LAPORAN TUTORIAL “TULI”

KEPANITERAAN KLNIK BAGIAN IKAKOM 1

PUSKESMAS PATARUMAN II KOTA BANJAR

Pembimbing : dr. Devi Utari
Ketua : Arief Aulia Rahman (29.16 1195 2013)
Anggota : Ratih Andriani (29.13 1187 2013)
Rinaldy Agung K (29.13 1188 2013)
Aulia Febriana R (29.13 1189 2013)
Indri Parameswari (29.16 1196 2013)
Nia Fitriyani (29.17 1197 2013)
Ferdi Ragil H (29.17 1198 2013)
M. Indra Jodi (29.17 1199 2013)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Puji syukur Alhamdulillah, atas berkah Rahmah Hidayah-Nya kami dapat
menyelesaikan laporan ini. Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik
bagian IKAKOM 1. Tugas ini ialah hasil diskusi dari semua anggota kelompok kami.
Terimakasih kami ucapkan kepada tutor kami yaitu dr. Devi Utari yang telah
membimbing kelompok kami sehingga dapat melakukan diskusi dengan baik. Juga untuk
penulis dan penerbit dari buku yang kami jadikan referensi.
Kami menyadari dalam pembuatan laporan ini masih banyak kekurangannya, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan dan
penyempurnaan tugas ini kedepannya.
Semoga hasil analisis di laporan ini dapat berguna dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Wassalamualaikum wr.wb

Banjar, 23 April 2017

Tim Penyusun

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............…………………………………………………..…………...ii

DAFTAR ISI…….............…………………………………………………………………...iii

BAB I : PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang……………………………………..............……………….1

1.2. Tujuan Pembelajaran……………………………..………............................1

1.3. Kegiatan yang dilakukan dan keluarannya…………………..…..............….2

1.4. Laporan Seven Jumps…………………………..…………………...............2

BAB II : PEMBAHASAN

2.1. Struktur anatomi dari telinga.......................................................................5
2.2. Histologi dari telinga...................................................................................6
2.3. Fisiologi dari pendengaran..........................................................................8
2.4. Definisi, klasifikasi, etiologi, dan patomekanisme terjadinya penurunan
pendengaran.................................................................................................9
2.5. Hubungan pusing jika kepala dipalingkan tiba-tiba dengan penurunan
pendengaran...............................................................................................15
2.6. Patomekanisme keluarnya cairan dari dalam telinga................................16
2.7. Hubungan keluarnya cairan dari dalam telinga dengan penurunan
pendengaran...............................................................................................16
2.8. Penyakit yang dapat menyebabkan penurunan pendengaran....................17
2.9. Alur diagnosis untuk pemeriksaan fungsi pendengaran............................19
2.10. Diagnosis banding dari skenario................................................................24

BAB III : PENUTUP

3.1 Simpulan……...............………………………………………………….....31

3.2 Saran…………………...............…………………………………………...31

DAFTAR PUSTAKA…….....……………………………………………………................32

iii

Menyebutkan anatomi organ-organ yang berkaitan dengan telinga. Menjelaskan histologi organ telinga. 7. 5. Menjelaskan fisiologi pendengaran dan keseimbangan. 6. patomekanisme.1. cara mendiagnosis dimana dibutuhkan pemeriksaan lain pada penyakit yang memberikan gejala penurunan pendengaran sehingga dapat dilakukannya penanganan yang adekuat dan melakukan pencegahan dini. Kelompok kami mengharapkan agar pembaca dapat lebih mengerti tentang konsep dasar penyakit-penyakit sistem indra khusus. gambaran klinik. Latar Belakang Ada berbagai alasan mengapa seseorang dengan penurunan pendengaran datang berobat. 1 . Menjelaskan gambaran klinik lain yang menyertai penyakit-penyakit tersebut. penatalaksanaan. Menjelaskan patomekanisme terjadinya ketulian. penyebab serta patomekanisme terjadinya penyakit. 9. Karena apabila pendengaran kita terganggu pasti keseimbangan kitapun ikut terganggu dan itu menjadi masalah besar bagi kebanyak orang. 3. Tujuan Intruksional Umum ( TIU ) Dapat menjelaskan tentang penyebab. BAB I PENDAHULUAN 1. Menjelaskan pemeriksaan – pemeriksaan penunjang yang bisa membantu diagnosa penyakit. dan pencegahan penyakit- penyakit yang menyebabkan kelainan pada telinga. Tujuan Intruksional Khusus ( TIK ) 1.2. Menjelaskan struktur telinga yang terganggu pada penyakit-penyakit yang menyebabkan ketulian. Pasien tersebut mungkin mengeluh sulit mendengar. b. dari dalam telinga mengeluarkan cairan. Dalam tutorial ini kelompok kami membahas mengenai tuli. 2. Menjelaskan penatalaksanaan yang diberikan pada penderita pada penyakit-penyakit tersebut. Menyebutkan penyakit-penyakit yang menyebabkan gejala ketulian. Tujuan Pembelajaran a. pusing dan sebagainya. komplikasi. 1. gambaran klinis. 4. 8. pemeriksaan penunjang.

10. Nilai rapor menurun seiring dengan bertambah beratnya penurunan pendengaran.3. Si A juga akhir-akhir ini sering menarik diri dari pergaulan. Laki-laki. Pendengaran berkurang sejak 2 tahun yang lalu . Kalimat sulit . Tidak ada Kata / kalimat kunci . Nilai rapor menurun 2 . Kami melakukan pembelajaran dengan mengikuti tujuh langkah (seven jumps) utuk dapat menyelesaikan masalah yang kami dapatkan. 11.4. 12 tahun . Menjelaskan promotif dan preventif penyakit-penyakit dengan keluhan tuli. Menjelaskan komplikasi lain dari penyakit-penyakit tersebut. datang ke Puskesmas dengan keluhan pendengaran berkurang sejak 2 tahun lalu disertai dengan perasaan pusing bila kepala dipalingkan dengan tiba-tiba . 1. 12. Menjabarkan masalah gangguan ketulian. Berikut laporan dari hasil yang telah kami dapatkan :  LANGKAH 1 (Clarify Unfamiliar) Skenario Seorang anak laki-laki. Riwayat keluar cairan dari dalam telinga sejak usia 7 tahun. 12 tahun. 1. Kegiatan yang Dilakukan dan Keluarannya Kelompok kami berdiskusi bersama untuk mempelajari kasus yang ada di skenario. Laporan Seven Jumps Kelompok kami telah melakukan diskusi pada pertemuan pertama dan kami telah menyelesaikan 5 langkah dari 7 langkah yang ada. Pusing jika kepala dipalingkan tiba-tiba .

Jelaskan fisiologi dari pendengaran! 4. klasifikasi. Jelaskan bagaimana struktur anatomi dari telinga! 2. Jelaskan patomekanisme keluarnya cairan dari dalam telinga! 7. Labirinitis  LANGKAH 3 ( Brainstorme Possible) Pada saat diskusi kami telah melakukan brain storming dengan cara menjawab pertanyan- pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Jelaskan bagaimana hubungan pusing jika kepala dipalingkan tiba-tiba dengan penurunan pendengaran! 6. Jelaskan alur diagnosis untuk pemeriksaan fungsi pendengaran ! 10. Menarik diri dari pergaulan . dan patomekanisme terjadinya penurunan pendengaran! 5. 3 . Dalam langkah ke-3 ini beberapa pertanyaan yang telah didapat dari langkah ke-2 telah ditemukan inti jawabannya. Jelaskan diagnosis banding dari: a. Jelaskan penyakit apa saja yang dapat menyebabkan penurunan pendengaran 9. Jelaskan bagaimana hubungan keluarnya cairan dari dalam telinga dengan penurunan pendengaran! 8. etiologi.. Otitis media serosa c. Jelaskan bagaimana definisi. RPD: keluar cairan dari dalam telinga sejak usia 7 tahun  LANGKAH 2 ( Define Problem ) Pertanyaan 1. Jelaskan bagaimana histologi dari telinga! 3. Otitis media supuratif kronik b.

mengumpulkan data-data atau informasi yang dapat membantu meningkatkan pemahaman dan penerapan konsep dasar yang telah ada yang pada tahap selanjutnya akan dipersentasikan dan disajikan untuk dibahas bersama  LANGKAH 7 ( Pembahasan ) Kelompok kami telah melakukan diskusi kembali pada pertemuan kedua dan kami telah menyelesaikan langkah yang belum tercapai pada pertemuan sebelumnya. LANGKAH 4 (Hypotesis)  LANGKAH 5 ( Sasaran pembelajaran / Learning Objectif) a. Tujuan Intruksional Umum ( TIU ) b. Semua anggota kelompok kami memaparkan semua hasil yang telah didapatkan pada saat belajar mandiri. Tujuan Intruksional Khusus ( TIK )  LANGKAH 6 ( Belajar Mandiri ) Kelompok kami melakukan belajar mandiri terlebih dahulu untuk mencari dasar ilmiah. Pemaparan dari langkah teakhir ini akan kami bahas pada Bab II. 4 .

STAPES 4. 1/3 bag lateral 3. Lebar di cranial 3. BAB II PEMBAHASAN 1. Pars osseum. TUBA AUDITORIA = TUBA EUSTACHEUS : Cavum tympani – Nasopharynx 5 . SALURAN 2. Antihelix 6. MEMBRANA TYMPANI : oval. Tragus MEATUS ACUSTICUS EXTERNUS 1. letak oblique AURIS MEDIA 1. Jelaskan bagaimana struktur anatomi dari telinga! Jawab: AURICULA (daun telinga) 1. Lembaran oval 2. INCUS 3. Pars cartilaginis.5 cm 2. Lobulus auriculae 5. Helix 4. 2/3 bag medial 4. MALEUS 2.

anterior • MEATUS ACUSTICUS INTERNUS N. medial • Cochlea.VESTIBULO -COCHLEARIS • PARS VESTIBULARIS • PARS COCHLEARIS • Berjalan melalui MEATUS ACUSTICUS INTERNUS menuju ke CEREBELLOPONTINE ANGLE. menuju ke Brain stem pd Area Acustica (NUCLEUS VESTIBULARIS) dan NUCLEUS COCHLEARIS 2. 5. TelingaLuar tdd:  Auricula  Meatus AkustikusEksterna 6 . 3 bh. posterior • Vestibulum. Jelaskan bagaimana histologi dari telinga! Jawab: Histologi telinga Terdiri dari 3 bagian : 1. ANTRUM MASTOIDEUM AURIS INTERNA • LABYRINTHUS : • Canalis semicircularis.

stapedius  Serabut saraf korda tympani  Tuba eustachius = tuba auditiva=tuba faring otympanika Telinga dalam  Terdiri atas : 1. Incus. disebut Labirin :  Labirin tulang (Osseus)  Labirin mebranaseus Membrana Tympani  Menutupi ujung bagian dalam liang telinga  Tdd 3 lapisan :  Kulit. lanjutan epidermis liang telinga (epitel berlapis gepeng)  Serat kolagen dan elastic berjalan radier dan sirkuler  Lanjutan mukosa dan kavum tympani (epitel berlapis kubus) Telinga tengah  Kavum tympani tdp 3 tulang : malleus. Telinga Tengah  Cavum tympani  Tuba Eustachius  Tulang2 pendengaran : Malleus. Labirin tulang 7 . epitel selapis gepeng  Terdapat otot : M. Stapes 3. stapes  Dua lobang :  Oval window (fenestra vestibuli)  Round window (fenestra koklea)  Membrane mukosa. tensor tympani dan M. incus.  Membrana tympani 2. Telinga Dalam.

Gerakan yang berlawanan arah akan mengakibatkan regangan pada rantai tersebut berkurang dan kanal ion akan menutup. Terdapat perbedaan potensial antara intra sel. Jelaskan fisiologi dari pendengaran! Jawab: Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah membran tektoria. sehingga pada saat terjadi defleksi gabungan stereosilia akan mendorong gabungan- gabungan yang lain. sedangkan stimulus 8 . sehingga bila mendapat stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku bersamaan. Kanalis semisirkularis 3. Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan dengan amplitudo maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi stimulus yang diterima. sehingga akan menimbulkan regangan pada rantai yang menghubungkan stereosilia tersebut. Labirin membranaseus Labirin Tulang :  Dinding tulang  Isi perilimph  Didalamnya mengapung labirin membranaseus  Dilapisi epitel selapis gepeng  Tdd : koklea. Gerak gelombang membran basilaris yang timbul oleh bunyi berfrekuensi tinggi (10 kHz) mempunyai pergeseran maksimum pada bagian basal koklea. 2. perilimfa dan endolimfa yang menunjang terjadinya proses tersebut. Pada bagian apikal sel rambut sangat kaku dan terdapat penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel lainnya. Keadaan tersebut akan mengakibatkan terbukanya kanal ion pada membran sel. Potensial listrik koklea disebut koklea mikrofonik. Pada bagian puncak stereosillia terdapat rantai pengikat yang menghubungkan stereosilia yang tinggi dengan stereosilia yang lebih rendah. berupa perubahan potensial listrik endolimfa yang berfungsi sebagai pembangkit pembesaran gelombang energi akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel rambut luar. sterosilia dan membran basilaris. maka terjadilah depolarisasi. Vestibulum. Interaksi ketiga struktur penting tersebut sangat berperan dalam proses mendengar.

Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut. lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran. Energi getar yang telah diamplifikasikan akan diteruskan ke telinga dalam dan di proyeksikan pada membran basilaris. Jelaskan bagaimana definisi. tunarungu. sedangkan bunyi berfrekuensi sangat rendah dapat melalui bagian basal maupun bagian apeks membran basilaris. klasifikasi. etiologi. berfrekuensi rendah (125 kHz) mempunyai pergeseran maksimum lebih kearah apeks. 4. Tuli adalah gangguan pendengaran berupa kehilangan pendengaran atau tidak mempunyai kemampuan penuh dalam mendengar karena tidak ada atau hilangnya sensasi pendengaran. atau gangguan pendengaran dalam kedokteran adalah kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius. 9 . Skema proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh telinga luar.sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. dan patomekanisme terjadinya penurunan pendengaran! Jawab: Definisi Tuli. Keadaan ini disebut sebagai cochlear amplifier. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut. Sel rambut luar dapat meningkatkan atau mempertajam puncak gelombang berjalan dengan meningkatkan gerakan membran basilaris pada frekuensi tertentu. Gelombang yang timbul oleh bunyi berfrekuensi sangat tinggi tidak dapat mencapai bagian apeks. sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. lalu menggetarkan membran timpani dan diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran tersebut melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong.

Berbeda dengan keadaan cacat yang lain. Jika ada sesuatu yang menghalangi saluran telinga (zat lilin. cairan. biasanya disebabkan proses keradangan telinga tengah (otitis media) yang menimbulkan robekan gendang telinga dan keluarnya cairan dari liang telinga (curek atau congekan). Ketulian konduktif (hantaran) jika kelainan terjadi di telinga luar maupun tengah. dikenal berbagai jenis gangguan pendengaran. Bisa juga terjadi sejak lahir misalnya liang telinga tertutup (atresia). Menurut WHO ketulian derajat ringan sampai berat di masyarakat mencapai 10%. cacat dengar pada anak tidak terlihat jelas. terutama bagi masyarakat awam medis. Cacat dengar pada bayi dan anak menyebabkan gangguan berbahasa. baik untuk menerima maupun menyampaikan pesan yang selanjutnya mengakibatkan gangguan sosialisasi dan gangguan emosional. penumpukan kalsium pada tulang telinga). diperkirakan. maka terjadi ganguan pendengaran konduktif. Ketuliandibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainan terletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengana tulang pendengaran stapes. teredam atau terdistorsi. Klasifikasi Tuli Konduktif Gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika getaran suara di udara tidak sampai ke telinga bagian dalam sebagaimana mestinya. Tuli Sensorineural 10 . terutama ketulian yang disebabkan peradangan telinga tengah. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapat ditolong dengan memuaskan. gangguan pendengaran konduktif tidak menyebabkan ketulian total. insiden tuli saraf berat pada bayi baru lahir berkisar antara satu sampai dua per 1000 kelahiran. baik dengan pengobatan atau dengan suatu tindakan misalnya pembedahan. berdasarkan lokalisasi kelainan di telinga. Di berbagai negara dilaporkan angka kejadian gangguan pendengaran yang bervariasi. Sebagiannya dapat dicegah dan disembuhkan. Umumnya. Biasanya suara masih bisa terdengar namun lemah.

Tuli Campuran Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan.timpanosklerosis. • TulisensorineuralFrek. ruang telinga tengah. dislokasi tulang pendengaran kelainan telinga tengah tuli konduktif  Tuli Sensorineural 11 . sumbatan oleh serumen. otitis media.laki>perempuan. tinggi • Bilateral • Terjadiusia 60 thn • Progresifitaspenurunan pend. feanestra ovalis. otosklerosis. Gangguan pendengaran saraf (tuli saraf) terjadi ketika saraf pendengaran dari liang telinga yang menuju ke otak gagal membawa informasi suara ke otak. rantai tulang pendengaran.Kombinasi dari gangguan pendengaran konduktif dan saraf. otitis eksterna sirkumskripta. fenestra rotunda. Laki. Tuli persepsi inibiasanya sulit dalam pengobatannya. tuba auditiva o Atresia liang telinga. dan osteoma liang telinga kelainan telinga luar tuli konduktif o Sumbatan tuba eustachius. Gangguanpada telingadalamdan saraf pendengaran. Etiologi  Tuli Konduktif o Lesi pada kanal telinga luar. hemotimpanum. Ketulian saraf akan menyebabkan hilangnya kenyaringan atau kejelasan dalam suara yang diterima. Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearingloss) dimana letak kelainan mulai dari organ korti di kokleasampai dengan pusat pendengaran di otak.Selain mengalami kelainan di telinga bagian luar dan tengah juga mengalami gangguan pada saraf pendengaran.disebut tuli campuran.

Radang tonsil (radang amandel) yang menahun dan infeksi lainnya mungkin juga akan merambat ke saluran eustachius dan menyebabkan terkumpulnya nanah di dalam rongga telinga bagian tengah. si anak akan mengalami sakit telinga dan demam tinggi. segera bawa ke dokter (spesialis THT lebih disukai) untuk mengobati keadaannya. Tidak perlu menunggu. kina. pendengaran bisa saja akan hilang selamanya ketika infeksi sudah sembuh. campak. Biaya ke dokter masih jauh lebih murah ketimbang risiko yang harus anak Anda tanggung nantinya. kanamisin. neomisin. Berikut beberapa penyebab ketulian yang lazim terjadi : Infeksi Telinga Infeksi pada telinga adalah penyakit yang dapat menimbulkan cairan dan lendir pada liang telinga. Bila itu terjadi. trauma kapitis. garamisin. dan infeksi telinga. jangan pernah bereksperimen dengan memberikannya obat tetes telinga sembarangan. Meskipun di masa lalu orang-orang menganggap otosklerosis disebabkan oleh penyakit seperti deman berdarah. o Aplasia (kongenital). bila tidak dirawat dengan baik. infeksi telinga ada kalanya terjadi setelah anak menderita influenza atau demam-demam lainnya. trauma akustik. cedera otak. dan pajanan bising tuli sensorineural koklea o Neuroma akustik. Otosklerosis Otosklerosis adalah penyebab umum dari ganguan pendengaran. dan intoksikasi obat (streptomisin. labirinitis (oleh bakteri dan virus). namun kenyataannya itu tidak berhubungan. dan kelainan otak lainnya tuli sensorineural retrokoklea Sebagian orang dilahirkan dalam keadaan tuli. asetosal atau alkohol). maka gendang telinga menjadi kurang fleksibel dari yang seharusnya. Selama masa kanak-kanak. myeloma multiple. Pendengaran mungkin akan berkurang atau bahkan hilang selama terkena infeksi. Ingat. Biasanya penyebabnya tidak diketahui. Jika cairan dan lendir ini menumpuk di dalam liang telinga. tumor sudut pons serebelum. Banyak orang yang mengatakan bahwa itu disebabkan karena sesuatu yang terjadi pada ibu selama masa kehamilan. perdarahan otak. tuli mendadak. tetapi pendapat ini tidak bisa dibenarkan. Ini merupakan penyakit keturunan 12 .

dan hal ini dapat menyebakan ketulian. telinga dalam atau bahkan keduanya. Gendang telinga adalah selaput tipis yang memisahkan saluran tengah dan telinga bagian tengah. Jika gendang telinga tidak sembuh dengan sendirinya. Kabar baiknya. dapat menyebabkan gendang telinga sobek. Telinga bagian tengah terhubung ke tenggorokan oleh saluran eustachius. Cedera yang dapat melubangi gendang telinga antara lain :  Benda asing. peradangan pada meninges dapat menyebabkan telinga menjadi meradang pula. meskipun dapat memakan waktu beberapa minggu atau bulan.di mana bagian-bagian dari telinga tengah atau telinga dalam mengembangkan pertumbuhan tulang seperti spons. Tingkat ketulian tergantung pada ukuran lubang di gendang telinga dan banyak hal lannya. Penyakit ini bisa muncul di telinga tengah. yang mengurangi tekanan di telinga tengah. Cedera Telinga Lubang gendang telinga Ketulian bisa disebabkan cedera di gendang telinga. ini akan menjadi permanen. Meningitis sendiri tidak menyebabkan ketulian. Meningitis Meningitis adalah peradangan pada membran (meninges) yang mengelilingi otak dan tulang belakang. yang menyebabkan perubahan besar tekanan udara. Jadi lubang di gendang telinga bisa menyebabkan hilangnya pendengaran dan kadang-kadang dapat menguras cairan dari telinga. mungkin pembedahan perlu dilakukan. 13 . Setelah semakin parah. telinga harus terlindung dari air dan dari cedera lebih lanjut. akan terjadi gangguan pendengaran sensorineural. terkadang gendang telinga akan sembuh sendiri. Ketika menyerang telinga bagian dalam. cotton bud yang didorong terlalu jauh juga bisa menyebabkan lubang pada gendang telinga. Sementara gendang telinga dalam proses penyembuhan.  Ledakan. tapi karena letak otak sangat dekat dengan telinga.

motor. perkelahian dan cedera akibat olahraga. Untuk mengeluarkan benda asing tersebut. cara pengeluaran benda asing yang kasar dari dalam telinga bisa merusak kulit liang telinga dan bisa saja menyebabkan luka dan akhirnya infeksi di rongga telinga bagian tengah. bawalah segera si anak ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. terjatuh. lebih bagus lagi sebelum dibersihkan telinga diairi dengan cairan seperti hidrogen peroksida atau carbamide peroksida atau juga karbol gliserin 10%. mereka memasukkan benda asing ke dalam liang telinga dan mereka tidak memberitahukannya kepada orangtua. Dengan perlakukan tersebut. Jika pun Anda terpaksa menghukum seorang anak. luka dan infeksi. Kecelakaan Banyak anak-anak yang setengah tuli akibat terkena pukulan/benturan pada sisi kepalanya. usahakanlah jangan sampai malah membuatnya lebih jauh masuk kedalam telinga. bersihkan dengan perlahan. Anda mungkin memecahkan gendang telinganya dan bisa saja menjadikan pendengarannya rusak seumur hidupnya. Ingat. jangan pernah menampar apalagi memukul sisi kepalanya atau lebih buruk di bagian telinganya. Zat lilin (serumen) telinga Zat lilin (serumen) adalah kotoran telinga yang melindungi liang telinga dari masuknya kotoran. 14 . Jika Anda bisa melihat benda asing tersebut. Benda-benda asing Hampir semua anak-anak menyukai hal-hal baru dan mereka akan mencobanya. Barulah setelah beberapa hari kemudian si anak mengeluhkan sakit pada telinganya dan bisa saja di telinganya muncul cairan yang berbau. Jika Anda merasa ragu untuk mengeluarkannya atau benda itu sulit untuk dikeluarkan. Beginilah cara mereka belajar. Namun bila zat lilin sudah terlalu banyak.  Kecelakaan mobil. Namun terkadang. keluarkan secara perlahan dengan menggunakan penjepit. Pukulan/benturan ini bisa merusak alat pendengaran mereka yang halus dengan mudah. Ada baiknya untuk membiarkan zat lilin itu.

halus namun kuat. Ini untuk menghindari kotoran menjadi semakin masuk akibat cotton bud yang besar. Suara keras Penyebab yang sangat umum dari tuli adalah paparan jangka panjang suara yang keras. pekerja pabrik. tetapi pemaparan berulang terhadap suara keras dalam periode waktu tertentu bisa menyebabkan gangguan pendengaran berat. dan terutama musisi rock sering menderita gangguan pendengaran akibat pekerjaan yang mereka jalani selama bertahun-tahun. sebaiknya pilih cotton bud yang pentulnya kecil. petugas pemadam kebakaran. Kerusakan saraf Kerusakan pada saraf pendengaran juga bisa terjadi karena cedera atau penyakit. 5. Bila membersihkannya dengan cotton bud.Cairan akan menjadi lunak dan lebih mudah keluar. Biasanya satu kali insiden paparan suara keras tidak akan menyebabkan ketulian. mencegah lecet dan tertinggalnya kapas cotton bud di dalam liang telinga yang bisa menyebabkan infeksi. Inilah sebabnya mengapa operator alat berat. Cedera dapat terjadi karena kecelakan atau terjatuh. Jelaskan bagaimana hubungan pusing jika kepala dipalingkan tiba-tiba dengan penurunan pendengaran! Jawab: Vertigo terdiri dari 3 macam :  Vertigo spontan  Vertigo posisi  Vertigo kalori 15 . Akibat dari kerusakan saraf adalah sinyal-sinyal listrik dari suara tidak dapat diteruskan dari telinga ke otak.

maka suplai darah menuju ke system keseimbangan menjadi berkurang. Penekan ini pun terjadi bila kita memutar leher. vertigo oleh karena perangsangan dari system tulang belakang (vertebr servicalis).enzim dan antibodi • PERADANGAN • Pembuluh darah melebar dimembran timpani • Tampak hiperemis dan edema sekret • Terbentuknya cairan eksudat dimembran timpani • Membran timpani menonjol kearah meatus akustikus eksternus • Membran timpani tampak lembek & berwarna kuning • Membran timpani ruptur 16 . Vertigo posisi terjadi karena perubahan posisi kepala.Vertigo timbul karena perangsangan pada kupula kanalis sermikularis oleh debris pada kelainan servikal. 6. yaitu vertigo yang disebabkan kotoran (debris) yang melekat pada salah satu system keseimbangan dalam liang (kupula). Kapan terjadi perubahan posisi kepala. termasuk tipe posisi akibat perubahan posisi kepala. Kedua. Jika ada penekanan terhadap arteri vertebralis tersebut. maka kotoran akan membengkokan kupula tersebut sehingga tercetuslah vertigo. Dari gejala klinis di atas. Dimana suplai darah menuju system keseimbangan dalam liang telinga 80% berasal dari arteri vertebralis kanan dan kiri. Vertigo ini pun terbagi menjadi 2 bagian. Jelaskan patomekanisme keluarnya cairan dari dalam telinga! Jawab: Patomekanisme keluar cairan dari telinga (Otorrhea) • Mikroorganisme masuk ketelinga tengah • Infeksi  terjadi mkanisme pncegahan masuknya mikroba kedalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba eustachius.

• OTORRHEA 7. yang akan menyebabkan tuba eustachius menjadi tertutup. keluarnya cairan jernih melalui telinga bisa jadi adalah infeksi yang berasal dari nasofaring melalui tuba eustachius. Selain otitis eksterna. Jelaskan bagaimana hubungan keluarnya cairan dari dalam telinga dengan penurunan pendengaran! Jawab: Sekret yang serosa (cair) biasanya karena otitis eksterna difusa dan sering menimbukan krusta pada orificium liang telinga luar. Atresia meatus akustikus eksterna Kelainan berupa tertutupnya seluruh/sebagian liang telinga (meatus akustikus eksterna) disebabkan oleh adanya kelainan kongenital dimana jaringan lunak dan atau tulang meatus akustikus eksterna yang tidak berkembang. 2. Gumpalan serumen yang menumpuk di liang teliga akan menimbulkan gangguan pendengaran berupa tuli konduktif. Dimana kuman yang masuk dari tuba akan menyebabkan inflamasi sehingga menimbulkan edema di sekitar tuba. Serumen Obturans Tersumbatnya liang telinga akibat penimbunan kotoran telinga. Akibat ruptur inilah pendengaran menjadi menurun dan terjadi otore atau pengeluaran cairan yang bersal dari telinga. 17 . Bakteri tersebut juga akan menyebabkan terbentuknya eksudat yang semain lama akan semakin banyak dan akan mengganggu getaran ossikula auditiva sehingga tulang-tulang ini tidak bisa merambatkan getaran yang sesuai dengan frekuensi pada koklea. 8. Jelaskan penyakit apa saja yang dapat menyebabkan penurunan pendengaran! Jawab:  Penyakit Telinga Luar 1. Penurunan pendengaran ini akan menjadi berat bila terjadi ruptur pada gendang telinga akibat penekanan dari eksudat yang meningkat dalam ruang telinga tengah. akibatnya terjadi penurunan pendengaran yang tidak terlalu berat.

Sekret mungkin encer atau kental. Gangguan pendengaran disebabkan oleh adanya edema. tumpukan sekret di dalam MAE. 3.  Penyakit Telinga Tengah 1. Otitis media serosa kronik lebih sering terjadi pada anak-anak. Otitis eksterna Infeksi telinga luar meliputi daun telinga sampai permukaan luar membran timpani. 2. sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke 18 . sekret terjadi secara tiba-tiba di telinga tengah dengan disertai rasa nyeri pada telinga. Faktor yang mempermudah radang telinga luar ialah perubahan pH di liang telinga yang biasanya normal atau asam. karsinoma sel skuamosa. proteksi terhadap infeksi menurun. bening atau berupa nanah. Batasan antara kondisi otitis media serosa akut dengan otitis media kronik hanya pada cara terbentuknya sekret. bila proses infeksi kurang dari 2 bulan disebut otitis media supuratif subakut. Otitis media serosa akut dan kronik Otitis media serosa akut adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah secara tiba-tiba yang disebabkan oleh gangguan fungsi tuba. Sedangkan pada keadaan kronis sekret terbentuk secara bertahap tanpa rasa nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama. Pada otitis media serosa akut. sedangkan otitis media serosa akut sering terjadi pada orang dewasa. Otitis media superatif akut akan menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. 4. dll. Predisposisinya adalah trauma ringan ketika mengorek telinga. Bila pH menjadi basa. 3. Otitis media supuratif akut dan kronis Infeksi pada telinga tengah denganperforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Tumor telinga luar Sumbatan MAE yang disebabkan oleh tumor jinak atau ganas telinga misalnya polip jaringan granulasi. Otosklerosis Penyakit pada kapsul tulang labirin yang mengalami spongiois di daerah kaki stape.

Biasanya mengenai satu telinga. tinitus. Pada labirinitis serosa. vertigo. Tuli mendadak Sifatnya sensorineural. dapat disertai vertigo dan tinitus. 3. reversibel dan terjadi pada saat serangan. 4. gejalanya bisa berupa vertigo saja atau tuli saraf saja. Gejalanya berupa pendengaran berkurang perlahan dan progresif. tinitus dan kadang-kadang dengan vertigo. seperti osifikasi. bisa sementara atau permanen. keluhan lain yg sering adalah tinitus dan kadang vertigo. Pada labirinitis supuratif. Jelaskan alur diagnosis untuk pemeriksaan fungsi pendengaran ! Jawab: 19 .  Penyakit Telinga Dalam 1. Pada awal penyakit akan timbul tuli konduktif. 9. Labirinitis Terdapat 2 bentuk labirinitis. Biasanya gejalanya penurunan pendengaran yang sifatnya sensorineural. gejalanya berupa vertigo berat dan tuli saraf. Penyakit Meniere Gangguan pendengaran yang ditandai dengan trias ketulian sensorineural. Ototoksik Gangguan pendengaran akibat efek samping obat-obat yang merusak sel-sel sensorik organon corti atau vestibuler. Presbiakusis Gangguan pendengaran disebabkan oleh proses degenerasi pada struktur koklea dan N. labirin dengan baik. Pendengaran terasa berkurang secara progresif. 2. etiologinya dihubungkan dengan iskemi koklea dan infeksi virus.VIII berupa atrofi sel-sel rambut organon Corti. toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang. Ketulian yang terjadi sifatnya akut. yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. 5. sel radang menginvasi labirin sehingga terjadi kerusakan yang ireversibel.

konsistensi dan kejernihannya.Pemeriksaan Telinga Luar Inspeksi Struktur Telinga Luar Inspeksi pina untuk melihat ukuran. jika sangat besar menunjukkan adanya pembedahan mastoid sebelumya. Amati juga adanya deformitas. Pina harus terletak dibagian tengah dan harus sesuai dengan besarnya wajah dan kepala. 20 . Amati adanya pengeluaran cairan. bentuknya dan amati apakah ada kelainan. atau nodulus. Tarik pina dengan lemah lembut ke atas atau ke bawah atau dengan menekan tragus dan mintalah pasien untuk menatakan jika sakit. Palpasi struktur Telinga Luar Pina dipalpasin untuk mencari ada tidaknya nyeri tekan. Amati juga ukuran lubang telinga. pembengkakan. Daerah telinga posterior harus diperiksa untuk melihat adnya jaringan parut atau pembengkakan. nodul peradangan. Minta pasien untuk melepasnya sebelum ke pemeriksaan selanjutnya. Nyeri tekan mungkin menunjukkan suatu proses supuratif pada tulang mastoid Pemeriksaan Otoskopik Pemeriksaan telinga dengan memakai otoskop untuk melihat visualisasi struktur telinga dengan baik. Gunakan Otoskop dengan speculum dengan ukuran yang nyaman di telinga pasien dan periksa apakah menghasilkan cahaya yang baik. Jika ada pengeluaran cairan catatlah warna. atau lesi. Terangkan pada pasien apa yang akan dilakukan Teknik Pemeriksaan  Pasien diminta untuk memutar sedikit kepalanya ke samping sehingga pemeriksa dapat memeriksa telinga tersebut dengan lebih nyaman. Nyeri palpasi pada tragus menunjukkan adanya infeksi meatus akustikus ekaternus (MAE) atau adanya masalah pada persendian temporomandibular. posisi. Perhatikan bagian belakang telinga dan amati apakah ada bekas luka pembedahan dan lihat apakah pasien memakai alat bantu dengar.

Posisi ini menyediakan penyangga sehingga jika pasien menggerakkan kepalanya tiba-tiba selama pemeriksaan tangan pemeriksa dapat menahannya dan mengurangi adanya trauma pada telinga . Dinding kanalis seharusnya bebas dari benda asing. Inspeksi Kanalis Eksternus Dengan hati-hati masukanlah spekulum dan periksalah kanalis eksternus. keutuhan. Jika ada benda asing berikanlah pehatian khusus dengan memeriksa kanalis telinga sisi yang lain. bengkak atau nyeri tekan yang menunjukkan peradangan. Amati kulit dari kanalis eksternus apakah ada infeksi. hidung dan lubang-lubang tubuh yang mudah dicapai.  Otoskop dapat dipegang dalam salah satu dari dua posisi berikut Posisi pertama: memegang otoskop pada tangkainya antara jari telunjuk dan ibu jari dengan permukaan ulnar pemeriksa berhadapan dengan pipi pasien tangan pemeriksa bersandar pada sisi wajah pasien. dan belakang Makin lurus kanalnya makin mudah visualisasi dan pemeriksaan akan dirasakan nyaman oleh pasien. Jika ada sekret perhatikanlah tempat sumbernya. Seharusnya tidak ada tanda- tanda kemerahan. skuama atau sekret. posisi 21 . Teknik ini lebih aman terutama untuk anak-anak.  Untuk memeriksa telinga kanan pasien pemeriksa memegang otoskop dengan tangan kanan sebaliknya untuk memeriksa telinga kiri menggunakan tangan kiri. transparansi. Pengeluaran serumen sebaiknya dilakukan oleh pemeriksa yang berpengalaman. Teknik ini terasa lebih aman tetapi gerakan pasien tiba-tiba dapat menyebabkan nyeri dan cedera pasien. Serumen harus dibiarkan begitu saja kecuali jika mengganggu visualisasi kanalis dan membrane timpani. membran timpani dapat divisualisasikan. luar. Perhatikanlah warna. karena setiap manipulasi dapat mengakibatkan trauma atau abrasi. serumen atau benda asing. Pada anak-anak kanal harus diluruskan dengan menarik daun telinga ke bawah dan ke belakang.  Kanalnya diluruskan oleh tangan pemeriksa yang sebelahnya dengan menarik daun telinga ke atas. Posisi kedua adalah memegang otoskop ke arah atas ketika speculum dimasukkan ke dalam kanal. Inspeksi membran timpani Ketika otoskop dimasukkan lebih jauh ke dalam kanal dengan arah ke bawah dan ke depan.

Kehilangan pendengaran konduktif diakibatkan kerusakan penghantaran suara telinga luar melalui membran timpani dan tulang-tulang pendengaran ke telinga dalam. Kehilangan pendengaran sensorineural diakibatkan kerusakan cochlea dan saraf dan cara bebicara dapat terpengaruh.dan bagian-bagian penting membrana timpani. Setelah memeriksa telinga kanan periksalah telinga kiri dengan tangan kiri. Dalam keadaan sakit. abu-abu seperti mutiara pada akhir kanal tersebut. Pembuluh darah seharusnya hanya dapat dilihat di bagian tepi membran timpani. pemeriksa harus dapat melihat cone of light sebagai permukaan concave dari membrane timpani sebagai reflek cahaya dari lampu. Defek marginal meluas ke annulus tetapi pada central perforasi membrane disekelilingnya tetap utuh. Amplifikasi kecil dapat menyebabkan kerusakan yang tidak 22 . atau campuran. Cara bicara pada kehilangan pendengaran konduktif tetap dan pendengaran baik jika suara diamplifikasi. Pars flacida processus brevis maleus dan plika anterior dan posterior harus dikenali . Pada telinga normal tangkai maleus yang melekat pada membran timpani adalah petunjuk yang paling penting. Apakah membran timpani mengalami kongesti. misalnya kalau tuba eustachii tersumbat. Amati adanya penampakan translusen keabu-abuan pada membrane timpani normal. Pemeriksaan Ketajaman Pendengaran Kehilangan pendengaran dapat disebabkan: konduktif. Dari ujung bawah tangkai tersebut seringkali ada kerucut segitiga terang yang dipantulkan dari pars tensa. Bercak- bercak putih padat pada membran mungkin disebabkan timpanosklerosis. lokasi dan ukurannya. Jika perforasi meliputi sebagian besar membran maka disebut subtotal. plak putih adalah timpanosklerosis dan menunjukkan adanya bekas perforasi sebelumnya. Penonjolan membran timpani mungkin disebabkan adanya cairan atau pus di bagian tengah telinga. Apakah membran timpani menonjol atau retraksi. Membran timpani mengalami retraksi apabila tekanan ruangan intratimpani berkurang. Tangkai maleus dapat terlihat didekat bagian tengah membran timpani. Pemeriksa meluruskan kanalis dengan tangan kanan. Harus dicatat perforasi yang sedang berlangsung. Dalam keadaan sehat membran timpani harus terlihat sebagai selaput utuh translusen. Posisi ini berhubungan dengan pegangan dari malleus. Batas superiornya lebih dekat dengan mata pemeriksa. membran timpani mungkin pudar dan menjadi merah atau kuning. Ini disebutrefleks cahaya yang menuju antereoinferior. sensorineural. Posisi normal membran timpani adalah miring terhadap kanalis eksternus.

tangkai penala diletakkan pada processus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. dan ujungnya dipukulkan dengan cepat pada telapak tangan. Bila salah satu frekuensi ini terganggu penderita sadar akan adanya gangguan pendengaran. Untuk pendengaran sehari- hari yang paling efektif antara 500-2000 Hz. yaitu: 1. Penala digetarkan. Pemeriksaan pendengaran secara kuantitatif dilakukan dengan audiometer nada murni. Pemeriksaan uji garpu tala untuk memeriksa kehilangan daya pendengaran lebih tepat dan seharusnya dilakukan tanpa memperhatikan hasil tes berbisik. Cara Pemeriksaan Pendengaran Cara termudah untuk memeriksa kehilangan daya pendengaran yang berat adalah dengan menutup satu kanalis eksternus dengan menekan kedalam pada tragus dan berbisik kedalam telinga lainnya. Tes Schwabach Membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Ada beberapa tes garpu tala untuk memeriksa daya pendengaran. Bila pemeriksa masing mendengar disebut Schwabach memendek. Proses ini kemudian diulangi dengan memakai telinga lainnya. Pemeriksa harus membisikkan kata-kata pada telinga yang tidak ditutup dan menentukan apakah pasien dapat mendengarnya. Secara fisiologik telinga dapat mendengar nada antara 20-18000 Hz. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut Schwabach memanjang dan bila pasien 23 . Kehilangan pendengaran sebagian besar bertambah secara progresif dan berhubungan dengan ketuaan. Pemeriksa harus menyembunyikan mulutnya untuk menghindari pembacaan gerakan bibir oleh pasien. 1042 dan 2048 Hz. Penggunan garpu tala ini penting untuk pemeriksaan secara kualitatif. Jangan memukulkannya pada kayu atau metal padat. maka diambil 512Hz karena penggunaan garpu tala ini tidak terlalu dipengaruhi suara bising disekitarnya. Jika tidak mungkin menggunakan ketiga garpu tala. bila pemeriksa tidak dapat mendengar lagi pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya yaitu penala diletakkan pada processus mastoideus pemeriksa lebih dulu. Garpu tala dipegang pada tangkainya. Hal ini diakibatkan adanya kerusakan pada sel-sel rambut cochlea.menyenangkan. Oleh karena itu untuk memeriksa pendengaran dipakai garpu tala 512.

Uji Rinne Uji ini membandingkan hantaran udara dengan hantaran tulang. Pasien kemudian ditanya apakah ia mendengar bunyinya dan diminta untuk memberitahukan kapan ia tidak dapat mendengarkan lagi. Tiap telinga diperiksa secara terpisah. ini adalah uji Rinne positif (hantaran udara lebih baik daripada hantaran tulang). Pasien dengan tuli sensorineural mengalami gangguan pada hantaran udara dan tulang. Pada telinga dengan tuli konduktif. Bunyi akan dilateralisasikan pada sisi yang terganggu pada tuli konduktif. Uji Weber Uji Weber membandingkan hantaran tulang pada kedua telinga. gigi garpu tala yang sedang bergetar diletakan di depan meatus auditorius eksternus telinga yang sama. 2. tetapi uji Rinne positif. ada bising di latar belakang yang cukup berarti yang mencapai membrane timpani dengan hantaran udara. Mendengar bunyi atau merasakan getarannya pada bagian tengah adalah respon normal. 3. dan pasien ditanya apakah ia masih mendengarnya . bunyi tersebut dikatakan mengalami lateralisasi dan ada gangguan pendengaran. Gigi garpu tala yang sedang bergetar tidak boleh menyentuh rambut karena pasien mungkin menderita gangguan pendengaran tetapi masih dapat merasakan getarannya. Dalam keadaan normal. Hal ini cenderung menutupi bunyi yang dihasilkan oleh garpu tala yang terdengar dengan hantaran tulang. Pemeriksa memukulkan garpu tala 512 Hz pada telapak tangannya dan meletakkan tangkainya pada ujung mastoid. Kalau pasien sudah tidak dapat mendengarkan lagi. Penjelasan untuk uji Weber didasarkan atas efek menutupi bising di latar belakang. hantaran udara lebih baik daripada hantaran tulang dan pasien akan dapat mendengar garpu tala pada meatus auditorius eksternus setelah ia tidak dapat mendengarnya lagi pada ujung mastoid. Tetapi pasien dengan tuli konduksi mempunyai hantaran tulang yang lebih baik daripada hantaran udara (Uji Rinne negatif). 24 . Berdirilah di depan pasien dan letakkan garpu tala 512 Hz yang sedang bergetar dengan kuat pada bagian tengah dahi pasien. Mintalah kepada pasien untuk menunjukkan apakah ia mendengar atau merasa bunyi pada telinga kanan. telinga kiri atau dibagian tengah dahinya (Gambar 6). Dalam keadaan normal.dan pemeriksa kira-kira sama mendengarnya disebut dengan Schwabach sama dengan pemeriksa. Jika bunyi tersebut tidak terdengar dibagian tengah.

Jelaskan diagnosis banding dari: a. Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras berarti telinga tersebut menderita tuli konduktif. Kedua tes ini kemudian sesuai dengan yang diuraikan di atas. Jadi telinga yang terganggu akan mendengar dan merasai getaran garpu tala lebih baik ketimbang telinga normal. Otitis media serosa kronik c.hantaran udara berkurang dan oleh karena itu efek menutupinya juga berkurang. tes Weber dan tes Schwabach secara bersamaan. Tes Bing (tes oklusi) Cara pemeriksaan yaitu Tragus telinga yang diperiksa ditekan dengan menutup liang telinga sehingga terdapat tuli konduktif 30 dB. Pada pasien dengan tuli sensorineural unilateral bunyi tersebut tidak akan terdengar pada sisi yang terganggu tetapi akan terdengar oleh atau terlokalisasi pada telinga telinga yang tidak terganggu. Penilaian yaitu Bila terdapat lateralisasi ke telinga yang ditutup berarti telinga tesebut normal. Untuk menguji reliabilitas respons pasien. sebaiknya pemeriksa sesekali memukulkan garpu tala tersebut pada telapak tangan dan memegangnya sejenak untuk menghentikan getarannya. Untuk mempermudah interpretasi secara klinis dipakai tes Rinne. Penala digetarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala (seperti pada tes Weber). Otitis media supuratif b. Labirinitis Jawab: Otitis Media Supuratif Kronik Definisi: Suatu radang kronik telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan keluarnya secret dari telinga 25 . 4. 10.

yaitu Bacteroides  Gangguan pendengaran yang bersifat kondiktif dan dapat pula bersifat campuran  Nyeri tidak lazim dikeluhkan pemderita supuratif telinga tengah kronik dan merupakan suatu tanda yang serius  Vertigo adalah gejala serius lainnya yang member kesan adanya suatu fistula atau ada erois pada labirin tulang pada kanalis semisirkularis horisontalis. Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flaksida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. tonsilitis. konsistensi seperti mentega. Proteus vulgaris.Kolesteatom adalah suatu massa amorf. OMSK dengan secret yang keluar dari cavum timpani secara aktif b. terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah nekrotik Etiologi:  Bakteri penginvasi sekunder seperti stafilokok. biasanya tidak terkena tulang. sinusitis).  Infeksi dari nasofaring (adenoiditis. Faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama Obstruksi tuba eustachius. berwarna putih. luas dan derajat perubahan mukosa. Keadaan cavum timpani terlihat basah atau kering 2) Tiper atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. a. dan pseudomonas aeruginosa. dan dapat berlanjut ke telinga bagian dalam yang menimbulkan labirintitis.Klasifikasi: 1) Tipe Tubotimpani = tipe jinak = tipe aman Penyakit yang ditandai oleh adanya perforasi sentral dan terbatas pada mukosa saja. Penyakit aktif i. infeksi saluran atas. daya tahan tubuh yang rendah. Penyakit tidak aktif (tenang) i. serta migrasi sekunder dari epitel skuamous. serta sejumlah bakteri anaerob yang bagian dari suatu flora campuran. Epidemiologi: 26 . rinitis. mencapai telinga tengah melalui tuba eustachius.

daerah Pasifik Barat. anak-anak aborigin Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. maka sekret yang keluar dapat bercampur darah  Sekret di liang telinga  Pendengaran berkurang dan kadang keluar darah dari telinga  Nyeri  Tinitus  Timpanosklerosis  Vertigo Penatalaksanaan:  Tidak mengorek telinga  Jangan ada air masuk telinga sewaktu mandi  Operasi rekonstruksi (miringoplasti dan timpanoplasti)  Obat tetes telinga antibiotika dan kortikosteroid  Pencuci telinga dengan Hydrogen (H2O2) 3 % selama 3-5 hari Komplikasi:  Labirinitis  Meningitis 27 . sekretnya sedikit. Afrika. sekretnya lebih banyak dan seperti berbenang (mukous). tidak berbau busuk dan intermiten o Tipe atikoantral. pembentukan jaringan granulasi atau polip. dan beberapa daerah minoritas di Pasifik Tanda dan Gejala:  Terjadi perlahan  Telinga berair (otorrhoe) o Tipe tubotimpanal.OMSK lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika. Walaupun demikian. lebih dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia Tenggara. berbau busuk.

Etiologi:  Gangguan fungsi tuba  Infeksi akibat virus atau bakteri  Status Imunologi yang rendah/lemah  Faktor lingkungan dan sosisal 28 .  Abses otak (kematian) Prognosis: Baik jika ditangai dengan tepat dan melakukan pencegahan dengan baik Otitis Media Serosa Definisi: Keadaan terdapatnya cairan/secret nonpurulen di telinga tengah dengan membrane timpani utuh tanpa ada tanda-tanda infeksi aktif. 2) Otitis Media Serosa Kronik Pada keadaan kronis secret terbentuk secara bertahap tanpa rasa nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama. Klasifikasi: 1) Otitis Media Serosa Akut Otitis media serosa akut adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah secara tiba- tiba yang disebabkan oleh gangguan fungsi tuba. virus. alergi dan idiopatik.Penyebabnya antara lain sumbatan tuba (barotrauma).

 Cuci tangan dan mainan  Gunakan filter udara dan mendapatkan udara segar untuk membantu menurunkan paparan terhadap kuman udara.  Identifikasi dan menghindari allergen yang dapat menyebabkan Oms anak Anda. sedangkan otitis media serosa akut lebih sering pada orang dewasa. Tanda dan Gejala:  Pendengaran berkurang  Telinga terasa penuh  Terdengar bunyi seperti berdengung  Nyeri yang ringan  Terasa ada yang tersumbat didalam telinga  Sulit berkomunkasi dan tertinggal dalam pelajaran Penatalaksanaan:  Eritromisin  Sulfisoxazole  Amoksisilin  Amoksisilin klavulanat  Trimetroprim  Operasi dan pipa ventilasi Pencegahan:  Hindari iritan seperti asap rokok. yang dapat mengganggu fungsi tuba eustakius. Otitis media serosa kronik dapat juga terjadi sebagai gejala sisa dari OMA yang tidak sembuh sempurna. Penyebab lain diduga adanya hubungan dengan infeksi virus.  Alergi Epidemiologi: Otitis media serosa kronik lebih sering terjadi pada anak-anak. keadaan alergi atau gangguan mekanis pada tuba. 29 .

infeksi ke otak (meningitis). Bacterial Labirintitis i. Viral Labirintitis c. Protozoa Labirintitis 30 .  Vaksin pneumokokus dapat mencegah infeksi dari penyebab yang paling umum dari infeksi telinga akut (yang dapat menyebabkan Ome). Komplikasi: Mastoiditis. Klasifikasi: Ada 2 kategori: 1. sumbatan pembuluh darah akibat tromboemboli dan penyakit berlanjut otitis media adesiva dan otitis media kronis maligna Prognosis: Baik karena penyakit ini kadang akan sembuh dengan sendirinya sekitar beberapa minggu atau bulan tetapi lebih baik diberikan pengobatan untuk pencegahan komplikasi yang parah. Tipe Infektif a.  Jangan gunakan terlalu banyak antibiotik. Labirintitis Defnisi: kondisi peradangan yang mengenai telinga bagian dalam pada salah satu atau kedua kompartemen dari labirin. Paralabirintitis b. Vaksin flu juga dapat membantu. Syphilis Labirintitis d.  Untuk dewasa dan anak-anak yang lebih besar. Purulent labirintitis ii. Terlalu sering menggunakan antibiotik keturunan bakteri semakin resisten. mengunyah permen karet bisa membantu fungsi tuba eustakius.

Cryptococus dan Blastomices Tanda dan Gejala:  Tuli Sensorineural (pendengaran menurun)  Vertigo yang berat  Vomiting  Nausea  Nystagmus Penatalaksanaan:  Bakteri: o penisilin intravena dosis tinggi 2 – 3 juta units / hari o Sulfadiazin 6 gram/ hari Komplikasi: Pada kedua tipe labirinitis. Fungal Labirintitis 2. Autoimmune Labirintitis c. Toxic Labirintitis b. Tipe non Infektif a. Mucor. Labirintitis Ossificans Etiologi:  Purulent Labirintitis : Bakteri Pyogenic  Paralabirintitis : Kolestetoma  Sifilis Labirintitis : Kongenital Sifilis  Protozoa Labirintitis : Toxoplasma Gondii  Fungal Labirintitis : Candida. Kadang-kadang juga diperlukan drainase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis 31 . e. operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah.

32 . Dengan pemberian antibiotika komplikasi meningitis dapat berhasil diobati.Prognosis: Prognosis pada Labirintitis tanpa komplikasi baik. sehingga harus dicoba terapi medikamentosa dahulu sebelum tindakan operasi.

selain pasien telah di anamnesis pasien juga harus melakukan pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang yang sesuai sehingga dapat diberikan penatalaksanaan yang tepat.1. Tetapi untuk lebih memastikan lagi. Tapi kelompok kami lebih mengarah ke Otitis Media Supuratif Kronik karena manifestasi klinis yang terdapat diskenario sangat mendekati dengan penyakit tersebut. BAB III PENUTUP 3. dan Labirinitis. Saran Saran dari kelompok kami untuk penderita Otitis Media Supuratif Kronik yaitu dengan diberikan antibiotik spektrum luas dengan memperhatikan resistensi kuman dan dapat dilakuakan operasi mastoidektomi pada stadium koalesen dan stadium komplikasi (mastoidektomi simpleks) 33 .2. 3. Simpulan Jadi. Otitis Media Serosa. simpulan yang didapatkan pada Modul 2 – Tuli ini adalah telah didapatkan beberapa DD yaitu Otitis Media Supuratif Kronik.

Kapita Selekta Kedokteran Edisi VI Jilid II. Jakarta: Media Aesculapius. Frans Liwang. Soepardi.D Restuti. Jakarta: EGC. Eka Adip Pradipta. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. 2007. N. Jakarta: EGC. Mark H. Paulsen & J. Jakarta: EGC. Waschke.Bashiruddin. Sylvia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Penerbit Erlangga. J. Buku Ajar Ilmu Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Volume VI. 2005. 2012. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta. Jonathan . Price. Hall JE. 2011. F. Sobotta Atlas Anatomi Manusia. Jilid 3. Guyton. Swartz. DAFTAR PUSTAKA Chris Tanto. Patofisiologi: Knsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6. Buku Ajar Diagnostik Fisik.Iskandar. 34 . 2014. 2010. Jakarta: EGC. Gleadle. R. 2006. Sonia Hanifati.