II.

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Gambaran Penyakit Demam Berdarah Dengue

2.2.1 Definisi

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) / Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh

nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditandai dengan demam

mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau lesu, gelisah,

nyeri ulu hati, disertai tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan

(petechie), lebam (echymosis), atau ruam (purpura), kadang-kadang mimisan,

berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (shock).

Demam dengue (DD) adalah penyakit febris-virus akut, seringkali ditandai

dengan sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam, dan leukopenia

sebagai gejalanya.

2.1.2 Etiologi

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) banyak terjangkit seiring dengan

datangnya musim penghujan. Air hujan yang menggenang di beberapa area

menjadi tempat bersemainya benih-benih nyamuk Aedes aegypti atau Aedes

albopictus penyebab terjadinya demam berdarah. Antara bulan Oktober sampai

Februari merupakan bulan dengan curah hujan yang tinggi di Indonesia. Pada saat

itu kewaspadaan kita semua akan ancaman penyakit demam berdarah perlu

ditingkatkan.

9

Penyakit DBD banyak terjadi di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan

subtropis dengan curah hujan tinggi dan lembab. Indonesia dan Asia Tenggara

pada umumnya termasuk wilayah yang banyak terjangkit penyakit ini. World

Health Organization (WHO) memprediksi terdapat sekitar 50 – 100 juta kasus

infeksi virus dengue per tahun di berbagai belahan dunia.

Gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang membawa virus

dengue merupakan penyebab demam berdarah yang utama. Aedes aegypti adalah

nyamuk yang aktif pada siang hari dan menyukai genangan air yang bersih untuk

tempat berkembang biaknya. Musim penghujan yang menimbulkan banyak

genangan air bening di berbagai tempat sangat disukai oleh nyamuk ini.

Aedes aegypti adalah spesies nyamuk tropis dan subtropis yang ditemukan di

bumi, biasanya antara garis lintang 35ºU dan 35ºS, kira-kira berpengaruh dengan

musim dingin isotherm 10ºC . Meski Aedes aegypti telah ditemukan sampai

sejauh 45ºU, invasi ini telah terjadi selama musim hangat, dan nyamuk tidak

hidup pada musim dingin. Distribusi Aedes aegypti juga dibatasi oleh ketinggian.

Aedes aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efisien untuk

arbovirus, karena nyamuk ini sangat antropofilik dan hidup dekat manusia dan

sering hidup di dalam rumah. Wabah dengue juga telah disertai Aedes albopictus,

Aedes polynensis, dan banyak spesies kompleks Aedes scutellaris. Setiap spesies

ini mempunyai distribusi geografisnya masing-masing; namun, mereka adalah

vektor epidemik yang kurang efisien dibanding Aedes aegypti. Sementara

penularan vertikal (kemungkinan transovarian) virus dengue telah dibuktian di

laboratorium dan di lapangan, signifikansi penularan ini untuk pemeliharaan virus

10

termasuk kelenjar ludahnya. Aedes polynesiensis. Virus dengue ditularkan dari orang keorang melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae) dari subgenus Stegomyta. Aedes aegypti merupakan vektor epidemik yang paling utama. anggota dari Aedes scutellaris complex dan Aedes (Finlaya) nevus juga dianggap sebagai Vektor sekunder. semua desa/kelurahan mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD. Setelah masa inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari. Faktor penyulit pemusnahan vektor adalah bahwa telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam waktu lama terhadap desikasi (pengawetan dengan pengeringan).belum dapat ditegakkan. Nyamuk dengan umur panjang berpeluang menjadi vektor lebih besar. “Nyamuk demam berdarah” tersebut membawa virus dengue pasca menghisap darah orang lain yang sudah terinfeksi virus dengue sebelumnya. Proses terjangkitnya penyakit demam berdarah adalah sebagai berikut : virus dengue masuk ke tubuh manusia lewat gigitan nyamuk aedes aegypti betina dan aedes albopictus. karena lebih sering kontak dengan manusia. kadang selama lebih dari satu tahun. 11 . namun spesies lain sepert Aedes albopictus. selanjutnya akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk. nyamuk Aedes yang telah menghisap virus dengue akan menjadi penular atau infektif selama hidupnya. Penyakit DBD semakin menyebar luas sejalan dengan meningkatnya arus transportasi dan kepadatan penduduk. Kecuali Aedes aegypti semuanya mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas.

denyut nadi cepat atau sukar diraba). 2. Test positif setelah pemeriksaan tourniquet keluar petechiae di tangan. lengan. ujung-ujung tangan dan kaki dingin (preshock) 7. bila hilang bukan DBD. paha. 5. Untuk melihat adanya petechiae lakukan pemeriksaan dengan tourniquet (Rumpel Leede) test. berkeringat banyak. Kadang-kadang bintik-bintik merah ini hanya sedikit sehingga sering perlu pemeriksaan yang teliti.Pada sisi lain. petechiae (bintik-bintik merah di kulit) pada muka. nyamuk-nyamuk kecil yang baru menetas itu kemudian menyebarkan virus dengue pada manusia yang digigitnya. Bintik-bintik merah ini mirip dengan gigitan nyamuk. Untuk membedakannya renggangkan kulit. Pasien ini dapat mengalami syok yang diakibatkan oleh 12 . Demam mendadak (suhu badan 38ºC-40ºC) 2. nyamuk betina juga menyebarkan virus dengue tersebut pada keturunannya melalui telur (transovarial).1. Fenomena perdarahan. Badan lemah dan lesu 3. Penderita gelisah. Selanjutnya. muntah atau berak darah. mulut atau gusi. Nyeri ulu hati 4.3 Gejala Gejala umum Demam berdarah dengue (DBD) / Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) : 1. perut atau dada. Pada kasus berat disertai tanda-tanda kegagalan sirkulasi . 6. Kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan).

dan anak tampak gelisah IV : Syok berat (profound shock). Pola umum adalah bahwa kasus sporadik atau wabah kecil di area perkotaan yang ukurannya meningkat dengan tetap sampai terjadi wabah besar yang membuat penyakit menjadi perhatian pejabat kesehatan masyarakat. Adanya trombositopenia disertai hemokonsentrasi membedakan DBD derajat I / II dengan DD. dua pola epidemiologik telah ditemukan.4 Epidemiologi Demam Berdarah Dengue Selama pengalaman 40 tahun dengan dengue di wilayah Pasifik Barat dan Asia Tenggara. 2. kebocoran plasma. 1997) : I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji torniquet positif II : Seperti derajat I. Pertama DBD/DSS telah timbul paling sering di area di mana terdapat endemik serotype dengue multiple. Selain itu DBD/DSS secara khas menyerang pada anak-anak. kulit dingin dan lembab. dengan usia saat dirawat 4-6 13 . sianosis di sekitar mulut. Syok ini disebut sindrom syock dengue (DSS) dan sering menyebabkan fatal. disertai perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain III : Didapatkan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lambat.1. tekanan nadi menurun (≤20mmHg) atau hipotensi. Stadium DBD (WHO. nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak teratur. Penyakit tersebut biasanya membentuk pola aktivitas epidemik setiap 2-5 tahun.

tekanan nadi rendah. Efusi serosa dengan kandungan protein tinggi (kebanyakan albumin) umumnya terdapat pada rogga pleural dan abdomen. 2. 14 . Keadaan ini mengakibatkan hemokonsentrasi. semua pasien yang telah meninggal karena DBD menunjukkan suatu tingkatan hemoragi. dan pada jantung serta hati. pada mukosa saluran gastrointestinal. Serotype dengue multiple dapat ditularkan pada laju infeksi yang secara relative rendah (di bawah 5% populasi pertahun). dan tanda shok lain. 2. tetapi jarang terjadi pada rongga perikardial.1. dengan usia 6- 8 tahun juga mudah terkena. dan koagulopati.1.6 Patogenesis Demam Berdarah Dengue/Demam shock Syndrom Ada dua perubahan patofisiologis utama terjadi pada Demam Berdarah Dengue (DBD)/Demam shock Syndrom (DSS). Hemoragi gastrointestinal mungkin hebat. orang dewasa yang sebelumnya terinfeksi rentan terhadap infeksi dengue. Pada area ini. Perubahan kedua adalah gangguan pada hemostasis yang mencakup perubahan vaskular. dan anak-anak serta dewasa muda. trombositopenia. tetapi hemoragi subaraknoid atau serebral jarang terjadi.tahun. Pertama adalah peningkatan permeabilitas vaskular yang meningkatkan kehilangan plasma dari kompartemen vaskular.5 Patologi Demam Berdarah Dengue Pada autopsi. Pola kedua terlihat di area endemisitas rendah. bila kehilangan plasma sangat membahayakan. hemoragi ditemukan pada kulit dan jaringan subkutan. berdasarkan frekuensi.

diperlukan studi lebih lanjut.000 per mm3 mungkin masih mengalami masa perdarahan yang panjang. Karenanya meskipun pasien dengan jumlah trombosit lebih besar dari 100. dengan depresi besar kadar C3 dan C5. kelenjar ludah Aedes akan menjadi terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk menggigit 15 . 2.7 Siklus Penularan dan Penyebaran Penyakit Demam Berdarah Dengue Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat menghisap darah dari seseorang yang sedang berada pada tahap demam akut (viraemia). sehingga. Hal ini selanjutnya dapat mengakibatkan aktivasi reaktif-silang CD4+ dan CD8+ limfosit sitotoksik. Pada infeksi sekunder dengan virus dari serotype yang berbeda dari yang menyebabkan infeksi primer. Defek trombosit terjadi baik kualitatif dan kuantitatif yaitu beberapa trombosit yang bersirkulasi selama fase akut DBD mungkin kelelahan. Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik selama 8 sampai 10 hari. Pelepasan cepat sitokin yang disebabkan oleh aktivasi sel T dan oleh lisis monosit terinfeksi dimedia oleh limfosit sitotoksik yang dapat mengakibatkan rembesan plasma dan perdarahan yang terjadi pada DBD. Mediator yang meningkatkan permeabilitas vaskular dan mekanisme pasti fenomena perdarahan yang timbul pada infeksi dengue belum teridentifikasi. Mekanisme yang dapat menunjang terjadinya DBD/DSS adalah peningkatan replikasi virus dalam makrofag oleh antibodi heterotipik.Temuan konstan pada DBD/DSS adalah aktivasi sistem komplemen.1. Kompleks imun telah ditemukan pada DBD tetapi peran mereka belum jelas. antibodi reaktif-silang yang gagal untuk menetralkan virus dapat meningkakan jumlah monosit terinfeksi saat kompleks antibodi virus dengue masuk ke dalam sel ini.

dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Penularan DBD antara lain dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. pusing. muntah dan rash (ruam pada kulit). hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala non spesifik seperti nausea (mual-mual). Wilayah yang banyak kasus DBD atau rawan endemis DBD. Setelah masa inkubasi instrinsik selama 3-14 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit secara mendadak. Saat-saat tersebut merupakan masa kritis dimana penderita dalam masa sangat infektif untuk vektor nyamuk yang berperan dalam siklus penularan. myalgia (nyeri otot). yang ditandai dengan demam. 16 .1 Siklus Penularan Nyamuk Viraemia biasanya muncul pada saat atau persis sebelum gejala awal penyakit tampak dan berlangsung selama kurang lebih 5 hari setelah dimulainya penyakit.7.1. tempat yang potensial untuk penularan penyakit DBD antara lain: 1. Gambar 2.

pasar.34 : 1. Distribusi menurut umur. puskesmas. Faktor ras pada penderita demam berdarah di Indonesia belum jelas pengaruhnya. penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah.2.8 Distribusi Penderita Demam Berdarah Dengue Distribusi penderita DBD menurut Thomas Suroso (2000). karena dilokasi ini. Pemukiman baru di pinggir kota. Rasio perempuan dan laki-laki adalah 1. rumah sakit dan sebagainya. dapat digolongkn menjadi 10 : 1. maka memungkinkan diantaranya terdapat penderita atau karier yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal. jenis kelamin dan ras Berdasarkan data kasus DBD yang dikumpulkan di Ditjen P2M & PLP dari tahun 1968-1984 menujukkan bahwa 90% kasus DBD terdiri dari anak berusia kurang dari 15 tahun. orang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar seperti sekolah. Distribusi menurut waktu Dari data-data penderita klinis DBD/DSS 1975-1981 yang dilaporkan di Indonesia diperoleh bahwa musim penularan demam berdarah pada umumnya terjadi pada awal musim hujan (permulaan tahun dan akhir 17 . 2. 3. Data penderita klinis DBD/DSS yang dikumpulkan di seluruh Indonesia tahun 1968-1973 menunjukkan 88% jumlah penderita adalah anak-anak dibawah 15 tahun. 2. hotel. Tempat-tempat umum yang merupakan tempat berkumpulnya orang.1.

Jumlah telur yang 18 . tahun). Distribusi menurut tempat Daerah yang terjangkit demam berdarah pada umumnya adalah kota/wilayah yang padat penduduknya. Di Indonesia daerah yang terjangkit terutama kota. Hal ini disebabkan di kota atau wilayah yang padat penduduk rumah-rumahnya saling bedekatan. tetapi sejak tahun 1975 penyakit ini juga terjangkit di daerah sub urban maupun desa yang padat penduduknya dan mobilitas tinggi. sehingga lebih memungkinkan penularan penyakit demam berdarah mengingat jarak terbang Aedes aegypti yang terbatas (50-100 m). Seekor nyamuk selama hidupnya dapat bertelur 4-5 kali dengan rata-rata jumlah telur berkisar 10-100 butir dalam sekali bertelur.1. Stadium Telur Aedes aegypti suka bertelur di air jernih yang tidak berpengaruh langsung dengan tanah dan lebih menyukai kontainer yang di dalam rumah dari pada di luar rumah. Hal ini dikarenakan pada musim hujan vektor penyakit meningkat populasinya dengan bertambahnya sarang-sarang nyamuk di luar rumah sebagai akibat sanitasi lingkungan yang kurang bersih. 1. 3. Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu: telur – larva – pupa – nyamuk dewasa. 2. sedang pada musim kemarau Aedes aegypti bersarang di bejana-bejana yang selalu terisi oleh air. Hal ini disebabkan suhu di dalam rumah relative lebih stabil.9 Metamorfosa Aedes aegypti Seperti halnya jenis nyamuk lainnya.

Telur ini berukuran kecil (+50 mikron) berbentuk lingkaran dengan anterior lebih besar dari posterior dan bagian yang besar tersebut panjangnya dua kali panjang ujung telur (mattingly). Pada waktu dikeluarkan. Kes RI. Stadium Jentik dan Pupa. tidak saling melekat tetapi bergerombol. Daya tahan telur terhadap pengaruh temperature sangat berarti. Ciri-ciri khas larva Aedes aegypti adalah: a. cahaya serta kelembaban disamping fertilitas telur itu sendiri. telur berwarna putih dan berubah menjadi hitam dalam waktu 30 menit. pada temperature 40ºC telur mampu bertahan selama 25 jam dan pada temperatur -17ºC dapat bertahan selama 1 jam. 2. sedang pada suhu rendah dibutuhkan waktu beberapa minggu. Dalam kondisi optimal waktu yang dibutuhkan sejak telur menetas hingga menjadi nyamuk dewasa adalah tujuh hari termasuk dua hari masa pupa. PH air. dan Dep. Pada stadium ini kelangsungan hidup larva dipengaruhi oleh suhu. 2000 setelah perkembangan embrio sempurna telur dapat bertahan pada keadaan kering dalam waktu yang lama (lebih dari satu tahun) dan akan menetas bila wadah tergenang air. Menurut WHO. Setelah menetas. Telur akan menetas dalam waktu 75 jam atau 3 sampai 4 hari dalam temperature antara 25-30ºC dengan kelembaban nisbi antara 75%-93%. dapat dikeluarkan oleh 1 ekor nyamuk betina seluruhnya antara 300-700 butir. peletakan telur biasanya segera sebelum matahari terbenam telur diletakkan satu persatu pada permukaan lembab tepat diatas air. Adanya corong udara pada segmen terakhir 19 . telur akan berkembang menjadi larva atau jentik.

Pada segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambut-rambut berbentuk kipas(palmate hairs) c. Pada setiap sisi abdomen segmen ke delapan ada comb scale sebanyak 8-21 atau berjejer 1 sampai 3 f. Nyamuk betina memerlukan darah untuk mematangkan telurnya agar jika dibuahi oleh sperma nyamuk jantan dapat menetas. Umur nyamuk jantan lebih pendek dibanding umur nyamuk betina. mulai nyamuk menghisap darah sampai telur dikeluarkan biasanya 3-4 hari. Eksistensi Aedes aegypti di alam dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan biologik. b. Adanya sepasang rambut serta jumbai pada corong udara atau siphon e. Beberapa saat setelah itu. sebelum nyamuk betina pergi untuk menghisap darah. Stadium Dewasa Setelah keluar dari selongsong pupa. nyamuk ini tersebar diantara garis isotherm 20ºC antara 45ºLU dan 35ºLS pada ketinggian 20 . sedang nyamuk jantan hanya makan cairan buah-buahan dan bunga. Waktu tersebut disebut siklus gonotropik. Pada sisi torax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan ada sepasang rambut di kepala. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur. Perkawinan nyamuk jantan dengan betina tejadi biasanya pada waktu senja dan hanya sekali. Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia (antropofilik). Bentuk individu dari comb scale seperti duri g. sayap meregang menjadi kaku. sehingga nyamuk mampu terbang untuk mencai mangsa darah. nyamuk akan diam beberapa saat di selongsong pupa. Pada corong udara terdapat pektin d. 3.

tempat air burung piaraan.9% 4. drum. pelepah daun dan sebagainya. Macam kontainer termasuk bahan kontainer. WC/kamar mandi. lebih banyak menggigit pukul 08. barang-barang bekas. Tempat Perindukan (Breeding places) Tempat perindukan Aedes aegypti berupa genangan-genangan air yang tertampung di suatu wadah yang biasa disebut kontainer (bukan genangan-genangan air tanah) seperti tempayan. nyamuk Aedes aegypti dapat hidup rata-rata 1 bulan. Bahan Porselin : 14. Setelah menggigit selama menunggu waktu pematangan telur nyamuk akan berkumpul di 21 . Bahan semen : 45% 2. Bahan tanah : 2. Jangka hidup nyamuk dewasa di alam sulit ditentukan. 1. volume kontainer.00 dan pukul 15. Bahan Plastik : 36. Kebiasaan Menggigit Kebiasaan menggigit/waktu menggigit nyamuk Aedes aegypti lebih banyak pada waktu siang hari dari pada malam hari.3% 2.6% 3. penutup kontainer dan asal air dari kontainer.8% 5.kurang dari 1000m dari permukaan air laut. Penelitian oleh Sumadji (1998) menemukan bahwa jenis bahan kontainer atau tempat penampung air yang disukai Aedes aegypti sebagai tempat perindukan yaitu : 1. lobang-lobang di pohon.00 – 17.00 – 12. bak air.00 dan lebih banyak menggigit di dalam rumah dari pada diluar rumah. Bahan Logam/besi : 0.

karena tiga macam kebutuhannya yaitu tempat perindukan. temperatur. Tempat yang disenangi nyamuk untuk hinggap istirahat selama menunggu waktu bertelur adalah tempat-tempat yang gelap. Untuk mempertahankan cadangan air di dalam tubuh dari penguapan maka jarak terbang nyamuk menjadi terbatas. dan tempat istirahat ada dalam satu rumah. hal tersebut disebabkan oleh pengaruh angin atau terbawa alat transportasi. endofilik. kelembaban dan cahaya. 3. Keadaan tersebut yang menyebabkan Aedes aegypti bersifat lebih menyukai aktif di dalam rumah. Eksternal meliputi kondisi luar tubuh nyamuk seperti kecepatan angin. dengan demikian penguapan air dari tubuh nyamuk menjadi lebih besar. keadaan energi dan perkembangan otot nyamuk. Adapun faktor internal meliputi suhu tubuh nyamuk. Meskipun Aedes aeegypti kuat terbang tetapi tidak pergi jauh-jauh. lembab. Apabila ditemukan nyamuk dewasa pada jarak terbang mencapai 2 km dari tempat perindukannya. 22 . Aktifitas dan jarak terbang nyamuk dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: faktor eksternal dan faktor internal. tempat mendapatkan darah. Jarak Terbang Pergerakan nyamuk dari tempat perindukan ke tempat mencari mangsa danselanjutnya ke tempat untuk beristirahat ditentukan oleh kemampuan terbang nyamuk. setelah itu akan bertelur dan menggigit lagi. Pada waktu terbang nyamuk memerlukan oksigen lebih banyak. nyamuk Aedes aegypti biasa hinggap beristirahat pada baju-baju yang bergantungan atau benda-benda lain di dalam rumah yang remang-remang. tempat-tempat di mana terdapat kondisi yang optimum untuk beristirahat. dan sedikit angin.

Telur yang diletakkan dalam air akan menetas pada 1 sampai 3 hari pada suhu 30ºC. Adanya infeksi patogen dan parasit pada larva akan mengurangi jumlah larva yamg hidup untuk menjadi nyamuk dewasa. Suhu udara Suhu udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan Aedes aegypti. macam kontainer. pengaruh angina dan kelembaban. Nyamuk Aedes akan meletakkan telurnya pada temperature udara sekitar 20ºC-30ºC. b. Lingkungan Biologik Pertumbuhan larva dari instar ke instar dipengaruhi oleh air yang ada di dalam kontainer. a. 5. Semakin dekat jarak antar rumah semakin mudah nyamuk menyebar ke rumah yang lain. masa pertumbuhan larva bias menjadi lebih lama dan umur nyamuk dewasa yang berasal dari larva yang terinfeksi patogen atau parasit biasanya lebih pendek. Jarak antar rumah. Lingkungan fisik Lingkungan fisik yang mempengaruhi kehidupan nyamuk Aedes aegypti antara lain jarak antar rumah. tetapi pada suhu udara 16ºC dibutuhkan waktu selama 7 hari. curah hujan. Nyamuk dapat hidup pada suhu rendah tetapi proses 23 . suhu udara.4. pada kontainer dengan air yang lama biasanya terdapat kuman patogen atau parasit yang akan mempengaruhi pertumbuhan larva tersebut. Jarak antar rumah mempengaruhi penyebaran nyamuk dari satu rumah kerumah yang lain.

kecepatan pencernaan darah yang dihisap dan pematangan indung telur dan frekensi mengambil makanan atau menggigit berbeda-beda menurut suhu. Hal ini berkaitan dengan nyamuk atau serangga pada umumnya bahwa kehidupannya ditentukan oleh faktor kelembaban. rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25-27ºC. Dalam kehidupan nyamuk kelembaban udara mempengaruhi kebiasaan meletakkan telurnya. c. demikian pula lamanya perjalanan virus di dalam tubuh nyamuk. Sistem pernafasan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan menggunakan pipa-pipa udara yang disebut trachea. Karenanya kejadian-kejadian biologis tertentu seperti: lamanya pradewasa. maka pada kelembaban rendah akan menyebabkan penguapan air dalam tubuh 24 . Pada suhu lebih tinggi dari 35ºC juga mengalami perubahan dalam arti lebih lambatnya proses-proses fisiologi. Kecepatan perkembangan nyamuk tergantung dari kecepatan proses metabolismanya yang sebagian diatur oleh suhu. metabolismanya menurun atau bahkan berhenti apabila suhu turun sampai dibawah suhu kritis. Kelembaban Udara Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara yang biasanya dinyatakan dalam persen. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali pada suhu kurang dari 10ºC atau lebih dari 40ºC. Adanya spirakel yang terbuka lebar tanpa ada mekanisme pengaturnya. dengan lubang pada dinding tubuh nyamuk yang disebut spiracle.

juga potongan bambu sebagai pagar sering dijumpai di rumah-rumah penduduk serta daun-daunan yang memungkinkan menampung air hujan merupakan tempat perindukan yang baik untuk bertelurnya Aedes aeegypti. dan salah satu musuh nyamuk dewasa adalah penguapan. Pengaruh Hujan Hujan akan mempengaruhi kelembaban udara dan menambah jumlah tempat perindukan nyamuk alamiah. Larva dari nyamuk Aedes aegypti dapat bertahan lebih baik di ruangan dalam kontainer yang gelap dan juga menarik nyamuk betina untuk meletakkan telurnya. kaleng-kaleng. nyamuk. Perindukan nyamuk alamiah di luar rumah selain sampah kering seperti botol bekas. nyamuk terbang apabila intensitas cahaya rendah. e. Intensitas Cahaya Cahaya merupakan faktor utama yang mempengaruhi nyamuk beristirahat pada suatu tempat intensitas cahaya yang rendah dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi yang baik bagi nyamuk intensitas cahaya merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi aktivitas terbang nyamuk. Pada kelembaban kurang dari 60 % umur nyamuk akan menjadi pendek. 25 . d. tidak bisa menjadi vektor karena tidak cukup waktu untuk perpidahan virus dari lambung ke kelenjar ludah. Dalam bejana yang intensitas cahaya rendah atau gelap rata-rata berisi larva lebih banyak dari bejana yang intensitas cahanya besar atau terang.

Sampai saat ini pemberantasan vektor masih merupakan pilihan yang terbaik untuk mengurangi jumlah penderita DBD. Pengaruh Angin Secara tidak langsung angina akan mempengaruhi evaporasi atau penguapan air dan suhu udara atau konveksi. Strategi 26 . Strategi pemberantasan vektor ini pada prinsipnya sama dengan strategi umum yang telah dianjurkan oleh WHO dengan mengadakan penyesuaian tentang ekologi vektor penyakit di Indonesia.10 Pemberantasan Demam Berdarah Dengue Pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD seperti juga penyakit menular lainnya didasarkan pada usaha pemutusan rantai penularannya. sedangkan yang sehat terutama pada kelompok yang paling tinggi resiko terkena.2 meter/detik) atau lebih.05 km/jam tidak mempengaruhi aktivitas nyamuk. diusahakan agar jangan mendapatkan infeksi virus dengan cara memberantas vektornya. Pada penyakti DBD yang merupakan komponen epidemiologi adalah terdiri dari virus dengue. Kecepatan angin kurang dari 8. dan aktivitas nyamuk akan terpengaruh oleh angin pada kecepatan mencapai 8. f. 2. nyamuk Aedes aegypti dan manusia.05 km/jam (2. Penderita penyakit DBD diusahakan sembuh guna menurunkan angka kematian. Belum adanya vaksin untuk pencegahan penyakit DBD dan belum ada obat- obatan khusus untuk penyembuhannya maka pengendalian DBD tergantung pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti.1. Angin berpengaruh terhadap jarak terbang nyamuk.

1. Metode pengelolaan lingkungan mengendalikan Aedes aegypti dan Aedes albopictus serta mengurangi kontak vektor dengan manusia adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk. c. Upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) DBD adalah upaya untuk memberantas nyamuk Ae aegypti. Mengganti air vas bunga. sehingga jentik-jentik tidak bias menjadi nyamuk atau menutupnya rapat-rapat agar nyamuk tidak bisa bertelur di tempat penampungan air tersebut. perangkap semut. Menguras dengan menggosok tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali yang bertujuan untuk merusak telur nyamuk. Pengelolaan sampah padat. dan pencegahan penyebaran penyakit DBD. b. 27 . Pengelolaan Lingkungan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Pengelolaan lingkungan meliputi berbagai kegiatan untuk mengkondisikan lingkungan menyangkut upaya pencegahan dengan mengurangi perkembang biakan vektor sehingga mengurangi kontak antar Vektor dengan manusia. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas dan sampah- sampah lainnya yang dapat menampung air hujan sehingga tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. air tempat minum burung seminggu sekali dengan tujuan untuk merusak telur maupun jentik nyamuk. dilakukan dengan cara: a. modifikasi tempat perkembang biakan buatan manusia dan perbaikan desain rumah.tersebut terdiri atas perlindungan perseorangan. pemberantasan vektor dalam wabah dan pemberantasan vektor untuk pencegahan wabah.

Pengendalian dengan Bahan Kimia. menggunakan kelambu baik yang dicelup larutan insektisida maupun tidak.H-14) dan Bacillus sphaericus (BS) yang dinilai efektif untuk mengendalikan nyamuk dan bakteri tersebut tidak mempengaruhi spesies lain. contohnya dengan memlihara ikan pemakan jentik seperti ikan kepala timah. anti nyamuk lotion (repellent). Mencegah barang-barang/pakaian-pakaian yang bergelantungan di kamar ruang yang remang-remang atau gelap. 2. Bahan kimia telah banyak digunakan untuk mengendalikan Aedes aegypti sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Pengendalian Biologis Penerapan pengendalian biologis ditujukan langsung terhadap jentik Aedes dengan menggunakan predator. 3. menggunakan anti nyamuk bakar. dan ikan gupi. Selain menggunakan ikan pemakan jentik. d. 4. Dengan melakukan kegiatan PSN DBD secara rutin oleh semua masyarakat maka perkembang biakan penyakit di suatu wilayah tertentu dapat di cegah atau dibatasi. Perlindungan Diri Upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk antar lain dengan menggunakan pakaian pelindung. Metode yang digunakan dalam pemakaian insektisida adalah dengan larvasida untuk membasmi jentik- 28 . Ada dua spesies bakteri endotoksin yakni Bacillus thuringiensis serotype H-14 (Bt. predator lain yang digunakan yaitu bakteri dan cyclopoids (sejenis ketam laut).

pengelolaan lingkungan. Keduanya dapat disemprotkan dengan mesin tangan atau mesin dipasang pada kendaraan. Abatisasi dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan. khususnya di dalam gentong tanah liat dengan pola pemakaian air normal. Dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gram temephos (kurang lebih 1 sendok makan rata) untuk setiap 100 liter air. Pemberantasan jentik dengan bahan kimia biasanya menggunakan temephos. Formulasi temephos (abate 1%) yang digunakan yaitu granules (sand granules). Pendekatan Pemberantasan Terpadu Pendekatan pemberantasan terpadu menurut Kalra dan Bang adalah suatu strategi pemberantasan vektor penyakit yang dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yaitu dengan pengendalian biologi. Pengendalian nyamuk dewasa dengan insektisida dilakukan dengan sistem pengasapan. jentik (abatisasi) dan pengasapan untuk membasmi nyamuk dewasa (fogging). dan penyuluhan kesehatan secara terpadu. 5. pengendalian secara kimiawi. perlindungan diri. Tetapi metode ini dinilai tidak efektif karena menurut penelitian hanya berpengaruh kecil terhadap populasi nyamuk dan penularan dengue. Pada umumnya ada 2 jenis penyemprotan yang digunakan utuk pembasmian Aedes aegypti yaitu thermal fogs (pengasapan panas) dan Cold fogs (pengasapan dingin). Hal ini merupakan metode utama yang digunakan untuk pemberantasan DBD selama 25 tahun di berbagai Negara. Pemberantasan sarang nyamuk DBD merupakan upaya pemberantasan vektor dengan metode pendekatan terpadu karena menggunakan beberapa cara yaitu secara kimia dengan 29 .

Menutup. merencanakan. Departemen Kesehatan menyimpulkan berbagai pengertian tentang peran serta masyarakat yang ada yaitu proses dimana individu. Partisipasi dari masyarakat menuntut suatu kontribusi atau sumbangan finansial. dan secara fisik yang dikenal dengan kegiatan 3 M (Menguras. dan Mengubur). 2. karena keberadaan Aedes aegypti berkaitan erat dengan perilaku masyarakat. Apabila PSN-DBD dilakukan oleh seluruh masyarakat maka diharapkan nyamuk Aedes aegypti dapat dibasmi. Mengambil tanggung jawab atas kesehatan dan kesejahteraan diri sendiri. Untuk itu diperlukan upaya penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat secara terus- menerus dalam jangka waktu yang lama.11 Peran Serta Masyarakat Partisipasi masyarakat adalah ikut seranya masyarakat dalam memecahkan permasalahan kesehatan. daya dan ide. keluarga dan masyarakat 30 . Didalam hal ini masyarakat sendirilah yang aktif memikirkan.1. melaksanakan dan mengevaluasi program-program kesehatan. Pengurasan tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak berkembang biak ditempat itu. menggunakan larvasida. keluarga serta lembaga masyarakat termasuk swasta bersedia: a. secara biologi dengan mengguanakan predator.

Dapat menjelaskan penyebab penyakit DBD. Penyuluhan adalah upaya meningkatkan peran serta masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan mengubah perlikau dan mengembangkan keterampilan. tempat berkembang biaknya.lingkaran hidupnya c. Mengembangkan kemampuan berkontribusi dalam pengembangan mereka sendiri sehingga termotivasi untuk memecahkan berbagai masalah kesehatan yang dihadapi c. sangat penting untuk diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik-teknik PSN. Dapat merubah serta mengembangkan pengetahuan dan praktek PSN . Penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk adalah: penyuluhan tentang PSN demam berdarah pada masyarakat. 31 . Dapat mejelaskan berbagai cara memberantas nyamuk Aedes aegypti dengan melakuan PSN-DBD dan abatisasi d. cara penularannya. Dapat menyebutkan cirri-ciri nyamuk Aedes aegypti. Diharapkan setelah selesai penyuluhan maka peserta: a. Guna membina peran serta masyarakat dalam melaksanakan pencegahan penyakit DBD. tanda- tanda dan pertolongan pertama DBD b. Dapat memberi pengertian pada keluarga maupun teman sebaya di lingkungannya e. Menjadi pelaku perintis pembangunan kesehatan dan pimpinan dalam pergerakan yang dilandasi semangat gotong royong.b.

Nyamuk aedes aegypti dapat diberantas dengan fogging racun serangga. pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dilakukan dengan cara 3M plus yaitu menguras tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali. mengubur. dengan kasus terbanyak di desa Bumi Sari. minuman burung dan tempat- tempat lainnya seminggu sekali. menaburkan bubuk larvasida/abate. Berbagai faktor yang beperan dalam peningkatan dan penyebaran kasus DBD berkaitan dengan 32 .2. perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar. tutup lubang-lubang pada potongan bambu atau pohon dengan tanah. jangan membiasakan menggantung pakaian di dalam rumah.Pencegahan dan pemberantasan vektor DBD dilakukan dengan : 1. tidur menggunakan kelambu. ganti air vas bunga. pencahayaan dan ventilasi memadai. Memberantas nyamuk dewasa dengan fogging (pengasapan). gunakan obat nyamuk.1 Gambaran Umun DBD masih menjadi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Tanjung Sari Kecamatan Natar dengan jumlah penderita DBD yang meningkat dari tahun 2014 sebanyak 2 kasus. 2. memanfaatkan atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas. 2. pasang kawat kasa di rumah.2 Diagnosis Komunitas 2. menutup rapat- rapat tempat penampungan air. pelihara ikan pemakan jentik nyamuk. mengumpulkan. tahun 2015 sebanyak 12 kasus dan tahun 2016 hingga di bulan Oktober sebanyak 40 kasus. Memberantas jentik aedes aegypti dengan .

kepadatan penduduk. sanitarian. 2.Membentuk Tim Pelaksana untuk mengidentifikasi masalah yang ada.2.Ditetapkanlah prioritas masalah yang akan dicari solusi untuk memecahkannya. . keganasan virus. Tim ini terdiri dari dokter puskesmas.1. serta iklim.Mendiskusikan secara bersama permasalahan yang ada yaitu di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Tanjung Sari Kecamatan Natar untuk mencari penyebab masalah dan menetapkan alternatif pemecahan masalah. pemberantasan vektor nyamuk di daerah endemik yang tidak efektif. kelembaban udara.2. Kelembaban dan suhu yang tinggi adalah faktor yang memungkinkan nyamuk Aedes Aegypti bertahan hidup dalam jangka waktu lama. keadaan geografis setempat. Pertemuan awal untuk menentukan permasalahan .2. dan suhu. dan peningkatan sarana transportasi. pemegang program.2 Langkah-Langkah Diagnosis Komunitas 2. surveilans. laboratorium dan ahli gizi. . Morbiditas dari pasien DBD itu sendiri dipengaruhi oleh kondisi imunologis pejamu. promkes. kepadatan vektor. 33 .

Wawancara pemegang program P2M DBD .2. 2.2. Identifikasi masalah di dapat dari laporan bulanan dan laporan tahunan program P2M DBD di Puskesmas Rawat Inap Tanjung Sari Kecamatan Natar .4.1 Menetapkan prioritas masalah 2.1.2.2. Identifikasi masalah . Kriteria U S G Jumlah Masalah DBD 5 5 5 125 Demam Tipoid 4 4 4 64 TBC 4 4 4 64 Tabel 2.2.1.3. Mengumpulkan data dari masyarakat Data primer dikumpulkan dari Rekam Medik dan data Sekunder dari Laporan bulanan P2M DBD.2.2.2.2.2.2. Menganalisa dan menyimpulkan data 2.4. Diskusi Tim Pelaksana 34 . Instrumen pengumpulan data Alat pengumpul data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder 2.

4. Analisa penyebab masalah MAN MATERIAL METHOD Kurang kesadaran PSN+3M ketersediaan abate terbatas penyuluhan kurang optimal Pengetahuan tentang DBD rendah alat fogging tidak berfungsi baik leaflet/media informasi kurang PHBS kurang PJB kurang optimal Sistem imun yang kurang sistem kewaspadaan dini tidak - Juru pemeriksa jentik maksimal peran serta Nakes dan Kader kurang peran serta aparat desa kurang DBD belum ada dana preventif koordinasi lintas sektoral banyak tempat-tempat sekolah dana fogging tidak dianggarkan koordinasi lintas program tempat pengumpul rongsok dianggarkan pada BOK musim penghujan lingkungan kotor MONEY MANAJEMEN ENVIRONMENT RI Gambar 2. Abatesasi 4 4 4 64 6. Pengetahuan tentang DBD 4 4 3 48 2.2. Kader Jumantik 5 4 4 80 7.4. Menentukan prioritas penyebab masalah Kriteria Masalah U S G Jumlah 1.1 Kriteria Matriks 35 .2.2.2.2.2. Diagram Fishbone 2.2.1. 2. Lintas sektor dan lintas program 4 3 3 36 Tabel.2.2.3.4.3.4. Fogging 5 5 4 100 5.2. Pemberantasan Sarang Nyamuk 5 5 5 125 +3M 4.2. Leaflet / media informasi 2 3 3 12 3.

4.5 I Nyamuk +3M 3.4. Menggalakkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 3 M (menutup. Pembentukan Kader pemeriksa jentik 36 . Pemberantasan Sarang 5 5 5 2 62.4. Metode Reinke Alternatif pemecahan masalah : 1. mengubur. Menentukan alternatif pemecahan masalah Kriteria Masalah M I V C Σ Prioritas 1.1.25 II 4.2. Kader Pemeriksa Jentik 4 4 3 3 16 III Tabel 2.4.4. menguras) melalui jumat bersih bersama-sama masyarakat. Fogging 5 5 5 4 31. Abatesasi 4 3 3 3 12 IV 5.2. 2. aparat desa dan petugas kesehatan.2.2. Melakukan fogging di lingkungan masyarakat 3. Penyuluhan tentang DBD 3 3 3 3 9 V 2.