ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

EKSPOR MINYAK SAWIT DAN MINYAK INTI SAWIT
INDONESIA

SATRIA NUGROHO

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

1

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia adalah
karya penulis dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini. Dengan ini penulis melimpahkan hak cipta dari karya tulis
penulis kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Oktober 2014

Satria Nugroho
NIM. H44100124

.

penyerapan tenaga kerja. pajak ekspor . dan Singapura serta ekspor minyak inti sawit Indonesia dengan negara tujuan ke Malaysia. Dibimbing oleh NOVINDRA. (3) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit Indonesia. Indonesia merupakan negara eksportir terbesar minyak sawit dan minyak inti sawit di dunia. Penelitian ini menggunakan data time series tahun 1990-2011. minyak inti sawit. metode Ordinary Least Square (OLS). yaitu ekspor minyak sawit Indonesia dengan negara tujuan ke India. Oleh karena itu perlu kebijakan yang tepat oleh pemerintah guna mendukung hilirisasi industri minyak sawit dan minyak inti sawit. Fasilitasi yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendukung pengembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit diantaranya pengembangan infrastruktur. serta penghapusan peraturan daerah yang menghambat pengembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit. Kata kunci: ekspor. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia. Belanda. (4) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia. minyak sawit. Model ekspor terdiri dari enam persamaan tunggal. dan perbaikan lingkungan. (2) menganalisis perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia.1 ABSTRAK SATRIA NUGROHO. Model ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia dalam penelitian ini merupakan model regresi linier berganda yang diestimasi metode estimasi Ordinary Least Squares (OLS). menerapkan tax holiday. dan Cina. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan dalam jangka pendek pajak ekspor menjadi instrumen yang penting untuk membatasi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit guna pengembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit di Indonesia. Belanda. namun Indonesia tidak dapat terus menerus mengekspor minyak sawit dan minyak inti sawit karena perlu adanya pengembangan hilirisasi industri kelapa sawit guna meningkatkan nilai tambah.

export tariff. (4) to analyze the affecting factors of Indonesia’s palm kernel oil export. Netherlands and China. Analysis of Affecting Factors in Indonesia’s Crude Palm Oil and Palm Kernel Oil Export. Netherlands. The facilities which must be built by the government in order to support the development of the downstream industry of crude palm oil and palm kernel oil are infrastructure development. can not continuosly keep on exporting the crude palm oil and palm kernel oil. Indonesia needs to develop the downstream production of crude palm oil and palm kernel oil industry to give the added value. The purposes of this research are: (1) to analyze the development of Indonesia’s palm oil export. and Singapore.2 ABSTRACT SATRIA NUGROHO. also another single formulations of Indonesia’s palm kernel oil export with destination country to Malaysia. to employ many labors and also as the environmental recovery function. Key words: crude palm oil. and also by deleting the local regulation which blocks the development of the downstream industry of crude palm oil and palm kernel oil. Therefore. The Indonesia’s crude palm oil and palm kernel oil export model was estimated by the doubled linear regresion with Ordinary Least Square (OLS) estimation method. Export models were divided into 6 single formulations. Indonesia as the biggest crude palm oil and palm kernel oil exporter in the world. palm kernel oil. (2) to analyze the development of Indonesia’s palm kernel oil export. application of tax holiday. export. This research is using time series data from 1990-2011. (3) to analyze the affecting factors of Indonesia’s palm oil export. which are Indonesia’s palm oil export with destination country to India. The result of this research indicates in a short period the tax rate would be an important instrument in order to limit the Indonesia’s palm and palm kernel oil export on the Indonesia’s downstream production of palm and palm kernel industry development. Supervised by NOVINDRA. it’s needed a right policy from the government to support the downstream production of crude palm oil and palm kernel oil industry. Ordinary Least Square (OLS) Method .

1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR MINYAK SAWIT DAN MINYAK INTI SAWIT INDONESIA SATRIA NUGROHO Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 .

.

1 .

.

Zumar. Dosen dan staf Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan yang telah membantu selama perkuliahan dan penyusunan skripsi ini.Pi. serta kakak tercinta Friska dan Danu. Semua pihak yang telah mendukung dan memotivasi penulis bahwa skripsi harus dikerjakan agar bisa menyandang gelar sarjana. saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Dewi. Javid. Dr. cinta dan dukungannya. Dosen penguji utama Prof. ponakanku Dafa Emery Fadillah atas segala doa. Hafil. dan Neng atas segala semangat dan perhatiannya. Penulis menyadari bahwa sangatlah sulit untuk menyelesaikan skripsi ini tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Orang tuaku Bapak Sumarno dan Mama Endah Trisnowati. serta kepada teman-teman ESL 47 atas kebersamaannya selama ini. S. Bogor. 3. MA dan perwakilan dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Kastana Sapanli. Sheanie. 5. 4. dari masa perkuliahan hingga penyusunan skripsi. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Reza. Rifki.1 PRAKATA Alhamdulillahhirobbil’ aalamiin. 8. Dimas. 6. Sahabat-sahabatku: Andry. pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Oleh karena itu.Si yang bersedia menguji dan memberi arahan serta masukan. Debbie. M. Fauzan. Miranti. Kasirotur Rohmah dan Marlina Desideria yang mau direpotkan selama perkuliahan dan penulisan skripsi atas pengajaran dan pengkoreksiannya serta komentar hangat yang selalu ditunggu saat selesai pengetikan.Si selaku dosen pembimbing skripsi dan pembimbing akademik yang telah menyediakan waktu. 7. Rendy. Bayu. tenaga. karena atas berkah dan rahmat-Nya. Bapak Novindra SP. M. Dhea. Bonar M Sinaga. perhatian dan pikirannya untuk mengarahkan dan membimbing saya dalam penyusunan skripsi ini dan selama menjadi mahasiswa. dan Yuri. Dian. Ir. Firman. 2. puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT. Teman-teman satu bimbingan Anggi. Gita. Oktober 2014 Satria Nugroho . Puteri. Astari.

.

................1...................... Metode Analisis Data .......................................................2............ 39 4.... Teori Perdagangan Internasional ........iii DAFTAR ISI Nomor Halaman DAFTAR TABEL .3.............1...... 29 3.. Analisis Perkembangan Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia ............. 40 4................ 39 4................. Profil Kelapa Sawit Indonesia .. Tujuan Penelitian ..................................................4.............................................. Perkembangan Kebijakan Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia ....................1. 11 2.... 11 2........................................ 10 1.................................... 1 1..................................1......................2.......................................... Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia.......3..1................. KERANGKA PEMIKIRAN .........................2.................................................................... 15 2......2.....................4........................... 23 III................................................. Penelitian Terdahulu ........... 17 2................................. iv DAFTAR GAMBAR ............ 31 3................................................................................................................................................. Teori Penawaran Ekspor ............. 36 IV.....3................... 16 2.... Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia .........................2........... Kerangka Pemikiran Teoritis ................... Kerangka Operasional ................ Spesifikasi Model .............. 10 II..... 29 3.................................... Manfaat Penelitian ...... 32 3.................... PENDAHULUAN .... TINJAUAN PUSTAKA .................................. Model Regresi Linier Berganda ...... METODE PENELITIAN .... 39 4.................2...........5..............................................................2................................ 1 1.....5....................1...............2............................................... 29 3................1...............2.. Ruang Lingkup Penelitian ............... 8 1.... Latar Belakang .................1... Kebaruan Penelitian ............................ Perumusan Masalah .2....................1........... Jenis dan Sumber Data ..................1.....6........... 23 2..... 39 4................ Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia .................. v DAFTAR LAMPIRAN ......................................................... 40 ............. vi I.............................. 9 1...........................................

...................... 6 7. Tarif Pungutan Ekspor Menurut PMKNomor 223 Tahun 2008...iv 4.... 5 6............................................ Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 2007-2011................. 1 2................................... 21 14...........2....... Tarif Bea Keluar Menurut PMK Nomor 94 Tahun 2007 .................................... 7 8......................2.. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR MINYAK SAWIT DAN MINYAK INTI SAWIT INDONESIA ........ 22 15................................................................................... 18 10............. Tarif Bea Keluar Menurut PMK Nomor 09 Tahun 2008 .......... 19 11...... 81 DAFTAR PUSTAKA .................................SIMPULAN DAN SARAN ...................... 7 9.. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 .... dan Nomor 67 Tahun 2010 .......................................... Estimasi Model .................................................................... 93 RIWAYAT HIDUP . 2 3.....2........................................................... Produksi Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 ................ Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 200 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007-2011 ..................... 117 DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1..... Tarif Bea Keluar Menurut PMK Nomor 128 Tahun 2011 ... Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 2007-2011........ Permintaan dan Penawaran Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Dunia Tahun 2008-2011 ....................................................... 20 12......... 4 5........ 63 VII..................................................................... Tarif Bea Keluar Menurut KMK Nomor 439 Tahun 1994 dan Nomor 666 Tahun 1996 .. Kebijakan Tarif Bea Keluar Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit ............ 85 LAMPIRAN ............................................................ 51 VI..... PERKEMBANGAN EKSPOR MINYAK SAWIT DAN MINYAK INTI SAWIT INDONESIA ...........................2........ 44 4.............. 20 13.... 44 V................................ Metode Pengujian Model Regresi Linier Berganda ....................3................................................ 3 4......... Sub Sektor Pertanian Berdasarkan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007-2011 ..............2...... Tarif Pungutan Ekspor Menurut PMK Nomor 159 Tahun 2008 .................... Produksi Minyak Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 ...

................................................................................................................. Persamaan dan Perbedaan Antara Penelitian “Analisis Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit” dengan Penelitian Terdahulu.................... 69 26........................................................................................... 58 21..... Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Tahun 1990-2001 .............. 74 28........ Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda ........ Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina ....... 51 18............................ 60 22.............. 71 27. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Tahun 1990-2001 ....................... Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 1990-2011 ................................................. Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura .............................................. 24 17.................................... 22 16....................................................... Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India ..... Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit .................... Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda ........................... 17 5................ Pohon Industri Kelapa Sawit ......... Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Tahun 1990-2001 .................................................... 14 3......... Perkembangan Ekspor Inti Minyak Sawit Indonesia ke Malaysia Tahun 1990-2001 ................................ 12 2....... Kurva Perdagangan Internasional ..................... 56 20.................................................................. ....................... 61 23........ v Indonesia Tahun 1984-2011 ............................... Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Tahun 1990-2001 ........................................................................................ 66 25............................................................... 54 19. Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia .................... 30 ................. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 1990-2011 .................................................. 15 4............................. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda Tahun 1990-2001 .. 63 24................................................... 77 DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1.......

.................... Hasil Uji Statistik: uji t.......................... Keterangan Notasi Variabel...... 100 7..............vi 6............................ 99 5............................................................................................................................................................. Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda ............................................. uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda .. 101 8.................................................. 102 10................................. Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura ....................................... Kurva Penawaran ............ uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India....................................................... Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India............................................ 102 9....... Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda ............................. Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura ............... uji F... Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India ........................................................................ 37 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1............ 106 17.......................... Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda .. 107 18... 99 4...................................................... Hasil Uji Statistik: uji t................................ Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura ................................. 103 11..... Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura ................................................... 104 13.................................................................................. Data dan Sumber Data Model Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 1990-2011 .... Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India....... 98 3......... uji F.. Hasil Uji Statistik: uji t........... 31 7..................................... Kerangka Pemikiran Operasional ........ uji koefisien determinasi untuk .... Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India.. 105 15...... Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda ................ uji F................... 105 14........................................... 106 16............................................................................ 103 12....... 100 6................ Hasil Uji Statistik: uji t....... 95 2................................................................................... uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura . uji F................

.......................................... Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda ......... 108 19................... 114 28... uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina .......................................................................... uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda ..................................................................................................................... Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda ................................................. Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia ........ Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda ........................................... Hasil Uji Statistik: uji t............ 110 22.... Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia ........................................................ Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina .................................... 111 24................................. vii Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia ................................................................................................................................. uji F................................ uji F.. Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia ....................................................... 116 ...... 114 29....................... 109 21....................... 113 27.. 112 26............................................. Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina ............ Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina ......... Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina......................... 108 20.......................................................... 111 23................................. 115 30......................... 115 31..... 112 25........ Hasil Uji Statistik: uji t........................ Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda .........

.

964.37 4. Jumlah penduduk yang besar dan ketersediaan lahan yang luas serta dukungan iklim menjadikan mayoritas mata pencaharian penduduk Indonesia bertani. Perdagangan.01 140.15 190.36 Total 1.16 221.35 Restoran 7.79 209.46 400.27 150.89 0. Berdasarkan Tabel 2.51 284.1 I.082.37 6.83 2.000 km2 dan jumlah penduduk sebesar 236.53 dan Jasa Perdagangan 9.14 18.22 Penggalian 3.40 2.43 217.14 8.05 18.1.33 2.PENDAHULUAN 1.47 17.314.65 Komunikasi 8.78 315.19 217. nilai PDB sektor pertanian atas dasar harga konstan 2000 menempati urutan ketiga setelah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan. Pertambangan dan 171.55 100.15 9.99 17. Indonesia memiliki iklim tropis yang merupakan keunggulan di sektor pertanian. Gas &Air 13.88 304.71 193. hotel. Industri Pengolahan 538. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang dilewati garis khatulistiwa dan berada di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia dengan luas daratan 1.04 13.62 295.178.98 241.82 368. Listrik. Konstruksi 121.44 2.13 633. Keuangan.12 6.75 Bersih 5.84 232.05 205.81 131.66 198.02 159.08 557.47 437. Pengangkutan dan 142.44 363.78 26. Tabel 1.464.33 165. Pertanian 271. nilai PDB sektor pertanian terus mengalami .66 9. Sebagai negara yang dilewati garis khatulistiwa.51 14.191 jiwa (World Bank 2012).10 597. Real Estate 183. Jasa-jasa 181. diharapkan sektor pertanian dapat mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional dengan menyumbangkan kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan perolehan devisa negara.28 172.91 192. dan restoran di urutan kedua dan industri pengolahan di urutan pertama.910.49 180.864. Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007-2011 (dalam Trilyun Rupiah) Rata- rata Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010 2011 Kontri busi (%) 1.76 570.44 2.02 236.20 187. Hotel dan 340.30 8.00 Sumber: Badan Pusat Statistik (2013) Berdasarkan Tabel 1.

sabun. margarin. Cocoa Butter Substitute (CBS). dan bahan bakar minyak nabati (biofuel).62 295. selain diolah menjadi other palm oil.54 4.21 40.65 38. obat-obatan. Sub Sektor Pertanian Berdasarkan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007- 2011 (dalam Trilyun Rupiah) Rata-rata Rata-rata Kontri Laju Pertanian 2007 2008 2009 2010 2011 busi Pertumbuhan (%) (%) 1.79 Sumber: Badan Pusat Statistik (2013) Salah satu sub sektor perkebunan adalah kelapa sawit. Peternakan 34.40%.50 154.63 3. tinta cetak.79%.78 315. vegetable ghee.87 47. Pengembangan kelapa sawit di Indonesia sebagian besar diolah menjadi minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Minyak inti sawit mempunyai produk turunan yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan minyak sawit.Tanaman Bahan 133. fatty alcohol. minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO).56 47.25 5.43 36. Produk turunan dari minyak sawit diantaranya yaitu minyak goreng.06 151. vanaspati. lemak kue. Tabel 2.19 44.43 5.Tanaman 43. Peningkatan PDB sektor pertanian ini didorong oleh kinerja sub sektor-sub sektornya.26 trilyun rupiah pada tahun 2011 dengan rata-rata laju pertumbuhannya 3.76 1. bahan ice cream.65 45.00 4.84 17.25 17.56 Total 271.51 trilyun rupiah mengalami kenaikan menjadi 315.78 45. Kelapa sawit merupakan tanaman primadona yang menjadi andalan sub sektor perkebunan karena memproduksi minyak tertinggi dari seluruh tanaman penghasil minyak nabati lainnya.2 peningkatan dari tahun 2007 hingga tahun 2011 dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 3. Perikanan 43.00 3.55 16. Kehutanan 16.00 149. pelumas.04 trilyun rupiah pada tahun 2011.60 Makanan 2.89 142. detergent.66 54. oleokimia.22 35.26 15. Produk .04 12.15 49.19 trilyun rupiah pada tahun 2007 menjadi sebesar 49. dan other palm kernel oil (Badan Pusat Statistik 2009).54 16.40 Perkebunan 3. gliserin.77 50. plasticizer.15 49.88 304.19 16. diantaranya sub sektor perkebunan yang pertumbuhannya meningkat dari 43. fatty acid.04 100.64 3.39 5. Pada tahun 2007 nilai PDB sektor pertanian sebesar 271. kosmetik.51 284.

imitation cream. Tabel 3.394 6.385.752.876.824 7. lauric acid dan myristic acid.366.512 4. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 Luas Areal (Ha) Laju Pertum Tahun Perkebunan Perkebunan Perkebunan Jumlah buhan Rakyat Besar Negara Besar Swasta (%) 2007 2.37 Keterangan: n.408. Pada tahun 2007 jumlah luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 6. sabun.37%.172 606.387.873. detergen.898 602. Perkebunan Besar Negara (PBN).92 2010 3.881.369 7.50 2011 3. perkebunan kelapa sawit di Indonesia dibagi tiga berdasarkan status pengusahaannya yaitu Perkebunan Rakyat (PR).992.924 4.378 4.966 8.471 7.257 631. dan farmasi (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2009).a 2008 2. shampoo.986 7.044 629.766.847 8. terdiri atas PR.a= not applicable Sumber: Kementerian Pertanian (2012a) Berdasarkan Tabel 3.363.408.248 Ha.172 Ha. specialty fats.617 8. filled mild. ice cream. coffe cream/whitener.416 6. dan PBS yang masing-masing luasnya sebesar 2. Kemampuan minyak sawit untuk mensubstitusikan minyak nabati lainnya turut meningkatkan permintaan pasar sehingga mendorong produsen kelapa sawit memperluas areal perkebunannya guna meningkatkan produksi tandan buah segar sebagai bahan baku minyak sawit.82 2009 3. Pada tahun 2011 jumlah luas areal perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan menjadi 8.294 6. PBN.413 630. Jumlah luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia dari tahun 2007 hingga tahun 2011 terus mengalami peningkatan dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 7.561.992. kosmetik. karena dapat mensubstitusikan minyak nabati lainnya dengan lebih efisien (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2009).878.181.824 Ha dengan luas areal PR .24 Rata-rata 3.520 4.836 Ha. Selain ketiga zat ini yang biasa ditemui yaitu CBS.766. sugar confectionary.752. 3.963 3.167.061.836 n.079. dan Perkebunan Besar Swasta (PBS).439 7. krim biskuit. Prospek masa depan minyak sawit sangat cerah dan menjadi primadona di negara produsennya. 606.248 3.752.416 Ha. 3 turunan minyak inti sawit yaitu fatty acid.480 678.

17 2010 8.91 21.561.13 8.29 10. Semakin meningkatnya luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia ini turut meningkatkan produksi minyak nabati yang dihasilkan kelapa sawit yaitu minyak sawit dan minyak inti sawit.539.16 2.189.752.89 10.71% dibandingkan tahun 2007 dengan jumlah produksi sebesar 17.014.73 ribu ton terdiri dari produksi minyak sawit PR sebesar 6.30 17.61 17.664.54 .50 11.92 2.938. dan produksi minyak sawit PBS 9.517.932.63 2011 8.70 19.539. minyak inti sawit merupakan produk ikutan dari produksi minyak sawit (Zulkifli dalam Lubis 2014).358.56 12.71 2009 7. luas areal PBN sebesar 678.30 ribu ton. Rata-rata laju pertumbuhan produksi minyak sawit dari tahun 2007 hingga tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 7.608.664.79 ribu ton.253.890.117. Dengan demikian.12 13.458.117.480 Ha.611.189.096.71 1. Pada tahun 2011 jumlah produksi minyak sawit Indonesia mencapai 23. Minyak sawit dihasilkan dari daging Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dengan salah satu hasil sampingannya (side product) berupa inti sawit yang selanjutnya digunakan untuk bahan baku pembuatan minyak inti sawit (Manurung 2009).045.07%.39 ribu ton. Tabel 4.04 9.a 2008 6.06 23.378 Ha.07 Keterangan: n.958. hanya pada tahun 2008 mengalami penurunan yang dipengaruhi oleh penurunan luas areal PBN dan produksi minyak sawit PBN serta penurunan produksi minyak sawit PBS.04 ribu ton.12 19.797. dan luas areal PBS sebesar 4. produksi minyak sawit PBN 2.72 2. Produksi minyak sawit pada tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 0.324. Pada tahun 2007 jumlah produksi minyak sawit Indonesia sebesar 17.88 9.966 Ha.79 -0.54 5.306.923.39 2. Produksi Minyak Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 Produksi 000 (Ton) Laju Pertum Tahun Perkebunan Perkebunan Perkebunan buhan Jumlah (%) Rakyat Besar Negara Besar Swasta 2007 6.358.678.a= not applicable Sumber: Kementerian Pertanian (2012a) Berdasarkan Tabel 4.18 Rata -rata 7.4 sebesar 3.096. produksi minyak sawit di Indonesia cenderung mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya luas areal perkebunan kelapa sawit.73 n.04 1.16 7.005.800.

619.59 ribu ton.96 10.271. Faktor lainnya adalah peningkatan jumlah permintaan di dunia untuk minyak sawit dan minyak inti sawit yang cenderung semakin meningkat setiap tahunnya.a 2008 1. dan produksi minyak inti sawit PBS sebesar 2.96 7.735.89 2.56 ribu ton.18% dibandingkan tahun 2010 dengan produksi minyak inti sawit PR sebesar 1.63 2011 1.07%.54 401. Pada tahun 2007 jumlah produksi minyak inti sawit Indonesia sebesar 3.61 4.72 3.a= not applicable Sumber: Kementerian Pertanian (2012a) Tingginya tingkat produksi minyak sawit dan minyak inti sawit merupakan salah satu faktor yang mendorong Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit ke negara-negara di dunia.11 2. Pada tahun 2011 jumlah produksi minyak inti sawit mencapai 4.95 n.503.23 399.96 ribu ton.532.17 2010 1.31 ribu ton atau meningkat sebesar 5.532.07 Keterangan: n.384. Berdasarkan Tabel 5. dan produksi PBS sebesar 12.061. rata-rata laju pertumbuhan produksi minyak inti sawit dari tahun 2007 hingga tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 7. rata-rata laju pertumbuhan permintaan minyak sawit dan minyak inti sawit di .18 1. produksi minyak inti sawit PBN sebesar 409.507.507.59 409.86 3.61 387.22 3. Penurunan produksi minyak inti sawit pada tahun 2008 disebabkan oleh penurunan luas areal perkebunan kelapa sawit PBN dan produksi minyak inti sawit PBN serta penurunan produksi minyak inti sawit PBS.837. Produksi minyak inti sawit juga semakin meningkat seiring dengan peningkatan produksi minyak sawit Indonesia.18 Rata-rata 1.253.960.92 ribu ton.78 4.41 1.63 1.522.71 2009 1.619.71% pada tahun 2008 dengan jumlah produksi sebesar 3.450.759. Produksi Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 Produksi 000 (Ton) Laju Pertum Tahun Perkebunan Perkebunan Perkebunan buhan Jumlah (%) Rakyat Besar Negara Besar Swasta 2007 1. produksi PBN sebesar 2.691.18% dibandingkan tahun 2010 dengan produksi PR sebesar 8.11 ribu ton. 5 ribu ton atau meningkat sebesar 5.14 3.06 ribu ton.74 378.62 13.045.68 423.31 5.971.759.321.450.10 2. Tabel 5. Berdasarkan Tabel 6.797.61 ribu ton.391. mengalami penurunan 0.807.95 ribu ton.96 -0.

6 dunia masing-masing sebesar 3.53 1.313 3.61 3.044 3.52 3.045 38.a 2009 36.a n.23 5.630 3.319 3.063 5.338 3.300 ribu ton dan 3.a= not applicable Sumber: Oil World (2012) Adanya permintaan minyak sawit dan minyak inti sawit di dunia yang cenderung mengalami peningkatan.08 3.43%. .011 3. sedangkan Malaysia sudah mencapai 100 produk turunan minyak sawit (Kementerian Perindustrian 2012). serta produksi minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia yang besar memicu pengusaha minyak sawit dan minyak inti sawit di Indonesia untuk mengekspor minyak sawit dan minyak inti sawit. Pada tahun 2008 permintaan di dunia untuk minyak sawit dan minyak inti sawit masing-masing sebesar 36.92 -0.73 Rata-rata 38.21% dan 1.43 Keterangan: n.597 3.a n.93 1.319 ribu ton dan 3. Pada tahun 2011 penawaran minyak sawit dan minyak inti sawit meningkat dengan jumlah penawaran masing-masing sebesar 40.065 3.016 ribu ton dan 2. Indonesia saat ini baru bisa menghasilkan 47 produk turunan minyak sawit.21 1.950 ribu ton. Jumlah minyak sawit dan minyak inti sawit yang ditawarkan pada tahun 2008 masing masing sebesar 35.89 2011 40. setidaknya dibandingkan dengan Malaysia.054 36.635 ribu ton dan 2.063 ribu ton.79 3.08%. Selain faktor tersebut.635 2.037 4.92 0.038 38.83 1.300 3.937 n.045 40.937 ribu ton.016 2.83% dan 1.95 -0.a n. Tabel 6.038 2. faktor lain yang memicu Indonesia terus meningkatkan ekspornya adalah perkembangan industri hilir minyak sawit Indonesia yang masih berjalan lamban. rata-rata laju pertumbuhan penawaran untuk minyak sawit dan minyak inti sawit di dunia sebesar 4. Permintaan dan Penawaran Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Dunia Tahun 2008-2011 Laju Laju Volume 000 (Ton) Pertumbuhan (%) Pertumbuhan (%) Tahun Penawaran Permintaan Penawaran Permintaan CPO PKO CPO PKO CPO PKO CPO PKO 2008 35. Dilihat dari sisi penawaran. Pada tahun 2011 permintaan minyak sawit dan minyak inti sawit di dunia mengalami peningkatan dengan jumlah permintaan masing-masing sebesar 40.950 36.045 ribu ton.44 2010 38.

02 48.00 11.06 Singapura 490.701.140.75 9.449.49 4.35 4.82 Belanda 332. Ekspor minyak inti sawit Indonesia dapat dilihat pada Tabel 8.402. 7. Berdasarkan Tabel 7. Tabel 7.68 504.55 243.87 968.00 Total 1.83 Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Kenaikan ekspor minyak sawit Indonesia juga diikuti dengan kenaikan ekspor minyak inti sawit Indonesia.23 Lainnya 309.107.42 296.53 263. Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 Rata- Rata- Volume 000 (Ton) rata rata Negara Laju Kontri pertum busi 2007 2008 2009 2010 2011 buhan (%) (%) India 2.42 361.23 948.01 8.16 669.13 445.75 20.83 333. dan .61 Lainnya 1.00 12.45 1.566.07 100.83 10.24 1.51 Cina 261. tiga negara tujuan ekspor utama minyak inti sawit Indonesia sejak tahun 2007 hingga tahun 2011 adalah Malaysia.04 8.04%. Belanda.18 9.52 6. Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 2007-2011 Rata- Rata- Volume 000 Ton/Tons rata rata Negara Laju Kontri pertum busi 2007 2008 2009 2010 2011 buhan (%) (%) Malaysia 204. Tiga negara tujuan ekspor utama minyak sawit Indonesia yaitu India.057.36 Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Berdasarkan Tabel 8.86 1. ekspor minyak sawit Indonesia berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat.22%.89 31.79 380.777. Tabel 8.473.10 24.18 492.73 573.30 11.01 281.07 Belanda 569.01% dari jumlah ekspor minyak sawit Indonesia ke dunia.336.29 4.79 243.897.73 283.89 2.640.34 1.742.74 14.22 14.21 1.09 212.59 Total 5.01 100.44 3.97 3.29 7.19 34.40 27.77 347.444. 10.20 391.01 3.54 4.466.65 603.46 601.559. dan Singapura dengan rata-rata kontribusi ekspor minyak sawit Indonesia ke masing-masing negara sebesar 48.465.80 402.040. 7 Ekspor minyak sawit Indonesia sejak tahun 2007 hingga tahun 2011 dapat dilihat dalam Tabel 7.500.82 27.904. Belanda.76 3.871.51 606.97 7.17 8.

8

Cina dengan rata-rata kontribusi ekspor minyak inti sawit Indonesia ke masing-
masing negara tersebut adalah 27,89%, 27,30%, dan 20,29% dari jumlah ekspor
minyak inti sawit Indonesia ke dunia.

1.2. Perumusan Masalah
Pembangunan ekonomi pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, salah satu tolak ukur peningkatan kesejahteraan
tersebut adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak
lepas dari peran ekspor. Di negara berkembang khususnya Indonesia, ekspor dapat
dijadikan andalan sebagai salah satu sumber penghasil devisa negara. Salah satu
komoditas andalan ekspor Indonesia adalah produk turunan dari kelapa sawit
yaitu minyak sawit dan minyak inti sawit.
Permintaan yang tinggi oleh negara-negara di dunia mendorong Indonesia
untuk terus memproduksi minyak sawit dan minyak inti sawit lebih banyak guna
meningkatkan ekspor. Peningkatan volume produksi minyak sawit dan minyak
inti sawit dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan ekspor akan berdampak pada
penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi,
Indonesia sebagai negara pengekspor minyak sawit dan minyak inti sawit tidak
dapat terus menerus mengekspor minyak sawit dan minyak inti sawit yang bisa
dibilang bahan mentah. Perlu dikembangkannya industri hilir dari minyak sawit
dan minyak inti sawit untuk meningkatkan nilai jual sehingga minyak sawit dan
minyak inti sawit Indonesia mempunyai nilai tambah. Disamping itu, minyak
sawit dan minyak inti sawit tidak hanya dibutuhkan sebagai penghasil devisa saja
tetapi merupakan salah satu bahan baku penting untuk industri dalam negeri
sehingga pemerintah harus menjaga ketersediaan minyak sawit dan minyak inti
sawit dalam negeri.
Berdasarkan hal tersebut, pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 128/PMK.011/2011 dalam rangka mendukung pelaksanaan hilirisasi
industri sawit untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri serta untuk
menjamin terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri dalam negeri menetapkan
restrukturisasi tarif bea keluar minyak sawit, minyak inti sawit, dan produk
turunannya. Tarif bea keluar untuk minyak sawit dan minyak inti sawit dikenakan
tarif tertinggi sebesar 22,5%.

9

Dalam rangka memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah
terkait dengan industri hilir sehingga perlu dikaji bagaimana perkembangan
ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia ke masing-masing tiga
negara tujuan utama dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap ekspor
minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia sehubungan dengan kegunaan
minyak sawit dan minyak inti sawit sebagai bahan baku dalam upaya
pengembangan industri hilirnya.
Untuk itu perlu dilakukan analisis untuk melihat apakah variabel tarif pajak
ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit yang ditetapkan oleh pemerintah
berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia ke
masing-masing tiga negara tujuan ekspor utama serta faktor-faktor lain apa saja
yang berpengaruh nyata, selain itu perlu dilihat bagaimana perkembangan ekspor
minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia ke masing-masing tiga negara
tujuan utama ekspor guna mengembangkan industri hilir minyak sawit dan
minyak inti sawit lebih lanjut. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat
dirumuskan beberapa pertanyaan yang akan dianalisis dalam penelitian ini
adalah :
1. Bagaimanakah perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ke India,
Belanda, dan Singapura?
2. Bagaimanakah perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia,
Belanda, dan Cina?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit Indonesia ke
India, Belanda, dan Singapura?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak inti sawit Indonesia
ke Malaysia, Belanda, dan Cina?

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dibuat,
penelitian ini secara umum bertujuan untuk mempelajari dan menganalisa faktor-
faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia
ke masing-masing tiga negara tujuan ekspor utama dan melihat
perkembangannya. Secara spesifik tujuan penelitian ini adalah:

10

1. Menganalisis perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ke India, Belanda,
dan Singapura.
2. Menganalisis perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia,
Belanda, dan Cina.
3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit Indonesia
ke India, Belanda, dan Singapura.
4. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak inti sawit
Indonesia ke Malaysia, Belanda, dan Cina.

1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan sebagai bahan
pertimbangan bagi pemerintah khususnya dalam menetapkan kebijakan tarif bea
keluar untuk minyak sawit dan minyak inti sawit guna menghasilkan kebijakan
yang meliputi seluruh pihak dengan melakukan perencanaan yang baik sehingga
akan diperoleh solusi yang optimal. Manfaat lainnya untuk penulis juga berbagai
pihak, antara lain memperoleh gambaran yang jelas mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi ekpor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia ke tiga negara
tujuan ekspor utama Indonesia. Serta suatu pembelajaran bagi penulis dalam hal
mengamati, mengumpulkan, dan menganalisis data serta berlatih berpikir ilmiah
dalam memecahkan permasalahan, serta sebagai bahan pertimbangan, rujukan,
referensi, dan literatur untuk penelitian-penelitian selanjutnya bagi yang tertarik
meneliti minyak sawit dan minyak inti sawit kedepannya.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia ke tiga
negara tujuan ekspor utama dari sisi penawaran ekspor serta melihat
perkembangannya. Lingkup penelitian dibatasi pada tiga negara tujuan ekspor
utama minyak sawit Indonesia yaitu India, Belanda, dan Singapura serta tiga
negara tujuan ekspor utama minyak inti sawit Indonesia yaitu Malaysia, Belanda,
dan Cina. Minyak sawit yang dibahas memiliki kode HS 15.11.10.00.00 dan
minyak inti sawit yang dibahas memiliki kode HS 15.13.21.00.00. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data time series dari tahun 1990 hingga
tahun 2011.

pada periode ini laju pertumbuhan luas areal mencapai 14. dan kemudian secara luas di Jawa Barat. famili Palmae.68% dan produksinya meningkat 12. TINJAUAN PUSTAKA 2.73%. yang membuka kesempatan bagi perusahaan asing untuk mengembangkan usaha perkebunan (Tarigan dan Sipayung 2011). Data Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kontribusi perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 52.1. Palembang. Pada era tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an kelapa sawit mengalami pertumbuhan yang paling pesat dibandingkan sub sektor perkebunan lainnya. dan hal ini yang menjadi salah satu keunggulan komparatif Indonesia di industri kelapa sawit (Elisabeth dan Ginting dalam Kementerian Pertanian 2012b). di Brasilia tanaman ini tumbuh secara liar di sepanjang tepi sungai. Kelapa sawit termasuk dalam ordo Palmales. Menurut Tarigan dan Sipayung (2011) kelapa sawit terdiri dari empat subsistem yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda . Peluang budidayanya menjadi perkebunan terbuka dimulai sejak dikeluarkannya Agrarische Wet tahun 1870. Profil Kelapa Sawit Indonesia Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) merupakan tanaman yang berasal dari Afrika dan Amerika Selatan tepatnya Brasilia. 11 II. Perkembangan perkebunan kelapa sawit tidak lagi hanya sebatas usaha budidaya kelapa sawit (on-farm) namun sudah jauh berkembang dan lebih modern menjadi sistem agribisnis. Kelapa sawit di Indonesia merupakan salah satu komoditas andalan sub sektor perkebunan karena mempunyai peran cukup penting dalam perekonomian. Kelapa sawit di Indonesia berasal dari Afrika dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848 sebanyak 4 pohon dipelopori oleh Adrien Hallet.11% dari total PDB Indonesia (Kementerian Pertanian 2012b). yang selanjutnya pada tahun 1864 dimulai uji coba ditanam di berbagai tempat di seluruh Indonesia antara lain di Banyumas.64% dari total PDB sub sektor perkebunan atau 1. Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia menjadi sangat pesat karena didukung oleh kondisi iklim dan jenis tanahnya yang memang sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit. dan sub famili Cocoideae (Pahan 2008).

Kedua. pada sebelah kiri merupakan gambar minyak sawit yang berwarna kemerahan dan yang sebelah kanan merupakan gambar minyak inti sawit yang berwarna kekuningan. Ketiga. Industri hulu perkebunan kelapa sawit menghasilkan produk primer berupa minyak sawit dan minyak inti sawit. Minyak sawit dan minyak inti sawit dapat dilihat pada Gambar 1.12 namun merupakan suatu orkestra ekonomi. margarine. Sumber: PT. seperti minyak goreng. subsistem usaha perkebunan kelapa sawit yang menggunakan barang modal tersebut untuk budidaya. pupuk. linoeleat. subsistem penyedia jasa bagi subsistem hulu hingga hilir kelapa sawit. Minyak sawit dan minyak inti sawit merupakan sumber energi pangan. subsistem hulu kelapa sawit merupakan penghasil barang-barang modal bagi usaha perkebunan kelapa sawit yakni benih. gliserol. dan sedikit palmitat. Sedangkan Trigliserida minyak inti sawit mengandung asam laurat. minyak sawit dan minyak inti sawit mengandung ester asam lemak dan gliserol yang disebut trigliserida. subsistem hilir kelapa sawit yang mengolah minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO) menjadi produk produk setengah jadi (semi-finish) maupun produk jadi (finish product). Keempat. stearat. Pertama. shortening. Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Dari produk minyak sawit dan minyak inti sawit dapat dikembangkan menjadi bermacam-macam produk industri hilir. Trigliserida minyak sawit kaya akan asam palmitat. Global Interinti Industry (2014) Gambar 1. dan gliserol. . pestisida dan mesin perkebunan. miristat. stearat.

Kontribusi minyak sawit terhadap ekspor nasional adalah yang tertinggi dibandingkan ekspor hasil perkebunan lainnya. Indonesia tidak dapat terus menerus mengekspor produk hulu kelapa sawit yaitu minyak sawit dan minyak inti sawit. 13 dan vanaspati serta sumber karbon untuk industri oleokimia. kosmetika. . shortening. Selain untuk memenuhi kebutuhan dunia akan minyak sawit dan minyak inti sawit. Berbagai manfaat minyak sawit dan minyak inti sawit inilah yang mendorong tingginya permintaan akan minyak sawit dan minyak inti sawit. Perlu adanya hilirisasi produk kelapa sawit dalam negeri sehingga lebih berdaya saing dan memiliki nilai jual yang tinggi. dan sebagainya. Hasil dari industri hulu kelapa sawit yang diproduksi di Indonesia sebagian kecil diolah menjadi minyak sawit dan minyak inti sawit untuk dikonsumsi didalam negeri sebagai bahan mentah dalam pembuatan minyak goreng. margarin. Hal ini dapat dilihat dari kondisi: (1) secara komparatif terdapat ketersediaan lahan yang dapat digunakan untuk perluasan produksi. Senyawa karbon asal minyak nabati lebih mudah terurai di alam dibandingkan dengan senyawa turunan minyak bumi (Pahan 2008). oleokimia. (2) secara kompetitif pesaing Indonesia hanya sedikit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (2009) menyatakan bahwa produk hulu dari kelapa sawit minyak sawit dan minyak inti sawit merupakan komoditas ekspor non migas andalan dari kelompok agroindustri. berbeda halnya dengan negara pesaing terberat Indonesia. Ketersediaan minyak sawit dan minyak inti sawit dalam negeri dalam upaya mendukung hilirisasi industri kelapa sawit sangatlah penting. farmasi. (3) kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan tanaman perkebunan lainnya. dan sebagian besar lainnya diekspor dalam bentuk minyak sawit dan minyak inti sawit (Ermawati dan Saptia 2013). Malaysia yang luas areal produksinya telah mencapai titik jenuh. Selain itu (4) minyak sawit dan minyak inti sawit dapat digunakan sebagai bahan baku industri seperti industri minyak goreng. sabun. Hasil olahan dari minyak sawit dan minyak inti sawit dapat dilihat pada pohon industri kelapa sawit pada Gambar 2. untuk itu pasokan minyak sawit dan minyak inti sawit dalam negeri harus senantiasa terjaga. biodiesel.

Pohon Industri Kelapa Sawit .14 14 Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Tandan Kosong Buah Kelapa Sawit Pulp & Komposit Karbon Rayon Paper Inti Sawit Mesocarp Medium Density Fibre-board Cangkang Ampas Sawit Minyak Sawit (CPO) Serat Minyak Inti Sawit (PKO) Bahan Bakar Pakan Ternak Bahan Bakar Karbon Produk Pangan Produk Non Pangan / Oleokimia Emulsifier Minyak Margarin Shortening Vanaspati -Confectioneries Susu Minyak Goreng -Ice Cream Kental Goreng -Yoghurt Manis Merah -Asam Lemak Sawit Pelumas Kosmetik Lilin Biodiesel Senyawa Ester Farmasi -Fatty alkohol -Fatty Amina -Senyawa epoksi -Senyawa Hidroksi Sumber: Pusat Penelitian Kelapa Sawit (2010) Gambar 2.

777. Pada tahun 1990 jumlah ekspor minyak sawit sebesar 681. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 1990-2011 . Pada tahun 1990 nilai ekspor minyak sawit sebesar US. minyak sawit lainnya.15 2. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Ekspor kelapa sawit Indonesia dilakukan dalam wujud minyak sawit.42 milyar pada tahun 2011.2. Amerika. dan minyak inti sawit lainnya.$ 164. Afrika. Jumlah ekspor minyak sawit cenderung mengalami peningkatan.01 ribu ton.90 juta meningkat 51 kali lipatnya menjadi US.99 ribu ton mengalami kenaikan hingga 12 kali lipatnya pada tahun 2011 dengan jumlah ekspor sebesar 8. naiknya permintaan minyak sawit dunia secara langsung akan meningkatkan ekspor minyak sawit Indonesia. yang sebagian besar ekspor dilakukan dalam bentuk minyak sawit.51 ribu ton dikarenakan pada saat itu terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan harga minyak sawit dalam negeri tidak stabil sehingga minyak sawit hanya diperuntukkan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. minyak inti sawit. 12000 10000 Volume 000 Ton 8000 6000 4000 2000 0 Tahun Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Gambar 3.044. dan Eropa dengan pangsa utama di Asia (Kementerian Pertanian 2012b). Gambar 3 menunjukkan perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia sejak tahun 1990 hingga tahun 2011. hanya pada tahun 1998 terjadi penurunan jumlah ekspor sebesar 1. Peningkatan ekspor minyak sawit yang tinggi baik dari sisi nilai maupun jumlah disebabkan oleh kenaikan permintaan minyak sawit dunia.$ 8. Ekspor minyak sawit Indonesia menjangkau lima benua yakni Asia. Australia.

Hal ini tentunya akan membangun brand image negatif terhadap produk minyak sawit khususnya dari Indonesia. ASA yang dimotori oleh USA mengkampanyekan isu negatif terhadap minyak sawit dengan harapan konsumen akan kembali mengkonsumsi minyak kedelai. dan Cina. hanya pada tahun 1998 terjadi penurunan jumlah ekspor minyak inti sawit sebesar 192. bahkan pangsa ekspor minyak kedelai sudah mulai diambil alih oleh minyak sawit. Pada tahun 1990 nilai ekspor minyak inti sawit sebesar US. Belanda.10 ribu ton dikarenakan pada saat itu terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan harga minyak inti sawit dalam negeri tidak stabil sehingga minyak inti sawit hanya diperuntukkan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. hal ini disebabkan adanya kebijakan dari pemerintah untuk mendorong ekspor guna meningkatkan devisa negara. sesungguhnya disebabkan karena minyak kedelai yang diproduksi negara-negara Amerika lebih mahal dari minyak sawit sehingga tidak mampu bersaing dengan minyak sawit.$ 1.14 kali lipatnya menjadi US.07 ribu ton. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia Perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia sejak tahun 1990 hingga tahun 2011 ditunjukkan pada Gambar 3. Biaya produksi minyak sawit hanya US$ 180/ton.3.13 juta meningkat 28.28 ribu ton mengalami kenaikan hingga 13.640. Jumlah ekspor minyak inti sawit cenderung mengalami peningkatan.$ 39. Fluktuasi ekspor minyak sawit Indonesia ke negara-negara importir minyak sawit lainnya cenderung dipengaruhi oleh isu-isu yang dibuat oleh negara penghasil produk kompetitif dari minyak sawit.10 milyar pada tahun 2011.16 Sejak tahun 1999 ekspor minyak sawit Indonesia meningkat sangat pesat. 2. Tiga negara tujuan ekspor utama minyak inti sawit Indonesia adalah Malaysia.41 kali lipatnya pada tahun 2011 dengan jumlah ekspor sebesar 1.Pada tahun 1990 jumlah ekspor minyak inti sawit sebesar 122. . Melihat kondisi ini. menurut hasil kajian International Contact Business System (ICBS) dalam Agustian dan Hadi (2004) bahwa American Soybean Association (ASA) melakukan kebijakan unfair trade (tidak adil) dengan mengkampanyekan bahwa minyak sawit mengandung lemak jenuh (saturated fatty acid) dan kolesterol tinggi yang kurang baik bagi kesehatan. sedangkan minyak kedelai (soybean oil) US$ 315/ton dan rapeseed oil US$ 750/ton. Hal ini.

17 1800 1600 1400 Volume 000 Ton 1200 1000 800 600 400 200 0 Tahun Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Gambar 3. pada tanggal 20 Juni 1986 pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 549/KMK. Tarif ekspor yang dikenakan besarnya berdasarkan harga ekspor. Besarnya tarif yang dikenakan menurut KMK Nomor 439/KMK.011/86 menetapkan pembebasan tarif ekspor perdagangan kelapa sawit. tentang penetapan pajak ekspor minyak sawit secara progresif.017/1996 dapat dilihat dalam Tabel 9. minyak sawit. dan turunannya. Pada tanggal 3 Desember 1996 pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 666/KMK. Setelah dua tahun peraturan ini dibuat. Pada tahun 1994 pemerintah mengeluarkan kebijakan pajak ekspor minyak sawit melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 439/KMK. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kelangkaan minyak sawit dalam negeri sebagai akibat naiknya harga minyak sawit di pasar internasional. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 1990- 2011 2. Perkembangan Kebijakan Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia Pemasaran minyak sawit Indonesia pada tahun 1984 dikendalikan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 47/KMK/011/84. tentang pengenaan pajak ekspor minyak sawit telah menetapkan persentasi tarif pajak ekspor minyak sawit sebesar 5%.017/1996 mengeluarkan penetapan tarif terhadap ekspor minyak sawit.4. .017/1994.017/1994 dan Nomor 666/KMK. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga kesinambungan ekspor minyak sawit.

Tarif Bea Keluar Menurut KMK Nomor 439 Tahun 1994 dan Nomor 666 Tahun 1996 Tarif Bea Keluar Tingkat Harga (US$/Ton) Minyak Sawit (%) Harga Dasar 435 0 436-470 60 471-505 56 506-540 52 541-575 48 576-610 44 Lebih dari 610 40 Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia (1996) Pemerintah kembali menetapkan pajak ekspor melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 242/KMK/01/1998 yang berisikan pengenaan pajak ekspor sebesar 40% untuk minyak sawit dan 35% untuk minyak inti sawit. dalam rangka program stabilisasi perekonomian nasional. Pada 17 Desember 1997 Pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 622/KMK. pada tanggal 26 Februari 1998 melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 102/MPP/Kep/2/1998 bahwa semua hasil minyak sawit hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.01/1999 menetapkan tarif ekspor minyak sawit sebesar 40% dan untuk minyak inti sawit sebesar 30%. Pada 3 Juni 1999 Menteri Keuangan . Pada tanggal 29 Januari 1999 Menteri Keuangan melalui Surat Keputusan Nomor 30/KMK.01/1997 menetapkan pajak ekspor untuk minyak sawit 30%. Tabel 9. Pada tanggal 7 Juli 1998 pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 334/KMK. Menteri Keuangan melalui Surat Keputusan Nomor 300/KMK/01/1997 melakukan perubahan tarif pajak ekspor bagi minyak sawit sebesar 5%.07/1998 tentang penetapan pajak ekspor minyak sawit sebesar 60% dan untuk minyak inti sawit sebesar 50%.18 Pada tahun 1997. Pada 17 April 1998 pemerintah membuat kesepakatan dengan IMF sehingga mencabut larangan ekspor tersebut melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 181/MPP/Kep/4/1998 yang berlaku mulai 22 April 1998. Pada tanggal 24 Desember 1997 pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 420/DJPDN/XII/1997 tentang larangan ekspor selama januari hingga maret tahun 1998.

00 Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2007) .00 750-850 7.017/1999 menjadi Keputusan Menteri Keuangan Nomor 360/KMK.017/2001 yang menyatakan bahwa tarif ekspor minyak sawit adalah sebesar 3%.50 7.02/2005 menetapkan pajak ekspor untuk minyak sawit sebesar 3%.5%.017/1999 yang menetapkan pajak ekspor untuk minyak sawit sebesar 30% dan untuk minyak inti sawit sebesar 20%. Pada tanggal 15 Juni 2007 Menteri Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. Tarif Bea Keluar Menurut PMK Nomor 94 Tahun 2007 Harga Referensi Tarif Pajak Ekspor Tarif Pajak Ekspor Minyak (US$/Ton) Minyak Sawit (%) Inti Sawit (%) < 550 0.50 2. Pada tanggal 12 september 2000 pemerintah melalui Keputusan Menteri Keungan Nomor 387/KMK. Pemerintah kembali merubah Keputusan Menteri Keuangan Nomor 189/KMK. Pada tahun 2001 pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 66/KMK.50 ≥ 850 10.I. Besarnya tarif ekspor tercantum dalam Tabel 10.017/2000 menurunkan tarif ekspor minyak sawit menjadi 5%.010/2005 tarif ekspor minyak sawit diturunkan menjadi 1.017/1999 per tanggal 2 Juli 1999 dengan menetapkan pajak ekspor untuk minyak sawit sebesar 10 % dan minyak inti sawit 0%. 19 merubah tarif bea keluar minyak sawit dan minyak inti sawit dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 189/KMK. Pemerintah melalui Menteri Keuangan kembali mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 94/KMK. Pada tanggal 23 Desember 2005 kembali Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai pengenaan bea tarif keluar melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.00 10.5%.00 550-650 2.50 650-750 5.F Rotterdam. Pada tanggal 10 oktober 2005 Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 92/PMK. Harga referensi yang digunakan yaitu harga minyak sawit dan minyak inti sawit yang berpedoman pada harga C.011/2007 pada tanggal 31 Agustus 2007 yang menetapkan tarif ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit secara progresif yang bergantung pada besarnya harga referensi.00 0.00 5.011/2007 dengan menetapkan tarif ekspor untuk minyak sawit dan minyak inti sawit sebesar 6. Tabel 10.

00 951-1000 10.00 0.00 23.011/2008 dapat dilihat dalam Tabel 12.011/2008 menetapkan tarif pungutan ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit secara progresif. Tabel 12.50 0.00 0. Besarnya tarif yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK.50 801-850 4.50 5.00 550-650 2.00 1051-1200 20.00 1100-1200 15.00 Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2008) . Tarif Bea Keluar Menurut PMK Nomor 09 Tahun 2008 Tarif Pajak Ekspor Tarif Pajak Ekspor Harga Referensi (US$/Ton) Minyak Sawit (%) Minyak Inti Sawit (%) Hingga 550 0.00 701-750 1.50 3.50 6.50 21.011/2007.011/2008 terhadap barang ekspor berupa minyak sawit dan minyak inti sawit yang berlaku sebagaimana Tabel 11.00 1200-1300 20.011/2008 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 94/PMK.50 1.00 1051-1100 15.00 9.00 13. Tarif Pungutan Ekspor Menurut PMK Nomor 159 Tahun 2008 Tarif Pajak Ekspor Tarif Pajak Ekspor Harga Referensi (US$/Ton) Minyak Sawit (%) Minyak Inti Sawit (%) Hingga 700 0.50 901-950 7. Penetapan dan pengenaan tarif pungutan ekspor berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 09/PMK.50 11.50 16.00 1.00 Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2008) Pada tanggal 30 Oktober 2008 pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK.50 850-1100 10.50 650-750 5.00 18.00 851-900 6. Tabel 11.50 1201-1250 22.50 1001-1050 12.00 ≥1300 25.00 Lebih dari 1251 25.20 Pemerintah melalui Menteri keuangan pada 4 Februari tahun 2008 mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 09/PMK.00 4.00 18.00 23.00 4.00 13.50 1101-1150 17.00 751-800 3.00 8.00 750-850 7.

50 1200-1250 22.00 23.00 1050-1200 20. Tarif Pungutan Ekspor Nomor 223 Tahun 2008.011/2008.00 1050-1100 15. dan Nomor 67 Tahun 2010 Tarif Pajak Ekspor Tarif Pajak Ekspor Harga Referensi (US$/Ton) Minyak Sawit (%) Minyak Inti Sawit (%) Hingga 700 0.011/2008.00 700-750 1. 21 Kemudian. pada tanggal 22 Maret 2010 Pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.50 6.00 18.50 0. besarnya tarif bea keluar yang ditetapkan secara progresif dapat dilihat pada Tabel 14.50 800-850 4.00 Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2010) Besarnya tarif pungutan ekspor untuk minyak sawit dan minyak inti sawit pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK. dan Nomor 67/PMK.00 850-900 6.011/2008 kembali menetapkan tarif bea keluar secara progresif.00 1.00 950-1000 10.50 16. pada 17 Desember 2008 Pemerintah Indonesia melalui Menteri keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.00 8.00 Lebih dari 1251 25. dan Nomor 67/PMK.00 13. Tabel 13.50 900-950 7.50 1000-1050 12.011/2010 dalam rangka menjamin terpenuhinya kebutuhan bahan baku untuk industri minyak goreng serta menjaga stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri. dan kayu serta biji kakao.00 4. Pemerintah kembali mengeluarkan Kebijakan restrukturisasi tarif bea keluar pada tanggal 15 Agustus 2011 yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 128/PMK.50 1100-1150 17.50 3.011/2011 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.011/2010 tercantum dalam Tabel 13.50 21.00 0.011/2010 tentang penetapan barang ekspor yang dikenakan tarif bea keluar. kulit.00 750-800 3. Besarnya tarif bea keluar untuk minyak sawit dan minyak inti sawit berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2010 besarnya sama dikarenakan perubahan tarif bea keluar terjadi pada komoditas diluar kelapa sawit dan turunnya diantaranya adalah rotan.50 11. .

00 1151-1200 19.00 15.01/1997 01/07/1997 5.00 KMK Nomor 439/KMK.00 851-900 10.00 KMK Nomor 360/KMK.00 30.00 12.02/2005 10/10/2005 3.00 0.00 20.50 7.50 16.50 22.50 901-950 12.00 0.011/1984 31/01/1984 5.50 6.011/2008 17/12/2008 Progresif Progresif KMK Nomor 67/PMK.00 21.011/1986 20/06/1986 0.50 1101-1150 18.01/1998 28/04/1998 40.50 19.011/2008 04/02/2008 Progresif Progresif PMK Nomor 159/ PMK.01/1997 17/12/1997 30.00 PMK Nomor 130/PMK.00 0. Tarif Bea Keluar Menurut PMK Nomor 128 Tahun 2011 Tarif Pajak Ekspor Tarif Pajak Ekspor Harga Referensi (US$/Ton) Minyak Sawit (%) Minyak Inti Sawit (%) Hingga 750 0.00 751-800 7.00 50.00 KMK Nomor 549/KMK.00 KMK Nomor 666/KMK.00 0.011/2010 22/03/2010 Progresif Progresif KMK Nomor 128/PMK.00 KMK Nomor 66/KMK.00 0.22 Tabel 14.011/2007 15/06/2007 6.50 PMK Nomor 94/KMK.00 PMK Nomor 92/PMK.2011 Besarnya Tarif Tanggal Minyak Minyak Kebijakan Penetapan Sawit Inti Sawit (%) (%) KMK Nomor 47/KMK.011/2011 15/08/2011 Progresif Progresif Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2011) .50 801-850 9.00 KMK Nomor 622/KMK.00 9.00 18.00 951-1000 13.01/1999 02/07/1999 10.01/1999 29/01/1999 40.010/2005 23/12/2005 1.00 KMK Nomor 242/KMK.017/1994 31/08/1994 Progresif 0.00 0.00 KMK Nomor 189/KMK.50 13.01/1998 07/07/1998 60. besarnya tarif bea keluar yang berlaku untuk komoditas minyak sawit dan minyak inti di Indonesia sejak tahun 1984 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 15.017/1996 03/12/1996 Progresif 0.00 0.50 0.00 0.00 Lebih dari 1250 22.00 KMK Nomor 300/KMK.00 35.00 KMK Nomor 334/KMK.00 0.50 1201-1250 21.017/2000 12/09/2000 5.011 /2008 30/10/2008 Progresif Progresif KMK Nomor 223/PMK.00 1051-1100 16. Kebijakan Tarif Bea Keluar Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 1984.00 KMK Nomor 30/KMK.01/1999 03/06/1999 30. Tabel 15.50 10.00 PMK Nomor 387/KMK.011/2007 31/08/2007 Progresif Progresif PMK Nomor 09/PMK.50 1001-1050 15.00 PMK Nomor 61/PMK.017/2001 09/02/2001 3.50 Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia (2011) Berdasarkan KMK dan PMK yang telah disebutkan.

Belanda. berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang digunakan dalam penelitian ini. Selain itu. penelitian ini juga menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit Indonesia ke India. minyak sawit. 23 2. Belanda. dan Singapura serta melihat perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke tiga negara tujuan utama yaitu Malaysia. Dwita Mega Sari (2008). Belanda. 2. Penelitian ini memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya yang disajikan pada Tabel 15. dan produk turunannya telah banyak dilakukan dan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian ini. . Novindra (2011). Obado Joseph et al (2009). Purwantoro (2008). diantaranya artikel.5 Penelitian Terdahulu Penelitian ini menggunakan berbagai literatur untuk memperkuat landasan dalam memecahkan permasalahan. dan Singapura serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia.6 Kebaruan Penelitian Kebaruan penelitian ini yaitu melihat perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ke tiga negara tujuan utama yaitu India. Belanda. minyak inti sawit. Rina Oktaviani dan Eka Puspitasari (2004). jurnal nasional maupun internasional. Dady Nurahmat (2011). dan Cina. serta skripsi maupun tesis. Penelitian mengenai kelapa sawit. dan Murphy Denis (2014). Bachtiar Adella (2010). dan Cina. diantaranya adalah penelitian Hasan Mohamad et al (2001) . Agustian dan Hadi (2004).

Membahas produk pertanian 1. Perlu dipersiapkan kebijakan dan langkah-langkah pembangunan pertanian tanpa merugikan kepentingan pihak yang belum mampu bersaing. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu 1.Menganalisis ekspor minyak 1. tantangan dalam menghadapi tantangan globalisasi (2004) hadapi Era Globalisasi global . Hasan F Mohamad Efek Pajak Ekspor Terhadap 1. menghadapi globalisasi Perlu pemahaman menyeluruh dan mendalam tentang perjanjian 2. Indonesia dalam perdagangan dampak globalisasi. penelitian ini memberikan gambaran bagaimana pajak ekspor mempengaruhi daya saing dan kinerja ekspor serta implikasi dinamis yang relevan apabila kebijakan pajak diterapkan untuk tanaman tahunan. dan strategi adalah harmonisasi dan penyelarasan.Menggunakan metode Pajak ekspor memberi efek negatif pada et al (2001) Daya Saing: Studi Kasus sawit (CPO) Indonesia ekonometika dengan mode daya saing industri minyak sawit Industri Minyak Sawit vector autoregressive (VAR).Objek penelitian mengenai internasional yang sudah diratifikasi dan produk pertanian secara luas perlunya keselarasan dengan kebijakan domestik.24 24 Tabel 16. baru pada bulan kedua terlihat dan mencapai puncaknya pada bulan keempat setelah pajak ekspor dikenakan. di era globalisasi. 2. Rina Oktaviani dan Tantangan dan Strategi Produk 1. Strategi kebijakan domestik yang dapat dilakukan guna menghadapi tantangan globalisasi yakni pembangunan dan perbaikan infrastruktur. . Persamaan dan Perbedaan Antara Penelitian “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia ke Masing-Masing Tiga Negara Tujuan Utama” dengan Penelitian Terdahulu Nama Peneliti No. Efek dari pajak ekspor tidak Indonesia langsung muncul.Penelitian ini mengenai Strategi yang dapat dilakukan Indonesia Eka Puspitasari Pertanian Indonesia Meng. Indonesia. Lebih jauh. Pemerintah harus berhati-hati ketika mempertimbangkan implementasi atau melakukan perubahan terhadap pajak untuk komoditas ekspor.

penyelundupan CPO. Menganalisis ekspor CPO 1. Minat untuk terus membuka kebun sawit baru. Lanjutan 2 Nama Peneliti No. Objek penelitian minyak sawit 1. R.Metode yang digunakan Pangsa pasar Indonesia terendah pada (2008) strategi ekspor kelapa sawit Indonesia di perdagangan RCA (Revealed Comparative tahun 2001 dengan nilai 43 %. Melihat strategi yang sebaiknya 2. mengikuti kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional. Hal ini ditunjukkan nilai RCA dilakukan untuk memajukan minyak sawit Indonesia. terutama CPO akan terus dilirik sebagai bahan biodiesel. Dwita Mega Sari Analisis daya saing dan 1. minyak nabati. CPO Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang 7 2. Secara fundamental Indonesia tertinggal sangat jauh dari Malaysia akibat produktivitas yang lebih rendah. yang lebih dari satu. Produksi CPO Indonesia di tahun 2007 telah lebih unggul sekitar 1 juta ton dibanding Malaysia. Kendala umum ekspor kelapa sawit Indonesia kendala umum dalam dalam produksi dan pemasaran ekspor produksinya dan pemasarana CPO Indonesia adalah rendahnya nilai ekspornya. Nugroho Sekilas Pandang Industri Sawit 1. 25 . dan kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung. Ini disebabkan oleh harga CPO di pasar dunia yang masih akan terus naik. 25 9 Tabel 16. Penelitian ini melihat Sektor perkebunan telah menjadi Purwantoro (2008) (CPO) minyak sawit sebagai bahan sumber devisa utama bagi Indonesia baku biodiesel di dunia dengan kelapa sawit sebagai ujung tombaknya. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu 3. pada tahun- tahun mendatang akan sangat besar. regulasi dari pemerintah yang kurang mendukung. dan mutu CPO Indonesia. 4.5 %. tingginya biaya ekspor CPO Indonesia.Mengetahui kelemahan tinggi. produktivitas perkebunan kelapa sawit yang tidak optimal. (CPO) Indonesia di pasar internasional dan pangsa Advantages) dan analisis sedangkan tertinggi pada tahun 2000 internasional pasarnya SWOT dengan nilai 67. Selain itu.

Menganalisis keunggulan Selama kurun waktu 1996-2001 volume (2004) Keunggulan Komparatif sawit (CPO) Indonesia ke komparatif minyak sawit ekspor CPO Indonesia mengalami Minyak Kelapa Sawit di negara tujuan utama Indonesia dengan metode peningkatan yang pesat sebesar 19. Menganalisis perkembangan Domestic Resources Cost Dari segi negara tujuan ekspornya. dan Cina. Menggunakan metode 2SLS Kebijakan pajak ekspor memiliki (2009) Pada Industri Minyak Sawit Di ekspor minyak sawit (CPO) dampak yang signifikan terhadap 9 Indonesia Indonesia industri CPO di Indonesia.91%. berdaya saing. Kebijakan tidak adil masih cenderung dilakukan oleh pihak luar negeri seperti ASA dengan mengkampanyekan bahwa CPO mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi yang tidak baik bagi kesehatan. Pajak ekspor menguntungkan konsumen dalam negeri 2 karena mengurangi harga CPO domestik. Obado Joseph et al Efek Kebijakan Pajak Ekspor 1. Menganalisis ekspor minyak 1. tiga ekspor dengan metode tabulasi Ratio (DRCR) dan Private negara tujuan ekspor terbesar yaitu Cost Ratio (PCR) India. Perlu adanya pembangunan infrastruktur guna membuat produksi CPO Indonesia lebih kompetitif. Agustian dan Hadi Analisis Dinamika Ekspor dan 1. Dengan kebijakan pajak ekspor pemerintah dapat menjaga kestabilan harga minyak goreng domestik pada saat harga CPO dunia meningkat atau ketika rupiah terdepresiasi. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu 5. Indonesia 2.Menganalisis kebijakan pajak 1. Lanjutan Nama Peneliti No. Pajak ekspor CPO secara langsung mempengaruhi harga CPO lokal. Hal ini sesungguhnya agar minyak nabati dari negara pesaing masuk . 6.26 26 Tabel 16. Belanda. dan produktivitas yang tinggi.

Novindra (2011) Dampak Kebijakan Domestik 1. Objek penelitian yaitu CPO sudah diolah misal biofuel. sedangkan 2. minyak sawit Indonesia dan Penerimaan devisa tahun 2012-2016 27 .Objek penelitian yaitu CPO 1. 8. Peramalan dampak kebijakan peningkatan kuota domestik domestik terhadap memberikan dampak negatif bagi kesejahteraan pelaku industri kesejahteraan netto. Hal tersebut disebabkan pasar Eropa menginginkan CPO yang 2. Menggunakan model Pengembangan industri hilir dan Perubahan Faktor ekonometrika 2SLS meningkatkan permintaan minyak sawit Eksternal terhadap 2.Hanya menganalisis faktor. Lanjutan 2 Nama Peneliti No. Kebijakan Pembatasan ekspor Konsumen Minyak Sawit di 2. Dady Nurahmat Analisis faktor-faktor yang 1. hal tersebut disebabkan relatif rendahnya kualitas CPO Indonesia sehingga menyebabkan posisi CPO Indonesia di dunia menjadi lemah dibandingkan negara pesaingnya.Menganalisis faktor-faktor dan meningkatkan harga yang diterima Kesejahteraan Produsen dan yang mempengaruhi produsen. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu 7. Menggunakan model 1.Melihat faktor-faktor yang penawaran dan permintaan minyak sawit dengan penetapan pajak Indonesia berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit di pasar ekspor minyak sawit sebesar 20 % CPO domestik meningkatkan kesejahteraan netto dan 3.Menganalisis perkembangan Indonesia belum mampu untuk ekspor CPO Indonesia ke memenuhi keinginan Eropa tersebut. India Variabel harga ekspor CPO Indonesia ke India memiliki hubungan negative dengan jumlah ekspornya. seperti Malaysia. Besarnya ekspor CPO Indonesia ke (2011) memengaruhi penawaran ekonometrika regresi linear faktor yang mempengaruhi India dikarenakan telah terjadi ekspor CPO Indonesia ke India berganda dengan metode ekspor CPO Indonesia ke pengalihan pasar CPO Indonesia dari ordinary least square (OLS) India Eropa ke Asia. 27 9 Tabel 16.

India berpengaruh signifikan dan positif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia 10. alat untuk mengatasi tantangan- Tantangan. Global: Peluang dan dibandingkan minyak nabati minyak sawit dengan Namun. Murphy J Denis Masa depan Kelapa Sawit 1. lainnya. 2 Kelapa Sawit (Crude Palm Linier dengan uji asumsi klasik berupa data triwulanan. Lanjutan Nama Peneliti No. Perlu adanya peningkatan kualitas tanaman kelapa sawit yang tahan terhadap hama dan penyakit untuk membantu memfasilitasi manajemen dan pengolahan guna meningkatkan produksi memenuhi permintaan pasar.Menggunakan data sekunder Pengaruh pergerakan nilai tukar rupiah 9 (2010) Tukar Rupiah Terhadap Indonesia ke India tahun 2000 hingga tahun terhadap ekspor Indonesia dalam Ekspor Komoditas Minyak 2. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu 9. .28 28 Tabel 16. Bachtiar Adella Analisis Pergerakan Nilai 1. harga minyak Oil) Indonesia: Kasus sawit dunia dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.Membahas ekspor minyak sawit 1. Faktor nilai tukar rupiah.Membahas teknis bagaimana Industri minyak sawit akan menghadapi (2014) Sebagai Tanaman Unggulan memiliki banyak kelebihan cara meningkatkan produksi banyak tantangan dimasa depan.Menggunakan Analisis Regresi 2008 berupa data time series komoditi minyak sawit Indonesia-India.India. mengubah tanaman ini menjadi sumber makanan bergizi dan produk non- pangan yang bernilai bagi penduduk dunia yang populasinya semakin meningkat. Membahas Minyak Sawit yang 1. berbagai metode seperti bibit tantangan ini sudah ada dan dapat unggul yang lebih tahan hama merubah potensi yang lebih untuk dan penyakit tanaman.

29 III. . Adanya perbedaan sumberdaya yang dimiliki oleh setiap negara menyebabkan negara tersebut berusaha menghasilkan produk dengan biaya yang relatif lebih rendah. Perdagangan internasional tercermin dari kegiatan ekspor dan impor suatu negara. teori penawaran ekspor. karena merupakan salah satu komponen dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Perdagangan internasional memungkinkan setiap negara melakukan spesifikasi produksi dan barang-barang tertentu sehingga mencapai tingkat efisiensi yang tinggi dengan skala produksi yang besar. Kedua. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. 3. negara-negara berdagang karena mereka berbeda satu sama lain. Pertama.Teori Perdagangan Internasional Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Perdagangan internasional juga merupakan cikal bakal bagi penemuan wilayah baru seperti benua Australia. Kerangka teoritis dalam penelitian ini terdiri atas konsep teori perdagangan internasional.1. negara-negara melakukan perdagangan dengan tujuan untuk mencapai skala ekonomi (economic of scale). Peningkatan ekspor bersih merupakan faktor utama dalam meningkatkan PDB suatu negara. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar individu. dan terjadinya penjajahan suatu negara atas negara lainnya (Oktaviani dan Novianti 2009). Perbedaan sumberdaya ini akan menyebabkan perbedaan harga dan akan menentukan keputusan suatu negara untuk melakukan ekspor dan impor (Rahman 2013). dan metode regresi linier berganda.1. Menurut Krugman dalam Oktaviani dan Novianti (2009) menjelaskan bahwa alasan utama terjadinya perdagangan internasional dikarenakan 2 hal. Kerangka Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan teori-teori yang digunakan dalam penelitian dan merupakan landasan untuk menjawab tujuan-tujuan dalam penelitian. atau antar pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. individu dengan pemerintah.

Kurva Perdagangan Internasional . pada kondisi harga berada di P2. Penawaran di pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih besar dari P1. Pada pasar internasional. Dengan adanya perdagangan tersebut. besarnya ekspor suatu komoditas perdagangan akan sama dengan besarnya impor komoditas tersebut. Sebaliknya di negara 2. Pada kondisi ini tidak terjadi ekspor dari negara 1. jika suatu negara (misal negara 1) akan mengekspor suatu komoditi x ke negara lain (negara 2). Apabila kemudian terjadi komunikasi antara negara 1 dan negara 2 maka akan terjadi perdagangan antar kedua negara tersebut. Kondisi awal di negara 1 berada dalam kondisi keseimbangan dan harga berada pada P1. besarnya BE akan sama dengan B’E’. maka negara 1 akan mengekspor komoditi x sebesar BE sedangkan negara 2 akan mengimpor komoditas x tersebut sebesar B’E’. Ketika harga berada pada posisi P2. Dalam hal ini faktor produksi di negara 1 relatif melimpah. Pada keadaan ini negara 2 berkeinginan untuk membeli komoditi x dari negara lain dengan harga yang relatif lebih murah.30 Berdasarkan Gambar 4. Panel A Panel PI Panel B Pasar di Negara 1 Hubungan Perdagangan Pasar di Negara 2 Px/P Untuk Komoditi X Px/P Internasional Komoditi X Px/P Untuk Komoditi X SX Sx A P3 S E* B’ E’ P2 B E DX P1 A QA’ QA QA” QPI QB’ QB QB” Sumber: Salvatore (1997) Gambar 4. Dengan kata lain. sedangkan permintaan di pasar internasional akan terjadi lebih rendah dari P 3. struktur harga yang relatif lebih tinggi ini menyebabkan terjadinya kelebihan penawaran (excess supply) di negara 1 yaitu sebesar Qa’Qa’’. Apabila harga domestik di negara 1 (sebelum terjadinya perdagangan) relatif lebih rendah dibandingkan harga domestik di negara 2. ceteris paribus. dengan demikian negara 1 mempunya kesempatan menjual kelebihan produksi ke negara lain. negara ini terjadi kekurangan penawaran karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik (excess demand) sebesar Qb’Qb’’ sehingga harga menjadi lebih tinggi.

Dalam pengertian atau batasan yang lebih luas. devisa asing atau untuk menyelesaikan utang. Negara menujukan sumber daya dalam negeri mereka bagi ekspor karena mereka dapat memperoleh lebih banyak barang dan jasa dengan devisa internasional yang mereka peroleh dari ekspor daripada yang akan mereka peroleh dengan menujukan sumberdaya itu bagi produksi barang dan jasa di dalam negeri (Smith dan Blakeslee 1995). ekspor suatu negara merupakan kelebihan penawaran domestik atau produksi barang atau jasa yang tidak dikonsumsi oleh konsumen negara yang bersangkutan atau tidak disimpan dalam bentuk stok (Lindert dan Kindleberger 1993). Teori penawaran bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran. dan faktor dari luar lainnya. dan sebaliknya. P S Q Sumber: Salvatore (2006) Gambar 5. emas. 31 3. semakin rendah harga suatu komoditas maka akan semakin sedikit jumlah komoditas yang ditawarkan oleh produsen. Penawaran adalah sejumlah barang atau jasa yang tersedia dan dapat dijual oleh penjual pada tingkat harga dan suatu waktu tertentu. nilai tukar mata uang. Hubungan langsung antara harga dan jumlah ini dapat dilihat pada kemiringan positif dari kurva penawaran dalam Gambar 5.1. Teori Penawaran Ekspor Ekspor merupakan barang dan jasa yang dihasilkan di sebuah negara dan dijual di negara lain sebagai penukar atas barang dan jasa. Berdasarkan teori tersebut dapat diketahui bahwa teori ekspor tidak lepas dari teori penawaran.2. kemampuan produksi. . kebijakan yang ada. harga barang substitusi. Besar kecilnya penawaran terhadap suatu komoditi pada umumnya dipengaruhi oleh harga barang yang bersangkutan. Kurva Penawaran Menurut Salvatore (2006).

. Sasaran utama dalam analisis regresi linier adalah menjelaskan perilaku suatu variabel dependen sehubungan dengan perilaku satu atau lebih variabel independen.... Hst.. dengan memperhitungkan fakta bahwa hubungan antara semua variabel tersebut bersifat tidak pasti..32 Apabila faktor-faktor tersebut digabungkan. Prt..... Pxt. Model regresi liner berganda adalah model regresi dengan lebih dari satu variabel independen yang mungkin mempengaruhi variabel dependen (Gujarati 2006)....... Yt-1)...(3... Ert.... penaksir OLS memiliki varians yang terendah diantara penaksir-penaksir liner .... Metode yang paling umum untuk memperoleh nilai parameter dalam suatu model regresi adalah metode kuadrat terkecil biasa atau Ordinary Least Square (OLS)....... yang dijelaskan dalam teorema Gauss-Markov..1....... Teorema tersebut menyatakan bahwa berdasarkan asumsi-asumsi dari model regresi linier klasik.. metode estimasi OLS juga memiliki sifat teoritis yang kokoh.. maka diperoleh fungsi penawaran ekspor minyak sawit atau minyak inti sawit Indonesia dalam bentuk dinamis sebagai berikut : Yt = f (Ht...1) Keterangan: Yt = Jumlah Ekspor Minyak Sawit atau Minyak Inti Sawit Pada Tahun ke-t Ht = Harga Ekspor Minyak Sawit atau Minyak Inti Sawit Pada Tahun ke-t Hst = Harga Barang Kompetitif Minyak Sawit atau Minyak Inti Sawit Pada Tahun ke-t Ert = Nilai Tukar Mata Uang Asing Tahun ke-t Prt = Produksi Minyak Sawit atau Minyak Inti Sawit Indonesia Pada Tahun ke-t Pxt = Pajak Ekspor Minyak Sawit atau Minyak Inti Sawit Pada Tahun ke-t Zt = Faktor-Faktor Lain yang Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit atau Minyak Inti Sawit Pada Tahun ke-t Yt-1 = Jumlah Ekspor Minyak Sawit atau Minyak Inti Sawit Indonesia Pada Tahun ke-t-1 3.......... Zt. Selain mudah..3...Model Regresi Linier Berganda Analisis regresi adalah teknik statistika yang berguna untuk memeriksa dan memodelkan hubungan antara variabel-variabel yang digunakan..

Asumsi homoskedastisitas atau penyebaran yang sama 5. prosedur Cochrane-Orcutt. 4. Penyimpangan terhadap asumsi homoskedastisitas disebut dengan heteroskedastisitas (Gujarati 2006). Tidak adanya autokorelasi dalam setiap variabel dalam model. Faktor kesalahan mempunyai nilai rata-rata sebesar nol. 2. Homoskedastisitas terjadi karena fungsi regresi populasi (PRF) memberikan nilai mean atau rata-rata variabel dependen untuk tingkat variabel-variabel independen tertentu. Memiliki parameter-parameter yang bersifat linier dan model ini ditentukan secara tepat. Sebagai ganti prosedur uji Durbin-Wattson maka dilakukan uji statistik Durbin-h (Pindyck dan Rubinfeld 1998). . yang berarti tidak terdapat hubungan linier yang pasti antara variabel independen. Adanya gejala autokorelasi pada suatu model akan menyebabkan suatu model memiliki suatu selang kepercayaan yang semakin lebar dan pengujian menjadi kurang akurat. Tidak terdapat multikolinearitas. Masalah autokorelasi dapat diatasi dengan menggunakan prosedur generlized differencing. Dalam upaya mencapai kondisi statistik yang baik. atau prosedur Hilderth-Lu (Juanda 2009). sehingga menyebabkan hasil dari uji-t dan uji-F menjadi tidak sah dan penaksiran regresi akan menjadi sensitif terhadap fluktuasi penyampelan. Untuk pengujian hipotesis. dalam hal ini penaksir OLS disebut sebagai penaksir tak bias linier terbaik atau Best Linier Unbiased Estimator (BLUE). antara lain: 1. faktor kesalahan mengikuti distribusi normal dengan rata-rata sebesar nol dan homoskedastis. metode OLS akan menghasilkan estimasi yang baik apabila asumsi-asumsi yang mendasarinya terpenuhi. 33 lainnya. Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi diantara anggota observasi yang diurut menurut waktu (seperti data deret berkala) atau ruang (seperti data lintas sektoral) (Kendal et al dalam Gujarati 2006). serta 6. Namun dalam kasus khusus jika dalam persamaan terdapat lag endogen prosedur uji statistik Durbin-Wattson tidak sesuai dilakukan pada persamaan tersebut. Kondisi dimana semua observasi dalam suatu model memiliki varians yang sama disebut homoskedastisitas. 3. Uji yang paling umum untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji statistik Durbin-Wattson.

uji Park. rasio t tidak signifikan. atau white test (Juanda 2009). Hubungan linier yang sempurna antara variabel independen disebut sebagai multikolinearitas sempurna. rutinitas pengujian hipotesis yang seperti biasa tidak bisa diandalkan karena memungkinkan penarikan kesimpulan yang menyesatkan. Pengujian untuk mendeteksi heteroskedastisitas antara lain dengan metode grafik. lengkung yang beraturan. Apabila ragam sisaan diketahui. maka dapat diatasi dengan melakukan teknik pendugaan yang tepat. namun tidak lagi efisien karena tidak lagi memiliki varians minimum. yaitu jika titik-titik pada grafik scatterplot tersebar acak tidak membentuk suatu pola tertentu seperti segitiga. Konsekuensi dari adanya multikolinearitas tidak sempurna antara lain varians besar dan kesalahan standar estimator OLS. Adapun hubungan kolinearitas yang tinggi namun tidak sempurna disebut sebagai multikolinearitas tidak sempurna. sedangkan jika ragam sisaan tidak diketahui maka perlu dipertimbangkan kasus-kasus khusus dimana cukup informasi tersedia untuk mengetahui ragam sisaan yang sebenarnya. uji Glejser. merupakan fitur dari sampel. Model persamaan regresi yang baik adalah tidak memiliki masalah heteroskedastisitas. nilai . Jika heteroskedastisitas terjadi. masalah heteroskedastisitas kadang kala dapat diatasi dengan mentransformasi data dengan logaritma.34 Konsekuensi dari heteroskedastisitas adalah estimator OLS masih linier dan tidak bias. dan sebagainya (Mulyanto dan Wulandari 2010). Multikolinearitas bersifat spesifik-sampel. Selain itu. Pendeteksian ada atau tidaknya masalah heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan grafik scatterplot antara nilai residual regresi dengan nilai prediksi. segiempat. interval keyakinan yang lebih lebar. apabila terjadi akan menyebabkan estimasi dan pengujian hipotesis koefisien regresi individual dalam regresi berganda menjadi tidak dapat dilakukan. uji Breusch-Pagan. pendugaan parameter dapat dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat terkecil terboboti atau Weighted Least Square (WLS). sesuai dengan diketahui atau tidaknya ragam sisaan. Uji Godfeld-Quandt. sehingga multikolinearitas tidak dapat diuji keberadaannya. Multikolinearitas adalah adanya hubungan linier diantara variabel-variabel independen dalam suatu regresi berganda. Jika heteroskedastisitas terjadi dalam model. melainkan diukur derajatnya dalam sampel tertentu (Gujarati 2006).

Menggabungkan data cross section dengan data time series. R 2 sering secara informal digunakan sebagai statistika untuk kebaikan dari kesesuian . 2. dan uji koefisien determinasi. Selain itu. Mengeluarkan peubah dengan kolinearitas tinggi. uji-t. uji Skewness-Kurtosis. 5. Uji-F bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. antara lain: 1. diperlukan uji normalitas yang bertujuan untuk memastikan bahwa data yang digunakan untuk analisis berasal dari data variabel yang terdistribusi normal. 35 R2 yang tinggi tapi sedikit rasio t signifikan. dan faktor inflasi varian atau Variance Inflation Factor (VIF). Indikator yang dapat menunjukkan adanya multikolinearitas antara lain pengujian korelasi parsial. serta 7. Beberapa cara yang digunakan untuk mengatasi multikolinearitas (Juanda 2009). Menggunakan regresi komponen utama (principal component). 3. 6. gambar probabilitas normal. namun dapat menimbulkan kesalahan spesifikasi. 4. Melakukan transformasi terhadap peubah-peubah dalam model dengan first difference form untuk data deret waktu. Penambahan data baru. Adapun koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar keragaman variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen di dalam model (Gujarati 2006). Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji histogram (secara grafis). serta estimator OLS dan kesalahan standarnya cenderung tidak stabil. regresi subsider atau tambahan. Memanfaatkan informasi sebelumnya (a prior information). Besaran nilai koefisien determinasi berkisar antara 0 sampai 1. sedangkan uji-t bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. dan uji Jarque-Bera (Gujarati 2006). Pengujian tersebut antara lain uji-F. Dalam pembuatan model regresi linier berganda diperlukan pengujian secara statistik untuk mengetahui seberapa bagus model yang telah dibuat. dan uji Kolmogorov Smirnov (Mulyanto dan Wulandari 2010). normal probability test. Prosedur pengujian yang termasuk sederhana antara lain dengan menggunakan histogram residu. Cek kembali asumsi waktu pembuatan model.

Tiga negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia adalah India. nilai R2 dapat diluar selang 0 sampai dengan 1.36 model (goodness of fit). Berbagai manfaat minyak sawit dan minyak inti sawit sebagai minyak nabati yang paling efisien dibandingkan minyak nabati lainnya menyebabkan permintaan yang tinggi oleh negara-negara di dunia. kosmetik. serta biodiesel. seperti bahan baku utama dalam pembuatan minyak goreng. 3. Dalam kasus ini. Kelapa sawit menghasilkan minyak sawit dan minyak inti sawit yang kaya akan manfaat. Belanda. sedangkan tiga negara tujuan utama ekspor minyak inti sawit Indonesia adalah Malaysia. R2 sensitif terhadap jumlah variabel independen dalam model. Nilai R2 terkoreksi (? 2 ) mempunyai karakteristik yang diinginkan sebagai ukuran goodness of fit daripada R2. dan Cina. Penggunaan ?2 menghindari dorongan peneliti untuk memasukkan sebanyak mungkin variabel independen tanpa pertimbangan yang logis (Juanda 2009). Semua hasil analisis statistika berdasarkan asumsi awal bahwa model tersebut benar. Indonesia sebagai produsen minyak sawit dan minyak inti sawit terbesar saat ini melakukan ekspor produk hulu dari kelapa sawit tersebut dikarenakan tingginya permintaan dunia sehingga terus menerus melakukan ekspor dengan tujuan meningkatkan penerimaan devisa negara. dan membandingkan validitas hasil analisis model regresi (Juanda 2009). Tingginya produksi kelapa sawit Indonesia berdampak pada tingginya produksi produk hulunya yaitu. Belanda. Secara konseptual analisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia dijelaskan dalam Gambar 6. 2. margarin. . namun terdapat beberapa masalah dengan penggunaan R2. R2 selalu naik. sabun.2. yaitu: 1. Kerangka Operasional Kelapa sawit merupakan tanaman primadona sektor perkebunan karena menghasilkan minyak tertinggi dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya. 3. minyak sawit dan minyak inti sawit. dan Singapura. Jika peubah baru ditambahkan. kita tidak memiliki prosedur untuk membandingkan spesifikasi alternatif. namun ?2 dapat naik atau turun. Interpretasi dan penggunaan R2 menjadi sulit jika suatu model diformulasikan mempunyai intersep = 0.

Analisis deskriptif dengan tabulasi Analisis dengan model regresi linier data untuk mendeskripsikan berganda dan metode estimasi perkembangan ekspor minyak Ordinary Least Square (OLS) untuk sawit dan minyak inti sawit mengetahui faktor-faktor yang Indonesia ke masing-masing tiga mempengaruhi ekspor minyak sawit negara tujuan utama dan minyak inti sawit Indonesia Informasi perkembangan ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit serta faktor yang berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia Saran dan rekomendasi kebijakan untuk mendukung hilirisasi industri minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia Gambar 6. dan untuk minyak inti sawit adalah Malaysia. Kerangka Pemikiran Operasional . Cina. untuk minyak sawit yaitu India. Belanda. Singapura. 37 Kelapa sawit merupakan tanaman primadona sektor perkebunan Kelapa sawit menghasilkan minyak sawit dan minyak inti sawit yang kaya akan manfaat Produksi minyak Kurang Tingginya sawit dan minyak berkembangnya kebutuhan inti sawit industri hilir negara-negara di Indonesia yang minyak sawit dan dunia akan tinggi minyak inti sawit minyak sawit dan di Indonesia minyak inti sawit Peningkatan ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia khususnya ke-tiga negara tujuan utama. Belanda.

Hasil analisis tersebut akan diperoleh simpulan yang menjadi hasil penelitian kemudian diperlukan saran sebagai solusi yang tepat untuk mendukung hilirisasi industri kelapa sawit.38 Indonesia sebagai produsen minyak sawit dan minyak inti sawit terbesar menghadapi permasalahan kurang berkembangnya industri hilir dari minyak sawit dan minyak inti sawit di dalam negeri. Untuk mendukung hilirisasi industri minyak sawit dan minyak inti sawit pemerintah menetapkan pajak ekspor untuk minyak sawit dan minyak inti sawit. . Hilirisasi industri ini dibutuhkan karena dapat mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia baik dari penyerapan tenaga kerja serta produk turunan dari minyak sawit dan minyak inti sawit yang lebih bernilai tambah. Faktor-faktor yang memengaruhi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit dianalisis dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia serta besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia. Data-data mengenai ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia ke masing-masing tiga negara tujuan yang diperoleh ditabulasikan dan dideskripsikan menurut teori ekonomi.

Metode Analisis Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yaitu metode analisis deskriptif dan model regresi linier berganda dengan metode estimasi Ordinary Least Square (OLS). Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI). Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI). Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI).1. 4.2. Data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah atau lembaga-lembaga terkait lainnya yaitu Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI). jurnal-jurnal penelitian. Metode deskriptif dengan tabulasi data digunakan untuk menjawab tujuan pertama dan kedua yaitu dengan menghitung laju ekspor minyak sawit Indonesia ke India. Belanda. dan Cina. Bentuk data sekunder yang digunakan adalah dalam bentuk data deret waktu atau time series dengan periode waktu tahun 1990-2011.2. dan Cina dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007. dan Singapura juga menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder (Lampiran 1). Metode estimasi OLS digunakan untuk menjawab tujuan ketiga dan keempat yaitu menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor minyak sawit Indonesia ke India. 39 IV. Belanda. dan Singapura juga menghitung laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. Belanda. dan Cina dalam periode tahun 1990 hingga tahun 2011. Belanda. dan Singapura. Nilai laju digunakan untuk menganalisa fenomena yang terjadi berdasarkan . Belanda.1. METODE PENELITIAN 4. World Bank (WB). Belanda. serta perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ketiga negara tujuan utama yaitu Malaysia. Metode estimasi OLS menggunakan model ekonometrika yaitu model regresi linear berganda. 4. serta literatur-literatur terkait. Analisis Perkembangan Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia Tabulasi data dalam penelitian ini mencakup perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ketiga negara tujuan utama yaitu India.

(4. Belanda. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India.. khususnya India. (e) Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. (d) Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. 4. Persamaan yang dirumuskan dalam penelitian ini yaitu: (a) Ekspor minyak sawit Indonesia ke India. dan Singapura untuk minyak sawit serta Malaysia. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia Guna menjawab tujuan ketiga dan keempat dalam penelitian ini yaitu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia ke masing-masing tiga negara tujuan.2...1) Keterangan : EXCPOIIt = Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India (Ton) . Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Ekspor minyak sawit Indonesia ke India diduga dipengaruhi oleh harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India.2. (f) Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina. dan Cina untuk minyak inti sawit maka dilakukan prosedur analisis sebagai berikut. a. (b) Ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. Persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke India diformulasikan sebagai berikut: EXCPOIIt = a0 + a1 HEXCPOIIt + a2 PRCPOIt + a3 PCPOEXIIt + u1….2.40 data ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia.2... Belanda..1. Adapun rumus menghitung laju yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Nilai selisih ekspor Laju Ekspor = Nilai x 100% ekspor tahun sebelumnya Keterangan: Nilai selisih ekspor = ekspor tahun sekarang (Xt) – ekspor tahun sebelumnya (Xt-1) 4. (c) Ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura. produksi minyak sawit Indonesia. Spesifikasi Model Model ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia dibangun berdasarkan kerangka teori ekonomi dan kajian empiris yang relevan dan mampu merepresentasikan ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia secara sederhana dari sisi penawaran ekspor.

dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura. b. c. produksi minyak sawit Indonesia.. a3. Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda diduga dipengaruhi oleh delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. b2 > 0. b3< 0. produksi minyak sawit Indonesia. Persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda diformulasikan sebagai berikut: EXCPOIBt = b0 + b1 DHEXCPOIBt+ b2 PRCPOIt + b3 PCPOEXIBt + u2 . a2 > 0.. < 0. 41 HEXCPOIIt = Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India (US$/Ton) PRCPOIt = Produksi Minyak Sawit Indonesia (Ton) PCPOEXIIt = Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India (%) a0 = Intersep a1a2…a3 = Parameter u1 = error/residual Tanda dan besaran estimasi parameter yang diharapkan adalah : a1. Persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura diformulasikan sebagai berikut: EXCPOISt = c0 + c1 DHEXCPOISt + c2 PRCPOIt + c3 PCPOEXISt + u3..3) Keterangan : EXCPOISt = Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura (Ton) . dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura diduga dipengaruhi oleh delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.(4.2) Keterangan : EXCPOIBt = Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda (Ton) DHEXCPOIBt= Selisih Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Tahun ke-t dengan Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Tahun ke t-1 (US$/Ton) PRCPOIt = Produksi Minyak Sawit Indonesia (Ton) PCPOEXIBt = Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda (%) b0 = Intersep b1 b2…b3 = Parameter u2 = error/residual Tanda dan besaran estimasi parameter yang diharapkan adalah : b1. (4.

dan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tahun sebelumnya. (4. .42 DHEXCPOISt = Selisih Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Tahun ke-t dengan Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Tahun ke t-1 (US$/Ton) PRCPOIt = Produksi Minyak Sawit Indonesia (Ton) PCPOEXISt = Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura (%) c0 = Intersep c1c2…c3 = Parameter u3 = error/residual Tanda dan besaran estimasi parameter yang diharapkan adalah : c1.. d2 > 0. d. Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia diduga dipengaruhi oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. c3 < 0.4) Keterangan : EXPKOIMt = Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia (Ton) HEXPKOIMRt = Harga Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia dikali dengan Nilai Tukar Riil Indonesia Terhadap Dollar (Rp/Ton) PRPKOIt = Produksi Minyak Inti Sawit Indonesia (Ton) LPPKOEXIt = Pajak Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun ke-t-1 (%) LEXPKOIMt = Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia Tahun ke-t-1 (Ton) d0 = Intersep d1d2…d4 = Parameter u4 = error/residual Tanda dan besaran estimasi parameter yang diharapkan adalah : d1. 0 < d4 < 1. pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya. d3 < 0. produksi minyak inti sawit Indonesia. Persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia diformulasikan sebagai berikut: EXPKOIMt = d0 + d1 HEXPKOIMRt + d2 PRPKOIt + d3 LPPKOEXIt + d4 LEXPKOIMt + u4 …. c2 > 0.

6) Keterangan : EXPKOICt = Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina (Ton) LHEXPKOICt = Harga Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Pada Tahun ke-t-1 (US$/Ton) PRPKOIt = Produksi Minyak Inti Sawit Indonesia (Ton) PPKOEXIt = Pajak Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia (%) f0 = Intersep . 43 e. produksi minyak inti sawit Indonesia. e2 > 0. e3 < 0. (4... produksi minyak inti sawit Indonesia. f.. Persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda diformulasikan sebagai berikut: EXPKOIBt = e0 + e1 HEXPKOIBRt + e2 PRPKOIt +e3 PPKOEXIt + u5 . dan lag ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia.. pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia. (4. Persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia diformulasikan sebagai berikut: EXPKOICt = f0 + f1 LHEXPKOICt + f2 PRPKOIt + f3 PPKOEXIt + u6 …..5) Keterangan : EXPKOIBt = Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda (Ton) HEXPKOIBRt= Harga Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda Tahun ke-t dikali dengan Nilai Tukar Riil Indonesia Terhadap Dollar ke Belanda Tahun ke-t-1 (Rp/Ton) PRPKOIt = Produksi Minyak Inti Sawit Indonesia (Ton) PPKOEXIt = Pajak Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun ke-t (%) e0 = Intersep e1e2…e3 = Parameter u5 = error/residual Tanda dan besaran estimasi parameter yang diharapkan adalah : e1. Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda diduga dipengaruhi oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina diduga dipengaruhi oleh harga lag ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina.

Nilai elastisitas digunakan untuk melihat derajat kepekaan variabel dependen pada suatu persamaan terhadap perubahan dari variabel independen... f2 > 0. Pengujian tersebut dilakukan melalui uji ekonomi......2. dan produksi minyak sawit dan minyak inti sawit.. Uji Ekonomi Uji secara ekonomi dilakukan berdasarkan tanda yang ada pada setiap variabel independen dalam model estimasi.. Terdapat variabel yang memiliki tanda bernilai positif dan terdapat pula yang bernilai negatif. 1. f3 < 0.2.2. dan E-views 6. sedangkan tanda negatif artinya penambahan satu satuan variabel independen akan mengurangi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia..2..44 f1 f2…f3 = Parameter u6 = error/residual Tanda dan besaran estimasi parameter yang diharapkan adalah : f1. Tanda positif artinya penambahan satu satuan variabel independen akan meningkatkan ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia............. (4...........3... Xt) = Elastisitas jangka pendek variabel dependen Yt terhadap variabel independen Xt . Nilai elastisitas jangka pendek (short run) diperoleh dari perhitungan sebagai berikut (Pindyck dan Rubinfeld 1998) : Esr (Yt .... 4.... Metode Pengujian Model Regresi Linier Berganda Model dapat dikatakan baik apabila hasil estimasi model regresi yang telah didapat kemudian diuji..... Estimasi Model Model yang telah dirumuskan selanjutnya diestimasi.... Xt) = ai (Xt)/(Yt) .. estimasi model regresi dalam penelitian ini menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) yang selanjutnya model regresi akan diuji... Selain itu juga perlu melihat nilai elastisitasnya. dan uji ekonometrika...2......7) dimana : Esr (Yt ..0. Adapun variabel yang diduga memiliki tanda negatif yaitu pajak ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit.. uji statistik. Adapun software yang akan digunakan dalam mengestimasi data yang telah didapat adalah SPSS 17..... Variabel yang diduga memiliki tanda positif yaitu harga minyak sawit dan minyak inti sawit. 4..

. Uji Statistik Model yang dianalisis membutuhkan pengujian terhadap hipotesis-hipotesis yang dilakukan...... Pengujian hipotesis secara statistik bertujuan melihat nyata atau tidaknya pengaruh peubah-peubah yang diteliti.. 45 ai = Parameter estimasi variabel independen Xt Xt = Rata-rata variabel independen Xt Yt = Rata-rata variabel dependen Yt Nilai elastisitas jangka panjang (long run) dapat diperoleh dari perhitungan sebagai berikut : ??? (??........... Pengujian Hipotesis Hipotesisnya adalah: H0 = Parameter model bernilai nol (β1= β2 = β3 = βk = 0) H1 = Minimal ada satu nilai β yang tidak sama dengan nol. . Jika nilai eslatisitas lebih dari satu (E > 1) maka dikatakan elastis karena perubahan 1% variabel independen mengakibatkan perubahan variabel dependen lebih dari 1%... Uji F (Uji untuk semua variabel) Uji F bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara keseluruhan...... Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan probabilitas nilai F statistik (p-value) dengan probabilitas taraf nyata (α) yang digunakan. Berikut adalah langkah-langkah dan prosedur pengujian yang harus dilakukan. (4..... 2..8) 1−?? ??? dimana : Elr (Yt .... Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E < 1) maka dikatakan inelastis (tidak responsif) karena perubahan 1% variabel independen mengakibatkan perubahan variabel dependen kurang dari 1%......... Kriteria uji : 1.....?? ) Elr (Yt .....a. Xt) = Elastisitas jangka panjang variabel dependen Yt terhadap variabel independen Xi ai lag = Parameter estimasi dari lag-variabel dependen.... 2. Analisa pengujian Uji F adalah sebagai berikut : 1....... 2...... Xt) = .......

2. maka implikasinya adalah tolak H0. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak keragaman variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen didalam model.46 2. maka variabel independen berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.b. begitupun sebaliknya.c. maka disimpulkan terima H0. 2. Uji t (Uji Parsial) Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen secara individu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Artinya seluruh variabel independen dalam satu persamaan secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dependennya dengan baik. maka H0 ditolak. 2. maka H0 diterima P-value <α. Apabila tolak H0. Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Jika nilai koefisien determinasi mendekati 1. Rumus menghitung koefisien determinasi (Juanda 2009) adalah : ??? R2 = ??? ? JKR = ?=1 (Ŷ? − Ȳ)2 ? JKT = ?=1 (Ŷ? − Ȳ)2 Keterangan: R2 = Koefisien determinasi . maka disimpulkan tolak H0. Apabila keputusan yang diperoleh adalah p-value < taraf α sebesar 5% dimana koefisien regresi berada diluar daerah penerimaan H0. Penentuan penerimaan atau penolakan H0 Apabila: P-value >α.3… H1:Uji satu arah a) βi> 0 b) βi< 0 Apabila: Probabilitas t-statistik (p-value) < taraf α 25%. Apabila terima H0 maka disimpulkan variabel independen tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. Hipotesis yang digunakan adalah: H0: βi = 0 i = 1. maka model yang digunakan semakin baik. probabilitas t-statistik (p-value) > taraf α 25%.

a. 3. Uji Autokolerasi Untuk menentukan ada atau tidaknya autokorelasi dalam penelitian ini akan menggunakan Uji LM-Test (Breusch-Godfrey).05 (5%). . + ρpet-p + ut Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mendeteksi adanya autokorelasi dengan Uji LM-Test (Breusch-Godfrey) adalah meregresikan . Rumusan uji Jarque-Bera (JB) (Gujarati 2006) adalah: ? (?−3)2 JB = 6 ? 2 + 4 Keterangan: n = jumlah pengamatan S= koefisien Skewness K= koefisien Kurtosis Hipotesis pada uji normalitas adalah sebagai berikut: H0 = error term terdistribusi normal H1 = error term tidak terdistribusi normal Kriteria pengujian : P-Value uji JB > taraf nyata (α) maka terima H0. P-Value uji JB < taraf nyata (α) maka tolak H0. . artinya error term terdistribusi normal. . Uji Normalitas Penelitian ini akan menggunakan uji Jarque-Bera untuk menguji kenormalitasan data. Pada uji ini diasumsikan bahwa е (error) mengikuti model otoregresif ordo p(AR(p)) (Gujarati 2006). Taraf nyata yang digunakan dalam pengujian ini sebesar 0.b. dengan bentuk sebagai berikut: u1 = ρ1et-1 + ρ2et-2+ ρ3et-3 + . artinya error term tidak terdistribusi normal. Uji Ekonometrika 3. 47 JKR = Jumlah Kuadrat Regresi JKT = Jumlah Kuadrat Total Ŷ = Nilai Variabel dependen Estimasi Yt = Nilai Variabel dependen Aktual Ȳ = Nilai Rata-rata Variabel dependen 3.

48

persamaan linier untuk mendapatkan ê. Gunakan ê sebagai variabel dependen dan
regresikan dengan variabel x sehingga didapatkan model regresi:
ût = a0 + a1 + ?1?t-1 + ?2?t-2 + .. . + ?i?t-i + ut
Berdasarkan hasil regresi tersebut akan didapatkan nilai koefisien
determinasi (R2).
Adapun hipotesis yang digunakan:
H0 : ?1 = ?2 = . . . = ?3 = 0, tidak terdapat autokorelasi
H1 : tidak demikian, terdapat autokorelasi
Dengan demikian bila tidak mempunyai cukup bukti untuk menolak
hipotesis, maka et = ut berarti tidak ada autokorelasi.
Kriteria pengujian:
P-value uji LM-Test < taraf nyata (α), maka tolak H0, artinya terdapat
autokorelasi;
P-value uji LM-Test > taraf nyata (α), maka terima H0, artinya tidak terdapat
autokorelasi.
Taraf nyata (α) yang digunakan dalam pengujian ini sebesar 0,05 (5%).
Persamaan yang didalamnya terdapat variabel bedakala (lag endogenous
variable) uji serial korelasi dengan menggunakan Durbin Watson tidak valid
untuk digunakan (Pindyck dan Rubinfeld 1998). Sebagai penggantinya untuk
mengetahui apakah terdapat serial korelasi (autocorrelation) atau tidak dalam
setiap persamaan maka digunakan statistik DH (Durbin-h statistics). Persamaan
berikut merupakan formula untuk memperoleh nilai DH atau hhitung (Durbin-h
statistics).
1 ?
hhitung = 1 − 2 ?? 1−? ??? (? )

Keterangan:
DW = Nilai statistik Durbin-Watson
T = Jumlah periode pengamatan sampel, dan
var(β) = Kuadrat dari standar error koefisien “lagged dependent variable”
Jika ditetapkan taraf ? = 5% diketahui -1,96 ≤ hhitung ≤ 1,96, maka
disimpulkan persamaan tidak mengalami masalah autokorelasi. Namun nilai
Durbin-h statistics tidak akan diperoleh hasilnya jika hasil kali T*var(β) lebih

49

besar dari satu. Hal ini akan menimbulkan angka negatif sehingga tidak dapat
dihitung nilai akarnya.

3.c. Uji Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas digunakan untuk melihat bagaimana variabel
independen mempengaruhi variabel independen lainnya dalam suatu persamaan.
Cara mengetahui apakah dalam model tersebut ada multikolinearitas atau tidak
adalah dengan cara menghitung nilai Varians Inflation Factor (VIF). Jika nilai
VIF < 10, maka dalam persamaan tersebut tidak ada masalah multikolinearitas
(Mulyanto dan Wulandari 2010). Rumus VIF (Gujarati 2006) yaitu:
1
VIF = 2
(1 − ??? )
Keterangan:
2
??? = Korelasi antara variabel dari xi dengan variabel x lainnya

3.d. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini digunakan untuk melihat varian residual apakah konstan atau tidak.
Apabila varian residual konstan maka asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Salah
satu cara untuk melihat ada atau tidaknya masalah heteroskedastisitas adalah
dengan menggunakan uji White. Uji White menggunakan residual kuadrat sebagai
variabel dependen yang diregresikan terhadap variabel-variabel independennya.
Uji heteroskedastisitas hipotesisnya adalah:
H0= Var(?i) = E(?i2) = ?2
H1= Var(?i) = E(?i2) = ?2i
Tahapan Uji White adalah sebagai berikut:
1. Jika diketahui model regresi sisaan berikut.
et2 = ? 1 + ? 2 Zt + vt
2. Hitung koefisien determinasi sebagai ukuran kebaikan suai (goodness of fit), R2.
3. Jika komponen sisaan homogen maka statistik-uji White
n R2 ~? 2 (1)
Keterangan :
n = Jumlah observasi
2
R = Koefisien determinasi
X2 = Nilai variabel independen

50

Berdasarkan uji white, akan diperoleh nilai probabilitas Chi-Square yang
apabila nilainya lebih dari alpha maka artinya terima H0 dan asumsi
homoskedastisitas terpenuhi. Pelanggaran ini bukan hanya dapat terjadi dalam
data cross section, tapi juga untuk data time series (Juanda 2009).

a.058.273.225.35 Rata-rata 1. Berdasarkan Hawa (2012).99 46.00 -53.79 2002 1. Perkembangan dianalisis dengan melihat laju ekspor ke masing-masing negara tujuan.796.15 1993 4.15 2009 4.93 1994 1.54 2. Laju perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ke India dari tahun 1990 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 17.116. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Tahun 1990-2011 Ekspor Minyak Sawit Laju Ekspor Minyak Sawit Tahun Indonesia ke India (Ton) Indonesia ke India (%) 1990 2.54 1995 2.00 -34.002.44 2005 1.a= not applicable Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) . 51 V.082.415.83 2008 3. ANALISIS PERKEMBANGAN EKSPOR MINYAK SAWIT DAN MINYAK INTI SAWIT INDONESIA Pada uraian berikut ini akan dibahas satu per satu perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ke India.000. Belanda.582.730.07 2004 1.07 2011 4.080.26 2.00 n.69 41.59 1996 9.a 1991 13.37 337.465.76 2000 912.745. dan Singapura serta perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia.353.62 44.13 24.449.402.333. Tabel 17.35 34.306.276.69 5.35 1.871.17 13.490.69 Keterangan: n.341.022. 80% minyak sawit yang diimpor oleh India berasal dari Indonesia.537.046. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India India merupakan negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia terbesar pertama.39 90.06 1998 50.801. dan Cina.812.783.80 1992 6.57 3.52 -21.35 1997 5.71 2010 4.14 0.40 2007 2.893. dan sebagian besar digunakan untuk dikonsumsi dalam bentuk minyak goreng.67 2003 1.756.742. Belanda.28 -41.93 2006 1.00 -99.38 58.649.402.82 2001 713.00 501.390.978.06 1999 29.00 -73.

Rata-rata ekspor minyak sawit Indonesia ke India sebesar 1. dapat dilihat ekspor minyak sawit Indonesia ke India berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat.225 ton mengalami kenaikan 2.01/1999 mengenai pajak ekspor minyak sawit menjadi 40%.01/1998 menetapkan pajak ekspor minyak sawit menjadi 60%. Pada 17 April 1998 pemerintah membuat kesepakatan dengan IMF sehingga mencabut larangan ekspor tersebut melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 181/MPP/Kep/4/1998 yang berlaku mulai 22 April 1998 dan kemudian pemerintah mengeluarkan KMK Nomor 242/KMK/01/1998 yang menetapkan pajak ekspor minyak sawit sebesar 40%.14 ton pada tahun 2011.006.465.022. Pada tahun 1997.582. Pada tanggal 29 Januari tahun 1999 pemerintah mengeluarkan KMK Nomor 30/KMK. Salah satu penyebab jumlah ekspor minyak sawit Indonesia ke India yang besar adalah jumlah penduduk india yang mencapai sekitar 1. Pada tahun 1990 jumlah ekspor minyak sawit Indonesia ke India sebesar 2. pada tanggal 26 Februari 1998 melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 102/MPP/Kep/2/1998 bahwa semua hasil minyak sawit hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibat dari larangan selama kuartal pertama dan peningkatan pajak ekspor tersebut berdampak pada penurunan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke India tertinggi selama periode tahun 1990 hingga 2011 yaitu sebesar 99.75 kali lipat menjadi 4. sedangkan rata-rata laju ekspor minyak sawit Indonesia ke India sebesar 2. pemerintah pada tanggal 3 Juni 1999 menurunkan pajak ekspor minyak sawit menjadi 30% melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 189/KMK.978.54 ton. Larangan .01/1999.06% dengan jumlah ekspor 50 ton yang terjadi pada tahun 1998. dan pada tanggal 2 Juli 1999 pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 360/KMK. pemerintah melalui Dirjen Perdagangan Dalam Negeri mengeluarkan SK Nomor 420/DJPDN/XII/1997 mengenai larangan ekspor minyak sawit selama Januari hingga maret pada tahun 1998. namun pada bulan Juli pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 334/KMK.01/1999 kembali menurunkan pajak ekspor menjadi 10%. sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk maka konsumsi akan minyak sawit turut meningkat (Bachtiar 2010).341.52 Berdasarkan Tabel 17.69%.1 milyar jiwa.

Ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda mengalami kenaikan dengan rata-rata laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda sebesar 8.834.38 ton yang terjadi pada tahun 1999.064.68 ton.42 ton pada tahun 2011. roti. pada tanggal 26 Februari 1998 melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 102/MPP/Kep/2/1998 bahwa semua hasil minyak sawit hanya digunakan untuk . b. Peningkatan ini disebabkan karena memang adanya jumlah permintaan yang terus meningkat dari beberapa importir di Belanda seperti unilever dan industri kecantikan yang menggunakan minyak sawit sebagai salah satu bahan baku yang penting untuk dicampur dengan bahan lainnya dalam pembuatan sabun.76% atau setara dengan jumlah ekspor sebesar 29. Laju perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda dari tahun 1990 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 18.96 kali lipat menjadi 601. dan minyak goreng (Centre for the Promotion of Imports from developing countries market survey 2009). es krim. 53 ekspor dan pajak ekspor minyak sawit yang tinggi di tahun 1998. Pada tahun 1997. minyak salad. Rata-rata jumlah ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda sebesar 537.415. pemerintah melalui Dirjen Perdagangan Dalam Negeri mengeluarkan SK Nomor 420/DJPDN/XII/1997 mengenai larangan ekspor minyak sawit selama Januari hingga maret pada tahun 1998.687. Pada tahun 1990 jumlah ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda sebesar 307. Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda disebabkan kebutuhan Belanda akan minyak sawit yang besar. lotion dan sebagainya (Kedutaan Besar Republik Indonesia Den Haag 2010). serta penurunan pajak ekspor minyak sawit pada tahun 1999 berdampak pada kenaikan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke India tertinggi selama periode 1990 hingga tahun 2011 sebesar 58.730. ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda cenderung berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Belanda merupakan tujuan ekspor minyak sawit Indonesia terbesar kedua setelah India.55%. Berdasarkan Tabel 18.97 ton mengalami kenaikan 1. Belanda dan negara-negara Eropa lainnya menggunakan 70% minyak sawit untuk industri pangan yang digunakan sebagai bahan baku penting dalam pembuatan margarin.

69 2008 968.057.01/1999 mengenai pajak ekspor minyak sawit menjadi 40%.460. pemerintah .109.424.11 1993 392.83 -46.33 3.a 1991 367. Tabel 18.193.28 9.91 1999 376.55 1998 219.600.871.74 -10.34 69.30 42.54 memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibat dari larangan selama kuartal pertama dan peningkatan pajak ekspor tersebut berdampak pada penurunan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda tertinggi selama periode tahun 1990 hingga 2011 yaitu sebesar 46.19 2010 948.360.97 n.63 -46.36 1992 378.251.a= not applicable Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Pada tanggal 29 Januari tahun 1999 pemerintah mengeluarkan KMK Nomor 30/KMK.77 2000 414.740.90 2009 1.682.294.53 2007 569.68 8.109.434.205.80 1997 412.94 14.57 2006 834.63 1994 446.66 1996 432.254.91% dengan jumlah ekspor 219.04 26.673.75 -15.18 19.78 2004 477.27 13.558.09 2003 377.870.56 2002 709.687.431.064.55 Keterangan: n. Pada 17 April 1998 pemerintah membuat kesepakatan dengan IMF sehingga mencabut larangan ekspor tersebut melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 181/MPP/Kep/4/1998 yang berlaku mulai 22 April 1998 dan kemudian pemerintah mengeluarkan KMK Nomor 242/KMK/01/1998 yang menetapkan pajak ekspor minyak sawit sebesar 40%.42 -36.55 Rata-rata 537. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Tahun 1990-2011 Ekspor Minyak Sawit Laju Ekspor Minyak Sawit Tahun Indonesia ke Belanda (Ton) Indonesia ke Belanda (%) 1990 307.256. namun pada bulan Juli pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 334/KMK.01/1998 menetapkan pajak ekspor minyak sawit menjadi 60%.29 2011 601.00 22.48 12.68 -31.07 2001 466.227.834.80 1995 376.53 2005 680.54 71.00 3.81 ton yang terjadi pada tahun 1998.15 52.81 -4.32 10.

973.77% atau setara dengan jumlah ekspor sebesar 376. Singapura mengimpor minyak sawit dari Indonesia untuk diekspor kembali dan sebagian digunakan untuk kebutuhan industri dalam negeri. sampo. Berdasarkan Tabel 19.06%. Larangan ekspor dan pajak ekspor minyak sawit yang tinggi di tahun 1998. Laju perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura pada tahun 1990 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 19.54 ton yang terjadi pada tahun 1999. 55 pada tanggal 3 Juni 1999 menurunkan pajak ekspor minyak sawit menjadi 30% melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 189/KMK.43 ton dengan laju penurunan sebesar 72. biodiesel. ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat.01/1999.360.92 ton mengalami kenaikan 334. Penurunan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura terbesar terjadi pada tahun 1995 dengan jumlah ekspor sebesar 12. Ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura mengalami peningkatan dengan rata-rata laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sebesar 292. Penurunan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura pada tahun 1995 disebabkan adanya kenaikan pajak ekspor yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 439/KMK.000. deterjen.58 ton. Pada tahun 1990 jumlah ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sebesar 2.01/1999 kembali menurunkan pajak ekspor menjadi 10%. serta penurunan pajak ekspor minyak sawit pada tahun 1999 berdampak pada kenaikan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda tertinggi selama periode 1990 hingga tahun 2011 sebesar 71. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia terbesar ketiga adalah Singapura. serta sabun. dan pada tanggal 2 Juli 1999 pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 360/KMK. Konsumsi minyak sawit Singapura diantaranya digunakan sebagai bahan baku utama untuk memproduksi minyak goreng.07/1994 dalam rangka pengendalian terhadap kelangkaan minyak sawit dalam negeri yang mengakibatkan terjadinya kenaikan harga jual minyak goreng .378.83 kali lipat menjadi 669.39% dari tahun sebelumnya.61 ribu ton pada tahun 2011. dan kosmetik (Kedutaan Besar Republik Indonesia Singapura 2013). c. Rata-rata jumlah ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sebesar 244.160.

08 725.82 2009 606.39 1996 5.000. Tabel 19.57 -12.513.136.029. Pada 17 April 1998 pemerintah membuat kesepakatan dengan IMF sehingga mencabut larangan ekspor tersebut melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 181/MPP/Kep/4/1998 yang berlaku mulai 22 April 1998 dan kemudian pemerintah mengeluarkan KMK Nomor 242/KMK/01/1998 yang menetapkan pajak ekspor minyak sawit sebesar 40%.02 493.94 1995 12.17 1994 44.08 -5.70 10.41 1997 4.04 2006 489.891.76 25.56 di dalam negeri sebagai akibat dari kenaikan harga minyak sawit dunia yang mencapai 628 dollar per ton (Agustian dan Hadi 2004).959.720.61 16.675.58 1999 70.160.845.23 14.58 29.72 -66.43 -72.07 2003 263.89 Rata-rata 244.378.766.a 1991 16.12 158.06 Keterangan: n.362.23 1998 1.81 2002 251.37 1992 98.58 292.841.370.421.254.81 1993 86. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Tahun 1990-2011 Ekspor Minyak Sawit Laju Ekspor Minyak Sawit Tahun Indonesia ke Singapura (Ton) Indonesia ke Singapura (%) 1990 2.71 0.27 2008 504.40 -26.41 2001 228. pemerintah melalui Dirjen Perdagangan Dalam Negeri mengeluarkan SK Nomor 420/DJPDN/XII/1997 mengenai larangan ekspor minyak sawit selama Januari hingga maret pada tahun 1998.156.92 n.930.07 2000 183.25 -47.26 2010 573.515.87 2007 490.068. namun pada bulan Juli pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan .22 20.00 4.78 2004 340.17 2.973.69 24.09 2005 426.885.727.67 4. pada tanggal 26 Februari 1998 melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 102/MPP/Kep/2/1998 bahwa semua hasil minyak sawit hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.85 -53.a= not applicable Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Pada tahun 1997.53 2011 669.

Malaysia mengimpor minyak inti sawit Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri mereka guna diproses lebih lanjut.01/1999 kembali menurunkan pajak ekspor menjadi 10%. pemerintahpada tanggal 3 Juni 1999 menurunkan pajak ekspor minyak sawit menjadi 30% melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 189/KMK.01/1999. dan pada tanggal 2 Juli 1999 pemerintah melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 360/KMK. d.46 kali lipatnya dibandingkan tahun 1992 dengan jumlah ekspor 6.260 ton. ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat.39 ton atau mengalami kenaikan sebesar 96. Jumlah ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia pada tahun 2011 mencapai 603. Akibat larangan ekspor dan pajak ekspor minyak sawit yang tinggi di tahun 1998. terutama digunakan dalam industri oleokimia (Susila 2004).20 %. sabun. Pada Januari tahun 1999 pemerintah mengeluarkan KMK Nomor 30/KMK. Akibat dari larangan selama kuartal pertama dan peningkatan pajak ekspor tersebut berdampak pada penurunan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura pada tahun 1998 yaitu sebesar 66.823.07% atau setara dengan jumlah ekspor sebesar 70. 57 Nomor 334/KMK. dan pelumas (European Union Delegation to Malaysia 2012). kosmetik. lilin.497.01/1998 menetapkan pajak ekspor minyak sawit menjadi 60%.58% dengan jumlah ekspor 1.421. deterjen.72 ton. serta penurunan pajak ekspor minyak sawit di tahun 1999 berdampak pada kenaikan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura tertinggi selama periode 1990 hingga tahun 2011 sebesar 4. Rata-rata jumlah ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia sebesar 116.891. Beberapa produk turunan dari oleokimia yang diproduksi Malaysia antara lain obat-obatan farmasi.959 ton yang terjadi pada tahun 1999. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia Negara tujuan ekspor minyak inti sawit Indonesia terbesar pertama adalah Malaysia. . Laju perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia pada tahun 1990 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 20.08 ton. Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia mengalami peningkatan dengan rata-rata laju ekspor sebesar 221.01/1999 mengenai pajak ekspor minyak sawit menjadi 40%.

548.00 174.47 129.19 2009 380.46 88.644.00 ton.13 1994 2.497.a 1992 6.58 -36.15 2005 84.10 55.39 22.22 2000 41.21 2008 243.730.70 -66.450.a 1993 9.550.43 19.15 1998 50.836.57 Rata-rata 116.43 20.69 1996 230.030.00 n.a= not applicable Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Pada tahun 1990 dan 1991 Malaysia tidak mengimpor minyak inti sawit dari Indonesia.362.08 221.44 57.157.58 2011 603.30 2006 159. Penurunan laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tertinggi terjadi pada tahun 1996 dengan jumlah ekspor pada saat itu sebesar 230.14 29.794.09 1995 6.09 2003 72.216.261.58 1997 7.00 -75.32 2001 26.823.49 2007 204.25 2002 59.58 Tabel 20.a 1991 0.00 n.94 2010 492.967.924.260.59 2004 93.00 n.81 -9. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia Tahun 1990-2011 Ekspor Minyak Inti Sawit Laju Ekspor Minyak Inti Sawit Tahun Indonesia ke Malaysia (Ton) Indonesia ke Malaysia (%) 1990 0.65 3.08 29.58%.24 1999 17.176. Penurunan ekspor ini disebabkan adanya kebijakan Industrial Master Plan (IMP) yang kedua oleh pemerintah Malaysia dengan tujuan untuk memproses produksi minyak inti sawit dalam negeri dan mengembangkan hilirisasi industri kelapa sawit sehingga di tahun awal IMP2 pemerintah Malaysia melakukan pembatasan impor komoditas minyak sawit dan minyak inti sawit .56 28.55 592.00 138.322.00 -96.649. Malaysia mulai mengimpor minyak inti sawit dari Indonesia pada tahun 1992 karena sejak tahun 1992 Malaysia telah membatasi ekspansi perkebunan sawit diwilayahnya dengan menerapkan peraturan batas minimum lahan negara sebagai hutan (Caroline Scott-Thomas 2012). dengan laju penurunan ekspor mencapai 96.20 Keterangan: n.101.

291. hal ini dapat dilihat pada Tabel 21. dengan laju kenaikan ekspor mencapai 3. susu buatan.84 ton.401.77 ton pada tahun 2011. dan roti (CBI market survey 2009). dengan kenaikan laju ekspor sebesar 118.34 kali lipat menjadi 445. Berdasarkan Tabel 21. Peningkatan ekspor ini karena adanya pengalihan impor dari Malaysia ke Indonesia serta diikuti industri pangan Belanda yang semakin berkembang dan membutuhkan minyak inti sawit sebagai bahan utama dalam industri biskuit.15% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tertinggi terjadi pada tahun 1997 dengan jumlah ekspor sebesar 7.65 ton. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 1992 dengan jumlah ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda mencapai 125. Berdasarkan Tabel 20. 59 untuk memacu perkembangan industri dalam negeri mereka dengan bahan baku yang berasal dari dalam negeri (Malaysian Productivity Corporation 2012). dan roti.101.07 ton.362. ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia yang tinggi memungkinkan Malaysia melakukan re-ekspor minyak inti sawit tetapi diklasifikasikan sebagai minyak inti sawit Malaysia (Van Gelder 2004). Rata-rata jumlah ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sejak tahun 1990 hingga tahun 2011 sebesar 251. Selain itu. Peningkatan ekspor Indonesia ke Malaysia yang tinggi ini didorong oleh perkembangan industri oleokimia Malaysia yang berkembang dengan baik. . e. susu buatan. Laju perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat sejak tahun 1990 hingga tahun 2011. Berdasarkan data Centre for the Promotion of Imports from developing countries (CBI) Market Survey (2009).124. sebanyak 75% minyak inti sawit digunakan untuk industri pangan di negara-negara Uni-Eropa salah satunya Belanda yang menggunakan minyak inti sawit sebagai salah satu bahan baku penting dalam industri biskuit. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda Negara tujuan ekspor minyak inti sawit Indonesia terbesar kedua adalah Belanda. sedangkan rata-rata laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sebesar 14.81 ton mengalami kenaikan 6. pada tahun 1990 jumlah ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sebesar 70.10%.71% dari tahun sebelumnya.911.

58 2000 265.61 1992 125.646.32 2001 246.15 2010 283.02 1996 184.56 ton.92 1998 142.210.93 45.04 2009 333. Jumlah ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda pada tahun 2003 sebesar 278.a 1991 57.64 -1.401. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Cina merupakan negara tujuan ekspor minyak inti sawit Indonesia terbesar ketiga.10 Keterangan: n.347.18 2007 332.81 n. bahwa laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda pada tahun 2003 juga mengalami penurunan sebesar 46.92 -18.9% dan tingkat pengangguran yang meningkat tajam (Albers dan Langedijk 2004).204.16 2011 445.15 2003 278.65 1997 169.98 2005 359. hal ini disebabkan pada tahun 2003 Belanda merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terlemah di Eropa dengan penurunan real Gross Domestic Product (GDP riil) sebesar 0.45 -20.32 -17.43 -15. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda Tahun 1990-2011 Ekspor Minyak Inti Sawit Laju Ekspor Minyak Inti Sawit Tahun Indonesia ke Belanda (Ton) Indonesia ke Belanda (%) 1990 70.703.129. Minyak inti sawit yang diimpor Cina sebagian besar dialokasikan untuk .826.99 -7.634. Dapat dilihat pada Tabel 18.07 118.76 1999 259.73 2008 402.31 2002 357.78% yang disebabkan permasalahan ekonomi yang terjadi di Belanda.733.a= not applicable Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) f.381.649.16 81.911.124.61 30.49 -15.52 11.77 1994 183. Tabel 21.43 -16.334.77 57.60 Penurunan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda terjadi pada tahun 2003 dengan laju penurunan mencapai 21.291.47 5.822.449.739.31 Rata-rata 251.08 38.84 14.58 2006 399.98 2004 365.822.13 2.98% dari tahun sebelumnya.56 -21.42 21.415.59 1995 146.71 1993 132.79 25.219.989.49 -7.804.

814.06 73.45% dengan rata-rata jumlah ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina sejak tahun 1990 hingga tahun 2011 sebesar 91.20 2010 263.000. sementara sepertiga lainnya digunakan untuk memproduksi lemak yang bersifat khusus sebagai bahan dasar Cocoa Butter Substitute (CBS) dan krim kocok (Xiaoqiang Zou 2012).12 -27.225.150.64 2009 361.085. Tabel 22.00 -100.00 1994 1.000.00 1999 0.80 68.a 1991 2.96 29.40 n.99 2003 51.18 2002 20.a 2000 3.a 2001 59.a 1992 400.87 kali lipat dibandingkan tahun 1991 dengan jumlah ekspor 2.00 1997 5.264.60 Rata-rata 91.00 n.22 1.06 70.12 2005 149. 61 berbagai industri berbahan dasar oleokimia.00 -80.78 2004 88. Rata-rata laju peningkatan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina sebesar 138.416.897.04 2011 243.615.73 -18.a= not applicable Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) .00 -64.00 1995 0.76 -7.00 -100.72 2008 212.870.45 Keterangan: n.00 1993 5.244. terlihat bahwa perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat.00 n.000 ton.441. Perkembangan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Tahun 1990-2011 Ekspor Minyak Inti Sawit Laju Ekspor Minyak Inti Sawit Tahun Indonesia ke Cina (%) Indonesia ke Cina (%) 1990 0.897.75 2006 201. pada tahun 2011 jumlah ekspor PKO Indonesia ke Cina sebesar 243.00 1996 0.00 n.000.086.76 ton atau mengalami peningkatan 121.08 144.533.792. Laju perkembangan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina dari tahun 1990 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 22.00 1.114.00 n.00 -80.37 34.03 ton.a 1998 0.03 138.748.748.00 0.86 2007 261.

penurunan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tertinggi terjadi pada tahun 1995. .62 Berdasarkan Tabel 22. hal ini disebabkan Cina tidak mengimpor minyak inti sawit dari Indonesia. Pada tahun 1990. Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia dalam mengekspor minyak sawit maupun minyak inti sawit ke Cina. 1996. dan 1998 sebesar 100%. dan tahun 1999 Cina tidak mengimpor minyak inti sawit dari Indonesia. melainkan mengimpor dari Malaysia.814. peningkatan kebutuhan minyak inti sawit Cina yang tinggi juga disebabkan oleh jumlah penduduknya yang sangat besar (Tasnim Fatimah 2008). Sejak tahun 2000 Cina mulai beralih mengimpor minyak inti sawit dari Indonesia secara rutin. dan peningkatan laju ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2001 sebesar 1. ditambah Malaysia dengan Cina telah melakukan perdagangan secara barter guna menggenjot ekspor ke Cina (Departemen Perdagangan 2006). hal ini dikarenakan kemampuan Malaysia mempertahankan hubungan dagang dengan Cina yang merupakan faktor penentu meningkatnya ekspor Malaysia ke Cina.18% disebabkan Cina mulai mengimpor minyak inti sawit dari Indonesia untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan dalam negerinya.

Adapun hasil dan pembahasannya adalah sebagai berikut. produksi minyak sawit Indonesia.Chi-Square 0.390.a 0. Nilai uji statistik-t menunjukkan bahwa variabel harga ekspor .0008 0 2 HEXCPOII 824. Hasil dan Pembahasan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Berdasarkan hasil respesifikasi model (Lampiran 3) maka didapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan ekspor minyak sawit Indonesia ke India.940046 Prob. produksi minyak sawit Indonesia (PRCPOI).021.08981 n.a = not applicable Semua tanda koefisien variabel independen pada persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke India sudah sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan dan logis dari sudut pandang ekonomi. dan Singapura serta ekspor minyak inti Sawit Indonesia ke tiga negara tujuan utama yaitu Malaysia. Belanda.a n. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India (PCPOEXII). a.3322 Keterangan: ******) berpengaruh nyata pada taraf α = 1% *****) berpengaruh nyata pada taraf α = 5% n. Belanda.580687 Jarque-Bera 6. 63 VI. Nilai uji statistik-F kurang dari taraf α 1% artinya variabel harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India.0466***** 1.240153 1.0000****** 1.72 -0. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel ekspor minyak sawit Indonesia ke India dengan baik. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR MINYAK SAWIT DAN MINYAK INTI SAWIT INDONESIA Berdasarkan hasil respesifikasi model maka didapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan ekspor minyak sawit Indonesia ke tiga negara tujuan utama yaitu India.2670 DW 1. Hasil estimasi pada Tabel 23 menunjukkan bahwa perilaku ekspor minyak sawit Indonesia ke India dijelaskan oleh harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India (HEXCPOII). Obs*R-Square 0.a 0.402 3 PRCPOI 0.0718 2 R 0.3323 0.422 n.77433 n. dan Cina.35188 n. Tabel 23.163 4 PCPOEXII -10.276 Prob F 0. Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Estimasi Elastisitas No Variabel Prob>|t| VIF Parameter SR LR 1 Intercept -1.a 0.a 0.000000 Prob.0704**** 1.

hal ini berarti 94. Berdasarkan nilai uji statistik-t dan tanda estimasi parameter menunjukkan bahwa variabel harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India berpengaruh positif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India dengan nilai estimasi parameter sebesar 824.0718 lebih besar dari taraf α 5% artinya dapat disimpulkan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke India.240153.3323 ton. artinya jika terjadi peningkatan harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India sebesar satu dollar per ton maka ekspor minyak sawit Indonesia ke India akan meningkatkan sebesar 824. artinya jika terjadi peningkatan produksi minyak sawit Indonesia sebesar satu ton maka ekspor minyak sawit Indonesia ke India akan meningkat . produksi minyak sawit Indonesia. Hasil dari uji white (Lampiran 7) didapatkan bahwa nilai probabilitas Obs*R-Square sebesar 0.0046% keragaman ekspor minyak sawit Indonesia ke India dapat dijelaskan oleh variabel harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India.940046. Pengujian multikolinearitas (Lampiran 6) dengan melihat nilai VIF menunjukkan bahwa tidak ada nilai VIF dari ketiga variabel independen bernilai lebih dari 10 (VIF<10) artinya persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke India telah terbebas dari masalah multikolinearitas yang serius. ceteris paribus. serta variabel pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India berpengaruh pada taraf α 5% terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India. Dilihat dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0.64 minyak sawit Indonesia ke India berpengaruh pada taraf α 10% terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India dan variabel produksi minyak sawit Indonesia berpengaruh pada taraf α 1% terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India. Hasil pengujian LM-test (Breusch-Godfrey) (Lampiran 5) diketahui bahwa nilai probabilitas Chi-Square sebesar 0.3323.2670 lebih besar dari taraf α 5% artinya persamaan sudah terbebas dari gejala heteroskedastisitas.3322 lebih besar dari taraf α 5% artinya error term dalam persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke India terdistribusi normal. Kemudian variabel produksi minyak sawit Indonesia berpengaruh positif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India dengan nilai estimasi parameter sebesar 0. Hasil uji normalitas (Lampiran 4) didapatkan nilai Jarque-Bera sebesar 6. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India.

ceteris paribus. yang artinya perubahan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India hanya membuat perubahan yang kecil terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India.77433%.72 ton. Hasil dan Pembahasan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Berdasarkan hasil respesifikasi model (Lampiran 8) maka didapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. artinya jika produksi minyak sawit Indonesia naik sebesar 1% maka akan meningkatkan ekspor minyak sawit Indonesia ke India sebesar 1.77433.11%. Selanjutnya.72. Hasil estimasi pada Tabel 24 menunjukkan bahwa perilaku ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda dijelaskan oleh delta harga ekspor minyak sawit Indonesia . ceteris paribus.240153 ton. 65 sebesar 0. Respon ekspor minyak sawit Indonesia ke India bersifat elastis terhadap produksi minyak sawit Indonesia dengan nilai elastisitas sebesar 1.021. Respon variabel harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India bersifat inelastis terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India. hal ini mengindikasikan bahwa selama periode tersebut laju kenaikan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India tidak menyebabkan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke India menurun. sehingga perubahan harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India hanya mampu membuat perubahan kecil terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India.021. ceteris paribus. b. Hal ini disebabkan pertumbuhan populasi India yang tinggi serta kebutuhan India dalam menggunakan minyak sawit sebagai bahan dasar termurah dibandingkan minyak nabati lainnya dalam pembuatan minyak goreng (European Union Delegation to Malaysia 2012). Respon ekspor minyak sawit Indonesia ke India bersifat inelastis terhadap pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India. variabel pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India berpengaruh negatif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India dengan nilai estimasi parameter sebesar -10. Dapat dilihat bahwa selama periode tahun 1990 hingga tahun 2011 rata-rata laju pertumbuhan ekspor minyak sawit Indonesia ke India yang sebesar 2.69% sedangkan rata-rata laju pertumbuhan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India sebesar 9. artinya jika terjadi peningkatan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India sebesar 1% maka ekspor minyak sawit Indonesia ke India akan menurun sebesar 10.978.

654312.04244 n.505. sedangkan variabel pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda berpengaruh pada taraf α 20% terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. Nilai uji statistik-t menunjukkan bahwa variabel produksi minyak sawit Indonesia berpengaruh pada taraf nyata 1% terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda.1669 0. produksi minyak sawit Indonesia (PRCPOI).a n.0001****** 1.2471 lebih besar dari taraf α 5% artinya error term dalam persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda terdistribusi normal.02616 0.0879 2 R 0.1902** 1. Dilihat dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0.046 3 PRCPOI 0.000342 Prob.654312 Prob.a 0. Tabel 24.49034 n. Nilai uji statistik-F kurang dari taraf α 1% artinya variabel delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda.01858 n. produksi minyak sawit Indonesia.a 0. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda.Obs* R-Square 0.4312% keragaman ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda dapat dijelaskan oleh variabel delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. produksi minyak sawit Indonesia.0005 0 2 DHEXCPOIB 19. Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Estimasi Elastisitas No Variabel Prob>|t| VIF Parameter SR LR 1 Intercept 302.a 0.a = not applicable Semua tanda koefisien variabel independen pada persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda sudah sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan dan logis dari sudut pandang ekonomi. Hasil uji normalitas (Lampiran 9) didapatkan nilai Jarque-Bera sebesar 0. hal ini berarti 65.166 Prob-F 0. Hasil pengujian LM-test (Breusch-Godfrey) (Lampiran 10) diketahui bahwa nilai probabilitas Chi-Square .4635 1. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda (PCPOEXIB).a 0.792462 Jarque-Bera 0.66 ke Belanda (DHEXCPOI).034 n.2471 Keterangan: ******) berpengaruh nyata pada taraf α = 1% **) berpengaruh nyata pada taraf α = 20% n. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda dengan baik.13 -0.212 4 PCPOEXIB -1.0719 DW 1. Chi-Square 0.

hal ini berarti perubahan produksi minyak sawit Indonesia hanya membuat perubahan yang kecil terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. ceteris paribus.505. Respon variabel ekspor minyak sawit Indonesia ke India inelastis terhadap produksi minyak sawit Indonesia.0879 lebih besar dari taraf α 5% artinya dapat disimpulkan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda.55% sedangkan rata-rata laju pertumbuhan produksi minyak sawit Indonesia sebesar 11.72%. hal ini berarti perubahan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda hanya membuat perubahan yang kecil .02616 ton.13. Pengujian multikolinearitas (Lampiran 11) dengan melihat nilai VIF menunjukkan bahwa tidak ada nilai VIF dari ketiga variabel independen bernilai lebih dari 10 (VIF<10) artinya persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda telah terbebas dari masalah multikolinearitas yang serius.0719 lebih besar dari taraf α 5% artinya persamaan sudah terbebas dari gejala heteroskedastisitas. Respon pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda bersifat inelastis terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda.505. artinya jika terjadi peningkatan produksi minyak sawit Indonesia sebesar satu ton maka ekspor minyak sawit Indonesia ke India akan meningkat sebesar 0. artinya jika terjadi peningkatan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda sebesar 1% maka ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda akan menurun sebesar 1. 67 sebesar 0. Kemudian variabel pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda berpengaruh negatif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda dengan nilai estimasi parameter sebesar -1. Dapat dilihat bahwa selama periode tahun 1990 hingga tahun 2011 rata-rata laju pertumbuhan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda yang sebesar 8. ceteris paribus.02616. Hasil dari uji white (Lampiran 12) didapatkan bahwa nilai probabilitas Obs*R-Square sebesar 0.13 ton. Nilai uji statistik-t dan tanda estimasi parameter menunjukkan bahwa variabel produksi minyak sawit Indonesia berpengaruh positif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda dengan nilai estimasi parameter sebesar 0. hal ini mengindikasikan bahwa selama periode tersebut laju kenaikan produksi minyak sawit Indonesia tidak menyebabkan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda mengalami kenaikan.

Semua tanda koefisien variabel independen pada persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sudah sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan dan logis dari sudut pandang ekonomi. Oleh karena itu Indonesia sebagai eksportir minyak sawit menyadari untuk terus meningkatkan ekspor minyak sawit ke Belanda meskipun dalam kondisi harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda menurun. selain itu juga disebabkan adanya jumlah permintaan yang terus meningkat dari beberapa importir di Belanda seperti Unilever dan industri kecantikan yang menggunakan minyak sawit sebagai salah satu bahan baku penting untuk dicampur dengan bahan lainnya dalam pembuatan sabun. Hasil estimasi pada Tabel 25 menunjukkan bahwa perilaku ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura dijelaskan oleh delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura (DHEXCPOIS).39%. produksi minyak sawit Indonesia (PRCPOI). sehingga perubahan harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda hanya mampu membuat perubahan kecil terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. es krim. roti.68 terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda.55% sedangkan rata-rata laju pertumbuhan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda sebesar 7. Hasil dan Pembahasan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Berdasarkan hasil respesifikasi model (Lampiran 13) maka didapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura. minyak salad. dan minyak goreng (Centre for the Promotion of Imports from developing countries market survey 2009). c. Delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda tidak berpengaruh nyata secara statistik pada taraf α 25% terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. Dapat dilihat bahwa selama periode tahun 1990 hingga tahun 2011 rata-rata laju pertumbuhan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda yang sebesar 8. hal ini mengindikasikan bahwa selama periode tersebut laju kenaikan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda tidak menyebabkan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda menurun. lotion dan sebagainya (Kedutaan Besar Republik Indonesia Den Haag 2010). dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura (PCPOEXIS). Nilai uji statistik-F kurang dari taraf α 1% . Hal ini diduga karena minyak sawit merupakan bahan baku penting yang digunakan oleh Belanda dalam pembuatan margarin.

dan produksi minyak sawit Indonesia serta pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura berpengaruh pada taraf α 1% terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.a = not applicable Hasil uji normalitas (Lampiran 14) didapatkan nilai Jarque-Bera sebesar 0. Dilihat dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0.12720 n.971067 Prob.1903** 1.7 n.0650 0.Obs* R-Square 0.622.1663 Keterangan: berpengaruh nyata pada taraf α = 1% ******) **) berpengaruh nyata pada taraf α = 20% n.1663 lebih besar dari taraf α 5% artinya error term dalam persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura terdistribusi normal. hal ini berarti 97. 69 artinya variabel delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.101 4 PCPOEXIS -2.03149 1. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura dengan baik.000000 Prob. Hasil pengujian LM- test (Breusch-Godfrey) (Lampiran 15) diketahui bahwa nilai probabilitas Chi- Square sebesar 0.275476 Jarque-Bera 0. produksi minyak sawit Indonesia. Hasil dari uji .a 0.0735 R2 0. Pengujian multikolinearitas (Lampiran 16) dengan melihat nilai VIF menunjukkan bahwa tidak ada nilai VIF dari ketiga variabel independen bernilai lebih dari 10 (VIF<10) artinya persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura telah terbebas dari masalah multikolinearitas yang serius. Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Estimasi Elastisitas No Variabel Prob>|t| VIF Parameter SR LR 1 Intercept -35.9977 DW 2. produksi minyak sawit Indonesia.0533 0 2 DHEXCPOIS 15.26495 n. Nilai uji statistik-t menunjukkan bahwa variabel delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura berpengaruh pada taraf α 20%.1067% keragaman ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura dapat dijelaskan oleh variabel delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.00 -0.03465 n.0735 lebih besar dari taraf α 5% artinya dapat disimpulkan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam persamaan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.277 Prob F 0.562. Chi-Square 0.0000****** 1.a 0. Tabel 25.185 3 PRCPOI 0. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.a 0.a 0.a n.0001****** 1.971067.

ceteris paribus.06% sedangkan rata-rata laju pertumbuhan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sebesar 8.85%. hal ini mengindikasikan bahwa selama periode tersebut laju kenaikan . Dapat dilihat bahwa selama periode tahun 1990 hingga tahun 2011 rata-rata laju pertumbuhan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura yang sebesar 292. artinya jika terjadi peningkatan produksi minyak sawit Indonesia sebesar 1 ton maka ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura akan meningkat sebesar 0.00 ton.0650 ton.70 white (Lampiran 17) didapatkan bahwa nilai probabilitas Obs*R-Square sebesar 0. Respon ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura bersifat inelastis terhadap pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura. Kemudian. Respon ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura bersifat elastis terhadap produksi minyak sawit Indonesia yaitu dengan nilai elastisitas sebesar 1. artinya jika terjadi kenaikan harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sebesar 1 dollar per ton maka ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura akan meningkat sebesar 15.03149. variabel produksi minyak sawit Indonesia berpengaruh positif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura dengan nilai estimasi parameter sebesar 0. ceteris paribus.622.0650.00.26495%.9977 lebih besar dari taraf α 5% artinya persamaan sudah terbebas dari gejala heteroskedastisitas. artinya jika terjadi peningkatan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sebesar 1% maka ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura akan menurun sebesar 2. artinya jika produksi minyak sawit Indonesia naik sebesar 1% maka akan meningkatkan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura sebesar 1. Nilai uji statistik-t dan tanda estimasi parameter menunjukkan bahwa variabel delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura berpengaruh positif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura dengan nilai estimasi parameter sebesar 15. hal ini berarti perubahan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura hanya membuat perubahan yang kecil terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura. ceteris paribus. ceteris paribus.26495. Kemudian variabel pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura berpengaruh negatif terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura dengan nilai estimasi parameter sebesar -2.03149 ton.622.

0664**** 8. Respon ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura bersifat inelastis terhadap variabel delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.74613 0.a 0. serta sabun.678245 n. Tabel 26. dan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tahun sebelumnya (LEXPKOIM). produksi minyak inti sawit Indonesia (PRPKOI).Obs* R-Square 0. dan kosmetik.444 Prob F 0.2156* 1.000000 DW 1. deterjen.a = not applicable .08044 0.046 5 LEXPKOIM 0.3282 Keterangan: ******) berpengaruh nyata pada taraf α = 1% ****) berpengaruh nyata pada taraf α = 10% **) berpengaruh nyata pada taraf α = 20% *) berpengaruh nyata pada taraf α = 25% n. d.0802 DH 1. biodiesel. Selain itu minyak sawit yang diimpor Singapura juga diperuntukkan untuk diekspor kembali (Kedutaan Besar Republik Indonesia Singapura 2013).56182 1.0525 0 2 HEXPKOIMR 0.02588 -0. Hal ini diduga karena kebutuhan minyak sawit Singapura yang digunakan sebagai bahan baku utama untuk memproduksi minyak goreng.57495 0.0005****** 5. Hasil dan Pembahasan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia Berdasarkan hasil respesifikasi model (Lampiran 18) maka didapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia.005821 0.1822** 2.a n. 71 pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura tidak menyebabkan laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura menurun.a 0. pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya (LPPKOEXI). Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia Estimasi Elastisitas No Variabel Prob>|t| VIF Parameter SR LR 1 Intercept -40774.18499 0.6612 2 R 0.154 -0.202098 Jarque-Bera 4.4 n. sehingga perubahan harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura hanya mampu membuat perubahan kecil terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura. sampo.a n.033294 0.932546 Prob. Hasil estimasi pada Tabel 26 menunjukkan bahwa perilaku ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia dijelaskan oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia (HEXPKOIMR).820 3 PRPKOI 0.406 4 LPPKOEXI -717.

Dilihat dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0. variabel ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tahun sebelumnya berpengaruh pada taraf α 1% terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. hal ini berarti 93. produksi minyak inti sawit Indonesia. Berdasarkan hasil pengujian autokorelasi dengan menghitung durbin-H didapatkan nilai h-hitung sebesar -1. . dan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tahun sebelumnya secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia dengan baik. maka disimpulkan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. Nilai uji statistik-F kurang dari taraf α 1% artinya variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. kemudian variabel produksi minyak inti sawit Indonesia berpengaruh pada taraf α 10%.202098. produksi minyak inti sawit Indonesia.3282 lebih besar dari taraf α 5% artinya error term dalam persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia terdistribusi normal.0802 lebih besar dari taraf α 5% artinya persamaan sudah terbebas dari gejala heteroskedastisitas. pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya.2546% keragaman ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia dapat dijelaskan oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. Pengujian multikolinearitas (Lampiran 20) dengan melihat nilai VIF menunjukkan bahwa tidak ada nilai VIF dari keempat variabel independen yang bernilai lebih dari 10 (VIF<10) artinya persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia telah terbebas dari masalah multikolinearitas yang serius. serta variabel pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya berpengaruh pada taraf α 25% terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. Hasil uji normalitas (Lampiran 19) didapatkan nilai Jarque-Bera sebesar 4.72 Semua tanda koefisien variabel independen pada persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia sudah sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan dan logis dari sudut pandang ekonomi. Nilai uji statistik-t menunjukkan bahwa variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia berpengaruh pada taraf α 20%.932546. pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya. dan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tahun sebelumnya. Hasil dari uji white (Lampiran 21) didapatkan bahwa nilai probabilitas Obs*R-Square sebesar 0.

005821 ton.005821. Kemudian.154. artinya jika terjadi peningkatan produksi minyak inti sawit Indonesia sebesar 1 ton maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia akan meningkat sebesar 0.154 ton. ceteris paribus.033294. artinya jika terjadi peningkatan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia sebesar 1% maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia akan menurun sebesar 717. variabel produksi minyak inti sawit Indonesia berpengaruh positif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia dengan nilai estimasi parameter sebesar 0. artinya jika terjadi kenaikan harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia sebesar 1 rupiah per ton maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia akan meningkat sebesar 0. ceteris paribus.033294 ton. Respon ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia terhadap produksi minyak inti sawit Indonesia bersifat inelastis dalam jangka pendek. sehingga perubahan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia dan harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia hanya mampu membuat perubahan kecil terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. Kemudian variabel ekspor minyak inti . Ekspor minyak inti sawit Indonesia memiliki respon inelastis terhadap variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.91378% dalam jangka panjang. ceteris paribus. ceteris paribus. hal ini diduga karena kebutuhan industri hilir kelapa sawit Malaysia yang semakin berkembang dan membutuhkan bahan baku minyak inti sawit lebih banyak sehingga Malaysia mengimpor minyak inti sawit dari Indonesia (European Union Delegation to Malaysia 2012). 73 Nilai uji statistik-t dan tanda estimasi parameter menunjukkan bahwa variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia berpengaruh positif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia dengan nilai estimasi parameter sebesar 0. namun bersifat elastis dalam jangka panjang dengan nilai elastisitas sebesar 1.74613 artinya jika produksi minyak inti sawit Indonesia naik sebesar 1% maka akan meningkatkan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia sebesar 1. Variabel pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya berpengaruh negatif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia dengan nilai estimasi sebesar -717.

hal ini menunjukkan bahwa ada tenggang waktu yang relatif lambat bagi ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia untuk menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.11024 n. Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak inti Sawit Indonesia ke Belanda Estimasi Elastisitas No Variabel Prob>|t| VIF Parameter SR LR 1 Intercept 102.453 Prob F 0.729024 Prob.004 -0. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda dengan baik.655. Nilai uji statistik-t menunjukkan bahwa variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda berpengaruh pada taraf α 25%. Hasil estimasi pada Tabel 27 menunjukkan bahwa perilaku ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda dijelaskan oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda (HEXPKOIBR).a 0.1701 2 R 0.2059* 1. Chi-Square 0.4 n.a 0.a 0.065 4 PPKOEXI -1.007852 0. kemudian variabel produksi minyak inti sawit Indonesia berpengaruh pada taraf α .a = not applicable Semua tanda koefisien variabel independen pada persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sudah sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan dan logis dari sudut pandang ekonomi.1171*** 1.a n.74 sawit Indonesia ke Malaysia tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia (PPKOEXI). Nilai uji statistik-F kurang dari taraf α 1% artinya variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda.02378 n.1071 Keterangan: ******) berpengaruh nyata pada taraf α = 1% ***) berpengaruh nyata pada taraf α = 15% *) berpengaruh nyata pada taraf α = 25% n.0009****** 1.a 0.Obs* R-Square 0. Tabel 27. Hasil dan Pembahasan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda Berdasarkan hasil respesifikasi model (Lampiran 22) maka didapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda.0010 0 2 HEXPKOIBR 0.28725 Jarque-Bera 1.062204 0. produksi minyak inti sawit Indonesia.908.514 3 PRPKOI 0.1214 DW 1. e.000024 Prob.50951 n. produksi minyak inti sawit Indonesia (PRPKOI).

007852 ton.1214 lebih besar dari taraf α 5% artinya persamaan sudah terbebas dari gejala heteroskedastisitas. Hasil uji normalitas (Lampiran 23) didapatkan nilai Jarque-Bera sebesar 1. Hasil dari uji white (Lampiran 26) didapatkan bahwa nilai probabilitas Obs*R- Square sebesar 0. artinya jika terjadi kenaikan harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sebesar 1 rupiah per ton maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda akan meningkat sebesar 0. produksi minyak inti sawit Indonesia.10% sedangkan rata-rata laju . ceteris paribus. Dapat dilihat bahwa selama periode tahun 1990 hingga 2011 rata-rata laju pertumbuhan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sebesar 14.9024% keragaman ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda dapat dijelaskan oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda.729024. Nilai uji statistik-t dan tanda estimasi parameter menunjukkan bahwa variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda berpengaruh positif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda dengan nilai estimasi sebesar 0. Respon ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda bersifat inelastis terhadap variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. 75 1% terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. Dilihat dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0.007852.1071 lebih besar dari taraf α 5% artinya error term dalam persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda terdistribusi normal. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia. dan variabel pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia berpengaruh pada taraf α 15% terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda . Pengujian multikolinearitas (Lampiran 25) dengan melihat nilai VIF menunjukkan bahwa tidak ada nilai VIF dari ketiga variabel independen bernilai lebih dari 10 (VIF<10) artinya persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda telah terbebas dari masalah multikolinearitas yang serius. hal ini berarti 72. hal ini berarti harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda hanya membuat perubahan yang kecil terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. Hasil pengujian LM- test (Breusch-Godfrey) (Lampiran 24) diketahui bahwa nilai probabilitas Chi- Square sebesar 0.1701 lebih besar dari taraf α 5% artinya dapat disimpulkan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda.

artinya jika terjadi peningkatan produksi minyak inti sawit Indonesia sebesar satu ton maka akan meningkatkan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sebesar 0. hal ini berarti produksi minyak inti sawit Indonesia hanya membuat perubahan yang kecil terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda.76 pertumbuhan harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sebesar 15. ceteris paribus.29%. Kemudian variabel pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia berpengaruh negatif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda dengan nilai estimasi sebesar -1.655. ceteris paribus.062204 ton. hal ini mengindikasikan bahwa selama periode tersebut laju kenaikan harga ekspor minyak inti sawit Indonesia tidak menyebabkan laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda mengalami kenaikan. dan roti yang digunakan oleh Belanda (CBI market survey 2009).062204.10% sedangkan rata-rata laju pertumbuhan produksi minyak inti sawit Indonesia sebesar 16. Hasil dan Pembahasan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Berdasarkan hasil respesifikasi model (Lampiran 27) maka didapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke . Respon ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda bersifat inelastis terhadap pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia. susu buatan. sehingga perubahan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia hanya mampu membuat perubahan kecil terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. f.004 ton. hal ini mengindikasikan bahwa selama periode tersebut laju kenaikan produksi minyak inti sawit Indonesia tidak menyebabkan laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda mengalami kenaikan.75%.655.004. Variabel produksi minyak inti sawit Indonesia berpengaruh positif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda dengan nilai estimasi sebesar 0. hal ini diduga karena minyak inti sawit merupakan salah satu bahan baku penting dalam industri biskuit. Dapat dilihat bahwa selama periode tahun 1990 hingga 2011 rata-rata laju pertumbuhan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda yang sebesar 14. artinya jika terjadi peningkatan pajak ekspor minyak inti sawit sebesar 1% maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda akan menurun sebesar 1. Respon ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda bersifat inelastis terhadap produksi minyak inti sawit Indonesia.

028.a = not applicable Semua tanda koefisien variabel independen pada persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina sudah sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan dan logis dari sudut pandang ekonomi.a 0.Chi Square 0.1100*** 1. sedangkan produksi minyak inti sawit Indonesia berpengaruh pada taraf α 1%.04929 n. . Nilai uji statistik-F kurang dari taraf α 1% artinya variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tahun sebelumnya.a n.6231 0.053.022 Prob F 0. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia berpengaruh pada taraf α 15% terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina. Dilihat dari koefisien determinasi (R2) sebesar 0.6816 Keterangan: ******) berpengaruh nyata pada taraf α = 1% *****) berpengaruh nyata pada taraf α = 5% ***) berpengaruh nyata pada taraf α = 15% n.000000 Prob.0000 0 2 LHEXPKOIC 68. hal ini berarti 90. 77 Cina.8241 2 R 0.a 0.49 -0.2435% keragaman ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina dapat dijelaskan oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tahun sebelumnya. Hasil estimasi pada Tabel 28 menunjukkan bahwa perilaku ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina dijelaskan oleh harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tahun sebelumnya (LHEXPKOIC).2 n.557368 Jarque-Bera 2. Tabel 28.Obs* R-Square 0. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesiasecara bersama-sama mampu menjelaskan variabel ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina dengan baik.0000****** 1. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia (PPKOEXI).610 4 PPKOEXI -1.902435 Prob.31724 n. Nilai uji statistik-t menunjukkan bahwa variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tahun sebelumnya berpengaruh terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina pada taraf α 5%.584 3 PRPKOI 0. produksi minyak inti sawit Indonesia.0442 DW 1.a 0.902435. produksi minyak inti sawit Indonesia. Hasil Estimasi Parameter dan Nilai Elastisitas Persamaan Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Estimasi Elastisitas No Variabel Prob>|t| VIF Parameter SR LR 1 Intercept -85. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia. produksi minyak inti sawit Indonesia (PRPKOI).a 0.0487***** 1.07483 1.67698 n.

artinya jika terjadi peningkatan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia sebesar 1% maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina . ceteris paribus. artinya jika terjadi peningkatan produksi minyak inti sawit Indonesia sebesar satu ton maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina akan meningkatkan sebesar 0.62318. Respon ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina bersifat elastis terhadap produksi minyak inti sawit Indonesia dengan nilai elastisitas sebesar 1.67698%.78 Hasil uji normalitas (Lampiran 28) didapatkan nilai Jarque-Bera sebesar 2. Hasil dari uji white (Lampiran 31) didapatkan bahwa nilai probabilitas Obs*R-Square sebesar 0.62318 ton. artinya jika terjadi kenaikan harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda sebesar 1 dollar per ton maka ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina akan meningkat sebesar 68.8241 lebih besar dari taraf α 5% artinya persamaan sudah terbebas dari gejala heteroskedastisitas. variabel pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia berpengaruh negatif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina dengan nilai estimasi parameter sebesar -1. Kemudian. Hasil pengujian LM-test (Breusch-Godfrey) (Lampiran 29) diketahui bahwa nilai probabilitas Chi-Square sebesar 0.028. Variabel produksi minyak inti sawit Indonesia berpengaruh positif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina dengan nilai estimasi parameter sebesar 0.67698 artinya jika produksi minyak inti sawit Indonesia naik sebesar 1% maka akan meningkatkan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina sebesar 1. ceteris paribus. Pengujian multikolinearitas (Lampiran 30) dengan melihat nilai VIF menunjukkan bahwa tidak ada nilai VIF dari ketiga variabel independen bernilai lebih dari 10 (VIF<10) artinya persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina telah terbebas dari masalah multikolinearitas yang serius. Nilai uji statistik-t dan tanda estimasi parameter menunjukkan bahwa variabel harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina dengan nilai estimasi parameter sebesar 68.6816 lebih besar dari taraf α 5% artinya error term dalam persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina terdistribusi normal.07483.0442 lebih besar dari taraf α 1% artinya dapat disimpulkan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam persamaan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina. ceteris paribus.49.07483 ton.

menurut Novindra (2011) diperlukan penurunan tingkat suku bunga yang ideal yaitu sebesar sekitar 12% per tahun untuk usaha perkebunan. g. ini mengindikasikan dalam pengembangan industri hilir Indonesia tidak akan mengalami hambatan kekurangan bahan baku. 79 akan menurun sebesar 1. Ringkasan Hasil Estimasi Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia Berdasarkan hasil estimasi yang sudah dijelaskan. penguatan linkage antara industri kecil dan menengah dengan industri besar dalam rangka alih teknologi. pengembangan . Dalam jangka panjang tidak hanya diperlukan instrumen kebijakan pajak. dalam jangka pendek ekspor minyak sawit Indonesia ke India.028. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek pajak ekspor menjadi instrumen yang penting dalam rangka pembatasan ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit untuk pengembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit di Indonesia. selain itu China merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan populasi penduduk yang besar (CBI Market Survey 2009). Hal tersebut sejalan dengan produksi minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia yang berpengaruh signifikan terhadap ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia. dan Singapura serta ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. sehingga perubahan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia dan harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina hanya mampu membuat perubahan kecil terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina. hal ini diduga karena kebutuhan minyak inti sawit Cina untuk industri hilirnya yang merupakan bahan baku utama untuk diolah kembali menjadi oleokimia dan CBS (Xiaoqiang Zou 2012). Belanda. ceteris paribus. Respon ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina bersifat inelastis terhadap harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tahun sebelumnya dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia. Belanda. dan perlu adanya peningkatan penawaran minyak sawit domestik (Domestic Market Obligation) sebesar 25%.49 ton. dan Cina dipengaruhi secara signifikan oleh pajak ekspor. Menurut Departemen Perindustrian (2009) diperlukan adanya klaster industri berbasis minyak sawit yang memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai dari industri hulunya.

serta penghapusan Perda yang menghambat pengembangan industri. .80 teknologi proses yang efisien dan berwawasan lingkungan.

Laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda tertinggi terjadi pada tahun 1999 sebesar 71.891. Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke India disebabkan India membutuhkan minyak sawit untuk diolah kembali menjadi minyak goreng. SIMPULAN DAN SARAN 7. b. Peningkatan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia disebabkan kebutuhan Malaysia untuk memproduksi oleokimia. b. deterjen.730. Laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda tertinggi terjadi pada tahun 1992 sebesar 118. Belanda. c.07%. Hal-hal yang menjadi simpulan penelitian ini adalah: 1.1. biodiesel. lotion. dan kosmetik kecantikan. dan juga untuk di ekspor kembali.15%. Peningkatan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda disebabkan kebutuhan Belanda untuk bahan baku dalam memproduksi margarin. a. dan Cina sejak tahun 1990 hingga tahun 2011 berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat. 2. Ekspor minyak sawit Indonesia ke India. . 81 VII. Laju ekspor minyak sawit Indonesia ke India tertinggi terjadi pada tahun 1999 sebesar 58.77%. sampo. serta sabun. kosmetik.76%. Laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia tertinggi terjadi pada tahun 1997 sebesar 3. biskuit dan roti. Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura disebabkan kebutuhan Singapura akan minyak sawit sebagai bahan baku berbagai jenis makanan. Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda disebabkan kebutuhan Belanda akan minyak sawit yang salah satunya dibutuhkan untuk bahan baku dalam membuat sabun. Belanda. dan Singapura sejak tahun 1990 hingga tahun 2011 berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat. Laju ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura tertinggi terjadi pada tahun 1999 sebesar 4. a. Ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia.71%.101. Simpulan Simpulan yang diperoleh pada penelitian analisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia berasal dari hasil pembahasan yang disesuaikan dengan tujuan yang diinginkan pada penelitian ini.

Harga ekspor minyak sawit Indonesia ke India. Belanda. Kebijakan pajak ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia dalam jangka pendek diperlukan untuk membatasi ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia guna mendorong pengembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke India berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke India. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. produksi minyak sawit Indonesia. produksi minyak inti sawit Indonesia. produksi minyak sawit Indonesia. Harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tahun sebelumnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor minyak sawit Indonesia ke India. Harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. Belanda. pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia tahun sebelumnya. c. b. . produksi minyak inti sawit Indonesia. Laju ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina tertinggi terjadi pada tahun 2001 sebesar 1. 4. Harga ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. 3. c. Peningkatan ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina disebabkan kebutuhan Cina akan minyak inti sawit sebagai bahan baku untuk memproduksi oleokimia dan bahan pangan diantara mie. Produksi minyak sawit Indonesia dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Belanda. dan pajak ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura.814.18%. dan lag ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia berpengaruh terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Malaysia. b. 5. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia berpengaruh terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Belanda. dan Singapura adalah: a.82 c. Delta harga ekspor minyak sawit Indonesia ke Singapura. dan Singapura adalah: a. produksi minyak inti sawit Indonesia. dan pajak ekspor minyak inti sawit Indonesia berpengaruh terhadap ekspor minyak inti sawit Indonesia ke Cina.

dan kebijakan insentif mendukung pengembangan industri hilir. Indonesia dapat mengekspor minyak goreng ke India. penyerapan tenaga kerja. d. e. Indonesia dapat mengekspor sabun. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini dalam rangka hilirisasi industri minyak sawit dan minyak inti sawit untuk meningkatkan nilai tambah. Dalam rangka pembatasan ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit untuk merangsang perkembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit perlu diterapkannya kebijakan pajak ekspor. 2. biskuit. Untuk menjadi pengekspor produk hilir minyak sawit dan minyak inti sawit. 4. Indonesia dapat mengekspor minyak goreng dan margarin ke Singapura. 6. dalam hal ini yaitu: a. Dalam rangka mendukung pengembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit pemerintah perlu memfasilitasi pengembangan infrastruktur seperti membentuk klaster industri pengolahan minyak sawit dan minyak inti sawit di sekitar perkebunan kelapa sawit. 3. Indonesia dapat mengekspor oleokimia maupun CBS ke Cina. dan margarin ke Belanda c. 5. Saran penelitian lanjutan dari penelitian ini yaitu: . dan promosi investasi. 83 7.2. pemerintah dapat memberlakukan tax holiday untuk ekspor serta penghapusan peraturan daerah yang menghambat pengembangan industri hilir minyak sawit dan minyak inti sawit. Dalam rangka menarik investor agar berinvestasi dalam hilirisasi industri minyak sawit dan minyak inti sawit pemerintah perlu mendorong peran lembaga keuangan dalam penyediaan layanan kredit dan permodalan dengan suku bunga rendah. dan perbaikan lingkungan maka penting dilakukannya beberapa hal sebagai berikut: 1. b. Indonesia dapat mengekspor margarin. Melihat kebutuhan masing-masing negara terhadap produk turunan minyak sawit dan minyak inti sawit dapat disarankan Indonesia mengembangkan industri hilir kelapa sawit dan dapat mengekspor produk hilirnya. Indonesia dapat mengekspor oleokimia ke Malaysia. dan roti ke Belanda f.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi impor minyak sawit dan minyak inti sawit dari Indonesia oleh negara lain. Analisis perkembangan ekspor dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap ekspor komoditas hilir dari minyak sawit dan minyak inti sawit Indonesia. .84 a. b.

Bogor. Badan Pusat Statistik. 2012. Departemen Perindustrian Republik Indonesia. Info Komoditi Prioritas CPO. Jakarta. Bogor. 2012. McGraw-Hill Inc. Depok. Belanda. Badan Pusat Statistik. Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. Statistik Indonesia. The Malaysian Palm Oil Sector. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Roadmap Industri Pengolahan CPO. Badan Pusat Statistik. Prajogo Hadi. Jakarta. The Netherlands: from riches to rags. Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries (CBI) Market Survey. 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Perdagangan. The Vegetable Oils and Fats (Including Oil Seeds) Market In The EU. 2002. Statistik Indonesia. . New York. Yani Saptia. 2010. Eropa. Jakarta. Albers R. 2009. Jakarta. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Skripsi. Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Negara Tujuan Ekspor Utama di Asia dan Eropa. Jakarta. M. Langedijk S. Institut Pertanian Bogor. Italia. Analisis Dampak Black Campaign Minyak Kelapa Sawit(CPO) Terhadap Volume Ekspor CPO Indonesia. 2004. Bogor. Hakim. 2006. L. Analisis Dinamika Ekspor dan Keunggulan Komparatif Minyak Kelapa Sawit (CPO) di Indonesia (Analysis of Export Dynamics and Comparative Advantage of Indonesian Crude Palm Oil). Analisis Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Ekspor Komoditas Minyak Sawit (Crude Palm Oil) Indonesia: Kasus Indonesia- India. Gujarati. Jakarta. European Union Delegation to Malaysia. D. Basic Econometric Fourth Edition. European Union Delegation to Malaysia. 85 DAFTAR PUSTAKA Agustian A. 2009.CBI (Centre for the Promotion of Imports from developing countries). Ermawati T. S. ECFIN COUNTRY FOCUS. 2004. Bachtiar Adella. ________________________. 2009. ________________________. [BPS] Badan Pusat Statistik. Statistik Ekspor Indonesia 1990-2011. [DEPDAG] Departemen Perdagangan. Dewi. 2006. Kinerja Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia. 2013. Economic analysis from the European Commission Directorate-General for Economic and Financial Affairs. 2013. [DEPPERIN] Departemen Perindustrian. Institut Pertanian Bogor.

01/1997 Tentang Pengenaan Pajak Ekspor Tambahan atas Crude Palm Oil (CPO).011/1984 Tentang Perubahan Tarif Pajak Ekspor Crude Palm Oil Refinde Bleached Deodorized Stearin dan Crude Stearin. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 47/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 439/KMK. __________________________________. Ghalia Indonesia. 1996. Market Brief Atase Perdagangan Republik Indonesia di Singapura. Kementerian Keuangan. Kedutaan Besar Republik Indonesia Singapura. Market Brief Atase Perdagangan Republik Indonesia di Den Haag.017/1996 Tentang Penetapan Besarnya Tarif dan Tata Cara Pembayaran Serta Penyetoran Pajak Ekspor. Jakarta. Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Kementerian Keuangan. Jakarta. B. Kementerian Keuangan. 2013. 2010. Jakarta. R. 1984. 1996.011/1986 Tentang Penurunan Tarif Pajak Minyak Kelapa Sawit Mentah (Crude Palm Oil). Effects of an Export Tax on Competitiveness: The Case of the Indonesian Palm Oil Industry. 1997a.dan Refined Bleached Deodorized Olein (RBD Olein). Journal of Economic Development Volume 26. 2009. [KEMENKEU] Kementerian Keuangan. http://betterpalmoildebate. Kementerian Keuangan. Hutabarat. Nadine. Kedutaan Besar Republik Indonesia Den Haag. Refined Bleached Deodorized (RBD PO). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 300/KMK.017/1994 Tentang Pengenaan Pajak Ekspor atas Crude Palm Oil (CPO). Jakarta.01/1997 Tentang Pengenaan Pajak Ekspor Tambahan .org /features /post. Country Profile: India. Jakarta. 1997b. Refined Bleached Deodorized (RBD PO). Transaksi Ekspor Impor. Hawa. Erlangga. Jakarta. H. Juanda. 1994. 2012. __________________________________. Ekonometrika Pemodelan dan Pendugaan. __________________________________. __________________________________. Jakarta. Kentucky. 2002. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 666/KMK. Kementerian Keuangan. [KBRI] Kedutaan Besar Republik Indonesia Den Haag. 1986. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 622/KMK. Mary AM. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 549/KMK. Jakarta. Hasan M. Singapura. R.php?s=2014-04-10-country-profile-india. 2001.86 Halwani. IPB Press. Den Haag. Kementerian Keuangan. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2014. [KBRI] Kedutaan Besar Republik Indonesia Singapura. Michael R.dan Refined Bleached Deodorized Olein (RBD Olein). __________________________________. Bogor.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 334/KMK. 1999a. __________________________________. 87 atas Crude Palm Oil (CPO). Minyak Kelapa. Kementerian Keuangan. dan Produk Turunannya.010/2005 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 360/PMK. dan Produk Turunannya.01/1998 Tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Minyak Sawit. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 387/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. dan Produk Turunannya. __________________________________. dan Produk Turunannya. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 242/KMK. __________________________________. dan Refined Bleached Deodorized Olein (RBD Olein). dan Produk Turunannya.017/2000 Tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Kelapa Sawit. Jakarta. __________________________________. Kementerian Keuangan. __________________________________. Minyak Kelapa. . Jakarta. Jakarta. dan Produk Turunannya. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK. CPO. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 189/PMK. dan Produk Turunannya. 2000. 2005b. CPO. __________________________________.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. __________________________________. Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan. Jakarta. Minyak Kelapa Sawit. Minyak Sawit. 1998b. 2001. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 30/PMK. 2005a. Jakarta. Minyak Kelapa. Kementerian Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK. Minyak Kelapa. Kementerian Keuangan. Minyak Kelapa. Kementerian Keuangan. Jakarta. Minyak Sawit. __________________________________.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. __________________________________. Jakarta. Kementerian Keuangan.01/1999 Tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Kelapa Sawit. Refined Bleached Deodorized (RBD PO). 1999b. Minyak Kelapa Sawit.017/2001 Tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Kelapa Sawit.01/1999 Tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Kelapa Sawit. 1998a. Jakarta. Kementerian Keuangan.01/1999 Tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Kelapa Sawit.017/1998 Tentang Penetapan Besarnya Tarip Pajak Ekspor Kelapa Sawit. Jakarta. Jakarta. 1999c.

__________________________________. Jakarta. Kementerian Perindustrian. 2008c.011/2008 Tentang Perubahan Kesepuluh atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK. Kementerian Pertanian. __________________________________. __________________________________. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK. 2007a. . Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.011/2007 Tentang Perubahan Kelima atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK. Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. __________________________________. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 94/PMK. __________________________________. Jakarta. Laporan Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Tahun 2011. Prospek dan Permasalah Industri Sawit. Kementerian Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 128/PMK. [KEMENPERIN] Kementerian Perindustrian. ________________________________. Outlook Komoditas Pertanian. Jakarta. 2007b.88 __________________________________.011/2010 Tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar. Jakarta. 2012b.011/2008 Tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar. 2011. Direktorat Jenderal Perkebunan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK. 2008b. ________________________________. [KEMENTAN] Kementerian Pertanian. 2010. 2012a. Kementerian Keuangan. Jakarta. Jakarta. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 09/PMK.011/2007 Tentang Perubahan Ketujuh atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. Kementerian Keuangan. 2012. Jakarta. Kementerian Keuangan.011/2011 Tentang Perubahan atas PMK Nomor 67/PMK. 2009. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. Jakarta. Jakarta. Jakarta.011/2010.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. Kementerian Pertanian. __________________________________.011/2008 Tentang Perubahan Kedelapan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK. Kementerian Keuangan.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. Statistik Perkebunan Indonesia (Kelapa Sawit) 2008-2010. Jakarta. 2008a.

1993. Institut Pertanian Bogor. dan Refined Bleached Deodorized Olein (RBD Olein). 1998a. Malaysia. CV. Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Penawaran dan Permintaan Palm Kernel Oil (PKO) di Indonesia. Palm Oil Sector . Malaysian Productivity Corporation. Worth Publishers. ___________. Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri. 2011. Semarang. Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Penerjemah Burhanuddin Abdullah. Jakarta. New York. M. Bogor. Universitas Sumatera Utara. [MENPERINDAG] Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 420/DJPDN/XII/1997 Tentang Produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Turunannya Selama Bulan Januari-Maret 1998 Hanya Untuk Kebutuhan Dalam Negeri. United Kingdom. J. Jakarta. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 102/MPP/Kep/2/1998 Tentang Pasokan Dalam Negeri Crude Palm Oil (CPO). 2014. Ekonomi Internasional. Menteri Perindustrian dan Perdagangan. 2006. Jakarta. Wulandari. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 181/MPP/Kep/4/1998 Tentang Pencabutan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 102/MPP/Kep/2/1998 Tentang Pasokan Dalam Negeri Crude Palm Oil (CPO). A. Mulyanto H. Agung. Mankiw. Denis. Jakarta. Jakarta. Manurung. dan Refined Bleached Deodorized Olein (RBD Olein). . 2012. Skripsi. P. Erlangga. Macroeconomics Fifth Edition. 2014. [MENDAG] Menteri Perdagangan. Pengantar Ekonomi Jilid 1. 2010. Crude Olein (CRD Olein). F. 2009. 1997. The Future of Oil Palm as A Major Global Crop: Opportunities and Challanges.26 (1). Medan. Kindleberger CP. Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBD PO). Hesti. Murphy. Crude Olein (CRD Olein). Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. I. Skripsi. Penentuan Kualitas Crude Palm Kernel Oil yang Diperoleh dari Hasil Ekstraksi Inti Sawit dengan Pelarut N-Heksan. Lubis. N. 1998b. G. 2000. Erlangga. Lindert PH. Penelitian: Metode dan Analisis. Malaysian Productivity Corporation. Jakarta. __________________________________________________________________. Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBD PO). Warta Ekspor Kampanye Negatif Kelapa Sawit Indonesia. 89 Kresnarini. Journal of Oil Palm Research Vol.

Oktaviani R. Bogor.php?cID=1. Dady. 2008. Depok. Rubinfeld DL. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit dan Produk Turunannya. Sekilas Pandang Industri Sawit.globalinterinti. Penebar Swadaya. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2014. Pohon Industri Kelapa Sawit. Sekolah Pascasarjana. Rena Yunita. 2002. 2012. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2009. Medan. Bogor. Jakarta. Nurahmat. Oktaviani R. Medan. Purwantoro. Bogor. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. S. Econometric Model and Economic Forecasts. . Langenberg. Institut Pertanian Bogor. Hermanto S. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Germany. _________________________. 2009. Majalah Usahawan LMFEUI Nomor 04/2008. Dampak Kebijakan Domestik dan Perubahan Faktor Eksternal Terhadap Kesejahteraan Produsen dan Konsumen Minyak Sawit di Indonesia. International Editions. Teori Perdagangan Internasional dan Aplikasinya di Indonesia. Pindyck RS.com/products. 2009. Purwanto. Prospek Perdagangan Gula Indonesia dalam Implementasi Kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China. Tantangan dan Strategi Produk Pertanian Indonesia Menghadapi Era Globalisasi. 1998. Eka Puspitasari. 2013. McGraw-Hill. Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Bogor.15 Nomor 2:107-119(2009). Institut Pertanian Bogor. 2008. PT Global Interinti Industry. Tesis Magister Sains. 17 Oils Fats and Biodiesel. Bogor. 2014. Agrimedia Volume 9. Skripsi.90 Novindra. Obado J. I. Products Range. Yusman S. R. Nomor 2 ISSN:0853-8464. 2014. Hamburg. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor CPO Indonesia ke India (Periode Analisis Tahun 1989-2010). Rahman. Journal ISSAAS Vol. Dampak Kebijakan Domestik dan Faktor Eksternal Terhadap Perdagangan Dunia Minyak Nabati. Institut Pertanian Bogor. http://www. 2011. Fourth Edition. N. Oil World. Sekolah Pascasarjana. Pahan. Singapore. Tesis Magister Sains. Bogor. Tanti Novianti. K. ISTA Mielke GmbH. 2011. The Impacts of Export Tax Policy on The Indonesian Crude Palm Oil Industry. 2004.

com/Market- Trends/French-firms-urged-to-back-away-from-no-palm-oil-label-claims. Schaum’s Outlines: Mikroekonomi Edisi Keempat. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2014. Susila. Kelapa Sawit kajian sosial ekonomi. Yogyakarta. R.p df. "French firms urged to back away from 'no palm oil' label claims". 1995. POP. Sipayung T. Institut Pertanian Bogor. Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. Sari. Bogor. W. Bogor. Yogyakarta. Fatimah. 2008. Aditya Media .TOTL. Salvatore. Jakarta.foe. http://data. 2012. Tasnim. D. Cina. 2010. 2004. http://www. IPB Press.co.worldbank. Greasy Palms: European Buyers of Indonesian Palm Oil. Skripsi. 2006. Penerjemah Kusnaedi. Bandung. Setyamidjaja. Winahyu R. Kanisius. Dwita Mega. Soetrisno L. 1991. Smith. Van Gelder. Salvatore. Bahasa Perdagangan. Zou.uk/sites/default/files/downloads/greasy_palms_buyers. Foodnavigator. Panen dan Pengolahan.foodnavigator. Kelapa Sawit : Tehnik Budidaya. 2011. S. Jiangnan University. 2004. Erlangga. J. Fakultas Ekonomi Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Bogor. Institut Teknologi Bandung. Tarigan B. D. Institut Pertanian Bogor. Risza. Yogyakarta. 1997. Scott-Thomas. Diakses pada tanggal 8 Agustus 2014. Masa Depan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia. Blakeslee. Population total. Jakarta. Depok. . Perkebunan Kelapa Sawit dalam Perekonomian dan Lingkungan Hidup Sumatera Utara. Ekonomi Internasional. Terjemahan Erlangga. 91 Tesis Magister Sains.W. Xiaoqiang. Diakses pada tanggal 2 Maret 2014. Bogor. Penerjemah Munandar Haris. Analisis Daya Saing dan Strategi Ekspor Kelapa Sawit (CPO) Indonesia di Pasar Internasional. 2006. 2012. Caroline. http://www. Kanisius. Membandingkan Industri CPO Malaysia dengan Indonesia. D. Faktor-faktor Determinan Ekspor CPO Indonesia 2001- 2006. Consumption Status and Trends of Palm Oil in China. World Bank.org/indicator/SP. 2008.

Bogor. Sekolah Pascasarjana. . Dinamika Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Negara-Negara Importir Utama: Analisis Cointegration dan Error Correction Model. 2006.92 Yulismi. Tesis Magister Sains. Institut Pertanian Bogor.

93 LAMPIRAN .

94 .

062.537.93 17.539.541.26 346.25 1995 2.848.001.871.00 504.402.254.67 2004 1.69 2002 1.00 3.415.82 8.958.48 219.657.00 412.096.00 44.00 98.00 3.74 3.008.801.00 0..57 1994 1.675.254.76 2006 1.00 219.50 489.673.50 426.116.00 1.00 44.00 376. Data dan Sumber Data Model Ekspor Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit Indonesia Tahun 1990-2011 Tahun EXCPOII HEXCPOII PRCPOI PCPOEXII EXCPOIB HEXCPOIB PCPOEXIB EXCPOIS 1990 2.615.421.402.870.378.14 953.841.156.08 1992 6.38 5.67 17.350.893.00 344.294.46 5.28 555.479.00 968.513.42 1.00 0.63 343.61 SUMBER BPS BPS KEMENTAN KEMENKEU BPS BPS KEMENKEU BPS 95 .81 9.50 23.40 0.61 21.39 601.42 1.068.71 2008 3.00 606.83 0.250.22 2010 4.00 2.449.508.440.00 0.834.109.00 183.00 376.15 308.40 1998 50.00 228.00 477.00 1.17 593.649.00 5.256.00 377.72 1999 29.00 948.959.81 4.96 10.00 466.00 367.756.306.65 16.78 56.00 4.87 17.834.00 307.273.00 573.293.396.00 230.276.725.57 256.44 3.345.00 340.390.00 251.434.00 12.00 2000 912.47 2.92 1991 13.69 850.93 30.266.55 6.431.00 329.30 351.727.930.85 1997 5.002.205.415.136.04 375.17 48.389.057.09 6.50 680.00 432.52 60.861.52 216.193.69 408.845.94 490.362.766.35 815.15 1.70 2003 1.00 404.00 16.788.28 603.43 1996 9.687.00 392.080.00 10.424.17 2009 4.00 446.370.00 60.34 812.658.612.460.23 2007 2.046.515.058.00 1.783.720.00 30.35 0.43 3.00 5.97 240.600.38 279.36 10.590.490.50 834.472.68 649.000.448.251.13 381.60 11.91 60.455.796.50 601.022.08 2011 4.930.74 844.227.99 0.973.54 334.508.18 282.00 0.00 386.449.000.412.742.03 3.029.885.00 1.324. 95 Lampiran 1.558.00 0.00 86.96 4.12 2001 713.83 546.75 569.29 4.54 7.00 0.00 378.333.812.00 6.78 3.00 5.421.600.99 323.87 5.00 266.745.35 372.98 5.27 445.37 6.00 60.00 70.00 6.32 260.871.33 330.58 2005 1.622.00 545.00 490.62 660.740.082.119.465.360.682.00 3.225.11 2.00 414.61 0.670.81 791.830.02 1993 4.96 10.00 360.00 263.664.00 16.16 19.37 443.898.00 569.00 10.00 10.00 709.50 669.353.

08 1.83 4.00 0.43 1.17 1996 503.00 6.537.649.00 0.676.90 1991 298.83 5.345.924.47 407.50 1995 584.81 1.176.548.12 2.401.00 492.44 2005 354.58 253.644.989.322.22 6.102.474.703.49 839.07 498.219.99 251.64 555.00 230.59 1997 1.14 942.271.35 0.024.118.00 243.70 1998 2.35 2009 590.14 545.00 26.00 10.00 2.391.470.00 184.00 503.31 30.00 445.13 2011 944.00 0.52 491.826.43 733.00 41.00 365.00 551.92 368. Lanjutan Tahun HEXCPOIS PCPOEXIS EXPKOIM HEXPKOIM PRPKOI PPKOEXI EXPKOIB HEXPKOIB 1990 253.084.55 16.00 0.804.00 0.274.00 694.507.43 414.216.831.74 2.92 44.123.00 0.945.733.03 1993 332.186.43 568.81 602.025.83 0.78 1994 349.16 605.00 0.858.415.00 265.10 640.00 442.00 0.957.03 1.00 183.00 0.291.39 656.00 8.31 1.53 3.170.104.96 2002 309.98 56.69 1.00 204.069.532.46 492.624.00 50.124.00 9.00 618.03 3.61 542.967.36 1999 306.17 3.00 6.864.00 0.260.00 50.00 132.00 0.00 0.00 259.65 521.65 6.041.42 1.34 2010 803.00 380.51 1.00 0.99 1.81 533.50 159.347.58 2007 648.95 2.77 689.13 387.71 10.308.204.00 72.50 84.00 59.22 2004 381.676.00 0.675.739.14 3.803.00 146.822.56 769.00 125.421.75 3.50 402.13 1.129.291.449.63 2003 362.93 327.05 0.00 93.30 2000 273.49 1.00 598.730.836.157.095.823.70 422.00 332.44 5.362.00 6.00 246.210.381.44 382.08 541.55 590.47 359.00 357.334.98 3.063.00 0.00 0.00 0.44 1992 346.00 407.649.00 278.14 1.267.77 3.32 605.00 283.00 169.66 60.00 0.00 17.79 693.00 0.67 796.66 2001 219.19 559.646.73 10.00 359.532.450.00 0.65 1.00 7.083.56 385.273.50 603.088.00 18.45 623.71 0.619.722.75 0.00 333.794.81 325.00 70.634.030.87 2008 811.229.00 399.96 96 Lampiran 1.00 142.91 2006 418.400.00 0.00 0.00 57.83 4.550.261.53 SUMBER BPS KEMENKEU BPS BPS KEMENTAN KEMENKEU BPS BPS .

14 97.02 10.34 73.00 75.11 119.200.85 78.91 107.400.86 111.14 416.062.75 108.00 1.98 9.38 101.02 86.58 84.74 82.28 81.71 105.76 664.53 261.000.37 110.95 95.308.72 640.22 219.36 4.47 2003 51.00 100.54 434.07 537.75 416.50 1.00 85.65 437.67 1996 0.46 115.00 660.03 2000 3.870.00 545.00 39.00 34.14 448.34 9.59 117.97 1997 5.00 51.19 467.31 92.264.94 490.75 69.72 600.28 695.56 92.00 8.74 117.00 0.45 67.83 2011 243.95 114.00 100.13 9.00 0.15 727.36 108.85 686.56 103.65 78.00 2.29 9.52 112.67 103.55 87.086.43 651.57 71.71 2009 361.00 95.84 93.00 135.28 105.595.80 559.47 312.00 2.91 102.40 8.05 75.901.29 10.00 7.58 1991 2.00 62.01 82.533.35 99.615.51 333.00 79.27 627.51 119.23 9.40 332.45 8.400.92 966.65 64.00 100.10 86.14 437.792.020.72 2001 59.23 74.45 94.00 364.28 862. Lanjutan Tahun EXPKOIC HEXPKOIC KURSI IHKI IHKB IHKS IHKM IHKC HRCPO HRPKO 1990 0.00 2.00 2.00 565.085.46 2008 212.441.00 100.00 66.06 551.58 356.991.16 93.650.076.58 95.00 89.97 113.64 106.14 105.00 151.000.00 122.55 81.02 103.42 SUMBER BPS BPS IMF IMF IMF IMF IMF IMF IMF IMF 97 .00 438.40 308.15 2006 201.71 859.64 92.940.00 82.00 100.19 2007 261.62 677.06 91.55 108.81 83.110.61 110.00 307.20 238.96 684.83 1998 0.36 109.59 239.244.00 112.73 84.15 79.125.00 47.80 103.43 96.49 377.383.748.57 90.58 719.83 1993 5.93 81.32 280.49 2004 88.91 1.94 900.00 0.93 95.085.068.87 91.61 101.000.025.75 1995 0.465.950.07 682.00 57.58 97.03 118.93 88.69 627.08 396.43 95.17 101.86 2002 20.830.10 325.021.83 2010 263.30 8.44 97.93 1999 0.28 88.37 458.00 165.05 113.73 110.00 106.78 99.290.00 367.33 581.57 416.37 478.12 100.33 1992 400.00 0.00 44.08 76.93 98.71 2005 149.992.36 70.32 410.20 2.12 1.66 9.19 644.81 581.62 114. 97 Lampiran 1.50 1.00 92.34 105.225.114.84 1994 1.123.15 101.12 888.68 121.00 0.06 624.05 95.29 9.419.416.73 1.11 97.15 97.

98 Lampiran 2. Keterangan Notasi Variabel EXCPOIB = Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda (Ton) EXCPOII = Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India (Ton) EXCPOIS = Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura (Ton) EXPKOIB = Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda (Ton) EXPKOIC = Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina (Ton) EXPKOIM = Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia (Ton) HEXCPOIB = Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda (USD/Ton) HEXCPOII = Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India (USD/Ton) HEXCPOIS = Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura (USD/Ton) HEXPKOIB = Harga Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda (USD/Ton) HEXPKOIM = Harga Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia (USD/Ton) HEXPKOIC = Harga Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina (USD/Ton) KURSI = Nilai Tukar Riil Rupiah Terhadap Dollar (Rp/US$) PCPOEXIB = Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda (%) PCPOEXII = Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India (%) PCPOEXIS = Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura (%) PPKOEXI = Pajak Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia (%) PRCPOI = Produksi Minyak Sawit Indonesia (Ton) PRPKOI = Produksi Minyak Inti Sawit Indonesia (Ton) IHKI = Indeks Harga Konsumen India IHKB = Indeks Harga Konsumen Belanda IHKS = Indeks Harga Konsumen Singapura IHKM = Indeks Harga Konsumen Malaysia IHKC = Indeks Harga Konsumen Cina HRCPO = Harga Referensi Minyak Sawit Internasional (USD/Ton) HRPKO = Harga Referensi Minyak Inti Sawit Internasional (USD/Ton) BPS = Badan Pusat Statistik Republik Indonesia Kemenkeu = Kementerian Keuangan Republik Indonesia KEMENTAN = Kementerian Pertanian Republik Indonesia IMF = International Monetary Fund .

Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India 10 Series: Residuals Sample 1990 2011 8 Observations 22 Mean 7.772461 0. S.821046 Kurtosis 5.015317 15.3323 535.540527 0. Hasil Uji Statistik: uji t.5376 Hannan-Quinn criter.07626 Durbin-Watson stat 1.681531 0. of regression 433028.72 5654.00469 F-statistic 94. Dev.38E+12 Schwarz criterion 29.930053 S. Adjusted R-squared 0.0000 PCPOEXII -10021.240153 0.D.000000 Lampiran 4. uji F.0977 1.E. Error t-Statistic Prob. 377675. 4 Std.15633 Log likelihood -314.332208 Probability 0.0 -3. HEXCPOII 824. uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Dependent Variable: EXCPOII Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 15:47 Sample: 1990 2011 Included observations: 22 Variable Coefficient Std.95796 Sum squared resid 3.1408 PRCPOI 0.042168 0 -1000000 -500000 0 500000 1000000 .67878 0.75 Maximum 791508.580687 Prob(F-statistic) 0. 99 Lampiran 3. 400906.0932 C -1390422. 29.66e-11 6 Median -10830.2 Minimum -1185107.130 -1.3 Skewness -0.3 Akaike info criterion 28.940046 Mean dependent var 1341583. dependent var 1637317.0017 R-squared 0.052169 2 Jarque-Bera 6.

307461 0.976 15.0 -0.7743 RESID(-1) 0.228166 1. Dependent Variable: EXCPOII .239426 Mean dependent var 7. Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Coefficientsa Standardized Collinearity Unstandardized Coefficients Model Coefficients t Sig. Variable Coefficient Std.000 .D.16) 0.445053 Lampiran 6.66E-11 Adjusted R-squared 0.402 PRCPOI .6 352707.8462 PRCPOI 0.5271 Hannan-Quinn criter.541 .002755 0.347534 0. of regression 400556.015 .E.531 0. Statistics B Std.291592 0. Error t-Statistic Prob.040923 0. F(2.93619 F-statistic 1. 28.1120 Obs*R-squared 5.1 Akaike info criterion 28. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) -1390422.0581 R-squared 0.784 1.193595 0.0718 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 15:47 Sample: 1990 2011 Included observations: 22 Presample missing value lagged residuals set to zero.001746 S.093 .460152 0.860 1.098 . dependent var 400906.225463 -2.002 HEXCPOII 824.160341 Prob(F-statistic) 0.276 a.57E+12 Schwarz criterion 29.332 535.305 377675.7466 0.014232 0.030 -3. Chi-Square(2) 0.772 .491 5281.243772 0. Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 2.240 .1966 RESID(-2) -0.007347 Durbin-Watson stat 2.8105 C -102846. HEXCPOII 98.163 PCPOEXII -10021.3 S.518367 Prob.267365 Prob.116 -1.141 .679 .105 1.100 Lampiran 5.8489 PCPOEXII 1287.15657 497.16365 Log likelihood -311.86610 Sum squared resid 2.682 .713 1.197202 0.130 -.724 5654.

55E+10 1.301656 . Chi-Square(9) 0. of regression 2.45E+12 -1.9 3147088.45015 Log likelihood -605.3017 Obs*R-squared 11. 0.580999 0.683 -1.8755 PRCPOI*PCPOEXII -2949.2644 PCPOEXII^2 -2.128295 0.316337 0.003406 -0.5720 HEXCPOII^2 103444.854515 0.12840 Prob.81E+08 -0.160103 0. 56.11E+08 3.4965 Hannan-Quinn criter.348175 0.2812 HEXCPOII 2.09350 Prob.000545 0.553552 0.07105 F-statistic 1.4096 PRCPOI 182684.5901 R-squared 0.135214 S.526371 0.53E+11 Adjusted R-squared 0.032870 0.364829 Durbin-Watson stat 2.94E+11 Akaike info criterion 55.163148 Prob(F-statistic) 0.95422 Sum squared resid 1.50E+10 5.68E+09 0. 101 Lampiran 7.2126 PRCPOI^2 -0. C -1.D.12) 0. Chi-Square(9) 0. Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Heteroskedasticity Test: White F-statistic 1.16E+11 S.380 2187.170692 0. F(9.505836 Mean dependent var 1. Error t-Statistic Prob.64E+12 1.2025 PCPOEXII 6.1528 HEXCPOII*PCPOEXII -50967268 59644658 -0.2670 Scaled explained SS 15.14E+09 3.0884 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 15:47 Sample: 1990 2011 Included observations: 22 Variable Coefficient Std.0641 -1.9743 HEXCPOII*PRCPOI -226. dependent var 3.04E+24 Schwarz criterion 56.3 138782.E.364829 Prob.3 1.0007 148.

01744 Log likelihood -277.3496 0.69 3.593308 S.81848 Sum squared resid 3.092886 0.900658 0.925187 0. DHEXCPOIB 19.5 S.5941 Hannan-Quinn criter.04e-11 3 Median 1458.72576 Durbin-Watson stat 1. uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Dependent Variable: EXCPOIB Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 15:53 Sample (adjusted): 1991 2011 Included observations: 21 after adjustments Variable Coefficient Std.005525 4. Hasil Uji Statistik: uji t.026166 0.883782 0 -200000 0 200000 .9 2 Std.E.3 Skewness -0.0 Akaike info criterion 26. 26.9271 PRCPOI 0.102 Lampiran 8.D.0002 PCPOEXIB -1505. Dev. 136519. Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda 5 Series: Residuals Sample 1991 2011 4 Observations 21 Mean 8.247091 Probability 0.0 76947.000342 Lampiran 9. dependent var 232194.86166 F-statistic 10.792462 Prob(F-statistic) 0. Error t-Statistic Prob.131 1671.146 -0.3 Adjusted R-squared 0. of regression 148076.7 Minimum -282085.654312 Mean dependent var 547987.0011 R-squared 0.414 Maximum 253493.16690 206.557750 1 Jarque-Bera 0.73E+11 Schwarz criterion 27. uji F.147313 Kurtosis 2.736180 0.3804 C 302034.

880502 0.093 . Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Coefficientsa Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Model B Std. dependent var 136519.259773 Prob.62 -0.460218 0. of regression 138189.004898 0.167 206.E.0505 R-squared 0.046 PRCPOI .858 1.743 4.503924 Lampiran 11.927 . Chi-Square(2) 0.311661 -2.901 .965455 0.3925 RESID(-1) -0.001 DHEXCPOIB 19.166 a.662547 0.736 .925 . Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 2.04403 Log likelihood -274.4251 PCPOEXIB 1751. 26.3 S. Dependent Variable: EXCPOIB .0879 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 15:54 Sample: 1991 2011 Included observations: 21 Presample missing value lagged residuals set to zero.4728 PRCPOI 0. 103 Lampiran 10.014 . Error Beta t Sig.380 . DHEXCPOIB 154.819841 0.6520 RESID(-2) -0.134827 0.825 1.131 1671.3205 209.3496 C -73200.736470 0.042 76947.350 .212 PCPOEXIB -1505.005975 0.125856 0.86E+11 Schwarz criterion 27.961 1814.5406 0.292963 -0.D.647 0.3 Akaike info criterion 26.146 -.139 -. Variable Coefficient Std.024614 S.81036 F-statistic 0.686 3.1387 Obs*R-squared 4.956 1.231540 Mean dependent var 8.862330 Prob.15) 0. F(2.000 .015983 Prob(F-statistic) 0.026 . Error t-Statistic Prob.903909 Durbin-Watson stat 2.18 83134.74559 Sum squared resid 2.006 .04E-11 Adjusted R-squared -0. Tolerance VIF 1 (Constant) 302034.8287 Hannan-Quinn criter.

D. 50.443 3310.74E+10 1.6345 DHEXCPOIB^2 93721.54E+10 -1.264904 -1.5259 DHEXCPOIB*PRCPOI -8.750867 Mean dependent var 1.0228 Obs*R-squared 15.893618 0.683683 Prob. Error t-Statistic Prob.1608 129.547031 S.53E+10 Akaike info criterion 50.0719 Scaled explained SS 8.04304 Sum squared resid 2. of regression 1.78E+10 Adjusted R-squared 0.0862 PCPOEXIB^2 45127208 28343915 1.532457 0.57E+21 Schwarz criterion 50. Chi-Square(9) 0.3 0.1537 DHEXCPOIB*PCPOEXIB 1696129.15098 F-statistic 3.048397 Prob. dependent var 2.4519 Hannan-Quinn criter.687 1.683683 Durbin-Watson stat 1.104 Lampiran 12.2828 DHEXCPOIB 40900398 83653170 0.689209 0.884412 0.19E+09 -1.11) 0. 0.E.000152 -1.637565 0.129228 0.3907 PRCPOI 5592.022844 .27E+10 S. Chi-Square(9) 0.76821 Prob.000175 0.3469 2.0231 PCPOEXIB -4. C -1.068240 5.2717 PRCPOI*PCPOEXIB 341. 1898047.5293 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 15:54 Sample: 1991 2011 Included observations: 21 Variable Coefficient Std.54043 Log likelihood -515. F(9.655112 0.488928 0.1397 R-squared 0.79 143062.1193 PRCPOI^2 -0.157088 0.642950 Prob(F-statistic) 0.12E+09 2.592130 0. Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Belanda Heteroskedasticity Test: White F-statistic 3.

uji F. Error t-Statistic Prob.965961 S.95992 0.001503 20.2549 Hannan-Quinn criter.211324 Kurtosis 2.83 Akaike info criterion 24.E.31000 Sum squared resid 3.81 2 Skewness 0.03E+10 Schwarz criterion 24.900227 0. Hasil Uji Statistik: uji t. Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura 6 Series: Residuals Sample 1991 2011 5 Observations 21 4 Mean -1. 24.08 -1.56 3 Minimum -69744. 38947.50895 Log likelihood -251.09e-11 Median 1725.166336 Probability 0.1067 R-squared 0. of regression 42244.73 20879.892915 1 Jarque-Bera 0.920196 0 -50000 0 50000 100000 . DHEXCPOIS 15.73477 0. Dev.583526 0.031496 0.000000 Lampiran 14.971067 Mean dependent var 255692.3806 PRCPOI 0.3 S.31 Std.0000 PCPOEXIS -2622.703271 0.275476 Prob(F-statistic) 0.D.35317 F-statistic 190.0 Adjusted R-squared 0.06509 16.000 572.0487 -4. dependent var 228973.0003 C -35562. 105 Lampiran 13. uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Dependent Variable: EXCPOIS Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 16:03 Sample (adjusted): 1991 2011 Included observations: 21 after adjustments Variable Coefficient Std.634 Maximum 92363.1868 Durbin-Watson stat 2.

24.15) 0.322588 -2.176004 0. Tolerance VIF 1 (Constant) -35562.584 .992700 Durbin-Watson stat 1.481750 Prob.27938 F-statistic 0. Variable Coefficient Std. Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 2.000847 0.092315 0.98010 1. Error t-Statistic Prob.065 16. of regression 38983.28E+10 Schwarz criterion 24.454712 Lampiran 16.241812 -1.103 19579.000 572.81 S. Error Beta t Sig.031 .51305 Log likelihood -248.002 .2535 Hannan-Quinn criter.8626 RESID(-1) -0.21462 Sum squared resid 2.001828 S.040 .844 1.049 -.106 Lampiran 15. Dependent Variable: EXCPOIS .0540 R-squared 0.264135 0.D.09E-11 Adjusted R-squared -0.72 20879.22405 18.942270 Prob(F-statistic) 0.960 .001451 0.2919 RESID(-2) -0.1172 Obs*R-squared 5.0989 565. dependent var 38947.E.0387 -0.908 1. Chi-Square(2) 0.5680 PCPOEXIS -358.900 . F(2.221204 Prob.101 PCPOEXIS -2622.583802 0. DHEXCPOIS 23.5358 C -3446.703 .083 -1.107 PRCPOI .735 .214 -4.783 1.277 DHEXCPOIS 15.0735 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 16:03 Sample: 1991 2011 Included observations: 21 Presample missing value lagged residuals set to zero.090554 0.71 -0.674388 0.907 20.381 .248629 Mean dependent var -1.185 a.633760 0.2400 PRCPOI 0.223600 0. Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Coefficientsa Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Model B Std.40 Akaike info criterion 24.000 .000 .

880202 Prob.9994 Obs*R-squared 1.65E+09 Akaike info criterion 46.60389 510.7641 DHEXCPOIS*PRCPOI -0.04E+09 S.246184 0.6777 Hannan-Quinn criter.11) 0.1 3581961.154373 18.03813 Log likelihood -478.24E-05 0.307628 0.40002 -0.8101 PCPOEXIS^2 -513033.3 -0.067578 Mean dependent var 1.49E+09 0.3989 0.361918 0.6662 PCPOEXIS 61822732 2.999444 . 107 Lampiran 17. F(9.44E+09 Adjusted R-squared -0.7243 DHEXCPOIS 4905720.399 0.180097 1.081512 0.288966 0. Error t-Statistic Prob.084182 Prob(F-statistic) 0.088581 Durbin-Watson stat 2.143227 0. dependent var 2.84E-06 2.695314 S.74E+19 Schwarz criterion 47. C 9.090488 -0.7918 DHEXCPOIS^2 1289.02E+08 2. Chi-Square(9) 0. -0. 46. Chi-Square(9) 0. 18134787 0.51E+08 0.8887 R-squared 0.8718 DHEXCPOIS*PCPOEXIS -93579. of regression 2.419129 Prob.D.00 323841.082121 0.9360 PRCPOI*PCPOEXIS -8.270514 0.54074 Sum squared resid 7.9977 Scaled explained SS 0.700 4192.088581 Prob. Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Singapura Heteroskedasticity Test: White F-statistic 0.64868 F-statistic 0.9997 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 16:03 Sample: 1991 2011 Included observations: 21 Variable Coefficient Std.7780 PRCPOI 41.9365 PRCPOI^2 1.165153 0.443172 0.E.

HEXPKOIMR 0.493694 2 Jarque-Bera 4.62e-12 Median -1307.932546 Mean dependent var 112177.005821 0.E.584378 0.933864 0. uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia Dependent Variable: EXPKOIM Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 20:52 Sample (adjusted): 1991 2011 Included observations: 21 after adjustments Variable Coefficient Std.108 Lampiran 18.823927 Kurtosis 4.070532 0.D.42 -1.2 Adjusted R-squared 0.166623 4. 38399.1544 888. of regression 42932.006234 0.4312 LEXPKOIM 0.328229 1 Probability 0.114852 0 -100000 -50000 0 50000 100000 .39 23724. uji F.29960 Durbin-Watson stat 1.62559 Log likelihood -250.37689 Sum squared resid 2.1050 R-squared 0. Dev.0641 -0. dependent var 147851. Hasil Uji Statistik: uji t.678245 0.718668 0.25 Akaike info criterion 24.000000 Lampiran 19.033294 0.0009 C -40774.212 5 Maximum 101742.021014 1. 24.95E+10 Schwarz criterion 24.5 Minimum -75708.915682 S.77 3 Skewness 0.43086 F-statistic 55.661223 Prob(F-statistic) 0.1 S.807548 0.9574 Hannan-Quinn criter.1327 LPPKOEXI -717.3643 PRPKOI 0.95 4 Std. Error t-Statistic Prob. Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Malaysia 9 Series: Residuals 8 Sample 1991 2011 Observations 21 7 6 Mean -7.

406 LEXPKOIM .001 .678 .105 PRPKOI .184 5.167 .355 2.154 888.102 .021 .006 .046 HEXPKOIMR . 109 Lampiran 20.064 -.071 . Error Beta t Sig.808 . Tolerance VIF 1 (Constant) -40774.617 4.444 LPPKOEXI -717.119 8. Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Malaysia Coefficientsa Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Model B Std.006 .584 .39 23724.054 -.719 .364 .820 a.033 . Dependent Variable: EXPKOIM .934 .956 1.133 .421 -1.298 1.431 .

110

Lampiran 21. Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit
Indonesia ke Malaysia
Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 31.65306 Prob. F(13,7) 0.0001
Obs*R-squared 20.64874 Prob. Chi-Square(13) 0.0802
Scaled explained SS 20.93870 Prob. Chi-Square(13) 0.0741

Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 09/27/14 Time: 20:55
Sample: 1991 2011
Included observations: 21
Collinear test regressors dropped from specification

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -4.59E+08 1.82E+09 -0.251829 0.8084
HEXPKOIMR 772.5239 1069.802 0.722119 0.4936
HEXPKOIMR^2 0.000194 0.000169 1.146692 0.2892
HEXPKOIMR*PRPKOI -0.002081 0.001861 -1.118700 0.3002
HEXPKOIMR*LPPKOEXI -167.0330 262.0049 -0.637519 0.5441
HEXPKOIMR*LEXPKOI
M 0.033475 0.034097 0.981736 0.3589
PRPKOI 441.0118 3109.750 0.141816 0.8912
PRPKOI^2 0.001892 0.001597 1.184438 0.2749
PRPKOI*LPPKOEXI 9149.249 13632.05 0.671157 0.5236
PRPKOI*LEXPKOIM -0.041827 0.038439 -1.088133 0.3126
LPPKOEXI -3.71E+10 6.01E+10 -0.617267 0.5566
LPPKOEXI^2 5.16E+08 8.34E+08 0.618089 0.5561
LEXPKOIM 17371.66 67744.05 0.256431 0.8050
LEXPKOIM^2 -0.155662 0.322180 -0.483150 0.6437

R-squared 0.983273 Mean dependent var 1.40E+09
Adjusted R-squared 0.952209 S.D. dependent var 2.69E+09
S.E. of regression 5.88E+08 Akaike info criterion 43.45707
Sum squared resid 2.42E+18 Schwarz criterion 44.15342
Log likelihood -442.2993 Hannan-Quinn criter. 43.60820
F-statistic 31.65306 Durbin-Watson stat 2.272251
Prob(F-statistic) 0.000061

111

Lampiran 22. Hasil Uji Statistik: uji t, uji F, uji koefisien determinasi untuk
Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda
Dependent Variable: EXPKOIB
Method: Least Squares
Date: 09/27/14 Time: 20:56
Sample: 1990 2011
Included observations: 22

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HEXPKOIBR 0.007852 0.009346 0.840111 0.4119
PRPKOI 0.062204 0.016986 3.662165 0.0018
PPKOEXI -1655.004 1344.522 -1.230924 0.2342
C 102908.4 26962.69 3.816694 0.0013

R-squared 0.729024 Mean dependent var 251911.8
Adjusted R-squared 0.683862 S.D. dependent var 114015.3
S.E. of regression 64106.44 Akaike info criterion 25.13744
Sum squared resid 7.40E+10 Schwarz criterion 25.33581
Log likelihood -272.5119 Hannan-Quinn criter. 25.18417
F-statistic 16.14221 Durbin-Watson stat 1.287250
Prob(F-statistic) 0.000024

Lampiran 23. Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke
Belanda
6
Series: Residuals
Sample 1990 2011
5
Observations 22

4 Mean 1.85e-11
Median 9407.215
Maximum 116400.9
3 Minimum -151099.2
Std. Dev. 59351.03
2 Skewness -0.490172
Kurtosis 3.496758

1 Jarque-Bera 1.107190
Probability 0.574880
0
-100000 0 100000

112

Lampiran 24. Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke
Belanda
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:

F-statistic 1.535630 Prob. F(2,16) 0.2454
Obs*R-squared 3.542909 Prob. Chi-Square(2) 0.1701

Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 09/27/14 Time: 20:57
Sample: 1990 2011
Included observations: 22
Presample missing value lagged residuals set to zero.

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

HEXPKOIBR -0.003713 0.009327 -0.398134 0.6958
PRPKOI 0.000731 0.016820 0.043478 0.9659
PPKOEXI 715.8182 1405.102 0.509442 0.6174
C 9520.540 27571.80 0.345300 0.7344
RESID(-1) 0.228932 0.290969 0.786794 0.4429
RESID(-2) 0.336240 0.358687 0.937420 0.3625

R-squared 0.161041 Mean dependent var 1.85E-11
Adjusted R-squared -0.101133 S.D. dependent var 59351.03
S.E. of regression 62279.95 Akaike info criterion 25.14367
Sum squared resid 6.21E+10 Schwarz criterion 25.44122
Log likelihood -270.5803 Hannan-Quinn criter. 25.21376
F-statistic 0.614252 Durbin-Watson stat 1.864428
Prob(F-statistic) 0.690698

Lampiran 25. Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit
Indonesia ke Belanda
Coefficientsa
Unstandardized Standardized Collinearity
Coefficients Coefficients Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 102908.360 26962.693 3.817 .001

HEXPKOIBR .008 .009 .175 .840 .412 .347 2.885
PRPKOI .062 .017 .728 3.662 .002 .381 2.625
PPKOEXI -1655.004 1344.522 -.163 -1.231 .234 .860 1.163
a. Dependent Variable: EXPKOIB

949 -1.456650 0.001973 -1.5940 HEXPKOIBR 4825.061132 0.94 8561.1077 R-squared 0.0077 HEXPKOIBR*PPKOEXI 795.5445 PRPKOI -10060.05E+08 60307662 1.175076 0. of regression 4.36E+09 Adjusted R-squared 0.D.7083 Hannan-Quinn criter. C 2.02623 Prob. 113 Lampiran 26.9835 526.44E+09 S.E. Chi-Square(9) 0.001754 3.17E+09 0.345393 Prob.12) 0.89E+09 -1.1439 1274.001795 0.2295 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 20:58 Sample: 1990 2011 Included observations: 22 Variable Coefficient Std. Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Belanda Heteroskedasticity Test: White F-statistic 2.192351 0.657403 0.1709 HEXPKOIBR*PRPKOI 0.05E+10 9.637556 Mean dependent var 3.369645 Prob(F-statistic) 0.009 0.833 0.085038 . 47.83E+09 5.003270 0.668865 0.638 7126.25E+20 Schwarz criterion 48.3095 PPKOEXI^2 1. dependent var 5.1214 Scaled explained SS 11.005599 0.33E+09 Akaike info criterion 47.01486 Log likelihood -512. F(9. Error t-Statistic Prob.5111 HEXPKOIBR^2 -0.1210 PPKOEXI -1.0962 1.365722 S. Chi-Square(9) 0.0850 Obs*R-squared 14.738295 0.1233 PRPKOI*PPKOEXI 877.72160 Prob.345393 Durbin-Watson stat 2.63576 F-statistic 2.547646 0.677187 0.2628 PRPKOI^2 -0.001232 -1.623724 0.51894 Sum squared resid 2.

884826 2 Jarque-Bera 2.885218 S.496 807.008396 8.62318 39.17950 Sum squared resid 2.753809 0. Hasil Uji Statistik: uji t. 24. 36487.5735 -1.12809 1.681619 1 Probability 0.43 Akaike info criterion 24.66 3 Skewness 0.273563 0.13 -5.03 Adjusted R-squared 0. PRPKOI 0.902435 Mean dependent var 91897.15 16896.0000 PPKOEXI -1028. of regression 39576. uji koefisien determinasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Dependent Variable: EXPKOIC Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 19:35 Sample (adjusted): 1991 2011 Included observations: 21 after adjustments Variable Coefficient Std.08 Minimum -63289.22268 F-statistic 52.54e-12 Median -1755.8847 Hannan-Quinn criter.41439 Durbin-Watson stat 1.114 Lampiran 27.557368 Prob(F-statistic) 0.2 S. Uji Normalitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina 9 Series: Residuals 8 Sample 1991 2011 Observations 21 7 6 Mean -5.356 5 Maximum 96586. uji F.39 4 Std.2200 LHEXPKOIC 68.66E+10 Schwarz criterion 24. dependent var 116815.755280 Kurtosis 3.37845 Log likelihood -249.033883 0.E. Error t-Statistic Prob.000000 Lampiran 28.0001 R-squared 0.912053 0.0975 C -85053. Dev.261634 0 -50000 0 50000 100000 .D.074830 0.

10311 -0.623 39.220 .633 1.915 1.35138 Sum squared resid 2. of regression 41742.E.D.386873 Prob.86 0.320644 0.045119 0.43 Akaike info criterion 24.592 1.15) 0.140762 Prob.6895 Hannan-Quinn criter.034 . 24.274 .126234 0.8061 R-squared 0.249775 0.3527 -0. F(2.496 807.64982 Log likelihood -249.132 -5.8906 RESID(-1) 0.579 PPKOEXI -1028. 115 Lampiran 29.733234 Prob(F-statistic) 0.693559 45.754 .848 8.8241 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 19:37 Sample: 1991 2011 Included observations: 21 Presample missing value lagged residuals set to zero.075 .397 18821.128 . PRPKOI -0.056305 Durbin-Watson stat 1.54E-12 Adjusted R-squared -0.8698 Obs*R-squared 0.287050 0.41615 F-statistic 0.468763 0.6460 RESID(-2) 0.056693 0.15 16896.000 LHEXPKOIC 68. Error Beta t Sig.093 a.097 . Tolerance VIF 1 (Constant) -85053. Dependent Variable: EXPKOIC .912 . Chi-Square(2) 0.688 PRPKOI .080089 0.008 .61E+10 Schwarz criterion 24.134559 0.000 .9012 C 2632.66 S.574 -.139859 0.9555 LHEXPKOIC -5. Variable Coefficient Std.60566 857.997533 Lampiran 30.101 -1.308770 S. Error t-Statistic Prob.9646 PPKOEXI -48. dependent var 36487.018423 Mean dependent var -5.008939 -0. Uji Autokorelasi untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0. Uji Multikolinearitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Coefficientsa Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics Model B Std.173 1.000403 0.

14187 F-statistic 5. Chi-Square(9) 0.000416 -2.3985 R-squared 0.913679 0.53132 Log likelihood -462. of regression 1. 1118676.823976 Mean dependent var 1.833895 0.0264 PPKOEXI*LHEXPKOIC -4053285.0044 Obs*R-squared 17. Error t-Statistic Prob.25E+09 Akaike info criterion 45.1979 PRPKOI 494.0141 PRPKOI*PPKOEXI 782.561981 0.370211 0.252342 0. -3.2364 PPKOEXI^2 37799782 14754121 2.623288 0.721257 Durbin-Watson stat 1.39E+08 5.30349 Prob.03393 Sum squared resid 1.0059 LHEXPKOIC^2 4640.8562 Hannan-Quinn criter.878417 0. 45.7203 PRPKOI^2 -0. -3.11) 0.0442 Scaled explained SS 16.0598 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 09/27/14 Time: 19:37 Sample: 1991 2011 Included observations: 21 Variable Coefficient Std.71E+19 Schwarz criterion 45.81E+09 1.27E+09 Adjusted R-squared 0.258 0. Chi-Square(9) 0.367396 0.0328 2.534786 Prob(F-statistic) 0. C 1.403597 0.32E+09 1.2480 276.001212 0.513687 2. F(9.0040 LHEXPKOIC -11173621 3282886.1955 1345.E. Uji Heteroskedastisitas untuk Ekspor Minyak Inti Sawit Indonesia ke Cina Heteroskedasticity Test: White F-statistic 5. dependent var 2.132 0.004384 .205675 3.21E+09 S.90E+08 -1.859902 0.116 Lampiran 31.D.0163 PRPKOI*LHEXPKOIC 8.0027 PPKOEXI -7.905 5283.679956 S.721257 Prob.35621 Prob.

penulis aktif dalam organisasi Himpunan Profesi Kemahasiswaan REESA (Resources and Environmental Economics Student Association) sebagai staf Enterpreneuship 2011/2012 dan staf Campus Social Responsibility 2012/2013. TFGV sebagai ketua pelaksana. Logstran. Pada tahun yang sama penulis diterima di IPB melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). lahir pada tanggal 19 Nopember 1992 di Jakarta. Penulis juga pernah menjadi moderator dalam acara Bedah Film. dan Dekorasi. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 12 Grogol. Makrab ESL. Selama mengikuti perkuliahan. Fotografi. Desain. pasangan Bapak Sumarno dan Ibu Endah Trisnowati. Sportakuler sebagai staf divisi sponsorship dan staf divisi pertandingan. 117 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Satria Nugroho. Penulis juga aktif mengikuti berbagai seminar nasional dan internasional. Penulis merupakan ketua dalam organisasi Agri Fixed Gear IPB. . Penulis diterima di Program Studi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Penulis menamatkan pendidikan sekolah menengah atas pada tahun 2010 di Sekolah Menengah Atas Negeri 23 Jakarta Barat. Penulis juga aktif mengikuti karya tulis ilmiah tingkat mahasiswa seperti Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) dan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis (PKM- GT). Penulis menempuh pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Grogol 03 Pagi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan seperti ESLDay sebagai Kadiv. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara. sebagai Kadiv.