LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

STIMULASI SISTEM SARAF PUSAT DAN ANTI EPILEPTIKA

Disusun oleh:
Kelompok 1
Kelas A
1. Daris Ardiansyah 11151020000003

2. Rani Stramrotul Fuadah 11151020000007

3. Muhammad Rosikh Ruhul Amin 11151020000010

4. Ailla Tiara Putri 11151020000022

5. Devi Ananda Putri 11151020000025

6. Adzdzikra Dzikrullah Adzkar 11151020000026

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2017

1

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUA............................................................................................................3
A. Latar Belakang..............................................................................................................3
B. Rumusan Masalah.........................................................................................................4
C. Tujuan............................................................................................................................4
BAB II DASAR TEORI...........................................................................................................5
A. Pengertian Epilepsi.......................................................................................................5
B. Jenis-Jenis / Macam-Maca Tipe Penyakit Epilepsi :.................................................5
C. Penyebab Terjadinya Epilepsi......................................................................................6
D. Obat Anti Epilepsi.........................................................................................................7
BAB III METODE KERJA...................................................................................................10
A. Waktu dan Tempat......................................................................................................10
B. Alat dan Bahan............................................................................................................10
A. Hasil Pengamatan........................................................................................................12
B. Perhitungan dosis........................................................................................................13
BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN DOSIS....................................15
BAB V PEMBAHASAN........................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................23

2

misalnya sedatif hipnotik. sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Rasa sakit disebabkan oleh perangsangan rasa sakit diotak besar. Obat-obat yang bekerja terhadap susunan saraf pusat berdasarkan efek farmakodinamiknya dibagi atas dua golongan besar yaitu : 1. sumsum tulang belakang beserta syarafnya. rangsang seperti sakit. panas. Contoh senyawa stimulan SSP yaitu kafein dan amfetamin. Fungsi sistem saraf antara lain yaitu mengkoordinasi. Sistem syaraf pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik. Obat yang dapat merangsang SSP disebut analeptika. Berikut ini beberapa 3 . Menghambat atau mendepresi. Pada sistem syaraf pusat. kemudian dilanjutkan ke otak dan sumsum tulang belakang. Sedangkan analgetik narkotik menekan reaksi emosional yang ditimbulkan rasa sakit tersebut. cahaya. Sistem saraf pusat ini dibagi menjadi dua yaitu otak (ensevalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks. Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang serebrum medula dan sumsum tulang belakang. 2. rasa. Merangsang atau menstimulasi yang secara langsung maupun tidak langsung merangsang aktivitas otak. menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.sarafnya. Stimulasi daerah korteks otak depan oleh senyawa stimulan SSP akan meningkatkan kewaspadaan. Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang sangat luas (merangsang atau menghambat secara spesifik atau secara umum). Latar Belakang Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan sistem saraf lainnya didalam tubuh dimana bekerja dibawah kesadaran atau kemauan. sumsum tulang belakang dan saraf. SSP biasa juga disebut sistem saraf sentral karena merupakan sentral atau pusat dari saraf lainnya. pengurangan kelelahan pikiran dan semangat bertambah. BAB I PENDAHULUAN A. dan suara mula-mula diterima oleh reseptor. yang secara langsung maupun tidak lansung memblokir Proses-proses tertentu pada aktivitas otak. Sistem saraf dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat atau sentral dan sistem saraf tepi (SST).

macam golongan obat yang bekerja pada susunan saraf pusat yaitu analgetik. Antiepileptika adalah obat yang dapat menanggulangi serangan epilepsi berkat khasiat antikonvulsinya. yakni meredakan konvulsi (kejang klonus hebat). anti obesitas. kolinergik. Untuk mengetahui gejala yang di timbulkan akibat epilepsi 4 . B. anti parkinson. Apa obat stimulan sistem saraf pusat dan antiepileptika ? 2. anti emetika. Tujuan 1. adrenerik. hipnotika-sedativa. anestika umum. Rumusan Masalah 1. Untuk mengetahui dan memahami efek farmakologi yang ditimbulkan oleh obat stimulan susunan sistem saraf pusat dan antiepileptika 3. Untuk mengetahui dan memahami obat stimulan sistem saraf pusat dan antiepileptika 2. Adapun dalam bidang farmasi pengetahuan tentang sistem saraf pusat dan antiepileptika perlu untuk diketahui khususnya dalam bidang ilmu farmakologi karena mahasiswa farmasi dapat mengetahui bagaimana manifestasi stimulasi sistem saraf pusat secara berlebihan dan bagaiman cara mengatasinya . Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya percobaan ini. anti kolinergik. adrenoligik. neurotropik. Bagaimana efek farmakologi obat stimulan sistem saraf pusat dan antiepileptika ? 3. anti epilepsi. Sebutkan gejala yang di timbulkan akibat epilepsi ? C.

5 .

dimana seseorang menjadi seperti bengong tidak sadar tanpa reaksi apa-apa. yang dapat menimbulkan kelainan motorik. Jenis-Jenis / Macam-Maca Tipe Penyakit Epilepsi : 1. c. Epilepsi Petit Mal Epilepsi petit mal adalah epilepsi yang menyebabkan gangguan kesadaran secara tiba-tiba. dan setelah beberapa saat bisa kembali normal melakukan aktivitas semula. dengan gejala-gejala klinis seperti di atas. otonom atau psikis yang timbul tiba-tiba dan sesaat disebabkan lepasnya muatan listrik abnormal sel-sel otak (Gofir dan Wibowo. Epilepsi Myoklonik Juvenil 6 . 2005). BAB II DASAR TEORI A. 2006). sensorik. Pengertian Epilepsi Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan kronik otak yang menunjukkan gejala-gejala berupa serangan yang berulang-ulang yang terjadi akibat adanya ketidaknormalan kerja sementara sebagian atau seluruh jaringan otak karena cetusan listrik pada neuron (sel saraf) peka rangsang yang berlebihan. Menurut Gibbs epilepsi ialah suatu “paroxysmal cerebral dysrhytmia”. Epilepsi Umum a. Epilepsi Grand Mal Epilepsi grand mal adalah epilepsi yang terjadi secara mendadak. B. Dasar disritmia ini ialah elektrobiokimiawi (Maramis. di mana penderitanya hilang kesadaran lalu kejang-kejang dengan napas berbunyi ngorok dan mengeluarkan buih/busa dari mulut. b. 2008). Dewasa ini epilepsi didefinisikan sebagai suatu gangguan atau terhentinya fungsi otak secara periodik yang disebabkan oleh terjadinya pelepasan muatan listrik secara berlebihan dan tidak teratur oleh sel-sel otak dengan tiba-tiba. sehingga penerimaan dan pengiriman impuls antara bagian otak dan dari otak ke bagian lain tubuh terganggu (Mutiawati.

Pilahan epilepsy secara internasioal tidak banyak membantu sebagai 7 . berkata-kata sesuatu yang diulang-ulang. atypical absences. C. Epilepsi myoklonik Juvenil adalah epilepsi yang mengakibatkan terjadinya kontraksi singkat pada satu atau beberapa otot mulai dari yang ringan tidak terlihat sampai yang menyentak hebat seperti jatuh tiba-tiba. idiopatik. dan lain sebagainya. Epilepsi Parsial Sederhana Epilepsi parsial sederhana adalah epilepsi yang tidak disertai hilang kesadaran dengan gejala kejang-kejang. dan lain sebagainya (otomatisme). tumor. Menurut International League Against Epilepsy (ILAE). melemparkan benda yang dipegang tiba-tiba. terganggunya daya ingat. 2. Epilepsi Parsial Kompleks Epilepsi parsial komplek adalah epilepsi yang disertai gangguan kesadaran yang dimulai dengan gejala parsialis sederhana namun ditambah dengan halusinasi. seperti bermimpi. lari tanpa tujuan. tonic clonic (grand mal) seizures. encephalitis (radang otak). kejang dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok utama yaitu kejang parsial ( Partial seizures) dan kejang keseluruhan (Generalized seizures). hipoglikemia. hipokalsemia. myoclonic seizures. walaupun mereka tidak dianggap epilepsi. Kejang yang disebabkan oleh meningitis disembuhkan adengan obat anti epilepsi. rasa kesemutan atau rasa kebal di suatu tempat yang berlangsung dalam hitungan menit atau jam. Penyebab Terjadinya Epilepsi Penyebab epilepsy antara lain trauma terutama pada kepala. demam tinggi. kosong pikiran. dan lain sebagainya. penghentian obat depresan secara tiba-tiba.Pilihan Bangkitan Epilepsi Pemilihan obat untuk terapi masing-masing bentuk epilepsi tergantung dari bentuk bangkitn epilepsy secara klinis dan kelainan EEG nya. alkalosis. asidosis. Sedangkan kejang keseluruhan dikelompokkan menjadi petit mal seizures (Absenceseizures).kena kulit kepala . Epilepsi Parsial (Sebagian) a. Tidak ada satupun pilahan epilepsi yang dapat memuaskan dan diterima oleh semua ahli penyakit saraf. Sebagian kecil disebabkan oleh penyakit menurun.atonic seizures. clonic. birth trauma (bayi lahir dengan cara vacuum .trauma). Kejang sebagian dibagi lagi menjadi kejang parsial sederhana dan kejang parsialkompleks. obat. tonic. Epilepsi jenis ini bisa menyebabkan penderita melamun. b.

Golongan benzodiazepin 8 . 2. mefentoin dan etotoin. hidantoin. 4. 5. 2008. termasuk jenis epilepsi fokal atau umum. pedoman untuk pembahasan obat anti epilepsi. Golongan barbiturat Golongan obat ini sebagai hipnotik-sedatif dan efektif sebagai antikonvulsi yang sering digunakan adalah barbiturat kerja lama (Long Acting Barbiturates). Obat anti epilepsi telah diklasifikasikan kedalam 5 kelompok kimiawi yaitu barbiturat. 3. 6. Golongan suksinimida Obat yang sering digunakan di klinik adalah jenis etosuksimid. 2002.Untuk maksud ini digunakan pilahan yang lazim dipakai di klinik dan berkaitan erat dengan efektivitas obat antiepilepsi. Etosuksimid merupakan obat pilihan untuk bangkitan lena. D. Golongan hidantoin Pada golongan ini terdapat 3 senyawa yaitu Fenitoin. Jenis obat golongan ini antara lain fenobarbital dan primidon. Oktaviana dan Fitri. dan asetilurea (Ganiswara et al. dari ketiga jenis itu yang sering digunakan adalah Fenitoin dan digunakan untuk semua jenis bangkitan kecuali bangkitan Lena. Golongan oksazolidindion Salah satu jenis obatnya adalah trimetadion yang mempunyai efek memperkuat depresi pasca transmisi sehingga transmisi impuls berurutan dihambat. Obat Anti Epilepsi Jenis OAE sangat tergantung pada sifat serangan epilepsi. Levy et al. metsuksimid dan fensuksimid yang mempunyai efek sama dengan trimetadion. suksinimid. 1995) 1. Golongan karbamazepin Obat ini efektif terhadap bangkitan parsial komplek dan bangkitan tonik klonik dan merupakan obat pilihan pertama di Amerika Serikat untuk mengatasi semua bangkitan kecuali lena. oksazolidindion. kedua obat ini dapat menekan letupan di fokus epilepsi.

gabapentin. gangguan tidur. Mekanisme Kerja Aminophyllin atau aminofilin merupakan bentuk garam dari teofilin. Penghambatan PDE menyebabkan akumulasi cAMP dan cGMP dalam sel sehingga menyebabkan relaksasi otot polos termasuk otot polos bronkus. seperti sesak napas. Salah satu jenisnya adalah diazepam. Kadar puncak dalam darah tercapai 9 . topiramat dan zonisamida. 7. Mekanisme kerjanya yaitu dengan menghambat enzim fosfodiesterase (PDE) sehingga mencegah pemecahancAMP dan cGMP masing-masing menjadi 5’- AMP dan 5’-GMP. emfisema. Beberapa efek samping yang biasa terjadi setelah mengonsumsi obat ini antara lain: Detak jantung meningkat. lamotrigin. dan batuk-batuk. sakit perut. dan penyakit paru- paru kronis.  Aminophyllin a. Kerja utama diazepam yaitu potensiasi inhibisi neuron dengan asam gamma-aminobutirat (GABA) sebagai mediator pada sistim syaraf pusat. gemetar. dan mual. Efek Samping Sama seperti obat-obat lain. felbamat. Indikasi Aminofilin merupakan obat yang digunakan untuk mengobati beberapa penyakit pernapasan seperti: asma. Obat . c. aminofilin juga berpotensi menyebabkan efek samping. Selain itu. b. bronkitis. tiagabin.obat generasi kedua Vigabatrin. Mekanisme Kerja Diazepam merupakan turunan bezodiazepin. Dimetabolisme menjadi metabolit aktif yaitu N-desmetildiazepam dan oxazepam. disamping sebagai anti konvulsi juga mempunyai efek antiansietas dan merupakan obat pilihan untuk status epileptikus. obat ini juga dapat meredakan gejala-gejala penyakit. gelisah.  Diazepam a.

d. perubahan libido. paraplegia). hipotensi. depress pernapasan. glaucoma sudut sempit. gangguan pulmoner akut. kelelahan Erupsi pada kulit. Waktu paruh bervariasi antara 20 – 50 jam sedang waktu paruh desmetildiazepam bervariasi hingga 100 jam. c. setelah 1 – 2 jam pemberian oral. Digunakan juga untuk meringankan gejala-gejala pada penghentian alkohol akut dan premidikasi anestesi. Efek Samping Mengantuk. wanita hamil dan menyusui.ataksia. Kontra Indikasi Penderia hipersensitif. 10 . b. Indikasi Untuk pengobatan jangka pendek pada gejala ansietas. nipertdnisitairotot (kelaTrian motorik serebral. amnesia. Sebagai terapi tambahan untuk meringankan spasme otot rangka karena inflamasi atau trauma. edema. gejala-gejala ekstra pirimidal. jaundice dan neutropenia. gangguan visual dan retensi urin. sakit kepala. keadaan fobia. mual dan konstipasi. tergantung usia dan fungsi hati. bayi dibawah 6 bulan.

Prosedur Kerja 1. Memasukkan obat diazepam dengan rute intraperitoneal. Beaker glass 4. Setelah 15 menit obat diberikan. 11 . Sebelum diigunakan tikus harus terlebih dahulu ditimbang. tikus diberikan obat aminofilin dengan rute oral. 2. Obat : a. Jarum Oral (Kanulla/ Sonde) 3. Menghitung dosis pemberian obat dan VAO sebelum diberikan. Konsentrasi : 5 mg/ml 3. Tikus 2. Aminofilin Dosis Manusia : 90 mg/KgBB. Diazepam Dosis Manusia : 10 mg/60 KgBB. 3. Alat Suntik 1 ml 2.d 16.00 s. Waktu dan Tempat Hari : Selasa. Alat dan Bahan Alat : 1. BAB III METODE PRAKTIKUM A. Alkohol 70% 4.00 Tempat : Laboratorium Farmakologi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta B. Aquadest C. Konsentrasi : 24 mg/ml b. Stopwatch Bahan : 1. 4. 9 Mei 2017 Waktu : Pukul 14.

5. 12 . Catat tingkah laku dan perhatikan kejang yang ditimbulkan oleh aminofilin yang ditahan oleh diazepam.

Hasil Pengamatan. kemudian bergerak terasa kejang tikus mati debar dan mulai tapi lemas di menit ke- terasa tidur masih 58 karena lemas lemas kejangnya sudah parah 1C Diazepam Bergerak Menjilat Diam Mulai (10mg/60kgBB) aktif dan kaki dan dan kembali + bernapas badan mata normal Aminofilin cepat sayu (45mg/kgBB) 2C Diazepam Jalan Denyut Sensitif (10mg/60kgBB) kurang jantung terhadap + seimbang meningkat rangsang Aminofilin dan 13 . Kelompok Obat Waktu (menit) 0-10 11-20 21-30 31-40 41-50 51-60 1A Diazepam Nafasnya Mulai Mata Mulai Kejang. BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN DOSIS A.+Diazepam. (90mg/kgBB) berdebar. Badannya (10mg/60kgBB) cepat dan diam sayu bergetar kejang bergetar + mata sayu dan tikus Aminofilin mati di (90mg/kgBB) menit ke-58 2A Diazepam Nafasnya Mata Mata Mata masih Mata Kejang- (10mg/60kgBB) cepat dan masih masih sayu masih kejang dan + mata sayu sayu sayu badannya Aminofilin Sayu bergetar (90mg/kgBB) 3A Aminofilin Nafas Mata Mulai Perut Tikus Tikus sudah (90mg/kgBB) mulai mulai diam kembang aktif aktif cepat dan menyipit kempis dan kembali gemetaran mata mulai merem 4A Aminofilin Mulai Diam Mulai Masih Kejang.

(45mg/kgBB) mata semakin sayu 3C Aminofilin Bergerak Mata sayu Agak Mata (45mg/kgBB) aktif dan lompat semakin sensitive saat menutup terhadap disentuh dan sentuhan lompatan lebih tinggi dari sebelumny a 4C Aminofilin Menjilat Napas Mata Mulai (45mg/kgBB) kaki mulai menyipit kembali cepat dan normal sensitive terhadap sentuan B.184 Kg Kg VAO ¿ =0. Diazepam Diketahui:  Dosis manusia: 10 mg/60 KgBB  Konsentrasi obat: 5 mg/ml  Bobot Tikus: 0. 90 mg×37 Dosis Hewan ¿ =555 mg/ KgBB Kg ×6 14 .184 Kg Maka. Aminofilin a) Kelas A Diketahui:  Dosis manusia: 90 mg/KgBB  Konsentrasi obat: 24 mg/ml  Bobot Tikus: 0. Perhitungan dosis. 0377 ml mg 5 ml 2.027 mg /KgBB 60 Kg ×6 mg 1. 1 mg ×37 Dosis Hewan ¿ =1.027 × 0. 1.184 Kg Maka.

184 Kg Kg VAO ¿ =4. 45 mg× 37 Dosis Hewan ¿ =277. 5 mg/KgBB Kg ×6 mg 277.1275 mg/KgBB mg 24 ml 15 . 184 Kg Kg VAO ¿ =2. mg 555 ×0.184 Kg Maka.255 ml mg 24 ml b) Kelas C Diketahui:  Dosis manusia: 45 mg/KgBB  Konsentrasi obat: 24 mg/ml  Bobot Tikus: 0. 5 ×0.

insomnia.0377 ml di lakukan secara intra peritoneal. Pada praktikum kali ini kelompok 1A menggunakan tikus dengan berat 0. Reaksi efek samping jarang terjadi pada level serum teofilin yang kurang dari 20 mcg/mL. 2015). Efek samping dapat timbul pada kadar 10. dan efek samping akan semakin sering dan semakin berat pada kadar di atas 20 mcg/mL (BPOM RI. Pada waktu 9 menit.255 ml. kedutan dan kejang (Direktorat Bina Farmasi. Pada waktu 24 menit. kerusakan otak dan kematian. Pada level lebih dari 20 mcg/mL efek samping yang dapat terjadi adalah mual. sakit kepala. tidak bisa instirahat. mata sayu dan bernapas normal. kemudian tunggu hingga 15 menit untuk diberikan obat aminophylin dengan dosis 4. Pada waktu 5 menit . 2007). efek yang timbul yaitu bernapas cepat dan mata sayu. Teofilin juga memiliki efek samping pada susunan saraf pusat yaitu iritabilitas. timbul efek bernapas cepat. Pada level yang lebih dari 35 mcg/mL efek samping yang bisa terjadi seperti hiperglisemia. Pada kebanyakan pasien. 2015). yaitu dosis toksiknya dekat dengan dosis terapinya. diberikan obat diazepam sebanyak 0.184 gram. Pada 16 . Karena kisaran terapi yang sempit dan sering menimbulkan efek samping menyebabkan kepentingan teofilin dalam terapi asma berkurang. muntah. diperlukan kadar 10-20 mcg/mL dalam plasma untuk efek bronkodilasi yang memuaskan walaupun pada kadar plasma 10 mcg/mL (atau kurang) mungkin sudah efektif. mata sayu dan diam. yang dua puluh kali lebih larut bila dibandingkan dengan teofilin sendiri. iritabilitas. Pada waktu 1 menit obat diazepam mulai bekerja dan menimbulkan efek diam dan bernapas cepat. sakit kepala. takikardia. BAB IV PEMBAHASAN Aminofilin adalah suatu campuran teofilin dengan etilendiamin. Teofilin dapat diberikan secara injeksi sebagai aminofilin. diare. Perbedaan waktu paruh antar pasien sangat penting karena teofilin mempunyai rentang terapi yang sempit. insomnia. hipotensi. aritmia jantung. Aminofilin tidak dapat diberikan intramuskular karena sangat iritatif (BPOM RI. Aminophilin apabila diberikan dengan dosis yang berlebih akan menimbulkan efek kejang.20 mcg/mL. seizure. Kemudian dilakukan pengamatan setelah pemberian obat.

efek yang timbul yaitu gemeteran dan jilat- jilat tangan. Pada menit 58 lebih 47 detik badan tikus bergetar. Pada waktu 14 detik obat diazepam mulai bekerja dan menimbulkan efek diam pada tikus. tikus mulai berjalan kembali. jantung tikus mulai berdebar. Pada menit 7. efek yang terjadi kejang pertama. Pada 7 menit 48 detik mata tikus mulai mengecil. diberikan obat aminophylin dengan dosis 4. tidak di beri obat diazepam. Pada waktu ke 4 menit. kemudian tunggu hingga 15 menit untuk diberikan obat aminophylin. Pada waktu 11 menit 49 detik mulai diam kembali pada satu tempat. tikus mulai sangat lemas dan meletakkan kaki depannya ke dalam.waktu 27 menit. diberikan obat aminophylin dengan dosis 4. Pada menit 9. timbul efek gemeteran cukup kuat. Pada waktu 4 menit 59 detik.21 gram. bulu berdiri semua. Pada waktu 17 detik obat diazepam mulai bekerja dan menimbulkan efek bernapas cepat.21 gram. Kelompok 4A menggunakan tikus dengan berat 0. Aminophilin apabila diberikan dengan dosis yang berlebih akan menimbulkan efek kejang. Pada 16 menit 48 detik tikus mulai tidur. Kelompok 3A sebagai kontrol negatif hanya menggunakan obat amynophylin. Pada waktu 13 menit 37 detik mata tikus mulai menyipit. Pada waktu 3 menit 58 detik. kumis getar hebat dan mulut getar. Pada menit 27 mata tikus kedip-kedip. Pada 6 menit 30 detik. Pada waktu 5 menit 45 detik. Kemudian dilakukan pengamatan setelah pemberian obat. Kelompok 4A sebagai kontrol negatif hanya menggunakan obat amynophylin. Pada waktu 42 menit 5 detik tikus 17 . efek diazepam mulai hilang. Pada waktu 58 menit tikus mati. Pada waktu 45 menit. Pada waktu 31 menit mata tikus mulai merem.856 ml. Pada waktu 29 menit 11 detik perut tikus kembang kempis. Pada waktu 2 menit 57 detik. Pada menit 13 menit 8 detik mata mulai emngantuk. Kelompok 3A menggunakan tikus dengan berat 0. Menit 24 tikus mulai diam dan mata semakin menyipit. obat aminophylin baru mulai bekerja. timbul efek jantung tikus lebih berdebar dan ngos-ngosan. Pada waktu 58 menit. efek yang timbul yaitu mata sayu. Pada waktu 1 menit 22 detik. jilat-jilat kaki dan mengusap kuping. obat aminophylin baru mulai bekerja. Kemudian dilakukan pengamatan setelah pemberian obat. Aminophilin apabila diberikan dengan dosis yang berlebih akan menimbulkan efek kejang. Pada waktu 4 menit 9 detik. tidak di beri obat diazepam. hampir rapat.85625 ml. Kelompok 2A tikus diberikan obat diazepam di lakukan secara intra peritoneal. efek yang terjadi kejang dan gemetar. Kemudian dilakukan pengamatan setelah pemberian obat. Aminophilin apabila diberikan dengan dosis yang berlebih akan menimbulkan efek kejang. Pada waktu 1 menit 40 detik obat diazepam mulai bekerja dan menimbulkan efek bernapas cepat.

Kelompok 4C pada menit 10. intensitas menggaruk badan sangat tinggi. Pada waktu 48 menit 1 detik tikus kejang dan bergetar. Pada waktu 50 menit 58 detik tikus kejang parah. diam dengan mata terpejam. Pada menit 27-35. mulai sensitif terhadap sentuhan. Pada menit 15. Pada menit 25. sensitif terhadap ransang. mata semakin menyipit dan semakin sensitif terhadap sentuhan. diam disuatu tempat dan menjilat sekam dan kaki depannya. Pada menit 31. saat diberi rangsang cenderung menyerang. Pada menit 17. mata menyipit. saat diberi rangsang sentuhan memberikan respon dengen berpindah tempat. denyut jantung mulai cepat dan mata mulai sayu. bergerak aktif dengan kaki kanan belakang diseret dan bernafas dengan cepat. bergerak aktif seperti biasa. Kelompok 2C pada menit 2. Pada menit 18. mata mulai kembali ke normal. Pada menit 30. mulai sensitif terhadap sentuhan. Mulai peka terhadap suara. mata terpejam saat diberi ragsang sentuhan memberikan respon seperti menggerakan kepalanya. Pada menit 3. Sedangkan pada kelas C dosis obat aminophylin yang diberikan tidak sebesar yang kelas A berikan. pada menit 37. Kelompok 1C menit 2 efek yang terjadi bergerak aktif. napas terengah engah. Pada menit 25. Pada menit 25. Pada menit 15. mata sangat cepat. terpejam saat diberi ragsang sentuhan memberikan respon memberikan respon dengen berpindah tempat. terus berlangsung hingga praktikum selesai. masih sensitif terhadap sentuhan. sangat sensitif terhadap sentuhan dan suara. Kelas A memberikan dosis obat aminofilin 90 mg/KgBB untuk manusia sedangkan kelas C memberikan dosis aminofilin sebesar 45 mg/kg BB. kaki kaku. diam dengan mata terpejam. Pada menit 20. Pada menit 10. mulai kembali ke normal namun masih sensitif terhadap rangsangan. Pada menit 20. bergerak aktif seperti biasa. Pada menit 15. lompatan lebih tinggi dari sebelumya. sesekali menjilati bagian badannya yang menjadi lokasi penyuntukan. sensitif terhadap ransang. mata tertutup. Pada menit 10. denyut jantung meningkat. Saat disentuh. agak lompat saat disentuh. jalan mulai kurang seimbang. Kelompok 3C pada menit 13. denyut jantung meningkat. Pada menit 25. 18 . Pada waktu 57 menit 32 detik tikus mati.kejang. Pada menit 33. bergerak berpindah tempat dan menjilat jilat sekam dan kaki. mata lebih sipit dari sebelumnya dan reaksi terhadap sentuhan meningkat. mata menyipit nafas semakin cepat. Pada menit 7. mata semakin sayu. Pada menit 5. sering mengangkat kaki. Padamenit 22. Pada menit 13. Dengan pemberian dosis aminophylin yang besar akan menimbulkan efek kejang.

Didalam system cAMP 19 . Aminopilin dapat menghambat reseptor adenosin atau menginduksi metabolisme benzodiazepine. Tetapi pada praktikum kejang masih terjadi walaupun efek kejangnya lama terlihat. Oleh karena itu aminofilin atau turunannya dapat mengurangi efek sedatif dari diazepam. yang mengarah ke penurunan konsentrasi serum dan efek benzodiazepin. Sedangkan pada dosis untuk terapeutik berfungsi sebagai bronchodilator. pemberian aminofilin bertujuan untuk melihat munculnya gejala kejang pada tikus. Farmakodinamik Aminofilin Ada 2 hipotesa utama yang menerangkan cara kerja dari teofilin yaitu pada siklik adenosine 5 monofosfat (cAMP) & katekolamin. sedangkan kelas C tikus tidak kejang karena dosis yang digunakan kecil. Sebagian besar system enzim menggunakan cAMP sebagai perantara atau lebih dikenal dengan nama second messenger yang akan mempengaruhi fungsi seluler sebagai akibat dari pengaruh hormonal dan obat-obatan atau zat lain. cAMP diduga mempengeruhi fungsi sentral maupun fungsi seluler. Pada kelas A tikus mengalami kejang karena dosis yang di berikan besar. Aminofilin diberikan secara oral sehingga efeknya tidak langsung terasa oleh tikus. ii. Perbedaan tikus yang diberi diazepam dan tidak diberi diazepam. Efek dari aminofilin yang timbulkan pada tikus berhubungan dengan farmakodinamik dan farmakokinetik dari aminofilin. Pada tikus yang diberi diazepam sebelum pemberian aminofilin seharusnya kejang tidak terjadi atau dihambat karena kerja diazepam yaitu potensiasi inhibisi neuron. Pada praktikum kali ini. Hal tersebut bisa saja terjadi karena: i. Karena aminophylin berefek kejang apabila pada penggunaan dosis yang besar. Pemberian diazepam melalui intraperitoneal memberikan efek cepat/ langsung bekerja sehingga tidak berpengaruh dengan aminofilin (efeknya sudah hilang terlebih dahulu sebelum pemberian aminofilin). Serta pemberian diazepam sebelum pemberian aminofilin membuat efek diazepam tidak berefek.

tapi melalui aktivasi adenililsiklase yang akan mengakibatkan terjadinya penumpukan cAMP. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pemberian aminofilin secara intravena akan menyebabkan peningkatan ekskresi epinefrin dan norepinefrin melalui urine. & Yee. 2001. 2001. Dimana adenosine memiliki dua reseptor. Absorbsi dari teofilin sangat cepat. Dengan menghirup adenosine akan menyebabkan timbulnya bronkokonstriksi pada pasien asma. 1997). dan akan meningkat hingga 53-73% setelah 3 jam (Pharma Ingredients & Service. Talbert. Distribusi. & Yee. Apabila peningkatan katekolamin bersamaan dengan pemberian aminofilin akan menyebabkan peningkatan aktifitas efektor yang sinergis dengan cAMP. & Gilman. Pemecahan cAMP diatur oleh enzim fosfodiesterase. Metabolisme. Limbird. Hardman. Dipiro. Setelah melewati lambung. 20 . 2001).9 mg/kgBB. 2001). Farmakokinetik (Absorbsi. Inhibisi terhadap enzim fosfodiesterase oleh teofilin akan mengakibatkan peningkatan kadar cAMP dan mengakibatkan terjadinya respon fisiologis yaitu bronkodilatasi. aminofilin akan didisosiasi menjadi teofilin dan etilenediamine. Dan bisa menghambat kontraksi otot polos yang dimediasi oleh reseptor A1. Sedangkan setelah pemberian infus aminofilin dengan dosis 5. kadar puncak dicapai kurang dari 1 jam. Hardman. namun bisa dipengaruhi oleh adanya makanan.hormone atau obat-obatan akan berperan sebagai first messenger yang akan membawa pesan pertama ke eskstra seluler. 2007. Kemudian hormone atau obat-obatan tadi akan masuk ke dalam reseptor serta akan mengaktifkan adenilsiklase yang terdapat di membrane sel (Departemen Kesehatan RI. Distribusi : Teofilin terikat 49-73% dengan protein plasma dalam darah. Teofilin adalah inhibitor poten baik untuk reseptor A1 dan A2. Limbird. (Departemen Kesehatan RI. Dengan adanya ion magnesium. Dipiro. adenilsiklase akan menghambat perubahan dari cAMP menjadi AMP. Hal ini setelah meminum 390 mg aminofilin. Reseptor A1 yang menstimulasi inhibisi cAMP dan reseptor A2 meningkatkan jumlah cAMP. 2007.& Gilman. Talbert. Peningkatan katekolamin seperti epinefrin tidak merangsang fungsi seluler secara langsung. Ekskresi) Absorbsi : pada pemberian oral obat ini cepat diabsorbsi dengan konsentrasi serum maksimal dicapai setelah dua jam. Peningkatan tersebut berhubungan dengan rangsangan terhadap medulla adrenal. Teofilin yang diberikan secara intravena akan berikatan dengan protein plasma sekitar 49-62% pada 20 menit pertama. 2010) (Agarwal & Nanavati. Half Life. Teofilin juga bekerja dengan cara menghambat aktivitas adenosine.

Obat yang dapat menurunkan kadar teofilin termasuk didalamnya adalah aminoglutetimida. relaksan otot. Interaksi Obat Teofilin berinteraksi dengan berbagai macam jenis obat. Dimana kerja dari enzim ini sangat dipengaruhi oleh berbagai hal termasuk obat lain yang dikonsumsi bersamaan dengan aminofilin. Metabolism : Aminofilin akan dimetabolisme menjadi teofilin. Namun teofilin sendiri jarang menyebabkan gangguan farmakokinetik obat lain. simetidin. barbiturate. halotan. Teofilin juga bisa mempengaruhi kerja beberapa obat berikut yaitu benzodiazepine. atau munculnya efek merugikan tanpa adanya peningkatan kadar teofilin dalam serum darah. Interaksinya bisa berupa interaksi farmakodinamik yang akan menyebabkan perubahan pada respon terapi terhadap teofilin. beta bloker non selektif. Sedangkan yang dapat meningkatkan diantaranya ada allopurinol. Metabolisme terutama terjadi di hati sitokrom P-450 menggunakan microsomal enzim oksidase terutama CYP1A2 dan CYP3A3 isoenzim. meksiletin. hidantoin. penghambat saluran kalsium. vaksin virus influenza. ketokonazol. 21 . lithium. simpatomimetik. kontrasepsi oral. kortikosteroid. disulfiram. efedrin. propofol. tioamin. ranitidine. Dengan metabolit utamanya adalah asam 1-methylurik dan asma 3-methyluric. Namun yang paling sering terjadi adalah interaksi yang menyebabkan perubahan pada farmakokinetik dari teofilin. beta agonis. tiabendazol. Toksisitas (Toksisitas pada manusia dan hewan. sulfinperazon. Contohnya adalah kemampuan eliminasi teofilin akan terganggu dikarenakan adanya konsumsi obat lain yang akan menyebabkan peningkatan atau penurunan kadar teofilin serum. perokok. hormone tiroid. atau respon terhadap obat lain. isoniazid. karbamazepin. ketamine. rifampin. dan diuretic kuat. dan adverse reaction). interferon. makrolida. dan tetrasiklin. teratogenik dan mutagenik. kuinolon.

intravena. intraperitoneal. dan intramuskulus (American Regent. anjing dan marmot. reaksi toksisitas muncul pada konsentrasi serum teofilin 90 mikrogram/ml atau 495 mikromol/L dan biasanya dikaitkan dengan toksisitas berat. LD50 : 150 mg/Kg oral-mouse. LD50 : 150 mg/Kg intravenous-rabbit. tikus. Toksisitas yang mengancam jiwa timbul saat konsentrasi teofilin dalam serum darah sudah mencapai lebih dari 40 mikrogram/ml atau sekitar 220 mikromol/L pada overdosis kronik. LD50 : 186 mg/Kg subcutaneous-mouse. LD50 : 184 mg/Kg oral-guinea pig. Hewan cobanya ada mencit. LD50 : 246 mg/Kg intraperitoneal-rat. 2005). LD50 : 150 mg/Kg intravenous-dog. LD50 : 407 mg/Kg oral-rat. LD50 : 194 mg/Kg intravenous-mouse. LD50 : 200 mg/Kg oral-dog. LD50 : 167 mg/Kg intramuscular-rat. LD50 : 184 mg/Kg intravenous-rat. reaksi toksisitas berat tidak harus selalu didahului dengan reaksi toksisitas biasa. Aminofilin akan menyebabkan kematian seketika jika diberikan 500 mg secara intravena yang dikarenakan aritmia jantung. Terkadang pasien langsung menunjukkan reaksi toksisitas berat. Pada manusia. Ada yang diberikan peroral. tergantung cara pemberiannya kepada hewan coba tersebut. Sedangkan pada overdosis akut. LD50 : 217 mg/Kg intraperitoneal-mouse. 22 . LD50 : 200 mg/Kg rectal-dog. Uji toksisitas yang dilakukan pada beberapa hewan menghasilkan data sebagai berikut.

LD50 : 143 mg/Kg intravenous-guinea pig 23 .LD50 : 252 mg/Kg intraperitoneal-guinea pig.

Aminofilin bekerja dengan cara menghambat kerja enzim fosfodiesterase. sehingga dapat meningkatkan pengaktifan efektor yg sinergis dengan cAMP. Hal ini terbukti dengan pemberian Aminofilin dosis tinggi yang menyebabkan kejang-kejang pada tikus. contohnya diazepam. BAB V KESIMPULAN  Manifestasi stimulasi system syaraf berlebih dapat menyebabkan kejang- kejang pada makhluk hidup. 24 .  Manisfestasi stimulasi system sysraf berlebih dapat dihambat dengan memberikan obat-obat yang dapat memberikan efek depresan terhadap system syaraf pusat. sehingga meningkatkan kadar cAMP dalam sel.

Diakses pada 14 Mei 2017 Pukul 21.kemkes. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 12.39 WIB Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. http://pionas. 2008. 2015. Pusat Informasi Obat Nasional. Jakarta.15 WIB Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI.pom. Diakses pada 14 Mei 2017 Pukul 21. EGC.go. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma. 25 . DAFTAR PUSTAKA Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.pdf. Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2. Bertram G dan Susan B. Teofilin.id/v2/wp-content/uploads/2014/02/PC_ASMA. Jakarta : EGC Katzung.go. 2007. http://binfar. 2013. Master.id/ioni/bab-3-sistem-saluran-napas-0/31- antiasma-dan-bronkodilator/311-teofilin.

26 .