PRESENTASI KASUS

“HERPES ZOSTER OFTALMICA SINISTRA”

Disusun Oleh:
Mirlinda Hartin
G1A212080

Pembimbing :
dr. Ismiralda Oke P., Sp.KK

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERISTAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2013

1

LEMBAR PENGESAHAN
“HERPES ZOSTER OFTALMIKA SINISTRA”

Disusun Oleh :
Mirlinda Hartin
G1A212080

PRESENTASI KASUS

Disusun untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik
di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
RSUD. Prof. Dr. Margono Soekardjo

Disetujui dan disahkan,
pada tanggal .... Agustus 2013

Pembimbing

dr. Ismiralda Oke P.,Sp.KK

2

mual dan pusing kepala sebalah kiri. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. tulang terasa sakit. KASUS A. Kemudian setelah 1 minggu kemudian muncul kemerahan pada daerah dahi kiri. Empat hari sebelum datang kepoli kulit.tiba merasa badannya panas dingin. S Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 25 th Pekerjaan : Ibu rumah tangga Agama : Islam Suku Bangsa : Jawa Alamat : Petir 01/02 Kalibagor Tanggal Periksa : 29 Juli 2013 B. ANAMNESIS 1. Lama kelamaan muncul bintik-bintik berisi cairan berwarna bening. badan terasa sakit. semakin besar dan banyak didahi kiri. BAB I. Keluhan Utama : Perih pada dahi sebelah kiri 2. Riwayat Penyakit Sekarang Onset : 1 minggu yang lalu Lokasi : dahi sebelah kiri Faktor Memperberat : - Faktor Memperingan : Kronologi : Dua minggu yang lalu pasien tiba. muncul keluhan bengkak pada mata kiri yang mengganggu penglihatan pasien Gejala penyerta : Panas dingin. pusing 3 .

Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga bersama ibu psien. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien tinggal bersama suami dan kedua orang tua di daerah pedesaan yaitu Desa Petir RT 01 RW 02 Kalibagor . 3. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat menderita keluhan yang sama : - Riwayat hipertensi :- Riwayat diabetes :- Riwayat penyakit jantung :- Riwayat alergi :- 4. pendidikan akhir pasien adalah SD. C. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat menderita keluhan yang sama : - Riwayat hipertensi :- Riwayat diabetes :- Riwayat penyakit jantung :- Riwayat alergi : tidak diketahui 5. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : Sedang Kesadaram : compos mentis Tanda Vital Tekanan Darah : 110/70 mmHg Nadi : 96x/menit Respiration rate : 20x/menit Suhu : 36. Ekonomi pasien cenderung rendah Pasien mengatakan bahwa banyak tetangganya mengeluhkan keluhan yang sama.9 Tinggi badan : 160 cm Berat badan : 54 kg Kesan gizi : cukup 4 .

venektasi temporal (-/-).Status Generalis Kepala : Simetris. krusta.1 Pasien menderita Herpes Zoster Oftalmica Sinistra 5 . sklera ikterik (-/-). eksoriasi Gambar 1.rambut beruban Mata : Konjungtiva anemis (-/-). atrofi papil lidah (-) Telinga: Kelainan bentuk (-). mesochepal. discharge (-) Leher : Deviasi trakhea (-). deviasi septum (-) Mulut : Lidah sianosis (-). vesikel. edema (+/+) Hidung: Discharge (-). pembesaran kelenjar getah bening (-/+) Status Lokalis Thorax : tidak dilakukan pemeriksaan Abdomen : tidak dilakukan pemeriksaan Elslremitas : tidak dilakukan pemeriksaan Status Dermatologikus Lokasi : Oftalmica Sinistra Efloresensi : Makula eritematosa. bula.

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Lama kelamaan muncul bintik-bintik berisi cairan berwarna bening. Kemudian setelah 1 minggu kemudian muncul kemerahan pada daerah dahi kiri. semakin besar dan banyak didahi kiri. herpes febrilis. mual dan pusing kepala sebalah kiri. scrum pox. Pemeriksaan Histopatologi 6. Empat hari sebelum datang kepoli kulit. herpes gladiatorium. tulang terasa sakit. Biopsi dengan mikroskop elektron 4. jarang yang menyebar melalui aerosol.tiba merasa badannya panas dingin. Imunofluoresen F. Tes serologik 5. Umumnya infeksi awal HHV asimptomatik kecuali pada virus golongan VZV yang simptomatik berupa varicella. Tetangga pasien mengeluhkan keluhan yang sama. 6 . Diagnosis Banding a. RESUME Pasien datang diantar ibunya ke poli kulit kelamin RSMS dengan keluhan perih pada dahi kiri. E. herpes genitalis)11 Penyebabnya satu golongan (famili Herpesviridae). Tes Tzanck 3. Dua minggu yang lalu pasien tiba. mengalami reaktivasi jika sisstem imun tidak adekuat. Infeksi herpes simpleks umumnya melalui kontak langsung kulit dan mukosa. Untuk herpes simpleks sendiri (HSV). Herpes simpleks (bersinonim dengan cold sore. HHV akan laten di neuron atau sel limfoid. bentuknya pada umumnya atipik berbentuk plakat eritematosa. muncul keluhan bengkak pada mata kiri. Darah rutin 2.D. Keluhan dirasakan 1 minggu yang lalu. herpes labialis. DIAGNOSIS 1. maupun erosi kecil.

Disini virus mengadakan replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi viremia permulaan yang sifatnya terbatas dan asimptomatik. Penyakit ini didahului gejala prodormal yaitu demam. dan mialgia yang terjadi 3-4 hari setelah lesi timbul. anoreksia. Impetigo adalah infeksi pada kulit disebabkan oleh bakteri yang mengenai kulit bagian atas (epidermis superfisial). uretritis dan cenderung ditransmisikan secara seksual. panjangnya sejajar dengan lipatan kulit c. terkadang tampak hipopion. b. Lesi juga dapat dijumpai pada mukosa mulut dan genital. nyeri kepala. malaise. Vesikel mempunyai gambaran klasik yaitu letaknya superfisial dan verdinding tipis seperti tetesan air (tear drop). malaise. mpetigo bulosa sering disebabkan oleh S aureus grup 2 dengan menghasilkan toxin eksfoliatif A dan B yang akan menyebabkan adhesi sel pada lapisan superfisial dari epidermis. Pada awalnya timbul makula kecil yang eritematosa pada daerah wajah dan dada. mual. 7 . Impetigo bulosa juga dikenal sebagai impetigo vesikulo-bulosa atau cacar monyet. berupa vesikel serta limfadenopati regional. Lesi pada varicella diawali pada daerah wajah dan scalp. Impetigo Bulosa Impetigo bulosa merupakan suatu bentuk impetigo dengan gejala utama berupa lepuh-lepuh berisi cairan kekuningan dengan dinding tegang. memecah lapisan stratum granulare dan membentuk blister. dan berubah cepat menjadi papul dan menjadi vesikel. Gejala prodromal berupa demam. sakit kepala. kemudian meluas ke dada. serta HSV-2 yang sering bermanifestasi sebagai gingivostomatitis. Herpes primer umumnya asimptomatik atau gejala yang tidak khas. Erupsi yang berbentuk zosteriform dapat terjadi pada HSV zosteriform yang pada umumnya jarang terjadi. vulvovaginitis. Varicella Infeksi primer dari VVZ ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring. Virus HSV diklasifikasikan secara biologis menjadi HSV-1 yang sering ditemukan di wajah dan bibir serta jarang di mukosa. membaik dalam 3-4 hari kemudian.

H. Antidepressan Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin dengan dosis 10-25 mg per hari pada malam hari. Kortikosteroid Prednisone 3 x 20 mg per hari. kemudian perlu dilakukan tapering off setelah satu minggu.13 Dosis asiklovir adalah 5 x 800mg per hari dan umumnya diberikan selama 7-10 hari b. stress dan makan teratur dan bergizi. efektivitas pemberian di atas 3 hari sejauh ini belum diketahui. PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad sanasionam : ad bonam Quo ad fungsionam : ad bonam 8 . Analgetik golongan NSAID Untuk terapi simtomatik terhadap keluhan nyeri dapat diberikan analgetik golongan NSAID seperti asam mefenamat 3 x 500mg per hari c. 2. Medikamentosa : a. Antiviral Obat antiviral terbukti efektif bila diberikan pada tiga hari pertama sejak munculnya lesi. PENATALAKSANAAN 1. Diagnosis Kerja : Herpes Zoster Oftalmika Sinistra G. 2. d. Non Medikamentosa : Hindari garukan.

kemudian menjadi laten. C. Disini virus mengadakan repliaksi dan dilepas ke adarah sehingga terjadi viremia permulaan yang sifatnya terbatas dan asimtomatik.3 B. BAB II. beta. Pada usia di bawah 45 tahun. Varisela merupakan infeksi primer yang terjadi pertama kali pada individu yang berkontak dengan virus varicella zoster. Berdesarkan sifat biologis seperti siklus replikasi. Virus varisela zoster dapat mengalami reaktivasi. Varicella zoster merupakan virus rantai ganda DNA. insidens herpes zoster adalah 1 dari 1000. Reaktivasi virus varicella zoster dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti pembedahan. semakin meningkat pada usia lebih tua. lanjut usia. penjamu. Keadaan ini diikuti masuknya virus ke dalam Reticulo Endothelial System (RES) yang kemudian mengadakan replikasi kedua yang sifat virema lebih luas dan simtomatik dengan penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Definisi Herpes zoster merupakan sebuah manifestasi oleh reaktivasi virus Varisela-zoster laten dari saraf pusat dorsal atau kranial. Etiologi Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (HVZ) dan tergolong virus berinti DNA. TINJAUAN PUSTAKA A. virus ini berukuran 140-200 nm. yang termasuk subfamili alfa herpes viridae. dan keadaan 9 . Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster yang laten di dalam ganglion posterior atau ganglion intrakranial. sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten diklasifikasikan kedalam 3 subfamili yaitu alfa. penyinaran. HVZ dalam subfamili alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi vaskuler. anggota famili virus herpes yang tergolong virus neuropatik atau neurodermatotropik. Virus dibawa ke tepi ganglion spinal atau ganglion trigeminal. menyebabkan infeksi rekuren yang dikenal dengan nama Herpes zoster atau Shingles. dan gamma. Virus varicella zoster bertanggung jawab untuk dua infeksi klinis utama pada manusia yaitu varisela atau chickenpox (cacar air) dan Herpes zoster. Patogenesis Infeksi primer HVZ pertama kali terjadi di daerah nasofaring.

Herpes zoster biasanya diawali dengan gejala-gejala prodromal selama 2-4 hari. Setelah itu akan timbul eritema yang berubah menjadi vesikel berkelompok dengan dasar kulit yang edema dan eritematosa. dan masa resolusi berlangsung 1-2 minggu. tubuh yang lemah meliputi malnutrisi. Selain gejala kulit. masa aktif berupa lesi baru yang tetap timbul. berlangsung seminggu. kemudian menjadi keruh. yaitu sistemik (demam.com) D.3. maka menimbulkan gejala gangguan motorik. malaise). gatal. dan lokal (nyeri otot-tulang. Jika virus ini menyerang ganglion anterior.4 Masa tunas dari virus ini sekitar 7-12 hari. dapat menjadi pustul dan krusta. Jika disertai dengan ulkus dengan sikatriks. Saraf yang paling sering terkena adalah nervus trigeminal.4 Gambar 2 – Patogenesis infeksi herpes zoster (Sumber: medscape. menandakan infeksi sekunder. Gambaran Klinis Lesi herpes zoster dapat mengenai seluruh kulit tubuh maupun membran mukosa. pusing. Vesikel tersebut berisi cairan jernih. seseorang yang sedang dalam pengobatan imunosupresan jangka panjang. pegal). Penyakit ini lokalisasinya unilateral dan dermatomal sesuai persarafan. atau menderita penyakit sistemik. Jika mengandung darah disebut sebagai herpes zoster hemoragik. 10 . kelenjar getah bening regional juga dapat membesar.

Dermatom Dermatom adalah area kulit yang dipersarafi terutama oleh satu saraf spinalis. dan L2. Masing masing saraf menyampaikan rangsangan dari kulit yang dipersarafinya ke otak. Dermatom sangat bermanfaat dalam bidang neurologi untuk menemukan tempat kerusakan saraf saraf spinalis. dermatom berjalan secara longitudinal sepanjang anggota badan. L1.5 Gambar 3 – Gambaran klinis herpes zoster (Sumber: Fitzpatrick) E. sedangkan pada saraf pusat sering dapat timbul gangguan motorik akibat struktur anatomisnya. fasialis. T3. T5. Gejala khas lainnya adalah hipestesi pada daerah yang terkena. Jika terkena saraf tepi jarang timbul kelainan motorik. otikus.4.6 11 . C3. dapat mengungkapkan sumbernya dengan muncul sebagai lesi pada dermatom tertentu. Virus yang menginfeksi saraf tulang belakang seperti infeksi herpes zoster (shingles). sedangkan sepanjang lengan dan kaki. Dermatom pada dada dan perut seperti tumpukan cakram yang dipersarafi oleh saraf spinal yang berbeda.

4. Jika cabang nasosiliar bagian luar terlibat. hemiplegia. dengan vesikel pada ujung dan tepi hidung (Hutchinson’s sign). dan nekrosis retina akut.5 12 . maka keterlibatan mata dapat jelas terlihat. Vesikel pada margo palpebra juga harus diperhatikan. ensefalitis. Kelainan pada mata yang sering terjadi adalah uveitis dan keratitis.Gambar 4 – Gambaran dermatom sensorik tubuh manusia (Sumber: Duus6) Herpes Zoster Oftalmikus Herpes zoster oftalmikus disebabkan oleh infeksi cabang pertama nervus trigeminus sehingga manifestasinya pada mata. akan tetapi dapat pula terjadi glaukoma. selain itu juga memengaruhi cabang kedua dan ketiga. neuritis optik.

Postherpetic neuralgia terjadi sekitar 10-15 % pasien herpes zoster dan merusak saraf trigeminal. Postherpetic neuralgia Postherpetic neuralgia merupakan komplikasi herpes zoster yang paling sering terjadi. Postherpetic neuralgia didefenisikan sebagai gejala sensoris.Gambar 6 – Gambaran klinis herpes zoster oftalmikus (Sumber: Fitzpatrick) F. Nyeri ini merupakan nyeri neuropatik yang dapat berlangsung lama bahkan menetap setelah erupsi akut herpes zoster menghilang. biasanya sakit dan mati rasa. Komplikasi a. Resiko komplikasi meningkat sejalan dengan usia.4. Rasa nyeri akan menetap setelah penyakit tersebut sembuh dan dapat terjadi sebagai akibat penyembuhan yang tidak baik pada penderita usia lanjut.7 Gambar 5 – Jaras sensorik nyeri (Sumber: Fitzpatrick) 13 .

Vesikel sering menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik. Infeksi Sekunder Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi.8 b. dan postherpetic neuralgia (di defenisikan sebagai rasa sakit yang terjadi setidaknya 120 hari setelah timbulnya ruam pada kulit). Berkurangnya imunitas di kaitkan dengan beberapa penyakit berbahaya seperti limfoma.9 Postherpetic neuralgia memiliki patofisiologi yang berbeda dengan nyeri herpes zoster akut. Oleh karena itu. kemoterapi atau radioterapi. Postherpetic neuralgia merupakan suatu bentuk nyeri neuropatik yang muncul oleh karena penyakit atau luka pada sistem saraf pusat atau tepi. hilang dan rusaknya serabut-serabut syaraf atau impuls abnormal. uveitis. Penyebab paling umum timbulnya peningkatan virus ialah penurunan sel imunitas yang terkait dengan pertambahan umur. serabut saraf berdiameter besar yang berfungsi sebagai inhibitor hilang atau rusak dan mengalami kerusakan terparah. infeksi HIV. impuls nyeri ke medulla spinalis meningkat sehingga pasien merasa nyeri yang hebat. dan penggunaan obat immunesuppressan setelah operasi transplantasi organ atau untuk manajemen penyakit (seperti kortikoteroid) juga menjadi faktor risiko. korioratinitis dan neuritis optik. Akibatnya.9 Postherpetic neuralgia dapat diklasifikasikan menjadi neuralgia herpetik akut (30 hari setelah timbulnya ruam pada kulit). neuralgia herpetik subakut (30-120 hari setelah timbulnya ruam pada kulit). c. Sebaliknya pada yang disertai defisiensi imunitas. kelainan yang muncul dapat berupa: ptosis [aralitik.5. skleritis. mengakibatkan inflamasi atau kerusakan pada serabut syaraf sensoris yang berkelanjutan. infeksi HIV. keganasan atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi.8. 14 . keratitis. Kelainan pada mata Pada herpes zoster oftalmikus. nyeri menetap dialami lebih dari 3 bulan setelah penyembuhan herpes zoster. dapat berhubungan dengan erupsi akut herpes zoster yang disebabkan oleh replikasi jumlah virus varicella zoster yang besar dalam ganglia yang ditemukan selama masa laten.

dan kultur virus yang tidak efektif karena membutuhkan waktu 1-2 minggu. (6) nyeri dan allodinia (nyeri yang timbul dengan stimulus yang secara normal tidak menimbulkan nyeri) pada daerah ruam. Paralisis Motorik Perjalanan virus secara kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan. e.1.10 Pemeriksaan laboratorium direkomendasikan bila lesi atipikal seperti lesi rekuren. Sindrom Ramsay Hunt Sindrom Ramsay Hunt terjadi karena gangguan pada nervus fasialis dan optikus sehingga memberikan gejala paralisis otot muka (bells palsy). dermatom yang terlibat multipel. (3) vesikel berkelompok. terutama dimana terdapat nervus sensorik.5 Komponen utama dalam penegakan diagnosis adalah terdapatnya (1) gejala prodromal berupa nyeri.d. Diagnosis Penegakan diagnosis herpes zoster umumnya didasari gambaran klinis. lesi tampak krusta kronis atau nodul verukosa dan bila lesi pada area sakral sehingga diragukan patogennya virus varisela zoster atau herpes simpleks. atau dalam beberapa kasus ditemukan papul. nistagmus. gangguan pendengaran. G. dan gangguan pengecapan. kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan. nausea. (4) beberapa kelompok lesi mengisi dermatom. imunoflouresensi direk dari spesimen lesi vesikular. (2) distribusi yang khas dermatomal. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah PCR yang berguna pada lesi krusta.10 15 . (5) tidak ada riwayat ruam serupa pada distribusi yang sama (menyingkirkan herpes simpleks zosteriformis). vertigo. tinitus.

Gambar 7 – Pemeriksaan Tzanck. herpes febrilis. 16 . scrum pox. Diagnosis Banding4 1. Infeksi herpes simpleks umumnya melalui kontak langsung kulit dan mukosa. Umumnya infeksi awal HHV asimptomatik kecuali pada virus golongan VZV yang simptomatik berupa varicella. Herpes simpleks (bersinonim dengan cold sore. herpes genitalis)11 Penyebabnya satu golongan (famili Herpesviridae). mengalami reaktivasi jika sisstem imun tidak adekuat. HHV akan laten di neuron atau sel limfoid. sedangkan pada imunofluoresensi direk pendaran warna hijau mengindikasikan terdapatnya antigen virus varisela zoster1 H. dengan pewarnaan wright terlihat sel giant multinuklear. herpes labialis. jarang yang menyebar melalui aerosol. Untuk herpes simpleks sendiri (HSV). herpes gladiatorium.

Lesi juga dapat dijumpai pada mukosa mulut dan genital. Impetigo adalah infeksi pada kulit disebabkan oleh bakteri yang mengenai kulit bagian atas (epidermis superfisial). nyeri kepala. sakit kepala. 2. Lesi pada varicella diawali pada daerah wajah dan scalp. dan mialgia yang terjadi 3-4 hari setelah lesi timbul. mpetigo bulosa sering disebabkan oleh S aureus grup 2 dengan menghasilkan toxin eksfoliatif A dan B yang akan 17 . uretritis dan cenderung ditransmisikan secara seksual. membaik dalam 3-4 hari kemudian. anoreksia. Virus HSV diklasifikasikan secara biologis menjadi HSV-1 yang sering ditemukan di wajah dan bibir serta jarang di mukosa. kemudian meluas ke dada. Gejala prodromal berupa demam. Impetigo bulosa juga dikenal sebagai impetigo vesikulo-bulosa atau cacar monyet. Pada awalnya timbul makula kecil yang eritematosa pada daerah wajah dan dada. Penyakit ini didahului gejala prodormal yaitu demam. Impetigo Bulosa Impetigo bulosa merupakan suatu bentuk impetigo dengan gejala utama berupa lepuh-lepuh berisi cairan kekuningan dengan dinding tegang. Herpes primer umumnya asimptomatik atau gejala yang tidak khas. malaise. dan berubah cepat menjadi papul dan menjadi vesikel. panjangnya sejajar dengan lipatan kulit 3. mual. vulvovaginitis. Disini virus mengadakan replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi viremia permulaan yang sifatnya terbatas dan asimptomatik. Vesikel mempunyai gambaran klasik yaitu letaknya superfisial dan verdinding tipis seperti tetesan air (tear drop). malaise. serta HSV-2 yang sering bermanifestasi sebagai gingivostomatitis. Erupsi yang berbentuk zosteriform dapat terjadi pada HSV zosteriform yang pada umumnya jarang terjadi. Varicella Infeksi primer dari VVZ ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring. berupa vesikel serta limfadenopati regional. maupun erosi kecil.bentuknya pada umumnya atipik berbentuk plakat eritematosa. terkadang tampak hipopion.

5 Untuk terapi simtomatik terhadap keluhan nyeri dapat diberikan analgetik golongan NSAID seperti asam mefenamat 3 x 500mg per hari. Pasien yag imunokompromais seperti koinfeksi HIV.1. seperti valasiklovir. Pilihan antiviral lainnya adalah valasiklovir 3 x 1000mg per hari. Pasien dengan dermatitis atopik berat Obat antiviral yang dapat diberikan adalah asiklovir atau modifikasinya. terutama mata (herpes zoster oftalmikus). memecah lapisan stratum granulare dan membentuk blister. Pasien berusia lebih dari 50 tahun 3. efektivitas pemberian di atas 3 hari sejauh ini belum diketahui. ketiganya memiliki 18 . atau ibuprofen 3 x 400 mg per hari. pasien kemoterapi. Infeksi menyerang bagian kepala dan leher. Tatalaksana Tujuan penatalaksanaan herpes zoster adalah mempercepat proses penyembuhan. famsiklovir atau pensiklovir 3 x 250 mg per hari. Bila tidak diterapi dengan baik. pasien dapat mengalami keratitis yang akan menyebabkan penurunan tajam penglihatan dan komplikasi ocular lainnya 2.13 Dosis asiklovir adalah 5 x 800mg per hari dan umumnya diberikan selama 7-10 hari. Herpes zoster diseminata (dermatom yang terlibat multipel) direkomendasikan pemberian antiviral intravena 4. indometasin 3 x 25 mg per hari. pensiklovir. Sediaan asiklovir pada umumnya adalah tablet 200 mg dan tablet 400 mg. dan pasca transplantasi organ atau bone marrow. I. dan 5.4 Sedangkan pemberian antiviral sistemik direkomendasikan untuk pasien berikut13: 1. menyebabkan adhesi sel pada lapisan superfisial dari epidermis. terapi dilanjutkan hingga seluruh krusta hilang untuk mengurangi risiko relaps. famsiklovir. Obat antiviral terbukti efektif bila diberikan pada tiga hari pertama sejak munculnya lesi. serta mengurangi risiko komplikasi. Pada pasien HIV.12 Kemudian untuk infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik. mengurangi keparahan dan durasi nyeri akut dan kronik.

bila nyeri tidak tertangani dengan gabapentin atau antidepresan trisiklik saja. 2. Pada herpes zoster otikus (sindroma Ramsay Hunt) diindikasikan pemberian kortikosteroid. dan non-adherent. Untuk mengurangi gatal dapat pula menggunakan losio kalamin.4. pada lesi vesikular dapat diberikan bedak kalamin atau phenol-zinc untuk pencegahan pecahnya vesikel. Kortikosteroid oral diberikan sedini mungkin untuk mencegah paralisis dari nervus kranialis VII.14 Pasien dengan komplikasi neuralgia postherpetic dapat diberikan terapi kombinasi atau tunggal dengan pilihan sebagai berikut14: 1. 4. 3. Bila vesikel sudah pecah dapat diberikan antibiotik topical untuk mencegah infeksi sekunder.4 Untuk pengobatan topikal. non- oklusif. dan 5. Gabapentin bila pemberian antidepresan tidak berhasil.waktu paruh lebih panjang dari asiklovir. serta berisiko terjadi infeksi sekunder. Untuk menjaga lesi dari kontak dengan pakaian dapat digunakan dressing yang steril. Penambahan opiat kerja pendek. mandi dapat meredakan gatal.10 Obat diberikan terus bila lesi masih tetap timbul dan dihentikan 2 hari setelah lesi baru tidak timbul lagi. Pemberiannya dikombinasikan dengan obat antiviral untuk 19 . kemudian perlu dilakukan tapering off setelah satu minggu. Selanjutnya pasien tetap dianjurkan mandi. Bila lesi bersifat erosif dan basah dapat dilakukan kompres terbuka. Kapsaicin topical pada kulit yang intak (lesi telah sembuh). Lidocaine patch 5% jangka pendek. Dosis gabapentin 100-300mg per hari. Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin dengan dosis 10-25 mg per hari pada malam hari.12 Sebagai edukasi pasien diingatkan untuk menjaga kebersihan lesi agar tidak terjadi infeksi sekunder.4. Dosis prednisone 3 x 20 mg per hari. pemberiannya dapat menimbulkan sensasi terbakar. Edukasi larangan menggaruk karena garukan dapat menyebabkan lesi lebih sulit untuk sembuh atau terbentuk skar jaringan parut.

Namun perlu diingat kontraindikasi relatif atau absolut kortikosteroid seperti diabetes mellitus.mencegah fibrosis ganglion karena kortikosteroid menekan imunitas. 20 . rujukan kepada spesialis terkait sangat dianjurkan.14 Pada komplikasi seperti ini.

Herpes zoster sering terjadi pada orang yang baru-baru mengalami stressful recent events. Pada kulit muncul pula bintik. Keseluruhan penampakan kulit maupun gejala subjektif berupa nyeri sangat menyokong ke arah herpes zoster. BAB III.bintik berisi cairan berwarna bening. dan nausea yang dirasakan pasien sebelum timbulnya bintik.bintik berisi cairan berwarana putih berkelompok dan tersebar hanya di dahu kiri. terletak diatas kulit yang eritematosa. Pada pasien ditemukan riwayat cacar air pada saat berusia sekolah di SD. Dan juga terdapatnya keluhan yang sama pada tetangganya. tampak di regio oftalmika sinistra. Dengan timbulnya lesi seperti ini. vomitus. dengan ukuran lentikuler. perlu diperkirakan terjadinya kelainan kulit disertai dengan nyeri yang cukup hebat ( VAS 6/10). yang mana timbul gejala kulit yang unilateral. PEMBAHASAN Seorang wanita berusia 25 tahun datang ke dokter dengan keluhan perih yang timbul di dahi kiri sejak 1 minggu yang lalu. bersifat dermatomal sesuai dengan persarafan. 21 . dengan timbulnya lesi dalam 1 minggu berikutnya. Pada pasien dalam anamnesis mengatakan bahwa belakangan ini pasien cukup stres akibat ada masalah dengan suami. Selain itu makan pasien dalam beberapa waktu terakhir juga tidak teratur. Dengan demikian jelaslah bahwa infeksi primer pada pasien ini telah terjadi. Lesi yang timbul jug akhas berupa vesikel yang berkelompok. terdapat vesikel multipel bergerombol yang tersebar secara dermatomal. dengan dasar berupa kulit yang eritematosa (kemerahan). mengingat penyakit ini memiliki perjalanan berupa masa tunas 7-12 hari. kemudian masa penyembuhan sendiri selama 1-2 minggu berikutnya. Dengan melihat lesi. Herpes zoster merupakan suatu reaktivasi akibat infeksi awal yang bermanifestasi sebagai varicella zoster (cacar air). Gejala prodormal berupa demam. myalgia. keterlibatan dermatomal yang terlibat adalah L4 hingga L5. cepalgia. vesikel teraba lunak dengan permukaan yang licin. Lesi yang terlihat cukup karakteristik untuk herpes zoster. Kesemua faktor ini diduga dapat menjadi pemicu reaktivasi herpes zoster. Pada palpasi teraba kulit yang hangat. Pada pasien ini.

sebab pemberian asiklovir sebanyak 5 hari dalam sehari. Terapi medikamentosa yang diberikan berupa asiklovir 5 x 800 mg. Dengan demikian perlu digunakan alarm jika diperlukan untuk membangunkan pasien atau mengingatkan pasien untuk mengonsumsi obat. Pasien perlu diedukasi bahwa pada orang yang belum pernah mengalami cacar air. 22 . berupa edukasi dan medikamentosa. Pada riwayat saat ini pasien tinggal dengan suami dan kedua orang tuanya. Pasien juga dianjurkan mengurangi sementara aktivitas fisik sebab saat ini pasien sedang mengalami nyeri dan tingginya aktivitas fisik dapat meningkatkan gesekan yang dapat menjadi penyebab pecahnya lenting. yang pada pasien ini masih terpenuhi (onset hari ke-3). Terapi dapat diberikan secara efektif maksimal 72 jam setelah lesi terakhir muncul. Untuk nyeri yang timbul pada pasien diberikan asam mefenamat 3x500 mg sebagai analgesik. termasuk jam-jamnya. Bintik. untuk melihat perbaikan pada pasien. Dengan demikian dalam fase ini sebaiknya pasien tidak membiarkan anak-anak ataupun orang yang belum pernah mengalami varicela sebelumnya untuk bermain atau berdekatan dengan pasien. dapat terjadi penyebaran virus VZV ke pejamu lain. Pasien kemudian dianjurkan untuk kontrol selama 7 hari kemudian kepada dokter. yang dapat menimbulkan varicela pada orang lain. Asiklovir diberikan selama tujuh hari.Pasien kemudian diberikan pengobatan.bintik yang timbul jangan digaruk sebab dapat menimbulkan infeksi sekunder. Perlu diingat pula bahwa konsumsi obat harus teratur.

bula. Penatalaksanaan HZO yaitu pemberian antiviral. trigeminus cabang oftalmikus. Ujud kelainan kulit pada HZO adalah makula eritematosa. 23 . BAB IV. Herpes zoster oftalmika adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varicela zoster yang menyerang dermtom persyarafan perifer N. analgetik dan kortikosteroid. vesikel berkelompok diatas kulit yang eritema. Kesimpulan Herpes zoster merupakan sebuah manifestasi oleh reaktivasi virus Varisela-zoster laten dari saraf pusat dorsal atau kranial. PENUTUP A.

Konsil Kedokteran Indonesia. Infect. 6. Engl. Berger T. Penyakit virus. Aisah S. Andrew’s diseases of the skin. Straus SE. Dworkin RH. DAFTAR PUSTAKA 1. Schöfer H. James WD. Paller AS. Fitzpatrick’s color atlas & synposis of clinical dermatology. Penyakit kulit yang umum di indonesia: sebuah panduan bergambar. 1. Med. Breuer J. editors. In: Wolff K. Daili ESS. In: Djuanda A. clinical course and associated diseases: A 5-year retrospective study at Tamathibodi Hospital. Pan Am. Gnann JW. et al. Johnson RA. 24 . Wisnu IM. Dis. 4. Menaldi SL. Jakarta. 13. Virol. Gilchrest BA. Recommendations for the management of herpes zoster. Wassilew S. Fitzpatricks Dermatol. 8. Herpes zoster. 9. Timm A. Virol. 10. Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012. Jakarta: Medical Multimedia Indonesia. Backonja M. Med. Off. Assoc. Herpes zoster guideline of the German Dermatology Society (DDG). 12.Clin. Whitley RJ.44 Suppl 1:S1–26. Clin. 4th ed. J. Sci. Prognostic factors of postherpetic neuralgia. Infect. 2003. 7th ed. Handoko R. J. 2007. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 7.347(5):340–6. Edisi kelima. Guthoff R. Off. Thail. Publ. 2004. 2002. Soc. 6th ed. 11. Tunsuriyawong S. New York: McGraw Hill Medical. N. Leffell DJ. Med. Duus’ topical diagnosis in neurology. Katz SI. Korean Med. Dis. editors. 26(3):277–289. 2012. 2005. Postherpetic Neuralgia Bacgground Monograph. 2011. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2002 Oct. Frotscher M. Chotmaihet Thangphaet. Johnson RW. Publ.17(5):655–9. 88(5):678–81. Wolff K. editors. Varicella and herpes zoster. Gnann JW. discussion 291–293. 5. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. J. Baehr M. Med Cases Inc. Gen. Am. Oxman MN. Oakes SA. 2. Clin. Goldsmith LA. New York: Thieme. Levin MJ. Elston D. et al. J. Friese K. 3. 2005. Herr H. Hamzah M. Puavilai S. Herpes Zoster. Gross G. Schmader KE. Soc.

38(11):1188–94.14. Am. 1990 Nov. Available from: http://www. Management of varicella zoster virus infections [Internet]. Geriatr. [cited 2013 May 6]. Schmader K. Federal Bureau of Prisons. Grufferman S. 25 . Soc.gov/news/PDFs/varicella.bop. MacMillan J. Cohen HJ. Studenski S. Are stressful life events risk factors for herpes zoster? J.pdf 15.