respon membuka mata terhadap perintah 14.3. Sabtu.00 Keterangan: 13.Berikan perawtan personal hygine (menyeka klien) 3.15 08. klien belum bisa makan O: 08.15 08.5 11.3.00 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 17. klien hanya di seka O: 08.00 -Kesadaran klien Apatis dengan GCS: 3.00 5: Respon motorik melokalisasi nyeri 17.00 VI S: 08.00 A: Masalah difisit perawatan diri teratasi sebagian P: Intervensi di lanjutkan 1.Ajarkan klien atau keluarga klien untuk mendorong kemandirian.Ganti pakaian klien jika kotor 4.00 3: Respon membuka mata terhadap perintah 14.5 11. Sabtu.00 -Kesadaran klien Apatis dengan GCS: 3.Kaji adanya alergi makanan 2.4. untuk memberikan bantuan hanya jika klien tidak mampu untuk melakukannya 6.00 V S: Kleluarga klien mengatakan klien tidak ada mandi selama di rumah 08.Monitor kemampuan klien untuk perawatan diri dengan mandiri 2.00 Keterangan: 13.Pantau asupan dan haluaran klien 3.15 08.30 -Klien tampak tidak memakan makanan yang di sediakan rumah sakit 10.

kalor.00 P: Intervensi di lanjutkan 16. T: 36.00 -Luka klien tampak bersih 09.Memantau keadaan suhu 3. Ketorolac 2x1 jaringan otak belum teratasi 44 .00 kepala.5 tinggikan) Keterangan: 4.16 0008. Membatasi gerakan pada O: 13. dan Fungsio 17. dan fungsio laesa) 10.  Keluarga klien mengatakan o R: 20x/m. catatan perkembangan No.00 1. Tumor.0 C) klien masih tidak sadar dan 10.00 laesa) 2. N: 78x/m. leher dan punggung  Tampak bekas darah pada (Klien tampak berbaring di atas telingga sudah kering tempat tidur)  Klien tampak berbaring di atas tempat tidur 3. Mengukur tanda-tanda vital ( S: okt 2016 08. Dulor. Hari/ Pukul NO Implementasi dan Evaluasi Tanggal DX Evaluasi Tindakan 1.00 I 1.7. Kalor.00 masih gelisah 2. Catatan Perkembangan Setelah dilakukannya evaluasi pada hari pertama perawatan maka di hari kedua dilakukan catatan perkembangan sebagaimana tabel berikut: Tabel 7. Memonitor kemampuan BAB 3: Respon membuka mata (Keluarga klien mengatakan terhadap perintah klien tidak ada BAB) 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi 5. Berkolaborasi pemberian nyeri analgetik A: Resiko ketidakefektifan perfusi (Pemberian inj.00 -Luka klien tampak kering 11.30 -Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor.00 14. dulor. Minggu. O: 09.Kaji tanda-tanda infeksi (Rubor.3.00 11.00 A: Masalah Resiko infeksi tidak terjadi 14.00 -Luka klien tampak tertutup kasa 13.45 TD: 110/80 mmHg.Observasi keadaan luka 3. Meninggikan bagian kepala  Klien tampak gelisah tempat tidur pasien 30 derajat  Tingkat kesadaran klien Apatis (Tempat tidur pasien tampak di dengan GCS: 3.

Menyedikan tempat tidur yang Keterangan: nyaman dan bersih 3: Respon membuka mata (Tempat tidur tampak nyaman terhadap perintah dan bersih) 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri A: Masalah resiko cidera belum teratasi P:Interpensi di lanjutkan  Sediakan lingkungan yang aman untuk klien  Menghindari lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)  Memasang pagar tempat tidur  Menyedikan tempat tidur yang nyaman dan bersih 3.45 aman untuk klien  Keluarga klien mengatakan (Klien tampak nyaman di atas anaknya gelisah saat tidur 10.00 1.16 08. Menyediakan lingkungan yang S: okt 2016 08.00  Klien tampak berbaring di atas 13.00 tempat tidur) O: 11.V3. Mengkaji derajat/skala aktivitas S: 45 .M5 4.00 14. gr IV) P: Intervensi di lanjutkan  Mengukur tanda-tanda vital  Batasi gerakan pada kepala. Memasang pagar tempat tidur  Skala aktivitas klien 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat (Pagar tempat tidur tampak melakukan atau berpartisipasi terpasang) dalam perawatan)  Tingkat kesadaran klien Apatis dengan GCS: E3. Menghindari lingkungan yang tempat tidur berbahaya (Lingkungan dekat  Klien tampak gelisah klien tampak aman dan nyaman)  Klien tampak beralaih-alih posisi 3. Minggu.00 2.16 0008. leher dan punggung  Tinggikan tempat tidur 30o  Kolaborasi pemberian obat 2. Minggu.00 II1.

16 0008.30 berpartisipasi dalam perawatan  Klien tampak lemah dan 10. okt 2016 08. Kaji adanya alergi makanan S: okt 2016 08.00 14.00  Skala aktivitas 4 ( Sangat 3333 3333 tergantung dan tidak dapat 3333 3333 melakukan atau berpartisipasi keterangan: dalam perawatan) -Skala otot 3 ( Gerakan normal  Skala kekuatan otot: menetang gravitasi) 3333 3333 3333 3333 3.00 klien  Klien tampak lemah (Klien hanya minum sedikit dan  Klien tidak dapat makan makan tidak ada)  Klien hanya minum air putih dan sekali-kali minum susu 3.00 susu sedikit tidak ada makan 2. Pantau asupan dan haluaran O: 13.45 Sangat tergantung dan tidak keluarga dapat melakukan atau O: 09.00 berbaring di atas tempat tidur 11.00 11. Minggu.45 (Klien tidak ada alergi  Keluarga klien mengatakan makanan) klien hanya minum air putih dan 10.15 III klien  Keluarga klien mengatakan (Skala aktivitas klien 4: segala aktivitas klien di bantu 08.Mengkaji skala otot  Tampak aktivitas di bantu oleh 13. Mengevaluasi tingkat aktivitas yang dapat di lakukan klien keterangan: (Aktivitas klien tampak di bantu  Skala otot 3 ( Gerakan normal keluarganya) menetang gravitasi) A: Masalah gangguan mobilitas fisik belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan  Kaji kembali derajat/skala aktivitas klien  Kaji klien dalam pemenuhan aktivitas  Evaluasi tingkat aktivitas yang dapat di lakukan klien 4.00 2.00 09. .00 IV 1.00 (skala kekuatan otot keluarga 14. Monitor mual dan muntah  tampak terpasan infus D5 NS 30 (Klien tidak ada muntah) tpm 46 .

16 08.00 V1.00  Tidak ada tanda-tanda infeksi 3.30 klien bersih 10. Memantau keadaan suhu (rubor.00 (Tampak luka tertutup kasa)  Luka klien tampak bersih 13.00 VI1. Kolaborasi pemberiaan  Luka klien tampak tertutup kasa antibiotik A: Masalah Resiko infeksi tidak (Klien di berikan antibotik terjadi ceftriaxon 2x1 gr IV) P: Intervensi di lanjutkan  Kaji tanda-tanda infeksi (Rubor.  Keluarga klien mengatakan tumor.00 P: Intervensi di hentikan 6. dan fungsio (Suhu tubuh klien 36.00  Klien tampak segar dan bersih 09. dan fungsio laesa tidak ada kemerahan pada bekas 08. kalor.00 tanda-tanda infeksi)  Keluarga klien mengatakan luka 09.00 14.15 okt 2016 seperti: rubor. Menyeka klien S: 08. Tumor. A: Masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan  Kaji adanya alergi makanan  Pantau asupan makanan klien  Kaji adanya penurunan berat badan  Pantau mual dan muntah 5.45 (Tampak pada luka tidak terjadi luka klien 09.16 08. Kalor. dulor.30  Klien tampak rapi 10. dan Fungsio laesa)  Observasi keadaan luka 47 . Mengkaji tanda-tanda infeksi S: 08.00 teratasi 14. Mengobservasi keadaan luka O: 11.0oC) laesa)  Luka klien tampak kering 4.45 (Klien tampak bersih) O: 09.00 2.00  Kulit klien tampak lembab A: Masalah difisit perawatan diri 13. Menganti pakaian klien klien selalu di seka 08.15 okt 2016 (Klien tampak segar)  Keluarga klien mengatakan 2. Minggu. kalor. Minggu. Dulor.00 11. dolor.

45 aman untuk klien  Ibu klien mengatakan anaknya (Klien tampak nyaman di atas masih gelisah 10. T: 36. Berkolaborasi pemberian jaringan otak belum teratasi analgetik P: Intervensi di lanjutkan (Pemberian inj. leher dan punggung  Tinggikan tempat tidur 30o  Kolaborasi pemberian obat 8 0008. Menyediakan lingkungan yang S: 08.  Keluarga klien mengatakan o R: 20x/m.00 2.00 II1.00 tempat tidur)  Klien tampak gelisah 13.00 I 1.00 (Klien tampak berbaring di atas tempat tidur 11.00  Klien tampak berbaring di atas 13.V3. Memonitor kemampuan BAB terhadap perintah (Keluarga klien mengatakan 3: Kata-kata yang tidak teratur klien ada BAB sedikit dan BAB 5: Respon motorik melokalisasi cair) nyeri A: Resiko ketidakefektifan perfusi 5.00 14.30 kepala.00 2. leher dan punggung  Klien tampak berbaring di atas 10.5 C) klien masih tidak sadar dan 08.M5 (Tempat tidur pasien tampak di Keterangan: tinggikan) 3: Respon membuka mata 4. Ketorolac 2x1  Mengukur tanda-tanda vital gr IV )  Batasi gerakan pada kepala.15 TD: 120/80 mmHg.00 tempat tidur) O: 11. Memasang pagar tempat tidur  Skala aktivitas klien 4 (Sangat tergantung dan tidak dapat (Pagar tempat tidur tampak melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan) 48 . Menghindari lingkungan yang tempat tidur berbahaya (Lingkungan dekat  Klien tampak gelisah klien tampak aman dan nyaman)  Klien tampak beralaih-alih posisi 3. Meninggikan bagian kepala  Tingkat kesadaran klien Apatis tempat tidur pasien 30 derajat dengan GCS: E3.  Memantau keadaan suhu 7 08.00 14. Membatasi gerakan pada O: 09.00  Klien masih tidak sadar 3. N: 80x/m. Mengukur tanda-tanda vital ( S: 08.45 tidak ada perubahan 09.

00 berpartisipasi dalam perawatan berbaring di atas tempat tidur 14.Mengkaji skala otot keluarga (skala kekuatan otot  Klien tampak gelisah  Skala aktivitas 4 ( Sangat 3333 3333 tergantung dan tidak dapat 3333 3333 melakukan atau berpartisipasi keterangan: dalam perawatan) -Skala otot 3 ( Gerakan normal  Skala kekuatan otot: menetang gravitasi) 3333 3333 3.00 III1. Menyedikan tempat tidur yang Keterangan: nyaman dan bersih 3: Respon membuka mata (Tempat tidur tampak nyaman terhadap perintah dan bersih) 3: Kata-kata yang tidak teratur 5: Respon motorik melokalisasi nyeri A: Masalah resiko cidera belum teratasi P:Interpensi di lanjutkan  Sediakan lingkungan yang aman untuk klien  Menghindari lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)  Memasang pagar tempat tidur  Menyedikan tempat tidur yang nyaman dan bersih 9 0008.00 dapat melakukan atau  Klien tampak lemah dan 13. Mengkaji derajat/skala aktivitas S: 08. Mengevaluasi tingkat aktivitas 3333 3333 yang dapat di lakukan klien keterangan: (Aktivitas klien tampak di bantu Skala otot 3 ( Gerakan normal 49 .00 Sangat tergantung dan tidak O: 11.M5 4. .V3.45 klien  Ibu klien mengatakan segala (Skala aktivitas klien 4: aktivitas anaknya di bantu 10. terpasang)  Tingkat kesadaran klien Apatis dengan GCS: E3.00  Tampak aktivitas di bantu oleh 2.

dan fungsio laesa tidak ada kemerahan pada bekas (Tampak pada luka tidak terjadi luka klien tanda-tanda infeksi)  Keluarga klien mengatakan luka klien bersih 2.5oC) laesa) 50 . Pantau asupan dan haluaran O: 13. Monitor mual dan muntah  tampak terpasan infus RL 20 (Klien tidak ada muntah tpm A: Masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan  Kaji adanya alergi makanan  Pantau asupan makanan klien  Pantau mual dan muntah 11 VI1. keluarganya) menetang gravitasi) A: Masalah gangguan mobilitas fisik belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan  Kaji kembali derajat/skala aktivitas klien  Kaji klien dalam pemenuhan aktivitas  Evaluasi tingkat aktivitas yang dapat di lakukan klien 10 0008. kalor.00 susu sedikit tidak ada makan 2.00 IV1. dulor.00 14. Memantau keadaan suhu (rubor.  Keluarga klien mengatakan tumor. dolor.00 klien  Klien tampak lemah (Klien hanya minum sedikit dan  Klien tidak dapat makan makan tidak ada)  Klien hanya minum air putih dan sekali-kali minum susu 3.45 (Klien tidak ada alergi  Keluarga klien mengatakan makanan) klien hanya minum air putih dan 10. Mengobservasi keadaan luka O: (Tampak luka tertutup kasa)  Luka klien tampak bersih  Tidak ada tanda-tanda infeksi 3. dan fungsio (Suhu tubuh klien 36. Kaji adanya alergi makanan S: 08.00 11. kalor. Mengkaji tanda-tanda infeksi S: seperti: rubor.

Dulor. Kolaborasi dengan tim dokter  Klien tampak sudah tidak (memgetahui kondisi klien) bernafas lagi  Di lakukan pengkajian pupil.0 C) saja anaknya mengalami perubahan seperti ini 2.  Luka klien tampak kering 4. dan Fungsio laesa)  Observasi keadaan luka  Memantau keadaan suhu 12 I 1. N: 15x/m. T: 25. Kalor. Mengobservasi keadaan klien  Keluarga klien mengatakan (Kesadaran klien menurun) takut terjadi apa-apa dengan anaknya 3. KolAborasi pemberiaan  Luka klien tampak tertutup kasa antibiotik A: Masalah Resiko infeksi tidak (Klien di berikan antibotik terjadi ceftriaxon 2x1 gr IV) P: Intervensi di lanjutkan  Kaji tanda-tanda infeksi (Rubor. Memberikan oksigen pada klien O: ( oksigen 12 liter dengan  Kesadaran klien tampak sungkup) menurun  Kulit klien mulai tampak pucat 4. R:  Keluarga klien mengatakan baru o 6x/m. pupil sudah tidak ada respon lagi A: Masalah tidak teratasi P: Intervesi di hentikan (Klien meninggal) 51 . Mengukur tanda-tanda vital ( S: TD: 60/40 mmHg. Tumor.

R. Selama melakukan intervensi dan implementasi asuhan keperawatan ditemukan faktor yang mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. Masalah keperawatan dapat diatasi sesuai dengan tujuan. resiko cidera berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran/gelisah. Hasil evaluasi keperawatan yang didapat setelah melakukan implementasi adalah masalah ketidakefektifan perfusi jaringan otak tidak teratasi selama 4 hari perawatan.A.Kesimpulan Asuhan Keperawatan yang diberikan pada pasien Tn. evaluasi dan pendokumentasian dilakukan pengkajian secara head to toe.A. Implementasi dilakukan berdasarkan rencana yang telah disusun dalam intervensi keperawatan. rencana keperawatan disusun menurut prioritas masalah seperti yang tercantum pada diagnosa keperawatan yang muncul. dan mengkaji tanda-tanda infeksi pada klien.R dengan diagnosa medis cidera kepala sedang dilakukan pada tanggal 16 oktober 2016 di ruang Bougenvil Rumah Sakit Umum Daerah Abduel Moelok yang diawali dengan pengkajian. defisit perawatan diri teratasi selama 1 hari perawatan. hambatan mobilitas fisik tidak teratasi selama 4 hari perawatan. mempertahankan lingkungan yang aman dan nyaman selama di rumah sakit. mempertahankan atau meningkatkan kesadaran klien. perencanaan. defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan.1. dilakukan evaluasi pada masing-masing diagnosa keperawatan untuk menilai keberhasilan tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien. nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menelan makanan. mengkaji nutrisi. masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak teratasi selama 4 hari perawatan.A. mengkaji tingkat kebersihan. mempertahankan kekuatan otat dan ROM sendi (pergerakan sendi sehingga tidak terjadi kekakuan sendi). dan resiko Infeksi. resiko cidera teratasi sebagian selama 2 hari perawatan. hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi/kognitif. implementasi. diagnosa keperawatan. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan trauma kepala. resiko infeksi tidak terjadi selama 4 hari perawatan.R. Mulai dari aspek biopsikososial dan spiritual didapatkan hasil pengkajian yaitu tiga diagnosa keperawatan pada pasien seperti. yaitu pihak rumah sakit 52 . BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 4. Perencanaan dirumuskan mengacu kepada perencanaan teoritis dan berdasarkan masalah keperawatan pada Tn.

dan mengevaluasi dengan menggunakan standar asuhan keperawatan pada pasien cidera kepala yang telah ada di rumah sakit. Bagi institusi pendidikan agar meningkatkan bimbingan dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang komprehensif khususnya pada pasien dengan cidera kepala serta memperbanyak koleksi buku-buku di perpustakaan sehingga mempermudah mahasiswa yang ingin mencari referensi untuk menyusun tugas akhir. sehingga dalam memberikan pelayanan tidak hanya mengatasi masalah biologis dan fisiknya saja. peran perawat ruangan sebagai tim sehingga memudahkan dalam proses implementasi keperawatan. 53 . tetapi mencakup aspek kehidupan manusia secara biopsikososial dan spiritual yang komprehensif guna meningkatkan proses penyembuhan. 4.Saran Bagi pasien dan keluarga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang keperawatan pada pasien dengan penyakit cidera kepala dan dapat meningkatkan jalinan hubungan yang kooperatif. Bagi mahasiswa agar selalu terus mengasah dan memperdalam ilmu yang telah di peroleh sehingga dapat bermanfaat di masyarakat dalam pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif dan profesional. Bagi perawat hendaknya lebih meningkatkan ilmu pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill) cara merawat pasien dengan diagnosa medis cidera kepala. Adapun di antaranya faktor yang menjadi kendala dalam melaksanakan asuhan keperawatan yaitu kurangnya pengetahuan dan keterampilan dari mahasiswa yang terbatas sehingga asuhan keperawatan yang diberikan kurang maksimal.2. memberikan kepercayaan kepada mahasiswa untuk melakukan tindakan. Pasien dan keluarga kooperatif sehingga memudahkan dalam melaksanakan implementasi keperawatan.

Jakarta : Salemba Medika. Volume II Alih Bahasa : Monica E. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Muttaqin. (2013). Jakarta: EGC.. DAFTAR RUJUKAN Fransisca B. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Judit M. Elsy Dwihapsarai dan Intan Sari Nur Janah. Nursing Diagnosis Handbook with NIC Intervention and NOC Outcomes. Jakarta : EGC. Baticaca. Nanda. Edisi VI. Jilid 2. Wilkinson. 2002. 2008. 2008. Mansjoer. 2006. Cholik dan Nurhidayat Saiful. Gallo M. D Adiyantika dkk. Harun. 2008. Jakarta : EGC. Carolyn. 2009. Rosyidi. Buku Ajar Perawatan Cedera Kepala & Stroke untuk Mahasiswa D III Keperawatan. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis 54 . Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Salemba Medika. Syahirul Alimi. Arif. Alih Bahasa: Widiyawati. & Hudak M. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik (Critical Care Nursing: A Holistic Approach). Arif. Yogyakarta : Ardana Media.