BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Muamalah dan Jual Beli

Muamalah adalah tukar menukar barang, jasa atau sesuatu yang memberi manfaat dengan tata cara
yang ditentukan. Termasuk dalam muamalat yakni jual beli, hutang piutang, pemberian upah, serikat
usaha, urunan atau patungan, dan lain-lain. Adapun Jual beli adalah suatu kegiatan tukar menukar
barang dengan barang lain dengan tata cara tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah jasa dan juga
penggunaan alat tukar seperti uang.

B. Rukun Jual Beli

Dalam menetapkan rukun jual beli, di antara para ulama terjadi perbedaan pendapat. Menurut ulama
Hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara ridha, baik
dengan ucapan maupun perbuatan.[1]

Adapun rukun jual-beli menurut jumhur ulama ada empat, diantaranya :

1. Bai’ (Penjual).

2. Mustari (Pembeli).

3. Shighat (Ijab dan Qabul).

4. Ma’qud ‘alaih (Benda atau barang).

C. Larangan Jual-Beli

Di antara larangan dalam jual-beli ialah :

1. Membeli barang di atas dari harga pasaran.

2. Membeli barang yang sudah di beli atau di pesan oleh orang lain.

3. Menjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong).

4. Menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat.

5. Menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya.

6. Menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi.

7. Menyembunyikan cacat barang kepada pembeli.

8. Menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan.

9. Menjual atau membeli barang haram.

10. Jual-beli dengan tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum, menyempitkan gerakan
pasar, mencelakai para pesaing, dll.

D. Syarat-Syarat Sah Jual Beli

Dalam syarat jual beli terbagi dalam dua bagian yaitu syarat-syarat untuk pelaku Akad, dan syarat-syarat
untuk barang yang diakadkan.

Syarat-syarat untuk pelaku akad yaitu harus berakal dan memiliki kemampuan untuk memilih. Tidak di
syaratkan untuk orang gila, orang yang mabuk, anak kecil yang belum bisa membedakan, maka yang
demikian tidak bias dinyatakan sah dalam jual beli.

Suci (halal dan baik). Mengetahui status barang (kualitas. : Ibnu Abbas RA berkata bahwa ketika Nabi SAW baru tiba di Madinah. apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. Tapi bedanya. Mampu diserahkan oleh pelaku akad. 2. Akad salam di tetapkan kebolehannya di dalam Al-Qur’an.Adapun syarat-syarat untuk barang yang diakadkan diantaranya : 1. Adapun secara terminologi ialah menjual suatu barang yang telah ditetapkan dengan sifat dalam suatu tanggungan. Adapun dalil As-Sunnah. yang menyangkut organisasi dan transmisi data yang digeneralisasikan dalam bentuk teks. akan tetapi didalam bisnis adalah yang terpenting memberikan informasi dan mencari keuntungan. dan gambar secara lengkap. Sedangkan pihak-pihak yang terlibat sebagaiman yang telah diungkapkan dalam akad salam diatas. dengan hanya melakukan transfer data lewat maya (data intercange) via internet. atau menembus batas system pemasaran dan Bisnis-Online dengan menggunakan Sentral shop. Adapun mengenai definisi mengenai E-Commerce secara umumnya adalah dengan merujuk pada semua bentuk transaksikomersial. orang-orang madinah biasa meminjamkan buah kurma satu tahun dan dua tahun. (HR. Sentral Shop merupakan sebuah Rancangan Web Ecommerce smart dan sekaligus sebagai Bussiness Intelligent yang sangat stabil untuk diguakan dalam memulai. 3. kuantitas. melainkan barangnya. Milik orang yang melakukan akad. antara originator dan adresse (penjual dan pembeli). dimana manusia bisa dapat berinteraksi secara singkat walaupun tanpa face to face. Sedangkan uang pembayarannya justru diserahkan tunai. Ibnu Al-Munzir menyebutkan bahwa semua orang yang kami kenal sebagai ahli ilmu telah bersepakat bahwa akad salam itu merupakan akad yang dibolehkan. As-Sunnah dan Ijma’.[2] . Maka Nabi SAW bersabda : “Siapa yang meminjamkan buah kurma maka harus meminjamkan dengan timbangan yang tertentu dan sampai pada masa yang tertentu”. suara. dan mengontrol Bisnis. Kata salam ataupun salaf memiliki makna satu. Bukhari dan Muslim) Sedangkan dalil ijma’. Perkembangan teknologi inilah yang bisa memudahkan transaksi jarak jauh. akad salam itu pada hakikatnya adalah jual-beli dengan hutang. menjalankan. Jual beli secara online ini sejenis dengan jual beli salam (pesanan). uangnya diserahkan terlebih dahulu sedangkan barangnya belum diserahkan dan menjadi hutang. yang dihutang bukan uang pembayarannya. jenis dan lain-lain) 6. Jual Beli Dengan Akad Salam Secara Online (E-Commerce) Transaksi secara online merupakan transakasi pesanan dalam model bisnis era global yang non face. mengembangkan. hanya saja persyaratan tempat yang berbeda. E. Bermanfaat. yang mana kedua belah pihak. Sedangkan akad salam. barangnya diserahkan terlebih dahulu dan uang pembayarannya jadi hutang. Jadi akad salam ini kebalikan dari kredit. 4. 5. yaitu “pesanan”. Dalil Al-Qur’an yang memperbolehkan akad salam terdapat dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 282 : Artinya : “Hai orang-orang yang beriman. hendaklah kamu menuliskannya”. mungkin tidak beda jauh. dalil dengan salam ini di sebutkan dalam hadist riwayat Ibnu Abbas RA. Barang tersebut dapat diterima oleh pihak yang melakukan akad. Kalau jual-beli kredit.

dan atas jasa ini kita mensyaratkan imbalan tertentu. hingga perbuatan atau kebiasaan dalam melakukan ijab qabul. rasa sungkan atau segan kepada orang lain sirna atau berkurang. kalau dilihat secara sepintas mungkin mengarah pada ketidak dibolehkannya transaksi secara online (E-commerce). Namun kita pasti menyadari bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tetap mencatat halal atau haram perniagaan kita. Tetapi kalau kita mencoba menelaah kembali dengan mencoba mengkolaborasikan antara ungkapan al- Qur’an. dengan sebuah landasan : ‫تحرمه لعلى الدليل يدل حتى البإاحة المعاملة في الصأل‬ “Pada asalnya semua Muamalah diperbolehkan sehingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya”. Kesesuaian harga dengan kualitas barang. Kewajiban menjaga hukum halal-haram dalam objek perniagaan tetap berlaku. Dengan melihat keterangan diatas. Langkah-langkah yang dapat kita tempuh agar jual beli secara online ini di perbolehkan. keadilan. Boleh jadi ketika berniaga secara online. halal. dan tidak ada niatan untuk menipu atau merugikan orang lain. Karena dalam Al-Qur’an permasalahan trasnsaksi online masih bersifat global. Kejelasan status. isyarat yang dapat memberi pengertian yang jelas). sebagaimana ditegaskan dalam hadis: “Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu. Menggunakan kata assalam atau assalaf 4.Dalam transaksi salam ini diperlukan syarat-syarat ijab qabul. Antara ijab dan qabul sejalan 3. 2. akan tetapi sebaliknya. Di antara poin penting yang harus kita perhatikan dalam setiap perniagaan adalah kejelasan status. hadits dan ijmma’. Produk yang di jual maupun yang di beli Halal. tulisan (surat menyurat. Pernyataan dalam ijab qabul ini bisa disampaikan secara lisan. Ataukah kita hanya menawaran jasa pengadaan barang.” (HR Ahmad. sehingga berwenang menjual barang. Adapun syarat-syaratnya adalah : 1. pasti Ia mengharamkan pula hasil penjualannya. F. mengingat Islam mengharamkan hasil perniagaan barang atau layanan jasa yang haram. . Apakah sebagai pemilik. selanjutnya hanya mengarahkan kepada peluncuran teks hadits yang dikolaborasikan dalam permasalahan sekarang dengan menarik sebuah pengkiyasan. termasuk dalam perniagaan secara online. dan kejelasan dengan memberikan data secara lengkap. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Secara Online Sebagaimana keterangan dan penjelasan mengenai dasar hokum hingga persyaratan transaksi salam dalam hukum islam. Dilakukan dalam satu tempo. dan lainnya). Tidak ada khiyar syarat (hak bagi pemesan untuk menerima pesanan atau tidak). Sebagaimana ungkapan Abdullah bin Mas’ud : Bahwa apa yang telah dipandang baik oleh muslim maka baiklah dihadapan Allah. atau paling kurang sebagai perwakilan dari pemilik barang. disebabkan ketidak jelasan tempat dan tidak hadirnya kedua pihak yang terlibat dalam tempat. maka hal tersebut bisa dijadikan sebagai pemula dan pembuka cenel keterlibatan hukum islam terhadap permasalahan kontemporer. 2. dan sah menurut syari’at Islam diantaranya : 1. sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 282 diatas. Dan yang paling penting adalah kejujuran. Ataukah sekedar seorang pedagang yang tidak memiliki barang namun bisa mendatangkan barang yang kita tawarkan 3.

ternyata penjual berkhianat. video porno. Karena melanggar perjanjian (TOS) atau mengandung unsur penipuan. pada perniagan secara online tentu lebih ditekankan lagi. Tidak membawa kemanfaatan tapi justru mengakibatkan kemudharatan. Hal yang perlu juga diperhatikan oleh konsumen dalam bertransaksi adalah memastikan bahwa barang/jasa yang akan dibelinya sesuai dengan yang disifatkan oleh si penjual sehingga tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari. Berbagai masalah dapat saja muncul pada perniagaan secara online. . BAB III PENUTUP A. Hukum dasar bisnis online sama seperti akad jual beli dan akad as-salam. bisa jadi setelah kita melakukan pembayaran. Terutama masalah yang berkaitan dengan tingkat amanah kedua belah pihak. Sebaiknya juga kita meminta foto real dari keadaan barang yang akan dijual. 4. Karena itu.Dalam jual beli online. penipuan. kita bisa bayangkan betapa susah dan repotnya bila mengalami kejadian seperti itu. dan tidak mengirimkan barang. 2. Bisa jadi barang yang dikirim ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia gambarkan di situsnya atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. kezhaliman. kecurangan dan yang sejenisnya serta memenuhi rukun- rukun dan syarat-syarat didalam jual belinya. Adapun keharaman bisnis online karena beberapa sebab : 1. hukum asal mu’amalah adalah al-ibaahah (boleh) selama tidak ada dalil yang melarangnya. Namun setelah barang kita kirim kepadanya. kerap kali kita jumpai banyak pembeli merasa kecewa setelah melihat pakaian yang telah dibeli secara online. Judi itu haram baik di darat maupun di udara (online). atau paling kurang mengirim uang muka. Sistemnya haram. Kejujuran dalam jual beli online Berniaga secara online. patutnya kita mempertimbangkan apakah harga yang ditawarkan telah sesuai dengan kualitas barang yang akan dibeli. ini diperbolehkan dalam Islam. ataukah ukuran yang ternyata tidak pas dengan yang dikehendaki. ia tidak melakukan pembayaran atau tidak melunasi sisa pembayarannya. Ada yang halal ada yang haram. Sebagaima telah disebutkan diatas. Namun demikian. ada yang legal ada yang ilegal. Transaksi online diperbolehkan menurut Islam selama tidak mengandung unsur-unsur yang dapat merusaknya seperti riba. Barang/jasa yang menjadi objek transaksi adalah barang yang diharamkan. seperti narkoba. seperti money gambling. Entah itu kualitas barangnya. bukan berarti tidak ada rambu-rambu yang mengaturnya. walaupun kejujuran ditekankan dalam setiap perniagaan. walaupun memiliki banyak keunggulan dan kemudahan. online sex. namun bukan berarti tanpa masalah. 4. pelanggaran hak cipta. Sebelum hal ini terjadi kembali pada kita. Bila kita sebagai pembeli. 3. Kesimpulan Bisnis online sama seperti bisnis offline. Bisa jadi ada orang yang melakukan pembelian atau pemesanan. situs-situs yang bisa membawa pengunjung ke dalam perzinaan.