I.

PENDAHULUAN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. D
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 39 tahun
Pekerjaan : IBU Rumah Tangga
Pendidikan Terakhir : SMA
Status Pernikahan : Sudah Menikah
Alamat : Karanglewas RT 03/04
Agama : Islam
No. CM : 549445

B. ANAMNESIS
Diambil dari autoanamnesis pada tanggal 05 Mei 2013, pukul 10.00 WIB
1. Keluhan Utama : Gatal pada bagian tangan, leher dan dada.
2. Keluhan Tambahan : Kulit berbintik bintik merah dan kalau digaruk
kadang mengeluarkan cairan. Kulit seringkali terasa perih.
3. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien merasakan Gatal di pada bagian leher sejak 3 bulan yang
lalu. Gatal dirasakan semakin bertambah setiap harinya sehingga pasien
tidak tahan dan menggaruk-garuk daerah yang gatal. Daerah tersebut juga
seringkali tersa perih.
Keluhan dirasakan kumat-kumatan dan bertambah berat terutama
saat pasien sedang berkeringat dan merasa gerah. Saat merasakan gatal,
pasien memberikan bedak salisil terhadap daerah tersebut dan keluhan
sedikit mereda.
Pasien mengaku terdapat berudus bewarna merah pada daerah yang
gatal. Keluhan pertama kali dirasakan pada bagian dada dan sekarang
meluas ke daerah leher dan tangan. Sebelumnya pasien pernah mengalami
penyakit yang sama sekitar setahun yang lalu pada daerah dada, kemudian
menghilang dan sekarang muncul lagih dengan keluhan yang lebih berat.
Pasien merasakan keluhan tersebut setelah pindah ke Karanglewas,
sebelumnya pasien tinggal di Wonosobo.

Hipertensi. Ginjal C. Ekstrimitas superior regio antebrachii et manus . Colli. Gallop (-) Paru : SD vesikuler. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat penyakit yang sama setahun yang lalu Tidak ada. sekret (-) Telinga : Bentuk daun telinga normal. STATUS GENERALIS Keadaaan umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Keadaan gizi : Baik. murmur (-). sekret (-) Mulut : Mukosa bibir dan mulut lembab. datar. Ekstremitas : Akral hangat. sklera ikterik (-/-) Hidung : Simetris. rambut hitam. BB: 68 kg. BU (+) normal Kelenjar Getah Bening: tidak teraba pembesaran. Hipertensi. Tidak ada yang menderita Alergi Tidak ada yang menderita Penyakit Diabetes Mellitus.Riwayat Alergi Tidak ada Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus. edema ( ). Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada yang menderita penyakit dengan keluhan yang sama dengan pasien. retraksi (-) Jantung : BJ I – II reguler. TB: 158 cm Vital Sign : Tekanan Darah : 120/70 mmHg Nadi : 92 x/menit Pernafasan : 24 x/menit Suhu : afebris Kepala : Mesochepal. 4. tidak hiperemis Thorax : Simetris. sianosis ( ) D. ronki (-/-). distribusi merata Mata : Konjungtiva anemis (-/-). sianosis (-) Tenggorokan : T1 – T1 tenang . wheezing (-) Abdomen : Supel. Ginjal 5. deviasi septum (-). STATUS DERMATOLOGIKUS Lokasi : Thorax.

Pasien biasa memberikan bedak salisil pada daerah yang gatal dan keluhan mereda. D 39 tahun datang ke Poli Kulit dan Kelamin dengan keluhan gatal dan perih pada daerah tangan. Folikulitis I. antebrachii dan manus dextra et sinistra. DIAGNOSA KERJA Miliaria Rubra H. RESUME Ny. PEMERIKSAAN ANJURAN Histopatologi J. skuama halus dan erosi E. Dermatitis venenata 3. colli. G. skuama halus dan erosi pada regio thorax. leher dan dada. Pemeriksaan dermatologis mendapatkan papul dan vesikel eritematosa milier. PROGNOSIS Quo ad vitam : bonam Quo ad kosmeticum : dubia ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam . Prurigo kronik residif 2. Keluhan dirasakan sejak 3 bulan yang lalu dan bersifat kumat-kumatan terutama ketika sedang merasa gerah dan berkeringat. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang F. Pasien pernah mengalami penyakit yang sama satu tahun yang lalu setelah dirinya pindah rumah dari Wonosobo ke Karanglewas. Hasil pemeriksaan vital sign dan status generalis dalam batas normal. DIAGNOSIS BANDING 1. Effloresensi : Tampak papul dan vesikel eritematosa milier.

Definisi . TINJAUAN PUSTAKA A. D II. Effloresensi Pada Pasien Ny.

Miliaria adalah gangguan umum dari kelenjar keringat ekrin yang sering terjadi dalam kondisi dimana terjadi peningkatan panas atau suhu dan kelembaban. sumbatan berada di dalam stratum korneum. Miliaria profunda. leher. sumbatan ada di dalam dermo-epidermal junction (papilla dermis). yang kelembapannya terlalu tinggi (Djuanda. kelembapannya sangat rendah sehingga tidak keluar keringat. Tidak ada penyebab genetik. punggung. Miliaria kristalina. Menurut pakar. papula. debu. sumbatan terletak di dalam epidermis sub korneum. dan kosmetik. Epidemiologi . Berbeda dengan negara lain. yang mengakibatkan gatal. B. papula vesikula dan eritematus (Harahap. bintik merah biasanya terjadi pada daerah kulit yang banyak berkeringat. 2000). Pada semua tipe. c. Berdasarkan lokasi tersumbatnya kelenjar ekrin. Etiologi Biang keringat terjadi karena penyumbatan kelenjar atau saluran keringat oleh lapisan tanduk. tingkat kelembapannya mencapai 90 persen. 2000). aktivitas yang berlebihan dan setelah demam (Harahap. Biang keringat disebabkan oleh panas dan kelembapan yang tinggi pada lapisan atas kulit (Harahap. Ada beberapa faktor yang menyebabkan keringat keluar berlebihan dan tersumbatnya saluran keringat. Miliaria rubra. seperti Arab Saudi. 2009). 2007). seperti dahi. Orang awam biasanya menyebut bintik-bintik merah yang gatal itu dengan biang keringat atau keringat buntet. yaitu udara panas dan lembap disertai ventilasi ruangan yang kurang baik. C. dan dada. miliaria terbagi dalam beberapa tipe: a. yang menyebabkan kebocoran keringat yang keluar dari kelenjar ekrin menuju ke epidermis atau dermis (Djuanda. 2007). pakaian terlalu tebal. tidak terjadi biang keringat dan tidak ada bintik merah (Puspa. Biang keringat biasanya menyerang orang yang tinggal di daerah tropis. Di Indonesia. Miliaria disebabkan oleh penyumbatan saluran keringat. walaupun negara ini beriklim tropis. 2000). dan ketat. b. pecahnya saluran keringat di bawah sumbatan akan menghasilkan retensi.

. yang relatif belum matang kelenjar ekrinnya. 2007). atau lapisan tanduk selanjutnya dapat berkontribusi untuk pengumpulan keringat pada permukaan kulit dan pengeluaran cairan atau keringat berlebih (overhydration) dari lapisan corneum. 2007). Miliaria rubra banyak terjadi di daerah panas dengan kelembaban yang tinggi. keluarnya keringat ke dermis papiler menghasilkan suatu substansial. pada Miliaria rubra. Anak-anak lebih banyak mengalami miliaria di bandingkan orang dewasa. seperti dalam Miliaria crystallina. termasuk bayi. akan ada sedikit peradangan yang menyertai. Pada Miliaria profunda. Pada orang yang rentan. kebocoran keringat ke lapisan subcorneal menghasilkan vesikula spongiotic dan sel inflamasi kronis periductal yang menginfiltrasi di papiler dermis dan epidermis bawah. pengeluaran cairan atau keringat (overhydration) dari stratum corneum dianggap cukup untuk menyebabkan penyumbatan sementara dari saluran ekrin (Wolff. 2000). Jika kondisi lembab dan panas bertahan. Sebaliknya. tetapi dapat juga terjadi di daerah lain. Patofisiologi Faktor utama yang berperan bagi perkembangan miliaria adalah kondisi panas tinggi dan kelembaban yang menyebabkan berkeringat berlebihan. individu terus memproduksi keringat berlebihan. 2009). dengan anhidrosis relatif (Djuanda. D. 2010). perban. Pernyataan diatas menggambarkan bahwa bertambahnya kekuatan struktur saluran keringat sesuai bertambahnya umur. Sebetulnya semua bayi dapat mengalami miliaria pada kondisi iklim yang biasa saja. menginfiltrasi limfositik periductal dan spongiosis dari duktus intra-epidermis (Djuanda. Occlusi pori-pori kulit karena pakaian. baik di dalam dermis atau epidermis. Sekitar 30% orang yang tinggal di daearah tersebut bisa mengalami miliaria (Satrodiprodjo. Sumbatan ini menyebabkan kebocoran keringat dalam perjalanannya ke permukaan kulit. Ketika titik kebocoran di lapisan corneum atau hanya di bawahnya. tetapi dia tidak dapat mengeluarkan keringat ke permukaan kulit karena penyumbatan duktus. Tidak terdapat perbedaan angka kejadian miliaria antara laki-laki dan perempuan (Nikki. dan lesi tidak menunjukkan gejala.

tetapi sekarang ini diyakini menjadi perubahan akhir dan bukan penyebab yang mempercepat terjadinya penyumbatan keringat (Puspa. 2009). hanya Staphylococcus epidermidis yang menghasilkan EPS yang dapat menginduksi miliaria (Nikki. Agen antimikroba efektif dalam menekan Miliaria akibat eksperimental. 2010). diperkirakan memainkan peran dalam patogenesis miliaria. Sebuah sumbatan hyperkeratotic mungkin muncul untuk menghalangi saluran ekrin. Panas. Gejala Klinis . Periodic Acid-Schiff positif bahan tahan diastase telah ditemukan di sumbatan intraductal yang konsisten dengan substansi polisakarida ekstraselular stafilokokal (EPS). E. hyperkeratosis dan parakeratosis dari acrosyringium (bagian paling atas dari saluran/duktus kelenjar keringat) dapat diamati. Pasien dengan Miliaria memiliki 3 kali lebih banyak bakteri per satuan luas kulit dibandingkan subyek kontrol sehat. Pada akhir tahap Miliaria. lembab berlebihan Keringat berlebihan Oklusi permukaan kulit karena pakaian atau kotoran Keringat tertahan di stratum korneum Duktud kelenjar keringat ekrin tersumbat Jika persisten akan terjasi kebocoran keringat di epidermis/ dermis dari duktus S. Dalam pengaturan percobaan. Korneum Subkorneal papilla dermis Miliaria kristalina miliaria rubra miliaria profunda Bakteri seperti Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus.

Pasien dapat melaporkan peningkatan produksi keringat di kulit yang tidak terserang. dan lingkungan yang lembab. dyspnea. 2000). dan mereka mungkin akan melihat penurunan atau tidak ada keringat di tempat yang terkena (Harahap. Lesi sembuh dalam beberapa hari setelah pasien dipindahkan dari kondisi panas dan lingkungan lembab. 1. 3. biasanya dalam waktu kurang dari satu jam setelah stimulus yang menyebabkan berkeringat dihilangkan atau dihindari. tetapi lebih cenderung muncul setelah berbulan-bulan setelah terpapar panas dan lembab. Manifestasi Klinis 1. Lesi umumnya asimtomatik (Djuanda. 2007). dan palpitasi (Harahap. 2007). 2. Lesi berkembang dalam beberapa menit atau jam setelah stimulasi berkeringat. Pada pasien dapat muncul kelelahan dan intoleransi panas. pembengkakan kelenjar getah bening. mual. Lesi muncul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu dari terpaparnya cuaca panas dan menghilang dalam beberapa jam sampai beberapa hari. Lesi menyebabkan gatal atau pruritus intensif dan menyengat yang diperburuk oleh demam. hyperpyrexia dan gejala kelelahan akibat panas. Lesi yang jelas. Miliaria rubra Bentuk ini biasanya menyerang neonatus usia 1-3 minggu dan orang dewasa yang tinggal di tempat yang panas. . yang mencakup pusing. Lesi ini sembuh dengan cepat. Miliaria crystallina Bentuk ini biasanya menyerang bayi baru lahir (neonatus) yang berusia kurang dari 2 minggu dan orang dewasa yang menderita demam atau mereka yang baru saja pindah ke iklim tropis. Miliaria crystallina a. vesikula dangkal yang berdiameter 1-2 mm. Miliaria profunda Bentuk ini terjadi pada individu yang biasanya tinggal di iklim tropis dan memiliki episode berulang dari Miliaria rubra. Lesi dapat terjadi dalam beberapa hari setelah pajanan terhadap kondisi panas. F. Lesi tidak menunjukkan gejala (Djuanda. 2000). atau pengerahan tenaga (exertion). panas.

Pada orang dewasa. kulit kepala. Pada bayi. leher. daerah ini antara lain leher. b. Lesi pecah dengan mudah dan sembuh dengan desquamation dangkal (Siregar. 1996). bagian atas tubuh. c. Gambar 2. d. d. Miliaria Rubra . Lesi terjadi dalam distribusi nonfollicular dan tidak menjadi konfluen. e. Lesi yang terjadi sering bertemu (confluent). Miliaria Kristalina 2. vesikula eritem dan veskular papula pada latar belakang atau dasar eritema. c. lesi terjadi pada tubuh. Pada orang dewasa. tanpa eritema sekitarnya. b. Pada tahap akhir. lesi terjadi pada kulit tertutup di mana gesekan terjadi. e. Pada bayi. kecil. dan siku atau persendian. Miliaria rubra a. lesi terjadi pada leher dan di pangkal paha dan ketiak. Gambar 1. lesi cenderung terjadi pada kepala. anhidrosis dapat diamati di kulit yang terkena (Siregar. Lesi seragam. dan bagian atas tubuh. 1996).

pemeriksaan sitologi dari pustula mengungkapkan isi sel-sel inflamasi. 1996). hyperpyrexia dan takikardia dapat diamati (Siregar. Pada lesi selanjutnya. karena itu. pemeriksaan sitologi vesikuler gagal untuk mengungkapkan isi sel atau multinuklear peradangan sel raksasa (seperti yang diharapkan pada vesikula herpes). Pemeriksaan Laboratorium Miliaria secara klinis berbeda. Dalam Miliaria pustulosa. b. Tidak seperti eritema toxicum neonatorum. G. Terhalangnya saluran eccrine dapat diamati di stratum corneum (Sastrodiprodjo. Lesi sementara waktu ada setelah melakukan aktifitas atau rangsangan lain yang mengakibatkan berkeringat. Pemeriksaan Penunjang 1. bekerjasama dengan keringat eccrine duktus. Dalam Miliaria crystallina. Sebuah PAS-positif eosinofilik diastase-resistant cast dapat dilihat dalam lumen duktus. d. sel-sel peradangan mungkin ada yang . e. berwarna daging. staphylococci) (Wolff. papula nonfollicular yang berdiameter 1- 3 mm. Miliaria profunda a. spongiotic vesikula dan spongiosis diamati dalam lapisan Malphigi. Pada awal luka di Miliaria profunda. Peradangan Periductal juga muncul. Lesi tegas. Pada kasus yang parah yang menyebabkan kelelahan panas. Pewarnaan Gram dapat mengungkapkan cocci gram positif (misalnya. c. 2009). beberapa tes laboratorium diperlukan. Lesi terjadi terutama pada tubuh. subcorneal vesikula atau intracorneal berkomunikasi dengan kelenjar keringat eccrine. yang didominasi infiltrasi limfositik periductal muncul dalam papiler dermis dan epidermis bawah. eosinofil tidak menonjol. 3. 2000). Dalam Miliaria rubra. Kulit yang terkena menunjukkan penurunan produksi atau tidak ada keringat. tanpa sel-sel peradangan sekitarnya. tetapi mereka juga dapat muncul pada ekstremitas. 2. Temuan histologis Dalam Miliaria crystallina.

H. b. 2. maka pasien dianjurkan untuk mengurangi aktivitasnya. 2. lebih mudah diraba dari pada dilihat dan disertai rasa gatal (Susan. 2008). 2007). 2008). Karena aktifitas yang berlebihan bisa menyebabkan keringat yang dapat menimbulkan kembali Miliaria. Folikulitis Terlihat pustula folikuler kecil berbentuk kubah. lesinya berupa papula- papula. Topikal Lanolin anhidros diberikan untuk mencegah atau menghilangkan sumbatan sehingga keringat dapat keluar kepermukaan kulit. Memakai pakaian yang menyerap keringat (Puspa. 2008). 2009). Diagnosis Banding 1. berbentuk kubah. gejala lokal meliputi rasa terbakar dan sakit setelah sengatan diikuti oedem setempat. biasanya lesi banyak meskipun lesi tunggal dapat terjadi. Sistemik . dan limfosit dapat memasuki saluran ekrin. talk untuk bayi dan losio yang berisi 1 % mentol dan gliserin dan 4% asam salisilat dalam alkohol 95 %. c. suhu tubuh meningkat (Susan. Dermatitis venenata Biasanya jelas karena gigitan serangga. Pemberian colamin lotion dapat memberikan rasa sejuk juga dapat diberikan anti biotic topikal seperti krim kloramfenikol 2% (Djuanda. Prurigo Gambaran klinis seringkali mirip Miliaria. biasanya disertai nyeri. Penatalaksanaan 1. 3. Miliaria tidak berwarna. masing-masing lesi saling terpisah diantara kulit normal tanpa adanya kecendrungan untuk bergabung. Selain itu juga diberikan salep hidrofilik. I. sehingga keringat bisa berkurang. urtikaria eritem yang jelas dan pruritus. Umum a. muncul lebih rendah di dalam dermis. 3. Kunci pengobatan Miliaria adalah menempatkan penderita didalam lingkungan yang dingin. Spongiosis di sekitar epidermis dan parakeratotic hyperkeratosis dari acrosyringium dapat diamati (Susan.

2. 2007). tetapi pengeluaran cairan atau keringat berlebih (Hyperhidrosis) dari wajah dan ketiak dapat berkembang. Tidak seperti pasien dengan Miliaria crystallina. Miliaria rubra juga cenderung untuk sembuh secara spontan ketika pasien dipindahkan ke lingkungan yang lebih dingin. Ini mungkin terjadi lagi jika panas dan kondisi lembab bertahan. K. 3. pusing bahkan pingsan (Siregar. dikenal sebagai anhidrotic tropis asthenia. namun mereka yang menderita Miliaria rubra cenderung menunjukkan gejala. Ketidakmampuan untuk berkeringat. Pada kondisi umum. anhidrosis dapat menjadi hyperpyrexia dan panas. fatique. Komplikasi Komplikasi yang tersering dari Miliaria adalah infeksi sekunder dan intoleransi terhadap suhu lingkungan yang panas. kondisi ini menyebabkan pasien merasa kelelahan selama dalam iklim hangat . Prognosis 1. lemah. Infeksi sekunder adalah komplikasi lain dari miliaria rubra. Infeksi sekunder dapat terjadi berupa impetigo atau multiple diskret abses yang dikenal sebagai periporitis staphylogenes. ini juga muncul sebagai impetigo atau beberapa abses diskret yang dikenal sebagai periporitis staphylogenes. Miliaria crystallina umumnya bersifat asimtomatik yang sembuh tanpa komplikasi selama beberapa hari. Intoleransi terhadap suhu lingkungan yang panas terjadi ditandai dengan tidak keluarnya keringat bila terpapar suhu panas. J. mereka dapat merasakan gatal dan menyengat. 1996). akibat dari duktal ekrin yang pecah. Dapat diberikan antibiotik bila terjadi infeksi sekunder dan anti histamin sebagai anti pruritus. Anhidrosis berkembang di daerah yang terkena. Miliaria profunda sendiri merupakan komplikasi dari episode berulang dari Miliaria rubra. Lesi dari miliaria profunda tidak menunjukkan gejala. . pemberian vitamin C dosis tinggi dapat diberikan untuk mencegah atau mengurangi timbulnya Miliaria (Djuanda.

2. 3. Miliaria rubra adalah salahsatu jenis miliaria dimana sumbatan kelenjar keringat terjadi pada subcorneum. . Kebanyakan pasien miliaria rubra sembuh dalam hitungan minggu. 2010). setelah mereka pindah ke lingkungan yang lebih dingin (Nikki. Miliaria adalah gangguan umum dari kelenjar keringat ekrin yang sering terjadi dalam kondisi dimana ada peningkatan panas atau suhu dan kelembaban. KESIMPULAN 1. sehingga keringat bisa berkurang. Kunci pengobatan Miliaria adalah menempatkan penderita didalam lingkungan yang dingin. III.

Pada tanggal 11 Mei 2013 Sastrodiprodjo. 2010. Pada tanggal 11 Mei 2013. 1996. Atlas Berwarna Saripati penyakit Kulti. S. Online. 42-43 . Jakarta: EGC.New York: Mc Graw Hill. adhi. Ilmu Penyakit Kulit. Eizen AZ. Jakarta: Hipokrates.com/biang-keringat-dapat-menyebabkan- infeksi. Miliaria. Harahap. Dewi. RS. Woff K. Online. penyunting: Dermatology in generalmedicine. New York: McGraw Hill Medical 2009: p. Biang Keringat Dapat Menyebabkan Infeksi. Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology 6th Edition. Puspa.medscape. MD. Jakarta: EGC. 7th ed. Auten KF. Marwali. 2000. Susan Burgin. Nikki A Levin. 2007. 2008: 158-16 Wolff Klauss. 2000.html.Freedberg IM. Siregar. Dalam: Fitzpatrick TB. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ilmu Penyakit Kulit. DAFTAR PUSTAKA Djuanda.Numular Eczema and Lichen Simplex Chronic/Prurigo Nodularis.com/article/1070840-overview. Diunduh dari: htttp://emedicine. 2009. Diunduh dari: http://balicantique. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.