REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU

by
Tere Liye
1|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

Bab 1
Aku Rinai

MALAM terang. Langit bersih tak tersaput awan. Bintang tumpah
mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi. Angin malam mem-
belai rambut. Lembut. Menyenangkan. Menelisik, bernyanyi di sela-
sela kuping. Gema takbir memenuhi jalanan.
Malam ini: karnaval hari raya!
Kesenangan melingkupi kota kami. Beduk digebuk bertalu-talu.
Dalam irama rupa-rupa. Sedikit kasidahan. Menyerupai orkes melayu.
Dangdut. Sedikit nge-rock juga ada. Bukankah tidak ada standar baku
dalam urusan menabuh beduk takbiran? Bahkan di mesjid sebelah
rumah, pakai gaya jazz full-swing segala.
Seperti halnya irama beduk, takbir pun dilafalkan berdasarkan versi
masing-masing. Sesuai dengan logat muasal keturunan mereka. Kalau
hendak mendengar aksen ketimuran dengarlah di masjid sana. Aksen
kental kedaerahan dengarlah di masjid sini. Langgam takbir pulau
seberang. Langgam takbir pulau sini. Apapun itu, semuanya sama.
Malam kemenangan. Semua berlomba menggemakan nama besar
Tuhan. Semua muka mengekspresikan kebahagiaan. Mulut-mulut
mendesah atau malah berteriak seperti anak-anak di masjid ujung
gang yang berebut mik. Berguling-guling menyikut rekan sepantaran.
Meneriakkan takbir dengan suara fals bin cempreng. Asyik sekali.
Tidak penting keluh-protes telinga-telinga yang mendengarkan. Dan
tangan-tangan reflek mulai bekerja. Memukul-mukul.

2|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

Lihatlah orang-orang tua di panti jompo perempatan utama kota.
Umurnya sih berbilang tujuh-puluh. Malam ini mereka sepi, tak ada
sanak-famili mendatangi, siapa yang peduli? Tapi tangan mereka
mulai mengetuk-ngetuk pelan dinding tanpa disadari, pinggiran
ranjang, pegangan kursi, meja jati atau entahlah dengan irama yang
pernah mereka mainkan dulu. Irama waktu kanak-kanak sungguh
membahagiakan. Berlari-lari takbir sambil memukul galon plastik.
Mereka sebentar lagi juga kembali kanak-kanak.
Simaklah aki-aki yang duduk di pojokan. Setahun terakhir kelakuan-
nya sempurna sudah macam anak-anak. Mandi dimandikan. Makan
disuapi. Dua kali sehari merengut kepada perawat untuk urusan
sepele. Mulai dari memaksa memakai rok dan gincu, hingga enggan
buang air kalau tak diceboki. Malam ini tangannya terkulum di mulut,
tidak sibuk mengetuk seperti temannya. Dia lagi merajuk soal buka
puasa tadi sore. Ingin makan sate kambing, mana bolehlah. Mau
ditaruh kemana penyakit darah-tinggi, jantung, asam urat, dan
kolesterolnya. Aduh, meski sedang sebal, mukanya tetap menyeringai
riang bagai anak kecil dijanjikan baju baru lebaran. Maklum, hari-
raya.
Tidak, kisah ini tidak akan membicarakan panti jompo. Malam ini
kita akan membicarakan panti asuhan. Tempat anak-anak tidak
beruntung ditampung. Cerita mengharukan ini toh juga bermula dari
masa kanak-kanak. Masa-masa (yang seharusnya) indah itu. Masa
saat pemahaman hidup mulai dibentuk. Sepelemparan batu dari
gedung panti jompo itu, berdiri seadanya sebuah panti asuhan. Masih

3|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

satu yayasan, maka letaknya berdekatan. Rumah itu bercahaya,
lazimnya sebuah rumah yang sedang menyambut hari raya. Tiga
lampu teras dihidupkan semua. Tak apalah, malam ini lupakan soal
tarif listrik yang mencekik.
Di bagian dalam, Panti itu lebih “bercahaya” lagi. Anak-anak
berlarian sibuk memamerkan baju baru untuk shalat Id esok. Televisi
dihidupkan menyiarkan takbir akbar dari halaman Istana. Radio
dinyalakan merelai acara yang sama. Pembawa acaranya bak
komentator bola sibuk berkomentar tentang prosesi menabuh beduk
sebentar lagi. Anak-anak itu sih tidak peduli, mereka sedang asyik
jahil-menjawil. Dorong-mendorong. Sambil mulut terus mengunyah
makanan kecil yang berserak di meja. Tertawa.
Namun sayang seribu kali sayang, ketika malam ini di ruang tengah
Panti, di Istana, di jalanan kota dan di seluruh bumi buncah oleh suka-
cita, lihatlah kesedihan yang memancar di mata gadis kecil berumur
enam tahun. Gadis kecil malang yang apa mau dikata akan memegang
semua penjelasan kisah ini. Namanya Rinai. Ia sedang memeluk
boneka beruang madu berwarna biru. Duduk di ayunan tua yang
terbuat dari ban raksasa mobil Fuso. Berayun-ayun di bawah jambu
klutuk halaman depan Panti. Maju-mundur. Terhenti. Maju-mundur.
Berderit. Ayunan itu amat berisik, mengingat enam bulan engselnya
lupa diminyaki.
Gadis kecil itu menatap kosong keramaian di hadapannya. Mata
hijaunya redup menyimak orang-orang yang berlalu lalang, mobil-
mobil bak terbuka yang sarat penumpang, rombongan demi

4|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

rombongan karnaval. Jalanan yang sibuk. Rinai mendesah ke langit-
langit malam. Gadis kecil itu sedang sedih. Ia tidak tahu apa itu hari
raya. Ia tidak mengerti ketika teman-temannya ramai bercerita tentang
makan besar besok. Ramai berceloteh soal hadiah-hadiah yang
banyak terkirimkan ke Panti mereka seminggu terakhir. Berebut.
Bertengkar.
Rinai justru sedih karena tidak paham apa itu hari raya? Rinai rindu
Ayah-Bundanya. Itulah yang Rinai paham. Tapi bagaimanalah ia akan
bertemu dengan Ayah-Bunda jika gadis kecil berkepang dua itu
bahkan sejak lahir tidak pernah mengenalnya. Tiada foto walau
sehelai yang menyimpan kenangan wajah. Jangankan wajah, suara
pun Rinai tidak pernah mendengar.
Urusan ini menjadi berbeda, karena gadis kecil itu sungguh berbeda
dengan rekan-rekannya yang bercengkerama di ruang depan Panti.
Rinai cerdas, teramat malah. Di tengah ketidakmengertian ini, lihatlah
Rinai justru selalu sibuk bertanya. Bertanya tentang banyak hal.
Gadis kecil itu sekarang menatap langit. Ia mendesah lemah sambil
memeluk erat boneka beruang madunya. Bertanya.
Tadi sore Rinai sibuk bertanya ke Kak Amel. Sibuk bertanya tentang
Ayah-Bunda. Sibuk mengeluh. Sibuk protes. Kak Amel, gadis tua tak
laku-laku pengurus Panti yang justru sedang sibuk mencatat,
membagi kiriman parsel hari raya yang datang, jengkel diganggu,
kemudian tidak sengaja membentak. Menyuruhnya menyingkir. Dan
gadis kecil itu pergi dengan hati terluka. Yatim-piatu itu dibentak.
Maka sepanjang sore ini, Rinai duduk sendiri di ayunan pohon jambu

5|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

depan Panti sambil memeluk boneka beruang madu miliknya. Tidak
peduli ketika teman-temannya berbuka hari ke-30. Tidak peduli ketika
Kak Amel mendekat membujuknya masuk ke dalam. Bahkan Rinai
tidak peduli saat Kak Amel mencium tangannya meminta maaf soal
urusan bentak-membentak tadi siang. Rinai ingin sendiri. Menyuruh
Kak Amel pergi.
Rinai ingin bertanya langsung kepadaMu. Tanpa perantara. Maka
kepalanya mendongak ke atas. Mencari mukaMu yang konon kata-
nya ada di mana-mana. Menggetarkan sekali mendengar pertanyaan
yang tidak terucap itu. Menggetarkan sekali menyimak percakapan
tanpa suara itu. Karena, Engkau selalu menjawab setiap pertanyaan.
Sungguh, satu jawaban untuk satu pertanyaan. Jawaban yang
sempurna. Tidak lebih, tidak kurang.
Tetapi Rinai tidak tahu itu, ia terlampau kecil untuk mengerti. Rinai
hanya tahu ia mau menangis. Hatinya sedih. Teramat sedih malah.
Maka matanya pelan membasah. Memeluk boneka beruang madunya
lebih erat. Angin semilir yang lembut justru menikam perasaan.
Sendiri. Sepi. Setelah sekian lama menanti jawaban, Rinai perlahan
menunduk. Pegal, kepalanya lelah mendongak.
Kalau anak-anak lain punya Ayah, kenapa ia tidak? Kalau anak-anak
lain punya Bunda, kenapa ia tidak? Ia sungguh tidak berharap banyak,
ia hanya ingin malam ini, saat puasanya untuk pertama kali genap
sebulan, ia ingin bercerita dengan bangga pada Ayah-Bunda. Tidak
berharap hadiah seperti yang lain. Rinai hanya ingin bercerita. Setelah
itu mereka pun boleh pergi lagi.

6|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

Mengapa tidak ada yang bisa memberikan penjelasan padanya atas
permintaan yang amat sederhana ini? Wahai, mengapa tidak ada yang
bisa menjelasakannya....
Satu bulir air akhirnya merekah, menggelayut di pelupuk mata Rinai.
Pelan kristal air itu bergulir menggelinding. Membentuk parit di pipi.
Membentuk gurat kemilau di lesung. Tetes air itu terdiam sejenak di
dagu. Menumpuk. Membesar. Kemudian dalam gerakan lambat yang
pilu, terlepaskan. P-e-r-l-a-h-a-n.
Deras menghujam tanah di bawah kakinya.
Mengapa ya, Tuhan? M-e-n-g-a-p-a?
Dan sempurna saat bulir pertama air mata Rinai jatuh, seketika petir
menyambar terang menyilaukan. Disusul guntur menggelegar
mengaduk-aduk perasaan. Sempurna ketika air mata itu meresap di
atas tanahMu, langit entah dari mana datangnya sontak terkepung
oleh awan hitam-pekat. Bagai ada yang amat jahil menuangkan tinta
hitam ke dalam beningnya kolam. Gelap-gulita.
Langit indah terusir sudah. Bintang-gemintang lenyap tak berbekas,
digantikan angin kencang menderu-deru yang membuat deretan
pohon nyiur di pantai meliuk-liuk. Semuanya amat mendadak. Datang
begitu saja. Dan sekejap, hujan turun dengan lebatnya. Membasuh
kota kami.
Karnaval di jalanan rusuh-bubar. Orang-orang pontang-panting
berlarian berlindung. Beduk-beduk di atas mobil ditinggalkan. Galon
plastik dilempar sembarangan. Sarung-sarung jadi payung darurat.
Peci miring semakin miring. Sibuk menghindari hujan aneh yang

7|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

entah bagaimana pula tiba-tiba datangnya. Beberapa dari mereka
malah mulai mengomel. Lihatlah hujan ini merusak malam takbiran
yang meriah.
Rinai tidak berlindung. Ia tidak menghindar. Ia tidak mengomel.
Gadis kecil itu masih diam mendekap erat bonekanya, mencoba
melindungi teman sejak kecilnya itu. Badan Rinai kuyup sekuyup
hatinya. Kepang rambutnya menggelayut lemah di sela-sela telinga,
basah sebasah perasaannya. Terisak.
Kak Amel marah tadi sore. Rinai menyesal telah menggangu Kak
Amel. Bukankah Kak Amel sudah amat baik selama ini. Banyak
bercerita. Selalu tertawa. Mengajarkan semua. Kenapa Rinai malah
sibuk bertanya soal Ayah-Bunda. Kenapa Rinai bertanya hal serupa
itu sepanjang bulan. Hei, malah sepanjang tahun, setiap hari, seperti
minum obat.... Seharusnya Rinai justru membantu Kak Amel mem-
bawa paket-paket yang terkirim ke ruang tengah Panti. Menumpuknya
jadi rapi. Bukankah Rinai anak yang baik.
Tetapi ia terlanjur menonton salah satu stasiun teve siang tadi.
Melihat kebahagiaan mereka yang menyambut lebaran bersama
keluarga. Pergi bersama shalat Id di lapangan. Menggelayut manja
naik ke bahu Ayah. Berpegangan tangan, berjalan bersisian dengan
Bunda. Mengenakan kerudung putih.
Rinai menangis lagi. Urusannya malam ini amat sederhana. Ia rindu
Ayah-Bunda. Ia ingin Ayah-Bunda. Maka kuasa langit seketika
menjawabnya. Dengan amat sederhana pula. Karena ketahuilah....

8|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

b uk u. “Sejak kapan?” Salah satu dokter bertanya. “Baru saja. Suster itu berseru antusias. Mukanya riang. Tiga dokter spesialis terhebat sekaligus paling terkenal di Ibukota. Suster yang setengah terkantuk menunggui tersentak. Bergegas memeriksa puluhan belalai peralatan medis yang menghujam ke tubuh pasien di atas ranjang. Buru-buru meraih telepon di atas meja. ®LoveReads Di detik. Matanya berbinar-binar.bl ogs p ot. Setelah sekian lama menunggu. kota kami selalu turun hujan lebat ketika gadis kecil berkepang dua itu menangis. Ini justru benar-benar kejutan. Tulisan hijau di mesin medis berdengking. tiga orang dengan seragam putih-bersih bergegas mendekat. Selang beberapa detik. Dok.com . Segera menghubungi dokter di ruang jaga. Orang yang terbaring di ranjang itu umurnya berbilang enam puluh. Rambutnya mulai putih-beruban. Itulah rahasia kecil Rinai. Ribuan kilometer di rumah sakit terbaik Ibu-kota dengan segenap fasilitasnya. Tidak ada yang salah.Malam itu dan juga sepanjang tahun ini. dan jam yang bersamaan. Naik-turun lagi. Semuanya oke. Mencatat. Buru-buru memeriksa layar hijau yang tergantung di dinding. Dia sepertinya membaik. Tangisnya mengundang hujan. menit.” Bertiga dokter itu sibuk memeriksa. Naik-turun. Akhirnya sedikit kabar baik tiba. Dan dari sinilah semua kisah mengharukan ini bermula. Gurat wajahnya meski keras dan 9|R a tu. Berkedip lagi. Berkedip.

Enam lagi malah baru akan datang minggu depan dari Swedia dan Perancis. Pemilik kongsi bisnis yang sedang sekarat. Pria pemilik kongsi bisnis terbesar yang pernah ada.b u k u . Yang sayangnya. Pria pemilik imperium bisnis yang menggurita. Seharusnya ada enam. Malam ini kebetulan hanya tiga dokter itu yang siap-siaga berjaga. Sudah enam bulan pasien itu dirawat di ruang VVIP rumah sakit. sekarang ter- baring tak berdaya dibelit infus dan banyak selang. Tubuhnya meski gempal dan kekar sekarang terlihat kurus dan lemah. Bagaimana tidak? Semua berkepentingan menyelamatkan nyawa orang tua di atas ranjang. Bukan main. Benar-benar tim medis yang hebat.dingin sekarang terlihat kuyu dan pucat. c o m . ®LoveReads 10 | R a t u . b l o g s p o t .

matanya membesar.b u k u .. “AKU TIDAK MELAKUKANNYA!” Rehan melawan. 11 | R a t u .Bab 2 Aku Rehan “APA yang telah kau lakukan?” “Aku tidak melakukan apapun?” Rehan. bagaimana mungkin kau berani- beraninya mencuri?” Pria setengah baya yang bertugas menjaga Panti itu melotot. Rehan memutuskan membisu. Jawab anak bangsat!!” Rehan menunduk. Mengangkat bilah rotannya tinggi- tinggi. Tangan Rehan mencengkeram saku celana. Bersiap menerima pukulan. Mendesiskan kebencian. berteriak bahkan. Merasa tidak berdosa. Mengancam. c o m .” Pecut rotan itu semakin dekat. Menggigit bibir. “Mengaku atau kupukul?” “Aku tidak tahu-” “Mengaku atau kupukul!” Rotan itu teracung ke depan. meski hatinya mengucap sumpah-serapah. bukan? Mengaku pun dia tetap dipukul. Lantas tangannya cepat menyambar sebilah rotan di atas meja. Percuma. “Dasar pencuri! Ini bulan suci. remaja tanggung berumur belasan tahun itu menyeringai. “Kau sembunyikan di mana semua bungkusan? Ayo jawab. Diam. Penjaga Panti semakin jengkel. B-a-n-g-s-a-t? Siapa yang sebenarnya bangsat? Penjaga Panti sok-suci inilah yang bangsat.. b l o g s p o t . Tidak ada bedanya. “Mengaku atau k-u-p-u-k-u-l!.

baginya ucapan dari mulut penjaga Pantilah yang menyakitkan. Dia tidak akan menangis. melepuhkan kulit. Teriakannya berarti kesenangan bagi penjaga Panti. Dia tidak akan berteriak.b u k u . Satu kali. Rehan mencengkeram celananya lebih kencang. Sudah biasa. Hampir tiap hari dipukul penjaga Panti. kau membalas semua kebaikan dengan perangai bejat. “Dasar anak pungut tidak tahu malu! Kau sembunyikan di mana bungkusan-bungkusan itu? Kecil-kecil sudah jadi bajingan! Persis seperti Ayah-Ibumu!” Tiga kali! Anak itu meringis. c o m . Simbol kemenangan penjaga Panti. Jengkel karena bagai memarahi bongkol pisang yang diam seribu bahasa. Dulu saat dia dituduh merusak tasbih penjaga Panti. 12 | R a t u . Matanya berair. Sakit sekali. Baginya bukan pukulan bilah rotan di pantat yang menusuk hati. Tidak. b l o g s p o t . Dua kali. Di mana kau sembunyikan semua bungkusan itu?” Penjaga Panti semakin marah. Menggigil kesakitan. Sejak itulah Rehan bersumpah tidak akan menangis setiap dipecut lagi. Sakit. “Harusnya kubiarkan anak bangsat sepertimu tetap di jalanan!! Harusnya kutolak mentah-mentah saat bayi merahmu diantar ke Panti! Sekarang. Muka Rehan memerah menahan rasa nyeri. Tidak dipedulikan.Bilah rotan itu tanpa ampun meluncur ke pantat. dia bahkan sampai sakit selama seminggu oleh pecut rotan. Mana bisa menahan pecutan pedas di kulit. Apalagi celananya lusuh dan tipis pula.

Lima. “Malam ini kau tidak boleh masuk rumah. Tertatih. Dia dihukum menunggu di luar bangunan Panti. Hingga kau mau mengaku di mana semua kiriman parsel itu kau sembunyikan. anak panti asuhan yang sekamar dengannya. seolah-olah tidak terjadi apapun di kamar masing-masing. Lantas mematung. Berusaha mengendalikan diri.. setengah cemas. beringsut kembali. Tidak ada baju baru. Diar.Empat kali. melangkah keluar ruangan. “Biarkan bangsat itu berbuka dengan air hujan! Atau kau mau bersamanya di luar??” Diar menunduk kecut.. Bersitatap satu sama lain. Penjaga Panti tersengal menahan gerakan tangannya. c o m . Cukup. Tidak ada makanan.b u k u .. Anak-anak lain yang sejak tadi berebut mengintip dari lubang jendela buru-buru berlarian saat penjaga Panti masih dengan kemarahan yang sama menyapu lubang-lubang itu dengan tatapan galak.. Tidak ada semuanya. Mendelik mengancam Diar dengan pecut rotan. Maka Rehan tidak bisa berbuka bersama dengan anak-anak Panti lainnya sore itu. Menyeka keringat di dahi. setengah takut. berusaha menyerahkan sebungkus roti tawar dan segelas cendol melalui balik pintu. Lima kali pecutan cukup. hari ke-30 puasa.. KELUAR!” Merah mata penjaga Panti mendelik. Sayang. Menghela nafas dalam- dalam. Rehan menyeringai benci. 13 | R a t u . setengah jam kemudian berbaik hati menyelinap ke halaman Panti. penjaga Panti keburu tahu. b l o g s p o t . Mereka tunggang-langgang lari di koridor. Kemudian mendorong remaja tanggung itu keluar dari ruang kerja-nya.

Rehan berbuka dengan air hujan dari langit. Hujan semakin deras. lantas meminumnya.b u k u . Penjaga Panti terlelap. Uangnya? Habis untuk bermain-main di sudut terminal. b l o g s p o t . pelan Rehan masuk ke kamar tempat kiriman hadiah lebaran itu ditumpuk. c o m . Panti asuhan yang sama. berusaha menampung air hujan yang turun dari genting. Pagi- pagi buta menjual semua barang itu ke penadah di Pasar Induk dekat Panti. Sama persis waktunya ketika Rinai tertunduk menangis malam ini di ayunan jambu klutuk. Sama selalunya dengan mencuri sisa makanan sahur di siang hari. Dia melangkah gontai menuju sudut-sudut atap bangunan. maka dengan mudah Rehan mencuri baju koko. Berbuka? Sebenarnya Rehan tidak pernah puasa selama sebulan ini. Juga ikut-ikutan duduk di lepau-lepau terminal. Menjulurkan tangan. sarung. Dia memang selalu ikut sahur di malam hari. malam takbiran. Puluhan tahun silam. Saat teman-temannya berpesta dengan semur daging dan belahan ketupat dari tetangga. ®LoveReads Semenjak sore. Sekecil itu dia sudah belajar berjudi. kota kami diguyur gerimis. Semalam ketika dua belas penghuni Panti tertidur nyenyak. Paket-paket kiriman? Itu juga dicurinya. Hanya terpisah oleh waktu lima puluh tahun. Juga sepanjang bulan suci tahun-tahun lalu. Kemudian sore harinya pura-pura memasang wajah kelaparan ikut berbuka bersama yang lainnya.Hari itu. Malam semakin matang. Di waktu yang sama. 14 | R a t u . dan kopiah.

b u k u . Buat apa? Setiap hari hanya dipukuli? Dimarahi? Setiap hari hanya jadi kuli? Lihatlah. Kedinginan. b l o g s p o t . hujan deras yang turun sejak sore mengurungkan niat banyak orang berpergian. Mana pernah bungkusan itu dibagikan ke mereka? Sama seperti sumbangan dari dermawan lainnya. Pengamen. Rehan menggigil di bawah selasar atap yang bocor. setengah lembab (yang terkena tampias air hujan). Penjaga Panti itu mau naik haji. Dan dia mulai menyumpahi penjaga Panti yang sok-suci itu. Sendiri. c o m . Sepi. televisi. Tampias air hujan membasahi separuh tubuhnya. Bangsat. Peduli amat dari mana uangnya berasal. Sudah sejak lama dia jijik tinggal di Panti itu. Penjaga Panti itulah yang sesungguhnya bajingan- penipu. Dasar maling! Rehan mendesis benci. Hanya suara takbir dari speaker mesjid. Apa yang orang-orang bilang? Penjaga Panti itu sejak lama me- nyimpan mimpi secara berlebihan. setengah terkantuk. Ada yang jadi asongan di terminal. Apa kata orang-orang? Akhirnya tahun ini jadi juga dia naik haji? Bah. atau kotak radio yang terdengar. Mimpi yang membuatnya mati- matian mengumpulkan uang untuk dirinya sendiri. Sok-mulia. Rehan mendesis mengkal. akhirnya cukup sudah semua sumbangan dermawan itu. Suara gemeretuk air di atap membuat senyap perasaan. Sok- baik. Dimakan sendiri olehnya. 15 | R a t u . dia dan dua belas anak panti lainnya terpaksa bekerja. uang sumbangan itu hilang entah ke mana. Badannya setengah kering (yang menempel ke dinding).Malam ini tidak ada karnaval takbiran. Tukang semir.

Menguap lebar. c o m . Baiklah. Pelan jatuh tertidur.Omong-kosong soal sumbangan. Itu sungguh ide yang bagus. Kehidupan bebas. Dia bisa hidup sendiri di jalanan. Belum lagi harus menerima omongan kasar penjaga Panti setiap hari. Semuanya dijatah. Tidak ada uang tinggal mencuri. ®LoveReads 16 | R a t u . Sebebas yang dapat dibayangkannya. Tidak ada gunanya tinggal di sini. b l o g s p o t . Dasar sok-suci. Rehan menyeringai senang memikirkan ide itu. Maka Rehan tersenyum puas.b u k u . besok pagi-pagi setelah membalas kelakuan penjaga Panti dia akan pergi. Buat apa mereka bekerja jika banyak orang yang memberikan bantuan ke Panti? Belum lagi makanan yang dijatah. Tidak ada makanan tinggal me- maksa.

Tetapi seperti ada yang tiba-tiba kembali dalam tubuhnya. Takut kalau-kalau dokter tadi berubah pikiran. Jawabannya pendek. Memeriksa seluruh belalai yang terhujam ke tubuh pasien setiap lima menit.. bertanya kapan ia pulang. salah satu dari tiga dokter yang memeriksa pasien di atas ranjang -pemilik kongsi bisnis terbesar yang pernah ada -tersenyum ke arah suster yang terlihat lelah. Kau bisa meninggalkannya. b l o g s p o t . Melototi layar hijau penanda kehidupan pasien. Sungguh boleh pulang? Sekarang? Asyik! Ia mengangguk sopan. Bergegas.Bab 3 Aku Pasien “PULANGLAH! Istirahat.. Selarut ini bungsunya pasti sudah terlelap.. Tidur di antara tumpukan boneka dan mainan.” Dokter senior.” Melirik jam di pergelangan tangan.” Dokter itu memotong kecemasan. Lantas beringsut keluar dari ruang kaca. Tak ada yang perlu dicemaskan. Pekerjaan yang melelahkan.. Semua organ vitalnya mendadak berfungsi kembali dengan baik. Sayang. “Aneh memang.b u k u . c o m . Besok hari raya.” Tidak perlu dua kali dikatakan. suster itu segera menyeringai senang. tersenyum lagi. “Siapa yang akan menjaga-” “Dia akan baik-baik saja. Sudah sejak pagi ia non-stop bekerja di rumah sakit itu. Lelah menunggu ia dan 17 | R a t u . Lagipula malam ini kami akan terus berjaga.. “Tunggu Mama sebentar lagi. Lima kali bungsunya yang baru belajar menggunakan telepon genggam sepanjang hari menelepon.

mereka melangkah keluar ruangan. sahut-menyahut. Untuk terakhir kalinya memeriksa pcnindai medis yang melilit tubuh pasien. Bising sekali. Hei? Ini cahaya matahari. Memastikan semuanya baik-baik saja. M-a-t-a-h-a-r-i? Dimanakah dia? Bukankah terakhir kali yang dia ingat tubuhnya jatuh terjengkang enam bulan lalu? Jatuh begitu saja bagai daun tua kering- menguning? Bukankah waktu itu Jo dan puluhan stafnya pontang- panting menandu melarikannya ke rumah sakit? Ini rumah sakit? Bukan.b u k u . Matanya silau oleh cahaya. Silau. Lampu kamar tidurnya? Bukan. Suara klakson mobil berdengking.. Semuanya oke. Benar-benar kejutan. Dokter senior di dalam ruangan VVIP melipat buku catatan. Cahaya menyilaukan ini bukan cahaya lampu.. Berkerjap-kerjap. 18 | R a t u . Saat hujan masih buncah membasuh kota kami. Lantas tanpa bicara. Lampu ruangan rawat-inapnya? Bukan. Bergegas membawa kardus-kardus. Saat itu semua. Kembali ke ruang jaga. Melanjutkan bermain kartu truf. Saat suster itu melambaikan tangan ke arah taksi biru yang dua-tiga berderet rapi di lobi rumah sakit. Progress yang menarik. Temannya mengangguk pendek. Lampu meja operasi? Bukan. c o m . b l o g s p o t . Orang berlalu- lalang. Perlahan mata pasien berumur enam-puluh tahun itu terbuka.suaminya pulang kerja. Saat ketiga dokter itu kembali tertawa-tawa berbincang sambil bermain kartu di ruang jaga yang mewah. Menoleh ke arah dua mitra kerjanya. Dia justru sedang berdiri di tengah keramaian. Kantong-kantong plastik.

Sama sekali tidak berubah. Metromini butut berwarna merah dengan asap knalpot hitam. Muka-muka lelah. Ruko-ruko berjejer. Muka-muka kilat-mengkilap oleh keringat. Peminta-minta dengan kaki pura- pura pincang itu. toilet umum terminal itu. gerombolan pengamen itu. Petugas parkiran meniupkan peluit kencang-kencang. Sudah lama. Debu mengepul. Ibu-anak dekil yang selalu berdiri di bawah gerbang bobrok. Sempurna seperti memori otaknya pertama kali merekam tempat ini bagai selembar foto dulu. Dan toilet. Menelan ludah. Pedagang minuman tertatih membawa ember yang penuh air mineral. Asap knalpot membuat sesak. Bentakan ke angkutan yang sembarangan berhenti. Menara terminal yang kusam dan bau pesing. soft-drink yang terbenam dalam bongkahanes. Penjaja tissue menggoda pembeli. c o m .b u k u . b l o g s p o t . Pasien itu terkesiap. sembarang-an melaju. Lepau-lepau. lama sekali. Persis. Apakah ini mimpi? ®LoveReads 19 | R a t u . Tetapi dia mengenalinya. Di manakah dia? Bukankah ini TERMINAL? Terminal antar kota yang amat dikenalnya? Bagaimana mungkin? Kapan terakhir kali dia ke sini? Sepuluh tahun silam? Dua puluh? Tidak ingat. Lihatlah. Beberapa penjual koran melesat lincah.Tas-tas ransel.

Jaket kulit. Dia sibuk mengamati orang-orang yang keluar-masuk toilet. “Di dalam sini tinggal sedikit. Seperti biasa. “Hari ini ramai?” “Sepi. Padahal rasanya baru sebulan lalu. Sepatu kulit. 20 | R a t u . Hari ini Rehan justru datang begitu saja ke toilet terminal yang ditunggui Diar. mungkin hanya gelang kayu. Gelang besi? Entahlah. TATO? Gambar apa? Tidak jelas.” Diar menunjukkan kunci kotak di sakunya. Bajunya meski kotor terlihat gaya. Diar ingat sekali. Menatap ingin tahu Rehan yang duduk jongkok di depannya. Penampilan Rehan amat berbeda sekarang. b l o g s p o t . Rehan kabur dari Panti setelah mencuri brankas milik penjaga Panti persis di hari raya. Matanya sedang tidak memperhatikan Diar yang bertanya. tadi uang yang setengah hari sudah diambil petugas. Memaksa membuka kotak uang. Lengannya ditato. memperhatikan pakaian Rehan di depannya.b u k u . Berhitung dengan sesuatu. Rambut Rehan di buat jingkrak macam duri landak. Diar hanya menangkap sekilas saat Rehan menggaruk sikunya. dia menghilang. Sejak hari itu. c o m . Dicat pula. “Kau sudah dapat setoran berapa?” Kasar Rehan melangkah men- dekati meja tunggu Diar. Terkunci.” Diar menjawab pendek. Sebulan lalu. Rehan mengangkat bahu.Bab 4 Aku Diar “KAU kemana saja sebulan ini?” Diar bertanya pelan. Semua orang sibuk mencari-carinya.

21 | R a t u . Preman? Rehan-lah yang selama ini selalu memaksa mengambil uang dari kotak. c o m . Rehan tidak pernah mengembalikan uang yang diambilnya dari kotak uang toilet. Diar bisa saja mengambil jatah lebih dari upahnya yang hanya tiga ribu perak perhari dari kotak uang ini.b u k u . Makanya sebulan terakhir petugas terminal memasang kunci di kotak uang. tukang pel toko. Dasar bodoh. bekas buang air besar. Bodoh. Rehan mendengus. Diar menggeleng. atau semacamnya. Berangkat pagi-pagi. b l o g s p o t . Tetapi Diar selalu saja jujur menyerahkan semuanya. Mulut Diar tertutup. Menyikat bekas kencing. Agar preman terminal tidak memaksa mengambil uang dari kotak tersebut. Tidak ada yang tahu. Diar buru-buru mencegah. Dulu saat penjaga Panti menyuruh anak-anak memilih pekerjaan yang akan mereka lakukan. Membuka paksa kotak. Melotot. “Kau tidak menyimpan uang lain?” Rehan bertanya tajam. Tidak mengerti. Rehan kasar meraup uang logam di dalam kotak. Tidak pernah. “Jangan-” “Nanti aku kembalikan. Menelan ludah. Diar malah memilih menjadi penjaga toilet umum terminal.Rehan menyambarnya. Nanti sore dia sekali lagi terpaksa berbohong ke petugas terminal. bukannya memilih menjadi pedagang koran. Selalu saja bodoh. sisa najis orang lain.” Rehan mendesis. Dan Diar sedikit pun tidak mampu mencegahnya. Pulang sore-sore. Hanya ada empat-lima keping uang logam di dalamnya.

menatap Rehan lamat-lamat. c o m . Dia hanya mencari barangnya yang hilang. “Pergi kemana?” “Pergi dari penjaga Panti sok-suci itu. “Kau tinggal di mana sekarang?” 22 | R a t u . Diar terdiam lagi. Kata orang-orang. Menghela nafas pelan. Cerita-cerita Rehan. Rehan enam belas.” Rehan memotong. Rehan sudah pergi. Sedangkan Diar yang kurus. Pagi itu. Membuat rambut jingkraknya bergerak-gerak. “Sebulan ini. Dia tahu banyak tabiat buruk Penjaga Panti. saat mereka kembali dari shalat hari raya di lapangan. Menatap kecut bilah rotan yang terangkat tinggi-tinggi. Memasukkan empat keping uang logam lima ratusan di dalam saku. Meninggalkan masalah yang serius. Tidak peduli. Saat itu Diar tahu. Ringkih.” Rehan tertawa.b u k u . Saat mereka berdua-belas meringkuk ketakutan di ruang depan menyaksikan kemarahan penjaga Panti. Pertumbuhan fisik mereka yang berbeda membuat perbedaan usia itu semakin kontras. Mereka berbeda umur hampir empat tahun. Rehan yang tumbuh pesat terlihat seperti pemuda tanggung. Mereka teman sekamar di Panti. berperawakan kecil terlihat lebih muda dari usianya. tertawa lebar.. penjaga Panti sibuk mencarimu.” “Omong kosong! Dia tidak sungguh-sungguh mencariku. Diar menelan ludah.. “Pergi!” Rehan menjawab pendek.“Kau kemana saja sebulan ini?” Diar bertanya lagi. Diar dua belas. tangannya pelan mengunci kembali kotak. sebulan lalu.. Dia tahu banyak soal itu. Penjaga Panti sok-suci? Terdiam. b l o g s p o t .

Rehan mendengus. Dipukuli. Juga sepatu keren yang dipakai Rehan. Sepertinya terdengar amat menyenangkan. Diar urung bertanya lagi. tapi Diar buru-buru membuka kotak uang. b l o g s p o t . Mungkin karena 23 | R a t u . Mem- berikan uang seribuan. Menyentuh jaket kulit yang dikenakan Rehan. Mencari sekeping uang logam lima ratusan yang tersisa. Kemarin saja saat dia sibuk bertanya soal Rehan. Dia tidak dipukul. tersenyum. Kau bisa makan semau-maunya. setelah sekian detik mengamati jaket kulit tersebut. Orang itu tidak meminta kembalian. Selama ini dia juga tidak pernah di lecut dengan bilah rotan itu. c o m . Tidak. Bekerja jadi jongos seperti ini. Rehan mendengus. Memasang gaya. “Tentu saja. satu orang keluar dari petak toilet. Tidak ada yang memaksamu bangun shubuh-shubuh.” Diar menjulurkan tangannya. Menyeringai. Menyebut seluruh keburukan Panti. Buat apa coba Diar sibuk-sibuk memberikan kembaliannya? “Apa kau baik-baik saja?” Diar bertanya setelah duduk kembali di kursi kecilnya. Dimarahi.“Di mana saja.” Rehan menjawab pendek. Dasar bodoh. Kau bisa tidur semau- maunya. “Jaket yang bagus.b u k u .” Rehan berkata ringan. Diar menelan ludah. lihatlah orang itu menerima kembalian tersebut tanpa ekspresi berterima-kasih. “Makan?” “Kau pikir hanya penjaga panti itu yang bisa memberi makan?” Rehan menjawab ketus. “Apa tinggal di luar Panti semenyenang- kan ini?” Diar bertanya pelan. penjaga Panti membentaknya lima menit. kau lihat sendiri.

ke warung makan. Sementara Diar sibuk berpikir sendiri. “Berikan kursimu!” Rehan berbisik ke Diar. Ada tiga kamar mandi di toilet terminal. Mengaduh. Kursi? Buat apa? “Cepat!” Rehan mendesis memaksa. Terdengar buncah air dari dalam kamar mandi. Di bahunya tersampir handuk besar. Mengukur. Rehan selalu penting. Dia 24 | R a t u . b l o g s p o t . menyuruh diam. Rehan sibuk melotot menatap pengguna toilet yang baru masuk. Sopir bus antar-kota. mungkin pula karena dia selama ini tidak pernah banyak ulah. mengatakan kalimat itu sambil menatap Rehan seperti seorang adik yang menatap kakaknya. Sopir bus antar-kota itu nampaknya sudah mulai mandi.tubuhnya yang ringkih. Badan besarnya memaksa Rehan beringsut merapat ke meja. Selalu rajin menyetor uang tiga ribu perak. Berhitung. Rehan. Rehan entah kenapa tiba-tiba tersenyum penuh arti saat melihat orang itu hilang dari balik pintu kamar mandi. Rehan menarik kursinya.. Kasar. Rehan sedang mematut-matut. Apalagi dengan semua kesulitan yang timbul dari penjaga Panti. “Mandi dulu.. memecah diam. Kaki-kaki kursi menyenggol kaki-kaki Diar.. Diar patah-patah berdiri. Apalagi bagi Diar.b u k u . Rehan tidak peduli. Ya. Hening sejenak. Malah melambaikan tangan. anak-anak di Panti itu sudah bagai keluarga. Lay!” orang itu berteriak ke seberang. “Kami rindu kau. Diar menatap bingung. Lantas menyibak lorong toilet yang kecil.” Diar menggigit bibir. Sayang yang ditatap menyeringai tidak peduli. c o m .

tapi saat tahu celana jeansnya yang penuh dengan uang setoran 25 | R a t u . “Kembalikan. Meletakkannya persis di depan pintu kamar mandi tempat sopir bus tadi..” “MINGGIR!” Rehan membentak Diar. c o m . Gerakan Rehan lebih cepat. Diar seketika mengerti apa yang akan dilakukan Rehan. Berusaha mencegah. Bangunan toilet terminal itu seadanya. Kemudian gesit loncat dari kursi. Rehan kasar mendorongnya. Lamban sekali kesadaran itu datang. Diar bandel tidak bergeser dari lorong toilet.. “Jangan....” Diar menahan tubuh Rehan yang hendak lari. waktunya sempit. Dan sekarang melalui celah itulah. Jangan lakukan. daun pintu kamar mandi tidak sempurna menutup bingkai pintu. berdiri di atas kursi.b u k u . Berdiri menghalangi..” Diar yang dari tadi hanya menatap bingung buru- buru melangkah masuk. Berdebam. Celana jeans itu dalam sekejap sudah di tangannya. “Jangan lakukan! Aku mohon. b l o g s p o t . Keributan segera menjalar dengan cepat di toilet terminal itu.bergegas menjinjing kursi itu ke dalam lorong toilet. Rehan dengan cepat menjulurkan tangan. Maka tanpa pikir panjang. Ada celah dua puluh senti di atasnya. “WOIII! SIAPA YANG AMBIL CELANAKU!” Sopir bus yang rileks bersenandung menyadari sesuatu demi men- dengar suara gedebuk di luar. Harus segera kabur sebelum sopir bus yang lagi asyik mandi tahu celananya sudah raib di gantungan. Berusaha mengambil celana sopir bus yang disangkutkan ke gantungan paku di daun pintu. Diar mengaduh. Tubuh ringkih itu menghantam pintu kamar mandi. Rehan mana peduli.

ini teman pencurinya? Dan satu orang lagi hendak berlari keluar dari dalam toilet. Karena itu berguna. memori otaknya merekam setiap celah untuk kabur. Rehan tahu persis seluruh isi terminal. Bagai selembar foto. Panik dan beringas mendorong pintu kamar mandi. dia benar-benar kalap. Kenapa tertawa? Mentertawakan siapa? Dia melihat ke bawah. lantas berdiri salah-tingkah di depan toilet umum. Itu pencurinya? Satu anak lagi lari menyusul beberapa detik kemudian. c o m . Satu anak berlari terbirit-birit membawa celana. Penting menghafalnya. Berlari menyusul Rehan. Busa sabun berjatuhan dari tubuh telanjangnya. Sopir bus yang keluar dari toilet umum lupa kalau dia tidak mengenakan apapun saat hendak mengejar Rehan. Diar yang terjatuh didorong Rehan mencoba berdiri. Menatap orang-orang disekitar yang tertawa.. Yang dikejar sudah melesat menghilang di sela-sela jejeran toko terminal. ®LoveReads 26 | R a t u . Orang-orang segera berkerumun saat mendengar teriakan-teriakan di depan toilet.b u k u .selama seminggu sudah hilang di paku gantungan. Ada apa? Pencuri? Apa yang dicuri? Bertanya-tanya satu sama lain. Memandang tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kerumunan ingin tahu itu mendadak buncah oleh tawa. b l o g s p o t .. Sopir bus itu mendadak terhenti dari larinya.

Hangat? Bukankah seharusnya siang-siang begini terminal terasa menyesakkan? Peluh mengucur membuat resah? Mata merah terkena debu.b u k u . Seperti melewati batu besar. Tetapi mengapa sinar matahari justru begitu menyenangkan baginya? Angin malah bertiup semilir pelan. Sedang tersenyum amat hangat. Sejuk. Seseorang yang sekaligus menegurnya dengan ramah. Kepalanya sudah terlanjur dipenuhi oleh pertanyaan: siapa? Siapa orang yang menepuk bahunya? Hei. c o m . Apa- lagi penjaja koran. membuat anak rambut bergoyang lembut. Orang ini? Malah begitu ramah menegurnya. Seseorang yang sama sekali tidak dikenalinya. Ray?” Pasien berumur enam puluh tahun itu buru-buru menoleh. Sehangat matahari terminal. Pasien itu sayangnya tidak sempat bertanya mengapa suasana terminal terasa menyenangkan-yang kenapa pula baru disadarinya sekarang. b l o g s p o t . Peminta- minta tidak menjulurkan kantong kosong-kusam bekas permen. Lewat begitu saja.Bab 5 Aku Terminal Kota “APA yang kau tertawakan. Seperti dia tidak sedang berdiri di situ. Rambut bau terpanggang teriknya siang. 27 | R a t u . Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dengan lembut. bukankah dari tadi dia berdiri di terminal ini orang-orang yang berlalu lalang sedikit pun tidak menghiraukannya? Pedagang minuman tidak menawarinya air mineral dingin.

b l o g s p o t . “Ah.Lihatlah.” Orang itu menjawab sendiri pertanyaannya. Sementara yang diajak bicara masih menatap tidak mengerti. bukan?” Orang yang berdiri di sebelah pasien itu tertawa kecil. “Siapa kau?” Pasien itu menelan ludah. Pasien itu tidak sempat memperhatikan lebih lanjut. mukanya terlihat seolah bercahaya oleh gurat kearifan. Dia benar-benar takut saat menyadari banyak hal. Cara yang tidak lazim. tentu saja banyak yang sedang kau tertawakan. Buruk. Ray?” Orang itu bertanya lagi. Merasa bebas. tersenyum riang. meskipun harus ku-akui kau mengisi sepotong tempat menyenangkan itu dengan cara yang berbeda..b u k u . Matanya bundar. c o m . “Apa yang kau tertawakan. Lebih ramah. Dengan intonasi takut-takut. Tetapi peduli apa? Yang penting kau menemukan sepotong tempat untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan.. Seperti sahabat lama. Rambutnya beruban.. Takut? Pasien itu tiba-tiba mengkerut. terpotong oleh teguran berikut. akhirnya pertanyaan itu terlepaskan. Menatap akrab. Pakaian yang aneh. Samalah dengannya. Giginya putih rapi berjejer kecil-kecil. sempurna hitam. Merasa memiliki hidup dan ke- hidupan. Bukankah tempat ini adalah tempat pertama kalinya kau merasa senang. “Tahukah kau? Ada banyak orang-orang yang tidak pernah menemu- kan tempat itu. Maka kau beruntung. Tempat dia benar-benar merasa bahagia. Jubah? Bukan. Mengena- kan baju berwarna putih. Dia ternyata bisa bicara? Bagaimana mungkin? 28 | R a t u . Beruban? Usianya mungkin berbilang enam puluh tahun.

Apa maksudnya? Dan astaga. Mengenang masa lalu. Bayangkan. “Sama sepertimu. dia juga bisa berdiri dengan kedua belah kakinya? Dari tadi berdiri tanpa tongkat? Bukankah berbulan-bulan juga kakinya lumpuh total? “Aku? Percuma. Mengenang masa lalu? Tempat yang menyenangkan? Tiba-tiba berada di terminal ini saja sudah membuatnya bingung. seminggu masuk rumah sakit. Apakah dia sudah mati? Di manakah ini? Bukankah terminal yang dikenalnya puluhan tahun silam sudah lama rata. dia menjalani kehidupan bagai rumus aljabar: sehari sehat. apalagi bertemu dengan orang aneh ini.b u k u . Senyap sejenak. b l o g s p o t .” Pasien berumur enam puluh tahun yang dipanggil Ray itu menggigit bibir. 29 | R a t u . bagai-mana orang ini tahu namanya? Bukankah dia sekarang seharusnya berada di rumah sakit? Terkapar dengan ber- bagai komplikasi penyakit yang dideritanya enam tahun terakhir? Penyakit yang membuatnya susah berkepanjangan. “Apa yang kau lakukan di sini?” Bertanya gentar. Bingung menggantang langit-langit terminal. Berganti gedung menjulang tinggi puluhan lantai yang dibangunnya? Siapa orang ini? “Apakah kau malaikat?” Suara Ray terdengar bergetar. sepanjang enam tahun terakhir. Jangan-jangan? Pasien itu mengkerut oleh rasa takut.” Orang itu tersenyum hangat. Ray.Bukankah berbulan-bulan pita suaranya hilang? Astaga. kau tetap tidak akan tahu siapa aku walau ku jelaskan. c o m .

Ray. c o m . Bagaimana mungkin kau tidak mengenali sebuah terminal?” Orang itu memotong. “Apakah ini neraka?” “Bukan.” “Di mana kita?” “Astaga? Ini terminal. Ray!” ®LoveReads 30 | R a t u .b u k u .” “Apakah ini surga?” “Ini t-e-r-m-i-n-a-l.“Bukan. “Apakah aku sudah mati?” “Belum. b l o g s p o t . Tawa yang menyenangkan. tertawa lagi. Bukan tawa yang mentertawakan pertanyaan bodoh.” Orang itu tertawa. Kau belum mati.

Diar lagi-lagi seperti lazimnya berbaik hati sembunyi-sembunyi menyerahkan bungkusan koko dan sarung baru jatahnya. Mata yang sekarang menatap penuh kebencian. Matanya merah karena tidurnya berkali-kali terbangun oleh suara guntur. 31 | R a t u . Bajunya lembab. sisa benci tadi malam. Berbaris rapi dengan baju putih-putih. makanya kami mendirikan Panti ini!” Omong kosong. bayi-bayi mungil. Riang. Selamanya. Tidak peduli.b u k u .Bab 6 Aku Bayi Yang Selamat SAAT anak-anak bergembira memakai baju koko menuju lapangan. Dia diantar enam belas tahun silam. Dan seperti anak-anak lain. bukan datang. Diar berjalan paling belakang. tapi Rehan menatap galak. c o m . Lebih tepatnya mereka di antarkan. Dia seperti dua belas anak lainnya datang ke Panti saat tubuh mereka masih merah. dia tidak tahu siapa orang-tuanya. Satu-dua terlihat tertawa. Tidak terlalu takut meski sedang bersama penjaga Panti. Sebelas anak dan penjaga Panti itu menghilang di kelokan jalan. Masih sibuk menoleh. Rehan masih duduk bergelung. setelah melakukan apa yang direncanakan semalam. Mengusir Diar jauh-jauh. Apa yang sering penjaga Panti bilang ke para dermawan yang berkunjung untuk membujuk memberikan bantuan? “Kami tidak punya anak. Sisa tampias hujan semalaman. Pagi ini. dia akan pergi. Dulu penjaga Panti mempunyai istri yang membantu merawat bayi-bayi. b l o g s p o t . Niatnya sudah bulat. Rehan mengusap muka.

Kurang-lebih samalah dia dengan anak-anak lain. c o m . Kalau pun berbeda peduli apa? Selama lima belas tahun Rehan tumbuh berbeda dibandingkan anak- anak Panti lain. hasil selingkuhan yang tidak diinginkan. Matanya hitam. Kekar. Hampir seluruh anak Panti adalah bayi-bayi yang terbuang. Pasat sekarang tinggal berseberangan kamar dengannya. boleh jadi 32 | R a t u .b u k u . Rehan cerdas. Diar baru datang ke Panti setahun lalu. urusan asal-muasal ini tidak penting. Tarifnya mahal untuk Qolu yang berwajah keturunan. Sedangkan Qolu sudah diadopsi. Itulah pula kenapa nama Diar berbeda. anak bajingan. Ibunya entah hamil karena menjual diri. Menjelang usia enam belas tingginya hampir sedagu penjaga Panti. Berurutan sesuai abjad. dan semacamnya. Badannya gempal. Dua bayi terakhir sebelum Rehan datang diberikan nama (P)asat dan (Q)olu. Fisiknya berkembang lebih cepat. Tertutup rapat. Sejak saat itu. Tidak gemuk. tidak kurus. Baginya.Setahun silam istri penjaga Panti meninggal. Bukan nama-nama sok-suci. Bukan nama- nama sok-indah yang diberikan penjaga Panti. Tetapi asal-muasal Rehan tidak sama. Rambutnya lurus tergerai. pacaran keterlaluan anak muda. tajam. Itu berarti uang tambahan bagi penjaga Panti. Panti hanya menerima anak-anak yang berumur enam tahun ke atas. b l o g s p o t . Kulitnya cokelat-untuk tidak menyebutnya gelap. Termasuk Diar. Penjaga Panti mungkin benar soal anak bangsat. Kalau saja penjaga Panti merasa berkewajiban menyekolahkan anak-anaknya. Rehan tidak tahu-menahu soal itu selama lima belas tahun. panjang menutupi telinga.

Berbantah-bantah. Ada ratusan panti asuhan di kota. Dia sering membantah perintah penjaga. Mulailah secara otodidak dia mencuri makanan di dapur. Rehan mulai belajar berjudi. c o m . Di sana. Menyudutkan.b u k u . Celakanya. Bertanya banyak hal. Membawa tumpukan makanan ke kamar dengan seringai muka penuh kemenangan. kecuali mencicipi makanan atau dekat-dekat dengan dapur. Disuruh mengelap kaca. Langsung dari ahlinya. Perlawanan yang menemui tembok itu berubah menjadi “perang” gerilya. Semakin banyak pecut rotan mendera tubuhnya. sengaja merusak barang-barang dan berbagai perangai buruk bentuk perlawanan lainnya. Semuanya disuruh. Penjaga Panti yang tidak suka melihat anak-anak banyak bicara langsung membungkamnya dengan pecutan bilah rotan. Rehan tumbuh semakin berbeda. Masalah- nya anak-anak di Panti itu lebih banyak meng-habiskan waktu untuk bekerja. Disuruh mencuci piring. kenapa dia harus dikirim- 33 | R a t u . Rehan tumbuh melawan. Sejak umur enam tahun Rehan men-jadi pesuruh di salah- satu rumah makan dekat Panti. itu sekaligus mengajari Rehan hal-hal buruk. Rehan mulai berani mangkir kerja. Uang taruhan? Dia dapatkan dari mencuri. b l o g s p o t . Berbeda dengan anak-anak Panti lainnya yang tumbuh tertekan. Disuruh mengepel lantai.nama Rehan sudah terukir rapi dalam piala-piala kelulusan. Terakhir dia lebih suka duduk-duduk di lepau-lepau yang berderet memenuhi terminal. Dia juga mulai berani mengumpat langsung mengapa dia harus tinggal di panti tersebut. Kepintarannya menjelma menjadi sebuah perlawanan paling logis.

Beberapa bulan silam. Dia punya kunci ruangan tersebut. ketika anak-anak justru lega menghela nafas (karena berarti tak ada hukuman dan omelan dalam waktu dekat). ketika umur Rehan tiga belas. Dia menghela nafas kecewa. Setahun silam saat istri penjaga panti meninggal. Tidak sengaja? Tidak juga. Rehan memaksanya membuat duplikat lebihan. sudah sejak sebulan terakhir dia sembunyi-sembunyi mengaduk ruangan itu. Mengancam Pasat agar tidak mengadu. Penjaga panti yang lelah menunggui istrinya di rumah sakit tidak terlalu mempedulikan hilangnya satu-dua amplop. Rehan memutuskan untuk meng- aduk seluruh isi ruangan. c o m . Satu-dua menimpa wajah Rehan yang menyeringai senang. ketika kesedihan menggantung di wajah penjaga panti. Menyumpahi penjaga panti. Lumayan. Berkali-kali dibilang anak bajingan. Hari itu dia memutuskan untuk mengendap-endap masuk lagi. Rehan tidak sengaja masuk ke ruang kerja penjaga panti. Setahun silam. Membuka laci 34 | R a t u . Dan Rehan juga mulai mencari tahu soal ayah-bunda-nya. b l o g s p o t . ketika selama seminggu penjaga panti pergi entah kemana.kan ke panti sialan itu. Rehan sedang asyik membuka laci tempat dia menemukan amplop-amplop sumbangan seminggu lalu. Masih pagi. Seminggu lalu menemukan amplop-amplop sumbangan dari derma- wan. membuatnya ingin tahu.b u k u . saat Pasat disuruh menggandakannya di tukang kunci yang mangkal di terminal. Mungkin dipindahkan ke laci lain. Kosong! Tidak ada walau selembar amplop. waktu itu cahaya matahari pagi yang lembut menelusup sela-sela krei. Melakukan penggeledahan.

Rehan cerdas. c o m . Rehan mendesis benci. Menghilangkan nafsu amplop-amplop uang. Kebakaran besar lima belas tahun silam. Buru-buru menutupnya. Potongan Koran? Rehan mendesis tidak mengerti. Penuh dengan buku-buku tentang prosesi naik haji. Ada surat dari petugas apalah. Salah-satunya bayi kecil yang ditemukan di pinggir bantaran kali dekat lokasi kebakaran. Mengambilnya. Hanya beberapa orang yang selamat. Kemudian dengan terbata. Catatan kesehatan. Bayi kecil yang menangis pilu. seolah-olah melihat sesuatu yang menjijikkan. Saat itulah ujung matanya tidak sengaja menatap sebuah file dengan kertas kecil bertuliskan nama dirinya di bagian atas: Rehan Raujana. Surat pengantar. b l o g s p o t . melainkan potongan koran.lemari. Terburu-buru Rehan mengeduk file tersebut. Terakhir malah bukan kertas surat-menyurat. Pasar kumuh itu luluh lantak tak bersisa dalam semalam. hasil belajar dengan istri penjaga Panti. Tidak banyak. Rehan hendak menutupnya tidak peduli. dengan cepat meski hanya berdasarkan kertas-kertas dan potongan cerita di 35 | R a t u . Map itu berisi kertas-kertas yang entahlah tidak diketahui persis olehnya.b u k u . mulai membaca. Ada keterangan dari dinas apalah. Hanya lima-enam lembar. Meletakkannya di atas meja. Dipenuhi berkas- berkas yang tidak dikenalinya. Apa yang tadi sudah dibilang. Membuka lembar demi lembar isi map merah itu. Ini berkas apa? Keingintahuan menyeruak cepat. Membuka laci lemari lainnya. Buat apa ada potongan koran dalam map ini? Memutuskan untuk membaca. Seratus rumah musnah.

koran itu kepalanya mendadak merangkaikan penjelasan. Mulutnya carut-marut tidak terkendali. penjaga Panti berubah semakin galak. Fakta itu tidak berguna. Segera mengusir jauh-jauh kenangan setahun terakhir itu. Apa dengan tahu dia lantas merasa berbeda dari anak-anak Panti lain? Lebih baik dari mereka? Bukan anak bangsat! Tidak penting. memasukkannya ke dalam saku celana. tidak banyak yang berubah dari perangai Rehan sejak mengetahui sepotong cerita masa lalunya itu. Memuaskan diri. Kebakaran? Luluh lantak dalam semalam? Apa maksud potongan koran ini ada di dalam map dengan namanya? Pasti ada kaitannya. Pelan mencongkel gerendel bingkainya dari 36 | R a t u . Pasar kumuh? Lokasi itu sudah berganti pusat perbelanjaan modern sekarang. c o m . Bayi itu? Rehan tanpa berpikir panjang melipat potongan koran tersebut. Tidak ada lagi. Pongah Rehan malah menjadi-jadi. Semua orang sudah pergi ke lapangan.b u k u . Dia mengendap- endap mendekati jendela. Menjualnya ke penadah. Dan tentu saja semakin suka berjudi. b l o g s p o t . Kembali dari kepergiannya berkabung selama seminggu. Benar-benar tidak ada lagi istrinya yang lemah-lembut membela anak-anak. Pasti ada penjelasan. Menggunakan uangnya untuk bermain-main. Penjaga Panti juga semakin menjadi-jadi kepadanya. Dia semakin berani mencuri barang-barang. Tidak ada lagi istrinya yang suka sembunyi-sembunyi menambahkan jatah makanan. Rehan mendengus kasar. Saatnya beraksi. tidak ada gunanya. Setahun berlalu. Setahun berlalu tak-kalah menyakitkan.

Diar pasti meninggalkannya.b u k u . Sudah biasa. c o m . Soal pembagiannya. Penjaga dan sebelas anak-anak itu pasti sudah berjejer paling depan. yang paling susah dibuka sepanjang tahun. Seperti yang sudah diduganya. Sengaja menyisakan separuh jatah makanannya. berharap mendapatkan santunan dari warga sekitar. Gesit tubuh gempalnya melompat masuk. Itulah satu-satu isi laci yang belum dicurinya. Bukan menelan ludah menyadari kebaikan Diar sepagi ini. Rehan 37 | R a t u . Inilah yang direncanakannya semalam. Dalam hitungan menit piring itu tak bersisa. tapi lebih karena lapar. Rehan menelan ludah. Seperti biasa. Soal petugas zakat yang mengumpulkan uang sekian. Sekian. Selalu begitu. Sejak dua bulan terakhir dia penasaran apa isi laci lemari paling bawah itu. Dia sekarang membuka pintu kamar. Dia selalu melakukannya kalau pulang terlalu malam dan pintu depan sudah terkunci. memasang wajah riang. Pasti mata Penjaga Panti membulat sekarang. Dari kejauhan suara takbir digantikan kalimat pemberitahuan. yang membuatnya tersenyum sebelum jatuh tertidur. Sebelah kentang. Suara takbir terdengar membahana dari lapangan. Menghitung jatah miliknya. di atas meja kamarnya terdapat piring berisi makanan. Rehan menyeringai benci. Rehan mendesis tidak peduli. Sebelah daging. yang dipasangi dua gembok besar. b l o g s p o t . Sigap melangkah di koridor menuju ruang kerja penjaga Panti.luar. Dia sembarang menutup kembali daun jendela. selepas shalat Id nanti anak-anak disuruh berbaris rapi. tangan terjulur. Sebelah ketupat. Sebelah kerupuk.

Dua gembok itu tidak bisa dibuka. Menganga memperlihatkan isinya. Kenapa dia dulu diantarkan ke panti menyebalkan itu. Nanti-nanti membukanya. Anggap saja modal untuk mendapatkan curian yang lebih besar. Tanpa merasa perlu menutupnya lagi. c o m . ®LoveReads 38 | R a t u . Pergi dari Panti menyebalkan itu. dengan tenang melangkah ke jalan besar. Sekejap dia sudah kembali ke kamarnya. Kenapa dia harus tinggal di sana? Bukankah ada ratusan panti lain di kota ini. Rehan dengan kasar mulai membuka laci lemari. Menarik paksa. apalagi soal meninggalkan jejak.. maka tidak peduli soal kehati-hatian. Melompati daun jendela. Tidak percuma semua uang dari jualan parsel lebaran kemarin dibelikan linggis kecil ini. Tidak mungkin digembok dua kali kalau isinya hanya surat-surat dan kertas.b u k u . tapi akhirnya terlepas dari rekahan kayu. Laci itu berdebam terbuka. Yang pasti isinya penting dan berharga. Pergi dari tempat yang tidak bisa dimengerti olehnya. Karena dia memutuskan akan pergi selama-lamanya setelah membongkar laci itu. Brankas.. dia bisa pergi semaunya. Sekarang. Maka dengan cepat Rehan menyambar brankas berwarna merah itu..mengeluarkan linggis kecil. Rehan tersenyum tipis. tenpat yang meninggalkan pertanyaan sama setiap hari sepanjang tahun selama tinggal di sana. Isinya brankas kecil. b l o g s p o t . Tidak ada barang lain.

. Setiap manusia diberikan kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya.. Mata- nya menatap kejauhan.. “Tidak penting.b u k u . “Yang perlu kau tahu adalah kau sangat beruntung. meski tetap menyisakan gentar. Tetapi kau selalu benci kembali ke sana. Inilah pemberhentian pertamanya. tangannya bersidekap anggun. Amat beruntung. Semua ini sungguh tidak bisa di- mengerti oleh otaknya yang cerdas.” “Apa yang kau inginkan?” “Tidak ada. Sebelum maut menjemput. sebelum semuanya benar- benar terlambat... 39 | R a t u .. “Siapa kau?” Pasien berumur enam puluh tahun itu mendesis. Tempat dimana pertama kali kau merasakan hidupmu terasa sungguh menyenangkan. Desisan itu kali ini lebih karena bingung... Ray.. Bukankah sudah kukatakan.. Ray. Menatap cemas. b l o g s p o t . Itu bukan jawaban yang baik. Menara-menara kota yang menjulang.. bukan? Maka inilah pilihan terbaiknya. Kita hanya sedang melakukan perjalanan mengenang masa lalu. Seharusnya aku memulainya dari Panti.” Orang yang ditanya tersenyum ramah. ber- tanya untuk kesekian kali.” Pasien itu menelan ludah.. Tahukah kau? Semua orang selalu diberikan kesempatan untuk kembali.Bab 7 Aku Penjudi Ulung “DI mana kita?” “Kita tidak di mana-mana. c o m . aku beritahukan pun kau tidak akan tahu.

.. tidak terlalu mempedulikan wajah menyeringai bingung pasien di sebelahnya. Dari penjelasan orang-orang di sekitarnya.. Tersenyum hangat. b l o g s p o t . tapi sekarang baiklah kita mulai saja. sehangat cahaya matahari siang terminal antar-kota. Kau akan mendapatkan kesempatan hebat. Senyum itu tak membantu banyak pasien itu. banyak mereka yang tidak menyadari kalau penjelasan itu sudah datang. hari ini kita akan mengenang perjalanan hidupmu. banyak kasus. Nanti di akhir semuanya kau akan tahu mengapa kau mendapatkan kesempatan sehebat ini. Dari apa saja. Ray. Mungkin juga karena mereka terlalu berharap penjelasan itu datang dengan amat fantastis.” Orang dengan wajah menyenangkan itu terus menjelaskan sesuatu. tergurat di bumi atau yang tergantung di antaranya. Ray. Kesempatan untuk men- 40 | R a t u .b u k u .. Sayang.. Apanya yang akan dimulai? “Ray. Dari apa-apa yang terukir di langit. “Kau berbeda. penjelasan itu justru datang dengan sederhana. Dalam banyak hal. “Kau tahu. Mungkin karena mereka tidak pernah memiliki kemampuan untuk menggapai penjelasannya.” Orang dengan wajah menyenangkan itu takjim menangkupkan kedua belah telapak tangan di depan dada. c o m . Dia semakin bingung. Beruntung? Apanya yang beruntung? Penjelasan? Apanya yang akan dijelaskan? Apa maksud semua ini. tahukah kau. Pasien itu menatap bodoh. Kau akan mendapatkan penjelasan melalui perjalanan yang hebat ini.Ada yang mendapatkan kesempatan itu dari buku-buku.. Mungkin karena mereka terlalu dibuta- kan oleh kehidupan itu sendiri..

kondektur angkutan umum. Merapikan uang taruhan- nya di atas meja. c o m . dan sebagainya) seperti biasa mulai mengerubung.. “Kau dapat dari mana?” “Bukan urusanmu!” Rehan menjawab kasar. “Nomor kecil!” Rehan mendesis mantap. jawaban atas lima pertanyaan besar dalam hidup- mu. b l o g s p o t . Sudah macam di film-film itu saja. Kau bertanya lima kali.. Menyeringai tidak peduli. Orang-orang yang berada di sekitar lepau (sopir. Tangkas dan bergaya. tidak menjawab. sudah macam nonton siaran langsung tinju saja. Menggoyang-goyangkan tabung. 41 | R a t u . Memulai permainan judi itu. preman.” ®LoveReads “Kau dapat dari mana uang ini?” Bandar judi di hadapannya menyeringai. Rehan menggeleng. Menatap antusias. aku menjawabnya lima kali. Memang tidak penting dari mana muasal uang itu. Membanting tabung bambu ke atas meja.dapatkan jawaban.. lantas memasukkan tiga buah dadu ke dalam tabung bambu. Bandar di hadapan Rehan balas menyeringai. pedagang asongan.b u k u . Bagi mereka yang tidak punya uang untuk ikut bertaruh. Apa coba peduli Bandar? Yang penting uang. Menatap tajam. Menyelidik. Memutar-mutarnya. Beramai-ramai. Juga uang penjudi lainnya. menonton orang lain berjudi sudah cukup Bahan dengan mengasyikkan. Semoga dengan demikian kau akan mengerti banyak hal.

Penyok-penyok. Hari apa sekarang? Ah-ya. Menatap Rehan. Tetapi bandar lepau itu sungguh keliru. dia buru-buru membawa brankas itu ke salah satu pojokan terminal. hanya keberuntungan pemula. istrinya pasti menunggu di rumah dengan gagang panci. Susah sekali membuka brankas itu. Bandar menyeringai licik.b u k u . Memasukkan uang kertas lecek ke dalam kantong celana. brankas itu terbuka justru oleh pukulan terakhirnya yang lemah. Hilang sudah seringai sebal Rehan sejak tadi pagi. Setengah jam 42 | R a t u . Dan dengus sebal berikutnya segera keluar. Tadi pagi. b l o g s p o t . Persis di batasnya. Rehan amat bertuah. tepat sekali istilah hari raya ini dengan nasib baiknya.Bandar judi di lepau mengangkat tabung bambu. Sepuluh kali bermain. hari kemenangan. Nasib baik mengungkungnya. Awal yang baik. Tiga-tiga-dua. Memasukkan dadu kembali ke dalam tabung. Sepuluh putaran yang menguras habis uang bandar lepau terminal. Saat dia sudah berpikiran hendak meminjam linggis yang lebih besar. Rehan tersenyum puas. Kesenangan dari orang-orang yang selama ini justru terkuras habis uangnya. Menumpah- kan isinya. Rehan tertawa lebar. desis salah satu abang becak yang sudah seminggu ini takut pulang. Ronde berikut. Rasakan. tapi kuncinya sedikit pun tak terbuka. Orang-orang mulai berseru- seru. Sepuluh-sepuluhnya Rehan menang. Setengah jam yang menyebalkan. Nomor kecil. c o m . Hari itu entah mengapa. Berkali-kali dihantam dengan linggis kecil tetap saja brankas itu bergeming. Kerumunan itu ramai oleh tepuk-tangan. Menantang. Bukan main. Mata dadu itu berjumlah delapan. uangnya habis untuk berjudi.

bukankah masih ada tempat berjudi lainnya? Rehan menyeringai. Sayang sudah sepi. Berukuran setengah kali tiga meter memanjang ke belakang. Hari bertuah. Tempat yang akan di- rencanakan menjadi rumah baru baginya. selarut ini. toko-toko tutup. Rehan menyumpah-nyumpah. tergantikan oleh keriangan sore yang baru didapatnya. Terlihat seperti kamar kecil. Pasti. kalau tidak salah. Sudah setahun terakhir jadi tempat mangkal- nya malam-malam kalau malas pulang ke Panti. Rekor uang terbanyak yang pernah dimiliki- nya. ada tempat berjudi yang lebih besar. Maka tanpa berpikir dua kali. dia tak mungkin kalah. terminal masih ramai seperti siang. di salah satu deretan ruko pedagang China itu. Rehan bergegas berdiri. Tetapi sekarang. Tidak jauh dari terminal. b l o g s p o t . Menyatu ke tembok pembatas rumah-rumah warga di luar. Hanya ini? Uang di dalam brankas itu hanya belasan ribu. Tersenyum.b u k u . dua sebal sepanjang siang itu sudah musnah tak bersisa. menatap senyapnya terminal. Dia pikir akan ada ratusan ribu. padahal dengan uang banyak dia bisa puas meng- habiskan waktu di manalah. ternyata hanya ini. Rehan menggenggam uangnya. c o m . Digembok dua kali. Pasti uang di sana jauh lebih banyak. Buat apa coba penjaga Panti sok- suci itu menyimpannya rapat-rapat. bukankah dia bisa terus meng- gandakan uang ini? Kalau tadi bandar lepau sudah kehabisan uang- nya. Itu selasar atap toko paling pojok. malah jutaan.yang sia-sia. Uangnya sudah beranak-pinak. ®LoveReads 43 | R a t u . Kalau bukan hari raya. Cukup banyak. Rehan kembali duduk di pojokan terminal. Dalam brankas pula. Hei.

Tubuhnya gemetar. Menggenggam uang taruhan. Penjaga Panti jelas tahu pelakunya. penjaga ruko menghalanginya masuk. Sebagian besar uang di dalam brankas sudah dia setorkan seminggu lalu ke bank. menghantamkan keras-keras pecut bilah rotan ke atas meja. Tertunduk. Bukan uang dalam brankas yang membuatnya marah besar. Dan sebagai gantinya dia mendapatkan tanda lunas perjalanan besar itu. sepanjang bulan. Siapa lagi yang berani melakukannya? Penjaga Panti meng- amuk sepanjang hari. Tadi di pintu depan. Penjaga ruko 44 | R a t u . Bibirnya terkunci rapat. Diar mendesah resah.b u k u . tapi peduli apa? Harus ada yang menerima hukuman atas perbuatan itu. c o m . Bukan uang. Semua dokumen penting keberangkatan hajinya ada dalam brankas merah itu. menyeringai. Mendapatkan kepastian kursi berangkat. Musnah sudah kebahagiaan sepanjang pagi. b l o g s p o t . Penjaga Panti mengamuk melihat ruang kerjanya bagai kapal pecah saat pulang dari shalat Id. malam itu sedang duduk penuh keyakinan. Setoran terakhir. maka dua belas anak lainnya yang menjadi sasaran kemarahan.“SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!” Sementara Rehan tadi pagi sibuk menghantam kuat-kuat brankas. tapi berkas-berkas itu. Dua belas anak mencicit. Sementara yang sepatutnya diamuk. sepanjang minggu. Karena Rehan sepanjang bulan tidak kembali-kembali juga. Maka tidak kunjung reda marah penjaga Panti selama sebulan itu. kebahagiaan berjejer rapi shalat hari raya di saf terdepan. Rehan memperlihatkan karcisnya. Tidak boleh ada anak- anak yang masuk. Tidak ada yang peduli dia anak-anak sepanjang membawa uang banyak.

Dua-tiga kali anak-muda di hadapannya 45 | R a t u . “Nomor kecil!” Rehan mendesis yakin. Kehilangan alasan mencegah. Bandar ruko yang sejak setengah jam lalu mengusap keringat memutuskan cukup. tiga puluh kali dia melempar dadu. Ini mengerikan. sempurna sudah Rehan memenangkan seluruh taruhan. cepat.. Rehan menyeringai. dan sudah mirip gerakan akrobatik. semuanya sempurna benar. Benar-benar tangkas. Taruhan terpaksa dihentikan.menatap tajam. Maka di antara pernak-pernik permainan judi yang banyak terdapat di ruko tersebut. dia duduk di meja lempar dadu. Menahan nafas dalam-dalam ketika Rehan melempar uang taruhan yang semakin lama semakin besar. Bandar di meja judi memasukkan tiga dadu ke dalam tabung kuningan. Tersenyum tipis ke arah Rehan. Ramai berseru ketika tabung kuningan dibuka. b l o g s p o t .. Bayangkan. Orang di hadapannya ternyata berkali-kali lipat lebih mahir menjungkir-balikkan tabung kuningan di tangan dibandingkan bandar lepau terminal. Orang- orang dalam ruko mendadak lupa dengan aktivitas judi masing- masing. Entah apa yang sedang direncanakan langit. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan keberuntungan anak muda di hadapannya. Malam itu. Membantingnya ke atas meja. Sama seperti di lepau terminal.. hingga larut. Hanya ini permainan yang dikuasai Rehan. Gemetar tangannya merengkuh uang berbilang juta. Bersorak-sorak macam terjadi gol dalam pertandingan bola ketika melihat mata tiga dadu terbuka. tiga puluh putaran. c o m . Mereka ramai berkerumun mengelilingi meja lempar dadu.b u k u .

Bisa memilih. Rehan buru-buru kembali. b l o g s p o t . Satu-dua menepuk-nepuk bahu Rehan saking senangnya. Beginilah seharusnya hidup. Tapi Rehan tidak peduli. Ada puluhan tempat penampungan anak-anak terlantar di kota ini. c o m . Bagaimana mungkin dia harus tinggal belasan tahun di Panti tak berguna itu. Sepanjang perjalanan menuju pojokan terminal Rehan mendesis riang. Belasan tahun teraniaya oleh penjaga Panti sok-suci itu. Rehan tersenyum lebar. mengapa dia justru harus diantarkan ke Panti sialan itu? Mengapa? ®LoveReads 46 | R a t u .malah ringan mendesiskan angka-angkanya tanpa meleset satu mata dadu pun. Juga sama tidak pedulinya saat satu-dua gadis penghibur dengan pakaian mengundang-seadanya mendekat menggoda. Memampatkan uang ke dalam saku. Bisa memutuskan apa yang harus dilakukannya. Orang- orang bertepuk-tangan.b u k u . Satu-dua memendam iri.

. Indah. Terdiam. Memotong semua kenangan.Bab 8 Aku Pertanyaan Pertama “KAU sudah menyebutkan berkali-kali pertanyaan besar pertama dalam hidupmu.” Orang dengan wajah menyenangkan itu tersenyum hangat. Benar. menatap lamat-lamat wajah orang menyenangkan di sebelahnya. Mengganggu malam-malam tidurnya. langit kota bersih tak tersaput awan. Enam belas tahun masa kanak-kanaknya. Dia berpesta sendirian malam itu. Membawanya ke pojokan terminal. Malam itu. lihatlah. Menara-menara kota. Kenapa kau harus menghabiskan masa kanak- kanak di tempat itu? Mengapa panti asuhan yang menyebalkan itu? Kenapa tidak di tempat lain...b u k u . Kenapa kau harus melalui masa kanak- kanak yang seharusnya menyenangkan justru di tempat yang paling kau benci sepanjang hidupmu. Membeli banyak makanan dan minuman. c o m . Bagaimana orang ini tahu? Tahu pertanyaan yang selalu mengganggunya selama enam belas tahun tersebut? Apa tadi? Lima pertanyaan? Lima jawaban? Pasien itu menyeka dahi. Semua benar-benar terasa menyenangkan. Dan pertanyaan itu bahkan lebih banyak muncul setelah malam bertuah yang mengesankan di ruko pedagang China itu.. Pasien berumur enam puluh tahun yang berdiri di sebelahnya menelan ludah.. Sambil menatap kejauhan. Ray. Bintang-gemintang tumpah-ruah.. tak ada penjaga Panti yang akan menghalanginya dari 47 | R a t u . b l o g s p o t . itulah pertanyaan yang berkali-kali muncul di kepalanya. Apa- lagi.

Sayang. Rehan kesulitan memampatkan uang di kantong jaket barunya ketika beranjak pulang. 48 | R a t u .memuaskan keinginan perut. Orang- orang mendesah tertahan. bersamaan dengan datangnya esok pagi. Semu. Hingga kesibukan terminal kembali. Perutnya penuh. Bahkan sebotol minuman keras terselip di atas tegel. Bukan main. dan gelang. Membeli sepatu. Menipis. Masih se-spektakuler malam sebelumnya. Cepat sekali menguap semua keberuntungan. Bagai baju berwarna tersiram pemutih. Hingga burung perkutut milik ruko di sebelahnya berisik bernyanyi. Esok hari dia akan membeli jaket kulit keren yang membuatnya sepanjang minggu terpaksa mampir menatap di balik etalase pusat perbelanjaan itu. janji itu ternyata kosong. Tidur hingga matahari pagi menerpa mukanya. Juga kaca mata hitam. Lumer. Saat Rehan kembali esok malamnya ke ruko itu. Bandar dari tadi tak lepas dari wajah menyeringai. Berkali-kali Rehan mengusap dahi. Tapi malam berikutnya semua tuah benar-benar luntur. satu-dua malah berbisik “Raja Judi datang!” Saat itu nasib baik masih mengungkungnya. Bagai cat dinding basah tersiram air. Belum berubah. Sementara tumpukan uang di mejanya semakin berkurang. setengah-mengejek se-tcngah- memancing agar Rehan terus mempertaruhkan sisa uang. saat orang-orang antusias menyambutnya.b u k u . Menjemput arus balik mudik. sabuk. b l o g s p o t . c o m . ternyata hidup itu mudah. Belum. Bukan main. Bermimpi tentang janji-janji tiga butir dadu bermata enam dalam tabung bambu. Satu-dua mulai meninggalkan tontonan. Rehan tertidur pulas sambil mengulum senyum. Berkeringat. Menjemput kehidupan baru.

Terkadang menunggu amat menjengkelkan. Tak ada pesta di pojokan terminal di sisa malam. Rehan melangkah tak-sabaran menuju tempat pembalasan. berkelotakan satu sama lain terdengar jelas oleh telinganya. Hampir berpapasan dengan Diar di gerbang terminal. Begitulah. Dia ingin membalas.b u k u . Sudah tiga hari ini Rehan selalu menghindar bertemu dengan orang- orang yang mengenalnya. Dia tidak sabar untuk kembali ke ruko pedagang Cina itu. Menjengkelkan. Memaksa harinya melupakan kekalahan. Rehan tak bisa tidur. seringai mengejek Bandar itu semakin terlintas di langit-langit selasar atap toko.Sama saja dengan penjudi lain. jadi buat apa di tonton? Malam ketiga itu. Apalagi dengan anak-anak penghuni panti sialan tersebut. 49 | R a t u . Semua itu mengganggu. Gerakan tangan Bandar yang tangkas sambil mulutnya mengepulkan asap rokok. Malah berharap malam cepat berlalu. Tidak hati-hati. maka lebih baik tidak bertemu dengan satu pun dengan anak-anak panti. Dia memaksa matanya terpejam lebih cepat. Dia pulang sambil membesarkan hari. Tapi semakin dipaksa. Bergegas. c o m . ketika matahari senja akhirnya lelah menghilang di ufuk barat. b l o g s p o t . Separuh malam terasa separuh abad. Dia sudah memutuskan pergi. Maka setelah seharian hanya duduk-duduk di pojokan terminal. Rehan sempurna menghabiskan keuntungan berjudi malam sebelumnya. besok keberuntungannya pasti kembali. langsung menyambung malam berikutnya. Bila perlu tak ada siang. dan dia buru-buru menyingkir. Dadu-dadu yang bergeletakan.

Berkali-kali seperti itu. b l o g s p o t . tertawa.. matanya menatap kosong. Duduk dengan yakin. tujuh belas kali dadu di lempar. c o m . Dia berharap malam akan terus seperti ini. Malam itu tiga dadu dalam tabung kuningan sempurna sudah menolak dirinya. Malam itu. Berbaik hati membiarkan Rehan tetap duduk di kursi hingga ruko tutup menjelang tengah malam. Rehan terkapar nelangsa di atas kursi beberapa jam kemudian. Dia benci datang- 50 | R a t u .Rehan mempercepat langkahnya menuju ruko pedagang Cina.” “Keberuntungan pemula..” Ternyata besar.. Yang entah mengapa baru kali ini membuat nafas Rehan terasa sesak. Melemaskan tubuh. “Besar!” Ternyata kecil. Langit- langit penuh dengan kepulan asap rokok. Bandar menyeringai amat puas. Tangannya menggenggam kosong. Ternyata besar. “Nomor kecil! Desis Rehan yakin.b u k u . Sementara penonton yang mengidolakannya dua hari lalu sudah dari tadi beranjak pergi! Kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. “Kecil!. Uang belasan ribu yang didapatnya dari brankas itu juga musnah.” Mereka berbisik. Selamanya. Bersiap. Hatinya memendam kosong! Malam itu. “Kecil!” Ternyata besar. Dia pulang ke pojokan terminal tak menyisakan apapun. “Kecil!” Ternyata besar. Rehan berharap matahari pagi tak kunjung datang.. “Ternyata hanya amatiran.

Barang apa-saja. masih kecil- kecilan. Kemudian mulai belajar mencopet di angkutan umum. Dia berharap malam ini panjangnya satu abad.. Ternyata hidup tidak sederhana. Harapan-harapan meng- gantung di langit-langit.b u k u . Tapi semakin lama urusannya semakin 51 | R a t u . Menyeringai penuh-asa. uang itu bergerus dibawa ke ruko pedagang Cina. Janji matahari tak pernah teringkari. Selalu menghindar bertemu dengan anak-anak. penjaga ruko berisik membuka teralis alumunium. Semakin sering dia datang. Hidup itu menyakitkan. Rehan terbangun dari tidurnya. Awalnya Rehan hanya memaksa anak-anak pedagang koran di terminal menyerahkan uang. Mata Rehan merah karena baru menjelang subuh bisa memejamkan mata. Rehan sempurna menghilang dari panti. Sia-sia. Tentu bukan kehidupan baru seperti yang dibayangkannya tiga hari lalu. b l o g s p o t . Makan? Kemana dia harus mencari makan? Tak ada uang yang bersisa. Satu-dua kali kalau sedang beruntung hasil curiannya lumayan banyak. Pagi itu perutnya kosong. Satu bulan berlalu.. maka semakin 'kaya' bandar judi itu. Kosong. sepanjang bisa dijual dan menyumpal perutnya yang kosong. pasti akan datang. Mengusirnya.nya matahari esok. mulai berani mencuri di ruko-ruko terminal. Maka dengan semangat. c o m . suka atau tak. meneriakinya agar segera bangun.Kehidupan jalanan. Tapi matahari ditunggu atau tak. Melilit. Naik lagi sedikit. Anak-anak pedagang minuman dingin. Maka dimulailah kehidupan baru itu. terutama Diar yang kebetulan kerja di terminal tersebut.

Semakin ke sini. kembali datang. Anak- anak penjaja koran juga mulai kompak. malah lebih menyesakkan. Lihatlah. Dan dengan cepat. Di panti ujung jalan itu semua anaknya disekolahkan. pertanyaan yang terakhir kali muncul saat malam bertuah itu. Dia bisa melaku- kan apa saja yang ingin dilakukannya. Rehan yang cerdas dan banyak bertanya mulai berpikir tentang jalan hidupnya. Mencopet tidak mudah. Hari itu Rehan akhirnya mampir ke toilet terminal. Meski gelandangan.. Mengambil paksa uang dalam kotak toilet yang di jaga Diar.b u k u . Perutnya lapar. Setidaknya. Ke sanalah Rehan pergi. b l o g s p o t . Tidak ada pecutan bilah rotan. Apalagi mencongkel teralis ruko. Menyimak anak- anak berseragam berangkat sekolah. Menghina. Tapi semakin ke sini. Kemudian mencuri celana milik sopir bus anta-kota siang itu. Menyimak kehidupan anak-anak di panti lainnya.sulit. 52 | R a t u . Tidak ada yang sibuk memarahinya. Memaki. c o m . Menyimak restoran fast-food yang penuh dengan anak-anak muda seumurannya.. malam- malamnya mulai diisi lagi oleh pertanyaan yang dulu sempat hilang. Melawan.. terminal sebenarnya dengan segera menjadi tempat yang menyenangkan bagi Rehan. Rehan kembali mengutuk malam dengan pertanyaan sederhana itu. Di panti sana. Pusat-pusat perbelanjaan yang penuh dengan wajah-wajah bersih dan tersenyum. Di kotak toilet itu biasanya ada belasan ribu uang. tidak ada lagi yang sibuk-sibuk mengatur. Apalagi saat melihat potongan kehidupan orang lain. di panti sudut kota itu tidak ada penghuninya yang harus bekerja.

. Yang disentuh masih menatap tidak mengerti. Pasien itu menelan ludah.. Rehan bertanya tentang enam belas tahunnya? ®LoveReads “Ray. c o m . b l o g s p o t . “Di larang tidur di sini!” Bertanya. Bukankah ada puluhan panti di kota ini. Kenapa dia harus diantarkan ke tempat itu. Kenapa enam belas tahun masa kecilnya harus dihabiskan di panti menyebalkan tersebut. Duduk dengan perut lapar di selasar pojok terminal yang sekarang di beri plang kawat dengan tulisan. Kenapa harus di panti itu? Kenapa? Menatap rembulan. tidak ada kehidupan di dunia yang sia-sia.Pertanyaan yang semakin sering mengganggunya justru setelah dia memutuskan meninggalkan panti tersebut... Dan sekarang sebelum semuanya jelas. Diam..b u k u . Dia masih bingung kenapa orang berwajah menyenangkan ini tahu soal pertanyaan itu beberapa menit lalu.” Orang dengan wajah menyenangkan itu menyentuh lembut bahu pasien yang berdiri di sebelahnya. 53 | R a t u . Masih menatap lamat-lamat. orang ini bersiap entah hendak menjelaskan apa lagi? “Kenapa kau harus tinggal di panti itu? Apakah kau memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat kecil? Apakah orang-orang memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan?” Dia tersenyum. Bintang-gemintang memenuhi angkasa.

Sebutir gandum itu jatuh saat karung-karung ditumpuk... paling dalam semua sudah ditentukan.. Kalau malam itu ditentukan basah.. 54 | R a t u . Dan kau berhak atas jawabannya... seuap malam penjaga panti sibuk memberi nasehat. Penjelasan ini. Sok-alim mena-sehati. Butir gandum itu terkena sepakan kuli- kuli angkut yang beranjak pulang di sore hari. Dia ingat sekali. Apa maksudnya? Seumur hidup-nya sudah ratusan kali dia mendengar orang-orang mencerca hal sama. Baik- lah! Bayangkan.. Ray. kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan. Penjaga panti itu juga sama. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi. Sempurna menutup butir gandum itu dari apapun. hutan paling jauh semua sudah ditentukan..Sese- orang yang menyapu lantai gudang. hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela-sela tegel. c o m .“Itu pertanyaan pertamamu.. menjelang malam meletakkan ember kering di atasnya. terlempar kesana kemari.. maka keringlah dia.. tak pernah tempias meski setetes air sepuluh tahun terakhir. Bayangkan sebutir gandum tergeletak sendirian di lantai. Tak peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupi- nya. maka basahlah dia. di gudang penyimpanan... malam itu hujan turun deras..... Tak peduli seberapa kokoh ember plastik melindunginya...b u k u .... Atap gudang penyimpanan itu kokoh dan rapi.” Pasien berumur enam puluh tahun menatap orang di sebelahnya dengan tatapan mangkel... Kalau ditentukan kering. Tak peduli seberapa haik atap gudang menahan hujan.. b l o g s p o t . Begitulah kehidupan! Robek- tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi.. “Bayangkan..

bukankah penjaga panti itu yang paling banyak mencuri? Orang dengan wajah menyenangkan itu mengabaikan ekspresi muka tidak nyaman pasien yang berdiri di sebelahnya.. Tetap tersenyum hangat. Bagi binatang... Saling mempengaruhi.Kehidupan ini tidak sia-sia.. Atau anak buaya yang menjadi pejantan padahal suhu udara induk mengeraminya memastikannya menjadi betina. bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan. “Kalau urusan sekecil itu sudah ditentukan. Omong-kosong. “Bagi manusia. bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan likuran raksasa.. kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi... b l o g s p o t . Melanjutkan penjelasan dengan riang. Tidak ada buah pisang yang masak lebih cepat... Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit. setangkai bunga Putri jatuh-layu setelah sekian hari. saling berinteraksi. tumbuh-tumbuhan. seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat- dinginnya suhu induk mengerami. Ray. Bunga melati yang layu lebih lama. Hukum alam. Bedanya. Ray.Tidak ada yang melanggar aturan main itu. hidup ini juga sebab-akibat.. kembali lagi ke garis kehidupanmu. Mereka hanya menjalani hukum alam yang sudah ditentukan. c o m .b u k u . dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat. saling men- 55 | R a t u .. Mukanya arif mengangguk. menyuruh orang tidak mencuri. Sebab-akibat. kemudian entah pada siklus yang keberapa. Setandan buah pisang masak-menguning setelah sekian hari. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain.

” Orang dengan wajah menyenangkan itu menyentuh udara. Sungguh indah. Pasien berumur enam-puluh tahun itu. ikut-ikutan melihat ke depan.b u k u . b l o g s p o t . Kenangan itu kembali bagai anak-panah yang dilesatkan dari busur. Dan pasien itu entah kenapa tiba-tiba menggigil oleh sesuatu yang segera mengungkungnya. Indah. ®LoveReads 56 | R a t u .. begitu menghargai.” Pasien itu menoleh tertahan. seolah-olah menyentuh bola raksasa yang sedang diceritakannya. Sama sekali tidak rumit. melesat kencang menghujam memori otaknya.jalin. “Mengapa kau harus menjalani masa kanak-kanak yang seharusnya indah justru di Panti menyebalkan tersebut? Mengapa? Karena kau menjadi sebab bagi garis kehidupan Diar. Menyeringai. Menggigil. segera menyeringai. dan polos itu menjemput takdir hidup yang bagai seribu saputan pelangi di langit saat kematiannya tiba. Kau menjadi sebab anak ringkih. dengan intonasi yang begitu dalam. Kau menjadi sebab seribu malaikat takjim mengucap salam ketika menjemput Diar di penghujung umurnya yang sayangnya masih amat muda. lemah.. c o m . lingkar-melingkar. masih dengan wajah marah bercampur tidak mengerti. Eh? Apa orang ini bilang barusan? Kematian? Menjemput Diar di penghujung umurnya yang masih amat muda? Diar sudah meninggal? Pasien itu tiba-tiba mendesah resah. Bagaimana orang ini tahu soal Diar? Menyebut nama Diar.. Tidak ada apapun di hadapannya. Ke arah tangan orang yang tidak dikenalnya terjulur.

“D-i-n-g-i-n.. Diar menyeka dahi yang berkeringat. Tangannya sempat menyambar kotak uang..” “Apa yang kau rasakan?” Terburu-buru. Tubuh Diar yang ringkih tersengal. Sebenarnya amat lucu menyaksikan sopir berbadan gendut itu berlari terbungkus handuk menerobos keramaian terminal.. Seseorang yang harus bertanggung- jawab. tangan patah. Tetapi cerita segera berubah menjadi sama-sekali tidak lucu bagi Diar. c o m . marah bukan kepalang. kaki patah. Diar terbaring dengan muka bersimbah darah.. “KAU!! KAU KEMANAKAN CELANAKU!” 57 | R a t u . kami akan menyelamatkanmu. Menghilang.. Setelah kembali lagi ke kamar mandi dan keluar dengan belitan handuk. “Tenang. Dia tidak akan bisa mengejarnya. Sisa rusuh sepanjang siang tadi di toilet terminal.. b l o g s p o t . “D-i-n-g-i-n. ### Sopir bus antar-kota yang menyadari celananya hilang.” Berbisik lirih. Hanya sekejap dia malu soal tubuhnya yang telanjang bulat tertutup busa sabun seadanya. injakan dan entalah. Menggigil. berhenti di ujung terminal. Lari Rehan terlalu cepat baginya.b u k u . Muka Iebam. Kotak itu bisa digunakan untuk menghajar seseorang. hendak kembali ke meja jaga toilet. lemah membalik badannya. Bertahanlah!” Bergegas orang-orang berseragam putih mendorong ranjang. dia kesetanan berlari mengejar. Tubuh itu remuk tak-bersisa. Juga bengkak oleh bekas gebukan. Bukan hanya muka. tapi sekujur tubuh. berusaha mengejar pencuri celananya di siang bolong.

Sayangnya.. Membujuk Rehan agar mengembalikan celana itu. Tidak mengerti situasi sebenarnya. Terbata-bata. Dia justru hendak membantu mengejar Rehan.. Bukankah orang-orang selalu marah saat membicarakan pencuri? Diar menatap sopir bus bingung. tanpa tedeng aling-aling langsung membentak. yang mencuri celana itu bukan dia. Siapa? Pencuri? Copet? Dengan cepat. c o m . Mengancam. tangan- nya yang memegang kotak uang toilet terangkat tinggi-tinggi. “DI MANA CELANAKU. dengung bisik-bisik mengambang di langit-langit. Maksudnya Rehan berlari ke sana. tapi menatap kemarahan yang terpancar dari wajah sopir itu. Itu!” tangan Diar menunjuk celah tembok terminal. bagai kerumunan lebah. Mulutnya bergetar terbuka hendak menjelaskan. tapi bagai- 58 | R a t u . di ujung terminal ini tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi. BANGSAT!!” Sopir bus garang membentak. Seribu kali sayang.. Hanya orang-orang yang ke- betulan duduk di depan toilet itu saja yang tahu persis detail kejadian. b l o g s p o t . Disusul dengus marah yang melesat bak semak belukar kering terbakar api. Tubuhnya gemetar mengencang. sopir bus justru sedang menuduhnya. Tersengal. “I. Diar mencicit. Orang-orang ramai menoleh. I.. suara Diar mendecit hilang di kerongkongan. mendekat. Tubuh ringkihnya mengkerut ketakutan.b u k u . Habis sudah semua penjelasan baiknya.Sopir bus berlari tergopoh menopang perutnya. Ter- sengal hendak menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Lima kali lebih menakut-kan dibandingkan wajah pen- jaga panti dengan bilah rotan.

Apa- lagi untuk menertawakan percakapan yang tidak lazim.b u k u . Bego!” “Loh? Bukankah orang yang dicopetnya hanya memakai handuk? Nggak mungkin dia mencopet sekalian dengan celananya. Apalagi bersusah-payah meminta penjelasan baik-baik. Orang-orang beringas sepersepuluh detik kemu- 59 | R a t u . Satu-dua mulai memasang wajah beringas. Menghantam panas- nya aspal terminal. Menghantam kepala Diar. Entah dari mana semua perasaan dingin ini datangnya. Membuat tengkuknya seperti mem- beku. Hanya sekejap. Benar-benar dingin.manakah? Tubuh lemah itu malah menciut. dompet. melainkan pemandangan di hadapan- nya. Kotak uang itu sudah melesat. Satu-dua mulai meludah! “Ini dia nih yang mencopet dompet gue kemarin!” “Dasar copet! Cuih! Gebukin! Gebukin saja langsung. ### Tubuh ringkih Diar langsung terbanting ke tanah. b l o g s p o t . ### “Kenapa kau jerih melihatnya. Tidak ada yang sempat bertanya baik-baik. Meng- gigil semakin dingin. deh!' “Apanya yang di copet?” “Ya. kan?” Tidak ada yang sempat berpikir waras dalam situasi seperti itu. Namun bukan soal dingin ini yang mendadak membuatnya jerih dan reflek menutup mukanya. Ray?” Pasien berumur enam puluh tahun itu reflek menutup muka. c o m . Orang-orang berkerumun makin banyak.

Dia tidak tahu. Tangannya hanya menyentuh udara. b l o g s p o t . Kaki-kaki bagai roda kereta menjejak batangan rel baja. Tubuhnya bergetar. ### Pasien berumur enam puluh tahun itu mendesis tertahan. Tangannya ter- julur hendak menyibak kerumunan yang bagai gerombolan serigala lapar membusai seekor kambing.. berusaha melindungi diri dengan sisa-sisa kesadaran dan kekuatan yang dimilikinya. Kosong. Pasien berumur enam puluh tahun itu jatuh terduduk bagai sehelai kapas ke aspal terminal.. Sungguh! Sama sekali tidak.” Mendesis lemah. Mendekap-nya. Memeluknya. Mengenaskan. Dia hendak melompat melindungi tubuh lemah Diar. Pemandangan di depannya sem-purna seperti bayangan yang tidak bisa disentuh. c o m . “Kenapa kau jerih melihatnya?” Orang dengan wajah menyenangkan itu bertanya lagi. menghantam tubuh Diar. Ide yang langsung disambar oleh yang lain. Dia sungguh tidak tahu begini jadinya.” ### “Bakar! Bakar!” Seseorang berteriak memberikan ide. Menendang.b u k u . “Hentikan! Aku mohon hentikan. Tak bisa. “Sayangnya kau memang tidak tahu potongan kejadian itu. Semua itu tidak bisa dilakukannya. Menyentuh lembut bahunya untuk kesekian kali. Diar hanya bisa me- ringkuk. Berebut memukul.. 60 | R a t u ..dian tanpa perlu dikomando menyusul merangsek. Dia tidak tahu orang-orang justru menyangka Diar yang melakukannya. Ray! Kau sama sekali tidak tahu.

Benar-benar gentar.Ide yang cepat sekali dieksekusi. Ray!” Orang berwajah menyenangkan di sebelah mencengkeram pundaknya. ### Bagaimana mungkin dia bisa melihatnya? ### Beruntung! Sedetik sebelum semuanya benar-benar terlambat. Melindunginya. Tidak bisa meneruskan memandang kejadian itu. itu setoran perjalanan sopir bus selama seminggu. b l o g s p o t . ### “Kau memang tidak tahu kejadian ini. Melambai- lambaikan pentungan ke arah kerumunan. Apa ada bedanya sekarang? Lihatlah. bukan? Banyak sekali. “Kau harus melihatnya. Entah dari mana datangnya suluh kain yang menyala-nyala. ### Tubuh Diar disiram minyak. Memaksa. Salah-seorang dari polisi berhasil meringkus suluh kain. Suluh kain mendekat. tubuh ringkih Diar tergolek bersimbah-kan darah. ### Pasien berumur enam puluh tahun memejamkan mata. Bagaimana tidak. Entah dari mana datangnya plastik berisi minyak tanah itu. Berhasil memeluk Diar dari sisa-sisa gerakan kaki dan tangan yang jahil terjulur. 61 | R a t u . Lebih buruk dari bangkai kijang yang habis dibantai serombongan harimau lapar. c o m . dua polisi yang berjaga di gerbang terminal merangsek. Ray! Karena kau sudah terlanjur senang dengan uang di celana itu.b u k u .

Lantas apa yang kau pikirkan sepanjang sore? Kau malah memikirkan janji-janji semu dadu dalam tabung.. Tidak. Lagi. kau memang bertuah Ray. dan kau menguras seluruh uang di ruko Cina itu.. “Bukankah saat itu. ### Tubuh Diar sudah dilarikan ke salah-satu angkutan umum berwarna biru.b u k u . 'Lihatlah! Amatiran ini sudah kembali!' 'King of Gambler kembali!' Kau menggandakan uang itu lima puluh kali lipatnya. Tujuh belas putaran.. Benar-benar menguras habis.. Kau mabuk oleh keberuntungan yang datang kembali. Permainan yang tidak pernah kau pilih selama ini Meletakkan seluruh uang di salah satu nomor. orang-orang di ruko berseru terpesona. Kau entah apa alasannya. kau tidak menyadari petuah lama: keberuntungan yang berlebihan selalu mengundang dengki.. Dan kau beruntung. Satu banding seratus delapan puluh. ramai berbisik.. c o m . Bukan main. Melesat entah menuju kemana.. b l o g s p o t .. ®LoveReads “Malam itu kau pergi ke ruko Cina itu. Tubuhnya masih terduduk di aspal terminal..” Orang dengan wajah me- nyenang-kan itu menghela nafas. mengeluh dalam. Malam itu kau tidak memainkan lempar dadu seperti biasanya.. Sementara pasien berumur enam puluh tahun masih tertunduk... “Sayang. Bukan dari pengunjung 62 | R a t u . Ah..... justru memilih bermain putaran roda. percaya atau tidak.. Mempertaruhkan semua uang dari saku celana dalam satu putaran.... soal keberuntungan di meja judi.

Ya. Menatap ke depan dengan cahaya muka redup.. saat bulan sabit bersinar amat elok. Buas.” Orang berwajah menyenangkan itu menghentikan kalimatnya. keberuntungan hebat milikmu tidak pernah hilang.. Dia melawan sekuat tenaga. Sebenarnya saat bermain dadu kau tetap bertuah. Sejak kau selalu menang.b u k u .. malam itu.. Dan itulah yang terjadi. “Malam itu. Kau mabuk oleh kemenangan. Tapi dengki dari pemilik ruko. Kau mau saja disuguhi minuman keras. Hanya saja bandar judi curang. Lantas pulang dengan uang sekantong plastik sambil mabuk. tauke ruko membisikkan perintah ke penjaga pintu depan..ruko yang menonton antusias dan bersorak senang saat kau berhasil membuat bangkrut tauke. Mereka tidak sempat menyiapkan trik licik untuk melawan tuah milikmu. Tubuhnya kekar dan berisi. Mengibaskan tiga pisau tajam-berkilat. maka kau tidak hati-hati. tahukah kau. Tidak peduli dengki mengundang bala. Malam itu mereka tidak menduga kau akan bermain putaran roda. Berjudi sambil tertawa-tawa. Sama beruntungnya seperti malam-malam sebelumnya. kehabisan akal. Tapi apa daya 63 | R a t u . “Ray. dan kau benar-benar menghabisi mereka. Kau gaya sekali menghamburkan uang di dalam ruko. mereka meletakkan magnet di dalam tiga dadu. di lorong gang per- tokoan yang tertutup dari cahaya apapun. tiga orang menyergapmu. bukan? Tiba di jalanan sepi. c o m . Pasien yang masih terduduk di aspal terminal mengangguk lemah.. Itu takdir langit yang tidak pernah kau sadari. b l o g s p o t . tiga orang tidak dikenalinya datang menyergap. Kemudian dengan mudah menggerakkan butir dadu di dalam tabung sesuai keinginan. Meng- hela nafas.

paha.” Dokter yang sedang memeriksa Diar meng- geleng pelan. Pisau belati itu beringas menusuk perut. Menghela nafas. Dua anak pantinya sekaligus terkapar di ranjang. Dalam banyak hal kau sama saja dengan Diar. Mabuk kemenangan. Sudah lama sekali hatinya tidak tersentuh melihat anak-anak ini. mungkin lebih buruk. Yang dia tidak tahu soal Diar. b l o g s p o t . Bahkan mungkin dia sama sekali 64 | R a t u . takut-takut menghubungi kantor polisi. “Kita hanya bisa berdoa. mabuk minuman keras. bertanya tanpa suara: apakah Diar meninggal saat itu? Apakah Diar mati karena dia? Gara-gara sehelai celana itu? ®LoveReads “Apakah dia akan baik-baik saja?” Penjaga Panti bertanya lirih. peronda malam menemukan tubuh- mu. Satu lagi dengan sekujur tubuh luka-menganga oleh bekas tusukan. Pasien itu mengangkat wajahnya.” Senyap sejenak. Pasien berumur enam puluh tahun itu tetap tertunduk. menyentuh lengan orang berwajah menyenangkan yang berdiri di sebelahnya. Satu dengan sekujur badan remuk-bengkak oleh bekas tonjokan. Tubuhnya terjerambab bermandikan darah di atas tong sampah. Shubuh itu juga kau dibawa ke rumah sakit.b u k u . c o m . dan seluruh tubuhnya. Beruntung. Urusan ini benar- benar menyedihkan. Dia tahu soal dirinya yang dibawa ke rumah sakit. “Jadi bagaimana mungkin kau tahu urusan Diar.kekuatan fisik itu? Dia sedang mabuk. Benar-benar kunjungan ke rumah sakit yang menyesakkan.

Sungguh kontras melihat dua anak ini. tidak takut dengan ancaman pecut bilah rotan. Penjaga Panti itu menunggui Diar dan Rehan dari pagi hingga malam. yang satu mempunyai gurat muka lembut dan polos.belum pernah tersentuh melihat kepolosan anak-anak di Panti-nya. Brankas itu? Penjaga Panti menghela nafas. Perlahan... Masih kecil memang. Yang satu menurut apa-adanya. 65 | R a t u . hati yang hitam itu pelan mulai mengelupas. Dan selama itu pula. Yang satu memiliki gurat muka tegas dan yakin. c o m . Memandang wajah-wajah mereka. Hari ini. dan dari malam hingga pagi lagi. Yang satu selalu melawannya. yang satunya justru sibuk bertanya di mana dia sekarang? Membujuknya agar mencari. b l o g s p o t . Dan keduanya sekarang tergolek lemah berseberangan dengan bekas luka menyedihkan di sekujur tubuh. menyaksikan sekaligus dua dari mereka tergolek lemah. pelan-pelan hatinya mulai menyiapkan banyak hal..b u k u . Besok-besok saat penjahat kecil ini siuman dia bisa menanyainya. Selalu rajin menyetor uang tiga ribu. Entah bagaimana datangnya. perasaan itu memenuhi hati kecilnya. Muncul begitu saja. seolah-olah penting sekali kehadiran yang satu bagi yang lain. Membuka. Dia tidak mengerti mengapa dia melakukan itu. diam tidak banyak mengeluh. tidak banyak protes soal jatah makanan. Sudah tiga hari tiga malam kedua anak ini tidak sadarkan diri. Sebulan lalu saat yang satu kabur setelah berani sekali mencuri brankas penting itu. tapi cukup untuk bersiap menerima penjelasan atas siklus lima pertanyaan baginya. Setahun terakhir mereka berdua sekamar.

Awan kelabu seperti sabut kelapa berserakan memenuhi langit. “Ya. tersenyum. Ray. Sebab kenapa kau harus menghabiskan enam belas tahun di Panti menyedihkan tersebut. itulah penjelasan kenapa kau ada di Panti itu. Membuat suasana terlihat senyap. Aku tidak datang menemuinya seperti sekarang aku menemuimu. Ray... Anak kecil ringkih yang menjemput maut dengan baik. “Dia tidak mendapatkan kesempatan sehebat kau. b l o g s p o t . Sebab-akibat? Lagi-lagi soal itu. Karena kau men- jadi sebab bagi garis hidup dan kehidupan Diar. Tidak. “Ray. tidak pernah seperti itu selama ratusan tahun terakhir. Anak kecil polos yang menjadi sebab bagi penjaga Panti untuk memahami lima pertanyaan-pertanyaannya. Sabit menghias angkasa... seperti bisa membaca pertanyaan dari wajah pasien yang sudah berdiri kembali dari duduknya.. Dan Diar menjadi sebab bagi penjaga Panti. c o m . Nah.. malam itu penjaga Panti mendapatkan kesempatan menerima pen- jelasan atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini.. Masing-masing orang memiliki lima pertanyaan masing-masing... Begitu juga dengan penjaga Panti.. bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Setiap orang selalu mendapatkan kesempatan itu. Penjelasan itu datang dari Diar.” Orang berwajah menyenangkan itu meng- geleng. tapi menimbulkan perasaan sendu.Malam beranjak datang.. Kau menjadi sebab bagi Diar. kesempatan untuk kembali.” Pasien itu mengusap dahinya yang terlipat. Malam itu.b u k u ... Untuk kembali. Tidak mendung. ribuan malaikat me- ngungkung langit kota. Kau tahu? Bukan hanya kau yang membenci penjaga Panti 66 | R a t u .

... Termasuk istrinya. Jadi kalau istrinya yang amat baik itu gagal. tidak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara buruk. Ada banyak yang lelah menasehati. dia justru merasa terjebak oleh pekerjaan itu. Penjaga Panti tetap tidak berubah. b l o g s p o t .. tapi sesungguhnya dia membenci anak-anak yang harus diasuhnya. bagaimana mungkin orang lain akan berhasil mem- bujuknya untuk kembali? Tetapi Diar melakukannya dengan baik. terkadang orang-orang yang terlanjur memiliki ambisi memang bisa berbuat sejahat itu. Dia memasang wajah seolah-olah mencintai anak-anak ke dermawan. ia gagal membujuk suaminya untuk melupakan soal naik haji tersebut. pulang memakai kopiah haji berwarna putih. Diar menjawab lima pertanyaan yang terpendam di hati hitam- kelam penjaga Panti itu sekaligus. Mereka mengenalnya sebagai orang yang sepanjang hidup hanya dipenuhi oleh satu ambisi: berangkat naik haji. Orang-orang yang dekat dan mengenalnya juga membencinya.itu. “Keluarganya mendidik dan mengajarinya sejak kecil bahwa orang- orang terhormat adalah orang yang memiliki sebutan haji di depan nama.. Diar mencungkil gembok besar 67 | R a t u . c o m . capai memperingatkan. hingga ia mati pun. Atau lebih tepatnya membatukan dirinya. Ah. dan sebaliknya tidak ada niat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara-cara baik. Tentu kau amat menyukai istri penjaga Panti itu. Kau benar saat bilang penjaga Panti itu sok-suci. bukan? Sayangnya. Penjaga Panti itu lupa..b u k u . Bagai batu. Maka itulah mimpinya. Kau benar sekali menuduhnya mengambil semua sumbangan yang diberikan. Ray. Penjaga Panti itu adalah bentuk nyata dari kemunafikan kasat mata. sok alim. Dikorup.

Diar hendak menggerakkan kaki. Mata pasien itu berkerjap-kerjap. Malam itu. puluhan tahun silam. Saat matanya membuka. mereka tidak lagi berada di terminal antar- kota. semua-nya terjadi. Penjaga Panti menoleh. pelan semua terasa nyaman kembali. Ruangan penjelasan sebab-akibat. dan kau.. Cahaya-cahaya terang. Ruangan di mana penjaga Panti masih takjim menatap langit-langit kamar.b u k u . Bibirnya hendak mendesahkan sesuatu. c o m . Ruangan di mana dia juga terbaring tak berdaya di ranjang seberangnya. “Kau baik-baik saja?” Penjaga Panti bertanya dengan suara tercekat. Silau. Diar menoleh ke samping.. Pasien itu tiba-tiba merasa bagai ada yang menariknya me- masuki lorong-lorong penuh cahaya. dia tidak tahu persis berapa lama. Diar hendak menjulurkan tangan. Matanya berkedut-kedut. Ruangan di mana Diar terbaring tak berdaya. Bagaimana- lah. Tangan itu terbungkus perban.. Perlahan tubuh Diar bergerak. Ter- sedot dalam-dalam. Malam itu. Bukan karena memandang kesadaran yang mendadak datang dari 68 | R a t u . terlempar begitu saja. kau menjadi sebab bagi Diar. Diar me jadi sebab baginya. Mendekat. Jari “manis”-nya bergetar. Dia pelan melambaikan tangan ke udara. b l o g s p o t . Sakit.. Sekejap. Tubuhnya melesat entah ke mana. Menggerakkan kepala-nya.” Orang dengan wajah menyenangkan itu tersenyum hangat.. Tapi kepalanya perlahan bisa digerakkan. Beberapa detik. Sakit. kaki itu terbungkus gips. mereka sudah berada di ruangan itu. Kau tidak mengerti bagaimana caranya? Baiklah.hatinya.. Mari kita lihat. menatap wajah pasien yang semakin tidak mengerti.

Apa maksudnya? Bukankah anak ini jauh lebih lebam dibandingkan penjahat kecil yang terbaring di seberangnya. Hatinya yang terkelupas mulai ter- bolak-balik. Malas sekali harus menjelaskan. “R-e-h-a-n?” Diar men- desah tertahan. Apakah itu Rehan? Mata Diar yang berputar-putar terhenti. b l o g s p o t . Bukankah dia selama ini tidak pernah bertanya kabar orang lain? “D-i-n-g-i-n.” Diar mendesis lemah. c o m . Dia tidak tahu apakah Rehan baik-baik saja. Dia berusaha tersenyum. Semua ini men- dadak mengganggu perasaannya. “Apakah dia baik-baik saja?” Tersengal Diar bertanya. Penjaga Panti mengangguk. Hal-hal baru ini membuat tabiatnya berubah. Menyapu seluruh ruangan. Mendesah resah mencoba bertahan atas tabiat baru yang menyerangnya. Terhujam ke tubuh Rehan yang terbaring di seberangnya.b u k u . Penjaga Panti mengangguk. Kepalanya terus berputar. tidak mengenalinya. Membuatnya tidak nyaman. Suaranya antara terdengar dan tidak. patah-patah. dan dia merasa aneh. 69 | R a t u . Bukankah anak ini jauh lebih kesakitan dibandingkan Rehan? Bagaimana mungkin dia malah bertanya pertanyaan tersebut? Mempedulikan orang lain? “Apa dia baik-baik saja?” Suara Diar terdengar bergetar. meski lebih terlihat menyeringai. Menatap seberang ranjang.Berpikir: dengan mengangguk dan tersenyum setidaknya anak kecil yang ada di hadapannya akan diam bertanya.tubuh Diar. lebih karena menyadari bentuk pertanyaan yang barusan keluar dari mulutnya. Memaksakan diri. tapi kepalanya reflek mengangguk. Penjaga Panti terdiam seribu bahasa.

b l o g s p o t .b u k u . 70 | R a t u . indah sekali.. dan dia tidak perlu menjelaskan banyak hal lagi. apalagi ditambah dengan sedu-sedannya. Bagaimana mungkin anak ringkih ini begitu peduli dengannya? Tolong selamatkan dia? Apa? Penjaga Panti mengangguk lagi. Isakan yang me- milukan. “Aku.“Tolong. “Sore itu.. Penjaga Panti terkesiap.” Gemetar tangan Diar menunjuk Rehan yang terbaring. Membasahi perban.” “Tasbih apa?” Penjaga Panti melipat keningnya. Dia harus melawan sekuat tenaga pe- rasaannya yang tiba-tiba tersentuh. Muka lebamnya merekahkan air mata.. Kesedihan terpancar bagai mata air yang menguar. Aku ingin sekali menyentuhnya. Membasahi dinding-dinding hati yang bebal. me- nyeringai bingung.... saat Bapak menyuruhku membersihkan ruang kerja. Menyaksikan tubuh lebam itu saja sudah menusuk. sore itu tidak sengaja-tidak sengaja aku menemukan tasbih itu di meja. Tetapi entah mengapa. “Apa kau baik-baik saja?” Penjaga Panti sebenarnya hendak bertanya mengapa kau menangis? Tetapi bukankah selama ini anak-anak selalu menangis karenanya? Diar tersengal oleh tangisnya. “Tasbih Arab milik Bapak!” “Tasbih?” penjaga Panti semakin bingung... Penjaga Panti yang mencoba bersikukuh atas tabiat lamanya. Tasbih itu indah... Akulah yang dulu merusak tasbih itu.. c o m ... lebih lemah. mendadak Diar justru terisak. semua terasa ganjil. tolong selamatkan dia. Semoga ini anggukan terakhir. Amat deras..

Tidak peduli sakit yang melilit dadanya. tanpa kusadari. tasbih Arab hadiah dari kakeknya.. Mungkin itu hukuman bagiku karena membantah. tasbih itu sudah berada dalam genggaman tanganku. Tasbih itu tersangkut di gagang kain pel. Putus.. Dia bilang... Bapak. saat memegang tasbih itu.. dengan cepat memori ingatannya kembali. dia mengakui sesuatu yang tidak pernah dilakukannya..... Mengamuk bagai induk serigala kehilangan anak. Dia. Aku tidak bisa mengendalikan keinginan. Saat Bapak membentakku. Tasbih itu... Hadiah masa kanak- kanaknya... Saat Bapak ingin memukulku.. b l o g s p o t .... “Saat Bapak memegang pecut rotan. Aku terjerembab.. memantul berkemilauan. meski Bapak berkali-kali memperingatkan jangan sentuh benda apapun.. dialah yang merusak tasbih itu. Aku terkejut.Terkena sinar matahari.” Diar terbatuk...” Diar tersengal berusaha mengatur nafasnya..” Diar memaksa meneruskan cerita. saat merasa- kan betapa indahnya tasbih itu. c o m . tidak men- dengarkan pesan Bapak agar tidak menyentuh benda apapun.b u k u . “Aku tidak bisa..... berjuang melanjutkan pengakuan...... Rehan maju ke depan. seekor cicak jatuh menimpa kepalaku. tidak peduli nafasnya semakin tidak beraturan. “Malam itu.... Dia bilang. tapi kakiku mengenai ember air sabun. Menghindar. Tasbih yang diberikan dengan pesan: “Kau kembalikan setelah kau bisa mendapatkan penggantinya langsung dari Mekkah!” Bukankah dia teramat marah saat mengetahui butir-butir tasbih itu berserakan di ruang depannya... Penjaga Panti mendesah.” 71 | R a t u . Rehan maju. ber- hamburan.

Baginya.. urusan itu amat sederhana. Mengungkit-ungkit soal anak bajingan.. Mengenang kejadian itu. suaranya ter- dengar sumbang. Seseorang harus dihukum.... Jebol sudah semua pertahanannya. saat dia boleh masuk.. Malam itu kebenciannya kepada penjaga panti sedang memuncak.. isakan yang panjang. Malam itu.. Seseorang harus ada yang menerima kemarahan soal tasbih tak ternilai tersebut. Ujung jemarinya membiru.. Hati itu benar-benar menganga sekarang. Dan..b u k u . Aku hanya bisa ketakutan melihat dia dipecut lima kali. Baginya malam itu semua urusan sederhana.. Saat penjaga panti membentak dia dan dua belas anak lain soal tasbih itu.. Malam itu hujan turun lebat...... tapi ada yang lebih menusuk di hatinya. Bagi Rehan waktu itu urusan tasbih itu juga amat sederhana. Dua jam kemudian.. tubuhnya sudah menggigil. “Malam itu aku hanya gemetar tidak mengerti apa yang hendak di- lakukan Rehan.” Diar tidak bisa menahan sedu-sedannya lagi... Bapak memaksanya untuk terus berdiri. maka dia tidak berpikir kalau penjahat kecil itu melindungi tubuh ringkih Diar. Mengambil alih hukuman yang seharusnya diterima Diar. Hidungnya tersumbat. Sama sekali tidak. mengenang betapa baik dan berani Rehan melindunginya..... Dan kemudian menyaksikan dia harus berdiri selama dua jam di halaman panti. Dia terus berdiri di halaman panti.. Bibirnya membiru. c o m . 72 | R a t u .Diar terisak.. b l o g s p o t . Kalimatnya terputus- Penjaga panti bergetar. Dan luka bekas pecutan rotan itu juga membiru.. Menangis terisak. Dia tidak tahu soal itu. dan seterusnya. Dadanya sakit sekali... Dan karena Rehan-lah yang selalu mencari ulah..

.. Tasbih itu rusak.. c o m . seolah-olah dengan demikian terlihat selalu ingat Tuhan..” Diar tersedu panjang.” Diar terbatuk..b u k u .. pecah-berserakan. Tapi tidak bagi Diar.. Kaki Diar yang dibalut gips bergetar tak kuasa menahan sengal. Malam itu. sudah lama dia juga berniat mencurinya. b l o g s p o t ... Benci sekali dia melihat penjaga panti selalu membawa ke mana-mana tasbih tersebut... 73 | R a t u . Ya.Saat penjaga panti mulai menginterogasi Diar yang sore itu memang bertugas membersihkan ruang kerjanya.. mengambil nafas panjang... Menggetarkan.... Omong-kosong. Gelas itu jatuh dari tangan yang biru-mem- beku. Peduli amat dengan tasbih yang selalu dibangga- banggakan penjaga panti sok-suci tersebut Peduli amat dengan hukumannya... Tangan itu tidak bisa digerakkan walau sedikit. Bagaimana mungkin Rehan baik- baik saja? Dan malah tersenyum kepadanya.. yang terdengar serak-memilukan... Rehan menderita demi melindungiku. dia bilang „Aku baik-baik saja!‟ Hanya itu yang dikatakan mulut dengan tubuh biru-meng- gigilnya. Jemari tangannya tidak bisa menggenggam segelas air hangat yang hendak kuberikan. Saat itulah Rehan yang kadar bencinya meninggi dengan berani berteriak kalau dia-lah yang merusak tasbih itu.. Tersenyum kepadanya. Toh. Kejadian tasbih itu terjadi di bulan kedua dia tinggal di panti. Apa yang dikatakan Rehan waktu itu.. Kenangan itu kembali menggurat di langit- langit ruangan rumah sakit. Rehan menderita.. Syukurin. Lebam mukanya terlihat semakin merah.. “Tangan Rehan.. Urusan sesederhana itu bagi Rehan dan penjaga panti.. “A-k-u i-n-g-a-t s-e-k-a-l-i.

Maka malam itu dia bersumpah dalam hari. Sungguh banyak sekali bagian kehidupan yang tidak diketahuinya.. Saat dia takut-takut berkenalan dengan anak panti lainnya yang lebih besar..... Menawarinya tinggal sekamar. Tubuh yang kelaparan dan kedinginan.. saat tubuh ringkihnya menjejak bangunan panti untuk pertama kalinya..” Diar terisak semakin dalam.. membersihkan pipi Diar. “Tolong. Akan selalu menghormatinya.. c o m . Tolong selamatkan dia.. Hidungnya berlendir karena ingus.. Lihatlah! Penjahat kecil itu ternyata telah ringan-tangan memikul hukuman. Me- mohonnya agar menyelamatkan Rehan. Menyaksi-kan tubuh Rehan yang menggigil sakit-demam sepanjang minggu kemudian. b l o g s p o t . makanan-makanan yang dicurinya.. Penjaga Panti yang terpana soal kenyataan itu buru-buru meraih selembar tissu.. Hanya demi melindunginya. Lihatlah! Anak kecil yang berwajah lebam di depannya sekarang. Rehan-lah yang tersenyum-memberikan kursi.. Bukankah dia teramat dekat dengan hakikat kehidupan. saat dia canggung mendekat meja makan.. akan selalu menghargai Rehan.Diar ingat sekali. sebaliknya justru sibuk mencemaskan keselamatan orang lain. Selalu! Menyaksikan tubuh membiru Rehan yang beranjak masuk kamar.. Rehan-lah yang menerimanya pertama kali.. Dan malam itu. Jangan-jangan selama ini dia melawan demi melakukan itu semua.b u k u . Sungguh banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya yang selama ini dijawab dengan keliru. akan selalu dikenangnya. 74 | R a t u ..

Anak-anak yang begitu sederhana melihat kehidupan... Sayang.. Ruangan itu mendadak senyap.. Dan sebelum penjaga panti menyadari banyak hal berikutnya. Debu-debu kotor itu berterbangan. c o m .b u k u .. bapak. panik berusaha memanggil Diar kembali.. Diar tengah menge- luarkan sisa-sisa tenaganya. Tapi suaranya mendadak hilang di kerongkongan.Anak-anak ini. Bapak! Maafkan aku yang telah merusak tasbih itu. Padahal.. Apa yang dikatakan Diar untuk terakhir kalinya? Anak kecil ringkih itu meminta maaf. Bapak sudah melakukan banyak kebaikan kepada kami. “Maafkan aku. Bagai menyaksikan desing gasing yang berputar. Memanggil sisa-sisa kehidupan. Benar-benar sisa terakhir.. Dan Diar pergi selamanya. Penjaga panti refleks hendak menggoyang-goyangkan tubuh lebam itu. Penjaga panti hendak membuka mulut.Maafkan aku.. Tersungkur. Berguguran. padahal..” Cengkeraman itu melemah... Penjaga panti mengusap mukanya yang kebas. Tangisan menghilang.. cepat sekali hati itu menerima cahaya-Mu.. semoga Tuhan membalas segala kebaikan itu. Maafkan Diar yang nakal.. tangannya terlanjur membeku. Rontok satu demi satu bintik- bintik hitamnya... b l o g s p o t .. Tangan Diar mendadak men- cengkeram lengannya. Penjaga panti itu untuk pertama kalinya terisak. K-e-b-a-i-k-a-n? 75 | R a t u . Muka lebam itu menatapnya lamat-lamat... Tidak mendengarkan. Isak tangisnya terhenti.. Terdiam. Seperti mentega lumer di penggorengan. Anak kecil itu bilang dia sudah melakukan banyak kebaikan.. Semoga. Menangis. Penjaga panti itu tergugu..

. Dia tidak tahu kalau Diar menghembuskan nafas persis di 76 | R a t u . Dia mendapatkannya secara langsung. Menunjuk penjaga panti yang bergelung memeluknya sambil menangis bagai anak kecil yang menyesali sesuatu.. penjaga panti itu mendapatkan lima penjelasan atas lima pertanyaannya saat itu juga.b u k u . sebab Tuhan berkenan menemukan penjaga panti itu kembali-” Orang dengan wajah menyenangkan menunjuk lemah tubuh Diar yang terbaring takjim tanpa nyawa. ®LoveReads “Ray. Tertanam dalam hatinya.. b l o g s p o t . Sama sekali tidak.. Mengapa dia harus terlambat naik kereta pagi itu? Mengapa Ayahnya harus kawin lagi? Mengapa malam itu hujan harus turun.Pertanyaan-pertanyaan lama itu mendadak bermunculan. Diar telah membuka hati yang membeku itu. membatalkan semua perjanjian bisnisnya? Mengapa teman-temannya pergi mengkhianati? Mengapa? Mengapa? Mengapa istrinya meninggal lebih cepat? Bukankah mereka berencana naik haji bersama? Naik Haji? Penjaga Panti tergugu lebih lama lagi. Dia tidak tahu bagian yang ini.. Pasien berumur enam puluh tahun itu menyeka ujung matanya yang basah. Sesak. Diar menjadi sebab sebuah pertobatan.. c o m .

b u k u . Operasi lanjutan. Menyesali betapa buruknya dia berusaha menjelaskan berbagai pertanyaannya dulu dengan caranya sendiri. Petugas itu menyerah- kannya persis saat pemakaman Diar. Menepuk- nepuk bahu pasien di sampingnya dengan lembut... esok pagi saat mayat lebam- membeku Diar dimakamkan... Jadi. “Baiklah. begitu- “Bagaimana kau akan tahu? Kau tidak pernah kembali ke kota ini hingga sepuluh tahun berlalu. Ginjalmu robek! Kau dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di sana.. Diar meninggal karena dia. seorang petugas terminal menemukan brankas berisi surat-menyurat yang kau curi.. Dan saat kau kembali.. penjaga panti tertegun lama saat menerimanya. kalau Diar sebelum meninggal begitu menghargainya....Siang ini juga dia membatalkan keberangkatan hajinya..” Pasien itu menggigit bibir. tersedan. uang yang 77 | R a t u . bagaimana mungkin kau hendak bertanya apa kabar Diar? Bagaimana mungkin kau akan bertanya apa kabar penjaga panti? Bagaimana kabar anak- anak lain? Kau memang tidak ingin tahu. “Kau memang tidak tahu apa yang terjadi berikutnya. Kau tahu. kau segera dipindahkan ke Ibukota. kau mati- matian melupakan masa-masa menyakitkan di panti.. Ray.. c o m . belum selesai. Ada potongan kecil yang harus kau ketahui.. kita lanjutkan.... Dan dia tidak pernah tahu. mencari pembenaran atas semua potongan kehidupannya. Uang itu.” Orang dengan wajah menyenangkan itu tersenyum lemah....sebelahnya. Ray..... Cerita ini belum utuh. Karena besok-lusa.. Menghela nafas. b l o g s p o t .. Karena dia mencuri celana di toilet terminal.... Diar meninggal di usia yang amat muda.

Senyap.” Orang yang menyenangkan itu menghela nafas panjang. Tidak berguna! Menyakitkan malah!” Pasien berumur enam puluh tahun itu terdiam. orang dengan wajah menyenangkan menyentuh lembut bahu pasien di sebelahnya.. c o m . Ya! Uang itu akhirnya untuk kau.. tidak semua orang beruntung mengetahui apa sebab- akibat dari setiap kejadian yang ada di hadapannya seperti kau sekarang. Tercekat menyaksikan potongan kehidupan yang tidak pernah diketahuinya selama ini.. percaya atau tidak.b u k u .ditabungnya selama berpuluh-puluh tahun untuk perjalanan besar tersebut digunakan untuk kau.” Tersenyum.... “Itulah kenyataannya. Kalimat pertamanya setelah tercekat begitu lama.... Ray! Untuk biaya operasi ginjal di Ibukota..... 78 | R a t u .. Suka atau tidak.... kenapa kau tidak diantar- kan ke tempat lain. Uang itu untuknya? “Itulah penjelasan atas pertanyaan pertamamu. Kenapa kau seolah-olah tidak memiliki pilihan saat dilahirkan-” “Tidak. Memotong. Itu tidak mungkin!” Pasien berumur enam puluh tahun itu mendesah tertahan... Bukan untuk siapa- siapa....... “Sayangnya... Apa sebab-akibat dari kehidupan nya yang mungkin dia pikir selama ini biasa-biasa saja. Pasien yang berdiri di sampingnya terdiam. Tidak banyak yang tahu apa sebab-akibat dari setiap keputusan hidup yang akan diambilnya.. Kenapa kau harus diantarkan ke panti menyebalkan tersebut. Lantas diam... b l o g s p o t . Ray..

... Orang itu berbaik hati menguburkan Arab tua tersebut. untuk membuat urusan ini lebih mudah dimengerti..... Benar-benar kesia-siaan hidup.. Mengutuk tubuh tuanya yang tidak bisa lagi diajak pergi. Kehidupan Oase yang biasa-biasa saja.... Tidak berarti. Bayangkan.. Kau tahu.. saat orang-orang mulai pindah.... Menjadi remaja yang tak bosan bicara cinta sama seperti remaja lainnya. hanya sibuk berteman dengan pertanyaan apa arti seluruh kehidupan yang dimilikinya. c o m . Istrinya meninggal saat tubuhnya beranjak tua.... Lihatlah Hingga maut menjemput Arab tua itu tidak tahu apa sebab-akibat hidupnya..... buat apa hidupnya begitu panjang kalau hanya untuk terjebak di Oase itu.. “Suatu hari serombongan karavan melintas di puing-puing Oase yang mengering. b l o g s p o t . Sendirian..“Kau belum bisa menerimanya? Baiklah.b u k u . Arab tua itu tinggal di Oase gurun... Bahkan baginya sama sekali tak berguna. “Delapan puluh tahun percuma.... Dan dia tertinggal... Selama delapan puluh tahun. Dan seterusnya. Punya anak.. Menikah. beberapa tahun kemudian anak-anaknya pergi ke kota-kota lain. Mereka tiba persis saat Arab tua itu mati di rumah kecil dan buruknya.. bayangkan... Karavan itu tidak peduli... menyedihkan dia justru memaksakan diri bertahan.. renta.. dulu ada seorang Arab tua. Berkali-kali dia bertanya kepada dirinya sendiri.. Sama seperti penduduk Oase lainnya.. Saat Oase mulai mengering... sakit-sakitan. Bekerja menjadi pandai besi.. Hanya satu yang peduli. orang yang berbaik hati itu terselamatkan atas pembantaian 79 | R a t u .. Dia menjalani masa kanak-kanak sama seperti teman-temannya. meneruskan perjalanan setelah mengisi penuh-penuh tempat air....

. lima generasi berikutnya. Yang sayangnya tidak dia ketahui hingga maut men- jemput.. Tidak bersisa..... Karavan itu ternyata binasa..b u k u . “Ray. Pasien berumur enam puluh tahun menoleh tak mengerti. Menghentikan cerita. setidak- nya kau bisa membayangkan betapa hebatnya penjelasan sebab-akibat seharusnya bisa menuntun seseorang untuk selalu berbuat baik...Ray. Tahukah kau.” Orang dengan wajah menyenangkan mengusap muka- nya. Manusia pilihan yang orang-orang kelak menyebutnya al-amin..Suku Badui. Dari andai-andai itu...” Orang dengan wajah menyenangkan tertawa kecil. Apakah cerita itu sungguhan? “Apakah cerita ini benar terjadi? Tentu saja tidak. kan? Tak ada yang tahu... bukan? Apakah yang akan terjadi dengan generasi kelima keturunan- nya kalau Arab tua itu tidak tinggal menyesali diri di Oase. Ray. dari orang yang berbaik hati itu ternyata lahir seorang manusia pilihan. maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat 80 | R a t u .. Orang yang berbaik hati mengubur- kan Arab tua tersebut menemukan bangkai dan sisa-sisa pertempuran mereka esok harinya saat meneruskan perjalanan. “Bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Arab tua itu tidak meninggal hari itu.. bukan? Orang baik itu juga ikut terbantai. b l o g s p o t .. Tetapi mungkin saja... Bagai- mana dengan nasib pembawa risalah itu.. Dengan tidak tahu. itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya.. Itulah sebab-akibat ke- hidupannya.. kawanan bandit yang menguasai gurun....... c o m .

Kau bayangkan..baik.Kau bayangkan sebuah kolam luas.... siapa yang peduli dengan kau? “Ah! Itu jika kau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif..... saking tenangnya terlihat bak kaca. tanggal sekian. bagai sebuah kolam raksasa.. setiap kenyataan yang harus mereka hadapi.. terlupakan. dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi! Ada seribu kelahiran dalam setiap detik. Riak itu adalah gambaran kehidupannya... b l o g s p o t . menit sekian. detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain.. kejadian-kejadian menyakitkan.. ada berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam. detik sekian? Ada miliaran manusia. “Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian... membuat riak. Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus. tak tercatat dalam sejarah... dan bahkan dalam sekejap. itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah. Begitulah kehidupan ini. Jutaan rintik air yang terus-menerus berdatangan.. Kolam itu tenang. yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Setiap keputusan yang akan mereka ambil.. membentuk riak... Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam menit sekian. kejadian- kejadian menyenangkan... bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang. Tiba-tiba hujan deras turun.. c o m .. bulan sekian. kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam. membuat riak... Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik ke orang lain-” “Kehidupan manusia itu bagai titik-titik kecil.b u k u . wajah.. dari sisi penjaga panti itu memahaminya selama berpuluh-puluh 81 | R a t u . nama. jam sekian.

.. Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia..” “Dan saat kau menyadari ada yang peduli. Hanya isak tangis penjaga panti terdengar. Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja.. tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin. maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut. mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain. b l o g s p o t .” ### Ruangan itu senyap.” “Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu. maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik.. maka kau akan selalu me- mikirkan dengan baik semua keputusan yang ikan kau ambil.... kecuali satu! Yaitu kebaikan.. Sekecil apapun itu. sekecil atau sekejap apapun riak itu.. setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat...tahun. Nanti kau akan mengerti.. ### “Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan. Diar men- 82 | R a t u ..b u k u . “Ah... Kalau kau memahaminya dari sisi positif.. Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam... Tak ada yang bisa meng- ubahnya. Kebaikan bisa mengubah takdir. seseorang yang tahu bawah kebaikan bisa mengubah siklusnya. siapa peduli dengan Diar yang selalu jujur menyetorkan uang tiga ribu rupiah? Siapa peduli dengan Diar yang selalu memberikan kembalian? Siapa peduli? Tetapi langit peduli! Dan Diar menjemput seribu pelangi indah saat waktu fana terhenti baginya... c o m ..... betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu.

malaikat berebut mengucap salam padanya. b l o g s p o t . kecil-besar nilai sebuah perbuatan.. wajah bengkak. kebaikan. wajah yang.. langit juga yang menentukan.. c o m . Tangan pasien itu terjulur ke depan. Fakta Diar yang meninggal karenanya. “Ray...” Orang dengan wajah menyenangkan itu menghela nafas. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia. Seolah-olah matanya bisa menembus tembok rumah sakit... Gemetar..jemput janji langit karena telah menyelesaikan dengan baik siklus tersebut. Kepalanya sesak oleh pertanyaan. Hei! wajah yang tersenyum amat memesona.b u k u . ®LoveReads 83 | R a t u . Wajah Bercahaya amat indah. Wajah lebam... Menatap jauh ke depan.. Sementara pasien berumur enam puluh tahun itu mendesah resah.. Semua ini baru baginya. uang itu. Menghenti- kan penjelasan. Yang dia tahu hatinya pelan menuntun tangannya. Dia tidak tahu apa maksud semua ini. Mencoba mengelus wajah Diar yang membeku.. Terlihat begitu menawan. kecil-besar pengaruhnya bagi orang. langit yang menentukan. dan entahlah... siklus sebab-akibat.

84 | R a t u .Bab 9 Rumah Singgah “NAMA?” “Ray. Namanya dulu tak sependek ini..b u k u . Matanya memandang datar kertas isian dan pulpen biru di depannya. Buat apalah nama panjang-panjang? Toh. c o m . kalian akhirnya tetap di- panggil dengan sebutan yang pendek juga? “Nama ayah?” “Tidak tahu. mengangkat kepala meminta penjelasan.” “T-i-d-a-k -t-a-h-u? Nama yang aneh!” Petugas pendaftaran hendak menulis kata tidak tahu sambil berkomentar bego. Maka dia memutuskan untuk mengganti namanya. Menguburnya dalam-dalam. Dua kata yang indah. malah.. Panjang. “Hanya Ray?” Pemuda itu mengangguk. Petugas menuliskan tiga huruf di kolom paling atas. Tapi dia ingin melupakan semua potongan hidup yang menyakitkan tersebut.. me- nyadari sesuatu. Pendek. b l o g s p o t .. Kertas dan pulpen yang dipegang oleh petugas di meja pendaftaran. pemuda cepak dengan potongan rambut macam kopral menjawab pendek. Diam. Termasuk soal nama. Tidak.” “Nama lengkap!” “Ray-” Sekali lagi.. Terhenti.

Mengusir jauh-jauh apa yang dipikirkannya. Bagaimana dia akan tahu? enam belas tahun di tempat itu yang mereka tahu hanyalah nama masing-masing. b l o g s p o t . Ray hanya diam. Mengangkat muka. Ibunya terlampau malu untuk memberitahu siapa yang harus bertanggung-jawab. tidak menjawab. Tanpa ekspresi. Kemudian menggeleng lagi. mungkin saja pemuda ini memang tidak tahu siapa ayahnya. Memandang datar.. Seperti 85 | R a t u . Meng- hela nafas pelan. Iya kalau hanya satu.” Pemuda yang menyebut dirinya Ray menggeleng pelan. Tidak mem- pedulikan ekspresi orang di depannya. “Nama ibu?” Melanjutkan kolom isian berikutnya. “Tidak tahu?” “Kau tidak tahu nama ibumu?” Ray menggeleng. yang malah terlihat lucu karena alisnya berkedut-kedut macam gerakan badut. “Bagaimana mungkin kau tidak tahu nama ayahmu?” Petugas me- ngernyitkan dahi. Kalau ada dua yang nyetor? Petugas itu menyeringai. Tetap menatap kosong.b u k u . Itu sama sekali bukan urusannya. “Baik.. Matanya me- mandang kosong. Bukankah lazim hari ini bayi-bayi lahir tidak jelas siapa ayahnya? Hamil di luar nikah. c o m . “Bah! Bagaimana mungkin? Tidak mungkin kau lahir tanpa ibu? Langsung mbrojol begitu?” Petugas bertanya dengan mimik sempurna tak percaya. Mengangguk-angguk. Urung menulis. Memainkan tutup pulpen. “Aku tidak tahu nama ibuku!” Ray menjawab pelan. aku kosongkan!” Petugas mencoret kolom isian nama ayah..“Aku tidak tahu namanya.

Ray menemukan tubuh- nya terbaring lemah.. Pemandangan kota dari lantai empat rumah sakit sama sekali tidak dikenalinya. Saat itu Ray benar-benar bingung. Apalagi saat mengintip keluar jendela kamar. Kemana dia harus pulang dari rumah sakit? Justru inilah yang membuat akal sehat Ray buntu. Kata suster. Menyembuhkan luka-luka. dada. tertatih-tatih. dia memang tidak tahu. Semuanya berjalan lancar. Bukan kota kecil dekat pantai. sepanjang lantai rumah sakit. Hingga tubuhnya pulih. Apa- lagi urusan mengingat nama ayah-ibu. Yang lainnya masih utuh seperti sedia kala.. lalu belajar berjalan. Jadi tidak ada yang terlupakan oleh memori otaknya. b l o g s p o t . Rumah sakit yang tidak di- kenalinya. Bukan karena bekas delapan tusukan pisau belati tiga penjaga ruko itu. sepanjang koridor. mondar-mandir di sepanjang kamar. bahu kanan. c o m .b u k u .anak-anak lain.. me- nyisakan bekas luka melintang besar di perut. Operasi ginjal. Penuh perban dan selang plastik di sekujur badan. 86 | R a t u . dia dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap dan lebih canggih peralatannya. Dia harus beristirahat selama satu bulan. Ruangan yang tidak dikenalinya. duduk-duduk. Maka sebulan penuh Ray hanya terbaring. IBU-KOTA! Ini bukan kota kecilnya lagi. termasuk akal- sehatnya. dan paha. Enam bulan silam saat pertama kali siuman. Bukan karena masuk rumah sakit lebih dari sebulan yang membuatnya lupa. Di manakah dia? Seorang suster setengah baya dengan wajah keibuan menjelaskan banyak hal.

menjabat tangan erat-erat. hanya sibuk memperhatikan. b l o g s p o t . Enam bulan terakhir Ray berubah menjadi pendiam. meski berada di lingkungan yang nyaman. Rumah? Ada acara penyambutan kecil di sana. mengangguk pendek kalau ditanya. Tapi setelah semua kejadian yang dilaluinya beberapa bulan terakhir. Tersenyum kecil kalau di- tegur. seolah-olah sedang menunggu teman lama datang. Ada juga ibu-ibu tetangga sebelah rumah yang rutin mengantar makanan. Tapi mereka tersenyum ramah. Kembali ke panti? Tak akan! Beruntung suster dengan wajah keibuan itu di hari kepulangannya. Tempat itu menyenangkan. Teman-teman serumah juga tidak usil bertanya bekas luka di tubuh- nya. Tidak ada! Kakak-kakak itu ramah dan banyak senyum. Di antara rumah-rumah penduduk. berbisik bersahabat. c o m .b u k u . Tak ada yang memaksa melakukan sesuatu. Rumah itu cukup besar untuk menampung sembilan orang mulai dari umur tujuh hingga belasan tahun. Yang lebih penting lagi dia tidak mungkin kembali ke kota kecil itu. Lebih banyak menyendiri.Tak ada uang. Rumah itu di pinggiran kota. Ada kakak-kakak lelaki sekitar penghujung tiga puluhan yang rajin berkunjung. Salah satu sisi atapnya menyatu dengan tembok tetangga. ada yang berubah dari dirinya. Ray tidak mengenal orang- orang di ruangan depan yang berbaris. berbaik-hati mengantarnya ke sebuah rumah. Tak ada jadwal harian. menggeleng pelan kalau di- 87 | R a t u . Tak ada tujuan. Rumah Singgah! Di sanalah hidup Ray berlanjut enam bulan terakhir. Tak ada yang marah-marah membawa pecut rotan.

Tak terasa. Ray hanya pelan mengangguk. Tusukan pisau belati. dan sekarang dia sudah berada jauh dari siapapun. Ada tiga pilihan kelas: Kejar Paket A. Melesat seperti komet. Senyap. “Setidaknya kau punya aktivitas. Ray seperti memulai fase kehidupan yang berbeda. Pergi jauh-jauh! Ray lebih banyak berdiam diri. b l o g s p o t . Hari ini. Ruko pedagang Cina. 88 | R a t u . Ray mendaftarkan diri ikut sekolah informal di kantor kelurahan. Kay! Mengisi waktu luang dengan hal-hal positif. Menghindari bertemu dengan anak-anak panti. Jelek tahu!'“ Kakak-kakak itu tertawa menggoda. Masalahnya. Saat-saat belajar jalan di rumah sakit. Melalui waktu bak seorang pertapa yang takjim berdiri di pinggir sungai. Kakak-kakak penanggung-jawab Rumah Singgah yang menyarankan. menyimak sampan-sampan dikayuh hilir-mudik. Dan hari-hari berlalu cepat tanpa terasa di Rumah Singgah. masa-masa menyakitkan itu terlewat.b u k u . SD. Anak-anak Rumah Singgah lain rata-rata memang disekolahkan. Sukarela mendaftar. Tidak kenal siapapun. Kabur dari panti. Apalagi setelah sebulan lebih dirawat di rumah sakit. c o m . Semua ini baru baginya. B dan C. Sempurna seperti yang diinginkannya dulu. Lepau-lepau. Hari-hari di terminal. SMP dekat rumah. Siapa tahu kau akan lebih banyak tersenyum setelah pergi sekolah! Kami bosan melihat kau hanya melamun dan menyeringai. Ray sudah terlampau besar untuk duduk di bangku sekolahan formal sepera yang lain. sesuai pembicaraan dengan kakak-kakak penanggung-jawab Rumah Singgah dua hari lalu.ajak. Tepekur.

Ray bangkit dari kursi. Lantas menyerahkan kertas isian itu ke Ray. Sudah selesai.b u k u . kau hanya tinggal duduk-manis. Ya? Akan seperti apa tanda-tangannya? Bukankah dia tak pernah menyiapkan bentuk itu? Carut-marut? Kehidupannya selama ini tak pernah mengenal bentuk tanda-tangan. Tidak perlu memakai sepatu kalau kau tidak punya. Ujung-ujung rambut terasa kasar. Kelas dimulai pukul 07. Petugas pendaftaran bertanya beberapa hal lagi..” Ray mengangguk. Dia tahu. “Besok kau datang pagi-pagi. Alat tulis dan buku akan disediakan.. Mengusap cepak rambutnya... malas. Menggurat sembarang bentuk.. apapun bentuknya! Dan yang lebih penting dari itu semua: kau harus mandi pagi. b l o g s p o t . Petugas itu tidak banyak ber- komentar lagi. 89 | R a t u . Berpakaian yang rapi.Jadi pergilah Ray ke kantor kelurahan. Tapi kau harus memakai alas kaki. Bahkan tidak tahu akan seperti apa tanda- tangannya. Itu kan hanya penanda bagi kalangan tertentu? Ray menghela nafas.15. c o m . Mengangguk-angguk. tempat sekolah informal. Tanda-tangan? “Jangan-jangan kau tidak tahu apa itu tanda-tangan?” Ray menyeringai tipis. “Tanda-tangan!” Ray menatap datar. Ray menjawab pendek-pendek. Masalahnya dia tak pernah melakukannya. Menyerahkan surat pengantar dari kakak-kakak penanggung-jawab Rumah Singgah. Memeriksa ulang kertas isian dari atas ke bawah. Petugas menutup buku pendaftaran. Menerima pulpen.. Sedikit mengerti soal nama ayah dan ibu tadi.

Di usia tujuh belas tahun. 90 | R a t u . “Kau keluar karena itu?” Ray bertanya bego.” Natan tertawa lebar. Muka- nya memerah. Pukul 21. c o m ...” Ray menjawab pendek... kan?” Natan tertawa lagi. teman sekamar bertanya. Dengan perawakan macam anak kuliahan. enam bulan aku di sana.b u k u . dulu waktu aku masih Kejar Paket B di kelurahan. “Sayang. Ray! Masih muda lagi. malam. Menyenangkan? Entahlah. berarti sudah nggak.Besok dia sekolah. Mengaitkan tali gitar di paku yang tertancap ke dinding. “Ibu Guru Nusi masih ngajar?” Ray memandang bingung.. b l o g s p o t . hanya gara-gara Ibu Guru Nusi-lah aku betah enam bulan! Rekor-” “Betah?” “Ibunya cantik. Natan baru pulang dari pekerjaan hariannya: mengamen. Dulu dia memang cemburu dengan anak-anak berseragam yang me- menuhi metromini. “Baik. Jadi buat apa lagi aku sekolah. Nyemplung masuk ke dalam keranjang pakaian kotor. “Kau tidak kenal. ya? Wuih. Sekarang? Entahlah.00. Ray? Oh. Membuka kaos hitamnya yang bau keringat Melempar-nya sembarang. Terlambat? Entahlah. ®LoveReads “Bagaimana sekolahnya?” Natan. Bangku sekolahnya yang pertama. Ibu Guru Nusi menikah. tersipu.

“Becanda. Karena dulu Ray sempat 91 | R a t u . tukang semir. Mereka tinggal sekamar karena hanya kamar Natan yang kosong saat Ray datang. Kakak-kakak penjaga Rumah Singgah itu hanya sibuk mengingatkan soal masa depan. Pelajaran itu sudah nggak masuk lagi ke otak. Dulu aku sungkan menolak Bang Ape.. Ternyata hasilnya begitulah. tidak juga menyuruh. c o m . Nggak mungkinlah. haha. karyawan ruko. Meski dari perawakan mereka terlihat sepantar. Tadi siang hari pertama Ray masuk kelas.. Di Rumah Singgah ini tidak ada yang memaksa. Natan cukup menyenangkan.b u k u . Aku memang sudah bosan sekolah. Kalau malas sekolah dan memutuskan memilih bekerja. Nah.. Natan umurnya dua tahun lebih tua dibandingkan Ray. bosan. langsung ikut ujian untuk menentukan tingkat sekolah informalnya. Mereka selalu diingatkan untuk me- nyadari masa depan ditentukan oleh mereka sendiri. hanya bagian ini yang menyebalkan dari Bang Ape. b l o g s p o t . aku malas. lebih banyak tertidur di kelas.. silakan. Tidak ada yang harus disetorkan. terpaksa mencoba ikutan. Ray. Entah itu bekerja hanya jadi pengamen. bantuan orang lain ada batasnya.. tertawa kecil. menyambar handuk. Menabung. Jadi lebih baik berhenti!” Natan menggelengkan kepala. tukang foto-kopian. Bang Ape. Uang hasil pekerjaan juga untuk masing-masing. asongan. Teman baik yang rajin bertanya apa kabar.. apa saja! Yang penting pekerjaan baik-baik. kakak-kakak penanggung-jawab Rumah Singgah tidak pernah melarang. karena kalimat tentang masa depan ini selalu diributkan kalau mereka lagi kumpul-kumpul.

92 | R a t u . ternyata ketiga teman sekelasnya seumuran. Hal-hal menyakitkan yang tidak patut diingat. Bintang-gemintang membentuk ribuan formasi. Di kota baru. Melihat mereka Ray urung berkecil hati. b l o g s p o t . Mengusap rambut. Guru yang mengajar tadi pagi diperbantukan dari SMP dekat kelurahan. Dengan kehidupan baru.. Kota kecil dengan penjaga panti sok-suci itu sudah tertinggal jauh ratusan kilometer.b u k u . Ray tidak perlu mengulang dari awal. Semua itu tinggal masa lalu. hanya satu yang sesuai dengan usia anak SMP kelas satu. Ray menghela nafas pelan.. Lepau. Ruko pedagang Cina. Menghela nafas.belajar membaca dan menulis dengan istri penjaga panti. Ibukota! Kota sejuta mimpi. Sekarang dia tinggal di rumah ini. Semuanya anak jalanan. maka dia ditempatkan di Kejar Paket B. kembali tenggelam menatap keluar jendela.. Setara dengan sekolah menengah pertama. Malam ini. Di kelas itu hanya ada empat murid. Menyenangkan menatapnya. Ray menelan ludah. Mengambang lembut di langit bersih tak tersaput awan. kenapa pula dia harus menanyakan kabar penjaga panti sok-suci itu. Terminal. Memesona. rembulan bersinar elok di angkasa. Bapak-bapak setengah baya. Tidak ada Ibu Guru Nusi yang cantik. Biasa-biasa saja. Diar? Apa kabar Diar setelah dia mencuri celana dari toilet umum yang dijaganya? Apa kabar anak panti lainnya? Apa mereka baik-baik saja? Penjaga panti? Ray menyeringai. c o m .

Di sini jauh lebih baik. Malas menjelaskan. Dan Ibunya yang tak sanggup menahan beban kehidupan akhirnya meninggal me- ngenaskan. Memperhatikan kakak-kakak penjaga Rumah Singgah yang memberikan berbagai kisah. atau sibuk bilang-bilang ke donatur untuk mendapatkan belas-kasihan- 93 | R a t u . tidak bertanya lebih lanjut. Mendengarkan anak-anak lain berceloteh riang di ruang depan. Menyimak Natan yang memetik gitarnya di dalam kamar kalau sedang memutuskan libur mengamen. Sama saja dengan anak-anak di panti dulu. yang masih tertatih berjalan. Tidak ada yang sibuk bertanya soal itu. c o m . motivasi. Jadi buat apa ditanyakan? Bagi Ray tidak ada yang isdmewa dari berbagai cerita menyedihkan itu. nasehat. Meninggalkan Natan. Buat apa bertanya lagi? Mereka semua pasti senasib. dan dia hanya menjawab tidak tahu. Anak-anak lain juga sama saja ceritanya. dan entahlah. Tapi apakah semua ini sungguh menyenangkan? Entahlah! Sesekali anak-anak lain bertanya soal masa-lalunya. meskipun tidak tahu di mana rimbanya! Bayi kecil Natan ditinggalkan begitu saja di jalanan bersama ibunya yang sakit- sakitan. b l o g s p o t . tidur tinggal tidur. Kesedihan. Anak-anak itu hanya mengangguk.b u k u . Kelaparan. Ayah Natan pergi dengan wanita simpanan. bukan? Makan tinggal makan. dari ceritanya malam kesekian.Kehidupannya enam bulan terakhir berjalan nyaman. Anak-anak yang tidak beruntung. Natan misalnya. Bedanya hanya soal perlakuan. Tidak ada pecut rotan. sebenarnya ayahnya masih hidup. Sama saja dengannya.

b u k u . mencari makanan di dapur. eh. lama Ray memandang rembulan di langit. Duduk mencangkung di atas genteng. 94 | R a t u . Sebulan terakhir. hadiah dari siapa katanya. “Yeah! Gitar! Besok aku dapat gitar baru dari Bang Ape. Rutinitas Ray bertambah. c o m .. Melangkahkan kakinya ke atap rumah. hanya bisa berlatih kalau Natan tidak mengamen. Dia sudah lumayan jago. besok dia bisa berlatih lebih banyak.“Ah-ya. Setidaknya untuk mengusir rasa bosan- nya setelah pulang dari kelurahan. melambaikan tangan. “Kau sudah-makan?” Natan merapikan rambut gondrongnya. Kalau begitu. lama-lama malas dan bosan belajar di sekolah informal itu. “Gitar?” Ray yang sedang menatap rembulan dari balik jendela kamar menoleh.. Malam itu. Lamunannya terputus. b l o g s p o t . lantas turun sendirian. Enam bulan lagi berlalu tak terasa. belajar. besok kau boleh pakai gitarku!” Natan yang kembali dari kamar mandi. Sementara Ray pelan beranjak keluar melewad bingkai jendela. Ray mengangguk. Natan tersenyum. Siapa tahu besok-lusa dia akan seperti Natan. Setidaknya dia bisa mengamen. aku lupa. Bukan hanya ke kelurahan pagi-pagi. ®LoveReads Dan hari-hari berlalu bagai lesatan peluru.. dengan rambut basah dan tubuh mengeluarkan wangi sabun murahan menegurnya. Ray mengangguk kecil. lantas sorenya belajar memetik gitar. Dia sedang belajar memetik gitar.” Natan menyeringai senang.

b l o g s p o t . Benar-benar rusuh saat Natan pulang dari jadwal mengamennya. Ray ikut-ikutan membantu. Tertawa. Sebulan berikutnya. Tertawa bersama anak-anak lain saat menyiapkan pesta ulang tahun spesial itu. Ray yang pendiam sejak keluar dari rumah sakit berubah periang. semua aktivitas ini membantunya lebih banyak tersenyum. Malam itu misalnya. Tertawa. Seluruh lampu sengaja dimatikan.b u k u . Telur busuk berbagai bentuk-bakal torpedo nanti malam.Dia mulai sibuk belakangan karena sekali-dua justru mulai ikut Natan mengamen. Mereka bersembunyi menunggu. Mulai dari air rendaman kaos kaki bau tidak dicuci-cuci selama sebulan. c o m . Menimpukinya dengan telur 95 | R a t u . Apalagi Ray pada dasarnya anak yang terbuka dan mudah berinteraksi. Sepanjang tahu batasnya. sibuk meniru-niru ekspresi teraniaya. Beramai-ramai mengikat Natan di tiang bendera halaman. Hingga kue ulang-tahun yang melihatnya saja sudah mual berkepanjangan. Sebenarnya mereka lebih banyak tertawa membayangkan wajah Natan nanti malam. Natan ulang tahun. dia sudah mulai berbincang ringan dengan anak- anak Rumah Singgah lainnya. Di sini tidak ada yang melarang iseng menjahili teman serumah. maka iseng sepanjang hari anak-anak menyiapkan kado spesial. Dua bulan berikutnya malah mulai bisa ikut-ikutan jahil saling mengganggu. Tertawa-tawa mengguyurnya dengan semua air-bertuah yang sudah disiapkan. Benar apa yang dibilang Bang Ape. dengan sumbu kompor pengganti lilin di atasnya. lantas menyergap Natan di ruang depan.

Tegel Rumah Singgah becek. Pasrah.busuk. c o m . Kemudian malamnya nongkrong. Beramai-ramai setiap Sabtu sore main bola di lapangan dekat kelurahan. Juga beragam tabiat dan perangai anak-anak lainnya. Naik ke atap genting. Dan memaksanya memakan kue ulang-tahun tersebut.. b l o g s p o t . Tidak ada sebutan adik-kakak. Ricuh sekali malam itu. berseru panik. anak berumur dua belas yang kocak. Natan setelah sibuk melawan. Membalas mengejar anak-anak saat berhasil membebaskan diri. Ray bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga untuk pertama kalinya. Sendirian. 96 | R a t u . Tapi menyenangkan melakukan itu semua.b u k u .warung sate ujung jalan. Meniup lilin yang malah “meledak”. Ray pelan mulai menyatu dengan berbagai kesukaan anak-anak Rumah Singgah. Ada si kembar Oude dan Ouda yang dnggal di lantai satu. Termasuk Ray! Dia ikut-ikutan berlari. Ray ringan tangan membantu mengepel. tapi Ray bisa merasakan betapa menyenangkan menjalani kehidupan bersama mereka.. akhirnya ikut tertawa lebar. harus membersihkan sisa keributan. Tidak terpaksa. Berusaha berbagi percikan air kotor dari tubuhnya yang kuyup. Benar-benar menjadi malam yang panjang. Ilham menyulap loteng rumah jadi studio lukisnya. Di rumah itu. Ada Ilham yang kamarnya paling atas. meronta-ronta. karena mereka setelah berdamai dengan Natan. Anak-anak kalang-kabut mencari perlindungan.

. Kalimat itu tetap ter- dengar amat bertenaga.. Tersedu lama saat Bang Ape mengatakan kalimat sakti tersebut. Tidak peduli seberapa sering mendengarnya. Bertanya sekolah.” Setiap kali Bang Ape mengatakan itu. salah satu anak Rumah Singgah yang kamarnya persis di depan kamar Natan bahkan menangis Sabtu malam itu. meniru kalimat itu saking hafalnya. Menusuk. Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini. Bang Ape sekali-dua yang melihat kelakuan Oude juga ikut tertawa. Menimpuk Oude dengan kulit pisang. Dito. c o m . 97 | R a t u . Anak-anak terdiam. Ray dan anak-anak lain yang tahu kelakuan Oude hanya tertawa. b l o g s p o t . Sambil bertanya apa yang telah mereka lakukan sepanjang minggu. untuk pertama kalinya dia menangis bukan karena lecutan bilah rotan. Kemudian selalu menutup makan malam itu dengan kalimat: “Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk.Bang Ape mentraktir mereka. tapi kalian memiliki kepal tangan untuk mengubahnya. Sebenarnya amat mengesankan mendengarkan Bang Ape mengatakan kalimat itu. Pekerjaan. Ray tertunduk dalam-dalam. Mem- bangkitkan semangat. Kalimat itu membolak-balik hatinya. seminggu sekali.b u k u . Untuk pertama kalinya Ray menangis karena terharu. .. Oude dan Ouda yang selalu banyak tertawa saat menghabiskan sepuluh tusuk sate ikut menyeka ujung matanya yang basah.. tidak sibuk meniru-niru. Oude sambil nyengir selalu sembunyi-sembunyi iseng menggerakkan bibirnya. kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian. Selalu memberikan motivasi.

Mereka malah lebih dari sekadar keluarga. kemudian menambahkannya dengan kalimat: “Kalian akan tetap menjadi saudara di mana pun berada. Anak-anak lain menjadi keluarga baginya. enam bulan berikutnya berlalu lagi tanpa terasa..” Kesembilan anak-anak Rumah Singgah menangis. Mengamen. Ray sepanjang hari bersama Natan lelah menyelusuri jalanan kota. Mereka berdua mem- bawa gitar. Tidak ada yang pergi dari hati. benar-benar merasakan janji kehidupan yang lebih baik. maka di Rumah Singgah itu. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Rumah Singgah ini memberikan sepotong kehidupan baru yang indah baginya. Kalian sungguh akan tetap menjadi saudara. Ray tertawa lebar menggeleng setiap kali Natan menyuruhnya ikut bernyanyi.. Dito terisak panjang. tidak ada yang berniat menghabiskan sate.. Naik dari satu bus ke bus lainnya.b u k u . b l o g s p o t . Maka watak Ray yang 'solider' muncul tak tertahankan.. Ray memutuskan akan membela mereka dari siapa saja yang berbuat tidak menyenangkan. 98 | R a t u ... c o m . ketika Ray tanpa disadarinya selalu melindungi Diar dan anak-anak lainnya dari perlakuan penjaga panti. kalian sungguh akan tetap menjadi saudara. Bang Ape mengusap rambutnya. Meskipun yang menyanyi selalu Natan. berbisik menenangkan. Sama seperti di panti dulu..Karena semua tahu! Besok pagi Dito akan diadopsi. Dan Ray sejak malam itu. Dia bersumpah! ®LoveReads Malam itu. Malam itu. Malam itu saat Bang Ape mengatakan kalimat tersebut...

Entertainer sejati di atas bus! Menyanyikan minimal tiga lagu setiap pertunjukan. Penumpang terkadang tidak me- nolehkan wajah saat Natan basa-basi mengucap salam. dia tinggal menjadi latar saja. Malah hingga pernak-pernik seperti 99 | R a t u . Tapi kalau Natan sudah mulai memetik gitarnya. latar vokal. latar musik. Suaranya jelek. Natan memang jago! Dan Ray menyeringai senang. maka mata-mata itu akan memandang terpesona. Lincah tangannya mengeluarkan intro. Mending sih. kepala-kepala itu pelan terangkat. Ngamen bersama Natan menyenangkan. Meskipun Natan amat modis dengan topi.Fals. Apalah beda mereka dengan pengamen lain. dibandingkan yang justru menatap jengkel. dan pernak-pernik penyanyi lainnya. Natan misalnya. c o m . sepuluh detik pertama penumpang bus biasanya tak peduli. Natan tipikal pekerja yang baik. Saat mereka naik. Tersenyum lebar. Mengimbangi petikan gitar dan suara bertenaga Natan. jaket. Malah ada yang menguap. Bukan main. Kalau Natan sudah mulai dengan kalimat pertama lagunya. mengamen tidak pernah seadanya. disesuaikan dengan penumpang. Dia menghibur.b u k u . b l o g s p o t . Bersungguh-sungguh. Terganggu duduknya oleh ujung-ujung gitar atau khawatir terkena cipratan ludah dari mulut pengamen. ini artinya keranjang rotan mereka untuk ke sekian kalinya bakal terisi banyak. Memilih lagu dengan baik. menyapa penumpang hendak memulai pertunjukan. Bang Ape selalu mengajari mereka soal itu. pakaian rapi. Urusan memetik gitar dan menyanyi Natan jagonya. Semua anak di Rumah Singgah itu tipikal pekerja yang baik.

selama setahun lebih tinggal di Rumah Singgah. “Kenapa nggak sekalian saja dibagiin kartu nama? Kasih kartu diskon.kantong uang yang diedarkan dibuat senyaman mungkin. Menyenangkan. Sekarang. Ya! Rembulan yang indah.b u k u .. “Lari! Semuanya berlindung! Malam purnama!” 100 | R a t u . Rembulan bersinar elok sekali lagi. rembulan yang menyabit.. Berjalan beriringan. Ini bus terakhir. Bus tiba di jalan kecil menuju Rumah Singgah. kalau dia tidak boleh masuk. atau doorprize macam mini-market?” Malam beranjak naik. Tenteram. Di rumah sakit. Pergi dari sesaknya kepala. Purnama. Ray dan Natan beranjak pulang. Sempurna bundar. kebiasaan Ray memandang rembulan sering jadi gurauan anak-anak.30. kartu undian. Membuatnya nyaman. Menyimak sabit yang membulat. “Rembulan yang indah. Taburan bintang-gemintang menghias indah di atas sana. Sigap mereka loncat turun. Dia hampir hafal seluruh sopir dan kondektur bus kota.. Membenarkan posisi gitar yang disandangnya. Sudah pukul 21. Memandang rembulan membunuh seluruh pertanyaan. memandang rembulan membunuh sepi. Sejak kecil Ray suka sendirian memandangi rembulan. Ray mengangguk. selama sebulan itulah pekerjaannya. Dulu di panti. b l o g s p o t . dan langit berbaik hati tidak turun hujan. Sekalian menumpang. mengusir gulana. Natan melambaikan tangan. Adalah empat ratus meter menuju Rumah. Oude pernah nyeletuk sambil tertawa... c o m . dibuat khusus dari keranjang rotan yang indah.” Natan mengomentari langit.

mata- nya masih menatap langit. ikut naik ke atap. Merapikan anak rambut yang meng- ganggu ujung-ujung mata. Waktu itu dia masih pendiam. Penuh optimisme- Mereka bergurau soal acara itu beberapa kejap.. Menegur. kau pasti bisa. aku akan membuatkan kau sebuah lagu tentang rembulan!” Natan yang berjalan beriringan dengan Ray tertawa. Mengusap dahi. Enggan berbincang.. “Jadi! Aku sudah merencanakannya sepanjang tahun.” Ray berkata pelan. membayangkan Natan yang sedang bernyanyi di panggung. kau sudah seperti Bang Ape! Kalimat itu. Duduk di sampingnya. satu bulan pertama. Semua anak memang tertular kebiasaan Bang Ape bicara. Duduk sendirian. Dulu. “Kau pasti menang. “Jelek! Nggak asyik! Sama sekali tidak berbakat! Mending jadi pengamen jalanan lagi. di- komentari juri dengan kata-kata menyebalkan.” Natan tertawa. b l o g s p o t . teringat lencana besar yang disampaikan Natan seminggu lalu. Natan-lah yang pertama kali mengajaknya bicara. Ray mengolok-olok. “Kau jadi ikut acara televisi itu?” Ray bertanya.b u k u ... Ray hanya nyengir. tertawa soal manusia jadi-jadian.” 101 | R a t u .. c o m . Ray ikut tertawa. “Suatu saat. teman-” Natan mengangguk. Ray ikut tertawa.“Tolong! Tolong! Jangan gigit kamit!” Oude dan Ouda pura-pura berteriak setiap purnama datang. “Haha. Jadi mereka berdua lebih banyak berdiam diri menatap langit. naik ke atap genting tidak mempedulikan.

. Masuk ke halaman rumah. Men- dorong pintu depan yang tidak pernah terkunci.b u k u . Atau hari-hari penting lain. Akan ada yang diikat di tiang bendera. Memukul bahu Ray! Yang dipukul menghindar. lari. Kalau gelap-gulita itu baru celaka. Berseru-seru riang.Natan tertawa. bertepuk-tangan. Menyeringai. Terjuntai di atap. b l o g s p o t . dan hanya memasangnya kalau hari raya tiba. Saat Ray dan Natan masih sibuk mencari penjelasan. “Selamat. Ray melangkah lebih dulu. berjejer di depan rumah.. Di pohon-pohon. Sepi. Di tiang bendera. c o m . Malam ini? Apanya yang penting? Ergh. Ada belasan lampu. Ray!” Bang Ape menjabat tangannya. meniup terompet besar kencang-kencang. Berisik. Melangkah mendekati Ray dan Natan. bukankah tadi siang belum terpasang sama sekali? Natan tidak banyak berkomentar melihat lampu itu. Ada apa? Bang Ape keluar dari kamar Ouda. Lampu-lampu hias? Mereka memang menyimpan lampu warna-warni itu. Kenapa malam ini rumah mereka terlihat bercahaya. Selamat. Konfeti! Ray bersitatap dengan Natan. berkata sebelum sempat ditanya. Kemana anak-anak? Celingukan. Lagi-pula ulang-tahun-nya sudah lewat enam bulan. Ouda loncat keluar dari kamarnya. Larinya terhenti. Hanya meng- angkat bahu. Ruangan berkumpul mereka kosong. Tersenyum lebar. Berkejaran. Membawa pita-pita besar. Tapi lebih berisik lagi suara anak-anak lain yang keluar serempak dari kamar masing- masing. 102 | R a t u . Rumah Singgah tinggal belasan meter lagi. setidaknya ini bukan pertanda buruk. Hei! Ray menatapnya bingung. Ilham menyemburkan potongan kertas warna-warni dari loteng..

tidak kuat melanjutkan. Semua ini menyentuh hatinya. berseru. Menerima ucapan selamat. Malam itu rembulan terlihat teramat indah. teman..” Ray tertawa. “Mana kuenya. Seharusnya Ibu Guru Nusi waktu itu mengajar lebih lama.b u k u . ®LoveReads 103 | R a t u . Ilham?” Ilham bergegas turun dari lantai dua. aku bahkan hanya bertahan beberapa bulan. Mendadak hatinya mengembun. Dia lulus. setelah setahun ikut Kejar Paket B. menyeka mata. b l o g s p o t .. Me- nyimak wajah-wajah riang itu. c o m . Lulus? Kantor kelurahan? Ah-ya. Ray menyeka sudut matanya yang basah. Bang Ape mengangguk. Semua ini. Ray gemetar menerima uluran tangan. sih! Ray menelan ludah. Kau lulus! Lihatlah!” Bang Ape mem- perlihatkan amplop di tangannya. Benar! Lulus! Ray me-nyeringai. Dan teman-teman ikut ber- bahagia. Kau hebat. dia ikut ujian persamaan SMP. Yang lain berseru semakin ramai. Lihatlah! Benar-benar keluarga yang menyenangkan. Kenapa Bang Ape malam-malam ada di sini? “Tadi aku dari kelurahan. seolah-olah merekalah yang lulus.. Ikut terharu.“Selamat a-p-a-n-y-a?” Ray menyeringai bingung. seminggu lalu.. Bahkan Natan memeluknya erat-erat. Ada kue.. Hanya urusan kelulusan Kejar Paket B? Mereka merayakannya. membukanya. membawa ko-ta kue. “Kau lulus. Memandang Bang Ape. lama-lama.. Dia lulus? Lulus sekolah? Menerima surat itu... ya.

Membuka bungkusan. Lihatlah. lukisan itu benar-benar rusak.b u k u . Sempurna bolong dihajar sesuatu persis di tengahnya. Lukisan yang dibuat Ilham selama dua bulan terakhir di loteng Rumah. Bagaimana dia bisa menjelaskan? Nafasnya masih tersengal tiga tarikan satu detik. Ray melepas tali-temali. “Siapa yang memukulmu?” Ray mendesak. Menelan ludah. keringat membanjir di sekujur tubuh. b l o g s p o t . Bungkusan besar itu robek.Bab 10 Kapak Bermata Satu “APA yang terjadi?” Ray mencengkeram erat lengan Ilham. Ilham meringis. 104 | R a t u . Tangan- nya berusaha mencari pegangan di tiang-tiang halte. Apa perlunya dia membuka bungkus kertas cokelat?Jelas-jelas lukisan itu bolong besar. Anak kecil berumur dua belas tahun itu menyeka pelipisnya yang ber- darah. Kakinya bergetar menopang tubuh. dia masih diam seribu-bahasa. Dia baru saja lari pontang-panting menghindari kerumunan begundal tanggung yang mengganggunya. Mukanya pucat. giginya bergemeletukan menahan amarah. Cengkeraman Ray mulai menyakitkan. c o m . Yang ditanya dan dicengkeram hanya bisa menggeleng patah-patah. “Apa yang terjadi dengan lukisanmu?” Ray menyambar bungkusan besar terbalut kertas cokelat yang tergeletak. mukanya men- dadak memerah. Lukisan yang indah- “SIAPA YANG MELAKUKAN INI?” Ray mendesis.

Kau kembali ke rumah. Menyisakan kaos tanpa lengan. Ray yang sering melamun di atap genting menatap rembulan..b u k u . Sementara tangan yang satunya berusaha menyeka pelipis. melangkah dingin menuju arah yang ditunjuk Ilham. memotong penjelasan Ilham. tak-terbantahkan. Ray yang tidak banyak berkomentar. SEGERA! Biar aku yang mengurus berandalan itu!” Ray mendesis tajam. masih terganggu oleh sengalan dan erangan perih. Bukankah wajah Ray selama ini selalu terlihat menyenangkan? Ray yang naik ke loteng memperhatikannya melukis. Menunjuk ke gang-gang dekat pasar induk. c o m . tidak berisik seperti si kembar Oude dan Ouda kalau sedang melihat- nya menggurat kanvas. Ray yang amat solider dengan anak-anak Rumah Singgah lainnya. bekas tusukan belati itu terlihat jelas- melintang di bahu kanan. “Jangan bilang siapa-siapa. Dia melihat Ilham terengah- engah lari entah dari mana dengan pelipis terluka. Mata Ray menatap buas. Ilham menelan ludah. darah terus keluar. b l o g s p o t .Ilham akhirnya lemah mengacungkan tangan kanan. Semua urusan ini sederhana baginya. Tidak sengaja 105 | R a t u .. Suaranya ter- dengar bagai perintah panglima pasukan perang. “Lap muka-Mu dengan ini!” Ray melepas kemejanya. Susah payah mengata- kan sesuatu.. Cukup! Dia tahu apa yang terjadi. “Kau pegang gitarku!” Ray berkata dingin. Ilham mendadak mengkerut melihat wajah Ray. Preman tanggung yang sering mangkal di gang dekat pasar itu pelakunya. suaranya antara ada dan tidak. Lantas tanpa ba-bi-bu.

bertemu dengannya yang baru turun dari bus. “Haha. Ilham sudah menyebutkan ter- bata-bata siapa pelakunya. Salah seorang pemuda tanggung yang duduk di atasnya jatuh menghantam lantai warung.. Sembilan anak di Rumah Singgah itu lebih dari saudara baginya. luka dibalas luka! Semua urusan ini sederhana baginya.b u k u . c o m . Ray tinggal sepuluh langkah lagi dari gang dekat pojokan pasar. Buku-buku tulang memutih. Siapapun yang melakukannya. yang Ray peduli hanya satu: darah dibalas darah. Maka sementara Ilham masih menggigil tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. “Apa sih isi bungkusan itu? Nekad amat melindunginya.. mengamen.” Yang lain menyahut. 106 | R a t u . haha!” Ray mengepalkan tinju. anak itu terbirit-birit. “ Tetawa. mereka harus mendapatkan balasan setimpal.... peduli seberapa besar mereka. “Dasar bodoh apa susahnya memberikan uang? Malah milih di- gebukin. tidak. b l o g s p o t . Ray tidak peduli berapapun jumlah mereka. Malah remuk dua-duanya. Ray tahu siapa mereka.. anak-jalanan yang sering berkerumun di gang dekat pojokan pasar. Lebih sayang bungkusan dibanding pelipis.. Mukanya me- nebar kebencian-kebencian yang lebih besar dibandingkan saat melawan penjaga panti dulu.. “SIAPA YANG MELUKAI ANAK ITU?” Ray menendang salah satu kursi kayu.. Menatap dingin empat-lima pemuda tanggung yang sedang tertawa-tawa duduk di salah-satu warung..

Tawa itu terhenti. Pembicaraan terhenti. Muka-muka menoleh. Bukan
hanya muka lima pemuda tanggung itu. Tapi pemilik warung, tukang
becak, dan orang yang ber-lalu-lalang di pojokan pasar. Teriakan Ray
mengagetkan. Membuyarkan banyak kesenangan, apalagi aktivitas
menyebalkan.
“SIAPA YANG MELUKAI ANAK ITU?” Ray mencengkeram kerah
baju pemuda tanggung yang hendak berdiri dari jatuhnya. Kepalan
tangannya terangkat. Matanya buas mengancam.
Maka dalam hitungan detik terjadilah perkelahian massal! Lima
lawan satu. Ray sedikit pun tidak membutuhkan jawaban dari mereka.
Tangannya langsung menghantam muka orang yang dicekiknya,
bahkan sebelum yang bersangkutan membuka mulut. Kemarahan itu
terlepaskan menjadi amuk. Ray jelas-jelas tidak mabuk seperti waktu
dikeroyok tiga penjaga ruko Cina berpisau belati dulu. Maka
tubuhnya yang gempal, gerakannya yang gesit, dan otak cerdasnya
yang berpikir cepat berubah menjadi gerakan-gerakan mematikan.
Lima detik, dua orang terjengkang. Mulut berdarah. Entah gigi
sebelah mana yang patah. Orang-orang berseru panik. Ibu-ibu pemilik
warung menjerit. Anak gadisnya yang sedang mencuci piring
mengkerut. Orang-orang di jalanan berusaha mendekat. Termasuk
yang tadi berdiri di lapak. Tapi hanya itu yang bisa mereka lakukan...
Tadi saat Ilham dikerumuni kelima preman tersebut, saat Ilham
dipalak, saat Ilham berteriak minta tolong, orang-orang di sekitar juga
hanya mengangkat bahu, enggan terlibat, berpikir urusan masing-
masing.

107 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Apalagi saat terjadi perkelahian seperti ini, mereka hanya sibuk
menonton. Siapa pula yang hendak berbaik-hati melerai? Jangan-
jangan malah merepotkan diri-sendiri, kena tonjokan tanpa alamat,
tendangan antah-berantah. Mereka hanya menatap, sok-prihatin.
Salah seorang dari preman tanggung menyambar botol saos. Meng-
hantamkan ke meja. Pecah menyisakan ujung-ujung runcing. Ray
yang sibuk menangkis pukulan dari depan tidak melihat botol itu
datang menghajar pundaknya. Darah keluar mengalir. Demi me-
nyadari bahunya terluka, menatap semburat merah di kaosnya, Ray
berteriak kalap.
Tangannya cepat menyambar salah satu kursi kayu yang roboh-ter-
pelanting. Kursi itu melesat, menghajar kepala preman tanggung yang
menggenggam botol.
Orang-orang berseru panik. Ngeri. Pemuda tanggung itu terpental satu
meter. Kepalanya berdarah-darah. Ray tidak peduli. Melompat meng-
hantamkan kursi itu sekali lagi tanpa ampun.
Dua sisa pemuda tanggung yang berdiri dua langkah di belakang Ray
terkesiap. Seketika hati mereka berdesir.
Lihatlah! Ray seperti banteng terluka. Ketakutan itu muncul bagai
tirai menutup pertunjukan. Gerakan tangan mereka terhenti. Saling
berpandangan. Ray setelah kursi itu hancur berkeping-keping, apa-
lagi preman tanggung yang digebukinya, membalik badan. Matanya
menyapu sisa lawannya. Dua preman tanggung yang mulai jerih,
mencicit menatap amarah yang menguar dari wajah Ray. Balik-kanan.
Memutuskan lari seribu langkah.

108 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Teriakan polisi yang berjaga di pos depan Pasar menghentikan lari
mereka. Teriakan yang juga menghentikan gerakan kaki Ray yang
buas hendak mengejar. Juga teriakan pemilik warung, seruan-seruan
tertahan dan tatapan orang-orang yang berkerumun...
Sementara Ilham gemetar di sela-sela kerumunan. Tangan kanannya
berusaha mencengkeram gitar Ray kuat-kuat. Tangan yang kiri mem-
bawa lukisannya yang bolong. Ilham hendak melangkah, membantu
Ray yang terluka. Tapi gerakan polisi membuatnya terhenti. Borgol-
borgol mengunci. Ray dan preman-preman itu digelandang.
Ilham terbirit-birit berusaha mengikuti Ray yang digiring ke pos pen-
jagaan. Kemudian berlari mengejar mobil patroli yang melesat
menuju kantor polisi. Percuma, mobil itu menghilang dengan cepat.
Ilham terduduk di trotoar, tersengal-sengal lima menit kemudian.
Menatap nelangsa mobil polisi yang hilang di kelokan jalan. Menyeka
dahinya yang perih. Badannya penuh debu dan peluh, kerah bajunya
terkena darah dari luka di pelipis.
Ilham mendesah menatap kelok ujung jalan, berusaha tidak mem-
pedulikan perih di kening-apalagi lukisannya.
Semua ini di luar bayangannya. Ray? Ray mengamuk menghajar
preman-preman itu. Menyaksikan Ray menghantamkan kursi kayu
tadi membuat Ilham mengkerut. Menatap wajah Ray yang begitu
marah.... luka di bahunya.... Polisi-polisi....
Bang Ape harus tahu. Segera!
®LoveReads

109 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Apa kabarmu?” Bang Ape menatap prihatin.
Ray mengangkat mukanya yang dari tadi tertunduk menjawab pendek
dengan suara pelan, “Buruk.” Menggeleng.
Bang Ape menatap bahu yang terbungkus perban. Menurut polisi di
ruang jaga luka itu tidak serius. Menghela nafas. Ruangan besuk
tahanan sepi. Matahari hampir tenggelam di ufuk barat.
Tadi siang terbirit-birit Ilham mencarinya. Menjelaskan patah-patah.
Satu kata, dua tarikan nafas. Gemetar. Dia langsung meninggalkan
pekerjaan di kampus setelah mengerti apa yang baru saja terjadi.
Mengantar pulang Ilham ke Rumah Singgah. Anak-anak di rumah
sibuk bertanya melihat Ilham pulang dengan pelipis luka. Menjawab
singkat. Anak-anak sibuk ingin ikut ke kantor polisi. Menyuruh
mereka menunggu.
Hening. Lima menit Bang Ape hanya menatap wajah Ray yang
benjut. Tubuh yang memar oleh bekas pukulan, kaos hitam yang
menyisakan gumpalan darah.
Lima menit yang senyap. Ray tidak berani memulai percakapan,
tepatnya sungkan memberikan penjelasan. Wajah Bang Ape yang
masuk ruang besuk terlihat berbeda dari biasanya. Wajah prihatin.
Marah. Entahlah!
“Berapa kali aku pernah bilang. Rumah Singgah tidak mendidik
kalian menjadi preman, Ray. Kau tidak seharusnya melakukan
tindakan bodoh-”
“Tapi mereka yang mulai duluan,” Ray meringis, memotong ucapan
Bang Ape. Kalimat pertamanya.

110 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Dengarkan aku dulu, Ray....” Bang Ape mendesis.
Ray menelan ludah. Terdiam.
“Kau bisa melaporkannya.... Biar petugas yang mengurus. Kau se-
harusnya tidak bertingkah sok-jagoan. Lihatlah apa hasilnya? Salah
seorang dari mereka entah selamat atau tidak-”
“Mereka layak mendapatkannya,” Ray menyeringai, memotong lagi,
kebiasaannya dulu dengan penjaga Panti. Meskipun juga karena men-
dengar Bang Ape yang menyebut kalimat sok-jagoan.
“Bisakah kau mendengarkan aku dulu, Ray?”
Ray terdiam. Wajahnya tertunduk.
Bang Ape menghela nafas, “Masalahnya bukan soal layak atau tidak,
Ray. Bukan soal siapa yang memulai duluan, bukan soal itu... Bisakah
kau memahami sesuatu yang amat sederhana? Tidak ada cara buruk
untuk berbuat baik. Cara kau membalaskan kelakuan mereka terhadap
Ilham sama persis seperti kelakuan mereka. Brutal. Kalau sudah
begitu, apa bedanya kau dengan mereka?”
Ray hendak memotong lagi, tapi urung demi melihat wajah Bang Ape
yang menatapnya lamat-lamat. Ekspresi wajah yang sama saat makan
sate terakhir bersama Dito. Wajah itu-
“Kau berbeda dengan mereka Ray! Kalian berbeda dengan anak
jalanan. Aku tidak membangun Rumah Singgah untuk menjadikan
kalian preman. Aku ingin kalian berpendidikan, memiliki kebanggaan
atas hidup, bertang-gung-jawab.... Suatu saat kau akan mengerti,
terkadang pukulan tidak mesti dibalas pukulan. Luka tidak mesti
dibalas luka....

111 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Tahukah kau, kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang di-
lakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi...
Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan dari
orang lain itu sementara, Ray! Pemahaman dan penerimaan tulus dari
kejadian menyakitkan itulah yang abadi.... Aku tahu mereka yang
memulai mengganggu Ilham. Aku tahu itu.... Tapi kau bisa memilih
pemecahan masalah yang lebih baik, bukan?” Bang Ape mengusap
rambutnya. Menghela nafas panjang. Diam beberapa saat.
Ray tepekur. Hatinya masih mengkal.
“Meskipun dalam situasi tertentu apa yang kau lakukan bisa saja di-
mengerti, mungkin malah dibela dan dipuji.... Tapi kalian berbeda.
Kalian anak-anak yang tahu menyikapi persoalan dengan baik.....
Setidaknya aku berharap kalian akan seperti ini suatu saat kelak, me-
nyadari bahwa tidak semua persoalan hanya bisa diselesaikan dengan
menyalahkan, lantas membalas....”
Ray tertunduk. Membantah nyaris semua perkataan Bang Ape dalam
hati.
Enak saja. Jelas-jelas mereka yang mulai duluan. Kalau bukan dia
siapa yang akan membalas kelakuan lima begundal itu? Orang-orang
malah menghindar. Takut sekali membantu orang yang ter-aniaya di
depan mata mereka sendiri? Sekarang Bang Ape malah menceramahi-
nya tentang pilihan solusi lebih baik.
Suara kumur-kumur Ray terdengar oleh Bang Ape.
“Apa kau mengerti apa yang kukatakan?” Bang Ape menyentuh
lengan Ray. Berkata dengan intonasi tajam.

112 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Ray mengangkat kepala. Menatap wajah Bang Ape. Menelan ludah.
Mengangguk pelan.
®LoveReads

“Sayangnya kau tidak mengerti waktu itu, Ray. Hmn.... Bukan!
Bukan tak mengerti, tetapi kau tidak mau mengerti....” Orang dengan
wajah menyenangkan itu tersenyum. Menyentuh lembut bahu pasien
di sebelahnya, yang sepertinya kehilangan keseimbangan.
Pasien berumur enam puluh tahun itu menoleh, sementara tangannya
menggapai-gapai mencoba menyeimbangkan badan. Menggigit bibir.
Orang ini benar-benar tahu segalanya....
Mereka beberapa menit lalu sudah tidak lagi berdiri di terminal itu.
Juga tidak di ruangan tempat Diar menghembuskan nafas terakhirnya.
Beberapa menit lalu, lagi-lagi dia merasakan tubuhnya mendesing
memasuki kumparan penuh cahaya. Tersedot. Dan muncul-muncul
sudah berada di atap genteng sebuah rumah.
Berdiri begitu saja. Kaget dengan 'pendaratan'. Gelagapan, kakinya
terpeleset, pasien itu hampir jatuh, orang dengan wajah menyenang-
kan yang duduk di atap genting buru-buru menyambar tangannya,
membantu. Tersenyum.
Pasien itu menelan ludah. Setelah tidak mengerti apa yang harus di-
lakukannya di atap genting, akhirnya memutuskan ikut duduk di
sebelah orang yang sedikit pun tidak dikenalinya tersebut. Tetapi
tempat ini! Tempat yang amat dikenalinya. Sama kenalnya dia dengan
terminal di kota kecil itu.

113 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Tempat ini adalah atap genting Rumah Singgah. Sekarang tidak siang
seperti di terminal. Sekarang malam hari. Rembulan terlihat indah di
angkasa. Langit bersih tak-tersaput awan. Bintang-gemintang. Sama
indah dan memesonanya seperti dulu. Ketika tiga tahun lebih dia
tinggal di rumah tersebut. Bersama anak-anak yang menyenangkan.
Aktivitas yang menyenangkan. Kakak-kakak penanggung-jawab yang
baik dan tidak pernah memaksa....
Tempat ini.... Tak pelak, dalam hitungan detik, berbagai kenangan di
Rumah Singgah kembali tak-tertahan-kan. Bermunculan satu-persatu.
Memenuhi seluruh tepi-tepi memori otaknya. Hingga terpotong oleh
suara orang dengan wajah menyenangkan yang duduk di sebelahnya
barusan.
Semua ini membingungkan. Bagaimana orang ini tahu kalau dia baru
saja mengenang kejadian di gang dekat pojokan pasar tersebut.
Bagaimana orang ini tahu kalau dia sedang mengenang percakapan
dengan Bang Ape di mang besuk tahanan? Bagaimana orang ini bisa
membaca apa yang sedang dipikirkannya?
“Langit yang indah! Rembulan yang indah!” Orang dengan wajah me-
nyenangkan itu menatap ke atas. Mengabaikan wajah pasien yang me-
natapnya penuh tanda-tanya.
“Dari mana kau tahu aku baru saja memikirkan itu?” Pasien itu tetap
meneruskan kalimat yang terpotong seruan langit indah.
“Bagaimana aku tahu? Tentu saja aku tahu, Ray!” orang itu menoleh.
Tersenyum. Tangannya menunjuk ke langit, “Aku juga tahu.... Itu
Bintang Utara! Tidak seperti formasi bintang lain, posisinya tidak

114 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Di mana kita? Aduh.. me- ngelus ujung-ujung rambut ber-ubannya. Lagi-lagi jawaban menyebalkan itu. Tapi tersumpal oleh berbagai kenangan lama yang bagaimana caranya kembali begitu membingungkan. Penjelasan atas pertanyaan masa kecilnya barusan.. kita sedang melalui sebuah perjalanan... “Dan kau tentu saja belum mau. c o m .b u k u . Di atap genting 115 | R a t u . meskipun malam terasa nyaman -senyaman di terminal beberapa menit lalu.. Me- ngenang masa-lalu..pernah berubah sepanjang tahun! Hadiah dari langit untuk pengem- bara di gurun pasir. Sebenarnya sudah sejak muasal urusan ini bermula berbagai pertanyaan itu menumpuk.. Kematian Diar. Penjaga panti sok-suci itu. memotong kalimat basa-basi orang di sebelahnya.. bagaimana kau tidak mengenali tempat ini? Ini atap Rumah Singgah-mu! Tempat sepotong kehidupan yang menyenangkan milikmu berikutnya. Apalagi fakta-fakta yang tidak diketahuinya. Ray!” Orang dengan wajah me- nyenangkan tertawa hangat menanggapi rentetan pertanyaannya.” Pasien itu mengkal mengusap wajahnya yang berkeringat. “Tidak penting kau tahu siapa aku..” Tertawa.. pencari makna hidup dan kehidupan di senyapnya dunia-” “Siapa kau? Apa maksud semua ini? Apa aku sudah mau? Di mana kita? Apa yang kau inginkan? Uang? Berapa juta? Miliar?” Pasien berumur enam puluh tahun bertanya bak-mitraliur.. b l o g s p o t . Tubuhnya basah oleh peluh. “Apa yang kuinginkan? Apa maksud semua ini? Bukankah sudah kukatakan sebelumnya. pelaut di samudera luas.. Melonggarkan piyama rumah sakit yang dikenakannya.

Ray! Pertanyaan kedua dari lima pertanyaan besar dalam hidupmu. maukah kau mengenang beberapa kejadian selanjutnya untukku?” ®LoveReads Natan melepas pakaian 'keren'-nya. Kenapa pula Natan tak bisa mengerti sedikit pun soal ini. 116 | R a t u . c o m . Bang Ape memang benci anak-anak Rumah Singgah yang berkelahi!” Natan menyambar handuk. b l o g s p o t . Lima pertanyaan yang akan kau dapatkan jawabannya dari perjalanan mengenang masa lalu ini. “Kita hampir tiba di pertanyaan keduamu. teman.. Dia sungguh tidak mengerti.ini. menatap amat bijak dan mempesona.. Orang dengan wajah menyenangkan sekali lagi menyentuh lembut bahu pasien berumur enam puluh tahun di sampingnya. “Aku tidak tahu siapa yang salah dan benar soal urusan ini.b u k u .. “Kau tidak tahu apa yang harus kualami selama tiga hari! Menyikat toilet! Dibentak-bentak! Mengepel lantai! Dibentak-bentak! Disuruh push-up! Dibentak-bentak!” Ray mendesis sebal. “Dan aku harus membayar semuanya dengan menginap di sel tahanan polisi tiga hari tiga malam!” Ray mendesis mangkel. Tapi semua ini tetap membuatnya gerah. Suara burung hantu terdengar dari kejauhan. Sudah dua tahun dia tidak me-ngalami paksaan-paksaan itu.. Tersenyum menatap Ray yang bersungut-sungut menjelaskan kejadian.. Tapi sebelum tiba di sana. angin berdesir sejuk membasuh sekujur tubuh. Tapi kau harus tahu.

ada cara lebih baik. lukisan yang dibuat Ilham itu penting! Lukisan itu harusnya membawa Ilham ke pameran besar yang diimpikannya! Apa nasib lukisan itu sekarang? Bolong besar! Dua bulan Ilham membuatnya. Dan Ray hanya menyeringai. Bang Ape langsung berangkat lagi entah kemana setiba di rumah. seharusnya kau tidak membalas kelakuan mereka. Setidaknya si kembar memuji apa yang dilakukannya. Ray mengeluarkan suara puh keras. Hanya lima begundal petantang-petenteng sok-jagoan. Ray tersenyum tipis. Apa kata Bang Ape? Telinganya jadi tuli. Dan kau mudah saja bilang aku seharusnya tidak membalas kelakuan mereka! Enak saja!” Natan tertawa. Ray-” Ilham bertanya ragu-ragu soal keadaannya setelah anak-anak lain sibuk mengerubung-berkomentar.Membersihkan kamar mandi di kantor polisi selama tiga hari meng- ingatkannya kembali kepada Diar dan penjaga panti sok-suci itu.b u k u . “Aku mandi dulu. hanya berdiam diri sepanjang perjalanan.. Kau tidak mesti berkelahi. bukan? Kau beruntung tidak kurang apapun.. mungkin kau keliru-” “MEREKA YANG MEMULAI!” Ray berseru jengkel. teman!” Menghilang di balik pintu kamar-mandi... Lebih dari 117 | R a t u . Mungkin Bang Ape benar. Dia tidak apa- apa.. c o m . Melambaikan tangan.. Bang Ape menjemputnya dari kantor polisi. seperti biasa mulai mengolok-olok.. b l o g s p o t . “Kenapa jadi aku yang disalahkan? Kau lihat. Ray. Berdua. “Setidaknya kau tidak perlu menginap di rumah sakit berbulan-bulan seperti berandalan itu. Oude dan Ouda berseru riang menyambutnya... Tak ada percakapan. “Kau hebat. Baru tadi sore dia diizinkan pulang. Urusan ini benar-benar menyebal- kan.

Dia masih jerih membayangkan wajah buas Ray beberapa hari lalu. menyimak 118 | R a t u . Enak saja! Natan keluar dari kamar mandi. Pulang dengan pakaian 'keren'. Menjanjikan kesempatan besar. seminggu lalu mengenalkan Ilham ke kritikus seni kenalannya. Ah! Harusnya pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya saat Natan masuk kamar tadi adalah: “bagaimana audisimu? Lolos?' Bukan malah ribut-berdebat soal perkelahian di gang dekat pojokan Pasar. Kecuali Ilham yang berdiam diri. Juga 'ceramah' Bang Ape. saat kejadian. Tertawa-tawa mengikat Oude dan Ouda. Ray yang sedang menatap keluar bingkai jendela. mencuri-curi mena- tap wajah Ray. Menyaksikan mereka bercanda membuat Ray sedikit melupakan urusan tiga hari tiga malam di sel tahanan. Natan perangainya mirip Bang Ape. sore itu hampir seluruh penghuni Rumah Singgah merayakan kepulangan Ray sambil jahil main borgol-borgolan. Bau sabun memenuhi kamar. Tapi bagaimana mungkin Natan bilang seharusnya dia tidak menghajar begundal itu. c o m .itu pun dia bisa mengatasinya. Bukankah dia sudah tahu. Bang Ape yang menyuruh membawanya. Natan baru pulang pukul 19.b u k u . Di samping dia masih sedih atas nasib lukisannya. Sayang semuanya batal. b l o g s p o t .00. Seharusnya lukisan itu dibawa ke kurator museum Ibukota. Empat hari yang melelahkan. malah sok- menasehad. Persis. Bersenandung. Lantas beramai-ramai 'menggebuki' si kembar. Ray ngamen sendirian. antrian panjang. Makanya empat hari lalu. Apalagi menyikapi urusan ini. Ilham masih sungkan bicara. Natan baru ikut audisi.

menoleh. Sebentar lagi ujian persamaan. “Bagaimana audisimu? Lolos?” ®LoveReads Sepertinya urusan dengan beberapa preman tanggung itu akan terhenti begitu saja. Ray pagi itu sudah bisa bergurau dengan Natan (dan Bang Ape).b u k u . Meja makan sesak oleh makanan. dia menelan ludah. Memutuskan mengganti topik pembicaraan. b l o g s p o t . Bergabung dengan puluhan peserta terpilih dari sembilan kota lainnya. Hendak membahas lagi soal tersebut. Ray pagi-pagi sesuai jadwal rutinnya pergi ke kantor kelurahan. Natan lolos. Ray meski mengkal dengan cara berpikir Bang Ape. Seleksi menuju dua puluh besar. Siang harinya. Ilham bisa membuat lukisan baru. Natan masuk karantina beberapa hari. tetapi demi melihat wajah riang Natan. Sarapan esok menjadi amat menyenangkan. Kejar Paket C. Apalagi Rumah Singgah dipenuhi oleh kebahagiaan baru. Ibu-ibu sebelah rumah membuatkan menu spesial. Apalagi langit-langit ruang makan. menenteng gitar mengamen di jalanan. Penuh sesak oleh celoteh anak-anak (sebenarnya sih lebih banyak celoteh Oude dan Ouda). Tidak ada Natan bersamanya. c o m . lama-lama akan melupakan soal itu. Bang Ape menyempatkan diri mampir. urung. Kebahagia- an yang membuat semua penghuninya berseri-seri.rembulan menyabit di langit. Dua hari berlalu tanpa kejadian serius. Dia sekarang sudah di penghujung sekolah informalnya. Me- lupakan perkelahian di pojokan pasar. Agak repot mengamen sendirian. dia tidak 119 | R a t u .

Dibumbui di sana-sini oleh si pembawa kabar. mereka mendengarkannya saja malas. Hanya sependek itu perintahnya! Tapi melesat bagai api menjalar. Lima orang berotot besar menyetop di halte berikut. b l o g s p o t . Masih mending penumpang mau memberinya uang. Bus patas AC berjalan pelan. Pintu yang digerakkan oleh belalai hidrolik itu berdesis. Kelima penumpang yang tampilannya seperti orang ke- banyakan itu ternyata lidak berminat menumpang ke rute tujuan. merazia setiap bus yang lewat. yang sedikit pun tidak diketahui Ray. ya!” Masalahnya. Mencari seseorang- ®LoveReads 120 | R a t u . preman tanggung yang sekarang dirawat intensif di rumah sakit ternyata adik penguasa sepotong kawasan Ibukota.b u k u . di sela-sela hembusan asap rokok. Cari sampai dapat! Gebukin sampai lumat.memiliki bakat sebesar Natan. di sela-sela bau menyengat minuman keras. c o m . Gembong preman itu tidak tahu kabar adiknya yang benjut digebuki Ray beberapa hari ke depan. tanpa banyak bicara. tapi semalam berita itu akhirnya tiba di telinganya. gembong preman itu memerintahkan lima tukang pukulnya. Kondektur mem- bukakan pintu. Mereka dari tadi pagi macam petugas lalu-lintas saja. Maka pagi itu.yang satunya suruh ngamen lagi bareng kamu. Satu-dua penumpang bus yang mengenalinya malah tega bilang: “Dik. Mereka malah kasar menyibak orang-orang yang berdiri di depan pintu bus.

Salah seorang dari lima tukang pukul merangsek mendekat. Maka saat Ray sibuk memetik gitarnya melengking- naik-turun dalam sebuah melodi panjang tanpa sela sebelum masuk refrain lagi. LAE!” salah seorang dari mereka membentak sopir bus. “Sebut namaku tiga kali/” Ray yang tidak tahu apa yang sedang terjadi semangat penuh gaya menyanyikan refrain lagu. meminta mereka turun.. “TAHAN. Suara cempreng memenuhi langit- langit bus. tinju preman itu melesat tanpa basa-basi. Empat teman lainnya menerobos kasar. Petikan gitarnya doang yang oke disimak. Menyuruh- nya menjauhkan kaki dari pedal gas. Ray mengaduh.b u k u . Bahkan teman adik bos semalam memberikan seluruh deskripsi wajah anak Rumah Singgah.“Bisnisku menjagal/ Jagal apa saja// Yang penting aku senang/ Aku menang/ Persetan orang susah karena aku// Yang penting asyik/ Sekali lagi asyik//” Ray rileks menyanyikan lagu. b l o g s p o t . mendorong orang-orang yang berdiri di lorong. Mengaduh kesakitan. 121 | R a t u . Kondektur menyadari siapa mereka. “Khotbah soal moral/ Omong keadilan/ Sarapan pagiku/ /Aksi tipu- tipu/ Lobi dan upeti/ Ooo jagonya// Maling kelas teri/ Bandit kelas coro/ Itu kantong sampah// Siapa yang mau berguru datang padaku//” Kelima tukang pukul itu merangsek masuk ke dalam bus. c o m . kepala kondektur dihajar bogem mentah. memasang wajah keberatan. Mengenali Ray sesuai deskripsi yang diberikan. Sebagai jawabannya. Tinggal tiga langkah.

Perkelahian yang tidak seimbang. satu tukang pukul berhasil dipukul mundur. Yang lain ganas merangsek. membuat tameng. Penumpang bus mulai menjerit-jerit. Apa mau mereka. terjerembab. meski kelima preman itu lebih sterek dan terlatih dibandingkan anak jalanan tanggung itu. mengambil alih perkelahian. Yang dia tahu mereka mengancam keselamatannya. Orang-orang di halte berteriak- teriak menunjuk. Tangan tukang pukul itu menghajar ujung gitar. Tumpang-tindih dengan penumpang lainnya. Ray me- nyambutnya dengan menghantamkan gitarnya kuat-kuat. Rusuhlah bus patas AC itu! Lima lawan satu. Juga penumpang mobil lain yang merayap di macet- nya jalanan. Buas tanpa banyak bicara mengirimkan pukulan-pukulan kepadanya. sama seperti di gang dekat pojokan pasar. Setelah ribet bangkit dari jatuhnya. Ray sempat reflek mengangkat gitar ketika menyadari ada yang hendak memukul- nya. b l o g s p o t . mereka sama saja dengan tukang pukul lainnya: bego! Lupa kalau posisi berkelahinya seperti lorong bus. Menimpa ibu-ibu gendut salah seorang penumpang bus. dagunya terkena kepalan tangan Ray. Ray bisa dibilang hanya satu lawan satu. Dia tidak tahu siapa mereka. Berdarah.b u k u . mengenai tajamnya senar. Masalahnya. Robek. Wajahnya membekas di kaca. Orang itu terjerembab menghajar kaca bus. maka keunggulan jumlah tidak berarti banyak. Ray mulai memberikan per- lawanan yang layak.Tapi lebih mengaduh preman yang hendak memukulnya. c o m . 122 | R a t u . kakinya tersangkut. Tiga puluh detik yang menegangkan berlalu. Sementara Ray terdorong ke belakang.

Cukup saat penjaga panti sok-suci itu melecutnya dengan bilah rotan selama enam belas tahun.Tiga tukang pukul yang tersisa mengambil sesuatu dari balik baju mereka. Yang Ray peduli. terlepas. tak ada yang boleh seenaknya saja memukulnya.b u k u . dia harus melawan. Cukup kelakuan preman tanggung yang membuat Ilham terluka dan lukisan berharganya robek. Juga teman di sebelahnya. menggigil ketakutan di kursi masing-masing. mencium aroma kematian. Tubuh-tubuh gemetar. Darah mengalir. Kapaknya melayang. Ray menggigit bibir. Tidak ada jeritan. Mengenai salah seorang penumpang. b l o g s p o t . Kapak bermata satu! Teriakan-teriak-an ketakutan terdengar semakin memekakkan telinga. dadanya telak terkena tendangan. Membasahi blouse putih mahal. Tidak peduli kata-kata Bang Ape: menghindar. Tukang pukul itu jatuh terjengkang. Insting “membunuh” yang dimilikinya muncul tak tertahankan. Cukup sudah! Kapak melesat mencari sasaran. yang terluka sudah sederik lalu jatuh pingsan. seluruh tubuhnya merinding oleh sebuah keberanian. bahu kanan mbak-mbak cantik yang mengena- kan pakaian kantoran. Ray gesit menunduk. Dan dalam sebuah gerakan lambat mengerikan. tangan yang berhasil menyambar kapak itu melesat ke depan. Dia tidak peduli lagi apa urusan orang-orang ini. entah bagaimana datangnya. menciut. Tetapi Ray tidak takut. Kepala penumpang tertunduk dalam dalam. c o m . kakinya segera terangkat sebelum kapak itu kembali mengincar kepalanya. Bagai seekor elang Ray menyambar kapak yang terlempar di langit- langit bus. mengincar 123 | R a t u .

Ray mendesiskan kebencian. Melangkah galak. c o m . S-P-L-A-S-H! Darah memercik ke mana-mana.. Sirenenya mengaum bak teriakan induk harimau.. Gerakan tangan Ray lebih cepat dibandingkan tubuh itu jatuh ke kursi bus. Sebuah mobil patroli petugas lalu-lintas berhasil merapat. Mengincar sisa preman lainnya. Tubuh yang masih di udara. kapak yang berputar mengarah ke pelipis. Empat polisi berloncatan sambil menyambar pentungan di pinggang. kesadaran itu baru datang. Dua menit berlalu amat menegangkan. Lima belas detik setelah semuanya usai. Sementara Ray berdiri gemetar di lorong. Kelima tukang pukul itu sudah rebah di lantai bus. Kali ini Ray hanya ditahan semalaman. Terkapar justru oleh senjata kebanggaan mereka selama ini. Tidak panjang urusannya di kantor polisi. Takut saat menyaksikan akibat yang baru saja dilakukannya. Dengan dingin menyeka cipratan darah di mukanya. ®LoveReads Dan urusan itu benar-benar berbuntut panjang. b l o g s p o t . Kapak itu masih tergenggam di tangannya. Gitarnya patah dua ter- geletak di bawah salah satu kursi. Naluri aneh jahat itu melesat pergi digantikan oleh kesadaran. Diberikan empat puluh tiga pertanyaan. Merangsek masuk ke dalam bus. Sudah usai. dan Ray 124 | R a t u . Tidak.b u k u .. ketakutan.kepala tukang pukul yang jatuh terjengkang barusan. wajah yang menatap jerih.

Bang Ape sedikit pun tidak mempedulikan penjelasan buru-burunya. Ray!” Bang Ape mendesis.. dia tidak ingin mendengarkan ceramah soal pilihan pemecahan masalah yang lebih baik seperti seminggu lalu.. kemudian melangkah masuk ke sel tahanan. Aku hanya membela diri-” “Aku tahu. “Yang aku tidak tahu mengapa kau tidak menghindar.. mengambil posisi duduk yang lebih nyaman. “Mereka langsung saja memukul. Ray menggigit bibir. dia harus men- jelaskan lebih dulu. berkata pelan memulai percakapan sebelum Bang Ape sepera biasanya akan bertanya apa kabar. Sok-jagoan? Meng- hindar? Lari? Dia membuat dua penumpang terluka parah? 125 | R a t u . “A-k-u t-a-h-u. Bertanya singkat ke petugas pos jaga.” Ray masih tertunduk.... Ray!” Bang Ape memotong kasar... Yang pertama tentu saja soal Bang Ape. b l o g s p o t . c o m . “Mereka yang memulai... Tidak perlu perkelahian konyol itu! Tidak perlu semua aksi sok- jagoan itu! Kau membuat dua penumpang bus terluka! Satu mungkin tangannya harus diamputasi! Kau juga hampir membunuh kelima preman itu! KAU HAMPIR MEMBUNUH!” Ray benar-benar keliru. LARI! Kau bisa saja lari dari sana.b u k u . “Aku tahu!” Bang Ape menghela nafas.” Ray tertunduk menatap meja.lebih banyak menjawab tidak tahu. “Aku tidak tabu siapa mereka. Apa pula yang dia tahu? Kelima preman itu datang tanpa ba-bi-bu hendak menghajarnya. Sore itu juga Bang Ape meluncur ke kantor polisi. Ada dua hal lain yang membuat panjang urusan tersebut.

Yang memahami terkadang sebuah penerimaan akan memberikan hikmah yang luar-biasa... Tidak ada yang tahu. Ray.b u k u .... bukan berarti itu menjadi bisa di- benarkan. aku tidak pernah mendirikan Rumah Singgah untuk menjadikan kalian anak-anak berandalan. “Mungkin.. Layak! Mata Bang Ape menatap tajam.. Kembali menunduk. Hatinya sungguh tidak terima.. terdengar amat kecewa. untuk urusan ini semua orang akan berpihak padamu! Tapi apakah dengan semua orang memihakmu maka apa yang baru saja kau lakukan bisa dibenarkan? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.” Bang Ape berkata dengan intonasi bertenaganya. Ray terdiam....... c o m . Mengkal kali.” 126 | R a t u .“ITU BUKAN SALAHKU! ITU SALAH MEREKA!” Ray setengah mendesis.Yang mengerti ada banyak pemecahan masalah baik untuk setiap urusan. kalau semua orang berpikiran itu bisa dibenarkan... dia jelas-jelas membela diri. “Berapa kali harus kubilang. Tapi tatapan tajam Bang Ape menyurutkan keinginannya untuk melanjut- kan teriakan. Yang selalu yakin. setengah berteriak. b l o g s p o t . Bagaimana mungkin Bang Ape menyalahkannya dalam urusan ini? Preman-preman itulah yang bersalah! Kalau mereka mau pun tidak masalah.. Anak-anak yang suka berkelahi.. tapi setidaknya dua penumpang itu tidak harus dirawat di rumah sakit malam ini.. Kalian tetap meyakini kalau itu sesungguhnya keliru karena kalian tahu itu memang keliru.. Mungkin pilihan lari dari mereka akan menimbulkan akibat negatif lebih kecil. Aku mendirikan Rumah Singgah itu karena ingin melihat kalian tumbuh menjadi anak-anakyang berbeda....

Mereka berdua sedang duduk di atap genteng. Natan tertawa. markas kekuasaan penguasa sepotong Ibukota. Dan inilah yang memang tidak disadari Ray.Ray mencengkeram ujung-ujung meja. gembong preman itu memutuskan membalas! Lebih ganas. tersenyum bersimpati. Membela diri. Hatinya benar-benar mengkal. Sebab-akibat berikutnya- Malam itu. Yang Ray dan orang-orang sungguh tidak tahu. Melawan. di gedung empat lantai dengan pintu berukiran naga. b l o g s p o t . ternyata ada urusan yang lebih panjang dari kejadian itu: akibat negatif yang ditimbul- kannya. di- bandingkan membela logika berpikir Bang Ape di kantor polisi tadi liang. “Lagi pula bagaimana kau harus menghindar? Kau belum mengedar-kan keranjang rotan ke penumpang. tidak terlalu antusias dengan kalimat Natan yang akhirnya membela dia. teman!” Natan menepuk-nepuk bahu Ray. Menebalkan kuping. 127 | R a t u . Tapi dia me- mutuskan diam. Malah petugas sempat berterima kasih telah mem- bantu menangkap begundal anggota gembong preman.b u k u . Ray hanya mendesah. Kalau saja tidak ingat betapa baiknya Bang Ape selama ini. Ray lamat menatap rembulan. Ray dilepas malam itu juga. Menggigit bibirnya. sudah dari tadi dia akan berteriak-teriak membantah. Bang Ape benar semua orang bisa saja membenarkan apa yang dilakukan Ray. Lebih buas! Habisi siapa saja yang terkait dengan pemuda tanggung sialan itu! ®LoveReads “Kali ini kau mungkin benar. Petugas kantor polisi pun oke-oke saja dengan kejadian tadi siang. c o m .

babak eliminasi 12 besar. Nyengir. Setelah kejadian menegangkan tadi pagi di atas bus. dan lagi-lagi becandaan anak-anak saat menyambutnya pulang. dia 128 | R a t u . Baru pulang dari karantina menuju babak workshop dua puluh besar audisi menyanyi. Olok-olok itu. atau karena memang suara Ray yang benar-benar cempreng.mencoba bercanda. b l o g s p o t . kejadian ini membuat anak-anak urung menonton seleksi di stasiun teve!” Ray mengusap rambut cepaknya.30.” Ray bergumam. “Kalian akan punya banyak kesempatan untuk menontonku nanti-nanti! Apalagi kalau aku sudah menang. Menyeringai datar. Natan ikut bergabung di atap genting masih dengan pakaian „keren‟-nya. c o m . Pukul 01. kalian akan bosan melihat wajahku di teve-teve. malam ini suasana hatinya bisa dibilang lebih baik. Tak pernah terbayangkan! Bukan main. Itu berarti mulai minggu depan Natan mentas di teve. kan?” Natan tertawa. melambaikan tangan. Natan mengolok-oloknya. haha!” Natan tertawa lebar. Mimpi-mimpi Natan sudah dekat.b u k u . “Tentu saja! Tak pernah ada penumpang yang memberikan sepuluh ribuan untuk mengusirku buru-buru turun dari bus. setelah percakapan yang menyebalkan dengan Bang Ape di kantor polisi. Ray tertawa kecil. entah karena penumpang bus itu lagi sebel. Sudah lewat tengah malam. “Maaf. Natan mengangkat bahu. Ray kali ini ikut tertawa lebih lebar. lolos ke babak berikut- nya. teman. Ray pernah sendirian ngamen. men- dengar suaraku di radio-radio. “Kau memang layak lolos. Natan pulang dengan membawa kabar besar.

” Natan memotong. Memperbaiki posisi duduk. Bintang-gemintang. Si kembar Oude dan Ouda tertawa memegangi perut saat mendengar cerita itu pertama kali di meja makan. Kehidupan baru-” “Mana mungkinlah. Ray memang jago metik gitar doang dan sayangnya waktu itu dia baru belajar. apalagi menoleh.. Malam ini langit terlihat elok- “Ini apa?” Natan mendadak menunjuk sesuatu dari saku celana Ray.b u k u .. “Kalian akan tetap menjadi saudara di mana pun berada.. “Jangan diambil!” Ray yang menyadarinya. Terlihat ujung-ujungnya. merangkak menjauh. gelagapan. Tidak ada yang pergi dari hati. Sebelum Ray menjawab.. Berusaha menyambar kembali gulungan kertas tersebut.. Mereka berdiam diri beberapa saat selepas tawa. Natan tertawa.. Gulungan kertas yang karena posisi duduk dan tawa Ray barusan membuatnya terdorong keluar. c o m .. lengkap dengan intonasi dan gaya bicara- nya. “Kau akan terkenal. tangan Natan iseng menarik gulungan kertas itu. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Menatap rembulan yang sekarang tertutup awan putih tipis bak kapas.. “Bukan surat cinta. kan?” 129 | R a t u . kalian sungguh akan tetap menjadi saudara. Kalian sungguh akan tetap menjadi saudara-” Natan sambil menahan tawa menirukan kalimat Bang Ape saat me- lepas kepergian Dito dulu. “Melupakan apa?” Natan mengangkat bahu.. b l o g s p o t . “Kau tidak akan melupakan kami?” Ray menatap Natan.dibujuk segera menyelesaikan pertunjukan dengan uang sepuluh ribuan. Ray tertawa.

“Aku kembalikan setelah kubaca!” Natan tidak peduli. lebih baik dia tidak memper-panjang rasa penasaran. itu apaan. Surat? Bukan. Bingung. Buat apa coba Ray mengantongi kertas butut ini? Dan sekarang terlihat amat marah karena dia jahil mengambilnya. Natan hendak bertanya lagi. iseng membuka gulungan kertas itu.b u k u . Sama sekali bukan.“Kembalikan!” Ray menghardik. Duduk menatap rembulan. Merangkak kembali ke tempat duduk semula. Mendengus pelan. b l o g s p o t . sudah butut lagi. mendekat. Terdiam. c o m . menghela nafas. duduk di ujung atap genting. Natan menatap Ray tidak mengerti. Tidak ada yang perlu tahu masa lalunya- ®LoveReads 130 | R a t u . Besok-besok kalau suasana hati Ray lagi senang bisa ditanyakan! “Maaf!” Natan menepuk bahu Ray. Menghela nafas. “Ergh. Memang bukan urusannya. Ampun. Ini? Hei! Ini kan hanya potongan koran. meminta maaf. tapi demi melihat ekspresi muka Ray. Ray tidak mem- pedulikan. “Kau seharusnya tidak pernah mengambilnya!” Ray merampas potongan koran itu. Menelan ludah. Suaranya dingin. Tapi apa maksud potongan koran butut itu? Apa penting-nya bagi Ray. sih?” “Bukan urusan kau!” Natan menelan ludah. Yang ditatap galak merangkak. bukankah dia belum pernah berkata dengan intonasi sekasar itu ke Natan dan juga anak- anak Rumah Singgah lainnya. Natan melihat gulungan kertas tersebut sekali lagi. Matanya menatap tajam. memasukkan potongan kertas itu ke dalam saku celananya. Diam. urung.

Oude menggigit tangan yang memegang kerah bajunya. “Ada apa. gerakan tubuh mereka tak kalah gesitnya dengan gerakan mulut mereka kalau sedang bergurau. Kerumunan itu tidak sedang plesir. Mereka tanpa banyak cakap langsung mencengkeram kerah baju Oude.Bab 11 Kereta Listrik CELAKA! Pagi-pagi ketika si kembar Oude dan Ouda berangkat sekolah. Awalnya dengan wajah polos sedikit-bingung banyak-bergurau malah bertanya. meski badan mereka sempat menerima pukulan dan tendangan tak jelas arah. tersesat dan mendekati si kembar untuk bertanya arah tempat berwisata. Si kembar panik. Si kembar dengan cepat mengerti situasi yang ada di hadapan mereka. 131 | R a t u . meski sepatu terlepas berceceran. Maka dengan cepat kerumunan itu menghadang. Oude dan Ouda bisa meloloskan diri dari keroyokan. Oom? Sesat ya?” Tentu saja bukan jawaban normal yang didapat. Meski tas-tas sekolah berjatuhan. Mereka sudah dari tadi malam menunggu. empat-lima tukang pukul gembong preman yang menguasai sepotong Ibukota. c o m . penghuni Rumah Singgah. Tidak sengaja? Sebenarnya tidak juga. Pembalasan membabi-buta. Meronta-ronta sekuat tenaga.b u k u . Salah satu anak jalanan tanggung mengenali si kembar Oude dan Ouda. Beruntung. Inilah akibat negatif yang tidak pernah terpikirkan oleh Ray. bersama anak-muda tanggung yang suka nong- krong di gang-gang pojokan pasar tidak sengaja berpapasan. b l o g s p o t .

menerobos sela-sela kaki. semuanya 132 | R a t u . Kantong plastik tempat baju 'keren' Natan membusai di jalanan.cengkeraman itu terlepas. berteriak minta tolong. lantas tanpa berpikir panjang langsung tancap gas. rombongan yang terus menunggu akhirnya menemukan Natan! Natan yang hendak menuju stasiun teve. b l o g s p o t . Berbaur dengan anak ber- seragam sekolah lainnya. Kali ini tikusnya jauh lebih gesit. berserakan. Sungguh hidup tak ada bedanya dengan hutan rimba. Celaka! Kali ini benar-benar celaka dan tidak menggelikan lagi. Maka terjadilah tarian penganiayaan yang me- nyedihkan. sudah menghilang di jalan besar. Sudah macam pemain baseball yang meluncur. Orang-orang hanya menonton. c o m . tak ada nurani tergerakkan untuk membantu. Pontang-panting. Siapa kuat. Natan tidak gesit melarikan diri. Natan tidak memiliki naluri melawan dan mem- pertahankan diri. Menggelikan menyimak kejadian beberapa detik itu. Urusan masing-masing. Berbeda dengan Ray. Ada banyak persiapan. Orang-orang hanya menonton. Menjelang tengah hari. Berbeda dengan si kembar. Tukang pukul dan anak-jalanan tanggung itu seperti serombongan petani yang sibuk mengejar tikus sawah. dia harus berangkat lebih awal. Terlalu ramai. Malam ini konser 12 Besar. Lari sekencang kaki bisa membawa. Meski akhirnya setelah begitu lama mengumpulkan keberanian beberapa pedagang di pasar berani melerai. Natan mengaduh. Orang-orang hanya menonton. dia berkuasa. Tukang pukul itu meng- urungkan niat mengejar.b u k u . Tinju-tinju menghajar wajah dan tubuh. Beberapa kejap.

Tubuh Natan terkulai tak berdaya di kamar operasi. Tanpa berganti pakaian segera keluar dari Rumah. Sepulang dari kantor Kelurahan dia ringan-tangan membersihkan rumah. Dengan santai setelah menepuk- nepukkan kedua belah tangan. bercelana pendek. Ray melempar kain pelnya. Mereka juga baru pulang dari sekolah. berkaos tanpa lengan.benar-benar terlambat. menatap rendah orang-orang yang berusaha melindungi Natan. Tubuhnya tersungkur kotor. Inilah tempat 133 | R a t u . Natan kehilangan mimpi-mimpinya. Luka robek di mana-mana. Tubuh itu memar dan lebam. Natan sudah benjut. Hidung dan mulutnya berdarah. seperti habis melakukan sebuah pekerjaan kotor-berdebu. duduk kembali di kursi- kursi warung! Membiarkan Natan beringsut merangkak. Natan sudah dibawa ke rumah sakit. baju robek-robek. Orang-orang di pasar sibuk membicarakan kejadian barusan. Mengikatkan sapu tangan besar di kepala. Ray sibuk mengelap anak-anak tangga saat si kembar Oude dan Ouda tersengal menyampaikan berita.b u k u . Bagaimana mungkin Natan akan baik-baik saja? Setengah jam. menenteng ember penuh air sabun dan kain pel. Gerombolan itu menyeringai dingin. Ray tiba di rumah sakit. memastikan Natan baik-baik saja. b l o g s p o t . Dia harus ke sana secepat mungkin. Dokter dan perawat berseragam putih-putih bergegas menjahit luka-luka. ®LoveReads Ray siang itu libur mengamen. Kata si kembar. Ray menatap terluka dari balik kaca. mereka melangkah. c o m .

Bukankah nanti malam seluruh anak-anak Rumah Singgah akan pergi ke stasiun teve. Menghela nafas. Menyentuh bahunya. Menyiapkan yel-yel komando.. Terdiam. Seseorang harus bertanggung-jawab. Lihatah Natan di dalam.. Dan sekarang saat Natan bersiap mengikuti bagian yang paling menentukan. Tak akan ada ekspresi muka bersahabat dan menyenangkan saat dia menyanyi. Bukankah nanti malam mereka akan membawa poster-poster: “Hidup Natan!” “Natan is The Best!” Natan for The President!” “Vote Natan for Love!” Bukankah Ilham se- panjang hari kemarin membuat poster-poster itu. Dengusan nafasnya terhend. semua terjadi. b l o g s p o t . Bang Ape melangkah mendekat. Tak akan ada lantunan suara merdu. Tak akan ada gerakan tubuh memesona saat Natan menghibur.. Dia tidak menangis. Seseorang! Luka dibalas luka. Ray mencengkeram tepi-tepi dinding kaca. Entah selamat atau tidak. Lihat saja sendiri! Bang Ape berdiri di sebelah Ray.. “Bagaimana kondisinya?” Ray menoleh.operasi ginjalnya dulu. “Bagaimana kondisinya?” Ray menggeleng. Ray tergugu.. Sungguh tidak ada yang bisa menjahit luka- luka di hati Ray sekarang... Hanya mengeluh. Menatap lemah kesibukan dokter dan perawat berseragam putih di dalam. Tubuh itu tergolek lemah. c o m . Nafasnya tersengal. Apakah mimpi-mimpi itu masih bersisa? Setahun lebih Natan menyiapkan semuanya. Mengeluh teramat dalam ketika menyadari bukankah nanti malam Natan konser 12 Besar.b u k u . “Semoga Natan baik-baik saja!” 134 | R a t u ...

c o m . Mereka tidak akan baik-baik saja. “Jangan! Jangan lakukan!” Bang Ape menghadang langkah Ray persis di depan pintu. Mudah sekali merangkaikan penjelasan. Kalimat kedua Ray: dia tidak akan baik-baik saja! tidak ditujukan ke Natan.b u k u . Giginya bergemeletukan. Wajah itu benar-benar tidak dikenalinya lagi. Wajah itu berubah mengerikan. b l o g s p o t . Berdoalah? Urusan ini tidak akan selesai dengan berdoa. Kakinya melangkah cepat. Ray melangkah menuju pintu keluar. Ray yang 135 | R a t u . Ray tetap tidak menjawab. “Apa yang akan kau lakukan?” Bang Ape bertanya. Bang Ape terkesiap. Bang Ape- lah yang terkesiap. “Apa yang akan kau lakukan?” Bang Ape menjajari langkahnya. Ray memukul keras kaca pembatas ruangan. “Dia tidak akan baik-baik saja!” Ray menatap langit-langit koridor rumah sakit.“Dia tidak akan baik-baik saja!” Ray mendesis. Dan sebelum Bang Ape bertanya. “Berdoalah. Orang-orang di dalam menoleh. Menoleh apalagi.. Ray tidak menjawab. Tapi saat Bang Ape bilang: berdoalah! kemarahan itu muncul lagi tak-terperikan. Ray! Hanya itu yang bisa kita lakukan!” Keliru! Bang Ape keliru. Ray yang suka memandang rembulan. “Berdoalah!” Bang Ape tersenyum getir.. Matanya menatap tajam. Bersitatap. Ray mengangkat mukanya. Dia tahu siapa pelakunya. Tidak ada lagi Ray yang periang. Terkesiap. Omong-kosong. Berde-bam. Terus melangkah. curiga. Kemarahan itu memang sedikit mereda saat Bang Ape muncul dan menyentuh pundaknya.

Ray berlari lebih cepat Dia mungkin tidak akan pernah kembali.menyendiri memetik gitar... celana pendek. “KEMBALI!” Bang Ape mengejar. Ray tidak peduli. Ray yang rajin membersihkan rumah. dan kaos tanpa lengan kostum kebesaran mengepelnya. Dia mengibaskan tangan Bang Ape. Memaki- maki betapa gesitnya dua anak sialan tersebut. Menterta-wakan Natan. Sekarang-” Ray membentak pelan.. saat saling mengolok soal si kembar Oude dan Ouda tadi pagi. Bagi Ray urusan ini sederhana..” “Lepaskan tanganku. b l o g s p o t . “Mereka tidak akan baik-baik saja!” Ray mendesis. Menggetarkan.b u k u . Menggetarkan sekali melihat Ray menyerbu kerumunan meski masih dengan bebat sapu tangan besar. Ray. Maka tanpa banyak bicara dia langsung merangsek. “Aku tahu apa yang akan kau lakukan.. Ray.. c o m . Jangan melakukan hal bodoh!” Bang Ape menelan ludah. 136 | R a t u . Mereka masih duduk-duduk di warung. Mencengkeram lengan Ray.... Urusan ini tidak boleh kadung-kapiran. “KAU JANGAN BERTINDAK BODOH!” Bang Ape balas mem- bentak.. lebih kencang... “Biar petugas yang mengurus. Lantas berlari menerobos pintu. gang dekat pojokan pasar. Tertawa mem- bicarakan apa-saja. ®LoveReads Tidak sulit menemukan kerumunan tukang pukul itu. “Minggir-” Ray mendesis. Lebih banyak tawa..

Anak-anak Rumah Singgah itu lebih dari keluarga baginya. Dia benar-benar tersentuh. Apa yang mereka lakukan saat dia lulus sekolah informal itu? Bukankah dia menangis terharu waktu itu. Saling lempar makanan.. kan? Sudah macam makan obat. seperti biasanya.b u k u . Dan sekarang Ray juga menangis. Mereka adalah keluarga yang dirindukannya selama ini... c o m . Kali ini lebih rusuh dibandingkan sebelumnya. Mereka lebih dari keluarga. 137 | R a t u .. Bersama-sama menghabiskan sore bermain bola di lapangan kelurahan. Menjadi sebuah fragmen tontonan yang mengharukan. Di sanalah untuk pertama kalinya Ray mengerti betapa menyenangkan memiliki saudara.. Kepala-kepala terkena hantaman. Tak pelak terjadilah keributan ketiga di gang dekat pojokan pasar sepanjang hari ini. sementara tangannya cepat bergerak. Sudah biasa. Tiga detik. Ramai bercanda di meja makan. Perayaan-perayaan yang menyentuh hati. masih menatap tidak peduli. urusan mereka sendiri- Ray mengamuk dengan hati terluka.Tangan Ray cepat menyambar botol saos (mungkin juga kecap) di atas meja.. Darah tertumpah. Matanya membasah.. Semua kenangan itu berkelebat di mata Ray saat tangan-tangannya menyambar mematikan. Ray menangis dalam perkelahian. Lebih ramai. Meski orang-orang. b l o g s p o t . tiga gerakan. tiga orang jatuh terjengkang. Natan memeluknya amat bangga. Makan sate di ujung gang. Di situlah untuk pertama kalinya Ray bisa merasakan kebersamaan yang menenteram- kan. Tertawa mendengarkan gurauan Oude dan Ouda. Ulang tahun di tiang bendera. Preman-preman ini.

Dia akhirnya bersekolah... Dan dia mulai menata masa depan yang lebih baik. Tempat nasi bergulingan. Lengannya luka terkena pecahan gelas. 138 | R a t u . Ray mengeluh.. Rumah Singgah sungguh menjadi sepotong kehidupan yang menyenangkan baginya. Ray terlambat Menghantam telak bahu- nya. Kursi itu menghantam meja warung.. Orang- orang jahat ini benar-benar mengambil kebahagiaannya. Entah hidup atau mati. Sakit sekali. Mendarat di atas beling piring-piring. Ada yang lebih sakit di harinya. Dan mengapa Tuhan membiarkannya? Lihatah Natan. Janji-janji dari kisah Bang Ape setiap Sabtu-malam. Lihatlah apa yang terjadi dengan anak-anak Rumah Singgah atas ulah begundal ini? Ilham kehilangan kesempatan besarnya. Enam belas tahun percuma di panti. Rutinitas harian yang menyenangkan. Sayur dan lauk tumpah. Merasa memiliki janji masa depan yang baik. Mata Ray semakin basah. Natan kehilangan mimpi-mimpinya. mengincar kepala..Sebuah kursi melayang. Dia bermimpi setelah lulus ujian persamaan minggu depan akan meneruskan kuliah! Orang-orang ini benar-benar mengganggu kehidupannya. b l o g s p o t . c o m . Ray menunduk. Tubuhnya tersungkur.b u k u .. Tidak ada yang memaksa. Tiga tahun yang menjanjikan di Rumah Singgah. Apa semua ini adil? Di mana rasa keadilan Tuhan? Mengapa semua- nya harus terjadi ke-tika janji baik itu tiba? Kenapa Tuhan sepertinya suka merenggut kebahagiaan orang-orang yang selalu berbuat baik? Kursi yang lainnya melayang..

Nafas-nafas tertahan. Insting 'membunuh' itu kembali tak tertahankan. c o m . Perkelahian itu baru terhenti setelah Bang Ape dan serombongan petugas bersenjata tiba. Harapan-harapan yang tercerabut. Menyisakan kesedihan.. Langsung membalik badan. Padahal hanya sepelemparan batu lagi.Tangisan Ray semakin memilukan. Menghantam- kan ujung botol yang sudah pecah ke dada preman itu. Kursi-kursi kayu tak jelas bentuknya. ada banyak kehidupan yang ber- ubah. b l o g s p o t . Mengejar yang lain... Burung layang-layang terbang di langit-langit kota. Ray melompat bagai seekor harimau dari jatuhnya. Preman-preman itu sudah dilarikan ke rumah sakit... Ray sudah dibawa pergi. Apa mau dikata.. Matahari senja menyemburat Jingga di ufuk barat. ®LoveReads 139 | R a t u . Piring-piring pecah berserakan.. Lima menit berlalu cepat. Mangkok-mangkok tumpang-tindih. Melenguh menarikan formasi saling menggoda bakal pasangan. Debu masih mengepul. Ray menerjang orang yang me-mukulnya dengan kursi. Orang-orang tertegun menonton.. Sore itu. Menyentuh bekas-bekas perkelahian barusan. Seisi warung rebah tak berbentuk.b u k u .. Mimpi-mimpi yang terbuang. bukankah hidup selalu begitu? Menyakitkan.. Seruan-seruan ter- tahan... mata basahnya menatap garang. Cahayanya yang lembut menyentuh ujung-ujung krei warung yang robek. Gumpalan darah mengering.. Tidak merasa perlu untuk mencabutnya lagi. Berterbangan. Air mata terpercik. Hanya sehasta tangan meng- gapai.. Setengah jam berlalu.. Apa yang sebenarnya terjadi. Perkelahian itu sudah lama terhenti.

Bagai sarden penumpang berdesakan. Mencengkeram kantong plastik bawaan. Penuh sesak. tak peduli sengatan listrik mengintai. penuh oleh penumpang. Menyatu dengan tukang asongan. Penumpang bergegas turun. KRL. Di pagi dan sore hari.b u k u . yang jalur-jalur relnya membelah Ibukota ber- derit berhenti. Siang yang panas. Ada dua puluh lebih stasiun KRL sepanjang jalur ini. melewati dua kota di bawahnya. Lupa soal yang mana wanita. Speaker tua stasiun KRL mengumumkan sesuatu. wajah-wajah lelah. Cepat. b l o g s p o t . Orang-orang yang beranjak pergi dan pulang dari tempat kerja. terus naik ke atas membelah Ibukota hingga persis di bagian utaranya. penumpang KRL melewati berkali-kali batas kapasitas terpasang. penjual makanan. yang mana lelaki. Wajah- wajah antusias. Apalagi atap kereta yang terlihat lega dan nyaman. suara merdu milik gadis penjaga loket berseru: “Perhatian-perhatian! Hati-hati dompet Anda!” Orang-orang berlalu lalang memenuhi emperan. Tak ada solusi lebih baik lainnya. penjaja minuman. Bergegas menguntai hari demi hari. murah. Besi-besi antar gerbong dipenuhi orang-orang yang berdiri seadanya. 140 | R a t u . Penumpang baru beranjak naik. wajah-wajah bergegas. meski harus dibayar dengan berbagai ketidaknyamanan. Stasiun berikutnya. penjaja koran. Melompati pintu gerbong dengan cepat. Rutinitas! KRL menjadi pilihan terbaik untuk bergegas. Dari selatan kota. Menyatu tak peduli adab kesopanan.Kereta Listrik. Mengencangkan ikatan tas ransel. melantunkan irama yang khas teng-tong-teng-tong. semua menjadi satu. peminta-minta dan pernak-pernik emperan lainnya. c o m .

sisir. Gerbong KRL benar-benar menjadi selembar foto lengkap dari gambaran kehidupan hari ini. Lumayan lega. Di sini juga tersedia jualan jasa! Anak-anak yang menyapu lantai gerbong. Mulai dari makanan tradisional.Di siang hari. maka doa-doa bertumpahan. c o m . Ibu-ibu tua yang hanya bermodal kalimat “Sedekahnya. Yakinlah! Tidak akan ditemukan di zaman-zaman sebelumnya. Membuat debu-debu berterbangan. buku-buku. Entertainer jalanan. gerbong-gerbong akan mulai disesaki Oleh pedagang. Tidak ketinggalan aksi berpuluh- puluh penghibur gerbong kereta. kencreng tutup botol. Sesak. hingga yang aneh-aneh macam tambal panci bocor atau obat kuat (untuk binatang peliharaan). Pengemis dengan pakaian lusuh nan bau. membaca puisi ('Salam sastra anak jalanan'. b l o g s p o t . Pengamen. Malah hyper-market kalah soal lengkapnya pernak-pernik barang yang dijual. mainan.b u k u . Mungkin akhirnya satu-dua ada yang makbul. batu batere. Anda beri. Bukan hanya barang. peniti. Tidak peduli doa itu bagai kaset yang diputar ribuan kali. Murah bukan? Berharap surga ditukar dengan uang ratusan perak. Jasa masuk surga. Satu sapuan dua kali tangan terjulur menengadah. Penjaja gaya kaki-lima. Nak!” Mereka penjual jasa. Lengkap! Gerbong KRL sudah macam super-market. KRL tidak terlalu sesak oleh penumpang. 141 | R a t u . Tetapi karena tidak sesak oleh pe numpanglah.). Peminta-minta dengan kaki terpotong beringsut. galon air. hingga yang full-pasukan dengan peralatan musik lengkap seperti band-band ngetop di teve-teve. Mulai dari yang membawa karaoke-an butut. dan juga mungkin di masa-masa mendatang. buah-buahan.

gadis kecil dengan kepang rambut dan pita merah. Ray melepas keranjang rotan di pinggang. Tiba di ujung gerbong.Ray siang itu memulai harinya dengan berpindah-pindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Me- nyampirkan gitar di bahu. Berhenti di stasiun berikut. Ibunya berbisik. Menyatu 142 | R a t u . Ray memutuskan hanya memetik gitar. Itulah pekerjaannya selama enam bulan terakhir. sudah macam pemetik gitar terkenal saja. takut-takut menjulurkan uang. Betotan lemarinya memang mantap. Dari satu kereta ke kereta lainnya. duitnya dikasihkan. Tersenyum lebar. b l o g s p o t . mama. bertanya. nanti kak Lena ingin jajan gimana? Uangnya kan sudah dikaslih-” Anak kecil itu menyeringai. Gaya. Ray tidak lagi merasa harus bernyanyi.b u k u . “Mama. berderit lagi. Memaksimalkan kelebihannya. Inilah pekerjaan Ray sekarang. Enam bulan sejak kejadian 'seru' di gang pojokan pasar. Berharap kebaikan sedang bersemayam di hati penumpang KRL. Ray mendekati pintu. Boleh juga! Pengamen ini berbeda dengan yang lain. Ray tersenyum. Dia tahu suaranya jelek. Lihatlah! Di siang yang panas ini. Dan tidak berhenti sebelum tiga lagu selesai dilantunkan. Ray gesit melompat keluar. itu berarti sudah saatnya pindah ke KRL berikutnya. membuat sakit kepala. Dia berpakaian rapi. Mulai menjulurkan keranjang. “Ayo. c o m . Orang-orang yang duduk di kursi panjang KRL memperhatikan. gitar Ray melengking-lengking dalam satu tarikan melodi panjang. melanjutkan ke penumpang yang lain. Seorang anak berumur empat tahun. sayang” Anak kecil itu nyengir memasukkan uang ke dalam keranjang. Kehidupan barunya. Kereta listrik itu dalam hitungan menit.

pengap tak berjendela. Memasukkan uang di dalam keranjang rotan ke tas pinggang. Apalagi kalimat: Rumah Singgah tidak mengajarkan mereka menjadi preman. Ilham bahkan berkali-kali mendesah. Hanya diam. Ray memutuskan pergi. ®LoveReads Malam itu. Ray mengkal. nanti-nanti dia bisa bertemu dengan Natan. Menjauh dari Rumah Singgah. Dia tidak sempat menemui Natan yang terbaring lemah di rumah sakit untuk terakhir kalinya. Ray bukan lagi remaja tanggung. Malam itu juga Ray memutuskan Pergi. Bang Ape membentaknya. c o m ... Tidak lebih. Uang tabungannya mengamen selama dua tahun terakhir digunakan untuk membayar sewa sepetak kamar sempit. Dia bosan diceramahi soal mereka yang berbeda. Di 143 | R a t u . Buat apa? Toh Natan masih pingsan. Menatap prihatin. Menyeka keringat di dahi. b l o g s p o t . Hari itu umurnya berbilang sembilan belas.. jangan pergi!” Bang Ape tidak mencegahnya. Inilah kehidupan barunya.dengan orang-orang di emperan stasiun. di kantor polisi terdekat. “jangan pergi. Tidak banyak. Tidak sedikit. Aku mohon.b u k u . Dan Ray melawan. Menunggu kereta berikutnya yang berlawanan arah. Lagipula meski hari itu tidak sempat. Ber- teriak-teriak. Sama seperti biasanya. Tidak kurang.Menangis lama saat memeluk si kembar Oude dan Ouda. Menjawab seluruh kalimat Bang Ape..

Ray bangun saat matahari pagi sudah tinggi. Menatap langit bersih yang mempesona. Duduk di atasnya. sewa kamar di sana lebih murah. c o m . 144 | R a t u . Bintang-gemintang. Karena bau. Sampah-sampah menggunung tidak bergerak menjadi pemandangan sehari-hari.. Langsung tertidur di atas selembar tikar butut dan bantal bau tengik. Ray tidak buru-buru tidur. Kehidupan yang sama dari hari ke hari. Tenteram. Pertanyaan yang selalu meng- ganggunya di malam-malam menjelang tidur. Ilham kehilangan kesempatan besarnya. Rumah dekat bantaran kali. Bukan- kah hidup selalu seperti ini? Kejam! Hidup tega merenggut begitu saja kebahagiaan orang-orang yang selalu berbuat baik. dia akan memanjat tower penampungan air warga kampung yang ada di dekat kamar sewaannya. b l o g s p o t . Yang bau kalau musim kemarau tiba. Membuatnya sesak. Dia terpaksa pergi.. Yang membuatnya berbeda hanya kalau rembulan sedang bersinar indah di atas sana. Mandi seadanya.situlah enam bulan terakhir Ray tinggal. Terutama membuatnya nyaman dan tenteram dari berbagai pertanyaan baru yang mendadak muncul di kepalanya. Lantas berangkat menenteng gitar menuju stasiun KRL terdekat. Mengakhiri hari dengan mengamen. Tidak bisa! Sungguh dia tak bisa. Kelelahan. Indah! Pemandangan ini selalu membuatnya nyaman. Pertanyaan yang sesungguhnya amat sederhana: apa hidup ini adil? Lelah sekali Ray membujuk hatinya untuk berdamai atas berbagai kejadian enam bulan lalu. Pulang larut malam. Natan kehilangan mimpi-mimpinya.b u k u . Memulai hari dengan mengamen.

. Dan Natan yang kalau bicara hanya sengau terdengar. saat itu dia rindu sekali dan memutuskan untuk berkunjung. Natan yang jemarinya patah tak bisa dikembalikan ke posisi semula. Meletakkan gelas es cendol yang bersisa separuh. Ray melompat gesit ke dalam.Wuss.. Lihatlah! Apa hidup ini adil? Pertanyaan itu menyergapnya. Natan kehilangan suara? Ya. Membuat Natan kehilangan suaranya. c o m . Kereta berikutnya. bersiap. ®LoveReads Wusss. Memenuhi relung-relung kepala. Lagu berikutnya.. 145 | R a t u .Dan apa yang dilakukan Bang Ape? Menyalahkan dirinya. Gerbong berikutnya. Ray tidak bisa bergerak dari kejauhan ketika melihat Natan duduk di kursi teras..b u k u . Sebulan lalu. Natan kehilangan suara emasnya. Kereta merapat. Merogoh saku celana.. Membuat hari-hari berlalu lamban.Wusss. Kereta melaju kencang. Natan yang pincang.. KRL dari arah utara menderu mendekat... Lantas terburu-buru berdiri. saat Ray melewati Rumah Singgah. Omong-kosong! Apa salah dirinya? Preman-preman itulah yang salah. Memedihkan mata. Suara lenguhannya me- ngagetkan. b l o g s p o t . Benar-benar musnah mimpi- mimpi itu. saat Ray hanya ingin melihat... Me- ngatakan berkali-kali semua itu tidak akan terjadi kalau dia bisa menahan diri... Ray menyambar gitar yang diletakkan sembarang di kursi emperan stasiun.

. Muka orang itu riang sekali.. Melesat membelah kota. 146 | R a t u .b u k u . Lagi-lagi hampir jatuh dari ketinggian. Bukan apa-apa.. Bukan malam dengan rembulan di atap genting Rumah Singgah barusan. Orang dengan wajah menyenangkan yang duduk di sebelahnya membantu. dia sudah berada di atas gerbong KRL ini. Dan tiba-tiba saat tersadar kembali. Sedikit berteriak. Awan-awan putih terlihat Jingga. Dan ternyata mengasyikkan! Ini hebat. Juga pepohonan dan benda-benda lainnya. Atap-atap rumah terlihat Jingga. “Apa yang kau tanyakan tadi?” Orang dengan wajah menyenangkan menoleh. Burung layang-layang memenuhi langit. Pasien itu menelan ludah. Pasien itu membenahi posisi duduk. Baru sedetik lalu tubuhnya tersedot lagi ke dalam kumparan penuh cahaya tersebut. c o m . Dia dulu tidak pernah naik ke atap gerbong. Mukanya kebas oleh terpaan angin. Jingga memenuhi angkasa. Matanya memicing. Tangannya sibuk mencari pegangan. Suara gemeletuk kereta memekakkan. Ray!” Orang dengan wajah menyenangkan tertawa lebar.Pasien berumur enam puluh tahun itu untuk kesekian kalinya gelagapan. Duduk persis di gerbong paling depan kereta listrik yang mendaki batangan rel baja. Kesenangan yang mahal. Tapi matahari sore. karena tidak akan ada yang mendengarkannya mengamen di sini. meskipun harus dibayar dengan bahaya yang tidak kecil. “Bukan main! Cepat. Duduk menjuntai. Memberikan lengan. Jubahnya berkibar. b l o g s p o t . Apa yang orang sebelahnya barusan bilang? Mengasyikkan!'Ya! Duduk di atas gerbong KRL yang melaju dengan kecepatan tinggi memang mengasyikkan. benar-benar bak turis sedang plesir.

diberikan tiga kali kesempatan untuk tidak banyak tanya tentang apa yang akan kulakukan.b u k u . Tertawa lebar-malah merentangkan tangan-tangannya. bukankah dia tidak mengerti apapun. KRL mengeluarkan lenguhan..... tak mengenal ras.. Apa hidup ini adil? Dari zaman batu hingga entah ke mana peradaban manusia akan dibawa.. salah seorang manusia pilihan sempat melalui sebuah perjalanan besar bersamaku. hampir semua manusia pernah mengeluarkan pertanyaan tersebut. Bukan! Bukan perjalanan mengenang masa lalu macam ini. suku.” Orang dengan wajah menyenangkan tersenyum. Mereka pasti pernah ber- tanya. laki-perempuan. Menyibak anak rambut yang menutupi ujung-ujung mata... Kenapa pula orang di sebelah- nya malah bertanya. “Tahukah kau. b l o g s p o t . Tak peduli meski orang itu manusia pilihan. ribuan tahun lalu. Pertanyaan kedua? “Ray. kaya- miskin. sehat-sakit. pertanyaan keduamu tadi.. menurunkan kembali tangan-tangannya yang terentang. 147 | R a t u .. apa hidup ini adil?'” Orang dengan wajah menyenangkan itu mengusap wajah. panglima-pesuruh. Tidak seperti ini Ray. Sepanjang memulai perjalanan mengenang masa lalu ini.... “A-p-a?” Pasien berumur enam puluh tahun itu ber tanya balik. Ah-ya.. raja-pelayan.. setidaknya sekali sepanjang hidup. tak mengenal batas-batas. Dia justru sebaliknya. “Maksudku. kau bilang. Muda-tua.. Utusan-utusan langit.Menikmati sore indah di atas gerbong KRL. agama. Dia tidak diberikan lima kesempatan bertanya. Memekakkan telinga. c o m .. Pasien itu menelan ludah. Bingung.

Itulah yang membuatmu bertanya: apa hidup ini adil?' ®LoveReads 148 | R a t u .. mengasyikkan. seperti dua teman lama tak bersua...” Pasien itu menelan ludah. Ray. Dan kami terpaksa berpisah..b u k u . c o m . “Dan terus-terang. apa yang menimpa Natan bukanlah pemicu terbesar pertanyaan tersebut.. Yang mengajaknya bercakap- santai.. “Kau bertanya karena sepotong koran tua tersebut... tersenyum.. bukan? Berita dalam kertas menguning itu... Bukan karena jawabannya tidak ada.... Bukankah begitu?” Orang dengan wajah menyenangkan itu menoleh.. Tidak mengerti benar apa maksud kalimat itu.. manusia pilihan itu juga bertanya tentang kejadian yang sedang dilihatnya? Tiga kali dia bertanya: apakah aku telah bersikap adil? Dia menyela. Kenangan masa lalu yang tak pernah terjelaskan.. Pertanyaan keduamu ini tidak mudah dijawab. Sebaliknya! Justru karena terlalu banyak... Masing-masing orang mengeluarkan pertanyaan khas dengan apa yang menjadi pemicu kenapa dia sampai bertanya. hei! Bukankah dia pernah mendengar kisah tersebut dari istri penjaga panti dulu? Siapakah orang ini? Yang menganggap mereka seolah-olah sedang asyik bertamasya di atap gerbong KRL... Tertunduk... b l o g s p o t . Maka jawabannya juga harus khas sesuai dengan pemicunya tersebut.. menyaksikan sore jingga Ibukota. bukankah yang kulakukan terlihat seperti sebuah kezaliman? Tiga kesempatan.“Sama seperti kau. Tapi. Pasien itu mengusap tengkuk.. Tiga pertanyaan. Dan bagimu...

senarnya putus. KRL mogok. lihatlah. Memutuskan kembali. hingga malam gerbong-gerbong besi itu tetap bergeming. Mereka riang. tidak pintar menyanyi. saat asyik memainkan melodi panjang bergaya latin yang terkenal. Ada teman- teman sekolah informalnya di sana.Malam datang kesekian kalinya di pemukiman dekat bantaran kali. Ray turun dari bus Patas AC. memutuskan mampir. Ray tergugu. Maka teririslah hatinya. Hari ini bukan hari baik bagi Ray. Anak-anak Rumah Singgah. Ditunggu-tunggu lama. Gelap. Membuai sela telinga. Ray yang rindu ru mah Singgah. Sepanjang siang hingga sore dia tidak bisa mengamen. Hari ini bukan hari baiknya. Serempak dua. air tergenang. melihat rumah itu dari kejauhan. Katanya ada ganggungan interkoneksi. Mati lampu seluruh pulau. Dia hanya pintar memetik gitar. Ray menghela nafas panjang. melengking-lengking membetot gitar. saling melempar. Angin berdup pelan. c o m . anak-anak tengah asyik bermain bola di lapangan dekat Kelurahan. Melangkah dari balik pohon beringin. menjelang sore. Natan menatap kosong anak-anak yang tertawa berebut bola. Sore Sabtu. Sebelum pulang. Malam gelap. b l o g s p o t . Kunjungan jarak jauh itu sama saja dengan sengaja membuka lagi kenangan menyedihkan yang sebenarnya mulai berhasil dilupakan sepanjang tahun ini. Ada Natan di sana. Jemarinya bengkok menggenggam tongkat. Ray memutuskan mengamen di bus. Mendung. bergurau. Urung. Bosan. Baru satu lagu.b u k u . Natan yang kurus. semoga KRL jalan lagi. Berdiri memakai kurk. mereka pasd sudah lewat setahun dari ujian persamaan. bekas hujan semalaman. 149 | R a t u .

Kemudian duduk menjuntai persis di sebelah gentong raksasa berwarna merah muda. Lapar sekaligus sesak. Sesuatu yang setahun terakhir dibungkusnya dengan kantong plastik. Sesak dengan berbagai pertanyaan. rumah masing-masing. Mungkin bisa pinjam ke pengamen lainnya. Sepi. Dia pulang lebih cepat dari jadwal biasanya.b u k u .. Pelan mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Tidak hujan seperti ini saja kampung bantaran kali terlihat sepi. Potongan koran butut itu. Sayang tak ada rembulan di atas sana. dia masih bisa duduk di atas tower air milik warga. Kalau ada. Lengkap tanpa 150 | R a t u . Sendiri. Angin bertiup kencang. Dingin. Memanjat uang tower setinggi sepuluh meter. apalagi mau hujan. dia bisa melupakan sejenak semua penat. Besok pagi-pagi dia harus membeli senar baru. Tidak ada uang. Ray menelan ludah. Makan? Perutnya sepanjang hari tidak lapar.. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Masih terlalu dini untuk tidur. Ini barang berharganya. Tak ada rembulan. tempat tidur. b l o g s p o t . Yang 'lapar' itu hatinya. Ray menghela nafas. Tidak seperti dirinya.Mendung semakin berat. Maka melangkahlah Ray menuju tiang-tiang besi. c o m . peduli amat.. Bohlam lampu sebesar lima watt yang dipasangkan di atas gentong besar membantunya membaca berita dalam potongan koran. dengan memandangnya beberapa saat. Orang-orang lebih memilih meringkuk di kursi. Hangat bersama keluarga. Ray melempar sembarang gitar ke pojokan kamar petak pengapnya. tidak boleh terkena air. Ray mengancingkan bajunya. Sebenarnya tanpa cahaya pun dia bisa membacanya.

Ray menggigit bibir. Pertanyaan tentang nasib Natan yang tidak bisa bernyanyi lagi. badai mungkin. c o m . Ray mulai sibuk menyalahkan banyak orang atas takdir buruknya. Hidup ini tidak adil! Kalimat itu menderanya. Sama seperti Natan. Pertanyaan tentang kenapa langit tega sekali mengambil kebahagiaan seseorang padahal semuanya tinggal di depan mata.kurang titik koma. Malam-malam bertanya. Sudah ribuan kali Ray membaca potongan koran tua itu. Memasukkan kembali potongan koran itu ke dalam kantong.. Guntur menggelegar. Selama itu pula. Bahkan Ray bisa mengingat gurat- gurat bekas lipatannya dengan detail. Sudah hafal di luar kepala. b l o g s p o t . Tanpa disadarinya... Inilah sepotong masa lalu yang dimilikinya.b u k u . Ray tidak mengerti apa maksud semua berita dalam potongan koran butut ini. sendiri! Melelahkan menyimak penat hati Ray malam itu. pelan tapi pasti dia mulai berubah. Kebakaran yang disengaja. kenapa Tuhan mengirimkan orang-orang jahat untuk mengambil kebahagiaannya. tapi dia jelas-jelas tak pernah meminta untuk menjalani hidup macam ini. Sejak setahun terakhir dia resah dengan pertanyaan itu. Kenapa dia hanya memiliki sepotong koran untuk menjelaskan masa lalunya. Menggurat langit-langit kamar sempit dengan berlarik keluh. Kenapa dia harus dilahirkan tanpa ayah-ibu. Memasukkannya ke dalam saku. Dan 151 | R a t u . Ray menghela nafas. Sepertinya akan turun hujan lebat. Kilat menyambar. Inilah juga sepotong kertas yang mengganggu tidurnya selama se- tahun terakhir sejak meninggalkan Rumah Singgah.

Maling. Mulut-mulut yang terdekap (memangnya dia tak mandi). mata-mata yang curiga. Setidaknya kehidupan seperti itu menyenangkan.. Disusul bulir air yang lebih besar. Bukankah sering terlihat orang-orang jahat itulah yang justru di- mudahkan dalam segala urusan. Menjanjikan. Menahan terpaan angin. selain orang-orang yang sengaja membakar rumahnya dulu seperti disebutkan dalam potongan koran. Orang-orang yang mengambil kebahagiaan orang lain. Kalau demikian. Dilapangkan jalannya.. Dia kehilangan orang tuanya.b u k u . ini kali kedua senarnya putus sebulan terakhir. Apa hidup ini adil? Ray menggigit bibir. Natan kehilangan mimpinya. c o m . Ray bosan dengan sepetak kamar sempitnya. b l o g s p o t . Kehidupan baik-baik ini melelahkan. Pergi ke tempat judi. Pengap kalau hari biasa. maka lebih baik jadi orang jahat! Dia bosan mengamen. Kenapa tidak? Ray menyeringai. Tempias kalau hujan. langit berkali-kali tega merenggut secuil janji kebahagiaan di depan mata. Lebih mengasyikkan jadi anak jalanan seperti dulu. Sedangkan orang-orang baik. Kalau Tuhan benar-benar penyayang kenapa Dia harus menciptakan orang-orang jahat.apalagi yang paling banyak disalahkan. dan prasangka- prasangka lainnya. Bosan dengan tatapan menghinakan dari orang-orang. Hujan turun! 152 | R a t u . bukankah terakhir kali berjudi dia menang belasan juta? Sebelum akhirnya tiga pisau belati membusai perutnya? Bulir air kecil-kecil mulai meluncur. Ray bosan dengan gitar tuanya. Lapar? Tinggal memaksa.

Angin bertiup mengencang. Kilat menyambar. Menggigil. disusul dentum geledek. c o m . b l o g s p o t .. Tower air itu memiliki anak tangga di sisinya.. Kedua kaki dan tangannya menjepit tepi-tepi tiang besi. Meluncur.Ray mendongakkan kepala. Memutuskan turun.. Dan turun dengan meluncur. Hujan menderas.. Rambut gondrongnya basah. Ray menyibak rambut yang menutupi mata. Hingga tubuhnya terasa dingin. Ray naik meng- gunakan tiang-tiangnya.. Enak saja Ray melakukannya. Satu detik. Bajunya mulai kuyup. Tetapi setiap kali Ray kesana. Beranjak pulang ke kamar petak pengap- “HEI! BAGAIMANA KAU MELAKUKANNYA?” ®LoveReads 153 | R a t u . Mungkin jadi orang jahat lebih menyenangkan. Berdiam diri setengah jam kemudian. lantas sekejap. dia tak pernah menggunakan tangga tersebut. Mungkin hujan deras seperti ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan malam dengan rembulan- nya. sigap melompat ke pondasi tower. Padahal tinggi tower air itu sekurangnya sepuluh meter. tubuhnya anggun meluncur. lincah seperti tupai. Mukanya dibasuh puluhan tetes air.b u k u . Mengibaskan rambut- nya yang basah. Membadai malah. Seperti anak kecil main perosotan.

dan memasang plang bertuliskan “Dikontrakkan Rumah 11 Kamar!” Orang yang meneriaki Ray dari teras rumah berdiri.b u k u . Seseorang berseru dari teras rumah dekat tower air. Jarak mereka hanya satu langkah sekarang. Mengangkat bahu. Mendekat. Ray memasang wajah tidak mengerti. Biasa saja. b l o g s p o t . tapi hujan deras membuat per- cakapan terpaksa dilakukan berteriak. memutuskan pindah dua tahun silam. Keluar dari halaman. Ray mengusap dahi. rambutnya yang basah semakin sering mengganggu sudut-sudut mata. c o m . Menyambar payung. Ray hanya memandang. Bagaimana apa? “Bagaimana kau meluncur dari tower setinggi sepuluh meter begitu mudah? Bukan main. Selama setahun dia terbiasa melakukannya. “Bagaimana kau melakukannya?” Orang itu setengah berteriak.Bab 12 Berlian Seribu Karat RAY menoleh. Pemilik lamanya enggan meng- huninya. aku belum pernah melihat yang seperti ini-” Orang itu tertawa. 154 | R a t u . Ray menolehkan kepala ke tower di belakangnya. Hujan turun semakin deras. Menunggu. Bukankah rumah ini setahun terakhir kosong? Berarti sudah ada pengontrak yang baru. Rumah paling besar yang ada di perkampungan bantaran kali. Urung melangkahkan kaki kembali ke kamar petak pengapnya yang berjarak dua puluh meter dari tower air. Rumah dekat tower itu terlalu besar dan terlalu mewah berada di lingkungan bantaran kali yang bau.

Mau? Mari!” Orang itu balik kanan. Mempersilakan Ray masuk ke ruang depan. Tubuhnya terlihat kekar dan gempal. Menguasai.. Kau penghuni kampung sini? Tempat yang menyenangkan. entah apa yang di- pikirkannya dia melangkah mengikuti orang tersebut. Tapi.. Plee. meski tersenyum. Orang itu tersenyum. Ray menelan ludah. Gurat mukanya keras.. bukan. gurat muka serta intonasi bicaranya yang juga mencengkeram. Umurnya mungkin berbilang empat-puluh tahun. Orang itu meletakkan payung di sudut teras. namaku Plee!'' Orang itu menjulurkan tangan.. menyibak rambut. Ibukota sempurna diguyur hujan setiap malam. Ray? Aku baru tiba. b l o g s p o t . Musim penghujan kali ini. Hujan terus turun menderas.. “Kau mau segelas cokelat panas. Ray menelan ludah untuk ke sekian kalinya. menyebut nama. Geledek berdentum seakan-akan ingin mengalahkan suara air membuncah tanah. Ikut mengulurkan tangan. Tanpa merasa perlu menunggu jawaban ya atau tidak dia dengan rileks sudah melangkah kembali ke rumahnya.“Kau seperti pemain akrobatik. ada sesuatu dari tatapan mata. wajah orang di hadapannya tidak terlihat terlalu menyenangkan. mengendalikan. Jabat-tangannya keras-men- cengkeram. Ini untuk 155 | R a t u . Tatapan matanya tajam. Seperti kalian yang menawari seseorang dan yakin sekali orang itu akan menerima tawaran tersebut. Orang ini benar-benar bukan hanya jabat-tangannya yang mencengkeram. ergh siapa. c o m . Ray mengusap wajahnya. Mengajak berkenalan..b u k u . Warga baru. Kilat menyambar membuat terang seluruh kota.

Mengepul. Mewah. Tidak ada yang mau menyewa rumah ini. Tinggal sendirian. Membawa dua gelas besar cokelat panas. Orang itu tertawa. „Terlalu besar memang.. Meski dia tetap tak nyaman akan sesuatu yang ganjil dari cara kenalan barunya menguasai orang lain.. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Ray akhirnya duduk di atas sofa. bajunya kuyup. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan dari semerbak aromanya. Berdagang? Entahlah. Ray malas bercerita soal masa lalu itu. c o m .. yang sekali lagi tidak bisa ditolak olehnya. Plee.. Ray menjawab pendek. Dia malah bisa memanjat tower itu melalui tiang-tiangnya. Menerima gelas yang terjulur. Ray tak terlalu memperhati- kan. menyuruhnya duduk saja. bukan.b u k u . mengaku pindah dari kota lain. Tanpa 156 | R a t u . Sebelas kamar? Entahlah. Kamar petak sempit. Plee bertanya lagi soal meluncur barusan. Malam itu.‟ Pekerjaan Plee berdagang. sejauh ini dia merasa nyaman dengan percakapan mereka. Men- jelaskan dengan nada suara jauh lebih rileks. Ray sungkan duduk di sofa. mengangkat bahu. Mudah. “Kecuali kau mau duduk di lantai. Bertanya banyak hal. Selama ini dia hanya lewat di depannya. orang itu kembali dari belakang. Sudah terbiasa.. Orang itu memberikan baju ganti ke Ray.pertama kali Ray masuk rumah besar dua tingkat tersebut. b l o g s p o t . Tinggal dekat sini. Ray tertawa kecil. toh sewanya murah. Hanya itu. Rumah ini memang mewah. tapi tak masalah. Bilang mengamen. Ray mendapatkan 'teman baru'. Ray!” Beberapa menit.

tapi anak- anak mengerti tenggat waktu beranjak tidur.. “Ergh. orang di depannya mungkin sudah waktunya istirahat.b u k u . dia memang tak perlu bangun pagi-pagi besok. b l o g s p o t . “Ya maksudku. Plee menyeringai mendengar penjelasan Ray. “Pekerjaan baru? Hanya ini yang bisa kulakukan. Dari dulu soal memanjat dia biangnya. c o m . Malah terkadang Plee terlihat sama-sekali tidak memerlukan jawaban Ray. Tidak ada jam di dinding ruangan. “Oo. Mungkin kau menginginkan pekerjaan baru. Menelan ludah. “Apa kau bosan mengamen?” Plee bertanya.. Sudah waktunya pulang. Bukan apa-apa. Ray menghabiskan beberapa tetes terakhir cokelat di gelasnya. Orang di hadapannya suka sekali berpindah-pindah topik pem- bicaraan. Langsung lompat begitu saja. Selalu itu-itu saja.. Kemudian tersenyum riang. Bang Ape tidak pernah memberlakukan jam malam. memain- kan gelas besar yang sudah kosong di atas meja.. Seperti orang lain yang bosan dengan pekerjaannya. Di Rumah Singgah dulu. Tapi pasti sudah cukup lama mereka berbincang. bosan maksudnya?” Ray balik bertanya.. Plee mengantar Ray ke teras depan. malah. Kebiasaannya memandang rembulan dan bintang membuatnya terlatih naik ke tempat-tempat tinggi..perlu pegangan siku. B-o-s-a-n. “Kau bawa saja payungnya!” Ray mengangguk.” Ray mengusap rambutnya yang mulai mengering... Mengangguk. Suasana baru. tapi selarut ini. Orang itu mengangkat bahu... Dari tadi semua 'perintah' orang ini 157 | R a t u .” Orang itu berkomentar pendek.. bingung. Hujan di luar mereda.

Menunjuk bahu. Lebih dari setahun dia hidup sendiri. Apa salahnya? Plee dengan senang hari menyiapkan segelas cokelat panas setiap kali dia singgah. Mampir.tidak ada yang bisa dibantahnya.. Tetapi karena penampilan dan gaya Plee yang selalu terlihat muda.” Plee berkomentar pendek. Ray mendorong pintu besi. Ray melangkah pulang. Maka Plee menjadi kawan baru. Hubungan mereka agak unik. seperti pinjam uang untuk beli senar baru. “Itu bekas luka apa?” Plee mendadak bertanya. ®LoveReads Perkenalan dengan Plee membuat hidup Ray berubah. Plee dengan umur berbilang empat- puluh tahun lebih cocok menjadi ayah bagi Ray yang menjejak usia dua puluh tahunan. meskipun sebenarnya lebih banyak membicarakan tentang Ray. Kaos berlengan pendek yang dipinjamkan orang itu membuat bekas luka di bahu Ray terlihat dari tadi.. “Oo. Malas membicarakan masa lalu itu. Lantas membincangkan banyak hal.. Pengamen lain? Mereka baru saling menegur kalau ada maunya. Lagi pula orang ini baru dikenalnya beberapa saat. c o m .b u k u . b l o g s p o t . Dan Ray seperti biasa tak bisa menolak ajakan tersebut. Plee jarang menjelaskan tentang dirinya. 158 | R a t u . Sudah lama Ray tidak memiliki teman berbincang seperti di Rumah Singgah. “Terjatuh-” Ray menjawab enggan. Menghentikan langkah. Mengangguk. Plee rajin menawarinya berkunjung. perbedaan usia itu tak terlalu mencolok.

Plee membutuhkan waktu dua kali lebih lama dari Ray saat menaiki tower tersebut. Kepalanya celingukan saat pulang malam-malam dari mengamen. seminggu terakhir. bahkan tidak peduli meski hujan deras turun. b l o g s p o t . ini tempat yang hebat. Pertemanan itu semakin akrab. Entah kenapa. Ray tersenyum senang. Ray hanya mengangguk. Dan bagian yang menyenangkan Ray. Sekali-dua mereka bercakap di atas tower air. Atau sedang berkunjung entah kemana.Lagi-lagi hanya bilang berdagang! Ray tidak ambil pusing tentang itu. gaya meluncur Ray tak tertandingi. meskipun dia selalu melihat hampir sepanjang hari Plee ada di rumah tersebut. mungkin Plee sedang berdagang entah kemana. Ray mengusap wajah. Persis seminggu kemudian. Ray tidak menemukan Plee di rumahnya. menemukan rumah itu gelap-gulita. membayangkan segelas cokelat panas segera mengisi perut- 159 | R a t u ..b u k u . Tempat ini memang hebat. c o m . Semua lampu mati. dan jelas-jelas tidak ada barang dagangan di rumah besar kontrakan itu.. Bukankah orang seumuran Plee sepatutnya punya keluarga? Mungkin Plee sedang mudik ke kota lamanya. Kali ini Ray yang menyempatkan mampir. apalagi kalau bukan menunjukkan kemahirannya naik-turun meluncur dari tower air.” Plee tertawa lebar. Pergi ke kota lain. Apalagi saat turun. Dan waktu berlalu tanpa terasa. Padahal Plee menggunakan anak tangga. rumah itu kembali terang oleh nyala lampu. Membawa gelas-gelas ke atas sana.. Ray! Pantas saja kau suka berlama-lama di sini. “Bukan main.

Duduk di sofa ini selalu menyenangkan. Stop-watch. Mungkin Plee di lantai atas. Menumpuknya jadi satu. duduk. Ray?” Plee bertanya. Ray buru-buru memperbaiki posisi duduk. Plee pura-pura memukul lengan Ray. Catatan-catatan. Entahlah. Rumah ini besar. Ray nyengir. Tangannya basah. Sepanjang hari berdiri dari satu gerbong KRL ke gerbong lain membuat kakinya pegal. Melemaskan tangan dan kakinya yang pegal. c o m . Ray tersenyum. Mengetuk pintu. Juga peralatan lainnya. Plee tidak ada di kursi teras rumah seperti biasanya. tak terkunci. b l o g s p o t . Foto- foto. Tadi dia berbaring. Ray menyeringai tak terlalu memperhatikan.. Mendorongnya. Mungkin tidak masalah kalau dia menyelinap masuk. Plee membenahi kertas-kertas penuh carut-marut di atas meja. macam meniru gaya petinggi kaya saja. Sebulan terakhir dia dan Plee sudah jadi sahabat baik. “Baik!” Ray ikut tersenyum. Tidak ada jawaban. Ada beberapa kertas berserakan. Meletakkan gitar di kursi rotan.b u k u . Ragu-ragu melangkah masuk. “Apa kabarmu. Jadi Plee tidak akan mendengar kalau ada tamu yang datang mengetuk pintu. Sofa ini menyenangkan. Duduk. Pernak-pernik alat lainnya. 160 | R a t u . Ray menyentuh gagang daun pintu. Ray mendekati sofa tempat biasa mereka berbincang. Apalagi nanti kembali ke kamar petak sempitnya hanya tikar yang jadi alas tidur. Tertawa. Berseru riang.nya yang kedinginan. Dikibas-kibaskan. Akrab. Berjabat tangan. Ray melangkah masuk. “Ray! Lama tak jumpa!” Plee keluar dari ruang tengah.. Bel-nya rusak. Denah-denah. tersenyum.

Ray memperhatikan. Malam-malam berikutnya Ray senang hati menceritakan muasal bekas lukanya. basa-basi bertanya. Ray nyengir memikirkan idenya. Semuanya! Kecuali masa-masa enam belas tahun di Panti yang menyebalkan. ada urusan kecil selama seminggu. Benar kan apa yang dia duga! Plee mudik. b l o g s p o t . Tersenyum ganjil. dia mungkin bisa membuat seisi gerbong KRL memberikan uang meski dia nyanyi sambil teriak-teriak. tatapan mata. Kembali menikmati segelas cokelat panas. empat tahun terakhirnya di Ibukota. komentar khasnya. Mulai mengerti bagaimana menggunakan pengaruh aneh seperti itu ke orang lain. Ray mengangguk. Plee mengangguk. Plee tertawa. Ray!” Plee mengusap ujung hidungnya. “Kau sendirian? Mereka berlima? Bukan main! Kau hebat. ikut ter- tawa. Ray menceritakan masa-masa di Rumah Singgah tersebut. Dia pembelajar yang cepat. pembicaraan itu semakin dekat. Pemerhati yang cakap. Ray mengusap muka. Sejak malam itu kebiasaan Ray mampir ke rumah kontrakan Plee kembali rutin. Melambaikan tangan. Ray sudah jauh lebih nyaman dengan ekspresi muka. Belajar trik-triknya secara otodidak. ber-Oo pendek. dan intonasi suara Plee yang amat mengendalikan. Dua minggu berikutnya. Menyadari kalimat bodohnya. Plee bilang dia baru balik dari kota lamanya. c o m . Mereka baru saja 161 | R a t u .b u k u . “Itu peta apa?” “Peta harta karun!” “Harta karun?” Ray menyeringai bego. Sekali-dua Ray malah mengingatnya baik-baik. Kalau dia bisa sehebat Plee dalam urusan menguasai orang lain.

. Plee menyuruhnya mandi.. Dia berbeda? Apanya yang beda? Dia hanya pengamen di gerbong KRL-Yang tidak pandai bernyanyi. Ray diam. haha. Ray?” Plee bertanya dengan intonasi ganjil. Dan lebih dari itu... Bukankah dia melakukan hal yang hebat dan membanggakan.. Malam itu persis hujan deras sekali lagi mengguyur Ibukota. Pakaiannya basah. Ray yang kuyup mampir ke rumah Plee. Tidak lebih. Ray menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ray! Amat berbeda.. Gitarnya basah. “Kalau aku boleh bilang.b u k u . amat cerdas. kelewat berani malah. 162 | R a t u . Memberikan handuk kering dan pakaian ganti. Memandang Ray tajam.Punya fisik luar biasa. tersenyum. Nyengir. b l o g s p o t .” Plee menangkupkan tangannya.. Ray mengerti apa maksud kalimat Plee tentang apakah kau bosan mengamen. Lihatlah! Siapapun yang mendengar kejadian tersebut seharusnya memberikan respon seperti Plee.. Menyeringai. Ray melambaikan tangan- ini meniru gaya Plee. Sesuatu yang sudah sepatutnya membuat hidupmu jauh lebih hebat dari sekadar menjadi anak-jalanan. Berani. Malam itu..membicarakan perkelahian di pasar Induk. Pengetahuan dan kemampuannya terbatas- Dan seminggu kemudian. dipuji. Kau memiliki sesuatu.. Ray.. c o m . “Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu yang jauh lebih hebat di- bandingkan mengamen. Kali ini Plee sepertinya berlebihan. kau memiliki bakat. kau benar-benar anak-jalanan yang berbeda. Tidak kurang. lihatlah! Apa yang kurang? Kau cerdas. Mukanya sedikit memerah.

kemilau indah ber-pendar-pendar dari dalam kotak. Benda ini luar biasa. b l o g s p o t . tak mengerti. Tangan Ray patah-patah menerimanya. Gemetar jemari Ray menyentuh berlian kecil itu. Ray!” Plee berkata pelan. Membenamkan tubuhnya di sofa empuk. “Indah bukan?” Plee tertawa menyimak ekspresi Ray. Ray! Hati-hati.. Kemilau berlian yang berpendar membuat wajah terpesona Ray jelas terlihat.. Tergolek di atas kotak beludru. Hanya kilat menyambar yang membuat terang sejenak. Luar biasa. Kenapa gelap? Mati lampu? “Kemari.b u k u . Dan saat sempurna terlepas. Petir menyambar. Ray menahan nafas. ruang depan tempat mereka biasa berbincang gelap. “Kau mau menyentuhnya?” Plee tanpa perlu menunggu jawaban mengulurkan kotak kecil itu. Plee yang duduk di hadapannya terlihat seperti bayangan.Lima belas menit kemudian saat Ray kembali.. “Kau lihat ini.. Tangan Plee memegang sebuah kotak kecil. Ray menatap ke depan. Perlahan melangkah mendekat sambil mengelap rambut. kotak yang indah.. lampunya sengaja kumatikan!” Ray menelan ludah. Seumur-umur dia belum pernah melihat benda seindah (dan semahal) ini. Benda ini adalah berlian. c o m . 163 | R a t u . Menelan ludah.. Hujan deras di luar membuat langit kota gelap. Ini apa? Matanya berkerjap-kerjap. Kerlap-kerlip yang memesona. Plee melepas pelan tutup kotak tersebut. Ray meletakkan handuk basah.

. lebih mencengkeram dari biasanya.. Menyentrum seluruh pori-pori kulitnya. Semuanya. Segelap hari Ray sekarang. Suara Plee terdengar mengendalikan.. ®LoveReads 164 | R a t u . Apa tadi Plee bilang? Harga berlian? Ratusan? Milliaran? “Inilah pekerjaanku. Belum mengerti apa maksudnya. c o m ... mungkin milliaran..b u k u . b l o g s p o t . Kau lihat berlian ini? Ini hanya seperseratus harganya dari berlian yang akan kita ambil! Aku akan memberikan kau kesempatan melakukan sebuah rencana pencurian terbesar yang pernah ada. Tapi aku tidak pernah membeli! Aku hanya menjual.. Kau bisa melakukannya.. Kemudian dengan gerakan anggun. Pasti bisa. Plee tersenyum. Sebulan terakhir aku menyiapkan rencananya. Bersiap menjelaskan rencana besar yang tertahan hampir tiga bulan. Ray mengangkat kepala. Membiarkan hening sejenak. berlian ini berharga lebih dari ratusan juta. ruangan itu gelap...“Kau tahu. Ray gemetar meletakkan kotak kecil ke atas meja. Suaranya terdengar amat ganjil.” Plee mendesiskan sesuatu. Dan hanya kau yang bisa melakukan rencana-rencana itu. Mengambil Berlian Seribu Karat!” Ray mendadak mengkerut. Ya! Hanya m-e- n-j-u-a-l!” Plee tertawa kecil. menutup kembali kotak beludru. tanpa cahaya dari kilat... Tanpa kemilau dari berlian.. Ray. Suara itu bagai menguasai seluruh tubuhnya. Ray! Amat berbakat.. Gelap-gulita.. “Aku akan menawarkan sebuah kesempatan hebat kepada-Mu! Apa pernah kubilang? Kau anak-jalanan yang berbakat. Ray. B-e-r-d-a-g-a-n-gl Berdagang berlian.

Memotong kenangan. Pasien berumur enam puluh tahun itu mengusap wajahnya yang kebas oleh terpaan angin.. Kenangan-kenangan ini. Pasien itu terdiam. “Kau pasti pernah mendengar olok-olok. “Ya! Apa salahnya menjadi orang jahat. Tangannya mencengkeram tepi-tepi atap. Juga berhenti bertanya tentang apa yang diinginkannya..KRL melenguh mengusir orang-orang yang suka berjalan sem- barangan di atas rel. apa maksud semua ini. kecuali gelap. semuanya kembali memenuhi kepalanya. Ray!” Orang dengan wajah menyenangkan yang duduk di sebelahnya mendesah dalam kegelapan terowongan. c o m .. Sejak beberapa menit lalu dia memutuskan untuk berhenti bertanya soal siapa orang ini... Buncah berebut mengisi setiap lembar memorinya- “Dan kau benar-benar menjemput masa-masa gelap dalam hidupmu.. b l o g s p o t . Memperbaiki posisi duduk. Buat apa kehidupan panjang yang baik jika di penghujung sebelum maut menjemput harus 165 | R a t u . Kembali tak-tertahankan.. Kenangan-kenangan ini sudah cukup membuatnya berpikir banyak..” Orang dengan wajah me- nyenangkan itu tertawa getir. Bertanya lebih banyak lagi. Di dalam terowongan tak ada yang bisa dilihat dari atap gerbong. “Apa salahnya menjadi orang jahat-” Ray berkata pelan setelah terdiam lama.. Gelap-gulita. untuk pertama kalinya memberikan komentar...b u k u . Terowongan yang gelap membuat Ray tak bisa menyimak betapa getirnya eskpresi wajah orang yang duduk menjuntai di sebelahnya. Me- nguatkan pegangan.. Olok-olok yang sayangnya serius sekali. Rangkaian gerbong kereta melesat masuk ke dalam terowongan.

“Masalahnya kau tidak seharusnya jahat. coba? “Aku tahu. Orang ini.Bagai musim kemarau yang panjang terkena hujan satu jam.. Tahu apa dia.. Pasien itu menggigit bibir.... Lebih baik kehidupan panjang yang buruk tapi di penghujung sebelum maut datang... c o m .... Mencari pembenaran-pembenaran-” “KAU BILANG AKU MENCARI PEMBENARAN?” pasien ber- umur enam puluh tahun itu memotong penjelasan.... mengkal mendengar untuk kedua kali orang di sebelahnya menggunakan kalimat miliknya..b u k u .Kau benar Ray. Meskipun itu lazim dilakukan orang-orang-” 166 | R a t u . b l o g s p o t . “Kau tahu apa yang dilakukan preman-preman itu kepada Ilham...berakhir dengan keburukan.. berakhir dengan kebaikan. apa salah-nya menjadi orang jahat-” Gelap. Berteriak. Bagai mengumpulkan air segalon raksasa kemudian bocor. Kau tahu apa yang terjadi pada Natan. Ray! Kau tidak seharusnya menjalani masa-masa gelapmu dengan alasan karena hidup ini tidak adil. Kalau hidup ini adil kenapa mereka dibiarkan oleh Tuhan! KENAPA!” Suara pasien itu terdengar jengkel sekali. Ray! Tapi bukankah sudah kukatakan sebelumnya kau tidak seharusnya menyalahkan orang-orang atas nasib burukmu. Kau tidak seharusnya menyalahkan orang-orang yang mem- buat kehidupanmu buruk. keburukan- keburukan itu berguguran oleh penghujung yang baik. kebaikan-kebaikan itu musnah oleh penghujung yang jelek.. DAN KAU TAHU APA YANG DILAKUKAN ORANG-ORANG JAHAT ATAS KEBAKARAN DI- SENGAJA ITU. orang yang duduk di sebelahnya ini berani sekali bilang soal tidak seharusnya.

Orang-orang terpilih sekali pun... meski amat lazim juga dilakukan orang-orang... karena kita selalu beusaha mengenalinya dari sisi yang kasat mata.” Pasien itu mengusap mukanya. apalagi menyalahkan Tuhan.. Tapi karena kau sudah amat sebal dengan pertanyaan-pertanyaanmu. mungkin harus selalu begini pertanyaan ini dijawab. Karena keadilan mengambil berjuta bentuk pula.. Kereta masih melesat menembus terowongan..“LANTAS AKU HARUS MENYALAHKAN SIAPA? TUHAN?” Orang dengan wajah menyenangkan itu tertawa getir. mari kita telusuri satu-persatu....b u k u . malam itu saat kau memutuskan untuk melakukan apa yang diminta Plee. Kalau orang di sebelahnya mencoba membujuknya soal hidup ini memang adil. c o m . Sepanjang hidup... terkadang lalai mengenali bentuk-bentuk keadilan itu..... Kau 167 | R a t u . aku akan menjawab pertanyaanmu dari muasal kenapa pertanyaan itu muncul. dia sudah lelah atas berbagai kenyataan pahit yang harus dia hadapi. Baiklah. itu tak akan ada gunanya.. berusaha mengendali- kan diri. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya.. Entah sampai kapan orang-orang bisa menjawabnya tanpa perlu menelusuri kembali hal-hal tak kasat mata yang tidak di- ketahuinya.” Gelap... jawaban atas pertanyaan ini berjuta bentuknya. “Aku tahu... menelan ludah. “Kalau kau tidak boleh menyalahkan orang lain. Kebahagiaan-kebahagiaan yang direnggut langit padahal sejengkal lagi menjadi nyata. Menahan teriakan berikutnya. Terus terang.. b l o g s p o t . Itu tidak bisa dilakukan.. “Baik-Baiklah. itu bukan semata-mata karena Plee pintar mengendalikan orang lain. ini bagian penjelasan paling sulit dari lima pertanyaan. Ray.. Ah..

. dua.. Kau keliru. Aku akan jawab dulu tiga bagian ini sebelum melanjutkan menelusuri muasal utamanya. Langit semakin Jingga... b l o g s p o t .. “Pertanyaan-pertanyaan mengutuk di atas tower air itu muncul karena kejadian-kejadian di Rumah Singgah.... Bang Ape justru mencarimu sepanjang tahun. kau menyalahkan preman-preman itu.” Orang dengan wajah menyenangkan itu menghela nafas. kenapa orang-orang jahat selalu dimudahkan jalannya.. Kau menyalahkan preman-preman itu karena menghancurkan mimpi-mimpi Natan. Awan putih bagai kapas yang sekarang terlihat kemerah- merahan membungkus langit.... KRL keluar lagi dari terowongan.berkali-kali mengutuk di atas tower air itu. Ray. “Satu. Menggoda pasangannya.. Terang. kau terpaksa pergi dari rumah itu karena perbuatan jahat orang lain. mempercepat... tiga. itu yang pertama. Tapi ketiga hal tersebut menjadi katalis. Kau berkali-kali bilang.Menelusuri bus- 168 | R a t u ... Jalanan padat.b u k u . memperbesar pertanyaan.. kenapa orang-orang baik sebaliknya. Tiga hal yang meng- ganggu! Meskipun ketiga-tiganya sebenarnya bukan muasal utama kenapa pertanyaan apakah hidup ini adil bagimu.Kau terpaksa pergi dari rumah itu karena perbuatan jahat orang lain. bukan? Bang Ape? Dia tidak pernah menyuruhmu pergi! Tahukah kau. Kau menyalahkan begundal-preman itu karena merusak lukisan Ilham. Orang-orang kembali dari kerja. Warna Jingga berpendar-pendar di kaca- kaca gedung pencakar langit.. Senja yang indah di Ibukota. Siapa yang menyuruhmu pergi? Tidak ada. Tiga kejadian. c o m . Burung layang-layang melenguh. Baiklah..

Kau tidak pernah kembali. Melambaikan tangan. kau bahkan tidak mengenali itu foto nyengir wajahmu sendiri. Kalau saja hari itu dia berhasil menyerahkan lukisan lersebut ke kurator museum. maka 169 | R a t u ... Kata siapa Ilham gagal? Ah.... Terlalu cepat menyalahkan orang. b l o g s p o t . dia juga hanya melihat hal-hal yang kasat mata.. kau akan kembali ke Rumah Singgah.. “Kau memang tidak tahu itu.. Menyalahkan langit yang membiarkan orang-orang jahat itu. mengabaikan ekspresi tidak tahu Ray.. c o m .. “Tapi dia keliru. itu hanya kemarahan sementara. Ilham tetap tidak akan bisa ikut pameran lukisan itu.. ketika dulu aku harus menjawab tiga pertanyaan dari manusia pilihan yang kuijinkan mengikuti perjalananku. Berapa kali kau melihat kertas itu.. Terutama kau dan Bang Ape! Lukisan Ilham biasa-biasa saja. karena kau tidak peduli. Kasat matanya kau me- nyumpahi preman-preman itu.. Dia pikir ketika kau pergi dari kantor polisi setelah berteriak-teriak... kasusnya juga sama seperti kau.” Ray terdiam..bus.. Sepanjang tahun Bang Ape dan anak-anak berusaha mencari jejakmu. Kalian terlalu melebih-lebihkan kemampuan Ilham. Bertanya kesana-kemari. tapi karena kau tidak peduli..b u k u . Sekarang tentang Ilham! Kasat matanya yang kau tahu Ilham gagal mengikuti pameran besar tersebut.. Kau tahu. tanpa dirusak sekalipun. “Dua. 'DI CARI! HIDUP ATAU MATI!” Orang dengan wajah menyenangkan itu tertawa. mengusap wajahnya. Jadi siapa yang me- nyuruhmu pergi? Jiwa muda serba tanggungmu-lah yang terlalu cepat mengambil kesimpulan.. Oude dan Ouda bahkan iseng membuat pengumuman di sepotong ketus.

. Hanya menikmati masa-masa hebatnya selama dua bulan.. c o m ...... Lukisan itu standar! Tidak lebih...Dibuat khusus untukmu..... Lelang terbesar dan termahal. juga mendapatkan bonus dan kegagalan sebelumnya: belajar tentang kerendahan-hati. Sebenarnya dia hendak bertanya. Ilham sudah meninggal? Tetapi yang keluar dari mulutnya hanya kalimat itu.b u k u . di gedung konsorsium bisnis menggurita milikmu ada satu lukisan yang amat istimewa... saat Ilham sudah benar-benar siap.. Matanya membulat. Ray?” Orang dengan wajah menyenangkan itu tersenyum arif. b l o g s p o t .” “Lukisan itu? I-l-h-a-m?” Pasien itu tercekat. Tidak kurang. Kau tidak tahu memang.musnah sudah harapannya menjadi pelukis terkenal. Apakah hidup ini tidak adil bagi Ilham. Kurator itu tidak akan pernah lagi mempercayai penilaian Bang Ape. kesem- patan baiknya baru datang. dalam pelelangan. Lukisan rembulan sabit yang indah.. Itu lukisan Ilham sebulan sebelum meninggal. Ray? Lukisan yang kau beli. Pasien berumur enam puluh tahun itu tertunduk. 170 | R a t u . Tidak peduli meski hanya dua bulan. Tapi dia men- dapatkan penghujung yang baik.. “Sepuluh tahun kemudian. “Bukankah di ruang kerjamu yang menjulang tinggi. karena Ilham selama sepuluh tahun itu selain belajar bagaimana membuat lukisan yang lebih baik. Ilham memutuskan untuk tidak menuliskan nama di setiap lukisannya. Itulah mahakaryanya.. “Ya! Itu lukisan Ilham.. Anak itu meninggal di usia 32 tahun..

Bagaimana mungkin hati manusia bisa sekelam itu. Itu yang terlihat.... Ray.. Apa yang sebenarnya Natan ingin lakukan.. Aku tidak akan menjelaskannya sekarang. percayalah.. Biarlah Natan yang men-jelaskannya..Sayang tidak semua bentuk itu kita kenali. Musnah tak berbekas. langit memberikan apa yang sebenarnya Natan cita-citakan. Dan Natan bermimpi menjadi jalan untuk melumerkan hati orang-orang. “Sejak tahu dan mengerti kisah hidup menyakitkan itu. karena kau selalu keras-kepala. c o m .. urusan ini terlanjur sulit bagimu.. Kasat mata. Dia tidak akan pernah menjadi penyanyi.. tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup tidak adil? Ah.” 171 | R a t u ... Itu kalau kau memahaminya dari sisi yang terlihat. hidup ini selalu adil. Kehidupan ini selalu adil-Keadilan langit mengambil berbagai bentuk.“Tiga! Tentang Natan! Dia memang kehilangan semua mimpi-mimpi indahnya.Dan langit memberikan kesempatan lain yang lebih hebat kepada Natan. Tapi tahukah kau..Semoga kau masih sempat mendengar penjelasan itu. Kau tahu bagai- mana melumerkan hati orang? Menjadi penyanyi hanyalah satu dari banyak cara... “Tapi sebelum penjelasan itu datang. Ray. Natan bermimpi menjadi seseorang yang bisa menggerakkan hati... bagaimana mungkin ayahnya tega meninggalkan mereka.Kau tahu fakta itu. Ibunya meninggal karena kemiskinan dan sakit hati.. fakta ayah Natan pergi meninggalkan ibunya. Natan benci sekali dengan ayahnya. Itulah cita-cita terbesar miliknya.. Bagaimana dia menggapai mimpi-mimpi itu. b l o g s p o t ..b u k u .

potongan koran itu tidak pernah terpisahkan.. Tepekur. 172 | R a t u . KRL menderu membelah kota. Apakah kau membawa potongan koran tua itu...” Ray mengusap dahinya. b l o g s p o t .. Untuk melancarkan pem- bangunan pusat perbelanjaan. Bukan pula kejadian di Panti itu....Muasal dari pertanyaan apa hidup ini adil bagimu.. Tapi karena potongan koran tua itu. “Ah tidak juga. Seumur hidup.. sekarang kita akan menjawab muasal utama kenapa kau ber- tanya apakah hidup ini adil. pasien itu memutuskan untuk diam. Menge-luarkan potongan koran yang semakin menguning dan tua.. “Nah. Kau berhasil memasti- kan kebakaran itu memang disengaja.. Mengulur-kan ke orang di sebelahnya.. Pasien itu merogoh saku piyama rumah sakit yang dikenakannya. Separuh yang lain tetap menjadi misteri. kau berhasil mendapatkan separuh penjelasannya.. Ray?” Pasien itu mengangguk pelan.. c o m .. Ray. Siapa yang tega melakukannya. Sore makin Jingga! “Potongan koran yang penuh misteri bagimu... Bukan berbagai kejadian di Rumah Singgah itu yang sebenarnya membuat malam-malammu di atas tower air diisi dengan mengutuk langit. Dia hendak memaksa orang di sebelahnya menjelaskan apa yang terjadi dengan Natan. Siapa yang membakar rumahnya.. Semua penjelasan ini menyesakkan.Pasien itu diam. sejak menemukannya di tumpukan berkas bertuliskan namanya di panti. Tapi menyadari dia tidak akan bisa memaksa-nya.. Bukan.b u k u . Ya! Tetap jadi misteri.” Orang dengan wajah menyenangkan itu menghela nafas prihatin.

berbeda dengan pedagang lain. Ray menelan ludah. maukah kau mengenang kembali kejadian-kejadian itu untukku?” ®LoveReads Plee memang pedagang. c o m . Benar apa yang dia bilang. Plee profesional. Mendengar berbagai rencana Plee tentang Berlian Seribu Karat itu. Mengangguk. Apa salahnya menjadi penjahat. Ray bisa menyimpulkan. Hidup ini tidak adil.b u k u . Pertanyaan bekas luka. Jangan samakan dia dengan maling coro lainnya. Detail didetailkan. b l o g s p o t . Ray! Mereka sudah terlalu kaya. Dan sebulan berlalu. Entah setuju. “Kita hanya mengambil sedikit kekayaan dari orang lain. Plee macam jagoan di film-film. entah tidak. sempurna dihabiskan untuk mematangkan rencana. Plee tidak pernah membeli.“Sebelum aku menjawabnya. Strategi di-strategikan. Berlian itu ada 173 | R a t u . Semua diper- hitungkan. Semua terukur. Dan malam itu Ray sedikit pun tidak mempunyai ide lain kecuali mendengarkan rencana-rencana Plee. Toh mereka mendapatkan kekayaan itu belum tentu dengan cara baik-baik!” Plee tertawa. Menjual berban curian. mengusap gurat mukanya yang amat ganjil. dia hanya menjual. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sesak setahun terakhir mempercepat prosesnya. Plee memiliki reputasi. Semua itu mengendalikannya. Pedagang besar malah. Ray akhirnya mengerti maksud percakapan mereka selama ini. teman barunya bukanlah pencuri biasa. Pertanyaan apakah dia bosan mengamen.

. Lima puluh persen kali puluhan milliar.di safety-box lantai 60 gedung tertinggi Ibukota. Ray mengangguk. Menelan ludah. Plee membentangkan denah terbaru. apalagi mencurinya. “50-50. mengakui melakukannya sendirian. Tutup mulut. Andaikata salah seorang dari kita tertangkap. Pikiran-nya terlanjur dipenuhi banyak hal. Sisanya serahkan padaku!” Itu kata Plee di malam ke-18 rencana mereka.. “Kau hanya memastikan kita bisa mencapai lantai tersebut.b u k u . c o m . Seumur hidup aku menyesalinya. Kemampuan itu menjadi kunci penting untuk menerobos lantai 60 gedung tersebut. Angka yang tidak pernah dilihatnya.. menurut.. Informasi terbaru. Aku tidak akan mengambil keuntungan sedikit pun dari persahabatan kita!” Plee tersenyum.” Itu kalimat-kalimat menusuk Plee dua malam sebelum eksekusi. Plee lebih dari serius. Semakin ke sini. Foto-foto pengintaian terbaru.. kita menjalaninya bersama. Ray. maka tidak ada juga yang mengkhianati satu sama lain. Dan soal kalimat partner setara itu. menatap Ray seperti seorang ayah sedang menatap anaknya. Plee 174 | R a t u . Apapun yang terjadi besok. Tidak ada yang tertinggal. b l o g s p o t . Ray! Itu tugasmu. Dan satu saja dari itu cukup membuatnya sulit tidur seminggu terakhir: berlian itu berharga puluhan milliar. Ray semakin sedikit bertanya. Entah apa yang akan dilakukan pada bagiannya.. Tidak ada yang meninggalkan yang lain... Itulah gunanya Ray! Plee benar-benar terpesona melihat Ray naik- turun tower air setinggi sepuluh meter. Mendekat sepuluh meter dari kotak bajanya tidak mudah. Ray mengangguk... Ray! Kau partner setara bagiku.. “Aku hanya sekali kehilangan partner dalam urusan ini..

menatap tajam Ray. Bukan janji semu dadu bermata enam dalam tabung bambu.00. Plee menggenggam bahu Ray kencang-kencang. melainkan janji sebuah rencana yang tidak mungkin gagal. sejak Ray mengenal siapa Plee sesungguhnya. Malam terakhir sebelum eksekusi. tidak adayang meninggalkan yang lain!” Berteriak mengulang kalimat- kalimat sebelumnya. mereka bersiap- siap berangkat. “Besok malam kita akan kaya.. Hujan turun semakin deras. Plee sengaja memesan seporsi kecil pisang bakar. Dan Ray larut oleh sebuah janji. Jangan tanya Plee tentang kesetiaan. Plee meletakkan berbagai perlengkapan di kursi belakang Honda Accord tahun '72. Meskipun aku tidak tahu apakah kita bisa melesat secepat itu di jalanan macet Ibukota!” Plee tertawa waktu menjelaskan memilih mobil tersebut dua minggu lalu. Guntur menggelegar.00. Hanya bagian luarnya yang terlihat ringkih. Hari H. “Mobil ini bisa melesat 100 km/jam dalam enam detik. c o m . Pukul 19. Untuk pertama kali. Ray! Siapa tahu kita harus lari secepat mungkin dari kejaran petugas. ®LoveReads Esok hari. Ray! Kaya bersama-sama. dia merasakan sisi baik orang tersebut. Pukul 20. Kilat menyambar. 175 | R a t u . b l o g s p o t .. Mereka bersulang. di tengah-tengah hujan deras. 'Bersulang cokelat panas yang sudah dingin- bercampur air.b u k u . setelah makan malam di ruang depan. Penampilan mobil itu menipu. di atas rower air. Kesetiaan..

Ramai oleh suara beduk ditabuh bertalu-talu. 176 | R a t u . tapi tak bisa. Mengena- kan kostum jogging. Stadion sesar. dari tadi nafasnya tersengal.b u k u . Mengendurkan penjagaan. Accord tahun '72 itu melesat di jalanan Ibukota. memperbaiki tali sepatu. tak ada jatah cuti tahunan. Ray mengangguk. Menuju pemberhentian pertama. Urusan ke toilet masuk dalam checklist persiapan Plee nomor 97. Tidak memerlukan banyak minum untuk membantu pencernaan. Satu-dua petugas itu malah sedang sebel. b l o g s p o t . Ramai oleh suara takbir yang menggema ke segenap penjuru.. bukan?” Plee tertawa. menatap mangkel keramaian jalanan. dan Ray ikut tertawa. Ray! Pisang. Malam itu seluruh Ibukota memang ramai.00. Makanan atlit yang baik. Malam itu karnaval hari raya! Malam kemenangan! Sungguh waktu yang tepat untuk mengeksekusi rencana besar mereka.“Kita tidak ingin malam ini kau terlalu kenyang. Jarinya gemetar merapikan kaos tanpa lengan ke dalam celana pendeknya. ter- masuk hitung-hitungan psikis tersebut. “Ayo. melenturkan seluruh tubuh. Ramai oleh orang-orang berlalu-lalang. Accord tahun '72 merapat mulus di parkiran stadion. Plee benar-benar merencanakan semuanya. Berbagai aktivitas di gedung-gedung pencakar langit diliburkan sejak dua hari lalu. Penjaga-pen-jaganya terbawa suasana hari raya. Jadilah. Ray! Untuk seumuran kau. Repot kalau kau terpaksa ke toilet saat kita di atas nanti!” Plee tertawa lebar. Pukul 21.. Rindu mudik. seharusnya kau kuat sepuluh kali putaran tanpa-henti!” Plee nyengir. Dia agak susah bicara. “Waktu yang tepat untuk jogging. Ray dan Plee melompat turun. Malam itu stadion ramai. c o m .

dari tepi-tepi stadion. sejak Ray menyepakati rencana tersebut. tentu saja untuk menyiapkan pernak-pernik terakhir sebelum menuju lokasi eksekusi. Mengatur nafas. Dia tahu Ray berbakat. Ray hanya banyak mengangguk- Bagi Plee urusan jogging malam ini punya dua tujuan. Bermain kembang api. c o m . Lampu-lampu kemeriahan karnaval malam hari raya. dan langsung mendapatkan biangnya. Sebagian lainnya berolahraga. para pekerja kantoran yang tidak memiliki banyak waktu luang. 177 | R a t u . Pertama dan yang paling penting: menyiapkan Ray. anak muda ini sejak tadi sore sudah tersengal. Ray boleh saja dari ekspresi muka terlihat dingin dan terkendali. Tidak ada lagi kebiasaan mengamen sampai larut malam di gerbong KRL. Sama gugupnya dengan partnernya dulu- Kedua.b u k u . gedung itu meski kosong oleh penghuninya terlihat bercahaya. Basa-basi. Sepanjang lari. Itu jadwal rutin yang diberikan Plee. Mereka harus fit 101 persen! Tidak ada lagi bangun kesiangan. Gedung pencakar langit itu dari stadion berbilang dua ratus meter. namun Plee tahu persis. Sebagian pengunjung berlalu lalang meramaikan kemeriahan malam hari raya. Gugup. Stadion Besar ramai. Langsung lari keliling kampung bantaran kali selama satu setengah jam penuh. Plee mengajak Ray berbincang banyak hal. Plee dan Ray melesat memutari stadion. b l o g s p o t . Bergabung dengan mereka. setiap hari Ray harus bangun pagi-pagi.Ray mencoba rileks. Malam ini. Sebulan terakhir. Tapi ini kali pertama baginya. Plee sedang berbasa- basi.

Plee dan Ray melompat masuk ke dalam Accord '72. gerimis membasuh Ibukota.00. “Semoga hujan turun!” Memang lebih sulit bagi Ray mengurus lantai 60 itu. Pukul 23. Ray menelan ludah. langit Ibukota mendadak gelap.30.00. berdiri di tempat yang lebih tinggi.00. “Oke! Semua sesuai rencana!” Pukul 01. hujan deras mengguyur Ibukota. Plee menghentikan lari. Anak tangga stadion. berdiri di sebelah Plee. Plee menyapu bagian-bagian penting. mungkin kau bisa memenangkan lomba Lari 10 Km!” Plee tertawa.Stadion menjadi lokasi terbaik untuk mengamari situasi sasaran. Pukul 22. “Kalau kita gagal malam ini. Ray tersengal. berusaha mengatur nafas. Ray! Ditambah enam bulan latihan lagi. Aktivitas mereka tersamarkan- Pukul 24. setidaknya kau bisa menjadi atlit lari yang baik. “Bukan main. Awan tebal berarak-arak menutupi bintang-gemin-tang. bahkan langit merestui rencana kita!” Plee takjim menangkupkan kedua telapak tangan. b l o g s p o t . 178 | R a t u . Mereka berdua rileks duduk bersandar di depan Accord '72. Plee mengambil teropong bintang yang disiapkan di dalam bagasi mobil. Teringat ucapan Plee dua minggu lalu. c o m . Menunggu. tapi hujan memberikan banyak kemudahan lain.b u k u . Mereka melemaskan seluruh tubuh setelah dua puluh putaran non- stop. Mereka berdua pindah. Hati-hati menyimak gedung sasaran mereka dari kejauhan. mendesis.

c o m . Menekan tombol.08. Berhenti persis di depannya. bingung. Pintu lift terbuka. “Kau pakai.Mobil itu melesat menuju parkiran gedung pencakar langit. Petugas gerbang tidak banyak bertanya saat Plee mem- perlihatkan sepotong kartu. Ray menyambar ransel besar di kursi belakang. Lift berdesing. Saatnya beraksi. Mobil memutari gedung. “Biar kelihatan keren!” Plee tertawa. menelan ludah. Begitu tenang. Melemaskan lehernya yang mulai terasa kaku. melihat Plee dan Ray masuk ke dalam lift amat mengesankan. melupakan buku panduan. Kaca mata hitam? Ray menatap kaca mata hitam tersebut.b u k u . Plee memutar lagu dari sound-systems mobil. Malas memeriksa bagasi dan bagian bawah Accord '72 itu. semakin dekat urusan ini terlaksana dia semakin bisa mengendalikan diri. b l o g s p o t . pelan merapat ke pintu lift basemen. Komplek gedung ini sebagian dijadikan apartemen. Ray menoleh. Plee gesit menyampirkan ransel lainnya ke bahu. Ajaib. Begitu yakin. ransel besar.05. Dengan kostum hitam-hitam. Pukul 01. Ray mengatur nafas. Kartu yang diambil Plee beberapa hari lalu dari tas salah-satu penghuni apartemen membuat lancar urusan. Ray cekatan menangkap. Pukul 01. Malah naluri yang 179 | R a t u . Hanya melambaikan tangan yang meng- genggam pentungan. Ikut ber- senandung pelan. berdua melangkah menuju lift. menyilahkan masuk. dan berbagai peralatan lainnya. kaca-mata hitam. Ray tanpa banyak tanya memakainya. meluncur ke area parkiran bawah. Ray!” Plee melemparkan sesuatu.

Plee melangkah tenang menuju pojok lantai 48. anak ini memang berbakat.25. Seolah-olah semua hanya permainan. Lantai berikutnya membutuhkan akses khusus. Mengeluarkan semua peralatan. Pintu lift terbuka.11. Plee membuka jendela lantai 48. c o m . Mema-sang google dan sarung tangan pada urutan terakhir. Pukul 01. Tak ada jeda walau sejenak untuk saling memastikan. Dalam hentakan detik seperti gerakan konduktor sebuah orkestra. Membukanya dengan cepat. Lantai 48 hingga 60. Terlatih. Ray mengenakan kostum. Menepuk-nepuk ransel di pundak.b u k u . bergumam. Semangat.00 tadi. Hujan deras menerpa. Angin kencang menderu. Memperbaiki posisi uzi di pinggang. Plee menatap Ray. Sesuai rencana. Bank yang menyimpan berlian seribu karat di super-safety- deposit-box mereka. Tak ada percakapan. Ray merasakan antusiasme. Saatnya- 180 | R a t u . Plee memandangnya melalui cermin dinding lift.pernah dikenalinya saat melawan preman-preman itu kembali tak ter- tahankan. Memuntahkan bulir air ke dalam gedung. Lift hanya bisa mengantarkan mereka hingga lantai 47. Sigap meletakkan ransel di lantai. Pukul 01. Ditinggalkan pekerjanya sejak pukul 17. disewa oleh cabang bank internasional itu. gondok pembersih kaca tergantung persis di luar. Pakaian pemanjat. Bergoyang-goyang pelan. Tangan-tangan mereka yang bekerja. Terhenti. dan malah mula bisa menikmatinya. Merasakan detik-demi-detik berlalu. Gondola itu berderit. b l o g s p o t .

Ray melemaskan tangan. Bukan oleh deru angin atau terpaan air hujan. Bergetar oleh gerakan mesin hidraulik. 181 | R a t u . menolehkan kepalanya sejenak ke bentangan kota. Ray mengangguk. Apalah bedanya dengan tiang tower air.Ray menelan ludah. Menyaksikan pemandangan hebat di belakangnya. c o m . Menatap ketinggian lantai 60. Tidak sulit memanjat seutas tali baja tersebut. Melompat keluar jendela. Ray mendesiskan sesuatu.. Bulir-bulir air hujan membuat nuansa cahaya itu terlihat berbeda. Gondola bergetar pelan. Dear diary. Pukul 01..b u k u . Mendongak. Plee menyeringai di bawah.. Ray menyeringai. Gurat petir di langit membentuk akar-akar serabut. “Tiga puluh menit. dua puluh menit berlalu. Bersandarkan dinding lorong. Lantas dengan mantap tangannya mulai menggenggam tali gondola. Dia sudah terbiasa memanjat meski di tengah hujan deras dan angin kencang sekali pun. b l o g s p o t . Siluet ribuan cahaya. Apa salahnya menjadi orangjahat. Bersenandung riang. Plee melipat buku kecilnya. Tali gondola ini memang bergerak-gerak. lampu-lampu. Mengangguk.. Semua peralatan ini memudahkan gerak. Ray!” Plee berteriak kencang. Dan Ray mulai memanjat. tetapi selebih- nya sama saja dengan tiang tower air. sambil menatap pemandangan di hadapannya mulai menuliskan sesuatu di buku tersebut. Mengeluarkan buku kecil dan sebuah pulpen. Deras menghajar google yang dikenakan. tubuhnya segera kuyup.46. Petir menyambar. Naik ke atas gondola. Mukanya terkena puluhan larik air hujan. Mencatat perjalanannya.

Ray mendesah pelan. Dia sudah memutuskan menjadi orang jahat. Sedikit demi sedikit. tujuannya bukan untuk menikmati betapa eloknya bentangan Ibukota. Plee membuka jendela dengan alat pemotong kristal. Itulah guna peralatan yang ada di pinggangnya. Sayang. Kepalanya tengadah menatap langit. Lantai itu gelap. Menjadi bagian orang- 182 | R a t u . Peduli amat dengan kebakaran disengaja. Juga tower air. Sebulan terakhir. Saat petir me- nyambar. Menyelinap masuk. Ada yang lebih penting. Bergelantungan. Plee segera beraksi bak jagoan di film-film. Beberapa detik sempat menatap betapa indahnya kota dari ketinggian ratusan meter. Plee tahu persis apa yang dihadapinya. Bukan main. Lantas menunggu di atas. b l o g s p o t . Gondola berhenti persis di depan jendela kaca lantai 60. Plee mengambil alih sisa pekerjaan. Naik! Mengencangkan ikatan peralatan di pinggang.Ray sudah tiba.b u k u . Merayap. susah-payah memanjat. Hingga mendekati ruang kaca setebal lima belas send. Ray menghidupkan mesin gondola. dia bisa melihat siluet pelabuhan dipenuhi kapal-kapal di kejauhan. Duduk mencangkung. Peduli amat dengan Natan. untuk pertama kali kepalanya kosong dari pertanyaan menyesakkan itu. Me- lepas google di wajah. Plee melompati bingkai jendela. Air hujan menerpa pipi dan dahi. Peduli amat dengan Ilham. Ini jauh lebih hebat dibandingkan atap genting Rumah Singgah. Memesona. Gondola itu bergerak. Meliuk-liuk menembus jebakan. c o m . tempat kotak baja itu berada. Gelap! Pertanda lorong lantai dilindungi sensor panas dan deteksi gerakan. Meletakkan hati-hati potongan kaca tersebut. Ray menurunkan lagi gondola ke lantai dasar.

Yang Ray pikirkan sekarang hanya satu: apapun yang terjadi tidak ada yang meninggalkan yang lain. Pemandangan yang mengesankan. c o m . Melompat dari duduknya... Dalam hitungan detik bagai seekor bajing. Tuhan memang selalu memudahkan jalan orang- orang jahat. Ray mengusap muka.15. Menyibak anak rambut. Kedinginan. Sepi. Petir menyambar membuat terang seluruh kota. Tubuh atletis Ray gesit melompati lubang kaca.. Berhenti persis di jendela yang dibolongin Plee. Plee pasd sedang berkutat memecahkan kode ruangan kaca. Sama! Hujan.orang yang disalahkannya selama ini. Pukul 02. Dulu.. Buru-buru mengenakan google.. Sendiri. lima belas menit lagi. Lihatlah! Semua urusan ini lancar. belum habis Ray membenak.. Pucuk-pucuk layar perahu nelayan yang tertambat di pelabuhan terlihat sekali lagi. malam hari raya juga dihabiskan duduk di atas tower air. Melihat jam di pergelangan tangan.b u k u . Dulu. Apa yang terjadi? Apa yang salah? Plee membuat kesalahan? Bagaimana mungkin? Bukankah rencana itu terlalu sempurna untuk gagal? Ray buru-buru membuang per- tanyaan itu. Ray menatap kejauhan. Sirene terdengar mengeras. Sayang. Begitu damai. dia melompat ke tali baja gondola.. Meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Menenteramkan. mendadak sirene lantai 60 men- dengking kencang. b l o g s p o t .. Apa yang dia bilang. malam hari raya juga dihabiskannya duduk sendiri di luar atap panti. 183 | R a t u . Ray terkesiap.

. Dia keliru membedakan pintu. meski urusan membobol lantai 60 itu bukan tugasnya..10 menit. 08 menit. seingat kepalanya dulu merekam semua jalur melarikan diri di terminal. c o m . Ray menerobos lorong lantai 60 yang sudah dipenuhi kabut. Tidak ada siapa-siapa di sana! Di mana Plee? Plee merangkak menyentuh dinding-dinding kaca. Memberondong gerendelnya dengan rentetan peluru kaliber 21 mm. Rencana darurat. 13 detik! Ray berbalik. dia akhirnya 184 | R a t u . Pintu itu berdebam terbuka. siapa tahu diperlukan. Ray ingat denah lantai itu. Plee memberikan denah-denah itu. Ada satu bagian kecil yang dilupakan Plee.. Mengetuk-ngetuk memberi tahu posisi. Sebenarnya tidak dilupakannya. 07 menit. Plee yang megap- megap. 46 detik! Ray menarik uzi dari pinggang. Melewati lorong-lorong. Tiga puluh detik berharga terbuang percuma. Ray mendesis. b l o g s p o t . malam itu setelah sekian kali diary-nya dipenuhi kata-kata berhasil.b u k u . Plee yang menyuruhnya menghafal. Pintu kayu di hadapannya terkunci. Menyumpah-nyumpah google di kepalanya yang mengganggu penglihatan. 06 menit. Menendangnya. Apa yang terjadi dengan Plee! Di mana Plee? Dia harus segera menemukannya... 00 detik! Hanya itu waktu yang mereka miliki sebelum gedung dipenuhi oleh ratusan petugas polisi. Dulu dia hanya punya linggis kecil. menerobos pintu-pintu. 23 detik! Ruangan kaca terlihat. 05 detik! Ray berlari. 09 menit.

tetapi bagi rancangan alat deteksi keamanan super lantai 60. 57 detik! Ray tidak sempat berpikir panjang. Menekan “tombol pembuka” di senjatanya. Peluru-peluru itu terhujam dalam. Udara segar di koridor membantunya segera pulih. Percuma! Kaca itu terlalu tebal. Sekotak kecil C4 yang jauh-jauh hari mereka siapkan. terhimpit barang-barang di jok belakang Accord '72. Dia masih bisa berjalan meski tertatih-tatih. Plee di dalam dengan sisa-sisa tenaga berguling menjauh. Mengeluarkan asap maut. 185 | R a t u . Plee masih sadarkan diri. Pemberat yang disiapkan Plee untuk menggantikan posisi berlian gompal sepersekian gram beberapa jam lalu. bahkan Plee tidak tahu apa kode untuk membuka kembali ruangan kaca. Dia memasangkan magasin baru di u2i.b u k u . Ray mengarahkan uzi-nya ke kotak bom. Berlari berlindung. Hanya sepersekian gram.sial. b l o g s p o t . cukup sudah untuk memicu alarm. 04 menit. yang sempat berbincang santai sebelum kabur. Omong-kosong film-film yang menunjukkan betapa dingin penjahatnya. Bergegas memasangkan bom di pojok dinding kaca. Ray melesat menyambar tubuh Plee yang hampir semaput. 05 menit. Tak perlu timer. c o m . “bagaimana kondisimu?” Apalagi memastikan kondisi Plee. Ruangan kaca itu mengunci. 15 detik! Ray melepas ransel di pundak. Tapi dia harus segera 'memecahkannya'. Ray mendengus. tapi tidak berpengaruh sedikit pun. Mereka harus lari secepat mungkin. Meledak. dia punya linggis yang lebih besar. Memberondong dinding kaca. Dinding kaca hancur berkeping-keping. Mengeluarkan kotak maut tersebut. Jangankan dia. Tidak ada waktu untuk bertanya.

dari koridor lantai 60 yang berkabut. Tubuh Plee meluncur dengan kecepatan tinggi. b l o g s p o t . dari belakang mereka. dia menekan 186 | R a t u . c o m . Entah apa yang ada di kepala Ray malam itu. ketiga petugas itu tidak membutuhkan sepuluh menit. Petugas itu tetap disiplin menyisir satu demi satu lantai cabang bank internasional itu. salah seorang dari mereka mengarahkan pistol. Meluntur. Entah apa yang dipikirkan Ray malam itu. tidak peduli seberapa canggih alat keamanan yang terpasang. Melompat- Sayang. Memperbesar lubang yang dibuat Plee. Tidak juga sebel meski bonus tahunannya belum diterima. Tak perlu tembakan peringatan. Peluru mengenai jendela kaca. Tidak berpikir panjang. Keluar dari lorong persis saat Ray hendak lompat ke tali gondola. tapi lift terkunci otomads oleh bunyi alarm.b u k u . Sebenarnya bisa lebih cepat. Hancur. Ray hendak menyusul. Saat sirene mendengking. Ternyata masih ada tiga petugas berdedikasi penuh yang melakukan patroli lantai 48-60. Petugas- petugas itu tidak sebel karena urung mudik. Serpihannya mengenai belakang kepala Ray. dia mengangkat uzi di genggaman tangan.03 menit. tubuhnya reflek berputar. perut gendut petugas-petugas itu memaksakan diri menaiki puluhan anak tangga. tiga orang petugas buas mengejar. Kesalahan kedua Plee malam itu. 30 detik! Ray membantu Plee menaiki tali gondola. Tak perlu teriakan berhenti- D-O-R!! Ray urung melompat ke tali baja gondola. tapi hanya tujuh menit untuk tiba di lantai 60.

Dua petugas jatuh terjengkang. Ray meringis.tombol maut. Perih. tertatih memapah Ray menuju basemen gedung. Darah bercampur air mem- basuh jok mobil.b u k u . Dia merasakan perih. Mendengarkan lagu- lagu. Plee menunggu di lantai satu. Mengaum di tengah deru bulir hujan membuncah kota. Accord '72 itu melesat keluar dari parkiran basemen. Tadi dengan rasa perih menusuk. Terdengar suara mengaduh. Ray tergeletak tak berdaya. Bagaimana bisa? Dia mengenakan headphone. Pukul 03. baru terbangun setelah sirene berdeng-king lebih dari sembilan menit di ruang jaganya. Tidak ada yang boleh meninggalkan yang lain. Sekejap! Menghilang dalam lengangnya jalanan. Plee 187 | R a t u . Ray memaksakan diri meluncur dari tali baja gondola. Melesat ke lorong lantai yang berkabut. Sekejap puluhan peluru muntah dari senjata otomatis miliknya. Petugas ketiga sebelum akhirnya ikut terjatuh sempat menyalakkan sisa peluru dari pistolnya. Ngebut menerabas taman gedung. ®LoveReads Satu menit menegangkan berlalu- Plee mengemudikan Accord '72 bagai kesetanan. Ray tidak berhenti. Pahanya tertembak. c o m . soal n gebut Plee sejago menaklukan kode-kode pintu keamanan. Petugas itu melongo melihat mobil yang melesat menerabas air mancur gedung. Sirene belasan mobil polisi terdengar dari kejauhan. Petugas parkiran depan gedung menguap. Beruntung. dalam beberapa detik sirene mobil polisi teranggai.15. b l o g s p o t .

“A-p-a-k-a-h a-k-u a-k-a-n m-a-t-i?” Plee tidak menjawab. Plee tak punya waktu untuk berpikir (apalagi panik). “Bertahanlah. 188 | R a t u . Dan Ray lebih dari kedinginan oleh air hujan. Menyambar selimut tebal. c o m . Plee memapah Ray masuk ke salah satu kamar. Mereka berdua basah kuyup. Enam tahun silam. Meletakkan Ray di atas ranjang. Dia sudah terlatih. dia berlari ke lantai dua. mobil itu riba di rumah besar perkampungan dekat bantaran kali. mem- bungkus badan Ray.menghela nafas lega. seolah tak akan terhenti hingga pagi menjelang. seolah tak peduli lapangan bakal tempat shalat hari raya jadi becek. Mulai membeku. Plee merobek celana Ray. Setengah jam. “D-i-n-g-i-n-” Ray terkulai pingsan. sambil melepas sisa-sisa perlengkapan. Darah keluar banyak. Menoleh ke arah Ray yang menggigil.. b l o g s p o t . “D-i-n-g-i-n!” Ray mendesis. dia bahkan pernah mengoperasi luka tembak di betisnya sendiri. setengah-sadar setengah-tidak. Ray! Bertahanlah. Tangan-tangan Plee cekatan bekerja. hendak bergelung merapatkan tubuh. “D-i-n-g-i-n!” “Tidak akan lama! Kau pasti selamat!” Plee menelan ludah.. Plee berbisik.. “Bertahanlah. menggigit bibir. Tubuh itu dingin. Accord '72 itu segera terparkir di dalam garasi.. Hujan masih deras.b u k u .” Plee mendesis. tetapi tenaganya sudah tak bersisa. teman. Merekahkan luka.. Ray!”. Mulai bekerja. Menyiapkan gunting-gunting dan alat bedah. ter- senyum getir. Tubuh Ray membiru. Mengambil peralatan medis darurat yang selalu disiapkannya dalam urusan ini.

Plee mengusapnya. Berganti pakaian. Saat itulah. Plee memasukkannya ke dalam toples. Plee merapikan peralatannya..30. saat itulah Plee melihat sepotong kertas lusuh terbungkus plastik rapat-rapat. Membuat licak. setidaknya anak ini bisa diselamatkan.Menyiapkan penjepit. Tidak. Seprai ranjang basah oleh darah.. Bagaimana mungkin dia membuat dua kesalahan? Plee bangkit sambil menyeka tangannya dengan ujung-ujung baju.. Tidak boleh lagi ada partner kerjanya yang mati seperti kejadian dua puluh tahun silam. Pukul 04. Mungkin ini milik Ray. Keringat mengucur.b u k u . Seada- nya.. Plee menghela nafas untuk kedua kalinya malam itu.. Yang penting darahnya tidak keluar lagi. Lima belas menit berlalu lagi. Lima belas menit berlalu. Menyiapkan sarapan. Dua kesalahan yang bisa merenggut nyawa. b l o g s p o t . Saat hendak meraih gunting di dekat paha terbebat Ray. Tangannya yang basah oleh darah bercampur dengan asin keringat. c o m . Memasukkannya ke dalam kotak. Tergolek. Peluru itu akhirnya berhasil di keluarkan. Menaburi luka Ray dengan serbuk antibiotik. Hendak menyimpannya. Ah. Dia harus membersihkan diri. Menjahitnya terburu-buru. Terjatuh dari saku celana pemiliknya. Tidak peduli. Plee mengambilnya. Sudah ada lima peluru di toples miliknya.. Selimut yang membungkus badan Ray juga basah. Mungkin Ray butuh segelas cokelat panas setelah siuman nanti. Lantas terakhir mem- bungkusnya dengan perban. Benar-benar malam yang menegangkan. Perlahan berusaha mecungkil peluru. mushala kecil dekat tower air mulai 'berisik'. Tangan- tangan Plee yang tanpa sarung medis basah. 189 | R a t u .

.b u k u . Apa maksudnya? Yang Plee mengerti hanya satu. Menderas- ®LoveReads 'Tahukah kau. terjatuh dari saku celana Ray. Ray.. Pukul 04. Dia tidak mengerti mengapa anak muda yang sekarang pingsan di hadapannya menyimpan barang seperti ini. b l o g s p o t . Pagi itu Plee kembali sesak oleh masa lalu yang selama ini menghantui hidupnya!” Kalimat orang dengan wajah menyenangkan itu memotong kenangan. Judul berita di potongan koran milik Ray. tidak lagi menyimak senja Jingga di Ibukota dari jalur rel kereta 190 | R a t u . Plee? Plee lima belas menit berikutnya sudah gemetar tersungkur di ujung ranjang. Matanya tak sengaja membaca huruf besar-besar di kertas itu. Pukul 05.. me- manggil orang-orang untuk kembali. Dia tidak mengerti kenapa potongan koran ini disimpan dalam plastik. Menatap sekitar mereka.45. c o m . Mereka tidak lagi di atap gerbong KRL. Tangannya mencengkeram seprai yang basah. Satu hal yang mengganggunya selama dua puluh tahun terakhir: berita dalam koran tersebut benar! Kebakaran itu memang disengaja. Plee terbenam oleh pikiran-pikiran yang mendadak datang memenuhi kepalanya. Di luar hujan mulai mereda.Seketika dia tercekat.15. mushala kecil dekat tower mulai melanggamkan kembali gema takbir hari raya. Mulutnya kelu. mushalla dekat tower mengumandangkan takbir. Plee masih tersungkur. Tidak. Dia tidak mengerti apa maksud potongan koran ini.

Pagi datang menjelang. Agar semuanya terlihat utuh.. “Ya! Pelakunya adalah Plee!” Orang itu tersenyum getir.. Ray. P-l-e-e p-e-l-a-k-u-n-y-a?” Pasien itu mendesis tidak percaya.b u k u . Giginya begemeletukan. Plee-lah yang melakukannya. Tapi harus ada yang kau ketahui dari cerita ini. Kau selalu menyalahkan orang-orang yang membakar rumahmu dulu. Berpuluh-puluh tahun dia hanya bisa menduga-duga siapa eksekutor perbuatan terkutuk itu. Bagaimana mungkin dia? “Ya. lantas beberapa kejap kemudian mukanya mendadak memerah menahan amarah. benar-benar terperanjat. Berpuluh- puluh tahun rasa penasaran menggumpal di kepalanya. Mereka sekarang berada di atas tower air. salah seorang dari pelakunya adalah Plee!” “APA KAU BILANG!” Pasien berumur enam puluh tahun itu kaget. Pasien itu menoleh. Dia bahkan pernah berdekat-dekat. berbaik-hati menjadi teman bagi orang tersebut. 191 | R a t u . “Plee.. Tower air yang amat dikenali pasien berumur enam puluh tahun tersebut. Seketika mencengkeram 'jubah' orang di sebelahnya. Dan ternyata pelakunya? Pasien itu mengepalkan tinju.. Plee? Ray mendesah dalam. Mereka duduk menjuntai sama seperti sebelumnya. “Muasal dari pertanyaanmu. Semburat merah terlihat di ufuk umur.. Sesuatu yang penting. Berpuluh-puluh tahun dia mencari tahu siapa yang melakukan perbuatan bejat itu..listrik. Hidup ini tidak adil.. Orang itu ternyata amat dekat dalam jalan hidupnya... b l o g s p o t .. bukan? Kau penasaran sampai mampus ingin tahu siapa yang melakukannya. c o m . Tidak mengerti kalimat orang di sebelahnya. bukan? Ketahuilah.

anak-anak kecil.. Kau tahu. c o m . setelah membaca kembali berita kebakaran dari potongan koran milikmu. Plee memang jahat. Dan dia amat terpukul setelah membaca berita di potongan koran yang sama dengan milikmu sehari setelah kebakaran disengaja. b l o g s p o t ....... “Aku mengatakan yang sebenarnya.. 192 | R a t u .. malam itu... Orang yang menyuruh mereka melakukan perbuatan jahat itu menipu- nya..b u k u . Amat menyesal-” “KAU BILANG DIA MENYESAL! OMONG KOSONG!” Ray me- motong. Plee benar-benar menyesal..... “Sepagi itu... Sehari setelah membakar komplek perumahanmu. Ternyata tidak ada. Warga tetap terlelap. Dia tidak menduga ada puluhan orang mati terpanggang. dengan syarat tanpa jatuh korban nyawa. tidak ada yang bertugas melakukan itu.. berteriak. dua puluh tahun silam setelah kejadian itu Plee amat menyesal.... kejadian dua puluh tahun silam tersebut buncah mengaduk-aduk kepala Plee. kelelahan setelah karnaval malam hari raya... “Ray.. saat mereka melakukannya akan ada beberapa preman lain yang ditugaskan berpura-pura mem- bangunkan warga. Kau ingat apa yang Plee katakan soal hanya sekali partner kerjanya terbunuh? Ya! Itu terjadi ketika mereka membakar komplek perumahanmu. tapi dia tidak berniat membunuh orang- orang.Plee dua puluh tahun kemudian berbeda dengan Plee muda yang dulu tanpa perasaan membakar rumahmu. Selama bertahun-tahun kejadian itu menghantuinya.. “Mereka sepakat membakar. Ray. Plee sungguh tidak tahu.. Yang Plee tahu.

. rasa penyesalan itu kembali tumpah tak terperikan. c o m .... Plee lebih dari pandai untuk bisa merangkaikan sebab- akibat... Sama persis saat kejadian kebakaran disengaja.. Separuh hatinya masih bingung oleh penjelasan.b u k u .. tertunduk dalam.. Malam itu juga karnaval hari raya. Asal kau tahu sejak kejadian kebakaran disengaja itu....” “Itu tidak benar! Sekali penjahat tetap penjahat!” Ray memegang kepalanya yang sepertinya hendak meledak. Dia membenci orang-orang yang dulu menyuruhnya membakar komplek perumahan itu. Kau tahu maksudnya? Dia menebus kejadian tersebut dengan mencuri barang-barang milik orang kaya.... mengembalikannya ke orang-orang yang tidak beruntung. kemudian entah kau mau percaya atau tidak.. “Dia menyesal. Dan dia benar-benar tidak menyangka kau bagian dari masa lalunya. anak-anak kecil yang tidak berdosa. b l o g s p o t .. setelah melihat lagi potongan koran milikmu. dia bisa menduga-duga kenapa potongan kertas itu ada di saku celanamu. Dia bisa merangkaikannya dengan penjelasan masa lalu milikmu yang kau ceritakan minggu-minggu sebelumnya. Tulang belulang yang gosong.....Dan itu semakin membuatnya sesak..... Ray! Entah kau bisa menerima atau tidak fakta itu. Plee benar-benar menyesal-” “Tidak ada penjahat yang menyesal!” Pasien berumur enam puluh tahun itu memotong.. Plee memutuskan untuk apa yang dia bilang? B-e-r-d-a-g-a-n-g? Ya! Dia memutuskan untuk ber- dagang. mendesis terluka.apalagi Plee memaksakan menyaksikan langsung evakuasi korban dari bekas kebakaran... Tapi Plee benar-benar menyesal! Pagi itu. separuh hatinya benar-benar marah! Orang 193 | R a t u ..

Dari suaranya yang terdengar. Tubuh Ray bergelinjang kecil. Plee tertunduk lagi. kesadarannya pelan mulai kembali. Apakah? Plee tertatih berdiri.. mushala kecil dekat tower mengumandangkan khotbah hari raya. Suara sirene mobil polisi tiba-tiba terdengar dari jauhan. Kau bukan bertanya melainkan mengutuk Tuhan... bukan pertanyaan. Baiklah. Sirene itu mendekat.. Apakah mobil itu menuju kemari? Sirene itu hilang.. Apakah mobil itu menuju kemari? “Jangan! J-a-n-g-a-n d-i-b-a-k-a-r!” Ray mendesis lemah.. Plee masih tersungkur dalam. kan?” ®LoveReads Pukul 07. Plee menolehkan kepala. Ray! Cerita ini belum utuh.. Tapi berikanlah yang terbaik! Karena yang terbaik itu akan kembali kepada kalian.” Pengkhotbah berkata lirih.. Itu yang kasat-mata bagimu.. Sirene itu mengencang. Ah-ya...30.b u k u . umurnya tidak muda lagi... Yang semoga bisa menjawab pertanyaan yang kau lontarkan setiap malam di tower air ini dulu. Dua jam berlalu.. Hanya kebetulan. Plee tidak sejahat itu.. “Tidak.. 194 | R a t u .. Plee mengangkat muka. “Bukan sisa-sisa. Tapi sumpah-serapah. b l o g s p o t .yang membuat hidupnya terlunta-lunta di panti ternyata pernah men- jadi bagian dari kehidupannya. Kecil sekali... Untuk membuatnya utuh maukah kau melihat sepotong kejadian yang tidak kau ketahui? Yang akan membuatmu mengerti hidup ini benar-benar adil.. Bukan.. c o m . “A-k-u m-o-h-o-n j-a-n-g-a-n!” Ray menggigau. Masih setengah-pingsan.

memeriksa tubuh Ray. Dia bisa dengan cepat kabur lewat pintu belakang. Tidak sedingin tadi pagi. Apa yang harus dia lakukan? “YANG ADA DI DALAM. Satu karena kalimat itu. Beranjak men- dekat. mengambil sandal. Dia harus cepat memutus- kan. apa maksud igauan anak ini.Plee menggigit bibir. Jamaah mushalla sibuk menoleh- kan kepala. Ada tontonan yang lebih menarik dibandingkan kalimat- kalimat bermajas tinggi.. Tetapi polisi akan menemukan Ray di kamar ini. Plee menelan ludah. Suara khotbah mendadak terhenti. Cepat. Jangan di bakar!Aku mohon. Mobil itu menuju kemari. Plee mengusap dahinya untuk kedua kali. Dia harus ber- pikir cepat. Apa yang akan dilakukannya? Tidak ada yang meninggalkan yang lain. lari mendekat. Tubuh itu panas.. Satu-dua tega menyingkap sarung.b u k u . c o m .. tidak menyadari seruannya rada-rada aneh.” Ray menggigau. Apa yang akan dilakukannya? Berhitung dengan kesempatan. Pertanda baik- “Jangan. Plee mengusap kepalanya. b l o g s p o t .... Kepalanya tidak bisa berpikir normal sekarang. Kenangan 195 | R a t u . dua karena sirene itu benar- benar mengencang sekarang. Mengalahkan suara speaker mushala. Plee menggigil. SEGERA KELUAR! KAMI SUDAH MENGEPUNG SELURUH RUMAH!” Suara toa membahana-komisaris polisi yang apa-daya termasuk golongan pencinta acara televisi tengah malam itu.... Gedebuk petugas lari mengambil posisi di luar terdengar dari dalam.. MANUSIA ATAU BUKAN. Tidak.

Meletakkan Ray di atas ranjang.. kan?” “Loh. Hanya dia dan Ray yang tahu posisi kamar yang tersamarkan oleh dinding-dinding itu. Menatap wajah Ray lamat-lamat. jerih melihat kejadian di depannya! 196 | R a t u . Membuka pintu salah satu kamar. Yang lain!” “Perasaan dari dulu yang lain mulu.. Anak ini. Menggigit bibir! “D-O-R!” ®LoveReads “Itulah yang dilakukan Plee!” Orang dengan wajah menyenangkan itu menyentuh bahu pasien yang mendadak menutup muka di sebelahnya.. Mengeluarkan pistol.. bukannya yang lu maksud itu sudah mampus terkena bom sendiri?” “Bukan yang itu maksud gue. Berbisik-bisik. Lebih banyak dari jumlah polisi. “Apa kubilang... tertatih-tatih.b u k u . pengontrak baru itu wajahnya memang mirip teroris. Tidak.... Dia sudah memutuskan apa yang harus dilakukannya.. b l o g s p o t . c o m . Anak ini pasti salah satu korban selamat dari perbuatan masa- lalunya. Membopong Ray naik ke lantai dua.. Dia tidak akan melarikan diri. Penonton di luar semakin banyak.masa lalu yang buncah memenuhi kepalanya membuat Plee malah tersedu di samping ranjang.. Yang mana sih maksud lu? Prinsa?” Tangan Plee gemetar mengangkat tubuh Ray dari atas ranjang...Perbuatan jahat itu.

.. Ray! Tiang gantungan menunggumu. Semua penjelasan itu cocok dengan Plee yang menyerahkan diri. keluar dari rumah dengan kedua-tangan terangkat.” Senyap sesaat. Mereka hanya mengumpulkan barang bukti yang dengan sukarela ditunjukkan Plee. apa yang kau lakukan bulan-bulan berikutnya? Kau 197 | R a t u . turun dari lantai dua..“Plee menembak pahanya sendiri. Luka tembak di paha.. b l o g s p o t .. Plee mengakui pembunuhan dua petugas itu. Tidak ada.. sementara kau karena disembunyikan di dalam kamar itu maka tidak tertangkap? Petugas polisi tidak sebodoh itu. c o m . Orang itu membiarkan Ray menyimak kejadian di depannya.. Kau pikir Plee tertangkap di rumah itu.. Sendirian. Sementara kau. Mereka bisa saja memutuskan untuk menyisir rumah.. membawanya ke penjara dengan pengamanan maksimum.. Tertunduk... “Petugas ketiga yang selamat dari tembakanmu mengatakan hanya melihat satu orang pelakunya.. “Lantas apalagi penjelasan baiknya?” Orang itu tertawa getir.. “Itu tidak mungkin dilakukannya!” Ray mendesis. Lantas tertatih mengunci kembali pintu kamar itu. “Di pengadilan. Dan itu menyelamatkanmu... Ray..” Ray mengusap wajahnya. Plee memutuskan menyerahkan dirinya..... Petugas urung memeriksa.... Tapi Plee mengatakan dia-lah pelakunya.... Tidak ada lubang meski sekecil jarum untuk lolos... “Apa- lagi penjelasan baiknya atas kebebasan yang kau peroleh setelah pencurian itu? Kau membunuh dua petugas malam itu.b u k u .. Mengatakan dia berhasil menembak paha si pencuri sebelum dia roboh tertembak di perut. Berharap dengan demikian dia bisa melindungi kau.. Memborgolnya.. Tapi Plee mengambil-alih semuanya. Ray.

.. b l o g s p o t .b u k u . Malam-malam pertobatan di sel... aku memiliki kesempatan untuk melihat wajah keadilan yang tidak kasat-mata. Tutup mulut... Semua ini benar-benar mengejutkan.. Tidak ada yang tertinggal. Ya! Kau memilih pergi jauh- jauh. Kita selalu 198 | R a t u ... “Apakah hidup ini adil.tak-berdaya hanya menyimak berita-berita itu.. Dan dia setelah proses pengadilan yang panjang.. Ah. Ray? Entahlah! Aku juga pernah sekali-dua bertanya kepada Tuhan.. Andaikata salah seorang dari kita tertangkap. Kau ada di mana ketika eksekusi itu ramai diberitakan? Kau meringkuk di kamar petak sempit.. menjemput tiang gantungan enam tahun kemudian.. maka tidak ada yang mengkhianati satu sama lain. Tapi sekarang? Bahkan Plee bertahun-tahun kemudian memberikan sesuatu yang tidak ternilai dalam hidupnya. hingga akhirnya eksekusi mau dilaksanakan. sayang kita selalu menurutkan perasaan dalam urusan ini.. Padahal kau tahu.. Benar- benar baru diketahuinya.” Ray menggigit bibir... “Kau tahu. Baru beberapa menit lalu marah itu membungkus hatinya. Sesuatu yang membuatnya bisa memulai imperium bisnis tersebut.. Baru beberapa menit lalu dia membenci Plee. sewaan barumu. Kau berlindung dengan kalimat-kalimat Plee waktu itu: Apapun yang terjadi besok kita akan menjalaninya bersama. malam-malam penuh penyesalan.. Lantas esoknya memutuskan pergi dari Ibukota.. c o m ... Kau tidak pernah berani menampakkan muka..... Plee melakukan itu demi menebus dosa masa lalunya... mengakui melakukannya sendirian.

Hanya satu cara untuk berkenalan dengan bentuk-bentuk itu. Tidak puas menduga-duga. menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita- “Apakah hidup ini adil. tetapi itu nyata...b u k u . Tidak sempat bertanya langsung- “Waktu itu kau sering bertanya mengapa Tuhan memudahkan jalan bagi orang-orang jahat? Mengapa Tuhan justru mengambil ke- bahagiaan dari orang-orang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan pernah kita pahami secara sempurna. senyata kau sekarang yang tersungkur mengenang semua masa lalu ini.... Kita membiarkan hati yang mengambil alih....berprasangka buruk. Tapi apakah hidup ini jadi tidak adil baginya? Tidak. c o m .. Ray! Pembalasan di dunia hanya sepotong kecil dari keadilan langit..Beribu wajahnya. Ada cara lain bagi Tuhan untuk membuat timbangan keadilan itu berjalan baik.. Mengutuk semuanya. Ah.. Berjuta bentuknya. kata-kata ini tetap saja sulit untuk menjadi sebuah prilaku yang nyata bagi orang- 199 | R a t u .” Ray mengusap ujung matanya.. Kemudian tega sekali. Kau dan sebagian besar orang di muka bumi boleh jadi mengingkarinya. Ray? Gembong preman yang membuat Ilham dan Natan kehilangan mimpi-mimpinya memang tidak seperti Plee yang membalas dosanya di tiang gantungan. pembalasan hari akhir itu nyata.. menduga-duga. Gembong preman itu tetap sehat-wal-afiat hingga ajal menjemput. b l o g s p o t ... kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Apakah Plee melakukan itu semua demi dirinya? Menebus kesalahannya? Bukankah Plee hanya men- duga-duga.. Selalulah berprasangka baik.

memberi banyak. Aku sederhanakan bagimu..” ®LoveReads 200 | R a t u ... Berharap sedikit...” Ray masih terdiam.. Kepalanya masih dipenuhi berbagai pertanyaan. “Semua pemandangan ini akan mengharukan..... Bukankah Plee bilang soal partnernya yang meninggal saat kebakaran disengaja itu? Nah.. . Bagaimana mungkin hal itu memberikan jawaban atas pertanyaan apakah hidup ini adil? Itu semua tetap tidak terdengar sederhana. Ray: Selalulah berharap sedikit. Ya! Berharap sedikit. mari Ray! Mari kita lihat potongan kejadian berikutnya yang akan membuatmu lebih mengerti.orang. Sepotong kejadian yang semoga bisa menunjukkan kepada-Mu wajah lain keadilan langit. c o m . Siapkan dirimu. b l o g s p o t . memberi banyak.. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan. Ray.. Ray...b u k u ..... “Kita hampir tiba di penjelasan terakhir untuk pertanyaan keduamu.Dia tetap tidak merasa itu jauh lebih sederhana.

Berpilin. Pasien itu menggigil. Suara sepasang orang dewasa. “Nang-ning-nang. Sama sekali tidak.Bab 13 Ayah-Bunda Aku Kembali MELESAT. Bergetar melangkahkan kakinya. Tangannya mencengkeram dinding mencari pegangan.Ups!” Gedebuk. Satu-dua- satu. anak Mamay. c o m .. Tidak ada dalam memori otaknya yang bisa merekam bagai selembar foto. Hei! Mereka ada di mana? Tempat ini benar- benar tidak dikenali pasien berumur enam puluh tahun itu.. Ayo berdiri. Menangis (anak kecil). Jangan-jangan. Jangan dekat-dekat monster. Dia belum pernah kemari- Terdengar suara berseru-seru dari lantai bawah.. Tertawa (orang dewasa).” “Ciluk-ba!” Tertawa. Jangan-jangan. Suara anak kecil.. Di manakah dia? Tempat ini benar-benar tidak di- kenalinya. “Aduh. 201 | R a t u . Pasien itu membeku oleh sebuah kesadaran yang mendadak ditanam- kan di kepalanya. ya.Bagus! Kiri-kanan-kiri. Saat semuanya kembali nyaman untuk dilihat.b u k u . bagus. Rehan ayo senyum. Ya.... b l o g s p o t . Jalan.. Gemetar menyibak tirai ruang keluarga. menuruni anak tangga patah-patah. Senyum sayang. Semburat pagi Ibukota hilang. mereka tidak lagi duduk menjuntai di atas tower air setinggi sepuluh meter.. Memedihkan mata.. Papay belum mandi tuh! Bau. kemari..

c o m ... Tetap mendekat.. Rindu sekali men- dengar suara merdu mereka memanggil namanya. Cup-cup- cup. “Hus. “Mon-s-tel. Ayo. berdiri di luar di bawah guyuran hujan.. Selarik kesadaran menikam ulu-hatinya. “Jangan nangis sayang. Baru jatuh dari belajar berjalannya. ### Demi menyaksikan semua itu. lecutan bilah rotan. Tertawa. di atas permadani biru yang lembut. Tertawa.Lihatlah. 202 | R a t u ... Selarik kerinduan membuncah seluruh pori-porinya. b l o g s p o t .. Ibunya melempar bantal. Di ruang keluarga yang nyaman dan lapang.. Rindu sekali bersembunyi dalam peluknya- Hari-hari sepi di panti. Matanya berbinar-binar demi melihat Ayahnya yang pura-pura memasang tanduk di kepala. Teriakan 'anak bajingan'..b u k u .. Rehan anak yang kuat. Menangis..” Ibunya membujuk lembut. Seorang anak berbilang satu-dua tahun sedang dipangku Ibunya. memasang jahat. Anak itu berhenti menangis. Ya Tuhan! Dia rindu sekali menatap wajah ayah-bun-da-nya. Hari- hari sendiri di panti. Monster jahat jangan dekat-dekat Rehan dan Mamay! Jauh! Jauh sana-” Ayah anak itu menangkap bantal. Di tengah tumpukan bantal-bantal kecil yang lucu. pasien itu jatuh tersungkur di bawah tirai bagai sehelai kapas.. “Ciluk-Ba!” Ayah anak itu mendekat.. Mon-s-tel!”Si anak kecil berseru... Mengusap pipi kemerah-merahan balita dalam rengkuhan mesranya. ikut mengibaskan tangan seperti Ibu yang memeluknya.

. b l o g s p o t ..Malam ini langit menyesuaikan aturan main itu. Kerinduan.. Malam-malam panjang di atap genting Rumah Singgah..... Inilah satu-satunya tempat yang tidak pernah kau lihat sepanjang hidupmu dalam perjalanan ini.” Orang itu tersenyum getir...Kau diizinkan. Tersedu panjang dalam simpuhnya.Malam-malam sepi di terminal kota. nama yang diberikan oleh Papay-Mamay bagimu adalah: Rehan Raujana. Ray! Karena orang-tuamu sepakat menyebut diri mereka masing- masing Papay-Mamay. Dalam perjalanan mengenang masa lalu ini ada aturan yang tidak pernah bisa dilanggar: tidak boleh ada yang kembali ke tempat yang tidak pernah dia datangi. Ya Tuhan! Apakah ini wajah orang-tuanya? Pasien berumur enam puluh tahun itu menangis. Bahagia. Lihatlah! Wajah-wajah pasangan muda ini.Satu-satunya yang seharusnya menjadi tempat kau melalui masa kanak-kanak mem- bahagiakan.. Yang sayang terenggutkan takdir. Tergugu oleh sebuah perasaan yang bukan main tak terkatakan. Rambutnya yang beruban bergerak-gerak tak tertahankan. Kepalanya tersungkur dalam.b u k u . Beranjak duduk mencangkung. Pasien itu menangis oleh sebuah perasaan yang mendadak membuat berdiri seluruh bulu kuduknya.. c o m . Sama persis 203 | R a t u .. Menjanjikan masa depan.. Malam-malam kosong di atas tower air. “Dan tahukah kau.. Tangannya lembut menyentuh bahu pasien yang tersungkur di sebelahnya. Pasien itu menangis- “Ray.. Mencoba bercanda.. Kau memang tidak pernah ditakdirkan memiliki ayah-bunda.

.... Dia ingin ikut bermain. Ray.. b l o g s p o t . Yap! Satu-dua-tiga..seperti yang diberikan oleh istri penjaga panti itu.. eh. Tertawa... aku kan hanya becanda.b u k u . Ada monster. berseru-seru pelan. Kau sudah pandai bicara. “Mon-s-tel.. Ah. Rehan. memandang melongo....” Pasien itu menyeka hidung dengan ujung-ujung piyama rumah-sakit. terhenti. Rehan?” Ayah-Ibu anak itu bergulingan. Ray.” “Biarin! Ke sini sayang. May.. Mon-s-tel! Gen-dhut! Jang-lan bel-teng-kal!” ### “Kau memiliki Papay-Mamay yang hebat.. c o m .... 204 | R a t u ... Lagian Mamay kan memang gendut ya kan. jangan mau dekat-dekat Mamay gendut!” “Apa kau bilang?” “Mamay gendut-” “Beraninya bilang begitu-” “Aduh... Ke sini sayang. Mamay. Papay... Pemandangan ini menikam hatinya. Sekecil itu menjadi mutiara elok dalam keluarga.. andaikata kebahagiaan ini tidak terenggutkan. Sementara anaknya yang tadi tertatih belajar berjalan.Pasien itu tertatih beringsut ke depan... mungkin aku pun iri dengan kehidupan kalian.. Semuda itu mereka menjemput indah janji kehidupan. jangan! Jangan ke sana... Saling memiting. Nama yang indah-” ### “Ayo. Membuang ingus. Dan kau tumbuh amat cerdas.

Lantas jahil mencium leher istri- nya.. Dia tidak bisa memeluk Papay-Mamay-nya. Mengantuk. Tidak bisa membelai pipi-pipi orang-orang yang dirindukannya.. Menghela nafas dalam. Mamay. c o m .... Gerakan memeluk itu menerpa kosong. Bagaimanalah? Tangan-tangan yang terjulur hanya menyentuh udara. b l o g s p o t .Dia ingin ikut merasakan kecupan sayang ayahnya. Lama waktu berlalu... Tidak bisa menyentuh bahu-bahu lembut itu. Jemari-jemari kerinduan itu hanya menyentuh kosong.b u k u . Orang dengan wajah menyenangkan menatap prihatin. Tidak ada pelukan sama sekali baginya. ### Pasien itu masih tergugu. Dia tidak bisa melakukannya.Dia ingin ikut merasakan pelukan hangat ibunya. Menatap kosong visualisasi kebahagiaan tiga orang di hadapannya.. Anak kecil itu menguap berkali-kali.. Ayahnya mencium kening anaknya. istrinya menggeliat tertawa. dulu!” Ibunya menggendong mesra. Terdiam- ### Keramaian karnaval malam takbir di jalanan mereda. Beranjak naik ke anak tangga. Papay. Pasien itu masih tergugu. Dan pasien itu tergugu.. ### 205 | R a t u . Orang dengan wajah menyenangkan mengusap ujung hidungnya.. “Dadah monstel. Rehan mau bobo.. “Monster nakal!” Geli..

.. Keliru. Ayah anak kecil itu menguap lebar. ### Panas. Mamay.. “Bangun. Aku mohon! BANGUN!” Pasien itu berteriak. Api menjalar cepat. Melangkah naik ke anak tangga. Benar-benar eksekusi yang hebat. 206 | R a t u . Setengah jam berlalu.30. Pukul 02.. Malam semakin matang.Ayah anak itu menghidupkan teve. Anak kecil itu terbaring di ranjang bayinya... “BANGUN.. Itu tidak boleh mengambil ayah-ibunya. Berita olahraga. ### Empat jam berlalu. Plee benar-benar keliru malam itu. terdengar suara bergemeretuk. Sudah menjilat-jilat bagian atap lantai satu. Kebakaran itu sudah terjadi. TIDAK BOLEH! “Papay. Lampu ruang keluarga dimatikan.!” Pasien itu semakin kalap. b l o g s p o t . Menerabas masuk ke kamar tidur mereka. Dalam sekejap komplek perumahan itu terkungkung api yang berkobar- kobar. ### Pasien itu masih tergugu.. Ayah-ibu anak itu tidur berpelukan.. Loncat ke atas ranjang. Ber- usaha menarik rambut ibunya... sama sekali tidak ada orang-orang yang dijanjikan untuk membangunkan warga.b u k u . Pasien berumur enam puluh tahun itu tersadarkan dari diamnya. Ruang keluarga terasa panas.” Bagai kesurupan pasien itu lari menaiki anak- anak tangga. Melompat. Berusaha menarik selimut. Kebakaran itu? Tidak boleh. c o m . Berusaha menarik pakaian ayahnya. Teve dimatikan.

” Orang itu menggeleng prihadn. bangun. Pasien itu tersungkur di atas ranjang.MONSTER BANGUN!” Terlambat. Rusuh! Situasi mulai tidak terkendali. Tubuh suaminya langsung 'dipeluk' oleh nyala api tinggi-tinggi. Tidak bisa. Gerah! Ibu anak itu terbangun. Berdiri di belakang. Lompat? Apa yang harus dia lakukan.Kebakaran.” Api sudah menjilat gorden kamar tidur. Panas... Ibu itu panik menggendong anaknya.“Tidak bisa. Menatap bersimpati- “Aku mohon.... Kau tidak akan bisa membangunkannya!” Orang dengan wajah menyenangkan itu mendesah getir. Jalan ke bawah sudah ter- kepung api. Anak kecil itu menangis kencang.. Ibu anak itu lari menuju bingkai jendela.. Menoleh ke tempat tidur bayinya.. Ruangan itu benar-benar panas. b l o g s p o t .. Dia malah terjerembab jatuh.. Benar-benar api. Keributan mulai terdengar di luar.. Ray.. Dalam sekejap! Ibu anak itu menjerit demi melihat suaminya langsung terhujam dalam kungkungan api.... Berteriak-teriak 207 | R a t u .. “Monster.. Api berkobar di bawah sana. Berteriak-teriak histeris. bahkan sedikit pun tak sempat mendongak untuk menatap terakhir kali istri dan anaknya. Tidak bisa- “A-k-u m-o-h-o-n.. Sementara Ayahnya masih berusaha menerobos anak-anak-tangga. Semuanya sudah terlambat. meluncur ke bawah. Lantai itu empat meter tingginya.. Tubuh suaminya tenggelam.b u k u . c o m ... Berteriak-teriak. bangunkan mereka. Api? Mengusap mata.

beberapa saat setelah melarikan diri memutuskan kembali. Apalagi upahnya lebih dari cukup membiayai persalinan. Istrinya hanya tahu dia bekerja sebagai satpam ruko dekat pasar- Dia mengangguk sambil mengelus perut istrinya yang bunting. tugas penting bersama Plee mendesak. saat berpamitan berangkat kerja.. paling telat esok malam istrinya akan melahirkan. Siapalah yang akan mendengar. c o m . Dan benar- benar terkesiap saat melihat tubuh-tubuh hangus terbakar. Partner kerja Plee gemetar menyaksikan siluet 208 | R a t u . membeli motor baru. Teman kerjanya tak kalah paniknya. Sesuai perhitungan. Partner kerja Plee-lah yang melihat ibu anak itu di bingkai jendela penuh kobaran api. Berteriak- teriak memanggilnya.. Bukankah ada yang bertugas mem- bangunkan.. Masing-masing sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Tetapi apa mau dikata. Apa yang telah mereka lakukan.. “Hati-hati.. b l o g s p o t . Pemuda yang berbilang dua puluh tahun itu mendesah resah.minta tolong. M-e-n-a-n-g-i-s. Dia melihat ibu- dan-anak itu berteriak-teriak. Kata bidan dekat rumah. dan uang sewa rumah selama dua tahun. Pa!” Itu kata istrinya beberapa jam lalu. Siapalah yang akan membantu. Di mana malaikat-malaikatmu? ### Plee yang merasakan keganjilan setelah mengeksekusi kebakaran. Bayi itu? Dia seperti melihat istrinya di bingkai jendela.b u k u . Bukankah? Plee dan partner kerjanya kesetanan berteriak. seharusnya dia tak boleh meninggalkan istrinya hari-hari ini. Mencoba menyadarkan sisa-sisa warga komplek.

Kenapa pula malam ini tidak hujan? Dia buru-buru melupakan pertanyaan itu..' Maka malam ini.. Ibumu berbisik lirih tentang betapa malangnya hidupmu. ### “Ray..... parit- parit dipenuhi air. membayangkan wajahnya dengan baik. mendekati jendela. b l o g s p o t . “Apakah keadilan Tuhan tidak menjamah partner Plee malam itu? Lihat keluar 209 | R a t u . 'Dia tidak pernah melihat wajah Papay dan Mapay-nya dengan utuh... Berdebam masuk ke dalam air setinggi lutut. Musim penghujan...pemandangan itu. Apa saja. Ray. Bagaimanalah takdirMu? Bagaimanalah Kau tega. Partner kerja Plee seketika bak kesetanan mencari sesuatu....” Orang dengan wajah menyenangkan itu diam sejenak..b u k u . Jatuh terperosok ke dalam parit... ayolah. Ibu-mu yang terluka di punggung hanya sempat mendesah pelan 'Selamatkan anakku.. Asal bisa digunakan memanjat!” Dia menemukan tangga bambu di seberang rumah. c o m . menghajar tubuh lbu-mu. atap rumahmu runtuh. Malam ini. Bayi. Tidak ada yang sempat berpikir panjang. Kembali membawa tangga. Dan orang itu melesat menuruni tangga bambu- “Menjelang malaikat maut menjemput nyawanya. Mendesis. Apa yang harus dia lakukan. meski kotor. orang itu berhasil merengkuh tubuh kecilmu persis saat Ibu-mu benar-benar tersudutkan kobaran api... langit mengabulkan doa itu.... Tangga. Istrinya. “Aku mohon. Bergegas me- nyeretnya mendekati jendela. kau bisa melihat mereka.. Dia tidak akan. Naik.... Saat tubuh kecilmu ada dalam pelukannya.

Dan esok pagi. b l o g s p o t . Lihatlah! Saat orang itu berhasil menuruni tangga. Terpentalkan oleh pecahan papan lantai dua rumahmu.. Gemeletuk api itu tidak terdengar lagi.. tetapi di ujung semua kejadian ini. Tidak ada jalan baginya untuk membawa kau.. tembus hingga depan. Apalagi dengan punggung tertembus bilah bambu. lantas meletakkannya di dalam parit.... “Dia teringat istrinya yang akan menjanda malam ini..... orang-orang menemukan kau di pinggiran bantaran kali-” Senyap.. Orang itu memasukkan kau yang menangis ke dalam ember. Ray.....b u k u .. Ujung tangga itu melesat. Juga teriakan-teriakan histeris itu... Tapi dia masih menyisakan nafas-nafas terakhir. Anaknya yang akan yatim malam ini....... Terpental di tengah-tengah bilah papan berjatuhan. Komplek perumahan itu terkepung api. menghajar punggung orang itu. c o m .. Dan dia melihat kau yang terkepung kobaran api...Ray.. dia tidak tahu apakah itu sebuah penebusan... 210 | R a t u .. dia menyesalinya. Berusaha menyelamatkan kau Ray.. kemudian bergegas membawa kau lari menjauh dari komplek perumahan.. Sementara orang itu tertancap bilah bambu persis di bagian belakangnya. “Halaman rumah itu sempurna dipenuhi kobaran api. Dia merangkak dengan sisa-sisa tenaganya.. 'Selamatkan anakku'. kau menerabas komplek yang terbakar melalui lorong-lorong got. Ray. Dia melihat ember besar yang terpelanting di dekatnya... Malam itu kau hanyut dibawa aliran air parit.. tangga bambu itu roboh termakan api. Kau jatuh terpental dari pelukannya... Wajah Ibumu yang memelas saat menyerahkan kau memenuhi kepalanya.

“Tetapi kau punya pilihan lain. Sungguh memilukan.. Belum terhitung hukuman yang menanti mereka di hari pembalasan.. Dan Tuhan 'membiarkannya'. kau bisa 211 | R a t u ............ lebih abadi. Dia tidak sempat melihat kejadian di luar. semua ini sungguh menyedihkan. satu mau di uang gantungan.Buat apa? Semua penjelasan orang di sebelahnya lebih dari cukup.. Ray... Kau bisa memilih..Pasien itu masih meringkuk di atas ranjang yang sekarang berdebam jatuh ke lantai satu. Benar. Ayah-ibunya mati terbakar malam itu.... Amat manusiawi kalau kau membenci mereka! Mereka benar-benar merenggut seluruh kebahagiaan yang dijanjikan kepada-mu.. Mereka memang menebus kejahatan itu dengan menyelamatkanmu.. Meremas arang-arang di sekitarnya. Apa yang dibilang Bang Ape waktu itu? Ah-ya. Tidak bau sangit lagi..Tangan pasien itu menggapai- gapai puing-puing hitam di depannya.. b l o g s p o t . satu mati tertembus bilah bambu..... Lebih dari cukup untuk membuat hatinya tersayat menjadi ribuan bagian.....b u k u . c o m . Dalam situasi yang berbeda. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara! Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi... Tidak menyeramkan lagi bentuknya.. Manusiawi kalau kau menyalahkan Plee dan partner kerjanya... Sungguh bisa diterima akal sehat kalau kau masih tidak terima. Benar- benar tulang-belulang gosong.. Ayah-ibunya tinggal tulang-belulang tak berbentuk..... kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki.. “Ray.. juga mungkin bisa dibenarkan kalau kau memutuskan untuk membalas..

... Tahukah kau... Kobaran api membumbung tinggi- “Kau tidak bisa menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian buruk yang menimpamu.. kalau Tuhan tidak menginginkannya. kan? “Orang-orang yang suka menyalahkan orang lain atas kejadian buruk yang menimpanya cenderung seperti kau! Membalas! Ketika kau tidak kuasa membalasnya ke orang yang bersangkutan. tak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya. Mereka membalasnya menjadi argumen atas kelakuan buruk mereka.. maka sebuah kejadian pasti terjadi. Di tengah hiruk-pikuk pendataan korban. “Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit. berbagai kejadian menyakitkan itu sesuatu yang tak tercegahkan. Sebaliknya. tak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu meng- gagalkan.. b l o g s p o t ... c o m . maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi... Menjadi pembenaran.. Orang-orang miskin membalas nasib buruknya dengan berjudi! Penjaga oand membalas kegagalannya naik haji karena pengkhianatan temannya dengan membenarkan mengambil uang panti. Hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya.” Senyap... Padahal... Apa salahnya menjadi jahat.... Ray.. kalau Tuhan menginginkannya terjadi. Satu hal! Sama seperti siklus sebab-akibat 212 | R a t u ..b u k u . maka kau membalasnya dalam bentuk lain!..... mereka justru mengambil bayi orang lain. Kau tertukar.. “Ray.memilih untuk menerimanya... satu-satunya saudara ibu-mu bergegas datang dari kota lain hendak memastikan kabar. Keretanya terlambat. tidak bisa membalasnya ke Tuhan. pagi itu. Apa kau mau menyalahkan kereta api? Tidak..

sebelumnya.. Lihatlah. Ya.Wusshh. 213 | R a t u . menatap wajah tanpa semangat Ray malah mengira pengamen yang satu ini dalam benar penjiwaannya.. terdiam. Matanya merah..” Orang itu menghela nafas. Penumpang gerbong KRL menyimak lamat-lamat... Merogoh saku celana.. lagu itu terdengar jadi amat menyentuh. penuh nanah//.” Beruntung petikan gitarnya. Sebenarnya berbagi tidak bisa mencegahnya secara langsung. Bergumam antara terdengar dan tidak: “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/ ljtwati rintangan untuk aku anakmu/ / Ibuku sayang masih terus berjalan/ Walau tapak kaki penuh luka.. Senyap. kurang tidur semalam. b l o g s p o t . Wuussh.... Beruntung. Pasien itu masih tersungkur dalam- ®LoveReads Wuussh. Tidak. menghentikan penjelasan. Hanya orang-orang berhati damailah... bagi sebagian orang yang mengenali lagu itu dan berprasangka baik. meski kusut tampangnya tetap terdengar oke. Ray tidak bersemangat melantunkan lagu.Inilah jawaban atas pertanyaan keduamu.. Rambut panjang Ray tergerai berantakan.. Bukan main. Bersiap memberi- Sudut mata Ray menangkap seseorang berseragam polisi.. berbagi apa saja dengan orang lain. Dengan suara berkumur-kumur.. Hanya orang-orang dengan hati damailah yang bisa menerima kejadian buruk dengan lega.. yaitu: berbagi... tetapi dengan berbagi kau akan membuat hatimu damai. c o m .Wuusshh...b u k u .

Tubuhnya terasa sakit. Mengenalinya salah-satu dari sebelas kamar di rumah kontrakan Plee. Hujan deras. Sudah sejak enam bulan terakhir Ray berdesir setiap melihat petugas. Buru-buru meng- hentikan petikan gitar. Berdesir. Lari di sepanjang lorong lantai 60 yang berkabut. bersilaturahmi di hari kemenangan. b l o g s p o t . Ray berusaha duduk. c o m . ®LoveReads Enam bulan lalu. 214 | R a t u . Ray melompat. Panas. Guntur. saat orang-orang sibuk saling mengun- jungi.Kereta merapat ke salah-satu stasiun. Melihat pahanya. Partner kerjanya tertangkap polisi! Apa yang terjadi pagi-pagi itu? Pasti Plee menyembunyikannya di kamar ini. Memperhati- kan seluruh ruangan. Hei! Ini uangnya nggak mau? Ray sudah berlari-lari kecil di emperan stasiun. pagi-pagi itu. Menggigil. Pingsan.b u k u . Plee? Di mana dia? Pelan memori ingatan Ray kembali. Suara tembakan. Nyeri. Badannya sakit. Apa yang akan menimpa Plee? Hukuman apa? Tubuhnya menciut di atas ranjang. Ketakutan. Bergegas melangkah ke pintu gerbong. Plee melarikan mobil. Lantas tertangkap. sudah terbebat perban. Kakinya perih. Ray menemukan tubuhnya terbaring di ranjang. Plee? Dimana dia? Tiga hari berlalu. Tidak ingat apa-apa lagi. Ray akhirnya tahu dimana Plee dari berita-berita. Yang tadi hendak memberi uang dua puluh ribuan (karena teringat dengan ibunya di kampung) menatap bingung. Kereta mulai bergerak. Kilat.

Satu bulan berlalu. kontan. Sepertinya Plee benar- benar melakukan apa yang dulu dikatakannya: Andaikata salah seorang dari kita tertangkap. Dan mereka enggan memasuki rumah yang sekarang ber-plang pita kuning dengan tulisan “Police Line”. Siang itu. Itu lagi-lagi sudah disiapkan Plee jauh- jauh hari kalau terjadi sesuatu di antara mereka. Luka di kakinya berangsur mengering. Pindah mengontrak dekat stasiun KRL.Sempurna selama dua minggu dia bersembunyi di rumah besar itu.. Berita-berita tentang Plee semakin jelas. Ray melalui hari-harinya kembali menjadi pengamen. mengakui melakukannya sendirian. Hanya warga sekitar yang tahu kejadian tersebut. apalagi berita terakhir yang menyebutkan Plee dituntut hukuman mati atas pembunuhan dua petugas di lantai 60.b u k u . Itu juga sudah disiapkan Plee jauh-jauh hari.. Ray memutuskan menjauh. Fisiknya di atas rata-rata. Dia melempar remote teve. Dan Ray semakin takut men- dengarkannya.. jauh ke arah selatan meninggalkan Ibukota. Plee meninggalkan sedikit uang dalam brankas yang mereka sepakati. Pengamen dengan wajah kuyu tak bersemangat Bagaimana tak kuyu? Dia selalu 215 | R a t u . Terlanjur senang dengan uang sewa dibayar di muka dua tahun. b l o g s p o t . Ray sudah bisa naik-turun dengan mudah. maka tidak ada yang mengkhianati satu sama lain. Cepat pulih atas luka-luka. Siapa tahu masih ada bom? Pemilik rumah malah sedikit pun tidak tahu apa yang terjadi. tidak tahan dengan semua ingatan tentang Plee. 'Tutup mulut. dia mengemasi barang-barang- nya. Menjauh dari ban taran kali.. Mengambil makanan beku yang disimpan Plee di dalam kulkas. c o m .

Pergi ke stasiun. Takut orang-orang mengenalinya sebagai salah-satu pelaku upaya pencurian terhebat yang pernah ada.gurat wajah Ray tegas-men- cengkeram. ®LoveReads Dan waktu melesat bagai anak peluru. tapi. Tidak ada yang berubah dari kehidupannya. Badannya tetap hitam seperti dulu. Ray si pengamen yang selalu mengesankan kalau menyanyikan lagu-lagu sendu. orang berseragam polisi. Intonasi suaranya mengendalikan. Mengganjal perut seadanya. c o m . Fisiknya sama gempal seperti dulu. Menyambar gitar tua di bawah tempat tidur. Pergi ke warung sebelah.cemas. Takut setiap melihat orang. Bangun kesiangan.b u k u . Masih berpindah pindah dari satu gerbong ke gerbong lain. Ray memang terlihat sendu saat melantunkan lagu-lagu itu. Inilah kehidupan Ray enam tahun terakhir. 216 | R a t u . hingga tidak ada lagi KRL yang melintas di jalur rel. b l o g s p o t . Enam tahun berlalu begitu saja. Ray tumbuh menjadi pemuda yang kenyang atas pahit-getir hidup. Tubuhnya bertambah setengah senti. Akan butuh waktu lama bagi Ray meng- hilangkan kecemasan tersebut. Mengamen sepanjang hari hingga malam. Makan sore sekaligus malam sembarangan. Dia masih Ray si pengamen. tetapi tatapan matanya tajam. Hanya gurat muka Ray yang berubah. Tak ada lagi sisa-sisa wajah remaja tanggung di sana. Dari satu kereta ke kereta lain. Mencuci muka. Umurnya sekarang dua puluh enam tahun. Mukanya memang terlihat kuyu.

Menguap. Selama enam tahun itu.. mengakui melakukannya sendirian..b u k u .. c o m . 217 | R a t u . Plee sempurna mengakui seluruh kejahatan tersebut. Mulai yakin tidak akan ada yang mengenalinya. Ray tertunduk dalam saat mendengar hakim menjatuhkan vonis mad bagi Plee. Menciut. bukan pula tidak ada tempat yang tinggi untuk duduk menjuntai.Pulang. Merasakan tenteram dan damai. Terlelap. Langsung loncat ke atas ranjang butut... Tutup mulut. Terlalu lelah walau sekadar duduk sejenak. Dan dia hanya bisa tersungkur di atas ranjang. Andaikata salah seorang dari kita tertangkap. Cemas atau tidak. Satu-dua Ray pernah memaksakan diri datang ke ruang pengadilan. Kakinya terlalu gemetar. Bukan karena di sini tidak ada tower air. Tetapi hatinya selalu kalah. Sendiri. Setahun berlalu. Bagaimana pula orang akan mengenalinya. Nyaman atau tidak.. b l o g s p o t . Tidak ada lagi rutinitas naik ke atas tower air. Selama enam tahun itu kepala Ray hanya dipenuhi oleh sebuah per- tanyaan kecil: Plee! Plee! Plee! Sejak pindah. Ray mulai mem- biasakan diri dengan kejadian itu. Ray mengikuti berita tentang Plee. Berhenti mengutuk langit atas semua kejadian yang menimpanya. Menatap rembulan. Dia mulai bisa rileks berpapasan dengan petugas. maka tidak ada yang mengkhianati satu sama lain. kepala Ray berhenti bertanya tentang jalan hidupnya. Termasuk saat menjelaskan bagaimana dia memanjat tali baja gondola tersebut. Menatap bintang- gemintang.

Dan Ray hanya bisa duduk sendiri di pojok emperan stasiun. Pengadilan yang lebih tinggi menjatuhkan vonis yang sama: tiang gantungan. Yang benar-benar panjang. selain wartawan. Ray kehilangan kata-kata. Plee menghitung hari. Penjahat terkenal ini. Siapa pula yang sekarang hendak menemuinya? Mendengus tidak peduli. Tidak ada. c o m . Juga hari-hari yang panjang bagi Ray.. Beberapa hari kemudian dia libur mengamen.Dua tahun berlalu. Di masa-masa menunggu itu. “Kau siapa?” “Teman?” Penjaga depan menyeringai. Seluruh amunisi Plee habis. dia pernah memaksa dirinya datang mengunjungi sel tahanan Plee. Senyap. Ray menggantung gitar- nya hingga sebulan.b u k u . Pengadilan tertinggi menolak banding Plee. Bukan urusannya. Dia sudah melewati gerbang pemeriksaan. 218 | R a t u . Ray tertunduk semakin dalam. Hanya menunggu waktu. b l o g s p o t . kehilangan keluh. dan pihak berwenang tidak pernah mendapatkan kunjungan. petugas. membiarkan Ray masuk. Tiga tahun berlalu. Membujuk hatinya untuk terakhir kali menemui Plee. Memeluk Plee. Mengeluh dalam. Benar- benar tidak ada lagi jalan keluar bagi Plee. Sepi. Tidak ada ampunan presiden.. Karena eksekusi itu baru terjadi di tahun keenam. tidak ada peninjauan kembali. Menghabiskan waktu hanya duduk melamun. Bertanya apa kabarnya? Meminta maaf atas kekeliruan di lantai 60. Empat tahun berlalu.

.b u k u . Andaikata salah seorang dari kita tertangkap. Yel-yel diteriak- kan.. Tetapi saat Plee keluar dari pintu itu. Ray mendadak lari. Dia tidak akan bisa bertemu dengan Plee. Tapi tiang gantungan tidak bisa membaca. c o m . Koran-koran berebut memasang wajah Plee. Layar televisi ramai menayangkan berita. Bergetar memaksa kakinya untuk bertahan. “MALING YANG BAIK ESOK DIGANTUNG!” Orang-orang berdemo membela Plee. bukan? Tahun keenam. Eksekusi hukuman itu akhirnya terjadi. maka tidak ada yang mengkhianati satu sama lain. Lari menjauh.. Mereka juga bersepakat soal itu. Spanduk dipasangkan. Orang-orang mendesah kecewa. mengakui melakukannya sendirian. 219 | R a t u . Simbol perlawanan.Ray sudah duduk di kursi besuk itu. Pencuri yang mengakui usaha pencurian dua belas berlian mahal sebelumnya. Plee menjadi idola baru. Apa yang akan dikatakannya? Apa yang akan dilakukannya? Bukankah dia takut sekali dengan ancaman mati itu? Bagaimana kalau Plee tiba-tiba bilang dialah yang menembak dua petugas malam itu? Bagaimana kalau petugas penjara bisa merangkai- kan sebuah penjelasan. Yang lebih menyesakkan lagi ketika dia menyadari bagaimana dia bisa meninggalkan Plee begitu saja? Bukankah mereka berjanji tidak akan meninggalkan yang lain. Pencuri hebat yang pernah ada. Poster-poster dibentangkan. Seluruh hasil curian itu malah untuk orang-orang miskin dan tidak beruntung. Tutup mulut. Mencari pembenaran kenapa dia menghilang tidak menjenguk Plee sedikit pun. Ray mendesah resah di kamar petak sempit sewaannya.. b l o g s p o t . Bukan main. Tidak bisa. Hatinya menciut.

Sesak. Ray memutuskan pergi dari Ibukota. b l o g s p o t . Tertunduk dalam- dalam saat tengah malam akhirnya tiba. Lima untuk keluarga korban.00. Ray duduk meringkuk di pojokan kamarnya. Mencoba melanjutkan hidup. Apa yang telah dilakukan Plee untuknya? Apa pula yang telah dilakukannya untuk Plee? Ray mendesah resah. c o m . Dan adegan yang paling hebat. ®LoveReads 220 | R a t u . yang membuat penonton berseru tertahan apalagi kalau bukan saat 'Plee' meluncur dari ketinggian lantai 60. Besok pagi. menerpa antena-antena televisi.Menyumpah-nyumpah. Enam untuk wartawan dan petugas. Satu untuk keluarga terhukum. Pulang. Hatinya sesak. Pulang ke kota kecilnya.b u k u . Ray memutuskan menjauh. Film-film dokumenter untuk Plee mulai dibuat. Pukul 00. Kamar sebelah yang kebetulan punya televisi. Lantas melarikan diri mengendarai Accord '72. memutar kencang kencang berita eksekusi nanti malam. Sayang. Juga film sungguh-sungguh berdasarkan kejadian lantai 60 itu. Ray mendesis. karir. Eksekusi itu tertutup. siapa pula keluarga Plee yang akan datang? Ray menghitung kelu detik-demi-derik eksekusi. Saat cahaya matahari menerpa pucuk-pucuk atap rumah. dan reputasi hebat itu terhenti ketika berusaha mengambil Berlian Seribu Karat. menyentuh menara-menara BTS. Hanya ada dua belas 'karcis'.

Yang lain sibuk memasukkannya ke dalam mesin perontok. 221 | R a t u . Musim panen tiba.Bab 14 Gerbong Makan Sejuta Cinta Whoooong! Whoooong! Jas-Jus-Jas-Jus-Jas. Berlenggak-lenggok menunjukkan betapa gagah paruh sang jantan. Tujuan terakhir: kota kecil paling timur dekat pantai... Beberapa lelaki bertelanjang dada mengangkat ikatan-ikatan. Bergerombol di sana-sini. Kereta diesel tua itu membelah hamparan sawah menguning. Perutnya tiba-tiba berbunyi. betapa jenjang leher si betina. Mengabaikan suara berisik burung- burung pipit yang terbang riuh-rendah. Simaklah! Petani dengan topi pandan berbaris rapi empat jalur. Arit bergerak dalam irama ketukan empat per empat. b l o g s p o t .. Hembusan nafasnya menyisakan embun.. sibuk saling menggoda pasangan. Tapi di luar teduh. Gumpalan awan putih memenuhi langit. Membuat sejuk sejauh mata memandang. Hidung dan dahinya membekas di kaca.b u k u . pesta musim panen. Lapar. Matahari persis di atas kepala. lincah menyabit batang-batang menguning. Bangau putih hinggap di petakan sawah kosong. masih ada beberapa lembar uang ribuan. Memeriksa kantong celana. musim kawin bagi mereka. c o m . Seekor kerbau bertanduk dengan dua anaknya asyik berkubang di sungai kecil pembatas sawah. Ray mengangkat wajahnya yang satu jam terakhir tertempel di jendela gerbong.

Sepuluh tahun Ray tinggal di Ibukota. terlalu lama dengan posisi duduknya. semua terasa berlalu amat cepat. saat mengenangnya kembali. Menggerak-gerakkan ujung tumit. Menyeringai. apalagi masa-masa setelah tiga tahun menyenangkan di Rumah Singgah itu. di gang dekat pojok pasar. Bukan- kah seperti baru kemarin tubuhnya yang penuh luka tusukan pisau belati terbaring di rumah sakit? Tertatih belajar berjalan mengelilingi lorong-lorong lantai. Bukan musim liburan. bukan pula masa-masa mudik lebaran. Melangkah pelan menuju gerbong makan. Perkelahian di bus. Kakinya sedikit kesemutan. gerbong kereta hanya terisi separuhnya.b u k u . tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan kekar. Jauh lebih bergoyang dibandingkan tali baja gondola. c o m . Melupakan masa-masa enam tahun yang membuat sesak. Umurnya 26. Ray berpegangan. Wussh! Sekarang dia sudah berubah.Berdiri. b l o g s p o t . sudahlah. Ray berhenti sejenak. Melupakan eksekusi mati Plee tadi malam. di meja pendaftaran sekolah informal? Mengamen. Membuatnya bergeming berpuluh-puluh menit memandangnya. Dia akan menjemput kehidupan baru di kota lamanya. Kereta meliuk menikung. Bagaimana tak? Hampir sepuluh tahun dia tidak menemukan suasana pedesaan. Bukankah seperti baru kemarin dia ditanya nama ayah. Ah. nama ibu.. Wajah dan kelakuan serba tanggungnya.. Sepuluh tahun yang ketika menjalaninya terasa panjang dan melelahkan. Bukankah dia ingin melupakan semuanya. Tidak perlu bersusah payah menerobos lorong kereta yang biasanya dipenuhi penumpang dengan dket tanpa kursi. pemandangan di luar terlihat mengesankan. Tapi ajaib. Kota tempat dia 222 | R a t u .

menyebutkan pesanan. lebih baik. asyik bercengkerama sambil membuka bekal.b u k u . Itu bahkan jauh-jauh hari sudah berhasil dilupakan. Hamparan padi menguning. Kota tempat dia menghabiskan enam belas tahun dipanti. Pasangan yang duduk di sudut gerbong lainnya.. duduk sendirian. Memain-mainkannya. dia sedikit pun tidak mengerti bagaimana menjadi petani yang baik. Ray mendekati petugas gerbong makan..dilahirkan. Kembali! Ray menggeser pintu gerbong makan. Aroma makanan tercium. 223 | R a t u . Ray menelan ludah.. Dia ingin menikmati makan siangnya sendirian- Ray duduk. setelah melirik daftar harganya. lebih leluasa menyimak pemandangan di luar. Satu? Tidak juga. Mbak!” pelayan gerbong mengantarkan nampan ke penumpang yang duduk di depan Ray. Banyak. b l o g s p o t . Menyapu seisi gerbong.. Indah. Burung bangau anggun berterbangan. c o m . Lebih tenang. Ada satu keluarga di meja tengah.. Lantas melangkah mencari meja kosong.. Kembali menatap persawahan di balik jendela. “Pesanannya. Lebih cepat. Kereta terus membelah areal persawahan nan luas. Memutuskan naik kereta paling pagi. Putih-putih. Melangkah masuk. Mungkin menyenangkan menjadi petani? Ray nyengir. tapi Ray memutuskan untuk duduk di pojok. Bergerombol mem- bentangkan sayap. Dan beberapa orang di meja-meja lainnya yang sama seperti dia. yang penting baginya hari ini dia pulang. Ada satu di pojok gerbong. Ray meraih sumpit. Perutnya yang kosong semakin bernyanyi. Tadi pagi Ray tak sempat sarapan.

Memesan lebih awal. keliru!” Berbasa-basi hendak menarik lagi nampan dari hadapan gadis tersebut.. “Hei. baru saja duduk di situ? Itu seharusnya pesanan miliknya... kelepakan bangau terputus'. kan? Ray bangkit. Pasien itu sungguh. Gadis itu menoleh. Pasien berumur enam puluh tahun yang duduk di hadapannya refleks menolehkan wajah ke sembarang arah. tempat apakah ini Ray? Mengapa kau mendadak tersipu? Di sini tidak ada siapa-siapa. c o m .. Memainkan sumpit di tangan. 224 | R a t u .Ray menoleh. Menatap Ray. salah-tingkah. “Yang di pojok gerbong! Bukan yang itu. Bukankah gadis yang duduk di meja sebelahnya. “Maaf.b u k u ..Bukankah dia datang lebih dulu. “Hei. bukan?” Orang itu semakin riang menggoda. hendak bertanya- Juru masak di dapur meneriaki pelayan yang salah antar. Dodol!” Pelayan yang diteriaki mengecek kertas di tangannya. menggoda. Wajahnya ketahuan memerah. Demi segalanya! Mendadak pasien itu sungguh menyeringai-malu. persis membelakanginya. ada apa Ray? Mengapa wajahmu bersemu merah sekali?” Orang dengan wajah menyenangkan tersenyum riang. Seketika! ®LoveReads Whoooong! Whoooong! Jas-Jus-Jas-Jus-Jas. Ray yang beranjak berdiri hendak protes membeku. “Pesanan Mas yang di pojok!” Mencoba menjelaskan. Ketahuan. b l o g s p o t . Menunjuk-nunjuk Ray yang duduk di belakangnya..

Tempat ini. setengah- 225 | R a t u . Pasien itu tersenyum sendiri. Wajahnya kebas. Tempat ini. Tempat ini- Menyadari dimana dia berada sekarang.. Tersipu. Dia sudah duduk di atas kursi kayu. oh-Ibu! Bagaimana mungkin dia tidak mengenalinya. Melupakan. Saat semuanya terasa nyaman lagi. Melesat dalam putaran gasing. Tersipu sendiri. Keliru.. Di gerbong makan inilah dia pertama kali mengenal gadis itu... bukankah sepanjang urusan perjalanan me- ngenang masa lalu ini yang lebih banyak bertanya seharusnya bukan dia. menyaksikan hamparan persawahan yang menguning.. Mengusap rambutnya lagi (lima kali dalam lima belas detik terakhir).. Cinta pertamanya. Cinta pertama sekaligus terakhir. Baru beberapa menit lalu tubuhnya lagi-lagi terlempar ke dalam kumparan cahaya itu.. Tetap berusaha menoleh keluar. Memperbaiki kerah piyama rumah sakit.Di gerbong makan kereta diesel tua. Mukanya semakin memerah. Memasang wajah seperti kalian yang senang menyimak teman sendiri sedang 'amat berbahagia'...b u k u . Saat matanya terbuka. Urung. Semuanya serba-salah.. Pasien itu tersenyum 'buruk'.. b l o g s p o t . Mengusap rambut berubannya. Orang itu tertawa lebar sambil mengelus dagu. dia amat mengenalnya.. Cinta yang membuat sekujur tubuhnya merinding. c o m .. Sinar terang warna-warni menyilaukan. seperti kepiting rebus. Pasien itu masih salah-tingkah beberapa kejap kemudian.Tertawa. Salah-tingkah. muka pasien itu sontak memerah. Tidak sengaja menolehkan kepala ke orang dengan wajah menyenangkan di depannya.

bertanya sambil menatapnya lemah.. Aduh. Menoleh lagi ke orang di depannya. Semakin tersipu. c o m . persis di seberang meja mereka. Basa-basi! Pertanyaan orang ini tentang seberapa cantik gadis-nya basa-basi. pelan mengangkat kedua tangannya. Padahal yang bertanya gadis itu sendiri. Ray?” Muka pasien itu merah padam. Ray semaput mengukir wajah gadis itu di langit-langit gerbong. Menyeringai.. menepuk dahi seperti terperanjat..b u k u . “Apakah dia cantik. Apa maksud orang ini mengajaknya kembali mengenang kejadian-kejadian itu. gadis itu jelas terlihat sedang menoleh ke arah pemuda yang duduk di belakanginya.menggoda. tertawa. Mengacungkan sepuluh jarinya malu-malu... Apalah gunanya orang ini bertanya? Simaklah. Bagaimana mengatakannya? Dulu pun dia sulit menjawab pertanyaan serupa. Ray?” Pasien itu mengusap-usap tengkuk. Gigi-giginya lucu bak gigi kelinci. Menceritakan kecantikannya? Bagaimana? Matanya hitam. Ray!” orang di hadapannya pura-pura kaget. b l o g s p o t . Mengangguk- “Bisakah kau menceritakan kecantikannya. Pasien itu buru-buru menolehkan lagi kepalanya ke luar jendela. Ray ikut tertawa. Lupa kalau seharusnya dia masih sibuk bertanya siapa sesungguhnya orang di hadapannya. Ikut tertawa lebar. setengah-ingin tahu.. 226 | R a t u . Lesung pipit. “Wuih! Sepuluh jari? Nilainya sepuluh? Kalau begitu gadis itu benar benar cantik. Rambutnya panjang. hitam legam.Ray setelah mengusap rambutnya berkali-kali. Apakah dia cantik? Tersenyum tanggung. Ergh.

... Visualisasi masa lalu yang sungguh nyata.. tidak ada sepatah kata pun. Mereka ada dalam satu gerbong. aku belakangan-” Entah bagaimana rupa wajahnya. Gadis itu mulai sibuk dengan makanan di hadapannya. Duhai apalah hendak dikata? Ray 227 | R a t u .. Tidak pernah dikenalinya... Meski yang satu tak bisa melihat yang lain. kosong.. Pemuda berumur 26 tahun yang membeku.. c o m . tetapi memenuhi kepala.. ®LoveReads “Ergh. tidak apa-apa. pertama bersitatap tadi. Senyata pasien itu yang sekarang ikut menolehkan wajahnya ke arah gadis tersebut. Ya. kondisinya mungkin lebih 'menyedihkan' dibandingkan seseorang yang habis melihat hantu- Hatinya mendadak tertikam oleh sesuatu. Lihatlah. Satu waktu.. Yang ada malah tatapan datar. Tidak ada ucapan terima-kasih dari gadis itu. Merah padam? Kaku? Salah-tingkah? Oh- ibu.. Pelayan itu urung membawa nampan. Mulutnya membuka. Gadis itu membalik lagi badannya. b l o g s p o t .b u k u .. Dia ingat sekali kalimat pertamanya dulu. Kepalanya tiba-tiba dipenuhi satu perasaan yang tidak pernah dimengerti sebelumnya. memandang wajahnya yang. untuk ia saja.Pelayan yang hendak mengambil nampan. Tapi peduli amat? Ray sedang melupakan banyak hal.. ikut menirukan gerak bibir pemuda berusia 26 tahun yang duduk di pojok gerbong.. Satu perasaan. Ray sibuk dengan kebat-kebit di hatinya.

. Seperti melihat separuh wajah rembulan yang biasa dilakukannya. Tadi beranjak ke gerbong makan. Tapi Ray sudah kehilangan selera makan sejak tadi. Gadis itu menatap sendu pemandangan di luar. Kecantikannya seperti tertutupi oleh gurat kesedihan dari perjalanan hidup yang panjang.. Ia mengenakan selendang hitam kecil. Memutar kursinya pelan. b l o g s p o t . Dan Ray semakin 'terjerembab'. Menatap hamparan sawah lamat-lamat.. Gadis itu dalam banyak hal sama persis dengannya.. Sendu? Inilah sebenarnya yang Ray tidak pernah sadari. Gadis itu matanya redup... Hitam? Duka-cita? Ray tidak sempat berpikir.. Entahlah- Yang pasti. Ingin sendirian menyimak pemandangan di luar.kehabisan kalimat meski sepotong untuk menjelaskan deskripsi wajah gadis itu. Gadis itu merapikan remah-remah dan sumpit. Gadis itu tetap di sana meski piringnya sudah kosong. Keluar jendela. Memutuskan duduk di meja persis depan Ray. ia juga mencari meja kosong di pojok. Menoleh ke luar.. Mengenakan baju hitam- hitam. Pelayan gerbong makan yang terlalu sering membuat kesalahan selama sebulan terakhir mengantarkan pesanan Ray beberapa menit kemudian. Inilah juga yang menjelaskan mengapa kilatan perasaan itu tak tertahankan menyambar hatinya.b u k u . Sudah terisi. Mukanya lelah. c o m . Misterius. tersampir tak rapi di kepala. Rambut hitam-panjangnya tergerai. benar-benar sepera terhujamkan begitu saja... Dia bisa melihat separuh wajahnya sekarang. 228 | R a t u . Mengambil tissu. muka gadis itu dalam banyak hal bagai duplikat wajah Ray sendiri.

b l o g s p o t . Sibuk mencuri-curi pandang separuh wajah 'rembulan' itu. Mematut-matut. c o m . Apalagi membalas lambaian kaku dan bego Ray.. Berubah! Seperti dirinya. Tapi Ray malah bersorak dalam hati. kota kami berubah banyak. Aduh. Ray gelagapan. Mendesah resah- Kereta diesel tua terus menderu. sudah tumbuh beranak-pinak ke utara. selatan. barat. mengambil kesimpulan sebalik- nya yang menyenangkan: Dia menoleh. Dengan bodohnya melambai kecil.Ray menelan ludah. dan timur. Oh-Ibu. Nyengir amat buruk. Dia lupa sudut-sudut kota lamanya. Pemandangan hamparan sawah menguning nan luas sejenak terpotong pemukiman penduduk. Beringsut mundur sebelum malu semakin memerahkan daun telinga.b u k u . Kota ini tak lagi sekecil dulu. Atau menatap sesuatu yang tidak penting. 229 | R a t u . Ray mengangkat tangan. Dia baru saja menoleh ke arahku. Mana ekspresi mukanya lagi ngaco. Parabol- Sepuluh tahun meninggalkan kota kecil dekat pantai itu membuat Ray banyak lupa. Gadis itu seperti habis melihat patung batu. Ray menggaruk rambutnya yang tidak gatal. apa maksudnya? Ah! Ray benar-benar harus belajar banyak urusan ini. ketahuan.. ®LoveReads Tiga bulan berlalu bagai bola kasti yang dipukul. “Hai-” Gadis itu menoleh lagi ke jendela. Gadis itu mendadak menoleh ke arah Ray. Tanpa ekspresi apapun. Lazimnya seseorang yang barusan diabaikan seperti dirinya akan menghela nafas kecewa.

Apakah masih ada. Rawa-rawa ditimbun. Jalan-jalan kota membesar. Rumah-rumah kumuh disulap menjadi real- estate. pemukiman-pemukiman elite.b u k u . b l o g s p o t . Konstruksi gedung-gedung baru membutuhkan tenaga muda yang kenyal dan berotot. Gedung-gedung dnggi didirikan. Atau jangan-jangan sudah sepuluh tingkat. c o m . Pabrik-pabrik dibangun. Gitar? Gitar tuanya sudah dijual. Pelabuhan kota berubah mencengangkan. Mengamen? Dia hanya bisa memetik gitar. Pusat pusat bisnis tumbuh bak jamur di musim penghujan. sedangkan bentuk dan bangunannya benar-benar tak dikenali Ray lagi. Menjadi poros ekonomi baru timur pulau. ongkos kereta pulang. Buruh-buruh bangunan yang bagai mesin. Apalagi tanah datar. meski penghuninya belum tentu 'elite'. bekerja siang-malam mengejar tenggat waktu. Lautan diurug. Hanya sepotong terminal itu yang bergeming.Pebukitan dilangkahi. Kota kecil ini tumbuh berkali-kali lipat. Pasar-pasar Induk yang dulu terlihat becek dan bau menjelma menjadi pusat perbelanjaan yang rapi dan wangi. Ray malas pergi ke sana walau sekadar menyempatkan lewat. Ray 230 | R a t u . Dibelah dua oleh trotoar partisi. Maksudnya tetap berada di posisinya. Tidak cocok dengan selembar foto yang ada di kepalanya dulu. Ke sanalah Ray tiga bulan terakhir berlabuh. Taman-taman kota menghijau. Kota ini sepertinya dibangun dengan baik sepuluh tahun terakhir- Panti asuhan? Hanya itu yang Ray tidak tahu. Buat apa? Pertumbuhan yang pesat itu dengan segera membu tuhkan banyak tenaga kerja. Tidak ada syarat keahlian menjadi pekerja bangunan. Pemilik modal berlomba-lomba membenamkan uang.

b l o g s p o t . disukai pekerja-pekerja. Ray mulai melupakan kenangan buruk bersama Plee. Semuanya dipelajari otodidak. Setidaknya tidak pengap.tidak tahu cara mengaduk semen yang benar. Lebih dari yang dia harapkan saat memutuskan kembali. mandor junior! Membawahi 24 buruh kasar lainnya. Termasuk pengetahuan dasar teknis- rekayasa sipil. Ray tidak mengerti bagaimana menyusun bata yang baik. Semua anak Rumah Singgah itu dulu juga pekerja yang baik. Ray pelan tapi pasti mulai menikmati rutinitas barunya. Apa yang tidak dimiliki Ray untuk menjadi pekerja bangunan yang baik? Dia pekerja yang rajin. dan terkesan misterius. Bentuk-bentuk desain arsitektur yang membutuhkan nalar matematik. tidak banyak menyuruh. Dia tinggal di konstruksi gedung yang mereka bangun. Lebih dari cukup untuk membuat insinyur konstruksi gedung terpesona. Dan Ray menjadi pemimpin yang baik. Udara malam menyergap lantai gedung yang belum berdinding. disiplin. tapi dia belajar dengan cepat. Dia tipikal pemimpin yang tidak banyak bicara. Membuat kamar-kamar petak di lantai dua. Dia berbakat- Tiga bulan berlalu. Dan Ray cerdas. Tidur di atas-atas bilah papan seperti ranjang barak pasukan. Dialasi tikar pandan. tapi dia pemerhati yang cakap. 231 | R a t u . Setiap kamarnya dihuni beberapa pekerja. ringan tangan membantu. meski keras. Tiga bulan berlalu. Semua ini menyenangkan. Ray dengan mudah menerjemahkan hitung-hitungan geometri rumit dalam pekerjaan konstruksi. c o m . Kalimat-kalimat Bang Ape dulu membekas di benaknya. Nyaman. Ray mendapatkan promosi pertamanya.b u k u .

Satu-dua pekerjanya sempat berbincang tentang legenda pencuri hebat yang dieksekusi mau tiga bulan silam.Masa-masa enam tahun yang mengungkungnya itu.. Sudah tertinggal jauh. dan itulah gunanya Ray. memperbaiki posisi helm-nya yang sudah rapi. Lantai tertinggi konstruksi gedung yang sedang dibanguni Itulah tempat hebat Ray. kebiasaan lama itu kembali setelah enam tahun terpendam dalam-dalam.. Wuih. Dia menjejak kehidupan baru yang menjanjikan. c o m . Apalagi halaman panti. Persis seperti 232 | R a t u . memandang rembulan. Tiga bulan terakhir. Menjuntai di tubir gedung. pekerjannya rata-rata juga tidak berpendidikan. tetapi dia leluasa menggunakan seluruh hamparan lantai tersebut menjadi tempat duduk menjuntai. dia meluncur dari lantai 60 seperti terbang!” Ray hanya diam. Di sini.. Rumah Singgah. Hanya perlu meng- gunakan bahasa mereka. Tidak kalah dibandingkan atap genting Rumah Singgah. Natan. Jo!' Eh. Dulu urung melanjutkan sekolah? Ray tidak terlalu menyesal. tapi mereka bisa mengerti saat dijelaskan banyak hal tentang konstruksi yang rumit-rumit. daripada penjahat begituan yang diurus mending penjahat yang makai dasi!” Temannya balas berkomentar. Tower air. Mungkin pamuncak gedung pencakar langit Ibukota yang bisa menandinginya. malah digantung-” “Setuju. Hanya mencapai hitungan 18. b l o g s p o t .b u k u . Semuanya sudah tertinggal jauh. Dia punya tempat yang hebat. Tidak juga. Ilham. “Kau nonton beritanya? Aku sudah nonton VCD-nya. di sini dia tak perlu bersusah-payah menaiki tali baja gondola. “Orang begitu harusnya malah dibela.

Langit bersih tak tersaput awan.duduk di atas meja.30. Jo 233 | R a t u . Damai. Ray asyik menggerak-gerakkan kaki. Mas Rae lagi santai?” Suara itu memecah senyap. Sudah biasa. Mengusir penat setelah seharian kerja. Anak ini beda enam tahun dengan- nya. c o m . Baru konstruksi pondasi dan tiang-tiang seluruh lantai. salah satu pekerjanya mendekat. Gedung itu jauh dari selesai. Ray duduk di palang besi yang menjulur dua meter dari tubir. Hatinya bagai diletakkan dalam kolam sejuk. Malam itu untuk kesekian kalinya Ray menaiki anak-anak tangga. Cara mencapai lantai 18 melalui anak-anak tangga. b l o g s p o t . Mendamaikan hati. Apalagi pertanyaan- pertanyaan lama itu sudah jauh-jauh pergi. Ray lelah bertanya tentang apa hidup ini adil. bentuk bangunan sudah seperti gedung yang utuh. Sungguh mempesona. Ray sekarang sibuk membayangkan janji-janji masa-depannya. namun belum berdinding. Pukul 22. Rembulan sempurna bulat di angkasa. Kesenangan itu kembali! Amat menenteramkan memandang rembulan dari ketinggian ini. Masih banyak pekerjaan tersisa. Kehidupannya sudah berubah. Meski tingginya puluhan meter.b u k u . Jo (nama panjangnya tidak sekeren panggilannya). Menyenangkan. Dilihat dari kejauhan. Besok-lusa mungkin berkesempatan menjadi kepala mandor. Mengingatkan dirinya sendiri saat awal-awal mengamen dulu. “Wuih. Bintang-gemintang membentuk ribuan formasi indah. yang nanti jadi jalur tangga darurat gedung. Ray menoleh. Lelah bertanya kenapa dia harus menghabiskan enam belas tahun percuma di panti menyebalkan itu.

aku bisa lihat buruh lain di sana. mau Mas Ray!” Jo nyengir.” “Wah. “Wuih. “Apa?” Jo menatap. “Teropong. Sejauh ini. Siapa pula buruh di lokasi konstruksi gedung yang senekad mandornya. Mas Rae!” Jo menggeleng jerih. Mas Ray!” 234 | R a t u .mirip si kembar Oude dan Ouda... Jo mulai mengacung-acungkan teropong. Ribuan lampu. Ray tertawa. Banyak tertawa.b u k u . Sekalian duduk di sebelah Jo. Paling hanya bersenandung. Ray tertawa. Tidak banyak hiburan di lokasi konstruksi. Jo?” Ray menoleh. Tadi dibawa insinyur bangunan. Berdecak kagum. Kalau menjuntai di tubir gedung seperti biasa sih oke. Bergurau. Membiarkan Jo mengambil posisi duduk satu meter di belakangnya. c o m . Menyerahkan teropong besar. Kota yang bercahaya. menyelidik benda yang digenggam Ray. kalo gitu nggak jadi!”Jo menyeringai. Kalau Jo lagi bosan bermain kartu dengan buruh-buruh lain. Atau Jo malas tidur lebih awal. Duduk santai di palang besi yang menjulur dari lantai 18. b l o g s p o t . “Ambil sini-” “Wuih. Jo sering menemaninya. Dia merangkak mendekat. bernyanyi. kecewa. belum ada buruh bangunan yang tahu kalau mandor mereka jago sekali main gitar. menjuntai di tubir gedung. “Nggak mau. Banyak bicara. Beberapa konstruksi bangunan lainnya terlihat di kejauhan. Mau. “Gabung?” Ray menawarkan tempat duduk di sebelahnya. Atau bermain gitar. “Kamu mau coba. Sibuk menyapu seluruh pemandangan kota.. Dan kabar baiknya Jo juga banyak bekerja. mengangkat tangannya.. asyik..

. Di sana ada rumah sakit kota-tempat dia dulu di rawat. Membujuknya untuk ikut melihat ke bawah.Ray mengangguk. Dulu. Apa yang dia lakukan waktu itu? Berdegup kencang bagai melihat hantu. Ratusan meter. Perumahan penduduk.” Ray menoleh. Itu bukan mercusuar. Tertawa lagi.. c o m .b u k u . Tiga bulan lalu. Mana ada di antara kalian melihat 'gadis cantik' seperti lagak Jo. Jo sedang mengarahkan teropongnya ke jalanan depan konstruksi gedung. Jo? Jo malah tertawa sumringah melihat gadis yang dibilang- nya cantik. Ada gadis cantik. “Sumpah. Di gerbong makan kereta yang membawanya pulang. “Kapalnya terlihat jelas. b l o g s p o t . Ray mengalah... Menerima teropong itu. paling kilat lampu kapal kargo. Layar- layar! Mercusuar!” Ray tertawa. Ray mengangkat bahu. Gadis cantik? Dia pernah melihat sekali.. Dan- “Wuih! Mas Ray. Mas Ray. “Lihat Mas Ray! Cantik banget-” Jo menyerahkan teropong. Berseru-seru macam nonton pertandingan bola. Mas Ray!” Jo semakin antusias. 235 | R a t u . Cantik banget. Berlebihan. Menyimak pelabuhan. Muka Jo sedikit kecewa karena Ray sama sekali tidak berminat mendengar celotehnya. Tidak dulu-dulu amat sih. Mana ada mercu suar radius puluhan kilometer dari kota. Memaksa..

Setelah Ray menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.. Duduk tak nyaman di kursinya. Mendadak menyesali diri. Burung-burung bangau-entahlah. Senja itu. gadis itu tak ada lagi di sana saat Ray akhirnya memberani- kan diri mendekat. Mengusap rambut. kenapa dia jadi plintat-plintut begini? Sayang. Enam bulan lagi pawai 236 | R a t u . Ke jalanan perumahan penduduk yang terang oleh cahaya. Aduh. Setelah gadis itu tidak menoleh- noleh lagi kepadanya. Tidak menemukan gadis itu di emperan stasiun.... Bagaimana tidak? Dia melakukannya setelah kereta tiba. Apa yang dilakukannya sepanjang sisa perjalanan? Setelah gadis itu tidak peduli menolehkan kepalanya ke luar jendela gerbong. Seluruh kota sedang berhias. Memandang lalanan di bawah mereka juga indah- menyenangkan. apa yang dilakukan burung-burung itu.Hari itu.. Ia berpikir mungkin gadis itu masih duduk di gerbong makan.. Di jalanan depan. Mulai mengarahkan teropong ke bawah.b u k u . Arah yang ditunjuk-tunjuk Jo. c o m . b l o g s p o t . Ray melangkah lemah kembali ke gerbong penumpang.. Setelah itu dia mendadak jadi malu. Kenapa pula dia harui buru-buru kembali ke gerbong ini? Gadis itu kan masih ada di sana? Apakah dia sebaiknya kembali ke gerbong makan? Pura-pura makan lagi? Bagaimana kalau dianggap patung batu lagi? Aduh. Tidak menemukannya di gerbang. Dia pura-pura ikut menatap hamparan sawah menguning. menjelang senja kereta baru tiba.. Ray tidak berani lagi mencuri-curi pandang. Ray tersenyum kecil. urusan gadis itu benar-benar membuatnya terlihat bodoh.. Dan setelah tak kuasa menahan kebas di hati. malunya. Takut ketahuan.

Tapi Ray menuruti kalimat Jo. Teropong ini tidak super. yang lagi jalan di depan rumah sakit. Semua jalan dipasangi lampu hias beraneka bentuk. Pukul 23. “Ketemu. Tapi dia mengenalinya. Malam begini..00. sekali- pun dengan teropong super. mengarahkan teropong ke jalanan depan rumah sakit. b l o g s p o t . Entah bagaimana caranya! ®LoveReads Maka sejak malam itu.. c o m . Lampu-lampu hias berbentuk pohon memenuhi pembatas jalan. Hanya deru mobil sekali-dua melintas.b u k u . kan?” Ray kehilangan kata-kata.. langit gelap atau tak. Mas Ray?” “Mana? Hanya ada nenek-nenek-” Ray bergurau.ke-500 usianya. Ray rutin duduk di palang besi terjulur lantai 18. Memesona- “Ketemu.. Mas Rae?” Tidak ada siapa-siapa di jalanan depan rumah sakit. dia tidak tahu warna baju gadis yang dilihatnya.. dengan jarak ratusan meter. jalanan lengang. kalian tidak akan tahu warna baju yang dipakai orang lain. Mas Ray!” Ray menyeringai. Membawa teropong 237 | R a t u . Yang pakai baju merah. ada rembulan atau tak. Ray menyapukan teropong dari ujung-ke-ujung. “Aduh. Mana?- Mendadak gerakan tangan Ray terhenti... “Ketemu. kan? Gimana? Cantik banget.. Semuanya pasti terlihat kemerah-merahan..

tanpa di- sadarinya dia kembali bertingkah bodoh. Nggak ketemu-temu. di malam kesekian. Hanya kebetulan malam itu lewat!” Jo menggoda. Ray melangkah setengah sumringah.. Enak saja bilang penasaran dengan gadis itu. setengah-cemas. Siapa tahu? Maka pagi-pagi. Ray melambaikan tangan. memasang wajah sedikit pun tidak percaya. c o m . itu tak ada di jalanan depan rumah sakit. Tidak-lah! Jo tertawa melihat gelengan Ray.. mencoba 'membantah'. ya? Kata nya hanya nenek-nenek. Besok.besar di tangan. rembulan di langit terpaksa cemburu berhari-hari. yang apa daya seragam mandor konstruksi bangunan. Kan. Buruh yang dikomandaninya sibuk 238 | R a t u . Kenapa tidak? Itu ide yang baik. kenapa nggak Mas Ray cari siang-siang. Maka Ray mulai mendulang kecewa. Mas Rae penasaran dengan gadis itu. “Wuih. Hatinya terjebak sebuah perasaan. Jauh lebih baik dibandingkan kesia-siaan bermalam-malam. baru berakhir hingga tengah malam menjelang.b u k u . Ampun. setelah memakai baju terbaiknya. Ray memutuskan 'iseng' berjalan di depan rumah sakit. mungkin di jalan lain? Ray semangat mengarahkan teropong ke arah lain. Apa hendak dikata. b l o g s p o t . Ah. Tapi dia mencatat baik-baik kalimat Jo.00 saat matahari tenggelam. boleh jadi dia lewatnya siang.. ya? Lah. Menggeleng. Menyapu bersih sudut-sudut jalanan depan rumah sakit. Tidak ada! Gadis. Teng! Pukul 18. Ray melotot marah. Memaksakan diri menyapu radius lima ratus meter dari seluruh sisi-sisi konstruksi gedung. salah-tingkah.

Kemudian.. Aduh! Kalau pun benar. Baru keluar dari areal gedung. Benar. dan lantai-lantai seterusnya. Sementara yang digosipkan berdiri kaku di sudut jalan. Gugup. Gadis itu hanya menoleh selintas. Memutuskan kembali. Menjalar ke lantai tiga saat batu-bata dikirimkan. Ray menjawab pendek. Menghela nafas. b l o g s p o t . Menunggu cemas di bawah pohon mahoni. bukan? Ray menelan ludah. puh! Mukanya langsung tertoleh. lantai lima saat potongan besi-besi dibawa. Pelan Ray membalik badan.. Ray tidak tahu apa yang akan dilakukannya saat sudah bertemu? Jangan-jangan macam di gerbong makan itu. gosip mandor naksir anak-kampung dekat situ melesat dari lantai ke lantai. Ray mengusap tengkuknya. belum jelas urusan ini akan seperti apa hasilnya. dia memang berharap bertemu.. Lima belas menit berlalu.. Mendesis dalam hati.. Berantai..b u k u . sialnya Jo malah berteriak dari lantai dua. Tetapi kakinya mendadak terhenti- Bagai sebatang besi merah-membara yang dicelupkan ke dalam air dingin. Apa pula yang dikerja- kannya sekarang. sebenarnya apa yang sedang dilakukannya? Kenapa pula dia mencari-cari gadis itu? Kenapa pula dia berdiri di sini? Bisa jadi malam itu dia salah lihat. hati Ray mendesis. “MAS RAE.. Sum-ringah? Bagaimana tidak. Awalnya hanya jadi bahan bergurau pekerja lantai dua saat mengaduk semen. SELAMAT BERJUANG! DOAKU BERSAMAMU!” Tak pelak.. terus kenapa? Gadis itu bukan siapa-siapanya. c o m .bertanya. kan? Cemas? Nah itu dia. lantai empat saat karung pasir dipikul. ada urusan.. Gadis itu justru sedang berjalan dari 239 | R a t u .

Memalingkan wajah. Seketika gurat wajah misterius itu hilang. Pura-pura menyaksikan indahnya cahaya matahari pagi menerabas daun-daun pohon mahoni. demi melihat wajah riang itu. dia sudah terlanjur balik kanan. tergantikan wajah berseri-seri. Jantungnya berdegup kencang. Celana panjang hitam. Ke? Ya ampun! Langsung menuju dirinya.. Ray panik. Rambut panjangnya terurai. Jadi sekarang bagaimana? Tidak tahu. Ray ikut (tidak membeli). Gadis itu masuk ke halaman rumah sakit. Membentuk bayang di trotoar jalan. Gadis itu membeli seikat balon terbang dari pedagang di halaman rumah sakit. Aduh. Menuju bangsal anak-anak. Menuju lorong-lorong rumah sakit.. Ray menelan ludah Apa yang akan di- lakukannya? Tidak tahu. Gadis itu anggun melewatinya. Tak ada wajah sendu yang dilihatnya di gerbong empat bulan lalu. hatinya memerintahkan seketika. Bergerak lembut seiring langkah. gadis itu tersenyum amat manisnya.. Ikut.kelokan jalan.. Gadis itu terlihat cantik. Refleks! Mendadak malu. tapi terus ikut kemana saja gadis itu pergi. Anak-anak di bangsal berteriak riang menyambut. Malu sekali.b u k u . gadis itu mengenakan kemeja berwarna hijau. Ray tidak sempat berpikir panjang tentang betapa persis gurat muka mereka.. Entah siapa yang menyuruh. kaki Ray pelan melangkah. Ray seketika 'tertikam' di depan pintu bangsal. Bagai kerbau dicucuk hidungnya. Oh-Ibu. Ray ikut.. Gadis itu masuk ke ruangan rawat inap anak-anak.. 240 | R a t u . b l o g s p o t .. Manis. c o m . Gadis ini kemana? Tidak tahu.. tapi mukanya tetap terlihat misterius. Ray meng- usap rambutnya. Ke sanalah tujuan gadis itu.

b l o g s p o t . gadis itu tidak menoleh sedikit pun kepadanya? ®LoveReads “Bagaimana Mas Ray? Sukses?” Jo bertanya sambil tertawa. Percuma- 241 | R a t u . c o m . Menoleh pun tidak? Oh-Ibu. dia tetap tidak dapat balon. menyibak kulit pisang yang persis menutup kepalanya. “Aku belum pernah pacaran. baru ngeh. Ray berharap dia bisa dapat satu- Hingga gadis itu keluar dari pintu bangsal satu jam kemudian. “Menurutmu apa yang bisa menarik perhatian?” “Perhatian apa?”Jo tetap asyik dengan lubang hidungnya. mereka duduk berdiam diri di lantai 18. Ray mengkal mendengar pertanyaan itu. Anak-anak berseru riang. Sambung-menyambung di ujung-ujung atapnya. Sementara Jo asyik ngupil. cewek-” Jo tertawa. Malas melanjutkan menggoda Ray. daripada dilempar lagi. “Eh. terus melangkah keluar hilang di kelokan lorong. Mas Ray!” Ray mengusap rambutnya. Ray sibuk menatap lampu-lampu hias rumah sakit. Jo tertawa lebar. Indah. Jo memang baru sekali bertanya. Malam itu. Ray melempar Jo dengan kulit pisang. Melingkar membentuk formasi tanduk.Gadis itu membagikan balon-balon terbang. Ray malah berdiri membeku di lorong.b u k u . maka sepanjang hari ini dia sudah ditanya puluhan kali pertanyaan serupa. Melewati Ray seperti melewati patung batu. setelah kejadian tadi pagi. tapi jika dijumlah dengan buruh-buruh konstruksi lainnya.

Gadis itu tersenyum. gadis itu berjalan menuju rumah sakit.. Sial.Malam itu berlalu tanpa solusi. tangannya dibalut oleh gadis itu. c o m . memecahkan separuh bagiannya. Langsung melewati lorong-lorong. bertahan untuk tidak memaling- kan wajah. Tangan Ray justru mencengkeram ujung-ujungnya yang tajam. Bagaimana menarik perhatiannya? Mendesis pelan. Seperti pertapa yang takjim menuju pertapaannya. Bagaimana menarik perhatiannya? Lima menit berlalu. Kali ini tidak membeli balon-balon.. 242 | R a t u . Meski jantungnya serasa mau lepas. b l o g s p o t . Ray sudah duduk di dalam bangsal.. Ray lagi-lagi 'tertikam' di depan pintu bangsal demi melihat tawa itu. Kembali menunggu di ujung jalan depan rumah sakit. Terluka. Satu anak yang sudah sembuh dan hari ini diizinkan pulang melompat memeluk dari atas ranjang. Dia bisa melihat bedak tipis yang tak rata menutupi pipi sebelah kanan.. Jantungnya sungsang. Dan kalimat itu menjadi mantera. Mencium aroma tubuhnya. Ray kebat-kebit menatap wajahnya dari dekat.. Gadis itu tertawa. Tanpa merasa perlu menoleh walau sesenti. Gadis itu lagi-lagi lewat begitu saja. Nafasnya sesak. Anak-anak berseru riang menyambut.b u k u . Kemarin tersenggol kereta dorong. Mengaduh. Ray yang terpesona tidak menyadari tangan kanannya terjulur menyentuh sisa potongan kaca di pintu bangsal yang pecah dan belum sempat dilepas. Tetapi esoknya Ray memutuskan untuk kembali. Di kelilingi anak-anak. Menuju bangsal anak-anak. Ray bagai bebek 'tersuruk-suruk' ikut.

Jo menghindar. tak layak berharap banyak. tertawa semakin lebar.. Gadis itu sedikit pun tidak mempedulikannya. seperti senyap di hatinya.. Tidak. Baiklah. Perasaan ini hanya merusak rutinitas. Menatap telapak tangannya yang terbebat. celaka kalau sampai kena. Tapi awan kelabu menutup separuh bintang-gemintang. Sama seperti kemarin- ®LoveReads “Bagaimana Mas Rae? Sukses?” Jo bertanya sambil tertawa. Sempurna tertuju ke telapak tangan Ray. Lantas satu jam kemudian melangkah keluar bangsal. Semua perasaan ini seharusnya dari dulu memang dilupakan saja.b u k u . Sebagai jawaban Ray melempar potongan bata. kembali bercanda dengan anak-anak... Membiarkan Ray duduk sendirian di salah satu ranjang. Pergi.Tetapi gadis itu sepanjang membalut tangannya sedikit pun tidak pernah membalas tatapannya. Ah-apalah yang diharapkannya dalam urusan ini? Lihatlah dirinya? Siapa pula dia? Gadis itu terlalu cantik baginya.. Ray mengusap rambut. b l o g s p o t .Ray tepekur menatap pelabuhan kota dari kejauhan. Nihil. Sempurna tertolak? Ray menelan ludah. Tanpa sedikit pun merasa perlu menoleh. Sudah dua hari dia tidak terlalu 243 | R a t u . Orang-orang seperti dirinya.. c o m .. Ray mangkel sekali. Membuat senyap malam. Selesai. Mengikatkan ujung-ujung perban itu. Dia akan melupakannya. Rembulan gompal bersinar terang di langit. Sempurna diam.

Besoknya lagi. Mereka mulai mengerjakan bagian dalam. Nyengir sendiri. Lapangan bola! Menjelang malam selepas bekerja.. Sisa jaring itu mereka gunakan untuk melingkari tepi-tepi lantai 18. dinding-dinding gedung ditutup. “Kasihan. Maka besok Ray memutuskan melupakan gadis itu. Teropong itu disimpan. b l o g s p o t ...b u k u . buruh-buruh itu bermain bola. Jo! orang-orang patah hati tuh biasanya sensitif. Lagipula setiap malam Ray dan pekerja konstruksi punya kesenangan baru. mandor di- tolak. material jatuh sembarangan. Melepas penat. Hari-hari bermain bola berlalu. Riang. Nanti kau dipecat!” Ray hanya menyeringai. Untuk men- cegah. Perasaan ini merusak kesenangannya.. Hanya sibuk menggurat wajah gadis itu di langit- langit konstruksi gedung. Seluruh gedung sudah ditutup jaring-jaring. Setelah diberi penghalang. Dan seterusnya.. Ray yang punya ide.semangat bekerja. Malah belakangan tega membenak dalam hati: “Gadis itu sombong amat! Buat apa pula dia repot-repot mengingatnya. euy!” “Jangan diganggu. teringat masa-masa itu.” 244 | R a t u . Satu-dua masih tertawa berkomentar. Ray berusaha melupakan gadis itu. Tersenyum sendiri. hamparan lantai 18 jadi tempat yang nyaman bermain. Gurauan buruh-buruh konstruksi bangunan lewat beberapa hari mulai mereda. dengan penerangan lampu seribu watt di atas gedung konstruksi. Memberikan harapan-harapan kosong. Besoknya lagi. c o m .

Musim kemarau. Menurunkannya di tengah-tengah pusat hiburan malam. Pukul 23.30. Menggigit ujung- ujung bantal. hanya ada satu pilihan kembali ke lokasi konstruksi. Pertemuan yang melelahkan. Insinyur itu beda arah pulang. Tidak ada lagi angkutan umum. Besok pagi-pagi. dan Ray mendapatkan paling banyak pe-er tambahan. setelah membenak itu Ray nyengir sendiri. Belakangan insinyur bangunan lebih mempercayai Ray dibandingkan mandor lainnya. Udara malam menusuk kulit. pemicu berikutnya muncul. Ray berjalan pelan di tengah gemer lap lampu papan- nama hiburan. Ray merapatkan jaket. Menguap. Ini harga sebuah kemajuan. Tertawa-tawa. Tempat-tempat hiburan malam bermunculan. c o m . ini bukan urusan yang mudah dilupakan- Apalagi seminggu kemudian. Melangkah cepat. Ray menyeringai. Meski maju. Salah seorang insinyur berbaik hati mengantar hingga separuh perjalanan. Sudah terlalu banyak menerima kebaikan. sarana transportasi belum sehebat Ibukota. Berlomba menggoda pengunjung sebanyak mungkin. memaksa turun. tidak mempedulikan. Ray pulang dari evaluasi progress bulanan konstruksi gedung di kantor pusat perusahaan. tengah kota. Langit berawan. Ray sungkan diantar. Malam itu. Sudah larut. Tengah malam begini. Ada banyak poin evaluasi. Saat melintasi sudut-sudut yang lebih gelap. 245 | R a t u . Bertingkah aneh- Ah. b l o g s p o t . Angin laut bertiup kencang. ada banyak hal yang harus dikerjakan. Ray melihat satu-dua gadis (entahlah berapa) sedang disudutkan beberapa pemuda.b u k u .Sayang. Jalan kaki.

Sebagai jawabannya. “KEMBALIKAN!” Gadis yang tasnya berhasil diambil berteriak marah. Menguap. membela-diri menjadi insting alamiahnya. Ray merapatkan jaket. Maka saat kerumunan itu menatapnya sepele. “Halah.. Terakhir? Mungkin enam tahun silam. Tertawa-tawa. Meneruskan Langkah. c o m . Baginya bertahan- hidup.Salah satu gadis itu membentak. Semakin jahil.. Ray terpaksa menggebuki 246 | R a t u . Kerumunan itu semakin jahil. “K-e-m-b-a-l-i-k-a-n. kerumunan jahil mencolek tubuhnya. Tidak mungkin. Sudah lama Ray tidak berkelahi.. Salah-seorang pemuda itu berhasil menyambar tasnya. Gadis itu berteriak. berusaha menerobos kerumunan. Ray mendesis. Kerumunan itu tertawa-tawa lagi. b l o g s p o t . sok jual mahal!” Pemuda yang menyudutkannya tertawa. Tapi langkah Ray seketika terhenti saat sudut matanya mengenali gadis yang berteriak di remang-remang selasar pertokoan itu.” Ray mendesis tajam. “Kembalikan. tidak mempedulikan. Gadis yang tadi membentak sekarang berteriak. aku mohon!” Gadis itu berseru parau.. Bukan urusannya Dia dulu juga bekas anak-jalanan. Lari. Pemuda-pemuda parlente dengan teman-teman ceweknya. menyuruh pergi. malah ada yang keterlaluan meludah. menyeringai merendah- kan.b u k u . Tidak peduli. Lama. Pemuda-pemuda parlente itu menoleh. Jadi tahu persis apa masalah kerumunan itu. Tapi bukan berarti dia lupa caranya. Menyatu dalam aliran darah sejak dilahirkan.

Maksudnya apalagi kalau bukan: tenang. Setiba di lokasi konstruksi. Mungkin gadis itu takut melihatnya berkelahi. langit- langit kamar bedeng sempurna dipenuhi gurat mukanya. Bukankah Ilham dulu jerih? Bang Ape juga terkesiap? Tetapi apa pula keperluan gadis itu malam-malam di tempat ini? Ray membuang jauh prasangka buruknya.. Menghela nafas. Muka sendu waktu bertemu di gerbong kereta. Musnah sudah usahanya selama seminggu terakhir. seksi!' Ray tak segan meninju mukanya- Ray mengembalikan tas itu ke gadis yang dikenalinya. Mengambil tas buru-buru. Sisanya kabur terbirit-birit. Ray tersenyum sumringah. Salah seorang wanita teman pemuda-pemuda itu jahil menggoda. muka riang di bangsal anak-anak. “Hai. bukankah dia juga sedang berada di pusat hiburan malam. setelah berhari-hari tidak melihat mukanya dan tadi sempat bersitatap sejenak. muka misterius. Gadis itu berdiri kaku di bawah tiang lampu.. kan? Merapatkan jaket- ®LoveReads Kejadian barusan benar-benar membuat Ray tidak bisa melupakan gadis itu sepanjang sisa malam. b l o g s p o t . kau sudah aman. c o m . Tapi gadis itu hanya diam. Empat pemuda parlente itu benjut-benjut. ada aku. Sama sekali tidak menatapnya. Loh? Sama seperti yang lalu-lalu? Patung batu? Ray kecut meneruskan langkah..b u k u .. Ray mengusap dahi. muka yang tidak mempedulikannya. Bukan berarti dia seperti pemuda-pemuda iseng tadi. 247 | R a t u ..mereka satu-persatu. lantas berlari meninggalkannya.

Ray malah bergegas menuju jalanan depan rumah sakit... Dia bisa bertanya nama? Mengajak- nya berteman? Apa salahnya menjadi teman? Tidak lebih. Ide yang baik- Tiba di jalanan.b u k u . Tidak kurang. Ide 'hebat' itu muncul begitu saja di kepalanya. Gadis itu tengah asyik bercengkerama dengan anak-anak. kan? Sepotong hatinya yang lain membela-maju.. Ray bergegas melintasi halaman rumah sakit. yang pertama kali dipikirkannya 101 persen gadis itu. Warna-warni. Kaca? Menggigit bibir. Gadis itu mungkin sudah lewat. Membagikan balon-balon terbang.. Lupa sudah poin-poin evaluasi yang harus dikerjakannya segera. Merah-kuning- hijau-biru-putih-entah-lah. Dia harus bisa mengajaknya bicara. Berteman. Membuatnya tidak bisa berpikir. Ray berdiri membeku di depan pintu beberapa menit. Lorong-lorongnya. Benar.Malam itu.. Apa susahnya? Kaca pecah di pintu bangsal belum diganti. Mencengkeramkan telapak tangannya yang tidak 248 | R a t u . Sewarna-warni hati Ray saat melihat wajah cantik gadis itu tersenyum. Dan saat terbangun esok. Mungkin sudah di bangsal anak-anak. c o m . Nanti-nanti! Entah apa yang mendorongnya. Menelikungnya. Kalau dia tetap tidak peduli? Ah-setidaknya dia sudah berusaha. Apa perlunya dia menemuinya? Sepotong hatinya menyuruh mundur. b l o g s p o t . Ah-setidaknya dia bisa mengajaknya berbincang. bercengkerama riang bersama anak- anak. Ray tidak sempat berpikir panjang. Perasaan itu tak tertahan- kan. matahari sudah tinggi. Ray larut baru tertidur (sambil tersenyum). Ray tersenyum dengan pembelaan separuh hatinya.

Apa tadi yang ia tanya- kan? Ray menggigit bibir. bagaimana tidak.. untuk pertama kalinya dia mendengar gadis itu bicara. meski yang bicara tidak sedikit pun menatap wajahnya.. Di kelilingi anak-anak. Mencium aroma tubuhnya.terbalut perban ke ujung-ujung tajam kaca. Ray seperti terbang ke langit ke tujuh. Nafas Ray sesak.” Ray menelan ludah.. Lesung pipi-nya terlihat menggemaskan. Dia tersenyum untukku? - “Apakah hatimu sekarang tidak sedang di sini?” Gadis itu bertanya pelan. terkadang urusan ini membuat seorang pandir menjadi pujangga besar- Gadis itu tersenyum tipis. c o m . Apa susahnya mengajak bicara- “Kenapa kau sering sekali terluka di pintu yang sama?” Gadis itu justru membuka pembicaraan beberapa detik kemudian. Oh-Ibu. Tetap tidak meng- angkat wajahnya.Dia harus bisa mengajak- nya bicara. Jantung- nya sungsang. Ray sekali lagi kebat-kebit menatap wajahnya dari dekat. lucu dan imut. Dari mana coba dia dapat ide kalimat itu? Ya ampun.b u k u . Belakangan seringkali aku merasa tempatku di situ. Kali ini bedak di wajahnya sempurna rata.. Tidak kentara. Tapi Ray membeku melihatnya. tangannya dibalut gadis itu. Gigi-gigi kelincinya. Ray sudah duduk di dalam bangsal. Lima menit berlalu. Suara itu mer du.. tetapi hatiku tidak sedang di situ.. Eh.. 249 | R a t u . mengangkat bahu- “Eh. meneruskan membalut telapak tangan Ray. b l o g s p o t .. aku sering terluka di pintu yang sama ya? Eh....

. Sekarang dua telapak tangannya terbalut perban.b u k u . Gigi kelinci. b l o g s p o t . Tetap tidak sekali pun memandang wajah Ray. Membujuk lewat tatapan mata... “Dokter?” “Bukan-” Gadis itu tersenyum.. Anak-anak itu membalas menatap galak. ya?” Gadis itu menoleh.“Ergh. “Sebentar sayang. Bukan siapa-siapa! Menyenangkan bersama anak-anak. sudah selesai si ceroboh!” Gadis itu merapi- kan gunting dan sisa perban. Lihat giginya. ayolah. Gigi-giginya yang putih semakin terlihat. Menggunting ujung perban menjadi dua.. Merasa perhatian kakak-kakak yang sering mengunjungi mereka terambil oleh Ray. Yang satu sebenarnya sudah sembuh berhari-hari lalu. Mengikatkannya. jangan dulu diganggu. Ray melihat telapak tangannya yang terbalut perban. Ray buru-buru menarik wajahnya. Ray mengkerut. Seperti bisa mengerti maksud 'jahat' di kepala kakak-kakak yang selalu terluka ini. Berseru-seru minta diambilkan balon. Kalau sekarang hatiku sempurna sedang di sini. kakak balut luka kakak yang suka ceroboh ini dulu.” Anak-anak kecil yang mengerubungi melempar-lemparkan balon. Nah. Ray ikut tersenyum ke arah anak-anak (lebih mirip seringaian). tersenyum. tapi dia sengaja tidak melepasnya. berikan waktu beberapa menit. “Aku hanya suka berkunjung. c o m .. 250 | R a t u . “Apakah kau perawat?” “Bukan-” Gadis itu menggeleng. Cemburu..

Pulang terlalu larut. Mereka tiba-tiba saja mengganggu. pasti sudah pakai acara bawa-bawa setangkai mawar merah segala. “Membiarkan pekerja bersenang- 251 | R a t u . Tidak sempat berterima-kasih..Dia tidak 'tega' melepasnya. b l o g s p o t .Harusnya tadi malam aku bilang terima kasih sudah kau tolong-” Ray mengangguk. Pemilik gedung senang dengan ide Ray membuat lantai 18 menjadi lapangan bola sementara.. “Kau sering datang kemari?” “Setiap hari!” Ray menelan ludah.b u k u . ®LoveReads “Bagaimana Mas Rae? Sukses? Wuih! Kalau lihat senyum Mas Rae sekarang.. Aku terpaksa lewat di tempat itu. Bukan main. gadis ini sama sepertinya semalam di pusat hiburan itu.. Setiap hari? Kalau begitu dia juga bisa ber- kunjung setiap hari- “KAK FITRI! BALONNYA!” Anak-anak mendadak berteriak sebal... c o m . “Maaf.. Ternyata benar. hanya lewat.. Kedua karena mereka tengah menonton pertandingan bola. Pertama karena dia tidak sebel mendengar pertanyaan Jo (dan buruh-buruh lainnya). semalam aku lari.” “Ergh. Diam sejenak. Dua bulan terakhir. Tidak melemparinya dengan kulit pisang. pekerja bangunan membuat kompetisi antar lantai. Tidak ada lagi angkutan umum. ya?” Jo bertanya sambil tertawa.. Tidak masalah!” “Aku benar-benar takut. Ray tertawa lebar. Tersenyum lebih baik.

Hubungan mereka berkembang aneh sekali. Babak empat besar.b u k u . c o m . Ray dan Jo sedang duduk nonton di sudut lantai. Dan anak-anak. belakangan pemilik gedung menjanjikan hadiah. Rae tersenyum. Pemilik gedung sepakat- Jadilah selepas jam kerja. rajin menemaninya di bangsal anak-anak. 2-0. Gadis itu membiarkan Ray duduk menatap wajahnya. Karena tidak banyak percakapan. Dia sibuk jingkrak-jingkrak. Gol. tidak peduli meski Ray 'membujuk' mereka dengan hadiah-hadiah. Tim lantai-nya memimpin. Ray hanya bisa menyimpulkan gadis itu tentu amat menyukai anak-anak. Jo tidak melanjutkan menggoda Ray. Ray sejak hari itu. Gadis itu memang bukan perawat. 252 | R a t u . kompetisi itu digelar. meski hampir seluruh pekerja rumah sakit mengenali dan membiarkannya ber- kunjung menemani anak-anak selama satu jam setiap pagi. bertepuk-tang-an ikut memberikan applaus.” Itu pengiasan Ray dalam evaluasi progress. Tidak banyak percakapan antarmereka. Pertandingan berjalan seru. Pekerja-pekerja itu bertanding dua kali lebih semangat. b l o g s p o t . Sukses? Ray tidak tahu ukuran sukses-tidaknya sebuah hubungan. bukan juga dokter. sayangnya tidak terlalu suka Ray ada di sana. Dan jawabannya lebih banyak mengangguk atau menggeleng.senang secara proporsional membuat semangat kerja mereka membaik! Tidak ada yang bisa mengalahkan produktivitas pekerja yang semangat kerjanya tinggi. asyik bercengkerama dengan anak-anak. Gadis itu hanya menjawab kalau ditanya. Sebulan berlalu.

Mengiyakan. Gadis itu jarang sekali menatap wajah Ray. Sepanjang berjalan bersisian menuju rumahnya.” Gadis itu hanya mengangguk.251 batu bata. Gol tambahan bagi tim lantainya. Ray sekarang rajin menemaninya pulang dari rumah sakit selepas kunjungan. bajunya disembunyikan.b u k u ... “Aku bercita-cita ingin mem- bangun gedung tertinggi.569 kubik pasir yang digunakan untuk membangun gedung itu. Gadis itu tinggal sendiri di rumah besar. Jaraknya berbilang empat ratus meter dari rumah sakit. 48. 14..... karena Ray mengerti seluk-beluk konstruksi. yang saat dia pertama kali melakukannya benar-benar membuat Jo dan buruh lain tertawa bahak 253 | R a t u . Ray menceritakan ulah-ulah jahil pekerjanya “Mereka iseng banget. sempurna mereka tidak banyak bicara. Rumah yang baik.. c o m .Seminggu berlalu. Hubungan mereka berkembang aneh sekali. Sukses? Ray mengusap rambut. Diam. Jo pernah nggak bisa keluar dari kamar mandi selama dua jam!” Gadis itu hanya tersenyum tipis. Jo di sebelah lagi-lagi jingkrak-jingkrak. Tidak pernah keberatan ditemani pulang. Ray-lah yang sibuk bercerita tentang pekerjaannya... Ray menyampaikan mimpi-mimpinya. “Ada 149.. Pernah ada yang sedang enak-enaknya mandi di bedeng-bedeng. b l o g s p o t .. Ray tidak tahu apakah gadis itu menolaknya atau tidak? Gadis itu tidak pernah melarangnya menemani di bangsal anak-anak.” Gadis itu hanya mengangguk.521 sak semen. Apakah hubungan mereka selama ini sukses? Entahlah. Kasihan. 3-0...

Ray tidak tahu. Lima belas menit berlalu senyap. karir Ray terhenti di level wakil kepala mandor. Tetapi apakah gadis itu suka dengan perhatiannya.dari lantai 18. Dengan posisi barunya. mendendang kecewa. Hanya berubah jadwalnya.” 254 | R a t u . Hingga mereka tiba di rumah besar gadis itu. Seperti biasa beranjak pamit pulang.. Benar-benar tidak ada tanggapan. Pukul 19. Ray menggigit bibir. Sebulan lalu saat menceritakan promosinya. tapi tidak bisa lagi-” Ray menggantung kalimatnya. karena kepala mandor saudara pemilik gedung. b l o g s p o t . Gadis itu tidak pernah keberatan dengan pendekatan Ray. Meski insinyur-insinyur itu amat percaya padanya. Ray promosi lagi. “Aku ingin sekali menemanimu setiap pagi bersama anak-anak. Ray menelan ludah.b u k u . Mereka melihat dari kejauhan dengan teropong. usulan perbaikan. Melangkah gontai. Ray tidak bisa lagi menemani gadis itu di bangsal anak-anak. Gadis itu hanya diam.. Dia harus memimpin apel pagi dengan buruh-buruh. berharap gadis itu memberikan ide tentang pertemuan mereka. gadis itu hanya mengangguk.00. dia masih memiliki kebersamaannya dengan gadis itu. menghentikan langkah Ray: “Kau bisa datang ke rumah. Tapi Ray tidak berkecil hati. Dia tidak menjadi kepala mandor seperti yang diharapkan teman-temannya. Sebulan terakhir. Setiap malam Rabu dan malam Sabtu. dan sebagainya. Gadis itu mendadak berkata pelan. c o m . Hanya suara ketukan sepatu di aspal jalanan. Memecahkan masalah.00 hingga 21.

pulang sesuai jadwal Malam pertama berangkat dulu. Waktu dan tempat sempurna milik mereka. 255 | R a t u .b u k u . Sempurna itu. Apa yang harus dia lakukan? Mengajaknya bercakap? Aduh? Bukan- kah mereka tidak pernah berbincang? Bukankah percakapan paling panjang yang pernah terjadi di antara mereka saat dia terluka untuk kedua kalinya dulu? Malam itu Ray hanya menemani gadis itu membuat puding pisang di dapur.. Ray tertawa. Tapi meski sederhana. Jo dan buruh lain ramai berteriak macam melepas panglima pasukan berangkat perang. Memperbaiki pakaian keren yang baru dibeli. Dengan promosi terakhir. Dia bisa membeli seribu senar gitar sekarang. b l o g s p o t . Sukses? Hubungan mereka berkembang aneh sekali Sebulan terakhir Ray selalu memenuhi jadwal itu. Suara dengking oven yang bernyanyi. Tidak ada percakapan. Duduk di atas sofa seperti menduduki bara panas. Sungkan sekaligus gugup masuk ke ruang tamu. di mata Ray gadis itu terlihat bagai ratu-ratu dalam dongeng yang pernah diceritakan istri penjaga panti dulu.Ray bersorak senang (dalam hati). Gadis itu menyambutnya di pintu depan. Mengenakan pakaian rumah sehari-hari. Ray menelan ludah. c o m . Berbeda dengan di bangsal rumah sakit.. Datang sesuai jadwal. Hanya suara blender yang berbunyi. Dia sungguh gugup. Tidak lebih. Ray mempunyai keleluasaan uang yang tidak pernah dialaminya. Itulah jadwal pertemuan baru mereka. tidak ada anak-anak yang akan diajak bercengkerama gadis ini. Tidak kurang.

. puding pare busuk saja bakal dibilang Ray enak.. Apalagi pelukan. Sukses? Entahlah- Pertandingan bola sudah selesai... Tim lantai Jo sukses besar! 4-0! ®LoveReads 256 | R a t u . Tidak ada kata-kata perpisahan. Melihatnya membuat puding pisang. Hubungan mereka berkembang aneh sekali. Berdiam diri.b u k u .. bersama gadis itu di ruang depan mencicipi puding pisang. jangankan puding pusing manis. Setiap jadwal kunjungan tersebut. Ray pulang persis ketika jam ber- dentang sembilan kali.Lantas Ray sebelum beranjak pulang. Ah.. hanya itu yang dilakukannya. Tidak ada tatapan penuh makna.. Hanya itu percakapan mereka..” Ray tertawa lebar. “Enak?” Gadis itu bertanya pendek- “Enak banget. b l o g s p o t .. c o m . Selama sebulan terakhir.

Menyumpahi Jo dalam hati. Lihatlah. Ray menggigit bibir.. Mengangguk pelan. c o m . Tempat biasanya. Diam.b u k u . mempersilakan Ray masuk. Mengenakan baju terusan bermotif hijau selutut Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Puding pisang. Meletakkannya di tatakan.. “Apa?” Bertanya pendek. Melihat tangan Ray di balik- badannya. “Aku membawakan sesuatu untukmu!” Ray tersenyum sambil menatap berbinar-binar. Satu setengah jam berlalu. Jadwal kunjungan berikutnya. Ray duduk di kursi tinggi sudut dapur. mempersilakan Ray masuk. Ray masih berdiri di bawah bingkai pintu: Seperti menyembunyikan sesuatu. Menerima bunga itu dengan diam. b l o g s p o t . Gadis itu bekerja pelan.Bab 15 Aku Mencintaimu Apa Adanya MALAM berikutnya. Gadis itu menatap Ray yang bersemu merah sekilas. Gadis itu hanya menatap datar. Menyibak badannya. Gadis itu meneruskan pekerjaannya. Tidak ada seruan riang. Tidak ada ekspresi sedikit pun. Ray menjulurkan setangkai bunga mawar. Sementara Ray takjim menatap. gara-gara menurut kalimat Jo waktu pertandingan bola malam lalu dia jadi malu.. Mengirisnya ke dalam dua 257 | R a t u . Apalagi pelukan terima kasih. Gadis itu seperti biasa membukakan pintu setelah Ray tiga kali menekan bel. Gadis itu mengangkat puding pisang yang telah matang. Asyik dengan masakannya. Gadis itu terlihat cantik.

Membawanya ke ruang depan. tapi. Maukah kau ikut ke tempat yang baik untuk melihat semuanya.. Eh.. Senyap.. Eh. Kalau ia menolak ? Setidaknya dia sudah pernah mengajaknya... Malam ini juga rembulan bersinar terang.... Dahinya sedikit terlipat- “Maksudku. Apa salahnya? Sudah lama dia merencanakannya. Gadis itu mengangkat mukanya..b u k u . Gadis itu menatap datar. Dia harus mencoba. seharusnya per- cakapan ini tidak sulit. b l o g s p o t ...porsi piring kecil. 258 | R a t u .. Ray menghela nafas.... Masih sama lezatnya seperti pertama kali dia mencicipinya dua bulan lalu. Mengusap rambut panjangnya (yang sebelum berangkat disisir rapi sepuluh kali).. ter- senyum.. Ray menyendok puding pisang di tangannya. Hanya sebentar. Jam berdentang sembilan kali..” Ray mencoba tersenyum. Dia sudah mengatakan- nya. Ada tempat yang ingin ku-tunjukkan!” Ray menunduk saat mengatakan kalimat itu. Tinggal menunggu jawabannya... Nanti aku antar pulang!” Ray menggigit bibir. bisik separuh hati Ray. Gadis itu hanya diam. malam ini kota sedang berpesta... Gadis itu meletakkan piringnya yang kosong.. c o m . Setengah jam. kau tahu itu. Gugup. Berdehem.. Ray meremas jemarinya. Menunggu menit-menit jadwal kunjungan berlalu. Ray menelan ludah.. Ray melangkah mengikuti. Bersitatap sejenak- “Ergh. bukan? “Maukah kau ikut sebentar bersama- ku. Aku tahu.... aku tahu satu menit tiga puluh detik lagi aku harus pulang. Diam..

“Baiklah. Kecewa. kan?” Gadis itu mendadak berbicara.” Ray tersenyum. Aku harus pulang-” Ray berdiri pelan. Entah apa yang dirasakan gadis itu. Terlihat semakin cantik. Mimpi-mimpi yang indah..b u k u .. Sesuatu yang semakin hari semakin mem-buncahkan harapannya. Gadis itu sudah mengenakan syal putih di leher. Jatuh gedebuk di atas karpet.. Oh Ibu? “Hanya setengah jam! Janji!” Ray mengangguk kencang-kencang. Menepuk-nepuk pahanya yang sakit. Ray yang sudah berdiri di depan pintu menoleh. Ray mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Ray seketika lupa rasa sakitnya. Ray nyengir lebar. Bintang-gemintang tumpah memesona. Malam ini puncak peringatan hari jadi kota yang ke-500. Inilah rencana Ray! Mengajak gadis itu haik ke lantai 18 konstruksi gedung. Aduh. Lampu-lampu hias memadati penjuru kota.. Gadis itu keluar dari kamarnya persis saat Ray jatuh. Sudah waktunya.. Ia mau! Gadis itu tidak menolak.“Tidak apa-apa kalau kau enggan. Ray melompat bak pekerjanya yang baru memasukkan gol ke gawang lawan. b l o g s p o t .. Mereka tiba di lokasi konstruksi gedung lima menit kemudian.. kakinya tersandung. Melewati jalanan yang terang-benderang. Diam sepanjang perjalanan. Gadis itu menurut. Mereka melangkah bersisian keluar dari halaman rumah. Tapi Ray bisa merasa-kan sesuatu di hatinya. Padahal dia sudah merencanakannya jauh-jauh hari. “Tunggu sebentar-” Gadis itu melangkah masuk ke dalam. Mungkin dia harus menunggu lebih lama lagi- “Tidak lama. Baiklah. Malam ini juga rembulan bersinar elok di angkasa. Ray membimbing 259 | R a t u . c o m .

tersenyum. delapan.. Lilin-lilin yang diletakkan di batang bambu. YA!” SYYUUIIIT! B-U-M! SYYUUIIIIT! B-U-M! B-U-M! Pesta kembang api perayaan hari jadi ke-500 kota dimulai. Gadis itu sempat tersandung kecil di lantai dua. “Empat. Menggenggam lengan Ray. Digantungkan di tiang gawang.. Oh-Ibu! Inilah rencana Ray. “Sebentar. Tapi ratusan lilin. “Sepuluh.. Tersenyum menatap gadis yang duduk di sebelahnya. Ragu-ragu saat melakukannya pertama kali. Gadis itu menurut. dua. Tunggu. Ray menelan ludah. Gadis itu tertegun.. Rencana yang sempurna. Ray setelah menelan ludah.” Ray yang masih berdiri menghitung mundur. c o m . Menyilahkan gadis itu duduk.. Sepuluh detik lagi persis pukul 21.!” Ray mengambil jam gantung di saku celana- nya. Mereka tiba tepat waktu. gemetar menawarkan tangannya menjadi pegangan. lilin-lilin yang diletakkan di lantai. Tidak semua lantai diberi penerangan. Merasakan jemari-jema rinya yang halus dan lembut. Memesona.. Hati Ray sungsang berlipat-lipat.. b l o g s p o t .. Ray membimbing tangannya menuju tubir gedung Di situ dia me- letakkan dua buah kursi kayu.. satu. Makanya terlihat remang. sembilan.b u k u .15. 260 | R a t u . bukan hamparan lantai yang biasa buruh-buruh gunakan sebagai lapangan bola yang ditemukan... tiga.. bukan!” Gadis itu mengangguk lemah. Gadis itu menatap Ray tidak mengerti. “Indah.gadis itu menaiki anak tangga. Saat gadis itu tiba di lantai 18.. Sempurna.

b u k u . Berputar-putar... Rembulan bundar dan bintang-gemintang menjadi latar pertunjukan. Baiklah! Ray menelan ludah. Selusin kembang api melesat lagi. “Indah bukan?” Ray berkata pelan. Tak ada yang bisa diingatnya. Tiang-dang kapal kargo raksasa terlihat berkilatan. Wajah misterius itu hanya menatapnya datar selama ini. Tidak. kosong. Tersenyum. Tak kuasa bersitatap dengan wajahnya. b l o g s p o t . Padahal dia sudah berusaha 261 | R a t u ..Persis di hadapan mereka. Sebelum meledak menjadi ratusan bola api kecil-kecil di angkasa. Lima kembang api raksasa serentak melesat ke angkasa. Layar-layar perahu nelayan terlihat dari kejauhan. Di atas pelabuhan kota. Sempurna! Ray duduk di kursi sebelah gadis itu. Gadis itu kembali menolehkan kepala menyaksikan pe- mandangan hebat di kejauhan. Mengangguk. ini pertama kalinya gadis itu tersenyum begitu riang saat bersamanya. berkutat dengan kalimat-kalimat berikut yang ingin dikatakannya. Berpilin. Per- tunjukan kembang api terus berlangsung. Ia sibuk menatap pe- mandangan mempesona di hadapan mereka. Gadis itu tersenyum amat manisnya. Membentuk tarian cahaya yang indah-mempesona. Gadis itu menoleh. Lupakan soal kalimat-kalimat itu. Membuat terang-benderang. Sudah musnah. c o m . kecuali bersama anak-anak di bangsal rumah sakit. Ray terdiam. yang kemudian meledak lagi. Tatapan gadis itu baru saja membunuh semua kalimat yang direncanakan- nya. Berdebum. Tapi bagi Ray itu sudah cukup. ia tidak menatap Ray. Ray menggigit bibir. Per- tunjukan yang hebat.

menghafalnya selama berhari-hari.. Pesta di pelabuhan terus berlanjut hingga menjelang pagi. gadis itu beranjak pulang.. Kemudian pelan kembali menolehkan wajahnya ke depan.. Ray berdehem. Memandang kembali pertunjukan kembang api yang semakin spektakuler.. mengusap rambutnya. Pesta kembang api usai. Tanpa ekspresi apapun. Biarlah ekspresi mukanya yang entah seperti apa mengatakan semua perasaan itu. c o m . Ray tertunduk dalam.. Setiap kali pulang dan tempatmu.. Wajahnya kebas.. “Kunjungan malam seperti barusan amat menye- nangkan bagiku. Datar.” Ray tersenyum. Gadis itu menunggu. Baiklah. Menuliskannya di kertas.... Menyisakan kemeriahan di pelabuhan.. Pukul 21..” Ray kehilangan kata-kata... Eh. Terdiam.... Baiklah! Dia akan membiarkan hatinya yang menuntun.” Ray menggigit bibir. Tanpa bilang apapun.45... Aduh. Suara dentuman kembang api di kejauhan terdengar... “Kau tahu. Sayang.. 262 | R a t u ..Lama sekali gadis itu menatap wajah Ray. Hatinya mendendang resah.. Dia kan belum mengatakan kalimat pamungkas- nya. Ray berusaha senormal mungkin membimbing gadis itu menuruni anak tangga. “Kau tahu. Setidaknya dia sudah mengatakannya. b l o g s p o t . Waktu seolah-olah terhenti.. aku senang sekali setiap bertemu denganmu.b u k u . pesta di atas lantai 18 itu sudah usai sejak lima belas menit yang lalu. Matanya membeku bersitatap dengannya. Gadis itu menoleh lagi. perasaanku jauh lebih senang dibandingkan saat berangkatnya.

b l o g s p o t . juga dilangsungkan final kompetisi bola antar lantai... Sepanjang hari dia sibuk menyiapkan rencana topping (peletakkan atap gedung) enam bulan lagi. Ray memastikan pekerjaan buruhnya lebih cepat seminggu dari jadwal yang diberikan. Sejauh ini semuanya oke. Pulang ke lokasi konstruksi. Dia akan mengembalikannya nanti malam. gadis itu riang menyambar setangkai bunga mawar di atas meja. Pemilik gedung 263 | R a t u . Saat tubuh Ray hilang di kelokan. Bertemu dengan rombongan insinyur.. Mengundang perhatian orang yang berlalu-lalang di jalanan.Apakah dia menolakku? Apakah dia menerimaku? Ray melangkah gontai keluar dari halaman rumah gadis itu. gadis itu mengintip dari sela- sela tirai jendela melepas kepergiannya.. Detail persiapan teknis. Entah apa yang sedang dipikirkan Ray dan gadis itu. Pertandingan yang seru. tapi syal itu benar-benar tertinggal. gumam Ray riang. Sementara tanpa sepengetahuan Ray. hadiah Ray tadi sore... Lantai 18 ramai oleh teriakan. Sore itu. Ditemukan Ray pagi-pagi saat membereskan gumpalan lilin-lilin. Membentangkan denah-denah. Malam itu ia tidur dengan setangkai bunga di pelukannya- ®LoveReads Celaka! Esok paginya hubungan mereka benar-benar berkembang aneh sekali. Malam ini dia akan tidur dengan hati sendu. Syal gadis itu semalam tertinggal di atas kursi kayu lantai 18.b u k u . c o m .

Menekannya untuk yang ke empat kali.b u k u . Ray nyengir. b l o g s p o t .. Melambaikan tangan. Ya. “Pergi sebentar-” Ray menjawab pendek.. buru-buru memperbaiki penampilan. mereka semua bergembira. Menang-kalah. Melangkah keluar lokasi kontraksi. Malam ini ada pesta kambing guling di halaman gedung.. Celaka! Ray justru sedang menyambut kenyataan menyakitkan itu. “Siapa pula yang mau pesta dengan kalian kalau ada gadis cantik yang menunggu. Tersenyum penuh maksud. c o m . Benar- benar menyesakkan. Tetap tidak terdengar suara mendekat dari ruang depan... Tim lantai Jo menang adu-penalti.” Ray menggeleng. Memberikan kata sambutan. Mesti keren. Ray menekan bel depan ramah besar itu. Tiga kali! Tak ada yang membuka. Bersenandung.. “Pak Mandor mau kemana?” Salah seorang pekerja menegur Ray yang bersiap-siap dengan pakaian rapi. nggak ikut acara anak-anak malam ini. Ini bukan jadwal kunjungannya. Ray bergumam. Tidak kurang. Memberikan hadiah. Kecewa. Apakah gadis itu tidak ada? Membenak. bukan? 264 | R a t u . Dia sudah hendak melangkah pulang saat akhirnya terdengar langkah kaki pelan mendekat. “Wah. Dia hanya ingin mengantarkan syal itu. Kegembiraan melingkupi seluruh areal konstruksi. Melewati jalan- jalan terang kota.menyempatkan datang. Mematut di depan cermin. Tidak lebih. Ray ikut tertawa. Dalam sekejap hubungan mereka berputar haluan 180 derajat. nggak Mas Rae!”Jo berseru sambil tertawa.

Gadis itu gemetar menerima syal. Khawatir oleh sebuah duga di hati. “Sepertinya aku tidak salah jadwal. b l o g s p o t . Ada sesuatu yang berdengking di kepalanya demi melihat penampilan gadis itu. Hanya mengenakan daster tipis seadanya. Senyap. Mendadak waktu terasa berjalan lambat- Seorang lelaki setengah baya. hanya mengenakan celana pendek keluar dari kamar. Gadis itu berdiri di bingkai pintu. Kepala Ray sibuk menebak-nebak. Sama sekali tidak menduga Ray yang berdiri di depan pintu rumahnya. “Atau kau yang salah jadwal!” Mencoba mengerti apa yang sedang terjadi. Tercekat. c o m . Wajahnya kusut entah habis atau sedang melakukan apa. Ray gemetar memaksa kakinya tetap berdiri. kan?” Lelaki setengah baya itu tertawa melihat Ray. ®LoveReads 265 | R a t u . Buncah oleh ber- bagai pertanyaan.b u k u . Mendekat ke arah pintu depan. mengulurkan tangannya yang menggenggam syal putih. Gadis itu lebih tercekat lagi. “Siapa sayang?” Terdengar suara berat dari dalam..Pintu terbuka. Ray tidak sempat memperhatikan bagaimana ekspresi muka gadis itu di hadapannya. Rambutnya berantakan. “Kau-Kenapa kau datang malam ini?” Ray menelan ludah.Ray menelan ludah.. Meninggalkan Ray dan lelaki setengah baya itu saling bertatapan. Gadis itu sudah tersuruk lari masuk ke dalam rumah. Buru-buru hendak menutup pintu. Hati Ray mendadak tidak enak. Amat gemetar.

Ray tersungkur di palang besi yang terjulur dua meter dari tubir lantai 18. Angin menderu-deru kencang.. Orang- orang memilih meringkuk di sofa.Hujan turun deras. gadis itu datang menemuinya. Tetapi Ray sudah berlari menjauh. Tidak ada yang mau berada di luar dalam cuaca seburuk ini. Tapi Ray tidak. Menjelaskan kejadian di pusat hiburan malam itu. Tapi bagaimana mungkin gadis itu? Bukankah dia terlihat baik? Terlihat seperti wanita baik-baik? Bukankah dia setiap pagi malah berkunjung ke bangsal anak-anak di rumah sakit. Petir menyambar menyilaukan mata. Ray tergugu semakin dalam. Dia bahkan berpikir akan berterima-kasih sekali kalau petir mau menyambarnya. Gadis itu menangis. Pekerjanya sibuk menggoda Ray. Amat deras. Ray membutuhkan semua cuaca buruk ini. c o m .. Geledek menggelegar men- ciutkan nyali. Ray meratapi kenyataan yang harus di- terimanya.b u k u .. Tidak mungkin. Tadi siang.. Dia tidak butuh penjelasan. Tidak! Apa yang dilihatnya semalam menjelaskan semuanya... Badai malah. tempat tidur dan kamar-kamar yang hangat bersama keluarga masing-masing. Apalagi yang harus didengarnya? Semuanya sudah sejelas ayam putih terbang tinggi di bawah terik matahari. Membuat satu-dua pohon nyiur di pantai bertumbangan. Kota yang tidak ter- sentuh berkah langit selama dua bulan digantang hujan tak terperikan. Meninggalkan gadis itu beurai air- mata. b l o g s p o t .. Ray mengeluh dalam. Membuat terhenti pekerjaan konstruksi satu gedung. 266 | R a t u . Hendak membuka mulut menjelaskan sesuatu..

Semua ini menyakitkan. Hujan deras semakin buncah. Bukankah dia amat mencintai gadis itu? Bukankah kebersamaan mereka selama ini menyenangkan baginya. Untuk pertama kalinya. Gemetar kakinya 267 | R a t u . Ray masih tersungkur. Gadis itu hendak memanggil.b u k u . Petir menyambar membuat terang kota sekali lagi. Muka menggentarkan itu membuat Jo membeku. TERNYATA wajah yang menyimpan dusta! Dusta menjijikkan. Badannya sekuyup hatinya. Seaneh apapun pola hubungan mereka. Kakinya tidak bisa me- langkah lebih dekat. Memberikan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya. Wajah misterius itu.. Petir menyambar. Tetapi tangisan tak terdengar itu amat memilukan. Dan Ray sudah dari tadi malam menangis. Wajah bercengkerama dengan anak- anak di bangsal rumah sakit. Entah apa yang membuatnya me- noleh. Menatap wajahnya yang memasak puding pisang. Ray merasakan indahnya perasaan mencintai seorang gadis. yang tidak mengerti muasal masalah membujuknya agar turun. Semua kenyataan ini amat menyakitkan. Ray malah membentaknya. Kuyup.. b l o g s p o t . Jo ketakutan beranjak turun saat tetes air hujan pertama jatuh menghujam atap gedung. Petir menyambar terang sekali lagi. Sejak lima belas menit lalu. Buat apa ia datang? Untuk menambah luka itu? Gadis itu tertunduk. Seseorang sambil terisak berdiri di belakang Ray. Matanya memang tidak basah. c o m . Berdarah? Dia tidak peduli. Ray menggigit bibir. Ray menoleh.Jo sore tadi. Gadis itu akhirnya memutuskan melangkah. Tetapi mulutnya kelu. Melihat gadis itu berdiri di belakangnya.

. wanita simpanan yang menjijikkan.. Tidak mungkin. Aku tidak pernah mengatakan apapun. kalau kau tahu siapa aku se- sungguhnya.. c o m . Gadis itu berdiri. “Aku wanita simpanan. Ray berdiri... b l o g s p o t . Ray buru-buru berdiri... Menarik lemah lengannya. basah oleh air matanya.. Mereka terjatuh di tubir lantai 18. kau akan membenciku. Menyambar tubuh gadis itu sebelum nekad mendekatinya..... Ya.. Badan itu terlalu ringkih. Terlalu gemetar.. Ray menarik gadis itu. Tidak pernah... Petir menyambar... Jadi bagaimana mungkin aku berharap ada seorang lelaki yang benar-benar men- 268 | R a t u .b u k u ..” Gadis itu mengusap matanya yang basah.. menggigit bibir.. Duduk terjengkang.. Angin membuat salah satu gawang bola terpental. “TUNGGU!” Berteriak parau-sisa menangis sepanjang hari. Ray masih diam. “Tetapi aku tidak pernah menjanji- kan apapun kepadamu.. Langkah Ray terhenti.” gadis itu serak berseru..mencoba berjalan di atas palang baja.. PERGI! Buat apa gadis ini datang ke sini? Dia hendak pergi meninggalkannya seperti yang dilakukannya tadi siang... Amat membenciku. memuaskan nafsu bejat lelaki.. TIDAK PERNAH. Membelakangi gadis itu. Karena aku menyadari.” Gadis itu terisak..Buruk! Buruk sekali.... “Aku tidak pernah punya janji kehidupan yang baik.. Tertunduk dalam. Basah oleh air hujan. Aku tidak mengiyakan semua harapan- harapan itu. “Inilah kehidupanku.

. Tawa yang memilukan. Kenapa kita harus bertemu lagi di rumah sakit itu.... Sejak kecil. malam itu. Seseorang yang terlihat perhatian. S-e-p-u-l- u-h.. Busuk. Aku lahir yatim-piatu. b l o g s p o t . Berharap kau menyerah setelah berbagai perlakuanku.... Malam-malam ternistakan... Ya Tuhan... kenapa kita harus bertemu di gerbong itu... Semua lelaki setiap melihatku selalu berharap bisa memuaskan nafsu mereka. Tetapi kau tidak pernah menyerah..” Gadis itu tergugu- “Berbulan-bulan aku ketakutan..... Kenapa?” Gadis itu terduduk..... berharap kau tidak pernah datang.. Menatap lemah gadis di hadapannya yang se- karang tersungkur.. Lelaki bejat itu mengancamku dengan pisau dapur.cintaiku apa adanya.. Aku sejak awal ingin mengusirmu jauh-jauh..b u k u .... Malam itu dia memperkosaku! Umurku baru sepuluh tahun... Kau tidak pernah. Apa maksud semua penjelasan ini? Apa maksud- 269 | R a t u . Enam bulan.. Beruntung?” Gadis itu tertawa di tengah tangisnya. “BERUNTUNG? Ya Tuhan.. c o m ... apakah takdir itu keberuntungan bagiku? Seseorang yang kupanggil ayah di keluarga itu. beruntung ada keluarga yang mengambilku. Kotor. amat manis memperlakukanku seperti anaknya sendiri... Malam-malam terhinaka. Ray menelan ludah.. dibesarkan di panti asuhan yang buruk.. Aku sejak kecil sudah hina... membelikan boneka-boneka. Bersumpah akan mengiris leherku kalau bercerita ke orang lain. Membalik badannya- “Kau tahu.Saat umurku sembilan tahun.. Enam bulan lamanya aku jadi budak nafsunya.. Aku sama sekali tidak layak berharap seseorang akan mencintaiku. Hingga istrinya menangkap basah kelakuannya!” Ray menelan ludah....

Menjadi pelacur. Menuduhku yang malah menggoda dermawan penyumbang panti itu.... Dan semuanya semakin buruk.... aku sudah berada di rumah sakit. Umurku tiga belas saat mereka memperkosaku beramai- ramai.... Tidak ada yang bisa kulakukan? Aku menjadi anak jalanan... Kepala Ray buncah- “Saat siuman. c o m . “Aku kembali ke panti asuhan itu.. di bawah jembatan kota.. Dengan uang yang banyak. Umur- ku dua belas. Meninggalkan tubuh telanjangku. Tangannya hendak merengkuh. Umurku baru sepuluh..... agar aku bisa me- ngembalikan biaya rumah sakit. lebam. Ternistakan. Ibu-ibu itu benar. Ibu-ibu yang aku pikir akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik.. bagaimana mungkin aku melakukannya? Tak tahan dengan perlakuan penjaga panti aku memutuskan pergi..b u k u .” Gadis itu terisak. Tidak ada yang melindungi- ku.. Menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangan........ b l o g s p o t . kotor... Urung.nya? Ray menggigit bibir.. karena setiap kali aku bilang aku berhutang budi padanya ia menjawab aku bisa membalasnya setelah pulih nanti.. ia akan memberikan pekerjaan dengan uang banyak. Setiap hari penjaga panti mengungkit-ungkit kenyataan itu.” Gadis itu mendadak 270 | R a t u . Ibu-ibu yang terlihat baik. Anak-jalanan lain yang lebih besar seperti mendapatkan mangsa empuk.. tetes air hujan menghujam deras.” Gadis itu tertawa getir di tengah tangisnya... Apa pula yang sedang dipikirkannya? Merasa kasihan? Ray meng- usap wajahnya. Seorang ibu setengah baya berbaik hati membayar seluruh biaya rumah sakit. Kembali dengan membawa aib. “Ia memberikan aku pekerjaan.......

. Semua harta yang kumiliki... Karena kau akan membenciku kalau kau tahu siapa aku sesungguhnya.. Maka aku memutuskan untuk sepenuh hari melakukannya... dan aku benar-benar menjadi wanita kotor. Badannya gemetar menahan tangisan yang mengeras. pengusaha. Berharap men- dapatkan uang secepat mungkin untuk menebus biaya rumah sakit itu..... 271 | R a t u . Melupakan mimpi-mimpi indah yang mulai hadir dalam tidurku... Aku bahkan lelah membujuk hatiku agar melupakan janji-janji yang kau berikan..b u k u .. siapa saja sepanjang mereka bisa membayar tarifku. “Umurku lima belas. Menjadi p-e-l-a-c-u-r. Semua ini amat menyedih- kan... Menjadi wanita simpanan pejabat..” Ray duduk.. aku sepenuh hati melakukannya.. c o m ..tergugu mengatakan kata terakhirnya. Tidak tahan lagi mendengarnya... Rumah besar itu.. Lepas empat tahun menjadi anak-asuh ibu-ibu itu.. “Ya. Semua ini menyedihkan... Memutuskan merengkuh bahu gadis itu.. “Tetapi itu tidak pernah menjadi kenyataan. pindah ke pelukan lelaki yang lain... Lebih mentereng dibandingkan pelacur jalanan.... Menjadi pemuas nafsu terkutuk mereka.... Aku tidak punya pilihan....... mendapatkan uang sebanyak mungkin sehingga bisa meninggalkan kehidupan menjijikkan itu. b l o g s p o t . Aku tidak meng- iyakan semua harapan-harapan itu. Semuanya menjijikkan.Aku tidak pernah mengatakan apapun. Lepas dari pelukan lelaki yang satu...... Kau dengar itu. Amat membenciku. aku justru menapak karir yang lebih hebat... “Aku tidak pernah menjanjikan apapun kepadamu..

saat lelaki itu menemuiku.. Gadis itu tergugu di bahu Ray. Aku memutuskan untuk berubah.b u k u . Kita bertemu di gerbong makan. “Kau menemuiku di bangsal Rumah Sakit. Dengan bercengkerama bersama mereka. “Hingga setahun silam. Tidak mempedulikan kau. Mulai mendendang mimpi.. Aku membenci jalan hidup- ku.. Aku rajin mendatangi bangsal anak-anak.. Kau menatapku.. c o m .” Gadis itu tergugu lagi.. Lelah sekali membujuk hatiku untuk melupakan janji-janji itu. Berusaha menenangkannya. Tetapi kau tidak pernah menyerah! Kau malah datang sesuai jadwal yang kuberikan... Dan kau datang. Ya Tuhan...... saat aku mendapatkan penjelasan tentang masa lalu menyakitkan itu. Ya. Amat lelah... b l o g s p o t . Dan aku terjebak oleh perasaan itu.. Aku tidak pernah meminta diperkosa. Apalagi memaksakan untuk tidak menoleh.. Diam. AKU TIDAK PERNAH MEMINTA!” Ray mendekap gadis itu. aku tidak pernah meminta dilahirkan yatim-piatu. Tatapan yang tidak pernah kudapatkan dari seorang lelaki. Membuang ingus.” Gadis itu sesak mengatur nafas. aku berharap bisa membujuk hatiku untuk melupakan semua hal. di rumah sakit.. Tapi aku tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari pekerjaan- ku. Tatapan yang menghargai... Lama..“Aku terperangkap dalam kehidupan itu... Semua ini mengungkungku.... Mulai merangkai harapan. aku tidak menginginkan kau datang di hari lain.. Ray mengusap rambutnya lembut- 272 | R a t u .... Wanita simpanan. Aku tidak pernah meminta dibesarkan di panti asuhan buruk itu.. tatapan yang.. Aku tidak pernah berhasil berubah....

. Guntur berdentum meningkahi semua keributan. kehidupan gadis ini buruk sekali.. c o m . Kau bahkan mengajakku ke atas gedung ini. Petir menyambar terang... Tersangkut di pembatas jaring-jaring. Badannya bergetar dalam dekapan Ray.” Ray menggigit bibir. Menatapku dengan janji-janji perasaan itu. b l o g s p o t ...“Kau selalu datang dengan wajah riang. Hujan deras terus membuncah kota. “Kau tidak layak mendapatkan cinta gadis kotor.. Hatinya meleleh mendengar semua penjelasan ini. Lihatlah. Tidak pernah. Hatinya mencair. Kau-” Gadis itu terisak.. Seburuk masa lalunya- “Apakah kau mencintaiku?” Ray berbisik di telinga gadis itu- Gadis itu bergetar mendengarnya. mengajakku bicara sambil menghabiskan puding pisang. “Tidak! Aku- lah yang tidak pantas mendapatkan cintamu. Masa lalunya teramat buruk. Gawang lapangan bola yang satunya lagi terpental oleh terpaan angin.” Dari ketinggian pesawat terbang. ®LoveReads 273 | R a t u . “Aku tidak pernah berharap ada lelaki yang mencintaiku apa ada- nya..b u k u . petir.. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. mengangkat wajahnya. di tengah-tengah ribuan cahaya lampu kota. Aku tidak tahu. Ray yang mendekap gadis itu di atas lantai 18.. Mendekap gadis itu semakin erat. Tidak pernah. Titik kecil yang merengkuh janji kehidupan berikutnya... guntur terlihat bagai titik kecil. menjijikkan sepertiku-” Ray menelan ludah. Memperlakukanku seperti puteri. di tengah- tengah hujan deras.

Hiasan lampion menggelantung di tiang-tiang bambu.Enam bulan berlalu. Ray banyak tersenyum. b l o g s p o t . Bagi istrinya.. Bersulang macam di pesta-pesta itu saja. Tenda besar terpasang. Meriah. Janji-janji masa depan yang 274 | R a t u . Rambutnya disanggul. c o m . Pekerja konstruksi gedung ramai bersorak macam menonton pertandingan bola. Ray menikah. Istrinya mendekap mesra. Seperti bangau di persawahan. Dan dia pembelajar yang baik. Antusiasme dan kesenangan! Lokasi konstruksi gedung dipenuhi janur kuning. Pernikahan itu menjadi proses perbaikan. Bersemu merah. Ber- keluarga. Gadis itu mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Hanya peresmian gedung 18 bulan kemudian yang mengalahkan kemeriahan itu. Ray mencintai istrinya. pernikahan itu lebih dari lembaran hidup baru. istrinya cantik sekali- Umurnya 27. Berderet-deret. Aduh. Hari ini.b u k u . Pekerjaannya di konstruksi bangunan mencukupi. Berbaris-baris. teramat malah. Halaman depan gedung dipadati kursi-kursi. Ray bersiap membuka lembaran baru hidupnya. Berseru-seru.. Ray bisa belajar dengan baik bagaimana membuat keluarga mereka menjadi keluarga yang me- nyenangkan. dia merasa dirinya sungguh lelaki paling bahagia di dunia. Istrinya juga amat mencintainya. Maksudnya. Ketika Ray duduk bersisian dengan- nya di pelaminan. Gaya. Dia memenuhi semua syarat untuk membina keluarga yang baik. Menggamit lengan istrinya. Menu istimewa pesta pernikahan mereka: Puding Pisang. Memesona. Disematkan setangkai bunga anggrek putih. Menikahi gadis itu.

beberapa malam setelah mereka menghuni rumah baru tepi pantai. Hanya ada dua orang yang mengetahui persis kejadian di lantai 60 itu. Tersenyum.. mereka mengontrak rumah kecil di dekat pantai. Ray ikut tersenyum. bukan!” 275 | R a t u . “Toh. Setiap pagi Ray dan istrinya bisa berdiri di teras rumah. Tidak ada penyesalan.. Melupakan masa lalu yang menyakitkan. sayang. Memeluk mesra istrinya. b l o g s p o t . Pindah. Mereka sepakat menjual rumah besar itu. “Seharusnya aku menemui Plee untuk terakhir kalinya-” Ray meng- usap wajahnya.lebih baik. berpelukan. “Tidak. Termasuk masa-masa gelap Ray sendiri... Membisikkan kalimat-kalimat mesra. Bukankah kau mengatakan kalimat itu kepadaku berbulan-bulan lalu. Mereka berdua duduk bersisian di atas kursi rotan panjang. Mereka ber- sitatap lama. Satu orang sedang tersenyum lembut memeluknya saat pertama kali mendengar cerita itu.” Istrinya menatap hangat wajah Ray. c o m .. menatap matahari terbit yang indah. Tempat baru yang menyenangkan. kejadian itu semakin membuktikan kalau kau memang si ceroboh. Penghargaan yang selalu dirindu-kannya selama ini. Semuanya sudah tertinggal jauh di belakang. Angin malam berdup pelan. Untuk pertama kali ia mendapatkan penghargaan yang utuh dari lelaki. Dengan uang tabungan Ray setahun terakhir.b u k u . Masa lalu itu sudah berlalu. Benar. Menatap lautan yang 'bernyanyi.' Ombak berdebur pelan memecah pantai. Melupakan masa- masa gelap. Satu orang sudah meninggal di tiang gantungan. Lampu-lampu dari perahu nelayan terlihat bagai kunang-kunang.

kecuali ada keperluan penting. yang!” Ray tidak lagi harus berangkat pagi-pagi ke lokasi konstruksi. Anak-anak di sekitar rumah menyukai keluarga baru itu. Dalam 276 | R a t u . Apalagi setelah tinggal se-atap berdua. menggoda. Bagaimana tidak. Tidak juga pulang malam-malam. “Dasar gigi kelinci!” Istrinya berusaha melepaskan diri.b u k u . Aku di sini tapi pikirkanku di tempat lain... Kebersamaan itu sungguh menyenangkan.. Saling bergurau. Bisnis kue-kue itu dimulai. Ray memasang plang bertuliskan: Puding Pisang Gigi Kelinci. Pandai sekali menyiapkan berbagai bentuk kue- kue yang lucu dan lezat. Juga orang- tua-nya.. “Apa kau bilang?” Ray menyeringai. b l o g s p o t . Tertawa-tawa. c o m . Enam bulan berlalu dari pernikahan itu.” Istrinya tertawa semakin lebar. Ray memanggil istrinya: si gigi kelinci. Mereka keluarga muda yang bahagia. Hubungan mereka tidak pernah lagi berkembang aneh. sejak kejadian di lantai 18 konstruksi gedung itu. Sedangkan istrinya memanggil Ray: si ceroboh. Bercengkerama. “Kau bisa mengajak tetangga lain. Ray mendapatkan promosi penting- nya. Bertetangga dengan baik. Dan ia ringan tangan membagikan kue-kue tersebut ke tetangga.Istrinya tertawa. Pemilik gedung itu sendiri yang mengambil keputusan.. Berlari. Sejak enam bulan. di depan rumah mereka.. Ray berusaha mencubit lengan istrinya. “Si ceroboh! Hatiku terkadang berada di tempat lain. mereka bisa berbincang layaknya sepasang potongan hati. melotot. Enam bulan berlalu. istri Ray mengisi waktu luangnya dengan membuat kue-kue.

Istrinya ter- tawa.Kita akan mendapatkan rumah besar. Tiba-tiba..b u k u .. Muka kotornya menatap mesra.. memeluk. Ide itu hebat. Lesung pipitnya semakin terlihat. Mengusulkan sistem baru.. Dia menyempatkan membeli setangkai mawar merah di tepi jalan. Ray memeluknya dari belakang. Yang! Manajer! Mengepalai seluruh pekerjaan di lokasi konstruksi. Ray sengaja pulang lebih cepat selepas pengumumam promosinya. tetapi Ray mengerti betul manajemen yang baik untuk pekerja bangunan. Dan pemilik gedung mengangkatnya menjadi Yield Manager-istilah kepala mandor yang baru. Kau akan kubelikan berlian. 277 | R a t u .. Dia tidak pernah mengecap bangku kuliahan. Istrinya terperanjat. “Aku promosi hari ini. Hampir memukul Ray dengan sendok besar. Ray mematahkan tangkai bunga mawar.. Lantas menyelipkannya di sanggul rambut istrinya. Istrinya tersenyum. “Eh.. Muka cemong.” Istrinya tersenyum datar. yang!” Ray berbisik. b l o g s p o t . Hendak memberikan kejutan.. Mobil. Tidak sabar bertemu dengan istrinya. kau cantik sekali sore ini-” Ray menyeringai menatapnya. Ray sekarang setara dengan insinyur-insinyur itu. Tidak terlalu antusias. Urusan setangkai mawar merah itu terpotong sejenak.evaluasi progress terakhir. menoleh. Memakai celemek. Sore itu. Bersenandung riang sepanjang perjalanan. Ray masuk rumah mengendap-endap.. Ray memaparkan tentang hirarki hubungan buruh-mandor yang modern. pakaian yang indah. c o m . Tertawa- “Aku punya sesuatu untukmu. Istrinya sibuk masak di dapur.

Ray tidak pernah belajar tentang berkeluarga yang baik.. Tetapi aku tidak membutuhkan itu... gigi jelek macam kelinci..” “Aku baik-baik saja.. mengikuti kalimat-kalimat ter- akhir istrinya.b u k u .. c o m . Rumah besar.. Langit merah.” Lengan Ray dicubit lagi. “Ergh. Angin menderu memain-kan ujung-ujung rambut.. Berdua tertawa. Istrinya manyun kalimatnya diikuti. senja kesekian dalam kehidupan mereka yang menyenang- kan. Tapi 278 | R a t u . “Ada apa? Kau sakit. berlian. Tertawa- Inilah kebiasaan istrinya sejak mereka menikah.. dia menggerakkan bibir.. Matahari senja terbenam di ufuk barat. Istrinya suka sekali mengatakan kalimat itu dalam situasi tertentu... memakai celemek. istrinya memang sungguh lebih banyak berubah. b l o g s p o t . “Terima kasih bunganya-” Memeluk. pakaian yang indah. Aku senang mendengarnya. aku tidak habis pikir. ceroboh. Senja itu. mencubit perut Ray.. “Bagaimana mungkin muka cemong. Kalimat itu.” “Apa?” Istrinya menoleh.“Kau tidak senang mendengarnya?” Istrinya menggeleng.. mobil.. Bagiku kau ihklas dengan semua yang kulakukan untukmu. yang.. Ray mencium kening istrinya.. Ikhlas dengan semua bla-bla-bla. Ridha atas perlakuanku padamu.. Ray mengaduh. Debur ombak membuai rasa. Itu sudah cukup!” Ray tertawa.. Persis seperti Bang Ape dulu yang suka bicara tentang masa depan. bisa terlihat cantik dengan bunga ini. Amat senang. Di antara mereka berdua.

Semua sesuai anggaran. Gedung itu meriah. Dia menyingkir. Semua sesuai jadwal.. Sirene peresmian berbunyi. Gedung tertinggi di kota kami. Urusan wanita. Hanya penjaga panti yang bodohlah yang dulu menyia-nyiakan istrinya yang amat baik. Ray memakai baju yang belum pernah dipakainya. Jo naksir gadis dekat lokasi konstruksi. Bentuk dasi itu malah tambah aneh. 279 | R a t u . Dan Ray menjadi salah-satu kuncinya. ikut tertawa. Istrinya belepotan membantu memasangkan dasi. Peresmian gedung 18 lantai.b u k u . tidak ada kemajuan selama enam bulan. menoleh istrinya. Penuh cahaya lampu. Belakangan jadi bahan becandaan pekerja.. Mereka berdua berangkat (tanpa dasi). Delapan belas bulan sejak pernikahan mereka. Dan waktu melesat tanpa terasa. Petinggi kota datang. Istrinya ikut diundang. Pemilik gedung sumringah. b l o g s p o t . c o m .. “Sudah berapa bulan. memutuskan duduk bersama pekerja. Tertawa. Ray tidak terlalu suka berada di antara undangan keren-keren itu. berdua tertawa mengolok Jo. tapi ya itu. lupa-lupa ingat. Seperti desing peluru. Jo mengusap dahi. Jo amat sungkan bicara dengan wanita. “Kenapa kamu nggak tanya langsung sama yang hamil?” Ray tertawa. Jo memberikan dua kursi plastik untuk dia dan istrinya.Ray tahu persis bagaimana meletakkan posisi pasangan hidupnya dalam hubungan mereka. Memadati kursi-kursi. Lebih parah dibandingkan siapapun. Mas Rae?” Jo yang duduk mencangkung me- nyaksikan peresmian dari belakang tenda undangan bertanya. Jo hanya pandai memberi saran-saran seperti ke Ray dulu.

“Mas Rae akan pindah tugas setelah proyek ini.. Ray tertawa.. ya? Mungkin ini per- temuan terakhir bersama anak-anak. sedih. dia dua kali lebih mencengkeram. lebih indah dibandingkan gedung di depan mereka. Lihatlah! Ia amat beruntung mendapatkannya. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. c o m .. Sementara selubung gedung pelan meluncur turun.... Tapi yang justru tidak pernah Ray sadari selama ini. Tidak ada yang pergi dari hati. Jo. Kalian akan tetap menjadi saudara. Menelan ludah.. Undangan ramai bertepuk- tangan. Berkilauan. Gedung itu terlihat indah di malam hari.b u k u . Itu kalimat Bang Ape. Tetapi mengangguk- “Kita akan tetap menjadi saudara di mana pun berada.. Ray menatap ke depan- Istrinya memeluk Ray lebih erat. Satu-dua menyeka ujung mata. Jo dan teman-temannya menunduk. Tapi mungkin tidak akan mendapatkan mandor yang menyenangkan kayak Mas Rae...” Ray tersenyum mengatakan kalimat itu. Jo dan pekerja lain yang duduk mencangkung di sekitar mereka ikut tertawa. Semua masa lalu itu tertebus sudah. Tersenyum- ®LoveReads 280 | R a t u . Beruntung atas guratan takdir ini. Ray asal comot. Istrinya memandang wajah Ray yang ditimpa kilau cahaya lampu.” “Memangnya enak dimandori si ceroboh?” Istri Ray nyeletuk. Kalimat itu indah sekali. lebih bertenaga dibandingkan Bang Ape saat mengatakannya. “Anak-anak sudah dapat proyek baru?” “Rata-rata sudah. b l o g s p o t ..” Jo menyeringai. Pelan meletakkan kepalanya di bahu Ray.

Jalanan lengang. Dana besar. 35 kilometer dari kota tepi pantai. Pembangunan Bandara Internasional Kota. Ray dilibatkan dalam banyak pertemuan. 281 | R a t u . Malam ini. Rajutan di tangannya pasti berceceran di atas meja. Membuatnya sering pulang larut. Istrinya yang hamil tujuh bulan pasti sedang menunggu di ruang depan. Dia cerdas. sesuatu yang belum pernah dikuasainya. menjadi salah-satu anggota konsorsium pembangunan. Pemilik gedung sebelumnya. Ray menggerak-gerakkan lehernya yang pegal.Bab 16 Anak-anak Surga PUKUL 23. Posisi baru Ray: Field Deputy Manager. Ray mengusap wajahnya. Mengepalai belasan mandor yang mengerjakan bagian masing-masing. Ada banyak pekerjaan di lokasi konstruksi bandara. b l o g s p o t . Menekan pedal gas lebih kencang. Ray dipindahkan ke proyek yang lebih besar. meletakkan kembali jam gantung ke dalam saku celana. Amat terlambat- Tiga bulan sejak peresmian gedung. larut malam. tapi segala tetek-bengek persiapan itu memusingkan. Duduk terkantuk-kantuk. dan tentu saja lebih sulit. tetapi hampir sebagian besar pertemuan itu menggunakan bahasa asing. Bertumpuk. Tim besar.00. Melibatkan kontraktor dari tiga negara. berbakat besar dalam rekayasa sipil. Langit malam tertutup awan. Sebenarnya belum ada sedikit pun pekerjaan fisik. c o m .b u k u . lebih menantang. Ini minggu kedua dia berturut-turut setiap hari pulang larut. Dan Ray dengan reputasinya mendapat posisi besar. lagi-lagi dia pulang terlambat.

Ray beranjak turun. membantu melepaskan dasi.b u k u . “Maaf.” Ray menyeringai.. mobil itu merapat ke rumah tepi pantai mereka.. Tapi apa mau dikata? Lima belas menit berlalu. Pipinya. kalau tidak. “Mhu-al-lam” Istrinya menguap lebar. Sebenarnya sudah! 282 | R a t u . catatan nomor telepon. aduh. istrinya selalu tersenyum hangat menyambut- “Malam. Tetapi selalu sia-sia. “Kau sudah makan malam?” Istrinya bertanya mesra.” Ray tertawa. Malam ini dia tidak ingin membangun- kan istrinya. Ray menggeleng. Tersenyum.. 'Pergi jauh-jauh.. tak seharusnya dia sering pulang malam seperti ini. c o m . Istrinya tertawa kecil. Ray menatap wajah mengantuk itu. sisa-sisa pengkhianatan-” Tertawa. Dia seminggu lalu berkali-kali bilang tidak usah setiap malam menungguinya pulang. “Aku kan harus memeriksa kau setiap pulang. Membiarkan istrinya sendiri. Ray menyeringai tipis. giginya besar- besar. Aku terpaksa berhenti lama untuk mengusirnya! Aku bilang. ceroboh! Siapa tahu ada bekas-bekas gincu.. Tadi lagi-lagi ada kelinci raksasa.. nanti ku-adu- kan dengan ratunya kelinci'. Pelan masuk ke halaman tanpa pagar. istrinya seperti malam-malam lalu membuka pintu persis saat Ray mendekat. Mencoba tidak gaduh. Meluncur perlahan ke dalam garasi. istriku yang cantik... tapi istrinya santai berkata. b l o g s p o t . Menguap. Mengeluarkan kunci. melangkah pelan menuju pintu..Ah. Wuih. Bekas tertidur menunggunya. di pipi istrinya ada kepulauan. menghadang di jalanan.

“Baik. Menyenangkan. Matahari terbit dari bingkai cakrawala- Ray mendekap istrinya dari belakang.. Makanya sejak malam itu. 283 | R a t u . ditanya hal serupa dan dia mengangguk. Standa- risasi Internasional.. Ray merasa amat bersalah... Ray menelan ludah... Istrinya ikut tertawa. Kebersamaan yang hangat.. sekenyang apapun dia pulang dari lokasi konstruksi bandara. Ray memaksakan diri makan malam bersama istrinya.. Pagi yang indah. ®LoveReads Kaki langit menyemburat merah. b l o g s p o t .. Malam ini mereka boleh dibilang makan tengah- malam. Sepertinya harus ditambah bahasa Perancis..... Buih ombak terlihat ikut kemerah- merahan.. “Aku panaskan dulu. Semur jamur itu dingin.. yang. Awan tipis menggantung memenuhi ufuk timur. Orangnya hanya mengerti bahasa itu. Tahu. c o m .. saat malam-malam pulang. ya-” Istrinya nyengir. Udara dingin menyergap.. membuat yang ikut meeting pusing.b u k u . Menatap perut buncit istrinya..” “Perancis?” “Ada wakil khusus dari pengawas bandara seminggu terakhir. istrinya me-nunduk kecewa. “Bagaimana kursus bahasanya?” Istrinya menoleh bertanya. Berdiri berdua di atas teras lantai dua. Repot. kerjanya marah-marah melulu.Tapi seminggu lalu.” Ray tertawa. tersenyum. Teriak sana teriak sini. dia marah atau sedang bernyanyi rock.

“Biar jadi kejutan! Kalau dikasih tahu nggak surprise!” “Gigi kelinci. menyeringai di pojok teras. “Kau sudah menyiapkan nama untuknya?” Istrinya mengangguk.Setidaknya kebersamaan indah setiap pagi ini tidak pernah terganggu oleh kesibukan pekerjaan Ray.“Rahasia. Semburat merah semakin terang. berlari. Tidak masalah. istrinya yang akan memberikan nama bayi mereka. b l o g s p o t . menggeleng. Istrinya tertawa. tertawa. menghindar. Beberapa minggu lalu mereka sepakat. Menegur. tapi semoga giginya tidak seperti milik ibunya-” Ray berbisik. ceroboh nggak boleh tahu-” “Ayolah-” Ray menggelitiki istrinya.” Istrinya tersenyum. warga komplek yang lari-pagi melambaikan tangan. “Kalau anak ini perempuan. tersipu. c o m . “Sudah dapat semalam saat menunggu kau pulang. Melambaikan 284 | R a t u . menghentikan Ray. menyambut matahari terbit setiap hari. Istrinya mencubit lengan Ray. Mereka membalas melambai. Ray mengelus perut istrinya yang buncit. Tertawa.” “Boleh aku tahu!” Istrinya menggeleng kencang-kencang. kasih-tahu-atau-?” Ray melotot. Sekali-dua. Mereka selalu berdiri berduaan di teras selepas subuh.b u k u . “Maafkan aku sering pulang terlambat. melepaskan pelukan. Dua remaja tanggung tetangga sebelah rumah masuk ke halaman. Istrinya menggeliat. ia akan secantik ibunya. Yang.

b u k u . Matahari semakin tinggi.. setelah memeluk. Ray mengalah tidak ber tanya lagi. mobil hitam metalik Ray meluncur dari halaman rumah. Bisnis Puding Pisang itu belakangan maju sekali. Ah- ®LoveReads Celaka! Entah apa rencana langit. Semua persiapan bisa di- urus anak-anak. Istrinya meng angguk kecil. Kamar tengah lantai satu disulap menjadi dapur tambahan. Ray mengeluarkan jam gantungnya.. Entah apa maksud semua takdir ini.. “Tapi akujustru malas sekali kalau harus melihat kau sepanjang hari di rumah. c o m . Urusan nama itu terlupakan.. berdiri di sebelah Ray. Bayi kita.. Urusan nama dan pembukaan counter Puding Pisang beberapa hari 285 | R a t u .. b l o g s p o t . aku akan kabur seperti insinyur dari Australia. mengangguk. Men- desah pelan. Tapi kau jangan terlalu lelah. “Aku akan datang. kau harus datang. Istrinya mengajak beberapa anak tetangga.. pasti banyak barang yang rusak..” Istrinya tertawa menimpali.” Istrinya yang masih tertawa 'takut-takut' mendekat. kan?” Istrinya tersenyum. mencium perut istrinya.. “Aku malas sekali harus berangkat kerja hari ini. ceroboh. Yang.. Setengah jam kemudian.. Nanti kalau ada meeting mendadak dengan si Perancis itu.” Itu kalimat 'standar' penutup kebersamaan pagi mereka. “Minggu depan counter yang di Pusat Perbelanjaan dibuka.tangan ke atas.. Sibuk me- lambaikan tangan dengan ekspresi muka seperti tidak akan bertemu berpuluh-puluh tahun lagi..

. Tidak tertidur di saru Rajutannya berserakan. Melepas sepatu di halaman. Berjinjit. Anggota konsorsium dari Australia sekali lagi tega pulang lebih awal. Sudah terlalu larut. Pukul 00. bentuknya lucu. Melangkah masuk. Kali ini dia benar-benar tidak ingin membangunkan istrinya. Melepas dasi Melangkah menaiki anak tangga. Tetapi istrinya tidak ada di kamar tidur mereka. Baru setengah jadi. c o m .kemudian benar-benar hancur berantakan. Benar-benar membuat Ray cemas. Mungkin istrinya terlalu lelah. Di mana? Membuka pintu kamar mandi. b l o g s p o t . Perlahan membuka pintu depan. “Frankly. Ada yang tidak beres.15. memutuskan tidur di kamar. Ray tersenyum. lewat tengah malam”. 286 | R a t u .. Di mana istrinya? Bergegas memeriksa seluruh lantai dua. Sungguh menyakitkan- Ray malam itu lagi-lagi pulang terlambat.b u k u . hei! istrinya tidak ada di kursi depan. Sukses. Membuat meeting berlarut-larut. France!” Ray sengaja mematikan mobil di jalanan. meraih rajutan kaos kaki bayi yang jatuh di bawah kursi. Tidak menyambut di bawah bingkai pintu. Teras depan. Dan seketika ada sesuatu yang berdesir. Berubah berbalik arah menjadi menyakitkan. ada motif kelinci di sana. Ray merapikan rajutan itu di atas meja. Mengeluarkan kunci.. Istrinya tidak terbangun. berseru sebel. Menyumpahi si Perancis yang ngototnya minta ampun membahas pelebaran setengah meter runaway bandara. Insinyur-insinyur yang lain tak kalah gusarnya. we have another business. Ngoceh tentang antisipasi perubahan regulasi lima puluh tahun lagi. Kosong. Ray menelan ludah. Tetapi.

Terus meluncur membelah jalanan kota. Yang. Rusuh lima menit kemudian di Instalasi Gawat Darurat. Satu saja dari pikiran itu cukup sudah membuat hatinya ciut. Kalau dia bisa pulang lebih cepat. Ray berteriak parau. Ray men- dadak mendesis takut. b l o g s p o t .b u k u .. Ter- geletak. Mobil berdecit di kelokan depan. bertahanlah!” Ray berbisik senyap. Tubuh istrinya dingin. Ray menggigit bibir. Teramat takut! Berlari tersuruk-suruk melewati ruang tengah menggendong istrinya. Aku mohon. Wajah istrinya pucat-membiru.. Patah dua. Bergegas memasukkan tubuh istrinya ke jok depan. Ya Tuhan! Ray panik seketika... gemetar memegang kendali sdr. Petugas parkiran ikut rusuh bertanya siapa pemilik mobil yang berani-beraninya menerabas masuk. Dan kaki Ray lemas seketika. Dokter jaga terbirit-birit masuk ruang operasi. Entah sejak kapan tubuh istrinya jatuh pingsan di kamar mandi. Menendang pintu depan rumah (tidak merasa perlu menutupnya lagi).. Mental. Bagai seekor elang dia melompat. Darah memenuhi lantai. Mungkin tidak akan separah ini.Kosong. 287 | R a t u . Perawat yang tadi setengah-mengantuk langsung siaga 100 watt. mobil menerabas palang parkiran rumah sakit.. Lantas kesetanan memacu mobilnya menuju rumah sakit.. “Bertahanlah. Kalau dia bisa menemani istrinya. Daster panjangnya kuyup. Berlari ke lantai bawah. c o m ... Ray gemetar merengkuh istrinya. Kosong. Secepat mobil itu bisa melesat- Ray gentar sekali memikirkan banyak hal. Lihatlah! Tubuh istrinya tergeletak di kamar mandi lantai bawah.. Dapur. Dingin.

. tidak mengutuk langit... Ray menggigit bibir. Ray tertunduk dalam memandang wajah istrinya yang tertidur.. Istrinya tertolong.b u k u .. mengusap dahinya... Apa maksud semua ini. entah apa yang akan dikata- kannya pertama kali saat istrinya siuman nanti. Muka itu pucat. entah bagaimana dia akan menyampaikan berita menyakitkan itu. Tapi demi melihat istrinya yang terkulai tak berdaya dari balik jendela kaca Ray tersungkur dengan pertanyaan-pertanyaan itu lagi. Ray tergugu. enyah dari penatnya malam-malam panjang dulu. Indah. b l o g s p o t . Aku mohon. Tetapi hari itu... Matahari terbit sekali lagi di ufuk langit. Dia tepekur di kursi panjang lorong depan instalasi.... apakah ini masih bisa disebut kebaikan langit? 288 | R a t u . Sudah lama sekali pertanyaan-pertanyaan itu pergi. Ah. Entah apakah dia masih bisa menikmati pemandangan itu bersamanya.Tapi lebih rusuh lagi hati Ray.. Tapi terlihat tenteram. Semburat merah memenuhi kaki cakrawala.. Ray mengusap lesung pipit itu. c o m . Tuhan berbaik hati. Mengusap wajahnya yang kebas. Kebahagiaan yang melingkupi hatinya? Kebahagiaan istrinya! Setelah bertahun-tahun menjalani pahit-getir itu? Apakah kau selalu mengambil kebahagiaan dari orang-orang baik?” Ray menghabiskan berjam-jam penuh tanya di lorong instalasi.. Lima belas menit berlalu sejak matahari mulai mendaki tinggi. Buncah dengan ketakutan-ketakutan. “Apakah Kau tega sekali lagi merenggut kebahagiaan itu. Sudah lama sekali kepalanya tenteram. mengusap ujung hidungnya yang kecil tapi mancung..

Bayi mereka tidak terselamatkan. 289 | R a t u . Rajutan itu terpaksa disimpan.b u k u . Mencoba tersenyum. c o m .. Sebulan berlalu. Membuatmu menunggu bermalam-malam.. b l o g s p o t . Pelan... Hatinya terluka menatap kesedihan di wajah pucat itu. Belum lagi ditambah memaksakan diri menunggui Ray pulang sampai larut malam..” Senyap. Apalagi dengan kesibukan menyiapkan counter puding pisang di pusat perbelanjaan.. kesedihan itu masih menyisakan jejak.. Lelah.. Terdiam. Ada banyak yang terlanjur disiapkan untuk menyambut bayi mereka.. mengeluh panjang mendengar berita itu. Ruang rawat inap itu hening. “Akulah yang keliru.. Kabar itu hanya menambah kesedihan.. Istrinya terisak. “Harusnya aku menurutimu.. Hening. “Tidak terlalu sibuk-” Ray menggigit bibir... “Aku.” Ray berbisik. “Tadi bayinya sudah dikuburkan.. Mainan bayi yang sudah dibeli jauh-jauh hari dimasukkan kembali ke dalam kardus. Seharusnya akulah yang tidak pulang larut se- panjang bulan ini.. Membantu menyeka ujung-ujung mata istrinya. Menurut keterangan resmi dokter. menggenggam lembut jari-jemari istrinya.. Perempuan-” Ray menelan ludah... Kurang tidur.” Berusaha menyeka ujung-ujung mata dengan piyama rumah sakit. Yang. istrinya keguguran karena rahim- nya tidak cukup kuat untuk mengandung.. Terisak.. Tempat tidur bayi disembunyi- kan dalam gudang. Aku sudah menyiapkan nama yang indah buatnya....

Malam-malam dia sering melihat istrinya memandangi rajutan pakaian bayi di ruang depan. Menelisik anak-anak rambut. Menikmati malam. Membuat helaan nafas semakin berat. Sela-sela kuping. Menyenangkan. Ray berjalan bersisian bersama istrinya menjejak pasir lembut. b l o g s p o t .b u k u . Belakangan tanpa sepengetahuan Ray. Kunjungan itu berbahaya. Sudah banyak tertawa menanggapi gurauan Ray sepanjang hari. rasa sedih itu menggantung lebih besar. Terdengar nyaman-berirama. Tapi Ray tahu persis. mereka bersepakat tidak boleh lagi ada meeting yang berlarut-larut- apalagi untuk urusan sepele. Dan dia bingung harus melakukan apa. Istrinya dari luar terlihat sudah riang. tapi saat kembali. Hanya masalah penting dan mendesak yang dibawa ke rapat besar. Dibuat menjadi unit-kerja kecil-kecil. Mendekap bahunya mesra. Bernyanyi.Ray sekarang bisa pulang lebih cepat. Ombak bergulung membuncah pantai. Berdua. Angin malam berhembus lembut. Bercengkerama. 290 | R a t u . istrinya kembali sering mengunjungi bangsal anak-anak itu. kesedihan itu masih menggantung di matanya. Setelah bertengkar hebat dengan si Perancis dan didukung kompak oleh insinyur lainnya. Enam bulan berlalu dari keguguran- Malam datang menjelang. Si Perancis itu mangkel tidak bisa banyak cakap lagi. istrinya memang mendapatkan kesenangan. Kesedihan itu masih membekas. c o m . Rembulan bundar menghias angkasa. Bintang-gemintang tumpah membentuk ribuan formasi indah. Mekanisme eskalasi masalah diubah.

Yang?” Senyap. Kau tahu. mengadu. mendongak.. Istrinya ikut mendongak.b u k u . aku tidak pernah merasa perlu menatap rembulan lagi. maka semakin sering aku duduk menatapnya. Ray mencium kening istrinya...” Ray berbisik pelan.. Melahirkan anak-anak kita.“Aku. Tapi aku selalu merasakan tenteram menatapnya. aku paling suka menyaksikan rembulan seperti ini sejak kecil. Tertunduk. 'Malam purnama! Tolong! Tolong! Selamatkan diri kalian? Berlari-lari pura-pura berlindung. si kembar Oude dan Ouda suka sekali berteriak.. Aku hanya ingin mengandung anak-anakmu.. aku tidak mengerti apa yang terjadi setiap aku melihat rembulan. menatap lamat-lamat wajah berbinar Ray... Tapi dia pergi begitu saja. Damai!” Ray berkata pelan. Kalau aku boleh ikut merasakannya apa yang sesungguhnya menganggu perasaanmu?” Ray menatap lembut. c o m . “Dulu waktu di Rumah Singgah itu.” Ray tertawa. menatap balik Ray dengan mata indah- nya... diam sejenak.“Kau tahu. Semakin sesak apa yang kupikirkan...” 291 | R a t u ..... anak-anak yang lebih beruntung dari kita. Dua tahun terakhir bersamamu. Membesarkannya menjadi anak-anak yang baik. Istrinya justru terisak pelan...... b l o g s p o t .. Mereka berdiri.. “Rembulan ini selalu membuatku sejenak bisa melupakan banyak masalah... Bagaimana aku bisa menghilangkan perasaan sedih itu begitu saja... “Kau masih sedih.. tersenyum lemah. tersenyum.. yang sekarang berdenting membentuk pelangi..... yang... “Aku tahu kau masih sedih. Entahlah. Istrinya menoleh. Istrinya menghela nafas. Diambil begitu saja.

Gigi Kelinci! Dan kita tidak perlu lantai dua untuk memandang hamparan cahaya kota di malam hari.. menggerakkan bibir bersiap menirukan kalimat yang sering diucapkan istrinya...” Ray tersenyum.... Rumahnya lebih besar. Membuai masa-masa menyakitkan itu terlupakan. istrinya justru mencemaskan dirinya.Ray mendekap istrinya lebih erat.. Ceroboh... Kau bahagia melihat mereka tumbuh besar.. Terlalu banyak kenangan yang 'menganggu' di rumah lama. Lihatlah! Dia benar-benar lelaki paling beruntung.. Ray Mencium kening istrinya. Istrinya menurut.. saat dia bertanya apa yang membuat istrinya sedih berkepanjangan.. Membuat kau sedih.. ridha. “Aku tidak memerlukan rumah yang lebih besar. Malam ini. yang lebih indah. Mengatakan kalimat itu. Sepanjang kau ridha padaku... Mereka membeli rumah besar di lereng pebukitan kota. membujuk istrinya pindah. Kau tidak perlu naik-turun.... Semua ini sudah lebih dari cukup. hanya berbisik.. lebih indah.. “Tempatnya sejuk. Kau ikhlas dengan semua apa yang kulakukan untukmu . c o m .. baik untuk kesehatanmu..” Ray mendekap istrinya lebih erat lagi.. Membuka mulut.. Suasana baru akan membawa kenangan-kenangan baru. Berterima-kasih- ®LoveReads PINDAH! Ray memutuskan pindah..Kau menerima apa-adanya yang kulaku- kan untukmu.” Ray tertawa. 292 | R a t u . b l o g s p o t .. “Aku menginginkan kau bahagia melihat anak-anak kita..b u k u . Aku takut kepergian anak itu membuat kau sedih....

yang baru disadari selama ini mereka seringkali bertengkar hanya gara-gara tidak mengerti satu- sama-lain. Dan Ray sibuk mengawasi 293 | R a t u . Istrinya kembali hamil. Ray juga mengurangi separuh aktivitasnya di lokasi konstruksi. Was-was.. Tanpa terasa? Tidak juga.. Khawatir kesempatan itu tidak akan datang lagi. mencubit lengan Ray. b l o g s p o t . Pekerjaan Ray berjalan lancar. pulang lebih awal.. Kali ini Ray jauh lebih siap. Mereka rajin berkonsultasi. masalah mereka sederhana. Bisnis Puding Pisang itu tumbuh cepat. Tiga tahun berlalu tanpa terasa.b u k u .. Memastikan istrinya tidak terlalu sibuk. Si Perancis itu bisa diatasi. Bandara Internasional Kota sejak dua tahun terakhir memasuki tahap pengerjaan fisik. belajar dari pengalaman. Dengan bahasa yang sama. Tiga tahun berlalu sejak mereka pindah! Melesat bagai pesawat lepas landas di bandara. Wushh. tiga tahun menunggu. dan rencana ekspansi ke kota lain dalam waktu dekat. Pagi itu istrinya mendadak mual-mual.. Urusan ini Ray ahlinya. Bisnis Puding Pisang diserahkan sepenuhnya ke anak tetangga mereka. Lagipula kursus bahasa asingnya berjalan baik. Istrinya hanya sibuk mengawasi.Istrinya tertawa malu. Dan Ray juga akhirnya ikut-ikutan cemas. c o m . Berangkat lebih siang. istrinya sekali-dua mulai berbisik cemas tentang jangan- jangan ia tidak bisa hamil lagi. penantian itu berakhir. Beruntung saat mereka mulai menyiapkan banyak terapi. Kegembiraan melingkupi rumah besar lereng pebu-kitan.. pekerjaan konstruksi berjalan jauh lebih cepat dibandingkan masa-masa perencanaan dulu. Sudah ada empat counter di seluruh kota.

dan Ray semakin ke sini... rasa masakannya antah-berantah. c o m . duduk dekat Ray. meng- acungkan wortel yang belum dipotong. kandungan istrinya sehat. dan berbagai daftar tidak lainnya dalam 294 | R a t u .. tidur cukup. Oke. Ray riang menyiapkan sarapan. Dua hari lagi hari raya kurban. Istrinya ikut tertawa..istrinya. Perut istrinya semakin buncit..b u k u . b l o g s p o t . ya!” “Ups! Nyonya jangan bandel. Menyeringai. kalau Ray tidak ditemani.. Urusan dapur sepenuhnya diambil alih- “Nyonya! Aku mohon.. Nyonya duduk saja di sana. Dia sudah tamat kursus memasak- “Aku bantu. Sepanjang istrinya rajin minum obat penguat rahim.. Duduk di tempat! Atau nanti aku ikat! Ini masakan hebat. hasil kursus Ray nol besar. Istrinya beranjak bangkit. biar aku yang mengantarkan makanan!” Ray berkata riang. menarik kursi. Duduk-duduk di halaman menyaksikan indahnya hamparan cahaya kota di malam hari. Bukan apa-apa. Semua kelinci pasti suka!” Ray tertawa. terampil mengiris wortel di tatakan. Ray punya waktu banyak menemani istrinya merajut pakaian-pakaian bayi. Hari yang menyenangkan. semakin banyak 'melayani' istrinya. Sudah menjelang tujuh bulan.. Tiduran beralaskan tikar di halaman rumah menyaksikan rembulan dan bintang-gemintang. Berbelanja keperluan bayi di Pusat Perbelanjaan. Pertama. Mengawasi racikan- Pagi ini hari Minggu. tidak terlampau lelah. Ada banyak kabar gembira minggu-minggu terakhir ini. Menemaninya berjalan-jalan di sepanjang jalan setapak lereng bukit.

Ray mendapatkan pujian dari anggota konsorsium. Istri Ray mengenal baik cucu pemilik gedung dari jadwal kunjungan rutin ke bangsal anak-anak di Rumah Sakit. bukan? Semua orang pasti memakai baju Cina! Masuk. Ada acara penting. Yang?” Kepala istrinya keluar dari bingkai jendela. Ray riang mengeluarkan mobil dari garasi. “Sudah rapi. kan?” Ray nyengir. kau tidak ingin terlihat aneh. Memanaskan mesinnya. Tahun baru Cina datang ber- samaan dengan tahun baru Hijriyah. c o m . Ray membina hubungan silaturahmi yang baik ke semua pihak di seluruh kota. Kalau semuanya lancar. Keluarga pemilik gedung itu juga mengenal baik Ray dan istrinya. Nyonya Kelinci!” Ray menyeringai. Kedua. semuanya sesuai jadwal. Itu berarti Ray dan istrinya ikut berdiri di antara rombongan hebat tersebut- Hari ini mereka berencana pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. sesuai anggaran. Enam tahun berkeluarga. Cucu pemilik gedung yang berumur sembilan tahun mengikuti Lomba Busana Oriental. menurut. Setengah jam setelah sarapan yang dipenuhi olok-olok masakan. bayi mereka aman. dua bulan lagi presiden dan petinggi negara dari Ibukota yang akan meresmikannya langsung. “Kau tidak berganti pakaian. mengangkat bahu. 295 | R a t u .b u k u . Termasuk keluarga-keluarga pekerja kasarnya. konstruksi Bandara Internasional Kota sudah mencapai 90 persen selesai. b l o g s p o t . “Dasar ceroboh. Ber- senandung.checklist saran dokter. Biar aku yang menggantinya!” “Baik.

Apalagi saat istrinya memasangkan topi dengan kuncir. sebaik keluarga itu mengenal Ray dan istrinya. Ray tertawa. “Aduh. Lengkap dengan pedang kebesaran. tapi Ray banyak bandelnya.” “Memang! Vampire jelek!” Istrinya menatap galak. istrinya terlihat anggun sekali. istrinya asyik berbincang 296 | R a t u . mengenakan selempang segala. Tertawa melihat Ray. Mana ada istrinya itu menakutkan kalau lagi melotot. Baju panjang berjuntai dan berenda berwarna merah.. menggemas-kan. Ray! Juga gudang kargo!‟). terrawa lebih lebar melihatnya.. dipasangkan topi berumbai. Istrinya benar.. Umurnya berhilang enam puluh tahun. Dia dicubit sebagai balasannya.b u k u . kan jadi mirip vampire kalau begini. lihatlah. Ray mengenal baik keluarga Koh Cheu. berusaha mencium lehernya. seluruh ruangan dipenuhi pengunjung dengan baju oriental. Ray gemas menjawil rambut panjang istrinya. Istri Koh Cheu sering berkunjung ke rumah lereng perbukitan. Ray apalagi. menyambut. Koh Cheu. b l o g s p o t . c o m . Yang ada malah lucu dan ehem. mengeluh disuruh memakai baju berwarna serba merah. Lihatlah. dengan pakaian seperti puteri kerajaan Dinasti Cina begini. saat mereka tiba di tempat acara. Pemilik gedung yang 100 persen keturunan Cina itu mendekat. Mengganti baju paling lama hanya butuh waktu lima menit.Mobil mereka menuruni jalanan bukit setengah jam kemudian. Rambut disanggul. mana cocok dengan gaya Panglima Perang seperti ini. Jadi saat beberapa menit Ray sibuk berdiskusi dengan Koh Cheu tentang pekerjaan („Besok kau harus memastikan bagian runaway dua. begitu Ray (disuruh) memanggilnya.

b u k u . Ray menoleh. 297 | R a t u . Wajahnya imut. Hanya berdiri seperti hendak upacara bendera. Menggenggam tangannya lembut. jalan. c o m . Lomba segera dimulai. bertanya tentang kehamilan. Ada anak berumur empat tahun. Ray melirik istrinya. Pengunjung tertawa. terutama bagi istrinya.” Istri Ray berbisik dari tempat duduknya. Menyikut suaminya. Pusat Perbelanjaan ini milik Koh Cheu. Jadi buat apa coba cucu Koh Cheu repot- repot ikut lomba? Pasti menang. bukan? Tetapi acara lomba busana oriental anak-anak itu menyenangkan. “Aduh. Ray mendekap istrinya. sekarang!” Istri pemilik gedung itu protes. Koh jangan bicara pekerjaan. Tertawa. terlihat sekali betapa berbinar-binar istrinya melihat anak-anak kecil yang menggemaskan tersebut berlalu-lalang. Bingung menatap keramaian.dengan istri Koh Cheu. Padahal pembawa acara jahil bergaya aneh-aneh. gaunnya indah.. “Ayo. b l o g s p o t . sayang. Sayang si anak tidak bergeming di atas panggung. Ray dan istrinya meng- ikuti. Tertawa.. Lagu Cina daratan beberapa menit kemudian memenuhi langit-langit ruangan. Jurinya juga kerabat Koh Cheu. Acara lomba busana oriental yang diikuti cucunya diselenggarakan manajemen gedung. Keluarga taipan itu mengambil tempat duduk. Ray nyengir menyadarinya. berlenggak-lenggok di atas panggung. si anak polosnya meniru. Menyimak wajah riang istrinya- Pembawa acara memberikan contoh gerakan. Tertawa. Terpotong. Berjuntai bak burung merak. Dan peserta lomba yang terdiri dari anak-anak umur empat hingga dua belas tahun keluar satu-persatu.

benar-benar memesona. Di nomor urut kesekian. Ada anak yang membawa kipas berukuran besar. Hendak membukanya. ceroboh!” Istri Ray menahan tawa. Istri Ray mendekap mulut menahan tawa. Pose! Sayang kipasnya macet. Dan anak itu pede-nya masih berlenggak-lenggok. Peserta terakhir. seorang anak lelaki berumur lima tahun keluar mengenakan topi kerajaan. b l o g s p o t . Bergaya sesuai umurnya. benar-benar merosot menyisakan celana dalam. Penonton bertepuk-tangan memberikan tepuk-tangan. berbisik.b u k u . menangis. mengangguk.Ruangan semakin ramai. “Aduh. Ray mengangguk. “Dia mirip sekali denganmu. Pembawa acara buru- buru membantu memasangkan kembali pakaiannya. Istri Ray berbisik. Ada peserta yang pakaiannya kedodoran. Ampun. manisnya-” Istri Ray berseru pelan. sayang-” Istrinya menoleh. Ray ikut tertawa. c o m . Penonton menahan tawa. anak itu terjatuh saat hendak turun panggung. Malu-malu. Gaya sekali memainkan pedang bohongan di tangan. Penonton tertawa. Cantik dengan wajah orientalnya. Dan tak terhitung peserta yang jatuh menginjak pakaian mereka sendiri. Anak itu bingung. Mengenakan pakaian yang indah. tersenyum. “Anak kita akan jauh lebih cantik. “Anak itu cantik sekali-” Ray merengkuh bahu istrinya. Cucu pemilik gedung. Anak itu sigap dengan gerakan menyabetnya. Gadis kecil berumur sembilan tahun. 298 | R a t u . Tersipu. Dan kesalahan teknis di atas panggung itu terjadi berkali-kali. Sayang.

saat Ray dan istrinya duduk di halaman rumah riang memandang hamparan kota yang memesona. Apa maksud semua ini? Gemetar Ray membantu istrinya duduk di halaman rumput. Seluruh tubuhnya mengeras seketika. b l o g s p o t . Bagai seekor burung terkena panah pemburu. Yang? Apanya yang sakit? jangan bercanda. cucu pemilik gedung tidak menang. kasih tahu! Siapa namanya?” Saat istrinya menghindar. “P-e-r-i-h. Berseru panik. Jatuh terduduk. Dan mata hitam-bulat indahnya terpejam menahan sakit. Ray mengusap wajahnya. Menggendong istri-nya patah-patah. langkah kaki istrinya mendadak terhenti.b u k u . Istrinya mengkerut. dia salah mengira- ®LoveReads Celaka! Kesenangan tadi siang ternyata mahal sekali. Saat Ray menggelitiki istrinya sambil berseru mengancam. Gemetar meletakkan tubuh istrinya di jok depan. “Nggak mau! Itu kan kejutan!” Saat itulah. Lantas berlari kesetanan mengeluarkan mobil dari garasi. Ray meloncat bagai seekor elang. Melesat menuruni pebukitan. Entah apa maksud semua ini.” Istrinya mendesah tertahan. “Ada apa. Yang-” Darah! Darah berceceran membasahi daster istrinya. Acara yang menyenangkan. Lomba Busana Oriental itu usai. Mulutnya mendesah tertahan.Tiga jam berlalu. Wajahnya meringis. Malam itu. “Gigi Kelinci! Ayo.. 299 | R a t u . c o m .. Sayang. Entah apa rencana langit. Bagai pasak yang dihujamkan.

jalanan ramai oleh pasangan muda-mudi. Kemejanya juga basah. Mental. Kita ber- harap operasi akan menyelamatkan kedua-duanya. Mobil itu dua kali menerabas lampu merah. yang menangani konsultasi Ray selama ini dan juga operasi keguguran tiga tahun silam bergegas menyambut. Dua kali mengambil jalur ber- lawanan. Kenapa Kau lega melakukannya sekali lagi? Setengah jam berlalu. tetapi tenanglah! Kondisi istrimu jauh lebih baik dibandingkan tiga tahun silam.. Perawat perawat bergegas menyiapkan kereta dorong.. dan orang-orang yang sendirian menghabiskan malam minggu.. Berkali-kali menyalip mobil lainnya. b l o g s p o t . menatap kosong istrinya yang tergeletak tak berdaya di dalam ruangan. memanggil perawat yang berjaga. Menerabas masuk papan pengatur parkiran rumah sakit. Tangannya basah oleh darah.. Ya Tuhan.05. c o m . apa maksud semua ini? LAGI? Kenapa Kau lakukan sekali lagi? bukankah dia sudah menyiapkan semuanya.b u k u . Ray berdiri termangu. Pendarahannya tidak parah. Ray gemetar menunggu- “Kami harus mengoperasi bayi-nya. sabar. Istrimu sadar. mencoba menguasai keadaan. Berhati-hati. Ray berteriak-teriak di depan Instalasi Gawat Darurat.. Pukul 21. Ray!” “Apakah bayinya selamat?” Ray mencicit. Bertahanlah. keluarga. Patah dua.“Sabar yang. aku mohon-” Mobil Ray memecah keramaian kota. Dokter jaga. dokter itu keluar dari ruangan. Istrinya dibawa masuk ke ruangan kaca. Memberi perintah ini-itu.. “Kami belum tahu. Dia membopong istrinya. 300 | R a t u .. memaksakan diri berlari..

Kalau kau menangis aku jadi ingin menangis-” Ray pura-pura mengusap ujung matanya.... yang. Istrinya tersenyum lemah.. Diam. Semua pasti baik-baik saja!” “Aku takut-” “Tidak ada yang perlu ditakutkan. Istrinya entah mengapa mendadak menangis. Ray menelan ludah. “Apa kata dokter?” Istrinya bertanya amat pelan... Bayi kita akan selamat!” Ray berbisik. Mereka sedang menyiapkan operasi. Kau mau bicara sebentar? Lima menit. Keliru! Ray benar-benar keliru. Menggigit bibir. Kau akan baik-baik saja. mengelus lembut dahi istrinya. “Kau jangan menangis.. mencoba bercanda. dia bergegas masuk ke dalam ruangan kaca. Melangkah pelan... c o m . Pucat.. Yang. Istrinya menatap lemah.. “B-a-i-k.kondisinya sejauh ini baik-terkendali. aku mohon.. Terkadang pertanda itu datang seketika. Pertanyaan jenis apa ini? Dalam situasi seperti ini? Ray pelan mengangguk. Untuk seseorang yang akan pergi. 301 | R a t u ... Wajah itu terlihat amat lemah. Aku kan terbiasa mengusir orang-orang yang mem- buatmu takut!” Ray tertawa getir. mengusap ujung-ujung mata itu.” Ray tidak perlu mendengar kalimat itu dua kali. Senyap. “Apakah aku terlihat cantik?” Senyap. mencoba tersenyum. Itulah yang dilihat istrinya beberapa detik lalu..” “Aku takut-” “Ada aku. Kami harus menyiapkan operasi. b l o g s p o t .b u k u . Urusan malam ini tidak pernah se-sederhana yang Ray bayangkan. Yang. mendekat. Saat pertama kali menatap suaminya mendekat. “Jangan menangis yang.

.. bagaimanalah dia menjelaskannya..b u k u .. aku ingin selalu terlihat cantik di matamu. Ceroboh. sampai dia dulu (dan sekarang) ke- hilangan kata-kata untuk menugaskannya.” Istri- nya tersengal pelan.. Ray menelan ludah... “Kau tahu. Ray!” Dokter kembali full-pasukan. Mengecup dahinya. Aduh. membesarkan anak-anak kita yang jauh lebih beruntung. “S-e-p-e-r-t-i a-p-a?” Ray mengusap rambut. Hening. Ray tersenyum menatap istrinya.“Seperti apa cantiknya aku?” Ray menggigit bibir..” Istrinya terisak lagi.. Anak-anak kita.. Istrinya tersenyum lemah.. Merasa ihklas. c o m . Semua ini ada yang salah.... Yang-” Ray berbisik. Semua janji-janji manis yang kau berikan. “Saatnya. Ray tidak tahu apa itu. Berbisik. Saat keluar itulah dia menyadari sesuatu. Ada yang keliru.... Istrinya tersenyum amat lemah. mengusap pipi berlesung pipit itu. b l o g s p o t . ®LoveReads 302 | R a t u .. Lihatlah. Aku ingin selalu terlihat cantik.. Anak-anak yang akan memiliki orang-tua” Istrinya semakin tersengal- “Kita akan membesarkannya. Kemudian pelan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Kemudian pelan melangkah keluar dari ruangan. “Aku ingin kau selalu merasa senang kepadaku. Mengacungkan sepuluh jari. Full peralatan. Cantik sekali. Tetapi ada yang tidak beres. Ray tersenyum malu. “Aku bahagia sekali dengan semua kehidupan kita. muka pucat ini saja masih terlihat anggun-memesona.

. Dokter bergegas menyambungkan tangan mereka berdua. menyambung ke lengan istrinya. Lima menit berlalu lagi. asal bayinya selamat. dokter berhasil menahan pendarahan. Biar. lantas dipindahkan ke istrinya. Biarlah darahnya habis dipindahkan... Sobekan di perut untuk mengeluarkan bayi berusia tujuh bulan itu kembali dijahit. Lima belas menit operasi berlalu darah di kantong-kantong persediaan rumah sakit habis. Bayi itu tidak terselamatkan. Ray tergugu di sebelah istrinya. Istrinya pendarahan lagi. Istrinya masih terkulai pingsan. b l o g s p o t .b u k u . Hanya dia yang memiliki darah AB rhesus negatif. 303 | R a t u . Ray tersungkur di samping istrinya. Menangis tanpa air mata. Lengannya tertancap belalai. Lima menit operasi berjalan. Darah segar itu mengalir. Ray menggigit bibir. Dokter menelan ludah. asal istrinya selamat. Ray menggigit bibir masuk ke dalam ruangan kaca. c o m . Ray tergugu menatap wajah istri- nya yang pucat-pasi tertidur oleh obat bius. Dan kali ini parah.Takdir itu apa? Adakah yang berbaik hati bisa men jelaskannya kepada Ray malam itu? Ketentuan langit itu apa? Adakah yang bisa membantu menjelaskannya kepada Ray malam itu.. Operasi itu selesai. Biarlah habis.. Pendarahan.. Bagai ember bocor darah mengalir keluar dari rahim istrinya. Lima menit berlalu. Pontang- panting suster menyiapkan kantong-kantong darah. Tidak ada waktu untuk mengambil darah Ray. semuanya benar-benar memburuk.. Perawat-perawat menyeka ujung mata. Luka-luka terhenti mengucurkan darah. sebelum darah Ray benar-benar habis.

Remang. Semua ini menyedihkan. Dokter menghela nafas. Perlahan. “Ia baik-baik saja. Dia ingin menggenggam tangan istrinya. Melihat Ray di sebelahnya. Mencari. Jemari itu bergetar lagi. Mata istrinya pelan membuka. Jemari istrinya bergetar pelan. Dia tidak tahu. Pukul 04. Semua ini amat menyakitkan. antara terdengar dan tidak. tanpa gigi kelinci-” Istrinya berusaha tersenyum. mendekap istrinya saat istrinya tahu untuk pertama kalinya kalau mereka baru saja kehilangan permata mereka. Masih bayang-bayang. Senyap. b l o g s p o t . Menatap suaminya amat redup.15. tersengal bernafas. Ray menelan ludah. belum bertanya- “Apakah ia cantik?” “Cantik sekali. 304 | R a t u . Ray yang setengah terkantuk tetap memaksakan diri berjaga. Ray terbangun.” Ray menunduk. “Perempuan.b u k u . Dia tidak akan pergi kemana-mana. Dia ingin istrinya melihat wajahnya saat pertama kali nanti siuman. Ray!” Ray menggeleng.” Ray menggigit bibir. lagi. Enam jam berlalu. Terhenti. “L-e-l-a-k-i-p-e-r-e- m-p-u-a-n?” Memaksakan bertanya. “A-n-a-k k-i-t-a?” Bertanya pelan.“Sebaiknya kau menunggu di ruang jaga. Membiarkan- Waktu berjalan lambat. Kesadaran itu kembali. Yang. Pelan-pelan terang. Mata istrinya lamat menatap sekitar. Sebentar lagi azan subuh berkumandang. Tidak. c o m .

mata itu semakin redup.. nafasnya sudah satu-dua. “Apakah kau ridha padaku. Entah apa sebabnya. bingung.. terisak dalam. Kumohon. Kumohon jangan pergi!” Ray berseru panik. nafasnya semakin tidak terkendali.... Azan subuh dari mesjid dekat rumah sakit terdengar. Ya Tuhan! Mendadak Ray ditanamkan kesadaran itu...b u k u .. Ini kalimat terakhir! Jemari Ray seketika gemetar menggenggam jemari istrinya. “Apakah kau ridha padaku.Ray mengelus lembut jemari istrinya. Yang. Apa maksud per- tanyaan ini? Bagaimana mungkin dalam situasi seperti ini istrinya bertanya kalimat itu? Bukankah kata dokter semuanya akan baik-baik saja? “Jangan menangis.. Kesedihan memancar bagai mata air yang direkahkan. Sayang.. Semuanya akan baik-baik saja!” Ray menelan ludah.. b l o g s p o t ... Yang” Istrinya bersuara lemah... Nanti-nanti setelah kondisi istrinya lebih sehat dia bisa menjelaskan semua. ternyata sungguh tak ada lagi nanti-nanti itu. c o m . Wajah itu amat sendu- “Jangan menangis. Apa maksud pertanyaan ini.. 305 | R a t u . mendadak istrinya menangis. Di sela- sela tangisnya. Amat memilukan menatap wajah lembut itu menangis....” Ray membujuk.. Ray menelan ludah. Kesadaran yang membuatnya tergugu seketika.” Istrinya bertanya lagi. Kenapa istrinya menangis? “Apakah kau ridha kepadaku?” Istrinya bertanya tersengal. “Jangan. Mengiris hati siapa saja yang melihatnya.. semakin sulit dengan pertanyaannya..

Sungguh! Ya Tuhan. “A-p-a-k-a-h?” Istrinya menatap lemah. Tidak akan ada lagi harapan itu.. Benar-benar tidak akan ada lagi.. Mata isunya menunggu. Panik! Berusaha memanggil dokter. dia sungguh ridha dengan apa yang dilaku kan istrinya selama ini. Anggukan itu mengantar semuanya. Ray terpana! Menggigit bibirnya. menunggu. Sungguh ikhlas atas semua perlakuan istrinya. Pergi... b l o g s p o t . Selamanya- ®LoveReads 306 | R a t u . perawat. Siapa saja datanglah segera! “JANGAN PERGI!!” Ray gemetar merengkuh rubuh itu. Anggukan itu 'mahal' sekali harganya..b u k u .. c o m .“KUMOHON! JANGAN PERGI!” Ray menekan bel di sebelah ranjang. Ray m-e-n-g-a-n-g-g-u-k pelan... Mata indah istrinya pelan menutup.

Prosesi pemakaman itu sudah usai lima belas menit lalu. Jo yang terakhir pergi. Jo hendak menyentuh bahu Mas Rae-nya. Sore semakin matang.Bab 17 Apakah Kau Ridha Padaku ESOK sore. Semburat merah memenuhi pemakaman yang letaknya hanya sepelemparan batu dari pantai. Perkuburan kota semakin sepi.. istrinya dimakamkan. Berteman 307 | R a t u . dan tetangga beranjak pulang. Berbisik ikut berduka- cita.b u k u . Tangan-tangannya juga sudah kaku sejak terakhir kali melepaskan pelukan ke tubuh membeku itu. Suara jangkrik meningkahinya. pekerja.. menari duka. Berdesing. Memegang bahunya. Kesedihan yang menguar dari wajah itu bahkan cukup untuk membuat siapa saja yang melihatnya ter-tunduk dalam. Undangan mulai beranjak pergi. Jo menelan ludah. c o m . Satu-persatu pelayat. telinga Ray sudah kebas sejak semalam. tapi Jo terlalu gentar. relasi bisnis. Matahari beranjak tenggelam. Bunga kamboja berguguran. Perkuburan kota terlihat sendu. sehari menjelang hari raya. Menyisakan asap putih knalpot yang meng- ambang di udara. Hujan gerimis membasuh kota. b l o g s p o t . Bersisian dengan dua permata mereka.. Memeluk Ray. Meninggalkan Ray sendiri. Matanya tumpul. Senyap. yang tanpa nisan. teman dekat. beringsut mundur. Mobil-mobil perlahan me- ninggalkan jalanan. Kumbang hitam berterbangan. tangan- tangan itu sudah tidak bisa merasakan lagi. Sayang. Payung-payung hitam terkembang. dipenuhi rona kepiluan. dia sudah tidak bisa mendengarkan lagi.

Bangau-bangau putih berterbangan. Enam tahun yang indah. Si Gigi Kelinci! Wajahnya yang sendu di gerbong kereta terlukis di pelupuk. Duduk. bukan mata..” Ray tersenyum semakin getir. Tertidur di atas kursi depan bersama rajutan-rajutan.. Wajahnya yang lelah menunggu bermalam-malam. Wajah itu membalut tangannya dengan lembut.. Wajahnya yang riang di bangsal anak-anak rumah sakit. Semua kenangan 308 | R a t u ... Tidak.. wajahnya yang tertawa riang bercanda. sama sekali merasa tidak perlu menoleh... atau mereda.. Ray tidak terisak. tapi dia menangis tanpa suara..gerimis yang tak kunjung menderas. Hamparan sawah menguning. tetapi hatiku tidak sedang di situ. Kemejanya lembab. “Kenapa kau sering sekali terluka di pintu yang sama?” Apa yang dia bilang waktu itu? “Aku merasa tempatku di situ. c o m . Tatapan pertama mereka. Melewati enam tahun bersamanya. Giginya yang lucu bagai gigi kelinci terlihat saat pertama kali ia membuka mulutnya. Gadis itu memanggilnya Si Ceroboh.. Berteman debur ombak yang ditingkahi derik jangkring dan desing kumbang. Umurnya 34 tahun sekarang. Dia memanggilnya Si Gigi Kelinci. untuk mendapatkan perhatiannya.. Ray tersenyum getir. b l o g s p o t . Ray menatap kosong pusara istrinya. Wajahnya yang lelap. Ray seperti bisa melihat lagi bedak pipi kirinya yang tak rata. Tangisan itu mendera hari. Saling menggelitiki. Sejak semalam dia menangis. Ter-benam di lumpur. Hatinya benar-benar bagai digores seribu sembilu. Wajah yang tak peduli itu. Lututnya kotor.. Dia men- cengkeram ujung-ujung kaca... Ray tertunduk..b u k u .

Sayang. urusan ini memang menyedihkan. b l o g s p o t . satu-dua mulai berterbangan..ini menyakitkan. Lihatlah! Aku me- nemanimu... Apa maksud semua ini! Kenapa Kau TEGA? Kau renggut bayi kami tiga tahun silam.. kau tidak bisa melihatku waktu itu!” Orang dengan wajah menyenangkan itu menyentuh lembut bahu pasien ber- umur enam puluh tahun di sebelahnya.. bagaimana mungkin langit begitu tega mengambil 309 | R a t u .. Kau layak bertanya. Ray tersungkur sendirian- ®LoveReads Tidak. saat kau tersungkur di sebelah pusara istrimu... Orang dengan wajah menyenangkan itu. Malam itu. c o m .. Orang dengan wajah me- nyenangkan itu.. Gerimis membasuh perkuburan. Menarikan formasi indah. Gelap. “Ah. Malam perlahan datang. Di pe- makaman itu sesungguhnya ada EMPAT orang! Ray yang tersungkur mencengkeram tanah merah. Apakah Kau SENANG melihat hamba-Mu tersungkur seperti ini? PUAS? Ray meratap. Pasien berumur enam puluh tahun yang sekarang tersungkur mencengkeram tanah merah di seberangnya. Empat orang! “Ray. Senyap. kau lihat.b u k u .. Mulai mengutuk langit. Amat menyakitkan. saat seluruh isi dunia bergembira menyambut hari raya. Ray gemetar mencengkeram tanah merah di depan- nya. Di pemakaman itu Ray sungguh tidak pernah sendirian. saat karnaval malam takbir. aku juga ada di sana.. Dan sekarang Kau renggut istri dan bayiku sekaligus.... Kunang- kunang. Menggantikan semburat merah di cakrawala barat.

benda-benda berharga. c o m . Ada yang ke- hilangan sebagian tubuh mereka. Kau kehilangan istri yang amat kau cintai. “Ray.... kehilangan yang kau alami mungkin jauh lebih menyakitkan. Berhadap-hadapan. Kau tahu. Berdenging... dan dua wajah menye- nangkan itu. Semua kehilangan itu menyakitkan.. Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?” Seekor kunang-kunang... Tetapi itu akan menjadi sederhana kalau kau mau melihatnya dari sisi yang berbeda. dan sebagainya. tetes air hujan mem-basahi wajahnya.. dalam ukuran tertentu.......... tidak ada yang berminat memperhatikan sedikit pun. Tersenyum getir- “Inilah pertanyaan ketigamu. Cahayanya berpendar memesona. cacat.. Menusuk-nusuk hati. amat berharga malah.. Sulit sekali dijelaskan kalau kau memaksa memahaminya dari sisi yang seperti orang lain mencoba memahaminya selama ini... pertanyaan ini sulit dijawab.” Orang dengan wajah menyenangkan itu tengadah menatap langit. kesempat- an. cara ter- 310 | R a t u . hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang ber-harga miliknya. ke- hilangan anak. sendiri. Serentak dalam satu tepukan.semuanya.. wajah pasien itu.. kepercayaan.. terbang melintas di atas pusara istri- nya. Menerangi wajah pemuda berusia 34 tahun.. nama baik. Hanya menyisakan kau yang jatuh tersungkur. ketahuilah. Apapun bentuk kehilangan itu. bukan? Kenapa langit tega sekali meng- ambil istrimu. b l o g s p o t . Sisi yang seringkali kita lupakan. Hanya mengembalikan kenangan- kenangan pahit masa lalu itu.... kekasih. kehilangan pekerjaan.Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif lebih atau kurang.b u k u .. orang-tua. berani. Sayang.

menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu.. Kau tidak akan pernah menemukan jawabannya.. 'Bagiku kau ihklas dengan semua yang kulakukan untukmu. Tapi dia paham sebuah kalimat yang indah.. bagi istrimu... Dalam kasusmu. “Ketahuilah Ray.. Itu sudah cukup'. c o m . Nah. nasehat pernikahan kalian yang disam 311 | R a t u ...baik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi! Bukan dari sisi yang ditinggalkan.” Dua orang dengan wajah menyenangkan itu menghela nafas prihatin. b l o g s p o t . karena kau dari sisi yang ditinggalkan. itulah tujuan hidup baru istrimu... Kau harus memahaminya dari sisi istrimu. istrimu benar-benar ingin menjadi yang baik bagimu. Ia tidak pandai ilmu agama. maka kau akan mengutuk Tuhan.. Ridha atas perlakuanku padamu. Pemuda umur 34 tahun dan pasien berumur enam puluhan itu masih tersungkur di samping pusara...... sejak pernikahan kalian tujuan hidup- nya menjadi amat sederhana. Bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang kau alami! Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang- orang baik. yang pergi... Kau sering mendengar istrimu berkata.. penjelasan ini akan teramat rumit kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisi kau sendiri.. hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu. Amat s-e-d-e-r-h-a-n-a. Bukankah itu yang terjadi bertahun-tahun ke- mudian? Kau tidak pernah bisa berdamai dengan kepergian istrimu. dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat.b u k u . Senyap. yang ditinggalkan.. “Kau tahu.... “Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu. ia baru belajar itu semua saat kalian menikah.

. b l o g s p o t .. ia ingin kau menerima ia apa-adanya..paikan penghulu: Istri yang ketika meninggal dan suaminya ridha padanya. saat bintang-gemintang tumpah-ruah di angkasa menjelang subuh. subuh itu menjemput takdir terbaiknya.. Ray. memasangkan dasi. menunggumu pulang malam-malam dengan riang.. “Istrimu berkata 'Kau tahu. Aku ingin selalu terlihat cantik di matamu. menyakitkan masa kecilnya. Ia ingin kau ihklas atas semua yang ia lakukan. Malam itu....b u k u . memaksakan diri tetap terjaga saat kau pulang... Istrimu. menyiapkan air hangat.. c o m . Orang dengan wajah menyenangkan itu tersenyum. “Hanya itu yang dipahami istrimu.. Tuhan sedang tidak mengujimu! Tuhan justru sedang mengirimkan seribu malaikat untuk menjemput istrimu. Tuhan sungguh tidak sedang menghukummu. Tapi ia sungguh-sungguh me- laksanakannya. Kau ingat saat dia akan meninggal?” Pasien itu mengangkat kepalanya. malam itu saat rembulan gompal bersinar terang nan elok.. maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar baginya. Sama seperti Diar. Ia melayanimu sepenuh hati.. Takdir langit yang hebat. “Kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hambaNya.. memanaskan makan malam.. menatap kosong.. saat malam takbir hari raya. anak manusia yang gelap masa lalunya.. Menguburnya dalam-dalam...... Ia ingin kau ridha atas semua perlakuannya. hanya wanita mulia-lah yang bisa 312 | R a t u .ia mengubur semua masa lalunya yang kelam... Kenapa Tuhan melemparkan kau lagi ke dalam kesedihan itu? Malam itu..' Ah. Aku ingin selalu terlihat cantik. melepaskan dasi...

'Apakah kau ridha?' Dan kau mengangguk. Inilah jawaban mengapa istrimu harus pergi.” Pasien itu menunduk dalam. Istrimu men jemput penghujung yang baik. Menyeka matanya. Kau harus melihatnya dari sisi istrimu yang pergi. bukan dari sisimu yang ditinggalkan... Membuatnya nyata.... Ray... hanya terjebak dalam rutinitas harian. hanya memiliki satu penjelasan... Ray.mengatakan kalimat sehebat itu. Yang dengan menyelesaikan tujuan itu maka dia akan tersenyum saat maut men- jemput. yang pendng mereka bersungguh-sungguh melakukannya. langit bahkan mencintai rutinitas.. orang-orang yang memiliki tujuan hidup... “Ray.. istrimu telah mendapatkan tujuan hidupnya..b u k u . itu semua tujuan hidup! Tidak peduli sekecil apapun itu... Dan kejadian itu bagi kau dari sisi yang ditinggalkan..... Malaikat yang satu sayapnya saja mampu menutupi seluruh cahaya rembulan dan bintang- gemintang.. Tidak! Tidak ada yang salah dengan rutinitas. maka dia tidak akan pernah bertanya soal ini. Istrimu bertanya di penghujung hidupnya. langit 313 | R a t u .. c o m . Semua orang bisa mendefinisikan tujuan hidupnya.. harga tujuan tersebut. istrimu ingin ridhamu.... Berangkat pagi. apa semua kesedihan ini kurang menyakitkan? Ray. Ada banyak orang yang tidak memiliki tujuan hidup.. orang-orang dalam hidup seharusnya memiliki tujuan. seorang ayah ingin anaknya berhasil. b l o g s p o t .... Dan sungguh sudah mulialah istrimu.. Senyap... pulang sore.... menjadi dokter. Kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenang- kan dari hambanya.. Baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan.. insinyur.. maka malam itu seribu malaikat bertasbih turun mengungkung kota.

Tetap melayanimu makan malam. meskipun aku tidak bisa menjelaskan banyak hal... maka kau harus menjalaninya dengan senang. Ray. padahal sedang demam. Itulah kenapa aku datang.... aku tidak bisa mengajakmu bicara.menciptakan hidup dengan rutinitas. tapi untuk menjadi sungguh-sungguh sebuah tujuan hidup..” Orang dengan wajah menyenangkan itu menghela nafas pelan. Seperti istrimu yang sepenuh hati melayanimu. Baginya semua proses yang dialami. Seseorang yang memiliki tujuan hidup.. hanya ini satu-satu-nya penjelasan bagimu.” 314 | R a t u .. c o m .... Tersenyum riang. maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya... b l o g s p o t .. Dua bayi yang menjemput surga. Pasien di sebelahnya menyeka pipi. padahal kau terlihat enggan menyentuh makanan. Tapi tahukah kau? Kenapa aku mengunjungimu malam itu? Karena bayi-bayi kalian.. dengan riang. Terdiam.. tidak bisa menyampaikan penjelasan ini. Dua bayi perempuanmu. aku malam itu ada di sebelahmu. Selalu memeluk padahal hatinya sedang cemburu karena kau pulang terlalu larut. “Kau lihat. Dan dia bertekad menjemput akhir sambil tersenyum! Seperti istrimu. menyakitkan atau menyenangkan semuanya untuk menjemput tujuan itu... dari sisi yang ditinggalkan.. tapi kau seharusnya memiliki kesenangan menjalani rutinitas itu. kenapa dia harus dilemparkan lagi ke kesedihan.... Hanya menatap prihatin atas segala takdir hidup yang menyakitkan ini..b u k u ... bisa saja kau mempunyai tujuan hidup menjadi pekerja kantoran selamanya..... dengan sepenuh hati.. Ia meninggal dengan penghujung yang baik.. Sayang.

Karnaval malam takbir mulai memenuhi jalanan.. Hari Raya.. ada sebuah rahasia kecil yang harus kau ketahui.” Pasien itu menatap orang di sebelahnya.. Kau ingat pertama kali kalian bertemu? Di gerbong makan sehari setelah eksekusi Plee.. b l o g s p o t . Suara beduk dipukul bertalu-talu memenuhi langit-langit kota... Menyeka matanya.. Ray?” “Fitri-” “Kau tahu kenapa istrimu bernama Fitri?” Ray menggeleng.. Bagaimana dia akan tahu? “Karena istrimu lahir persis di Hari Kemenangan.. Aku akan memberitahukannya.. bahwa tidak ada yang sia sia dalam hidup dan tidak ada yang tidak adil dalam hidup. kenapa kalian bisa bertemu di sana? Karena istrimu adalah bayi yatim rekan kerja Plee saat mengeksekusi kebakaran di komplek rumah orang-tuamu.. karena ini terkait dengan dua pertanyaanmu sebelumnya. siapa nama istrimu?” Orang dengan wajah menyenangkan itu menyentuh lembut bahu pasien itu... Ya! Gadis sendu- misterius yang kau kenali itu adalah anak satu-satunya dari partner kerja Plee yang tertembus bilah bambu. Apa? “Siapa nama istrimu. ternganga- 315 | R a t u . Gerimis sudah terhenti sejak lima menit lalu.. Pasien itu menoleh. Rahasia kecil milik istrimu. Suara klakson menambah ramai... “Ray. Galon-galon air yang didendang- “Sebelum kita menuju pertanyaan keempatmu. c o m . Digantikan kemeriahan.b u k u .. Kau tahu.. Agar kau semakin mengerti..

Ia juga tahu kau terlibat dengan Plee.. yakinlah. Dia akhirnya mendapatkan penjelasan tentang masa lalunya dari Plee.“Malam itu dia hadir di eksekusi hukuman gantung Plee. istrimu benar-benar mendapatkan penghujung yang baik.” Orang dengan wajah menyenangkan itu merengkuh bahu pasien di sebelahnya.. Dua saat bersamamu. Ia amat menghargai barang-barang pribadi milikmu. Membuat ia terdampar di panti yang buruk... Uhu burung hantu memenuhi pekuburan.Senyap. itu pertanyaan pertama dan kedua dalam hidupnya. Mengetahui kalau ibunya berdarah-darah melahirkan sendirian. lelah menunggui suaminya yang tidak pernah pulang-pulang.. Dia mungkin tidak akan pernah tahu nama yang akan diberikan istrinya untuk kedua anak mereka. Istrimu memang tidak pernah tahu kalau kau korban kebakaran itu.. ®LoveReads 316 | R a t u . b l o g s p o t . Semua ini seharusnya memang selalu dipahami dari sisi yang pergi! Pasien itu lemah memeluk pusara istrinya. Mengetahui ibunya meninggal enam bulan kemudian karena tidak kuat menanggung beban. tapi ia memutuskan untuk tidak ber- tanya banyak. Rembulan gompal menghias angkasa..... Ia pernah menemukan potongan koran milikmu. Bintang- gemintang tumpah. Terdiam...b u k u .. “Ray.. Karnaval malam hari raya di jalanan kota semakin ramai... Sama sepertimu. tapi dia tidak membaca- nya. sebagai satu- satunya kerabat Plee... Kau menjadi jalan bagi istrimu menjemput penghujung yang baik. Kau kemudian menjawab tiga pertanyaan besar miliknya. karena kau tidak pernah menceritakannya. Tersenyum getir... Satu yang terakhir saat ia meninggal.. c o m ..

Bandara itu terlihat elegan dan modern. semua kenangan itu kembali mengungkung kepala. Pergi menjauh. Bandara ramai oleh suara tepuk- tangan. b l o g s p o t . Peresmian bandara berjalan sukses. Presiden. di pemakaman yang dipenuhi pohon kamboja. Ray tidak berada di bawah tenda-tenda raksasa. Berkilat dengan tiang- tiang dan atap aluminium. si Gigi Kelinci. Di tepi pantai. Ray seolah-olah bisa melihat mereka berdua saling meng- gelitiki. P-e-r-g-i! Mata Ray redup memandang kota dari ketinggian. Ray sedang duduk takjim menatap dari balik jendela kaca. Di sana. Tertawa- 317 | R a t u . c o m . hanya menatap halaman rumah. Setiap kali berada di sana. Di sana terkubur seluruh kenangan indah bersamanya. Ray tidak berdiri ber- jejer di sebelah presiden dan anggota konsorsium meskipun dia lebih dari layak mendapatkannya. Sempurna sudah menjadi poros per- kembangan ekonomi bagian timur. di sana ter- baring istrinya tercinta. berada di dalam pesawat komersil perdana yang melesat menuju Ibukota itu. Jangankan menatap rajutan pakaian-pakaian bayi itu.Bab 18 Gedung Tertinggi PESAWAT komersil penerbangan perdana dari Bandara Internasional Kota melesat mulus ke angkasa. Terkubur selamanya. Juga rombongan 'pembantu-pembantu'-nya.b u k u . Hari ini Ray memutuskan pergi. tersenyum sumringah ikut bertepuk tangan. Dia tak kuasa berada di rumah lereng pebukitan.

Tempat terbaik untuk menyimpan kenangan istrinya. Hari ini dia pergi. anggota konsorsium pembangunan bandara yang tinggal di Ibukota. Menyebutkan tempat. Gedung-gedung pencakar langit.Hari ini dia memutuskan pergi. Taksi itu melesat.. memeluknya prihatin.. Bukan main. Malam ini. Menatap menara-menara Ibukota. Ray sempurna ingin melupakan semua kenangan yang menyesakkan. Dan itu kabar baik bagi Ray yang tak ingin diganggu. Tadi mereka sudah berpesan. b l o g s p o t . Dan dia tidak punya tujuan. Menjual kepemilikan empat counter Puding Pisang milik istrinya. c o m ... Ray menjual rumah itu. Ke Ibukota. burung bangau putih. ®LoveReads Pesawat milik maskapai penerbangan nasional itu mendarat di bandara Ibukota dua jam kemudian. Hamparan persawahan. maka seluruh uang penjualan harta milik istrinya disumbangkan ke bangsal anak-anak rumah sakit.. Pusat pemerintahan.. Ray pelan mengusap dahi. 318 | R a t u . Sopirnya tidak banyak cakap. Ray melangkah pelan sepanjang garbarata. Entah kapan akan kembali. mungkin dia akan menginap di rumah relasi bisnis. dan peradaban yang maju pesat.b u k u . bisnis. Ray mencegat taksi biru di lobi kedatangan. Dia tidak membawa bagasi satu koper pun. Delapan tahun sejak pertemuan pertama mereka di gerbong makan kereta. Dia duduk diam-termenung.

Nalurinya terasah. tidak ada yang tersisa di sana. Berarti di gerbong itu tidak boleh ada pedagang keliling. b l o g s p o t . Ray baru saja berpikir tentang gitarnya dulu.b u k u . Ray bertanya ke kerumunan pekerja. Masih padat seperti dulu. tukang jual koran. satu-dua terlihat tertutup. Satu untuk kehilangan jejak anak-anak Rumah Singgah. 319 | R a t u . Mereka sedang menger- jakan proyek properti prestisius di selatan Ibukota. Apakah dia masih bisa memetik gitar? Ray menghentikan taksi di depan sebuah pertokoan. Dan dia mengenal betul kawasan itu. Menuju pemberhendan pertama. Jangankan orang. Menjinjing gitar baru ke dalam taksi. ada satu hal yang benar-benar berubah dalam hidup Ray. pengamen. Eksekusi semua apa yang menurut kalian menyenangkan. Sejak hari itu. rumah-rumah sudah tak bersisa. “Bukan!” Ray menjawab tidak kalah pendeknya. Sejak hari itu dia menggunakan seluruh kemampuan yang pernah dipelajarinya dari Plee-dengan kapasitas dan pengaruh yang berkali-kali lipat. Tapi KRL itu masih menderu di batang-batang baja rel-nya. kereta bekas dari negara jauh. Tempat itu jadi lahan kosong belasan hektar. Malah tambah semakin tidak manusiawi. “Buat hadiah.Delapan tahun berlalu. Rumah Singgah. disadari atau tidak. c o m . Dua untuk kata prestisius itu? Dia tahu persis seluk-beluk bisnis konstruksi. Sayang. Pak?” Sopir taksi bertanya pendek. Maka dia turun beberapa detik ke pertokoan. Kata Plee dulu. Yang berbeda hanya gerbongnya sekarang terlihat lebih keren. gunakan naluri. Taksi biru itu melesat lagi. Semua berubah mencengangkan. ber-AC. Ray menelan ludah. Ray menatap lamat-lamat.

Gesit me- naikinya. b l o g s p o t . Senja datang menjelang. Sedikit pudar- pemiliknya mungkin malas merenovasi. Taksi biru itu melesat pergi. Menyandangkan gitar di bahu.b u k u . Burung layang-layang terbang dengan formasi sama. Di perkampungan ini yang berbeda hanyalah bau. Meski baru saja menemukan lokasi Rumah Singgah sudah rata dengan tanah. Semburat merah memenuhi langit Ibukota. Pemberhentian berikutnya. tower air itu pasti masih ada. Ray sedikit pun tidak cemas apakah pemberhentian mereka berikutnya masih ada atau tidak. Tower air itu masih gagah berdiri. Mobil berderet-deret. Kampung di pinggir bantaran kali tidak berubah sedikit pun. Jalanan macet. Ray tersenyum. Kaca gedung-gedung pencakar langit terlihat Jingga. Wajah-wajah bergegas. Tempat ini 320 | R a t u . Nanti malam baru beranjak menuju rumah relasi bisnisnya itu. dulu pun dia sudah terbiasa- Melangkah mendekati tower air. Naluri itu bagai menyatu dalam aliran darahnya. Konstruksi tower cukup baik untuk menopang gentong raksasa belasan tahun lagi. Rumah besar tempat Plee dulu mengontrak masih berdiri. Dia mengenalinya. tidak peduli. Ray mendesis pelan. Tempat ini tidak cocok untuk komplek perkantoran. Sore ini dia akan menghabiskan waktu sejenak dengan duduk-duduk di atas tower air. menggoda pasangan. saat buhul-buhulnya dilepas. Taksi biru itu melesat lagi.hanya membutuhkan waktu sejenak untuk menyimpulkan: investor lokasi konstruksi ini bodohi. Wajah-wajah lelah pulang kerja. Bantaran kali semakin bau. Ray menyeringai amat yakin. Benar-benar hebat. c o m .

Ray tertawa (tawa mengendalikan). menyapu bersih seluruh penampilan Ray. 321 | R a t u ..masih sehebat dulu.. “Kau berubah. dia masih jago.. “Kau mengamen dengan baju ini?” Ray mengangkat bahu. Kemana saja? Ibu sampai kangen!” Malah terlalu ramah sekarang (tanpa disadari- nya). “Kalau begitu. kau pasti pengamen terkeren yang pernah ada!” Ibu- ibu itu nyengir.. teringat dulu sering diteriaki. Dia kembali sendiri. perikan itu bertenaga. “HEI! APAKAH KAU PENGAMEN YANG DULU?” ®LoveReads Ray mengenali ibu-ibu yang memanggilnya dari bawah. dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hidup benar-benar lelucon. c o m .....b u k u . Dulu dia sendiri.sekali. tersenyum (senyum mengendalikan). Ibu-ibu itu melotot. Ray mengeluarkan gitarnya. “Apa kabar?” Ray tersenyum. Delapan tahun berlalu. dimaki-maki untuk membayar uang sewa.. Tidak mungkin dia berharap ibu-ibu gendut-keriting itu yang naik. Ibu-ibu itu pemilik kamar petak pengap sewaannya dulu. Duduk menjuntai. tersenyum lebih ramah (tanpa disadarinya). Berteriak. Memetik sembarang lagu. Ray 'berbaik hati' turun.. melupakan masa-masa lama. b l o g s p o t . Delapan tahun berlalu. mem- betot senar-senar.. Meski dia malas untuk berbincang dengannya. apa salahnya saling menegur.. Jemarinya lincah memainkan irama panjang dalam nada tinggi.

Ray menyeringai. Di situ tempat berakhir. c o m . Canggung.” Ray menjawab pendek... Kau anak berbakat. Ini pasti ada kaitannya... Sebentar.. Merasa tidak enak dengan intonasi kalimat Ray. Disimpan seribu rembulan. Merasa risih dengan masa lalu itu. Melipat dahi. aku hampir tidak mengenali.. Ketika amplop kuning lusuh itu diberikan kepadanya. Ibu-ibu itu menelan ludah.. maaf. Amplop itu sudah terbuka... Aku lama sekali menunggu kapan kau mungkin sekali dua mampir ke bantaran kali ini. Masa lalu? Ah-ya- “Maaf tadi meneriakimu.. sebentar. Gunakan sebaik-baiknya. “Eh.” Ray menyeringai. Ray membuka amplop tersebut. seketika Ray berdesir. Plee..” Ray melipat surat itu.. Aku ambilkan!” Ibu-ibu itu bergegas. beranjak keluar dari halaman rumah...“Tidak kemana-mana. Aku yakin kau bisa mengubah 'seribu rembulan' menjadi energi hebat tak terkirakan. Lama sekali menyimpan surat itu. Ray. Inilah yang tidak diketahui Ray. Hatinya mendadak bisa menduga-duga.b u k u . Surat? Lama menyimpan? Untuk siapa? Ray melangkah mengikuti. Itu dari Plee! Pesan yang ter- tulis di kertas lusuh itu tidak panjang: “Di mana tempat bermula.. Ibu-ibu itu terdiam. tidak sengaja sempat membacanya... Benar. Tanpa merasa perlu berterima kasih. Masih kebas dengan 322 | R a t u .. merasa bersalah. b l o g s p o t . ibu-ibu itu mengkerut. maaf. dari dulunya memang sudah terbuka-” Ray menatap tajam- “Eh. Ray menatap ibu-ibu itu.

Ray tahu persis apa maksud tulisan Plee dalam kertas lusuh menguning itu. Kembali menatap langit senja Ibukota. Berpikir. A-p-a-k-a-h. c o m . Ray menatap langit Jingga. Ray mengambil alih proyek tersebut.? Kembali menaiki tower air. Yang ada pembangunan apar- temen yang nyaman. Bintang- gemintang membentuk ribuan formasi memesona. Jalanan macet. Orang-orang bergegas. tapi dua bulan kemudian Ray baru menghubungi relasi bisnisnya di Ibukota.. Ray memanjat gentong raksasa berwarna merah muda di sebelahnya. Pertemuan itu diadakan di bekas lokasi Rumah Singgah. b l o g s p o t . Ray memainkan gitarnya. Dan Ray tidak menginap. ®LoveReads Bukan besok. Dia tersenyum menatap langit yang bersih tidak tersaput awan.. Ray menawarinya ber- gabung. Melantunkan lagu favorit Plee dulu. Orang itu selama ini menangani bagian pemasaran proyek konstruksi gedung 18 lantai dan pembangunan Bandara Internasional Kota. Membuka tutupnya. Maka setelah meletakkan gitar.b u k u . Malam beranjak matang saat dua bulan lalu Ray memutuskan sudah saatnya mengambil seribu rembulanku. Burung-burung layang. Bundar menghias angkasa. Dia tahu persis apa maksud surat itu.perasaan bersalahnya (tanpa izin membaca surat yang tidak pernah dimengerti apa maksudnya). Sudah 323 | R a t u . Tidak ada pembangunan komplek perkantoran. malam ini dia mungkin tidak akan bermalam di rumah relasi bisnisnya. Menggarap proyek yang akan mereka ambil alih.

Dia menelan ludah. Tidak mungkin di dalam rumah. Ray melompat naik ke leher gentong. saat kepala Ray masuk ke leher gentong. tutup gentong sedikit macet. Apa yang dulu Plee bilang? Terkadang tempat teraman adalah tempat yang menurutmu paling berbahaya. Perlahan mengeluarkan berlian itu dari saku. lantas meluncur ke dasarnya. Saat Ray melemparkan tutup itu sembarang. petugas bisa saja menemukannya. tubuhnya men- dekati berlian. berlian itu berkilau amat indah. di dalam beningnya air. Dia dulu 324 | R a t u . Ray melompat masuk ke dalam gentong raksasa. mengeluarkan seluruh tenaga dari tubuhnya yang gempal dan kekar. Mengambil nafas banyak-banyak. Dan Berlian Seribu Karat sempurna tersembunyi di dalamnya. c o m . Plee sebelum memasukkan mobil ke dalam garasi di subuh yang men- cekam itu. saat cahaya rembulan menyelusup masuk ke dalam gentong. Tidak ada yang pernah me- nguras gentong ini. b l o g s p o t .bertahun-tahun tidak dibuka. Tidak ada selama delapan tahun terakhir. Dia tidak pernah berpikir di mana berlian itu selama ini. Lumut-lumut tersibak membuat keruh. sadar dia harus segera menyembunyikan berban itu. Tutup gentong berderit mulai berputar. sebaliknya terkadang tempat paling berbahaya adalah tempat yang kau kira paling aman. Tangannya menggapai. Bagai induk bebek kaki Ray mengayuh. Tenggelam hampir separuh oleh lumut dasar gentong. Menutup mulut gentong kembali. Ray meng- geram. Tower air itu pilihan terbaiknya. Menuruni sisi luar.b u k u . Dalam air itu berbilang tiga meter.

Gigi Kelinci. Ray bisa membuatnya menjadi seribu rembulan tak terkirakan. Ray bergegas menuju penginapan terdekat. Jo pilihan terbaik. Rumah di atas lereng perbukitan itu sudah jauh tertinggal ratusan kilometer. 'Kenapa aku meng- inginkan kau yang mengeksekusi-nya Ray? Ya. Ray membutuhkan kepala mandor. yang terpenting adalah kau bisa kupercaya!'Itu kata Plee dulu. tapi di atas segalanya. kau berbakat itu salah satu alasannya. ada banyak mimpi yang bisa aku wujudkan untukmu! Gedung tertinggi- Pertemuan dengan relasi bisnis Ibukota itu menghadirkan Jo! Jo dan puluhan mantan pekerja lamanya. hanya bilang berlian itu terjatuh di lantai 60-yang membuat kontroversi itu semakin rumit. Bergabung. Malam itu juga.berpikir mungkin sudah hilang entah di mana. Anak itu tidak secerdas dirinya. Relasi bisnis Ibukota yang termangu tidak mengerti dari mana Ray mendapatkan modal besar untuk melakukannya hanya mengangguk menurut. Kenangan itu sudah terkubur bersama wajah cantik istrinya. Pengambil-alihan proyek itu berjalan lancar. Kesedihan ini harus dilalui dengan banyak aktivitas. 325 | R a t u . berapa kata Plee waktu itu harganya? Ratusan milliar? Dengan berlian ini. Dengan berlian ini. Dan Plee tidak pernah membuka mulut. Ada banyak hal yang ingin direncanakanya besok. b l o g s p o t . Ada banyak hal yang harus dilakukan besok.b u k u . Berita-berita me- nyebutkan berlian itu tidak pernah ditemukan. tetapi Ray mem- butuhkan semua orang yang bisa dipercayainya. c o m ....

Lagi-lagi membuat ter- perangah relasi bisnis Ibukota-nya. Tidak ada yang melebihi Ray dalam urusan menjadi kepala mandor. “Aku ingin seluruh unit apartemen ini terjual sebelum topping. dan tatapan mata Ray yang mencengkeram mengendalikan. Ray tahu persis mengurus pekerja. Kau urus saja soal itu! Urusan konstruksi serahkan padaku!” Relasi bisnis-nya menelan ludah. Dia memodifikasi lantai dua menjadi kamar-kamar petak. Itulah yang bisa dijual dari lokasi tersebut.. Tidak berkomentar lagi soal layak-tidak-layak. tapi jelas berbeda dalamnya. tersinggung atas kalimat keberatannya. Di setiap bedeng disediakan kasur dan perlengkapan memadai kamar lainnya.Tidak ada yang bisa menolak intonasi. Tapi cukup.b u k u . lokasi Rumah Singgah persis berada di se- potong kawasan Ibukota yang rindang. Memodifikasi dengan baik. Tempat tinggal yang nyaman. c o m . b l o g s p o t .. Ray dengan bakat besar rekayasa sipil memilih memanfaatkan yang sudah ada. Semakin baik motivasi mereka. lazim-tidak-lazim. Tidak mewah.. gesture. Ray berkata dengan tatapan mata tajam. Maka dimulailah proyek pembangunan apartemen itu. Sama seperti di lokasi konstruksi lainnya. 326 | R a t u . Dan hebatnya Ray tinggal bersama mereka. Proyek per- kantoran itu sudah terlanjur separuh jalan. mengangguk. Dia tahu. Dan sekarang tidak ada yang melebihi Ray dalam urusan menjadi pemilik gedung. maka semakin baik produktivitas dan kualitas kerja mereka. Ray memutuskan tinggal bersama pekerjanya.

Bahkan setelah pekerja itu tidur.b u k u . berdengking-dengking. Mencangkung di lantai 24. beberapa karyawannya mengusap sudut-sudut mata. Membuat semuanya terlihat sendu. Malam itu. Kenangan itu memang sudah ter- 327 | R a t u . Sisa tiang penyangga bangunan. Malam itu. Menjelang pagi malah. Di atas palang besi yang menjulur. Rembulan menyabit di angkasa. kali pertama Jo dan pekerja yang didatangkan dari kota lamanya tahu kalau pemilik gedung mereka amat pandai memetik gitar.Ray mengawasi proses konstruksi apartemen sama banyaknya dengan menghabiskan malam-malam bersama buruh-buruh. Terharu- Ah. suaranya tidak pernah tertolong. Petikan gitar Ray memenuhi langit-langit senyap lokasi konstruksi. apalagi sekarang saat dia menyadari memiliki kemampuan mengendalikan orang lain. lantai tertinggi konstruksi apartemen. c o m . Jalanan yang lengang. Tapi Ray mengerti bagaimana membuat sebuah lagu terdengar menyentuh. saat dia kembali menjadi 'pengamen KRL' yang pandai memainkan lagu-lagu sendu. Petikan gitarnya terdengar patah-patah. Sudah larut. Gerakan tangan yang lincah. mulut berkumur-kumur dia bisa membuat orang lain larut-bersedih. Ray masih memetik gitarnya. Bahkan setelah keheningan malam mengisi sudut-sudut bedeng. Bahkan setelah buruh-buruh itu terlelap dalam buaian mimpi. Hamparan gemerlap Ibukota terlihat sepanjang mata memandang. Jutaan kerlip lampu-lampu. Ray masih seburuk dulu menyanyi. b l o g s p o t . Langit tertutup awan kelabu. dulu pun dengan tampang kusut. Ray bergetar membisikkan lirik lagu kesukaan Gigi Kelinci-nya.

Jo mengerti dalam banyak hal dia tidak sepantasnya mencampuri urusan Ray. Memeluk gitarnya. si pemilik gedung. suara gitar Mas Ray mengganggu-” Jo menyeringai lebar. Sepanjang tahun itu pula kebiasaan lama Ray duduk di lantai tertinggi konstruksi gedung kembali.kubur. Senyap. Jo duduk di tubir gedung. Malam- malam sendiri seperti ini. c o m . Tetapi Jo teman yang baik. “Aku tidak bisa tidur. sembarang mengambil topik pembicaraan. Merasa bersalah. Selalu tidak berani duduk di palang baja itu. Angin malam yang bertiup pelan justru menikam perasaan. Dia tidak layak. sudah terlalu larut. Hari-harinya juga dipenuhi oleh berbagai kesibukan. Ray menghela nafas. Ray tertawa. “Maaf.. menelan ludah. Setahun berlalu sejak pengambil-alihan proyek bekas Rumah Singgah. “Apa Mas Ray tidak ingin menikah lagi?” Jo berkata pelan. Tetapi malam-malam sepi seperti ini.. Jo amat dekat dengan Ray. Mas Ray-” Jo mengusap kening. Meski tidak biasa seperti malam ini. termasuk tentang istrinya. b l o g s p o t . Jo terbiasa menemaninya. “Kau tidak bisa tidur?” Ray menoleh. Tahu semua urusan Ray. “Mas Rae-” Seseorang menegur. Beda kelas.. 328 | R a t u . Wajah istrinya mengukir di pelupuk mata. Hening sejenak.b u k u . “Duduk Jo!” Ray berkata pelan. Ray menghentikan petikan gitar. tanpa menoleh. Pemakaman dipenuhi pohon kamboja di tepi pantai itu juga sudah tertinggal ratusan kilometer.

Hidup hanya sekali.. Mungkin dengan semakin sibuk. Ah-tapi bagiku tidak. c o m . Senyap lagi. “Kau sudah memastikan pekerja tambahan?” “Sudah Mas Ray.” Ray mengangguk.“Tidak masalah. lima puluh orang lagi baru tiba sebulan lagi. ikut tertawa. Anggaran bisa dihemat seper- empatnya. konstruksi apartemen itu selesai lebih cepat enam bulan dari jadwal biasanya... mati sekali. Terdiam. maka jatuh cinta juga hanya sekali. semua kenangan lama ini akan terusir dengan sendirinya. Proyek tambahan. b l o g s p o t .Mengubur seluruh perasaan itu-” Jo menelan ludah. damai. maka malam ini mereka melihat rembulan yang sama. Pekerja tambahan. Jo. Lazimnya orang-orang akan menemukan pasangan baru.Kau benar. seharusnya urusan ini sudah lama di- lupakan. Menemukan gadis lain. semakin membatukan diri dalam pekerjaan.. Ia sudah pergi membawa sepotong hatiku. Indah. Mereka masih bekerja di proyek lain..b u k u . Jo menggaruk rambutnya. Dengan sistem dan pendekatan baru... kalau istrinya masih ada dan berdiri di tepi pantai itu. Kualitas bangunan nomor satu. 329 | R a t u .. menenteramkan. Senyap.. tapi baru lima puluh orang.. nenek-nenek-” Ray terrawa getir. Kembali menatap rembulan menyabit..... ®LoveReads Dan Ray benar-benar membatukan dirinya dalam pekerjaan. menikah juga sekali.. “Apa yang aku bilang saat kau dulu melihatnya melalui teropong itu? Ah-ya.

dengan tatapan mata tajam. Dua tahun terakhir tercatat Ray sudah membangun pusat perbelanjaan tujuh lantai di dua perempatan terkenal. Peresmiannya setahun kemudian mengundang decak-kagum. Reputasinya mulai terbentuk. Memutuskan segala sesuatu hanya sekejap setelah memikirkannya. Ray sudah memulai tiga proyek properti ambisius lainnya. b l o g s p o t . Pemuda yang berhasil menjual 180 rumah mewah bahkan sebelum rumah-rumah itu mulai dibangun. penjualan seluruh unitnya tercapai jauh hari sebelum topping. Ray memiliki kemampuan besar untuk membuat orang setia hingga mati kepadanya.b u k u .Proyek itu sukses besar. Bukan hanya satu. Sejak memutuskan untuk membatukan dirinya. tiga gedung perkantoran puluhan lantai di utara Ibukota. Dengan kemampuan itu dengan mudah Ray bisa meninggalkan banyak proyek di tangan orang-orang kepercayaan. Dia sudah sibuk mengurus proyek properti lainnya. Tetapi Ray tidak menghadiri peresmiannya. Proyek apartemen itu diselesaikan oleh kepala mandor lain. ekspresi muka 'menyenangkan'. dia selalu merasa haus dengan kesibukan. dan tiga pemukiman elite di ujung selatan kota. Untuk proyek properti kelas menengah. c o m . Hanya jo yang selalu menyertai Ray kemana dia pergi. Reputasi yang hebat. Pemuda usia 37 tahun. sementara dia satu-persatu memulai proyek besar lainnya. tidak ada pemilik modal dan rekanan yang tidak mengenal Ray. saat terakhir Ray bicara dengan Jo di lantai tertinggi proyek apartemen tersebut. 330 | R a t u . Pemuda yang amat berani berhitung resiko. dan intonasi suara 'lembut'.

Dalam berbagai pertemuan bisnis. b l o g s p o t . Tetapi Ray tidak peduli kalau itu harus mengorbankan taipan-taipan kaya. 331 | R a t u .. Ray memang tahu batas-batas baik dan buruk dalam bisnis. maka bagai ulat berbisa pemuda itu menggigit dari balik selimut. Ray licin bagai belut. Bersandar di kursi- nya yang nyaman. “Kalau begitu urusan ini bisa lebih lancar... Inilah yang 'mengerikan' dari sosok Ray yang baru. tak pandai mengendalikannya.b u k u . Licik bagai musang. “Well. Meng- ambil-alih semuanya. aku yakin kau tidak bodoh. c o m . Menatap 'menghargai'. “Proposalmu luar biasa..” Ray tersenyum sopan.Yang berhasil menyingkirkan seorang jenderal 'pemilik lahan sengketa di perempatan terkenal itu. “Aku tahu siapa kau-” Taipan berumur tujuh puluh tahun pemilik bank swasta terbesar di Ibukota menatap dingin. ®LoveReads Ruangan kerja lantai 58 itu senyap sejenak. Dia benar-benar membarukan dirinya. Dia sejauh ini bisa mencegah dirinya untuk menghalalkan segala cara mengorbankan orang-orang kecil. bertemu dengan pemuda itu bisa amat berbahaya.. Apalagi kenangan masa lalunya tentang kebakaran disengaja itu.. Tetapi bukankah kau berkali-kali bilang.” Taipan itu meletakkan berkas di atas meja.. Ray! Tapi hanya orang bodoh yang mau mendanainya... dalam bisnis lebih baik menjadi bodoh daripada terlalu pintar.

c o m . Padahal waktu itu reputasinya sudah amat menakutkan.. Gedung kantor pusat bank swasta terbesar di Ibukota.. Ray! Reputasimu dalam bisnis properti tidak terkata- kan.b u k u . Mimpi yang tidak pernah terwujud. Memintanya untuk tidak merokok. jadi sebaiknya kau tidak merokok dalam ruang- an ini!” Ray tersenyum. “Aku tidak merokok. sedikit bingung.” Taipan itu mengusap kepalanya yang botak. Sembilan proyek dalam lima tahun. Mimpi yang berlebihan. Semuanya sempurna. Luar-biasa! Tapi mendanai pembangunan gedung tertinggi itu mimpi siang-bolong pemain industri properti di negeri ini berpuluh-puluh tahun silam. tidak pernah memiliki kemampuan mengendalikan diri se-mencengkeram ini.” Taipan itu meraih cerutu Kuba di atas meja berplitur. Pemuda ini. Lantai tertinggi gedung miliknya.. “Aku tidak merokok-” Ray tersenyum. Kabar burung itu benar. matanya semakin tajam. Taipan itu terperangah sepersekian detik. pemuda yang sekarang tersenyum takjim menatapnya...... “Aku tahu siapa kau. Dia waktu membangun imperium perusahaan keuangan miliknya. Tidak. pemuda ini benar-benar “mengerikan”. Melakukannya berkali-kali lebih menceng- 332 | R a t u . Demi dewa bumi... “Maaf?” Taipan itu mengangkat mukanya. b l o g s p o t . Ini ruang kerjanya. tertawa terkekeh. Taipan itu menelan ludah. Bagaimana mungkin pemuda ini berani melarangnya merokok. Sukses besar.Saking pintarnya sehingga kalian tidak pernah berani mengambil keputusan beresiko.... menatap wajah tersenyum Ray. menatap tajam..

Bersalaman. Menangkupkan kedua belah telapak tangannya takjim. Matanya menatap amat “mempesona”. Lantas bergegas mendekati jendela kaca ruangan kerja taipan itu. Mister Liem?” Ray bertanya datar. mungkin dua ratus meter lebih!” Taipan itu pelan men- dekat.” Basa-basi kalah. “Baik. Dia harus mengakhiri pertemuan ini. Mengulurkan tangan. Ergh.. “Aku tidak pernah bisa berhenti merokok. Taipan berumur tujuh puluh tahun itu berdiri.. “Eh. menurut. 333 | R a t u .” Ray mengangguk. Berputar. “Baiklah.keram. Semoga kau mendapatkan kabar baiknya-” Taipan itu berkata senormal mungkin. bingung dengan apa yang akan dilakukan Ray. hendak mengantar hingga pintu. aku tidak bisa memutuskan sekarang. Menelan ludah. Me- langkah keluar ruangan. Wajahnya seolah-olah 'ber- sepakat' dengan kalimat taipan di hadapannya barusan. b l o g s p o t . Ray sudah berdiri di belakang kursinya. Taipan itu meletakkan cerutu di atas meja. Mendadak Ray menghentikan langkah. Hei! Apa yang hendak dilakukan pemuda ini dalam ruangannya. “Berapa ketinggian lantai 58 ini.. Ray! Izinkan aku mempelajari proposalmu selama seminggu. Meletakkan cerutu kuba itu. Berdiri. melangkah menjajari.. padahal kau tahu dengan usia sepertiku kenikmatan cerutu ini mengundang maut.. Taipan itu menoleh tidak mengerti. Taipan itu mengusap keringat di dahi. c o m . Ray tersenyum penuh 'penghargaan'. Mengangkat bahu..b u k u .

b l o g s p o t .. aku akan katakan seberapa yakin dan bodohnya aku. Membuka engsel jendela kaca tersebut. Taipan itu berdesir- “Kalau satu tahun sejak kau menandatangani kesepakatan pinjaman dana ini proyek ini tidak memenuhi harapan seperti dalam proposal yang kuberikan padamu. Hanya sekali aku katakan” Ray mendesis. menit yang sama..” Ray tersenyum 'mencengkeram'. “Aku membutuhkan semua orang-orang kita yang terbaik. Kontak dan rencanakan pertemuan dengan relasi bisnis dua hari ke depan. ®LoveReads Esok harinya. seberapa yakin aku dengan keberhasilan proyek ini? Kau tadi bertanya seberapa bodoh aku sehingga berani-beraninya memulai proyek gedung tertinggi ini? Baiklah Mister Liem. Kau kumpulkan malam ini juga... Angin kencang menderu langsung menerpa seluruh ruangan.Tangan Ray cekatan menyingkirkan krei.... Bandara Ibukota. aku akan melompat dari jendela ruangan kerja milikmu yang amat mewah ini.. Di jam yang sama. detik yang sama. c o m . Taipan itu berusaha mencari pegangan di ujung mejanya. “Kau tadi bertanya.. Mengerti-” 334 | R a t u .. Ambil dari berbagai proyek yang sedang berjalan. kalimatnya terdengar 'menusuk'. Maka persis satu tahun dari sekarang... Bilang ke bagian pemasaran.. Jo.b u k u . membuat rambut gondrong Ray berkibar-kibar. aku akan meloncat dari jendela ini! Kau dengar itu Mister Liem.. mulai bekerja malam ini juga...

kebas demi mendengar pertanyaan itu. “Aku tidak bisa memberikan banyak waktu baginya. “Pernikahan? Ergh. Mas Ray tahu sendiri. Tersenyum. amat dihormatinya. mati-pun dia bersedia demi Ray. Ray menatap datar.. “Bagaimana rencana menikahmu?” Jo yang dari tadi berusaha mengimbangi langkah kaki hampir me- nubruk Ray.” Ray melipat keningnya. Bayangkan.. Entah dia mengerti atau tidak- Mereka hampir tiba di pintu check-in keberangkatan luar negeri. 335 | R a t u . Tersenyum. Sosok yang amat diseganinya. Jo! Aku memper- taruhkan semuanya dalam satu keranjang.... mengusap wajahnya. Menyentuh bahu Jo penuh peng-hargaan... Mas Ray-nya masih menyempatkan diri memetik gitar bersama pekerjanya.“Mengerti Mas Ray!” Jo mengangguk. Frankly. Mas Rae... Gelagapan berhenti.. urung. Lantas melangkah menuju meja check-in.b u k u . tapi semalam.” Jo mengangguk. “Ini akan jadi proyek yang paling ambisius. Ergh. kalau aku harus memilih antara menemani Mas Ray atau menemaninya.. “Lusa pagi-pagi aku sudah kembali dari Sydney. ah-seperti- nya tidak. Meminta penjelasan. semoga anggota konsorsium dari Australia itu tidak banyak mau. c o m . Kemampuan mengendalikan itu dalam beberapa kasus memang mengerikan. mengusap ujung-ujung kemeja rapi- nya. b l o g s p o t .. Terbirit-birit mengikuti. nyengir.” Ray tertawa kecil. Ray menghentikan langkahnya.. Bagi jo... maka aku akan memilih Mas Ray-” Jo tertawa kecil. Mas Ray-nya memiliki seluruh gedung-gedung yang dibangunnya.

Kalau ia masih ada... ®LoveReads 336 | R a t u . saat itulah dia mengatakan impian itu. “Aku bercita-cita ingin membangun gedung tertinggi.b u k u . Ray melangkah takjim.” Gadis itu hanya mengangguk.... Ray ingat sekali. Gigi Kelinci-nya bisa melihat mimpi itu semakin dekat menjadi nyata. Saat mengantarnya pulang dari bangsal anak-anak rumah sakit. Garbarata ini kosong. sudah lama sekali dia tidak membenak..Ray melangkah di sepanjang garbarata pesawat. b l o g s p o t . saat melangkah bersama dengannya. Kosong. Kepalanya membenak. c o m .. terakhir kali membenak sepuluh tahun silam. Usianya sekarang 37. sudah hampir empat tahun. Ah.. Mengiyakan.

Areal seluas sepuluh hektar itu segera menjadi 'pertunjukan' hebat yang belum pernah ada dalam industri properti Ibukota.b u k u . menguruk ribuan kubik tanah. Mengangkut bahan-bahan. Adalah bodoh menghindarinya. menyatukan kekuatan. Lebih baik bergabung. Taipan itu memutuskan untuk berpikir pendek lazimnya dalam sebuah 'perang'. Belalai raksasa bagai tangan-tangan menjulang ke atas langit. Mister Liem. Lupakan kabar-burung mengerikan itu. Alat-alat besar sejak seminggu selepas pulangnya Ray dari Australia mulai menggerus bakal pondasi. apa salahnya sukarela menggabungkan diri dengan gurita baru. Media massa ramai meliput. Bergerak. Berlomba mempublikasikan. Ratusan pekerja memenuhi setiap jengkalnya. taipan pemilik bank swasta terbesar Ibukota malah ringan-tangan mengambil inisiatif menggalang konsorsium investor tambahan dari negara tetangga. Alat angkut berat berlalu-lalang bagai kerumunan semut. Wajah Ray menghias berbagai media massa. Yang secara tidak langsung meringankan beban pekerjaan divisi pemasaran bisnis Ray. Anak ini bisa di- percaya sepanjang dia bisa mengendalikan ekor (modal)-nya. Potongan baja super-raksasa ditanamkan. Beratus ribu kubik material ditumpah- kan. Ray mengawasi langsung proyek pembangunan gedung tertinggi tersebut. c o m .Bab 19 Anggrek Putih dari Timur RAY tidak perlu loncat dari lantai 58 itu setahun kemudian. b l o g s p o t . Pengusaha muda paling 337 | R a t u .

mencuat sepuluh tahun terakhir. Pengusaha yang memiliki insting
setajam matanya. Pengusaha yang menanggapi dingin semua
publisitasnya.
Ray memutuskan 'bersembunyi'. Membiarkan 'letnan-letnan' bisnis-
nya yang mengurus wartawan-wartawan itu.
Satu tahun berlalu, konstruksi lantai demi lantai mulai terlihat. Bagai
tunas pohon yang bermekaran di musim penghujan. Merambat terus
naik hingga ke ketinggian lantai 101. Benar-benar menjulang.
Menakjubkan memandangnya... Sejauh ini proses konstruksi berjalan
lancar.
Entahlah, Ray tidak tahu persis berapa banyak batu-bata, kubik pasir,
batangan baja yang dibutuhkan untuk membangun gedung itu. Ah-
waktu dulu dia bilang ke Gigi Kelincinya, dia juga ngarang jumlah
material gedung berlantai 18 itu.
Satu tahun berlalu dengan cepat. Seperti batu yang jatuh...
Ray punya tempat hebat yang tidak pernah dimilikinya selama ini
untuk melanjutkan kebiasaan lamanya. Menatap rembulan. Di lantai
101 ini. Di atas hamparannya, menatap rembulan amat menakjubkan.
Begitu dekat. Rembulan terlihat lebih besar. Hamparan kota yang
berkilat dan berkemilau terlihat begitu memesona. Duduk di palang
baja yang terjulur membuat damai, tenteram.... Ray masih sering
menggurat wajah Gigi Kelinci-nya di separuh wajah rembulan, tapi
semua itu tidak semenusuk seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia tetap
belum bisa berdamai dengan takdir langit itu, tapi sedikit demi sedikit
Ray sudah bisa menerimanya.

338 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Sama seperti dulu, meski hatinya mangkel minta ampun, meski
hatinya mengutuk langit berkali-kali, Ray tetap terpesona menatap
rembulan di langit. Merasa damai dengan sepotong ciptaan Tuhan
yang seolah-olah digantungkan begitu saja itu.... Malam-malam sepi
di selasar atap tempias Panti. Badannya setengah basah setengah
kering.... Malam-malam sendiri di atap genting Rumah Singgah.
Malam-malam senyap di atas tower air. Di lantai 18 konstruksi
gedung. Malam-malam itu meski amat bencinya dia dengan
keputusan Tuhan, amat mangkelnya dengan segala takdir, sepotong
rembulan di atas selalu membuatnya 'berterima-kasih'. Mungkin itulah
gunanya Tuhan mencipta-kan rembulan terlihat indah dari bumi...
“Boleh gabung, Mas Ray?” Seseorang menegur.
“Duduk, Jo!” Ray menoleh, tersenyum.
Palang baja itu sengaja dibuat oleh Jo waktu tim kerjanya tiba di
lantai 101. Dibuat dengan pegangan. Maka sejak setahun terakhir Jo
bisa bergabung bersama kepala mandor-nya yang dari dulu terkenal
nekat duduk menjuntai begitu saja.
“Progress-”
Jo mulai melapor. Kalimat pendek-pendek.
Kalau Ray bertanya progress, berarti itu tentang kabar pekerja-pekerja
mereka. Siapa saja yang istrinya baru melahirkan. Siapa saja yang
sakit dan dirawat. Siapa saja yang mendapatkan kabar baik. Kabar
buruk. Dan sebagainya.
Jo ingat sekali, tukang aduk semen lantai dua, salah satu dari ratusan
pekerja gedung 101 lantai, menangis tergugu di rumah kontrakannya

339 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

dekat bantaran kali saat malam-malam Ray sendiri yang datang
mengantarkan kotak hadiah. Pekerja itu berlutut mencium lutut Ray.
Gemetar menggendong bayi perempuannya yang baru lahir, bergetar
haru menunjukkannya, lantas berkata serak, “Kalau Bapak berkenan...
Bolehkah kunamakan Fitri...”
Itulah yang dinamakan sebenar-benarnya pemilik gedung. Senyap. Jo
menyelesaikan laporan progress versi-nya. Laporan itu di luar
mekanisme evaluasi bulanan “letnan-letnan” bisnis Ray. Meski di-
percaya Ray. Jo tidak memiliki kedudukan manajerial. Lagi pula Jo
tidak menginginkannya. Jo hanya mengurus pekerja-pekerja itu.
Berdua terdiam sejenak. Ray menatap rembulan yang pelan tertutup
awan. Senyap. Kosong. Dari seluruh perjalanan bisnisnya yang hebat
sepuluh tahun terakhir ada yang mulai tidak Ray mengerti
belakangan....
Kalau semua kenangan itu tidak terlalu mengganggunya, kenapa
hidupnya terasa semakin kosong? Kenapa kesehariannya terasa
semakin hambar? Dia memang menikmati kebersamaan bersama
pekerja-pekerjanya. Menikmati mengamati pembangunan berbagai
proyek. Bahkan dia menikmati satu-persatu menyingkirkan musuh-
musuh bisnisnya. Tetapi setiap kali kesendirian ini datang, setiap kali
malam tiba, setiap kali itu pula semua terasa kosong. Benar-benar
kosong.
Bukankah waktu masih jadi anak-jalanan dulu, saat menatap orang-
orang yang lebih beruntung berlalu-lalang di terminal yang pengap,
menatap pusat perbelanjaan yang mewah dan wangi, dia sering

340 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

berpikir: alangkah menyenangkan menjadi mereka. Sekarang dia
memiliki banyak. Semua yang bahkan tidak pernah berani diimpi-
kannya ketika masih mengamen di KRL terbeli, seperti senar gitar
yang menimbun Ibukota... Tetapi mengapa setelah tiba di sini, semua-
nya terasa kosong....
Ray mengusap wajah. Dulu dia pikir kesibukan-kesibukan ini akan
membuatnya terhenti pada satu titik. Merasa cukup. Lelah. Lantas
dengan lega berdiri memandang kembali semuanya. Senang dengan
yang telah dikerjakannya. Tapi semakin jauh, dia tidak pernah merasa
cukup. Celaka, dia bahkan tidak pernah merasa lelah. Saat dia berdiri
memandang kembali semuanya, justru dia semakin merasa tidak
senang dengan apa yang dikerjakannya. Kurang. Terasa kurang. Terus
mencari. Berusaha mengisi hambar-
Jo yang duduk di sebelah ikut menatap rembulan.... Sebaliknya
berpikir tentang betapa beruntung hidupnya. Pekerja rendahan yang
menjadi kaki-tangan super-boss. Bukan itu, itu sih biasa saja. Yang
benar-benar beruntung, lihatlah! bukankah, boss-nya amat patut
dibanggakan. Semua pekerja konstruksi gedung ini bahkan rela
bekerja 24 jam tanpa henti kalau bos memerintahkan demikian....
“Besok aku akan kembali ke kota lama kita, Jo-” Ray memecah sepi,
baru saja memikirkan ide itu. Mungkin dengan kembali ke sana,
berkunjung ke pusara istrinya, dia bisa menemukan penjelasan atas
semua perasaan hampa ini. Sempurna delapan tahun. Rindu. Mungkin
pusara istrinya menyimpan jawaban-
“P-u-l-a-n-g? Mendadak, Mas Ray?”

341 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Tidak. Koh Cheu berulang tahun.... Dia sejak sepuluh tahun lalu
mendesakku hadir. Dia bilang kangen, taipan tua itu ada-ada saja-”
Ray tersenyum kecil, undangan Koh Cheu bisa menjadi alasan lain
kepulangannya besok.
Jo mengangguk pelan. Menatap Mas Ray-nya prihatin.
Rembulan masih menggantung indah.
®LoveReads

Perjalanan pulang.
Pemakaman itu masih seperti dulu. Hanya pohon kambojanya yang
bertambah tinggi. Bunganya merekah mengundang kumbang. Wangi.
Semerbak. Satu-dua karena tangkainya terlampau kering, berguguran.
Menimpa pundak Ray. Angin pantai bertiup lembut. Debur ombak
terdengar berirama, menyenangkan. Siang yang sejuk. Langit tertutup
bongkahan awan.
“Apa kabarmu, Yang-” Ray menyapa, duduk di sebelah pusara istri-
nya. Lututnya terbenam di tanah merah yang bersih. Entah siapa yang
melakukannya, kuburan istrinya terawat. Sepanjang perjalanan me-
nuju perkuburan Ray berpikir akan menemukan nisan berlumut.
Bersih. Pusara istrinya bahkan bersih dari rumput teki.
“Maafkan aku, Yang... Aku lama tidak kembali. Bukan. Bukan karena
aku tak rindu padamu....” Ray terdiam, menggigit bibir.
“Aku rindu sekali.... Kau tahu, bahkan aku sekarang saking rindunya
bisa melihat wajahmu yang cantik....” Ray tersenyum getir, mengusap
sudut-sudut matanya. Terdiam sejenak.

342 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Kau dulu bertanya seberapa cantik dirimu? Ah- Lihat.... Lihatlah,
yang.... Rambut panjangmu hitam-legam, matamu hitam-bundar,
hidungmu mancung-kecil, lesung pipitmu, aku suka semua bagian
dari wajahmu.... Apalagi, apalagi gigi kelincimu....” Ray tertunduk,
sesak sejenak. Angin pantai membelai rambut. Menelisik sela-sela
telinga. “Aku mendirikan gedung yang indah buatmu, Yang....
Ratusan lantainya, tempat yang hebat untuk memandang rembulan....
Ya, memandang rembulan.... Ah, kalau kau masih bersamaku, aku
tidak pernah merasa perlu memandang rembulan dan bintang-
gemintang itu. Kau tahu, aku sudah begitu jauh berlari.... Sendiri....
Mewujudkan mimpi-mimpi kita.... Tetapi setelah sekian lama, semua
terasa semakin kosong, Yang....”
Seekor capung hinggap di atas nisan istrinya.
“Yang, aku memiliki banyak, tapi semuanya terasa sedikit. Aku
memiliki semua, tapi merasa papa... Tidak ada satu pun yang
membuatku senang. Tidak ada.... Aku rindu kau, teramat rindu....”
Ray menggigit bibir, diam. Tangannya meremas gumpalan tanah di
pusara istrinya. Sepasang burung gereja, berani, terbang rendah.
Hinggap di dahan-dahan pohon kamboja. Riuh-bercengkerama. Ray
menatapnya. Tersenyum getir. Bahkan burung-burung itu merasa
lebih bahagia. Sedangkan hidupnya? Semakin jauh dia berlari,
semakin tidak mengerti apa yang sesungguhnya dikejar. Semakin
banyak dia mencari tahu, semakin banyak potongan hidup yang tidak
dia ketahui. Bahkan nama dua anak perempuan mereka....
Ya, dua pusara tanpa nisan di sebelah kuburan istrinya...

343 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Terdengar suara dedaunan terinjak. Getas. Patah. Ray menoleh.
Seorang gadis mendekat. “Abang Ray? Abang Ray, kan?”
Ray melipat dahinya-
®LoveReads

Nama gadis itu panjang, dan Ray tidak mahir menyebutkan dalam
bahasa aslinya. Kurang lebih kalau diterjemahkan berarti Anggrek
Putih Dari Timur, Ia cucu Koh Cheu yang dulu Ray dan istrinya
tonton dalam Lomba Busana Oriental. Setelah dewasa, wajahnya
sama sekali tidak terkesan Cina. Gadis itu cantik. Umurnya berbilang
dua-puluh pertengahan. Gadis itulah yang berbaik hati merawat
pusara istrinya. Ray baru menyadari kalau istrinya amat dekat dengan
anak-anak di bangsal rumah sakit. Terutama dengan cucu taipan ini.
“Vin tiga kali masuk rumah sakit, lamaaa-lamaaa lagi. Kak Fitri baik,
bawa balon-balon terbang, anak-anak dulu selalu suka lihat Kak Fitri
datang, meski paling tidak suka lihat Abang Ray datang-” Tertawa.
Ray ikut tertawa. Menatap gadis itu yang riang bercerita.
“Kakek Cheu selalu bertanya kabar, Bang Ray-”
“Aku akan datang nanti malam-”
“Sungguh?”
Ray mengangguk.
Gadis itu tertawa semakin riang.
Mereka berpisah setengah jam kemudian. Setelah mengenang masa-
masa itu, sebenarnya mereka lebih banyak bicara tentang kebersama-
an gadis itu dan istrinya. Ray meluncur menuju rumah yang pernah

344 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

dia tinggali bersama istrinya. Memutuskan melakukan napak-tilas.
Rumah tepi pantai itu sudah direnovasi pemilik barunya. Ray hanya
berdiri menatap dari jalanan. Enggan mendekat.
Beberapa tetangga lama mengenali. Agak sungkan menegur. Bagai-
mana tak? Ray terkenal sekali sekarang. Pemilik bisnis gurita raksasa.
Takut-takut menyapa, Ray mengangguk. Tidak banyak bicara.
Kepalanya sedang dipenuhi banyak kenangan. Dia menunggu senja
tiba di tepi pantai. Berjalan setengah jam di pasir yang lembut.
Memandang kaki langit yang merah. Ombak bergulung membasahi
tumit. Dulu, amat menyenangkan berjalan bersisian bersamanya.
Berkejaran....
Selepas gelap, Ray menuju rumah di lereng pebukitan. Rumah itu
kosong. Terlantar. Mungkin pembelinya enggan meninggalinya. Atau
mereka hanya datang setiap akhir pekan, plesir. Ray beberapa menit
memandang hamparan kota yang bercahaya dari halaman rumput.
Lebih banyak kenangan yang kembali. Memenuhi tepi-tepi otaknya
yang mampu merekam bagai selembar foto.
Ray menghela nafas, kenangan itu kembali, semua percakapan itu
kembali, tapi dia tetap belum menemukan jawaban mengapa hidupnya
terasa hampa, kosong-
Pukul 20.00, beranjak menuruni lereng pebukitan. Pesta ulang tahun
sekaligus tahun emas pernikahan Koh Cheu sudah dimulai satu jam
yang lalu. Ray sengaja datang terlambat. Dia tidak ingin terlampau
menarik perhatian. Lagipula, berkunjung ke sana hanya alasan kedua
datang ke kota ini.

345 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Tetapi berbeda. Undangan memenuhi setiap jengkal ruangan. Terkesan gagah dan matang. kancing atasnya dibuka. RAY!” Koh Cheu menyambutnya. memeluk. kota lebih hidup dibandingkan delapan tahun silam. Semua orang di ruangan pesta mengenal reputasi pemuda yang sedang dipeluk Koh Cheu. buru-buru memutar. kalau melewati jalan itu maka dia akan melewati panti itu. Tiba di perempatan itu. Dari seluruh masa lalu menyebalkan itu.Tamu kehormatan kita malam ini.. Lima belas menit berlalu.. Bisik-bisik menyebar bagai desis ular. Terkutuk! Ray menelan ludah. Ray menelan ludah. Dia lupa. tempat itu akan selalu dihindarinya. menonton. Ray tenggelam menyimak siluet lampu-lampu sepanjang trotoar. Ray jarang 346 | R a t u . c o m . apakah kau ingin terlihat aneh?” Ya! Malam ini dia terlihat aneh. Tidak akan! Meski hanya melewatinya. “Ah-ini dia. dia melangkah memasuki ruang acara yang besar dan mewah. menatap gemerlap warna merah di sekitarnya. b l o g s p o t . celana dan sepatu lapangan. mendengar. Pakaian oriental. Ramai. terkekeh. Ray tidak akan pernah bisa kembali ke sana. Ramai. Hampir saja mobilnya yang buru-buru berbelok menabrak kerumunan orang di perempatan.Mobil yang dikemudikan Ray membelah jalan-jalan kota. Ray mengusap rambut- “Dasar ceroboh. Setidaknya pernah membaca... Ray mendadak membanting stirnya.b u k u . Kemeja lengan panjang digulung. Dia datang dengan pakaian berbeda.

tampil di acara umum. Peresmian proyeknya sendiri saja dia tidak
pernah datang. Mata-mata ingin tahu sontak menoleh.
Ray mendesis, kelakuan mereka tak ada bedanya dengan tukang
asongan, penjual koran, sopir, dan kondektur yang melongokkan
kepala saat dia berjudi di lepau terminal dulu.
“Apa kabarmu? Ah, haha, tentu saja baik.... Tidak peduli tahun
kelinci, babi, naga, ayam, keberuntungan kau selalu menjulang, Ray.
Penguasa bumi sungguh memberkahimu....” Koh Cheu terkekeh,
menepuk-nepuk pundaknya.
Ray tersenyum hangat. Balas menepuk bahu Koh Cheu.
“Bagaimana mungkin kau tidak sekali pun mengajakku dalam
konsorsium pembangunan gedung 101 lantai itu, Ray?”
Ray menatap datar Koh Cheu. Menggeleng.
Koh Cheu terkekeh. Menggangguk. Taipan itu sama seperti pengu-
saha besar lainnya juga mendengar kabar burung itu. Pemuda di
hadapannya terkenal suka menyingkirkan anggota konsorsium.
Bahkan mengambil-alih bisnis-bisnis mereka. Pemuda ini membenci
semua taipan. Ah, itu bisa dimengerti, tidak semua taipan itu jujur,
Koh Cheu menghela nafas pelan.
“Kita sepatutnya tidak membicarakan pekerjaan, bukan? Nanti istriku
terlanjur protes-” Koh Cheu terkekeh.
Yang disebut-sebut sudah melangkah mendekat. Tersenyum lebar.
Ray ikut tersenyum. Memeluknya. Dulu istrinya amat dekat dengan
istri Koh Cheu. Apa salahnya dia menyambut hangat.
“Tadi Vin bilang ketemu kau di pemakaman.”

347 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Ray mengangguk.
“Kau tahu menu istimewa kita malam ini?” Ray menggeleng.
“Puding Pisang.” Istri Koh Cheu tertawa.
Ray menelan ludah. Puding Pisang?
“Vin, mana Vin-” Memanggil ke dalam keramaian.
Gadis itu mendekat. Dengan pakaian yang.... berbeda. Vin tidak me-
ngenakan gaun oriental. Tertawa lebar menyambut Ray. Ray kaku
berjabat-tangan, menatap pakaian Vin, berusaha merangkaikan pen-
jelasan. Entah apa maksud baju yang dikenakan Vin.
“Vin yang mengambil alih puding pisang Fitri, Ray.... Sekarang sudah
ada berapa counter, Vin? Dua puluh? Eh, 22 termasuk yang di
Singapura. Kau coba puding pisangnya, deh. Vin sempurna mewarisi
kepandaian istrimu.... Makan malam ini ia yang menyiapkan, semua-”
Istri Koh Cheu tertawa. Membimbing Ray menuju kue ulang tahun
yang besar.
Ray mengusap rambut. Malam itu, sempurna dia menghabiskan
waktu di tengah keramaian, sesuatu yang dihindarinya selama ini.
Berdiri di sebelah Koh Cheu saat meniup lilin. Menerima potongan
kue kedua setelah istri Koh Cheu. Taipan itu tertawa lebar berbincang
dengannya tentang banyak hal. Proyek-proyek. Bertanya kabar relasi
bisnis lama. Meniupkan salam untuk Mister Liem.
Beberapa saat kemudian musik dalam ruangan melantunkan lagu
dansa ber-aransemen oriental. Ray masih bercakap datar dengan Koh
Cheu ketika Vin mendekat, “Abang Ray mau berdansa denganku?”
Ray menoleh, menatap gadis itu lamat-lamat. Menggeleng-

348 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Ayolah, Ray! Vin sepanjang hari membicarakanmu, bagaimana
mungkin kau sekarang menolak ajakan dansanya?” Istri Koh Cheu
tertawa. Muka gadis itu memerah. Muka Ray mendadak kebas. Istri
Koh Cheu menarik tangan suaminya. Melambaikan tangan, mereka
turun melantai lebih dulu. Meninggalkan Ray dan Vin berdiri saling
berhadap-hadapan. Kaku-
“Aku sudah lama tidak melakukannya-” Ray mengusap rambut. Ter-
senyum tipis. Ya! Terakhir dia berdansa delapan tahun silam, bersama
istrinya di hamparan rumput rumah lereng pebukitan.
“Kalau Abang Ray enggan tidak apa-apa-” Gadis itu tersenyum. Me-
nunduk. Hendak beringsut mundur.
Ray menelan ludah. Menatap wajah kecewa itu. Apa salahnya? Gadis
ini pasti sengaja memakai pakaian yang berbeda untuk membuat ke-
hadirannya lebih nyaman. Apapun tujuannya, gadis ini sudah berbuat
baik. Baiklah. Lima menit.
Ray menjulurkan tangan-
®LoveReads

Esok siang, Ray kembali ke Ibukota. Diantar Vin. Dia lagi-lagi tidak
bisa menolaknya. Cucu satu-satunya taipan terbesar kawasan timur itu
tersenyum menyerahkan kotak makanan. Puding pisang. Ray me-
natapnya datar. Menerimanya. Bukankah selama ini dia berpergian
tidak pernah membawa bagasi?
Vin memeluknya, melepas di pintu keberangkatan. Ray tersenyum
kaku. Semalam mereka berdansa lebih dari lima menit.

349 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Gadis itu menyenangkan. Tertawa riang saat Ray menginjak kakinya.
Bercerita banyak potongan kejadian lama. Ray benar-benar lupa.
Kembali ingat setelah Vin menceritakannya. Tentu saja istrinya amat
dekat dengan gadis ini. Vin sama seperti istrinya, sama seperti
dirinya, yarim-piatu sejak kecil. Taipan Koh Cheu hanya punya satu
anak lelaki yang menikah dengan putri salah-satu rekan bisnisnya.
Sayang, Ayah dan Ibu Vin meninggal dalam kecelakaan pesawat
terbang. Menyisakan Vin kecil yang sakit-sakitan di bangsal anak-
anak rumah sakit. Itulah yang menjelaskan mengapa istri Koh Cheu
amat dekat dengan istrinya. Juga menjelaskan mengapa Koh-Cheu
mengambil-alih maskapai penerbangan itu. Bedanya, Vin tidak harus
tinggal di panti yang buruk. Gadis ini memiliki kakek-nenek, yang
beruntungnya memiliki bisnis menggurita.
Ray membuka tutup kotak. Wangi Puding Pisang menguar, me-
nyergap hidung. Ray tersenyum. Mengambil sepotong. Semalam dia
sama sekali tidak menyentuh makanan apapun. Sepanjang di kota itu
dia merasa tidak lapar. Ray mengernyitkan mata, giginya nyilu.
Puding itu terlalu manis.
Jo menjemput di bandara. Tertawa senang saat Ray menyerahkan
kotak puding. Melaporkan banyak hal. Progress dua hari terakhir.
Semua beres, Jo nyengir sambil mengunyah oleh-oleh dari Vin,
“Wuih, Mas Ray, rasa pudingnya sama persis dengan masakan Ibu
dulu, loh! Manis dan legit!”
Ray menyeringai tipis-
®LoveReads

350 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Setahun berlalu. Liputan proyek pembangunan gedung 101 lantai itu
semakin ramai. Tidak hanya media massa Ibukota, reputasi
konsorsium bisnis Ray mulai merambah ke negara-negara tetangga.
Konstruksi gedung 90 persen selesai. Hanya berbilang tiga bulan lagi
peresmiannya. Divisi pemasaran Ray sibuk merencanakan acara pem-
bukaan selubung gedung yang spektakuler. Akan ada enam pesawat
tempur meljntas persis di atas menara saat peresmian. Juga 101
penerjun payung yang membentuk formasi hebat di angkasa.
Di antara semua persiapan itu, Ray setahun terakhir justru sudah sibuk
dengan proyek lainnya. Dia membenamkan dua pertiga kekayaannya
di salah satu ladang minyak potensial. Bisnis baru. Ray tidak pernah
mengerti tentang bisnis minyak. Tapi dia pembelajar yang baik.
Pengamat yang cakap. Imperium bisnisnya tidak akan pernah masuk
daftar 100 perusahaan terbesar di dunia kalau hanya berkutat di bisnis
properti. Kesibukannya semakin bertambah. Waktu tidurnya semakin
berkurang.
Tapi ada yang berubah dari perangai Ray setahun terakhir. Kiriman-
kiriman itu. Surat-surat itu. Entah apa yang dipikirkan Ray, entah apa
pula yang direncanakan langit, setiap kali menerima kiriman-kiriman
tersebut, Ray merasa bisa tersenyum. Senyum senang. Bukan senyum
'mengendalikan' yang direncanakan.
Kiriman-kiriman puding pisang dari Vin. Surat-surat dari Vin. Gadis
itu rajin dua minggu sekali mengirimkannya. Menyertakan sehelai
surat di dalam kotaknya. Selembar? Itu bulan-bulan pertama, semakin
lama surat itu semakin panjang, semakin tebal. Dan Ray mulai merasa

351 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

nyaman dengan 'perhatian' itu. Awal-awalnya Vin hanya menulis
tentang Kak Fitri yang dikenalnya. Menulis tentang masa kecil dulu
bersama istrinya. Bagaimana gadis itu melihat keluarga mereka (“Vin
Iri melihat kebahagiaan Abang Ray dan Kak Fitri....”) Semakin ke
sini, Vin lebih banyak menulis tentang dirinya. Bercerita tentang
bisnis kue itu. Bercerita tentang bisnis Koh Cheu. Bercerita tentang
angan-angannya.
Ray tidak bisa menjelaskan kesenangan apa yang sesungguhnya dia
dapat dari membaca surat-surat itu, mencicipi puding pisang itu.
Tetapi belakangan dia malah menunggu surat-surat itu. Bertanya ke
staf yang menunggui ruang kerjanya apakah paket itu sudah datang.
Kiriman-kiriman ini membuat hidupnya yang setahun terakhir bak
roda mesin mekanis berputar kaku mulai mendapatkan selingan
menyenangkan. Ray tidak pernah membalas surat-surat itu sekali pun.
Tidak pernah pula menghubungi gadis itu. Tetapi surat-surat itu
seperti menjadi sebuah percakapan....
Tiga bulan berlalu. Peresmian Gedung 101. Bukan main. Tidak
pernah penduduk Ibukota mendapatkan pertunjukan se-spektakuler
itu. Formasi pesawat tempur, ratusan penerjun payung, ribuan balon-
balon. Dan pembukaan selubung raksasa dengan roket terbang.
Presiden dan pejabat negara datang meresmikan. Juga puluhan tamu
dari negara sahabat anggota konsorsium. Maka untuk kali kedua,
Presiden tidak menemukan siapa yang 'bertanggung-jawab' atas
pembangunan proyek-proyek yang pernah diresmikannya. Ray tidak
hadir di acara tersebut. Ray memang berada di lokasi gedung, tapi

352 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

tidak di bawah tenda-tenda raksasa itu. Ray berdiri di ruang kerjanya.
Lantai 101. Sendirian. Menatap hamparan Ibukota yang terik. Persis
tengah hari. Mendesah pelan, mengusap wajah, mimpi itu sudah ter-
wujud, Gigi Kelinci.
Usianya sekarang 42. Ray tersenyum tipis, menyentuh dinding-
dinding kaca yang dingin. Dari sini gedung lantai 60 itu terlihat
rendah. Apalagi tower air (yang baru terlihat setelah menggunakan
teropong). Seharusnya setelah mewujudkan mimpi ini dia merasa
lega. Merasa cukup. Bisa memutuskan kembali ke kota lamanya,
mungkin menghabiskan waktu dengan dnggal di tepi pantai itu.
Memandang matahari terbit. Menunggu.... Mengenang masa lalunya
yang indah bersama Gigi Kelinci. Menunggu hingga langit berbaik-
hati menjemput.
Tapi sekarang? Dia justru semakin buas mencengkeramkan taring
bisnis ke tempat lain. Mengambil alih lapangan minyak raksasa di
belahan benua seberang. Tempat yang sama-sekali belum pernah
dilihatnya. Tempat bersalju itu. Dia sungguh tidak tahu kemana
semua ini akan berakhir. Pintu ruangan diketuk pelan. Ray menoleh.
Pintu ruangan dibuka.
“Ah, ini dia seseorang yang tidak pernah merasa perlu menghadiri
peresmian proyeknya sendiri!” Koh Cheu memakai tongkat me-
langkah mendekat, terkekeh.
Ray ikut tertawa, menyambutnya. Kejutan yang menyenangkan. Ray
menelan ludah. Ternyata Koh Cheu tidak sendirian. Ada Anggrek
Putih Dari Timur di belakang nya.... Benar-benar kejutan!

353 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Ray memeluk Koh Cheu. Mengulurkan tangan kaku ke Vin. Gadis itu
malah memeluknya. Malu-malu.
“Bukan main, Ray! Aku tidak pernah menyangka salah-satu 'buruh
kasarku' dulu bisa sehebat ini.... luar biasa. Dewa bumi benar-benar
sedang berbaik-hati padamu,” Koh Cheu menatap jendela kaca
raksasa ruangan kerja lantai 101.
Vin berdiri dengan muka merah di sebelah Ray. Melirik-
“Aku dengar kau berinvestasi di ladang minyak bersalju itu?” Koh
Cheu mengusap rambutnya yang sempurna putih.
Ray mengangguk.
“Anak muda seperti kalian memang hebat.... Tidak mengenal rasa
takut akan resiko. Bahkan ketakutan terbesar kalian justru perasaan
takut itu sendiri, bukan?” Koh Cheu terkekeh.
Ray ikut tertawa. Mengajak taipan itu berkeliling. Melihat seluruh
ruangan. Melihat keramaian di bawah. Kesibukan di bawah tidak
mereda hingga tengah malam nanti. Ada tiga panggung pertunjukan
yang disiapkan divisi pemasarannya, dan stasiun teve nasional me-
relay acara-acara tersebut.
Ray memang tidak akan pernah mengajak Koh Cheu bergabung
dalam konsorsium miliknya. Taipan itu terlalu baik. Dia tidak akan
pernah bisa duduk satu meja, menggunakan tatapan mengendalikan,
lantas perlahan setelah kepentingannya tercapai menendangnya jauh-
jauh. Koh Cheu dan istrinya amat baik, terutama dengan istrinya.
Itulah kenapa sepanjang proyek yang dikerjakan, Ray tidak pernah
mengajaknya. Koh Cheu juga paham siruasi itu. Tahu Ray sungkan.

354 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Ya! Itu lukisan rembulan yang indah. “Aku langsung pulang nanti sore.Kabar burung yang didengarnya bukan omong-kosong. Jauh lebih. Memperlakukannya istimewa di ruang kerjanya. “Ya! Vin akan tinggal.. Sibuk menyimak. b l o g s p o t . Koh Cheu tertawa kecil. Mereka kemudian beranjak memutari ruangan menuju dinding seberangnya setelah mematut-matut lukisan tersebut. “Tiup salam buat Encik!” Ray hangat menyentuh bahu Koh Cheu. bersemu merah. Sakral... tertawa.. c o m . Teramat mahal! Aku tidak pernah menyangka sebuah lukisan bisa amat berharga.b u k u .” “Ini rembulan yang indah-” Vin menatapnya lamat-lamat. Misterius. Ray-” Koh Cheu menatap satu-satunya lukisan yang tergantung di dinding ruangan kerja lantai 101. Ray! Itu kalau kau berkenan.. Diam sejenak. Ray mengangguk. Koh Cheu mengangguk. “Vin akan tinggal-” Ray mendadak menghentikan langkah kakinya. “Lukisan yang hebat. “Dan mahal. Apa maksudnya? Menatap wajah gadis di se- belahnya yang menunduk. 355 | R a t u . “Ia bosan dengan bisnis kecil di kota timur. suka berkhianat..” Ray menelan ludah. Itu juga yang membuat Ray ringan-tangan membayarnya dalam pelelangan meski tidak tahu sedikit pun siapa pelukis yang telah membuat master-piece tersebut. Ray-” Koh Cheu memecah keheningan bunyi tongkat. Ia bilang ingin belajar bisnis yang jauh lebih menantang.. meskipun dia percaya Ray hanya menyingkirkan taipan-taipan yang selama ini memang terkenal licik.. Menatap sisi lain Ibukota.

Apa yang harus dia bilang? Dia sungguh senang saat pertama kali melihat Vin datang bersama Koh Cheu tadi. meneruskan langkah memutari ruangan dengan tongkat... Koh Cheu terkekeh. Gadis malang......b u k u . raut muka dan tatapan itu. c o m . Memeluknya malah. sayang sekali. Apa yang kau bilang kemarin di rumah. Ray mengusap rambut. Sudah lama dia tidak menemukan kesenangan dalam kebersamaan seperti ini. Ray bersemu merah. ®LoveReads “Sayang. tapi urusan mempercayakan cucuku satu-satunya. Melupakan segala intonasi. “Itu kalau Abang Ray tidak keberatan. Vin? Ah-ya jauh lebih gila.bagaimana kalian menyebutnya. Aku punya banyak kenalan di Ibukota.. Anggrek Putih Dari Timur itu sudah berteriak senang. Lagipula Vin memang ingin belajar langsung dengan kau.” Orang dengan wajah 356 | R a t u . Bunga anggrek yang mekar di waktu yang salah dan tempat yang salah.....” Vin berkata pelan. Ray mengangguk patah-patah. Ray... Seadanya.. Tetapi? Vin akan tinggal di Ibukota? Belajar darinya? Bukankah itu berarti mereka akan sering bertemu? Ray menggigit bibir. Gadis itu tertunduk malu.. “Bagaimana?” Koh Cheu menyentuh lengan Ray.. b l o g s p o t . Mukanya kebas.. Vin? Ah-ya ingin belajar menatap dengan tatapan tajam itu!” Ray menelan ludah ke sekian kalinya.. tidak ada pilihan selain kau.

. urusan ini kenapa pula jadi rumit begini. gumpalan awan putih. maka menikah juga hanya sekali.. “Gadis yang malang. bukan? Waktu yang salah karena kau sedang sesak dipenuhi pertanyaan betapa hampa dan kosongnya kehidupan- mu. Pasien itu baru beberapa menit lalu terlemparkan dari duduk ter- sungkur di sebelah pusara istrinya. Mengenang tahun-tahun berlalu setelah kematian istrinya.” Orang dengan wajah menyenangkan itu tertawa getir. mati sekali. Menatap ramai jalanan.. jutaan. Ah.. ada banyak kenangan di ruangan ini. Kapan terakhir kali dia duduk di ruang kerja ini? Enam bulan yang lalu. sebelum akhirnya terkapar di rumah sakit. b l o g s p o t ... Tempat yang salah karena di kepalamu tidak ada lagi tempat yang tersisa untuk gadis lain selain istrimu.b u k u . Sayang. Mobil-mobil terlihat bagai semut dari ketinggian ini. Hidup hanya sekali. Memedihkan. Senja di Ibukota. Silau. Ah. Pasien berumur enam puluh tahun yang berdiri di sebelahnya tertunduk. Mengangkat kedua tangan macam 357 | R a t u .menyenangkan itu menghela nafas prihatin. bunga anggrek itu harus layu dari batangnya. Ray.. Masa-masa sendiri.. Lantai 101. jatuh cinta hanya sekali. Mengangkat kepala. tiang-tiang kapal di kejauhan pelabuhan.. Pasien itu mengenangnya satu-persatu. Kenangan yang akhirnya terpotong kalimat orang di sebelahnya tadi.. Tersedot kembali dalam kumparan cahaya.. menara BTS. Mencelup pucuk-pucuk gedung. c o m . pasien itu sudah berdiri di ruang kerjanya yang luas. Ketika matanya nyaman untuk kembali dibuka.. Lagi-lagi Jingga membasuh kota.. Warna-warni.. menoleh ke orang dengan wajah menyenangkan itu. atap-atap rumah.

. “Ray. Langit terlihat cokelat. Pasien itu menunduk lagi. Semua yang kau miliki tidak pernah memberikan kebahagiaan seperti yang pernah kau dapatkan enam tahun bersama istrimu. Diam sejenak... Sebentar lagi.. Ya! Waktu yang salah.... memiliki banyak.. Seolah-olah yang dimau anak itu benar-benar akan membuat hati anak itu senang. Udara dingin mengalir dari celah AC.. dan mereka mulai berseru-seru: Aku mau mainan itu! Aku mainan itu! Ah. Kau sudah menyebut- kannya dalam kenangan itu berkali-kali... Ternyata setelah sejauh ini semuanya tetap terasa kosong.. lega. Aku pikir aku akan pernah merasa cukup dengan semua ini. hampir setiap orang memiliki pertanyaan ini.. kita sudah tiba di pertanyaan keempat..... Tempat yang salah. “Ray. c o m .... Membuat nyaman ruangan tertinggi di Ibukota itu.pujangga yang hendak membaca syair cinta. tenteram. seperti sedang tersenyum kepada anak yang bandelnya minta ampun dibelikan sesuatu.. sama saja dengan orang dewasa yang berseru: Aku pikir kehidupan mereka lebih indah. Jadi. terasa hampa. Menggigit bibir. padahal kau memiliki segalanya. Aku pikir-!” Orang dengan wajah menyenangkan itu menggeleng pelan.. maukah 358 | R a t u . Ini yang keempat.. Banyak potongan yang belum lengkap. Persis seperti anak kecil yang iri dengan mainan baru milik temannya. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan keempatmu sekarang. Aku pikir semua kekayaan itu akan memberikan perasaan damai.b u k u . b l o g s p o t .. puis patah hati. Bagaimana kau merangkaikan per- tanyaan keempat itu dalam sebuah kalimat? Ah-ya.” Orang itu menghela nafas... Ray.. Lima pertanyaan.. Lima jawaban..

mengedip- kan mata. ®LoveReads Ada yang berubah dari ruang kerja Ray enam bulan terakhir. Gadis itu tidak banyak menertawakan seperti Jo. tapi kehadiran Vin beda. Jo hanya mendekap mulut menahan tawa saat pertama kali masuk ruang kerja Ray. dan tidak diam kalau Ray lagi malas berbincang. Kehadiran Vin memberikan kesenangan baru. Ya! Itu tak bisa dibantah. Sekarang. Kemudian 'mengusir' Jo jauh-jauh. Mencoba tersenyum lebih riang. meski tersipu.kau mengenang beberapa kejadian lagi untukku? Terutama kenangan dengan Anggrek Putih Dari Timur?” Orang itu tersenyum. ia juga menyempatkan mengurus ruang kerja Ray seperti sekarang. Jo memang sering menemaninya. Vin yang melakukannya. ruangan itu dipenuhi bunga. Ada banyak yang dipelajari gadis itu. Jo menyeringai jahil. Vin teman bercakap yang berbeda. Ray menatap jo sebel. karena sepanjang hari selain mengurus beberapa 'taring' bisnis yang diserahkan Ray. Gadis itu retap berceloteh apa saja. b l o g s p o t . Menyenangkan. Vin yang muda. Anggrek putih. 359 | R a t u . berpendidikan dan periang. Gadis itu menjadi partner kerja baru Ray. c o m . Menatap Ray ingin tahu. Bergurau. bersemangat. Membuatnya tertawa. cerdas. Tepatnya belajar. dan ia amat sibuk. Melupakan sejenak rasa kosong dan hampa.b u k u . seperti malam- malam di atap lantai 18 itu. Ray tidak tahu apa yang sesungguhnya dia rasakan dari kehadiran Vin. Ray menunjuk Vin yang kebetulan ada dalam ruangan.

“Sebentar-” Ray tertawa. Tertawa. Lift berdesing meluncur dari lantai 101. Gadis itu tertawa riang. Seperti tanduk-tandukan. Baru diresmikan dua bulan lalu. c o m . Jahil Vin mematikan lampu. Merajuk setiap kali Ray menolak. Vin sudah berlari-lari lagi menuju pintu ruangan. Vin berlari-lari kecil masuk ke dalam ruangan. Sesuatu yang bisa kecil. Ray tertawa menatap ulahnya dari cermin di pintu lift. Insinyur-nya di sana menemukan ada yang tidak beres dengan investasi tersebut. Itu baju kesukaan Gigi Kelinci-nya dulu.b u k u . Meletakkan kedua tangannya di pinggir-pinggir telinga Ray. b l o g s p o t . Buru-buru menyambar potongan koran tua yang menguning di atas meja. buruan Abang Ray! Nanti terlambat!” Vin berteriak macam anak kecil. Ray menelan ludah.Enam bulan berlalu bagai lift yang berdesing naik. Malam ini dia berjanji menemani Vin ke Taman Hiburan.. Tadi dikeluarkan dari sakunya. Melipat berkas-berkas di atas meja. Mobil yang dikemudikan Ray meluncur menuju Taman Hiburan.milik imperium bisnisnya. Tertawa. Kepalanya terselip di pintu ruangan. Hari ini dia mengena- kan baju hijau dengan syal putih di leher. “Ayo. dan sepanjang dua bulan terakhir juga setiap hari Vin membujuknya. bisa juga super-serius. Bisnis minyak bagai pedang bermata dua. pura-pura sebel. Ray melangkah.. 360 | R a t u . Ray ikut tertawa. Berkas laporan dari ladang minyak bersalju-nya. Gadis itu jahil berdiri di belakang Ray.. Laporan itu 'kusut'. menyusul.

Petugas berseragam yang berjaga di bianglala terpaku ketika Ray menegurnya. bagai lampu ribuan watt yang mengundang laron-laron mendekat. Langit tak tersaput awan. Menurut berita. Rasanya ganjil. b l o g s p o t . Tertawa. Mereka berdua naik ke 'gerbong' bianglala. Tujuan Vin malam itu hanya satu. taman hiburan itu menjadi favorit baru penduduk Ibukota menghabiskan malam-malam bersama keluarga. Tetapi sepertinya tidak lebih. Vin menyeret Ray di sepanjang jalan. Tidak kurang.Dari kejauhan kemilau cahaya lampunya sudah mengundang. Menganggukkan kepala. Bianglala raksasa. c o m . Sudah lama sekali dia tidak ber- cengkerama berdua bersama seseorang. Malam cerah.b u k u . Bagaimana super-boss-nya tahu? Amat terharu. 361 | R a t u . Memesona seperti biasanya. Ray baru saja beberapa detik menatap rembulan. Bergurau. Ray menelan ludah. Bintang-gemintang membentuk ribuan formasi. Bianglala mulai bergerak- “Bagaimana Abang Ray tahu?” “Tahu apa?” Ray menoleh. Rembulan bundar menghias angkasa. Menyeka ujung-ujung matanya. Terasa berbeda menatapnya dari bianglala yang terus bergerak. memutus malam-malam bertanyanya. menatap wajah berbinar-binar Vin di sebelahnya. Ke sanalah Vin menarik lengan Ray. Sekali-dua mengangguk ke staf dan pengunjung Taman Hiburan yang me- ngenalinya. bukan?” Petugas itu menelan ludah. tertawa memaksa Ray memakainya. Gadis itu membeli topi badut berbentuk kerucut. “Bagaimana istrimu? Sudah pulang dari rumah sakit. Ini mungkin terlihat menyenangkan.

Gadis itu mengangguk. Tersipu. “Kenapa Abang Ray suka memandang rembulan?” “Bukankah Vin sudah tahu jawabannya dari Kak Fitri?” Ray tertawa. Apakah ia berani mengatakannya malam ini? Apakah ia pantas? Gadis itu menggigit bibir. Gadis itu sungguh sedang kehabisan ide bicara.. c o m .Itu Jo.. aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki ayah. “Tidak bisa melupakannya?” “Bagaimana aku bisa?” Ray tertawa. maka- nya meluncur begitu saja pertanyaan itu. tidak sensitif. Mencatat hal lain di hatinya..b u k u . naik ke ketinggian maksimum.. Pipinya merona malu.. Melirik wajah Ray. Vin menyeringai mendengar jawaban Ray. “Apakah Bang Ray selalu mengenangnya?” “Siapa?” “Kak Fitri-” Ray mengangguk. Vin menatap separuh wajah Ray lamat-lamat. Catat! Vin bisa membuat orang lain bekerja 24 jam tanpa henti hanya dengan hal-hal sepele seperti itu.” Ray tertawa. Senyap. Detail seperti itu penting.. “Tidak pernah suka dengan gadis lain?” Ray menggeleng.. Vin menelan ludah.. “Abang Ray tahu. Memiliki kakak 362 | R a t u . 78. Pelajaran untuk Vin yang ke-berapa? 78? Ya. Kepalanya tidak menoleh.... b l o g s p o t . Bianglala menanjak. Sengaja aku minta progress-nya tadi sore.“Soal istri penjaga tadi-” “Oo... Ray kembali sibuk menatap rembulan..

urusan ini jo ahlinya-meski Jo tetap membujang hingga detik ini.. Koh Cheu dan istrinya sejak awal malah sudah paham mengapa Vin sampai hati pergi meninggal- kan mereka berdua di kota timur.... Semoga waktu ber- baik hati padanya. Merasa terlindungi... Ia tidak akan pernah memiliki kesempatan. Terima kasih telah menjadi 'teman' buat Vin!” Kalimat itu membelok di ujungnya. Enam bulan di sini. Aku hanya tahu merasakan memiliki kakek. 363 | R a t u .. menatap bingung wajah Vin yang ganjil. Saat pertama kali bertemu lagi di pemakaman. Jadi dengan berat-hati membiarkan cucu kesayangan mereka pergi.b u k u . Buat apa? Hanya akan menyakiti perasaan. Mereka pernah merasakan perasaan itu waktu masih muda.lelaki. T-e-m-a-n.” Vin tersenyum.. “Aku tidak tahu bagaimana rasanya tenteram memiliki mereka. meskipun pelan-pelan semua orang tahu urusan ini.. Selama setahun terakhir berhubungan dengan surat.. lelaki di sebelahnya sama sekali tidak bergeming dengan 'kalimat- kalimat pengantar itu'.. b l o g s p o t ... Merasa senang. Bukankah waktu bisa mengubah hati? Ray mengangguk.... Jo juga tahu perasaan Vin. Tetap 'belajar' banyak. menyeka sudut-sudut matanya..” Ray menoleh. Itu ide yang baik. Ia tidak akan pernah bisa mengatakannya. Berusaha menyembunyikan perasaan. c o m .. ®LoveReads Enam bulan berlalu lagi. “Tetapi Abang Ray memberikan semua itu.. Lihatlah... mendekap bahu gadis itu... Gadis itu tetap periang seperti semula..

Ray? Ray pada satu duk, beberapa minggu setelah kebersamaan di
bianglala itu menyadarinya. Sebenar-benarnya tahu. Tetapi anggrek
itu mekar di waktu yang salah dan tempat yang salah. Apakah rasa
kosong, rasa hampa ini karena istrinya pergi? Ya.... Apakah dengan
adanya gadis lain yang 'menemani' maka sepi itu akan terusir? Tidak.
Ray menggigit bibir, masalahnya tidak sesederhana itu. Celakanya,
Ray sekarang bukan hanya sesak oleh malam-malam penuh per-
tanyaan tentang hampa dan kosong hidupnya. Ray seminggu terakhir
benar-benar sesak oleh fakta baru yang dikirimkan bagai kilat dari
ladang minyak bersaljunya. NOL BESAR.
Eskplorasi awal yang menyebutkan ladang minyak itu memiliki
miliaran barel minyak mentah ternyata tipuan. Konspirasi tingkat
tinggi berbagai pusat riset dan perguruan tinggi ternama dunia. Berita
pertama yang menyebutkan cadangan minyak itu omong kosong tiba
dua bulan lalu. Ray mengirimkan tim ekspedisi ke sana secepatnya.
Memeriksa ulang. Sejak seminggu lalu, lewat sambungan langsung
internasional tim yang dikirimkan mulai mengkonfirmasi hasil
temuan setiap area ladang. Negatif. Cadangan minyak yang ada tidak
cukup ekonomis untuk digarap.
Malam ini seluruh potongan berita lengkap. Setelah tujuh belas kali
putaran yang mengagumkan. Setelah sempurna menebak semua 'mata
dadu' itu. Akhirnya Ray kalah. Dengan taruhan yang luar-biasa besar.
Sungguh kalah telak. Dua-pertiga kekayaan Ray dibenamkan ke
investasi itu. Belum lagi dana pinjaman dari konsorsium Mister Liem.
Vin yang tahu kabar itu bergegas menuju lantai 101. Menemukan Ray

364 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

yang duduk di keramik ruangan. Duduk memeluk lutut. Krei jendela
kaca raksasa terbuka sepenuhnya. Memperlihatkan siluet rembulan
bundar. Awan kelabu menggantung. Membuat senyap pemandangan
dari bingkai kaca.
“Apa yang terjadi?” Vin bertanya pelan. Berdiri di belakang Ray.
“Buruk. Buruk sekali,” Ray tidak menoleh.
“Seburuk apakah?”
“Tidak ada lagi yang tersisa.”
Vin menelan ludah, “Negosiasi ulang dengan konsorsium...?”
“Tidak ada... Mister Liem tidak memberikan kesempatan. Kalau
eksplorasi itu gagal dalam waktu enam bulan seluruh anggota
konsorsium mengundurkan diri. Meminta seluruh dana yang mereka
tanamkan dikembalikan.... Itu berarti seluruh kekayaan perusahaan
akan berpindah tangan-”
Vin beranjak duduk di sebelah Ray. Menatap wajah itu. “Apakah
tidak ada cara lain?”
“Semuanya sudah terlanjur.... Transaksi pengambil-alihan ladang
minyak itu sudah dibayarkan. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan....
Aku terlalu percaya dengan naluriku...”
“Mungkin masih bisa mencari pinjaman lain?”
“KE SIAPA? Tidak ada investor yang terlalu bodoh memberikan pin-
jaman untuk investasi yang jelas-jelas nol besar hasilnya.... Tidak ada
minyak di sana walau hanya untuk memenuhi satu mobil tanki....
Tidak ada! Semuanya omong-kosong!”
Senyap. Terdiam.

365 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Kakek-Kakek Cheu bisa memberikan bantuan, aku akan meng-
hubunginya!” Vin berseru riang, loncat bangkit.
“JANGAN LAKUKAN!” Ray seketika membentak.
Vin menoleh. Kaget dengan teriakan Ray barusan. “Ke-na-pa?” Vin
menelan ludah, gagap melihat muka Ray.
“Aku tidak ingin melibatkannya.... Lagipula meskipun seluruh ke-
kayaan Koh Cheu digunakan belum tentu bisa menutup seluruh
hutang.” Ray mengusap wajah, menurunkan tensi suara.
Masalahnya bukan itu. Sungguh bukan itu. Ray benar-benar tidak
ingin berhutang-budi kepada Koh Cheu. Dari dulu dia selalu meng-
hindari melibatkan Koh Cheu dalam bisnisnya. Apalagi sekarang
dengan Vin di antara mereka berdua. Dia tidak akan pernah meminta
bantuan Koh Cheu.
“Aku... Apa salahnya memberitaku Kakek? Hanya memberitahu....”
Vin menelan ludah, takut-takut melangkah mendekati meja.
Ray masih duduk. Memegang kepalanya.
Vin menyentuh gagang telepon.
“Bukankah sudah kukatakan jangan lakukan-” Ray mendesis.
Gagang telepon itu terjatuh.
Ray bangkit dari duduknya, “Kau tahu, aku memulai semua ini dari
nol, jadi apa salahnya kalau semua kembali nol.... Kosong! Hampa!
Bukan masalah besar bagiku....”
Malam itu setelah sejenak terduduk melihat rembulan di angkasa,
setelah mendengar berita kekalahannya, Ray berpikir amat sederhana.
Bukankah hidupnya selama ini terasa hampa? Kosong? Semua ini

366 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

tidak pernah memberikan janji-janji yang dibayangkannya! Dulu dia
sepi, sendiri. Sekarang, dia juga sepi, sendiri. Sama saja.
“Maukah kau meninggalkan aku sendirian?” Ray berkata pelan.
Gadis itu beringsut mundur. Ya Tuhan, padahal ia ingin sekali me-
meluk lelaki di hadapannya. Mengatakan semuanya akan baik-baik
saja. Mengatakan dia masih memiliki teman untuk melewatinya. Ia
benar-benar tidak akan pernah punya kesempatan.
®LoveReads

Tetapi Vin nekat melakukannya. Menjelang tengah-malam, setelah
menangis memikirkan banyak hal, ia memutuskan menelepon Kakek
Cheu. Mengatakan apa yang terjadi.
Telepon itu efektif sekali. Esok paginya, taipan itu segera berangkat
ke Ibukota dengan pesawat pertama dari kota timur.
Ray sedang bersama petinggi perusahaannya saat Koh Cheu tiba. Koh
Cheu langsung masuk ke ruang kerja lantai 101. Meeting itu bubar.
Menyisakan Vin. Ray beranjak dari duduknya, menyambut Koh Cheu
di pintu ruangan. Memeluknya kaku. Senyap.
Mereka duduk ber-hadap-hadapan. Ray menatap tajam Vin yang
tertunduk. Koh Cheu sebaliknya menatap tajam Ray. “Aku mengerti
kalau kau tidak mau melibatkanku dalam bisnis hebatmu, Ray....
Karena kau berbaik hati dengan taipan-tua ini.. Tetapi aku sungguh
tidak mengerti kalau kau sampai tidak menelponku untuk 'meminta
bantuan-”
“Kami bisa mengatasinya.” Ray memotong.

367 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Omong-kosong! Kau baru meeting apa, coba? Rencana likuidasi
perusahaan, bukan? Atau rencana obral perusahaan?” Koh Cheu ter-
kekeh getir, mengusap rambut berubannya.
“Aku sudah bilang Vin agar tidak menelepon-” Ray menelan ludah.
Menatap datar Koh Cheu di depannya.
“Dia tidak menelepon pun aku pasti tahu. Kau terkenal... Berita ini
tentu menyenangkan banyak pihak. Masyarakat yang ingin tahu,
pesaing-pesaing bisnismu yang bersiap berpesta di atas remah-remah
perusahaanmu.... Tidak akan ada lagi yang bersisa...”
“Itu bukan masalah!” Ray mengangkat bahunya.
“Ray, itu masalah besar. Kau mungkin bisa memulainya lagi, tapi kau
sudah kehilangan waktumu. Bisnis barumu tidak akan lebih seperti
kontraktor rumah rendahan kecuali kau mengijinkanku membantumu”
“Aku tidak butuh pertolongan-”
“ANAK MUDA! KAU SUNGGUH KERAS KEPALA...... Saat kau
masih merangkak di bawah ketiak Ibumu, saat kau masih belajar ber-
jalan, aku sudah membakar ratusan rumah untuk membangun im-
perium bisnisku.... Saat kau masih belajar membuka mulut, aku sudah
menancapkan taring-taring bisnisku- Kau butuh pertolongan!” Koh
Cheu mendesis. Meletakkan tongkatnya di atas meja. Menatap tajam-
Ray terdiam. Seketika. Menelan ludah. Bukan mendengar tawaran
pertolongan itu. Bukan melihat ekspresi muka Koh Cheu.
Tetapi kalimat Koh Cheu barusan. Membakar? Apa maksudnya? Apa
maksud kalimat itu?
®LoveReads

368 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

“Kau tidak pernah tahu apa maksudnya, bukan?” Orang dengan wajah
menyenangkan itu menepuk pundak pasien di sebelahnya.
Pasien itu menatap lamat-lamat ke depan. Mengusap mukanya. Per-
cakapan dengan Koh Cheu beberapa tahun silam itu terlihat begitu
nyata. Wajah Vin yang tertunduk. Ya! Dia benar-benar tidak tahu apa
maksud kalimat itu. Pasien itu mengangguk pelan. Langit semakin
Jingga. Kaki langit terlihat indah dari lantai 101 ini.
“Kenapa Koh Cheu sampai mengatakan kalimat itu? Ketahuilah Ray,
karena Koh Cheu, taipan kaya yang kau kenal amat baik dengan
pekerja-pekerjanya dulu.... Yang amat baik dengan keluargamu....
Dia-lah yang menyuruh Plee dan partner kerjanya membakar komplek
perumahan orang-tuamu....”
Pasien itu seketika ternganga, sungguh tidak percaya.
“Ya! Koh Cheu-lah yang membangun pusat perbelanjaan di atas
puing-puing rumah orang tuamu, di atas tumpukan tulang-belulang
orang-tuamu... Dia selalu dihalang-halangi mendapatkan lahan itu,
maka malam itu, saat malam karnaval hari raya, dia menyuruh Plee
membakarnya.... Tanpa ampun.” Orang dengan wajah menyenangkan
itu tersenyum getir.
“Tidak mungkin-” Suara pasien terdengar bergetar.
Ya Tuhan! Bagaimana mungkin Koh Cheu yang melakukannya?
Bagaimana mungkin? Bukankah Koh Cheu berbeda dengan taipan
lainnya. Bukankah Koh Cheu baik kepadanya? Amat berbeda-
“Itulah kenyataannya. Tapi fakta ini belum utuh, belum lengkap. Kau
harus tahu bagian lainnya, agar bisa menilai dengan lebih baik....

369 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Seiring waktu, Koh Cheu bertongkat yang kau kenal sekarang
memang amat berbeda dengan Koh Cheu saat seumuran kau....
“Dia awalnya tidak berbeda dengan taipan lain. Licik. Berbahaya.
Menghalalkan segala cara.... Dia membangun imperium bisnisnya di
atas tangis-darah orang lain. Memeras keringat pekerjanya. Menipu
rekan-rekan bisnisnya. Bergelimang uang dari bisnis tidak terpuji...
“Hingga kebakaran malam itu.... Hati itu memang sudah lama mem-
batu.... Saat mengetahui puluhan orang hangus terpanggang, istri Koh
Cheu memutuskan pergi meninggalkannya.... Ia sudah tak tahan lagi.
Sudah lama muak. Setiap malam gambar potongan tulang-belulang
gosong itu dipertontonkan berita-berita, istrinya yang membenci
pekerjaan suaminya memutuskan menjauh.... Mengancam tidak akan
kembali kalau Koh Cheu tidak berjanji berubah...
“Koh Cheu terpaksa berjanji di depan istrinya. Tetapi Koh Cheu
memberikan janji palsu, dia tetap sama bejatnya. Menyuap pejabat
pemerintahan, menyelundupkan barang-barang ilegal, merusak harga
pasaran... Tidak peduli sedikit pun dengan orang lain. Istrinya lelah
mengancam.... Lelah menasehati....
“Hingga kecelakaan pesawat terbang itu terjadi. Kau tentu tahu ke-
celakaan pesawat terbang yang menewaskan anak dan menantu
mereka. Menyisakan Anggrek Putih Dari Timur sendirian.... Saat
itulah Koh Cheu menyadari balasan penguasa bumi.... Saat itulah dia
menyadari kalau hidup ini adil.... Ah, sayang, penyesalan tidak pernah
bisa mengembalikan anaknya. Maka setiap kali melihat Vin, rasa
sesal itu menghujam kuat-kuat....”

370 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Ray masih berusaha mengatur nafasnya. Koh Cheu pelakunya?
Sungguh lelah dia menduga-duga siapa otak skenario kebakaran di-
sengaja itu. Dia tidak pernah menemukan fakta kalau pusat per-
belanjaan itu pernah dimiliki Koh Cheu. Dia tidak tahu-
“Pagi itu, saat dia datang berusaha membantumu, kau salah kira Ray!
Sungguh keliru.... Kau menduga dia melakukan itu demi Vin... Tidak.
Bukan itu... Kenapa dia ringan hati 'memberikan' seluruh kekayaan-
nya, kekayaan yang dia kumpulkan selama 60 tahun... Kenapa dia
ringan-tangan menggadaikan seluruh miliknya untuk menalangi
seluruh pinjaman konsorsium yang kau lakukan.... Sungguh bukan
karena Vin!
“Tetapi karena dia ingin menebus masa lalu yang menyakitkan itu-
Kau tahu kenapa istri Koh Cheu amat dekat dengan istrimu? Karena
istri Koh Cheu tidak sengaja menemukan potongan koran milikmu di
rumah tepi pantai. Istrimu bilang itu bukan apa-apa, hanya kertas
biasa, menyimpannya lagi tanpa sempat melihat. Tapi istri Koh Cheu
yang dihantui masa lalu bisa merangkaikan penjelasan.... Dan rasa
bersalah itu semakin menohok saat mereka akhirnya tahu waktu Plee
dieksekusi dulu istrimu hadir di sana....
“Sempurna bukan? Melihat keluarga kau yang begitu bahagia,
keluarga yang bangkit dari abu-abu sisa pembakaran mereka, Koh
Cheu dan istrinya merasa amat bersalah.... Apalagi mengingat balasan
yang harus mereka terima: kehilangan anak tunggal dan menantu
mereka.... Menyisakan Vin yang sama seperti kalian berdua! Pagi itu
ketika Koh Cheu datang menawarkan bantuan.... Sungguh dia me

371 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

.. Kau pikir dengan menambah lagi imperium bisnismu. maka sungguh dia tidak akan pernah terpuaskan oleh yang bisa disediakan dunia.. Pertanyaan keempat kau. mempunyai banyak. b l o g s p o t .. persis seperti sekerumunan orang-orang lainnya yang amat keterlaluan mencintainya. c o m . merasa puas. merasa cukup.. menjulurkan kakinya di atas keramik lantai 101....lakukannya bukan karena Vin!” Orang dengan wajah menyenangkan itu mengusap wajahnya.. Menatap redup- Pasien di sebelahnya mengusap rambut. Koh Cheu melakukannya demi semua itu? Demi kebakaran disengaja itu? Begitu banyak masa lalu miliknya yang ternyata bersinggungan dengan kejadian menyakitkan itu. setelah hampir seluruh potongan ini kau kenang. padahal sekarang kau memiliki segalanya.. terasa hampa.b u k u .. Kau mencintai dunia lebih dari segalanya.. membuatnya besar-menggurita kau akan me- 372 | R a t u . Lazimnya para pencinta dunia. gedung berikutnya.. Tertunduk. aku akan kembali menjawab pertanyaan besarmu.. dia tidak pernah tahu semua fakta itu. Ray! Ternyata setelah sejauh ini semuanya tetap terasa kosong.. Kau pikir setelah mendirikan gedung tertinggi maka kau akan merasa lelah.... Dia sungguh tidak tahu- “Baiklah.. juga gedung berikutnya. Semua yang kau miliki tidak pernah memberikan ke- bahagiaan seperti yang kau dapatkan enam tahun bersama istrimu. “Kenapa? Karena kau sudah terjebak dalam siklus mengerikan itu! Kau terjebak keinginan-keinginan dunia.. Ya Tuhan.. Menatap bingkai raksasa jendela kaca yang melukis rembulan dan bintang-gemintang di luarnya. Kau tidak akan pernah menemukan apa yang kau cari setelah gedung itu berdiri.

Dia mengangguk. tergugu tentang perasaan kosong itu. Ya! Dia merasa dengan semua kesibukan ini. Vin bukan jawaban atas siklus mengerikan itu. c o m ... Kau mirip sekali seperti anak kecil yang sudah memiliki mainan. b l o g s p o t . Kau tidak akan mendapatkan pengganti istrimu. melihat pekerjaan orang lain berikutnya yang seperanya terlihat amat me- nyenangkan dibandingkan miliknya.. Menghela nafas prihatin. “Tidak pernah merasa cukup atas apa-apa yang dimiliki.. 373 | R a t u .. Hampa.. tapi setelah bekerja... dia bisa mendapatkan ganti kesenangan dari perginya si Gigi Kelinci.. kau mungkin sedikit berbeda karena kau melakukan itu untuk menjawab semua perasaan kosong setelah istrimu pergi. Termasuk dengan menikahi Vin misalnya. Perasaan hampa.b u k u ... dengan semua kekuasaan yang dimilikinya. kau juga meng- inginkannya. setelah melihat ada pekerjaan orang lain yang lebih baik. Begitu seterusnya.nemukannya.. Kosong.. Pasien itu terrunduk dalam.. Susah payah mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.. dia amat bernafsu untuk mendapatkannya.. dia bernafsu sekali lagi untuk mendapatkannya juga.. Tidak.. Kau hanya menemukan kosong.” Orang dengan wajah menyenangkan itu terdiam sejenak. Tapi apa- pun latar-belakangnya.. Setelah mendapatkannya. saat melihat anak lain mendapatkan mainan yang baru... Kau mirip sekali dengan kelakuan hampir seluruh orang yang pernah terlahir di muka bumi ini... “Ray..... orang-orang yang amat keterlaluan men-cintai dunia tetap tidak akan pernah menemukan jawaban dari dunia... terjebak dalam siklus mengerikan tersebut..Dari harta-benda dunia...

Siapapun yang melihatnya sungguh tak akan bisa mem- bantah betapa indah pahatan itu.. Mereka di- berikan waktu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu masing-masing. konsentrasi hingga akhirnya menghasilkan sebuah pahatan yang luar bisa indah... Tidak juga dari kebersamaan dengan Vin..... Dia juga menggunakan cat-cat warna. hiasan-hiasan..... Berseru. “Baiklah.... Berdesir si pemahat pertama. berhari-hari... dan segalanya. Untuk memudahkan menjelaskan urusan ini maukah kau membayangkan sebuah kejadian sederhana yang amat menarik.. dia akan menambah elok pahatannya! Berikan dia waktu! Dia akan mengalahkan pemahat pertama! Maka tirai ditutup lagi... Mereka lantas dimasukkan ke dalam ruangan besar dengan tembok-tembok batu.b u k u .. b l o g s p o t . Hingga dia merasa saingannya tidak akan bisa membuat yang lebih indah dibandingkan 374 | R a t u .. Tanpa henti pemahat pertama mempercantik dinding bagiannya. c o m .. Ada dua pemahat hebat yang diundang berlomba. berminggu-minggu. “Tirai kemudian dibuka. pemahat kedua ternyata juga berhasil memahat dinding baru tidak kalah hebatnya.Tidak pernah. memutuskan meng- gunakan seluruh pahat. sehingga yang satu tidak bisa melihat yang lain.. Orang itu terus memahat berhari-hari. alat-alat.. Berkilau lebih indah malah. tercenganglah pemahat pertama. Ray. Sempurna mem- batasi. Persis di tengah ruangan dibentangkan tirai kain. Persis di hadapannya.. “Kau tahu apa yang terjadi? Pemahat pertama.. dan berbagai peralatan lainnya yang bisa dipergunakan untuk membuat pahatan indah di tembok batunya. tidak mengenal lelah.

. Dan orang itu amat 375 | R a t u ....b u k u .. Berteriak meminta waktu tambahan lagi. Dinding di seberangnya lagi-lagi lebih elok me- mesona.... Pemahat kedua hanya menghaluskan dinding itu secemerlang mungkin. “Ray.. Padahal tahukah kau.. maka dia bisa merasakan kebahagian melebihi orang terkaya sekali pun. Tapi orang-orang bijak.. Hanya itu. c o m . mem-buat kaca itu berkilau bagai cermin. orang-orang yang berhasil menghaluskan hatinya secemerlang mungkin... itulah beda antara orang-orang yang keterlaluan mencintai dunia dengan orang-orang yang bijak menyikapi hidupnya.... Tahukah kau. Ternganga.. “Tirai dibuka... Pemahat kedua sesungguhnya tidak me- lakukan apapun terhadap dinding temboknya.... ada satu orang yang hatinya amat berkilau oleh perasaan cukup. membuat hatinya bagai cermin.... Sayang. Ray. Amat cemerlang oleh perasaan cukup. kau juga bertuah. kau tidak pernah berkesempatan menjadi orang-orang bijak! Tidak pernah berke- sempatan merasa cukup! Kau terus terjebak oleh imperium bisnismu yang semakin menggurita setelah diselamatkan Koh Cheu. Sehingga setiap kali tirai dibuka.. kau gagal karena ada yang mengkhianatimu... karena kemilau dari cermin tersebut.. Dalam kasus ladang minyak itu.. Apa yang dilihat pemahat pertama? Sungguh dia terkesiap.. Dia berdesir tidak puas. b l o g s p o t ..Kau terbuai oleh tuah milikmu..... tidak akan pernah merasa puas.miliknya.. Ya kau amat bertuah sejak perjudian dadu dalam tabung itu.. Orang- orang yang terus merasa hidupnya kurang persis seperti pemahat pertama.... dia sempurna hanya memantulkan hasil pahatan pemahat pertama dengan lebih indah...

. tertunduk dalam. Rumah besar. Menyisakan siluet indah-memesona. tidak hampa... b l o g s p o t . Ray.. Lagu Plee dulu! Ray tertunduk semakin dalam- ®LoveReads 376 | R a t u .. Istrimu! Gigi kelinci-mu! Ah... mobil.... c o m .. Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu.. bersenandung pelan.. Aku senang mendengarnya. sayang...b u k u .. berlian.... Membuat hatinya selalu cemerlang bagai cermin. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa melakukan hal seperti itu... Awan kelabu yang radi menutupi rembulan di bingkai raksasa jendela kaca perlahan pergi. kenyataan ini amat menyakitkan memang.. Jawaban atas pertanyaan ke- empatmu. Orang dengan wajah menyenangkan itu menatap redup ke atas. “Orang itu adalah istrimu. Bukankah istrinya pernah berkata: “Aku baik-baik saja. tidak kosong. Kau bukannya belajar dengannya tentang itu.” Ray menggigit bibir..” Ray menoleh. ceroboh. Tapi aku tidak membutuhkan itu.... kau malah menjadikan istrimu sebagai alasan mengejar jawaban-jawaban semu itu. Amat senang. Ridha atas perlakuanku padamu.dekat dalam kehidupanmu. Itu sudah cukup!” Bagaimana mungkin dia tidak pernah menyadarinya. menatap tidak percaya.

Ray! Aku percaya padamu... Tapi Koh Cheu tidak peduli. c o m .. “Aku melakukannya demi kau. Mengalihkan seluruh kekayaan imperium bisnisnya dalam sekejap. dia menanda-tangani kesepakatan dengan Mister Chan. Merasa melakukan kesalahan dengan meminta Kakek Cheu menyelamatkan lelaki yang dicintainya. dan yang menyedihkan Vin (juga Ray) sepanjang tahun hingga ajal menjemputnya sungguh merasa Kakek Cheu melakukannya hanya karena ia-karena perasaan cinta yang tidak pernah terwujud itu. Sepanjang hari Vin tak kuasa bersitatap dengan Ray. b l o g s p o t . saat ber- pisah di pintu keberangkatan.Bab 20 Enam Tahun Penghabisan KOH Cheu ringan-hati memutuskan melego seluruh kekayaannya untuk menyelamatkan Ray.b u k u . menutupi seluruh pinjaman konsorsium itu. Mengakhiri masa-masa 'belajar' bersama Ray. kepala konsorsium pendanaan proyek ladang minyak Ray hari itu juga.” Koh Cheu terkekeh memeluk Ray. mungkin usiaku tidak cukup panjang untuk melihatnya. tapi kau pasti bisa! Kau akan mengambil seluruh ke- 377 | R a t u . dan sebagai gantinya mendapatkan separuh kepemilikan imperium bisnis Ray yang sama sekali tidak ada harga bukunya lagi. Ray! Meskipun aku tahu. gadis itu amat mencintaimu. Hanya orang bodoh yang melakukan itu. “Aku tidak melakukannya karena Vin. Taipan dari timur itu kehilangan segalanya- Ray mengantar Koh Cheu dan Vin ke bandara malam harinya. Anggrek Putih dari Timur dengan mata sembab memutuskan ikut pulang.

dia bisa mengambil kembali semua kekayaan- nya yang telah tergadaikan. Koh Cheu benar. Besok pagi.b u k u . Bukan lagi batu.. Semua ini omong- kosong.. Mengambil dengan bunga- bunganya! KEMBALI-LAH! Jalankan bisnismu dengan seluruh kemampuan yang kau miliki. saat itulah Jo melihat betapa 'mengerikan' wajah dingin Ray. b l o g s p o t . Ray membalik badannya. saat itulah dia akan kembali dengan semangat baru. 378 | R a t u . kau memiliki bakat besar-” Koh Cheu dan Anggrek Putih dari Timur melangkah di lorong-lorong bandara yang senyap. Semua kekayaan ini tidak ada gunanya.. Tapi patung. Lemah keluar dari lobby keberangkatan. Lupakan semua- nya. HAJAR mereka semua. bukan? Lupakan pertanyaan-pertanyaan omong-kosong ini.. Dia bisa mengambilnya. maka Ray memutuskan untuk benar-benar mematungkan diri dalam pekerjaan. hampa perasaannya. Lelah sekali dia mencari jawaban atas kosong hatinya. Baiklah! Karena jelas tidak ada gunanya. Lunas dengan bunga-bunganya. Dia masih me- nyandang status pemilik gedung tertinggi. Gadis itu melangkah masuk lebih dulu.. Ray duduk memandang rembulan dari bingkai raksasa jendela kaca ruangan lantai 101. Ray. Maka malam itu saat Ray melintasi koridor gedung. saat cahaya matahari menjejak lantai tertinggi miliknya. Patung pualam yang mencengkeram dalam wujud manusia. Dia bahkan tidak sempat berjabat-tangan dengan Vin. c o m . Dengan muka tertunduk- Malam itu hingga subuh.kayaanku yang digadaikan hari ini.

Celakanya. Malam-malam berlalu menyesakkan. sebaliknya perlahan mulai luntur. c o m . Melakukan penghematan besar- besaran. Sayang. menutup pinjaman lama di luar pinjaman konsorsium Mister Liem dengan pinjaman-pinjaman baru. b l o g s p o t . Dan waktu melesat bagai batu jatuh dari lantai 101- Empat tahun berlalu tanpa terasa. Perusahaannya harus bergerak seramping mungkin. Lincah. Tuah itu seolah-olah pergi menjauh darinya. Meninggalkan Ray berkubang dengan masalah. sejauh itu tidak ada ke- majuan berarti dari imperium bisnis Ray. satu-persatu relasi bisnisnya malah pergi. sendirian. Potong sana. Proyek-proyek yang diharap- kan dapat mengembalikan kejayaannya. mengada- kan pembaruan di semua unit. Beban keuangan dari kekeliruan investasi yang ditanamkan di ladang minyak bersalju itu terus menggerogoti neraca perusahaan.Ray mengkonsolidasi ulang seluruh bisnis yang dimiliknya. Ray memandang rembulan dari bingkai jendela kaca raksasa dengan tatapan kosong. Hanya tingkat sewaan gedung 101-nya yang bisa mencegah kerugian lebih besar lagi. hanya sibuk melakukan rekayasa keuangan. Pusat perbelanjaan-nya mulai sepi. Semua ini entah 379 | R a t u . pangkas sini.b u k u . Kendali Ray dari lantai 101 tersendat-sendat. Apartemen-apartemen yang dibangunnya tidak laku. Gedung-gedung perkantoran miliknya ditinggalkan. Perusahaan tidak bisa bergerak selincah yang diharapkannya. Empat tahun terbuang percuma.

Sayang. Sopir taksi terkejut.kapan berakhir? Jo masih setia menemani. Ray mulai jarang bertanya progress ke Jo. Mengerem laju mobil secepat yang bisa di- lakukan. Empat tahun ini Ray tidak pernah menghubungi Koh Cheu. Taksi itu meluncur membelah kota. Koh Cheu memiliki firasat tajam. Ray terlanjur lelah memikirkan banyak hal. Membuat kendaraan di belakang mereka ikut menahan laju. kebersamaan mereka hanya diisi oleh senyap. Tanpa Vin. Mencegat taksi dari bandara yang dulu dibangunnya. Dia tidak ingin di malam yang menyedihkan ini dia 380 | R a t u . Ray tidak akan pernah bisa melewati jalan itu. karena dia bertekad tidak akan pernah kembali sebelum semua kekayaan yang digadaikan ter- bayarkan. c o m . dia tidak akan pernah sempat melihat imperium bisnis miliknya kembali. Dia pergi lebih cepat- Malam itu juga Ray menuju rumah duka. “BERHENTI!” Ray mendesis. Tidak akan. Koh Cheu meninggal. Tidak banyak percakapan.banyak pekerja yang terpaksa dirumahkan. b l o g s p o t . Ray segera terbang menuju kota tepi pantai itu. Menyumpah-nyumpah menekan klakson.b u k u . Ray yang penat tidak sempat memandang keluar jendela menyimak bertahun- tahun meninggalkan kota itu ada banyak sekali yang berubah. Koh Cheu benar. Tetapi mendadak dia mengenali arah laju taksi. Empat tahun berlalu. Menyuruh sopir taksi memutar. Terkutuk. Kabar buruk berikutnya melesat. telepon dari kota timur datang. yang dulu berkali-kali menjadi bahan godaan Jo.

b l o g s p o t . Nilai aset miliknya sama dengan nilai hutangnya. Anggrek Putih dari Timur berdiri di sebelah. malam itu dia mengikrarkan kembali untuk 'membenci' mereka semua.. Semua ini menyedihkan. “Kokoh bilang. mendekap istri Koh Cheu erat. Vin sebelum Kokoh pergi juga mengatakan tidak menginginkannya. Ini semua menyedihkan.b u k u . Ray menggigit bibir. Tidak akan- Istri Koh Cheu menyambut di rumah duka dengan muka sembab. Dia akan membalasnya- 381 | R a t u . c o m .. “Kokoh punya pesan untukmu-” Ray menggigit bibir. Membimbing Ray menuju peti mati suaminya. Taipan terbesar di ujung Umur pulau. Membuatnya mengenang masa-masa enam belas tahun itu. Istri Koh Cheu sengaja menunggu Ray sebelum prosesi kremasi dimulai. dia tidak memiliki anak lelaki untuk mewarisi separuh saham miliknya di perusahaanmu.. Lihatlah. dia juga tidak punya kerabat dekat yang bisa dipercaya. Juga membenci dirinya. Diserahkan lagi? Separuh kepemilikan saham itu tidak berguna. tidak ada relasi bisnisnya yang dulu selalu terlihat begitu ramah dan akrab. Tidak ada harganya. menunduk sepanjang prosesi pembakaran. Tidak ada kerabat-kerabatnya yang dulu selalu hadir di pesta-pesta Koh Cheu..” Ray menelan ludah. kepemilikan saham itu di- serahkan lagi kepada-mu. Koh Cheu bilang..melewati panti itu. Ray tidak mampu mendengarkan kalimat-kalimat seterusnya. Taipan yang dulu amat disegani. Kesedihan menggantung di matanya. karena dialah yang menyebabkan semua ini terjadi. malam ini dibakar dalam prosesi yang amat sederhana.

Semua kesedihan ini membuatnya terlihat tua lebih cepat. Senyap. tidak kuasa menatap peti itu terbakar. Bertiga berdiri di depan tungku. b l o g s p o t . Taipan yang dilahirkan miskin. ®LoveReads “Apa yang akan kau lakukan?” Ray bertanya pelan. Burung camar melenguh. Vin tetap berdiri memandang buih ombak yang meng- gulung abu-jenasah kakeknya. seharus- nya terlihat seperti wanita karir yang matang oleh pengalaman. Gadis itu tidak terlihat muda lagi. Usianya baru menjejak tiga puluhan. Ray mendekapnya. sungguh tidak ada yang peduli dengan Koh Cheu.b u k u . c o m . dan mati juga 'miskin'. Pantai itu senyap. Anggrek Putih dari Timur tertunduk dalam. Malam itu. Angin lembut menelu-suk sela-sela kuping. Lautan terlihat Jingga. Sebaliknya. Koh Cheu tenggelam dalam kobaran api. Panas menguar dari dalamnya. Pagi menyemburat Jingga. Mereka sepagi ini melarung abu Koh Cheu. Tidak segar. Vin mengangguk. Tangannya mencari pegangan. “Apa kau baik-baik saja?” Ray bertanya pelan. Terdiam. “Apa yang akan kau lakukan?” Ray bertanya lagi. Vin terlihat sendu. Anggrek Putih dari Timur yang berdiri di sebelahnya tertunduk diam. “Aku tidak tahu. Buih ombak terlihat Jingga. Tidak periang.” Vin menjawab pelan. Ada banyak yang tidak baik-baik saja di hatinya 382 | R a t u .Suara api gemeretuk terdengar membakar peti kayu. Istri Koh Cheu pulang lebih dulu. Terbang ber- gerombol.

Lebih tepatnya tidak menyempatkan diri. Dia akan mengambil kembali semua kekayaan yang tergadaikan itu. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Dia- lah yang meminta Kakek Cheu menyelamatkan pria di depannya.b u k u . Menunduk lemah. Buat apa? Yang mati sudah pergi. Merawat Kakek Cheu yang renta. Dalam urusan ini. tak 383 | R a t u . me- megang tongkat. Menyaksikan kesedihan yang mengungkung prosesi kremasi Koh Cheu membuat Ray memendam dendam kesumat. Bersandarkan kursi rotan. Enam bulan berlalu sejak kematian Koh Cheu.sekarang. Tidak membantah. Ray kembali ke Ibukota sore itu juga. Mencari investor baru. Tidak perlu disesali. Juga dalam urusan ladang minyak bersalju itu. Dan Ray sungguh tidak pernah kalah dalam perjudian selama ini. Naik pesawat penerbangan ter- akhir. apapun caranya. “Maafkan aku. suara itu hampir tidak terdengar di tengah debur ombak dan lenguhan burung camar. Menuruti apa mau Kakek Cheu.” Vin mengusap sudut-sudut mata- nya. c o m . Ray tidak sempat berkunjung ke pusara istrinya. Tidak ada percakapan berikutnya. Saatnya untuk be kerja. Itu takdir langit yang tidak pernah disadarinya. Tetapi mengangguk sudah menjadi kebiasaan baru baginya bertahun-tahun terakhir. Semuanya sudah berlalu. Kehilangan seluruh kendali bisnis. maka itu adalah dirinya sendiri. Senyap. kalau ada yang harus disalahkan. Kakek Cheu yang hanya bisa duduk di rumah besar mereka. b l o g s p o t .” Ray mendesah pelan. Enam bulan berlalu yang lebih banyak dihabiskan Ray berkutat mencari modal. Saat semua pintu benar-benar tertutup untuknya.

Tambang emas itu bahkan memberikan jalan bagi Ray untuk me- nguasai bisnis tambang-tambang lainnya. Gempa itu menghancurkan segala fasilitas di ladang minyak bersalju tersebut. Juga seluruh pesaing dan pengkhianat-pengkhianat- nya selama ini. Terkubur dalam. Benar-benar tuah yang mengerikan. imperium-menggurita bisnis Ray menggelinding lagi bagai bola salju. terangkat. Tetapi kabar baik itu melesat tak tertahankan. Entah itu di tempat yang bersalju atau tidak. c o m . Saat seolah-olah tidak ada lagi jalan keluarnya. Di sana memang tidak pernah ada minyak bermiliar barel seperti yang dilaporkan dalam report konspirasi pusat riset prestisius dan universitas ternama dulu. Hari-hari keberuntungan Ray kembali. Ray memutuskan melegonya. Saat itulah kabar baik melesat dari ladang minyak bersaljunya. Berita yang bagai kilat menyambar. Dia sudah mengirimkan tim ekspedisi untuk melakukan penilaian dari sisa-sisa nilai tanah setelah gempa. Dan benar-benar bagai bola salju yang menggilas apa saja yang dilewatinya. kembalinya Ray benar- 384 | R a t u .peduli seberapa hebat Ray menggunakan kemampuan mengendali- kannya. Gempa yang awalnya semakin membuat Ray menggigit bibir. Dari lantai 101 gedung tertinggi. Tetapi di sana bersemayam jutaan ton emas murni. menghentakkan seluruh relasi bisnis Ray. Gempa terakhir yang menghantam ladang minyak itu membuatnya merekah. Kembali berkali-kali lipat. Tim ekspedisi Ray yang dikirimkan terakhir kali sebelum menjual tanah sia-sia itu mengirim- kannya.b u k u . b l o g s p o t .

Ray licin bagai belut. Sukarela atau dengan paksaan. menyingkir atau runduk. Pelan tapi pasti. Kebiasaan Ray memandang rembulan dari jendela kaca raksasa lantai 101 tidak berubah. Tapi pertanyaan yang menyesakkan kepala sudah lama tidak Ray pedulikan. ketika dia berhasil mengambil-alih secara paksa raksasa keuangan milik Mister Liem. Melancarkan aksi tipu-tipu maut yang dulu bahkan tidak pernah dilakukannya. Tidak membuatnya sesenang saat masih tinggal di lereng pebukitan itu.. dia mulai mengembalikan kekayaan yang tergadaikan. Tahun-tahun berlalu amat cepat. Usia Ray 50 tahun. Bagai kedip mata. Melalui serangkaian permainan keuangan canggih. Licik bagai serigala berbulu domba. Kepala Ray sekarang benar-benar kosong. Ada juga yang tidak berubah. memanfaatkan isu politik tingkat-tinggi. c o m . Menggandakannya berkali-lipat. Peduli apa? Dia juga tidak pernah tahu di mana garis akhir semua ini. Peduli apa? Ray memutuskan untuk menjalaninya bagai air. hingga rusuh besar-besaran di bank swasta itu.benar menghabisi seluruh taipan yang dulu pergi meninggalkannya. Terhinakan atau mendapatkan porsi yang telah ditentukan sekehendak-hati Ray. desas-desus yang membuat panik. Ray datang me- nenggelamkannya. Satu-persatu perusahaan mereka diluluh-lantakkan. Air bah yang menakutkan..b u k u . Dia tahu semua ini membuatnya hampa. Taipan-taipan itu hanya punya dua pilihan. Tidak terasa. b l o g s p o t . Saat mulut Mister Liem mulai kemasukan air bah yang telah mencapai lehernya. 385 | R a t u . Ada banyak yang berubah.

386 | R a t u . Sekarang saat semua yang diinginkannya sudah dimiliki. Menjelang malam. Dulu saat tubuh kecilnya terhinakan. Jalanan senyap. Dia ingin sendiri. hambar. Tiba di perempatan itu. ketika telepon kedua dari kota tepi pantai ujung timur pulau melesat. Mister Liem-lah otak konspirasi penipuan ladang minyak itu. Nyaris menyenggol penjual makanan di perempatan. dia tetap merasa sendiri. Tempat-tempat lain. Hidup benar-benar lelucon yang hebat- Usia Ray 52 tahun. Ray langsung terbang dengan pesawat maskapai miliknya. Lampu-lampu kota terlihat indah. terlantar di bawah selasar atap panti. b l o g s p o t . Hanya ada satu-dua pedagang keliling dengan gerobaknya mencoba mencari peruntungan. Mobil Ray melaju membelah kota. Terkutuk. Jangan tanya relasi-relasi bisnis Koh Cheu yang dulu tidak menghadiri prosesi kremasi itu. Maka nama Mister Liem. Duduk menjuntai di atas tower air itu juga sendiri. ketika Ray kembali. Istri Koh Cheu meninggal dunia.Tuah Ray sungguh tidak pernah pergi darinya. Menawan. dia juga sendiri. Malam-malam menatap rembulan. c o m . Mem- bujuknya untuk memanfaatkan konsorsium pendanaan yang dimiliki banknya. Lantai 18 konstruksi. Dulu saat dirinya duduk di atap genteng Rumah Singgah. menjadi musuh besar di urutan teratas. kosong- Ray malah sering menyuruh jo pergi. Mengemudikan sendiri mobil dari bandara. Ray mendadak terhenti.b u k u . Sepi. Jauh-jauh hari sudah dihabisi. dia juga sendiri. Buru-buru membanting stirnya. Akhirnya dia tahu.

387 | R a t u . Tidak ada prosesi pembakaran mayat yang sederhana. Dia tidak ingin melihat walau sejengkal bagian dari panti terkutuk itu. mengambil jalan memutar. Mengembalikan nama baik dan harga diri keluarga itu. Juga pengunjung yang sendirian. b l o g s p o t . Jijik sekali berada di antara mereka. Ray memandang wajah-wajah itu dengan ekspresi muka merendahkan. Dia tidak akan pernah bisa melalui jalan itu. Pantai itu ramai oleh pengunjung. Tetapi itu semua tetap tidak bisa mengusir kesedihan jauh- jauh. Aula besar rumah duka itu dipadati pengunjung. Laut beriak kecil. Ray memutuskan hanya dia dan Vin yang membawa abu istri Koh Cheu ke tepi pantai. Pasangan muda- mudi. Keluarga-keluarga muda dengan balita mereka. Buih ombak menjejak pasir. ®LoveReads Sore yang indah.b u k u . Ray mendekap erat bahu Vin saat tungku bergemeletuk mulai mem- bakar peti mau istri Koh Cheu. berharap mendapatkan pasangan justru dari kunjungannya tersebut. Tidak ada bedanya dengan penjaga panti dulu. Berdebur. Pelan.. Orang-orang tua.Ray menyeringai dingin. Langit menyemburat merah. Awan putih tipis terlihat ikut merah. Penipu. Hipokrit. Berlipat- ganda.. Pengunjung yang menangis terisak. Mengusir kerabat yang mendekat. Ray sudah mengembalikan kekayaan Koh Cheu lengkap dengan bunga-bunga- nya. c o m .. Mobil terus melesat menuju rumah duka.

b u k u ..” Vin berkata lirih. “Tidak masalah kalau kau enggan. Padahal bukankah tahun- tahun terakhir semua yang hilang telah kembali. dia menemani Vin menaburkan abu Koh Cheu. kau selalu bisa datang. Tersenyum getir... Malam ini. Seperti baru kemarin. Ray mengusap muka. Anggrek Putih dari Timur tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dari itu semua. Kalau kau ingin nanti.. b l o g s p o t . Ray mengangguk. mendekap bahunya. Senja semakin me- merah. Ray mendekap lembut bahu Vin. Seperti baru kemarin. Semua ini terasa berlalu dengan cepat. mungkin dia akan mampir sebentar ke pusara istrinya sebelum pulang. Menghela nafas pelan. Pasang. Lihatlah. Membiarkan Vin yang kemudian berdiri tergugu di tepi pantai. Aku akan me- 388 | R a t u . Tertawa. Ombak membasuh ujung-ujung celana.. Gumpalan awan putih tipis mengambang. Teramat cepat. Air laut meninggi. wajah gadis di sebelahnya terlihat lelah. Terlihat kemerah-merahan- Ray berdiri takjim. Saling kejar. c o m . Menggeleng. “Maukah kau ikut kembali ke Ibukota?” Ray bertanya. Vin menyibak rambut panjangnya yang mengganggu sudut-sudut mata. Saling menggelitiki. “Aku ingin menghabiskan waktuku di tempat yang setidaknya aku pernah merasa senang. Semua kekayaan itu berlipat.. Vin beringsut mundur. membiarkan Vin menaburkan abu istri Koh Cheu. tertunduk. Ray menatap cakrawala di kejauhan. beranjak pulang. dia menemani istrinya berlarian di sepanjang pantai ini.Burung camar melenguh dari kejauhan.

Bukankah 389 | R a t u .Bukankah terasa seperti kemarin sore dia menemani istrinya menghadiri Lomba Busana Oriental itu? Melihat kanak-kanak yang menggemaskan. Rindu semuanya. Dia hanya rindu. Kebangkitan. Merasakan gurat nama yang terpahat. Sendiri- Dua puluh tahun yang saat dia duduk dan mengenang kembali semua- nya seperti terasa baru terjadi kemarin sore. Hampir dua puluh tahun seluruh kenangan bersama istrinya terkubur di sini. Wajah mengantuk. Duduk bersimpuh di sebelah pusara itu. Kesedihan. Malam gelap. Ray menghela nafas. Entahlah apakah pusara itu sama bersih dan rapinya seperti dulu. Matanya semakin redup- Saat pantai sempurna gelap. Wajah pucat. Ray tersuruk-suruk kesulitan mencari.. Wajah cemberut istrinya. Kunang-kunang terbang memenuhi langit-langit perkuburan. Setelah bolak-balik sekian lama Ray baru berhasil menemukannya. Kemalangan. Dua puluh tahun yang hampa. Dua puluh tahun yang melelahkan.ngirimkan jemputan. Lantas memacu mobilnya ke pemakaman istrinya.. Menari mempesona. Naik-turun imperium bisnisnya. Kosong.” Vin mengangguk. Wajah lelah. meningkahi berisik jangkrik berderik.b u k u . b l o g s p o t . Lampu belasan watt di sisi-sisi perkuburan tidak terlalu memadai. Ray tidak bercakap-cakap. Rindu wajah tersenyum istrinya. c o m . Suara burung hantu terdengar dari kejauhan. Membelai nisan. Sudah lama dia tidak berkunjung. Ber- pelukan kaku... Ray mengantar Vin ke rumahnya. Naik-turun nasibnya..

b u k u . Ray yang malam itu menerima sendiri telepon tersebut memutuskan berangkat detik itu juga. Dua tahun ini. Tidak bertuliskan tanggal. b l o g s p o t . Membuat laju mereka yang menyusul terhambat. Sistem informasi. Vin tidak pernah menghubunginya. Melesat jutaan byte seper-sekian detik. Hanya sepotong nisan. Tidak pernah ada rencana kunjungan-kunjungan yang pernah mereka bicarakan dulu. merintangi pesaingnya. Awan hitam mengepungnya. Dua tahun berlalu. Patung pualam suci itu menatap lengang jalanan- ®LoveReads Dua tahun berlalu bagai data binary yang dilemparkan dalam sistem komunikasi satelit. Tertawa-tawa menghindari tangan yang mengancam.baru kemarin sore dia menatap wajah riang Gigi Kelinci-nya. Rembulan menyabit tak kuasa menerangi langit sendirian. Nisan itu tidak bertuliskan nama. 390 | R a t u . Sebelum yang lain memasang aba-aba. c o m . Berlari sambil merobohkan palang- palang yang bisa mengganggu. Besok ada banyak hal yang harus dikerjakan. Kembali ke bandara. Ray beringsut kembali ke mobilnya. Naluri bisnisnya terasah tajam sekali. bertanya siapa nama anak perempuan mereka? Ray menatap dua pusara di dekat makam istrinya. Ray sudah melesat ratusan meter di depan mereka. Imperium bisnisnya harus diurus. Malam semakin matang. telepon duka cita melesat lagi dari kota tepi pantai. Anggrek Putih dari Timur dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Itulah bisnis terbaru Ray. Sebelum hujan turun. Sekarat.

Mobil itu melesat membelah jalanan kota yang lengang. Dia me- ngendarai sendiri mobilnya. Tidak akan bisa menatap walau sejengkal bangunan panti terkutuk itu. Hanya sesenti lagi. menekan pedal gas kencang-kencang. saru mobil lainnya yang melesat tidak kalah cepat dari sisi Ray ikut membandng stir. Membanting stirnya. apalagi yang diharapkan Vin darinya? Anggrek Putih dari Timur itu benar-benar menyia-nyiakan masa- mudanya- Di perempatan itu. Berdecit. Umurnya sekarang 54 tahun. Vin ingin bertemu dengannya sebelum ia pergi selamanya. Ray mengambil jalan memutar. Matanya cekung. Telepon itu bilang. c o m . terkadang kesunyian bisa membunuh. Dia tidak akan pernah bisa melewati jalanan itu. Melihat tubuh Vin yang terkulai. Gadis yang malang. Terkutuk. Kepala lemah Vin memaksakan berputar. Tiba di rumah sakit lima belas menit kemudian. Mukanya kuyu: Vin setengah-sadar setengah-tidak ketika Ray menggenggam jemarinya. b l o g s p o t . Tubuh itu kurus. berteman kamar-kamar kosong membuatnya jatuh sakit.Vin memutuskan mengubur semua harapan. Berlari-lari sepanjang lorong. Ray mengigit bibir. Sendiri di rumah besar Koh Cheu. Bergegas masuk ruangan VVIP. Menyumpah-nyumpah. Ray mengusap wajahnya. 391 | R a t u . Benarlah. Ray terhend mendadak. Sejak Ray bisa mengemudi dua puluh tahun silam.b u k u . Ray berbisik di telinganya. Pesawat Ray mendarat di bandara dua jam kemudian. Ray tidak pernah memerlukan sopir. tabrakan itu terhindarkan.

c o m . Menatap wajah 'damai' Vin dengan hati terluka. Rambutnya mulai ber- uban. Ray mulai jatuh sakit- sakitan. Sakit berkepanjangan. Sepanjang kremasi. Sempurna laiknya rumus matematika. Sekarang dia benar-benar sendiri. Tidak bisa. Memutuskan membawa sendiri abu Vin ke tepi pantai. tapi sekarang terkulai di pinggir ranjang. ®LoveReads Dan entah apa muasalnya. Sudah macam deret 392 | R a t u . Ray benar-benar datang 'tepat-waktu'. Matanya menatap remang-remang... b l o g s p o t . Seperti dia yang ingin lari jauh-jauh dari kehidupan kosongnya. Hilang dua muncul tiga. persis sejak ke- pulangan dari prosesi kremasi Anggrek Putih dari Timur..b u k u . Wajah Ray yang sebenarnya masih terbilang gagah untuk lelaki separuh baya terlihat mendung. Beberapa menit setelah per- cakapan tanpa kata-kata itu terjadi. Enam tahun terakhir. Ray melemparkan kendi itu jauh-jauh.mencari suara yang amat dikenalnya. Tubuhnya masih gempal dan kekar. Kesadarannya semakin berkurang. Anggrek Putih dari Timur pelan menutup mata. Tanpa perlu menebarkannya terlebih dahulu.. ketika imperium bisnisnya menggurita tak terkatakan... Ray kasar mengusir semua undangan di aula rumah duka.. Hilang satu muncul dua. Pergi! Selamanya! Ray tertunduk. Mencoba mengenali wajah Ray. Vin bahkan tidak bisa lagi menggambarkan dengan utuh wajah orang yang selama ini dicintainya.

menyambar tubuh itu. Bagai pohon yang pangkal batangnya dimakan ngengat. Jo gemetar memeluk tubuh Mas Rae-nya sepanjang penerbangan. bertanya mengapa Tuhan tidak menjemputnya saja langsung. tubuh gempal dan kekar Ray jatuh terjerembab. tubuh Ray jatuh terguling. berseru-seru memanggil. Rusuhlah bandara Ibukota.. Berbisik tentang janji-janji yang belum terwujud. Bagai seekor elang Jo me- lompat. di penghujung tahun keenam saat berbagai penyakit tersebut benar-benar mengungkung badannya. besar dengan pecut bilah rotan dan pecut bilah kenyataan. Muka Ray pucat. b l o g s p o t . Helikopter darurat dikirimkan. Apakah langit tidak kunjung puas melemparkannya dalam kegetiran hidup? Apakah semua sesak pertanyaannya selama ini belum cukup? Enam tahun yang berlalu menyedihkan- Persis satu bulan sepulang dari kremasi Vin. ketika kakinya menuruni anak tangga pertama pesawat yang baru membawanya kembali dari kunjungan ke tambang emas bersalju itu.. Tubuh Ray dilarikan secepat teknologi saat itu bisa membawanya ke rumah sakit. Ujung-ujung bibirnya membiru. c o m .ukur. Tubuhnya dingin. berbisik tentang 393 | R a t u .. tapi sekaligus mental psikis-nya. Pengulangan-pengulangan. Dalam hitungan detik. Tak pernah terbayangkan. akhirnya mendesah tertahan menatap rem- bulan. Ray yang kenyang dengan pahit-getir-nya kehidupan.b u k u . akar-akarnya dikunyah ulat. tumbuh dengan bekas luka dan lebam kerasnya jalanan. Menggerogoti bukan hanya fisik. Mengapa dia harus mengalami semua sakit ini. Ray sudah tidak sadarkan diri.. Jo yang menjemputnya berteriak kalap.

. rembulan bundar di atas terlihat indah. mungkin dia saat ini sedang bahagia bersama Gigi Kelincinya. Ray terkena serangan jantung. “Takut Mas Rae pergi. b l o g s p o t .. Dari lantai enam rumah sakit itu.. Bosan. Kurang tiga hari dari batas minimum istirahatnya di rumah sakit. Tapi dua kali lagi seperti itu.” Jo nyengir. Ringan saja. Sejak Plee menyuruhnya lari setiap pagi dua bulan sebelum mengeksekusi pencurian di lantai 60 itu. Menyuruh jo membuka tirai jendela lebar-lebar. “Aku takut. duduk bersandarkan bantal-bantal hanya tersenyum tipis. nyawanya tidak akan tertolong.. kehidupan Ray tidak bedanya dengan atlit. melalui jendela kaca besarnya. Malam itu Ray justru berpikir. Ray yang sudah siuman. seandainya dia tidak terselamatkan. tapi naik turun ratusan anak tangga berbagai proyek konstruksi miliknya lebih dari latihan beban yang memadai. Ray melambaikan tangannya. Bintang-gemintang bertaburan. Jo menemani Ray selama menginap di rumah sakit. Bukan olahraga terencana.b u k u . Dokter Rumah Sakit menyarankan agar Ray lebih banyak berolahraga.. Terbang di gumpalan awan-awan. Jo! Kau tak perlu sepanjang hari menemaniku!” Ray gaya menunjukkan lengannya yang berotot. “Aku baik-baik saja. Ray bandel memutuskan pulang. Ada banyak pekerjaan menung- 394 | R a t u . “Takut apa?” Ray tertawa. Mas Rae-”Jo menelan ludah. c o m .pekerjaan-pekerjaan yang belum terselesaikan.

Apa pula maksudnya? Dia berbeda dengan taipan-taipan itu. bagai ada palu yang menghantamnya kuat-kuat. c o m . Ruangan yang sama. berpesan sekali lagi agar dia banyak berolahraga. Dokter tidak bisa mencegahnya. Kunjungan yang selalu mengesankan. saat Ray baru satu langkah keluar dari pintu rumah bedeng salah satu pekerjanya. Jo menjadi saksi itu semua- Satu bulan yang berjalan normal. Teramat sakit. Ray meringis mendengarnya. Mengawasi belasan proyek propertinya.gunya. Menanda-tangani pengambil-alihan satu tambang di pulau seberang sebulan terakhir. Ray justru membenci menu makanan 395 | R a t u . Jo melompat memegang tubuh Mas Ray-nya. memperlihatkan tubuhnya yang gempal dan kekar. Jendela yang sama. Berusaha mencari pegangan tangan. Yang selalu mengundang isak-tangis haru dari buruh- buruhnya. Satu-satunya ginjal yang tersisa setelah delapan tusukan tiga pisau belati dulu. Dokter yang sama. Ray tertawa melepas baju. Mengunjungi tiga pekerjanya yang baru mendapatkan permata hati dalam keluarga mereka. Menyeringai tipis. tidak ada yang perlu dicemaskan. Kehidupan itu sepertinya akan berjalan normal. Ray kembali teng- gelam di lantai 101. Ray terjerembab. malam itu meradang- Dia bergegas dibawa kembali ke rumah sakit. Menyesalkan Ray selama ini tidak berpantang makan. hanya serangan jantung ringan. perutnya terasa sakit sekali. hingga malam itu.b u k u . Ray terduduk. Muka itu meringis me- nahan sakit tak terkirakan. b l o g s p o t . Tetapi sekarang mengeluhkan kadar gula Ray yang terlalu tinggi. Muka itu bergetar.

Tiang-tiang yang mengepul 396 | R a t u . Menandatangani lebih banyak berkas. Ray jatuh sakit untuk ketiga kalinya. Fisiknya kuat. Memimpin rapat tahunan seluruh unit bisnis di ruang kerjanya. Ginjal sebelah kanan Ray bisa kembali normal setelah terapi pengobatan dua minggu.mewah. Hingga penghujung tahun pertama dari kepulangan itu. Jo menemaninya. c o m . Tetap di tempat tidurnya. Tenggelam dalam rutinitas yang sama. Tubuhnya gagah dan kekar. Kali ini dia roboh di ruang kerja lantai 101. Maka selama dua minggu itu Ray mengendalikan imperium bisnisnya dari ruang rawat inap Rumah Sakit. otaknya masih secerdas dulu. Senja di Ibukota. Kali ini dokter bersi- keras Ray tidak ke mana-mana. dia mengerti betul hidup bukan semata urusan perut. Naluri bisnisnya masih terlatih tak kurang satu apapun. Ray sedang menatap pucuk- pucuk tiang kapal kargo dari kejauhan. b l o g s p o t . Belum. Setelah enam bulan berlalu lagi lancar tanpa gangguan. Melakukan lebih banyak kesepakatan. Dia sudah kembali ke ruangan lantai 101. Itu pun terlalu manis- Tidak ada operasi. Enam bulan berlalu sejak kepulangannya dari prosesi kremasi Vin. Tidak lelah meski hanya menghabiskan waktu duduk diam di sebelah ranjang Ray. Semua terlihat jingga. Hanya puding pisang Gigi Kelincinya yang termasuk makanan istimewa. Dia dibesarkan dengan makan dijatah selama enam belas tahun. Dan yang lebih penting. Ray tidak terlalu memikirkan kalau dia baru saja dua kali masuk rumah sakit enam bulan terakhir. Dia merasa sehat.b u k u .

Bosan. Waktu itu. Tetapi itu tetap tidak cukup. dalam waktu dekat. Kali ini benar-benar serius. Bagai ada ribuan anak panah menghujam. Tiga dokter dari negara leluhur Koh Cheu didatangkan. Dia terus ditunggui perawat di dalam kamar. Sekarang. Ginjal Ray tidak terselamatkan. Bosan karena perawat itu mencegahnya berjalan-jalan di luar menatap 397 | R a t u . membawanya ke rumah sakit. c o m . Ruangan yang sama. Sekarang semuanya mungkin.b u k u . entah karena penjaga panti memang tidak punya uang atau karena penjaga panti membiarkannya. langit adalah batasnya. sekalian paket cangkok ginjalnya. Ray hanya bisa terbaring lemah tanpa pertolongan. Ray bosan dengan waktu-waktu berlalu. Ray me- rangkak mendekati meja kerja. Rusuh sepanjang sore di lantai 101. Megap-megap. b l o g s p o t . Nyawanya terancam. Saat Ray sedang takjim bagai pertapa. Tidak ada masalah dengan operasi besar tersebut.mengeluarkan asap cokelat. Jo yang datang beberapa detik kemudian membopong tubuh Ray. Tanpa jeda 24 jam. saat tangannya tidak sengaja menyentuh potongan koran butut yang selalu dibawanya dalam saku celana. Tubuhnya seketika terhuyung. Yang jadi masalah bagi Ray. Jendela yang sama. memanggil staf yang berjaga di luar. dia harus beristirahat penuh selama dua bulan. saat itulah perutnya melilit tak tertahankan. Dokternya yang sekarang berbeda. Ruangan rawat inap terpaksa dipindahkan ke rumahnya. Tersenyum. separuh dari kapal-kapal itu akan berbendera imperium bisnisnya. Berbeda dengan waktu Ray demam menggigil selama seminggu setelah mengakui dia-lah yang merusak tasbih Arab milik penjaga panti dulu. Mengangkat telepon.

Malam itu persis satu setengah tahun sejak kepulangannya dari prosesi kremasi Vin. Lumpuh begitu saja. Menurut penjelasan resmi dokter. Kaki itu lumpuh. saat hendak bangkit mengambil air minum di kulkas. Ray mulai mendendang resah. di pagi hari ketujuh. Tetapi entah apa maksud semua ini. Memaksa. kakinya mendadak tak bisa digerakkan. amat menyedihkan menyaksikan Ray yang mendadak takut dengan banyak kemungkinan. Tetap tidak bisa. Jo membuat pesta kecil menyambutnya. Gemetar menyambar gagang telepon. Bagaimana mungkin dia ter- kena sakit jantung? Jauh panggang dari api. Malam itu Ray mulai sesak memikirkan sebuah pertanyaan besar. penyebabnya komplikasi kadar gula. Gugup. Pagi itu.rembulan. Maka senang sekali saat dia akhirnya diizinkan kembali bekerja di ruangan lantai 101-nya. mengusap keringat di dahi. semua ini menyakitkan. saat menatap rembulan bundar di atas sana. Sempurna mati rasa. Apapun itu penyebabnya. Ray yang. Tetap bergeming.b u k u . Tubuhnya di- gendong Jo menuju rumah sakit secepat mungkin. Ray mencengkeram pahanya. baru seminggu dia me- rasakan kehidupan normalnya. Ray menggigit bibir. apa maksud semua sakit ini? Bukankah semuanya terlihat seperti lelucon? Dari jendela besar ruang rawat inap di Rumah Sakit. tertawa lebar. Ray menggigit bibir ber- usaha menggerakkan kakinya dengan seluruh tenaga. Berbisik lemah. c o m . saat menyimak bintang-gemintang tumpah. b l o g s p o t . Tubuhnya atletis dan 398 | R a t u . Baru seminggu Ray menjejakkan kakinya di lantai gedung tertinggi miliknya. Ya Tuhan.

Memutuskan untuk menjadi patung pualam.b u k u . kenapa masih tega menganggunya dekat berbagai sakit ini? Tidak masalah kalau langit seperti biasa enggan menjawab pertanyaan tentang betapa hambar hidupnya setelah kepergian semua orang-orang yang dicintainya. b l o g s p o t . Saat dia memutuskan untuk tidak peduli lagi soal itu. berbagai pendekatan kedokteran tercanggih yang pernah ada. Ray harus menerima kenyataan: tongkat.. Tetapi kenapa harus ditambah dengan beban penyakit yang menderanya bertubi-tubi? 399 | R a t u . ®LoveReads Enam bulan berlalu menyakitkan. Tertolong? Karena kaki itu tidak perlu diamputasi. Gerak hidupnya mulai terhambat. Kosong.. tapi Ray kehilangan nyaris separuh semangat hidupnya. Dia bisa kembali ke ruangan kerja lantai 101. tertunduk menatap kakinya yang bagai seonggok daging tak berguna. malam-malam yang sesak. Apa sebenarnya maksud takdir langit? Ray kelu. Tertolong? Tidak juga. malam-malam yang panjang. Lihatlah! Kehidupannya hampa. Setelah berbagai operasi. tapi tidak akan pernah mampu lagi menopang tubuhnya. Kaki kanannya sudah bisa digerakkan. c o m . Apalagi penyalur kadar gula dan komplikasinya ini? Sungguh tidak masuk di akal.. tidak masalah. Ray mulai kembali mengutuk langit. Semua ini benar-benar omong- kosong. kaki itu tertolong.sehat.

Sekali lagi di ruangan kerja lantai 101. Pegangan tangan di tongkat melemah. radang teng-gorokan akut. Tiga serbuan yang hebat. Satu minggu masa- masa kritis terasa berlalu amat lambat. Ray lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja lantai 101. Menyakitkan melihatnya. Ray tidak selincah dulu lagi. Jo berkali-kali mendesah ke langit-langit ruangan. Selang infus dan tiga belalai lainnya menghujam ke tubuh Ray. b l o g s p o t . Komplikasi kadar gula yang semakin parah.b u k u . entah di tanah ber- salju atau tidak. Tongkat itu ter- pelanting bersamaan dengan tubuh Ray yang jatuh menghujam keramik lantai. Jo yang seperti biasa ingin menemani Mas Rae-nya melihat rembulan. Ray jatuh terjerembab untuk kesekian kalinya. Hampir dua jam tergeletak di bawah cahaya rembulan yang menerobos bingkai jendela raksasa. urusan sakit itu tidak pernah usai. Persis di penghujung tahun ketiga setelah kepulangan dari prosesi kremasi Vin. Juga tambang-tambang. langit memang tega dengan segala takdirnya. Ditambah penyakit baru. Berbagai proyek propertinya lebih banyak diurus orang- orang kepercayaannya. Ray seolah-olah benar. Menerima progress dari Jo. Tubuh itu tidak sadarkan diri. Sayang. Jo yang gemetar merengkuh tubuh dingin itu.Satu tahun berlalu penuh dengan pertanyaan itu. Hingga Jo menemukannya. Teramat dingin. Memimpin rapat evaluasi. Tubuh yang masih terlihat gempal dan kekar itu terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Serangan jantung kedua. c o m . Menangis tersedu meminta agar Tuhan berbaik hati kepada Mas Rae-nya. Mendesis 400 | R a t u .

. Tidak mengerti apa yang terjadi. Empat dokter spesialis terkenal Ibu- kota melakukan operasi by-pass jantung. Dia hendak bicara.. 401 | R a t u . Ketakutan itu langsung menyergap dirinya. Jo menyeka pipinya. bisa mengenali seisi ruangan.” Apa maksud semua ini? Apa maksudnya? Ray terkesiap oleh sebuah kesadaran. me- nenangkan kecemasan Jo. Mas Rae-” “Ergh. Jangan-jangan. “Ergh. Setelah kepalanya bisa berpikir normal. tersenyum senang sekali lagi melihat wajah Ray yang mulai segar. c o m . “Aku takut sekali.. Masih banyak mimpi-mimpi yang belum terwujud. b l o g s p o t .b u k u .. Masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. “Mas Ray mau minum?” “Ergh.... Setelah matanya kembali menatap normal. kondisinya sudah jauh membaik. Seminggu Ray tak sadarkan diri. Gemetar berdiri. Ray berjuang habis-habisan mengeluarkan suaranya. Jangan-jangan akan seperti kaki sebelah kanannya. tersenyum lebar amat senang. Berusaha memanggil dokter. “Aku takut Mas Ray tidak bangun lagi-” Jo menyeringai..... Menyentuh lembut bahu Ray.pelan tentang jangan biarkan orang sebaik Ray harus pergi begitu cepat... Saat Ray akhirnya sadarkan diri.. Jo menatap bingung. Membuatnya menggigil. bisa mengingat semua hal. Menyumbat seluruh pori-porinya....” Ray mengerang..” Ray hendak mengatakan sesuatu. Tapi entah mengapa hanya erangan yang keluar dari mulutnya..

Malam-malam sesak. Malam-malam panjang menyakitkan. c o m . Kepala Ray buncah oleh pertanyaan besar itu. Menatapnya dari ruangan rawat inap rumah sakit itu.Malam itu awan kelabu yang menutupi rembulan menyisakan sendu bagi setiap orang yang menatapnya. b l o g s p o t . Radang tenggorokan akut itu mengambil pita suaranya. Apa masih kurang semua masa lalunya yang menyakitkan? Apa masih kurang masa-masa kehilangan Gigi Kelinci-nya? Apa masih kurang? Erangan lemah terdengar memilukan- ®LoveReads 402 | R a t u . Malam-malam berikutnya. Ray tidak bisa bicara lagi.b u k u .

Bukan dalam bentuk pengingkaran. Dia tidak setangguh yang dibayangkannya. Baiklah. Berkali-kali bilang hanya. Bukan ditahun keempat atau kelima semenjak kepulangannya dari prosesi kremasi Vin. Ray memutuskan menerima. Belum. Saat memandang rembulan. c o m . Hanya? Ray akhirnya keras kepala memutuskan untuk berkomentar 'hanya' di malam-malam sesak penuh pertanyaan itu.Bab 21 Gadis Kecil yang Memeluk Beruang Madu RAY keluar dari rumah sakit dua bulan kemudian. Cangkok jantungnya berjalan lancar. Tubuhnya ber- angsur-angsur pulih.untuk orang seumurannya. Ray memutuskan untuk melawan takdir itu. Penerimaan itu tidak sekuat yang dibayangkannya. b l o g s p o t . Hanya mulutnya yang tidak bisa bersuara lagi. dia akan melihat sejauh mana penyakit- penyakit ini akan menggerogoti hidupnya. dan sebagainya. Tapi persis seperti yang dilakukannya dulu kepada penjaga panti ketika mengakui urusan tasbih tersebut. 403 | R a t u . Hanya kakinya yang mesti ditopang tongkat. Tidak banyak yang berubah dari fisiknya. tapi di tahun keenam. Meski berbagai penyakit itu mendera. kutukan. meski dirawat lama. Komplikasi kadar gula setidak- nya sejauh ini bisa dikurangi pengaruh negatif-nya. Tetapi Ray keliru. Pengakuan. Sejauh mana langit tega melakukannya. Ray masih terlihat gempal dan kekar.b u k u . Dia pikir dia bisa mengolok-olok langit dengan penerimaan itu.

Ruangan rawat-inap rumah sakit. c o m . 404 | R a t u . Imperium bisnis Ray menggurita tak-terkatakan. semua penyakit itu seperti menjauh. meski dengan segala penyakit mendera. Tahun keempat entah mengapa sebenarnya. Jo sekarang 24 jam penuh menemani. b l o g s p o t .. di tahun kelima. satu minggu terbaring di rumah sakit. tetapi wajah dingin itu tetap tidak berubah. dua minggu terbaring di rumah sakit. dan seterusnya. dua bulan sehat. Tumbuh empat kali lipat dibandingkan rata-rata konglomerasi lainnya. Berjaga siaga. Hingga jadi terbalik menjadi satu minggu sehat. Sayang. menghambat kesibukannya. Dua bulan sehat (di ruang kerja lantai 101). ruang kerja lantai 101.b u k u . kalau tubuh dingin tergeletak disiram cahaya rembulan itu ditemukan terlambat... Cemas kalau- kalau Mas Ray-nya semaput tanpa diketahui. Tahun keempat yang penuh kesepakatan hebat..Ray akhirnya mengeluh kalah. mungkin ceritanya akan lain. Seperti rumus matematika. mengapa Tuhan tidak mengakhiri saja semuanya dengan cepat. Tatapan matanya masih efekdf mengendalikan orang lain.. Dulu beruntung masih terselamatkan. Patung Pualam Suci. mendesah lemah. dua minggu terbaring di rumah sakit. Seperti deret ukur. Ray kembali tenggelam di ruangan kerja lantai 101 meski dengan segala keterbatasan. Suaranya memang hilang. kenapa harus dengan semua penyakit yang mengambil satu-persatu kemampuan fisiknya.. Tuah mata dadu dalam tabung tetap mengungkungnya. akhirnya hidup Ray benar-benar diisi hanya oleh dua ruangan.

pecut bilah rotan mau pun pecut bilah kenyataan.. Masa-masa menyakitkan. Mukanya pucat. Mengundang banyak penyakit. Tubuh itu terkulai lemah. Ray yang dibesarkan pahit-getir kehidupan. Ray tertunduk dalam. tangis-darah sakitnya kehilangan.. enam bulan sebelum tubuhnya benar-benar tidak bisa bangun lagi dari ranjang rumah sakit. c o m . Ray menggigit bibirnya. Tanpa air mata. Memesona. Enam bulan sebelum tubuhnya benar-benar terjengkang tidak ber- daya. Menangis. Dulu! Dia sendiri. Wajahnya yang duhai tersenyum amat manisnya. Tangisan tanpa suara. Menggerogoti fisik Ray. Ada yang lebih serius: penyakit itu perlahan mulai menggerogoti mental. Apa perlunya semua sakit ini? Baiklah. Sepi. Enam tahun yang menyedihkan. Juga masa- masa menyakitkan. Sekarang! Dia sendiri. Semua kenangan itu kembali. kenapa Kau tidak menyelesaikannya dengan cepat. Ya Tuhan.. Ray mendesah pelan. Ray mendadak teramat rindu dengan Gigi Kelinci-nya.. Dia lelah. dia sungguh sudah lelah.. Ray menatap kosong untuk terakhir kalinya rembulan bundar di balik bingkai jendela kaca raksasa lantai 101. Matanya redup. menusuk.. malam itu.. terjerembab dalam kepenatan hati. b l o g s p o t . 405 | R a t u . Masa sakit-sakitan. Sepi. Mata redupnya mengukir wajah Gigi Kelinci-nya di separuh wajah rembulan. Tapi itu tidak terlalu serius.Komplikasi kadar gula itu tidak tertahankan. andaikata ini memang penghujung hidupnya. Memandang amat mesranya.. tusuk-lebam luka keras- nya jalanan. Rembulan yang indah.b u k u .

Terlemparkan. Yang sayangnya. Memedihkan mata.. Merasa berterima-kasih telah diberikan sepotong kesenangan hidup. Bukan main! Benar-benar tim medis yang hebat.b u k u . Jendela yang sama.Biarkanlah malam ini dia memandang rembulan dengan perasaan lama itu. Besok paginya. tenteram. Dua belas lagi malah baru akan datang minggu depan dari Singapura dan Perancis. Dan tidak bangun-bangun lagi selama enam bulan. sekarang terbaring tak berdaya dibelit infus dan banyak selang. Merasa berterima-kasih. Dan saat semuanya terasa nyaman lagi. perasaan damai.. Rembulan indah bersinar di balik bingkainya. dia sudah duduk di pinggir- pinggir ranjang.. Silau.. Di ruangan yang sama. Orang dengan wajah menyenangkan itu duduk di sebelahnya. c o m .. b l o g s p o t . Pria pemilik kongsi bisnis terbesar yang pernah ada. saat pasien berumur enam puluh tahun itu membuka matanya.. Pria pemilik imperium bisnis yang meng-gurita.. yang meskipun sebenci apapun.. Rumah sakit yang sama... Bagaimana tidak? Semua berkepentingan menyelamatkan nyawa orang tua itu. Tersenyum- 406 | R a t u . dia tetap menyadari masih ada sepotong kehidupan yang indah. Dua belas dokter yang bersiaga penuh. sejengkel apapun atas keputusan Tuhan. menatap rembulan. tubuh tua Ray benar-benar jatuh terjengkang. Pemilik kongsi bisnis yang sedang sekarat- ®LoveReads Berpilin.

. mempunyai banyak. dan enam tahun selama kau sakit-sakitan?” Pasien itu tidak menjawab.... Seperti berlalu dalam sekejap.” Orang itu tertawa kecil. itu me- nyenangkan? Kau menghabiskan waktu indah enam tahun bersama istrimu... Otak manusia..“Perjalanan yang hebat. sejak berabad abad lalu sudah terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan 407 | R a t u . aku juga akan menjawabnya. Malam ini.” Pasien itu mengusap wajahnya. tahukah kau bedanya antara enam tahun terakhir di panti. Enam puluh tahun yang luar-biasa. Ray. Ah. Diam menunggu- “Sejatinya pertanyaan itu sebenarnya tentang definisi ukuran-ukuran. Bergeming. tentu saja... itu menyenangkan? “Ray.b u k u . b l o g s p o t . Pasien itu mengusap rambut berubannya. Ray! Bukan main. “Kita sudah tiba di pertanyaan terakhirmu. enam tahun bersama istrimu. itu menyakitkan? Kau sakit-sakitan.. itu me- nyakitkan? Kau memiliki segalanya.. c o m .. saat kita mengenang kembali semua kejadian itu. Seperti terjadi baru sedetik yang lalu. Apakah yang disebut dengan kejadian menyakitkan? Apakah yang disebut dengan kejadian menyenangkan? Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan.. Kenapa kau harus mengalami sakit berkepanjangan selama enam tahun? Seperti empat pertanyaan sebelumnya. Pertanyaan kelima. apalah yang disebut dengan kejadian menyakitkan? Kau kehilangan istrimu. bukankah semuanya terasa sama saja. Diam. “Tidak ada! Sama sekali tidak ada bedanya. itu semua hanya perbandingan.

. bukan? Apapun bentuk kejadian.. lama-lama perbandingan itu menjadi amat menyedih- kan. menerjemahkan nilai seratus itu bagus. Bagaimana mungkin posisi- nya tetap lebih baik kalau harta-benda itu didapatkan dengan cara- cara yang tidak baik? Bagaimana tetap lebih jelek kalau kemiskinan itu memberikan ketenangan hidup? Ah-” Orang dengan wajah menyenangkan menunduk prihatin. dimakan oleh detik-detik kehidupan. nilai lima puluh itu jelek...Mempunyai harta benda i tu baik.. dibandingkan halaman untuk enam tahuh terakhir?” 408 | R a t u . Otak manusia yang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian- kejadian itu dalam sebuah buku besar.. Tapi semua sudah selesai. Hidup seperti ini itu kaya. selalu diperbaharui sesuai kebutuhan zaman. Hanya itu! “Bukankah lebih banyak cerita yang bisa kau kenang dari enam tahun kejadian menyakitkan di panti dibandingkan enam tahun saat kau memiliki segalanya? Lebih banyak halaman yang tertulis untuk masa- masa itu.. Wajah seperti ini itu cantik. Yang disebut perbandingan. b l o g s p o t . Itu semua hanya perbandingan.. wajah seperti ini itu jelek. diberangus oleh waktu.versi mereka sendiri. miskin-papa itu jelek.. Menyisakan kenangan.. Apakah kau masih bisa merasakan pecut bilah rotan itu? Masih bisa merasakan kecupan mesra istrimu? Sakitnya ketika ginjalmu meradang? Mungkin masih. Yang sayangnya dalam banyak hal.b u k u . c o m . “Ray. “Buku besar itu selalu diserahterimakan kepada generasi penerusnya... Benar- benar ukuran-ukuran yang tidak hakiki. hidup seperti ini itu miskin. semua pasd terlampui.. apa bedanya dari tiga masa enam tahun-enam tahun milikmu tersebut? Tidak ada..

sekarang kita lihat.. Ray.“Baiklah. “Ray. pasti ada yang lebih tidak ber- untung darimu. Kau terlihat enggan sekali mendengarnya.. ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa cukup dengan semua penderitaan maka kau harus melihat ke atas... apakah kau akan tetap merasa paling layak dikasihani? Paling layak mengutuk Tuhan? Perbandingan- perbandingan'. “Nah. mari kita sejenak kembali ke panti terkutuk itu... c o m .. kau akan menyaksikan dengan matamu sendiri. bisakah kau pahamkan satu hal saja? Bisa?” Pasien itu tidak mengangguk. Mari Ray. RAY!” Orang dengan wajah menyenangkan itu... Tetapi sebelum aku menjawab langsung pertanyaan kelima-mu.. IKUT DENGANKU. Pergi kemana? ®LoveReads 409 | R a t u . bukan? Kau membenci orang-orang yang membakar rumah orang-tuamu. pasti ada yang lebih menyakitkan dari-mu. tidak juga menggeleng. Menusuk.... Ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan yang datang maka kau harus melihat ke bawah. Ketahuilah.b u k u . Berdesir mengerikan. Membuat jantung pasien di sebelahnya berdetak lebih kencang.. untuk pertama kalinya menatap dingin.. penjelasan ini dalam banyak kasus memang menyebalkan.. kau pikir hidupmu amat menyakitkan. Kau akan melihat sendiri. aku tidak akan berpanjang lebar. b l o g s p o t . kau amat mem- benci orang-orang yang merenggut janji kebahagiaan masa kanak- kanakmu.. Ya.. dalam perbandingan-perbandingan seperti itu. Diam. ketika buku- besar itu semakin lama semakin keliru...

ya Allah! Mencari muka- Mu yang katanya ada di mana-mana. Apa maksudnya? 410 | R a t u . Memeluk boneka beruang madu. Silau.” Orang dengan wajah menyenangkan itu menggigit bibir. Umurnya enam tahun.... nama gadis itu Putri.Berpilin. sungguh menyemburat cahaya menyilaukan mata. Bertanya tanpa suara- Bertanya tentang ayah-bunda-nya. Memedihkan mata. bergetar oleh kalimatnya sendiri. Di ayunan dari ban besar mobil Fuso yang berderit.Malam ini. Pasien di sebelahnya semakin berdesir... Di depan panti terkutuk itu. Hujan deras langsung membuncah tubuh.b u k u ... ya Allah! Menatap sendu tetes-tetes hujan- Mu. MALAM INI! Pertanyaannya menggentarkan langit Tuhan. Menatap sendu tanah-Mu.. Guntur meng- gelegar membuat ciut nyali yang mendengar. Duduk gadis kecil berkepang dua. menghujam ke atas bagai mercu suar tak terkatakan. ya Allah! Menatap sendu langit-Mu. Terlemparkan. Petir menyambar membuat akar serabut di langit kelam.. Mem- buat terang semesta alam. Di bawah pohon jambu biji itu. Membuat malaikat tak-henti bertasbih memuji kebesaran Tuhan. Malam ini tatapan matanya membuat segenap malaikat bergegas bertanya.. Membuat kuyup. c o m . dari tubuh gadis kecil itu kalau kau bisa melihatnya. Malam karnaval hari raya yang terganggu- Perempatan jalan itu.. menerabas langit gelap.. Lihatlah. Gadis kecil yang berurai air-mata. “Ray. Saat semuanya kembali nyaman untuk dilihat.. b l o g s p o t ..

kau 411 | R a t u .b u k u . Dalam satu tepukan.. Malam itu kau terpaksa memutar.. c o m .. Kau sudah melesat pergi. Bagaimanalah dia akan sempat? BAGAIMANALAH. terus melaju melewati panti yang ber- kali-kali kau sebut terkutuk ini.. meneruskan per- jalanan- “Malam itu yang kau tahu. Malam itu kau me- nyumpahi mengapa berkali-kali kau hampir saja melewati panti terkutuk ini.. Malam itu yang kau tahu. Tapi tahukah kau.... b l o g s p o t . Ray mulai gemetar..... Tidak pernah melihat wajah ayah-bunda yang selalu dirindukannya..... Entah mengapa dia merasakan ada sesuatu yang amat keliru dengan jalan hidupnya....... “Kau ingat malam saat bergegas menuju rumah sakit? Bergegas menemui Vin yang sekarat? Enam tahun silam.. Ray? Siapa yang tega melakukannya? SIAPA?” Suara itu mendesis.. mobil itu oleng.“Ray.. Kau merampasnya! Kau SUNGGUH MERAMPASNYA! “Mobil yang hampir menabrakmu dari sisi lain itu membanting stir secepat yang bisa dilakukan. YA TUHAN? Seluruh janji kehidupannya terenggutkan malam itu.. “Dan tahukah kau.. tidak terkendali dua puluh meter berikutnya. tidak tahu. lantas menghantam jeruji besi yang me- nyeruak dari tepi jalan. kau hampir bertabrakan dengan mobil yang melaju tidak kalah kencangnya di sisi yang lain. tidak pernah mendengar suara yang selalu ingin didengarnya. kau nyaris bertabrakan. Malam itu kau membanting kemudi stir di perempatan ini. gadis itu yatim piatu sejak kecil. Ray! TAHUKAH KAU! Malam itu kau merenggut janji kehidupan anak kecil ini..

.. RAY! Mayat perempuan muda itu buncit.... sepasang suami-istri yang sama seperti kau sedang bergegas menuju rumah-sakit... kenapa Kau tidak membuatnya sekalian meninggal saja di dalam perut Ibunya. Orang dengan wajah menyenangkan itu terisak lemah. Kelahiran yang menyedihkan.” Orang dengan wajah menyenangkan itu tergugu.. Jatuh tersungkur bagai sehelai kapas...... ®LoveReads 412 | R a t u ..mengambil jalan yang lain.. tidak! Tetapi kau sakit ber- kepanjangan enam tahun oleh sesuatu yang lebih menyakitkan. Petir menyambar sekali lagi.. Kau tidak sakit berkepanjangan selama enam tahun karena menyebabkan kematian sepasang suami-istri itu Ray..... dua orang di dalamnya terjepit........ Guntur menggelegar.. “ANGKAT KEPALAMU... b l o g s p o t . Kau tidak tahu. Ia lahir berdarah-darah sehari kemudian setelah kecelakaan itu dari rahim Ibunya yang sudah menjadi bangkai.Bagian depan mobil itu remuk. Kenapa gadis kecil itu harus terselamatkan dari bangkai Ibunya. Langit semakin buas menurunkan amarahnya. Membuat kota ini selalu terbungkus hujan setiap kali ia menangis. LIHATLAH. RAY! Lihat gadis kecil di ayunan! Nama anak kecil ini Putri.. Ia sedang mengandung... Apalagi Ray..b u k u .. c o m . Kenapa Kau membuat gadis kecil itu harus men- jalani masa kanak-kanaknya dengan sesak bertanya.Dokter berkutat mengambil bayi prematur itu. Perutnya besar. “Ya Tuhan.

dengan hatinya yang baik. Terlemparkan... “Tentang Natan. Dan berbagai bagian yang tidak terjelaskan. sesuai janji aku akan memberitahu kenapa kau sampai mendapatkan kesempatan hebat ini. Ada yang kita tahu. dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Ray. semoga langit berbaik hati memberitahu. cahaya mukanya redup oleh sisa- sisa kesedihan...” Pasien itu masih tersungkur menangis. anak itu di tengah sesaknya malam ini bahkan masih sempat menyesali telah membuat jengkel penjaga panti dengan pertanyaan-pertanyaannya. Aku tidak tahu bagaimana. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri. kapan. dan oleh siapa.. Silau. ya Tuhan. Ada pula yang tidak kita tahu. Ray” Orang dengan wajah menyenangkan itu berkata lemah. begitulah kehidupan. Kenapa kau sampai mendapatkan kesempatan perjalanan mengenang masa 413 | R a t u .. ia akan menjalani kehidupan ini dengan baik.. “Itulah jawaban atas lima pertanyaanmu. c o m ... Penuh penyesalan- “Anak itu akan mendapatkan jawaban atas lima pertanyaannya.b u k u . sebelum aku pergi. Tetapi aku bisa lega meninggalkannya. Yakinlah.Epilog Berpilin.. “Anak itu sungguh berbeda dengan kau Ray. Kalau pun tidak. Memedihkan mata-Kembali di ruangan rumah sakit. “Terakhir. Nama anak perempuanmu.” Pasien itu menyeka ujung hidungnya yang tersumbat.. b l o g s p o t .

b u k u ....lalu.. bila tidak di kehidupan ini suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih memesona dibandingkan menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah. membantah. “Kau benar. c o m . 414 | R a t u . Kau memiliki cara berinteraksi yang luar biasa dengan kuasa langit. Yang nilainya beribu kali tak terhingga di-bandingkan menatap rembulan ciptaan-Nya....... berprasangka buruk kepada langit.. Ray! Ada satu janji Tuhan. karena ilmu-mu terbatas.... Tahukah kau? Itulah janji menatap wajah- Nya... “Kau selalu merasa andaikata semua kehidupan ini menyakitkan. Janji Tuhan yang sungguh hebat. Setiap kali kau menyimaknya. Kau tidak tahu apa itu.... kau selalu merasa kuasa Tuhan menjejak setiap pojok bumi di mana cahaya rembulan menyentuhnya. kau selalu berterima-kasih kepada Tuhan. tetapi kau jujur. Janji yang sungguh hebat... Kau tidak pernah munafik.. Kau tidak pernah menipu saat memandang rembulan. Kau hanya yakin. maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenang- kan-Kemudian kau akan membenak.... “Setiap kali kau me-mandangnya.. Ray. b l o g s p o t .. Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam akan tenggelam. pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan langit.” Orang dengan wajah me- nyenangkan itu kembali tersenyum ramah. Apa adanya. Kau memang mengutuk. pengetahuanmu terbatas. Kenapa... Sungguh seluruh pesona dunia akan layu.. tanpa pembatas... Menatap wajah Allah! Tanpa tabir. Ray? Karena rembulan...

Ray. Aku sudah menjawab seluruh pertanyaanmu.. “K-e-m-b-a-l-i-l-a-h!” -END- E-Book by Ratu-buku. c o m .. Menyiapkan bekal per- jalanan jauh.b u k u .com 415 | R a t u ..blogspot. Kau hanya punya waktu lima hari untuk mem- perbaiki segalanya. Lima jawaban. b l o g s p o t .. Lima pertanyaan.“Selamat tinggal. Kau akan kembali sehat...