PRESENTASI KASUS

DERMATITIS KONTAK IRITAN

Disusun Oleh :
Marisa Rosa Bella
G1A212011

Pembimbing :
dr. Ismiralda Oke P., Sp.KK

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO

2013

LEMBAR PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS

“DERMATITIS KONTAK IRITAN”

Disusun oleh:
Marisa Rosa Bella G1A212011

Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu tugas di
bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Margono Soekarjo
Purwokerto.

Purwokerto, Agustus 2013
Pembimbing:

dr. Ismiralda Oke P., Sp.KK

2

Orang tua serta keluarga penulis atas doa dan support yang tidak pernah henti diberikan kepada penulis.. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak kekurangan. Agustus 2013 Marisa Rosa Bella 3 . 3. Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi semua pihak yang ada di dalam maupun di luar lingkungan RS. Margono Soekarjo. 4. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan penulisan di masa yang akan datang. dr. hidayah dan innayah-Nya sehingga presentasi kasus dengan judul “Dermatitis Kontak Iritan” ini dapat diselesaikan. Margono Soekarjo. Dokter-dokter spesialis kulit dan kelamin di SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di RS.KK selaku dosen pembimbing. Rekan-rekan Co-Assisten Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin atas semangat dan dorongan serta bantuannya. 2. Purwokerto. Ismiralda Oke P. KATA PENGANTAR Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkat rahmat. Presentasi kasus ini merupakan salah satu tugas di SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Sp. Tidak lupa penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1.

..................................... 17 BAB III PEMBAHASAN.... 13 F............................................................................................ 22 DAFTAR PUSTAKA..................................... Etiologi......................................................................................................................................................................................................................................................... Anamnesis........................... 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 8 I....... 10 B.......................................... 16 H...................... Diagnosis Banding.................................... 8 H..................................................................................................................................... Histopatologi................... Terapi............................................ Pemeriksaan penunjang....... Gejala Klinis.................................................................. DAFTAR ISI Halaman BAB I LAPORAN KASUS............................................................... Patogenesis............. 23 4 ........ 16 I...... 10 A....... Diagnosis.. 8 G........ 6 D.................................................................... 8 F...... 11 D............................................................................................................................................................................ Terapi........................................... 12 E.............................................................................................................. 18 BAB IV KESIMPULAN........................................................................................................... Identitas Pasien........................................... 5 C........... 5 A................................................ Diagnosis Kerja.. Prognosis.................... Resume............................................................................................................................... Definisi.............. Epidemiologi...................................................... Pemeriksaan Fisik......... 10 C........................................................................................... 16 G.......................... 7 E..... 5 B......................................... Prognosis...................

walaupun dalam keadaan berkeringat. BAB I LAPORAN KASUS A. Anamnesis Keluhan utama : Gatal di kedua telapak tangan sejak 1 bulan yang lalu Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke poli kulit kelamin RS. Dengan salep ini. Identitas pasien Nama : Tn. 5 . Keluhan ini muncul setelah pasien mencuci baju dengan menggunakan detergen. tetapi ketika tidak mencuci baju. Prof Margono Soekarjo pada tanggal 31 Juli 2013 dengan keluhan gatal di kedua telapak tangan. kering. Setiap selesai mencuci baju dengan menggunakan detergen tersebut. Purwokerto. keluhan tersebut tidak muncul. Awalnya kulit terasa gatal. stress. Pasien pernah berobat dan mendapatkan salep dari RSMS namun pasien tidak ingat nama salep tersebut. S Jenis kelamin : Laki-laki Usia : 52 tahun Suku : Jawa Alamat : Mersi RT 03/ RW. sehingga sering digaruk dan lama-kelamaan kulit menjadi tebal dan bersisik. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 1 bulan yang lalu.06. keluhan yang sama pun selalu muncul. kemudian terlihat kemerahan. Banyumas Pekerjaan : Guru B.

telur disangkal Riwayat alergi debu disangkal Riwayat asma. ikan laut. Pasien bekerja sebagai guru. C. keluhan sedikit berkurang tetapi ketika habis. keluhan pun muncul kembali. telur disangkal Riwayat alergi debu disangkal Riwayat asma disangkal Riwayat menderita keluhan yang sama disangkal Riwayat penyakit DM disangkal Riwayat sosial : Pasien tinggal dengan istri. ikan laut. pasien terkadang membantu istrinya mencuci baju dengan menggunakan detergen minimal 2-3 kali dalam seminggu. Di rumah. Riwayat penyakit dahulu : Riwayat Penyakit serupa sering dialami pasien sejak lama Riwayat alergi makanan seperti udang. 2 orang anak. Pemeriksaan fisik Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Vital sign Tekanan Darah : 120/80 mmhg Nadi : 80 x/menit Respiratory Rate : 20 x/menit Suhu : 36oc Status generalis : Dalam batas normal 6 . DM disangkal Riwayat penyakit keluarga : Riwayat alergi makanan seperti udang.

datang ke poli kulit dan kelamin RS. tidak berbatas tegas.1 Efloresensi yang terdapat pada regio manus dekstra et sinistra D. Awalnya kulit terasa gatal. Resume Pasien bernama Tn.S (52 tahun). Keluhan ini sudah dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. kemudian terlihat kemerahan. A Status dermatologis Lokasi : Regio manus dekstra et sinistra Efloresensi :Skuama dengan dasar eritematosa. Margono Soekarjo pada tanggal 31 Juli 2013 dengan keluhan gatal di kedua telapak tangan. fisur. Gambar 1. kering. tetapi ketika tidak mencuci baju. Prof. regional. laki-laki. keluhan yang sama pun selalu muncul. ekskoriasi. sehingga sering digaruk dan lama-kelamaan kulit menjadi tebal dan bersisik. walaupun 7 . Setiap selesai mencuci baju dengan menggunakan detergen tersebut. likenifikasi. ragaden. Keluhan ini muncul setelah pasien mencuci baju dengan menggunakan detergen.

E. Pemeriksaan penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang. Pasien sering mengalami keluhan serupa sebelumnya dan pasien menyangkal adanya riwayat alergi makanan seperti udang.Loratadin 10 mg 1 kali sehari Non medikamentosa : .Dermatitis kontak alergika . Diagnosis kerja Dermatitis kontak iritan G. Dengan salep ini. keluhan pun muncul kembali.Neurodermatitis .Skabies F.Menghindari kontak dengan bahan iritan. Diagnosis banding . telur. Pasien tinggal dengan istri. uji KOH H. telur. Usulan pemeriksaan penunjang adalah uji tempel. DM serta riwayat asma. Pasien pernah berobat dengan keluhan yang sama sebelumnya dan mendapatkan salep dari RSMS namun pasien tidak ingat nama salep tersebut. Riwayat keluarga yang memiliki alergi makanan seperti udang. keluhan sedikit berkurang tetapi ketika habis. pasien terkadang membantu istrinya mencuci baju dengan menggunakan detergen 2-3 kali dalam seminggu. keluhan tersebut tidak muncul. DM dan riwayat menderita keluhan yang sama disangkal. yaitu detergen.Kortikosteroid topikal .Tinea manus . 2 orang anak. Di rumah. Pasien bekerja sebagai guru. dalam keadaan berkeringat. ikan laut. Terapi Medikamentosa : . alergi debu. stress. 8 . alergi debu. ikan laut. riwayat asma.

Pasien disarankan secara teratur memakai pelembab kulit I. . Jika ingin mencuci baju. Prognosis Quo ad vitam : ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam Quo ad fungsionam : ad bonam 9 . pasien bisa menggunakan sarung tangan. pasien disarankan membersihkan tangan dari iritan menggunakan pembersih yang ringan. setelah mencuci. .

dermatitis kontak iritan sering terjadi pada pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci tangan atau paparan berulang kulit terhadap air. dan penata rambut. paha atas. dan perut bagian bawah [ CITATION Placeholder1 \l 1057 ]. Di Amerika. Tingginya frekuensi ekzema pada tangan perempuan dibandingkan dengan laki-laki disebabkan oleh faktor lingkungan. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak. dan jenis kelamin dapat menderita dermatitis kontak iritan. Dermatitis kontak iritan secara signifikan lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki.6% di icu dan 69. Frekuensi 10 . jadi kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. ras. Dan merupakan inflamasi pada kulit yang bermanifestasi sebagai eritema. Pada bayi bisa terjadi dermatitis popok. Prevalensi dermatitis tangan karena pekerjaan ditemukan sebesar 55. Pekerjaan yang berisiko tinggi meliputi pembantu rumah tangga. penata rambut dan tukang masak. pelayanan rumah sakit. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. namun angkanya secara tepat sulit diketahui. B. terutama yang berhubungan dengan pekerjaan. Definisi Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik. Sekitar 80% dermatitis tangan okupasional karena iritan lebih sering mengenai tukang bersih-bersih. bukan faktor genetik. Hal ini disebkan oleh ureum yang terlepas karena kerja enzim bakteri di feses sehingga menyebabkan dermatitis kontak iritan di glutea. bahan makanan atau iritan lainnya. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyaknya penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat atau bahkan tidak mengeluh [ CITATION Dju07 \l 1057 ].7% pada pekerja yang sering terpapar. edema ringan dan pecah-pecah [ CITATION Hog11 \l 1057 ]. Epidemiologi Semua orang dari berbagai golongan umur. tukang masak.

asam. angka insiden dermatitis kontak iritan adalah 4. serta suhu dan kelembaban lingkungan [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. daya larut. pada waktu yang sufisien dengan frekuensi yang sufisien misalnya bahan pelarut.9 kasus per 10. Proporsi angka kesakitan yang lebih tinggi terlihat antara pekerja yang berhubungan dengan makanan maupun pekerjaan yang berkontak dengan air (basah) (Cvetkovski. Produk Fiberglass dapat merusak kulit secara langsung. pembantu rumah tangga merupakan pekerja terbanyak yang terkena dermatitis kontak iritan. 2005). serta suhu bahan iritan kelainan kulit yang terjadi juga dipengaruhi faktor lain. detergen. minyak pelumas. alkali. Etiologi Dermatitis kontak iritan disebabkan oleh bahan yang bersifat iritan.insiden tertinggi ditemukan pada penata rambut (46. fiberglass. kekerapan (terus menerus atau berselang). 1998) Di Jerman. dan lain sebagainya [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. 2006) Selain ditentukan oleh ukuran molekul.5 setiap 10. adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel. Paparan air yang terus menerus akan membuat maserasi atau penguapan air yang berulang pada kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit oleh karena proses desikasi pada kulit (Kartono. dan serbuk kayu. mencuci tangan lebih dari 35 kali per shift berhubungan kuat dengan dermatitis yang berhubungan dengan pekerjaan (Forrester.000 pekerja. konsentrasi.2006) 11 . [ CITATION Kee04 \l 1057 ]. Di Denmark. bermanifestasi sebagai pruritus yang dapat menimbulkan ekskoriasi dan kerusakan kulit sekunder (Schmid. pelarut-pelarut organik. C. minyak. tukang roti dan tukang masak (Dickel. gesekan dan trauma fisik. 2002). detergen) lebih bersifat iritatif dibandingkan asam. Iritan merupakan substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika terpapar pada kulit dalam konsentrasi yang cukup.000 pekerja setiap tahunnya). Bahan yang bersifat alkali (misalnya sabun.yaitu lama kontak.

menyingkirkan lemak lapisan tanduk. Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan Asam Arakidonat (AA). ras. dan oklusi. Kebanyakan bahan iritan (toksin) merusak membran lemak (lipid membrane) keratinosit. mempunyai peraan terhadap terjadinya kerusakan tersebut [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. 3 Patofisiologi utama terjadinya dermatitis kontak iritan yaitu adanya perubahan (kerusakan) barrier kulit. denaturasi keratin. Patogenesis Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang dan terus menerus. D. atau komponen inti. jenis kelamin. tetapi sebagian dapat menembus membran sel dan merusak lisosom. misal nya asam kuat atau basa kuat. dan mengubah daya ikat air kulit. misalnya perbedaan ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas. air. Dermatitis kontak iritan merupakan manifestasi klinis proses inflamasi yang disebabkan karena pengeluaran sitokin proinflamasi dari sel-sel kulit (terutama keratinosit) sebagai respon terhadap stimulus kimiawi [ CITATION Hog11 \l 1057 ].. tekanan. misalnya kelembaban udara. Faktor individu juga berpengaruh pada dermatitis kontak iritan. perubahan seluler epidermal. Diasilgliserida (DAG). Jenis bahan iritan dibagi menjadi dua macam yaitu bahan iritan kuat dan iritan lemah. gesekan. dan Inositida (IP3). Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang. Platelet Activating Factor = PAF). 12 . Bahan iritan merusak lapisan tanduk. Keadaan ini akan merusak sel epidermis [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Selain itu. usia. juga berpengaruh terhadap terjadinya dermatitis kontak iritan [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. mitokondria. dan pelepasan sitokin. Faktor kontribusi. misalnya detergen. penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami. pelarut organik.

AA dirubah menjadi Prostaglandin (PG) dan Leukotrien (LT). makrofag. misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GMESF). edema. sehingga memperkuat perubahan vaskular [ CITATION Tri03 \l 1057 ]. bila iritan kuat. suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktivasi sel T. Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel-1 (ICAM-1). bergantung pada sifat iritan. Berdasarkan penyebab dan pengaruh faktor-faktor tersebut ada yang mengklasifikasikan dermatitis kontak iritan menjadi 10 macam. LT. [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Iritan kuat memberi gejala akut. Kelainan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak. PG dan LT menginduksi vasodilatasi. PG lain. keratinosit juga melepaskan TNF. dan granulosit. IL-1 mengaktifkan sel T helper mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2. menginduksi ekspresi molekul adhesi sel dan pelepasan sitokin [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Gejala klinis Kelainan kulit yang terjadi sangat beragam. dan PAF. Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya kontak di kulit berupa eritema. DAG dan second messengers lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis protein. panas. yaitu dermatitis kontak 13 . yang menimbulkan stimulasi autokrin dan profilerasi sel tersebut [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. dan meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga memudahkan transudasi komplemen dan kinin. Pada kontak dengan iritan. dan ada pula yang mengklasifikasikan menjadi 2 macam.α . serta mengaktivasi selt mast melepaskan histamin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemotraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil. nyeri. sedang iritan lemah memberikan gejala kronik. dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya sehingga mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. E.

Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat 14 .iritan akut. misalnya larutan asam sulfat dan asam hidroklorid atau basa kuat. sabun. panas. tanah. [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Dermatitis kontak iritan akut Dermatitis kontak iritan akut terjadi setelah satu atau beberapa bahan-bahan iritan kuat sehingga terjadi kerusakan epidermis yang bersifat peradangan. trauma mikro. Dermatitis kontak iritan kronis Nama lain dermatitis ini ialah dermatitis iritan kumulatif. Kulit terasa pedih. termasuk luka bakar kimiawi dan dermatitis kontak iritan kumulatif. kelembaban rendah. asam fluorohidrogenat. panas atau dingin. Dermatitis kontak iritan kronis mungkin terjadi karena karena kerjasama berbagai faktor. intensitas reaksi sebanding dengan konsentrasi dan lamanya kontak dengan iritan. dan pada umumnya asimetris [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Pada umumnya kelainan kulit muncul segera. [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. kelainan yang terlihat berupa eritema. antralin. 3. contohnya detergen. Jenis-jenis dermatitis kontak iritan yaitu: 1. terbatas pada tempat kontak. edema. Penyebabnya adalah iritan kuat. misalnya gesekan. juga bahan. Contohnya ialah dermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang malam hari (dermatitis venenata). rasa terbakar. pada awalnya terlihat eritema dan sorenya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Biasanya karena kecelakaan dan reaksi segera timbul [ CITATION Placeholder1 \l 1057 ]. sehingga dermatitis kontak iritan akut lambat. bula. 2. Pinggir kelainan kulit berbatas tegas. mungkin juga nekrosis. misalnya natrium dan kalium hidroksida. penderita baru merasa pedih setelah esok harinya. disebabkan oleh kontak dengan iritan lemah yang berulang-ulang (faktor fisik. bahkan air) [ CITATION Placeholder1 \l 1057 ]. pelarut. misalnya podofilin. Bahan iritan yang menimbulkan reaksi akut lambat. Dermatitis kontak iritan akut lambat Kelainan kulit baru terlihat setelah 8-24 jam atau lebih.

kuli bangunan. Dermatitis kontak iritan traumatik Kelainan kulit berkembang lambat setelah trauma panas atau laserasi. Kelainan baru nyata setelah berhari-hari. juru masak. menyebabkan dermatitis kontak iritan tetapi bila bergabung dengan faktor lain baru mampu. berminggu- minggu. Ada kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama tanpa eritema sehingga diabaikan oleh penderita [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur) seperti pada kulit tumit tukang cuci yang sering terkena detergen. Gejala klasik berupa kulit kering. dan penata rambut [ CITATION Hog11 \l 1057 ]. berbulan-bulan. Dermatitis kontak iritan kumulatif sering berhubungan dengan pekerjaan. Gejala seperti dermatitis numularis. tukang kebun. lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi. 6. montir di bengkel. Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor yang paling penting. [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. ditandai perubahan fungsi sawar 15 . 5. Reaksi iritan Raksi iritan merupakan dermatitis iritan subklinis pada seseorang yang terpajan dengan pekerjaan basah. Dermatitis iritan kumulatif ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering ditemukan [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. paling cepat 6 minggu. oleh karena itu lebih banyak ditemukan di tangan dibandingkan dengan di bagian lain. misalnya penata rambut dan pekerja logam dalam beberapa bulan pertama pelatihan [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. skuama. eritema. Contoh pekerjaan yang berisiko tinggi untuk dermatitis kontak iritan kumulatif yaitu tukang cuci. Bila kontak terus berlangsung. batas kelainan tidak tegas. penyembuhan lambat. Dermatitis kontak iritan noneritematosa Dermatitis kontak iritan noneritematosa merupakan bentuk subklinis dermatitis kontak iritan. 4. Paling sering terjadi di tangan [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. bahkan bisa bertahun-tahun kemudian.

kelainan kulit tidak terlihat namun penderita merasa seperti tersengat (pedih) atau terbakar (panas) setelah kontak dengan bahan kimia tertentu. Eksositosis di epidermis disertai spongiosis dan edema intrasel. Histopatologi Gambaran histologik dermatitis kontak iritan tidak khas. dermatitis kontak iritan kronis. dan akhirnya terjadi nekrosis epidermal. fisik. sehingga adakalanya sulit dibedakan dengan dermatitis kontak alergi. kerusakan epidermis ini dapat menimbulkan vesikel atau bula. misalnya asam laktat [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Terapi Upaya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan iritan. Di dalam vesikel atau bula ditemulan limfosit dan neutrofil [ CITATION Dju07 \l 1057 ] G. Dermatitis kontak iritan akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat sehingga penderita pada umumnya masih ingat apa yang menjadi penyebabnya. baik yang bersifat mekanik. Sebaliknya. dalam dermis terjadi vasodilatasi dan sebukan sel mononuklear di dermis bagian atas. timbulnya lambat serta mempunyai variasi gambaran klinis yang luas. Untuk itu diperlukan uji tempel untuk bahan yang dicurigai [ CITATION Dju07 \l 1057 ] H. Pada dermatitis kontak iritan akut (oleh iritan primer). maupun 16 . Dermatitis kontak iritan subyektif Dermatitis kontak iritan ini disebut juga dermatitis kontak iritan sensori. 7. F. Pada keadaan berat. stratum korneum tanpa disertai kelainan klinis [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Diagnosis Diagnosis dermatitis kontak iritan didasarkan atas anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis.

Keadaan ini sering terjadi pada dermatitis kontak iritan kronik yang penyebabnya multifaktor. mungkin cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit kering [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Peradangan yang terjadi dapat diberikan kortikosteroid topikal misalnya hidrokortison. dan tidak terjadi komplikasi. juga pada penderita atopi [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan sempurna. maka prognosisnya kurang baik. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan salah satunya dengan memakaian alat pelindung diri yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. 17 . I. kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat. Prognosis Apabila bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan sempurna. atau untuk kelainan yang kronis dapat diawali dengan kortikosteroid yang lebih kuat. maka dermatitis kontak iritan tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan topikal.

telur. ikan laut. Pasien membantu istrinya mencuci baju 2-3 kali dalam seminggu. ikan laut. pada waktu yang cukup dengan frekuensi yang adekuat. melibatkan tangan dengan menggunakan detergen. bahan makanan atau iritan lainnya [ CITATION Hog11 \l 1057 ]. Saat anamnesis pasien mengatakan keluhan muncul sejak 1 bulan yang lalu. DM serta riwayat asma. Setiap selesai mencuci baju dengan menggunakan detergen tersebut. keluhan sedikit berkurang tetapi ketika habis. Awalnya kulit terasa gatal. keluhan tersebut tidak muncul. keluhan yang sama pun selalu muncul. stress. BAB III PEMBAHASAN Pasien pada kasus ini adalah seorang pria yang melakukan aktivitas mencuci baju untuk membantu istrinya. walaupun dalam keadaan berkeringat. riwayat asma. alergi debu. dalam konsentrasi yang cukup. Pasien tinggal dengan istri. tetapi ketika tidak mencuci baju. Pasien menyangkal adanya riwayat alergi makanan seperti udang. sehingga sering digaruk dan lama-kelamaan kulit menjadi tebal dan bersisik.[ CITATION Dju07 \l 1057 ]. Pasien pernah berobat dengan keluhan yang sama dan mendapatkan salep dari RSMS namun pasien tidak ingat nama salep tersebut. telur. keluhan pun muncul kembali. Dermatitis kontak iritan sering terjadi di pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci tangan atau paparan berulang kulit terhadap air. Pasien bekerja sebagai guru. Keluhan ini muncul setelah pasien mencuci baju dengan menggunakan detergen. 2 orang anak. 2006). Di rumah. Riwayat keluarga yang memiliki alergi makanan seperti udang. Dengan salep ini. DM dan riwayat menderita keluhan yang sama disangkal. kemudian terlihat kemerahan. 18 . Masing-masing individu memiliki predisposisi yang berbeda terhadap berbagai iritan [ CITATION Kee04 \l 1057 ]. Detergen merupakan salah satu bahan iritan (Schmid. allergi debu. Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika terpapar pada kulit. kering. pasien terkadang membantu istrinya mencuci baju dengan menggunakan detergen.

likenifikasi. skuama. tidak berbatas tegas. ragaden. edema. fisur. Hal ini sesuai dengan hal-hal yang tercakup didalamnya yakni penyebabnya adalah iritan lemah. dan juga fisur. batas kelainan tidak tegas. Adanya riwayat kontak berulang-ulang dan berhubungan dengan pekerjaan mencuci. papulovesikel. terjadi penebalan kulit. Hasil pemeriksaan fisik menunjukan adanya skuama dengan dasar eritematosa. dan bahkan bertahun-tahun. vesikel dan bula. Secara klinis pada kasus dapat digolongkan menjadi dermatitis kontak iritan kumulatif. Hasil ini sesuai dengan gejala klinis pada dermatitis kontak iritan kronis. dan bila terus-terusan dapat retak. Dilihat dari faktor lingkungan pasien yaitu pasien melakukan aktivitas mencuci menggunakan tangan yang dilakukan 2-3 kali/minggu pada pasien merupakan aktivitas yang melibatkan gesekan dan berisiko terjadinya trauma mikro serta kelembaban rendah. yaitu pada pemeriksaan fisiknya ditemukan kulit kering. yaitu gatal. Sedangkan pada dermatitis kontak alergi yang kronis biasanya terlihat kering. kulit tampak kering. likenifikasi. neurodermatitis. onset berhari-hari. Yang membedakan adalah pada dermatitis kontak alergi efloresensi berbatas tegas. berminggu-minggu. bersisik. Selain itu juga dari anamnesis didapatkan informasi tidak adanya riwayat atopi atau riwayat alergi pada pasien. papul. lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi. Dermatitis kontak alergik Gejala klinis dermatitis kontak alergik mirip dengan dermatitis kontak iritan. ekskoriasi. Berikut ini merupakan rincian alasan diagnosis banding tersebut dapat disingkirkan: 1. fisur. kemerahan. tinea manus. Pada kasus tersebut dapat dilihat adanya paparan bahan iritan pada pasien yang melibatkan faktor lama dan frekuensi paparan yakni adanya paparan ringan yang berulang pada pasien. regional. eritema. Diagnosis banding dari dermatitis kontak iritan pada pasien ini adalah Dermatitis kontak alergik. berskuama. 19 . 2006). dan skabies. Gesekan pada kulit dapat menyebabkan pengelupasan lapisan epidermis Gesekan berulang dan tarikan pada kulit dapat terjadinya likenifikasi (Weston WL. Efloresensi yang dapat muncul pada dermatitis kontak alergi akut biasanya didapatkan adanya bercak eritema.

Predileksi skabies di antaranya adalah sela-sela jari tangan. sedangkan pada dermatitis kontak iritan tidak berbatas tegas dan cenderung hanya mengenai daerah yang berkontak dengan bahan iritan tersebut saja. dan terdapat central healing sedangkan pada pasien ini tidak didapatkan adanya tanda-tanda tersebut. Pencetus gatal pada neurodermatitis biasanya ketika seseorang berada dalam keadaan stress [ CITATION Rad11 \l 1057 ]. adanya kanalikulus. dan ditandai dengan likenifikasi akibat garukan yang berulang. Pada uji KOH tinea manus dapat dilihat adanya gambaran hifa dan spora. Tinea manus Gejala dan tanda dari tinea manus hampir mirip dengan dermatitis. menyerang manusia secara berkelompok. Namun pada pasien ini tidak dijumpai tanda-tanda tersebut sehingga diagnosis banding skabies dapat disingkirkan. Neurodermatitis Neurodermatitis adalah peradangan kulit kronis. Dari hasil anamnesis pasien. Untuk menegakkan diagnosis scabies harus didapatkan 2 dari 4 tanda-tanda kardinal. Namun. dengan gejala klinis gatal. Untuk menegakan diagnosa. sedangkan pada dermatitis kontak iritan tidak dijumpai adanya gambaran hifa dan spora [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. tepi lesi aktif (menunjukkan peradangan). Skabies Skabies ialah penyakit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabei. yaitu pruritus nokturnal. 3. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding dermatitis kontak allergi adalah dengan melakukan uji tempel [ CITATION Dju07 \l 1057 ]. bisa dilakukan uji KOH untuk menyingkirkan diagnosa banding tinea manus. berbatas jelas. 4. 20 . tanda klinis yang membedakannya yaitu pada tinea kelainannya berbatas tegas. gatal tidak timbul ketika pasien sedang dalam keadaan stress sehingga diagnosis neurodermatitis dapat disingkirkan. 2. dan ditemukannya tungau [ CITATION Dju07 \l 1057 ].

Jika terpaksa harus mencuci baju. Apabila dapat dilakukan dengan sempurna dan tanpa komplikasi. baik yang bersifat mekanik. secara topikal diberikan salep mengandung steroid dengan potensi sangat untuk menghilangkan rasa gatal. maka tidak perlu pengobatan topikal dan cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering. Pengobatan dermatitis kontak iritan yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan iritan. pasien disarankan untuk menggunakan sarung tangan. Pada Pasien dengan dermatitis kontak iritan kronis. Pasien disarankan secara teratur memakai pelembab kulit dan menghindari pajanan dengan detergen. fisis atau kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat. 21 . Pemakaian alat perlindungan yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan sebagai upaya pencegahan. diberikan antihistamin (loratadin 10 mg 1 tablet/hari). Apabila diperlukan untuk mengatasi peradangan dapat diberikan kortikosteroid topikal.

Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien mengarah ke diagnosis dermatitis kontak iritan 5. Pasien pada kasus ini menderita dermatitis kontak iritan karena terpapar oleh iritan lemah secara berulang-ulang. BAB IV KESIMPULAN 1. edema ringan dan pecah-pecah 2. Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik. yaitu dengan pemberian kortikosteroid topikal dan anti histamin serta non medikamentosa yaitu edukasi tentang penyakit dan cara untuk mencegah paparan yang berulang 22 . bahan makanan atau iritan lainnya 3. yang bermanifestasi sebagai eritema. jadi kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. Dermatitis kontak iritan sering terjadi pada pekerja dengan pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci dengan tangan atau paparan berulang kulit terhadap air. di antaranya adalah dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis kontak iritan kronis 4. Dermatitis kontak iritan diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Penatalaksanaan dermatitis kontak iritan kronis dilakukan secara medikamentosa. 6.

. 152(1). 19(6). 3(4). D. Lichen simplex chronicus. Kretz J. Keefner. Korting HC. 2003. 2011. Iranian Journal of Dermatology. Contact Dermatitis. 2007. M. Washington: APA.J. 881-5 Harahap. Rothman KJ.medscape.. Mathiesen B. Olsen J.. Schmidt A. Roth VS. Iversen L. 2002. 2005. & Curry.. 2000.M. Hand dermatitis in intensive care unit. Schmid-Wendtner MH.E. 93-8. D. et al. In Handbook of Nonprescription Drugs. Hogan. Trihapsoro. Radmanesh. M.com/article/1049353-overview [Accessed 13 Agustus 2013]. [Online] Available at: http://emedicine. Jakarta: FKUI. & Sharifi. 2011. 12th ed. Irritans in combination with a synergistic or additive effect on the skin response: an overview of tandem irritation studies. I. USU. 283-9 Djuanda. Diepgen TL. Johansen JD. Irritant Contact Dermatitis. M. Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin.. 2004. 303-12. et al. 40 (10). Kuss O. A. American Journal Clinical Dermatology. 23 . 2006. neurotic excoriation and nodular. 7th ed. Forrester BG. Mailbach HI. 1998. Jakarta: Hipokrates. 54 (6). sick leave and loss of job among patients with occupational hand eczema. Relation between diagnoses on severity. Br Journal Dermatology. C. The pH of the skin surface and its impact on the barrier function.296-302. Kartono F. Skin Pharmacological Physiology. Importance of irritant contact dermatitis in occupational skin disease. Dermatitis Kontak Alergik Pada Pasien Rawat Jalan di RSUP Haji Adam malik Medan. Ilmu Penyakit Kulit. 14(1). Journal Occupational Environmental Medicine. Dickel H. DAFTAR PUSTAKA Cvetkovski RS.. Contact Dematitis. 2006.

Related Interests