LAPORAN PENDAHULUAN

PNEUMONIA DI RUANG HCU MELATI 1 RSUD DR MOEWARDI

SURAKARTA

OLEH :

RIKI INDRA WIJAYA

SN161107

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2016/2017

LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN DENGAN PNEUMONIA A. 2013) Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru. bakteri. 2. mycoplasma (fungi). 4. serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia. distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius. 2001) B. Jamur Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung. S. Definisi Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISPB) dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen infeksius seperti virus. (Zul. aerous. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza. 3. Etiologi 1. tanah serta kompos. klebsiella pneumonia dan P. Bakteri Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus. Protozoa . dan aspirasi subtansi asing berupa radang paru-paru yang disertai eksudat dan konsulidasi (Amin HN. Virus Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Aeruginosa. dan streptococcus pyogenesis. alveoli.

Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan a. Gerakan dada tidak simetris a. Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). 2001) C. Mengecil. Tanda dan gejala 1. Malaise e. produktif f. ansietas. delirium b. kemudian menjadi hilang b. Krekels. Diafoesis c. (Reeves. Gelisah h. Batuk kental. Menggigil dan demam 38. Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masuk ke saluran pernafasan bagian . Dasar kuku kebiruan k. egofoni 3. Nafas dangkal dan mendengkur c.1C. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi a.8  C sampai 41. Patofosiologi Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus. Nyeri pleuritik b. Area sirkumoral j. Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. ronki. Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan dan minuman. Sianosis i. Anoreksia d. takut mati D. Takipnea 2. Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat g. Masalah-masalah psikososial : disorientasi.

peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut. sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut: Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal. (Soeparman. 1991) . Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal dalam usus. dan edema antara kapiler dan alveoli. yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli. peningkatan suhu.

E. Clinical Nursing Pathway Jamur. bakteri. protozoa Resti terhadap penyebaran Masuk alveoli infeksi Peningkatan suhu tubuh Kongestif ( 4-12 jam ) Eksudat dan seruos masuk Nyeri alveoli pleuritik Hepatisasi merah (48 jam) Penumpukan Paru-paru tampak merah dan cairan dalam bergranula karena SDM dan alveoli leukosit DMN mengisi alveoli Hepatisasi kelabu (3-8 hari) Resolusi 7-11 Paru-paru tampak kelabu karena hari leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi didalam alveoli PMN Konsolidasi jaringan paru Gangguan pertukaran gas Berkeringat Metabolisme meningkat Compliance paru menurun Resti Resti nutrisi Suplay O2 kekurangan Gangguan pola kurang dari menurun volume cairan nafas kebutuhan tubuh Sputum kental Intoleransi Mual. muntah aktivitas Gangguan bersihan jalan nafas .

.

aspirasi transtrakeal. 3. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar). Atelektasis 4. LED : meningkat 7. Hipotensi dan syok 2. 2. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah 9. 5. Delirium 6. tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun. tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada. JDL : leukositosis biasanya ada. meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella. 1999) . empiema (stapilococcus). hipoksemia. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka : menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatansitoplasmik(CMV) (Doenges. Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih. bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab. atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Efusi pleura 5.Komplikasi 1. dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat. 8. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum. infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial). aglutinin dingin. Bilirubin : mungkin meningkat 10. Pemeriksaan Penunjang 1. 4. kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial. 6. Superinfeksi F. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural. GDA : tidak normal mungkin terjadi. Gagal pernapasan 3.

hiperaktif bunyi usus. Penatalaksanaan 1. Hidrasi Bila ringan hidrasi oral. mual / muntah. kelemahan dan dekubitus. riwayat DM Tanda : distensi abdomen. sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. insomnia Tanda : Letargi. 2. Makanan / Cairan Gejala : kehilangan nafsu makan. masalah finansial 4. Kemoterapi Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur spatum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Fisioterapi Pendrita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia hipografik. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan. Integritas Ego Gejala : banyak stressor. penampilan malnutrusi . Pengobatan Umum 3. tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral 5. 1989).G. maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa. H. penurunan toleransi terhadap aktivitas 2. kulit kering dengan turgor buruk. penampilan keperanan atau pucat 3. Terapi Oksigen 4. kelelahan. Sirkulasi Gejala : riwayat gagal jantung kronis Tanda : takikardi. Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral. Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan. Data Yang Perlu Dikaji 1.

atralgia 7. pelebaran nasal Tanda : sputum . Nyeri / Kenyamanan Gejala : sakit kepala nyeri dada meningkat dan batuk myalgia. Diagnosa Keperawatan 1. gemetar. penggunaan otot aksesori  Dispnea. penurunan energi. pernafasan dangkal. nyeri pleuriti. pembentukan oedema. gesekan friksi pleural Bunyi nafas : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas Bronkial Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku 8. peningkatan produksi sputum. Neurosensori Gejala : sakit kepala dengan frontal Tanda : perubahan mental 6. penggunaan alkohol kronis I. demam Tanda : berkeringat. kelemahan. kemerahan. Kemungkinan dibuktikan dengan :  Perubahan frekuensi kedalaman pernafasan  Bunyi nafas tak normal. sianosis  Bentuk efektif / tidak efektif dengan / tanpa produksi sputum . Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun. merokok sigaret. dispnea. Penyuluhan Gejala : riwayat mengalami pembedahan. Pernafasan Gejala : riwayat PPOM. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan Inflamasi trakeobronkial. merah muda. berkarat atau purulen Perkusi . 5. takipnea. pekak diatas area yang konsolidasi. mungkin pada kasus rubeda / varisela 9. penggunaan otot aksesori. menggigil berulang.

Kemungkinan dibuktikan dengan :  Laporan verbal kelemahan. gangguan kapasitas oksigen darah. penekanan imun). kelemahan. batuk menetap . Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. penurunan complience paru dan nyeri. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan utama. takipnea  Penggunaan otot aksesori  Perubahan kedalaman nafas  GDA abnormal 4. tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi. takipnea  Takikandi  Pucat / sianosis 7.2. Kemungkinan dibuktikan oleh : tidak dapat diterapkan tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual 6. penampilan kemerahan  Menggigil. Gangguan nyaman (nyeri) berhubungan dengan Inflamasi parenkim paru. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar – kapiler (efek inflamasi). sianosis  Takikandi  Gelisah / perubahan mental  Hipoksia 3. Kemungkinan dibuktikan oleh :  Dispnea. reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin. Kemungkinan dibuktukan oleh :  Demam. takikandi 5. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. Kemungkinan dibuktikan oleh :  Dispnea. kelelahan. kelelahan dan keletihan  Dispnea.

kelemahan a. Kriteria Hasil :  Menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas  Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih. Kemungkinan dibuktikan dengan :  Nyeri dada  Sakit kepala. anoreksia distensi abdomen 9. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan Inflamasi trakeobronkial. pembentukan oedema. nyeri sendi  Melindungi area yang sakit  Perilaku distraksi. hiperventilasi. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. Tujuan Kebersihan napas kembali efektif b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan (demam. muntah) 10. gelisah 8. peningkatan produksi sputum. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan kurang terpajan informasi. kesalahan interpretasi Kemungkinan dibuktikan oleh :  Permintaan informasi  Pernyataan kesalahan konsep  Kesalahan mengulang J. Rencana Keperawatan 1. Intervensi :  Mandiri . kurang mengingat. penurunan energi. tak ada dispnea atau sianosis d. berkeringan banyak. nyeri pleuriti.

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar – kapiler (efek inflamasi). Tujuan Tidak terjadi gangguan pertukaran gas b. kedalaman dan kemudahan bernafas  Observasi warna kulit. Kriteria Hasil :  Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan  Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen c. Intervensi :  Mandiri  Kaji frekuensi. gangguan kapasitas oksigen darah a. GDA. bronkodilator. nadi oksimetri  Bantu bronkoskopi / torakosintesis bila diindikasikan 2. analgesik  Berikan cairan tambahan  Awasi seri sinar X dada. membran mukosa dan kuku  Kaji status mental  Awasi status jantung / irama .  Kali frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada  Auskultasi paru catat area penurunan / tak ada aliran udara dan bunyi nafas tambahan (krakles. mengi)  Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam  Penghisapan sesuai indikasi  Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari  Kolaborasi  Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain  Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik. ekspetoran.

Kriteria Hasil : Menunjukkan pola pernafasan normal / efektif dengan GDA dalam rentang normal c. Dorong menyatakan masalah / perasaan. Tujuan Pola napas kembali efektif d. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil  Pertahankan istirahat tidur  Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi.  Kolaborasi  Berikan terapi oksigen dengan benar  Awasi GDA 3. Intervensi :  Mandiri  Kaji frekuensi.  Awasi suhu tubuh. nafas dalam dan batuk efektif  Kaji tingkat ansietas. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi . penurunan complience paru dan nyeri c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi. sesui indikasi. kedalaman pernafasan dan ekspansi dada  Auskultasi bunyi nafas  Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi  Observasi pola batuk dan karakter sekret  Dorong / bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif  Kolaborasi  Berikan Oksigen tambahan  Awasi GDA 4.

pantau hasilnya setiap hari 5. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan utama. Kriteria Hasil :  Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh  Tidak menggigil  Nadi normal c. Intervensi :  Mandiri  Obeservasi suhu tubuh (4 jam)  Pantau warna kulit  Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan  Kolaborasi  Berikan obat sesuai indikasi : antiseptik  Awasi kultur darah dan kultur sputum. tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi. a. Tujuan Tidak terjadi penyebaran infeksi b. a. penekanan imun). Kriteria Hasil :  Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi  Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi c. Intervensi :  Mandiri  Pantau TTV  Anjurkan klien memperhatikan pengeluaran sekret dan melaporkan perubahan warna jumlah dan bau sekret . Tujuan Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh b.

kelemahan berlebihan dan TTV dalam rentang normal c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan Inflamasi parenkim paru.  Dorong teknik mencuci tangan dengan baik  Ubah posisi dengan sering  Batasi pengunjung sesuai indikasi  Lakukan isolasi pencegahan sesuai individu  Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. a. Tujuan Tidak terjadi gangguan rasa nyaman (nyeri) . kelemahan. kelelahan. Kriteria Hasil : Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea. reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin. Tujuan Tidak terjadi intoleransi aktivitas b. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. batuk menetap a. Intervensi : Mandiri  Evaluasi respon klien terhadap aktivitas  Berikan lingkungan terang dan batasi pengunjung  Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat  Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat/tidur  Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan 7.  Kolaborasi  Berikan antimikrobal sesuai indikasi 6.

Kriteria Hasil :  Menyebabkan nyeri hilang / terkontrol  Menunjukkan rileks. anoreksia distensi abdomen a. 8. Kriteria Hasil :  Menunjukkan peningkatan nafsu makan  Berat badan stabil atau meningkat c. Intervensi : Mandiri  Tentukan karakteristik nyeri  Pantau TTV  Ajarkan teknik relaksasi  Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. istirahat / tidur dan peningkatan aktivitas dengan cepat c. b. Intervensi :  Mandiri  Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah  Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin  Auskultasi bunyi usus  Berikan makan porsi kecil dan sering  Evaluasi status nutrisi . Tujuan Tidak terjadi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan (demam. hiperventilasi. karakter urine  Hitung keseimbangan cairan  Asupan cairan minimal 2500 / hari  Kolaborasi  Berikan obat sesuai indikasi . kurang mengingat. kesalahan interpretasi a. antiametik  Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan 10. Tujuan Kurang pengetahuan tidak terjadi b. Intervensi  Mandiri  Kaji fungsi normal paru . 9. muntah) a. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan kurang terpajan informasi. Tujuan Tidak terjadi kekurangan volume cairan b. antipirotik. Kriteria Hasil  Balance cairan seimbang  Membran mukosa lembab. catat warna. Kriteria Hasil :  Menyatakan permahaman kondisi proses penyakit dan pengobatan  Melakukan perubahan pola hidup c. turgor normal. kelembaban membran mukosa  Catat laporan mual / muntah  Pantau masukan dan keluaran. berkeringan banyak. Intervensi :  Mandiri  Kaji perubahan TTV  Kaji turgor kulit. pengisian kapiler cepat c.

Yokyakarta : Media Action Publishing.  Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit.G (2000). Keperawatan Medikal Bedah. Smeltzer SC. Jakata : EGC. Doenges. Charlene J. lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan  Berikan dalam bentuk tertulis dan verbal DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth (2001). . Nurarif & kusuma (2013). Bare B. Volume I. et all (2000). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Edisi Revisi jilid 2. (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC Suyono. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Reevers. Marilynn (2000). Jakarta : Salemba Medica. Rencana Asuhan Keperawatan. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II. Edisi 3.