PRINSIP-PRINSIP ETIKA DAN HUKUM DALAM PROFESI KEDOKTERAN

*

Abstrak: Prinsip dasar etika dan hukum dalam profesi kedokteran adalah adanya hubungan
kontraktual-profesional antara dokter dengan pasien. Kewajiban profesional diuraikan di dalam
sumpah profesi, etik profesi, berbagai standar pelayanan, dan berbagai prosedur operasional.
Kewajiban-kewajiban tersebut dilihat dari segi hukum merupakan ramburambu yang harus diikuti
untuk mencapai perlindungan, baik bagi pemberi layanan maupun bagi penerima layanan; atau
dengan demikian untuk mencapai safety yang optimum. Prinsip-prinsip etika dan hukum terutama
dalam hubungan dokter-pasien harus selalu dijunjung tinggi oleh setiap dokter. karena akan
menyelamatkan dokter dari gugatan dan tuntutan juga sekaligus merefleksikan pribadi dokter sebagai
profesi yang luhur dan mulia sepanjang masa. (Kata kunci: prinsip etik, prinsip hukum, profesi
kedokteran)

Pendahuluan

Tujuan utama pada pelaksanaan profesi kedokteran adalah untuk mengatasi penderitaan dan
memulihkan kesehatan orang yang sakit. Ada orang sakit (pasien, penderita) dan dalam masyarakat
yang sederhana sekalipun ada orang yang dianggap mampu menyembuhkan penyakit (dukun, healer,
dokter) dan obat diharapkan dapat menolong yang sakit dengan cara apapun. Pada dasarnya, apa yang
sekarang dinamakan hubungan dokterpasien dapat ditelusuri balik asal usulnya pada hubungan
pengobatan seperti dalam masyarakat sederhana itu, tentu ditambah dengan kerumitan-kerumitan
yang dibawa oleh perkembangan sosial, ekonomi, hubungan antar manusia, ilmu kedokteran,
teknologi, etika, hukum, bisnis dan lain-lain di zaman modern ini. Hal yang paling mendalam dari
hubungan dokter-pasien adalah rasa saling percaya. Pasien sebagai pihak yang memerlukan
pertolongan percaya bahwa dokter dapat menyembuhkan penyakitnya. Sementara itu, dokter juga
percaya bahwa pasien telah memberikan keterangan yang benar mengenai penyakitnya dan ia akan
mematuhi semua petunjuk dokter.

Pelayanan kedokteran yang baik adalah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, bermutu dan
terjangkau. Untuk dapat memberikan pelayanan kedokteran paripurna bermutu (preventif, promotif,
kuratif dan rehabilitatif) bukan saja ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga
oleh perilaku (professional behaviour), etik (bioethics) dan moral serta hukum.

Membahas mengenai pelayanan kesehatan ditinjau dari aspek hukumnya maka setidak-tidaknya ada
beberapa issue yang perlu diangkat ke permukaan untuk difahami oleh setiap tenaga kesehatan atau
rumah sakit agar dalam melayani pasien tidak menjadi korban ketidaktahuan. Dalam hukum
kesehatan/kedokteran, pelayanan kesehatan memiliki unsur Duty (kewajiban) yaitu kewajiban tenaga
kesehatan untuk mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya untuk penyembuhan. Atau setidak-
tidaknya meringankan beban pasiennya (to cure and to care) berdasarkan standar profesi. Tenaga
kesehatan dengan segala daya upaya mencoba membantu kebutuhan pasien.

Pelayanan kesehatan juga sangat sarat dengan kemunculan dilema etik, atau sengketa hukum. Nuansa
hukum kesehatan/kedokteran juga sangat kental dalam pelayanan kesehatan dengan adanya
kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan.oleh orang-orang yang terlibat didalamnya yang kalau
tidak berhati-hati dalam bertindak akan sangat rawan terhadap tuntutan dan gugatan. Oleh karena itu
sangat diperlukan pemahaman mengenai prnisipprinsip etika dan hukum dalam profesi kedokteran
agar tuntutan dan gugatan tersebut dapat dihindari.

layaknya seorang ayah yang ”serba tahu” (father knows best). Berbeda dengan masyarakat primer yang lebih mengutamakan kekariban dan segala sesuatu harus dinikmati bersama. sehingga tidak ada yang berani atau dianggap berhak dan mampu ”mencampuri” dan mengatur pekerjaan dokter. Oleh karena itu praktik kesehatan/kedokteran haruslah dilakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Dengan berkembangnya bioetika kedokteran maka mau tidak mau konsep dasar ”Hubungan dokter- pasien (HDP)” juga harus ikut berubah. Dalam suatu sistem yang kompleks yaitu komponen dapat berinteraksi dengan banyak komponen lain. Semakin kompleks dan ketat suatu sistem akan semakin mudah terjadi kecelakaan (prone to accident). dokter akan berbuat kebaikan atau kebajikan terhadap pasien. Asasasas yang lain adalah ”turunan” atau terkait dengan salah satu asas atau kaidah dasar moral diatas. Pertumbuhan masyarakat sekunder dengan pola hidup menuju ke arah kehidupan modern yang lebih mengutamakan kepentingannya dan mengikuti arus konsumerisme ikut berperan dalam hal ini. yang ”tak tahu apa-apa” atau dianggap ”tak perlu tahu apa-apa” mengenai dirinya. Begitu agungnya persepsi orang terhadap ajaran Hipokrates dan nilai- nilai etis dalam sumpah dokter yang juga berasal darinya. khususnya di ruang gawat darurat. Namun demikian. Asas-asas etika tradisional yang paling pokok dan masih berlaku sampai sekarang adalah asas beneficence. Akar tradisi ini adalah ajaran Hipokrates yang menyatakan bahwa dokter melakukan tindakan yang dianggap baik untuk pasien dan tidak akan merugikannya. jarak sosial dan pendidikannya sangat jauh. Sistem yang kompleks umumnya ditandai dengan spesialisasi dan interdependensi. yang tidak luput dari segala kelemahan dan godaan. Demikian pula posisi pasien diwaktu lampau. dimana pasien hampir tidak mempunyai hak apapun. tidak jarang bertanyapun ia tidak boleh. dan asas non maleficence yaitu dokter tidak akan menimbulkan mudharat kepada pasien.Pelayanan Kedokteran Pelayanan kesehatan/kedokteran adalah suatu system yang kompleks dengan sifat hubungan antar komponen yang ketat (complex and tighly coupled). ”dokter juga manusia”. sehingga kadang- kadang tidak jarang kepentingannya sendiri terabaikan oleh karena urusan pihak lain. Dari pengalaman diketahui bahwa banyak juga kasus-kasus pelanggaran moral dan etika dalam hubungan dokter-pasien tersebut. atau bahkan ”sok tahu” terhadap anaknya yang dalam posisi tergantung. Lalu secara moral dokter bertanggung jawab terhadap tindakannya itu. Bahkan sering kali pasien ”dimarahi” jika dinilai ”sok mau tahu”. Paternalisme ini dalam arti tradisional adalah proteksi oleh dokter yang serba ”perkasa” terhadap pasien yang serba ”lemah”. Dokter sangat paternalistik dan dominan. kadang dengan cara yang tak terduga atau tak terlihat. Selama berabad-abad hubungan dokter-pasien tidak setara. Ia tinggal menerima saja apa yang dikatakan oleh dokter. ruang bedah dan ruang rawat intensif. Pada masyarakat sekunder segala sesuatu akan dilihat dari sisi ”untung rugi” bagi dirinya dengan perhatiannya yang semakin sedikit untuk kepentingan pihak lain. .

etika keperawatan dan lain-lain. Semuanya ini dilakukan agar profesi kedokteran selalu siap untuk menjawab tantangan jaman. atau sesuatu yang tertulis. bioetika kedokteran (medical bioethics) adalah aspek moral dari ilmu kedokteran (Practice of Moral medicine). dimana asas etika tradisional tersebut berupa asas beneficence (memberikan manfaat) dan non-maleficence (mencegah mudharat). Tatanan moral tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: yang pertama Logika. Sementara etika khusus merupakan penerapan prinsip-prinsip dasar dalam bidang khusus atau disebut etika terapan. tujuannya kebenaran. Setiap waktu diulas. Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Penilaiannya adalah prinsip moral. Saat ini sudah sangat lazim pula kita dengar istilah ”Bioetika dan Humaniora kesehatan” atau Health bioethics and humanities. selayaknya. Karena kita ketahui bahwa antara ilmu kedokteran. Profesor Kaiser Ali (Kanada) dalam presentasinya pada Pertemuan Nasional Jaringan Bioetika dan Humaniora Kesehatan Indonesia (JBHKI) IV di Surabaya 2006 menyatakan bahwa. Perkembangan Etika Etika kedokteran atau yang sekarang lebih banyak dikenal dengan istilah Bioetika sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. rasa (emotion). Humaniora medik (medical humanities) mengandung pengertian aspek kemanusiaan dari ilmu kedokteran (Practice of Humane medicine). misalnya etika kedokteran. seharusnya”. Perkembangan Dalam pada itu. yaitu etika umum dan etika khusus. yaitu baik dan buruk. baik di masya-rakat umum. maupun di kalangan kedokteran sendiri. moral dan kemanusiaan tak dapat dipisahkan satu sama lain. Istilah ”kode” berasal dari kata latin codex yang antara lain berarti buku. dan perkembangan masyarakat. nilainya benar-salah. Secara filsafati jiwa terdiri dari unsur akal (intellect). khususnya teknologi biomedis. Inilah yang membedakan . dimana dasarnya pikiran. Etika umum membahas kondisi dasar bagaimana manusia bertindak dalam mengambil keputusan etis. hasilnya ilmu. dibahas dan dikembangkan sampai kepada pengertian yang kita anut sekarang ini. Dari pengertian seperti inilah Kode Etik Kedokteran dapat diartikan sebagai seperangkat (tertulis) tentang peraturan-peraturan etika yang memuat amar (apa yang dibolehkan) dan larangan (apa yang harus dihindari) sebagai pedoman pragmatis bagi dokter dalam menjalankan profesinya. maka sampai sekarang pengertian inilah yang dipakai. Seseorang dikatakan bahagia bila ia telah memiliki seluruh tatanan moral. etika kefarmasian. Dapat juga dikatakan. Karena perkembangan ini akan terus berlanjut. Kode Etik Kedokteran adalah buku yang memuat aturan-aturan etika bagi dokter. Aturan-aturan etika yang disusun oleh asosiasi atau perhimpunan keprofesian sebagai pedoman perilaku bagi anggota-anggota profesi itu. Kalau kita perhatikan kedua asas ini sebenarnya bersumber dari perintah Allah Swt untuk ”Amar ma’ruf Nahi munkar”. Dasar-dasar bioetika adalah etika tradisional. Mengapa kita sekarang harus membahasnya lagi?. dan kehendak (will). Untuk itu kita perlu mengkaji ulang paradigma-paradigma yang berkaitan dengan Bioetika dan mempelajari isu-isu yang berkembang. umumnya dinamakan kode etik (Inggris: code of ethics). atau seperangkat asas-asas atau aturan-aturan. Sebenarnya yang disebut sebagai etik (ethos) adalah suatu adat kebiasaan. namun karena telah menjadi istilah umum dimana etik diartikan sebagai adat kebiasaan yang ”baik. Etika terdiri dari dua jenis. Karena itu kita harus selalu memberi makna dan pengertian yang “up- to-date” mengenai Bioetika ini. sesuai dengan berkembangnya bio-teknologi.Etik Kedokteran Etik kedokteran merupakan ”terjemahan” dari asas-asas etika menjadi ketentuanketentuan pragmatis yang memuat hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal yang harus dihindari.

etik mempelajari manusia. dan dari sini akal manusia terus berkembang dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaidah dasar moral bersama dengan teori etika dan sistematika etika yang memuat nilai-nilai dasar etika merupakan landasan etika profesi luhur kedokteran. Akal akan berusaha untuk mendapatkan kebenaran yang paling dalam (the truth). Yang kedua Etika. Perbandingan antara etika kedokteran tradisional dengan bioetika kedokteran: Prinsip-prinsip Etika Bioetika kedokteran merupakan salah satu etika khusus dan etika sosial dalam kedokteran yang memenuhi kaidah praksiologik (praktis) dan filsafat moral (normatif) yang berfungsi sebagai pedoman (das sollen) maupun sikap kritis reflektif (das sein). dimana dasarnya perasaan (feeling). hasilnya tata krama. Sehingga etik tidak dapat dipisahkan dengan beberapa istilah lain yang mirip-mirip dengan etik yaitu adab. hasilnya keserasian.manusia dengan makhluk hidup lain. nilainya baikburuk. nilainya sopantidak sopan. etiket dan moral. tujuannya kebaikan. Unsur ‘rasa’ manusia selalu ingin mencari keindahan yang paling dalam (the beauty). tetapi objek formal yang dipelajari adalah tindakan atau perilaku manusia. Yang keempat Estetika. rasa dan kehendak tersebut saling mendukung dan saling mempengaruhi dalam setiap tindakan manusia. tujuannya keindahan. Meskipun sebagai objek material. Yang ketiga Etiket (Etiquette). dimana dasarnya kehendak. susila. Dalam kenyataannya unsur akal. dari sini berkembang rasa estetika manusia. Unsur ‘kehendak’ selalu mencapai kebaikan (goodness) didalam tata kehidupan. . yang bersumber pada 4 kaidah dasar moral (kaidah dasar bioetika-KDB) beserta kaidah turunannya. akhlak. Tabel 1. hasil ciptaannya seni (art). dimana dasarnya kehormatan.

Prinsip Beneficence Beneficence secara makna kata dapat berarti pengampunan. melainkan satu diantara beberapa prinsip lain yang juga harus dipertimbangkan. yaitu: 1.Dalam profesi kedokteran dikenal 4 prinsip moral utama. Prinsip ini berhubungan dengan ungkapan Hipokrates yang menyatakan “saya akan menggunakan terapi untuk membantu orang sakit berdasarkan kemampuan dan pendapat saya. Prinsip ini dibatasi keseimbangan manfaat. yaitu melarang tindakan yang membahayakan atau memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere” atau “do no harm”. . kemurahan hati. 4. mencintai dan kemanusiaan. yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip non maleficence. Prinsip ini digambarkan sebagai alat untuk memperjelas atau meyakinkan diri sendiri (self- evident) dan diterima secara luas sebagai tujuan kedokteran yang tepat. yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. Sebagai contoh. Prinsip ini bukanlah satu-satunya prinsip yang harus dipertimbangkan. dalam penelitian kedokteran. atas dasar kemanfaatan untuk kepentingan umum sering prosedur penelitian yang membahayakan individu subjek penelitian diperbolehkan. maka banyak ketentuan-ketentuan dalam praktek (kedokteran) yang baik lahir dari prinsip beneficence ini. Karena luasnya cakupan kebaikan.  Meniadakan kondisi yang dapat membahayakan orang lain. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere” atau “above all do no harm”. yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam mendistribusikan sumberdaya (distributive justice). tetapi saya tidak akan pernah menggunakannya untuk merugikan atau mencelakakan mereka”. terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip beneficence harus diterapkan baik untuk kebaikan individu seorang pasien maupun kebaikan masyarakat keseluruhan.  Membantu orang dengan berbagai keterbatasan (kecacatan). Padahal. yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien. mengutamakan kepentiang orang lain. Prinsip justice. Prinsip beneficience. kebaikan. terdapat prinsip-prinsip lain yang semestinya juga dipertimbangkan. Penerapan prinsip beneficence tidak bersifat mutlak. Prinsip otonomi.  Mencegah bahaya yang dapat menimpa orang lain.  Menolong orang yang dalam kondisi bahaya. dan biaya (sebagai hasil dari tindakan) serta tidak menentukan pencapaian keseluruhan kewajiban. 2. 3. Beberapa contoh penerapan prinsip beneficence ini adalah:  Melindungi dan menjaga hak orang lain. resiko. Kritik yang sering muncul terhadap penerapan prinsip ini adalah tentang kepentingan umum yang diletakan di atas kepentingan pribadi. Beberapa bentuk penerapan prinsip beneficence merupakan komponen penting dalam moralitas. Beneficence dalam makna yang lebih luas berarti tindakan yang dilakukan untuk kebaikan orang lain. Prinsip moral beneficence adalah kewajiban moral untuk melakukan suatu tindakan demi kebaikan atau kemanfaatan orang lain (pasien). Prinsip Non-maleficence Prinsip non-maleficence.

Salah satu definisi kompetensi pasien yang dapat diterima adalah ”kemampuan untuk melaksanakan atau perform suatu tugas atau perintah”. . tentu berbeda dengan kewajiban untuk membantu pasien. secara umum ada beberapa cara menerapkan prinsip otonomi. hak untuk bebas. sehingga begitu banyak defnisi tentang kompetensi pasien. Pada dasarnya. penyakit serius dan luka serius. khususnya dalam praktek kedokteran.Prinsip non-maleficence sering menjadi pembahasan dalam bidang kedokteran terutama kasus kontroversial terkait dengan kasus penyakit terminal. Meskipun demikian. Namun kemudian. Makna utama otonomi individu adalah aturan pribadi atau perseorangan dari diri sendiri yang bebas. walinya dan para tenaga kesehatan untuk menerima atau menolak suatu tindakan atau terapi setelah menimbang manfaat dan hambatannya dalam situasi atau kondisi tertentu. banyak juga yang membedakannya. Seseorang yang dibatasi otonominya adalah seseorang yang dikendalikan oleh orang lain atau seseorang yang tidak mampu bertindak sesuai dengan hasrat dan rencananya. otonomi juga digunakan pada suatu kondisi individu yang maknanya bermacam-macam seperti memerintah sendiri. Prinsip ini memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan untuk mempertahankan atau mengakhiri kehidupan. Penerapannya dapat dilakukan pada pasien yang kompeten maupun tidak kompeten. prinsip non-maleficence memberikan peluang kepada pasien. Prinsip Autonomy Otonomi (Autonomy) berasal dari bahasa Yunani ”autos” yang berarti sendiri dan ”nomos” yang berarti peraturan atau pemerintahan atau hukum. Terdapat berbagai pendapat tentang penerapan prinsip otonomi. Awalnya otonomi dikaitkan dengan suatu wilayah dengan peraturan sendiri atau pemerintahan sendiri atau hukum sendiri. walaupun keduanya untuk kebaikan pasien. Para pakar meyakini belum ada satu definisi kompetensi pasien yang dapat diterima semua pihak. pilihan pribadi. help others make important decision) Hal penting dalam menerapkan prinsip otonomi adalah menilai kompetensi pasien. kebebasan berkeinginan dan menjadi diri sendiri. Cara-cara tersebut antara lain:  Menyampaikan kebenaran atau berita yang sesungguhnya (tell the truth)  Menghormati hak pribadi orang lain (respect the privacy of others)  Melindungi informasi yang bersifat rahasia (protect confidential information)  Mendapat persetujuan untuk melakukan tindakan terhadap pasien (obtain consent for interventions with patients)  Membantu orang lain membuat keputusan yang penting (when ask. Banyak filosof yang menjadikan prinsip non-maleficence sebagai satu kesatuan dengan prinsip beneficence (mengutamakan tindakan untuk kebaikan pasien). baik bebas dari campur tangan orang lain maupun dari keterbatasan yang dapat menghalangi pilihan yang benar. Namun. seperti karena pemahaman yang tidak cukup. Pertimbangannya antara lain pemikiran bahwa kewajiban untuk tidak membahayakan atau mencelakakan pasien.

Definisi lainnya adalah memperlakukan orang lain secara adil. sedangkan yang memerlukan seringkali melabihi batasan tersebut. Situasi yang tidak adil adalah tindakan yang salah atau lalai berupa meniadakan manfaat kepada seseorang yang memiliki hak atau pembagian beban yang tidak sama.Prinsip Justice Prinsip Justice diterjemahkan sebagai menegakan keadilan atau kesamaan hak kepada setiap orang (pasien). Situasi yang adil adalah seseorang mendapatkan mendapatkan manfaat atau beban sesuai dengan hak atau kondisinya. Terdapat beberapa kriteria dalam penerapan prinsip justice. Prinsip justice kemudian diperlukan dalam pengambilan keputusan tersebut. antara lain:  Untuk setiap orang ada pembagian yang merata (equal share)  Untuk setiap orang berdasarkan kebutuhan (need)  Untuk setiap orang berdasarkan usahanya (effort)  Untuk setiap orang berdasarkan kontribusinya (contribution)  Untuk setiap orang berdasarkan manfaat atau kegunaannya (merit)  Untuk setiap orang berdasarkan pertukaran pasar bebas (free-market exchange) . layak dan tepat sesuai dengan haknya. Prinsip justice lahir dari sebuah kesadaran bahwa jumlah benda dan jasa (pelayanan) itu terbatas.

Beneficence bersifat sangat umum dalam dunia kedokteran. Artinya bahwa hampir setiap saat prinsip ini diterapkan dalam mengambil keputusan. • menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain. dokter mengutamakan kepentingan pasien dan bertindak demi kebaikan pasien. Kondisi pasien sadar dan tidak begitu parah. pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada yg hidup) Beneficence biasanya diterapkan dalam kasus yang simpel dan umum. 2. Maksimalisasi akibat baik yang dapat diterima pasien. 6. Non-maleficence / Primum non nocere Prinsip dasar non-maleficence adalah primum non nocere. dan tidak ada cara lain yang lebih tepat. yang digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan terdiri dari empat prinsip yang biasa disebut sebagai Kaidah Dasar Bioetik (KDB). 3. manfaat bagi pasien lebih besar daripada kerugian dokter Dalam kaidah non-maleficence. 4 Prinsip Bioetik Kedokteran Dalam dunia kedokteran. dan justice. Tindakan ini boleh dilakukan jika bertujuan memperoleh akibat baik. Beneficence Beneficence atau tindakan berbuat baik mengacu pada tindakan yang dilakukan demi kebaikan pasien. Kewajiban dokter untuk menganut non-maleficence berdasarkan hal-hal berikut : 1. 5. dikenal juga prinsip double effect. Mengutamakan kepentingan pasien (altrualisme). Prinsip ini melarang dokter berbuat jahat atau membuat derita pasien. terdapat berbagai macam prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Prinsip double effect:  akibat buruk bukan tujuan untuk mencapai pokok tujuan  niatnya memperoleh akibat baik tidak boleh dari akibat buruk  tindakan tersebut secara intrinsik tidak salah. 4. Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain tetapi juga sebagai saudara yang patut ditolong. yaitu beneficence. autonomy. Namun. setidaknya netral  pertimbangan yang layak: tidak ada cara lain yang lebih tepat . yang artinya pertama-tama jangan menyakiti. a. serta mewajibkan dokter untuk meminimalisasi akibat buruk. Terdapat empat prinsip utama di dalam Kaidah Dasar Bioetik. Pengobatan yang diberikan wajar tidak berlebihan ataupun dikurang- kurangi. Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada. non-maleficence. tindakan dokter terbukti efektif 4. • menyelamatkan orang dari bahaya. Specific beneficence : • menolong orang cacat. pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko kehilangan sesuatu yang penting 2. dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut 3. General beneficence : • melindungi & mempertahankan hak yang lain • mencegah terjadi kerugian pada yang lain. Intinya. Adapun prinsip-prinsip dari beneficence adalah sebagai berikut: 1. b. yakni bahwa tindakan yang merugikan tidak selalu dianggap tindakan yang buruk.

 Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni : a. paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi). bantulah membuat keputusan penting. dengan cara rata/merata. Hal ini mengindikasikan kesamaan rindakan pada kasus yang sama. d.c. • Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social – ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil). Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama. kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan). • Setiap orang sesuai kontribusinya • Setiap orang sesuai jasanya • Setiap orang sesuai bursa pasar bebas c. Kaidah ikutannya ialah Tell the truth. lindungi informasi konfidensial. bila ditanya. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) b. Prinsip justice selengkapnya adalah sebagai berikut:  Treat similar cases in a similar way = justice within morality.  pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum. diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan /membahagiakannya) b. sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani. khususnya : yang-hak dan yang-baik Jenis keadilan : a. mintalah consent untuk intervensi diri pasien. dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects). Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama : • Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien. Autonomy erat terkait dengan doktrin informed-consent. penggunaan teknologi baru. • Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu • Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan). Hukum (umum) :  Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak. otonomi kehendak otonomi moral yakni kebebasan bertindak. Justice Justice atau keadilan berarti menangani kasus yang sama dengan cara yang sama. letting die. suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. Menuntut pengorbanan relatif sama. Autonomy Menurut pandangan Kant. . Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat). d. hormatilah hak privasi liyan. memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan. secara material kepada : • Setiap orang andil yang sama • Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya • Setiap orang sesuai upayanya.

bioetika baru berkembang sekitar satu dekade terakhir yang dipelopori oleh Pusat Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya Jakarta. Ciri khusus autonomy. Beneficence Beneficence merupakan segi positif dari prinsip tidak merugikan. Kewajiban berbuat baik menuntut bahwa kita harus membantu orang lain dalam memajukan kepentingan mereka. yaitu:  terpaut dalam diskusi dengan pasien  negosiasi rencana terapi timbal balik  mencoba mempersuasi pasien  menolong ia bermusyawarah  memahami perspektif pasien  kesukarelaan serta tanpa paksaan atau manipulasi  mempersilahkan pasien memutuskan Bioetika berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang berarti norma- norma atau nilai-nilai moral. Bioetika mencakup isu-isu sosial. Perkembangan ini sangat menonjol setelah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang melaksanakan pertemuan Bioethics 2000. agama. Kewajiban berbuat baik itu . Hasting Center. masa kini dan masa mendatang (Bertens. Bioetika atau bioetika medis merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro. Masalah bioetika mulai diteliti pertama kali oleh Institute for the Study of Society. ekonomi dan hukum bahkan politik. Ethics and the Life Sciences. Kini terdapat banyak lembaga di dunia yang menekuni penelitian dan diskusi mengenai berbagai isu etika biomedik. [1] Kaidah dasar bioetika: 1. New York (Amerika Serikat) pada tahun 1969. 2001). An International exchange dan Pertemuan Nasional 1 Bioetika dan Humaniora pada bulan Agustus 2000. jika kita dapat melakukannya tanpa risiko bagi diri kita sendiri. Di Indonesia.

didasarkan atas pertimbangan fair play. Yang kedua. [5] . kita pun berkewajiban untuk membalas jasa mereka. Akan tetapi. orang harus mampu mewujudkan rencananya menjadi kenyataan. [4] 4. dimana seseorang mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang ditentukannya sendiri. Autonomy Auntonomy adalah suatu bentuk kebebasan bertindak. Berbuat baik adalah cara untuk menjamin sikap timbal balik dalam hubungan kita satu sama lain dan menyampaikan kepada orang lain apa yang kita terima di masa lampau. Kerugian yang harus dihindarkan terutama adalah kerugian fisik atau bisa meliputi juga kerugian terhadap kepentingan seseorang. [3] 3. Yang terpenting adalah jangan merugikan”.”Primum non nocere. Terdapat 2 unsur. [2] 2.yang pertama adalah kemampuan untuk menagmbil keputusan tentang suatu rencana bertindak yang tertentu. serta pembagian barang dan jasa menurut standar yang adil. Non-maleficence Non-maleficence merupakan suatu cara teknis untuk menyatakan bahwa kita berkewajiban tidak mencelakakan orang lain. salah satu prinsip paling tradisional dari etika kedokteran. Justice Justice adalah pembagian manfaat dan beban. menentukan standar adil itu telah merepotkan dan membingungkan orang sepanjang masa. Otonomi meliputi keemampuan untuk merealisasikan dan melaksakan apa yang telah diputuskan. Pemikiran di belakangnya adalah bahwa karena kita telah menerima banyak hal dari orang lain dan karena kita bisa maju berkat bantuan mereka.