1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu

atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut

tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan

yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan

laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari

8% (Santoso, 2000).

Mangrove sangat penting artinya dalam pengelolaan sumber daya pesisir

di sebagian besar-walaupun tidak semua-wilayah Indonesia. Fungsi mangrove

yang terpenting bagi daerah pantai adalah menjadi penghubung antara daratan

dan lautan. Tumbuhan, hewan benda-benda lainnya, dan nutrisi tumbuhan

ditransfer ke arah daratan atau ke arah laut melalui mangrove. Mangrove

berperan sebagai filter untuk mengurangi efek yang merugikan dari perubahan

lingkungan utama, dan sebagai sumber makanan bagi biota laut (pantai) dan

biota darat. Jika mangrove tidak ada maka produksi laut dan pantai akan

berkurang secara nyata. Potensi ekonomi mangrove diperoleh dari tiga sumber

utama yaitu hasil hutan, perikanan estuari dan pantai (perairan dangkal), serta

wisata alam. Selain itu mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi

daerah pantai dan memelihara habitat untuk sejumlah besar jenis satwa, jenis

yang terancam punah dan jenis langka yang kesemuanya sangat berperan

dalam memelihara keanekaragaman hayati di wilayah tertentu.

Pembangunan wilayah pesisir dan laut secara berkelanjutan merupakan

kebijakan penting Departemen Kelautan dan Perikanan. Kebijakan tersebut

didasarkan pada pemikiran bahwa wilayah pesisir dan laut secara ekologis dan

ekonomis sangat potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan demi untuk

2

kesejahteraan masyarakat. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai

upaya untuk mendorong pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut secara

berkelanjutan, namun pola pemanfaatan yang sifatnya merusak dan mengancam

kelestarian sumberdaya pesisir dan laut masih saja terus berlangsung. Hal ini

disebabkan oleh tidak adanya atau kurang tersedianya pilihan lain dalam

memenuhi kebutuhannya. Pengembangan ekonomi wisata (ekowisata)

merupakan salah satu alternatif pembangunan yang dapat membantu mengatasi

masalah tersebut (Tuwo, 2011).

Kota Tarakan merupakan satu diantara beberapa kota besar di Provinsi

Kalimantan Timur. Tarakan merupakan sebuah pulau yang terletak di sisi paling

utara di Kalimantan Timur. Kota Tarakan memiliki semboyan berbunyi Tarakan

Kota BAIS yang bermakna Bersih, Aman, Indah, Sehat, dan Sejahtera. Letak

geografis Tarakan boleh dikatakan merupakan sebuah kota yang berbatasan

langsung dengan beberapa pantai. Namun, akses yang mudah dijangkau bukan

merupakan satu-satunya faktor yang menjadikan Tarakan sebagai pilihan lokasi

wisata. Jenis wisata yang ditawarkan maupun kondisi alam dan lingkungan

obyek wisata juga mempengaruhi keinginan wisatawan untuk mengunjungi

berbagai obyek wisata di Kota Tarakan.

Menurut Wahab (1992), terdapat dua faktor yang mempengaruhi

kedatangan wisatawan pada suatu obyek wisata, yang pertama adalah faktor

irrasional (dorongan bawah sadar) yang meliputi lingkup pergaulan dan ikatan

keluarga, tingkah laku prestise, pengaguman pribadi, perasaan-perasaan

keagamaan, hubungan masyarakat dan promosi pariwisata, iklan dan

penyebaran serta kondisi ekonomi (pendapatan dan biaya). Sedangkan faktor

yang kedua merupakan faktor rasional, meliputi sumber-sumber wisata, fasilitas

wisata, kondisi lingkungan, susunan kependudukan, situasi politik dan keadaan

geografis.

3

Saat ini, salah satu obyek wisata yang memiliki potensi untuk

dikembangkan lebih lanjut adalah Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan

Bekantan (KKHMB) Kota Tarakan. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove

merupakan suatu kawasan konservasi hutan mangrove yang terletak di

Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kecamatan Tarakan Barat dengan luas kawasan

sekitar 9 hektar yang masih akan diperluas menjadi 13 hektar itu sudah menjadi

icon Tarakan di mata pelancong mancanegara. Pasalnya, di kawasan ini

terdapat sedikitnya 11 spesies satwa dilindungi, terutama kera berekor panjang

atau Bekantan yang populasinya sekitar 30 ekor.

Selain itu, kondisi alam yang tenang dan asri dengan pemandangan

hutan mangrove yang menyegarkan menjadi daya tarik tersendiri bagi para

wisatawan untuk datang berkunjung. Kondisi tersebut ditunjang dengan fasilitas

yang disediakan oleh pihak pengelola seperti adanya bangku-bangku kayu

maupun tempat beristirahat yang disediakan di sekeliling hutan. Para wisatawan

akan berjalan mengelilingi hutan ini dengan melewati jalan setapak dari kayu

yang dibuat meninggi. Selain itu terdapat satu tempat favorit para wisatawan

untuk berfoto, yaitu adanya replica patung bekantan lengkap dengan piagam

pembukaan konservasi hutan mangrove ini.

Kecenderungan perkembangan dunia pariwisata mulai meninggalkan

konsep pariwisata massal dan mengarah kepada konsep pariwisata lingkungan

(ekowisata), dimana keaslian potensi kekayaan alam dan peran serta

masyarakat setempat dibutuhkan. Indonesia yang merupakan negara yang

memiliki potensi kekayaan alam yang berlimpah ruah mempunyai peranan yang

sangat penting bagi pengembangan kepariwisataan terutama wisata alam.

Penilaian terhadap suatu kawasan wisata memiliki peranan yang dapat

menentukan pengembangan dari tempat wisata itu sendiri yang mencakup

berbagai faktor yang berkaitan dengan nilai sosial dan politik. Metode penilaian

Metode ini menduga nilai ekonomi kawasan wisata berdasarkan penilaian yang diberikan masing-masing individu atau masyarakat terhadap kenikmatan yang tidak ternilai (dalam rupiah) dari biaya yang dikeluarkan untuk berkunjung ke sebuah objek wisata. tiket masuk dan sebagainya. baik itu opportunity cost maupun biaya langsung yang dikeluarkan seperti biaya transportasi. 4 khususnya untuk mengukur nilai ekonomi wisata alam yang paling banyak dipakai adalah metode biaya perjalanan (travel cost methode). Berapa besar valuasi ekonomi wisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan? . Perumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Berdasarkan kondisi tersebut strategi yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kawasan konservasi hutan mangrove ini secara baik. Berdasarkan berbagai penjelasan di atas maka perlu untuk dilakukan penelitian mengenai “Valuasi Ekonomi Wisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan”. B. minuman. Apa saja implikasi pemanfaatan dari Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan sebagai objek ekowisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya? 2. konsumsi makanan. berkelanjutan dan bertanggung jawab dapat dimulai dari dengan mengumpulkan data dan informasi tentang nilai ekonomi dari obyek wisata ini. Nilai ekonomi suatu daerah obyek wisata dapat ditentukan dengan menggunakan metode biaya perjalanan (travel cost methode). hotel.

. 5 3. Dapat memberikan informasi kepada pemerintah maupun masyarakat sebagai bahan pertimbangan mengenai pentingnya keberadaan ekosistem mangrove dan sebagai penentu kebijakan untuk pengambilan keputusan tentang keberlangsungan mangrove ke arah lebih baik. D. Manfaat dan Kegunaan Penelitian Manfaat dan kegunaan yang dapat diharapkan dari penelitian ini antara lain : 1. Untuk mengetahui implikasi pemanfaatan dari Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan sebagai objek ekowisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya. Dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang akan mempelajari atau membahas mengenai pemanfaatan ekosistem mangrove dan nilai ekonomi wisata ekosistem sebagai bahan perbandingan. 2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas pengunjung mendatangi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove kota Tarakan. 3. Menghitung besarnya valuasi ekonomi wisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas pengunjung mendatangi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan? C. 2. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. 6 II. Fungsi mangrove yang terpenting bagi daerah pantai adalah menjadi penghubung antara daratan dan lautan. Mangrove sangat penting artinya dalam pengelolaan sumber daya pesisir di sebagian besar walaupun tidak semua wilayah Indonesia. 2000). Namun . yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut). benda-benda lainnya. dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso. Supaya tidak rancu. TINJAUAN PUSTAKA A. Mangrove berperan sebagai filter untuk mengurangi efek yang merugikan dari perubahan lingkungan utama dan sebagai sumber makanan bagi biota laut (pantai) dan biota darat. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri. Ekosistem Mangrove di Indonesia Kata mangrove mempunyai dua arti. dan kedua sebagai individu spesies (Macnae. pertama sebagai komunitas. Macnae menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu tumbuhan. terpengaruh pasang surut air laut. 2000). 1968 dalam Supriharyono. Habitat mangrove sendiri memiliki keanekaragaman hayati yang rendah dibandingkan dengan ekosistem lainnya. dan nutrisi tumbuhan ditransfer ke arah daratan atau ke arah laut melalui mangrove. hewan. tumbuhan. Jika mangrove tidak ada maka produksi laut dan pantai akan berkurang secara nyata. karena hambatan bio-kimiawi yang ada di wilayah yang sempit diantara darat laut. terdapat pada wilayah pesisir.

Kestabilan ekosistem mangrove akan mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap kelestarian wilayah pesisir. Padahal jika dikaji secara luas. terutama karena daya dukungnya bagi stabilitas ekosistem kawasan pesisir. sehingga total keanekaragaman hayati ekosistem tersebut menjadi lebih tinggi. yang hanya terfokus pada satu penggunaan mangrove. Kini arti konservasi mulai digeserkan kembali dalam arti "perlindungan. baik itu terhadap hutan. Ada pula yang mengartikan bahwa kawasan konservasi adalah kawasan yang tidak boleh sama sekali di ganggu. dalam skala ekologis merupakan ekosistem yang sangat penting. 2007) Banyak arti konservasi yang telah dijabarkan dan diuraikan berbagai kalangan dan ahli konservasi. tumbuh pada pantai berlumpur dan muara sungai. maka hal ini belum berlaku secara optimal. memiliki sifat dan ciri yang sangat khas. Seringkali pemikiran pemanfaatannya hanya didasarkan atas evaluasi ekonomi yang sempit. 7 hubungan kedua wilayah tersebut mempunyai arti bahwa keanekaragaman hayati yang berada di sekitar mangrove juga harus dipertimbangkan. kawasan pesisir maupun laut. ekosistem mangrove memiliki fungsi dan peran yang sangat kompleks. yang meliputi fungsi ekologis. dan ekonomi (Karminarsih. Konservasi dapat diartikan sebagai "perlindungan terhadap". Program pembangunan kehutanan di kawasan pantai harus . Penebangan liar dan pembukaan lahan yang tidak terkontrol dapat mengancam kelestarian mangrove dan ekosistemnya. 2003). ekosistem ini mengalami berbagai tekanan yang sangat berat akibat perluasan dari berbagai keinginan pemanfaatan lainnya. Dalam kasus kawasan mangrove. Di lain pihak. Hutan mangrove. Mangrove sebagai ekosistem hutan. sosial. Dapat diambil suatu aksioma bahwa pengelolaan mangrove selalu merupakan bagian dari pengelolaan habitat-habitat di sekitarnya agar mangrove dapat tumbuh dengan baik (Mangrove Information Centre. pengawetan maupun pemanfaatan".

peningkatan fungsi dan peranan hutan secara umum. Ekosistem Mangrove di Kota Tarakan Kawasan pulau Kota Tarakan merupakan salah satu pulau yang berada di Propinsi Kalimantan Timur bagian utara yang kaya akan potensi daerah. Program-program tersebut harus berorientasi pada manfaat sosial. setiap program yang berhubungan dengan pembangunan kehutanan di kawasan pantai bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan nasional tetapi juga harus mampu memperbaiki kualitas lingkungan melalui penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat. Program rehabilitasi dan konservasi dimaksudkan untuk memulihkan atau memperbaiki kualitas tegakan yang sudah rusak serta mempertahankannya. abrasi. baik yang bersifat sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resource) maupun sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resource) serta jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut. B. 2011). Dengan demikian. flora atau faunanya serta semuanya itu untuk menjaga keseimbangan alam (Purnobasuki. 8 mempertimbangkan aspek-aspek sosial. penjaga intrusi air laut. dan lingkungan secara proporsional dengan tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. peningkatan peran masyarakat dan pemerintah daearah sampai tingkat desa yang berhubungan dengan upaya rehabilitasi dan pemeliharaan lingkungan mulai dari Perencanaan sampai dengan implementasinya. ekonomi. Pulau Tarakan yang terletak . serta sebagai penyangga kehidupan tetap terjaga. Selain secara geografis pulau yang memiliki posisi sangat strategis sebagai jalur transportasi skala regional maupun skala internasional pulau ini juga memiliki potensi sumberdaya alam yang secara optimal belum termanfaatkan. Melalui konservasi memang kita berupaya untuk melindungi sesuatu baik itu kawasan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga fungsi hutan baik sebagai penghasil kayu.

Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen. Sebagai suatu ekosistem pesisir utama pulau Kota Tarakan keberadaan ekosistem mangrove sepanjang pantai memberikan kontribusi yang sangat penting baik manfaat langsung (direct) maupun manfaat tidak langsung (indirect). Ekosistem pesisir Kota Tarakan diantaranya adalah hutan mangrove. Mangrove juga memainkan peranan penting dalam melindungi pesisir dari terpaan badai. khususnya dalam melindungi pantai dari gelombang. tetapi juga melindungi pantai dari pengikisan secara dahsyat yang ditimbulkan oleh badai tropika yang hebat. bangunan dan pertanian dari angin kencang dan intrusi air laut.53) memiliki satu atau lebih ekosistem pesisir. tambang mineral dan energi. media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata (Rachmawani. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. karang tepi. dan pantai berpasir yang mana ekosistem-ekosistem tersebut menyediakan sumberdaya alam produktif baik sebagai sumber pangan. Zonasi sepanjang pantai mangrove tidak hanya penting untuk memperluas pantai dan membentuk pulau. dengan luas 657 km2 (daratan seluas 250. padang lamun. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. 9 diantara 117o34’ garis bujur barat sampai dengan 117 o38’ garis bujur timur dan antara 3o19’ garis lintang utara sampai dengan 3o20’ garis lintang selatan. Sebaliknya pada pulau yang hilang mangrovenya. Peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan keberadaan pulau tersebut. angin dan badai. 2007). Manfaat tersebut diantaranya secara fisik. pulau tersebut mudah disapu oleh ombak dan arus .80 km2 dan lautan seluas 406.

untuk meciptakan pemahaman dan kesadaran itu perlu peran para pihak secara holistik-terpadu-sistemik sehingga proses pemanfaatan akan sebanding dengan upaya pelestarian. 10 musiman selain itu jika mangrove tidak ada maka produksi laut dan pantai akan berkurang secara nyata. C. Pemahaman dan kesadaran keterkaitan sumberdaya mangrove dan kehidupan tentunya akan memberikan dampak positif bagi keberlanjutan ekosistem dan kehidupan. Walaupun kontribusi ekonomi nyata ekosistem mangrove kurang signifikan namun kontribusi nyata dan tidak langsung (salah satunya seperti pelindung pantai dan pendukung perairan pesisir) tinggi dan kontinyu (Bengen. dan kondisi perakarannya yang kuat dan rapat mampu mencengkeram dan menstabilkan . Namun. sosio- ekonomis dan sosio-kultural. Melindungi garis pantai dan kehidupan di belakangnya dari gempuran tsunami dan angin. Sistem timbal balik yang seyogyanya dilakukan diantaranya dengan melakukan pelestarian mangrove dan ekosistemnya. Kesemuanya itu tidak lain demi kehidupan yang lebih baik Menurut Karminangsih (2007). Namun fungsi tersebut akan berhenti jika tidak ada sistem timbal balik dari manusia sebagai pemanfaat utama sumberdaya mangrove. Fungsi mangrove mampu menopang kehidupan manusia terkait aspek sosio-ekologis. 2006). secara ekologis fungsi hutan mangrove dalam melindungi dan melestarikan kawasan pesisir adalah: 1. Selain itu ekosistem ini juga memiliki nilai ekonomi yang bersifat long term (jangka panjang dengan tingkat diskonto rendah) sedangkan sumberdaya migas memiliki nilai ekonomi yang bersifat short term (jangka pendek dengan tingkat diskonto tinggi). Fungsi Hutan Mangrove Mangrove memiliki peran penting dalam kehidupan. karena kondisi tajuknya yang relatif rapat.

Melindungi tempat buaya dan berpijahnya berbagai jenis ikan dan udang komersial. hutan mangrove juga berfungsi sebagai pelindung daratan dari gempuran gelombang dan angin topan. Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis dan ekonomis yang sangat bermanfaat bagi manusia. Selain itu. Selain itu hutan mangrove juga berfungsi sebagai kawasan wisata alam pantai. serasah mangrove yang jatuh di perairan menjadi sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan produktivitas perikanan perairan laut di depannya. dan sekaligus mencegah terjadinya salinisasi pada wilayah-wilayah di belakangnya. Lebih jauh. karena sistem perakarannya mampu menahan lumpur sungai dan menjerap berbagai bahan pollutant. Dengan sistem perakaran yang rapat dan kokoh. 11 tanah habitat tumbuhnya. baik tetap maupun sementara berbagai jenis burung. penahan abrasi. arang dan bahan baku kertas. hutan mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning grounds). . reptilia. sebagai obyek pendidikan. hutan mangrove dapat dimanfaatkan kayunya secara lestari untuk bahan bangunan. mamalia dan jenisjenis kehidupan lainnya. dan reptilia. mamalia. ikan. udang. kepiting. 2. hutan mangrove juga merupakan habitat bagi berbagai jenis burung. daerah pembesaran (nursery grounds) dan tempat mencari makan bagi beraneka jenis biota laut. Melindungi padang lamun dan terumbu karang. termasuk melindungi tempat tinggal. Secara ekologis. 3. intrusi air laut dan gaya-gaya kelautan yang ganas lainnya. Secara ekonomi. yang banyak diantaranya termasuk jenis binatang yang dilindungi undang-undang. sehingga hutan mangrove menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity) dan plasma nutfah (genetic pool) yang tinggi serta berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan. yang secara ekologis pada akhirnya akan dapat melindungi kehidupan berbagai jenis flora dan fauna yang berasosiasi dengan padang lamun dan terumbu karang.

Konversi hutan mangrove untuk berbagai macam kegiatan seperti perikanan. udang. Pemanfaatan hutan mangrove selain digunakan secara ekonomi. industri. Karena banyak di antara mereka yang membutuhkan mangrove sebagai tempat mencari ikan. 12 penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. 2007) D. pertanian. 2008). ataupun habitat kepiting bakau (Kaminarsih. kepiting. Sejalan dengan perubahan waktu. Karena kemampuannya sebagai tempat berpijah berbagai jenis ikan dan udang komersial. pemanfaatan hutan mangrove semakin berkembang pada berbagai sektor pembangunan dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup manusia. Di samping itu secara ekonomi. 1996). juga dilihat arti penting fungsi ekologisnya sehingga dampak dari pemanfaatan dapat dikurangi. Permasalahan lingkungan muncul di kawasan-kawasan pesisir yang hutan mangrovenya telah dirusak manusia. Apabila hal ini terjadi maka habitat dasar dan fungsinya menjadi hilang dan nilai dari kehilangan ini lebih besar dari nilai penggantinya (Dahuri. maupun mendapatkan kayu dan bahan untuk obat-obatan. hutan mangrove secara luas akan dapat melindungi nilai ekonomi maritim. Pengelolaan Hutan Mangrove Pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan disesuaikan dengan perencanaan yang terpadu dan juga memperhatikan kebutuhan ekosistem mangrove. pariwisata dan lainnya terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia (Sribianti. Kegiatan-kegiatan yang menyebabkan eksploitasi berlebihan sehingga rusaknya hutan mangrove juga berkontribusi besar dalam pengrusakan ekosistem mangrove. Secara sosial. hutan mangrove juga dapat melestarikan adanya keterkaitan hubungan sosial dengan masyarakat setempat. Kerusakan wilayah pesisir ini .

Dengan demikian. wilayah pesisir memiliki cakupan batas yang sangat luas. 13 semakin diperparah akibat hancurnya hutan mangrove. tetapi juga akan memberi dampak secara luas terhadap ekosistem darat maupun ekosistem laut. perikanan estuari dan pantai (perairan dangkal). dan ekologi. bukan hanya berdampak terhadap berkurangnya kemampuan menahan kekuatan tsunami. Sebagai satu kesatuan ekologis. Mengingat begitu strategisnya peran hutan mangrove untuk melindungi maupun melestarikan komponen ekosistem wilayah pesisir dan laut. serta wisata alam. jenis yang terancam punah dan jenis langka yang kesemuanya sangat berperan dalam memelihara keanekaragaman hayati di wilayah tertentu. Potensi ekonomi mangrove diperoleh dari tiga sumber utama yaitu hasil hutan. Kebutuhan yang seimbang harus dicapai diantara memenuhi kebutuhan sekarang untuk pembangunan ekonomi di suatu pihak. sosial. ataupun karena kegiatan lain yang secara ekologis dapat menimbulkan kelongsoran pantai. Secara ekologis. wilayah pesisir dapat mencakup ekosistem padang lamun hingga ekosistem terumbu karang. Karena tekanan pertambahan penduduk terutama di daerah pantai. Selain itu mangrove memainkan peranan penting dalam melindungi daerah pantai dan memelihara habitat untuk sejumlah besar jenis satwa. maka berbagai komponennya mempunyai hubungan timbal balik yang sangat kuat. yang meliputi aspek ekonomi. tetapi juga mencakup kawasan laut. Kerugian yang ditimbulkan sangat kompleks.muara sungai dan laguna (Karminangsih. khususnya bagi muara. dan konservasi sistem . mengakibatkan adanya perubahan tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan. program perlindungan dan pelestarian mangrove perlu mendapatkan perhatian dan prioritas yang tinggi. hutan mangrove dengan cepat menjadi semakin menipis dan rusak di seluruh daerah tropis. 2007). maka hutan mangrove mutlak diperlukan. Hal ini berarti bahwa rusaknya hutan mangrove. Dengan demikian. yaitu bukan hanya kawasan daratannya saja.

Ekowisata lebih populer dan banyak dipergunakan dibandingkan dengan terjemahan yang seharusnya yaitu ecotourism yaitu ekoturisme. rasa indah. 14 pendukung lingkungan di lain pihak. Sedangkan obyek wisata alam adalah sumberdaya alam yang berpotensi dan berdaya tarik bagi wisatawan serta ditujukan untuk pembinaan cinta alam baik dalam kegiatan alam maupun setelah pembudidayaan. pesisir. lembah sempit dan lain sebagainya. mendorong terangkatnya masalah kebutuhan konservasi dan kesinambungan pengelolaan terpadu sumber daya-sumber daya bernilai tersebut. Salah satu bentuk kegiatan wisata alam yang berkembang saat ini adalah ekowisata. dan akibat semakin berkurangnya sumber daya alam tersebut. laut. lembah. maka merupakan keharusan bahwa pengelolaan hutan mangrove didasarkan pada ekosistem perairan dan darat. E. danau. Pendapat di atas lebih dirincikan oleh Robby (2001). seperti gunung. Konsep Ekowisata Menurut Suwantoro (2002). yang menyatakan bahwa wisata alam adalah suatu kegiatan perjalanan yang dilaksanakan pada tempat-tempat yang berhubungan dengan alam. sungai. Jadi dapat disimpulkan bahwa wisata alam merupakan pemanfaatan sumber daya alam yang ditata dengan baik sehingga dapat menimbulkan rasa senang. 2003). Menurut . dalam hubungan dengan perencanaan pengelolaan wilayah pesisir terpadu (Mangrove Information Centre. produktif dan socio-ekonomi dari ekosisitem mangrove di daerah tropika. gua. air terjun. nyaman dan bersih dengan menggunakan konservasi sumber daya alam serta lingkungan sebagai daya tariknya. Tumbuhnya kesadaran akan fungsi perlindungan.Mengingat potensi multiguna sumber daya alam ini. wisata alam adalah bentuk kegiatan yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan lingkungan. hutan.

Jadi kegiatan ekowisata secara langsung memberi akses kepada semua orang untuk melihat. intelektual dan budaya masyarakat lokal (Hakim. Namun pada hakikatnya ekowisata dapat diartikan sebagai bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian area yang masih alami. pengertian tentang ekowisata mengalami pengertian dari waktu ke waktu. Kebijakan tersebut . dan secara psikologi dapat diterima dalam kehidupan sosial masyarakat. memberikan manfaat ekonomi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdaya guna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. kelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya. Ekowisata menitik beratkan pada tiga hal utama yaitu keberlangsungan alam atau ekologi. Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Ekowisata dapat dipahami sebagai perjalanan yang disengaja ke kawasan-kawasan alamiah untuk memahami budaya dan sejarah lingkungan tersebut sambil menjaga agar keutuhan kawasan tidak berubah dan menghasilkan peluang untuk pendapatan masyarakat sekitarnya sehingga mereka merasakan manfaat dari upaya pelestarian sumber daya alam (Astriani. Bahkan dalam pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. 2008) Ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu tempat lingkungan baik alam yang alami maupun yang buatan serta budaya yang ada bersifat inormaif dan partisipatif yang bertujuan untuk menjamin kelestarian alam dan sosial budaya. mengetahui dan menikmati pengalaman alam. Bahkan dengan ekowisata. 15 Fandeli dan Mukhlison (2000). memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat. 2004) Pembangunan wilayah pesisir dan laut secara berkelanjutan merupakan kebijakan penting Departemen Kelautan dan Perikanan.

pengembangan ekowisata pesisir dan laut harus mempertimbangkan dua hal. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut secara berkelanjutan. 2011). Ekowisata pesisir dan laut adalah wisata yang berbasis pada sumberdaya pesisir dan laut dengan menyertakan aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Pengembangan ekowisata merupakan salah satu alternatif pembangunan yang dapat membantu mengatasi masalah tersebut. . 2006). pengelolaan budaya masyarakat diarahkan pada kesejahteraan masyarakat pesisirdan kegiatan konservasi diarahkan pada upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberr daya pesisir untuk waktu sekarang dan masa mendatang (Tuwo. ekowisata pesisir dan laut merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan berkelanjutan dimana pengelolaan bentang alam diarahkan pada kelestarian sumberdaya pesisir dan laut. Dengan demikian. 16 didasarkan pada pemikiran bahwa wilayah pesisir dan laut secara ekologis dan ekonomis sangat potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan demi untuk kesejahteraan masyrakat. Menurut Tuwo (2011). Hal ini disebabkan oleh tidak adanya atau kurang tersedianya pilihan lain dalam memenuhi kebutuhannya. Disamping itu ekowisata juga merupakan salah satu bentuk kegiatan wisata khusus. yaitu aspek tujuan wisata dan aspek pasar. namun pola pemanfaatan yang sifatnya merusak dan mengancam kelesterian sumberdaya pesisir dan laut masih saja terus berlangsung. Ekowisata merupakan kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumber daya pariwisata. Dalam kegiatan wisata yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat lokal dan pelestarian lingkungan sangat ditekankan dan merupakan ciri khas dari ekowisata (Damanik dan Weber.

2011). fisik dam psikologis wisatawan. Konsep Valuasi (Nilai) Ekonomi Sumber Daya Alam Ekosistem pesisr dan laut. menjual filosofi dan rasa. ekowisata pesisir dan laut merupakan bentuk wisata yang mengarah ke metatourism. Pengembangan ekowisata pesisir dan laut lebih dekat kepada aspek pelestarian karena di dalamnya sudah terkandung aspek keberlanjutan. Dari aspek inilah ekowisata pesisir dan laut tidak akan mengenal kejenuhan pasar. Konsep valuasi mengacu pada nilai ekonomi dari sumberdaya alam. Pelestarian sumberdaya alam dan budaya masyarakat akan menjamin terwujudnya keberlanjutan pembangunan. 17 Meskipun pengembangan ekowisata menganut konsep pengarusutamaan produk atau pasar. Nilai ekonomi adalah ukuran jumlah maksimum barang dan jasa yang ingin dikorbankan oleh seseorang untuk memperoleh barang dan jasa lainnya. Nilai . Artinya. terumbu karang dan padang lamun selain menghasilkan barang dan jasa yang dapat dikonsumsi baik langsung dan tidak langsung juga menghasilkan jasa-jasa lingkungan yang dapat dimanfaatkan antara lain sebagai objek ekowisata. Dalam pelaksanaannya. Berhubung pentingnya fungsi ekologis dan ekonomi dari sumberdaya pesisir maka tantangan yang dihadapi oleh penentu kebijakan adalah bagaimana memberikan nilai yang komprehensif terhadap sumberdaya pesisir dan laut. ekowisata pesisir dan laut hampir tidak dilakukan eksploitasi sumber daya alam. F. seperti hutan mangrove. Bahkan dalam berbagai aspek. ekowisata pesisir dan laut tidak hanya menjual tujuan atau objek. baik dalam hal nilai pasara maupun nilai ekologi (Tuwo. namun pengembangan produk wisata tetap menjamin kelestarian sumberdaya alam dan budaya masyarakat pesisir dan laut. tetapi hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan.

nilai ekologis dari suatu ekosistem pesisir dan laut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa ekonomi dengan mengukur nilai moneter dari barang dan jasa. 18 ekonomi juga dapat diartikan sebagai keinginan membayar atau willingness to pay seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan (Tuwo. jika ekosistem pesisr dan laut mengalami kerusakan akibat polusi. Nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dapat dibagi ke dalam beberapa jenis. namun yang diperlukan adalah pengukuran seberapa besar keinginan kemampuan membayar atau purchasing power masyarakat untuk memperoleh barang dan jasa dari sumberdaya. namun secar umum dapat dibagi dua. Nilwanet al. Nilai kegunaan adalah nilai yang dihasilkan dari pemanfaatan aktual dari barang dan jasa yang dibedakan atas nilai . 2005. Pengukuran keinginan membayar pada sebagian barang dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam yang diperdagangkan dapat diukur nilainya dengan baik. Oleh karena itu dalam pengukuran nilai sumberdaya alam tidak selalu bahwa nilai tersebut harus diperdagangkan untuk mengukur nilai moneternya. Dengan menggunakan ukuran tersebut. Sebagai contoh. Dalam valuasi sumberdaya perlu pula diukur seberapa besar masyarakat harus diberikan kompensasi untuk menerima pengorbanan atas hilangnya barang dan jasa dari sumberdaya dan lingkungan. yaitu berdasarkan nilai kegunaan atau kebermanfaatan (use values) dan berdasarkan nilai non-kegunaan (non-use values). namun sebagian lagi dari sumberdaya alam tersebut. 2003). seperti keindahan pantai atau laut. Turmudi. Fauzi 2003. keaslian dan keunikan alam tidak diperdagangkan sehingga sulit diketahui nilainya karena masyarakat tidak membayarnya secara langsung. kebersihan. maka nilai yang hilang akibat degradasi lingkungan bisa diukur dari keinginan seseorang untuk membayar agar lingkungan pesisir tersebut kembali ke aslinya atau mendekati aslinya. 2011.

Perhitungan nilai ekonomi sumberdaya alam hingga saat ini telah berkembang pesat. yang dimaksud nilai ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan yang menyeluruh adalah nilai ekonomi total yang merupakan penjumlahana dari nilai kegunaan dan nilai non-kegunaan beserta komponen-komponennya (Tuwo. yaitu berdasarkan pendekatan yang berorientasi pasar dan pendekatan yang berorientasi survei atau penilaian hipotesa. 19 kegunaan langsung (direct use value) dan nilai kegunaan tidak langsung (indirect use value). mencakup berbagai faktor yang berkaitan dengan nilai sosial dan politik.kegunaan ekonomi merupakan nilai yang tidak berhubungan dengan pemanfaatan aktual dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam. Nilai ini lebih sukar dihitung karena didasarkan pada preferensi terhadap lingkungan daripada pemanfaatan langsung. 2011). Secara garis besar metode penilaian manfaat ekonomi (biaya lingkungan) suatu sumber daya alam dan lingkungan pada dasarnya dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar. nilai pewarisan (bequest value) dan nilai pilihan (option value). Penilaian peranan ekosistem termasuk kawasan konservasi bagi kesejahteraan manusia merupakan pekerjaan yang sangat kompleks. . Nilai non- kegunaan dibagi ke dalam nilai keberadaan (existence value). Dan nilao non. Berdasarkan uraian tersebut. perhitungan- perhitungan tentang biaya lingkungan sudah banyak berkembang. Di dalam konteks ilmu ekonomi sumber daya dan lingkungan.

Pendekatan Biaya Perjalanan (Travel Cost Method) Beberapa nilai barang dan jasa lingkungan yang melekat pada sumberdaya alam dan lingkungan seperti nilai rekreasi. dan teknik pengukuran berdasarkan bukti (Tuwo. 20 G. Ada beberapa macam teknik penilaian yang dapat digunakan untuk mengkuatifikasikan konsep dari nilai. nilai keindahan dan lain sebagainya tidak diperdagangkan dan kita tidak memiliki data mengenai harga dan kuantitas dari barang dan jasa tersebut. jumlah biaya perjalanan ini termasuk biaya pergi pulang ditambah dengan nilai uang dari waktu yang dihabiskan untuk perjalanan dan rekreasi tersebut. pendugaan permintaan terhadap manfaat intangibel seperti rekreasi dapat dilakukan dengan pendekatan metode biaya perjalanan (travel cost methode). Teknik pengukuran secara tidak langsung didasarkan pada deduksi atas perilaku seseorang atau masyarakat secara keseluruhan terhadap penilaian sumberdaya alam dan jasa lingkungan. Teknik ini diharapkan menghasilkan nilai yang secara konseptual identik dengan nilai pasar. teknik pengukuran langsung. Turmudi. Secara umum. Metode biaya perjalanan ini banyak digunakan untuk menganalisis permintaan terhadap rekreasi di alam terbuka (Tuwo. Metode travel cost merupakan metode tertua dalam hal pengukuran niali ekonomi secara tidak langsung. 2011. Untuk hal seperti ini para ahli ekonomi sumberdaya dan lingkungan melakukan inovasi untuk menduga nilai jasa tersebut dengan menggunakan beberapa pengukuran seperti teknik pengukuran tidak langsung. Menurut Davis dan Jhonson (1987). Konsep dasar dalam penilaian ekonomi yang mendasari semua teknik ini adalah kesedian membayar dari individu untuk jasa-jasa lingkungan atau sumberdaya. . 2011). 2005. Fauzi 2003).

Tujuan utama dari penggunaan metode ini adalah untuk mengetahui nilai kegunaan (use value) dari sumberdaya alam melelui pendekatan perwakilan (proxy). yaitu pendekatan . Terdapat dua teknik sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan nilai ekonomi sumberdaya berdasarakan metode travel cost ini. Asumsi dasar yang digunakan pada pendekatan travel cost ini adalah utilitas dari setiap konsumn terhadap aktivitas. Asumsi dasar metode ini adalah bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pengunjung merupakan pencerminan kesediaan pengunjung untuk membayar tempat wisata tersebut. 21 Pendekatan biaya perjalanan dikembangkan untuk menilai manfaat yang diperoleh pengunjung dalam memanfaatkan sumber daya alam. jumlah biaya perjalanan ini termasuk biaya pulang pergi ditambah dengan nilai uang dari waktu yang dihabiskan untuk perjananan dan rekreasi tersebut. Jika lokasi kunjungan itu adalah barang lingkungan maka besarnya biaya perjalanan itu dipandang sebagai nilai yang diperoleh oleh penyediaan barang lingkungan tersebut (Yakin. Kemudian fungsi permintaan terhadap daerah rekreasi tersebut diestimasi dengan menggunakan biaya perjalanan ini sebagai representasi dari nilai atau harga lokasi kunjungan tersebut. Secara umum. 1997). dimana biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi jasa dari sumberdaya alam digunakan sebagai proxy untuk menentukan harga dari sumberdaya tersebut. Metode biaya perjalanan (travel cost methode) ini dilakukan dengan menggunakan informasi tentang sejumlah uang yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan orang untuk mencapai tempat rekreasi untuk mengestimasi besarnya nilai benefit dari upaya perubahan kualitas lingkungan dari tempat rekreasi yang dikunjungi. misalnya rekreasi bersifat dapat dipisahkan. Pendekatan ini digunakan untuk menilai menilai pemanfaatan fasilitas wisata alam sebagai barang lingkungan yang dapat dipertimbangkan.

Jumlah kunjungan per tahun dihitung dan berdasar data ini akan diperoleh data kunjungan per 1. Kerangka Pikir Kota Tarakan merupakan salah satu daerah di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang secara optimal belum . 22 sederhana melalui zonasi dan pendekatan individual dengan menggunakan data hasil survei. 2005. namun pada pendekatan ini. tempat rekreasi dibagi ke dalam beberapa zona kunjungan. Berdasarkan data jumlah kunjungan. semakin jauh tempat tinggal seseorang dari suatu tempat rekreasi tertentu maka permintaan rekreasi terhadap tempat tersebut semakin rendah. Dalam menetukan fungsi permintaan untuk kunjungan ke tempat ekowisata. dan teknik statistika yang relatif kompleks. et al (1987). jarak dan waktu perjalanan. Pendekatan zonasi adalah pendekatan yang relatifsederhana dan murah karena data yang diperlukan relatif banyak mengandalkan data sekunder dan bebrapa data sederhana dari responden pada saat survei. Selanjutnya Hufschmidt.000 penduduk. analisis lebih didasarkan pada data primer yang diperoleh melalui survei. pendekatan individual metode ini menggunakan teknik ekonometrika (Tuwo. menyatakan bahwa pendugaan permintaan rekreasi alam. Pendekatan individual metode travel cost secara metodologi sama dengan sistem zonasi. H. 2011. serta biaya perjalan per satuan jarak (per km). 2003). Metode pendekatan individual ini hasilnya relatif lebih akurat dibanding metode zonasi. Pada pendekatan zonasi. Fauzi. makan akan diperoleh biaya perjalanan secara keseluruhan dan kurva permintaan untuk kunjungan ke tempat wisata. Turmudi. dan sebaliknya bila untuk para wisatawan yang tempat tinggalnya dekat dengan tempat rekreasi maka permintaannya akan semakin meningkat.

Hal ini dapat dilihat dari kesediaan para pengunjung selama melakukan perjalanan wisata dengan pendekatan biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung mulai dari tempat tinggal. selama perjalanan sampai ke tempat wisata dan kembali ke tempat tinggal. bukan hanya sebagai kawasan hijau lestari yang menjadi aset pemerintah kota. Selain itu. Penilaian tersebut memiliki peranan yang dapat menentukan pengembangan dari Kawasan . salah satunya yaitu Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan yang telah ditetapkan sebagai tempat rekreasi (kawasan wisata) berdasarkan Perda No. untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan minat wisatawan untuk mengunjungi kawasan konservasi ini. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan memiliki daya tarik tersendiri karena memiliki pemandangan yang asri dan menyegarkan serta adanya hewan langka yang dilindungi. 8 tahun 2010 oleh pemerintah Daerah Kota Tarakan. Sebagai salah satu objek ekowisata. Hal ini penting untuk mengetahui keuntungan serta kerugian dari pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir. Tapi keindahan dan keasrian hutan kota ini masih memerlukan perhatian. Besarnya valuasi ekonomi wisata dari kawasan konservasi hutan mangrove Kota Tarakan ini dapat memberikan penilaian yang terukur dari pengembangan kawasan ini. yaitu bekantan. Selain itu penataan kawasan yang didesain dengan memperhatikan kenyamanan para pengunjung. Salah satu cara untuk mengetahui manfaat dari kawasan ini yaitu dengan mengetahui valuasi (nilai) ekonomi wisata kawasan konservasi hutan mangrove ini. tapi lebih memberikan manfaat ke masyarakat sesuai fungsinya sebagai kawasan konservasi. 23 termanfaatkan. hutan penelitian dan pendidikan serta implikasi pemanfaatan dari Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan sebagai kawasan ekowisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.

faktor yang Besarnya valuasi Faktor. . 8 Tahun 2010) Besarnya valuasi Faktor. 24 Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan yang mencakup berbagai faktor yang dapat tetap menjaga dan mempertahankan kelestarian dan pembangunan yang berkelanjutan dari kawasan ini sebagai kawasan wisata. Sumberdaya Pesisir Sumberdaya Pesisir Kawasan Konservasi Hutan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Mangrove Kota Tarakan Pemanfaatan Kawasan Konservasi Kawasan Wisata Hutan Mangrove Kota Tarakan (Perda No.faktor yang Implikasi pemanfaatan ekonomi wisata mempengaruhi intensitas Implikasi pemanfaatan ekonomi wisata mempengaruhi intensitas berdasarkan metode kunjungan berdasarkan metode kunjungan biaya perjalanan biaya perjalanan Kelestarian dan Pembanguanan Yang Berkelanjutan Dari Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Sebagai Kawasan Ekowisata Gambar 1 : Kerangka Pemikiran dan Ruang Lingkup Penelitian Valuasi Ekonomi Wisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan.

METODOLOGI PENELITIAN A. kawasan konservasi. Metode ini adalah teknik pengambilan sampel secara sengaja dengan pertimbangan bahwa responden adalah pengunjung kawasan konservasi hutan mangrove yang sedang melakukan kunjungan wisata dengan cara menetapkan jumlah tertentu sebagai target yag harus dipenuhi dalam pengambilan sampel dari populasi. hutan penelitian dan pendidikan. menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data. Lokasi dan Waktu Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan Propinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini berlangsung bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2011. Yang . Jenis Penelitian Jenis penelitian menggunakan metode survei yaitu dengan melakukan observasi di lapangan dan wawancara secara langsung dengan responden yang terpilih. C. 2001). 25 III. B. kemudian dari jumlah tersebut disesuaikan dengan karakteristik populasi yang ditentukan berdasarkan data kunjungan tahunan yang relevan terhadap kondisi sebenarnya (Sugiarto. Hal ini berdasarkan atas asas kelestarian dan pembangunan yang berkelanjutan. Metode Pengambilan Sampel Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Purposive Random Sampling. Kemudian data yang telah diperoleh dianalisis secara kualitatif maupun kuantitatif. Lokasi di dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan merupakan salah satu kawasan mangrove yang pengelolaan dan pemanfaatannya ditetapkan sebagai kawasan wisata.

2011). Responden tersebut dapat temasuk pihak pengelola kawasan ekowisata.553 orang (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tarakan.541 orang. Oleh karena itu. .923 orang dan 35. 26 menjadi sasaran penelitian ini hanya dibatasi pada pengunjung lokal. Dalam menentukan jumlah sampel digunakan rumus Slovin. yaitu : n= N 1 + N(e)2 Keterangan : n = Ukuran sampel yang dibutuhkan N = Ukuran populasi pengunjung e = Margin error yang diperkenankan (0. dalam 4 tahun ini akan diperoleh rata-rata jumlah pengunjung/tahun yang datang adalah 27. 27674 orang.1) Jumlah populasi yang akan diambil dalam menentukan jumlah responden yang akan diwawancari adalah berdasarkan data jumlah kunjungan di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 4 tahun terakhir ini (2006 – 2009) adalah : 23.418 orang dan jika dimasukkan ke dalam rumus Slovin diatas akan diperoleh jumlah sampel sebanyak 100 orang. 22. yaitu pengunjung yang berasal dari dalam negeri khususnya pada wilayah administratif Kota Tarakan Sedangkan untuk responden yang terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan tidak ditentukan batasan jumlahnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghimpun informasi sebanyak-banyaknya mengenai pengelolaan dan pemanfaatan serta implikasi dari pemanfaatan kawasan konservasi ini. tokoh masyarakat setempat maupun para masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan konservasi tersebut.

27 Secara matematis cara jumlah memperoleh sampel tersebut adalah sebagai berikut : n= N 1 + N(e)2 n= 27. E.1) 2 n= 27.418(0.418 275. Observasi Dilakukan dengan mengadakan peninjauan langsung mengenai operasional di lokasi penelitian untuk memperoleh gambaran lokasi penelitian yang sebenarnya.63 n = 100 D.18 n = 27.418 1 + 274. Interview Dilakukan dengan wawancara langsung dengan melakukan tanya jawab terhadap responden yaitu wisatawan maupun instansi yang terlibat yang berhubungan dengan penelitian dengan bantuan daftar pertanyaan. c. Studi Pustaka Dilakukan dengan mengumpulkan data melalui kajian pustaka yang ada hubungannya dengan penelitian. Teknik Pengumpulan Data a. b. Sumber Data Penelitian Sumber data yang digunakanan pada penelitian ini adalah data primer .18 n = 99.418 1 + 27.

jarak menuju kawasan konservasi dan total biaya yang dikeluarkan. Data Primer Merupakan data yang di dapatkan secara langsung dari lokasi penelitian melalui observasi. a. Dalam penelitian ini. Data Sekunder Merupakan data pendukung data primer yang diperoleh dari literatur- literatur maupun instansi terkait yang mendukung penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji. nilai ekonomi wisata kawasan konservasi hutan mangrove ini dihitung dengan menggunakan biaya perjalanan wisata (travel cost methode) yang meliputi biaya transportasi pulang pergi dari tempat tinggal pengunjung ke lokasi obyek ekowisata dan pengeluaran lainnya selama dalam perjalanan dan di dalam lokasi ekowisata seperti konsumsi dan tiket masuk. tingkat pendapatan. tahapan . Analisis Data Data primer dan sekunder yang diperoleh dalam penelitian ini kemudian dianalisis secara deskriptif pendekatan kuantitatif dan kualitatif. interview maupun dokumentasi yang terkait dengan tujuan penelitian. Dan analisis regresi linear berganda untuk menduga intensitas kunjungan responden berdasarkan faktor-faktor penduga seperti umur responden. tingkat pendidikan. Analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung nilai ekonomi wisata kawasan kawasan konservasi hutan mangrove ini berdasarkan metode biaya perjalanan (travel cost methode). 28 dan data sekunder. F. Menurut Sulistiyono (2007). Biaya perjalanan adalah jumlah total biaya yang dikeluarkan pengunjung selama melakukan kegiatan wisata. b.

2. Menentukan jumlah rata-rata kunjungan per tahun berdasarkan data pengunjung pada tahun sebelumnya dari pengelola Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan. Menduga intensitas kunjungan responden (Y) berdasarkan faktor-faktor penduga (X) seperti umur responden (X1). tingkat pendapatan (X3). dirumuskan : BP = BT + BtK + BK + BS + BL Keterangan : BP = Biaya Perjalanan (Rp/Orang/Hari kunjungan) BT = Biaya Transportasi (Rp/Orang) BTk = Biaya Tiket (Rp/Orang) BK = Biaya Konsumsi selama melakukan wisata (Rp/Orang) BS = Biaya Souvenir (Rp/Orang) BL = Biaya Lain-lain (Rp/Orang) 4. Menduga presentase pengunjung dari tiap daerah administratif yang dirumuskan : JCi Pi = x 100% N Keterangan : Pi = Presentase pengunjung dari tiap daerah i JCi = Jumlah pengunjung contoh dari tiap daerah i N = Jumlah total responden (jumlah contoh) 3. jarak menuju kawasan konservasi (X4) dan total biaya . tingkat pendidikan (X2). Menentukan besarnya biaya perjalanan rata-rata dari jumlah total biaya perjalanan yang dikeluarkan selama melakukan perjalanan atau kegiatan wisata. 29 penentuan nilai ekonomi wisata alam dengan menggunakan metode biaya perjalanan adalah : 1.

2. Valuasi (nilai) ekonomi adalah seluruh barang dan jasa yang memberikan manfaat berupa pendapatan yang diukur dalam Rupiah (Rp). Adapun bentuk umum dari persamaan tersebut adalah : Y = a + b1X1 + b2X2 + . . 30 perjalanan yang dikeluarkan (X5).. Kawasan konservasi merupakan suatu kawasan yang diberi perlindungan maupun pemanfaatan yang tidak boleh diganggu oleh masyarakat setempat 5.. Konservasi merupakan perlindungan terhadap hutan mangrove. 3. 4. baXa Dimana : Y = Intensitas kunjungan oleh pengunjung a = Konstanta b = Koefisien regresi dari X X1 = Umur pengunjung X2 = Tingkat pendidikan X3 = Tingkat pendapatan X4 = Jarak yang diperlukan untuk menuju tempat wisata X5 = Total biaya perjalanan yang dikeluarkan G.. Nilai adalah persepsi atau pandangan manusia terhadap sesuatu dengan yang diukur dalam Rupiah (Rp). Konsep Operasional Konsep operasional ini dibuat dengan maksud memberikan batasan yang jelas tentang tema yang akan di kaji untuk menyamakan persepsi tentang konsep-konsep pembahasan dalam penelitian ini. 1. Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang tergenang dan dipengaruhi oleh air laut.

Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang memiliki hubungan dengan prinsip konservasi dimana kelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya. Pengelolaan dan pemanfaatan kawasan konservasi hutan mangrove merupakan tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tarakan. biaya tiket. 31 6. 13. LSM dan masyarakat sekitarnya untuk dapat tetap mempertahankan keasrian dan keberadaan kawasan tersebut. 9. Kawasan konservasi hutan mangrove Kota Tarakan adalah hutan mangrove seluas 22 Ha yang dijadikan fasilitas umum oleh Pemerintah Kota Tarakan dan dimanfaatkan sebagai tempat wisata. 15. biaya souvenir dan biaya lain-lainnya yang diukur dalam Rupiah (Rp). Metode biaya perjalanan merupakan jumlah biaya perjalanan yang dikeluarkan selama melakukan perjalanan wisata yang diukur dalam Rupiah (Rp). 12. 8. Wisata alam merupakan suatu bentuk kegiatan yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam dan lingkungan yang ditata dengan baik serta memiliki daya tarik. biaya konsumsi. Variabel terikat (dependent variabel) dalam hal ini adalah intensitas kunjungan responden . 11. Kegiatan wisata adalah segala hal yang dilakukan oleh pengunjung selama menikmati wisata tersebut. Konversi hutan mangrove merupakan berbagai kegiatan yang dapat mengancam kelestarian hutan mangrove. 10. Biaya perjalanan adalah jumlah total biaya yang dikeluarkan pengunjung selama melakukan kegiatan wisata meliputi biaya transportasi. 14. 7. pendidikan dan penelitian. Wisatawan merupakan para pengunjung (masyrarakat) yang menikmati wisata kawasan konservasi hutan mangrove.

. 21. Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel pengunjung dengan Umur 17 tahun keatas. 19. Tingkat pendapatan adalah jumlah penghasil rata-rata responden setiap bulannya yang diukur dalam Rupiah (Rp). 17. tingkat pendapatan dan jarak yang ditempuh responden menuju kawasan konservasi. tingkat pendidikan. Persepsi responden adalah pendapat responden tentang lokasi ekowisata Kawasan Konservasi Hutan mangrove Kota Tarakan termasuk dengan lingkungan sekitarnya. 32 16. Tingkat pendidikan adalah pendidikan yang ditempuh oleh responden mulai dari tidak sekolah hingga Perguruan Tinggi. Umur adalah tingkat usia dari seluruh pengunjung Kawasan Konservasi Hutan Mangrove. 18. Intensitas kunjungan responden adalah jumlah/frekwensi kunjungan responden ke kawasan hutan mangrove tersebut. Jarak adalah jauhnya perjalanan yang ditempuh oleh responden yang di ukur dalam kilo meter (km). 20. 22. Variabel bebas (independent variable) meliputi umur.

P.Adapun rincian luas wilayah kecamatan. telah memberikan julukan tersendiri bagi pulau ini sebagai daerah yang tak kenal musim.33 km². Kota Tarakan. Sesuai dengan namanya pulau ini berfungsi sebagai tempat persinggahan atau tempat istirahat dan melakukan barter kaum nelayan dari Kerajaan Tidung pada masa sebelum datangnya kaum Kolonial Belanda. dengan wilayah terluas adalah Kecamatan Tarakan Utara yaitu 109. Tanjung Palas Sebelah Barat = Pesisir Pantai Kec. Kalimantan Timur. Bunyu Sebelah Timur = Kec. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan terletak di Jalan Gajah Mada.82%. Tarakan.80 km² dan luas lautan ±406.36 km 2 atau sekitar 44% yang terdiri dari 3 kelurahan. Sesayap Luas wilayah Kota Tarakan yaitu 250. Suhu udara minimum Kota Tarakan rata-rata 24. 33 IV.batas wilayah dari Kota Tarakan adalah sebagai berikut : Sebelah Utara = Pesisir Pantai Kec. berasal dari Bahasa Tidung.117°40’12” Bujur Timur. Bunyu dan Laut Sulawesi Sebelah Selatan = Pesisir Pantai Kec. banyaknya . Memiliki wilayah daratan seluas ± 250. Adapun batas.80 km2.1oC dengan kelembabab rata-rata 84. Sedangkan daerah yang paling kecil luas wilayahnya adalah Kecamatan Tarakan Barat dengan luas wilayah 27.89 km 2 atau sekitar 11% yang terdiri dari 5 kelurahan. Kota Tarakan terletak di pintu gerbang utara Propinsi Kalimantan Timur secara astronomis berada diantara 3°14’23”-3°26’37” Lintang Utara dan 117°30’50”. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Curah Hujan dalam 5 tahun terakhir rata-rata sekitar 308.1oC dan maksimum 31.2 mm/bulan dan penyinaran rata-rata 49. yang artinya tempat singgah (tarak) dan makan (ngakan). P.7%.

yaitu “Keputusan Walikota Tarakan Nomor 591/HK/V/257/2001. 34 kelurahan dan RT.80 100 Sumber : Buku Saku Statistik Kota Tarakan. Luas Wilayah Kecamatan dan Banyaknya Kelurahan di Kota Tarakan No. Diagram Persentase Luas Wilayah Kecamatan di Kota Tarakan B.54 22 3. Tarakan Utara 3 109. telah mengambil langkah-langkah konkrit untuk melaksanakan konservasi atau pelestarian ekosistem pada kawasan hutan mangrove di Pulau Tarakan.01 23 2. 2010 Gambar 2. Tentang Pemanfaatan Hutan Mangrove di Kota Tarakan“. Kota Tarakan dipimpin oleh dr. .36 44 Total 20 250. Tarakan Barat 5 27. RW di Kota Tarakan dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 2 berikut: Tabel 1.89 11 4. serta “Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2002. Tarakan Tengah 5 55. Tarakan Timur 7 58. Dengan mengeluarkan Surat Keputusan Walikota dan Peraturan daerah tentang Pengawasan dan Penertiban Kawasan Konservasi Mangrove. Tentang Larangan dan Pengawasan Hutan Mangrove di Kota Tarakan“. Jusuf SK (Walikota Tarakan periode 1999-2009) dan didukung oleh Udin Hanggiono (Ketua DPRD Kota Tarakan). Sejarah Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan Pada tahun 2001. Kecamatan Kelurahan Luas (km2) Persentase (%) 1.

. Provident Indonesia Energy. dan karantina untuk pemeriksaan kesehatan hewan. perpustakaan. Kawasan ini telah dilengkapi berbagai sarana untuk yang diperuntukkan untuk kenyamanan pengunjung maupun penghuni kawasan konservasi ini yang berupa berbagai fauna dan flora khas hutan mangrove termasuk fasilitas jembatan yang terbuat dari kayu ulin. karantina kesehatan hewan. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan sampai saat ini merupakan satu-satunya hutan mangrove di Indonesia yang lokasinya berada di pusat kota. Dan ini merupakan satu-satunya di Indonesia. Dan pada tahun 2007. tetapi secara bertahap mulai nampak hasilnya. PT. gazebo. PT. khususnya bekantan. Kawasan ini telah dilengkapi jembatan kayu ulin. Ganko Food Industries. C. menara pengamat. 35 Pada tahun 2006 atas kesepakatan Pemerintah Kota Tarakan dan DPRD Kota Tarakan . penggantian pintu gerbang kayu dan dilengkapi dengan ruang pos petugas dan informasi yang permanen Walaupun tantangannya cukup besar. gazebo. dan fasilitas penunjang lainnya. taman baca atau perpustakaan. Obyek Ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan Salah satu peninggalan yang cukup penting bagi kelestarian alam di Pulau Tarakan yakni dilokalisirnya hutan mangrove. obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini diperluas dari 9 Ha menjadi 22 Ha. tempat bersemayamnya bekantan. Kawasan itu dinamakan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Penanaman dan pengembangan di lahan perluasan didukung oleh WWF Kayan Mentarang. Medco dan PT PLN juga berkontribusi untuk pembuatan penangkaran burung dan penanaman mangrove. Minanusa Aurora dan Nichirei Fresh Ltd. Tarakan memiliki hutan mangrove yang berlokasi di pusat kota.

Cici Merah (Cisticola exilis) dan lain-lain. Ulat daun Brugulera parfviflora (Polyura schreiber malayicus) dan Laba-laba dari jenis Tetragnatha josephi. Kipasan Belang (Rhipidura javanica). Mudlobster. Scylla serrata). Salticidea dan Theridilidea. Crapsidae. Tawon Mangrove. Tak mengherankan jika jembatan itu meliuk-liuk di sela sela pohon bakau. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove telah menjadi alternatif utama baik bagi masyarakat kota maupun para wisatawan dari . memudahkan pengunjung untuk berkeliling. melakukan pengamatan. Oxyopes quadridentatus. Eurychoera quadrimaculata. Ikan. 36 Jembatan ulin yang dibangun sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada batang pohon yang ditebang. Kerang (Bivalvia).lain. Pistol Shrimp. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan memiliki luas 22 Ha yang didalamnya terdapat beberapa koleksi flora yaitu sekitar 25 jenis mangrove yang ke depannya akan ditambah jenis yang lain. diantaranya Elang Bondol (Haliastur Indus). Reptil dari jenis Ular Pohon (Chrysopelea paradisi). Sedangkan untuk fauna dalam kawasan ini terdiri dari 23 ekor Bekantan (Nasalis larvatus) yang hidup bebas berkembang biak. Jembatan yang panjangnya 2. Argiope sp. Sebagai obyek ekowisata. dan lain. Sedikitnya ada 25 jenis burung yang hidup di kawasan konservasi ini. Clubiona sp.400 meter dan lebar 2 meter itu. Dan jenis fauna yang hidup dibawah akar mangrove yaitu Siput (Gastropoda). memotret. Beberapa jenis serangga yaitu Lebah Madu (Apis dorsata). Kepiting (Crustacea: Uca sp. Gasteracantha sp. Kadal (Mabuya Sp) dan Biawak (Veranus salvator). melukis. Cekakak Sungai (Halcyon chloris). Ada juga primata jenis monyet berekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan ini.

37

luar Kota Tarakan, terutama bagi mereka yang ingin melihat kehidupan monyet

langka tersebut dan habitat aslinya.

Tidaklah berlebihan bila dikatakan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove

Kota Tarakan ini sangat unik dan menarik. Diantara keunikannya adalah

lokasinya yang berada di pusat kota, berdampingan dengan pusat perbelanjaan

modern, serta hutan mangrove yang alami. Tidak hanya itu, yang juga unik dan

menarik adalah keberadaan satwa langka Kalimantan yang dilindungi yaitu

monyet bekantan yang hidup bebas, bergelantugan, dan meloncat dari pohon ke

pohon lainnya. Hewan bekantan ini termasuk jenis satwa yang sangat pemalu,

sangat sensitif dan mudah stress.

Dibandingkan dengan jenis monyet atau kera lainnya, hidung monyet

bekantan (Nasalis larvatus) ini mungkin yang paling besar. Hidung sang jantan

utamanya menggantung seakan-akan gelayutan dan jatuh menutupi bibir, mirip

buah terong yang besar membengkak ujungnya. Semakin dewasa, hidung untuk

sang jantan kian mekar sampai sekitar 7,5 cm.

Hewan yang hanya ada di Kalimantan ini juga bernama lokal bekara,

raseng, pika, batangan atau kahau. Bahkan di Kalimantan Selatan bekantan juga

dijuluki warik walanda atau monyet belanda karena kemancungan hidungnya dan

warna bulu di kepala serta punggung yang berwarna kuning coklat kemerahan.

Monyet ini memiliki panjang ekor yang melebihi panjang tubuhnya dan hanya

yang jantan yang berhidung mancung.

Keunikan dan pesona Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota

Tarakan ini bukan hanya “monyet belanda“nya, tetapi juga panorama perpaduan

suasana alam laut dan hutan mangrove yang dinamis dengan segala kekayaan

flora dan faunanya. Perpaduan yang dinamis tersebut menghasilkan panorama

berbeda yang mempunyai keindahan tersendiri.

38

Panorama pertama ketika air surut, kita bisa melihat keindahan pohon

bakau dari pucuk pohon sampai ke akar-akar tujang yang berjuntai

mencengkeram tanah berlumpur. Sementara itu para bekantan dan kera ekor

panjang bermain di antara poon-pohon bakau sambil mencari ikan dan kepiting.

Pada saat air surut akan nampak pula gundukan-gundukan tanah “istana

kepiting“. Kepiting yang aneka warna ada yang merah, merah kehitaman, ungu,

jingga, hijau, kuning, orange dan sebagainya dapatkita temukan di sekitar aliran

sungai di tengah kawasan ekowisata ini. Setidaknya ada 13 spesies kepiting

yang hidup di kawasan ekowisata ini.

Ketika air surut kita juga dapat mengamati ikan “unik“ yang dikenal

sebagai ikan gelodok atau tempakul (nama lokal) atau mudskipper

(Periopthalmus sp) berlompatan, bertarung, sembunyi di lumpur atau

“memanjat“ pohon bakau. Tak jarang ikan ini mengeluarkan suara “klok-klok-klok“

yang cukup keras sehingga menciptakan suasana khas pesisir. Ada beberapa

spesies ikan jenis ini yang dapat kita lihat.

Menurut seorang tamu dari Korea, ikan jenis ini di Hongkong disajikan di

restoran-restoran mewah sebagai menu spesial yang cukup mahal. Konon

berkhasiat pula untuk obat antara lain penyakit asma. Bahkan pernah ada

sebuah perusahaan di Tarakan yang mengekspor ikan tempakul ini. Bila

beruntung kita bisa bertemu dengan “komodo mini“, biawak (Varanus salvator),

yamg panjangnya bisa mencapai sekitar 2-3 meter sedang merangkak di atas

pohon atau dibalik perakaran mangrove.

Panorama kedua adalah kita air pasang kira-kira setinggi 60 cm dari

dasar pantai. Pada saat itu, kita bisa melihat ular-ular laut berenang, ikan julung-

julung dan berbagai biota laut lain. Pada saat-saat tertentu kita juga bisa melihat

kawanan berang-berang laut yang jumlahnya kadang mencapai ratusan masuk

dari laut ke kawasan ekowisata. Keadaan ini menjadi saat yang tepat bagi

39

pengunjung yang tertarik untuk mendapatkan pengalaman unik yang berkesan

yaitu menangkap kepiting dengan alat tradisional “ambau“. “Ambau“ adalah alat

tangkap sejenis perangkap kepiting yang sederhana dan praktis.

Panorama yang ketiga adalah ketika air pasang naik maksimal, sekitar

10cm di bawah jembatan ulin. Kita seolah-olah berada di laut di antara tegakan-

tegakan berbagai spesies pohon mangrove yang asri. Mengingat seistem pasang

surut di Pulau Tarakan terjadi dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Maka

ketiga panorama tersebut masing-masing mempunyai dua variasi pagi dan sore

hari.

Pada saat pagi hari menjelang matahari terbit riuh kicau burung terdengar

bersahutan. Demikian juga pada saat sore menjelang matahari terbenam,

walaupun tidak seramai kicau burung di saat pagi hari.

D. Akses Menuju Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan

Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan terletak di pusat

Kota Tarakan yang dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan bermotor

roda dua maupun roda empat. Lokasi kawasan ekowisata ini yang berada di

tengah kota membuat para pengunjung memilih kawasan ini untuk berlibur

karena jarak tempuh dari tempat tinggal mereka menuju ke kawasan ekowisata

ini cukup mudah dengan bantuan aksesibilitas jalan yang baik. Para Pengunjung

yang mendatangi kawasan hutan mangrove ini tidak memerlukan waktu yang

lama untuk sampai di tempat wisata ini karena jarak tempuh yang relatif dekat

dan juga akses jalan yang baik.

Selain itu, pengunjung yang berasal dari luar Kota Tarakan juga dapat

dengan mudah mengakses obyek ekowisata ini baik dengan menggunakan jalur

laut maupun udara. Jarak obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan

Mangrove Kota Tarakan dengan menggunakan kendaraan bermotor dari bandara

Pariwisatan Pemuda dan Olahraga Kota Tarakan. Fasilitas dan Potensi Kawasan Wisata Hutan Mangrove Kota Tarakan Pengelolaan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ditangani secara langsung oleh Dinas Kebudayaan. Lokasi parkir 2 4. Gazebo 2 8. Toilet permanen 2 9. Kandang penangkaran burung 5 11. Tabel 2. Pariwisata. Rumah karantina hewan 1 10. dari pelabuhan utama Melundung berjarak sekitar 5 km atau dapat ditempuh kurang lebih selama 10 menit. Pemuda dan Olahraga Kota Tarakan. Kawasan ekowisata hutan mangrove ini memiliki berbagai fasilitas pendukung yang sangat dibutuhkan oleh pengunjung yang datang ke kawasan konservasi ini. Tugu batu patung bekantan 1 5. Fasilitas Jumlah 1. Tempat duduk dari kayu 15 12. Loket penjualan tiket di pintu masuk 1 2. Mushalla untuk beribadah 1 3. Jalanan/Jembatan yang terbuat dari kayu 1 Sumber : Dinas Kebudayaan. Warung makanan 1 7. dari pelabuhan Tengkayu II yang berjarak kurang dari 500 meter dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 5 menit bila berjalan kaki. 2011 . Fasilitas dan Jumlahnya Yang Tersedia di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan No. 40 udara Juwata berjarak sektar 7 km yang dapat ditempuh selama kurang lebih 15 menit. Fasilitas yang tersedia di kawasan konservasi ini di antaranya tersaji dalam Tabel 2. E. Perpustakaan/Taman baca 1 6. Etalase penjualan souvenir 1 13. dari pelabuhan Tengkayu I berjarak 4 km yang dapat ditempuh selama kurang lebih 7-10 menit.

2010). Pemeluk agama terbesar adalah Islam disamping Kristen. dan lain-lain. yang didiami oleh suku asli Tidung. Banjar. . Keberadaan perusahaan-perusahaan ini mampu menyedot sejumlah besar tenaga kerja yang sangat membantu Pemerintah Daerah dalam menanggulangi permasalahan ketenagakerjaan. Sumber daya ini telah dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakatnya dalam mencari nafkah sebagai nelayan dan petambak udang. Tanah Paguntaka ini terkenal akan Tari Jepen yang merupakan tari asli daerah ini. Bugis. Sementara di dunia musik. selain Hadrah dan tari-tari tradisional yang berasal dari berbagai daerah. perkembangan musik tradisional dan modern juga menunjukkan kemajuan yang berarti. Sebagai pulau kecil yang dikelilingi laut. Hasil laut yang melimpah ini selain dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Kependudukan dan Sosial Ekonomi Masyarakat Kota Tarakan. Tarakan mempunyai potensi kelautan yang demikian besar. Dibidang kesenian. 41 F. Jawa. Catatan Sipil dan Keluarga Berencana Kota Tarakan. Tionghoa. dalam perkembangannya sebagaimana daerah lain dihuni pula oleh suku-suku lain seperti Suku Dayak. Hindu dan Budha (Badan Kependudukan. sebagian besar (terutama udang) telah dijadikan komiditi ekspor oleh beberapa pengusaha melalui Cold Storage mereka.

sementara konsep konservasi lebih bersifat pelestarian dan pengawetan alam dengan meningkatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat terkait terutama masyarakat sekitar hutan bakau. ekonomi maupun lingkungan (ekologi). Implikasi Pemanfaatan dari Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Pemanfaatan hutan mangrove yang tidak seimbang mengakibatkan luasannya semakin menurun. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan adalah fasilitas umum yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Tarakan yang dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dilakukan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan perlindungan dan konservasi. Hutan mangrove merupakan sumberdaya alam yang sangat potensial dan mendukung bagi kelangsungan hidup manusia. tetapi di pihak lain dapat melestarikan dan menggunakan sumber daya alam kawasan hutan mangrove ini secara berkelanjutan. Hal ini dimaksudkan agar di satu pihak mereka dapat membangun kehidupan yang lebih baik. Bentuk partisipasi masyarakat Kota Tarakan dalam proses pengelolaan kawasan ekowisata hutan mangrove ini diantaranya adalah kerjasama antara pemerintah setempat dalam pengembangan kawasan hutan mangrove sehingga partisipasi masyarakat . baik dari segi social. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Konsep perlindungan hutan bersifat menjaga hutan dari gangguan. 42 V. Pemanfaatan kawasan ekowisata ini berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 8 Tahun 2010 merupakan suatu proses mencapai tujuan kelestarian kawasan konservasi hutan mangrove. Kondisi ini tentunya mengancam kelangsungan hidup manusia. pendidikan dan penelitian. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 8 Tahun 2010.

Yang paling menonjol adalah sebagai obyek ekowisata atau wisata alam. 43 dalam pemanfaatan dapat memberikan bantuan pemikiran dan memberikan pertimbangan dalam bentuk teknis dan pengelolaan. Implikasi Pemanfaatan dari Segi Sosial Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan yang awalnya hanya dijadikan hutan kota kini telah berkembang untuk berbagai kepentingan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi. efektivitas. kawasan ini telah menjadi alternatif utama baik bagi masyarakat kota maupun para wisatawan dari luar Kota Tarakan. dan meningkatkan kelestarian Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini. untuk wahana pendidikan lingkungan hidup. untuk penelitian disamping fungsi ekonomis dan ekologis lingkungan pesisir laut. Sehingga secara langsung memberikan manfaat berupa pengetahuan baru kepada masyarakat mengenai kawasan ekowisata ini. Sebagai obyek ekowisata. Masyarakat yang mengunjungi kawasan ekowisata ini dapat memperoleh kenyamanan dan kesenangan karena kondisi hutan mangrove yang disajikan masih asri dan alami. terutama bagi mereka yang ingin melihat kehidupan monyet langka khas Kalimantan yaitu bekantan dan habitat aslinya. Selain sebagai obyek ekowisata. memelihara. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan dan penelitian dimana para guru dan anak didik dari Tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Atas bahkan mahasiswa dari Perguruan Tinggi yang ada telah secara aktif memanfaatkan kawasan ini untuk belajar memahami dan mencintai lingkungan hidup dan melakukan penelitian karena sarana yang ada cukup lengkap dan akses yang cukup mudah. dan keserasian dalam menjaga. 1. .

44 Tanpa disadari. B. Jumlah .000. kaos.00 sampai dengan Rp500. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan bahkan telah berkembang sebagai obyek studi banding dari berbagai kalangan LSM lingkungan hidup. Pihak pengelola kawasan ekowisata ini menjual berbagai macam produk-produk souvenir yang berhubungan dengan kawasan ekowisata ini yang dapat dijadikan buah tangan oleh pengunjung.00. Dari segi ekonomi. Produk-produk souvenir yang ditawarkan harganya bervariasi mulai dari Rp10.000. Oleh karena itu. bingkai photo. hingga miniature hewan khas kawasan mangrove ini yaitu bekantan. anggota-anggota DPRD. dapat memberikan tambahan pemasukan untuk pihak pengelola kawasan ekowisata ini yang secara kreatif membaca peluang untuk menciptakan mata pencaharian alternative. Implikasi Pemanfaatan dari Segi Ekonomi Adanya kawasan ekowisata mangrove ini secara tidak langsung berimplikasi terhadap kondisi sosian dan ekonomi masyarakat sekitarnya. maka akan memberikan manfaat berupa kelestarian sumberdaya hutan mangrove ini tetap terjaga dan kesejahteraan masyarakat meningkat. mulai dari gantungan kunci. asbak rokok. Jika pemerintah Kota Tarakan bersama masyarakat berhasil mengembangkan kawasan ekowisata hutan mangrove ini. Produk-produk souvenir yang ditawarkan beraneka macam. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan. keberadaan dan kelestarian hutan mangrove sangatlah penting untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Mangrove juga mempunyai peran penting sebagai pelindung pantai dari hempasan gelombang air laut. maupun aparat pemerintahan dari pusat maupun berbagai daerah di Indonesia. 2.

Luar Kota Tarakan . Karakteristik responden yang ada berkunjung ke lokasi penelitian digolongkan dalam beberapa aspek diantaranya adalah daerah asal responden. 2011 Pada Tabel 3 tersebut menunjukkan bahwa responden terbanyak berasal dari dalam Kota Tarakan. banyaknya kunjungan. kendaraan yang digunakan. Komposisi Responden Berdasarkan Tempat Tinggal Berdasarkan hasil rekapitulasi kuesioner pada Tabel 3. pendidikan terakhir. sehingga biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung relatif dalam Kota Tarakan lebih kecil dibandingkan dengan daerah yang lebih jauh dari kawasan ekowisata ini yaitu daerah yang . tujuan kedatangan. selebihnya berasal dari Luar Kota Tarakan. pekerjaan. tingkat pendapatan. 45 keseluruhan responden yang menjadi objek penelitian adalah 100 orang.Kota Balikpapan 1 1 . Tempat Tinggal Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. jumlah tanggungan. lama perjalanan responden dan jarak tempuh. Dalam Kota Tarakan 94 94 2. status pernikahan. 1. hal ini disebabkan karena obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove ini terletak di kota tersebut dengan akses yang dibutuhkan oleh pengunjung untuk mengunjugi kawasan ini sangat mudah dijangkau karena letaknya yang strategis di tengah kota bila dibandingkan dengan daerah lainnya yang jaraknya lebih jauh. yaitu Kota Balikpapan sebanyak 1 responden.umur. sumber informasi. jenis kelamin. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Tempat Tinggal No. Pulau Bunyu sebanyak 2 responden dan dari Kota Samarinda 3 responden.Pulau Bunyu 2 2 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. Tabel 3. responden yang berkunjung ke Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan didominasi dari daerah dalam Kota Tarakan sebanyak 94 responden.Kota Samarinda 3 3 .

46 berada di luar dari Kota Tarakan. 31 – 40 26 26 4. Dimana kelompok umur . Persentase kunjungan responden berdasarkan tempat tinggal yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 2. ≤20 8 8 2. 21 – 30 53 53 3. 41. Kota Samarinda dan Pulau Bunyu. kelompok umur pengunjung yang datang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini terbagi atas beberapa tingkatan umur. Selanjutnya untuk mengetahui persentase kunjungan responden berdasarkan tempat tinggal dapat dilihat pada Gambar 3.50 13 13 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. umur akan mempengaruhi besarnya permintaan terhadap obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini. seperti Kota Balikpapan. Jadi secara tidak langsung. Umur juga menjadi faktor yang menentukan pola pikir seseorang dalam menentukan jenis barang dan jasa yang akan dikonsumsi. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Umur No. 2011 Berdasarkan rekapitulasi data kuisioner menurut karakteristik umur responden seperti yang ditampilkan pada Tabel 4 diatas. Tabel 4. termasuk keputusan untuk mengalokasikan sebagai dari pendapatannya digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Komposisi Responden Berdasarkan Umur Umur berkaitan dengan kemampuan fisik responden untuk melakukan kunjungan dan produktifitas responden. Gambar 3. Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.

47 responden antara 21-30 tahun memiliki komposisi terbanyak yaitu sebanyak 53 orang atau sebesar 53%. Menurut Soekadijo (1996). Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Tabel 5. ada juga beberapa laki-laki yang datang . Selanjutnya untuk mengetahui persentase umur responden dapat dilihat pada Gambar 4. dapat dilihat bahwa jenis kelamin responden sebagian besar adalah laki-laki yaitu sebanyak 66 responden dan selebihnya adalah wanita sebanyak 34 responden. Gambar 4. Golongan produktifitas ini memerlukan rekreasi terutama untuk penyegaran dari kesibukannya sehari-hari. Hal ini karena mereka ingin mengajarkan mengenai cara menjaga alam kepada anak-anaknya dan juga memperlihatkan hewan khas bekantan yang menghuni kawasan tersebut. Selain itu kebanyakan dari responden laki-laki yang mengunjungi kawasan hutan mangrove ini datang bersama dengan anak-anaknya tanpa membawa istri mereka. Selain itu. Kelompok umur tersebut merupakan kelompok umur produktif yang suka melakukan kegiatan wisata. Banyaknya jumlah responden laki-laki dibandingkan dengan responden perempuan disebabkan karena mereka cenderung lebih tertarik dan tertantang untuk mengunjungi kawasan hutan mangrove ini karena kondisi dan lingkungan dari kawasan ini yang nyaman dan indah. Persentase umur responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 3. golongan umur yang produktifitlah yang paling banyak melakukan kegiatan wisata.

Islam 94 94 2. Perempuan 34 34 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah.laki 66 66 2. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase kunjungan responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar 8. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Agama No. Tabel 6. Katolik 5 5 3. Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 48 mengunjungi kawasan ekowisata ini untuk membicarakan urusan pekerjaan. Persentase jenis kelamin responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 4. beragama Katolik sebanyak 5 orang dan sisanya 1 orang beragama Hindu. . 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase agama responden yang mengunjungi dapat dilihat pada Gambar 6. Laki. Agama Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Tabel 5. Hindu 1 1 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. Komposisi Responden Berdasarkan Agama Berdasarkan hasil wawancara dengan responden berdasarkan agama para pengunjung Kawasan Observasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini didiominasi oleh pengunjung yang beragama Islam sebanyak 94%. Gambar 5. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No.

SLTP 6 6 3. Persentase tingkat pendidikan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Berdasarkan Tabel 7 dan Gambar 7. Perguruan Tinggi 33 33 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. tingkat pendidikan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimiliki. SMU/SMK 54 54 4. Gambar 7. jenis pekerjaan mempengaruhi jumlah pendapatan. Tabel 7.Persentase agama responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 5. SD 7 7 2. jumlah pendapatan berpengaruh dalam menentukan konsumsi akan barang dan jasa seperti jasa untuk berwisata. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 7. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan yang lebih tinggi berpengaruh terhadap pemahaman seseorang terhadap kebutuhan psikologis dan rasa ingin tahu tentang obyek wisata dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Selain itu. tingkat pendidikan responden yang terpilih ketika melakukan kunjungan ke obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini seperti yang ditampilkan pada tabel di atas terdiri dari 4 kelompok tingkat pendidikan. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. 49 Gambar 6. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Tingkat pendidikan menengah (SMU/SMK) memiliki komposisi yang paling tinggi yaitu 54% dan diikuti oleh .

Rekapitulasi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan No. TNI/Polri 3 3 3. PNS 18 18 2. Tabel 8. Pengusaha/Wiraswasta 18 18 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. 50 Perguruan Tinggi (S1/Diploma) sebesar 33%. Persentase jenis pekerjaan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Pada Tabel 8 dan Gambar 8. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pengusaha/Wiraswastamasing-masing sebesar 18%. Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Komposisi jenis pekerjaan berdasarkan hasil wawancara terhadap 100 responden berdasarkan jenis pekerjaan tersaji pada Tabel 8 berikut. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase jenis pekerjaan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dapat dilihat pada Gambar 8. 7. responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan adalah responden dengan jenis pekerjaan pegawai swasta yaitu sebesar 57%. Pegawai Swasta 57 57 4. 6. Gambar 8. responden yang bekerja sebagai nelayan (petani tambak) sebesar 4%. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan . dan terakhir adalah responden dengan pekerjaan sebagai TNI/Polri sebanyak 3%. Nelayan (Petani Tambak) 4 4 5. pendidikan tingkat menengah pertama (SLTP) sebesar 6% dan pendidikan dasar (SD) sebesar 7%. Jenis Pekerjaan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.

8.000 5 5 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah.00 – 2. > 3. 2.000.000 – 3.500.600. Tingkat Pendapatan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1.100. 1.500.000 30 30 3. Komposisi Responden Berdasarkan Status Pernikahan .000 30 30 5. 1.100.000 dan Rp 2.000.000 sebesar 10% dan pendapatan lebih dari Rp 3. 51 Komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan tingkat pendapatan responden dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini. dapat dilihat bahwa tingkat pendapatan responden yang paling dominan adalah pada tingkat pendapatan Rp 1. Berdasarkan data pada Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa keberadaan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dapat dinikmati oleh semua lapisan ekonomi masyarakat baik dari tingkat bawah.000.000 10 10 2.000.000 – Rp 3. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase tingkat pendapatan responden dapat dilihat pada Gambar 9.500. Tabel 9.000.100.000 – Rp 2. kemudian diikuti dari tingkat pendapatan Rp 1.600.000 sebesar 25%.000 yaitu masing-masing sebesar 30%. < 1. menengah maupun lapisan atas.100.000 sebesar 5%.000.500. Persentase tingkat pendapatan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Pada Tabel 9 dan Gambar 9.000 – Rp 1.000 25 25 4.000 – 1. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan No. kurang dari Rp 1. Gambar 9.

Menikah 71 71 2. 4–5 20 20 4. 6–7 5 5 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. jumlah tanggungan kurang dari sama dengan 1 orang sebanyak 36 responden atau 36%. jumlah tanggungan 4 – 5 . Persentase status pernikahan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 9. Status Pernikahan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Belum Menikah 29 29 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan No. ≤ 1 32 32 2. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Status Pernikahan No. Jumlah Tanggungan (Orang) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 2011 Berdasarkan Tabel di atas. 2–3 43 43 3. Gambar 10. komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan jumlah tanggungan responden yaitu untuk jumlah tanggungan 2 – 3 orang yaitu sebanyak 43 responden atau 43%. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase status pernikahan responden dapat dilihat pada Gambar 10. Tabel 10. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Komposisi responden berdasarkan jumlah tanggungan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini Tabel 11. 52 Pada Tabel 10 berikut ini dapat dilihat komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan status pernikahan yaitu responden yang telah menikah sebanyak 71 responden dan responden yang belum menikah sebanyak 29 responden.

Sedangkan tujuan kedatangan responden laiinya karena keinginan responden untuk kegiatan lain-lain. . Hal ini sangat masuk akal. Persentase jumlah tanggungan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 10. Tujuan Kedatangan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Berlibur 94 94 2. Komposisi Responden Berdasarkan Tujuan Kedatangan Komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan tujuan kedatangan ketika mengunjungi objek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini. 53 orang sebanyak 20 responden atau 20%. dan jumlah tanggungan lebih dari 5 – 8 orang sebanyak 1 responden atau 1% Selanjutnya untuk mengetahui jumlah tanggungan responden berdasarkan tempat tinggal dapat dilihat pada Gambar 11. pada umumnya responden yang melakukan kegiatan ekowisata di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ialah berlibur dengan tujuan untuk menikmati panorama alam. Penelitian 1 1 3. Lain-lain 5 5 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. mengingat konsep ekowisata adalah menyajikan keindahan alam yang alami. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Tujuan Kedatangan No. Gambar 11. 2011 Pada Tabel 12 mengenai tujuan kedatangan responden. Tabel 12. termasuk kunjungan dinas maupun instansi dengan tujuan untuk melakukan observasi lapangan sebesar dan keinginan responden untuk untuk penelitian.

Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Kunjungan Pada Tabel 13 ini. Gambar 12. 4 kali 6 6 5. 54 Selanjutnya untuk mengetahui persentase tujuan kedatangan responden dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar 13. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Jumlah Kunjungan No. Tabel 13. Persentase jumlah kunjungan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan . Persentase tujuan kedatangan responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 11. menggambarkan komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan jumlah kunjungan yang paling dominan yaitu jumlah kunjungan lebih dari 4 kali yaitu sebesar 49%. jumlah kunjungan 2 kali sebesar 16%. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase jumlah kunjungan responden dapat dilihat pada Gambar 13. Jumlah Kunjungan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 1 kali 23 23 2. 3 kali 6 6 4. >4 kali 49 49 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. 2 kali 16 16 3. kemudian jumlah kunjungan 1 kali sebanyak 23%. jumlah kunjungan sebanyak 3 kali dan 4 kali masing-masing sebesar 6%.

Keluarga 22 22 3. Hal ini menunjukkan bahwa promosi yang dilakuakn oleh pihak pengelola yaitu Dinas Kebudayaan. 55 12. informasi dari keluarga 22%. media elektronik 12%. Pariwisata. Sumber Informasi Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. lain-lain dalam hal ini karena lingkungan tempat tinggal mereka yang berdekatan dengan kawasan ekowisata hutan mangrove ini sebesar 7% dan informasi dari media cetak sebesar 5%. Media Cetak 5 5 5. Persentase sumber informasi yang diperoleh oleh responden mengenai Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Pada Tabel 14 dan Gambar 14 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan informasi mengenai kawasan wisata ini dari teman sebesar 54%. Media Elektronik 12 12 4. Ini terlihat dari informasi yang beredar jauh lebih besar dari mulut . Teman 54 54 2. Pemuda dan Olahraga Kota Tarakan yang belum optimal. Lain-lain 7 7 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Sumber Informasi No. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase sumber informasi yang diperoleh oleh responden mengenai Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dapat dilihat pada Gambar 14. Gambar 14. Komposisi Responden Berdasarkan Sumber Informasi Komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan sumber informasi dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini Tabel 14.

Berkelompok 40 40 3. Sendirian 1 1 2. Persentase responden berdasarkan kelompok kedatangan saat mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 14. 13. Kendaraan Yang Digunakan Jumlah (Orang) Persentase (%) . Komposisi Responden Berdasarkan Kendaraan Yang Digunakan Komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan kendaraan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 16 berikut ini. Kendaraan Yang Digunakan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. dan 1 responden (1%) datang sendirian. Rombongan Keluarga 59 59 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. Untuk itu sangat diperlukan kerjasama yang baik antara pihak pengelola dan pemerintah untuk lebih memperkenalkan kawasan ekowisata ini. Rekapitulasi Responden Berdasarkan Kelompok Kedatangan No. Dimana responden yang mengunjungi kawasan ekowisata ini dengan rombongan keluarga sebanyak 59 responden (59%). Rekapitulasi Responden Berdasarkan Kendaraan Yang Digunakan No. Hal ini karena datang secara berkelompok mauun dengan rombongan keluarga jauh lebih mangasyikan daripada datang secara sendirian Tabel 15. Gambar 15. Tabel 16. secara berkelompok dua orang atau lebih sebanyak 40 responden (40%). 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase kelompok kedatangan responden dapat dilihat pada Gambar 15. 56 ke mulut. Karakteristik Responden Berdasarkan Kelompok Kedatangan Pada Tabel 15 dan Gambar 15 di bawah ini menunjukkan komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan kelompok kedatangan.

57 1. dan dari Pulau Bunyu–Tarakan kurang lebih dengan jarak 35 km. Tabel 17 Rekapitulasi Responden Berdasarkan Jarak Yang Ditempuh No. Roda Empat 25 25 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. jarak 2–4 km sebanyak 44 responden. Roda Dua 75 75 2. jarak Kota Samarinda–Tarakan 720 km. Selanjutnya untuk mengetahui persentase kendaraan yang digunakan oleh responden berdasarkan tempat tinggal dapat dilihat pada Gambar 16. jarak yang ditempuh kurang dari sama dengan 1 km sebanyak 15 responden. Karakteristik Responden Berdasarkan Jarak Yang Ditempuh Komposisi responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan berdasarkan jarak yang ditempuh oleh 100 responden dari tempat tinggal hingga ke lokasi kawasan ekowisata tersebut adalah.. Jarak (km) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Persentase kendaraan yang digunakan oleh responden ketika mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 15. ≤ 1 15 15 2. Sedangkan responden dari luar Kota Tarakan sebanyak 6 responden dimana jarak dari Kota Balikpapan–Tarakan. Gambar 16. 2 – 4 44 44 . dapat dilihat bahwa responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan sebanyak 75 responden datang dengan menggunakan kendaraan roda dua (sepeda motor) dan 25 responden menggunakan kendaraan roda empat baik mobil pribadi maupun angkutan kota. 2011 Pada Tabel 16 diatas. dari dalam Kota Tarakan sendiri. jarak 5–9 km sebanyak 27 responden dan jarak 10–14 km sebanyak 5 responden. kurang lebih 515 km.

keadaan kawasan yang sejuk dengan adanya pepohonan mangrove yang tumbuh. 10 – 25 8 8 5. Pemerintah Kota membangun beberapa fasilitas pengunjung sehingga dapat memudahkan mereka pada saat menikmati kawasan ini. Rekapitulasi responden mengenai kondisi lokasi Kawasan Konservasi Hutan mangrove Kota Tarakan dapat dilihat pada Tabel 18. Persentase jarak yang ditempuh oleh responden ketika mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan C. dimana kebanyakan responden yang berasala dari Kota Tarakan menilai bahwa kondisi alam di kawasan tersebut sangat baik karena didukung oleh lokasi kawasan yang terletak di pusat kota. Sangat Baik 14 14 . 5–9 27 27 4. 35 – 800 6 6 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. 2011 Selanjutnya untuk mengetahui persentase jarak yang ditempuh oleh responden dapat dilihat pada Gambar 17. Rekapitulasi Pendapat Responden Mengenai Kondisi Lokasi Ekowisata Kondisi Lokasi Jumlah Persentase No. Pendapat Responden Mengenai Obyek Ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan 1. Selain itu karena kawasan ini masih merupakan habitat alami yang selalu dijaga kelestariannya. Gambar 17. Dimana untuk menarik perhatian pengunjung. Ekowisata (Orang) (%) 1. Kondisi Lokasi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Penilaian pendapat responden terhadap kondisi jalan menuju lokasi ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan menilai baik. 58 3. Tabel 18.

penilain responden terhadap kemudahan menjangkau (aksesibilitas) menuju kawasan ini sebagian besar berpendapat tergolong mudah Hal ini sesuai dengan pendapat responden yang manyatakan bahwa mereak tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika mengunjungi kawasan ini. Rekapitulasi Pendapat Responden Mengenai Aksesibilitas Tingkat Jumlah Persentase No. Tabel 19. Rekapitulasi pendapat responden mengenai aksesibilitas ini dapat dilihat pada Tabel 19. 3. Sangat Mudah 29 29 2. 2011 Pembangunan sarana dan prasarana dapat meningkatkan daya dukung pengembangan ekowisata. Dephut. Aksesibilitas Menuju Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Berdasarkan rekapitulasi data responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan. 2011. 59 2. 2011 2. dan pemeliharaan lingkungan merupakan kegiatan penting untuk memperkuat pengembangan ekowisata (Tuwo. Kurang Baik 6 6 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. 2010). Baik 80 80 3. Akeseibilitas yang cukup mudah dalam menjangkau kawasan tersebut dapat meningkatkan permintaan pengunjung untuk mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini. Salah satu bentuk pendekatan dalam pengembangan ekowisata adalah pendekatan pengembangan infrastruktur seperti jalan. Aksesibilitas (Orang) (%) 1. Mudah 71 71 3. Keindahan Alam Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan . Kemudahan itu didukung oleh akses jalan yang menuju kawasan yang dapat dengan mudah untuk dilewati. Sulit 0 0 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. jembatan. sehingga upaya pemanfaatan dapat dilakukan secara optimal.

dapat dilihat bahwa tingkat keamanan berdasarkan pendapat responden adalah aman. Indah 76 76 3. Cukup Aman 96 96 3. 2011 4. Alam (Orang) (%) 1. Tabel 20. Rekapitulasi Pendapat Responden Mengenai Tingkat Keamanan Tingkat Jumlah Persentase No. Keindahan alam ini sesuai dengan keberadaan lokasi ekowisata ini yang memiliki kondisi hutan mangrove dengan pepohonan yang masih alami. Tabel 21. Keamanan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Berdasarkan data rekapitulasi pendapat responden mengenai keamanan lokasi ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove pada Tabel 21. adanya akses jembatan kayu ulin yang memudahkan para pengunjung ketika memasuki lokasi ekowisata ini. adanya hewan khas Kalimantan yaitu bekantan yang sulit untuk ditemui di lokasi lainnya. Dan masih banyak keindahan lainnya dari lokasi ekowisata ini yang dapat menarik perhatian lebih banyak pengunjung untuk mendatangi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini. Kurang Aman 2 2 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. Kurang Indah 8 8 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. Selain itu. 2011 Hal ini sesuai dengan pernyataan responden yang mengatakan bahwa belum pernah ada gangguan baik dari satwa yang berada pada lokasi ekowisata ini maupun gangguan tindakan kriminalitas seperti pencurian baik yang dilakukan . Keamanan (Orang) (%) 1. 60 Berdasarkan rekapitulasi data kuisioner berdasarkan penilaian responden mengenai ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan mengatakan bahwa lokasi ekowisata ini memiliki keindahan alam yang cukup indah. Aman 2 2 2. Sangat Indah 16 16 2. Rekapitulasi Pendapat Responden Mengenai Keindahan Alam Keindahan Jumlah Persentase No.

2011 Selain itu. sehingga dapat meningkatkan intensitas kunjungan para pengunjung. 5. khususnya bekantan . Berdasarkan pendapat responden beberapa hal yang perlu dibenahi diantaranya adalah pembenahan fasilitas yang ada. responden berpendapat agar pihak pengelola maupun para petugas di lokasi obyek ekowisata ini lebih memperhatikan fasilitas yang ada. pengadaan jumlah satwa yang lebih banyak. dapat dilihat bahwa penyediaan fasilitas di lokasi ekowisata ini masih kurang lengkap dan perlu adanya penambahan fasilitas penunjang. Tidak Lengkap 58 58 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. khususnya tempat duduk. Suwantoro (2009). Sesuai dengan kondisi tersebut. penyediaan fasilitas penunjang perlu diadakannya pembenahan dan penambahan fasilitas secara optimal. Tabel 22. Rekapitulasi Pendapat Responden Mengenai Fasilitas Ekowisata Fasilitas Jumlah Persentase No. Fasilitas Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan Berdasarkan data rekapitulasi pendapat responden mengenai penyediaan fasilitas pada obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan pada Tabel 22. 61 oleh pengunjung maupun oleh masyarakat sekitarnya. Lengkap 41 41 3. perbaikan jembatan. mengatakan bahwa permintaan akan pariwisata tergantung pada fasilitas. seperti penambahan kursi kayu dan perbaikan jembatan yang rusak. Para responden juga berpendapat perlu adanya perawatan terhadap seluruh fasilitas yang ada untuk dapat memberikan kenyamanan bagi setiap pengunjung. pelayanan dan secara tidak langsung adalah keamanan seperti sikap petugas maupun penduduk setempat kepada wisatawan. Lokasi Ekowisata (Orang) (%) 1. Sangat Lengkap 1 1 2. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan.

62 yaitu hewan khas Kalimatan.418 548.54 . Tempat Tinggal (Orang) (%) Seluruh Daerah/ Daerah/Tahun Tahun 1. pengadaan tempat sampah di lokasi-lokasi yang strategis serta pembersihan kawasan yang lebih intensif.418 822.772 orang/tahun dan jumlah pengunjung terkecil berasal dari Kota Balikpapan dengan jumlah pengunjung 274 orang/tahun.Kota Samarinda 3 3 27. Dalam Kota Tarakan 94 94 27.Pulau Bunyu 2 2 27.Kota Balikpapan 1 1 27. Luar Kota Tarakan .772. Serta para pengunjung berharap agar obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove tetap dipertahankan dan dijaga keasriannya agar dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya. D. Jumlah pengunjung terbesar selama 1 tahun adalah pengunjung yang berasal dari Kota Tarakan sendiri yaitu sebanyak 25.92 2. Tabel 23.418 27. Berdasarkan rata-rata kunjungan/daerah/tahun dapat dilihat bahwa persentase pengunjung berdasarkan daerah asal berbanding lurus dengan banyaknya jumlah pengunjung yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan selama 1 tahun. dan perlu digelar acara hiburan dalam waktu tertentu. Valuasi Ekonomi Wisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan .418 25.418 274.18 . Jumlah Responden Berdasarkan Daerah Asal Rata-rata Rata-rata Jumlah Persentase Kunjungan Kunjungan/ No.418 Sumber : Data Kuisioner diolah. Perkiraan Jumlah Pengunjung Selama Setahun Jumlah pengunjung dari masing-masing daerah asal pengunjung selama satu tahun dapat diperoleh dari hasil perkalian nilai persentase pengunjung dari masing-masing daerah dengan jumlah rata-rata kunjungan selama 1 tahun. . 2011 E.36 Total 100 100 27.

67 329.34/orang/kunjungan.34 6. dapat dillihat bahwa total rata-rata biaya perjalanan responden dalam Kota Tarakan ketika mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan sebesar Rp24. Metode biaya perjalanan ini menggunakan pendekatan sejumlah biaya yang dikeluarkan oleh pengunjung untuk mengunjungi suatu daerah obyek wisata. biaya tiket masuk.542.872. Dalam Kota Tarakan 6.531. rata-rata biaya konsumsi yang dikeluarkan responden sebesar Rp6. biaya konsumsi.78 24. 2011 Berdasarkan pada Tabel 24.127. Dasar pemilihan metode biaya perjalanan ini adalah pada kelebihannya memperoleh data sebenarnya dari biaya kunjungan yang dilakukan oleh seseorang untuk menikmati suatu obyek ekowisata.3 Sumber : Data kuisioner diolah.404.67 329.55 8.91/orang/kunjungan.34 6.531.542. 63 Dalam menduga valuasi (nilai) ekonomi suatu kawasan ekowisata dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan metode biaya perjalanan (travel cost methode). Biaya Transportasi Tiket Konsumsi Souvenir Lain Perjalanan 1. rata-rata biaya souvenir yang dikeluarkan responden sebesar Rp2. rata-rata biaya tiket yang dikeluarkan responden sebesar Rp8.542.127.404. Dimana rata-rata biaya transportasi yang dikeluarkan responden sebesar Rp6.34 6.67 329.91 2.3 Total 6. Biaya yang dimaksudkan dalam metode biaya perjalanan ini adalah mulai dari biaya transportasi yang dikeluarkan oleh responden untuk mengunjugi lokasi wisata.8722. Tabel 24.78 24.55/orang/kunjungan. Rekapitulasi Data Responden Berdasarkan Rata-Rata Biaya Perjalanan Dalam Kota Tarakan Biaya Rata-Rata Biaya Biaya Biaya Biaya No Tempat Tinggal Lain.127. Berikut ini disajikan rekapitulasi biaya perjalanan responden dalam Kota Tarakan yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dalam Tabel 24 berikut ini. baik pergi maupun pulangnya.542.3/orang/kunjungan.872. biaya souvenir dan biaya lain-lainya.3 Rata-Rata 6.91 2.872.78 24.531.55 8.67/orang/kunjungan dan .404.531.404.55 8.91 2.127.

2011 Berdasarkan pada Tabel 25.Kota Samarinda 1.127.667/orang/kunjungan. Rekapitulasi Data Responden Berdasarkan Rata-Rata Biaya Perjalanan Dari Luar Kota Tarakan Biaya Rata-Rata Biaya Biaya Biaya Biaya No Tempat Tinggal Lain.333.333 15.222.000 100. Rekapitulasi Data Responden Berdasarkan Rata-Rata Biaya Perjalanan Dari Seluruh Daerah Biaya Rata-Rata Biaya Biaya Biaya Biaya No Tempat Tinggal Lain. Dalam Kota Tarakan 6.872.040.Kota Balikpapan 826.667 2. Dari Kota Balikpapan yang berjarak kurang lebih 515km sebesar Rp976. 64 rata-rata biaya lain-lainnya yang dikeluarkan responden selama menikmati objek ekowisata ini sebesar Rp329.722.167 Rata-Rata 1.Pulau Bunyu 408.000 40.117.55 8.33 10.040. Biaya Transportasi Tiket Konsumsi Souvenir Lain Perjalanan 1. Berikut ini disajikan rekapitulasi biaya perjalanan responden dari seluruh daerah baik dari dalam maupun luar Kota Tarakan yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dalam Tabel 26 berikut ini.667 31.34 6.611 18.000 976.67 1.404.33 45. Luar Kota Tarakan .000 116. Biaya Transportasi Tiket Konsumsi Souvenir Lain Perjalanan 1.353.667 3.833 55.33 Sumber : Data kuisioner diolah. Sedangkan biaya perjalanan terendah dari Luar Kota Tarakan berasal dari Pulau Bunyu yang letaknya kurang lebih 35 km dari Kota Tarakan sebesar Rp441.895.000 136.3 2.91 2.043.531.33/orang/kunjungan.129.500/orang/kunjungan.117.000/orang/kunjungan.500 Total 3.555.000 . Tabel 26.78 24.000 10.667 .78/orang/kunjungan.667 13. Berikut ini disajikan rekapitulasi biaya perjalanan responden dari luar Kota Tarakan yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dalam Tabel 25 berikut ini. Tabel 25.542.722.000 8500 25000 441. Besarnya biaya perjalanan rata-rata yang harus dikeluarkan oleh seluruh pengunjung dari Luar Kota Tarakan dari seluruh daerah tersebuat adalah Rp1.67 329. Luar Kota Tarakan . dapat dillihat bahwa total biaya perjalanan tertinggi dari Luar Kota Tarakan berasal dari Kota Samarinda yang berjarak sekitar 720 km dari Kota Tarakan yaitu sebesar Rp2.

Dengan demikian.000 100.052. 65 . Hal ini dapat dilihat dari besarnya jumlah biaya perjalanan rata-rata yang dikeluarkan pengunjung dari Kota Balikpapan yang disebabkan jaraknya yang lebih jauh dibandingkan dengan daerah pengunjung lainnya.Kota Samarinda 1.698.571.000 40.3/orang/kunjungan. 2011 Berdasarkan pada Tabel 26.000 976.Kota Balikpapan 826. Sedangkan biaya perjalanan terendah berasal dari Kota Tarakan sendiri yang merupakan tempat keberadaan obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota ini sebesar Rp24.78 3. maka pengunjung memiliki .45 844.383 34.667 2.38 10.81 Sumber : Data kuisioner diolah.667/orang/kunjungan.67 329. Keberadaan obyek ekowisata tersebut selanjutnya mempengaruhi biaya transportasi maupun biaya lainnya yang akan dikeluarkan oleh setiap pengunjung menuju ke obyek ekowisata tersebut.81/0rang/kunjungan. Besarnya biaya perjalanan rata-rata yang harus dikeluarkan oleh seluruh pengunjung dan dari seluruh daerah adalah Rp844.91 138. Dalam ilmu ekonomi menyatakan bahwa permintaan konsumen akan meningkat terhadap suatu barang maupun jasa yang harga penawarannya berkurang. dapat dillihat bahwa total biaya perjalanan tertinggi berasal dari Kota Samarinda yaitu sebesar Rp2.377. Keadaan ini juga berhubungan dengan permintaan ekowisata oleh pengunjung dimana jika semakin tinggi biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung untuk menuju suatu obyek ekowisata.000 .Pulau Bunyu 408.040.000 10.34 61.176.000 8500 25000 441.794.333 15.392.401.667 .136.55 40.667 13.531.392.705.040.500 Total 3.25 Rata-Rata 784.895.209. Salah satu indikator yang mempengaruhi besarnya biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung adalah letak obyek ekowisata tersebut dari tempat tinggal pengunjung. keadaan ini menunjukkan bahwa kegiatan ekowisata merupakan suatu barang dan jasa yang bersifat ekonomis.34 15.67 82.000 116.

. Dimana persentase dalam perhitungan ini tidak melibatkan biaya transportasi.14% dari nilai total ekonomi kawasan ini berdasarkan metode biaya perjalanan pertahun. hanya sebesar 0.300. mulai dari aspek internal kawasan konservasi ini seperti pelayanan dan fasilitas. Apabila nilai ini dibandingkan dengan penerimaan yang diperoleh pihak pengelola hanya dari penerimaan harga retrebusi tiket masuk yaitu sebesar Rp32. makam diperoleh valuasi (nilai) ekonomi total obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan adalah sebesar Rp23.392.418 orang. souvenir dan biaya lainnya yang dikeluarkan oleh responden. Nilai dari penerimaan harga retrebusi tiket masuk ini. Nilai ini diperoleh dari hasil perkalian nilai rata-rata biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh responden yaitu sebesar Rp844. 66 kecenderungan untuk memilih obyek ekowisata alternative dengan biaya perjalanan yang lebih rendah.524. dapat dilihat bahwa keberadaan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan memiliki daya tarik untuk dapat dikunjungi oleh para pengunjung.524. Nilai tersebut dapat meningkat dengan dilakukannya pembenahan dan peningkatan keberadaan kawasan konservasi ini dari berbagai aspek. Berdasarkan perhitungan nilai ekonomi ini. Berdasarkan rekapitulasi data biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh responden dalam melakukan dan menikmati ekowisata menurut total biaya perjalanan. konsumsi.151. Serta aspek eksternal kawasan konservasi ini seperti aksesibilitas menuju lokasi. publikasi dan dukungan dari pemerintah kota maupun masyarakat setempat.300 yang diperoleh dari rata-rata total penerimaan retribusi yang diterima pihak pengelola pada Tahun 2006 hingga 2009.065/tahun. yaitu Rp32.562.81/orang/kunjungan dengan besarnya rata-rata kunjungan setiap tahun yaitu 27.

Jumlah Kunjungan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. >4 kali 49 49 Total 100 100 Sumber : Data kuisioner diolah. 3 kali 6 6 4. diantaranya memberikan alasan kedatangannya disebabkan karena kondisi kawasan ini yang masih alami dan asri. 2011 Data ini menunjukkan bahwa Kawasan Konservasi hutan Mangrove Kota Tarakan merupakan salah satu daerah tujuan ekowisata yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi. 2 kali kunjungan. Intensitas Kunjungan Intensitas kunjungan responden merupakan jumlah atau frekuensi kedatangan dari setiap responden yang mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan. Selebihnya sebanyak 23 orang baru pertama kali. Rekapitulasi Data Responden Berdasarkan Intensitas Kunjungan No. 4 kali 6 6 5. Beberapa responden yang telah lebih dari 1 kali mengunjungi kawasan konservasi ini. Serta keindahan alamnya yang dipenuhi oleh pepohonan mangrove yang membuat kawasan konservasi ini selalu jadi tempat yang nyaman dan adem untuk didatangi ketika hari libur dengan udara segar yang dapat dinikmati sehingga niat untuk berkunjung kembali begitu besar. Tabel 27. 2 kali 16 16 3. 3 kali kunjungan. . 1 kali 23 23 2. 4 kali kunjungan. Dan tidak menutup kemungkinan hal yang sama juga akan dilakukan oleh pengunjung yang baru berkunjung pertama kalinya. Intensitas kunjungan responden tersebut dibagi ke dalam 5 kelompok yaitu responden yang melakukan 1 kali kunjungan. 67 F. dan lebih dari 4 kali kunjungan berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan terhadap 100 responden terpilih yang mengunjungi kawasan ekowisata ini. Dari keseluruhan responden sebagian besar sebelumnya sudah pernah mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini lebih dari satu kali.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intensitas Kunjungan Pengunjung dari Kota Tarakan Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi dengan menggunakan program aplikasi SPPS seri 16. Faktor-faktor tersebut adalah umur responden.096X3 – 0. terdapat sebuah patung tugu batu replika hewan bekantan yang merupakan tempat favorit oleh para pengunjung untuk berfoto. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intensitas Kunjungan Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas kunjungan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian baik faktor internal dari obyek ekowisata itu sendiri maupun faktor eksternal dari obyek ekowisata tersebut. tingkat pendidikan responden. Selain itu.087X4 – 0.640 – 0.384X1 + 0. Hampir seluruh bagian dari kawasan ekowisata ini dapat digunakan untuk berfoto karena pemandangannya yang masih asri dan alami. tingkat pendidikan (X2). Dalam penelitian ini dkaji factor-faktor yang mempengaruhi intensitas kunjungan para [engunjung ke obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini. 1. jarak menuju obyek ekowisata . tingkat pendapatan responden. tingkat pendapatan (X3).083X5 Untuk mengetahui besarnya nilai koefisien variabel umur responden (X1). 68 Aspek lainnya yang menjadi daya tarik Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini sering dikunjungi oleh pengunjung baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing karena adanya keberadaan satwa langka Kalimantan yang dilindungi yaitu monyet bekantan yang memiliki keunikan dari hidungnya yang besar. didapat persamaan regresinya adalah sebagai berikut : Y = 0.287X2 + 0. G.0 (Pada Tabel 28). jarak yang dibutuhkan responden dan total biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh responden untuk mengunjungi obyek ekowisata ini.

640 kali dalam satu tahun. Nilai signifikasi (standard error) masing-masing faktor harus sebesar <0.116 -.162 . maka variabel tersebut tidak signifikan. B Std. b3.384 .715 . Tabel 28.092 -. waktu dan jarak bernilai nol (0).062 . Hal ini disebabkan karena para pengunjung dari Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dalam Kota Tarakan ketika ingin mengunjungi kawasan . tingkat pendidikan (X2). jarak menuju obyek ekowisata (X4) dan biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung (X5) ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat intensitas kunjungan (Y).187 .087 . Di lain pihak. Error Beta 1 (Constant) .640.083 .447 . tingkat pendidikan. tingkat pendapatan. Untuk lebih jelasnya hasil rekapitulasi analisis regresi linier berganda dapat dilihat pada Tabel 28.673 . Secara matematis nilai konstanta tersebut menyatakan bahwa pada saat umur.503 Pendapatan .477 Dari hasil analisis secara statistik dapat diketahui bahwa seluruh variabel bebas (X) dalam penelitian ini yaitu umur responden (X1). maka intensitas kunjungan pengunjung dari Kota Tarakan memiliki nilai 0.096 .105 -. b4 dan b5). Dalam persamaan diatas dapat dilihat nilai konstanta sebesar 0.05 atau 5%.656 Jarak -.151 -1.278 .943 .163 .331 -. b2.215 .248 Pendidikan .05 atau 5%.077 -.348 Biaya -. 69 (X4) dan besarnya biaya perjalanan (X5) dapat dilihat pada besarnya nilai koefisien regresinya ( b1.640 1.584 Umur -.550 .Rekapitulasi Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Penentuan Koefisien Variabel Terikat (Y) dan Variabel Bebas (X) Pengunjung Dari Dalam Kota Tarakan Unstandardized Standardized Model Coefficients Coefficients t Sig. signifikasi variabel bebas terhadap variabel terikat dapat diindentifikasi melalui nilai signifikasi (standard error) tersebut.074 . Apabila nilai signifikasi (standard error) masing-masing faktor >0. tingkat pendapatan (X3).

Mereka cenderung mendatangi kawasan ekowisata pada saat ada keinginan dari diri mereka sendiri tanpa dipengaruhi oleh umur. Berdasarkan analisis regresi linier berganda. tingkat pendapatan dan total biaya perjalanan responden dalam kondisi konstan. Berdasarkan analisis regresi linier berganda. pendapatan.083 yang menunjukkan bahwa peningkatan satu rupiah total biaya perjalanan akan mengakibatkan terjadinya penurunan intensitas kunjungan sebesar 0. Selain itu karena kawasan ini sendiri berada di tengah Kota Tarakan. pendidikan. maka diperoleh koefisien regresi umur responden yaitu b1 = – 0. tingkat pendidikan. tingkat pendapatan dan jarak menuju kawasan konservasi dalam keadaan konstan.384 yang berarti apabila ada perubahan umur responden sebanyak satu satuan maka akan mempengaruhi penurunan intensitas kunjungan responden sebesar 0. Sedangkan variabel bebas tingkat pendidikan (X 2) berdasarkan analisis regresi linier berganda dengan nilai koefisien regresi b 2 = 0. yang menghasilkan nilai koefisien regresi b4 = – 0.087 kali dengan asumsi bahwa umur responden. seperti jarak tempuh maupun biaya yang akan mereka keluarkan. tingkat pendapatan.087. Variabel bebas jarak tempuh (X4) . sehingga mereka dapat mengunjunginya tanpa harus mempertimbangkan berbagai hal. 70 ekowisata ini tidak dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.187 kali dengan asumsi .083 kali dengan asumsi bahwa umur responden.384. maka diperoleh koefisien regresi umur responden yaitu b5 = – 0. tingkat pendidikan. jarak maupun biaya. hal ini berarti jarak tempuh responden sebesar satu satuan (km) akan menyebabkan terjadinya penurunan intensitas kunjungan sebesar 0. jarak tempuh dan total biaya perjalanan dalam kondisi konstan.187 yang berarti bahwa peningkatan satu satuan tingkat pendidikan akan mengakibatkan terjadinya peningkatan intensitas kunjungan sebesar 0. dengan asumsi bahwa tingkat pendidikan.

pelayanan.216a . jarak menuju obyek ekowisata (X4) dan total biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung yang berasal dari Kota Tarakan tempat objek ekowisata tersebut berada sebesar 4. . jarak tempuh dan total biaya perjalanan dalam kondisi konstan. mampu dijelaskan oleh variabel bebas umur responden (X1). tingkat pendapatan (X3). Rekapitulasi Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Penentuan Koefisien Korelasi (R) dan Koefisien Determinasi (R2) Pengunjung Dari Dalam Kota Tarakan Adjusted R Std.2805112 1. fasilitas.950 Berdasarkan Tabel 29. . keamanan. tingkat pendapatan. Variabel bebas pendapatan (X3).047 -. tingkat pendidikan (X2). nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh adalah sebesar 0. jarak menuju kawasan konservasi dan total biaya perjalanan dalam keadaan konstan. Tabel 29. menghasilkan nilai koefisien regresi yaitu b3 = 0.047 atau 4. keindahan.3% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dilibatkan secara spesifik dalam analisis penelitian ini.096 dimana kenaikan pendapatan sebesar satu rupiah akan menyebabkan peningkatan intensitas kunjungan sebesar 0. tingkat pendidikan.007 .7 % adapun sisanya yaitu sebesar 95. informasi dan faktor-faktor lainnya. Faktor-faktor lainnya yang diperkirakan dapat mempengaruhi intensitas kunjungan berdasarkan formulasi persamaan regresi yang tidak dilibatkan secara spesifik dalam penelitian ini diantaranya adalah faktor tujuan kedatangan responden. 71 bahwa umur responden. Hal ini menunjukkan bahwa variabel terikat intensitas kunjungan (Y). Error of Durbin- Model R R Square Square the Estimate Watson 1 .6%.096 kali. dengan asumsi bahwa umur responden.

Rekapitulasi Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Penentuan Koefisien Variabel Terikat (Y) dan Variabel Bebas (X) Pengunjung Dari Luar Kota Tarakan Standardized Unstandardized Coefficients Model Coefficients t Sig. Pendidikan .000 .059 . Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intensitas Kunjungan Pengunjung dari Luar Kota Tarakan Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi (Pada Tabel 30).226 . tingkat pendidikan (X2). b3.000 -.081 . Dalam persamaan diatas dapat dilihat nilai konstanta sebesar .075 .075 kali dalam satu tahun.075 – 0.226X4 + 0.000 . jarak menuju obyek ekowisata (X4) dan besarnya biaya perjalanan (X5) dapat dilihat pada besarnya nilai koefisien regresinya ( b1.000 .05 atau 5%.0.075. waktu dan jarak bernilai nol (0).000 -.233X1 + 0. . . maka intensitas kunjungan pengunjung dari luar Kota Tarakan memiliki nilai – 0. maka variabel tersebut tidak signifikan. tingkat pendidikan.216 .062X5 Untuk mengetahui besarnya nilai koefisien variabel umur responden (X1). Pendapatan .095X3 – 0. b2.134 . Tabel 30. Error Beta 1 (Constant) -. .081X2 + 0. Jarak -. . Apabila nilai signifikasi (standard error) masing-masing faktor >0. . didapat persamaan regresinya adalah sebagai berikut : Y = . tingkat pendapatan.062 . 72 2.0.000 . B Std. Di lain pihak.233 .053 . tingkat pendapatan (X3). . signifikasi variabel bebas terhadap variabel terikat dapat diindentifikasi melalui nilai signifikasi (standard error) tersebut.095 . Biaya . b4 dan b5).05 atau 5%. Untuk lebih jelasnya hasil rekapitulasi analisis regresi linier berganda dapat dilihat pada Tabel 30. Nilai signifikasi (standard error) masing-masing faktor harus sebesar <0.964 . Umur -. . Secara matematis nilai konstanta tersebut menyatakan bahwa pada saat umur.

dengan asumsi bahwa tingkat pendidikan.233 yang berarti apabila ada perubahan umur responden sebanyak satu satuan maka akan mempengaruhi penurunan intensitas kunjungan responden sebesar 0. tingkat pendapatan. Sedangkan variabel bebas tingkat pendidikan (X 2) berdasarkan analisis regresi linier berganda dengan nilai koefisien regresi b 2 = 0. 73 Dari hasil analisis secara statistik dapat diketahui bahwa seluruh variabel bebas (X) dalam penelitian ini yaitu umur responden (X1). tingkat pendidikan (X2).226.095 kali.081 yang berarti bahwa peningkatan satu satuan tingkat pendidikan akan mengakibatkan terjadinya peningkatan intensitas kunjungan sebesar 0. tingkat pendidikan. tingkat pendapatan. tingkat pendapatan (X3). hal ini berarti jarak tempuh responden sebesar satu satuan (km) akan menyebabkan terjadinya penurunan intensitas kunjungan sebesar 0. . tingkat pendidikan. jarak menuju kawasan konservasi dan total biaya perjalanan dalam keadaan konstan.081 kali dengan asumsi bahwa umur responden. menghasilkan nilai koefisien regresi yaitu b3 = 0.233. dengan asumsi bahwa umur responden.095 dimana kenaikan pendapatan sebesar satu rupiah akan menyebabkan peningkatan intensitas kunjungan sebesar 0. jarak tempuh dan total biaya perjalanan dalam kondisi konstan. . Variabel bebas pendapatan (X3). maka diperoleh koefisien regresi umur responden yaitu b1 = – 0. Variabel bebas jarak tempuh (X4) . jarak menuju obyek ekowisata (X4) dan biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung (X5) ternyata berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat intensitas kunjungan (Y). yang menghasilkan nilai koefisien regresi b4 = – 0. tingkat pendapatan dan total biaya perjalanan responden dalam kondisi konstan. Berdasarkan analisis regresi linier berganda. jarak tempuh dan total biaya perjalanan dalam kondisi konstan.226 kali dengan asumsi bahwa umur responden.

062 kali dengan asumsi bahwa umur responden.000 . tingkat pendidikan (X2).000 atau 100%. Tabel 31. Berdasarkan Tabel 31. tingkat pendapatan dan jarak menuju kawasan konservasi dalam keadaan konstan. nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh adalah sebesar 1. maka diperoleh koefisien regresi umur responden yaitu b5 = 0. Rekapitulasi Hasil analisis Regresi Linier Berganda Penentuan Koefisien Korelasi (R) dan Koefisien Determinasi (R 2) Pengunjung Dari Luar Kota Tarakan Std. . jarak menuju obyek ekowisata (X4) dan total biaya perjalanan yang dikeluarkan sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel terikat intensitas kunjungan (Y) dari Luar Kota Tarakan dipengaruhi oleh variabel bebas umur responden (X1).000 1. .062 yang menunjukkan bahwa peningkatan satu rupiah total biaya perjalanan akan mengakibatkan terjadinya penurunan intensitas kunjungan sebesar 0. Error of the Model R R Square Adjusted R Square Estimate a 1 1. tingkat pendapatan (X3). tingkat pendidikan. 74 Berdasarkan analisis regresi linier berganda.

929/tahun. jarak yang ditempuh dan biaya perjalanan yang dikeluarkan untuk mengunjungi obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensitas kunjungan pengunjung dari dalam Kota Tarakan ke Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan. 75 VI. tingkat pendidikan. penelitian disamping fungi nilai ekonomis dan ekologis lingkungan mangrove. Sedangkan faktor- faktor tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensitas kunjungan pengunjung dari luar Kota Tarakan menuju Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan.154. . tingkat pendapatan.624. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai ekonomi obyek ekowisata Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan dengan menggunakan metode biaya perjalanan dari total rata-rata seluruh biaya perjalanan dari seluruh daerah adalah sebesar Rp23. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda. tetapi juga sebagai wahana pendidikan lingkungan hidup. 3. Implikasi pemanfaatan Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan sebagai kawasan ekowisata telah memberikan fungsi tambahan bukan hanya sebagai kawasan ekowisata. 2. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan : 1. faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas kunjungan diperoleh bahwa umur responden. KESIMPULAN DAN SARAN A.

2. Saran Adapun saran yang dapat disampaikan adalah : 1. Berdasarkan fungsi dari Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan. perlu adanya pemeliharaan yang lebih optimal agar ekosistem sumber daya pesisir yang dijadikan obyek ekowisata ini dapat tetap dipertahankan. . Berdasarkan besarnya nilai ekonomi kawasan ekowisata ini sebaiknya perlu dilakukan pembenahan yang dapat melibatkan seluruh aspek dan lapisan masyarakat untuk tetap menjaga keasrian kawasan konservasi ini sehingga dapat menarik dan meningkatkan minat pengunjung untuk mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Kota Tarakan ini. 76 B.