cara menentukan populasi

a. Identifikasi kesatuan analisis
kesatuan analisis adalah satuan subjek terkecil yang akan diamati dalam
penelitian secara individual.
b. Penetapan batas-batas keluasan populasi
batas keluasan populasi penelitian dapat menyangkut berbagai aspek,
misalnya :
 aspek geografik:apakah subjek penelitian dari suatu
kabupaten, propinsi, atau seluruh Indonesia, atau bahkan satu desa
atau mereka yang datang berobat ke rumah sakit saja?
 aspek subjek sendiri: batas jenis kelamin (wanita atau laki-
laki saja, atau keduanya), batas umur, batas rasial, dsb. Kalau yang
digunakan hewan coba misalnya, batas strain, warna kulit, berat
badan, dsb.
 penyakit subjek: batas jenis penyakit, batas perkembangan
atau komplikasi penyakit, dsb.
c. Pemahaman tentang kondisi subjek dalam populasi
kondisi subjek dalam populasi adalah yang menyangkut ciri2 populasi,
terutama yang menyangkut sifat homogenitasnya.
Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Dr. Ahmad
Watik Pratiknya

Macam-macam populasi

Dalam penelitian yang dimaksudkan dengan populasi adalah setiap subjek terdapat
berupa manusia, binatang percobaan data laboratorium, dll yang memenuhi
karakteristik tertentu.
Populasi dibagi menjadi 2 dalam hal :
 Populasi target
Populasi yang menjadi sasaran akhir penerapan hasil penelitian.
Pada penelitian klinik biasannya dibatasi oleh :
a. Karakteristik demografis (kelompok usia, jenis kelamin)

b. Karakteristik klinis
contoh : populasi target anak sehat
 Populasi terjangkau
Bagian dari populasi target yang dapat dijangkau oleh peneliti yakni yang
dibatasi oleh tempat dan waktu.
Contoh : pasien DHF di bagian anak RSI Sultan Agung tahun 2002 dari populasi
terjangkau ini yang akan diambil sebagai sampel.
( Prof .DR.Dr.Sudigdo Sastroasmoro.Sp.A(K), 2002. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian klinis
edisi ke-2 CV Sagung Seto, Jakarta )

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mempertimbangkan populasi

 Pertimbangan keterkaitan atau ketergayutan subyek dalam populasi
dengan permasalahan penelitian.
Pertimbangan ini terutama menyangkut substansi atau ikhwal yang akan
diteliti. Pertanyaan yang perlu dijawab dalam rangka pertimbangan
tersebut ialah : apakah dengan memilih populasi yang dimaksud inti
permasalahan dapat terjawab?

 Pertimbangan yang menyangkut prosedur atau jenis penelitian yang
dilakukan.
Pertimbangan ini terutama menyangkut aspek teknik metodologik,
maksudnya ialah apakah variabel-variabel penelitian yang akan
dimunculkan atau diukur dengan menggunakan teknik penelitian
(eksperimental atau non-eksperimental) dapat diperoleh dari subyek
dalam populasi yang dimaksud?

(Pratiknya, AW., 2003. ”Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran”
Ed.1 Cet. 5. Jakarta; PT RajaGrafindo Persada)

 Membatasi populasi
Apabila tidak dilakuakn pembatasan-pembatsan terhadap populasi,
maka kesimpulan yang ditarik dan hasil penelitian tidak
menggmabarkan atau mewakili seluruh populasi. Taanpa pembatsana
dengan jelas anggota populasi, kita tidak memperoleh sampel yang
representatif

 Mendaftar seluruh unit yang menjadi anggota populasi

Seluruh unit yang menjadi anggota populasi dicatat secara jelas sehingga dapat diketahui unit-unit yang termasuk pada populasi dan unit mana yang tidak  Menentukan sampel yang akan dipilih Dari anggota populasi diatas. dimaklumi bahwa . Dr. Ahmad Watik pratiknya. Namun disadari bahwa . kecuali untuk populasi penelitian yang amat terbatas. dana . Andaikan peneliti dapat melakukan observasi pada semua subyek dalam populasi pada tiap penelitian yang dilakukan. hal tersebut adalah suatu kemustahilan. Sudigdo Sastroasmoro.A (K)) Hubungan populasi dan sampel penggunaan sample dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan peneliti ( baik yang menyangkut waktu . keterbatasan metodologik . Sumber : dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan. prof. DR. penetapan populasi penelitian yang tepat merupaka langkah yang amat menentukan apakah data yang diperoleh dalam suatu penelitian cukup valid untuk menjawab permasalahan penelitian. (sumber : Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi ke-4 2011. maupun keterbatasan lain ) dalam mencoba mengekplorasi informasi dari semua subyek. Sp. Besarnya atau banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel memrlukan perhitungan tersendiri  Menentukan teknik sampling Teknik pengambilan sampling ini sangat penting. karean apabila salah dalam menggunakan teknik sampling maka hasilnya pun akan jauh dari kebenaran. Sebelum diuraikan macam dan prosedur pemilihan sample akan dikaji dulu hakekat kedudukan sample baik terhadap populasi maupun terhadap kegiatan penelitian secara keseluruhan. kemudian dipilih anggota 2 populasi yang kan dipilh sebagai sampel. hampir tidak pernah dan tidak mungkin dilakukan. Dengan demikian . sebagai prosedur penelitian di bidang kedokteran . Sensus . sample tidak diperlukan. Dr. Dengan demikian representatif sampel terhadap populasi merupakan kondisi yang mutlak tertuntut bagi validitas jawaban penelitian terhadap permasalahan yang dihadapi.

representatif sample terhadap populasi C. Dengan demikian representatif sampel terhadap populasi merupakan kondisi yang mutlak tertuntut bagi validitas jawaban penelitian terhadap permasalahan yang dihadapi. Definisi design penelitian Desain penelitian merupakan rancangan yang disusun agar dapat menuntun penelitian untuk dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. maupun keterbatasan lain ) dalam mencoba mengekplorasi informasi dari semua subyek. validitas dan reliabilitas observasi atau pengukuran yang dilakukan D. Ahmad Watik pratiknya. yaitu : A. PERMASALAHAN PENELITIAN ? JAWABAN YANG AKURAT D A ? DATA POPULASI C ? SAMPLE B Dari rangakaian tersebut ada empat hal yang menjadi prasarat akurasi jawaban penelitian . sampai akhirnya pada analisis data. ketergayutan data dengan jawaban yang dikehendaki. dana . hipotesis. obyektifitas . Diatas telah diuraikan bahwa penetapan populasi penelitian yang tepat merupaka langkah yang amat menentukan apakah data yang diperoleh dalam suatu penelitian cukup valid untuk menjawab permasalahan penelitian. cara pengumpulan data. penggunaan sample dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan peneliti ( baik yang menyangkut waktu . Dr. keterbatasan metodologik . ketergayutan penetapan populasi terhadap inti permasalahan penelitian B. .  Untuk arti yang lebih luas desain penelitian merupakan suatu desain penelitian yang mencakup berbagai hal yang dilakukan peneliti. Sumber : dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan.

(sumber : Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi ke-4 2011. & sering digunakan dlm penelitian2 epidemiologi. Rancangan penelitian analitik Peneliti mencoba mencari hubungan antar variable. Metode ini paling lemah krn penelitian ini paling mdh dilakukan & sangat sederhana. Sp. Korelasi sebab-akibat ini dipelajari dgn memberikan perlakuan/manipulasi pd subyek penelitian. DR. i. Rancangan penelitian cross sectional Sering disebut penelitian transversal. Rancangan dgn variabel eksperimental ganda b. shg generalisasinya cukup memadai  Desain ini relative mudah.A (K)) macam-macam design penelitian a. murah.  Untuk arti yang sempit desain penelitian mengacu pada jenis penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Sudigdo Sastroasmoro.  2 kegunaan desain penelitian :  Srana bagi peneliti untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. utk kemudian dipelajari efek perlakuan tsb. prof. Pd penelitian ini dilakukan analisis thd data yg dikumpulkan. Rancangan penelitian eksperimental Penelitian yg dikembangkan utk mempelajari fenomena dlm kerangka korelasi sebab-akibat. Kelebihan :  Memungkinkan penggunaan populasi dr masyarakat umum. perbedaannya pd rancangan ini dilakukan randomisasi ® dlm pengelompokkan subyek  Rancangan eksperimental ulang  Rancangan eksperimental Solomon  Rancangan eksperimental kuasi  Rancangan eksperimental ulang non random  Rancangan eksperimental seri  Rancangan eksperimental seri ganda ii.  Alat bagi peneliti untuk dapat mengendalikan atau mengontrol pembagian variabel yang berpengaruh atau berperan dalam suatu penelitian. Rancangan dgn variabel eksperimental tunggal  Rancangan eksperimental murni  Rancangan eksperimental sederhana. Dr. mirip dgn rancangan perlakuan static. & hasilnya cepat dpt diperoleh  Dpt dipakai utk meneliti sekaligus byk variable . tdk hanya yg mencari pengobatan. karena desain berguna sebagai pedoman untuk mencapai tujuan penelitian. c. krn itu pd penelitian analitik perlu dibuat hipotesis.

maupun prognosis  Tdk praktis utk meneliti kasus yg sangat jarang  Mungkin tjd bias prevalens/bias insidensi krn efek suatu factor risiko selama selang waktu tertentu disalahtafsirkan sbg efek penyakit d.  Validasi mengenai informasi kadang2 sukar diperoleh  Karena kasus & control dipilih oleh peneliti maka sukar utk menyakinkan bahwa kedua kelompok itu sebanding dlm factor eksternal & sumber bias lainnya  Tdk dpt memberikan incidence rates  Tdk dpt dipakai utk menentukan lbh dr satu variable dependent. Rancangan penelitian cohort Merupakan penelitian epidemiologic non-eksperimental yg paling powerful dlm mengkaji hubungan antara factor risiko dgn efek/penyakit. terutama bila variable yg dipelajari byk  Tdk menggambarkan perjalanan penyakit.  Dibutuhkan subjek yg ckp besar. Rancangan penelitian case control Merupakan penelitian epidemiologik non-eksperimental yg lbh ‘maju’ dibanding penelitian cross sectional. Hal ini disebabkan krn individu yg cepat sembuh atau yg cepat meninggal akan mempunyai kesempatan yg lbh kecil utk terjaring dlm studi ini. insidensi. Langkah kemajuan rancangan ini ialah digunakannya kelompok subyek control.  Studi prevalens lbh byk menjaring subyek yg mempunyai masa sakit yg panjang dr pd mereka yg mempunyai masa sakit yg pendek. hanya berkaitan dgn satu penyakit/efek e. shg hasil korelasi yg diperoleh bersifat lbh tajam. pendekatan prospektif. melalui pendekatan longitudinal ke depan. Kelebihan :  Studi case control dpt atau kadang bahkan merupakan satu-satunya cara utk meneliti kasus yg jarang/yg masa latennya panjang  Hasil dpt diperoleh dgn cepat  Biaya yg diperlukan relative lbh sedikit  Memerlukan subyek penelitian yg lbh sedikit  Memungkinkan utk mengidentifikasi berbagai factor resiko sekaligus Kekurangan :  Data mengenai pajanan factor resiko diperoleh dgn mengandalkan daya ingat atau catatan medik.  Tdk terancam loss to follow up (droup out)  Dpt dimasukkan ke dlm tahapan pertama suatu penelitan kohort atau eksperimen. Rancangan penelitian epidemiologik yg digunakan utk mempelajari dinamika korelasi antara factor risiko dgn efek. Kelebihan : . tanpa atau dgn sedikit sekali menambah biaya  Dpt dipakai sbg dasar utk penelitian berikutnya yg lbh konklusif Kekurangan :  Sulit utk menentukan sebab & akibat krn pengambilan data risiko & efek dilakukan pd saat yg bersamaan.

Hakikat dan pengambilan sampel secara acak sederhana adalah bahwa setiap anggota atau unit dan populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. dan sampel yang diperoleh disebut sampel random. Hal ini berarti setiap anggota populasi itu mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Teknik random sampling ini hanya boleh digunakan apabila setiap unit atau anggota populasi itu bersifat homogen. (Dr. Teknik random sampel ini dapat dibedakan menjadi:  Pengambilan sampel secara acak sederhana (Simple random sampling).Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran.Dr.Sagung Seto) (Dr.Dr.2005. Sp. studi kohort memiliki kekuatan yg andal utk meneliti berbagai masalah kesehatan yg makin meningkat Kekurangan :  Biasanya memerlukan waktu yg lama  Sarana & biaya biasanya mahal  Studi kohort biasanya rumit  Kurang efisien segi waktu maupun biaya utk meneliti kasus yg jarang tjd  Terancam terjadinya drop out atau terjadinya perubahan intensitas pajanan atau factor risiko dpt mengganggu analisis hasil  Dpt menimbulkan masalah etika oleh krn peneliti membiarkan subyek terkena pajanan yg dicurigai/diangap dpt merugikan subyek. Random Sampling Pengambilan sampel secara random atau acak disebut random sampling.Sudigdo Sastroasmoro.Jakarta:CV.Jakarta:Rineka Cipta) cara memilih sampel Pada garis besarnya hanya ada duajenis sampel.Raja Grafindo Persada) (Prof.Jakarta:PT. .2002.2000.Metodologi Penelitian Kesehatan.Dasar- Dasar Metodologi Penelitian Klinis.A(K) & Prof. A.Soekidjo Notoatmodjo. yaitu sampel probabilitas (probability samples) atau sering disebut random sample (sampel acak) dan sampel non-probabilitas (non probability samples). Sp.A(K).  Merupakan desain yg terbaik dlm menentukan insiden & perjalanan penyakit/efek yg diteliti  Paling baik dlm menerangkan hubungan dinamika hubungan antara factor risiko dgn efek sec temporal  Merupakan pilihan terbaik utk kasus yg bersifat fatal & progresif  Dpt dipakai utk meneliti beberapa efek sekaligus dr suatu factor resiko tertentu  Krn pengamatan dilakukan sec continue & longitudinal.Sofyan Ismael.Ahmad Watik P.

Menentukan populasi penelitian. Kemudian mengambil sampel berdasarkan gugus-gugus tersebut. PKK. Pengambilan sampel secara gugus. kecamatan.  Pengambilan sampel secara gugus bertahap (multistage sampling) Pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah secara bertahap. melainkan cukup mendaftar banyaknya kelompok atau gugus yang ada di dalam populasi itu. e. dan sebagainya). Caranya adalah. Sampel diambil dengan membuat daftar elemen atau anggota populasi secara acak antara 1 sampai dengan n. Mengambil dari setiap strata sebagian unit yang menjadi anggotanya untuk mewakili strata yang bersangkutan. Dari sub wilayah yang menjadi sampel ditetapkan pula bagian-bagian dari sub . Kemudian menetapkan sebagian dari wilayah populasi (sub wilayah) sebagai sampel. Mengelompokkan unit anggota populasi yang rnempunyai karakteristik umum yang sama dalarn suatu kelompok atau strata misalnya berdasarkan tingkat pendidikan. kabupaten. Pengambilan sampel secara acak sistematis (Systematic sampling) Teknik ini merupakan modifikasi dari sampel random sampling. misalnya klinik. dan tiap sub wilayah dibagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil. dan sebagainya. c. Hal ini memungkinkan untuk dilaksanakan bila populasi terdiri dari bermacam-macam tingkat wilayah. Mengidentifikasi segala karakteristik dari unit-unit yang menjadi anggota populasi.  Pengambilan sampel secara kelompok atau gugus (cluster sampling) Pada teknik ini sampel bukan terdiri dan unit individu. Pengambilan sampel dari masing-masing strata sebaiknya dilakukan berdasarkan perimbangan (proporsional). b. Hasilnya adalah interval sampel. tetapi terdiri dari kelompok atau gugusan. Teknik pengambilan sampel dari masing-masing strata dapat dilakukan dengan cara random atau non-random. unit organisasi. Pelaksanaannya dengan membagi wilayah populasi ke dalam sub-sub wilayah. LKMD. d. membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan. Kemudian membagi dengan jumlah sampel yang diinginkan  Pengambilan sampel secara acak stratfikasi (stratified sampling atau stratified random sampling) Langkah-langkah yang diternpuh pengambilan sampel secara stratified adalah: a. dan seterusnya. f. Gugusan atau kelompok yang diambil sebagai sampel ini terdiri dari unit geografis (desa. peneliti tidak mendaftar semua anggota atau unit yang ada di dalam populasi.

(Notoatmodjo. kalau sampel yang diambil secara poposive berarti dengan sengaja mengambil atau memilih kasus atau responden. S. wilayah sebagai sampel. Bedanya dengan porposive sampling adalah. “Metodologi Penelitian Kesehatan”. Anggota populasi mana pun yang akan diambil tidak menjadi soal. dan dari bagian-bagian yang lebih kecil tersebut ditetapkan unit-unit yang terkecil diambil sebagai sampel. 2) Quota Sampling Pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel secara quotum atau jatah. berdasarkah ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. tetapi semata-mata hanya berdasarkan kepada segi-segi kepraktisan belaka. B. Sedangkan sampel yang diambil secara aksidental berarti sampel diambil dan responden atau kasus yang kebetulan ada. 2002.Teknik sampling ini dilakukan dengan cara: Pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quotum (jatah). 3) Accidental Sampling Pengambilan sampel secara aksidental (accidental) ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia. Jakarta: Rineka Cipta) cara menentukan bayaknya sampel 3 faktor yang perlu dipertimbangkan dlam menentukan besar sample :  Berapa derajad kepersisan yang dibutuhkan antara sample dengan populasi?  Berapa besar variablitas populasi?  Rancangan sample apa yang digunakan? . Kemudian jumlah atau quotum itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Metode ini mencakup beberapa teknik antara lain sebagai berikut : 1) Porposive Sampling Pengambilan sampel secara porposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri. yang penting jumlah quotum yang sudah ditetapkan dapat dipenuhi. Non Random (Non Probability) Sampling Pengambilan sampel bukan secara acak atau random adalah pengambilan sampel yang tidak didasarkan atas kemungkinan yang dapat diperhitungkan..

Dengan ketepatan absolut Penetapan besar sampel untuk estimasi rerata (mean) suatu populasi (studi deskriptif / survei) dengan tingkat kepercayaan absolut memerlukan 3 informasi. Sampel tunggal dengan uji hipotesis Untuk estimasi besar sampel tunggal variabel numerik dengan uji hipotesis (studi analitik) diperlukan 4 informasi :  Simpang baku populasi standar  S (dari pustaka) . Sampel tunggal untuk perkiraan rerata a. Sampel tunggal 1. Perkiraan besar sampel dapat dilakukan dengan berbagai cara. dasar yang digunakan untuk estimasi bergantung pada tujuan penelitian serta desain yang dipilih. Besar sampel untuk data numerik : A. Dengan menggunakan ketepatan relatif Untuk ini diperlukan 4 informasi :  Simpang baku populasi standar  S (dari pustaka)  Tingkat ketepatan relatif yang diperkenankan  e (ditetapkan oleh peneliti)  α (ditetapkan oleh peneliti)  nilai rerata populasi standar  XO (dari pustaka) Rumus yang digunakan : d = eX x XO n = [Zα x S]2 [eX x XO]2 2. yakni :  Simpang baku nilai rerata dalam populasi  S (dari pustaka)  Tingkat ketepatan absolut yang diinginkan  d (ditetapkan oleh peneliti)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n = [Zα x S]2 atau n = [2 Zα x S]2 w = 2d d2 w2 b.

rumus yang digunakan : n = 2 [Zα x S]2 d2 2. yaitu :  Simpang baku kedua kelompok  S (dari pustaka)  Perbedaan klinis yang diinginkan  X1 – X2 (clinical judgment)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti)  Power atau Zβ (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n1 = n2 = 2 [(Zα + Zβ) S]2 (X1 – X2)2 Dua kelompok berpasangan . Uji hipotesis terhadap rerata dua populasi Dua kelompok independen Untuk memperkirakan besar sampel dari 2 kelompok independen dengan uji hipotesis diperlukan 4 informasi penting. Dua kelompok independen (tidak berpasangan) 1.  Perbedaan klinis yang diinginkan  Xa – XO (clinical judgment)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti)  Power penelitian  Zβ (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n = [(Zα + Zβ) S]2 (Xa – XO)2 B. yaitu :  Simpang baku pada 2 kelompok  S (dari pustaka)  Tingkat ketepatan absolut dari beda nilai rerata  d (ditetapkan oleh peneliti)  Zα (ditetapkan oleh peneliti) Bila n1 = n2. Perkiraan beda rerata 2 populasi Untuk ini diperlukan 3 informasi penting.

yaitu :  Selisih rerata kedua kelompok yang bermakna  d (clinical judgment)  Simpang baku dari selisih rerata  Sd (dari pustaka atau clinical judgment)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti)  β (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n = [(Zα + Zβ) x Sd]2 d2 Besar sampel untuk data nominal : A. bila menggunakan lebar kepercayaan (w).90 dan perkalian besar sampel (n) dengan proporsi : n x P dan n x Q. w = 2d. yaitu :  Proporsi penyakit / keadaan yang akan dicari  P (dari pustaka)  Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki  d (ditetapkan oleh peneliti)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti) Untuk simple random sampling rumus yang digunakan : n = Zα 2 PQ catatan : Q = (1 – P) d2 Rumus ini hanya berlaku bila proporsi (P) > 0.10 atau < 0. estimasi besar sampel untuk proporsi suatu populasi memerlukan 3 informasi. Sampel tunggal untuk estimasi proporsi suatu populasi a. maka : n = 4 Zα 2 PQ w2 b. yaitu : . Dengan menggunakan ketepatan relatif Seperti halnya pada ketepatan absolut. keduanya harus menghasilkan angka > 5. untuk ketepatan relatif diperlukan 3 informasi. Dengan mengunakan ketepatan absolut Seperti halnya dengan data numerik. Informasi yang diperlukan berbeda dengan untuk dua kelompok independen. Sampel tunggal 1.

Estimasi perbedaan 2 proporsi Untuk mengestimasi perbedaan dua proporsi diperlukan 3 informasi. Dua sampel 1. rumus yang digunakan : n = Zα 2 Q d = Zα √PQ/n d=exP e2P 2. Uji hipotesis terhadap 2 proporsi n1 = n2 = [Zα √2PQ + Zβ √ P1Q1+P2Q2]2 (P1 – P2)2 Besar sampel untuk studi kohort : . Sampel tunggal untuk uji hipotesis proporsi suatu populasi Untuk menguji hipotesis terhadap proporsi suatu populasi diperlukan 3 informasi penting.  Proporsi penyakit atau keadaan yang akan dicari  P (dari pustaka)  Tingkat ketepatan relatif yang dikehendaki  e (dari pustaka)  Zα (ditetapkan oleh peneliti) Pada simple random sampling. yaitu :  Masing-masing proporsi  PO (dari pustaka) dan Pa (clinical judgment)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti)  Power atau Zβ (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n = [Zα √PoQo + Zβ √PaQa]2 (Pa – Po)2 B. dan proporsi yang diteliti P2 (clinical judgment)  Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki  d (ditetapkan oleh peneliti)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n1 = n2 = Zα2 (P1Q1 + P2Q2) d2 2. yaitu :  Proporsi standar  P1 (dari pustaka).

seyogyanya tetap dipakai uji hipotesis 2 arah. n1 = n2 = [Zα √2PQ + Zβ √ P1Q1+P2Q2]2 (P1 – P2)2 Besar sampel untuk studi kasus kontrol : . dari P2 dan RR dapat dihitung P1 dan P = ½ (P1+P2)  Zα (ditetapkan oleh peneliti)  Zβ (ditetapkan oleh peneliti) Meskipun peneliti mempunyai dugaan kuat bahwa insidens efek lebih banyak terjadi pada kelompok dengan faktor risiko dibanding dengan pada kelompok tanpa faktor risiko.Pada studi kohort peneliti bermaksud mencari perbandingan insidens efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan insidens efek pada kelompok tanpa risiko. dengan P2 dan RR dapat dihitung proporsi efek pada kelompok studi. Untuk studi kohort dengan pembanding internal perlu perkiraan pasien yang akan terpajan faktor risiko. maka RR = P1/P2. 1. Dari 3 parameter tsb cukup ditentukan 2 parameter saja. Uji hipotesis terhadap risiko relatif Dalam hal ini yang dihadapi sama dengan uji klinis dengan variabel bebas dan tergantung nominal dikotom. yaitu :  Perkiraan proporsi efek pada kelompok kontrol  P2 (dari pustaka)  Risiko relatif yang bermakna secara klinis  RR (clinical judgment). Estimasi interval kepercayaan risiko relatif Untuk estimasi besar sampel suatu studi kohort dengan interval kepercayaan terhadap risiko relatif diperlukan 3 informasi. P1  Tingkat ketepatan relatif yang dikehendaki  e (ditetapkan oleh peneliti)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n1 = n2 = Zα2 (Q1/P1 + Q2/P2) [ln(1 – e)]2 2. Besar sampel dihitung pada studi kohort dengan pembanding eksternal (studi kohort ganda). diperlukan informasi :  Proporsi efek pada kelompok tanpa faktor risiko  P2 (dari pustaka)  Risiko relatif (RR) yang dianggap bermakna secara klinis (clinical judgment). Bila insidens efek pada kelompok dengan faktor risiko = P1 dan insidens efek pada kelompok tanpa risiko = P 2.

maka : OR = P1 x (1 . P2 (dari pustaka)  Rasio odds yang dianggap bermakna secara klinis (clinical judgment). Studi case-control tidak berpasangan a. yaitu :  Perkiraan proporsi kontrol  P1 (dari pustaka)  Rasio odds yang dianggap bermakna (clinical judgment)  Tingkat ketepatan relatif yang dikehendaki  e (ditetapkan oleh peneliti)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti) Rumus yang digunakan : n = Zα2 [1/(Q1P1 + 1/Q2P2)] [ln(1 – e)]2 b. dari 1 dan 2 dapat dihitung proporsi efek pada kelompok kasus (P1). Estimasi interval kepercayaan rasio odds Untuk estimasi interval kepercayaan rasio odds diperlukan 4 informasi. dan nilai P = ½ (P1+P2)  Tingkat kemaknaan  α (ditetapkan oleh peneliti)  Power atau Zβ (ditetapkan oleh peneliti) Untuk uji hipotesis hendaknya dipilih uji 2-arah.Pada studi kasus kontrol peneliti menggunakan rasio odds (RO) sebagai perkiraan hasil yang diinginkan. Rumus yang digunakan adalah rumus seperti pada uji perbedaan 2 proporsi : n1 = n2 = [Zα √2PQ + Zβ √ P1Q1+P2Q2]2 (P1 – P2)2 2. Untuk ini diperlukan informasi :  Perkiraan proporsi efek pada kontrol. studi case-control berpasangan pada studi case-control yang berpasangan digunakan rumus : n = [Zα/2 + Zβ √PQ]2 P=R (P – ½) (1+R) .P2) P1 = P1 P1 = OR x P2 P2 x (1 – P1) OR(1 – P1) + P1 (1 – P2)+(OR x P2) 1. dengan demikian apabila P 1 = proporsi kasus dan P 2 = proporsi kontrol. Uji hipotesis terhadap rasio odds Untuk uji hipotesis terhadap rasio odds pada dasarnya sama dengan uji klinis pada variabel bebas beskala nominal dikotom dan variabel efek berskala nominal dikotom.

800 orang SMU. Contoh : Misalkan sebuah sekolah dasar memiliki murid sebanyak 300 orang dan hendak diperiksa 50 murid untuk kelainan jantung dan paru. S2 = 30. STM = 800. 3 orang lulusan S3. (Sastroasmoro S. Contoh : Pegawai PT tertentu mempunyai. kemudian berdasarkan Tabel random numbers dipilih 50 murid sekolah. maka populasi pegawai itu berstrata. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Sagung Seto) Macam-macam tehnik sampling a. Jumlah sample yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut diambil secara proporsional. . Ismael S. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45. Jakarta. 2002. SMEA = 400.Proportionate Stratified Random Sampling Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.Disproportionate Stratified Random Sampling Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sample. Teknik ini meliputi : . 4 orang lulusan S2. ST = 900. Contoh : Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan. . Probability Sampling Probability Sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sample.. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. 90 orang S1. Pertama- tama murid diberi nomor dahulu dari 1 sampai 300..Simple random sampling Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan sample anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. SD = 300. maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang lulusan S2 itu diambil semuanya sebagai . 700 orang SMP. bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

Dari semua anggota itu diberi nomor urut. genap saja. propinsi atau kabupaten. .Sampling Sistematis Sampling sistematis adalah teknik penentuan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. 15. yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data. Sampling kuota . misalnya kelipatan dari bilangan lima. sampel. Teknik sample ini meliputi : . atau kelipatan dari bilangan tertentu. 19. SMU. 20. dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi. b. dan SMP. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 5. Cluster sampling (Area Sampling) Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sample bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap. Nonprobability sampling Nonprobability Sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. dan seterusnya sampai 100. yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. . Karena dua kelompok ini terlalu kecil bil dibandingkan dengan kelompok S1. pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja. Contoh : Anggota populasi terdiri dari 100 orang. Tetapi perlu diingat. maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Contoh : Di Indonesia terdapat 27 propinsi. karena propinsi-propinsi di Indonesia berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. missal penduduk dari suatu Negara.

kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. sehingga jumlah sampel semakin banyak. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan Sampel purposive dan Snowball. 2005. . Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil.Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel. . DR.Snowball Sampling Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil. dan penelitian dilakukan secara kelompok. Alfabeta. Contoh : Akan dilakukan penelitian terhadap pegawai golongan II. (Prof. bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.Sampling Aksidental Sampling Aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan.Sampling Jenuh Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sugiyono. Statistika Untuk Penelitian. maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus.Sampling Purposive Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Bandung : CV. Contoh : Akan dilakukan penelitian tentang disiplin pegawai. Begitu seterusnya. Setelah jumlah sampel ditentukan 100. .) . semakin lama semakin besar. dimana semua anggota populasi dijadikan sampel. kurang dari 30 orang. dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang. maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja. Ibarat bola salju yang menggelinding. .

maka dengan usaha yang sama akan diperoleh hasil analisis yang lebih akurat Soekidjo Notoatmodjo.2002 a. Metodologi penelitian kesehatan. Memperoleh hasil yang lebih akurat Penelitian yang dilakukan terhadap populasi akan menyita sumber-sumber daya yang lebih besar termsuk usaha-usaha analisis. Menghemat biaya Dengan sampling. . dana. Mewakili populasi f. Lebih mudah c. Lebih cepat d.Manfaat penggunaan sampel a. tenaga. Memperluas ruang lingkup penelitian Penelitian yang dilakukan terhadap sampel maka dengan waktu. b. Menghemat tenaga Penelitian yang hanya dilakukan terhadap sampel lebih menghemat biaya d. Lebih murah b. keterbatasan metodologik. Mempercepat pelaksanaan penelitian Penelitian yang hanya dilakukan terhadap sampel (sebagian populasi saja) akan lebih cepat selesai c. Lebih spesifik (Sumber: Soedigdo Sastroasmoro) Untuk mengatasi keterbatasan peneliti (baik yang menyangkut waktu. Dengan menggunakan sampel. kemapuan. maupu keterbatasan lain) dalam mencoba mengeksplorasi informasi dari semua subjek. dalam arti penelitian hanya dilakukan terhadap sebagian populasi sehingga biaya tersebut dapat ditekan atau dikurangi. Lebih akurat e. Hal tersebut berpengaruh terhadap keakuratan hasil penelitian. dan biaya yang sama dapat dilakukan penelitian yang lebih luas ruang lingkupnya e.

dan factor perancu. DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN KLINIS. Validitas ini dapat diuji dengan uji statistic tertentu atau dengan meminimalisir angka drop out. (Pokok – Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.Iqbal Hasan.2002 ♪ Validitas interna adalah generalisasi dari sampel yang diperoleh terhadap sampel yang diinginkan. Representatif :apabila ciri2 sampel yang berkaitan dengan tujuan penelitian sama/hampir sama dengan ciri2 populasinya.Ir.) b. Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. .2003. bias. Jakarta : Binarupa Aksara.MM) macam2 validitas dan faktor-faktor yang mempengaruhi validitas  internal suatu penelitian menunjukkan apakah hasil studi bebas dari kesalahan acak. Jakarta : Rajawali Pers Syarat sampel a. Pratiknya.M. (Azrul Azwar dan Joedo Prihartono. Ahmad Watik. 2 syarat pokok kerepresentatifan : a. SUDIGDO. DR. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.  eksternal menunjukkan berapa baik hasil penelitian tersebut dapat diterapkan di kelompok yang lebih luas. b. Memadai :apabila ukuran sampelnya cukup untuk menyakinkan kestabilan ciri2nya. Kecukupan jumlah sample Artinya jumlah sample cukup besar untuk mewakili populasi yang menjadi sasaran penelitian. Metoda sampling berdasarkan equal chance Artinya setiap individu yang terdapat dalam populasi mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sample penelitian.

(Dasar – dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan.  Jumlah (besar) sampel yang dipilih . o Misal : distribusi eritrosit dalam darah sedemikian homogen. Dr. validitas. b. 2006 Syarat sampel supaya valid a. Validitas ini baik bila besar sampel cukup dan cara pengambilan sampel yang digunakan menggunakan metode probabilistik. maka pemilihan sampel pada tiap bagian daerah tidak akan menggambarkan distribusi kaya dan miskin yang sama. Representativitas sampel terhadap populasi Maksudnya ialah : bahwa pemilihan sampel benar-benar representatif menggambarkan populasi subyek penelitian. dan reliabilitas observasi atau pengukuran yang dilakukan d. c. Ketergayutan (relevansi) penetapan populasi terhadap inti permasalahan penelitian. Ahmad Watik Pratiknya) cara pemilihan sample agar representative  Homogenitas populasi o Makin homogen distribusi atau keadaan karakter subyek dalam suatu populasi maka makin mudah dicapai representativitas sampel. dr Sopiyudin Dahlan. ♪ Validitas eksterna I adalah generalisasi sampel yang diperoleh terhadap populasi terjangkau. Obyektivitas. sebaliknya kita ketahui bahwa tempat tinggal penduduk kaya dan miskindi suatu daerah tidak terdistribusi secara merata. Ketergayutan (relevansi) data dengan jawaban yang dikehendaki. ♪ Validitas eksterna II adalah generalisasi dari populasi terjangkau terhadap populasi target. sehingga dari tiap tetes darah yang diambil dari bagian tubuh manapun akan diperoleh angka-angka yang sama. Maksudnya ialah : seberapa jauh data penelitian yang diperoleh dapat memberi penjelasan secara kuat dan adekuat terhadap permasalahan penelitian yang dihadapi. Besar Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan.

b. Homogenitas populasi Semakin homogen karakter subjek dalam sebuah populasi. Untuk memahami representativitas sampel.1 Cet. b) Apakah tiap kejadian atau perubahan yang terjadi pada subyek-subyek sampel (baik karena perlakuan maupun tidak).  Banyaknya karakteristik subyek yang akan dipelajari o Makin banyak karakteristik subyek yang dipelajari. yang secara praktis berarti makin banyak variabel yang akan diteliti. Jumlah atau besar sampel yang dipilih Semakin banyak subjek dalam populasi yang diambil sebagai sampel. ”Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran” Ed.. ada dua pertanyaan mendasar yang dapat diajukan : a) Apakah karakteristik dari tiap kesatuan atau unit analisis dalam sampel penelitian identik dengan semua karakteristik dalam populasi? Kalau jawaban ”YA”.  Adekuatitas teknik pemilihan sampel o Teknik pemilihan sampel yang adekuat ialah : teknik pemilihan subyek- subyek penelitian yang sesuai dengan (mengacu pada) keadaan populasi. juga identik dengan kejadian atau perubahan pada populasi? Kalau jawaban ”YA”. Jakarta. Karena semakin banyak subjek yang dipilih. o Yang dimaksud keadaan populasi ialah : menyangkut kondisi dan batas- batas populasi sebagaimana telah dibahas didepan. 5. 2003. berarti sampel representatif. AW. PT RajaGrafindo Persada) Hal-hal apa yg berpengaruh terhadap representative sample Akurasi pengambilan sampel sangat terkait dengan representativitas sampel. semakin besar pula proporsi sampel terhadap populasi. berarti sampel representatif. o Adekuatitas teknik pemilihan sampel dapat dicapai dengan memilih ”rancangan sampel” (sampling designs) yang tepat. maka makin tinggi pula tingkat representativitasnya. mengakibatkan keadaan populasi makin kurang homogen sebab masingmasing variabel mempunyai distribusinya sendiri dalam subyek populasi. . Representativitas sampel secara umum ditentukan oleh : a. o Makin banyak subyek yang dijadikan sampel (makin besar ukuran sampel) maka makin tinggi tingkat representativitasnya. (Pratiknya. sehingga semakin dekat karakter sampel dengan karakter populasi. maka semakin mudah diperoleh sampel yang representatif.

. W. PT Raja Grafindo Persada. maka semakin banyak pula variabel yang diteliti. 1986. (metodologi penelitian kesehatan. Cetakan III.Soekidjo Notoatmijo) instrumen yg baik dalam penelitian  Reliable : Suatu pengukuran disebut andal.  Objektivitas : pengukuran yang dilakukan benar2 terbebas dari bias peneliti. Adekuasi teknik pengambilan sampel Teknik pengambilan sampel yang tepat adalah teknik pemilihan subjek yang sesuai dengan keadaan populasi ( Pratiknya. Proses pemilihan atau perkembangan metode atau alat ukur yg tepat dlm rangka pembuktian kebenaran hipotesis. Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan ) instrumen penelitian Adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data. A. Hal ini mengakibatkan populasi semakin kurang homogen. apabila ia memberikan nilai yang sama ataupun hampir sama apabila pemeriksaan dilakukan berulang-ulang. Watik. 2003.Ahmad Watik. Banyaknya karakteristik subjek yang diteliti Semakin banyak karakter subjek yang diteliti.  Valid : Menunjukkan berapa dekat alat ukur menyatakan apa yang seharusnya diukur. sebab tiap variabel memiliki distribusinya sendiri-sendiri. Dr. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta) yg harus diperhatikan dalam penggunaan instrumen penelitian  Dipilih alat yang sudah dibakukan  Dilakukan peneraan lebih dulu  Dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitas Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan. sehingga menghasilakn data menurut “apa adanya” (Pratiknya. d. c. A. Hal ini menurunkan tingkat representativitas sampel.2003 hubungan antara validitas dan reliabilitas dalam instrumen penelitian . Dr.

satu kali pengukuran b. Reliabilitas instrument merupakan syarat untuk pengujian validitas instrument. Oleh karena itu. jika digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliable) tetapi tidak valid. tetapi pengujian reliabilitas instrument perlu dilakukan. Hal ini disebabkan karena instrument tersebut telah rusak.Uji coba dilakukan pada sekelompok obyek dengan : dua alat ukur dan dua kali pengukuran Sumber : dasar – dasar metodologi penelitian kedokteran & kesehatan oleh : Dr. Dikenal 2 teknik pendekatan : i. teknik uji ulang prinsip : ialah melakukan uji coba instrumen pada sekelompok subyek dengan : satu alat ukur dan dua kali pengukuran ii. misalnya meteran yang putusbagian ujungnya. teknik uji paralel hasil pengukuran instrumen yang dicoba dibandingkan atau dikorelasikan dengan hasil pengukuran dengan instrumen yang telah baku atau relaibel. pendekatan konsistensi luar dilakukan dengan dua kali pengukuran pada sekelompok subyek yang sama.Ahmad watik Pratiknya penilaian keandalan(reliabilitas) pengukuran:  Keandalan pengukuran variabel numerik . Instrument yang reliable belum tentu valid. pendekatan konsistensi dalam prinsip : melakukan uji coba instrumen pada sekelompok subyek dengan : satu alat ukur . walaupun instrument yang valid umumnya pasti reliable. uji validitas dan uji reliabilitas dalam instrumen penelitian ? cara intrepretasinya Reliabilitas a.

Dr.Sofyan Ismael. MSPH dan Albertus Heriyanto.Sudigdo Sastroasmoro & Prof.Dr.SpA(K). Panduan Penelitian Dr.Hal.DR.Dr.DR. Split test.Prof.  Keandalan pengukuran variabel berskala nominal Untuk menilai keandalan berskala nominal ini digunakan penentuan nialai kappa(suatu statistik yang mengukur kesesuaian antara variabel berskala nominal dikotom). dapat pula diuji secar statistik.  Dengan cara manual : 1.Pengukuran yang andal mempunyai koefisien variasi yang sempit. Sumber:Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.SpA(K)hal 71-72 Validitas dan reliabilitas di uji dengan uji statistik :  Dengan program komputer yang mampu menguji validitas dan reliabilitas kuesioner.Prof. Sandjaja. seperti misalnya program Statistical Product and Service Solutions (SPSS). 2. Untuk uji reliabilitas :Uji ulang (test Retest).  Kesahihan alat ukur Nominal Dinilai dengan cara membandingkan dengan alat diagnostik terbaik (gold standard).66-67 penilaian ke valid-an:  Kesahihan alat ukur Numerik Dilakukan dengan cara membandingkan alat ukur tersebut dengan alat ukur yang baku sebagai penera. Dilakukan dengan menggunakan simpangan baku (standard deviation).Sudigdo Sastroasmoro & Prof.M.Dr.Statistik yang bermanfaat untuk keperluan ini adalah koefisien variasi.Sofyan Ismael. test paralel. Untuk uji validitas : Dengan mencocokan kuesioner dengan tujuan penelitian. B. Sumber:Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Hum .