BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kebumian. Geologi termasuk

ilmu yang mempelajari semua jenis batuan dan proses pembentukannya baik secara

fisika dan kimia, serta menafsirkan hubungannya dan distribusi dalam ruang dan

waktu. Pengembangan pengetahuan geologi memainkan peran penting sebagai

medium untuk mengembangkan dan mengakses sumber daya alam seperti mineral

dan batubara.

Penerapan ilmu geologi pada saat ini telah berkembang sangat pesat. Oleh

karena itu, diperlukan dasar yang kuat serta pengetahuan yang baik tentang ilmu

geologi sehingga kita dapat dengan mudah beradaptasi dengan masalah atau hal

tentang geologi diwaktu sekarang atau dimasa yang akan datang. Pada kuliah

lapangan mata kuliah genesis cebakan mineral dan batubara ini, dilakukan kuliah

lapangan di PT. Makale Toraja Mining. Penelitian ini difokuskan pada genesis cebakan

mineral saja. Cebakan mineral adalah endapan bahan-bahan atau material baik berupa

mineral maupun kumpulan dari beberapa mineral atau batuan yang mempunyai arti

ekonomis berguna dan menguntungkan bagi kepentingan manusia). Kajian ini sangat

menarik karena pengetahuan tentang cebakan mineral dapat berguna untuk

mengetahui potensi-potensi dari endapan mineral.

Kegiatan kuliah lapangan genesis cebakan mineral dan batubara yang

dikhususkan pada mineral ini dilakukan agar mahasiswa dapat melakukan pengamatan

secara langsung dilapangan mengenai genesis cebakan mineral serta mineral-mineral

1

yang terdapat dilokasi penelitian atau praktikum lapangan ini.

1.2 Rumusan masalah

Rumusan masalah dari kegiatan kuliah lapangan ini yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan endapan hydrothermal?

2. Apa yang dimaksud dengan endapan VMS?

3. Apa yang dimaksud dengan endapan VMS tipe kuroko?

1.3 Tujuan praktikum

Tujuan dilakukannya kegiatan kuliah lapangan ini yaitu:

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan endapan hidrothermal.

2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan endapan VMS.

3. Mengetahui Apa yang dimaksud dengan endapan VMS tipe kuroko.

1.4 Lokasi dan kesampaian daerah

1. lokasi

Lokasi penelitian berlokasi di Sangkaropi, Kecamatan Sa’dan, Kabupaten Toraja

Utara, Provinsi Sulawesi selatan. Lokasi penelitian ini terletak dalam area tambang

PT.Makale Toraja Mining. Berikut adalah peta tunjuk lokasi dari lokasi penelitian.

2. Kesampaian daerah

Lokasi penelitian yang berada di Sangkaropi, Kecamatan Sa’dan, Kabupaten

Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan di tempuh dengan menggunakan bus. Kegiatan

ini dilaksanakan selama dua hari, mulai pada hari Jumat, 21 April hingga Sabtu, 22

April 2017. Lokasi awal keberangkatan yaitu Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

yang berada di Kabupaten Gowa. Keberangkatan dimulai pada pukul 08.00 Waktu

yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi penelitian kira-kira sekitar ± 12 jam. Sebelum

2

mencapai lokasi penelitian juga dilakukan pengamatan pada gunung Nona yang berada

di Kabupaten Enrekang. Pengamatan dilakukan selama satu jam dengan

mendengarkan penjelasan dan arahan dari dosen pembimbing. Setelah itu, perjalan

dilanjutkan ketempat penginapan yang berlokasi di Rantepao, yang sudah berada di

Kabupaten Toraja Utara dan tiba pada pukul 09.00 malam. Dipenginapan juga

dilakukan kuliah malam dengan materi endapan VMS (Volcanogenic Massive Sulphide)

kira-kira selama 2 jam dan kemudian dilanjutkan denagan istirahat. Keesokan harinya

perjalanan dilanjutkan menuju kelokasi utama yaitu area tambang PT.Makale Toraja

Mining dengan waktu tempuh dari penginapan sekitar 1 jam.

Gambar 1.1 Peta tunjuk lokasi

3

1.5 Peneliti terdahulu

Peneliti-peneliti yang telah melakukan penelitian pada daerah ini yaitu:

1. Sartono dan Astadireja (1981), mengemukakan suatu Laporan Pemetaan

Geologi Kwarter Sulawesi Selatan.

2. Embang Popang Samuel, 1996 Geologi dan zonasi Biostratigrafi satuan Tufa

daerah Batu Tumonga kecamatan Sesean Kabupaten Tana Toraja.

3. Jumhani dan Hillman tahun 1979, meneliti tentang urutan stratigrafi daerah

Tana Toraja dan sekitarnya.

4. Sakae Ichihara, Ir. Yahya Sunarya dan Ir. Koswara Yudawinata tahun 1979,

meneliti tentang endapan bijih di daerah Sangkaropi dan Rumanga.

5. De Koning knijff tahun 1914, melakukan penelitian tentang Formasi serpih

Tembaga.

6. Brower tahun 1922, menyelidiki tentang hubungan antara Formasi serpih

Tembaga dengan Batugamping Eosen pada kaki Gunung Latimojong bagian

Barat.

7. Djuri dan Sudjatmiko tahun 1974, membuat peta geologi lembar Majene dan

bagian Barat Palopo dengan Skala 1 : 25.000.

8. Tetsuo Yoshida, Chairullah Hasbullah,dan Tohru Ohtagaki tahun 1982, meneliti

tentang endapan tipe Kuroko di daerah Sangkaropi.

9. Sapta Ika yunita, 1996, Geologi dan zonasi Biostratigrafi Batugamping Suaya

daerah Suaya Kecamatan Sesean Kabupaten Tana Toraja.

10. Van Bemmelen (1949 dan 1970), membahas mengenai kondisi geologi Pulau

Sulawesi.

4

diapit perbukitan dengan ketinggian 800-900 meter dari muka laut. gunung Sesean. kemudian dilanjutkan dengan proses tenggara-barat laut dari muara sungai Cenrana melalui danau Tempe sampai muara sungai Sa’dan. dan gunung Karua. Lengan Selatan bagian Utara meliputi daerah poros Tenggara barat laut yaitu Palopo sampai ke pantai Barat muara sungai Karama dan cekungan Tempe pada sisi yang lain. Geomorfologi Regional Daerah penelitian merupakan salah satu daerah paling utara dari provinsi Sulawesi Selatan. Penyebarannya mengikuti dataran banjir sungai Sa’dan. Bagian utara dari lengan selatan merupakan daerah pegunungan yang memanjang antara Majene sebagai pegunungan Quarless. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 5 . Daerah penelitian termasuk dalam satuan pedataran tinggi yang terletak di bagian tengah mengarah ke timur. Menurut Bemlen (1946). tepatnya di Sangkaropi. Puncak-puncak dari pegunungan ini adalah gunung Kalando. lapisan penutup berupa soil hasil residual batuan sekitar dan hasil longsoran. daerah Tana Toraja ini termasuk lengan Selatan Sulawesi Selatan yang secara fisiografi terbagi dua bagian yaitu lengan Selatan bagian Utara dan lengan Selatan bagian Selatan.1 Geologi regional 1. Kemiringan lereng antara 0o-10o.

Formasi Riau tertindih tidak selaras dengan batuan gunung api Talaya menjemari dengan batuan gunung api Adang. Struktur Geologi Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa Van Bemelen (1949) membagi lengan Selatan pulau Sulawesi secara struktur menjadi dua bagian. yaitu mandala Sulawesi Barat. Secara umum stratigrafi daerah Tana Toraja tersusun oleh beberapa jenis batuan seperti batuan sedimen. mandala Sulawesi Timur serta mandala Banggai Sula. daearah Sulawesi ini dapat dibagi mejadi tiga mandala geologi. Konglomerat. berdasarkan kandungan foraminiferanya maka formasi ini diduga berumur Eosen. Formasi Toraja tertindih tidak selaras dengan batuan gunung api yang bersisipan dengan Batugamping. Struktur di lembar Tana Toraja adalah sesar normal dan sesar naik yang berarah utama timur-selatan barat daya. Pada kala miosen bagian tengah- 6 . Batuan tertuanya adalah formasi Latimojong. dengan anggota Rantepao yang menindih tidak selaras dengan formasi Latimojong dengan batuan penyusun seperti Serpih. yaitu lengan utara bagian selatan dan lengan selatan bagian selatan. tertindih tidak selaras dengan formasi Riau. Tetl dengan batuan penyusun batugamping. Daerah Tana Toraja yang merupakan daerah di Sulawesi Selatan termasuk kedalam Mandala Sulawesi Barat. Di bagian tengah lembar Tana Toraja tersingkap Tufa Barufu.2. Stratigrafi regional Menurut Rab Sukamto. Serpih Napal. Ketebalannya belum dapat diketahui sebab adanya pengaruh metamorfisme yang kuat pada batuan sehingga terjadi perlipatan yang rumit. barat-timur dan barat laut-selatan menenggara. serta setempat–setempat Batubara. Batupasir Kuarsa. lalu formasi Toraja. Umur batuan tersebut berumur Kapur. 3. serta termasuk dalam formasi Latimojong. batuan gunung api batuan intrusif dan batuan metamorf yang berumur kuarter-tersier. dengan batuan termuda berupa endapan sungai dan endapan kipas alluvium.

dan hanya sebagian yang berupa dataran rendah atau yang berelief datar yang hanya terdapat pada bagian lembah dari barisan perbukitan tersebut. Berdasarkan pada relief dan bentuk lereng maka daerah Sangkaropi dapat dibagi menjadi tiga satuan morfologi. Geomorfologi Dengan berdasarkan pada model topografi dari daerah penelitian. kemiringan lereng 0o-10o dengan lapisan soil yang berasal dari pelapukan batuan di sekitarnya. Tufa Barufu. Pedataran tinggi Satuan pedataran tinggi ini menempati bagian selatan daerah penelitian yaitu sekitar 30 % dari daerah Sangkaropi yang terletak di kab. Pada kala miosen tengah bagian akhir kegiatan gunung api di sertai terobosan batholit Granit Mamasa dan Granit Kambuno menerobos batuan yang lebih tua dan membawa larutan hidrothermal yang kaya akan bijih sulfida tembaga di Sangkaropi dan Bilolo. 2. Satuan ini mengikuti dataran banjir sungai Sa’dan dengan perbukitan yang mempunyai ketinggian 800 m-900 m dari permukaan air laut. Sejak plistosen akhir daerah ini diduga daratan sampai terjadi aktivitas gunung api yang menghasilkan tufa.miosen akhir bagian atas terjadi tektonik disertai kegiatan gunung api yang menghasilkan batuan gunungapi Talaya. Perbukitan bersudut lereng sedang 7 . nampak secara umum bahwa sebagian besar daerah penelitian terdiri dari barisan perbukitan dan rangkaian dari daerah pegunungan. Batuan gunung api Talaya tersusun oleh Andesit-Basalt yang keatas susunannya berubah menjadi Leusit Basalt hingga terbentuk batuan gunung api Adang.2 Geologi Daerah Sangkaropi 1. yaitu: a. disertai pengangkatan dan pensesaran berupa sesar turun dan sesar naik berarah timur laut-selatan barat daya. b. Toraja utara.

Dasit serta batuan piroklastik dan berbagai jenis mineral lainnya. yaitu : a. Satuan ini berada pada daerah lembah lembah dari daerah Sangkaropi. sehingga memunginkan daerah ini tersusun oleh batuan hasil vulkanik. Satuan batuan Breksi Tufa. b. Stratigrafi Daerah Sangkaropi Daerah Sangkaropi yang didominasi oleh deretan perbukitan disusun oleh berbagai jenis batuan berupa material sedimen. Serta disusun oleh batuan beku seperti Riolit. Satuan ini menempati sekitar 40 % dari daerah penelitian. Serta mempunyai lembah-lembah yang sempit dan dalam. material vulkanik . satuan ini dicirikan oleh kenampakan fisik batuannya dimana batuan ini tersingkap di permukaan dan mengalami pelapukan yang disebabkan oleh cuaca (pelapukan fisika). Satuan aluvial. Satuan morfologi ini terletak di bagian tengah dari daerah penelitian dan menempati sekitar 30 % dari daerah penelitian yang terdiri dari rangkaian perbukitan dan pegunungan yang memanjang dari utara ke selatan. kerikil. Satuan perbukitan bersudut lereng sedang terletak pada daerah paling barat dan utara serta beberapa tempat di bagian tengah. terdiri dari rangkaian perbukitan yang relatif berarah utara-selatan. secara stratigrafi pada daerah Sangkaropi dapat dibagi atas beberapa satuan litologi. penyebarannya dijumpai sepanjang aliran sungai Satuan ini terdiri dari bongkah. pasir. kenampakan morfologinya sangat mencolok. Akibat dari cuaca lembab dari daerah penelitian maka sering dijumpai longsoran-longsoran dari batuan tersebut atau dari lanau yang mengalir dari puncak gunung atau 8 . dengan umur yang berbeda beda. 2. c. karena mempunyai lereng terjal dan puncak yang agak meruncing. dan batuan beku. serta batuan yang termetamorfisme. Perbukitan bersudut lereng terjal.

dataran tinggi. Struktur daerah Sangkaropi Adapun struktur geologi yang terdapat pada daerah penelitian ini adalah berupa struktur sesar normal. Penamaan satuan ini didasarkan atas kenempakan fisik dari batuan tersebut. 3. merupakan bagian luardari endapan Sangkaropi yang berwarna hijau keabu-abuan sampai hitam. Serpih Karbonatan. breksi dan lava. Struktur massive dan terdiri dari tufa riolit sampai tufa dasit. dimana penciri dari sesar normal tersebut adalah 9 . Batuan Dasit. terdiri dari serpih dan batulempung yang berwarna kecoklatan. Batulempung atau Batulumpur dan batuan silisiklastik. Piroklastik Andesit dan Lava. Satuan ini hampir dijumpai disetiap tempat didaerah penelitian. Berwarna hijau dan merupakan alterasi dan dihasilkan oleh Tufa Breksi berupa lapisan aliran. Andesit Tufa-Breksi. Tufa halus. e. c. Sedangkan piroklastik andesit merupakan breksi vulkan ik dengan batuan siliklastik Piroklastik Riolit dan Lava. Batuan Basalt. Terdri dari lava andesit dan piroklastik. f. Lava andesit berwarna hijau dengan struktur masiv. Satuan Batupasir. g. Breksi dan Tufa Lapili yang berhubungan dengan Tufa pasiran. batuan ini tersingkap serta disisipi oleh Batulanau dan Batulempung. d. Adanya intrusi batuan batuan beku berupa batuan yang bersifat andesitik dan basaltic pada umumnya serta batuan samping pada daerah Sangkaropi menyebabkjan sehingga daerah ini cukup potensial untuk terjadinya proses pembentukan mineral alterasi dan mineralisasi. h. Batuan ini terdiri dari Tufa Andesit.

Dispersi geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang terjadi di permukaan bumi.3 Endapan mineral Proses pembentukan suatu endapan akan menentukan jenis endapan tersebut. sehingga jejak-jejak pembentukannya seperti adanya struktur perlapisan. meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersi primer oleh proses yang biasanya terjadi di permukaan. b. Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai Hasil pelapukan Permukaan dan Transportasi.ditemukannya mata air berupa air terjun tepatnya pada daerah Buntu Pongpatora. dan pengendapan. antara lain proses pelapukan. Tipe endapan mineral ini terbagi atas beberapa jenis: a. 10 . Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan geokimia yang baru dinamakan dispersi geokimia. Tipe-tipe endapan yang terbentuk secara sekunder Proses pembentukan endapan ini sangat di dominasi oleh media air permukaan. dan nodul menggambarkan manifestasi tersebut. 1. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik. Secara umum ada dua proses pembentukanya antara lain. transportasi. Bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa partikel atau ion dan akhirnya diendapkan pada suatu tempat. Berbeda dengan dispersi mekanis. Dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya proses mineralisasi pada daerah ini. Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan material lain. 2. dispersi kimia mencoba mengenal secara kimia penyebab suatu dispers.

Koloid bijih akan alih tempat oleh penukaran kation antara Fe dan mineral lempung atau akibat penyerapan oleh mineral lempung itu sendiri. Bi. Kalau konsentrasi elemen logam dekat permukaan tanah atau di bawah tanah tempat pengendapan tinggi memungkinkan terjadi konsentrasi larutan logam dan mengalami pencucian (leaching/pelindian) meresap bersama air tanah yang kemudian mengisi antar butir sedimen klastik. 2. tantalum. Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan endapan mineral baik logam maupun non logam. aktivitas vulkanik 11 . dan mineral logam Pb. Mineral plaser terpenting adalah Augum. Contoh mineral : belerang. Endapan tersebut terbentuk karena proses sublimasi gas atau uap yang dikeluarkan oleh aktivitas vulkanik. zirkon. dsb. Proses pemilahan yang mana menyangkut pengendapan tergantung oleh besar butir dan berat jenis disebut sebagai endapan plaser. monasit. Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan dari residu. fosfor. Sebagai contoh kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7 % yag membentuk konsentrasi mineral logam yang berharga hal ini dapat terjadi kalau mempunyai keadaan yang khusus. Zn. garnet. intan. rutil. Air tanah dan air meteoric disekitar daerah vulkanik juga dapat menghasilkan endapan mineral tertentu. Cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan lingkungan darat yang umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan kadar elemen yang tinggi dibandingkan kandungan di laut. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia. ilmenit. Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah akibat oksidasi Fe dan umumnya dalam literatur disebut “ red beds”. c. Kadar air laut mempunai elemen yang rendah. Fe. Tipe endapan yang terbentuk karena aktivitas vulkanik. magnetit. kasiterit. Disamping menghasilkan mineral.

Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan endapan mineral baik logam maupun non logam. Fe.juga menghasilkan panas bumi yang dimanfaatkan untuk energi panas bumi (geothermal energy). 3. fosfor. Dalam kasus Jepang. hampir semua deposito dihasilkan dalam berumur Miosen 12 . Contoh mineral : belerang. Deposito tersebut telah dieksplorasi sebagai sumber utama logam mulia dan logam mulia di dunia. Endapan tersebut terbentuk karena proses sublimasi gas atau uap yang dikeluarkan oleh aktivitas vulkanik. Tipe endapan yang terbentuk karena aktivitas vulkanik. dan mineral logam Pb. Zn. 5. Disamping menghasilkan mineral. Bi. Hal ini ditandai oleh logam simpanan kelas dasar yang tinggi untuk mengandung cukup jumlah emas dan perak. aktivitas vulkanik juga menghasilkan panas bumi yang dimanfaatkan untuk energi panas bumi (geothermal energy). Tipe endapan yang berasosiasi dengan batuan intrusi.Kuroko mengacu pada model endapan yang terdapat di salah satu distrik yang terdapat di Jepang bagian Utara yang mengandung kumpulan dari karakteristik horizon bijih dalam suatu tatanan geologi khusus. Air tanah dan air meteoric disekitar daerah vulkanik juga dapat menghasilkan endapan mineral tertentu. hampir semua deposito dihasilkan dalam berumur Miosen sehingga ada banyak. contoh dan unmetamorphosed pelat badan kaku. Dalam kasus Jepang. 4. Deposit Kuroko merupakan salah satu wakil dari deposit sulfida volcanogenic besar di dunia. Deposit Kuroko merupakan salah satu wakil dari deposit sulfida volcanogenic besar di dunia. Deposito tersebut telah dieksplorasi sebagai sumber utama logam mulia dan logam mulia di dunia. Hal ini ditandai oleh logam simpanan kelas dasar yang tinggi untuk mengandung cukup jumlah emas dan perak. Tipe endapan yang berasosiasi dengan batuan intrusi.

Larutan-larutan akan secara gradual kehilangan panas dengan bertambahnya jarak dari intrusi.Kuroko mengacu pada model endapan yang terdapat di salah satu distrik yang terdapat di Jepang bagian Utara yang mengandung kumpulan dari karakteristik horizon bijih dalam suatu tatanan geologi khusus. dapat berupa konsentrasi logam yang utama dalam magma. sedangkan cavity filling dominan di bawah kondisi temperatur dan tekanan rendah yang menghasilkan endapan epitermal. Secara umum replacement dominan terjadi di bawah kondisi tekanan dan temperature tinggi dekat intrusi dan menghasilkan endapan hipotermal. oleh karenanya akan menghasilkan tipe endapan hidrotermal yang mempunyai karakteristik temperatur tinggi yang dekat dengan intrusi kemudian endapan hidrotermal temperatur menengah pada beberapa jarak dari intrusi serta endapan hidrotermal temperatur rendah pada daerah yang jauh dari intrusi. Di 13 . membedakan atas tiga jenis endapan hidrotermal yakni: hipotermal. Sifat geologi dari proses hidrotermal menghasilkan endapan mineral yang mensuplai sebagian besar kebutuhan logam. Larutan hidrotermal membawa keluar logam-logam dari pembekuan intrusi ke tempat logam tersebut diendapkan yang ditentukan oleh banyak faktor di dalam pembentukan endapan mineral epigenetik. Pengisian suatu opening oleh presipitasi biasanya diikuti oleh replacement dari wall opening sehingga dapat secara gradasi menghasilkan dua tipe endapan mineral. yang berupa cavity filling deposits atau metasomati creplacement dalam batuan yang menghasilkan replacement deposits. Lindgren (1950).sehingga ada banyak. Diferensiasi magmatik menghasilkan produk awal dan akhir fluida magmatik. contoh dan unmetamorphosed pelat badan kaku. mesotermal dan epitermal. termasuk di dalamnya temperatur dan tekanan serta faktor lingkungan geologi yang sangat berpengaruh terhadap pembentukannya. Larutan hidrotermal dapat menghasilkan endapan mineral dalam berbagai bentuk oleh suatu bukaan (opening) dalam batuan.

Pergerakan larutan hidrotermal dari sumber ke suatu tempat pengendapannya. dan (5) faktor konsentrasi pengendapan yang cukup dari mineral matter sebagai endapan konstituen yang workable. Substansi-substansi kimia diperkirakan terbawa oleh larutan kimia yang kemungkinan berupa larutan koloidal. Demikian juga hal yang terutama dalam 14 . seng. Kenyataannya mungkin hanya dalam bentuk endapan mineral atau batuan samping (wall rock alteration). Hidrotermal secara tidak langsung merupakan air panas yang diperkirakan mempunyai kisaran temperatur dari 500ºC hingga 50ºC. serta sebagian besar logam minor dan beberapa mineral- mineral non logam. tembaga. Bukaan bisa saja saling berhubungan yang selanjutnya berupa endapan cavity filling yang secara nyata tidak dapat terbentuk tanpa adanya cavity yang terisi. Deposisi tubuh utama dari mineral-mineral asing meliputi kebutuhan suplai terus-menerus material baru dan rata-rata melalui suatu channel way yang ada. (4) adanya reaksi kimia yang dihasilkan dalam pengendapan. timbal. Larutan hidrotermal di alam banyak ditafsirkan dan disimpulkan oleh analogi dengan beberapa tipe mata air panas yang menyertainya. (2) adanya suatu bukaan (opening) dalam batuan yang memungkinkan dilalui oleh larutan yang dapat berupa channeled. Konsekuensinya. Demikian pula dengan replacement tidak dapat terbentuk tanpa adanya larutan yang dapat menjangkau batuan yang mengalami replacement.antaranya adalah logam mulia emas dan perak. mercuri. Pembentukan endapan hidrotermal terutama dipengaruhi oleh: (1) ketersediaan larutan yang mengandung unsur-unsur mineral yang memungkinkan terurai dan tertransportasi. di mana temperatur yang tinggi juga berada di bawah tekanan tinggi. (3) adanya lingkungan pengendapan atau tempat untuk diendapkannya kandungan mineral. antimoni dan molibdenum. maka bukaan dalam batuan merupakan hal yang mendasar dalam pembentukan endapan epigenetik. tergantung pada besarnya bukaan yang ada dalam batuan.

pada bagian tempat terjadinya reaksi kimia antara larutan dan padatan. reaksi antara larutan dan wall rocks atau vein matter dan perubahan dalam temperatur dan tekanan. dapat terjadi substitusi mineral-mineral baru atau lebih. Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material dari batuan yang mengelilingi reservoir magma. Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O). Batuan-batuan silikat menjadi alkalin atau sangat alkalin. Dalam replacement. Berbagai tipe bukaan dalam batuan dapat merupakan tempat terdapatnya bijih atau keluarnya larutan yang mengalami pergerakan.keberadaan tubuh air tanah. (S) dan (Cl). Pengendapan larutan hidrotermal. a. Larutan dengan kandungan mineral yang terbawa akan mengalami perubahan komposisi oleh reaksi dengan wall rocks yang dilewati secara langsung. Faktor yang terpenting dari promosi deposisi dari larutan hidrotermal adalah perubahan dalam temperatur dan tekanan. misalnya dengan cara gravitational settling Vesiculation. dimana mineral terbentuk langsung pada magma (differensiasi magma). Diffusion. (SO2). 15 . didominasi oleh perubahan kimia di dalam larutan.3 Proses pembentukan endapan hidrothermal disangkaropi Fase pembentukan endapan hidrothermal secara garis besar terbagi atas beberapa fase yaitu sebagai berikut: 1. (CO2). Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase) Suatu fase pembentukan mineral. 2. Pada fase ini pembentukan endapan hirdrothermal terbagi lagi menjadi beberapa tahapan-tahapan yaitu sebgai berikut. minyak atau gas.

epidot. Mineral kontak ini dapat terjadi bila uap panas dengan temperatur tinggi dari magma kontak dengan batuan dinding yang reaktif. yaitu : 16 . aktinolit. b. Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoir. Berdasarkan cara pembentukan endapan. Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase) Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. 2. dikenal dua macam endapan hidrothermal. dan stockwork. maka cairan residual yang mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan disekelilingnya sebagai dyke. Thick Horizontal Sill. Selama emplacement magma. kuarsa. Fase Hidrotermal Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma. Sebagai akibat kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma. Mineral- mineral kontak yang terbentuk antara lain wolastonit. Assimilation of Wall Rock. batu yang jatuh dari dinding reservoir akan bergabung dengan magma. Kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoir dengan unsur-unsur sodium dan potasium. 3. garnet. dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. c. amfibol. sill. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan. Jika bagian sebelah dalam membeku terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan. dll. 4. d. dimana mineral silikat yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan. Flotation. Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase) Proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam lingkungan yang dekat dengan magma.

nikkelit (NiAs). tetrahedrit (Cu. Setiap tipe endapan hidrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik). stannit (CuFeSn). Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au). florida-florida hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal. b. Tipe endapan yang terbentuk karena aktivitas vulkanik. dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz. kuarsa. Mg karbonat-karbonat. pentlandit (NiS). argentit (AgS). spalerit (ZnS). silikat-silikat. stibnit (Sb2S3). Mesothermal (T 1500C-3500C). sulfida-sulfida : spalerit. kalkopirit (CuFeS2). antara lain Ephithermal (T 00C-2000C). cinabar (HgS). wolframit : Fe (Mn)WO4. mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal. feldspar-feldspar. Scheelit (CaWO4). Cu) sulfida. Tetapi minera-mineral seperti pirit (FeS2). golongan Ag-Pb kompleks sulfida. Mo-sulfida (MoS2). dengan mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat. dan pirit. enargit (Cu3AsS4). pirit (FeS2). Cu sulfida. Ni-Co sulfida. hematit (Fe2O3). Sb sulfida. Cavity filing. pirrotit (FeS). bornit (Cu2S). dan kalkopirit (CuFeS2). kuarsa (SiO2). magnetit (Fe3O4). rhodokrosit (MnCO3). arsenopirit (FeAsS). barit (BaSO4). karbonat-karbonat. kalkopirit (CuFeS2). dan Hipothermal (T 3000C-5000C). galena (PbS). berikut altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn. dikenal beberapa jenis endapan hidrothermal.Fe)12Sb4S13. Berdasarkan cara pembentukan endapan. galena (PbS). 17 . kuarsa. mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam batuan. markasit (FeS2). Metasomatisme. dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO2). realgar (AsS). kasiterit (SnO2). antimonit (Sb2S3). 6. zeolit (Al-silikat). a. tourmalin. Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper (Cu).

aktivitas vulkanik juga menghasilkan panas bumi yang dimanfaatkan untuk energi panas bumi (geothermal energy). VMS.Kuroko mengacu pada model endapan yang terdapat di salah satu distrik yang terdapat di Jepang bagian Utara yang mengandung kumpulan dari karakteristik horizon bijih dalam suatu tatanan geologi khusus.4 Jenis-jenis endapan hidrothermal. Tipe endapan yang berasosiasi dengan batuan intrusi. Susunan-susunan tektonik dan hubungannya terhadap pembentukan endapan mineral sangat penting sebagai petunjuk dalam kegiatan eksplorasi endapan magmatik- hidrotermal di Sulawesi Selatan. Deposit Kuroko merupakan salah satu wakil dari deposit sulfida volcanogenic besar di dunia. model endapan hidrotermal seperti epitermal. 2. Fe. Bi. Hal ini ditandai oleh logam simpanan kelas dasar yang tinggi untuk mengandung cukup jumlah emas dan perak. Pembentukan endapan bijih hidrotermal di Sulawesi selatan disebabkan oleh gaya tektonik dan magmatisme. Air tanah dan air meteoric disekitar daerah vulkanik juga dapat menghasilkan endapan mineral tertentu. 18 . Contoh mineral : belerang. Disamping menghasilkan mineral. hampir semua deposito dihasilkan dalam berumur Miosen sehingga ada banyak. Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan endapan mineral baik logam maupun non logam. 7. Endapan tersebut terbentuk karena proses sublimasi gas atau uap yang dikeluarkan oleh aktivitas vulkanik. contoh dan unmetamorphosed pelat badan kaku. Zn. dan lainnya telah ditemukan pada wilyah ini. fosfor. dan mineral logam Pb. Endapan yang terdapat disulawesi selatan seperti Cu- Au porfiri biasanya terikat dengan batuan AK-SH seperti yang ditemukan di Sassak. Deposito tersebut telah dieksplorasi sebagai sumber utama logam mulia dan logam mulia di dunia. vena logam dasar. Dalam kasus Jepang. porfiri. sedimen-host.

sfalerit. dan azurite juga ada. Rumanga dan Bilolo. Batuan induk endapan ini diintrusi oleh mineral kuarsa dengan afinitas shoshonitik. Endapan VMS (Volcanic-Hosted Massive Sulphide) Endapan VMS atau biasa disebut dengan Volcanic-Hosted Massive Sulphide atau ada pula yang menyebutkan Volcanic-Associated Massive Sulphide. Menurut Khalil AM. Endapan ini terjadi sebagai lensa polymetallic masif sulfida yang terbentuk pada atau mendekati dasar laut di lingkungan vulkanik submarine. Pada lokasi praktikum lapangan di sangkaropi (PT. 1975). Namun. menunjukkan bahwa deposit ini terbentuk didaerah vulkanisme submarin di dasar laut selama pemisahan lempeng antara Kalimantan dan Sulawesi. Endapan logam dasar lainnya juga ditemukan di tepi utara pada batuan Formasi Latimojong. Endapan VMS disangkaropi ditandai dengan adanya mineral hypogene sulfida seperti kalkopirit. Sisa-Mn terbentuk sebagai hasil proses hidrotermal mineral mangan primer seperti 19 . (1997) endapan ini diasosiasikan dengan serpih dan batugamping yang berbentuk sisa-Mn dan vein.Toraja (Taylor & Van Leeuwen. mineral supergen seperti covelite. galena dan pirit.et al. 1. Toraja. Endapan hidrotermal Mn juga ditemukan di daerah Ponre Kabupaten Bone. Urat-urat logam yang terdapat pada batuan formasi ini dapat dikategorikan sebagai tipe endapan epitermal yang secara genetik terkait dengan porfiri yang ditemukan di Sassak (Sukamto. malachite. Volcanogenic Massive Sulphide merupakan endapan sulfida logam dasar yang berhubungan dengan vulkanisme terkait dengan proses hidrotermal di lingkungan bawah laut.. 1980). Endapan VMS Pb-Zn-Cu (sulfida vulkanogenik masif) yang ditemukan di Sangkaropi. Sebagian besar endapan VMS berupa akumulasi mineral sulfida berlapis yang mengendap dari cairan hidrotermal di bawah dasar laut dalam berbagai setting geologi dari masa terbentuknya hingga sekarang. Makale Toraja Mininng) ditemukan beberapa tipe endapan hidrothermal antara lain.

Bulukumba dan Luwu selatan. Endapan tipe kuroko merupakan lensa-lensa polimetalik bijih sulfida masif selaras (conformable) yang menampakkan hubungan stratigrafi yang kuat dengan 20 . Beberapa mineral sulfida seperti kalkofirit.rhodonite atau rodocrocite dan diubah menjadi pyrolusite dan atau psilomelane pada jasperoid atau batu gamping..3-6.19% Mn). 13-13. galena.5 juta tahun yang lalu. Kehadiran jasperoid pada serpih dan batukapur bisa mengindikasikan kandungan Mineral Mn yang lebih tinggi(1. Endapan tipe ini berhubungan dengan volkanisme bawah laut. kalkolit. yang terbentuk dalam berbagai tatanan tektonik. dan batuan-batuan piroklastik yang sejenis. Sekuens bimodal ini sering ter-superimposed pada volkanik kalk-alkalin yang mencirikan busur magmatik yang terbentuk di atas zona subduksi. Istilah “kuroko” (kata dalam Bahasa Jepang yang berarti “bijih hitam”) umumnya diaplikasikan untuk 6 (enam) katagori mineralogi bijih (Guilbert dan Park. Endapan tipe kuroko berhubungan dengan sekuens volkanik bimodal yang umumnya terdiri atas basal toleiitik di bagian bawah dan ke arah atas diikuti oleh dasit. Gowa. Toraja. 1986): Pirajno (1992). Enrekang. bornit. mengelompokkan mineralisasi hidrotermal tipe kuroko ke dalam katagori umum Endapan Sulfida Masif Volkanogenik. Endapan tipe kuroko (Kuroko type) Endapan mineral tipe Kuroko merupakan suatu endapan polimetalic strata bound tak termalihkan sampai termalihkan lemah yang secara genetik berhubungan dengan aktifitas volkanik bawah laut selama periode Miosen. 2. 1994). tetrahydrite dan covellite juga ada (van Leeuwen. Jr. sfalerit. rio-dasit. dan berasosiasi dengan busur-busur volkanik yang berhubungan dengan subduksi. Beberapa endapan Aubergen epitermal dan mesothermal juga ditemukan di Luwu utara. Umumnya berumur Fanerozoikum. Endapan sulfida masif polimetalik tipe Kuroko terbentuk pada discharge site sistem hidrotermal bawah laut yang berasosiasi dengan struktur kaldera.

Semua endapan tersebut berasosiasi dengan batuan volkanik yang dominan klastik-dasitik atau sebagian kecil andesitik. Genesisnya adalah terjadinya sirkulasi konveksi panas dari air laut yang masuk ke batuan volkanik (yang panas). dalam tufa hijau. Walaupun sebagian tufa zeolit ini memperlihatkan warna (pastel shades) kuning. Ag 20-1000 g/t.5-2%.volkanisme felsik. BaSO4 20-50%. merah. Au 0. Tubuh bijih berbentuk lonceng yang bernilai ekonomis hanya mencapai ukuran 300 x 100 x 50 m3. coklat. di Kuroko. Kadarnya juga bervariasi. atau hijau. tetapi kisarannya umumnya sebagai berikut: Cu 0. yang terbentuk pada sabuk Tufa Hijau Miosen di daerah Honshu dan Hokkaido di Jepang. tetapi umumnya berwarna putih atau abu-abu pucat. dan berhubungan dengan alterasi tufa andesitik dan tufa dasitik. endapan tipe Kuroko berasosiasi dengan zeolit dan kaolin di sepanjang zona sesar. Berdasarkan studi stratigrafi-volkanik dan paleontologi. Tonage individu tubuh bijih bervariasi dari beberapa ribu ton hingga lebih dari 1 x 106 ton. walaupun bervariasi. Di daerah Sangkaropi. umumnya kecil. Pb 0. Dari yang diketahui berdasarkan hasil studi global. dan juga memperlihatkan hubungan ruang-waktu yang kuat dengan volkanik bawah laut fragmental berkomposisi dasitik-riolitik. endapan mineral Sangkaropi berhubungan dengan mineralisasi tipe Kuroko di Jepang. diketahui bahwa volkanisme- asam bawah laut tersebut berhubungan dengan mineralisasi Kuroko di daerah Sangkaropi. Tingkat kelarutan gipsum menurun dengan 21 .5-2%. Menurut Pirajno (1992). Endapan tipe Kuroko di Daerah Sangkaropi Tana Toraja Sulawesi Selatan merupakan endapan polimetalik Cu-Pb-Zn yang menunjukkan hubungan genetik yang sangat kuat dengan volkanisme-asam bawah laut berumur Miosen. yang merupakan tubuh-tubuh bijih sulfida masif dalam busur kepulauan moderen. timurlaut Jepang.5-6 g/t. Zn 2-10%. Tufa zeolit umumnya memiliki kilap lempungan (earthy luster) dan resisten. ukuran tubuh bijih endapan kuroko. yang dinamakan “sulfida masif tipe-Kuroko”.

Mineral Serisit merupakan hasil ubahan dari minral feldspar baik dari mineral plagioklas maupun orthoklas.2 %) dan sangat sedikitny Zn dan Ba. Adapun kelompok alterasi meliputi : a. akibat terjadinya penurunan tingkat oksidasi dan pelarutan logam-logam dari batuan volkanik. rendahnya Pb ( sekitar 3. 22 . mengakibatkan terpresipitasinya gipsum dan anhidrit secara langsung dari air laut. Air laut yang tersirkulasi ke dalam batuan volkanik panas tersebut. Sedangkan proses Mineralisasi yaitu proses pembentukan mineral baru pada suatu tubuh batuan yang diakibatkan oleh proses magmatic atau proses lainnya. Sedikit air magmatik atau air meteorik juga akan tercampur dengan sirkulasi air laut. Pembentukan tipe Kuroko berhubungan dengan proses Rifting pada black Out yang dapat menghasilkan sulfida Massive.10-6. Alterasi Alterasi merupakan suatu proses yang mengakibatkan terjadinya suatu mineral baru pada tubuh batuan yang merupakan hasil ubahan dari mineral-mineral yang telah adasebelumnya yang diakibatkan oleh adanya reaksi antara batuan dengan larutan magma. Genetic endapannya berhubungan dengan vulkanik bawah laut yang berkomposisi dengan Riolit atau Basilik dan proses runtuhan kaldera volkanik. 3. namun mineral yang dihasilkan bukanlah mineral yang sudah ada sebelumnya. Dijumoai dilapangan Nampak relative berwarna merah dengan pipih melebar.91%). Adapun model endapan di sangkaropi termasuk dalam endapan model vulkanik massive Sufida yang dipengaruhi Vulkanisme bawah laut atau control struktur. Endapan kuroko di sangkaropi dicirikan oleh tingginya kadar Cu (sekitar 1. Kelompok Filik Kelompok filik merupakan mineral yang dijumpai sebagai mineral hasil alterasi dari mineral yang telah ada sebelumnya kemudian diklasifikasikan sebagai mineral illit adalah mineral Serisit.bertambahnya temperatur. menyebabkan terbentuknya larutan bijih.

Mineral-mineral yang menjadi penciri zona ini yaitu mineral lempung dan berupa kaolin. Kaolin umunya terbentuk akibat pengayaan walaupun kadang tebentuk dari larutan hidrotermal. Kelompok Kaolin Kaolin merupakan hasil alterasi atau ubahan karakter factor kimia yang terbentuk pada kondisi pH ynag jenuh tinggi ( pH=4). c. Pada daerah penelitian yang ada dijumpai juga endapan mineral yang terbentuk akibat proses mineralisasi yaitu proses hidrotermal. b. Mineral terdapat pada zona Argilic yang merupakan zona yang berada pada bagian paling luar dari suatu zonasi endapan hidrotermal suatu daerah yang ada. 23 . Pada daearah sangkaropi. Zona Argilic didasarkan pada keberadaan mineral- mineral lempung dan karbonat. Zona Alaterasi dan Mineralisasi pada daerah Sangkaropi ditentukan dengan mineral penciri dari setiap zonanya. Akan tetapi mineral-mineral yang ditemukan pada daerah sangkaropi ada pada berbagai zona alterasi seperti pirit dan kalkopirit. ditemukan mineral kaolin. Adapun mineral yang dijumpai sebagai hasil alterasi dijumpai mineral lainberupa azurite dan malacit. Kelompok Silika Mineral yang termasuk mineral silica adalah mineral yang kaya akan unsur Si. dunit-andalusit-korondum brada pada pH antara 3-4. Mineral kaolin terbentuk pada temperature yang rendah (150- 2500C) pada kedalaman dangkal. serta factor temperature yang mengakibatkan mineral-mineral yang akan unsur silica berupa unsur magnesium dan potassium mengalamai pelarutan dan hancurannya membentuk mineral kaolin bersama dengan dunit-andalusit-kaolin bersama dengan itu.

1 Alat dan Bahan 24 . BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.

kawat tembaga. GPS (Global Positioning System). Palu Geologi Palu geologi digunakan untuk mengambil sampel di lapangan yang berada di daerah penelitian atau pada singkapan. kamera. dan peta daerah penelitian.1 Kompas Geologi b. a. .1. roll meter. paku baja. lup. Alat Beberapa alat yang digunakan selama kegiatan lapangan dilakukan antara lain palu geologi. kompas geologi. buku Rocks and Minerals. alat tulis. kaca. kedudukan batuan dan arah pengambilan gambar Gambar 3. Kompas Geologi Kompas geologi digunakan untuk mengukur arah azimuth. 25 .

GPS (Global Positioning System) GPS digunakan untuk menentukan letak koordinat lokasi penelitian.3 GPS d. Gambar 3. Gambar 3. Lup Lup digunakan sebagai alat mendeteksi atau melihat secara jelas mineral- mineral yang berada pada batuan yang didapatkan 26 .2 Palu Geologi c.

Gambar 3.5 Roll Meter 27 . Roll Meter Roll meter digunakan untuk mengukur tinggi dan lebar daripada singkapan batuan yang berada di daerah Sangkaropi.4 Lup e. Gambar 3.

6 Alat Tulis g. Gambar 3. arah pengambilan gambar dan deskripsi batuan. Alat Tulis Alat tulis digunakan untuk mencatat nilai-nilai yang didapatkan di daerah penelitian seperti koordinat.7 Kamera 28 . Kamera Kamera digunakan untuk mengambil gambar di lapangan atau sebagai media untuk mendokumentasikan kegiatan pengamatan.f. Gambar 3.

h. Paku Baja Paku baja digunakan sebagai media pengukur atau uji kekerasan mineral.8 Paku baja i.9 Buku lapangan 29 . Gambar 3. sebagai catatan sementara saat di lapangan gan gan Gambar 3. Buku lapangan Buku lapangan.

a. Gambar 3. Larutan HCl Digunakan untuk mengetahui kandungan karbonat dari mineral dan batuan. Gambar 3. Kantong sampel Kantong Sampel sebagai tempat menyimpan sampel yang diambil di lapangan.2.8 Larutan HCl b.9 Kantong Sampel 30 . Bahan Bahan-bahan yang digunakan selama berlangsungnya kuliah lapangan atau fieldtrip teknik eksplorasi ini yaitu antara lain.

Pengambilan Data Singkapan Singkapan adalah bagian batuan dasar yang masih utuh (belum berubah oleh pelapukan). Langkah-langkah dalam melakukan pengambilan data : a. Menyalakan GPS dengan menekan tombol power. c. Pengambilan Data Lokasi Pengambilan data lokasi adalah untuk mengetahui dimana lokasi tempat kita menemukan sebuah singkapan atau stasiun dengan mengunakan GPS (Global Positioning System) dan peta kontur Desa Sangkaropi. Kabupaten Toraja Utara. Langkah-langkah dalam melakukan pengambilan data lokasi. Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan data lokasi yaitu Kompas Geologi. 31 . Mengambil gambar dari singkapan yang ditemukan dengan kamera digital. Provinsi Sulawesi Selatan yang dibawa. dilakukan beberapa metode penelitian di lapangan antara lain: 1. Mencatat titik koordinat dan ketinggian yang tertera dalam GPS. Menggunakan roll meter untuk mengukur panjang dan tinggi singkapan yang ditemukan. Peta Topografi. Memilih menu peta dengan mengklik tombol menu. b. 2. Kecamatan Sa’dan. d. Menentukan titik dimana kita berada sekarang di dalam peta.3. c. Mengambil arah penggambaran dengan menggunakan kompas geologi. mengetahui lebar serta tinggi singkapan singkapan yang ditemukan dan bagian singkapan yang diambil sampelnya. dan GPS.1 Metode praktikum Pada Fieldtrip cebakan mineral ini. adalah : a. Pengambilan data singkapan adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi singkapan dengan mengambarkan sketsanya. b. Pulpen/Spidol.

Langkah-langkah pengambilan sampel dan deskripsi. Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan sampel yaitu Roll Meter. Palu Geologi c. Deskripsi batuan adalah mendeskripsikan sebuah batuan dengan mendeskripsikan warna. Saat dirasa sampel yang mau diambil serasa mau hancur. beku. adalah: a. Buku lapangan b. sehingga dapat dideskripsikan dimanapun. b. d. adalah: a. Sedangkan deskripsi batuan adalah penjelasan secara detail mengenai berbagai jenis batuan. kemudian kitamemukulsekeras tenaga dengan bagian yang kotak dari palu geologi. Buku Lapangan. dan Pembanding. Pensil/pulpen d. struktur dan deskripsi lainnya baik itu pada batuan sedimen. Menggunakan roll meter untuk mengukur panjang dan tinggi singkapan yang ingin diambil sampelnya. Setelah menemukannya. Pengambilan sampel adalah untuk mendeskripsikan sebuah singkapan dengan menggunakan sampel yang dapat mewakili singkapan tersebut. e. Kantong Sampel 32 . Menggambar kondisi sekitar singkapan atau sketsa singkapan di dalam buku lapangan. sampel tersebut dicungkil dahulu dengan menggunakan bagian yang runcing dari palu geologi d. Kamera Digital. dan metamorf. Mencari tempat di singkapan yang diamati yang dirasa tidak terlalu keras. Menggunakan larutan HCL untuk mengetahu batuan tersebut karbonat Alat yang digunakan dalam pengambilan data dan deskripsi batuan. c. jenis batuan.Pensil/pulpen. 3. Pengambilan Sampel dan Deskripsi Batuan Sampel adalah batuan yang merupakan bagian kecil dari suatu singkapan. tekdtur.

Nama Mineral dan strike/dip. Pengamatan Lokasi Singkapan Batuan Pengukuran Dokumentasi Deskripsi Mineral dan Pengambilan Batuan Lebar dan tinggi sampel singkapan.3. Batuan 33 . pengambilan plotting gambar serta lokasi. arah batuan. foto. dan sketsa.3 Diagram Alir Diagram alir pada kegiatan praktikum atau kuliah lapangan ini yaitu sebagai berikut.

Kabupaten Enrekang. Dapat diamati bahwa pada batuan penyusun Breccia ditemukan banyak vegetasi yang tumbuh di atasnya dan vegetasi tersebut dalam jumlah yang banyak.8” S. Provinsi Sulawesi Selatan. Pegunungan yang memanjang di sekitar kawasan tampak terpisah-pisah yang diakibatkan oleh adanya patahan.1 Stasiun 1 Pengamatan pada stasiun pertama dengan koordinat 2° 50’ 42. Sebelah Barat dari posisi pengamatan pertama diamati gunung batu yang meninggi dan diketahui bahwa singkapan tersebut disusun oleh Batugamping (Limestone). 119° 57’ 28” E yang terletak di Desa Bambapuang. Patahan yang saling berpasangan satu sama lain disebut struktur patahan block faulting. Pada batuan penyusun Breccia memiliki tingkat porositas yang tinggi yang berarti terdapat banyak rongga di dalamnya yang mengakibatkan banyaknya kandungan air yang dapat menumbuhkembangkan tanaman yang terdapat di batuan tersebut. Lokasi tersebut tepat berada di sekitar gunung Nona. Pada jenis batuan yang menjadi penyusun dari Gunung Nona sendiri memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kecamatan Anggeraja. Sedagkan pada jenis batuan penyusun Gunung Nona lainnya yaitu batuan penyusun Tuff hanya sedikit ditemukan tanaman ataupun vegetasi yang tumbuh di atasnya. Setelah diamati lebih lanjut tumbuhnya vegetasi maupun tanaman di atasnya disebabkan oleh tingkat porositas yang dimiliki oleh masing-masing batuan tersebut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Bagian paling atas pegunungan terdapat jenis batuan Breksi (Breccia) dan berikutnya adalah Tufa (Tuff). Batuan penyusun dari stasiun ini adalah termasuk dalam jenis batuan vulkanik dalam. Sedangkan pada batuan penyusun Tuff 34 .

pecahan tidak rata. Mineral tersebut memiliki warna segar abu-abu dan warna lapuk orange kecoklatan. Stasiun kedua berada pada zona endapan mineralisasi.1 Foto Stasiun 1 4. cerat berwarna abu- 35 .2 Stasiun 2 Pengamatan pada stasiun kedua dengan koordinat 2° 51’ 42” S. Pirit. Keadaan yang tampak di sekitar Gunung Nona ini ialah terdapat berbagai macam vegetasi dan pepohonan.memiliki tingkat porositas yang rendah di mana kandungan airnya juga sedikit yang mengakibatkan pula sedikitnya tanaman yang dapat tumbuh pada batuan tersebut. Kabupaten Toraja Utara. Endapan yang terdapat pada stasiun ini merupakan endapan jenis Kuroko (Bijih Hitam). 119° 57’ 28” E berada di daerah Sangkaropi.. Lokasi tersebut di lokasi tambang PT. Batuan penyusunnya adalah Granodiorite. Makale Toraja Mining. Arah pengambilan gambar stasiun pertama ini yaitu N 183˚ E dan berikut adalah foto stasiun: Gambar 4. Mineral yang terdapat pada stasiun 02 berupa Galena. belahan tidak jelas. kilap logam. dan Sfalerit. Provinsi Sulawesi Selatan. Kecamatan Sa’dan.

abu. Zona mineralisasi tersebut memiliki lebar singkapan pertama yaitu 4.60 meter.2 Foto Stasiun 2 36 . Mineral tersebut bersifat diamagnetik yang berarti tidak dapat bereaksi dengan magnet. tidak bereaksi dengan asam dan memiliki sifat rapuh. kekerasannya yaitu 2.00 meter dan tinggi 4. Galena merupakan mineral alterasi yang berasal dari Andalusite pada zona alterasi skarn terbentuk pada vein hydrothermal dengan suhu 300-500˚C (Hypothermal). Dalam pengamatan lebih lanjut dilakukan pengukuran slope singkapan adalah 40˚dengan arah pengambilan gambar adalah N 8˚ E. Berikut adalah gambar singkapan: Gambar 4.10 meter.90 meter dan tinggi singkapan 4.90 meter. Keterdapatan dari mineral tersebut yaitu dalam urat Hydrothermal Sphalerite dan Chalcopyrite. Sistem kristal dari mineral tersebut yaitu isometrik dengan komposisi dan rumus kimia yaitu PbS merupakan golongan mineral sulfide yang berasosiasi dengan Chalcopyrite dan Pyrite.75 meter dan tinggi 8.60 meter.5-3 dalam skala mohs dan berat jenis yaitu sebesar 7. Singkapan ketiga dengan lebar 3. Beberapa singkapan tersebut menampatan batas-batas mineral yang menyusun singkapan. Singkapan kedua dengan lebar 4.58 gr/cm3. Singkapan terakhir dengan lebar 2.32 meter dan tinggi 5.

9 – 5. dan bornit. azurite. Provinsi Sulawesi Selatan.5-4 skala mohs. Mineral bornit memiliki warna segar ungu dan warna lapuk hitam dengan kekerasan 3-3. Mineral malakit berasosiasi dengan mineral azurite. Selanjutnya. 37 . Mineral azurit juga memiliki warna segar biru dan warna lapuk biru gelap. dengan kekerasan 3. Mineral malakit memiliki komposisi kimia CuCO3Cu(OH)2 dengan warna segar hijau dan warna lapuk hijau gelap.7 m. dan kemiringan atau slope sebesa 40o dengan arah pengambilan gambar yaitu N 6O E.3 g/cm3. mineral azurit yang berasosiasi dengan mineral malachite. Mineral yang didapatkan pada stasiun ini yaitu malakit. Stasiun ketiga merupakan zona mineralisasi dari endapan VMS tipe kuroko. Kecamtan Sa’dan. dan berasosiasi dengan mineral malakit. Makale Toraja Mining.5-4 skala mohs.91” Lintang Selatan dan 119o 57’ 39. lebar sebesar 4. Mineral bornit memiliki komposisi kimia Cu5FeS4 dengan sistem krista isometrik dan tergolong mineral sulfida. dengan kilap logam dan cerat berwarna hijau. pyrite dan quartz dengan komposisi kimia Cu3(OH)2(CO3)2. Desa Sangkaropi. Mineral azurit memiliki cerat biru terang dan kekerasan 3.5 skala mohs.31 m. Kabupaten Toraja Utara. Koordinat stasiun ketiga yaitu 2o 51’ 38. Azurit ini tergolong mineral carbonates dan borates dengan genesa terjadi pada zona yang teroksidasi dari deposit tembaga yang berasosiasi dengan batuan karbonat.4. Berat jenis dari mineral ini sebesar 4.3 Stasiun 3 Stasiun ketiga masih berlokasi di PT. Tinggi singkapan batuan ini sebesar 24.77” Bujur Timur.

Makale Toraja Mining daerah Sangkaropi. 38 .4 Stasiun 4 Pengamatan pada stasiun keempat berlokasi di PT. Kabupaten Toraja Utara. Kecamatan Saddan. Dalam melakukan pemboran alat bor ini digunakan dengan memassang beberapa roof untuk kedalaman tertentu serta dilengkapi dengan sirkulasi air untuk menjaga roof tidak patah.3 Foto Stasiun 3 4. serta dapat melakukan pemboran dengan arah miring.Gambar 4. Provinsi Sulawesi Selatan. Pada stasiun ini objek yang diamati pada adalah mesin bor yang digunakan untuk keperluan eksplorasi yaitu interpretasi litologi dari daerah tersebut. Pada mesin bor ini ada bagian yang disebut spindle yang berfungsi mencekam mata bor yang dapat bergerak maju mundur.

63” Bujur Timur.Gambar 4. Kabupaten Toraja Utara. 39 .87” Lintang Selatan dan 119o 7’ 15.5 Stasiun 5 Stasiun kelima berlokasi sama seperti stasiun 2. dengan arah pengambilan gambar N 4O E. daerah Sangkaropi.4 Foto Stasiun 4 4. Koordinat stasiun ini yaitu 2o 51’ 44. Vegetasi yang terdapat di stasiun ini berupa tanaman semak yang tumbuh di sekitar singkapan. terdapat suatu batuan yang memiliki mineral alterasi berupa zeolit. Pada stasiun ini. Makale Toraja Mining. Mineral ni terbentuk akibat adanya intrusi magma yang disebabkan oleh aktivitas vulkanisme di daerah pemekaran lantai samudera. Batuan sampingnya merupakan batuan tufa riolitik yang terbentuk dari abu vulkanis yang berasal dari ledakan gunungapi bawah laut. Stasiun ini merupakan daerah alterasi dari endapan VMS tipe kuroko.3 dan 4 yaitu di PT.

Dengan koordinat 2° 51’ 44. Setelah mendengar penjelasan dari dosen. Yang menjadi objek pengamatan dari stasiun ini yaitu suatu singkapan batuan Tufa yang telah mengalami proses alterasi akibat intrusi magma sisa larutan hidrothermal. Adapun cuaca pada saat pengamatan yaitu cerah dan panas. Stasiun ini terletak di pinggir jalan dan memiliki vegetasi yang bersemak tidak lebat. 40 . Adapun cuaca pada saat pengamatan yaitu cerah dan panas. Yang menjadi objek pengamatan dari stasiun ini yaitu suatu singkapan batuan Tufa yang telah mengalami proses alterasi akibat intrusi magma sisa larutan hidrothermal. 4. 119° 15. Stasiun ini terletak di pinggir jalan dan memiliki vegetasi yang bersemak tidak lebat. Stasiun ini berada pada zona alterasi dari endapan VMS yang ada di Sangkaropi.99” S. Setelah mendengar penjelasan dari dosen.7” E Stasiun ini berada pada zona alterasi dari endapan VMS yang ada di Sangkaropi. Mineral pada stasiun ini tidak dapat diidentifikasi secara makroskopis karena mineral-minealnya yang terlalu kecil. hanya ditumbuhi rumput-rumput liar. hanya ditumbuhi rumput-rumput liar.6 Stasiun 6 Stasiun 6 berjarak sekitar 50 meter dari stasiun 5 dan berkedudukan relatif lebih rendah dari stassiun 5.Stasiun 6 berjarak sekitar 50 meter dari stasiun 5 dan berkedudukan relatif lebih rendah dari stassiun 5. Stasiun ini merupakan stasiun terakhir dari fieldtrip Genesis Cebakan Mineral dan Batubara. Mineral pada stasiun ini tidak dapat diidentifikasi secara makroskopis karena mineral-minealnya yang terlalu kecil. Stasiun ini merupakan stasiun terakhir dari fieldtrip Genesis Cebakan Mineral dan Batubara.

6 Foto stasiun 6 41 .Gambar 4.