1

BAB I. KASUS

A. Identitas
Nama : Sdr. S
Usia : 27 tahun
Jenis kelamin : laki - laki
Agama : islam
Alamat : Karang Rau RT/RW : 04/01
Pekerjaan : Buruh
No. rekam medis : 841100
Tanggal masuk RS : 26 Juli 2013

B. Anamnesis (Autoanamnesis)
1. Keluhan utama : gatal di seluruh tubuh terutama di daerah kepala.
2. Keluhan tambahan : timbul bercak-bercak merah yang bersisik kasar
dari hari ke hari di seluruh tubuh
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien adalah seorang laki – laki berusia 27 tahun datang ke
Klinik Kulit dan Kelamin RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
dengan keluhan utama gatal di seluruh tubuh terutama di daerah kepala.
Gatal disertai bercak tersebut pertama kali muncul pertama kali sekitar 5
tahun yang lalu di kedua lengan atas kemudian menyebar ke lengan
bawah, kedua kaki, dada, perut, pantat, punggung, dahi, dan kepala yang
ditunjukkan sebagai ketombe. Keluhan-keluhan tersebut disertai kulit yang
mudah terkelupas seperti sisik yang berwarna putih mengkilat ketika
pasien menggaruknya. Bercak ini muncul kambuh-kambuhan dan
memberat ketika pasien banyak pikiran, cuaca panas dan berkeringat.
4. Riwayat penyakit dahulu
a. Pernah mengalami keluhan yang sama dengan saat ini
b. Riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi) disangkal
c. Riwayat kencing manis (diabetes mellitus) disangkal
d. Riwayat penyakit jantung disangkal
e. Riwayat penyakit ginjal disangkal

2

f. Riwayat alergi makanan dan obat disangkal
5. Riwayat penyakit keturunan
a. Riwayat keluhan yang sama disangkal
b. Riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi) disangkal
c. Riwayat kencing manis (diabetes mellitus) disangkal
d. Riwayat penyakit jantung disangkal
e. Riwayat penyakit ginjal disangkal
f. Riwayat alergi makanan dan obat disangkal
6. Riwayat pengobatan
Pasien menggunakan obat rutin yang selalu diresepkan oleh dokter
spesialis kulit dan kelamin (methotrexate).
7. Riwayat sosial ekonomi
Pasien tinggal bersama dengan ke dua orang tua dan dua saudaranya dan
berprofesi sebagai buruh. Pasien menggunakan Jamkesmas untuk
membayar biaya kesehatannya.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : tampak sedang
2. Kesadaran : composmentis, GCS E4M6V5
3. Vital sign : tekanan darah : 120/70 mmHg
nadi : 88 x/menit
laju pernapasan : 20 x/menit
suhu tubuh : 36,5 C
4. Berat badan : 59 kg
5. Tinggi badan : 160 cm
6. Status generalis
a. Kepala
Simetris, mesochepal, rambut hitam, distribusi merata, dan tidak mudah
dicabut, pada kulit kepala tampak eritema sirkumskripta yang ditutupi
skuama tebal, kasar, dan berlapis, berukuran miliar-lentikular.

b. Mata

3

Pupil bulat isokor diameter 3mm/3mm, terdapat reflek cahaya pada
kedua mata, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
c. Hidung
Pada pemeriksaan hidung tidak tampak discharge, nafas cuping hidung,
deviasi septum, maupun deformitas.
d. Mulut/ Gigi
Bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor dan tremor, faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T1.
e. Telinga
Telinga tampak simetris dan tidak tampak discharge.
f. Leher
Tidak ada pembesaran limfonodi regio servikal.
g. Thoraks
Cor dan pulmo dalam batas normal.
h. Abdomen
Abdomen dalam batas normal
i. Ekstrimitas superior et inferior dekstra : tidak edem, akral hangat.
7. Status dermatologis
Regio generalisata :
Plak eritematosa sirkumskripta, multiple, berukuran numular, berbatas
tegas, yang ditutupi skuama yang tebal, kasar, berlapis, berwarna putih
mengkilat.

4 D. kedua kaki. Seorang laki . Resume 1. perut. Keluhan-keluhan tersebut disertai kulit yang mudah terkelupas seperti sisik yang berwarna putih mengkilat ketika . pantat. dada. punggung. dahi.laki berusia 27 tahun dengan di seluruh tubuh terutama di daerah kepala. dan kepala yang ditunjukkan sebagai ketombe. Gatal disertai bercak tersebut pertama kali muncul pertama kali sekitar 5 tahun yang lalu di kedua lengan atas kemudian menyebar ke lengan bawah.

Edukasi tentang psoriasis. dan asam urat. seperti pemeriksaan darah rutin. 5. Usulan Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan ditujukan untuk menganalisis penyebab psoriasis. kasar. dermatofitosis G. multiple. H. kimia darah. Bercak ini muncul kambuh-kambuhan dan memberat ketika pasien banyak pikiran. c. Diagnosis Kerja Psoriasis vulgaris F. Riwayat rutin minum obat (methotrexate) dibenarkan 4. dan pengobatannya. Menghindari faktor pencetus seperti stress psikis. Status generalis dalam batas normal. pitiriasis rosea. Diagnosis Banding Dermatitis seboroika. Non Farmakologi a. disertai dengan pemeriksaan kerokan kulit menggunakan KOH dan pemeriksaan histopatologis. Riwayat keluhan serupa dibenarkan oleh pasien 3. paparan sinar matahari. Anjuran untuk tidak menggaruk atau mengelupas kulit untuk mencegah fenomena Koebner. cuaca panas dan berkeringat. infeksi. b. . berbatas tegas yang ditutupi skuama yang tebal. Status dermatologis a) Regio generalisata : Plak eritematosa sirkumskripta. Menjelaskan pasien agar teratur dalam mengkonsumsi obat dan pemakaian obat salep. gula darah. berwarna putih mengkilat E. Terapi 1. kolesterol. berlapis. perjalanannya yang kronik residif. 5 pasien menggaruknya. berukuran numular. 2. d.

stomatitis ulserosa. dosis 3x2. Pemantauan penggunaan metotreksat : nyeri kepala. hepar (fibrosis dan sirosis) dan lien 2. gangguan saluran cerna (nausea. alopesia. 6 e. Farmakologi a. Antihistamin peroral : loratadin 10 mg tablet 2 kali sehari b. e. I. nyeri lambung.5 mg dengan interval 12 jam dalam seminggu dengan dosis total 7.5 mg. Asam folat 1 mg tablet 1 kali sehari. d. depresi sum sum tulang belakang. Pemantauan efek samping obat g. c. Sitostatik peroral : metrotrexat 2. Menjelaskan prognosis penyakit f.5 mg tablet. Prognosis Ad vitam : bonam Ad sanationam : dubia ad malam Ad fungsionam : bonam Ad kosmetikum : dubia ad malam BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Curcuma 200 mg tablet 1 kali sehari. dan diare). Kortikosteroid topikal misalnya desoximethason dikombinasikan dengan asam salisilat 3%.

7 2. disertai dengan fenomena tetesan lilin. di Amerika Serikat 1-2% sedangkan di Jepang 0. Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit berwarna. Onset dini memprediksikan derajat penyakit dan penyakit yang menahun. Karakteristik tambahan berdasarkan perubahan histopatologi yang ditemukan pada plak psoriatik dan data laboratorium yang menjelaskan siklus sel dan waktu transit sel pada epidermis. dan . 2008). Psoriasis dapat terkena pada pria maupun wanita. psoriasis merupakan penyakit yang ditandai dengan terjadinya hiperplasia sel epidermis dan inflamasi dermis. Kebanyakan dari mereka menderita psoriasis lokal. berlapis-lapis dan transparan.1 DEFINISI Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun. 2.. usia onset rata-rata 8 tahun). tetapi sekitar 300. 2008). Untuk tipe lambat. Di Eropa dilaporkan sebanyak 3-7%.3 ETIOPATOGENESIS Untuk beberapa dekade.2 EPIDEMIOLOGI Kasus psoriasis makin sering ditemukan. Epidermis pada plak psoriasis menebal dan hiperplastik. Psoriasis terdapat pada semua golongan usia tetapi umumnya pada orang dewasa (Djuanda.6%. Tidak terdapat perbedaan insidens antara pria dan wanita (Geng A et al. terdapat 3 sampai 5 juta orang menderita psoriasis. bersifat kronik dan residif. dan biasanya disertai riwayat psoriasis pada keluarga. Pada bangsa berkulit hitam.. muncul pada usia 55 tahun.5 tahun (pada anak. Auspitz dan Kobner (Djuanda. Onset usia pada psoriasis tipe dini dengan puncak usia 22. Psoriasis mempengaruhi 1.5 – 2% populasi dari negara barat. ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar. Di Amerika Serikat. Insidens pria sedikit lebih tinggi daripada wanita.000 orang menderita psoriasis generalisata (Wolff K. 2009). misalnya di Afrika jarang dilaporkan demikian pula pada suku Indian di Amerika. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan kematian tetapi menyebabkan gangguan kosmetik terutama karena perjalanan penyakit ini bersifat menahun dan residif. 2. 2009).

dan terdapat pengurangan waktu untuk transit sel melalui sel epidermis yang tebal. terakumulasi di antara dermis dan epidermis. B17. Abnormalitas pada vaskularisasi kutaneus ditandai dengan peningkatan jumlah mediator inflamasi. dan makrofag. Bw57 dan Cw6.. Sel-sel tersebut dapat menginduksi perubahan pada struktur dermis baik stadium insial maupun stadium lanjut penyakit (Geng A et al. 2009). Perbandingan kulit normal dengan psoriasis (Yayasan Psoriasis Indonesia. Psoriasis tipe II berkaitan dengan HLA-B27 dan . yaitu limfosit. leukosit. polimorfonuklear. Terdapat beberapa factor yang berperan sebagai etiologi psoriasis. sedangkan bila salah satu orang tua menderita psoriasis maka risiko terkena psoriasis meningkat menjadi 34-39%. 2005). 8 terdapat maturasi inkomplit sel epidermal di atas area sel germinatif. Gambar 1. Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe yaitu:  Psoriasis tipe I dengan awitan dini dan bersifat familial  Psoriasis tipe II dengan awitan lambat dan bersufat nonfamilial Hal lain yang menyokong adanya factor genetic adalag bahwa psoriasi berkaitan dengan HLA. diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Replikasi yang cepat dari sel germinatif sangat mudah dikenali. Faktor Genetik Bila orangtua tidak menderita psoriasis maka risiko mendapat psoriasis sebesar 12%. Psoriasis tipe I berhubungan dengan HLA-B13.

gangguan metabolik. Lebih 90% dapat mengalami remisi setelah diobati dengan imunosupresif (Djuanda. 2. Pernah dilaporkan kesembuhan psoriasis gutata setelah dilakukan tonsilektomi. sedangkan hubungannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas. Obat yang . Puncak insidens psoriasis terutama pada masa pubertas dan menopause. infeksi fokal. sel penyaji antigen (dermal) atau keratinosit. Terjadinya proliferasi epidermis dimulai dengan adanya pergerakan antigen baik endogen maupun eksogen oleh sel langerhans. Faktor endokrin umumnya berpengaruh pada perjalan penyakit. Lesis psoriasis matang umumnya penuh dengan sebukakan limfosit T di dermis yang terutama terdiri atas limfosit T CD4 dengan sedikit sebukan limfositik dalam epidermis. sedangkan psoriasis pustulosa berkaitan dengan HLA-B27 (Djuanda. endokrin. obat. Pada waktu kehamilan umumnya membaik sedangkan pada masa postpartum umumnya memburuk. Pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat. sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Pada lesi psoriasis terdapat sekitar 17 sitokin yang produksinya bertambah. 2008). Stress psikis merupakan factor pencetus utama. 9 Cw2. Infeksi fokal mempunyai hubungan yang erat dengan salah satu jenis psoriasis yaitu psoriasis gutata. Umumnya infeksi disebabkan oleh Streptococcus. Keratinosit psoriasis membutuhkan stimuli untuk aktivasinya. hanya 3-4 hari. Sel Langerhans juga berperan dalam imunopatogenesis psoriasis. Berbagai faktor pencetus pada psoriasis yang disebutkan dalam kepustakaan diantaranya adalah stress psikis. 2008). alcohol dan merokok. Gangguan metabolisme seperti dialysis dan hipokalsemia dilaporkan menjadi salah satu factor pencetus. Sedangkan pada lesi baru pada umumnya lebih didominasis oleh sel linfosit T CD8. trauma (Fenomena Kobner). Nickoloff (1998) berkesimpulan bahwa psoriasis merupakan penyakit autoimun. Faktor Imunologik Defek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari ketiga jenis sel yaitu limfosit T.

. Infeksi fokal. Infeksi menahun di daerah hidung dan telinga. anti malaria dan penghentian mendadak steroid sistemik (Djuanda. Tempat predileksi pada scalp. ektremitas terutama bagian ekstensor di bagian siku dan lutut serta daerah lumbo sakral.4 GEJALA KLINIS Keadaan umum tidak dipengaruhi. seperti obstipasi. 2005) 2. Faktor herediter bersifat dominan otosomal dengan penetrasi tidak lengkap. kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma. perbatasan scalp dengan wajah. Faktor-faktor psikis. tuberkulosis paru. seperti stres dan gangguan emosis. Ada beberapa faktor predisposisi yang dapat menimbulkan penyakit ini. Sebagian pasien mengeluh gatal ringan. seperti diabetes mellitus yang laten. 10 umumnya dapat menyebabkan residif ialah beta adrenergic blocking agents. Gangguan pencernaan. Penyakit metabolic. 4. Beberapa kasus menunjukkan tendensi untuk menyembuh pada musim panas. 2008). dermatomikosis. Penelitian menyebutkan bahwa 68% penderita psoriasis menyatakan stress. 2. litium. sedangkan pada musim penghujan akan kambuh dan lebih hebat (Yayasan Psoriasis Indonesia. dan kegelisahan menyebabkan penyakitnya lebih berat dan hebat. 3. Faktor cuaca. 6. 5. yaitu: 1. arthritis dan radang menahun ginjal.

biasanya pada anak-anak.. plak yang berbatas tegas. 2005) Kelainan kulit terdiri dari bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. berbatas tegas dan mengandung pustule steril dan menebal pada waktu yang bersamaan (Wolff K. Cara menggoresnya bisa dengan pinggir gelas alas. nummular. Lesi primer pada pasien psoriasis dengan kulit yang cerah adalah merah. papul dan berkembang menjadi kemerahan.. lutut. Letak Predileksi Psoriasis (Yayasan Psoriasis Indonesia. sedangkan Kobner dianggap tidak khas. hanya kira-kira 47% dari yang positif dan didapat pula pada penyakit lain. misalnya Liken Planus dan Veruka plana juvenilis. Besar kelainan bervariasi. Auspitz dan Kobner (isomorfik). Pada fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkan oleh papilomatosis. plakat dan dapat berkonfluensi. Lokasi plak pada umumnya terdapat pada siku. Eritema sirkumskripta dan merata. Pada pasien psoriasis dengan kulit gelap. bisa lentikular. . Jika seluruhnya atau sebagian besar berbentuk lentikular disebut psoriasis gutata. skalp. distribusi hampir sama. dewasa muda dan terjadi setelah infeksi oleh Streptococcus (Djuanda. namun papul dan plak berwarna keunguan denan sisik abu-abu. Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan seperti lilin yang digores. disebabkan oleh perubahan indeks bias. kasar dan berwarna putih seperti mika serta transparan. tetapi pada masa penyembuhan seringkali eritema di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis. dan intergluteal. 2009). Kedua fenomena yaitu tetesan lilin dan Auspitz dianggap khas. 11 Gambar 2. umbilikus. Pada telapak tangan dan telapak kaki. Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin. 2008).

Umumnya bersifat poliartikular. Sendi membesar kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku yakni sebanyak kira-kira 50% yang agak khas yaitu yang disebut dengan pitting nail atau nail pit yang berupa lekukan-lekukan miliar.5 BENTUK KLINIS 1. tebal. 2008). Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku. Gambar 3. Kelainan pada mukosa jarang ditemukan (Djuanda. tempat predileksinya pada sendi interfalangs distal dan terbanyak terdapat pada usia 30-50 tahun. Setelah skuama habis maka pengerokan harus dilakukan dengan pelan-pelan karena jika terlalu dalam tidak tampak perdarahan yang berupa bintik-bintik melainkan perdarahan yang merata. 2008). Psoriasis pada sendi (Yayasan Psoriasis Indonesia. 12 Cara mengerjakannya adalah dengan cara skuama yang berlapis-lapis itu dikerok dengan ujung gelas alas. Kelainan yang tidak khas yaitu kuku yang keruh. penyakit ini dapat pula menimbulkan kelainan pada sendi. bagian distalnya terangkat karena terdapat lapisan tanduk dibawahnya (hyperkeratosis subungual) dan onikolisis. Trauma pada kulit penderita psoriasis misalnya trauma akibat garukan dapat menyebabkan kelainan kulit yang sama dengan psoriasis dan disebut dengan fenomena Kobner yang timbul kira-kira setelah 3 minggu (Djuanda. Psoriasis Vulgaris . 2005) 2.

2008). Timbulnya mendadak dan diseminata. Selain itu juga dapat timbul setelah infeksi yang lain baik bacterial maupun viral (Djuanda. Psoriasis Gutata 3. 2008). Psoriasis vulgaris 2. 13 Bentuk ini adalah yang lazim terdapat karena itu disebut psoriasis vulgaris. Psoriasis Inversa ( Psoriasis Fleksural) Psoriasis ini mempunyai tempat predileksi di daerah fleksor sesuai dengan namanya (Djuanda. 2008). . perbatasan scalp dengan wajah. Dinamakan juga tipe plak karena lesi-lesinya pada umumnya berbentuk plak. Gambar 5. umumya setelah infeksi Streptococcus di saluran napas bagian atas sehabis influenza atau morbili terutama pada anak dan dewasa muda. ekstremitas terutama bagian ekstensor yaitu lutut. siku dan daerah lumbosakral (Djuanda. Gambar 4. Psoriasis Gutata Diameter kelainan biasanya tidak melebihi 1 cm. Tempat predileksinya yaitu pada scalp.

Gambar 7. pertama dianggap sebagai penyakit tersendiri. kedua dianggap sebagai varian psoriasis. 6. Psoriasis Eksudativa Bentuk ini sangat jarang. 2008) : a. Psoriasis Pustulosa Generalisata Akut (Von Zumbusch) Psoriasis pustulata generalisata akut (von Zumbusch) dapat ditimbulkan oleh berbagai faktor provokatif. misalnya obat yang . Psoriasis Seboroik Gambaran klinis psoriasis seboroik merupakan gabungan antara psoriasis dan dermatitis seboroik. Biasanya kelainan pada psoriasis itu dalam bentuk kering. Kelainan kulit berupa kelompok-kelompok pustule kecil steril dan dalam. 2008). Psoriasis Pustulosa Palmoplantar (Barber) Psoriasis pustulosa palmoplantar bersifat kronik dan residif. 14 4. juga terdapat pada tempat seboroik (Djuanda. 5. 2008). disertai rasa gatal. di atas kulit yang eritematosa. tetapi pada jenis ini kelaianannya bersifat eksudatif seperti pada dermatitis akut (Djuanda. Psoriasis Pustulosa Palmoplantar (Barber) b. skuama yang biasanya kering menjadi agak berminyak dan agak lunak. Terdapat 2 bentuk psoriasis pustulosa yaitu (Djuanda. mengenai telapak tangan atau telapak kaki atau keduanya. Psoriasis Pustulosa Ada 2 pendapat mengenai psoriasis pustulosa. Selain berlokasi pada tempat yang lazim.

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis. kodein. sulfonamide.3 Kelainan-kelainan semacam itu akan terus menerus dan dapat menjadi eritroderma. kultur pus dari pustul steril. Penyakit ini dapat timbul pada penderita yang sedang atau telah mendapat psoriasis. stres emosional. Gejala awalnya ialah kulit nyeri.1 Pustul besar spongioform terjadi akibat migrasi neutrofil ke atas stratum malphigi. Dalam sehari pustul-pustul berkonfluensi membentuk lake of pus berukuran beberapa cm. morfin. sulfapiridin. hidroklorokuin. Plak psoriasis yang telah ada makin eritematosa. Obat lain contohnya.malese. dan salisilat. Faktor lain selain obat ialah hipokalsemia. penisilin dan derivatnya. serta infeksi bakterial dan virus. hiperalgesia disertia gejala umum berupa demam. Biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat eritema . anoreksia. sinar matahari. fenilbutason. 15 tersering karena penghentian kortikosteroid sistemik. serta antibiotik betalaktam yang lain. Psoriasis pustulata generalisata akut (von Zumbusch) 7. di mana neutrofil ini beragregasi di antara keratinosit yang menipis dan berdegenerasi. alkohol. Dapat pula muncul pada penderita yang belum pernah menderita psoriasis. Gambar 8. Setelah beberapa jam timbul banyak plak edematosa dan eritematosa pada kulit yang normal. nausea. Dalam beberapa jam timbul banyak pustul miliar pada plak-plak tersebut. kalium iodide. Eritroderma psoriatic Psoriasis eritroderma dapat disebabkan oelh pengobatan topical yang terlalu kuat atau karena penyakitnya sendiri yang meluas.

transparan .7 DIAGNOSIS BANDING Jika gambaran klininya khas. Jika tidak khas maka harus dibedakan dengan beberapa penyakit lain yang tergolong dalam dermatosis eritroskuamosa. 16 dan skuama tebal universal. 2000). Psoriasis eritroderma 2. 2.6 HISTOPATOLOGI Psoriasis memberikan gambaran histopatologik yang khas yakni parakeratosis dan akantosis. tidaklah susah untuk menegakkan diagnosis psoriasis. Di dalam sel-sel tanduk ini masih ditemukan inti sel (parakeratosis). 2008). Aktivitas mitosis sel epidermis tampak begitu tinggi. Adakalanya lesi psoriasis masih tampak samar-samar yakni lebih eritematosa dan kulitnya lebih meninggi (Djuanda. 2008). Di dalam stratum korneum dapat ditemukan kantong-kantong kecil yang berisikan sel radang polimorfonuklear yang dikenal sebagai mikro abses Munro. Pada puncak papil dermis didapati pelebaran pembuluh darah kecil yang disertai oleh sebukan sel radang limfosit dan monosit (Siregar. Gambar 9. Selain itu terdapat pula papilomatosis dan vasodilatasi di subepidermis (Djuanda. Dalam mendianosis psoriasis perlu diperhatikan menganai cirri khas psoriasis yaitu skuama kasar. sehingga pematangan keratinisasi sel-sel epidermis terlalu cepat dan stratum korneum tampak menebal. Pada stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses Munro.

pengobatan pada psoriasis terdiri dari pengobatan secara sistemik. Psoriasis dengan plak luas didiagnosis banding dengan tinea korporis dan mikosis fungoides. 2009). sifilis sekunder dan pityriasis rosea. Dernatitis seboroik berbeda dengan psoriasis karena skuamanya berminyak dan kekuning-kuningan dan tempat predileksinya pada tempat yang seboroik (Djuanda. 17 serta berlapis-lapis disertai fenomena tetesan lilin. Setelah membaik dosis diturunkan perlahan-lahan lalu diberikan dosis pemeliharaan.8 PENGOBATAN Secara garis besar. Perbedaanya adalah terdapat keluhan yang sangat gatal pada dermatofitosis dan pada pemeriksaan sediaan langsung ditemukan adanya jamur. Psoriasis pada daerah skalp didiagnosis banding dengan tinea kapitis dan dermatitis seboroik. 2008). Psoriasis pada kuku didiagnosis banding dengan onikomikosis (Wolff. pengobatan secara topical. 1. kandidiasis. Pada stadium penyembuhan dapat ditemukan eritema yang hanya terdapat di pinggir sehingga menyerupai dermatofitosis. intertrigo. Psoriasis gutata akut didiagnosis banding dengan erupsi obat makulopapular. . Plak dengan sisik kecil didiagnosis banding dengan dermatitis seboroik. penyakit Paget ekstramamme. likenplanus kronis simpleks. Sifilis stadium II dapat menyerupai psoriasis dan disebut sifilis psoriaformis. pembesaran KGB menyeluruh dan tes serologic untuk sifilis positif. Auspitz dan Kobner. Kortikosteroid Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis dengan dosis ekuivalen prednisone 30mg per hari. Psoriasis inverse didiagnosis banding dengan tinea. tinea korporis. Pengobatan Sistemik a. Perbedaanya adalah pada sifilis terdapat riwayat hubungan seksual dengan tersangka yang juga menderita sifilis. 2. dan mikosis fungoides. terapi penyinaran dengan PUVA dan pengobatan dengan cara Goeckman.

Ulkus peptikum. urin lengkap. psoriasis pustulosa. Obat ini menunjukkan hambatan replikasi dan fungsi sel T dan mungkin juga sel B karena adanya efek hambatan sintesis (Goldenstein. psoriasis arthritis dengan lesi kulit dan eritroderma karena psoriasis yang sukar terkontrol dengan obat standar. 18 Penghentian obat secara mendadak akan menyebabkan kekambuhan dan dapat terjadi psoriasis pustulosa generalisata (Djuanda.5mg dengan interval 12 jam selama 1 minggu dengan dosis total 7. Cara lain adalah dengan pemberian MTX i. sehingga menghambat sintesis timidilat dan purin. Bila fungsi hepar baik maka dilakukan biopsy hepar setiap kali dosis mencapai dosis total .5 – 25 mg. colitis ulserosa dan psikosis). fungsi ginjal dan fungsi hati. 2008).5 mg per minggu dan biasanya dengan dosis 3 x 5 mg akan tampak ada perbaikan.m dosis tunggal sebesr 7. kehamilan. Obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim dihidrofolat reduktase. penyakit infeksi aktif (misalnya TBC. Tetapi dengan cara ini lebih banyak menimbulkan reaksi sensitivitas dan reaksi toksik.5 . Indikasinya ialah untuk psoriasis. Bila jumlah leukosit < 3500/uL maka pemberian MTX dihentikan. Kontraindikasinya ialah bila terdapat kelainan hepar. Setiap 2 minggu dilakukan pemeriksaan hematologic.5mg. Jika tidak ada perbaikan maka dosis dinaikkan 2. Jika tidak terjadi efek yang tidak diinginkan maka MTX diberikan dengan dosis 3 x 2. b. ginjal. Pada awalnya metotrexate diberikan dengan dosis inisial 5 mg per orang dengan psoriasis untuk melihat apakah ada gejala sensitivitas atau gejala toksik. Obat Sitostatik Obat sitistatik yang biasa digunakan adalah metotrexate. 2008). system hematopoetik. 2001). Jika penyakit telah terkontrol maka dosis perlahan diturunkan dan diganti ke pengobatan secara topical (Djuanda.

c.5 gram. stomatitis ulcerosa dan diare. hipotensi. gangguan psikis dan gangguan pada jantung (Djuanda. Pada hepar dapat terjadi fibrosis dan sirosis (Djuanda. sumsul tulang. anoreksia. Pada saluran cerna berupa nausea. d. muntah. methemoglobinuria dan agranulositosis. derivat vitamin A digunakan bagi psoriasis yang sukar disembuhkan dengan obat- obat lain mengingat efek sampingnya. Dosisnya adalah 2 x 250 mg – 3 x 250 mg. Etretinat & Asitretin Etretinat merupakan retinoid aromatik. 2008). Diaminodifenilsulfon Diaminodifenilsulfon (DDS) digunakan pada pengobatan psoriasis pustulosa tipe Barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. alopecia. Pada psoriasis obat tersebut mengurangi proliferasi sel epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal. Efek sampingnya adalah anemia hemolitik. tetapi bila fungsi hepar abnormal maka dilakukan biopsy hepar bila dosis total mencapai 1 gram. Pada reaksi yang hebat dapat terjadi enteritis hemoragik dan perforasi intestinal. hepar dan lien. Levodopa Levodopa sebenarnya dipakai untuk penyakit Parkinson. Dosisnya bervariasi : pada bulan pertama diberikan 1mg/kgbb/hari. Pada beberapa pasien Parkinson yang juga menderita psoriasis dan diterapi dengan levodopa menunjukkan perbaikan. Efek samping levodopa adalah mual. Depresi sumsum tulang menyebabkan timbulnya leucopenia. 19 1. 2008). Etretinat efektif untuk psoriasis pustular dan dapat pula digunakan untuk psoriasis eritroderma. saluran cerna. Berdasarkan penelitian. jika . Levodopa menyembuhkan sekitar 40% pasien dengan psoriasis. e. Efek samping dari penggunaan MTX adalah nyeri kepala. nyeri lambung. trombositopenia dan kadang-kadang anemia.

2. misalnya iktiol. hiperostosis. nyeri tulang dan persendian. Efek sampingnya berupa kulit menipis dan kering. mata. misalnya liantral dan likuor karbonis detergens Preparat ter yang berasal dari fosil biasanya kurang efektif untuk psoriasis. selaput lendir pada mulut. Kehamilan hendaknya tidak terjadi sebelum 2 tahun setelah obat dihentikan. Preparat Ter Obat topikal yang biasa digunakan adalah preparat ter. Contoh obatnya adalah alefaseb. kerontokan rambut. efalizumab dan TNF-α-antagonist (Djuanda. yakni yang berasal dari:  Fosil. Pada psoriasis yang telah menahun lebih baik digunakan ter yang berasal . sebaliknya kemungkinan memberikan iritasi juga besar.  Kayu. Kelebihannya. dan hidung kering. dibandingkan dengan etretinat yang lebih dari 100 hari (Djuanda. dan teratogenik. yang cukup efektif ialah yang berasal dari batubara dan kayu. pruritus. Efek sampingnya dan manfaatnya serupa dengan etretinat. Asitretin (neotigason) merupakan metabolit aktif etretinat yang utama. Terapi biologic Obat biologic merupakan obat yang baru dengan efeknya memblok langkah molecular spesifik yang penting paa pathogenesis psoriasis. gangguan fungsi hepar. 2008). yang efeknya adalah anti radang.  Batubara. waktu paruh eliminasinya hanya 2 hari. misalnya oleum kadini dan oleum ruski. 2008). peninggian lipid darah. cheilitis. f. Menurut asalnya preparat ter dibagi menjadi 3. Ter dari batubara lebih efektif daripada ter berasal dari kayu. Pengobatan Topikal a. 20 belum terjadi perbaikan dosis dapat dinaikkan menjadi 1½ mg/kgbb/hari.

karena jika dipakai ter dari batu bara dikuatirkan akan terjadi iritasi dan menjadi eritroderma (Djuanda. 2008). Kortikosteroid Kortikosteroid topikal memberi hasil yag baik. jika tidak ada perbaikan konsentrasi dinaikkan. Lama pemakaian hanya ¼ – ½ jam sehari sekali untuk mencegah iritasi. Pada batang tubuh dan ekstremitas digunakan salap dengan potensi kuat atau sangat kuat bergantung pada lama penyakit. Sebagai vehikulum harus digunakan salap karena salap mempunyai daya penetrasi terbaik (Djuanda. b. sedangkan di lipatan berupa strie atrofikans. karena ter tesbut lebih efektif daripada ter yang berasal dari kayu dan pada psoriasis yang menahun kemungkinan timbulnya iritasi kecil. bila digunakan potensi kuat pada muka dapat memberik efek samping di antaranya teleangiektasis. di tempat lain digunakan salap. c. Ter yang berasal dari kayu kurang nyaman bagi penderita karena berbau kurang sedap dan berwarna coklat kehitaman. 21 dari batubara.2-0. 2008). Ditranol (Atralin) Obat ini dikatakan efektif. Sedangkan likuor karbonis detergens tidak demikian. Supaya lebih efektif. 2008). muka dan daerah lipatan digunakan krim. Konsentrasi yang digunakan biasanya 0. Sebaliknya pada psoriasis akut dipilih ter dari kayu. Jika telah terjadi perbaikan potensinya dan frekuensinya dikurangi (Djuanda. Potensi dan vehikulum bergantung pada lokasinya. maka daya penetrasi harus dipertinggi dengan cara menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3 – 5 %. lipatan dan genitalia eksterna dipilih potensi sedang. Pengobatan dengan Penyinaran . atau krim. Kekurangannya adalah mewarnai kulit dan pakaian. Pada daerah muka. salep. 2008). d.8 persen dalam pasta. Konsentrasi yang biasa digunakan 2 – 5%. Pada skalp. dimulai dengan konsentrasi rendah. Penyembuhan dalam 3 minggu(Djuanda.

kemudian dinaikkan berangsur-angsur. 2008). Diberikan seminggu tiga kali. pustular. sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik ialah penyinaran secara alamiah. Preparatnya berupa salep atau krim 50 mg/g. tetapi sayang tidak dapat diukur dan jika berlebihan akan memperberat psoriasis. Tazaroten Merupakan molekul retinoid asetilinik topikal. 2008). e. diantaranya sinar A yang dikenal dengan UVA. Efektivitas salep ini sedikit lebih baik daripada salap betametason 17-valerat. Pada yang tipe plak dan gutata dikombinasikan dengan salep likuor karbonis detergens 5 -7% yang dioleskan sehari dua kali. metoksalen) dan disebut PUVA. atau bersama- sama dengan preparat ter yang dikenal sebagai pengobatan cara Goeckerman (Djuanda. Setiap kali dinaikkan sebagai 15% dari dosis sebelumnya. Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8- metoksipsoralen. f. Perbaikan setelah satu minggu. Target pengobatan ialah pengurangan 75% skor PASI (Psoriasis Area and Severity Index). Calcipotriol Calcipotriol ialah sintetik vitamin D. Hasil baik dicapai pada 73. Dosis UVB pertama 12 -23 m J menurut tipe kulit. dapat pula telihat eritema dan skuamasi. Sebelum disinar dicuci dahulu.3% kasus terutama tipe plak (Djuanda. Rasa tersebut akan hilang setelah beberapa hari obat dihentikan (Djuanda. dan eritroderma. 2008). efeknya menghambat proliferasi dan normalisasi petanda differensiasi keratinosit dan menghambat petanda proinflamasi pada sel radang . 22 Seperti diketahui sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis. gutata. yakni rasa terbakar dan tersengat. Karena itu digunakan sinar ultraviolet artifisial. Efek sampingnya pada 4 – 20% berupa iritasi. Dapat juga digunakan UVB untuk pengobatan psoriasis tipe plak.

Pada batang tubuh (selain lipatan). . maka dengan UVA akan terjadi efek yang sinergik. setelah itu dilakukan terapi pemeliharaan seminggu sekali atau dijarangkan untuk mencegah rekuren. Tersedia dalam bentuk gel. Yang pertama digunakan ialah crude coal ter yang bersifat fotosensitif. 2008). penyembuhan terjadi setelah 3 minggu. Efek sampingnya ialah iritasi berupa gatal. rasa terbakar dan eritema pada 30 % kasus. 23 yang menginfiltrasi kulit. Kemudian terdapat banyak modifikasi mengenai ter dan sinar tersebut. Ternyata bahwa UVB lebih efektif daripada UVA (Djuanda. Bila dikombinasikan dengan steroid topikal potensi sedang dan kuat akan mempercepat penyembuhan dan mengurangi iritasi. g. PUVA Karena psoralen bersifat fotoaktif. dan krim dengan konsentrasi 0. Beberapa penyelidik mengatakan pada pemakaan yang lama kemungkinan akan terjadi kanker kulit (Djuanda. Lama pengobatan 4 – 6 minggu. 2008). 2008). Terdapat bermacam-macam bagan. 3. 4.1 %. Emolien Efek emolien ialah melembutkan permukaan kulit. ekstremitas atas dan bawah biasanya digunakan salep dengan bahan dasar vaselin 1-2 kali/hari. di antaranya 4 x seminggu. fungsinya juga sebagai emolien dengan akibat meninggikan daya penetrasi bahan aktif. PUVA juga dapat digunakan untuk eritroderma psoriatik dan psoriasis pustulosa.05 % dan 0. Penyembuhan mencapai 93% setelah pengobatan 3 – 4 minggu. Jadi emolien sendiri tidak mempunyai efek antipsoriasis (Djuanda. Mula-mula 10 – 20 mg psoralen diberikan per os. 2 jam kemudian dilakukan penyinaran. Pengobatan Cara Goeckerman Pada tahun 1925 Goeckerman menggunakan pengobatan kombinasi ter berasal dari batubara dan sinar ultraviolet. juga bersifat fotosensitif.

dapat bertahan beberapa tahun dan ditandai dengan remisi dan eksaserbasi yang tidak dapat dijelaskan. 2008). Penyakit ini bersifat stabil.. Relaps dan remisi dapat terjadi dalam periode bertahun-tahun (Wolff et al. Seringkali.2009). Psoriasis vulgaris juga dapat berkembang menjadi psoriasis tipe ini. .Psoriasis gutata akut timbul cepat. dan dapat saja rekurens sewaktu-waktu seumur hidup. 24 2. psoriasis tipe ini berkembang menjadi psoriasis plak kronis. dan dapat remisi setelah beberapa bulan atau tahun.9 PROGNOSIS Psoriasis tidak menyebabkan kematian tetapi menggangu kosmetik karena perjalanan penyakitnya bersifat kronis dan residif (Djuanda. Pada psoriasis tipe pustular. Pasien denan psoriasis pustulosa generalisata sering dibawa ke dalam ruang gawat darurat dan harus dianggap sebagai bakteremia sebelum terbukti kultur darah menunjukkan negatif. Terkadang tipe ini menghilang secara spontan dalam beberapa minggu tanpa terapi.

Terjadi perubahan pada kuku menjadi keruh dan keras. 25 III. didapatkan fenomena tetesan lilin dan fenomena Koebner dari pengakuan pasien. multiple. Pasien kadang merasa gatal sehingga menggaruk kulitnya. pitiriasis rosea. dan ginjal. trauma. ekstrimitas bagian ekstensor. Fenomena tetesan lilin adalah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan. PEMBAHASAN A. bertempat predileksi pada tempat yang seboroik . merokok dapat meningkatkan terjadinya psoriasis. kasar. tetapi pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. kuku. Selain itu. jantung. Kulit kepala yang berambut muncul bercak seperti ketombe. Penegakan Diagnosis Penegakan diagnosis dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. dermatofitosis dapat disingkirkan. punggung. sifilis stadium II. Pasien datang dengan keluhan khas psoriasis. Fenomena Koebner (reaksi isomorfik) adalah munculnya lesi- lesi baru akibat trauma fisis berupa garukan di sekitar lesi lama psoriasis. Dari anamnesis diketahui pasien adalah seorang laki . infeksi fokal. gangguan metabolik. Dari pemeriksaan fisik didapatkan efloresensi kulit yang khas untuk psoriasis. perbatasan daerah tersebut dengan muka. ditutupi skuama yang tebal. alkohol.laki 27 tahun. meliputi kulit kepala. Faktor keturunan dan beberapa faktor pencetus seperti stres psikis. berwarna putih mengkilat. seperti lilin yang digores. Tempat terjadinya kelainan kulit tersebut merupakan predileksi psoriasis. Dalam keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan seperti pasien. kencing manis. berukuran numular. yaitu gatal yang disertai dengan bercak-bercak kemerahan di kulit yang di atasnya terdapat sisik berwarna putih mengkilat dan mudah terkelupas. obat. yaitu plak eritematosa berbatas tegas (sirkumskripta). pantat. berlapis. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut. endokrin. dan punggung daerah lumbosakral. penyakit. Dermatitis seboroik dibedakan dengan psoriasis karena skuamanya berminyak dan kekuningan. diagnosis psoriasis gutata dapat ditegakkan dan diagnosis banding dermatitis seboroika. Pasien mengaku tidak pernah mengalami riwayat tekanan darah tinggi.

hitung jenis. biopsi tersebut dikerjakan setiap dosis total mencapai 1 gram. dan pada sediaan langsung ditemukan jamur. Kalau fungsi hepar abnormal. ditutupi skuama halus. jumlah trombosit. sumbu panjang lesi seesuai dengan garis lipatan kulit. penyembuhan sentral. . Menghindari faktor pencetus seperti stress psikis. B. skuama halus. biopsi hepar dilakukan setiap dosis total mencapai 1. hepar (fibrosis dan sirosis) dan lien Setiap 2 minggu diperiksa kadar hemoglobin. stomatitis ulserosa. Pitiriasis rosea mempunyai efloresensi khas berupa herald patch. dan urin lengkap. d. perjalanannya yang kronik residif. gangguan saluran cerna (nausea. Bila jumlah leukosit kurang dari 3. c. lentikular- numular.5 gram. alopesia. pembesaran kelenjar getah bening. Pemantauan penggunaan metotreksat Efek samping penggunaan metrotreksat yaitu nyeri kepala. Penatalaksanaan Penatalaksanaan dibagi menjadi nonfarmakologi dan farmakologi. Dermatofitosis mempunyai efloresensi khas berupa makula eritematosaa dengan tepi aktif disertai papul atau vesikel. dan tes serologik untuk sifilis positif. rering disertai demam malam hari (dolores nocturnal).500 metotreksat dihentikan. berbatas tegas. b. Non Farmakologi a. 26 (banyak mengandung kelenjar sebasea). nyeri lambung. Sifilis stadium II mempunyai efloresensi khas berupa bercak-bercak eritema dengan skuama berwarna merah tembaga. Anjuran untuk tidak menggaruk atau mengelupas kulit untuk mencegah fenomena Koebner. merokok. Pemantauan efek samping obat e. dan diare). 1. Jika fungsi hepar normal. eritema bentuk lonjong. Setiap bulan atau 2 bulan diperiksa fungsi ginjal dan hati. dan pengobatannya. jumlah leukosit. Edukasi tentang psoriasis. jika berlangsung kronik dijumpai likenifikasi atau hiperpigmentasi. depresi sum sum tulang belakang. alkohol. gatal terutama jika berkeringat.

b. c. e.5 mg Metotreksat merupakan golongan sitostatik yang menjadi salah satu pilihan pengobatan psoriasis. 27 2. sehingga diberikan curcuma 200 mg tablet 1 kali sehari sebagai hepatoprotektor.5 mg dengan interval 12 jam dalam seminggu dengan dosis total 7. dosis 3x2. Metotreksat dapat menghambat enzim dihidrofolat reduktase dapat menurunkan kadar asam folat. Kortikosteroid topikal misalnya desoximethason dikombinasikan dengan asam salisilat 3%. Defisiensi asam folat akan menyebabkan kegagalan sintesis DNA dan hambatan mitosis sel. Pemberian metotreksat merupakan faktor risiko defisiensi asam folat. Efek samping pemberian metotreksat lainnya adalah hepatotoksik.5 mg tablet. termasuk sel darah dan menimbulkan anemia megaloblastik. Metotreksat mempunyai efek imunosupresi sehingga bermanfaat untuk penyakit autoimun. Kortikosteroid diberikan pada psoriasis karena memiliki efek antiinflamasi dan antiproliferatif. Asam folat 1 mg tablet 1 kali sehari. d. Curcuma 200 mg tablet 1 kali sehari. Aktifitas imunosupresi obat tersebut menunjukkan hambatan replikasi dan fungsi sel T dan mungkin sel B karena adanya efek terhadap sintesis DNA secara selektif. pemberian metotreksat disertai pemberian suplemen asam folat sebesar antara 1-5 mg dosis perhari secara oral untuk mencegah anemia megaloblastik. Farmakologi a. Antihistamin peroral : loratadin 10 mg tablet 2 kali sehari Loratadin adalah golongan antihistamin-1 (AH1) nonsedatif yang tidak atau sangat sedikit menembus sawar darah otak sehingga pada kebanyakan pasien biasanya tidak menimbulkan kantuk. Sitostatik peroral : metrotrexat 2. Efek antiinflamasi kortikosteroid . Oleh karena itu. Antihistamin dapat meredakan rasa gatal sehingga mengurangi risiko terjadinya fenomena Koebner.

tetapi bersifat kronis dan residif. Penyakit psoriasis merupakan kondisi seumur hidup dan obat-obat yang diberikan hanya mengontrol gejala yang timbul saja. Prognosis Meskipun psoriasis tidak menyebabkan kematian. Timbulnya plak-plak psoriasis disekujur tubuh pasien akan mempengaruhi kosmetika penampilan. C. . Penderita ini mungkin akan terlihat malu dan tidak nyaman dengan penampilannya. Pada konsentrasi 3% bersifat keratolitik dan dipakai untuk kondisi dermatosis yang hiperkeratotik. suatu enzim yang berperan melepaskan asam arakidonat dari membran sel sehingga menghambat jalur asam arakidonat. 28 merupakan akibat inhibisi pembentukan prostaglandin dan derivat jalur asam arakidonat lain. Efek antiproliferatif glukokortikoid topikal diperankan oleh adanya inhibisi sintesis DNA dan mitosis. Penyakit ini akan terus cenderung berulang. Psoriasis mungkin juga bisa menurunkan kualitas hidup seseorang. Kortikosteroid dapat menghambat pelepasan fosfolipase A2. Asam salisilat merupakan zat keratolitik yang mempunyai efek mengurangi proliferasi epitel dan menormalisasi keratolinisasi yang terganggu.

kolesterol. . Pasien dengan psoriasis akan mengalami kekambuhan sepanjang hidupnya karena perjanan penyakit yang kronik residif dan menjalani perawatan untuk mengontrol tanda dan gejalanya. 29 KESIMPULAN 1. Pemeriksaan penunjang ditujukan untuk menganalisis penyebab psoriasis.laki berusia 27 tahun dengan diagnosis psoriasis vulgaris. 2. seperti pemeriksaan darah rutin. pasien adalah seorang laki . 4. Pengobatan psoriasis terbagi kedalam pengobatan sistemik dan topikal. pemeriksaan histopatologis. serta kerokan kulit dengan KOH 3. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis. dan asam urat. gula darah. kimia darah.

Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit.... 2005. Ilmu penyakit kulit dan kelamin.or.id/psoriasis. Johnson R. Psoriasis.Goldenstein A. Melfiawaty. Jakarta: EGC Wolff K. Psoriasis. 30 DAFTAR PUSTAKA Djuanda A. Edisi kelima.U. Fitzpatrick’s color atlas and synopsis of clinical dermatology.. 2001. Editors. Dermatosis eritroskuamosa. Hamzah M. Psoriasis. Geng A.. Diunduh di http://www...php pada tanggal 13 Agustus 2013 . et al.. Goldenstein B. Psoriasis.S. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta : Hipokrates Siregar R. Goldenstein A. 2005. 2009. Yayasan Psoriasis Indonesia. Edisi keenam. New York:Mc Graw Hill..C. Editors. Dalam Goldenstein B. Dermatologi Praktis.A.psoriasis. Dalam Djuanda A. Dermatology for skin of color. McBean J.. 2009. Psoriasis..P. Taylor S. Dalam Kelly A. 2005. Dalam Wolff K. Johnson R.Aisah S.S. Pendit B. Zeikus P..A. New York: Mc Graw Hill..

Sp. Ismiralda Oke.ILMU KESEHATAN SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSUD Prof.KK FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU.Dr. 31 PRESENTASI KASUS PSORIASIS Disusun oleh : Niken Febriharsari G1A212079 Dokter Pembimbing : Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO 2013 .

Dr.KK . Margono Soekardjo Purwokerto Telah disetujui dan dipresentasikan Pada tanggal Agustus 2013 Disusun oleh : Niken Febriharsari Purwokerto. Agustus 2013 Dokter Pembimbing. 32 LEMBAR PENGESAHAN PRESENTASI KASUS PSORIASIS Diajukan untuk memenuhi syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior Di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Prof. Sp. Ismiralda Oke. Dr.