BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Merokok merupakan masalah yang belum bisa terselesaikan hingga

saat ini. Merokok sudah melanda berbagai kalangan, baik anak-anak sampai

orang tua, laki-laki maupun perempuan, terlebih pada remaja saat ini. Banyak

faktor yang dapat menyebabkan remaja tersebut merokok. Diduga beberapa

faktor yang mempengaruhi perilaku merokok ini diantaranya adalah karena

pengaruh orang tua, pengaruh teman, faktor kepribadian dan karena iklan. Hal

ini kalau dibiarkan akan sangat berpengaruh bagi kondisi fisiknya dan

selanjutnya akan menghambat prestasinya di sekolah (Komalasri D, Helmi

AF.2007).

Menurut WHO (World Healt Organization) Indonesia menjadi negara

terbesar ketiga pengguna rokok, lebih 70% anak Indonesia terpapar asap

rokok dan menanggung resiko terkena berbagi penyakit akibat asap

rokok. Sedangkan penelitian Global Youth Tobacco menunjukkan tingkat

prevelansi perokok remaja di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.

Diperkirakan dari 70 juta anak Indonesia, 37% atau sama dengan 25,9 juta

anak Indonesia adalah perokok dan jumlah itu menjadikan Indonesia sebagai

negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia. Seiring dengan hal

tersebut hasil riset kesehatan Indonesia tahun 2010 memperlihatkan

prevelansi perokok di Indonesia sebesar 34,7% dari jumlah penduduk dan

1,7% dari perokok mulai merokok saat berumur 5-9 tahun sedangkan 43,3%

nya merokok sejak usia remaja yaitu 15-19 tahun.

Dan konsumsi rokok masyarakat Kota Pontianak menduduki urutan ke- 4 secara kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Barat. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India.2%. pria 55.6 juta orang Indonesia berumur 15 tahun ke atas menjadi perokok aktif. Rinciannya. hampir 20 persen adalah siswa SLTP.05 juta dan perempuan 3. dan dari keseluruhan jumlah tersebut.7%.5 persen tahun 2010 (KemenkesRI. Urutan tertinggi adalah Kepulauan Riau dengan 27. 58.2%. 2009).9%. SLTP 70.8%. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI lebih dari tiga juta remaja menggunakan rokok tembakau. (Riskesdas KemenkesRI. Di daerah perdesaan lebih banyak dibanding diperkotaan (Afif Z. 2007 dan 2013).) Tingkat konsumsi rokok masyarakat Provinsi Kalimantan Barat menduduki urutan ke-18 secara nasional dengan persentasi perokok mencapai 23. Riset Kesehatan Dasar 2010 mencatat. 30 persen dari jumlah anak SLTP adalah perokok aktif.1 persen tahun 1995 menjadi 20. 2014. 2004) . Bahkan data dari tiga tahun terakhir. (Daryanto. Sejak tahun 1995-2007. Prevalensi perokok ini berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan.5 juta. Data Kemenkes RI pada remaja usia (15-19 tahun). Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi perokok secara nasional sekitar 27. dan terendah adalah Provinsi Papua 16.5% dan akademi/perguruan tinggi 44. Satu dari tiga siswa menjadi perokok permanen sampai dia dewasa dan meninggal pada usia yang sangat muda yang diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan karena merokok. SMU 61. Pada laki-laki yang berpendidikan SD di sekitar 74. jumlah perokok remaja meningkat hingga 12 kali lipat (kemenkes 2013). prevalensi merokok meningkat 3 kali lipat dari 7.6%.2%.

perokok kadang-kadang 5. SMA Negeri 9 ini banyak diminati banyak siswa.62 %. Oleh karena itu. mantan perokok 3.8 %. perokok kadang- kadang 5.1 %. keluarga dan teman sebaya adalah orang-orang yang akan sangat mempengaruhi kebiasaan remaja.6 %. Secara rinci Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2001.7 %. Prevelansi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap masyarakat Kalimantan Barat umur 10 tahun ke atas adalah 27. Menurut Riskesdas (2007) persentase penduduk umur 10 tahun ke atas di Kalimantan Barat adalah perokok setiap hari 21. SMA Negeri 9 ini berada di Kota Pontianak.7 %. 2004 dan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2007 memberikan gambaran tren perokok pemula remaja usia 10-14 naik hampir dua kali lipat dalam waktu kurang dari 10 tahun. bukan perokok 69. mantan perokok 3. letaknya strategis di perbatasan antara Kota . kebiasaan merokok pada remaja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.1 % dan untuk persentase penduduk umur 10 tahun ke atas daerah Kota Pontianak adalah perokok setiap hari 21. Merokok merupakan kebiasaan remaja yang sulit dihindari. tayangan media yang menayangkan tokoh idola remaja yang mengisap rokok dapat mendorong remaja untuk mengikuti perilaku merokok (Poltekkes Depkes I. karena survei di lapangan perilaku perokok aktif di mulai ketika SMA.20 % sedangkan untuk Kota Pontianak 26.5 % dengan rerata jumlah rokok per hari 12. kecamatan Pontianak Timur. maka sangat memungkinkan untuk diikuti remaja.5 %. Peneliti memilih responden SMA dan bukan SMP. Selain itu. Jika orang tua dan teman sebaya merokok. bukan perokok 69.1% dengan rerata jumlah rokok per hari 12. 2010).5 %. antara lain masa perkembangan anak yang mencari identitas diri dan selalu ingin mencoba hal baru yang ada di lingkungannya.

Manfaat Teoritis Bagi peneliti merupakan tambahan ilmu pengetahuan dalam memperluas wawasan tentang metode penelitian khususnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja dan sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang relevan dengan penelitian ini. D. Mengetahui kategori pola asuh orang tua yang benar sehingga anak remaja tidak jadi pecandu rokok. dan SMK. banyak faktor yang bisa mempengaruhi siswa untuk merokok. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku perokok aktif pada remaja di SMA Negeri 9 P o nt ia n ak . 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus pada penelitian ini adalah : 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas penulis dapat merumuskan masalah penelitian sebagai berikut. 2. “Apakah ada hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku Remaja Perokok Aktif di SMA Negeri 9 Pontianak” C. Tujuan Penelitian 1. . Berdasarkan uraian latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui lebih lanjut tentang tentang Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kejadian Merokok Pada Siswa SMA Negeri 9 Pontianak. B. Manfaat Penelitian 1. Siswa berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. dan di dalam kompleks sekolah ini juga ada SMP. Mengidentifikasi pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku merokok pada remaja SMA.

dan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan mengenai bahaya yang dapat ditimbulkan akibat perilaku merokok pada remaja khususnya pada remaja di SMA Negeri 9 Pontianak. .2. Manfaat Praktis Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan informasi untuk peneliti.

BAB II LANDASAN TEORI .