BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia yang terletak dalam
mediastrium di antara kedua paru-paru. Jantung memiliki fungsi utama sebagai
pemompa darah. Jantung merupakan salah satu organ yang tidak pernah beristirahat
dalam keadaan fisiologis, pembentukan rangsang irama denyut jantung berawal dari
nodus sinoatrial (nodus SA) dan menyebar ke serat otot lainnya sehingga menimbulkan
kontraksi jantung. Jika rangsang irama ini mengalami gangguan dalam
pembentukannya dan penghantarannya, maka dapat terjadi gangguan pada kinerja
jantung.

Gangguan pada sistem kardiovaskuler merupakan masalah kesehatan utama yang
dialami masyarakat pada umumnya. Hal ini dikarenakan jantung mempunyai suatu
sistem pembentukan rangsang tersendiri. Pada zaman modern ini, angka kejadian
penyakit jantung semakin meningkat, baik dinegara maju maupun berkembang,
penyebab yang sering ditemukan adalah gaya hidup, misalnya diet yang salah, stress,
kondisi lingkungan yang buruk, kurang olahraga, kurang istirahat, dll. Diet yang salah
seperti terlalu banyak mengonsumsi junk food yang notabene banyak mengandung
kolesterol jahat, yang berujung pada kegagalan jantung. Apalagi ditambah dengan
lingkungan yang memiliki tingkat stressor tinggi, kurang olahraga dan istirahat, maka
resiko untuk terkena penyakit jantung akan semakin tinggi.

Berbagai macam penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner, infark miokard akut,
hipertensi yang semuanya akan berujung pada gagal jantung. Hal ini sangat
membahayakan bagi hidup seseorang, sehingga untuk mencegah komplikasi lebih
lanjut harus segera mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari Gagal Jantung (CHF) ?
2. Apa sajakah klasifikasi dari Gagal Jantung (CHF) ?
3. Apa saja etiologi dari Gagal Jantung (CHF) ?
4. Bagaimanakah patofisiologi dari Gagal Jantung (CHF) ?
5. Apa saja manifestasi klinik dari Gagal Jantung (CHF) ?
6. Apa saja komplikasi dari Gagal Jantung (CHF) ?
7. Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan pada penderita Gagal Jantung (CHF) ?
8. Apa saja penatalaksanaan dari Gagal Jantung (CHF) ?
9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada penderita Gagal Jantung (CHF)
Tujuan

Untuk mengetahui secara menyeluruh mengenai konsep teori dan konsep asuhan
keperawatan tentang gagal jantung.

palpitasi. 1. (Braundwald) Gagal jantung kongestif adalah kondisi dimana fungsi jantung sebagai pompa untuk mengantarkan darah yang kaya oksigen ke tubuh tidak cukup untuk memenuhi keperluan-keperluan tubuh (J. Klasifikasi 4 Gejala : Gejala insufisiensi jantung ada saat istirahat . (Brunner and Suddarth. klien merasa nyaman saat istirahat 1. Menguasai konsep asuhan keperawatan pada penderita gagal jantung BAB II PEMBAHASAN 1.ada krekels dan S3 mur-mur 1. 2001) 2. Pengertian Gagal jantung kongestif (CHF) adalah ketidakmampuan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi. Mengetahui etiologi gagal jantung 6. Klasifikasi 2 Gejala : Kegiatan sehari-hari sedikit terbatas. Klasifikasi Menurut New York Heart Association : 1. Memahami klasifikasi dari gagal jantung 5. Mengetahui komplikasi dari gagal jantung 9. Mengetahui penatalaksanaan dari gagal jantung 11. Konsep Dasar 1. Memahami patofisiologi dari gagal jantung 7.Charles Reevers et al. Klasifikasi 1 Gejala : Aktivitas biasa tidak menimbulkan kelelahan .2. Mengetahui pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita gagal jantung 10. tidak ada kongesti pulmonal atau hipotensi perifer. Memahami definisi dari gagal jantung 4. 2001) Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisisan ventrikel kiri. gejala tidak ada saat istirahat. Tujuan khusus 3. Klasifikasi 3 Gejala : Kegiatan sehari-hari terbatas. Mengetahui manifestasi klinik dari gagal jantung 8. dispnea .

Kelainan otot jantung Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan after load) meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. tofisiologi Disfungsi miokard Beban tekanan berlebih (AMI) MiokarditisPa) Kontraktilitas Beban sistole meningkat Kontraktilitas menurun Tubuh memiliki beberapa mekanisme kompensasi untuk mengatasi gagal jantung : 1. 1. Adrenalin dan noradrenali adalah sistem pertahanan tubuh yang pertama kali muncul setiap kali terjadi stress mendadak. terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya . Faktor sistemik Terdapat sejumlah besar faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. 4. yaitu reaksi fight-or-flight. mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung . Peradangan dan penyakit miokardium degeneratiff berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun. Reaksi ini terjadi akibat dari pelepasan adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin) dari kelenjar adrenal ke dalam aliran darah.3. Infark miokardium (kematian sel jantung ) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Pada gagal jantung. ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah. Penyakit jantung lain. Asisosis respiratorik atau metabolik dapat menurunkan kontraktilitas jantung. 5. hioksia dan anemi juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. noradrenalin juga dilepaskan dari saraf. 2. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup ateroslerosis koroner. peningkatan mandadak after load. Etiologi 1. hipertensi arterial dan penyakit degenaratif atau inflamasi. 4. 3. yang secara langsung mempengaruhi jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Mekanisme respon darurat yang pertama berlaku untuk jangka pendek (beberapa menit sampai beberapa jam). adrenalin dan . Meningkatnya laju metabolisme misal demam atau tirotoksikosis. Mekanisme yang biasanya terlibat.

Vasokontriksi arteri juga menyebabkan beban akhir dengan memperbesar resistensi terhadap ejeksi ventrikel. 1. Lokasi penimbunan cairan ini tergantung kepada banyaknya cairan di dalam tubuh dan pengaruh gaya gravitasi. 1. Salah stu akibat dari penimbunan cairan ini adalah peregangan otot jantung karena bertambahnya volume darah. Resistensi jantung yang dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan kontraktilitas dini mengakibatkan bendungan paru-paru dan vena sistemik serta edema. menimbulkan tanda serta gejala misalnya berkurangnya jumlah air kemih yang dikeluarkan dan kelemahan tubuh. kelebihan cairan akan dilepaskan dari sirkulasi dan berkumpul di berbagai bagian tubuh. Tetapi pada penderita gagal jantung kronis. respon ini bisa menyebabkan peningkatan kebutuhan jangka penjang terhadap sistem kardiovaskuler yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan. Penambahan air ini menyebabkan bertambahnya volume darah dalam sirkulasi dan pada awalnya memperbaiki kerja janung. . noeadrenalin membantu meningkatkan curah jantung dan mengatasi gangguan pompa jantung sampai derajat tertentu. Peningkatan denyut jantung Pada sesorang yang tidak memiliki kelainan jantung dan memerlukan peningkatan fungsi jantung jangka pendek . Mekanisme perbaikan lain . cairan akan berkumpul di tungkai kaki. respon seperti ini sangat menguntungkan. jika berbaring. Terjadi penambahan berat badan Sebagai akibat dari penimbunan air dan garam 1. Pembesaran otot jantung Otot yang membesar akan memiliki kekuatan yang lebih besar. beban akhir juga meningkat kalau dilatasi ruang jantung. tapi pada akhirnya bisa terjadi kelainan fungsi dan menyebabkan semakin memburuknya gagal jantung. Jika penderita berdiri. meningkatkan laju jantung dan memperburuk tingkat gagal jantung. Efek negatif dari respon kompensasi : Pada awalnya respon kompensasi menguntungkan namun pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai gejala. cairan akan berkumpul di punggung atau perut . 1. fase konstruksi arteri dan redistribusi aliran darah mengganggu perfusi jaringan pada anyaman vaskuler yang terkena. Penahanan garam (natrium) oleh ginjal. tubuh bersamaan menahan air. Tetapi sejalan dengan memburuknya gagal jantung. menyebabkan edema. Lama-lama peningkatan kebutuhan ini bisa menyebabkan menurunnya fungsi jantung. Untuk mempertahankan konsentrasi natrium yang tetap.

Edema paru akut terjadi akibat gagal jantung kiri 2. 5. 1. bendungan pada paru dan gangguan pada mekanisme kontrol pernapasan. Foto torax dapat mengungkapkan adanya pembesaran jantung. oedema atau efusi pleura yang menegaskan diagnosa CHF 2. Gagal jantung kiri : Menyebabkan kongestif. Episode trombolitik Trombus terbentuk karena imobilitas pasien dan gangguan sirkulasi dengan aktivitas trombus dapat mentumbat pembuluh darah. kongestif akibat penurunan curah jantung dan perfusi jaringan yang tidak adekuat ke organ vital(jantung dan otak) 3. Pemeriksaan Penunjang 1. cairan dapat meregangkan perikarsium sampai ukuran maksimal . Jika kebutuhan miokard akan oksigen tidak terpenuhi maka akan terjadi iskemia miokard. Efusi perikardial dan tamponade jantung Masuknya cairan ke kantung perikardium. gejala :  Dispnea  Orthopnea  Paroximal nokturnal dispnea  Batuk  Mudah lelah  Ronchi  Gelisah dan cemas  Berdebar-debar 1. 7. Manifestasi Klinik 1. akhirnya dapat timbul beban miokard yang tinggi dan serangan gagal jantung yang berulang. hipertrofi bilik jantung dan iskemi (jika disebabkan AMI). Gagal jantung kanan : Menyebabkan peningkatan vena sistemik . Komplikasi 1. COP menurun dan aliran balik vena ke jantung. EKG dapat mengungkapkan adanya tachicardi. Ekokardiogram . Syok kardiogenik : stadium dari gagal jantung kiri. gejala :  Oedem perifer  Peningkatan BB  Distensi vena jugularis  Hepatomegali  Asites  Pitting edema  Mual 6.

dengan dua cara :  Dilatasi langsung otot polos pembuluh darah  Menghambat enzim konversi angiotensin 1. Pemeriksaan Lab meliputi : Elektrolit serum yang mengungkapkan kadar natrium yang rendah sehingga hasil hemodelusi darah dari adanya kelebihan retensi air. penggunaan bantuan pernapasan. mual/muntah. Kaji Integritas ego  Ansietas. Kaji Eliminasi  Penurunan berkemih. Na. pening 1. 1. riwayat penyakit kronis. kuatir dan takut. Tekanan Nadi : rendah. dispnea pada saat istirahat. K. Kaji Makanan/cairan  Kehilangan nafsu makan. 2. 1. Penatalaksanaan Bertujuan untuk : 1. 3. Kaji Pernapasan  Dispnea saat aktivitas. Kaji Neurosensori  Kelemahan. diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan penggunaan diuretic. pakaian/sepatu terasa sesak. Kaji Nyeri/Kenyamanan  Nyeri dada. Stres yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis) 1. . penambhan berat badan signifikan. 1. 1. nyeri abdomen kanan atas 1. gula darah 8. nyeri dada dengan aktivitas. angina akut atau kronis. Mengurangi beban awal  Pembatasan garam  Pemberian diuretik oral 3. Mengurangi beban akhir Pemberian vasodilator seperti hidralazine dan nitrat. Mengurangi beban kerja jantung  Melalui pembatasan aktivitas fisik yang ketat tanpa menimbulkan kelemahan otot rangka 2. TD : rendah (gagal pemompaan). 1. Cl. insomnia. batuk dengan/tanpa pembentukan sputum. Data Obyektif : 1. Asuhan Keperawatan Gagal Jantung Kongestif 1. diare/konstipasi.3. Irama Jantung : Disritmia. urine berwana gelap. Kaji Aktivitas/istirahat  Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari. Kaji Interaksi sosial  Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. Meningkatkan kontraktilitas  Pemberian obat inotropik 4. Kaji Higiene  Keletihan/kelemahan. kelelahan selama aktivitas Perawatan diri. Fokus Pengkajian Data Subjektif : 1. Ureum. tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal. berkemih malam hari (nokturia).

umum atau pitting khususnya pada ekstremitas 2. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan menurunnya curah jantung Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam Gangguan perfusi jaringan berkurang atau tidak meluas. 11. nadi. cardiac pump klien effective dengan kriteria hasil :  Tanda vital dalam rentang normal ( TD. nadi. perifer. respirasi. dan tidak ada asites  Tidak ada penurunan kesehatan Intervensi :  Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan menurunnya curah jantung 3. 9. 5. Hepar : pembesaran/dapat teraba. suhu )  Dapat mentoleransi aktivitas. 13. lokasi. Edema : mungkin dependen. S4 dapat terjadi. ronkhi. peningkatan natrium/retensi air 6. durasi )  Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output  Monitor TD. Bunyi napas : krekels. tidak ada kelelahan  Tidak ada edema paru. sianotik. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi jantung Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3×24 jam. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret 5. Punggung kuku : pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat. Intervensi Keperawatan 4. dengan kriteria hasil :  Daerah perifer hangat  Tidak ada sianosis  TTV dalam rentang normal  Gambaran EKG tak menunjukkan perluasan infark Intervensi : . pucat abu-abu. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output. suhu. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi jantung 2. Murmur sistolik dan diastolic. Warna : kebiruan. Nadi apical : PMI menyebar dan merubah 6. 7. 10. 7.4. Kelebihan volume cairan ekstravaskuler berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal. Diagnosa Keperawatan 1. ketidakseimbangan antara suplai oksigen miokard dan kebutuhan. dan respirasi  Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam  Kolaborasikan dengan dokter tentang keadaan umum klien 1. 8. 12. keletihan 4. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan volume paru. Bunyi jantung : S3 (gallop) adalah diagnostik. Frekuensi jantung : Takikardia. S1 dan S2 mungkin melemah. Nyeri akut – kronik berhubungan dengan agen injury biologis 3. posisi secara inferior ke kiri.

 Monitor frekuensi dan irama jantung  Observasi perubahan status mental  Observasi warna dan suhu kulit  Ukur haluaran urin dan catat berat jenisnya  Pantau pemeriksaan diagnostik dan laboratorium  Kolaborasi pemberian cairan IV sesuai indikasi 1. misal keluhan kelelahan  Catat frekuensi dan kedalaman pernafasan . Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret Setelah dilakukn tindakan keperawatan selama x 24 jam klien mampu memiliki jalan nafas yang paten/ efektif dengan kriteria hasil :  Tidak sesak nafas  Tidak ada sekret  Suara nafas normal  RR dalam rentang normal (16-24 x / menit ) Intervensi  Kaji toleransi aktifitas. penggunaan otot bantu pernafasan  Auskultasi paru untuk mengetahui penurunan/tidak adanya bunyi nafas dan atau adanya bunyi nafas tambahan  Posisikan pasien semi fawler / sesuai toleransi pasien  Ajarkan pasien batuk effektif  Lakukan tindakan untuk memperbaiki jalan nafas lain. dan pernafasan  Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi  Auskultasi suara nafas. Kelebihan volume cairan ekstravaskuler berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal. keletihan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam klien mampu memiliki pola nafas yang efektif dengan kriteria hasil :  Tidak ada bunyi nafas tambahan  RR dalam rentang normal (16-24 x / menit ) Intervensi :  Monitor kedalaman pernafasan. peningkatan natrium/retensi air Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam keseimbangan volume cairan klien dapat dipertahankan dengan kriteria hasil :  Tekanan darah dalam batas normal  Tidak ada distensi vena perifer dan oedem  Paru bersih dan BB ideal . nadi. catat adanya suara tambahan  Kolaborasi pemberian oksigen dan pemeriksaan GDA 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan volume paru. 1. jika batuk effektif tidak berhasil. suhu. dan frekuensi serta ekspansi dada  Monitor respirasi dan status O2  Monitor TD.

jika masalah nyeri klien tidak teratasi 3. Intervensi :  Observasi adanya oedem  Ukur masukan / haluaran. ketidakseimbangan antara suplai oksigen miokard dan kebutuhan. catat penurunan . irama dan perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktifitas  Tingkatkan istirahat (di tempat tidur)  Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktifitas. contoh bangun dari tempat tidaur bila tidak ada nyeri  Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan  Ajarkan membuat jadwal latihan diwaktu luang  Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan program terapi yang tepat. kualitas dan faktor presipitasi )  Ajarkan teknik nonfarmakologi ( relaksasi nafas dalam )  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama  Kolaborasikan dengan dokter. intensitas. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi jantung . klien dapat meningkatkan pain control dengan kriteria hasil :  Mampu mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri. durasi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam Terjadi peningkatan toleransi pada klien dengan kriteria hasil :  Tanda – tanda vital normal  Level kelemahan  Sirkulasi status baik Intervensi :  Observasi tanda – tanda vital  Catat frekuensi jantung. Nyeri akut – kronik berhubungan dengan agen injury biologis Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3×24 jam. 1. karakteristik. pengeluaran hitung keseimbangan cairan  Timbang dan pantau BB  Pertahankan masukan cairan 2000ml/24 jam dalam toleransi kardivaskuler  Kaji JVP setelah terapi diuretik  Pantau CVP dan tekanan darah  Kolaborasi pemberian diit rendah natrium. Evaluasi 1. frekuensi. mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. frekuensi. mencari bantuan )  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri  Mampu mengenali nyeri ( skala. dan tanda nyeri )  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Intervensi :  Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output. dan diuretik 1.

respirasi. frekuensi. Tanda vital klien dalam rentang normal ( TD. intensitas. Kelebihan volume cairan ekstravaskuler berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal. .  Tanda – tanda vital klien normal  Klien tidak menyatakan kelelahan yang berarti  Sirkulasi status baik 1. perifer. keletihan  Tidak ada bunyi nafas tambahan  RR dalam rentang normal (16-24 x / menit ) 1. mencari bantuan )  Klien melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri  Klien mampu mengenali nyeri ( skala. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan volume paru. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output. nadi. ketidakseimbangan antara suplai oksigen miokard dan kebutuhan. dan tidak ada asites  Tidak ada penurunan kesehatan 1. Nyeri akut – kronik berhubungan dengan agen injury biologis  Klien mampu mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri. dan tanda nyeri )  Klien menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang. suhu )  Klien Dapat mentoleransi aktivitas. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan menurunnya curah jantung  Daerah perifer hangat  Tidak ada sianosis  TTV klien dalam rentang normal  Gambaran EKG tak menunjukkan perluasan infark 1. melaporkan tidak ada kelelahan yang berarti  Tidak ada edema paru. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret  Klien melaporkan tidak sesak nafas  Tidak ada sekret  Suara nafas normal  RR dalam rentang normal (16-24 x / menit ) 1. mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. peningkatan natrium/retensi air  Tekanan darah dalam batas normal  Tidak ada distensi vena perifer dan oedem  Paru bersih dan BB ideal 1.

yang lebih berpengaruh adalah sikap serta kualitas hidup mereka. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Modifikasi diit serta membatasi beberapa kegiatan akan sangat diperlukan di samping pengobatan atau terapi. 2012.7 pada pria dan 3. 2013. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien) Edisi 3. 2009. Didiagnosis menderita Gagal Jantung Kongestif bermakna hidup seorang pasien harus mulai diubah.2002. Sehingga diperlukan tatalaksana atau perhatian khusus terhadap penderitanya. Yogyakarta : Nuha Medika http://www. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2.symptomfind. Jakarta : EGC Muttaqin Arif. Pasien harus paham benar.org/content/88/1/107. Pasien dapat bertahan hidup dengan rata-rata 1.ahajournals. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Kapita Selekta Kedokteran. atau tidak mampu untuk melakukan aktivitas sehari- hari. serta lebih dari 50% hidup dengan rata-rata umur 3-5 tahun. namun.com) Namun.abstract diakses pada Jumat 9 Oktober 2015 http://www. 2002.symptomfind. Jakarta: EGC . tingkat mortalitas dari penyakit ini mendekati 5-20 %. bahwa penyakit Gagal Jantung Kongestif memiliki banyak faktor pencetus dan banyak hal yang mempengaruhi hasil prognosis dari pasien.com/articles/congestive-heart-failure-prognosis. Gagal jantung kongestif (CHF) dapat mengakibatkan gangguan yang lain pada beberapa organ tubuh. Doenges M E. Yogyakarta : Nuha Medika Wijaya A S. Putri Y M.html diakses pada Jumat 9 Oktober 2015 http://circ. Padila. seseorang dengan Gagal Jantung Kongestif. 2005. DAFTAR PUSTAKA Brunner dan Suddarth. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sisitem Kardiovaskulardan Hematologi.2 pada wanita. dengan kontrol dan penanganan gagal jantung yang baik. perlu mengetahui bahwa hasil penelitian ataupun statistik tidak berpengaruh besar terhadap status prognosis mereka.com/diseases-conditions/prognosis-and-life-expectancy-congestive- heart-failure diakses pada Jumat 9 Oktober 2015 .( http://www. Jakarta : EGC Fakultas Kedokteran UI. Kekambuhan mungkin akan sering terjadi dengan lebih banyak keluhan sesak nafas serta kelelahan setelah beraktifitas berat.buzzle. sehingga tubuh sering kali dalam kondisi yang tidak fit. Yang perlu diperhatikan. seorang pasien Gagal Jantung Kongestif harus memperhatikan tingkat kebugaran serta perlu mempertahankan kondisi tubuh mereka tetap fit untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Jakarta : Salemba Medika.BAB III ANALISIS KESIMPULAN Tingkat kesembuhan total pada penderita Gagal Jantung Kongestif mungkin mendekati 0%.