1

BAB I
LAPORAN KASUS

A. Identitas
Nama : An. EYS
Usia : 15 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Sampang RT 03/02
No. Rekam Medik: 022868
Tanggal Periksa : 1 Agustus 2013
B. Anamnesis
Keluhan Utama : Gatal dan perih di lengan kiri sejak 2 bulan yang lalu.

Keluhan Tambahan: Gatal.

Riwayat Perjalanan Penyakit:
Keluhan gatal dirasakan pertama kali di daerah lengan kiri sejak ±2 bulan
yang lalu. Pasien mengatakan terdapat bercak merah yang gatal. Pasien sudah
memeriksakan diri ke dokter umum di puskesmas terdekat kemudian diberi obat
minum dan salep. Selama ini pasien meminum obat-obat tersebut, keluhan gatal
berkurang namun bercak merah tidak menghilang. Pasien juga mengeluh
gatalnya bertambah parah saat berkeringat
Kemudian keluhan juga dirasakan semakin meluas sejak 1 bulan yang lalu.
Pasien mengaku sering menggaruknya sehingga bertambah luas. Pasien tidak
mengeluhkan adanya demam sebelum timbulnya penyakit gatal ini. Lalu pasien
berobat ke Poli Kulit dan Kelamin RSMS.

Riwayat Penyakit Dahulu:
- Riwayat penyakit kulit yang sama disangkal.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga :
- Riwayat anggota keluarga yang menderita penyakit kulit yang sama
disangkal.

Riwayat Higiene :
- Pasien terkadang mandi satu kali sehari, mandi menggunakan air sumur dan
sabun mandi.

faring hiperemis (-) Thoraks : Bentuk normal. Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya dan 2 adiknya. sklera ikterik (-/-) Hidung : Discharge (-/-) Telinga : Simetris.. Kesan: Status sosial ekonomi rendah C. ketinggalan gerak (-) Cor/Pulmo : Dalam batas normal Abdomen : Dalam batas normal Status Lokalis (Dermatologis) Secara umum. discharge (-/-) Mulut : Bibir sianosis (-). 2 . simetris. Pasien sering menggunakan handuk yang dipakai secara bersama dengan anggota keluarga yang lain. kondisi kulit pasien tampak kering (xerosis). sedangkan ibunya bekerja membantu ayahnya. Tinggi Badan = 160 cm. N = 84x/menit. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum / kesadaran : Sedang / composmentis Tanda vital : TD = . Pasien mengganti pakaian dua kali sehari. Ayah pasien bekerja sebagai pedagang. Pembiayaan pasien di rumah sakit menggunakan jamkesmas. . retraksi (-). Riwayat Sosial Ekonomi: Pasien berstatus sebagai pelajar. RR = 20x/mnt S = 36oC Berat Badan = 45 kg. BMI = 17. . Pasien tidak langsung mengganti pakaian yang digunakan ketika pakaiannya tersebut telah basah oleh keringat.59 (underweight) Status Generalis Kepala : Bentuk mesochepal Mata : Konjungtiva anemis (-/-).

central healing dan tepi aktif. hiperpigmentasi. hiperpigmentasi. Sudah diobati dengan obat dari puskesma keluhan tidak kunjung sembuh. terdapat Makula eritematosa berbatas tegas. . Pasien mengaku sering menggaruknya sehingga bertambah luas. D. 3 Regio antebrachii sinistra Efloresensi : Makula eritematosa berbatas tegas. Pemeriksaan status dermatologis. Pasien juga mengeluh gatalnya bertambah parah saat berkeringat. Resume Anak laki-laki berusia 15 tahun datang ke poli kulit-kelamin RSMS dengan keluhan gatal dan perih di lengan kiri sejak 2 bulan yang lalu. Kemudian keluhan juga dirasakan semakin meluas sejak 1 bulan yang lalu. Terdapat bercak merah yang gatal. central healing dan tepi aktif pada regio antebrachii sinistra.

Mandi minimal 2x/hari dengan air bersih c. Medikamentosa a. I. d. Menjaga kebersihan badan. Ad fungsionam : Ad bonam 3. Ad vitam : Ad bonam 2. Sistemik: Cetirizine 1x10 mg Griseofulvin 1x500 mg b. E. Dermatitis kontak alergika b. Pemeriksaan Anjuran 1. Menghindari pemakaian handuk dan pakaian bersama-sama. 4 . pakaian dan lingkungan b. Pakaian yang basah karena keringat. segera diganti dengan yang bersih dan kering. g. misalnya memakai pakaian dari bahan yang dapat menyerap keringat dan longgar. Pemeriksaan KOH H. Ad sanationam : Dubia ad bonam . Dermatitis atopik G. Non medikamentosa a. Prognosis 1. h. Mengganti pakaian dalam dengan teratur minimal 2 kali sehari. Diagnosis Kerja Tinea Corporis F. e. Diagnosis Banding a. dioles 2 kali sehari 2. Menjaga daerah lesi dari keringat atau keadaan yang lembab. f. Topikal : Miconazole cream. Meminum dan menggunakan obat dengan teratur dan sesuai petunjuk. Penatalaksanaan 1. Menjaga agar kuku tetap pendek. jika keluhan hilang tetap kontrol ke dokter hingga dinyatakan sembuh.

penyebab yang paling banyak adalah T. Tinea corporis dikenal juga sebagai Tinea sirsinata. Scherende flechte. badan. Epidemiologi Penyakit ini menyerang semua umur. yaitu pada stratum korneum. Inflamasi ini dapat menghilangkan patogen dari tempat infeksi sehingga patogen akan mecari tempat yang baru di bagian tubuh. penetrasi. dan perkembangan respon host. Herpes sircine trichophytique. dan adanya luka bakar. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Etiologi Jenis yang predominan menyebabkan dermatofitosis adalah genus Tricophyton. Definisi Tinea corporis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial golongan dermatofita. Patogen menginvasi lapisan kulit yang paling atas. menyerang daerah kulit tak berambut pada wajah. Dermatofita dapat bertahan pada stratum korneum kulit manusia karena stratum korneum merupakan sumber nutrisi untuk pertumbuhan dermatofita dan untuk pertumbuhan miselia jamur. Adhesi pada keratinosit . Infeksi ini disebabkan oleh masuknya artrospora atau konidia. 1. B. Patogenesis Jalan masuk yang mungkin pada infeksi dermatofita adalah kulit yang luka. Infeksi dermatofita terjadi melalui tiga tahap: adhesi pada keratinosit. lengan dan tungkai. C. rubrum. lalu menghasilkan enzim keratinase dan menginduksi reaksi inflamasi pada tempat yang terinfeksi. Perpindahan organisme inilah yang menyebabkan gambaran klinis yang khas berupa central healing. namun lebih sering pada orang dewasa. Walaupun semua dermatofita dapat menyebabkan tinea korporis. Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab. terutama pada daerah tropis dengan kelembapan udara yang tinggi. Kurap. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. jaringan parut. atau Tinea glabrosa. D. diikuti Epidermophyton dan Microsporum.

termasuk kompetisi besi oleh transferin yang belum tersaturasi dan dapat menghambat pertumbuhan jamur yang didukung oleh progesteron. dan enzim musinolitik yang juga menyediakan nutrisi untuk fungi ini. spora harus berkembang biak dan melakukan penetrasi pada stratum korneum. Sel limfosit T berproliferasi klonal dan . Asam lemak yang dihasilkan oleh kelenjar sebasea bersifat fungistatik. 6 Adhesi dapat terjadi jika fungi dapat melalui barier agar artrokonidia sebagai elemen yang infeksius dapat menempel pada keratin. sebagai hasil dari percepatan tumbuhnya keratinosit. 3. lipase. Penetrasi didukung oleh sekresi proteinase. Penetrasi Setelah adhesi. kompetisi dengan flora normal. seperti yang terlihat pada penderita yang mengalami infeksi dermatofita yang luas juga menunjukkan titer antibodi yang meningkat namun tidak berperan untuk mengeliminasi jamur ini. Perkembangan respon host Derajat inflamasi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu status imun penderita dan organisme itu sendiri. dan zat yang dihasilkan oleh keratinosit. Deteksi imun dan kemotaksis pada sel yang mengalami inflamasi dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Infeksi akan tampak sebagai eritema dan skuama ringan. 2. Pertahanan yang baru timbul pada lapisan kulit yang lebih dalam. variasi suhu dan kelembaban. Pembentukan antibodi tidak memberikan perlindungan pada infeksi dermatofita. Ada yang mengungkapkan hipothesis bahwa antigen dari dermatofita lalu diproses oleh sel Langerhans dan dipresentasikan di nodus limfatikus kepada sel limfosit T. Trauma dan maserasi juga memfasilitasi penetrasi dan merupakan faktor yang penting juga pada patogenesis tinea. Akan tetapi. reaksi hipersensitivitas tipe lambat (tipe IV) berperan dalam melawan dermatofita. Beberapa jamur menghasilkan kemotaktik faktor seperti yang dihasilkan juga oleh bakteri. yang kemudian menghasilkan faktor kemotaktik berasal dari komplemen. Organisme ini harus dapat bertahan dari efek sinar ultraviolet. Respon dari imunitas seluler diperankan oleh interferon-γ yang diatur oleh sel Th1. Pada pasien yang belum pernah mendapatkan paparan dermatofita sebelumnya. Mannan yang terdapat pada dinding sel jamur menyebabkan penurunan proliferasi keratinosit. Jamur juga bisa mengaktivasi komplemen melalui jalur alternatif. infeksi primer akan menghasilkan inflamasi yang ringan dan tes trikopitin biasanya menunjukkan hasil yang negatif.

Mekanisme imun yang terlibat di dalam patogenesis infeksi jamur masih perlu diteliti lebih jauh lagi. terutama pada penderita dermatofitosis kronik. anular atau geografis. Dalam prosesnya. 7 bermigrasi ke tempat infeksi untuk melawan jamur. Penelitian yang baru menunjukkan bahwa munculnya respon imun berupa reaksi hipersensitivitas tipe cepat (tipe I) atau tipe lambat (tipe IV) terjadi pada individu yang berbeda. antigen dermatofita melekat pada antibodi IgE pada permukaan sel mast kemudian menyebabkan cross-linking dari IgE. Gejala subjektif yaitu keluhan gatal. Pada tepi lesi dijumpai papula-papula eritematosa atau vesikel. Saat itu lesi kulit menunjukkan reaksi inflamasi dan barier epidermal menjadi permeable untuk migrasi dan perindahan sel. Pemeriksaan Penunjang Gejala klinis dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. terutama pada daerah kulit yang lembap. F. Sebagai akibat dari reaksi ini jamur dieliminasi dan lesi menjadi sembuh spontan. Efloresensi/sifat-sifatnya lesi adalah berbentuk makula / plak yang merah / hiperpigmentasi dengan tepi aktif dan penyembuhan sentral. Gambaran lesi dapat polisiklis. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis yang berupa . anggota gerak atas dan bawah. Karena gatal dan digaruk. Antigen dari dermatofita menstimulasi produksi IgE. punggung. Hal ini dapat menyebabkan terpicunya degranulasi sel mast dan melepaskan histamin serta mediator proinflamasi lainnya. Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan histopatologik dan imunologik tidak diperlukan. Dalam hal ini tes trikopitin menunjukkan hasil yang positif dan penyembuhan terhadap infeksi yang kedua kalinya menjadi lebih cepat. infeksi jamur juga dapat menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe cepat (tipe 1). lesi akan makin meluas. Gejala Klinis Lokalisasi lesi tinea korporis adalah wajah. Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada perjalanan penyakit yang kronik dapat dijumpai likenifikasi. E. yang berperan dalam reaksi hipersensitivitas tipe cepat. dada. terutama jika berkeringat. Selain reaksi hipersensitivitas tipe lambat.

dermatitis seboroik. Diagnosis Banding Diagnosis banding tinea korporis dimana terdapat plak berbatas tegas dengan skuama. sekitar umbilikus. Lokasi biasanya terdapat di bokong sekitar anus. Dimulai dengan makula dan papula eritematosa dengan ukuran lentikular sampai nummular. Pemeriksaan kerokan kulit dengan ditambahkan KOH akan dijumpai adanya hifa. yaitu dermatitis kontak alergi. kuku. dermatitis atopi. ditutupi oleh skuama yang kasar berwarna putih mengkilat. d. lutut. pitriasis rosea. Psoriasis a. Jika . polisiklis. Efloresensi berupa macula eritematosa yang besarnya bervariasi dari miliar sampai nummular. Lokasi biasanya pada siku. diantaranya: 1. pitiriasis alba. Macula ini berbatas tegas. Pada keadaan yang kronik dapat terjadi likenifikasi. 8 kerokan kulit. c. Diagnosis banding yang lain. menyebar secara sentrifugal b. erosif. psoriasis. pitiriasis versikolor. dengan gambaran yang beraneka ragam. lipat bawah payudara. Pemeriksaan lainnya dengan lampu wood (sinar ultraviolet). sirsinar. Bahan untuk pemeriksaan mikologik diambil dan dikumpulkan kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH lalu diperiksa langsung dengan mikroskop. lipat ketiak lipat paha. G. c. punggung. Pada tes KOH ditemukan pseudohifa e. dan geografis. garis-garis kaki dan tangan. 2. terkadang juga nyeri jika ada infeksi sekunder b. dapat arsinar. dermatitis numularis. serta kuku. telapak kaki dan tangan. mikosis fungoides. kulit kepala. dan kadang berfisura. lupus eritematosus subakut. Pada media Sabouroud terlihat koloni berwarna coklat mengkilat. tungkai atas dan bawah. hyperkeratosis. hiperpigmentasi. Efloresensi berupa daerah yang eritematosa. Kandidosis a. eritema anular. Pasien mengeluh rasa gatal yang hebat disertai rasa panas seperti terbakar. kadang dengan papul dan skuama. permukaannya basah. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung dengan sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. pada tinea kapitis akan memunculkan fluoresensi berwarna kehijauan. Pembiakan dilakukan pada medium agar Sabouraud karena dianggap merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan jamur.

250 mg/hari Voriconazole Griseofulvin. omoconazole. isoconazole. 10-20 mg/kg/hari Itraconazole. ketoconazole. clotrimazole. untuk lesi yang luas dan dengan inflamasi yang berat diindikasikan terapi oral. 9 skuama digores dengan benda tajam menunjukkan tanda tetesan lilin. 3-6 mg/kg/hari Agen antifungi topikal untuk pengobatan dermatofitosis: Golongan Obat Morpholine derivatives Amorolfine Allylamines and benzylamine Naftifine. econazole. Terbinafine. 500 mg/hari Allylamines Terbinafine Anak-anak: Griseofulvin. Butenafine derivatives Azole derivatives Bifonazole. . 150 mg/mgg Triazoles Itraconazole Itraconazole. 100 mg/hari Fluconazole Terbinafine. flutrimazole. fenticonazole. croconazole. miconazole. Dapat pula menunjukkan fenomena Koebner atau reaksi isomorfik. Pemilihan terapi didasarkan pada tempat dan luasnya infeksi. maka inflamasi akan mereda dan karakteristik central healing tidak terlihat jelas. eberconazole. juga efikasi dan keamanan obat. Agen antifungi oral untuk pengobatan dermatofitosis: Golongan Obat Dosis Miscellaneous Griseofulvin Dewasa: Azoles Ketoconazole Fluconazole. Lesi tinea tampak tenang di tengahnya atau disebut central healing. H. butoconazole. Hal ini akan mempersulit diagnosis. Terapi Tinea korporis dengan lesi yang tidak luas dapat digunakan terapi topikal. Manifestasi tersebut disebut sebagai tinea incognito. Obat topikal harus bisa penetrasi ke dalam kulit dan bertahan di dalamnya untuk menekan jamur. yaitu timbul lesi-lesi psoriasis pada bekas trauma atau garukan. Jika penggoresan diteruskan maka akan timbul titik-titik perdarahan yang disebut sebagai Auspitz sign. 5 mg/kg/hari Terbinafine. Bila tinea salah didiagnosis sebagai dermatitis kemudian digunakan steroid sebagai terapi.

tioconazole. Whitfield´s ointment. terconazole. haloprogin. 10 oxiconazole. sertaconazole. tolnaftate. . undecilenic acid. griseofulvin. Miscellaneous compounds Ciclopiroxolamine. sulconazole.

11 BAB III PEMBAHASAN A. Adapun efloresensi pada dermatitis . sementara pada kasus ini. sering bertukar handuk mandi dengan anggota keluarga yang lain. ibu pasien menyangkal adanya riwayat kontak dengan bahan atau benda sebelumnya. Penegakan diagnosis tersebut berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik status dermatologis yang mendukung ke arah diagnosis kerja tinea corporis adalah sebagai berikut : Berdasarkan auto-anamnesis : 1. diagnosis banding untuk penyakit tinea corporis pada kasus ini adalah sebagai berikut : 1. Keluhan utama gatal (pruritus) pada lengan kiri. Penegakkan Diagnosis Diagnosis penyakit kulit pada pasien dalam kasus ini adalah tinea corporis. 2. 3. central healing dan tepi aktif. Higiene pasien kurang baik seperti mandi terkadang 1 kali sehari. Hal ini sesuai dengan keluhan yang ada pada pasien ini. Diagnosis Banding Berdasarakan tempat lesinya. tetap memakai pakaian yang basah karena keringat. Hal-hal tersebut merupakan faktor predisposisi terjadinya tinea corporis Hasil pemeriksaan fisik status dermatologis : 1. Dermatitis kontak alergika Dermatitis kontak alergi selalu disertai dengan keluhan gatal. kondisi kulit pasien tampak kering (xerosis). Hal tersebut memperberat keluhan atau gejala tinea corporis. 3. Secara umum. 2. Hal ini sesuai dengan kriteria diagnosis dermatitis atopik pada bayi yaitu pruritus dan dermatitis di wajah. Lokasi : regio antebrachii sinistra. Penyakit dermatitis kontak alergika biasanya didahului dengan adanya kontak terhadap alergen. Keluhan gatal diperberat dengan adanya keringat. hiperpigmentasi. B. Efloresensi : Makula eritematosa berbatas tegas.

Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoat (6-12%) dalam bentuk salep ( Salep Whitfield). Derivat azol : mikonazol 2%. c. kucing. Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa. b. nylon). klotrimasol 1%. kelaian endokrin yang lain. c. Ketokonazol 200 mg per hari selama 10 hari – 2 minggu pada pagi hari setelah makan . atau kontak pasien lain. 12 kontak alergika yaitu eritema numular-plakat. Sistemik a. kuda. Kombinasi asam salisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk salep (salep 2-4. C. Menghindari sumber penularan yaitu binatang. Meningkatkan hygiene dan memperbaiki makanan. d. diberikan bila lesi luas atau bila dengan pengobatan topikal tidak ada perbaikan. anjing. 2. b. e. Penatalaksanaan 1. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan kerokan kulit di regio antebrachii sinistra dengan penambahan larutan KOH 10% dan dilihat dengan menggunakan mikroskop pembesaran 40 dapat ditemukan elemen jamur berupa hifa panjang. Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di kaki. Mengurangi kelembaban dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang panas (karet. sedangkan anak-anak 10- 25 mg/kgBB sehari. ketokonazol 1% dll. salep 3-10). sapi. b. D. papul dan vesikel yang berkelompok dan disertai dengan erosi numular-plakat. Lama pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah 3-4 minggu. leukemia. Faktor-faktor predisposisi lain seperti diabetes mellitus. Non Farmakologis Faktor-faktor yang perlu dihindari atau dihilangkan untuk mencegah terjadi tinea korporis antara lain : a. harus dikontrol. memperbaiki ventilasi rumah dan menghindari berkeringat yang berlebihan. Farmakologis Topikal a.

13 c. Prognosis Selama pasien dapat menghindari hal-hal yang menjadi faktor predisposisi dari penyakit ini. E. Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder. maka munculnya kekambuhan keluhan atau gejala dapat cegah. . flukonazol dll. Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan deriivat azol seperti itrakonazol.

2007. Edisi ke-4.h. Laksmipathy DT. Katz SI. Gilchrest BA. Massachusetts: Blackwell Publishing. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Savin JA. Arif. Aisah S. 7. Edisi 3. Hunter JA. 2004. Mansjoer. Dahl MV. Jakarta : EGC. 2000. New York: Mc. 2008. Siregar. Clinical Dermatology.h. Paller AS. Leffell DJ. Edisi ke-3.S. Edisi 5.h. Heffernan. Edisi 2. Kapita Selekta Kedokteran. penyunting. 2008. Goledsmith LA. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam : Djuanda A. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM. Dalam : Wolff K. Weller R. MP. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2000. Kannabiran K. Journal of Natural Science. Dermatofitosis. 2010.1807-20. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. R. Budimulja U. Edisi ke-7. 726 – 31. 14 DAFTAR PUSTAKA Bramono. Fungal disease. penyunting. 2010. Djuanda. Review on dermatomycosis: pathogenesis and treatment. .Graw Hill Companies. Verma S. Hamzah M. Mikosis.92-7. Adhi. Jakarta : FKUI. Jilid II. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. K. Jakarta : FKUI.251.

Ismiralda Oke P.. DR. Sp. 15 PRESENTASI KASUS TINEA CORPORIS Pembimbing : dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO 2013 .KK Disusun Oleh : Ageng Sadeno Putro G1A212084 SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN RSUD PROF.

16 LEMBAR PENGESAHAN PRESENTASI KASUS TINEA CORPORIS Oleh : Ageng Sadeno Putro G1A212084 Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu prasyarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RS Margono Soekarjo Purwokerto. dr.. Agustus 2013 Mengetahui Pembimbing. Ismiralda Oke P.KK . Sp. telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal: Agustus 2013 Purwokerto.

Purwokerto. Penulis menyadari bahwa presentasi kasus ini masih banyak kekurangannya. Agustus 2013 Penulis . yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Akhirnya penulis berharap. semoga presentasi kasus ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan. oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi sempurnanya presentasi kasus ini. 17 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan presentasi kasus dengan judul “TINEA CORPORIS”.