PERSEBARAN SPASIAL IKAN DI SUNGAI

SUSANTI MARIA YOSEFA SALU
C251160111
Pengelolaan Sumber Daya Perairan
Santisalu380@gmail.com

Abstrak

Sungai merupakan perairan umum yang mengalir dari hulu ke hilir dan dihuni oleh berbagai
macam jenis ikan yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Makalah ini bertujuan untuk
mendeskripsikan keragaman kumpulan ikan secara spasial serta melihat faktor lingkungan
utama yang mempengaruhi distribusi ikan, keragaman dan struktur kumpulan ikan dan untuk
mengetahui jenis-jenis ikan dari hulu sampai ke hilir, bentos dan plankton di daerah sungai.
Jenis ikan yang sering di jumpai di sungai bagian hulu adalah kelompok hewan shredders,
seperti Scathophagidae dan Tipulidae, bagian tengah sungai seperti kelompok grazers dan
melimpahnya kelompok hewan collectors berada pada sungai bagian hilir. Keanekaragaman
spesies ikan dalam ekosistem sungai dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan sungai.
Keanekaragaman jenis yang tinggi mengindikasikan keadaan sungai belum tercemar dan
sebaliknya, jika keanekaragaman jenis dalam ekosistem sungai rendah mengindikasikan bahwa
sungai telah tercemar. Faktor lingkungan perairan yang mempengaruhi kehidupan ikan di
sungai adalah temperatur, intensitas cahaya, derajat keasaman (pH), kadar oksigen terlarut,
kedalaman, BOD, COD. Plankton dan Bentos merupakan organisme perairan yang
keberadaannya dapat dijadikan indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai dari hulu
sampai ke hilir.

Kata kunci : Sungai, ikan, faktor lingkungan, plankton, bentos

BAB I PENDAHULUAN
Sungai merupakan suatu bentuk ekositem akuatik yang mempunyai peran penting
dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi
daerah disekitarnya. Sebagai suatu ekosistem, sungai mempunyai berbagai komponen
biotik dan abiotik yang saling berinteraksi membentuk suatu jalinan fungsional yang
saling mempengaruhi. Komponen pada ekosistem sungai akan terintegrasi satu sama
lainnya membentuk suatu aliran energi yang akan mendukung stabilitas ekosistem
tersebut (Suwondo dkk.2004:15).
Beberapa biota akuatik yang dapat dijadikan sebagai indikator perairan adalah
plankton, makrozoobentos, dan ikan. Makrozoobentos merupakan salah satu biota
akutik yang memiliki peranan sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan dan

industri. 2006: 41). Namun. Adanya dinamika tersebut akan mengakibatkan suatu sungai berada dalam suatu keseimbangan ekologis sejauh sungai tersebut tidak menerima bahan asing dari luar sungai.juga merupakan suatu penghubung mata rantai aliran energi dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi (Goldman & Horne 1983: 186 & 243. Sungai merupakan torehan di permukaan bumi yang merupakan penampung dan penyaluran alamiah aliran air dan material yang dibawanya dari bagian hulu ke bagian hilir suatu daerah pengaliran ke tempat yang lebih rendah dan akhirnya bermuara ke laut. pertanian. diantaranya adalah menurunnya kualitas air (Soewarno 1991: 20). Energi yang mengalir di dalam sungai terutama diperoleh dari daratan di sekitar sungai dibandingkan dari dalam sungai sendiri. Suartini dkk. dan pemanfaatan lainnya. Energi yang diperoleh ekosistem sungai merupakan materi organik allochtonous ke dalam air dari daratan yang digunakan oleh organisme akuatik. Sungai merupakan system yang dinamis dengan segala aktivitas yang berlangsung antara komponen – komponen lingkungan yang ada didalamnya. . Terdapat permasalahan terhadap siklus materi yang terjadi di ekosistem sungai. karena substansi tersebut terbawa ke dasar perairan akibat dari arus yang mengalir. substansi tersebut dapat digunakan oleh organisme bentik yang hidup di dasar perairan (Lampert & Sommer 2007: 247). Hulu sungai biasanya merupakan daerah dataran tinggi yang rawan akan erosi. BAB II PEMBAHASAN 2. Pada batas kisaran tertentu pengaruh bahan asing ini masih dapat ditolerir dan kondisi keseimbangan masih tetap dapat dipertahankan. sumber mineral. Sungai juga merupakan sumber air bagi masyarakat yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan kegiatan. Konsep ekosistem yang diterapkan pada sungai merujuk pada ekosistem air mengalir.1 Persebaran ikan di sungai Bagian hulu sungai (upstream) merupakan daerah mata air dari aliran sungai itu sendiri. seperti kebutuhan rumah tangga. Kegiatan-kegiatan tersebut bila tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif terhadap sumberdaya air. Substansi yang dihasilkan dari proses dekomposisi tidak tersedia untuk organisme produsen.

Kedalaman air pada bagian tersebut relatif dalam dan turbiditas rendah sehingga materi organik yang dihasilkan dari perairan (autochthonous) mendominasi. Jenis makanan yang dibawa dari bagian hulu menjadi lebih halus Fine Particulate Organic Matter (FPOM) di gunakan kelompok hewan grazers pada bagian tengah sungai untuk mengkonsumsinya. Hal tersebut dikarenakan sisa materi CPOM terurai menjadi Fine Particulate Organic Matter (FPOM) yang terbawa oleh arus dari bagian hulu yang sebelumnya telah digunakan (Lorenz 2003: 130--132). terdapat masukan materi organik allochtonous dalam jumlah besar berupa CPOM. Materi organik kasar yang sebelumnya dimanfaatkan oleh kelompok hewan shredders berubah menjadi materi organik halus (FPOM).al. Selama ukuran sungai semakin besar. Menurunnya kelompok shredders di sungai bagian tengah terjadi karena menurunya materi organik kasar yang biasa dimanfaatkan (Roth 2009: 45). Namun demikian. Vegetasi di sepanjang sungai menjadi kurang berperan pada sungai ordo tinggi. Kelompok biota akuatik shredder seperti Scathophagidae dan Tipulidae menghuni bagian hulu sungai dan memanfaatkan materi organik tersebut. Sungai bagian tengah (middle stream) merupakan daerah peralihan antara hulu dan hilir sungai. Sungai bagian tengah mempunyai morfologi sungai yang lebih lebar dibandingkan dengan sungai bagian hulu. Perubahan tersebut terjadi karena materi organik kasar mengalami penguraian oleh organisme shredders mejadi materi organik halus yang seterusnya akan dimanfaatkan oleh kelompok hewan grazers atau scraper. Sudut kemiringan yang dibentuk di daerah tengah cenderung lebih kecil sehingga kecepatan aliran sungai bila dibandingkan dengan bagian hulu relatif lebih lambat (Louhi et. Hal tersebut mengurangi penetrasi cahaya matahari yang langsung mengenai badan sungai. 2010: 1315).substrat bagian hulu berupa pasir bebatuan dan kelompok hewan yang sering ditemui adalah hewan pemakan materi organik kasar Coarse Particulate Organic Matter (CPOM) seperti melimpahnya kelompok hewan shredders. Sungai bagian hulu umunya sering dikelilingi oleh vegetasi. River Continuum Concept (RCC) memperkirakan pada sungai bagian tengah terjadi peningkatan pertumbuhan fitoplankton yang akan meningkatkan proporsi dari . dampak langsung dari materi organik allochtonous yang masuk berkurang dan materi organik autochtonous serta yang terbawa dari bagian hulu semakin penting.

Bagian hilir sungai (downstream) merupakan aliran terakhir dari aliran sungai menuju muara hingga laut.kelompok grazers. kelimpahan sumber makanan. Satu lingkungan dapat dikatakan stabil apabila kondisinya seimbang dan mengandung kehidupan yang beranekaragam tanpa ada suatu spesies yang dominan (Odum 1996). Keanekaragaman jenis yang tinggi mengindikasikan keadaan sungai belum tercemar dan sebaliknya. Pada sungai bagian hilir. gangguan dan kondisi lingkungan sekitarnya sehingga spesies yang mempunyai daya toleransi tinggi akan bertambah dan sebaliknya spesies yang memiliki daya toleransi rendah jumlahnya akan semakin menurun. jika keanekaragaman jenis dalam ekosistem sungai rendah mengindikasikan bahwa sungai telah tercemar. Karakteristik ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai karena adanya perbedaan kemiringan sungai. sedangkan kelompok shredder pada saat yang sama akan mengalami penurunan. Melimpahnya kelompok hewan collectors berada pada sungai bagian hilir (Roth 2009: 45). materi organik yang dihasilkan oleh perifiton dan fitoplankton telah mengalami penurunan karena peningkatan kekeruhan yang menghambat penetrasi cahaya dan meningkatnya kedalaman.alur sungai yang bervariasi (Soewarno 1991: 28). Hewan dengan sifat pengumpul (collector) sangat melimpah di daerah hilir seperti Bivalvia yang mempunyai peran sebagai filter feeders (Odum 1993: 373). Ciri -. ada tidaknya . yang mayoritas dalam bentuk FPOM. Kelompok hewan shredders dan grazers pun menghilang pada sungai bagian hilir. Keanekaragaman spesies ikan dalam ekosistem sungai dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan sungai. Makanan yang dibawa dari bagian tengah ke bagian hilir masih berupa CPOM. Ross (1997) dalam Yustina (2001) menyatakan keanekaragaman jenis ikan dapat ditentukan oleh karakteristik habitat perairan.1 Keanekaragaman Spesies Ikan di Sungai Keanekaragaman spesies suatu area dipengaruhi oleh faktor substrat yang tercemar. Sungai bergantung kembali pada materi organik yang terbawa oleh arus dari hulu sungai. kompetisi antarspesies.ciri dari bagian hilir adalah substratnya yang berlumpur serta kedalaman sungainya yang bervariasi dan membentuk alur -. 2.

Berikut beberapa contoh ikan yang mendiami sungai secara umum: Gambar 2.2 Struktur Sungai .hutan atau tumbuhan di sekitar area aliran sungai yang berasosiasi dengan keberadaan hewan-hewan penghuninya. 2. Adanya hubungan saling ketergantungan antara organisme-organisme dengan faktor abiotik dapat digunakan dengan mengetahui kulitas suatu perairan (Barus 1996). (b) ikan nila (Oreochromis niloticus) . (c) ikan wader ( Rasbora argyrotaenia). Setiap organisme yang hidup dalam suatu perairan tergantung terhadap semua yang terjadi pada faktor abiotik. (d) udang (Macrobachium pilimanus). (f) kutuk (Channa sriata). Jenis-jenis Ikan Keterangan: (a) ikan sepat (Trichogaster sp). (e) mujair (Oreochromis mosssambicus).

Akibat meningkatnya laju respirasi akan menyebabkan konsentrasi oksigen meningkat dengan naiknya suhu akan menyebabkan kelarutan oksigen menjadi berkurang.5. F = vegetasi riparian 2. Ini terjadi karena ada partikel yang masuk ke dalam insang ikan serta air yang keruh dapat mengganggu nafsu makan ikan dimana ikan akan pasif dalam mencari makanannya. D = batas tinggi air semu. Suhu air yang cocok untuk pertumbuhan ikan antara siang dan malam kurang dari 50C. Kenaikan suhu sebesar 100C akan meningkatkan aktivitas fisiologi organisme sebesar 2-3 kali lipat. menurut Cahyono (2000) air yang terlalu keruh membuat ikan mengalami gangguan pernapasan. Bentuk Morfologi Sungai (dimodifikasi) Keterangan : A = Bantaran sungai. 2) Intensitas cahaya Intensitas cahaya merupakan faktor yang mempengaruhi penyebaran dari ikan pada perairan sungai dan danau. Kenaikan suhu yang relatif tinggi ditandai dengan munculnya ikan dan hewan lainnya ke permukaan untuk mencari oksigen. 3) Derajat keasaman (pH) pH air biasanya dimanfaatkan untuk menentukan indeks pencemaran dengan melihat tingkat keasaman dan kebasaan (Asdak 1995).3 Faktor lingkungan perairan yang mempengaruhi kehidupan ikan di sungai 1) Temperatur (Suhu) Temperatur merupakan faktor lingkungan yang utama pada perairan karena merupakan fator pembatas terhadap pertumbuhan dan penyembaran hewan. C = badan sungai. Suhu air yang tidak cocok dengan ikan dapat mengakibatkan ikan sulit untuk berkembang (Cahyono 2000).Gambar 1. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam atau sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup . Jika intensitas cahaya rendah maka penglihatan ikan akan berkurang. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik pada umumnya terdapat antara 7-8. E = dasar sungai. B = tebing/jering sungai. Secara umum kenaikan temperatur perairan akan mengakibatkan kenaikan aktivitas fisiologi. Hal ini menyebabkan organisme air akan mengalami kesulitan untuk melakukan respirasi.

Semakin rendah kadar oksigen terlarut. Jumlah oksigen yang terkandung dalam air tergantung pada daerah permukaan yang terkena suhu dan konsentrasi garam (Michael. Sumber oksigen terlarut berasal dari atmosfer dan fotosintesis tumbuhan hijau. 4) Kadar oksigen terlarut Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam ekosistem akuatik. Oksigen dari udara diserap dengan difusi langsung di permukaan air oleh angin dan arus. Setiap kedalaman memiliki jenis ikan yang berbeda-beda dan memiliki komunitas yang berbeda pula. terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme (Suin 2002 dalam Herlina 2008).organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. 1984 dalam Herlina 2008). sedangkan kadar oksigen kurang dari 2 mg/liter menyebabkan kematian bagi ikan. semakin tinggi toksisitas (daya racun) tembaga. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/liter dapat menyebabkan efek kurang menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik. Menurut Effendi (2003) keadaan perairan dengan kadar oksigen yang rendah berbahaya bagi organisme akuatik. timbal. atau BOD dapat diartikan sebagai oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O) oleh . Menurut Wibisono (2005) kemampuan air untuk mengikat dan melepaskan sejumlah ion hidrogen akan menunjukkan apakah larutan bersifat asam atau basa. 5) Kedalaman Kedalaman air akan membatasi masuknya cahaya ke dalam suatu perairan secara tidak langsung dan mempengaruhi jumlah serta jenis biota perairan (Odum 1993). Perairan yang baik untuk organisme akuatik sebaiknya memiliki kadar oksigen tidak kurang dari 5mg/liter. idrogen sulfida. 6) Biochemical Oxigen Demand Biochemical Oxigen Demand (BOD) merupakan kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikrooganisme yang ada didalam perairan tersebut. Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion hidrogen dalam suatu larutan. sianida. dan amonia.

Makrozoobentos sering digunakan untuk menduga ketidakseimbangan faktor fisik. Perairan yang tercemar secara langsung akan mempengaruhi kehidupan makrozoobentos (Odum 1993: 373).  Makrozoobentos harus memiliki siklus hidup yang panjang berkisar dari beberapa minggu sampai beberapa tahun.  Mudah disampling dengan peralatan lapangan yang sederhana (Muralidharan dkk. bentos dapat dijadikan bioindikator pencemaran suatu badan sungai dari hulu sampai hilir (Suartini dkk. maupun sampah . Dengan demikian jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses oksidasi terhadap total senyawa baik yang mudah terurai maupun yang sulit terurai secara biologis dapat diukur dengan mengukur kadar CODnya (Salim 2005).  Hidup sesil (bentik) (Wardhana 2006: 3). dan biologi perairan.4 Makrozoobentos Berdasarkan batasan – batasan. pasir. 2006: 42). Hal tersebut terjadi karena bentos memiliki sifat menetap dan pergerakannya relatif lambat di dasar perairan. batu. Lind (lihat Fachrul 2007: 101) menyatakan bahwa bentos adalah seluruh organisme yang hidup pada lumpur.  Tersebar luas dan melimpah tidak hanya di habitatnya saja tetapi di kondisi lingkungan yang sudah tercemar (Fränzel 2004: 53). 2. Beberapa syarat biota akuatik yang dapat digunakan sebagi tolak ukur untuk menilai suatu kesehatan sungai memiliki ciri -. 2010: 24). kerikil.mikroba aerob. 2010: 24).ciri sebagai berikut:  Harus memiliki kepekaan terhadap perubahan lingkungan perairan dan responnya cepat (Wardhana 2006: 3). 7) Chemycal Oxygen Demand Chemycal Oxygen Demand (COD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses oksidasi kimia yang dinyatakan dalam mg O2/l. Semakin tinggi kadar COD akan menyebabkan turunnya kadar oksigen terlarut (DO) (Effendi 2003). agar memberikan indikasi kesehatan sungai dalam suatu periode waktu tertentu (Muralidharan dkk. Pada tahun 1979. Semakin tinggi kadar BOD dalam suatu perairan makan kadar oksigen terlarut dalam air semakin sedikit (Salim 2005). kimia.

1 mm). Mikrobentos adalah bentos yang berukuran lebih kecil dari 0. yaitu: fitobentos dan zoobentos. sedangkan kelompok epifauna sering mendominasi di daerah intertidal (Nybakken 1992: 45).organisme planktonik demikian lemah sehingga pergerakannya sangat dipengaruhi oleh gerakan-gerakan air (Nybakken. hlm: 118). Habitat bentos dikelompokan menjadi bentos infauna dan bentos epifauna. Kemampuan berenang organisme. memendam. Epifauna adalah makrozoobentos yang hidup di dasar perairan yang bergerak lambat di permukaan substrat. Hewan bentos. Makrobentos adalah bentos yang berukuran lebih besar dari 1 mm ( > 1mm) (Nybakken 1992:168). 1992. bentos terbagi atas dua. 2002.organik baik di dasar perairan laut. sedangkan zoobentos terdiri atas hewan- hewan bentos (Cole 1994: 69 & 71) Berdasarkan ukuran yang dimiliki bentos mempunyai berbagai macam ukuran berdasarkan pengelompokan. dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan (Goldman & Horne 1983: 243). antara lain adalah mikrobentos. merupakan hewan melata. Berdasarkan produktivitasnya. Kelompok infauna sering mendominasi daerah subtidal. kolam. melekat.5 Plankton Plankton adalah organisme yang terapung atau melayang-layang di dalam air yang pergerakannya relatif pasif (Suin. Plankton merupakan . dan meliang di dasar perairan tersebut. dan makrobentos. menetap. danau. Fitobentos terdiri atas macrophyte dan alga. Makrozoobentos di dalam rantai makanan berperan sebagai detritivore dan berperan penting dalam mempercepat proses dekomposisi materi organik.1 mm). Meiobentos adalah bentos yang berukuran antara 0. meiobentos. Infauna adalah makrozoobentos yang hidupnya terpendam di dalam substrat dengan cara menggali lubang.1 mm (<0. ataupun sungai. terutama yang bersifat herbivor dan detritivor. hlm: 36). 2.1 mm sampai 1 mm (0.1 mm -.

mengapung dalam air serta memiliki kemampuan gerak yang terbatas. kosmopolit dan perkembangannya bersifat dinamis karena dominansi satu spesies dapat diganti dengan lainnya dalam interval waktu tertentu dan dengan kualitas perairan yang tertentu juga. Plankton dibagi menjadi fitoplankton. 2005. yaitu plankton yang bersifat hewan (Barus. 2007. Fitoplankton adalah organisme mikroskopik yang hidup melayang. hlm: 155). hlm: 25). sehingga dikatakan bahwa gerakan plankton sangat dipengaruhi oleh gerakan air (Barus. tetapi gerakan tersebut tidak cukup mengimbangi gerakan air sekelilingnya. Plankton dibedakan menjadi dua golongan yaitu fitoplankton dan zooplankton (Wibisono.organisme perairan pada tingkat trofik pertama yang berfungsi sebagai penyedia energi. Fitoplankton berperan sebagai salah satu bioindikator yang mampu menggambarkan kondisi suatu perairan. khususnya fitoplankton (Prabandani et al. hlm: 26). biasanya berenang atau tersuspensi dalam air. 2004. 2004. Kelompok fitoplankton yang mendominasi perairan tawar pada umumnya terdiri dari diatom dan ganggang hijau serta dari kelompok ganggang biru (Barus. Defenisi umum menyatakan bahwa yang dimaksud dengan plankton adalah suatu golongan jasad hidup aquatik berukuran mikroskopis. hlm:51). 2004. hlm: 25). Zooplankton merupakan plankton yang bersifat hewani sangat beraneka ragam . Fitoplankton memegang peranan yang sangat penting dalam ekosistem air. Sebenarnya plankton mempunyai alat gerak (misalnya Flagelata dan Ciliata) sehingga secara terbatas plankton akan melakukan gerakan-gerakan. Proses fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisme air lainnya yang membentuk rantai makanan. yaitu organisme plankton yang bersifat tumbuhan dan zooplankton. Berdasarkan siklus hidupnya plankton dapat dikenal sebagai holoplankton yaitu plankton yang seluruh siklus hidupnya bersifat planktonik dan meroplankton yaitu plankton yang hanya sebagian siklus hidupnya bersifat planktonik. Perubahan kondisi lingkungan perairan akan menyebabkan perubahan pula pada struktur komunitas komponen biologi. karena kelompok ini dengan adanya kandungan klorofil mampu melakukan fotosintesis. Organisme pada tingkat pertama berfungsi sebagai produsen/penyedia energi yang disebut sebagai plankton.

Sebagian besar zooplankton menggantungkan sumber nutrisinya pada materi organik. 2. Turbiditas air disebabkan oleh suspensi bahan organik dan anorganik. merupakan herbivora primer (Nybakken. . Kopepoda adalah Crustaceae holoplanktonik berukuran kecil yang mendominasi zooplankton. Jenis jumlah dan keberadaan tumbuhan dan hewan air sering kali berubah dengan adanya perubahan suhu air. hanya satu golongan zooplankton yang sangat penting artinya. Keadaan ini akan menghambat pertumbuhan organisme seperti ikan. hlm: 45). Namun dari sudut ekologi. sehingga banyak bahan yang terlarut dalam air akan menghalangi sinar matahari yang masuk.6 Kualitas Air Sungai Beberapa hal yang mempengaruhi kondisi dan kualitas perairan antara lain: 1.dan terdiri dari berbagai macam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan. Umumnya zooplankton banyak ditemukan pada perairan yang mempunyai kecepatan arus rendah serta kekeruhan air yang sedikit (Barus. sehingga mengakibatkan naiknya alkalinitas karena tingginya konsentrasi basa yang terkandung di dalamnya serta tingginya CO2 bebas. hlm: 41). 1992. 1973: 37). contohnya lumpur. Meningkatnya tingkat turbiditas dapat mempengaruhi besarnya tingkat pencemaran di suatu perairan. Kenaikan suhu air akan meningkatkan aktifitas biologi dan akan memerlukan oksigen yang lebih banyak dalam perairan tersebut. b. Tingkat kekeruhan atau turbiditas Kekeruhan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan. Faktor abiotik sungai a. Bahan – bahan tersebut menentukan kekeruhan air karena membatasi transmisi cahaya di dalamnya (Sumawidjaja. yaitu subkelas kopepoda. Daerah yang sedang mengalami pencemaran. Kepadatan zooplankton di suatu perairan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan fitoplankton. Suhu Suhu merupakan faktor penentu atau pengendali hidup hewan dan tumbuhan air. baik berupa fitoplankton maupun detritus. 2004.

Faktor biotik sungai Menurut Rifai. 2. Salinitas Salinitas merupakan konsentrasi dari total ion yang terdapat di dalam perairan. Kenaikan suhu di perairan umumnya disebabkan oleh aktivitas penebangan vegetasi di sepanjang tepi aliran air (Chay. Komponen biotik perairan terdiri atas hewan dan tumbuhan. dkk (1983: 43) faktor biotik sungai merupakan faktor atau unsur alam yang hidup atau jasad hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. perairan payau biasanya berkisar antara 0. dan kehidupan ikan. Suhu optimum untuk pertumbuhan ikan di Indonesia sekitar 300-350 C. penetasan telur. Hewan yang hidup di air meliputi: . 1974: 535). d. Nilai pH yang lebih rendah menunjukan keasaman yang lebih tinggi. Pengertian salinitas air yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Derajat keasaman Menurut Barus (Agustiawan. 2005: 16-17). Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida. 2011: 13) derajat keasaman (pH) adalah nilai konsentrasi ion hidrogen dalam suatu larutan atau jika dinyatakan secara matematis didefinisikan sebagai logaritma resiprokal ion hydrogen (pH : log 1/H). Kemampuan air untuk mengikat atau melepaskan sejumlah ion H akan menunjukkan apakah bersifat asam atau basa. Apabila angka pH kurang dari 7 menunjukkan air bersuasana asam. c. Aspek yang diukur adalah kemampuan suatu larutan dalam memberikan ion hydrogen. semua bromida dan iodida digantikan oleh khlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi. Suhu air berkaitan erat dengan lama penyinaran matahari sehingga faktor tersebut sangat mempengaruhi prosesproses biologi ikan seperti pematangan gonad. pemijahan. Produsen paling penting dalam perairan sungai adalah alga dan spermatophyta. Nilai salinitas air untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0–0.5 ppt. sedangkan jika lebih dari itu menunjukkan air dalam suasana basa.5–30 ppt (Salinitas air payau) dan salinitas perairan laut lebih dari 30 ppt (Johnson. Satuan untuk pengukuran salinitas air adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau permil (‰).

Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. kimia. BAB III Penutup Kesimpulan Beberapa biota akuatik yang dapat dijadikan sebagai indikator perairan adalah plankton. Medan . DAFTAR PUSTAKA Asdak. derajat keasaman (pH). Yogyakarta: xiv + 614 hlm Barus. dan biologi perairan. Serangga aquatik. 2004. sungai bagian tengah (middle stream) merupakan daerah peralihan antara hulu dan hilir sungai dan bagian hilir sungai (downstream) merupakan aliran terakhir dari aliran sungai menuju muara hingga laut. dan ikan. COD. Bentos dapat dijadikan bioindikator pencemaran suatu badan sungai dari hulu sampai hilir. Fitoplankton berperan sebagai salah satu bioindikator yang mampu menggambarkan kondisi suatu perairan. Crustacea. intensitas cahaya. Persebaran ikan di sungai terdiri dari 3 yaitu bagian hulu sungai (upstream) merupakan daerah mata air dari aliran sungai itu sendiri. Hidrologi dan pengelolaan daerah aliran sungai. A. Makrozoobentos sering digunakan untuk menduga ketidakseimbangan faktor fisik. BOD. kosmopolit dan perkembangannya bersifat dinamis karena dominansi satu spesies dapat diganti dengan lainnya dalam interval waktu tertentu dan dengan kualitas perairan yang tertentu juga. kadar oksigen terlarut. Gadjah Mada University Press. 2004. Molusca. USU Press. C. dan ikan. Dekomposer yang ada di perairan adalah bakteri dan jamur. makrozoobentos. kedalaman. T. Hal tersebut terjadi karena bentos memiliki sifat menetap dan pergerakannya relatif lambat di dasar perairan. Faktor lingkungan perairan yang mempengaruhi kehidupan ikan di sungai adalah temperatur.

Dasar-Dasar Ekologi. Textbookoflimnology. Sundar & M. 2010. Yogyakarta: 697 hlm. A. & S.G. Kanisius. . Kanisius. 1: 23 --28. 2000. Yogyakarta: Gadjah Mada Press. 1994. Terj. Muotka. R. 1983. Koesbiono. Efendi. I11inois: xii + 412 hlm. P. Dari Marine biology: An ecological approac. Louhi. oleh Eidman. 12 (2): 103-109. 2009. M. M. Macroinvertebrata as potential indicator of enviromental quality. IJBT. Ke. 2010. 2011. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Makassar.M & H. Srigandono. Inc. Odum. 2 ed...A. Nila. 1992. 4th ed. Maki-Petays. Waveland Press. Muralidhalan. Tokyo: Xvi + 464 hlm. Bioindikator and Biomonitor. Budidaya Ikan Air Tawar (Gurame. Odum E. C. Breure A. M. Rachmawaty. Hutomo. Paasivaara & T. Mas). B. Zechmeister. A. P.T.. J. dari Fundamentals of ecology oleh T. Jakarta: viii +198 hlm. Yogyakarta Fachrul. Lymnoecology. Sukardjo. London: xii + 237 hlm.W. 2003. Bengen. Samingan & B. Jurnal Bionature. Greenwood Press.experiment. Freshwater aquatic biomes. C.. Nybakken. & U. J. Lorenz.J.G.R. Erkinaro. Sommer.3. st Roth. Elsevier Science Ltd. Lymnology.Oxford: ix + 324 hlm. Selvakumar. nd Lampert. 2003. Jakarta: xv + 459 hlm. Forest Ecology and Management 256 : 1315--1323. Horne.P. Ed. 2003. Penerbit Bumi Aksara. 2007..Hills. Gramedia. A. & A. E. C. 2007. 1 ed. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Dalam: Markert. A. M. P. H. USA: iii + 997 hlm. McGraw. Goldman. Yogyakarta Cole. 1996. with special reference to freshwater system. Inc. Dasar-dasar ekologi. M.F. Metode sampling bioekologi. Bioindicators for ecosystem management. Terj. Oxford University Press. Vol. 1993. Biologi laut : suatu pendekatan ekologi.Cahyono. B. Indeks Keanekaragaman Makrozoobentos Sebagai Bioindikator Tingkat Pencemaran Di Muara Sungai Jeneberang. S. Diterjemahkan oleh Thahmosamingan. G.P. W. Gadjah Mada University Press.. Raja. Impacts of forest drainage improvement on stream biota: A multisite BACI.

S. 2004. Pengantar Ilmu Kelautan.14. 2005. 2002. 2009. Soewarno. M. bali.20 hlm. E. Febrita. Identifikasi makrozoobentos di tukad bausan. Jakarta . S. 9 : 12 -. Ni Wayan. kabupaten badung. 1 (1): 15 -. Universitas Andalas. Jurnal penelitian sains. Yustina. Hidrologi: pengukuran dan pengolahan data aliran sungai. Dessy & M. Kualitas biologi perairan sungai senapelan. D. Made & R. Studi komunitas makrozoobenthos di perairan hilir sungai lematang sekitar daerah pasar bawah kabupaten lahat. N. 2001. P. sago dan sail di kota pekanbaru berdasarkan bioindikator plankton dan bentos. 1991. Alpusari.I. Jurnal biogenesis. Gramedia Widiasarana Indonesia. Penerbit NOVA. Suartini N. 2006.Setiawan. Metoda Ekologi. PT. Bandung: xx + 824 hlm. desa pererenan. Dalem. M. Keanekargamanan Jenis Ikan di Sepajang Perairan Sungai Raung Riau Sumatra. Ecotrophic 5 (1): 41 – 44 hlm Suin.. Padang Suwondo. Jurnal Natur Indonesia 1 :1-14 Wibisono.