Wanita dengan Keluhan Hematemesis Melena

Kelompok XIII

030.06.181 Nourma Yunita Sigiro
030.07.103 Helen Indah Rqmaasi P
030.08.231 Stefanry
030.08.232 Stephanie M. C.
030.08.234 Suci D. P
030.08.235 Suryo Nugroho S
030.08.236 Syahreza Manefo
030.08.239 Theresia
030.08.240 Tiara Rahmawati
030.08.251 Vilma Swari
030.08.252 Vithia Ghozalla
030.08.267 Zainal Abidin
030.08.299 Nurul Aina bt Tali

Jakarta
30 Maret 2010

1

BAB I
PENDAHULUAN

Perdarahan saluran makanan bagian atas (upper gastrointestinal bleeding) merupakan

suatu masalah medis yang sering menimbulkan kematian yang tinggi. Oleh karena itu harus

dianggap masalah yang serius serta perlu penanganan segera yang tepat dan cermat. Factor

utama yang berperan dalam tingginya angka kematian adalah kegagalan klinis yang gawat

dan kesalahan diagnostic dalam menentukan sumber perdarahan.

Sebagai akibat perdarahan saluran makan bagian atas sering mengakibatkan muntah darah

(hematemesis) dan buang air besar darah yang berwarna hitam (melena). Lokalisasi

hematemesis dimulai dari farings sampai dengan intestine di tempat perlekatan Ligamentum

Treitz..

Penyebab perdarahan SCBA sebenarnya terbagi atas pecah varises esofagus dan non

varises sepertai tukak peptik, gastritis erosif, tumor dan lain-lain. Kelainan SCBA non varises

biasanya berhubungan dengan adanya infeksi Helicobacter pylori, obat anti inflamasi non

steroid dan stres.

BAB II

2

obese. LAPORAN KASUS Seorang wanita usia 38 tahun. BAB III 3 .Mintoharjo pada pukul 23. dan bila makan terasa cepat kenyang. Pasien juga mempunyai keluhan nyeri ulu hati. Dari anamnesis pada nyonya tersebut ternyata pasien mempunyai riwayat sering mengkonsumsi obat-obat anti rematik untuk mengatasi keluhan nyeri pada kedua lututnya yang telah diderita sejak 2 tahun terakhir ini. dating ke UGD RSAL Dr.00 dengan keluhan muntah cairan seperti kopi disertai BAB warna hitam. mual. dan muntah-muntah.

Ileum. Mesenterica Superior Pars abdominalis aortae 2/3 Colon Transversum). dan ileum). lambung. aorticus pada diafragma Saluran Empedu dan Pancreas. usus halus (duodenum. faring. duodenum (proksimal terhadap Truncus Coeliacus tepat distal dari hiatus ductus choledochus). esophagus. jejunum. A. rectum. Sebagian Gaster dan Duodenum. VASKULARISASI SALURAN CERNA Vaskularisasi Arteri pada saluran cerna di rongga abdomen berasal dari aorta abdominalis yang kemudian mempercabangkan 3 cabang arteri besar yang berfungsi memperdarahi organ-organ saluran cerna. 4 . dan anus. Pars abdominalis aortae. Saluran pencernaan mencakup organ-organ berikut : mulut. Mesenterica Inferior. Gaster. A. usus besar. Gastrica Sinistra Truncus Coeliacus Bagian Distal Esophagus dan Curvatura Gastrica Minor. Jejunum. Hepar. Arteri Asal Distribusi Mendarahi Esophagus. Mesenterica Superior dan A. TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI SALURAN CERNA Saluran pencernaan (Traktus Digestivus) merupakan suatu saluran sekitar 9 m yang berjalan melalui bagian tengah tubuh ke anus. yaitu : Truncus Coeliacus. Intestinum Crassum (Colon Ascendens dan A.

Pancreaticoduodenalis Caput Pancreaticus. Pancreas. Gastrica Dextra Major. Gastro-omentalis (Epiploica) Dextra Major. Gastroduodenalis Proksimal Duodenum dan Bagian Superior Distal Ductus Choledochus. Sedangkan Vaskularisasi Vena pada saluran cerna. Hepatica Communis A. A. dan Curvatura Gastrica Major. Bagian Kanan Curvatura Gastrica A. Hepar. semua vena dari organ-organ cerna akan menuju ke vena porta hepatica yang membawa semua nutrisi hasil pencernaan yang masih akan mengalami metabolism di hepar. 5 . Corpus Pankreaticus. Gastrica Brevis Fundus Gastricus Bagian Kanan Curvatura Gastrica A. Splenica (Lienalis) (lien). baru kemudian akan mengalami sirkulasi menuju vena cava inferior terus mengalir ke jantung dan kembali mengikuti aliran darah sistemik yang membawa nutrisi dan oksigen untuk metabolism sel dan jaringan di seluruh tubuh. Gastroduodenalis Bagian Proksimal Duodenum dan A. Gastro-omentalis Bagian Kiri Curvatura Gastrica A. Vesica Biliaris. Splenicum Aa. A. Bagian A. Hepatica Communis Pancreas. A. Duodenum dan Lobus- Lobus Hepar. Gaster. Splenica pada Hilum (Epiploica) Sinistra Major. Gaster. Spleen A.

Mukosa 2.HISTOLOGI Secara histologis saluran cerna terdiri atas 4 lapisan.Epitel Berlapis Gepeng Tanpa Lapisan Tanduk  Terdiri dari epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk  Di lamina propria bisa terdapat nodulus limfatikus  Terdapat juga tunika muscularis mukosa  Terdiri dari : Esophagus  Cervical oesophagus  Thoracal oesophagus  Hyatal oesophagus  Abdominal oesophagus Gaster  Pada peralihan dari oesophagus ke gaster ( epitel selapis torax) terdapat foveola gastrica 6 . yaitu : 1. Serosa  Gambaran Histologis Saluran Cerna Bagian Atas Rongga Mulut . Submukosa 3. Muskularis 4.

villi intestinalis. Chief cell ( sel zimogenik) memproduksi pepsinogen b. Sel-sel enteroendokrin  Terdiri dari :  Fundus  Corpus  Antrum Duodenum   Mukosanya terdiri dari epitel selapis torax dengan sel goblet yang mempunyai micro villi  Terdapat villi. terdapat juga central lacteal (pembuluh limfa).  Terdapat sel-sel gaster yang memproduksi enzim. yang berfungsi menyerap sari-sari makanan  Dalam vilus intestinalis. Parietal cell memproduksi faktor intrinsik gaster dan HCl d. serat otot polos (T. dan pembuluh 7 . Neck cell memproduksi mukus asam c. Sel tunas (stem cell) untuk regenerasi sel-sel mukosa e.enzim pencernaan: a. muscularis mukosa).

atau peregangan. agar flora normal tetap terjaga  Terdiri dari :  Bagian superior  Bagian descending  Bagian inferior Jejunum  Epitel selapis torax dengan sel goblet. Sub mukosa FISIOLOGI Proses pengosongan lambung Pengosongan lambung diatur oleh faktor lambung yaitu volume kimus dan derajat keenceran. faktor duodenum yaitu adanya lemak. lapisan mukosanya kurang lebih sama dengan duodenum tetapi villus intestinalnya lebih langsing dan sel gobletnya lebih banyak  Terdapat plica semi sirkularis kerkringi pada T. hipertonisitas. darah kecil  Terdapat kriptus liberkunh yang di dasarnya terdapat sel paneth yang berfungsi menghancurkan dinding bakteri tertentu. asam. Mukosa dan T. serta faktor 8 .

Sedangkan Saluran Cerna Bagian Bawah meliputi jejunum distal dibawah ligamentum Treitz. rectum dan anus. kolon. Semakin tinggi eksitabilitas. yang pada gilirannya menentukan tingkat aktivitas peristaltic antrum. Kemungkinan pasien datang dengan anemia defisiensi besi akibat perdarahan tersembunyi yang berlangsung lama. sebagian kecil kimus terdorong melewati sfingter yang sedikit terbuka ke duodenum. semakin sering BER menghasilkan potensial aksi sehingga semakin besar peristaltic antrum dan semakin cepat pengosongan lambung. Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) adalah perdarahan saluran cerna proksimal diatas ligamentum Treitz. dimana besi yang terdapat didalam Haemoglobin teroksidasi oleh HCl (Asam Lanbung) dan enzim pencernaan menjadi Hematin (mengandung Fe3+). nyeri hebat. SALURAN CERNA BAGIAN ATAS Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) adalah saluran cerna di atas (proksimal) ligamentum Treitz. hematemesis dan atau melena atau tanpa anemia. Dengan sedikit menimbulkan depolarisasi otot polos lambung. Hematemesis adalah muntah darah hitam dari SCBA. dan penurunan pemakaian glukosa di hipotalamus. derajat hipovolemikmenentukan tingkat kegawatan pasien. Suatu kontraksi peristaltic yang berasal dari fundus dan menyapu ke bawah kea rah sfingter pylorus menjadi semakin kuat sewaktu mencapai antrum yang berotot tebal. Melena adalah buang air besar darah hitam dari SCBA yang 9 . duodenum.diluar sistem pencernaan yaitu emosi. mulai dari jejunum proksimal. dengan atau tanpa gangguan hemodinamik. kecepatan dan banyak sedikitnya darah yang hilang dan apakah perdarahan berlangsung secara terus-menerus atau tidak. Pada saat kontraksi antrum tersebut mendorong kimus maju. gaster dan esofagus. faktor-faktor tersebut mempengaruhi eksitabilitas otot. Manifestasi klinik perdarahan saluran cerna atas bisa beragam tergantung lama. ileum.

Gastritis Erosif. 10 .pylori yang juga merupakan faktor resiko yang penting untuk kanker lambung dan tipe-tipe tertentu dari limfoma lambung. tapi penyebab perdarahan berasal dari saluran cerna bagian bawah disebabkan darah terlalu lama di usus. TUKAK PEPTIK (ULKUS PEPTIKUM) Tukak Peptik adalah kerusakan mukosa lambung atau duodenum. dimana faktor defensive dari mukosa yang normal terganggu atau terlampaui oleh faktor agresif dari lumen seperti asam dan pepsin. proses ini terjadi selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Sedangkan hematokezia adalah buang air besar darah merah segar dari saluran cerna bagian bawah (SCBB). Pseudohematokezia adalah buang air besar merah segar tapi disebabkan oleh perdarahan masif dari SCBA. Penyebab yang paling sering adalah H. A. dan Sirosis Hepatis. Perbedaan perdarahan yang berasal dari SCBA dengan SCBB. Kerusakan tersebut mencapai lapisan muskularis dan dapat mengenai semua lapisan dinding yang diikuti dengan fibrosis disekitarnya. dimana darah yang keluar tidak empat bercampur dengan asam lambung.bercampur dengan enzim pencernaan serta asam lambung dan kuman. Pseudomelena adalah buang air besar berwarna hitam. yaitu : Perdarahan SCBA Perdarahan SCBB Manifestasi Klinik Pada Hematemesis dan atau Hematochezia Umumnya Melena Aspirasi Nasogastrik Berdarah Jernih Rasio (BUN/Kreatinin) Meningkat < 35 % < 35 % Auskultasi Usus Hiperaktif Normal Beberapa penyakit yang dapat menimbulkan hematemesis-melena pada SCBA antara lain penyakit Ulkus Peptikum.

tipe tukak tidak tergaung. nyeri pasca pembedahan dan nyeri-nyeri lain. hampir selalu menembus muskularis. atau seperti lapar)  Nyeri tekan epigastrium  Rasa tidak nyaman disertai muntah  Rasa sakit timbul setelah makan B. HISTOPATOLOGI Gambaran patologi anatomi tukak peptic Pada gambaran histopatologi terdapat ulkus dengan diameter kecil. perdarahan saluran cerna dan perforasi. serta dapat terjadi perforasi. mengatur fungsi imunosit mukosa serta sekresi basal lambung. Patogenesis OAINS terhadap terjadinya kerusakan mukosa adalah akibat dari efek toksik/iritasi langsung pada mukosa yang merangkap OAINS yang bersifat asam sehingga terjadi kerusakan epitel dalam berbagai tingkat. sekresi mucus dan bikarbonat. dapat berdegenerasi menjadi ganas pada tukak peptic di lambung. Hanya sebagian kecil yang menjadi berat. proliferasi sel-sel epitel. OAINS merupakan obat yang dianggap first line therapy untuk arthtritis dan digunakan secara luas pada kasus trauma. 11 . Etiologi :  OAINS  Infeksi dengan H. GASTRITIS EROSIF Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung. tapi yang lebih utama adalah efek OAINS yang menghambat kerja dari enzim siklooksigenase (COX) pada asam arakhidonat sehingga menekan produksi prostaglandin/prostasiklin ( sangat berperan dalam memelihara keutuhan mukosa dengan mengatur aliran darah mukosa. yakni tukak peptic. Sebagian besar efek samping OAINS pada saluran cerna bersifat ringan dan reversible. tumpul.pylori  Sindroma Zollinger-Ellison  Stress yang berat Gejala Klinis  Nyeri epigastrium/dyspepsia (pedih.

Gambaran ini terjadi akibat nekrosis hepatoseluler.  Terganggunya sekresi asam dan proliferasi mukosa  Kerusakan mikrovaskuler yang diperberat kerja sama platelet dan mekanisme koagulasi. Gejala klinis 12 . SIROSIS HEPATIS Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regenerative. Secara Skematis : C. Jaringan penunjang retikulin kolaps disertai deposit jaringan ikta. yaitu :  Menurunnya sekresi mucus dan bikarbonat. Kerusakan mukosa akibat hambatan produksi prostaglandin pada penggunaan OAINS melalui tahap-tahap. distorsi jaringan vascular dan regenerasi nodularis parenkim hati.

warna merah saga pada thenar dan hypothenar telapak tangan  Ginekomastia  Hepatomegali  Splenomegali  Ascites  Ikterus Warna urin terlihat gelap seperti air teh 13 .  Spyder angioma-spiderangiomata (suatu lesi yang dikelilingi beberapa vena-vena kecil. muka dan lengan atas)  Eritema Palmaris. Tanda ini sering ditemukan di bahu.

Riwayat Penyakit Sekarang  Sejak kapan terjadinya perdarahan dan berapa perkiraan darah yang keluar  Riwayat perdarahan sebelumnya  Ada tidaknya perdarahan di bagian tubuh yang lain  Lokalisasi. Riwayat Pengobatan lain ? 3. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Riwayat Kebiasaan  Kebiasaan merokok dan minum alkohol  Kebiasaan konsumsi jenis makanan sehari-hari (pedas. Riwayat Maag ? 7. Riwayat Maag ? 4. Riwayat minum 2. Anamnesis Tambahan 1. ANAMNESIS Keluhan Utama : Muntah cairan seperti kopi disertai BAB warna hitam Keluhan Tambahan : Nyeri ulu hati. dan bila makan terasa cepat kenyang Riwayat Pengobatan : Konsumsi obat-obatan anti reumatik. Berapa macam jenis obat alcohol atau merokok ? 14 . Anamnesis mengarah ke diagnosis banding Tukak Peptik Gastritis Erosif Sirosis Hepatis 1. NN Umur : 38 Tahun Jenis Kelamin : Wanita Alamat :- Pekerjaan :- II. Nyeri setelah makan ? 5. Muntah setelah makan ? 6. frekuensi dan intensitas nyeri  Rasa sakit sebelum atau sesudah makan atau pada malam hari  Produksi urin  Apakah disertai penurunan berat badan yang drastic  Apakah disertai diare b. mual dan muntah-muntah. Riwayat Penyakit Dahulu  Pernah menderita penyakit apa sebelumnya  Apakan pernah dirawat sebelumnya  Apakah pernah mengkonsumsi jenis obat2 tertentu (OAINS) dan berapa lama  Riwayat trauma c. BAB IV PEMBAHASAN KASUS I. asam)  Faktor pemicu timbulnya stress d.

permukaan ukuran. ascites. atau akral e. anti reumatik yang dikonsumsi dan berapa kali 8. splenomegali. ascites. . Inspeksi  Wajah : apakah ditemukan tanda-tanda sclera ikterik. Keadaan Umum c. hepatomegali. Auskultasi  Thorax : Jantung. massa sirosis. splenomegali. atau caput medusa  Kulit : warna seperti jaundice atau anemia  Ekstremitas : Eritema Palmaris. 15 . Riwayat Hepatitis sehari ? III.PEMERIKSAAN FISIK b. Perkusi  Thorax  Abdomen g. Palpasi  Nyeri tekan di epigastrium/ulu hati  Apakah ada gangguan sirkulasi  Apakah ditemukan oedem. hepatomegali  Sudut hepar tumpul. spider nevi. Paru  Abdomen : Bising Usus IV. Sudut hati. PEMERIKSAAN PENUNJANG Gastritis Erosif/ Tukak Jenis Tukak Peptik Peptik Sirosis Hepatis Pemeriksaan ec OAINS USG/CT . permukaan irreguler f. konjungtiva anemis  Thorax  Abdomen : Apakah ditemukan oedem. smilling umbilicus. Tanda Vital :  Suhu  Tekanan darah  Denyut nadi  Frekuensi pernapasan d.

hepatomegali. Dapat ditemukan Hb turun. polos kearah mukosa (1/3 bagian atas) Lab Dapat ditemukan anemia. SGOT/PT tinja dan serologi. Gambaran kawah dengan Penonjolan besar batas jelas disertai lipatan Foro Rontgen berbentuk nodular mukosa yang teratur Varices Esophagus (OMD) pada kurvatura minor keluar dari pinggiran gaster tukak Luka terbuka dengan pinggiran teratur. GGT naik .disertai lipatan disertai perdarahan yang teratur keluar dari pinggiran tukak Esofagogastro. trombosit leukositosis. pelebaran V Porta/A. erosi Endoskopi Tidak bisa dilakukan licin. bertepi tajam. lambung dan duodenum. splenomegali. leukositosis naik . Pemeriksaan penunjang yang paling penting karena dapat duodenoskopi memastikan diagnosis pecahnya varises esofagus atau penyebab perdarahan lainnya dari esofagus. 16 . mukosa Kongesti mukosa. Biopsi/Histologi Biopsi lambung Regenerasi epithelial. hiperplasi Membedakan hepatitis foveolar. Lienalis. edema kronik aktif yang berat lamina propria. pemeriksaan anemia dan turun . dengan sirosis hepatis ekspansi serabut otot dini.

puding Protein Daging. tapioca. tahun (digoreng). kentang. dikukus). Gula darah V. (berlemak dan digoreng) susu. Memperbaiki/menghindari faktor predisposisi atau risiko seperti gizi. c. sosioekonomi. Istirahat yang cukup b. yoghurt Tempe. Makan bahan makanan yang lunak dan mencukupi gizi Bahan Dianjurkan Tidak dianjurkan makanan Nasi tim. maizena. rokok. OAINS. Karbohidrat macaroni. ketan. daun 17 . cuka. Ureun kreatinin naik. roti. ubi. singkong talas sagu. tahu (direbus. albumin turun. kortikosteroid dan lainnya. Nabati ditumis) kacang merah Sayuran Tidak banyak serat. Banyak serat. dikukus. Tempe. stres. ikan. Menghindari/menghentikan paparan bahan atau zat yang agresif seperti asam. direbus. DIAGNOSIS BANDING Tukak peptikum et causa OAINS VII. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pasien ini terdiri dari : 1. mie rebus. Non Medika mentosa a. ikan. (tidak Daging. ayam. d. lingkungan. biskuit. Nasi digoreng. bubur. bayam. DIAGNOSIS Gastritis erosive et causa OAINS VI. ayam Hewani berlemak.

rebug. wortel (direbus) nagka muda. tomat. singkong. kol dll. PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam Ad fungsionam : dubia ad bonam Ad sanationam : dubia 18 . kangkung. Medika mentosa Kondisi Pemakaian obat OAINS continued AH2 dan PPI OAINS non continued AH2 VIII. labu siam/kuning. Buah-Buahan Rendah serat Banyak serat. pare. melinjo. katuk. bergas 2.

Penatalaksanaan terdiri dari non medika mentosa dan medika mentosa. BAB V KESIMPULAN Pasien ini mengalami gastritis erosive et causa OAINS.yaitu : Kondisi Pemakaian obat OAINS continued AH2 dan PPI OAINS non continued AH2 19 .

2001. Simadibrata M. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC . Edisi 6. Edisi 2. Gastroenterologi. Ganong. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam . Setiati S [ed]. 2003. Edisi 7. Setyohadi B. 2007. Mc Phee. Edisi 20. BAB V DAFTAR PUSTAKA 1. 2001. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC . Vol 1. edisi IV. 2007. 2. Santoso L [ed]. p 449-50. Hal 480-6. 3. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Kumar V. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC . Buku Ajar Patologi.T Alumni Bandung . Sudoyo A. Current Medical Diagnosa & Treatment. McGraw Hill . Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Prince. 20 . Wiliam.502-3. Robbins SL. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Tierney. 7. Cotran RS. 14th ed. Hadi S. Sherwood L. Wilson. Alwi I. 5. Jakarta . Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. 6. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jilid I. 2006. Papadakis. 2002. Bandung : Penerbit P. 4.