BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi Mycobacterium
tuberculosis. Penyakit ini bersifat sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua
organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi
primer. TB merupakan penyakit infeksi yang sudah sangat lama dikenal manusia.
Pada awal penemuan obat anti tuberkulosis (OAT) , timbul harapan penyakit ini akan
dapat ditanggulangi. Namun dengan perjalanan waktu, terbukti penyakit ini tetap
menjadi masalah kesehatan yang sangat serius baik dari aspek gangguan tumbuh
kembang,morbiditas,mortalitas,dan kecacatan. Dengan meluasnya kasus HIV-AIDS,
tuberculosis mengalami peningkatan bermakna secara global. Indonesia menduduki
peringkat ke tiga dunia dalam jumlah total pasien TB setelah China dan India. Namun
dari proporsi jumlah pasien dibanding jumlah penduduk,Indonesia menduduki
peringkat pertama.(1)
Tuberkulosis adalah infeksi oportunistik yang sering menjadi ko-infeksi HIV.
Pandemi infeksi HIV menyebabkan peningkatan pelaporan TB secara bermakna di
beberapa negara dengan perkiraan peningkatan insidens TB 20 kali lipat diantara
anak yang terinfeksi HIV,dibandingkan dengan anak yang tidak terinfeksi HIV. Hal
ini berkaitan dengan keadaan immunocompromised pada infeksi HIV sebagai salah
satu faktor risiko penyakit TB,yang mengakibatkan kerusakan sistem imun sehingga
kuman TB yang dorman mengalami reaktivasi.(2)
Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
menjadi tantangan global. Meskipun program pengendalian TB di Indonesia telah
berhasil mencapai target Millenium Development Goals (MDG), beban ganda akibat
peningkatan epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) akan mempengaruhi
peningkatan kasus TB di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu kolaborasi
antara program pengendalian TB dan pengendalian HIV/AIDS. (1,6)

1

Besarnya angka kejadian TB pada anak terinfeksi HIV sampai saat ini sulit diperoleh secara akurat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.6) 2 . Dilaporkan dari berbagai negara persentase semua kasus TB pada anak berkisar antara 3% sampai >25%.2 juta dan 8 juta diantaranya berhubungan dengan infeksi HIV. Penyakit ini bersifat sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.8 juta kematian akibat TB 226. Setiap tahun diperkirakan 9 juta kasus TB baru dan 2 juta di antaranya meninggal. antara tahun 2000-2020 kematian karena TB meningkat sampai 35 juta orang. Pada tahun 2000 terdapat 1. Menurut perkiraan.000 diantaranya berhubungan dengan HIV. Di negara berkembang.1 Definisi Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis.namun kurang mendapat prioritas dalam penanggulangannya.2 Epidemiologi Tuberkulosis masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di dunia. Di Afrika Selatan dilaporkan bahwa anak-anak yang sakit TB didapatkan prevalensi HIV 40-50%. umur di bawah 5 tahun). Total insidens TB selama 10 tahun. (6) Tuberkulosis merupakan infeksi oportinistik yang juga paling sering ditemukan pada anak terinfeksi HIV dan menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan angka kematian pada kelompok tersebut. (3.dari tahun 1990-1999 diperkirakan 88. 1 juta adalah anak usia < 15 tahun. (3) 2. Meningkatnya jumlah kasus TB pada anak terinfeksi HIV disebabkan tingginya transmisi Mycobacterium tuberculosis dan kerentanan anak (CD4 kurang dari 15%. Dari 9 juta kasus baru TB di seluruh dunia. TB pada anak berusia <15 tahun adalah 15% dari seluruh kasus TB sedangkan di negara maju lebih rendah yaitu 5-7%. Masalah yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya kasus TB dengan pesat karena peningkatan kasus HIV/AIDS.

waria). limfangitis. Pada saat terbentuknya kompleks primer. Indonesia berada pada level epidemi HIV terkonsentrasi (concentrated epidemic) kecuali Tanah Papua yang termasuk epidemi HIV yang meluas. kuman berkembang biak hingga mencapai jumlah 103-104 yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respon imunitas selular. (5) 2.835 kasus (49%). Akan tetapi pada sebagian kasus lainnya tidak seluruhnya dapat dihancurkan.3 Patogenesis Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TB. (1) Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi. Bila imunitas 3 . kuman TB dapat dihancurkan seluruhnya oleh mekanisme imunologis nonspesifik sehingga tidak terjadi respons imunologis spesifik. Masa inkubasi TB bervariasi selama 2-12 minggu biasanya berlangsung selama 4-8 minggu. Pada sebagian kasus. Kuman TB yang tidak dapat dihancurkan akan terus berkembang biak di dalam makrofag dan akhirnya menyebabkan lisis makrofag.kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe regional yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi focus primer. Dari fokus primer ghon. Gabungan antara fokus primer.131 kasus dengan infeksi penyerta terbanyak adalah TB yaitu sebesar 11. Kuman TB yang berukuran sangat kecil (<5 mikrometer) akan terhirup dan dapat mencapai alveolus. Di Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan RI hingga akhir Desember 2010 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan berjumlah 24. Selama masa inkubasi tersebut. Sebagian besar infeksi baru diperkirakan terjadi pada beberapa sub-populasi berisiko tinggi yaitu pengguna Napza suntik (penasun). TB primer dinyatakan telah terjadi. Selanjutnya kuman TB membentuk lisis di tempat tersebut yang dinamakan fokus primer Ghon. dan limfadenitis dinamakan kompleks primer. hetero dan homoseksual (WPS. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena.

bersarang di organ yang mempunyai vaskularisasi baik. kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan oleh imunitas selular spesifik. (1. TB diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah terjadi infeksi. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh. Dapat juga terjadi penyebaran hematogen langsung yaitu kuman masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Melalui cara ini. demikian pula proses patologiknya. Infeksi HIV juga meningkatkan risiko berlanjutnya episode TB dari reinfeksi eksogen. di kemudian hari dapat mengalami reaktivasi dan terjadi TB paru saat dewasa. sebelum terbentuknya imunitas selular dapat terjadi penyebaran limfogen dan hematogen.selular telah terbentuk. kuman TB menyebar secara sporadik dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. Orang yang terinfeksi HIV sangat berisiko mengalami penyakit progresif setelah infeksi TB primer. Pada penyebaran limfogen. serta sebagai reaktivasi infeksi TB laten. (5) Bentuk penyebaran hematogen yang lain adalah penyebaran hematogenik generilasata akut.5) Selama masa inkubasi .6) Infeksi HIV adalah risiko terbesar dari semua risiko yang diketahui merupakan faktor terjadinya TB. Pada bentuk ini. Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran. Penyebaran hematogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk penyebaran hematogenik tersamar. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secara akut yang disebut TB diseminata.(8) 4 . (5.misalnya pada anak bawah lima tahun (balita) terutama di bawah dua tahun. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik. Pada umumnya kuman di sarang tersebut tetap hidup tetapi tidak aktif. TB diseminata terjadi karena tidak adekuatnya system imun pejamu dalam mengatasi infeksi TB.kuman menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer atau berlanjut menyebar secara limfohematogen. sejumlah besar kuman TB masuk dan beredar di dalam darah menuju ke seluruh tubuh. Namun.

Angka mortalitas pada ko-infeksi TB-HIV pun 4 kali lebih besar daripada pasien dengan hanya TB sendiri. Infeksi TB mempercepat perjalanan infeksi HIV. Infeksi HIV sangat mempengaruhi komponen-komponen dari respon imun inang terserbut. Pasien dgn koinfeksi TB-HIV mempunyai viral load sekitar 1 log lebih besar daripada pasien tanpa TB.4 Diagnosis Diagnosis TB pada anak.(4. Seorang penderita HIV yang terinfeksi TB laten. Selain itu. tuberculosis dan kekebalan penjamu akan terganggu dan mengakibatkan reaktivasi infeksi TB.8) TB meningkatkan replikasi virus HIV (8) 2. Respon imun tipe Th1 tipe yang ditandai dengan imunitas seluler yang baik adalah suatu bentuk pertahanan inang yang penting untuk melawan kuman M. keseimbangan yang baik antara M. akibat dari reaktivasi tersebut menyebabkan penyebarluasan infeksi dan mengakibatkan terjadinya infeksi TB ekstra-pulmonar. tuberculosis.(8) Interaksi antara HIV dan koinfeksi TB merupakan interaksi yang sinergis. (7) 5 .

6 . aksila. dapat menggunakan suatu pendekatan lain yang dikenal sebagai sistem skoring. inguinal. • Pasien dengan jumlah skor ≥6 harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT. menetap atau malah turun  Demam subfebris berkepanjangan  Pembesaran kelenjar superfisial di daerah leher. namun apabila dijumpai keterbatasan sarana diagnostik yang tersedia. maka OAT dapat dilanjutkan sedangkan apabila didapatkan respons klinis tidak baik maka sebaiknya pasien segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. semua prosedur diagnostik dapat dikerjakan.  Nafsu makan kurang  Berat baadan sulit naik. atau tempat lain  Keluhan respiratorik berupa batuk kronik lebih dari 3 minggu atau nyeri dada  Gejala gastrointesitinal seperti diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan baku atau perut membesar karena cairan atau teraba massa dalam perut. Dalam menegakkan diagnosis TB anak. Apabila respon klinis terhadap pengobatan baik. Sistem skoring ini membantu tenaga kesehatan agar tidak terlewat dalam mengumpulkan data klinis maupun pemeriksaan penunjang sederhana sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya underdiagnosis maupun overdiagnosis TB.(2) Penilaian/pembobotan pada sistem skoring dengan ketentuan sebagai berikut: • Parameter uji tuberkulin dan kontak erat dengan pasien TB menular mempunyai nilai tertinggi yaitu 3. Setelah dinyatakan sebagai pasien TB anak dan diberikan pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) harus dilakukan pemantauan hasil pengobatan secara cermat terhadap respon klinis pasien.Gejala umum dari penyakit TB pada anak tidak khas.(2) • Uji tuberkulin bukan merupakan uji penentu utama untuk menegakkan diagnosis TB pada anak dengan menggunakan sistem skoring.

7 .

8 .(4) Diagnosis HIV pada anak berusia < 18 bulan Bila ada anak berumur < 18 bulan dan dipikirkan terinfeksi HIV. tenaga kesehatan diharapkan mampu menegakkan diagnosis dengan cara DIAGNOSIS PRESUMTIF. tetapi perangkat laboratorium untuk PCR HIV tidak tersedia.Diagnosis HIV pada anak.

Gambaran sugestif TB secara klinis 4. Diagnosis TB pada anak terinfeksi HIV Diagnosis TB anak sampai saat ini masih banyak menghadapi tantangan akibat sulitnya mendapatkan spesimen pemeriksaan bakteriologi serta rendahnya konfirmasi bakteriologi yang didapat. antara lain sputum. Uji tuberkulin positif (≥5 mm pada anak terinfeksi HIV) 3. Konfirmasi bakteriologi dapat dilakukan dengan pengambilan spesimen dari beberapa tempat yang memungkinkan sesuai dengan manifestasi klinis penyakit TB-nya. keringat malam 9 . diagnosis TB anak terutama berdasarkan 4 hal yaitu : (3) 1. biopsi jarum halus pada kelenjar getah bening (KGB) yang membesar dan biopsi jaringan lainnya. Pemeriksaan BTA aspirat lambung pada TB anak menunjukkan hasil positif pada 10-15% pasien saja. Kontak dengan pasien TB dewasa terutama yang BTA positif 2. induksi sputum. Sementara untuk diagnosis HIV pada anak > 18 bulan memakai cara yang sama dengan uji HIV pada orang dewasa.3) Tanpa konfirmasi bakteriologi.tuberculosis) tetap harus dilakukan pada setiap pasien. cairan pleura. Namun demikian pemeriksaan bakteriologi (BTA dan biakan M. Gambaran sugestif TB pada foto toraks Gejala klinis umum TB pada anak terinfeksi HIV antara lain batuk persisten lebih dari 3 minggu yang tidak membaik setelah pemberian antibiotik spectrum luas. aspirasi cairan lambung. demam lebih dari 2 minggu. (2.malnutrisi berat atau gagal tumbuh.

obat imunosupresif dan prosedur penyuntikan yang salah.infeksi virus. Pada anak yang terinfeksi HIV lebih sering mengalami TB diseminata. pneumonia bakteri.(3) Gejala klinis TB pada anak terinfeksi HIV sama dengan yang tidak terinfeksi HIV tetapi pada anak yang terinfeksi HIV lebih sering mengalami TB diseminata. PCP.3) Pada anak terinfeksi HIV. uji tuberculin dikatakan positif bila diameter ≥ 5 mm. gejala non spesifik lainnya dapat berupa fatigue. (3) 10 . Indikator yang baik terdapatnya penyakit kronik dan TB anak adalah gagal tumbuh meskipun keadaan ini dapat pula disebabkan kurang nutrisi. diare kronik dan infeksi HIV. keringat malam yang menyebabkan anak sampai harus ganti pakaian. Gejala klinis umum TB pada anak terinfeksi HIV antara lain batuk persisten lebih dari 3 minggu yang tidak membaik setelah pemberian antibiotik spektrum luas. demam lebih dari 2 minggu. Bila hasilnya < 5 mm.(2. TB belum dapat langsung disingkirkan karena ada beberapa keadaan yang menyebabkan “negatif palsu” : malnutrisi berat. bronkiektasis dan Sarkoma Kaposi.yang menyebabkan anak sampai harus ganti pakaian. tidak bergairah). Tuberkulosis pada anak terinfeksi HIV sering sulit dibedakan dengan kondisi lain akibat infeksi HIV seperti Lymphocytic interstitial pneumonitis (LIP). infeksi bakteri berat. gejala umum non-spesifik lainnya dapat berupa fatigue (kurang aktif. malnutrisi berat atau gagal tumbuh.

atelektasis. Pada anak terinfeksi HIV. gambaran pneumonia. Di antara berbagai gambaran radiologi tersebut. gambaran radiologi LIP menyerupai TB milier. Cara Melakukan Uji Tuberkulin Gambaran radiologi sugestif TB pada anak terinfeksi HIV sama dengan yang tidak terinfeksi. kavitas dan bronkiektasis. efusi pleura. milier. pembesaran KGB hilus merupakan gambaran yang paling sering ditemukan. TB milier pada foto thorax 11 . Gambar 1. antara lain berupa pembesaran KGB hilus.(3) Gambar 2. Pembesaran KGB pada TB primer Gambar 3.

Etambutol 20 mg/KgBB/hari (maksimal 1250 mg) dan Streptomisin 20 mg/KgBB/hari (maksimal 1000 mg).5 Tata Laksana Tujuan pemberian OAT adalah mengobati pasien dengan efek samping minimal. Saat ini. selanjutnya INH dan Rifampisin selama 10 bulan fase lanjutan. Pada TB milier dan meningitis TB diberikan INH.3) Dosis OAT yaitu INH 10 mg/KgBB/hari (maksimal 300 mg). Perbandingan Gambaran Foto Thorax tanpa kelainan dan TB paru 2.(2. Pada anak. Rifampisin 15 mg/KgBB/hari (maksimal 600 mg).(3) Terapi TB terdiri dari 2 fase.dan Streptomisin selama fase intensif.Rifampisin.mencegah transmisi kuman dan mencegah resistensi obat. obat TB diberikan secara harian (daily)baik pada fase intensif maupun fase lanjutan 12 .Etambutol. paduan obat TB pada anak yang terinfeksi HIV yang telah disepakati WHO (2011) adalah INH.dan Etambutol selama fase intensif 2 bulan pertama dilanjutkan dengan minimal 4 bulan pemberian INH dan Rifampisin selama fase lanjutan.Gambar 4.Rifampisin.PZA.PZA. yaitu: (7)  Fase intensif: 3-5 OAT selama 2 bulan awal:  Fase lanjutan dengan paduan 2 OAT hingga 6-12 bulan. PZA 35 mg/KgBB/hari (maksimal 2000 mg).

Apabila Rifampisin berinteraksi dengan beberapa Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) maka kadar plasma NNRTI turun sebesar 20 – 60%. sedangkan Protease inhibitor (PI) mmengakibatkan kadar plasma PI akan turun sebesar 80% atau lebih.6 Pencegahan a). Pemberian OAT pada anak terinfeksi HIV yang akan atau sedang mendapat ARV harus memperhatikan interaksi antar obat karena pemberian bersama-sama kedua obat ini dapat menyebabkan pengobatan menjadi tidak optimal serta meningkatkan risiko toksisitas.(3. (3) Pilihan obat ARV lini pertama yang digunakan pada anak TB-HIV:  Anak umur > 3 tahun : 2 NRTI (Zidovudin dan Stavudin) Efavirenz  Anak umur < 3 tahun : 2 NRTI (Zidovudin dan Stavudin) Nevirapin  Anak semua umur : 3 NRTI (Zidovudin+Stavudin+Abacavir) Pemberian ART dapat bersinergi dengan INH profilaksis. Dengan demikian pemberian ART dapat dimulai bersama dengan pemberian INH profilaksis. perlindungan vaksin BCG efektif untuk mencegah terjadinya TB berat seperti TB 13 . Rifampisin dapat diberikan bersama-sama dengan semua jenis nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI). Pemberian vaksinasi BCG berdasarkan Program Pengembangan Imunisasi diberikan pada bayi 0-2 bulan. Tuberkulosis sering didiagnosis sebelum status HIV seorang anak diketahui.4) Rekomendasi pemberian OAT bersama ARV adalah 2 jenis NRTI dikombinasi dengan efavirenz (EFV). Vaksinasi BCG pada anak Vaksin BCG adalalah vaksin hidup yang dilemahkan yang berasal dari Mycobacterium bovis. Secara umum. Dosis OAT tidak memerlukan penyesuaian karena tidak dipengaruhi oleh ARV. Pemberian ARV dapat dimulai bila anak telah mendapat OAT selama minimal 2-8 minggu selama syarat untuk pemberian ARV telah terpenuhi. 2. Pemberian vaksin BCG pada bayi >2 bulan harus didahului dengan uji tuberculin.

Tatalaksana Pencegahan dengan Isoniazid Kelompok resiko tinggi memerlukan medikamentosa profilaksis. 14 . (7)  Profilaksis primer untuk mencegah tertular.Bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan status HIV tidak diketahui diberikan BCG . 2. Perhatian khusus pada pemberian vaksinasi BCG yaitu : (2) 1.tidak menunjukkan gejala HIV  Sebaiknya setelah diperiksa PCR Sejumlah kecil anak-anak (1-2%) mengalami komplikasi setelah vaksinasi BCG. Skrining dan Manajemen Kontak Skrining dan manajemen kontak adalah kegiatan investigasi yang dilakukan secara aktif dan intensif untuk menemukan dua hal yaitu (1) anak yang mengalami paparan dari pasien TB BTA positif. Bayi terlahir dari ibu pasien TB BTA positif Bayi yang terlahir dari ibu yang terdiagnosis BTA positif pada trimester 3 kehamilan berisiko tertular ibunya melalui placenta.infeksu pada kelompok yang mengalami kontak erat dengan pasien TB dewasa dengan uji BTA positif. Pada kondisi tersebut.Kebanyakan reaksi akan sembuh dalam beberapa bulan. (2) c). Komplikasi paling sering termasuk abses local. maupun hematogen.bayi sebaiknya dilakukan rujukan untuk pembuktian apakah bayi sudah terinfeksi HIV atau tidak. dan (2) orang dewasa yang menjadi sumber penularan bagi anak yang didagnosis TB. b).sebaiknya dilakukan rujukan.Bayi dilahirkan dari ibu HIV positif boleh diberikan BCG bila :  Sehat.cairan amnion.adenitis supuratif. Petunjuk pelaksanaan BCG : .Bayi terinfeksi HIV dengan atau tanpa gejala tidak diberikan BCG . Bayi terlahir dari ibu pasien infeksi HIV/AIDS Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terbukti infeksi HIV/AIDS tidak dianjurkan diberikan imunisasi BCg.infeksi bakteri sekunder.milier dan TB meningitis yang sering didapatkan pada usia muda.Anak HIV negative di wilayah dengan prevalensi TB-HIV tinggi diberikan BCG .

Pada anak dengan TB paru BTA positif.TB paru tanpa pemeriksaan dahak. Konsep dasar profilaksis primer dan sekunder berbeda. Profilaksis primer diberikan selama kontak masih ada. Jika terjadi konversi tuberkulin menjadi positif.pemeriksaan dahak harus diulang sesuai dengan jadwal pemeriksaan ulang pada pasien TB dewasa. profilaksis dihentikan. Pada akhir 3 bulan dilakukan uji tuberkulin ulang. 2.  Profilaksis sekunder untuk mencegah terjadinya sakit TB pada kelompok yang telah terinfeksi TB tapi belum sakit TB. Profilaksis sekunder diberikan selama 6-12 bulan yang merupakan waktu resiko tertinggi sakit TB pada pasien yang baru terinfeksi TB. namun obat dan dosis yang digunakan sama yaitu INH 5-10 mg/kgBB/hari.(2) Hasil pengobatan Definisi Sembuh Pasien TB anak yang hasil pemeriksaan bakteriologis positif pada awal pengobatan dan telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan bakteriologis hasilnya negative pada AP dan satu pemeriksaan sebelumnya Pengobatan lengkap Pasien TB anak yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi 15 .dan TB ekstra paru dinilai dengan penilaian secara berkala tiap bulan dengan pencatatan pencapaian berat badan dan perbaikan gejala klinis. Jika hasilnya negatif. Respon terapi pada anak TB paru BTA negatif. dievaluasi apakah hanya terinfeksi atau sudah sakit TB. Jika hanya infeksi profilaksis primer dilanjutkan sebagai profilaksis sekunder. dan kontak tidak ada.7 Hasil Akhir Pengobatan TB Anak Definisi hasil akhir pengobatan untuk TB anak sama dengan yang dipakai pada penderita TB dewasa untuk menjaga kesesuaian pelaporan baik pada kasus TB anak maupun dewasa. minimal selama 3 bulan.

Oleh karena itu. Besarnya angka kejadian TB pada anak terinfeksi HIV sampai saat ini sulit diperoleh secara akurat. tidak ada hasil pemeriksaan bakteriologis ulang pada AP dan pada satu pemeriksaan sebelumnya.sehingga istilah “sembuh” jarang terjadi karena memerlukan follow up secara mikroskopis. kebanyakan TB anak tidak didiagnosis secara mikroskopis. Berbeda dengan pasien TB dewasa. Gagal Pasien TB anak yang hasil pemeriksaan bakteriologis positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Meningkatnya jumlah kasus TB pada anak terinfeksi HIV disebabkan tingginya transmisi Mycobacterium 16 . BAB III KESIMPULAN Tuberkulosis merupakan Infeksi Oportunistik yang juga paling sering ditemukan pada anak terinfeksi HIV dan menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan angka kematian pada kelompok tersebut.banyak anak yang secara klinis telah sembuh setelah pengobatan penuh akan tercatat sebagai “pengobatan lengkap”. Meninggal Pasien TB anak yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun Putus berobat Pasien yang tidak berobat dua bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai Tidak ada hasil evaluasi Pasien TB yang hasil akhir pengobatan tidak diketahui.

Meningkatnya jumlah kasus TB anak merupakan gambaran kegagalan program pengendalian TB dewasa. Sumber penularan TB pada anak adalah orang dewasa (terutama anggota keluarga) dengan sputum BTA positif. Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children. Am J Respir Crit Care Med. Jumlah kasus TB anak dipengaruhi jumlah sumber penularan. Dengan demikian diperlukan suatu strategi dalam pencegahan dan pengobatan TB terutama pada wilayah dengan jumlah kasus TB yang tinggi. Prioritas utama pengendalian TB adalah memberikan pengobatan yang adekuat pada kasus yang infeksius (dewasa) dan TB anak karena dapat mengurangi angka reaktivasi dan reinfeksi di kemudian hari. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI 17 . 2013. Meningkatnya kasus HIV pada orang dewasa telah berdampak terhadap peningkatan jumlah anak yang terinfeksi HIV pada umur yang rentan sehingga anak-anak tersebut sangat mudah terkena TB terutama TB berat (milier dan meningitis). 2000. Hasil pemeriksaan BTA pada anak jarang positif sehingga secara umum anak bukan merupakan sumber penularan. 161:1376-1395. DAFTAR PUSTAKA 1. umur di bawah 5 tahun). 2.tuberculosis dan kerentanan anak (CD4 kurang dari 15%. Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak. kedekatan anak dengan sumber penularan dan umur anak ketika tertular TB. American Thoracic Society and Centers for Disease Control and Prevention. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jumlah kasus TB anak diperkirakan 10-20% dari seluruh kasus TB.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. F. Sharma. Alladi M. Petunjuk Teknis Tatalaksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV.2010. WHO. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI 4. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 18 . diagnosis & management. Guidance for National Tuberculosis Programmes on the Management of Tuberculosis in Children-Second Edition. dkk. Isbaniyah. 2009. 2014. Switzerland : WHO Document Production Services 7. 2014. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta 8.K. Department of Medicine.HIV-TB co-infection: Epidemiology. Pedoman Penerapan Terapi HIV Pada Anak. S. All India Institute of Medical Sciences. 6. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI 5.3.New Delhi. 2011. Jakarta: PDPI.