Faktor yang dapat memperberat gejala pada skenario

 Pasien tidak segera memeriksakan diri ke dokter
Hal ini dapat dikarenakan biasanya tanda/gejala penyakit menular seksual tidak
langsung muncul setelah kontak terjadi, atau beberapa orang tidak langsung
menyadari timbulnya tanda/gejala dari penyakit menular seksual. Kurangnya
pengetahuan penderita mengenai penyakit menular seksual juga dapat menjadi
penyebab.
 Pasien tetap melakukan hubungan seksual dengan pasangan atau orang lain setelah
terinfeksi
Seharusnya, untuk sementara pasien dianjurkan tidak melakukan hubungan seksual
dahulu, baik secara vaginal, anal, oral, maupun kontak tubuh secara langsung, hingga
pasien dan pasangannya dinyatakan telah menyelesaikan pengobatan dan follow-up.
Hal ini untuk mencegah pasien dan pasangannya mengalami infeksi berulang atau
menularkan infeksinya ke orang lain.
 Pasangan pasien tidak ikut menjalani pengobatan
Sangat dibutuhkan kesediaan pasangan pasien ikut menjalani pengobatan untuk
menuntaskan dan mencegah infeksi berulang.
 Pasien menggaruk lesi yang gatal
Garukan pada lesi dapat menimbulkan luka yang rentan terhadap infeksi sekunder.
 Higenitas pasien kurang baik
Baik kebersihan daerah genitalia, pakaian dalam, seprei, handuk, dan sebagainya.
 Pengobatan pasien kurang tepat
Pemilihan obat maupun cara penggunaan obat yang salah bisa tidak memberikan hasil
atau bahkan dapat memperburuk gejala.

Referensi :

 Minnesota Department of Health. “Sexually Transmitted Disease Facts; Pubic Lice
and Scabies”. Diperbaharui 16 Juni, 2015. Diakses 9 Januari, 2016.
http://www.health.state.mn.us/divs/idepc/diseases/pubiclice/pubiclice.html
 The Family Planning Association. “Sexually based on evidence-based transmitted
infections (STIs) help : Pubic lice and Scabies”. Diperbaharui Januari, 2014. Diakses
9 Januari, 2016. http://www.fpa.org.uk/sexually-transmitted-infections-stis-
help/pubic-lice-and-scabies