1

ARTIKEL

PELATIHAN PERAJIN GERABAH DI KELURAHAN SANDI
KECAMATAN PATTALLASSANG KABUPATEN TAKALAR

TRAINING FOR ARTISAN POTTERY IN SANDI SUBDISTRICT PATTALLASSANG
TAKALAR DISTRICT
Yabu M., Lanta L., and Hasnawati
(Faculty of Arts and Design State University of Makassar)
Abstrak
Permasalahan utama yang dialami oleh perajin gerabah Sandi di Kabupaten Takalar antara lain
adalah mereka tidak memiliki wawasan tentang pentingnya pengembangan aspek desain dan kualitas
produk. Kurangnya pemahaman perajin terhadap aspek desain tersebut sehingga produk yang dihasilkan
cenderung statis. Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi dan menambah wawasan perajin untuk
meningkatkan pengetahuan terhadap pentingnya pengembangan aspek desain dan teknik produksi,
mendorong para perajin agar terus berusaha mengembangkan desain yang inovatif-kreatif. Manfaat yang
diharapkan dicapai melalui kegiatan ini adalah: peserta memperoleh wawasan pengetahuan tentang
pentingnya pengembangan aspek desain dan mutu produk. Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh dua
kelompok perajin, yaitu KUB “Kube Anggrek III” dan KUB “Tunas Muda”. Metode yang digunakan
dalam pelatihan ini adalah metode ceramah, diskusi, dan penugasan membuat prototip/model/desain yang
disiapkan oleh tim pelaksana. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan persuasif secara
kekeluargaan. Hasil yang dicapai adalah pada umumnya peserta pelatihan cukup antusias mengikuti
pelatihan, yakni dengan presentase sekitar 50% diantara peserta mampu mengembangkan desain yang
ditawarkan dan telah berhasil menerapkannya selama kegiatan pelatihan berlangsung.
Kata Kunci: Pelatihan, perajin, gerabah.
Abstract
The main problems faced by artisan pottery Sandi in Takalar among others, is they do not have
insight on the importance of the development aspects of the design and production quality. Lack of
understanding of the design aspects of artisans so that conditions the resulting product tends to be static.
This activity aims to motivate and improve the artisans’ knowledge of the importance of the development
aspects of the design and production techniques, encouraging artisans to continue to strive to develop
innovative design-creative. The benefit expected achieved through these activities are: participants gain
insight knowledge about the importance of the development aspects of the design and product quality.
This training was followed by two groups of artisans, the KUB "Kube Orchid III" and KUB "Tunas
Muda". The method used in this training is a method of lecture, discussion, and assignments made
prototypes/models/designs prepared by the implementation team. The approach used is a persuasive
approach amicably. The results achieved are generally the trainee quite enthusiastic join in training,
which with a percentage of about 50% among participants to develop designs that are offered and have
successfully apply for training activities in progress.

Keyword: Training, artisan pottery, pottery.

*) Dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.
**) Dibiayai oleh Dana DIPA PNBP Universitas Negeri Makassar Tahun 2015, Kontrak Nomor:
PENDAHULUAN
382/UN36.10/PM./2015, tanggal 13 Mei 2015.
Industri kerajinan gerabah di wilayah Sandi Kabupaten Takalar adalah salah satu diantara
sekian banyak industri kecil yang perlu mendapat perhatian secara serius. Ini didasarkan atas
pertimbangan bahwa usaha kerajinan gerabah tersebut merupakan salah satu industri rumah
2

tangga andalan daerah setempat yang diharapkan mampu terus menyokong pertumbuhan
ekonomi masyarakat perajin. Namun pada kenyataannya kinerja usaha kerajinan tersebut untuk
menjadi sebuah industri yang mampu secara maksimal memenuhi harapan masyarakatnya masih
sangat lamban untuk mengikuti perkembangan pasar.
Permasalahan utama yang tampak pada sentra-sentra usaha kerajinan gerabah di daerah
ini antara lain ialah kurangnya wawasan pengetahuan perajin terhadap aspek desain, masalah
kualitas produk dan manajemen produksi. Dalam kegiatan produksi, tampaknya perajin lebih
mengutamakan kuantitas dan kurang memperhatikan kualitas produk. Kurangnya pemahaman
terhadap pentingnya pengembangan aspek desain dan kualitas produk sehingga produk yang
dihasilkan tidak berkembang dan cenderung menoton. Upaya untuk mengembangkan citra dan
desain produk untuk kebutuhan pasar secara lebih luas belum menjadi perioritas utama.
Permasalahan lainnya adalah keterbatasan modal usaha (Yabu M., dkk, 2009).
Pemberdayaan industri/pengusaha kecil merupakan salah satu hal penting yang patut
mendapat perhatian dalam rangka membangun perekonomian nasional, termasuk di dalamnya
usaha kerajinan gerabah di daerah Sandi Kabupaten Takalar. Hanya saja kinerja usaha kerajinan
gerabah tersebut untuk menjadi sebuah industri yang mampu memenuhi harapan masyarakatnya
dan mengikuti perkembangan pasar masih sangat lamban. Hal ini antara lain disebabkan oleh
kemampuan perajin dalam mengembangkan desain produk masih terbatas yang disebabkan oleh
kurangnya wawasan dan pengetahuan mereka untuk meningkatkan citra produk. Produk yang
dihasilkan kurang inovatif (cenderung monoton) dan kurang menyentuh selera estetik
masyarakat menengah ke atas. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan para perajin melakukan
inovasi, tidak memiliki kepekaan estetik untuk mengembangkan desain. Selain itu, perajin
kurang mendapatkan dukungan dan perhatian dari pihak lain, baik dari pemerintah maupun dari
pihak swasta.
Fenomena menunjukkan bahwa kondisi desain produk yang dihasilkan oleh perajin dari
tahun ke tahun cenderung statis. Ini antara lain disebabkan karena kondisi desain produk yang
dihasilkan selama ini kurang berkualitas, baik dilihat dari sisi teknik dan teknologinya maupun
dari sisi estetiknya. Keterbatasan industri kerajinan gerabah di daerah Sandi dan sekitarnya
sangat disayangkan karena jika dilihat dari segi sumberdaya (tenaga perajin dan bahan baku
tanah liat) sesungguhnya di daerah ini memiliki potensi untuk berkembang menjadi industri
kerajinan gerabah yang lebih maju. Sayangnya perkembangan industri kerajinan gerabah di
daerah ini belum bisa maju seperti halnya dengan industri gerabah yang ada di daerah-daerah
lain di Indonesia (Yabu M., dan Irfan, 2013). Hal inilah yang dipandang krusial untuk
mendapatkan perhatian dari pihak-pihak yang terkait, termasuk dari pihak perguruan tinggi.
3

Sehubungan dengan fenomena tersebut, maka pelaksana IbM menetapkan wilayah
tersebut sebagai salah satu sasaran perioritas yang perlu mendapatkan pembinaan, khususnya
terhadap kelompok usaha kerajinan gerabah. Salah satu pertimbangan pemilihan mitra sasaran
adalah pada kegiatan survei dalam rangka penelitian Fundamental tahun 2013, perajin tersebut
telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi mitra dan bekerja sama dengan tim pelaksana
IbM dari Universitas Negeri Makassar.
Tujuan dan manfaat yang diharapkan dicapai melalui kegiatan IbM ini adalah: (1)
memotivasi perajin untuk meningkatkan pengetahuan terhadap pentingnya pengembangan aspek
desain dan teknik produksi agar terus berusaha mengembangkan desain yang inovatif-kreatif;
(2) peserta memperoleh wawasan dan pengetahuan tentang pentingnya pengembangan aspek
desain dan mutu produk. Sedangkan luaran yang diharapkan dari kegiatan pelatihan ini adalah:
(1) bertambahnya wawasan perajin terhadap pentingnya pengembangan aspek desain dan teknik
produksi; (2) menghasilkan sampel prototip gerabah; dan (3) artikel ilmiah yang akan
dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

BAHAN DAN METODE

Untuk merealisasikan penyelesaian masalah mitra dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan
ini, terlebih dahulu tim pelaksana menyusun rencana pelatihan yang disesuaikan dengan jumlah
peserta, tempat dan sarana serta peralatan yang tersedia. Sedangkan realisasi pelaksanaan
kegiatan IbM ini, tim pelaksana menggunakan metode dan pendekatan persuasif.
Metode dan pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode ceramah,
diskusi, pelatihan dan penugasan dengan cara memberikan tugas kepada peserta, yakni
membuat prototip/model/desain yang disiapkan oleh tim pelaksana kegiatan. Metode pelatihan
dan penugasan dengan cara memberikan tugas membuat gerabah sesuai dengan desain prototip
yang dipersiapkan oleh tim pelaksana kegiatan. Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi dan
pendampingan. Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan/ketercapain program
kegiatan ini adalah: “Jika perajin mitra sasaran mampu menerapkan pengetahuan dan
keterampilan yang telah dilatihkan mencapai <50%”.
Langkah-langkah yang ditempuh adalah: (1) mengadakan pertemuan dengan perajin
mitra sasaran untuk membahas kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya; (2) melakukan
pendampingan terhadap mitra, dan (3) melakukan evaluasi kegiatan, yaitu evaluasi proses dan
evaluasi hasil kegiatan. Evaluasi proses dilakukan pada saat pelatihan sedang berlangsung
sebagai umpan balik bagi tim pelaksana kegiatan untuk dapat memberikan solusi. Sedangkan
evaluasi hasil kegiatan dilakukan setelah selesai kegiatan pelatihan.
4

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh mitra sebagaimana dikemukakan
terdahulu, maka materi kegiatan dan kerangka penyelesaian masalah yang dilaksanakan melalui
kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1) Menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan pelatihan.
2) Menjelaskan pentingnya pengembangan mutu desain produk.
3) Menjelaskan pentingnya manajemen pengelolaan usaha kecil dan pemasaran.
1) Menjelaskan prototip/sampel produk gerabah yang ditawarkan untuk dibuat dengan
cara memperlihatkan gambar rancangan (pola/desain) yang telah disiapkan.
Kegiatan ini dilaksanakan pada kelompok perajin gerabah di Kelurahan Sandi
Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar selama 3 bulan. Dalam kegiatan pelatihan ini, ada
2 mitra sasaran yang dilibatkan. Mitra 1: Usaha Keramik Kube Anggrek III dengan jumlah
anggota 10 orang. Mitra 2: KUB Tunas Muda dengan jumlah anggota 10 orang. Pesertanya
adalah para perajin yang sudah terampil. Lokasi pelatihan dilakukan di rumah-rumah para
kelompok perajin di Dusun Sandi.
Ada 2 lokasi yang ditempati sebagai tempat pelatihan. Lokasi I dipusatkan di rumah
Daeng Bunga (Ketua Usaha Keramik Kube Anggrek III). Lokasi II di rumah Syamsunar Daeng
Sija’ (Ketua KUB Tunas Muda).
Alat dan bahan yang diperlukan dalam pelatihan adalah:
1) Alat bantu: pensil, mistar dan gunting sebagai alat bantu dalam proses pembuatan
pola/desain; ember, baskon, kuas, alat toreh, tasi, dan lain-lain.
2) Alat utama: alat putar untuk digunakan dalam proses pembentukan gerabah.
Perlengkapan lainnya yang diperlukan antara lain adalah: bak tempat mengolah
tanah liat, saringan halus untuk menyaring tanah liat, kain lap, dan tungku
pembakaran (tungku ladang).
Sedangkan bahan yang diperlukan adalah: karton untuk membuat pola/desain gerabah
(sampel prototip/model). Lempung tanah liat (bahan utama pembuatan gerabah), pasir halus
untuk campuran tanah liat, air untuk mencairkan tanah liat menjadi lempung, ampelas untuk
menghaluskan gerabah sebelum dibakar, bahan pewarna (enggobe) dan pernis, jerami atau
sekam (bahan bakar).
Materi pelatihan yang diberikan adalah pengembangan desain gerabah (fungsional dan
pajangan). Dalam kegiatan ini ditawarkan 7 desain/model/prototip untuk dikembangkan oleh
perajin. Sampel/desain/prototip gerabah yang ditawarkan untuk dibuat oleh perajin adalah: pot
tanaman, vas bunga kering, guci-guci berbagai jenis, piring, mangkok, asbak rokok, dan tungku
bentuk slindris.
5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pelaksana kegiatan IbM Universitas Negeri
Makassar bekerjasama dengan kelompok perajin mitra, yaitu Kelompok Usaha Keramik Kube
Anggrek III” dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tunas Muda. Jenis produk/prototip/desain
yang telah dikembangkan adalah: pot tanaman, guci-guci, vas bunga, piring, mangkok, asbak
rokok, dan tungku bentuk slindris.
Hasil yang dicapai adalah pada umumnya peserta pelatihan cukup antusias mengikuti
pelatihan, yakni: ada sekitar 50% diantara peserta mampu mengembangkan desain-desain yang
ditawarkan dan telah berhasil menerapkannya selama kegiatan pelatihan berlangsung. Untuk
mengukur keberhasilan kegitan pealtihan IbM ini dilakukan evaluasi kegiatan dengan cara
mengamati seluruh rangkaian proses aktivitas selama pelatihan berlangsung dan terhadap
sampel produk yang dibuat dalam rangka kegiatan selama pelatihan.
Evaluasi dan hasil yang dicapai oleh kelompok mitra sasaran dalam kegiatan pelatihan
ini adalah peserta pelatihan memperoleh pengetahuan tambahan tentang pengembangan desain
produk dan mampu menerapkannya selama pelatihan. Partisipasi peserta pelatihan perajin
dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah: peserta tampak aktif mengikuti seluruh rangkaian
pelatihan, berperan aktif dalam menentukan permasalahan perioritas yang dihadapi oleh
kelompok perajin dan memberi masukan dalam diskusi dengan tim pelaksana kegiatan guna
menemukan solusi untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh mitra. Mereka juga ikut aktif
membantu tim pelaksana untuk menyiapkan tempat pelaksanaan kegiatan serta menyediakan
alat dan bahan yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan pelatihan.
Faktor-faktor sebagai pendorong terlaksananya kegiatan IbM ini adalah: (1) kesediaan
kelompok perajin untuk bekerja sama dengan tim pelaksana; (2) ketersediaan bahan dan
peralatan di lokasi IbM yang sebelumnya telah disiapkan oleh perajin mitra; (3) peserta
pelatihan memiliki motivasi yang cukup tinggi yang ditandai dengan tingkat keseriusan
mengikuti pelatihan dengan frekuensi kehadiran rata-rata 50% setiap pertemuan. Ini ditunjukkan
dengan aktivitas diskusi terkait masalah-masalah pengembangan desain produk. Sedangkan
faktor-faktor yang menjadi kendala atau penghambat pada kegiatan ini antara lain: (1) tempat
pelatihan yang kurang memadai (tidak tersedia tempat kerja yang refrensentatif yang dirancang
secara khusus) sehingga para perajin hanya bekerja di kolom rumah masing-masing; (2) proses
produksi mengalami keterlambatan jika cuaca tidak memungkinkan dan oleh kesibukan yang
berkaitan dengan urusan keluarga, misalnya jika ada keluarga yang mengadakan pesta dan
sebagainya; (3) peserta pelatihan kurang percaya diri karena sampel produk yang ditawarkan
dalam pelatihan belum yakin diminati oleh konsumen; (4) pada umumnya perajin mitra bekerja
hanya berdasarkan pesanan; (5) tim pelaksana kegiatan mengalami kesulitan karena antara
6

lokasi pelatihan cukup jauh kampus sehingga sulit memberikan bimbingan secara langsung pada
saat mereka membuat desain prototip yang ditawarkan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan selama pelatihan, maka dapat disimpulkan bahwa:
peserta pelatihan setidaknya telah memperoleh wawasan dan pengetahuan terhadap
pengembangan aspek desain sehingga semakin menyadari pentingnya memperhatikan aspek
desain dan mutu produk.
Sebagai tindak lanjut dari hasil pelatihan IbM ini disarankan sebagai berikut:
1) Kepada perajin disarankan agar selalu berusaha memperhatikan pentingnya
pengembangan aspek desain dan mutu produk;
2) Kepada instansi/lembaga terkait disarankan agar kegiatan pelatihan semacam ini
dapat ditindaklanjuti serta diperluas khalayak sasarannya, terutama pada perajin
yang masih membutuhkan bantuan Ipteks dalam rangka pembinaan dan
pengembangan usaha kerajinan gerabah di Kabupaten Takalar;
3) Untuk pengembangan kualitas dan citra produk, para perajin perlu mendapatkan
pembinaan melalui pelatihan secara berkesinambungan;
4) Untuk meningkatkan kinerja perajin, peran pemerintah dan pihak-pihak terkait
lainnya, sangat dibutuhkan dalam rangka pembinaan dan pengembangan usaha
kerajinan gerabah di Kabupaten Takalar.
5) Dengan semakin berkembangnya wawasan perajin dalam mengelola usaha
kecil/industri rumah tangga yang berbasis kekeluargaan diharapkan dapat lebih
berkembang dimasa-masa yang akan datang.

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan selesainya kegiatan pelatihan IbM ini disampaikan ucapan terima kasih yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi demi terlaksananya
kegiatan ini. Ucapan terima kasih terutama disampaikan masing-masing kepada:
1. Rektor Universitas Negeri Makassar.
2. Ketua Lembaga Pengabdian kepada Msayarakat Universitas Negeri Makassar.
3. Dekan Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.
4. Pemerintah Kabupaten Takalar.
5. Kelompok Usaha Keramik, khususnya KUB “Kube Anggrek III” dan KUB “Tunas
Muda” yang telah mengikuti pelatihan melalui kegiatan ini yang dilaksanakan oleh
tim pelaksana program IbM Universutas Negeri Makassar.
7

6. Kepada anggota tim pelaksana dan tenaga pembantu yang telah ikut mensukseskan
kegiatan pelatihan ini.

DAFTAR PUSTAKA

A. M, Khalil. 1996. “Potensi dan penggunaan bahan keramik hias di Sulawesi Selatan”,
Makalah hasil penelitian tanah liat di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Makassar:
Departemen Pertambangan dan Energi.
Bochari, Imam Z, (Agus Zachri, editor). 1986. Peranan Disain dalam Meningkatkan Mutu
Produk (Dalam Paradigma Desain Indonesia) CV. Rajawali Jakarta.

Budiwiwaramulja, Dwi, 1998. Gerabah Kasongan., Tesis Magister Bidang Khusus Seni Murni,
Program Magister Seni Rupa dan Desain Program Pasca Sarjana Institut Teknologi
Bandung.
Departemen Perindustrian, 1987. Proses Pembuatan Keramik Rumah Tangga, Bandung: Badan
Penelitian dan Pengembangan Industri Keramik.

Irfan, 2004. Perkembangan Desain Gerabah Jipang Kabupaten Gowa dalam Konteks
Perubahan Sosial Budaya Masyarakatnya, Tesis Magister Bidang Desain,
Pascasarjana, ITB, Bandung.

Sakti, S.M., dkk., Yabu M. dan Abdoellah MS. 1996. Studi Deskriktif tentang Kerajinan
Keramik di Pattallassang Kabupaten Takalar, Laporan Penelitian: Lembaga Penelitian
IKIP Ujung Pandang.

Suptandar, J. Pamudji. 1999. “Pelestarian Seni Kerajinan dalam Era Informasi dan
Komunikasi”, Makalah Seminar Kria dan Rekayasa ITB, Bandung, 26 November.

Yabu M. dan Irfan, 2013. Kajian Perkembangan Desain Gerabah melalui Pendekatan Sosial
Budaya (Studi Kasus pada Gerabah Takalar), Laporan Penelitian Fundamental,
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Makassar.
8

LAMPIRAN
9

Lampiran 2: Gambaran Ipteks
Prototip desain gerabah yang dikembangkan:
Jenis Produk/ Deskripsi/Spesifikasi Produk:
Desain 1. Vas Bunga Desain 2. Vas Bunga Desain 3. Vas Bunga

Deskripsi/Spesifikasi: Deskripsi/Spesifikasi: Deskripsi/Spesifikasi:
Diameter bibir/mulut: 12,5/13,5 cm, Diameter bibir/mulut: 10 cm,
diameter leher: 11,5 / 12,5 cm, diameter diameter leher: 9 cm, diameter kaki: Tinggi bodi: 17 cm, diameter
bodi: 16 cm, 9,5 cm, diameter bodi: 16 cm, tinggi bodi/badan: cm, diameter bibir: 16,5
diameter kaki: 11/12,5 cm, leher: 3,5 cm, tinggi kaki: 1 cm, tinggi cm, diameter kaki: 17 cm, tinggi kaki:
tinggi leher: 2 cm, tinggi kaki: 1 cm, bodi: 6,5 cm, tinggi keseluruhan: 11 1 cm, tebal dinding bodi: 0,8 cm.
tinggi keseluruh-an: 11,5 cm, tebal cm, tebal dinding bodi: 0,8 cm. Pengerjaan: teknik putar.
dinding bodi: 0,8 cm. Pengerjaan: Pengerjaan: teknik putar. Finishing: pewarna enggobe.
teknik putar. Finishing: pewarna enggobe
Finishing: pewarna enggobe
Desain 4. Vas Bunga Desain 5. Guci/Vas Bunga Desain 6. Guci/Vas Bunga

Deskripsi/Spesifikasi: Spesifikasi/Ukuran: Spesifikasi/Ukuran:
Diameter bibir: 8,5 cm, Tinggi bodi: 11 cm
diameter bodi/badan: 12 cm, Tebal dinding bodi: 08 cm, Tinggi bodi: 5 cm
diameter kaki: 11 cm, tinggi bodi: cm,
diameter bodi/badan: 9,5 cm, Diameter bodi/badan: 10 cm.
tinggi kaki: cm, tinggi keseluruh-an:
cm, tebal dinding bodi: 0,8 cm, tebal diameter kaki: 7,5 cm Pengerjaan: teknik putar.
dinding bodi: 0,8 cm. Pengerjaan: Tinggi kaki: 0,7 cm. Finishing: pewarna enggobe
teknik putar. Pengerjaan: teknik putar.
Finishing: pewarna enggobe. Finishing: pewarna enggobe
Desain 7. Vas Bunga Desain 8. Vas Bunga Desain 9. Mangkok (Model 1)

Deskripsi/Spesifikasi: Deskripsi/Spesifikasi: Deskripsi/Spesifikasi:
Diameter bibir/mulut: 18 cm, diameter Tinggi bodi: 17 cm, diameter Diameter bibir/mulut: 11 cm
dasar/kaki: 19 cm, diameter bodi: 26 bodi/badan: cm, diameter bibir: 16,5 Diameter dasar: 5,5 cm
cm, tinggi bodi keseluruh-an: 18 cm, cm, diameter kaki: 17 cm, tinggi kaki:
Diameter kaki: 5 cm
tebal bibir: 2 cm, tebal dinding bodi: 1 1 cm
cm, tinggi leher: 2 cm, tinggi kaki: 2 Tebal dinding bodi: 1 cm. Tinggi kaki: 0,7 cm
cm. Pengerjaan: teknik putar. Tebal dinding bodi: 0,8 cm
Pengerjaan: teknik putar. Finishing: dihaluskan dengan Pengerjaan: teknik putar.
Finishing: dihaluskan dengan ampelas. ampelas.
Desain 10. Mangkok (Model 2) Desain 11. Pot Bunga Desain 12. Landasan Pot Bunga
10

Deskripsi/Spesifikasi: Deskripsi/Spesifikasi: Spesifikasi/Ukuran:

Diameter bibir/mulut: 11 cm, Diameter bibir/mulut: 11 cm, Diameter bibir/mulut: 28,5 cm
diameter dasar: 5,5 cm, diameter diameter dasar: 5,5 cm, diameter Diameter dasar: 28,5 cm
kaki: 5 cm, kaki: 5 cm Diameter bodi bagian tengah:
tinggi kaki: 0,7 cm Tinggi kaki: 0,7 cm, tebal 28 cm
Tebal dinding bodi: 0,8 cm. dinding bodi: 0,8 cm. Tebal bibir: 3 cm
Pengerjaan: teknik putar. Pengerjaan: teknik putar. Tebal dinding bodi: 2,5 cm
Tinggi bodi: 28 cm

Sampel produk yang dibuat oleh perajin mitra.