PRESENTASI KASUS

Pedikulosis Kapitis dengan Infeksi Sekunder

Pembimbing
dr. Ismiralda Oke Putranti, Sp.KK

Disusun Oleh:
Faridz Albam Wiseso
G1A212078

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

2013

0

Margono Soekarjo Purwokerto Pada Tanggal: Agustus 2013 Mengetahui. Sp. Pembimbing dr. Ismiralda Oke Putranti. LEMBAR PENGESAHAN Telah dipresentasikan dan disetujui presentasi kasus berjudul “Pedikulosis Kapitis dengan Infeksi Sekunder” Disusun oleh Faridz Albam Wiseso G1A212078 Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat kegiatan Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu Kulit dan Kelamin RSUD Prof. Dr.KK 1 .

................................ Diagnosis Kerja.................................................................. 8 B.......... 4 D.................................. Pemeriksaan Penunjang............................................ 6 G......... 13 DAFTAR PUSTAKA... Epidemiologi.......................... Anamnesis.................. 9 H......................................... Penatalaksanaan..................................................................... Diagnosis Banding........................................................................................................................ Prognosis............................................................. 1 BAB I LAPORAN KASUS.............. 6 E..................................................................... 8 A.................................................................................................................................................................................................................... DAFTAR ISI Halaman Lembar Pengesahan. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penatalaksanaan..................... Resume..... Pemeriksaan Penunjang......... Gambaran Klinis...... 12 BAB IV KESIMPULAN.. 9 F. 9 G............................. 11 BAB III PEMBAHASAN................................... 3 B..................... 9 I............................................ 6 H................ 14 2 ........................... Etiologi........................ 8 E........................ Definisi.............. 6 I.... Diagnosis Banding............................................................................ Prognosis.................................... Patogenesis............................................................................................................................................................................................... Pemeriksaan Fisik............................................................. 8 D...................................... 3 C..... 3 A..................................... Identitas Pasien.......................................................... 8 C.......................................................................... 6 F.........................

Riwayat penyakit kulit lainnya disangkal. C. Keluhan Utama Gatal di daerah kepala sejak 1 minggu yang lalu A. Gatal dirasakan terus menerus dan pasien sering menggaruk kepalanya. Riwayat penyakit asma disangkal. Riwayat Perjalanan Penyakit Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Margono Soekarjo dengan keluhan utama gatal-gatal di kulit kepala daerah rambut. Pasien sudah ke bidan namun penyakit gatal-gatal belum berkurang. sejak 1 minggu yang lalu. lebih dulu terkena penyakit tersebut. BAB I LAPORAN KASUS I. Teman main sehari-hari pasien. semakin bertambah banyak. akhirnya nanah kering tidak pernah dibersihkan. Pasien merasa kesakitan jika nanah kering tersebut dibersihkan oleh orang tuanya. B. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit serupa disangkal. IDENTITAS PASIEN Nama : An. Riwayat alergi disangkal. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit sistemik disangkal. 3 . Riwayat rhinitis alergi disangkal. ANAMNESIS Diperoleh secara alloanamnesis pada tanggal 6 Agustus 2013. dan kepala pasien menjadi bau. A Usia : 7 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Pliken 01/07 Pekerjaan : Siswa SD Suku Bangsa : Jawa Agama : Islam No Rekam Medik : 28-09-04 II. sehingga akhirnya kulit kepala luka dan keluar nanah yang lalu mengering di rambut pasien. Di desa tempat tinggal pasien banyak anak-anak dengan keluhan serupa.

Sifat UKK 1) Krusta tebal warna kuning muda melekat pada kulit kepala dan rambut. regio occipital. Tekanan Darah : 110/70 mmHg d. Status Dermatologis 1. a. Regio / Letak lesi : caput regio temporo parietal dextra et sinistra. Nadi : 80 kali per menit. beberapa rambut bergabung menjadi satu 2) Penyebaran dan lokalisasi : regional 3) Terdapat kutu kepala. Respirasi : 20 kali per menit f. Suhu : afebris B. III. Kesadaran : Kompos mentis c. kuat. Keadaan Umum : Baik b. Status Generalis a. terdapat telur-telur kutu di rambut c. Efloresensi 1) Primer : - 2) Sekunder : krusta b. penuh e. Pembesaran KGB : tidak ada Gambar 1. PEMERIKSAAN A. UKK di regio temporoparietal sinistra 4 . teratur. Riwayat penyakit asma disangkal.

Diagnosis kerja Pedikulosis kapitis dengan infeksi sekunder b. RESUME Pasien perempuan.Gambar 2. datang ke Klinik Kulit dan Kelamin RSUD Margono Soekarjo dengan keluhan utama yaitu. ditemukan krusta warna kuning muda. Ditemukan kutu dan telur kutu di rambut C. gatal pada daerah kepala. V. 7 tahun. Gatal dirasakan semakin memberat dan muncul nanah yang kering dan menebal di kulit kepala serta rambut. Ditemukan kutu dan telur kutu pada rambut. DIAGNOSIS a. PENATALAKSANAAN 1. UKK di permukaan kulit tertutup krusta yang menyebabkan rambut lengket menjadi satu dan nyeri apabila diangkat. Non farmakologis 5 . Diagnosis banding 1) Pioderma primer 2) Dermatitis seboroik VI. Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan IV. dan regio occipital. Pada pemeriksaan fisik di regio temporoparietal dextra et sinistra.

a. Rambut sering dicuci dan dirawat dengan baik c. Sistemik : Antihistamin  cetirizine syrup satu sendok teh satu kali sehari b. Asam Fusidat cream dioleskan satu kali sehari Desoxymethasone cream dioleskan dua kali sehari VII. Topikal Kompres NaCl 0. Quo ad sanationam : dubia ad bonam 6 . lalu dicuci dan disisir dengan serit. Quo ad functionam : bonam c. Farmakologis a. diulang seminggu kemudian. PROGNOSIS a. Menjaga kebersihan kepala b. lalu keringkan dan oleskan krim topikal lainnya Pedikulosida  Permetrin 5% (Scabimite) dioleskan dan didiamkan 12 jam. Quo ad vitam : bonam b.9% pada lesi  untuk mengangkat krusta. Tidak menggaruk lesi secara berlebihan 2.

E. EPIDEMIOLOGI Penyakit ini terutama menyerang anak-anak usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat. 2). dan topi (2). dan berubah kemerahan setelah menghisap darah. Gatal timbul karena pengeruh liur dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan ke dalam kulit (2). C. D. larva. Pediculus merupakan parasit obligat. kasur. Selain menyerang manusia. nimfa dan dewasa. Berarti makin ke ujung rambut yang kita temukan adalah telur yang lebih matang (2). Telur diletakkan di sepanjang rambut mengikuti tumbuhnya wambut. GAMBARAN KLINIS Keluhan utama yang dirasakan penderita ialah rasa gatal. dibedakan Pediculus humanus dengan Pediculus animalis. Kutu betina lebih banyak jumlahnya dan berukuran lebih besar dari kutu jantan. misalnya di asrama dan panti asuhan. ETIOLOGI Kutu penyebab penyakit ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki. Kemudian karena 7 . Siklus hidup kutu melalui stadium telur. capitis (2). oleh karena itu. misalnya sisir. bantal. misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang susah dibersihkan karena rambut sangat panjang pada wanita. artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan hidup (1. Tambahan pula dalam kondisi higiene yang tidak baik. B. PATOGENESIS Kelainan kulit yang timbul disebabkan garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Cara penularannya dapat melalui perantara benda. terutama pada daerah temporal dan oksiput yang meluas ke seluruh kepala. penyakit ini juga menyerang binatang. Pedikulosis kapitis adalah infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh Pediculus humanus var. berwarna abu-abu. DEFINISI Pedikulosis adalah infeksi kulit atau rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculus (tergolong famili Pediculidae). BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

6. 5). b. Rambut sering dicuci dan dirawat dengan baik 3. handuk. Keluarga harus memeriksa kepala pasien dengan rutin. pakaian. DIAGNOSIS BANDING a. sisir. G. benda yang dikenakan di kepala seperti topi. Piedra hitam (Trichosporon ovoides). Sisir dan sikat direndam pada cairan alkohol atau pada lysol 2% selama 1 jam. furunkulosis. helm motor. Cara pemakaiannya: setelah dioleskan didiamkan 12 jam. Tidak menggaruk lesi secara berlebihan 4. Mencukur rambut apabila terdapat infeksi sekunder yang berat (2. 7. Piedra putih (T. seperti topi. kemudian dicuci 8 . Adanya “manik-manik” kecil pada rambut karena sisa-sisa selubung akar rambut. tempat tidur. Non Farmakologis 1. Hindari kontak dengan benda yang kemungkinan terkontaminasi. Tempat tidur. bantal. Inkin). dan bantal. apakah masih terdapat kutu atau tidak. Menjaga kebersihan kepala 2. Gel rambut. liken simplek kronis d. Kelenjar getah bening oksiput dan retroaurikular dapat ditemukan juga membesar. Pada keadaan tersebut kepala berbau busuk (1. Dermatitis seboroik. rambut akan bergumpal disebabkan oleh banyaknya pus dan krusta (plikapelonika). garukan terjadi infeksi sekunder sehingga timbul folikulitis. Bila infeksi sekunder berat. DIAGNOSIS Cara paling diagnostik adalah menemukan kutu atau telur. 8. terutama dicari di daerah oksiput dan temporal. 2). F. harus dicuci dan dikeringkan pada panas matahari. Telur berwarna abu-abu dan berkilat (2). b. obat yang mudah didapat dan cukup efektif adalah krim gama benzen heksa klorida (gammexane) 1%. c. H. dan rambut melekat satu sama lain. Terapi topikal Pedikulosida: Di Indonesia. 5. sikat rambut. Gatal-gatal pada kulit kepala impetigo. Tidak terdapat infestasi parasit  waham adanya parasitosis (5). pakaian. Farmakologis 1. PENATALAKSANAAN a.

Terapi sistemik (4). Tidak dilanjutkan pada bayi di bawah umur 12 bulan (2). aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10jam. efektifitasnya sama. seminggu kemudian diulangi dengan cara yang sama. Obat lainnya adalah emulsi benzil benzoat 25% dipakai dengan cara yang sama. Antibiotika sistemik apabila terdapat infeksi sekunder yang berat Topikal Sistemik Dosis First line Mupirocin Dicloxacin 250-500 mg 4 kali sehari Asam fusidat selama 5-7 hari Amoksisilin 25mg/kg bb Second Eritromicin 250-500 mg 4 kali sehari line selama 5-7hari Clindamicin 15mg/kg/hari 3 kali sehari Azithromicin 250-500 mg per hari selama 4 hari I. Bila belum sembuh diulangi setelah seminggu. PROGNOSIS Quo Ad vitam : ad bonam Quo Ad functionam : ad bonam Quo Ad cosmeticam : ad bonam Quo Ad sanationam : ad bonam 9 . Antibiotik: Apabila terdapat infeksi sekunder 2. kurang toksik dibandingkan gameksan. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim. dan disisir dengan serit agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih terdapat telur.

Dengan adanya krusta menunjukkan telah terjadi suatu proses infeksi sekunder. Jika menggunakan helm. ditambah dengan garukan berulang sehingga menyebabkan ekskoriasi. Gigitan kutu akan menyebabkan peradangan pada kulit kepala. Jaga kebersihan kepala dan hindari menggaruk dengan keras. sarung bantal. hindari timbulnya kembali infeksi parasit ini dengan mengobati juga penderita lain di sekitar pasien. dan menghindari kontak dengan penderita lain. BAB III PEMBAHASAN Berdasarkan anamnesa didapatkan keluhan gatal di kulit kepala bagian temporoparietal dan oksipital. Pakaian. Obat sistemik yang diberikan adalah antihistamin untuk mengurangi rasa gatal yaitu cetirizine syrup diminum 2 kali sehari 1 sendok teh. cuci dan jemurlah helm. 10 . kerudung. Lesi diberikan antibiotik topikal dengan asam fusidat. sudah dapat ditegakkan diagnosa kerja Pedikulosis Kapitis. Jika dapat menghindari faktor-faktor penyebab penyakit ini. Berdasarkan teori. maka infeksi berulang dapat dicegah. pedikulosis kapitis adalah infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan Pediculus humanus var capitis. Pada pemeriksaan fisik ditemukan krusta di permukaan kulit kepala sehingga rambut menempel dan menggumpal. Berdasarkan ditemukannya kutu dan telur kutu. kasur dan bantal dijemur. lalu apabila krusta telah melunak. Selain itu. gatal sejak 1 minggu terakhir memberat hingga keluar nanah dan mengering. sprei. Prognosis umumnya baik apabila ditangani dengan cepat dan tidak sampai menimbulkan infeksi sekunder yang parah. Setelah itu pada malam hari diberi permetrin 5% (scabimite) dan dihapus setelah 10 jam. di cuci dengan air panas. Pada pasien penatalaksanaanya dengan mencuci rambut kepala dari krusta- krusta yang menggumpal. Pada infeksi sekunder yang parah dapat terjadi jaringan parut di kulit kepala hingga tidak tumbuh rambut pada daerah tersebut. Ditemukan juga adanya kutu dan telur kutu menempel di rambut. Jika masih terdapat kutu dapat diulang satu minggu kemudian. dibersihkan pelan-pelan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengkompres kepala dengan NaCl.

11 . dengan mengobati orang disekitar yang juga terkena kelainan serupa. Pedikulosis adalah infeksi kulit atau rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculus yang merupakan parasit obligat. 4. artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan hidup. Pengobatan dilakukan dengan obat pedikulosida untuk mematikan kutu dan dengan serit untuk melepaskan telur dari rambut. Infeksi sekunder diberikan antibiotik topikal maupun sistemik. BAB IV KESIMPULAN 1. 3. 2. mencuci serta menjemur benda-benda yang bersentuhan dengan kepala. Rasa gatal pada kulit kepala diakibatkan oleh pengaruh liur dan ekskreta kutu yang masuk kedalam kulit saat kutu menghisap darah. Edukasi pasien agar tidak terkena infeksi kutu kembali.

Siregar RS. Daili E. Penyakit Kulit Yang Umum Di Indonesia. Fitzpatrick’s Color Atlas And Synopsis Of Clinical Dermatology Sixth Edition. Amiruddin M. 2. DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008 5. 2005. 2000 3. 2009 12 . Menaldi S. 2006 4. Mikosis. Aisah S. New York: McGraw Hill. Johnson R. Wolff K. Dalam : Djuanda A. Budimulja U. Hamzah M. Penyakit Kulit di Daerah Tropis. penyunting. Edisi ke-3. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: Medical Multimedia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Ilyas F. Makassar: LKPP UNHAS.